Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Hautsi Yaman dan Fakta Permusuhannya Terhadap Muslimin - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam yang telah memberikan ni’mat iman dan Islam kepada kita.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , keluarga, serta para Shohabat beliau yang telah berjuang membela agama ini dengan penuh kesetiaan.

Amma ba’du:

Buku yang ada di hadapan pembaca sekalian, berjudul Gerakan Hautsi Yaman - Fakta Permusuhannya Terhadap Muslimin, disusun sebagai upaya untuk menyingkap hakikat dari sebuah kelompok yang telah menyulut api fitnah (kekacauan) di bumi Yaman. Gerakan Al-Hautsi, atau yang secara resmi menamakan diri mereka sebagai Organisasi Pemuda Mu’min, pada awalnya muncul dengan kedok pendidikan dan dakwah di wilayah Sho’dah. Namun, seiring berjalannya waktu, gerakan ini menampakkan jati diri aslinya sebagai gerakan Syi’ah Rofidhoh yang membelot dari madzhab Zaidiyyah.

Alloh telah memberikan pujian yang tinggi kepada para Shohabat Nabi dalam firman-Nya:

﴿كُنتُمْ خَيْرَ أمة أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ﴾

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh.” (QS. Ali ‘Imron: 110)

Sangat kontras dengan ayat di atas, gerakan yang dipelopori oleh Badruddin Al-Hautsi dan dikembangkan oleh putranya, Husain Al-Hautsi, justru membangun fondasi ajarannya di atas cercaan terhadap para Shohabat mulia. Mereka tanpa ragu melontarkan pelecehan terhadap Abu Bakar (13 H), Umar (23 H), hingga Utsman (35 H) dengan menyebut mereka sebagai sumber penderitaan umat Islam. Bahkan, kebencian mereka merambah hingga menghina kesucian Ummahatul Mu’minin, khususnya Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H).

Buku ini akan memaparkan secara mendalam bagaimana paham Rofidhoh Itsna ‘Asyariyyah masuk ke Yaman melalui dukungan penuh dari rezim Iran dan pengaruh revolusi Khomeini (1409 H). Pembaca akan menemukan fakta-fakta mengenai strategi politik, militer, hingga berbagai syubhat (keraguan) yang mereka tebarkan untuk menyesatkan kaum Muslimin yang awam.

Buku ini disusun merujuk kepada Mausuatul Firoq Islamiyyah bab Syiah subbab جماعة الحوثي. Kami menerjemahkan sebagiannya dan menatanya serta menambah dari literatul lain.

Semoga buku ini dapat menjadi lentera bagi umat Islam agar lebih waspada terhadap gerakan-gerakan yang berusaha merusak kemurnian akidah dan memecah belah persatuan kaum Muslimin. Hanya kepada Alloh kita memohon perlindungan dari segala kesesatan dan fitnah syaithon yang nyata.

 

Bab 1: Mengenal Gerakan Al-Hautsi dan Sejarah Berdirinya

1.1 Definisi Kelompok Al-Hautsi

Kelompok Al-Hautsi merupakan sebuah gerakan Syi’ah di Yaman yang membelot dari madzhab Zaidiyyah. Gerakan ini berjalan mengikuti pola Hizbulloh yang ada di Lebanon, baik dalam aspek agama maupun politik. Mereka menganut pemikiran-pemikiran Syi’ah Rofidhoh. Adapun penamaan Al-Hautsi dinisbatkan kepada pemimpin pemberontakan pertama mereka, yaitu Husain Badruddin Al-Hautsi (1425 H), sosok yang menyulut api konflik antara para pengikutnya dengan pemerintah Yaman. Mereka sendiri menamakan diri sebagai Organisasi Pemuda Mu’min.

1.2 Sejarah Berdirinya Organisasi Pemuda Mu’min (Kelompok Al-Hautsi)

Sejarah berdirinya Organisasi Pemuda Mu’min merujuk pada tahun 1991 M atas arahan dari Badruddin Al-Hautsi (1431 H). Tujuan awalnya adalah untuk menghimpun para ulama madzhab Zaidiyyah di wilayah Sho’dah dan daerah Yaman lainnya agar berada di bawah panjinya. Dengan demikian, organisasi ini dapat mendukung partai Al-Haq karena dianggap mewakili madzhab Zaidiyyah.

Badruddin bin Amiruddin Al-Hautsi (1431 H) merupakan salah satu pembesar ulama Syi’ah yang bermadzhab Jarudi. Mengenai sosok ini, dijelaskan dalam sebuah keterangan:

«بدر الدين بن أمير الدين الحوثي، من كبار علماء الشيعة، جارودي المذهب، يرفض الترضية على الشيخين أبي بكر وعمر رضي الله عنهما، وكذلك لا يترضى على أم المؤمنين عائشة بنت الصديق رضي الله عنها. هاجم الصحيحين والسنن في كثير من مؤلفاته، واتهم الإمام البخاري ومسلماً بالتقول والكذب على رسول الله إرضاءً للسلاطين؛ ومنه ورث ابنه حسين هذا المذهب، وسار عليه أنصارهم وأتباعهم»

“Badruddin bin Amiruddin Al-Hautsi adalah termasuk pembesar ulama Syi’ah yang bermadzhab Jarudi. Ia menolak mendoakan rodhiyallahu ‘anhuma bagi dua Syaikh yaitu Abu Bakar dan Umar, demikian pula ia tidak mendoakan rodhiyallahu ‘anha bagi Ummul Mu’minin Aisyah binti Ash-Shiddiq. Ia menyerang Shohihain dan kitab-kitab Sunan dalam banyak karyanya, serta menuduh Imam Al-Bukhori dan Muslim telah membuat perkataan bohong atas nama Rosululloh demi mencari keridhoan para penguasa. Darinya putranya, Husain, mewarisi madzhab ini, dan langkah tersebut diikuti oleh para pendukung serta pengikut mereka.” (Mausu’ah Al-Firoq Al-Muntasibah ilal Islam, Ad-Duror As-Saniyyah, 6/389)

Pada tahun 1996 M, Badruddin Al-Hautsi (1431 H) mengajukan pengunduran diri secara kolektif bersama putra-putranya, serta mengumumkan berakhirnya hubungan apa pun dengan partai Al-Haq. Hal ini dipicu oleh perselisihan antara dirinya dengan rujukan madzhab saat itu, yaitu Majduddin Al-Muayyad (1428 H). Perselisihan tersebut nampaknya berlandaskan pada 2 aspek:

Pertama, aspek manhaj yang berupa masalah-masalah pemikiran dan madzhab. Hal ini tercermin dalam pelajaran dan ceramah Husain Al-Hautsi (1425 H) yang tertulis serta beredar luas. Di dalamnya, dia menentang madzhab Zaidiyyah dan para ulamanya di masa kini, sembari mengumumkan kecenderungannya kepada pendapat Syi’ah Rofidhoh. Hal itu mencakup mencela para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, terutama Abu Bakar (13 H) dan Umar (23 H), serta Ummahatul Mu’minin rodhiyallahu ‘anhunna. Dia juga meyakini adanya ishmah bagi para imam serta kembalinya Imam Mahdi. Bahkan, dia menertawakan kitab-kitab Sunnah beserta para perawi dan ulama Hadits.

Kedua, aspek organisasi. Hal ini terlihat dari dominasi kepemimpinan partai Al-Haq atas berbagai aktivitas secara tradisional, sebagaimana yang dipandang oleh Husain Badruddin Al-Hautsi (1425 H) dan Pemuda Mu’min.

Badruddin Al-Hautsi (1431 H) beserta anak-anaknya kemudian memfokuskan diri untuk mengelola Organisasi Pemuda Mu’min yang terus beraktivitas dan mampu menarik minat para pemuda. Mayoritas pengikutnya berasal dari keluarga Hasyimiyyah dan penganut madzhab Zaidiyyah, serta kalangan suku dan tokoh sosial di Sho’dah. Husain Badruddin Al-Hautsi (1425 H) sendiri sempat memperoleh jatah keuangan bulanan dari pemerintah setelah organisasinya berdiri secara mandiri sepenuhnya pada tahun 2000 M. Dia mulai memperluas jangkauan aktivitasnya hingga ke luar wilayah Sho’dah dengan mendirikan pusat-pusat kegiatan yang serupa di beberapa provinsi. Untuk tujuan tersebut, dia mengutus beberapa murid dekatnya bersama kelompok pengajar asal Irak yang datang ke Yaman setelah perang teluk kedua dan adanya blokade PBB terhadap Irak.

Aktivitas organisasi Pemuda Mu’min ini mencakup sejumlah provinsi, di antaranya Shon’a, Sho’dah, ‘Amron, Hajjah, Dzamar, dan Al-Mahwit. Kegiatan tersebut dilakukan melalui Masjid-Masjid dan pusat-pusat khusus yang dibangun untuk mengajarkan madzhab Zaidiyyah sesuai dengan visi Al-Hautsi. Organisasi ini juga menghidupkan peringatan hari Ghodir di provinsi Sho’dah dengan perayaan yang berubah menjadi ajang berkumpulnya suku-suku yang setia kepada Al-Hautsi. Acara ini menjadi sarana unjuk kekuatan yang menampilkan beragam jenis senjata ringan, menengah, hingga berat, serta aksi penembakan yang gencar sebagai bentuk tantangan yang jelas.

Selain itu, Organisasi Pemuda Mu’min menyelenggarakan forum-forum musim panas di berbagai wilayah. Badruddin (1431 H) memberikan legitimasi secara madzhab atas forum tersebut, memberkatinya, dan menghimbau suku-suku agar mendaftarkan anak-anak mereka di sana. Di dalam forum tersebut, para pemuda yang kebanyakan masih di bawah umur menyaksikan rekaman video tentang jatuhnya rezim Syah di Iran dan berdirinya revolusi Khomeini (1409 H). Video itu menampilkan orang-orang yang menghadapi tank tanpa rasa takut di tengah desingan peluru. Jika salah satu dari mereka tertembak hingga berdarah, dia akan berteriak:

«الله أكبر، الموت لأمريكا»

“Allohu Akbar, mampuslah Amerika.” (Mausu’ah Al-Firaq Al-Muntasibah ilal Islam, Ad-Duror As-Saniyyah, 6/389)

Abdul Karim Jadban (1435 H) atau yang lainnya terkadang memberikan ulasan terhadap video-video tersebut dan mendorong para pemuda untuk meniru pemuda revolusi Khomeini (1409 H) dalam melawan para penguasa zholim. Secara umum, para pengikut Pemuda Mu’min memfokuskan kegiatannya pada beberapa poin:

1.  Slogan-slogan permusuhan terhadap Amerika dan Israel yang diteriakkan setelah Sholat Jum’at, termasuk di Masjid Jami’ Al-Kabir di Shon’a.

2.  Berbicara mengenai isu Palestina dan kejahatan Yahudi.

3.  Memprovokasi masyarakat untuk menentang pemerintah dengan mengangkat isu harga barang, biaya hidup yang mahal, korupsi keuangan, penyimpangan pejabat, serta perampasan hak-hak orang lemah dan miskin.

4.  Menghidupkan kembali kepedihan sejarah Islam yang telah lama berlalu untuk memicu sentimen sektarian di bawah slogan Ahlul Bait.

5.  Menampilkan kekuatan dan sikap menantang dalam acara-acara keagamaan mereka, seperti hari raya Ghodir dan hari ‘Asyuro.

6.  Memicu ketakutan sektarian terhadap pihak-pihak yang mereka juluki sebagai Wahhabi dan Salafi.

 

Bab 2: Tokoh-Tokoh Sentral di Balik Gerakan Al-Hautsi

2.1 Badruddin Al-Hautsi

Badruddin bin Amiruddin bin Al-Husain bin Muhammad Al-Hautsi (1431 H) lahir pada tanggal 17 Jumadil Ula tahun 1345 H di kota Dhohyan dan tumbuh besar di Sho’dah. Sosok ini dianggap sebagai ayah rohani bagi kelompok tersebut. Secara umum, Badruddin adalah seorang penganut paham Rofidhoh, dan secara khusus dia bermadzhab Jarudi. Hal ini tampak nyata melalui celaannya terhadap para Shohabat Nabi serta adanya kesamaan yang besar antara pendapat-pendapatnya dengan para imam Rofidhoh.

Berdasarkan latar belakang madrasah ilmu tempatnya tumbuh, yaitu madrasah Jarudi yang merupakan salah satu sekte dari madzhab Zaidiyyah di Yaman, Badruddin dapat digolongkan ke dalam kelompok tersebut. Paham Jarudi sendiri tidak memiliki banyak perbedaan dengan paham Rofidhoh. Prinsip-prinsip ini telah dia tanamkan dalam buku kecilnya yang berjudul Az-Zaidiyyah fil Yaman yang ditulisnya sejak awal.

Pihak Rofidhoh berhasil memberikan pengaruh kepada Badruddin dari berbagai sisi. Salah satu yang paling menonjol adalah pengaruh dari muridnya yang menganut paham Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah, yaitu Hasan Ash-Shoffar, yang merupakan pemimpin kelompok Rofidhoh di Kerajaan Arob Saudi.

Sisi lainnya adalah dukungan Iran terhadap Badruddin Al-Hautsi (1431 H) menyusul sikapnya yang mendukung separatisme pada perang musim panas tahun 1994 M. Setelah perang tersebut, Badruddin melarikan diri ke Iran dan menemukan tempat perlindungan yang aman. Iran menyambutnya dengan tangan terbuka serta menawarkan segala bantuan untuk menolong dan mengadopsi dirinya.

Badruddin Al-Hautsi (1431 H) tidak merasa keberatan untuk bergabung dalam naungan kaum Rofidhoh. Dia tidak melihat adanya perbedaan besar di antara kedua belah pihak, terutama karena mereka sepakat dalam masalah akidah yang paling mendasar yang memisahkan mereka dengan Ahlus Sunnah. Akidah tersebut di antaranya adalah mencela para Shohabat Nabi dan menjatuhkan martabat para perawi Hadits. Selain itu, Badruddin juga menetapkan adanya kesamaan dalam akidah lainnya seperti pengingkaran terhadap kemampuan melihat Robb di Akhirat.

Badruddin justru berusaha membuktikan hal yang sebaliknya dari para tokoh pendahulunya. Dia menentang pendapat-pendapat para tokoh seperti Al-Hadi, Abdullah bin Hamzah, dan Sayyid Humaidan. Bahkan, dia menentang pendapat Imam Zaid bin Ali (122 H) sendiri terkait kaum Rofidhoh yang sebenarnya membuktikan adanya perbedaan sangat prinsipil antara kedua kelompok tersebut.

2.2 Husain Badruddin Al-Hautsi: Pemimpin Pemberontakan

Husain Badruddin Al-Hautsi (1425 H) berasal dari keluarga Hasyimiyyah yang silsilah nasabnya bersambung kepada Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu. Ayahnya adalah Badruddin Al-Hautsi (1431 H), yang merupakan salah satu ulama paling menonjol dan menjadi rujukan madzhab Zaidiyyah di Yaman. Husain menempuh pendidikan di berbagai lembaga ilmu mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Dia juga mempelajari madzhab Zaidiyyah langsung dari ayahnya serta para ulama madzhab tersebut di Sho’dah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa dia telah menyelesaikan pendidikan tingkat universitas serta meraih gelar Magister dan Doktoral di luar Yaman.

Dalam kiprah politiknya, Husain pernah menjabat sebagai anggota dewan perwakilan rakyat untuk daerah Marron di Sho’dah dari tahun 1993 M sampai 1997 M. Setelah masa jabatannya berakhir, dia mencurahkan waktunya untuk menyebarkan pemikiran dan keyakinannya melalui pelajaran, ceramah, serta melakukan perjalanan dakwah ke berbagai daerah. Dia juga memimpin Organisasi Pemuda Mu’min, membentuk cabang-cabang organisasi tersebut, serta mendirikan Hawzah-Hawzah dan Masjid-Masjid yang berafiliasi kepadanya.

2.3 Abdul Karim Jadban dan Perannya dalam Organisasi

Abdul Karim Jadban (1435 H) merupakan sosok pemuda Syi’ah yang sering menjadi bahan perdebatan mengenai keterkaitannya dengan Organisasi Pemuda Mu’min, terutama setelah terjadinya perang di Sho’dah. Dia lahir di An-Nazhir, Razih, Sho’dah pada tahun 1965 M. Jadban menjabat sebagai anggota dewan perwakilan rakyat untuk daerah pemilihan 267 di Razih, Sho’dah. Pada tahun 1988 M, dia pernah ditangkap oleh pihak keamanan politik karena keterlibatannya dalam salah satu konferensi di Iran. Dia juga pernah menjadi anggota komite penyusunan kurikulum pendidikan.

Jadban dianggap sebagai bagian dari pemuda partai Al-Haq yang memiliki kecenderungan Syi’ah secara jelas. Dia bergabung dengan partai tersebut sejak awal dan beraktivitas di dalamnya hingga akhirnya mereka keluar untuk membentuk Organisasi Pemuda Mu’min yang memiliki haluan Rofidhoh yang nyata. Jadban bersama rekan-rekannya memandang bahwa partai Al-Haq dikuasai oleh para pemimpin tua dengan pola pikir tradisional yang kuno. Menurutnya, jalur partai Al-Haq harus diperbaiki dari dalam dengan menyingkirkan para pemimpin tersebut.

Salah satu cara yang mereka tempuh adalah dengan menGhodiri beberapa konferensi di Iran. Pihak Iran sendiri merasa bahwa para pemuda seperti mereka adalah orang-orang terbaik yang dapat mewujudkan tujuan-tujuan Iran di Yaman. Benar saja, mereka mulai keluar dari gua taqiyyah melalui buletin, majalah berkala, serta berbagai aktivitas lainnya. Dalam kegiatan tersebut, mereka mulai menampakkan akidah Itsna ‘Asyariyyah mereka, memuji Iran dan Hizbulloh, serta mengeklaim bahwa tidak ada keselamatan bagi umat kecuali melalui jalan yang mereka tempuh untuk melakukan perubahan.

 

Bab 3: Kronologi Pemberontakan dan Slogan Politik

3.1 Husain Al-Hautsi dan Fase Pemberontakan Pertama

Fenomena Husain Al-Hautsi (1425 H) mulai nampak jelas melalui berbagai masalah dan pendapat yang dia lontarkan. Dia menampakkan sikap melampaui batas serta menyerang para ulama Zaidiyyah, pendapat-pendapat madzhab, maupun kitab-kitab mereka. Husain Al-Hautsi (1425 H) menganggap dirinya sebagai seorang mushlih (revolusioner) dan mujaddid (pembaharu) bagi ilmu-ilmu serta ajaran madzhab tersebut. Perkara ini bahkan melampaui batas hingga sampai pada tahap merendahkan kitab-kitab Hadits dan Ushul, serta menampakkan cercaan terhadap para Shohabat dan Ummahatul Mu’minin rodhiyallahu ‘anhum jami’an. Hal inilah yang mendorong para ulama Zaidiyyah untuk mengeluarkan sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh surat kabar Al-Ummah yang menjadi corong bagi partai Al-Haq.

Husain Al-Hautsi (1425 H) sangat terpengaruh oleh akidah Rofidhoh dan condong kepada madzhab Itsna ‘Asyariyyah mereka. Dalam ceramah-ceramahnya yang dijual dalam bentuk malazim (kumpulan tulisan), dia banyak memuji revolusi Iran, Khomeini (1409 H), serta rujukan-rujukan Syi’ah di Najaf dan Qom. Husain Al-Hautsi (1425 H) juga menampakkan dukungan serta pengaruh dari Hizbulloh Syi’ah di Lebanon, bahkan terkadang mengibarkan bendera mereka di beberapa pusat kegiatannya. Dia juga sengaja mengangkat slogan:

«الله أكبر ... الموت لإسرائيل، الموت لأمريكا، النصر للإسلام»

“Allohu Akbar ... Mampuslah Israel, mampuslah Amerika, kemenangan bagi Islam.” (Mausu’ah Al-Firoq Al-Muntasibah ilal Islam, Ad-Duror As-Saniyyah, 6/393)

Dia mendorong para pemuda organisasi dan pengikutnya untuk meneriakkan slogan tersebut setelah Sholat Jum’at di berbagai daerah, termasuk Masjid-Masjid di Shon’a dan Masjid Jami’ Al-Kabir di sana. Melalui dukungan negara, para pengikut madzhab, serta dukungan pihak luar termasuk Iran dan tokoh-tokoh serta lembaga Syi’ah di kawasan tersebut, dia berhasil mendirikan puluhan pusat ilmiah yang dinamakan hawzah (pusat studi Syi’ah) di Sho’dah, ‘Amron, Ma’rib, Al-Jauf, Hajjah, Dzamar, dan Shon’a. Pusat-pusat ini memiliki aktivitas nyata dalam mengadakan perkemahan musim panas, seminar, ceramah, dan pelajaran. Mereka juga menyebarkan banyak kumpulan tulisan dan kitab yang mempromosikan pemikirannya serta menghasut para pengikut madzhab Zaidiyyah untuk memiliki senjata dan amunisi guna menghadapi musuh dari kalangan Amerika dan Yahudi. Mereka pun menyisihkan sebagian Zakat untuk kepentingan para pembela kehormatan Islam dan madzhab tersebut.

Meskipun pemerintah merasa terganggu dengan tindakannya, dukungan dana tetap mengalir kepadanya. Pemerintah berusaha meyakinkannya untuk meninggalkan kecenderungan dan pemikiran tersebut karena dianggap memicu fitnah (kekacauan) madzhab, sektarian, dan keturunan, serta merupakan bentuk pembangkangan terhadap konstitusi dan hukum. Berbagai utusan dari kalangan ulama madzhab Zaidiyyah, tokoh-tokoh Hasyimiyyah, ulama agama, dan para pemuka suku dikirim untuk meyakinkannya, namun dia tidak mempedulikannya. Dia terus mendorong para pemudanya yang berusia antara 15 sampai 25 tahun untuk menunjukkan kekuatan agama dan politiknya dengan berdemonstrasi di sebagian besar Masjid setelah Sholat Jum’at. Dalam salah satu demonstrasi menuju kedutaan Amerika saat perang Irak tahun 2003 M, jatuhlah korban jiwa.

Bentrokan antara negara dan para pengikut Al-Hautsi pun mulai mengambil bentuk penangkapan dan penutupan toko-toko seperti perpustakaan dan tempat rekaman Syi’ah. Sementara itu, Husain Al-Hautsi (1425 H) mulai membentengi diri di pegunungan Marron yang merupakan tempat kelahirannya. Dia membangun benteng-benteng pertahanan, membekali pengikutnya dengan senjata dan amunisi, serta mulai melakukan mobilisasi melawan serangan Amerika atau Israel yang dia klaim akan terjadi. Pihak negara mencatat adanya pembentukan milisi, pembangunan benteng pertahanan, pengadaan senjata, dan pembagian uang. Akibat sikapnya yang tidak kooperatif, diputuskanlah untuk mengepung dan mengelilinginya agar dia menyerahkan diri. Ketika pengepungan dimulai, dia melakukan serangan bersenjata terhadap tentara dan pihak keamanan, sehingga pertempuran pun terpaksa terjadi pada 18 Juni 2004 M. Di tengah peristiwa itu, media resmi mulai menyebutkan klaim Husain Al-Hautsi (1425 H) mengenai imamah, Al-Mahdi, bahkan kenabian.

3.2 Analisis Slogan Anti Amerika dan Realita Lapangan

Gerakan Al-Hautsi memulai pembentukan Organisasi Pemuda Mu’min dengan slogan mampuslah Israel dan mampuslah Amerika. Namun, senjata mereka justru diarahkan kepada pasukan tentara dan keamanan Yaman, serta menolak untuk menyerahkan senjata yang mereka klaim untuk menghadapi Amerika. Mengenai hal ini, wakil duta besar Amerika di Shon’a, Nabil Khoury, menyatakan penyesalannya atas keterpaksaan negara Yaman menghadapi pemberontakan baru di wilayah Sho’dah di saat negara sangat membutuhkan fokus pada perbaikan ekonomi dan dialog nasional. Walaupun dia mengecam pemberontakan tersebut, dia tetap menyerukan ketenangan, dialog, dan menjauhi kekerasan. Pernyataan ini dianggap tidak seperti biasanya dari bahasa diplomatik Amerika yang biasanya menekankan kemitraan dalam melawan terorisme.

Terdapat keganjilan di mana Amerika Serikat melalui kedutaannya di Yaman justru berupaya membeli senjata dari suku-suku dan pasar senjata, terutama di Sho’dah, dengan dalih mengakhiri fenomena kepemilikan senjata. Namun, nasib senjata tersebut tidak dijelaskan secara transparan, bahkan muncul dugaan bahwa senjata-senjata tersebut justru sampai ke tangan Al-Hautsi dan pengikutnya melalui perantara. Hal ini didasarkan pada temuan adanya senjata canggih dan amunisi dalam jumlah besar, bahkan penemuan gudang-gudang senjata di Sho’dah tempat para pengikut Al-Hautsi tersebar. Yahya Badruddin Al-Hautsi, saudara Husain, dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa pemerintah Yaman pada awalnya justru mendorong saudaranya untuk melontarkan kritik terhadap Amerika guna mengalihkan perhatian Amerika kepada musuh yang diciptakan di Yaman. Dia menegaskan bahwa penganut madzhab Zaidiyyah di Yaman tidak memusuhi siapa pun dan telah hidup berdampingan dengan kaum Nashoro (Kristen) serta Yahudi sepanjang sejarah mereka tanpa menyakiti.

 

Bab 4: Doktrin Wilayah dan Kedudukan Pemimpin

4.1 Konsep Wilayah dalam Pandangan Husain Al-Hautsi

Husain Badruddin Al-Hautsi (1425 H) meyakini bahwa Nabi tidaklah wafat hingga beliau mengumumkan bahwa penggantinya adalah Ali bin Abi Tholib (40 H). Husain menyatakan:

«نجتمع في هذا اليوم بمناسبة إحياء ذكرى إعلان ولايته على الأمة كلها، الإمام أمير المؤمنين وسيد الوصيين علي بن أبي طالب صلوات الله عليه، وسلم على أهل بيت رسول الله الذين نهجوا وساروا بسيرته، فأصبحوا هداة للأمة ورضي الله عن شيعتهم الأخيار»

“Kita berkumpul pada hari ini dalam rangka memperingati pengumuman wilayah (kepemimpinan) beliau atas seluruh umat, yaitu Imam Amirul Mu’minin dan penghulu para washi (penerima wasiat) Ali bin Abi Tholib, sholawat Alloh atasnya dan salam atas Ahlul Bait Rosululloh yang menempuh jalan dan berjalan dengan sirohnya, sehingga mereka menjadi pemberi petunjuk bagi umat, dan semoga Alloh meridhoi pengikut mereka yang terpilih.” (Mausu’ah Al-Firoq Al-Muntasibah ilal Islam, Ad-Duror As-Saniyyah, 6/ 395)

Husain meyakini bahwa wilayah Ali bin Abi Tholib (40 H) telah ditetapkan melalui nash (teks) yang jelas, gamblang, dan shorih (tegas) dari Alloh kepada Rosul-Nya, lalu dari Rosul kepada umat di hari Ghodir Khum. Keyakinan ini persis dengan akidah Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah dari kalangan Rofidhoh.

4.2 Doktrin Kesesatan Umat dan Pengkafiran

Berdasarkan konsep wilayah tersebut, Husain Al-Hautsi (1425 H) meyakini adanya kesesatan umat dan kemaksiatan mereka kepada Rosul di hari Ghodir Khum. Dia beranggapan bahwa umat telah mengabaikan perintah Nabi meskipun puluhan ribu Muslim berkumpul untuk mendengarkan perintah pengangkatan Ali sebagai pengganti beliau. Keyakinan yang melampaui batas ini menganggap umat Islam telah sesat setelah wafatnya Nabi , padahal umat secara keseluruhan adalah ma'shum (terjaga) dan tidak akan bersepakat di atas kesesatan.

Husain Al-Hautsi (1425 H) bahkan menyamakan masyarakat Shohabat setelah wafatnya Nabi serta para ahlu hilli wal ‘aqdi (para tokoh pengambil keputusan) dari kalangan Muhajirin dan Anshor yang memilih Abu Bakar (13 H), Umar (23 H), dan Utsman (35 H) dengan Amerika dan Israel. Dia mengeklaim bahwa umat memaksakan para pemimpin tersebut sebagaimana dua negara kafir itu memaksakan rezim-rezim kaki tangan mereka saat ini. Penyerupaan ini mengandung unsur pengkafiran terhadap umat secara keseluruhan, serta mencabut sifat khoiriyyah (kebaikan) dari umat ini yang telah Alloh tetapkan dalam firman-Nya:

﴿كُنتُمْ خَيْرَ أمة أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ﴾

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang mu’min, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali ‘Imron: 110)

Husain Al-Hautsi (1425 H) secara terang-terangan menyatakan kekafiran bagi siapa pun yang menolak imamah Ali bin Abi Tholib (40 H) setelah wafatnya Nabi .

 

Bab 5: Fakta Permusuhan Terhadap Shohabat dan Istri Nabi

5.1 Pelecehan Terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman

Husain Al-Hautsi (1425 H) memiliki pandangan yang sangat ekstrem dan penuh kebencian terhadap para Kholifah Rosululloh . Dia beranggapan bahwa para Kholifah Rasyidin merupakan bagian dari keburukan-keburukan Umar bin Al-Khoththob (23 H). Baginya, umat Islam saat ini menderita akibat dari sikap para Shohabat yang menyelisihi Alloh dan Rosul-Nya.

Dalam salah satu ceramahnya, Husain Al-Hautsi (1425 H) menyatakan:

«معاوية سيئة من سيئات عمر في اعتقادي ليس معاوية بكله إلا سيئة من سيئات عمر بن الخطاب، وأبو بكر هو واحدة من سيئاته، عثمان واحدة من سيئاته، كل سيئة في هذه الأمة كل ظلم وقع للأمة وكل معاناة وقعت الأمة فيها المسئول عنها أبو بكر وعمر وعثمان، عمر بالذات لأنه هو المهندس للعملية كلها، هو المرتب للعملية كلها فيما يتعلق بأبي بكر»

“Mu’awiyah (60 H) adalah satu keburukan dari keburukan-keburukan Umar -dalam keyakinanku-. Tidaklah Mu’awiyah secara keseluruhan melainkan satu keburukan dari keburukan-keburukan Umar bin Al-Khoththob. Abu Bakar (13 H) adalah salah satu dari keburukan-keburukannya, Utsman (35 H) adalah salah satu dari keburukan-keburukannya. Setiap keburukan di tengah umat ini, setiap kezholiman yang menimpa umat, dan setiap penderitaan yang dialami umat, maka yang bertanggung jawab atas hal itu adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Terutama Umar, karena dialah arsitek bagi seluruh proses tersebut, dialah yang mengatur seluruh proses yang berkaitan dengan Abu Bakar.” (Suroh Al-Ma-idah Ad-Darsul Awwal At-Tawalli lil Yahudi wa Khuthurotuhu, Husain Al-Hautsi, hlm. 2)

Husain bahkan mengeklaim bahwa baiat kepada Abu Bakar (13 H) adalah sebuah bencana besar yang dampaknya masih dirasakan umat Islam hingga kini, yang menyebabkan umat terus merosot hingga berada di bawah kaki Yahudi.

Kebencian yang sedemikian rupa terhadap Al-Faruq Umar (23 H) sebenarnya berakar dari dendam kaum Majusi, karena Umarlah yang memadamkan api Majusi dan menghancurkan kekuatan Persia.

Lebih jauh lagi, Husain Al-Hautsi (1425 H) berpendapat bahwa mencintai atau memiliki loyalitas meskipun hanya sekecil dzarroh (biji sawi) kepada Abu Bakar (13 H) dan Umar (23 H) merupakan penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan hidayah. Dia mensifatkan orang yang loyal kepada keduanya sebagai orang yang menyelisihi Rosululloh serta berada di pihak yang buruk dan najis. Terhadap Utsman bin Affan (35 H), Husain meragukan kejujuran pemberian harta Utsman untuk membiayai pasukan Jaisul ‘Usroh (Perang Tabuk) dan menganggap hal itu tidak realistis.

5.2 Kebencian Terhadap Ummahatul Mu’minin Aisyah

Penyimpangan Husain Al-Hautsi (1425 H) juga menyasar istri tercinta Nabi , Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H). Di antara kemungkaran besar yang dilakukan Husain Badruddin Al-Hautsi (1425 H) adalah melakukan ritual bid’ah yang sangat melecehkan Ummul Mu’minin. Dia mengambil seekor anjing betina hitam, lalu menguburnya hingga sebatas pinggang, kemudian dia memerintahkan para pengikutnya:

«ارموا عائشة التي لم يقم عليها الحد»

“Lempari Aisyah yang belum ditegakkan hukuman had atasnya.” (At-Tasyayyu’ fi Sho’dah, Abdurrohman Al-Mujahid, 2/128)

Tindakan keji ini menunjukkan betapa dalamnya pengaruh paham Rofidhoh yang penuh kebencian terhadap keluarga dan para Shohabat Nabi yang telah dijamin keridhoan Alloh atas mereka.

 

Bab 6: Hubungan Gerakan Al-Hautsi dengan Madzhab Zaidiyyah dan Syi’ah Rofidhoh

6.1 Kritik Husain Al-Hautsi Terhadap Madzhab Zaidiyyah

Husain Al-Hautsi (1425 H) dalam banyak kesempatan menyerang madzhab Zaidiyyah secara terselubung dengan dalih sebagai pemberi nasihat. Dia berusaha mencari pembenaran untuk melepaskan diri dari Zaidiyyah dan menjerumuskan pengikutnya ke dalam pelukan Rofidhoh. Dia mengeklaim bahwa kaum Zaidiyyah memikul tanggung jawab lebih besar atas keterpurukan umat dan menuduh mereka hidup dalam kehinaan yang lebih buruk daripada Bani Israil karena telah menyia-nyiakan tanggung jawab.

Husain secara terang-terangan menolak ilmu Ushul Fiqih dengan alasan bahwa ilmu tersebut berasal dari pengaruh kaum “Sunni” (Ahlus Sunnah). Dia berkata:

«إن الزيدية لا يتوقع أن تنهض إلا إذا نظرنا نظرة موضوعية لنصحح ثقافتنا، فما كان قد وصل إلينا عن طريق السنية، وما كان في الواقع هو من تراث السنية أصول الفقه هو سني ليس صحيحاً أنه من علم أهل البيت... هذه علوم جاءتنا من عند فئة ضالة فأضلتنا فعلاً، ونحن نشهد على أنفسنا بالضلال»

“Sesungguhnya Zaidiyyah tidak diharapkan untuk bangkit kecuali jika kita melihat dengan pandangan objektif untuk memperbaiki budaya kita. Apa yang sampai kepada kita melalui jalan Sunni, dan apa yang sebenarnya merupakan warisan Sunni seperti ‘Ushul Fiqih’, itu adalah Sunni dan tidak benar bahwa itu berasal dari ilmu Ahlul Bait... Ini adalah ilmu-ilmu yang datang kepada kita dari kelompok yang sesat sehingga benar-benar menyesatkan kita, dan kita bersaksi atas diri kita sendiri dengan kesesatan.” (Mas-uliyyah Thullab Al-’Ulum Ad-Diniyyah, Husain Al-Hautsi, hlm. 18)

Dia juga mencela para imam Zaidiyyah di masa lalu dengan mengatakan bahwa banyak di antara mereka yang tidak layak memimpin umat dan tidak memiliki kualifikasi yang sempurna. Hal ini memicu reaksi keras dari para ulama Zaidiyyah yang kemudian mengeluarkan pernyataan sikap untuk berlepas diri dari kesesatan Husain Al-Hautsi (1425 H) dan memperingatkan umat agar tidak tertipu oleh ucapannya yang tidak ada sangkut pautnya dengan Ahlul Bait maupun madzhab Zaidiyyah.

6.2 Pengaruh Revolusi Iran dan Tokoh-Tokoh Syi’ah Internasional

Husain Al-Hautsi (1425 H) sangat mengagungkan revolusi Iran dan menganggapnya sebagai satu-satunya jalan keselamatan bagi bangsa-bangsa Muslim. Terdapat kemiripan yang sangat mencolok antara gerakan Al-Hautsi dengan revolusi Khomeini (1409 H) di Iran, terutama dalam landasan pemikiran Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah.

Husain sering memuji Khomeini (1409 H) sebagai sosok yang memahami makna Haji yang sebenarnya karena memerintahkan jamaah Haji Iran untuk meneriakkan baro-ah (berlepas diri) dari Amerika dan Israel. Dia juga membela Iran dalam perang Irak-Iran dan mengecam negara-negara Arob, termasuk Yaman, yang mendukung Irak kala itu. Husain menyebut Khomeini (1409 H) sebagai imam yang adil dan bertaqwa, serta menganggap kemunculannya sebagai nikmat dari Alloh bagi bangsa Arob yang sayangnya tidak dimanfaatkan.

Selain Khomeini (1409 H), Husain juga sangat mengagumi tokoh-tokoh Syi’ah lainnya seperti Hasan Nashrullah (1446 H) dari Hizbulloh Lebanon. Dia memuji keberanian Nashrullah dalam berpidato yang menurutnya mampu menggetarkan Israel, berbeda dengan para pemimpin Arob lainnya. Keterikatan ini bukan sekadar kekaguman emosional, melainkan hubungan ideologis yang mendalam, di mana Al-Hautsi berusaha menduplikasi model revolusi Iran di tanah Yaman.

 

Bab 7: Strategi Menjajah, Aktivitas Sosial, dan Pendanaan

7.1 Peran Iran dalam Penyebaran Paham Rofidhoh di Yaman

Negara Iran sejak berdirinya revolusi Syi’ah telah mengadopsi prinsip ekspor revolusi ke dunia Arob dan Islam. Di Yaman, kondisi madzhab Hadawiyyah dimanfaatkan sebagai lahan subur bagi penetrasi Syi’ah, terutama setelah hancurnya Irak pada perang teluk kedua. Kedutaan Besar Iran di Shon’a melakukan upaya intensif sejak tahun 1990 M untuk merekrut para pengikut madzhab Zaidiyyah.

Ulama besar Yaman, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (1422 H) rohimahullah, telah memperingatkan bahaya ini melalui ucapannya yang masyhur: “Bawakan kepadaku seorang Zaidiyyah kecil, maka aku akan keluarkan darinya seorang Rofidhoh besar”. Strategi ini terlihat dari kemunculan Hizbulloh pada tahun 1990 M dan pembentukan Organisasi Pemuda Mu’min yang mengusung slogan revolusi Iran serta mengibarkan benderanya. Mereka mulai menyebarkan akidah Rofidhoh seperti mencela para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, membangun Husainiyyah (tempat ibadah Syi’ah), dan merayakan hari raya Ghodir Khum.

Berbagai simbol Syi’ah seperti Khomeini (1409 H), As-Sistani, dan Hasan Nashrullah (1446 H) dipromosikan melalui poster dan buku di Yaman. Para pengikut Al-Hautsi juga diketahui mendapatkan pelatihan militer di kamp-kamp milik Garda Revolusi Iran bersama milisi Korps Badr setelah jatuhnya Baghdad pada tahun 2003 M. Tujuan strategis Iran adalah meningkatkan pengaruh Syi’ah di jazirah Arob dan mengalihkan perhatian umat Islam dari perjuangan di Irak.

7.2 Kegiatan Sosial dan Perayaan Keagamaan di Sho’dah

Kelompok Syi’ah di Sho’dah memiliki agenda rutin dalam menghidupkan peringatan keagamaan khusus mereka untuk menarik simpati massa. Peringatan yang paling terkenal adalah Idul Ghodir, di mana mereka memutar video di rumah-rumah dan melakukan latihan menembak. Di wilayah Dhohyan, pengaruh Iran sangat terasa kuat; para pengikut Al-Hautsi akan merayakan dengan suka cita dan melepaskan tembakan ke udara jika Iran memenangkan pertandingan sepak bola atau meraih kemenangan politik.

Coretan-coretan di dinding jalanan Sho’dah dipenuhi dengan slogan-slogan berbau Rofidhoh seperti:

«علي حبة جنة قسيم النار والجنة»

“Mencintai Ali adalah pintu Jannah, pembagi antara Naar dan Jannah”.

«لا يدخل الجنة إلا من له جواز من علي»

“Tidak akan masuk Jannah kecuali orang yang memiliki paspor dari Ali”.

Peringatan lain yang rutin dilakukan adalah hari ‘Asyuro (mengenang wafatnya Husain), hari wafatnya Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu, dan malam pertengahan Sya’ban. Di wilayah Marron, Husain Al-Hautsi (1425 H) mewajibkan perayaan-perayaan ini dan memberikan fatwa menyesatkan bahwa setiap tembakan peluru ke udara dalam perayaan tersebut akan mendapatkan pahala 10 kebaikan. Semakin banyak peluru yang ditembakkan, maka semakin besar pula pahalanya menurut doktrin mereka.

7.3 Sumber Dukungan Dana dan Kekuatan Ekonomi

Gerakan Al-Hautsi memiliki sumber pendanaan yang beragam untuk menjalankan aktivitasnya:

Dukungan Resmi: Pada awalnya, Organisasi Pemuda Mu’min menerima dukungan dana bulanan dari pemerintah Yaman dengan tujuan menciptakan keseimbangan politik.

Dukungan Iran: Kedutaan Besar Iran memberikan bantuan materi yang besar, termasuk menyerahkan keuntungan Rumah Sakit Iran di Shon’a dan hasil penjualan apel Iran langsung kepada Husain Al-Hautsi (1425 H).

Dukungan Syi’ah Teluk: Mereka menerima dana dari kelompok Syi’ah di negara-negara Teluk, khususnya dari Arob Saudi, dengan dalih memerangi Wahhabiyyah di Sho’dah.

Pedagang Senjata dan Mata Uang: Para pedagang besar di Sho’dah banyak yang memberikan dukungan finansial karena loyalitas madzhab.

Zakat dan Khumus: Mereka mewajibkan para petani dan pedagang untuk menyerahkan Zakat serta Khumus (seperlima harta) kepada organisasi, sembari memfatwakan haromnya menyerahkan Zakat kepada negara.

Perusahaan Investasi: Kelompok ini memiliki beberapa perusahaan, di antaranya Perusahaan Penukaran Uang Ghadroh yang memiliki cabang di Sho’dah dan Shon’a.

 

Bab 8: Peta Kekuatan Politik dan Lembaga Pendidikan

8.1 Politik dan Media Massa Syi’ah di Yaman

Secara politik, kelompok Syi’ah di Yaman bergerak melalui berbagai jalur untuk mencapai tujuannya. Mereka menyusup ke dalam struktur kekuasaan pemerintah maupun barisan oposisi. Sebagian anggota mereka secara lahiriyah bergabung dengan partai penguasa namun secara batiniah bekerja untuk kepentingan Organisasi Pemuda Mu’min guna meraih keuntungan materi dan perlindungan politik.

Wadah utama kegiatan politik mereka adalah Partai Al-Haq yang didirikan oleh Husain Al-Hautsi (1425 H), meskipun kemudian dia memisahkan diri. Selain itu terdapat Persatuan Kekuatan Rakyat yang dipimpin oleh Ibrahim bin Ali Al-Wazir yang berpusat di Washington. Di bidang media, mereka memiliki surat kabar yang tersebar luas seperti Al-Ummah, Al-Balagh, dan Al-Syuro yang menjadi corong penyebaran paham Syi’ah di tengah masyarakat Yaman.

8.2 Sekolah-Sekolah dan Pusat Dakwah Al-Hautsi

Gerakan ini membangun jaringan pendidikan yang kuat sebagai basis pengaderan:

Madrosah Al-Hadi: Merupakan pusat utama peluncuran dakwah Al-Hautsi yang terletak di puncak gunung Marron, Sho’dah.

Pusat Dhohyan: Sebuah pusat kegiatan di Sho’dah yang pembukaannya dilakukan oleh Duta Besar Iran di Shon’a.

Pusat Ilmiah Badr: Berlokasi di ibu kota Shon’a, dikelola oleh Murtadho Zaid Al-Mahthuri (1436 H), yang mengajarkan ilmu-ilmu madzhab Zaidiyyah.

Pusat Studi Islam: Dipimpin oleh Ibrahim bin Muhammad Al-Wazir di Shon’a yang juga menerbitkan surat kabar Al-Balagh.

Madrosah Ja’fariyyah: Terletak di kota Aden dan merupakan lembaga dakwah Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah yang paling tua di Yaman.

Dar Ahbab Ahlil Bait: Pusat kebudayaan Syi’ah pertama di provinsi Ta’izz yang dipimpin oleh Abu Husain Ali Al-Syami.

Bab 9: Daftar Syubhat dan Doktrin Kesesatan yang Disebarkan

Syubhat merupakan salah satu sarana terpenting bagi kelompok Syi’ah di Sho’dah untuk meyakinkan masyarakat dan menarik mereka ke dalam barisan mereka. Melalui penyebaran keraguan ini, mereka berupaya merusak citra Ahlus Sunnah di mata orang awam yang pada dasarnya memiliki fitrah yang sederhana. Hal ini dilakukan agar masyarakat berpaling dari kebenaran dan merasa ragu terhadap ajaran yang selama ini mereka yakini.

Berikut adalah poin-poin utama dari syubhat dan doktrin menyimpang yang disebarkan oleh kelompok Al-Hautsi:

Ø Keyakinan akan mustahilnya melihat Robb baik di dunia maupun di Akhirat. Mereka bahkan mengkafirkan siapa pun yang menyatakan bahwa Alloh dapat dilihat di Akhirat serta melarang Sholat di belakang orang tersebut.

Ø Pengingkaran terhadap Syafa’at bagi pelaku dosa besar dari umat Muhammad dan berkeyakinan bahwa mereka kekal di dalam Naar.

Ø Pengingkaran terhadap peristiwa Mi’roj Nabi menuju Sidrotul Muntaha.

Ø Klaim bahwa Ahlul Bait telah dizholimi dan merupakan satu-satunya yang berhak atas Khilafah. Mereka menuduh Ahlus Sunnah telah merampas kekuasaan dari tangan Ahlul Bait, baik di masa lampau oleh Dinasti Umayyah dan Abbasiyyah, maupun oleh rezim penguasa saat ini.

Ø Memberikan peringatan keras agar masyarakat tidak membaca buku-buku karya ulama Wahhabi atau duduk bersama mereka. Mereka mengeklaim bahwa dakwah ini membawa agama baru yang mengkafirkan nenek moyang.

Ø Pengingkaran terhadap sebagian sifat-sifat ketuhanan dengan alasan untuk meniadakan penyerupaan (tasybih) dan pembendaan (tajsim). Mereka berpendapat bahwa sifat adalah zat itu sendiri dan ilmu Alloh adalah zat-Nya.

Ø Dalam masalah Takdir, mereka menetapkan bahwa hamba memiliki kehendak yang terlepas dari kehendak Alloh. Mereka beranggapan bahwa hamba menciptakan perbuatannya sendiri dan Alloh tidak menciptakan keburukan.

Ø Pengingkaran terhadap sifat ketinggian (uluw) Alloh di atas makhluk-Nya.

Ø Meragukan serta mencela keadilan para Shohabat Nabi .

Ø Menyebarkan kembali berita bohong (haditsul ifki) terhadap Ummul Mu’minin Aisyah rodhiyallahu ‘anha. Mereka menyebarkan fitnah bahwa Aisyah telah melakukan perbuatan keji (zina) dan mengeklaim bahwa beliau bukanlah bagian dari Ummahatul Mu’minin.

Ø Menuduh para Shohabat telah menzholimi Fathimah rodhiyallahu ‘anha dan menghalangi hak warisnya.

Ø Doktrin bahwa imam Sholat tidak sah kecuali dilakukan oleh seorang imam dari kalangan Ahlul Bait. Bahkan dilaporkan bahwa sebagian pengikut mereka meninggalkan Sholat Jum’at setelah kematian Husain Al-Hautsi (1425 H) karena menganggap tidak ada lagi imam yang sah.

Ø Mengingkari masalah-masalah Ghaib seperti adanya Shiroth (jembatan), Mizan (timbangan amal), dan adzab kubur.

Ø Mendahulukan akal di atas dalil wahyu (naql) sebagaimana haluan kaum Mu’tazilah.

Ø Mencaci maki Abu Huroirah (59 H), ‘Amru bin Al-‘Ash (43 H), dan para Shohabat utama lainnya, terutama dalam peringatan ‘Asyuro dan hari raya Ghodir.

Ø Menyebarkan buku-buku yang memuat fitnah di antara para Shohabat pasca terbunuhnya Utsman bin Affan (35 H).

Ø Meyakinkan masyarakat bahwa mereka memiliki hak atas Khumus (seperlima bagian) dari segala sesuatu, termasuk harta milik negara. Berdasarkan hal ini, mereka menghalalkan penjarahan terhadap harta umum.

Ø Melarang suku-suku (yang bukan keturunan Hasyimiyyah) untuk menikahi wanita dari kalangan Hasyimiyyah dengan alasan tidak sekufu (setara), kecuali jika terdapat kepentingan politik atau materi di baliknya.

Ø Menghina Hadits tentang turunnya Alloh ke langit dunia. Mereka mengejek dan menyebarkan berita bohong kepada orang awam bahwa Ahlus Sunnah meyakini Alloh turun dengan menunggangi keledai yang pincang.

Ø Melakukan pementasan drama yang menggambarkan Abu Huroirah (59 H) sebagai sosok yang mencari muka kepada penguasa dan menuduhnya memalsukan Hadits demi mendekatkan diri kepada Bani Umayyah.

Ø Mengeklaim bahwa Kholid bin Walid (21 H) sebenarnya tidak pernah masuk Islam.

Ø Mengeklaim bahwa kaum Sunni adalah pihak yang telah membunuh Husain bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma.

Ø Menuduh bahwa kaum Sunni bekerja sama dengan Yahudi dan Nashoro untuk melawan mereka.

Demikianlah berbagai syubhat dan doktrin yang menjadi landasan bagi pergerakan Al-Hautsi di Yaman. Seluruh ajaran ini menunjukkan betapa jauhnya penyimpangan mereka dari prinsip-prinsip Islam yang murni serta besarnya kebencian yang mereka tanamkan terhadap para pendahulu umat yang sholih.

 

Penutup

Kelompok Al-Hautsi yang sebelumnya hanya merupakan gerakan pemberontakan, kini telah bertransformasi menjadi kekuatan penguasa de facto di wilayah barat laut Yaman, termasuk ibu kota Shon’a, sejak akhir tahun 2014 M. Hingga tahun 2026 ini, mereka mengendalikan wilayah-wilayah strategis dan menjalankan pemerintahan sendiri yang terpisah dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Penguasaan ini mencakup pelabuhan-pelabuhan penting di Laut Merah, seperti Hodeidah, yang memberikan mereka kendali atas jalur perdagangan internasional di Selat Bab Al-Mandab.

 

Pada tahun 2026, peran kelompok Al-Hautsi semakin meluas ke kancah internasional sebagai bagian dari aliansi poros perlawanan yang didukung oleh Iran. Mereka secara aktif terlibat dalam eskalasi perang melawan Amerika dan Isroil, terutama sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran. Al-Hautsi telah meluncurkan berbagai serangan menggunakan rudal balistik dan pesawat tanpa awak (drone) ke wilayah Israel, termasuk menargetkan Bandara Ben Gurion pada April 2026. Kelompok ini juga mengancam akan melumpuhkan lalu lintas kapal di Laut Merah dan menutup Selat Bab Al-Mandab jika serangan terhadap sekutu mereka tidak dihentikan. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan Al-Hautsi bukan lagi sekadar masalah internal Yaman, melainkan telah menjadi ancaman bagi stabilitas keamanan regional dan ekonomi global.

Kekuasaan kelompok Al-Hautsi di wilayah utara Yaman membawa dampak yang sangat berat bagi penduduk setempat. Sekitar 70 persen kebutuhan kemanusiaan di Yaman berada di wilayah yang mereka kuasai. Namun, distribusi bantuan sering kali terhambat oleh pembatasan dan lingkungan operasi yang tidak aman. Pada awal tahun 2026, Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan penghentian operasi dan pemutusan kontrak staf di wilayah utara karena kendala keamanan dan tekanan dari otoritas Al-Hautsi. Selain itu, kelompok ini terus melakukan tindakan penangkapan sewenang-wenang terhadap personel organisasi internasional, lembaga swadaya masyarakat, serta misi diplomatik. Pengadilan yang berada di bawah kendali mereka juga sering mengeluarkan vonis mati terhadap pihak-pihak yang dituduh sebagai mata-mata. Kondisi ini semakin memperparah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di tengah masyarakat Muslimin di Yaman.

Yang terakhir, Hautsi beraqidah Syiah Rofidhoh alias Imamiyah Itsna Asyariyah yang bersaudara dengan Iran, mereka memiliki aqidah Taqiyyah yaitu berbohong demi mewujudkan tujuan menguasai ekonomi dan menyebarkan aqidahnya, sehingga ia menjadi ancaman negara-negara Muslim Teluk dan dunia.

Allohu a’lam.[NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url