Cari Ebook

[PDF] Gelombang Ujian Setelah Hijroh - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarga, para Shohabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga Hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Hijroh merupakan perpindahan agung, bukan sekadar perpindahan raga dari satu negeri ke negeri lain, namun perpindahan hati dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kesyirikan menuju tauhid, dan dari kejahilan menuju ilmu syar’i. Tatkala seorang hamba memutuskan untuk kembali kepada Robb semesta alam, dia harus menyadari bahwa jalan menuju Jannah tidaklah ditaburi dengan bunga mawar yang harum, melainkan dipenuhi dengan onak dan duri ujian. Ujian adalah sunnatulloh yang berlaku bagi setiap jiwa yang mengaku beriman. Alloh berfirman:

﴿الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢

“Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 1-2)

Seseorang yang telah berhijroh akan menghadapi gelombang ujian yang datang silih berganti. Ujian tersebut berfungsi sebagai pembeda antara mereka yang jujur dalam imannya dengan mereka yang berdusta. Sebagaimana emas yang harus dibakar untuk memisahkan antara logam murni dengan kotorannya, demikian pula hati manusia harus ditempa dengan berbagai cobaan agar nampak hakikat ketaqwaan yang sesungguhnya. Hijroh adalah awal dari perjuangan besar untuk meraih ridho Alloh dan menjauhkan diri dari adzab Naar. Dalam perjalanan ini, seorang Mu’min tidak boleh berputus asa, karena di balik setiap kesulitan terdapat kemudahan yang telah dijanjikan oleh Robbnya.

Buku ini disusun untuk menguatkan hati para muhajir agar tetap istiqomah di atas manhaj yang haq, memahami hakikat ujian sebagai bentuk rohmat, dan memandang Jannah sebagai tujuan akhir yang layak untuk diperjuangkan dengan segala pengorbanan harta maupun jiwa.

 

Bab 1: Hijroh dan Sunnatulloh Ujian

1.1 Definisi Hijroh yang Benar

Hijroh secara bahasa bermakna meninggalkan atau menjauhi. Dalam konteks syariat, hijroh mencakup meninggalkan negeri kafir menuju negeri Islam, serta meninggalkan segala larangan Alloh . Seseorang disebut melakukan hijroh apabila dia memutus ikatan dengan masa lalu yang penuh kemaksiatan dan beralih menuju pengabdian yang murni hanya kepada Alloh . Hal ini ditegaskan dalam firman Alloh :

﴿وَمَن يُهَاجِرۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُرَٰغَمٗا كَثِيرٗا وَسَعَةٗۚ

“Barangsiapa berhijroh di jalan Alloh, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijroh yang luas dan rizqi yang banyak.” (QS. An-Nisa: 100)

Ayat ini memberikan jaminan bahwa hijroh yang didasari niat ikhlas untuk mencari wajah Alloh akan mendatangkan keluasan dalam hidup, meskipun pada awalnya nampak berat. Rosululloh juga menjelaskan hakikat pelaku hijroh dalam sabda beliau:

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

“Seorang Muslim adalah orang yang Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang muhajir (orang yang berhijroh) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 10 dan Muslim no. 40)

Berdasarkan dalil di atas, hijroh bukan sekadar perubahan penampilan atau casing luar, melainkan perubahan mendalam pada aspek bathiniyyah (dalam diri). Hijroh yang shohih adalah hijrohnya hati menuju Robbnya dengan penuh rasa harap dan takut.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan bahwa hijroh ada 2 jenis, yaitu hijroh dengan badan dan hijroh dengan hati.

Hijroh hati adalah pokok, di mana seorang hamba lari dari kecintaan kepada selain Alloh menuju kecintaan kepada-Nya, dan dari peribadahan kepada selain-Nya menuju peribadahan hanya kepada-Nya. Alloh berfirman memerintahkan hambanya untuk lari menuju perlindungan-Nya:

﴿فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِيرٞ مُّبِينٞ ٥٠

“Maka segeralah lari kembali kepada Alloh. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Alloh untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)

Hijroh juga berarti mengikuti tuntunan Nabi secara totalitas. Tanpa ittiba’ (mengikuti) kepada Rosululloh , maka hijroh seseorang akan kehilangan ruhnya. Alloh berfirman:

﴿قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imron: 31)

1.2 Dunia Sebagai Negeri Ujian

Dunia bukanlah tempat menetap yang kekal, melainkan tempat persinggahan untuk menanam amal sholih. Bagi seorang Mu’min yang baru saja menapaki jalan hijroh, dia harus memahami bahwa dunia adalah tempat ujian (darul ibtila’). Kenikmatan dunia seringkali menjadi hijab (penghalang) yang dapat memalingkan manusia dari Akhiroh. Alloh berfirman:

﴿ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa poros kehidupan manusia berputar pada ujian. Tidak ada satu detik pun dalam kehidupan seorang muhajir melainkan di dalamnya terdapat ujian, baik berupa kesenangan yang menuntut syukur, maupun kesempitan yang menuntut sabar. Rosululloh menggambarkan perbandingan dunia bagi kaum Mu’min dengan sabdanya:

«الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ»

“Dunia adalah penjara bagi orang Mu’min dan Surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)

Dikatakan penjara karena seorang Mu’min terikat dengan berbagai aturan syariat, larangan-larangan yang harus dijauhi, dan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan. Syaithon akan selalu berusaha membuat dunia nampak indah di mata manusia agar mereka tergelincir. Alloh mengingatkan:

﴿زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ ١٤

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allohlah tempat kembali yang baik (Surga).” (QS. Ali ‘Imron: 14)

Seorang yang berhijroh akan diuji dengan apa yang paling dia cintai di dunia ini. Ujian tersebut bisa datang dalam bentuk ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Alloh berfirman:

﴿وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 155)

1.3 Hikmah Alloh dalam Menguji Hamba-Hamba-Nya

Alloh tidak memberikan ujian secara sia-sia. Di balik setiap takdir yang nampak pahit bagi perasaan manusia, tersimpan hikmah yang sangat besar. Salah satu hikmah utama adalah untuk mensucikan dosa-dosa hamba sebelum ia menghadap Robbnya. Rosululloh bersabda:

«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, maupun kegalauan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Selain penghapusan dosa, ujian bertujuan untuk mengangkat derajat seorang hamba di Jannah. Terkadang seorang hamba memiliki kedudukan tinggi di sisi Alloh yang tidak dapat dicapai hanya dengan amalan rutinnya, maka Alloh mengujinya agar dia sampai pada kedudukan tersebut melalui kesabaran.

Hikmah lainnya adalah agar hamba tersebut senantiasa merasa butuh (iftiqor) kepada Alloh . Saat ujian menimpa, seorang muhajir akan lebih sering bersujud, merintih, dan berdoa meminta pertolongan, yang mana hal ini merupakan inti dari ibadah. Alloh berfirman:

﴿وَلِيُمَحِّصَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَمۡحَقَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ١٤١

“Dan agar Alloh membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali ‘Imron: 141)

Pembersihan ini sangat penting agar tidak ada lagi kotoran riya’ atau kesombongan dalam hati. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) pernah berkata bahwa manusia selama dalam keadaan sehat wal ‘afiat akan tersembunyi hakikatnya, namun jika ujian turun, maka nampahlah hakikat mereka; ada yang menjadi Mu’min yang sabar dan ada pula yang menjadi munafiq yang berkeluh kesah.

Ujian juga menjadi bukti kecintaan Alloh kepada hamba-Nya. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ»

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Alloh apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridho, maka baginya keridhoan (dari Alloh), dan barangsiapa yang marah (tidak terima), maka baginya kemurkaan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396, Ibnu Majah no. 4031, shohih)

Ad-Daroni (215 H) memberikan nasihat berharga bahwa setiap kemalangan yang menimpa seorang hamba dalam urusan dunianya namun menyelamatkan urusan agamanya, maka itu sejatinya adalah ni’mat. Sebaliknya, setiap kesenangan dunia yang melalaikan dari ketaatan kepada Alloh , maka itu adalah istidroj (jebakan berupa kenikmatan).

Oleh karena itu, para muhajir harus memandang ujian dengan kacamata iman, bahwa Alloh sedang mendidiknya agar menjadi pribadi yang tangguh dan layak menghuni Jannah-Nya yang luas. Alloh berfirman mengenai tujuan ujian untuk mengetahui siapa yang berjihad dan bersabar:

﴿وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبۡلُوَاْ أَخۡبَارَكُمۡ ٣١

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami menampakkan orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)

Ujian juga berfungsi menghancurkan sifat ujub (bangga diri). Ketika seseorang merasa telah banyak beramal setelah hijroh, Alloh datangkan ujian yang membuatnya sadar bahwa dia sangat lemah dan tidak memiliki daya kecuali dengan pertolongan Robbnya. Hal ini akan membuahkan ketundukan yang sangat dicintai oleh Alloh . Dalam sebuah Atsar disebutkan bahwa Alloh menguji hamba-Nya yang Dia cintai agar Dia mendengar rintihan doa hamba tersebut. Tanpa ujian, manusia cenderung melampaui batas. Alloh berfirman:

﴿كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ ٦ أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ ٧

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-’Alaq: 6-7)

Maka, gelombang ujian yang menerpa setelah hijroh adalah bentuk penjagaan Alloh agar sang hamba tidak terperosok dalam jurang kesombongan dan tetap berada di jalur pencarian ridho-Nya yang suci. Setiap tetes air mata dan peluh keringat dalam menghadapi ujian akan dicatat sebagai pemberat timbangan kebaikan di hari ketika harta dan anak tidak lagi berguna.

 

Bab 2: Ragam Ujian Bagi Muhajir

2.1 Ujian Kesempitan Rizqi

Perjalanan hijroh seringkali diawali dengan guncangan pada sektor materi dan kecukupan hidup di dunia. Tatkala seorang hamba meninggalkan pekerjaan yang mengandung unsur harom, riba, atau syubhat, maka syaithon akan membisikkan ketakutan akan kefakiran. Hal ini merupakan ujian pertama untuk membuktikan apakah ketergantungan hati hamba tersebut berada pada makhluk ataukah pada Robb semesta alam. Alloh berfirman:

﴿ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٦٨

“Syaithon menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Alloh menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 268)

Kehilangan harta bukanlah tanda kebencian Alloh , melainkan sarana untuk membersihkan jiwa dari keterikatan kepada selain-Nya. Harta adalah fitnah (ujian) yang sangat nyata bagi umat ini. Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allohlah pahala yang besar.” (QS. At-Taghobun: 15)

Dalam ayat lain, Alloh memperingatkan agar kesibukan mencari harta tidak melalaikan seorang Mu’min dari mengingat-Nya:

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Alloh. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Rosululloh memberikan peringatan keras mengenai fitnah harta bagi umatnya dalam sabda beliau:

«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ»

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujian) dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi no. 2336, shohih)

Terkadang, kesempitan rizqi yang dialami setelah hijroh adalah cara Alloh menjaga hamba-Nya agar tidak melampaui batas dan tetap berada dalam ketundukan. Alloh berfirman:

﴿۞وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ٢٧

“Dan jikalau Alloh melapangkan rizqi kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Alloh menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 27)

Seorang muhajir harus menanamkan keyakinan bahwa hakikat kekayaan bukanlah pada banyaknya materi, melainkan pada kecukupan hati. Rosululloh bersabda:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Meninggalkan yang harom demi Alloh pasti akan berbuah ganti yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan kaidah syar’i yang diambil dari hadits Nabi :

«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Alloh, melainkan Alloh akan menggantikannya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad no. 23074, shohih)

Ujian kemiskinan bagi orang yang bertaqwa adalah kedudukan yang mulia karena ia mendekatkan hamba kepada sifat zuhud. Seseorang yang tetap bersyukur dalam kesempitan materi menunjukkan kejujuran imannya. Alloh berfirman:

﴿لِلۡفُقَرَآءِ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَأَمۡوَٰلِهِمۡ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ٨

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijroh yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Alloh dan keridhoan-Nya dan mereka menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)

2.2 Ujian Gangguan

Ujian yang seringkali dirasa paling berat secara mental adalah penentangan dari orang-orang terdekat. Ayah, ibu, pasangan hidup, atau anak-anak bisa menjadi ujian besar tatkala mereka tidak setuju atau bahkan menghalangi proses hijroh seseorang. Alloh berfirman:

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنْ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوْلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ

“Hai orang-orang Mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS. At-Taghobun: 14)

Permusuhan di sini bermakna mereka menghalangi hamba dari ketaatan kepada Alloh atau mengajak kepada kemaksiatan. Meskipun demikian, syariat tetap memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua selama tidak dalam perkara maksiat. Alloh berfirman:

﴿وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

Ayat senada juga terdapat dalam surat Al-Ankabut:

﴿وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حُسۡنٗاۖ وَإِن جَٰهَدَاكَ لِتُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَآۚ

“Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS. Al-Ankabut: 8)

Kewajiban taat kepada makhluk gugur apabila bertentangan dengan perintah Sang Kholiq. Rosululloh bersabda:

«لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ»

“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang baik.” (HR. Al-Bukhori no. 7257 dan Muslim no. 1840)

Seorang muhajir mungkin akan mengalami pengusiran atau pemutusan hubungan kekeluargaan demi mempertahankan agamanya. Hal ini telah dialami oleh para Shohabat terdahulu. Alloh berfirman memuji mereka yang lebih mencintai Alloh dan Rosul-Nya daripada keluarga mereka sendiri:

﴿لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

2.3 Ujian Hinaan dan Pengucilan

Tatkala seseorang mulai menampakkan syiar-syiar Islam setelah hijroh, seperti menjaga sholat jamaah, berhijab syar’i, atau meninggalkan tradisi yang mengandung bid’ah dan kesyirikan, seringkali masyarakat memberikan respon negatif. Hinaan, ejekan, dan label negatif adalah sarapan harian bagi para ghuroba (orang-orang asing). Alloh menceritakan keadaan orang-orang kafir terhadap kaum Mu’min:

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ كَانُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يَضۡحَكُونَ ٢٩ وَإِذَا مَرُّواْ بِهِمۡ يَتَغَامَزُونَ ٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan matanya.” (QS. Al-Muthoffifin: 29-30)

Ejekan tersebut berlanjut hingga mereka kembali ke keluarga mereka:

﴿وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ ٣١

“Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthoffifin: 31)

Keterasingan ini adalah tanda kebenaran jalan yang ditempuh. Rosululloh memberikan kabar gembira bagi mereka yang merasa asing di tengah kerusakan zaman:

«بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana kemunculannya, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145)

Menjaga agama di tengah tekanan masyarakat ibarat memegang bara api. Dibutuhkan kekuatan mental yang besar agar tidak goyah. Rosululloh bersabda:

«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya seperti orang yang memegang bara api.” (HR. At-Tirmidzi no. 2260, shohih)

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) menasihatkan agar kita tidak merasa kesepian di jalan petunjuk hanya karena sedikitnya orang yang menempuhnya, dan jangan terperdaya dengan banyaknya orang yang binasa di jalan kesesatan. Pengucilan sosial adalah cara Alloh memisahkan hamba-Nya dari pengaruh buruk lingkungan agar ia lebih fokus memperbaiki diri. Alloh berfirman tentang ujian berupa perkataan yang menyakitkan:

﴿لَتُبۡلَوُنَّ فِيٓ أَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ وَلَتَسۡمَعُنَّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوٓاْ أَذٗى كَثِيرٗاۚ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٨٦

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imron: 186)

2.4 Gangguan Syaithon Melalui Bisikan

Ujian yang paling samar namun paling berbahaya adalah serangan dari dalam diri yang dipicu oleh syaithon. Syaithon telah bersumpah untuk menyesatkan manusia dari segala arah, terutama bagi mereka yang baru saja berhijroh. Iblis berkata:

﴿قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَانِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS. Al-A’rof: 16-17)

Syaithon akan meniupkan syubhat (keragu-raguan) terhadap kebenaran Islam atau manhaj yang lurus, serta menghiasi syahwat (keinginan duniawi) agar nampak indah sehingga hamba tersebut merindukan masa lalunya yang penuh maksiat. Alloh berfirman:

﴿يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا ١٢٠

“Syaithon itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaithon itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipu daya semata.” (QS. An-Nisa: 120)

Gangguan ini masuk melalui aliran darah manusia, sehingga sangat sulit dideteksi kecuali dengan pertolongan Alloh dan ilmu syar’i. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ»

“Sesungguhnya syaithon mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah.” (HR. Al-Bukhori no. 3281 dan Muslim no. 2175)

Apabila seorang muhajir merasakan bisikan untuk kembali berbuat dosa atau meragukan ketetapan Robbnya, dia harus segera berlindung kepada Alloh . Alloh berfirman:

﴿وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٢٠٠

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaithon, maka berlindunglah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’rof: 200)

Orang-orang yang bertaqwa memiliki kepekaan tatkala syaithon mulai menyentuh hati mereka. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ ٢٠١

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dari syaithon, mereka ingat (kepada Alloh), maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’rof: 201)

Syaithon tidak akan membiarkan seorang hamba beribadah dengan tenang. Dia akan mendatangkan rasa malas, was-was dalam bersuci, was-was dalam niat, hingga rasa bosan terhadap ketaatan. Oleh karena itu, konsistensi dalam membaca dzikir pagi dan petang serta menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muhajir agar benteng pertahanannya tidak jebol oleh serangan halus syaithon. Perjuangan melawan hawa nafsu dan syaithon adalah Jihad yang paling berkelanjutan hingga maut menjemput. Alloh berfirman:

﴿وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ٩٩

“Dan sembahlah Robbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Tanpa perlindungan Alloh , hati manusia sangat mudah berbolak-balik. Maka dari itu, doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi adalah memohon keteguhan hati. Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa doa Nabi yang paling sering adalah:

«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3522, shohih)

Seorang muhajir harus menyadari bahwa syahwat masa lalu akan terus membayangi, namun kenikmatan harom tersebut hanyalah sesaat, sedangkan penyesalannya panjang. Alloh memberikan perumpamaan bagi mereka yang mengikuti hawa nafsunya:

﴿فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ

“Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).” (QS. Al-A’rof: 176)

Dengan memahami berbagai macam pintu ujian ini, diharapkan para muhajir lebih waspada dan tidak merasa sendirian, karena setiap orang beriman pasti akan melewati salah satu atau seluruh gelombang ujian tersebut sebagai syarat sahnya pengakuan iman mereka di hadapan Alloh .

 

Bab 3: Sabar dan Istiqomah

3.1 Sabar Saat Menghadapi Musibah

Sabar bukan berarti lemah atau sekadar diam tanpa usaha, melainkan menahan diri dari keluh kesah, menahan lisan dari ucapan yang tidak diridhoi Alloh , dan menahan anggota badan dari perbuatan yang melanggar syariat. Sabar adalah cahaya bagi seorang Mu’min di tengah gelapnya ujian. Rosululloh bersabda:

«وَالصَّلاَةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ»

“Sholat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, dan sabar adalah sinar yang menerangi.” (HR. Muslim no. 223)

Alloh memerintahkan kaum Mu’min untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong utama dalam menghadapi segala kesulitan hidup. Alloh berfirman:

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 153)

Kebersamaan Alloh (ma’iyyah) dalam ayat ini adalah kebersamaan yang khusus, yaitu berupa pembelaan, pertolongan, dan penjagaan bagi mereka yang bersabar. Sabar yang paling utama adalah sabar di saat pertama kali musibah itu menimpa. Rosululloh bersabda:

«إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى»

“Sesungguhnya sabar itu hanyalah pada hentaman (musibah) yang pertama.” (HR. Al-Bukhori no. 1283 dan Muslim no. 926)

Sabar dalam menghadapi ujian setelah hijroh merupakan rukun terpenting dalam menjaga keimanan. Tanpa kesabaran, seorang hamba akan mudah terombang-ambing oleh badai fitnah yang menerjang. Alloh menjanjikan pahala yang tanpa batas bagi mereka yang mampu menahan diri dan tetap ridho atas ketetapan-Nya. Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Sifat sabar mencakup tiga perkara utama: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi takdir Alloh yang terasa menyakitkan. Seorang muhajir yang sedang berjuang memperbaiki diri sangat membutuhkan ketiga jenis kesabaran ini. Rosululloh memberikan perumpamaan bagi orang Mu’min yang selalu bersabar dalam segala keadaan:

«عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mu’min, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang Mu’min. Jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Di antara bentuk sabar yang sholih adalah dengan tidak mengadu kepada makhluk, melainkan hanya mengadu kepada Alloh semata. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihissalam saat menghadapi ujian kehilangan anak tercintanya. Alloh berfirman:

﴿قَالَ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٨٦

“Ya’qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Alloh aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Alloh apa yang kamu tiada mengetahuinya.’” (QS. Yusuf: 86)

Sabar juga berarti tetap teguh menjalankan syariat meskipun lingkungan sekitar tidak mendukung. Alloh memuji orang-orang yang tetap teguh dalam beribadah meskipun menghadapi kesulitan:

﴿وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Robbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Kesabaran adalah separuh dari keimanan. Tanpa kesabaran, seseorang tidak akan mampu menyempurnakan ni’mat hidayah yang telah diterimanya. Alloh memerintahkan Nabi-Nya untuk bersabar sebagaimana para Rosul terdahulu:

﴿فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡۚ

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rosul-Rosul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (adzab) bagi mereka.” (QS. Al-Ahqof: 35)

Keutamaan sabar juga nampak pada janji Alloh untuk memberikan petunjuk dan keberkahan bagi hamba-Nya. Alloh berfirman:

﴿أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧

“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rohmat dari Robb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqoroh: 157)

3.2 Ilmu Syar’i Sebagai Perisai

Hijroh tanpa landasan ilmu adalah hijroh yang rapuh. Ilmu syar’i merupakan cahaya yang membedakan antara yang haq dengan yang bathil, serta antara Sunnah dengan bid’ah. Seorang muhajir wajib membekali dirinya dengan ilmu agar tidak mudah terpengaruh oleh syubhat syaithon yang selalu berusaha memalingkannya dari jalan yang lurus. Alloh berfirman mengangkat derajat orang-orang yang berilmu:

﴿يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١

“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ilmu adalah jalan termudah menuju Jannah. Tatkala ujian melanda, ilmu akan menuntun hamba untuk bersikap sesuai dengan tuntunan Rosululloh . Rosululloh bersabda:

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)

Dengan ilmu, seorang hamba akan memiliki rasa takut yang benar kepada Alloh (khosyyah). Rasa takut ini akan menjaganya dari kemaksiatan saat ujian berupa syahwat datang menggoda. Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

“Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu). Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal sholih. Seseorang yang telah berhijroh harus terus belajar agar ibadahnya shohih dan diterima di sisi Alloh . Rosululloh bersabda tentang tanda kebaikan pada diri seorang hamba:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

“Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan padanya, maka Alloh akan fahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan bahwa ilmu adalah imamnya amal, sedangkan amal adalah pengikutnya.

Tanpa ilmu, amal seseorang akan tertolak meskipun dia merasa telah berbuat baik. Alloh memberikan peringatan tentang orang-orang yang merugi amalnya:

﴿قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Oleh karena itu, seorang muhajir tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Dia harus selalu memohon tambahan ilmu kepada Alloh sebagaimana perintah-Nya:

﴿وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا ١١٤

“Dan katakanlah: ‘Wahai Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’” (QS. Thoha: 114)

Dalam menghadapi gelombang ujian, ilmu syar’i berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan hamba untuk tetap berada di atas manhaj Salafus Sholih. Alloh berfirman mengenai pentingnya bertanya kepada orang yang berilmu:

﴿فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

3.3 Memohon Keteguhan

Hidayah adalah milik Alloh , dan Dia-lah yang berkuasa untuk menetapkan atau mencabut hidayah tersebut dari hati manusia. Seorang yang telah berhijroh sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa dan tadhorru’ (merendah diri) di hadapan Alloh agar diberi istiqomah hingga akhir hayat. Alloh mengajarkan doa orang-orang yang beriman:

﴿رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨

“Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)

Keteguhan hati hanyalah datang dari Alloh . Tanpa pertolongan-Nya, manusia akan mudah tergelincir kembali ke dalam lubang kemaksiatan. Alloh berfirman menguatkan hati kaum Mu’min:

﴿يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ

“Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhiroh.” (QS. Ibrohim: 27)

Doa merupakan senjata utama bagi seorang Mu’min. Alloh sangat senang apabila hamba-Nya meminta dan memohon perlindungan kepada-Nya. Alloh berfirman:

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

“Dan Robbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghofir: 60)

Dalam menghadapi tekanan dari musuh-musuh Islam atau orang yang membenci hijrohnya, seorang Mu’min diajarkan untuk berdoa memohon kesabaran dan kemenangan. Alloh berfirman menceritakan doa tentara Tholut:

﴿رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٥٠

“Wahai Robb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqoroh: 250)

Keteguhan juga didapatkan dengan memperbanyak dzikir kepada Alloh . Hati yang senantiasa basah dengan mengingat Alloh tidak akan mudah dimasuki oleh keragu-raguan. Alloh berfirman:

﴿ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allohlah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’d: 28)

Rosululloh juga mengajarkan agar kita senantiasa memohon ampunan dan perlindungan dari keburukan diri sendiri. Beliau bersabda dalam khuthbatul hajah:

«نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا»

“Kami berlindung kepada Alloh dari keburukan jiwa-jiwa kami dan dari kejahatan amal perbuatan kami.” (HR. An-Nasa’i no. 1404, shohih)

Kejujuran dalam berdoa adalah kunci dibukanya pintu-pintu hidayah yang terkunci. Jika seorang hamba jujur kepada Alloh dalam keinginannya untuk tetap istiqomah, maka Alloh akan memberikan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka. Alloh berfirman:

﴿وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

Taqwa adalah bekal terbaik bagi seorang muhajir. Dengan ketaqwaan, ujian yang terasa berat akan diringankan oleh Alloh . Alloh berfirman:

﴿وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Alloh, niscaya Alloh menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

Seorang muhajir harus menyadari bahwa istiqomah adalah karunia yang sangat besar. Rosululloh bersabda kepada seseorang yang meminta wasiat:

«قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ»

“Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Alloh’, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim no. 38)

Istiqomah di sini bermakna tetap teguh menjalankan perintah dan menjauhi larangan secara kontinu hingga ajal menjemput. Bagi mereka yang istiqomah, Alloh menjanjikan kehadiran para Malaikat yang membawa kabar gembira di saat kematian mereka. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS. Fushshilat: 30)

 

Bab 4: Kabar Gembira

4.1 Penghapusan Dosa

Salah satu kabar gembira terbesar bagi orang yang berhijroh adalah bahwa setiap rasa sakit, kesedihan, dan kerugian materi yang dialami merupakan wasilah (sarana) penggugur dosa. Seseorang yang telah lama hidup dalam kemaksiatan tentu memiliki tumpukan dosa yang banyak, dan Alloh dengan rohmat-Nya memberikan ujian agar sang hamba kembali dalam keadaan suci. Alloh berfirman tentang balasan bagi mereka yang berhijroh dan disakiti di jalan-Nya:

﴿فَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ وَأُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي وَقَٰتَلُواْ وَقُتِلُواْ لَأُكَفِّرَنَّ عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡ وَلأُدۡخِلَنَّهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ثَوَابٗا مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلثَّوَابِ ١٩٥

“Maka orang-orang yang berhijroh, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam Jannah yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Alloh. Dan Alloh di sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. Ali ‘Imron: 195)

Setiap musibah yang menimpa seorang Mu’min tidak ada yang sia-sia di hadapan Alloh . Rosululloh menegaskan hal ini dalam sabda beliau:

«مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»

“Ujian senantiasa menimpa seorang Mu’min dan Mu’minah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga dia bertemu Alloh dalam keadaan tidak memiliki dosa satu pun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399, shohih)

Maka, ketika seorang muhajir merasa hartanya berkurang atau fisiknya melemah karena kelelahan dalam beribadah dan mencari rizqi yang halal, hendaknya dia tersenyum karena beban dosanya sedang diringankan. Alloh berfirman bahwa setiap keburukan yang menimpa adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri, namun Alloh mengampuni sebagian besarnya melalui ujian tersebut:

﴿وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُو عَن كَثِيرٖ ٣٠

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuro: 30)

Ampunan Alloh sangatlah luas bagi hamba-Nya yang bertaubat dan melakukan hijroh. Alloh berfirman menyeru hamba-Nya yang melampaui batas:

﴿۞قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣

“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)

Penghapusan dosa ini merupakan ni’mat yang tidak tertandingi oleh materi dunia manapun. Seseorang yang bersih dari dosa akan merasakan ketenangan bathin (thuma’ninah) yang hakiki. Rosululloh bersabda bahwa taubat menghapuskan apa yang sebelumnya:

«التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ»

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250, hasan)

Di antara tanda diterimanya taubat dan hijroh seseorang adalah Alloh mengganti kesenangan haromnya dengan kelezatan dalam melakukan ketaatan. Meskipun raga merasa lelah karena ujian, namun hati merasa damai karena berada dalam naungan ampunan-Nya. Alloh berfirman mengenai pergantian keburukan menjadi kebaikan:

﴿إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ وَكانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٧٠

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal sholih; maka kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon: 70)

4.2 Jannah Sebagai Tempat Kembali

Tujuan akhir dari setiap helaan nafas seorang muhajir adalah meraih Jannah Alloh . Jannah adalah tempat di mana segala keletihan akan berakhir, segala air mata akan dihapus, dan segala keinginan akan terpenuhi. Alloh berfirman menceritakan sifat Jannah:

﴿فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٖ ٢٤ قُطُوفُهَا دَانِيَةٞ ٢٥ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓـٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ ٢٦

“Di dalam Jannah yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Dikatakan kepada mereka): ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.’” (QS. Al-Haqqoh: 24-26)

Hanya dengan kesabaran hamba dapat memasuki pintu-pintu Jannah. Para Malaikat akan menyambut mereka dengan ucapan salam atas kesabaran mereka selama di dunia. Alloh berfirman:

﴿سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ٢٤

“(Sambil mengucapkan): ‘Salamun ‘alaikum bima shobartum’ (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ro’d: 24)

Kenikmatan Jannah tidak dapat dibayangkan oleh akal manusia. Rosululloh bersabda meriwayatkan Firman Alloh (Hadits Qudsi):

«أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ»

“Aku telah sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholih kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 3244 dan Muslim no. 2824)

Bagi hamba yang rela meninggalkan kesenangan dunia demi mengejar ridho Robbnya, Alloh akan memberikan ganti yang berlipat ganda di Jannah. Alloh berfirman:

﴿وَمَن يَخۡرُجۡ مِنۢ بَيۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ١٠٠

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijroh kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Alloh. Dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)

Keridhoan hamba terhadap takdir Alloh di dunia akan membuahkan keridhoan Alloh kepadanya di Akhiroh. Ini adalah puncak dari segala ni’mat. Alloh berfirman:

﴿رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ٨

“Alloh ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Robbnya.” (QS. Al-Bayyinah: 8)

4.3 Jalan Keluar yang Dekat

Ujian yang dialami seorang hamba tidak akan berlangsung selamanya. Alloh telah menetapkan bahwa setiap kesulitan pasti dibarengi dengan kemudahan. Ini adalah janji yang pasti dan tidak akan pernah diingkari. Alloh berfirman mengulangi janji tersebut dua kali dalam surat Asy-Syarh:

﴿فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٦

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)

Ayat ini menunjukkan bahwa satu kesulitan tidak akan pernah mampu mengalahkan dua kemudahan. Pertolongan Alloh sangatlah dekat, namun seringkali manusia terburu-buru. Alloh berfirman:

﴿أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرُ ٱللَّهِ قَرِيبٞ ٢١٤

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka (kemiskinan) dan kesengsaraan (penyakit), serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Alloh?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat.” (QS. Al-Baqoroh: 214)

Kunci datangnya pertolongan adalah dengan menolong agama Alloh . Artinya, dengan tetap konsisten menjalankan perintah-Nya meskipun dalam keadaan sulit. Alloh berfirman:

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Hai orang-orang Mu’min, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Alloh adalah sebaik-baik Pelindung dan Penolong. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat mencelakakan hamba jika Alloh menghendaki keselamatan baginya. Alloh berfirman:

﴿وَٱعۡتَصِمُواْ بِٱللَّهِ هُوَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ فَنِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ ٧٨

“Dan berpegang teguhlah kamu pada tali Alloh. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)

Janji pertolongan ini juga mencakup kemenangan bagi para hamba yang bertaqwa. Di akhir perjalanan hijroh, Alloh akan memberikan kemuliaan bagi mereka yang bersabar. Alloh berfirman:

﴿وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ ١٣٢

“Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS. Thoha: 132)

 

Bab 5: Ketabahan Salafus Sholih

5.1 Keteguhan Hati Shohabat Nabi Saat Meninggalkan Makkah

Generasi terbaik umat ini, yaitu para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, telah memberikan teladan yang paling nyata dalam berhijroh. Mereka meninggalkan harta benda, rumah, dan keluarga di Makkah demi mempertahankan iman mereka. Suhaib bin Sinan Ar-Rumi rodhiyallahu ‘anhu, tatkala hendak berhijroh, dia dihadang oleh orang-orang kafir Quroisy. Mereka berkata bahwa dia datang ke Makkah dalam keadaan miskin dan sekarang ingin pergi membawa kekayaan. Maka Suhaib menawarkan seluruh hartanya agar dibiarkan pergi menemui Nabi . Ketika kabar ini sampai kepada Nabi , beliau bersabda:

«يَا أَبَا يَحْيَى، رَبِحَ الْبَيْعُ»

“Telah beruntung perniagaanmu wahai Abu Yahya, telah beruntung perniagaanmu wahai Abu Yahya.” (HR. Al-Hakim no. 5706, shohih)

Alloh pun menurunkan ayat berkenaan dengan peristiwa ini:

﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡرِي نَفۡسَهُ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ رَءُوفُۢ بِٱلۡعِبَادِ ٢٠٧

“And di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Alloh; dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqoroh: 207)

Keluarga Yasir juga menjadi saksi betapa beratnya ujian setelah masuk Islam. Mereka disiksa di padang pasir yang panas, namun Nabi menguatkan mereka dengan janji Jannah. Beliau bersabda:

«صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ»

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah Jannah.” (HR. Al-Hakim no. 5646, shohih)

Para Shohabat tidak pernah menyesali hijroh mereka meskipun harus hidup dalam kemiskinan di Madinah pada awalnya serta peperangan. Mereka yakin bahwa Alloh tidak akan menelantarkan hamba-Nya. Alloh berfirman memuji kekokohan iman mereka:

﴿مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ٢٣

“Di antara orang-orang Mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)

5.2 Ketabahan Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H)

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) adalah sosok yang fenomenal dalam sejarah hijroh. Beliau dulunya adalah seorang perampok yang sangat ditakuti. Namun, hidayah menyapanya saat beliau mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an:

﴿أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَق

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Alloh dan kepada kebenaran yang telah diturunkan.” (QS. Al-Hadid: 16)

Seketika itu beliau bertaubat dan menghabiskan sisa hidupnya di Masjidil Harom hingga dijuluki ‘Abidul Haromain (Ahli ibadah dua tanah harom). Beliau bersabar menghadapi perubahan gaya hidup dari seorang yang bergelimang harta harom menjadi seorang zahid yang sangat sederhana. Beliau berkata bahwa jika seseorang sudah merasa manisnya ketaatan, maka segala pahitnya ujian dunia akan terasa hambar. Beliau juga menasihati: “Ikutilah jalan petunjuk, dan janganlah merasa rugi dengan sedikitnya orang yang berjalan di sana.”

Beliau (187 H) juga menekankan bahwa tanda kejujuran hijroh adalah membenci kemaksiatan yang dahulu dicintai.

Ketabahan beliau dalam menuntut ilmu dan beribadah menjadi inspirasi bagi para muhajir di setiap zaman bahwa pintu taubat selalu terbuka dan Alloh akan memuliakan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

5.3 Nasihat Ad-Daroni (215 H)

Ad-Daroni (215 H) dikenal sebagai seorang ulama yang sangat memperhatikan amalan hati. Beliau menjelaskan bahwa ujian adalah timbangan untuk mengukur kadar kejujuran iman seseorang. Beliau berkata: “Segala sesuatu yang menyibukkanmu dari Alloh, maka itu adalah malapetaka bagimu.” Beliau juga mengajarkan bahwa seorang muhajir harus memiliki rasa harap yang besar kepada Alloh di tengah gempuran ujian.

Dalam sebuah Atsar disebutkan bahwa kejujuran iman akan nampak saat seseorang dihadapkan pada pilihan antara ketaatan yang berisiko kehilangan dunia dengan kemaksiatan yang menjanjikan keuntungan dunia. Jika dia memilih ketaatan, maka dia adalah orang yang jujur (shodiq). Alloh berfirman:

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

Ad-Daroni juga sering mengingatkan bahwa dunia adalah ladang untuk bercocok tanam, sedangkan panennya adalah di Akhiroh. Tidak ada petani yang menuai hasil tanpa rasa lelah dalam merawat tanamannya. Begitu pula seorang muhajir, rasa lelahnya dalam menghadapi ujian akan berbuah manis di Jannah kelak. Kejujuran dalam berhijroh akan membimbing hamba untuk selalu merasa diawasi oleh Alloh (muroqobah).

 

Penutup

Gelombang ujian yang datang menyapa setelah hijroh bukanlah untuk menghancurkan, melainkan untuk membangun pondasi iman yang lebih kokoh. Setiap hamba yang memilih jalan ketaatan harus menyiapkan diri dengan bekal sabar, ilmu, dan doa yang tiada putus. Ingatlah bahwa dunia ini hanyalah sesaat, sedangkan Akhiroh adalah selama-lamanya. Keletihan yang kita rasakan dalam menghadapi hinaan manusia atau kesempitan rizqi akan segera sirna begitu kaki pertama kali melangkah masuk ke dalam Jannah.

Alloh telah memberikan kabar gembira berupa ampunan dan rohmat yang luas bagi hamba-hamba-Nya yang tetap istiqomah. Jangan biarkan syaithon memadamkan api semangat hijrohmu dengan bisikan-bisikan keputusasaan. Tetaplah teguh di atas manhaj Salafus Sholih, karena itulah jalan keselamatan yang sesungguhnya.

Semoga Alloh mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya yang tinggi bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Sholihin. Itulah sebaik-baik teman perjalanan.

﴿وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Segala puji bagi Alloh yang dengan ni’mat-Nya amal-amal sholih menjadi sempurna.

Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad yang telah memberikan teladan dalam kesabaran menghadapi ujian dakwah dan hijroh.

Kami memohon kepada Alloh agar menjadikan buku ini bermanfaat bagi penulis dan pembacanya, serta menjadikannya sebagai timbangan amal kebaikan di Hari Qiyamah kelak. Amin.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url