[PDF] Gelombang Ujian Setelah Hijroh - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang
telah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki menuju jalan yang
lurus.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para Shohabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak
mereka dengan baik hingga Hari Qiyamah.
Amma ba’du:
Hijroh merupakan perpindahan agung, bukan sekadar perpindahan raga dari
satu negeri ke negeri lain, namun perpindahan hati dari kemaksiatan menuju
ketaatan, dari kesyirikan menuju tauhid, dan dari kejahilan menuju ilmu syar’i.
Tatkala seorang hamba memutuskan untuk kembali kepada Robb semesta alam, dia
harus menyadari bahwa jalan menuju Jannah tidaklah ditaburi dengan bunga mawar
yang harum, melainkan dipenuhi dengan onak dan duri ujian. Ujian adalah
sunnatulloh yang berlaku bagi setiap jiwa yang mengaku beriman. Alloh ﷻ berfirman:
﴿الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ
ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢﴾
“Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan
(saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS.
Al-Ankabut: 1-2)
Seseorang yang telah berhijroh akan menghadapi gelombang ujian yang
datang silih berganti. Ujian tersebut berfungsi sebagai pembeda antara mereka
yang jujur dalam imannya dengan mereka yang berdusta. Sebagaimana emas yang
harus dibakar untuk memisahkan antara logam murni dengan kotorannya, demikian
pula hati manusia harus ditempa dengan berbagai cobaan agar nampak hakikat
ketaqwaan yang sesungguhnya. Hijroh adalah awal dari perjuangan besar untuk
meraih ridho Alloh ﷻ dan menjauhkan diri dari
adzab Naar. Dalam perjalanan ini, seorang Mu’min tidak boleh berputus asa,
karena di balik setiap kesulitan terdapat kemudahan yang telah dijanjikan oleh
Robbnya.
Buku ini disusun untuk menguatkan hati para muhajir agar tetap istiqomah
di atas manhaj yang haq, memahami hakikat ujian sebagai bentuk rohmat, dan
memandang Jannah sebagai tujuan akhir yang layak untuk diperjuangkan dengan
segala pengorbanan harta maupun jiwa.
Bab
1: Hijroh dan Sunnatulloh Ujian
1.1 Definisi Hijroh yang Benar
Hijroh secara bahasa bermakna meninggalkan atau menjauhi. Dalam
konteks syariat, hijroh mencakup meninggalkan negeri kafir menuju negeri Islam,
serta meninggalkan segala larangan Alloh ﷻ. Seseorang disebut melakukan hijroh apabila dia memutus ikatan
dengan masa lalu yang penuh kemaksiatan dan beralih menuju pengabdian yang
murni hanya kepada Alloh ﷻ. Hal
ini ditegaskan dalam firman Alloh ﷻ:
﴿وَمَن يُهَاجِرۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُرَٰغَمٗا كَثِيرٗا وَسَعَةٗۚ﴾
“Barangsiapa berhijroh di jalan Alloh, niscaya mereka mendapati di muka
bumi ini tempat hijroh yang luas dan rizqi yang banyak.” (QS. An-Nisa: 100)
Ayat ini memberikan jaminan bahwa hijroh yang didasari niat ikhlas untuk
mencari wajah Alloh ﷻ akan mendatangkan keluasan
dalam hidup, meskipun pada awalnya nampak berat. Rosululloh ﷺ juga menjelaskan hakikat pelaku hijroh dalam sabda beliau:
«الْمُسْلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا
نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»
“Seorang Muslim adalah orang yang Muslim lainnya selamat dari lisan dan
tangannya, dan seorang muhajir (orang yang berhijroh) adalah orang yang
meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 10 dan
Muslim no. 40)
Berdasarkan dalil di atas, hijroh bukan sekadar perubahan penampilan
atau casing luar, melainkan perubahan mendalam pada aspek bathiniyyah
(dalam diri). Hijroh yang shohih adalah hijrohnya hati menuju Robbnya dengan
penuh rasa harap dan takut.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan bahwa hijroh ada 2 jenis,
yaitu hijroh dengan badan dan hijroh dengan hati.
Hijroh hati adalah pokok, di mana seorang hamba lari dari kecintaan
kepada selain Alloh menuju kecintaan kepada-Nya, dan dari peribadahan kepada
selain-Nya menuju peribadahan hanya kepada-Nya. Alloh ﷻ berfirman memerintahkan hambanya untuk lari menuju
perlindungan-Nya:
﴿فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِيرٞ مُّبِينٞ ٥٠﴾
“Maka segeralah lari kembali kepada Alloh. Sesungguhnya aku seorang
pemberi peringatan yang nyata dari Alloh untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)
Hijroh juga berarti mengikuti tuntunan Nabi ﷺ secara totalitas. Tanpa ittiba’ (mengikuti) kepada
Rosululloh ﷺ, maka hijroh seseorang akan
kehilangan ruhnya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١﴾
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku,
niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Alloh Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imron: 31)
1.2 Dunia Sebagai Negeri Ujian
Dunia bukanlah tempat menetap yang kekal, melainkan tempat persinggahan
untuk menanam amal sholih. Bagi seorang Mu’min yang baru saja menapaki jalan
hijroh, dia harus memahami bahwa dunia adalah tempat ujian (darul ibtila’).
Kenikmatan dunia seringkali menjadi hijab (penghalang) yang dapat memalingkan
manusia dari Akhiroh. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢﴾
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa poros kehidupan manusia berputar pada ujian.
Tidak ada satu detik pun dalam kehidupan seorang muhajir melainkan di dalamnya
terdapat ujian, baik berupa kesenangan yang menuntut syukur, maupun kesempitan
yang menuntut sabar. Rosululloh ﷺ
menggambarkan perbandingan dunia bagi kaum Mu’min dengan sabdanya:
«الدُّنْيَا
سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ»
“Dunia adalah penjara bagi orang Mu’min dan Surga bagi orang kafir.” (HR.
Muslim no. 2956)
Dikatakan penjara karena seorang Mu’min terikat dengan berbagai aturan
syariat, larangan-larangan yang harus dijauhi, dan kewajiban-kewajiban yang
harus ditunaikan. Syaithon akan selalu berusaha membuat dunia nampak indah di
mata manusia agar mereka tergelincir. Alloh ﷻ mengingatkan:
﴿زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ
ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ
ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ ١٤﴾
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allohlah tempat kembali yang baik
(Surga).” (QS. Ali ‘Imron: 14)
Seorang yang berhijroh akan diuji dengan apa yang paling dia cintai di
dunia ini. Ujian tersebut bisa datang dalam bentuk ketakutan, kelaparan, dan
kekurangan harta. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥﴾
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 155)
1.3 Hikmah Alloh ﷻ dalam Menguji Hamba-Hamba-Nya
Alloh ﷻ tidak memberikan ujian secara
sia-sia. Di balik setiap takdir yang nampak pahit bagi perasaan manusia,
tersimpan hikmah yang sangat besar. Salah satu hikmah utama adalah untuk
mensucikan dosa-dosa hamba sebelum ia menghadap Robbnya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى
وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»
“Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kegundahan,
kesedihan, gangguan, maupun kegalauan, bahkan hingga duri yang menusuknya,
melainkan Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR.
Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Selain penghapusan dosa, ujian bertujuan untuk mengangkat derajat
seorang hamba di Jannah. Terkadang seorang hamba memiliki kedudukan tinggi di
sisi Alloh ﷻ yang tidak dapat dicapai
hanya dengan amalan rutinnya, maka Alloh ﷻ mengujinya agar dia sampai pada kedudukan tersebut melalui
kesabaran.
Hikmah lainnya adalah agar hamba tersebut senantiasa merasa butuh (iftiqor)
kepada Alloh ﷻ. Saat ujian menimpa, seorang
muhajir akan lebih sering bersujud, merintih, dan berdoa meminta pertolongan,
yang mana hal ini merupakan inti dari ibadah. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلِيُمَحِّصَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
وَيَمۡحَقَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ١٤١﴾
“Dan agar Alloh membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka)
dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali ‘Imron: 141)
Pembersihan ini sangat penting agar tidak ada lagi kotoran riya’ atau
kesombongan dalam hati. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) pernah berkata bahwa
manusia selama dalam keadaan sehat wal ‘afiat akan tersembunyi hakikatnya,
namun jika ujian turun, maka nampahlah hakikat mereka; ada yang menjadi Mu’min
yang sabar dan ada pula yang menjadi munafiq yang berkeluh kesah.
Ujian juga menjadi bukti kecintaan Alloh ﷻ kepada hamba-Nya. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا
أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ
السَّخَطُ»
“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan
sesungguhnya Alloh apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.
Barangsiapa yang ridho, maka baginya keridhoan (dari Alloh), dan barangsiapa
yang marah (tidak terima), maka baginya kemurkaan.” (HR. At-Tirmidzi no.
2396, Ibnu Majah no. 4031, shohih)
Ad-Daroni (215 H) memberikan nasihat berharga bahwa setiap kemalangan
yang menimpa seorang hamba dalam urusan dunianya namun menyelamatkan urusan
agamanya, maka itu sejatinya adalah ni’mat. Sebaliknya, setiap kesenangan dunia
yang melalaikan dari ketaatan kepada Alloh ﷻ, maka itu adalah istidroj (jebakan berupa kenikmatan).
Oleh karena itu, para muhajir harus memandang ujian dengan kacamata
iman, bahwa Alloh ﷻ sedang mendidiknya agar menjadi
pribadi yang tangguh dan layak menghuni Jannah-Nya yang luas. Alloh ﷻ berfirman mengenai tujuan ujian untuk
mengetahui siapa yang berjihad dan bersabar:
﴿وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبۡلُوَاْ أَخۡبَارَكُمۡ ٣١﴾
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami menampakkan
orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan
(baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)
Ujian juga berfungsi menghancurkan sifat ujub (bangga diri). Ketika
seseorang merasa telah banyak beramal setelah hijroh, Alloh ﷻ datangkan ujian yang membuatnya sadar
bahwa dia sangat lemah dan tidak memiliki daya kecuali dengan pertolongan
Robbnya. Hal ini akan membuahkan ketundukan yang sangat dicintai oleh Alloh ﷻ. Dalam sebuah Atsar disebutkan bahwa Alloh
ﷻ menguji hamba-Nya yang Dia
cintai agar Dia mendengar rintihan doa hamba tersebut. Tanpa ujian, manusia
cenderung melampaui batas. Alloh ﷻ berfirman:
﴿كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ ٦ أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ ٧﴾
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena
dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-’Alaq: 6-7)
Maka, gelombang ujian yang menerpa setelah hijroh adalah bentuk
penjagaan Alloh ﷻ agar sang hamba tidak
terperosok dalam jurang kesombongan dan tetap berada di jalur pencarian
ridho-Nya yang suci. Setiap tetes air mata dan peluh keringat dalam menghadapi
ujian akan dicatat sebagai pemberat timbangan kebaikan di hari ketika harta dan
anak tidak lagi berguna.
Bab
2: Ragam Ujian Bagi Muhajir
2.1 Ujian Kesempitan Rizqi
Perjalanan hijroh seringkali diawali dengan guncangan pada sektor materi
dan kecukupan hidup di dunia. Tatkala seorang hamba meninggalkan pekerjaan yang
mengandung unsur harom, riba, atau syubhat, maka syaithon akan membisikkan
ketakutan akan kefakiran. Hal ini merupakan ujian pertama untuk membuktikan
apakah ketergantungan hati hamba tersebut berada pada makhluk ataukah pada Robb
semesta alam. Alloh ﷻ berfirman:
﴿ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم
مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٦٨﴾
“Syaithon menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan
menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Alloh menjadikan untukmu
ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 268)
Kehilangan harta bukanlah tanda kebencian Alloh ﷻ, melainkan sarana untuk membersihkan jiwa dari keterikatan
kepada selain-Nya. Harta adalah fitnah (ujian) yang sangat nyata bagi umat ini.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥﴾
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi
Allohlah pahala yang besar.” (QS. At-Taghobun: 15)
Dalam ayat lain, Alloh ﷻ
memperingatkan agar kesibukan mencari harta tidak melalaikan seorang Mu’min
dari mengingat-Nya:
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ
هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩﴾
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan
kamu dari mengingat Alloh. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah
orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Rosululloh ﷺ memberikan peringatan keras
mengenai fitnah harta bagi umatnya dalam sabda beliau:
«إِنَّ
لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ»
“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujian) dan fitnah umatku
adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi no. 2336, shohih)
Terkadang, kesempitan rizqi yang dialami setelah hijroh adalah cara
Alloh ﷻ menjaga hamba-Nya agar tidak
melampaui batas dan tetap berada dalam ketundukan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿۞وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ
بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ٢٧﴾
“Dan jikalau Alloh melapangkan rizqi kepada hamba-hamba-Nya tentulah
mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Alloh menurunkan apa yang
dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan)
hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 27)
Seorang muhajir harus menanamkan keyakinan bahwa hakikat kekayaan
bukanlah pada banyaknya materi, melainkan pada kecukupan hati. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang
hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Meninggalkan yang harom demi Alloh ﷻ pasti akan berbuah ganti yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan
kaidah syar’i yang diambil dari hadits Nabi ﷺ:
«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ
مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»
“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Alloh,
melainkan Alloh akan menggantikannya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik
darinya.” (HR. Ahmad no. 23074, shohih)
Ujian kemiskinan bagi orang yang bertaqwa adalah kedudukan yang mulia
karena ia mendekatkan hamba kepada sifat zuhud. Seseorang yang tetap bersyukur
dalam kesempitan materi menunjukkan kejujuran imannya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿لِلۡفُقَرَآءِ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَأَمۡوَٰلِهِمۡ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ
ٱلصَّٰدِقُونَ ٨﴾
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijroh yang diusir dari kampung halaman
dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Alloh dan
keridhoan-Nya dan mereka menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah
orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)
2.2 Ujian Gangguan
Ujian yang seringkali dirasa paling berat secara mental adalah
penentangan dari orang-orang terdekat. Ayah, ibu, pasangan hidup, atau
anak-anak bisa menjadi ujian besar tatkala mereka tidak setuju atau bahkan
menghalangi proses hijroh seseorang. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ
إِنَّ مِنْ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوْلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ﴾
“Hai orang-orang Mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap
mereka.” (QS. At-Taghobun: 14)
Permusuhan di sini bermakna mereka menghalangi hamba dari ketaatan
kepada Alloh ﷻ atau mengajak kepada
kemaksiatan. Meskipun demikian, syariat tetap memerintahkan untuk berbuat baik
kepada orang tua selama tidak dalam perkara maksiat. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ﴾
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu
yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)
Ayat senada juga terdapat dalam surat Al-Ankabut:
﴿وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حُسۡنٗاۖ وَإِن جَٰهَدَاكَ
لِتُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَآۚ﴾
“Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS.
Al-Ankabut: 8)
Kewajiban taat kepada makhluk gugur apabila bertentangan dengan perintah
Sang Kholiq. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ
طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ»
“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, sesungguhnya ketaatan itu
hanyalah dalam perkara yang baik.” (HR. Al-Bukhori no. 7257 dan Muslim no.
1840)
Seorang muhajir mungkin akan mengalami pengusiran atau pemutusan
hubungan kekeluargaan demi mempertahankan agamanya. Hal ini telah dialami oleh
para Shohabat terdahulu. Alloh ﷻ berfirman memuji mereka yang lebih mencintai Alloh dan
Rosul-Nya daripada keluarga mereka sendiri:
﴿لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ
فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ﴾
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari Akhir,
saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya,
sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara
ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan
keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang
daripada-Nya.” (QS. Al-Mujadilah: 22)
2.3 Ujian Hinaan dan Pengucilan
Tatkala seseorang mulai menampakkan syiar-syiar Islam setelah hijroh,
seperti menjaga sholat jamaah, berhijab syar’i, atau meninggalkan tradisi yang
mengandung bid’ah dan kesyirikan, seringkali masyarakat memberikan respon
negatif. Hinaan, ejekan, dan label negatif adalah sarapan harian bagi para ghuroba
(orang-orang asing). Alloh ﷻ
menceritakan keadaan orang-orang kafir terhadap kaum Mu’min:
﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ كَانُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
يَضۡحَكُونَ ٢٩ وَإِذَا مَرُّواْ
بِهِمۡ يَتَغَامَزُونَ ٣٠﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu
mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di
hadapan mereka, mereka saling mengedipkan matanya.” (QS. Al-Muthoffifin:
29-30)
Ejekan tersebut berlanjut hingga mereka kembali ke keluarga mereka:
﴿وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ
أَهۡلِهِمُ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ
٣١﴾
“Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka
kembali dengan gembira.” (QS. Al-Muthoffifin: 31)
Keterasingan ini adalah tanda kebenaran jalan yang ditempuh. Rosululloh ﷺ memberikan kabar gembira bagi mereka yang merasa asing di
tengah kerusakan zaman:
«بَدَأَ
الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana
kemunculannya, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim
no. 145)
Menjaga agama di tengah tekanan masyarakat ibarat memegang bara api.
Dibutuhkan kekuatan mental yang besar agar tidak goyah. Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ
كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara
mereka di atas agamanya seperti orang yang memegang bara api.” (HR.
At-Tirmidzi no. 2260, shohih)
Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) menasihatkan agar kita tidak merasa
kesepian di jalan petunjuk hanya karena sedikitnya orang yang menempuhnya, dan
jangan terperdaya dengan banyaknya orang yang binasa di jalan kesesatan.
Pengucilan sosial adalah cara Alloh ﷻ memisahkan hamba-Nya dari pengaruh buruk lingkungan agar ia
lebih fokus memperbaiki diri. Alloh ﷻ berfirman tentang ujian berupa perkataan yang menyakitkan:
﴿لَتُبۡلَوُنَّ فِيٓ أَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ وَلَتَسۡمَعُنَّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ
ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوٓاْ
أَذٗى كَثِيرٗاۚ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ
ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٨٦﴾
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga)
kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum
kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Alloh, gangguan yang banyak yang
menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang
demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imron: 186)
2.4 Gangguan Syaithon Melalui Bisikan
Ujian yang paling samar namun paling berbahaya adalah serangan dari
dalam diri yang dipicu oleh syaithon. Syaithon telah bersumpah untuk
menyesatkan manusia dari segala arah, terutama bagi mereka yang baru saja
berhijroh. Iblis berkata:
﴿قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم
مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَانِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧﴾
“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya
benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian
saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan
dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’”
(QS. Al-A’rof: 16-17)
Syaithon akan meniupkan syubhat (keragu-raguan) terhadap kebenaran Islam
atau manhaj yang lurus, serta menghiasi syahwat (keinginan duniawi) agar nampak
indah sehingga hamba tersebut merindukan masa lalunya yang penuh maksiat. Alloh
ﷻ berfirman:
﴿يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ
ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا
١٢٠﴾
“Syaithon itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan
angan-angan kosong pada mereka, padahal syaithon itu tidak menjanjikan kepada
mereka selain tipu daya semata.” (QS. An-Nisa: 120)
Gangguan ini masuk melalui aliran darah manusia, sehingga sangat sulit
dideteksi kecuali dengan pertolongan Alloh ﷻ dan ilmu syar’i. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ»
“Sesungguhnya syaithon mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah.”
(HR. Al-Bukhori no. 3281 dan Muslim no. 2175)
Apabila seorang muhajir merasakan bisikan untuk kembali berbuat dosa
atau meragukan ketetapan Robbnya, dia harus segera berlindung kepada Alloh ﷻ. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
٢٠٠﴾
“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaithon, maka berlindunglah
kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.
Al-A’rof: 200)
Orang-orang yang bertaqwa memiliki kepekaan tatkala syaithon mulai
menyentuh hati mereka. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا
هُم مُّبۡصِرُونَ ٢٠١﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was
dari syaithon, mereka ingat (kepada Alloh), maka ketika itu juga mereka melihat
(kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’rof: 201)
Syaithon tidak akan membiarkan seorang hamba beribadah dengan tenang.
Dia akan mendatangkan rasa malas, was-was dalam bersuci, was-was dalam niat,
hingga rasa bosan terhadap ketaatan. Oleh karena itu, konsistensi dalam membaca
dzikir pagi
dan petang serta menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap
muhajir agar benteng pertahanannya tidak jebol oleh serangan halus syaithon.
Perjuangan melawan hawa nafsu dan syaithon adalah Jihad yang paling
berkelanjutan hingga maut menjemput. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ
يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ٩٩﴾
“Dan sembahlah Robbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS.
Al-Hijr: 99)
Tanpa perlindungan Alloh ﷻ, hati manusia sangat mudah berbolak-balik. Maka dari itu, doa
yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi ﷺ
adalah memohon keteguhan hati. Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha
menceritakan bahwa doa Nabi ﷺ yang paling sering adalah:
«يَا
مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas
agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3522, shohih)
Seorang muhajir harus menyadari bahwa syahwat masa lalu akan terus
membayangi, namun kenikmatan harom tersebut hanyalah sesaat, sedangkan
penyesalannya panjang. Alloh ﷻ
memberikan perumpamaan bagi mereka yang mengikuti hawa nafsunya:
﴿فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ﴾
“Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).” (QS.
Al-A’rof: 176)
Dengan memahami berbagai macam pintu ujian ini, diharapkan para muhajir
lebih waspada dan tidak merasa sendirian, karena setiap orang beriman pasti
akan melewati salah satu atau seluruh gelombang ujian tersebut sebagai syarat
sahnya pengakuan iman mereka di hadapan Alloh ﷻ.
Bab
3: Sabar dan Istiqomah
3.1 Sabar Saat Menghadapi Musibah
Sabar bukan berarti lemah atau sekadar diam tanpa usaha, melainkan
menahan diri dari keluh kesah, menahan lisan dari ucapan yang tidak diridhoi
Alloh ﷻ, dan menahan anggota badan
dari perbuatan yang melanggar syariat. Sabar adalah cahaya bagi seorang Mu’min
di tengah gelapnya ujian. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«وَالصَّلاَةُ
نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ»
“Sholat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, dan sabar adalah sinar yang
menerangi.” (HR. Muslim no. 223)
Alloh ﷻ memerintahkan kaum Mu’min
untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong utama dalam menghadapi
segala kesulitan hidup. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS.
Al-Baqoroh: 153)
Kebersamaan Alloh ﷻ (ma’iyyah)
dalam ayat ini adalah kebersamaan yang khusus, yaitu berupa pembelaan,
pertolongan, dan penjagaan bagi mereka yang bersabar. Sabar yang paling utama
adalah sabar di saat pertama kali musibah itu menimpa. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا
الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى»
“Sesungguhnya sabar itu hanyalah pada hentaman (musibah) yang pertama.” (HR.
Al-Bukhori no. 1283 dan Muslim no. 926)
Sabar dalam menghadapi ujian setelah hijroh merupakan rukun terpenting
dalam menjaga keimanan. Tanpa kesabaran, seorang hamba akan mudah
terombang-ambing oleh badai fitnah yang menerjang. Alloh ﷻ menjanjikan pahala yang tanpa batas bagi
mereka yang mampu menahan diri dan tetap ridho atas ketetapan-Nya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠﴾
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala
mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Sifat sabar mencakup tiga perkara utama: sabar dalam menjalankan
ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi takdir
Alloh ﷻ yang terasa menyakitkan.
Seorang muhajir yang sedang berjuang memperbaiki diri sangat membutuhkan ketiga
jenis kesabaran ini. Rosululloh ﷺ
memberikan perumpamaan bagi orang Mu’min yang selalu bersabar dalam segala
keadaan:
«عَجَبًا
لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ
لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mu’min, sesungguhnya semua urusannya
adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh
orang Mu’min. Jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka itu adalah
kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar, maka itu adalah
kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)
Di antara bentuk sabar yang sholih adalah dengan tidak mengadu kepada
makhluk, melainkan hanya mengadu kepada Alloh ﷻ semata. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihissalam
saat menghadapi ujian kehilangan anak tercintanya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿قَالَ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٨٦﴾
“Ya’qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Alloh aku mengadukan
kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Alloh apa yang kamu tiada
mengetahuinya.’” (QS. Yusuf: 86)
Sabar juga berarti tetap teguh menjalankan syariat meskipun lingkungan
sekitar tidak mendukung. Alloh ﷻ memuji orang-orang yang tetap teguh dalam beribadah meskipun
menghadapi kesulitan:
﴿وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ
ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ﴾
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru
Robbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya; dan janganlah
kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (QS.
Al-Kahfi: 28)
Kesabaran adalah separuh dari keimanan. Tanpa kesabaran, seseorang tidak
akan mampu menyempurnakan ni’mat hidayah yang telah diterimanya. Alloh ﷻ memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk bersabar sebagaimana para Rosul terdahulu:
﴿فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ
ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡۚ﴾
“Maka bersabarlah kamu sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan
hati dari Rosul-Rosul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan
(adzab) bagi mereka.” (QS. Al-Ahqof: 35)
Keutamaan sabar juga nampak pada janji Alloh ﷻ untuk memberikan petunjuk dan keberkahan bagi hamba-Nya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ
ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧﴾
“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rohmat dari
Robb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.
Al-Baqoroh: 157)
3.2 Ilmu Syar’i Sebagai Perisai
Hijroh tanpa landasan ilmu adalah hijroh yang rapuh. Ilmu syar’i
merupakan cahaya yang membedakan antara yang haq dengan yang bathil, serta
antara Sunnah dengan bid’ah. Seorang muhajir wajib membekali dirinya dengan
ilmu agar tidak mudah terpengaruh oleh syubhat syaithon yang selalu berusaha
memalingkannya dari jalan yang lurus. Alloh ﷻ berfirman mengangkat derajat orang-orang yang berilmu:
﴿يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ
ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١﴾
“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu adalah jalan termudah menuju Jannah. Tatkala ujian melanda, ilmu
akan menuntun hamba untuk bersikap sesuai dengan tuntunan Rosululloh ﷺ. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى
الْجَنَّةِ»
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan
mudahkan baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)
Dengan ilmu, seorang hamba akan memiliki rasa takut yang benar kepada
Alloh ﷻ (khosyyah). Rasa takut
ini akan menjaganya dari kemaksiatan saat ujian berupa syahwat datang menggoda.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
٢٨﴾
“Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu). Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal sholih. Seseorang
yang telah berhijroh harus terus belajar agar ibadahnya shohih dan diterima di
sisi Alloh ﷻ. Rosululloh ﷺ bersabda tentang tanda kebaikan pada diri seorang hamba:
«مَنْ
يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan padanya, maka Alloh akan fahamkan
dia dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan bahwa ilmu adalah imamnya
amal, sedangkan amal adalah pengikutnya.
Tanpa ilmu, amal seseorang akan tertolak meskipun dia merasa telah
berbuat baik. Alloh ﷻ memberikan peringatan tentang
orang-orang yang merugi amalnya:
﴿قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤﴾
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang
yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka
berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Oleh karena itu, seorang muhajir tidak boleh merasa cukup dengan ilmu
yang dimilikinya. Dia harus selalu memohon tambahan ilmu kepada Alloh ﷻ sebagaimana perintah-Nya:
﴿وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا ١١٤﴾
“Dan katakanlah: ‘Wahai Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Thoha: 114)
Dalam menghadapi gelombang ujian, ilmu syar’i berfungsi sebagai kompas
yang mengarahkan hamba untuk tetap berada di atas manhaj Salafus Sholih. Alloh ﷻ berfirman mengenai pentingnya bertanya
kepada orang yang berilmu:
﴿فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣﴾
“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika
kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
3.3 Memohon Keteguhan
Hidayah adalah milik Alloh ﷻ, dan Dia-lah yang berkuasa untuk menetapkan atau mencabut
hidayah tersebut dari hati manusia. Seorang yang telah berhijroh sangat
dianjurkan untuk memperbanyak doa dan tadhorru’ (merendah diri) di
hadapan Alloh ﷻ agar diberi istiqomah hingga
akhir hayat. Alloh ﷻ mengajarkan doa orang-orang
yang beriman:
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ
رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨﴾
“Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada
kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada
kami rohmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi
(karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)
Keteguhan hati hanyalah datang dari Alloh ﷻ. Tanpa pertolongan-Nya, manusia akan mudah tergelincir kembali
ke dalam lubang kemaksiatan. Alloh ﷻ berfirman menguatkan hati kaum Mu’min:
﴿يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ﴾
“Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhiroh.” (QS. Ibrohim: 27)
Doa merupakan senjata utama bagi seorang Mu’min. Alloh ﷻ sangat senang apabila hamba-Nya meminta
dan memohon perlindungan kepada-Nya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
٦٠﴾
“Dan Robbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghofir: 60)
Dalam menghadapi tekanan dari musuh-musuh Islam atau orang yang membenci
hijrohnya, seorang Mu’min diajarkan untuk berdoa memohon kesabaran dan
kemenangan. Alloh ﷻ berfirman menceritakan doa
tentara Tholut:
﴿رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٥٠﴾
“Wahai Robb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah
pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS.
Al-Baqoroh: 250)
Keteguhan juga didapatkan dengan memperbanyak dzikir kepada Alloh ﷻ. Hati yang senantiasa basah dengan
mengingat Alloh ﷻ tidak akan mudah dimasuki
oleh keragu-raguan. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨﴾
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allohlah hati menjadi
tenteram.” (QS. Ar-Ro’d: 28)
Rosululloh ﷺ juga mengajarkan agar kita
senantiasa memohon ampunan dan perlindungan dari keburukan diri sendiri. Beliau
ﷺ bersabda dalam khuthbatul hajah:
«نَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا»
“Kami berlindung kepada Alloh dari keburukan jiwa-jiwa kami dan dari
kejahatan amal perbuatan kami.” (HR. An-Nasa’i no. 1404, shohih)
Kejujuran dalam berdoa adalah kunci dibukanya pintu-pintu hidayah yang
terkunci. Jika seorang hamba jujur kepada Alloh ﷻ dalam keinginannya untuk tetap istiqomah, maka Alloh ﷻ akan memberikan jalan keluar dari arah
yang tidak disangka-sangka. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ﴾
“Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya
jalan keluar, dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS.
Ath-Tholaq: 2-3)
Taqwa adalah bekal terbaik bagi seorang muhajir. Dengan ketaqwaan, ujian
yang terasa berat akan diringankan oleh Alloh ﷻ. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤﴾
“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Alloh, niscaya Alloh menjadikan
baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)
Seorang muhajir harus menyadari bahwa istiqomah adalah karunia yang
sangat besar. Rosululloh ﷺ bersabda kepada seseorang
yang meminta wasiat:
«قُلْ
آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ»
“Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Alloh’, kemudian istiqomahlah.” (HR.
Muslim no. 38)
Istiqomah di sini bermakna tetap teguh menjalankan perintah dan menjauhi
larangan secara kontinu hingga ajal menjemput. Bagi mereka yang istiqomah,
Alloh ﷻ menjanjikan kehadiran para
Malaikat yang membawa kabar gembira di saat kematian mereka. Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ
رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ
وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada
mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan
gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS.
Fushshilat: 30)
Bab
4: Kabar Gembira
4.1 Penghapusan Dosa
Salah satu kabar gembira terbesar bagi orang yang berhijroh adalah bahwa
setiap rasa sakit, kesedihan, dan kerugian materi yang dialami merupakan wasilah
(sarana) penggugur dosa. Seseorang yang telah lama hidup dalam kemaksiatan
tentu memiliki tumpukan dosa yang banyak, dan Alloh ﷻ dengan rohmat-Nya memberikan ujian agar sang hamba kembali
dalam keadaan suci. Alloh ﷻ
berfirman tentang balasan bagi mereka yang berhijroh dan disakiti di jalan-Nya:
﴿فَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ
وَأُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَأُوذُواْ فِي سَبِيلِي
وَقَٰتَلُواْ وَقُتِلُواْ لَأُكَفِّرَنَّ عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡ وَلأُدۡخِلَنَّهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ثَوَابٗا مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلثَّوَابِ ١٩٥﴾
“Maka orang-orang yang berhijroh, yang diusir dari kampung halamannya,
yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan
Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke
dalam Jannah yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi
Alloh. Dan Alloh di sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. Ali ‘Imron: 195)
Setiap musibah yang menimpa seorang Mu’min tidak ada yang sia-sia di
hadapan Alloh ﷻ. Rosululloh ﷺ menegaskan hal ini dalam sabda beliau:
«مَا
يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ
حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»
“Ujian senantiasa menimpa seorang Mu’min dan Mu’minah pada dirinya,
anaknya, dan hartanya, hingga dia bertemu Alloh dalam keadaan tidak memiliki
dosa satu pun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399, shohih)
Maka, ketika seorang muhajir merasa hartanya berkurang atau fisiknya
melemah karena kelelahan dalam beribadah dan mencari rizqi yang halal,
hendaknya dia tersenyum karena beban dosanya sedang diringankan. Alloh ﷻ berfirman bahwa setiap keburukan yang
menimpa adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri, namun Alloh ﷻ mengampuni sebagian besarnya melalui ujian
tersebut:
﴿وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُو عَن كَثِيرٖ ٣٠﴾
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuro: 30)
Ampunan Alloh ﷻ sangatlah luas bagi hamba-Nya
yang bertaubat dan melakukan hijroh. Alloh ﷻ berfirman menyeru hamba-Nya yang melampaui batas:
﴿۞قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣﴾
“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya
Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Penghapusan dosa ini merupakan ni’mat yang tidak tertandingi oleh materi
dunia manapun. Seseorang yang bersih dari dosa akan merasakan ketenangan bathin
(thuma’ninah) yang hakiki. Rosululloh ﷺ
bersabda bahwa taubat menghapuskan apa yang sebelumnya:
«التَّائِبُ
مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ»
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”
(HR. Ibnu Majah no. 4250, hasan)
Di antara tanda diterimanya taubat dan hijroh seseorang adalah Alloh ﷻ mengganti kesenangan haromnya dengan
kelezatan dalam melakukan ketaatan. Meskipun raga merasa lelah karena ujian,
namun hati merasa damai karena berada dalam naungan ampunan-Nya. Alloh ﷻ berfirman mengenai pergantian keburukan
menjadi kebaikan:
﴿إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ
ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ وَكانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٧٠﴾
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal
sholih; maka kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon: 70)
4.2 Jannah Sebagai Tempat Kembali
Tujuan akhir dari setiap helaan nafas seorang muhajir adalah meraih
Jannah Alloh ﷻ. Jannah adalah tempat di mana
segala keletihan akan berakhir, segala air mata akan dihapus, dan segala
keinginan akan terpenuhi. Alloh ﷻ berfirman menceritakan sifat Jannah:
﴿فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٖ ٢٤ قُطُوفُهَا دَانِيَةٞ ٢٥ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓـٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ ٢٦﴾
“Di dalam Jannah yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Dikatakan kepada
mereka): ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu
kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.’” (QS. Al-Haqqoh: 24-26)
Hanya dengan kesabaran hamba dapat memasuki pintu-pintu Jannah. Para
Malaikat akan menyambut mereka dengan ucapan salam atas kesabaran mereka selama
di dunia. Alloh ﷻ berfirman:
﴿سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ٢٤﴾
“(Sambil mengucapkan): ‘Salamun ‘alaikum bima shobartum’
(keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan
itu.” (QS. Ar-Ro’d: 24)
Kenikmatan Jannah tidak dapat dibayangkan oleh akal manusia. Rosululloh ﷺ bersabda meriwayatkan Firman Alloh ﷻ (Hadits Qudsi):
«أَعْدَدْتُ
لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ
عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ»
“Aku telah sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholih kenikmatan yang
belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum
pernah terlintas dalam hati manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 3244 dan Muslim
no. 2824)
Bagi hamba yang rela meninggalkan kesenangan dunia demi mengejar ridho
Robbnya, Alloh ﷻ akan memberikan ganti yang
berlipat ganda di Jannah. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَن يَخۡرُجۡ مِنۢ بَيۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى
ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ١٠٠﴾
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijroh kepada Alloh
dan Rosul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang
dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Alloh. Dan adalah Alloh
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)
Keridhoan hamba terhadap takdir Alloh ﷻ di dunia akan membuahkan keridhoan Alloh ﷻ kepadanya di Akhiroh. Ini adalah puncak
dari segala ni’mat. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ٨﴾
“Alloh ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Yang
demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Robbnya.” (QS.
Al-Bayyinah: 8)
4.3 Jalan Keluar yang Dekat
Ujian yang dialami seorang hamba tidak akan berlangsung selamanya. Alloh
ﷻ telah menetapkan bahwa setiap
kesulitan pasti dibarengi dengan kemudahan. Ini adalah janji yang pasti dan
tidak akan pernah diingkari. Alloh ﷻ berfirman mengulangi janji tersebut dua kali dalam surat
Asy-Syarh:
﴿فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٦﴾
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)
Ayat ini menunjukkan bahwa satu kesulitan tidak akan pernah mampu
mengalahkan dua kemudahan. Pertolongan Alloh ﷻ sangatlah dekat, namun seringkali manusia terburu-buru. Alloh ﷻ berfirman:
﴿أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ
ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرُ ٱللَّهِ قَرِيبٞ ٢١٤﴾
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka (kemiskinan) dan kesengsaraan (penyakit), serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rosul dan
orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Alloh?’
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat.” (QS. Al-Baqoroh:
214)
Kunci datangnya pertolongan adalah dengan menolong agama Alloh ﷻ. Artinya, dengan tetap konsisten
menjalankan perintah-Nya meskipun dalam keadaan sulit. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ
إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧﴾
“Hai orang-orang Mu’min, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
Alloh ﷻ adalah sebaik-baik Pelindung
dan Penolong. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat mencelakakan hamba jika
Alloh ﷻ menghendaki keselamatan
baginya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَٱعۡتَصِمُواْ بِٱللَّهِ هُوَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ فَنِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ ٧٨﴾
“Dan berpegang teguhlah kamu pada tali Alloh. Dia adalah Pelindungmu,
maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Hajj:
78)
Janji pertolongan ini juga mencakup kemenangan bagi para hamba yang
bertaqwa. Di akhir perjalanan hijroh, Alloh ﷻ akan memberikan kemuliaan bagi mereka yang bersabar. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ ١٣٢﴾
“Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS.
Thoha: 132)
Bab
5: Ketabahan Salafus Sholih
5.1 Keteguhan Hati Shohabat Nabi ﷺ Saat Meninggalkan Makkah
Generasi terbaik umat ini, yaitu para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum,
telah memberikan teladan yang paling nyata dalam berhijroh. Mereka meninggalkan
harta benda, rumah, dan keluarga di Makkah demi mempertahankan iman mereka.
Suhaib bin Sinan Ar-Rumi rodhiyallahu ‘anhu, tatkala hendak berhijroh,
dia dihadang oleh orang-orang kafir Quroisy. Mereka berkata bahwa dia datang ke
Makkah dalam keadaan miskin dan sekarang ingin pergi membawa kekayaan. Maka
Suhaib menawarkan seluruh hartanya agar dibiarkan pergi menemui Nabi ﷺ. Ketika kabar ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«يَا أَبَا يَحْيَى، رَبِحَ الْبَيْعُ»
“Telah beruntung perniagaanmu wahai Abu Yahya, telah beruntung
perniagaanmu wahai Abu Yahya.” (HR. Al-Hakim no. 5706, shohih)
Alloh ﷻ pun menurunkan ayat berkenaan
dengan peristiwa ini:
﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡرِي نَفۡسَهُ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ رَءُوفُۢ بِٱلۡعِبَادِ ٢٠٧﴾
“And di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena
mencari keridhoan Alloh; dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS.
Al-Baqoroh: 207)
Keluarga Yasir juga menjadi saksi betapa beratnya ujian setelah masuk
Islam. Mereka disiksa di padang pasir yang panas, namun Nabi ﷺ menguatkan mereka dengan janji Jannah. Beliau ﷺ bersabda:
«صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ»
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan
bagi kalian adalah Jannah.” (HR. Al-Hakim no. 5646, shohih)
Para Shohabat tidak pernah menyesali hijroh mereka meskipun harus hidup
dalam kemiskinan di Madinah pada awalnya serta peperangan. Mereka yakin bahwa
Alloh ﷻ tidak akan menelantarkan
hamba-Nya. Alloh ﷻ berfirman memuji kekokohan
iman mereka:
﴿مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ
ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُواْ
تَبۡدِيلٗا ٢٣﴾
“Di antara orang-orang Mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang
telah mereka janjikan kepada Alloh; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan
di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah
(janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)
5.2 Ketabahan Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H)
Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) adalah sosok yang fenomenal dalam sejarah
hijroh. Beliau dulunya adalah seorang perampok yang sangat ditakuti. Namun,
hidayah menyapanya saat beliau mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an:
﴿أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ
أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ
مِنَ ٱلۡحَق﴾
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk
hati mereka mengingat Alloh dan kepada kebenaran yang telah diturunkan.” (QS.
Al-Hadid: 16)
Seketika itu beliau bertaubat dan menghabiskan sisa hidupnya di Masjidil
Harom hingga dijuluki ‘Abidul Haromain (Ahli ibadah dua tanah harom). Beliau
bersabar menghadapi perubahan gaya hidup dari seorang yang bergelimang harta
harom menjadi seorang zahid yang sangat sederhana. Beliau berkata bahwa jika
seseorang sudah merasa manisnya ketaatan, maka segala pahitnya ujian dunia akan
terasa hambar. Beliau juga menasihati: “Ikutilah jalan petunjuk, dan janganlah
merasa rugi dengan sedikitnya orang yang berjalan di sana.”
Beliau (187 H) juga menekankan bahwa tanda kejujuran hijroh adalah
membenci kemaksiatan yang dahulu dicintai.
Ketabahan beliau dalam menuntut ilmu dan beribadah menjadi inspirasi
bagi para muhajir di setiap zaman bahwa pintu taubat selalu terbuka dan Alloh ﷻ akan memuliakan hamba-Nya yang
bersungguh-sungguh.
5.3 Nasihat Ad-Daroni (215 H)
Ad-Daroni (215 H) dikenal sebagai seorang ulama yang sangat
memperhatikan amalan hati. Beliau menjelaskan bahwa ujian adalah timbangan
untuk mengukur kadar kejujuran iman seseorang. Beliau berkata: “Segala sesuatu
yang menyibukkanmu dari Alloh, maka itu adalah malapetaka bagimu.” Beliau juga
mengajarkan bahwa seorang muhajir harus memiliki rasa harap yang besar kepada
Alloh ﷻ di tengah gempuran ujian.
Dalam sebuah Atsar disebutkan bahwa kejujuran iman akan nampak saat
seseorang dihadapkan pada pilihan antara ketaatan yang berisiko kehilangan
dunia dengan kemaksiatan yang menjanjikan keuntungan dunia. Jika dia memilih
ketaatan, maka dia adalah orang yang jujur (shodiq). Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ
مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩﴾
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah
kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Ad-Daroni juga sering mengingatkan bahwa dunia adalah ladang untuk
bercocok tanam, sedangkan panennya adalah di Akhiroh. Tidak ada petani yang
menuai hasil tanpa rasa lelah dalam merawat tanamannya. Begitu pula seorang
muhajir, rasa lelahnya dalam menghadapi ujian akan berbuah manis di Jannah
kelak. Kejujuran dalam berhijroh akan membimbing hamba untuk selalu merasa
diawasi oleh Alloh ﷻ (muroqobah).
Penutup
Gelombang ujian yang datang menyapa setelah hijroh bukanlah untuk menghancurkan,
melainkan untuk membangun pondasi iman yang lebih kokoh. Setiap hamba yang
memilih jalan ketaatan harus menyiapkan diri dengan bekal sabar, ilmu, dan doa
yang tiada putus. Ingatlah bahwa dunia ini hanyalah sesaat, sedangkan Akhiroh
adalah selama-lamanya. Keletihan yang kita rasakan dalam menghadapi hinaan
manusia atau kesempitan rizqi akan segera sirna begitu kaki pertama kali
melangkah masuk ke dalam Jannah.
Alloh ﷻ telah memberikan kabar
gembira berupa ampunan dan rohmat yang luas bagi hamba-hamba-Nya yang tetap
istiqomah. Jangan biarkan syaithon memadamkan api semangat hijrohmu dengan
bisikan-bisikan keputusasaan. Tetaplah teguh di atas manhaj Salafus Sholih,
karena itulah jalan keselamatan yang sesungguhnya.
Semoga Alloh ﷻ mengumpulkan kita semua di
dalam Jannah-Nya yang tinggi bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan
Sholihin. Itulah sebaik-baik teman perjalanan.
﴿وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ
فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩﴾
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami,
benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS.
Al-Ankabut: 69)
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang
dengan ni’mat-Nya amal-amal sholih menjadi sempurna.
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ yang telah memberikan teladan dalam kesabaran menghadapi ujian
dakwah dan hijroh.
Kami memohon kepada Alloh ﷻ agar menjadikan buku ini bermanfaat bagi penulis dan
pembacanya, serta menjadikannya sebagai timbangan amal kebaikan di Hari Qiyamah
kelak. Amin.[NK]
