[PDF] Tarjamah Suroh An-Nahl Merujuk Tafsir Muyassar dan Mukhtashor fit Tafsir Disertai Kaitan Antar Ayat - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Suroh An-Nahl berisi tema
besar: Penegasan Ketauhidan dan Luasnya Ni’mat Alloh ﷻ.
[1] Kepastian
Hari Qiyamah dan Bukti Keagungan Penciptaan
Kelompok ayat ini diawali
dengan peringatan keras bagi orang-orang kafir yang meragukan datangnya adzab
dan Hari Qiyamah. Alloh ﷻ menegaskan bahwa segala sesuatu berada dalam kendali-Nya, lalu
Dia menyebutkan wasilah penyampaian peringatan tersebut melalui wahyu yang
dibawa oleh Malaikat. Setelah itu, rangkaian ayat berikutnya memaparkan
bukti-bukti nyata kekuasaan Alloh ﷻ dalam penciptaan langit, bumi, manusia,
hingga hewan ternak sebagai dalil bahwa hanya Dia yang berhak diibadahi.
﴿أَتَىٰٓ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ١﴾
1. Telah tiba ketetapan Alloh berupa adzab bagi
orang-orang musyrik dan datangnya Hari Qiyamah, maka janganlah kalian wahai orang-orang
musyrik meminta agar hal itu disegerakan karena rasa ingkar dan mengolok-olok.
Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan berupa
berhala-berhala dan tandingan-tandingan.
Setelah menjelaskan
tentang kepastian datangnya adzab, Alloh ﷻ kemudian menyebutkan sarana penyampaian
peringatan tersebut melalui para Rosul yang dibekali wahyu.
﴿يُنَزِّلُ الْمَلَٰٓئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ أَنْ أَنذِرُوٓا أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا فَاتَّقُونِ ٢﴾
2. Alloh menurunkan para Malaikat dengan membawa
wahyu atas perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya untuk menjadi Rosul agar mereka memberikan peringatan kepada
manusia bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Aku,
maka bertaqwalah kepada-Ku dengan menjalankan perintah-Ku dan menjauhi
larangan-Ku.
Wahyu yang dibawa para
Rosul tersebut berisi ajaran Tauhid yang didukung oleh bukti nyata penciptaan
alam semesta yang sangat luas.
﴿خَلَقَ السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ تَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ٣﴾
3. Alloh menciptakan langit dan bumi dengan hikmah
yang benar dan tujuan yang agung, bukan secara sia-sia. Maha Tinggi Alloh dari
segala kesyirikan yang mereka lakukan.
Dari penciptaan langit
dan bumi yang besar, Alloh ﷻ mengajak manusia melihat keajaiban penciptaan diri mereka
sendiri yang berasal dari sesuatu yang sangat kecil.
﴿خَلَقَ الْإِنسَٰنَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ
٤﴾
4. Alloh menciptakan manusia dari tetesan nuthfah
(air mani) yang hina, namun setelah ia tumbuh dewasa dan menjadi kuat,
tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata terhadap Robb-nya, mendebat tentang
kebangkitan kembali setelah kematian.
Meskipun manusia sering
membangkang, Alloh ﷻ tetap
menyediakan berbagai fasilitas hidup bagi mereka, di antaranya adalah hewan
ternak.
﴿وَالْأَنْعَٰمَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَٰفِعُ وَمِنْهَا
تَأْكُلُونَ ٥﴾
5. Alloh pun telah menciptakan hewan-hewan ternak
untuk kalian. Pada hewan-hewan itu terdapat bulu dan kulit yang memberikan rasa
hangat dan berbagai manfaat lainnya bagi kehidupan kalian, dan sebagian dari
hewan-hewan tersebut kalian makan dagingnya.
Selain manfaat fisik
berupa kehangatan dan makanan, hewan-hewan tersebut juga memberikan kepuasan
batin dan keindahan bagi pemiliknya.
﴿وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ
تَسْرَحُونَ ٦﴾
6. Kalian mendapatkan keindahan dan kebanggaan pada
hewan-hewan ternak itu saat kalian membawanya pulang ke kandang di sore hari
dan saat kalian melepaskannya ke tempat penggembalaan di pagi hari.
Kegunaan hewan ternak
tidak berhenti pada keindahan saja, tetapi juga sebagai sarana transportasi
yang sangat membantu mobilitas manusia.
﴿وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَّمْ
تَكُونُوا بَٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنفُسِ ۚ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ٧﴾
7. Hewan-hewan itu mengangkut beban-beban berat
kalian menuju suatu negeri yang jauh, yang kalian tidak akan sanggup
mencapainya kecuali dengan susah payah yang sangat berat. Sesungguhnya Robb
kalian benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya
karena telah memudahkan sarana transportasi ini bagi kalian.
Alloh ﷻ kemudian merinci jenis hewan lain yang
secara khusus diciptakan sebagai kendaraan dan perhiasan, serta mengisyaratkan
adanya kendaraan lain di masa depan.
﴿وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ ٨﴾
8. Alloh menciptakan kuda, bighol (peranakan kuda dan
keledai), serta keledai agar kalian menungganginya dan menjadikannya sebagai
perhiasan. Dan Alloh menciptakan apa-apa yang tidak kalian ketahui berupa
sarana transportasi dan makhluk lainnya yang akan muncul kemudian.
Setelah menjelaskan
berbagai jalan fisik yang bisa ditempuh manusia dengan hewan tunggangan, Alloh ﷻ menjelaskan bahwa hanya ada satu jalan
maknawi yang lurus menuju ridho-Nya.
﴿وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ ۚ وَلَوْ شَآءَ لَهَدَىٰكُمْ أَجْمَعِينَ ٩﴾
9. Hanya Alloh yang menunjukkan jalan yang lurus dan
benar yaitu Islam, sedangkan di antara jalan-jalan yang ada terdapat jalan yang
menyimpang dari kebenaran. Jika Alloh berkehendak, niscaya Dia akan memberi
petunjuk kepada kalian semua menuju keimanan.
Setelah memaparkan ni’mat
berupa hewan ternak dan sarana transportasi di daratan, Alloh ﷻ beralih menjelaskan ni’mat air hujan
sebagai sumber kehidupan tumbuhan.
[2] Ni’mat Air
Hujan, Tumbuhan, dan Keteraturan Alam Semesta
Bagian ini menjelaskan
bagaimana Alloh ﷻ
mengatur siklus air untuk menghidupkan bumi yang mati. Air hujan menjadi kunci
bagi tumbuhnya berbagai macam tanaman yang menjadi sumber makanan bagi manusia
dan hewan. Keteraturan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tanda-tanda
kekuasaan bagi orang-orang yang mau menggunakan akal pikiran dan mengambil
pelajaran dari alam semesta.
﴿هُوَ الَّذِيٓ أَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً ۖ لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ
تُسِيمُونَ ١٠﴾
10. Dialah Alloh yang telah menurunkan air hujan dari
langit untuk kalian. Sebagian air itu menjadi minuman kalian dan sebagiannya
lagi menyuburkan tumbuh-tumbuhan yang kalian gunakan sebagai tempat
menggembalakan ternak kalian.
Air hujan yang sama
tersebut menghasilkan keanekaragaman hasil bumi yang sangat beragam dan melimpah
untuk mencukupi kebutuhan manusia.
﴿يُنْبِتُ لَكُم بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَٰبَ وَمِن كُلِّ الثَّمَرَٰتِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
١١﴾
11. Dengan air hujan itu, Alloh menumbuhkan bagi
kalian tanaman-tanaman, pohon zaitun, kurma, anggur, dan segala macam
buah-buahan. Sesungguhnya pada penciptaan yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda yang jelas atas kekuasaan Alloh bagi kaum yang mau berpikir.
Tidak hanya di bumi,
keteraturan ini juga mencakup benda-benda langit yang pergerakannya diatur
sedemikian rupa untuk melayani kepentingan manusia.
﴿وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَٰتٌ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
١٢﴾
12. Alloh telah menundukkan malam dan siang untuk
kepentingan kalian, begitu pula matahari dan rembulan. Bintang-bintang pun
ditundukkan untuk kalian dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada hal-hal
tersebut terdapat tanda-tanda yang nyata bagi kaum yang mau menggunakan akal
mereka untuk memahami keagungan Penciptanya.
Keindahan dan keberagaman
ciptaan Alloh ﷻ juga
terlihat pada warna-warni makhluk yang ada di permukaan bumi.
﴿وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُخْتَلِفًا أَلْوَٰنُهُۥٓ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ
١٣﴾
13. Alloh pun telah menundukkan bagi kalian apa saja
yang Dia ciptakan di bumi dengan berbagai macam warna dan jenisnya, baik itu
hewan, tumbuhan, maupun barang tambang. Sesungguhnya pada hal itu benar-benar
terdapat tanda bagi kaum yang mau mengambil pelajaran dan menyadari bahwa hanya
Alloh yang berhak diibadahi.
Setelah menyebutkan ni’mat
di daratan dan langit, Alloh ﷻ menyebutkan kekayaan yang tersimpan di dalam lautan.
﴿وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا
مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِۦ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ١٤﴾
14. Dialah Alloh yang menundukkan lautan agar kalian
dapat memakan darinya daging yang segar yaitu ikan, dan kalian dapat
mengeluarkan dari lautan itu perhiasan seperti mutiara dan marjan yang kalian
pakai. Kamu pun melihat kapal-kapal berlayar membelah lautan agar kalian dapat
mencari rizqi dari karunia-Nya melalui perniagaan, dan agar kalian bersyukur
kepada Alloh atas segala ni’mat-Nya.
Agar daratan menjadi
tempat tinggal yang stabil bagi manusia, Alloh ﷻ menciptakan gunung-gunung sebagai pasak
bumi.
﴿وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَٰرًا وَسُبُلًا
لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ١٥﴾
15. Alloh memancangkan gunung-gunung yang kokoh di
bumi agar bumi itu tidak berguncang bersama kalian. Dia juga menciptakan sungai-sungai
agar kalian dapat memanfaatkannya untuk minum dan pertanian, serta menciptakan
jalan-jalan yang luas agar kalian mendapat petunjuk menuju tempat yang kalian
tuju.
Selain jalan-jalan di
bumi, Alloh ﷻ juga
memberikan petunjuk arah di malam hari melalui benda-benda langit.
﴿وَعَلَٰمَٰتٍ ۚ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ ١٦﴾
16. Alloh menciptakan tanda-tanda di bumi seperti
gunung dan perbukitan pada siang hari, dan dengan bintang-bintang pula manusia
mendapat petunjuk arah perjalanan mereka di malam hari.
Setelah memaparkan
seluruh ni’mat yang luar biasa ini, Alloh ﷻ memberikan pertanyaan sindiran untuk
menyadarkan manusia akan kebodohan menyekutukan-Nya.
﴿أَفَمَن يَخْلُقُ كَمَن لَّا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ١٧﴾
17. Maka apakah Robb yang menciptakan segala sesuatu
yang agung ini sama dengan berhala-berhala yang tidak sanggup menciptakan
sedikit pun? Mengapa kalian tidak mau mengambil pelajaran sehingga kalian hanya
menyembah kepada Sang Pencipta saja?
Alloh ﷻ menutup rangkaian pembuktian ini dengan
menegaskan bahwa ni’mat-Nya sangat banyak hingga tak mungkin terhitung, namun
Dia tetap Maha Pengampun.
﴿وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ١٨﴾
18. Jika kalian mencoba menghitung ni’mat-ni’mat Alloh
yang telah diberikan kepada kalian, niscaya kalian tidak akan sanggup
menjumlahkannya karena saking banyaknya dan beragamnya. Sesungguhnya Alloh
benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dia tidak segera mengadzab
kalian atas kelalaian kalian dalam bersyukur, dan tetap memberikan ni’mat meski
kalian banyak berbuat dosa.
Setelah menjelaskan
luasnya ni’mat zhohir, ayat berikutnya akan menjelaskan bahwa Alloh ﷻ juga Maha Mengetahui segala yang
tersembunyi di dalam hati hamba-hamba-Nya.
[3] Pengetahuan
Alloh ﷻ yang
Meliputi Segala Sesuatu dan Kebatilan Berhala
Alloh ﷻ menegaskan bahwa ilmu-Nya meliputi segala
sesuatu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, sebagai dalil bahwa hanya
Dia yang berhak disembah. Sebaliknya, tuhan-tuhan selain Alloh ﷻ adalah makhluk yang lemah, tidak bernyawa,
dan tidak mengetahui kapan kebangkitan terjadi. Kesombongan orang-orang kafir
dalam menolak kebenaran ini berujung pada pengingkaran mereka terhadap wahyu,
yang mereka sebut sebagai dongeng purbakala, sehingga mereka harus menanggung
dosa besar di Hari Qiyamah kelak.
﴿وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ
١٩﴾
19. Alloh mengetahui apa yang kalian sembunyikan dalam
hati kalian dan apa yang kalian tampakkan dengan lisan dan perbuatan kalian.
Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya.
Setelah menjelaskan
keluasan ilmu-Nya, Alloh ﷻ menunjukkan betapa hinanya berhala-berhala yang disembah
selain-Nya.
﴿وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ
٢٠﴾
20. Berhala-berhala yang mereka sembah selain Alloh tidak
mampu menciptakan apa pun, bahkan sesuatu yang kecil sekalipun, sedangkan
berhala-berhala itu sendiri adalah makhluk yang dibuat oleh tangan manusia.
Ketidakberdayaan berhala
tersebut semakin nyata karena mereka adalah benda mati yang tidak memiliki ruh.
﴿أَمْوَٰتٌ غَيْرُ أَحْيَآءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ٢١﴾
21. Berhala-berhala itu adalah benda mati yang tidak
memiliki kehidupan, dan mereka tidak mengetahui kapan para penyembahnya akan
dibangkitkan dari kubur untuk menghadapi perhitungan.
Fakta-fakta ini mengarah
pada satu kesimpulan mutlak tentang keesaan Sang Pencipta.
﴿إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْءَاخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٌ وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ
٢٢﴾
22. Ilah kalian wahai manusia adalah Ilah Yang Maha
Esa, yaitu Alloh. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan Akhiroh,
hati mereka mengingkari keesaan-Nya karena keras kepala, dan mereka adalah
orang-orang yang sombong untuk tunduk pada kebenaran dan beribadah kepada-Nya.
Kesombongan mereka tidak
akan pernah luput dari pengawasan Alloh ﷻ.
﴿لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ ٢٣﴾
23. Benarlah bahwa sesungguhnya Alloh mengetahui apa
yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan. Sesungguhnya Dia tidak
menyukai orang-orang yang sombong untuk menerima kebenaran dan menaati-Nya,
serta Dia akan membalas mereka atas perbuatan tersebut.
Salah satu bentuk
kesombongan mereka adalah merendahkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi ﷺ.
﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ
ۙ قَالُوٓا أَسَٰطِيرُ الْأَوَّلِينَ ٢٤﴾
24. Apabila dikatakan kepada orang-orang yang sombong
itu: “Apakah yang telah diturunkan oleh Robb kalian kepada Muhammad?” Mereka
menjawab dengan penuh pengingkaran: “Itu hanyalah dongeng-dongeng bohong dari
orang-orang terdahulu.”
Akibat dari perkataan
dusta dan penyesatan tersebut, mereka akan memikul beban yang sangat berat di Akhiroh.
﴿لِيَحْمِلُوٓا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ
الْقِيَٰمَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ٢٥﴾
25. Akibatnya, mereka akan memikul dosa-dosa mereka
secara utuh pada Hari Qiyamah, dan mereka juga memikul sebagian dosa
orang-orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu pengetahuan. Ketahuilah, alangkah
buruknya dosa-dosa yang mereka tanggung itu.
Setelah menjelaskan
perkataan buruk orang-orang kafir terhadap wahyu, ayat selanjutnya memaparkan
makar yang dilakukan oleh para pendahulu mereka dan bagaimana Alloh ﷻ menghancurkannya.
[4] Hancurnya
Makar Orang-orang Kafir dan Kehinaan Mereka di Akhiroh
Rangkaian ayat ini
menceritakan tentang upaya orang-orang kafir terdahulu dalam merancang tipu
daya untuk meruntuhkan agama Alloh ﷻ. Namun, Alloh ﷻ menghancurkan bangunan makar mereka dari
pondasinya hingga menimpa mereka sendiri. Di Hari Qiyamah kelak, mereka akan
dikumpulkan dalam keadaan terhina dan saling berselisih dengan
sembahan-sembahan mereka, sementara orang-orang yang diberi ilmu akan
menyaksikan kehinaan mereka.
﴿قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَٰنَهُم مِّنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِن فَوْقِهِمْ وَأَتَىٰهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ ٢٦﴾
26. Sungguh orang-orang kafir sebelum mereka telah
melakukan makar yang jahat terhadap para Rosul mereka, maka Alloh menghancurkan
bangunan makar mereka mulai dari pondasi-pondasinya, lalu atap bangunan itu
runtuh menimpa mereka dari atas, dan adzab itu datang kepada mereka dari arah
yang tidak mereka sangka-sangka.
Kehancuran di dunia ini
hanyalah permulaan, karena kehinaan yang lebih besar telah menunggu mereka di Akhiroh.
﴿ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَٰمَةِ يُخْزِيهِمْ وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَآءِيَ الَّذِينَ كُنتُمْ تُشَٰٓقُّونَ فِيهِم ۚ قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوٓءَ عَلَى الْكَٰفِرِينَ ٢٧﴾
27. Kemudian pada Hari Qiyamah, Alloh akan menghinakan
mereka dan berfirman: “Di manakah tandingan-tandingan-Ku yang dahulu kalian
membela mereka dengan memusuhi para Rosul-Ku?” Berkatalah para Nabi dan
orang-orang yang diberi ilmu: “Sesungguhnya kehinaan dan keburukan pada hari
ini ditimpakan kepada orang-orang kafir.”
Orang-orang kafir
tersebut akan menemui ajal mereka dalam keadaan menzholimi diri sendiri dengan
kesyirikan.
﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمْ ۖ فَأَلْقَوُا السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِن سُوٓءٍ ۚ بَلَىٰٓ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ٢٨﴾
28. Yaitu orang-orang yang dicabut nyawanya oleh para
Malaikat dalam keadaan mereka menzholimi diri mereka sendiri dengan kekafiran.
Maka saat kematian tiba, mereka menyerah dan tunduk sambil berkata dengan penuh
kedustaan: “Kami dahulu tidak mengerjakan suatu keburukan pun.” Maka para
Malaikat menjawab: “Tidak, sebenarnya kalian telah berbuat buruk, sesungguhnya
Alloh Maha Mengetahui apa yang telah kalian kerjakan.”
Karena dosa-dosa mereka
telah tercatat dengan sempurna, maka keputusan final pun ditetapkan bagi
mereka.
﴿فَادْخُلُوٓا أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ ٢٩﴾
29. Maka masukilah pintu-pintu Jahannam untuk tinggal
di dalamnya selama-lamanya. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi
orang-orang yang sombong terhadap kebenaran.
Setelah menggambarkan
tempat kembali orang-orang kafir yang penuh kehinaan, Alloh ﷻ beralih menjelaskan balasan bagi
orang-orang bertaqwa yang memuliakan wahyu.
[5] Balasan Bagi
Orang-orang yang Bertaqwa dan Indahnya Jannah
Setelah sebelumnya
dijelaskan tentang kehinaan orang-orang kafir yang menyombongkan diri terhadap
wahyu, kini Alloh ﷻ
memaparkan keadaan sebaliknya, yaitu orang-orang bertaqwa yang menyambut wahyu
dengan penuh pengagungan. Mereka mengakui bahwa apa yang diturunkan Robb mereka
adalah kebaikan murni. Ayat-ayat ini menggambarkan kemuliaan yang mereka
peroleh saat kematian menjemput hingga kenikmatan abadi di dalam Jannah sebagai
balasan atas amal sholih mereka di dunia.
﴿وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا خَيْرًا ۗ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ الْءَاخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ ٣٠﴾
30. Apabila ditanyakan kepada orang-orang yang
bertaqwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Robb kalian?” Mereka menjawab: “Dia
telah menurunkan kebaikan yang sangat besar.” Bagi orang-orang yang berbuat
baik dengan beriman dan beramal sholih di dunia ini akan mendapatkan balasan
yang baik pula, dan sungguh negeri Akhiroh itu jauh lebih baik bagi mereka.
Sebaik-baik tempat tinggal adalah negeri bagi orang-orang yang bertaqwa.
Tempat tinggal yang baik
bagi orang-orang bertaqwa tersebut dirinci lebih lanjut sebagai Jannah yang
penuh dengan aliran sungai.
﴿جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِن تَحْتِهَا
الْأَنْهَٰرُ ۖ لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ ٣١﴾
31. Yaitu Jannah ‘Adn yang mereka masuki, yang di
bawah istana-istana dan pepohonannya mengalir sungai-sungai. Di dalam Jannah
itu mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Demikianlah Alloh
memberikan balasan yang sempurna kepada orang-orang yang bertaqwa.
Kenikmatan di Jannah
tersebut diawali dengan perlakuan mulia dari para Malaikat saat mereka wafat
dalam keadaan suci.
﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ٣٢﴾
32. Yaitu orang-orang yang diwafatkan oleh para
Malaikat dalam keadaan suci dari kekafiran dan bersih dari keburukan. Para
Malaikat menyapa mereka dengan berkata: “Keselamatan atas kalian, masuklah
kalian ke dalam Jannah disebabkan amal sholih yang telah kalian kerjakan di
dunia.”
Setelah memaparkan
kemuliaan akhir hayat orang beriman, Alloh ﷻ kembali memperingatkan orang-orang kafir
yang masih tetap dalam pembangkangan mereka.
[6] Pengingkaran
Orang-orang Kafir dan Hikmah Pengutusan Rosul
Bagian ini menyoroti
sikap keras kepala orang-orang musyrik yang seolah-olah menunggu datangnya
adzab atau Malaikat maut sebelum mereka mau beriman. Mereka seringkali
mencari-cari alasan dengan menyalahkan taqdir atas kesyirikan yang mereka
lakukan, padahal Alloh ﷻ telah
memberikan pilihan dan mengutus para Rosul untuk membimbing mereka. Ayat-ayat
ini juga menegaskan tugas utama para Rosul hanyalah menyampaikan risalah dengan
jelas, sementara hidayah taufiq tetap berada di tangan Alloh ﷻ.
﴿هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّآ أَن تَأْتِيَهُمُ الْمَلَٰٓئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ أَمْرُ رَبِّكَ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِن كَانُوٓا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
٣٣﴾
33. Tidak ada yang ditunggu oleh orang-orang kafir itu
melainkan kedatangan para Malaikat untuk mencabut nyawa mereka atau datangnya
ketetapan Robb-mu berupa adzab yang membinasakan. Demikianlah yang telah
dilakukan oleh orang-orang kafir sebelum mereka. Alloh tidaklah menzholimi
mereka dengan mengadzab mereka, namun merekalah yang menzholimi diri mereka
sendiri dengan kekafiran dan kemaksiatan.
Akibat dari kezholiman
dan olok-olok tersebut, mereka akhirnya merasakan sendiri dampak buruk dari
perbuatan mereka.
﴿فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ
بِهِم مَّا كَانُوا بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ ٣٤﴾
34. Maka mereka ditimpa oleh balasan buruk atas
amal-amal yang telah mereka kerjakan, dan mereka dikepung oleh adzab yang
dahulu selalu mereka perolok-olokkan.
Dalam keadaan terdesak
oleh hujah, orang-orang musyrik mulai membuat alasan palsu dengan
menyalahgunakan konsep taqdir.
﴿وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَآءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِۦ مِن شَيْءٍ نَّحْنُ وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن دُونِهِۦ مِن شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَٰغُ الْمُبِينُ ٣٥﴾
35. Orang-orang musyrik berkata: “Jika Alloh
menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu pun selain Dia, tidak
juga bapak-bapak kami, dan kami tidak akan mengharomkan sesuatu pun tanpa izin-Nya.”
Orang-orang kafir sebelum mereka pun telah berkata demikian untuk menolak
kebenaran. Maka tidak ada kewajiban bagi para Rosul melainkan menyampaikan
perintah dan larangan Alloh dengan penjelasan yang nyata.
Untuk membantah alasan
mereka, Alloh ﷻ
menegaskan bahwa pada setiap umat telah diutus seorang Rosul untuk menyeru
kepada Tauhid.
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا
أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ٣٦﴾
36. Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat
seorang Rosul yang menyerukan: “Sembahlah Alloh saja dan jauhilah thoghut
(segala yang disembah selain Alloh).” Maka di antara mereka ada yang diberi
petunjuk oleh Alloh menuju keimanan, dan ada pula yang telah pasti kesesatan
bagi mereka karena tetap memilih kekafiran. Maka berjalanlah kalian di muka
bumi dan lihatlah bagaimana kesudahan yang buruk bagi orang-orang yang
mendustakan para Rosul.
Meskipun keinginan Rosul
sangat kuat agar manusia beriman, namun keputusan hidayah tetaplah mutlak milik
Alloh ﷻ.
﴿إِن تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَىٰهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَن يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ ٣٧﴾
37. Jika kamu wahai Rosul sangat menginginkan agar
mereka mendapat petunjuk, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh tidak akan
memberi petunjuk kepada orang yang telah Dia sesatkan akibat pilihannya sendiri
untuk berpaling, dan mereka tidak akan memiliki seorang penolong pun yang dapat
menyelamatkan mereka dari adzab Alloh.
Kesesatan mereka kian
parah hingga mereka berani bersumpah bahwa tidak akan ada kehidupan setelah
kematian.
﴿وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَٰنِهِمْ ۙ لَا يَبْعَثُ اللَّهُ مَن يَمُوتُ ۚ بَلَىٰ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٣٨﴾
38. Mereka bersumpah dengan nama Alloh dengan sumpah
yang sungguh-sungguh bahwa Alloh tidak akan membangkitkan orang yang telah
mati. Padahal janji Alloh untuk membangkitkan mereka adalah janji yang
benar-benar pasti, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui hal tersebut
karena kurangnya perenungan.
Kebangkitan tersebut
bertujuan untuk menyingkap segala perselisihan dan membuktikan kedustaan
mereka.
﴿لِيُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي يَخْتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ كَفَرُوٓا أَنَّهُمْ كَانُوا كَٰذِبِينَ ٣٩﴾
39. Alloh membangkitkan mereka untuk menjelaskan
kepada mereka apa yang dahulu mereka perselisihkan tentang masalah kebangkitan
dan ketauhidan, serta agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwa mereka dahulu
adalah orang-orang yang berdusta atas nama Alloh.
Bagi Alloh ﷻ, membangkitkan seluruh makhluk adalah
perkara yang sangat mudah, semudah berfirman “Kun.”
﴿إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَآ أَرَدْنَٰهُ
أَن نَّقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٤٠﴾
40. Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila
Kami menghendakinya, Kami hanya cukup mengatakan kepadanya: “Jadilah!”, maka
jadilah ia seketika itu juga.
Setelah menjelaskan
tentang kebangkitan bagi seluruh makhluk, ayat selanjutnya memberikan kabar
gembira bagi orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh ﷻ.
[7] Balasan bagi
Orang yang Berhijroh dan Hakikat Wahyu
Setelah Alloh ﷻ menjelaskan tentang kemudahan bagi-Nya
untuk membangkitkan seluruh makhluk, Dia memberikan kabar gembira bagi
hamba-hamba-Nya yang bersedia berkorban meninggalkan tanah air demi
mempertahankan iman. Rangkaian ayat ini juga menjawab keraguan kaum musyrik
yang menolak kenabian Muhammad ﷺ hanya
karena beliau adalah manusia biasa, serta memperingatkan para pembuat makar
tentang adzab yang bisa datang secara tiba-tiba.
﴿وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْءَاخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ٤١﴾
41. Orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh demi
mencari ridho-Nya setelah mereka dizholimi oleh kaum musyrik di Makkah, sungguh
Kami benar-benar akan memberikan mereka tempat tinggal yang baik di dunia
sebagai balasan atas pengorbanan mereka, dan sungguh pahala di Akhiroh kelak
jauh lebih besar jika mereka mengetahui betapa agungnya balasan yang telah
Alloh siapkan tersebut.
Pemberian tempat yang
baik dan pahala yang besar itu diperuntukkan bagi mereka yang memiliki
sifat-sifat mulia dalam menghadapi ujian.
﴿الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
٤٢﴾
42. Yaitu orang-orang yang senantiasa bersabar dalam
menjalankan ketaatan kepada Alloh dan menjauhi kemaksiatan serta sabar atas
ujian hijroh, dan mereka hanya menyandarkan segala urusan mereka kepada Robb
mereka semata.
Keyakinan mereka kepada
Robb diperkuat dengan pemahaman bahwa para Rosul yang diutus Alloh adalah
manusia pilihan yang membawa petunjuk.
﴿وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا
نُّوحِيٓ إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْئَلُوٓا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٤٣﴾
43. Kami tidak mengutus sebelum engkau wahai Muhammad
melainkan para lelaki di antara manusia yang Kami berikan wahyu kepada mereka,
dan Kami tidak mengutus Malaikat. Maka tanyakanlah kepada para ulama yang
memahami Kitab-Kitab terdahulu jika kalian tidak mengetahui bahwa para Rosul
terdahulu pun adalah dari kalangan manusia.
Para Rosul dari kalangan
manusia tersebut dibekali dengan berbagai sarana untuk meyakinkan kaumnya.
﴿بِالْبَيِّنَٰتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤﴾
44. Kami mengutus mereka dengan membawa bukti-bukti
yang nyata dan Kitab-Kitab. Dan Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar
kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka berupa
hukum-hukum dan petunjuk, dan agar mereka mau merenungkan isinya.
Meskipun petunjuk telah
dijelaskan secara nyata, masih ada orang-orang yang tetap merancang tipu daya
jahat untuk menentang da’wah.
﴿أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَن يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ ٤٥﴾
45. Maka apakah orang-orang musyrik yang merencanakan
berbagai tipu daya buruk untuk menolak da’wah Nabi itu merasa aman bahwa Alloh
tidak akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi, atau mereka merasa aman dari
datangnya adzab kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka?
Kekuasaan Alloh untuk
menyiksa mereka tidak terbatas hanya saat mereka menetap, namun juga saat
mereka sedang beraktivitas.
﴿أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُم
بِمُعْجِزِينَ ٤٦﴾
46. Atau apakah mereka merasa aman bahwa Alloh tidak
akan menyiksa mereka saat mereka sedang sibuk melakukan perjalanan dalam urusan
perdagangan dan lainnya? Ketahuilah bahwa mereka tidak akan pernah bisa
melarikan diri dari adzab-Nya.
Adzab tersebut bisa saja
datang secara mendadak, atau bisa pula datang secara perlahan sebagai bentuk
peringatan.
﴿أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ
لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ٤٧﴾
47. Atau apakah mereka merasa aman jika Alloh menyiksa
mereka dalam keadaan takut dengan dikurangi sedikit demi sedikit harta dan
jiwanya hingga mereka binasa? Sesungguhnya Robb kalian benar-benar Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya karena Dia tidak
menyegerakan adzab bagi para pelaku maksiat agar mereka mau bertaubat.
Sifat Pengasih Alloh
tersebut seharusnya membuat manusia sadar untuk tunduk kepada-Nya sebagaimana
seluruh makhluk yang ada di alam semesta.
[8] Ketundukan
Alam Semesta dan Larangan Syirik
Bagian ini mengajak
manusia memperhatikan fenomena alam yang sangat dekat dengan mereka, yaitu
bayangan benda yang selalu tunduk mengikuti perintah Alloh ﷻ. Hal ini merupakan simbol bahwa seluruh makhluk
di langit dan di bumi, termasuk para Malaikat, berada di bawah kendali dan
pengawasan Sang Pencipta. Oleh karena itu, sangat tidak masuk akal jika manusia
menjadikan tandingan bagi Alloh ﷻ yang telah memberikan segala ni’mat.
﴿أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَىٰ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ يَتَفَيَّؤُا ظِلَٰلُهُۥ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَآئِلِ سُجَّدًا لِّلَّهِ وَهُمْ دَٰخِرُونَ ٤٨﴾
48. Apakah orang-orang musyrik itu tidak memperhatikan
segala sesuatu yang telah diciptakan Alloh, bagaimana bayangan-bayangan benda
tersebut condong ke arah kanan dan kiri mengikuti pergerakan matahari? Bayangan
itu tunduk bersujud kepada Alloh dalam keadaan kecil dan hina di hadapan
keagungan-Nya.
Ketundukan bayangan
tersebut hanyalah sebagian kecil dari ketundukan total seluruh makhluk hidup.
﴿وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ٤٩﴾
49. Dan hanya kepada Alloh semata bersujud segala apa
yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi berupa makhluk yang melata,
begitu pula para Malaikat bersujud kepada-Nya, dan mereka sedikit pun tidak
menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya.
Sifat para Malaikat yang
tidak sombong ini lahir dari rasa takut dan pengagungan yang luar biasa kepada
Sang Kholiq.
﴿يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ
مَا يُؤْمَرُونَ ٥٠﴾
50. Para Malaikat itu takut kepada Robb mereka yang
berada di atas mereka dengan kemuliaan, kedudukan, dan Dzat-Nya, serta mereka
senantiasa melaksanakan apa pun yang diperintahkan oleh Alloh kepada mereka
tanpa membangkang.
Ketaatan mutlak para
Malaikat ini menjadi landasan kuat mengapa manusia dilarang keras untuk
menyembah selain Dia.
﴿۞ وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوٓا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ ٥١﴾
51. Alloh telah berfirman: “Janganlah kalian menyembah
dua Ilah, karena sesungguhnya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa. Maka hanya
kepada-Ku sajalah hendaknya kalian merasa takut.”
Ketakutan kepada Alloh
adalah konsekuensi logis karena Dialah pemilik tunggal segala yang ada di alam
raya.
﴿وَلَهُۥ مَا فِي السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا ۚ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ ٥٢﴾
52. Milik Dialah segala apa yang ada di langit dan di
bumi, dan hanya milik-Nya semata ketaatan dan ibadah untuk selama-lamanya. Maka
apakah pantas kalian bertaqwa dan takut kepada selain Alloh?
Satu-satunya Dzat yang
berhak ditakuti adalah Dia yang menjadi sumber tunggal segala ni’mat yang
dirasakan manusia.
﴿وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُونَ ٥٣﴾
53. Segala ni’mat yang ada pada kalian, baik pada diri
kalian maupun harta kalian, maka itu semua datangnya dari Alloh. Kemudian
apabila kalian ditimpa oleh kesengsaraan atau penyakit, maka hanya
kepada-Nyalah kalian berteriak meminta pertolongan dengan penuh kerendahan hati.
Namun sangat disayangkan,
sifat manusia seringkali berubah setelah kesulitan tersebut diangkat oleh Alloh
ﷻ.
﴿ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
٥٤﴾
54. Kemudian setelah Alloh menghilangkan kesengsaraan
itu dari kalian, tiba-tiba sebagian di antara kalian justru menyekutukan Robb
mereka dengan menyembah selain-Nya sebagai bentuk ketidaktahuan akan hakikat
pemberi ni’mat.
Perbuatan syirik setelah
mendapatkan pertolongan ini menunjukkan puncak kekufuran mereka terhadap
kebaikan Alloh ﷻ.
﴿لِيَكْفُرُوا بِمَآ ءَاتَيْنَٰهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ ٥٥﴾
55. Akibatnya, mereka mengingkari ni’mat-ni’mat yang
telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kalian wahai
orang-orang musyrik dengan kehidupan dunia kalian yang sementara, karena kelak
kalian akan mengetahui balasan buruk yang akan kalian terima.
Salah satu bentuk
pengingkaran mereka adalah dengan membagi-bagi rizqi yang Alloh berikan untuk
berhala-berhala yang tidak memiliki kuasa.
﴿وَيَجْعَلُونَ لِمَا لَا يَعْلَمُونَ نَصِيبًا
مِّمَّا رَزَقْنَٰهُمْ ۗ تَاللَّهِ لَتُسْئَلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَفْتَرُونَ ٥٦﴾
56. Orang-orang musyrik itu menetapkan sebagian dari rizqi
yang telah Kami berikan kepada mereka (seperti tanaman dan ternak) untuk
berhala-berhala yang tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula bisa memberi
manfaat atau mudhorot. Demi Alloh, sungguh kalian benar-benar akan ditanya dan
dimintai pertanggungjawaban pada Hari Qiyamah atas kedustaan yang kalian
ada-adakan ini.
Kedustaan mereka bahkan
melampaui batas hingga mereka berani menyandarkan sesuatu yang tidak pantas
bagi Alloh ﷻ.
[9] Kebohongan
Orang-orang Musyrik Terhadap Alloh ﷻ dan
Kebencian Mereka Terhadap Anak Perempuan
Kelompok ayat ini
menyingkap keyakinan membingungkan kaum musyrik. Di satu sisi, mereka dengan
lancang menyematkan anak perempuan bagi Alloh ﷻ, sementara mereka sendiri sangat membenci
kehadiran anak perempuan dalam keluarga mereka hingga tega menguburnya
hidup-hidup. Alloh ﷻ
menjelaskan bahwa sifat-sifat buruk itu hanya pantas bagi mereka yang tidak
beriman kepada Akhiroh, sedangkan bagi Alloh ﷻ hanyalah sifat-sifat yang paling mulia dan
agung.
﴿وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَٰتِ سُبْحَٰنَهُۥ ۙ وَلَهُم مَّا يَشْتَهُونَ ٥٧﴾
57. Orang-orang musyrik itu menetapkan bagi Alloh
anak-anak perempuan menurut persangkaan mereka yang batil. Maha Suci Alloh dari
memiliki anak, sedangkan untuk diri mereka sendiri, mereka menetapkan apa yang
mereka inginkan yaitu anak-anak laki-laki.
Setelah menyebutkan
pembagian yang tidak adil tersebut, Alloh ﷻ menggambarkan bagaimana reaksi emosional
mereka saat mendapatkan apa yang mereka sematkan kepada-Nya.
﴿وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ ٥٨﴾
58. Padahal apabila salah seorang dari mereka diberi
kabar gembira dengan kelahiran bayi perempuan, wajahnya seketika berubah
menjadi hitam muram karena malu dan sedih, dan hatinya sangat sesak menahan
amarah yang terpendam.
Rasa malu yang berlebihan
ini mendorong mereka melakukan tindakan yang sangat tidak manusiawi terhadap
darah daging mereka sendiri.
﴿يَتَوَٰرَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓ ۚ أَيُمْسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُۥ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ ٥٩﴾
59. Dia bersembunyi dari orang banyak karena merasa
malu atas berita buruk yang diterimanya itu. Dia berpikir dengan bimbang,
apakah dia akan memelihara anak perempuan itu dengan menanggung kehinaan
ataukah akan menguburnya hidup-hidup ke dalam tanah? Ketahuilah, alangkah
buruknya apa yang mereka tetapkan itu terhadap Robb mereka dan terhadap
anak-anak mereka.
Keyakinan dan perilaku
buruk semacam ini merupakan cerminan dari hati yang telah tertutup dari cahaya
kebenaran Akhiroh.
﴿لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْءَاخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ ۖ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ٦٠﴾
60. Bagi orang-orang yang tidak beriman kepada
kehidupan Akhiroh terdapat sifat-sifat yang buruk seperti kebodohan dan
kekafiran. Sedangkan bagi Alloh terdapat sifat yang paling tinggi lagi mulia
dalam segala hal. Dialah Yang Maha Perkasa yang tidak terkalahkan, lagi Maha
Bijaksana dalam pengaturan-Nya.
Meskipun manusia terus
berbuat zholim dengan kedustaan dan kekejian tersebut, Alloh ﷻ tetap memberikan penangguhan waktu bagi
mereka.
[10] Keadilan
Alloh ﷻ dalam
Menangguhkan Adzab dan Tipu Daya Syaithon
Bagian ini menjelaskan
hikmah di balik tidak segeranya adzab turun kepada para pelaku kezholiman. Jika
Alloh ﷻ
langsung menghukum setiap dosa, niscaya tidak akan ada satu pun makhluk yang
tersisa di muka bumi. Namun, Alloh ﷻ menetapkan waktu tertentu bagi setiap
kaum. Ayat-ayat ini juga memperingatkan bahwa syaithon senantiasa menghiasi
perbuatan buruk manusia sehingga mereka merasa benar dalam kesesatannya,
sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.
﴿وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ
وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ٦١﴾
61. Seandainya Alloh langsung menghukum manusia karena
kezholiman mereka, niscaya tidak akan ada satu pun makhluk melata yang
ditinggalkan-Nya hidup di muka bumi. Akan tetapi, Alloh menangguhkan hukuman
mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Maka apabila ajal mereka telah tiba,
mereka tidak dapat meminta penundaan sedikit pun dan tidak pula dapat meminta
agar disegerakan.
Ketidaktahuan mereka akan
batas waktu ini membuat mereka terus-menerus melakukan pembagian yang bathil
terhadap hak-hak Alloh ﷻ.
﴿وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ وَتَصِفُ
أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ الْحُسْنَىٰ ۖ لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ النَّارَ وَأَنَّهُم مُّفْرَطُونَ ٦٢﴾
62. Mereka menetapkan bagi Alloh apa yang mereka
sendiri benci (yaitu anak perempuan dan sekutu), dan lisan mereka mengucapkan
kedustaan bahwa kelak mereka akan mendapatkan balasan yang paling baik di sisi
Alloh. Tidak diragukan lagi bahwa bagi mereka adalah Naar, dan sesungguhnya
mereka akan dimasukkan ke dalamnya dengan segera tanpa akan pernah dikeluarkan.
Kesesatan yang mereka
alami ini bukanlah hal baru, melainkan hasil dari bisikan syaithon yang telah
ada sejak umat-umat masa lalu.
﴿تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ
مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَٰنُ أَعْمَٰلَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٦٣﴾
63. Demi Alloh, sungguh Kami telah mengutus para Rosul
kepada umat-umat sebelummu wahai Muhammad, namun syaithon senantiasa menghiasi
amal-amal buruk mereka sehingga mereka merasa benar. Maka syaithon menjadi
pemimpin bagi mereka di dunia ini, dan bagi mereka disediakan adzab yang sangat
pedih di Akhiroh kelak.
Untuk memutus rantai
penyesatan syaithon tersebut, Alloh ﷻ menurunkan Al-Qur’an sebagai penjelas dan
pembeda antara yang benar dan yang bathil.
﴿وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
٦٤﴾
64. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu wahai
Muhammad, melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka perkara-perkara agama
yang mereka perselisihkan, serta sebagai petunjuk dan rohmat bagi kaum yang mau
beriman.
Sebagaimana Al-Qur’an
menghidupkan hati yang mati dengan ilmu, ayat berikutnya mengajak kita
merenungkan bagaimana Alloh ﷻ menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.
[11] Tanda-tanda
Kebesaran Alloh ﷻ pada
Air, Hewan Ternak, dan Tumbuhan
Alloh ﷻ kembali memaparkan bukti-bukti fisik
kekuasaan-Nya yang bisa disaksikan setiap hari. Dimulai dari turunnya hujan
yang menghidupkan tanah yang gersang, hingga keajaiban pada hewan ternak yang
menghasilkan susu murni di antara kotoran dan darah. Selain itu, Alloh ﷻ menyebutkan hasil dari pohon kurma dan
anggur sebagai sumber rizqi. Rangkaian tanda ini bertujuan agar manusia
menyadari bahwa di balik keteraturan alam ini ada Sang Pengatur yang Maha
Kuasa.
﴿وَاللَّهُ أَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَآ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
٦٥﴾
65. Dan Alloh menurunkan air hujan dari langit, lalu
dengan air itu Dia menghidupkan bumi yang tadinya kering dan mati dengan
tumbuhnya berbagai tanaman. Sesungguhnya pada fenomena itu benar-benar terdapat
tanda yang nyata atas kekuasaan Alloh bagi kaum yang mau mendengarkan petunjuk
dengan saksama untuk mengambil pelajaran.
Dari kehidupan tumbuh-tumbuhan
yang disirami hujan, perhatian kita dialihkan kepada keajaiban yang terjadi di
dalam tubuh hewan yang memakan tumbuhan tersebut.
﴿وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِۦ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّارِبِينَ ٦٦﴾
66. Dan sungguh pada hewan-hewan ternak itu
benar-benar terdapat pelajaran berharga bagi kalian. Kami memberi kalian minum
dari apa yang ada dalam perutnya, yang keluar dari antara kotoran dan darah,
berupa susu yang murni, yang sangat mudah ditelan dan terasa enak bagi
orang-orang yang meminumnya.
Keajaiban yang sama juga
dapat ditemukan pada buah-buahan yang dihasilkan dari tanah yang sama, namun
memiliki manfaat yang beragam bagi manusia.
﴿وَمِن ثَمَرَٰتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَٰبِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا
ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
٦٧﴾
67. Dan dari buah kurma dan anggur, kalian
menjadikannya sebagai minuman yang memabukkan (sebelum adanya pengharoman) dan
juga menjadikannya sebagai rizqi yang baik lagi halal. Sesungguhnya pada hasil
bumi tersebut benar-benar terdapat tanda keagungan Alloh bagi kaum yang mau
menggunakan akal pikiran mereka.
Setelah menyebutkan
manfaat dari tumbuhan dan hewan ternak secara umum, Alloh ﷻ secara khusus menyebutkan keajaiban pada
salah satu makhluk kecil, yaitu lebah.
[12] Keajaiban
Lebah dan Obat bagi Manusia
Setelah Alloh ﷻ memaparkan ni’mat berupa hewan ternak dan
hasil bumi seperti kurma dan anggur, kini perhatian kita dialihkan kepada salah
satu makhluk kecil yang penuh keajaiban, yaitu lebah. Alloh ﷻ memberikan insting atau wahyu ilham kepada
lebah untuk membangun sarang di tempat-tempat yang kokoh dan mengumpulkan sari
pati bunga. Hasil dari kerja keras makhluk kecil ini adalah madu, sebuah
minuman yang tidak hanya lezat tetapi juga berfungsi sebagai obat bagi berbagai
penyakit manusia, sebagai tanda kekuasaan bagi mereka yang mau merenung.
﴿وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ٦٨﴾
68. Dan Robb-mu mengilhamkan kepada lebah: “Buatlah
sarang-sarang di gunung-gunung yang kokoh, di pohon-pohon kayu yang tinggi, dan
di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia seperti bangunan atau pagar-pagar
tanaman.”
Setelah memberikan tempat
tinggal yang tepat melalui ilham tersebut, Alloh ﷻ kemudian menuntun lebah dalam urusan
makanannya.
﴿ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَٰتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ
أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
٦٩﴾
69. Kemudian makanlah dari segala macam bunga-bungaan
yang kamu sukai, lalu tempuhlah jalan-jalan yang telah dimudahkan oleh Robb-mu
untuk mencari rizqi. Dari perut lebah-lebah itu keluarlah cairan minuman berupa
madu yang beraneka ragam warnanya, yang di dalamnya terkandung khasiat obat
bagi penyakit-penyakit manusia. Sesungguhnya pada penciptaan lebah dan apa yang
dihasilkannya itu benar-benar terdapat bukti yang nyata atas kekuasaan Alloh
bagi kaum yang mau berpikir secara mendalam.
Siklus kehidupan lebah
yang teratur ini mengingatkan kita pada siklus hidup manusia yang diciptakan
dan diatur sepenuhnya oleh Alloh ﷻ.
[13] Siklus
Hidup Manusia dan Hikmah Pembagian Rizqi
Bagian ini menjelaskan
perjalanan hidup manusia dari mulai diciptakan hingga menemui ajal, atau
dikembalikan kepada masa tua yang lemah di mana ingatan mulai memudar. Alloh ﷻ juga menegaskan bahwa perbedaan tingkatan rizqi
di antara manusia, termasuk kepemilikan budak, adalah bentuk ujian bagi
hamba-Nya. ni’mat keluarga berupa pasangan dan keturunan juga disebut sebagai
bentuk kasih sayang Alloh ﷻ yang seharusnya membuat manusia tunduk, bukan justru berpaling
kepada sesembahan yang batil.
﴿وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ ٧٠﴾
70. Alloh-lah yang telah menciptakan kalian dari
ketiadaan, kemudian Dialah yang akan mewafatkan kalian apabila ajal telah tiba.
Di antara kalian ada yang dipanjangkan umurnya hingga mencapai usia yang paling
tua dan lemah, sehingga dia tidak lagi mengetahui sesuatu pun yang dahulu
pernah diketahuinya karena daya ingatnya yang telah hilang. Sesungguhnya Alloh
Maha Mengetahui segala urusan makhluk-Nya lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sebagaimana Alloh ﷻ mengatur umur manusia, Dia juga mengatur
kadar rizqi yang diberikan kepada setiap individu.
﴿وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ ۚ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَآدِّي رِزْقِهِمْ عَلَىٰ مَا
مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَآءٌ ۚ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ ٧١﴾
71. Alloh memberikan kelebihan kepada sebagian kalian
atas sebagian yang lain dalam urusan rizqi di dunia ini. Orang-orang yang
diberi rizqi lebih itu tidaklah mau memberikan rizqi mereka kepada hamba sahaya
yang mereka miliki agar kedudukan mereka menjadi sama dalam hal harta tersebut.
Jika mereka tidak rela menyamakan kedudukan hamba sahaya mereka dengan diri
mereka dalam urusan harta, maka mengapa mereka justru menyamakan Alloh dengan
berhala-berhala dalam urusan ibadah? Apakah mereka tetap ingin mengingkari ni’mat
Alloh?
Selain rizqi materi,
Alloh ﷻ
memberikan ni’mat sosial berupa ikatan kekeluargaan yang menghidupkan rasa
tentram.
﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَجَعَلَ
لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَٰتِ ۚ أَفَبِالْبَٰطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ ٧٢﴾
72. Alloh telah menciptakan untuk kalian istri-istri
yang berasal dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenang bersamanya,
dan dari istri-istri kalian itu Dia memberikan keturunan berupa anak-anak dan
cucu-cucu. Dia pun memberikan kalian rizqi dari makanan yang baik-baik dan
halal. Maka apakah pantas mereka beriman kepada sesuatu yang batil berupa
berhala-berhala, dan justru terhadap ni’mat Alloh mereka berpaling dan
mengingkarinya?
Pengingkaran mereka
terhadap ni’mat yang nyata ini membawa mereka pada perbuatan syirik yang sangat
tidak masuk akal.
[14] Kebatilan
Syirik dan Perumpamaan Perbedaan Pencipta dengan Makhluk
Ayat-ayat ini memberikan
teguran keras kepada orang-orang musyrik yang menyembah sesuatu yang tidak
memiliki otoritas sedikit pun atas rizqi di langit maupun di bumi. Alloh ﷻ melarang manusia membuat perumpamaan yang
menyetarakan-Nya dengan makhluk. Untuk memperjelas perbedaan tersebut, Alloh ﷻ memberikan dua perumpamaan nyata: pertama,
perbedaan antara budak yang tidak berdaya dengan orang merdeka yang dermawan; kedua,
perbedaan antara orang bisu yang menjadi beban dengan orang yang mampu
memerintahkan keadilan.
﴿وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِّنَ السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ ٧٣﴾
73. Orang-orang musyrik itu menyembah berhala-berhala
selain Alloh, padahal berhala-berhala tersebut sama sekali tidak memiliki kuasa
untuk memberikan rizqi kepada mereka, baik yang turun dari langit berupa hujan
maupun yang tumbuh dari bumi berupa tanaman, dan berhala-berhala itu memang
tidak akan pernah sanggup melakukannya.
Karena ketidakberdayaan
makhluk tersebut, maka janganlah sekali-kali manusia mencoba membandingkan
kemuliaan Alloh ﷻ dengan
mereka.
﴿فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٧٤﴾
74. Maka janganlah kalian membuat
perumpamaan-perumpamaan bagi Alloh dengan menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya,
karena sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui hakikat segala sesuatu sedangkan
kalian tidak mengetahui, sehingga kalian terjatuh dalam kesyirikan.
Alloh ﷻ kemudian memberikan sebuah perumpamaan
logis untuk menunjukkan mengapa syirik itu salah.
﴿۞ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَّمْلُوكًا لَّا يَقْدِرُ عَلَىٰ
شَيْءٍ وَمَن رَّزَقْنَٰهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا
ۖ هَلْ يَسْتَوُونَ ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ٧٥﴾
75. Alloh membuat perumpamaan antara seorang hamba
sahaya yang dimiliki orang lain yang tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun atas
dirinya sendiri, dibandingkan dengan seorang merdeka yang Kami beri rizqi yang
baik lagi halal, lalu dia menyedekahkan hartanya itu secara sembunyi-sembunyi
maupun terang-terangan. Apakah kedua orang itu sama? Tentu tidak. Segala puji
hanya bagi Alloh yang telah menjelaskan hujah ini, namun kebanyakan mereka
tidak mengetahui hakikat kebenaran tersebut.
Selain perumpamaan
tentang kepemilikan, Alloh ﷻ memberikan perumpamaan lain tentang kemampuan dan manfaat.
﴿وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ أَحَدُهُمَآ أَبْكَمُ لَا
يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَىٰهُ أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لَا
يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَن يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ ٧٦﴾
76. Dan Alloh membuat perumpamaan lagi tentang dua
orang lelaki; yang seorang bisu sejak lahir, tidak dapat memahami pembicaraan
dan tidak bisa memberi manfaat apa pun, bahkan dia menjadi beban bagi orang
yang mengurusnya; ke mana pun dia diutus, dia tidak membawa hasil yang baik.
Apakah orang yang seperti ini sama dengan orang yang memiliki lisan yang fasih,
memerintahkan orang lain berbuat adil, dan dia sendiri berada di jalan yang lurus?
Tentu sangat berbeda. Demikianlah perbedaan antara berhala yang bisu dengan
Alloh yang memerintahkan keadilan.
Setelah memaparkan
perumpamaan yang menyentuh logika, ayat berikutnya menjelaskan bahwa hanya
Alloh ﷻ yang
memiliki kunci ilmu ghoib, termasuk kapan terjadinya Hari Qiyamah.
[15] Ilmu Ghoib
dan Rahasia Penciptaan pada Diri Manusia
Setelah membandingkan
diri-Nya dengan makhluk melalui berbagai perumpamaan, Alloh ﷻ kini menegaskan bahwa hanya Dia yang
memiliki kunci ilmu ghoib, termasuk rahasia tentang saat terjadinya Hari
Qiyamah yang sangat dekat bagi-Nya. Rangkaian ayat ini kemudian mengajak
manusia merenungi proses penciptaan diri mereka yang lahir tanpa ilmu, namun
dibekali panca indera, serta menunjukkan kekuasaan-Nya melalui burung di
angkasa dan berbagai fasilitas tempat tinggal yang sangat memudahkan hidup
manusia.
﴿وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَآ أَمْرُ السَّاعَةِ إِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ٧٧﴾
77. Hanya milik Alloh semata segala rahasia ghoib yang
ada di langit dan di bumi. Urusan datangnya Hari Qiyamah itu bagi-Nya sangatlah
mudah dan cepat, hanyalah seperti kedipan mata atau bahkan lebih cepat lagi
dari itu. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang
melemahkan-Nya.
Setelah menjelaskan
kekuasaan-Nya atas hal ghoib, Alloh ﷻ menyebutkan proses penciptaan manusia dari
keadaan tidak tahu menjadi berilmu melalui panca indera.
﴿وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنْ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَٰرَ وَالْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ٧٨﴾
78. Dan Alloh telah mengeluarkan kalian dari perut
ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia
menganugerahkan kepada kalian pendengaran untuk mendengar suara, penglihatan
untuk melihat benda-benda, dan hati untuk memahami sesuatu, agar dengan semua ni’mat
itu kalian bersyukur kepada-Nya dengan mentauhidkan-Nya.
Dari keajaiban panca
indera manusia, Alloh ﷻ
mengajak manusia melihat ke luar, yaitu kepada burung-burung yang terbang di
angkasa sebagai tanda kekuasaan-Nya.
﴿أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَٰتٍ فِي جَوِّ السَّمَآءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
٧٩﴾
79. Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang
dimudahkan terbang di angkasa yang luas? Tidak ada yang menahan mereka agar
tidak jatuh saat terbang melainkan Alloh dengan kekuasaan-Nya. Sesungguhnya
pada fenomena tersebut benar-benar terdapat tanda-tanda keagungan Alloh bagi
kaum yang mau beriman.
Selain tanda kekuasaan di
angkasa, Alloh ﷻ juga
menyediakan fasilitas di bumi berupa tempat tinggal yang nyaman bagi manusia.
﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ
لَكُم مِّن جُلُودِ الْأَنْعَٰمِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ
ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَآ
أَثَٰثًا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٍ ٨٠﴾
80. Alloh menjadikan rumah-rumah kalian sebagai tempat
tinggal yang memberikan ketenangan dan ketentraman bagi kalian. Dia juga
menjadikan bagi kalian kemah-kemah dari kulit hewan ternak yang terasa ringan
saat kalian membawanya dalam perjalanan dan mudah pula saat kalian
mendirikannya untuk menetap. Dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing itu,
Alloh jadikan perabotan rumah tangga dan perhiasan yang kalian gunakan sampai
waktu tertentu.
Kelengkapan fasilitas
hidup ini semakin sempurna dengan adanya perlindungan dari panas dan serangan
musuh dalam peperangan.
﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّمَّا خَلَقَ ظِلَٰلًا وَجَعَلَ
لَكُم مِّنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَٰبِيلَ تَقِيكُمُ
الْحَرَّ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ ٨١﴾
81. Dan Alloh menjadikan tempat-tempat berteduh bagi
kalian dari apa yang telah Dia ciptakan seperti pohon dan bangunan agar kalian
terlindung dari terik matahari. Dia juga menjadikan tempat-tempat tinggal di
gunung-gunung atau gua untuk kalian bernaung, serta menciptakan pakaian-pakaian
yang melindungi kalian dari panas, juga baju-baju besi yang melindungi kalian
dalam peperangan. Demikianlah Alloh menyempurnakan ni’mat-Nya kepada kalian
agar kalian tunduk berserah diri kepada-Nya semata.
Namun jika setelah semua ni’mat
ini mereka tetap berpaling, maka tugas Rosul hanyalah menyampaikan kebenaran
tersebut.
﴿فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَٰغُ الْمُبِينُ ٨٢﴾
82. Jika mereka tetap berpaling dari keimanan setelah
penjelasan yang sangat nyata ini, maka sesungguhnya kewajibanmu wahai Muhammad ﷺ hanyalah menyampaikan risalah dengan
jelas, dan bukan memberikan hidayah kepada mereka.
Keberpalingan mereka itu
sungguh aneh, karena mereka sebenarnya menyadari ni’mat Alloh namun secara
lisan tetap mengingkarinya.
﴿يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَٰفِرُونَ ٨٣﴾
83. Mereka sebenarnya mengetahui bahwa segala ni’mat
itu berasal dari Alloh, namun kemudian mereka mengingkarinya dengan cara
menyembah selain-Nya atau menyandarkan ni’mat tersebut kepada selain-Nya. Dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang sangat ingkar kepada kebenaran.
Akibat pengingkaran terhadap
ni’mat ini, Alloh ﷻ
menggambarkan keadaan mereka di Hari Qiyamah saat setiap umat akan memiliki
saksi masing-masing.
[16] Kesaksian
Para Rosul dan Keadaan Orang Zholim di Hari Pembalasan
Rangkaian ayat ini
membawa kita ke suasana Hari Qiyamah, di mana setiap umat akan didatangkan
seorang saksi dari kalangan para Rosul mereka. Orang-orang yang berbuat zholim
tidak akan diberi kesempatan untuk beralasan dan adzab mereka tidak akan
diringankan. Di sana, akan terjadi dialog penuh kehinaan saat para penyembah
berhala mencoba melemparkan kesalahan kepada sembahan mereka, namun
berhala-berhala itu justru membantah mereka di hadapan Alloh ﷻ.
﴿وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا
ثُمَّ لَا يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ ٨٤﴾
84. Ingatlah pada hari ketika Kami membangkitkan
seorang saksi yaitu Rosul mereka dari setiap umat untuk memberikan kesaksian
atas amal perbuatan mereka di dunia. Kemudian pada hari itu, orang-orang kafir
tidak diizinkan untuk mengemukakan alasan-alasan palsu mereka, dan mereka pun
tidak diberi kesempatan lagi untuk bertaubat demi mencari ridho Alloh.
Keputusasaan mereka
semakin memuncak saat adzab yang mereka ingkari mulai nampak di depan mata.
﴿وَإِذَا رَءَا الَّذِينَ ظَلَمُوا الْعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ وَلَا هُمْ يُنظَرُونَ
٨٥﴾
85. Apabila orang-orang yang berbuat zholim dengan
kesyirikan itu telah melihat adzab Jahannam, maka adzab itu tidak akan
diringankan sedikit pun dari mereka dan mereka tidak akan diberi penangguhan
waktu walau sekejap.
Di tengah kengerian adzab
tersebut, mereka akan melihat berhala-berhala yang dahulu mereka sembah, namun
berhala itu justru berbalik menentang mereka.
﴿وَإِذَا رَءَا الَّذِينَ أَشْرَكُوا شُرَكَآءَهُمْ قَالُوا رَبَّنَا
هَٰٓؤُلَآءِ شُرَكَآؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُوا مِن دُونِكَ ۖ فَأَلْقَوْا إِلَيْهِمُ الْقَوْلَ إِنَّكُمْ لَكَٰذِبُونَ ٨٦﴾
86. Dan apabila orang-orang musyrik itu melihat
berhala-berhala yang dahulu mereka sembah, mereka berkata: “Wahai Robb kami,
inilah tandingan-tandingan yang dahulu kami sembah selain Engkau.” Namun
berhala-berhala itu membantah perkataan mereka dengan mengatakan: “Sesungguhnya
kalian benar-benar pendusta dalam pengakuan kalian bahwa kami memerintahkan
kalian untuk menyembah kami.”
Bantahan dari sesembahan
mereka memaksa orang-orang musyrik itu untuk menyerah sepenuhnya pada ketetapan
Alloh.
﴿وَأَلْقَوْا إِلَى اللَّهِ يَوْمَئِذٍ السَّلَمَ ۖ وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
٨٧﴾
87. Pada hari itu, mereka semua menyerah dan tunduk
kepada keputusan Alloh, dan segala kedustaan yang dahulu mereka ada-adakan di
dunia tentang syafa’at berhala-berhala itu telah hilang lenyap dari mereka.
Bagi mereka yang tidak
hanya sesat tetapi juga menyesatkan orang lain, Alloh ﷻ menyiapkan tambahan siksaan yang berlipat
ganda.
﴿الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَٰهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ ٨٨﴾
88. Orang-orang yang kafir kepada Alloh dan
menghalangi manusia dari jalan-Nya, Kami tambahkan kepada mereka adzab yang
lain di atas adzab kekafiran mereka, disebabkan kerusakan yang senantiasa
mereka lakukan di bumi dengan penyesatan.
Penegasan tentang
kesaksian para Rosul diulangi kembali untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah
saksi terakhir dan petunjuk bagi orang yang berserah diri.
﴿وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا
عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً
وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ ٨٩﴾
89. Dan ingatlah pada hari ketika Kami membangkitkan
dari setiap umat seorang saksi atas mereka dari kalangan mereka sendiri, dan
Kami datangkan engkau wahai Muhammad ﷺ untuk
menjadi saksi atas umatmu ini. Dan Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu
untuk menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam urusan agama, sebagai
petunjuk menuju jalan yang lurus, sebagai rohmat, dan sebagai kabar gembira
bagi orang-orang yang berserah diri kepada Alloh.
Setelah menjelaskan
tentang kesempurnaan Al-Qur’an dalam menjelaskan segala hal, Alloh ﷻ kemudian memerintahkan pokok-pokok
keadilan dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.
[17] Perintah
Berlaku Adil, Ihsan, dan Menepati Janji
Setelah Alloh ﷻ memaparkan berbagai bukti kekuasaan-Nya di
alam semesta, bagian ini merumuskan prinsip-prinsip moral utama yang menjadi
pondasi kehidupan sosial dalam Islam. Alloh ﷻ memerintahkan keadilan yang menyeluruh dan
perbuatan baik yang melampaui batas kewajiban (ihsan), serta memperingatkan
dengan sangat keras agar manusia tidak melanggar janji atau sumpah yang telah
dikuatkan dengan nama-Nya. Janji bukan sekadar kesepakatan antarmanusia,
melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Qiyamah.
﴿۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ٩٠﴾
90. Sesungguhnya Alloh memerintahkan kalian untuk
berlaku adil dengan memberikan hak kepada setiap pemiliknya dan berbuat ihsan
(kebaikan) dalam beribadah serta bermuamalah, dan memberikan bantuan kepada
kerabat dekat. Dia juga melarang dari segala perbuatan keji (dosa besar yang
nampak maupun tersembunyi), kemunkaran yang diingkari syari’at, serta
kezholiman kepada manusia. Alloh memberikan pengajaran ini kepada kalian agar
kalian selalu ingat dan mengambil pelajaran.
Setelah memerintahkan
pokok-pokok akhlaq mulia tersebut, Alloh ﷻ secara khusus menekankan pentingnya
menjaga komitmen dan sumpah.
﴿وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَٰهَدتُّمْ وَلَا تَنقُضُوا الْأَيْمَٰنَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ ٩١﴾
91. Dan tepatilah janji kalian kepada Alloh apabila
kalian telah berjanji, dan janganlah kalian melanggar sumpah-sumpah itu setelah
kalian menguatkannya dengan menyebut nama-Nya, padahal kalian telah menjadikan
Alloh sebagai saksi dan penjamin atas sumpah kalian itu. Sesungguhnya Alloh
Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.
Alloh ﷻ kemudian memberikan sebuah perumpamaan
bagi orang yang merusak janjinya agar manusia merasa jijik terhadap perbuatan
tersebut.
﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا
مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَٰنكُمْ
دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ
مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِۦ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَٰمَةِ مَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ ٩٢﴾
92. Janganlah kalian menjadi seperti seorang wanita
yang mengurai kembali benang yang telah dipintalnya dengan kuat hingga menjadi
cerai-berai kembali. Kalian menjadikan sumpah sebagai alat penipuan di antara
kalian hanya karena ingin mencari keuntungan kelompok yang lebih banyak
jumlahnya atau lebih kuat dari kelompok lain. Sesungguhnya Alloh hanya menguji
kalian dengan perintah menepati janji itu, dan kelak pada Hari Qiyamah Dia
benar-benar akan menjelaskan kepada kalian apa yang dahulu kalian perselisihkan.
Perbedaan manusia dalam
menepati janji atau memilih jalan kebenaran berkaitan erat dengan kehendak
Alloh ﷻ dalam
menguji hamba-Nya.
﴿وَلَوْ شَآءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن يُضِلُّ
مَن يَشَآءُ وَيَهْدِي مَن يَشَآءُ ۚ وَلَتُسْئَلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
٩٣﴾
93. Dan seandainya Alloh menghendaki, niscaya Dia
menjadikan kalian satu umat yang bersatu di atas keimanan, akan tetapi Dia
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki karena pilihannya pada kesesatan, dan
memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki karena pilihannya pada
kebenaran. Dan sungguh kalian benar-benar akan ditanya tentang apa yang telah
kalian kerjakan di dunia.
Peringatan kembali
ditegaskan agar sumpah tidak disalahgunakan untuk menghalangi orang lain dari
kebenaran Islam.
﴿وَلَا تَتَّخِذُوٓا أَيْمَٰنَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ فَتَزلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا
وَتَذُوقُوا السُّوٓءَ بِمَا صَدَدتُّمْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٩٤﴾
94. Janganlah kalian menjadikan sumpah-sumpah kalian
sebagai alat penipuan di antara kalian yang menyebabkan kaki kalian tergelincir
dari jalan Islam setelah sebelumnya teguh berdiri, dan kalian akan merasakan
keburukan berupa adzab di dunia karena kalian telah menghalangi manusia dari
jalan Alloh, serta bagi kalian adzab yang besar di Akhiroh.
Godaan duniawi seringkali
menjadi alasan manusia melanggar janji, sehingga Alloh ﷻ melarang menukar janji-Nya dengan
keuntungan materi sesaat.
﴿وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ إِنَّمَا عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
٩٥﴾
95. Janganlah kalian menukar janji kalian kepada Alloh
dengan harga yang murah berupa materi duniawi. Sesungguhnya apa yang ada di
sisi Alloh berupa pahala dan kebaikan itu jauh lebih baik bagi kalian jika
kalian mengetahui hakikat kebenaran.
Perbandingan antara
kenikmatan dunia yang fana dan pahala Alloh ﷻ yang abadi menjadi penguat bagi
orang-orang Mu’min untuk tetap istiqomah.
﴿مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوٓا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ ٩٦﴾
96. Apa yang ada di sisi kalian berupa kenikmatan
dunia pasti akan lenyap dan habis, sedangkan apa yang ada di sisi Alloh berupa
pahala dan simpanan amalan akan tetap kekal selamanya. Dan sungguh Kami benar-benar
akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersabar dalam menjalankan
ketaatan dengan pahala yang jauh lebih baik dari amal yang telah mereka
kerjakan.
Kesabaran dalam beramal sholih
ini akan membuahkan kehidupan yang sejahtera bagi siapa pun tanpa memandang
jenis kelamin.
﴿مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ
وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَٰوةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ ٩٧﴾
97. Siapa mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan dia beriman kepada Alloh, maka pasti akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan penuh ketenangan di dunia, dan pasti akan
Kami berikan balasan pahala kepada mereka di Akhiroh dengan yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.
Salah satu amal sholih
yang sangat agung adalah membaca Al-Qur’an, namun hal itu harus diawali dengan
adab meminta perlindungan dari gangguan syaithon.
[18] Adab
Membaca Al-Qur’an dan Bantahan terhadap Tuduhan Kafir
Bagian ini menjelaskan
pentingnya beristi’adzah (meminta perlindungan) saat hendak membaca Al-Qur’an
agar hati terhindar dari was-was syaithon. Alloh ﷻ menegaskan bahwa syaithon tidak memiliki
kuasa atas orang-orang beriman yang bertawakkal. Selanjutnya, ayat-ayat ini
membantah tuduhan orang musyrik yang menyebut Nabi ﷺ sebagai pendusta saat terjadi perubahan
hukum (nakhs), serta membantah klaim bahwa Al-Qur’an adalah ajaran
manusia biasa.
﴿فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَٰنِ الرَّجِيمِ ٩٨﴾
98. Apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an, maka
mohonlah perlindungan kepada Alloh dari godaan syaithon yang terkutuk agar ia
tidak membisikkan keraguan ke dalam hatimu.
Perintah meminta
perlindungan ini didasari oleh kenyataan bahwa syaithon tidak memiliki kendali
sejati atas hati orang-orang yang berserah diri kepada Robb mereka.
﴿إِنَّهُۥ لَيْسَ لَهُۥ سُلْطَٰنٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
٩٩﴾
99. Sesungguhnya syaithon itu tidak mempunyai kekuatan
untuk menyesatkan hati orang-orang yang beriman dan hanya kepada Robb mereka
sajalah mereka menyandarkan segala urusan mereka.
Sebaliknya, pengaruh
syaithon hanya berlaku bagi mereka yang secara sukarela mengikuti
langkah-langkahnya.
﴿إِنَّمَا سُلْطَٰنُهُۥ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُۥ وَالَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشْرِكُونَ ١٠٠﴾
100. Kekuasaan syaithon hanyalah atas orang-orang yang
menjadikannya sebagai pemimpin dengan menaati ajakannya, dan orang-orang yang
menyekutukan Alloh disebabkan bisikannya.
Salah satu bentuk
penyesatan yang dilakukan musuh-musuh Islam adalah meragukan kebenaran wahyu
saat terjadi penghapusan hukum tertentu.
﴿وَإِذَا بَدَّلْنَآ ءَايَةً مَّكَانَ ءَايَةٍ
ۙ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوٓا إِنَّمَآ
أَنتَ مُفْتَرٍ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ١٠١﴾
101. Apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang
lain sebagai bentuk nakhs (menghapus hukum dengan hukum baru), padahal
Alloh lebih mengetahui apa yang Dia turunkan sesuai kemaslahatan hamba-Nya,
mereka berkata: “Sesungguhnya kamu wahai Muhammad hanyalah orang yang
mengada-ada saja.” Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui hikmah di
balik pengaturan syari’at.
Untuk membantah tuduhan
tersebut, Alloh ﷻ
menegaskan asal-usul Al-Qur’an yang murni dibawa oleh Malaikat Jibril.
﴿قُلْ نَزَّلَهُۥ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
١٠٢﴾
102. Katakanlah wahai Muhammad: “Al-Qur’an itu
diturunkan oleh Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) dari Robb-mu dengan membawa
kebenaran yang mutlak, tujuannya adalah untuk meneguhkan hati orang-orang yang
telah beriman, serta sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri.”
Tuduhan lain muncul dari
orang kafir yang mengklaim bahwa Nabi ﷺ belajar
dari seorang manusia, yang kemudian dipatahkan dengan hujah logis tentang
bahasa.
﴿وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا
يُعَلِّمُهُۥ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ
عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ ١٠٣﴾
103. Sungguh Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya
Muhammad itu diajar oleh seorang manusia.” Padahal bahasa orang yang mereka
tuduhkan itu adalah bahasa asing yang tidak fasih, sedangkan Al-Qur’an ini
menggunakan bahasa Arob yang sangat jelas, indah, lagi menakjubkan.
Ketegaran mereka dalam
kekafiran inilah yang menghalangi mereka dari cahaya hidayah.
﴿إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ اللَّهِ لَا يَهْدِيهِمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ١٠٤﴾
104. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada
ayat-ayat Alloh, maka Alloh tidak akan memberi mereka petunjuk menuju jalan
keselamatan, dan bagi mereka disediakan adzab yang sangat pedih di Akhiroh.
Justru orang-orang yang
tidak beriman itulah yang sebenarnya melakukan kedustaan besar terhadap Alloh ﷻ.
﴿إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِئَايَٰتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰٓئِكَ هُمُ الْكَٰذِبُونَ ١٠٥﴾
105. Sesungguhnya yang mengada-adakan kedustaan
hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh, dan merekalah
orang-orang yang benar-benar pendusta dalam ucapan mereka.
Setelah menjelaskan
tentang kedustaan orang kafir, ayat berikutnya memberikan pengecualian bagi
orang beriman yang dipaksa mengucapkan kekafiran dalam keadaan terancam
nyawanya.
[19] Keadaan
Orang yang Kufur Setelah Beriman
Bagian ini menjelaskan
konsekuensi berat bagi orang yang murtad setelah sebelumnya beriman. Namun,
Alloh ﷻ
memberikan keringanan bagi mereka yang dipaksa mengucapkan kalimat kekafiran
dalam keadaan terancam nyawanya, sementara hatinya tetap teguh dalam keimanan.
Adapun mereka yang murtad karena lebih mencintai dunia dan dengan sadar membuka
hatinya bagi kekafiran, maka mereka akan ditutup hatinya dan mendapatkan murka
yang besar dari Alloh ﷻ.
﴿مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَٰنِهِۦ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُۥ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَٰنِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ١٠٦﴾
106. Siapa yang kafir kepada Alloh setelah dia beriman,
maka dia akan mendapat adzab, kecuali orang yang dipaksa melakukan kekafiran
padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan. Akan tetapi orang yang dengan
senang hati menerima kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpa mereka dan bagi
mereka adzab yang sangat besar.
Penyebab utama mereka
memilih kekafiran tersebut adalah karena mereka lebih mementingkan kesenangan
sesaat di dunia.
﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَٰوةَ الدُّنْيَا عَلَى الْءَاخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَٰفِرِينَ ١٠٧﴾
107. Hal itu disebabkan karena mereka lebih mencintai
kehidupan dunia daripada kehidupan Akhiroh, dan sesungguhnya Alloh tidak akan
memberi petunjuk kepada kaum yang memilih jalan kafir.
Akibat dari pilihan mereka
sendiri, Alloh ﷻ
memberikan hukuman berupa penutupan sarana hidayah dalam diri mereka.
﴿أُولَٰٓئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَٰرِهِمْ
ۖ وَأُولَٰٓئِكَ هُمُ الْغَٰفِلُونَ ١٠٨﴾
108. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran,
dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Alloh, sehingga mereka tidak bisa
lagi mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya. Dan mereka itulah orang-orang yang
benar-benar lalai dari apa yang telah disiapkan untuk mereka berupa adzab.
Ketidakpedulian mereka di
dunia akan berujung pada kerugian yang mutlak di Akhiroh kelak.
﴿لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الْءَاخِرَةِ هُمُ الْخَٰسِرُونَ ١٠٩﴾
109. Sudah pasti bahwa sesungguhnya mereka di Akhiroh
nanti adalah orang-orang yang paling merugi karena telah menukar Jannah yang
kekal dengan Naar.
Berbeda dengan
orang-orang merugi tersebut, Alloh ﷻ kemudian menjanjikan ampunan bagi mereka
yang berjuang menempuh jalan hijroh dan jihad.
[20] Keutamaan Hijroh
dan Keadilan di Hari Pembalasan
Kelompok ayat ini
memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang lemah namun tetap berjuang
mempertahankan iman mereka. Mereka adalah orang-orang yang rela meninggalkan
kampung halaman (hijroh) setelah mengalami penyiksaan dan ujian yang berat,
kemudian terus bersabar dan berjuang di jalan Alloh ﷻ. Ayat-ayat ini juga menegaskan bahwa
setiap manusia akan dibalas sesuai dengan apa yang ia usahakan sendiri tanpa
ada yang dizholimi sedikit pun, yakni dosa tidak dilipatkan dan pahala tidak
dikurangi.
﴿ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَٰهَدُوا وَصَبَرُوٓا
إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ١١٠﴾
110. Kemudian sesungguhnya Robb-mu benar-benar
memberikan ampunan dan rohmat-Nya kepada orang-orang yang berhijroh setelah
mereka mendapatkan fitnah (siksaan) karena mempertahankan iman, kemudian mereka
berjihad di jalan Alloh dan bersabar atas segala kesulitan. Sesungguhnya
Robb-mu setelah semua perjuangan itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang kepada mereka.
Ampunan tersebut akan
sangat terasa manfaatnya pada hari ketika setiap manusia hanya memikirkan
keselamatannya sendiri.
﴿يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَٰدِلُ عَن نَّفْسِهَا
وَتُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ١١١﴾
111. Ingatlah pada hari ketika setiap orang datang
untuk membela dirinya sendiri dengan berbagai alasan, dan setiap orang diberi
balasan yang sempurna atas apa yang telah dikerjakannya, dan mereka sedikit pun
tidak akan dizholimi dengan dikurangi pahalanya atau ditambah dosanya.
Untuk memberikan
peringatan bagi manusia agar tidak kufur, Alloh ﷻ memaparkan perumpamaan sebuah negeri yang
hancur karena mengingkari ni’mat.
[21] Perumpamaan
Negeri yang Mengingkari ni’mat
Alloh ﷻ membuat sebuah tamsil atau perumpamaan
tentang suatu negeri yang pada awalnya hidup dalam keadaan aman, tentram, dan
berkelimpahan rizqi dari segala arah. Namun, penduduknya kemudian mengingkari ni’mat-ni’mat
Alloh ﷻ
tersebut. Akibatnya, Alloh ﷻ menimpakan kepada mereka bencana berupa kelaparan dan ketakutan
yang mencekam sebagai balasan atas perbuatan mereka. Ini adalah peringatan bagi
setiap kaum agar senantiasa mensyukuri karunia-Nya.
﴿وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً
يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَٰقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ١١٢﴾
112. Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan tentang
sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizqinya datang melimpah ruah
dari segala tempat; akan tetapi penduduk negeri itu mengingkari ni’mat-ni’mat
Alloh, maka Alloh menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan yang
meliputi mereka, disebabkan oleh apa yang selalu mereka perbuat.
Kehancuran mereka juga
disebabkan karena mereka mendustakan Rosul yang diutus langsung dari kalangan
mereka sendiri.
﴿وَلَقَدْ جَآءَهُمْ رَسُولٌ مِّنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ
الْعَذَابُ وَهُمْ ظَٰلِمُونَ ١١٣﴾
113. Dan sungguh telah datang kepada mereka seorang
Rosul dari kalangan mereka sendiri yang mereka kenal kejujurannya, namun mereka
mendustakannya; karena itu mereka ditimpa adzab saat mereka sedang dalam
keadaan menzholimi diri sendiri dengan kesyirikan.
Agar terhindar dari adzab
dan termasuk orang yang bersyukur, Alloh ﷻ memerintahkan manusia untuk memakan rizqi
yang halal dan thoyyib.
[22] Halal dan
Harom dalam Makanan
Ayat-ayat ini berisi
panduan praktis mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh
manusia. Alloh ﷻ
memerintahkan hamba-Nya untuk menikmati rizqi yang halal lagi baik serta
bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, Alloh ﷻ menegaskan keharoman bangkai, darah,
daging babi, dan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain-Nya.
Bagian ini juga membantah tuduhan orang Yahudi mengenai apa yang dilarang bagi
mereka, sekaligus memperingatkan agar manusia tidak lancang menghalalkan atau
mengharomkan sesuatu tanpa dalil dari Alloh ﷻ.
﴿فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ١١٤﴾
114. Maka makanlah makanan yang halal lagi baik dari rizqi
yang telah diberikan Alloh kepada kalian; dan syukurilah ni’mat Alloh yang
sangat banyak itu jika kalian memang hanya menyembah kepada-Nya semata.
Meskipun rizqi di bumi
sangat banyak, ada beberapa hal tertentu yang secara khusus dilarang oleh Alloh
ﷻ demi
kemaslahatan hamba-Nya.
﴿إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِۦ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ١١٥﴾
115. Sesungguhnya Alloh hanya mengharomkan atas kalian
bangkai, darah yang mengalir (dideh), daging babi, dan hewan yang disembelih
dengan menyebut nama selain Alloh. Akan tetapi siapa dalam keadaan terpaksa
memakannya karena sangat lapar sementara ia tidak sengaja mencari-carinya dan
tidak pula melampaui batas kebutuhan, maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang kepadanya.
Larangan ini sangat
jelas, sehingga manusia dilarang keras membuat-buat hukum sendiri tentang
kehalalan atau keharoman sesuatu.
﴿وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ
الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا
عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ ١١٦﴾
116. Janganlah kalian mengucapkan kedustaan yang keluar
dari lisan kalian dengan mengatakan: “Ini halal dan ini harom”, dengan maksud
untuk mengada-adakan kedustaan atas nama Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang
mengada-adakan kedustaan atas nama Alloh tidak akan pernah mendapatkan
keberuntungan, baik di dunia maupun di Akhiroh.
Keuntungan yang mereka
dapatkan dari kedustaan tersebut hanyalah sedikit dan akan berakhir dengan
penderitaan.
﴿مَتَٰعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
١١٧﴾
117. Itu hanyalah kesenangan yang sedikit di dunia ini,
sedangkan bagi mereka di Akhiroh disediakan adzab yang sangat pedih.
Adapun mengenai
larangan-larangan makanan yang lebih banyak pada orang Yahudi, hal itu
merupakan hukuman khusus atas kezholiman mereka sendiri.
﴿وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا مَا قَصَصْنَا عَلَيْكَ مِن
قَبْلُ ۖ وَمَا ظَلَمْنَٰهُمْ وَلَٰكِن كَانُوٓا أَنفُسَهُمْ
يَظْلِمُونَ ١١٨﴾
118. Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami telah haromkan
apa-apa yang telah Kami ceritakan kepadamu sebelumnya. Kami tidak menzholimi
mereka dengan pengharoman tersebut, akan tetapi merekalah yang telah menzholimi
diri mereka sendiri dengan melanggar hukum-hukum Alloh.
Namun bagi mereka yang
telah terlanjur melakukan kesalahan dan ingin kembali, Alloh ﷻ senantiasa membuka pintu taubat.
[23] Luasnya
Ampunan Alloh ﷻ bagi
Orang yang Bertaubat
Setelah Alloh ﷻ menjelaskan tentang hukuman bagi
orang-orang Yahudi dan larangan mengada-adakan kedustaan, ayat ini memberikan
oase harapan bagi siapa saja yang terlanjur melakukan kemaksiatan. Alloh ﷻ menegaskan bahwa pintu ampunan-Nya
senantiasa terbuka bagi mereka yang melakukan keburukan karena kebodohan atau
dorongan hawa nafsu, selama mereka segera bertaubat dan memperbaiki diri. Ini
menunjukkan bahwa rohmat Alloh ﷻ mendahului kemurkaan-Nya bagi hamba yang
tulus kembali kepada-Nya.
﴿ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوٓا إِنَّ رَبَّكَ
مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ١١٩﴾
119. Kemudian sesungguhnya Robb-mu bagi orang-orang
yang mengerjakan keburukan karena kebodohan (yaitu melakukan dosa karena menuruti
hawa nafsu tanpa memikirkan akibatnya), lalu mereka bertaubat setelah itu
dengan menyesali perbuatannya dan memperbaiki amal mereka; sesungguhnya Robb-mu
setelah taubat dan perbaikan tersebut benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang kepada mereka.
Setelah menjelaskan
luasnya pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya, Alloh ﷻ kemudian menampilkan sosok teladan yang
paling sempurna dalam ketauhidan dan syukur, yaitu Nabi Ibrohim.
[24] Nabi Ibrohim
‘Alaihissalam sebagai Teladan Ketauhidan dan Syukur
Kelompok ayat ini
memaparkan kemuliaan Nabi Ibrohim sebagai pemimpin yang mengumpulkan segala
sifat kebaikan dalam dirinya. Beliau digambarkan sebagai sosok yang sangat
patuh, teguh di atas jalan yang lurus (Hanif), dan sangat jauh dari kesyirikan.
Alloh ﷻ
menegaskan bahwa segala ni’mat yang beliau peroleh di dunia dan Akhiroh adalah
buah dari kesyukuran dan ketaatannya, sehingga jalannya menjadi uswah
(teladan) yang wajib diikuti oleh umat Nabi Muhammad ﷺ.
﴿إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ
حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ١٢٠﴾
120. Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang
menjadi teladan dalam segala kebaikan, senantiasa patuh dan taat kepada Alloh,
condong kepada kebenaran dan menjauhi kesesatan, dan dia sekali-kali tidak
pernah termasuk orang-orang musyrik yang menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun.
Ketaatan Ibrohim tersebut
lahir dari kesadaran yang mendalam untuk selalu mensyukuri setiap karunia yang
diberikan oleh Robb-nya.
﴿شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ ١٢١﴾
121. Ibrohim adalah sosok yang senantiasa bersyukur
atas ni’mat-ni’mat Alloh yang dianugerahkan kepadanya. Karena itulah Alloh
memilihnya menjadi Rosul-Nya dan memberinya petunjuk menuju jalan yang lurus
(agama Islam).
Sebagai balasan atas
syukur dan ketaatannya yang luar biasa, Alloh ﷻ memberikan kemuliaan kepadanya di dua
negeri.
﴿وَءَاتَيْنَٰهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِي الْءَاخِرَةِ لَمِنَ الصَّٰلِحِينَ ١٢٢﴾
122. Dan Kami telah memberikan kepadanya kebaikan di
dunia berupa pujian yang baik, keturunan yang sholih, dan keluasan rizqi; dan
sesungguhnya di Akhiroh nanti dia benar-benar termasuk orang-orang sholih yang
mendapatkan kedudukan paling tinggi di Jannah.
Karena tingginya
kedudukan Ibrohim di sisi Alloh ﷻ, maka ajaran ketauhidan beliau
diperintahkan untuk diikuti oleh Rosul terakhir.
﴿ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ١٢٣﴾
123. Kemudian Kami wahyukan kepadamu wahai Muhammad: “Ikutilah
agama Ibrohim yang condong kepada kebenaran itu, dan dia bukanlah termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Alloh.”
Setelah memerintahkan
untuk mengikuti agama Ibrohim yang murni, Alloh ﷻ menjelaskan tentang hukum khusus Sabat
yang menjadi pembeda bagi umat yang berselisih.
[25] Ketentuan
Hari Sabat dan Metode Da’wah yang Bijak
Bagian ini menjelaskan
bahwa pengagungan hari Sabtu (Sabat) bukanlah ajaran asli Nabi Ibrohim,
melainkan syari’at yang dikhususkan bagi orang-orang Yahudi yang berselisih
tentangnya. Setelah itu, fokus beralih pada instruksi da’wah bagi Nabi Muhammad
ﷺ dan umatnya. Alloh ﷻ memberikan panduan metodologis dalam
mengajak manusia ke jalan kebenaran melalui tiga cara: hikmah, nasihat yang
menyentuh hati, dan diskusi yang sehat, sebagai bentuk rohmat dalam penyampaian
risalah.
﴿إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ
الْقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ١٢٤﴾
124. Sesungguhnya pengagungan hari Sabtu itu hanya
diwajibkan atas orang-orang Yahudi yang berselisih tentangnya (setelah mereka
menolak hari Jum’at). Dan sesungguhnya Robb-mu benar-benar akan memberikan
keputusan di antara mereka pada Hari Qiyamah mengenai apa yang dahulu selalu
mereka perselisihkan.
Agar
perselisihan-perselisihan tersebut dapat diluruskan, Alloh ﷻ memberikan panduan tentang cara terbaik
dalam berda’wah mengajak manusia kembali kepada-Nya.
﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن
سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ١٢٥﴾
125. Serulah manusia kepada jalan Robb-mu dengan hikmah
(perkataan yang tepat, tegas, dan benar) serta pelajaran yang baik yang
menyentuh jiwa, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.
Sesungguhnya Robb-mu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa orang-orang yang mendapatkan
petunjuk.
Dalam menjalankan da’wah,
terkadang muncul penentangan atau gangguan dari orang lain, sehingga ayat
berikutnya memberikan batasan dalam memberikan balasan.
[26] Keadilan
dalam Membalas, Keutamaan Sabar, dan Penutup Surat
Penutup Surat An-Nahl ini
berisi pedoman akhlaq yang sangat tinggi dalam menghadapi kezholiman. Alloh ﷻ mengizinkan pembalasan yang setimpal demi
tegaknya keadilan, namun Dia menegaskan bahwa bersabar adalah pilihan yang jauh
lebih mulia dan lebih baik di sisi-Nya. Ayat-ayat terakhir ini juga menguatkan
hati Nabi ﷺ agar
tidak berduka atas makar orang-orang kafir, karena perlindungan dan pertolongan
Alloh ﷻ
senantiasa menyertai mereka yang bertaqwa dan senantiasa berbuat ihsan.
﴿وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا
عُوقِبْتُم بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّٰبِرِينَ
١٢٦﴾
126. Dan jika kalian memberikan balasan atas suatu
kezholiman, maka balaslah dengan siksaan yang serupa dengan siksaan yang
ditimpakan kepada kalian, jangan melampaui batas. Akan tetapi jika kalian
bersabar dengan tidak membalas, niscaya kesabaran itu benar-benar lebih baik
bagi orang-orang yang bersabar.
Sifat sabar ini merupakan
perintah langsung dari Alloh ﷻ yang harus diamalkan meski dalam keadaan yang sangat berat.
﴿وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ
مِّمَّا يَمْكُرُونَ ١٢٧﴾
127. Bersabarlah wahai Muhammad, dan kesabaranmu itu
tidak akan terlaksana melainkan dengan pertolongan Alloh. Janganlah kamu
bersedih hati terhadap penolakan mereka, dan janganlah dadamu merasa sempit
karena tipu daya yang mereka rencanakan untuk menghalangi da’wahmu.
Kepastian pertolongan
Alloh ﷻ dijamin
bagi siapa saja yang menghiasi dirinya dengan dua sifat utama sebagai penutup
surat yang agung ini.
﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ ١٢٨﴾
128. Sesungguhnya Alloh senantiasa bersama orang-orang
yang bertaqwa dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta
Dia bersama orang-orang yang senantiasa berbuat ihsan (kebaikan) dalam
menjalankan ibadah kepada Alloh dan bermuamalah kepada sesama makhluk.[NK]
