Cari Ebook

[PDF] Tarjamah Suroh An-Nahl Merujuk Tafsir Muyassar dan Mukhtashor fit Tafsir Disertai Kaitan Antar Ayat - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Suroh An-Nahl berisi tema besar: Penegasan Ketauhidan dan Luasnya Ni’mat Alloh .

[1] Kepastian Hari Qiyamah dan Bukti Keagungan Penciptaan

Kelompok ayat ini diawali dengan peringatan keras bagi orang-orang kafir yang meragukan datangnya adzab dan Hari Qiyamah. Alloh menegaskan bahwa segala sesuatu berada dalam kendali-Nya, lalu Dia menyebutkan wasilah penyampaian peringatan tersebut melalui wahyu yang dibawa oleh Malaikat. Setelah itu, rangkaian ayat berikutnya memaparkan bukti-bukti nyata kekuasaan Alloh dalam penciptaan langit, bumi, manusia, hingga hewan ternak sebagai dalil bahwa hanya Dia yang berhak diibadahi.

﴿أَتَىٰٓ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ١

1. Telah tiba ketetapan Alloh berupa adzab bagi orang-orang musyrik dan datangnya Hari Qiyamah, maka janganlah kalian wahai orang-orang musyrik meminta agar hal itu disegerakan karena rasa ingkar dan mengolok-olok. Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan berupa berhala-berhala dan tandingan-tandingan.

Setelah menjelaskan tentang kepastian datangnya adzab, Alloh kemudian menyebutkan sarana penyampaian peringatan tersebut melalui para Rosul yang dibekali wahyu.

﴿يُنَزِّلُ الْمَلَٰٓئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ أَنْ أَنذِرُوٓا أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا فَاتَّقُونِ ٢

2. Alloh menurunkan para Malaikat dengan membawa wahyu atas perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya untuk menjadi Rosul agar mereka memberikan peringatan kepada manusia bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Aku, maka bertaqwalah kepada-Ku dengan menjalankan perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku.

Wahyu yang dibawa para Rosul tersebut berisi ajaran Tauhid yang didukung oleh bukti nyata penciptaan alam semesta yang sangat luas.

﴿خَلَقَ السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ تَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ٣

3. Alloh menciptakan langit dan bumi dengan hikmah yang benar dan tujuan yang agung, bukan secara sia-sia. Maha Tinggi Alloh dari segala kesyirikan yang mereka lakukan.

Dari penciptaan langit dan bumi yang besar, Alloh mengajak manusia melihat keajaiban penciptaan diri mereka sendiri yang berasal dari sesuatu yang sangat kecil.

﴿خَلَقَ الْإِنسَٰنَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ ٤

4. Alloh menciptakan manusia dari tetesan nuthfah (air mani) yang hina, namun setelah ia tumbuh dewasa dan menjadi kuat, tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata terhadap Robb-nya, mendebat tentang kebangkitan kembali setelah kematian.

Meskipun manusia sering membangkang, Alloh tetap menyediakan berbagai fasilitas hidup bagi mereka, di antaranya adalah hewan ternak.

﴿وَالْأَنْعَٰمَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَٰفِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ ٥

5. Alloh pun telah menciptakan hewan-hewan ternak untuk kalian. Pada hewan-hewan itu terdapat bulu dan kulit yang memberikan rasa hangat dan berbagai manfaat lainnya bagi kehidupan kalian, dan sebagian dari hewan-hewan tersebut kalian makan dagingnya.

Selain manfaat fisik berupa kehangatan dan makanan, hewan-hewan tersebut juga memberikan kepuasan batin dan keindahan bagi pemiliknya.

﴿وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ ٦

6. Kalian mendapatkan keindahan dan kebanggaan pada hewan-hewan ternak itu saat kalian membawanya pulang ke kandang di sore hari dan saat kalian melepaskannya ke tempat penggembalaan di pagi hari.

Kegunaan hewan ternak tidak berhenti pada keindahan saja, tetapi juga sebagai sarana transportasi yang sangat membantu mobilitas manusia.

﴿وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَّمْ تَكُونُوا بَٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنفُسِ ۚ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ٧

7. Hewan-hewan itu mengangkut beban-beban berat kalian menuju suatu negeri yang jauh, yang kalian tidak akan sanggup mencapainya kecuali dengan susah payah yang sangat berat. Sesungguhnya Robb kalian benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya karena telah memudahkan sarana transportasi ini bagi kalian.

Alloh kemudian merinci jenis hewan lain yang secara khusus diciptakan sebagai kendaraan dan perhiasan, serta mengisyaratkan adanya kendaraan lain di masa depan.

﴿وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ ٨

8. Alloh menciptakan kuda, bighol (peranakan kuda dan keledai), serta keledai agar kalian menungganginya dan menjadikannya sebagai perhiasan. Dan Alloh menciptakan apa-apa yang tidak kalian ketahui berupa sarana transportasi dan makhluk lainnya yang akan muncul kemudian.

Setelah menjelaskan berbagai jalan fisik yang bisa ditempuh manusia dengan hewan tunggangan, Alloh menjelaskan bahwa hanya ada satu jalan maknawi yang lurus menuju ridho-Nya.

﴿وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ ۚ وَلَوْ شَآءَ لَهَدَىٰكُمْ أَجْمَعِينَ ٩

9. Hanya Alloh yang menunjukkan jalan yang lurus dan benar yaitu Islam, sedangkan di antara jalan-jalan yang ada terdapat jalan yang menyimpang dari kebenaran. Jika Alloh berkehendak, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semua menuju keimanan.

Setelah memaparkan ni’mat berupa hewan ternak dan sarana transportasi di daratan, Alloh beralih menjelaskan ni’mat air hujan sebagai sumber kehidupan tumbuhan.

[2] Ni’mat Air Hujan, Tumbuhan, dan Keteraturan Alam Semesta

Bagian ini menjelaskan bagaimana Alloh mengatur siklus air untuk menghidupkan bumi yang mati. Air hujan menjadi kunci bagi tumbuhnya berbagai macam tanaman yang menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan. Keteraturan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tanda-tanda kekuasaan bagi orang-orang yang mau menggunakan akal pikiran dan mengambil pelajaran dari alam semesta.

﴿هُوَ الَّذِيٓ أَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً ۖ لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ ١٠

10. Dialah Alloh yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian. Sebagian air itu menjadi minuman kalian dan sebagiannya lagi menyuburkan tumbuh-tumbuhan yang kalian gunakan sebagai tempat menggembalakan ternak kalian.

Air hujan yang sama tersebut menghasilkan keanekaragaman hasil bumi yang sangat beragam dan melimpah untuk mencukupi kebutuhan manusia.

﴿يُنْبِتُ لَكُم بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَٰبَ وَمِن كُلِّ الثَّمَرَٰتِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ١١

11. Dengan air hujan itu, Alloh menumbuhkan bagi kalian tanaman-tanaman, pohon zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada penciptaan yang demikian itu benar-benar terdapat tanda yang jelas atas kekuasaan Alloh bagi kaum yang mau berpikir.

Tidak hanya di bumi, keteraturan ini juga mencakup benda-benda langit yang pergerakannya diatur sedemikian rupa untuk melayani kepentingan manusia.

﴿وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَٰتٌ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ١٢

12. Alloh telah menundukkan malam dan siang untuk kepentingan kalian, begitu pula matahari dan rembulan. Bintang-bintang pun ditundukkan untuk kalian dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada hal-hal tersebut terdapat tanda-tanda yang nyata bagi kaum yang mau menggunakan akal mereka untuk memahami keagungan Penciptanya.

Keindahan dan keberagaman ciptaan Alloh juga terlihat pada warna-warni makhluk yang ada di permukaan bumi.

﴿وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُخْتَلِفًا أَلْوَٰنُهُۥٓ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ ١٣

13. Alloh pun telah menundukkan bagi kalian apa saja yang Dia ciptakan di bumi dengan berbagai macam warna dan jenisnya, baik itu hewan, tumbuhan, maupun barang tambang. Sesungguhnya pada hal itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang mau mengambil pelajaran dan menyadari bahwa hanya Alloh yang berhak diibadahi.

Setelah menyebutkan ni’mat di daratan dan langit, Alloh menyebutkan kekayaan yang tersimpan di dalam lautan.

﴿وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِۦ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ١٤

14. Dialah Alloh yang menundukkan lautan agar kalian dapat memakan darinya daging yang segar yaitu ikan, dan kalian dapat mengeluarkan dari lautan itu perhiasan seperti mutiara dan marjan yang kalian pakai. Kamu pun melihat kapal-kapal berlayar membelah lautan agar kalian dapat mencari rizqi dari karunia-Nya melalui perniagaan, dan agar kalian bersyukur kepada Alloh atas segala ni’mat-Nya.

Agar daratan menjadi tempat tinggal yang stabil bagi manusia, Alloh menciptakan gunung-gunung sebagai pasak bumi.

﴿وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَٰرًا وَسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ١٥

15. Alloh memancangkan gunung-gunung yang kokoh di bumi agar bumi itu tidak berguncang bersama kalian. Dia juga menciptakan sungai-sungai agar kalian dapat memanfaatkannya untuk minum dan pertanian, serta menciptakan jalan-jalan yang luas agar kalian mendapat petunjuk menuju tempat yang kalian tuju.

Selain jalan-jalan di bumi, Alloh juga memberikan petunjuk arah di malam hari melalui benda-benda langit.

﴿وَعَلَٰمَٰتٍ ۚ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ ١٦

16. Alloh menciptakan tanda-tanda di bumi seperti gunung dan perbukitan pada siang hari, dan dengan bintang-bintang pula manusia mendapat petunjuk arah perjalanan mereka di malam hari.

Setelah memaparkan seluruh ni’mat yang luar biasa ini, Alloh memberikan pertanyaan sindiran untuk menyadarkan manusia akan kebodohan menyekutukan-Nya.

﴿أَفَمَن يَخْلُقُ كَمَن لَّا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ١٧

17. Maka apakah Robb yang menciptakan segala sesuatu yang agung ini sama dengan berhala-berhala yang tidak sanggup menciptakan sedikit pun? Mengapa kalian tidak mau mengambil pelajaran sehingga kalian hanya menyembah kepada Sang Pencipta saja?

Alloh menutup rangkaian pembuktian ini dengan menegaskan bahwa ni’mat-Nya sangat banyak hingga tak mungkin terhitung, namun Dia tetap Maha Pengampun.

﴿وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ١٨

18. Jika kalian mencoba menghitung ni’mat-ni’mat Alloh yang telah diberikan kepada kalian, niscaya kalian tidak akan sanggup menjumlahkannya karena saking banyaknya dan beragamnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dia tidak segera mengadzab kalian atas kelalaian kalian dalam bersyukur, dan tetap memberikan ni’mat meski kalian banyak berbuat dosa.

Setelah menjelaskan luasnya ni’mat zhohir, ayat berikutnya akan menjelaskan bahwa Alloh juga Maha Mengetahui segala yang tersembunyi di dalam hati hamba-hamba-Nya.

[3] Pengetahuan Alloh yang Meliputi Segala Sesuatu dan Kebatilan Berhala

Alloh menegaskan bahwa ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, sebagai dalil bahwa hanya Dia yang berhak disembah. Sebaliknya, tuhan-tuhan selain Alloh adalah makhluk yang lemah, tidak bernyawa, dan tidak mengetahui kapan kebangkitan terjadi. Kesombongan orang-orang kafir dalam menolak kebenaran ini berujung pada pengingkaran mereka terhadap wahyu, yang mereka sebut sebagai dongeng purbakala, sehingga mereka harus menanggung dosa besar di Hari Qiyamah kelak.

﴿وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ١٩

19. Alloh mengetahui apa yang kalian sembunyikan dalam hati kalian dan apa yang kalian tampakkan dengan lisan dan perbuatan kalian. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya.

Setelah menjelaskan keluasan ilmu-Nya, Alloh menunjukkan betapa hinanya berhala-berhala yang disembah selain-Nya.

﴿وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ ٢٠

20. Berhala-berhala yang mereka sembah selain Alloh tidak mampu menciptakan apa pun, bahkan sesuatu yang kecil sekalipun, sedangkan berhala-berhala itu sendiri adalah makhluk yang dibuat oleh tangan manusia.

Ketidakberdayaan berhala tersebut semakin nyata karena mereka adalah benda mati yang tidak memiliki ruh.

﴿أَمْوَٰتٌ غَيْرُ أَحْيَآءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ٢١

21. Berhala-berhala itu adalah benda mati yang tidak memiliki kehidupan, dan mereka tidak mengetahui kapan para penyembahnya akan dibangkitkan dari kubur untuk menghadapi perhitungan.

Fakta-fakta ini mengarah pada satu kesimpulan mutlak tentang keesaan Sang Pencipta.

﴿إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْءَاخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٌ وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ ٢٢

22. Ilah kalian wahai manusia adalah Ilah Yang Maha Esa, yaitu Alloh. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan Akhiroh, hati mereka mengingkari keesaan-Nya karena keras kepala, dan mereka adalah orang-orang yang sombong untuk tunduk pada kebenaran dan beribadah kepada-Nya.

Kesombongan mereka tidak akan pernah luput dari pengawasan Alloh .

﴿لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ ٢٣

23. Benarlah bahwa sesungguhnya Alloh mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong untuk menerima kebenaran dan menaati-Nya, serta Dia akan membalas mereka atas perbuatan tersebut.

Salah satu bentuk kesombongan mereka adalah merendahkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi .

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۙ قَالُوٓا أَسَٰطِيرُ الْأَوَّلِينَ ٢٤

24. Apabila dikatakan kepada orang-orang yang sombong itu: “Apakah yang telah diturunkan oleh Robb kalian kepada Muhammad?” Mereka menjawab dengan penuh pengingkaran: “Itu hanyalah dongeng-dongeng bohong dari orang-orang terdahulu.”

Akibat dari perkataan dusta dan penyesatan tersebut, mereka akan memikul beban yang sangat berat di Akhiroh.

﴿لِيَحْمِلُوٓا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَٰمَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ٢٥

25. Akibatnya, mereka akan memikul dosa-dosa mereka secara utuh pada Hari Qiyamah, dan mereka juga memikul sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu pengetahuan. Ketahuilah, alangkah buruknya dosa-dosa yang mereka tanggung itu.

Setelah menjelaskan perkataan buruk orang-orang kafir terhadap wahyu, ayat selanjutnya memaparkan makar yang dilakukan oleh para pendahulu mereka dan bagaimana Alloh menghancurkannya.

[4] Hancurnya Makar Orang-orang Kafir dan Kehinaan Mereka di Akhiroh

Rangkaian ayat ini menceritakan tentang upaya orang-orang kafir terdahulu dalam merancang tipu daya untuk meruntuhkan agama Alloh . Namun, Alloh menghancurkan bangunan makar mereka dari pondasinya hingga menimpa mereka sendiri. Di Hari Qiyamah kelak, mereka akan dikumpulkan dalam keadaan terhina dan saling berselisih dengan sembahan-sembahan mereka, sementara orang-orang yang diberi ilmu akan menyaksikan kehinaan mereka.

﴿قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَٰنَهُم مِّنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِن فَوْقِهِمْ وَأَتَىٰهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ ٢٦

26. Sungguh orang-orang kafir sebelum mereka telah melakukan makar yang jahat terhadap para Rosul mereka, maka Alloh menghancurkan bangunan makar mereka mulai dari pondasi-pondasinya, lalu atap bangunan itu runtuh menimpa mereka dari atas, dan adzab itu datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.

Kehancuran di dunia ini hanyalah permulaan, karena kehinaan yang lebih besar telah menunggu mereka di Akhiroh.

﴿ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَٰمَةِ يُخْزِيهِمْ وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَآءِيَ الَّذِينَ كُنتُمْ تُشَٰٓقُّونَ فِيهِم ۚ قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوٓءَ عَلَى الْكَٰفِرِينَ ٢٧

27. Kemudian pada Hari Qiyamah, Alloh akan menghinakan mereka dan berfirman: “Di manakah tandingan-tandingan-Ku yang dahulu kalian membela mereka dengan memusuhi para Rosul-Ku?” Berkatalah para Nabi dan orang-orang yang diberi ilmu: “Sesungguhnya kehinaan dan keburukan pada hari ini ditimpakan kepada orang-orang kafir.”

Orang-orang kafir tersebut akan menemui ajal mereka dalam keadaan menzholimi diri sendiri dengan kesyirikan.

﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمْ ۖ فَأَلْقَوُا السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِن سُوٓءٍ ۚ بَلَىٰٓ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ٢٨

28. Yaitu orang-orang yang dicabut nyawanya oleh para Malaikat dalam keadaan mereka menzholimi diri mereka sendiri dengan kekafiran. Maka saat kematian tiba, mereka menyerah dan tunduk sambil berkata dengan penuh kedustaan: “Kami dahulu tidak mengerjakan suatu keburukan pun.” Maka para Malaikat menjawab: “Tidak, sebenarnya kalian telah berbuat buruk, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang telah kalian kerjakan.”

Karena dosa-dosa mereka telah tercatat dengan sempurna, maka keputusan final pun ditetapkan bagi mereka.

﴿فَادْخُلُوٓا أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ ٢٩

29. Maka masukilah pintu-pintu Jahannam untuk tinggal di dalamnya selama-lamanya. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang sombong terhadap kebenaran.

Setelah menggambarkan tempat kembali orang-orang kafir yang penuh kehinaan, Alloh beralih menjelaskan balasan bagi orang-orang bertaqwa yang memuliakan wahyu.

[5] Balasan Bagi Orang-orang yang Bertaqwa dan Indahnya Jannah

Setelah sebelumnya dijelaskan tentang kehinaan orang-orang kafir yang menyombongkan diri terhadap wahyu, kini Alloh memaparkan keadaan sebaliknya, yaitu orang-orang bertaqwa yang menyambut wahyu dengan penuh pengagungan. Mereka mengakui bahwa apa yang diturunkan Robb mereka adalah kebaikan murni. Ayat-ayat ini menggambarkan kemuliaan yang mereka peroleh saat kematian menjemput hingga kenikmatan abadi di dalam Jannah sebagai balasan atas amal sholih mereka di dunia.

﴿وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا خَيْرًا ۗ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ الْءَاخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ ٣٠

30. Apabila ditanyakan kepada orang-orang yang bertaqwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Robb kalian?” Mereka menjawab: “Dia telah menurunkan kebaikan yang sangat besar.” Bagi orang-orang yang berbuat baik dengan beriman dan beramal sholih di dunia ini akan mendapatkan balasan yang baik pula, dan sungguh negeri Akhiroh itu jauh lebih baik bagi mereka. Sebaik-baik tempat tinggal adalah negeri bagi orang-orang yang bertaqwa.

Tempat tinggal yang baik bagi orang-orang bertaqwa tersebut dirinci lebih lanjut sebagai Jannah yang penuh dengan aliran sungai.

﴿جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَٰرُ ۖ لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ ٣١

31. Yaitu Jannah ‘Adn yang mereka masuki, yang di bawah istana-istana dan pepohonannya mengalir sungai-sungai. Di dalam Jannah itu mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Demikianlah Alloh memberikan balasan yang sempurna kepada orang-orang yang bertaqwa.

Kenikmatan di Jannah tersebut diawali dengan perlakuan mulia dari para Malaikat saat mereka wafat dalam keadaan suci.

﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ٣٢

32. Yaitu orang-orang yang diwafatkan oleh para Malaikat dalam keadaan suci dari kekafiran dan bersih dari keburukan. Para Malaikat menyapa mereka dengan berkata: “Keselamatan atas kalian, masuklah kalian ke dalam Jannah disebabkan amal sholih yang telah kalian kerjakan di dunia.”

Setelah memaparkan kemuliaan akhir hayat orang beriman, Alloh kembali memperingatkan orang-orang kafir yang masih tetap dalam pembangkangan mereka.

[6] Pengingkaran Orang-orang Kafir dan Hikmah Pengutusan Rosul

Bagian ini menyoroti sikap keras kepala orang-orang musyrik yang seolah-olah menunggu datangnya adzab atau Malaikat maut sebelum mereka mau beriman. Mereka seringkali mencari-cari alasan dengan menyalahkan taqdir atas kesyirikan yang mereka lakukan, padahal Alloh telah memberikan pilihan dan mengutus para Rosul untuk membimbing mereka. Ayat-ayat ini juga menegaskan tugas utama para Rosul hanyalah menyampaikan risalah dengan jelas, sementara hidayah taufiq tetap berada di tangan Alloh .

﴿هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّآ أَن تَأْتِيَهُمُ الْمَلَٰٓئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ أَمْرُ رَبِّكَ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِن كَانُوٓا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ ٣٣

33. Tidak ada yang ditunggu oleh orang-orang kafir itu melainkan kedatangan para Malaikat untuk mencabut nyawa mereka atau datangnya ketetapan Robb-mu berupa adzab yang membinasakan. Demikianlah yang telah dilakukan oleh orang-orang kafir sebelum mereka. Alloh tidaklah menzholimi mereka dengan mengadzab mereka, namun merekalah yang menzholimi diri mereka sendiri dengan kekafiran dan kemaksiatan.

Akibat dari kezholiman dan olok-olok tersebut, mereka akhirnya merasakan sendiri dampak buruk dari perbuatan mereka.

﴿فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ ٣٤

34. Maka mereka ditimpa oleh balasan buruk atas amal-amal yang telah mereka kerjakan, dan mereka dikepung oleh adzab yang dahulu selalu mereka perolok-olokkan.

Dalam keadaan terdesak oleh hujah, orang-orang musyrik mulai membuat alasan palsu dengan menyalahgunakan konsep taqdir.

﴿وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَآءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِۦ مِن شَيْءٍ نَّحْنُ وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن دُونِهِۦ مِن شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَٰغُ الْمُبِينُ ٣٥

35. Orang-orang musyrik berkata: “Jika Alloh menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu pun selain Dia, tidak juga bapak-bapak kami, dan kami tidak akan mengharomkan sesuatu pun tanpa izin-Nya.” Orang-orang kafir sebelum mereka pun telah berkata demikian untuk menolak kebenaran. Maka tidak ada kewajiban bagi para Rosul melainkan menyampaikan perintah dan larangan Alloh dengan penjelasan yang nyata.

Untuk membantah alasan mereka, Alloh menegaskan bahwa pada setiap umat telah diutus seorang Rosul untuk menyeru kepada Tauhid.

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ٣٦

36. Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rosul yang menyerukan: “Sembahlah Alloh saja dan jauhilah thoghut (segala yang disembah selain Alloh).” Maka di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Alloh menuju keimanan, dan ada pula yang telah pasti kesesatan bagi mereka karena tetap memilih kekafiran. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan lihatlah bagaimana kesudahan yang buruk bagi orang-orang yang mendustakan para Rosul.

Meskipun keinginan Rosul sangat kuat agar manusia beriman, namun keputusan hidayah tetaplah mutlak milik Alloh .

﴿إِن تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَىٰهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَن يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ ٣٧

37. Jika kamu wahai Rosul sangat menginginkan agar mereka mendapat petunjuk, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang telah Dia sesatkan akibat pilihannya sendiri untuk berpaling, dan mereka tidak akan memiliki seorang penolong pun yang dapat menyelamatkan mereka dari adzab Alloh.

Kesesatan mereka kian parah hingga mereka berani bersumpah bahwa tidak akan ada kehidupan setelah kematian.

﴿وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَٰنِهِمْ ۙ لَا يَبْعَثُ اللَّهُ مَن يَمُوتُ ۚ بَلَىٰ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٣٨

38. Mereka bersumpah dengan nama Alloh dengan sumpah yang sungguh-sungguh bahwa Alloh tidak akan membangkitkan orang yang telah mati. Padahal janji Alloh untuk membangkitkan mereka adalah janji yang benar-benar pasti, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui hal tersebut karena kurangnya perenungan.

Kebangkitan tersebut bertujuan untuk menyingkap segala perselisihan dan membuktikan kedustaan mereka.

﴿لِيُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي يَخْتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ كَفَرُوٓا أَنَّهُمْ كَانُوا كَٰذِبِينَ ٣٩

39. Alloh membangkitkan mereka untuk menjelaskan kepada mereka apa yang dahulu mereka perselisihkan tentang masalah kebangkitan dan ketauhidan, serta agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwa mereka dahulu adalah orang-orang yang berdusta atas nama Alloh.

Bagi Alloh , membangkitkan seluruh makhluk adalah perkara yang sangat mudah, semudah berfirman “Kun.”

﴿إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَآ أَرَدْنَٰهُ أَن نَّقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٤٠

40. Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya cukup mengatakan kepadanya: “Jadilah!”, maka jadilah ia seketika itu juga.

Setelah menjelaskan tentang kebangkitan bagi seluruh makhluk, ayat selanjutnya memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh .

[7] Balasan bagi Orang yang Berhijroh dan Hakikat Wahyu

Setelah Alloh menjelaskan tentang kemudahan bagi-Nya untuk membangkitkan seluruh makhluk, Dia memberikan kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang bersedia berkorban meninggalkan tanah air demi mempertahankan iman. Rangkaian ayat ini juga menjawab keraguan kaum musyrik yang menolak kenabian Muhammad hanya karena beliau adalah manusia biasa, serta memperingatkan para pembuat makar tentang adzab yang bisa datang secara tiba-tiba.

﴿وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْءَاخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ٤١

41. Orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh demi mencari ridho-Nya setelah mereka dizholimi oleh kaum musyrik di Makkah, sungguh Kami benar-benar akan memberikan mereka tempat tinggal yang baik di dunia sebagai balasan atas pengorbanan mereka, dan sungguh pahala di Akhiroh kelak jauh lebih besar jika mereka mengetahui betapa agungnya balasan yang telah Alloh siapkan tersebut.

Pemberian tempat yang baik dan pahala yang besar itu diperuntukkan bagi mereka yang memiliki sifat-sifat mulia dalam menghadapi ujian.

﴿الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ٤٢

42. Yaitu orang-orang yang senantiasa bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Alloh dan menjauhi kemaksiatan serta sabar atas ujian hijroh, dan mereka hanya menyandarkan segala urusan mereka kepada Robb mereka semata.

Keyakinan mereka kepada Robb diperkuat dengan pemahaman bahwa para Rosul yang diutus Alloh adalah manusia pilihan yang membawa petunjuk.

﴿وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِيٓ إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْئَلُوٓا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٤٣

43. Kami tidak mengutus sebelum engkau wahai Muhammad melainkan para lelaki di antara manusia yang Kami berikan wahyu kepada mereka, dan Kami tidak mengutus Malaikat. Maka tanyakanlah kepada para ulama yang memahami Kitab-Kitab terdahulu jika kalian tidak mengetahui bahwa para Rosul terdahulu pun adalah dari kalangan manusia.

Para Rosul dari kalangan manusia tersebut dibekali dengan berbagai sarana untuk meyakinkan kaumnya.

﴿بِالْبَيِّنَٰتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤

44. Kami mengutus mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kitab-Kitab. Dan Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka berupa hukum-hukum dan petunjuk, dan agar mereka mau merenungkan isinya.

Meskipun petunjuk telah dijelaskan secara nyata, masih ada orang-orang yang tetap merancang tipu daya jahat untuk menentang da’wah.

﴿أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَن يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ ٤٥

45. Maka apakah orang-orang musyrik yang merencanakan berbagai tipu daya buruk untuk menolak da’wah Nabi itu merasa aman bahwa Alloh tidak akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi, atau mereka merasa aman dari datangnya adzab kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka?

Kekuasaan Alloh untuk menyiksa mereka tidak terbatas hanya saat mereka menetap, namun juga saat mereka sedang beraktivitas.

﴿أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُم بِمُعْجِزِينَ ٤٦

46. Atau apakah mereka merasa aman bahwa Alloh tidak akan menyiksa mereka saat mereka sedang sibuk melakukan perjalanan dalam urusan perdagangan dan lainnya? Ketahuilah bahwa mereka tidak akan pernah bisa melarikan diri dari adzab-Nya.

Adzab tersebut bisa saja datang secara mendadak, atau bisa pula datang secara perlahan sebagai bentuk peringatan.

﴿أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ٤٧

47. Atau apakah mereka merasa aman jika Alloh menyiksa mereka dalam keadaan takut dengan dikurangi sedikit demi sedikit harta dan jiwanya hingga mereka binasa? Sesungguhnya Robb kalian benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya karena Dia tidak menyegerakan adzab bagi para pelaku maksiat agar mereka mau bertaubat.

Sifat Pengasih Alloh tersebut seharusnya membuat manusia sadar untuk tunduk kepada-Nya sebagaimana seluruh makhluk yang ada di alam semesta.

[8] Ketundukan Alam Semesta dan Larangan Syirik

Bagian ini mengajak manusia memperhatikan fenomena alam yang sangat dekat dengan mereka, yaitu bayangan benda yang selalu tunduk mengikuti perintah Alloh . Hal ini merupakan simbol bahwa seluruh makhluk di langit dan di bumi, termasuk para Malaikat, berada di bawah kendali dan pengawasan Sang Pencipta. Oleh karena itu, sangat tidak masuk akal jika manusia menjadikan tandingan bagi Alloh yang telah memberikan segala ni’mat.

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَىٰ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ يَتَفَيَّؤُا ظِلَٰلُهُۥ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَآئِلِ سُجَّدًا لِّلَّهِ وَهُمْ دَٰخِرُونَ ٤٨

48. Apakah orang-orang musyrik itu tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Alloh, bagaimana bayangan-bayangan benda tersebut condong ke arah kanan dan kiri mengikuti pergerakan matahari? Bayangan itu tunduk bersujud kepada Alloh dalam keadaan kecil dan hina di hadapan keagungan-Nya.

Ketundukan bayangan tersebut hanyalah sebagian kecil dari ketundukan total seluruh makhluk hidup.

﴿وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ٤٩

49. Dan hanya kepada Alloh semata bersujud segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi berupa makhluk yang melata, begitu pula para Malaikat bersujud kepada-Nya, dan mereka sedikit pun tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya.

Sifat para Malaikat yang tidak sombong ini lahir dari rasa takut dan pengagungan yang luar biasa kepada Sang Kholiq.

﴿يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ٥٠

50. Para Malaikat itu takut kepada Robb mereka yang berada di atas mereka dengan kemuliaan, kedudukan, dan Dzat-Nya, serta mereka senantiasa melaksanakan apa pun yang diperintahkan oleh Alloh kepada mereka tanpa membangkang.

Ketaatan mutlak para Malaikat ini menjadi landasan kuat mengapa manusia dilarang keras untuk menyembah selain Dia.

﴿۞ وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوٓا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ ٥١

51. Alloh telah berfirman: “Janganlah kalian menyembah dua Ilah, karena sesungguhnya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa. Maka hanya kepada-Ku sajalah hendaknya kalian merasa takut.”

Ketakutan kepada Alloh adalah konsekuensi logis karena Dialah pemilik tunggal segala yang ada di alam raya.

﴿وَلَهُۥ مَا فِي السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا ۚ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ ٥٢

52. Milik Dialah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan hanya milik-Nya semata ketaatan dan ibadah untuk selama-lamanya. Maka apakah pantas kalian bertaqwa dan takut kepada selain Alloh?

Satu-satunya Dzat yang berhak ditakuti adalah Dia yang menjadi sumber tunggal segala ni’mat yang dirasakan manusia.

﴿وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُونَ ٥٣

53. Segala ni’mat yang ada pada kalian, baik pada diri kalian maupun harta kalian, maka itu semua datangnya dari Alloh. Kemudian apabila kalian ditimpa oleh kesengsaraan atau penyakit, maka hanya kepada-Nyalah kalian berteriak meminta pertolongan dengan penuh kerendahan hati.

Namun sangat disayangkan, sifat manusia seringkali berubah setelah kesulitan tersebut diangkat oleh Alloh .

﴿ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ ٥٤

54. Kemudian setelah Alloh menghilangkan kesengsaraan itu dari kalian, tiba-tiba sebagian di antara kalian justru menyekutukan Robb mereka dengan menyembah selain-Nya sebagai bentuk ketidaktahuan akan hakikat pemberi ni’mat.

Perbuatan syirik setelah mendapatkan pertolongan ini menunjukkan puncak kekufuran mereka terhadap kebaikan Alloh .

﴿لِيَكْفُرُوا بِمَآ ءَاتَيْنَٰهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ ٥٥

55. Akibatnya, mereka mengingkari ni’mat-ni’mat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kalian wahai orang-orang musyrik dengan kehidupan dunia kalian yang sementara, karena kelak kalian akan mengetahui balasan buruk yang akan kalian terima.

Salah satu bentuk pengingkaran mereka adalah dengan membagi-bagi rizqi yang Alloh berikan untuk berhala-berhala yang tidak memiliki kuasa.

﴿وَيَجْعَلُونَ لِمَا لَا يَعْلَمُونَ نَصِيبًا مِّمَّا رَزَقْنَٰهُمْ ۗ تَاللَّهِ لَتُسْئَلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَفْتَرُونَ ٥٦

56. Orang-orang musyrik itu menetapkan sebagian dari rizqi yang telah Kami berikan kepada mereka (seperti tanaman dan ternak) untuk berhala-berhala yang tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula bisa memberi manfaat atau mudhorot. Demi Alloh, sungguh kalian benar-benar akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban pada Hari Qiyamah atas kedustaan yang kalian ada-adakan ini.

Kedustaan mereka bahkan melampaui batas hingga mereka berani menyandarkan sesuatu yang tidak pantas bagi Alloh .

[9] Kebohongan Orang-orang Musyrik Terhadap Alloh dan Kebencian Mereka Terhadap Anak Perempuan

Kelompok ayat ini menyingkap keyakinan membingungkan kaum musyrik. Di satu sisi, mereka dengan lancang menyematkan anak perempuan bagi Alloh , sementara mereka sendiri sangat membenci kehadiran anak perempuan dalam keluarga mereka hingga tega menguburnya hidup-hidup. Alloh menjelaskan bahwa sifat-sifat buruk itu hanya pantas bagi mereka yang tidak beriman kepada Akhiroh, sedangkan bagi Alloh hanyalah sifat-sifat yang paling mulia dan agung.

﴿وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَٰتِ سُبْحَٰنَهُۥ ۙ وَلَهُم مَّا يَشْتَهُونَ ٥٧

57. Orang-orang musyrik itu menetapkan bagi Alloh anak-anak perempuan menurut persangkaan mereka yang batil. Maha Suci Alloh dari memiliki anak, sedangkan untuk diri mereka sendiri, mereka menetapkan apa yang mereka inginkan yaitu anak-anak laki-laki.

Setelah menyebutkan pembagian yang tidak adil tersebut, Alloh menggambarkan bagaimana reaksi emosional mereka saat mendapatkan apa yang mereka sematkan kepada-Nya.

﴿وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ ٥٨

58. Padahal apabila salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran bayi perempuan, wajahnya seketika berubah menjadi hitam muram karena malu dan sedih, dan hatinya sangat sesak menahan amarah yang terpendam.

Rasa malu yang berlebihan ini mendorong mereka melakukan tindakan yang sangat tidak manusiawi terhadap darah daging mereka sendiri.

﴿يَتَوَٰرَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓ ۚ أَيُمْسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُۥ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ ٥٩

59. Dia bersembunyi dari orang banyak karena merasa malu atas berita buruk yang diterimanya itu. Dia berpikir dengan bimbang, apakah dia akan memelihara anak perempuan itu dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburnya hidup-hidup ke dalam tanah? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu terhadap Robb mereka dan terhadap anak-anak mereka.

Keyakinan dan perilaku buruk semacam ini merupakan cerminan dari hati yang telah tertutup dari cahaya kebenaran Akhiroh.

﴿لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْءَاخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ ۖ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ٦٠

60. Bagi orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan Akhiroh terdapat sifat-sifat yang buruk seperti kebodohan dan kekafiran. Sedangkan bagi Alloh terdapat sifat yang paling tinggi lagi mulia dalam segala hal. Dialah Yang Maha Perkasa yang tidak terkalahkan, lagi Maha Bijaksana dalam pengaturan-Nya.

Meskipun manusia terus berbuat zholim dengan kedustaan dan kekejian tersebut, Alloh tetap memberikan penangguhan waktu bagi mereka.

[10] Keadilan Alloh dalam Menangguhkan Adzab dan Tipu Daya Syaithon

Bagian ini menjelaskan hikmah di balik tidak segeranya adzab turun kepada para pelaku kezholiman. Jika Alloh langsung menghukum setiap dosa, niscaya tidak akan ada satu pun makhluk yang tersisa di muka bumi. Namun, Alloh menetapkan waktu tertentu bagi setiap kaum. Ayat-ayat ini juga memperingatkan bahwa syaithon senantiasa menghiasi perbuatan buruk manusia sehingga mereka merasa benar dalam kesesatannya, sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

﴿وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ٦١

61. Seandainya Alloh langsung menghukum manusia karena kezholiman mereka, niscaya tidak akan ada satu pun makhluk melata yang ditinggalkan-Nya hidup di muka bumi. Akan tetapi, Alloh menangguhkan hukuman mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Maka apabila ajal mereka telah tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sedikit pun dan tidak pula dapat meminta agar disegerakan.

Ketidaktahuan mereka akan batas waktu ini membuat mereka terus-menerus melakukan pembagian yang bathil terhadap hak-hak Alloh .

﴿وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ وَتَصِفُ أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ الْحُسْنَىٰ ۖ لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ النَّارَ وَأَنَّهُم مُّفْرَطُونَ ٦٢

62. Mereka menetapkan bagi Alloh apa yang mereka sendiri benci (yaitu anak perempuan dan sekutu), dan lisan mereka mengucapkan kedustaan bahwa kelak mereka akan mendapatkan balasan yang paling baik di sisi Alloh. Tidak diragukan lagi bahwa bagi mereka adalah Naar, dan sesungguhnya mereka akan dimasukkan ke dalamnya dengan segera tanpa akan pernah dikeluarkan.

Kesesatan yang mereka alami ini bukanlah hal baru, melainkan hasil dari bisikan syaithon yang telah ada sejak umat-umat masa lalu.

﴿تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَٰنُ أَعْمَٰلَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٦٣

63. Demi Alloh, sungguh Kami telah mengutus para Rosul kepada umat-umat sebelummu wahai Muhammad, namun syaithon senantiasa menghiasi amal-amal buruk mereka sehingga mereka merasa benar. Maka syaithon menjadi pemimpin bagi mereka di dunia ini, dan bagi mereka disediakan adzab yang sangat pedih di Akhiroh kelak.

Untuk memutus rantai penyesatan syaithon tersebut, Alloh menurunkan Al-Qur’an sebagai penjelas dan pembeda antara yang benar dan yang bathil.

﴿وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ٦٤

64. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu wahai Muhammad, melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka perkara-perkara agama yang mereka perselisihkan, serta sebagai petunjuk dan rohmat bagi kaum yang mau beriman.

Sebagaimana Al-Qur’an menghidupkan hati yang mati dengan ilmu, ayat berikutnya mengajak kita merenungkan bagaimana Alloh menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.

[11] Tanda-tanda Kebesaran Alloh pada Air, Hewan Ternak, dan Tumbuhan

Alloh kembali memaparkan bukti-bukti fisik kekuasaan-Nya yang bisa disaksikan setiap hari. Dimulai dari turunnya hujan yang menghidupkan tanah yang gersang, hingga keajaiban pada hewan ternak yang menghasilkan susu murni di antara kotoran dan darah. Selain itu, Alloh menyebutkan hasil dari pohon kurma dan anggur sebagai sumber rizqi. Rangkaian tanda ini bertujuan agar manusia menyadari bahwa di balik keteraturan alam ini ada Sang Pengatur yang Maha Kuasa.

﴿وَاللَّهُ أَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَآ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ ٦٥

65. Dan Alloh menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan air itu Dia menghidupkan bumi yang tadinya kering dan mati dengan tumbuhnya berbagai tanaman. Sesungguhnya pada fenomena itu benar-benar terdapat tanda yang nyata atas kekuasaan Alloh bagi kaum yang mau mendengarkan petunjuk dengan saksama untuk mengambil pelajaran.

Dari kehidupan tumbuh-tumbuhan yang disirami hujan, perhatian kita dialihkan kepada keajaiban yang terjadi di dalam tubuh hewan yang memakan tumbuhan tersebut.

﴿وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِۦ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّارِبِينَ ٦٦

66. Dan sungguh pada hewan-hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran berharga bagi kalian. Kami memberi kalian minum dari apa yang ada dalam perutnya, yang keluar dari antara kotoran dan darah, berupa susu yang murni, yang sangat mudah ditelan dan terasa enak bagi orang-orang yang meminumnya.

Keajaiban yang sama juga dapat ditemukan pada buah-buahan yang dihasilkan dari tanah yang sama, namun memiliki manfaat yang beragam bagi manusia.

﴿وَمِن ثَمَرَٰتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَٰبِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ٦٧

67. Dan dari buah kurma dan anggur, kalian menjadikannya sebagai minuman yang memabukkan (sebelum adanya pengharoman) dan juga menjadikannya sebagai rizqi yang baik lagi halal. Sesungguhnya pada hasil bumi tersebut benar-benar terdapat tanda keagungan Alloh bagi kaum yang mau menggunakan akal pikiran mereka.

Setelah menyebutkan manfaat dari tumbuhan dan hewan ternak secara umum, Alloh secara khusus menyebutkan keajaiban pada salah satu makhluk kecil, yaitu lebah.

[12] Keajaiban Lebah dan Obat bagi Manusia

Setelah Alloh memaparkan ni’mat berupa hewan ternak dan hasil bumi seperti kurma dan anggur, kini perhatian kita dialihkan kepada salah satu makhluk kecil yang penuh keajaiban, yaitu lebah. Alloh memberikan insting atau wahyu ilham kepada lebah untuk membangun sarang di tempat-tempat yang kokoh dan mengumpulkan sari pati bunga. Hasil dari kerja keras makhluk kecil ini adalah madu, sebuah minuman yang tidak hanya lezat tetapi juga berfungsi sebagai obat bagi berbagai penyakit manusia, sebagai tanda kekuasaan bagi mereka yang mau merenung.

﴿وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ٦٨

68. Dan Robb-mu mengilhamkan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung yang kokoh, di pohon-pohon kayu yang tinggi, dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia seperti bangunan atau pagar-pagar tanaman.”

Setelah memberikan tempat tinggal yang tepat melalui ilham tersebut, Alloh kemudian menuntun lebah dalam urusan makanannya.

﴿ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَٰتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ٦٩

69. Kemudian makanlah dari segala macam bunga-bungaan yang kamu sukai, lalu tempuhlah jalan-jalan yang telah dimudahkan oleh Robb-mu untuk mencari rizqi. Dari perut lebah-lebah itu keluarlah cairan minuman berupa madu yang beraneka ragam warnanya, yang di dalamnya terkandung khasiat obat bagi penyakit-penyakit manusia. Sesungguhnya pada penciptaan lebah dan apa yang dihasilkannya itu benar-benar terdapat bukti yang nyata atas kekuasaan Alloh bagi kaum yang mau berpikir secara mendalam.

Siklus kehidupan lebah yang teratur ini mengingatkan kita pada siklus hidup manusia yang diciptakan dan diatur sepenuhnya oleh Alloh .

[13] Siklus Hidup Manusia dan Hikmah Pembagian Rizqi

Bagian ini menjelaskan perjalanan hidup manusia dari mulai diciptakan hingga menemui ajal, atau dikembalikan kepada masa tua yang lemah di mana ingatan mulai memudar. Alloh juga menegaskan bahwa perbedaan tingkatan rizqi di antara manusia, termasuk kepemilikan budak, adalah bentuk ujian bagi hamba-Nya. ni’mat keluarga berupa pasangan dan keturunan juga disebut sebagai bentuk kasih sayang Alloh yang seharusnya membuat manusia tunduk, bukan justru berpaling kepada sesembahan yang batil.

﴿وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ ٧٠

70. Alloh-lah yang telah menciptakan kalian dari ketiadaan, kemudian Dialah yang akan mewafatkan kalian apabila ajal telah tiba. Di antara kalian ada yang dipanjangkan umurnya hingga mencapai usia yang paling tua dan lemah, sehingga dia tidak lagi mengetahui sesuatu pun yang dahulu pernah diketahuinya karena daya ingatnya yang telah hilang. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala urusan makhluk-Nya lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sebagaimana Alloh mengatur umur manusia, Dia juga mengatur kadar rizqi yang diberikan kepada setiap individu.

﴿وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ ۚ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَآدِّي رِزْقِهِمْ عَلَىٰ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَآءٌ ۚ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ ٧١

71. Alloh memberikan kelebihan kepada sebagian kalian atas sebagian yang lain dalam urusan rizqi di dunia ini. Orang-orang yang diberi rizqi lebih itu tidaklah mau memberikan rizqi mereka kepada hamba sahaya yang mereka miliki agar kedudukan mereka menjadi sama dalam hal harta tersebut. Jika mereka tidak rela menyamakan kedudukan hamba sahaya mereka dengan diri mereka dalam urusan harta, maka mengapa mereka justru menyamakan Alloh dengan berhala-berhala dalam urusan ibadah? Apakah mereka tetap ingin mengingkari ni’mat Alloh?

Selain rizqi materi, Alloh memberikan ni’mat sosial berupa ikatan kekeluargaan yang menghidupkan rasa tentram.

﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَٰتِ ۚ أَفَبِالْبَٰطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ ٧٢

72. Alloh telah menciptakan untuk kalian istri-istri yang berasal dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenang bersamanya, dan dari istri-istri kalian itu Dia memberikan keturunan berupa anak-anak dan cucu-cucu. Dia pun memberikan kalian rizqi dari makanan yang baik-baik dan halal. Maka apakah pantas mereka beriman kepada sesuatu yang batil berupa berhala-berhala, dan justru terhadap ni’mat Alloh mereka berpaling dan mengingkarinya?

Pengingkaran mereka terhadap ni’mat yang nyata ini membawa mereka pada perbuatan syirik yang sangat tidak masuk akal.

[14] Kebatilan Syirik dan Perumpamaan Perbedaan Pencipta dengan Makhluk

Ayat-ayat ini memberikan teguran keras kepada orang-orang musyrik yang menyembah sesuatu yang tidak memiliki otoritas sedikit pun atas rizqi di langit maupun di bumi. Alloh melarang manusia membuat perumpamaan yang menyetarakan-Nya dengan makhluk. Untuk memperjelas perbedaan tersebut, Alloh memberikan dua perumpamaan nyata: pertama, perbedaan antara budak yang tidak berdaya dengan orang merdeka yang dermawan; kedua, perbedaan antara orang bisu yang menjadi beban dengan orang yang mampu memerintahkan keadilan.

﴿وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِّنَ السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ ٧٣

73. Orang-orang musyrik itu menyembah berhala-berhala selain Alloh, padahal berhala-berhala tersebut sama sekali tidak memiliki kuasa untuk memberikan rizqi kepada mereka, baik yang turun dari langit berupa hujan maupun yang tumbuh dari bumi berupa tanaman, dan berhala-berhala itu memang tidak akan pernah sanggup melakukannya.

Karena ketidakberdayaan makhluk tersebut, maka janganlah sekali-kali manusia mencoba membandingkan kemuliaan Alloh dengan mereka.

﴿فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٧٤

74. Maka janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Alloh dengan menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya, karena sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui hakikat segala sesuatu sedangkan kalian tidak mengetahui, sehingga kalian terjatuh dalam kesyirikan.

Alloh kemudian memberikan sebuah perumpamaan logis untuk menunjukkan mengapa syirik itu salah.

﴿۞ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَّمْلُوكًا لَّا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَمَن رَّزَقْنَٰهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا ۖ هَلْ يَسْتَوُونَ ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ٧٥

75. Alloh membuat perumpamaan antara seorang hamba sahaya yang dimiliki orang lain yang tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun atas dirinya sendiri, dibandingkan dengan seorang merdeka yang Kami beri rizqi yang baik lagi halal, lalu dia menyedekahkan hartanya itu secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Apakah kedua orang itu sama? Tentu tidak. Segala puji hanya bagi Alloh yang telah menjelaskan hujah ini, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui hakikat kebenaran tersebut.

Selain perumpamaan tentang kepemilikan, Alloh memberikan perumpamaan lain tentang kemampuan dan manfaat.

﴿وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ أَحَدُهُمَآ أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَىٰهُ أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَن يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ ٧٦

76. Dan Alloh membuat perumpamaan lagi tentang dua orang lelaki; yang seorang bisu sejak lahir, tidak dapat memahami pembicaraan dan tidak bisa memberi manfaat apa pun, bahkan dia menjadi beban bagi orang yang mengurusnya; ke mana pun dia diutus, dia tidak membawa hasil yang baik. Apakah orang yang seperti ini sama dengan orang yang memiliki lisan yang fasih, memerintahkan orang lain berbuat adil, dan dia sendiri berada di jalan yang lurus? Tentu sangat berbeda. Demikianlah perbedaan antara berhala yang bisu dengan Alloh yang memerintahkan keadilan.

Setelah memaparkan perumpamaan yang menyentuh logika, ayat berikutnya menjelaskan bahwa hanya Alloh yang memiliki kunci ilmu ghoib, termasuk kapan terjadinya Hari Qiyamah.

[15] Ilmu Ghoib dan Rahasia Penciptaan pada Diri Manusia

Setelah membandingkan diri-Nya dengan makhluk melalui berbagai perumpamaan, Alloh kini menegaskan bahwa hanya Dia yang memiliki kunci ilmu ghoib, termasuk rahasia tentang saat terjadinya Hari Qiyamah yang sangat dekat bagi-Nya. Rangkaian ayat ini kemudian mengajak manusia merenungi proses penciptaan diri mereka yang lahir tanpa ilmu, namun dibekali panca indera, serta menunjukkan kekuasaan-Nya melalui burung di angkasa dan berbagai fasilitas tempat tinggal yang sangat memudahkan hidup manusia.

﴿وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَآ أَمْرُ السَّاعَةِ إِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ٧٧

77. Hanya milik Alloh semata segala rahasia ghoib yang ada di langit dan di bumi. Urusan datangnya Hari Qiyamah itu bagi-Nya sangatlah mudah dan cepat, hanyalah seperti kedipan mata atau bahkan lebih cepat lagi dari itu. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang melemahkan-Nya.

Setelah menjelaskan kekuasaan-Nya atas hal ghoib, Alloh menyebutkan proses penciptaan manusia dari keadaan tidak tahu menjadi berilmu melalui panca indera.

﴿وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنْ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَٰرَ وَالْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ٧٨

78. Dan Alloh telah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia menganugerahkan kepada kalian pendengaran untuk mendengar suara, penglihatan untuk melihat benda-benda, dan hati untuk memahami sesuatu, agar dengan semua ni’mat itu kalian bersyukur kepada-Nya dengan mentauhidkan-Nya.

Dari keajaiban panca indera manusia, Alloh mengajak manusia melihat ke luar, yaitu kepada burung-burung yang terbang di angkasa sebagai tanda kekuasaan-Nya.

﴿أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَٰتٍ فِي جَوِّ السَّمَآءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ٧٩

79. Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa yang luas? Tidak ada yang menahan mereka agar tidak jatuh saat terbang melainkan Alloh dengan kekuasaan-Nya. Sesungguhnya pada fenomena tersebut benar-benar terdapat tanda-tanda keagungan Alloh bagi kaum yang mau beriman.

Selain tanda kekuasaan di angkasa, Alloh juga menyediakan fasilitas di bumi berupa tempat tinggal yang nyaman bagi manusia.

﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُم مِّن جُلُودِ الْأَنْعَٰمِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَآ أَثَٰثًا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٍ ٨٠

80. Alloh menjadikan rumah-rumah kalian sebagai tempat tinggal yang memberikan ketenangan dan ketentraman bagi kalian. Dia juga menjadikan bagi kalian kemah-kemah dari kulit hewan ternak yang terasa ringan saat kalian membawanya dalam perjalanan dan mudah pula saat kalian mendirikannya untuk menetap. Dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing itu, Alloh jadikan perabotan rumah tangga dan perhiasan yang kalian gunakan sampai waktu tertentu.

Kelengkapan fasilitas hidup ini semakin sempurna dengan adanya perlindungan dari panas dan serangan musuh dalam peperangan.

﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّمَّا خَلَقَ ظِلَٰلًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَٰبِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ ٨١

81. Dan Alloh menjadikan tempat-tempat berteduh bagi kalian dari apa yang telah Dia ciptakan seperti pohon dan bangunan agar kalian terlindung dari terik matahari. Dia juga menjadikan tempat-tempat tinggal di gunung-gunung atau gua untuk kalian bernaung, serta menciptakan pakaian-pakaian yang melindungi kalian dari panas, juga baju-baju besi yang melindungi kalian dalam peperangan. Demikianlah Alloh menyempurnakan ni’mat-Nya kepada kalian agar kalian tunduk berserah diri kepada-Nya semata.

Namun jika setelah semua ni’mat ini mereka tetap berpaling, maka tugas Rosul hanyalah menyampaikan kebenaran tersebut.

﴿فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَٰغُ الْمُبِينُ ٨٢

82. Jika mereka tetap berpaling dari keimanan setelah penjelasan yang sangat nyata ini, maka sesungguhnya kewajibanmu wahai Muhammad hanyalah menyampaikan risalah dengan jelas, dan bukan memberikan hidayah kepada mereka.

Keberpalingan mereka itu sungguh aneh, karena mereka sebenarnya menyadari ni’mat Alloh namun secara lisan tetap mengingkarinya.

﴿يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَٰفِرُونَ ٨٣

83. Mereka sebenarnya mengetahui bahwa segala ni’mat itu berasal dari Alloh, namun kemudian mereka mengingkarinya dengan cara menyembah selain-Nya atau menyandarkan ni’mat tersebut kepada selain-Nya. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang sangat ingkar kepada kebenaran.

Akibat pengingkaran terhadap ni’mat ini, Alloh menggambarkan keadaan mereka di Hari Qiyamah saat setiap umat akan memiliki saksi masing-masing.

[16] Kesaksian Para Rosul dan Keadaan Orang Zholim di Hari Pembalasan

Rangkaian ayat ini membawa kita ke suasana Hari Qiyamah, di mana setiap umat akan didatangkan seorang saksi dari kalangan para Rosul mereka. Orang-orang yang berbuat zholim tidak akan diberi kesempatan untuk beralasan dan adzab mereka tidak akan diringankan. Di sana, akan terjadi dialog penuh kehinaan saat para penyembah berhala mencoba melemparkan kesalahan kepada sembahan mereka, namun berhala-berhala itu justru membantah mereka di hadapan Alloh .

﴿وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا ثُمَّ لَا يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ ٨٤

84. Ingatlah pada hari ketika Kami membangkitkan seorang saksi yaitu Rosul mereka dari setiap umat untuk memberikan kesaksian atas amal perbuatan mereka di dunia. Kemudian pada hari itu, orang-orang kafir tidak diizinkan untuk mengemukakan alasan-alasan palsu mereka, dan mereka pun tidak diberi kesempatan lagi untuk bertaubat demi mencari ridho Alloh.

Keputusasaan mereka semakin memuncak saat adzab yang mereka ingkari mulai nampak di depan mata.

﴿وَإِذَا رَءَا الَّذِينَ ظَلَمُوا الْعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ وَلَا هُمْ يُنظَرُونَ ٨٥

85. Apabila orang-orang yang berbuat zholim dengan kesyirikan itu telah melihat adzab Jahannam, maka adzab itu tidak akan diringankan sedikit pun dari mereka dan mereka tidak akan diberi penangguhan waktu walau sekejap.

Di tengah kengerian adzab tersebut, mereka akan melihat berhala-berhala yang dahulu mereka sembah, namun berhala itu justru berbalik menentang mereka.

﴿وَإِذَا رَءَا الَّذِينَ أَشْرَكُوا شُرَكَآءَهُمْ قَالُوا رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ شُرَكَآؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُوا مِن دُونِكَ ۖ فَأَلْقَوْا إِلَيْهِمُ الْقَوْلَ إِنَّكُمْ لَكَٰذِبُونَ ٨٦

86. Dan apabila orang-orang musyrik itu melihat berhala-berhala yang dahulu mereka sembah, mereka berkata: “Wahai Robb kami, inilah tandingan-tandingan yang dahulu kami sembah selain Engkau.” Namun berhala-berhala itu membantah perkataan mereka dengan mengatakan: “Sesungguhnya kalian benar-benar pendusta dalam pengakuan kalian bahwa kami memerintahkan kalian untuk menyembah kami.”

Bantahan dari sesembahan mereka memaksa orang-orang musyrik itu untuk menyerah sepenuhnya pada ketetapan Alloh.

﴿وَأَلْقَوْا إِلَى اللَّهِ يَوْمَئِذٍ السَّلَمَ ۖ وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ ٨٧

87. Pada hari itu, mereka semua menyerah dan tunduk kepada keputusan Alloh, dan segala kedustaan yang dahulu mereka ada-adakan di dunia tentang syafa’at berhala-berhala itu telah hilang lenyap dari mereka.

Bagi mereka yang tidak hanya sesat tetapi juga menyesatkan orang lain, Alloh menyiapkan tambahan siksaan yang berlipat ganda.

﴿الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَٰهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ ٨٨

88. Orang-orang yang kafir kepada Alloh dan menghalangi manusia dari jalan-Nya, Kami tambahkan kepada mereka adzab yang lain di atas adzab kekafiran mereka, disebabkan kerusakan yang senantiasa mereka lakukan di bumi dengan penyesatan.

Penegasan tentang kesaksian para Rosul diulangi kembali untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah saksi terakhir dan petunjuk bagi orang yang berserah diri.

﴿وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ ٨٩

89. Dan ingatlah pada hari ketika Kami membangkitkan dari setiap umat seorang saksi atas mereka dari kalangan mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau wahai Muhammad untuk menjadi saksi atas umatmu ini. Dan Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam urusan agama, sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus, sebagai rohmat, dan sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Alloh.

Setelah menjelaskan tentang kesempurnaan Al-Qur’an dalam menjelaskan segala hal, Alloh kemudian memerintahkan pokok-pokok keadilan dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.

[17] Perintah Berlaku Adil, Ihsan, dan Menepati Janji

Setelah Alloh memaparkan berbagai bukti kekuasaan-Nya di alam semesta, bagian ini merumuskan prinsip-prinsip moral utama yang menjadi pondasi kehidupan sosial dalam Islam. Alloh memerintahkan keadilan yang menyeluruh dan perbuatan baik yang melampaui batas kewajiban (ihsan), serta memperingatkan dengan sangat keras agar manusia tidak melanggar janji atau sumpah yang telah dikuatkan dengan nama-Nya. Janji bukan sekadar kesepakatan antarmanusia, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Qiyamah.

﴿۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ٩٠

90. Sesungguhnya Alloh memerintahkan kalian untuk berlaku adil dengan memberikan hak kepada setiap pemiliknya dan berbuat ihsan (kebaikan) dalam beribadah serta bermuamalah, dan memberikan bantuan kepada kerabat dekat. Dia juga melarang dari segala perbuatan keji (dosa besar yang nampak maupun tersembunyi), kemunkaran yang diingkari syari’at, serta kezholiman kepada manusia. Alloh memberikan pengajaran ini kepada kalian agar kalian selalu ingat dan mengambil pelajaran.

Setelah memerintahkan pokok-pokok akhlaq mulia tersebut, Alloh secara khusus menekankan pentingnya menjaga komitmen dan sumpah.

﴿وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَٰهَدتُّمْ وَلَا تَنقُضُوا الْأَيْمَٰنَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ ٩١

91. Dan tepatilah janji kalian kepada Alloh apabila kalian telah berjanji, dan janganlah kalian melanggar sumpah-sumpah itu setelah kalian menguatkannya dengan menyebut nama-Nya, padahal kalian telah menjadikan Alloh sebagai saksi dan penjamin atas sumpah kalian itu. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.

Alloh kemudian memberikan sebuah perumpamaan bagi orang yang merusak janjinya agar manusia merasa jijik terhadap perbuatan tersebut.

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَٰنكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِۦ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَٰمَةِ مَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ ٩٢

92. Janganlah kalian menjadi seperti seorang wanita yang mengurai kembali benang yang telah dipintalnya dengan kuat hingga menjadi cerai-berai kembali. Kalian menjadikan sumpah sebagai alat penipuan di antara kalian hanya karena ingin mencari keuntungan kelompok yang lebih banyak jumlahnya atau lebih kuat dari kelompok lain. Sesungguhnya Alloh hanya menguji kalian dengan perintah menepati janji itu, dan kelak pada Hari Qiyamah Dia benar-benar akan menjelaskan kepada kalian apa yang dahulu kalian perselisihkan.

Perbedaan manusia dalam menepati janji atau memilih jalan kebenaran berkaitan erat dengan kehendak Alloh dalam menguji hamba-Nya.

﴿وَلَوْ شَآءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِي مَن يَشَآءُ ۚ وَلَتُسْئَلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ٩٣

93. Dan seandainya Alloh menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat yang bersatu di atas keimanan, akan tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki karena pilihannya pada kesesatan, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki karena pilihannya pada kebenaran. Dan sungguh kalian benar-benar akan ditanya tentang apa yang telah kalian kerjakan di dunia.

Peringatan kembali ditegaskan agar sumpah tidak disalahgunakan untuk menghalangi orang lain dari kebenaran Islam.

﴿وَلَا تَتَّخِذُوٓا أَيْمَٰنَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ فَتَزلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا السُّوٓءَ بِمَا صَدَدتُّمْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٩٤

94. Janganlah kalian menjadikan sumpah-sumpah kalian sebagai alat penipuan di antara kalian yang menyebabkan kaki kalian tergelincir dari jalan Islam setelah sebelumnya teguh berdiri, dan kalian akan merasakan keburukan berupa adzab di dunia karena kalian telah menghalangi manusia dari jalan Alloh, serta bagi kalian adzab yang besar di Akhiroh.

Godaan duniawi seringkali menjadi alasan manusia melanggar janji, sehingga Alloh melarang menukar janji-Nya dengan keuntungan materi sesaat.

﴿وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ إِنَّمَا عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ٩٥

95. Janganlah kalian menukar janji kalian kepada Alloh dengan harga yang murah berupa materi duniawi. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Alloh berupa pahala dan kebaikan itu jauh lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui hakikat kebenaran.

Perbandingan antara kenikmatan dunia yang fana dan pahala Alloh yang abadi menjadi penguat bagi orang-orang Mu’min untuk tetap istiqomah.

﴿مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوٓا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ٩٦

96. Apa yang ada di sisi kalian berupa kenikmatan dunia pasti akan lenyap dan habis, sedangkan apa yang ada di sisi Alloh berupa pahala dan simpanan amalan akan tetap kekal selamanya. Dan sungguh Kami benar-benar akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersabar dalam menjalankan ketaatan dengan pahala yang jauh lebih baik dari amal yang telah mereka kerjakan.

Kesabaran dalam beramal sholih ini akan membuahkan kehidupan yang sejahtera bagi siapa pun tanpa memandang jenis kelamin.

﴿مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَٰوةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ٩٧

97. Siapa mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman kepada Alloh, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan penuh ketenangan di dunia, dan pasti akan Kami berikan balasan pahala kepada mereka di Akhiroh dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Salah satu amal sholih yang sangat agung adalah membaca Al-Qur’an, namun hal itu harus diawali dengan adab meminta perlindungan dari gangguan syaithon.

[18] Adab Membaca Al-Qur’an dan Bantahan terhadap Tuduhan Kafir

Bagian ini menjelaskan pentingnya beristi’adzah (meminta perlindungan) saat hendak membaca Al-Qur’an agar hati terhindar dari was-was syaithon. Alloh menegaskan bahwa syaithon tidak memiliki kuasa atas orang-orang beriman yang bertawakkal. Selanjutnya, ayat-ayat ini membantah tuduhan orang musyrik yang menyebut Nabi sebagai pendusta saat terjadi perubahan hukum (nakhs), serta membantah klaim bahwa Al-Qur’an adalah ajaran manusia biasa.

﴿فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَٰنِ الرَّجِيمِ ٩٨

98. Apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Alloh dari godaan syaithon yang terkutuk agar ia tidak membisikkan keraguan ke dalam hatimu.

Perintah meminta perlindungan ini didasari oleh kenyataan bahwa syaithon tidak memiliki kendali sejati atas hati orang-orang yang berserah diri kepada Robb mereka.

﴿إِنَّهُۥ لَيْسَ لَهُۥ سُلْطَٰنٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ٩٩

99. Sesungguhnya syaithon itu tidak mempunyai kekuatan untuk menyesatkan hati orang-orang yang beriman dan hanya kepada Robb mereka sajalah mereka menyandarkan segala urusan mereka.

Sebaliknya, pengaruh syaithon hanya berlaku bagi mereka yang secara sukarela mengikuti langkah-langkahnya.

﴿إِنَّمَا سُلْطَٰنُهُۥ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُۥ وَالَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشْرِكُونَ ١٠٠

100. Kekuasaan syaithon hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dengan menaati ajakannya, dan orang-orang yang menyekutukan Alloh disebabkan bisikannya.

Salah satu bentuk penyesatan yang dilakukan musuh-musuh Islam adalah meragukan kebenaran wahyu saat terjadi penghapusan hukum tertentu.

﴿وَإِذَا بَدَّلْنَآ ءَايَةً مَّكَانَ ءَايَةٍ ۙ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوٓا إِنَّمَآ أَنتَ مُفْتَرٍ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ١٠١

101. Apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain sebagai bentuk nakhs (menghapus hukum dengan hukum baru), padahal Alloh lebih mengetahui apa yang Dia turunkan sesuai kemaslahatan hamba-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu wahai Muhammad hanyalah orang yang mengada-ada saja.” Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui hikmah di balik pengaturan syari’at.

Untuk membantah tuduhan tersebut, Alloh menegaskan asal-usul Al-Qur’an yang murni dibawa oleh Malaikat Jibril.

﴿قُلْ نَزَّلَهُۥ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ ١٠٢

102. Katakanlah wahai Muhammad: “Al-Qur’an itu diturunkan oleh Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) dari Robb-mu dengan membawa kebenaran yang mutlak, tujuannya adalah untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, serta sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

Tuduhan lain muncul dari orang kafir yang mengklaim bahwa Nabi belajar dari seorang manusia, yang kemudian dipatahkan dengan hujah logis tentang bahasa.

﴿وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُۥ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ ١٠٣

103. Sungguh Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Muhammad itu diajar oleh seorang manusia.” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan itu adalah bahasa asing yang tidak fasih, sedangkan Al-Qur’an ini menggunakan bahasa Arob yang sangat jelas, indah, lagi menakjubkan.

Ketegaran mereka dalam kekafiran inilah yang menghalangi mereka dari cahaya hidayah.

﴿إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ اللَّهِ لَا يَهْدِيهِمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ١٠٤

104. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh, maka Alloh tidak akan memberi mereka petunjuk menuju jalan keselamatan, dan bagi mereka disediakan adzab yang sangat pedih di Akhiroh.

Justru orang-orang yang tidak beriman itulah yang sebenarnya melakukan kedustaan besar terhadap Alloh .

﴿إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِئَايَٰتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰٓئِكَ هُمُ الْكَٰذِبُونَ ١٠٥

105. Sesungguhnya yang mengada-adakan kedustaan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh, dan merekalah orang-orang yang benar-benar pendusta dalam ucapan mereka.

Setelah menjelaskan tentang kedustaan orang kafir, ayat berikutnya memberikan pengecualian bagi orang beriman yang dipaksa mengucapkan kekafiran dalam keadaan terancam nyawanya.

[19] Keadaan Orang yang Kufur Setelah Beriman

Bagian ini menjelaskan konsekuensi berat bagi orang yang murtad setelah sebelumnya beriman. Namun, Alloh memberikan keringanan bagi mereka yang dipaksa mengucapkan kalimat kekafiran dalam keadaan terancam nyawanya, sementara hatinya tetap teguh dalam keimanan. Adapun mereka yang murtad karena lebih mencintai dunia dan dengan sadar membuka hatinya bagi kekafiran, maka mereka akan ditutup hatinya dan mendapatkan murka yang besar dari Alloh .

﴿مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَٰنِهِۦ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُۥ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَٰنِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ١٠٦

106. Siapa yang kafir kepada Alloh setelah dia beriman, maka dia akan mendapat adzab, kecuali orang yang dipaksa melakukan kekafiran padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan. Akan tetapi orang yang dengan senang hati menerima kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpa mereka dan bagi mereka adzab yang sangat besar.

Penyebab utama mereka memilih kekafiran tersebut adalah karena mereka lebih mementingkan kesenangan sesaat di dunia.

﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَٰوةَ الدُّنْيَا عَلَى الْءَاخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَٰفِرِينَ ١٠٧

107. Hal itu disebabkan karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan Akhiroh, dan sesungguhnya Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang memilih jalan kafir.

Akibat dari pilihan mereka sendiri, Alloh memberikan hukuman berupa penutupan sarana hidayah dalam diri mereka.

﴿أُولَٰٓئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَٰرِهِمْ ۖ وَأُولَٰٓئِكَ هُمُ الْغَٰفِلُونَ ١٠٨

108. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Alloh, sehingga mereka tidak bisa lagi mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya. Dan mereka itulah orang-orang yang benar-benar lalai dari apa yang telah disiapkan untuk mereka berupa adzab.

Ketidakpedulian mereka di dunia akan berujung pada kerugian yang mutlak di Akhiroh kelak.

﴿لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الْءَاخِرَةِ هُمُ الْخَٰسِرُونَ ١٠٩

109. Sudah pasti bahwa sesungguhnya mereka di Akhiroh nanti adalah orang-orang yang paling merugi karena telah menukar Jannah yang kekal dengan Naar.

Berbeda dengan orang-orang merugi tersebut, Alloh kemudian menjanjikan ampunan bagi mereka yang berjuang menempuh jalan hijroh dan jihad.

[20] Keutamaan Hijroh dan Keadilan di Hari Pembalasan

Kelompok ayat ini memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang lemah namun tetap berjuang mempertahankan iman mereka. Mereka adalah orang-orang yang rela meninggalkan kampung halaman (hijroh) setelah mengalami penyiksaan dan ujian yang berat, kemudian terus bersabar dan berjuang di jalan Alloh . Ayat-ayat ini juga menegaskan bahwa setiap manusia akan dibalas sesuai dengan apa yang ia usahakan sendiri tanpa ada yang dizholimi sedikit pun, yakni dosa tidak dilipatkan dan pahala tidak dikurangi.

﴿ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَٰهَدُوا وَصَبَرُوٓا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ١١٠

110. Kemudian sesungguhnya Robb-mu benar-benar memberikan ampunan dan rohmat-Nya kepada orang-orang yang berhijroh setelah mereka mendapatkan fitnah (siksaan) karena mempertahankan iman, kemudian mereka berjihad di jalan Alloh dan bersabar atas segala kesulitan. Sesungguhnya Robb-mu setelah semua perjuangan itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Ampunan tersebut akan sangat terasa manfaatnya pada hari ketika setiap manusia hanya memikirkan keselamatannya sendiri.

﴿يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَٰدِلُ عَن نَّفْسِهَا وَتُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ١١١

111. Ingatlah pada hari ketika setiap orang datang untuk membela dirinya sendiri dengan berbagai alasan, dan setiap orang diberi balasan yang sempurna atas apa yang telah dikerjakannya, dan mereka sedikit pun tidak akan dizholimi dengan dikurangi pahalanya atau ditambah dosanya.

Untuk memberikan peringatan bagi manusia agar tidak kufur, Alloh memaparkan perumpamaan sebuah negeri yang hancur karena mengingkari ni’mat.

[21] Perumpamaan Negeri yang Mengingkari ni’mat

Alloh membuat sebuah tamsil atau perumpamaan tentang suatu negeri yang pada awalnya hidup dalam keadaan aman, tentram, dan berkelimpahan rizqi dari segala arah. Namun, penduduknya kemudian mengingkari ni’mat-ni’mat Alloh tersebut. Akibatnya, Alloh menimpakan kepada mereka bencana berupa kelaparan dan ketakutan yang mencekam sebagai balasan atas perbuatan mereka. Ini adalah peringatan bagi setiap kaum agar senantiasa mensyukuri karunia-Nya.

﴿وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَٰقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ١١٢

112. Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan tentang sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizqinya datang melimpah ruah dari segala tempat; akan tetapi penduduk negeri itu mengingkari ni’mat-ni’mat Alloh, maka Alloh menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan yang meliputi mereka, disebabkan oleh apa yang selalu mereka perbuat.

Kehancuran mereka juga disebabkan karena mereka mendustakan Rosul yang diutus langsung dari kalangan mereka sendiri.

﴿وَلَقَدْ جَآءَهُمْ رَسُولٌ مِّنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَٰلِمُونَ ١١٣

113. Dan sungguh telah datang kepada mereka seorang Rosul dari kalangan mereka sendiri yang mereka kenal kejujurannya, namun mereka mendustakannya; karena itu mereka ditimpa adzab saat mereka sedang dalam keadaan menzholimi diri sendiri dengan kesyirikan.

Agar terhindar dari adzab dan termasuk orang yang bersyukur, Alloh memerintahkan manusia untuk memakan rizqi yang halal dan thoyyib.

[22] Halal dan Harom dalam Makanan

Ayat-ayat ini berisi panduan praktis mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh manusia. Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk menikmati rizqi yang halal lagi baik serta bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, Alloh menegaskan keharoman bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain-Nya. Bagian ini juga membantah tuduhan orang Yahudi mengenai apa yang dilarang bagi mereka, sekaligus memperingatkan agar manusia tidak lancang menghalalkan atau mengharomkan sesuatu tanpa dalil dari Alloh .

﴿فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ١١٤

114. Maka makanlah makanan yang halal lagi baik dari rizqi yang telah diberikan Alloh kepada kalian; dan syukurilah ni’mat Alloh yang sangat banyak itu jika kalian memang hanya menyembah kepada-Nya semata.

Meskipun rizqi di bumi sangat banyak, ada beberapa hal tertentu yang secara khusus dilarang oleh Alloh demi kemaslahatan hamba-Nya.

﴿إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِۦ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ١١٥

115. Sesungguhnya Alloh hanya mengharomkan atas kalian bangkai, darah yang mengalir (dideh), daging babi, dan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Alloh. Akan tetapi siapa dalam keadaan terpaksa memakannya karena sangat lapar sementara ia tidak sengaja mencari-carinya dan tidak pula melampaui batas kebutuhan, maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepadanya.

Larangan ini sangat jelas, sehingga manusia dilarang keras membuat-buat hukum sendiri tentang kehalalan atau keharoman sesuatu.

﴿وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ ١١٦

116. Janganlah kalian mengucapkan kedustaan yang keluar dari lisan kalian dengan mengatakan: “Ini halal dan ini harom”, dengan maksud untuk mengada-adakan kedustaan atas nama Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Alloh tidak akan pernah mendapatkan keberuntungan, baik di dunia maupun di Akhiroh.

Keuntungan yang mereka dapatkan dari kedustaan tersebut hanyalah sedikit dan akan berakhir dengan penderitaan.

﴿مَتَٰعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ١١٧

117. Itu hanyalah kesenangan yang sedikit di dunia ini, sedangkan bagi mereka di Akhiroh disediakan adzab yang sangat pedih.

Adapun mengenai larangan-larangan makanan yang lebih banyak pada orang Yahudi, hal itu merupakan hukuman khusus atas kezholiman mereka sendiri.

﴿وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا مَا قَصَصْنَا عَلَيْكَ مِن قَبْلُ ۖ وَمَا ظَلَمْنَٰهُمْ وَلَٰكِن كَانُوٓا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ ١١٨

118. Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami telah haromkan apa-apa yang telah Kami ceritakan kepadamu sebelumnya. Kami tidak menzholimi mereka dengan pengharoman tersebut, akan tetapi merekalah yang telah menzholimi diri mereka sendiri dengan melanggar hukum-hukum Alloh.

Namun bagi mereka yang telah terlanjur melakukan kesalahan dan ingin kembali, Alloh senantiasa membuka pintu taubat.

[23] Luasnya Ampunan Alloh bagi Orang yang Bertaubat

Setelah Alloh menjelaskan tentang hukuman bagi orang-orang Yahudi dan larangan mengada-adakan kedustaan, ayat ini memberikan oase harapan bagi siapa saja yang terlanjur melakukan kemaksiatan. Alloh menegaskan bahwa pintu ampunan-Nya senantiasa terbuka bagi mereka yang melakukan keburukan karena kebodohan atau dorongan hawa nafsu, selama mereka segera bertaubat dan memperbaiki diri. Ini menunjukkan bahwa rohmat Alloh mendahului kemurkaan-Nya bagi hamba yang tulus kembali kepada-Nya.

﴿ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوٓا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ١١٩

119. Kemudian sesungguhnya Robb-mu bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan karena kebodohan (yaitu melakukan dosa karena menuruti hawa nafsu tanpa memikirkan akibatnya), lalu mereka bertaubat setelah itu dengan menyesali perbuatannya dan memperbaiki amal mereka; sesungguhnya Robb-mu setelah taubat dan perbaikan tersebut benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Setelah menjelaskan luasnya pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya, Alloh kemudian menampilkan sosok teladan yang paling sempurna dalam ketauhidan dan syukur, yaitu Nabi Ibrohim.

[24] Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam sebagai Teladan Ketauhidan dan Syukur

Kelompok ayat ini memaparkan kemuliaan Nabi Ibrohim sebagai pemimpin yang mengumpulkan segala sifat kebaikan dalam dirinya. Beliau digambarkan sebagai sosok yang sangat patuh, teguh di atas jalan yang lurus (Hanif), dan sangat jauh dari kesyirikan. Alloh menegaskan bahwa segala ni’mat yang beliau peroleh di dunia dan Akhiroh adalah buah dari kesyukuran dan ketaatannya, sehingga jalannya menjadi uswah (teladan) yang wajib diikuti oleh umat Nabi Muhammad .

﴿إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ١٢٠

120. Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang menjadi teladan dalam segala kebaikan, senantiasa patuh dan taat kepada Alloh, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesesatan, dan dia sekali-kali tidak pernah termasuk orang-orang musyrik yang menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun.

Ketaatan Ibrohim tersebut lahir dari kesadaran yang mendalam untuk selalu mensyukuri setiap karunia yang diberikan oleh Robb-nya.

﴿شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ ١٢١

121. Ibrohim adalah sosok yang senantiasa bersyukur atas ni’mat-ni’mat Alloh yang dianugerahkan kepadanya. Karena itulah Alloh memilihnya menjadi Rosul-Nya dan memberinya petunjuk menuju jalan yang lurus (agama Islam).

Sebagai balasan atas syukur dan ketaatannya yang luar biasa, Alloh memberikan kemuliaan kepadanya di dua negeri.

﴿وَءَاتَيْنَٰهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِي الْءَاخِرَةِ لَمِنَ الصَّٰلِحِينَ ١٢٢

122. Dan Kami telah memberikan kepadanya kebaikan di dunia berupa pujian yang baik, keturunan yang sholih, dan keluasan rizqi; dan sesungguhnya di Akhiroh nanti dia benar-benar termasuk orang-orang sholih yang mendapatkan kedudukan paling tinggi di Jannah.

Karena tingginya kedudukan Ibrohim di sisi Alloh , maka ajaran ketauhidan beliau diperintahkan untuk diikuti oleh Rosul terakhir.

﴿ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ١٢٣

123. Kemudian Kami wahyukan kepadamu wahai Muhammad: “Ikutilah agama Ibrohim yang condong kepada kebenaran itu, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh.”

Setelah memerintahkan untuk mengikuti agama Ibrohim yang murni, Alloh menjelaskan tentang hukum khusus Sabat yang menjadi pembeda bagi umat yang berselisih.

[25] Ketentuan Hari Sabat dan Metode Da’wah yang Bijak

Bagian ini menjelaskan bahwa pengagungan hari Sabtu (Sabat) bukanlah ajaran asli Nabi Ibrohim, melainkan syari’at yang dikhususkan bagi orang-orang Yahudi yang berselisih tentangnya. Setelah itu, fokus beralih pada instruksi da’wah bagi Nabi Muhammad dan umatnya. Alloh memberikan panduan metodologis dalam mengajak manusia ke jalan kebenaran melalui tiga cara: hikmah, nasihat yang menyentuh hati, dan diskusi yang sehat, sebagai bentuk rohmat dalam penyampaian risalah.

﴿إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ١٢٤

124. Sesungguhnya pengagungan hari Sabtu itu hanya diwajibkan atas orang-orang Yahudi yang berselisih tentangnya (setelah mereka menolak hari Jum’at). Dan sesungguhnya Robb-mu benar-benar akan memberikan keputusan di antara mereka pada Hari Qiyamah mengenai apa yang dahulu selalu mereka perselisihkan.

Agar perselisihan-perselisihan tersebut dapat diluruskan, Alloh memberikan panduan tentang cara terbaik dalam berda’wah mengajak manusia kembali kepada-Nya.

﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ١٢٥

125. Serulah manusia kepada jalan Robb-mu dengan hikmah (perkataan yang tepat, tegas, dan benar) serta pelajaran yang baik yang menyentuh jiwa, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik. Sesungguhnya Robb-mu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Dalam menjalankan da’wah, terkadang muncul penentangan atau gangguan dari orang lain, sehingga ayat berikutnya memberikan batasan dalam memberikan balasan.

[26] Keadilan dalam Membalas, Keutamaan Sabar, dan Penutup Surat

Penutup Surat An-Nahl ini berisi pedoman akhlaq yang sangat tinggi dalam menghadapi kezholiman. Alloh mengizinkan pembalasan yang setimpal demi tegaknya keadilan, namun Dia menegaskan bahwa bersabar adalah pilihan yang jauh lebih mulia dan lebih baik di sisi-Nya. Ayat-ayat terakhir ini juga menguatkan hati Nabi agar tidak berduka atas makar orang-orang kafir, karena perlindungan dan pertolongan Alloh senantiasa menyertai mereka yang bertaqwa dan senantiasa berbuat ihsan.

﴿وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّٰبِرِينَ ١٢٦

126. Dan jika kalian memberikan balasan atas suatu kezholiman, maka balaslah dengan siksaan yang serupa dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian, jangan melampaui batas. Akan tetapi jika kalian bersabar dengan tidak membalas, niscaya kesabaran itu benar-benar lebih baik bagi orang-orang yang bersabar.

Sifat sabar ini merupakan perintah langsung dari Alloh yang harus diamalkan meski dalam keadaan yang sangat berat.

﴿وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ ١٢٧

127. Bersabarlah wahai Muhammad, dan kesabaranmu itu tidak akan terlaksana melainkan dengan pertolongan Alloh. Janganlah kamu bersedih hati terhadap penolakan mereka, dan janganlah dadamu merasa sempit karena tipu daya yang mereka rencanakan untuk menghalangi da’wahmu.

Kepastian pertolongan Alloh dijamin bagi siapa saja yang menghiasi dirinya dengan dua sifat utama sebagai penutup surat yang agung ini.

﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ ١٢٨

128. Sesungguhnya Alloh senantiasa bersama orang-orang yang bertaqwa dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta Dia bersama orang-orang yang senantiasa berbuat ihsan (kebaikan) dalam menjalankan ibadah kepada Alloh dan bermuamalah kepada sesama makhluk.[NK]

 

 

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url