[PDF] Ketika Hijroh Hanya Penampilan, Menjauh dari Warisan Kenabian - Nor Kandir
MUQODDIMAH
﷽
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam yang memberikan
hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dengan rohmat-Nya yang luas dan kasih
sayang-Nya yang tak terbatas.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ, sang pembawa risalah, yang telah menuntun umat dari gelapnya
kebodohan menuju cahaya ilmu yang cerah dan jelas.
Amma ba’du:
Pernahkah terbersit di dalam benak kita, saat kaki mulai
melangkah meninggalkan masa lalu yang kelam, ke mana sebenarnya tujuan akhir
dari perjalanan yang kita sebut sebagai Hijroh ini? Apakah Hijroh hanya sekadar
berpindah dari satu gaya hidup ke gaya hidup yang lain, ataukah ia adalah
sebuah pendakian menuju puncak kesempurnaan iman yang menuntut pengorbanan
batin? Sungguh, banyak di antara kita yang merasa telah sampai ke garis finish
hanya karena telah mengubah penampilan luar. Kita merasa telah menjadi hamba
yang dicintai-Nya hanya karena helai rambut di dagu telah dibiarkan memanjang,
atau karena kain di atas mata kaki telah terangkat tinggi, atau karena wajah
telah tertutup rapat di balik cadar yang rapi. Namun, adakah kita sadar bahwa
semua itu barulah kulit luarnya saja?
Buku ini hadir bukan untuk meremehkan Sunnah yang mulia
tersebut, karena jenggot, cingkrang, dan cadar adalah bagian dari syariat yang
kita cintai. Namun, buku ini ingin mengajak kita semua untuk bertanya dengan
jujur: di manakah ilmu yang seharusnya menjadi ruh bagi setiap amal? Mengapa
semakin kita merasa “nyunnah” secara fisik, lisan kita justru semakin
tajam menyakiti sesama? Mengapa tangan kita lebih ringan untuk mengetik hujatan
di media sosial daripada untuk bersedekah secara sembunyi? Mengapa kita begitu
berani mengkritik para ahli ilmu, bahkan ustadz yang telah mengajarkan kita
satu atau dua huruf agama, hanya karena mereka tidak sependapat dengan
pemikiran kita yang masih prematur?
Mari kita menyelami kembali warisan kenabian yang
sesungguhnya. Warisan itu bukanlah tumpukan harta, melainkan ilmu yang membuahkan
adab dan akhlaq. Kita akan melihat bagaimana Alloh berfirman dalam Kitab-Nya
yang mulia:
﴿وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرَٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ ٱلْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾
“Dan siapa yang berhijroh di jalan Alloh, niscaya mereka
akan mendapatkan di bumi ini tempat Hijroh yang luas dan rejeki yang banyak.
Dan siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijroh kepada Alloh dan
Rosul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat tujuan), maka
sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Alloh. Dan Alloh Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)
Perhatikanlah, Hijroh itu ditujukan kepada Alloh dan
Rosul-Nya. Dan bagaimana mungkin kita bisa menuju kepada-Nya jika kita enggan
mempelajari apa yang Dia sukai dan apa yang Dia benci? Bagaimana mungkin kita
mengikuti Rosul-Nya jika kita hanya mengambil cara berpakaiannya namun membuang
kelembutan akhlaqnya?
Mari kita mulai perjalanan ini dengan hati yang lapang, siap
ditegur oleh dalil, dan siap diperbaiki oleh wahyu. Karena Hijroh tanpa ilmu
adalah pengembaraan yang buta, dan penampilan tanpa adab adalah hiasan yang
hampa.
BAB 1: HIJROH SEBATAS GANTI
KOSTUM?
1.1
Hanya Pindah Tempat atau Pindah Hati?
Dunia ini sering kali menipu pandangan, membuat kita terpana
pada apa yang nampak di depan. Kita sering merasa sudah menjadi Mu’min yang
kuat, padahal hati masih dipenuhi dengan penyakit yang berkarat. Apakah Hijroh
itu hanya sekadar meninggalkan tempat yang maksiat, ataukah ia adalah
perjuangan jiwa agar tidak tersesat? Mari kita renungkan sabda Sang Nabi ﷺ yang menjadi pondasi setiap niat dan amal:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ،
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا
أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»
“Sungguh setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan
setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang
Hijrohnya karena Alloh dan Rosul-Nya, maka Hijrohnya itu menuju Alloh dan
Rosul-Nya. Dan siapa yang Hijrohnya karena dunia yang ingin dia dapatkan atau
karena wanita yang ingin dia nikahi, maka Hijrohnya itu menuju kepada apa yang
dia tujukan dalam Hijrohnya tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim
no. 1907)
Hadits ini adalah cermin yang sangat jernih bagi kita yang
baru saja memulai langkah baru. Kita harus bertanya: “Untuk siapakah aku
memanjangkan jenggot ini? Untuk siapakah aku mengenakan kain yang lebar ini?”
Jika tujuannya hanya agar diterima di lingkungan pergaulan yang baru, atau agar
dianggap lebih bertaqwa oleh manusia, maka sungguh kita belum berhijroh kepada
Alloh. Kita barulah berpindah dari satu jenis panggung ke panggung yang
lainnya.
Hijroh yang hakiki adalah perpindahan dari benci menjadi
cinta kepada ketaatan, dari sombong menjadi tunduk di hadapan kebenaran. Alloh
berfirman:
﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ
ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِين﴾
“Maka berlarilah kalian menuju Alloh. Sungguh aku adalah
pemberi peringatan yang nyata dari-Nya untuk kalian.” (QS. Adz-Dzariyat:
50)
Berlari menuju Alloh artinya meninggalkan segala sesuatu
yang menjauhkan kita dari-Nya. Ini bukan soal jarak geografis, tapi soal jarak
antara hati kita dengan hidayah-Nya. Sering kali kita merasa sudah jauh
meninggalkan masa lalu, namun sifat-sifat jahiliyah masih melekat kuat di dalam
kalbu. Kita masih gemar pamer, masih suka dipuji, dan masih haus akan
pengakuan. Di sinilah letak bahayanya jika Hijroh hanya dimaknai sebagai
perubahan lahiriah.
Rosululloh ﷺ juga menjelaskan
makna Hijroh dalam lingkup yang lebih luas bagi mereka yang tidak melakukan
perpindahan fisik:
«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ
الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ
عَنْهُ»
“Seorang Muslim sejati adalah dia yang orang-orang Muslim
lainnya merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang Muhajir
(orang yang berhijroh) adalah dia yang meninggalkan apa yang dilarang oleh
Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 10 dan Muslim no. 40)
Coba perhatikan baik-baik Hadits di atas. Definisi orang
yang berhijroh adalah meninggalkan larangan Alloh. Apakah kita sudah
benar-benar meninggalkan larangan-Nya? Ataukah kita hanya mengganti jenis dosa
kita? Dulu mungkin kita bermaksiat dengan musik dan hiburan malam, sekarang
mungkin kita bermaksiat dengan lisan yang tajam menghujat sesama Muslim di
grup-grup WhatsApp atas nama “pembelaan terhadap Sunnah”. Jika demikian,
benarkah kita sudah disebut sebagai orang yang berhijroh?
1.2
Ketika Jenggot, Cingkrang, dan Cadar Menjadi Standar Tunggal Kesolihan
Fenomena hari ini menunjukkan betapa mudahnya kita terjebak
dalam penghakiman visual. Kita melihat seseorang dengan jenggot lebat dan
pakaian cingkrang, langsung kita sematkan gelar “Ahlul Jannah”. Sebaliknya,
jika melihat saudara kita yang masih awam dan pakaiannya belum sesuai kriteria
fisik kita, kita memandangnya dengan sebelah mata seolah-olah dia adalah
penghuni Naar yang nyata. Apakah ketaqwaan itu sesempit ukuran kain atau
panjangnya rambut di dagu kita?
Sungguh, Rosululloh ﷺ
telah mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh casing yang indah namun
isinya rapuh. Beliau ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ
إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»
“Sungguh Alloh tidak melihat kepada rupa kalian dan harta
kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal kalian.” (HR.
Muslim no. 2564)
Hadits ini bukan berarti kita boleh meremehkan penampilan
yang disunnahkan, namun Hadits ini adalah pengingat agar kita tidak menjadikan
penampilan sebagai satu-satunya tolak ukur kesolihan. Jenggot adalah Sunnah,
cingkrang adalah bentuk ketaatan agar tidak sombong, dan cadar adalah kemuliaan
bagi wanita. Namun, jika semua itu justru melahirkan kesombongan baru di dalam
hati, maka ketaatan itu telah diracuni oleh iblis.
Lihatlah peringatan Alloh tentang orang-orang yang hanya
mengandalkan penampilan namun hatinya kosong dari keimanan yang benar:
﴿وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ
أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ﴾
“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka
menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan
mereka. Mereka seakan-akan adalah kayu yang tersandar.” (QS.
Al-Munafiqun: 4)
Betapa ngerinya jika kita termasuk dalam golongan yang
dipuji manusia karena penampilan kita yang Islami, namun di mata Alloh kita
hanyalah “kayu yang tersandar”—mati, tidak bernyawa, dan tidak
memberikan manfaat. Keindahan fisik tanpa dibarengi dengan keindahan batin
adalah sebuah penipuan terhadap diri sendiri.
Kita harus sadar bahwa setiap ketaatan lahiriah harus
diimbangi dengan ketaatan batiniah. Jangan sampai kita sibuk mengurus panjang
pendeknya pakaian, tapi kita lupa mengurus panjang pendeknya lisan. Jangan
sampai kita sibuk menutupi wajah dengan cadar, tapi kita lupa menutupi aib
saudara kita sendiri. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا
سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ»
“Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Alloh akan
menutupi aibnya di dunia dan di Akhiroh.” (HR. Muslim no. 2699)
Apakah kita sudah melakukan ini? Ataukah setelah Hijroh,
hobi kita justru mencari-cari kesalahan orang lain untuk kita jadikan bahan
perdebatan? Jika itu yang terjadi, maka Hijroh kita barulah sebatas ganti
kostum, belum menyentuh relung jantung.
1.3
Fenomena “Artis Hijroh” dan Pengaruhnya terhadap Gaya Hidup Baru yang Instan
Kita hidup di zaman yang serba cepat, di mana popularitas
bisa didapat hanya dengan satu kali klik. Begitu pula dengan fenomena Hijroh.
Banyak publik figur yang memutuskan untuk kembali ke jalan agama, dan tentu
kita bersyukur akan hal itu. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika massa
atau pengikutnya menganggap bahwa perubahan penampilan mereka adalah puncak
dari segalanya. Kita melihat Hijroh sebagai sebuah tren, sebuah “lifestyle”
baru yang harus diikuti agar tetap terlihat kekinian namun tetap agamis.
Padahal, ilmu agama bukanlah sesuatu yang bisa didapat
secara instan layaknya mie dalam kemasan. Ia menuntut kesabaran, duduk di
majelis ilmu, dan menundukkan ego di hadapan para Ulama. Alloh berfirman:
﴿فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan
(ulama) jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Sayangnya, banyak di antara kita yang setelah “berhijroh”
justru lebih suka mengikuti gaya hidup artis tersebut daripada mengikuti
bimbingan para Ulama. Kita lebih suka menonton potongan video durasi pendek
yang hanya berisi motivasi tanpa dalil yang mendalam, daripada membaca
kitab-kitab induk para Salaf. Akibatnya, pemahaman agama kita menjadi sangat
dangkal. Kita merasa sudah tahu segalanya, padahal kita baru menyentuh
permukaannya.
Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai “Hijroh
Instan”. Baru belajar kemarin sore, sudah berani memfatwakan harom dan
halal. Baru belajar satu dua Hadits, sudah berani membid’ah-bid’ahkan masalah
khilafiyah yang masyhur di kitab-kitab fiqih. Bukankah Rosululloh ﷺ telah memperingatkan tentang munculnya orang-orang yang bodoh
namun dijadikan pemimpin dalam urusan agama?
«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ
العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ
العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا،
فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»
“Sungguh Alloh tidak mencabut ilmu dengan cara
mencabutnya dari dada manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan
para Ulama. Sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang pun yang alim, manusia
pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu memberikan
fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori
no. 100 dan Muslim no. 2673)
Hijroh yang benar bukan tentang seberapa cepat kita berganti
gaya, tapi seberapa sabar kita menimba ilmu yang shohih. Jika kita hanya
mengejar tren, maka ketika tren itu berganti, bisa jadi iman kita ikut pergi.
Kita harus memiliki akar yang kuat di dalam ilmu, agar tidak mudah
terombang-ambing oleh ombak opini.
1.4 Apakah Rosululloh ﷺ
Hanya Mengajarkan Cara Berpakaian?
Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar: Untuk apa Nabi kita ﷺ diutus? Apakah beliau diutus hanya untuk memberitahu kita model
pakaian atau panjang jenggot? Tentu saja tidak. Beliau ﷺ
diutus untuk menyempurnakan sesuatu yang jauh lebih agung dari sekadar urusan
lahiriah. Beliau ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ
صَالِحَ الأَخْلاقِ»
“Sungguh aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq
yang baik.” (HSR.
Ahmad no. 8952)
Perhatikan kata “Innama” (hanyalah) di sana. Ini
menunjukkan betapa krusialnya masalah akhlaq dalam misi kenabian. Jika kita
mengaku telah berhijroh mengikuti Sunnah beliau, namun akhlaq kita masih buruk
kepada orang tua, kasar kepada istri, zholim kepada tetangga, dan angkuh kepada
sesama Muslim, maka kita sebenarnya belum benar-benar mengikuti beliau. Kita
baru mengambil secuil dari ajarannya dan membuang bagian yang paling utamanya.
Alloh berfirman memuji akhlaq Rosul-Nya:
﴿وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ
عَظِيمٍ﴾
“Dan sungguh kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qolam: 4)
Apakah kita sudah berusaha meneladani keagungan akhlaq
tersebut? Ataukah setelah Hijroh, wajah kita justru semakin cemberut dan sulit
untuk menebar senyum? Padahal Nabi ﷺ bersabda:
«تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ
أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»
“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.”
(HSR.
At-Tirmidzi no. 1956)
Berapa banyak dari kita yang setelah mengenal da’wah ini
justru menjadi orang yang paling pelit dengan senyuman kepada orang-orang di
luar lingkaran pengajian kita? Seolah-olah mereka tidak pantas mendapatkan
keramahan kita karena mereka belum “nyunnah”. Ini adalah sebuah musibah
besar dalam beragama. Kita membangun benteng kesombongan di atas pondasi
penampilan.
Ingatlah, iman itu bukan sekadar angan-angan atau
penampilan, tapi apa yang menghujam di dalam hati dan dibuktikan dengan amal
perbuatan. Amal perbuatan yang paling berat timbangannya di Akhiroh bukanlah
panjangnya jenggot atau lebar cadar, melainkan akhlaq yang mulia. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي
مِيزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ
الفَاحِشَ البَذِيءَ»
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan
amal seorang Mu’min pada Hari Kiamat melainkan akhlaq yang baik. Sungguh Alloh benar-benar membenci
ucapan kotor dan kasar.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2002)
Jadi, marilah kita berhenti sejenak dan mengoreksi diri.
Jika Hijroh kita hanya berhenti di lemari pakaian, maka kita telah rugi besar.
Mari kita jadikan penampilan kita sebagai pembuka jalan bagi hidayah, bukan
sebagai penghalang bagi orang lain untuk mengenal indahnya Islam. Jadikan
jenggot kita sebagai tanda bahwa kita adalah hamba yang paling lembut, jadikan
celana cingkrang kita sebagai tanda bahwa kita adalah hamba yang paling rendah
hati, dan jadikan cadar kita sebagai tanda bahwa kita adalah hamba yang paling
terjaga kesucian lisannya. Itulah Hijroh yang sesungguhnya, yang akan membawa
kita pulang ke Jannah dengan penuh cinta dan ridho dari Sang Pencipta.
Hijroh bukanlah sebuah titik, melainkan sebuah garis yang
terus memanjang hingga hembusan nafas terakhir. Jangan biarkan ia layu hanya
karena kita merasa sudah cukup dengan apa yang tampak di mata manusia. Sebab,
di hadapan Alloh, hanya hati yang selamat (qolbun salim) yang akan
diterima.
﴿يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ
وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
“(Yaitu) pada hari di mana harta dan anak-anak tidak
bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Alloh dengan hati yang selamat.”
(QS. Asy-Syu’aro: 88-89)
BAB 2: HIJROH SALAH NIAT
2.1
Belajar Ilmu Agama Itu Melelahkan, Sedangkan Ganti Baju Itu Instan
Pernahkah
terlintas dalam benak kita yang sedang berbunga, mengapa kita lebih memilih
sibuk mengurus rupa daripada menguras tenaga untuk membaca? Mengapa jemari kita
begitu lincah memilih kain di pasar daring, namun terasa kaku dan berat saat
harus membalik lembaran kitab yang bening? Sungguh, mengubah penampilan
hanyalah urusan waktu satu menit di depan cermin, namun mengubah isi kepala dan
hati adalah perjuangan yang tak kunjung dingin. Kita sering kali terjebak dalam
rasa puas yang semu, merasa telah menjadi hamba yang berilmu, hanya karena
pakaian kita telah berganti menu.
Belajar
agama bukanlah sekadar duduk manis mendengarkan dongeng, melainkan sebuah
pengabdian yang membuat punggung terasa kencang dan mata menjadi juling karena
tekun memandang. Alloh berfirman tentang kedudukan orang-orang yang berilmu:
﴿يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾
“Alloh
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang
diberi ilmu beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian
kerjakan.” (QS.
Al-Mujadilah: 11)
Derajat
yang tinggi itu tidak didapatkan dengan hanya memanjangkan jenggot semata,
melainkan dengan tetesan keringat dalam memahami wahyu yang mulia. Rosululloh ﷺ bersabda tentang betapa agungnya jalan pencari ilmu:
«مَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى
الْجَنَّةِ»
“Siapa
yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya
jalan menuju Jannah.”
(HR. Muslim no. 2699)
Jalan
menuju Jannah itu penuh dengan onak dan duri, bukan hanya jalan setapak yang
dihiasi pakaian indah di kanan kiri. Banyak orang yang memilih berhenti di
penampilan karena itu adalah jalan pintas untuk mendapatkan pengakuan. Jika
ingin dianggap sholih, cukup pakai jubah dan pelihara rambut di dagu. Jika ingin
dianggap sholihah, cukup pakai cadar dan kaus kaki yang baru. Namun, untuk
menjadi benar-benar sholih di hadapan Alloh, kita butuh tahu mana yang fardhu
dan mana yang semu.
Dahulu,
para Salafush Sholih melakukan perjalanan berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan
satu buah Hadits. Jabir bin Abdillah (78 H) pernah menempuh perjalanan satu
bulan penuh menuju Syam hanya untuk mendengar satu Hadits dari Abdulloh bin
Unais (74 H). Sedangkan kita? Kita enggan melangkah ke Masjid yang hanya
berjarak beberapa meter, namun kita sangat bersemangat memesan pakaian model
terbaru agar terlihat “nyunnah” di depan komputer.
Alloh
memerintahkan kita untuk terus meminta tambahan ilmu, bukan tambahan koleksi
baju:
﴿وَقُل
رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾
“Dan
katakanlah: ‘Wahai Robb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’.” (QS. Thoha: 114)
Mengapa
kita lebih sering meminta “Ya Alloh, tambahkanlah rejekiku untuk beli cadar
baru” daripada “Ya Alloh, pahamkanlah aku tentang aqidah yang benar agar
aku tidak keliru”? Ilmu adalah warisan yang paling berharga, sedangkan
pakaian akan usang dimakan usia. Rosululloh ﷺ
bersabda:
وَإِنَّ
الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا،
وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
“Dan
sungguh para ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sungguh para Nabi tidak
mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka siapa
yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)
Apakah kita
termasuk orang yang mengambil bagian yang banyak itu? Ataukah kita hanya puas
menjadi penonton di pinggir jalan, memakai kostum sang pewaris namun tak tahu
apa yang diwariskan? Sungguh tragis jika di hari Kiamat kita dibangkitkan
dengan pakaian Sunnah, namun hati kita kosong dari pemahaman yang membawa
berkah.
2.2
Bahaya Tamak Pengakuan Orang Lain
Syaithon
memiliki ribuan cara untuk menggelincirkan kaki, terutama bagi mereka yang baru
saja bertaubat dan kembali. Salah satu jerat yang paling halus adalah rasa
nikmat saat dipuji oleh insan, seolah-olah pintu Jannah sudah terbuka lebar di
depan badan. Ketika kita mulai mengubah penampilan, orang-orang akan mulai
memanggil kita dengan sebutan “Akhi”, “Ukhti”, atau bahkan “Ustadz”
dan “Ustadzah” meski ilmu kita masih seujung kuku kaki. Di sinilah
bibit-bibit penyakit hati mulai bersemi, membuat kita merasa lebih suci
daripada penduduk bumi.
Alloh
memperingatkan dengan tegas agar kita tidak merasa paling bertaqwa:
﴿فَلَا
تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Maka
janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia (Alloh) lebih mengetahui
siapa yang bertaqwa.”
(QS. An-Najm: 32)
Pujian
manusia itu seperti madu yang mengandung racun, jika diminum terlalu banyak
akan membuat hati menjadi pikun. Kita menjadi lebih sibuk memikirkan bagaimana
cara mempertahankan citra di mata manusia, daripada memperbaiki niat yang mulai
ternoda. Inilah yang disebut dengan Riya’—syirik kecil yang sangat ditakuti
oleh Rosululloh ﷺ menimpa umatnya. Beliau ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ». قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ
الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ»
“Sungguh
yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para Shohabat bertanya: “Apa itu
syirik kecil wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Riya’ (pamer).” (HSR.
Ahmad no. 23630)
Betapa
banyak orang yang berhijroh namun justru terjatuh dalam lubang ini. Mereka
memposting foto bercadar dengan caption yang sangat puitis, namun tujuannya
hanyalah agar mendapatkan “like” dan komentar yang manis. Mereka
memamerkan jenggot dan pakaian cingkrangnya di media sosial, bukan untuk da’wah,
melainkan untuk menunjukkan bahwa mereka sudah “hijroh total”. Padahal,
apa yang tampak di luar belum tentu mencerminkan apa yang ada di dalam jiwa
yang kekal.
Ketahuilah,
penghuni Jannah bukanlah mereka yang paling bagus pakaiannya, melainkan mereka
yang paling ikhlas hatinya. Alloh berfirman tentang orang-orang yang rugi
amalannya:
﴿قُلْ
هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾
“Katakanlah:
‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi
perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat
sebaik-baiknya.” (QS.
Al-Kahfi: 103-104)
Jangan
sampai kita merasa sudah “islami” hanya karena kostum, padahal di dalam
hati masih ada keinginan untuk dikagumi oleh umum. Rasa puas diri ini adalah
penghalang utama bagi kita untuk belajar lagi. “Untuk apa aku belajar? Toh
aku sudah terlihat seperti ustadz,” bisikan syaithon ini sering kali
mematikan semangat untuk menuntut ilmu. Akhirnya, kita hanya menjadi pajangan
yang tak berjiwa, indah di mata manusia namun rapuh di hadapan Sang Pencipta.
Rosululloh ﷺ memberikan gambaran yang sangat mengerikan tentang orang yang
beramal namun bukan karena Alloh:
«مَنْ
سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ»
“Siapa
yang memperdengarkan amalnya (ingin kondang), maka Alloh akan memperdengarkan
aibnya. Dan siapa yang memamerkan amalnya, maka Alloh akan memamerkan
rahasianya (pada hari Kiamat).” (HR. Al-Bukhori no. 6499 dan Muslim no. 2987)
Maka,
setiap kali kita mengenakan pakaian Sunnah, bertanyalah pada diri sendiri: “Apakah
aku siap jika Alloh membuka isi hatiku yang sebenarnya di hadapan seluruh
manusia nanti?” Jika kita merasa gemetar dan takut, maka segeralah perbaiki
niat. Hijroh itu menuju Alloh, bukan menuju panggung pujian yang sesaat. Jangan
biarkan sehelai kain atau serabut jenggot menjadi tiket kita menuju Naar hanya
karena kita salah dalam menata rasa di dalam dada.
2.3
Guru Karbitan dan Belajar Agama Lewat Potongan Video Tanpa Sanad Ilmu
Di zaman
fitnah yang serba canggih ini, ilmu seolah-olah berada dalam genggaman jempol
yang suka berlari. Cukup dengan membuka aplikasi, kita bisa mendengar ribuan
ceramah dari berbagai penjuru negeri. Namun, kemudahan ini sering kali menjadi
bumerang bagi mereka yang baru berhijroh dan ingin serba instan tanpa harus
mengaji secara langsung di bawah bimbingan guru yang mumpuni. Kita lebih suka
menjadi “santri online” yang hanya mengandalkan potongan video pendek
berdurasi tiga puluh detik, daripada duduk bersimpuh di majelis ilmu yang penuh
dengan keberkahan dan khusyuk.
Alloh telah
memerintahkan kita untuk mengikuti jalan orang-orang yang berilmu:
﴿وَاتَّبِعْ
سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم
بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾
“Dan
ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah
kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)
Masalahnya,
siapakah yang kita ikuti di dunia maya itu? Banyak orang yang tiba-tiba muncul
menjadi ustadz dadakan hanya karena pandai bicara dan memiliki penampilan yang
meyakinkan. Mereka tidak pernah duduk belajar bertahun-tahun di hadapan para
Ulama, tidak menguasai kaidah Nahwu dan Shorof, namun berani memberikan fatwa
yang sangat tajam dan membuat telinga menjadi merah meradang. Mereka adalah “guru
karbitan” yang hanya menjual retorika tanpa kedalaman makna.
Rosululloh ﷺ bersabda tentang fenomena ini:
«إِنَّ
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ»
“Sungguh
di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu dicari dari orang-orang yang kecil
(ahlul bid’ah atau orang yang tidak memiliki ilmu yang mendalam).” (HSR. Ibnul Mubarok, Shohih
Al-Jami’ no. 2207)
Belajar
lewat potongan video sering kali membuat kita salah paham dalam menangkap
pesan. Kita hanya mengambil apa yang cocok dengan hawa nafsu kita, lalu kita
jadikan senjata untuk menyerang orang lain yang berbeda pandangan. Kita merasa
sudah menjadi “pembela Sunnah” yang gagah, padahal kita baru saja
menelan mentah-mentah satu dua kalimat tanpa tahu konteks dan dasarnya yang
kokoh dan indah.
Ibnu Sirin
(110 H) rohimahullah pernah berpesan dengan kalimat yang sangat masyhur:
«إِنَّ
هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ»
“Sungguh
ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama
kalian.” (Muqodimah
Shohih Muslim)
Apakah kita
sudah selektif dalam memilih guru? Ataukah kita asal klik saja asalkan
ustadznya “keren”, “gaul”, atau “garang” saat mengkritik
penguasa atau kelompok lain? Belajar agama tanpa sanad (mata rantai guru) yang
jelas akan membuat kita tersesat dalam rimba penafsiran yang liar. Kita akan
menjadi orang yang sombong karena merasa punya dalil, padahal dalil itu kita
gunakan bukan pada tempatnya.
Ingatlah
firman Alloh:
﴿وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“And
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro: 36)
Jangan
sampai kita menjadi korban dari para “pencuri ilmu” yang hanya ingin
mengumpulkan pengikut demi materi atau popularitas semata. Carilah guru yang
bertaqwa, yang akhlaqnya sejalan dengan ilmunya, yang tidak hanya menyuruh kita
memanjangkan jenggot tapi juga mengajarkan kita bagaimana cara berbakti kepada orang
tua dengan penuh cinta. Hijroh yang tidak dibimbing oleh guru yang benar hanya
akan melahirkan sosok-sosok radikal yang kasar dan jauh dari kelembutan wahyu
yang memancar.
2.4
Ketika Kain di Wajah atau Rambut di Dagu Membuat Merasa Lebih Mulia dari Orang
Lain
Inilah
puncak dari segala bencana bagi mereka yang baru saja berpindah haluan menuju
ketaatan. Namanya adalah ujub—rasa kagum pada diri sendiri yang membuat
kita memandang remeh setiap hamba Alloh yang belum mendapatkan hidayah seperti
kita. Saat kita bercermin dan melihat penampilan kita yang sudah “syar’i”,
syaithon membisikkan: “Lihatlah dirimu, kau jauh lebih baik dari saudaramu
yang masih memakai celana jin itu. Kau jauh lebih mulia dari wanita yang masih
belum menutup aurotnya itu.” Seketika itu juga, gugurlah pahala karena
kesombongan yang bertahta.
Nabi ﷺ bersabda dengan nada yang sangat serius:
«لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak
akan masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari
kesombongan.” (HR.
Muslim no. 91)
Apa itu
sombong? Beliau ﷺ menjelaskannya dalam Hadits
yang sama:
«الْكِبْرُ
بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Sombong
adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
Berapa
banyak dari kita yang setelah Hijroh justru menjadi ahli dalam meremehkan
manusia? Kita memandang sinis orang yang Sholat sementara pakaiannya belum
cingkrang. Kita tidak mau mengucapkan salam kepada tetangga yang belum kita
anggap “satu pemahaman”. Padahal, siapa yang menjamin bahwa akhir hayat
kita lebih baik dari mereka? Bisa jadi orang yang kita remehkan itu memiliki
satu amalan tersembunyi yang sangat dicintai Alloh, sedangkan kita hanya
memiliki penampilan yang penuh dengan kepalsuan.
Alloh sangat
membenci orang yang sombong dan memalingkan wajahnya dari sesama:
﴿وَلَا
تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ﴾
“Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah
kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Ujub adalah
racun yang paling mematikan bagi keikhlasan. Ia muncul saat kita merasa bahwa
Hijroh ini adalah hasil kerja keras kita sendiri, bukan karena taufiq dari
Alloh semata. Kita lupa bahwa dulu pun kita adalah orang yang jauh dari agama.
Mengapa sekarang kita begitu cepat menghakimi orang lain seolah-olah kita
adalah panitia hari Kiamat?
Rosululloh ﷺ memberikan peringatan melalui sebuah kisah yang sangat
berharga:
«أَنَّ
رَجُلًا قَالَ: وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لِفُلَانٍ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ:
مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ
لِفُلَانٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ»
“Ada
seorang lelaki berkata: ‘Demi Alloh, Alloh tidak akan mengampuni si fulan.’
Maka Alloh Ta’ala berfirman: ‘Siapa yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa
Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan
Aku telah menghapuskan amalanmu’.” (HR. Muslim no. 2621)
Bayangkan!
Orang yang merasa paling benar dan paling suci justru dihapuskan seluruh
amalannya karena kelancangannya dalam menghakimi hamba Alloh yang lain. Ini
adalah pelajaran pahit bagi kita yang sering kali merasa “memiliki”
kunci Jannah hanya karena sudah memakai atribut Sunnah.
Pakaian
Sunnah seharusnya membuat kita semakin rendah hati, seperti padi yang semakin
berisi semakin merunduk ke bumi. Jika jenggotmu membuatmu merasa lebih hebat,
maka cukurlah kesombonganmu sebelum ia membakarmu. Jika cadarmu membuatmu
merasa lebih suci dari wanita yang belum berhijab, maka singkaplah tabir
keangkuhanmu sebelum Alloh menghinakanmu.
Setiap kali
merasa ujub muncul, ingatlah doa yang diajarkan Nabi ﷺ:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ
أَعْلَمُ»
“Ya
Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku
mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” (HSR. Al-Bukhori dalam Al-Mufrod
no. 716)
Marilah
kita kembali ke jalan yang lurus. Hijroh itu adalah proses untuk menjadi hamba
yang lebih tahu diri, bukan hamba yang lupa diri. Jangan sampai penampilan luar
kita yang Islami justru menjadi hijab bagi kita untuk masuk ke dalam rohmat-Nya
yang abadi. Karena pada akhirnya, yang akan masuk Jannah adalah mereka yang
membawa hati yang bersih dari noda kesombongan dan penuh dengan rasa takut
kepada Robb-nya yang Maha Agung lagi Maha Tinggi.
BAB 3: PETAKA SAAT HIJROH MENJAUH
DARI ILMU
3.1
Mengapa Lisan Kita Menjadi Lebih Tajam Setelah Mengenal Sunnah?
Pernahkah
kita merasa ada yang ganjil dalam dada, saat ketaatan lahiriah meningkat namun
kelembutan jiwa justru sirna? Mengapa setelah kita mengenal jenggot dan pakaian
yang mulia, lisan kita justru menjadi lebih ringan untuk mencela sesama?
Sungguh, ini adalah tanda hati yang mulai membatu, ketika ilmu hanya sampai di
tenggorokan namun tak pernah menyentuh kalbu. Kita merasa paling mengikuti
Sunnah, namun lisan kita justru menebar fitnah yang membuat hati orang lain
merasa susah.
Alloh ﷻ telah memberikan peringatan
tentang bahaya lisan yang tak terjaga, yang bisa menyeret pelakunya ke dalam
jurang Naar yang membara:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Alloh dan ucapkanlah
perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Ucapkanlah
perkataan yang benar, bukan perkataan yang membuat orang lain menjadi gentar.
Rosululloh ﷺ memberikan standar yang sangat jelas bagi siapa saja yang
mengaku telah beriman, agar dia menjaga lisannya dari segala bentuk gangguan:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Siapa
yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata yang
baik atau diam.” (HR.
Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)
Lihatlah
betapa indahnya arahan ini bagi jiwa yang rindu akan ketenangan. Jika tidak ada
kebaikan dalam ucapan, maka diam adalah sebuah kemuliaan. Namun, mengapa kita
yang mengaku sudah berhijroh justru merasa punya hak untuk berkata kasar atas
nama “ketegasan”? Kita lupa bahwa ketegasan tanpa ilmu adalah sebuah
kesesatan, dan kelembutan adalah perhiasan bagi setiap perbuatan. Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ
شَانَهُ»
“Sungguh
kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan
tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim no. 2594)
Apakah
penampilan “nyunnah” kita sudah dihiasi dengan kelembutan yang
mempesona? Ataukah wajah kita justru selalu menampakkan amarah yang membara?
Ingatlah, bahwa kerasnya hati adalah awal dari segala petaka. Sebagaimana pesan
dari Fudhoil bin Iyadh (187 H) rohimahullah, bahwa di antara tanda
celakanya seseorang adalah kerasnya hati dan sedikitnya rasa malu.
Alloh
berfirman tentang kerasnya hati yang lebih parah daripada batu yang membeku:
﴿ثُمَّ
قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً﴾
“Kemudian
setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al-Baqoroh: 74)
Betapa
malangnya jika Hijroh kita justru membuat hati semakin keras dan kaku. Kita
merasa paling benar, lalu dengan mudahnya menghardik orang yang belum tahu.
Padahal, Rosululloh ﷺ diutus dengan membawa rohmat
yang luas bagi semesta alam. Beliau ﷺ
bersabda:
«الرَّاحِمُونَ
يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ»
“Orang-orang
yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rohman (Alloh yang Maha Penyayang).
Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya Siapa yang ada di langit akan
menyayangi kalian.”
(HSR. Abu Dawud no. 4941)
Maka, jika
lisanmu semakin tajam saat penampilanmu semakin “sunnah”, periksalah
hatimu, jangan-jangan ada yang salah. Ilmu yang benar akan melahirkan rasa
takut kepada Alloh dan kasih sayang kepada makhluk-Nya yang lemah. Jangan
biarkan jenggotmu menjadi tameng untuk menghujat, dan jangan biarkan cadarmu
menjadi alasan untuk merasa paling hebat. Karena pada akhirnya, lisan yang
selamat adalah lisan yang membawa kita menuju Rohmat-Nya yang tak terbatas.
3.2
Gemar Berdebat
Dunia maya
kini penuh dengan arena adu kata, di mana setiap orang merasa paling paham
tentang agama. Kita yang baru saja mengenal satu atau dua dalil, tiba-tiba
merasa sudah menjadi Mujtahid yang paling terampil. Kita masuk ke kolom komentar,
menyerang setiap pendapat yang tidak sejalan dengan apa yang baru saja kita
dengar. Padahal, gemar berdebat adalah tanda bahwa hidayah sedang dicabut, dan
keberkahan ilmu sedang direbut.
Alloh ﷻ mencela orang yang suka
membantah tanpa dasar ilmu yang kokoh dan kuat:
﴿وَمِنَ
النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ﴾
“Dan di
antara manusia ada orang yang membantah tentang Alloh tanpa ilmu pengetahuan,
tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Al-Hajj: 8)
Apakah kita
termasuk orang yang demikian? Membela Sunnah dengan cara yang justru dimurkai
oleh Pemilik Sunnah itu sendiri? Rosululloh ﷺ
memberikan jaminan yang luar biasa bagi siapa saja yang mampu menahan diri dari
perdebatan yang tak ada manfaatnya, meskipun dia berada di pihak yang benar
sekalipun:
«أَنَا
زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»
“Aku
memberikan jaminan sebuah rumah di pinggiran Jannah bagi siapa yang
meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HSR. Abu Dawud no. 4800)
Mengapa
kita lebih memilih menang dalam debat daripada mendapatkan rumah di Jannah?
Mengapa ego kita begitu besar hingga harus menjatuhkan lawan bicara agar kita
terlihat pintar? Ketahuilah, bahwa orang yang paling dibenci oleh Alloh adalah
dia yang paling suka bertengkar dan keras kepala dalam mempertahankan
pendapatnya yang kasar. Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ»
“Sungguh
lelaki yang paling dibenci oleh Alloh adalah orang yang paling keras dalam
berdebat (dan suka bertengkar).” (HR. Al-Bukhori no. 2457 dan Muslim no. 2668)
Syaithon
akan terus membisikkan bahwa perdebatanmu adalah “Jihad” untuk membela
kebenaran. Padahal, sering kali itu hanyalah ajang pamer kecerdasan dan
kesombongan. Para Salaf dahulu sangat menjauhi perdebatan dalam urusan agama.
Alloh
berfirman tentang kaum yang sesat setelah mendapatkan petunjuk karena hobi
mereka yang suka membantah:
﴿مَا
ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ﴾
“Mereka
tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah
saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)
Dan Nabi ﷺ juga memperingatkan:
«مَا
ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوتُوا الْجَدَلَ»
“Tidaklah
suatu kaum itu tersesat setelah mereka berada di atas hidayah, melainkan karena
mereka diberikan (penyakit) suka berdebat.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3253)
Jangan
biarkan Hijrohmu berakhir di medan debat yang melelahkan. Gunakan waktumu untuk
belajar, bukan untuk bertengkar. Jika ada kebenaran, sampaikanlah dengan penuh
adab dan kesantunan. Jika ditolak, maka berdoalah agar Alloh memberikan hidayah
kepada mereka yang masih dalam kegelapan. Karena ilmu yang bermanfaat bukanlah
ilmu yang membuatmu pandai membungkam lawan, melainkan ilmu yang membuatmu
semakin tunduk kepada Sang Rohman.
3.3
Penyakit “Merasa Benar Sendiri” dan Mudah Menyalahkan Orang Lain
Tidakkah
kita merasa ngeri, saat diri ini merasa sudah memegang kunci pintu Jannah
secara pribadi? Seolah-olah hanya kelompok kita, pengajian kita, dan ustadz
kita saja yang akan selamat, sementara selainnya adalah ahli maksiat yang akan
dilumat. Inilah jerat kesombongan yang terbungkus rapi dalam pakaian ketaatan.
Kita merasa sudah benar sendiri, hingga lupa bahwa hidayah itu mutlak milik
Sang Ilahi.
Alloh ﷻ melarang kita untuk merasa
lebih suci dan merendahkan yang lainnya:
﴿فَلَا
تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Maka
janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia (Alloh) lebih mengetahui
siapa yang bertaqwa.”
(QS. An-Najm: 32)
Berapa kali
kita memandang rendah saudara kita yang pakaiannya belum “nyunnah”?
Berapa kali kita menyimpulkan bahwa fulan adalah ahli Bid’ah hanya karena dia
belum memahami apa yang kita pahami? Padahal, Nabi ﷺ
telah bersabda dengan tegas:
«بِحَسْبِ
امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ»
“Cukuplah
seseorang itu dikatakan melakukan keburukan jika dia meremehkan saudaranya
sesama Muslim.” (HR.
Muslim no. 2564)
Meremehkan
orang lain adalah tanda adanya kibri (kesombongan) di dalam dada. Dan
kesombongan adalah penghalang utama bagi seseorang untuk masuk ke dalam
Jannah-Nya. Kita sering kali merasa paling mengikuti Manhaj Salaf, namun kita
lupa bahwa para Salaf adalah orang-orang yang paling keras dalam mengoreksi
diri sendiri dan paling lembut dalam memandang kesalahan orang lain. Mereka
kaum yang tahu khilaf sehingga banyak diam dan toleransi dalam masalah khilafiyah
fiqhiyyah. Mereka hanya keras dalam bab aqidah, sementara ahli
bid’ah yang mereka tentang keras adalah adalah tokoh penyeru bid’ah Jahmiyyah,
Qodariyyah, Murjiah, Mu’tazilah, Asyairoh, bukan masyarakat awamnya.
Lihatlah
bagaimana Alloh memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka buruk yang sering
kali menjadi dasar kita dalam menyalahkan sesama:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ
إِثْمٌ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sungguh sebagian
prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Setelah
Hijroh, mengapa prasangka kita justru semakin tajam kepada saudara sendiri?
Mengapa kita begitu cepat memberikan label “sesat” atau “menyimpang”
tanpa melalui proses tabayyun (klarifikasi) yang matang? Padahal itu
masalah khilafiyah seperti qunut Subuh, mengeraskan bacaan basmalah dalam
Sholat, isbal pakaian, sampai pun masalah menghadiahkan ibadah selain harta
kepada mayit. Nabi ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ
وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»
“Jauhilah
oleh kalian prasangka, karena sungguh prasangka itu adalah sedusta-dustanya
ucapan.” (HR.
Al-Bukhori no. 5143 dan Muslim no. 2563)
Seseorang
yang benar-benar cinta pada ilmu akan menyadari bahwa semakin dia belajar,
semakin dia tahu betapa banyaknya hal yang belum dia kuasai. Dia akan merasa
malu untuk menyalahkan orang lain, karena dia sibuk memperbaiki aib diri yang
masih berserakan. Sebagaimana kata Imam Syafi’i (204 H) rohimahullah: “Pendapatku
benar, namun mengandung kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain salah, namun
mengandung kemungkinan benar.”
Ingatlah
firman Alloh tentang larangan saling menghina dan memberikan julukan yang
buruk:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا
خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain,
boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan itu lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita
lain, boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurot: 11)
Mungkin
orang yang kamu salahkan itu memiliki amalan rahasia yang tidak kamu miliki.
Mungkin dia lebih ikhlas dalam sujudnya daripada kamu yang sibuk memamerkan
penampilanmu. Maka, rendahkanlah hatimu. Hijroh itu adalah tentang bagaimana
kita menjadi lebih baik dari diri kita yang dulu, bukan merasa lebih baik dari
orang lain yang sekarang. Jangan biarkan penyakit “merasa benar sendiri”
ini merusak seluruh amal ibadahmu yang telah kamu bangun dengan penuh
perjuangan.
3.4
Ketika Seorang Pemula Merasa Lebih Alim dari Ustadznya
Inilah
fenomena yang paling menyayat hati dalam dunia Hijroh masa kini. Baru belajar
satu dua tahun, sudah berani mengoreksi ustadz yang telah puluhan tahun
bergumul dengan kitab-kitab para Nabi. Kita merasa sudah punya timbangan yang
akurat untuk menilai siapa yang “lurus” dan siapa yang “bengkok”,
padahal kita sendiri belum hafal juz ‘amma dengan benar dan teliti. Ini adalah
bentuk kelancangan yang luar biasa, sebuah adab yang hilang ditelan oleh kesombongan
yang membara.
Alloh ﷻ telah menetapkan kedudukan
para ahli ilmu di tempat yang sangat mulia:
﴿فَاسْأَلُوا
أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Maka
bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak
mengetahui.” (QS.
An-Nahl: 43)
Ayat ini
memerintahkan kita untuk bertanya dan mengikuti, bukan untuk mengadili dan
mencaci. Namun, atas nama “tahdzir” (memberi peringatan) yang salah
tempat, kita dengan ringannya menghujat para ustadz dan dai yang tidak sesuai
dengan selera kita. Kita lupa bahwa daging para ulama dan ahli ilmu itu
beracun. Siapa yang gemar memakannya, maka Alloh akan mematikan hatinya sebelum
fisiknya binasa.
Nabi ﷺ memberikan peringatan bagi siapa saja yang tidak menghormati
para ahli ilmu dan orang tua di antara kita:
«لَيْسَ
مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا
[حَقَّهُ]»
“Bukan
termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua di antara kami,
tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, dan tidak mengetahui hak bagi
orang alim di antara kami.” (HSR. Ahmad no. 22755)
Mengetahui
hak bagi orang alim artinya menghormati mereka, menjaga lisan dari mencela
mereka, dan mendoakan kebaikan bagi mereka. Bukannya justru mencari-cari
kesalahan kecil mereka untuk kemudian disebarkan di media sosial seolah-olah
itu adalah sebuah prestasi yang besar.
Apakah kita
merasa lebih hebat dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma yang
pernah memegang tali kendali tunggangan Zaid bin Tsabit (45 H) rodhiyallahu ‘anhu
sebagai bentuk penghormatan kepada guru? Apakah kita merasa lebih pintar dari
para Imam Madzhab yang sangat menjaga adab kepada guru-guru mereka? Sungguh,
ilmu tanpa adab adalah kebodohan yang nyata.
Alloh
berfirman tentang orang-orang yang mengikuti jalan selain jalan orang-orang
yang beriman (termasuk para ulama):
﴿وَمَن
يُشَاقِقِ الرَّوسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ
سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾
“Dan
siapa yang menentang Rosul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan
yang bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan dia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam,
dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)
Para ulama
adalah pelita di tengah kegelapan. Jika pelita itu kita pecahkan dengan lisan
kita yang beracun, maka di kegelapan manakah kita akan mencari jalan? Jangan
biarkan semangat Hijrohmu berubah menjadi keberanian yang lancang. Belajarlah
untuk tunduk dan tawadhu’. Jika ada sesuatu yang kamu anggap salah dari seorang
ustadz, maka sampaikanlah dengan cara yang paling santun dan rahasia, bukan
dengan cara berteriak di keramaian dunia maya.
Ingatlah
pesan dari Abdullah bin Al-Mubarak (181 H) rohimahullah: “Kami
mempelajari adab selama tiga puluh tahun, dan kami mempelajari ilmu selama dua
puluh tahun.” Mereka mendahulukan adab sebelum ilmu. Sedangkan kita? Kita
membuang adab bahkan sebelum kita mendapatkan secuil ilmu.
Maka,
kembalilah kepada jalur yang benar. Hormatilah para pembawa wahyu, muliakanlah
para pewaris Nabi ﷺ. Jangan biarkan dirimu
menjadi penghalang bagi orang lain untuk mengambil manfaat dari ilmu para
ustadz hanya karena egomu yang merasa lebih alim dari mereka. Karena pada
akhirnya, keberkahan ilmu hanya akan didapat oleh mereka yang memiliki adab
yang mulia dan hati yang tulus dalam mencari Ridho-Nya.
BAB 4: IBADAH TANPA ITTIBA’ DAN
AKHLAQ
4.1
Semangat Puasa dan Berjamaah, Namun Caranya Tidak Mencontoh Rosululloh ﷺ
Pernahkah
terdetak dalam sanubari yang terdalam, tentang sebuah amalan yang lelah
dikerjakan namun berakhir dengan penolakan yang kelam? Kita bersemangat
mengejar shof terdepan, namun hati kita kosong dari ilmu tentang tata cara yang
benar sesuai tuntunan. Kita berpuasa hingga kerongkongan terasa kering dan
badan menjadi lemah, namun kita tidak tahu mana pembatal puasa yang shohih dan
mana yang hanya sekadar riwayat dho’if yang beredar di bawah. Semangat yang
membara tanpa ilmu yang bertahta hanya akan melahirkan kelelahan yang tak
berujung pada pahala yang nyata.
Alloh ﷻ telah menegaskan bahwa amalan
yang diterima bukanlah yang paling banyak jumlahnya, melainkan yang paling baik
kualitasnya:
﴿ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ﴾
“Dialah
yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian
yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Fudhoil bin
Iyadh (187 H) menjelaskan bahwa “paling baik amalnya” adalah yang paling
ikhlas dan paling benar. Jika ikhlas namun tidak benar (tidak sesuai Sunnah),
tidak diterima. Jika benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Dan
kebenaran itu hanya bisa diraih dengan mengikuti jejak Sang Nabi ﷺ.
Rosululloh ﷺ memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang berkreasi
dalam urusan ibadah tanpa landasan wahyu yang cerah:
«مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa
yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan
tersebut tertolak.”
(HR. Muslim no. 1718)
Betapa
ruginya kita, jika Hijroh kita hanya melahirkan semangat yang liar tanpa
kendali. Kita merasa sudah sangat bertaqwa dengan menambah-nambah roka’at atau
menciptakan dzikir-dzikir baru yang tidak pernah diajarkan oleh Sang Nabi ﷺ yang suci. Kita sibuk dengan kulit, namun melupakan inti dari
ketaatan itu sendiri, yaitu ketundukan mutlak pada aturan Ilahi.
Alloh ﷻ berfirman tentang kewajiban
mengikuti Rosul-Nya jika kita benar-benar mencintai-Nya:
﴿قُلْ
إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾
“Katakanlah
(wahai Muhammad): ‘Jika kalian benar-benar mencintai Alloh, maka ikutilah aku,
niscaya Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Alloh
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron: 31)
Apakah
Hijrohmu sudah membuatmu semakin teliti dalam mencontoh sholatnya Nabi ﷺ? Ataukah kamu masih Sholat dengan gerakan yang asal-asalan
asalkan sudah memakai pakaian yang cingkrang dan wangi? Ingatlah sabda beliau ﷺ:
«صَلُّوا
كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»
“Sholatlah
kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 631)
Banyak di
antara kita yang setelah Hijroh justru terjebak dalam fanatisme buta kepada
tokoh tertentu, hingga mengabaikan dalil yang sudah jelas terpampang di depan
mata. Kita lebih mendahulukan “kata ustadzku” daripada “sabda Rosulku”.
Inilah awal dari runtuhnya bangunan Sunnah dalam diri kita. Kita ingin kembali
ke Akhiroh dengan selamat, namun kita membuang peta yang telah diberikan oleh
Sang Pembawa Risalah yang hebat.
Perhatikanlah
ancaman Alloh bagi mereka yang menyelesihi perintah Rosul-Nya:
﴿فَلْيَحْذَرِ
ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Maka
hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul-Nya itu takut akan ditimpa
fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
Fitnah di
sini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad (241 H), adalah kesyirikan atau
kesesatan hati. Sungguh mengerikan jika semangat ibadah kita justru menjadi
pintu masuk bagi kesesatan karena kita enggan belajar bagaimana cara beribadah
yang searah dengan Sunnah.
Maka, wahai
saudaraku yang sedang berhijroh, janganlah puas hanya dengan semangat yang
meluap. Isilah bejanamu dengan ilmu yang mantap. Pelajarilah sifat wudhu Nabi ﷺ, pelajarilah sifat Sholat Nabi ﷺ,
dan pelajarilah bagaimana beliau ﷺ
berpuasa dan berzakat. Karena tanpa Ittiba’ (mengikuti), ketaatanmu hanyalah
fatamorgana yang nampak indah namun tak memberikan kesegaran bagi jiwa yang
dahaga.
4.2
Belajar dari Kisah Wanita Jahat kepada Tetangganya
Tidakkah
kita merasa gemetar, mendengar kabar tentang seorang wanita yang rajin sujud di
keheningan fajar, namun namanya tercatat sebagai penduduk Naar yang membara dan
besar? Ia bukan wanita yang meninggalkan Sholat, bukan pula wanita yang gemar
bermaksiat secara terang-terangan di jalanan yang padat. Ia adalah wanita yang
dikenal rajin ibadahnya, namun ada satu noda hitam yang merusak seluruh
pahalanya.
Mari kita
simak Hadits yang sangat menusuk jantung ini dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu
‘anhu:
قِيلَ
لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ
فُلَانَةَ تُصَلِّي اللَّيْلَ، وَتَصُومُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَّدَّقُ، وَتُؤْذِي
جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«لا خَيْرَ فِيهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»
“Dikatakan
kepada Rosululloh ﷺ: ‘Wahai Rosululloh, sungguh
si fulanah itu sering Sholat malam, berpuasa di siang hari, melakukan banyak
kebaikan dan bersedekah, namun dia sering menyakiti tetangganya dengan
lisannya?’ Rosululloh ﷺ bersabda: ‘Tidak ada kebaikan
padanya, dia termasuk penghuni Naar’.” (HSR. Al-Bukhori dalam Al-Mufrod no. 119
dan Ahmad no. 9675)
Betapa
dahsyatnya peringatan ini bagi kita yang merasa sudah aman karena sudah rajin
ke Masjid dan memakai cadar yang rapi. Ternyata, ibadah mahdhoh
(langsung kepada Alloh) tidak akan mampu menyelamatkan kita jika hubungan kita
dengan sesama manusia dipenuhi dengan duri dan rasa benci. Penampilan Sunnahmu
tidak akan ada harganya jika lisanmu menjadi senjata pemusnah bagi kedamaian
hati tetanggamu sendiri.
Alloh ﷻ telah memerintahkan kita
untuk berbuat baik kepada tetangga, tanpa memandang apakah mereka sudah “nyunnah”
ataukah belum:
﴿۞ وَٱعْبُدُوا ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ
ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا﴾
“Sembahlah
Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat
baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil
dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sungguh Alloh tidak menyukai orang-orang
yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)
Perhatikan
di akhir ayat tersebut, Alloh mengaitkan perintah berbuat baik kepada tetangga
dengan larangan bersikap sombong. Ini adalah isyarat bahwa sering kali
seseorang menyakiti tetangganya karena dia merasa lebih mulia, lebih suci, atau
lebih “Islami” daripada mereka. Hijrohmu seharusnya membuatmu menjadi
tetangga yang paling dicintai karena kedermawanan dan keluhuran budimu, bukan
tetangga yang paling dihindari karena lisanmu yang tajam dan suka menghakimi.
Nabi ﷺ juga bersumpah dengan nada yang sangat menggetarkan tentang
iman seseorang yang terganggu karena perangainya kepada tetangga:
«وَاللَّهِ
لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ» قِيلَ: وَمَنْ يَا
رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ»
“Demi
Alloh tidak beriman, demi Alloh tidak beriman, demi Alloh tidak beriman.” Ditanyakan: “Siapa wahai
Rosululloh?” Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman
dari gangguannya (kejahatannya).” (HR. Al-Bukhori no. 6016)
Bayangkan, kesempurnaan
imanmu ditiadakan oleh Sang Nabi ﷺ
hanya karena urusan tetangga! Apakah cadarmu bisa membantumu jika tetanggamu
menangis karena dihina olehmu? Apakah jenggotmu bisa membela jika tetanggamu
merasa terzholimi oleh kesombonganmu?
Jangan sampai
kita menjadi hamba yang bangkrut di hari Kiamat kelak. Membawa gunung pahala Sholat
dan puasa, namun semuanya habis dibagi-bagikan kepada tetangga dan saudara yang
pernah kita sakiti lisannya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ
tentang orang yang bangkrut (muflis):
«إِنَّ
الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ،
وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ
هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ،
فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ
فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»
“Sungguh
orang yang bangkrut dari umatku adalah dia yang datang pada hari kiamat dengan
membawa pahala Sholat, puasa, dan zakat. Namun dia juga datang dalam keadaan
telah mencela si ini, menuduh si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah
si itu, dan memukul si ini. Maka diambilkanlah dari pahala kebaikannya untuk si
ini dan si itu. Jika pahalanya sudah habis sebelum tertunaikan semua haknya,
maka diambilkanlah dari dosa-dosa mereka (yang disakiti) lalu ditimpakan
kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)
Inilah
petaka bagi mereka yang menjauh dari warisan kenabian yang berupa akhlaq mulia.
Mereka merasa sudah “hijroh” padahal mereka sedang membangun jembatan
menuju Neraka dengan lisan mereka sendiri. Mari kita perbaiki adab kita.
Jadikan setiap helai kain yang kita pakai sebagai pengingat bahwa kita harus
menjadi rohmat bagi lingkungan sekitar. Karena Jannah tidak akan dimasuki oleh
mereka yang hatinya keras dan lisannya berbisa, meskipun dahinya hitam karena
sujud yang lama.
4.3
Lisan yang Menyakiti dan Tangan yang Mengganggu
Di zaman di mana jari-jemari lebih cepat bergerak daripada
logika, dan lisan lebih mudah mengucap cela daripada doa, kita harus bertanya:
di manakah hakekat Islam yang kita bawa? Apakah Hijroh kita hanya menambah daftar panjang orang-orang yang merasa
terganggu dengan keberadaan kita? Sungguh, seorang Muslim sejati adalah
pelabuhan kedamaian, bukan sumber badai yang membawa keresahan bagi sesama
insan.
Alloh ﷻ telah melarang kita untuk
menyakiti kaum Mu’minin tanpa alasan yang benar:
﴿وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَٰنًا
وَإِثْمًا مُّبِينًا﴾
“Dan
orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mu’min laki-laki dan perempuan
tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul
kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Setiap kata
pedas yang kita ketik di media sosial, setiap sindiran tajam yang kita tujukan
kepada saudara sealiran maupun yang belum paham, semuanya tercatat dengan
sangat mendalam. Kita merasa sedang “berda’wah”, padahal kita sedang
menebar luka. Kita merasa sedang “menegakkan Sunnah”, padahal kita
sedang menghancurkan ukhuwah (persaudaraan).
Rosululloh ﷺ memberikan definisi yang sangat singkat namun padat tentang
siapa sebenarnya Muslim dan Muhajir itu:
«الْمُسْلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا
نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»
“Seorang
Muslim sejati adalah dia yang orang-orang Muslim lainnya merasa aman dari
gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang Muhajir (orang yang berhijroh) adalah
dia yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 10 dan
Muslim no. 40)
Coba kita
timbang diri kita dengan Hadits ini. Apakah saudara-saudara kita merasa aman
saat berada di dekat kita? Ataukah mereka justru merasa was-was karena takut
akan dikomentari pakaiannya, disalahkan bid’ahnya dengan cara yang kasar, atau
dipandang dengan tatapan yang menghina? Jika saudara Muslimmu belum merasa aman
darimu, maka klaim Hijrohmu barulah sebuah angan-angan yang semu.
Nabi ﷺ juga bersabda tentang larangan saling membenci dan saling
memutus hubungan:
«لاَ
تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا،
وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ»
“Janganlah
kalian saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling
membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Dan tidak
halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Al-Bukhori no. 6065 dan
Muslim no. 2559)
Sering
kali, setelah Hijroh, kita menjadi sangat eksklusif. Kita hanya mau menyapa
yang “satu ustadz”, dan memutus hubungan dengan teman-teman lama yang
kita anggap masih “ahli maksiat”. Padahal, da’wah itu merangkul, bukan
memukul. Da’wah itu mengajak, bukan mengejek. Bagaimana mereka akan mengenal
indahnya Sunnah jika pembawa Sunnahnya saja menunjukkan wajah yang masam dan
perilaku yang kusam?
Alloh ﷻ memerintahkan kita untuk
berkata baik kepada seluruh manusia:
﴿وَقُولُوا
لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾
“Dan
ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqoroh: 83)
Tidak
dikatakan “kepada orang yang sudah ngaji saja”, tapi “kepada manusia”
secara umum. Kelembutan lisanmu adalah daya tarik yang lebih kuat daripada
panjangnya jenggotmu. Kesantunan tanganmu adalah hiasan yang lebih indah
daripada lebar cadarmu. Jangan biarkan agamamu menjadi alasan bagimu untuk
menjadi manusia yang kasar dan tidak berperasaan.
Ingatlah
sabda Nabi ﷺ:
«إِنَّ
شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ
اتِّقَاءَ شَرِّهِ»
“Sungguh
manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari Kiamat adalah
orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan kejahatannya (lisannya
yang kasar atau perbuatannya).” (HR. Al-Bukhori no. 6032 dan Muslim no. 2591)
Apakah kamu
ingin menjadi orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh hanya karena
kamu merasa paling benar? Tentu tidak, wahai saudaraku. Maka, sebelum kamu
memperbaiki panjang celanamu, perbaikilah dulu panjang lisanmu. Sebelum kamu
menutupi wajahmu, tutuplah dulu pintu-pintu kebencian di hatimu. Jadilah Muslim
yang kehadirannya dirindukan, bukan yang kepergiannya disyukuri oleh
orang-orang di sekitarmu. Itulah Hijroh yang membawa keberkahan, yang akan
menuntunmu menuju taman-taman Jannah yang penuh dengan kedamaian.
4.4
Ketika Penampilan Sunnah Tidak Berbanding Lurus dengan Bakti kepada Orang Tua
Inilah luka
yang paling dalam, ketika seorang anak merasa sudah paling mengerti agama,
namun dia menjadi orang yang paling durhaka kepada orang tua yang telah
membesarkannya dengan penuh cinta dan air mata. Kita merasa sudah “nyunnah”
karena sudah mengenal tauhid, namun kita memandang ayah dan ibu kita sebagai “ahli
syirik” —padahal hanya dugaannya— yang tidak pantas dihormati hanya karena
mereka belum mendapatkan hidayah seperti kita. Sungguh, ini adalah kesesatan
dalam beragama yang sangat nyata dan membuat hati terluka parah.
Alloh ﷻ telah menggandengkan perintah
menyembah-Nya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua:
﴿۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ
إِيَّاهُ وَبِٱلْوَلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ
كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا
كَرِيمًا﴾
“Dan
Robb-mu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya. Jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isro: 23)
Coba
perhatikan, bahkan sekadar ucapan “ah” saja dilarang oleh Alloh! Lalu
bagaimana dengan kita yang setelah Hijroh justru berani membentak orang tua,
menuduh mereka sesat di depan wajahnya, atau enggan mencium tangannya karena
merasa “itu bid’ah”? Apakah kamu merasa lebih hebat dari Nabi Isma’il
yang patuh, atau Nabi Yahya yang sangat berbakti kepada orang tuanya?
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ridho Alloh sangat bergantung pada ridho
orang tua:
«رِضَا
الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ»
“Ridho
Robb itu ada pada ridho orang tua, dan murka Robb itu ada pada murka orang tua.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1899)
Mungkin
orang tuamu belum bercadar, mungkin ayahmu belum berjenggot, namun mereka
tetaplah orang tua yang harus kamu muliakan. Meskipun mereka mengajakmu kepada
kekafiran sekalipun, Alloh memerintahkanmu untuk tetap bergaul dengan mereka di
dunia dengan cara yang baik. Sebagaimana firman-Nya:
﴿وَإِن
جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا﴾
“Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)
Jika dalam
urusan syirik saja kita diperintahkan untuk tetap berbuat baik kepada mereka,
maka bagaimana dengan urusan perbedaan pemahaman fikih atau sekadar masalah
penampilan? Sangat tragis jika kamu lebih ramah kepada ustadzmu atau
teman-teman pengajianmu, namun kamu menjadi orang yang paling kaku dan dingin saat
berada di rumah di depan ibumu.
Seorang
lelaki pernah datang kepada Rosululloh ﷺ
untuk meminta ijin ikut Jihad, namun beliau ﷺ
justru bertanya tentang orang tuanya:
«أَحَيٌّ
وَالِدَاكَ». قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: «فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ»
“Apakah
kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka pada
keduanyalah kamu berjihad (dengan berbakti).” (HR. Al-Bukhori no. 3004
dan Muslim no. 2549)
Jika Jihad
yang merupakan puncak amalan saja bisa dikalahkan oleh kewajiban berbakti
kepada orang tua, maka apalagi hanya sekadar urusan penampilan luar? Jangan
sampai kamu merasa sudah di pintu Jannah karena penampilanmu, padahal kamu
sedang menyeret kakimu menuju Naar karena tangisan ibumu yang tersakiti oleh
lisanmu yang sok alim.
Ingatlah
sabda Nabi ﷺ tentang dosa yang disegerakan adzabnya di dunia:
«بَابَانِ
مُعَجَّلاَنِ عُقُوبَتُهُمَا فِي الدُّنْيَا: الْبَغْيُ وَالْعُقُوقُ»
“Ada dua
pintu (dosa) yang disegerakan hukumannya di dunia: yaitu berbuat zholim dan
durhaka kepada orang tua.” (HR. Al-Hakim, dalam Shohih Al-Jami’ no. 2810)
Wahai
pejuang Hijroh, pulanglah ke rumahmu. Peluklah ayah dan ibumu. Tunjukkan kepada
mereka bahwa Islam yang kamu pelajari telah mengubahmu menjadi anak yang lebih
lembut, lebih perhatian, dan lebih berbakti. Biarlah mereka melihat hidayah
dari akhlaqmu sebelum mereka mendengarnya dari lisanmu. Karena hidayah yang
masuk lewat mata (melihat ketulusanmu) akan jauh lebih meresap daripada hidayah
yang hanya masuk lewat telinga (mendengar ceramahmu). Jadikan Hijrohmu sebagai
kado terindah bagi orang tuamu, bukan sebagai beban derita yang membuat mereka
menyesal telah membesarkanmu.
Ibadah yang
benar haruslah membuahkan akhlaq yang indah. Jika tidak, maka ada yang salah
dengan cara kita belajar dan memahami warisan kenabian ini. Mari kita kembali
kepada hakikat agama, yaitu memuliakan Sang Pencipta dan menyayangi sesama
hamba, terutama mereka yang paling dekat dengan kita dalam kehidupan dunia.
BAB 5: ILMU SEBAGAI PENUNTUN
HIJROH HAKIKI
5.1
Mengapa Kita Harus Cinta pada Majelis Ilmu dan Para Ulama?
Tidakkah
kita rindu pada ketenangan yang hakiki, di mana jiwa tak lagi merasa sepi dan
hati tak lagi mencari-cari? Mengapa kita sering merasa sudah sampai di puncak
ketaatan, padahal kita baru saja melangkah di tepian jalan yang penuh dengan
godaan? Sungguh, Hijroh tanpa ilmu adalah pengembaraan yang buta, dan hanya
dengan cintalah kita bisa merengkuh cahaya yang nyata. Majelis ilmu bukanlah
sekadar tempat berkumpulnya raga, melainkan taman-taman Jannah yang aromanya harum,
dibanggakan di singgasana Arsy yang mulia.
Alloh ﷻ memerintahkan kita untuk
tetap bersama orang-orang yang senantiasa mencari wajah-Nya, bukan mereka yang
hanya mengejar dunia dengan segala hiasannya:
﴿وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم
بِٱلْغَدَاةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ
زِينَةَ ٱلْحَيَاةِ ٱلدُّنْيَا﴾
“Dan
bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Robb-nya di pagi
dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya; dan janganlah kedua matamu
berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan dunia ini.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Mengapa
kita harus mencintai majelis ilmu? Karena di sanalah Rosululloh ﷺ menjanjikan ketenangan yang tidak akan didapatkan di kafe-kafe
kekinian atau di tempat-tempat hiburan yang penuh dengan kelalaian. Beliau ﷺ bersabda:
«وَمَا
اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ
بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ
الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»
“Tidaklah
suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh (Masjid) untuk membaca
Kitabulloh dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan
akan turun atas mereka, rohmat akan meliputi mereka, Malaikat akan mengelilingi
mereka, dan Alloh akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk yang
ada di sisi-Nya.” (HR.
Muslim no. 2699)
Bayangkan,
namamu disebut oleh Alloh di hadapan para penduduk langit hanya karena kamu mau
duduk belajar! Apakah pujian manusia di media sosial masih terasa berharga
dibandingkan dengan kemuliaan yang agung ini?
Cinta
kepada ilmu juga berarti cinta kepada para Ulama, sang pewaris para Nabi yang
menjaga syariat ini dari tangan-tangan yang zholim dan lisan-lisan yang dusta.
Tanpa mereka, kita akan tersesat dalam memahami wahyu. Alloh ﷻ berfirman:
﴿شَهِدَ
ٱللَّهُ أَنَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ﴾
“Alloh
menyatakan bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia; (demikian
pula) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan.” (QS. Ali Imron: 18)
Alloh
menyandingkan kesaksian para Ulama dengan kesaksian-Nya dan kesaksian para Malaikat.
Inilah bukti bahwa kedudukan mereka tidaklah main-main. Maka, sungguh aneh jika
ada orang yang baru Hijroh namun sudah berani meremehkan fatwa para Ulama besar
seperti Malik bin Anas (179 H) atau Ahmad bin Hanbal (241 H).
Nabi ﷺ menggambarkan keutamaan orang berilmu dibandingkan ahli ibadah
biasa dengan perumpamaan yang sangat indah:
«وَإِنَّ
فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ
الْكَوَاكِبِ»
“Dan
sungguh keutamaan seorang alim dibandingkan seorang ahli ibadah adalah seperti
keutamaan bulan pada malam purnama dibandingkan bintang-bintang lainnya.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)
Cahaya ilmu
akan menerangi langkahmu, sedangkan semangat tanpa ilmu hanya akan membuatmu
menabrak dinding kesombongan yang membatu. Jadilah pecinta majelis ilmu,
jadilah pencium tangan para guru, dan rendahkanlah sayapmu di hadapan mereka
yang telah mengorbankan waktu demi menjaga agama Alloh yang satu.
5.2
Memperbaiki Adab kepada Alloh
Hijroh
sejati bukan tentang bagaimana manusia memandang kita, tapi tentang bagaimana
kita berdiri di hadapan Robb semesta raya. Sudahkah kita memperbaiki adab
kepada-Nya? Ataukah kita masih sering mengeluh saat ujian menyapa, dan merasa
paling berjasa saat amal kita sedikit bertambah di dalam dada? Inti dari
warisan kenabian adalah memperbaiki hubungan batin dengan Sang Pencipta melalui
tiga pilar utama: Ikhlas, Tawakkal, dan Sabar.
Ikhlas
adalah memurnikan tujuan hanya untuk Alloh semata. Tanpa ikhlas, Hijrohmu
hanyalah sandiwara yang melelahkan raga namun kosong dari pahala. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَآ
أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ﴾
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ingatlah,
Alloh tidak butuh pada penampilanmu jika hatimu masih menduakan-Nya dengan pujian
manusia. Nabi ﷺ bersabda dalam Hadits Qudsi:
«أَنَا
أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي
تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»
“Aku
adalah Dzat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang melakukan suatu amal
yang dia menyekutukan selain-Ku bersama-Ku dalam amal itu, maka Aku tinggalkan
dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim no. 2985)
Kemudian,
sudahkah kita bertawakkal? Sering kali setelah Hijroh, kita merasa cemas akan
masa depan, takut kehilangan teman, atau khawatir akan rejeki yang berkurang.
Padahal, Alloh adalah sebaik-baik penjamin bagi hamba yang bersandar pada-Nya.
﴿وَمَن
يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ﴾
“Dan
siapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya.” (QS. Ath-Tholaq: 3)
Nabi ﷺ memberikan perumpamaan tawakkal yang sangat menyentuh jiwa:
«لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا
يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
“Seandainya
kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya
kalian akan diberi rejeki sebagaimana burung diberi rejeki; ia pergi di pagi
hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)
Dan yang
terakhir adalah sabar. Sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi
kemaksiatan, dan sabar atas takdir yang dirasa menyakitkan. Hijroh itu berat,
maka jangan biarkan ia layu karena kurangnya kesabaran di dalam urat.
﴿إِنَّمَا
يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾
“Sesungguhnya
hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Rasakanlah,
betapa manisnya iman saat kita tidak lagi bergantung pada makhluk. Belajarlah
dari keteguhan Al-Hasan Al-Bashri (110 H) yang selalu tenang dalam badai
fitnah, atau kesabaran Sufyan Ats-Tsauri (161 H) yang lari dari jabatan demi menjaga
kemurnian niat. Adab kepada Alloh adalah mahkota dari segala ilmu yang kamu
timba. Jika adabmu kepada-Nya rusak, maka pakaian Sunnahmu hanyalah selembar
kain yang tak punya makna di Akhirat.
5.3
Puncak Risalah Adalah Akhlaq
Apa gunanya
Hijroh jika kita menjadi manusia yang paling tidak disukai oleh tetangga? Apa
gunanya mengaji jika kita menjadi orang yang paling pelit dalam membantu
saudara? Sungguh, puncak dari risalah ini adalah perubahan karakter menjadi
manusia yang memberikan manfaat seluas samudera. Jangan sampai setelah “ngaji”,
tangan kita justru semakin kikir dan lisan kita semakin gemar menyindir.
Alloh ﷻ memuji orang-orang yang mau
berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit:
﴿ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron: 134)
Hijroh
harusnya membuatmu menjadi orang yang paling mudah memaafkan, bukan yang paling
pandai menyimpan dendam. Sudahkah kamu menjadi manusia yang bermanfaat? Nabi ﷺ bersabda dengan kalimat yang sangat singkat:
«خَيْرُ
النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
“Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HSR. Ath-Thobarani dalam Al-Ausath,
dalam Shohih Al-Jami’ no. 3289)
Coba lihat
sekelilingmu. Adakah jandamu yang butuh bantuan? Adakah anak yatim yang butuh
pelukan? Ataukah kamu terlalu sibuk dengan perdebatan di grup WhatsApp hingga
lupa pada mereka yang sedang kelaparan? Akhlaq yang mulia adalah bukti nyata
bahwa imanmu bukanlah sekadar kata-kata.
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa akhlaq yang baik adalah jaminan untuk
mendapatkan kedudukan paling dekat dengan beliau di hari kiamat:
«إِنَّ
مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ
أَخْلَاقًا»
“Sesungguhnya
orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat
duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaqnya di
antara kalian.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2018)
Apakah kamu
ingin dekat dengan Rosululloh ﷺ? Maka perbaikilah caramu
bicara pada istrimu, lembutkanlah sikapmu pada pembantumu, dan jujurlah dalam
setiap transaksi dagangmu. Itulah da’wah yang sesungguhnya. Orang akan melihat
kebenaran Islam dari kejujuranmu, bukan dari panjangnya jenggotmu. Orang akan
mencintai Sunnah karena kedermawananmu, bukan karena ketajaman lisanmu dalam
membid’ah-bid’ahkan amalan khilafiyah fiqhiyyah mu’tabaroh.
Jadilah
seperti mentari yang memberi cahaya tanpa meminta balasan, atau seperti hujan
yang menumbuhkan tanaman di tanah yang gersang. Itulah warisan kenabian yang
sebenarnya: menjadi rohmat bagi semesta, penyejuk bagi yang lara, dan penuntun
bagi yang sedang buta.
5.4
Meneladani Kesantunan Para Shohabat
Sering kali
kita beralasan “tegas” untuk menutupi sifat kasar kita yang sebenarnya.
Kita mengira bahwa mengikuti Shohabat berarti harus selalu marah-marah pada
kemunkaran tanpa melihat situasi dan kondisi yang ada. Padahal, para Shohabat
adalah generasi yang paling paham kapan harus mengunus pedang kebenaran dan
kapan harus menebar sutra kelembutan. Mereka adalah bintang-bintang hidayah
yang cahayanya menuntun kita menuju Jannah.
Alloh ﷻ menggambarkan kelembutan
Rosululloh ﷺ yang didampingi oleh para Shohabat yang setia:
﴿فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ﴾
“Maka
disebabkan rohmat dari Allohlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)
Jika Nabi ﷺ saja dilarang bersikap kasar, lalu siapa kita yang berani
merasa benar dengan caci maki? Lihatlah Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu
‘anhu, orang yang paling tegas imannya namun paling lembut hatinya hingga
sering menangis saat membaca ayat-ayat Suci. Lihatlah Umar bin Khoththob (23 H)
rodhiyallahu ‘anhu, yang sangat garang kepada musuh Alloh namun sangat
takut jika ada seekor keledai terperosok karena kelalaiannya dalam memimpin
negeri.
Para
Shohabat mengajarkan kita bahwa da’wah itu butuh hikmah, bukan amarah. Alloh ﷻ berfirman:
﴿ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم
بِٱلَّتِى هِيَ أَحْسَنُ﴾
“Serulah
(manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ingatlah
kisah seorang Badui yang kencing di pojok Masjid. Para Shohabat marah dan ingin
segera menghajarnya, namun apa kata Nabi ﷺ?
«دَعُوهُ
وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا
بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»
“Biarkanlah
dia, dan siramlah bekas kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian
diutus untuk memberi kemudahan, dan bukan diutus untuk memberi kesulitan.” (HR. Al-Bukhori no. 220)
Inilah
warisan kenabian! Memberi kemudahan bagi orang untuk bertaubat, bukan menutup
pintu taubat dengan wajah kita yang menyeramkan. Tegaslah dalam aqidah, jangan
berkompromi dengan kesyirikan. Namun lembutlah dalam muamalah, rangkullah
mereka yang masih belum paham dengan penuh kasih sayang.
Jadilah
seperti Mush’ab bin Umair (3 H) yang masuk ke Madinah dengan modal akhlaq
hingga satu kota memeluk Islam tanpa ada darah yang tumpah. Jadilah seperti
Anas bin Malik (93 H) yang melayani Nabi ﷺ
selama sepuluh tahun tanpa sekalipun mendengar kata “ah” atau “mengapa
kamu melakukan ini”. Hijrohmu akan terasa indah jika kamu mampu memadukan
antara kekuatan prinsip dan keindahan adab. Itulah jalan para Shohabat, jalan
yang diridhoi oleh Alloh, Robb semesta alam.
PENUTUP
Perjalanan
kita menelusuri fenomena Hijroh yang terjebak pada penampilan telah sampai pada
sebuah kesimpulan yang dalam: bahwa agama ini bukanlah sekadar apa yang
menempel di badan, melainkan apa yang menghujam kuat di dalam iman dan
terpancar nyata dalam akhlaq kepada sesama insan.
Kita telah
melihat bagaimana bahayanya jika ilmu dijauhkan dari amal, dan bagaimana
petakanya jika penampilan dijadikan sebagai alat untuk merasa paling unggul dan
handal. Jenggot, cingkrang, dan cadar adalah kemuliaan, namun ia akan menjadi
beban jika di baliknya tersimpan kesombongan dan lisan yang penuh dengan
hinaan. Mari kita kembali ke warisan kenabian yang murni, warisan yang
mengajarkan kita untuk tunduk pada wahyu namun tetap memiliki empati pada hati
yang sedang sunyi.
Alloh ﷻ mengingatkan kita tentang
hari di mana tak ada lagi manfaat dari segala yang bersifat lahiriah semata:
﴿يَوْمَ
لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
“(Yaitu)
pada hari di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang
datang kepada Alloh dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’aro: 88-89)
Hati yang
selamat adalah hati yang bersih dari syirik, bersih dari sombong, bersih dari
hasad, dan bersih dari rasa merasa paling benar sendiri. Semoga Hijroh kita
tidak berhenti di lemari pakaian, tapi terus menembus hingga ke kedalaman jiwa
yang paling dalam. Semoga setiap langkah kita menuju majelis ilmu dibalas
dengan kemudahan jalan menuju Jannah yang penuh dengan kedamaian dan keindahan.
Mari kita
akhiri dengan doa yang sering dibaca oleh Rosululloh ﷺ:
«يَا
مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai
Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2140)
Serta doa memohon
akhlaq yang mulia:
«اللَّهُمَّ
اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ ، وَاصْرِفْ
عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ»
“Ya
Alloh, tunjukilah aku kepada akhlaq yang paling baik, tidak ada yang dapat
menunjuki kepada akhlaq yang terbaik melainkan Engkau. Dan palingkanlah dariku
akhlaq yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan aku dari akhlaq yang buruk
melainkan Engkau.” (HR.
Muslim no. 771)
Selamat
berjuang wahai para Muhajir yang rindu akan Ridho-Nya. Jangan pernah lelah
belajar, jangan pernah berhenti memperbaiki adab. Karena perjalanan menuju
Alloh adalah perjalanan seumur hidup, dan bekal terbaiknya adalah Taqwa yang
dibalut dengan ilmu dan Akhlaq yang mulia. Sampai jumpa di telaga Al-Kautsar,
di bawah naungan rohmat Sang Rahman yang Maha Luas dan Maha Besar.
Allohu a’lam.[NK]
