Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Ketika Hijroh Hanya Penampilan, Menjauh dari Warisan Kenabian - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam yang memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dengan rohmat-Nya yang luas dan kasih sayang-Nya yang tak terbatas.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , sang pembawa risalah, yang telah menuntun umat dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu yang cerah dan jelas.

Amma ba’du:

Pernahkah terbersit di dalam benak kita, saat kaki mulai melangkah meninggalkan masa lalu yang kelam, ke mana sebenarnya tujuan akhir dari perjalanan yang kita sebut sebagai Hijroh ini? Apakah Hijroh hanya sekadar berpindah dari satu gaya hidup ke gaya hidup yang lain, ataukah ia adalah sebuah pendakian menuju puncak kesempurnaan iman yang menuntut pengorbanan batin? Sungguh, banyak di antara kita yang merasa telah sampai ke garis finish hanya karena telah mengubah penampilan luar. Kita merasa telah menjadi hamba yang dicintai-Nya hanya karena helai rambut di dagu telah dibiarkan memanjang, atau karena kain di atas mata kaki telah terangkat tinggi, atau karena wajah telah tertutup rapat di balik cadar yang rapi. Namun, adakah kita sadar bahwa semua itu barulah kulit luarnya saja?

Buku ini hadir bukan untuk meremehkan Sunnah yang mulia tersebut, karena jenggot, cingkrang, dan cadar adalah bagian dari syariat yang kita cintai. Namun, buku ini ingin mengajak kita semua untuk bertanya dengan jujur: di manakah ilmu yang seharusnya menjadi ruh bagi setiap amal? Mengapa semakin kita merasa “nyunnah” secara fisik, lisan kita justru semakin tajam menyakiti sesama? Mengapa tangan kita lebih ringan untuk mengetik hujatan di media sosial daripada untuk bersedekah secara sembunyi? Mengapa kita begitu berani mengkritik para ahli ilmu, bahkan ustadz yang telah mengajarkan kita satu atau dua huruf agama, hanya karena mereka tidak sependapat dengan pemikiran kita yang masih prematur?

Mari kita menyelami kembali warisan kenabian yang sesungguhnya. Warisan itu bukanlah tumpukan harta, melainkan ilmu yang membuahkan adab dan akhlaq. Kita akan melihat bagaimana Alloh berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

﴿وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرَٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ ٱلْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾

“Dan siapa yang berhijroh di jalan Alloh, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat Hijroh yang luas dan rejeki yang banyak. Dan siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijroh kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat tujuan), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Alloh. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)

Perhatikanlah, Hijroh itu ditujukan kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan bagaimana mungkin kita bisa menuju kepada-Nya jika kita enggan mempelajari apa yang Dia sukai dan apa yang Dia benci? Bagaimana mungkin kita mengikuti Rosul-Nya jika kita hanya mengambil cara berpakaiannya namun membuang kelembutan akhlaqnya?

Mari kita mulai perjalanan ini dengan hati yang lapang, siap ditegur oleh dalil, dan siap diperbaiki oleh wahyu. Karena Hijroh tanpa ilmu adalah pengembaraan yang buta, dan penampilan tanpa adab adalah hiasan yang hampa.

 

BAB 1: HIJROH SEBATAS GANTI KOSTUM?

1.1 Hanya Pindah Tempat atau Pindah Hati?

Dunia ini sering kali menipu pandangan, membuat kita terpana pada apa yang nampak di depan. Kita sering merasa sudah menjadi Mu’min yang kuat, padahal hati masih dipenuhi dengan penyakit yang berkarat. Apakah Hijroh itu hanya sekadar meninggalkan tempat yang maksiat, ataukah ia adalah perjuangan jiwa agar tidak tersesat? Mari kita renungkan sabda Sang Nabi yang menjadi pondasi setiap niat dan amal:

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

“Sungguh setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang Hijrohnya karena Alloh dan Rosul-Nya, maka Hijrohnya itu menuju Alloh dan Rosul-Nya. Dan siapa yang Hijrohnya karena dunia yang ingin dia dapatkan atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka Hijrohnya itu menuju kepada apa yang dia tujukan dalam Hijrohnya tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)

Hadits ini adalah cermin yang sangat jernih bagi kita yang baru saja memulai langkah baru. Kita harus bertanya: “Untuk siapakah aku memanjangkan jenggot ini? Untuk siapakah aku mengenakan kain yang lebar ini?” Jika tujuannya hanya agar diterima di lingkungan pergaulan yang baru, atau agar dianggap lebih bertaqwa oleh manusia, maka sungguh kita belum berhijroh kepada Alloh. Kita barulah berpindah dari satu jenis panggung ke panggung yang lainnya.

Hijroh yang hakiki adalah perpindahan dari benci menjadi cinta kepada ketaatan, dari sombong menjadi tunduk di hadapan kebenaran. Alloh berfirman:

﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِين﴾

“Maka berlarilah kalian menuju Alloh. Sungguh aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya untuk kalian.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)

Berlari menuju Alloh artinya meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari-Nya. Ini bukan soal jarak geografis, tapi soal jarak antara hati kita dengan hidayah-Nya. Sering kali kita merasa sudah jauh meninggalkan masa lalu, namun sifat-sifat jahiliyah masih melekat kuat di dalam kalbu. Kita masih gemar pamer, masih suka dipuji, dan masih haus akan pengakuan. Di sinilah letak bahayanya jika Hijroh hanya dimaknai sebagai perubahan lahiriah.

Rosululloh juga menjelaskan makna Hijroh dalam lingkup yang lebih luas bagi mereka yang tidak melakukan perpindahan fisik:

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

“Seorang Muslim sejati adalah dia yang orang-orang Muslim lainnya merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang Muhajir (orang yang berhijroh) adalah dia yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 10 dan Muslim no. 40)

Coba perhatikan baik-baik Hadits di atas. Definisi orang yang berhijroh adalah meninggalkan larangan Alloh. Apakah kita sudah benar-benar meninggalkan larangan-Nya? Ataukah kita hanya mengganti jenis dosa kita? Dulu mungkin kita bermaksiat dengan musik dan hiburan malam, sekarang mungkin kita bermaksiat dengan lisan yang tajam menghujat sesama Muslim di grup-grup WhatsApp atas nama “pembelaan terhadap Sunnah”. Jika demikian, benarkah kita sudah disebut sebagai orang yang berhijroh?

1.2 Ketika Jenggot, Cingkrang, dan Cadar Menjadi Standar Tunggal Kesolihan

Fenomena hari ini menunjukkan betapa mudahnya kita terjebak dalam penghakiman visual. Kita melihat seseorang dengan jenggot lebat dan pakaian cingkrang, langsung kita sematkan gelar “Ahlul Jannah”. Sebaliknya, jika melihat saudara kita yang masih awam dan pakaiannya belum sesuai kriteria fisik kita, kita memandangnya dengan sebelah mata seolah-olah dia adalah penghuni Naar yang nyata. Apakah ketaqwaan itu sesempit ukuran kain atau panjangnya rambut di dagu kita?

Sungguh, Rosululloh telah mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh casing yang indah namun isinya rapuh. Beliau bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sungguh Alloh tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Hadits ini bukan berarti kita boleh meremehkan penampilan yang disunnahkan, namun Hadits ini adalah pengingat agar kita tidak menjadikan penampilan sebagai satu-satunya tolak ukur kesolihan. Jenggot adalah Sunnah, cingkrang adalah bentuk ketaatan agar tidak sombong, dan cadar adalah kemuliaan bagi wanita. Namun, jika semua itu justru melahirkan kesombongan baru di dalam hati, maka ketaatan itu telah diracuni oleh iblis.

Lihatlah peringatan Alloh tentang orang-orang yang hanya mengandalkan penampilan namun hatinya kosong dari keimanan yang benar:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ﴾

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan adalah kayu yang tersandar.” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Betapa ngerinya jika kita termasuk dalam golongan yang dipuji manusia karena penampilan kita yang Islami, namun di mata Alloh kita hanyalah “kayu yang tersandar”—mati, tidak bernyawa, dan tidak memberikan manfaat. Keindahan fisik tanpa dibarengi dengan keindahan batin adalah sebuah penipuan terhadap diri sendiri.

Kita harus sadar bahwa setiap ketaatan lahiriah harus diimbangi dengan ketaatan batiniah. Jangan sampai kita sibuk mengurus panjang pendeknya pakaian, tapi kita lupa mengurus panjang pendeknya lisan. Jangan sampai kita sibuk menutupi wajah dengan cadar, tapi kita lupa menutupi aib saudara kita sendiri. Rosululloh bersabda:

«مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ»

“Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Alloh akan menutupi aibnya di dunia dan di Akhiroh.” (HR. Muslim no. 2699)

Apakah kita sudah melakukan ini? Ataukah setelah Hijroh, hobi kita justru mencari-cari kesalahan orang lain untuk kita jadikan bahan perdebatan? Jika itu yang terjadi, maka Hijroh kita barulah sebatas ganti kostum, belum menyentuh relung jantung.

1.3 Fenomena “Artis Hijroh” dan Pengaruhnya terhadap Gaya Hidup Baru yang Instan

Kita hidup di zaman yang serba cepat, di mana popularitas bisa didapat hanya dengan satu kali klik. Begitu pula dengan fenomena Hijroh. Banyak publik figur yang memutuskan untuk kembali ke jalan agama, dan tentu kita bersyukur akan hal itu. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika massa atau pengikutnya menganggap bahwa perubahan penampilan mereka adalah puncak dari segalanya. Kita melihat Hijroh sebagai sebuah tren, sebuah “lifestyle” baru yang harus diikuti agar tetap terlihat kekinian namun tetap agamis.

Padahal, ilmu agama bukanlah sesuatu yang bisa didapat secara instan layaknya mie dalam kemasan. Ia menuntut kesabaran, duduk di majelis ilmu, dan menundukkan ego di hadapan para Ulama. Alloh berfirman:

﴿فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Sayangnya, banyak di antara kita yang setelah “berhijroh” justru lebih suka mengikuti gaya hidup artis tersebut daripada mengikuti bimbingan para Ulama. Kita lebih suka menonton potongan video durasi pendek yang hanya berisi motivasi tanpa dalil yang mendalam, daripada membaca kitab-kitab induk para Salaf. Akibatnya, pemahaman agama kita menjadi sangat dangkal. Kita merasa sudah tahu segalanya, padahal kita baru menyentuh permukaannya.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai “Hijroh Instan”. Baru belajar kemarin sore, sudah berani memfatwakan harom dan halal. Baru belajar satu dua Hadits, sudah berani membid’ah-bid’ahkan masalah khilafiyah yang masyhur di kitab-kitab fiqih. Bukankah Rosululloh telah memperingatkan tentang munculnya orang-orang yang bodoh namun dijadikan pemimpin dalam urusan agama?

«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»

“Sungguh Alloh tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari dada manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para Ulama. Sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang pun yang alim, manusia pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 100 dan Muslim no. 2673)

Hijroh yang benar bukan tentang seberapa cepat kita berganti gaya, tapi seberapa sabar kita menimba ilmu yang shohih. Jika kita hanya mengejar tren, maka ketika tren itu berganti, bisa jadi iman kita ikut pergi. Kita harus memiliki akar yang kuat di dalam ilmu, agar tidak mudah terombang-ambing oleh ombak opini.

1.4 Apakah Rosululloh Hanya Mengajarkan Cara Berpakaian?

Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar: Untuk apa Nabi kita diutus? Apakah beliau diutus hanya untuk memberitahu kita model pakaian atau panjang jenggot? Tentu saja tidak. Beliau diutus untuk menyempurnakan sesuatu yang jauh lebih agung dari sekadar urusan lahiriah. Beliau bersabda:

«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاقِ»

“Sungguh aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HSR. Ahmad no. 8952)

Perhatikan kata “Innama” (hanyalah) di sana. Ini menunjukkan betapa krusialnya masalah akhlaq dalam misi kenabian. Jika kita mengaku telah berhijroh mengikuti Sunnah beliau, namun akhlaq kita masih buruk kepada orang tua, kasar kepada istri, zholim kepada tetangga, dan angkuh kepada sesama Muslim, maka kita sebenarnya belum benar-benar mengikuti beliau. Kita baru mengambil secuil dari ajarannya dan membuang bagian yang paling utamanya.

Alloh berfirman memuji akhlaq Rosul-Nya:

﴿وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾

“Dan sungguh kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam: 4)

Apakah kita sudah berusaha meneladani keagungan akhlaq tersebut? Ataukah setelah Hijroh, wajah kita justru semakin cemberut dan sulit untuk menebar senyum? Padahal Nabi bersabda:

«تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1956)

Berapa banyak dari kita yang setelah mengenal da’wah ini justru menjadi orang yang paling pelit dengan senyuman kepada orang-orang di luar lingkaran pengajian kita? Seolah-olah mereka tidak pantas mendapatkan keramahan kita karena mereka belum “nyunnah”. Ini adalah sebuah musibah besar dalam beragama. Kita membangun benteng kesombongan di atas pondasi penampilan.

Ingatlah, iman itu bukan sekadar angan-angan atau penampilan, tapi apa yang menghujam di dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Amal perbuatan yang paling berat timbangannya di Akhiroh bukanlah panjangnya jenggot atau lebar cadar, melainkan akhlaq yang mulia. Rosululloh bersabda:

«مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الفَاحِشَ البَذِيءَ»

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal seorang Mu’min pada Hari Kiamat melainkan akhlaq yang baik. Sungguh Alloh benar-benar membenci ucapan kotor dan kasar. (HSR. At-Tirmidzi no. 2002)

Jadi, marilah kita berhenti sejenak dan mengoreksi diri. Jika Hijroh kita hanya berhenti di lemari pakaian, maka kita telah rugi besar. Mari kita jadikan penampilan kita sebagai pembuka jalan bagi hidayah, bukan sebagai penghalang bagi orang lain untuk mengenal indahnya Islam. Jadikan jenggot kita sebagai tanda bahwa kita adalah hamba yang paling lembut, jadikan celana cingkrang kita sebagai tanda bahwa kita adalah hamba yang paling rendah hati, dan jadikan cadar kita sebagai tanda bahwa kita adalah hamba yang paling terjaga kesucian lisannya. Itulah Hijroh yang sesungguhnya, yang akan membawa kita pulang ke Jannah dengan penuh cinta dan ridho dari Sang Pencipta.

Hijroh bukanlah sebuah titik, melainkan sebuah garis yang terus memanjang hingga hembusan nafas terakhir. Jangan biarkan ia layu hanya karena kita merasa sudah cukup dengan apa yang tampak di mata manusia. Sebab, di hadapan Alloh, hanya hati yang selamat (qolbun salim) yang akan diterima.

﴿يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾

“(Yaitu) pada hari di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Alloh dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’aro: 88-89)

 

BAB 2: HIJROH SALAH NIAT

2.1 Belajar Ilmu Agama Itu Melelahkan, Sedangkan Ganti Baju Itu Instan

Pernahkah terlintas dalam benak kita yang sedang berbunga, mengapa kita lebih memilih sibuk mengurus rupa daripada menguras tenaga untuk membaca? Mengapa jemari kita begitu lincah memilih kain di pasar daring, namun terasa kaku dan berat saat harus membalik lembaran kitab yang bening? Sungguh, mengubah penampilan hanyalah urusan waktu satu menit di depan cermin, namun mengubah isi kepala dan hati adalah perjuangan yang tak kunjung dingin. Kita sering kali terjebak dalam rasa puas yang semu, merasa telah menjadi hamba yang berilmu, hanya karena pakaian kita telah berganti menu.

Belajar agama bukanlah sekadar duduk manis mendengarkan dongeng, melainkan sebuah pengabdian yang membuat punggung terasa kencang dan mata menjadi juling karena tekun memandang. Alloh berfirman tentang kedudukan orang-orang yang berilmu:

﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾

“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Derajat yang tinggi itu tidak didapatkan dengan hanya memanjangkan jenggot semata, melainkan dengan tetesan keringat dalam memahami wahyu yang mulia. Rosululloh bersabda tentang betapa agungnya jalan pencari ilmu:

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»

“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)

Jalan menuju Jannah itu penuh dengan onak dan duri, bukan hanya jalan setapak yang dihiasi pakaian indah di kanan kiri. Banyak orang yang memilih berhenti di penampilan karena itu adalah jalan pintas untuk mendapatkan pengakuan. Jika ingin dianggap sholih, cukup pakai jubah dan pelihara rambut di dagu. Jika ingin dianggap sholihah, cukup pakai cadar dan kaus kaki yang baru. Namun, untuk menjadi benar-benar sholih di hadapan Alloh, kita butuh tahu mana yang fardhu dan mana yang semu.

Dahulu, para Salafush Sholih melakukan perjalanan berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan satu buah Hadits. Jabir bin Abdillah (78 H) pernah menempuh perjalanan satu bulan penuh menuju Syam hanya untuk mendengar satu Hadits dari Abdulloh bin Unais (74 H). Sedangkan kita? Kita enggan melangkah ke Masjid yang hanya berjarak beberapa meter, namun kita sangat bersemangat memesan pakaian model terbaru agar terlihat “nyunnah” di depan komputer.

Alloh memerintahkan kita untuk terus meminta tambahan ilmu, bukan tambahan koleksi baju:

﴿وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾

“Dan katakanlah: ‘Wahai Robb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’.” (QS. Thoha: 114)

Mengapa kita lebih sering meminta “Ya Alloh, tambahkanlah rejekiku untuk beli cadar baru” daripada “Ya Alloh, pahamkanlah aku tentang aqidah yang benar agar aku tidak keliru”? Ilmu adalah warisan yang paling berharga, sedangkan pakaian akan usang dimakan usia. Rosululloh bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»

“Dan sungguh para ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)

Apakah kita termasuk orang yang mengambil bagian yang banyak itu? Ataukah kita hanya puas menjadi penonton di pinggir jalan, memakai kostum sang pewaris namun tak tahu apa yang diwariskan? Sungguh tragis jika di hari Kiamat kita dibangkitkan dengan pakaian Sunnah, namun hati kita kosong dari pemahaman yang membawa berkah.

2.2 Bahaya Tamak Pengakuan Orang Lain

Syaithon memiliki ribuan cara untuk menggelincirkan kaki, terutama bagi mereka yang baru saja bertaubat dan kembali. Salah satu jerat yang paling halus adalah rasa nikmat saat dipuji oleh insan, seolah-olah pintu Jannah sudah terbuka lebar di depan badan. Ketika kita mulai mengubah penampilan, orang-orang akan mulai memanggil kita dengan sebutan “Akhi”, “Ukhti”, atau bahkan “Ustadz” dan “Ustadzah” meski ilmu kita masih seujung kuku kaki. Di sinilah bibit-bibit penyakit hati mulai bersemi, membuat kita merasa lebih suci daripada penduduk bumi.

Alloh memperingatkan dengan tegas agar kita tidak merasa paling bertaqwa:

﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾

“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia (Alloh) lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)

Pujian manusia itu seperti madu yang mengandung racun, jika diminum terlalu banyak akan membuat hati menjadi pikun. Kita menjadi lebih sibuk memikirkan bagaimana cara mempertahankan citra di mata manusia, daripada memperbaiki niat yang mulai ternoda. Inilah yang disebut dengan Riya’—syirik kecil yang sangat ditakuti oleh Rosululloh menimpa umatnya. Beliau bersabda:

«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ». قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ»

“Sungguh yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para Shohabat bertanya: “Apa itu syirik kecil wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Riya’ (pamer).” (HSR. Ahmad no. 23630)

Betapa banyak orang yang berhijroh namun justru terjatuh dalam lubang ini. Mereka memposting foto bercadar dengan caption yang sangat puitis, namun tujuannya hanyalah agar mendapatkan “like” dan komentar yang manis. Mereka memamerkan jenggot dan pakaian cingkrangnya di media sosial, bukan untuk da’wah, melainkan untuk menunjukkan bahwa mereka sudah “hijroh total”. Padahal, apa yang tampak di luar belum tentu mencerminkan apa yang ada di dalam jiwa yang kekal.

Ketahuilah, penghuni Jannah bukanlah mereka yang paling bagus pakaiannya, melainkan mereka yang paling ikhlas hatinya. Alloh berfirman tentang orang-orang yang rugi amalannya:

﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Jangan sampai kita merasa sudah “islami” hanya karena kostum, padahal di dalam hati masih ada keinginan untuk dikagumi oleh umum. Rasa puas diri ini adalah penghalang utama bagi kita untuk belajar lagi. “Untuk apa aku belajar? Toh aku sudah terlihat seperti ustadz,” bisikan syaithon ini sering kali mematikan semangat untuk menuntut ilmu. Akhirnya, kita hanya menjadi pajangan yang tak berjiwa, indah di mata manusia namun rapuh di hadapan Sang Pencipta.

Rosululloh memberikan gambaran yang sangat mengerikan tentang orang yang beramal namun bukan karena Alloh:

«مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ»

“Siapa yang memperdengarkan amalnya (ingin kondang), maka Alloh akan memperdengarkan aibnya. Dan siapa yang memamerkan amalnya, maka Alloh akan memamerkan rahasianya (pada hari Kiamat).” (HR. Al-Bukhori no. 6499 dan Muslim no. 2987)

Maka, setiap kali kita mengenakan pakaian Sunnah, bertanyalah pada diri sendiri: “Apakah aku siap jika Alloh membuka isi hatiku yang sebenarnya di hadapan seluruh manusia nanti?” Jika kita merasa gemetar dan takut, maka segeralah perbaiki niat. Hijroh itu menuju Alloh, bukan menuju panggung pujian yang sesaat. Jangan biarkan sehelai kain atau serabut jenggot menjadi tiket kita menuju Naar hanya karena kita salah dalam menata rasa di dalam dada.

2.3 Guru Karbitan dan Belajar Agama Lewat Potongan Video Tanpa Sanad Ilmu

Di zaman fitnah yang serba canggih ini, ilmu seolah-olah berada dalam genggaman jempol yang suka berlari. Cukup dengan membuka aplikasi, kita bisa mendengar ribuan ceramah dari berbagai penjuru negeri. Namun, kemudahan ini sering kali menjadi bumerang bagi mereka yang baru berhijroh dan ingin serba instan tanpa harus mengaji secara langsung di bawah bimbingan guru yang mumpuni. Kita lebih suka menjadi “santri online” yang hanya mengandalkan potongan video pendek berdurasi tiga puluh detik, daripada duduk bersimpuh di majelis ilmu yang penuh dengan keberkahan dan khusyuk.

Alloh telah memerintahkan kita untuk mengikuti jalan orang-orang yang berilmu:

﴿وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)

Masalahnya, siapakah yang kita ikuti di dunia maya itu? Banyak orang yang tiba-tiba muncul menjadi ustadz dadakan hanya karena pandai bicara dan memiliki penampilan yang meyakinkan. Mereka tidak pernah duduk belajar bertahun-tahun di hadapan para Ulama, tidak menguasai kaidah Nahwu dan Shorof, namun berani memberikan fatwa yang sangat tajam dan membuat telinga menjadi merah meradang. Mereka adalah “guru karbitan” yang hanya menjual retorika tanpa kedalaman makna.

Rosululloh bersabda tentang fenomena ini:

«إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ»

“Sungguh di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu dicari dari orang-orang yang kecil (ahlul bid’ah atau orang yang tidak memiliki ilmu yang mendalam).” (HSR. Ibnul Mubarok, Shohih Al-Jami’ no. 2207)

Belajar lewat potongan video sering kali membuat kita salah paham dalam menangkap pesan. Kita hanya mengambil apa yang cocok dengan hawa nafsu kita, lalu kita jadikan senjata untuk menyerang orang lain yang berbeda pandangan. Kita merasa sudah menjadi “pembela Sunnah” yang gagah, padahal kita baru saja menelan mentah-mentah satu dua kalimat tanpa tahu konteks dan dasarnya yang kokoh dan indah.

Ibnu Sirin (110 H) rohimahullah pernah berpesan dengan kalimat yang sangat masyhur:

«إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ»

“Sungguh ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqodimah Shohih Muslim)

Apakah kita sudah selektif dalam memilih guru? Ataukah kita asal klik saja asalkan ustadznya “keren”, “gaul”, atau “garang” saat mengkritik penguasa atau kelompok lain? Belajar agama tanpa sanad (mata rantai guru) yang jelas akan membuat kita tersesat dalam rimba penafsiran yang liar. Kita akan menjadi orang yang sombong karena merasa punya dalil, padahal dalil itu kita gunakan bukan pada tempatnya.

Ingatlah firman Alloh:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾

“And janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro: 36)

Jangan sampai kita menjadi korban dari para “pencuri ilmu” yang hanya ingin mengumpulkan pengikut demi materi atau popularitas semata. Carilah guru yang bertaqwa, yang akhlaqnya sejalan dengan ilmunya, yang tidak hanya menyuruh kita memanjangkan jenggot tapi juga mengajarkan kita bagaimana cara berbakti kepada orang tua dengan penuh cinta. Hijroh yang tidak dibimbing oleh guru yang benar hanya akan melahirkan sosok-sosok radikal yang kasar dan jauh dari kelembutan wahyu yang memancar.

2.4 Ketika Kain di Wajah atau Rambut di Dagu Membuat Merasa Lebih Mulia dari Orang Lain

Inilah puncak dari segala bencana bagi mereka yang baru saja berpindah haluan menuju ketaatan. Namanya adalah ujub—rasa kagum pada diri sendiri yang membuat kita memandang remeh setiap hamba Alloh yang belum mendapatkan hidayah seperti kita. Saat kita bercermin dan melihat penampilan kita yang sudah “syar’i”, syaithon membisikkan: “Lihatlah dirimu, kau jauh lebih baik dari saudaramu yang masih memakai celana jin itu. Kau jauh lebih mulia dari wanita yang masih belum menutup aurotnya itu.” Seketika itu juga, gugurlah pahala karena kesombongan yang bertahta.

Nabi bersabda dengan nada yang sangat serius:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim no. 91)

Apa itu sombong? Beliau menjelaskannya dalam Hadits yang sama:

«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

Berapa banyak dari kita yang setelah Hijroh justru menjadi ahli dalam meremehkan manusia? Kita memandang sinis orang yang Sholat sementara pakaiannya belum cingkrang. Kita tidak mau mengucapkan salam kepada tetangga yang belum kita anggap “satu pemahaman”. Padahal, siapa yang menjamin bahwa akhir hayat kita lebih baik dari mereka? Bisa jadi orang yang kita remehkan itu memiliki satu amalan tersembunyi yang sangat dicintai Alloh, sedangkan kita hanya memiliki penampilan yang penuh dengan kepalsuan.

Alloh sangat membenci orang yang sombong dan memalingkan wajahnya dari sesama:

﴿وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ﴾

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Ujub adalah racun yang paling mematikan bagi keikhlasan. Ia muncul saat kita merasa bahwa Hijroh ini adalah hasil kerja keras kita sendiri, bukan karena taufiq dari Alloh semata. Kita lupa bahwa dulu pun kita adalah orang yang jauh dari agama. Mengapa sekarang kita begitu cepat menghakimi orang lain seolah-olah kita adalah panitia hari Kiamat?

Rosululloh memberikan peringatan melalui sebuah kisah yang sangat berharga:

«أَنَّ رَجُلًا قَالَ: وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لِفُلَانٍ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ»

“Ada seorang lelaki berkata: ‘Demi Alloh, Alloh tidak akan mengampuni si fulan.’ Maka Alloh Ta’ala berfirman: ‘Siapa yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku telah menghapuskan amalanmu’.” (HR. Muslim no. 2621)

Bayangkan! Orang yang merasa paling benar dan paling suci justru dihapuskan seluruh amalannya karena kelancangannya dalam menghakimi hamba Alloh yang lain. Ini adalah pelajaran pahit bagi kita yang sering kali merasa “memiliki” kunci Jannah hanya karena sudah memakai atribut Sunnah.

Pakaian Sunnah seharusnya membuat kita semakin rendah hati, seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk ke bumi. Jika jenggotmu membuatmu merasa lebih hebat, maka cukurlah kesombonganmu sebelum ia membakarmu. Jika cadarmu membuatmu merasa lebih suci dari wanita yang belum berhijab, maka singkaplah tabir keangkuhanmu sebelum Alloh menghinakanmu.

Setiap kali merasa ujub muncul, ingatlah doa yang diajarkan Nabi :

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” (HSR. Al-Bukhori dalam Al-Mufrod no. 716)

Marilah kita kembali ke jalan yang lurus. Hijroh itu adalah proses untuk menjadi hamba yang lebih tahu diri, bukan hamba yang lupa diri. Jangan sampai penampilan luar kita yang Islami justru menjadi hijab bagi kita untuk masuk ke dalam rohmat-Nya yang abadi. Karena pada akhirnya, yang akan masuk Jannah adalah mereka yang membawa hati yang bersih dari noda kesombongan dan penuh dengan rasa takut kepada Robb-nya yang Maha Agung lagi Maha Tinggi.

 

BAB 3: PETAKA SAAT HIJROH MENJAUH DARI ILMU

3.1 Mengapa Lisan Kita Menjadi Lebih Tajam Setelah Mengenal Sunnah?

Pernahkah kita merasa ada yang ganjil dalam dada, saat ketaatan lahiriah meningkat namun kelembutan jiwa justru sirna? Mengapa setelah kita mengenal jenggot dan pakaian yang mulia, lisan kita justru menjadi lebih ringan untuk mencela sesama? Sungguh, ini adalah tanda hati yang mulai membatu, ketika ilmu hanya sampai di tenggorokan namun tak pernah menyentuh kalbu. Kita merasa paling mengikuti Sunnah, namun lisan kita justru menebar fitnah yang membuat hati orang lain merasa susah.

Alloh telah memberikan peringatan tentang bahaya lisan yang tak terjaga, yang bisa menyeret pelakunya ke dalam jurang Naar yang membara:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Ucapkanlah perkataan yang benar, bukan perkataan yang membuat orang lain menjadi gentar. Rosululloh memberikan standar yang sangat jelas bagi siapa saja yang mengaku telah beriman, agar dia menjaga lisannya dari segala bentuk gangguan:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Lihatlah betapa indahnya arahan ini bagi jiwa yang rindu akan ketenangan. Jika tidak ada kebaikan dalam ucapan, maka diam adalah sebuah kemuliaan. Namun, mengapa kita yang mengaku sudah berhijroh justru merasa punya hak untuk berkata kasar atas nama “ketegasan”? Kita lupa bahwa ketegasan tanpa ilmu adalah sebuah kesesatan, dan kelembutan adalah perhiasan bagi setiap perbuatan. Nabi bersabda:

«إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ»

“Sungguh kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim no. 2594)

Apakah penampilan “nyunnah” kita sudah dihiasi dengan kelembutan yang mempesona? Ataukah wajah kita justru selalu menampakkan amarah yang membara? Ingatlah, bahwa kerasnya hati adalah awal dari segala petaka. Sebagaimana pesan dari Fudhoil bin Iyadh (187 H) rohimahullah, bahwa di antara tanda celakanya seseorang adalah kerasnya hati dan sedikitnya rasa malu.

Alloh berfirman tentang kerasnya hati yang lebih parah daripada batu yang membeku:

﴿ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً﴾

“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al-Baqoroh: 74)

Betapa malangnya jika Hijroh kita justru membuat hati semakin keras dan kaku. Kita merasa paling benar, lalu dengan mudahnya menghardik orang yang belum tahu. Padahal, Rosululloh diutus dengan membawa rohmat yang luas bagi semesta alam. Beliau bersabda:

«الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ»

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rohman (Alloh yang Maha Penyayang). Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya Siapa yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HSR. Abu Dawud no. 4941)

Maka, jika lisanmu semakin tajam saat penampilanmu semakin “sunnah”, periksalah hatimu, jangan-jangan ada yang salah. Ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut kepada Alloh dan kasih sayang kepada makhluk-Nya yang lemah. Jangan biarkan jenggotmu menjadi tameng untuk menghujat, dan jangan biarkan cadarmu menjadi alasan untuk merasa paling hebat. Karena pada akhirnya, lisan yang selamat adalah lisan yang membawa kita menuju Rohmat-Nya yang tak terbatas.

3.2 Gemar Berdebat

Dunia maya kini penuh dengan arena adu kata, di mana setiap orang merasa paling paham tentang agama. Kita yang baru saja mengenal satu atau dua dalil, tiba-tiba merasa sudah menjadi Mujtahid yang paling terampil. Kita masuk ke kolom komentar, menyerang setiap pendapat yang tidak sejalan dengan apa yang baru saja kita dengar. Padahal, gemar berdebat adalah tanda bahwa hidayah sedang dicabut, dan keberkahan ilmu sedang direbut.

Alloh mencela orang yang suka membantah tanpa dasar ilmu yang kokoh dan kuat:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang membantah tentang Alloh tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Al-Hajj: 8)

Apakah kita termasuk orang yang demikian? Membela Sunnah dengan cara yang justru dimurkai oleh Pemilik Sunnah itu sendiri? Rosululloh memberikan jaminan yang luar biasa bagi siapa saja yang mampu menahan diri dari perdebatan yang tak ada manfaatnya, meskipun dia berada di pihak yang benar sekalipun:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»

“Aku memberikan jaminan sebuah rumah di pinggiran Jannah bagi siapa yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HSR. Abu Dawud no. 4800)

Mengapa kita lebih memilih menang dalam debat daripada mendapatkan rumah di Jannah? Mengapa ego kita begitu besar hingga harus menjatuhkan lawan bicara agar kita terlihat pintar? Ketahuilah, bahwa orang yang paling dibenci oleh Alloh adalah dia yang paling suka bertengkar dan keras kepala dalam mempertahankan pendapatnya yang kasar. Nabi bersabda:

«إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ»

“Sungguh lelaki yang paling dibenci oleh Alloh adalah orang yang paling keras dalam berdebat (dan suka bertengkar).” (HR. Al-Bukhori no. 2457 dan Muslim no. 2668)

Syaithon akan terus membisikkan bahwa perdebatanmu adalah “Jihad” untuk membela kebenaran. Padahal, sering kali itu hanyalah ajang pamer kecerdasan dan kesombongan. Para Salaf dahulu sangat menjauhi perdebatan dalam urusan agama.

Alloh berfirman tentang kaum yang sesat setelah mendapatkan petunjuk karena hobi mereka yang suka membantah:

﴿مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ﴾

“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)

Dan Nabi juga memperingatkan:

«مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوتُوا الْجَدَلَ»

“Tidaklah suatu kaum itu tersesat setelah mereka berada di atas hidayah, melainkan karena mereka diberikan (penyakit) suka berdebat.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3253)

Jangan biarkan Hijrohmu berakhir di medan debat yang melelahkan. Gunakan waktumu untuk belajar, bukan untuk bertengkar. Jika ada kebenaran, sampaikanlah dengan penuh adab dan kesantunan. Jika ditolak, maka berdoalah agar Alloh memberikan hidayah kepada mereka yang masih dalam kegelapan. Karena ilmu yang bermanfaat bukanlah ilmu yang membuatmu pandai membungkam lawan, melainkan ilmu yang membuatmu semakin tunduk kepada Sang Rohman.

3.3 Penyakit “Merasa Benar Sendiri” dan Mudah Menyalahkan Orang Lain

Tidakkah kita merasa ngeri, saat diri ini merasa sudah memegang kunci pintu Jannah secara pribadi? Seolah-olah hanya kelompok kita, pengajian kita, dan ustadz kita saja yang akan selamat, sementara selainnya adalah ahli maksiat yang akan dilumat. Inilah jerat kesombongan yang terbungkus rapi dalam pakaian ketaatan. Kita merasa sudah benar sendiri, hingga lupa bahwa hidayah itu mutlak milik Sang Ilahi.

Alloh melarang kita untuk merasa lebih suci dan merendahkan yang lainnya:

﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾

“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia (Alloh) lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)

Berapa kali kita memandang rendah saudara kita yang pakaiannya belum “nyunnah”? Berapa kali kita menyimpulkan bahwa fulan adalah ahli Bid’ah hanya karena dia belum memahami apa yang kita pahami? Padahal, Nabi telah bersabda dengan tegas:

«بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ»

“Cukuplah seseorang itu dikatakan melakukan keburukan jika dia meremehkan saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim no. 2564)

Meremehkan orang lain adalah tanda adanya kibri (kesombongan) di dalam dada. Dan kesombongan adalah penghalang utama bagi seseorang untuk masuk ke dalam Jannah-Nya. Kita sering kali merasa paling mengikuti Manhaj Salaf, namun kita lupa bahwa para Salaf adalah orang-orang yang paling keras dalam mengoreksi diri sendiri dan paling lembut dalam memandang kesalahan orang lain. Mereka kaum yang tahu khilaf sehingga banyak diam dan toleransi dalam masalah khilafiyah fiqhiyyah. Mereka hanya keras dalam bab aqidah, sementara ahli bid’ah yang mereka tentang keras adalah adalah tokoh penyeru bid’ah Jahmiyyah, Qodariyyah, Murjiah, Mu’tazilah, Asyairoh, bukan masyarakat awamnya.

Lihatlah bagaimana Alloh memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka buruk yang sering kali menjadi dasar kita dalam menyalahkan sesama:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sungguh sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Setelah Hijroh, mengapa prasangka kita justru semakin tajam kepada saudara sendiri? Mengapa kita begitu cepat memberikan label “sesat” atau “menyimpang” tanpa melalui proses tabayyun (klarifikasi) yang matang? Padahal itu masalah khilafiyah seperti qunut Subuh, mengeraskan bacaan basmalah dalam Sholat, isbal pakaian, sampai pun masalah menghadiahkan ibadah selain harta kepada mayit. Nabi bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»

“Jauhilah oleh kalian prasangka, karena sungguh prasangka itu adalah sedusta-dustanya ucapan.” (HR. Al-Bukhori no. 5143 dan Muslim no. 2563)

Seseorang yang benar-benar cinta pada ilmu akan menyadari bahwa semakin dia belajar, semakin dia tahu betapa banyaknya hal yang belum dia kuasai. Dia akan merasa malu untuk menyalahkan orang lain, karena dia sibuk memperbaiki aib diri yang masih berserakan. Sebagaimana kata Imam Syafi’i (204 H) rohimahullah: “Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain salah, namun mengandung kemungkinan benar.”

Ingatlah firman Alloh tentang larangan saling menghina dan memberikan julukan yang buruk:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurot: 11)

Mungkin orang yang kamu salahkan itu memiliki amalan rahasia yang tidak kamu miliki. Mungkin dia lebih ikhlas dalam sujudnya daripada kamu yang sibuk memamerkan penampilanmu. Maka, rendahkanlah hatimu. Hijroh itu adalah tentang bagaimana kita menjadi lebih baik dari diri kita yang dulu, bukan merasa lebih baik dari orang lain yang sekarang. Jangan biarkan penyakit “merasa benar sendiri” ini merusak seluruh amal ibadahmu yang telah kamu bangun dengan penuh perjuangan.

3.4 Ketika Seorang Pemula Merasa Lebih Alim dari Ustadznya

Inilah fenomena yang paling menyayat hati dalam dunia Hijroh masa kini. Baru belajar satu dua tahun, sudah berani mengoreksi ustadz yang telah puluhan tahun bergumul dengan kitab-kitab para Nabi. Kita merasa sudah punya timbangan yang akurat untuk menilai siapa yang “lurus” dan siapa yang “bengkok”, padahal kita sendiri belum hafal juz ‘amma dengan benar dan teliti. Ini adalah bentuk kelancangan yang luar biasa, sebuah adab yang hilang ditelan oleh kesombongan yang membara.

Alloh telah menetapkan kedudukan para ahli ilmu di tempat yang sangat mulia:

﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ayat ini memerintahkan kita untuk bertanya dan mengikuti, bukan untuk mengadili dan mencaci. Namun, atas nama “tahdzir” (memberi peringatan) yang salah tempat, kita dengan ringannya menghujat para ustadz dan dai yang tidak sesuai dengan selera kita. Kita lupa bahwa daging para ulama dan ahli ilmu itu beracun. Siapa yang gemar memakannya, maka Alloh akan mematikan hatinya sebelum fisiknya binasa.

Nabi memberikan peringatan bagi siapa saja yang tidak menghormati para ahli ilmu dan orang tua di antara kita:

«لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا [حَقَّهُ]»

“Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua di antara kami, tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, dan tidak mengetahui hak bagi orang alim di antara kami.” (HSR. Ahmad no. 22755)

Mengetahui hak bagi orang alim artinya menghormati mereka, menjaga lisan dari mencela mereka, dan mendoakan kebaikan bagi mereka. Bukannya justru mencari-cari kesalahan kecil mereka untuk kemudian disebarkan di media sosial seolah-olah itu adalah sebuah prestasi yang besar.

Apakah kita merasa lebih hebat dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma yang pernah memegang tali kendali tunggangan Zaid bin Tsabit (45 H) rodhiyallahu ‘anhu sebagai bentuk penghormatan kepada guru? Apakah kita merasa lebih pintar dari para Imam Madzhab yang sangat menjaga adab kepada guru-guru mereka? Sungguh, ilmu tanpa adab adalah kebodohan yang nyata.

Alloh berfirman tentang orang-orang yang mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman (termasuk para ulama):

﴿وَمَن يُشَاقِقِ الرَّوسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾

“Dan siapa yang menentang Rosul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Para ulama adalah pelita di tengah kegelapan. Jika pelita itu kita pecahkan dengan lisan kita yang beracun, maka di kegelapan manakah kita akan mencari jalan? Jangan biarkan semangat Hijrohmu berubah menjadi keberanian yang lancang. Belajarlah untuk tunduk dan tawadhu’. Jika ada sesuatu yang kamu anggap salah dari seorang ustadz, maka sampaikanlah dengan cara yang paling santun dan rahasia, bukan dengan cara berteriak di keramaian dunia maya.

Ingatlah pesan dari Abdullah bin Al-Mubarak (181 H) rohimahullah: “Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun, dan kami mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.” Mereka mendahulukan adab sebelum ilmu. Sedangkan kita? Kita membuang adab bahkan sebelum kita mendapatkan secuil ilmu.

Maka, kembalilah kepada jalur yang benar. Hormatilah para pembawa wahyu, muliakanlah para pewaris Nabi . Jangan biarkan dirimu menjadi penghalang bagi orang lain untuk mengambil manfaat dari ilmu para ustadz hanya karena egomu yang merasa lebih alim dari mereka. Karena pada akhirnya, keberkahan ilmu hanya akan didapat oleh mereka yang memiliki adab yang mulia dan hati yang tulus dalam mencari Ridho-Nya.

 

BAB 4: IBADAH TANPA ITTIBA’ DAN AKHLAQ

4.1 Semangat Puasa dan Berjamaah, Namun Caranya Tidak Mencontoh Rosululloh

Pernahkah terdetak dalam sanubari yang terdalam, tentang sebuah amalan yang lelah dikerjakan namun berakhir dengan penolakan yang kelam? Kita bersemangat mengejar shof terdepan, namun hati kita kosong dari ilmu tentang tata cara yang benar sesuai tuntunan. Kita berpuasa hingga kerongkongan terasa kering dan badan menjadi lemah, namun kita tidak tahu mana pembatal puasa yang shohih dan mana yang hanya sekadar riwayat dho’if yang beredar di bawah. Semangat yang membara tanpa ilmu yang bertahta hanya akan melahirkan kelelahan yang tak berujung pada pahala yang nyata.

Alloh telah menegaskan bahwa amalan yang diterima bukanlah yang paling banyak jumlahnya, melainkan yang paling baik kualitasnya:

﴿ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ﴾

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Fudhoil bin Iyadh (187 H) menjelaskan bahwa “paling baik amalnya” adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Jika ikhlas namun tidak benar (tidak sesuai Sunnah), tidak diterima. Jika benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Dan kebenaran itu hanya bisa diraih dengan mengikuti jejak Sang Nabi .

Rosululloh memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang berkreasi dalam urusan ibadah tanpa landasan wahyu yang cerah:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Betapa ruginya kita, jika Hijroh kita hanya melahirkan semangat yang liar tanpa kendali. Kita merasa sudah sangat bertaqwa dengan menambah-nambah roka’at atau menciptakan dzikir-dzikir baru yang tidak pernah diajarkan oleh Sang Nabi yang suci. Kita sibuk dengan kulit, namun melupakan inti dari ketaatan itu sendiri, yaitu ketundukan mutlak pada aturan Ilahi.

Alloh berfirman tentang kewajiban mengikuti Rosul-Nya jika kita benar-benar mencintai-Nya:

﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika kalian benar-benar mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron: 31)

Apakah Hijrohmu sudah membuatmu semakin teliti dalam mencontoh sholatnya Nabi ? Ataukah kamu masih Sholat dengan gerakan yang asal-asalan asalkan sudah memakai pakaian yang cingkrang dan wangi? Ingatlah sabda beliau :

«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 631)

Banyak di antara kita yang setelah Hijroh justru terjebak dalam fanatisme buta kepada tokoh tertentu, hingga mengabaikan dalil yang sudah jelas terpampang di depan mata. Kita lebih mendahulukan “kata ustadzku” daripada “sabda Rosulku”. Inilah awal dari runtuhnya bangunan Sunnah dalam diri kita. Kita ingin kembali ke Akhiroh dengan selamat, namun kita membuang peta yang telah diberikan oleh Sang Pembawa Risalah yang hebat.

Perhatikanlah ancaman Alloh bagi mereka yang menyelesihi perintah Rosul-Nya:

﴿فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul-Nya itu takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

Fitnah di sini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad (241 H), adalah kesyirikan atau kesesatan hati. Sungguh mengerikan jika semangat ibadah kita justru menjadi pintu masuk bagi kesesatan karena kita enggan belajar bagaimana cara beribadah yang searah dengan Sunnah.

Maka, wahai saudaraku yang sedang berhijroh, janganlah puas hanya dengan semangat yang meluap. Isilah bejanamu dengan ilmu yang mantap. Pelajarilah sifat wudhu Nabi , pelajarilah sifat Sholat Nabi , dan pelajarilah bagaimana beliau berpuasa dan berzakat. Karena tanpa Ittiba’ (mengikuti), ketaatanmu hanyalah fatamorgana yang nampak indah namun tak memberikan kesegaran bagi jiwa yang dahaga.

4.2 Belajar dari Kisah Wanita Jahat kepada Tetangganya

Tidakkah kita merasa gemetar, mendengar kabar tentang seorang wanita yang rajin sujud di keheningan fajar, namun namanya tercatat sebagai penduduk Naar yang membara dan besar? Ia bukan wanita yang meninggalkan Sholat, bukan pula wanita yang gemar bermaksiat secara terang-terangan di jalanan yang padat. Ia adalah wanita yang dikenal rajin ibadahnya, namun ada satu noda hitam yang merusak seluruh pahalanya.

Mari kita simak Hadits yang sangat menusuk jantung ini dari Abu Huroiroh (58 H) rodhiyallahu ‘anhu:

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ فُلَانَةَ تُصَلِّي اللَّيْلَ، وَتَصُومُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَّدَّقُ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لا خَيْرَ فِيهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»

“Dikatakan kepada Rosululloh : ‘Wahai Rosululloh, sungguh si fulanah itu sering Sholat malam, berpuasa di siang hari, melakukan banyak kebaikan dan bersedekah, namun dia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya?’ Rosululloh bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni Naar’.” (HSR. Al-Bukhori dalam Al-Mufrod no. 119 dan Ahmad no. 9675)

Betapa dahsyatnya peringatan ini bagi kita yang merasa sudah aman karena sudah rajin ke Masjid dan memakai cadar yang rapi. Ternyata, ibadah mahdhoh (langsung kepada Alloh) tidak akan mampu menyelamatkan kita jika hubungan kita dengan sesama manusia dipenuhi dengan duri dan rasa benci. Penampilan Sunnahmu tidak akan ada harganya jika lisanmu menjadi senjata pemusnah bagi kedamaian hati tetanggamu sendiri.

Alloh telah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada tetangga, tanpa memandang apakah mereka sudah “nyunnah” ataukah belum:

﴿۞ وَٱعْبُدُوا ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا﴾

“Sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sungguh Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)

Perhatikan di akhir ayat tersebut, Alloh mengaitkan perintah berbuat baik kepada tetangga dengan larangan bersikap sombong. Ini adalah isyarat bahwa sering kali seseorang menyakiti tetangganya karena dia merasa lebih mulia, lebih suci, atau lebih “Islami” daripada mereka. Hijrohmu seharusnya membuatmu menjadi tetangga yang paling dicintai karena kedermawanan dan keluhuran budimu, bukan tetangga yang paling dihindari karena lisanmu yang tajam dan suka menghakimi.

Nabi juga bersumpah dengan nada yang sangat menggetarkan tentang iman seseorang yang terganggu karena perangainya kepada tetangga:

«وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ» قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ»

“Demi Alloh tidak beriman, demi Alloh tidak beriman, demi Alloh tidak beriman.” Ditanyakan: “Siapa wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya (kejahatannya).” (HR. Al-Bukhori no. 6016)

Bayangkan, kesempurnaan imanmu ditiadakan oleh Sang Nabi hanya karena urusan tetangga! Apakah cadarmu bisa membantumu jika tetanggamu menangis karena dihina olehmu? Apakah jenggotmu bisa membela jika tetanggamu merasa terzholimi oleh kesombonganmu?

Jangan sampai kita menjadi hamba yang bangkrut di hari Kiamat kelak. Membawa gunung pahala Sholat dan puasa, namun semuanya habis dibagi-bagikan kepada tetangga dan saudara yang pernah kita sakiti lisannya. Sebagaimana sabda Nabi tentang orang yang bangkrut (muflis):

«إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»

“Sungguh orang yang bangkrut dari umatku adalah dia yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala Sholat, puasa, dan zakat. Namun dia juga datang dalam keadaan telah mencela si ini, menuduh si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu, dan memukul si ini. Maka diambilkanlah dari pahala kebaikannya untuk si ini dan si itu. Jika pahalanya sudah habis sebelum tertunaikan semua haknya, maka diambilkanlah dari dosa-dosa mereka (yang disakiti) lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)

Inilah petaka bagi mereka yang menjauh dari warisan kenabian yang berupa akhlaq mulia. Mereka merasa sudah “hijroh” padahal mereka sedang membangun jembatan menuju Neraka dengan lisan mereka sendiri. Mari kita perbaiki adab kita. Jadikan setiap helai kain yang kita pakai sebagai pengingat bahwa kita harus menjadi rohmat bagi lingkungan sekitar. Karena Jannah tidak akan dimasuki oleh mereka yang hatinya keras dan lisannya berbisa, meskipun dahinya hitam karena sujud yang lama.

4.3 Lisan yang Menyakiti dan Tangan yang Mengganggu

Di zaman di mana jari-jemari lebih cepat bergerak daripada logika, dan lisan lebih mudah mengucap cela daripada doa, kita harus bertanya: di manakah hakekat Islam yang kita bawa? Apakah Hijroh kita hanya menambah daftar panjang orang-orang yang merasa terganggu dengan keberadaan kita? Sungguh, seorang Muslim sejati adalah pelabuhan kedamaian, bukan sumber badai yang membawa keresahan bagi sesama insan.

Alloh telah melarang kita untuk menyakiti kaum Mu’minin tanpa alasan yang benar:

﴿وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا﴾

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mu’min laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Setiap kata pedas yang kita ketik di media sosial, setiap sindiran tajam yang kita tujukan kepada saudara sealiran maupun yang belum paham, semuanya tercatat dengan sangat mendalam. Kita merasa sedang “berda’wah”, padahal kita sedang menebar luka. Kita merasa sedang “menegakkan Sunnah”, padahal kita sedang menghancurkan ukhuwah (persaudaraan).

Rosululloh memberikan definisi yang sangat singkat namun padat tentang siapa sebenarnya Muslim dan Muhajir itu:

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

“Seorang Muslim sejati adalah dia yang orang-orang Muslim lainnya merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang Muhajir (orang yang berhijroh) adalah dia yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 10 dan Muslim no. 40)

Coba kita timbang diri kita dengan Hadits ini. Apakah saudara-saudara kita merasa aman saat berada di dekat kita? Ataukah mereka justru merasa was-was karena takut akan dikomentari pakaiannya, disalahkan bid’ahnya dengan cara yang kasar, atau dipandang dengan tatapan yang menghina? Jika saudara Muslimmu belum merasa aman darimu, maka klaim Hijrohmu barulah sebuah angan-angan yang semu.

Nabi juga bersabda tentang larangan saling membenci dan saling memutus hubungan:

«لاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ»

“Janganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Al-Bukhori no. 6065 dan Muslim no. 2559)

Sering kali, setelah Hijroh, kita menjadi sangat eksklusif. Kita hanya mau menyapa yang “satu ustadz”, dan memutus hubungan dengan teman-teman lama yang kita anggap masih “ahli maksiat”. Padahal, da’wah itu merangkul, bukan memukul. Da’wah itu mengajak, bukan mengejek. Bagaimana mereka akan mengenal indahnya Sunnah jika pembawa Sunnahnya saja menunjukkan wajah yang masam dan perilaku yang kusam?

Alloh memerintahkan kita untuk berkata baik kepada seluruh manusia:

﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqoroh: 83)

Tidak dikatakan “kepada orang yang sudah ngaji saja”, tapi “kepada manusia” secara umum. Kelembutan lisanmu adalah daya tarik yang lebih kuat daripada panjangnya jenggotmu. Kesantunan tanganmu adalah hiasan yang lebih indah daripada lebar cadarmu. Jangan biarkan agamamu menjadi alasan bagimu untuk menjadi manusia yang kasar dan tidak berperasaan.

Ingatlah sabda Nabi :

«إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ»

“Sungguh manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari Kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan kejahatannya (lisannya yang kasar atau perbuatannya).” (HR. Al-Bukhori no. 6032 dan Muslim no. 2591)

Apakah kamu ingin menjadi orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh hanya karena kamu merasa paling benar? Tentu tidak, wahai saudaraku. Maka, sebelum kamu memperbaiki panjang celanamu, perbaikilah dulu panjang lisanmu. Sebelum kamu menutupi wajahmu, tutuplah dulu pintu-pintu kebencian di hatimu. Jadilah Muslim yang kehadirannya dirindukan, bukan yang kepergiannya disyukuri oleh orang-orang di sekitarmu. Itulah Hijroh yang membawa keberkahan, yang akan menuntunmu menuju taman-taman Jannah yang penuh dengan kedamaian.

4.4 Ketika Penampilan Sunnah Tidak Berbanding Lurus dengan Bakti kepada Orang Tua

Inilah luka yang paling dalam, ketika seorang anak merasa sudah paling mengerti agama, namun dia menjadi orang yang paling durhaka kepada orang tua yang telah membesarkannya dengan penuh cinta dan air mata. Kita merasa sudah “nyunnah” karena sudah mengenal tauhid, namun kita memandang ayah dan ibu kita sebagai “ahli syirik” —padahal hanya dugaannya— yang tidak pantas dihormati hanya karena mereka belum mendapatkan hidayah seperti kita. Sungguh, ini adalah kesesatan dalam beragama yang sangat nyata dan membuat hati terluka parah.

Alloh telah menggandengkan perintah menyembah-Nya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua:

﴿۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا﴾

“Dan Robb-mu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isro: 23)

Coba perhatikan, bahkan sekadar ucapan “ah” saja dilarang oleh Alloh! Lalu bagaimana dengan kita yang setelah Hijroh justru berani membentak orang tua, menuduh mereka sesat di depan wajahnya, atau enggan mencium tangannya karena merasa “itu bid’ah”? Apakah kamu merasa lebih hebat dari Nabi Isma’il yang patuh, atau Nabi Yahya yang sangat berbakti kepada orang tuanya?

Nabi menjelaskan bahwa ridho Alloh sangat bergantung pada ridho orang tua:

«رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ»

“Ridho Robb itu ada pada ridho orang tua, dan murka Robb itu ada pada murka orang tua.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1899)

Mungkin orang tuamu belum bercadar, mungkin ayahmu belum berjenggot, namun mereka tetaplah orang tua yang harus kamu muliakan. Meskipun mereka mengajakmu kepada kekafiran sekalipun, Alloh memerintahkanmu untuk tetap bergaul dengan mereka di dunia dengan cara yang baik. Sebagaimana firman-Nya:

﴿وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا﴾

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

Jika dalam urusan syirik saja kita diperintahkan untuk tetap berbuat baik kepada mereka, maka bagaimana dengan urusan perbedaan pemahaman fikih atau sekadar masalah penampilan? Sangat tragis jika kamu lebih ramah kepada ustadzmu atau teman-teman pengajianmu, namun kamu menjadi orang yang paling kaku dan dingin saat berada di rumah di depan ibumu.

Seorang lelaki pernah datang kepada Rosululloh untuk meminta ijin ikut Jihad, namun beliau justru bertanya tentang orang tuanya:

«أَحَيٌّ وَالِدَاكَ». قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: «فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ»

“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka pada keduanyalah kamu berjihad (dengan berbakti).” (HR. Al-Bukhori no. 3004 dan Muslim no. 2549)

Jika Jihad yang merupakan puncak amalan saja bisa dikalahkan oleh kewajiban berbakti kepada orang tua, maka apalagi hanya sekadar urusan penampilan luar? Jangan sampai kamu merasa sudah di pintu Jannah karena penampilanmu, padahal kamu sedang menyeret kakimu menuju Naar karena tangisan ibumu yang tersakiti oleh lisanmu yang sok alim.

Ingatlah sabda Nabi tentang dosa yang disegerakan adzabnya di dunia:

«بَابَانِ مُعَجَّلاَنِ عُقُوبَتُهُمَا فِي الدُّنْيَا: الْبَغْيُ وَالْعُقُوقُ»

“Ada dua pintu (dosa) yang disegerakan hukumannya di dunia: yaitu berbuat zholim dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Al-Hakim, dalam Shohih Al-Jami’ no. 2810)

Wahai pejuang Hijroh, pulanglah ke rumahmu. Peluklah ayah dan ibumu. Tunjukkan kepada mereka bahwa Islam yang kamu pelajari telah mengubahmu menjadi anak yang lebih lembut, lebih perhatian, dan lebih berbakti. Biarlah mereka melihat hidayah dari akhlaqmu sebelum mereka mendengarnya dari lisanmu. Karena hidayah yang masuk lewat mata (melihat ketulusanmu) akan jauh lebih meresap daripada hidayah yang hanya masuk lewat telinga (mendengar ceramahmu). Jadikan Hijrohmu sebagai kado terindah bagi orang tuamu, bukan sebagai beban derita yang membuat mereka menyesal telah membesarkanmu.

Ibadah yang benar haruslah membuahkan akhlaq yang indah. Jika tidak, maka ada yang salah dengan cara kita belajar dan memahami warisan kenabian ini. Mari kita kembali kepada hakikat agama, yaitu memuliakan Sang Pencipta dan menyayangi sesama hamba, terutama mereka yang paling dekat dengan kita dalam kehidupan dunia.

 

BAB 5: ILMU SEBAGAI PENUNTUN HIJROH HAKIKI

5.1 Mengapa Kita Harus Cinta pada Majelis Ilmu dan Para Ulama?

Tidakkah kita rindu pada ketenangan yang hakiki, di mana jiwa tak lagi merasa sepi dan hati tak lagi mencari-cari? Mengapa kita sering merasa sudah sampai di puncak ketaatan, padahal kita baru saja melangkah di tepian jalan yang penuh dengan godaan? Sungguh, Hijroh tanpa ilmu adalah pengembaraan yang buta, dan hanya dengan cintalah kita bisa merengkuh cahaya yang nyata. Majelis ilmu bukanlah sekadar tempat berkumpulnya raga, melainkan taman-taman Jannah yang aromanya harum, dibanggakan di singgasana Arsy yang mulia.

Alloh memerintahkan kita untuk tetap bersama orang-orang yang senantiasa mencari wajah-Nya, bukan mereka yang hanya mengejar dunia dengan segala hiasannya:

﴿وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَاةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَاةِ ٱلدُّنْيَا﴾

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Robb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan dunia ini.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Mengapa kita harus mencintai majelis ilmu? Karena di sanalah Rosululloh menjanjikan ketenangan yang tidak akan didapatkan di kafe-kafe kekinian atau di tempat-tempat hiburan yang penuh dengan kelalaian. Beliau bersabda:

«وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ»

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh (Masjid) untuk membaca Kitabulloh dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun atas mereka, rohmat akan meliputi mereka, Malaikat akan mengelilingi mereka, dan Alloh akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)

Bayangkan, namamu disebut oleh Alloh di hadapan para penduduk langit hanya karena kamu mau duduk belajar! Apakah pujian manusia di media sosial masih terasa berharga dibandingkan dengan kemuliaan yang agung ini?

Cinta kepada ilmu juga berarti cinta kepada para Ulama, sang pewaris para Nabi yang menjaga syariat ini dari tangan-tangan yang zholim dan lisan-lisan yang dusta. Tanpa mereka, kita akan tersesat dalam memahami wahyu. Alloh berfirman:

﴿شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ﴾

“Alloh menyatakan bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia; (demikian pula) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan.” (QS. Ali Imron: 18)

Alloh menyandingkan kesaksian para Ulama dengan kesaksian-Nya dan kesaksian para Malaikat. Inilah bukti bahwa kedudukan mereka tidaklah main-main. Maka, sungguh aneh jika ada orang yang baru Hijroh namun sudah berani meremehkan fatwa para Ulama besar seperti Malik bin Anas (179 H) atau Ahmad bin Hanbal (241 H).

Nabi menggambarkan keutamaan orang berilmu dibandingkan ahli ibadah biasa dengan perumpamaan yang sangat indah:

«وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ»

“Dan sungguh keutamaan seorang alim dibandingkan seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama dibandingkan bintang-bintang lainnya.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)

Cahaya ilmu akan menerangi langkahmu, sedangkan semangat tanpa ilmu hanya akan membuatmu menabrak dinding kesombongan yang membatu. Jadilah pecinta majelis ilmu, jadilah pencium tangan para guru, dan rendahkanlah sayapmu di hadapan mereka yang telah mengorbankan waktu demi menjaga agama Alloh yang satu.

5.2 Memperbaiki Adab kepada Alloh

Hijroh sejati bukan tentang bagaimana manusia memandang kita, tapi tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Robb semesta raya. Sudahkah kita memperbaiki adab kepada-Nya? Ataukah kita masih sering mengeluh saat ujian menyapa, dan merasa paling berjasa saat amal kita sedikit bertambah di dalam dada? Inti dari warisan kenabian adalah memperbaiki hubungan batin dengan Sang Pencipta melalui tiga pilar utama: Ikhlas, Tawakkal, dan Sabar.

Ikhlas adalah memurnikan tujuan hanya untuk Alloh semata. Tanpa ikhlas, Hijrohmu hanyalah sandiwara yang melelahkan raga namun kosong dari pahala. Alloh berfirman:

﴿وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ﴾

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ingatlah, Alloh tidak butuh pada penampilanmu jika hatimu masih menduakan-Nya dengan pujian manusia. Nabi bersabda dalam Hadits Qudsi:

«أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»

“Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang melakukan suatu amal yang dia menyekutukan selain-Ku bersama-Ku dalam amal itu, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim no. 2985)

Kemudian, sudahkah kita bertawakkal? Sering kali setelah Hijroh, kita merasa cemas akan masa depan, takut kehilangan teman, atau khawatir akan rejeki yang berkurang. Padahal, Alloh adalah sebaik-baik penjamin bagi hamba yang bersandar pada-Nya.

﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ

“Dan siapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya.” (QS. Ath-Tholaq: 3)

Nabi memberikan perumpamaan tawakkal yang sangat menyentuh jiwa:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rejeki sebagaimana burung diberi rejeki; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)

Dan yang terakhir adalah sabar. Sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar atas takdir yang dirasa menyakitkan. Hijroh itu berat, maka jangan biarkan ia layu karena kurangnya kesabaran di dalam urat.

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Rasakanlah, betapa manisnya iman saat kita tidak lagi bergantung pada makhluk. Belajarlah dari keteguhan Al-Hasan Al-Bashri (110 H) yang selalu tenang dalam badai fitnah, atau kesabaran Sufyan Ats-Tsauri (161 H) yang lari dari jabatan demi menjaga kemurnian niat. Adab kepada Alloh adalah mahkota dari segala ilmu yang kamu timba. Jika adabmu kepada-Nya rusak, maka pakaian Sunnahmu hanyalah selembar kain yang tak punya makna di Akhirat.

5.3 Puncak Risalah Adalah Akhlaq

Apa gunanya Hijroh jika kita menjadi manusia yang paling tidak disukai oleh tetangga? Apa gunanya mengaji jika kita menjadi orang yang paling pelit dalam membantu saudara? Sungguh, puncak dari risalah ini adalah perubahan karakter menjadi manusia yang memberikan manfaat seluas samudera. Jangan sampai setelah “ngaji”, tangan kita justru semakin kikir dan lisan kita semakin gemar menyindir.

Alloh memuji orang-orang yang mau berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit:

﴿ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ﴾

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron: 134)

Hijroh harusnya membuatmu menjadi orang yang paling mudah memaafkan, bukan yang paling pandai menyimpan dendam. Sudahkah kamu menjadi manusia yang bermanfaat? Nabi bersabda dengan kalimat yang sangat singkat:

«خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HSR. Ath-Thobarani dalam Al-Ausath, dalam Shohih Al-Jami’ no. 3289)

Coba lihat sekelilingmu. Adakah jandamu yang butuh bantuan? Adakah anak yatim yang butuh pelukan? Ataukah kamu terlalu sibuk dengan perdebatan di grup WhatsApp hingga lupa pada mereka yang sedang kelaparan? Akhlaq yang mulia adalah bukti nyata bahwa imanmu bukanlah sekadar kata-kata.

Nabi menjelaskan bahwa akhlaq yang baik adalah jaminan untuk mendapatkan kedudukan paling dekat dengan beliau di hari kiamat:

«إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا»

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaqnya di antara kalian.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2018)

Apakah kamu ingin dekat dengan Rosululloh ? Maka perbaikilah caramu bicara pada istrimu, lembutkanlah sikapmu pada pembantumu, dan jujurlah dalam setiap transaksi dagangmu. Itulah da’wah yang sesungguhnya. Orang akan melihat kebenaran Islam dari kejujuranmu, bukan dari panjangnya jenggotmu. Orang akan mencintai Sunnah karena kedermawananmu, bukan karena ketajaman lisanmu dalam membid’ah-bid’ahkan amalan khilafiyah fiqhiyyah mu’tabaroh.

Jadilah seperti mentari yang memberi cahaya tanpa meminta balasan, atau seperti hujan yang menumbuhkan tanaman di tanah yang gersang. Itulah warisan kenabian yang sebenarnya: menjadi rohmat bagi semesta, penyejuk bagi yang lara, dan penuntun bagi yang sedang buta.

5.4 Meneladani Kesantunan Para Shohabat

Sering kali kita beralasan “tegas” untuk menutupi sifat kasar kita yang sebenarnya. Kita mengira bahwa mengikuti Shohabat berarti harus selalu marah-marah pada kemunkaran tanpa melihat situasi dan kondisi yang ada. Padahal, para Shohabat adalah generasi yang paling paham kapan harus mengunus pedang kebenaran dan kapan harus menebar sutra kelembutan. Mereka adalah bintang-bintang hidayah yang cahayanya menuntun kita menuju Jannah.

Alloh menggambarkan kelembutan Rosululloh yang didampingi oleh para Shohabat yang setia:

﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ﴾

“Maka disebabkan rohmat dari Allohlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)

Jika Nabi saja dilarang bersikap kasar, lalu siapa kita yang berani merasa benar dengan caci maki? Lihatlah Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu, orang yang paling tegas imannya namun paling lembut hatinya hingga sering menangis saat membaca ayat-ayat Suci. Lihatlah Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, yang sangat garang kepada musuh Alloh namun sangat takut jika ada seekor keledai terperosok karena kelalaiannya dalam memimpin negeri.

Para Shohabat mengajarkan kita bahwa da’wah itu butuh hikmah, bukan amarah. Alloh berfirman:

﴿ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِيَ أَحْسَنُ﴾

“Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Ingatlah kisah seorang Badui yang kencing di pojok Masjid. Para Shohabat marah dan ingin segera menghajarnya, namun apa kata Nabi ?

«دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»

“Biarkanlah dia, dan siramlah bekas kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan, dan bukan diutus untuk memberi kesulitan.” (HR. Al-Bukhori no. 220)

Inilah warisan kenabian! Memberi kemudahan bagi orang untuk bertaubat, bukan menutup pintu taubat dengan wajah kita yang menyeramkan. Tegaslah dalam aqidah, jangan berkompromi dengan kesyirikan. Namun lembutlah dalam muamalah, rangkullah mereka yang masih belum paham dengan penuh kasih sayang.

Jadilah seperti Mush’ab bin Umair (3 H) yang masuk ke Madinah dengan modal akhlaq hingga satu kota memeluk Islam tanpa ada darah yang tumpah. Jadilah seperti Anas bin Malik (93 H) yang melayani Nabi selama sepuluh tahun tanpa sekalipun mendengar kata “ah” atau “mengapa kamu melakukan ini”. Hijrohmu akan terasa indah jika kamu mampu memadukan antara kekuatan prinsip dan keindahan adab. Itulah jalan para Shohabat, jalan yang diridhoi oleh Alloh, Robb semesta alam.

 

PENUTUP

Perjalanan kita menelusuri fenomena Hijroh yang terjebak pada penampilan telah sampai pada sebuah kesimpulan yang dalam: bahwa agama ini bukanlah sekadar apa yang menempel di badan, melainkan apa yang menghujam kuat di dalam iman dan terpancar nyata dalam akhlaq kepada sesama insan.

Kita telah melihat bagaimana bahayanya jika ilmu dijauhkan dari amal, dan bagaimana petakanya jika penampilan dijadikan sebagai alat untuk merasa paling unggul dan handal. Jenggot, cingkrang, dan cadar adalah kemuliaan, namun ia akan menjadi beban jika di baliknya tersimpan kesombongan dan lisan yang penuh dengan hinaan. Mari kita kembali ke warisan kenabian yang murni, warisan yang mengajarkan kita untuk tunduk pada wahyu namun tetap memiliki empati pada hati yang sedang sunyi.

Alloh mengingatkan kita tentang hari di mana tak ada lagi manfaat dari segala yang bersifat lahiriah semata:

﴿يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾

“(Yaitu) pada hari di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Alloh dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’aro: 88-89)

Hati yang selamat adalah hati yang bersih dari syirik, bersih dari sombong, bersih dari hasad, dan bersih dari rasa merasa paling benar sendiri. Semoga Hijroh kita tidak berhenti di lemari pakaian, tapi terus menembus hingga ke kedalaman jiwa yang paling dalam. Semoga setiap langkah kita menuju majelis ilmu dibalas dengan kemudahan jalan menuju Jannah yang penuh dengan kedamaian dan keindahan.

Mari kita akhiri dengan doa yang sering dibaca oleh Rosululloh :

«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2140)

Serta doa memohon akhlaq yang mulia:

«اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ»

“Ya Alloh, tunjukilah aku kepada akhlaq yang paling baik, tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlaq yang terbaik melainkan Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlaq yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan aku dari akhlaq yang buruk melainkan Engkau.” (HR. Muslim no. 771)

Selamat berjuang wahai para Muhajir yang rindu akan Ridho-Nya. Jangan pernah lelah belajar, jangan pernah berhenti memperbaiki adab. Karena perjalanan menuju Alloh adalah perjalanan seumur hidup, dan bekal terbaiknya adalah Taqwa yang dibalut dengan ilmu dan Akhlaq yang mulia. Sampai jumpa di telaga Al-Kautsar, di bawah naungan rohmat Sang Rahman yang Maha Luas dan Maha Besar.

Allohu a’lam.[NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url