[PDF] Memahami 9 Sifat Dasar Wanita - Berdasarkan Bimbingan Kenabian - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله
الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam, yang telah menjadikan pernikahan sebagai
salah satu tanda kebesaran-Nya dan sarana untuk meraih ketenangan jiwa.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada Rosulullah ﷺ,
teladan terbaik dalam berinteraksi dengan wanita, yang telah mengajarkan kita
bahwa sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik perlakuannya kepada istrinya.
Amma ba’du:
Menikah bukan sekadar menyatukan 2 insan
dalam satu atap, melainkan sebuah perjalanan panjang yang melibatkan perpaduan
2 fithroh yang berbeda namun saling melengkapi. Alloh ﷻ
menciptakan lelaki dengan segala ketegasan dan logikanya, sementara
wanita diciptakan dengan kelembutan dan perasaan yang mendalam.
Perbedaan ini bukanlah untuk memicu konflik, melainkan untuk menciptakan
harmoni. Sebagaimana siang membutuhkan malam untuk beristirahat, dan malam
membutuhkan matahari untuk menerangi kegelapan, demikian pula lelaki
membutuhkan wanita untuk menyempurnakan agamanya.
Wahai para suami dan lelaki yang merindukan
Jannah, ketahuilah bahwa memahami wanita adalah sebuah kewajiban syar’i sebelum
ia menjadi kebutuhan emosional. Banyak rumah tangga yang hancur bukan karena hilangnya
rasa cinta, melainkan karena hilangnya pemahaman terhadap fithroh pasangan.
Seorang lelaki mungkin merasa telah memberikan segalanya—materi, rumah yang
megah, dan fasilitas yang mewah—namun ia merasa istrinya tetap tidak bahagia
atau sulit untuk ditaklukkan hatinya. Mengapa demikian? Karena seringkali
lelaki mencoba memahami wanita menggunakan standar logika lelaki, padahal
wanita diciptakan dengan perangkat perasaan yang berbeda. Pernahkah kita
merenung, mengapa Alloh ﷻ mengumpamakan wanita
sebagai tulang rusuk yang bengkok?
﴿وَمِنْ
آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (sakinah),
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rohmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir.” (QS.
Ar-Rum: 21)
Dalam ayat ini, Alloh ﷻ menggunakan kata “litaskunu ilaiha” yang berarti agar
kamu merasa tenang kepadanya. Ketenangan (sakinah) tidak akan hadir jika sang
pemimpin rumah tangga tidak mengetahui bagaimana cara menavigasi perasaan
makmumnya. Menaklukkan hati istri bukanlah tentang
dominasi, kekuasaan, atau menunjukkan siapa yang lebih kuat. Menaklukkan hati
adalah seni meraih cinta dengan rohmat, hikmah, dan ketaqwaan. Ia adalah upaya
sungguh-sungguh untuk menjadikan diri kita sebagai tempat pulang yang paling
nyaman bagi istri kita. Rosulullah ﷺ bersabda:
«اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ
خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ
تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
خَيْرًا»
“Berwasiatlah
kalian untuk berbuat baik kepada wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan
dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah
bagian atasnya. Jika engkau mencoba meluruskannya (dengan paksa), maka engkau
akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok.
Maka berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita.” (HR. Al-Bukhori no.
3331 dan Muslim no. 1468)
Hadits ini adalah kunci utama dalam
memahami psikologi wanita. Tulang rusuk yang bengkok memiliki fungsi vital
untuk melindungi jantung. Jika ia dipaksa lurus, ia akan patah. Patahnya wanita
adalah perceraiannya atau hancurnya perasaannya. Namun jika dibiarkan tanpa
bimbingan, ia akan tetap dalam kebengkokannya yang mungkin melampaui batas.
Maka, tugas suami adalah membimbing dengan penuh kelembutan (hilm), bukan dengan
kekerasan (syiddah). Buku ini hadir sebagai panduan praktis bagi Anda, wahai para
lelaki, untuk menyelami samudera perasaan wanita melalui 9 sifat dasar yang
seringkali terabaikan. Dengan memahaminya, in syaa Alloh, Anda tidak hanya
akan mendapatkan ketaatannya, tetapi juga seluruh cintanya yang tulus karena
Alloh ﷻ.
Bab 1: Wanita Diciptakan dengan
Perasaan yang Halus
Hakikat Kelembutan Perasaan Wanita
Wanita adalah makhluk yang didominasi oleh
perasaan (athofah). Jika lelaki seringkali melihat dunia melalui
kacamata hitam-putih logika, wanita melihatnya melalui spektrum warna emosi.
Sifat ini bukanlah sebuah kelemahan, melainkan anugerah yang Alloh ﷻ
titipkan agar ia mampu mengasuh anak-anak dengan sabar dan memberikan
kehangatan dalam rumah tangga. Memahami bahwa wanita bereaksi berdasarkan
perasaan adalah langkah pertama untuk berhenti menyalahkannya saat ia terlihat
tidak logis di mata Anda.
Landasan Syar’i Tentang Kelembutan
Wanita
Alloh ﷻ
memerintahkan para suami untuk bergaul dengan cara yang baik, yang mencakup
menjaga perasaan mereka.
﴿وَعَاشِرُوهُنَّ
بِالْمَعْرُوفِ﴾
“Dan
bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)
Ibnu Katsir (774 H)
menjelaskan bahwa makna “al-ma’ruf” adalah memperbagus ucapan, perbuatan, dan
keadaan di hadapan mereka sebagaimana engkau menyukai hal itu dari mereka. Kelembutan perasaan ini menuntut suami untuk tidak kasar dalam
bertindak.
Perumpamaan Kaca yang Mudah Pecah
Rosulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah
mengenai sifat halus wanita ini dalam sebuah hadits yang ditujukan kepada
Anjasyah, sang pelantun syair saat perjalanan.
«رُوَيْدَكَ يَا أَنْجَشَةُ سَوْقَكَ بِالقَوَارِيرِ»
“Pelan-pelanlah
wahai Anjasyah, kasihanilah kaca-kaca (wanita-wanita) itu.” (HR. Al-Bukhori no. 6210
dan Muslim no. 2323)
Penyebutan “qowarir” (kaca/botol
kristal) menunjukkan betapa rentannya perasaan wanita. Kaca jika pecah, sulit
disatukan kembali tanpa meninggalkan bekas. Demikian pula hati wanita; sekali
ia terluka karena kekasaran, ia akan membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Kesalahan Suami: Mengadu Logika
dengan Perasaan
Banyak lelaki terjebak dalam kesalahan
fatal saat menghadapi istri yang sedang emosional: mereka mencoba mendebatnya
dengan logika yang kaku. Ketika seorang istri menangis karena merasa lelah atau
sedih, ia tidak butuh ceramah tentang betapa tidak logisnya ia menangis. Ia
butuh divalidasi perasaannya. Membalas tangisan dengan bentakan atau
argumentasi rasional hanya akan memperlebar jarak antara hati Anda dan hatinya.
Cara Menaklukkan Hatinya Melalui
Kelembutan
Untuk menaklukkan hati yang halus ini,
gunakanlah bahasa kalbu. Berikan ia ruang untuk mengekspresikan perasaannya
tanpa dihakimi. Sebuah pelukan hangat atau sekadar mendengarkan tanpa interupsi
seringkali lebih efektif daripada 1.000 solusi praktis. Jadilah seperti
Rosulullah ﷺ yang tetap lembut meski dalam keadaan sulit, karena beliau tahu
bahwa hanya dengan kelembutanlah “kaca” tersebut tetap utuh dan berkilau.
Bab 2: Wanita Butuh Dihargai
Sebelum Dinasihati
Psikologi Penerimaan pada Wanita
Seorang wanita akan membuka pintu hatinya
lebar-lebar bagi nasihat jika ia merasa posisinya diakui dan dihargai. Sifat
wanita cenderung ingin dianggap penting dan berharga di mata suaminya. Jika
seorang suami langsung menghujani istrinya dengan kritik atau nasihat tanpa
memberikan apresiasi atas apa yang telah ia lakukan, maka nasihat tersebut akan
dianggap sebagai serangan, bukan bimbingan.
Belajar dari Hikmah Al-Qur’an
dalam Memberi Apresiasi
Alloh ﷻ
mengajarkan kita untuk melihat sisi positif pasangan sebelum melihat
kekurangannya.
﴿فَإِنْ
كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا
كَثِيرًا﴾
“Kemudian jika kamu tidak
menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,
padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa apresiasi
terhadap kebaikan istri harus mendahului penilaian kita terhadap kekurangannya.
Suami yang sholih akan sibuk mencari kebaikan istrinya untuk dihargai.
Teladan Rosulullah ﷺ dalam Menghargai Khodijah
Rodhiyallahu ‘Anha
Rosulullah ﷺ tidak pernah melupakan jasa Khodijah (3
SH) bahkan setelah beliau wafat. Beliau sering memuji Khodijah di depan Aisyah Rodhiyallahu
‘Anha. Beliau bersabda:
«قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ،
وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي
النَّاسُ»
“Ia
beriman kepadaku saat orang-orang kafir kepadaku, ia membenarkanku saat
orang-orang mendustakanku, dan ia membantuku dengan hartanya saat orang-orang
tidak memberiku apa-apa.” (HSR.
Ahmad no. 24864)
Penghargaan yang tulus
ini adalah rahasia mengapa cinta Khodijah begitu abadi dalam hidup Nabi ﷺ.
Kesalahan:
Nasihat yang Menghakimi
Kesalahan yang sering dilakukan suami
adalah memberikan nasihat di waktu yang salah atau dengan nada yang
merendahkan. Misalnya, mengkritik masakan istri di depan orang lain atau
langsung menyalahkannya saat ia melakukan kesalahan kecil tanpa memuji usaha
yang telah dilakukannya selama ini. Ini akan membuat istri merasa bahwa dirinya
hanya dilihat sebagai “objek yang perlu diperbaiki”, bukan sebagai mitra yang
dicintai.
Strategi Praktis: Rumus 5:1 (Lima
Pujian untuk Satu Kritik)
Untuk menaklukkan hatinya, perbanyaklah
tabungan pujian. Katakan “Terima kasih atas hidangan ini” atau “Aku sangat
menghargai caramu mendidik anak-anak kita”. Saat hatinya sudah penuh dengan
rasa dihargai, ia akan dengan sukarela menerima nasihat Anda. Nasihatilah ia
dalam kesunyian, dengan suara rendah, dan mulailah dengan menyebutkan
kelebihan-kelebihannya terlebih dahulu.
Bab 3: Wanita Mencintai Perhatian
Lebih dari Sekadar Materi
Hakikat Kehadiran Emosional
Materi memang penting untuk keberlangsungan
hidup, namun bagi wanita, perhatian emosional adalah oksigen bagi jiwanya.
Seorang istri mungkin bisa bersabar dengan hidangan yang sederhana, namun ia
sulit bersabar dengan suami yang dingin dan tidak peduli. Perhatian berarti
Anda “hadir” sepenuhnya saat bersamanya, bukan hanya hadir secara fisik
sementara pikiran dan tangan Anda terpaku pada gadget.
Perintah Memberi Nafkah Lahir dan
Batin
Islam mewajibkan suami memberikan nafkah,
namun nafkah batin (perhatian) seringkali lebih ditekankan dalam konteks
kebahagiaan keluarga.
﴿وَلَهُنَّ
مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ﴾
“Dan
para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang
ma’ruf.” (QS.
Al-Baqoroh: 228)
Hak wanita di sini termasuk hak untuk
didengarkan, diperhatikan, dan disayangi.
Hadits Tentang Menghibur Istri
Rosulullah ﷺ adalah sosok yang sangat perhatian. Suatu
ketika Shofiyyah Rodhiyallahu ‘Anha menangis karena merasa tertinggal
saat perjalanan dan beliau ﷺ langsung menghiburnya.
فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ بِيَدَيْهِ عَيْنَيْهَا وُيُسْكِتُهَا
“Maka
Rosulullah ﷺ mengusap air mata Shofiyyah dengan kedua tangannya dan berusaha
menenangkannya.” (HSR. An-Nasa’i dalam As-Sunanul Kubro no. 9117)
Beliau tidak mengatakan “Jangan cengeng”,
melainkan memberikan sentuhan fisik yang menenangkan. Inilah bentuk perhatian
nyata.
Kesalahan: Menganggap Materi
Adalah Segalanya
Banyak suami merasa sudah menjadi “pahlawan”
hanya karena telah mentransfer uang belanja yang besar, lalu merasa berhak
untuk tidak mau tahu urusan perasaan istri. Mereka lupa bahwa satu makanan kesukaan istri
yang diberikan dengan tatapan mata yang tulus seringkali lebih berkesan bagi
istri daripada perhiasan mahal yang diberikan dengan sikap yang acuh tak acuh.
Cara Praktis: Menjadi Pendengar
Setia
Taklukkan hatinya dengan meluangkan waktu
minimal 15-30 menit sehari untuk mengobrol tanpa gangguan apapun. Tanyakan
tentang harinya, dengarkan keluh kesahnya tentang anak-anak atau rumah tangga,
dan berikan respon yang menunjukkan Anda peduli. Ingatlah detail kecil
tentangnya, seperti warna kesukaannya atau apa yang membuatnya cemas. Perhatian
pada detail kecil adalah kunci pembuka gembok hatinya.
Bab 4: Wanita Mudah Terluka oleh
Ucapan
Kekuatan Lisan dalam Rumah Tangga
Lidah adalah pedang bermata dua. Bagi
wanita, kata-kata adalah realitas. Jika suami mengatakan hal yang buruk, wanita
cenderung menyimpannya dalam memori jangka panjang yang sulit dihapus.
Sebaliknya, kata-kata yang baik (kalimatun thoyyibah) adalah nutrisi
bagi kecantikannya. Istri yang sering dibentak atau dihina akan kehilangan “nur”
atau cahaya di wajahnya.
Larangan Menghina dan Berkata
Kasar
Alloh ﷻ
melarang kita untuk saling mengolok-olok, dan ini lebih ditekankan lagi dalam
hubungan suami istri.
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا
خَيْرًا مِنْهُمْ﴾
“Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka
(yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS.
Al-Hujurot: 11)
Dalam konteks suami
istri, Rosulullah ﷺ secara spesifik melarang suami menghina
istrinya.
«وَلَا تُقَبِّحْ»
“Dan janganlah engkau
menjelek-jelekkannya (menghinanya).” (HSR. Abu Dawud no. 2142)
Hikmah Kata-Kata yang Lembut
Rosulullah ﷺ bersabda tentang cara-cara bersedakah kepada orang lain:
«الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ»
“Kata-kata
yang baik adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhori no. 2989 dan Muslim no. 1009)
Jika kepada orang asing saja kata-kata baik
bernilai sedekah, maka kepada istri, nilai pahalanya tentu jauh lebih besar dan
dampaknya terhadap keharmonisan sangat luar biasa.
Kesalahan: Ceplas-ceplos Tanpa
Filter
Suami sering merasa bahwa karena sudah “halal”,
maka mereka bebas berbicara apa saja kepada istrinya, termasuk mengomentari
fisik dengan nada mengejek atau membandingkan istri dengan wanita lain. Kalimat
seperti “Kamu kok gendutan?” atau “Lihat tuh istri si fulan, lebih pinter
dandan” adalah belati yang menusuk langsung ke jantung kepercayaan diri seorang
wanita.
Cara Praktis: Memilih Kata dan
Nada yang Tepat
Taklukkan hatinya dengan senantiasa
memanggilnya dengan panggilan kesayangan, sebagaimana Nabi ﷺ memanggil Aisyah Rodhiyallahu
‘Anha dengan “Ya ‘Aisy” atau “Ya Humairo” (yang
kemerah-merahan pipinya). Biasakan untuk menyaring setiap kalimat yang akan
keluar. Jika sedang marah, lebih baik diam daripada mengeluarkan kata-kata yang
akan Anda sesali seumur hidup. Kata-kata yang lembut akan meluluhkan
kekerashatian sekeras apapun.
Bab 5: Wanita Membutuhkan Rasa
Aman
Definisi Rasa Aman bagi Wanita
Rasa aman (security) bukan hanya berarti
terlindung dari gangguan fisik atau pencuri, tetapi lebih kepada rasa aman
secara emosional dan masa depan. Wanita butuh kepastian bahwa suaminya akan
selalu ada untuknya, melindunginya dari fitnah, dan tidak akan mencampakkannya
begitu saja. Ia butuh tahu bahwa ia memiliki “benteng” yang kokoh di dunia ini.
Lelaki Sebagai Qowwam
(Pemimpin/Pelindung)
Alloh ﷻ
menetapkan lelaki sebagai qowwam.
﴿الرِّجَالُ
قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا
أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ﴾
“Lelaki
adalah pemimpin bagi wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian mereka atas
sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka.” (QS.
An-Nisa: 34)
Qowwam bukan hanya soal memberi perintah,
tapi soal “qiyam” (berdiri tegak) untuk menjaga dan mengayomi. Istri merasa
aman jika suaminya bertanggung jawab dalam urusan agama dan dunianya.
Perlindungan Nabi ﷺ Terhadap Kehormatan Istri
Rosulullah ﷺ sangat menjaga kehormatan istri-istrinya.
Saat Shofiyyah Rodhiyallahu ‘Anha mengunjungi beliau yang sedang i’tikaf,
beliau mengantarkannya pulang agar tidak terjadi fitnah atau gangguan di jalan.
Ini menunjukkan bahwa rasa aman fisik dan nama baik adalah prioritas suami.
Kesalahan: Mengancam dengan Kata
Cerai
Banyak suami yang menggunakan kata “Cerai”
atau ancaman poligami sebagai alat untuk menekan istri agar tunduk. Ini adalah
kesalahan fatal yang menghancurkan rasa aman. Istri yang merasa posisinya
terancam akan hidup dalam kecemasan permanen, yang akhirnya membuatnya bersikap
defensif, dingin, atau bahkan memberontak.
Cara Praktis: Menjadi Pelabuhan
yang Kokoh
Taklukkan hatinya dengan menunjukkan bahwa
Anda adalah orang pertama yang membelanya saat orang lain menyakitinya.
Tunjukkan komitmen jangka panjang. Katakan, “Apapun yang terjadi, kita hadapi
bersama”. Berikan ia kepastian dalam nafkah dan bimbingan agama. Ketika istri
merasa aman, ia akan menyerahkan seluruh kesetiaan dan cintanya tanpa ragu.
Bab 6: Wanita Cenderung Mengingat
Perlakuan, Bukan Janji
Memori Emosional Wanita
Wanita memiliki daya ingat yang luar biasa
kuat terhadap detail perlakuan, baik itu manis maupun pahit. Janji-janji manis
bagi wanita hanyalah “hutang” yang harus ditunaikan. Jika suami sering berjanji
namun jarang menepati, wanita akan kehilangan kepercayaan (trust).
Baginya, satu tindakan nyata (action) bernilai 1.000 janji muluk.
Perintah Menepati Janji dalam
Al-Qur’an
Alloh ﷻ
sangat menekankan pentingnya menepati janji, dan ini sangat relevan dalam
hubungan pasutri.
﴿وَأَوْفُوا
بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا﴾
“Dan
penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al-Isro’: 34)
Suami yang suka ingkar janji, meski dalam
hal kecil, sedang mengikis wibawanya di depan sang istri.
Keteladanan dalam Amal Nyata
Rosulullah ﷺ tidak hanya berteori tentang cinta. Beliau
mempraktikkannya. Beliau membantu pekerjaan rumah tangga istrinya (fii
mihnati ahlihi). Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha bercerita:
«كَانَ يَخِيطُ ثَوْبَهُ، وَيَخْصِفُ نَعْلَهُ،
وَيَعْمَلُ مَا يَعْمَلُ الرِّجَالُ فِي بُيُوتِهِمْ»
“Nabi
ﷺ
menjahit bajunya sendiri dan memperbaiki alas kakinya sendiri, juga melakukan perkerjaan lain yang biasa
dilakukan para lelaki di rumahnya.” (HSR. Ahmad no. 24903)
Ini adalah perlakuan nyata yang diingat dan
dicintai oleh istri.
Kesalahan: Memberi Harapan Palsu
Kesalahan umum lelaki adalah memberikan
janji-janji hanya untuk menenangkan istri saat terjadi konflik, tanpa ada niat
sungguh-sungguh untuk merealisasikannya. Misalnya, janji untuk lebih sering di
rumah, janji untuk berhenti merokok, atau janji untuk mengajak jalan-jalan.
Ketidakkonsistenan antara ucapan dan perbuatan membuat istri merasa tidak
dianggap penting.
Cara Praktis: Kurangi Bicara,
Perbanyak Bukti
Taklukkan hatinya dengan menjadi lelaki
yang memegang kata-katanya. Jika Anda berjanji akan membantu mencuci piring,
lakukan sekarang juga. Jika Anda berjanji akan mengajaknya kajian, jadwalkan
dengan serius. Kejutan kecil berupa bantuan tenaga atau waktu seringkali lebih
bermakna daripada janji-janji besar yang belum tentu terwujud. Ingatlah, wanita
mencintai “bukti” dari cinta Anda.
Bab 7: Wanita Ingin Dipahami,
Bukan Selalu Dikoreksi
Kebutuhan untuk Didengar
Seringkali wanita bercerita tentang
masalahnya bukan karena ia mencari solusi teknis, melainkan karena ia ingin
mengeluarkan beban emosinya (venting). Lelaki, dengan insting “problem
solver”-nya, cenderung langsung memotong pembicaraan dengan memberikan
koreksi atau solusi. Hal ini seringkali membuat wanita merasa tidak dipahami
dan justru semakin kesal.
Hikmah dalam Mendengarkan
Alloh ﷻ
memuji orang-orang yang mendengarkan perkataan dengan baik.
﴿الَّذِينَ
يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ﴾
“Yang
mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (QS. Az-Zumar: 18)
Dalam rumah tangga, mendengarkan adalah
bentuk penghormatan tertinggi.
Hadits Ummu Zar’: Bukti Nabi ﷺ Pendengar yang Sabar
Hadits panjang tentang 11 wanita yang
menceritakan sifat suami mereka (Hadits Ummu Zar’) adalah bukti betapa sabarnya
Rosulullah ﷺ mendengarkan cerita Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha. Beliau ﷺ mendengarkan sampai
selesai, lalu memberikan komentar yang menenangkan:
«كُنْتُ لَكِ كَأَبِي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ»
“Aku bagimu seperti Abu Zar’ bagi Ummu Zar’.” (HR. Al-Bukhori no.
5189)
Yakni, bahkan aku lebih
baik darinya karena aku tidak menceraikanmu.
Beliau tidak mengoreksi cerita Aisyah yang
panjang, beliau justru menyimaknya.
Kesalahan: Menjadi Hakim bagi
Istri
Kesalahan suami adalah bersikap seperti
hakim atau dosen. Ketika istri mengeluh “Capek banget hari ini”, suami menjawab
“Ya iyalah capek, kan tadi aku sudah bilang jangan begini begitu...”. Kalimat
koreksi yang prematur ini adalah pembunuh kemesraan. Istri merasa suaminya
tidak berada di pihaknya.
Cara Praktis: Teknik Mendengarkan
Empatik
Taklukkan hatinya dengan memberikan telinga
dan hati Anda sepenuhnya. Saat ia bercerita, gunakan kalimat seperti, “Oh ya?
Pasti berat ya buat kamu,” atau “Aku paham kenapa kamu merasa begitu.” Jangan
berikan solusi kecuali jika ia memintanya secara eksplisit. Seringkali, saat
wanita merasa dipahami, ia akan menemukan solusinya sendiri dengan hati yang
jauh lebih lapang.
Bab 8: Wanita Memiliki Kecemburuan
Sebagai Fithroh
Cemburu Adalah Tanda Cinta
Cemburu (ghiroh) pada wanita adalah sesuatu
yang fithroh dan naluriah. Selama cemburu itu tidak melampaui batas syariat
(seperti menuduh tanpa bukti), maka itu adalah bukti bahwa ia sangat mencintai
dan menghargai kepemilikan atas suaminya. Lelaki yang memahami hal ini tidak
akan merasa risih, melainkan akan bersyukur karena ia memiliki istri yang masih
peduli padanya.
Kejadian Piring Pecah di Rumah
Nabi ﷺ
Pernah suatu ketika salah satu istri Nabi ﷺ mengirimkan makanan saat
beliau sedang di rumah Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha. Karena cemburu, Aisyah
memukul tangan pelayan hingga piringnya pecah. Bagaimana reaksi Nabi ﷺ? Beliau tidak marah
besar. Beliau justru memunguti makanan itu sambil tersenyum dan berkata kepada
para Shohabat:
«غَارَتْ أُمُّكُمْ»
“Ibu
kalian (Aisyah) sedang cemburu.” (HR. Al-Bukhori no. 5225)
Beliau ﷺ memahami bahwa itu adalah luapan fithroh,
bukan kebencian.
Kesalahan: Sengaja Memancing
Cemburu
Beberapa lelaki secara sengaja memuji
kecantikan wanita lain di depan istrinya atau bersikap terlalu ramah dengan
lawan jenis di media sosial hanya untuk melihat reaksi istrinya atau merasa
hebat. Ini adalah tindakan yang kejam. Memancing cemburu sama saja dengan
menyulut api di dalam rumah sendiri yang bisa menghanguskan segalanya.
Cara Praktis: Maklumi
Kecemburuannya, dan Solusikan Akibat Buruknya
Anda tidak perlu
memikirkan kecemburuan istri. Namun, kecemburuannya yang menyebabkan kezoliman,
diingkari kezolimannya dan memberi ganti rugi. Misalnya, kasus kecemburuan
Aisyah di atas yang menyebabkan mangkuk yang dibawa pengantar pecah, maka Nabi ﷺ memberi ganti rugi dari mangkuk Aisyah.
Contoh lainnya,
cemburunya istri saat suami sering mengirim uang ke ibunya. Jika dorongannya karena
kesan ia tidak dinomorsatukan, maka itulah cemburu wanita. Namun, jika
dorongannya karena ingin menguasai harta suami maka ini kezoliman dan tidak
boleh didiamkan suami. Maka suami tetap memberi orang tua tanpa memperdulikan
cemburu istri, dengan memberi penjelasan kepada istri dengan lembut terkait bab
rizqi dan berbakti kepada orang tua.
Bab 9: Wanita Akan Tunduk dengan
Cinta, Bukan dengan Kerasnya Sikap
Kekuatan Kelembutan vs Kekerasan
Banyak lelaki yang salah kaprah mengartikan
kepemimpinan sebagai kekuasaan untuk memerintah dengan tangan besi. Mereka
ingin istrinya tunduk separti budak kepada tuannya. Padahal, fithroh wanita
adalah ia akan memberikan segalanya—ketaatan, pengabdian, dan kasih sayang—jika
ia merasa dicintai. Ketaatan yang lahir dari rasa takut akan melahirkan
kemunafikan, namun ketaatan yang lahir dari cinta akan melahirkan keberkahan.
Larangan Bersikap Kasar
Alloh ﷻ
memuji Rosulullah ﷺ karena kelembutannya, yang mana jika beliau kasar, orang akan
menjauh.
﴿فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا
مِنْ حَوْلِكَ﴾
“Maka
disebabkan rohmat dari Alloh-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)
Jika para Shohabat saja bisa menjauh karena
kekasaran, apalagi seorang istri yang hatinya jauh lebih lembut?
Pesan Terakhir Nabi ﷺ Tentang Wanita
Dalam khutbah Wada’, Rosulullah ﷺ memberikan pesan yang
sangat mendalam:
«فَاتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ، فَإِنَّكُمْ
أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ»
“Bertaqwalah
kalian kepada Alloh dalam urusan wanita, karena kalian mengambil mereka dengan
amanah dari Alloh dan menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Alloh.” (HR. Muslim no. 1218)
Mengingat bahwa istri adalah “amanah Alloh”
seharusnya membuat setiap suami gemetar jika hendak bersikap kasar.
Kesalahan: Ego Maskulinitas yang
Salah
Suami sering merasa bahwa meminta maaf atau
mengalah kepada istri adalah tanda kelemahan atau jatuhnya harga diri. Padahal,
hanya lelaki yang berjiwa besar yang mampu merendahkan sayapnya di hadapan
istrinya. Menuntut ketaatan tanpa memberikan kasih sayang adalah sebuah kezholiman
emosional.
Cara Praktis: Menaklukkan dengan
Akhlak Mulia
Taklukkan hatinya dengan menjadi orang
pertama yang meminta maaf saat terjadi perselisihan, meskipun Anda merasa
benar. Gunakan kata-kata yang mengajak, bukan memerintah secara diktator.
Contohnya, daripada berkata “Ambilkan air!”, lebih baik “Sayang, tolong
ambilkan air ya, aku haus sekali.” Lihatlah bagaimana ia akan dengan senang
hati melayani Anda. Cinta adalah kunci yang bisa membuka pintu ketaatan tanpa
paksaan.
Penutup
Wahai para suami yang
dimuliakan Alloh ﷻ, memahami 9 sifat ini bukanlah sekadar
teori psikologi, melainkan bagian dari ibadah kita kepada Sang Kholiq. Pernikahan adalah madrasah pertama kita untuk belajar tentang kesabaran,
pengorbanan, dan akhlak mulia. Kita harus sadar bahwa istri kita bukanlah Malaikat
yang tanpa cela, sebagaimana kita pun bukanlah Nabi yang maksum (terjaga dari
dosa). Namun, dalam ketidaksempurnaan itu, Alloh ﷻ
menitipkan rahasia kebahagiaan yang hanya bisa dibuka dengan kunci ilmu dan
kasih sayang.
Renungkanlah kembali, sudahkah kita menjadi
pelindung yang memberikan rasa aman? Ataukah kita justru menjadi sumber
ketakutan bagi istri kita? Sudahkah lisan kita menjadi penyejuk hatinya, atau
justru menjadi sembilu yang menyayat perasaannya setiap hari? Ingatlah bahwa
setiap tetes air mata istri yang jatuh karena kezholiman suaminya akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Alloh ﷻ kelak.
Sebaliknya, setiap senyum yang terukir di wajahnya karena perlakuan baik Anda
adalah sedekah yang akan memberatkan timbangan amal kebaikan Anda.
Menaklukkan hati istri tidak membutuhkan
modal harta yang melimpah, melainkan modal ketulusan dan kesediaan untuk terus
belajar. Jangan pernah lelah untuk memperbaiki diri. Jadilah suami yang jika ia
masuk ke rumah, suasana menjadi ceria; dan jika ia pergi, ia dirindukan.
Sebagaimana nasihat dari para Salaf, bahwa seorang lelaki yang sholih adalah
yang paling tahu cara memuliakan istrinya tanpa merendahkan martabat
kepemimpinannya.
«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ
لِأَهْلِي»
“Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang
paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3895)
Semoga Alloh ﷻ memberkahi rumah tangga kita, menyatukan hati kita di atas
ketaatan kepada-Nya, dan mengumpulkan kita kembali bersama keluarga di dalam
Jannah-Nya yang seluas langit dan bumi. Amin ya
Robbal ‘Alamin.[NK]
