[PDF] Masuk Surga Bersama Keluarga - Nor Kandir
MUQODDIMAH
﷽
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah
menjadikan kasih sayang sebagai pengikat hati di antara hamba-hamba-Nya. Kita
memuji-Nya atas ni’mat Islam dan iman, serta ni’mat dikumpulkannya kita dalam
sebuah keluarga yang menjadi tempat berteduh di dunia.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ, teladan terbaik dalam memimpin keluarga menuju ridho Alloh.
Juga kepada para Shohabat (rodhiyallahu ‘anhum) yang telah mencontohkan
bagaimana cinta karena Alloh mampu menembus batas dunia hingga ke Akhiroh.
Amma ba’du:
Wahai saudaraku, pernahkah Anda menatap wajah anak-anak yang
sedang terlelap atau memperhatikan keletihan pasangan hidup Anda, lalu terbesit
sebuah tanya di dalam dada: “Akan ke manakah kebersamaan kita ini berakhir?”
Sungguh, rumah yang kita tempati hari ini, tawa yang kita bagi, hingga hidangan
yang kita santap bersama, semuanya adalah persinggahan sementara. Dunia ini
adalah negeri perpisahan. Seberapa erat kita menggenggam tangan orang yang kita
cintai, suatu saat genggaman itu akan terlepas, baik karena tuntutan pekerjaan,
jarak yang membentang, atau ketetapan ajal yang tidak bisa dimajukan maupun
diundurkan.
Namun, ketahuilah bahwa Alloh yang Maha Pengasih tidak
membiarkan hamba-Nya yang beriman berputus asa dalam rindu. Islam datang
membawa kabar gembira bahwa keluarga yang dibangun di atas pondasi Tauhid dan
ketaatan tidak akan berakhir di liang lahat. Ada janji manis tentang sebuah
reuni besar di Jannah, di mana tidak ada lagi air mata perpisahan, tidak ada
lagi rasa lelah karena mencari nafkah, dan tidak ada lagi jarak yang
memisahkan.
Buku ini hadir untuk mengajak saya dan Anda merenungi
kembali makna kehadiran keluarga. Kita tidak hanya sekadar hidup bersama di
bawah satu atap, tetapi kita sedang berjuang bersama agar bisa saling memberi
syafaat di hadapan Alloh kelak. Mari kita susuri jalan ilmu ini, agar setiap
peluh dan air mata yang jatuh dalam mengurus keluarga, berbuah manis dalam
bentuk istana-istana di Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
BAB 1: KELUARGA ADALAH AMANAH DAN
JALAN MENUJU JANNAH
1.1
Menatap Wajah Keluarga sebagai Ladang Pahala
Wahai hamba Alloh, ketahuilah bahwa setiap detik yang Anda
habiskan bersama keluarga, setiap pandangan kasih sayang kepada istri dan
anak-anak, bukanlah hal yang sia-sia di mata Robb kita. Sungguh, dalam Islam,
mencintai keluarga adalah bagian dari ibadah yang sangat mulia jika diniatkan
untuk mencari wajah Alloh.
Alloh berfirman:
﴿وَالَّذِينَ يَقُولُونَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا﴾
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Wahai Robb kami,
anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang
hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS.
Al-Furqon: 74)
Ketika Anda memandang anak dan istri dengan rasa syukur,
sesungguhnya Anda sedang menikmati salah satu bentuk ni’mat dunia yang paling
besar. Nabi ﷺ bersabda:
«الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ
مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ»
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia
adalah wanita yang sholihah.” (HR. Muslim no. 1467)
Maka, jadikanlah setiap interaksi di dalam rumah Anda
sebagai sarana mendulang pahala. Jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa makna,
karena setiap senyuman yang Anda berikan kepada mereka adalah sodaqoh, dan
setiap perhatian Anda adalah pemberat timbangan kebaikan di Akhiroh kelak.
1.2
Keutamaan Memperbanyak Keturunan dan Memiliki Banyak Istri
Dalam pandangan Islam, memiliki keluarga yang besar dengan
banyak keturunan adalah sebuah kemuliaan dan bentuk ketaatan kepada perintah
Nabi ﷺ. Memiliki banyak anak berarti memperbanyak jumlah umat yang
akan bersujud kepada Alloh dan membanggakan Rosululloh ﷺ
di hadapan umat-umat lain. Begitu pula bagi mereka yang mampu berlaku adil,
memiliki istri lebih dari satu dengan tujuan menjaga kehormatan dan
memperbanyak keturunan adalah hal yang disyariatkan.
Alloh berfirman:
﴿فَانْكِحُوا مَا طَابَ
لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً﴾
“Maka nikahilah perempuan-perempuan yang kamu sukai: dua, tiga,
atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka
nikahilah seorang saja.” (QS. An-Nisa: 3)
Nabi ﷺ juga sangat
menganjurkan umatnya untuk menikahi wanita yang penyayang dan subur agar
memiliki banyak keturunan. Beliau ﷺ bersabda:
«تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ
الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ»
“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur (banyak anak),
karena sungguh aku akan membanggakan jumlah kalian di hadapan umat-umat (lain
pada hari Kiamat).” (HSR.
Abu Dawud no. 2050)
Sungguh, setiap anak yang lahir membawa rizqinya
masing-masing yang telah diatur oleh Alloh. Janganlah merasa sempit dada dengan
banyaknya anggota keluarga, karena di balik itu semua terdapat keberkahan dan
syafaat yang mungkin akan menyelamatkan kita di hari Kiamat kelak.
1.3 Investasi Abadi di Alam Barzakh
Ketika nafas telah berhenti dan tubuh kaku terkubur di bawah
tanah, segala amal manusia terputus kecuali beberapa hal yang tetap mengalirkan
pahala. Salah satu yang paling utama adalah keberadaan anak yang sholih yang
senantiasa mendoakan orang tuanya. Inilah investasi sejati yang tidak akan
pernah merugi.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ
انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ،
أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga
perkara: sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang
mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Bayangkanlah, wahai ayah dan ibu, saat Anda berada di alam
kubur yang gelap, tiba-tiba datang cahaya yang terang benderang berupa kiriman
pahala. Itu adalah hasil dari didikan Tauhid yang Anda tanamkan pada anak-anak
Anda. Oleh karena itu, berlelah-lelah sekarang dalam mendidik mereka adalah
sebuah kemuliaan yang hasilnya akan Anda nikmati selamanya di Akhiroh.
1.4
Kedudukan Orang Tua yang Mengajarkan Tauhid pada Keluarganya
Wahai para
orang tua, tugas utama Anda di dalam rumah bukanlah sekadar memastikan perut
anak-anak kenyang atau pakaian mereka bagus. Tugas yang jauh lebih besar adalah
menanamkan kalimat Laa ilaha illallah ke dalam dada mereka. Orang tua yang
berhasil mengenalkan Alloh kepada keluarganya akan mendapatkan kedudukan yang
tinggi, karena mereka telah menjalankan fungsi kenabian dalam skala kecil.
Alloh
menceritakan wasiat Luqman kepada anaknya sebagai pelajaran bagi kita:
﴿وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾
“Dan
(ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran
kepadanya: ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Alloh, sungguh
mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezholiman yang besar.’” (QS.
Luqman: 13)
Setiap
bimbingan yang Anda berikan agar keluarga Anda hanya menyembah Alloh adalah
cahaya yang akan menerangi jalan kalian menuju Jannah. Nabi ﷺ bersabda:
«كُلُّكُمْ
رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap
kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)
Saat Anda
berhasil menjaga fithroh anak-anak Anda di atas Tauhid, Anda sesungguhnya
sedang membangun benteng yang kokoh agar keluarga Anda tetap utuh hingga di
Akhiroh nanti.
1.5
Menjaga Diri dan Keluarga dari Pedihnya Siksa Naar
Cinta sejati bukanlah sekadar memanjakan keluarga dengan
kesenangan dunia, melainkan rasa takut jika ada satu pun anggota keluarga yang
terjerumus ke dalam siksa api Naar. Seorang Mu’min yang tulus akan senantiasa waspada dan saling
mengingatkan dalam ketaatan agar mereka semua selamat dari adzab Alloh.
Alloh
memerintahkan dengan tegas:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Naar yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)
Menjaga
keluarga dari Naar berarti mengajak mereka Sholat, memerintahkan yang ma’ruf,
dan melarang dari yang mungkar. Nabi ﷺ
memberikan contoh bagaimana perhatian beliau terhadap Sholat anggota
keluarganya:
«رَحِمَ
اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ»
“Semoga
Alloh merahmati seorang laki-laki yang bangun pada malam hari lalu ia Sholat
dan membangunkan istrinya (untuk Sholat).” (HSR. Abu Dawud no. 1308)
Inilah
bentuk kasih sayang yang paling tinggi. Kita tidak ingin masuk Jannah
sendirian. Kita ingin menggandeng tangan istri, suami, dan anak-anak kita
melewati pintu-pintu Jannah dan menjauh dari ngerinya api Naar.
BAB 2: JIHAD AYAH DAN IBU DALAM
RUMAH TANGGA
2.1
Keringat Ayah dalam Mencari Nafkah yang Halal
Wahai para Ayah, janganlah merasa lelah atau berkecil hati
saat Anda harus memeras keringat di bawah terik matahari demi sesuap nasi yang
halal untuk keluarga. Ketahuilah,
setiap tetes keringat itu bernilai sodaqoh yang sangat besar di sisi Alloh.
Pekerjaan Anda bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah jihad.
Nabi ﷺ bersabda:
«دِينَارٌ
أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ
تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا
أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ»
“Satu dinar
yang kamu infakkan di jalan Alloh, satu dinar yang kamu infakkan untuk
memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sodaqohkan kepada orang miskin, dan
satu dinar yang kamu infakkan kepada keluargamu; maka yang paling besar
pahalanya adalah yang kamu infakkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)
Bahkan,
setiap suapan yang Anda berikan ke mulut istri Anda pun mengandung pahala. Nabi
ﷺ bersabda:
«إِنَّكَ
لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا
حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ»
“Sungguh,
tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah yang dengannya kamu mengharap wajah
Alloh, kecuali kamu akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang kamu
suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Al-Bukhori no. 56)
Maka,
bekerjalah dengan niat ibadah. Lelahnya Anda di dunia ini akan menjadi
istirahat yang panjang di Jannah jika dijalani dengan keikhlasan.
2.2
Kesabaran Tanpa Batas dalam Mendidik Buah Hati
Mendidik
anak di zaman sekarang bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kesabaran yang seluas
samudera untuk menghadapi tingkah laku mereka, rengekan mereka, hingga
mendampingi mereka belajar mengenal Robb-nya. Namun, wahai orang tua,
ketahuilah bahwa lelahmu dalam mendidik adalah perisai bagimu dari api Naar.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
يَلِي مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ شَيْئًا، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا
مِنَ النَّارِ»
“Siapa yang
diuji dengan kehadiran anak-anak perempuan, lalu ia berbuat baik (mendidik)
mereka, maka anak-anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api Naar.” (HR.
Al-Bukhori no. 5995 dan Muslim no. 2629)
Sabar dalam
mendidik juga berarti konsisten memerintahkan mereka beribadah sejak dini. Nabi
ﷺ bersabda:
«مُرُوا
أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا،
وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ»
“Perintahkan
anak-anak kalian untuk mengerjakan Sholat ketika mereka berumur tujuh tahun,
dan pukullah mereka (dengan pukulan yang mendidik) karena meninggalkan Sholat
saat berumur sepuluh tahun.” (HSR. Abu Dawud no. 495)
Jangan
pernah menyerah. Setiap kalimat thoyyibah yang Anda ajarkan, setiap doa yang
Anda tuntunkan, akan menjadi saksi di hadapan Alloh bahwa Anda telah berjuang
menyelamatkan mereka.
2.3
Kemuliaan Istri yang Taat dan Melayani Keluarga dengan Ikhlas
Bagi
seorang wanita Muslimah, Jannah begitu dekat melalui pintu rumahnya sendiri.
Melayani suami dan mengurus keperluan keluarga dengan hati yang ridho adalah
jalan pintas menuju kebahagiaan abadi. Sungguh, Alloh memberikan keringanan
yang luar biasa bagi wanita yang taat.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا
صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ
زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ»
“Jika
seorang wanita mengerjakan Sholat lima waktu, berpuasa di bulan Romadhon,
menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah
ke Jannah dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HSR. Ahmad no. 1661)
Wahai para
istri, setiap hidangan yang Anda siapkan, setiap pakaian keluarga yang Anda
cuci, dan setiap senyuman yang Anda berikan untuk menyambut suami pulang kerja,
semuanya adalah investasi Akhirat yang sangat mahal harganya.
2.4
Pahala Besar di Balik Lelahnya Mengurus Urusan Rumah Tangga
Rumah
tangga bukan hanya tentang keindahan, tapi juga tentang kerja keras harian.
Membereskan rumah, memasak, hingga mengurus anak-anak adalah rangkaian ibadah
yang panjang. Jangan anggap remeh kelelahan ini, karena Alloh Maha Melihat
setiap keringat yang jatuh di lantai rumah Anda.
Alloh
berfirman tentang balasan bagi orang-orang yang bersabar dalam ketaatan:
﴿إِنِّي
جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ﴾
“Sungguh,
pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka;
sungguh mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111)
Bekerja di
rumah dengan niat agar keluarga nyaman dalam beribadah kepada Alloh adalah
bentuk pengabdian yang luhur. Rasululloh ﷺ
pun tidak segan membantu urusan rumah tangga keluarganya untuk memberikan
teladan.
2.5
Tegar Menghadapi Ujian Ekonomi dan Penyakit dalam Keluarga
Setiap
keluarga pasti akan diuji, baik dengan kekurangan harta maupun gangguan
kesehatan. Di saat-saat sulit itulah, iman sebuah keluarga diuji. Apakah kita
akan saling menyalahkan, atau justru semakin erat berpegang tangan mencari
rohmat Alloh?
Alloh berfirman:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾
“Kami pasti
akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa,
dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqoroh: 155)
Nabi ﷺ juga menghibur kita dengan sabdanya:
«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ
حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ
بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»
“Tidaklah
seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan,
maupun kegalauan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan
menghapuskan kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhori no. 5641 dan
Muslim no. 2573)
Jadikanlah
ujian dalam keluarga sebagai penggugur dosa, sehingga saat kita bertemu Alloh
kelak, kita dalam keadaan bersih dan layak masuk ke dalam Jannah-Nya.
BAB 3: RASA SAKIT PERPISAHAN DI
DUNIA HANYALAH SEMENTARA
3.1
Perpisahan karena Jarak, Pekerjaan, dan Dakwah
Terkadang,
demi mencari nafkah yang halal atau menjalankan tugas dakwah, kita harus
berpisah jarak dengan orang-orang yang kita cintai. Rasa rindu yang menyesak
dan kesepian yang melanda adalah bumbu perjuangan. Namun ingatlah, perpisahan
ini hanyalah jeda singkat dalam perjalanan panjang menuju keabadian.
Nabi ﷺ pernah bersabda tentang orang yang menempuh jalan untuk mencari
ilmu atau berjuang:
«وَمَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى
الْجَنَّةِ»
“Siapa yang
menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan
menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)
Jika
perpisahan di dunia ini bertujuan untuk ketaatan, maka yakinlah bahwa Alloh
akan menggantinya dengan pertemuan yang jauh lebih indah. Kesabaran Anda saat
jauh dari keluarga demi tugas yang mulia tidak akan disia-siakan oleh-Nya.
3.2
Menahan Rindu pada Orang Tua yang Jauh di Mata
Bagi
sebagian kita, bakti kepada orang tua terkadang harus terhalang oleh jarak.
Pekerjaan atau kewajiban di perantauan membuat kita tidak bisa setiap hari
menatap wajah mereka. Rasa rindu ini adalah ujian, namun ketahuilah bahwa doa
yang tulus menembus batas jarak apa pun. Hubungan batin antara anak dan orang
tua tidak akan putus hanya karena raga tidak bertemu.
Alloh
memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik meski raga berjauhan:
﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا
إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾
“Dan
Robb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah
berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isro: 23)
Bakti Anda
di perantauan dengan menjaga kehormatan keluarga dan tetap mengirimkan nafkah
serta doa adalah bentuk ketaatan yang agung. Nabi ﷺ
pernah mengingatkan bahwa keridhoan Alloh ada pada keridhoan orang tua:
«رِضَى
الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ»
“Keridhoan
Robb ada pada keridhoan orang tua, dan kemurkaan Robb ada pada kemurkaan orang
tua.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1899)
Maka,
meskipun jarak membentang, tetaplah menjadi anak yang berbakti melalui untaian
doa dan kepatuhan, hingga Alloh kumpulkan kalian kembali di bawah naungan
rohmat-Nya.
3.3
Hikmah di Balik Kematian Anggota Keluarga yang Dicintai
Perpisahan
yang paling menyakitkan adalah saat maut menjemput salah satu anggota keluarga.
Dunia seakan runtuh dan hampa. Namun, bagi seorang Mu’min, kematian bukanlah
akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju pertemuan yang lebih
hakiki. Tangisan itu manusiawi, namun keputusasaan adalah hal yang harus
dihindari.
Alloh
berfirman untuk menguatkan hati kita:
﴿الَّذِينَ
إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Inna lillahi wa
inna ilaihi roji’un’ (Sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nyalah kami
kembali).” (QS. Al-Baqoroh: 156)
Setiap jiwa
yang pergi mendahului kita sebenarnya sedang menunggu kita di garis akhir. Jika
kita bersabar, Alloh telah menyediakan ganjaran yang tak terbayangkan. Nabi ﷺ bersabda:
«يَقُولُ
اللَّهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي المُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ، إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ
مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ، إِلَّا الجَنَّةُ»
“Alloh Ta’ala
berfirman: ‘Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang beriman, ketika Aku mengambil
(mematikan) orang yang dicintainya dari penduduk dunia, kemudian ia bersabar mengharap
pahala, kecuali Jannah.’” (HR. Al-Bukhori no. 6424)
3.4
Sabar Saat Ditinggal Wafat Anak atau Pasangan Hidup
Kehilangan
buah hati atau pasangan hidup adalah ujian yang sangat berat. Rumah terasa
sepi, dan setiap sudut ruangan menyisakan kenangan. Namun, ketahuilah wahai
saudaraku, Alloh sedang menguji seberapa besar cinta Anda kepada Sang Pencipta
dibandingkan makhluk-Nya. Kesabaran Anda dalam ujian ini adalah tiket emas
menuju Jannah.
Nabi ﷺ mengabarkan tentang sebuah rumah di Jannah bagi orang tua yang
bersabar saat anaknya wafat:
«إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ
وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ ... فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا
فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ»
“Apabila
anak seorang hamba meninggal dunia, Alloh berfirman kepada Malaikat-Nya: ‘Kalian
telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ ... Maka Alloh
berfirman: ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di Jannah dan namailah
dengan Baitul Hamdi (Rumah Pujian).’” (HHR. At-Tirmidzi no. 1021)
Bagi
pasangan yang ditinggalkan, tetaplah istiqomah. Kesetiaan Anda dalam mendoakan
pasangan yang telah tiada adalah bukti cinta yang menembus alam barzakh.
3.5
Janji Alloh bagi Mereka yang Bersabar dalam Perpisahan
Akhir dari
setiap kesabaran atas perpisahan adalah kemuliaan. Alloh tidak akan membiarkan
hati yang hancur karena kehilangan tetap menderita selamanya. Ada masa di mana
semua kerinduan akan terobati dan semua luka akan disembuhkan.
Alloh berfirman:
﴿إِنَّمَا
يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾
“Hanya
orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS.
Az-Zumar: 10)
Setiap
tetes air mata yang jatuh karena rindu kepada keluarga yang telah tiada, jika
dibalut dengan keimanan, akan menjadi saksi yang akan mempertemukan kalian
kembali. Nabi ﷺ bersabda:
«الْمَرْءُ
مَعَ مَنْ أَحَبَّ»
“Seseorang
akan bersama dengan orang yang dicintainya (di Akhiroh).” (HR. Al-Bukhori
no. 6169 dan Muslim no. 2640)
Pegang
teguh Hadits ini. Jika Anda mencintai keluarga Anda karena Alloh, maka
perpisahan di dunia ini hanyalah sekejap mata sebelum kebersamaan abadi
dimulai.
BAB 4: SYAFAAT DAN SALING MENOLONG
DI AKHIROH
4.1
Syafaat Anak Kecil yang Wafat Sebelum Baligh bagi Orang Tuanya
Pernahkah
Anda membayangkan betapa indahnya ketika di hari Kiamat nanti, seorang anak
kecil menarik ujung baju orang tuanya dan enggan masuk ke Jannah sebelum orang
tuanya ikut serta? Inilah salah satu bentuk rohmat Alloh bagi orang tua yang
kehilangan anaknya di dunia.
Nabi ﷺ bersabda tentang anak-anak kaum Muslimin yang wafat sebelum
baligh:
«يُقَالُ لَهُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَيَقُولُونَ حَتَّى يَدْخُلَ
آبَاؤُنَا ... فَيُقَالُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ»
“Dikatakan
kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam Jannah!’ Mereka menjawab: ‘(Kami tidak
akan masuk) hingga bapak-bapak kami masuk.’ ... Maka dikatakan: ‘Masuklah
kalian ke dalam Jannah bersama bapak-bapak kalian.’” (HSR. An-Nasa’i dalam
Al-Kubro no. 1855)
Anak-anak
itu akan menjadi penolong yang setia. Kesedihan Anda saat kehilangan mereka di
dunia akan berubah menjadi kegembiraan yang luar biasa saat mereka menjemput
Anda di pintu Jannah.
4.2
Al-Quran sebagai Penolong bagi Keluarga yang Membacanya
Bayangkan
suasana rumah yang selalu bergema dengan lantunan ayat suci Al-Quran. Rumah
tersebut tidak hanya menjadi terang di dunia, tetapi Al-Quran yang dibaca
bersama keluarga akan menjelma menjadi pembela yang gigih saat hari penghisaban
yang mengerikan itu tiba.
Nabi ﷺ bersabda:
«اقْرَءُوا
الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ»
“Bacalah
Al-Quran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi
syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)
Lebih
istimewa lagi bagi para orang tua yang berhasil mendidik anaknya menjadi
penghafal Al-Quran. Alloh akan memakaikan mahkota kemuliaan kepada mereka di
hadapan seluruh makhluk. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Siapa yang
membaca Al-Quran dan mengamalkan isinya, maka kedua orang tuanya akan
dipakaikan mahkota pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 1453)
Jadikanlah
rumah Anda sebagai madrasah bagi Al-Quran, agar ia menjadi cahaya yang menuntun
Anda sekeluarga melewati jembatan Shiroth dengan selamat.
4.3
Saling Mencari di Padang Mahsyar
Hari Kiamat
adalah hari yang sangat dahsyat, di mana setiap manusia sibuk dengan urusannya
masing-masing. Namun, bagi keluarga yang saling mencintai karena Alloh,
pencarian itu akan membuahkan hasil. Kita akan saling merindukan dan mencari
keberadaan anggota keluarga kita di tengah lautan manusia.
Alloh
menggambarkan betapa ngerinya hari itu bagi orang kafir:
﴿يَوْمَ
يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ﴾
“Pada hari
itu manusia lari dari saudaranya, dari ibunya dan bapaknya, dari istrinya dan
anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 34-36)
Jika orang
kafir saling lari, maka bagi orang beriman akan saling mencari.
Bagi
orang-orang yang bertaqwa, hubungan itu tetap terjalin. Teman karib dan
keluarga yang sholih akan saling memberi syafaat atas idzin Alloh.
﴿الأَخِلاءُ
يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ﴾
“Teman-teman
akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali
orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Tentu kita
ingin termasuk dalam golongan yang saling mencari untuk menyelamatkan, bukan
untuk saling menuntut.
4.4
Derajat yang Diangkat di Jannah karena Doa Ampunan Anak
Salah satu keajaiban di Akhiroh adalah ketika seorang hamba
mendapati derajatnya tiba-tiba naik tinggi di dalam Jannah, padahal amalnya
mungkin tidak seberapa. Saat
ia bertanya karena keheranan, Alloh memberikan jawaban yang sangat menyejukkan
hati.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ،
فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ»
“Sungguh,
Alloh ‘Azza wa Jalla benar-benar mengangkat derajat seorang hamba yang
sholih di Jannah, lalu ia bertanya: ‘Wahai Robbku, dari mana aku dapatkan
(kemuliaan) ini?’ Maka Alloh berfirman: ‘Karena permohonan ampun anakmu untukmu.’”
(HSR. Ahmad no. 10610)
Inilah buah
dari pendidikan yang Anda berikan di dunia. Anak yang Anda ajari cara
beristighfar akan menjadi “penarik” derajat Anda menuju tingkatan yang lebih
tinggi di hadapan Alloh.
BAB 5: REUNI ABADI DI NEGERI
KEABADIAN
5.1
Alloh Mengumpulkan Kembali Keluarga yang Terpisah
Inilah
puncak dari segala penantian dan air mata. Hari di mana Alloh memenuhi
janji-Nya untuk menyatukan kembali hamba-hamba-Nya yang beriman bersama
orang-orang yang mereka cintai di dunia. Tidak ada lagi perpisahan, tidak ada
lagi tugas luar kota, dan tidak ada lagi maut yang menghampiri.
Alloh berfirman:
﴿جَنَّاتُ
عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِيَّاتِهِمْ﴾
“(Yaitu)
Jannah ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang
sholih dari orangtuanya, istri-istrinya, dan keturunannya.” (QS. Ar-Ro’d: 23)
Bayangkanlah
betapa bahagianya saat Anda melangkah masuk ke gerbang Jannah, dan di sana
sudah menunggu orang tua, istri, dan anak-anak Anda dalam rupa yang paling
indah dan hati yang paling bersih.
5.2
Bergabungnya Keturunan Bersama Orang Tua di Tingkatan Jannah yang Sama
Mungkin di
dunia ini tingkat ketaatan kita berbeda-beda. Sang Ayah mungkin lebih bertaqwa daripada
anaknya, atau sebaliknya. Namun, karena kasih sayang Alloh yang luas, Dia akan
mengangkat derajat anggota keluarga yang lebih rendah tingkatannya agar bisa
berkumpul dengan yang lebih tinggi derajatnya, tanpa mengurangi pahala
siapapun.
Alloh berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِيَّتَهُمْ
وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ﴾
“Dan
orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam
keimanan, Kami kumpulkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada
mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur: 21)
Inilah
keadilan dan kemurahan Alloh. Dia tahu bahwa kebahagiaan seorang hamba di
Jannah tidak akan sempurna jika tidak bersama orang-orang yang dicintainya.
5.3
Berkunjung ke Istana Saudara dan Kerabat di Jannah
Di dalam
Jannah, interaksi sosial antar keluarga tidaklah terputus. Justru, itulah
saatnya kita menikmati waktu luang yang abadi tanpa dibatasi oleh kesibukan
dunia. Kita akan saling mengunjungi, bercengkerama di atas dipan-dipan yang
empuk, sambil mengenang masa-masa perjuangan saat di dunia dahulu.
Alloh berfirman:
﴿وَنَزَعْنَا
مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ﴾
“Kami
lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka
merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr:
47)
Bayangkanlah
saat Anda duduk bersama saudara dan orang tua Anda, lalu saling bercerita
tentang betapa beratnya dulu menjaga Sholat atau betapa sulitnya mencari nafkah
halal, namun kini semuanya telah terbayar lunas dengan ni’mat yang tidak pernah
terlihat oleh mata sebelumnya.
5.4
Tiada Lagi Rasa Iri, Dengki, dan Sedih di Antara Kita
Salah satu
ni’mat terbesar di Jannah adalah dicabutnya segala penyakit hati. Di dunia,
mungkin sesekali ada perselisihan antara suami dan istri, atau kecemburuan di
antara saudara. Namun di Surga kelak, hati kita disucikan sebersih-bersihnya.
Cinta yang ada adalah cinta yang murni karena Alloh.
Alloh berfirman:
﴿لَا
يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا﴾
“Mereka
tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan
yang menimbulkan dosa, akan tetapi (mereka mendengar) ucapan: Salam, salam.” (QS.
Al-Waqi’ah: 25-26)
Suasana
rumah tangga di Jannah adalah suasana yang penuh kedamaian. Tidak ada suara
keras karena marah, tidak ada prasangka buruk, yang ada hanyalah kata-kata
thoyyibah yang menyejukkan jiwa.
5.5
Menikmati Jamuan Alloh Bersama Seluruh Anggota Keluarga
Inilah
puncak dari segala kebahagiaan: menikmati hidangan Jannah bersama keluarga
tercinta di bawah naungan rohmat Alloh. Setiap buah yang dipetik, setiap
minuman yang dituangkan, terasa ribuan kali lebih lezat daripada apa pun yang
pernah kita rasakan di dunia.
Alloh berfirman:
﴿ادْخُلُوا
الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ﴾
“Masuklah
kamu ke dalam Jannah, kamu dan istri-istri kamu digembirakan.” (QS.
Az-Zukhruf: 70)
PENUTUP
Wahai
saudaraku yang saya cintai karena Alloh, setelah kita menyusuri lembar demi
lembar perjalanan menuju Jannah ini, sadarlah kita bahwa keluarga bukan sekadar
teman hidup di dunia yang fana. Keluarga adalah tim perjuangan untuk meraih
ridho-Nya. Jangan sampai kebersamaan kita hanya berakhir di pintu kubur. Jangan
sampai kita menjadi orang yang menyesal di Akhiroh karena lalai membimbing
istri dan anak-anak kita.
Mungkin
hari ini Anda merasa lelah mendidik mereka. Mungkin hari ini Anda merasa berat
mencari nafkah untuk mereka. Atau mungkin hari ini hati Anda tersayat karena
perpisahan jarak dengan mereka. Namun ingatlah kembali janji-janji Alloh yang
telah kita baca tadi. Rasa lelah itu akan hilang saat kaki pertama kali
menginjak permadani Jannah. Rindu itu akan tuntas saat mata kembali menatap
wajah orang tua dan pasangan hidup dalam keadaan kekal muda dan berseri-seri.
Mari kita
jadikan rumah-rumah kita sebagai taman-taman ketaatan. Mari kita saling
memaafkan atas khilaf yang terjadi di antara kita. Teruslah berdoa, teruslah
beramal sholih, dan teruslah saling menggandeng dalam kebaikan. Semoga Alloh
mengumpulkan kita semua, saya dan Anda, beserta seluruh keluarga kita di dalam
Firdaus-Nya yang tinggi. Amin ya Robbal ‘Alamin.[NK]
