Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Masuk Surga Bersama Keluarga - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah menjadikan kasih sayang sebagai pengikat hati di antara hamba-hamba-Nya. Kita memuji-Nya atas ni’mat Islam dan iman, serta ni’mat dikumpulkannya kita dalam sebuah keluarga yang menjadi tempat berteduh di dunia.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , teladan terbaik dalam memimpin keluarga menuju ridho Alloh. Juga kepada para Shohabat (rodhiyallahu ‘anhum) yang telah mencontohkan bagaimana cinta karena Alloh mampu menembus batas dunia hingga ke Akhiroh.

Amma ba’du:

Wahai saudaraku, pernahkah Anda menatap wajah anak-anak yang sedang terlelap atau memperhatikan keletihan pasangan hidup Anda, lalu terbesit sebuah tanya di dalam dada: “Akan ke manakah kebersamaan kita ini berakhir?” Sungguh, rumah yang kita tempati hari ini, tawa yang kita bagi, hingga hidangan yang kita santap bersama, semuanya adalah persinggahan sementara. Dunia ini adalah negeri perpisahan. Seberapa erat kita menggenggam tangan orang yang kita cintai, suatu saat genggaman itu akan terlepas, baik karena tuntutan pekerjaan, jarak yang membentang, atau ketetapan ajal yang tidak bisa dimajukan maupun diundurkan.

Namun, ketahuilah bahwa Alloh yang Maha Pengasih tidak membiarkan hamba-Nya yang beriman berputus asa dalam rindu. Islam datang membawa kabar gembira bahwa keluarga yang dibangun di atas pondasi Tauhid dan ketaatan tidak akan berakhir di liang lahat. Ada janji manis tentang sebuah reuni besar di Jannah, di mana tidak ada lagi air mata perpisahan, tidak ada lagi rasa lelah karena mencari nafkah, dan tidak ada lagi jarak yang memisahkan.

Buku ini hadir untuk mengajak saya dan Anda merenungi kembali makna kehadiran keluarga. Kita tidak hanya sekadar hidup bersama di bawah satu atap, tetapi kita sedang berjuang bersama agar bisa saling memberi syafaat di hadapan Alloh kelak. Mari kita susuri jalan ilmu ini, agar setiap peluh dan air mata yang jatuh dalam mengurus keluarga, berbuah manis dalam bentuk istana-istana di Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

 

BAB 1: KELUARGA ADALAH AMANAH DAN JALAN MENUJU JANNAH

1.1 Menatap Wajah Keluarga sebagai Ladang Pahala

Wahai hamba Alloh, ketahuilah bahwa setiap detik yang Anda habiskan bersama keluarga, setiap pandangan kasih sayang kepada istri dan anak-anak, bukanlah hal yang sia-sia di mata Robb kita. Sungguh, dalam Islam, mencintai keluarga adalah bagian dari ibadah yang sangat mulia jika diniatkan untuk mencari wajah Alloh.

Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Furqon: 74)

Ketika Anda memandang anak dan istri dengan rasa syukur, sesungguhnya Anda sedang menikmati salah satu bentuk ni’mat dunia yang paling besar. Nabi bersabda:

«الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ»

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Maka, jadikanlah setiap interaksi di dalam rumah Anda sebagai sarana mendulang pahala. Jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa makna, karena setiap senyuman yang Anda berikan kepada mereka adalah sodaqoh, dan setiap perhatian Anda adalah pemberat timbangan kebaikan di Akhiroh kelak.

1.2 Keutamaan Memperbanyak Keturunan dan Memiliki Banyak Istri

Dalam pandangan Islam, memiliki keluarga yang besar dengan banyak keturunan adalah sebuah kemuliaan dan bentuk ketaatan kepada perintah Nabi . Memiliki banyak anak berarti memperbanyak jumlah umat yang akan bersujud kepada Alloh dan membanggakan Rosululloh di hadapan umat-umat lain. Begitu pula bagi mereka yang mampu berlaku adil, memiliki istri lebih dari satu dengan tujuan menjaga kehormatan dan memperbanyak keturunan adalah hal yang disyariatkan.

Alloh berfirman:

﴿فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

“Maka nikahilah perempuan-perempuan yang kamu sukai: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka nikahilah seorang saja.” (QS. An-Nisa: 3)

Nabi juga sangat menganjurkan umatnya untuk menikahi wanita yang penyayang dan subur agar memiliki banyak keturunan. Beliau bersabda:

«تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ»

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sungguh aku akan membanggakan jumlah kalian di hadapan umat-umat (lain pada hari Kiamat).” (HSR. Abu Dawud no. 2050)

Sungguh, setiap anak yang lahir membawa rizqinya masing-masing yang telah diatur oleh Alloh. Janganlah merasa sempit dada dengan banyaknya anggota keluarga, karena di balik itu semua terdapat keberkahan dan syafaat yang mungkin akan menyelamatkan kita di hari Kiamat kelak.

1.3 Investasi Abadi di Alam Barzakh

Ketika nafas telah berhenti dan tubuh kaku terkubur di bawah tanah, segala amal manusia terputus kecuali beberapa hal yang tetap mengalirkan pahala. Salah satu yang paling utama adalah keberadaan anak yang sholih yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Inilah investasi sejati yang tidak akan pernah merugi.

Nabi bersabda:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Bayangkanlah, wahai ayah dan ibu, saat Anda berada di alam kubur yang gelap, tiba-tiba datang cahaya yang terang benderang berupa kiriman pahala. Itu adalah hasil dari didikan Tauhid yang Anda tanamkan pada anak-anak Anda. Oleh karena itu, berlelah-lelah sekarang dalam mendidik mereka adalah sebuah kemuliaan yang hasilnya akan Anda nikmati selamanya di Akhiroh.

1.4 Kedudukan Orang Tua yang Mengajarkan Tauhid pada Keluarganya

Wahai para orang tua, tugas utama Anda di dalam rumah bukanlah sekadar memastikan perut anak-anak kenyang atau pakaian mereka bagus. Tugas yang jauh lebih besar adalah menanamkan kalimat Laa ilaha illallah ke dalam dada mereka. Orang tua yang berhasil mengenalkan Alloh kepada keluarganya akan mendapatkan kedudukan yang tinggi, karena mereka telah menjalankan fungsi kenabian dalam skala kecil.

Alloh menceritakan wasiat Luqman kepada anaknya sebagai pelajaran bagi kita:

﴿وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Alloh, sungguh mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezholiman yang besar.’” (QS. Luqman: 13)

Setiap bimbingan yang Anda berikan agar keluarga Anda hanya menyembah Alloh adalah cahaya yang akan menerangi jalan kalian menuju Jannah. Nabi bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)

Saat Anda berhasil menjaga fithroh anak-anak Anda di atas Tauhid, Anda sesungguhnya sedang membangun benteng yang kokoh agar keluarga Anda tetap utuh hingga di Akhiroh nanti.

1.5 Menjaga Diri dan Keluarga dari Pedihnya Siksa Naar

Cinta sejati bukanlah sekadar memanjakan keluarga dengan kesenangan dunia, melainkan rasa takut jika ada satu pun anggota keluarga yang terjerumus ke dalam siksa api Naar. Seorang Mu’min yang tulus akan senantiasa waspada dan saling mengingatkan dalam ketaatan agar mereka semua selamat dari adzab Alloh.

Alloh memerintahkan dengan tegas:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga keluarga dari Naar berarti mengajak mereka Sholat, memerintahkan yang ma’ruf, dan melarang dari yang mungkar. Nabi memberikan contoh bagaimana perhatian beliau terhadap Sholat anggota keluarganya:

«رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ»

“Semoga Alloh merahmati seorang laki-laki yang bangun pada malam hari lalu ia Sholat dan membangunkan istrinya (untuk Sholat).” (HSR. Abu Dawud no. 1308)

Inilah bentuk kasih sayang yang paling tinggi. Kita tidak ingin masuk Jannah sendirian. Kita ingin menggandeng tangan istri, suami, dan anak-anak kita melewati pintu-pintu Jannah dan menjauh dari ngerinya api Naar.

 

BAB 2: JIHAD AYAH DAN IBU DALAM RUMAH TANGGA

2.1 Keringat Ayah dalam Mencari Nafkah yang Halal

Wahai para Ayah, janganlah merasa lelah atau berkecil hati saat Anda harus memeras keringat di bawah terik matahari demi sesuap nasi yang halal untuk keluarga. Ketahuilah, setiap tetes keringat itu bernilai sodaqoh yang sangat besar di sisi Alloh. Pekerjaan Anda bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah jihad.

Nabi bersabda:

«دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ»

“Satu dinar yang kamu infakkan di jalan Alloh, satu dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sodaqohkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu infakkan kepada keluargamu; maka yang paling besar pahalanya adalah yang kamu infakkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)

Bahkan, setiap suapan yang Anda berikan ke mulut istri Anda pun mengandung pahala. Nabi bersabda:

«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ»

“Sungguh, tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah yang dengannya kamu mengharap wajah Alloh, kecuali kamu akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk apa yang kamu suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Al-Bukhori no. 56)

Maka, bekerjalah dengan niat ibadah. Lelahnya Anda di dunia ini akan menjadi istirahat yang panjang di Jannah jika dijalani dengan keikhlasan.

2.2 Kesabaran Tanpa Batas dalam Mendidik Buah Hati

Mendidik anak di zaman sekarang bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kesabaran yang seluas samudera untuk menghadapi tingkah laku mereka, rengekan mereka, hingga mendampingi mereka belajar mengenal Robb-nya. Namun, wahai orang tua, ketahuilah bahwa lelahmu dalam mendidik adalah perisai bagimu dari api Naar.

Nabi bersabda:

«مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ شَيْئًا، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ»

“Siapa yang diuji dengan kehadiran anak-anak perempuan, lalu ia berbuat baik (mendidik) mereka, maka anak-anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 5995 dan Muslim no. 2629)

Sabar dalam mendidik juga berarti konsisten memerintahkan mereka beribadah sejak dini. Nabi bersabda:

«مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ»

“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan Sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang mendidik) karena meninggalkan Sholat saat berumur sepuluh tahun.” (HSR. Abu Dawud no. 495)

Jangan pernah menyerah. Setiap kalimat thoyyibah yang Anda ajarkan, setiap doa yang Anda tuntunkan, akan menjadi saksi di hadapan Alloh bahwa Anda telah berjuang menyelamatkan mereka.

2.3 Kemuliaan Istri yang Taat dan Melayani Keluarga dengan Ikhlas

Bagi seorang wanita Muslimah, Jannah begitu dekat melalui pintu rumahnya sendiri. Melayani suami dan mengurus keperluan keluarga dengan hati yang ridho adalah jalan pintas menuju kebahagiaan abadi. Sungguh, Alloh memberikan keringanan yang luar biasa bagi wanita yang taat.

Nabi bersabda:

«إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ»

“Jika seorang wanita mengerjakan Sholat lima waktu, berpuasa di bulan Romadhon, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke Jannah dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HSR. Ahmad no. 1661)

Wahai para istri, setiap hidangan yang Anda siapkan, setiap pakaian keluarga yang Anda cuci, dan setiap senyuman yang Anda berikan untuk menyambut suami pulang kerja, semuanya adalah investasi Akhirat yang sangat mahal harganya.

2.4 Pahala Besar di Balik Lelahnya Mengurus Urusan Rumah Tangga

Rumah tangga bukan hanya tentang keindahan, tapi juga tentang kerja keras harian. Membereskan rumah, memasak, hingga mengurus anak-anak adalah rangkaian ibadah yang panjang. Jangan anggap remeh kelelahan ini, karena Alloh Maha Melihat setiap keringat yang jatuh di lantai rumah Anda.

Alloh berfirman tentang balasan bagi orang-orang yang bersabar dalam ketaatan:

﴿إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sungguh, pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; sungguh mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111)

Bekerja di rumah dengan niat agar keluarga nyaman dalam beribadah kepada Alloh adalah bentuk pengabdian yang luhur. Rasululloh pun tidak segan membantu urusan rumah tangga keluarganya untuk memberikan teladan.

2.5 Tegar Menghadapi Ujian Ekonomi dan Penyakit dalam Keluarga

Setiap keluarga pasti akan diuji, baik dengan kekurangan harta maupun gangguan kesehatan. Di saat-saat sulit itulah, iman sebuah keluarga diuji. Apakah kita akan saling menyalahkan, atau justru semakin erat berpegang tangan mencari rohmat Alloh?

Alloh berfirman:

﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 155)

Nabi juga menghibur kita dengan sabdanya:

«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, maupun kegalauan, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Jadikanlah ujian dalam keluarga sebagai penggugur dosa, sehingga saat kita bertemu Alloh kelak, kita dalam keadaan bersih dan layak masuk ke dalam Jannah-Nya.

 

BAB 3: RASA SAKIT PERPISAHAN DI DUNIA HANYALAH SEMENTARA

3.1 Perpisahan karena Jarak, Pekerjaan, dan Dakwah

Terkadang, demi mencari nafkah yang halal atau menjalankan tugas dakwah, kita harus berpisah jarak dengan orang-orang yang kita cintai. Rasa rindu yang menyesak dan kesepian yang melanda adalah bumbu perjuangan. Namun ingatlah, perpisahan ini hanyalah jeda singkat dalam perjalanan panjang menuju keabadian.

Nabi pernah bersabda tentang orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu atau berjuang:

«وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»

“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)

Jika perpisahan di dunia ini bertujuan untuk ketaatan, maka yakinlah bahwa Alloh akan menggantinya dengan pertemuan yang jauh lebih indah. Kesabaran Anda saat jauh dari keluarga demi tugas yang mulia tidak akan disia-siakan oleh-Nya.

3.2 Menahan Rindu pada Orang Tua yang Jauh di Mata

Bagi sebagian kita, bakti kepada orang tua terkadang harus terhalang oleh jarak. Pekerjaan atau kewajiban di perantauan membuat kita tidak bisa setiap hari menatap wajah mereka. Rasa rindu ini adalah ujian, namun ketahuilah bahwa doa yang tulus menembus batas jarak apa pun. Hubungan batin antara anak dan orang tua tidak akan putus hanya karena raga tidak bertemu.

Alloh memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik meski raga berjauhan:

﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Robb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isro: 23)

Bakti Anda di perantauan dengan menjaga kehormatan keluarga dan tetap mengirimkan nafkah serta doa adalah bentuk ketaatan yang agung. Nabi pernah mengingatkan bahwa keridhoan Alloh ada pada keridhoan orang tua:

«رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ»

“Keridhoan Robb ada pada keridhoan orang tua, dan kemurkaan Robb ada pada kemurkaan orang tua.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1899)

Maka, meskipun jarak membentang, tetaplah menjadi anak yang berbakti melalui untaian doa dan kepatuhan, hingga Alloh kumpulkan kalian kembali di bawah naungan rohmat-Nya.

3.3 Hikmah di Balik Kematian Anggota Keluarga yang Dicintai

Perpisahan yang paling menyakitkan adalah saat maut menjemput salah satu anggota keluarga. Dunia seakan runtuh dan hampa. Namun, bagi seorang Mu’min, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju pertemuan yang lebih hakiki. Tangisan itu manusiawi, namun keputusasaan adalah hal yang harus dihindari.

Alloh berfirman untuk menguatkan hati kita:

﴿الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un’ (Sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqoroh: 156)

Setiap jiwa yang pergi mendahului kita sebenarnya sedang menunggu kita di garis akhir. Jika kita bersabar, Alloh telah menyediakan ganjaran yang tak terbayangkan. Nabi bersabda:

«يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي المُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ، إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ، إِلَّا الجَنَّةُ»

“Alloh Ta’ala berfirman: ‘Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang beriman, ketika Aku mengambil (mematikan) orang yang dicintainya dari penduduk dunia, kemudian ia bersabar mengharap pahala, kecuali Jannah.’” (HR. Al-Bukhori no. 6424)

3.4 Sabar Saat Ditinggal Wafat Anak atau Pasangan Hidup

Kehilangan buah hati atau pasangan hidup adalah ujian yang sangat berat. Rumah terasa sepi, dan setiap sudut ruangan menyisakan kenangan. Namun, ketahuilah wahai saudaraku, Alloh sedang menguji seberapa besar cinta Anda kepada Sang Pencipta dibandingkan makhluk-Nya. Kesabaran Anda dalam ujian ini adalah tiket emas menuju Jannah.

Nabi mengabarkan tentang sebuah rumah di Jannah bagi orang tua yang bersabar saat anaknya wafat:

«إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ ... فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ»

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Alloh berfirman kepada Malaikat-Nya: ‘Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ ... Maka Alloh berfirman: ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di Jannah dan namailah dengan Baitul Hamdi (Rumah Pujian).’” (HHR. At-Tirmidzi no. 1021)

Bagi pasangan yang ditinggalkan, tetaplah istiqomah. Kesetiaan Anda dalam mendoakan pasangan yang telah tiada adalah bukti cinta yang menembus alam barzakh.

3.5 Janji Alloh bagi Mereka yang Bersabar dalam Perpisahan

Akhir dari setiap kesabaran atas perpisahan adalah kemuliaan. Alloh tidak akan membiarkan hati yang hancur karena kehilangan tetap menderita selamanya. Ada masa di mana semua kerinduan akan terobati dan semua luka akan disembuhkan.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Setiap tetes air mata yang jatuh karena rindu kepada keluarga yang telah tiada, jika dibalut dengan keimanan, akan menjadi saksi yang akan mempertemukan kalian kembali. Nabi bersabda:

«الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ»

“Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya (di Akhiroh).” (HR. Al-Bukhori no. 6169 dan Muslim no. 2640)

Pegang teguh Hadits ini. Jika Anda mencintai keluarga Anda karena Alloh, maka perpisahan di dunia ini hanyalah sekejap mata sebelum kebersamaan abadi dimulai.

 

BAB 4: SYAFAAT DAN SALING MENOLONG DI AKHIROH

4.1 Syafaat Anak Kecil yang Wafat Sebelum Baligh bagi Orang Tuanya

Pernahkah Anda membayangkan betapa indahnya ketika di hari Kiamat nanti, seorang anak kecil menarik ujung baju orang tuanya dan enggan masuk ke Jannah sebelum orang tuanya ikut serta? Inilah salah satu bentuk rohmat Alloh bagi orang tua yang kehilangan anaknya di dunia.

Nabi bersabda tentang anak-anak kaum Muslimin yang wafat sebelum baligh:

«يُقَالُ لَهُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَيَقُولُونَ حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا ... فَيُقَالُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ»

“Dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam Jannah!’ Mereka menjawab: ‘(Kami tidak akan masuk) hingga bapak-bapak kami masuk.’ ... Maka dikatakan: ‘Masuklah kalian ke dalam Jannah bersama bapak-bapak kalian.’” (HSR. An-Nasa’i dalam Al-Kubro no. 1855)

Anak-anak itu akan menjadi penolong yang setia. Kesedihan Anda saat kehilangan mereka di dunia akan berubah menjadi kegembiraan yang luar biasa saat mereka menjemput Anda di pintu Jannah.

4.2 Al-Quran sebagai Penolong bagi Keluarga yang Membacanya

Bayangkan suasana rumah yang selalu bergema dengan lantunan ayat suci Al-Quran. Rumah tersebut tidak hanya menjadi terang di dunia, tetapi Al-Quran yang dibaca bersama keluarga akan menjelma menjadi pembela yang gigih saat hari penghisaban yang mengerikan itu tiba.

Nabi bersabda:

«اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ»

“Bacalah Al-Quran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)

Lebih istimewa lagi bagi para orang tua yang berhasil mendidik anaknya menjadi penghafal Al-Quran. Alloh akan memakaikan mahkota kemuliaan kepada mereka di hadapan seluruh makhluk. Nabi bersabda:

«مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkan isinya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 1453)

Jadikanlah rumah Anda sebagai madrasah bagi Al-Quran, agar ia menjadi cahaya yang menuntun Anda sekeluarga melewati jembatan Shiroth dengan selamat.

4.3 Saling Mencari di Padang Mahsyar

Hari Kiamat adalah hari yang sangat dahsyat, di mana setiap manusia sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun, bagi keluarga yang saling mencintai karena Alloh, pencarian itu akan membuahkan hasil. Kita akan saling merindukan dan mencari keberadaan anggota keluarga kita di tengah lautan manusia.

Alloh menggambarkan betapa ngerinya hari itu bagi orang kafir:

﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibunya dan bapaknya, dari istrinya dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 34-36)

Jika orang kafir saling lari, maka bagi orang beriman akan saling mencari.

Bagi orang-orang yang bertaqwa, hubungan itu tetap terjalin. Teman karib dan keluarga yang sholih akan saling memberi syafaat atas idzin Alloh.

﴿الأَخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Tentu kita ingin termasuk dalam golongan yang saling mencari untuk menyelamatkan, bukan untuk saling menuntut.

4.4 Derajat yang Diangkat di Jannah karena Doa Ampunan Anak

Salah satu keajaiban di Akhiroh adalah ketika seorang hamba mendapati derajatnya tiba-tiba naik tinggi di dalam Jannah, padahal amalnya mungkin tidak seberapa. Saat ia bertanya karena keheranan, Alloh memberikan jawaban yang sangat menyejukkan hati.

Nabi bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ»

“Sungguh, Alloh ‘Azza wa Jalla benar-benar mengangkat derajat seorang hamba yang sholih di Jannah, lalu ia bertanya: ‘Wahai Robbku, dari mana aku dapatkan (kemuliaan) ini?’ Maka Alloh berfirman: ‘Karena permohonan ampun anakmu untukmu.’” (HSR. Ahmad no. 10610)

Inilah buah dari pendidikan yang Anda berikan di dunia. Anak yang Anda ajari cara beristighfar akan menjadi “penarik” derajat Anda menuju tingkatan yang lebih tinggi di hadapan Alloh.

 

BAB 5: REUNI ABADI DI NEGERI KEABADIAN

5.1 Alloh Mengumpulkan Kembali Keluarga yang Terpisah

Inilah puncak dari segala penantian dan air mata. Hari di mana Alloh memenuhi janji-Nya untuk menyatukan kembali hamba-hamba-Nya yang beriman bersama orang-orang yang mereka cintai di dunia. Tidak ada lagi perpisahan, tidak ada lagi tugas luar kota, dan tidak ada lagi maut yang menghampiri.

Alloh berfirman:

﴿جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِيَّاتِهِمْ

“(Yaitu) Jannah ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholih dari orangtuanya, istri-istrinya, dan keturunannya.” (QS. Ar-Ro’d: 23)

Bayangkanlah betapa bahagianya saat Anda melangkah masuk ke gerbang Jannah, dan di sana sudah menunggu orang tua, istri, dan anak-anak Anda dalam rupa yang paling indah dan hati yang paling bersih.

5.2 Bergabungnya Keturunan Bersama Orang Tua di Tingkatan Jannah yang Sama

Mungkin di dunia ini tingkat ketaatan kita berbeda-beda. Sang Ayah mungkin lebih bertaqwa daripada anaknya, atau sebaliknya. Namun, karena kasih sayang Alloh yang luas, Dia akan mengangkat derajat anggota keluarga yang lebih rendah tingkatannya agar bisa berkumpul dengan yang lebih tinggi derajatnya, tanpa mengurangi pahala siapapun.

Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur: 21)

Inilah keadilan dan kemurahan Alloh. Dia tahu bahwa kebahagiaan seorang hamba di Jannah tidak akan sempurna jika tidak bersama orang-orang yang dicintainya.

5.3 Berkunjung ke Istana Saudara dan Kerabat di Jannah

Di dalam Jannah, interaksi sosial antar keluarga tidaklah terputus. Justru, itulah saatnya kita menikmati waktu luang yang abadi tanpa dibatasi oleh kesibukan dunia. Kita akan saling mengunjungi, bercengkerama di atas dipan-dipan yang empuk, sambil mengenang masa-masa perjuangan saat di dunia dahulu.

Alloh berfirman:

﴿وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)

Bayangkanlah saat Anda duduk bersama saudara dan orang tua Anda, lalu saling bercerita tentang betapa beratnya dulu menjaga Sholat atau betapa sulitnya mencari nafkah halal, namun kini semuanya telah terbayar lunas dengan ni’mat yang tidak pernah terlihat oleh mata sebelumnya.

5.4 Tiada Lagi Rasa Iri, Dengki, dan Sedih di Antara Kita

Salah satu ni’mat terbesar di Jannah adalah dicabutnya segala penyakit hati. Di dunia, mungkin sesekali ada perselisihan antara suami dan istri, atau kecemburuan di antara saudara. Namun di Surga kelak, hati kita disucikan sebersih-bersihnya. Cinta yang ada adalah cinta yang murni karena Alloh.

Alloh berfirman:

﴿لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi (mereka mendengar) ucapan: Salam, salam.” (QS. Al-Waqi’ah: 25-26)

Suasana rumah tangga di Jannah adalah suasana yang penuh kedamaian. Tidak ada suara keras karena marah, tidak ada prasangka buruk, yang ada hanyalah kata-kata thoyyibah yang menyejukkan jiwa.

5.5 Menikmati Jamuan Alloh Bersama Seluruh Anggota Keluarga

Inilah puncak dari segala kebahagiaan: menikmati hidangan Jannah bersama keluarga tercinta di bawah naungan rohmat Alloh. Setiap buah yang dipetik, setiap minuman yang dituangkan, terasa ribuan kali lebih lezat daripada apa pun yang pernah kita rasakan di dunia.

Alloh berfirman:

﴿ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ

“Masuklah kamu ke dalam Jannah, kamu dan istri-istri kamu digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf: 70)

 

PENUTUP

Wahai saudaraku yang saya cintai karena Alloh, setelah kita menyusuri lembar demi lembar perjalanan menuju Jannah ini, sadarlah kita bahwa keluarga bukan sekadar teman hidup di dunia yang fana. Keluarga adalah tim perjuangan untuk meraih ridho-Nya. Jangan sampai kebersamaan kita hanya berakhir di pintu kubur. Jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal di Akhiroh karena lalai membimbing istri dan anak-anak kita.

Mungkin hari ini Anda merasa lelah mendidik mereka. Mungkin hari ini Anda merasa berat mencari nafkah untuk mereka. Atau mungkin hari ini hati Anda tersayat karena perpisahan jarak dengan mereka. Namun ingatlah kembali janji-janji Alloh yang telah kita baca tadi. Rasa lelah itu akan hilang saat kaki pertama kali menginjak permadani Jannah. Rindu itu akan tuntas saat mata kembali menatap wajah orang tua dan pasangan hidup dalam keadaan kekal muda dan berseri-seri.

Mari kita jadikan rumah-rumah kita sebagai taman-taman ketaatan. Mari kita saling memaafkan atas khilaf yang terjadi di antara kita. Teruslah berdoa, teruslah beramal sholih, dan teruslah saling menggandeng dalam kebaikan. Semoga Alloh mengumpulkan kita semua, saya dan Anda, beserta seluruh keluarga kita di dalam Firdaus-Nya yang tinggi. Amin ya Robbal ‘Alamin.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url