[PDF] 30 Prinsip Hidup dari Al-Quran - Nor Kandir
MUQODDIMAH
﷽
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah
menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk dan pembeda bagi umat manusia. Sholawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ
Muhammad ﷺ, keluarganya, para
Shohabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Buku ini disusun untuk menjadi panduan bagi setiap insan
yang merindukan terbentuknya kepribadian unggul di atas landasan wahyu.
Di tengah berbagai problematika hidup dan goncangan zaman, kembali kepada
kaidah-kaidah Qurani adalah satu-satunya jalan keselamatan. Kepribadian yang
unggul bukan lahir dari sekadar teori manusia, melainkan dibentuk oleh ilmu
yang bersumber dari Sang Pencipta manusia itu sendiri. Sebagaimana Alloh berfirman:
﴿إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ
يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ
الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا﴾
“Sungguh Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan)
yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang
mengerjakan amal sholih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS.
Al-Isro’: 9)
Setiap prinsip dalam buku ini digali dari ayat-ayat pilihan
untuk kemudian ditadabburi agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
Harapannya, pembaca tidak hanya memahami Al-Quran sebagai bacaan, namun
menjadikannya sebagai timbangan dalam berfikir, berucap, dan bertindak guna
meraih kemuliaan di dunia dan Akhiroh.
PRINSIP 1: MEMURNIKAN TUJUAN HIDUP
HANYA UNTUK ALLOH
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ
وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
“Katakanlah:
‘Sungguh Sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta
alam.” (QS. Al-An’am: 162)
1.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-1 dan yang paling mendasar dalam membangun kepribadian unggul adalah pemurnian
tujuan hidup. Seseorang tidak akan memiliki arah hidup yang jelas dan
mental yang kokoh jika hatinya masih terbagi kepada selain Alloh. Seluruh
aktivitas, baik yang bersifat ibadah mahdhoh maupun urusan duniawi,
harus diletakkan dalam bingkai pengabdian kepada-Nya.
Ayat ini
merupakan proklamasi ketauhidan seorang hamba. Korelasinya dengan ayat
sebelumnya (ayat 161) adalah bahwa jalan yang lurus (diinan qiyaman)
yang dibawa oleh Nabi ﷺ Ibrohim tidak akan sempurna tanpa penyerahan
total seluruh dimensi kehidupan kepada Alloh. Sedangkan kaitannya dengan ayat
sesudahnya (ayat 163) menegaskan bahwa tidak ada sekutu bagi Alloh dalam
kepemilikan dan hak peribadatan tersebut.
Kepribadian
unggul dimulai dari
sini: ketika seseorang telah selesai dengan dirinya sendiri dan hanya mengharap
ridho Sang Pencipta, maka ia menjadi pribadi yang merdeka dari penghambaan
kepada makhluk, materi, maupun hawa nafsu. Seseorang yang unggul adalah yang
menyadari bahwa keberadaannya di dunia bukan untuk mencari penilaian manusia,
melainkan untuk mengabdi kepada Robbnya.
1.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip pemurnian tujuan hidup dalam keseharian
yang disertai dengan dalil:
Ikhlas dalam Beramal Tanpa
Mengharap Balasan Manusia:
Seseorang
memberikan bantuan kepada orang lain semata-mata mengharap wajah Alloh,
sehingga tidak merasa sakit hati saat tidak diapresiasi. Alloh berfirman
mengenai sifat hamba yang unggul:
﴿إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا
نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا﴾
“Sungguh
kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharap wajah Alloh, kami tidak
mengharap balasan dan tidak pula ucapan terima kasih darimu.” (QS. Al-Insan:
9)
Menjadikan Pekerjaan
sebagai Sarana Ibadah:
Bekerja
mencari nafkah halal diniatkan untuk menjalankan kewajiban dari Alloh agar
tidak membebani orang lain. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنْ
كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ
كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ»
“Siapa yang
bekerja untuk menghidupi anaknya yang masih kecil maka ia di jalan Alloh. Siapa
yang bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka
ia berada di jalan Alloh.” (HSR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jamul Kabir no.
624)
Fokus pada Ridho Alloh di
Atas Kesenangan Manusia:
Berani
mengambil keputusan yang benar meski tidak populer di mata manusia, asalkan
sesuai aturan agama. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنِ
التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ»
“Siapa yang
mencari ridho Alloh meski berisiko mendatangkan kemarahan manusia, maka Alloh
akan mencukupkan baginya beban dari manusia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2414)
Menjaga Integritas saat
Sendirian (Khrosyah):
Pribadi
unggul tetap taat
meskipun tidak ada orang yang melihat, karena tujuannya adalah Alloh yang Maha
Melihat. Alloh berfirman:
﴿الَّذِينَ
يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ﴾
“Sungguh
orang-orang yang takut kepada Robbnya dalam keadaan tidak terlihat (oleh orang
lain), mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk:
12)
Ketangguhan Mental dalam
Menghadapi Ujian:
Saat
ditimpa musibah, ia segera mengembalikan urusan kepada Alloh karena sadar
hidupnya adalah milik-Nya. Alloh berfirman:
﴿الَّذِينَ
إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Sungguh kami milik
Alloh dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali.’” (QS. Al-Baqoroh: 156)
Mengutamakan Sholat
Sebagai Bentuk Pengabdian Utama:
Pribadi
unggul tidak akan
mengorbankan waktu pertemuannya dengan Alloh demi urusan duniawi yang fana.
Alloh berfirman:
﴿رِجَالٌ
لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ﴾
“Mereka
adalah para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari
mengingat Alloh, mendirikan Sholat...” (QS. An-Nur: 37)
Menuntut Ilmu untuk
Menghilangkan Kebodohan Diri:
Belajar
bukan untuk pamer intelektualitas, melainkan agar bisa beribadah dengan benar. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
“Menuntut
ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HHR. Ibnu Majah no. 224)
Menjaga Kehormatan Diri (Iffah):
Menahan
diri dari perbuatan nista karena sadar bahwa seluruh anggota tubuh akan
bersaksi di hadapan Alloh. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا﴾
“Dan
janganlah kamu mendekati zina; sungguh zina itu adalah suatu perbuatan yang
keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isro’: 32)
Keikhlasan dalam Berdoa:
Hanya
meminta kepada Alloh dan tidak menggantungkan nasib pada jimat atau ramalan
manusia. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ»
“Jika
kamu meminta, mintalah kepada Alloh, dan jika kamu memohon pertolongan,
mohonlah pertolongan kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)
Berpakaian Sesuai Aturan
Pencipta:
Mengenakan
pakaian yang menutup aurat sebagai bentuk ketaatan, bukan karena paksaan
sosial. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ
عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ﴾
“Wahai Nabi
ﷺ, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan
istri-istri orang Mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh
tubuh mereka.’” (QS. Al-Ahzab: 59)
PRINSIP 2: MENJADIKAN ILMU SEBAGAI
PEMIMPIN AMAL
«وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sungguh pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro’: 36)
2.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-2 dalam membangun kepribadian unggul adalah legalitas ilmu dalam
setiap tindakan. Seorang pribadi yang unggul tidak bergerak atas dasar
ikut-ikutan (taklid), asumsi, atau perasaan semata, melainkan atas dasar ilmu
yang kokoh. Ayat ini melarang keras seseorang untuk berucap atau bertindak
tanpa landasan pengetahuan yang valid. Segala perangkat yang Alloh berikan
kepada manusia, yaitu pendengaran untuk menyerap informasi, penglihatan untuk
melakukan observasi, dan hati untuk menimbang kebenaran, semuanya akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Alloh.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 35) yang membahas tentang kejujuran dalam
takaran dan timbangan adalah bahwa timbangan ilmu pun harus akurat. Sebagaimana
seseorang dilarang curang dalam timbangan dagang, ia juga dilarang curang dalam
menimbang informasi dan keyakinan. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya
(ayat 37) yang melarang sikap sombong di muka bumi adalah bahwa ilmu yang benar
seharusnya melahirkan ketundukan, bukan kesombongan. Tanpa ilmu, manusia akan
terjatuh pada prasangka yang menyesatkan, sementara kepribadian unggul
dibangun di atas keyakinan yang terang benderang.
2.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip menjadikan ilmu sebagai pemimpin amal
dalam keseharian:
Tidak Berbicara Tanpa
Dasar yang Jelas:
Seorang pribadi
unggul menahan diri dari mengomentari urusan yang tidak ia kuasai ilmunya.
Alloh berfirman:
﴿مَا
يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tiada
suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas
yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)
Verifikasi Berita
(Tabayyun) Sebelum Menyebarkannya:
Tidak mudah
percaya dan tidak ikut menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya di
media sosial. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurot: 6)
Beribadah Sesuai Petunjuk Nabi
ﷺ:
Menjalankan
Sholat dan ibadah lainnya berdasarkan dalil yang shohih, bukan sekadar warisan
budaya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa
yang melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal itu
tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Memilih Pemimpin
Berdasarkan Kriteria Syariat:
Memberikan
dukungan kepada pemimpin karena melihat kompetensi dan amanahnya secara ilmu,
bukan karena fanatisme golongan. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ﴾
“Sungguh
orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pemimpin) adalah orang
yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qoshosh: 26)
Menjauhi Prasangka dalam
Menilai Orang Lain:
Tidak
menghakimi seseorang hanya berdasarkan dugaan tanpa bukti nyata. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ
إِثْمٌ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sungguh sebagian
prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Belajar Sebelum Berdagang
atau Berbisnis:
Memahami
hukum halal dan harom dalam muamalah agar tidak terjerumus ke dalam riba. Alloh
berfirman:
﴿وَأَحَلَّ
اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا﴾
“Dan Alloh
telah menghalalkan jual beli dan mengharomkan riba.” (QS. Al-Baqoroh: 275)
Bertanya Kepada Ahlinya
Jika Tidak Tahu:
Memiliki
kerendahan hati untuk mencari ilmu kepada yang lebih paham. Alloh berfirman:
﴿فَاسْأَلُوا
أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Mendidik Anak dengan Ilmu
Agama dan Akhlaq:
Orang tua
mempelajari cara mendidik anak sesuai arahan wahyu agar bisa menjaga keluarga
dari api Naar. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Naar.” (QS.
At-Tahrim: 6)
Menggunakan Teknologi
untuk Kebaikan:
Memahami
ilmu tentang dampak teknologi sehingga hanya menggunakannya untuk hal-hal yang
diridhoi Alloh. Rosululloh ﷺ bersabda:
«احْرِصْ
عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ»
“Bersungguh-sungguhlah
dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh, dan
janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Berani Mengakui Ketidaktahuan:
Jika
ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahui ilmunya, ia berani berkata “saya
tidak tahu” sebagai bentuk integritas ilmu. Dari Ibnu Mas’ud shohabat Nabi ﷺ bersabda:
«يَا
أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ:
اللَّهُ أَعْلَمُ»
“Wahai
manusia, siapa yang mengetahui sesuatu sampaikanlah, dan siapa yang tidak tahu
hendaklah ia berkata: Alloh lebih mengetahui (Allohu A’lam).” (HR.
Al-Bukhori no. 4809)
PRINSIP 3: MEMBANGUN KEPERCAYAAN
DIRI DI ATAS PERTOLONGAN ALLOH
﴿إِن يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ
ۖ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي يَنصُرُكُم
مِّن بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾
“Jika
Alloh menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Alloh
membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu
setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Alloh saja orang-orang Mu’min
bertawakkal.” (QS. Ali Imron: 160)
3.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-3 dalam membangun kepribadian unggul adalah meletakkan sumber
kekuatan dan kepercayaan diri pada sandaran yang tidak akan pernah runtuh,
yaitu pertolongan Alloh. Kepercayaan diri yang sejati bukanlah kesombongan yang
lahir dari merasa hebat secara pribadi, melainkan ketenangan hati karena merasa
memiliki pelindung yang Maha Kuat. Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan,
keberhasilan, dan kejayaan mutlak berada di tangan Alloh. Jika Alloh telah
menetapkan pertolongan bagi seorang hamba, maka seluruh penduduk bumi bersatu
pun tidak akan mampu menghalanginya. Sebaliknya, tanpa pertolongan-Nya, segala
daya upaya manusia akan berujung pada kehampaan.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 159) adalah tentang perintah untuk
bermusyawarah dan bertawakkal. Setelah manusia melakukan ikhtiar berupa
musyawarah dan membulatkan tekad, maka ayat 160 ini datang sebagai penguat
mental bahwa hasil akhir bergantung pada pertolongan Alloh. Adapun korelasi
dengan ayat sesudahnya (ayat 161) yang membahas tentang larangan berkhianat
(ghulul) adalah bahwa orang yang yakin akan pertolongan Alloh tidak akan
menempuh jalan-jalan harom atau berkhianat demi meraih kemenangan, karena ia
tahu bahwa kemenangan hanya datang dari Alloh dengan cara yang diridhoi-Nya.
3.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip membangun kepercayaan diri di atas
pertolongan Alloh dalam keseharian:
Optimisme dalam Memulai
Tugas yang Sulit:
Seorang pribadi
unggul tidak merasa rendah diri sebelum mencoba, karena ia yakin Alloh akan
membantunya selama tujuannya baik. Alloh berfirman:
﴿لَا
تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَٰلِكَ أَمْرًا﴾
“Kamu tidak
mengetahui, barangkali Alloh mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru (jalan
keluar).” (QS. Ath-Tholaq: 1)
Keberanian Menghadapi
Tekanan dan Penentangan:
Tidak
gentar terhadap ancaman manusia selama berada di atas kebenaran. Sebagaimana
ucapan Nabi ﷺ Musa kepada kaumnya yang ketakutan:
﴿قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾
“Dia (Musa)
menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan (tersusul); sungguh Robbku bersamaku, Dia
akan memberi petunjuk kepadaku.’” (QS. Asy-Syu’aro: 62)
Tidak Bergantung pada
Sebab Lahiriyah Semata:
Meskipun
memiliki fasilitas dan modal yang cukup, ia tetap berdoa memohon pertolongan
Alloh karena tahu sarana fisik tidak bisa memberi manfaat tanpa izin-Nya. Alloh
berfirman:
﴿وَمَا
النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ﴾
“Dan tidak
ada kemenangan itu melainkan dari sisi Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Ali Imron: 126)
Ketenangan dalam
Persaingan yang Sehat:
Dalam dunia
kerja atau perniagaan, ia tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain
karena yakin rizqinya telah diatur oleh Alloh. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا
يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
“Seandainya
kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya
kalian akan diberi rizqi sebagaimana burung diberi rizqi, yang berangkat pagi
dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2344)
Mentalitas Tidak Pernah
Menyerah:
Ketika
mengalami kegagalan, ia tidak putus asa namun segera bangkit memohon kekuatan
baru. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman.” (QS. Ali Imron: 139)
Istiqomah dalam
Menjalankan Prinsip Hidup:
Percaya
diri untuk tampil beda dalam kebaikan meskipun lingkungan sekitarnya tidak
mendukung. Alloh berfirman:
﴿فَتَوَكَّلْ
عَلَى اللَّهِ ۖ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ﴾
“Maka
bertawakkallah kepada Alloh, sungguh kamu berada di atas kebenaran yang nyata.”
(QS. An-Naml: 79)
Menghindari Perilaku
Syirik dalam Mencari Perlindungan:
Pribadi
unggul tidak
mencari kepercayaan diri melalui jimat atau ramalan, karena itu adalah bentuk
kelemahan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»
“Siapa yang
menggantungkan jimat, maka sungguh ia telah berbuat syirik.” (HSR. Ahmad no.
17422)
Menjaga Sholat sebagai
Sumber Energi Mental:
Mencari
kekuatan melalui ibadah saat beban hidup terasa berat. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Alloh) dengan sabar dan Sholat.”
(QS. Al-Baqoroh: 153)
Percaya Diri dalam Berda’wah
dan Menyampaikan Kebenaran:
Yakin bahwa
kalimat yang baik akan diberikan keteguhan oleh Alloh. Alloh berfirman:
﴿يُثَبِّتُ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي
الْآخِرَةِ﴾
“Alloh
meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (kalimat
thoyyibah) dalam kehidupan di dunia dan di Akhiroh.” (QS. Ibrohim: 27)
Sikap Tawadhu (Rendah
Hati) Setelah Meraih Kesuksesan:
Ia
menyadari bahwa keberhasilannya adalah berkat pertolongan Alloh, sehingga tidak
menjadikannya pribadi yang angkuh. Sebagaimana ucapan Nabi ﷺ Sulaiman:
﴿هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ
أَمْ أَكْفُرُ﴾
“Ini
termasuk karunia Robbku untuk mengujiku apakah aku bersyukur ataukah aku mengingkari
(ni’mat-Nya).” (QS. An-Naml: 40)
PRINSIP 4: MENJAGA KESESUAIAN ANTARA
UCAPAN DAN PERBUATAN
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ
مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾
“Wahai orang-orang
yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sungguh
besar kemurkaan di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu
kerjakan.” (QS. Ash-Shoff: 2-3)
4.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-4 dalam membangun kepribadian unggul adalah integritas atau
kesesuaian antara lisan dan amal. Seorang pribadi yang unggul menjauhkan diri
dari sifat kontradiktif, di mana ucapannya manis namun perbuatannya justru
menyelisihi apa yang ia sampaikan. Ayat ini merupakan teguran keras bagi orang
yang hanya pandai berteori atau memberikan nasihat kepada orang lain, namun ia
sendiri mengabaikannya. Kemurkaan Alloh yang besar ditujukan kepada mereka yang
kehilangan jati diri akibat lunturnya kejujuran antara hati, lisan, dan anggota
badan.
Korelasi
ayat ini dengan ayat selanjutnya (ayat 4) yang membahas tentang barisan yang
kokoh (shoffan) adalah bahwa kekuatan dan persatuan sebuah umat atau
organisasi hanya bisa terwujud jika setiap individu di dalamnya memiliki integritas.
Tanpa keselarasan ucapan dan perbuatan, kepercayaan akan hilang, dan tanpa
kepercayaan, barisan yang kokoh tidak akan pernah terbentuk. Sedangkan
kaitannya dengan ayat pertama (ayat 1) mengenai tasbih seluruh makhluk adalah
bahwa seluruh alam semesta tunduk patuh pada aturan Alloh secara nyata, maka
sangat tidak pantas jika manusia yang diberikan akal justru bersikap tidak
konsisten antara kata dan perbuatan.
4.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip menjaga integritas antara ucapan dan
perbuatan dalam keseharian:
Menepati Janji yang Telah
Diikrarkan:
Seorang pribadi
unggul akan berusaha sekuat tenaga menepati janjinya karena sadar janji
adalah beban moral dan agama. Alloh berfirman:
﴿وَأَوْفُوا
بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا﴾
“Dan
penuhilah janji; sungguh janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS.
Al-Isro’: 34)
Menjadi Teladan bagi
Keluarga Sebelum Orang Lain:
Seorang
kepala keluarga mempraktikkan ibadah dan akhlaq sebelum memerintahkannya kepada
anak dan istri. Alloh berfirman:
﴿أَتَأْمُرُونَ
النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ﴾
“Mengapa
kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan
dirimu sendiri?” (QS. Al-Baqoroh: 44)
Konsistensi dalam Dunia
Kerja:
Jika
seorang pemimpin membuat peraturan, maka ia adalah orang pertama yang
mematuhinya. Rosululloh ﷺ bersabda mengenai ciri
kemunafikan:
«آيَةُ
الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ
خَانَ»
“Tanda
orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia
menyelisihi, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Al-Bukhori no. 33)
Jujur dalam Pengakuan
Kemampuan:
Tidak
mengaku memiliki keahlian atau pencapaian yang sebenarnya tidak dimiliki demi
mendapat pujian. Alloh berfirman:
﴿لَا
تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا
لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ﴾
“Janganlah
sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah
mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka
lakukan, janganlah kamu menyangka mereka terlepas dari azab.” (QS. Ali
Imron: 188)
Kesesuaian Antara Ucapan
di Depan dan di Belakang:
Tidak
menjadi bermuka dua (penjilat) yang berbicara manis di hadapan seseorang namun
mencela di belakangnya. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«تَجِدُ
مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ القِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الوَجْهَيْنِ، الَّذِي
يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ، وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ»
“Kamu akan
mendapati seburuk-buruk manusia pada hari Qiyamah di sisi Alloh adalah orang
yang bermuka dua. Ia mendatangi si A dengan sebuah wajah, sementara mendatangi
si B dengan wajah lain.” (HR. Al-Bukhori no. 6058)
Ikhlas dalam Memberi
Nasihat:
Memberikan
nasihat karena memang peduli, bukan untuk menjatuhkan atau merasa lebih suci.
Alloh berfirman:
﴿وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾
“Dan saling
menasihati dalam kebenaran serta saling menasihati dalam kesabaran.” (QS.
Al-Ashr: 3)
Bertanggung Jawab Atas
Ucapan di Media Sosial:
Hanya
mengunggah hal-hal yang memang ia yakini dan ia amalkan, bukan sekadar
membangun citra palsu. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت»
“Siapa yang
beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR.
Al-Bukhori no. 6018)
Menghindari Sumpah Palsu
dalam Bisnis:
Tidak
menggunakan nama Alloh untuk meyakinkan pembeli atas kualitas barang yang
sebenarnya tidak sesuai. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«الْحَلِفُ
مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ»
“Sumpah
(palsu) itu memang melariskan dagangan, namun memusnahkan keberkahan.” (HR.
Al-Bukhori no. 2087)
Disiplin dalam Menjalankan
Komitmen Waktu:
Jika
menyatakan akan hadir jam tertentu, maka ia hadir tepat waktu sebagai bentuk
integritas lisan. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji (akad/kesepakatan).” (QS.
Al-Maidah: 1)
Berani Meminta Maaf Jika
Khilaf:
Jika secara
tidak sengaja lisannya melampaui perbuatannya, ia segera bertaubat dan
memperbaiki diri. Alloh berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا
لِذُنُوبِهِمْ﴾
“Dan (juga)
orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzholimi diri
sendiri, mereka segera mengingat Alloh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa
mereka.” (QS. Ali Imron: 135)
PRINSIP 5: MENGAMBIL KEPUTUSAN
BERDASARKAN PETUNJUK WAHYU
﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا
قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
ۗ وَمَن يَعْصِ بِاللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ
ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا﴾
“Dan
tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang
Mu’minah, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan
ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan siapa
mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.”
(QS. Al-Ahzab: 36)
5.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-5 dalam membangun kepribadian unggul adalah ketundukan mutlak kepada
keputusan Alloh dan Rosul-Nya. Seorang yang unggul menyadari bahwa keterbatasan
akal manusia tidak akan pernah bisa menandingi kesempurnaan ilmu Sang Pencipta.
Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan hidup—baik urusan pribadi, keluarga,
maupun masyarakat—ia tidak mendasarkannya pada hawa nafsu atau tren semata,
melainkan pada apa yang telah digariskan oleh wahyu. Ayat ini menegaskan bahwa
bagi seorang Mu’min, tidak ada ruang untuk ragu atau mencari alternatif lain
ketika syariat telah memberikan ketetapan yang jelas.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 32-34) yang berisi instruksi khusus
bagi istri-istri Nabi ﷺ adalah untuk menekankan bahwa
aturan tersebut bukan sekadar saran, melainkan ketetapan yang wajib dipatuhi
oleh seluruh kaum Mu’minin. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat
37) yang mengisahkan tentang pernikahan Nabi ﷺ
Muhammad dengan Zainab binti Jahsy adalah sebagai contoh nyata bagaimana
seorang hamba harus menanggalkan keinginan pribadinya demi menjalankan
ketetapan Alloh meskipun hal itu terasa berat atau menjadi pembicaraan manusia.
Kepribadian unggul lahir dari keberanian untuk berkata “kami dengar dan
kami taat” (sami’na wa atho’na).
5.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip mengambil keputusan berdasarkan petunjuk
wahyu dalam keseharian:
Mengutamakan Hukum Alloh
dalam Urusan Keluarga:
Saat
terjadi perselisihan dalam rumah tangga, keputusan diambil berdasarkan aturan
Quran dan Sunnah, bukan ego masing-masing. Alloh berfirman:
﴿فَإِنْ
تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ﴾
“Kemudian
jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh
(Al-Quran) dan Rosul (Sunnahnya).” (QS. An-Nisa: 59)
Menolak Tawaran Pekerjaan
yang Mengandung Riba:
Meskipun
gaji yang ditawarkan sangat besar, seorang pribadi unggul memutuskan
untuk menolaknya karena patuh pada larangan Alloh. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan tinggalkanlah sisa riba
(yang belum dipungut).” (QS. Al-Baqoroh: 278)
Memilih Pasangan Hidup
Berdasarkan Agama:
Dalam
memutuskan siapa yang akan menjadi pendamping hidup, kriteria agama menjadi
prioritas utama di atas kecantikan atau kekayaan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«فَاظْفَرْ
بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ»
“Maka
pilihlah yang memiliki agama (baik agamanya), niscaya kamu akan beruntung.” (HR.
Al-Bukhori no. 5090)
Mengambil Keputusan dengan
Istikhoroh:
Saat
dihadapkan pada dua pilihan yang mubah, ia melibatkan Alloh dalam keputusannya
agar dibimbing ke arah yang terbaik. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِذَا
هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ»
“Jika
salah seorang di antara kalian berkeinginan melakukan suatu urusan, maka
rukuklah (Sholatlah) dua rokaat selain Sholat wajib.” (kemudian membaca doa
istikhoroh) (HR. Al-Bukhori no. 1162)
Meninggalkan Tradisi yang Bertentangan
dengan Syariat:
Berani
memutuskan untuk tidak ikut serta dalam ritual atau kebiasaan masyarakat yang
mengandung kesyirikan atau kemaksiatan. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا
عَلَيْهِ آبَاءَنَا﴾
“Dan
apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh’,
mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami mengikuti apa yang telah kami dapati
dari (perbuatan) leluhur kami.’” (QS. Al-Baqoroh: 170)
Memutuskan Hubungan Kerja
yang Zholim:
Jika suatu
kontrak kerja mengharuskan seseorang melakukan kecurangan, ia lebih memilih
berhenti demi menjaga kejernihan imannya. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّكَ
لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ
خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»
“Sungguh,
tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Alloh ‘Azza wa Jalla, melainkan Alloh
akan menggantinya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik bagimu darinya.” (HSR.
Ahmad no. 23074)
Menjaga Batasan Interaksi
Lawan Jenis:
Memutuskan
untuk tidak berduaan (kholwat) dengan lawan jenis yang bukan mahrom karena
mematuhi batasan wahyu. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لَا
يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ»
“Janganlah
seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya
adalah syaithon.” (HR. At-Tirmidzi no. 2165)
Menyelesaikan Sengketa
Harta Melalui Waris Islam:
Memutuskan
pembagian harta warisan sesuai dengan angka-angka yang ditetapkan Alloh dalam
Quran, bukan berdasarkan perasaan atau kesepakatan yang menyimpang. Alloh berfirman
tentang pembagian warisan dan menutupnya dengan ayat:
﴿تِلْكَ
حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ﴾
“Itulah
batas-batas (hukum) Alloh. Dan siapa yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya,
niscaya Alloh memasukkannya ke dalam Jannah.” (QS. An-Nisa: 13)
Mengatur Waktu Berdasarkan
Jadwal Sholat:
Mengambil
keputusan untuk menjadwalkan rapat atau perjalanan di luar waktu Sholat agar
kewajiban kepada Alloh tidak terabaikan. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا﴾
“Sungguh Sholat
itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang Mu’min.” (QS.
An-Nisa: 103)
Berani Mengatakan Tidak
pada Tekanan Teman Sebaya:
Memutuskan
untuk tetap konsisten tidak menyentuh khomr atau narkoba meskipun ditekan oleh
lingkungan pergaulan. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ
رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, sungguh (meminum) khomr, berjudi, (berkorban untuk)
berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaithon. Maka
jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (QS. Al-Maidah: 9)
PRINSIP 6: FOKUS PADA PERBAIKAN
DIRI SENDIRI
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ
أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم
بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu sendiri; tidaklah orang yang sesat itu
akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Alloh
kamu semua kembali, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 105)
6.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-6 dalam membangun kepribadian unggul adalah kesadaran untuk
memprioritaskan perbaikan diri (ishlahun nafs). Seorang pribadi yang
unggul menyadari bahwa tanggung jawab utamanya di hadapan Alloh adalah atas
dirinya sendiri. Ayat ini memberikan arahan agar orang beriman tidak kehilangan
arah atau merasa putus asa ketika melihat kerusakan dan kesesatan merajalela di
sekitarnya. Fokus utama harus tertuju pada menjaga keimanan dan keistiqomahan
diri sendiri. Bukan berarti mengabaikan amar ma’ruf nahi munkar, namun
menegaskan bahwa keselamatan diri adalah kunci; seseorang tidak akan dimintai
pertanggungjawaban atas dosa orang lain jika ia sendiri telah berada di atas
hidayah dan telah berupaya melakukan amar ma'ruf nahi munkar semampunya.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 104) yang membahas tentang orang-orang
kafir yang hanya mengikuti tradisi leluhur secara buta adalah sebagai
peringatan agar orang Mu’min tidak ikut-ikutan terbawa arus mayoritas. Jika
orang lain sesat, maka pastikan diri sendiri tetap teguh. Sedangkan kaitannya
dengan ayat-ayat sesudahnya (ayat 106-108) yang membahas tentang persaksian dan
kejujuran adalah bahwa kejujuran itu harus dimulai dari diri sendiri sebelum
menuntutnya dari orang lain. Kepribadian unggul adalah yang lebih sibuk
menghitung aib diri sendiri daripada menghitung kesalahan orang lain.
6.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip fokus pada perbaikan diri sendiri dalam
keseharian:
Melakukan Evaluasi Diri
(Muhasabah) Setiap Malam:
Sebelum
tidur, ia menghitung amal dan dosanya hari itu untuk diperbaiki esok hari.
Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhiroh).” (QS. Al-Hasyr:
18)
Tidak Mencari-cari
Kesalahan Orang Lain (Tajassus):
Menahan
diri dari memata-matai keburukan orang lain karena sadar dirinya sendiri pun
memiliki banyak cela. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا﴾
“Dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu
menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Mendahulukan Adab Sendiri
Sebelum Menilai Adab Orang Lain:
Ia berusaha
berakhlak mulia meskipun diperlakukan buruk oleh orang di sekitarnya. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«لَا
تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا
ظَلَمْنَا»
“Janganlah
kalian menjadi ‘imma’ah’ (ikut-ikutan), yang berkata: ‘Jika orang lain
baik kami pun baik, dan jika mereka zholim kami pun zholim.’” (HR.
At-Tirmidzi no. 2007)
Menjaga Hati dari Penyakit
Iri dan Dengki:
Fokus
mengembangkan potensi diri sendiri tanpa harus merasa terganggu dengan keni’matan
yang diterima orang lain. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ﴾
“Dan
janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian
kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)
Tetap Konsisten Beribadah
Meski Lingkungan Tidak Mendukung:
Jika orang
lain malas Sholat berjamaah, ia tetap berangkat ke Masjid demi keselamatan
dirinya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْعِبَادَةُ
فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ»
“Beribadah
di masa kekacauan (fitnah/banyak kesesatan) pahalanya seperti berhijroh
kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948)
Mengakui Kesalahan dan
Segera Bertaubat:
Tidak
mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan, melainkan langsung
memperbaikinya. Alloh berfirman:
﴿وَتُوبُوا
إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, wahai orang-orang yang beriman, supaya
kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Meninggalkan Hal yang
Tidak Bermanfaat Bagi Diri:
Fokus pada
aktivitas yang menambah kualitas ilmu dan amal, bukan pada gosip atau
perdebatan kusir. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مِنْ
حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
“Di
antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak
bermanfaat baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317)
Menjaga Lisan dari
Mengomentari Urusan Orang:
Menyadari
bahwa setiap kata akan dihisab, sehingga ia lebih memilih diam jika tidak ada
manfaatnya bagi perbaikan diri. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
صَمَتَ نَجَا»
“Siapa
yang diam, ia akan selamat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2501)
Bersabar Atas Gangguan
Orang Saat Sedang Berhijroh:
Saat ia
mulai memperbaiki diri dan dicemooh, ia tetap fokus pada hidayah yang telah
didapatnya. Alloh berfirman:
﴿فَاصْبِرْ
كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ﴾
“Maka
bersabarlah kamu sebagaimana sabarnya para Rosul yang memiliki keteguhan hati
(Ulul Azmi).” (QS. Al-Ahqof: 35)
PRINSIP 7: KUAT DALAM MENGEMBAN
AMANAH
﴿قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ
ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ
الْأَمِينُ﴾
“Salah
seorang dari kedua (perempuan) itu berkata: ‘Wahai ayahku! Jadikanlah ia
sebagai pekerja (pada kita), sungguh orang yang paling baik yang engkau ambil
untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi amanah (dapat dipercaya).’” (QS.
Al-Qoshosh: 26)
7.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-7 dalam membangun kepribadian unggul adalah penggabungan antara
kompetensi (quwwah) dan integritas (amanah). Seorang pribadi yang
unggul tidak cukup hanya memiliki niat yang baik, tetapi ia juga harus memiliki
kemampuan yang mumpuni dalam bidang yang ia tekuni. Ayat ini mengisahkan
tentang penilaian putri seorang tua (konon Nabi Syu’aib) terhadap Nabi Musa.
Kekuatan (quwwah) mencakup kecakapan fisik, mental, ilmu, dan keahlian
profesi. Sedangkan amanah mencakup kejujuran, rasa tanggung jawab, dan ketaatan
pada aturan.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 23-25) yang menceritakan bagaimana Nabi
Musa membantu kedua putri Nabi Syu’aib mengambil air adalah bahwa
profesionalisme sejati terlihat saat seseorang membantu orang lain dengan penuh
kesungguhan dan adab meskipun dalam kondisi asing atau sulit. Adapun kaitannya
dengan ayat sesudahnya (ayat 27) mengenai tawaran pernikahan dan kontrak kerja
dari Nabi Syu’aib adalah bahwa kepercayaan dan peluang besar dalam hidup hanya
akan datang kepada mereka yang telah membuktikan kualitas dirinya melalui dua
pilar tersebut: cakap dan jujur.
7.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip profesionalisme dan kekuatan dalam
mengemban amanah dalam keseharian:
Berusaha Menguasai Bidang
Pekerjaan dengan Mahir:
Seorang
Muslim yang unggul selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan sesempurna
mungkin. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ»
“Sungguh
Alloh mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan,
ia melakukannya dengan itqon (profesional/sempurna).” (HHR. Abu Ya’la
no. 4386)
Menolak Jabatan yang Tidak
Sesuai Kemampuan:
Sadar akan
keterbatasan diri dan tidak memaksakan diri mengambil amanah yang tidak mampu
dipikul karena hal itu akan berbuah kegagalan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»
“Jika
suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat
kehancurannya.” (HR. Al-Bukhori no. 6496)
Menjaga Rahasia Perusahaan
atau Organisasi:
Menjaga
informasi sensitif sebagai bagian dari amanah yang harus dijaga sampai mati.
Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rosul dan
(juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu.” (QS.
Al-Anfal: 27)
Tepat Waktu dan Disiplin
dalam Janji Temu:
Menghargai
waktu orang lain sebagai bentuk kekuatan karakter dan amanah lisan. Alloh berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ﴾
“Dan
orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun:
8)
Memberikan Laporan Kerja
Secara Jujur:
Tidak
memanipulasi data atau hasil kerja demi terlihat baik di depan atasan. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَنْ
غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا»
“Siapa
yang mencurangi kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no.
101)
Terus Belajar untuk Meningkatkan
Kapasitas (Up-skilling):
Menyadari
bahwa kekuatan (quwwah) harus terus diperbarui seiring perkembangan
zaman. Alloh berfirman:
﴿وَقُلْ
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾
“Dan
katakanlah: ‘Wahai Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’” (QS. Thoha:
114)
Bertanggung Jawab atas
Kesalahan yang Dilakukan:
Pribadi
unggul tidak
mencari “kambing hitam”, melainkan mengakui kekeliruan dan memperbaikinya.
Alloh berfirman:
﴿كُلُّ
نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ﴾
“Tiap-tiap
diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS.
Al-Muddatstsir: 38)
Menjaga Stamina dan
Kesehatan Fisik:
Menjaga
badan agar tetap kuat agar bisa menunaikan amanah dengan maksimal. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ»
“Orang Mu’min
yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Alloh daripada orang Mu’min yang
lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Tidak Memakan Harta yang
Bukan Haknya (Korupsi):
Menjaga
tangan dari mengambil aset pekerjaan untuk kepentingan pribadi. Alloh berfirman:
﴿وَمَنْ
يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ﴾
“Siapa yang
berkhianat (dalam urusan harta), niscaya ia akan datang membawa apa yang
dikhianatinya itu pada hari Qiyamah.” (QS. Ali Imron: 161)
Memberikan Solusi, Bukan
Sekadar Masalah:
Menjadi
pribadi yang proaktif dan memiliki inisiatif tinggi dalam bekerja seperti Nabi Yusuf.
Alloh berfirman tentang ucapan Nabi Yusuf:
﴿اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ﴾
“Jadikanlah
aku bendaharawan negara (Mesir); sungguh aku adalah orang yang pandai menjaga
lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)
PRINSIP 8: MEMBANGUN POLA PIKIR
POSITIF TERHADAP KETENTUAN ALLOH
﴿كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ
لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ
لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Diwajibkan
atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Tetapi boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal
itu buruk bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS.
Al-Baqoroh: 216)
8.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-8 dalam membangun kepribadian unggul adalah memiliki pola pikir
positif atau prasangka baik (husnuzhon) terhadap takdir Alloh. Seorang
pribadi yang unggul menyadari bahwa standar “baik” dan “buruk” menurut perasaan
manusia seringkali menipu. Manusia hanya melihat permukaan, sementara Alloh
melihat hingga ke masa depan dan hakikat terdalam. Ayat ini mengajarkan bahwa
ketaatan dan ketangguhan mental lahir dari pemahaman bahwa di balik setiap
kesulitan yang kita benci, seringkali tersimpan kebaikan yang besar, dan di
balik kesenangan yang kita kejar, terkadang tersimpan keburukan.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 215) yang membahas tentang urutan dalam
berinfak kepada orang tua dan kerabat adalah bahwa sebagaimana infak
membutuhkan pengorbanan harta demi kebaikan, demikian pula jihad membutuhkan
pengorbanan jiwa demi kemuliaan yang lebih besar. Adapun kaitannya dengan ayat
sesudahnya (ayat 217) yang membahas tentang peperangan di bulan harom adalah
untuk mempertegas bahwa segala perintah dan larangan Alloh, sesulit apapun itu,
didasarkan pada ilmu-bukan modal semangat saja. Kepribadian unggul tidak
mudah mengeluh karena ia yakin bahwa skenario Alloh selalu lebih indah daripada
rencananya.
8.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip pola pikir positif terhadap ketentuan
Alloh dalam keseharian:
Tetap Tenang Saat
Mengalami Kegagalan Bisnis:
Ia yakin
bahwa kegagalan tersebut adalah cara Alloh menghindarkannya dari marabahaya
yang lebih besar atau cara agar ia belajar lebih gigih. Alloh berfirman:
﴿مَا
أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ﴾
“Tidak ada
suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Alloh; dan siapa
yang beriman kepada Alloh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS.
At-Taghobun: 11)
Menerima Keputusan yang
Tidak Sesuai Harapan:
Misalnya
saat melamar pekerjaan dan ditolak, ia berprasangka baik bahwa Alloh sedang
menyiapkannya untuk tempat yang lebih berkah. Rosululloh ﷺ bersabda dalam Hadits Qudsi:
«أَنَا
عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي»
“Alloh
berfirman: ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.’” (HR.
Al-Bukhori no. 7405 dan Muslim no. 2675)
Tidak Berlarut-larut dalam
Kesedihan (Move On):
Memahami
bahwa apa yang telah luput darinya memang bukan ditakdirkan untuknya. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«وَاعْلَمْ
أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ»
“Dan
ketahuilah, bahwa apa yang luput darimu tidak akan pernah menimpamu, dan apa
yang menimpamu tidak akan pernah luput darimu.” (HSR. Abu Dawud no. 4699)
Menghindari Kalimat “Andai
Saja”:
Tidak
membuka pintu syaithon dengan penyesalan yang tidak produktif terhadap masa
lalu. Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَإِنْ
أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ
قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ»
“Jika
sesuatu menimpamu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku lakukan begini tentu
akan jadi begitu’, tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Alloh, dan apa yang
Dia kehendaki pasti Dia perbuat.’” (HR. Muslim no. 2664)
Optimis dalam Menghadapi Penyakit:
Yakin bahwa
sakit adalah sarana penggugur dosa dan peluang untuk meningkatkan kesabaran. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَا
يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ... إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ
خَطَايَاهُ»
“Tidaklah
seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit... kecuali Alloh akan menghapuskan
dengan itu kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhori no. 5641)
Melihat Sisi Baik dari
Orang yang Menyakiti:
Berpikir
bahwa gangguan orang lain adalah cara Alloh menguji kematangan emosinya. Alloh berfirman:
﴿وَجَعَلْنَا
بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ﴾
“Dan Kami
jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?” (QS.
Al-Furqon: 20)
Menjaga Harapan di Tengah
Kesulitan:
Yakin bahwa
kemudahan akan datang mengiringi setiap kesulitan. Alloh berfirman:
﴿فَإِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴾
“Karena
sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan, sungguh bersama kesulitan tesebut
ada kemudahan lain.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)
Tidak Meremehkan Ni’mat
Kecil:
Pola pikir
positif membuatnya pandai bersyukur bahkan atas hal-hal yang dianggap biasa
oleh orang lain. Rosululloh ﷺ bersabda:
«انْظُرُوا
إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ»
“Lihatlah
kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang
berada di atasmu (dalam urusan dunia).” (HR. Muslim no. 2963)
Percaya Diri Menghadapi
Tantangan Masa Depan:
Ia tidak
merasa cemas berlebihan karena yakin Alloh akan mencukupi urusannya selama ia
bertaqwa. Alloh berfirman:
﴿وَمَنْ
يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾
“Dan siapa
yang bertawakkal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS.
Ath-Tholaq: 3)
Menjaga Kedamaian Hati
(Qona’ah):
Merasa
cukup dengan pembagian Alloh sehingga terhindar dari penyakit stres dan ambisi
yang buta. Rosululloh ﷺ bersabda:
«قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ»
“Sungguh
beruntung orang yang telah berserah diri (Islam), diberikan rizqi yang cukup,
dan Alloh menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR.
Muslim no. 1054)
PRINSIP 9: KEDISIPLINAN DAN
KETEPATAN WAKTU
﴿إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
كِتَابًا مَّوْقُوتًا﴾
“Sungguh Sholat
itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang Mu’min.” (QS.
An-Nisa: 103)
9.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-9 dalam membangun kepribadian unggul adalah kedisplinan. Islam
mendidik penganutnya untuk menjadi pribadi yang menghargai waktu melalui
ibadah-ibadah yang telah ditetapkan jadwalnya secara presisi, terutama Sholat.
Ayat ini menegaskan bahwa Sholat bukanlah ibadah yang bisa dikerjakan kapan saja
sesuka hati, melainkan memiliki batasan awal dan akhir yang jelas. Kedisplinan
dalam Sholat merupakan madrasah bagi seorang Muslim untuk disiplin dalam
seluruh aspek kehidupannya yang lain.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 102) yang membahas tentang tata cara Sholat
khouf (Sholat dalam keadaan genting/perang) adalah untuk menunjukkan bahwa
dalam kondisi paling berbahaya sekalipun, kewajiban Sholat tidak gugur dan
tetap harus dijaga waktunya. Jika dalam perang saja waktu sangat diperhatikan,
maka dalam kondisi aman, kedisplinan harus jauh lebih utama. Adapun kaitannya
dengan ayat sesudahnya (ayat 104) yang memerintahkan untuk tidak berhati lemah
dalam mengejar musuh adalah bahwa kedisplinan waktu merupakan modal kekuatan
mental untuk meraih kemenangan. Kepribadian unggul tidak akan
menyia-nyiakan waktu karena ia sadar waktu yang hilang tidak akan pernah
kembali.
9.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip kedisplinan dan ketepatan waktu dalam
keseharian:
Hadir Tepat Waktu dalam
Setiap Pertemuan:
Seorang pribadi
unggul menghormati komitmen waktu dengan orang lain sebagai bentuk amanah.
Alloh berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ﴾
“Dan
orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya.” (QS. Al-Ma’minun:
8)
Menyelesaikan Tugas
Sebelum Tenggat Waktu (Deadline):
Tidak
menunda-nunda pekerjaan agar tidak menumpuk dan merugikan orang lain. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَطْلُ
الْغَنِيِّ ظُلْمٌ»
“Menunda-nunda
(pembayaran/ kewajiban) bagi orang yang mampu adalah sebuah kezholiman.” (HR.
Al-Bukhori no. 2287)
Memanfaatkan Waktu Luang
untuk Hal Bermanfaat:
Tidak
membiarkan waktu terbuang sia-sia untuk hal yang tidak menambah iman atau ilmu.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
“Ada dua keni’matan
yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR.
Al-Bukhori no. 6412)
Bangun Pagi untuk
Menjemput Berkah:
Membiasakan
diri memulai aktivitas sejak awal hari sebagaimana doa Nabi ﷺ. Rosululloh ﷺ bersabda:
«اللَّهُمَّ
بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا»
“Ya
Alloh, berkahilah umatku pada waktu pagi buta mereka.” (HSR. Abu Dawud no.
2606)
Membuat Jadwal Harian yang
Teratur:
Mengatur
urusan dunia agar selaras dengan jadwal ibadah. Alloh berfirman tentang
pentingnya keteraturan:
﴿فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ﴾
“Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk
urusan yang lain).” (QS. Asy-Syarh: 7)
Disiplin dalam Menjaga
Janji pada Diri Sendiri:
Mematuhi
target pribadi yang telah dibuat, seperti target bacaan atau olahraga harian.
Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾
“Wahai orang-orang
yang beriman, penuhilah janji-janji (komitmen) itu.” (QS. Al-Maidah: 1)
Tidak Bergadang untuk Hal
yang Sia-sia:
Menjaga
ritme istirahat agar tetap bugar saat menjalankan kewajiban esok hari. Disebutkan
mengenai kebiasaan beliau:
«أَنَّ
رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ
وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا»
“Sungguh Rosululloh
ﷺ membenci tidur sebelum Isya dan berbicara (yang tidak perlu)
sesudahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 568)
Menyegerakan Kebaikan
Tanpa Tapi:
Memiliki
prinsip “lakukan sekarang” terhadap setiap peluang amal sholih. Alloh berfirman:
﴿فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ﴾
“Maka
berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan.” (QS. Al-Baqoroh: 148)
Disiplin dalam Mengatur
Keuangan:
Membayar
hutang tepat waktu dan tidak menunda hak orang lain. Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَعْطُوا
الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ»
“Berikanlah
upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.” (HSR. Ibnu Majah no. 2443)
Sadar Akan Singkatnya Usia
Dunia:
Kesadaran
bahwa jatah waktu di dunia sangat terbatas membuatnya sangat berhati-hati dalam
menggunakannya. Alloh berfirman:
﴿قَالَ
كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ * قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ
يَوْمٍ﴾
“Alloh
bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami
tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari.’” (QS. Al-Mu’minun: 112-113)
PRINSIP 10: ISTIQOMAH DALAM
KEBAIKAN MESKIPUN SEDIKIT
﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ
وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾
“Maka
tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan
(juga) kepada orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui
batas. Sungguh Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)
10.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-10 dalam membangun kepribadian unggul adalah konsistensi atau
istiqomah. Seorang pribadi yang unggul tidak dikenal karena amalannya yang
besar namun dilakukan hanya sekali, melainkan karena amalannya yang dilakukan
secara terus-menerus meskipun terlihat kecil. Istiqomah merupakan perintah yang
sangat berat, bahkan Rosululloh ﷺ
menyebutkan bahwa surat Hud (yang mengandung ayat ini) telah membuat rambut
beliau beruban karena beban tanggung jawab untuk tetap teguh di atas perintah
Alloh.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 110-111) yang membahas tentang
perselisihan Bani Isro’il terhadap kitab mereka adalah sebagai peringatan agar
orang beriman tidak goyah seperti umat terdahulu. Seseorang harus tetap teguh
di jalur wahyu tanpa berbelok ke kanan atau ke kiri. Sedangkan kaitannya dengan
ayat sesudahnya (ayat 113) yang melarang condong kepada orang-orang zholim
adalah bahwa konsistensi hanya bisa dijaga jika seseorang tidak terpengaruh
oleh gaya hidup dan prinsip orang-orang yang melanggar aturan Alloh. Kepribadian
unggul adalah kepribadian yang tahan uji terhadap waktu dan keadaan.
10.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip konsistensi dalam kebaikan dalam
keseharian:
Menjaga Rutinitas Amal
Harian yang Ringan:
Lebih
memilih membaca Al-Quran satu lembar setiap hari secara rutin daripada membaca
satu juz namun hanya sebulan sekali. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«أَحَبُّ
الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
“Amalan
yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang paling konsisten (rutin) meskipun
sedikit.” (HR. Al-Bukhori no. 6465)
Istiqomah dalam
Menjalankan Sholat Sunnah Rowatib:
Berusaha
tidak meninggalkan Sholat sunnah yang mengiringi Sholat wajib sebagai bentuk
penjagaan terhadap amalan pokok. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ
فِي الْجَنَّةِ»
“Siapa yang
Sholat dalam sehari semalam dua belas roka’at (sunnah rowatib), maka akan
dibangunkan baginya sebuah rumah di Jannah.” (HR. Muslim no. 728)
Tetap Berbuat Baik
Meskipun Suasana Hati Sedang Tidak Baik:
Pribadi
unggul tidak
mendasarkan amalannya pada perasaan (mood), melainkan pada kewajiban. Alloh berfirman:
﴿الَّذِينَ
يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit.” (QS.
Ali Imron: 134)
Menjaga Komitmen dalam
Berhenti dari Kebiasaan Buruk:
Setelah
bertaubat dari merokok atau perbuatan sia-sia lainnya, ia tetap teguh tidak
kembali lagi. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا
هُمْ يَحْزَنُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka (istiqomah), maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Ahqof: 13)
Konsisten dalam Menjaga Sholat
Berjamaah di Masjid:
Bagi
lelaki, berusaha selalu berada di shof terdepan setiap waktu Sholat tanpa
terkecuali. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَوْ
يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا
أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ
لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ، لَأَتَوْهُمَا
وَلَوْ حَبْوًا»
“Seandainya
manusia mengetahui apa (pahala) yang ada di dalam adzan dan shof pertama,
kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya
mereka akan mengundinya. Seandainya mereka mengetahui apa yang ada di bersegera
(ke Masjid), tentu mereka akan berlomba. Seandainya mereka mengetahui apa yang
ada di Sholat Isya dan Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya meskipun dengan
merangkak.” (HR. Al-Bukhori no. 615)
Mempertahankan Standar
Kejujuran dalam Bisnis:
Tetap jujur
meskipun persaingan di pasar sangat tidak sehat dan banyak orang melakukan
kecurangan. Alloh berfirman:
﴿وَيْلٌ
لِلْمُطَفِّفِينَ﴾
“Celakalah
bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang).” (QS.
Al-Muthoffifin: 1)
Sabar dalam Menjalankan
Kedisiplinan Hidup:
Menyadari
bahwa hasil besar adalah kumpulan dari disiplin kecil yang terus dilakukan.
Alloh berfirman:
﴿وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ﴾
“Dan
bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Robbnya di pagi dan
senja hari.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Menjaga Lisan dari Ghibah
Secara Terus-menerus:
Menjadikan “tidak
membicarakan orang lain” sebagai prinsip hidup yang permanen. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَا
يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ
حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ، وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ
بَوَائِقَهُ»
“Tidak akan
istiqomah iman seorang hamba hingga istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah
hatinya hingga istiqomah lisannya. Tidak akan masuk Jannah seseorang yang
tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Ahmad no. 13047)
Tetap Belajar dan Menambah
Ilmu Hingga Akhir Hayat:
Tidak
merasa cukup dengan ilmu yang sudah ada, melainkan terus menambahnya setiap
hari. Alloh berfirman:
﴿وَاعْبُدْ
رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾
“Dan
sembahlah Robbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)
Menjaga Niat Ikhlas Sejak
Awal Hingga Akhir Amal:
Pribadi
unggul selalu
memeriksa hatinya agar amalan yang rutin tidak berubah menjadi sekadar
kebiasaan hampa tanpa nilai ibadah. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّمَا
الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»
“Sungguh
setiap amal itu bergantung pada niatnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1)
PRINSIP 11: KEMANDIRIAN DAN KERJA
KERAS
﴿وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ﴾
“Manusia
hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
11.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-11 dalam membangun kepribadian unggul adalah kemandirian dan
kesungguhan dalam berikhtiar. Seorang pribadi yang unggul tidak menggantungkan
nasibnya pada belas kasihan orang lain atau mengharapkan hasil instan tanpa
keringat. Ayat ini menegaskan sebuah kaidah keadilan ilahiyyah bahwa hasil yang
didapatkan oleh seseorang—baik di dunia maupun di Akhiroh—berbanding lurus
dengan kadar kesungguhan usahanya. Kemandirian melahirkan kehormatan diri,
sedangkan kemalasan hanya akan melahirkan kehinaan.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 36-38) adalah penegasan kembali atas
apa yang ada dalam lembaran-lembaran suci Nabi Musa dan Nabi Ibrohim, bahwa
tidak ada seorang pun yang memikul dosa orang lain, dan setiap orang
bertanggung jawab atas usahanya sendiri. Sedangkan kaitannya dengan ayat
sesudahnya (ayat 40-41) adalah bahwa usaha tersebut tidak akan disia-siakan
oleh Alloh; setiap tetes keringat dan kepayahan akan diperlihatkan dan dibalas
dengan balasan yang paling sempurna. Kepribadian unggul adalah
kepribadian yang tangannya selalu berada di atas, bukan di bawah.
11.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip kemandirian dan kerja keras dalam
keseharian:
Mencari Nafkah dengan
Tangan Sendiri:
Lebih
memilih pekerjaan kasar yang halal daripada meminta-minta atau hidup dari belas
kasihan orang lain. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لَأَنْ
يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ، فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا،
فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ
أَوْ مَنَعُوهُ»
“Sungguh,
jika salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu membawa seikat kayu
bakar di atas punggungnya untuk dijual hingga dengan sebab itu Alloh menjaga
kehormatannya, itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia,
baik diberi atau ditolak.” (HR. Al-Bukhori no. 1471)
Menjaga Harga Diri dengan
Tidak Meminta-minta (Iffah):
Meskipun
dalam kondisi kekurangan, ia berusaha menutupi kebutuhannya dan tetap bekerja
agar tidak membebani orang lain. Alloh berfirman:
﴿يَحْسَبُهُمُ
الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ﴾
“Orang yang
tidak tahu menyangka mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara
diri (dari meminta-minta).” (QS. Al-Baqoroh: 273)
Sungguh-sungguh dalam
Menekuni Keahlian:
Berusaha
menjadi ahli di bidangnya agar karyanya bernilai tinggi dan bermanfaat bagi
umat. Rosululloh ﷺ bersabda:
«احْرِصْ
عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ»
“Bersungguh-sungguhlah
dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh, dan
janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Menolak Mentalitas “Aji
Mumpung” atau Mengandalkan Koneksi:
Memilih
untuk membuktikan kualitas diri melalui kerja nyata daripada mencari jalan
pintas melalui bantuan orang dalam yang tidak dibenarkan. Alloh berfirman:
﴿فَإِذَا
عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ﴾
“Kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh.” (QS.
Ali Imron: 159)
Cekatan dalam Menolong
Diri Sendiri dan Orang Lain:
Tidak
menjadi beban bagi lingkungan sekitar dan selalu memiliki inisiatif untuk
bergerak tanpa harus disuruh. Alloh berfirman:
﴿وَسَارِعُوا
إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ﴾
“Dan
bersegeralah kamu menuju ampunan dari Robbmu.” (QS. Ali Imron: 133)
Memiliki Target Hidup yang
Jelas dan Terukur:
Bekerja
dengan rencana yang matang sebagai bagian dari bentuk kesungguhan usaha. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ﴾
“Sungguh
usahamu memang beraneka ragam.” (QS. Al-Lail: 4)
Tidak Bergantung pada
Warisan atau Pemberian:
Pribadi
unggul bangga
dengan apa yang ia bangun dari nol melalui bimbingan Alloh. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ
نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ»
“Tidak ada
seorang pun yang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya
sendiri. Sungguh Nabi Alloh Dawud dahulu makan dari hasil kerja tangannya.” (HR.
Al-Bukhori no. 2072)
Pantang Menyerah Saat
Menghadapi Hambatan:
Memandang
kesulitan sebagai bagian dari proses usaha yang harus dilalui dengan sabar.
Alloh berfirman:
﴿فَإِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴾
“Karena
sungguh sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5)
Mengoptimalkan Potensi
Akal dan Fisik:
Menggunakan
seluruh pemberian Alloh untuk berproduksi dan memberi manfaat. Rosululloh ﷺ bersabda:
«خَيْرُ
النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
“Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HHR.
Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jamul Ausath no. 5787)
Menjaga Kemandirian dalam
Berpikir dan Berprinsip:
Tidak mudah
ikut-ikutan tren yang menyimpang karena memiliki pondasi ilmu yang kuat hasil
belajar sendiri. Alloh berfirman:
﴿بَلِ
الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ﴾
“Bahkan manusia
itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah: 14)
PRINSIP 12: MENJAGA LISAN DARI
PERKATAAN SIA-SIA
﴿مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ
رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tidak ada
suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas
yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)
12.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-12 dalam membangun kepribadian unggul adalah penguasaan diri terhadap
lisan. Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa setiap huruf yang keluar
dari mulutnya, atau setiap kalimat yang ia ketik di media sosial, akan dicatat
secara akurat oleh Malaikat Roqib dan ‘Atid untuk kemudian
dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh. Menjaga lisan bukan hanya berarti
menghindari kata-kata kotor, namun juga menahan diri dari pembicaraan yang
tidak bermanfaat (laghwu). Kualitas diri seseorang sering kali terlihat
dari apa yang ia bicarakan; jika pembicaraannya berbobot dan penuh dzikir, maka
unggullah ia.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 17) yang membahas tentang dua Malaikat
yang mencatat di sebelah kanan dan kiri adalah untuk memberikan penekanan bahwa
pengawasan Alloh sangatlah ketat dan tidak ada celah bagi manusia untuk
bersembunyi. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 19) yang membahas
tentang sakarotul maut adalah pengingat bahwa penyesalan atas lisan yang tidak
terjaga sering kali baru memuncak saat kematian datang menjemput. Kepribadian
unggul adalah mereka yang menjadikan lisannya sebagai ladang pahala, bukan
sumber bencana.
12.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip menjaga lisan dalam keseharian:
Berpikir Matang Sebelum
Berucap:
Pribadi
unggul selalu
menimbang manfaat dan mudhorot dari ucapannya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُطت»
“Siapa
yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhori no. 6018)
Menghindari Ghibah dan
Mencela Orang Lain:
Tidak
membicarakan aib orang lain meskipun hal itu benar adanya. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا﴾
“Dan
janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurot:
12)
Menjauhi Perdebatan yang
Tidak Menghasilkan Kebaikan:
Memilih
mengalah dalam debat meskipun ia berada di pihak yang benar demi menjaga
kedamaian hati. Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَنَا
زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»
“Aku
menjamin sebuah rumah di pinggiran Jannah bagi siapa yang meninggalkan
perdebatan meskipun ia benar.” (HHR. Abu Dawud no. 4800)
Menahan Diri dari Berdusta
Meskipun Sedang Bercanda:
Integritas
lisan dijaga dalam segala kondisi, termasuk saat ingin membuat orang tertawa. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«وَيْلٌ
لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ»
“Celakalah
bagi orang yang berbicara lalu berdusta agar orang-orang tertawa; celakalah ia,
celakalah ia.” (HHR. Abu Dawud no. 4990)
Menjaga Rahasia Orang Lain
dengan Rapat:
Tidak
membocorkan kepercayaan yang diberikan oleh teman atau kolega kerja. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«إِذَا
حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ»
“Apabila
seseorang membicarakan sesuatu kemudian ia menoleh (menjaga agar tidak didengar
orang lain), maka pembicaraan itu adalah amanah.” (HHR. Abu Dawud no. 4868)
Memperbanyak Dzikir dan
Kalimat Thoyyibah:
Menghiasi
lisan dengan pujian kepada Alloh daripada mengeluh atau mencaci keadaan. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh dengan
dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)
Tidak Ikut Serta dalam
Penyebaran Hoaks:
Menutup
rapat lisan (dan jari) dari membagikan informasi yang belum tentu benar. Alloh berfirman:
﴿إِذْ
تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ
عِلْمٌ... وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ﴾
“(Ingatlah)
di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan
dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun... padahal itu di sisi
Alloh adalah perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)
Menghindari Kata-kata
Kasar dan Makian:
Menjaga
lisan agar tidak menyakiti perasaan orang lain dengan sebutan yang buruk. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
المُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ»
“Bukanlah
seorang Mu’min itu orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, maupun
berkata kotor.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1977)
Mengaku Salah Jika
Terlanjur Salah Berucap:
Berani
meminta maaf dengan tulus jika ucapannya menyinggung atau merugikan orang lain.
Alloh berfirman:
﴿وَقُولُوا
لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾
“Dan
berkatalah kamu kepada manusia dengan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Baqoroh:
83)
Sadar Bahwa Lisan Adalah
Penentu Nasib di Akhiroh:
Keyakinan
bahwa banyak orang tergelincir ke Naar hanya karena buah dari lisannya. Rosululloh
ﷺ bersabda kepada Mu’adz bin Jabal:
وَهَلْ
يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا
حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ»
“Bukankah
tidak ada yang menjerumuskan manusia ke dalam Naar di atas wajah-wajah mereka
melainkan hasil dari lisan-lisan mereka?” (HSR. At-Tirmidzi no. 2616)
PRINSIP 13: KEBERANIAN DALAM
MENYUARAKAN KEBENARAN
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ
مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari
agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai
mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap
orang-orang Mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang
berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka
mencela.” (QS. Al-Maidah: 54)
13.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-13 dalam membangun kepribadian unggul adalah syaja’ah atau
keberanian yang berlandaskan keimanan. Seorang pribadi yang unggul tidak akan
menggadaikan prinsip kebenaran demi mencari muka di hadapan manusia atau
menghindari kritik. Ayat ini menggambarkan kriteria kaum yang dicintai Alloh,
salah satunya adalah ketidaktakutan mereka terhadap celaan saat menjalankan
perintah agama atau menyuarakan kebenaran. Keberanian ini bukan berarti
keangkuhan, melainkan keteguhan hati karena menyadari bahwa ridho Alloh jauh
lebih utama daripada ridho makhluk.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 51-53) yang melarang mengambil
orang-orang Yahudi dan Nasroni sebagai pemimpin/wali adalah sebagai peringatan
bahwa ketika seseorang lebih takut kepada tekanan sosial atau politik daripada
perintah Alloh, ia berada di ambang kerapuhan iman. Sedangkan kaitannya dengan
ayat sesudahnya (ayat 55) adalah penegasan bahwa penolong sejati hanyalah
Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang beriman. Kepribadian unggul adalah
kepribadian yang tetap tegak menyuarakan “haq” meskipun seluruh dunia
mencibirnya.
13.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip keberanian dalam menyuarakan kebenaran
dalam keseharian:
Berani Mengingatkan Teman
yang Berbuat Maksiat:
Tidak diam
saat melihat kemungkaran di depan mata hanya karena takut dikucilkan dari
pergaulan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ»
“Siapa di
antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak
mampu maka dengan lisannya.” (HR. Muslim no. 49)
Menolak Perintah Atasan
yang Bertentangan dengan Syariat:
Berani
berkata tidak ketika disuruh melakukan korupsi atau kecurangan, meskipun
berisiko kehilangan jabatan. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لاَ
طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي المَعْرُوفِ»
“Tidak
ada ketaatan dalam kemaksiatan; sungguh ketaatan itu hanyalah dalam hal yang ma’ruf
(baik).” (HR. Al-Bukhori no. 7257)
Menyampaikan Kebenaran di
Hadapan Pemimpin yang Zholim:
Memiliki
mentalitas untuk memberikan nasihat yang jujur kepada pemegang otoritas tanpa
rasa takut. Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَفْضَلُ
الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ، أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ»
“Jihad yang
paling utama adalah kalimat keadilan (kebenaran) di hadapan penguasa yang zholim
atau pejabat yang zholim.” (HSR. Abu Dawud no. 4344)
Tetap Konsisten Berhijroh
di Tengah Olokan:
Saat
seseorang mulai memperbaiki diri dan diejek oleh lingkungan lama, ia tetap
teguh dan tidak kembali pada keburukan. Alloh berfirman:
﴿فَلَا
تَخْشَوُهُمْ وَاخْشَوْنِ﴾
“Maka
janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS.
Al-Maidah: 3)
Membela Orang yang Ter-zholimi
Meskipun Ia Minoritas:
Berani
bersuara membela hak orang lain yang dirampas meskipun hal itu membuatnya tidak
populer. Alloh berfirman:
﴿كُونُوا
قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ﴾
“Jadilah
kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Alloh, walaupun terhadap dirimu
sendiri.” (QS. An-Nisa: 135)
Mengakui Kesalahan di
Depan Publik:
Keberanian
untuk tidak menyembunyikan kebenaran meskipun kebenaran itu pahit bagi nama
baiknya sendiri. Rosululloh ﷺ bersabda:
«قُلِ
الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا»
“Katakanlah
kebenaran itu walaupun pahit.” (HR. Ibnu Hibban no. 361)
Tidak Ikut-ikutan dalam Fitnah
atau Gosip Massal:
Berani
tampil beda dengan menghentikan pembicaraan buruk saat orang-orang di
sekitarnya sedang asyik ber-ghibah. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ﴾
“Dan
apabila mereka mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling darinya.” (QS.
Al-Qoshosh: 55)
Menegakkan Prinsip Halal-Harom
dalam Perniagaan:
Berani
mengedukasi pelanggan atau mitra bisnis tentang aturan syariat meskipun
dianggap terlalu kaku oleh orang lain. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu
sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqoroh: 42)
Berani Menanggung Resiko
Atas Prinsip Hidup:
Yakin bahwa
kemuliaan hanya datang dari Alloh, sehingga tidak takut kehilangan rizqi atau
martabat di mata manusia. Alloh berfirman:
﴿مَنْ
كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾
“Siapa yang
menghendaki kemuliaan, maka bagi Allohlah kemuliaan itu semuanya.” (QS.
Fathir: 10)
Menjaga Identitas Islam di
Lingkungan Asing:
Tetap
bangga menunjukkan identitas dan menjalankan ibadah meskipun berada di tengah
masyarakat yang tidak mengenal atau membenci Islam. Alloh berfirman:
﴿وَمَنْ
أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي
مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾
“Dan
siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh,
mengerjakan amal yang sholih, dan berkata: ‘Sungguh aku termasuk orang-orang
Muslim.’” (QS. Fusshilat: 33)
PRINSIP 14: KETENANGAN JIWA DALAM
MENGHADAPI TEKANAN HIDUP
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم
بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“Yaitu
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Alloh.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d:
28)
14.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-14 dalam membangun kepribadian unggul adalah pencapaian ketenangan
jiwa (thuma’ninah). Seorang pribadi yang unggul tidak mudah guncang oleh
tekanan eksternal, karena ia memiliki jangkar yang kuat di dalam hatinya, yaitu
dzikrulloh. Ayat ini menegaskan bahwa materi, jabatan, atau pengakuan
manusia tidak akan pernah mampu memberikan ketenangan sejati. Ketenangan
hanyalah milik mereka yang hatinya selalu tersambung dengan Sang Pencipta.
Mengingat Alloh (dzikrulloh) mencakup lisan yang berdzikir, pikiran yang
merenungi keagungan-Nya, dan hati yang ridho atas segala ketentuan-Nya.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 27) yang membahas tentang orang-orang
kafir yang bertanya mengapa tidak diturunkan mukjizat kepada Nabi ﷺ adalah untuk menunjukkan bahwa bukti kebenaran yang paling
nyata adalah perubahan hati menjadi tenang setelah menerima hidayah. Sedangkan
kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 29) adalah bahwa ketenangan hati
merupakan pintu gerbang menuju keberuntungan (thuba) dan tempat kembali
yang baik. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang tetap mampu
berfikir jernih dan bertindak bijak meskipun berada di bawah tekanan yang
hebat.
14.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip ketenangan jiwa dalam keseharian:
Tetap Tenang Saat
Mengalami Krisis Finansial:
Ia tidak
panik berlebihan karena yakin bahwa rizqinya sudah diatur dan dzikir membuatnya
merasa cukup. Alloh berfirman:
﴿وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾
“Siapa yang
bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan
memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Tholaq:
2-3)
Menjaga Kestabilan Emosi
Saat Dihina:
Tidak
membalas kemarahan dengan kemarahan, karena hatinya sedang sibuk berdzikir dan
mengharap ridho Alloh. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا﴾
“Dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina),
mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqon:
63)
Menenangkan Diri Sebelum
Mengambil Keputusan Penting:
Tidak
terburu-buru (grusa-grusu) karena sadar bahwa ketergesaan berasal dari syaithon.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«التَّأَنِّي
مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ»
“Sifat
tenang dan hati-hati berasal dari Alloh, sedangkan sifat tergesa-gesa berasal
dari syaithon.” (HHR. Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubro no. 20270)
Menjadikan Sholat Sebagai
Sarana Relaksasi:
Saat beban
kerja menumpuk, ia segera mengambil wudhu dan Sholat untuk mengembalikan
ketenangan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَا
بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا»
“Wahai
Bilal, kumandangkanlah iqomah Sholat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HSR.
Abu Dawud no. 4985)
Menghindari Kegelisahan
Akibat Ambisi Duniawi:
Memangkas
keinginan yang berlebihan agar hati tidak selalu merasa kurang. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
“Kekayaan
itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan sejati adalah kaya
jiwa (hati yang merasa cukup).” (HR. Al-Bukhori no. 6446)
Sikap Tenang Saat
Menghadapi Kematian Keluarga:
Menerima
takdir dengan lisan yang memuji Alloh meskipun air mata menetes. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا
الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى»
“Sesungguhnya
sabar itu (terlihat) pada hentakan (ujian) yang pertama.” (HR. Al-Bukhori
no. 1283)
Tidak Mudah Terprovokasi
Berita Buruk:
Menyaring
informasi dengan kepala dingin dan hati yang terjaga dengan dzikir. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat
Kami.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Menjaga Kualitas Tidur
dengan Dzikir:
Memulai
istirahat dengan mengingat Alloh agar jiwa tetap tenang sepanjang malam. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«بِاسْمِكَ
رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا،
وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ»
“Dengan
nama-Mu wahai Robbku, aku meletakkan lambungku dan dengan nama-Mu pula aku
mengangkatnya. Jika Engkau menaha ruhku maka rohmatillah. Jika Engkau
melepasnya (hingga aku terbangun) maka jagalah ia seperti penjagaan-Mua atas
hamba-hamba-Mu yang sholih.” (HR. Al-Bukhori no. 6320)
Percaya Diri Saat
Berbicara di Depan Umum:
Rasa tenang
muncul karena yakin bahwa lidahnya digerakkan oleh izin Alloh. Sebagaimana doa Nabi
ﷺ Musa:
﴿رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي * وَيَسِّرْ لِي
أَمْرِي﴾
“Wahai
Robbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.” (QS.
Thoha: 25-26)
Menjaga Kedamaian dalam
Rumah Tangga:
Menjadi
penyejuk bagi anggota keluarga dengan tutur kata yang tenang dan jauh dari
teriakan. Alloh berfirman:
﴿وَمِنْ
آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا﴾
“Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (QS.
Ar-Rum: 21)
PRINSIP 15: MANAJEMEN EMOSI DAN
MENAHAN AMARAH
﴿الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang
yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron: 134)
15.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-15 dalam membangun kepribadian unggul adalah penguasaan emosi,
khususnya dalam meredam amarah. Seorang pribadi yang unggul bukanlah mereka
yang tidak pernah merasa marah, melainkan mereka yang memiliki kemampuan untuk
menahan (al-kadzhimin) luapan emosi tersebut agar tidak mewujud dalam
ucapan atau tindakan yang buruk. Ayat ini menempatkan kemampuan menahan amarah
sebagai salah satu ciri utama penghuni Jannah. Menahan amarah menuntut kekuatan
mental yang luar biasa karena harus melawan gejolak ego dan bisikan syaithon.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 133) yang berisi ajakan untuk bersegera
menuju ampunan Alloh dan Jannah-Nya adalah bahwa salah satu jalan pintas menuju
Jannah tersebut adalah dengan memiliki akhlaq yang mulia, termasuk mengelola
emosi. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 135) yang membahas
tentang orang yang melakukan kesalahan lalu bertaubat adalah pengingat bahwa
jika seseorang gagal menahan amarahnya hingga melakukan kezholiman, maka jalan
keluarnya adalah segera sadar dan memohon ampun. Kepribadian unggul
adalah mereka yang memegang kendali atas dirinya sendiri, bukan budak dari
emosinya.
15.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip manajemen emosi dalam keseharian:
Diam Saat Merasa Emosi
Memuncak:
Menyadari
bahwa ucapan saat marah seringkali berujung pada penyesalan, maka ia memilih
untuk tidak berbicara. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِذَا
غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ»
“Apabila
salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam.” (HSR. Ahmad no.
2136)
Mengubah Posisi Tubuh
untuk Merendahkan Tensi:
Mempraktikkan
teknik fisik untuk meredam kemarahan sesuai arahan Nabi ﷺ. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا
فَلْيَضْطَجِعْ»
“Apabila
salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk.
Jika marahnya belum hilang, hendaklah ia berbaring.” (HSR. Abu Dawud no.
4782)
Segera Berwudhu Saat
Merasa Panas Hati:
Menggunakan
air sebagai sarana memadamkan api amarah yang berasal dari syaithon. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا
تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ»
“Sungguh
amarah itu dari syaithon, dan syaithon diciptakan dari api, dan api hanya padam
dengan air, maka apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia
berwudhu.” (HR. Abu Dawud no. 4784)
Membaca Ta’awwudz Saat
Terprovokasi:
Meminta
perlindungan Alloh agar tidak terbawa arus emosi yang destruktif. Alloh berfirman:
﴿وَإِمَّا
يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ﴾
“Dan jika syaithon
mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Alloh.” (QS.
Al-A’rof: 200)
Tetap Bersikap Adil Meski
Sedang Membenci:
Tidak
membiarkan rasa benci membuat seseorang berbuat zholim atau memberikan
penilaian yang tidak objektif. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ﴾
“Dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.”
(QS. Al-Maidah: 8)
Memandang Kekuatan Sejati
pada Pengendalian Diri:
Mengubah
paradigma bahwa orang kuat bukanlah yang jago berkelahi, melainkan yang mampu
menahan diri. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»
“Orang yang
kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu
menguasai dirinya saat marah.” (HR. Al-Bukhori no. 6114)
Sabar Menghadapi Perilaku
Buruk Pasangan:
Menahan
amarah saat terjadi perselisihan rumah tangga demi menjaga keutuhan keluarga.
Alloh berfirman:
﴿وَعَاشِرُوهُنَّ
بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ
فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا﴾
“Dan
bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai
mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal
Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)
Menjadi Penengah yang
Mendinginkan Suasana:
Tidak ikut
tersulut emosi saat orang lain sedang bertikai, melainkan mendamaikan. Alloh berfirman:
﴿فَاتَّقُوا
اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ﴾
“Oleh sebab
itu bertaqwalah kepada Alloh dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS.
Al-Anfal: 1)
Menyadari Dampak Buruk
Amarah bagi Kesehatan:
Menjaga
emosi agar tetap stabil demi menjaga amanah tubuh yang diberikan Alloh. Rosululloh
ﷺ memberikan wasiat singkat:
«لَا
تَغْضَبْ»
“Janganlah
kamu marah.” (Nasihat ini diulang berkali-kali oleh beliau) (HR. Al-Bukhori
no. 6116)
Memaafkan Sebelum Diminta:
Mencapai
tingkatan tertinggi dalam manajemen emosi, yaitu tidak hanya menahan marah tapi
juga menghapuskan dendam. Alloh berfirman:
﴿فَمَنْ
عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ﴾
“Maka siapa
yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh.” (QS.
Asy-Syuro: 40)
PRINSIP 16: ETIKA DALAM
BERINTERAKSI DAN BERKOMUNIKASI
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ
قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ
عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا
بِالْأَلْقَابِ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan
lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan
(yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling
memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurot: 11)
16.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-16 dalam membangun kepribadian unggul adalah menjaga adab dalam
berinteraksi sosial. Seorang pribadi yang unggul sangat memperhatikan perasaan
orang lain dan menjaga kehormatan sesama. Ayat ini memberikan batasan tegas
dalam berkomunikasi: dilarang merendahkan, mencela, atau memberi julukan yang
menyakitkan hati. Kepribadian unggul menyadari bahwa standar kemuliaan
di sisi Alloh adalah ketaqwaan, bukan rupa, harta, atau status sosial, sehingga
ia tidak merasa lebih baik dari orang lain.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 9-10) yang membahas tentang
mendamaikan perselisihan antar Mu’min adalah bahwa persaudaraan hanya bisa
kokoh jika setiap individu menjaga lisannya dari hal-hal yang memicu keretakan
hubungan. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 12) yang membahas
tentang larangan berprasangka buruk dan ghibah adalah bahwa etika interaksi
harus dijaga baik di depan orangnya maupun di belakangnya. Kepribadian
unggul adalah mereka yang kehadirannya memberikan rasa aman dan nyaman bagi
orang di sekitarnya.
16.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip etika interaksi dan komunikasi dalam
keseharian:
Menghargai Pendapat Orang
Lain dalam Diskusi:
Tidak
meremehkan ide orang lain meskipun berbeda pandangan. Alloh berfirman:
﴿وَجَادِلْهُمْ
بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾
“Dan
bantahlah (berdiskusi) dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl:
125)
Memanggil Orang Lain
dengan Nama yang Disukai:
Menghindari
penggunaan nama ejekan atau singkatan yang merendahkan martabat seseorang. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«بِحَسْبِ
امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ»
“Cukuplah
seseorang dianggap berbuat jahat jika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”
(HR. Muslim no. 2564)
Memberikan Senyuman Saat
Bertemu:
Membangun
kesan positif dan ramah dalam setiap perjumpaan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«تَبَسُّمُكَ
فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»
“Senyummu
di depan wajah saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1956)
Memperhatikan Adab Saat
Bertamu:
Tidak masuk
ke rumah atau ruang pribadi orang lain tanpa izin dan salam. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا
وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu
sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An-Nur: 27)
Menjaga Tinggi Suara Saat
Berbicara:
Tidak
berteriak-teriak yang dapat mengganggu kenyamanan orang di sekitar. Alloh berfirman:
﴿وَاقْصِدْ
فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ﴾
“Dan
sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (QS. Luqman:
19)
Mendahulukan Orang yang
Lebih Tua dalam Penghormatan:
Memberikan
prioritas dan berbicara dengan lebih sopan kepada mereka yang lebih senior. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا»
“Bukan
termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil dan tidak
menghormati yang lebih besar di antara kami.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1920)
Tidak Memotong Pembicaraan
Orang Lain:
Menjadi
pendengar yang baik sebagai bentuk penghargaan terhadap lawan bicara. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ»
“Siapa yang
beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya
(termasuk rekan bicaranya).” (HR. Muslim no. 47)
Menjaga Etika dalam Berkomunikasi
Lewat Pesan Singkat:
Menggunakan
bahasa yang santun dan tidak mengirim pesan di waktu istirahat yang tidak
darurat. Alloh berfirman:
﴿وَقُولُوا
لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾
“Dan
berkatalah kamu kepada manusia dengan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Baqoroh:
83)
Menghindari Berbisik
Berdua di Depan Orang Ketiga:
Menjaga
perasaan orang lain agar tidak merasa dikucilkan atau dicurigai. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
كُنْتُمْ ثَلاَثَةً، فَلاَ يَتَنَاجَى رَجُلاَنِ دُونَ الآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا
بِالنَّاسِ، أَجْلَ أَنْ يُحْزِنَهُ»
“Jika
kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan
temannya, agar tidak menjadikannya sedih.” (HR. Al-Bukhori no. 6290)
Membalas Penghormatan
dengan yang Lebih Baik:
Jika diberi
salam atau kebaikan, ia membalasnya dengan minimal setara atau lebih. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا﴾
“Apabila
kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan
itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan
yang serupa).” (QS. An-Nisa: 86)
PRINSIP 17: MEMBALAS KEBURUKAN
DENGAN KEBAIKAN
﴿وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ
ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا
الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾
“Dan
tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Balaslah (kejahatan itu) dengan cara yang
lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah
telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fusshilat: 34)
17.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-17 dalam membangun kepribadian unggul adalah kemampuan untuk tidak
membalas dendam dan justru memberikan respon positif terhadap perlakuan
negatif. Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa membalas keburukan dengan
keburukan hanya akan memperpanjang rantai kebencian. Ayat ini memberikan sebuah
“resep” sosial yang ajaib: dengan membalas perilaku buruk menggunakan cara yang
lebih baik (ihsan), hati manusia yang keras dapat melunak, dan permusuhan dapat
berubah menjadi persahabatan yang erat. Ini adalah bentuk kemenangan moral yang
paling tinggi.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 33) yang membahas tentang kemuliaan orang
yang berda’wah dan beramal sholih adalah bahwa da’wah tidak akan efektif jika
pelakunya mudah tersinggung atau pendendam. Sedangkan kaitannya dengan ayat
sesudahnya (ayat 35) adalah penegasan bahwa sifat mulia ini tidak akan
diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan orang-orang yang mempunyai
keberuntungan yang besar. Kepribadian unggul adalah mereka yang memiliki
kelapangan dada seluas samudera, yang mampu menampung sampah keburukan orang
lain namun tetap membalasnya dengan mutiara kebaikan.
17.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip membalas keburukan dengan kebaikan dalam
keseharian:
Tetap Berbuat Baik kepada
Kerabat yang Memutus Silaturrohim:
Mendatangi
kerabat yang tidak mau mendatangi kita sebagai bentuk keunggulan akhlaq. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»
“Bukanlah
penyambung silaturrohim itu orang yang membalas kebaikan, tetapi penyambung silaturrohim
adalah orang yang jika hubungan rahimnya diputus, ia tetap menyambungnya.” (HR.
Al-Bukhori no. 5991)
Mendoakan Kebaikan bagi
Orang yang Memfitnah:
Meniru
akhlaq para Nabi ﷺ yang justru mendoakan hidayah
bagi mereka yang menyakiti. Sebagaimana doa Rosululloh ﷺ
saat di Thoif:
«اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ»
“Ya Alloh,
ampunilah kaumku, karena sungguh mereka tidak mengetahui.” (HR. Al-Bukhori
no. 3477 dan Muslim no. 1792)
Memberi Hadiah kepada
Tetangga yang Tidak Menyukainya:
Menggunakan
pendekatan kasih sayang untuk mencairkan ketegangan hubungan bertetangga. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«تَهَادَوْا
تَحَابُّوا»
“Salinglah
memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HHR. Al-Bukhori
dalam Al-Adabul Mufrad no. 594)
Tetap Tersenyum kepada
Orang yang Bermuka Masam:
Tidak
membiarkan suasana hati orang lain mendikte kebaikan kita. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا﴾
“Dan
apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan yang
tidak berguna, mereka lewat dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS.
Al-Furqon: 72)
Membantu Rekan Kerja yang
Pernah Menjatuhkannya:
Saat rekan
tersebut membutuhkan bantuan, pribadi unggul tetap membantu secara
profesional tanpa mengungkit masa lalu. Alloh berfirman:
﴿وَأَنْ
تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ﴾
“Dan
pemaafanmu itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Baqoroh: 237)
Tidak Membalas Cacian di
Media Sosial:
Memilih
untuk tetap menyampaikan data dan fakta secara santun meskipun diserang secara
pribadi. Alloh berfirman:
﴿ادْفَعْ
بِالَّتِي هي أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ﴾
“Balaslah
perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik.” (QS. Al-Mu’minun: 96)
Memaafkan Orang yang
Pernah Menipu:
Jika penipu
tersebut telah bertaubat atau dalam kondisi terdesak, pribadi unggul
lebih memilih memaafkan daripada menuntut dendam. Alloh berfirman:
﴿فَمَنْ
عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ﴾
“Maka siapa
yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh.” (QS.
Asy-Syuro: 40)
Menyapa Terlebih Dahulu
Orang yang Sedang Mendiamkan Kita:
Menyingkirkan
ego demi meraih keberkahan hubungan. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«خَيْرُهُمَا
الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ»
“Dan yang
terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan salam.” (HR.
Al-Bukhori no. 6077)
Tetap Jujur kepada Orang
yang Pernah Mengkhianati Kita:
Tidak
membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan yang sama karena ingin menjaga
prinsip kejujuran. Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَدِّ
الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ»
“Tunaikanlah
amanah kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah kamu mengkhianati orang
yang mengkhianatimu.” (HSR. Abu Dawud no. 3535)
Sabar dan Tetap Melayani
Pelanggan yang Marah:
Dalam dunia
jasa, membalas komplain kasar dengan pelayanan ekstra maksimal. Alloh berfirman:
﴿وَلَمَنْ
صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ﴾
“Tetapi
orang yang bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk urusan
yang diutamakan.” (QS. Asy-Syuro: 43)
PRINSIP 18: KEJUJURAN DALAM SEGALA
KEADAAN
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)
18.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-18 dalam membangun kepribadian unggul adalah kejujuran (Ash-Shidqu).
Kejujuran bukan sekadar berkata apa adanya, melainkan keselarasan total antara
keyakinan hati, ucapan lisan, dan tindakan nyata. Seorang pribadi yang unggul
menjadikan kejujuran sebagai identitas mutlaknya, karena ia menyadari bahwa
kejujuran adalah jalan menuju ketenangan hati dan kemuliaan di sisi Alloh.
Sebaliknya, kedustaan adalah pangkal dari segala kerusakan dan ciri utama
kemunafikan. Kejujuran menuntut keberanian, terutama saat menyampaikan
kebenaran berisiko mendatangkan kerugian duniawi.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 117-118) yang menceritakan tentang
taubatnya tiga orang Shohabat (terutama Ka’ab bin Malik) yang tertinggal dalam
Perang Tabuk adalah bahwa mereka selamat dan diampuni oleh Alloh justru karena
kejujuran mereka mengakui alasan ketidakhadiran mereka tanpa membuat alasan
palsu. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 120) adalah bahwa
kejujuran merupakan modal dasar bagi kesabaran dalam perjuangan. Kepribadian
unggul adalah kepribadian yang lebih memilih menderita karena jujur
daripada bahagia di atas kebohongan.
18.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip kejujuran dalam keseharian:
Jujur dalam Mengakui
Kesalahan Kerja:
Tidak
melemparkan tanggung jawab atau mencari alasan saat melakukan kekeliruan dalam
tugas. Rosululloh ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ
بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ»
“Hendaklah
kamu bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada
kebaikan.” (HR. Muslim no. 2607)
Transparan dalam
Menjelaskan Cacat Barang Dagangan:
Memberitahukan
kekurangan produk kepada pembeli tanpa ada yang disembunyikan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«البَيِّعَانِ
بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي
بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»
“Dua orang
yang berjual beli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur
dan menjelaskan (keadaan barang), maka akan diberkahi jual beli mereka. Jika
keduanya menyembunyikan (cacat) dan berdusta maka barokah transaksinya dicabut.”
(HR. Al-Bukhori no. 2079)
Jujur dalam Pengisian
Laporan Keuangan:
Tidak
melakukan mark-up atau manipulasi angka demi keuntungan pribadi atau
kelompok. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ﴾
“And
janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS.
Al-Baqoroh: 188)
Menyampaikan Informasi Apa
Adanya Tanpa Bumbu Tambahan:
Menjaga
lisan agar tidak melebih-lebihkan cerita demi mendapatkan perhatian orang lain.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«كَفَى
بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»
“Cukuplah
seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar
(tanpa dipastikan kebenarannya).” (HR. Muslim no. 5)
Jujur dalam Memberikan
Penilaian (Testimoni):
Memberikan
ulasan atau kesaksian berdasarkan kenyataan, bukan karena pesanan atau
kepentingan tertentu. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ﴾
“Dan
apabila kamu berbicara, maka berlaku adillah, kendatipun dia adalah
kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)
Memegang Teguh Janji Meski
Terasa Berat:
Konsisten
melakukan apa yang telah diucapkan sebagai bentuk kejujuran lisan. Alloh berfirman:
﴿مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ﴾
“Di antara
orang-orang Mu’min itu ada para lelaki yang menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 23)
Tidak Memalsukan Dokumen
atau Identitas:
Menghindari
segala bentuk pemalsuan surat, tanda tangan, atau data diri untuk kepentingan
apapun. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا»
“Siapa yang
mencurangi kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no. 101)
Jujur dalam Mengaku Tidak
Tahu:
Berani
mengakui keterbatasan ilmu daripada memberikan informasi menyesatkan demi
menjaga gengsi. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS. Al-Isro’: 36)
Jujur dalam Perasaan
kepada Pasangan:
Membangun
keterbukaan dalam rumah tangga tanpa ada rahasia yang merusak kepercayaan
kecuali beberapa rahasia suami terkait pekerjaan dan semisalnya yang tidak
bermanfaat jika diketahui istrinya. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ»
“Kejujuran
adalah ketenangan, sedangkan kedustaan adalah keraguan.” (HSR. At-Tirmidzi
no. 2518)
Berani Jujur Meski
Berisiko Dihukum:
Yakin bahwa
kejujuran akan membawa keselamatan jangka panjang di hadapan Alloh. Rosululloh ﷺ bersabda:
«تَحَرَّوا
الصِّدقَ، وَإِنْ رَأَيْتُمْ أَنَّ فِيهِ الهَلَكَةَ؛ فَإِنَّ فِيهِ النَّجَاةَ»
“Carilah
kejujuran meskipun kalian melihat ada kehancuran di dalamnya, karena
sesungguhnya di dalam kejujuran itulah terdapat keselamatan.” (HR. Ibnu Abid
Dunya dalam Ash-Shomtu no. 446. Ad-Dimyati menyatakan sanadnya bagus tapi
mu’dhol)
PRINSIP 19: KEADILAN DALAM MENILAI
DAN BERTINDAK
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ
أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Alloh,
(ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu
kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil)
itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Maidah: 8)
19.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-19 dalam membangun kepribadian unggul adalah keadilan (adl).
Seorang pribadi yang unggul memiliki integritas untuk tetap berbuat adil, baik
dalam ucapan maupun tindakan, kepada siapa pun—termasuk kepada orang yang ia
benci sekalipun. Keadilan sejati adalah memberikan hak kepada setiap pemiliknya
secara proporsional sesuai aturan Alloh. Ayat ini menegaskan bahwa emosi
negatif seperti kebencian tidak boleh menjadi alasan untuk menzholimi orang
lain atau mengurangi hak mereka. Keadilan adalah barometer kedekatan seseorang
kepada taqwa.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 1-7) yang membahas tentang kesucian
perjanjian, kehalalan makanan, dan pentingnya wudhu adalah bahwa kesucian
lahiriyah dan aturan syariat tidak akan sempurna tanpa tegaknya keadilan
sosial. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 9) adalah janji Alloh
berupa ampunan dan pahala yang besar bagi mereka yang beriman dan beramal sholih,
di mana penegakan keadilan adalah salah satu amal sholih yang paling utama. Kepribadian
unggul adalah kepribadian yang objektif; ia melihat kebenaran sebagai
kebenaran meskipun datang dari musuhnya, dan melihat kesalahan sebagai
kesalahan meskipun dilakukan oleh orang terdekatnya.
19.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip keadilan dalam keseharian:
Memberikan Penilaian
Kinerja Karyawan secara Objektif:
Seorang
manajer memberikan nilai berdasarkan hasil kerja nyata, bukan karena rasa suka
atau tidak suka secara pribadi. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ﴾
“Dan
apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya
dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Bersikap Adil kepada Semua
Anak:
Orang tua
tidak membeda-bedakan kasih sayang atau pemberian materi antara anak yang satu
dengan yang lain. Rosululloh ﷺ bersabda:
«اتَّقُوا
اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلادِكُمْ»
“Bertaqwalah
kepada Alloh dan berlaku adillah di antara anak-anakmu.” (HR. Al-Bukhori no.
2587)
Mengakui Kebaikan Orang
Lain Meski Berbeda Pandangan:
Berani
memuji kelebihan kompetitor atau lawan bicara yang memang benar dan
berkualitas. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ﴾
“Dan
apabila kamu berbicara, maka berlaku adillah, kendatipun dia adalah
kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)
Menimbang Informasi dengan
Berimbang (Cover both sides):
Tidak
langsung menghakimi satu pihak sebelum mendengar penjelasan dari pihak lainnya.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
تَقَاضَى إِلَيْكَ رَجُلَانِ، فَلَا تَقْضِ لِلأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلَامَ الآخَرِ،
فَسَوْفَ تَدْرِي كَيْفَ تَقْضِي»
“Jika dua
orang meminta keputusan hukum kepadamu, janganlah kamu memutuskan untuk orang
pertama sampai kamu mendengar perkataan orang kedua. Maka kamu akan tahu
bagaimana memutuskan terbaik.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1331)
Adil dalam Membagi Waktu
Antara Pekerjaan dan Keluarga:
Memberikan
hak tubuh untuk istirahat, hak keluarga untuk ditemani, dan hak Alloh untuk
disembah. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا،
فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ»
“Sungguh
Robbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki
hak atasmu; maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya
masing-masing.” (HR. Al-Bukhori no. 1968)
Membayar Hutang Sesuai
Jumlah dan Waktu yang Disepakati:
Tidak
mengurangi nilai atau menunda pembayaran yang merupakan hak orang lain. Alloh berfirman:
﴿أَوْفُوا
الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ﴾
“Sempurnakanlah
takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)
Tidak Membela Kerabat yang
Berbuat Zholim:
Tetap
berdiri di atas kebenaran meskipun harus memberikan kesaksian yang memberatkan
keluarga sendiri. Alloh berfirman:
﴿كُونُوا
قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ
وَالْأَقْرَبِينَ﴾
“Jadilah
kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Alloh, walaupun terhadap dirimu
sendiri atau ibu bapakmu dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)
Memberikan Upah yang Layak
kepada Pekerja:
Menyesuaikan
beban kerja dengan kompensasi yang adil tanpa ada unsur eksploitasi. Rosululloh
ﷺ bersabda dalam Hadits Qudsi bahwa Alloh menjadi musuh bagi:
«رَجُلٌ
اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ»
“Seseorang
yang mempekerjakan buruh, buruh itu telah memenuhi tugasnya namun ia tidak
memberikan upahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 2227)
Bersikap Proporsional
dalam Menanggapi Masalah:
Tidak
berlebihan dalam memberikan hukuman atau respon atas sebuah kesalahan. Alloh berfirman:
﴿وَجَزَاءُ
سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا﴾
“Dan
balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (QS. Asy-Syuro: 40)
Menjaga Keadilan dalam
Berkomentar di Ruang Publik:
Tidak ikut
melakukan perundungan massal (mass bullying) tanpa mengetahui fakta yang
sebenarnya secara utuh. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ﴾
“Sungguh
Alloh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)
PRINSIP 20: RENDAH HATI DAN
MENJAUHKAN DIRI DARI KESOMBONGAN
﴿وَعِبَادُ
الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ
قَالُوا سَلَامًا﴾
“Adapun
hamba-hamba Robb Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di
bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan
kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung
keselamatan.” (QS. Al-Furqon: 63)
20.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-20 dalam membangun kepribadian unggul adalah rendah hati (tawadhu).
Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa segala kelebihan yang ia
miliki—baik itu harta, ilmu, jabatan, maupun rupa—hanyalah titipan dari Alloh
yang bisa diambil kapan saja. Ketawadhuan tercermin dari cara seseorang membawa
diri; ia tenang, bersahaja, dan tidak merasa perlu menunjukkan kehebatan di depan
manusia. Sebaliknya, kesombongan (kibr) adalah penghalang utama masuk Jannah
dan penyebab kehancuran karakter karena membuat seseorang menolak kebenaran dan
meremehkan sesama.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 60-62) yang membahas tentang
keengganan orang kafir untuk bersujud kepada Alloh meskipun diperlihatkan
tanda-tanda kebesaran-Nya di langit dan bumi adalah sebagai pembeda yang
kontras. Jika orang kafir sombong terhadap Penciptanya, maka hamba sejati
(Ibadur Rohman) justru tunduk dan rendah hati. Sedangkan kaitannya dengan
ayat-sesudahnya (ayat 64) yang membahas tentang kebiasaan mereka menghabiskan
malam dengan sujud dan berdiri adalah bahwa ketawadhuan di hadapan manusia
lahir dari ketundukan yang total di hadapan Alloh pada waktu malam. Kepribadian
unggul adalah yang semakin berisi semakin merunduk.
20.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip rendah hati dan menjauhkan diri dari
kesombongan dalam keseharian:
Menerima Kebenaran
Meskipun Datang dari Anak Kecil atau Bawahan:
Tidak
merasa gengsi untuk mengakui pendapat orang lain yang lebih benar. Rosululloh ﷺ bersabda mengenai definisi sombong:
«الْكِبْرُ
بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Sombong
adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Bergaul dengan Semua
Kalangan Tanpa Membedakan Status:
Mau duduk
dan makan bersama orang-orang yang secara ekonomi berada di bawahnya. Alloh berfirman:
﴿وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ
وَجْهَهُ﴾
“Dan
bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Robbnya di pagi dan
senja hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Tidak Suka Memamerkan
Pencapaian (Self-Promotion):
Tetap
bekerja dalam diam tanpa perlu haus akan pengakuan dan pujian manusia. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ»
“Sungguh
Alloh mencintai hamba yang bertaqwa, kaya (jiwanya), dan tidak menonjolkan diri
(tersembunyi/ikhlas).” (HR. Muslim no. 2965)
Menghindari Pakaian yang
Bertujuan untuk Kesombongan:
Berpakaian
rapi namun tidak berlebihan dengan niat ingin merasa lebih hebat dari orang
lain. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا، أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ، ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا»
“Siapa yang
memakai pakaian syuhroh (untuk ketenaran/kesombongan) di dunia, niscaya
Alloh akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari Qiyamah lalu ia
mengorbarkan api di Neraka.” (HHR. Ibnu Majah no. 3607)
Menghargai Jasa Orang Lain
dalam Kesuksesannya:
Menyadari
bahwa keberhasilannya adalah kerja tim, setelah taufiq dari Alloh, bukan karena
kehebatan dirinya semata. Alloh berfirman:
﴿وَمَا
بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ﴾
“Dan segala
ni’mat yang ada padamu, maka dari Allohlah datangnya.” (QS. An-Nahl: 53)
﴿وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللَّهَ
بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾
“Kalian
janganlah saling melupakan kabaikan di antara kalian. Sungguh Alloh Maha
Melihat apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Baqoroh: 237)
Meminta Maaf Terlebih
Dahulu Saat Terjadi Konflik:
Menurunkan
ego demi keridhoan Alloh meskipun merasa berada di pihak yang benar. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«وَمَا
تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»
“Dan
tidaklah seseorang bersikap rendah hati karena Alloh, melainkan Alloh akan
mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Tidak Membicarakan
Kehebatan Diri Sendiri:
Menghindari
menceritakan amal ibadah atau kelebihan diri di depan orang lain. Alloh berfirman:
﴿فَلَا
تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Maka
janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia paling mengetahui tentang orang yang
bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)
Menunjukkan Sikap Ramah
Saat Berjalan dan Bertemu Orang:
Tidak
memalingkan muka atau bersikap angkuh saat berinteraksi. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا﴾
“Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah
kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)
Melayani Keperluan
Keluarga Sendiri:
Meskipun
memiliki jabatan tinggi, ia tidak segan membantu urusan rumah tangga
sebagaimana teladan Nabi ﷺ. Dari Aisyah saat ditanya
tentang apa yang dilakukan Nabi ﷺ
di rumah, ia menjawab:
«كَانَ
يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ»
“Beliau (Nabi
ﷺ) senantiasa membantu pekerjaan keluarganya.” (HR. Al-Bukhori
no. 676)
Menyadari Asal Kejadian
Manusia yang Hina:
Mengingat
bahwa manusia diciptakan dari tanah agar tidak merasa sombong di atas bumi.
Alloh berfirman:
﴿مِنْهَا
خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ﴾
“Dari bumi
(tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu
dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thoha:
55)
PRINSIP 21: KEPEDULIAN SOSIAL DAN
GEMAR BERBAGI
﴿أَرَأَيْتَ
الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ * فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ * وَلَا يَحُضُّ
عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ﴾
“Tahukah
kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak
yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)
21.1 Makna Ayat
Prinsip
ke-21 dalam membangun kepribadian unggul adalah kepedulian sosial.
Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa kualitas keimanannya tidak hanya
diukur dari hubungannya dengan Alloh (hablum minalloh), tetapi juga dari
dampak keberadaannya bagi manusia lain (hablum minannas). Ayat ini
memberikan peringatan yang sangat keras bahwa pengabaian terhadap kaum yang
lemah, seperti anak yatim dan fakir miskin, merupakan salah satu indikator
kedustaan dalam beragama. Kepribadian unggul adalah mereka yang memiliki
mata yang jeli melihat kesulitan orang lain dan tangan yang ringan untuk
mengulurkan bantuan.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sesudahnya (ayat 4-7) yang membahas tentang
kecelakaan bagi orang-orang yang Sholat namun lalai dan riya’ adalah untuk
menegaskan bahwa ibadah ritual yang tidak melahirkan kepedulian sosial adalah
ibadah yang hampa. Sholat yang benar seharusnya mencegah pelakunya dari
kekikiran dan sifat enggan menolong (al-ma’un). Sedangkan kaitannya
dengan surat sebelumnya (QS. Al-Quroisy) adalah bahwa rasa aman dan
kenyang yang diberikan Alloh kepada suatu kaum seharusnya disyukuri dengan cara
berbagi kepada mereka yang belum mendapatkannya. Kepribadian unggul
adalah yang paling besar manfaatnya bagi sesama.
21.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip kepedulian sosial dan gemar berbagi
dalam keseharian:
Menyisihkan Sebagian
Penghasilan untuk Sedekah Rutin:
Tidak
menunggu kaya untuk berbagi, namun menjadikan berbagi sebagai bagian dari gaya
hidup. Alloh berfirman:
﴿الَّذِينَ
يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS. Ali
Imron: 134)
Menyantuni dan Menyayangi
Anak Yatim:
Memberikan
perhatian, pendidikan, atau bantuan materi kepada mereka yang kehilangan
pelindung. Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَأَنَا
وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى،
وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
“Aku dan
orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di Jannah seperti ini.” Beliau
memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dengan sedikit
merenggangkannya. (HR. Al-Bukhori no. 5304)
Memberi Makan Tetangga
yang Kelaparan:
Memiliki
kepekaan terhadap kondisi orang-orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ»
“Bukanlah
seorang Mu’min, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan (di
sampingnya).” (HSR. Al-Bukhori dalam Al-Mufrod no. 112)
Menjadi Relawan dalam
Kegiatan Kemanusiaan:
Menggunakan
tenaga dan waktu untuk membantu korban bencana atau masyarakat yang
membutuhkan. Alloh berfirman:
﴿وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ﴾
“Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” (QS.
Al-Maidah: 2)
Meminjamkan Barang atau
Harta kepada yang Membutuhkan:
Tidak kikir
terhadap fasilitas yang dimiliki jika orang lain sangat memerlukannya. Alloh
mencela orang yang:
«وَيَمْنَعُونَ
الْمَاعُونَ»
“Dan enggan
(memberikan) bantuan (barang yang dibutuhkan orang lain).” (QS. Al-Ma’un: 7)
Memudahkan Urusan Orang
Lain yang Sedang Kesulitan:
Membantu
memberikan solusi, rekomendasi kerja, atau pinjaman tanpa bunga kepada rekan
yang terdesak. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً
مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»
“Siapa yang
melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mu’min, maka Alloh akan
melapangkan darinya satu kesusahan di hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 2699)
Menyingkirkan Gangguan di
Jalan:
Bentuk
kepedulian sosial yang sederhana namun bernilai iman demi keamanan pengguna
jalan lainnya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَيُمِيطُ
الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ»
“Dan
menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhori no. 2989)
Menjenguk Orang Sakit dan
Menghiburnya:
Memberikan
dukungan moral kepada saudara yang sedang diuji dengan kesehatan yang menurun. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«عُودُوا
الْمَرِيضَ»
“Jenguklah
orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhori no. 5649)
Mengajak Orang Lain untuk
Ikut Berderma:
Tidak hanya
berbagi sendiri, tapi juga menggerakkan lingkungan untuk peduli pada masalah
sosial. Alloh berfirman mencela orang mendustakan agama:
﴿وَلَا
يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ﴾
“Dan tidak
mendorong memberi makan orang miskin (adalah ciri pendusta agama).” (QS.
Al-Ma’un: 3)
Berbagi Ilmu dan
Keterampilan secara Gratis:
Membantu
orang lain agar memiliki kemampuan mandiri sebagai bentuk sedekah jariyah. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«خَيْرُكُمْ
مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
“Sebaik-baik
kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhori
no. 5027)
PRINSIP 22: ISTIQOMAH DAN
KETEGUHAN PRINSIP
﴿إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka (istiqomah), maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan
berkata): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan
bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Jannah yang telah dijanjikan kepadamu.’”
(QS. Fusshilat: 30)
22.1 Makna Ayat
Prinsip ke-22
dalam membangun kepribadian unggul adalah istiqomah. Istiqomah berarti
tetap tegak di atas jalan yang benar, tidak bergeser meskipun diterjang badai
ujian, dan tidak goyah meskipun dirayu oleh kesenangan dunia yang menipu.
Seorang pribadi yang unggul tidak hanya baik saat kondisi mudah, tetapi ia
tetap memegang prinsipnya saat kondisi menjadi sulit atau saat ia sendirian.
Istiqomah adalah pembeda antara pejuang sejati dengan mereka yang hanya ikut-ikutan.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 26-29) yang membahas tentang perilaku
orang-orang kafir yang sengaja berbuat gaduh saat Al-Quran dibacakan adalah
sebagai penawar mental. Alloh menjanjikan ketenangan dari rasa takut dan sedih
bagi mereka yang tetap istiqomah di tengah lingkungan yang tidak mendukung atau
bahkan memusuhi kebenaran. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat
31-32) adalah jaminan bahwa Alloh adalah pelindung mereka di dunia dan Akhiroh.
Kepribadian unggul adalah kepribadian yang “sekali layar terkembang,
pantang surut ke belakang” dalam hal ketaatan kepada Alloh.
22.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip istiqomah dan keteguhan prinsip dalam
keseharian:
Tetap Menjaga Sholat
Berjamaah Meskipun Sibuk:
Jadwal
pekerjaan yang padat tidak menjadikannya alasan untuk meninggalkan kebiasaan
baiknya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«قُلْ
آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ»
“Katakanlah:
‘Aku beriman kepada Alloh’, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim no. 38)
Konsisten Berbuat Jujur
Meskipun Orang Lain Curang:
Tidak
ikut-ikutan arus lingkungan yang rusak karena ia memiliki standar nilai yang
tidak bisa ditawar. Alloh berfirman:
﴿فَاسْتَقِمْ
كَمَا أُمِرْتَ﴾
“Maka
tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqomah), sebagaimana diperintahkan
kepadamu.” (QS. Hud: 112)
Mempertahankan Hijroh dan
Perbaikan Diri:
Setelah
memutuskan berhenti dari kebiasaan buruk, ia menutup rapat pintu masa lalu dan
tidak tergoda untuk kembali. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«أَحَبُّ
الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
“Amalan
yang paling dicintai Alloh adalah yang paling rutin (konsisten) meskipun
sedikit.” (HR. Al-Bukhori no. 6465)
Tetap Santun Meskipun
Dihadapi dengan Kekasaran:
Memegang
prinsip akhlaq mulia sebagai identitas diri, bukan reaksi atas perilaku orang
lain. Alloh berfirman:
﴿فَلِذَٰلِكَ
فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ﴾
“Maka
karena itu serulah (mereka) dan tetaplah (istiqomah) sebagaimana diperintahkan
kepadamu.” (QS. Asy-Syuro: 15)
Menjaga Kualitas Kerja
Tanpa Perlu Diawasi:
Istiqomah
dalam memberikan yang terbaik karena ia merasa selalu diawasi oleh Alloh
(muroqobah). Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا
هُمْ يَحْزَنُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka istiqomah,
maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih
hati.” (QS. Al-Ahqof: 13)
Teguh Menolak Riba dan
Sogokan:
Meskipun
berkali-kali ditawarkan dan dianggap lumrah oleh rekan kerja, ia tetap memegang
teguh prinsip kehalalan harta. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«شَيَّبَتْنِي
هُودٌ»
“Surat
Hud telah membuatku beruban (karena di dalamnya ada perintah istiqomah yang
berat).” (HSR. At-Tirmidzi no. 3297)
Sabar dalam Menghadapi
Olokan atau Bullying:
Tidak goyah
menjalankan sunnah meskipun dianggap asing atau aneh oleh lingkungan sekitar. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«بَدَأَ
الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
“Islam
bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula, maka
beruntunglah orang-orang yang asing tersebut.” (HR. Muslim no. 145)
Rutin Bersedekah Meskipun
Nilainya Kecil:
Menjaga
keterikatan hati dengan kaum lemah secara terus-menerus tanpa terputus. Alloh berfirman:
﴿وَاعْبُدْ
رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾
“Dan
sembahlah Robbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)
Memegang Rahasia dan Janji
Jangka Panjang:
Tidak
membocorkan amanah meskipun hubungan dengan orang tersebut sudah tidak sedekat
dulu. Alloh berfirman:
﴿الَّذِينَ
هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ﴾
“Dan
orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun:
8)
Menyiapkan Mental untuk
Husnul Khotimah:
Kesadaran
bahwa akhir hidup bergantung pada kebiasaan hidup membuat ia takut untuk
melanggar prinsip kebaikan walau sekejap. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّمَا
الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ»
“Sungguh
amalan itu (dinilai) berdasarkan penutupnya.” (HR. Al-Bukhori no. 6607)
Maka
lengkaplah sudah struktur kepribadian unggul yang dimulai dari niat (ikhlas),
dijalankan dengan proses (aksi nyata), dan diikat dengan keteguhan (istiqomah).
PRINSIP 23: KETELITIAN DALAM
MENERIMA INFORMASI
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا
قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot: 6)
23.1 Makna Ayat
Prinsip ke-23
dalam membangun kepribadian unggul adalah sikap kritis dan teliti
terhadap informasi (tabayyun). Seorang pribadi yang unggul tidak mudah
terprovokasi oleh berita yang beredar, terutama di era kecepatan informasi
seperti sekarang. Ayat ini memberikan prosedur tetap bagi setiap Mu’min: ketika
menerima sebuah berita, terutama yang berpotensi menimbulkan konflik atau
merugikan pihak lain, wajib dilakukan cek dan ricek. Ketelitian ini adalah
bentuk perlindungan diri dari perbuatan zholim yang didasari oleh ketidaktahuan
(jahalah) yang berujung pada penyesalan yang mendalam.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 4-5) yang membahas tentang adab memanggil
Nabi ﷺ dari luar kamar adalah bahwa ketidaksabaran dan kekurang-adaban
dalam berkomunikasi seringkali menjadi pintu masuk bagi berita yang salah.
Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 7-8) adalah peringatan bahwa
keberadaan Rosululloh ﷺ di tengah mereka seharusnya
membuat mereka lebih berhati-hati, karena Alloh senantiasa mengawasi dan
memberikan petunjuk. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang
menjadikan fakta sebagai landasan bicara, bukan sekadar “katanya”.
23.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip ketelitian dalam menerima informasi
dalam keseharian:
Melakukan Verifikasi
Sebelum Membagikan (Share) Berita:
Tidak
terburu-buru menyebarkan informasi di grup percakapan sebelum yakin akan
kebenarannya. Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ
أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ﴾
“Dan
apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan,
mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rosul dan
Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui
kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka.” (QS. An-Nisa: 83)
Mendengar Penjelasan dari
Dua Belah Pihak:
Saat
terjadi konflik antar teman atau rekan kerja, ia tidak memihak sebelum
mendengar kronologi secara utuh. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِذَا
تَقَاضَى إِلَيْكَ رَجُلَانِ، فَلَا تَقْضِ لِلأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلَامَ الآخَرِ»
“Jika dua
orang meminta keputusan hukum kepadamu, janganlah kamu memutuskan untuk orang
pertama sampai kamu mendengar perkataan orang kedua.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1331)
Tidak Mudah Percaya pada
Gosip (Ghibah):
Menutup
telinga dari pembicaraan yang bertujuan menjatuhkan karakter seseorang tanpa
bukti. Alloh berfirman:
﴿لَوْلَا
إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا﴾
“Mengapa di
waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mu’min laki-laki dan
perempuan tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri?” (QS.
An-Nur: 12)
Mengecek Legalitas dan
Kehalalan Produk:
Teliti
dalam membaca label atau asal-usul barang sebelum membeli untuk memastikan
kesuciannya. Alloh berfirman:
﴿فَلْيَنْظُرِ
الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ﴾
“Maka hendaklah
manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)
Waspada Terhadap Tawaran
Investasi yang Tidak Masuk Akal:
Meneliti
skema bisnis agar tidak terjebak dalam penipuan atau praktik riba yang
terselubung. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan
jalan yang batil.” (QS. Al-Baqoroh: 188)
Memastikan Kebenaran
Hadits Sebelum Disampaikan:
Hanya
menyampaikan dalil yang telah dipastikan keshohihannya agar tidak berbohong
atas nama Nabi ﷺ. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ»
“Siapa yang
menceritakan dariku suatu hadits yang ia duga bahwa itu dusta, maka ia termasuk
salah seorang pendusta.” (HR. Muslim dalam Muqoddimah no. 1)
Meneliti Syarat dan
Ketentuan (S&K) dalam Perjanjian:
Membaca
dengan seksama setiap butir akad atau kontrak sebelum menandatanganinya. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji (akad/perjanjian) itu.” (QS.
Al-Maidah: 1)
Menilai Seseorang
Berdasarkan Fakta, Bukan Prasangka:
Tidak
melabeli orang lain hanya berdasarkan “desas-desus” yang belum tentu benar.
Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka.” (QS.
Al-Hujurot: 12)
Mengonfirmasi Instruksi
Atasan agar Tidak Salah Langkah:
Meminta
kejelasan jika ada arahan yang ambigu dalam pekerjaan agar amanah tertunaikan
dengan tepat. Rosululloh ﷺ bersabda:
«التُّؤَدَةُ
فِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ إِلَّا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ»
“Sikap
pelan-pelan (tidak tergesa-gesa) dalam segala sesuatu itu baik, kecuali dalam
beramal Akhirat.” (HSR. Abu Ya’la no. 792)
Menyimpan Rahasia yang
Belum Layak Dipublikasi:
Teliti
dalam memilah mana informasi yang bersifat konsumsi publik dan mana yang
bersifat privat. Rosululloh ﷺ bersabda:
«اسْتَعِينُوا
عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ؛ فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ»
“Bantulah
(kelancaran) hajat-hajat kalian dengan menyembunyikannya (merahasiakannya),
karena setiap orang yang memiliki ni’mat ada orang yang hasad.” (HSR.
Ath-Thobroni. Shohihul Jami no. 943)
PRINSIP 24: KESABARAN YANG AKTIF
DAN PRODUKTIF
﴿وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾
“Dan saling
menasihati dalam kebenaran serta saling menasihati dalam kesabaran.” (QS.
Al-Ashr: 3)
24.1 Makna Ayat
Prinsip ke-24
dalam membangun kepribadian unggul adalah kesabaran (shobr).
Namun, sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha atau diam tertindas. Sabar adalah
menahan diri agar tetap istiqomah dalam menjalankan ketaatan, menahan diri dari
godaan maksiat, dan menahan diri agar tidak mengeluh saat menghadapi ujian
pahit. Sabar yang unggul adalah sabar yang aktif—yakni tetap produktif dan
terus berjuang meskipun hasilnya belum terlihat. Tanpa kesabaran, segala amal sholih
akan terhenti di tengah jalan dan manusia akan terjerumus ke dalam kerugian
yang nyata.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 1-2) adalah penegasan bahwa seluruh
manusia berada dalam kerugian seiring berjalannya waktu, kecuali mereka yang
memiliki empat pilar keselamatan: iman, amal sholih, serta komitmen sosial
untuk saling menjaga dalam kebenaran dan kesabaran. Kesabaran diletakkan
setelah kebenaran, karena memegang teguh kebenaran pasti akan menemui tantangan
yang membutuhkan napas panjang. Kepribadian unggul adalah kepribadian
yang tidak mengenal kata menyerah sebelum mencapai garis finish yang diridhoi
Alloh.
24.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip kesabaran yang aktif dalam keseharian:
Sabar dalam Menjalankan
Ibadah yang Rutin:
Tetap teguh
melaksanakan Sholat malam atau puasa sunnah meskipun tubuh terasa lelah. Alloh berfirman:
﴿رَبُّ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ﴾
“Robb
langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan
berteguh hatilah (bersabarlah) dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Maryam: 65)
Menahan Diri dari
Keuntungan Harom di Tengah Kesulitan:
Pribadi
unggul lebih
memilih bersabar dalam kekurangan daripada mengambil harta riba atau hasil
menipu. Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَأْتِي
عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»
“Akan
datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka di atas
agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2260)
Sabar dalam Meniti Karier
dari Bawah:
Tidak
menempuh jalan pintas yang menyimpang, melainkan meni’mati setiap proses
pembelajaran dengan tekun. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga.” (QS. Ali Imron: 200)
Tetap Berbuat Baik
Meskipun Belum Dihargai:
Terus
memberikan manfaat bagi organisasi atau lingkungan tanpa surut semangat karena
kurangnya apresiasi. Alloh berfirman:
﴿وَاصْبِرْ
فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan
bersabarlah, karena sungguh Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang yang
berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 115)
Mengendalikan Lisan Saat
Ditimpa Musibah Spontan:
Menahan
diri dari ucapan kasar atau menyalahkan takdir pada detik pertama ujian datang.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا
الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى»
“Sesungguhnya
sabar itu (terlihat) pada hentakan (ujian) yang pertama.” (HR. Al-Bukhori
no. 1283)
Sabar dalam Menuntut Ilmu
yang Sulit:
Tidak mudah
menyerah saat menghadapi pelajaran yang rumit, melainkan terus mengulanginya
hingga paham. Sebagaimana kisah Nabi Musa saat belajar kepada Nabi Khidhir:
﴿قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا
وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا﴾
“Dia (Musa)
berkata: ‘In syaa Alloh engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan
aku tidak akan menentang urusanmu.’” (QS. Al-Kahfi: 69)
Menjaga Keteguhan Hati
Saat Menghadapi Penyakit Kronis:
Tetap
berikhtiar mencari pengobatan sambil hati ridho dengan ketentuan Alloh. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَا
أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ»
“Tidaklah
seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada
kesabaran.” (HR. Al-Bukhori no. 1469)
Sabar dalam Mendidik Anak
dan Keluarga:
Menghadapi
tingkah laku anggota keluarga dengan kepala dingin dan nasihat yang lembut
berulang kali. Alloh berfirman:
﴿وَأْمُرْ
أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا﴾
“Dan
perintahkanlah keluargamu mendirikan Sholat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya.” (QS. Thoha: 132)
Menahan Emosi dalam
Interaksi Sosial:
Bersabar
menghadapi gangguan tetangga atau teman yang jahil dengan tetap menjaga adab. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ
الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»
“Seorang Mu’min
yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka adalah lebih baik
daripada orang Mu’min yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak pula sabar
atas gangguan mereka.” (HSR. Ibnu Abi Syaibah no. 19, At-Tirmidzi no. 2507)
Sabar dalam Menunggu Datangnya
Pertolongan Alloh:
Tidak
tergesa-gesa menyimpulkan bahwa doa tidak dikabulkan, melainkan terus berdoa
dengan penuh harap. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«يُسْتَجَابُ
لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ»
“Akan
dikabulkan doa salah seorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa
(ingin cepat dikabulkan).” (HR. Al-Bukhori no. 6340)
PRINSIP 25: SYUKUR SEBAGAI
PENGGERAK PRODUKTIVITAS
﴿وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾
“Dan
(ingatlah) ketika Robbmu memaklumkan: ‘Sungguh jika kamu bersyukur, niscaya Aku
akan menambah (ni’mat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka
sungguh azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrohim: 7)
25.1 Makna Ayat
Prinsip ke-25
dalam membangun kepribadian unggul adalah syukur. Seorang pribadi yang
unggul menyadari bahwa syukur bukan sekadar ucapan lisan “Alhamdulillah”,
melainkan sebuah kesadaran hati yang diikuti dengan penggunaan seluruh potensi ni’mat
untuk ketaatan kepada Alloh. Syukur adalah penggerak produktivitas; orang yang
bersyukur akan merasa tenang dan bersemangat untuk berkarya lebih baik karena
ia merasa dicukupkan oleh Alloh. Ayat ini menegaskan janji Alloh tentang
pertambahan ni’mat bagi mereka yang bersyukur, sekaligus peringatan keras bagi
mereka yang kufur (mengingkari ni’mat) bahwa keluh kesah dan ketidakpuasan
hanya akan mendatangkan kesempitan hidup.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 6) yang berisi peringatan Nabi Musa
kepada kaumnya tentang ni’mat pembebasan dari zholimnya Fir’aun adalah untuk
menunjukkan bahwa setiap perubahan kondisi menjadi lebih baik harus diiringi
dengan komitmen syukur agar ni’mat tersebut langgeng. Sedangkan kaitannya
dengan ayat sesudahnya (ayat 8) adalah penegasan bahwa jika seluruh manusia di
bumi kafir sekalipun, Alloh tetap Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Kepribadian
unggul adalah yang matanya lebih fokus pada apa yang ia miliki daripada apa
yang belum ia dapatkan.
25.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip syukur sebagai penggerak produktivitas
dalam keseharian:
Menggunakan Waktu Sehat
untuk Amal Bermanfaat:
Tidak
menunda pekerjaan atau ibadah saat fisik masih kuat sebagai bentuk syukur atas
kesehatan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«اغْتَنِمْ
خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: ... وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ»
“Manfaatkanlah
lima perkara sebelum datang lima perkara: ... sehatmu sebelum sakitmu, dan
luangmu sebelum sibukmu.” (HSR. Al-Hakim no. 7846)
Menjaga dan Merawat Barang
yang Dimiliki:
Merawat
kendaraan, alat kerja, atau rumah dengan baik sebagai bentuk penghargaan atas
fasilitas yang Alloh titipkan. Alloh berfirman:
﴿اعْمَلُوا
آلَ دَاوُودَ شُكْرًا﴾
“Bekerjalah
wahai keluarga Dawud untuk bersyukur.” (QS. Saba: 13)
Berterima Kasih atas
Kebaikan Manusia:
Menyadari
bahwa bantuan orang lain adalah perantara ni’mat Alloh yang harus diapresiasi. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَنْ
لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللهَ»
“Siapa
yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, ia tidak bersyukur
kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1954)
Menghindari Keluh Kesah di
Media Sosial:
Menampilkan
sisi positif dan motivasi daripada menyebarkan energi negatif atau
ketidakpuasan terhadap hidup. Alloh berfirman:
﴿وَأَمَّا
بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ﴾
“Dan
terhadap ni’mat Robbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Ad-Dhuha: 11)
Bersedekah Saat Mendapat
Keuntungan:
Membagi
sebagian kebahagiaan materi kepada yang membutuhkan sebagai bukti syukur yang
nyata. Alloh berfirman:
﴿لَنْ
تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾
“Kamu tidak
akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian
harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imron: 92)
Melakukan Sholat Syukur
atau Sujud Syukur:
Ekspresi
penghambaan secara fisik saat mendengar kabar gembira atau meraih pencapaian.
Sebagaimana diceritakan oleh para Shohabat:
«أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ
أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ»
“Sungguh Nabi
ﷺ apabila datang kepadanya urusan yang menggembirakan, beliau
tersungkur sujud syukur kepada Alloh.” (HSR. Abu Dawud no. 2774)
Tidak
Membanding-bandingkan Nasib dengan yang Lebih Atas:
Fokus
melihat ke bawah dalam urusan dunia agar hati tetap lapang dan puas. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«انْظُرُوا
إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ
أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ»
“Lihatlah
kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat kepada orang yang di
atasmu. Hal itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan ni’mat Alloh atasmu.” (HR.
Muslim no. 2963)
Meni’mati Hidup Sederhana
Tanpa Berhutang untuk Gaya Hidup:
Syukur
membuatnya merasa cukup (qona’ah) dan terhindar dari perilaku boros. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ﴾
“Sungguh
orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon.” (QS. Al-Isro’:
27)
Mengoptimalkan Kecerdasan
untuk Membantu Umat:
Bentuk
syukur atas ni’mat akal adalah dengan menggunakannya untuk memecahkan masalah
orang lain. Rosululloh ﷺ bersabda:
«كُلُّ
مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ»
“Setiap
kebajikan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhori no. 6021)
Menjaga Sholat Lima Waktu
Sebagai Bentuk Syukur Pokok:
Sebagaimana
Nabi ﷺ yang Sholat malam hingga kakinya bengkak, ketika ditanya beliau
menjawab:
«أَفَلَا
أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا»
“Tidakkah
patut aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Al-Bukhori no. 1130)
PRINSIP 26: TAWAKKAL SETELAH
IKHTIAR MAKSIMAL
﴿فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا
مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴾
“Maka
berkat rohmat Alloh engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk
mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila
engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh. Sungguh,
Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. Ali Imron: 159)
26.1 Makna Ayat
Prinsip ke-26
dalam membangun kepribadian unggul adalah tawakkal. Seorang pribadi yang
unggul memahami bahwa tugasnya hanyalah berproses dan berusaha (ikhtiar),
sedangkan hasil akhir adalah hak khusus Alloh. Tawakkal bukan berarti diam
berpangku tangan menunggu keajaiban, melainkan menyerahkan beban pikiran dan
kekhawatiran kepada Alloh setelah seluruh daya upaya dilakukan. Ayat ini
memberikan urutan manajemen kerja yang sempurna: diawali dengan sikap lemah
lembut dan empati, diikuti dengan musyawarah untuk mengambil keputusan terbaik,
kemudian pemulatan tekad (azam), dan diakhiri dengan penyerahan diri secara
total kepada Alloh.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 152-158) yang membahas tentang
dinamika Perang Uhud, di mana terjadi kekalahan dan ujian mental bagi kaum
Muslimin, adalah sebagai obat penawar jiwa. Alloh mengajarkan bahwa kegagalan
atau keberhasilan sebuah strategi harus dikembalikan kepada kehendak-Nya agar
tidak muncul penyesalan yang merusak iman. Sedangkan kaitannya dengan ayat
sesudahnya (ayat 160) adalah penegasan bahwa jika Alloh menolong, tidak ada
yang bisa mengalahkan, dan jika Alloh membiarkan, tidak ada yang bisa menolong.
Kepribadian unggul adalah kepribadian yang tetap tenang meskipun dunia
berguncang, karena sandarannya adalah Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati.
26.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip tawakkal setelah ikhtiar maksimal dalam
keseharian:
Menyiapkan Strategi Bisnis
yang Matang Lalu Berdoa:
Melakukan
riset pasar dan manajemen risiko secara detail, namun tidak mendewakan akalnya
sendiri dalam menentukan keuntungan. Alloh berfirman:
﴿وَمَنْ
يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾
“Dan siapa
yang bertawakkal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS.
Ath-Tholaq: 3)
Belajar Sungguh-sungguh
Sebelum Ujian Tanpa Rasa Cemas:
Seorang
pelajar menunaikan kewajiban belajarnya, lalu tidur dengan tenang menyerahkan
hasil nilai kepada ketetapan Alloh. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا
يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
“Seandainya
kalian bertawakkal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan
diberi rizqi sebagaimana burung diberi rizqi. Ia berangkat di pagi hari dalam
keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi
no. 2344)
Mengunci Kendaraan Sebelum
Masuk ke Masjid:
Mempraktikkan
pengamanan fisik sebagai bagian dari syariat sebelum menyerahkan penjagaan
kepada Alloh. Rosululloh ﷺ bersabda kepada seseorang
yang meninggalkan untanya tanpa diikat:
«اعْقِلْهَا
وَتَوَكَّلْ»
“Ikatlah
untamu, kemudian bertawakkallah.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2517)
Tetap Berusaha Mencari
Nafkah Meski Kondisi Ekonomi Sulit:
Tidak putus
asa dan tetap bergerak menjemput sebab-sebab rizqi dengan keyakinan Alloh akan
memberi jalan keluar. Alloh berfirman:
﴿وَعَلَى
اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾
“Dan hanya
kepada Allohlah hendaknya orang-orang Mu’min bertawakkal.” (QS. Ibrohim: 11)
Ketenangan dalam
Menghadapi Hasil Keputusan Medis:
Setelah
berobat ke dokter terbaik dan menjaga pola hidup sehat, ia menerima setiap
diagnosa dengan hati lapang. Alloh berfirman:
﴿قُلْ
لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا﴾
“Katakanlah:
‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Alloh
untuk kami.’” (QS. At-Taubah: 51)
Memulai Perjalanan dengan
Doa Perlindungan:
Menyadari
keterbatasan manusia dalam menjaga keselamatan diri di jalan raya. Rosululloh ﷺ mengajarkan doa keluar rumah:
«بِسْمِ
اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
“Dengan
nama Alloh, aku bertawakkal kepada Alloh, tidak ada daya dan kekuatan kecuali
dengan pertolongan Alloh.” (HSR. Abu Dawud no. 5095)
Tidak Bergantung pada
Koneksi Orang Dalam:
Pribadi
unggul menempuh
jalur resmi dan profesional, lalu yakin bahwa jika posisi itu rizqinya, tidak
ada yang bisa menghalangi. Alloh berfirman:
﴿فَتَوَكَّلْ
عَلَى اللَّهِ ۖ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ﴾
“Maka
bertawakkallah kepada Alloh, sungguh kamu berada di atas kebenaran yang nyata.”
(QS. An-Naml: 79)
Menjaga Niat Tetap Lurus
Saat Membantu Orang Lain:
Bertawakkal
bahwa pahala dari Alloh pasti sampai meskipun orang yang dibantu justru berbuat
buruk padanya. Alloh berfirman:
﴿وَمَا
لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا﴾
“Mengapa
kami tidak bertawakkal kepada Alloh, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada
kami.” (QS. Ibrohim: 12)
Sikap Tawadhu Setelah
Meraih Kesuksesan Besar:
Ia tidak
sombong karena yakin sukses tersebut adalah murni taufiq dari Alloh, bukan
karena kehebatan ikhtiarnya semata. Sebagaimana ucapan Nabi Syu’aib:
«وَمَا
تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ
تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ﴾
“Dan tidak
ada taufiq bagiku melainkan dengan pertolongan Alloh. Kepada-Nya aku
bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud: 88)
Menyerahkan Hasil Pendidikan
Anak kepada Alloh:
Setelah
mendidik dengan adab dan ilmu, orang tua mendoakan dan bertawakkal agar Alloh
yang menjaga hati sang anak. Sebagaimana pesan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya:
﴿إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ﴾
“Keputusan
itu hanyalah milik Alloh; kepada-Nya aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya
saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (QS. Yusuf: 67)
PRINSIP 27: MEMBANGUN VISI JAUH KE
DEPAN (AKHIROH)
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhiroh). Dan bertaqwalah
kepada Alloh, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
Al-Hasyr: 18)
27.1 Makna Ayat
Prinsip ke-27
dalam membangun kepribadian unggul adalah memiliki visi jangka panjang
yang berpusat pada Akhiroh. Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa
kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan sementara untuk mengumpulkan
bekal. Ayat ini memberikan perintah strategis bagi setiap Mu’min untuk
melakukan audit diri (muhasabah) dan perencanaan masa depan yang matang.
Istilah “hari esok” (ghodin) dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama
sebagai hari Qiyamah. Dengan memiliki visi Akhiroh, seseorang akan memiliki
standar moral yang tinggi dan tidak mudah tergiur oleh keuntungan duniawi
sesaat yang melanggar syariat.
Korelasi
ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 11-17) yang membahas tentang
perilaku orang-orang munafik yang terpedaya oleh tipu daya syaithon adalah
sebagai peringatan agar orang beriman tidak terjebak dalam pola pikir yang
sama—yaitu hanya fokus pada kepentingan duniawi yang menipu. Sedangkan
kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 19) adalah larangan menjadi orang yang
melupakan Alloh sehingga Alloh menjadikan mereka lupa akan keselamatan diri mereka
sendiri. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang menjadikan setiap
langkah kakinya di dunia sebagai investasi untuk kemuliaan di Akhiroh.
27.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip membangun visi jauh ke depan dalam keseharian:
Menjadikan Akhiroh Sebagai
Prioritas Utama dalam Niat:
Setiap amal
duniawi diniatkan agar menjadi pemberat timbangan kebaikan di Akhiroh. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ... وَمَنْ كَانَتِ
الآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ»
“Siapa yang
menjadikan dunia sebagai obsesinya, Alloh akan cerai-beraikan urusannya... dan
siapa yang menjadikan Akhiroh sebagai niatnya, Alloh akan kumpulkan urusannya
(mudahkan).” (HSR. Ibnu Majah no. 4105)
Berinvestasi pada Amal
Jariyah yang Pahalanya Terus Mengalir:
Membangun
sumur, menyumbang Masjid, atau menulis ilmu bermanfaat yang tetap berguna meski
ia telah tiada. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ... أَوْ عِلْمٍ
يُنْتَفَعُ بِهِ﴾
“Jika
manusia mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: ... atau ilmu yang
bermanfaat.” (HR. Muslim no. 1631)
Tidak Rakus Terhadap Harta
Duniawi yang Harom:
Menolak
sogokan atau keuntungan yang meragukan karena takut dampaknya bagi masa depan Akhirohnya.
Alloh berfirman:
﴿تِلْكَ
الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ
وَلَا فَسَادًا﴾
“Negeri Akhiroh
itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak
berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qoshosh: 83)
Menyiapkan Generasi
Penerus yang Sholih:
Mendidik
anak bukan hanya agar sukses secara materi, tapi agar taat kepada Alloh
sehingga bisa mendoakan orang tua. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«أَوْ
وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Atau
anak sholih yang mendoakannya (saat hidup maupun setelah wafat).” (HR.
Muslim no. 1631)
Memanfaatkan Waktu dengan
Sangat Efektif:
Menyadari
bahwa setiap detik adalah modal yang akan dipertanggungjawabkan, sehingga ia
tidak menyia-nyiakannya. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«كُنْ
فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»
“Jadilah
kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sedang menyeberangi
jalan.” (HR. Al-Bukhori no. 6416)
Sederhana dalam Gaya Hidup:
Menggunakan
harta seperlunya untuk mendukung ketaatan dan tidak berlebihan dalam kemewahan.
Alloh berfirman:
﴿وَفِي
ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ﴾
“Dan untuk
yang demikian itu (ni’mat Jannah) hendaknya orang-orang berlomba-lomba.” (QS.
Al-Muthoffifin: 26)
Sabar Menghadapi
Penderitaan Dunia Demi Keni’matan Akhiroh:
Ridho
terhadap ujian hidup karena yakin dunia ini hanyalah penjara bagi orang
beriman. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الدُّنْيَا
سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ»
“Dunia
adalah penjara bagi orang Mu’min dan Jannah bagi orang kafir.” (HR. Muslim
no. 2956)
Menghindari Perdebatan
yang Merusak Amal:
Lebih
memilih menjaga hati dan hubungan baik daripada menang debat tapi kehilangan
keberkahan. Alloh berfirman:
﴿تِلْكَ
الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ﴾
“Negeri Akhiroh
itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian
(kesombongan) di bumi.” (QS. Al-Qoshosh: 83)
Audit Diri
(Self-Correction) Secara Berkala:
Selalu
bertanya pada diri sendiri sebelum bertindak: “Apakah perbuatan ini akan
menyelamatkanku di depan Alloh?” Rosululloh ﷺ
bersabda:
«الكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ»
“Orang
yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk
kehidupan setelah mati.” (HR. At-Tirmidzi no. 2459)
Berani Mengambil Keputusan
Sulit Demi Prinsip Agama:
Visi masa
depan menjadikannya tegar meninggalkan lingkungan atau pekerjaan yang maksiat
demi ridho Alloh. Alloh berfirman:
﴿وَالْآخِرَةُ
خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ﴾
“Sedangkan
kehidupan Akhiroh itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)
PRINSIP 28: KECEPATAN DALAM
MELAKUKAN KEBAIKAN
﴿وَسَارِعُوا
إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
أُعدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Dan
bersegeralah kamu menuju ampunan dari Robbmu dan menuju Jannah yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS.
Ali Imron: 133)
28.1 Makna Ayat
Prinsip ke-28
dalam membangun kepribadian unggul adalah akselerasi atau kecepatan
dalam berbuat baik (al-musaro’ah fil khoirot). Seorang pribadi yang
unggul tidak membiarkan niat baiknya menguap karena penundaan. Ia menyadari
bahwa waktu adalah sumber daya yang paling terbatas dan kematian bisa datang
tanpa pemberitahuan. Ayat ini menggunakan kata perintah saari’uu yang
berarti “bersegeralah” atau “berlarilah dengan cepat”, menunjukkan bahwa dalam
urusan Akhiroh dan perbaikan diri, seseorang tidak boleh santai atau
bermalas-malasan. Kecepatan ini lahir dari rasa butuh terhadap ampunan Alloh
dan kerinduan pada Jannah.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 130-132) yang membahas tentang larangan
memakan riba dan perintah taat kepada Alloh serta Rosul-Nya adalah bahwa
meninggalkan kemaksiatan dan menjalankan ketaatan harus dilakukan secara total
dan instan, tanpa tapi dan nanti. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya
(ayat 134-135) adalah rincian profil orang-orang yang bertaqwa yang bersegera
tersebut, yaitu mereka yang tetap berinfak dalam kondisi apapun dan segera
bertaubat jika terjatuh dalam kesalahan. Kepribadian unggul adalah
kepribadian yang memenangkan perlombaan melawan waktu.
28.2 Contoh dalam Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip kecepatan dalam melakukan kebaikan dalam
keseharian:
Menyegerakan Sholat di
Awal Waktu:
Menghentikan
seluruh aktivitas dunia saat adzan berkumandang sebagai bentuk prioritas utama.
Rosululloh ﷺ bersabda saat ditanya amalan apa yang paling utama:
«الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا»
“Sholat
pada waktunya (di awal waktu).” (HR. Al-Bukhori no. 527)
Segera Membayar Hutang
Begitu Memiliki Uang:
Tidak
menunda-nunda hak orang lain meskipun belum jatuh tempo jika dana sudah
tersedia. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَطْلُ
الْغَنِيِّ ظُلْمٌ»
“Penundaan
(pembayaran hutang) oleh orang yang mampu adalah sebuah kezholiman.” (HR.
Al-Bukhori no. 2287)
Bertaubat Seketika Setelah
Melakukan Dosa:
Tidak
menunggu hari tua atau bulan Romadhon untuk memohon ampunan atas kesalahan yang
baru dilakukan. Alloh berfirman:
﴿إِنَّمَا
التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ
مِنْ قَرِيبٍ﴾
“Sungguh
taubat di sisi Alloh hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan
karena kebodohan, kemudian mereka bertaubat dengan segera.” (QS. An-Nisa:
17)
Langsung Memberi Sedekah
Saat Terbersit Niat di Hati:
Menyadari
bahwa syaithon akan selalu membisikkan ketakutan akan kemiskinan jika sedekah
ditunda. Alloh berfirman:
﴿الشَّيْطَانُ
يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ﴾
“Syaithon
menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat
keji.” (QS. Al-Baqoroh: 268)
Menyelesaikan Pekerjaan
Kantor Sebelum Menumpuk:
Memiliki
etos kerja proaktif agar amanah tidak terhambat oleh sifat malas. Rosululloh ﷺ sering berdoa:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ»
“Ya
Alloh, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan sifat malas.” (HR.
Al-Bukhori no. 2823)
Segera Meminta Maaf Jika
Menyakiti Perasaan Orang Lain:
Menyelesaikan
urusan sesama manusia di dunia sebelum dibawa ke pengadilan Akhiroh. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ
اليَوْمَ»
“Siapa yang
memiliki kezholiman terhadap saudaranya, baik berupa kehormatan atau sesuatu
yang lain, maka hendaklah ia meminta maaf (menyelesaikannya) hari ini.” (HR.
Al-Bukhori no. 2449)
Menyambut Peluang Belajar
dan Da’wah:
Tidak
menyia-nyiakan kesempatan menghadiri majelis ilmu atau berbagi kebaikan saat
kesempatan itu ada. Alloh berfirman:
﴿فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ﴾
“Maka
berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan.” (QS. Al-Baqoroh: 148)
Menyegerakan Berbuka Puasa:
Mentaati
sunnah dalam hal-hal yang tampaknya kecil namun melatih kedisplinan ketaatan. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«لَا
يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ»
“Manusia
akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.”
(HR. Al-Bukhori no. 1957)
Cekatan dalam Menolong
Orang yang Sedang Kecelakaan:
Menjadi
orang pertama yang memberikan bantuan darurat tanpa perlu menunggu perintah.
Alloh berfirman:
﴿وَمَنْ
أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا﴾
“Dan siapa
yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah
memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Maidah: 32)
Menyiapkan Bekal Kematian
Sejak Usia Muda:
Kesadaran
akan visi jauh ke depan membuatnya tidak tertipu oleh usia yang seolah masih
panjang. Rosululloh ﷺ bersabda:
«بَادِرُوا
بِالأَعْمَالِ سَبْعًا»
“Bersegeralah
kalian beramal sebelum datangnya tujuh perkara (penghalang).” (HR.
At-Tirmidzi no. 2306)
PRINSIP 29: MENJAGA PERSATUAN DAN
MENGHINDARI PERPECAHAN
﴿وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا﴾
“Dan
berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu
bercerai berai, dan ingatlah ni’mat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa
Jahiliyah) bermusuhan, lalu Alloh mempersatukan hatimu, sehingga dengan
karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali Imron: 103)
29.1 Makna Ayat
Prinsip ke-29
dalam membangun kepribadian unggul adalah semangat berjamaah dan menjaga
persatuan (ukhuwah). Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa ia tidak bisa
hidup sendiri dan kekuatan yang besar lahir dari keterikatan hati di atas jalan
Alloh. Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada Al-Quran
dan Sunnah sebagai tali pemersatu agar tidak terpecah-belah menjadi
kelompok-kelompok yang saling bermusuhan. Persatuan adalah ni’mat besar yang
harus dijaga dengan cara menekan ego pribadi demi kepentingan umat yang lebih
luas.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 102) yang berisi perintah untuk bertaqwa
dengan sebenar-benarnya taqwa adalah bahwa ketaqwaan individu tidak akan
sempurna tanpa adanya ketaqwaan kolektif dalam bentuk persatuan. Sedangkan
kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 104) yang membahas tentang perintah adanya
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan adalah bahwa da’wah tersebut
hanya akan efektif jika dilakukan oleh umat yang solid dan tidak
terpecah-belah. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang menjadi
perekat persaudaraan, bukan pemicu perpecahan.
29.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip menjaga persatuan dalam keseharian:
Menghindari Perdebatan
Masalah Cabang (Furu’iyyah) yang Memicu Konflik:
Menghargai
perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyyah demi menjaga kerukunan sesama
Muslim. Alloh berfirman:
﴿وَلَا
تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ﴾
“Dan
janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih
sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (QS. Ali Imron: 105)
Mengedepankan Prasangka
Baik (Husnuzhon) Terhadap Saudara:
Tidak mudah
menuduh atau memberikan label buruk kepada sesama Muslim hanya karena perbedaan
cara pandang. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ
وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»
“Jauhilah
oleh kalian prasangka, karena prasangka itu adalah sedusta-dusta perkataan.” (HR.
Al-Bukhori no. 6064)
Aktif dalam Kegiatan
Gotong Royong dan Sosial:
Turut serta
membangun kekuatan komunitas melalui kerja bakti atau musyawarah warga. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Seorang
Mu’min dengan Mu’min lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama
lain.” (HR. Al-Bukhori no. 481)
Mendamaikan Dua Pihak yang
Sedang Berselisih:
Menjadi
penengah yang adil dan sejuk saat melihat teman atau keluarga sedang bertikai.
Alloh berfirman:
﴿إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ﴾
“Sungguh
orang-orang Mu’min itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu.” (QS. Al-Hujurot: 10)
Mendoakan Saudara Tanpa
Sepengetahuan Mereka:
Memohonkan
kebaikan bagi orang lain sebagai bukti ketulusan ikatan hati. Rosululloh ﷺ bersabda:
«دَعْوَةُ
الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ»
“Doa
seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu adalah mustajab.”
(HR. Muslim no. 2733)
Saling Tolong-Menolong
dalam Kebaikan:
Memberikan
bantuan tenaga atau pemikiran saat saudara seiman sedang menjalankan proyek
kebajikan. Alloh berfirman:
﴿وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ﴾
“Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” (QS.
Al-Maidah: 2)
Menutup Aib Saudara Sesama
Muslim:
Tidak
menyebarkan kesalahan orang lain yang telah diketahuinya demi menjaga
kehormatan persaudaraan. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»
“Siapa
yang menutupi aib seorang Muslim, maka Alloh akan menutupi aibnya di dunia dan Akhiroh.”
(HR. Muslim no. 2699)
Menjaga Lisan dari Fitnah
dan Adu Domba (Namimah):
Menolak
menjadi perantara berita yang bertujuan merusak hubungan antarmanusia. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»
“Tidak
akan masuk Jannah orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim no. 105)
Saling Memberi Nasihat
dengan Cara yang Santun:
Mengingatkan
kesalahan saudara secara pribadi demi perbaikan diri bersama. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الدِّينُ
النَّصِيحَةُ»
“Agama
itu adalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)
Memiliki Empati Terhadap
Penderitaan Umat di Belahan Dunia Lain:
Merasakan
kesedihan dan memberikan bantuan doa atau materi bagi saudara yang tertindas. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«مَثَلُ
الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ»
“Perumpamaan
orang-orang Mu’min dalam hal saling mencintai dan menyayangi serta mengasihi
adalah bagaikan satu tubuh.” (HR. Muslim no. 2586)
PRINSIP 30: MERAIH AKHIR HIDUP
YANG BAIK (HUSNUL KHOTIMAH)
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benarnya taqwa
kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali
Imron: 102)
30.1 Makna Ayat
Prinsip ke-30
sekaligus yang terakhir dalam membangun kepribadian unggul adalah fokus
pada akhir hidup yang baik (husnul khotimah). Seorang pribadi yang
unggul menyadari bahwa nilai seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia
mengakhiri hidupnya. Ayat ini memberikan peringatan yang sangat serius agar
konsistensi dalam ketaatan dijaga hingga hembusan napas terakhir. Tidak ada
jaminan kapan kematian datang, maka satu-satunya cara untuk mati dalam keadaan
Muslim adalah dengan terus menghidupkan Islam dalam setiap detik kehidupan. Kepribadian
unggul adalah mereka yang selalu waspada dan menyiapkan diri setiap saat
untuk bertemu dengan Robbnya.
Korelasi
ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 101) yang membahas tentang bagaimana
mungkin seseorang menjadi kafir padahal ayat-ayat Alloh dibacakan kepadanya,
adalah sebagai penguat agar jangan sampai seseorang tergelincir di akhir
hayatnya setelah mendapatkan hidayah. Sedangkan kaitannya dengan ayat
sesudahnya (ayat 103) yang memerintahkan untuk berpegang teguh pada tali Alloh
adalah bahwa persatuan dan ketaatan kolektif merupakan sarana pendukung agar
individu bisa tetap istiqomah hingga akhir hayat. Kepribadian unggul
adalah yang hidupnya penuh manfaat dan matinya membawa kebahagiaan.
30.2 Contoh dalam
Kehidupan
Berikut
adalah penjabaran praktek dari prinsip meraih akhir hidup yang baik dalam
keseharian:
Membiasakan Lisan
Berdzikir agar Mudah Mengucap Syahadat:
Seseorang
akan dimudahkan mengucap kalimat tauhid saat maut menjemput jika ia terbiasa
mengucapkannya saat sehat. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Siapa
yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illalloh’, maka ia masuk Jannah.” (HSR.
Abu Dawud no. 3116)
Istiqomah dalam
Menjalankan Amal Sholih Hingga Akhir:
Terus
melakukan kebaikan tanpa henti meskipun usia sudah senja. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ... يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ
مَوْتِهِ»
“Apabila
Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia akan mempekerjakannya...
yaitu Alloh memberikan taufiq kepadanya untuk beramal sholih sebelum
kematiannya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2142)
Selalu Berdoa Mohon
Keteguhan Iman:
Menyadari
bahwa hati manusia berada di antara jari-jemari Alloh, maka ia terus memohon
perlindungan agar tidak tersesat. Doa yang sering diucapkan Nabi ﷺ:
«يَا
مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai
Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2140)
Menyegerakan Taubat dari
Setiap Dosa:
Tidak
membiarkan diri tidur dalam keadaan memikul dosa tanpa istighfar, karena tidak
ada jaminan akan bangun esok hari. Alloh berfirman:
﴿وَتُوبُوا
إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, wahai orang-orang yang beriman, agar
kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Menulis Wasiat dan
Menyelesaikan Urusan Manusia:
Memastikan
tidak ada hutang atau zholim yang belum terselesaikan agar beban di Akhiroh
menjadi ringan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ
مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ»
“Tidak
layak bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang ingin diwasiatkan untuk
melewati dua malam melainkan wasiatnya telah tertulis di sisinya.” (HR.
Al-Bukhori no. 2738)
Memilih Lingkungan
Pertemanan yang Sholih:
Berteman
dengan orang-orang yang saling mengingatkan tentang Akhiroh agar saat ajal
datang, ia sedang berada dalam kondisi yang baik. Alloh berfirman:
﴿الْأَخِلَّاءُ
يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾
“Teman-teman
akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali
orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Menjauhi Tempat-tempat
Maksiat:
Berhati-hati
dalam melangkah karena seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan saat
ia meninggal. Rosululloh ﷺ bersabda:
«يُبْعَثُ
كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ»
“Setiap
hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan saat ia mati.” (HR. Muslim no.
2878)
Menjaga Niat Ikhlas Hanya
karena Alloh:
Menghindari
sifat riya’ (pamer) agar amalannya tidak sia-sia di saat-saat terakhir
hidupnya. Alloh berfirman:
﴿فَمَنْ
كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِ أَحَدًا﴾
“Maka siapa
yang mengharap pertemuan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih
dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS.
Al-Kahfi: 110)
Sering Mengingat Kematian
sebagai Pemutus Kelezatan Dunia:
Kesadaran
akan maut menjadikannya pribadi yang tidak sombong dan tidak rakus terhadap
dunia. Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَكْثِرُوا
ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ»
“Perbanyaklah
mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian).” (HSR. At-Tirmidzi no. 2307)
Berprasangka Baik kepada
Alloh Saat Menjelang Ajal:
Memenuhi
hati dengan harapan akan rohmat Alloh yang luas di detik-detik terakhirnya. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«لَا
يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
“Janganlah
salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berprasangka baik
kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim no. 2877)
PENUTUP
Perjalanan
membangun kepribadian unggul bukanlah perlombaan lari cepat yang
berakhir dalam sekejap, melainkan sebuah perjalanan panjang seumur hidup. Ia
menuntut ketekunan dalam belajar, keberanian dalam bertindak, dan keteguhan
dalam menjaga prinsip di tengah badai ujian.
Kepribadian
unggul tidak
dilahirkan dari sekadar teori atau hafalan ayat dan Hadits, melainkan ditempa
melalui keringat perjuangan dalam mempraktikkannya di dunia nyata. Ia muncul
saat kita tetap jujur ketika orang lain curang, saat kita tetap tenang saat
emosi memuncak, dan saat kita tetap bersyukur dalam kondisi yang serba
terbatas.
Ingatlah
selalu bahwa setiap usaha kecil yang Anda lakukan untuk memperbaiki diri hari
ini adalah investasi besar untuk masa depan Anda, baik di dunia maupun di Akhiroh
kelak. Janganlah menunggu waktu yang sempurna untuk mulai berubah, karena
kesempurnaan itu hadir melalui proses perbaikan yang konsisten.
Semoga
Alloh senantiasa membimbing langkah kita, meneguhkan hati kita di atas
kebenaran, dan menjadikan setiap kita pribadi yang tidak hanya unggul di mata
manusia, namun yang paling utama adalah mulia di hadapan Sang Pencipta. Semoga
kita semua dikumpulkan dalam golongan hamba-hamba-Nya yang sukses meraih ridho-Nya
dan menutup lembaran hidup ini dalam keadaan terbaik.
Allohu
a’lam.[NK]
