Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] 30 Prinsip Hidup dari Al-Quran - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk dan pembeda bagi umat manusia. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh Muhammad , keluarganya, para Shohabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Buku ini disusun untuk menjadi panduan bagi setiap insan yang merindukan terbentuknya kepribadian unggul di atas landasan wahyu. Di tengah berbagai problematika hidup dan goncangan zaman, kembali kepada kaidah-kaidah Qurani adalah satu-satunya jalan keselamatan. Kepribadian yang unggul bukan lahir dari sekadar teori manusia, melainkan dibentuk oleh ilmu yang bersumber dari Sang Pencipta manusia itu sendiri. Sebagaimana Alloh berfirman:

﴿إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا﴾

“Sungguh Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal sholih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isro’: 9)

Setiap prinsip dalam buku ini digali dari ayat-ayat pilihan untuk kemudian ditadabburi agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Harapannya, pembaca tidak hanya memahami Al-Quran sebagai bacaan, namun menjadikannya sebagai timbangan dalam berfikir, berucap, dan bertindak guna meraih kemuliaan di dunia dan Akhiroh.

PRINSIP 1: MEMURNIKAN TUJUAN HIDUP HANYA UNTUK ALLOH

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Katakanlah: ‘Sungguh Sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

1.1 Makna Ayat

Prinsip ke-1 dan yang paling mendasar dalam membangun kepribadian unggul adalah pemurnian tujuan hidup. Seseorang tidak akan memiliki arah hidup yang jelas dan mental yang kokoh jika hatinya masih terbagi kepada selain Alloh. Seluruh aktivitas, baik yang bersifat ibadah mahdhoh maupun urusan duniawi, harus diletakkan dalam bingkai pengabdian kepada-Nya.

Ayat ini merupakan proklamasi ketauhidan seorang hamba. Korelasinya dengan ayat sebelumnya (ayat 161) adalah bahwa jalan yang lurus (diinan qiyaman) yang dibawa oleh Nabi Ibrohim tidak akan sempurna tanpa penyerahan total seluruh dimensi kehidupan kepada Alloh. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 163) menegaskan bahwa tidak ada sekutu bagi Alloh dalam kepemilikan dan hak peribadatan tersebut.

Kepribadian unggul dimulai dari sini: ketika seseorang telah selesai dengan dirinya sendiri dan hanya mengharap ridho Sang Pencipta, maka ia menjadi pribadi yang merdeka dari penghambaan kepada makhluk, materi, maupun hawa nafsu. Seseorang yang unggul adalah yang menyadari bahwa keberadaannya di dunia bukan untuk mencari penilaian manusia, melainkan untuk mengabdi kepada Robbnya.

1.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip pemurnian tujuan hidup dalam keseharian yang disertai dengan dalil:

Ikhlas dalam Beramal Tanpa Mengharap Balasan Manusia:

Seseorang memberikan bantuan kepada orang lain semata-mata mengharap wajah Alloh, sehingga tidak merasa sakit hati saat tidak diapresiasi. Alloh berfirman mengenai sifat hamba yang unggul:

﴿إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا﴾

“Sungguh kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharap wajah Alloh, kami tidak mengharap balasan dan tidak pula ucapan terima kasih darimu.” (QS. Al-Insan: 9)

Menjadikan Pekerjaan sebagai Sarana Ibadah:

Bekerja mencari nafkah halal diniatkan untuk menjalankan kewajiban dari Alloh agar tidak membebani orang lain. Rosululloh bersabda:

«إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

“Siapa yang bekerja untuk menghidupi anaknya yang masih kecil maka ia di jalan Alloh. Siapa yang bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka ia berada di jalan Alloh.” (HSR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 624)

Fokus pada Ridho Alloh di Atas Kesenangan Manusia:

Berani mengambil keputusan yang benar meski tidak populer di mata manusia, asalkan sesuai aturan agama. Rosululloh bersabda:

«مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ»

“Siapa yang mencari ridho Alloh meski berisiko mendatangkan kemarahan manusia, maka Alloh akan mencukupkan baginya beban dari manusia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2414)

Menjaga Integritas saat Sendirian (Khrosyah):

Pribadi unggul tetap taat meskipun tidak ada orang yang melihat, karena tujuannya adalah Alloh yang Maha Melihat. Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ﴾

“Sungguh orang-orang yang takut kepada Robbnya dalam keadaan tidak terlihat (oleh orang lain), mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12)

Ketangguhan Mental dalam Menghadapi Ujian:

Saat ditimpa musibah, ia segera mengembalikan urusan kepada Alloh karena sadar hidupnya adalah milik-Nya. Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Sungguh kami milik Alloh dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali.’” (QS. Al-Baqoroh: 156)

Mengutamakan Sholat Sebagai Bentuk Pengabdian Utama:

Pribadi unggul tidak akan mengorbankan waktu pertemuannya dengan Alloh demi urusan duniawi yang fana. Alloh berfirman:

﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ﴾

“Mereka adalah para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Alloh, mendirikan Sholat...” (QS. An-Nur: 37)

Menuntut Ilmu untuk Menghilangkan Kebodohan Diri:

Belajar bukan untuk pamer intelektualitas, melainkan agar bisa beribadah dengan benar. Rosululloh bersabda:

«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HHR. Ibnu Majah no. 224)

Menjaga Kehormatan Diri (Iffah):

Menahan diri dari perbuatan nista karena sadar bahwa seluruh anggota tubuh akan bersaksi di hadapan Alloh. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا﴾

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sungguh zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isro’: 32)

Keikhlasan dalam Berdoa:

Hanya meminta kepada Alloh dan tidak menggantungkan nasib pada jimat atau ramalan manusia. Rosululloh bersabda:

«إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ»

“Jika kamu meminta, mintalah kepada Alloh, dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Berpakaian Sesuai Aturan Pencipta:

Mengenakan pakaian yang menutup aurat sebagai bentuk ketaatan, bukan karena paksaan sosial. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ﴾

“Wahai Nabi , katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’” (QS. Al-Ahzab: 59)

PRINSIP 2: MENJADIKAN ILMU SEBAGAI PEMIMPIN AMAL

«وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sungguh pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro’: 36)

2.1 Makna Ayat

Prinsip ke-2 dalam membangun kepribadian unggul adalah legalitas ilmu dalam setiap tindakan. Seorang pribadi yang unggul tidak bergerak atas dasar ikut-ikutan (taklid), asumsi, atau perasaan semata, melainkan atas dasar ilmu yang kokoh. Ayat ini melarang keras seseorang untuk berucap atau bertindak tanpa landasan pengetahuan yang valid. Segala perangkat yang Alloh berikan kepada manusia, yaitu pendengaran untuk menyerap informasi, penglihatan untuk melakukan observasi, dan hati untuk menimbang kebenaran, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 35) yang membahas tentang kejujuran dalam takaran dan timbangan adalah bahwa timbangan ilmu pun harus akurat. Sebagaimana seseorang dilarang curang dalam timbangan dagang, ia juga dilarang curang dalam menimbang informasi dan keyakinan. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 37) yang melarang sikap sombong di muka bumi adalah bahwa ilmu yang benar seharusnya melahirkan ketundukan, bukan kesombongan. Tanpa ilmu, manusia akan terjatuh pada prasangka yang menyesatkan, sementara kepribadian unggul dibangun di atas keyakinan yang terang benderang.

2.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip menjadikan ilmu sebagai pemimpin amal dalam keseharian:

Tidak Berbicara Tanpa Dasar yang Jelas:

Seorang pribadi unggul menahan diri dari mengomentari urusan yang tidak ia kuasai ilmunya. Alloh berfirman:

﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)

Verifikasi Berita (Tabayyun) Sebelum Menyebarkannya:

Tidak mudah percaya dan tidak ikut menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya di media sosial. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurot: 6)

Beribadah Sesuai Petunjuk Nabi :

Menjalankan Sholat dan ibadah lainnya berdasarkan dalil yang shohih, bukan sekadar warisan budaya. Rosululloh bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Siapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Memilih Pemimpin Berdasarkan Kriteria Syariat:

Memberikan dukungan kepada pemimpin karena melihat kompetensi dan amanahnya secara ilmu, bukan karena fanatisme golongan. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ﴾

“Sungguh orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pemimpin) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qoshosh: 26)

Menjauhi Prasangka dalam Menilai Orang Lain:

Tidak menghakimi seseorang hanya berdasarkan dugaan tanpa bukti nyata. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sungguh sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Belajar Sebelum Berdagang atau Berbisnis:

Memahami hukum halal dan harom dalam muamalah agar tidak terjerumus ke dalam riba. Alloh berfirman:

﴿وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا﴾

“Dan Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharomkan riba.” (QS. Al-Baqoroh: 275)

Bertanya Kepada Ahlinya Jika Tidak Tahu:

Memiliki kerendahan hati untuk mencari ilmu kepada yang lebih paham. Alloh berfirman:

﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Mendidik Anak dengan Ilmu Agama dan Akhlaq:

Orang tua mempelajari cara mendidik anak sesuai arahan wahyu agar bisa menjaga keluarga dari api Naar. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Naar.” (QS. At-Tahrim: 6)

Menggunakan Teknologi untuk Kebaikan:

Memahami ilmu tentang dampak teknologi sehingga hanya menggunakannya untuk hal-hal yang diridhoi Alloh. Rosululloh bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ»

“Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh, dan janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Berani Mengakui Ketidaktahuan:

Jika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahui ilmunya, ia berani berkata “saya tidak tahu” sebagai bentuk integritas ilmu. Dari Ibnu Mas’ud shohabat Nabi bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ: اللَّهُ أَعْلَمُ»

“Wahai manusia, siapa yang mengetahui sesuatu sampaikanlah, dan siapa yang tidak tahu hendaklah ia berkata: Alloh lebih mengetahui (Allohu A’lam).” (HR. Al-Bukhori no. 4809)

PRINSIP 3: MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI DI ATAS PERTOLONGAN ALLOH

﴿إِن يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾

“Jika Alloh menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Alloh membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Alloh saja orang-orang Mu’min bertawakkal.” (QS. Ali Imron: 160)

3.1 Makna Ayat

Prinsip ke-3 dalam membangun kepribadian unggul adalah meletakkan sumber kekuatan dan kepercayaan diri pada sandaran yang tidak akan pernah runtuh, yaitu pertolongan Alloh. Kepercayaan diri yang sejati bukanlah kesombongan yang lahir dari merasa hebat secara pribadi, melainkan ketenangan hati karena merasa memiliki pelindung yang Maha Kuat. Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan, keberhasilan, dan kejayaan mutlak berada di tangan Alloh. Jika Alloh telah menetapkan pertolongan bagi seorang hamba, maka seluruh penduduk bumi bersatu pun tidak akan mampu menghalanginya. Sebaliknya, tanpa pertolongan-Nya, segala daya upaya manusia akan berujung pada kehampaan.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 159) adalah tentang perintah untuk bermusyawarah dan bertawakkal. Setelah manusia melakukan ikhtiar berupa musyawarah dan membulatkan tekad, maka ayat 160 ini datang sebagai penguat mental bahwa hasil akhir bergantung pada pertolongan Alloh. Adapun korelasi dengan ayat sesudahnya (ayat 161) yang membahas tentang larangan berkhianat (ghulul) adalah bahwa orang yang yakin akan pertolongan Alloh tidak akan menempuh jalan-jalan harom atau berkhianat demi meraih kemenangan, karena ia tahu bahwa kemenangan hanya datang dari Alloh dengan cara yang diridhoi-Nya.

3.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip membangun kepercayaan diri di atas pertolongan Alloh dalam keseharian:

Optimisme dalam Memulai Tugas yang Sulit:

Seorang pribadi unggul tidak merasa rendah diri sebelum mencoba, karena ia yakin Alloh akan membantunya selama tujuannya baik. Alloh berfirman:

﴿لَا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَٰلِكَ أَمْرًا﴾

“Kamu tidak mengetahui, barangkali Alloh mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru (jalan keluar).” (QS. Ath-Tholaq: 1)

Keberanian Menghadapi Tekanan dan Penentangan:

Tidak gentar terhadap ancaman manusia selama berada di atas kebenaran. Sebagaimana ucapan Nabi Musa kepada kaumnya yang ketakutan:

﴿قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾

“Dia (Musa) menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan (tersusul); sungguh Robbku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’” (QS. Asy-Syu’aro: 62)

Tidak Bergantung pada Sebab Lahiriyah Semata:

Meskipun memiliki fasilitas dan modal yang cukup, ia tetap berdoa memohon pertolongan Alloh karena tahu sarana fisik tidak bisa memberi manfaat tanpa izin-Nya. Alloh berfirman:

﴿وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ﴾

“Dan tidak ada kemenangan itu melainkan dari sisi Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imron: 126)

Ketenangan dalam Persaingan yang Sehat:

Dalam dunia kerja atau perniagaan, ia tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain karena yakin rizqinya telah diatur oleh Alloh. Rosululloh bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizqi sebagaimana burung diberi rizqi, yang berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)

Mentalitas Tidak Pernah Menyerah:

Ketika mengalami kegagalan, ia tidak putus asa namun segera bangkit memohon kekuatan baru. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imron: 139)

Istiqomah dalam Menjalankan Prinsip Hidup:

Percaya diri untuk tampil beda dalam kebaikan meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Alloh berfirman:

﴿فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۖ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ﴾

“Maka bertawakkallah kepada Alloh, sungguh kamu berada di atas kebenaran yang nyata.” (QS. An-Naml: 79)

Menghindari Perilaku Syirik dalam Mencari Perlindungan:

Pribadi unggul tidak mencari kepercayaan diri melalui jimat atau ramalan, karena itu adalah bentuk kelemahan. Rosululloh bersabda:

«مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»

“Siapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh ia telah berbuat syirik.” (HSR. Ahmad no. 17422)

Menjaga Sholat sebagai Sumber Energi Mental:

Mencari kekuatan melalui ibadah saat beban hidup terasa berat. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Alloh) dengan sabar dan Sholat.” (QS. Al-Baqoroh: 153)

Percaya Diri dalam Berda’wah dan Menyampaikan Kebenaran:

Yakin bahwa kalimat yang baik akan diberikan keteguhan oleh Alloh. Alloh berfirman:

﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ﴾

“Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (kalimat thoyyibah) dalam kehidupan di dunia dan di Akhiroh.” (QS. Ibrohim: 27)

Sikap Tawadhu (Rendah Hati) Setelah Meraih Kesuksesan:

Ia menyadari bahwa keberhasilannya adalah berkat pertolongan Alloh, sehingga tidak menjadikannya pribadi yang angkuh. Sebagaimana ucapan Nabi Sulaiman:

﴿هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ﴾

“Ini termasuk karunia Robbku untuk mengujiku apakah aku bersyukur ataukah aku mengingkari (ni’mat-Nya).” (QS. An-Naml: 40)

PRINSIP 4: MENJAGA KESESUAIAN ANTARA UCAPAN DAN PERBUATAN

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sungguh besar kemurkaan di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shoff: 2-3)

4.1 Makna Ayat

Prinsip ke-4 dalam membangun kepribadian unggul adalah integritas atau kesesuaian antara lisan dan amal. Seorang pribadi yang unggul menjauhkan diri dari sifat kontradiktif, di mana ucapannya manis namun perbuatannya justru menyelisihi apa yang ia sampaikan. Ayat ini merupakan teguran keras bagi orang yang hanya pandai berteori atau memberikan nasihat kepada orang lain, namun ia sendiri mengabaikannya. Kemurkaan Alloh yang besar ditujukan kepada mereka yang kehilangan jati diri akibat lunturnya kejujuran antara hati, lisan, dan anggota badan.

Korelasi ayat ini dengan ayat selanjutnya (ayat 4) yang membahas tentang barisan yang kokoh (shoffan) adalah bahwa kekuatan dan persatuan sebuah umat atau organisasi hanya bisa terwujud jika setiap individu di dalamnya memiliki integritas. Tanpa keselarasan ucapan dan perbuatan, kepercayaan akan hilang, dan tanpa kepercayaan, barisan yang kokoh tidak akan pernah terbentuk. Sedangkan kaitannya dengan ayat pertama (ayat 1) mengenai tasbih seluruh makhluk adalah bahwa seluruh alam semesta tunduk patuh pada aturan Alloh secara nyata, maka sangat tidak pantas jika manusia yang diberikan akal justru bersikap tidak konsisten antara kata dan perbuatan.

4.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip menjaga integritas antara ucapan dan perbuatan dalam keseharian:

Menepati Janji yang Telah Diikrarkan:

Seorang pribadi unggul akan berusaha sekuat tenaga menepati janjinya karena sadar janji adalah beban moral dan agama. Alloh berfirman:

﴿وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا﴾

“Dan penuhilah janji; sungguh janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro’: 34)

Menjadi Teladan bagi Keluarga Sebelum Orang Lain:

Seorang kepala keluarga mempraktikkan ibadah dan akhlaq sebelum memerintahkannya kepada anak dan istri. Alloh berfirman:

﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ﴾

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?” (QS. Al-Baqoroh: 44)

Konsistensi dalam Dunia Kerja:

Jika seorang pemimpin membuat peraturan, maka ia adalah orang pertama yang mematuhinya. Rosululloh bersabda mengenai ciri kemunafikan:

«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ»

“Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia menyelisihi, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Al-Bukhori no. 33)

Jujur dalam Pengakuan Kemampuan:

Tidak mengaku memiliki keahlian atau pencapaian yang sebenarnya tidak dimiliki demi mendapat pujian. Alloh berfirman:

﴿لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ﴾

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, janganlah kamu menyangka mereka terlepas dari azab.” (QS. Ali Imron: 188)

Kesesuaian Antara Ucapan di Depan dan di Belakang:

Tidak menjadi bermuka dua (penjilat) yang berbicara manis di hadapan seseorang namun mencela di belakangnya. Rosululloh bersabda:

«تَجِدُ مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ القِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ، وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ»

“Kamu akan mendapati seburuk-buruk manusia pada hari Qiyamah di sisi Alloh adalah orang yang bermuka dua. Ia mendatangi si A dengan sebuah wajah, sementara mendatangi si B dengan wajah lain.” (HR. Al-Bukhori no. 6058)

Ikhlas dalam Memberi Nasihat:

Memberikan nasihat karena memang peduli, bukan untuk menjatuhkan atau merasa lebih suci. Alloh berfirman:

﴿وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾

“Dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 3)

Bertanggung Jawab Atas Ucapan di Media Sosial:

Hanya mengunggah hal-hal yang memang ia yakini dan ia amalkan, bukan sekadar membangun citra palsu. Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018)

Menghindari Sumpah Palsu dalam Bisnis:

Tidak menggunakan nama Alloh untuk meyakinkan pembeli atas kualitas barang yang sebenarnya tidak sesuai. Rosululloh bersabda:

«الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ»

“Sumpah (palsu) itu memang melariskan dagangan, namun memusnahkan keberkahan.” (HR. Al-Bukhori no. 2087)

Disiplin dalam Menjalankan Komitmen Waktu:

Jika menyatakan akan hadir jam tertentu, maka ia hadir tepat waktu sebagai bentuk integritas lisan. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji (akad/kesepakatan).” (QS. Al-Maidah: 1)

Berani Meminta Maaf Jika Khilaf:

Jika secara tidak sengaja lisannya melampaui perbuatannya, ia segera bertaubat dan memperbaiki diri. Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ﴾

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzholimi diri sendiri, mereka segera mengingat Alloh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka.” (QS. Ali Imron: 135)

PRINSIP 5: MENGAMBIL KEPUTUSAN BERDASARKAN PETUNJUK WAHYU

﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ بِاللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا﴾

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mu’minah, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan siapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

5.1 Makna Ayat

Prinsip ke-5 dalam membangun kepribadian unggul adalah ketundukan mutlak kepada keputusan Alloh dan Rosul-Nya. Seorang yang unggul menyadari bahwa keterbatasan akal manusia tidak akan pernah bisa menandingi kesempurnaan ilmu Sang Pencipta. Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan hidup—baik urusan pribadi, keluarga, maupun masyarakat—ia tidak mendasarkannya pada hawa nafsu atau tren semata, melainkan pada apa yang telah digariskan oleh wahyu. Ayat ini menegaskan bahwa bagi seorang Mu’min, tidak ada ruang untuk ragu atau mencari alternatif lain ketika syariat telah memberikan ketetapan yang jelas.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 32-34) yang berisi instruksi khusus bagi istri-istri Nabi adalah untuk menekankan bahwa aturan tersebut bukan sekadar saran, melainkan ketetapan yang wajib dipatuhi oleh seluruh kaum Mu’minin. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 37) yang mengisahkan tentang pernikahan Nabi Muhammad dengan Zainab binti Jahsy adalah sebagai contoh nyata bagaimana seorang hamba harus menanggalkan keinginan pribadinya demi menjalankan ketetapan Alloh meskipun hal itu terasa berat atau menjadi pembicaraan manusia. Kepribadian unggul lahir dari keberanian untuk berkata “kami dengar dan kami taat” (sami’na wa atho’na).

5.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip mengambil keputusan berdasarkan petunjuk wahyu dalam keseharian:

Mengutamakan Hukum Alloh dalam Urusan Keluarga:

Saat terjadi perselisihan dalam rumah tangga, keputusan diambil berdasarkan aturan Quran dan Sunnah, bukan ego masing-masing. Alloh berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ﴾

“Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Quran) dan Rosul (Sunnahnya).” (QS. An-Nisa: 59)

Menolak Tawaran Pekerjaan yang Mengandung Riba:

Meskipun gaji yang ditawarkan sangat besar, seorang pribadi unggul memutuskan untuk menolaknya karena patuh pada larangan Alloh. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut).” (QS. Al-Baqoroh: 278)

Memilih Pasangan Hidup Berdasarkan Agama:

Dalam memutuskan siapa yang akan menjadi pendamping hidup, kriteria agama menjadi prioritas utama di atas kecantikan atau kekayaan. Rosululloh bersabda:

«فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ»

“Maka pilihlah yang memiliki agama (baik agamanya), niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Al-Bukhori no. 5090)

Mengambil Keputusan dengan Istikhoroh:

Saat dihadapkan pada dua pilihan yang mubah, ia melibatkan Alloh dalam keputusannya agar dibimbing ke arah yang terbaik. Rosululloh bersabda:

«إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ»

“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan melakukan suatu urusan, maka rukuklah (Sholatlah) dua rokaat selain Sholat wajib.” (kemudian membaca doa istikhoroh) (HR. Al-Bukhori no. 1162)

Meninggalkan Tradisi yang Bertentangan dengan Syariat:

Berani memutuskan untuk tidak ikut serta dalam ritual atau kebiasaan masyarakat yang mengandung kesyirikan atau kemaksiatan. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh’, mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) leluhur kami.’” (QS. Al-Baqoroh: 170)

Memutuskan Hubungan Kerja yang Zholim:

Jika suatu kontrak kerja mengharuskan seseorang melakukan kecurangan, ia lebih memilih berhenti demi menjaga kejernihan imannya. Rosululloh bersabda:

«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»

“Sungguh, tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Alloh ‘Azza wa Jalla, melainkan Alloh akan menggantinya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik bagimu darinya.” (HSR. Ahmad no. 23074)

Menjaga Batasan Interaksi Lawan Jenis:

Memutuskan untuk tidak berduaan (kholwat) dengan lawan jenis yang bukan mahrom karena mematuhi batasan wahyu. Rosululloh bersabda:

«لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ»

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah syaithon.” (HR. At-Tirmidzi no. 2165)

Menyelesaikan Sengketa Harta Melalui Waris Islam:

Memutuskan pembagian harta warisan sesuai dengan angka-angka yang ditetapkan Alloh dalam Quran, bukan berdasarkan perasaan atau kesepakatan yang menyimpang. Alloh berfirman tentang pembagian warisan dan menutupnya dengan ayat:

﴿تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ﴾

“Itulah batas-batas (hukum) Alloh. Dan siapa yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam Jannah.” (QS. An-Nisa: 13)

Mengatur Waktu Berdasarkan Jadwal Sholat:

Mengambil keputusan untuk menjadwalkan rapat atau perjalanan di luar waktu Sholat agar kewajiban kepada Alloh tidak terabaikan. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا﴾

“Sungguh Sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang Mu’min.” (QS. An-Nisa: 103)

Berani Mengatakan Tidak pada Tekanan Teman Sebaya:

Memutuskan untuk tetap konsisten tidak menyentuh khomr atau narkoba meskipun ditekan oleh lingkungan pergaulan. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, sungguh (meminum) khomr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaithon. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (QS. Al-Maidah: 9)

PRINSIP 6: FOKUS PADA PERBAIKAN DIRI SENDIRI

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu sendiri; tidaklah orang yang sesat itu akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Alloh kamu semua kembali, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 105)

6.1 Makna Ayat

Prinsip ke-6 dalam membangun kepribadian unggul adalah kesadaran untuk memprioritaskan perbaikan diri (ishlahun nafs). Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa tanggung jawab utamanya di hadapan Alloh adalah atas dirinya sendiri. Ayat ini memberikan arahan agar orang beriman tidak kehilangan arah atau merasa putus asa ketika melihat kerusakan dan kesesatan merajalela di sekitarnya. Fokus utama harus tertuju pada menjaga keimanan dan keistiqomahan diri sendiri. Bukan berarti mengabaikan amar ma’ruf nahi munkar, namun menegaskan bahwa keselamatan diri adalah kunci; seseorang tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa orang lain jika ia sendiri telah berada di atas hidayah dan telah berupaya melakukan amar ma'ruf nahi munkar semampunya.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 104) yang membahas tentang orang-orang kafir yang hanya mengikuti tradisi leluhur secara buta adalah sebagai peringatan agar orang Mu’min tidak ikut-ikutan terbawa arus mayoritas. Jika orang lain sesat, maka pastikan diri sendiri tetap teguh. Sedangkan kaitannya dengan ayat-ayat sesudahnya (ayat 106-108) yang membahas tentang persaksian dan kejujuran adalah bahwa kejujuran itu harus dimulai dari diri sendiri sebelum menuntutnya dari orang lain. Kepribadian unggul adalah yang lebih sibuk menghitung aib diri sendiri daripada menghitung kesalahan orang lain.

6.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip fokus pada perbaikan diri sendiri dalam keseharian:

Melakukan Evaluasi Diri (Muhasabah) Setiap Malam:

Sebelum tidur, ia menghitung amal dan dosanya hari itu untuk diperbaiki esok hari. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhiroh).” (QS. Al-Hasyr: 18)

Tidak Mencari-cari Kesalahan Orang Lain (Tajassus):

Menahan diri dari memata-matai keburukan orang lain karena sadar dirinya sendiri pun memiliki banyak cela. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا﴾

“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Mendahulukan Adab Sendiri Sebelum Menilai Adab Orang Lain:

Ia berusaha berakhlak mulia meskipun diperlakukan buruk oleh orang di sekitarnya. Rosululloh bersabda:

«لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا»

“Janganlah kalian menjadi ‘imma’ah’ (ikut-ikutan), yang berkata: ‘Jika orang lain baik kami pun baik, dan jika mereka zholim kami pun zholim.’” (HR. At-Tirmidzi no. 2007)

Menjaga Hati dari Penyakit Iri dan Dengki:

Fokus mengembangkan potensi diri sendiri tanpa harus merasa terganggu dengan keni’matan yang diterima orang lain. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ﴾

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)

Tetap Konsisten Beribadah Meski Lingkungan Tidak Mendukung:

Jika orang lain malas Sholat berjamaah, ia tetap berangkat ke Masjid demi keselamatan dirinya. Rosululloh bersabda:

«الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ»

“Beribadah di masa kekacauan (fitnah/banyak kesesatan) pahalanya seperti berhijroh kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948)

Mengakui Kesalahan dan Segera Bertaubat:

Tidak mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan, melainkan langsung memperbaikinya. Alloh berfirman:

﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat Bagi Diri:

Fokus pada aktivitas yang menambah kualitas ilmu dan amal, bukan pada gosip atau perdebatan kusir. Rosululloh bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317)

Menjaga Lisan dari Mengomentari Urusan Orang:

Menyadari bahwa setiap kata akan dihisab, sehingga ia lebih memilih diam jika tidak ada manfaatnya bagi perbaikan diri. Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَمَتَ نَجَا»

“Siapa yang diam, ia akan selamat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2501)

Bersabar Atas Gangguan Orang Saat Sedang Berhijroh:

Saat ia mulai memperbaiki diri dan dicemooh, ia tetap fokus pada hidayah yang telah didapatnya. Alloh berfirman:

﴿فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ﴾

“Maka bersabarlah kamu sebagaimana sabarnya para Rosul yang memiliki keteguhan hati (Ulul Azmi).” (QS. Al-Ahqof: 35)

PRINSIP 7: KUAT DALAM MENGEMBAN AMANAH

﴿قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ﴾

“Salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata: ‘Wahai ayahku! Jadikanlah ia sebagai pekerja (pada kita), sungguh orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi amanah (dapat dipercaya).’” (QS. Al-Qoshosh: 26)

7.1 Makna Ayat

Prinsip ke-7 dalam membangun kepribadian unggul adalah penggabungan antara kompetensi (quwwah) dan integritas (amanah). Seorang pribadi yang unggul tidak cukup hanya memiliki niat yang baik, tetapi ia juga harus memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang yang ia tekuni. Ayat ini mengisahkan tentang penilaian putri seorang tua (konon Nabi Syu’aib) terhadap Nabi Musa. Kekuatan (quwwah) mencakup kecakapan fisik, mental, ilmu, dan keahlian profesi. Sedangkan amanah mencakup kejujuran, rasa tanggung jawab, dan ketaatan pada aturan.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 23-25) yang menceritakan bagaimana Nabi Musa membantu kedua putri Nabi Syu’aib mengambil air adalah bahwa profesionalisme sejati terlihat saat seseorang membantu orang lain dengan penuh kesungguhan dan adab meskipun dalam kondisi asing atau sulit. Adapun kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 27) mengenai tawaran pernikahan dan kontrak kerja dari Nabi Syu’aib adalah bahwa kepercayaan dan peluang besar dalam hidup hanya akan datang kepada mereka yang telah membuktikan kualitas dirinya melalui dua pilar tersebut: cakap dan jujur.

7.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip profesionalisme dan kekuatan dalam mengemban amanah dalam keseharian:

Berusaha Menguasai Bidang Pekerjaan dengan Mahir:

Seorang Muslim yang unggul selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan sesempurna mungkin. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ»

“Sungguh Alloh mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqon (profesional/sempurna).” (HHR. Abu Ya’la no. 4386)

Menolak Jabatan yang Tidak Sesuai Kemampuan:

Sadar akan keterbatasan diri dan tidak memaksakan diri mengambil amanah yang tidak mampu dipikul karena hal itu akan berbuah kegagalan. Rosululloh bersabda:

«إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»

“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Al-Bukhori no. 6496)

Menjaga Rahasia Perusahaan atau Organisasi:

Menjaga informasi sensitif sebagai bagian dari amanah yang harus dijaga sampai mati. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rosul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu.” (QS. Al-Anfal: 27)

Tepat Waktu dan Disiplin dalam Janji Temu:

Menghargai waktu orang lain sebagai bentuk kekuatan karakter dan amanah lisan. Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ﴾

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)

Memberikan Laporan Kerja Secara Jujur:

Tidak memanipulasi data atau hasil kerja demi terlihat baik di depan atasan. Rosululloh bersabda:

«مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا»

“Siapa yang mencurangi kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no. 101)

Terus Belajar untuk Meningkatkan Kapasitas (Up-skilling):

Menyadari bahwa kekuatan (quwwah) harus terus diperbarui seiring perkembangan zaman. Alloh berfirman:

﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾

“Dan katakanlah: ‘Wahai Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’” (QS. Thoha: 114)

Bertanggung Jawab atas Kesalahan yang Dilakukan:

Pribadi unggul tidak mencari “kambing hitam”, melainkan mengakui kekeliruan dan memperbaikinya. Alloh berfirman:

﴿كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ﴾

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)

Menjaga Stamina dan Kesehatan Fisik:

Menjaga badan agar tetap kuat agar bisa menunaikan amanah dengan maksimal. Rosululloh bersabda:

«الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ»

“Orang Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Alloh daripada orang Mu’min yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Tidak Memakan Harta yang Bukan Haknya (Korupsi):

Menjaga tangan dari mengambil aset pekerjaan untuk kepentingan pribadi. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ﴾

“Siapa yang berkhianat (dalam urusan harta), niscaya ia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu pada hari Qiyamah.” (QS. Ali Imron: 161)

Memberikan Solusi, Bukan Sekadar Masalah:

Menjadi pribadi yang proaktif dan memiliki inisiatif tinggi dalam bekerja seperti Nabi Yusuf. Alloh berfirman tentang ucapan Nabi Yusuf:

﴿اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ﴾

“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sungguh aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)

PRINSIP 8: MEMBANGUN POLA PIKIR POSITIF TERHADAP KETENTUAN ALLOH

﴿كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Tetapi boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 216)

8.1 Makna Ayat

Prinsip ke-8 dalam membangun kepribadian unggul adalah memiliki pola pikir positif atau prasangka baik (husnuzhon) terhadap takdir Alloh. Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa standar “baik” dan “buruk” menurut perasaan manusia seringkali menipu. Manusia hanya melihat permukaan, sementara Alloh melihat hingga ke masa depan dan hakikat terdalam. Ayat ini mengajarkan bahwa ketaatan dan ketangguhan mental lahir dari pemahaman bahwa di balik setiap kesulitan yang kita benci, seringkali tersimpan kebaikan yang besar, dan di balik kesenangan yang kita kejar, terkadang tersimpan keburukan.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 215) yang membahas tentang urutan dalam berinfak kepada orang tua dan kerabat adalah bahwa sebagaimana infak membutuhkan pengorbanan harta demi kebaikan, demikian pula jihad membutuhkan pengorbanan jiwa demi kemuliaan yang lebih besar. Adapun kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 217) yang membahas tentang peperangan di bulan harom adalah untuk mempertegas bahwa segala perintah dan larangan Alloh, sesulit apapun itu, didasarkan pada ilmu-bukan modal semangat saja. Kepribadian unggul tidak mudah mengeluh karena ia yakin bahwa skenario Alloh selalu lebih indah daripada rencananya.

8.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip pola pikir positif terhadap ketentuan Alloh dalam keseharian:

Tetap Tenang Saat Mengalami Kegagalan Bisnis:

Ia yakin bahwa kegagalan tersebut adalah cara Alloh menghindarkannya dari marabahaya yang lebih besar atau cara agar ia belajar lebih gigih. Alloh berfirman:

﴿مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ﴾

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Alloh; dan siapa yang beriman kepada Alloh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghobun: 11)

Menerima Keputusan yang Tidak Sesuai Harapan:

Misalnya saat melamar pekerjaan dan ditolak, ia berprasangka baik bahwa Alloh sedang menyiapkannya untuk tempat yang lebih berkah. Rosululloh bersabda dalam Hadits Qudsi:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي»

“Alloh berfirman: ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.’” (HR. Al-Bukhori no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Tidak Berlarut-larut dalam Kesedihan (Move On):

Memahami bahwa apa yang telah luput darinya memang bukan ditakdirkan untuknya. Rosululloh bersabda:

«وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ»

“Dan ketahuilah, bahwa apa yang luput darimu tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan pernah luput darimu.” (HSR. Abu Dawud no. 4699)

Menghindari Kalimat “Andai Saja”:

Tidak membuka pintu syaithon dengan penyesalan yang tidak produktif terhadap masa lalu. Rosululloh bersabda:

«وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ»

“Jika sesuatu menimpamu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku lakukan begini tentu akan jadi begitu’, tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Alloh, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia perbuat.’” (HR. Muslim no. 2664)

Optimis dalam Menghadapi Penyakit:

Yakin bahwa sakit adalah sarana penggugur dosa dan peluang untuk meningkatkan kesabaran. Rosululloh bersabda:

«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ... إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit... kecuali Alloh akan menghapuskan dengan itu kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhori no. 5641)

Melihat Sisi Baik dari Orang yang Menyakiti:

Berpikir bahwa gangguan orang lain adalah cara Alloh menguji kematangan emosinya. Alloh berfirman:

﴿وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ﴾

“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?” (QS. Al-Furqon: 20)

Menjaga Harapan di Tengah Kesulitan:

Yakin bahwa kemudahan akan datang mengiringi setiap kesulitan. Alloh berfirman:

﴿فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴾

“Karena sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan, sungguh bersama kesulitan tesebut ada kemudahan lain.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)

Tidak Meremehkan Ni’mat Kecil:

Pola pikir positif membuatnya pandai bersyukur bahkan atas hal-hal yang dianggap biasa oleh orang lain. Rosululloh bersabda:

«انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ»

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu (dalam urusan dunia).” (HR. Muslim no. 2963)

Percaya Diri Menghadapi Tantangan Masa Depan:

Ia tidak merasa cemas berlebihan karena yakin Alloh akan mencukupi urusannya selama ia bertaqwa. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾

“Dan siapa yang bertawakkal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Tholaq: 3)

Menjaga Kedamaian Hati (Qona’ah):

Merasa cukup dengan pembagian Alloh sehingga terhindar dari penyakit stres dan ambisi yang buta. Rosululloh bersabda:

«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ»

“Sungguh beruntung orang yang telah berserah diri (Islam), diberikan rizqi yang cukup, dan Alloh menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

PRINSIP 9: KEDISIPLINAN DAN KETEPATAN WAKTU

﴿إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا﴾

“Sungguh Sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang Mu’min.” (QS. An-Nisa: 103)

9.1 Makna Ayat

Prinsip ke-9 dalam membangun kepribadian unggul adalah kedisplinan. Islam mendidik penganutnya untuk menjadi pribadi yang menghargai waktu melalui ibadah-ibadah yang telah ditetapkan jadwalnya secara presisi, terutama Sholat. Ayat ini menegaskan bahwa Sholat bukanlah ibadah yang bisa dikerjakan kapan saja sesuka hati, melainkan memiliki batasan awal dan akhir yang jelas. Kedisplinan dalam Sholat merupakan madrasah bagi seorang Muslim untuk disiplin dalam seluruh aspek kehidupannya yang lain.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 102) yang membahas tentang tata cara Sholat khouf (Sholat dalam keadaan genting/perang) adalah untuk menunjukkan bahwa dalam kondisi paling berbahaya sekalipun, kewajiban Sholat tidak gugur dan tetap harus dijaga waktunya. Jika dalam perang saja waktu sangat diperhatikan, maka dalam kondisi aman, kedisplinan harus jauh lebih utama. Adapun kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 104) yang memerintahkan untuk tidak berhati lemah dalam mengejar musuh adalah bahwa kedisplinan waktu merupakan modal kekuatan mental untuk meraih kemenangan. Kepribadian unggul tidak akan menyia-nyiakan waktu karena ia sadar waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

9.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip kedisplinan dan ketepatan waktu dalam keseharian:

Hadir Tepat Waktu dalam Setiap Pertemuan:

Seorang pribadi unggul menghormati komitmen waktu dengan orang lain sebagai bentuk amanah. Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ﴾

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya.” (QS. Al-Ma’minun: 8)

Menyelesaikan Tugas Sebelum Tenggat Waktu (Deadline):

Tidak menunda-nunda pekerjaan agar tidak menumpuk dan merugikan orang lain. Rosululloh bersabda:

«مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ»

“Menunda-nunda (pembayaran/ kewajiban) bagi orang yang mampu adalah sebuah kezholiman.” (HR. Al-Bukhori no. 2287)

Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal Bermanfaat:

Tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia untuk hal yang tidak menambah iman atau ilmu. Rosululloh bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Ada dua keni’matan yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori no. 6412)

Bangun Pagi untuk Menjemput Berkah:

Membiasakan diri memulai aktivitas sejak awal hari sebagaimana doa Nabi . Rosululloh bersabda:

«اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا»

“Ya Alloh, berkahilah umatku pada waktu pagi buta mereka.” (HSR. Abu Dawud no. 2606)

Membuat Jadwal Harian yang Teratur:

Mengatur urusan dunia agar selaras dengan jadwal ibadah. Alloh berfirman tentang pentingnya keteraturan:

﴿فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ﴾

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (QS. Asy-Syarh: 7)

Disiplin dalam Menjaga Janji pada Diri Sendiri:

Mematuhi target pribadi yang telah dibuat, seperti target bacaan atau olahraga harian. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji (komitmen) itu.” (QS. Al-Maidah: 1)

Tidak Bergadang untuk Hal yang Sia-sia:

Menjaga ritme istirahat agar tetap bugar saat menjalankan kewajiban esok hari. Disebutkan mengenai kebiasaan beliau:

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا»

“Sungguh Rosululloh membenci tidur sebelum Isya dan berbicara (yang tidak perlu) sesudahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 568)

Menyegerakan Kebaikan Tanpa Tapi:

Memiliki prinsip “lakukan sekarang” terhadap setiap peluang amal sholih. Alloh berfirman:

﴿فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ﴾

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan.” (QS. Al-Baqoroh: 148)

Disiplin dalam Mengatur Keuangan:

Membayar hutang tepat waktu dan tidak menunda hak orang lain. Rosululloh bersabda:

«أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ»

“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.” (HSR. Ibnu Majah no. 2443)

Sadar Akan Singkatnya Usia Dunia:

Kesadaran bahwa jatah waktu di dunia sangat terbatas membuatnya sangat berhati-hati dalam menggunakannya. Alloh berfirman:

﴿قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ * قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ﴾

“Alloh bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari.’” (QS. Al-Mu’minun: 112-113)

PRINSIP 10: ISTIQOMAH DALAM KEBAIKAN MESKIPUN SEDIKIT

﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾

“Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) kepada orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)

10.1 Makna Ayat

Prinsip ke-10 dalam membangun kepribadian unggul adalah konsistensi atau istiqomah. Seorang pribadi yang unggul tidak dikenal karena amalannya yang besar namun dilakukan hanya sekali, melainkan karena amalannya yang dilakukan secara terus-menerus meskipun terlihat kecil. Istiqomah merupakan perintah yang sangat berat, bahkan Rosululloh menyebutkan bahwa surat Hud (yang mengandung ayat ini) telah membuat rambut beliau beruban karena beban tanggung jawab untuk tetap teguh di atas perintah Alloh.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 110-111) yang membahas tentang perselisihan Bani Isro’il terhadap kitab mereka adalah sebagai peringatan agar orang beriman tidak goyah seperti umat terdahulu. Seseorang harus tetap teguh di jalur wahyu tanpa berbelok ke kanan atau ke kiri. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 113) yang melarang condong kepada orang-orang zholim adalah bahwa konsistensi hanya bisa dijaga jika seseorang tidak terpengaruh oleh gaya hidup dan prinsip orang-orang yang melanggar aturan Alloh. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang tahan uji terhadap waktu dan keadaan.

10.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip konsistensi dalam kebaikan dalam keseharian:

Menjaga Rutinitas Amal Harian yang Ringan:

Lebih memilih membaca Al-Quran satu lembar setiap hari secara rutin daripada membaca satu juz namun hanya sebulan sekali. Rosululloh bersabda:

«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

“Amalan yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang paling konsisten (rutin) meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhori no. 6465)

Istiqomah dalam Menjalankan Sholat Sunnah Rowatib:

Berusaha tidak meninggalkan Sholat sunnah yang mengiringi Sholat wajib sebagai bentuk penjagaan terhadap amalan pokok. Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ»

“Siapa yang Sholat dalam sehari semalam dua belas roka’at (sunnah rowatib), maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di Jannah.” (HR. Muslim no. 728)

Tetap Berbuat Baik Meskipun Suasana Hati Sedang Tidak Baik:

Pribadi unggul tidak mendasarkan amalannya pada perasaan (mood), melainkan pada kewajiban. Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ﴾

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit.” (QS. Ali Imron: 134)

Menjaga Komitmen dalam Berhenti dari Kebiasaan Buruk:

Setelah bertaubat dari merokok atau perbuatan sia-sia lainnya, ia tetap teguh tidak kembali lagi. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾

“Sungguh orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Ahqof: 13)

Konsisten dalam Menjaga Sholat Berjamaah di Masjid:

Bagi lelaki, berusaha selalu berada di shof terdepan setiap waktu Sholat tanpa terkecuali. Rosululloh bersabda:

«لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ، لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»

“Seandainya manusia mengetahui apa (pahala) yang ada di dalam adzan dan shof pertama, kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundinya. Seandainya mereka mengetahui apa yang ada di bersegera (ke Masjid), tentu mereka akan berlomba. Seandainya mereka mengetahui apa yang ada di Sholat Isya dan Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhori no. 615)

Mempertahankan Standar Kejujuran dalam Bisnis:

Tetap jujur meskipun persaingan di pasar sangat tidak sehat dan banyak orang melakukan kecurangan. Alloh berfirman:

﴿وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ﴾

“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang).” (QS. Al-Muthoffifin: 1)

Sabar dalam Menjalankan Kedisiplinan Hidup:

Menyadari bahwa hasil besar adalah kumpulan dari disiplin kecil yang terus dilakukan. Alloh berfirman:

﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ﴾

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Robbnya di pagi dan senja hari.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Menjaga Lisan dari Ghibah Secara Terus-menerus:

Menjadikan “tidak membicarakan orang lain” sebagai prinsip hidup yang permanen. Rosululloh bersabda:

«لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ، وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ»

“Tidak akan istiqomah iman seorang hamba hingga istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya hingga istiqomah lisannya. Tidak akan masuk Jannah seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Ahmad no. 13047)

Tetap Belajar dan Menambah Ilmu Hingga Akhir Hayat:

Tidak merasa cukup dengan ilmu yang sudah ada, melainkan terus menambahnya setiap hari. Alloh berfirman:

﴿وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾

“Dan sembahlah Robbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Menjaga Niat Ikhlas Sejak Awal Hingga Akhir Amal:

Pribadi unggul selalu memeriksa hatinya agar amalan yang rutin tidak berubah menjadi sekadar kebiasaan hampa tanpa nilai ibadah. Rosululloh bersabda:

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»

“Sungguh setiap amal itu bergantung pada niatnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1)

PRINSIP 11: KEMANDIRIAN DAN KERJA KERAS

﴿وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ﴾

“Manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

11.1 Makna Ayat

Prinsip ke-11 dalam membangun kepribadian unggul adalah kemandirian dan kesungguhan dalam berikhtiar. Seorang pribadi yang unggul tidak menggantungkan nasibnya pada belas kasihan orang lain atau mengharapkan hasil instan tanpa keringat. Ayat ini menegaskan sebuah kaidah keadilan ilahiyyah bahwa hasil yang didapatkan oleh seseorang—baik di dunia maupun di Akhiroh—berbanding lurus dengan kadar kesungguhan usahanya. Kemandirian melahirkan kehormatan diri, sedangkan kemalasan hanya akan melahirkan kehinaan.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 36-38) adalah penegasan kembali atas apa yang ada dalam lembaran-lembaran suci Nabi Musa dan Nabi Ibrohim, bahwa tidak ada seorang pun yang memikul dosa orang lain, dan setiap orang bertanggung jawab atas usahanya sendiri. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 40-41) adalah bahwa usaha tersebut tidak akan disia-siakan oleh Alloh; setiap tetes keringat dan kepayahan akan diperlihatkan dan dibalas dengan balasan yang paling sempurna. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang tangannya selalu berada di atas, bukan di bawah.

11.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip kemandirian dan kerja keras dalam keseharian:

Mencari Nafkah dengan Tangan Sendiri:

Lebih memilih pekerjaan kasar yang halal daripada meminta-minta atau hidup dari belas kasihan orang lain. Rosululloh bersabda:

«لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ، فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ»

“Sungguh, jika salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya untuk dijual hingga dengan sebab itu Alloh menjaga kehormatannya, itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia, baik diberi atau ditolak.” (HR. Al-Bukhori no. 1471)

Menjaga Harga Diri dengan Tidak Meminta-minta (Iffah):

Meskipun dalam kondisi kekurangan, ia berusaha menutupi kebutuhannya dan tetap bekerja agar tidak membebani orang lain. Alloh berfirman:

﴿يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ﴾

“Orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri (dari meminta-minta).” (QS. Al-Baqoroh: 273)

Sungguh-sungguh dalam Menekuni Keahlian:

Berusaha menjadi ahli di bidangnya agar karyanya bernilai tinggi dan bermanfaat bagi umat. Rosululloh bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ»

“Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh, dan janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Menolak Mentalitas “Aji Mumpung” atau Mengandalkan Koneksi:

Memilih untuk membuktikan kualitas diri melalui kerja nyata daripada mencari jalan pintas melalui bantuan orang dalam yang tidak dibenarkan. Alloh berfirman:

﴿فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ﴾

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh.” (QS. Ali Imron: 159)

Cekatan dalam Menolong Diri Sendiri dan Orang Lain:

Tidak menjadi beban bagi lingkungan sekitar dan selalu memiliki inisiatif untuk bergerak tanpa harus disuruh. Alloh berfirman:

﴿وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ﴾

“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Robbmu.” (QS. Ali Imron: 133)

Memiliki Target Hidup yang Jelas dan Terukur:

Bekerja dengan rencana yang matang sebagai bagian dari bentuk kesungguhan usaha. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ﴾

“Sungguh usahamu memang beraneka ragam.” (QS. Al-Lail: 4)

Tidak Bergantung pada Warisan atau Pemberian:

Pribadi unggul bangga dengan apa yang ia bangun dari nol melalui bimbingan Alloh. Rosululloh bersabda:

«مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ»

“Tidak ada seorang pun yang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri. Sungguh Nabi Alloh Dawud dahulu makan dari hasil kerja tangannya.” (HR. Al-Bukhori no. 2072)

Pantang Menyerah Saat Menghadapi Hambatan:

Memandang kesulitan sebagai bagian dari proses usaha yang harus dilalui dengan sabar. Alloh berfirman:

﴿فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴾

“Karena sungguh sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5)

Mengoptimalkan Potensi Akal dan Fisik:

Menggunakan seluruh pemberian Alloh untuk berproduksi dan memberi manfaat. Rosululloh bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HHR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jamul Ausath no. 5787)

Menjaga Kemandirian dalam Berpikir dan Berprinsip:

Tidak mudah ikut-ikutan tren yang menyimpang karena memiliki pondasi ilmu yang kuat hasil belajar sendiri. Alloh berfirman:

﴿بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ﴾

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah: 14)

PRINSIP 12: MENJAGA LISAN DARI PERKATAAN SIA-SIA

﴿مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)

12.1 Makna Ayat

Prinsip ke-12 dalam membangun kepribadian unggul adalah penguasaan diri terhadap lisan. Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa setiap huruf yang keluar dari mulutnya, atau setiap kalimat yang ia ketik di media sosial, akan dicatat secara akurat oleh Malaikat Roqib dan ‘Atid untuk kemudian dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh. Menjaga lisan bukan hanya berarti menghindari kata-kata kotor, namun juga menahan diri dari pembicaraan yang tidak bermanfaat (laghwu). Kualitas diri seseorang sering kali terlihat dari apa yang ia bicarakan; jika pembicaraannya berbobot dan penuh dzikir, maka unggullah ia.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 17) yang membahas tentang dua Malaikat yang mencatat di sebelah kanan dan kiri adalah untuk memberikan penekanan bahwa pengawasan Alloh sangatlah ketat dan tidak ada celah bagi manusia untuk bersembunyi. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 19) yang membahas tentang sakarotul maut adalah pengingat bahwa penyesalan atas lisan yang tidak terjaga sering kali baru memuncak saat kematian datang menjemput. Kepribadian unggul adalah mereka yang menjadikan lisannya sebagai ladang pahala, bukan sumber bencana.

12.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip menjaga lisan dalam keseharian:

Berpikir Matang Sebelum Berucap:

Pribadi unggul selalu menimbang manfaat dan mudhorot dari ucapannya. Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُطت»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018)

Menghindari Ghibah dan Mencela Orang Lain:

Tidak membicarakan aib orang lain meskipun hal itu benar adanya. Alloh berfirman:

﴿وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا﴾

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Menjauhi Perdebatan yang Tidak Menghasilkan Kebaikan:

Memilih mengalah dalam debat meskipun ia berada di pihak yang benar demi menjaga kedamaian hati. Rosululloh bersabda:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran Jannah bagi siapa yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.” (HHR. Abu Dawud no. 4800)

Menahan Diri dari Berdusta Meskipun Sedang Bercanda:

Integritas lisan dijaga dalam segala kondisi, termasuk saat ingin membuat orang tertawa. Rosululloh bersabda:

«وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ»

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta agar orang-orang tertawa; celakalah ia, celakalah ia.” (HHR. Abu Dawud no. 4990)

Menjaga Rahasia Orang Lain dengan Rapat:

Tidak membocorkan kepercayaan yang diberikan oleh teman atau kolega kerja. Rosululloh bersabda:

«إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ»

“Apabila seseorang membicarakan sesuatu kemudian ia menoleh (menjaga agar tidak didengar orang lain), maka pembicaraan itu adalah amanah.” (HHR. Abu Dawud no. 4868)

Memperbanyak Dzikir dan Kalimat Thoyyibah:

Menghiasi lisan dengan pujian kepada Alloh daripada mengeluh atau mencaci keadaan. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)

Tidak Ikut Serta dalam Penyebaran Hoaks:

Menutup rapat lisan (dan jari) dari membagikan informasi yang belum tentu benar. Alloh berfirman:

﴿إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ... وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ﴾

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun... padahal itu di sisi Alloh adalah perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)

Menghindari Kata-kata Kasar dan Makian:

Menjaga lisan agar tidak menyakiti perasaan orang lain dengan sebutan yang buruk. Rosululloh bersabda:

«لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ»

“Bukanlah seorang Mu’min itu orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, maupun berkata kotor.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1977)

Mengaku Salah Jika Terlanjur Salah Berucap:

Berani meminta maaf dengan tulus jika ucapannya menyinggung atau merugikan orang lain. Alloh berfirman:

﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾

“Dan berkatalah kamu kepada manusia dengan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Baqoroh: 83)

Sadar Bahwa Lisan Adalah Penentu Nasib di Akhiroh:

Keyakinan bahwa banyak orang tergelincir ke Naar hanya karena buah dari lisannya. Rosululloh bersabda kepada Mu’adz bin Jabal:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ»

“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan manusia ke dalam Naar di atas wajah-wajah mereka melainkan hasil dari lisan-lisan mereka?” (HSR. At-Tirmidzi no. 2616)

PRINSIP 13: KEBERANIAN DALAM MENYUARAKAN KEBENARAN

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang Mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al-Maidah: 54)

13.1 Makna Ayat

Prinsip ke-13 dalam membangun kepribadian unggul adalah syaja’ah atau keberanian yang berlandaskan keimanan. Seorang pribadi yang unggul tidak akan menggadaikan prinsip kebenaran demi mencari muka di hadapan manusia atau menghindari kritik. Ayat ini menggambarkan kriteria kaum yang dicintai Alloh, salah satunya adalah ketidaktakutan mereka terhadap celaan saat menjalankan perintah agama atau menyuarakan kebenaran. Keberanian ini bukan berarti keangkuhan, melainkan keteguhan hati karena menyadari bahwa ridho Alloh jauh lebih utama daripada ridho makhluk.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 51-53) yang melarang mengambil orang-orang Yahudi dan Nasroni sebagai pemimpin/wali adalah sebagai peringatan bahwa ketika seseorang lebih takut kepada tekanan sosial atau politik daripada perintah Alloh, ia berada di ambang kerapuhan iman. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 55) adalah penegasan bahwa penolong sejati hanyalah Alloh, Rosul-Nya, dan orang-orang beriman. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang tetap tegak menyuarakan “haq” meskipun seluruh dunia mencibirnya.

13.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip keberanian dalam menyuarakan kebenaran dalam keseharian:

Berani Mengingatkan Teman yang Berbuat Maksiat:

Tidak diam saat melihat kemungkaran di depan mata hanya karena takut dikucilkan dari pergaulan. Rosululloh bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ»

“Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya.” (HR. Muslim no. 49)

Menolak Perintah Atasan yang Bertentangan dengan Syariat:

Berani berkata tidak ketika disuruh melakukan korupsi atau kecurangan, meskipun berisiko kehilangan jabatan. Rosululloh bersabda:

«لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي المَعْرُوفِ»

“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan; sungguh ketaatan itu hanyalah dalam hal yang ma’ruf (baik).” (HR. Al-Bukhori no. 7257)

Menyampaikan Kebenaran di Hadapan Pemimpin yang Zholim:

Memiliki mentalitas untuk memberikan nasihat yang jujur kepada pemegang otoritas tanpa rasa takut. Rosululloh bersabda:

«أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ، أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ»

“Jihad yang paling utama adalah kalimat keadilan (kebenaran) di hadapan penguasa yang zholim atau pejabat yang zholim.” (HSR. Abu Dawud no. 4344)

Tetap Konsisten Berhijroh di Tengah Olokan:

Saat seseorang mulai memperbaiki diri dan diejek oleh lingkungan lama, ia tetap teguh dan tidak kembali pada keburukan. Alloh berfirman:

﴿فَلَا تَخْشَوُهُمْ وَاخْشَوْنِ﴾

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Maidah: 3)

Membela Orang yang Ter-zholimi Meskipun Ia Minoritas:

Berani bersuara membela hak orang lain yang dirampas meskipun hal itu membuatnya tidak populer. Alloh berfirman:

﴿كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ﴾

“Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Alloh, walaupun terhadap dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 135)

Mengakui Kesalahan di Depan Publik:

Keberanian untuk tidak menyembunyikan kebenaran meskipun kebenaran itu pahit bagi nama baiknya sendiri. Rosululloh bersabda:

«قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا»

“Katakanlah kebenaran itu walaupun pahit.” (HR. Ibnu Hibban no. 361)

Tidak Ikut-ikutan dalam Fitnah atau Gosip Massal:

Berani tampil beda dengan menghentikan pembicaraan buruk saat orang-orang di sekitarnya sedang asyik ber-ghibah. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ﴾

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling darinya.” (QS. Al-Qoshosh: 55)

Menegakkan Prinsip Halal-Harom dalam Perniagaan:

Berani mengedukasi pelanggan atau mitra bisnis tentang aturan syariat meskipun dianggap terlalu kaku oleh orang lain. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqoroh: 42)

Berani Menanggung Resiko Atas Prinsip Hidup:

Yakin bahwa kemuliaan hanya datang dari Alloh, sehingga tidak takut kehilangan rizqi atau martabat di mata manusia. Alloh berfirman:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾

“Siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allohlah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathir: 10)

Menjaga Identitas Islam di Lingkungan Asing:

Tetap bangga menunjukkan identitas dan menjalankan ibadah meskipun berada di tengah masyarakat yang tidak mengenal atau membenci Islam. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal yang sholih, dan berkata: ‘Sungguh aku termasuk orang-orang Muslim.’” (QS. Fusshilat: 33)

PRINSIP 14: KETENANGAN JIWA DALAM MENGHADAPI TEKANAN HIDUP

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

14.1 Makna Ayat

Prinsip ke-14 dalam membangun kepribadian unggul adalah pencapaian ketenangan jiwa (thuma’ninah). Seorang pribadi yang unggul tidak mudah guncang oleh tekanan eksternal, karena ia memiliki jangkar yang kuat di dalam hatinya, yaitu dzikrulloh. Ayat ini menegaskan bahwa materi, jabatan, atau pengakuan manusia tidak akan pernah mampu memberikan ketenangan sejati. Ketenangan hanyalah milik mereka yang hatinya selalu tersambung dengan Sang Pencipta. Mengingat Alloh (dzikrulloh) mencakup lisan yang berdzikir, pikiran yang merenungi keagungan-Nya, dan hati yang ridho atas segala ketentuan-Nya.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 27) yang membahas tentang orang-orang kafir yang bertanya mengapa tidak diturunkan mukjizat kepada Nabi adalah untuk menunjukkan bahwa bukti kebenaran yang paling nyata adalah perubahan hati menjadi tenang setelah menerima hidayah. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 29) adalah bahwa ketenangan hati merupakan pintu gerbang menuju keberuntungan (thuba) dan tempat kembali yang baik. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang tetap mampu berfikir jernih dan bertindak bijak meskipun berada di bawah tekanan yang hebat.

14.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip ketenangan jiwa dalam keseharian:

Tetap Tenang Saat Mengalami Krisis Finansial:

Ia tidak panik berlebihan karena yakin bahwa rizqinya sudah diatur dan dzikir membuatnya merasa cukup. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾

“Siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

Menjaga Kestabilan Emosi Saat Dihina:

Tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, karena hatinya sedang sibuk berdzikir dan mengharap ridho Alloh. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا﴾

“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqon: 63)

Menenangkan Diri Sebelum Mengambil Keputusan Penting:

Tidak terburu-buru (grusa-grusu) karena sadar bahwa ketergesaan berasal dari syaithon. Rosululloh bersabda:

«التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ»

“Sifat tenang dan hati-hati berasal dari Alloh, sedangkan sifat tergesa-gesa berasal dari syaithon.” (HHR. Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubro no. 20270)

Menjadikan Sholat Sebagai Sarana Relaksasi:

Saat beban kerja menumpuk, ia segera mengambil wudhu dan Sholat untuk mengembalikan ketenangan. Rosululloh bersabda:

«يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا»

“Wahai Bilal, kumandangkanlah iqomah Sholat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HSR. Abu Dawud no. 4985)

Menghindari Kegelisahan Akibat Ambisi Duniawi:

Memangkas keinginan yang berlebihan agar hati tidak selalu merasa kurang. Rosululloh bersabda:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan sejati adalah kaya jiwa (hati yang merasa cukup).” (HR. Al-Bukhori no. 6446)

Sikap Tenang Saat Menghadapi Kematian Keluarga:

Menerima takdir dengan lisan yang memuji Alloh meskipun air mata menetes. Rosululloh bersabda:

«إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى»

“Sesungguhnya sabar itu (terlihat) pada hentakan (ujian) yang pertama.” (HR. Al-Bukhori no. 1283)

Tidak Mudah Terprovokasi Berita Buruk:

Menyaring informasi dengan kepala dingin dan hati yang terjaga dengan dzikir. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Menjaga Kualitas Tidur dengan Dzikir:

Memulai istirahat dengan mengingat Alloh agar jiwa tetap tenang sepanjang malam. Rosululloh bersabda:

«بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ»

“Dengan nama-Mu wahai Robbku, aku meletakkan lambungku dan dengan nama-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menaha ruhku maka rohmatillah. Jika Engkau melepasnya (hingga aku terbangun) maka jagalah ia seperti penjagaan-Mua atas hamba-hamba-Mu yang sholih.” (HR. Al-Bukhori no. 6320)

Percaya Diri Saat Berbicara di Depan Umum:

Rasa tenang muncul karena yakin bahwa lidahnya digerakkan oleh izin Alloh. Sebagaimana doa Nabi Musa:

﴿رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي * وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي﴾

“Wahai Robbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.” (QS. Thoha: 25-26)

Menjaga Kedamaian dalam Rumah Tangga:

Menjadi penyejuk bagi anggota keluarga dengan tutur kata yang tenang dan jauh dari teriakan. Alloh berfirman:

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا﴾

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21)

PRINSIP 15: MANAJEMEN EMOSI DAN MENAHAN AMARAH

﴿الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron: 134)

15.1 Makna Ayat

Prinsip ke-15 dalam membangun kepribadian unggul adalah penguasaan emosi, khususnya dalam meredam amarah. Seorang pribadi yang unggul bukanlah mereka yang tidak pernah merasa marah, melainkan mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan (al-kadzhimin) luapan emosi tersebut agar tidak mewujud dalam ucapan atau tindakan yang buruk. Ayat ini menempatkan kemampuan menahan amarah sebagai salah satu ciri utama penghuni Jannah. Menahan amarah menuntut kekuatan mental yang luar biasa karena harus melawan gejolak ego dan bisikan syaithon.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 133) yang berisi ajakan untuk bersegera menuju ampunan Alloh dan Jannah-Nya adalah bahwa salah satu jalan pintas menuju Jannah tersebut adalah dengan memiliki akhlaq yang mulia, termasuk mengelola emosi. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 135) yang membahas tentang orang yang melakukan kesalahan lalu bertaubat adalah pengingat bahwa jika seseorang gagal menahan amarahnya hingga melakukan kezholiman, maka jalan keluarnya adalah segera sadar dan memohon ampun. Kepribadian unggul adalah mereka yang memegang kendali atas dirinya sendiri, bukan budak dari emosinya.

15.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip manajemen emosi dalam keseharian:

Diam Saat Merasa Emosi Memuncak:

Menyadari bahwa ucapan saat marah seringkali berujung pada penyesalan, maka ia memilih untuk tidak berbicara. Rosululloh bersabda:

«إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ»

“Apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam.” (HSR. Ahmad no. 2136)

Mengubah Posisi Tubuh untuk Merendahkan Tensi:

Mempraktikkan teknik fisik untuk meredam kemarahan sesuai arahan Nabi . Rosululloh bersabda:

«إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ»

“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika marahnya belum hilang, hendaklah ia berbaring.” (HSR. Abu Dawud no. 4782)

Segera Berwudhu Saat Merasa Panas Hati:

Menggunakan air sebagai sarana memadamkan api amarah yang berasal dari syaithon. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ»

“Sungguh amarah itu dari syaithon, dan syaithon diciptakan dari api, dan api hanya padam dengan air, maka apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud no. 4784)

Membaca Ta’awwudz Saat Terprovokasi:

Meminta perlindungan Alloh agar tidak terbawa arus emosi yang destruktif. Alloh berfirman:

﴿وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ﴾

“Dan jika syaithon mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Alloh.” (QS. Al-A’rof: 200)

Tetap Bersikap Adil Meski Sedang Membenci:

Tidak membiarkan rasa benci membuat seseorang berbuat zholim atau memberikan penilaian yang tidak objektif. Alloh berfirman:

﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ﴾

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Maidah: 8)

Memandang Kekuatan Sejati pada Pengendalian Diri:

Mengubah paradigma bahwa orang kuat bukanlah yang jago berkelahi, melainkan yang mampu menahan diri. Rosululloh bersabda:

«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya saat marah.” (HR. Al-Bukhori no. 6114)

Sabar Menghadapi Perilaku Buruk Pasangan:

Menahan amarah saat terjadi perselisihan rumah tangga demi menjaga keutuhan keluarga. Alloh berfirman:

﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا﴾

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Menjadi Penengah yang Mendinginkan Suasana:

Tidak ikut tersulut emosi saat orang lain sedang bertikai, melainkan mendamaikan. Alloh berfirman:

﴿فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ﴾

“Oleh sebab itu bertaqwalah kepada Alloh dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfal: 1)

Menyadari Dampak Buruk Amarah bagi Kesehatan:

Menjaga emosi agar tetap stabil demi menjaga amanah tubuh yang diberikan Alloh. Rosululloh memberikan wasiat singkat:

«لَا تَغْضَبْ»

“Janganlah kamu marah.” (Nasihat ini diulang berkali-kali oleh beliau) (HR. Al-Bukhori no. 6116)

Memaafkan Sebelum Diminta:

Mencapai tingkatan tertinggi dalam manajemen emosi, yaitu tidak hanya menahan marah tapi juga menghapuskan dendam. Alloh berfirman:

﴿فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ﴾

“Maka siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh.” (QS. Asy-Syuro: 40)

PRINSIP 16: ETIKA DALAM BERINTERAKSI DAN BERKOMUNIKASI

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurot: 11)

16.1 Makna Ayat

Prinsip ke-16 dalam membangun kepribadian unggul adalah menjaga adab dalam berinteraksi sosial. Seorang pribadi yang unggul sangat memperhatikan perasaan orang lain dan menjaga kehormatan sesama. Ayat ini memberikan batasan tegas dalam berkomunikasi: dilarang merendahkan, mencela, atau memberi julukan yang menyakitkan hati. Kepribadian unggul menyadari bahwa standar kemuliaan di sisi Alloh adalah ketaqwaan, bukan rupa, harta, atau status sosial, sehingga ia tidak merasa lebih baik dari orang lain.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 9-10) yang membahas tentang mendamaikan perselisihan antar Mu’min adalah bahwa persaudaraan hanya bisa kokoh jika setiap individu menjaga lisannya dari hal-hal yang memicu keretakan hubungan. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 12) yang membahas tentang larangan berprasangka buruk dan ghibah adalah bahwa etika interaksi harus dijaga baik di depan orangnya maupun di belakangnya. Kepribadian unggul adalah mereka yang kehadirannya memberikan rasa aman dan nyaman bagi orang di sekitarnya.

16.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip etika interaksi dan komunikasi dalam keseharian:

Menghargai Pendapat Orang Lain dalam Diskusi:

Tidak meremehkan ide orang lain meskipun berbeda pandangan. Alloh berfirman:

﴿وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾

“Dan bantahlah (berdiskusi) dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Memanggil Orang Lain dengan Nama yang Disukai:

Menghindari penggunaan nama ejekan atau singkatan yang merendahkan martabat seseorang. Rosululloh bersabda:

«بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ»

“Cukuplah seseorang dianggap berbuat jahat jika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim no. 2564)

Memberikan Senyuman Saat Bertemu:

Membangun kesan positif dan ramah dalam setiap perjumpaan. Rosululloh bersabda:

«تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»

“Senyummu di depan wajah saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1956)

Memperhatikan Adab Saat Bertamu:

Tidak masuk ke rumah atau ruang pribadi orang lain tanpa izin dan salam. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An-Nur: 27)

Menjaga Tinggi Suara Saat Berbicara:

Tidak berteriak-teriak yang dapat mengganggu kenyamanan orang di sekitar. Alloh berfirman:

﴿وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ﴾

“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (QS. Luqman: 19)

Mendahulukan Orang yang Lebih Tua dalam Penghormatan:

Memberikan prioritas dan berbicara dengan lebih sopan kepada mereka yang lebih senior. Rosululloh bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا»

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih besar di antara kami.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1920)

Tidak Memotong Pembicaraan Orang Lain:

Menjadi pendengar yang baik sebagai bentuk penghargaan terhadap lawan bicara. Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya (termasuk rekan bicaranya).” (HR. Muslim no. 47)

Menjaga Etika dalam Berkomunikasi Lewat Pesan Singkat:

Menggunakan bahasa yang santun dan tidak mengirim pesan di waktu istirahat yang tidak darurat. Alloh berfirman:

﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾

“Dan berkatalah kamu kepada manusia dengan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Baqoroh: 83)

Menghindari Berbisik Berdua di Depan Orang Ketiga:

Menjaga perasaan orang lain agar tidak merasa dikucilkan atau dicurigai. Rosululloh bersabda:

«إِذَا كُنْتُمْ ثَلاَثَةً، فَلاَ يَتَنَاجَى رَجُلاَنِ دُونَ الآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ، أَجْلَ أَنْ يُحْزِنَهُ»

“Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan temannya, agar tidak menjadikannya sedih.” (HR. Al-Bukhori no. 6290)

Membalas Penghormatan dengan yang Lebih Baik:

Jika diberi salam atau kebaikan, ia membalasnya dengan minimal setara atau lebih. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا﴾

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa: 86)

PRINSIP 17: MEMBALAS KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

﴿وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Balaslah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fusshilat: 34)

17.1 Makna Ayat

Prinsip ke-17 dalam membangun kepribadian unggul adalah kemampuan untuk tidak membalas dendam dan justru memberikan respon positif terhadap perlakuan negatif. Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang rantai kebencian. Ayat ini memberikan sebuah “resep” sosial yang ajaib: dengan membalas perilaku buruk menggunakan cara yang lebih baik (ihsan), hati manusia yang keras dapat melunak, dan permusuhan dapat berubah menjadi persahabatan yang erat. Ini adalah bentuk kemenangan moral yang paling tinggi.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 33) yang membahas tentang kemuliaan orang yang berda’wah dan beramal sholih adalah bahwa da’wah tidak akan efektif jika pelakunya mudah tersinggung atau pendendam. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 35) adalah penegasan bahwa sifat mulia ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Kepribadian unggul adalah mereka yang memiliki kelapangan dada seluas samudera, yang mampu menampung sampah keburukan orang lain namun tetap membalasnya dengan mutiara kebaikan.

17.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip membalas keburukan dengan kebaikan dalam keseharian:

Tetap Berbuat Baik kepada Kerabat yang Memutus Silaturrohim:

Mendatangi kerabat yang tidak mau mendatangi kita sebagai bentuk keunggulan akhlaq. Rosululloh bersabda:

«لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»

“Bukanlah penyambung silaturrohim itu orang yang membalas kebaikan, tetapi penyambung silaturrohim adalah orang yang jika hubungan rahimnya diputus, ia tetap menyambungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 5991)

Mendoakan Kebaikan bagi Orang yang Memfitnah:

Meniru akhlaq para Nabi yang justru mendoakan hidayah bagi mereka yang menyakiti. Sebagaimana doa Rosululloh saat di Thoif:

«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ»

“Ya Alloh, ampunilah kaumku, karena sungguh mereka tidak mengetahui.” (HR. Al-Bukhori no. 3477 dan Muslim no. 1792)

Memberi Hadiah kepada Tetangga yang Tidak Menyukainya:

Menggunakan pendekatan kasih sayang untuk mencairkan ketegangan hubungan bertetangga. Rosululloh bersabda:

«تَهَادَوْا تَحَابُّوا»

“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HHR. Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrad no. 594)

Tetap Tersenyum kepada Orang yang Bermuka Masam:

Tidak membiarkan suasana hati orang lain mendikte kebaikan kita. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا﴾

“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, mereka lewat dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqon: 72)

Membantu Rekan Kerja yang Pernah Menjatuhkannya:

Saat rekan tersebut membutuhkan bantuan, pribadi unggul tetap membantu secara profesional tanpa mengungkit masa lalu. Alloh berfirman:

﴿وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ﴾

“Dan pemaafanmu itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Baqoroh: 237)

Tidak Membalas Cacian di Media Sosial:

Memilih untuk tetap menyampaikan data dan fakta secara santun meskipun diserang secara pribadi. Alloh berfirman:

﴿ادْفَعْ بِالَّتِي هي أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ﴾

“Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik.” (QS. Al-Mu’minun: 96)

Memaafkan Orang yang Pernah Menipu:

Jika penipu tersebut telah bertaubat atau dalam kondisi terdesak, pribadi unggul lebih memilih memaafkan daripada menuntut dendam. Alloh berfirman:

﴿فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ﴾

“Maka siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh.” (QS. Asy-Syuro: 40)

Menyapa Terlebih Dahulu Orang yang Sedang Mendiamkan Kita:

Menyingkirkan ego demi meraih keberkahan hubungan. Rosululloh bersabda:

«خَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ»

“Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan salam.” (HR. Al-Bukhori no. 6077)

Tetap Jujur kepada Orang yang Pernah Mengkhianati Kita:

Tidak membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan yang sama karena ingin menjaga prinsip kejujuran. Rosululloh bersabda:

«أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ»

“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HSR. Abu Dawud no. 3535)

Sabar dan Tetap Melayani Pelanggan yang Marah:

Dalam dunia jasa, membalas komplain kasar dengan pelayanan ekstra maksimal. Alloh berfirman:

﴿وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ﴾

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk urusan yang diutamakan.” (QS. Asy-Syuro: 43)

PRINSIP 18: KEJUJURAN DALAM SEGALA KEADAAN

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)

18.1 Makna Ayat

Prinsip ke-18 dalam membangun kepribadian unggul adalah kejujuran (Ash-Shidqu). Kejujuran bukan sekadar berkata apa adanya, melainkan keselarasan total antara keyakinan hati, ucapan lisan, dan tindakan nyata. Seorang pribadi yang unggul menjadikan kejujuran sebagai identitas mutlaknya, karena ia menyadari bahwa kejujuran adalah jalan menuju ketenangan hati dan kemuliaan di sisi Alloh. Sebaliknya, kedustaan adalah pangkal dari segala kerusakan dan ciri utama kemunafikan. Kejujuran menuntut keberanian, terutama saat menyampaikan kebenaran berisiko mendatangkan kerugian duniawi.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 117-118) yang menceritakan tentang taubatnya tiga orang Shohabat (terutama Ka’ab bin Malik) yang tertinggal dalam Perang Tabuk adalah bahwa mereka selamat dan diampuni oleh Alloh justru karena kejujuran mereka mengakui alasan ketidakhadiran mereka tanpa membuat alasan palsu. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 120) adalah bahwa kejujuran merupakan modal dasar bagi kesabaran dalam perjuangan. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang lebih memilih menderita karena jujur daripada bahagia di atas kebohongan.

18.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip kejujuran dalam keseharian:

Jujur dalam Mengakui Kesalahan Kerja:

Tidak melemparkan tanggung jawab atau mencari alasan saat melakukan kekeliruan dalam tugas. Rosululloh bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ»

“Hendaklah kamu bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2607)

Transparan dalam Menjelaskan Cacat Barang Dagangan:

Memberitahukan kekurangan produk kepada pembeli tanpa ada yang disembunyikan. Rosululloh bersabda:

«البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»

“Dua orang yang berjual beli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang), maka akan diberkahi jual beli mereka. Jika keduanya menyembunyikan (cacat) dan berdusta maka barokah transaksinya dicabut.” (HR. Al-Bukhori no. 2079)

Jujur dalam Pengisian Laporan Keuangan:

Tidak melakukan mark-up atau manipulasi angka demi keuntungan pribadi atau kelompok. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ﴾

“And janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqoroh: 188)

Menyampaikan Informasi Apa Adanya Tanpa Bumbu Tambahan:

Menjaga lisan agar tidak melebih-lebihkan cerita demi mendapatkan perhatian orang lain. Rosululloh bersabda:

«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar (tanpa dipastikan kebenarannya).” (HR. Muslim no. 5)

Jujur dalam Memberikan Penilaian (Testimoni):

Memberikan ulasan atau kesaksian berdasarkan kenyataan, bukan karena pesanan atau kepentingan tertentu. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ﴾

“Dan apabila kamu berbicara, maka berlaku adillah, kendatipun dia adalah kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)

Memegang Teguh Janji Meski Terasa Berat:

Konsisten melakukan apa yang telah diucapkan sebagai bentuk kejujuran lisan. Alloh berfirman:

﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ﴾

“Di antara orang-orang Mu’min itu ada para lelaki yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 23)

Tidak Memalsukan Dokumen atau Identitas:

Menghindari segala bentuk pemalsuan surat, tanda tangan, atau data diri untuk kepentingan apapun. Rosululloh bersabda:

«مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا»

“Siapa yang mencurangi kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no. 101)

Jujur dalam Mengaku Tidak Tahu:

Berani mengakui keterbatasan ilmu daripada memberikan informasi menyesatkan demi menjaga gengsi. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isro’: 36)

Jujur dalam Perasaan kepada Pasangan:

Membangun keterbukaan dalam rumah tangga tanpa ada rahasia yang merusak kepercayaan kecuali beberapa rahasia suami terkait pekerjaan dan semisalnya yang tidak bermanfaat jika diketahui istrinya. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ»

“Kejujuran adalah ketenangan, sedangkan kedustaan adalah keraguan.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2518)

Berani Jujur Meski Berisiko Dihukum:

Yakin bahwa kejujuran akan membawa keselamatan jangka panjang di hadapan Alloh. Rosululloh bersabda:

«تَحَرَّوا الصِّدقَ، وَإِنْ رَأَيْتُمْ أَنَّ فِيهِ الهَلَكَةَ؛ فَإِنَّ فِيهِ النَّجَاةَ»

“Carilah kejujuran meskipun kalian melihat ada kehancuran di dalamnya, karena sesungguhnya di dalam kejujuran itulah terdapat keselamatan.” (HR. Ibnu Abid Dunya dalam Ash-Shomtu no. 446. Ad-Dimyati menyatakan sanadnya bagus tapi mu’dhol)

PRINSIP 19: KEADILAN DALAM MENILAI DAN BERTINDAK

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Alloh, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Maidah: 8)

19.1 Makna Ayat

Prinsip ke-19 dalam membangun kepribadian unggul adalah keadilan (adl). Seorang pribadi yang unggul memiliki integritas untuk tetap berbuat adil, baik dalam ucapan maupun tindakan, kepada siapa pun—termasuk kepada orang yang ia benci sekalipun. Keadilan sejati adalah memberikan hak kepada setiap pemiliknya secara proporsional sesuai aturan Alloh. Ayat ini menegaskan bahwa emosi negatif seperti kebencian tidak boleh menjadi alasan untuk menzholimi orang lain atau mengurangi hak mereka. Keadilan adalah barometer kedekatan seseorang kepada taqwa.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 1-7) yang membahas tentang kesucian perjanjian, kehalalan makanan, dan pentingnya wudhu adalah bahwa kesucian lahiriyah dan aturan syariat tidak akan sempurna tanpa tegaknya keadilan sosial. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 9) adalah janji Alloh berupa ampunan dan pahala yang besar bagi mereka yang beriman dan beramal sholih, di mana penegakan keadilan adalah salah satu amal sholih yang paling utama. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang objektif; ia melihat kebenaran sebagai kebenaran meskipun datang dari musuhnya, dan melihat kesalahan sebagai kesalahan meskipun dilakukan oleh orang terdekatnya.

19.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip keadilan dalam keseharian:

Memberikan Penilaian Kinerja Karyawan secara Objektif:

Seorang manajer memberikan nilai berdasarkan hasil kerja nyata, bukan karena rasa suka atau tidak suka secara pribadi. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ﴾

“Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

Bersikap Adil kepada Semua Anak:

Orang tua tidak membeda-bedakan kasih sayang atau pemberian materi antara anak yang satu dengan yang lain. Rosululloh bersabda:

«اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلادِكُمْ»

“Bertaqwalah kepada Alloh dan berlaku adillah di antara anak-anakmu.” (HR. Al-Bukhori no. 2587)

Mengakui Kebaikan Orang Lain Meski Berbeda Pandangan:

Berani memuji kelebihan kompetitor atau lawan bicara yang memang benar dan berkualitas. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ﴾

“Dan apabila kamu berbicara, maka berlaku adillah, kendatipun dia adalah kerabat(mu).” (QS. Al-An’am: 152)

Menimbang Informasi dengan Berimbang (Cover both sides):

Tidak langsung menghakimi satu pihak sebelum mendengar penjelasan dari pihak lainnya. Rosululloh bersabda:

«إِذَا تَقَاضَى إِلَيْكَ رَجُلَانِ، فَلَا تَقْضِ لِلأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلَامَ الآخَرِ، فَسَوْفَ تَدْرِي كَيْفَ تَقْضِي»

“Jika dua orang meminta keputusan hukum kepadamu, janganlah kamu memutuskan untuk orang pertama sampai kamu mendengar perkataan orang kedua. Maka kamu akan tahu bagaimana memutuskan terbaik.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1331)

Adil dalam Membagi Waktu Antara Pekerjaan dan Keluarga:

Memberikan hak tubuh untuk istirahat, hak keluarga untuk ditemani, dan hak Alloh untuk disembah. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ»

“Sungguh Robbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu; maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya masing-masing.” (HR. Al-Bukhori no. 1968)

Membayar Hutang Sesuai Jumlah dan Waktu yang Disepakati:

Tidak mengurangi nilai atau menunda pembayaran yang merupakan hak orang lain. Alloh berfirman:

﴿أَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ﴾

“Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (QS. Al-An’am: 152)

Tidak Membela Kerabat yang Berbuat Zholim:

Tetap berdiri di atas kebenaran meskipun harus memberikan kesaksian yang memberatkan keluarga sendiri. Alloh berfirman:

﴿كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ﴾

“Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Alloh, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135)

Memberikan Upah yang Layak kepada Pekerja:

Menyesuaikan beban kerja dengan kompensasi yang adil tanpa ada unsur eksploitasi. Rosululloh bersabda dalam Hadits Qudsi bahwa Alloh menjadi musuh bagi:

«رَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ»

“Seseorang yang mempekerjakan buruh, buruh itu telah memenuhi tugasnya namun ia tidak memberikan upahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 2227)

Bersikap Proporsional dalam Menanggapi Masalah:

Tidak berlebihan dalam memberikan hukuman atau respon atas sebuah kesalahan. Alloh berfirman:

﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا﴾

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (QS. Asy-Syuro: 40)

Menjaga Keadilan dalam Berkomentar di Ruang Publik:

Tidak ikut melakukan perundungan massal (mass bullying) tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya secara utuh. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ﴾

“Sungguh Alloh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

PRINSIP 20: RENDAH HATI DAN MENJAUHKAN DIRI DARI KESOMBONGAN

﴿وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا﴾

“Adapun hamba-hamba Robb Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqon: 63)

20.1 Makna Ayat

Prinsip ke-20 dalam membangun kepribadian unggul adalah rendah hati (tawadhu). Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa segala kelebihan yang ia miliki—baik itu harta, ilmu, jabatan, maupun rupa—hanyalah titipan dari Alloh yang bisa diambil kapan saja. Ketawadhuan tercermin dari cara seseorang membawa diri; ia tenang, bersahaja, dan tidak merasa perlu menunjukkan kehebatan di depan manusia. Sebaliknya, kesombongan (kibr) adalah penghalang utama masuk Jannah dan penyebab kehancuran karakter karena membuat seseorang menolak kebenaran dan meremehkan sesama.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 60-62) yang membahas tentang keengganan orang kafir untuk bersujud kepada Alloh meskipun diperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di langit dan bumi adalah sebagai pembeda yang kontras. Jika orang kafir sombong terhadap Penciptanya, maka hamba sejati (Ibadur Rohman) justru tunduk dan rendah hati. Sedangkan kaitannya dengan ayat-sesudahnya (ayat 64) yang membahas tentang kebiasaan mereka menghabiskan malam dengan sujud dan berdiri adalah bahwa ketawadhuan di hadapan manusia lahir dari ketundukan yang total di hadapan Alloh pada waktu malam. Kepribadian unggul adalah yang semakin berisi semakin merunduk.

20.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip rendah hati dan menjauhkan diri dari kesombongan dalam keseharian:

Menerima Kebenaran Meskipun Datang dari Anak Kecil atau Bawahan:

Tidak merasa gengsi untuk mengakui pendapat orang lain yang lebih benar. Rosululloh bersabda mengenai definisi sombong:

«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Bergaul dengan Semua Kalangan Tanpa Membedakan Status:

Mau duduk dan makan bersama orang-orang yang secara ekonomi berada di bawahnya. Alloh berfirman:

﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ﴾

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Robbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Tidak Suka Memamerkan Pencapaian (Self-Promotion):

Tetap bekerja dalam diam tanpa perlu haus akan pengakuan dan pujian manusia. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ»

“Sungguh Alloh mencintai hamba yang bertaqwa, kaya (jiwanya), dan tidak menonjolkan diri (tersembunyi/ikhlas).” (HR. Muslim no. 2965)

Menghindari Pakaian yang Bertujuan untuk Kesombongan:

Berpakaian rapi namun tidak berlebihan dengan niat ingin merasa lebih hebat dari orang lain. Rosululloh bersabda:

«مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا، أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا»

“Siapa yang memakai pakaian syuhroh (untuk ketenaran/kesombongan) di dunia, niscaya Alloh akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari Qiyamah lalu ia mengorbarkan api di Neraka.” (HHR. Ibnu Majah no. 3607)

Menghargai Jasa Orang Lain dalam Kesuksesannya:

Menyadari bahwa keberhasilannya adalah kerja tim, setelah taufiq dari Alloh, bukan karena kehebatan dirinya semata. Alloh berfirman:

﴿وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ﴾

“Dan segala ni’mat yang ada padamu, maka dari Allohlah datangnya.” (QS. An-Nahl: 53)

﴿وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Kalian janganlah saling melupakan kabaikan di antara kalian. Sungguh Alloh Maha Melihat apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Baqoroh: 237)

Meminta Maaf Terlebih Dahulu Saat Terjadi Konflik:

Menurunkan ego demi keridhoan Alloh meskipun merasa berada di pihak yang benar. Rosululloh bersabda:

«وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»

“Dan tidaklah seseorang bersikap rendah hati karena Alloh, melainkan Alloh akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Tidak Membicarakan Kehebatan Diri Sendiri:

Menghindari menceritakan amal ibadah atau kelebihan diri di depan orang lain. Alloh berfirman:

﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)

Menunjukkan Sikap Ramah Saat Berjalan dan Bertemu Orang:

Tidak memalingkan muka atau bersikap angkuh saat berinteraksi. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا﴾

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)

Melayani Keperluan Keluarga Sendiri:

Meskipun memiliki jabatan tinggi, ia tidak segan membantu urusan rumah tangga sebagaimana teladan Nabi . Dari Aisyah saat ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi di rumah, ia menjawab:

«كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ»

“Beliau (Nabi ) senantiasa membantu pekerjaan keluarganya.” (HR. Al-Bukhori no. 676)

Menyadari Asal Kejadian Manusia yang Hina:

Mengingat bahwa manusia diciptakan dari tanah agar tidak merasa sombong di atas bumi. Alloh berfirman:

﴿مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ﴾

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thoha: 55)

PRINSIP 21: KEPEDULIAN SOSIAL DAN GEMAR BERBAGI

﴿أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ * فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ * وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ﴾

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)

21.1 Makna Ayat

Prinsip ke-21 dalam membangun kepribadian unggul adalah kepedulian sosial. Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa kualitas keimanannya tidak hanya diukur dari hubungannya dengan Alloh (hablum minalloh), tetapi juga dari dampak keberadaannya bagi manusia lain (hablum minannas). Ayat ini memberikan peringatan yang sangat keras bahwa pengabaian terhadap kaum yang lemah, seperti anak yatim dan fakir miskin, merupakan salah satu indikator kedustaan dalam beragama. Kepribadian unggul adalah mereka yang memiliki mata yang jeli melihat kesulitan orang lain dan tangan yang ringan untuk mengulurkan bantuan.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sesudahnya (ayat 4-7) yang membahas tentang kecelakaan bagi orang-orang yang Sholat namun lalai dan riya’ adalah untuk menegaskan bahwa ibadah ritual yang tidak melahirkan kepedulian sosial adalah ibadah yang hampa. Sholat yang benar seharusnya mencegah pelakunya dari kekikiran dan sifat enggan menolong (al-ma’un). Sedangkan kaitannya dengan surat sebelumnya (QS. Al-Quroisy) adalah bahwa rasa aman dan kenyang yang diberikan Alloh kepada suatu kaum seharusnya disyukuri dengan cara berbagi kepada mereka yang belum mendapatkannya. Kepribadian unggul adalah yang paling besar manfaatnya bagi sesama.

21.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip kepedulian sosial dan gemar berbagi dalam keseharian:

Menyisihkan Sebagian Penghasilan untuk Sedekah Rutin:

Tidak menunggu kaya untuk berbagi, namun menjadikan berbagi sebagai bagian dari gaya hidup. Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ﴾

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS. Ali Imron: 134)

Menyantuni dan Menyayangi Anak Yatim:

Memberikan perhatian, pendidikan, atau bantuan materi kepada mereka yang kehilangan pelindung. Rosululloh bersabda:

«وَأَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di Jannah seperti ini.” Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dengan sedikit merenggangkannya. (HR. Al-Bukhori no. 5304)

Memberi Makan Tetangga yang Kelaparan:

Memiliki kepekaan terhadap kondisi orang-orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Rosululloh bersabda:

«لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ»

“Bukanlah seorang Mu’min, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan (di sampingnya).” (HSR. Al-Bukhori  dalam Al-Mufrod no. 112)

Menjadi Relawan dalam Kegiatan Kemanusiaan:

Menggunakan tenaga dan waktu untuk membantu korban bencana atau masyarakat yang membutuhkan. Alloh berfirman:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ﴾

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” (QS. Al-Maidah: 2)

Meminjamkan Barang atau Harta kepada yang Membutuhkan:

Tidak kikir terhadap fasilitas yang dimiliki jika orang lain sangat memerlukannya. Alloh mencela orang yang:

«وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ»

“Dan enggan (memberikan) bantuan (barang yang dibutuhkan orang lain).” (QS. Al-Ma’un: 7)

Memudahkan Urusan Orang Lain yang Sedang Kesulitan:

Membantu memberikan solusi, rekomendasi kerja, atau pinjaman tanpa bunga kepada rekan yang terdesak. Rosululloh bersabda:

«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»

“Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mu’min, maka Alloh akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 2699)

Menyingkirkan Gangguan di Jalan:

Bentuk kepedulian sosial yang sederhana namun bernilai iman demi keamanan pengguna jalan lainnya. Rosululloh bersabda:

«وَيُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ»

“Dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhori no. 2989)

Menjenguk Orang Sakit dan Menghiburnya:

Memberikan dukungan moral kepada saudara yang sedang diuji dengan kesehatan yang menurun. Rosululloh bersabda:

«عُودُوا الْمَرِيضَ»

“Jenguklah orang yang sakit.” (HR. Al-Bukhori no. 5649)

Mengajak Orang Lain untuk Ikut Berderma:

Tidak hanya berbagi sendiri, tapi juga menggerakkan lingkungan untuk peduli pada masalah sosial. Alloh berfirman mencela orang mendustakan agama:

﴿وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ﴾

“Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin (adalah ciri pendusta agama).” (QS. Al-Ma’un: 3)

Berbagi Ilmu dan Keterampilan secara Gratis:

Membantu orang lain agar memiliki kemampuan mandiri sebagai bentuk sedekah jariyah. Rosululloh bersabda:

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhori no. 5027)

PRINSIP 22: ISTIQOMAH DAN KETEGUHAN PRINSIP

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ﴾

“Sungguh orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Jannah yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fusshilat: 30)

22.1 Makna Ayat

Prinsip ke-22 dalam membangun kepribadian unggul adalah istiqomah. Istiqomah berarti tetap tegak di atas jalan yang benar, tidak bergeser meskipun diterjang badai ujian, dan tidak goyah meskipun dirayu oleh kesenangan dunia yang menipu. Seorang pribadi yang unggul tidak hanya baik saat kondisi mudah, tetapi ia tetap memegang prinsipnya saat kondisi menjadi sulit atau saat ia sendirian. Istiqomah adalah pembeda antara pejuang sejati dengan mereka yang hanya ikut-ikutan.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 26-29) yang membahas tentang perilaku orang-orang kafir yang sengaja berbuat gaduh saat Al-Quran dibacakan adalah sebagai penawar mental. Alloh menjanjikan ketenangan dari rasa takut dan sedih bagi mereka yang tetap istiqomah di tengah lingkungan yang tidak mendukung atau bahkan memusuhi kebenaran. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 31-32) adalah jaminan bahwa Alloh adalah pelindung mereka di dunia dan Akhiroh. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang “sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang” dalam hal ketaatan kepada Alloh.

22.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip istiqomah dan keteguhan prinsip dalam keseharian:

Tetap Menjaga Sholat Berjamaah Meskipun Sibuk:

Jadwal pekerjaan yang padat tidak menjadikannya alasan untuk meninggalkan kebiasaan baiknya. Rosululloh bersabda:

«قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ»

“Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Alloh’, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim no. 38)

Konsisten Berbuat Jujur Meskipun Orang Lain Curang:

Tidak ikut-ikutan arus lingkungan yang rusak karena ia memiliki standar nilai yang tidak bisa ditawar. Alloh berfirman:

﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ﴾

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqomah), sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Hud: 112)

Mempertahankan Hijroh dan Perbaikan Diri:

Setelah memutuskan berhenti dari kebiasaan buruk, ia menutup rapat pintu masa lalu dan tidak tergoda untuk kembali. Rosululloh bersabda:

«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

“Amalan yang paling dicintai Alloh adalah yang paling rutin (konsisten) meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhori no. 6465)

Tetap Santun Meskipun Dihadapi dengan Kekasaran:

Memegang prinsip akhlaq mulia sebagai identitas diri, bukan reaksi atas perilaku orang lain. Alloh berfirman:

﴿فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ﴾

“Maka karena itu serulah (mereka) dan tetaplah (istiqomah) sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Asy-Syuro: 15)

Menjaga Kualitas Kerja Tanpa Perlu Diawasi:

Istiqomah dalam memberikan yang terbaik karena ia merasa selalu diawasi oleh Alloh (muroqobah). Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾

“Sungguh orang-orang yang berkata: ‘Robb kami adalah Alloh’ kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Ahqof: 13)

Teguh Menolak Riba dan Sogokan:

Meskipun berkali-kali ditawarkan dan dianggap lumrah oleh rekan kerja, ia tetap memegang teguh prinsip kehalalan harta. Rosululloh bersabda:

«شَيَّبَتْنِي هُودٌ»

“Surat Hud telah membuatku beruban (karena di dalamnya ada perintah istiqomah yang berat).” (HSR. At-Tirmidzi no. 3297)

Sabar dalam Menghadapi Olokan atau Bullying:

Tidak goyah menjalankan sunnah meskipun dianggap asing atau aneh oleh lingkungan sekitar. Rosululloh bersabda:

«بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula, maka beruntunglah orang-orang yang asing tersebut.” (HR. Muslim no. 145)

Rutin Bersedekah Meskipun Nilainya Kecil:

Menjaga keterikatan hati dengan kaum lemah secara terus-menerus tanpa terputus. Alloh berfirman:

﴿وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾

“Dan sembahlah Robbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Memegang Rahasia dan Janji Jangka Panjang:

Tidak membocorkan amanah meskipun hubungan dengan orang tersebut sudah tidak sedekat dulu. Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ﴾

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)

Menyiapkan Mental untuk Husnul Khotimah:

Kesadaran bahwa akhir hidup bergantung pada kebiasaan hidup membuat ia takut untuk melanggar prinsip kebaikan walau sekejap. Rosululloh bersabda:

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ»

“Sungguh amalan itu (dinilai) berdasarkan penutupnya.” (HR. Al-Bukhori no. 6607)

Maka lengkaplah sudah struktur kepribadian unggul yang dimulai dari niat (ikhlas), dijalankan dengan proses (aksi nyata), dan diikat dengan keteguhan (istiqomah).

PRINSIP 23: KETELITIAN DALAM MENERIMA INFORMASI

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot: 6)

23.1 Makna Ayat

Prinsip ke-23 dalam membangun kepribadian unggul adalah sikap kritis dan teliti terhadap informasi (tabayyun). Seorang pribadi yang unggul tidak mudah terprovokasi oleh berita yang beredar, terutama di era kecepatan informasi seperti sekarang. Ayat ini memberikan prosedur tetap bagi setiap Mu’min: ketika menerima sebuah berita, terutama yang berpotensi menimbulkan konflik atau merugikan pihak lain, wajib dilakukan cek dan ricek. Ketelitian ini adalah bentuk perlindungan diri dari perbuatan zholim yang didasari oleh ketidaktahuan (jahalah) yang berujung pada penyesalan yang mendalam.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 4-5) yang membahas tentang adab memanggil Nabi dari luar kamar adalah bahwa ketidaksabaran dan kekurang-adaban dalam berkomunikasi seringkali menjadi pintu masuk bagi berita yang salah. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 7-8) adalah peringatan bahwa keberadaan Rosululloh di tengah mereka seharusnya membuat mereka lebih berhati-hati, karena Alloh senantiasa mengawasi dan memberikan petunjuk. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang menjadikan fakta sebagai landasan bicara, bukan sekadar “katanya”.

23.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip ketelitian dalam menerima informasi dalam keseharian:

Melakukan Verifikasi Sebelum Membagikan (Share) Berita:

Tidak terburu-buru menyebarkan informasi di grup percakapan sebelum yakin akan kebenarannya. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ﴾

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rosul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka.” (QS. An-Nisa: 83)

Mendengar Penjelasan dari Dua Belah Pihak:

Saat terjadi konflik antar teman atau rekan kerja, ia tidak memihak sebelum mendengar kronologi secara utuh. Rosululloh bersabda:

«إِذَا تَقَاضَى إِلَيْكَ رَجُلَانِ، فَلَا تَقْضِ لِلأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلَامَ الآخَرِ»

“Jika dua orang meminta keputusan hukum kepadamu, janganlah kamu memutuskan untuk orang pertama sampai kamu mendengar perkataan orang kedua.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1331)

Tidak Mudah Percaya pada Gosip (Ghibah):

Menutup telinga dari pembicaraan yang bertujuan menjatuhkan karakter seseorang tanpa bukti. Alloh berfirman:

﴿لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا﴾

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mu’min laki-laki dan perempuan tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri?” (QS. An-Nur: 12)

Mengecek Legalitas dan Kehalalan Produk:

Teliti dalam membaca label atau asal-usul barang sebelum membeli untuk memastikan kesuciannya. Alloh berfirman:

﴿فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ﴾

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)

Waspada Terhadap Tawaran Investasi yang Tidak Masuk Akal:

Meneliti skema bisnis agar tidak terjebak dalam penipuan atau praktik riba yang terselubung. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqoroh: 188)

Memastikan Kebenaran Hadits Sebelum Disampaikan:

Hanya menyampaikan dalil yang telah dipastikan keshohihannya agar tidak berbohong atas nama Nabi . Rosululloh bersabda:

«مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ»

“Siapa yang menceritakan dariku suatu hadits yang ia duga bahwa itu dusta, maka ia termasuk salah seorang pendusta.” (HR. Muslim dalam Muqoddimah no. 1)

Meneliti Syarat dan Ketentuan (S&K) dalam Perjanjian:

Membaca dengan seksama setiap butir akad atau kontrak sebelum menandatanganinya. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji (akad/perjanjian) itu.” (QS. Al-Maidah: 1)

Menilai Seseorang Berdasarkan Fakta, Bukan Prasangka:

Tidak melabeli orang lain hanya berdasarkan “desas-desus” yang belum tentu benar. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Mengonfirmasi Instruksi Atasan agar Tidak Salah Langkah:

Meminta kejelasan jika ada arahan yang ambigu dalam pekerjaan agar amanah tertunaikan dengan tepat. Rosululloh bersabda:

«التُّؤَدَةُ فِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ إِلَّا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ»

“Sikap pelan-pelan (tidak tergesa-gesa) dalam segala sesuatu itu baik, kecuali dalam beramal Akhirat.” (HSR. Abu Ya’la no. 792)

Menyimpan Rahasia yang Belum Layak Dipublikasi:

Teliti dalam memilah mana informasi yang bersifat konsumsi publik dan mana yang bersifat privat. Rosululloh bersabda:

«اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ؛ فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ»

“Bantulah (kelancaran) hajat-hajat kalian dengan menyembunyikannya (merahasiakannya), karena setiap orang yang memiliki ni’mat ada orang yang hasad.” (HSR. Ath-Thobroni. Shohihul Jami no. 943)

PRINSIP 24: KESABARAN YANG AKTIF DAN PRODUKTIF

﴿وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾

“Dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 3)

24.1 Makna Ayat

Prinsip ke-24 dalam membangun kepribadian unggul adalah kesabaran (shobr). Namun, sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha atau diam tertindas. Sabar adalah menahan diri agar tetap istiqomah dalam menjalankan ketaatan, menahan diri dari godaan maksiat, dan menahan diri agar tidak mengeluh saat menghadapi ujian pahit. Sabar yang unggul adalah sabar yang aktif—yakni tetap produktif dan terus berjuang meskipun hasilnya belum terlihat. Tanpa kesabaran, segala amal sholih akan terhenti di tengah jalan dan manusia akan terjerumus ke dalam kerugian yang nyata.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 1-2) adalah penegasan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian seiring berjalannya waktu, kecuali mereka yang memiliki empat pilar keselamatan: iman, amal sholih, serta komitmen sosial untuk saling menjaga dalam kebenaran dan kesabaran. Kesabaran diletakkan setelah kebenaran, karena memegang teguh kebenaran pasti akan menemui tantangan yang membutuhkan napas panjang. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang tidak mengenal kata menyerah sebelum mencapai garis finish yang diridhoi Alloh.

24.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip kesabaran yang aktif dalam keseharian:

Sabar dalam Menjalankan Ibadah yang Rutin:

Tetap teguh melaksanakan Sholat malam atau puasa sunnah meskipun tubuh terasa lelah. Alloh berfirman:

﴿رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ﴾

“Robb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah (bersabarlah) dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Maryam: 65)

Menahan Diri dari Keuntungan Harom di Tengah Kesulitan:

Pribadi unggul lebih memilih bersabar dalam kekurangan daripada mengambil harta riba atau hasil menipu. Rosululloh bersabda:

«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2260)

Sabar dalam Meniti Karier dari Bawah:

Tidak menempuh jalan pintas yang menyimpang, melainkan meni’mati setiap proses pembelajaran dengan tekun. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga.” (QS. Ali Imron: 200)

Tetap Berbuat Baik Meskipun Belum Dihargai:

Terus memberikan manfaat bagi organisasi atau lingkungan tanpa surut semangat karena kurangnya apresiasi. Alloh berfirman:

﴿وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Dan bersabarlah, karena sungguh Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 115)

Mengendalikan Lisan Saat Ditimpa Musibah Spontan:

Menahan diri dari ucapan kasar atau menyalahkan takdir pada detik pertama ujian datang. Rosululloh bersabda:

«إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى»

“Sesungguhnya sabar itu (terlihat) pada hentakan (ujian) yang pertama.” (HR. Al-Bukhori no. 1283)

Sabar dalam Menuntut Ilmu yang Sulit:

Tidak mudah menyerah saat menghadapi pelajaran yang rumit, melainkan terus mengulanginya hingga paham. Sebagaimana kisah Nabi Musa saat belajar kepada Nabi Khidhir:

﴿قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

“Dia (Musa) berkata: ‘In syaa Alloh engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang urusanmu.’” (QS. Al-Kahfi: 69)

Menjaga Keteguhan Hati Saat Menghadapi Penyakit Kronis:

Tetap berikhtiar mencari pengobatan sambil hati ridho dengan ketentuan Alloh. Rosululloh bersabda:

«مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ»

“Tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhori no. 1469)

Sabar dalam Mendidik Anak dan Keluarga:

Menghadapi tingkah laku anggota keluarga dengan kepala dingin dan nasihat yang lembut berulang kali. Alloh berfirman:

﴿وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا﴾

“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan Sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thoha: 132)

Menahan Emosi dalam Interaksi Sosial:

Bersabar menghadapi gangguan tetangga atau teman yang jahil dengan tetap menjaga adab. Rosululloh bersabda:

«الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»

“Seorang Mu’min yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka adalah lebih baik daripada orang Mu’min yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak pula sabar atas gangguan mereka.” (HSR. Ibnu Abi Syaibah no. 19, At-Tirmidzi no. 2507)

Sabar dalam Menunggu Datangnya Pertolongan Alloh:

Tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa doa tidak dikabulkan, melainkan terus berdoa dengan penuh harap. Rosululloh bersabda:

«يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ»

“Akan dikabulkan doa salah seorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa (ingin cepat dikabulkan).” (HR. Al-Bukhori no. 6340)

PRINSIP 25: SYUKUR SEBAGAI PENGGERAK PRODUKTIVITAS

﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾

“Dan (ingatlah) ketika Robbmu memaklumkan: ‘Sungguh jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (ni’mat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrohim: 7)

25.1 Makna Ayat

Prinsip ke-25 dalam membangun kepribadian unggul adalah syukur. Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa syukur bukan sekadar ucapan lisan “Alhamdulillah”, melainkan sebuah kesadaran hati yang diikuti dengan penggunaan seluruh potensi ni’mat untuk ketaatan kepada Alloh. Syukur adalah penggerak produktivitas; orang yang bersyukur akan merasa tenang dan bersemangat untuk berkarya lebih baik karena ia merasa dicukupkan oleh Alloh. Ayat ini menegaskan janji Alloh tentang pertambahan ni’mat bagi mereka yang bersyukur, sekaligus peringatan keras bagi mereka yang kufur (mengingkari ni’mat) bahwa keluh kesah dan ketidakpuasan hanya akan mendatangkan kesempitan hidup.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 6) yang berisi peringatan Nabi Musa kepada kaumnya tentang ni’mat pembebasan dari zholimnya Fir’aun adalah untuk menunjukkan bahwa setiap perubahan kondisi menjadi lebih baik harus diiringi dengan komitmen syukur agar ni’mat tersebut langgeng. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 8) adalah penegasan bahwa jika seluruh manusia di bumi kafir sekalipun, Alloh tetap Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Kepribadian unggul adalah yang matanya lebih fokus pada apa yang ia miliki daripada apa yang belum ia dapatkan.

25.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip syukur sebagai penggerak produktivitas dalam keseharian:

Menggunakan Waktu Sehat untuk Amal Bermanfaat:

Tidak menunda pekerjaan atau ibadah saat fisik masih kuat sebagai bentuk syukur atas kesehatan. Rosululloh bersabda:

«اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: ... وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ»

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: ... sehatmu sebelum sakitmu, dan luangmu sebelum sibukmu.” (HSR. Al-Hakim no. 7846)

Menjaga dan Merawat Barang yang Dimiliki:

Merawat kendaraan, alat kerja, atau rumah dengan baik sebagai bentuk penghargaan atas fasilitas yang Alloh titipkan. Alloh berfirman:

﴿اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا﴾

“Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur.” (QS. Saba: 13)

Berterima Kasih atas Kebaikan Manusia:

Menyadari bahwa bantuan orang lain adalah perantara ni’mat Alloh yang harus diapresiasi. Rosululloh bersabda:

«مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللهَ»

“Siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1954)

Menghindari Keluh Kesah di Media Sosial:

Menampilkan sisi positif dan motivasi daripada menyebarkan energi negatif atau ketidakpuasan terhadap hidup. Alloh berfirman:

﴿وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ﴾

“Dan terhadap ni’mat Robbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Ad-Dhuha: 11)

Bersedekah Saat Mendapat Keuntungan:

Membagi sebagian kebahagiaan materi kepada yang membutuhkan sebagai bukti syukur yang nyata. Alloh berfirman:

﴿لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imron: 92)

Melakukan Sholat Syukur atau Sujud Syukur:

Ekspresi penghambaan secara fisik saat mendengar kabar gembira atau meraih pencapaian. Sebagaimana diceritakan oleh para Shohabat:

«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ»

“Sungguh Nabi apabila datang kepadanya urusan yang menggembirakan, beliau tersungkur sujud syukur kepada Alloh.” (HSR. Abu Dawud no. 2774)

Tidak Membanding-bandingkan Nasib dengan yang Lebih Atas:

Fokus melihat ke bawah dalam urusan dunia agar hati tetap lapang dan puas. Rosululloh bersabda:

«انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ»

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat kepada orang yang di atasmu. Hal itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan ni’mat Alloh atasmu.” (HR. Muslim no. 2963)

Meni’mati Hidup Sederhana Tanpa Berhutang untuk Gaya Hidup:

Syukur membuatnya merasa cukup (qona’ah) dan terhindar dari perilaku boros. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ﴾

“Sungguh orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon.” (QS. Al-Isro’: 27)

Mengoptimalkan Kecerdasan untuk Membantu Umat:

Bentuk syukur atas ni’mat akal adalah dengan menggunakannya untuk memecahkan masalah orang lain. Rosululloh bersabda:

«كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ»

“Setiap kebajikan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhori no. 6021)

Menjaga Sholat Lima Waktu Sebagai Bentuk Syukur Pokok:

Sebagaimana Nabi yang Sholat malam hingga kakinya bengkak, ketika ditanya beliau menjawab:

«أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا»

“Tidakkah patut aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Al-Bukhori no. 1130)

PRINSIP 26: TAWAKKAL SETELAH IKHTIAR MAKSIMAL

﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴾

“Maka berkat rohmat Alloh engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh. Sungguh, Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. Ali Imron: 159)

26.1 Makna Ayat

Prinsip ke-26 dalam membangun kepribadian unggul adalah tawakkal. Seorang pribadi yang unggul memahami bahwa tugasnya hanyalah berproses dan berusaha (ikhtiar), sedangkan hasil akhir adalah hak khusus Alloh. Tawakkal bukan berarti diam berpangku tangan menunggu keajaiban, melainkan menyerahkan beban pikiran dan kekhawatiran kepada Alloh setelah seluruh daya upaya dilakukan. Ayat ini memberikan urutan manajemen kerja yang sempurna: diawali dengan sikap lemah lembut dan empati, diikuti dengan musyawarah untuk mengambil keputusan terbaik, kemudian pemulatan tekad (azam), dan diakhiri dengan penyerahan diri secara total kepada Alloh.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 152-158) yang membahas tentang dinamika Perang Uhud, di mana terjadi kekalahan dan ujian mental bagi kaum Muslimin, adalah sebagai obat penawar jiwa. Alloh mengajarkan bahwa kegagalan atau keberhasilan sebuah strategi harus dikembalikan kepada kehendak-Nya agar tidak muncul penyesalan yang merusak iman. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 160) adalah penegasan bahwa jika Alloh menolong, tidak ada yang bisa mengalahkan, dan jika Alloh membiarkan, tidak ada yang bisa menolong. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang tetap tenang meskipun dunia berguncang, karena sandarannya adalah Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati.

26.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip tawakkal setelah ikhtiar maksimal dalam keseharian:

Menyiapkan Strategi Bisnis yang Matang Lalu Berdoa:

Melakukan riset pasar dan manajemen risiko secara detail, namun tidak mendewakan akalnya sendiri dalam menentukan keuntungan. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾

“Dan siapa yang bertawakkal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Tholaq: 3)

Belajar Sungguh-sungguh Sebelum Ujian Tanpa Rasa Cemas:

Seorang pelajar menunaikan kewajiban belajarnya, lalu tidur dengan tenang menyerahkan hasil nilai kepada ketetapan Alloh. Rosululloh bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizqi sebagaimana burung diberi rizqi. Ia berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)

Mengunci Kendaraan Sebelum Masuk ke Masjid:

Mempraktikkan pengamanan fisik sebagai bagian dari syariat sebelum menyerahkan penjagaan kepada Alloh. Rosululloh bersabda kepada seseorang yang meninggalkan untanya tanpa diikat:

«اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ»

“Ikatlah untamu, kemudian bertawakkallah.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2517)

Tetap Berusaha Mencari Nafkah Meski Kondisi Ekonomi Sulit:

Tidak putus asa dan tetap bergerak menjemput sebab-sebab rizqi dengan keyakinan Alloh akan memberi jalan keluar. Alloh berfirman:

﴿وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾

“Dan hanya kepada Allohlah hendaknya orang-orang Mu’min bertawakkal.” (QS. Ibrohim: 11)

Ketenangan dalam Menghadapi Hasil Keputusan Medis:

Setelah berobat ke dokter terbaik dan menjaga pola hidup sehat, ia menerima setiap diagnosa dengan hati lapang. Alloh berfirman:

﴿قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا﴾

“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Alloh untuk kami.’” (QS. At-Taubah: 51)

Memulai Perjalanan dengan Doa Perlindungan:

Menyadari keterbatasan manusia dalam menjaga keselamatan diri di jalan raya. Rosululloh mengajarkan doa keluar rumah:

«بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

“Dengan nama Alloh, aku bertawakkal kepada Alloh, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.” (HSR. Abu Dawud no. 5095)

Tidak Bergantung pada Koneksi Orang Dalam:

Pribadi unggul menempuh jalur resmi dan profesional, lalu yakin bahwa jika posisi itu rizqinya, tidak ada yang bisa menghalangi. Alloh berfirman:

﴿فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۖ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ﴾

“Maka bertawakkallah kepada Alloh, sungguh kamu berada di atas kebenaran yang nyata.” (QS. An-Naml: 79)

Menjaga Niat Tetap Lurus Saat Membantu Orang Lain:

Bertawakkal bahwa pahala dari Alloh pasti sampai meskipun orang yang dibantu justru berbuat buruk padanya. Alloh berfirman:

﴿وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا﴾

“Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Alloh, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami.” (QS. Ibrohim: 12)

Sikap Tawadhu Setelah Meraih Kesuksesan Besar:

Ia tidak sombong karena yakin sukses tersebut adalah murni taufiq dari Alloh, bukan karena kehebatan ikhtiarnya semata. Sebagaimana ucapan Nabi Syu’aib:

«وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ﴾

“Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan pertolongan Alloh. Kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud: 88)

Menyerahkan Hasil Pendidikan Anak kepada Alloh:

Setelah mendidik dengan adab dan ilmu, orang tua mendoakan dan bertawakkal agar Alloh yang menjaga hati sang anak. Sebagaimana pesan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya:

﴿إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ﴾

“Keputusan itu hanyalah milik Alloh; kepada-Nya aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (QS. Yusuf: 67)

PRINSIP 27: MEMBANGUN VISI JAUH KE DEPAN (AKHIROH)

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhiroh). Dan bertaqwalah kepada Alloh, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

27.1 Makna Ayat

Prinsip ke-27 dalam membangun kepribadian unggul adalah memiliki visi jangka panjang yang berpusat pada Akhiroh. Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan sementara untuk mengumpulkan bekal. Ayat ini memberikan perintah strategis bagi setiap Mu’min untuk melakukan audit diri (muhasabah) dan perencanaan masa depan yang matang. Istilah “hari esok” (ghodin) dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama sebagai hari Qiyamah. Dengan memiliki visi Akhiroh, seseorang akan memiliki standar moral yang tinggi dan tidak mudah tergiur oleh keuntungan duniawi sesaat yang melanggar syariat.

Korelasi ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 11-17) yang membahas tentang perilaku orang-orang munafik yang terpedaya oleh tipu daya syaithon adalah sebagai peringatan agar orang beriman tidak terjebak dalam pola pikir yang sama—yaitu hanya fokus pada kepentingan duniawi yang menipu. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 19) adalah larangan menjadi orang yang melupakan Alloh sehingga Alloh menjadikan mereka lupa akan keselamatan diri mereka sendiri. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang menjadikan setiap langkah kakinya di dunia sebagai investasi untuk kemuliaan di Akhiroh.

27.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip membangun visi jauh ke depan dalam keseharian:

Menjadikan Akhiroh Sebagai Prioritas Utama dalam Niat:

Setiap amal duniawi diniatkan agar menjadi pemberat timbangan kebaikan di Akhiroh. Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ... وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ»

“Siapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, Alloh akan cerai-beraikan urusannya... dan siapa yang menjadikan Akhiroh sebagai niatnya, Alloh akan kumpulkan urusannya (mudahkan).” (HSR. Ibnu Majah no. 4105)

Berinvestasi pada Amal Jariyah yang Pahalanya Terus Mengalir:

Membangun sumur, menyumbang Masjid, atau menulis ilmu bermanfaat yang tetap berguna meski ia telah tiada. Rosululloh bersabda:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ... أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ﴾

“Jika manusia mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: ... atau ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim no. 1631)

Tidak Rakus Terhadap Harta Duniawi yang Harom:

Menolak sogokan atau keuntungan yang meragukan karena takut dampaknya bagi masa depan Akhirohnya. Alloh berfirman:

﴿تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا﴾

“Negeri Akhiroh itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qoshosh: 83)

Menyiapkan Generasi Penerus yang Sholih:

Mendidik anak bukan hanya agar sukses secara materi, tapi agar taat kepada Alloh sehingga bisa mendoakan orang tua. Rosululloh bersabda:

«أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Atau anak sholih yang mendoakannya (saat hidup maupun setelah wafat).” (HR. Muslim no. 1631)

Memanfaatkan Waktu dengan Sangat Efektif:

Menyadari bahwa setiap detik adalah modal yang akan dipertanggungjawabkan, sehingga ia tidak menyia-nyiakannya. Rosululloh bersabda:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sedang menyeberangi jalan.” (HR. Al-Bukhori no. 6416)

Sederhana dalam Gaya Hidup:

Menggunakan harta seperlunya untuk mendukung ketaatan dan tidak berlebihan dalam kemewahan. Alloh berfirman:

﴿وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ﴾

“Dan untuk yang demikian itu (ni’mat Jannah) hendaknya orang-orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthoffifin: 26)

Sabar Menghadapi Penderitaan Dunia Demi Keni’matan Akhiroh:

Ridho terhadap ujian hidup karena yakin dunia ini hanyalah penjara bagi orang beriman. Rosululloh bersabda:

«الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ»

“Dunia adalah penjara bagi orang Mu’min dan Jannah bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)

Menghindari Perdebatan yang Merusak Amal:

Lebih memilih menjaga hati dan hubungan baik daripada menang debat tapi kehilangan keberkahan. Alloh berfirman:

﴿تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ﴾

“Negeri Akhiroh itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian (kesombongan) di bumi.” (QS. Al-Qoshosh: 83)

Audit Diri (Self-Correction) Secara Berkala:

Selalu bertanya pada diri sendiri sebelum bertindak: “Apakah perbuatan ini akan menyelamatkanku di depan Alloh?” Rosululloh bersabda:

«الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ»

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. At-Tirmidzi no. 2459)

Berani Mengambil Keputusan Sulit Demi Prinsip Agama:

Visi masa depan menjadikannya tegar meninggalkan lingkungan atau pekerjaan yang maksiat demi ridho Alloh. Alloh berfirman:

﴿وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ﴾

“Sedangkan kehidupan Akhiroh itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)

PRINSIP 28: KECEPATAN DALAM MELAKUKAN KEBAIKAN

﴿وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾

“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Robbmu dan menuju Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imron: 133)

28.1 Makna Ayat

Prinsip ke-28 dalam membangun kepribadian unggul adalah akselerasi atau kecepatan dalam berbuat baik (al-musaro’ah fil khoirot). Seorang pribadi yang unggul tidak membiarkan niat baiknya menguap karena penundaan. Ia menyadari bahwa waktu adalah sumber daya yang paling terbatas dan kematian bisa datang tanpa pemberitahuan. Ayat ini menggunakan kata perintah saari’uu yang berarti “bersegeralah” atau “berlarilah dengan cepat”, menunjukkan bahwa dalam urusan Akhiroh dan perbaikan diri, seseorang tidak boleh santai atau bermalas-malasan. Kecepatan ini lahir dari rasa butuh terhadap ampunan Alloh dan kerinduan pada Jannah.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 130-132) yang membahas tentang larangan memakan riba dan perintah taat kepada Alloh serta Rosul-Nya adalah bahwa meninggalkan kemaksiatan dan menjalankan ketaatan harus dilakukan secara total dan instan, tanpa tapi dan nanti. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 134-135) adalah rincian profil orang-orang yang bertaqwa yang bersegera tersebut, yaitu mereka yang tetap berinfak dalam kondisi apapun dan segera bertaubat jika terjatuh dalam kesalahan. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang memenangkan perlombaan melawan waktu.

28.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip kecepatan dalam melakukan kebaikan dalam keseharian:

Menyegerakan Sholat di Awal Waktu:

Menghentikan seluruh aktivitas dunia saat adzan berkumandang sebagai bentuk prioritas utama. Rosululloh bersabda saat ditanya amalan apa yang paling utama:

«الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا»

“Sholat pada waktunya (di awal waktu).” (HR. Al-Bukhori no. 527)

Segera Membayar Hutang Begitu Memiliki Uang:

Tidak menunda-nunda hak orang lain meskipun belum jatuh tempo jika dana sudah tersedia. Rosululloh bersabda:

«مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ»

“Penundaan (pembayaran hutang) oleh orang yang mampu adalah sebuah kezholiman.” (HR. Al-Bukhori no. 2287)

Bertaubat Seketika Setelah Melakukan Dosa:

Tidak menunggu hari tua atau bulan Romadhon untuk memohon ampunan atas kesalahan yang baru dilakukan. Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ﴾

“Sungguh taubat di sisi Alloh hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena kebodohan, kemudian mereka bertaubat dengan segera.” (QS. An-Nisa: 17)

Langsung Memberi Sedekah Saat Terbersit Niat di Hati:

Menyadari bahwa syaithon akan selalu membisikkan ketakutan akan kemiskinan jika sedekah ditunda. Alloh berfirman:

﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ﴾

“Syaithon menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji.” (QS. Al-Baqoroh: 268)

Menyelesaikan Pekerjaan Kantor Sebelum Menumpuk:

Memiliki etos kerja proaktif agar amanah tidak terhambat oleh sifat malas. Rosululloh sering berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ»

“Ya Alloh, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan sifat malas.” (HR. Al-Bukhori no. 2823)

Segera Meminta Maaf Jika Menyakiti Perasaan Orang Lain:

Menyelesaikan urusan sesama manusia di dunia sebelum dibawa ke pengadilan Akhiroh. Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ»

“Siapa yang memiliki kezholiman terhadap saudaranya, baik berupa kehormatan atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta maaf (menyelesaikannya) hari ini.” (HR. Al-Bukhori no. 2449)

Menyambut Peluang Belajar dan Da’wah:

Tidak menyia-nyiakan kesempatan menghadiri majelis ilmu atau berbagi kebaikan saat kesempatan itu ada. Alloh berfirman:

﴿فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ﴾

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan.” (QS. Al-Baqoroh: 148)

Menyegerakan Berbuka Puasa:

Mentaati sunnah dalam hal-hal yang tampaknya kecil namun melatih kedisplinan ketaatan. Rosululloh bersabda:

«لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ»

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Al-Bukhori no. 1957)

Cekatan dalam Menolong Orang yang Sedang Kecelakaan:

Menjadi orang pertama yang memberikan bantuan darurat tanpa perlu menunggu perintah. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا﴾

“Dan siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Menyiapkan Bekal Kematian Sejak Usia Muda:

Kesadaran akan visi jauh ke depan membuatnya tidak tertipu oleh usia yang seolah masih panjang. Rosululloh bersabda:

«بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ سَبْعًا»

“Bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya tujuh perkara (penghalang).” (HR. At-Tirmidzi no. 2306)

PRINSIP 29: MENJAGA PERSATUAN DAN MENGHINDARI PERPECAHAN

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا﴾

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah ni’mat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan, lalu Alloh mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali Imron: 103)

29.1 Makna Ayat

Prinsip ke-29 dalam membangun kepribadian unggul adalah semangat berjamaah dan menjaga persatuan (ukhuwah). Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa ia tidak bisa hidup sendiri dan kekuatan yang besar lahir dari keterikatan hati di atas jalan Alloh. Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah sebagai tali pemersatu agar tidak terpecah-belah menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan. Persatuan adalah ni’mat besar yang harus dijaga dengan cara menekan ego pribadi demi kepentingan umat yang lebih luas.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 102) yang berisi perintah untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa adalah bahwa ketaqwaan individu tidak akan sempurna tanpa adanya ketaqwaan kolektif dalam bentuk persatuan. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 104) yang membahas tentang perintah adanya segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan adalah bahwa da’wah tersebut hanya akan efektif jika dilakukan oleh umat yang solid dan tidak terpecah-belah. Kepribadian unggul adalah kepribadian yang menjadi perekat persaudaraan, bukan pemicu perpecahan.

29.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip menjaga persatuan dalam keseharian:

Menghindari Perdebatan Masalah Cabang (Furu’iyyah) yang Memicu Konflik:

Menghargai perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyyah demi menjaga kerukunan sesama Muslim. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ﴾

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (QS. Ali Imron: 105)

Mengedepankan Prasangka Baik (Husnuzhon) Terhadap Saudara:

Tidak mudah menuduh atau memberikan label buruk kepada sesama Muslim hanya karena perbedaan cara pandang. Rosululloh bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»

“Jauhilah oleh kalian prasangka, karena prasangka itu adalah sedusta-dusta perkataan.” (HR. Al-Bukhori no. 6064)

Aktif dalam Kegiatan Gotong Royong dan Sosial:

Turut serta membangun kekuatan komunitas melalui kerja bakti atau musyawarah warga. Rosululloh bersabda:

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

“Seorang Mu’min dengan Mu’min lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Al-Bukhori no. 481)

Mendamaikan Dua Pihak yang Sedang Berselisih:

Menjadi penengah yang adil dan sejuk saat melihat teman atau keluarga sedang bertikai. Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ﴾

“Sungguh orang-orang Mu’min itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurot: 10)

Mendoakan Saudara Tanpa Sepengetahuan Mereka:

Memohonkan kebaikan bagi orang lain sebagai bukti ketulusan ikatan hati. Rosululloh bersabda:

«دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ»

“Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu adalah mustajab.” (HR. Muslim no. 2733)

Saling Tolong-Menolong dalam Kebaikan:

Memberikan bantuan tenaga atau pemikiran saat saudara seiman sedang menjalankan proyek kebajikan. Alloh berfirman:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ﴾

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” (QS. Al-Maidah: 2)

Menutup Aib Saudara Sesama Muslim:

Tidak menyebarkan kesalahan orang lain yang telah diketahuinya demi menjaga kehormatan persaudaraan. Rosululloh bersabda:

«مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»

“Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Alloh akan menutupi aibnya di dunia dan Akhiroh.” (HR. Muslim no. 2699)

Menjaga Lisan dari Fitnah dan Adu Domba (Namimah):

Menolak menjadi perantara berita yang bertujuan merusak hubungan antarmanusia. Rosululloh bersabda:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim no. 105)

Saling Memberi Nasihat dengan Cara yang Santun:

Mengingatkan kesalahan saudara secara pribadi demi perbaikan diri bersama. Rosululloh bersabda:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ»

“Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)

Memiliki Empati Terhadap Penderitaan Umat di Belahan Dunia Lain:

Merasakan kesedihan dan memberikan bantuan doa atau materi bagi saudara yang tertindas. Rosululloh bersabda:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ»

“Perumpamaan orang-orang Mu’min dalam hal saling mencintai dan menyayangi serta mengasihi adalah bagaikan satu tubuh.” (HR. Muslim no. 2586)

PRINSIP 30: MERAIH AKHIR HIDUP YANG BAIK (HUSNUL KHOTIMAH)

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imron: 102)

30.1 Makna Ayat

Prinsip ke-30 sekaligus yang terakhir dalam membangun kepribadian unggul adalah fokus pada akhir hidup yang baik (husnul khotimah). Seorang pribadi yang unggul menyadari bahwa nilai seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia mengakhiri hidupnya. Ayat ini memberikan peringatan yang sangat serius agar konsistensi dalam ketaatan dijaga hingga hembusan napas terakhir. Tidak ada jaminan kapan kematian datang, maka satu-satunya cara untuk mati dalam keadaan Muslim adalah dengan terus menghidupkan Islam dalam setiap detik kehidupan. Kepribadian unggul adalah mereka yang selalu waspada dan menyiapkan diri setiap saat untuk bertemu dengan Robbnya.

Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 101) yang membahas tentang bagaimana mungkin seseorang menjadi kafir padahal ayat-ayat Alloh dibacakan kepadanya, adalah sebagai penguat agar jangan sampai seseorang tergelincir di akhir hayatnya setelah mendapatkan hidayah. Sedangkan kaitannya dengan ayat sesudahnya (ayat 103) yang memerintahkan untuk berpegang teguh pada tali Alloh adalah bahwa persatuan dan ketaatan kolektif merupakan sarana pendukung agar individu bisa tetap istiqomah hingga akhir hayat. Kepribadian unggul adalah yang hidupnya penuh manfaat dan matinya membawa kebahagiaan.

30.2 Contoh dalam Kehidupan

Berikut adalah penjabaran praktek dari prinsip meraih akhir hidup yang baik dalam keseharian:

Membiasakan Lisan Berdzikir agar Mudah Mengucap Syahadat:

Seseorang akan dimudahkan mengucap kalimat tauhid saat maut menjemput jika ia terbiasa mengucapkannya saat sehat. Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Siapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illalloh’, maka ia masuk Jannah.” (HSR. Abu Dawud no. 3116)

Istiqomah dalam Menjalankan Amal Sholih Hingga Akhir:

Terus melakukan kebaikan tanpa henti meskipun usia sudah senja. Rosululloh bersabda:

«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ... يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ»

“Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia akan mempekerjakannya... yaitu Alloh memberikan taufiq kepadanya untuk beramal sholih sebelum kematiannya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2142)

Selalu Berdoa Mohon Keteguhan Iman:

Menyadari bahwa hati manusia berada di antara jari-jemari Alloh, maka ia terus memohon perlindungan agar tidak tersesat. Doa yang sering diucapkan Nabi :

«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2140)

Menyegerakan Taubat dari Setiap Dosa:

Tidak membiarkan diri tidur dalam keadaan memikul dosa tanpa istighfar, karena tidak ada jaminan akan bangun esok hari. Alloh berfirman:

﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Menulis Wasiat dan Menyelesaikan Urusan Manusia:

Memastikan tidak ada hutang atau zholim yang belum terselesaikan agar beban di Akhiroh menjadi ringan. Rosululloh bersabda:

«مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ»

“Tidak layak bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang ingin diwasiatkan untuk melewati dua malam melainkan wasiatnya telah tertulis di sisinya.” (HR. Al-Bukhori no. 2738)

Memilih Lingkungan Pertemanan yang Sholih:

Berteman dengan orang-orang yang saling mengingatkan tentang Akhiroh agar saat ajal datang, ia sedang berada dalam kondisi yang baik. Alloh berfirman:

﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Menjauhi Tempat-tempat Maksiat:

Berhati-hati dalam melangkah karena seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan saat ia meninggal. Rosululloh bersabda:

«يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ»

“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan saat ia mati.” (HR. Muslim no. 2878)

Menjaga Niat Ikhlas Hanya karena Alloh:

Menghindari sifat riya’ (pamer) agar amalannya tidak sia-sia di saat-saat terakhir hidupnya. Alloh berfirman:

﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Maka siapa yang mengharap pertemuan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Sering Mengingat Kematian sebagai Pemutus Kelezatan Dunia:

Kesadaran akan maut menjadikannya pribadi yang tidak sombong dan tidak rakus terhadap dunia. Rosululloh bersabda:

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ»

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian).” (HSR. At-Tirmidzi no. 2307)

Berprasangka Baik kepada Alloh Saat Menjelang Ajal:

Memenuhi hati dengan harapan akan rohmat Alloh yang luas di detik-detik terakhirnya. Rosululloh bersabda:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berprasangka baik kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim no. 2877)

PENUTUP

Perjalanan membangun kepribadian unggul bukanlah perlombaan lari cepat yang berakhir dalam sekejap, melainkan sebuah perjalanan panjang seumur hidup. Ia menuntut ketekunan dalam belajar, keberanian dalam bertindak, dan keteguhan dalam menjaga prinsip di tengah badai ujian.

Kepribadian unggul tidak dilahirkan dari sekadar teori atau hafalan ayat dan Hadits, melainkan ditempa melalui keringat perjuangan dalam mempraktikkannya di dunia nyata. Ia muncul saat kita tetap jujur ketika orang lain curang, saat kita tetap tenang saat emosi memuncak, dan saat kita tetap bersyukur dalam kondisi yang serba terbatas.

Ingatlah selalu bahwa setiap usaha kecil yang Anda lakukan untuk memperbaiki diri hari ini adalah investasi besar untuk masa depan Anda, baik di dunia maupun di Akhiroh kelak. Janganlah menunggu waktu yang sempurna untuk mulai berubah, karena kesempurnaan itu hadir melalui proses perbaikan yang konsisten.

Semoga Alloh senantiasa membimbing langkah kita, meneguhkan hati kita di atas kebenaran, dan menjadikan setiap kita pribadi yang tidak hanya unggul di mata manusia, namun yang paling utama adalah mulia di hadapan Sang Pencipta. Semoga kita semua dikumpulkan dalam golongan hamba-hamba-Nya yang sukses meraih ridho-Nya dan menutup lembaran hidup ini dalam keadaan terbaik.

Allohu a’lam.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url