Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Arsy Ar-Rohman Makhluk Paling Besar dan Tinggi - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang keagungan-Nya tidak terjangkau oleh akal pikiran dan kebesaran-Nya melampaui segala bayangan makhluk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad , keluarga, serta para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum yang telah menyampaikan risalah cahaya ini dengan penuh amanah.

Amma ba’du:

Sungguh, di antara kewajiban seorang Muslim adalah mengenal keagungan Kholiqnya melalui tadabbur terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tersebar di alam raya. Namun, tahukah kita bahwa di atas langit yang tujuh, di atas Jannah yang seluas langit dan bumi, terdapat sebuah ciptaan yang menjadi puncak dari segala makhluk? Ia adalah Arsy Ar-Rohman, singgasana Sang Maha Pencipta yang merupakan makhluk paling besar, paling tinggi, dan paling mulia secara fisik di alam semesta ini. Mengenal Arsy bukan sekadar menambah wawasan tentang alam ghoib, melainkan sarana untuk memperkokoh tauhid dan mengagungkan Alloh dalam jiwa, karena besarnya sebuah ciptaan adalah bukti nyata atas kebesaran Sang Pencipta.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْكَرِيمِ

“Maka Maha Tinggi Alloh, Raja yang Sebenarnya; tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia, Robb (yang memiliki) Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mu’minun: 116)

Dalam ayat lain, Alloh menyifati Arsy-Nya dengan sifat al-Azhim (yang agung):

﴿فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

“Jika mereka berpaling, maka katakanlah: ‘Cukuplah Alloh bagiku; tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Robb (yang memiliki) Arsy yang agung.’” (QS. At-Taubah: 129)

Keagungan Arsy ini digambarkan secara eksplisit oleh Rosululloh untuk memberikan gambaran kepada kita betapa kecilnya alam semesta yang kita saksikan ini jika dibandingkan dengan Arsy. Beliau bersabda:

﴿مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ مَعَ الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ

“Tidaklah langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi melainkan seperti sebuah cincin yang dilemparkan di padang pasir yang luas, dan keunggulan Arsy atas Kursi adalah seperti keunggulan padang pasir tersebut atas cincin itu.” (HSR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul ‘Arsy no. 58, Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ was Sifat no. 862)

Renungkanlah wahai saudaraku, jika bumi yang kita tempati ini hanyalah titik kecil di galaksi, dan seluruh galaksi di langit dunia hanyalah hiasan kecil di bawah Kursi, sementara Kursi itu sendiri tidak ada apa-apanya dibandingkan Arsy, maka betapa agungnya Arsy tersebut? Dan yang lebih utama dari itu semua, betapa Maha Besarnya Alloh yang ber-Istiwa’ di atas Arsy tersebut? Pengetahuan ini akan menghantarkan seorang hamba pada rasa takut (khosyah) yang mendalam, menyadari bahwa dirinya hanyalah debu di hadapan keagungan Robb-nya.

Alloh berfirman:

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar-Rohman istiwa di atas Arsy.” (QS. Thoha: 5)

Para Salaf terdahulu sangat memperhatikan masalah ini. Imam Malik bin Anas (179 H) saat ditanya tentang bagaimana Alloh ber-Istiwa’ di atas Arsy, beliau memberikan kaidah agung yang mematikan segala bentuk penyimpangan akal. Beliau berkata:

«الاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ»

“Istiwa’ itu (maknanya) telah diketahui, bagaimana caranya tidaklah terjangkau oleh akal, mengimaninya adalah wajib, dan mempertanyakannya (tentang kaifiyyah-nya) adalah bid’ah.” (Al-Asma’ was Sifat, Al-Baihaqi, no. 867 dengan sanad shohih)

Buku ini disusun untuk mengajak pembaca menyelami dalil-dalil syar’i tentang Arsy, mulai dari hakikat penciptaannya, sifat-sifat fisiknya, hingga kedudukannya dalam urusan takdir dan Akhiroh. Dengan pendekatan ilmiyyah yang murni berdasar pada Al-Quran dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafush Sholih, kita akan memahami bahwa Arsy adalah makhluk yang nyata, memiliki tiang, dipikul oleh para Malaikat, dan merupakan tempat tertinggi yang menjadi atap bagi seluruh makhluk.

Sungguh, hati yang lalai seringkali merasa besar karena pencapaian duniawinya. Namun, dengan mempelajari keagungan Arsy, seorang Muslim akan tersadar akan hakikat dirinya. Ia akan melihat betapa Robb yang ia sembah adalah Dzat Yang Maha Tinggi (Al-Aliy) dan Maha Besar (Al-Kabir). Semoga tulisan ini menjadi pembuka hidayah bagi hati untuk semakin tunduk dan bertasbih kepada Robb Pemilik Arsy yang Maha Mulia.

 

BAB 1: APA ARSY ITU?

1.1 Makna Arsy Secara Bahasa dan Syariat

Secara etimologi atau bahasa, kata ‘Arsy dalam bahasa Arob bermakna singgasana raja (sarirul malik). Segala sesuatu yang memiliki atap atau bangunan yang tinggi juga dapat disebut sebagai Arsy. Alloh Ta’ala menggunakan kata ini dalam Al-Quran saat menceritakan tentang singgasana Ratu Balqis:

﴿وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

“Dan dia (Balqis) memiliki Arsy (singgasana) yang agung.” (QS. An-Naml: 23)

Adapun secara syariat (istilah syar’i), Arsy adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang, dipikul oleh para Malaikat, yang bentuknya menyerupai kubah di atas alam semesta, dan ia merupakan atap bagi seluruh makhluk. Arsy adalah tempat Alloh Ta’ala ber-Istiwa’ (tinggi menetap) di atasnya dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya.

Penting untuk dipahami secara ilmiyyah bahwa Arsy bukanlah sekadar kiasan tentang kekuasaan atau kerajaan, melainkan makhluk fisik yang nyata dan memiliki wujud yang besar. Dalil yang menunjukkan bahwa Arsy memiliki wujud fisik di antaranya adalah Hadits tentang tiang-tiang Arsy. Rosululloh bersabda:

«فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ الْعَرْشِ»

“Tiba-tiba aku melihat Musa sedang memegang salah satu tiang dari tiang-tiang Arsy.” (HSR. Ibnu Majah no. 4274 dan asalnya di Shohihain)

Adanya “tiang” (qowa’im) membuktikan bahwa Arsy adalah benda fisik yang diciptakan oleh Alloh, bukan sekadar simbol kekuasaan sebagaimana anggapan sebagian kelompok yang menyimpang.

1.2 Perbedaan Antara Arsy dan Kursi

Terdapat kekeliruan di tengah orang awam yang menyamakan antara Arsy dan Kursi. Secara ilmiyyah berdasarkan dalil-dalil shohih, keduanya adalah dua makhluk yang berbeda. Arsy jauh lebih besar daripada Kursi. Para Salaf menjelaskan bahwa Kursi adalah tempat kedua kaki Alloh (tanpa menyerupakan dengan makhluk), sedangkan Arsy adalah singgasana tempat Alloh ber-Istiwa’.

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menjelaskan hal ini dalam ucapannya:

«الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، وَالْعَرْشُ لَا يَقْدِرُ أَحَدٌ قَدْرَهُ»

“Kursi adalah tempat kedua kaki, sedangkan Arsy, tidak ada seorang pun yang mampu mengukur (besarnya) ukurannya.” (HSR. Abdurrozzaq dalam At-Tafsir no. 3030)

Perbandingan ukuran antara keduanya sangatlah jauh. Sebagaimana telah disebutkan dalam muqoddimah, bahwa Kursi dibandingkan Arsy hanyalah seperti cincin kecil yang dibuang ke tengah padang pasir yang sangat luas. Ini menunjukkan bahwa Arsy adalah makhluk yang paling luas cakupannya. Alloh Ta’ala berfirman tentang luasnya Kursi:

﴿وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” (QS. Al-Baqoroh: 255)

Jika Kursi saja sudah meliputi langit dan bumi, maka bayangkanlah betapa besarnya Arsy yang jauh lebih luas daripada Kursi itu sendiri.

1.3 Arsy Sebagai Makhluk yang Pertama Kali Diciptakan

Terdapat pembahasan ilmiyyah di kalangan ulama mengenai apa yang pertama kali diciptakan oleh Alloh: apakah Arsy, Pena (Al-Qolam), atau Air? Pendapat yang paling kuat berdasarkan urutan dalil adalah bahwa Arsy diciptakan sebelum Pena. Hal ini didasarkan pada Hadits Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash rodhiyallahu ‘anhuma, Rosululloh bersabda:

«كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»

“Alloh telah menulis takdir-takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Sementara Arsy-Nya berada di atas air.” (HR. Muslim no. 2653)

Hadits ini menunjukkan bahwa saat takdir ditulis oleh Pena, Arsy sudah ada dan berada di atas air. Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi (792 H) menjelaskan dalam Syarh Aqidah Thohawiyyah bahwa Arsy diciptakan sebelum Pena, karena penulisan takdir terjadi setelah adanya Arsy.

1.4 Besarnya Ukuran Arsy Dibandingkan Langit dan Bumi

Untuk memberikan gambaran ilmiyyah tentang besarnya Arsy, kita harus melihat perbandingan bertingkat dalam riwayat-riwayat shohih. Langit yang tujuh jika dibandingkan dengan Kursi sangatlah kecil, dan Kursi jika dibandingkan dengan Arsy juga sangat kecil.

Alloh Ta’ala berfirman mengenai sifat Arsy:

﴿رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Robb (yang memiliki) Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 129)

Kata Al-Azhim di sini menunjukkan puncak dari segala kebesaran makhluk. Tidak ada makhluk lain yang disifati dengan keagungan mutlak seperti Arsy dalam hal ukuran fisik. Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa Arsy adalah makhluk yang berbentuk kubah yang memiliki tiang-tiang, dan ia merupakan makhluk yang paling berat volumenya serta paling besar ukurannya.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Dzarr rodhiyallahu ‘anhu, Nabi memberikan perbandingan:

«مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ»

“Tidaklah langit yang tujuh dibandingkan Kursi kecuali seperti cincin yang dilemparkan di tanah lapang yang luas. Dan keutamaan (besarnya) Arsy atas Kursi seperti keutamaan tanah lapang tersebut atas cincin itu.” (HSR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul ‘Arsy no. 58)

Renungkanlah, jika satu langit saja jarak perjalanannya adalah 500 tahun, dan tebalnya 500 tahun, lalu ada tujuh lapis langit, kemudian di atasnya ada Kursi, dan di atas Kursi ada Arsy, maka akal manusia tidak akan sanggup membayangkan betapa luas dan besarnya Arsy tersebut. Ini membawa kita pada kesimpulan ilmiyyah bahwa Arsy adalah “atap” dari seluruh alam semesta. Segala sesuatu berada di bawah Arsy, dan Alloh ber-Istiwa’ di atasnya, terpisah dari makhluk-Nya.

BAB 2: SIFAT DAN KEADAAN ARSY

2.1 Bentuk Arsy yang Memiliki Tiang-Tiang

Secara ilmiyyah, Arsy bukanlah sebuah ruang hampa atau sekadar konsep abstrak, melainkan makhluk yang memiliki struktur fisik berupa tiang-tiang (qowa’im). Tiang-tiang ini menunjukkan kekokohan dan kemegahan Arsy sebagai singgasana Sang Kholiq. Keberadaan tiang-tiang ini disebutkan oleh Nabi dalam peristiwa yang berkaitan dengan hari Qiyaamah.

Rosululloh bersabda:

«النَّاسُ يَصْعَقُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُفِيقُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ العَرْشِ، فَلاَ أَدْرِي أَفَاقَ قَبْلِي أَمْ جُوزِيَ بِصَعْقَةِ الطُّورِ»

“Sungguh, manusia akan pingsan (pada hari Qiyaamah), dan aku adalah orang yang pertama kali sadar. Tiba-tiba aku melihat Musa sedang memegang erat salah satu tiang dari tiang-tiang Arsy. Aku tidak tahu apakah ia termasuk orang yang pingsan lalu sadar sebelumku, ataukah ia termasuk orang yang (dikecualikan oleh Alloh) dengan pingsan di Thur dulu.” (HR. Al-Bukhori no. 3398 dan Muslim no. 2373)

Hadits ini secara tekstual menetapkan bahwa Arsy memiliki beberapa tiang (qowa’im). Sifat fisik ini wajib diimani sebagaimana datangnya tanpa melakukan takyif (menanyakan bagaimana bentuknya secara detail) atau tamtsil (menyerupakan dengan tiang singgasana makhluk).

2.2 Arsy Berada di Atas Air Sebelum Penciptaan Langit dan Bumi

Salah satu keadaan Arsy yang sangat fundamental untuk dipahami adalah keberadaannya di atas air sebelum alam semesta ini diciptakan. Hal ini menunjukkan bahwa air dan Arsy adalah di antara makhluk-makhluk yang paling awal keberadaannya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى ٱلْمَآءِ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air.” (QS. Hud: 7)

Imam Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dari Imron bin Hushoin rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:

«كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى المَاءِ، ثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ»

“Alloh telah ada dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Arsy-Nya berada di atas air, kemudian Dia menciptakan langit dan bumi, dan Dia menuliskan segala sesuatu dalam Adz-Dzikr (Lauh Mahfuzh).” (HR. Al-Bukhori no. 7418)

Secara ilmiyyah, air yang dimaksud di sini berada di atas langit yang ketujuh, dan Arsy berada di atas air tersebut. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Al-Au’al, yang meskipun diperselisihkan sebagian sanadnya, namun maknanya didukung oleh dalil-dalil lain yang menetapkan ketinggian Arsy di atas segala sesuatu.

2.3 Arsy Sebagai Atap bagi Jannah Firdaus

Keadaan fisik Arsy lainnya yang sangat luar biasa adalah kedudukannya sebagai “atap” bagi tingkatan tertinggi di Jannah, yaitu Jannah Firdaus. Hal ini menunjukkan bahwa penghuni Firdaus adalah orang-orang yang paling dekat kedudukannya dengan Arsy Ar-Rohman.

Rosululloh bersabda:

«فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ، فَاسْأَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ وَأَعْلَى الجَنَّةِ، فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ»

“Jika kalian meminta kepada Alloh, maka mintalah Jannah Firdaus, karena ia adalah tengah-tengah Jannah dan Jannah yang paling tinggi, dan di atasnya adalah Arsy Ar-Rohman, dan darinya terpancar sungai-sungai Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 2790)

Hadits ini memberikan gambaran spasial yang jelas bahwa Arsy menaungi seluruh Jannah, dan Firdaus berada tepat di bawahnya. Ini pula yang menjelaskan mengapa Arsy disebut sebagai makhluk yang paling tinggi kedudukannya.

2.4 Harumnya Aroma Arsy dan Cahayanya yang Megah

Arsy disifati dengan keindahan dan cahaya yang luar biasa. Ia adalah sumber kemuliaan. Dalam beberapa atsar disebutkan bahwa Arsy memiliki aroma yang sangat harum. Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma pernah menyebutkan tentang penciptaan Arsy dan keharumannya. Meskipun riwayat-riwayat tentang detail cahayanya seringkali merupakan ijtihad tafsir para Salaf, namun kemuliaan Arsy sebagai tempat Istiwa’ Alloh menjadikannya makhluk yang paling terang dan agung cahayanya.

Alloh menyifatinya sebagai:

﴿رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Robb (Pemilik) Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mu’minun: 116)

Sifat Al-Karim di sini mencakup keindahan bentuk, kemuliaan kedudukan, dan kesempurnaan sifat. Segala sesuatu yang disandarkan kepada Alloh (seperti Arsy-Nya) pastilah memiliki puncak keindahan yang tidak sanggup dibayangkan oleh penghuni dunia.

2.5 Getaran Arsy Karena Peristiwa Tertentu di Bumi

Salah satu sifat unik Arsy adalah ia dapat bergetar sebagai respon atas peristiwa besar yang terjadi di kalangan penduduk bumi, terutama yang berkaitan dengan wafatnya kekasih Alloh. Hal ini menunjukkan bahwa Arsy memiliki keterikatan dengan takdir-takdir besar yang ditetapkan Alloh.

Peristiwa yang paling masyhur adalah wafatnya Shohabat Sa’ad bin Mu’adz rodhiyallahu ‘anhu. Rosululloh bersabda:

«اهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَنِ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ»

“Arsy Ar-Rohman bergetar karena wafatnya Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Al-Bukhori no. 3803 dan Muslim no. 2466)

Para ulama menjelaskan bahwa getaran ini adalah getaran hakiki sebagai bentuk suka cita Arsy menyambut ruh hamba yang sholih tersebut. Imam Adz-Dzahabi (748 H) menjelaskan dalam Siyar A’lamun Nubala’ bahwa hal ini adalah keutamaan besar yang diberikan Alloh kepada Sa’ad, di mana makhluk paling besar pun ikut bereaksi atas kepergiannya. Ini membuktikan bahwa Arsy adalah makhluk yang hidup dan memiliki perasaan sesuai dengan kehendak Alloh Ta’ala.

 

BAB 3: PARA MALAIKAT PEMIKUL ARSY (HAMALATUL ARSY)

3.1 Sifat dan Bentuk Tubuh Malaikat Pemikul Arsy

Malaikat pemikul Arsy (Hamalatul Arsy) adalah para Malaikat yang memiliki kedudukan paling mulia dan ukuran tubuh yang paling besar di antara seluruh Malaikat lainnya. Besarnya ukuran tubuh mereka merupakan gambaran nyata betapa dahsyatnya beban Arsy yang mereka pikul atas idzin Alloh.

Rosululloh memberikan gambaran ilmiyyah mengenai ukuran salah satu dari mereka agar kita dapat merenungkan keagungan Sang Kholiq. Beliau bersabda:

«أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ، إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِ مِائَةِ عَامٍ»

“Aku telah diidzinkan untuk menceritakan tentang salah satu Malaikat Alloh dari pemikul Arsy; sesungguhnya jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh perjalanan 700 tahun.” (HSR. Abu Dawud no. 4727)

Renungkanlah, jika jarak antara telinga dan bahu saja memerlukan waktu perjalanan 700 tahun, maka betapa besar keseluruhan tubuh Malaikat tersebut? Dan jika pemikulnya saja sedemikian besar, maka betapa jauh lebih besar lagi Arsy yang mereka pikul? Ini menunjukkan bahwa kekuatan mereka bukanlah kekuatan umumnya Malaikat, melainkan tambahan kekuatan yang diberikan oleh Alloh Ta’ala.

3.2 Jumlah Malaikat Pemikul Arsy di Dunia dan di Hari Qiyaamah

Berdasarkan dalil Al-Quran, jumlah Malaikat pemikul Arsy akan bertambah pada hari Qiyaamah. Di dunia, tidak disebutkan secara eksplisit jumlah pastinya dalam ayat, namun pada hari Qiyaamah Alloh menetapkan jumlah mereka menjadi delapan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ

“Dan Malaikat-Malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang Malaikat menjunjung Arsy Robb-mu di atas (kepala) mereka.” (QS. Al-Haqqoh: 17)

Terkait jumlah mereka di dunia, sebagian ahli tafsir dari kalangan Salaf menyebutkan bahwa saat ini mereka berjumlah empat, dan pada hari Qiyaamah akan ditambah empat lagi sehingga menjadi delapan. Namun, yang wajib diimani secara pasti sesuai tekstual ayat adalah bahwa pada hari Qiyaamah jumlah mereka adalah delapan.

3.3 Tasbih dan Istighfar Para Malaikat di Sekitar Arsy untuk Orang-Orang Beriman

Malaikat pemikul Arsy dan yang berada di sekelilingnya memiliki tugas mulia selain memikul Arsy, yaitu senantiasa bertasbih dan memohonkan ampunan bagi kaum Mu’minin di bumi. Hal ini menunjukkan kasih sayang Alloh kepada hamba-Nya melalui doa para makhluk terdekat-Nya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿ٱلَّذِينَ يَحْمِلُونَ ٱلْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُۥ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِۦ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَٱغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَٱتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ ٱلْجَحِيمِ

“(Malaikat-Malaikat) yang memikul Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Robb-nya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): ‘Ya Robb kami, rohmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan Naar yang menyala-nyala.’” (QS. Ghofir: 7)

Secara ilmiyyah, ayat ini menjelaskan adanya dua kelompok Malaikat di Arsy: pemikul Arsy (Hamalatul Arsy) dan yang mengelilingi Arsy (Al-Karuubiyyuun). Mereka semua bersatu dalam ibadah dan doa untuk keselamatan orang-orang yang bertauhid.

3.4 Kedekatan Jibril Alaihissalam dengan Arsy

Malaikat Jibril ‘alaihissalam, sebagai pemimpin para Malaikat dan penyampai wahyu, memiliki kedudukan khusus yang sangat dekat dengan Arsy. Alloh menyifati Jibril sebagai Malaikat yang memiliki kekuatan besar dan kedudukan yang kokoh di sisi Pemilik Arsy.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلْعَرْشِ مَكِينٍ

“(Jibril itu) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi (Alloh) yang memiliki Arsy.” (QS. At-Takwir: 20)

Kata makiin dalam ayat ini berarti memiliki kedudukan yang sangat dekat, terhormat, dan stabil. Ini menunjukkan bahwa Jibril ‘alaihissalam adalah penghuni langit yang paling dekat aksesnya dengan Arsy saat menerima wahyu dari Alloh Ta’ala untuk disampaikan kepada para Nabi dan Rosul. Kedekatan ini merupakan kemuliaan tambahan bagi Jibril di antara para Malaikat lainnya.

 

BAB 4: ISTIWA’ ALLOH DI ATAS ARSY

4.1 Dalil-Dalil Al-Quran Tentang Istiwa’ Alloh di Atas Arsy

Secara ilmiyyah, menetapkan keberadaan Alloh di atas Arsy adalah bagian dari aqidah yang paling mendasar. Alloh Ta’ala telah menyebutkan dalam tujuh tempat yang berbeda di dalam Al-Quran bahwa Dia ber-Istiwa’ di atas Arsy. Istiwa’ secara bahasa bermakna tinggi dan menetap (‘ala was taqorro)

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ﴾

“Yaitu (Alloh) Yang Maha Pengasih, yang ber-Istiwa’ di atas Arsy.” (QS. Thoha: 5)

Dalam ayat lain, Alloh berfirman:

﴿إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ﴾

“Sungguh Robb kalian adalah Alloh yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia ber-Istiwa’ di atas Arsy.” (QS. Al-A’rof: 54)

Ayat-ayat ini menetapkan sifat fauqiyyah (ketinggian) Alloh di atas seluruh makhluk-Nya. Pengulangan penyebutan Arsy bersamaan dengan sifat Istiwa’ dalam tujuh tempat di Al-Quran menunjukkan betapa pentingnya bagi setiap Muslim untuk mengimani bahwa Sang Kholiq berada di atas singgasana-Nya yang agung, terpisah dari makhluk.

Berikut ini 7 ayat tersebut secara berurutan:

[1] Surat Al-A’rof Ayat 54

﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ﴾

“Sungguh Robb kalian adalah Alloh yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia ber-Istiwa’ di atas Arsy.” (QS. Al-A’rof: 54)

[2] Surat Yunus Ayat 3

﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ﴾

“Sungguh Robb kalian adalah Alloh yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia ber-Istiwa’ di atas Arsy untuk mengatur segala urusan.” (QS. Yunus: 3)

[3] Surat Ar-Ro’d Ayat 2

﴿اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ﴾

“Alloh yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat, kemudian Dia ber-Istiwa’ di atas Arsy.” (QS. Ar-Ro’d: 2)

[4] Surat Thoha Ayat 5

﴿الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾

“(Yaitu) Alloh Yang Maha Pengasih, yang ber-Istiwa’ di atas Arsy.” (QS. Thoha: 5)

[5] Surat Al-Furqon Ayat 59

﴿الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا﴾

“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber-Istiwa’ di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah tentang itu kepada Yang Maha Mengetahui.” (QS. Al-Furqon: 59)

[6] Surat As-Sajdah Ayat 4

﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ﴾

“Alloh yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber-Istiwa’ di atas Arsy.” (QS. As-Sajdah: 4)

[7] Surat Al-Hadid Ayat 4

﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ﴾

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia ber-Istiwa’ di atas Arsy.” (QS. Al-Hadid: 4)

4.2 Penjelasan Hadits Mengenai Ketinggian Alloh di Atas Arsy

Selain Al-Quran, As-Sunnah yang shohih juga memberikan penegasan yang sangat kuat mengenai keberadaan Alloh di langit, tepatnya di atas Arsy. Salah satu dalil yang paling masyhur adalah kisah dialog Nabi dengan seorang budak wanita untuk menguji keimanannya.

Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Salami rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bertanya kepada budak tersebut:

«أَيْنَ اللهُ؟» قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ، قَالَ: «مَنْ أَنَا؟» قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، قَالَ: «أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ»

“Di mana Alloh?’ Budak itu menjawab: ‘Di atas langit.’ Beliau bertanya lagi: ‘Siapa aku?’ Budak itu menjawab: ‘Engkau adalah Rosululloh.’ Maka beliau bersabda: ‘Merdekakanlah dia, karena sungguh dia adalah seorang wanita Mu’minah.’” (HR. Muslim no. 537)

Hadits ini adalah hujjah ilmiyyah bahwa mengenal Alloh dengan sifat ketinggian-Nya di atas Arsy adalah bagian dari syarat sahnya keimanan. Jika Alloh berada di mana-mana secara dzat, tentu Nabi akan menyalahkan jawaban budak tersebut. Namun, beliau justru menetapkan keimanannya karena ia menjawab Alloh berada di atas langit (di atas Arsy).

4.3 Kedudukan Arsy Sebagai Singgasana Yang Maha Pengasih

Arsy adalah makhluk yang paling dekat dengan Dzat Alloh Ta’ala. Oleh karena itu, Arsy disandarkan langsung kepada nama Alloh, terutama nama Ar-Rohman. Penyandaran ini menunjukkan bahwa rohmat Alloh yang meliputi segala sesuatu terpancar dari ketinggian Arsy-Nya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا﴾

“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber-Istiwa’ di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah tentang itu kepada Yang Maha Mengetahui.” (QS. Al-Furqon: 59)

Secara ilmiyyah, penyebutan nama Ar-Rohman saat menjelaskan Istiwa’ di atas Arsy mengandung rahasia bahwa meskipun Alloh berada di tempat yang paling tinggi dan paling jauh dari jangkauan fisik makhluk, namun rohmat-Nya tetap sampai kepada seluruh penghuni alam semesta, dari yang di atas Arsy hingga yang di bawah bumi.

4.4 Konsensus (Ijma’) Salaf Tentang Alloh di Atas Arsy Tanpa Menyerupakan dengan Makhluk

Para Shohabat, Tabi’in, dan para Imam madzhab telah sepakat (Ijma’) dalam menetapkan bahwa Alloh berada di atas Arsy sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa melakukan tahrif (merubah makna menjadi berkuasa), tanpa ta’thil (menolak sifat tersebut), tanpa takyif (menanyakan caranya), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk)

Abdullah bin Al-Mubarok (181 H) pernah ditanya: “Bagaimana kita mengenal Robb kita?” Beliau menjawab:

«بِأَنَّهُ فَوْقَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى الْعَرْشِ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ»

“Dengan (meyakini) bahwa Dia berada di atas langit yang ketujuh, di atas Arsy, terpisah dari makhluk-Nya.” (Ad-Darimi dalam Ar-Roddu ‘alal Jahmiyyah no. 67 dengan sanad shohih)

Harb bin Ismail Al-Kirmani (280 H) menyebutkan kesepakatan Salaf:

وَلِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَرْشٌ، وَلِلْعَرْشِ حَمَلَةٌ يَحْمِلُونَهُ.

“Alloh memiliki ‘Arsy, dan ‘Arsy itu memiliki para Malaikat yang memikulnya.

وَلَهُ حَدٌّ، اللَّهُ أَعْلَمُ بِحَدِّهِ.

Alloh memiliki batasan (dari sisi makhluk-Nya), dan Alloh lebih mengetahui batasan-Nya itu.

وَاللَّهُ عَلَى عَرْشِهِ عَزَّ ذِكْرُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُهُ.

Alloh berada di atas ‘Arsy-Nya. Maha Perkasa penyebutan-Nya, Maha Tinggi keagungan-Nya, dan tiada tuhan selain Dia.” (Ijmaul Salaf fil Itiqod)

Imam Ibnu Qudamah (620 H) juga menegaskan dalam kitabnya Lum’atul I’tiqod bahwa Alloh menyifati diri-Nya dengan ketinggian di atas langit, dan begitulah para Shohabat dan Salafush Sholih meyakininya. Mereka mengimani makna lahiriah teks tersebut bahwa Alloh tinggi di atas Arsy-Nya, karena Arsy adalah tempat tertinggi dari seluruh ciptaan, dan tidak layak bagi Kholiq berada di dalam atau menyatu dengan makhluk-Nya yang rendah. Keyakinan ini adalah benteng tauhid yang menjaga kesucian dzat Alloh dari segala kekurangan.

 

BAB 5: PERISTIWA-PERISTIWA BESAR DI SEKITAR ARSY

5.1 Arsy Sebagai Kiblat Doa dan Tempat Terangkatnya Amal Sholih

Secara ilmiyyah, Arsy merupakan titik tertinggi ke arah mana seluruh doa dipanjatkan dan menjadi tujuan akhir terangkatnya amal-amal sholih para hamba. Meskipun Alloh berada di atas Arsy, ilmu dan pengawasan-Nya meliputi segala tempat, namun secara fitroh, manusia akan menengadahkan tangan ke arah langit—yaitu ke arah Arsy—saat memohon kepada-Nya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal sholih diangkat-Nya.” (QS. Fathir: 10)

Ketinggian Arsy menjadikannya sebagai tempat di mana para Malaikat membawa catatan amal hamba untuk dihadapkan kepada Alloh. Hal ini mempertegas kedudukan Arsy sebagai pusat pengaturan segala urusan makhluk yang turun dari langit dan naik kembali kepada-Nya.

5.2 Sujudnya Matahari di Bawah Arsy Setiap Hari

Salah satu peristiwa ghoib yang sangat agung adalah ketaatan matahari kepada Robb-nya dengan melakukan sujud di bawah Arsy setiap kali ia terbenam. Hal ini menunjukkan bahwa matahari, meskipun sangat besar di mata manusia, tetap tunduk di bawah keagungan Arsy.

Rosululloh bersabda kepada Abu Dzarr rodhiyallahu ‘anhu saat matahari terbenam:

«أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ؟»، قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ العَرْشِ، فَتَسْتَأْذِنَ فَيُؤْذَنُ لَهَا»

“Tahukah kamu ke mana matahari ini pergi?” Aku menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Sungguh ia pergi hingga bersujud di bawah Arsy, lalu ia meminta idzin (untuk terbit kembali) maka diidzinkan baginya.” (HR. Al-Bukhori no. 3199 dan Muslim no. 159)

Secara ilmiyyah syar’iyyah, sujudnya matahari di bawah Arsy adalah benar adanya sesuai dengan cara yang dikehendaki Alloh, karena Arsy adalah atap seluruh alam semesta, sehingga di manapun matahari berada, ia tetap berada di bawah naungan Arsy.

5.3 Pena (Al-Qolam) yang Menulis Takdir di Hadapan Arsy

Penulisan takdir seluruh makhluk terjadi di hadapan Arsy. Hal ini menunjukkan bahwa segala ketetapan hidup manusia, mulai dari rizki, jodoh, hingga maut, telah tertulis di tempat yang paling mulia.

Sebagaimana telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya, Rosululloh bersabda:

«كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»

“Alloh telah menulis takdir-takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Sementara Arsy-Nya berada di atas air.” (HR. Muslim no. 2653)

Hubungan antara Arsy, Air, dan Pena menunjukkan sebuah hierarki penciptaan yang sistematis, di mana Arsy menjadi saksi atas dimulainya penulisan segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari Qiyaamah.

5.4 Naungan Arsy di Hari Qiyaamah Bagi Orang-Orang Pilihan

Pada hari Qiyaamah, saat matahari didekatkan sejarak satu mil dan manusia bercucuran keringat, tidak ada perlindungan kecuali naungan yang Alloh berikan. Naungan tersebut adalah naungan Arsy-Nya bagi hamba-hamba yang istiqomah.

Rosululloh bersabda:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ...»

“Ada tujuh golongan yang akan Alloh naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya...” (HR. Al-Bukhori no. 660 dan Muslim no. 1031)

Para ulama seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani (852 H) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Naungan Alloh” dalam Hadits ini adalah naungan Arsy-Nya. Hal ini berdasarkan riwayat lain yang secara eksplisit menyebutkan: “Di bawah naungan Arsy-Nya” (fii zhilli ‘arsyihi). Ini merupakan kemuliaan luar biasa bagi hamba-hamba pilihan untuk berada sangat dekat dengan singgasana Sang Maha Pengasih di hari yang sangat dahsyat.

5.5 Keadaan Arsy Saat Terjadinya Tiupan Sangkakala

Arsy adalah makhluk yang tetap kokoh dan tidak hancur saat tiupan sangkakala pertama (shoiqoh) yang mematikan seluruh makhluk. Ketika manusia dibangkitkan pada tiupan kedua, Arsy tetap berdiri megah pada tempatnya.

Rosululloh bersabda:

«فَإِنَّهُ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ، فَيَصْعَقُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ، إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ بُعِثَ، فَإِذَا مُوسَى آخِذٌ بِالعَرْشِ»

Sungguh sangkakala akan ditiup sehingga seluruh makhluk di langit dan di bumi mati kecuali siapa yang Alloh kehendaki (seperti Arsy). Lalu ditiup dengan tiupan lain. Maka aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan (atau disadarkan), dan tiba-tiba aku melihat Musa ‘alaihissalam sudah memegang Arsy.” (HR. Al-Bukhori no. 3414)

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Arsy adalah makhluk yang dikecualikan dari kehancuran total saat Qiyaamah terjadi. Ia adalah singgasana yang abadi dengan keabadian yang diberikan oleh Alloh, menjadi saksi atas pengadilan akbar yang akan dihadapi oleh seluruh umat manusia.

 

PENUTUP

Pembahasan ilmiyyah yang telah dipaparkan—mulai dari hakikat penciptaannya, besarnya ukuran fisiknya yang melampaui Kursi, para Malaikat agung yang memikulnya, hingga kedudukannya sebagai tempat Istiwa’ Alloh Ta’ala—semuanya bermuara pada satu titik utama: mengagungkan Sang Kholiq.

Mengenal Arsy bukan sekadar menambah khazanah pengetahuan ghoib, melainkan sebuah perjalanan ruhani untuk menyadari betapa rendahnya kita di hadapan kekuasaan Alloh. Jika Arsy yang sedemikian dahsyatnya hanya merupakan salah satu ciptaan-Nya, maka betapa Maha Agung, Maha Besar, dan Maha Perkasa Dzat yang menciptakannya? Kesadaran ini adalah inti dari tauhid yang akan membuahkan rasa takut (khosyah) sekaligus harapan (roja’) dalam hati seorang hamba.

Keimanan terhadap Arsy juga memberikan ketenangan jiwa. Mengetahui bahwa Alloh ber-Istiwa’ di atas Arsy, terpisah dari makhluk namun ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, menjadikan seorang Mu’min merasa selalu dalam pengawasan Sang Maha Tinggi. Ia tidak akan merasa sendirian dalam ujiannya, karena ia tahu bahwa Robb yang ia sembah berada di tempat tertinggi, mendengarkan rintihan doanya yang menembus langit menuju Arsy.

Sebagaimana pesan para Salafush Sholih, tugas kita adalah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Alloh dan Rosul-Nya tanpa melakukan penyimpangan makna atau penyerupaan dengan makhluk. Kita mengimani bahwa Alloh di atas Arsy-Nya sebagaimana yang Dia firmankan, dan kita mengagungkan Arsy-Nya sebagaimana yang Dia sifatkan.

Semoga buku ini menjadi amal jariyah yang bermanfaat, menjadi pembuka mata hati bagi yang lalai, dan menjadi penguat iman bagi yang mencari kebenaran. Kita memohon kepada Alloh, Robb Pemilik Arsy yang agung, agar memberikan kita naungan di bawah Arsy-Nya pada hari Qiyaamah kelak, serta mengumpulkan kita di Jannah Firdaus, di bawah atap Arsy Ar-Rohman, bersama Nabi Muhammad dan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Maha Suci Robb-mu, Robb Yang Memiliki Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rosul. Dan segala puji bagi Alloh Robb semesta alam.” (QS. Ash-Shoffat: 180-182)

Allahu a’lam.[NK]

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url