Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Perbandingan Pesona Jannah Emas dengan Jannah Perak - Nor Kandir

 


BAB MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam yang telah menjanjikan Jannah bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Dialah Sang Pencipta yang Maha Pemurah, yang rohmat-Nya meliputi segala sesuatu, dan yang keadilan-Nya menetapkan derajat-derajat kemuliaan di Akhiroh sesuai dengan kadar iman dan amalan di dunia. Sungguh, Dialah yang menurunkan Surat Ar-Rohman sebagai pengingat akan berbagai ni’mat yang tidak mungkin diingkari oleh jin maupun manusia.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , teladan utama dalam rasa takut kepada Alloh, juga kepada para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dan para Tabi’in yang mengikuti jejak mereka dengan ihsan hingga hari pembalasan.

Amma ba’du:

Mengetahui dan merenungi sifat-sifat Jannah merupakan bagian dari iman kepada hari Akhiroh yang akan membuahkan rasa rindu sekaligus rasa takut. Alloh telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Siapa yang takut akan kedudukan Robb-nya akan mendapatkan dua Jannah.” (QS. Ar-Rohman: 46)

Terjemah lain dari ayat ini: “Siapa yang takut berdiri di hadapan Robb-nya (pada Hari Qiyamah) maka ia mendapatkan dua Jannah.” (Mukhtashor fit Tafsir, hal. 531)

Ayat yang agung ini menjadi pintu gerbang bagi pembahasan yang sangat mendalam mengenai pembagian Jannah yang Alloh sediakan. Para ulama tafsir, di antaranya Ibnu Jarir Ath-Thobari (310 H), menjelaskan bahwa rasa takut kepada kedudukan Robb adalah dorongan utama yang mencegah seorang hamba dari kemaksiatan di saat ia memiliki kesempatan untuk melakukannya. Inilah maqom ihsan, di mana seorang Muslim beribadah seakan-akan melihat Alloh, atau setidaknya ia yakin bahwa Alloh melihatnya. Sebagai balasan atas penjagaan diri ini, Alloh tidak hanya memberikan satu Jannah, melainkan dua Jannah. Adapula pendapat bahwa dua Jannah disini bukan untuk satu orang tapi untuk jin dan manusia, sehingga masing-masing satu Jannah.

Namun, kejutan rohmat-Nya tidak berhenti di situ. Setelah Alloh merinci kenikmatan pada dua Jannah pertama, Dia berfirman:

﴿وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ

“Dan di bawah (selain) kedua Jannah itu ada dua Jannah lagi.” (QS. Ar-Rohman: 62)

Penggunaan redaksi min dunihima menurut para pakar tafsir dan bahasa menunjukkan adanya tingkatan yang berbeda. Imam Ibnu Katsir (774 H) menyebutkan bahwa dua Jannah yang pertama diperuntukkan bagi Al-Muqorrobin (orang-orang yang didekatkan), sedangkan dua Jannah berikutnya diperuntukkan bagi Ash-habul Yamin (golongan kanan). Perbedaan ini mencakup segala aspek; mulai dari kualitas bangunannya, jenis pepohonannya, pancaran mata airnya, hingga sifat-sifat bidadari yang ada di dalamnya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits:

«جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ القَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الكِبْرِ، عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ»

“Dua Jannah dari perak, wadah-wadahnya dan apa saja yang ada di dalamnya, dan dua Jannah dari emas, wadah-wadahnya dan apa saja yang ada di dalamnya. Tidak ada penghalang dari penduduk Jannah dengan melihat Robb mereka selain seledang kebesaran (yang menutupi) Wajah-Nya di Jannah Adn.(HR. Al-Bukhori no. 4878 dan Muslim no. 180)

Buku ini disusun untuk mengajak setiap Mu’min menyelami lebih jauh perbedaan-perbedaan tersebut secara ilmiyyah berdasarkan dalil-dalil yang shohih. Tujuannya bukanlah sekadar menambah wawasan teoritis, melainkan untuk membangkitkan himmah (semangat) yang tinggi agar kita tidak puas hanya dengan derajat yang rendah di Akhiroh. Kita diajak untuk melihat bagaimana Alloh menggambarkan perbedaan antara mata air yang mengalir deras dengan mata air yang hanya memancar, atau perbedaan antara pepohonan yang rimbun dengan dahan-dahan yang menjuntai.

Alloh berfirman dalam Ar-Rohman tentang dua Jannah pertama:

﴿وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi siapa yang takut akan kedudukan Robb-nya (yaitu orang yang sadar akan pengawasan Alloh sehingga ia menahan diri dari maksiat) tersedia dua Jannah. (QS. Ar-Rohman: 46)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah (wahai golongan jin dan manusia) yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 47)

﴿ذَوَاتَا أَفْنَانٍ

Kedua Jannah itu memiliki dahan-dahan dan ranting-ranting yang rimbun (yang dipenuhi dengan berbagai macam dedaunan serta buah-buahan yang indah dipandang). (QS. Ar-Rohman: 48)

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 49)

﴿فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ

Di dalam kedua Jannah itu terdapat dua mata air yang terus-menerus mengalir (mengaliri sungai-sungai dan pepohonan tanpa pernah terputus). (QS. Ar-Rohman: 50)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 51)

﴿فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ

Di dalam kedua Jannah itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan (maksudnya setiap jenis buah memiliki dua rasa atau dua bentuk yang berbeda, seperti ada yang basah dan ada yang kering, yang semuanya sangat lezat). (QS. Ar-Rohman: 52)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 53)

﴿مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ ۚ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ

Mereka (para penghuninya) bersandar pada permadani-permadani (dudukan) yang bagian dalamnya saja terbuat dari sutra tebal yang sangat indah (jika bagian dalam saja semewah itu, maka bayangkan keindahan bagian luarnya), dan buah-buahan di kedua Jannah itu sangat mudah dipetik karena dahannya merunduk mendekat. (QS. Ar-Rohman: 54)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 55)

﴿فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Di dalam Jannah-Jannah itu terdapat pula bidadari-bidadari yang membatasi pandangan mereka (yakni hanya memandang kepada suaminya saja dan tidak menginginkan selainnya), yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelum mereka. (QS. Ar-Rohman: 56)

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 57)

﴿كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ

Seakan-akan bidadari itu adalah permata yakut (karena kejernihan wajahnya) dan marjan (karena keputihan dan keindahan kulitnya). (QS. Ar-Rohman: 58)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 59)

﴿هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Bukankah balasan bagi kebaikan (yakni ketulusan amal di dunia) melainkan hanyalah kebaikan pula (berupa ni’mat Jannah di Akhiroh)? (QS. Ar-Rohman: 60)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 61)

Alloh berfirman dalam Ar-Rohman tentang dua Jannah selain yang pertama di atas:

﴿وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ

Dan di bawah (atau selain) kedua Jannah yang pertama tadi, terdapat dua Jannah lagi (yang disediakan bagi golongan kanan atau Ash-habul Yamin). (QS. Ar-Rohman: 62)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 63)

﴿مُدْهَامَّتَانِ

Kedua Jannah itu tampak hijau tua yang sangat pekat warnanya (karena saking rimbunnya pepohonan dan banyaknya siraman air). (QS. Ar-Rohman: 64)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 65)

﴿فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ

Di dalam kedua Jannah itu terdapat dua mata air yang memancar (memancarkan airnya dengan kuat ke udara, menambah keindahan suasana). (QS. Ar-Rohman: 66)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 67)

﴿فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ

Di dalam kedua Jannah itu terdapat bermacam buah-buahan, serta secara khusus ada kurma dan juga delima (yang ukuran dan rasanya tidak bisa dibandingkan dengan yang ada di dunia). (QS. Ar-Rohman: 68)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 69)

﴿فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ

Di dalam Jannah-Jannah itu terdapat bidadari-bidadari yang baik akhlaqnya lagi sangat cantik rupanya. (QS. Ar-Rohman: 70)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 71)

﴿حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

Mereka adalah bidadari-bidadari yang bermata indah lagi putih bersih, yang dipingit (yakni tetap tinggal dengan terjaga) di dalam kamar-kamar (yang terbuat dari mutiara). (QS. Ar-Rohman: 72)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 73)

﴿لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Mereka tidak pernah disentuh (diawali persetubuhan) oleh manusia maupun oleh jin sebelum mereka (yakni sebelum penghuni Jannah yang menjadi suaminya). (QS. Ar-Rohman: 74)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 75)

﴿مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

Mereka (para penghuninya) bersandar pada bantal-bantal yang berwarna hijau dan permadani-permadani yang sangat indah polanya (serta sangat bermutu tinggi). (QS. Ar-Rohman: 76)

﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 77)

Sungguh, memahami perbandingan dua jenis Jannah ini akan menyingkap hakikat keadilan Ilahi. Setiap ni’mat yang diperoleh di sana adalah buah dari benih amal yang ditanam di dunia. Dengan bahasa yang formal dan berlandaskan dalil, kita akan membedah tiap ayat dalam Surat Ar-Rohman yang berkaitan dengan tema ini. Kita akan melihat bagaimana para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum memahami ayat-ayat ini sebagai motivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot).

 

BAB 1: PENGHUNI DUA JENIS JANNAH

1.1 Tafsir Makna Rasa Takut di Hadapan Kedudukan Robb

Asas pertama yang membedakan derajat penghuni Jannah adalah kualitas rasa takut mereka kepada Alloh. Dalam mengawali penyebutan dua Jannah yang paling utama, Alloh berfirman:

﴿وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi siapa yang takut akan kedudukan Robb-nya ada dua Jannah.” (QS. Ar-Rohman: 46)

Para ulama memiliki beberapa penjelasan mengenai makna “kedudukan Robb-nya”. Ibnu Jarir Ath-Thobari (310 H) menukil dari Mujahid bin Jabr (104 H) bahwa yang dimaksud adalah seorang lelaki yang ketika hendak melakukan kemaksiatan, ia teringat akan kedudukan Robb-nya yang senantiasa mengawasi, lalu ia pun meninggalkan kemaksiatan tersebut karena rasa takut. Inilah derajat ketaqwaan yang paling murni, di mana rasa takut muncul bukan karena penglihatan manusia, melainkan karena kesadaran penuh bahwa Alloh mengawasi setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya. Sebagaimana firman-Nya:

﴿أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ

“Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang lain)?” (QS. Ar-Ro’d: 33)

Ketakutan ini bukan sekadar rasa takut yang melumpuhkan, melainkan rasa takut yang membuahkan amal sholih dan penjagaan diri yang ketat terhadap batasan-batasan Alloh. Barangsiapa yang mengagungkan kedudukan Alloh di dunia dengan tunduk pada perintah-Nya, maka Alloh akan memberikan kedudukan yang tinggi baginya di Jannah.

1.2 Karakteristik As-Sabiqun Al-Muqorrobin (Penghuni Dua Jannah Pertama)

Dua Jannah pertama yang disebutkan dalam Surat Ar-Rohman adalah balasan bagi kelompok As-Sabiqun Al-Muqorrobin (orang-orang yang terdahulu lagi didekatkan kepada Alloh). Mereka adalah tingkatan tertinggi dari kaum Mu’min. Alloh menyifati mereka dalam banyak ayat, di antaranya:

﴿وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

“Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk Jannah). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh), berada dalam Jannah kenikmatan.” (QS. Al-Waqi’ah: 10-12)

Karakteristik utama golongan ini adalah kesegeraan mereka dalam mengerjakan kewajiban dan ketaatan, bahkan mereka menambahnya dengan amalan-amalan sunnah yang sangat banyak hingga mereka dicintai oleh Alloh. Mereka meninggalkan hal-hal yang makruh, bahkan sebagian hal mubah yang dikhawatirkan dapat melalaikan mereka dari mengingat Alloh. Hati mereka senantiasa terpaut pada Ar-Rosul dan tidak mendahulukan ucapan siapa pun di atas sabda Nabi . Karena totalitas penghambaan inilah, mereka mendapatkan dua Jannah yang terbuat dari emas, yang puncaknya adalah kemampuan melihat wajah Alloh tanpa penghalang yang berarti.

1.3 Karakteristik Ash-habul Yamin (Penghuni Dua Jannah Kedua)

Setelah menjelaskan kemuliaan dua Jannah pertama, Alloh berfirman mengenai dua Jannah berikutnya:

﴿وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ

“Dan di bawah (selain) kedua Jannah itu ada dua Jannah lagi.” (QS. Ar-Rohman: 62)

Penghuni dua Jannah ini adalah Ash-habul Yamin atau Al-Abroor (orang-orang yang baik). Mereka adalah golongan yang menunaikan kewajiban-kewajiban agama dan meninggalkan perkara-perkara yang diharomkan. Namun, tingkat kesegeraan dan intensitas amalan sunnah mereka tidak setinggi golongan Al-Muqorrobin. Perbedaan derajat di Jannah sangat bergantung pada sejauh mana seorang hamba membersihkan fithroh-nya dari noda-noda syahwat di dunia.

Meskipun mereka berada di bawah tingkatan pertama, mereka tetap berada dalam keberuntungan yang besar. Mereka selamat dari Naar dan dimasukkan ke dalam Jannah yang penuh ni’mat. Perbedaan antara kedua golongan ini digambarkan oleh Nabi dalam sebuah Hadits:

«إِنَّ أَهْلَ الجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الغَابِرَ فِي الأُفُقِ، مِنَ المَشْرِقِ أَوِ المَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ»

“Sungguh penghuni Jannah benar-benar melihat penghuni kamar-kamar di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang gemerlap yang masih tersisa di ufuk timur atau barat, karena adanya perbedaan keutamaan di antara mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 3256 dan Muslim no. 2831)

1.4 Perbedaan Derajat Keimanan Antara Dua Golongan Penghuni Jannah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa iman itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Perbedaan iman inilah yang menjadi penentu utama apakah seseorang masuk ke dalam dua Jannah pertama atau dua Jannah berikutnya.

Penghuni dua Jannah pertama memiliki iman yang mencapai derajat yakin yang sangat kuat, seolah-olah hijab antara mereka dengan ghoib telah tersingkap. Mereka menyembah Alloh dengan penuh cinta (mahabbah), harap (roja’), dan takut (khouf) yang seimbang pada puncaknya. Sedangkan penghuni dua Jannah kedua memiliki iman yang kokoh namun terkadang masih terpengaruh oleh kelalaian-kelalaian kecil yang tidak sampai merusak pokok keimanan mereka.

Perbedaan kualitas iman ini berimplikasi pada kualitas balasan. Jika iman di dunia sangat murni dan tinggi, maka balasannya adalah Jannah yang materi bangunannya paling mulia (emas). Jika imannya berada di bawahnya, maka balasannya adalah Jannah dari perak. Ini adalah bentuk keadilan Alloh, sebagaimana Dia tidak menyamakan antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.

1.5 Amal-Amal Khusus yang Menghantarkan ke Jannah yang Lebih Tinggi

Untuk meraih dua Jannah yang pertama, dibutuhkan amalan yang melebihi standar umum. Di antara amal-amal tersebut adalah:

Sholat Malam (Tahajjud): Menghidupkan malam di saat manusia lain tertidur merupakan bukti ketulusan rasa takut kepada kedudukan Robb.

Dzikir yang Berkesinambungan: Selalu mengingat Alloh dalam setiap keadaan hingga hati menjadi tenang (thuma’ninah).

Sifat Ihsan: Senantiasa merasa diawasi oleh Alloh dalam kesunyian maupun keramaian.

Berjihad di Jalan Alloh: Mengorbankan harta dan jiwa demi tegaknya kalimat Alloh.

Akhlaq yang Mulia: Nabi menjanjikan kedudukan yang dekat dengan beliau di Jannah bagi yang paling baik akhlaqnya.

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ، وَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَامَ رَمَضَانَ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, mendirikan Sholat, dan Puasa Romadhon, maka wajib bagi Alloh untuk memasukkannya ke dalam Jannah, baik ia berjihad di jalan Alloh atau ia tinggal di tanah tempat ia dilahirkan.” (HR. Al-Bukhori no. 2790)

Namun, bagi mereka yang ingin mencapai derajat Al-Muqorrobin, mereka tidak sekadar mengerjakan yang wajib, tetapi berlomba dalam setiap pintu kebaikan.

1.6 Makna Kedekatan dengan Alloh di dalam Jannah

Puncak dari segala perbedaan antara dua jenis Jannah ini adalah tingkat kedekatan dengan Robb semesta alam. Istilah Al-Muqorrobin secara bahasa berarti “orang-orang yang didekatkan”. Di dalam Jannah, kedekatan ini terwujud dalam bentuk tempat tinggal yang lebih dekat dengan Arsy Alloh dan frekuensi melihat wajah Alloh yang lebih sering.

Bagi penghuni dua Jannah pertama, ni’mat melihat Alloh adalah ni’mat yang paling besar yang membuat mereka melupakan segala ni’mat Jannah lainnya. Sedangkan bagi penghuni dua Jannah berikutnya, mereka tetap mendapatkan ni’mat tersebut namun dengan kadar dan tingkatan yang sesuai dengan kedudukan mereka. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa setiap penghuni Jannah akan merasa puas dan bahagia dengan apa yang Alloh berikan kepadanya, sehingga tidak ada rasa iri di antara mereka.

Kedekatan ini adalah balasan atas kedekatan hati mereka kepada perintah-perintah Alloh selama di dunia. Barangsiapa yang mendekat kepada Alloh sejengkal, maka Alloh akan mendekat kepadanya sehasta. Inilah rahasia mengapa penghuni dua Jannah pertama disebut sebagai orang-orang yang paling mulia di antara para penduduk Jannah.

 

BAB 2: PERBANDINGAN SUMBER AIR DAN TUMBUH-TUMBUHAN

2.1 Perbedaan Makna Aynani Tajriyan dengan Aynani Nadh-dhokhotan

Salah satu perbedaan yang paling mencolok antara dua Jannah tertinggi dengan dua Jannah di bawahnya terletak pada sifat air yang mengalir di dalamnya. Pada dua Jannah pertama, Alloh berfirman:

﴿فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ

“Di dalam kedua Jannah itu ada dua mata air yang mengalir.” (QS. Ar-Rohman: 50)

Kata tajriyan menunjukkan aliran air yang terus-menerus tanpa putus, mengalir dengan tenang dan indah melewati parit-parit yang terbuat dari permata dan yakut. Aliran ini melambangkan kesempurnaan ni’mat yang tidak pernah berhenti. Sebaliknya, pada dua Jannah berikutnya, Alloh berfirman:

﴿فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ

“Di dalam kedua Jannah itu ada dua mata air yang memancar.” (QS. Ar-Rohman: 66)

Imam Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa an-nadh-dhokhotan artinya adalah pancaran air yang sangat kuat. Meskipun pancaran ini sangat indah, para ulama seperti Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menyebutkan bahwa aliran air (tajriyan) pada dua Jannah pertama jauh lebih kuat dan lebih sempurna dibandingkan sekadar pancaran air pada dua Jannah kedua. Air yang mengalir mencakup makna air yang memancar sekaligus mendistribusikannya ke seluruh penjuru Jannah, sedangkan pancaran menunjukkan kekuatan semburan air dari sumbernya.

2.2 Hakikat Jenis Air dan Rasa yang Terkandung di Dalamnya

Air di dalam Jannah bukanlah air yang mengalami perubahan rasa atau bau seperti di dunia. Alloh telah memerinci jenis-jenis air ini dalam ayat lain untuk memberikan gambaran bagi akal manusia. Terdapat sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai dari khomr yang lezat bagi peminumnya, dan sungai dari madu yang disaring.

Pada dua Jannah pertama, mata air tersebut—sebagaimana dijelaskan oleh para ahli tafsir—adalah Tasnim dan Salsabil yang diperuntukkan murni bagi Al-Muqorrobin. Sebagaimana firman-Nya:

﴿عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ

“(Yaitu) mata air yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh).” (QS. Al-Muthoffifin: 28)

Perbedaan rasa ini berkaitan dengan tingkat kesucian amalan. Bagi mereka yang memurnikan hatinya hanya untuk Alloh, maka mereka meminum air yang paling murni. Adapun bagi penghuni dua Jannah kedua, air yang mereka minum tetaplah lezat dan luar biasa, namun kualitas kemurnian dan campuran rasanya berada satu tingkat di bawah air bagi golongan Al-Muqorrobin.

2.3 Perbandingan Afnan dengan Hijau yang Pekat (Mud-hammatan)

Deskripsi mengenai keindahan tanaman dan pepohonan juga menunjukkan tingkatan yang berbeda. Untuk dua Jannah pertama, Alloh berfirman:

﴿ذَوَاتَا أَفْنَانٍ

“Kedua Jannah itu mempunyai dahan-dahan dan ranting-ranting.” (QS. Ar-Rohman: 48)

Kata afnan adalah bentuk jamak dari fanan, yang berarti dahan yang panjang dan menjuntai, yang dipenuhi dengan berbagai macam dedaunan dan buah-buahan. Ini menggambarkan kerimbunan yang artistik dan keberagaman jenis tanaman. Sementara itu, untuk dua Jannah kedua, Alloh menyifatinya dengan:

﴿مُدْهَامَّتَانِ

“Kedua Jannah itu hijau tua warnanya.” (QS. Ar-Rohman: 64)

Makna mud-hammatan adalah hijau yang sangat pekat hingga tampak kehitam-hitaman karena saking banyaknya air yang menyiraminya dan saking rimbunnya pepohonan di sana. Meskipun mud-hammatan menunjukkan kesuburan yang luar biasa, namun penyebutan afnan pada dua Jannah pertama memberikan kesan keindahan yang lebih mendetail dan variatif, mencakup keindahan dahan dan keragaman jenis yang lebih tinggi tingkatannya.

2.4 Jenis Buah-Buahan: Keberagaman Berpasangan vs Buah-Buahan Tertentu

Perbandingan selanjutnya terletak pada penyebutan jenis buah-buahan. Pada dua Jannah pertama, Alloh berfirman secara umum namun mencakup segala jenis:

﴿فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ

“Di dalam kedua Jannah itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.” (QS. Ar-Rohman: 52)

Kata min kulli fakihatin menunjukkan keumuman yang mutlak; semua buah yang dikenal di dunia maupun yang belum pernah dilihat mata tersedia di sana, dan semuanya berpasangan (ada yang basah, ada yang kering; ada yang manis, ada yang asam-manis). Sedangkan pada dua Jannah kedua, Alloh berfirman:

﴿فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ

“Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.” (QS. Ar-Rohman: 68)

Di sini Alloh menyebutkan kurma dan delima secara khusus setelah menyebutkan buah-buahan secara umum. Sebagian ulama menjelaskan bahwa penyebutan “segala macam buah-buahan” pada Jannah pertama lebih sempurna daripada penyebutan beberapa jenis tertentu pada Jannah kedua. Meskipun kurma dan delima di Jannah kedua sangatlah istimewa, namun kelengkapan “setiap jenis yang berpasangan” pada Jannah pertama menunjukkan tingkatan ni’mat yang lebih komplit.

2.5 Kemudahan Memetik Buah di Dua Tingkatan Jannah

Salah satu bentuk pelayanan Alloh bagi penghuni Jannah adalah kemudahan dalam menikmati hasil buminya. Untuk penghuni dua Jannah pertama, Alloh berfirman:

﴿وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ

“Dan buah-buahan di kedua Jannah itu dapat (dipetik) dari dekat.” (QS. Ar-Rohman: 54)

Makna danin adalah sangat dekat dan tunduk. Jika penghuni Jannah ingin memetiknya sambil berdiri, dahan itu mendekat. Jika sambil duduk atau berbaring, dahan itu pun merunduk hingga sejajar dengan tangan mereka. Kemudahan ini diberikan karena mereka adalah orang-orang yang telah “menundukkan” nafsu mereka di dunia demi perintah Alloh.

Pada dua Jannah kedua, kemudahan ini pun ada, namun intensitas pelayanannya disesuaikan dengan derajat mereka. Sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama, segala sesuatu di Jannah—termasuk pepohonan—memiliki akal, mereka merasa terhormat ketika buahnya dipetik oleh para kekasih Alloh.

2.6 Deskripsi Luas dan Keindahan Rimbunnya Pepohonan Jannah

Keindahan Jannah tidak dapat dibayangkan oleh nalar manusia yang terbatas. Nabi bersabda dalam sebuah Hadits yang menceritakan tentang luasnya pohon di Jannah:

«إِنَّ فِي الجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لاَ يَقْطَعُهَا»

“Sungguh di Jannah ada sebuah pohon yang jika seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, ia belum bisa melintasinya.” (HR. Al-Bukhori no. 3251 dan Muslim no. 2826)

Pohon-pohon ini memiliki batang dari emas dan daun-daun yang mengeluarkan suara merdu saat tertiup angin Jannah. Perbandingan antara rimbunnya afnan pada Jannah pertama dengan pekatnya mud-hammatan pada Jannah kedua menunjukkan bahwa setiap jengkal tanah di Jannah adalah sumber kebahagiaan. Tidak ada tanah yang tandus; semuanya ditumbuhi dengan tanaman yang menebarkan aroma wangi yang jarak harumnya bisa tercium dari perjalanan puluhan tahun. Luasnya naungan ini sebanding dengan luasnya ketaatan hamba tersebut saat di dunia.

 

BAB 3: PERBANDINGAN TEMPAT ISTIRAHAT DAN PERMADANI

3.1 Tafsir Sutra Tebal (Istibroq) sebagai Lapisan Dalam Permadani

Kenyamanan di Jannah digambarkan melalui tempat-tempat bersandar yang sangat mewah. Pada dua Jannah pertama, Alloh berfirman:

﴿مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ

“Mereka bersandar di atas permadani-permadani yang bagian dalamnya dari sutra tebal.” (QS. Ar-Rohman: 54)

Para ulama tafsir, di antaranya Al-Baghowi (516 H), menekankan poin yang sangat menakjubkan dalam ayat ini. Jika bagian dalam (batho-inuha) permadani tersebut saja terbuat dari Istibroq (sutra tebal yang paling indah dan berkilau), maka bagaimanakah dengan bagian luarnya? Tentu bagian luarnya jauh lebih indah dan lebih halus yang tidak dapat dibayangkan oleh lisan manusia. Ini menunjukkan bahwa penghuni dua Jannah pertama mendapatkan kemewahan yang bersifat lahir dan batin, di mana segala sisi dari tempat istirahat mereka adalah puncak dari keindahan materi.

3.2 Hakikat Bantal Hijau (Rofrof Khidhr) dan Keindahan Permadani (Abqoriyyin Hisan)

Beralih kepada dua Jannah berikutnya, Alloh menggambarkan tempat bersandar mereka dengan redaksi:

﴿مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

“Mereka bersandar pada bantal-bantal hijau dan permadani-permadani yang indah.” (QS. Ar-Rohman: 76)

Rofrof menurut sebagian Salaf adalah bantal-bantal atau hamparan yang diletakkan di atas singgasana, sedangkan Abqoriy adalah permadani yang sangat bermutu tinggi dan memiliki corak yang sangat cantik. Meskipun penyebutan ini menunjukkan kemewahan yang luar biasa, para ulama menjelaskan bahwa penyebutan “sutra tebal sebagai lapisan dalam” pada Jannah pertama secara implisit menunjukkan derajat yang lebih tinggi daripada penyebutan “bantal hijau” pada Jannah kedua. Hal ini karena kemuliaan lapisan dalam mencerminkan kemuliaan yang lebih besar pada lapisan luarnya.

3.3 Perbandingan Kualitas Bahan dan Kenyamanan Tempat Duduk

Dalam literatur Hadits dan tafsir, materi penyusun perabot di Jannah berbeda-beda sesuai tingkatannya. Nabi menjelaskan bahwa ada Jannah yang seluruh perabotnya dari emas dan ada yang dari perak. Pada dua Jannah pertama, tempat bersandar tersebut memberikan kenyamanan yang sempurna karena keikhlasan mereka yang sangat dalam.

Kenyamanan ini bukan sekadar fisik, melainkan ketenangan jiwa. Ketika seorang hamba bersandar di atas Istibroq, ia merasakan kelembutan yang tidak pernah dirasakan kulit manusia di dunia. Sebagaimana disebutkan oleh Said bin Jubair (95 H), bahwa sutra Jannah bukanlah hasil tenunan ulat, melainkan diciptakan langsung oleh Alloh dengan kalimat “Kun”. Oleh karena itu, tingkat kehalusannya mengikuti tingkat kesucian hati penghuninya.

3.4 Makna Filosofis di Balik Kedekatan Buah-Buahan Saat Bersandar

Alloh menghubungkan antara posisi bersandar dengan kemudahan menikmati hidangan pada dua Jannah pertama dalam urutan ayat yang berdekatan:

﴿مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ ۚ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ

“Mereka bersandar di atas permadani-permadani yang bagian dalamnya dari sutra tebal. Dan buah-buahan di kedua Jannah itu dapat (dipetik) dari dekat.” (QS. Ar-Rohman: 54)

Secara filosofis, ini menunjukkan bahwa penghuni dua Jannah pertama berada dalam kondisi istirahat total. Mereka tidak perlu berdiri atau bersusah payah untuk meraih ni’mat; ni’mat itulah yang mendatangi mereka. Ini adalah balasan bagi mereka yang di dunia rela “berdiri” lama dalam Sholat malam dan “menjauhkan” diri dari tempat tidur demi beribadah kepada Alloh.

3.5 Posisi Duduk Para Penghuni Jannah dalam Berinteraksi

Interaksi sosial di Jannah dipenuhi dengan cinta dan keakraban. Mereka duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan kemuliaan. Alloh berfirman dalam ayat lain:

﴿عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Di atas dipan-dipan yang berhadap-hadapan.” (QS. Ash-Shoffat: 44)

Pada dua Jannah pertama, pertemuan antar penghuninya diisi dengan pembicaraan mengenai keagungan Alloh dan tadabbur atas tilas balik kehidupan mereka di dunia. Tempat duduk yang mewah ini menjadi saksi atas ukhuwwah yang murni. Tidak ada rasa dengki atau iri di hati mereka, karena Alloh telah mencabut semua itu sebelum mereka memasuki Jannah.

3.6 Kemegahan Istana dan Kemah di Masing-masing Jannah

Selain permadani dan tempat bersandar, hunian di Jannah juga memiliki tingkatan. Ada istana yang dibangun dari batu bata emas dan perak dengan semen dari minyak misk yang sangat harum. Pada dua Jannah kedua, disebutkan adanya kemah-kemah:

﴿حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

“(Bidadari-bidadari) yang dipingit di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rohman: 72)

Nabi menjelaskan tentang kemah ini:

«الخَيْمَةُ دُرَّةٌ مُجَوَّفَةٌ، طُولُهَا فِي السَّمَاءِ ثَلاَثُونَ مِيلًا، فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا لِلْمُؤْمِنِ أَهْلٌ لاَ يَرَاهُمُ الآخَرُونَ»

“Kemah (di Jannah) adalah sebuah mutiara yang berlubang, tingginya ke langit adalah 30 mil (riwayat lain: 60 mil). Di setiap sudutnya ada keluarga bagi seorang Mu’min yang tidak terlihat oleh yang lainnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3243 dan Muslim no. 2838)

Jika kemah bagi penghuni dua Jannah kedua saja merupakan mutiara setinggi 60 mil, maka bayangkanlah kemegahan istana bagi penghuni dua Jannah pertama yang kedudukannya lebih tinggi dan lebih dekat dengan Arsy Ar-Rohman.

 

BAB 4: PERBANDINGAN BIDADARI DAN PENDAMPING JANNAH

4.1 Sifat Bidadari Qoshirotuth-Thorf (Menundukkan Pandangan)

Keindahan bidadari pada dua Jannah pertama digambarkan dengan sifat yang sangat mulia secara akhlaq dan perilaku. Alloh berfirman:

﴿فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ

“Di dalam Jannah-Jannah itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan mereka.” (QS. Ar-Rohman: 56)

Makna qoshirotuth-thorf adalah mereka hanya memandang kepada suaminya saja dan tidak menginginkan selain suaminya. Mereka merasa bahwa suami mereka adalah lelaki yang paling tampan dan paling mulia di Jannah. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H), ini adalah puncak kenikmatan bagi seorang suami, di mana ia merasa benar-benar dicintai secara eksklusif. Sifat ini merupakan balasan bagi hamba yang di dunia senantiasa menjaga pandangannya dari hal-hal yang harom karena takut akan kedudukan Robb-nya.

Termasuk dalam makna ini, saking cantiknya bidadari, suami mereka menundukkan pandangannya dari yang lain, karena terpesona dengan kecantikannya dan tutur katanya.

4.2 Kesucian Bidadari: Tidak Pernah Disentuh Manusia maupun Jin

Keistimewaan bidadari pada dua Jannah pertama ditegaskan dengan kesucian fisik yang sempurna. Alloh berfirman:

﴿لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni Jannah yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar-Rohman: 56)

Ayat ini menunjukkan bahwa bidadari-bidadari tersebut adalah perawan yang suci, yang diciptakan khusus untuk menjadi pendamping bagi para kekasih Alloh. Penyebutan “jin” di sini membuktikan bahwa bangsa jin yang beriman juga masuk ke dalam Jannah dan mendapatkan balasan yang serupa. Kesucian ini bersifat abadi; setiap kali didatangi oleh suaminya, mereka kembali dalam keadaan perawan, harum, dan penuh cinta.

4.3 Perbandingan Kecantikan: Permata Yakut dan Marjan vs Kebaikan dan Kecantikan Umum

Alloh menyerupakan bidadari pada dua Jannah pertama dengan batuan mulia yang sangat indah:

﴿كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ

“Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar-Rohman: 58)

Yakut memiliki kejernihan yang luar biasa, sedangkan marjan memiliki keputihan dan keindahan yang mempesona. Ini menunjukkan bahwa kulit dan rupa mereka sangat jernih dan bercahaya. Sementara itu, pada dua Jannah kedua, Alloh menyifati mereka dengan:

﴿فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ

“Di dalam Jannah-Jannah itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik akhlaqnya lagi cantik-cantik rupanya.” (QS. Ar-Rohman: 70)

Kata khoirotun bermakna baik akhlaqnya, dan hisan bermakna cantik rupanya. Para ulama menjelaskan bahwa meskipun sifat “baik dan cantik” adalah pujian yang besar, namun penyerupaan dengan “yakut dan marjan” pada tingkatan pertama menunjukkan kualitas kecantikan yang lebih transparan, bercahaya, dan istimewa secara fisik dibandingkan penyebutan cantik secara umum.

4.4 Bidadari yang Dipingit dalam Kemah (Khuroon Maqshurotun fil Khiyam)

Pada dua Jannah kedua, bidadari-bidadari tersebut disifati dengan:

﴿حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

“(Bidadari-bidadari) yang bermata indah yang dipingit di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rohman: 72)

Makna maqshurotun adalah mereka menetap di dalam tempat tinggalnya (kamar) menunggu kedatangan suaminya. Ini menunjukkan sifat wanita yang terhormat dan terjaga. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Atsar, kecantikan bidadari ini sangat luar biasa hingga jika salah seorang dari mereka menampakkan telapak tangannya ke dunia, maka akan redup cahaya matahari karena saking terangnya cahaya tangan tersebut. Meskipun mereka berada di dua Jannah yang “di bawah” tingkatan pertama, mereka tetaplah makhluk yang keindahannya tidak mampu digambarkan oleh akal manusia.

4.5 Pelayanan Khusus bagi Penghuni Dua Jannah Tertinggi

Penghuni dua Jannah pertama, yaitu Al-Muqorrobin, mendapatkan pelayanan yang lebih mendalam dari para pendamping mereka. Bidadari mereka tidak hanya cantik secara fisik, tetapi juga memiliki kemampuan berkomunikasi dan bersyair yang menambah kebahagiaan. Nabi bersabda mengenai nyanyian bidadari Jannah:

«إِنَّ أَزْوَاجَ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُغَنِّينَ أَزْوَاجَهُنَّ بِأَحْسَنِ أَصْوَاتٍ مَا سَمِعَهَا أَحَدٌ قَطُّ»

“Sungguh istri-istri penghuni Jannah benar-benar bernyanyi untuk suami mereka dengan suara-suara yang paling merdu yang belum pernah didengar oleh siapa pun.” (HSR. Ath-Thobroni dalam Al-Ausath no. 4917)

Pelayanan ini merupakan bentuk pemuliaan dari Alloh bagi mereka yang selama di dunia lisan dan pendengarannya terjaga dari hal-hal yang dilarang.

4.6 Hakikat Kebahagiaan Bersama Pasangan di Jannah

Kebahagiaan di Jannah adalah kebahagiaan yang tidak mengenal rasa bosan (malal). Di dunia, keindahan seringkali pudar seiring berjalannya waktu, namun di Jannah, setiap kali penghuninya melihat pasangan mereka, mereka mendapati kecantikan dan ketampanan yang bertambah.

Bagi wanita Muslimah yang sholihah di dunia, mereka akan menjadi ratu di atas para bidadari. Kecantikan mereka akan melampaui bidadari karena sholat, puasa, dan ibadah yang mereka lakukan selama di dunia. Alloh menjadikan mereka kembali muda, penuh cinta, dan selalu sebaya dengan suami mereka. Perbandingan antara dua jenis Jannah ini pada akhirnya menunjukkan bahwa setiap hamba akan mendapatkan pendamping yang sesuai dengan tingkat kesucian jiwanya masing-masing.

 

BAB 5: KEUNGGULAN DAN KEUTAMAAN DUA JANNAH PERTAMA ATAS KEDUANYA

5.1 Makna Kata Min Dunihima (Di Bawah/Selain Keduanya)

Dalam membagi tingkatan Jannah dalam Surat Ar-Rohman, Alloh menggunakan redaksi yang sangat jeli secara bahasa, yaitu:

﴿وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ

“Dan di bawah (selain) kedua Jannah itu ada dua Jannah lagi.” (QS. Ar-Rohman: 62)

Para pakar tafsir seperti Imam Al-Qurthubi (671 H) menjelaskan bahwa kata min dunihima memiliki dua makna utama. Pertama, bermakna “selain keduanya”, yang menunjukkan adanya keragaman Jannah. Kedua, dan ini yang lebih kuat dalam konteks perbandingan, bermakna “di bawah keduanya” dalam hal derajat, kemuliaan, dan keindahan. Hal ini menunjukkan bahwa Jannah bukanlah satu tingkatan yang sama bagi semua Muslim, melainkan bertingkat-tingkat sesuai dengan kualitas ketaqwaan yang mereka miliki saat di dunia. Adanya pembagian ini merupakan motivasi bagi setiap hamba agar tidak sekadar mencari keselamatan, tetapi mencari kedekatan yang paling tinggi dengan Sang Pencipta.

5.2 Perbandingan Materi Bangunan: Emas vs Perak

Perbedaan esensial antara dua golongan Jannah ini juga terletak pada materi penyusunnya. Sebagaimana telah disinggung dalam riwayat dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi menegaskan pembagian tersebut:

«جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا»

“Dua Jannah dari perak, wadah-wadahnya dan apa saja yang ada di dalamnya (untuk golongan Ash-habul Yamin). Dua Jannah dari emas, wadah-wadahnya dan apa saja yang ada di dalamnya (untuk golongan Al-Muqorrobin).” (HR. Al-Bukhori no. 4878)

Emas melambangkan kemilau dan nilai yang lebih tinggi daripada perak. Hal ini mencerminkan amal ibadah golongan Al-Muqorrobin yang lebih murni, lebih berat timbangannya, dan lebih istiqomah. Meskipun perak di Jannah tetaplah jauh lebih indah daripada segala emas yang ada di dunia, namun Alloh menetapkan perbedaan materi ini sebagai wujud keadilan bagi mereka yang lebih banyak berkorban di jalan-Nya.

5.3 Perbedaan Tingkat Ru’yatulloh (Melihat Alloh) Berdasarkan Derajat Jannah

Ni’mat yang paling agung di Jannah adalah melihat wajah Alloh. Sebagaimana firman-Nya:

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Robb-nyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Meskipun seluruh penghuni Jannah akan merasakan ni’mat ini, frekuensi dan kualitas kedekatannya berbeda-beda. Bagi penghuni dua Jannah pertama, mereka berkesempatan melihat wajah Alloh setiap pagi dan sore, atau bahkan secara terus-menerus sesuai kehendak-Nya karena mereka adalah golongan yang didekatkan. Sedangkan bagi penghuni dua Jannah berikutnya, mereka melihat-Nya pada waktu-waktu tertentu, seperti pada hari Jumat atau hari raya di Jannah. Perbedaan ini adalah konsekuensi dari sejauh mana hati mereka “melihat” Alloh dengan mata bashiroh (mata hati) saat masih hidup di dunia.

5.4 Mengapa Alloh Membedakan Balasan Bagi Hamba-Nya?

Pembedaan ini bukanlah bentuk pilih kasih, melainkan manifestasi dari keadilan dan kebijaksanaan Alloh. Alloh berfirman:

﴿أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

“Apakah Kami akan memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Ataukah Kami akan memperlakukan orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang jahat?” (QS. Shod: 28)

Begitu pula di antara sesama orang beriman, Alloh membedakan derajat antara orang yang berilmu dengan yang tidak, orang yang berjihad dengan yang hanya duduk di rumah, serta orang yang Sholat malam dengan yang hanya mengerjakan Sholat wajib. Keadilan Ilahi menuntut adanya balasan yang setimpal (jaza-an wifaqo) dengan tingkat kesungguhan penghambaan masing-masing individu.

5.5 Kesimpulan Perbandingan Segala Sisi Kenikmatan

Jika kita merangkum dari ayat-ayat dalam Surat Ar-Rohman, kita akan mendapati pola perbandingan yang konsisten:

1.  Pepohonan: Berdahan banyak (afnan) vs Hijau pekat (mud-hammatan).

2.  Mata Air: Mengalir (tajriyan) vs Memancar (nadh-dhokhotan).

3.  Buah-buahan: Segala macam berpasangan vs Kurma dan delima.

4.  Bidadari: Seperti yakut dan marjan vs Baik lagi cantik.

5.  Tempat Istirahat: Lapisan dalam dari sutra tebal vs Bantal hijau dan permadani indah.

Semua perbandingan ini menunjukkan bahwa dua Jannah pertama memiliki sifat-sifat yang lebih spesifik, lebih mewah, dan menunjukkan tingkatan pelayanan yang lebih eksklusif bagi para kekasih Alloh yang paling utama.

5.6 Motivasi Mencapai Jannah Firdaus dan Al-Wasilah

Buku ini bukan sekadar pemaparan deskriptif, melainkan sebuah seruan untuk memiliki himmah (cita-cita) yang tinggi. Nabi bersabda:

«فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ، فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ، فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ»

“Jika kalian meminta kepada Alloh, maka mintalah Jannah Firdaus, karena sesungguhnya ia adalah Jannah yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah Arsy Ar-Rohman, dan darinya terpancar sungai-sungai Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 2790)

Cita-cita meraih Jannah tertinggi akan mendorong seseorang untuk memperbaiki kualitas amalannya. Ia tidak akan puas dengan amal yang pas-pasan. Ia akan berusaha mengejar derajat Al-Muqorrobin agar dapat menempati dua Jannah yang pertama, yang terbuat dari emas, dan yang paling utama, agar dapat berada sedekat mungkin dengan Robb-nya di Akhiroh kelak.

 

PENUTUP

Tadabbur terhadap Surat Ar-Rohman membawa kita pada sebuah kesimpulan agung: bahwa Jannah bukanlah sebuah tempat yang seragam, melainkan sebuah negeri yang penuh dengan tingkatan kemuliaan. Perbedaan antara dua Jannah bagi mereka yang takut kepada kedudukan Robb-nya dengan dua Jannah yang berada di bawahnya adalah bukti nyata bahwa Alloh tidak menyia-nyiakan sekecil apa pun bentuk ketaatan, kesabaran, dan perjuangan hamba-Nya di dunia.

Dua Jannah pertama, dengan bangunan emasnya, mata air yang mengalir tiada henti, dan bidadari yang seputih yakut serta marjan, adalah puncak dari segala impian setiap jiwa yang merindukan kedekatan dengan Sang Pencipta. Sementara dua Jannah berikutnya tetaplah sebuah negeri kebahagiaan yang luasnya tak terukur dan keindahannya tak terlukiskan, bagi mereka yang tetap menjaga keimanannya meski dengan amalan yang tidak sekuat golongan Al-Muqorrobin. Semuanya adalah bentuk Rohmat Alloh yang sangat luas, yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya yang beriman.

Pelajaran terbesar dari perbandingan ini adalah tentang bagaimana kita memandang kehidupan dunia yang singkat ini. Dunia hanyalah ladang tempat kita menanam benih-benih amalan. Barangsiapa yang ingin memanen buah yang paling manis di dahan-dahan afnan yang menjuntai di Jannah tertinggi, maka ia harus berani menanam dengan peluh kesabaran dan air mata rasa takut kepada Alloh di dunia. Tidak ada ni’mat yang besar di Akhiroh tanpa didahului dengan perjuangan melawan hawa nafsu dan keteguhan dalam menjalankan Sunnah Rosul .

Kita memohon kepada Alloh dengan Asma-ul Husna-Nya dan Sifat-Sifat-Nya yang Maha Tinggi, agar Dia menjadikan kita semua termasuk ke dalam golongan As-Sabiqun Al-Muqorrobin. Semoga tulisan ini menjadi pembakar semangat bagi setiap pembaca untuk tidak sekadar “selamat” dari Naar, tetapi terus berlomba meraih derajat yang paling dekat dengan Arsy Ar-Rohman. Sungguh, ni’mat yang paling besar bukanlah istana emas atau bidadari yang cantik, melainkan keridhoan Alloh dan kesempatan untuk menatap wajah-Nya yang Mulia tanpa ada lagi penghalang.

Semoga Alloh mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya bersama para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada, dan orang-orang Sholih. Dialah sebaik-baik pemberi balasan dan Dialah Robb yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Allahu a’lam.[NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url