[PDF] Perbandingan Pesona Jannah Emas dengan Jannah Perak - Nor Kandir
BAB MUQODDIMAH
﷽
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam yang telah
menjanjikan Jannah bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Dialah Sang Pencipta
yang Maha Pemurah, yang rohmat-Nya meliputi segala sesuatu, dan yang
keadilan-Nya menetapkan derajat-derajat kemuliaan di Akhiroh sesuai dengan
kadar iman dan amalan di dunia. Sungguh, Dialah yang menurunkan Surat
Ar-Rohman sebagai pengingat akan berbagai ni’mat yang tidak mungkin
diingkari oleh jin maupun manusia.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ, teladan utama dalam rasa takut kepada Alloh, juga kepada para
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dan para Tabi’in yang mengikuti jejak
mereka dengan ihsan hingga hari pembalasan.
Amma ba’du:
Mengetahui dan merenungi sifat-sifat Jannah merupakan bagian
dari iman kepada hari Akhiroh yang akan membuahkan rasa rindu sekaligus rasa
takut. Alloh telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
﴿وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ﴾
“Siapa
yang takut akan kedudukan Robb-nya akan mendapatkan dua Jannah.” (QS. Ar-Rohman: 46)
Terjemah lain dari ayat ini: “Siapa yang takut berdiri di
hadapan Robb-nya (pada Hari Qiyamah) maka ia mendapatkan dua Jannah.” (Mukhtashor
fit Tafsir, hal. 531)
Ayat yang agung ini menjadi pintu gerbang bagi pembahasan
yang sangat mendalam mengenai pembagian Jannah yang Alloh sediakan. Para ulama
tafsir, di antaranya Ibnu Jarir Ath-Thobari (310 H), menjelaskan bahwa rasa
takut kepada kedudukan Robb adalah dorongan utama yang mencegah seorang hamba
dari kemaksiatan di saat ia memiliki kesempatan untuk melakukannya. Inilah
maqom ihsan, di mana seorang Muslim beribadah seakan-akan melihat Alloh, atau
setidaknya ia yakin bahwa Alloh melihatnya. Sebagai balasan atas penjagaan diri
ini, Alloh tidak hanya memberikan satu Jannah, melainkan dua Jannah. Adapula
pendapat bahwa dua Jannah disini bukan untuk satu orang tapi untuk jin dan
manusia, sehingga masing-masing satu Jannah.
Namun, kejutan rohmat-Nya tidak berhenti di situ. Setelah Alloh
merinci kenikmatan pada dua Jannah pertama, Dia berfirman:
﴿وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ﴾
“Dan di bawah (selain) kedua Jannah itu ada dua Jannah lagi.”
(QS. Ar-Rohman: 62)
Penggunaan redaksi min dunihima menurut para pakar
tafsir dan bahasa menunjukkan adanya tingkatan yang berbeda. Imam Ibnu Katsir
(774 H) menyebutkan bahwa dua Jannah yang pertama diperuntukkan bagi
Al-Muqorrobin (orang-orang yang didekatkan), sedangkan dua Jannah berikutnya
diperuntukkan bagi Ash-habul Yamin (golongan kanan). Perbedaan ini mencakup
segala aspek; mulai dari kualitas bangunannya, jenis pepohonannya, pancaran
mata airnya, hingga sifat-sifat bidadari yang ada di dalamnya. Sebagaimana
disebutkan dalam sebuah Hadits:
«جَنَّتَانِ
مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا
وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ القَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا
رِدَاءُ الكِبْرِ، عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ»
“Dua Jannah dari perak, wadah-wadahnya dan apa saja yang ada
di dalamnya, dan dua Jannah dari emas, wadah-wadahnya dan apa saja yang ada di
dalamnya. Tidak ada penghalang
dari penduduk Jannah dengan melihat Robb mereka selain seledang kebesaran (yang
menutupi) Wajah-Nya di Jannah Adn.” (HR. Al-Bukhori no. 4878 dan
Muslim no. 180)
Buku ini disusun untuk mengajak setiap Mu’min menyelami
lebih jauh perbedaan-perbedaan tersebut secara ilmiyyah berdasarkan dalil-dalil
yang shohih. Tujuannya bukanlah sekadar menambah wawasan teoritis, melainkan
untuk membangkitkan himmah (semangat) yang tinggi agar kita tidak puas
hanya dengan derajat yang rendah di Akhiroh. Kita diajak untuk melihat
bagaimana Alloh menggambarkan perbedaan antara mata air yang mengalir deras
dengan mata air yang hanya memancar, atau perbedaan antara pepohonan yang
rimbun dengan dahan-dahan yang menjuntai.
Alloh
berfirman dalam Ar-Rohman tentang dua Jannah pertama:
﴿وَلِمَنْ
خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ﴾
Dan bagi
siapa yang takut akan kedudukan Robb-nya (yaitu orang yang sadar akan
pengawasan Alloh sehingga ia menahan diri dari maksiat) tersedia dua Jannah. (QS. Ar-Rohman: 46)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah (wahai golongan jin dan manusia) yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 47)
﴿ذَوَاتَا
أَفْنَانٍ﴾
Kedua
Jannah itu memiliki dahan-dahan dan ranting-ranting yang rimbun (yang dipenuhi
dengan berbagai macam dedaunan serta buah-buahan yang indah dipandang). (QS. Ar-Rohman: 48)
فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 49)
﴿فِيهِمَا
عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ﴾
Di dalam
kedua Jannah itu terdapat dua mata air yang terus-menerus mengalir (mengaliri
sungai-sungai dan pepohonan tanpa pernah terputus). (QS. Ar-Rohman: 50)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 51)
﴿فِيهِمَا
مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ﴾
Di dalam
kedua Jannah itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan (maksudnya
setiap jenis buah memiliki dua rasa atau dua bentuk yang berbeda, seperti ada
yang basah dan ada yang kering, yang semuanya sangat lezat). (QS. Ar-Rohman: 52)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 53)
﴿مُتَّكِئِينَ
عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ ۚ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ
دَانٍ﴾
Mereka
(para penghuninya) bersandar pada permadani-permadani (dudukan) yang bagian
dalamnya saja terbuat dari sutra tebal yang sangat indah (jika bagian dalam
saja semewah itu, maka bayangkan keindahan bagian luarnya), dan buah-buahan di
kedua Jannah itu sangat mudah dipetik karena dahannya merunduk mendekat. (QS. Ar-Rohman: 54)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 55)
﴿فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ
إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ﴾
Di dalam
Jannah-Jannah itu terdapat pula bidadari-bidadari yang membatasi pandangan
mereka (yakni hanya memandang kepada suaminya saja dan tidak menginginkan
selainnya), yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelum mereka. (QS. Ar-Rohman: 56)
فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 57)
﴿كَأَنَّهُنَّ
الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ﴾
Seakan-akan
bidadari itu adalah permata yakut (karena kejernihan wajahnya) dan marjan
(karena keputihan dan keindahan kulitnya). (QS. Ar-Rohman: 58)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 59)
﴿هَلْ
جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ﴾
Bukankah
balasan bagi kebaikan (yakni ketulusan amal di dunia) melainkan hanyalah
kebaikan pula (berupa ni’mat Jannah di Akhiroh)? (QS. Ar-Rohman: 60)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 61)
Alloh
berfirman dalam Ar-Rohman tentang dua Jannah selain yang pertama di atas:
﴿وَمِنْ
دُونِهِمَا جَنَّتَانِ﴾
Dan di
bawah (atau selain) kedua Jannah yang pertama tadi, terdapat dua Jannah lagi
(yang disediakan bagi golongan kanan atau Ash-habul Yamin). (QS. Ar-Rohman: 62)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 63)
﴿مُدْهَامَّتَانِ﴾
Kedua
Jannah itu tampak hijau tua yang sangat pekat warnanya (karena saking rimbunnya
pepohonan dan banyaknya siraman air). (QS. Ar-Rohman: 64)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 65)
﴿فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ﴾
Di dalam
kedua Jannah itu terdapat dua mata air yang memancar (memancarkan airnya dengan
kuat ke udara, menambah keindahan suasana). (QS. Ar-Rohman: 66)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 67)
﴿فِيهِمَا
فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ﴾
Di dalam
kedua Jannah itu terdapat bermacam buah-buahan, serta secara khusus ada kurma
dan juga delima (yang ukuran dan rasanya tidak bisa dibandingkan dengan yang
ada di dunia). (QS.
Ar-Rohman: 68)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 69)
﴿فِيهِنَّ
خَيْرَاتٌ حِسَانٌ﴾
Di dalam
Jannah-Jannah itu terdapat bidadari-bidadari yang baik akhlaqnya lagi sangat
cantik rupanya. (QS.
Ar-Rohman: 70)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 71)
﴿حُورٌ
مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ﴾
Mereka
adalah bidadari-bidadari yang bermata indah lagi putih bersih, yang dipingit
(yakni tetap tinggal dengan terjaga) di dalam kamar-kamar (yang terbuat dari
mutiara). (QS.
Ar-Rohman: 72)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 73)
﴿لَمْ
يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ﴾
Mereka
tidak pernah disentuh (diawali persetubuhan) oleh manusia maupun oleh jin
sebelum mereka (yakni sebelum penghuni Jannah yang menjadi suaminya). (QS. Ar-Rohman: 74)
﴿فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 75)
﴿مُتَّكِئِينَ
عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ﴾
Mereka
(para penghuninya) bersandar pada bantal-bantal yang berwarna hijau dan
permadani-permadani yang sangat indah polanya (serta sangat bermutu tinggi). (QS. Ar-Rohman: 76)
﴿فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴾
Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan? (QS. Ar-Rohman: 77)
Sungguh, memahami perbandingan dua jenis Jannah ini akan
menyingkap hakikat keadilan Ilahi. Setiap ni’mat yang diperoleh di sana adalah
buah dari benih amal yang ditanam di dunia. Dengan bahasa yang formal dan
berlandaskan dalil,
kita akan membedah tiap ayat dalam Surat Ar-Rohman yang berkaitan dengan tema
ini. Kita akan melihat bagaimana para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum
memahami ayat-ayat ini sebagai motivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul
khoirot).
BAB 1: PENGHUNI DUA JENIS JANNAH
1.1
Tafsir Makna Rasa Takut di Hadapan Kedudukan Robb
Asas
pertama yang membedakan derajat penghuni Jannah adalah kualitas rasa takut
mereka kepada Alloh. Dalam mengawali penyebutan dua Jannah yang paling utama, Alloh
berfirman:
﴿وَلِمَنْ
خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ﴾
“Dan bagi
siapa yang takut akan kedudukan Robb-nya ada dua Jannah.” (QS. Ar-Rohman:
46)
Para ulama
memiliki beberapa penjelasan mengenai makna “kedudukan Robb-nya”. Ibnu Jarir
Ath-Thobari (310 H) menukil dari Mujahid bin Jabr (104 H) bahwa yang dimaksud
adalah seorang lelaki yang ketika hendak melakukan kemaksiatan, ia teringat
akan kedudukan Robb-nya yang senantiasa mengawasi, lalu ia pun meninggalkan
kemaksiatan tersebut karena rasa takut. Inilah derajat ketaqwaan yang paling
murni, di mana rasa takut muncul bukan karena penglihatan manusia, melainkan
karena kesadaran penuh bahwa Alloh mengawasi setiap jiwa atas apa yang
diperbuatnya. Sebagaimana firman-Nya:
﴿أَفَمَنْ
هُوَ قَائِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ﴾
“Maka
apakah Tuhan yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama
dengan yang lain)?” (QS. Ar-Ro’d: 33)
Ketakutan
ini bukan sekadar rasa takut yang melumpuhkan, melainkan rasa takut yang
membuahkan amal sholih dan penjagaan diri yang ketat terhadap batasan-batasan Alloh.
Barangsiapa yang mengagungkan kedudukan Alloh di dunia dengan tunduk pada
perintah-Nya, maka Alloh akan memberikan kedudukan yang tinggi baginya di
Jannah.
1.2
Karakteristik As-Sabiqun Al-Muqorrobin (Penghuni Dua Jannah Pertama)
Dua Jannah
pertama yang disebutkan dalam Surat Ar-Rohman adalah balasan bagi kelompok
As-Sabiqun Al-Muqorrobin (orang-orang yang terdahulu lagi didekatkan kepada Alloh).
Mereka adalah tingkatan tertinggi dari kaum Mu’min. Alloh menyifati mereka
dalam banyak ayat, di antaranya:
﴿وَالسَّابِقُونَ
السَّابِقُونَ أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ﴾
“Dan
orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk
Jannah). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh), berada dalam
Jannah kenikmatan.” (QS. Al-Waqi’ah: 10-12)
Karakteristik
utama golongan ini adalah kesegeraan mereka dalam mengerjakan kewajiban dan
ketaatan, bahkan mereka menambahnya dengan amalan-amalan sunnah yang sangat
banyak hingga mereka dicintai oleh Alloh. Mereka meninggalkan hal-hal yang
makruh, bahkan sebagian hal mubah yang dikhawatirkan dapat melalaikan mereka
dari mengingat Alloh. Hati mereka senantiasa terpaut pada Ar-Rosul ﷺ dan tidak mendahulukan ucapan siapa pun di atas sabda Nabi ﷺ. Karena totalitas penghambaan inilah, mereka mendapatkan dua
Jannah yang terbuat dari emas, yang puncaknya adalah kemampuan melihat wajah Alloh
tanpa penghalang yang berarti.
1.3
Karakteristik Ash-habul Yamin (Penghuni Dua Jannah Kedua)
Setelah
menjelaskan kemuliaan dua Jannah pertama, Alloh berfirman mengenai dua Jannah
berikutnya:
﴿وَمِنْ
دُونِهِمَا جَنَّتَانِ﴾
“Dan di
bawah (selain) kedua Jannah itu ada dua Jannah lagi.” (QS. Ar-Rohman: 62)
Penghuni
dua Jannah ini adalah Ash-habul Yamin atau Al-Abroor (orang-orang yang baik).
Mereka adalah golongan yang menunaikan kewajiban-kewajiban agama dan
meninggalkan perkara-perkara yang diharomkan. Namun, tingkat kesegeraan dan
intensitas amalan sunnah mereka tidak setinggi golongan Al-Muqorrobin. Perbedaan
derajat di Jannah sangat bergantung pada sejauh mana seorang hamba membersihkan
fithroh-nya dari noda-noda syahwat di dunia.
Meskipun
mereka berada di bawah tingkatan pertama, mereka tetap berada dalam
keberuntungan yang besar. Mereka selamat dari Naar dan dimasukkan ke dalam
Jannah yang penuh ni’mat. Perbedaan antara kedua golongan ini digambarkan oleh
Nabi ﷺ dalam sebuah Hadits:
«إِنَّ
أَهْلَ الجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا يَتَرَاءَوْنَ
الكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الغَابِرَ فِي الأُفُقِ، مِنَ المَشْرِقِ أَوِ المَغْرِبِ،
لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ»
“Sungguh
penghuni Jannah benar-benar melihat penghuni kamar-kamar di atas mereka
sebagaimana kalian melihat bintang yang gemerlap yang masih tersisa di ufuk
timur atau barat, karena adanya perbedaan keutamaan di antara mereka.” (HR.
Al-Bukhori no. 3256 dan Muslim no. 2831)
1.4
Perbedaan Derajat Keimanan Antara Dua Golongan Penghuni Jannah
Ahlus
Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa iman itu bertambah dan berkurang; bertambah
dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Perbedaan iman inilah yang menjadi
penentu utama apakah seseorang masuk ke dalam dua Jannah pertama atau dua
Jannah berikutnya.
Penghuni
dua Jannah pertama memiliki iman yang mencapai derajat yakin yang sangat kuat,
seolah-olah hijab antara mereka dengan ghoib telah tersingkap. Mereka menyembah
Alloh dengan penuh cinta (mahabbah), harap (roja’), dan takut (khouf)
yang seimbang pada puncaknya. Sedangkan penghuni dua Jannah kedua memiliki iman
yang kokoh namun terkadang masih terpengaruh oleh kelalaian-kelalaian kecil
yang tidak sampai merusak pokok keimanan mereka.
Perbedaan
kualitas iman ini berimplikasi pada kualitas balasan. Jika iman di dunia sangat
murni dan tinggi, maka balasannya adalah Jannah yang materi bangunannya paling
mulia (emas). Jika imannya berada di bawahnya, maka balasannya adalah Jannah
dari perak. Ini adalah bentuk keadilan Alloh, sebagaimana Dia tidak menyamakan antara
orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.
1.5
Amal-Amal Khusus yang Menghantarkan ke Jannah yang Lebih Tinggi
Untuk
meraih dua Jannah yang pertama, dibutuhkan amalan yang melebihi standar umum.
Di antara amal-amal tersebut adalah:
Sholat
Malam (Tahajjud):
Menghidupkan malam di saat manusia lain tertidur merupakan bukti ketulusan rasa
takut kepada kedudukan Robb.
Dzikir
yang Berkesinambungan:
Selalu mengingat Alloh dalam setiap keadaan hingga hati menjadi tenang (thuma’ninah).
Sifat
Ihsan: Senantiasa
merasa diawasi oleh Alloh dalam kesunyian maupun keramaian.
Berjihad
di Jalan Alloh:
Mengorbankan harta dan jiwa demi tegaknya kalimat Alloh.
Akhlaq
yang Mulia: Nabi ﷺ menjanjikan kedudukan yang dekat dengan beliau di Jannah bagi
yang paling baik akhlaqnya.
Sebagaimana
disebutkan dalam Hadits dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu,
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ، وَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَامَ رَمَضَانَ، كَانَ حَقًّا
عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ
فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا»
“Siapa yang
beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, mendirikan Sholat, dan Puasa Romadhon, maka
wajib bagi Alloh untuk memasukkannya ke dalam Jannah, baik ia berjihad di jalan
Alloh atau ia tinggal di tanah tempat ia dilahirkan.” (HR. Al-Bukhori no.
2790)
Namun, bagi
mereka yang ingin mencapai derajat Al-Muqorrobin, mereka tidak sekadar
mengerjakan yang wajib, tetapi berlomba dalam setiap pintu kebaikan.
1.6
Makna Kedekatan dengan Alloh di dalam Jannah
Puncak dari
segala perbedaan antara dua jenis Jannah ini adalah tingkat kedekatan dengan
Robb semesta alam. Istilah Al-Muqorrobin secara bahasa berarti “orang-orang
yang didekatkan”. Di dalam Jannah, kedekatan ini terwujud dalam bentuk tempat tinggal
yang lebih dekat dengan Arsy Alloh dan frekuensi melihat wajah Alloh yang lebih
sering.
Bagi
penghuni dua Jannah pertama, ni’mat melihat Alloh adalah ni’mat yang paling
besar yang membuat mereka melupakan segala ni’mat Jannah lainnya. Sedangkan bagi
penghuni dua Jannah berikutnya, mereka tetap mendapatkan ni’mat tersebut namun
dengan kadar dan tingkatan yang sesuai dengan kedudukan mereka. Hal ini
didasarkan pada pemahaman bahwa setiap penghuni Jannah akan merasa puas dan
bahagia dengan apa yang Alloh berikan kepadanya, sehingga tidak ada rasa iri di
antara mereka.
Kedekatan
ini adalah balasan atas kedekatan hati mereka kepada perintah-perintah Alloh
selama di dunia. Barangsiapa yang mendekat kepada Alloh sejengkal, maka Alloh
akan mendekat kepadanya sehasta. Inilah rahasia mengapa penghuni dua Jannah
pertama disebut sebagai orang-orang yang paling mulia di antara para penduduk
Jannah.
BAB 2: PERBANDINGAN SUMBER AIR DAN
TUMBUH-TUMBUHAN
2.1
Perbedaan Makna Aynani Tajriyan dengan Aynani Nadh-dhokhotan
Salah satu
perbedaan yang paling mencolok antara dua Jannah tertinggi dengan dua Jannah di
bawahnya terletak pada sifat air yang mengalir di dalamnya. Pada dua Jannah
pertama, Alloh berfirman:
﴿فِيهِمَا
عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ﴾
“Di dalam
kedua Jannah itu ada dua mata air yang mengalir.” (QS. Ar-Rohman: 50)
Kata tajriyan
menunjukkan aliran air yang terus-menerus tanpa putus, mengalir dengan tenang
dan indah melewati parit-parit yang terbuat dari permata dan yakut. Aliran ini
melambangkan kesempurnaan ni’mat yang tidak pernah berhenti. Sebaliknya, pada
dua Jannah berikutnya, Alloh berfirman:
﴿فِيهِمَا
عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ﴾
“Di dalam
kedua Jannah itu ada dua mata air yang memancar.” (QS. Ar-Rohman: 66)
Imam Ibnu
Katsir (774 H) menjelaskan bahwa an-nadh-dhokhotan artinya adalah
pancaran air yang sangat kuat. Meskipun pancaran ini sangat indah, para ulama
seperti Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menyebutkan bahwa aliran air (tajriyan)
pada dua Jannah pertama jauh lebih kuat dan lebih sempurna dibandingkan sekadar
pancaran air pada dua Jannah kedua. Air yang mengalir mencakup makna air yang
memancar sekaligus mendistribusikannya ke seluruh penjuru Jannah, sedangkan
pancaran menunjukkan kekuatan semburan air dari sumbernya.
2.2
Hakikat Jenis Air dan Rasa yang Terkandung di Dalamnya
Air di
dalam Jannah bukanlah air yang mengalami perubahan rasa atau bau seperti di
dunia. Alloh telah memerinci jenis-jenis air ini dalam ayat lain untuk memberikan
gambaran bagi akal manusia. Terdapat sungai dari air yang tidak berubah rasa
dan baunya, sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai dari khomr yang
lezat bagi peminumnya, dan sungai dari madu yang disaring.
Pada dua
Jannah pertama, mata air tersebut—sebagaimana dijelaskan oleh para ahli
tafsir—adalah Tasnim dan Salsabil yang diperuntukkan murni bagi Al-Muqorrobin.
Sebagaimana firman-Nya:
﴿عَيْنًا
يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ﴾
“(Yaitu)
mata air yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh).” (QS.
Al-Muthoffifin: 28)
Perbedaan
rasa ini berkaitan dengan tingkat kesucian amalan. Bagi mereka yang memurnikan
hatinya hanya untuk Alloh, maka mereka meminum air yang paling murni. Adapun
bagi penghuni dua Jannah kedua, air yang mereka minum tetaplah lezat dan luar
biasa, namun kualitas kemurnian dan campuran rasanya berada satu tingkat di
bawah air bagi golongan Al-Muqorrobin.
2.3
Perbandingan Afnan dengan Hijau yang Pekat (Mud-hammatan)
Deskripsi
mengenai keindahan tanaman dan pepohonan juga menunjukkan tingkatan yang
berbeda. Untuk dua Jannah pertama, Alloh berfirman:
﴿ذَوَاتَا
أَفْنَانٍ﴾
“Kedua
Jannah itu mempunyai dahan-dahan dan ranting-ranting.” (QS. Ar-Rohman: 48)
Kata afnan
adalah bentuk jamak dari fanan, yang berarti dahan yang panjang dan
menjuntai, yang dipenuhi dengan berbagai macam dedaunan dan buah-buahan. Ini
menggambarkan kerimbunan yang artistik dan keberagaman jenis tanaman. Sementara
itu, untuk dua Jannah kedua, Alloh menyifatinya dengan:
﴿مُدْهَامَّتَانِ﴾
“Kedua
Jannah itu hijau tua warnanya.” (QS. Ar-Rohman: 64)
Makna mud-hammatan
adalah hijau yang sangat pekat hingga tampak kehitam-hitaman karena saking
banyaknya air yang menyiraminya dan saking rimbunnya pepohonan di sana.
Meskipun mud-hammatan menunjukkan kesuburan yang luar biasa, namun
penyebutan afnan pada dua Jannah pertama memberikan kesan keindahan yang
lebih mendetail dan variatif, mencakup keindahan dahan dan keragaman jenis yang
lebih tinggi tingkatannya.
2.4
Jenis Buah-Buahan: Keberagaman Berpasangan vs Buah-Buahan Tertentu
Perbandingan
selanjutnya terletak pada penyebutan jenis buah-buahan. Pada dua Jannah
pertama, Alloh berfirman secara umum namun mencakup segala jenis:
﴿فِيهِمَا
مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ﴾
“Di dalam
kedua Jannah itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.” (QS.
Ar-Rohman: 52)
Kata min
kulli fakihatin menunjukkan keumuman yang mutlak; semua buah yang dikenal
di dunia maupun yang belum pernah dilihat mata tersedia di sana, dan semuanya
berpasangan (ada yang basah, ada yang kering; ada yang manis, ada yang
asam-manis). Sedangkan pada dua Jannah kedua, Alloh berfirman:
﴿فِيهِمَا
فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ﴾
“Di dalam
keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.” (QS.
Ar-Rohman: 68)
Di sini Alloh
menyebutkan kurma dan delima secara khusus setelah menyebutkan buah-buahan
secara umum. Sebagian ulama menjelaskan bahwa penyebutan “segala macam
buah-buahan” pada Jannah pertama lebih sempurna daripada penyebutan beberapa
jenis tertentu pada Jannah kedua. Meskipun kurma dan delima di Jannah kedua
sangatlah istimewa, namun kelengkapan “setiap jenis yang berpasangan” pada
Jannah pertama menunjukkan tingkatan ni’mat yang lebih komplit.
2.5
Kemudahan Memetik Buah di Dua Tingkatan Jannah
Salah satu
bentuk pelayanan Alloh bagi penghuni Jannah adalah kemudahan dalam menikmati
hasil buminya. Untuk penghuni dua Jannah pertama, Alloh berfirman:
﴿وَجَنَى
الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ﴾
“Dan
buah-buahan di kedua Jannah itu dapat (dipetik) dari dekat.” (QS. Ar-Rohman:
54)
Makna danin
adalah sangat dekat dan tunduk. Jika penghuni Jannah ingin memetiknya sambil
berdiri, dahan itu mendekat. Jika sambil duduk atau berbaring, dahan itu pun
merunduk hingga sejajar dengan tangan mereka. Kemudahan ini diberikan karena
mereka adalah orang-orang yang telah “menundukkan” nafsu mereka di dunia demi
perintah Alloh.
Pada dua
Jannah kedua, kemudahan ini pun ada, namun intensitas pelayanannya disesuaikan
dengan derajat mereka. Sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama, segala
sesuatu di Jannah—termasuk pepohonan—memiliki akal, mereka merasa terhormat
ketika buahnya dipetik oleh para kekasih Alloh.
2.6
Deskripsi Luas dan Keindahan Rimbunnya Pepohonan Jannah
Keindahan
Jannah tidak dapat dibayangkan oleh nalar manusia yang terbatas. Nabi ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits yang menceritakan tentang luasnya
pohon di Jannah:
«إِنَّ فِي الجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ
عَامٍ لاَ يَقْطَعُهَا»
“Sungguh di
Jannah ada sebuah pohon yang jika seorang pengendara berjalan di bawah
naungannya selama seratus tahun, ia belum bisa melintasinya.” (HR.
Al-Bukhori no. 3251 dan Muslim no. 2826)
Pohon-pohon
ini memiliki batang dari emas dan daun-daun yang mengeluarkan suara merdu saat
tertiup angin Jannah. Perbandingan antara rimbunnya afnan pada Jannah
pertama dengan pekatnya mud-hammatan pada Jannah kedua menunjukkan bahwa
setiap jengkal tanah di Jannah adalah sumber kebahagiaan. Tidak ada tanah yang
tandus; semuanya ditumbuhi dengan tanaman yang menebarkan aroma wangi yang
jarak harumnya bisa tercium dari perjalanan puluhan tahun. Luasnya naungan ini
sebanding dengan luasnya ketaatan hamba tersebut saat di dunia.
BAB 3: PERBANDINGAN TEMPAT ISTIRAHAT
DAN PERMADANI
3.1
Tafsir Sutra Tebal (Istibroq) sebagai Lapisan Dalam Permadani
Kenyamanan
di Jannah digambarkan melalui tempat-tempat bersandar yang sangat mewah. Pada
dua Jannah pertama, Alloh berfirman:
﴿مُتَّكِئِينَ
عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ﴾
“Mereka
bersandar di atas permadani-permadani yang bagian dalamnya dari sutra tebal.” (QS.
Ar-Rohman: 54)
Para ulama
tafsir, di antaranya Al-Baghowi (516 H), menekankan poin yang sangat
menakjubkan dalam ayat ini. Jika bagian dalam (batho-inuha) permadani
tersebut saja terbuat dari Istibroq (sutra tebal yang paling indah dan
berkilau), maka bagaimanakah dengan bagian luarnya? Tentu bagian luarnya jauh
lebih indah dan lebih halus yang tidak dapat dibayangkan oleh lisan manusia.
Ini menunjukkan bahwa penghuni dua Jannah pertama mendapatkan kemewahan yang
bersifat lahir dan batin, di mana segala sisi dari tempat istirahat mereka
adalah puncak dari keindahan materi.
3.2
Hakikat Bantal Hijau (Rofrof Khidhr) dan Keindahan Permadani (Abqoriyyin Hisan)
Beralih
kepada dua Jannah berikutnya, Alloh menggambarkan tempat bersandar mereka
dengan redaksi:
﴿مُتَّكِئِينَ
عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ﴾
“Mereka
bersandar pada bantal-bantal hijau dan permadani-permadani yang indah.” (QS.
Ar-Rohman: 76)
Rofrof
menurut sebagian Salaf adalah bantal-bantal atau hamparan yang diletakkan di
atas singgasana, sedangkan Abqoriy adalah permadani yang sangat bermutu tinggi
dan memiliki corak yang sangat cantik. Meskipun penyebutan ini menunjukkan
kemewahan yang luar biasa, para ulama menjelaskan bahwa penyebutan “sutra tebal
sebagai lapisan dalam” pada Jannah pertama secara implisit menunjukkan derajat
yang lebih tinggi daripada penyebutan “bantal hijau” pada Jannah kedua. Hal ini
karena kemuliaan lapisan dalam mencerminkan kemuliaan yang lebih besar pada
lapisan luarnya.
3.3
Perbandingan Kualitas Bahan dan Kenyamanan Tempat Duduk
Dalam
literatur Hadits dan tafsir, materi penyusun perabot di Jannah berbeda-beda
sesuai tingkatannya. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ada Jannah
yang seluruh perabotnya dari emas dan ada yang dari perak. Pada dua Jannah
pertama, tempat bersandar tersebut memberikan kenyamanan yang sempurna karena
keikhlasan mereka yang sangat dalam.
Kenyamanan
ini bukan sekadar fisik, melainkan ketenangan jiwa. Ketika seorang hamba
bersandar di atas Istibroq, ia merasakan kelembutan yang tidak pernah dirasakan
kulit manusia di dunia. Sebagaimana disebutkan oleh Said bin Jubair (95 H),
bahwa sutra Jannah bukanlah hasil tenunan ulat, melainkan diciptakan langsung
oleh Alloh dengan kalimat “Kun”. Oleh karena itu, tingkat kehalusannya
mengikuti tingkat kesucian hati penghuninya.
3.4
Makna Filosofis di Balik Kedekatan Buah-Buahan Saat Bersandar
Alloh
menghubungkan antara posisi bersandar dengan kemudahan menikmati hidangan pada
dua Jannah pertama dalam urutan ayat yang berdekatan:
﴿مُتَّكِئِينَ
عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ ۚ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ
دَانٍ﴾
“Mereka
bersandar di atas permadani-permadani yang bagian dalamnya dari sutra tebal.
Dan buah-buahan di kedua Jannah itu dapat (dipetik) dari dekat.” (QS.
Ar-Rohman: 54)
Secara
filosofis, ini menunjukkan bahwa penghuni dua Jannah pertama berada dalam
kondisi istirahat total. Mereka tidak perlu berdiri atau bersusah payah untuk
meraih ni’mat; ni’mat itulah yang mendatangi mereka. Ini adalah balasan bagi
mereka yang di dunia rela “berdiri” lama dalam Sholat malam dan “menjauhkan”
diri dari tempat tidur demi beribadah kepada Alloh.
3.5
Posisi Duduk Para Penghuni Jannah dalam Berinteraksi
Interaksi
sosial di Jannah dipenuhi dengan cinta dan keakraban. Mereka duduk
berhadap-hadapan di atas dipan-dipan kemuliaan. Alloh berfirman dalam ayat
lain:
﴿عَلَىٰ
سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ﴾
“Di atas dipan-dipan
yang berhadap-hadapan.” (QS. Ash-Shoffat: 44)
Pada dua
Jannah pertama, pertemuan antar penghuninya diisi dengan pembicaraan mengenai
keagungan Alloh dan tadabbur atas tilas balik kehidupan mereka di dunia. Tempat
duduk yang mewah ini menjadi saksi atas ukhuwwah yang murni. Tidak ada rasa
dengki atau iri di hati mereka, karena Alloh telah mencabut semua itu sebelum
mereka memasuki Jannah.
3.6
Kemegahan Istana dan Kemah di Masing-masing Jannah
Selain
permadani dan tempat bersandar, hunian di Jannah juga memiliki tingkatan. Ada
istana yang dibangun dari batu bata emas dan perak dengan semen dari minyak
misk yang sangat harum. Pada dua Jannah kedua, disebutkan adanya kemah-kemah:
﴿حُورٌ
مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ﴾
“(Bidadari-bidadari)
yang dipingit di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rohman: 72)
Nabi ﷺ menjelaskan tentang kemah ini:
«الخَيْمَةُ
دُرَّةٌ مُجَوَّفَةٌ، طُولُهَا فِي السَّمَاءِ ثَلاَثُونَ مِيلًا، فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ
مِنْهَا لِلْمُؤْمِنِ أَهْلٌ لاَ يَرَاهُمُ الآخَرُونَ»
“Kemah (di
Jannah) adalah sebuah mutiara yang berlubang, tingginya ke langit adalah 30 mil
(riwayat lain: 60 mil). Di setiap sudutnya ada keluarga bagi seorang Mu’min
yang tidak terlihat oleh yang lainnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3243 dan Muslim
no. 2838)
Jika kemah
bagi penghuni dua Jannah kedua saja merupakan mutiara setinggi 60 mil, maka
bayangkanlah kemegahan istana bagi penghuni dua Jannah pertama yang
kedudukannya lebih tinggi dan lebih dekat dengan Arsy Ar-Rohman.
BAB 4: PERBANDINGAN BIDADARI DAN PENDAMPING
JANNAH
4.1
Sifat Bidadari Qoshirotuth-Thorf (Menundukkan Pandangan)
Keindahan
bidadari pada dua Jannah pertama digambarkan dengan sifat yang sangat mulia
secara akhlaq dan perilaku. Alloh berfirman:
﴿فِيهِنَّ
قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ﴾
“Di dalam
Jannah-Jannah itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan mereka.” (QS.
Ar-Rohman: 56)
Makna qoshirotuth-thorf
adalah mereka hanya memandang kepada suaminya saja dan tidak menginginkan
selain suaminya. Mereka merasa bahwa suami mereka adalah lelaki yang paling
tampan dan paling mulia di Jannah. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah (751 H), ini adalah puncak kenikmatan bagi seorang suami, di mana
ia merasa benar-benar dicintai secara eksklusif. Sifat ini merupakan balasan
bagi hamba yang di dunia senantiasa menjaga pandangannya dari hal-hal yang
harom karena takut akan kedudukan Robb-nya.
Termasuk
dalam makna ini, saking cantiknya bidadari, suami mereka menundukkan
pandangannya dari yang lain, karena terpesona dengan kecantikannya dan tutur
katanya.
4.2
Kesucian Bidadari: Tidak Pernah Disentuh Manusia maupun Jin
Keistimewaan
bidadari pada dua Jannah pertama ditegaskan dengan kesucian fisik yang
sempurna. Alloh berfirman:
﴿لَمْ
يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ﴾
“Mereka
tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni Jannah yang menjadi
suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar-Rohman: 56)
Ayat ini
menunjukkan bahwa bidadari-bidadari tersebut adalah perawan yang suci, yang
diciptakan khusus untuk menjadi pendamping bagi para kekasih Alloh. Penyebutan “jin”
di sini membuktikan bahwa bangsa jin yang beriman juga masuk ke dalam Jannah
dan mendapatkan balasan yang serupa. Kesucian ini bersifat abadi; setiap kali
didatangi oleh suaminya, mereka kembali dalam keadaan perawan, harum, dan penuh
cinta.
4.3
Perbandingan Kecantikan: Permata Yakut dan Marjan vs Kebaikan dan Kecantikan
Umum
Alloh
menyerupakan bidadari pada dua Jannah pertama dengan batuan mulia yang sangat
indah:
﴿كَأَنَّهُنَّ
الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ﴾
“Seakan-akan
mereka itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar-Rohman: 58)
Yakut
memiliki kejernihan yang luar biasa, sedangkan marjan memiliki keputihan dan
keindahan yang mempesona. Ini menunjukkan bahwa kulit dan rupa mereka sangat
jernih dan bercahaya. Sementara itu, pada dua Jannah kedua, Alloh menyifati
mereka dengan:
﴿فِيهِنَّ
خَيْرَاتٌ حِسَانٌ﴾
“Di dalam
Jannah-Jannah itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik akhlaqnya lagi
cantik-cantik rupanya.” (QS. Ar-Rohman: 70)
Kata khoirotun
bermakna baik akhlaqnya, dan hisan bermakna cantik rupanya. Para ulama
menjelaskan bahwa meskipun sifat “baik dan cantik” adalah pujian yang besar,
namun penyerupaan dengan “yakut dan marjan” pada tingkatan pertama menunjukkan
kualitas kecantikan yang lebih transparan, bercahaya, dan istimewa secara fisik
dibandingkan penyebutan cantik secara umum.
4.4
Bidadari yang Dipingit dalam Kemah (Khuroon Maqshurotun fil Khiyam)
Pada dua
Jannah kedua, bidadari-bidadari tersebut disifati dengan:
﴿حُورٌ
مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ﴾
“(Bidadari-bidadari)
yang bermata indah yang dipingit di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rohman: 72)
Makna maqshurotun
adalah mereka menetap di dalam tempat tinggalnya (kamar) menunggu kedatangan
suaminya. Ini menunjukkan sifat wanita yang terhormat dan terjaga. Sebagaimana
disebutkan dalam sebuah Atsar, kecantikan bidadari ini sangat luar biasa hingga
jika salah seorang dari mereka menampakkan telapak tangannya ke dunia, maka akan
redup cahaya matahari karena saking terangnya cahaya tangan tersebut. Meskipun
mereka berada di dua Jannah yang “di bawah” tingkatan pertama, mereka tetaplah
makhluk yang keindahannya tidak mampu digambarkan oleh akal manusia.
4.5
Pelayanan Khusus bagi Penghuni Dua Jannah Tertinggi
Penghuni
dua Jannah pertama, yaitu Al-Muqorrobin, mendapatkan pelayanan yang lebih
mendalam dari para pendamping mereka. Bidadari mereka tidak hanya cantik secara
fisik, tetapi juga memiliki kemampuan berkomunikasi dan bersyair yang menambah
kebahagiaan. Nabi ﷺ bersabda mengenai nyanyian
bidadari Jannah:
«إِنَّ أَزْوَاجَ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُغَنِّينَ أَزْوَاجَهُنَّ بِأَحْسَنِ
أَصْوَاتٍ مَا سَمِعَهَا أَحَدٌ قَطُّ»
“Sungguh
istri-istri penghuni Jannah benar-benar bernyanyi untuk suami mereka dengan
suara-suara yang paling merdu yang belum pernah didengar oleh siapa pun.” (HSR.
Ath-Thobroni dalam Al-Ausath no. 4917)
Pelayanan
ini merupakan bentuk pemuliaan dari Alloh bagi mereka yang selama di dunia
lisan dan pendengarannya terjaga dari hal-hal yang dilarang.
4.6
Hakikat Kebahagiaan Bersama Pasangan di Jannah
Kebahagiaan
di Jannah adalah kebahagiaan yang tidak mengenal rasa bosan (malal). Di
dunia, keindahan seringkali pudar seiring berjalannya waktu, namun di Jannah,
setiap kali penghuninya melihat pasangan mereka, mereka mendapati kecantikan
dan ketampanan yang bertambah.
Bagi wanita
Muslimah yang sholihah di dunia, mereka akan menjadi ratu di atas para
bidadari. Kecantikan mereka akan melampaui bidadari karena sholat, puasa, dan
ibadah yang mereka lakukan selama di dunia. Alloh menjadikan mereka kembali
muda, penuh cinta, dan selalu sebaya dengan suami mereka. Perbandingan antara
dua jenis Jannah ini pada akhirnya menunjukkan bahwa setiap hamba akan
mendapatkan pendamping yang sesuai dengan tingkat kesucian jiwanya
masing-masing.
BAB 5: KEUNGGULAN DAN KEUTAMAAN
DUA JANNAH PERTAMA ATAS KEDUANYA
5.1
Makna Kata Min Dunihima (Di Bawah/Selain Keduanya)
Dalam
membagi tingkatan Jannah dalam Surat Ar-Rohman, Alloh menggunakan redaksi yang
sangat jeli secara bahasa, yaitu:
﴿وَمِنْ
دُونِهِمَا جَنَّتَانِ﴾
“Dan di
bawah (selain) kedua Jannah itu ada dua Jannah lagi.” (QS. Ar-Rohman: 62)
Para pakar
tafsir seperti Imam Al-Qurthubi (671 H) menjelaskan bahwa kata min dunihima
memiliki dua makna utama. Pertama, bermakna “selain keduanya”, yang menunjukkan
adanya keragaman Jannah. Kedua, dan ini yang lebih kuat dalam konteks
perbandingan, bermakna “di bawah keduanya” dalam hal derajat, kemuliaan, dan
keindahan. Hal ini menunjukkan bahwa Jannah bukanlah satu tingkatan yang sama
bagi semua Muslim, melainkan bertingkat-tingkat sesuai dengan kualitas ketaqwaan
yang mereka miliki saat di dunia. Adanya pembagian ini merupakan motivasi bagi
setiap hamba agar tidak sekadar mencari keselamatan, tetapi mencari kedekatan
yang paling tinggi dengan Sang Pencipta.
5.2
Perbandingan Materi Bangunan: Emas vs Perak
Perbedaan
esensial antara dua golongan Jannah ini juga terletak pada materi penyusunnya.
Sebagaimana telah disinggung dalam riwayat dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu
‘anhu, Nabi ﷺ menegaskan pembagian
tersebut:
«جَنَّتَانِ
مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا
وَمَا فِيهِمَا»
“Dua Jannah
dari perak, wadah-wadahnya dan apa saja yang ada di dalamnya (untuk golongan
Ash-habul Yamin). Dua Jannah dari emas, wadah-wadahnya dan apa
saja yang ada di dalamnya (untuk golongan Al-Muqorrobin).” (HR. Al-Bukhori
no. 4878)
Emas
melambangkan kemilau dan nilai yang lebih tinggi daripada perak. Hal ini
mencerminkan amal ibadah golongan Al-Muqorrobin yang lebih murni, lebih berat
timbangannya, dan lebih istiqomah. Meskipun perak di Jannah tetaplah jauh lebih
indah daripada segala emas yang ada di dunia, namun Alloh menetapkan perbedaan
materi ini sebagai wujud keadilan bagi mereka yang lebih banyak berkorban di
jalan-Nya.
5.3
Perbedaan Tingkat Ru’yatulloh (Melihat Alloh) Berdasarkan Derajat Jannah
Ni’mat yang
paling agung di Jannah adalah melihat wajah Alloh. Sebagaimana firman-Nya:
﴿وُجُوهٌ
يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾
“Wajah-wajah
(orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Robb-nyalah mereka melihat.” (QS.
Al-Qiyamah: 22-23)
Meskipun
seluruh penghuni Jannah akan merasakan ni’mat ini, frekuensi dan kualitas
kedekatannya berbeda-beda. Bagi penghuni dua Jannah pertama, mereka
berkesempatan melihat wajah Alloh setiap pagi dan sore, atau bahkan secara
terus-menerus sesuai kehendak-Nya karena mereka adalah golongan yang
didekatkan. Sedangkan bagi penghuni dua Jannah berikutnya, mereka melihat-Nya
pada waktu-waktu tertentu, seperti pada hari Jumat atau hari raya di Jannah.
Perbedaan ini adalah konsekuensi dari sejauh mana hati mereka “melihat” Alloh
dengan mata bashiroh (mata hati) saat masih hidup di dunia.
5.4
Mengapa Alloh Membedakan Balasan Bagi Hamba-Nya?
Pembedaan
ini bukanlah bentuk pilih kasih, melainkan manifestasi dari keadilan dan
kebijaksanaan Alloh. Alloh berfirman:
﴿أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ﴾
“Apakah Kami
akan memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih sama
dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Ataukah Kami akan
memperlakukan orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang jahat?” (QS.
Shod: 28)
Begitu pula
di antara sesama orang beriman, Alloh membedakan derajat antara orang yang
berilmu dengan yang tidak, orang yang berjihad dengan yang hanya duduk di
rumah, serta orang yang Sholat malam dengan yang hanya mengerjakan Sholat
wajib. Keadilan Ilahi menuntut adanya balasan yang setimpal (jaza-an wifaqo)
dengan tingkat kesungguhan penghambaan masing-masing individu.
5.5
Kesimpulan Perbandingan Segala Sisi Kenikmatan
Jika kita
merangkum dari ayat-ayat dalam Surat Ar-Rohman, kita akan mendapati pola perbandingan
yang konsisten:
1. Pepohonan: Berdahan banyak (afnan) vs
Hijau pekat (mud-hammatan).
2. Mata Air: Mengalir (tajriyan) vs
Memancar (nadh-dhokhotan).
3. Buah-buahan: Segala macam berpasangan vs Kurma
dan delima.
4. Bidadari: Seperti yakut dan marjan vs Baik
lagi cantik.
5. Tempat
Istirahat: Lapisan
dalam dari sutra tebal vs Bantal hijau dan permadani indah.
Semua
perbandingan ini menunjukkan bahwa dua Jannah pertama memiliki sifat-sifat yang
lebih spesifik, lebih mewah, dan menunjukkan tingkatan pelayanan yang lebih
eksklusif bagi para kekasih Alloh yang paling utama.
5.6
Motivasi Mencapai Jannah Firdaus dan Al-Wasilah
Buku ini
bukan sekadar pemaparan deskriptif, melainkan sebuah seruan untuk memiliki himmah
(cita-cita) yang tinggi. Nabi ﷺ bersabda:
«فَإِذَا
سَأَلْتُمُ اللَّهَ، فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى
الْجَنَّةِ، فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ»
“Jika
kalian meminta kepada Alloh, maka mintalah Jannah Firdaus, karena sesungguhnya
ia adalah Jannah yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah Arsy
Ar-Rohman, dan darinya terpancar sungai-sungai Jannah.” (HR. Al-Bukhori no.
2790)
Cita-cita
meraih Jannah tertinggi akan mendorong seseorang untuk memperbaiki kualitas
amalannya. Ia tidak akan puas dengan amal yang pas-pasan. Ia akan berusaha
mengejar derajat Al-Muqorrobin agar dapat menempati dua Jannah yang pertama,
yang terbuat dari emas, dan yang paling utama, agar dapat berada sedekat
mungkin dengan Robb-nya di Akhiroh kelak.
PENUTUP
Tadabbur
terhadap Surat Ar-Rohman membawa kita pada sebuah kesimpulan agung: bahwa
Jannah bukanlah sebuah tempat yang seragam, melainkan sebuah negeri yang penuh
dengan tingkatan kemuliaan. Perbedaan antara dua Jannah bagi mereka yang takut
kepada kedudukan Robb-nya dengan dua Jannah yang berada di bawahnya adalah
bukti nyata bahwa Alloh tidak menyia-nyiakan sekecil apa pun bentuk ketaatan,
kesabaran, dan perjuangan hamba-Nya di dunia.
Dua Jannah
pertama, dengan bangunan emasnya, mata air yang mengalir tiada henti, dan
bidadari yang seputih yakut serta marjan, adalah puncak dari segala impian
setiap jiwa yang merindukan kedekatan dengan Sang Pencipta. Sementara dua
Jannah berikutnya tetaplah sebuah negeri kebahagiaan yang luasnya tak terukur
dan keindahannya tak terlukiskan, bagi mereka yang tetap menjaga keimanannya
meski dengan amalan yang tidak sekuat golongan Al-Muqorrobin. Semuanya adalah
bentuk Rohmat Alloh yang sangat luas, yang diberikan kepada siapa saja yang Dia
kehendaki di antara hamba-hamba-Nya yang beriman.
Pelajaran
terbesar dari perbandingan ini adalah tentang bagaimana kita memandang
kehidupan dunia yang singkat ini. Dunia hanyalah ladang tempat kita menanam
benih-benih amalan. Barangsiapa yang ingin memanen buah yang paling manis di
dahan-dahan afnan yang menjuntai di Jannah tertinggi, maka ia harus
berani menanam dengan peluh kesabaran dan air mata rasa takut kepada Alloh di
dunia. Tidak ada ni’mat yang besar di Akhiroh tanpa didahului dengan perjuangan
melawan hawa nafsu dan keteguhan dalam menjalankan Sunnah Rosul ﷺ.
Kita
memohon kepada Alloh dengan Asma-ul Husna-Nya dan Sifat-Sifat-Nya yang Maha
Tinggi, agar Dia menjadikan kita semua termasuk ke dalam golongan As-Sabiqun
Al-Muqorrobin. Semoga tulisan ini menjadi pembakar semangat bagi setiap pembaca
untuk tidak sekadar “selamat” dari Naar, tetapi terus berlomba meraih derajat
yang paling dekat dengan Arsy Ar-Rohman. Sungguh, ni’mat yang paling besar
bukanlah istana emas atau bidadari yang cantik, melainkan keridhoan Alloh dan
kesempatan untuk menatap wajah-Nya yang Mulia tanpa ada lagi penghalang.
Semoga Alloh
mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya bersama para Nabi, para Shiddiqin,
para Syuhada, dan orang-orang Sholih. Dialah sebaik-baik pemberi balasan dan
Dialah Robb yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Allahu
a’lam.[NK]
