[PDF] Step-by-Step Ibadah Umroh - Persiapan, Tata Cara, Doa, dan Ziarah dari Berangkat Sampai Pulang ke Indonesia | Nor Kandir
Unduh PDF
﷽
Muqoddimah
Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi
Muhammad ﷺ, keluarga, dan para Shohabatnya.
Melaksanakan ibadah Umroh adalah impian setiap Mu’min. Ini
adalah kesempatan emas untuk berkunjung ke Baitullah (rumah Alloh) di Makkah
dan berziarah ke Masjid Rosul ﷺ di Madinah. Namun, seringkali Jamaah
merasa bingung atau khawatir saat akan berangkat. Banyak pertanyaan muncul,
mulai dari persiapan apa yang harus dibawa, bagaimana Sholat di pesawat, apa
saja rukun dan wajib Umroh, hingga tempat-tempat bersejarah yang bisa
dikunjungi.
Buku ini disusun untuk menjawab semua kebingungan tersebut.
Buku ini adalah panduan lengkap yang akan menemani Anda sejak dari rumah hingga
kembali lagi ke tanah air. Setiap babnya dirancang secara runut dan sederhana,
dengan menggabungkan dalil syar’i, panduan praktis, dan tips-tips di lapangan.
Harapannya, buku ini bisa menjadi bekal berharga yang membantu Anda
melaksanakan ibadah Umroh dengan lancar, khusyuk, dan sesuai dengan tuntunan
Syariat. Semoga Alloh ﷻ
menerima amal ibadah kita semua.
Bab 1: Persiapan
Sebelum Keberangkatan
Persiapan yang matang adalah kunci utama untuk kelancaran
ibadah Umroh. Persiapan ini bukan hanya tentang fisik dan barang bawaan, tetapi
juga tentang mental dan spiritual. Mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari akan
membuat ibadah Anda lebih tenang dan berkesan.
1.1. Niatkan Umroh karena Alloh ﷻ
Hal pertama dan yang paling utama adalah niat. Ibadah Umroh
adalah ibadah yang agung. Oleh karena itu, niatkanlah Umroh semata-mata karena
Alloh ﷻ, untuk mengharap ridho-Nya, bukan untuk
tujuan duniawi seperti ingin dipuji, dianggap sholih, atau sekadar jalan-jalan.
Keikhlasan niat ini menjadi pondasi bagi seluruh amal yang akan Anda lakukan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾
Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Alloh
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus,
dan supaya mereka mendirikan Sholat dan menunaikan Zakat; dan yang demikian
itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ،
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ،
فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا،
أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»
Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya. Dan
sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa
yang hijrohnya karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrohnya itu (dinilai) karena
Alloh dan Rosul-Nya. Siapa yang hijrohnya itu karena (tujuan) dunia yang akan
didapatkannya atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrohnya itu
(dinilai) sesuai dengan apa yang dia hijroh kepadanya. (HR. Al-Bukhori no. 1
dan Muslim no. 1907)
Rosul ﷺ pernah ditanya tentang seorang yang pergi
berperang dengan tujuan mendapatkan harta rampasan, bagaimana amalannya? Rosul ﷺ bersabda:
«لَا أَجْرَ لَهُ»
Tidak mendapatkan pahala apa-apa. (HR. Abu Dawud no.
2516)
Maka, perbaharui terus niat Anda. Bersihkan hati dari
tujuan-tujuan yang tidak baik. Niatkan Umroh untuk meminta ampunan dosa,
memohon petunjuk, dan mendekatkan diri kepada Alloh ﷻ.
1.2. Kesehatan Fisik dan Mental
Ibadah Umroh memerlukan kekuatan fisik yang prima. Ada
banyak berjalan kaki, berdesakan, dan menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem.
Persiapan fisik bisa dimulai dari beberapa bulan sebelum keberangkatan,
misalnya dengan rutin berjalan kaki atau berolahraga ringan.
Kesehatan Fisik: Latihlah fisik Anda, karena di sana
Anda akan berjalan kaki untuk Thowaf dan Sa’i, serta berjalan kaki dari hotel
ke Masjid. Jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu, konsultasikan dengan
dokter dan pastikan Anda membawa obat-obatan yang cukup.
Kesehatan Mental: Ibadah di tanah suci juga menguji
kesabaran. Anda akan berhadapan dengan keramaian, antrean panjang, dan situasi
yang mungkin tidak nyaman. Persiapan mental yang matang akan membantu Anda
tetap tenang dan fokus dalam beribadah. Hindari berdebat, marah, atau mengeluh.
1.3. Perlengkapan dan Koper
Membawa perlengkapan yang tepat akan sangat membantu Anda
selama di sana. Jangan bawa terlalu banyak barang yang tidak perlu agar koper
tidak terlalu berat, tetapi pastikan barang esensial tidak tertinggal.
1.3.1. Pakaian Ihrom Pria dan Wanita
Pakaian ihrom adalah pakaian khusus yang wajib dikenakan
saat Jamaah memulai ibadah Umroh.
Pria: Pakaian ihrom pria terdiri dari 2 lembar kain
putih tanpa jahitan. Satu lembar untuk menutup bagian bawah (seperti sarung)
dan satu lembar lagi untuk menutup bagian atas. Jangan lupa untuk membawa sabuk
atau ikat pinggang untuk mengikat kain sarung agar tidak melorot.
Wanita: Pakaian ihrom wanita adalah pakaian yang
menutup seluruh tubuh, tidak membentuk lekuk tubuh, dan tidak transparan.
Disyaratkan wanita tidak mengenakan cadar dan sarung tangan saat berihrom.
Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘Anhuma meriwayatkan, Rosul ﷺ bersabda:
«لَا تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ، وَلَا تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ»
Seorang wanita yang sedang ihrom tidak boleh mengenakan niqob
(cadar) dan tidak boleh mengenakan sarung tangan. (HR. Al-Bukhori no. 1838)
1.3.2. Pakaian dan Perlengkapan Lainnya
ü
Pakaian sehari-hari yang
nyaman, tidak terlalu tebal atau tipis, sesuai dengan cuaca.
ü
Pakaian untuk Sholat,
seperti mukena bagi wanita.
ü
Alas kaki yang nyaman untuk
berjalan jauh. Sandal atau sepatu sandal adalah pilihan terbaik.
ü
Peralatan mandi dan
kebersihan diri.
ü
Tas kecil atau kantung
untuk menyimpan sandal di dalam Masjid.
1.3.3. Obat-obatan dan Kebutuhan Pribadi
ü
Obat-obatan pribadi,
seperti obat pusing, flu, demam, maag, atau obat-obatan rutin.
ü
Masker, terutama saat di
keramaian atau musim berdebu.
ü
Hand sanitizer dan tisu
basah.
ü
Vitamin untuk menjaga daya
tahan tubuh.
1.4. Dokumen Perjalanan
Pastikan semua dokumen Anda lengkap dan tidak ada yang
kadaluwarsa.
ü
Paspor
ü
Visa Umroh
ü
Tiket pesawat dan bukti
pemesanan hotel
ü
Kartu identitas
ü
Fotokopi semua dokumen
penting
Simpan dokumen-dokumen ini di tempat yang aman dan mudah
dijangkau.
1.5. Manasik Umroh
Manasik adalah peragaan atau bimbingan tata cara Umroh.
Sebelum berangkat, biasanya biro perjalanan akan mengadakan manasik. Ikuti
manasik ini dengan sungguh-sungguh, karena di sinilah Anda akan mendapatkan
bekal ilmu tentang bagaimana melaksanakan Umroh yang shohih. Jika ada hal-hal
yang tidak Anda pahami, jangan ragu untuk bertanya.
Rosul ﷺ bersabda:
«خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ»
Ambillah dariku tata cara manasik kalian. (HR. An-Nasa’i
no. 3062)
Pahamilah rukun dan wajib Umroh, serta hal-hal yang diharomkan
saat berihrom. Misalnya, bagi laki-laki diharomkan memakai pakaian berjahit,
dan bagi laki-laki dan wanita diharomkan mencukur rambut atau bulu, memakai
wewangian, dan berhubungan suami-istri.
1.6. Pemahaman tentang Cuaca dan Kondisi di Tanah
Suci
Cuaca di Makkah dan Madinah sangat bervariasi tergantung
musim.
Musim dingin (sekitar November – Februari): Suhu bisa
mencapai 15-20 derajat Celsius. Udara dingin dan kadang disertai angin. Siapkan
jaket atau pakaian yang cukup hangat.
Musim panas (sekitar Juni – Agustus): Suhu bisa mencapai
lebih dari 45 derajat Celsius. Udara sangat kering dan panas. Sangat penting
untuk menjaga hidrasi (minum yang cukup) dan memakai pakaian yang menyerap
keringat.
Kondisi di sana juga sangat ramai, terutama saat musim Umroh
atau Haji. Jutaan Jamaah datang dari seluruh dunia. Situasi ini menuntut
kesabaran dan kehati-hatian, terutama saat berdesakan di sekitar Ka’bah.
Bab 2: Perjalanan dan Kedatangan
di Tanah Suci
Setelah semua persiapan selesai, kini tiba waktunya memulai
perjalanan suci. Perjalanan menuju Baitullah dan Madinah bukan sekadar
berpindah tempat, tetapi merupakan bagian dari ibadah. Setiap detik yang
dilalui memiliki nilai pahala, asalkan kita senantiasa menjaga niat dan
adab-adab yang telah diajarkan.
2.1.
Ketentuan Sholat Jamak Qoshor
Saat berangkat
safar, status Anda adalah Musafir (orang yang dalam perjalanan). Bagi Musafir,
ada keringanan dalam Sholat fardhu.
Rosul ﷺ bersabda:
«فَعَلَيْكُمْ بِرُخْصَةِ اللَّهِ الَّتِي رَخَّصَ لَكُمْ فَاقْبَلُوهَا»
“Ambillah keringanan dari Allah yang diberikan kepada kalian. Terimalah ia.” (HSR.
Ibnu Hibban no. 355)
Qoshor: Memendekkan Sholat 4 rokaat
menjadi 2 rokaat. Sholat yang bisa diqoshor adalah Zhuhur, Ashar, dan Isya.
Adapun Sholat Shubuh dan Maghrib tetap dikerjakan secara utuh.
Jamak: Menggabungkan 2 Sholat fardhu
dalam satu waktu. Ada 2 macam jamak:
Jamak
Taqdim:
Menggabungkan Sholat Zhuhur dengan Ashar pada waktu Zhuhur, dan Sholat Maghrib
dengan Isya pada waktu Maghrib.
Jamak
Ta’khir:
Menggabungkan Sholat Zhuhur dengan Ashar pada waktu Ashar, dan Sholat Maghrib
dengan Isya pada waktu Isya.
Hadits Anas
Rodhiyallahu ‘Anhu:
«صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا، وَبِذِي الحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ»
Aku Sholat
Maghrib bersama Nabi ﷺ di Madinah 4 roka’at dan di Dzul Hulaifah
(mulai ihrom) dua roka’at.
(HR. Bukhori no. 1089)
Jika Anda Sholat
berjamaah mengikuti imam yang Muqim (penduduk setempat), maka Anda wajib
mengikuti Sholatnya secara sempurna (tidak boleh diqoshor). Sholat di belakang
imam tersebut diutamakan karena pahalanya besar.
Jamak boleh
dikerjakan meskipun belum berangkat, jika dibutuhkan. Misalnya jadwal berangkat
pesawat jam 13.00, maka saat masuk Zhuhur bisa dijamak dengan Ashar.
2.2. Adab Safar dan Doa
Perjalanan (safar) adalah salah satu jenis ibadah. Nabi ﷺ pernah menyebutkan bahwa safar adalah bagian dari siksaan,
karena di dalamnya Jamaah akan merasakan letih, sulit tidur, dan jauh dari
keluarga. Oleh karena itu, pahala besar dijanjikan bagi orang yang bersabar
dalam perjalanannya.
Sebelum berangkat dari rumah, dianjurkan untuk Sholat
2 rokaat, yaitu Sholat safar, yang dikenal juga sebagai Sholat sunnah sebelum
melakukan perjalanan. Setelah itu, ucapkanlah doa keluar rumah.
«بِسْمِ اللّٰهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ
إِلَّا بِاللَّهِ»
Dengan nama Alloh, aku bertawakal kepada Alloh. Tidak ada
daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Alloh. (HSR. Abu Dawud no. 5095)
Saat berada di kendaraan, ucapkan doa perjalanan (doa
safar).
«سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا
كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ»
Maha Suci (Alloh) yang telah menundukkan semua ini bagi
kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami
akan kembali kepada Robb kami. (QS. Az-Zukhruf: 13-14)
Lanjutkan dengan mengucapkan dzikir berikut:
«اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى،
وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ
عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ،
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ
الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ»
Ya Alloh, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam
perjalanan kami ini kebaikan dan ketaqwaan, dan amal perbuatan yang Engkau
ridhoi. Ya Alloh, mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah bagi kami
jauhnya. Ya Alloh, Engkaulah yang menemani dalam perjalanan, dan Engkaulah yang
mengurus keluarga (yang ditinggalkan). Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu dari kesusahan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan
tempat kembali yang buruk pada harta dan keluarga. (HR. Muslim no. 1342)
Bacalah doa ini setiap kali akan berangkat atau memulai
perjalanan di darat, laut, atau udara.
2.3. Di dalam Pesawat
Perjalanan ke tanah suci menggunakan pesawat terbang
membutuhkan waktu yang cukup lama sekitar 10 jam (Surabaya – Jeddah KSA). Manfaatkan waktu ini
untuk berdzikir, membaca Al-Quran, dan memperbanyak doa. Hindari melakukan
hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti ghibah (membicarakan orang lain), karena
setiap amal akan dicatat.
2.3.1. Sholat di
Pesawat
Hukum Sholat di pesawat adalah sah, dengan syarat
rukun-rukun Sholat dipenuhi, seperti menghadap kiblat dan berdiri jika
memungkinkan. Namun, jika tidak memungkinkan, Sholat bisa dilakukan sambil
duduk dan menghadap ke arah mana pun.
Jabir Rodhiyallahu ‘Anhu berkata:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ
يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ المَشْرِقِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ المَكْتُوبَةَ
نَزَلَ، فَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ»
Dahulu Rosulullah ﷺ Sholat
di atas kendaraan tunggangannya ke arah mana pun kendaraan itu menghadap.
Namun, jika beliau ingin Sholat fardhu, beliau turun lalu menghadap kiblat. (HR.
Bukhori no. 1099)
Para ulama menjelaskan, Sholat di kendaraan hanya boleh
dilakukan jika Sholat tersebut adalah Sholat sunnah. Namun, dalam kondisi
darurat seperti di pesawat, di mana tidak memungkinkan untuk berhenti dan Sholat,
maka Sholat fardhu dapat dilakukan sambil duduk jika tidak mampu berdiri, dan
menghadap kiblat jika memungkinkan. Jika tidak, maka tidak mengapa.
Mayoritas maskapai penerbangan sekarang memiliki Mushola
atau ruang Sholat yang cukup, namun ruangannya sangat sempit. Anda bisa
berwudhu di kamar mandi pesawat atau bertayamum jika tidak ada air.
2.3.2. Mengenakan
Pakaian Ihrom
Pakaian ihrom harus dikenakan sebelum atau saat melewati
Miqot. Miqot adalah batas geografis yang telah ditentukan untuk memulai ibadah
Haji atau Umroh. Jika Anda berangkat dari Indonesia, Miqotnya adalah Yalamlam
(untuk Jamaah dari Asia) jika turun di Jeddah lalu ke Makkah langsung. Namun,
banyak maskapai yang ke Madinah dulu, sehingga miqotnya di Bir Ali, Madinah.
Biasanya, kru pesawat akan mengumumkan saat pesawat akan
melintasi Miqot. Pada saat itu, Jamaah laki-laki akan melepas pakaian biasa dan
memakai kain ihrom. Sebelum itu, lakukanlah mandi sunnah ihrom (jika
memungkinkan), keramas, dan memakai wewangian di badan, bukan kain.
Setelah mengenakan pakaian ihrom, dianjurkan Sholat
2 rokaat sunnah ihrom, lalu ucapkan niat ihrom.
«لَبَّيْكَ عُمْرَةً»
Aku penuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan Umroh.
Atau:
«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً»
Ya Alloh, aku penuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan Umroh.
Setelah niat, Jamaah sudah berada dalam keadaan ihrom dan
wajib menjauhi larangan-larangan ihrom, seperti mencukur rambut, memotong kuku,
memakai wewangian, dan berhubungan suami-istri.
2.4. Masuk ke Miqot
Miqot adalah tempat wajib untuk memulai ihrom bagi siapa
saja yang ingin masuk ke Makkah untuk Umroh atau Haji. Rosul ﷺ
telah menetapkan Miqot bagi para Jamaah.
Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu berkata:
«إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَقَّتَ
لِأَهْلِ المَدِينَةِ ذَا الحُلَيْفَةِ، وَلِأَهْلِ الشَّأْمِ الجُحْفَةَ، وَلِأَهْلِ
نَجْدٍ قَرْنَ المَنَازِلِ، وَلِأَهْلِ اليَمَنِ يَلَمْلَمَ، هُنَّ لَهُنَّ، وَلِمَنْ
أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الحَجَّ وَالعُمْرَةَ، وَمَنْ
كَانَ دُونَ ذَلِكَ، فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ»
Rosulullah ﷺ menetapkan Miqot untuk penduduk Madinah di
Dzul Hulaifah, untuk penduduk Syam di Juhfah, untuk penduduk Najd di Qornul
Manazil, dan untuk penduduk Yaman di Yalamlam. Miqot-miqot itu adalah untuk
mereka (penduduk daerah itu) dan juga bagi orang lain yang melewatinya dari
selain penduduknya yang ingin melaksanakan Haji atau Umroh. Dan bagi yang
tinggal di daerah Miqot, maka dia berihrom dari tempat tinggalnya, sampai
penduduk Makkah berihrom dari Makkah. (HR. Bukhori no. 1524)
Karena Jamaah dari Indonesia menggunakan pesawat, maka Miqot
yang digunakan adalah Yalamlam jika rutenya Jeddah lalu Makkah, atau Bir Ali
Madinah jika rutenya Madinah lalu Makkah. Jamaah harus sudah mengenakan ihrom
dan berniat sebelum pesawat melewati Miqot ini (bagi yang memilih Yalamlam). Jangan
sampai kelewatan.
2.5. Tiba di Tanah Suci dan
Check-in Hotel
Setelah mendarat di Jeddah, Jamaah akan melewati proses
imigrasi. Ikuti petunjuk dari ketua rombongan. Setelah itu, akan ada bus yang
akan membawa Jamaah ke hotel di Makkah atau Madinah.
Sesampainya di hotel, Jamaah bisa beristirahat sejenak,
menyimpan barang-barang, dan bersiap-siap untuk melaksanakan Umroh. Perlu
diingat bahwa larangan-larangan ihrom masih berlaku, jadi jangan terburu-buru
melakukan hal-hal yang dilarang, seperti memakai wewangian atau memotong kuku.
Tunggu sampai Anda dan rombongan siap untuk menuju Masjidil
Harom. Disarankan untuk beristirahat sebentar sebelum memulai Umroh agar
stamina tetap terjaga.
Bab 3: Tata Cara Umroh
Setelah
sampai di Makkah dan beristirahat, tibalah saatnya untuk melaksanakan ibadah
inti, yaitu Umroh. Ada 4 rukun Umroh yang wajib dilaksanakan: Ihrom, Thowaf, Sa’i,
dan Tahallul. Jika salah satu rukun ini tidak terpenuhi, maka Umrohnya tidak
sah.
3.1.
Ihrom
Ihrom
adalah keadaan di mana seseorang telah berniat untuk melaksanakan Umroh atau
Haji dan telah memasuki Miqot. Keadaan ini ditandai dengan mengenakan pakaian
ihrom dan mengucapkan niat.
Setelah niat di Miqot (seperti yang telah dijelaskan di Bab
2), bacaan talbiyah dilafalkan secara terus-menerus hingga akan memulai Thowaf.
Talbiyah adalah bacaan yang berisi pengagungan kepada Alloh ﷻ
dan pernyataan kesiapan untuk memenuhi panggilan-Nya.
«لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ
لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ
وَالمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ»
Aku datang
memenuhi panggilan-Mu, ya Alloh. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang
memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala puji dan nikmat serta kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada
sekutu bagi-Mu. (HR. Bukhori no. 1549)
Talbiyah
ini dapat diucapkan dengan suara keras bagi laki-laki dan dengan suara pelan
bagi wanita. Perbanyaklah membaca talbiyah sambil berjalan dari hotel menuju
Masjidil Harom.
3.2.
Thowaf
Thowaf
adalah rukun Umroh yang dilakukan di dalam Masjidil Harom. Thowaf adalah
mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran.
Sebelum
memulai Thowaf, pastikan Anda dalam keadaan suci dari hadats besar maupun
hadats kecil.
Mulai dari
Hajar Aswad. Ambil posisi di depan Hajar Aswad atau di dekat tanda lampu hijau
yang berada di lantai Masjid. Angkat tangan kanan Anda ke arah Hajar Aswad
sambil mengucapkan takbir.
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Dengan nama
Alloh dan Alloh Maha Besar.
Jika
memungkinkan, cium Hajar Aswad. Namun, karena kondisi yang sangat ramai, cukup
dengan melambaikan tangan ke arahnya.
Saat
Thowaf, posisi Ka’bah harus berada di sebelah kiri Anda. Lakukan 7 putaran, di
mana 1 putaran dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad lagi.
Perbanyak
doa dan dzikir. Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca saat Thowaf. Jamaah bisa
membaca doa dan dzikir apa pun yang diinginkan, seperti memohon ampunan, rizki,
dan Jannah.
Ada satu
doa yang dianjurkan untuk dibaca setiap putaran saat berada di antara
Rukun Yamani (sudut Ka’bah sebelum Hajar Aswad) dan Hajar Aswad, yaitu:
﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
Ya Robb
kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhirat, dan lindungilah
kami dari adzab Naar (api neraka). (QS. Al-Baqoroh: 201)
3.2.1. Doa dan Dzikir saat
Thowaf
Meskipun
tidak ada doa wajib, memperbanyak doa akan menambah keberkahan ibadah. Doa bisa
diucapkan dalam bahasa apa pun yang Anda pahami.
ü Doa memohon
ampunan dosa.
ü Doa untuk orang
tua, keluarga, dan kerabat.
ü Doa agar diberi
ketetapan hati dalam Iman.
ü Doa agar diberi
keturunan yang sholih dan sholihah.
3.2.2. Ketentuan Sholat
setelah Thowaf
Setelah
menyelesaikan 7 putaran Thowaf, disunnahkan untuk Sholat 2 rokaat di
belakang Maqom Ibrohim.
Jabir Rodhiyallahu
‘Anhu berkata:
فَجَعَلَ الْمَقَامَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ
Maka beliau
(Nabi ﷺ)
menjadikan Maqom Ibrohim di antara beliau dan Ka’bah. (HR. Muslim no. 1218)
Jika tidak
memungkinkan karena ramainya Jamaah, Sholat 2 rokaat ini bisa dilakukan di mana
saja di area Masjidil Harom.
Dianjurkan
membaca ayat ini saat ke Maqom:
﴿وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ
مُصَلًّى﴾
“Jadikanlah Maqom Ibrohim sebagai tempat Sholat.” (QS.
Al-Baqoroh: 125)
Rokaat
pertama: Setelah
Al-Fatihah, baca Surat Al-Kafiruun.
Rokaat
kedua: Setelah
Al-Fatihah, baca Surat Al-Ikhlas.
Setelah Sholat,
dianjurkan untuk meminum air Zamzam dan membasuh kepala atau wajah
dengannya.
3.3.
Sa’i
Setelah
Thowaf, Jamaah melanjutkan ke rukun Umroh berikutnya, yaitu Sa’i. Sa’i adalah
berjalan kaki antara Bukit Shofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Perjalanan dari
Shofa ke Marwah dihitung 1 kali, dan dari Marwah ke Shofa dihitung 1 kali.
Jadi, Sa’i akan berakhir di Marwah.
Saat naik Bukit
Shofa dianjurkan membaca ayat:
إِنَّ الصَّفَا والْمَرْوَةَ مِنْ
شَعَائِرِ اللهِ} [البقرة: 158]
“Sungguh
Shofa dan Marwah termasuk syi’ar Allah.” (QS. Al-Baqoroh: 158)
Jika sudah
di atas bukit Shofa, dianjurkan membaca:
«أَبْدَأُ بِمَا
بَدَأَ اللهُ بِهِ»
“Aku
memulai dari apa yang dimulai Allah (yakni Shofa).”
Setelah di
atas bukit Shofa, hadaplah ke arah Ka’bah, lalu dianjurkan membaca
dzikir:
«اللَّهُ أَكْبَرُ،
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ»، «لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ
لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ
وَحْدَهُ»
Alloh Maha
Besar, Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar. Tidak ada ilah (yang berhak
disembah) selain Alloh Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya
semua kekuasaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tidak ada ilah selain Alloh Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah
menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan Ahzab
sendirian. (HR. Muslim no. 1218)
Lalu berdoa
bebas. Lalu membaca dzikir di atas lagi. Lalu berdoa bebas. Lalu membaca dzikir
di atas lagi. Sehingga 3x dzikir dan 2x doa.
Sa’i berupa
berjalan dan berlari kecil. Sa’i dilakukan dengan berjalan santai. Namun, bagi
laki-laki disunnahkan untuk lari kecil di antara tanda lampu hijau (di
Bukit Shofa) dan tanda lampu hijau berikutnya (di Bukit Marwah). Ini dikenal
sebagai harwalah.
Doa dan
dzikir saat Sa’i. Seperti Thowaf, tidak ada doa khusus yang wajib dibaca saat
Sa’i. Jamaah bisa membaca doa apa pun yang diinginkan.
Saat
tiba di Marwah, maka melakukan seperti
di Shofa berupa 3x dzikir dan 2x doa. Lalu putaran ke-7 berakhir di Marwah.
3.3.1. Doa dan Dzikir saat
Sa’i
Perjalanan
Sa’i adalah saat yang tepat untuk merenungi perjuangan Siti Hajar dalam mencari
air untuk putranya, Nabi Isma’il ‘Alaihissalam. Kisah ini mengajarkan
tentang keteguhan, tawakal, dan keyakinan akan pertolongan Alloh ﷻ.
ü Ulangi doa yang
dibaca saat di Bukit Shofa.
ü Perbanyak doa
dan dzikir pribadi.
ü Perbanyak
istighfar (memohon ampunan).
Setelah
putaran ke-7 selesai di Bukit Marwah, maka selesailah Sa’i Anda.
3.4.
Tahallul
Tahallul
adalah rukun Umroh terakhir, yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian ibadah
Umroh. Tahallul adalah dengan memendekkan atau menggundul rambut.
﴿ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا
نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾
Kemudian,
hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada pada badan) mereka,
menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan Thowaf sekeliling rumah yang
tua (Baitulloh). (QS. Al-Hajj: 29)
Ibnu
Qudamah (620 H), salah satu ulama besar mazhab Hanbali, dalam kitabnya
Al-Mughni menjelaskan bahwa memotong rambut adalah salah satu rukun Haji dan
Umroh.
Bagi
laki-laki:
Sunnahnya adalah mencukur seluruh rambut alias menggundul (halq), atau
minimal memendekkan segala sisi (taqshir). Menggundul lebih utama.
Bagi
wanita: Cukup
memotong sedikit rambutnya pada semua sisinya, seukuran ruas jari.
Nabi ﷺ
bersabda:
«اللَّهُمَّ ارْحَمِ المُحَلِّقِينَ» قَالُوا:
وَالمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «اللَّهُمَّ ارْحَمِ المُحَلِّقِينَ»
قَالُوا: وَالمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «وَالمُقَصِّرِينَ»
Ya Alloh, rohmatilah
orang-orang yang mencukur habis rambutnya. Mereka (para Shohabat) bertanya, “Dan
juga yang memendekkan, ya Rosulullah?” Beliau menjawab, “Ya Alloh, rohmatilah
orang-orang yang mencukur habis rambutnya.” Mereka bertanya lagi, “Dan juga
yang memendekkan, ya Rosulullah?” Beliau menjawab, “Dan juga yang memendekkan
(rambutnya).” (HR. Al-Bukhori no. 1727)
Setelah
Tahallul, semua larangan-larangan ihrom telah gugur. Umroh Anda telah selesai.
Alhamdulillah.
Bab 4: Kegiatan di Tanah Suci dan
Ziarah
Setelah
selesai melaksanakan Umroh, kini Anda memiliki waktu luang untuk beribadah di
Masjidil Harom dan Masjid Nabawi, serta mengunjungi tempat-tempat bersejarah.
Manfaatkan waktu ini sebaik mungkin.
Perbanyaklah
Sholat di Masjidil Harom, karena sekali Sholat di sana lebih utama dari 100.000
Sholat di Masjid lain. Sementara di Masjid Nabawi lebih utama 1.000x daripada
di Masjid lain.
Lalu
perbanyak Thowaf Sunnah di Ka’bah, karena amal paling utama di Masjidil Harom.
4.1.
Adab di Masjidil Harom dan Masjid Nabawi
Masjidil
Harom dan Masjid Nabawi adalah 2 Masjid yang paling utama di dunia. Ibadah di
dalamnya memiliki keutamaan yang luar biasa.
Masjidil
Harom: Nabi ﷺ
bersabda:
«صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ
صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ»
Sholat di
Masjidku ini lebih baik dari 1000 Sholat di Masjid selainnya, kecuali Masjidil
Harom. Dan Sholat di Masjidil Harom lebih baik dari 100.000 Sholat di Masjid
selainnya. (HSR. Ahmad no. 15271)
Masjid
Nabawi: Nabi ﷺ
bersabda:
«صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ
صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا المَسْجِدَ الحَرَامَ»
Sholat di
Masjidku ini lebih baik dari 1000 Sholat di Masjid selainnya, kecuali Masjidil
Harom. (HR. Bukhori no. 1190)
Tentu ada adab
yang harus dijaga. Antara lain:
ü Jaga kebersihan
dan jangan membuang sampah sembarangan.
ü Jangan
berbicara atau bercanda dengan suara keras.
ü Hindari
berdesakan dengan orang lain, terutama wanita.
ü Jangan tidur di
dalam Masjid, kecuali saat sangat lelah dan tidak ada tempat lain.
ü Jangan
mengganggu Jamaah lain yang sedang beribadah.
Saat
memasuki Masjidil Harom maupun Masjid Nabawi dianjurkan membaca:
«بِسْمِ اللَّهِ،
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي
وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ»
Dengan nama Alloh, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosululloh.
Ya Alloh ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu rohmat-Mu.
«أَعُوذُ بِاللَّهِ
الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيمِ»
Aku berlindung kepada Alloh Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya yang mulia
dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari godaan syaithon yang terkutuk.
Jika keluar
Masjid membaca:
«بِسْمِ اللَّهِ،
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي
وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ، اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»
Dengan nama Alloh, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosululloh.
Ya Alloh ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu karunia dari sisi-Mu. Ya Alloh,
jagalah aku dari godaan syaitan yang terkutuk. (Kumpulan banyak riwayat shohih
dalam Ithaful Muslim)
4.2.
Ziarah di Makkah
Ziarah
adalah mengunjungi tempat-tempat bersejarah untuk mengambil pelajaran darinya.
4.2.1. Jabal Tsur
Jabal
Tsur adalah sebuah
gua di mana Rosul ﷺ dan Abu Bakar Ash-Shiddiq Rodhiyallahu ‘Anhu bersembunyi
dari kejaran kaum Quroisy saat akan hijroh ke Madinah. Mengunjungi tempat ini
bisa mengingatkan kita akan keteguhan dan pengorbanan Nabi ﷺ
dan Shohabatnya.
4.2.2. Jabal Nur
Jabal
Nur adalah gunung
tempat Gua Hiro berada. Di gua inilah Rosul ﷺ
pertama kali menerima wahyu. Mendaki Jabal Nur membutuhkan fisik yang kuat.
Jika Anda tidak kuat, cukup lihat dari kejauhan. Hikmah dari kunjungan ini
adalah untuk merenungi betapa beratnya tugas yang diemban Rosul ﷺ.
4.2.3. Arofah
Arofah adalah tempat wukuf (berdiam diri)
saat Haji. Di sini, Rosul ﷺ menyampaikan khutbah Wada’
(khutbah perpisahan). Di Arofah juga Alloh ﷻ
mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Mengunjungi Arofah akan mengingatkan kita pada
salah satu rukun Haji yang paling utama.
4.3.
Ziarah di Madinah
Setelah
selesai dari Makkah, biasanya Jamaah akan melanjutkan perjalanan ke Madinah
untuk berziarah. Di Madinah, Rosul ﷺ
mendirikan negara Islam yang pertama.
Sebagian
travel Umroh, mendahulukan ke Madinah dari Makkah, dengan alasan memudahkan
mengambil Miqot dari Bir Ali Madinah, sehingga mengenakan kain ihrom bukan di
pesawat.
4.3.1. Makam Nabi ﷺ
Makam Nabi ﷺ
berada di dalam Masjid Nabawi. Mengucapkan salam kepada beliau adalah hal yang
sangat dianjurkan. Lafazh salam adalah seperti yang kita biasa ucapkan.
Tetapi dianjurkan ditambahkan sapaan:
Mengucapkan
salam ke Rosulullah ﷺ:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ [يَا
رَسُولَ اللهِ] وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Mengucapkan salam ke Abu Bakr:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ [يَا
أَبَا بَكْرٍ] وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Mengucapkan salam kepada Umar:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ [يَا
عُمَرُ] وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Anda bisa
datang ke makam beliau, juga makam Abu Bakar Ash-Shiddiq Rodhiyallahu ‘Anhu
dan Umar bin Khoththob Rodhiyallahu ‘Anhu, untuk mengucapkan salam.
Mereka berdua satu tempat di kubur Nabi ﷺ.
Termasuk
memulian Nabi ﷺ
adalah mengisi waktu di Masjid Nabawi dengan menghadiri majlis ilmu, karena ia
warisan kenabian. Jika tidak mengerti bahasa Arob, bisa ke pintu 19, di sana
ada kajian berbahasa Indonesia.
4.3.2. Roudhoh
Roudhoh adalah area di dalam Masjid Nabawi
yang berada di antara makam Rosul ﷺ dan
mimbar beliau. Area ini dikenal sebagai salah satu taman Jannah.
«مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ
رِيَاضِ الجَنَّةِ»
Antara
rumahku (kuburku) dan mimbarku adalah salah satu taman di antara taman-taman
Jannah. (HR. Bukhori no. 1195)
Sholat dan
berdoa di Roudhoh memiliki keutamaan yang besar, namun tempatnya sangat ramai.
Perlu kesabaran dan fisik yang kuat untuk bisa masuk ke sana. Wanita memiliki
jam-jam khusus untuk bisa masuk ke Roudhoh.
4.3.3. Masjid Quba
Masjid
Quba adalah Masjid
pertama yang dibangun oleh Rosul ﷺ saat
tiba di Madinah.
«مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ
قُبَاءَ، فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ»
Siapa yang
bersuci (berwudhu) di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba dan Sholat di
dalamnya, maka baginya seperti pahala Umroh. (HR. Ibnu Majah no. 1412)
4.3.4. Jabal Uhud
Jabal
Uhud adalah tempat
terjadinya Perang Uhud, di mana banyak Shohabat yang syahid, termasuk paman
Nabi ﷺ,
Hamzah Rodhiyallahu ‘Anhu. Rosul ﷺ
bersabda tentang Jabal Uhud:
«هَذَا جَبَلٌ
يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»
Gunung ini
mencintai kita dan kita mencintainya. (HR. Bukhori no. 2889)
4.3.5. Pemakaman Baqi’
Pemakaman
Baqi’ adalah
kuburan para Shohabat dan keluarga Rosul ﷺ.
Ziarah kubur disunnahkan untuk mengambil pelajaran dan mengingatkan akan
kematian.
«فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ»
Ziarahilah
kubur, karena ia akan mengingatkan kalian kepada kematian. (HR. Muslim no.
976)
Saat
ziarah, berilah salam kepada para penghuni kubur dan doakanlah mereka.
Bab 5: Kembali ke Tanah Air
Setelah
semua ibadah dan ziarah selesai, kini tibalah saatnya untuk kembali ke tanah
air. Namun, ada satu ibadah terakhir yang disunnahkan untuk dilakukan
sebelum meninggalkan Makkah, yaitu Thowaf Wada’.
5.1.
Thowaf Wada’
Thowaf Wada’
(Thowaf Perpisahan) adalah Thowaf yang dilakukan sebagai penghormatan terakhir
kepada Baitullah sebelum meninggalkan Makkah.
Ibnu Abbas Rodhiyallahu
‘Anhu berkata:
«أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ
بِالْبَيْتِ، إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الحَائِضِ»
Orang-orang
diperintahkan agar akhir ibadah mereka (di Makkah) adalah Thowaf di Ka’bah,
hanya saja keringanan diberikan bagi wanita yang haid. (HR. Bukhori no. 1755
dan Muslim no. 1328)
Hukum: Thowaf Wada’ hukumnya sunnah
bagi Jamaah yang akan meninggalkan Makkah. Adapula pendapat wajib.
Waktu
Pelaksanaan: Thowaf
ini dilakukan pada hari keberangkatan, setelah semua barang sudah dikemas dan Jamaah
siap untuk pergi.
Tata
Cara: Tata caranya
sama dengan Thowaf Umroh, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran. Setelah
selesai, disunnahkan untuk Sholat 2 rokaat di belakang Maqom Ibrohim.
Bagi wanita
yang haid atau nifas: Gugur kewajiban Thowaf Wada’ bagi mereka.
5.2.
Persiapan Pulang
Beberapa
hal yang perlu diperhatikan sebelum pulang:
Pengepakan
barang: Pastikan
semua barang sudah dikemas dan tidak ada yang tertinggal. Perhatikan berat
koper sesuai dengan ketentuan maskapai.
Air
Zamzam: Bawa air
Zamzam sesuai dengan jatah yang diberikan oleh pihak maskapai. Biasanya setiap Jamaah
mendapatkan 5 liter air Zamzam yang sudah dikemas dalam galon.
Kesehatan: Jaga kondisi fisik agar tetap
prima selama perjalanan pulang. Jangan terlalu banyak minum minuman dingin atau
es.
Thowaf
Wada’: Lakukan
Thowaf Wada’ sebagai ibadah terakhir sebelum meninggalkan Makkah. Setelah itu,
tidak diperbolehkan mampir atau berlama-lama di Makkah.
5.3.
Doa Setelah Tiba di Tanah Air
Saat sudah
di kendaraan pulang, dianjurkan membaca doa safar seperti sebelumnya
lalu ditambah:
«آيِبُونَ، تَائِبُونَ،
عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ»
Kami
kembali, bertaubat, beribadah, dan memuji Robb kami. (HR. Muslim no. 1345)
Kedatangan Jamaah
ke tanah air adalah momen yang penuh kebahagiaan. Sambutlah mereka dengan
kegembiraan.
Penutup
Selamat,
Anda telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah Umroh. Semoga Umroh Anda
diterima oleh Alloh ﷻ dan
membawa berkah dalam kehidupan. Jadikanlah pengalaman ini sebagai titik balik
untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat dengan Alloh, dan terus
bersemangat dalam beribadah.
***