Download Buku: Rahasia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Memikat Hati



Rahasia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Memikat Hati


 
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

A.   Muqaddimah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya manusia sepanjang sejarah kehidupan yang paling dicintai oleh kebanyakan manusia, baik kawan maupun lawan. Hal ini disebabkan beliau adalah utusan Allah dan pilihan-Nya. Dari Allah, beliau diberi amanah misi iman dan amal shalih, lalu karena dua hal ini berakibat beliau dicintai oleh seluruh manusia karena kesempurnaan iman dan amal shalih beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:
«إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا»
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, ar-Rahman akan jadikan untuk  mereka wudda.” (QS. Maryam [19]: 96)
Apa itu wudda? Wudda artinya hubbun (rasa cinta) sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Adapun tafsirnnya disampaikan oleh Qatadah:
يَجْعَلُ لَهُمْ وُدّاً فِي قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Dia menjadikan untuk mereka rasa cinta di hati orang-orang mukmin.” (Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr (III/148) oleh al-Hafizh Ibnul Jauzi)
Adapun Mujahid menafsirkannya:
مَحَبَّةً فِي النَّاسِ فِي الدُّنْيَا
“Rasa cinta di kalangan manusia di dunia.” (Tafsîr Ibnu Katsîr V/269)
Hukum kauniyah (sebab-akibat) berlaku bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasa cinta manusia kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan akibat dari akhlak beliau yang sempurna yang belum pernah ada sepanjang sejarah. Akhlak ini bukan akhlak sembarangan, bukan asal-asalan, dan bukan semata hasil karya dan usaha Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi murni karunia Allah. Ini sebagaimana firman-Nya:
«فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ»
“Karena rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut kepada mereka.” (QS. Alî Imrân [3]: 159)
Untuk itulah mengapa akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah puncak kesempurnaan akhlak tanpa cela, karena rahmat dari Allah untuk utusan-Nya agar dengannya beliau gunakan untuk mengajak manusia kepada indahnya Islam. Allah memuji kemuliaan akhlak beliau, padahal Dia-lah yang mentakdirkannya untuk beliau. Allah berfirman:
«وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ»
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)
Kemudian Allah jadikan beliau sebagai uswah (teladan) bagi segenap manusia terutama orang-orang beriman, sebagaimana firman-Nya:
«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ»
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat uswah hasanah (teladan yang baik) bagi kalian.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 21)
Lalu bagaimana gambaran akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengaruhnya terhadap para shahabatnya? Dalam artikel sederhana ini akan dijelaskan, insya Allah, rahasia akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memikat hati para shahabatnya sehingga mereka benar-benar jatuh hati kepada Nabi teladan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
B.   Sebagian Akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang Agung
Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengagumkan amatlah banyak. Tetapi di sini hanya di singgung 5 akhlak saja.
Pertama: Toleran dan Pemaaf
Manusia adalah tempat kesalahan. Hampir tidak ada manusia tanpa kesalahan dan kekeliruan, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjuluki manusia sebagai khaththâ`ûn (yang banyak melakukan kesalahan). Pepatah Arab menyebutkan:
 الإِنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَاءِ وَالْنِسْيَانِ
“Manusia adalah tempat salah dan lupa.”
Untuk itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka  memberikan toleransi dan pemaafan atas kesalahan dan kekeliruan para shahabatnya, serta berlapang dada atas keadaan yang tidak berpihak kepada beliau.
Bagaimana perasaan seorang ayah saat menyuruh anaknya untuk belanja ke toko tetapi menolak dengan mengatakan, “Tidak!” Dijamin, si anak setelah itu babak belur atau menangis karena dimarahi, minimal si ayah cemberut. Tapi hal ini tidak berlaku di akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling mulia akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan lalu aku berkata, ‘Demi Allah! Aku tidak akan pergi.’ Tetapi di dalam hatiku aku akan pergi melaksanakan perintah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku pun keluar hingga melewati anak-anak kecil yang sedang bermain-main di pasar (dan bergabung dengan mereka). Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku dari belakang. Aku menoleh ke belakang sementara beliau tertawa lalu berkata, ‘Wahai Unais (Anas kecil), apakah kamu telah pergi melaksanakan perintahku?’ Aku menjawab, ‘Ya. Aku pergi sekarang, wahai Rasulullah.’” (Shahih: HR. Muslim no. 2310, IV/1805 dan Abu Dawud no. 4773)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak marah kepada Anas bahkan sikap beliau tetap santai dan ceria meskipun Anas menunda-nunda perintah beliau. Bahkan beliau tersenyum kepadanya dan memanggilnya dengan panggilan kasih sayang “Unais”. Hal yang lebih mengagumkan adalah selama 10 tahun bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas tidak pernah dikomentari Rasulullah atas kesalahannya, padahal 10 tahun itu waktu yang sangat panjang, apalagi anak kecil biasa melakukan kesalahan dan meremehkan tugas.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
 فَمَا أَمَرَنِي بِأَمْرٍ فَتَوَانَيْتُ عَنْهُ أَوْ ضَيَّعْتُهُ فَلَامَنِي، فَإِنْ لَامَنِي أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ إِلَّا قَالَ: «دَعُوهُ، فَلَوْ قُدِّرَ - أَوْ قَالَ: لَوْ قُضِيَ - أَنْ يَكُونَ كَانَ»
“Beliau tidak pernah mencelaku atas perintah beliau yang aku tunda-tunda atau remehkan. Jika ada seorang dari kelurga beliau yang mencelaku, beliau berkata, ‘Biarkan saja dia. Jika memang sudah ditakdirkan pasti terjadi.’” (Shahih: HR. Ahmad no. 13418, XXI/103 dalam Musnadnya. Syu’aib al-Arna`uth)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga berkata:
خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ! وَلاَ: لِمَ صَنَعْتَ؟ وَلاَ: أَلَّا صَنَعْتَ؟
“Aku menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun, tetapi beliau tidak pernah berkata kepadaku, ‘Kamu ini!’ tidak pula, ‘Kenapa berbuat begini?’ dan tidak pula, ‘Kenapa kamu tidak berbuat begini?’” (Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari no. 6038, VIII/14 dan Muslim no. 2309)
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah safar bersama sebagian para shahabatnya. Saat malam tiba beliau menawarkan siapa yang bersedia begadang malam menjaga keamanan, lalu tampillah Bilal bin Rabbah radhiyallahu ‘anhu yang menyanggupinya. Lama sekali Bilal berjaga malam, akhirnya dia tidak bisa menguasai dirinya hingga dia tertidur. Rasulullah terbangun di pagi hari karena sengatan matahari lalu disusul para shahabatnya. Mereka gaduh karena belum shalat Shubuh. Nabi menghampiri Bilal mengapa tidak membangunkan dan melaksanakan tugas dengan baik. Bilal menjawab, “Ya Rasulullah, saya telah berjaga-jaga tadi malam. Tetapi saya hanya manusia biasa sehingga menimpa saya apa yang menimpa Anda.” Ya, Bilal juga manusia yang bisa mengantuk. Rasulullah tidak berkomentar dan menerima alasan Bilal. Tanpa pikir panjang, beliau langsung berwudhu dan shalat Subuh. Buat apa menyalahkan Bilal, nasi sudah menjadi bubur. Yang terpenting sekarang adalah segera shalat. (Diringkas dari Istamti’ bî Hayâtik karya Prof. Dr. Muhammad al-‘Arifi secara makna)
Kalaupun ada yang perlu diluruskan dan akan fatal jika didiamkan, maka beliau pun tetap menggunakan etika yang mulia. Kebiasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengoreksi kesalahan orang bukan di hadapan umum, kalaupun di hadapan umum tanpa tunjuk hidung.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَلَغَهُ عَنِ الرَّجُلِ الشَّيْءُ لَمْ يَقُلْ: مَا بَالُ فُلَانٍ يَقُولُ؟ وَلَكِنْ يَقُولُ: مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَقُولُونَ كَذَا وَكَذَا؟
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat kabar sesuatu tentang seseorang (yang perlu diluruskan), beliau tidak berkata, ‘Mengapa si fulan (sebut nama) mengatakan ini?’ Tetapi beliau berkata, ‘Mengapa ada orang-orang yang mengatakan ini dan itu?’” (Shahih: HR. Abu Dawud no. 4788, IV/250 dan al-Baihaqi no. 7745 dalam Syu’abul Imân. Dinilai shahih oleh al-Albani)
Dengan metode seperti ini, beliau berhasil menyelamatkan orang yang tersalah tersebut untuk menyelamatkan mukanya tanpa menolak nasihat. Ibarat borok yang dihinggapi lalat, jika ditampar keras justru menambah luka tetapi jika diberi ayunan ringan perlahan lalat akan pergi dengan sendirinya tanpa meninggalkan luka.
Sebagaimana beliau memberi udzur kepada manusia, beliau juga memberi udzur kepada keadaan yang tidak berpihak kepada beliau.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلَّا تَرَكَهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika berselera beliau memakannya, tetapi jika tidak beliau membiarkannya.” (Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari no. 3563, IV/190 dan Muslim no. 2064)
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dihidangkan dhab (sejenis binatang melata yang biasa di makan orang Arab), tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diam saja dan tidak memakannya. Melihat itu Khalid bin al-Walid bertanya:
أَحَرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لاَ، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي، فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ» قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيَّ
“Apakah dhab haram, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak. Hanya saja ia tidak ada di daerah kaumku. Aku mendapati diriku tidak berselera terhadapnya.” Khalid berkata, “Aku pun menyantapnya dengan lahap, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku.” (Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari no. 5391, VII/71 dan Muslim no. 1945)
Seni bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang satu ini juga tidak kalah hebatnya. Diamnya beliau lebih menjaga perasaan orang yang menghidangkan dari pada komentar. Namun, ajaibnya saat beliau diminta memberi komentar oleh Khalid, beliau menjawab dengan jawaban yang tidak mencela makanan sekaligus menjaga perasaan penghidang makanan. Beliau tidak menjawab, “Tidak. Ia menjijikkan dan aku tidak menyukainya,” karena kesempurnaan akal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak mencela makanan sekaligus menjaga hati manusia.
Kedua: Murah Senyum
‘Abdullah bin al-Harits bin Jaz` radhiyallahu ‘anhu berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling banyak tersenyum melebihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 3641, V/601) dan Ahmad (no. 17704) dalam Musnadnya. Dinilai shahih oleh al-Albani dan al-Arna`uth)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar melakukan hal ini. Beliau memikat manusia dengan tersenyum manis meskipun saat pertemuan pertama, baik anak kecil maupun dewasa, miskin maupun kaya. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengaku:
مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلاَ رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menghijabku[1] semenjak aku masuk Islam dan beliau tidak pernah menatapku kecuali beliau tersenyum di wajahnya.” (Maksudnya, beliau tidak pernah melarangku meminta izin masuk mengunjungi rumahnya saat beliau di rumah. Fathul Bârî (XXI/137) oleh al-Hafizh Ibnu Hajar)
‘Amr bin ‘Ash sangat memusuhi Islam, bahkan dia termasuk pioner pengusung perang Badar dari pihak Quraisy. Setelah masuk Islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam murah senyum kepadanya hingga dia merasa sungkan sendiri saat menatap beliau, ini bisa diketahui dari penuturannya sendiri:
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْهُ‏.‏ فَلَمَّا أَسْلَمْتُ، لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْهُ، وَلَا أَجَلَّ فِي عَيْنِيْ مِنْهُ
“Sungguh tidak ada seorang pun yang paling aku benci selain beliau. Namun, tatkala aku masuk Islam, tidak ada seorang pun yang paling aku cintai selain beliau dan aku sungkan untuk memadang beliau.” (Aqîdatut Tauhîd (hal. 150) oleh Syaikh Fauzan al-Fauzan)
Saking percaya dirinya, dia memberanikan diri untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang siapakah orang yang paling dicintai beliau, karena dia merasa adalah orang yang paling dicintai beliau karena sikap hangat beliau kepadanya.
‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu bertanya:
أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: «عَائِشَةُ»، فَقُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ فَقَالَ: «أَبُوهَا»، قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ» فَعَدَّ رِجَالًا
“Siapakah orang yang paling Anda cintai?” Beliau menjawab, “’Aisyah.” Aku bertanya, “Dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Kemudian ‘Umar.” Beliau menyebut beberapa orang. (Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari no. 3662, V/5 dam Muslim no. 2384)
Ketiga: Sabar dan Penyantun
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ambil pusing atas sikap orang yang kurang adab kepada beliau, tetapi beliau sikapi mereka dengan sikap sabar dan santun.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu  bercerita, “Aku pernah berjalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau memakai selendang Nejran yang tepi-tepinya tebal lalu datanglah seorang badui. Tiba-tiba dia menarik selendang beliau dengan keras. Aku memperhatikan leher Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tepi selendang itu menimbulkan bekas karena saking keras tarikannya. Kemudian badui tadi berkata, ‘Wahai Muhammad! Berikanlah harta Allah yang ada padamu kepadaku!’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepadanya sambil tertawa kemudian memberikan itu kepadanya.” (Muttafaqun ‘Alaih: HR. Muslim no. 1057, II/730 dan al-Bukhari no. 3149)
Perhatikan prilaku kurang adab orang badui itu, bahkan ucapannya pun kurang ajar, meminta dengan memaksa dan mengklaim bahwa selendang yang dipakai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan milik beliau sehingga layak untuk diminta. Tetapi alangkah menakjubkannya, beliau memberikan selendang itu kepadanya. Tetapi yang lebih menakjubkan adalah respon beliau tanpa marah sedikitpun bahkan bisa langsung tersenyum sambil tertawa.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Suatu ketika kami di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba seorang badui datang lalu kencing sambil berdiri di dalam masjid. Spontan para shahabat berteriak, ‘Berhenti! Berhenti!’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali, ‘Jangan kalian ganggu dia, biarkan saja.’ Kemudian mereka membiarkannya hingga dia selesai kencing. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan bersabda kepadanya, ‘Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak untuk tempat kencing dan kotoran tetapi hanya untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al-Qur`an.’ Atau yang semakna. Lalu beliau memerintah seseorang untuk mengambil seember air lalu disiramkan kepada bekas kencingnya.” (Shahih: HR. Muslim (no. 285, I/236). Hadits ini sebenarnya muttafaqun ‘alaih hanya saja terjadi perbedaan redaksi yang tajam)
Ternyata sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini begitu berkesan bagi dirinya sehingga beliau menjadi orang yang dicintainya dalam sekejab. Singkat cerita, orang badui itu turut shalat berjamaah dan di dalam shalatnya dia berdo’a, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah engkau merahmati seorang pun bersama kami.” Usai salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Kamu telah membatasi sesuatu yang luas,” maksudnya rahmat Allah.” (Shahih: HR. Al-Bukhari no. 6010)
Syaikh al-Utsaimin berkomentar, “Bentuk kemulian akhlak di sini adalah beliau tidak menghardik orang badui ini dan tidak pula memukulnya tetapi membiarkannya hingga selesai kencingnya. Kemudian beliau mengajari si badui bahwa masjid-masjid itu tidak boleh diperlakukan seperti perbuatannya tersebut tetapi hanya untuk tempat berdzikir, shalat, dan membaca al-Qur`an.” (Makârimul Akhlâq (hal. 54) oleh al-Utsaimin)
Sungguh mengagumkan cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan masalah. Lihatlah do’a si badui itu yang menunjukkan rasa cintanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun dia keliru lagi dengan membatasi rahmat, padahal rahmat Allah begitu luas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyalahkan si badui dengan mengatakan, “Kamu keliru! Do’amu salah!” atau yang semisalnya, tetapi beliau memakai ungkapan yang cukup bisa dipahami bahwa si badui keliru tanpa kehilangan cintanya. Subahanallah!
Keempat: Dermawan
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Keadaan beliau paling dermawan adalah pada bulan Ramadhan saat ditemui oleh Jibril alaihis salam. Dia menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarrus al-Qur`an. Sungguh Rasulullah adalah yang paling dermawan dalam kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari no. 6, I/8 dan Muslim no. 2308)
Ibnu Syihab az-Zuhri bercerita, “Rasulullah pernah berperang untuk menaklukkan kota Makkah, setelah itu beliau keluar bersama pasukan kaum muslimin untuk perang Hunain. Lalu Allah memenangkan agama-Nya dan kaum muslimin. Kemudian, Rasulullah memberi Shafwan bin Umayyah (ghanimah) unta sebanyak 100 ekor, lalu ditambah 100 ekor lagi, lalu ditambah 100 ekor lagi.”
Siapa Shafwan bin Umayyah itu? Dia adalah orang yang sangat membenci Islam dan Rasulullah atas terbunuhnya ayahnya oleh kaum muslimin dalam sebuah peperangan. Dia memiliki dendam kusumat terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah penaklukan Makkah dan orang-orang berbondong-bondong masuk Islam karena kejayaan yang Allah  berikan kepada Islam dan kaum muslimin, tidak ada jalan bagi Shafwan untuk hidup bebas kecuali masuk Islam. Awalnya dia masuk Islam tidak sepenuh hati, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil memikat hatinya dengan hadiah-hadiah yang banyak. Di antara kecerdasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau sengaja membagi 300 ekor unta menjadi tiga sesi pemberian, sehingga terkesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat perhatian kepada Shafwan. Akhirnya, Allah melapangkan dadanya untuk mencintai Islam dan Rasul-Nya. Mari kita menyimak penuturannya sendiri.
Masih dari Ibnu Syihab az-Zuhri bahwa dia mendengar Sa’id bin al-Musayyib menceritakan bahwa Shafwan pernah berkata:
وَاللَّهِ لَقَدْ أَعْطَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَعْطَانِي، وَإِنَّهُ لَأَبْغَضُ النَّاسِ إِلَيَّ، فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِي حَتَّى إِنَّهُ لَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ
“Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar memberiku apa yang telah diberikannya kepadaku. Sungguh beliau adalah orang yang paling aku benci. Kemudian beliau senantiasa memberi hadiah kepadaku hingga benar-benar dia menjadi manusia yang paling aku cintai.” (Shahih: HR. Muslim (no. 2313, IV/1806) dan al-Baihaqi (no. 13186) dalam as-Sunan al-Kubrâ)
Di samping dermawan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak permintaan. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata:
مَا سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَطُّ فَقَالَ: لاَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah diminta apapun lalu menjawab tidak.” (Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari no. 6034, VIII/13 dan Muslim no. 2311)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki yang meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam domba-domba di antara dua gunung (saking banyaknya), lalu beliau memberikannya. Kemudian dia mendatangi kaumnya seraya berkata, ‘Wahai kaumku, masuk Islamlah! Demi Allah, sungguh Muhammad benar-benar memberi suatu pemberian tanpa khawatir miskin!’ Awalnya dia masuk Islam karena dunia, kemudian Islam lebih dia sukai daripada dunia dan seisinya.” (Shahih: HR. Muslim (no. 2312, IV/1806) dan Ahmad (no. 12790) dalam Musnadnya)
Imam an-Nawawi menjelaskan, “Baru sebentar dia memeluk Islam, lalu Islam sudah menjadi yang paling dia cintai, yakni dengan bangga akan keislamannya. Awalnya dia memiliki niat yang tidak benar di dalam hatinya, kemudian dia konsisten karena berkah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan cahaya Islam.” (Syarhu Shahîh Muslim (XV/72-73) olehnya)
Betapa singkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memikat lelaki musyrik itu. Beliau rela dan tanpa beban memberikan gembalaannya hanya karena satu kalimat. Ini mustahil bisa terjadi kecuali memang Muhammad adalah utusan Allah. Sebab, manusia memiliki tipikal suka harta dan bakhil untuk menyedekahkannya, berdasarkan beberapa ayat al-Qur`an yang memberitakan hal ini. Untuk itu diperlukan keimanan yang kuat kepada Allah dengan kepercayaan total akan sirnanya dunia dan tabungan di akhirat.
Jika kita renungkan sejenak, ada rahasia agung akan sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam rela menyerahkan domba-domba ini dalam hitungan menit kepada lelaki musyrik ini. Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak, kemungkinan lelaki itu akan tetap kufur dan semakin membenci Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga menghalanginya untuk masuk surga yang penuh dengan kenikmatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam rela berkorban dengan yang sedikit untuk menggapai mashlahat yang agung.
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, “Ada seorang wanita yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa burdah tenunan yang tebal tepi-tepiannya (untuk dihadiahkan)... Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya karena memang membutuhkannya. Kemudian beliau keluar dengan memakainya bersama kain sarungnya. Lalu ada seseorang yang merasa senang (melihatnya) seraya berkata, ‘Biarkan saya yang memakainya. Sungguh indah sekali pakaian ini!’ Para shahabat berkata kepadanya (setelah beliau pergi dan menghadiahkannya), ‘Memang indah! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakainya karena memang membutuhkannya, lalu kamu memintanya, padahal kamu tahu beliau tidak pernah menolak permintaan!’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, saya tidak memintanya untuk saya pakai tetapi agar kelak ia menjadi kain kafanku.’ Benar, dia kemudian dikafani dengannya.” (Shahih: HR. Al-Bukhari no. 1277, II/78 dan Ibnu Majah no. 3555)
Kelima: Hangat dan Perhatian
Meskipun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sibuk dengan dakwah dan jihad, tetapi hal itu tidak menghalangi beliau untuk bersikap hangat dan memberi perhatian kepada shahabat-sahabatnya.
Jika Nabi bertemu ‘Abdurrahman bin ‘Auf sang pedagang, beliau menanyakan kabar perniagaannya. Jika beliau bertemu Khalid bin al-Walid yang hobi berperang hingga dijuluki saifullah (sang pedang Allah), beliau berbicara seputar strategi perang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu Jabir bin ‘Abdillah sang pemuda. Kira-kira apa bahan pembicaraan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ya, tentang pernikahan. Tidak ada pembicaraan yang paling disukai kawula muda selain pernikahan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepadanya:
«يَا جَابِرُ، تَزَوَّجْتَ؟»
“Wahai Jabir, apakah kamu telah menikah?” (Muttafaqun ‘Alaih: HR. Muslim no. 715, II/1087 dan al-Bukhari no. 5247)
Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut nimbrung dengan perbincangan sebagian shahabatnya yang tidak begitu penting, selagi tidak mengandung kemaksiatan dan dosa. Beliau melakukan itu semata-mata karena Allah dan berharap dengan itu bisa memikat hati mereka agar semakin loyal terhadap Islam dan berjihad di jalan Allah. Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata:
«جَالَسْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ مَرَّةٍ، فَكَانَ أَصْحَابُهُ يَتَنَاشَدُونَ الشِّعْرَ، وَيَتَذَاكَرُونَ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِ الجَاهِلِيَّةِ وَهُوَ سَاكِتٌ، فَرُبَّمَا يَتَبَسَّمُ مَعَهُمْ»
“Aku bermajlis dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari 100 kali. Beberapa shahabat beliau ada yang menyenandungkan syair dan bercerita segala sesuatu tentang perkara jahiliyah, sementara beliau diam saja, tetapi terkadang beliau tersenyum bersama mereka.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2850, V/140 dan Muslim no. 670)
Dalam hal ini beliau telah bersikap pertengahan. Beliau diam karena memang pembicaraan mereka bukan perkara agama yang penting, dan terkadang beliau tersenyum untuk cerita mereka yang lucu selagi tidak dusta dan ghibah. Dengan itu beliau berhasil memikat hati mereka.
Al-Hafizh Ibnul Jauzi bercerita di kitabnya yang legendaris Shaidul Khathir bahwa dulu ada seorang ahli ibadah yang saat mendapat kabar kematian putranya justru tertawa terbahak-bahak, seolah-olah dia sangat ridha dengan takdir Allah. Padahal, dia telah ditipu setan. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis saat kematian putra kesayangannya, Ibrahim, tetapi beliau tidak mengucapkan kalimat kecuali yang diridhai Allah. Beliau berhasil menggabungkan dua kebaikan, beliau beristirja` sebagai isyarat keridhaannya terhadap takdir Allah dan beliau menangis untuk meringankan kesedihan kerabat beliau, terutama Mariyah ibu Ibrahim.
Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:
«إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى» قَالَتْ: فَقُلْتُ: مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: «أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، فَإِنَّكِ تَقُولِينَ: لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ! وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى، قُلْتِ: لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ!» قَالَتْ: قُلْتُ: أَجَلْ وَاللّٰهِ يَا رَسُولَ اللّٰهِ، مَا أَهْجُرُ إِلَّا اسْمَكَ
“Sungguh aku benar-benar tahu kapan kamu sedang marah kepadaku dan kapan kamu sedang ridha kepadaku.” Aku (‘Aisyah) berkata, “Dari mana Anda tahu itu?” Beliau menjawab, “Adapun jika kamu sedang ridha kepadaku, kamu berkata, ‘Demi Rabb Muhammad!’ Dan jika kamu sedang marah kepadaku, kamu berkata, ‘Demi Rabb Ibrahim!’” Aku berkata, “Benar, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak menjauhi kecuali namamu.” (Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari no. 5228, VII/36 dan Muslim no. 2439)
Di lain waktu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan ‘Aisyah:
«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنَبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ، مَا أَسَرَّتْ وَمَا أَعْلَنَتْ»
“Ya Allah, ampunilah ‘Aisyah dosanya yang akan datang maupun yang telah berlalu, yang tersembunyi maupun yang nampak.” (Hasan: HR. Ibnu Hibban (no. 7111, XVI/47) dalam Shahîhnya dan ath-Thabarani (no. 1458) dalam ad-Duâ`. Dinilai hasan oleh al-Albani dan al-Arna`uth)
‘Aisyah sangat terkesan dengan do’a beliau ini dan tertawa hingga kepalanya terjatuh sangking gembiranya. Perlakuan hangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istrinya ini menjadikan ‘Aisyah sebagai wanita yang loyal kepada Islam dengan sabar menyebarkan sunnah-sunnah beliau kepada umat sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Untuk lebih jelasnya, mari kita dengarkan penuturan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun. Aku sudah mencium banyak aroma, tetapi aku belum pernah mencium aroma yang lebih wangi dari aroma beliau. Apabila ada shahabat yang menemui beliau, maka beliau berdiri bersamanya dan tidak menyudahi hingga dia sendiri yang menyudahinya. Apabila ada shahabat yang menjumpai beliau lalu menjabat tangan beliau maka beliau menyambut tangannya dan tidak melepaskannya hingga dia sendiri yang melepaskannya. Apabila ada shahabat yang menjumpai beliau lalu mendekat ke telinga beliau, beliau memasang pendengarannya dan tidak menyudahi hingga dia sendiri yang menyudahinya.” (Hasan: HR. Ibnu Sa’ad I/378 dalam ath-Thabaqât al-Kubrâ. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shahîhul Jâmi’ no. 4780)
C.   Penutup
Betapa agung akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak belebihan jika Allah bersumpah menggunakan umur beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
«لَعَمْرُكَ»
“Demi umurmu.” (QS. Al-Hijr [13]: 72)
Al-Hafizh Ibnul ‘Arabi  berkata, “Para ahli tafsir sepakat bahwa sumpah Allah di sini adalah dengan kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pemuliaan kepada beliau.” ... Sementara Abul Jauza` berkata, “Allah tidak pernah bersumpah dengan kehidupan seorang pun kecuali Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau adalah manusia yang paling mulia di sisi-Nya.” (Tafsîr al-Qurthubî X/39)
Di zaman sekarang, kebanyakan orang-orang Barat melirik kecerdasaan emosional, tidak semata kecerdasan intelejensial. Mereka mengembangkan begitu banyak konsep tentangnya dan mengkajinya untuk tujuan bisnis dan meraup dunia. Sayangnya, banyak kaum muslimin yang ikutan-ikutan gandrung mempelajari konsep mereka. Padahal, Allah telah menggantinya dengan yang jauh lebih utama, yakni contoh konkrit kecerdasan emosional yang ada pada diri sang uswah hasanah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memikat hati manusia. Bahkan, berakhlak mulia Allah jadikan sebagai ibadah, bahkan lebih utama dari segenap ibadah lainnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ»
“Sesungguhnya orang mukmin dengan akhlaknya yang mulia bisa mencapai derajatnya orang yang rajin shalat malam dan puasa siang hari (sunnah).” (Shahih: HR. Ahmad (no. 24355, 50/414) dalam Musnadnya dan al-Hakim (no. 199) dalam al-Mustadrâk. Dinilai shahih oleh al-Albani, al-Arna`uth, dan al-Hakim sesuai syarat al-Bukhari-Muslim dan disetujui adz-Dzahabi)[]
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ وَاللّٰهُ الْمُوَفِّقُ

Surabaya, 5 Ramadhan 1435 H
Ditulis oleh Abu Zur’ah ath-Thaybi

D.   Referensi
1.     Mushhaf al-Qur`ân rash Utsmani cetakan Beirut.
2.     Tafsîrul Qur`ânil Adzîm (Tafsîr Ibnî Katsîr) karya Abu al-Fida Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasy ad-Dimasyqi (w. 774 H), Tahqiq: Sami Muhammad Salamah, Penerbit: Dar Tayyibah, cet. ke-2 th. 1420 H/1999 M.
3.     Zâdul Masîr fî Ilmit Tafsîr (Tafsîr Ibnul Jauzî) karya Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi (w. 597 H), Tahqiq: Abdurrazzaq al-Mahdi, Penerbit: Darul Kutub al-Arabi Beirut, cet. ke-1 th. 1422 H.
4.     Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur`ân (Tafsîr al-Qurthubî) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi (w. 671 H), Muhaqqiq: Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Athfisy, Penerbit: Darul Kutub al-Mishriyyah, cet. ke-2 th. 1384 H/1964 M.
5.     Al-Jâmi’ as-Musnad ash-Shahîh al-Mukhtashar min Umûri Rasûlillahi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wa Sunanih wa Ayyamih (Shahîh al-Bukhârî) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w. 256 H), Tahqiq: Muhammad Zuhair bin Nashir an-Nashir, Penerbit: Dar Thauqun Najah, cet. ke-1 th. 1422 H.
6.     Al-Musnad ash-Shahîh al-Mukhtashar Binaqlil Adli ‘anil Adli ilâ Rasûlillahi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (Shahîh Muslim) karya Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (w. 261 H), Tahqiq: Dr. Muhammad Fuad Abdul Baqi, Penerbit: Ihyaut Turats al-Arabi Beirut, tanpa tahun.
7.     Sunan at-Tirmidzî karya Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi (w. 249 H), Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir dkk, Penerbit: Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir, cet. ke-2 th. 1395 H/1975 H.
8.     Sunan Abû Dâwûd karya Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani as-Azdi (w. 275 H), Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Penerbit: Maktabah al-Ishriyyah Beirut, tanpa tahun.
9.     Sunan Ibnu Mâjah karya Abu Abdillah Muhammad bin Majah (nama aslinya Yazid) al-Qazwini (w. 273 H), Tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Penerbit: Dar Ihya`ul Kutub al-Arabiyyah.
10.   Musnad Ahmad karya Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani (w. 241 ), Tahqiq: Syuaib al-Arnauth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1421 H/2001 M.
11.   Shahîh Ibnu Hibbân karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Muadz bin Ma’bad at-Tamimi ad-Darimi (w. 354 H), Tahqiq: Syu’aib al-Arna`ut, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-2 th. 1414 H/1993 H.
12.   Al-Mustadrâk alâsh Shahîhain karya Abu Abdillah al-Hakim bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Hamadiyyah bin Tsu’aim bin al-Hakam adh-Dhabi ath-Thahmani an-Naisaburi (nama ma’ruf Ibnul Bayyi’) (w. 405 H), Tahqiq: Musthafa Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-1 th. 1411 H/1990 H.
13.   Al-Mu’jam al-Kabîr karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al-Lahmi asy-Syami ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: Hamdi bin Abdul Majid as-Salafi, Penerbit: Maktabah Ibnu Taimiyyah Mesir, cet. ke-2 tanpa tahun.
14.   Al-Mu’jam al-Kabîr (juz 13, 14, dan 21) karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir al-Lahmi asy-Syami ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: penelitian di bawah pengawasan Dr. Sa’ad bin Abdullah al-Hamid dan Dr. Khalid bin Abdurrahman al-Jarisi, cet. ke-1 th. 1427 H/2006 H.
15.   As-Sunan al-Kubrâ karya Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi (w. 458 H), Tahqiq: Muhamamd Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-3 th. 1424 H/2003 H.
16.   As-Sunan ash-Shughrâ karya Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi (w. 458 H), Tahqiq: Abdul Mu’thi Amin, Penerbit: Jami’atud Dirâsât al-Islâmiyyah Pakistan, cet. ke-1 th. 1410 H/1989 H.
17.   Syu'abul Imân karya Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali bin Musa al-Baihaqi al-Khurasani (w. 458 H), Tahqiq: Dr. Abdul Ali Abdul Hamid Hamid, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd Riyadh, cet. ke-1 th. 1423 H/2003 M.
18.   Fathul Bârî Syarhu Shahîh al-Bukhârî karya Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i (w. 852 H), Tahqiq: Abdul Aziz bin Baz, Tarqim: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Takhrij: Muhibuddin al-Khathib, Penerbit: Darul Ma’rifat Beirut, cet. th. 1379 H.
19.   Al-Minhâj Syarhu Shahîh Muslim bin al-Hajjâj karya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi asy-Syafi’i (w. 676 H), Penerbit: Dar Ihyâ`ut Turâts al-Arabi Beirut, cet. ke-2 th. 1392 H.
20.   Aqîdatut Tauhîd karya Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, tanpa penerbit.
21. 
Kunjungi pustakasyabab.blogspot.com untuk ebook gratis lainnya
Makârimul Akhlâq karya Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad al-‘Utsaimin (w. 1421 H), Penerbit: Darul Wathan, cet. ke-1 tanpa tahun.


[1]

Related

SEMUA 4585300532624130546

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda yang sopan dan rapi.

emo-but-icon

Follow Us

Pengikut

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item