[PDF] 19 Kisah Mengharukan Para Penghafal Al-Qur'an - Edisi 3 - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Ini edisi ke-3 dari buku 19
Kisah Mengharukan Para Penghafal Al-Qur’an. Pada edisi ini, dilakukan
koreksi bahasa, ejaan, dan desain yang lebih menarik, disamping mengurangi
ukuran yang jauh lebih kecil untuk diunduh.
[1] Jangan Matikan Aku Sebelum Menghafal Al-Qur’an
Saat itu tepatnya tanggal
5 Oktober 2008, seorang gadis kecil Indonesia mengalami musibah yang luar biasa
di negeri antah berantah nan jauh - Syria. Gadis kecil ini terjatuh dari
ketinggian sekiar 15 meter dan terbanting-banting di anak tangga ampiteater
Roma di Busrah. Karena kecelakaan ini gadis kecil tersebut mengalami pendarahan
otak yang sangat hebat, gadis kecil ini mesti menjalani berbagai pembedahan
otak dan merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya sampai berbulan-bulan
kemudian. Pada saat pendarahan masih menguasai otaknya sehingga kesadarannya
timbul tenggelam, gadis kecil ini lirih berdoa, “Ya Alloh, jangan matikan
aku sebelum aku selesai menghafal Al-Qu’ran.”
Dengan tekad yang luar
biasa inilah gadis kecil ini berjuang melawan sakit di kepala yang tidak
kunjung henti, terkadang dia harus menjeduk-jedukkan kepalanya di tempat tidur untuk
mengimbangi rasa sakit yang sangat di dalam kepalanya.
Besarnya komitmen guna
menghafal Al-Qur’an yang dialami oleh gadis kecil ini juga jauh diatas beban
manusia pada umumnya, betapa frustasinya dia ketika hafalan ayat-ayat Al-Qur’an
seolah timbul tenggelam di kepalanya silih berganti dengan rasa sakit yang bisa
tiba-tiba muncul kapan saja. Tetapi dia terus belajar dan terus menghafal
nyaris tanpa henti, dia hanya berhenti menghafal ketika sakit kepalanya sudah
tidak tahan lagi.
Di bulan Mei 2010 oleh
Ustadzah-nya dia dibimbing untuk menyelesaikan ujian tahfiz setengah Al-Qur’an
(15 Juz) dengan seorang Syeikh Qura di Damaskus.
Gadis kecil ini pun lulus
serta memperoleh syahadah (ijazah) sanad bacaan Al-Qur’an yang sampai kepada
Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu, dan tentu saja sampai kepada Rosululloh
ﷺ.
Tidak hanya sampai di
sini, gadis kecil tersebut mencanangkan niatnya untuk menyelesaikan hafalan
Al-Qur’an penuh 30 juz pada Ramdhan 1432 H. Maka target ini hanya meleset
kurang lebih 3 pekan ketika pada tanggal 19 Syawwal 1432 H /19 September 2011
kemarin gadis kecil ini menyelesaikan hafalannya yang 30 juz, diiringi sujud
syukur orang tuanya. Allohu Akbar.
Atas permintaan kedua
orang tuanya yang tawadhu’, saya (periwayat kisah ini) tidak dapat ungkapkan
nama gadis kecil ini. Tetapi bagi para gadis kecil – gadis kecil lainnya yang
belajar Al-Qur’an di Madrasah Al-Qur’an Daarul Muttaqiin Lil-Inaats (Pesantren
Putri) Jonggol, gadis kecil penghafal Al-Qur’an ini kini menjadi salah satu
guru atau Mudarrisah (Ustadzhah) mereka.
Bahkan bukan hanya untuk
anak-anak putri yang belajar Al-Qur’an di madrasah tersebut dia menjadi guru,
gadis kecil penghafal Al-Qur’an ini juga layak untuk menjadi guru bagi kita
semua para orang tua.
Guru dalam hal menyikapi
musibah, guru dalam hal menghadirkan Alloh dalam mengatasi persoalan kita, guru
dalam mengisi hidup dengan Al-Quran, guru dalam merealisasikan niat, guru dalam
menjaga komitment, guru dalam syukur dan sabar. Jika gadis kecil dengan beban
sakit kepala yang luar biasa ini bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an-nya 30
Juz dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun, berapa banyak yang sudah kita hafal?
Berapa banyak yang kita niatkan untuk menghafalnya di sisa usia kita? Seberapa
kuat niat kita untuk mengamalkannya? Kita tahu persis jawabannya untuk diri
kita masing-masing.
Maka memang tidak
berlebihan kalau saya menyebut gadis kecil itu kini sebagai Sang Guru! Semoga Alloh
dan para Malaikat-Nya terus mendampinginya hingga dewasa dan menjadi guru dan
sumber inspirasi untuk memperbaiki anak-anak (dan para orang tua) dunia.[]
[2] Polisi Bersama Pecandu Musik dan Hafizh Quran
Inilah kisah dari akhir
hayat penggemar musik dan pencinta Al-Qur’an Saif Al-Battar. Dia mengisahkan
dirinya:
Tatkala masih di bangku
sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku
selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam.
Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran,
mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat
tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan
hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka… setiap
hari begitu… benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di
situlah kebahagiaan orang Mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan. Mereka
bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Alloh. Setelah menjalani
pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin
jauh dari Alloh. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari
waktu ke waktu.
Setelah tamat dari
pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan
teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang
terasing. Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi
suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup
sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Ditugaskan mengatur lalu
lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu
orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh
menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering
melamun sendirian, banyak waktu luang yang terbuang sia-sia.
Aku mulai jenuh, tak ada
yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang
kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau
bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari
terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan
seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol, tiba-tiba
kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan
pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur
dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong
korban.
Kejadian yang sungguh
tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis.
Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju
mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami
kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun
mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah “Laailaaha...
Illallaah… Laailaaha... Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh
mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku
merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat.
Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak
berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan
orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus
menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi, keduanya tetap terus
saja Melantunkan lagu. Tak ada gunanya.
Suara lagunya semakin
melemah, lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul
orang kedua. Tak ada gerak, keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa
mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak
berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening. Kesunyian
pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan
su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri
hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa
yang dilakukan olehnya selama di dunia.” Ia bercerita panjang lebar padaku
tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga
berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa
lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit
terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin
sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba
aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga
bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali. Tetapi perlahan-lahan aku mulai
melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada
kebiasaanku semula. Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua
orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang
benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam
menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang
pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
Kejadian Yang Menakjubkan
Selang enam bulan dari peristiwa
mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di
sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang
kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep,
tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang.
Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan,
-bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat
kejadian. Kami bawa ia dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah
sakit agar langsung mendapat penanganan.
Dia masih muda, dari
tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke
mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia
menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa
membedakan suara yang keluar dari mulutnya. Ia melantunkan ayat-ayat suci
Al-Qur’an dengan suara amat lemah.
“Maa syaa Alloh!” dalam kondisi kritis seperti, ia masih sempat
melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya;
tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti
itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.
Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al-Qur’an seindah itu. Dalam
batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat
sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu, apalagi aku sudah punya
pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti
kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu.
Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu
berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya
lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang
tangannya, detak jantungnya dan nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah
meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya
lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui
kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya.
Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir.
Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit…
Kepada orang-orang di
sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang
kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami,
sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi
mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir
memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah
akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah,
semua ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas
rumah sakit menghubungi rumah duka. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke
rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan,
sebetulnya korban hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia
lakukan setiap hari Senin. Di sana, korban juga menyantuni para janda, anak
yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan
beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak
lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk
dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa
permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan
padanya tentang kejenuhan dalam perjalanan, ia menjawab dengan halus, “Justru
saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang
bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap
ridha Alloh pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata korban.
Aku ikut menyalati
jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan. Dalam liang lahat yang sempit, ia
pun dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Alloh dan
atas agama Rosululloh,”
pelan-pelan, kami menimbunnya dengan tanah. “Mintalah kepada Alloh keteguhan
hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya,” kata seorang ustadz.
Lelaki ini menghadapi
hari pertamanya dari hari-hari Akhirat. Dan aku, sungguh seakan-akan sedang
menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan
burukku. Mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan
meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik
(khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum Muslimin sebagai
taman-taman Surga. Amin.[]
Sumber: Azzamul
Qaadim, hal 36-42 .
[3] Gadis Cilik Pencinta Al-Qur’an: Shafa
As-Sudaisiyah
Ini adalah sebuah kisah
nyata tentang seorang anak kecil yang sangat mencintai Al-Qur’an. Namanya Shafa’,
gadis cilik Al-Jazair berusia 8 tahun sangat mencintai Al-Qur’an dan Syaikh
Sudais, Imam Masjidil Haram, sehingga ia juara 1 dalam musabaqoh Al-Qur’an
tingkat Al-Jazair. Ia mampu meniru persis bacaan Syaikh Sudais, termasuk doa
khatamul Al-Qur’an. Saking cintanya ia pada Syeikh Sudais, sampai ia tambahkan
akhir namanya dengan As-Sudaisiyyah sehingga menjadi, Shafa’ As-Sudaisiyyah.
Setiap saat ia meminta
ibunya untuk mempertemukannya dengen Syaikh
Sudais. Karena dari keluarga miskin, rumah saja tidak punya, ibunya
selalu menghiburnya sambil mengatakan, insya Alloh. Sampai pada suatu saat,
Shafa’ marah-marah dan menuduh ibunya berbohong terus dan tidak mau lagi
membaca dan menghafal Al-Qur’an. Ibunyapun panik. Saat melihat DR. Muhammad
As-Suwaini, pakar pendidikan dalam salah satu program TV lokal Al-Jazair,
tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk menelepon sang pakar dan menceritakan
kasusnya. Ia mohon dihubungkan dengan Syaikh Sudais. Setelah Syaikh Sudais
mendengar kisah tersebut, hati beliau tergerak mengundang Shafa’ dan kedua
orang tuannya ke Madinah dan Makkah sebagai tamu kehormatannya.
Saat bertemu Syaikh
Sudais, Shafa diminta membacakan doa khatmul Al-Qur’an. Shafa’pun
melantunkannya persis seperti Syaikh Sudais. Beliau terharu sampai menangis.
Akhirnya, Syaikh Sudais memutuskan untuk mengambil Shafa’ menjadi anak
angkatnya dan menyekolahkanya sampai ketingkat yang ia inginkan. Inilah secuil
kemuliaan yang dilahirkan Al-Qur’an. Siapa yang ingin meraih kemuliaan Al-Qur’an,
cintailah ia.[]
Sumber:
www.arrahmah.com.
[4] Tak Paham Al-Quran yang Dibaca, Tapi
Keranjangnya Menjadi Bersih
Seorang Muslim tua
Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur
Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yang masih muda.
Setiap pagi kakek
tersebut bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya. Cucu
lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya
dalam cara apapun semampunya.
Suatu hari sang cucunya
bertanya, “Kakek! Aku mencoba untuk membaca Al-Qur’an seperti yang kamu
lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan
secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Al-Qur’an?” Dengan
tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil
melobangi keranjang nya ia menjawab, “Bawa keranjang batubara ini ke sungai
dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.” Maka sang cucu melakukan seperti
yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan
rumahnya.
Kakek tertawa dan
berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi.” Maka ia
menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi.
Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi-lagi keranjangnya kosong
sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada
kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah
dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata,
“Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah,
usaha kamu kurang cukup,” maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk
mengamati usaha cucu laki-lakinya itu.
Cucunya yakin sekali
bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya, biar
sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia
sampai ke rumah.
Sekali lagi sang cucu
mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek,
tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil
terengah-engah ia berkata, “Lihat
Kek, percuma!”
“Jadi kamu pikir
percuma?” Jawab kakek.
Kakek berkata, “Lihatlah
keranjangnya.”
Sang cucu menurut,
melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa
keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang
batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam.
“Cucuku,” ujar si kakek kemudian, “hal itulah yang
terjadi ketika kamu membaca Al-Qur’an. Kamu tidak bisa memahami atau ingat
segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar
dalam. Itu adalah karunia dari Alloh di
dalam hidup kita.[]
[5] Adakah yang Hafal Injil Meski Satu Orang?
Tersebut dalam kisah
orang-orang terdahulu bahwa terjadi dialog antara seorang perempuan dengan
seorang pendeta.
AKHWAT: “Pak Pendeta,
di dunia ini ada banyak orang yang hapal Al-Qur’an diluar kepala. Apakah ada
orang yang hapal Alkitab diluar kepala?”
PENDETA (bertitle Doctor
Teology): “Di dunia ini tidak mungkin ada yang hapal Alkitab di luar kepala.
Sejenius apa pun orang itu, tidak mungkin dia bisa hapal Alkitab di luar
kepala, sebab Alkitab itu adalah buku yang sangat tebal, jadi sulit untuk
dihapal. Berbeda dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah buku yang sangat tipis,
makanya mudah dihapal.”
Dengan jawaban Pendeta
hanya seperti itu, karena penasaran, kami maju ke depan, merebut mikropone yang
ada ditangan akhwat tersebut, dan melanjutkan pertanyaan akhwat tadi. (Maaf di
sini kami pakai nama samaran HILS)
HILS: “Maaf Pak
Pendeta, tadi bapak katakan bahwa Al-Qur’an adalah buku yang sangat tipis,
makanya gampang dihapal diluar kepala. Tapi Pak Pendeta, bahwa setipis-tipisnya
Al-Qur’an, ada sekitar 500 s/d 600 halaman, jadi cukup banyak! Tapi
kenyataannya di dunia ini ada jutaan orang yang hapal Al-Qur’an diluar kepala.
Bahkan anak kecil sekalipun banyak yang hapal diluar kepala, walaupun artinya
belum dipahami. Sekarang saya bertanya kepada Pak Pendeta, Alkitab itu terdiri
dari 66 kitab bukan? Jika pak Pendeta hapal satu surat saja diluar kepala (1/66
saja), semua yang hadir disini jadi saksi, saya akan kembali masuk agama
Kristen lagi! Ayo silahkan Pak Pendeta!”
Mendengar tantangan saya
seperti itu, situasi jadi tegang, mungkin audiens yang Muslim khawatir,
jangan-jangan ada salah satu Pendeta yang benar-benar hapal salah satu surat
saja di dalam Alkitab tersebut. Seandainya ada yang hapal, berarti saya harus
tepati janjiku yaitu harus masuk Kristen kembali. Karena para Pendetanya diam,
saya lemparkan kepada jemaat atau audiens Kristen yang dibelakang.
HILS: “Ayo kalian yang di belakang, jika ada
diantara kalian yang hapal satu surat saja dari Alkitab ini diluar kepala, saat
ini semua jadi saksi, saya akan kembali masuk ke agama Kristen lagi, silahkan!!”
Masih dalam situasi
tegang, dan memang saya tahu persis tidak akan mungkin ada yang hapal walaupun
satu surat saja di luar kepala, tantangan tersebut saya rubah dan turunkan
lagi. Saat itu ada beberapa Pendeta yang hadir sebagai pembicara maupun sebagai
moderator. Mereka itu usianya bervariasi, ada yang sekitar 40, 50 dan 60an
tahun. Pada saat yang sangat menegangkan, saya turunkan tantangan saya ke titik
yang terendah, dimana semua audiens yang hadir, baik pihak Kristen maupun Islam
semakin tegang dan mungkin sport jantung.
HILS: “Maaf Pak Pendeta, umur andakan sekitar
40, 50 tahun dan 60an tahun bukan? Jika ada diantara Pak Pendeta yang hapal
SATU LEMBAR saja BOLAK BALIK ayat Alkitab ini, asalkan PAS TITIK KOMANYA, saat
ini semua jadi saksinya, aku kembali masuk agama Kristen lagi!! Silahkan Pak!”
Ketegangan yang pertama
belum pulih, dengan mendengar tantangan saya seperti itu, situasi semakin
tegang, terutama dipihak teman-teman yang beragama Islam. Mungkin mereka
menganggap saya ini gila, over acting, terlalu berani, masak menantang para
Pendeta yang hampir rata-¬rata bertitel Doctor hanya hapalan satu lembar ayat
Alkitab saja. Suasana saat itu sangat hening, tidak ada yang angkat suara,
mungkin cemas, jangan-jangan ada yang benar-benar hapal ayat Alkitab satu
lembar saja. Karena para pendeta diam seribu bahasa, akhirnya saya lemparkan
lagi kepada jemaat atau audiens yang beragama Kristen.
HILS: “Ayo siapa diantara kalian yang hapal satu
lembar saja ayat Alkitab ini, bolak balik asal pas titik komanya, saat ini saya
kembali masuk Kristen. Ayo silahkan maju kedepan!”
Ternyata tidak ada satu
pun yang maju ke depan dari sekian banyak Pendeta maupun audiens yang beragama
Kristen. Akhirnya salah seorang Pendeta angkat bicara sebagai berikut:
PENDETA: “Pak Insan,
terus terang saja, kami dari umat Kristiani memang tidak terbiasa menghapal.
Yang penting bagi kami mengamalkannya.”
HILS: “Alkitab ini kan
bahasa Indonesia, dibaca langsung dimengerti! Masak puluhan tahun beragama
Kristen dan sudah jadi Pendeta, selembar pun tidak terhapal? Kenapa? Jawabnya
karena Alkitab ini tidak murni wahyu Alloh, maka¬nya sulit dihapal karena tidak
mengandung mukjizat! Beda dengan Al-Qur’an. Di dunia ini ada jutaan orang hapal
diluar kepala, bahkan anak kecilpun banyak yang hapal diluar kepala seluruh isi
Al-Qur’an yang ratusan halaman. Padahal bahasa bukan bahasa kita Indonesia.
Tapi kenapa mudah dihapal? Karena Al-Qur’an ini benar-benar wahyu Alloh, jadi
mengandung mukjizat Alloh, sehingga dimudahkan untuk dihapal. Soal
mengamalkannya, kami umat Islam juga berusaha mengamalkan ajaran Al-Qur’an.
Saya yakin jika bapak-bapak benar¬-benar mengamalkan isi kandungan Alkitab,
maka jalan satu-satunya harus masuk Islam. Bukti lain bahwa Al-Qur’an adalah
wahyu Alloh, seandainya dari Arab Saudi diadakan pekan Tilawatil Al-Qur’an,
kemudian seluruh dunia mengakses siaran tersebut, kami umat islam bisa
mengikutinya, bahkan bisa menilai apakah bacaannya benar atau salah. Dan ketika
mengikuti siaran acara tersebut, tidak perlu harus mencari kitab Al-Qur’an
cetakan tahun 2000 atau 2005. Sembarang Al-Qur’an tahun berapa saja diambil,
pasti sama. Beda dengan Alkitab. Seandainya ada acara pekan tilawatil Injil
disiarkan langsung dari Amerika, kemudian seluruh dunia mengaksesnya, kitab
yang mana yang jadi rujukan untuk diikuti dan dinilai benar tidaknya? Sama-sama
bahasa Inggris saja beda versi, jadi sangat mustahil jika ada umat Kristiani
bisa melakukan pekan tilawatil Injil, karena satu sama lainnya berbeda.”
Alhamdulillah dari
sanggahan kami seperti itu mendapat sambutan hangat dan aplaus dari audiens
yang beragama Islam. Oleh sebab itu kami serius menyediakan hadiah uang tunai
sebesar Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) bagi siapa saja umat Kristiani
yang bisa hapal ayat-ayat Alkitab walau 100 lembar saja bolak balik atas pas
titik komanya. Bagi yang ingin mencobanya, kami persilahkan hubungi kami bila
ada yang bisa menghapalnya di luar kepala, tanpa harus membuat satupun kesal.[]
Sumber: Mustahil
Kristen Bisa Menjawab karya H. Insan LS Mokoginta
[6] Keajaiban Menghafal Al-Qur`an Padahal Divonis
Tumor Otak
Pemilik kisah ini bernama
Aminah Al-Mi’thawi. Kisah ini akan dicerikan olehnya sendiri. Mari kita
mendengarkan dia berkisah:
Aku adalah wanita yang
dulu kuduga bahwa diriku sudah meninggal sebelum lahir, karena aku menghadapi
beberapa musibah yang beragam dalam hidupku. Sesuatu yang tidak terbayangkan
dalam benakku.
Namun, alhamdulillah,
keyakinanku pada Alloh semakin kuat. Saat aku bingung memaknai kehidupan
sekelilingku, aku berserah kepada-Nya. Aku mengidap penyakit tumor otak. Tidak
terlalu buruk, tapi penyakit itu mengerikan. Penanganan terus dilakukan, namun
tidak ada tanda-tanda membaik selama empat tahun.
Terakhir kali aku
mengunjungi dokter, mataku merasakan dunia tampak gelap disebabkan akhir
pemvonisan. Kabar yang selamanya tidak menyenangkan. Lalu, aku putuskan untuk
menghafal Al-Qur`an. Berniat menghafalnya sebelum aku mati, karena aku merasa
ajalku telah dekat.
Aku memulai hafalan
sendiri. Kadang semangatku melemah, karena aku yakin memaksakan otak dengan
hafalan bisa menambah ganasnya penyakit. Namun aku tetap memuji Alloh siang
malam karenanya. Aku terus menyelesaikan setiap juz. Ada kebahagiaan terbesar
saat menyelesaikannya. Perasaan senang melupakan penyakitku, sekalipun aku juga
sibuk dengan membantu ayah-ibu.
Keinginan untuk tidur
selalu menyerangku namun aku khawatir waktuku akan habis percuma. Maka aku
berserah diri pada Alloh. Segenap diriku yakin bahwa aku harus menjauh dari
setan. Dan aku mengalahkannya dengan memperbanyak wudhu, banyak bergerak,
pantang mundur. Aku tetap menghafal dan tetap meminta bantuan Alloh dengan
shalat dan istighfar.
Tangisku tiba-tiba
mengucur deras, merasa dalam waktu dekat aku akan mati. Karena itu, aku harus
menghafal Al-Qur`an sampai bertemu Alloh dengan Kitab-Nya, mudah-mudahan Dia
mengampuniku. Aku sempurnakan perjalanan hafalan. Aku berpindah dari halaman ke
halaman, dan dari baris ke baris. Pada saat bersamaan aku melawan sakit,
melawan bisikan setan, dan nafsuku sendiri.
Tapi, dengan apa aku
menghadap Alloh Robbul Alamin? Aku mengharap penolong, aku ingin penghibur
dalam kuburku. Kubur itu sunyi. Jika semangatku melemah, dengan cara apa aku
berbakti kepada kedua orangtuaku, aku berharap memuliakan mereka di hari Kiamat
dengan mahkota. Bukankah mereka begitu memperhatikan sakit yang aku derita?
Begitulah, aku juga selalu teringat perkataan malaikat nanti, “Bacalah dan
naiklah,” maka tinggi dan luhurlah niatku.
Aku sempurnakan
perjalanan hafalan. Hari-hari berlalu, sedang aku bersungguh-sungguh, sampai
akhirnya datang malam khataman. Aku putuskan untuk tidak tidur sebelum
menghafal. Aku berwudhu, lalu shalat dua rakaat, dan mulai menghafal. Dan pada
malam itu dengan karunia-Nya, Alloh membuka pintu hatiku lebar-lebar. Aku
menghafal dengan puncak konsentrasi dan kebahagiaan, sampai aku mencapai
kemuliaan hafalan, dan akhirnya, tampak olehku surat An-Nas, Ya Alloh...
Akhirnya aku sampai. Di sini aku mengucurkan air mata yang belum pernah terasa
manis sebelumnya. Lalu aku menangis dari relung hati terdalam. Aku telah hafal
sebagaimana orang yang diajukan untuk mendengar di depan Malaikat dan pemimpin
orang-orang syahid. Kematian terbayang olehku terasa dekat. Tapi perasaanku
tidak seperti dulu lagi, sekarang aku merasa senang, karena akan bertemu
dengan-Nya sedang aku telah menghafal Kitab-Nya.
Selang beberapa hari, aku
pergi mengobservasi analisa tumor. Aku sudah dalam keadaan bersiap-siap
menerima musibah, penyakit aku semakin parah. Namun, kemudian aku ditimpa shock
yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dokter keluar mengabari hasil
analisis. Dokter tampak tercengang. Mereka berkumpul untuk menguatkan apa yang
dilihat pada sinar-X. Aku duduk sambil berdoa, “Ya Alloh, selamatkanlah
musibahku. Dan gantilah yang lebih baik.”
Menit berlalu bagaikan
tahun. Aku merasa down saat dokter mulai mengabari hasilnya. Dan, aku
terperanjat shock saat dokter bilang, “Subhanallah! Engkau sudah sembuh
sempurna dengan proporsi tujuh puluh persen!”
“Allohu Akbar… Allohu
Akbar... Ya Alloh, alangkah agungnya berita ini. Aku hanya mengharap kemajuan
satu persen saja, namun Engkau ganti lebih.”
Seketika itu aku menangis
dengan tangisan yang belum pernah kulakukan sebelumnya dalam hidupku. Mahabenar
firman-Nya, “Dalam Al-Qur`an ada penyembuh bagi manusia.” (QS. An-Nahl
[16]: 69).[]
***
Subhanallah…! Alloh
mahakuasa atas segalanya. Manusia tidak bisa memutuskan akan hidup seseorang
jika Alloh berkehendak ia belum saatnya bertemu dengan-Nya. Ini kisah nyata
yang dialami oleh Aminah Al-Mi’thawi. Semoga Alloh menabah kesabarannya dan
meneguhkan lisannya di dunia dan di akhirat.[]
Sumber: Kisahku dalam
Menghafal Al-Qur`an oleh Muna Sa’id Ulaiwah
[7] Khatam 30 Juz Lebih daripada Disertasi S3
Kini usiaku menjelang
kepala empat. Jika merujuk kepada umur umat junjungan kita Nabi Muhammad
Shallallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kemungkinan “tinggal” 20 tahunan
lagi aku hidup di dunia ini. Namun dengan usia sematang itu, untuk menghitung
berapa kali aku khatam Al-Qur`an seumur hidupku ini, rasanya lima jariku tidak
habis. Duh…malunya. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku dan memberiku
kesempatan memperbaiki diri.
Semuanya berawal dengan “idealisme”
atau tepatnya kesombonganku bahwa aku ingin katham Al-Qur`an sekaligus dengan
terjemahannya. Keinginan yang menurutku wajar karena aku tidak bisa berbahasa
Arab. Berbagai saran langsung maupun via e-mail yang aku terima tentang
bagaimana caranya khatam Al-Qur`an dalam satu tahun kuabaikan, karena umumnya
hanya mengutamakan selesai membaca Al-Qur`an tapi memahami artinya menjadi
tujuan kedua.
Aku kemudian menciptakan
strategi sendiri. Aku mulai dengan membiasakan membawa Al-Qur`an mini ke
manapun aku pergi. Aku letakkan Al-Qur`an tersebut di handbagku, dengan asumsi
jika ia dekat denganku maka kapanpun aku mau --atau tepatnya in the mood-- aku
bisa membacanya segera. Namun nyatanya strategi ini tidak dapat memuaskan
keinginanku untuk membaca dan memahami artinya sekaligus, karena Al-Qur`an
berukuran mini ini tentunya tidak memungkinkan memuat juga terjemahannya. Belum
lagi karena ukurannya mini, maka otomatis aksara Arab yang tertulis juga
berukuran mini. Akibatnya mata cepat lelah, ditambah alasan tidak masuk akal
lainnya seperti sibuk, malas, dan seterusnya, maka membaca satu ‘ain saja sudah
dapat aku anggap “achievement”.
Strategi lain adalah
membuat acara rutin tadarus dengan suamiku saat kami tiba di rumah, menjelang
tidur malam. Saat itu, sekaligus dalam rangka melatih kemampuan berbahasa Inggris,
kami merujuk pada Al-Qur`an dengan terjemahan bahasa asing tersebut. Pikir aku,
“Sambil menyelam minum air.” Kami berdua bergantian membaca Al-Qur`an
masing-masing sepanjang satu ‘ain lalu bergantian membaca terjemahan bahasa
Inggrisnya. Strategi ini ternyata lebih parah, karena tidak membuat aku
bertahan dengan keinginan khatam Al-Qur`an. Akhirnya kami berjalan dengan
strategi masing-masing. Suamiku lanjut dengan caranya sendiri membaca Al-Qur`an
selepas shalat tahajud yang dilakukannya menjelang adzan Subuh. Ini juga
kebiasaan yang seringkali membuatku iri, karena di saat ia shalat dan mengaji,
aku biasanya masih terlelap di peraduan. “Gak enak mau bangunin, kayaknya
tidurnya pules banget, capek ya,” begitu biasanya jawaban suamiku, jika
suatu waktu aku minta dibangunkan untuk bisa shalat tahajud berjamaah
dengannya.
Pencarian strategi jitu
ini akhirnya berakhir saat aku terima e-mail berbahasa Inggris dari seorang
teman kantor yang isinya sbb:
Why do we read Quran,
even we can’t understand Arabic?
An old American Muslim
lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson.
Each morning Grandpa was up early sitting at the kitchen table reading his Qur’an.
His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in everyway he
could. One day the grandson asked, “Grandpa, I try to read the Qur’an just
like you but I don’t understand it, and what I do understand I forget as soon
as I close the book. What good does reading the Qur’an do?” The Grandfather
quietly turned from putting coal in the stove and replied, “Take this coal
basket down to the river and bring me back a basket of water.” The boy did
as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house.
The grandfather laughed and said, “You’ll have to move a little faster next
time,” and sent him back to the river with the basket to try again. This
time the boy ran faster, but again the basket was empty before he returned
home. Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry
water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man said, “I
don’t want a bucket of water; I want a basket of water. You’re just not trying
hard enough,” and he went out the door to watch the boy try again. At this
point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show this grandfather
that even if he ran as fast as he could, the water would leak out before he got
back to the house. The boy again dipped the basket into river and ran hard, but
when he reached his grandfather the basket was again empty. Out of breath, he said,
“See Grandpa, it’s useless!”
“So you think it is
useless?” The old man said, “Look
at the basket.” The boy looked at the basket and for the first time
realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty
old coal-basket and was now clean, inside and out. “Son, that’s what happens
when you read the Qur’an. You might not understand or remember everything, but
when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Alloh
(Subhanahu wa Ta’ala) in our lives.”
Jadi intinya, memahami
isi Al-Qur`an memang memberi nilai plus bagi kita, namun membaca Al-Qur`an “saja”
dapat membersihkan diri kita luar dan dalam seperti bersihnya keranjang arang
yang diceritakan pada kisah di atas.
Akhirnya, aku
berkesimpulan bahwa yang utama adalah niat yang kuat untuk membakar motivasi
kita menuju khatam Al-Qur`an. Berbekal bahan bakar ini, aku menyiapkan 2 buah
Al-Qur`an, satu aku letakkan di meja kamar dekat tempat tidur di rumah dan yang
satu lagi kuletakkan di lemari kantor dekat komputerku. Modal lain adalah
ingatan, karena aku selalu paksa diriku mengingat surat ke berapa yang sudah
aku baca di rumah dan saat aku akan baca Al-Qur`an di kantor. Dan jangan lupa,
pasang target: kapan aku harus khatam? Walaupun target waktu yang aku tetapkan
sudah terlewati, namun dengan target kita tahu kita ingin mencapai apa.
Hari ini tanggal 3
September 2009 tepat 13 Romadhon 1430 H selepas shaat Subuh, aku berhasil
menyelesaikan bacaan Al-Qur`an hingga surat Al-Ikhlas, surat terakhir. Aku
khatam Al-Qur`an!!! Suamiku tak lupa memberi selamat dan doa. Sungguh, rasanya
lebih hebat daripada saat aku ujian promosi S3 awal tahun 2008 lalu.
“Ya Alloh, Ya Tuhanku!
Rahmatilah aku dengan Al-Qur`an dan jadikanlah Al-Qur`an bagiku sebagai
pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat.
Ya Alloh, Ya Tuhanku!
Ingatkanlah aku apa yang aku terlupa dari ayat-ayat Al-Qur`an. Ajarkanlah aku
dari Al-Qur`an apa yang belum aku ketahui. Berikanlah aku kemampuan membacanya
sepanjang malam dan siang, dan jadikanlah Al-Qur`an itu hujjah bagiku, wahai
Tuhan Sekalian Alam.” Amin.[]
[8] Sembuh dari Kelumpuhan Karena Hafal Al-Qur’an
Seorang dokter spesialis
luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al-Jabir berkisah tentang sahabatnya
yang penuh ketabahan dan keistimewaan. Dia lumpuh karena suatu sebab. Mari kita
mendengar kisanya langsung dari beliau:
Aku memiliki seorang
sahabat di Fakultas Militer. Awalnya dia bergaul dengan teman-temannya dalam
segala hal yakni taat kepada Alloh, bagus budi pekertinya, belajarnya, dan
bergaulnya. Dia suka melakukan shalat malam dan menjaga shalat Fajar dan shalat
lainnya serta suka berbuat baik.
Sesudah dia lulus dan
berbahagia layaknya orang-orang yang bahagia karena lulus, dia tertimpa sebuah
penyakit yang kami sebut influenza. Akhirnya dia jatuh sakit, hingga ditimpa
penyakit di tulang-punggungnya, lalu dia ditimpa sakit lumpuh dan tidak mampu
bergerak.
Sampai-sampai dokter
berkata padaku bahwa dilihat dari keadaanya tersebut sulit diharapkan
kesembuhannya. Dan kemungkinan dia bisa kembali seperti semula dan sembuh total
hanya 10%. Lalu aku berkata, “Segala puji bagi Alloh dalam segala keadaan.”
Aku memohonkan kesembuhan untuknya, karena Dia-lah yang mahakuasa atas segala
sesuatu. Kemudian aku menjenguknya di rumah sakit sementara dia beristirahat di
atas kasur putih, mengingatkannya pada Alloh dan mendoakan kebaikan baginya,
lalu pada saat itu dialah yang justru mengingatkanku pada Alloh!!! Dialah yang
bersosial padaku, aku melihat wajahnya dipenuhi cahaya, tampak cemerlang karena
keimanannya.
Aku berkata padanya, “Segala
puji bagi Alloh atas keselamatan, aku mohonkan lekas sembuh dari sakitmu, sakit
ini mensucikan insya Alloh.” Dia menjawabku dengan ucapan terima kasih dan
doa kemudian berkata-kata, dia tidak mengeluh dan tidak mengadu, dia tidak juga
berkata-kata, “Menurutmu apa yang terjadi padaku wahai Khalid saudaraku?”
Perkataannya sangat enak didengar dan menancap di hatiku sampai-sampai aku
masih hafal sampai sekarang, dia mengatakan ini seraya tersenyum, “Wahai
saudaraku, barangkali Alloh mengetahui kecerobohanku dalam menghafal Al-Qur`an,
karena itu dia melumpuhkanku agar aku merampungkan hafalanku, ini adalah suatu
nikmat dari Alloh.”
Mahasuci Alloh, dari mana
asal kalimat ini muncul? Bagaimana bisa sebuah bencana berubah menjadi nikmat?
Sebenarnya imanlah yang membuat mukjizat setelah anugerah dan pertolongan Alloh.
Alloh selalu benar dan tepat dalam membalas orang-orang yang sabar dan mau
kembali di saat ditimpa musibah, Dia berfirman:
“Sungguh kita ini
milik Alloh, dan kita akan kembali padanya.”
Baginya ada tiga
ganjaran, Alloh telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 157:
“Mereka itulah yang
mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Benar sekali, itu adalah
kasih sayang dari Alloh, sanjungan, dan petunjuk menuju jalan yang lurus dan
keteguhan pada aturan yang benar.
Dalam Shahih Muslim dari
hadits Shuhaib berupa hadits marfu:
«عَجَبًا
لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا
لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
“Sungguh mengagumkan
keadaan seorang mu`min. Seluruh keadaannya adalah kebaikan baginya. Hal ini
hanya ada pada seorang mu`min. Ketika ia dikaruniai kesengangan ia bersyukur,
maka hal itu baik baginya. Dan ketika ia ditimpa kesedihan, ia bersabar maka
hal itu baik baginya.” (HR.
Muslim no. 2999)
Sungguh indah sekali
kalimat-kalimat yang telah dia utarakan. Demi Alloh, kalimat tersebut
menandingi puluhan kalimat ilmiah karena tingkatan keimanan, dan mengajari
banyak hal dan dalam semua kebaikan. Sungguh aku benar-benar terkejut dan
terkesima atas tingkat keimanannya, kesabaran, dan keteguhan hatinya biarpun
keadaanya sakit parah dan lumpuh. Biarpun dia belum sampai 6 bulan dari waktu
kelulusan, belum berbahagia dengan sebuah status dan perbuatan yang baru dalam
beberapa hari. Demi Alloh aku telah mengakui keimanannya, aku memuji Alloh yang
Mahatinggi dan Mahaagung bahwa dalam umat ini ada seseorang yang semacam dia,
hanya pada Alloh segala pujian.
Lalu, aku menjenguknya
selang beberapa waktu. Di sekelilingnya ada para kerabat dekat, aku menyapanya
dan mendoakannya, lalu sekali lagi aku melihat dan mendengar hal yang
menakjubkan. Setiap kali ada yang menjenguknya, imannya semakin bertambah.
Keponakannya berkata padanya, “Hendaknya kamu berusaha menggerakkan kakimu,
angkatlah!” Dia menjawab, “Segala puji bagi Alloh, aku malu kepada Alloh
untuk mempercepat kesembuhan, ini sudah ditakdirkan Alloh, Alhamdulillah.
Andaikata kesembuhan bukan takdirku, tentunya Alloh telah mengetahui yang
terbaik bagiku, karena Dia-lah yang Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.”
Dalam ucapannya, dia
tidak mengharapkan apa-apa kecuali yang terbaik. Alloh telah berfirman:
“Diwajibkan atas kamu
berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi
kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui.” (QS.
Al-Baqarah [2]:261)
Aku melakukan safar untuk
menyempurnakan studi, kemudian setelah tiga bulan aku kembali dan berharap dia
masih di rumah meskipun tiada harapan untuk sembuh. Mungkin dia selalu di
kamarnya saat di rumah dan untuk pindah tempat harus dibopong.
Aku bertanya kepada
teman-temannya di rumah sakit, “Apakah dia sudah keluar? Dan bagaimana
keadaannya?” Mereka menjawab, “Orang ini menakjubkan sekali, dia
memiliki tekad dan tujuan yang sangat kuat, selalu tersenyum dan rela apa yang
telah digariskan untuknya. Keadaannya sudah dianggap baik, dia dipindah ke
rehabilitasi untuk pengobatan biasa.”
Aku bergegas menuju ruang
rehabilitasi, ternyata dia sedang duduk di atas kursi goyang di sana, aku lega.
Lalu aku berkata padanya, “Segala puji bagi Alloh atas segala keselamatan,
Alhamdulillah perkembanganmu sekarang
sudah lebih baik dari pada kemarin.” Dia memutus perkataanku sambil
berkata, “Segala puji bagi Alloh, aku beritahu kabar gembira padamu, aku
telah berhasil menyempurnakan menghafal Al-Qur`an.” Lalu aku jawab, “Mahasuci
Alloh!” Sungguh menakjubkan orang yang satu ini. Bila aku menjenguknya,
yang aku dapat pastilah faedah keimanan, lalu aku mendoakan dan memohon
anugerah Alloh untuknya.
Aku pun berpergian, empat
bulan lebih aku tidak bersua dengannya. Ketika aku kembali, ternyata hal yang
tak pernah aku duga sebelumnya terjadi, namun itu bukan hal yang mengherankan
dan bukan hal yang asing bagi Alloh yang mampu menghidupkan tulang-belulang
yang telah luluh-lantah. Tahukah Anda apa yang terjadi? Saat aku sedang shalat
di Masjid rumah sakit, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku, “Hai Abu
Muhammad!” Tahukah Anda siapa yang memanggil? Tepat sekali, dia adalah
teman kami, demi Alloh dia adalah teman dekat yang semula lumpuh, sekarang bisa
berjalan dan nampak segar bugar. Itulah kekuasaan Alloh, keimananlah yang
memunculkan mukjizat. Alloh telah berfirman:
“Allohlah kekasih orang-orang
yang beriman.”
Dia juga berfirman:
“Orang yang bertakwa
pada-Nya maka akan dibuatkan jalan keluar.” Yaitu keselamatan dan kesehatan dari Alloh bagi manusia.
Alloh juga berfirman,”Seperti
demikian akan aku selamatkan orang-orang yang beriman.”
Benar sekali, dia sudah
bisa berjalan dan mendatangiku seraya menyapa, aku memeluknya erat-erat dan
menangis. Ya, aku menangis karena dua hal, yang pertama karena lega dia sudah
sembuh, saking bahagianya sampai menangis. Yang kedua atas keterbatasan yang kumiliki,
betapa banyak nikmat dan kebaikan yang Alloh berikan pada kita tetapi belum
kita syukuri, kita tidak bersungguh-sungguh dalam menghafal Al-Qur`an dan
beramal saleh, semuanya adalah kecerobohan dan penundaan. Aku mohon ampunan
kepada Alloh.
Bukan hanya itu saja,
tetapi Alloh telah memberi banyak hal padanya, diantaranya diterimannya
proposal delegasi dalam negeri ke Universitas Kerajaan Saudi untuk
menyempurnakan study ke jenjang yang lebih tinggi. Ada sebuah kisah pada
pengiriman ini, dia telah meminta itu sejak lulus dari kuliah namun belum ada
jawaban. Dan beberapa hari setelah dia sembuh, Alhamdulillah, permintaannya
disetujui saat dia sudah lupa akan hal itu. Segala puji bagi Alloh yang dengan
nikmat-Nya tersebut hal-hal baik menjadi sempurna.
Lalu sesudah itu dia
berkata padaku, “Hai doktor Khalid! Semua yang telah terjadi merupakan
cambuk bagiku apabila aku tidak lekas mensyukurinya,” aku jawab, “Iya,
cambuk bagi kita semua.”
Cerita ini masih belum
berhenti. Tujuh tahun kemudian dia berkunjung kepadaku dalam perjalanannya
mengunjungi kakeknya yang sedang menderita sakit liver. Apa yang kulihat? Aku
melihatnya sebagai pemuda yan bersinar. Alloh telah memberinya rizeki berupa
promosi menduduki jabatan mayor, aku memohon kepada Alloh agar menjadikannya
Mayor (pimpinan) kebaikan, manfaat, kebaikan dan semoga dia membaguskan semua
perilaku kita.[]
Sumber: Kisahku dalam
Menghafal Al-Qur’an karya Muna Said Ulaiwah
[9] Seorang Muslimah Khatam Selama Romadhon
Pengalaman Ummu Zayid, ia
menuturkan:
Alhamdulillah, sesuai
dengan kemuliaan wajah-Nya dan keagungan kuasa-Nya, aku telah khatam menghafal
Al-Qur’an. Berikut pengalamanku, dan aku menghadiahkannya kepada kalian.
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Segala puji bagi Alloh,
pujian yang sebanyak-banyaknya, sesuai dengan kemuliaan wajah-Nya dan keagungan
kuasa-Nya. Wa Ba’d:
Ini adalah masa-masa
indah yang berlalu dengan segala kisah yang ada di dalamnya. Dan, inilah mimpi
yang menjadi kenyataan; dan kenangan yang selalu menghampiriku. Perlu diketahui
bahwa sesungguhnya tujuan terbesarku adalah hafal surat Al-Baqarah dan Ali
Imran.
Demi Alloh, sekali-kali
kalian tidak akan percaya bahwa sebenarnya aku adalah orang yang tidak memiliki
kesabaran untuk menghafal Al-Qur`an secara keseluruhan. Hal itu disebabkan
karena aku menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil dan sangat
susah untuk diwujudkan. Dan saat itu, aku masih hidup dengan mempertahankan
tujuan yang ingin aku wujudkan sebelumnya, yaitu hafal surat Al-Baqarah dan
surat Ali Imran. Dan aku menganggap bahwa kedua surat itu adalah adalah surat
Al-Qur`an yang paling sulit (untuk dihafal); dan aku juga beranggapan bahwa
sepertinya sulit sekali untuk mempertahankan hafalan tersebut dalam waktu yang
lama. Subhanallah, tak terasa sudah tujuh tahun aku mempertahankan hafalan
kedua surat tersebut.
Ketika bulan Romadhon
datang, tiba-tiba suamiku mengejutkanku bahwa ia akan beri’tikaf selama 15 hari
terakhir Romadhon di Masjidil Haram. Tentu kalian mengerti tentang kesulitan
yang menimpaku, karena aku akan ditinggal sendirian bersama anak-anakku. Kami
tinggal di daerah yang jauh dari keluarga, sedang para tetangga di sini
semuanya menutup pintu rumahnya (tidak peduli dengan urusan tetangganya). Aku
merasa gembira karena suamiku akan beri’tikaf. Akan tetapi, manfaat apa yang
dapat kupetik dalam kesendirianku ini? Ketika waktunya telah tiba dan suamiku
pergi untuk beri’tikaf, maka aku merasakan pahitnya kesendirian yang sebenarnya.
Kemudian, aku mengangkat
tanganku kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, lalu aku berdoa
kepada-Nya dengan doa orang yang tertimpa kesulitan, sedang air mata pun
mengalir deras membasahi pipiku, “Wahai Robbku, Engkau Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang. Curahkanlah kepadaku rezeki yang berupa teman-teman yang
shalihah, yang lebih baik dari aku. Sehingga, aku bisa meneladani mereka. Ya Alloh,
berikanlah aku sebaik-baik teman.” Sungguh, doaku segera dikabulkan oleh Robb
yang Maha Pengasih. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Dia telah berfirman dalam
kitab-Nya: “…Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…” (Al
Mu’min : 60)
Ketika aku duduk di depan
komputer sambil mengakses internet guna mencari situs yang berisikan informasi
tentang keajaiban Al-Qur’an Karim, tiba-tiba mataku tertuju pada situs akademi
para penghafal Al-Qur’an. Sebelumnya, aku tidak tahu bahwa masuknya aku ke
dalam komunitas situs ini adalah pertanda terkabulnya doaku. Aku pun masuk
dalam komunitas situs ini dalam keadaan terharu. Demi Alloh yang tiada ilah
kecuali Dia, aku keluar dari situs ini dalam keadaan yang tidak seperti keadaan
saat aku masuk, yaitu keadaan yang belum pernah aku impikan sebelumnya. Setelah
itu, pikiranku pun tertuju untuk beri’tikaf dalam rangka menghafal Al-Qur`an
dalam 10 hari terakhir Romadhon.
Sungguh, merupakan
karunia Alloh dan taufik-Nya atasku adalah aku segera mendaftarkan diri untuk
beri’tikaf di akademi para penghafal Al-Qur`an tanpa keraguan.
Sejak pertama aku beri’tikaf,
aku merasa kagum dengan para akhwat yang turut beri’tikaf denganku. Demi Alloh,
mereka adalah sebaik-baik saudari di jalan Alloh. Mereka menceritakan
pengalaman-pengalam mereka dalam mengahafal Al-Qur’an. Setelah mendengar cerita
mereka, aku membayangkan seakan-akan aku bagaikan makhluk yang berasal dari
planet lain. Masuk akalkah bahwa di antara mereka ada yang hafal Al-Qur`an
hanya dalam waktu tiga hari? Padahal, selama tujuh tahun aku tidak memiliki
kecuali dua surat. Setelah itu, kerinduanku (untuk menghafal) pun bertambah,
sementara kesedihan dan kesempitanku menghilang. Kemudian Alloh mengganti kedua
perasaan tersebut dengan ketenangan yang tiada tara.
Aku bertawakkal pada Dzat
yang hidup terus-menerus mengurusi makhluk-Nya atas karunia-Nya yang melimpah.
Aku mengambil keputusan untuk beri’tikaf dalam rangka menghafal Al-Qur`an.
Karena sesungguhnya, inilah amalan yang terbaik di bulan Romadhon. Aku pun
berujar, ‘Sesungguhnya, Romadhon kali ini akan berbeda (dengan Romadhon
sebelumnya), dengan izin Alloh.’
Aku pun mengambil secarik
kertas, lalu kutulis di dalamnya keuntungan-keuntungan yang akan aku dapatkan
dari menghafal Al-Qur`an berupa nikmat dan kebaikan yang besar, baik di dunia
maupun di Akhirat. Begitu pula dengan nikmat yang lebih besar dari keduanya,
yaitu keridhaan Alloh terhadapku.
Dengan izin Alloh, hanya
dalam beberapa saat aku bergabung dengan mereka, sebaik-baik ummat ini,
sebagaimana sabda Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wasallam:
“Orang yang paling
baik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan
mengamalkannya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Aku berkhayal,
seakan-akan aku bersama para Nabi, Shidiqqin (orang-orang yang amat teguh
kepercayaannya pada kebenaran rasul), Syuhada, dan orang-orang shalih. Dan
mereka itulah teman yang paling baik. Kemudian, aku berkhayal lagi seakan-akan
aku menyematkan mahkota di atas kepala kedua orang tuaku dengan kedua tanganku
ini. Aku berkhayal bahwa aku dapat membebaskan mereka (dari siksa), kemudian
aku pun kembali kepada diriku (untuk membebaskan diri sendiri). Aku juga
berkhayal mengenai berbagai kenikmatan yang Alloh anugerahkan kepadaku.
Aku menulis semuanya, dan
aku menggantungkan tulisan itu di tempat yang senantiasa kurawat. Aku pun
membawa halaman-halaman (mushaf Al-Qur`an) yang telah aku putuskan bahwa
sekali-kali tidak akan meninggalkannya; dan akan menjadikannya sebagai teman di
dalam eksprimen ini.
Setelah itu, aku pun
berwudhu, lalu duduk dan membuka Al-Qur`an. Aku berkata dengan suara yang hanya
terdengar oleh diri sendiri, ‘Sekarang, aku akan menguji kemampuan akalku yang
sebenarnya. Dan aku akan memulainya dengan bertawakkal pada Alloh seraya
mengulang-ulang firman Alloh Ta’alaa:
“Dan Sesungguhnya
telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil
pelajaran?” (QS. Al Qomar: 17)
Kemudian, aku memasang
alat pengingat untuk mengingatkanku bahwa aku hafal satu lembar dalam 10 menit.
Maka, aku mulai menghafal halaman demi halaman. Setiap halaman, aku
menghafalnya seraya bedoa kepada Alloh agar Dia berkenan memantapkannya pada
diriku. Doa yang kupanjatkan adalah, “Ya Robbku, aku titipkan pada-Mu
apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku. Maka, jagalah ia untukku.”
Aku mulai menghafal pada
waktu Dhuha sampai Zhuhur, lalu menghafal lagi sampai jam setengah tiga siang.
Setelah itu, aku tidur sebentar dengan memasang alarm. Ketika alarm berbunyi
pada waktu pada jam 3 sore, aku segera bangun untuk shalat Ashar. Kemudian, aku
mulai menghafal sampai datang waktu Magrib, lalu kulanjutkan hingga sebelum
Isya’.
Dari mulai mengahafal
selesai, aku tidak berpindah-pindah. Aku hanya duduk pada satu tempat, hingga
tak terasa bahwa aku telah menghafal 3 juz. Ya Alloh betapa mulianya Engkau dan
betapa besarnya nikmat-Mu. Akan tetapi, mengapa kami tidak pernah mensyukuri
nikmat ini. Aku pun melanjutkan hafalanku sampai aku selesai menghafal 16 juz
Al-Qur`an dalam 6 hari. Alhamdulillah. Aku bingung, apakah aku akan
menyempurnakan hafalanku menjadi 30 juz ataukah mengulang-ulang apa yang telah
aku hafal. Kawan-kawan baikku menasihatiku agar aku menyempurnakan hafalanku
dan tak berhenti hanya pada juz ke-16. Maka, aku pun menyempurnakan hafalanku.
Aku yakin bahwa hafalanku tidak hilang hingga suamiku datang dan kami kembali
berkumpul dengan keluarga, karena aku telah menitipkannya pada Robbku yang
Mulia (agar Dia selalu menjaganya).
Subhanallah, tak terasa
aku akan meninggalkan tempat dimana aku menghafal Al-Qur`an dan berkhalwat
(mendekatkan diri) dengan Robbku, menuju kehidupan yang melalaikan dan
keduniaan yang fana, yang mana semuanya sedang memfokuskan perhatiannya pada
beberapa pertanyaan, “Kue dan manisan apa yang akan kami persiapkan untuk
hari Ied kali ini?” Serta berbagi hal lainnya, sedang aku masih
mengasingkan diri untuk mengahafal Al-Qur`an.
Kemudian, aku pun kembali
kepada mereka, sedang aku berharap bahwa aku dapat mengkhatamkan hafalanku pada
hari terakhir di bulan Romadhon, serta mendapatkan dua kebahagiaan. Akan
tetapi, ketika yang kuharapkan belum terwujud, cobaan dan ujian dari Robb
semesta alam datang padaku. Apakah aku akan melanjutkan hafalanku ataukah aku
menghentikannya? Akan tetapi, Alhamdulillah, aku tidak berhenti menghafal.
Mungkin kalian tidak akan
percaya bahwa pada suatu hari, aku tidak dapat menghafal kecuali hanya dua
halaman. Bukan karena aku tidak bisa, akan tapi hal itu karena aku sangat
disibukkan dengan sesuatu yang menimpaku. Keempat anakku semuanya menderita
demam tinggi, hingga mereka tidak bisa tidur sepanjang malam. Oleh karena itu,
aku pun banyak begadang malam untuk menemani mereka. Dan ketika aku merasa
kepayahan sedang anakku yang paling kecil menangis terus-menerus, dan tidak ada
seorang pun yang membantu, akhirnya aku pun jatuh sakit.
Alhamdulillah, walaupun
sakit, aku tidak berhenti melanjutkan hafalanku dan terus berusaha sampai Alloh
berkenan menyembuhkan mereka yang sudah lama terbaring sakit. Setelah mereka
sembuh, aku bertawakkal kepada Alloh dan aku katakan pada diriku sendiri, ‘akan
aku khatamkan hafalanku yang tersisa 10 juz dalam waktu dekat.’ Alhamdulillah,
sungguh Alloh telah memberikan karunia-Nya kepadaku hingga aku dapat
menghafalanya dengan cepat.
Sekarang, aku akan
menceritakan kepada kalian moment-moment paling indah dalam hidupku, yaitu
moment saat aku mengkhatamkan Al-Qur`an.
Pada pagi hari ini, aku
bermimpi indah. Mimpi itu membawa kabar gembira bahwa pada hari ini aku akan
mengkhatamkan hafalan Al-Qur`an. Serta merta, aku pun amat bergembira, karena
pada hari ini hafalanku yang tersisa hanya tinggal 3 juz.
Kemudian, aku mulai
menghafal. Dan tanpa kusadari, aku menghafalnya dengan cepat. Satu halaman
dapat aku hafal dalam waktu 8 menit, terkadang hanya 5 menit. Sehingga, ketika
waktu menunjukkan jam 9 malam, aku tidak tahu bahwa waktu itu adalah waktu yang
telah aku tunggu-tunggu, yaitu waktu pengkhataman Al-Qur`an.
Aku terus membaca, akan
tetapi aku tidak memperhatikan bahwa yang tersisa hanya tinggal beberapa
halaman. Apakah kalian tahu bagaimana aku menyadarinya? Sungguh, kalian tidak
akan percaya. Aku merasakan perasaan yang aneh sekali. Perasaan ini tidak
pernah aku rasakan sebelumnya. Perasaan ini tidak bisa digambarkan karena ia begitu
saja menyebar ke seluruh tubuhku. Perasaan yang berupa ketenangan dan
ketentraman. Demi Alloh, seakan-akan diriku akan terbang karena ringannya
tubuh. Maka, aku pun menjadi selembar bulu karena ringannya. Aku merasa heran,
hingga aku bertanya pada diriku sendiri, ‘Perasaan apakah ini?’ jantungku mulai
berdetak, seakan-akan ia berkata kepadaku, ‘Semoga keberkahan terlimpah atasmu.
Engkau telah khatam menghafal Al-Qur`an. Al-Qur`an telah berada di dadamu.’
Tiba-tiba aku tersadar,
aku sedang membaca akhir ayat yang mana dengannya aku mengkhatamkan Al-Qur`an.
Maka, aku pun menyungkurkan diriku ini ke tanah, lalu aku bersujud syukur,
sedang air mata kegembiraan jatuh menetes ke bumi. Kemudian, aku pun berlari
menemui suamiku. Aku kabarkan berita gembira ini dengan penuh sukacita. Lalu,
aku pun melihat mushaf yang telah menemaniku sepanjang perjalananku menghafal
Al-Qur`an. Aku menangis sambil berkata, ‘Wahai mushafku yang tercinta, sungguh,
aku telah mendapatkan moment-moment yang paling indah (dalam hidupku).’ Lalu,
aku pun memeluk mushafku itu dengan erat. Berulang-ulang aku ucapkan,
Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh, sesuai dengan kemuliaan wajah-Nya dan
keagungan kuasa-Nya. Alhamdulillah, aku telah khatam menghafal Al-Qur`an
sebelum ajal menjemputku.’ Sebelumnya, aku takut jika aku mati, sedangkan aku
belum sempat menghafal Al-Qur`an dengan sempurna.
Berikutnya, perasaan yang
tak bisa aku gambarkan adalah tiba-tiba aku beranjak pergi ke depan komputer.
Lalu, aku memutar CD yang berisi ucapan-ucapan takbir, yang aku impikan
sepanjang masa hafalanku. Kemudian, aku dan suamiku mendengarkannya dan
semuanya merasa gembira.
Ya Alloh, segala puji
bagi-Mu yang telah memuliakanku dengan menghafal kitab-Mu. Ya Robbku, betapa
mulia-Nya diri-Mu. Engkau telah menggantikan kesendirianku dengan sebaik-baik
teman yang menemaniku dalam kehidupanku dan kuburku. Wahai Robbku, aku berdoa
pada-Mu saat hatiku terkoyak karena kesendirian. Kemudian, Engkau menggantinya
dengan sesuatu yang lebih dari apa yang aku angan-angankan dan aku harapkan.
Betapa mulianya Engkau wahai Robb Yang Maha Pengasih, Yang telah memberikan
karunia yang menilmpah.
Adapun kalimat terakhir
untuk menutup halaman-halaman indah ini adalah, ‘Aku adalah wanita, sebagaimana
wanita lain. Aku memiliki seorang suami dan anak-anak. Anak-anakku belajar di
sekolah khusus dengan kurikulum yang sangat sulit. Aku hafal Al-Qur`an, akan
tetapi, aku tidak melalaikan tanggung-jawabku sebagai seorang ibu. Aku mendidik
anak-anakku dan berusaha mengajari mereka segala sesuatu. Dan tanggung-jawab
yang paling utama adalah sebagai seorang istri yang berusaha untuk mendapatkan
keridhaan suaminya; tidak mengurangi haknya; dan menunaikan
kewajiban-kewajibannya secara sempurna.
Alhamdulillah, Alloh
tidak menjadikanku telat untuk menghafal Al-Qur`an selama-lamanya. Demi Alloh,
janganlah kalian memberikan alasan atas tidak hafalnya kalian terhadap
Al-Qur`an selama-lamanya. Apalagi kalian, para gadis yang belum menikah dan
belum memiliki tanggung-jawab.
Pertama dan terakhir
kalinya adalah berprasangka baiklah pada Alloh, maka Alloh akan berprasangka
baik sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Karena ketika aku mengira bahwa surat
Al-Baqarah dan Ali Imran sulit sekali untuk dihafal; dan usaha itu akan memakan
waktu yang lama, maka Alloh pun memberikanku anugerah sesuai dengan apa yang
aku kira, yaitu aku menghafalnya selama 7 tahun. Hal itu disebabkan karena aku
tidak berprasangka baik pada Alloh.
Akan tetapi, ketika aku
memasrahkan diri kepada Alloh dan berprasangka baik kepada-Nya, aku berujar
pada diriku sendiri, ‘Aku akan menghafal Al-Qur`an secara sempurna dalam waktu
singkat.’ Alloh memuliakanku dengan menghafal kitab-Nya; dan memudahkanku. Alloh
menunjukiku jalan dan cara menghafal yang bermacam-macam, yang tidak pernah aku
mengerti dan ketahui sebelumnya.
Wahai orang yang
berkeinginan untuk menghafal Al-Qur`an, bertawakkallah kepada Alloh!
Bersungguh-sungguhlah dalam berusaha! Dan jujurlah pada dirimu bahwasanya
engkau benar-benar ingin menghafal Al-Qur`an! Serta, berprasangka baiklah bahwa
Alloh akan memberikan taufik-Nya atas usahamu. Demi Alloh, engkau akan
mendapatkan apa yang kau inginkan dengan segera; dan engkau akan menjadi bagian
dari penghafal kalam yang paling agung, yaitu kalam Robb semesta alam. Dia
telah berfirman :
“Dan Sesungguhnya
telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil
pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)[]
[10] Suaminya Meninggal, Justru Hafal dalam Satu
Tahun
Asma’ ibu dari beberapa
orang anak ini mesti berjuang sendiri karena suaminya lebih dulu menghadap Alloh
-subhanahu wa ta’aala-. Ia lalu mencurahkan segenap hidup dan waktunya untuk
mendidik keluarganya agar kelak dapat tumbuh dan menjadi bibit yang baik
ditengah tengah masyarakat. Ia sukses mewujudkannya. Tetapi kemudian Ia
merasakan waktu senggang yang membunuh dan hampir saja menyeretnya untuk
melakukan hal hal yang biasa dilakukan para tetangga yang suka berceloteh, adu
domba dan melakukan hal hal yang sia sia lagi buruk. Ia memutuskan untuk meninggalkan
teman teman yang seperti ini dan bergabung bersama halaqoh halaqoh tahfidz
Al-Qur’an.
“Benar saja, ternyata
kemampuanku dalam menyerap materi sangat kuat dan hafalanku terus berkelanjutan
hingga aku mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz hanya dalam tempo 1 tahun. Aku
senantiasa menghafal Al-Qur’an kapan saja ketika ada waktu kosong. Namun
biasanya aku menghafal ketika selepas shalat Ashar…”
“Aku sampaikan kepada
mereka yang mengalami kondisi seperti kondisiku, hendaknya mereka tidak
menyerah atau merasa lemah dengan segala kepedihan yang mereka hadapi sehingga
ia akan menjadi mangsa keterasingan.”[]
[11] Wanita 50 Tahun Ini Hafal Paska Suami Tiada
Ia menghadapi berbagai
musibah dan ujian di dalam hidupnya tapi hal itu justru menambah ketegarannya.
Ia memiliki 10 orang anak dan seorang suami yang berusaha keras untuk
menghidupi seluruh anggota keluarganya. Tiba tiba suaminya meninggal. Namun ia
tidak menangis, berteriak histeris atau melemparkan dirinya di hadapan berbagai
persoalan. Ia kembali kepada Al-Qur’an dan membentengi diri dengannya.
“Hatiku tertambat
dengan Al-Qur’an dan mencintainya. Saat berhadapan dengannya aku merasakan
kenyamanan dan ketenangan. Aku menemukan metode menghafal yang intinya adalah
mengulang bacaan 10 juz setiap dua bulan hingga aku benar-benar mampu
menghafalnya. Setelah itu aku memulai sisa juz berikutnya hingga mampu
menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan. Itulah yang dulu aku kerjakan hingga
kini masih terus aku lakukan terhadap Al-Qur’an. Aku tidak akan pernah
meninggalkan waktu sesaat dan sedetikpun kecuali bersamanya dan terus
menekuninya dalam setiap waktu dan banyak berdoa dan kembali kepada Alloh
hingga Alloh mengaruniakan kepadaku untuk dapat menghafalnya dengan hafalan
yang tertanam kuat.”
Ia juga sangat menaruh
perhatian agar anak anaknya mampu menghafal Al-Qur’an. Cita citanya tersebut
terwujud saat ia mendapati anak-anaknya menjadi dai dan imam masjid hingga
mereka saling berlomba untuk memasuki berbagai dauroh dan halaqoh tahfidz.
Beliau berpesan untuk
para wanita penghafal Al-Qur’an dengan air mata yang berderai dari kedua
matanya, “Aku berharap agar mereka berusaha sungguh-sungguh untuk menghafal
Al-Qur’an, tidak mendahulukan berbagai urusan dunia dan hendaknya mereka
mengisi waktu mereka untuk menghafal dan muraja’ah. Untuk diri aku sendiri aku
berharap semoga Alloh menganugerahkan kepadaku untuk dapat memahami tafsiran
Al-Qur’an. Aku telah memulai langkah awal dengan mendengarkan berbagai kaset
Syaikh Al-Utsaimin saat menafsirkan Al-Qur`an.”[]
[12] Tidak Dikaruniai Anak, Al-Qur’an Menjadi Pusat
Perhatiannya
Ummu Majid, 33 tahun
tidaklah menangis, menjerit ataupun meronta hanya karena tenggelam dalam
kesedihan tidak memiliki anak. Bahkan hal itu menjadikanya punya banyak waktu
dan kesempatan luang. Ia larut dengan
Al-Qur’an Al-Kariim, menyambutnya dengan penuh rasa senang dan cinta, menelaah
serta menghafalnya. Sebelum masuk ke sekolah tahfidz dia adalah seorang buta
huruf namun kemudian Alloh mudahkan dia menghafal Al-Qur’an secara sempurna.
“Seorang teman yang
memiliki kondisi seperti aku menyarankan untuk masuk ke sekolah tahfidz Al-Qur’an
dan saat itu juga aku menerima saran itu. Aku memandang hal itu sebagai
kesempatan untuk mengisi waktu luang, menghilangkan kegalauan, menjauhi
berbagai forum gosip dan adu domba serta menjadikannya media untuk mendekatkan
diri kepada Alloh dengan jalan menghafal Al-Qur’an.”
“Dulu aku mempunyai
banyak waktu kosong. Aku merasa gelisah dan diliputi oleh berbagai
permasalahan. Suamiku mengalami impoten dan keinginan untuk punya anak menjadi
sulit. Aku memeluk Al-Qur’an dan merasakan dahaga yang amat sangat. Akhirnya
Al-Qur’an menjadi kemuliaan sekaligus petunjuk untuk aku menuju cahaya dan
mencintai kebaikan. Dada menjadi lapang dan Al-Qur’an menjadi satu satunya
teman duduk. Segala kesulitan menjadi terpecahkan dan dada menjadi lapang.
Aku pun pergi ke
sekolah tahfidz dan kesibukanku adalah kesibukan bersama Al-Qur’an yang telah
memberikan kecukupan dari segenap manusia dan dari berbagai pertemuan yang
tidak bermanfaat atau komunitas yang membahayakan. Aku mendapatkan teman-teman
sekaligus bekal yang baik untuk saling berlomba dalam menghafalkan Al-Qur’an.”[]
[13] Kehilangan Semua, Justru Jadikan Hafalannya
Sempurna
Fathimah 48 tahun, adalah
seorang wanita buta huruf. Meski demikian, ia tetap belajar di sekolah tahfidz
dan telah mampu menghafalkan 15 juz. Kisahnya berawal ketika dirinya dan orang
tuanya hijrah ke Saudi dari salah satu negara tetangga demi kehidupan yang
lebih baik. “Ditengah perjalanan kembali ke Saudi kedua orang tuaku
mengalami kecelakaan dan meninggal seketika itu juga.”
Akhirnya ia diurus
tetangganya meski kondisi tetangganya itu juga sangat sulit. Ia kemudian
menikahkan Fathimah dengan seorang lelaki yang baik agama dan akhlaqnya hingga
dikaruniai dua orang anak. Tidak lama kemudian, suaminya mengalami kecelakaan
dan meninggal dunia.
“Aku hidup di sebuah
kamar yang sangat sederhana sekali, sumbangan dari salah seorang dermawan. Aku
punya sebuah radio kecil yang aku gunakan untuk mendengarkan siaran Al-Qur’an
Al-Kariim. Aku selalu menirukan bacaan Qorii yang tengah membaca beberapa ayat.
Akhirnya aku mulai mengulang-ulang bacaan setelah membeli beberapa buah kaset.
Hafalanku mulai bertambah setelah membeli beberapa buah kaset. Saat itu aku
mampu menghafal hingga 10 juz. Lalu aku pergi ke sebuah sekolah tahfidz,
mengikuti beberapa ujian dan ternyata aku mendapat nilai excellent.
Aku tidak pernah
mengecap bangku sekolah dan tidak pernah pula belajar baca tulis, namun aku
seringkali pergi ke Masjidil Haram dan meminta dari sebagian huffazh perempuan
di sana untuk mengajar, melatih dan mengujiku terutama karena aku memiliki
kemampuan menghafal dan memahami yang kuat. Mereka memberikan pelayanannya
kepadaku tanpa merasa terganggu berat ataupun bosan.”
Fathimah lalu terhenti
sejenak dan mulai terisak menangis, “Aku teringat saat-saat kehilangan ayah,
keluarga, dan orang orang yang telah mengasuh serta membimbingku. Namun, ketika
aku segera mendengarkan bacaan Al-Qur’an, maka perasaanku berubah. Aku merasa
ridho terhadap taqdir dan ketentuan Alloh.”
“Aku berpesan kepada
setiap orang yang bertambah umurnya dan masih memiliki banyak kesalahan, untuk
segera meluruskan perjalanannya dan menempuh jalan keselamatan dan memanfaatkan
sisa-sisa umurnya untuk melakukan amalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Robb
semesta alam sehingga akan dimudahkan baginya jalan menuju Surga. Di dalam
Al-Qur’an terkandung kenikmatan, kebahagiaan, kasih sayang, dan ketenangan.
Bila ia dibaca dengan hati yang hidup dan akal pikiran yang penuh kesadaran
serta menyelami ayat-ayatnya, maka di dunia akan mendapatkan kelapangan hidup
dan di Akhirat kelak akan meraih Surga.”[]
[14] Ummu Muhammad Hafal Al-Qur’an Selama 7 Tahun
Ummu Muhammad hanyalah
tamatan sekolah dasar. Setelah anak-anaknya menikah, maka ia menghadapi kondisi
kesepian dan waktu kosong. Saah seorang tetangganya menyarankan agar ia
mengikuti sekolah tahfidz. Ia berfikir, ia hanyalah wanita tua 50 tahun buta
huruf yang tak tahu baca tulis. Namun ia segera tersadar bahwasanya para
Shahabat Ridhwanulloh ‘Alayhim mampu menghafal Al-Qur’an sedang mereka telah
berusia lanjut. Maka ia teguhkan pendiriannya dan bergabung dengan sekolah
tahfidz. Di luar dugaan, ia mampu mengkhatamkan Al-Qur’an, meski butuh 7
tahun.[]
[15] Meski Sibuk Ngurus Rumah, Ummu Zaid Hafal
dalam Satu Bulan
Ummu Zaid, seorang ibu
rumah tangga ketika menceritakan pengalamannya dalam menghafal Al-Qur’an,
beliau menutup cerita dengan kata-kata yang bisa menjadi nasihat untuk kita
semua, terutama untuk ibu rumah tangga. Belum pupus harapan bagi kalian untuk
menjadi penghafal Kitabullah. Berikut nasihat beliau yang aku kutip dari buku
Hafal Al-Qur’an dalam Sebulan. Untuk menutup halaman-halaman yang indah ini,
aku sampaikan pada kalian bahwa aku adalah wanita, sebagaimana wanita lainnya.
Aku memiliki suami dan anak-anak. Anak-anakku belajar di sekolah khusus dengan
kurikulum pelajaran yang sangat sulit. Aku hafal Al-Qur’an, tapi aku tidak
melalaikan tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Aku didik anak-anakku dan
berusaha mengajari mereka segala sesuatu. Bahkan tanggung jawabku yang paling
utama adalah sebagai seorang istri yang berusaha untuk mendapatkan keridhaan
suami, tanpa mengurangi haknya dan dengan menunaikan kewajiban-kewajibanku
secara sempurna. Alhamdulillah, Alloh tidak menjadikanku telat dalam menghafal
Al-Quran. Demi Alloh, janganlah kalian beralasan atas tidak hafalnya kalian
terhadap Al-Quran. Apalagi kalian adalah para gadis yang belum menikah dan
belum memikul tanggung jawab. Pertama dan terakhir kalinya adalah berprasangka
baik pada Alloh. Karena dengan begitu, Alloh akan berprasangka baik sesuai
dengan persangkaan hamba-Nya. Pada awalnya, aku mengira bahwa surat Al-Baqarah
dan Ali Imran sangat sulit untuk dihafal, dan usaha itu akan memakan waktu yang
lama. Dan Alloh pun memberiku anugrah sesuai dengan apa yang kusangka, yakni
menghafalnya selama 7 tahun. Itu karena aku tidak berprasangka baik pada Alloh.
Namun setelah itu, ketika
aku berpasrah diri pada Alloh dan berprasangka baik terhadap-Nya, aku berujar
pada diri sendiri, “Aku akan menghafal Al-Quran secara keseluruhan dalam
waktu yang singkat.” Alloh pun memuliakanku dengan menghafal Kitab-Nya,
bahkan memudahkanku. Alloh menunjuki jalan dan cara menghafal yang
bermacam-macam, yang tidak pernah kumengerti dan kuketahui sebelumnya. Wahai
orang yang berkeinginan untuk menghafal Al-Qur’an, bertawakallah pada Alloh!
Bersungguh-sunguhlah dalam berusaha! Dan jujurlah pada dirimu, bahwasanya
engkau benar-benar ingin menghafal Al-Qur’an! Serta, berprasangka baiklah bahwa
Alloh akan memberi taufik-Nya atas usahamu! Demi Alloh, engkau akan memperoleh
apa yang kau ingin dengan segera. Dan engkau akan menjadi bagian dari penghafal
kalam yang paling agung, yaitu kalam Robb semesta alam. Dia telah berfirman: “Dan
sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran itu untuk pelajaran. Maka, adakah
orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 17) Subhanallah, mereka yang
mengenalku mengira bahwa aku selalu mengawasi anak-anakku. Tetapi tanpa perlu
kujelaskan dengan kata-kata, mereka akan mengetahui hal yang sebenarnya.
Suatu hari, ketika aku
sedang duduk, anakku yang belum genap 2 tahun berjalan mendekati meja yang di
atasnya terdapat mushaf yang biasa kugunakan untuk menghafal. Ia mengenali
mushaf itu, dan membawanya padaku. Ia menyerahkan padaku sembari mengucapkan beberapa
patah kata, “Mata, Quran,” (bahasa arab, ‘mata = kapan’). Seakan-akan ia
berucap, “Bacalah wahai ibu, dalam waktu dekat ibu kan selesai
mengkhatamkannya.” Subhanallah, pada hari itu tidak ada perhatiannya selain
mencariku dan mencari ayahnya. Jika mushaf tidak terdapat di tangan kami, maka
ia berlari untuk mengingatkan kami. Subhanallah. Dengan karunia Alloh, akhirnya
selesai 30 juz.[]
[16] Menghafal Al-Qur’an Saat Usia 70 Tahun
Berikut ini adalah salah
satu pengalaman nyata yang dimuat dalam sebuah majalah. Mari kita simak bersama!
Ummu Shalih. 82 tahun,
mulai menghafal Al-Qur`an pada usianya yang ke-70. Tamasyanya ke taman hafalan
Al-Qur`an, sungguh sangat menginspirasi. Cita-citanya yang tinggi, kesabaran,
dan juga pengorbanannya patut kita teladani. Inilah hasil wawancara dengan Ummu
Shalih.
Motivasi apa yang
mendorong Anda untuk menghafalkan Al-Qur`an pada umur yang setua ini?
Sebenarnya, cita-citaku
untuk menghafal Al-Qur`an sudah tumbuh sejak kecil. Kala itu ayah selalu
mendoakanku agar menjadi hafizhah Al-Qur`an seperti beliau dan juga seperti
kakak laki-lakiku. Dari hal itulah, aku mampu menghafal beberapa surat
kira-kira 3 juz.
Ketika usiaku menginjak
13 tahun, aku menikah. Tentu setelah itu aku tersibukkan dengan urusan rumah
dan anak-anakku. Ketika aku dikaruniai 7 (tujuh) orang anak, suamiku wafat.
Karena ketujuh buah hatiku masih kecil-kecil, maka seluruh waktuku tersita
untuk mengurusi dan mendidik mereka.
Ketika mereka sudah
dewasa dan berkeluarga, maka waktuku pun kembali luang. Dan hal yang pertama
kali aku tunaikan adalah mencurahkan tenaga dan waktuku untuk mewujudkan
cita-cita agungku yang tertunda untuk menghafal Kitabullah Azza wa Jalla.
Bagaimana awal perjalanan
Anda dalam menghafal?
Aku mulai menghafal
kembali ketika putri bungsuku masih duduk di bangku Tsanawiyah (SMP). Dia salah
satu putriku yang paling dekat denganku, dan dia sangat mencintaiku. Sebab
kakak-kakak perempuannya telah menikah dan disibukkan dengan kehidupan baru
mereka. Sedangkan dia (putri bungsuku)
tinggal bersamaku. Dia sangat santun, jujur, dan mencintai kebaikan.
Putri bungsuku pun
bercita-cita untuk menghafal Al-Qur`an, terlebih ketika ustadzahnya
menyemangati dirinya. Dari sinilah, aku dan juga putri bungsuku menghafal
Al-Qur`an, setiap hari 10 ayat.
Bagaimana metode yang
Anda gunakan untuk menghafal?
Setiap hari, kami hanya
menghafal 10 ayat saja. Ba’da Ashar, kami selalu duduk bersama. Putriku membaca
ayat, kemudian aku menirukannya hingga 3 (tiga) kali. Setelah itu putriku menerangkan makna dari
ayat-ayat yang kami baca. Lantas membaca kembali ayat-ayat tersebut hingga 3
(tiga) kali.
Keesokan harinya, sebelum
berangkat ke sekolah putriku mengulangi ayat-ayat tersebut untukku. Tak cukup
itu saja, aku pun menggunakan tape recorder untuk mendengar murattal Syaikh
Al-Hushairi, dan aku mengulanginya hingga 3 (tiga) kali. Aku pun mendengar
murattal tersebut pada sebagian besar waktuku.
Kami menetapkan hari Jum’at,
khusus untuk mengulangi kembali ayat-ayat yang kami hafal selama satu pekan.
Demikian seterusnya, aku dan putri bungsuku selalu menghafal ayat-ayat
Al-Qur`an dengan cara tersebut.
Kapan Anda selesal
menghafal seluruh Al-Qur`an?
Kira-kira 4,5 tahun
berjalan aku sudah hafal 12 Juz dengan cara yang telah aku sebutkan. Kemudian
putriku pun menikah. Ketika suaminya mengetahui kebiasaan kami, dia pun
mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan rumahku untuk memberikan kesempatan
kepadaku dan putriku untuk menyempurnakan hafalan kami.
Semoga Alloh membalas
kebaikan menantuku dengan kebaikan yang lebih baik. Dialah yang selalu
menyemangati kami, bahkan terkadang dia menemani kami untuk menyimak hafalan
kami, menafsirkan ayat-ayat yang kami baca, dan juga memberikan
pelajaran-pelajaran berharga kepada kami.
Tiga tahun kemudian,
putriku tersibukkan dengan urusan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya. Sehingga tidak bisa melazimi kebiasaan yang
telah kami jalani. Putriku pun merasa khawatir hafalanku menjadi terbengkalai.
Maka, putriku pun mencarikan untukku seorang ustadzah agar dapat menemaniku
menyempurnakan hafalanku.
Dengan taufik Alloh Azza
Wajalla aku pun telah purna menghafalkan seluruh Al-Qur`an. Semangat putriku
pun masih membara untuk menyusulku menjadi hafizhah Al-Qur`an. Bahkan, tidak mengendur sedikit pun.
Cita-cita Anda sangat
tinggi, dan Anda pun telah mewujudkannya. Siapakah sosok wanita di sekitar Anda
yang selalu mendukung Anda?
Motivasi aku telah jelas
dan terang. Putri-putriku, juga para menantu perempuanku pastinya selalu
mendukungku. Walau hanya satu jam, kami sepakat untuk mengadakan pertemuan
sepekan sekali. Dalam pertemuan itu kami menghafal beberapa surat, dan saling
menyimak hafalan. Terkadang pertemuan itu pun macet. Tetapi kemudian mereka
bersepakat kembali untuk bertemu. Aku yakin, niat mereka semua sangat baik.
Tak ketinggalan pula,
cucu-cucu perempuanku yang selalu memberikan kaset-kaset murattal Al-Qur`an.
Hingga aku pun selalu memberi mereka bermacam-macam hadiah.
Awalnya,
tetangga-tetanggaku juga tidak simpatik dengan cita-citaku. Mereka selalu
mengingatkanku betapa sulitnya menghafal di usia yang daya ingatnya telah
lemah. Tetapi ketika mereka melihat kebulatan tekadku, akhirnya mereka pun
berbalik mendukung dan menyemangatiku. Ada di antara tetanggaku yang juga ikut
tersulut semangatnya untuk menghafal, dan sedikit demi sedikit hafalannya pun
mulai bertambah.
Ketika
tetangga-tetanggaku mengetahui bahwa aku telah purna menghafal seluruh
Al-Qur`an, mereka pun sangat berbahagia. Hingga kulihat air mata bahagia
menetes di pipi mereka.
Sekarang, apakah Anda
merasa kesulitan untuk muraja’ah (mengulangi) hafalan?
Aku selalu mendengarkan
murattal Al-Qur`an, dan menirukannya. Demikian juga ketika shalat, aku selalu
membaca beberapa surat panjang. Terkadang pula aku meminta salah seorang
putriku untuk menyimak hafalanku.
Di antara putra-putri
Anda, adakah yang juga hafizh seperti Anda?
Tak ada satu pun dari
mereka yang hafal keseluruhan Al-Qur`an. Tetapi, insya Alloh mereka selalu
berusaha mencapai cita-cita menjadi hafizh. Semoga Alloh menyampaikan mereka
pada hal tersebut dengan bimbingan-Nya.
Setelah hafal Al-Qur`an,
apakah terpikirkan bagi Anda untuk menghafal hadits?
Saat ini, aku telah hafal
90 hadits, dan aku tetap berkeinginan untuk melanjutkannya, Insya Alloh. Aku
menghafalnya dengan mendengarkan dari kaset. Pada setiap akhir pekan, putriku
membacakan untukku 3 (tiga) hadits. Sekarang, aku telah mencoba untuk menghafal
hadits lebih banyak lagi.
Setelah kurang lebih 12
tahun Anda disibukkan dengan menghafal Al-Qur`an, perubahan apa yang Anda
rasakan dalam kehidupan Anda?
Benar, aku merasakan
perubahan yang mendasar dalam diri aku. Walau sebelum menghafal–untuk Alloh
segala puji¬¬—aku selalu menjaga diri untuk senantiasa dalam ketaatan kepada Alloh
Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah disibukkan dengan
menghafalkan Al-Qur`an, justru aku merasakan kelapangan hati yang tak terkira,
dan sirnalah seluruh kecemasan dalam diriku. Aku pun tidak pernah menyangka
akan terbebas dari perasaan khawatir terhadap urusan-urusan yang menimpa
anak-anakku.
Moral dan spiritku
benar-benar terangkat. Hingga aku pun rela berpayah-payah untuk mewujudkan
kerinduanku dalam mewujudkan cita-citaku. Inilah nikmat terbesar yang diberikan
oleh Sang Khaliq Azza Wajalla kepadaku sebagai wanita tua, suami pun telah
tiada, dan juga anak-anaknya pun mulai berkeluarga.
Di saat wanita lanjut
usia lainnya terjebak dalam angan-angan dan lamunan. Tetapi aku ¬—segala puji
hanya untuk Alloh— tidak merasakan hal yang demikian. Aku benar-benar
tersibukkan dengan urusan besar yang memiliki faedah di dunia dan Akhirat.
Ketika itu, apakah Anda
tidak berpikir untuk mendaftarkan diri pada sebuah pesantren penghafal
Al-Qur`an?
Pernah beberapa wanita
yang mengusulkan kepadaku, tapi aku adalah wanita yang terbiasa untuk berdiam
diri di dalam rumah dan jarang sekali keluar rumah. Alhamdulillah, karena
putriku telah mencukupi segalanya dan membantuku dalam segala urusan. Sungguh,
putriku benar-benar tidak ada duanya. Aku pun telah banyak mengambil pelajaran
darinya.
Apa yang terkesan dalam
diri Anda tentang putri bungsu Anda yang telah membimbing dan mendampingi Anda?
Putri bungsuku telah
memberikan pelajaran mengagumkan dalam kebaikan dan kedermawanan yang keduanya
sulit ditemui pada zaman sekarang. Terlebih dia mendampingiku menghafal
Al-Qur`an pada usia muda. Padahal, usia ini adalah usia labil yang mudah
terombang-ambing dan tergoda dengan keadaan yang menjerumuskan.
Tidak seperti umumnya
teman-teman seusianya, putriku memaksakan diri untuk meluangkan waktunya untuk
mendampingiku. Dia pun mengajari dan mendampingiku dengan tekun, sabar, dan
penuh kelembutan. Suaminya pun demikian —semoga Alloh senantiasa menjaganya—
selalu menolong dan telah memberikan bantuan yang begitu banyak. Semoga Alloh
Azza wa Jalla mengaruniakan kepada mereka berdua dan menyejukkan pandangan mata
mereka dengan anak-anak yang shalih.
Apa saran Anda kepada
wanita yang telah lanjut usia, dan menginginkan untuk dapat menghafalkan
Al-Qur`an, tetapi terhalang oleh rasa khawatir dan merasa tidak mampu untuk
melaksanakannya?
Aku katakan: Jangan
berputus asa terhadap cita-cita yang benar. Teguhkanlah keinginanmu, bulatkan
tekadmu, dan berdoalah kepada Alloh di setiap waktu. Kemudian, mulailah
sekarang juga. Setelah umurmu berlalu dan kau curahkan seluruhnya untuk
memenuhi tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak, dan mengurus
suami. Maka sekarang saatnyalah Anda memanjakan diri. Bukan berarti kemudian
memperbanyak keluar rumah, memuaskan diri dengan tidur, bermewah-mewah, dan
banyak beristirahat. Tetapi memanjakan diri dengan amal shalih. Hanya kepada Alloh
Subhanahu wa Ta’ala kita memohon khusnul khatimah.
Nasihat Anda terhadap
para remaja?
Jagalah Alloh, niscaya Alloh
akan menjagamu. Nikmat Alloh berupa kesehatan, dan banyaknya waktu luangmu,
maksimalkanlah untuk menghafal kitab Alloh Azza Wa Jalla. Inilah cahaya yang
akan menyinari hatimu, hidupmu, dan kuburmu setelah engkau mati.
Jika kalian masih
memiliki ibu, bersungguh-sungguhlah dalam membimbingnya menuju ketaatan kepada Alloh.
Demi Alloh, tidak ada nikmat yang lebih dicintai seorang ibu kecuali seorang
anak shalih yang mau menolongnya untuk mendekatkan diri kepada Alloh Azza Wa
Jalla.[]
Sumber: Hafal Al-Qur’an
Tanpa Nyantri karya Abdud Daim Al-Kahil, Pustaka Arafah, Cet I, Maret 2010,
halaman 129-137
[17] Singkat Cerita, Kuselesaikan dalam 7 Tahun
“Setiap kali aku
teringat Al-Qur’an maka aku dipenuhi perasaan gembira dan bahagia. Tahun demi
tahun berlalu, hingga aku mampu menghafal Al-Qur’an secara sempurna selama 7
tahun. Aku meneruskan perjalanan ini dan menyempurnakannya dengan mengikuti 6
kali perlombaan.
Aku berpesan kepada
saudaraku Muslimah yang tengah menghafal Al-Qur’an, hendaknya mereka
mentadabburi Al-Qur’an dan mempelajari kandungannya sehingga mereka tidak
mendapatkan beban karenanya dan juga mendapatkan syafaat bagi mereka di Akhirat
kelak. Juga aku ingatkan kepada saudara-saudaraku yang belum menghafal Al-Qur’an,
agar mereka senantiasa mengingat ingat keutamaan menghafal Al-Qur’an serta
pahala yang akan diraih oleh penghafalnya. Sebab kedudukan di Surga akan berada
di akhir ayat Al-Qur’an yang dibaca.”[]
[18] Koma 15 Tahun dan Keluarga Al-Qur’an
Seorang istri menceritakan
kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata:
Suamiku adalah seorang
pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan
berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku
tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi
keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua
orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Alloh yang telah menganugerahkan
kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun
pernikahan kami.
Lalu suamiku pindah
kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama sepekan
(di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami sepekan.
Hingga akhirnya setelah 3
tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun…
Pada suatu hari yaitu
tanggal 9 Romadhon tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya
menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik.
Akibatnya ia dimasukkan ke rumah sakit, dalam keadaan koma. Setelah itu para
dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan
otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan
kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah
kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat
ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang
disenanginya.
Kami senantiasa
bergantian menjenguknya di rumah sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak
ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang
menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku
telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa
demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku
cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku
menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.
Aku tidak akan cerai
darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat
yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Alloh
melakukan apa yang Alloh kehendaki.
Akupun memfokuskan
konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah
tahfiz Al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal Al-Qur’an padahal umurnya
kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang
sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan
terkadang hanya diam membisu.
Putriku adalah seorang
yang taat beragama, ia senantiasa shalat pada waktunya, ia shalat di penghujung
malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Alloh yang telah memberi
taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat
sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.
Putriku pergi bersamaku
untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk
kesembuhan ayahnya. Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku: “Ummi
biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku.” Setelah keraguan
menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.
Putriku bercerita, “Aku
duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqarah hingga selesai. Lalu rasa
kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada
ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan
shalat –sesuai yang Alloh tetapkan untukku-.
Lalu sekali lagi
akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat shalatku.
Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, ‘Bangunlah…! Bagaimana engkau
tidur sementara Ar-Rohmaan (Alloh) terjaga? Bagaimana engkau tidur sementara
ini adalah waktu dikabulkannya doa, Alloh tidak akan menolak doa seorang hamba
di waktu ini?’ Akupun bangun. Seakan-akan aku mengingat sesuatu yang
terlupakan. Lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku
memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata
dalam do’aku, ‘Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)..., Yaa ‘Adziim (Yang
Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…,
Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim
(Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hamba-Mu,
ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami memuji Engkau…, kami
beriman dengan keputusan dan ketetapan-Mu baginya… Ya Alloh…, sesungguhnya ia
berada di bawah kehendak-Mu dan kasih sayang-Mu.., Wahai Engkau yang telah
menyembuhkan Nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan Nabi Musa
kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yunus dari perut ikan paus, Engkau
Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…
Sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya. Ya Alloh… Sesungguhnya mereka telah
menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh… Ya Alloh milik-Mu lah
kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya.” Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun
tertidur sebelum subuh.
Tiba-tiba ada suara lirih
menyeru, “Siapa engkau? Apa yang kau lakukan di sini?” Akupun bangun
karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak
melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri,
ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku.
Maka akupun tak kuasa
menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia,
sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah
engkau kepada Alloh….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata
kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa’.” Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun
keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala
mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.
Salah seorang dokter
Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallah…”.
Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Alloh Yang telah
menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku
tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan
kepadanya. Iapun menangis dan berkata:
اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ
‘Sungguh Alloh adalah
Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang shalih.’
Demi Alloh tidak ada yang
kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat
untuk berhenti melaksanakan shalat Dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi
mengerjakan shalat Duha atau tidak?’
Sang istri berkata:
Maka suamiku Abu Asmaa’
akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya,
sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang
putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Alloh
Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga
putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan
bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam
keadaan koma…
Maka janganlah
sekali-kali kalian meninggalkan do’a. Sesungguhnya tidak ada yang menolak
takdir kecuali do’a. Barang siapa yang menjaga syari’at Alloh maka Alloh akan
menjaganya.
Jangan lupa juga untuk
berbakti kepada kedua orang tua, dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Alloh
lah pengaturan segala sesuatu, di tangan-Nya lah segala taqdir, tidak ada
seorangpun selain-Nya yang ikut mengatur.
Ini adalah kisahku
sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Alloh menjadikan kisah ini bermanfaat bagi
orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan
telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup.
Maka ketuklah pintu
langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Alloh. Demikian dan
Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin.[]
Sumber: http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html
, diterjemahkan oleh Dr. Firanda Andirja, Lc., MA
[19] Si Buta yang Dimuliakan Karena Al-Qur’an
Dahulu, sebelum ada
vaksinasi, cacar adalah salah satu penyakit yang tersebar di mana-mana, dan
atas kehendak Alloh Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala sesuatu, sering
kali (penyakit cacar itu) mengakibatkan kematian di kalangan masyarakat.
Di antara mereka ada yang
terjangkit bencana ini; seorang lelaki berumur 6 tahun dari sebuah dusun di
utara kota Buraidah di wilayah Al-Qashim. Peristiwa ini terjadi di abad 14 H.
Akibatnya, ia mengalami kebutaan total dan berwajah bopeng.
Anak ini tinggal di
tengah saudara-saudaranya yang bekerja sebagai petani di sawah. Dia sering
berlari-lari di belakang mereka, hendak mengejar mereka saat berjalan bersama.
Akan tetapi, tentu saja hal ini sering kali menyebabkannya tersandung dan
terjerembab di mana-mana, lalu terluka. Namun, ia segera bangkit mengejar arah
datangnya suara mereka, lalu ia menabrak pohon di mana-mana, sementara
saudara-saudaranya hanya menertawainya ketika ia jatuh, bahkan (mereka)
mengejeknya, “Buta …! Buta …!”
Mereka tidak peduli dan
tidak menanyakan apabila dia tidak ada dan (mereka) bersikap acuh kalau dia ada
di tengah mereka. Bahkan, di kala orang tuanya tidak ada dirumah, sering kali
ia menjadi bulan-bulanan saudara-saudaranya, yaitu ketika dia disuruh berjalan
lalu terantuk dan terjatuh, maka ia menjadi bahan tertawaan. Meskipun demikian,
dia termasuk anak yang lincah dan gerakannya ringan. Kemauannya keras dan
mempunyai ketabahan, dan Alloh telah mengaruniakan kepadanya kecerdasan dan
kemauan yang keras. Dia selalu berupaya melakukan apa saja yang dia mau. Dia
ingin mengerjakan lebih banyak daripada yang dilakukan orang normal.
Ayahnya adalah orang yang
miskin. Dia memandang anaknya yang buta ini hanya menjadi beban saja, karena
dia tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan darinya sebagaimana
saudara-saudaranya yang lain.
Suatu hari, salah seorang
temannya datang ke rumah. Sudah beberapa tahun mereka tidak jumpa. Dia lalu
mengadukan kepada temannya tersebut perihal anaknya yang buta bahwa anak itu
tidak berguna, bahkan mereka sekeluarga selalu sibuk mengurus dan melayaninya,
sehingga menghambat sebagian pekerjaan mereka. Tamu tersebut menyarankan agar
anak itu dikirim ke Riyadh agar mendapat jaminan makanan dari jamuan yang
selalu diadakan oleh Ibnu Sa’ud (Setelah keamanan dalam negeri di seluruh
Jazirah Arab terkendali di tangan Raja Abdul ‘Aziz Rahimahullah, dia mengadakan
jamuan khusus untuk memberi makan kaum fakir miskin dan orang orang terlantar.
Pada masa itu, jamuan tersebut sangat terkenal), sehingga (ia) akan selalu
bertemu dengan orang orang yang mengasihinya setiap saat.
Ide tersebut diterima
dengan baik oleh ayahnya. Ketika ada seorang tukang unta tampak sedang membuat
kayu ke atas punggung untanya yang biasanya menjual barang dagangan di Riyadh,
ayahnya menghampiri tukang unta dan berkata, “Aku hendak menitipkan anakku
ini padamu. Bawalah dia pergi ke Riyadh dan aku beri kamu dua riyal, dengan
syarat: kamu taruh dia di masjid, dan kamu tunjukkan di mana letak jamuan makan
dan sumur masjid agar dia bisa minum dan berwudhu, dan serahkan dia kepada
orang yang mau berbuat kebajikan kepadanya.”
Berikut ini penuturan
kisah sang anak setelah (ia) dewasa,
Aku dipanggil ayahku
Rahimahullah. Pada waktu iu, umurku baru mendekati 13 tahun. Beliau berkata, “Anakku,
di Riyadh itu ada halaqah-halaqah ilmu, ada jamuan makan yang akan memberimu
makan malam setiap hari, dan lain sebagainya. Kamu akan betah disana, insya Alloh.
Kamu akan ayah titipkan pada orang ini. Dia akan memberitahu kamu apa saja yang
kamu inginkan.”
Tentu saja, aku menangis
keras-keras dan mengatakan, “Benarkah orang sepertiku tidak memerlukan lagi
keluarga? Bagaimana mungkin aku berpisah dengan ibuku, saudara-saudara, dan
orang orang yang aku sayangi? Bagaimana aku akan mengurus diriku di negeri yang
sama sekali asing bagiku, sedangkan di tengah keluargaku saja aku mengalami
kesulitan? Aku tidak mau!”
Aku dibentak oleh ayahku.
Beliau berkata kasar kepadaku. Selanjutanya, beliau memberiku pakaian-pakaianku
seraya berkata, “Tawakal kepada Alloh dan pergilah. Kalau tidak, kamu akan
aku begini dan begini.”
Suara tangisku makin
keras, sementara saudara-saudaraku hanya diam saja di sekelilingku.
Selanjutnya, aku dibimbing oleh si tukang unta sambil menjanjikan kepadaku
hal-hal yang baik-baik dan meyakinkan aku bahwa aku akan hidup enak di sana.
Aku pun berjalan sambil
tetap menangis. Tukang unta itu menyuruh aku berpegangan pada ujung kayu di
bagian kelakang unta. Dia berjalan di depan unta, sedangkan aku di belakangnya,
sementara suara tangisku masih tetap meninggi. Aku menyesali perpisahanku
dengan keluargaku.
Setelah lewat sembilan
hari perjalanan, tibalah kami di tengah kota Riyadh. Tukang unta itu
benar-benar menaruh aku di masjid dan menunjukkan aku letak sumur dan jamuan
makan. Akan tetapi aku masih tetap tidak menyukai semuanya dan masih merasa
sedih. Aku menangis dari waktu ke waktu. Dalam hati, aku berkata, “Bagaimana
mungkin aku hidup di suatu negeri yang aku tidak mengetahui apa pun dan tidak
mengenal siapa pun? Aku berangan-angan, andaikan aku bisa melihat, pastilah aku
sudah berlari entah kemana, ke padang pasir barangkali. Akan tetapi, atas
rahmat Alloh, ada beberapa orang yang menaruh perhatian kepadaku di masjid itu.
Mereka menaruh belas kasihan kepadaku, lalu mereka membawaku kepada Syeikh
Abdurrahman Al-Qasim Rahimahullah dan mereka katakan, ‘Ini orang asing, hidup
sebatang kara.’”
Syaikh menghampiri aku,
lalu menanyai siapa namaku dan nama julukanku, dan dari negeri mana. Kemudian,
beliau menyuruh aku duduk di dekatnya, sementara aku menyeka air mataku. Beliau
berkata, “Anakku, bagaimana ceritamu?” Kemudian, aku pun menceritakan
kisahku kepada beliau.
“Kamu akan baik baik
saja, insya Alloh. Semoga Alloh memberimu manfaat dan membuat kamu bermanfaat.
Kamu adalah anak kami dan kami adalah keluargamu. Kamu akan melihat nanti
hal-hal yang menggembirakanmu di sisi kami. Kamu akan kami gabungkan dengan
para pelajar yang sedang menuntut ilmu dan akan kami beri tempat tinggal dan
makanan. Di sana ada saudara-saudara di jalan Alloh yang akan selalu
memperhatikan dirimu.”
Aku menjawab, “Semoga Alloh
memberi Tuan balasan yang terbaik, tetapi aku tidak menghendaki semua itu. Aku
ingin Tuan berbaik hati kepadaku, kembalikan aku kepada keluargaku bersama
salah satu kafilah yang menuju Al-Qashim.”
Syaikh berkata, “Anakku,
coba dulu kamu tinggal bersama kami, barangkali kamu akan merasa nyaman. Kalau
tidak, kami akan mengirim kamu kembali kepada keluargamu, insya Alloh.”
Selanjutnya, Syaikh
memanggil seseorang lalu berkata, “Gabungkan anak ini dengan Fulan dan
Fulan, dan katakan kepada mereka, perlakukan dia dengan baik.”
Orang itu membimbing dan
membawaku menemui dua orang teman yang baik hati. Keduanya menyambut
kedatanganku dengan baik dan aku pun duduk di sisi mereka berdua, lalu aku
ceritakan kepada mereka berdua keadaanku dan mengatakan bahwa aku tidak betah
tinggal di sini karena harus berpisah dari keluargaku. Tak ada yang dilakukan
kedua temanku itu selain mengatakan kepadaku perkataan yang menghiburku.
Keduanya menjanjikan kepadaku yang baik-baik dan bahwa kami akan sama-sama
mencari ilmu, sehingga aku sedikit merasa tenteram dan senang kepada mereka.
Keduanya selalu bersikap baik padaku. Semoga Alloh memberi mereka dariku
balasan yang terbaik. Akan tetapi, aku sendiri belum juga terlepas dari
kesedihan dan keenggananku tinggal di sana. Aku masih tetap menangis dari waktu
ke waktu atas perpisahanku dengan keluargaku.
Kedua temanku itu tinggal
di sebuah kamar dekat masjid. Aku tinggal bersama mereka. Keseharianku selalu
bersama mereka. Pagi-pagi benar, kami pergi shalat Subuh, lalu duduk di masjid
mengikuti pengajian Al-Qur’an sampai menjelang siang. Syaikh menyuruh kami
menghafal Al-Qur’an. Sesudah itu, kami kembali ke kamar, istirahat beberapa
saat, makan ala kadarnya, kemudian kembali lagi ke pengajian hingga tiba waktu
Zuhur. Barulah setelah itu, kami istirahat, yakni tidur siang (qailulah), dan
sesudah shalat Ashar kami kembali lagi mengikuti pengajian.
Demikian yang kami
lakukan setiap hari hingga akhirnya mulailah aku merasa betah sedikit demi
sedikit, makin membaik dari hari ke hari, bahkan akhirnya Alloh melapangkan
dadaku untuk menghafal Al-Qur’an, terutama setelah Syaikh–Rahimahullah–memberi
dorongan dan perhatian khusus kepadaku. Aku pun melihat diriku mengalami
kemajuan dan menghafal hari demi hari. Sementara itu, Syaikh selalu mempertajam
minat para santrinya. Pernah suatu kali, beliau berkata, “Kenapa kalian
tidak meniru si Hamud itu? Lihatlah bagaimana kesungguhan dan ketekunannya,
padahal ia orang buta!”
Dengan kata-kata itu, aku
semakin bersemangat, karena timbul persaingan antara aku dan teman-temanku
dalam kebaikan. Oleh karena itu, kurang dari satu setengah bulan, Alloh Ta’ala
telah mengaruniai aku ketenteraman dan ketenangan hati, sehingga dapatlah aku
menikmati hidup baru ini.
Setelah tujuh bulan
lamanya aku tinggal di sana, aku katakan dalam diriku, “Subhanallah, betapa
banyak kebaikan yang terdapat dalam hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu,
sementara diri kita melalaikannya! Kenapa aku harus sedih dan menangisi
kehidupan yang serba kekurangan di tengah keluargaku, yang ada hanya kebodohan,
kemiskinan, kepayahan ketidakpedulian, dan penghinaan, sedangkan aku merasa
menjadi beban mereka?”
Demikianlah kehidupan
yang aku jalani di Riyadh setiap harinya, sehingga kurang dari sepuluh bulan
aku sudah dapat menghafal Al-Qur’an sepenuhnya, alhamdulillah. Kemudian, aku
ajukan hafalanku itu kehadapan Syaikh sebanyak dua kali. Selanjutnya, Syaikh
mengajak aku pergi menemui para guru besar, yaitu Syaikh Muhammad bin Ibrahim
dan Syaikh Abdul Latif bin Ibrahim. Aku diperkenalkan kepada mereka. Kemudian,
guruku itu berkata, “Kamu akan ikut bergabung dalam halaqah-halaqah ilmu.
Adapun murajaah Al-Qur’an, dilakukan sehabis shalat Subuh, kamu akan dipandu
oleh Fulan. Sesudah Magrib, kamu akan dipandu oleh Fulan.”
Sejak saat itu, mulailah
aku menghadiri halaqah-halaqah dari para guru besar itu, yang bisa menimba ilmu
dengan kesungguhan hati. Materi pelajaran yang diberikan meliputi Akidah,
Tafsir, Fikih, Ushul Fikih, Hadits, Ulumul Hadits, dan Fara’idh. Seluruh materi
diberikan secara teratur, masing-masing untuk materi tertentu.
Sementara itu, aku
sendiri, hari demi hari semakin merasa betah, semakin senang, dan tenteram
hidup di lingkungan itu. Aku benar benar merasa bahagia mendapat kesempatan
mencari ilmu. Sementara itu, agaknya orang tuaku di kampung selalu bertanya
kepada orang-orang yang bepergian ke Riyadh, dan tanpa sepengetahuanku beliau
mendapat berita-berita tentang perkembanganku.
Demikianlah,
Alhamdulillah, aku berkesempatan untuk terus mencari ilmu dan menikmati
taman-taman ilmu. Setelah tiga tahun, aku meminta izin kepada guru-guruku untuk
menjenguk keluargaku di kampung. Kemudian, mereka menyuruh orang untuk mengurus
perjalananku bersama seorang tukang unta. Dengan memuji Alloh, aku pun
berangkat hingga sampailah aku kepada keluargaku. Tentu saja, mereka sangat
gembira dan kegirangan menyambut kedatanganku, terutama Ibuku–Rahimahallah–.
Mereka menanyakan kepadaku tentang keadaanku dan aku katakan, “Aku kira,
tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih bahagia selain aku.”
Ya, kini mereka melihatku
dengan senang dan santun. Demikian pula, aku melihat mereka menghargai dan
menghormati aku, bahkan menyuruhku mengimami shalat mereka. Aku menceritakan
kepada mereka pengalaman-pengalaman yang telah aku alami selama ini. Mereka
senang mendengarnya dan memuji kepada Alloh.
Setelah beberapa hari
berada di lingkungan keluargaku, aku pun meminta izin untuk pergi meninggalkan
mereka kembali. Mereka bersikeras memintaku untuk tetap tinggal, tapi aku
segera mencium kepada ayah-bundaku. Aku meminta pengertian dan izin kepada
keduanya, dan Alhamdulillah mereka mengizinkan. Akhirnya aku kembali ke Riyadh
meneruskan pelajaranku. Aku makin bersemangat mencari ilmu.”
Adapun dari
teman-temannya yang seangkatan, ada di antaranya yang menceritakan:
Dia sangat rajin dan
bersemangat dalam mencari ilmu, sehingga dikagumi guru-gurunya dan teman-teman
seangkatannya. Sangat banyak ilmu yang dia peroleh. Adapun hal yang sangat ia
sukai adalah apabila ada seseorang yang duduk bersamanya dengan membacakan
kepadanya sebuah kitab yang belum pernah ia dengar, atau ada orang yang
berdiskusi dengannya mengenai berbagai masalah ilmu. Dia memiliki daya hafal
yang sangat mengagumkan dan daya tangkap yang luar biasa.
Tatkala umurnya mencapai
18 tahun, dia diperintahkan oleh guru didiknya dihadapan santri-santri kecil
dan agar menyuruh mereka menghafalkan beberapa matan kitab.
Ketika Fakultas Syariah
Riyadh dibuka, beberapa orang gurunya menyarankan dia mengikuti kuliah. Dia
mengikutinya, dan dengan demikian dia, termasuk angkatan pertama yang
dihasilkan oleh fakultas tersebut pada tahun 1377 H. Kemudian, dia ditunjuk
menjadi tenaga pengajar di Fakultas Syariah di kota itu.
Pada akhir hayatnya, dia
pindah mengajar di fakultas yang sama di Al-Qashim, dan lewat tangannya
muncullah sekian banyak mahasiswa yang kelak menjadi hakim, orator, guru,
direktur, dan sebagainya.
Pada tiap musim haji, dia
tergabung dalam rombongan pada mufti dan da’i, di samping kesibukannya sebagai
pebisnis tanah dan rumah, sehingga dia bisa memberi nafkah kepada keluarganya
dan saudara saudaranya, dan dapat pula membantu kerabat-kerabatnya yang lain.
Adapun saudara saudaranya
yang dulu sering mengejeknya semasa kecil, kini mereka mendapatkan kebaikan
yang melimpah darinya, karena sebagian mereka, ada yang kebetulan tidak pandai
mencari uang.
Betapa banyak karunia dan
nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri kita. Akan
tetapi, firman Alloh yang Maha Agung tentu lebih tepat,
عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى
أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi, kamu
membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Alloh yang paling mengetahui,
sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)[]
Sumber: Obat Penawar
Hati yang Sedih karya Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah Al-’Utsaimin,
Penerbit: Darus Sunnah.
Tamat.

Assalamu'alaikum