[PDF] Arbain (40 Hadits) Tentang Menuntut Ilmu - Edisi 2 - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Edisi 2 ini
tidak ada perubahan isi, kecuali mempercantik tampilan dan ejaan a
menjadi o. Juga penambahan tahun wafat ulama, karena ia lebih penting
dari nomor Hadits di era digital.
Bab 1: Tentang Ilmu 📖
1.1:
Wajibnya Belajar 🚀
«طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
“Menuntut
Ilmu Agama adalah kewajiban atas setiap Muslim.” (HSR. Ibnu Majah (273 H)
no. 224)
1.2:
Minta Ilmu Bermanfaat 🤲
«اللَّهُمَّ
انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا»
“Ya
Alloh, berilah manfaat atas Ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku
Ilmu yang bermanfaat bagiku, serta tambahkanlah Ilmu kepadaku.” (HSR.
At-Tirmidzi (279 H) no. 3599)
1.3:
Yang Terbaik yang Paham Agama 🌟
«خِيَارُهُمْ
فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا»
“Orang-orang
yang terbaik dari mereka di masa Jahiliyah adalah yang terbaik pula dari mereka
di masa Islam, asalkan mereka Faqih (paham agama).” (HR. Al-Bukhori (256 H)
no. 3353 dan Muslim (261 H) no. 2378)
1.4:
Ilmu Lebih Utama daripada Amal 📖
«إِنَّكُمْ
قَدْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيلٍ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيرٍ
مُعْطُوهُ، قَلِيلٍ سُؤَّالُهُ، الْعَمَلُ فِيهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ،
وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ،
كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيلٍ مُعْطُوهُ، الْعِلْمُ فِيهِ خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ»
“Sungguh
kalian sekarang benar-benar berada di sebuah zaman yang banyak orang-orang
Faqih-nya, sedikit para penceramahnya, banyak para pemberi, dan sedikit para
peminta-minta. Amal di masa ini lebih baik daripada Ilmu.
Akan datang
sebuah zaman nanti di mana sedikit orang-orang Faqih-nya, banyak para
penceramahnya, sedikit para pemberi, dan banyak para peminta-minta. Ilmu di
masa itu lebih baik daripada Amal.” (HSR. Ath-Thobaroni (360 H) no. 3111)
1.5:
Tanda Munafiq Bodoh Agama ⚠️
«خَصْلَتَانِ
لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ: حُسْنُ سَمْتٍ، وَلَا فِقْهٌ فِي الدِّينِ»
“Dua
perkara yang tidak akan berkumpul pada diri seorang munafiq, yaitu banyak diam
(berperilaku baik) dan Faqih dalam Agama.” (HSR. At-Tirmidzi (279 H) no.
2684)
1.6:
Ilmu Jariyah 🌊
«إِذَا
مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila
anak Adam meninggal dunia maka terputus semua amalnya (tidak bisa lagi menambah
pahala) kecuali dari 3 hal, yaitu shodaqoh jariyah, Ilmu yang dimanfaatkan
orang lain, atau anak sholih yang mendoakan orangtuanya.” (HR. Muslim (261
H) no. 1631)
1.7:
Keutamaan Miskin Dibarengi Ilmu 💎
«إِنَّمَا
الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ
يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا،
فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ
مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ
فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ،
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا،
فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ
فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ،
وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ
لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ»
“Dunia
itu milik 4 golongan, yaitu [1] seseorang yang Alloh beri Ilmu dan harta lalu
dia ber-taqwa kepada Robb-nya, menyambung shilaturrohmi, dan mengetahui hak
Alloh pada harta tersebut. Orang ini
yang paling utama kedudukannya di sisi Alloh. [2] Seseorang yang Alloh beri
Ilmu tetapi tidak diberi harta lalu dia berkata, ‘Andai aku punya harta aku
akan melakukan seperti amal fulan.’ Karena niat baiknya itu, dia dan orang pertama
sama dalam Pahala.
[3]
Seseorang yang Alloh beri harta tetapi tidak diberi Ilmu lalu dia memboroskan
harta itu tanpa ber-taqwa kepada Robb-nya, tidak menyambung shilaturrohmi, dan
tidak tahu hak Alloh pada harta itu.
Orang ini kedudukannya paling buruk di sisi Alloh. [4] Seseorang yang
tidak diberi Alloh harta dan Ilmu lalu berkata, ‘Andai aku punya harta aku akan
melakukan seperti amal fulan.’ Karena niat buruknya itu, keduanya sama dalam
Dosa.” (HSR. At-Tirmidzi (279 H) no. 2325)
1.8:
Larangan Kerja Tanpa Ilmu ⚖️
Umar bin
Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata,
«لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ»
“Tidak
boleh melakukan transaksi jual-beli di pasar kami kecuali orang yang paham
Agama (Faqih).” (HHR. At-Tirmidzi (279 H) no. 487)
1.9:
Pertanggungjawaban Atas Ilmu 🕰️
«لَا
تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ
عَنْ خَمْسٍ، عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ
مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ»
“Kaki
anak Adam tidak akan bergeser pada hari Qiyamah dari sisi Robb-nya hingga
ditanya tentang 5 hal: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa
mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana dia peroleh dan ke mana dia
salurkan, serta tentang Ilmunya apakah sudah diamalkan.” (HHR. At-Tirmidzi
(279 H) no. 2416)
1.10:
Menulis Ilmu ✍️
«قَيِّدُوا
الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ»
“Ikatlah
Ilmu dengan tulisan.” (HSR. Al-Qodho’i (454 H) no. 637 dan Ash-Shohihah no.
2026)
1.11:
Ambisi Ilmu 🎯
«مَنْهُومَانِ
لَا يَشْبَعَانِ: مَنْهُومٌ فِي عِلْمٍ لَا يَشْبَعُ، وَمَنْهُومٌ فِي دُنْيَا لَا
يَشْبَعُ»
“Dua
ambisi yang tidak pernah kenyang, yaitu ambisi terhadap Ilmu tidak akan kenyang,
dan ambisi terhadap dunia juga tidak akan pernah kenyang.” (HSR. Al-Hakim
(405 H) no. 312)
1.12:
Ilmu Perlu Dicari 🔍
«إِنَّمَا
الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ
يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ»
“Ilmu
itu hanya diperoleh lewat belajar, sementara kesantunan lewat berusaha
santun. Siapa yang melatih diri dengan
kebaikan maka ia akan diberi, dan siapa yang menjaga diri dari keburukan maka
ia akan dijaga.” (HSR. Ath-Thobaroni (360 H) no. 2663)
1.13:
Bertanya Kunci Ilmu 🗝️
«فَإِنَّمَا
شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ»
“Sungguh
obat bagi kebodohan adalah bertanya.” (HSR. Abu Dawud (275 H) no. 336)
1.14:
Belajar Lebih Besar Pahalanya dari Beribadah 🕌
«فَضْلُ
الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ»
“Keutamaan
Ilmu itu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan Agama terbaik bagi kalian
adalah waro (meninggalkan hal yang syubhat atau tidak bermanfaat).” (HHR.
Al-Hakim (405 H) no. 317)
1.15:
Baca Satu Ayat Melebihi Sedekah Satu Unta 🐫
«أَيُّكُمْ
يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ، أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ، فَيَأْتِيَ
مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ، وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ؟» فَقُلْنَا:
يَا رَسُولَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ،
“Siapa
di antara kalian yang suka pergi setiap hari di waktu pagi ke Buth-han (nama
lembah di Madinah) atau ke Aqiq (nama lembah di Madinah) lalu pulang membawa 2
unta bunting tanpa dosa dan memutus shilaturrohmi?” Kami menjawab, “Wahai Rosululloh ﷺ, kami menyukai hal itu.”
قَالَ: «أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ،
أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ،
وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ
أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ»
Beliau menjawab,
“Kenapa kalian tidak saja pergi ke Masjid untuk belajar atau membaca 2 ayat
dari Kitabulloh, karena hal itu lebih baik baginya daripada 2 unta bunting, 3
ayat lebih baik dari 3 unta, 4 ayat lebih baik dari 4 unta, yaitu sebanyak
hitungan unta.” (HR. Muslim (261 H) no. 803)
Bab 2: Tentang Pelajar 📝
2.1:
Berpahala Seperti Haji Sempurna 🕋
«مَنْ
غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ،
كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ»
“Siapa
yang bersegera pergi ke Masjid hanya untuk tujuan belajar kebaikan atau
mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang ber-Haji secara
sempurna.” (HSR. Ath-Thobaroni (360 H) no. 7473 dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)
2.2: Paham Agama Tanda Dicintai Allah 💖
«مَنْ
يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ
يُعْطِي،
وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ
اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ»
“Siapa
yang Alloh kehendaki kebaikan padanya maka Dia akan menjadikannya mendalami
Agama (Faqih). Aku hanya berbagi dan
Alloh yang memberi.
Akan
senantiasa ada sekelompok dari umat ini yang tegak di atas perintah Alloh,
orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka hingga datang hari
Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori (256 H) no. 3971 dan Muslim (261 H) no. 1037)
2.3:
Disambut Rosululloh 👋
«مَرْحَبًا
بطالبِ الْعِلْمِ، طَالِبُ الْعِلْمِ لَتَحُفُّهُ الْمَلَائِكَةُ وَتُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا،
ثُمَّ يَرْكَبُ بَعْضُهُ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغُوا السَّمَاءَ الدُّنْيَا مِنْ حُبِّهِمْ
لِمَا يَطْلُبُ»
“Selamat
datang wahai penuntut Ilmu. Sesungguhnya
penuntut Ilmu benar-benar dikelilingi para Malaikat dan dinaungi dengan sayap-sayapnya. Kemudian mereka saling bertumpuk-tumpuk
hingga mencapai langit dunia (langit paling dekat dari bumi), karena kecintaan
mereka (Malaikat) kepada Ilmu yang dipelajarinya.” (HSR. Ath-Thobaroni (360
H) no. 7347 dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)
2.4: Wasiat Berbuat Baik kepada Pelajar 🤝
«سَيَأْتِيكُمْ
أَقْوَامٌ يَطْلُونَ الْعِلْمَ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَقُولُوا لَهُمْ: مَرْحَبًا
مَرْحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَاقْنُوهُمْ»
“Kelak
akan datang sejumlah kaum yang menuntut Ilmu.
Jika kalian nanti melihat mereka maka sampaikan kepada mereka, ‘Selamat
datang atas wasiat Rosululloh ﷺ,’
lalu ajarilah mereka.” (HHR. Ibnu Majah (273 H) no. 247)
2.5:
Terkecualikan dari Laknat 🌈
«أَلَا
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ
وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ»
“Ketahuilah
bahwa sesungguhnya dunia itu terlaknat dan terlaknat pula isinya kecuali
ber-dzikir kepada Alloh dan ketaatan kepada-Nya, orang ber-Ilmu, serta orang
yang sedang belajar.” (HHR. At-Tirmidzi (279 H) no. 2322)
2.6:
Membiayai Pelajar Jadikan Berkahnya Harta 💰
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ أَخَوَانِ عَلَى
عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ ﷺ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا المُحْتَرِفُ
أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: «لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ»
Ada 2 orang
bersaudara di zaman Nabi ﷺ
di mana salah satu dari keduanya senantiasa mendatangi Nabi ﷺ (untuk mendengarkan Hadits) dan
yang lainnya sibuk bekerja. Lalu yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada
beliau, maka beliau ﷺ
menjawab, “Boleh jadi kamu diberi rizqi justru gara-gara saudaramu itu.” (HSR.
At-Tirmidzi (279 H) no. 2345)
2.7:
Perumpamaan Menyelisihi Ilmu Sendiri 🔥
«مَثَلُ
الْعَالِمِ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ ويَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ
يُضِيءُ لِلنَّاسِ ويَحْرِقُ نَفْسَهُ»
“Perumpamaan
Ahli Ilmu yang mengajari manusia tetapi melupakan dirinya sendiri (tidak
mengamalkan Ilmunya) laksana lampu yang menerangi manusia tetapi membakar
dirinya sendiri.” (HSR. Ath-Thobaroni (360 H) no. 1681 dalam Al-Kabir)
2.8: Ancaman Ilmu Untuk Dunia 🌍
«مَنْ
تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ
إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ»
“Siapa
yang belajar Ilmu yang seharusnya ia niatkan untuk Alloh tetapi justru ia
mempelajarinya demi mendapatkan harta dunia, maka ia tidak akan mencium aroma
Jannah di hari Qiyamah.” (HSR. Abu Dawud (275 H) no. 3664)
2.9:
Ancaman Ilmu untuk Popularitas 📢
«مَنْ
طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ العُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ
أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ»
“Siapa
mencari Ilmu untuk membanggakan diri kepada ulama, atau mendebat orang-orang
bodoh, atau agar diperhatikan oleh manusia maka Alloh akan memasukkannya ke
Naar.” (HHR. At-Tirmidzi (279 H) no. 2654)
2.10:
Balasan Belajar karena Kesombongan 🏚️
«لَا
تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ،
وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ»
“Kalian
jangan belajar Ilmu untuk tujuan membanggakan diri di sisi ulama, mendebat
orang-orang bodoh, atau demi tampil di majlis. Siapa yang melakukan itu maka
baginya Naar, Naar.” (HSR. Ibnu Majah (273 H) no. 254)
2.11:
‘Alim yang Membahayakan 🤐
«إِنَّ
أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ»
“Sesungguhnya
yang paling aku takutkan atas umatku adalah setiap munafiq yang pintar bersilat
lidah.” (HSR. Ahmad (241 H) no. 144)
Bab 3: Tentang Pengajar 👨🏫
3.1:
Dimintakan Ampun Oleh Penduduk Langit dan Bumi ☁️
«إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي
جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ»
“Sesungguhnya
Alloh, para Malaikat-Nya, penduduk langit-langit dan bumi-bumi, hingga
semut-semut yang ada di lubangnya, hingga ikan-ikan, benar-benar semuanya
bersholawat (memintakan ampun) untuk orang yang mengajari kebaikan kepada
manusia.” (HSR. At-Tirmidzi (279 H) no. 2685)
3.2:
Wajah Bersinar ✨
«نَضَّرَ
اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ، فَرُبَّ
حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ»
“Semoga
Alloh menjadikan bercahaya seseorang yang mendengar Hadits kami lalu
menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa riwayat
Fiqih kepada orang yang lebih Faqih darinya.
Betapa banyak orang yang membawa riwayat Fiqih tetapi dia sendiri tidak
Faqih.” (HSR. At-Tirmidzi (279 H) no. 2656)
3.3:
Ahli Ilmu Pengganti Nabi 🛡️
«فَضْلُ
العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ»
“Keutamaan
Ahli Ilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang paling rendah
di antara kalian.” (HSR. At-Tirmidzi (279 H) no. 2685)
3.4:
Ulama Pewaris Para Nabi 📜
«مَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ،
وَإِنَّ المَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ العِلْمِ، وَإِنَّ
العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ
فِي المَاءِ، وَفَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ، كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِ
الكَوَاكِبِ، إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ
يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ
بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
“Siapa
yang menempuh perjalanan dalam rangka mencari Ilmu maka Alloh akan memudahkan
baginya jalan menuju Jannah. Sungguh
para Malaikat benar-benar menaungkan sayap-sayapnya karena ridho kepada
penuntut Ilmu. Sungguh orang yang alim
benar-benar dimintakan ampun oleh makhluk langit dan bumi hingga ikan-ikan di
lautan. Keutamaan Ahli Ilmu atas ahli
ibadah laksana keutamaan bulan purnama atas semua bintang-bintang. Sungguh ulama adalah pewaris para Nabi, para
Nabi tidak mewariskan dirham dan dinar, tetapi yang mereka wariskan adalah
Ilmu. Siapa yang mengambilnya berarti ia
telah mengambil bagian yang besar.” (HSR. At-Tirmidzi (279 H) no. 2682)
3.5:
Keutamaan Ahli Ilmu dan Dai 🌧️
«مَثَلُ
مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ
أَصَابَ أَرْضًا: فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ
وَالعُشْبَ الكَثِيرَ،
وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ
اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا،
وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ
لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً،
فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ
مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ
رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ»
“Perumpamaan
petunjuk dan Ilmu yang aku diutus dengannya laksana hujan lebat yang menimpa
bumi. Di antara tanah bumi itu:
[1] ada
yang subur yang menyerap air sehingga menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang
banyak.
[2] Ada
pula tanah gembur yang hanya menampung air, dengannya Alloh menjadikannya
bermanfaat bagi manusia untuk mereka minum, memberi minum ternak, dan
berladang.
[3] Hujan
itu juga menimpa tanah jenis lain yaitu qi’an (tanah datar yang tidak
menyerap air) yang tidak bisa menampung air dan tidak bisa pula menumbuhkan
tanaman.
Itulah
perumpamaan untuk orang yang Faqih dalam Agama.
Dia memanfaatkan apa yang Alloh utus aku dengannya dengan mempelajari
dan mengajarkannya.
Adapun
jenis tanah terakhir adalah perumpamaan untuk orang yang tidak peduli dan tidak
menerima apapun yang Alloh utus aku dengannya.” (HR. Al-Bukhori (256 H) no.
79 dan Muslim (261 H) no. 2282)
3.6:
Anjuran Iri kepada Ahli Ilmu 🍏
«لاَ
حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ
فِي الحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا»
“Tidak
boleh hasad kecuali pada 2 jenis orang, yaitu seseorang yang diberi Alloh harta
lalu dia habiskan dalam kebaikan, serta seseorang yang diberi Alloh hikmah
(Ilmu) lalu diterapkan dan diajarkan.” (HR. Al-Bukhori (256 H) no. 73 dan
Muslim (261 H) no. 861)
3.7:
Ulama adalah Mujaddid Agama 🛠️
«إِنَّ
اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ
لَهَا دِينَهَا»
“Sesungguhnya
Alloh mengutus untuk umat ini di permulaan setiap 100 tahun seseorang yang
melakukan tajdid (pembaharuan dengan menghidupkan agama) untuk umat.” (HSR.
Abu Dawud (275 H) no. 4291)
3.8:
Amanah Agama di Punggung Ulama 🏔️
«يَحْمِلُ
هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ،
وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ»
“Ilmu
ini diemban dari setiap generasi orang yang terpercaya di mana mereka
melenyapkan penyimpangan Ilmu dari orang-orang yang melampaui batas, pemalsuan
dari orang-orang yang batil, dan takwil dari orang-orang bodoh.” (HSR. Ibnu
Baththoh (387 H) no. 33 dalam Al-Ibanah Al-Kubro)
3.9: Wajib Memuliakan Ulama 🥇
«لَيْسَ
مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا»
“Bukanlah
termasuk umatku siapa yang tidak menghormati yang lebih tua di antara kami,
tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, dan tidak mengenal hak ulama
kami.” (HSR. Ahmad (241 H) no. 22755)
3.10:
Pahala Berlipat-Lipat 📈
«مَنْ
دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ
ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا»
“Siapa
yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala
orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi Pahala mereka sedikit pun.” (HR.
Muslim (261 H) no. 2674)
3.11:
Larangan Menyembunyikan Ilmu 🤐
«مَنْ
سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ يَعْلَمُهُ فَكَتَمَهُ، أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ
مِنْ نَارٍ»
“Siapa
yang ditanya tentang suatu Ilmu yang diketahuinya lalu menyembunyikannya, maka
Alloh akan memakaikannya tali kendali dari Naar pada hari Qiyamah.” (HSR.
Ibnu Majah (273 H) no. 266)
3.12:
Musibah Besar Atas Kematian Ulama 🌑
«إِنَّ
اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلكِنْ يَقْبِضُ
العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ
رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»
“Sesungguhnya
Alloh tidak mencabut Ilmu begitu saja dari para hamba, tetapi Dia mencabut Ilmu
dengan wafatnya para ulama. Hingga apabila sudah tidak tersisa lagi ulama, maka
manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka pun ditanya lalu berfatwa tanpa Ilmu
sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori (256 H) no. 100 dan
Muslim (261 H) no. 2673)
3.13:
Dimuliakan di Akhirat 🐚
«إِنَّ
الْعُلَمَاءَ إِذَا حَضَرُوا رَبَّهُمْ عَزَّ وَجَلَّ كَانَ مُعَاذُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
رَتْوَةً بِحَجَرٍ»
“Sesungguhnya
ulama apabila menghadap Robb-nya maka Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu
‘anhu berada di depan mereka sejauh lemparan batu (terdepan dalam
kemuliaan).” (HSR. Abu Nuaim (430 H) I/228 dan Ash-Shohihah no. 1091)
3.14:
Berilmu Pasti Masuk Surga 🗝️
«مَنْ
مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Siapa
yang meninggal dunia dalam keadaan mengilmui makna Laa ilaaha illa Alloh, maka
pasti ia masuk Jannah.” (HR. Muslim (261 H) no. 26)
Semoga
sholawat dan salam tercurah untuk Rosululloh ﷺ, keluarga, Shohabat, dan pengikutnya. Allohu a’lam.
%20Tentang%20Menuntut%20Ilmu%20-%20Edisi%202%20-%20Nor%20Kandir.jpg)
Bismillah ..
Mungkin 2 hadits ini juga bisa dimasukkan dalam rangka ikhlash dalam menuntut ilmu ..
Peringatan Pertama,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. يَعْنِى رِيحَهَا
Dari Abu Huroiroh ~rodhiyallohu ‘anhu~, ia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya ia tujukan mencari wajah Alloh ‘Azza wa Jalla, ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mencari dengannya perhiasan dunia maka ia tidak akan mencium bau Surga di hari kiamat.”
[HR. Abu Dawud ~rohimahulloh~ dalam sunannya no. 3666, Ibnu Majah ~rohimahulloh~ dalam sunannya no. 260, Ahmad ~rohimahulloh~ dalam musnadnya no. 8438, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani ~rohimahulloh~ dalam Shohih at-Targhiib wat Tarhiib no. 105]
Peringatan kedua,
عَ…
Sudah dicantumkan di sini: https://www.terjemahmatan.com/2017/03/download-buku-arbain-penuntut-ilmu.html#2_10_Balasan_Belajar_karena_Kesombongan__