[PDF] Ketika Dua Geng Muslim Saling Membunuh Berebut Sayap Nyamuk - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam, yang telah memuliakan darah
seorang Muslim dan menjadikannya lebih suci daripada Ka’bah yang agung.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ, yang telah menyampaikan
risalah dengan jelas dan memperingatkan umatnya dari bahaya kembali kepada
kekafiran setelah beliau wafat, yaitu dengan saling memenggal leher sebagian
yang lain.
Amma
ba’du:
Sungguh,
kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan yang memperdaya. Manusia
sering kali tertipu oleh gemerlapnya yang semu, hingga mereka rela mengorbankan
perkara yang paling berharga demi meraih bagian yang sangat sedikit. Ketika dua
geng Muslim saling mengangkat senjata, saling mengerahkan kekuatan, dan
saling membunuh, mereka sebenarnya sedang berebut sesuatu yang tidak ada
harganya sama sekali di sisi Robb mereka. Sungguh menggelikan sekaligus
mengenaskan ketika potensi besar yang dimiliki oleh para pemuda, aparat, maupun
kelompok-kelompok di tengah masyarakat habis terbakar dalam api permusuhan yang
tidak memiliki nilai di hadapan Alloh ﷻ.
Kenyataan
pahit sering kali terpampang di hadapan mata. Pertikaian demi pertikaian
meletus di berbagai lini kehidupan. Di satu sisi, kita menyaksikan korps
bersenjata yang dibayar dengan uang rakyat, baik dari kalangan TNI maupun
Polisi, terlibat dalam gesekan fisik dan bentrokan berdarah di lapangan hanya
karena urusan harga diri kelompok yang sepele atau kesalahpahaman di jalanan.
Di sisi lain, para pemuda yang tergabung dalam geng suporter sepak bola rela
menghabisi nyawa sesama Muslim yang mengenakan warna kaos yang berbeda,
seolah-olah warna kain itu adalah pemisah antara keimanan dan kekafiran. Tidak
kalah memprihatinkan, anak-anak muda di bangku sekolah tawuran di jalanan
membawa senjata tajam demi membela nama baik geng sekolah mereka, sementara
para preman di pasar dan di jalanan saling membantai demi menguasai lahan
parkir atau wilayah kekuasaan yang sempit. Semua ini terjadi di atas bumi Alloh
ﷻ, dilakukan oleh orang-orang yang bersujud
kepada Robb yang sama, menghadap kiblat yang sama, dan membaca Al-Qur’an yang
sama. Mereka lupa bahwa seluruh kesenangan dunia yang mereka perebutkan itu
tidak lebih berharga daripada sepotong sayap ekor nyamuk.
Buku ini
hadir sebagai nasihat tulus, sebuah peringatan yang mendalam bagi siapa saja
yang masih memiliki sepercik iman di dalam dadanya. Peringatan ini ditujukan
kepada para komandan, prajurit, polisi, dedengkot suporter, pelajar, hingga
orang-orang yang hidup di jalanan keras. Ketahuilah bahwa nyawa seorang Muslim
terlalu mahal untuk dikorbankan demi fanatisme kelompok yang buta. Tidak ada
gunanya kemenangan di dunia jika kaki harus melangkah masuk ke dalam kobaran
Naar akibat menumpahkan darah saudara seiman.
Melalui
lembaran-lembaran ini, kita akan melihat bagaimana syariat Islam yang agung
memandang rendah dunia dan memandang sangat tinggi kehormatan darah seorang
Muslim. Semoga Alloh ﷻ membuka mata hati kita semua, menjauhkan kita
dari bisikan syaithon yang menginginkan kehancuran umat ini, dan mengembalikan
kita kepada ukhuwah Islamiyyah yang sejati.
Bab 1: Dunia
Lebih Hina dari Sayap Nyamuk
1.1
Rendahnya Dunia dalam Pandangan Alloh
Dunia yang
dikejar oleh manusia dengan segala dayanya, hingga mereka rela bermusuhan dan
bertumpah darah, tidak memiliki nilai sedikit pun di sisi Alloh ﷻ jika dibandingkan dengan kenikmatan Akhiroh yang kekal. Setiap Muslim
harus memahami hakikat ini agar jiwanya tidak diperbudak oleh materi yang fana.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ
ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ
مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۖ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾
“Ketahuilah
bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling
membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak-anak.
Perumpamaannya seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian
menjadi hancur. Dan di Akhiroh ada azab yang keras (bagi fajir) serta ampunan
dari Alloh dan keridhoan-Nya (bagi sholih). Dan kehidupan dunia tidak lain
hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini
dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa seluruh bentuk persaingan duniawi,
baik itu kekuatan fisik, kekuasaan, maupun status sosial, hanyalah fatamorgana
yang cepat sirna. Ketika dua kelompok saling membunuh demi eksistensi kelompoknya,
mereka sedang tertipu oleh kesenangan yang semu. Nilai dunia ini sangat kecil,
bahkan Nabi ﷺ
memberikan perumpamaan yang sangat teliti mengenai perbandingan dunia dengan
Akhiroh. Beliau ﷺ
bersabda:
«لَوْ
كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا
مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ»
“Seandainya
dunia ini di sisi Alloh sebanding dengan sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan
memberi minum kepada orang kafir dari dunia meskipun hanya seteguk air.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2320)
Bayangkan
sebuah wilayah parkir yang diperebutkan oleh dua geng preman hingga menelan
korban jiwa, atau sebuah trofi turnamen sepak bola yang memicu tawuran massal
antar suporter. Semua hal yang mereka pertaruhkan itu tidak memliki berat
bahkan seberat sayap nyamuk di timbangan Alloh ﷻ. Bagaimana mungkin seorang Mu’min
yang berakal rela mempertaruhkan keselamatannya di Akhiroh demi sesuatu yang
lebih hina dari sepotong sayap serangga? Ibnu Qoyyim (751 H) menjelaskan bahwa
kecintaan pada dunia adalah pangkal dari segala bencana dan kehancuran
umat-umat terdahulu maupun sekarang. Ketika hati telah terpikat oleh dunia,
maka urusan agama dan persaudaraan akan dicampakkan begitu saja.
1.2
Bangkai Kambing Cacat sebagai Perumpamaan Harta dan Jabatan
Untuk
menanamkan pemahaman yang mendalam ke dalam jiwa para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum,
Nabi ﷺ
sering kali menggunakan contoh konkrit yang ada di sekitar mereka. Suatu hari,
beliau berjalan melewati pasar bersama para Shohabatnya dan menjumpai seekor
bangkai anak kambing yang telinganya cacat (kecil sebelah). Nabi ﷺ memegang telinga bangkai
tersebut lalu menawarkannya kepada para Shohabat. Beliau ﷺ bersabda:
«أَيُّكُمْ
يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟» فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ،
وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: «أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟» قَالُوا: وَاللهِ لَوْ
كَانَ حَيًّا، كَانَ عَيْبًا فِيهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ، فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ:
«فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ، مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ»
“Siapa di
antara kalian yang suka membeli ini dengan harga 1 dirham?” Para Shohabat
menjawab: “Kami tidak suka memilikinya dengan harga berapa pun, apa yang bisa
kami perbuat dengan bangkai ini?” Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian suka
jika bangkai ini menjadi milik kalian (gratis)?” Mereka menjawab: “Demi Alloh,
seandainya ia hidup pun ia cacat karena telinganya kecil, lalu bagaimana lagi
sekarang dalam keadaan sudah menjadi bangkai?” Beliau kemudian bersabda: “Demi
Alloh, sungguh dunia ini lebih hina di sisi Alloh daripada bangkai ini di mata
kalian.” (HR. Muslim no. 2957)
Hadits ini
sangat cocok untuk membedah konflik yang sering terjadi antara geng aparat,
seperti bentrokan oknum TNI dan Polisi di daerah atau antar geng jalanan.
Sering kali konflik bermula dari perebutan pengaruh, membela tokoh, pengamanan
tempat hiburan malam, atau sekadar ego sektoral mengenai siapa yang lebih
berkuasa di suatu wilayah. Jabatan, seragam, dan daerah kekuasaan yang mereka
pertahankan dengan baku hantam itu adalah bangkai kambing cacat yang tidak
layak untuk diperebutkan. Sungguh ironis ketika seorang prajurit atau anggota
kepolisian yang bersumpah demi negara dan agama, justru saling serang demi
perkara yang lebih menjijikkan daripada bangkai hewan di pasar. Alloh ﷻ mengingatkan manusia agar tidak tertipu:
﴿فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ﴾
“Maka
janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan janganlah penipu
(syaithon) memperdayakan kamu tentang Alloh.” (QS. Luqman: 33)
Ketika
seseorang mengerti bahwa pangkat, posisi, kekuasaan, dan popularitas di dunia
ini hanyalah barang rongsokan yang akan ditinggalkan di dalam liang kubur, ia
tidak akan sudi menumpahkan setetes darah pun untuk mempertahankannya.
Jika dunia
ini terbuat dari emas yang akan sirna, dan Akhiroh terbuat dari tembikar yang
kekal abadi, maka orang yang berakal tentu akan memilih tembikar yang kekal
daripada emas yang sirna. Namun yang terjadi justru sebaliknya, manusia memilih
dunia yang merupakan tembikar yang rusak dan mencampakkan Akhiroh yang
merupakan emas yang kekal.
1.3
Terfitnah Dunia Menjadi Akar Permusuhan Sesama Muslim
Permusuhan,
dendam, dan aksi saling membunuh di antara geng-geng Muslim bukanlah terjadi
tanpa sebab. Akar masalahnya adalah fitnah dunia yang telah merasuki hati
mereka. Ketika dunia telah menjadi tujuan utama, maka batasan-batasan syariat
akan diterjang, dan saudara seiman akan dipandang sebagai musuh yang harus
disingkirkan. Rosululloh ﷺ
telah mengkhawatirkan hal ini menimpa umatnya jauh-jauh hari. Beliau ﷺ bersabda:
«فَوَاللَّهِ
لاَ الفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ
الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا
وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ»
“Demi
Alloh, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan menimpa kalian. Akan tetapi, aku
takut jika dunia dibentangkan luas kepada kalian sebagaimana ia telah
dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian saling
berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga
dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (HR.
Al-Bukhori no. 3158 dan Muslim no. 2961)
Kasus
tawuran antar geng sekolah atau pelajar memberikan gambaran yang sangat pas
mengenai Hadits ini. Para pelajar saling serang di jalanan dengan celurit dan
gir motor bukan karena masalah ideologi atau Aqidah, melainkan karena
memperebutkan reputasi, gengsi, dan nama baik geng sekolah di media sosial.
Mereka saling berlomba untuk diakui sebagai geng yang paling ditakuti.
Popularitas semu di dunia digital dan pengakuan dari sesama remaja adalah
bentuk bentangan dunia yang sedang membinasakan mereka. Mereka saling membantai
demi eksistensi kelompok yang tidak membawa manfaat sedikit pun di Akhiroh.
Alloh ﷻ berfirman mengenai kerugian orang-orang yang
menjadikan dunia sebagai target utama mereka:
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ
إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Siapa
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia
tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di Akhiroh
kecuali Naar dan lenyaplah di Akhiroh itu apa yang telah mereka usahakan di
dunia dan batallah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)
Apabila dua
geng suporter sepak bola saling melakukan sweeping di jalanan, mencegat
bus lawan, dan mengeroyok pendukung klub lain hingga tewas, mereka sedang
berada dalam kubangan fitnah dunia ini. Mereka merasa bangga dengan kemenangan
klubnya, bangga dengan jumlah basis massa mereka, namun di sisi Alloh ﷻ, amal kebaikan mereka diberikan ke korban karena dosa permusuhan dan
pembunuhan sebagai qishos di Mahsyar. Fitnah harta dan kedudukan jauh
lebih cepat merusak agama seseorang daripada dua ekor serigala lapar yang
dilepas di tengah kumpulan kambing.
Bab 2: Larangan
Keras Menumpahkan Darah Kaum Mu’min
2.1
Besarnya Perkara Darah
Di pengadilan
Alloh ﷻ yang maha adil kelak, perkara pertama yang akan
diselesaikan di antara sesama manusia bukanlah urusan pencurian harta, bukan
urusan persengketaan tanah, melainkan urusan penumpahan darah. Ini menunjukkan
betapa tingginya nilai sepotong nyawa seorang Muslim di hadapan Robbnya. Rosululloh
ﷺ menegaskan hal ini dalam
sabdanya:
«أَوَّلُ
مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ»
“Perkara
yang pertama kali diputuskan di antara manusia pada hari Qiyamah adalah urusan darah.”
(HR. Al-Bukhori no. 6864 dan lafazh Muslim no. 1678)
Bayangkan
betapa mengerikannya hari itu bagi para pelaku pengeroyokan dalam tawuran geng
preman atau suporter bola. Korban yang tewas akan datang memegangi pembunuhnya
dengan darah yang masih mengalir, menuntut keadilan langsung di hadapan Alloh ﷻ. Tidak ada lagi tameng organisasi, tidak ada lagi perlindungan dari
ketua geng, dan tidak ada lagi backingan dari komandan kesatuan. Semua berdiri
sendiri mempertanggung-jawabkan tangannya yang telah berlumuran darah. Alloh ﷻ berfirman tentang kepastian pembalasan ini:
﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ
الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ
أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَى بِنَا حَاسِبِين﴾
“Kami akan
memasang timbangan yang tepat pada hari Qiyamah, maka tiada seorang pun
dirugikan walau sedikit pun. Dan jika amalan itu hanya seberat biji sawi pun
pasti Kami mendatangkan balasannya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat
perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47)
Ketika
terjadi bentrokan antara oknum TNI dan Polisi yang menyebabkan hilangnya nyawa
salah satu pihak, perkara ini tidak akan selesai hanya dengan penandatanganan
memorandum kesepakatan damai di atas meterai oleh para petinggi korps. Di hari
Qiyamah, oknum yang melepaskan tembakan atau yang menghantamkan benda tumpul ke
tubuh saudaranya akan diseret ke hadapan Robb yang maha melihat. Setiap tetes
darah yang keluar akan dihitung dan dimintai pertanggungjawaban. Hilangnya
dunia beserta seluruh isinya lebih ringan bagi Alloh daripada terbunuhnya
seorang Muslim tanpa alasan yang haq.
2.2
Ancaman Naar bagi Orang yang Membunuh Seorang Muslim
Alloh ﷻ telah menetapkan hukuman yang sangat berat bagi siapa saja yang dengan
sengaja merenggut nyawa seorang Mu’min tanpa jalur syar’i yang benar. Hukuman
tersebut bukan hanya penjara manusia di dunia, melainkan kemurkaan Robb,
laknat, dan azab yang kekal di dalam Naar. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ
جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا
عَظِيمًا﴾
“Dan siapa
yang membunuh seorang Mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia
kekal di dalamnya dan Alloh murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan
azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)
Ancaman ini
mencakup seluruh anggota geng, baik yang mengeksekusi langsung maupun yang ikut
serta membantu, memprovokasi, atau sekadar ikut meramaikan pengeroyokan. Dalam
kasus nyata bentrokan suporter sepak bola, sering kali satu orang korban
dikeroyok oleh puluhan orang secara babi buta hingga tewas di tempat. Mereka
yang ikut menendang, ikut memukul dengan kayu, atau yang meneriakkan yel-yel
provokasi agar korban dihabisi, semuanya memikul dosa pembunuhan tersebut. Nabi
ﷺ memberikan peringatan yang
sangat keras mengenai dosa kolektif dalam pembunuhan:
«لَوْ
أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ اشْتَرَكُوا فِي دَمِ مُؤْمِنٍ لَأَكَبَّهُمُ
اللَّهُ فِي النَّارِ»
“Seandainya
penduduk langit dan penduduk bumi berserikat (ikut serta) dalam menumpahkan
darah seorang Mu’min, niscaya Alloh akan membenamkan mereka semua ke dalam
Naar.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1398)
Maka,
alangkah ruginya seorang anggota geng preman yang demi membela setia kawan atau
perintah ketua kelompoknya, rela mengorbankan dirinya masuk ke dalam Naar
Jahannam. Perasaan solidaritas kelompok yang keliru telah membuat mereka buta
terhadap ancaman laknat Alloh ﷻ. Ahmad bin Hanbal (241 H) menyatakan
bahwa setelah dosa syirik, tidak ada dosa yang lebih besar bahayanya bagi
keselamatan Akhirat seseorang daripada dosa menumpahkan darah.
2.3
Bahaya Menjadi Pemicu atau Pembantu dalam Menumpahkan Darah
Syaithon
memiliki tahapan yang sangat rapi dalam menjerumuskan manusia ke dalam dosa
besar. Sering kali pembunuhan tidak terjadi secara spontan, melainkan dipicu
oleh kata-kata, tulisan, provokasi, atau bantuan logistik berupa penyediaan
senjata tajam. Islam menutup rapat semua celah yang bisa mengantarkan pada
penumpahan darah. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
أَعَانَ عَلَى قَتْلِ مُؤْمِنٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ، لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: آيِسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ»
“Siapa yang
membantu dalam pembunuhan seorang Mu’min meskipun hanya dengan sepotong kata,
maka ia akan menghadap Alloh ‘Azza wa Jalla dalam keadaan tertulis di
antara kedua matanya: Orang ini telah putus asa dari rohmat Alloh.” (HR.
Ibnu Majah no. 2620, dengan sanad lemah)
Hadits ini
sangat nyata pada fenomena admin media sosial geng sekolah atau geng suporter
sepak bola. Mereka yang membuat konten tantangan, menyebarkan ujaran kebencian,
menyalakan api dendam lewat tulisan, atau mengoordinasikan titik kumpul untuk
tawuran, sesungguhnya mereka adalah pembantu utama dalam penumpahan darah.
Walaupun tangan mereka tidak menyentuh senjata tajam, dan tubuh mereka tidak
berada di lokasi bentrokan, mereka telah menanggung dosa besar karena menjadi
pemicu hilangnya nyawa saudara mereka. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan
janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksaan-Nya.” (QS.
Al-Ma’idah: 2)
Ketika
oknum polisi atau tentara meminjamkan senjata, atau membiarkan rekannya melakukan
aksi balas dendam terhadap instansi sebelah tanpa berusaha mencegahnya, mereka
telah masuk ke dalam lingkaran tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.
Begitu pula para penyedia senjata tajam bagi anak-anak geng sekolah yang hendak
tawuran. Siapa saja yang membuka pintu fitnah permusuhan, maka ia bertanggung
jawab atas setiap darah yang tumpah akibat pintu yang dibukanya tersebut sampai
hari Qiyamah.
Bab 3: Petaka
Taat Buta dalam Kemaksiatan
3.1
Tiada Ketaatan kepada Makhluk dalam Memaksiati Robb
Banyak
bentrokan antar geng terjadi karena instruksi dari atasan. Prajurit mematuhi
komandan, anggota preman menuruti perintah ketua, dan pelajar mengikuti komando
senior. Dalam Islam, kepatuhan kepada pemimpin memiliki batasan yang sangat jelas,
yaitu tidak boleh melanggar aturan Alloh ﷻ. Ketika perintah tersebut berupa
kemaksiatan, apalagi sampai menumpahkan darah sesama Muslim, maka perintah itu
wajib ditolak. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لَا
طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ»
“Tidak ada
ketaatan dalam maksiat, sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang
makruf.” (HR. Al-Bukhori no. 7257 dan Muslim no. 1840)
Prinsip ini
menjadi tameng utama bagi setiap oknum aparat, baik TNI maupun Polisi. Saat
seorang komandan kesatuan atau senior memerintahkan untuk melakukan aksi
balasan, menyerang markas instansi lain, atau mengeroyok anggota kelompok
rival, perintah itu batal demi hukum syariat. Seorang prajurit tidak boleh
menggunakan alasan “hanya menjalankan tugas” atau “perintah atasan” untuk
melepaskan diri dari dosa besar. Di hadapan Alloh ﷻ, setiap individu memegang kendali
atas tangannya sendiri. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلَا تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat
kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (QS. Ash-Shu’aro:
151-152)
Jika
seorang ketua geng motor atau pentolan suporter sepak bola memerintahkan
anggotanya untuk melakukan sweeping dan menghadang bus pendukung lawan,
perintah tersebut adalah bentuk kerusakan di muka bumi. Mengikuti perintah
jahat seperti ini bukanlah tanda kesetiaan, melainkan tanda kebodohan yang
membinasakan agama. Ibnu Qudamah (620 H) menegaskan bahwa kesepakatan makhluk
untuk melanggar larangan Robb adalah batil, dan siapa saja yang mendahulukan
ridho manusia di atas murka Alloh, maka Alloh akan menyerahkan urusannya kepada
manusia tersebut hingga ia binasa.
3.2
Penyesalan Para Pengikut Pemimpin Zholim di Akhirat
Penyesalan
yang paling tidak berguna adalah penyesalan para pengikut geng di Akhiroh
kelak. Di dunia, mereka merasa bangga memiliki pemimpin yang berani, kejam, dan
disegani. Namun di hadapan pengadilan Alloh ﷻ, para pemimpin itu akan berlepas
tangan dan menolak memikul dosa-dosa anak buahnya. Mereka semua akan saling
melaknat di dalam Naar. Alloh ﷻ menggambarkan dialog mengerikan ini:
﴿وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا
وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا 67 رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ
وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا﴾
“Dan mereka
berkata: ‘Ya Robb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan
pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang lurus. Ya
Robb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka
dengan laknat yang besar.’” (QS. Al-Ahzab: 67-68)
Kasus nyata
sering terlihat pada persidangan kasus tawuran pelajar atau pengeroyokan oleh
geng preman. Ketika para pelaku ditangkap dan terancam hukuman berat, sang
ketua atau alumni yang memprovokasi sering kali menghilang, melarikan diri,
atau berkelit tidak tahu-menahu. Di Akhiroh, kondisinya jauh lebih tragis. Anak
buah yang rela menusuk orang lain demi menjaga nama baik ketuanya akan melihat
sang ketua berlepas diri darinya. Rosululloh ﷺ memberikan perumpamaan tentang para pemimpin yang menyesatkan:
«إِنَّمَا
أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الأَئِمَّةَ المُضِلِّينَ»
“Sesungguhnya
yang paling aku takuti menimpa umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2229)
Para
dedengkot suporter yang mengobarkan semangat permusuhan lewat yel-yel rasis dan
provokatif adalah contoh pemimpin yang menyesatkan. Mereka menuntun ribuan anak
muda menuju jurang kehancuran. Berjalan di belakang pemimpin yang durhaka dalam
urusan darah sama saja dengan berjalan sukarela menuju kebinasaan tanpa alasan.
3.3
Dosa Berjamaah Akibat Menuruti Perintah
Ketika
sebuah kelompok, instansi, atau geng secara bersama-sama sepakat melakukan
kemaksiatan, maka hukuman dan dosa akan menimpa mereka secara kolektif. Tidak
ada istilah selamat karena hanya ikut-ikutan. Solidaritas kelompok yang
dibangun di atas pondasi maksiat akan menghasilkan azab yang merata. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ
ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan
peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zholim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat berat siksaan-Nya.”
(QS. Al-Anfal: 25)
Dalam
sejarah Islam, tindakan kolektif dalam keburukan pernah dicontohkan oleh kaum
Tsamud yang bersekongkol untuk membunuh unta mukjizat. Meskipun yang
mengeksekusi hanya 1 orang, namun karena seluruh kelompok menyetujui dan
mendukung tindakan tersebut, Alloh ﷻ
membinasakan mereka
semua tanpa sisa. Hal serupa berlaku pada aksi pengeroyokan oleh geng suporter
atau tawuran geng sekolah. Ketika 50 orang mengepung 1 orang Muslim, lalu
sebagian memukul, sebagian melempar batu, dan sebagian lagi hanya menonton
sambil bersorak menutup jalan agar korban tidak bisa kabur, maka seluruh 50
orang tersebut telah berserikat dalam dosa pembunuhan. Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ، أَوْشَكَ أَنْ
يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ»
“Sesungguhnya
manusia jika melihat orang yang zholim lalu tidak mencegah tindakannya, hampir
saja Alloh akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua.” (HSR. Abu Dawud no.
4338)
Oleh karena
itu, sikap diam seorang anggota polisi saat melihat rekannya menyiksa tahanan,
atau diamnya seorang prajurit saat melihat satuannya bersiap menyerang warga
atau instansi lain, adalah bentuk keridhoan terhadap kezholiman.
Pembantu
kezholiman bukan hanya orang yang melakukan cambukan, melainkan juga orang yang
meruncingkan penanya, menyediakan makannya, dan menjaga pintunya; mereka semua
sama di dalam timbangan dosa.
Bab 4: Meluruskan
Niat Fanatisme Kelompok
4.1
Mengurai Fanatisme Korps dan Institusi Aparat
Semangat
kebersamaan dan jiwa korsa (jiwa korps) di tubuh TNI maupun Polisi sebenarnya
bertujuan baik untuk menjaga kekompakan dalam mempertahankan negara. Namun,
ketika semangat ini diselewengkan menjadi fanatisme buta yang menganggap
korpsnya selalu benar dan korps lain adalah musuh, terjadilah bencana. Tindakan
membela rekan sejawat yang jelas-jelas bersalah adalah ciri jahiliyyah yang
telah dihapus oleh Islam. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ،
أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً، فَقُتِلَ، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ»
“Siapa yang
perang di bawah bendera buta (tidak dibenarkan syariat), ia marah karena
fanatisme kelompok, atau mengajak kepada fanatisme kelompok, atau membela
fanatisme kelompok, lalu ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliyyah.” (HR.
Muslim no. 1848)
Bentrokan
antara oknum TNI dan Polisi sering kali dipicu oleh hal sepele, seperti
senggolan di jalanan atau teguran saat razia lalu lintas. Jiwa korsa yang
keliru membuat rekan-rekan sesama korps merasa harus membalas dendam demi
menjaga kehormatan institusi. Mereka melupakan bahwa seragam yang mereka
kenakan dibeli dari keringat rakyat Muslim, dan senjata yang mereka pegang
diamanahkan untuk melindungi, bukan untuk membantai sesama Muslim. Kehormatan
seorang Muslim jauh lebih tinggi daripada lambang institusi mana pun di dunia
ini. Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ
الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ
وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾
“Ketika
orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan
jahiliyyah, lalu Alloh menurunkan ketenangan kepada Rosul-Nya, dan kepada
orang-orang Mu’min.” (QS. Al-Fath: 26)
Membela
korps secara membabi buta tanpa melihat siapa yang benar dan siapa yang salah
adalah bentuk kesombongan jahiliyyah. Islam mengajarkan untuk menolong saudara
secara syar’i, yaitu mencegahnya jika ia berbuat zholim, bukan malah
membantunya melakukan kezholiman baru. Siapa saja yang mengangkat senjatanya
demi membela fanatisme suku, bangsa, atau korpsnya, maka ia telah melepaskan
ikatan Islam dari lehernya sampai ia bertobat.
4.2
Bahaya Membela Warna Klub dan Bendera Suporter secara Buta
Fanatisme
suporter sepak bola telah mencapai tingkat yang sangat membahayakan agama dan
nyawa. Seseorang bisa dikeroyok hingga tewas hanya karena tersesat di wilayah
basis massa lawan atau karena mengenakan kaos dengan warna klub rival. Ini
adalah bentuk nyata dari penghambaan kepada syiar-syiar syaithon. Warna kain
dan logo klub telah dijadikan berhala baru yang dibela dengan taruhan nyawa.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ
رَاكِعُونَ﴾
“Sesungguhnya
penolongmu hanyalah Alloh, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang
mendirikan Sholat dan menunaikan Zakat, seraya mereka tunduk (kepada Alloh).” (QS.
Al-Ma’idah: 55)
Ikatan
tertinggi seorang Muslim adalah ikatan iman, bukan ikatan kelompok suporter.
Ketika seorang suporter bola merasa lebih dekat dan lebih cinta kepada sesama
penikmat bola yang tidak Sholat, daripada kepada seorang Muslim dari kota
sebelah yang rajin ke Masjid, maka batinnya telah rusak. Pertikaian antar geng
suporter ini murni digerakkan oleh syaithon demi memecah belah persaudaraan
kaum Mu’min. Rosululloh ﷺ
memberikan teguran keras ketika para Shohabat hampir terpecah karena sebutan
kelompok kaumnya:
«[أَبِدَعْوَى
الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟] دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ»
“[Apakah
kalian menyeru dengan seruan jahiliyyah padahal aku masih ada di tengah-tengah
kalian?] Tinggalkanlah seruan itu, karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang
busuk!” (HR. Al-Bukhori no. 4905 dan Muslim no. 2584, dll)
Nama klub,
nama geng suporter, dan yel-yel kebanggaan kelompok adalah perkara busuk yang
tidak boleh dijadikan alasan untuk bermusuhan. Kasus pengeroyokan di luar
stadion yang menewaskan remaja Muslim adalah bukti nyata kebusukan fanatisme
ini. Ibnu
Siapa saja
yang membuat suatu nama atau simbol di luar Islam dan Sunnah, lalu ia mengikat
loyalitas dan permusuhan di atas nama tersebut, maka ia termasuk orang yang
memecah belah agama dan keluar dari jamaah kaum Muslimin.
4.3
Kerusakan Jiwa Akibat Solidaritas Geng Sekolah dan Preman
Dunia
remaja dan jalanan sering kali dirusak oleh pemahaman solidaritas yang keliru.
Geng sekolah dan geng preman menanamkan doktin bahwa teman sekelompok harus
dibela dalam kondisi apa pun, baik benar maupun salah. Konsep “satu dicubit
semua merasakan” diterapkan untuk hal-hal yang melanggar hukum Robb. Jika ada
anggota geng yang dipukul karena menggoda wanita atau karena berbuat onar,
seluruh anggota geng akan turun melakukan balas dendam secara brutal. Nabi ﷺ bersabda:
«انْصُرْ
أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا» فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنْصُرُهُ
إِذَا كَانَ مَظْلُومًا، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ؟ قَالَ:
«تَحْجُزُهُ، أَوْ تَمْنَعُهُ، مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ»
“Tolongoanlah
saudaramu yang berbuat zholim atau yang dizholimi.” Seorang laki-laki bertanya:
“Wahai Rosululloh, aku menolongnya jika ia dizholimi, lalu bagaimana cara
menolongnya jika ia berbuat zholim?” Beliau bersabda: “Kamu mencegahnya atau
menghalanginya dari berbuat zholim, karena sesungguhnya itulah cara
menolongnya.” (HR. Al-Bukhori no. 6952)
Menolong
teman yang berbuat salah bukan dengan ikut mengeroyok musuhnya, melainkan
dengan memegangi tangannya agar ia berhenti berbuat zholim. Tawuran pelajar
yang pecah di jalur-jalur protokol sering kali memakan korban jiwa dari
anak-anak yang sebenarnya hanya ikut-ikutan demi solidaritas pertemanan. Mereka
membawa senjata tajam yang dirancang khusus untuk melukai, sebuah tindakan yang
mengundang kutukan dari para malaikat. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا﴾
“Dan
janganlah kamu menjadi pembela (bertengkar) bagi orang-orang yang khianat.” (QS.
An-Nisa: 105)
Membela
teman geng preman yang memeras pedagang atau menguasai lahan secara ilegal
adalah bentuk pembelaan terhadap pengkhianat syariat. Jiwa orang-orang yang
hidup dalam lingkungan geng seperti ini akan mengeras dan kehilangan kepekaan
terhadap halal dan haram.
Siapa yang
tolong-menolong dalam kebatilan demi fanatisme golongan, maka Alloh akan
menjadikan kelompoknya itu sebagai sumber kehancuran bagi dirinya sendiri di
dunia sebelum di Akhiroh.
Bab 5: Kewajiban
Menjaga Lisan dan Tangan dari Fitnah
5.1
Larangan Mencela dan Saling Mengejek Sesama Muslim
Banyak
bentrokan besar berawal dari perkara kecil, yaitu lisan yang tidak dijaga.
Ejekan di media sosial, saling sindir antar barak aparat, atau yel-yel
merendahkan kelompok lain di stadion adalah percikan api yang membakar emosi.
Islam melarang keras segala bentuk penghinaan terhadap sesama Muslim, karena
setiap Mu’min memiliki kehormatan yang wajib dilindungi. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ
قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ
عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا
بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain,
boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olok), dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain, boleh
jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang
mengolok-olok). Dan janganlah kamu saling mencela dirimu sendiri (dengan
mencela saudaramu karena kalian bagaikan satu tubuh) dan janganlah saling
memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) fasik setelah beriman.” (QS. Al-Hujurot: 11)
Ketika
oknum suporter membuat spanduk besar berisi ejekan yang merendahkan martabat
basis suporter kota lain, mereka telah melanggar ayat yang mulia ini. Begitu
pula antar pelajar yang saling menantang menggunakan kata-kata kotor di kolom
komentar digital. Lisan yang fasik adalah pembuka pintu pertumpahan darah. Rosululloh
ﷺ memberikan batasan yang tegas
mengenai hak seorang Muslim:
«سِبَابُ
الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
“Mencela
seorang Muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR.
Al-Bukhori no. 48 dan Muslim no. 64)
Bagaimana
mungkin seorang anggota polisi atau tentara yang berpendidikan tega
mengeluarkan kata-kata makian yang menyulut kemarahan korps sebelah? Setiap kalimat
yang keluar dari lisan akan dicatat, dan jika kalimat itu memicu tawuran atau
bentrokan yang menewaskan orang, maka si pembicara ikut menanggung dosa
pembunuhan tersebut.
Lisan
adalah penerjemah hati, dan jika lisan seseorang terbiasa mencela saudaranya,
itu adalah tanda bahwa hatinya telah kosong dari pengagungan terhadap syariat
Alloh.
5.2
Perintah Menahan Diri saat Terjadi Perselisihan dan Ketegangan
Saat
suasana memanas dan ketegangan antar geng mulai terjadi, sikap terbaik yang
diajarkan oleh Islam adalah menahan diri (kaf-ful yad) dan tidak ikut
memperkeruh suasana. Orang yang paling kuat bukanlah orang yang jago berkelahi
atau berani membalas pukulan, melainkan orang yang mampu mengendalikan
amarahnya demi mencegah kerusakan yang lebih besar. Nabi ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»
“Orang yang
kuat itu bukanlah yang jago bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang
yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhori no. 6114 dan
Muslim no. 2609)
Dalam
situasi bentrokan oknum aparat di lapangan, jika salah satu pihak ada yang
berlapang dada untuk mundur dan melaporkan masalah melalui jalur hukum yang
tertib tanpa melakukan aksi balasan spontan, maka fitnah besar dapat diredam.
Menahan diri bukan tanda kelemahan atau kepengecutan, melainkan puncak dari
keberanian syar’i. Alloh ﷻ memuji orang-orang yang mampu
menekan amarahnya:
﴿وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ
النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Alloh
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)
Ketika
seorang pelajar dikepung oleh geng sekolah lain, rekan-rekannya yang mendengar
kabar tersebut harus menahan diri dari mengerahkan massa untuk menyerang balik.
Mereka harus menyerahkan urusan kepada pihak sekolah dan orang tua. Jika ego
yang didahulukan, maka lingkaran dendam tidak akan pernah putus.
Menahan diri
dari menumpahkan darah kaum Mu’min di saat fitnah melanda adalah tanda
kesempurnaan akal dan ketaqwaan seorang hamba.
5.3
Langkah Syar’i dalam Mendamaikan Dua Kelompok yang Bertikai
Islam tidak
membiarkan konflik antar kelompok Muslim berlangsung berlarut-larut.
Masyarakat, pihak berwenang, dan tokoh-tokoh yang berada di sekitar kelompok
yang bertikai wajib turun tangan untuk melakukan ishlah (perdamaian)
dengan adil, tanpa membela salah satu pihak secara zholim. Jika salah satu geng
tetap membangkang dan menolak damai, maka mereka harus ditindak tegas secara
hukum. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا
فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا
الَّتي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا
بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴾
“Dan kalau
ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damai
antara keduanya. Tapi kalau salah satu dari kedua golongan itu berbuat zholim terhadap
golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat zholim itu sehingga
golongan itu kembali kepada perintah Alloh. Jika golongan itu telah kembali
(kepada perintah Alloh), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan
berlakulah adil. Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.
Al-Hujurot: 9)
Penerapan
ayat ini adalah tugas bagi para pimpinan institusi TNI dan Polisi, para tokoh
masyarakat di lingkungan geng preman, serta pihak manajemen klub sepak bola.
Perdamaian tidak boleh sekadar formalitas foto bersama, melainkan harus
menyentuh akar rumput. Akar masalah seperti gesekan bisnis ilegal pada geng
preman atau provokasi digital pada suporter harus diselesaikan dengan
seadil-adilnya. Pihak yang bersalah harus dihukum sesuai syariat dan aturan
hukum, dan pihak korban harus diberikan haknya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَلَا
أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟» قَالُوا:
بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ
الْحَالِقَةُ»
“Maukah aku
kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih utama daripada derajat Puasa,
Sholat, dan Sedekah?” Para Shohabat menjawab: “Tentu saja wahai Rosululloh.”
Beliau bersabda: “Mendamaikan perselisihan di antara sesama, karena
sesungguhnya rusaknya hubungan di antara sesama adalah pengikis (agama).” (HSR.
Abu Dawud no. 4919)
Mendamaikan
geng sekolah yang sering tawuran dengan membuat program bersama yang bermanfaat
adalah langkah yang sangat mulia. Pembiaran terhadap konflik sama saja dengan
menanam bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Melangkah
untuk mendamaikan manusia yang sedang berselisih darah adalah salah satu jihad
terbesar di jalan Alloh.
Penutup
Kehidupan
di dunia ini hanyalah lintasan singkat yang akan segera berakhir bagi setiap
manusia. Seragam kebesaran aparat akan dilepas dan diganti dengan kain kafan
yang putih polos. Atribut suporter yang dibangga-banggakan akan ditinggalkan di
lemari pakaian yang berdebu. Nama besar geng sekolah akan dilupakan seiring
berjalannya waktu, dan wilayah kekuasaan geng preman di jalanan akan diambil
alih oleh orang lain. Tidak ada yang tersisa di dalam kubur yang gelap dan
sempit kecuali amal perbuatan kita masing-masing. Sungguh sebuah kerugian yang
tidak ada bandingannya jika seorang Muslim harus menghadap Robbnya dengan
membawa dosa pembunuhan terhadap saudaranya sendiri, hanya karena memperebutkan
perkara dunia yang nilainya lebih hina daripada sepotong sayap ekor nyamuk.
Melalui
seluruh dalil Al-Qur’an dan Hadits Nabi ﷺ serta nasihat para ulama Salaf yang telah dipaparkan, sangat
jelas bahwa kehormatan darah seorang Muslim adalah perkara yang sangat agung di
sisi Alloh ﷻ. Fanatisme kelompok, loyalitas buta kepada
komandan atau ketua geng yang menyimpang dari syariat, serta ketidakmampuan
menahan amarah lisan dan tangan adalah pintu-pintu maksiat yang harus segera
ditutup rapat.
Kepada para
prajurit TNI, anggota Polisi, para pemuda suporter bola, para pelajar di
sekolah-sekolah, dan orang-orang yang hidup di kerasnya jalanan: bertaqwalah
kepada Alloh ﷻ. Jagalah tangan-tangan kalian dari
menumpahkan darah saudara seiman. Ingatlah bahwa kemenangan sejati bukan
saat kelompokmu berhasil mengalahkan dan menginjak-injak kelompok lain di
dunia, melainkan saat kakimu berhasil melangkah masuk ke dalam Jannah dan
diselamatkan dari siksaan Naar yang menyala-nyala.
Semoga
Alloh ﷻ menyatukan hati-hati kaum Mu’min, menjauhkan
kita dari segala fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan mengakhiri
hidup kita semua dalam keadaan husnul khotimah.[NK]
