Cari Ebook

[PDF] Ketika Dua Geng Muslim Saling Membunuh Berebut Sayap Nyamuk - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam, yang telah memuliakan darah seorang Muslim dan menjadikannya lebih suci daripada Ka’bah yang agung.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , yang telah menyampaikan risalah dengan jelas dan memperingatkan umatnya dari bahaya kembali kepada kekafiran setelah beliau wafat, yaitu dengan saling memenggal leher sebagian yang lain.

Amma ba’du:

Sungguh, kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan yang memperdaya. Manusia sering kali tertipu oleh gemerlapnya yang semu, hingga mereka rela mengorbankan perkara yang paling berharga demi meraih bagian yang sangat sedikit. Ketika dua geng Muslim saling mengangkat senjata, saling mengerahkan kekuatan, dan saling membunuh, mereka sebenarnya sedang berebut sesuatu yang tidak ada harganya sama sekali di sisi Robb mereka. Sungguh menggelikan sekaligus mengenaskan ketika potensi besar yang dimiliki oleh para pemuda, aparat, maupun kelompok-kelompok di tengah masyarakat habis terbakar dalam api permusuhan yang tidak memiliki nilai di hadapan Alloh .

Kenyataan pahit sering kali terpampang di hadapan mata. Pertikaian demi pertikaian meletus di berbagai lini kehidupan. Di satu sisi, kita menyaksikan korps bersenjata yang dibayar dengan uang rakyat, baik dari kalangan TNI maupun Polisi, terlibat dalam gesekan fisik dan bentrokan berdarah di lapangan hanya karena urusan harga diri kelompok yang sepele atau kesalahpahaman di jalanan. Di sisi lain, para pemuda yang tergabung dalam geng suporter sepak bola rela menghabisi nyawa sesama Muslim yang mengenakan warna kaos yang berbeda, seolah-olah warna kain itu adalah pemisah antara keimanan dan kekafiran. Tidak kalah memprihatinkan, anak-anak muda di bangku sekolah tawuran di jalanan membawa senjata tajam demi membela nama baik geng sekolah mereka, sementara para preman di pasar dan di jalanan saling membantai demi menguasai lahan parkir atau wilayah kekuasaan yang sempit. Semua ini terjadi di atas bumi Alloh , dilakukan oleh orang-orang yang bersujud kepada Robb yang sama, menghadap kiblat yang sama, dan membaca Al-Qur’an yang sama. Mereka lupa bahwa seluruh kesenangan dunia yang mereka perebutkan itu tidak lebih berharga daripada sepotong sayap ekor nyamuk.

Buku ini hadir sebagai nasihat tulus, sebuah peringatan yang mendalam bagi siapa saja yang masih memiliki sepercik iman di dalam dadanya. Peringatan ini ditujukan kepada para komandan, prajurit, polisi, dedengkot suporter, pelajar, hingga orang-orang yang hidup di jalanan keras. Ketahuilah bahwa nyawa seorang Muslim terlalu mahal untuk dikorbankan demi fanatisme kelompok yang buta. Tidak ada gunanya kemenangan di dunia jika kaki harus melangkah masuk ke dalam kobaran Naar akibat menumpahkan darah saudara seiman.

Melalui lembaran-lembaran ini, kita akan melihat bagaimana syariat Islam yang agung memandang rendah dunia dan memandang sangat tinggi kehormatan darah seorang Muslim. Semoga Alloh membuka mata hati kita semua, menjauhkan kita dari bisikan syaithon yang menginginkan kehancuran umat ini, dan mengembalikan kita kepada ukhuwah Islamiyyah yang sejati.

 

Bab 1: Dunia Lebih Hina dari Sayap Nyamuk

1.1 Rendahnya Dunia dalam Pandangan Alloh

Dunia yang dikejar oleh manusia dengan segala dayanya, hingga mereka rela bermusuhan dan bertumpah darah, tidak memiliki nilai sedikit pun di sisi Alloh jika dibandingkan dengan kenikmatan Akhiroh yang kekal. Setiap Muslim harus memahami hakikat ini agar jiwanya tidak diperbudak oleh materi yang fana. Alloh berfirman:

﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۖ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak-anak. Perumpamaannya seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian menjadi hancur. Dan di Akhiroh ada azab yang keras (bagi fajir) serta ampunan dari Alloh dan keridhoan-Nya (bagi sholih). Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa seluruh bentuk persaingan duniawi, baik itu kekuatan fisik, kekuasaan, maupun status sosial, hanyalah fatamorgana yang cepat sirna. Ketika dua kelompok saling membunuh demi eksistensi kelompoknya, mereka sedang tertipu oleh kesenangan yang semu. Nilai dunia ini sangat kecil, bahkan Nabi memberikan perumpamaan yang sangat teliti mengenai perbandingan dunia dengan Akhiroh. Beliau bersabda:

«لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ»

“Seandainya dunia ini di sisi Alloh sebanding dengan sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum kepada orang kafir dari dunia meskipun hanya seteguk air.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2320)

Bayangkan sebuah wilayah parkir yang diperebutkan oleh dua geng preman hingga menelan korban jiwa, atau sebuah trofi turnamen sepak bola yang memicu tawuran massal antar suporter. Semua hal yang mereka pertaruhkan itu tidak memliki berat bahkan seberat sayap nyamuk di timbangan Alloh . Bagaimana mungkin seorang Mu’min yang berakal rela mempertaruhkan keselamatannya di Akhiroh demi sesuatu yang lebih hina dari sepotong sayap serangga? Ibnu Qoyyim (751 H) menjelaskan bahwa kecintaan pada dunia adalah pangkal dari segala bencana dan kehancuran umat-umat terdahulu maupun sekarang. Ketika hati telah terpikat oleh dunia, maka urusan agama dan persaudaraan akan dicampakkan begitu saja.

1.2 Bangkai Kambing Cacat sebagai Perumpamaan Harta dan Jabatan

Untuk menanamkan pemahaman yang mendalam ke dalam jiwa para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, Nabi sering kali menggunakan contoh konkrit yang ada di sekitar mereka. Suatu hari, beliau berjalan melewati pasar bersama para Shohabatnya dan menjumpai seekor bangkai anak kambing yang telinganya cacat (kecil sebelah). Nabi memegang telinga bangkai tersebut lalu menawarkannya kepada para Shohabat. Beliau bersabda:

«أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟» فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ، وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: «أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟» قَالُوا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا، كَانَ عَيْبًا فِيهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ، فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: «فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ، مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ»

“Siapa di antara kalian yang suka membeli ini dengan harga 1 dirham?” Para Shohabat menjawab: “Kami tidak suka memilikinya dengan harga berapa pun, apa yang bisa kami perbuat dengan bangkai ini?” Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian suka jika bangkai ini menjadi milik kalian (gratis)?” Mereka menjawab: “Demi Alloh, seandainya ia hidup pun ia cacat karena telinganya kecil, lalu bagaimana lagi sekarang dalam keadaan sudah menjadi bangkai?” Beliau kemudian bersabda: “Demi Alloh, sungguh dunia ini lebih hina di sisi Alloh daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim no. 2957)

Hadits ini sangat cocok untuk membedah konflik yang sering terjadi antara geng aparat, seperti bentrokan oknum TNI dan Polisi di daerah atau antar geng jalanan. Sering kali konflik bermula dari perebutan pengaruh, membela tokoh, pengamanan tempat hiburan malam, atau sekadar ego sektoral mengenai siapa yang lebih berkuasa di suatu wilayah. Jabatan, seragam, dan daerah kekuasaan yang mereka pertahankan dengan baku hantam itu adalah bangkai kambing cacat yang tidak layak untuk diperebutkan. Sungguh ironis ketika seorang prajurit atau anggota kepolisian yang bersumpah demi negara dan agama, justru saling serang demi perkara yang lebih menjijikkan daripada bangkai hewan di pasar. Alloh mengingatkan manusia agar tidak tertipu:

﴿فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan janganlah penipu (syaithon) memperdayakan kamu tentang Alloh.” (QS. Luqman: 33)

Ketika seseorang mengerti bahwa pangkat, posisi, kekuasaan, dan popularitas di dunia ini hanyalah barang rongsokan yang akan ditinggalkan di dalam liang kubur, ia tidak akan sudi menumpahkan setetes darah pun untuk mempertahankannya.

Jika dunia ini terbuat dari emas yang akan sirna, dan Akhiroh terbuat dari tembikar yang kekal abadi, maka orang yang berakal tentu akan memilih tembikar yang kekal daripada emas yang sirna. Namun yang terjadi justru sebaliknya, manusia memilih dunia yang merupakan tembikar yang rusak dan mencampakkan Akhiroh yang merupakan emas yang kekal.

1.3 Terfitnah Dunia Menjadi Akar Permusuhan Sesama Muslim

Permusuhan, dendam, dan aksi saling membunuh di antara geng-geng Muslim bukanlah terjadi tanpa sebab. Akar masalahnya adalah fitnah dunia yang telah merasuki hati mereka. Ketika dunia telah menjadi tujuan utama, maka batasan-batasan syariat akan diterjang, dan saudara seiman akan dipandang sebagai musuh yang harus disingkirkan. Rosululloh telah mengkhawatirkan hal ini menimpa umatnya jauh-jauh hari. Beliau bersabda:

«فَوَاللَّهِ لاَ الفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ»

“Demi Alloh, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan menimpa kalian. Akan tetapi, aku takut jika dunia dibentangkan luas kepada kalian sebagaimana ia telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 3158 dan Muslim no. 2961)

Kasus tawuran antar geng sekolah atau pelajar memberikan gambaran yang sangat pas mengenai Hadits ini. Para pelajar saling serang di jalanan dengan celurit dan gir motor bukan karena masalah ideologi atau Aqidah, melainkan karena memperebutkan reputasi, gengsi, dan nama baik geng sekolah di media sosial. Mereka saling berlomba untuk diakui sebagai geng yang paling ditakuti. Popularitas semu di dunia digital dan pengakuan dari sesama remaja adalah bentuk bentangan dunia yang sedang membinasakan mereka. Mereka saling membantai demi eksistensi kelompok yang tidak membawa manfaat sedikit pun di Akhiroh. Alloh berfirman mengenai kerugian orang-orang yang menjadikan dunia sebagai target utama mereka:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ  أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di Akhiroh kecuali Naar dan lenyaplah di Akhiroh itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan batallah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Apabila dua geng suporter sepak bola saling melakukan sweeping di jalanan, mencegat bus lawan, dan mengeroyok pendukung klub lain hingga tewas, mereka sedang berada dalam kubangan fitnah dunia ini. Mereka merasa bangga dengan kemenangan klubnya, bangga dengan jumlah basis massa mereka, namun di sisi Alloh , amal kebaikan mereka diberikan ke korban karena dosa permusuhan dan pembunuhan sebagai qishos di Mahsyar. Fitnah harta dan kedudukan jauh lebih cepat merusak agama seseorang daripada dua ekor serigala lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing.

 

Bab 2: Larangan Keras Menumpahkan Darah Kaum Mu’min

2.1 Besarnya Perkara Darah

Di pengadilan Alloh yang maha adil kelak, perkara pertama yang akan diselesaikan di antara sesama manusia bukanlah urusan pencurian harta, bukan urusan persengketaan tanah, melainkan urusan penumpahan darah. Ini menunjukkan betapa tingginya nilai sepotong nyawa seorang Muslim di hadapan Robbnya. Rosululloh menegaskan hal ini dalam sabdanya:

«أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ»

“Perkara yang pertama kali diputuskan di antara manusia pada hari Qiyamah adalah urusan darah.” (HR. Al-Bukhori no. 6864 dan lafazh Muslim no. 1678)

Bayangkan betapa mengerikannya hari itu bagi para pelaku pengeroyokan dalam tawuran geng preman atau suporter bola. Korban yang tewas akan datang memegangi pembunuhnya dengan darah yang masih mengalir, menuntut keadilan langsung di hadapan Alloh . Tidak ada lagi tameng organisasi, tidak ada lagi perlindungan dari ketua geng, dan tidak ada lagi backingan dari komandan kesatuan. Semua berdiri sendiri mempertanggung-jawabkan tangannya yang telah berlumuran darah. Alloh berfirman tentang kepastian pembalasan ini:

﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَى بِنَا حَاسِبِين

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Qiyamah, maka tiada seorang pun dirugikan walau sedikit pun. Dan jika amalan itu hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan balasannya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47)

Ketika terjadi bentrokan antara oknum TNI dan Polisi yang menyebabkan hilangnya nyawa salah satu pihak, perkara ini tidak akan selesai hanya dengan penandatanganan memorandum kesepakatan damai di atas meterai oleh para petinggi korps. Di hari Qiyamah, oknum yang melepaskan tembakan atau yang menghantamkan benda tumpul ke tubuh saudaranya akan diseret ke hadapan Robb yang maha melihat. Setiap tetes darah yang keluar akan dihitung dan dimintai pertanggungjawaban. Hilangnya dunia beserta seluruh isinya lebih ringan bagi Alloh daripada terbunuhnya seorang Muslim tanpa alasan yang haq.

2.2 Ancaman Naar bagi Orang yang Membunuh Seorang Muslim

Alloh telah menetapkan hukuman yang sangat berat bagi siapa saja yang dengan sengaja merenggut nyawa seorang Mu’min tanpa jalur syar’i yang benar. Hukuman tersebut bukan hanya penjara manusia di dunia, melainkan kemurkaan Robb, laknat, dan azab yang kekal di dalam Naar. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan siapa yang membunuh seorang Mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Alloh murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)

Ancaman ini mencakup seluruh anggota geng, baik yang mengeksekusi langsung maupun yang ikut serta membantu, memprovokasi, atau sekadar ikut meramaikan pengeroyokan. Dalam kasus nyata bentrokan suporter sepak bola, sering kali satu orang korban dikeroyok oleh puluhan orang secara babi buta hingga tewas di tempat. Mereka yang ikut menendang, ikut memukul dengan kayu, atau yang meneriakkan yel-yel provokasi agar korban dihabisi, semuanya memikul dosa pembunuhan tersebut. Nabi memberikan peringatan yang sangat keras mengenai dosa kolektif dalam pembunuhan:

«لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ اشْتَرَكُوا فِي دَمِ مُؤْمِنٍ لَأَكَبَّهُمُ اللَّهُ فِي النَّارِ»

“Seandainya penduduk langit dan penduduk bumi berserikat (ikut serta) dalam menumpahkan darah seorang Mu’min, niscaya Alloh akan membenamkan mereka semua ke dalam Naar.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1398)

Maka, alangkah ruginya seorang anggota geng preman yang demi membela setia kawan atau perintah ketua kelompoknya, rela mengorbankan dirinya masuk ke dalam Naar Jahannam. Perasaan solidaritas kelompok yang keliru telah membuat mereka buta terhadap ancaman laknat Alloh . Ahmad bin Hanbal (241 H) menyatakan bahwa setelah dosa syirik, tidak ada dosa yang lebih besar bahayanya bagi keselamatan Akhirat seseorang daripada dosa menumpahkan darah.

2.3 Bahaya Menjadi Pemicu atau Pembantu dalam Menumpahkan Darah

Syaithon memiliki tahapan yang sangat rapi dalam menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar. Sering kali pembunuhan tidak terjadi secara spontan, melainkan dipicu oleh kata-kata, tulisan, provokasi, atau bantuan logistik berupa penyediaan senjata tajam. Islam menutup rapat semua celah yang bisa mengantarkan pada penumpahan darah. Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِ مُؤْمِنٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ، لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: آيِسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ»

“Siapa yang membantu dalam pembunuhan seorang Mu’min meskipun hanya dengan sepotong kata, maka ia akan menghadap Alloh ‘Azza wa Jalla dalam keadaan tertulis di antara kedua matanya: Orang ini telah putus asa dari rohmat Alloh.” (HR. Ibnu Majah no. 2620, dengan sanad lemah)

Hadits ini sangat nyata pada fenomena admin media sosial geng sekolah atau geng suporter sepak bola. Mereka yang membuat konten tantangan, menyebarkan ujaran kebencian, menyalakan api dendam lewat tulisan, atau mengoordinasikan titik kumpul untuk tawuran, sesungguhnya mereka adalah pembantu utama dalam penumpahan darah. Walaupun tangan mereka tidak menyentuh senjata tajam, dan tubuh mereka tidak berada di lokasi bentrokan, mereka telah menanggung dosa besar karena menjadi pemicu hilangnya nyawa saudara mereka. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Ketika oknum polisi atau tentara meminjamkan senjata, atau membiarkan rekannya melakukan aksi balas dendam terhadap instansi sebelah tanpa berusaha mencegahnya, mereka telah masuk ke dalam lingkaran tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Begitu pula para penyedia senjata tajam bagi anak-anak geng sekolah yang hendak tawuran. Siapa saja yang membuka pintu fitnah permusuhan, maka ia bertanggung jawab atas setiap darah yang tumpah akibat pintu yang dibukanya tersebut sampai hari Qiyamah.

 

Bab 3: Petaka Taat Buta dalam Kemaksiatan

3.1 Tiada Ketaatan kepada Makhluk dalam Memaksiati Robb

Banyak bentrokan antar geng terjadi karena instruksi dari atasan. Prajurit mematuhi komandan, anggota preman menuruti perintah ketua, dan pelajar mengikuti komando senior. Dalam Islam, kepatuhan kepada pemimpin memiliki batasan yang sangat jelas, yaitu tidak boleh melanggar aturan Alloh . Ketika perintah tersebut berupa kemaksiatan, apalagi sampai menumpahkan darah sesama Muslim, maka perintah itu wajib ditolak. Rosululloh bersabda:

«لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ»

“Tidak ada ketaatan dalam maksiat, sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang makruf.” (HR. Al-Bukhori no. 7257 dan Muslim no. 1840)

Prinsip ini menjadi tameng utama bagi setiap oknum aparat, baik TNI maupun Polisi. Saat seorang komandan kesatuan atau senior memerintahkan untuk melakukan aksi balasan, menyerang markas instansi lain, atau mengeroyok anggota kelompok rival, perintah itu batal demi hukum syariat. Seorang prajurit tidak boleh menggunakan alasan “hanya menjalankan tugas” atau “perintah atasan” untuk melepaskan diri dari dosa besar. Di hadapan Alloh , setiap individu memegang kendali atas tangannya sendiri. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ  الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (QS. Ash-Shu’aro: 151-152)

Jika seorang ketua geng motor atau pentolan suporter sepak bola memerintahkan anggotanya untuk melakukan sweeping dan menghadang bus pendukung lawan, perintah tersebut adalah bentuk kerusakan di muka bumi. Mengikuti perintah jahat seperti ini bukanlah tanda kesetiaan, melainkan tanda kebodohan yang membinasakan agama. Ibnu Qudamah (620 H) menegaskan bahwa kesepakatan makhluk untuk melanggar larangan Robb adalah batil, dan siapa saja yang mendahulukan ridho manusia di atas murka Alloh, maka Alloh akan menyerahkan urusannya kepada manusia tersebut hingga ia binasa.

3.2 Penyesalan Para Pengikut Pemimpin Zholim di Akhirat

Penyesalan yang paling tidak berguna adalah penyesalan para pengikut geng di Akhiroh kelak. Di dunia, mereka merasa bangga memiliki pemimpin yang berani, kejam, dan disegani. Namun di hadapan pengadilan Alloh , para pemimpin itu akan berlepas tangan dan menolak memikul dosa-dosa anak buahnya. Mereka semua akan saling melaknat di dalam Naar. Alloh menggambarkan dialog mengerikan ini:

﴿وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا 67 رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Dan mereka berkata: ‘Ya Robb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang lurus. Ya Robb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.’” (QS. Al-Ahzab: 67-68)

Kasus nyata sering terlihat pada persidangan kasus tawuran pelajar atau pengeroyokan oleh geng preman. Ketika para pelaku ditangkap dan terancam hukuman berat, sang ketua atau alumni yang memprovokasi sering kali menghilang, melarikan diri, atau berkelit tidak tahu-menahu. Di Akhiroh, kondisinya jauh lebih tragis. Anak buah yang rela menusuk orang lain demi menjaga nama baik ketuanya akan melihat sang ketua berlepas diri darinya. Rosululloh memberikan perumpamaan tentang para pemimpin yang menyesatkan:

«إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الأَئِمَّةَ المُضِلِّينَ»

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2229)

Para dedengkot suporter yang mengobarkan semangat permusuhan lewat yel-yel rasis dan provokatif adalah contoh pemimpin yang menyesatkan. Mereka menuntun ribuan anak muda menuju jurang kehancuran. Berjalan di belakang pemimpin yang durhaka dalam urusan darah sama saja dengan berjalan sukarela menuju kebinasaan tanpa alasan.

3.3 Dosa Berjamaah Akibat Menuruti Perintah

Ketika sebuah kelompok, instansi, atau geng secara bersama-sama sepakat melakukan kemaksiatan, maka hukuman dan dosa akan menimpa mereka secara kolektif. Tidak ada istilah selamat karena hanya ikut-ikutan. Solidaritas kelompok yang dibangun di atas pondasi maksiat akan menghasilkan azab yang merata. Alloh berfirman:

﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Dalam sejarah Islam, tindakan kolektif dalam keburukan pernah dicontohkan oleh kaum Tsamud yang bersekongkol untuk membunuh unta mukjizat. Meskipun yang mengeksekusi hanya 1 orang, namun karena seluruh kelompok menyetujui dan mendukung tindakan tersebut, Alloh membinasakan mereka semua tanpa sisa. Hal serupa berlaku pada aksi pengeroyokan oleh geng suporter atau tawuran geng sekolah. Ketika 50 orang mengepung 1 orang Muslim, lalu sebagian memukul, sebagian melempar batu, dan sebagian lagi hanya menonton sambil bersorak menutup jalan agar korban tidak bisa kabur, maka seluruh 50 orang tersebut telah berserikat dalam dosa pembunuhan. Nabi bersabda:

«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ»

“Sesungguhnya manusia jika melihat orang yang zholim lalu tidak mencegah tindakannya, hampir saja Alloh akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua.” (HSR. Abu Dawud no. 4338)

Oleh karena itu, sikap diam seorang anggota polisi saat melihat rekannya menyiksa tahanan, atau diamnya seorang prajurit saat melihat satuannya bersiap menyerang warga atau instansi lain, adalah bentuk keridhoan terhadap kezholiman.

Pembantu kezholiman bukan hanya orang yang melakukan cambukan, melainkan juga orang yang meruncingkan penanya, menyediakan makannya, dan menjaga pintunya; mereka semua sama di dalam timbangan dosa.

 

Bab 4: Meluruskan Niat Fanatisme Kelompok

4.1 Mengurai Fanatisme Korps dan Institusi Aparat

Semangat kebersamaan dan jiwa korsa (jiwa korps) di tubuh TNI maupun Polisi sebenarnya bertujuan baik untuk menjaga kekompakan dalam mempertahankan negara. Namun, ketika semangat ini diselewengkan menjadi fanatisme buta yang menganggap korpsnya selalu benar dan korps lain adalah musuh, terjadilah bencana. Tindakan membela rekan sejawat yang jelas-jelas bersalah adalah ciri jahiliyyah yang telah dihapus oleh Islam. Nabi bersabda:

«مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً، فَقُتِلَ، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ»

“Siapa yang perang di bawah bendera buta (tidak dibenarkan syariat), ia marah karena fanatisme kelompok, atau mengajak kepada fanatisme kelompok, atau membela fanatisme kelompok, lalu ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliyyah.” (HR. Muslim no. 1848)

Bentrokan antara oknum TNI dan Polisi sering kali dipicu oleh hal sepele, seperti senggolan di jalanan atau teguran saat razia lalu lintas. Jiwa korsa yang keliru membuat rekan-rekan sesama korps merasa harus membalas dendam demi menjaga kehormatan institusi. Mereka melupakan bahwa seragam yang mereka kenakan dibeli dari keringat rakyat Muslim, dan senjata yang mereka pegang diamanahkan untuk melindungi, bukan untuk membantai sesama Muslim. Kehormatan seorang Muslim jauh lebih tinggi daripada lambang institusi mana pun di dunia ini. Alloh berfirman:

﴿إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyyah, lalu Alloh menurunkan ketenangan kepada Rosul-Nya, dan kepada orang-orang Mu’min.” (QS. Al-Fath: 26)

Membela korps secara membabi buta tanpa melihat siapa yang benar dan siapa yang salah adalah bentuk kesombongan jahiliyyah. Islam mengajarkan untuk menolong saudara secara syar’i, yaitu mencegahnya jika ia berbuat zholim, bukan malah membantunya melakukan kezholiman baru. Siapa saja yang mengangkat senjatanya demi membela fanatisme suku, bangsa, atau korpsnya, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya sampai ia bertobat.

4.2 Bahaya Membela Warna Klub dan Bendera Suporter secara Buta

Fanatisme suporter sepak bola telah mencapai tingkat yang sangat membahayakan agama dan nyawa. Seseorang bisa dikeroyok hingga tewas hanya karena tersesat di wilayah basis massa lawan atau karena mengenakan kaos dengan warna klub rival. Ini adalah bentuk nyata dari penghambaan kepada syiar-syiar syaithon. Warna kain dan logo klub telah dijadikan berhala baru yang dibela dengan taruhan nyawa. Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Alloh, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan Sholat dan menunaikan Zakat, seraya mereka tunduk (kepada Alloh).” (QS. Al-Ma’idah: 55)

Ikatan tertinggi seorang Muslim adalah ikatan iman, bukan ikatan kelompok suporter. Ketika seorang suporter bola merasa lebih dekat dan lebih cinta kepada sesama penikmat bola yang tidak Sholat, daripada kepada seorang Muslim dari kota sebelah yang rajin ke Masjid, maka batinnya telah rusak. Pertikaian antar geng suporter ini murni digerakkan oleh syaithon demi memecah belah persaudaraan kaum Mu’min. Rosululloh memberikan teguran keras ketika para Shohabat hampir terpecah karena sebutan kelompok kaumnya:

«[أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟] دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ»

“[Apakah kalian menyeru dengan seruan jahiliyyah padahal aku masih ada di tengah-tengah kalian?] Tinggalkanlah seruan itu, karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang busuk!” (HR. Al-Bukhori no. 4905 dan Muslim no. 2584, dll)

Nama klub, nama geng suporter, dan yel-yel kebanggaan kelompok adalah perkara busuk yang tidak boleh dijadikan alasan untuk bermusuhan. Kasus pengeroyokan di luar stadion yang menewaskan remaja Muslim adalah bukti nyata kebusukan fanatisme ini. Ibnu

Siapa saja yang membuat suatu nama atau simbol di luar Islam dan Sunnah, lalu ia mengikat loyalitas dan permusuhan di atas nama tersebut, maka ia termasuk orang yang memecah belah agama dan keluar dari jamaah kaum Muslimin.

4.3 Kerusakan Jiwa Akibat Solidaritas Geng Sekolah dan Preman

Dunia remaja dan jalanan sering kali dirusak oleh pemahaman solidaritas yang keliru. Geng sekolah dan geng preman menanamkan doktin bahwa teman sekelompok harus dibela dalam kondisi apa pun, baik benar maupun salah. Konsep “satu dicubit semua merasakan” diterapkan untuk hal-hal yang melanggar hukum Robb. Jika ada anggota geng yang dipukul karena menggoda wanita atau karena berbuat onar, seluruh anggota geng akan turun melakukan balas dendam secara brutal. Nabi bersabda:

«انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا» فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ؟ قَالَ: «تَحْجُزُهُ، أَوْ تَمْنَعُهُ، مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ»

“Tolongoanlah saudaramu yang berbuat zholim atau yang dizholimi.” Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rosululloh, aku menolongnya jika ia dizholimi, lalu bagaimana cara menolongnya jika ia berbuat zholim?” Beliau bersabda: “Kamu mencegahnya atau menghalanginya dari berbuat zholim, karena sesungguhnya itulah cara menolongnya.” (HR. Al-Bukhori no. 6952)

Menolong teman yang berbuat salah bukan dengan ikut mengeroyok musuhnya, melainkan dengan memegangi tangannya agar ia berhenti berbuat zholim. Tawuran pelajar yang pecah di jalur-jalur protokol sering kali memakan korban jiwa dari anak-anak yang sebenarnya hanya ikut-ikutan demi solidaritas pertemanan. Mereka membawa senjata tajam yang dirancang khusus untuk melukai, sebuah tindakan yang mengundang kutukan dari para malaikat. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

“Dan janganlah kamu menjadi pembela (bertengkar) bagi orang-orang yang khianat.” (QS. An-Nisa: 105)

Membela teman geng preman yang memeras pedagang atau menguasai lahan secara ilegal adalah bentuk pembelaan terhadap pengkhianat syariat. Jiwa orang-orang yang hidup dalam lingkungan geng seperti ini akan mengeras dan kehilangan kepekaan terhadap halal dan haram.

Siapa yang tolong-menolong dalam kebatilan demi fanatisme golongan, maka Alloh akan menjadikan kelompoknya itu sebagai sumber kehancuran bagi dirinya sendiri di dunia sebelum di Akhiroh.

 

Bab 5: Kewajiban Menjaga Lisan dan Tangan dari Fitnah

5.1 Larangan Mencela dan Saling Mengejek Sesama Muslim

Banyak bentrokan besar berawal dari perkara kecil, yaitu lisan yang tidak dijaga. Ejekan di media sosial, saling sindir antar barak aparat, atau yel-yel merendahkan kelompok lain di stadion adalah percikan api yang membakar emosi. Islam melarang keras segala bentuk penghinaan terhadap sesama Muslim, karena setiap Mu’min memiliki kehormatan yang wajib dilindungi. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain, boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu saling mencela dirimu sendiri (dengan mencela saudaramu karena kalian bagaikan satu tubuh) dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman.” (QS. Al-Hujurot: 11)

Ketika oknum suporter membuat spanduk besar berisi ejekan yang merendahkan martabat basis suporter kota lain, mereka telah melanggar ayat yang mulia ini. Begitu pula antar pelajar yang saling menantang menggunakan kata-kata kotor di kolom komentar digital. Lisan yang fasik adalah pembuka pintu pertumpahan darah. Rosululloh memberikan batasan yang tegas mengenai hak seorang Muslim:

«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»

“Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Al-Bukhori no. 48 dan Muslim no. 64)

Bagaimana mungkin seorang anggota polisi atau tentara yang berpendidikan tega mengeluarkan kata-kata makian yang menyulut kemarahan korps sebelah? Setiap kalimat yang keluar dari lisan akan dicatat, dan jika kalimat itu memicu tawuran atau bentrokan yang menewaskan orang, maka si pembicara ikut menanggung dosa pembunuhan tersebut.

Lisan adalah penerjemah hati, dan jika lisan seseorang terbiasa mencela saudaranya, itu adalah tanda bahwa hatinya telah kosong dari pengagungan terhadap syariat Alloh.

5.2 Perintah Menahan Diri saat Terjadi Perselisihan dan Ketegangan

Saat suasana memanas dan ketegangan antar geng mulai terjadi, sikap terbaik yang diajarkan oleh Islam adalah menahan diri (kaf-ful yad) dan tidak ikut memperkeruh suasana. Orang yang paling kuat bukanlah orang yang jago berkelahi atau berani membalas pukulan, melainkan orang yang mampu mengendalikan amarahnya demi mencegah kerusakan yang lebih besar. Nabi bersabda:

«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»

“Orang yang kuat itu bukanlah yang jago bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhori no. 6114 dan Muslim no. 2609)

Dalam situasi bentrokan oknum aparat di lapangan, jika salah satu pihak ada yang berlapang dada untuk mundur dan melaporkan masalah melalui jalur hukum yang tertib tanpa melakukan aksi balasan spontan, maka fitnah besar dapat diredam. Menahan diri bukan tanda kelemahan atau kepengecutan, melainkan puncak dari keberanian syar’i. Alloh memuji orang-orang yang mampu menekan amarahnya:

﴿وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)

Ketika seorang pelajar dikepung oleh geng sekolah lain, rekan-rekannya yang mendengar kabar tersebut harus menahan diri dari mengerahkan massa untuk menyerang balik. Mereka harus menyerahkan urusan kepada pihak sekolah dan orang tua. Jika ego yang didahulukan, maka lingkaran dendam tidak akan pernah putus.

Menahan diri dari menumpahkan darah kaum Mu’min di saat fitnah melanda adalah tanda kesempurnaan akal dan ketaqwaan seorang hamba.

5.3 Langkah Syar’i dalam Mendamaikan Dua Kelompok yang Bertikai

Islam tidak membiarkan konflik antar kelompok Muslim berlangsung berlarut-larut. Masyarakat, pihak berwenang, dan tokoh-tokoh yang berada di sekitar kelompok yang bertikai wajib turun tangan untuk melakukan ishlah (perdamaian) dengan adil, tanpa membela salah satu pihak secara zholim. Jika salah satu geng tetap membangkang dan menolak damai, maka mereka harus ditindak tegas secara hukum. Alloh berfirman:

﴿وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damai antara keduanya. Tapi kalau salah satu dari kedua golongan itu berbuat zholim terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat zholim itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Alloh. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Alloh), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlakulah adil. Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujurot: 9)

Penerapan ayat ini adalah tugas bagi para pimpinan institusi TNI dan Polisi, para tokoh masyarakat di lingkungan geng preman, serta pihak manajemen klub sepak bola. Perdamaian tidak boleh sekadar formalitas foto bersama, melainkan harus menyentuh akar rumput. Akar masalah seperti gesekan bisnis ilegal pada geng preman atau provokasi digital pada suporter harus diselesaikan dengan seadil-adilnya. Pihak yang bersalah harus dihukum sesuai syariat dan aturan hukum, dan pihak korban harus diberikan haknya. Rosululloh bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟» قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ»

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih utama daripada derajat Puasa, Sholat, dan Sedekah?” Para Shohabat menjawab: “Tentu saja wahai Rosululloh.” Beliau bersabda: “Mendamaikan perselisihan di antara sesama, karena sesungguhnya rusaknya hubungan di antara sesama adalah pengikis (agama).” (HSR. Abu Dawud no. 4919)

Mendamaikan geng sekolah yang sering tawuran dengan membuat program bersama yang bermanfaat adalah langkah yang sangat mulia. Pembiaran terhadap konflik sama saja dengan menanam bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Melangkah untuk mendamaikan manusia yang sedang berselisih darah adalah salah satu jihad terbesar di jalan Alloh.

 

Penutup

Kehidupan di dunia ini hanyalah lintasan singkat yang akan segera berakhir bagi setiap manusia. Seragam kebesaran aparat akan dilepas dan diganti dengan kain kafan yang putih polos. Atribut suporter yang dibangga-banggakan akan ditinggalkan di lemari pakaian yang berdebu. Nama besar geng sekolah akan dilupakan seiring berjalannya waktu, dan wilayah kekuasaan geng preman di jalanan akan diambil alih oleh orang lain. Tidak ada yang tersisa di dalam kubur yang gelap dan sempit kecuali amal perbuatan kita masing-masing. Sungguh sebuah kerugian yang tidak ada bandingannya jika seorang Muslim harus menghadap Robbnya dengan membawa dosa pembunuhan terhadap saudaranya sendiri, hanya karena memperebutkan perkara dunia yang nilainya lebih hina daripada sepotong sayap ekor nyamuk.

Melalui seluruh dalil Al-Qur’an dan Hadits Nabi serta nasihat para ulama Salaf yang telah dipaparkan, sangat jelas bahwa kehormatan darah seorang Muslim adalah perkara yang sangat agung di sisi Alloh . Fanatisme kelompok, loyalitas buta kepada komandan atau ketua geng yang menyimpang dari syariat, serta ketidakmampuan menahan amarah lisan dan tangan adalah pintu-pintu maksiat yang harus segera ditutup rapat.

Kepada para prajurit TNI, anggota Polisi, para pemuda suporter bola, para pelajar di sekolah-sekolah, dan orang-orang yang hidup di kerasnya jalanan: bertaqwalah kepada Alloh . Jagalah tangan-tangan kalian dari menumpahkan darah saudara seiman. Ingatlah bahwa kemenangan sejati bukan saat kelompokmu berhasil mengalahkan dan menginjak-injak kelompok lain di dunia, melainkan saat kakimu berhasil melangkah masuk ke dalam Jannah dan diselamatkan dari siksaan Naar yang menyala-nyala.

Semoga Alloh menyatukan hati-hati kaum Mu’min, menjauhkan kita dari segala fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan mengakhiri hidup kita semua dalam keadaan husnul khotimah.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini