Cari Ebook

[PDF] Pesona Bangunan Jannah - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh yang telah menjanjikan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa sebuah tempat kembali yang penuh dengan kemuliaan.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , keluarganya, dan para Shohabat yang telah berjihad demi tegaknya kalimatulloh di muka bumi.

Amma ba’du:

Sesungguhnya kerinduan jiwa terhadap Jannah (Surga) adalah fitroh yang tertanam dalam hati setiap Mu’min. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang fana, di mana kemegahan materi seringkali melalaikan manusia, maka menghadirkan kembali gambaran tentang negeri Akhiroh, terutama mengenai sifat dan keindahan bangunan-bangunannya, menjadi sebuah urgensi yang sangat besar. Memahami bagaimana Alloh membangun istana bagi para kekasih-Nya merupakan sarana untuk mempertebal iman, menghibur hati yang sedang dirundung duka di dunia, serta memicu semangat dalam beramal sholih demi meraih hunian abadi yang tiada tandingannya.

Buku yang ada di hadapan pembaca ini disusun untuk menelusuri setiap sudut arsitektur Jannah berdasarkan dalil-dalil yang shohih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pembahasan diawali dengan membedah material dasar penyusun bangunan tersebut, di mana kita akan mendapati betapa jauhnya perbedaan antara batu bata dunia dengan batu bata emas dan perak yang semennya berupa misk (kasturi) yang sangat harum. Setelah memahami bahan dasarnya, narasi akan mengalir membawa kita mengenal berbagai jenis bangunan, mulai dari ghurufat (kamar-kamar tinggi) yang transparan hingga istana-istana megah dan kemah-kemah mutiara yang menjulang kelangit. Penjelasan akan semakin diperdalam dengan memotret interior di dalamnya, seperti ranjang-ranjang yang ditinggikan serta hamparan permadani sutra yang sangat lembut.

Tidak berhenti pada fisik bangunan semata, buku ini juga mengajak pembaca untuk keluar sejenak ke halaman istana guna menyaksikan sungai-sungai susu, madu, dan khomr yang mengalir tenang di bawah bangunan, serta pepohonan emas yang menaunginya dengan keteduhan yang sempurna.

Sebagai bagian yang sangat penting, buku ini juga merangkum berbagai amalan kunci yang secara khusus disebutkan oleh Rosululloh sebagai sebab dibangunnya hunian di Jannah, sehingga pembaca memiliki panduan praktis untuk mulai “membangun” istananya sejak di dunia ini. Seluruh uraian tersebut akan bermuara pada kesimpulan mengenai keabadian ni’mat ini, sebuah tempat tinggal yang tidak akan pernah usang dan penghuninya tidak akan pernah merasa bosan. Semoga karya ini menjadi wasilah bagi kita untuk semakin merindukan Robb dan negeri kediaman-Nya yang penuh dengan rohmat.

 

Bab 1: Bahan Bangunan dan Arsitektur Jannah

1.1 Batu Bata Emas dan Perak

Sesungguhnya gambaran mengenai megahnya bangunan Jannah (Surga) tidaklah dapat diserupakan dengan kemegahan dunia manapun. Di antara sifat yang paling menonjol dari bangunan tersebut adalah material penyusunnya yang terdiri dari logam yang paling mulia dan berharga di mata manusia. Rosululloh telah memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai hal ini melalui lisan beliau yang shodiq (jujur).

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami bertanya, “Wahai Rosululloh, ceritakanlah kepada kami tentang Jannah, bagaimanakah bangunannya?” Beliau bersabda:

«لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ»

“Satu batu bata dari perak dan satu batu bata dari emas.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2526 dan Ahmad no. 9073)

Bangunan di Jannah tersusun dengan sangat rapi, di mana keindahan emas yang berkilau kuning keemasan berselang-seling dengan perak yang putih bersih. Hal ini menunjukkan tingkat keindahan yang tidak terbatas, di mana setiap jengkal temboknya memancarkan cahaya yang memukau mata bagi setiap Mu’min yang memandangnya.

Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu dalam Hadits Isro’ Mi’roj yang panjang, beliau menceritakan sabda Nabi :

«ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ، فَإِذَا فِيهَا جَنَابِذُ اللُّؤْلُؤِ، وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ»

“Kemudian aku dimasukkan ke dalam Jannah, ternyata di dalamnya terdapat kubah-kubah dari mutiara, dan ternyata tanahnya adalah (beraroma) misk (minyak kasturi).” (HR. Al-Bukhori no. 3342 dan Muslim no. 162)

1.2 Semen Wangi dari Misk (Kasturi)

Jika di dunia bangunan disatukan dengan semen yang kasar dan berdebu, maka Robb menjadikan perekat bangunan di Jannah sebagai sesuatu yang sangat harum dan indah. Perekat antara batu bata emas dan perak tersebut adalah misk (kasturi) yang memiliki aroma paling wangi.

Lanjutan dari Hadits Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu di atas, Nabi bersabda:

«وَمِلاَطُهَا الْمِسْكُ الأَذْفَرُ»

“Dan semennya adalah misk (kasturi) yang aromanya sangat kuat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2526 dan Ahmad no. 9073)

Istilah adzfar dalam Hadits tersebut bermakna aroma wangi yang sangat tajam dan semerbak. Hal ini memastikan bahwa setiap penghuni Jannah yang berada di dalam istananya tidak hanya dimanjakan oleh pemandangan visual yang indah, namun juga oleh aroma yang menenangkan jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa Jannah adalah tempat yang sempurna dalam segala sisi panca indra manusia.

1.3 Tanah dan Kerikil dari Jauhar (Permata), Yaqut (Rubi), dan Marjan

Kemuliaan bangunan Jannah tidak berhenti pada dinding dan semennya saja, namun menjalar hingga ke bagian tanah dan kerikil yang ada di sekitarnya. Lantai-lantai dan halaman istana di Jannah bukanlah tanah yang kotor, melainkan tumpukan permata yang berharga.

Rosululloh bersabda dalam Hadits yang sama:

«وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ»

“Dan kerikilnya adalah mutiara dan yaqut (permata rubi), serta tanahnya adalah (seharum) za’faron (sejenis misk).” (HSR. At-Tirmidzi no. 2526 dan Ahmad no. 9073)

Dalam riwayat lain dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh bersabda tentang tanah Jannah:

«دَرْمَكَةٌ بَيْضَاءُ مِسْكٌ خَالِصٌ»

“Tanahnya sepereti tepung lembut yang putih, (bearoma) misk (kasturi) murni.” (HR. Muslim no. 2830)

Gabungan antara za’faron yang memberikan warna kuning kemerahan yang cantik serta misk yang putih bersih memberikan perpaduan warna yang sangat menakjubkan pada permukaan tanah Jannah. Kerikil-kerikil yang terdiri dari mutiara dan yaqut memberikan kilauan cahaya saat terkena penyinaran Jannah yang abadi. Ini adalah pemandangan yang tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia di dunia. Sebagaimana firman Alloh :

﴿فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

“Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni’mat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang dikerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)

1.4 Cahaya sebagai Penyinaran Abadi Bangunan

Bangunan di Jannah tidak memerlukan matahari atau bulan untuk memberikan penerangan. Kemegahan arsitekturnya selalu nampak karena Jannah disinari oleh cahaya yang bersumber dari Robb . Penyinaran ini stabil, tidak ada kegelapan malam dan tidak ada panas matahari yang menyengat.

Alloh berfirman:

﴿لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا﴾

“Mereka tidak melihat di dalamnya matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan.” (QS. Al-Insan: 13)

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) rohimahulloh menjelaskan bahwa Jannah itu seluruhnya bercahaya, dan cahaya itu berasal dari Arsy Robb .

Bangunan-bangunan yang terbuat dari emas, perak, dan permata tersebut akan memantulkan cahaya yang indah, menciptakan suasana yang penuh dengan keagungan dan ketenangan bagi para penghuninya. Keindahan ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu, tanpa ada rasa bosan bagi para Mu’min yang menempatinya.

 

Bab 2: Jenis-jenis Bangunan di Jannah

2.1 Al-Ghurufat (Kamar-kamar yang Tinggi dan Transparan)

Di antara kemuliaan yang Alloh sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa adalah bangunan yang disebut dengan Al-Ghurufat. Secara bahasa, Ghurufah bermakna kamar atau ruangan yang letaknya berada di tempat yang tinggi. Bangunan ini memiliki keunikan yang sangat menakjubkan, yaitu sifatnya yang tembus pandang atau transparan, sehingga penghuni di dalamnya dapat melihat keindahan di luar, dan apa yang di luar pun nampak dari dalam dengan keindahan yang sempurna.

Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«إِنَّ فِي الجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا»

«لِمَنْ أَطَابَ الكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ»

“Sesungguhnya di Jannah terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Itu diperuntukkan untuk orang yang lembut tutur katanya, gemar memberi makan, gemar puasa dan Sholat malam saat orang-orang tidur.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad no. 1334)

Kamar-kamar ini bukanlah sekadar ruangan biasa, melainkan bangunan yang menjulang tinggi di atas bangunan lainnya. Alloh berfirman:

﴿لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ﴾

“Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Robbnya, mereka mendapat kamar-kamar (di Jannah), di atasnya terdapat pula kamar-kamar yang dibangun (bertingkat-tingkat), di bawahnya mengalir sungai-sungai. Itulah janji Alloh. Alloh tidak akan menyalahi janji-Nya.” (QS. Az-Zumar: 20)

Dalam ayat ini, Alloh menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah mabbniyyah (benar-benar dibangun dengan kokoh), bukan bangunan biasa. Keberadaan ghurof di atas ghurof menunjukkan kemegahan arsitektur Jannah yang berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat, memberikan pemandangan yang luas bagi penghuninya untuk melihat kerajaan mereka di bawahnya.

2.2 Al-Qushur (Istana-Istana)

Bangunan utama yang menjadi tempat tinggal bagi para kekasih Alloh adalah Al-Qushur atau istana-istana. Istana di Jannah dibangun dengan kemegahan yang melampaui istana para raja di dunia. Setiap satu istana memiliki luas yang sangat lapang, dipenuhi dengan pelayan, dan segala bentuk kemewahan yang tidak pernah habis.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh menceritakan tentang istana milik Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu yang beliau lihat dalam mimpi (dan mimpi Nabi adalah wahyu):

«وَرَأَيْتُ قَصْرًا أَبْيَضَ بِفِنَائِهِ جَارِيَةٌ قُلْتُ: لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ قَالَ: لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ»

“Lalu aku melihat sebuah istana putih yang di halamannya ada seorang pelayan wanita, aku bertanya: ‘Milik siapa istana ini?’ Ia menjawab: ‘Milik Umar bin Al-Khotthob.” (HR. Al-Bukhori no. 3679 dan Muslim no. 2394 dan lafazh Ahmad no. 15002)

Warna putih pada istana tersebut bukanlah putih biasa, melainkan putih yang berkilau karena terbuat dari mutiara atau perak yang sangat bersih.

Alloh juga menjelaskan bahwa istana-istana ini dikelilingi oleh pagar-pagar dan penjagaan yang mulia, menunjukkan kehormatan bagi pemiliknya.

﴿تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا﴾

“Maha Suci Alloh yang jika Dia menghendaki, niscaya Dia jadikan bagimu yang lebih baik dari itu, (yaitu) taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan Dia jadikan pula untukmu istana-istana.” (QS. Al-Furqon: 10)

Setiap istana memiliki ribuan pintu dan setiap pintunya dijaga oleh para Malaikat yang masuk untuk mengucapkan salam keselamatan kepada penghuninya. Keindahan arsitektur Qushur ini mencakup menara-menara yang tinggi dan balkon-balkon yang menghadap ke arah sungai-sungai Jannah.

2.3 Al-Khiyam (Kemah-kemah dari Mutiara yang Berongga)

Selain istana yang permanen, Alloh juga menyediakan Al-Khiyam atau kemah-kemah. Namun, kemah di Jannah sangat berbeda dengan kemah di dunia yang terbuat dari kain atau kulit hewan. Kemah di Jannah terbuat dari satu butir mutiara yang sangat besar dan luas.

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ، طُولُهَا سِتُّونَ مِيلًا، لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ، يَطُوفُ عَلَيْهِمِ الْمُؤْمِنُ فَلَا يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا»

“Sesungguhnya bagi orang Mu’min di Jannah terdapat kemah yang terbuat dari satu mutiara utuh yang berongga, panjangnya (menjulang ke langit) sejauh 60 mil. Di dalamnya, orang Mu’min memiliki keluarga yang ia kelilingi, namun satu sama lain di antara mereka tidak saling melihat (karena luasnya).” (HR. Al-Bukhori no. 4879 dan lafazh Muslim no. 2838)

Bayangkanlah satu butir mutiara yang sangat jernih dan indah, namun di dalamnya terdapat ruang yang sangat luas hingga mencapai 60 mil (sekitar 96 kilometer). Kemah ini menjadi tempat peristirahatan yang sangat privasi dan penuh dengan keindahan, di mana cahaya mutiara tersebut memantulkan warna-warni yang menyejukkan pandangan. Alloh menyebutkan keberadaan kemah ini dalam firman-Nya:

﴿حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ﴾

“(Bidadari-bidadari) yang jelita, dipelihara di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rohman: 72)

2.4 Al-Manazil (Tempat Tinggal yang Luas)

Al-Manazil adalah istilah umum bagi tempat tinggal atau kediaman di Jannah yang mencakup seluruh fasilitas yang ada. Setiap Mu’min diberikan Manzil (tempat tinggal) yang sesuai dengan derajat amalnya di dunia. Luasnya tempat tinggal ini tidak dapat diukur dengan ukuran dunia.

Diriwayatkan dari Al-Mughiroh bin Syu’bah (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh menceritakan tentang penduduk Jannah yang paling rendah derajatnya. Kepada orang tersebut dikatakan:

«لَكَ مِثْلُ الدُّنْيَا وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهَا»

“Bagimu semisal dunia dan 10 kali lipatnya.” (HR. Muslim no. 189)

Jika penduduk Jannah yang paling rendah saja memiliki tempat tinggal seluas 10 kali lipat dunia, maka bagaimanakah dengan Manazil milik para Nabi, para Shiddiqin, dan para Syuhada? Tempat tinggal ini, di dalamnya terdapat pasar-pasar, tempat berkumpul, dan taman-taman yang menyatu dengan bangunan utama.

Setiap Manzil di Jannah telah dipersiapkan secara khusus oleh Alloh . Sebagaimana firman-Nya:

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ﴾

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholih, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi (ghurof) di dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Al-Ankabut: 58)

Lafazh “lanubawwi-annahum” dalam ayat tersebut mengandung makna bahwa Alloh sendiri yang mempersiapkan dan menempatkan mereka di kediaman tersebut sebagai bentuk pemuliaan yang paling tinggi. Setiap sudut bangunan dalam kediaman ini memancarkan kemuliaan dan ni’mat yang tidak akan pernah sirna.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«إِنَّ أَهْلَ الجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الغَابِرَ فِي الأُفُقِ، مِنَ المَشْرِقِ أَوِ المَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ»

“Sesungguhnya penduduk Jannah benar-benar melihat penghuni kamar-kamar yang tinggi (ghurufat) di atas mereka, sebagaimana kalian melihat bintang yang bersinar terang yang masih tersisa di ufuk timur atau barat, karena adanya perbedaan keutamaan di antara mereka.”

Para Shohabat bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah itu Manazil (kediaman) para Nabi yang tidak bisa dicapai oleh selain mereka?” Beliau menjawab:

«بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا المُرْسَلِينَ»

“Tentu saja bisa. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah para lelaki yang beriman kepada Alloh dan membenarkan para Rosul.” (HR. Al-Bukhori no. 3256 dan Muslim no. 2831)

 

Bab 3: Sifat dan Interior Dalam Bangunan

3.1 Luas dan Tingginya Bangunan di Jannah

Kemegahan bangunan di Jannah tidak hanya terletak pada material emas dan peraknya, melainkan juga pada dimensi luas dan tingginya yang melampaui imajinasi manusia. Bangunan-bangunan tersebut menjulang tinggi menembus cakrawala Jannah, memberikan kedudukan yang berbeda-beda bagi setiap penghuninya sesuai dengan derajat keimanan mereka. Tinggi sebuah bangunan di Jannah dapat diukur dari jarak antara satu tingkatan ke tingkatan berikutnya yang sangat jauh.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الْأُفُقِ، مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ»

“Sesungguhnya penduduk Jannah benar-benar melihat penghuni kamar-kamar (ghurufat) di atas mereka, sebagaimana kalian melihat bintang yang masih tersisa di ufuk timur atau barat, karena adanya perbedaan keutamaan di antara mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 3256 dan Muslim no. 2831)

Ketinggian ini menunjukkan betapa megahnya arsitektur yang Alloh bangun. Setiap istana memiliki balkon-balkon yang darinya para penghuni bisa memandang kerajaan mereka yang sangat luas. Luas satu istana saja sudah mencukupi untuk segala bentuk kesenangan tanpa ada rasa sesak sedikit pun. Sebagaimana Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا﴾

“Dan apabila kamu melihat di sana (Jannah), niscaya kamu akan melihat berbagai macam ni’mat dan kerajaan yang besar.” (QS. Al-Insan: 20)

3.2 Pintu-pintu Istana yang Megah

Setiap bangunan dan istana di Jannah memiliki pintu-pintu yang sangat besar dan indah. Pintu-pintu ini bukan sekadar akses masuk, melainkan simbol kemuliaan. Lebar pintu tersebut sangat luar biasa, namun pada hari Kiamat kelak, pintu-pintu itu akan nampak penuh sesak oleh orang-orang yang berbondong-bondong masuk ke dalamnya.

Diriwayatkan dari Utbah bin Ghozwan (17 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Telah diceritakan kepada kami bahwa jarak antara dua daun pintu dari pintu-pintu Jannah adalah perjalanan 40 tahun.” (HR. Muslim no. 2967)

Meskipun ukurannya sangat luas, setiap pintu tersebut memiliki hiasan yang tak terlukiskan. Di atas pintu-pintu tersebut tertulis kalimat-kalimat yang memuliakan penghuninya. Para Malaikat akan datang mengunjungi para penghuni istana melalui pintu-pintu tersebut untuk mengucapkan salam. Alloh berfirman:

﴿جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ﴾

“(Yaitu) Jannah ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari tiap-tiap pintu.” (QS. Ar-Ro’du: 23)

3.3 Ranjang-ranjang yang Ditinggikan (Al-Arush)

Interior di dalam bangunan Jannah dilengkapi dengan Al-Arush atau ranjang-ranjang yang sangat mewah. Ranjang ini bukan terbuat dari kayu biasa, melainkan bertatahkan emas dan permata. Sifat ranjang ini adalah “marfu’ah” (ditinggikan), yang menurut para ahli tafsir, ranjang tersebut akan merendah sendiri ketika penghuninya hendak duduk, lalu naik kembali ke tempat yang tinggi.

Alloh berfirman:

﴿فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ﴾

“Di dalamnya ada takhta-takhta (ranjang) yang ditinggikan.” (QS. Al-Ghosyiyah: 13)

Serta firman-Nya mengenai hiasan ranjang tersebut:

﴿عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ * مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ﴾

“Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.” (QS. Al-Waqi’ah: 15-16)

Kata “maudhunah” bermakna anyaman emas yang sangat halus dan rapi. Di atas ranjang-ranjang inilah para penghuni Jannah bersantai, menikmati hidangan, dan berbincang dengan pasangan serta kerabat mereka dalam suasana yang penuh dengan keakraban dan kasih sayang.

3.4 Hamparan Permadani dan Bantal-bantal yang Tersusun

Keindahan lantai di dalam istana Jannah ditutupi dengan permadani-permadani yang tebal, lembut, dan sangat indah warnanya. Tidak ada satu sudut pun di dalam bangunan tersebut yang dibiarkan kosong tanpa hiasan yang memanjakan mata. Permadani tersebut memiliki lapisan dalam yang terbuat dari sutra tebal (istabroq).

Alloh berfirman:

﴿مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ﴾

“Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra tebal. Dan buah-buahan di kedua Jannah itu dapat (dipetik) dari dekat.” (QS. Ar-Rohman: 54)

Jika bagian dalamnya saja terbuat dari sutra yang paling mewah, maka tidak ada yang mampu membayangkan betapa indahnya bagian luar permadani tersebut. Selain permadani, terdapat pula bantal-bantal yang tersusun rapi (namariq) untuk bersandar.

﴿وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ  وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ﴾

“Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (QS. Al-Ghosyiyah: 15-16)

Penataan interior ini sangat sistematis dan rapi, menunjukkan bahwa Jannah adalah tempat yang penuh dengan keteraturan dan kenyamanan yang sempurna. Setiap penghuni tidak perlu bersusah payah menata rumah mereka, karena segala sesuatunya telah dipersiapkan oleh Robb dengan keindahan yang abadi dan tidak akan pernah usang. Pemandangan ini menciptakan suasana yang sangat tenang dan memberikan ketentraman jiwa yang hakiki bagi siapa saja yang memasukinya.

 

Bab 4: Taman dan Sungai di Sekitar Bangunan

4.1 Sungai-sungai yang Mengalir di Bawah Istana

Keagungan arsitektur istana di Jannah semakin sempurna dengan keberadaan aliran sungai-sungai yang melintas tepat di bawah bangunan tersebut. Sungai-sungai ini merupakan aliran cairan-cairan mulia yang aromanya semerbak dan rasanya tidak pernah berubah. Hal ini memberikan efek suara gemericik yang menenangkan serta pemandangan yang sangat memukau bagi penghuni ghurufat (kamar-kamar tinggi).

Alloh berfirman mengenai sifat sungai yang mengalir di bawah bangunan tersebut:

﴿مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى﴾

“Perumpamaan Jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa adalah bahwa di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khomr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring.” (QS. Muhammad: 15)

Sungai-sungai ini mengalir tanpa perlu adanya parit atau galian tanah. Ia mengalir di atas permukaan tanah Jannah yang terbuat dari misk (kasturi) dan permata, mengikuti ke mana pun arah yang diinginkan oleh pemilik istana tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) rohimahulloh, bahwa sungai-sungai Jannah bersumber dari bawah singgasana Arsy lalu mengalir ke bawah istana-istana penduduk Jannah.

Dalam Hadits lain, Rosululloh memberikan perincian mengenai sumber sungai-sungai ini:

«إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَحْرَ المَاءِ وَبَحْرَ العَسَلِ وَبَحْرَ اللَّبَنِ وَبَحْرَ الخَمْرِ، ثُمَّ تُشَقَّقُ الأَنْهَارُ بَعْدُ»

“Di Jannah terdapat lautan air, lautan madu, lautan susu, dan lautan khomr, kemudian sungai-sungai mengalir darinya setelah itu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2571)

Sungai-sungai ini mengalir di sela-sela bangunan tanpa merusak pondasi emas dan peraknya. Justru aliran tersebut menambah keindahan estetika bangunan, di mana warna putih susu atau beningnya air memantulkan kilauan batu bata emas istana. Penghuni Jannah dapat meminumnya kapan saja hanya dengan keinginan hati, tanpa perlu bejana jika mereka mau.

4.2 Pohon-pohon Jannah yang Menanungi Bangunan

Bangunan-bangunan megah di Jannah tidak berdiri di lahan yang gersang, melainkan dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan indah. Uniknya, batang pohon di Jannah tidaklah terbuat dari kayu yang kasar, melainkan dari emas murni yang berkilauan. Dahan-dahannya menjuntai hingga ke jendela-jendela istana, memudahkan para penghuninya untuk memetik buah-buahan sambil berbaring di atas dipan mereka.

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh bersabda:

«مَا فِي الجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلَّا وَسَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ»

“Tidak ada satu pohon pun di Jannah melainkan batangnya terbuat dari emas.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2525)

Keteduhan pohon-pohon ini sangat luas, sehingga memberikan perlindungan dan keindahan yang luar biasa bagi bangunan di sekitarnya. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ فِي الجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لاَ يَقْطَعُهَا»

“Sesungguhnya di Jannah terdapat sebuah pohon yang apabila seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama 100 tahun, dia belum bisa melintasinya.” (HR. Al-Bukhori no. 3251 dan Muslim no. 2826)

Buah-buahannya sangat besar dan indah, sebagaimana Alloh berfirman:

﴿وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلَالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا﴾

“Dan naungan (pohon-pohon Jannah) dekat di atas mereka dan buah-buahannya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” (QS. Al-Insan: 14)

Kata “dzullilat” memberikan gambaran bahwa pohon tersebut sangat patuh kepada penghuni bangunan. Jika seorang Mu’min ingin memetik buah dari balkon istananya, dahan pohon tersebut akan merunduk dengan sendirinya menghampiri tangan sang pemilik. Ini adalah pelayanan tingkat tinggi yang disediakan bagi penduduk Jannah.

4.3 Pemandangan dari Jendela Ghurufat (Kamar Tinggi)

Bagi pemilik ghurufat (kamar-kamar yang tinggi), mereka diberikan kelebihan berupa pemandangan yang sangat luas. Karena bangunan mereka transparan (tembus pandang), setiap sudut Jannah nampak seperti lukisan yang bergerak. Dari jendela-jendela tersebut, nampak sungai-sungai yang bercabang, taman-taman yang berbunga, serta para pelayan yang berlalu-lalang memberikan pelayanan.

Alloh menggambarkan keindahan pemandangan tersebut:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا﴾

“Dan apabila kamu melihat di sana (Jannah), niscaya kamu akan melihat berbagai macam ni’mat dan kerajaan yang besar.” (QS. Al-Insan: 20)

Pemandangan ini tidak pernah membosankan. Setiap kali penghuni Jannah memandang keluar dari istananya, ia akan menemukan keindahan baru yang belum ia lihat sebelumnya. Cahaya yang memantul dari permukaan sungai-sungai susu dan madu yang mengalir di bawah istana menciptakan spektrum warna yang sangat cantik pada dinding-dinding istana yang terbuat dari mutiara.

Selain itu, mereka dapat melihat penghuni Jannah lainnya yang berada di tingkat bawah, seolah-olah melihat bintang di langit. Hal ini menambah rasa syukur mereka atas ni’mat tinggi yang Alloh berikan. Tidak ada debu, polusi, atau kabut yang menghalangi pandangan mata, karena atmosfir Jannah adalah cahaya yang murni dan bersih.

4.4 Perpaduan Warna-warni Perhiasan dan Bangunan

Kecantikan bangunan di Jannah tidak hanya pada bentuknya, tetapi juga pada detail hiasan yang melengkapinya. Pintu-pintu istana dilapisi dengan yaqut (rubi) dan marjan. Perpaduan warna antara emas yang kuning, perak yang putih, dan zamrud yang hijau menciptakan komposisi warna yang sangat indah.

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا»

“Dua Jannah yang seluruhnya dari perak; baik bejananya maupun apa saja yang ada di dalamnya. Dan dua Jannah yang seluruhnya dari emas; baik bejananya maupun apa saja yang ada di dalamnya.” (HR. Al-Bukhori no. 4878 dan Muslim no. 180)

Hal ini menunjukkan bahwa estetika di dalam Jannah sangat dijaga. Bejana-bejana yang diletakkan di dalam ruangan, nampan-nampan perak, dan gelas-gelas kristal dari perak (qowariro min fidh-dhoh) semuanya menambah nilai keindahan interior bangunan tersebut. Alloh berfirman:

﴿وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا * قَوَارِيرَا مِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا﴾

“Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kristal, (yaitu) kristal-kristal yang terbuat dari perak yang mereka tentukan ukurannya dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Insan: 15-16)

Kekayaan warna ini dipertegas dengan hiasan-hiasan dinding yang terdiri dari batu-batu mulia. Jika cahaya Arsy menyentuh permukaan dinding istana, maka akan muncul kilauan pelangi yang memenuhi seluruh ruangan, menciptakan suasana yang agung dan tenang.

4.5 Keserasian antara Arsitektur dan Taman Salsabil

Di sekitar istana, terdapat taman-taman khusus yang dinamakan berdasarkan mata air yang mengalir di sana, seperti Salsabil. Keindahan bangunan ini menyatu dengan taman tersebut, di mana aroma wangi dari bunga-bunga Jannah masuk ke dalam ruangan melalui hembusan angin yang lembut dan sejuk.

Alloh berfirman:

﴿وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا  عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا﴾

“Di dalam Jannah itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air Jannah yang dinamakan Salsabil.” (QS. Al-Insan: 17-18)

Mata air Salsabil ini mengalir di sela-sela kerikil mutiara di halaman istana. Suara alirannya sangat merdu, melebihi kemerduan alat musik manapun di dunia. Penataan taman ini sangat simetris, di mana setiap pohon diletakkan pada posisi yang paling menambah keindahan bangunan utamanya.

4.6 Atmosfir Penyinaran dan Bayangan yang Indah

Keindahan bangunan Jannah semakin nampak karena adanya pengaturan cahaya dan bayangan yang sempurna. Meskipun tidak ada matahari, namun ada penyinaran yang lembut yang menciptakan bayangan pohon-pohon emas di atas lantai-lantai misk.

Alloh berfirman:

﴿وَظِلٍّ مَمْدُودٍ﴾

“Dan naungan yang terbentang luas.” (QS. Al-Waqi’ah: 30)

Naungan ini memberikan kesan estetis yang mendalam pada arsitektur bangunan. Bayangan dahan-dahan pohon Jannah yang bergerak lembut di atas dinding istana mutiara menciptakan pola-pola cahaya yang sangat indah, memberikan ketenangan visual bagi siapapun yang memandangnya dari dalam istana.

 

Bab 5: Keabadian Bangunan dan Penghuninya

5.1 Bangunan yang Tidak Akan Pernah Usang

Salah satu perbedaan yang paling mendasar antara bangunan di dunia dengan bangunan di Jannah adalah sifat keabadiannya. Di dunia, istana yang paling megah sekalipun akan mengalami pelapukan, keretakan, dan pada akhirnya akan runtuh ditelan zaman atau bencana. Namun, bangunan di Jannah adalah bangunan yang terbebas dari segala bentuk kerusakan dan kekurangan.

Alloh berfirman mengenai sifat kekekalan tempat tinggal tersebut:

﴿خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا﴾

“Mereka kekal di dalamnya. Jannah itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqon: 76)

Keindahan material emas, perak, dan mutiara yang menyusun istana tersebut tidak akan pernah pudar kilauannya. Warna-warninya tidak akan kusam, dan aromanya tidak akan hilang. Setiap kali waktu berlalu, keindahan bangunan tersebut justru semakin bertambah dan ni’mat yang dirasakan penghuninya semakin mendalam, tanpa ada titik jenuh atau masa kadaluwarsa.

5.2 Rasa Aman dan Tenang di Dalam Istana

Bangunan di Jannah memberikan rasa aman yang sempurna (al-amnu al-muthlaq). Di dalam istana tersebut tidak ada rasa takut akan pencurian, gangguan, maupun bencana alam. Keamanan ini mencakup keamanan lahiriah dan batiniah, di mana tidak ada perkataan sia-sia yang akan didengar di dalam ruangan-ruangan tersebut.

Alloh berfirman:

﴿وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ﴾

“Dan mereka aman sentosa di dalam kamar-kamar (tinggi di Jannah).” (QS. Saba’: 37)

Di dalam gedung-gedung yang menjulang tinggi itu, penghuninya tidak akan merasakan dingin yang menggigil maupun panas yang menyengat. Seluruh sistem penyinaran dan suhu udara diatur secara sempurna oleh Robb untuk memberikan kenyamanan yang maksimal. Sifat bangunan ini benar-benar menjadi tempat peristirahatan yang hakiki setelah kelelahan menghadapi ujian dunia.

5.3 Pertemuan Para Kekasih di Dalam Jannah

Bangunan-bangunan di Jannah didesain untuk menjadi tempat pertemuan yang indah bagi keluarga dan orang-orang sholih. Ruang-ruang tamunya sangat luas, dilengkapi dengan bantal-bantal yang tersusun rapi untuk berbincang-bincang mengenai kenangan mereka saat di dunia dan bagaimana Alloh memberikan taufiq kepada mereka untuk meraih kemenangan ini.

Alloh berfirman:

﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ﴾

“Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil saling bertanya.” (QS. Ath-Thur: 25)

Di dalam istana yang megah tersebut, Alloh mengumpulkan kembali anggota keluarga yang sama-sama beriman meskipun derajat amal mereka berbeda, sebagai bentuk penyempurna ni’mat bagi hamba-Nya.

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ﴾

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur: 21)

 

Bab 6: Amalan Pembina Bangunan di Jannah

6.1 Tauhid sebagai Pondasi Utama

Pondasi paling mendasar dari setiap istana dan bangunan di Jannah adalah Tauhid kepada Alloh . Tanpa pemurnian ibadah hanya kepada-Nya, tidak akan pernah ada satu batu bata pun yang dibangun bagi seorang hamba di Akhiroh. Kesyirikan adalah penghancur amal yang akan meruntuhkan seluruh harapan akan tempat tinggal yang mulia. Alloh berfirman:

﴿وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾

“Alloh menjanjikan kepada orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang baik (masakin thoyyibah) di Jannah ‘Adn. Dan keridhoan Alloh adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah: 72)

Tempat tinggal yang baik (masakin thoyyibah) ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang datang menemui Robb dengan membawa hati yang salim (selamat) dari noda syirik. Iman yang kokoh di dunia akan menjelma menjadi bangunan yang kokoh pula di Jannah.

6.2 Membangun Masjid di Dunia

Bagi hamba yang melapangkan hartanya untuk membangun rumah Alloh di dunia, maka Alloh yang Maha Pemurah akan membalasnya dengan membangunkan tempat tinggal yang jauh lebih mulia di Jannah. Ini menunjukkan adanya keselarasan antara amal (jaza’ul ‘amal min jinsil ‘amal).

Diriwayatkan dari Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ»

“Barangsiapa membangun sebuah Masjid karena Alloh, maka Alloh akan membangunkan baginya di Jannah yang semisal dengannya.” (HR. Al-Bukhori no. 450 dan Muslim no. 533)

Istilah “semisal dengannya” dalam Hadits ini bukan berarti ukurannya sama persis dengan Masjid di dunia, melainkan semisal dalam hal fungsi sebagai tempat kemuliaan dan ketenangan, namun dengan material Jannah yang jauh lebih indah dan luas.

6.3 Bersabar Atas Musibah dan Memuji Alloh (Hamdalah)

Bangunan khusus yang dinamakan “Baitul Hamdi” (Istana Pujian) disediakan bagi orang tua yang bersabar ketika buah hatinya wafat. Ini adalah bentuk rohmat Alloh terhadap hati hamba-Nya yang hancur karena kesedihan di dunia.

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh bersabda bahwa Alloh bertanya kepada para Malaikat tentang hamba yang anaknya wafat: “Apa yang dikatakan hamba-Ku?” Malaikat menjawab, “Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un).” Maka Alloh berfirman:

«ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ»

“Bangunkanlah bagi hamba-Ku sebuah rumah di Jannah, dan namailah ia Baitul Hamdi.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1021)

6.4 Akhlaq yang Mulia dan Meninggalkan Perdebatan

Membangun karakter dan akhlaq yang sholih juga merupakan cara untuk “memesan” bangunan di tingkat-tingkat tertentu di Jannah. Rosululloh menjamin rumah-rumah tersebut bagi mereka yang mampu menundukkan hawa nafsunya.

Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili (81 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ»

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran Jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia benar, dan sebuah rumah di tengah Jannah bagi orang yang meninggalkan kedustaan meskipun dalam keadaan bercanda, dan sebuah rumah di bagian atas Jannah bagi orang yang baik akhlaqnya.” (HR. Abu Dawud no. 4800)

Hadits ini merinci pembagian lokasi bangunan berdasarkan kualitas amalan. Rumah di bagian paling atas (a’lal jannah) yang paling indah pemandangannya dikhususkan bagi mereka yang mencapai puncak kesempurnaan akhlaq.

6.5 Sholat-sholat Sunnah Rowatib

Di antara amalan khusus yang secara tekstual disebutkan oleh Rosululloh sebagai sebab dibangunnya sebuah rumah di Jannah adalah menjaga sholat sunnah rowatib sebanyak 12 rokaat dalam sehari semalam. Ini adalah kemudahan besar dari Alloh bagi mereka yang rindu memiliki istana di samping-Nya.

Diriwayatkan dari Ummu Habibah (44 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ»

“Tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan sholat karena Alloh dalam setiap harinya sebanyak 12 rokaat sholat sunnah (tathowwu’), bukan sholat fardhu, melainkan Alloh akan membangunkan baginya sebuah rumah di Jannah.” (HR. Muslim no. 728)

Keduabelas rokaat tersebut diperinci dalam riwayat At-Tirmidzi: 4 rokaat sebelum Zhuhur, 2 rokaat setelah Zhuhur, 2 rokaat setelah Maghrib, 2 rokaat setelah Isya’, dan 2 rokaat sebelum Subuh. Ketekunan seorang hamba dalam menjaga amalan ini adalah bentuk investasi nyata bagi arsitektur tempat tinggalnya di masa depan yang abadi.

6.5 Membaca Surat Al-Ikhlash 10 Kali

Alloh memberikan kemudahan bagi hamba-Nya untuk memperbanyak istana di Jannah melalui lisan yang senantiasa berdzikir. Membaca surat Al-Ikhlash adalah amalan yang sangat ringan namun memiliki dampak yang besar terhadap kepemilikan properti di Akhiroh.

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Anas Al-Juhani (setelah 60 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi bersabda:

«مَنْ قَرَأَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ، بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ»

“Barangsiapa membaca: ‘Qul huwallohu ahad’ (Surat Al-Ikhlash) hingga ia menyelesaikannya sebanyak 10 kali, maka Alloh akan membangunkan baginya sebuah istana di Jannah.” (HHR. Ahmad no. 15610)

Mendengar hal ini, Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak (bacanya), wahai Rosululloh.” Beliau menjawab: “Alloh lebih banyak (pemberiannya) dan lebih baik.”

6.7 Menutup Celah Shof dalam Sholat

Perbuatan yang nampak sederhana di dunia, namun memiliki kedudukan besar di sisi Alloh adalah ketertiban dalam ibadah jamaah, khususnya menutup celah di antara barisan sholat.

Diriwayatkan dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, Rosululloh bersabda:

«مَنْ سَدَّ فُرْجَةً فِي صَفٍّ، رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ»

“Barangsiapa menutup sebuah celah (dalam shof), maka Alloh akan membangunkan baginya sebuah rumah di Jannah dan mengangkat derajatnya.” (HR. Ath-Thobaroni no. 5797 dengan sanad shohih dalam Ash-Shohīhah no. 1892)

Semua amalan ini menunjukkan bahwa setiap batu bata emas dan perak di Jannah diletakkan oleh para Malaikat atas perintah Alloh seiring dengan ketaatan yang dilakukan oleh seorang Mu’min di dunia. Barangsiapa yang ingin istananya semakin megah dan luas, maka hendaklah ia memperbanyak bekal amal sholihnya selama hayat masih dikandung badan.

Lihat lebih banyak dari amalan ini di buku 28 Cara Membangun Istana di Surga.

 

Penutup

Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan gambaran mengenai tempat tinggal yang penuh dengan keagungan ini melalui Rosul-Nya yang mulia. Pengetahuan mengenai sifat dan keindahan bangunan di Jannah, merupakan sebuah haqiqot (kenyataan) yang seharusnya memicu semangat setiap hamba untuk beramal sholih.

Apalah arti rumah mewah di dunia yang bersifat sementara jika dibandingkan dengan satu batu bata emas di Jannah yang abadi? Kemegahan dunia adalah fana dan akan ditinggalkan, sedangkan istana di Jannah adalah hasil dari tetesan keringat ketaatan, sujud yang panjang, dan kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan.

Semoga pembahasan ini menjadi pendorong bagi kita untuk senantiasa memperbaiki aqidah dan amal kita, sehingga kita layak untuk menempati ghurufat yang tinggi, melihat aliran sungai-sungai susu di bawah istana kita, dan yang paling utama adalah mendapatkan keridhoan dari Robb yang telah membangunkan tempat tinggal tersebut bagi kita.

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi bahwa Alloh berfirman:

«أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ»

“Aku telah sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholih (ni’mat-ni’mat) yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 3244 dan Muslim no. 2824)

Cukuplah Hadits ini menjadi penutup yang menggambarkan bahwa seindah apa pun narasi yang kita susun dalam buku ini, keaslian keindahan Jannah jauh melampaui segala bentuk deskripsi bahasa manusia. Kita memohon kepada Alloh dengan Asma-ul Husna dan Sifat-Nya yang mulia, agar Dia menjadikan kita termasuk penghuni Al-Firdous Al-A’la tanpa hisab dan tanpa adzab. Aamiin.

Allohu a’lam.[NK]

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini