[PDF] Pesona Bangunan Jannah - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang telah menjanjikan bagi
hamba-hamba-Nya yang bertaqwa sebuah tempat kembali yang penuh dengan
kemuliaan.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ,
keluarganya, dan para Shohabat yang telah berjihad demi tegaknya kalimatulloh
di muka bumi.
Amma ba’du:
Sesungguhnya kerinduan
jiwa terhadap Jannah (Surga) adalah fitroh yang tertanam dalam hati setiap Mu’min.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang fana, di mana kemegahan materi
seringkali melalaikan manusia, maka menghadirkan kembali gambaran tentang
negeri Akhiroh, terutama mengenai sifat dan keindahan bangunan-bangunannya,
menjadi sebuah urgensi yang sangat besar. Memahami bagaimana Alloh ﷻ membangun istana bagi para kekasih-Nya merupakan
sarana untuk mempertebal iman, menghibur hati yang sedang dirundung duka di
dunia, serta memicu semangat dalam beramal sholih demi meraih hunian abadi yang
tiada tandingannya.
Buku yang ada di hadapan
pembaca ini disusun untuk menelusuri setiap sudut arsitektur Jannah berdasarkan
dalil-dalil yang shohih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pembahasan diawali dengan
membedah material dasar penyusun bangunan tersebut, di mana kita akan mendapati
betapa jauhnya perbedaan antara batu bata dunia dengan batu bata emas dan perak
yang semennya berupa misk (kasturi) yang sangat harum. Setelah memahami bahan
dasarnya, narasi akan mengalir membawa kita mengenal berbagai jenis bangunan,
mulai dari ghurufat (kamar-kamar tinggi) yang transparan hingga
istana-istana megah dan kemah-kemah mutiara yang menjulang kelangit. Penjelasan
akan semakin diperdalam dengan memotret interior di dalamnya, seperti
ranjang-ranjang yang ditinggikan serta hamparan permadani sutra yang sangat
lembut.
Tidak berhenti pada fisik
bangunan semata, buku ini juga mengajak pembaca untuk keluar sejenak ke halaman
istana guna menyaksikan sungai-sungai susu, madu, dan khomr yang mengalir
tenang di bawah bangunan, serta pepohonan emas yang menaunginya dengan
keteduhan yang sempurna.
Sebagai bagian yang
sangat penting, buku ini juga merangkum berbagai amalan kunci yang secara
khusus disebutkan oleh Rosululloh ﷺ sebagai
sebab dibangunnya hunian di Jannah, sehingga pembaca memiliki panduan praktis
untuk mulai “membangun” istananya sejak di dunia ini. Seluruh uraian tersebut
akan bermuara pada kesimpulan mengenai keabadian ni’mat ini, sebuah tempat
tinggal yang tidak akan pernah usang dan penghuninya tidak akan pernah merasa
bosan. Semoga karya ini menjadi wasilah bagi kita untuk semakin merindukan Robb
ﷻ dan
negeri kediaman-Nya yang penuh dengan rohmat.
Bab 1: Bahan Bangunan dan Arsitektur Jannah
1.1 Batu Bata Emas
dan Perak
Sesungguhnya gambaran
mengenai megahnya bangunan Jannah (Surga) tidaklah dapat diserupakan dengan
kemegahan dunia manapun. Di antara sifat yang paling menonjol dari bangunan
tersebut adalah material penyusunnya yang terdiri dari logam yang paling mulia
dan berharga di mata manusia. Rosululloh ﷺ telah
memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai hal ini melalui lisan beliau
yang shodiq (jujur).
Diriwayatkan dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami bertanya, “Wahai
Rosululloh, ceritakanlah kepada kami tentang Jannah, bagaimanakah bangunannya?”
Beliau ﷺ
bersabda:
«لَبِنَةٌ
مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ»
“Satu batu bata dari perak
dan satu batu bata dari emas.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2526 dan Ahmad no.
9073)
Bangunan di Jannah
tersusun dengan sangat rapi, di mana keindahan emas yang berkilau kuning
keemasan berselang-seling dengan perak yang putih bersih. Hal ini menunjukkan
tingkat keindahan yang tidak terbatas, di mana setiap jengkal temboknya
memancarkan cahaya yang memukau mata bagi setiap Mu’min yang memandangnya.
Diriwayatkan pula dari
Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu dalam Hadits Isro’ Mi’roj yang
panjang, beliau menceritakan sabda Nabi ﷺ:
«ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ، فَإِذَا فِيهَا جَنَابِذُ اللُّؤْلُؤِ،
وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ»
“Kemudian aku dimasukkan
ke dalam Jannah, ternyata di dalamnya terdapat kubah-kubah dari mutiara, dan
ternyata tanahnya adalah (beraroma) misk (minyak kasturi).” (HR. Al-Bukhori
no. 3342 dan Muslim no. 162)
1.2 Semen Wangi
dari Misk (Kasturi)
Jika di dunia bangunan
disatukan dengan semen yang kasar dan berdebu, maka Robb ﷻ menjadikan perekat bangunan di Jannah
sebagai sesuatu yang sangat harum dan indah. Perekat antara batu bata emas dan
perak tersebut adalah misk (kasturi) yang memiliki aroma paling wangi.
Lanjutan dari Hadits Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu di atas, Nabi ﷺ bersabda:
«وَمِلاَطُهَا الْمِسْكُ الأَذْفَرُ»
“Dan semennya adalah misk
(kasturi) yang aromanya sangat kuat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2526 dan Ahmad
no. 9073)
Istilah adzfar
dalam Hadits tersebut bermakna aroma wangi yang sangat tajam dan semerbak. Hal
ini memastikan bahwa setiap penghuni Jannah yang berada di dalam istananya
tidak hanya dimanjakan oleh pemandangan visual yang indah, namun juga oleh
aroma yang menenangkan jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa Jannah adalah tempat
yang sempurna dalam segala sisi panca indra manusia.
1.3 Tanah dan
Kerikil dari Jauhar (Permata), Yaqut (Rubi), dan Marjan
Kemuliaan bangunan Jannah
tidak berhenti pada dinding dan semennya saja, namun menjalar hingga ke bagian
tanah dan kerikil yang ada di sekitarnya. Lantai-lantai dan halaman istana di
Jannah bukanlah tanah yang kotor, melainkan tumpukan permata yang berharga.
Rosululloh ﷺ bersabda dalam Hadits yang sama:
«وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ»
“Dan kerikilnya adalah
mutiara dan yaqut (permata rubi), serta tanahnya adalah (seharum) za’faron (sejenis
misk).” (HSR. At-Tirmidzi no. 2526 dan Ahmad no. 9073)
Dalam riwayat lain dari
Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda tentang tanah Jannah:
«دَرْمَكَةٌ بَيْضَاءُ مِسْكٌ خَالِصٌ»
“Tanahnya sepereti tepung
lembut yang putih, (bearoma) misk (kasturi) murni.” (HR. Muslim no. 2830)
Gabungan antara za’faron
yang memberikan warna kuning kemerahan yang cantik serta misk yang putih bersih
memberikan perpaduan warna yang sangat menakjubkan pada permukaan tanah Jannah.
Kerikil-kerikil yang terdiri dari mutiara dan yaqut memberikan kilauan cahaya
saat terkena penyinaran Jannah yang abadi. Ini adalah pemandangan yang tidak
pernah terbayangkan oleh akal manusia di dunia. Sebagaimana firman Alloh ﷻ:
﴿فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ
جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Maka tidak seorang pun
mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni’mat)
yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang dikerjakan.” (QS.
As-Sajdah: 17)
1.4 Cahaya
sebagai Penyinaran Abadi Bangunan
Bangunan di Jannah tidak
memerlukan matahari atau bulan untuk memberikan penerangan. Kemegahan
arsitekturnya selalu nampak karena Jannah disinari oleh cahaya yang bersumber
dari Robb ﷻ.
Penyinaran ini stabil, tidak ada kegelapan malam dan tidak ada panas matahari
yang menyengat.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا﴾
“Mereka tidak melihat di
dalamnya matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan.” (QS. Al-Insan: 13)
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah
(751 H) rohimahulloh menjelaskan bahwa Jannah itu seluruhnya bercahaya,
dan cahaya itu berasal dari Arsy Robb ﷻ.
Bangunan-bangunan yang
terbuat dari emas, perak, dan permata tersebut akan memantulkan cahaya yang
indah, menciptakan suasana yang penuh dengan keagungan dan ketenangan bagi para
penghuninya. Keindahan ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu,
tanpa ada rasa bosan bagi para Mu’min yang menempatinya.
Bab 2: Jenis-jenis Bangunan di Jannah
2.1 Al-Ghurufat
(Kamar-kamar yang Tinggi dan Transparan)
Di antara kemuliaan yang
Alloh ﷻ
sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa adalah bangunan yang disebut dengan
Al-Ghurufat. Secara bahasa, Ghurufah bermakna kamar atau ruangan yang letaknya
berada di tempat yang tinggi. Bangunan ini memiliki keunikan yang sangat menakjubkan,
yaitu sifatnya yang tembus pandang atau transparan, sehingga penghuni di
dalamnya dapat melihat keindahan di luar, dan apa yang di luar pun nampak dari
dalam dengan keindahan yang sempurna.
Diriwayatkan dari ‘Ali
bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ فِي الجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا
مِنْ ظُهُورِهَا»
«لِمَنْ أَطَابَ الكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ،
وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ»
“Sesungguhnya di Jannah
terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari bagian dalamnya, dan
bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Itu diperuntukkan untuk orang
yang lembut tutur katanya, gemar memberi makan, gemar puasa dan Sholat malam
saat orang-orang tidur.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad no. 1334)
Kamar-kamar ini bukanlah
sekadar ruangan biasa, melainkan bangunan yang menjulang tinggi di atas
bangunan lainnya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا
غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ
اللَّهُ الْمِيعَادَ﴾
“Tetapi orang-orang yang
bertaqwa kepada Robbnya, mereka mendapat kamar-kamar (di Jannah), di atasnya
terdapat pula kamar-kamar yang dibangun (bertingkat-tingkat), di bawahnya
mengalir sungai-sungai. Itulah janji Alloh. Alloh tidak akan menyalahi janji-Nya.”
(QS. Az-Zumar: 20)
Dalam ayat ini, Alloh ﷻ menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah mabbniyyah
(benar-benar dibangun dengan kokoh), bukan bangunan biasa. Keberadaan ghurof di
atas ghurof menunjukkan kemegahan arsitektur Jannah yang berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat,
memberikan pemandangan yang luas bagi penghuninya untuk melihat kerajaan mereka
di bawahnya.
2.2 Al-Qushur
(Istana-Istana)
Bangunan utama yang
menjadi tempat tinggal bagi para kekasih Alloh ﷻ adalah Al-Qushur atau istana-istana.
Istana di Jannah dibangun dengan kemegahan yang melampaui istana para raja di
dunia. Setiap satu istana memiliki luas yang sangat lapang, dipenuhi dengan
pelayan, dan segala bentuk kemewahan yang tidak pernah habis.
Diriwayatkan dari Jabir
bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ menceritakan tentang istana milik Umar bin
Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu yang beliau lihat dalam mimpi (dan
mimpi Nabi adalah wahyu):
«وَرَأَيْتُ قَصْرًا أَبْيَضَ بِفِنَائِهِ جَارِيَةٌ قُلْتُ: لِمَنْ
هَذَا الْقَصْرُ؟ قَالَ: لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ»
“Lalu aku melihat sebuah
istana putih yang di halamannya ada seorang pelayan wanita, aku bertanya: ‘Milik
siapa istana ini?’ Ia menjawab: ‘Milik Umar bin Al-Khotthob.” (HR. Al-Bukhori
no. 3679 dan Muslim no. 2394 dan lafazh Ahmad no. 15002)
Warna putih pada istana
tersebut bukanlah putih biasa, melainkan putih yang berkilau karena terbuat
dari mutiara atau perak yang sangat bersih.
Alloh ﷻ juga menjelaskan bahwa istana-istana ini
dikelilingi oleh pagar-pagar dan penjagaan yang mulia, menunjukkan kehormatan
bagi pemiliknya.
﴿تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ جَنَّاتٍ
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا﴾
“Maha Suci Alloh yang
jika Dia menghendaki, niscaya Dia jadikan bagimu yang lebih baik dari itu,
(yaitu) taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan Dia jadikan
pula untukmu istana-istana.” (QS. Al-Furqon: 10)
Setiap istana memiliki
ribuan pintu dan setiap pintunya dijaga oleh para Malaikat yang masuk untuk
mengucapkan salam keselamatan kepada penghuninya. Keindahan arsitektur Qushur
ini mencakup menara-menara yang tinggi dan balkon-balkon yang menghadap ke arah
sungai-sungai Jannah.
2.3 Al-Khiyam
(Kemah-kemah dari Mutiara yang Berongga)
Selain istana yang
permanen, Alloh ﷻ juga
menyediakan Al-Khiyam atau kemah-kemah. Namun, kemah di Jannah sangat berbeda
dengan kemah di dunia yang terbuat dari kain atau kulit hewan. Kemah di Jannah
terbuat dari satu butir mutiara yang sangat besar dan luas.
Diriwayatkan dari Abu
Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ
مُجَوَّفَةٍ، طُولُهَا سِتُّونَ مِيلًا، لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ، يَطُوفُ عَلَيْهِمِ
الْمُؤْمِنُ فَلَا يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا»
“Sesungguhnya bagi orang
Mu’min di Jannah terdapat kemah yang terbuat dari satu mutiara utuh yang
berongga, panjangnya (menjulang ke langit) sejauh 60 mil. Di dalamnya, orang Mu’min
memiliki keluarga yang ia kelilingi, namun satu sama lain di antara mereka
tidak saling melihat (karena luasnya).” (HR. Al-Bukhori no. 4879 dan lafazh Muslim
no. 2838)
Bayangkanlah satu butir
mutiara yang sangat jernih dan indah, namun di dalamnya terdapat ruang yang
sangat luas hingga mencapai 60 mil (sekitar 96 kilometer). Kemah ini menjadi
tempat peristirahatan yang sangat privasi dan penuh dengan keindahan, di mana
cahaya mutiara tersebut memantulkan warna-warni yang menyejukkan pandangan.
Alloh ﷻ
menyebutkan keberadaan kemah ini dalam firman-Nya:
﴿حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ﴾
“(Bidadari-bidadari) yang
jelita, dipelihara di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rohman: 72)
2.4 Al-Manazil
(Tempat Tinggal yang Luas)
Al-Manazil adalah istilah
umum bagi tempat tinggal atau kediaman di Jannah yang mencakup seluruh
fasilitas yang ada. Setiap Mu’min diberikan Manzil (tempat tinggal) yang sesuai
dengan derajat amalnya di dunia. Luasnya tempat tinggal ini tidak dapat diukur
dengan ukuran dunia.
Diriwayatkan dari
Al-Mughiroh bin Syu’bah (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ menceritakan tentang penduduk Jannah yang
paling rendah derajatnya. Kepada orang tersebut dikatakan:
«لَكَ مِثْلُ الدُّنْيَا وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهَا»
“Bagimu semisal dunia dan
10 kali lipatnya.” (HR. Muslim no. 189)
Jika penduduk Jannah yang
paling rendah saja memiliki tempat tinggal seluas 10 kali lipat dunia, maka
bagaimanakah dengan Manazil milik para Nabi, para Shiddiqin, dan para Syuhada?
Tempat tinggal ini, di dalamnya terdapat pasar-pasar, tempat berkumpul, dan
taman-taman yang menyatu dengan bangunan utama.
Setiap Manzil di Jannah
telah dipersiapkan secara khusus oleh Alloh ﷻ. Sebagaimana firman-Nya:
﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ
مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ
أَجْرُ الْعَامِلِينَ﴾
“Dan orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal sholih, sesungguhnya akan Kami tempatkan
mereka pada tempat-tempat yang tinggi (ghurof) di dalam Jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan
bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Al-Ankabut: 58)
Lafazh “lanubawwi-annahum”
dalam ayat tersebut mengandung makna bahwa Alloh ﷻ sendiri yang mempersiapkan dan menempatkan
mereka di kediaman tersebut sebagai bentuk pemuliaan yang paling tinggi. Setiap
sudut bangunan dalam kediaman ini memancarkan kemuliaan dan ni’mat yang tidak
akan pernah sirna.
Diriwayatkan dari Abu
Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«إِنَّ أَهْلَ الجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ،
كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الغَابِرَ فِي الأُفُقِ، مِنَ المَشْرِقِ
أَوِ المَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ»
“Sesungguhnya penduduk
Jannah benar-benar melihat penghuni kamar-kamar yang tinggi (ghurufat) di atas
mereka, sebagaimana kalian melihat bintang yang bersinar terang yang masih
tersisa di ufuk timur atau barat, karena adanya perbedaan keutamaan di antara
mereka.”
Para Shohabat bertanya, “Wahai
Rosululloh, apakah itu Manazil (kediaman) para Nabi yang tidak bisa dicapai
oleh selain mereka?” Beliau ﷺ
menjawab:
«بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا
المُرْسَلِينَ»
“Tentu saja bisa. Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah para lelaki yang beriman
kepada Alloh dan membenarkan para Rosul.” (HR. Al-Bukhori no. 3256 dan
Muslim no. 2831)
Bab 3: Sifat dan Interior Dalam Bangunan
3.1 Luas dan
Tingginya Bangunan di Jannah
Kemegahan bangunan di Jannah
tidak hanya terletak pada material emas dan peraknya, melainkan juga pada
dimensi luas dan tingginya yang melampaui imajinasi manusia. Bangunan-bangunan
tersebut menjulang tinggi menembus cakrawala Jannah, memberikan kedudukan yang
berbeda-beda bagi setiap penghuninya sesuai dengan derajat keimanan mereka.
Tinggi sebuah bangunan di Jannah dapat diukur dari jarak antara satu tingkatan
ke tingkatan berikutnya yang sangat jauh.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id
Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ،
كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الْأُفُقِ، مِنَ الْمَشْرِقِ
أَوِ الْمَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ»
“Sesungguhnya penduduk
Jannah benar-benar melihat penghuni kamar-kamar (ghurufat) di atas mereka,
sebagaimana kalian melihat bintang yang masih tersisa di ufuk timur atau barat,
karena adanya perbedaan keutamaan di antara mereka.” (HR. Al-Bukhori no.
3256 dan Muslim no. 2831)
Ketinggian ini
menunjukkan betapa megahnya arsitektur yang Alloh ﷻ bangun. Setiap istana memiliki
balkon-balkon yang darinya para penghuni bisa memandang kerajaan mereka yang
sangat luas. Luas satu istana saja sudah mencukupi untuk segala bentuk
kesenangan tanpa ada rasa sesak sedikit pun. Sebagaimana Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا﴾
“Dan apabila kamu melihat
di sana (Jannah), niscaya kamu akan melihat berbagai macam ni’mat dan kerajaan
yang besar.” (QS. Al-Insan: 20)
3.2 Pintu-pintu
Istana yang Megah
Setiap bangunan dan
istana di Jannah memiliki pintu-pintu yang sangat besar dan indah. Pintu-pintu
ini bukan sekadar akses masuk, melainkan simbol kemuliaan. Lebar pintu tersebut
sangat luar biasa, namun pada hari Kiamat kelak, pintu-pintu itu akan nampak
penuh sesak oleh orang-orang yang berbondong-bondong masuk ke dalamnya.
Diriwayatkan dari Utbah
bin Ghozwan (17 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Telah
diceritakan kepada kami bahwa jarak antara dua daun pintu dari pintu-pintu
Jannah adalah perjalanan 40 tahun.” (HR. Muslim no. 2967)
Meskipun ukurannya sangat
luas, setiap pintu tersebut memiliki hiasan yang tak terlukiskan. Di atas
pintu-pintu tersebut tertulis kalimat-kalimat yang memuliakan penghuninya. Para
Malaikat akan datang mengunjungi para penghuni istana melalui pintu-pintu
tersebut untuk mengucapkan salam. Alloh ﷻ berfirman:
﴿جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ
وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ﴾
“(Yaitu) Jannah ‘Adn yang
mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholih dari
bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat
masuk ke tempat-tempat mereka dari tiap-tiap pintu.” (QS. Ar-Ro’du: 23)
3.3
Ranjang-ranjang yang Ditinggikan (Al-Arush)
Interior di dalam
bangunan Jannah dilengkapi dengan Al-Arush atau ranjang-ranjang yang sangat
mewah. Ranjang ini bukan terbuat dari kayu biasa, melainkan bertatahkan emas
dan permata. Sifat ranjang ini adalah “marfu’ah” (ditinggikan), yang
menurut para ahli tafsir, ranjang tersebut akan merendah sendiri ketika
penghuninya hendak duduk, lalu naik kembali ke tempat yang tinggi.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ﴾
“Di dalamnya ada takhta-takhta
(ranjang) yang ditinggikan.” (QS. Al-Ghosyiyah: 13)
Serta firman-Nya mengenai
hiasan ranjang tersebut:
﴿عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ * مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ﴾
“Mereka berada di atas
dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya
berhadap-hadapan.” (QS. Al-Waqi’ah: 15-16)
Kata “maudhunah”
bermakna anyaman emas yang sangat halus dan rapi. Di atas ranjang-ranjang
inilah para penghuni Jannah bersantai, menikmati hidangan, dan berbincang
dengan pasangan serta kerabat mereka dalam suasana yang penuh dengan keakraban
dan kasih sayang.
3.4 Hamparan
Permadani dan Bantal-bantal yang Tersusun
Keindahan lantai di dalam
istana Jannah ditutupi dengan permadani-permadani yang tebal, lembut, dan
sangat indah warnanya. Tidak ada satu sudut pun di dalam bangunan tersebut yang
dibiarkan kosong tanpa hiasan yang memanjakan mata. Permadani tersebut memiliki
lapisan dalam yang terbuat dari sutra tebal (istabroq).
Alloh ﷻ berfirman:
﴿مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى
الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ﴾
“Mereka bertelekan di
atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra tebal. Dan buah-buahan di kedua
Jannah itu dapat (dipetik) dari dekat.” (QS. Ar-Rohman: 54)
Jika bagian dalamnya saja
terbuat dari sutra yang paling mewah, maka tidak ada yang mampu membayangkan
betapa indahnya bagian luar permadani tersebut. Selain permadani, terdapat pula
bantal-bantal yang tersusun rapi (namariq) untuk bersandar.
﴿وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ وَزَرَابِيُّ
مَبْثُوثَةٌ﴾
“Dan bantal-bantal
sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (QS.
Al-Ghosyiyah: 15-16)
Penataan interior ini
sangat sistematis dan rapi, menunjukkan bahwa Jannah adalah tempat yang penuh
dengan keteraturan dan kenyamanan yang sempurna. Setiap penghuni tidak perlu
bersusah payah menata rumah mereka, karena segala sesuatunya telah dipersiapkan
oleh Robb ﷻ dengan
keindahan yang abadi dan tidak akan pernah usang. Pemandangan ini menciptakan
suasana yang sangat tenang dan memberikan ketentraman jiwa yang hakiki bagi
siapa saja yang memasukinya.
Bab 4: Taman dan Sungai di Sekitar Bangunan
4.1
Sungai-sungai yang Mengalir di Bawah Istana
Keagungan arsitektur
istana di Jannah semakin sempurna dengan keberadaan aliran sungai-sungai yang
melintas tepat di bawah bangunan tersebut. Sungai-sungai ini merupakan aliran
cairan-cairan mulia yang aromanya semerbak dan rasanya tidak pernah berubah. Hal
ini memberikan efek suara gemericik yang menenangkan serta pemandangan yang
sangat memukau bagi penghuni ghurufat (kamar-kamar tinggi).
Alloh ﷻ berfirman mengenai sifat sungai yang
mengalir di bawah bangunan tersebut:
﴿مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ
مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ
مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى﴾
“Perumpamaan Jannah yang
dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa adalah bahwa di dalamnya ada
sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari
air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khomr (arak) yang lezat
rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring.” (QS.
Muhammad: 15)
Sungai-sungai ini
mengalir tanpa perlu adanya parit atau galian tanah. Ia mengalir di atas
permukaan tanah Jannah yang terbuat dari misk (kasturi) dan permata, mengikuti
ke mana pun arah yang diinginkan oleh pemilik istana tersebut. Sebagaimana
dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) rohimahulloh, bahwa
sungai-sungai Jannah bersumber dari bawah singgasana Arsy lalu mengalir ke
bawah istana-istana penduduk Jannah.
Dalam Hadits lain,
Rosululloh ﷺ
memberikan perincian mengenai sumber sungai-sungai ini:
«إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَحْرَ المَاءِ وَبَحْرَ العَسَلِ وَبَحْرَ اللَّبَنِ
وَبَحْرَ الخَمْرِ، ثُمَّ تُشَقَّقُ الأَنْهَارُ بَعْدُ»
“Di Jannah terdapat
lautan air, lautan madu, lautan susu, dan lautan khomr, kemudian sungai-sungai
mengalir darinya setelah itu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2571)
Sungai-sungai ini
mengalir di sela-sela bangunan tanpa merusak pondasi emas dan peraknya. Justru
aliran tersebut menambah keindahan estetika bangunan, di mana warna putih susu
atau beningnya air memantulkan kilauan batu bata emas istana. Penghuni Jannah
dapat meminumnya kapan saja hanya dengan keinginan hati, tanpa perlu bejana
jika mereka mau.
4.2 Pohon-pohon
Jannah yang Menanungi Bangunan
Bangunan-bangunan megah
di Jannah tidak berdiri di lahan yang gersang, melainkan dikelilingi oleh
pepohonan yang rimbun dan indah. Uniknya, batang pohon di Jannah tidaklah
terbuat dari kayu yang kasar, melainkan dari emas murni yang berkilauan.
Dahan-dahannya menjuntai hingga ke jendela-jendela istana, memudahkan para penghuninya
untuk memetik buah-buahan sambil berbaring di atas dipan mereka.
Diriwayatkan dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا فِي الجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلَّا وَسَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ»
“Tidak ada satu pohon pun
di Jannah melainkan batangnya terbuat dari emas.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2525)
Keteduhan pohon-pohon ini
sangat luas, sehingga memberikan perlindungan dan keindahan yang luar biasa
bagi bangunan di sekitarnya. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ فِي الجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ
عَامٍ لاَ يَقْطَعُهَا»
“Sesungguhnya di Jannah
terdapat sebuah pohon yang apabila seorang pengendara berjalan di bawah
naungannya selama 100 tahun, dia belum bisa melintasinya.” (HR. Al-Bukhori
no. 3251 dan Muslim no. 2826)
Buah-buahannya sangat
besar dan indah, sebagaimana Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلَالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا﴾
“Dan naungan (pohon-pohon
Jannah) dekat di atas mereka dan buah-buahannya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.”
(QS. Al-Insan: 14)
Kata “dzullilat”
memberikan gambaran bahwa pohon tersebut sangat patuh kepada penghuni bangunan.
Jika seorang Mu’min ingin memetik buah dari balkon istananya, dahan pohon
tersebut akan merunduk dengan sendirinya menghampiri tangan sang pemilik. Ini
adalah pelayanan tingkat tinggi yang disediakan bagi penduduk Jannah.
4.3 Pemandangan
dari Jendela Ghurufat (Kamar Tinggi)
Bagi pemilik ghurufat
(kamar-kamar yang tinggi), mereka diberikan kelebihan berupa pemandangan yang
sangat luas. Karena bangunan mereka transparan (tembus pandang), setiap sudut
Jannah nampak seperti lukisan yang bergerak. Dari jendela-jendela tersebut,
nampak sungai-sungai yang bercabang, taman-taman yang berbunga, serta para
pelayan yang berlalu-lalang memberikan pelayanan.
Alloh ﷻ menggambarkan keindahan pemandangan
tersebut:
﴿وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا﴾
“Dan apabila kamu melihat
di sana (Jannah), niscaya kamu akan melihat berbagai macam ni’mat dan kerajaan
yang besar.” (QS. Al-Insan: 20)
Pemandangan ini tidak
pernah membosankan. Setiap kali penghuni Jannah memandang keluar dari
istananya, ia akan menemukan keindahan baru yang belum ia lihat sebelumnya.
Cahaya yang memantul dari permukaan sungai-sungai susu dan madu yang mengalir
di bawah istana menciptakan spektrum warna yang sangat cantik pada
dinding-dinding istana yang terbuat dari mutiara.
Selain itu, mereka dapat
melihat penghuni Jannah lainnya yang berada di tingkat bawah, seolah-olah
melihat bintang di langit. Hal ini menambah rasa syukur mereka atas ni’mat
tinggi yang Alloh ﷻ
berikan. Tidak ada debu, polusi, atau kabut yang menghalangi pandangan mata,
karena atmosfir Jannah adalah cahaya yang murni dan bersih.
4.4 Perpaduan
Warna-warni Perhiasan dan Bangunan
Kecantikan bangunan di
Jannah tidak hanya pada bentuknya, tetapi juga pada detail hiasan yang
melengkapinya. Pintu-pintu istana dilapisi dengan yaqut (rubi) dan marjan.
Perpaduan warna antara emas yang kuning, perak yang putih, dan zamrud yang
hijau menciptakan komposisi warna yang sangat indah.
Diriwayatkan dari Abu
Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ
مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا»
“Dua Jannah yang
seluruhnya dari perak; baik bejananya maupun apa saja yang ada di dalamnya. Dan
dua Jannah yang seluruhnya dari emas; baik bejananya maupun apa saja yang ada
di dalamnya.” (HR. Al-Bukhori no. 4878 dan Muslim no. 180)
Hal ini menunjukkan bahwa
estetika di dalam Jannah sangat dijaga. Bejana-bejana yang diletakkan di dalam
ruangan, nampan-nampan perak, dan gelas-gelas kristal dari perak (qowariro
min fidh-dhoh) semuanya menambah nilai keindahan interior bangunan
tersebut. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ
قَوَارِيرَا * قَوَارِيرَا مِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا﴾
“Dan diedarkan kepada
mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kristal,
(yaitu) kristal-kristal yang terbuat dari perak yang mereka tentukan ukurannya
dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Insan: 15-16)
Kekayaan warna ini
dipertegas dengan hiasan-hiasan dinding yang terdiri dari batu-batu mulia. Jika
cahaya Arsy menyentuh permukaan dinding istana, maka akan muncul kilauan
pelangi yang memenuhi seluruh ruangan, menciptakan suasana yang agung dan
tenang.
4.5 Keserasian
antara Arsitektur dan Taman Salsabil
Di sekitar istana,
terdapat taman-taman khusus yang dinamakan berdasarkan mata air yang mengalir
di sana, seperti Salsabil. Keindahan bangunan ini menyatu dengan taman
tersebut, di mana aroma wangi dari bunga-bunga Jannah masuk ke dalam ruangan
melalui hembusan angin yang lembut dan sejuk.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا﴾
“Di dalam Jannah itu
mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang
didatangkan dari) sebuah mata air Jannah yang dinamakan Salsabil.” (QS.
Al-Insan: 17-18)
Mata air Salsabil ini
mengalir di sela-sela kerikil mutiara di halaman istana. Suara alirannya sangat
merdu, melebihi kemerduan alat musik manapun di dunia. Penataan taman ini
sangat simetris, di mana setiap pohon diletakkan pada posisi yang paling
menambah keindahan bangunan utamanya.
4.6 Atmosfir
Penyinaran dan Bayangan yang Indah
Keindahan bangunan Jannah
semakin nampak karena adanya pengaturan cahaya dan bayangan yang sempurna.
Meskipun tidak ada matahari, namun ada penyinaran yang lembut yang menciptakan
bayangan pohon-pohon emas di atas lantai-lantai misk.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَظِلٍّ مَمْدُودٍ﴾
“Dan naungan yang
terbentang luas.” (QS. Al-Waqi’ah: 30)
Naungan ini memberikan
kesan estetis yang mendalam pada arsitektur bangunan. Bayangan dahan-dahan
pohon Jannah yang bergerak lembut di atas dinding istana mutiara menciptakan
pola-pola cahaya yang sangat indah, memberikan ketenangan visual bagi siapapun
yang memandangnya dari dalam istana.
Bab 5: Keabadian Bangunan dan Penghuninya
5.1 Bangunan
yang Tidak Akan Pernah Usang
Salah satu perbedaan yang
paling mendasar antara bangunan di dunia dengan bangunan di Jannah adalah sifat
keabadiannya. Di dunia, istana yang paling megah sekalipun akan mengalami
pelapukan, keretakan, dan pada akhirnya akan runtuh ditelan zaman atau bencana.
Namun, bangunan di Jannah adalah bangunan yang terbebas dari segala bentuk
kerusakan dan kekurangan.
Alloh ﷻ berfirman mengenai sifat kekekalan tempat
tinggal tersebut:
﴿خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا﴾
“Mereka kekal di
dalamnya. Jannah itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS.
Al-Furqon: 76)
Keindahan material emas,
perak, dan mutiara yang menyusun istana tersebut tidak akan pernah pudar
kilauannya. Warna-warninya tidak akan kusam, dan aromanya tidak akan hilang. Setiap
kali waktu berlalu, keindahan bangunan tersebut justru semakin bertambah dan ni’mat
yang dirasakan penghuninya semakin mendalam, tanpa ada titik jenuh atau masa
kadaluwarsa.
5.2 Rasa Aman
dan Tenang di Dalam Istana
Bangunan di Jannah
memberikan rasa aman yang sempurna (al-amnu al-muthlaq). Di dalam istana
tersebut tidak ada rasa takut akan pencurian, gangguan, maupun bencana alam.
Keamanan ini mencakup keamanan lahiriah dan batiniah, di mana tidak ada
perkataan sia-sia yang akan didengar di dalam ruangan-ruangan tersebut.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ﴾
“Dan mereka aman sentosa
di dalam kamar-kamar (tinggi di Jannah).” (QS. Saba’: 37)
Di dalam gedung-gedung
yang menjulang tinggi itu, penghuninya tidak akan merasakan dingin yang
menggigil maupun panas yang menyengat. Seluruh sistem penyinaran dan suhu udara
diatur secara sempurna oleh Robb ﷻ untuk memberikan kenyamanan yang maksimal.
Sifat bangunan ini benar-benar menjadi tempat peristirahatan yang hakiki
setelah kelelahan menghadapi ujian dunia.
5.3 Pertemuan
Para Kekasih di Dalam Jannah
Bangunan-bangunan di
Jannah didesain untuk menjadi tempat pertemuan yang indah bagi keluarga dan
orang-orang sholih. Ruang-ruang tamunya sangat luas, dilengkapi dengan
bantal-bantal yang tersusun rapi untuk berbincang-bincang mengenai kenangan
mereka saat di dunia dan bagaimana Alloh ﷻ memberikan taufiq kepada mereka untuk
meraih kemenangan ini.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ﴾
“Dan sebagian mereka
menghadap kepada sebagian yang lain sambil saling bertanya.” (QS. Ath-Thur:
25)
Di dalam istana yang
megah tersebut, Alloh ﷻ
mengumpulkan kembali anggota keluarga yang sama-sama beriman meskipun derajat
amal mereka berbeda, sebagai bentuk penyempurna ni’mat bagi hamba-Nya.
﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا
بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ﴾
“Dan orang-orang yang
beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami
hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun
dari pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur: 21)
Bab 6: Amalan Pembina Bangunan di Jannah
6.1 Tauhid
sebagai Pondasi Utama
Pondasi paling mendasar
dari setiap istana dan bangunan di Jannah adalah Tauhid kepada Alloh ﷻ. Tanpa pemurnian ibadah hanya kepada-Nya,
tidak akan pernah ada satu batu bata pun yang dibangun bagi seorang hamba di
Akhiroh. Kesyirikan adalah penghancur amal yang akan meruntuhkan seluruh
harapan akan tempat tinggal yang mulia. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي
مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ
عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Alloh menjanjikan kepada
orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat)
tempat-tempat yang baik (masakin thoyyibah) di Jannah ‘Adn. Dan keridhoan Alloh
adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah:
72)
Tempat tinggal yang baik
(masakin thoyyibah) ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang datang
menemui Robb ﷻ dengan
membawa hati yang salim (selamat) dari noda syirik. Iman yang kokoh di dunia
akan menjelma menjadi bangunan yang kokoh pula di Jannah.
6.2 Membangun
Masjid di Dunia
Bagi hamba yang
melapangkan hartanya untuk membangun rumah Alloh ﷻ di dunia, maka Alloh ﷻ yang Maha Pemurah akan membalasnya dengan
membangunkan tempat tinggal yang jauh lebih mulia di Jannah. Ini menunjukkan
adanya keselarasan antara amal (jaza’ul ‘amal min jinsil ‘amal).
Diriwayatkan dari Utsman
bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ
لَهُ مِثْلَهُ فِي الجَنَّةِ»
“Barangsiapa membangun
sebuah Masjid karena Alloh, maka Alloh akan membangunkan baginya di Jannah yang
semisal dengannya.” (HR. Al-Bukhori no. 450 dan Muslim no. 533)
Istilah “semisal
dengannya” dalam Hadits ini bukan berarti ukurannya sama persis dengan
Masjid di dunia, melainkan semisal dalam hal fungsi sebagai tempat kemuliaan
dan ketenangan, namun dengan material Jannah yang jauh lebih indah dan luas.
6.3 Bersabar
Atas Musibah dan Memuji Alloh (Hamdalah)
Bangunan khusus yang
dinamakan “Baitul Hamdi” (Istana Pujian) disediakan bagi orang tua yang
bersabar ketika buah hatinya wafat. Ini adalah bentuk rohmat Alloh ﷻ terhadap hati hamba-Nya yang hancur karena
kesedihan di dunia.
Diriwayatkan dari Abu
Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda bahwa Alloh ﷻ bertanya kepada para Malaikat tentang
hamba yang anaknya wafat: “Apa yang dikatakan hamba-Ku?” Malaikat menjawab, “Ia
memuji-Mu dan mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un).”
Maka Alloh berfirman:
«ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ»
“Bangunkanlah bagi
hamba-Ku sebuah rumah di Jannah, dan namailah ia Baitul Hamdi.” (HHR.
At-Tirmidzi no. 1021)
6.4 Akhlaq yang
Mulia dan Meninggalkan Perdebatan
Membangun karakter dan
akhlaq yang sholih juga merupakan cara untuk “memesan” bangunan di
tingkat-tingkat tertentu di Jannah. Rosululloh ﷺ
menjamin rumah-rumah tersebut bagi mereka yang mampu menundukkan hawa nafsunya.
Diriwayatkan dari Abu
Umamah Al-Bahili (81 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ
وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ
وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ»
“Aku menjamin sebuah
rumah di pinggiran Jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia
benar, dan sebuah rumah di tengah Jannah bagi orang yang meninggalkan kedustaan
meskipun dalam keadaan bercanda, dan sebuah rumah di bagian atas Jannah bagi
orang yang baik akhlaqnya.” (HR. Abu Dawud no. 4800)
Hadits ini merinci
pembagian lokasi bangunan berdasarkan kualitas amalan. Rumah di bagian paling
atas (a’lal jannah) yang paling indah pemandangannya dikhususkan bagi mereka
yang mencapai puncak kesempurnaan akhlaq.
6.5
Sholat-sholat Sunnah Rowatib
Di antara amalan khusus
yang secara tekstual disebutkan oleh Rosululloh ﷺ sebagai sebab dibangunnya sebuah rumah di
Jannah adalah menjaga sholat sunnah rowatib sebanyak 12 rokaat dalam sehari
semalam. Ini adalah kemudahan besar dari Alloh ﷻ bagi mereka yang rindu memiliki istana di
samping-Nya.
Diriwayatkan dari Ummu
Habibah (44 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ
لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ»
“Tidaklah seorang hamba
Muslim mengerjakan sholat karena Alloh dalam setiap harinya sebanyak 12 rokaat
sholat sunnah (tathowwu’), bukan sholat fardhu, melainkan Alloh akan
membangunkan baginya sebuah rumah di Jannah.” (HR. Muslim no. 728)
Keduabelas rokaat
tersebut diperinci dalam riwayat At-Tirmidzi: 4 rokaat sebelum Zhuhur, 2 rokaat
setelah Zhuhur, 2 rokaat setelah Maghrib, 2 rokaat setelah Isya’, dan 2 rokaat
sebelum Subuh. Ketekunan seorang hamba dalam menjaga amalan ini adalah bentuk investasi
nyata bagi arsitektur tempat tinggalnya di masa depan yang abadi.
6.5 Membaca
Surat Al-Ikhlash 10 Kali
Alloh ﷻ memberikan kemudahan bagi hamba-Nya untuk
memperbanyak istana di Jannah melalui lisan yang senantiasa berdzikir. Membaca
surat Al-Ikhlash adalah amalan yang sangat ringan namun memiliki dampak yang
besar terhadap kepemilikan properti di Akhiroh.
Diriwayatkan dari Mu’adz
bin Anas Al-Juhani (setelah 60 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ قَرَأَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ،
بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ»
“Barangsiapa membaca: ‘Qul
huwallohu ahad’ (Surat Al-Ikhlash) hingga ia menyelesaikannya sebanyak 10
kali, maka Alloh akan membangunkan baginya sebuah istana di Jannah.” (HHR.
Ahmad no. 15610)
Mendengar hal ini, Umar
bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalau begitu, kami
akan memperbanyak (bacanya), wahai Rosululloh.” Beliau ﷺ menjawab: “Alloh lebih banyak
(pemberiannya) dan lebih baik.”
6.7 Menutup
Celah Shof dalam Sholat
Perbuatan yang nampak
sederhana di dunia, namun memiliki kedudukan besar di sisi Alloh ﷻ adalah ketertiban dalam ibadah jamaah,
khususnya menutup celah di antara barisan sholat.
Diriwayatkan dari Aisyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ سَدَّ فُرْجَةً فِي صَفٍّ، رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً،
وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ»
“Barangsiapa
menutup sebuah celah (dalam shof), maka Alloh akan membangunkan baginya sebuah
rumah di Jannah dan mengangkat derajatnya.” (HR. Ath-Thobaroni no. 5797
dengan sanad shohih dalam Ash-Shohīhah no. 1892)
Semua amalan ini
menunjukkan bahwa setiap batu bata emas dan perak di Jannah diletakkan oleh
para Malaikat atas perintah Alloh ﷻ seiring dengan ketaatan yang dilakukan
oleh seorang Mu’min di dunia. Barangsiapa yang ingin istananya semakin megah
dan luas, maka hendaklah ia memperbanyak bekal amal sholihnya selama hayat
masih dikandung badan.
Lihat lebih banyak dari
amalan ini di buku 28 Cara Membangun Istana di Surga.
Penutup
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang telah memberikan gambaran mengenai
tempat tinggal yang penuh dengan keagungan ini melalui Rosul-Nya yang mulia.
Pengetahuan mengenai sifat dan keindahan bangunan di Jannah, merupakan sebuah haqiqot
(kenyataan) yang seharusnya memicu semangat setiap hamba untuk beramal sholih.
Apalah arti rumah mewah
di dunia yang bersifat sementara jika dibandingkan dengan satu batu bata emas
di Jannah yang abadi? Kemegahan dunia adalah fana dan akan ditinggalkan,
sedangkan istana di Jannah adalah hasil dari tetesan keringat ketaatan, sujud
yang panjang, dan kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan.
Semoga pembahasan ini
menjadi pendorong bagi kita untuk senantiasa memperbaiki aqidah dan amal kita,
sehingga kita layak untuk menempati ghurufat yang tinggi, melihat aliran sungai-sungai
susu di bawah istana kita, dan yang paling utama adalah mendapatkan keridhoan
dari Robb yang telah membangunkan tempat tinggal tersebut bagi kita.
Diriwayatkan dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi bahwa
Alloh ﷻ
berfirman:
«أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا
أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ»
“Aku telah sediakan bagi
hamba-hamba-Ku yang sholih (ni’mat-ni’mat) yang belum pernah dilihat oleh mata,
belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati
manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 3244 dan Muslim no. 2824)
Cukuplah Hadits ini
menjadi penutup yang menggambarkan bahwa seindah apa pun narasi yang kita susun
dalam buku ini, keaslian keindahan Jannah jauh melampaui segala bentuk
deskripsi bahasa manusia. Kita memohon kepada Alloh ﷻ dengan Asma-ul Husna dan Sifat-Nya yang
mulia, agar Dia menjadikan kita termasuk penghuni Al-Firdous Al-A’la tanpa
hisab dan tanpa adzab. Aamiin.
Allohu a’lam.[NK]
