Cari Ebook

[PDF] [3 of 5] AL-GHUN-YAH - Aqidah Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani (561)

 


Bab 10: Hisab, Mizan, dan Kekekalan Jannah serta Naar

10.1 Perhitungan Amal (Hisab) dan Timbangan (Mizan)

(فَصْلٌ) وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ السُّنَّةِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُحَاسِبُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَيُدْنِيهِ مِنْهُ فَيَضَعُ كَنَفَهُ عَلَيْهِ حَتَّى يَسْتُرَهُ مِنَ النَّاسِ. لِمَا رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «يُؤْتَى بِالْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامِ فَيُدْنِيهِ اللهُ تَعَالَى مِنْهُ، فَيَضَعُ كَنَفَهُ عَلَيْهِ حَتَّى يَسْتُرَهُ مِنَ النَّاسِ فَيَقُولُ: عَبْدِي أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ مَرَّتَيْنِ، فَيَقُولُ: نَعَمْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ كُلِّهَا فَرَأَى نَفْسَهُ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ».

(Fashl) Ahli Sunnah meyakini bahwa Alloh Ta’ala menghisab hamba-Nya yang Mu’min pada hari Qiyamah. Dia mendekatkannya kepada-Nya lalu meletakkan penutup-Nya (kanaf) atasnya hingga Dia menutupinya dari pandangan manusia. Berdasarkan riwayat Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mendengar Rosululloh bersabda: “Seorang Mu’min didatangkan pada hari Qiyamah lalu Alloh Ta’ala mendekatkannya kepada-Nya, Dia meletakkan penutup-Nya atasnya hingga menutupi dia dari manusia, lalu Dia berfirman: ‘Wahai hamba-Ku, apakah engkau mengenali dosa ini, apakah engkau mengenali dosa itu?’ sebanyak 2 kali. Hamba itu menjawab: ‘Iya Robb-ku’, sampai ketika Alloh telah membuatnya mengakui seluruh dosanya hingga dia merasa dirinya akan binasa, Alloh berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupinya bagimu di dunia, dan Aku mengampuninya bagimu hari ini.’”

وَمَعْنَى الْمُحَاسَبَةِ: تَعْرِيفُ اللهِ تَعَالَى عَبْدَهُ بِمَقَادِيرِ ثَوَابِ الْأَعْمَالِ وَعَذَابِهِ بِقِرَاءَةِ سَيِّئَاتِهِ أَوْ حَسَنَاتِهِ وَمَا لَهُ وَمَا عَلَيْهِ. وَقَدْ أَنْكَرَتِ الْمُعَطِّلَةُ الْمُحَاسَبَةَ، وَقَدْ كَذَّبَهُمُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ: ﴿إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ * ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ.

Makna Al-Muhasabah adalah: Alloh Ta’ala memberitahu hamba-Nya tentang kadar pahala amal perbuatan dan siksanya dengan membacakan keburukan-keburukannya atau kebaikan-kebaikannya, serta apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi kewajibannya. Kaum Mu’athilah telah mengingkari Muhasabah, dan Alloh Ta’ala telah mendustakan mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya kepada Kami-lah kembalinya mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. Al-Ghosyiyah: 25-26).

(فَصْلٌ) وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ السُّنَّةِ أَنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مِيزَانًا يَزِنُ فِيهِ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَهُ كَفَّتَانِ وَلِسَانٌ. وَقَدْ أَنْكَرَتِ الْمُعْتَزِلَةُ مَعَ الْمُرْجِئَةِ وَالْخَوَارِجِ ذَلِكَ، فَقَالُوا: إِنَّ مَعْنَى الْمِيزَانِ: الْعَدْلُ دُونَ مُوَازَنَةِ الْأَعْمَالِ، وَفِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ تَكْذِيبُهُمْ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ * فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ * وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ * فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ.

(Fashl) Ahli Sunnah meyakini bahwa Alloh Ta’ala memiliki Mizan (timbangan) untuk menimbang kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan pada hari Qiyamah. Ia memiliki 2 daun timbangan dan lisan. Kaum Mu’tazilah bersama kaum Murji’ah dan Khowarij mengingkari hal itu. Mereka berkata: “Sesungguhnya makna Mizan adalah keadilan tanpa adanya penimbangan amal.” Di dalam Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya terdapat pendustaan bagi mereka. Alloh Ta’ala berfirman: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Qiyamah, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun Kami pasti mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47).

Alloh Ta’ala berfirman: “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qori’ah: 6-9).

وَالْعَدْلُ لَا يُوصَفُ بِالْخِفَّةِ وَالثِّقَلِ، وَإِنَّمَا هُوَ بِيَدِ الرَّحْمَنِ جَلَّ جَلَالُهُ؛ لِأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّى حِسَابَهُمْ، لِمَا رَوَى النَّوَّاسُ بْنُ سَمْعَانَ الْكِلَابِيُّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: سَمَعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «الْمِيزَانُ بِيَدِ الرَّحْمَنِ -عَزَّ وَجَلَّ-، يَرْفَعُ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ». وَقِيلَ إِنَّهُ بِيَدِ جِبْرَائِيلَ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- لِمَا رُوِيَ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ: إِنَّ جِبْرَائِيلَ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- صَاحِبُ الْمِيزَانِ، فَيَقُولُ لَهُ رَبُّهُ زِنْ يَا جِبْرِيلُ بَيْنَهُمْ فَيَرْجَحُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ.

Keadilan tidaklah disifati dengan ringan atau berat. Sesungguhnya Mizan itu berada di tangan Ar-Rohman karena Dialah yang mengurusi perhitungan mereka. Berdasarkan riwayat Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi (wafat setelah 50 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh bersabda: “Mizan itu di tangan Ar-Rohman , Dia mengangkat satu kaum dan merendahkan kaum yang lain pada hari Qiyamah.” Dikatakan pula bahwa ia berada di tangan Jibril ‘alaihis salam. Berdasarkan riwayat Hudzaifah bin Al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam adalah pemegang Mizan, lalu Robb-nya berfirman kepadanya: ‘Timbanglah wahai Jibril di antara mereka’, maka sebagian mereka lebih berat timbangannya daripada yang lain.”

وَرَوَى عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «يُوضَعُ الْمِيزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُؤْتَى بِالرَّجُلِ فَيُوضَعُ فِي كَفَّةِ الْمِيزَانِ، وَيُوضَعُ مَا أَحْصَى مِنْ عَمَلِهِ فِي كَفَّةٍ، فَيَمِيلُ بِهِ الْمِيزَانُ، فَيَبْعَثُ اللهُ بِهِ إِلَى النَّارِ فَإِذَا أَدْبَرَ بِهِ إِذَا صَائِحٌ يَصِيحُ مِنْ عِنْدِ الرَّحْمَنِ: لَا تَعْجَلُوا لَا تَعْجَلُوا، فَإِنَّهُ قَدْ بَقَى لَهُ، فَيُؤْتَى بِشَيْءٍ فِيهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فَيُوضَعُ مَعَ الرَّجُلِ فِي كَفَّةِ حَسَنَاتِهِ حَتَّى يَمِيلُ بِهِ الْمِيزَانُ، فَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ».

Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh bersabda: “Mizan diletakkan pada hari Qiyamah, lalu didatangkan seorang lelaki dan diletakkan di satu daun timbangan, dan diletakkan apa yang tercatat dari amalnya di daun lainnya, maka timbangan miring (memberatkannya pada keburukan). Alloh memerintahkan membawanya ke Neraka, namun ketika dia dibawa pergi, tiba-tiba ada penyeru yang berseru dari sisi Ar-Rohman: ‘Jangan terburu-buru, jangan terburu-buru, karena sesungguhnya masih ada miliknya.’ Lalu didatangkan sesuatu yang di dalamnya tertulis ‘Laa ilaaha illalloh’, lalu diletakkan bersama lelaki itu di daun timbangan kebaikannya hingga timbangan itu miring (memberatkan kebaikannya), maka dia diperintahkan menuju Jannah.”

وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّهُ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْمِيزَانِ ثُمَّ يُؤْتَى بِتِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ فِيهَا كُلُّهَا سَيِّئَاتُهُ وَخَطِيئَاتُهُ فَتَرْجَحُ سَيِّئَاتُهُ عَلَى حَسَنَاتِهِ فَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى النَّارِ، فَإِذَا أَدْبَرَ بِهِ إِذَا صَائِحٌ يَصِيحُ مِنْ عِنْدِ الرَّحْمَنِ لَا تَعْجَلُوا لَا تَعْجَلُوا فَقَدْ بَقَى لَهُ، فَيُؤْتَى بِمِثْلِ رَأْسِ الْإِبْهَامِ، وَأَمْسَكَ عَلَى النِّصْفِ مِنْهَا، فِيهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، فَيُوضَعُ فِي كَفَّةِ حَسَنَاتِهِ فَتَثْقُلُ حَسَنَاتُهُ عَلَى سَيِّئَاتِهِ، فَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ.

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: فَيُخْرَجُ لَهُ بِقِرْطَاسٍ مِثْلِ هَذَا -وَأَمْسَكَ عَلَى إِبْهَامِهِ- فِيهِ: شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ... إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ.

وَقِيلَ إِنَّ الصَّنْجَ يَوْمَئِذٍ مَثَاقِيلُ الذَّرِّ وَالْخَرْدَلِ تَكُونُ الْحَسَنَاتُ فِي صُورَةٍ حَسَنَةٍ تُطْرَحُ فِي كَفَّةِ النُّورِ فَيَثْقُلُ بِهَا الْمِيزَانُ بِرَحْمَةِ اللهِ وَتَكُونُ السَّيِّئَاتُ فِي صُورَةٍ سَيِّئَةٍ تُطْرَحُ فِي كَفَّةِ الظُّلْمَةِ فَيَخَفُّ بِهَا الْمِيزَانُ بِعَدْلِ اللهِ تَعَالَى.

Dalam Hadits lain dari Nabi , beliau bersabda: “Sesungguhnya didatangkan seorang lelaki pada hari Qiyamah ke Mizan, kemudian didatangkan 99 gulungan catatan (sijill), setiap gulungan sejauh mata memandang, di dalamnya berisi seluruh keburukan dan kesalahannya. Maka keburukannya lebih berat daripada kebaikannya sehingga dia diperintahkan menuju Neraka. Ketika dia dibawa pergi, tiba-tiba ada penyeru berseru dari sisi Ar-Rohman: ‘Jangan terburu-buru, jangan terburu-buru, sungguh masih ada miliknya.’ Lalu didatangkan seukuran ujung jempol -beliau memegang separuhnya- yang di dalamnya terdapat Syahadat ‘Laa ilaaha illalloh dan bahwasanya aku utusan Alloh.’ Maka diletakkan di daun timbangan kebaikannya sehingga kebaikannya lebih berat daripada keburukannya, maka dia diperintahkan menuju Jannah.”

Dalam lafazh lain: “Dikeluarkan baginya sebuah kartu (qirthos) seperti ini -beliau memegang jempolnya- yang berisi Syahadat ‘Laa ilaaha illalloh wa anna Muhammadar Rosululloh.’..” hingga akhir Hadits.

Dikatakan bahwa batu timbangannya pada hari itu adalah seberat dzarroh dan biji sawi. Kebaikan nampak dalam rupa yang baik dilemparkan ke daun timbangan cahaya sehingga Mizan menjadi berat dengan rohmat Alloh. Sedangkan keburukan nampak dalam rupa yang buruk dilemparkan ke daun timbangan kegelapan sehingga Mizan menjadi ringan dengan keadilan Alloh Ta’ala.

وَعَلَامَةُ تَثْقِيلِ الْمِيزَانِ ارْتِفَاعُهَا، وَعَلَامَةُ خِفَّتِهَا انْحِطَاطُهَا بِخِلَافِ مَوَازِينِ الدُّنْيَا، وَقَدْ قِيلَ مِثْلُ مَوَازِينِ الدُّنْيَا. وَسَبَبُ تَثْقِيلِهَا الْإِيمَانُ وَقَوْلُ الشَّهَادَتَيْنِ، وَسَبَبُ خِفَّتِهَا الشِّرْكُ بِاللهِ -عَزَّ وَجَلَّ-، فَإِذَا ارْتَفَعَتْ أُدْخِلَ صَاحِبُهَا الْجَنَّةَ لِأَنَّهَا عَالِيَةٌ، وَإِذَا خَفَّتْ أُدْخِلَ صَاحِبُهَا النَّارَ الْهَاوِيَةَ، لِأَنَّهَا فِي التُّخُومِ أَسْفَلَ السَّافِلِينَ. كَمَا قَالَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ * فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ أَيْ فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ. ﴿وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ * فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ أَيْ أَصْلُهُ وَمَأْوَاهُ وَمَرْجِعُهُ نَارٌ حَامِيَةٌ، وَهِيَ هَاوِيَةٌ.

Tanda beratnya Mizan adalah naiknya daun timbangan, dan tanda ringannya adalah turunnya daun timbangan, berbeda dengan timbangan dunia; namun ada yang berpendapat seperti timbangan dunia. Sebab beratnya Mizan adalah Iman dan ucapan dua kalimat Syahadat, sedangkan sebab ringannya adalah kesyirikan kepada Alloh . Jika ia naik maka pemiliknya dimasukkan ke Jannah karena kedudukannya yang tinggi. Jika ia ringan maka pemiliknya dimasukkan ke Naar Hawiyah karena ia berada di kerak bumi paling bawah (asfala safilin). Sebagaimana firman Alloh : “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS. Al-Qori’ah: 6-7), yaitu di Jannah yang tinggi.

Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qori’ah: 8-9), yaitu asalnya, tempat kembalinya, dan tempat menetapnya adalah Naar yang sangat panas, itulah Hawiyah.

وَالنَّاسُ فِي مُوَازَنَةِ الْأَعْمَالِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: مِنْهُمْ مَنْ تَرْجَحُ حَسَنَاتُهُ عَلَى سَيِّئَاتِهِ، فَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَرْجَحُ سَيِّئَاتُهُ عَلَى حَسَنَاتِهِ، فَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى النَّارِ. وَمِنْهُمْ مَنْ لَا تَرْجَحُ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى، فَهُمْ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ، ثُمَّ يَنَالُهُمُ اللهُ بِرَحْمَتِهِ إِذَا شَاءَ فَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ. فَهُوَ قَوْلُهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ. وَالَّذِي يُوزَنُ صَحَائِفُ أَعْمَالِهِمْ عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنْ تِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ سِجِلًّا وَطَرِيقُ ذَلِكَ النَّقْلُ وَالسَّمْعُ.

Manusia dalam penimbangan amal ada 3 golongan: pertama, yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya maka diperintahkan ke Jannah. Kedua, yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya maka diperintahkan ke Naar. Ketiga, yang kebaikannya dan keburukannya sama berat maka mereka adalah Ash-habul A’rof, kemudian Alloh merohmati mereka jika Dia berkehendak lalu memasukkan mereka ke Jannah. Itulah firman-Nya : “Dan di atas A’rof (tempat yang tinggi) itu ada para lelaki.” (QS. Al-A’rof: 46)

Yang ditimbang adalah lembaran catatan amal mereka sebagaimana yang kami sebutkan tentang 99 gulungan catatan (sijill), dan cara mengetahui hal itu adalah melalui dalil naqli (Al-Qur’an dan Sunnah) serta pendengaran.

10.2 Ketetapan Akhir Penduduk Jannah dan Naar

وَأَمَّا الْمُقَرَّبُونَ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ: «أَنَّهُ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَمَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ سَبْعُونَ ألفًا» عَلَى نَصِّ الْحَدِيثِ الْمَشْهُورِ. وَأَمَّا الْكَافِرُونَ فَيَدْخُلُونَ النَّارَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَمِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ثُمَّ يُؤْمَرُ بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ عَلَى مَا تَقَدَّمَ. وَمِنْهُمْ مَنْ يُنَاقَشُ ثُمَّ أَمْرُهُ إِلَى اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ- إِنْ شَاءَ أَمَرَ بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ أَوْ إِلَى النَّارِ.

Adapun orang-orang muqorrobin maka masuk Jannah tanpa hisab. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits: “Bahwasanya akan masuk Jannah 70.000 orang tanpa hisab, dan bersama setiap 1 orang dari mereka ada 70.000 orang lagi”” berdasarkan nash Hadits yang masyhur.

Adapun orang-orang kafir maka masuk Neraka tanpa hisab. Di antara kaum Mu’min ada yang dihisab dengan hisab yang mudah (hisaban yasiro) kemudian diperintahkan ke Jannah sebagaimana penjelasan sebelumnya. Di antara mereka ada yang didebat hisabnya (munaqosyah), kemudian urusannya terserah Alloh ; jika Dia berkehendak maka diperintahkan ke Jannah atau ke Neraka.

قَالَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿فأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ * فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا * وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا، وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا * اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا.

Alloh berfirman: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqoq: 7-9)

Dia berfirman: “Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari Qiyamah sebuah kitab yang dijumpainya dalam keadaan terbuka. (Dikatakan kepadanya): ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab terhadapmu.’” (QS. Al-Isro: 13-14).

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ فِي حَدِيثِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: «إِنَّ اللهَ يُحَاسِبُ كُلَّ الْخَلْقِ إِلَّا مَنْ أَشْرَكَ بِاللهِ، فَإِنَّهُ لَا يُحَاسَبُ وَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى النَّارِ».

Nabi bersabda dalam Hadits Ali (40 H) rodhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya Alloh menghisab seluruh makhluk kecuali orang yang menyekutukan Alloh, maka dia tidak dihisab dan langsung diperintahkan ke Neraka.”

 

Bab 11: Keimanan terhadap Jannah dan Naar yang Telah Diciptakan

11.1 Penetapan Bahwa Jannah dan Naar Adalah Makhluk yang Kekal

(فَصْلٌ) وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ السُّنَّةِ أَنَّ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مَخْلُوقَتَانِ، وَهُمَا الدَّارَانِ أَعَدَّهُمَا اللهُ تَعَالَى.

(Fashl) Ahli Sunnah meyakini bahwa Jannah dan Naar adalah makhluk (sudah diciptakan), dan keduanya adalah 2 negeri yang telah disiapkan oleh Alloh Ta’ala.

إِحْدَاهُمَا لِلنَّعِيمِ وَالثَّوَابِ لِأَهْلِ الطَّاعَةِ وَالْإِيمَانِ، وَالْأُخْرَى لِلْعِقَابِ وَالنَّكَالِ لِأَهْلِ الْمَعَاصِي وَالطُّغْيَانِ، وَهُمَا مُنْذُ خَلَقَهُمَا اللهُ تَعَالَى بَاقِيَتَانِ لَا تَفْنِيَانِ أَبَدًا، وَهِيَ الْجَنَّةُ الَّتِي كَانَ فِيهَا آدَمُ وَحَوَّاءُ -عَلَيْهِمَا السَّلَامُ- وَإِبْلِيسُ اللَّعِينُ، ثُمَّ أُخْرِجَا مِنْهَا، الْقِصَّةُ الْمَشْهُورَةُ.

Salah satunya adalah untuk ni’mat dan pahala bagi ahli ketaatan dan Iman, sedangkan yang lainnya adalah untuk siksaan dan balasan bagi pelaku maksiat dan kezholiman. Keduanya sejak diciptakan oleh Alloh Ta’ala bersifat kekal dan tidak akan sirna selama-lamanya. Itulah Jannah yang dahulu ditempati oleh Adam dan Hawa ‘alaihimas salam serta Iblis yang terlaknat, kemudian mereka berdua dikeluarkan darinya, sebagaimana kisah yang masyhur.

وَقَدْ أَنْكَرَتِ الْمُعْتَزِلَةُ ذَلِكَ، فَأَمَّا الْجَنَّةُ فَلَا يَدْخُلُونَهَا، وَأَمَّا النَّارُ فَلَعَمْرِي هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ مُخَلَّدُونَ لِإِنْكَارِهِمْ وَلِحُكْمِهِمْ بِذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الْمُوَحِّدِ الْمُطِيعِ لِلَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ- سَبْعِينَ سَنَةً بِكَبِيرَةٍ وَاحِدَةٍ، وَفِي كِتَابِ اللهِ الْعَزِيزِ -عَزَّ وَجَلَّ- وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ تَكْذِيبُهُمْ.

Sungguh kaum Mu’tazilah telah mengingkari hal itu. Adapun Jannah, maka mereka tidak akan memasukinya, sedangkan Naar, demi umurku mereka akan kekal di dalamnya selama-lamanya karena pengingkaran mereka dan karena hukum mereka yang menetapkan kekalnya seorang Mu’min muwahhid (yang bertauhid) yang telah taat kepada Alloh selama 70 tahun hanya karena 1 dosa besar. Di dalam Kitabulloh yang mulia dan Sunnah Rosululloh terdapat pendustaan bagi mereka.

قَالَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.

Alloh berfirman: “Dan Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Aal Imron: 133).

وَقَالَ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ وَمَا كَانَ مُعَدًّا كَانَ مَوْجُودًا يَعْلَمُهُ كُلُّ عَاقِلٍ فَعُلِمَ أَنَّهُمَا مَخْلُوقَتَانِ.

Dan Dia berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari api Naar yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS. Aal Imron: 131).

Sesuatu yang sudah disediakan berarti sudah ada, hal itu diketahui oleh setiap orang yang berakal, maka diketahuilah bahwa keduanya adalah makhluk (sudah diciptakan).

وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: «دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِنَهَرِي يَجْرِي، حَافَتَاهُ خِيَامُ اللُّؤْلُؤِ، فَضَرَبْتُ بِيَدِي إِلَى مَاءٍ يَجْرِي إِذْ مِسْكٌ أَذْفَرُ، قُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا، قَالَ: هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِي أَعْطَاكَ اللهُ تَعَالَى»

Rosululloh bersabda dalam Hadits Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu: “Aku masuk ke Jannah, tiba-tiba aku mendapati sungaiku mengalir, kedua tepiannya adalah kemah-kemah dari mutiara. Aku memukulkan tanganku ke air yang mengalir itu, ternyata ia adalah misk (minyak wangi) yang sangat harum. Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, apa ini?’ Dia menjawab: ‘Ini adalah Al-Kautsar yang diberikan Alloh Ta’ala kepadamu.’”

وَقَالَ ﷺ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: حِينَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللهِ: أَخْبِرْنَا عَنِ الْجَنَّةِ مَا بِنَاؤُهَا؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ، وَبِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ، وَحَصَاهَا الْيَاقُوتُ وَاللُّؤْلُؤُ، وَتُرَابُهَا الْوَرْسُ وَالزَّعْفَرَانُ، مَنْ دَخَلَهَا يَخْلُدُ وَلَا يَمُوتُ وَيَنْعَمُ وَلَا يَبْأَسُ، وَلَا يَخْلُقُ ثِيَابُهُمْ وَلَا يَبْلَى شَبَابُهُمْ».

Beliau bersabda dalam Hadits Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu ketika dikatakan kepada beliau: “Wahai Rosululloh, kabarkan kepada kami tentang Jannah, bagaimana bangunannya?” Beliau ‘alaihish sholatu was salam bersabda: “Satu bata dari perak dan satu bata dari emas, lantainya adalah misk yang sangat harum, kerikilnya adalah yaqut dan mutiara, dan tanahnya adalah wars (tumbuhan kuning) dan za’faron. Barang siapa memasukinya maka dia kekal dan tidak mati, serta bersenang-senang dan tidak sengsara. Pakaian mereka tidak akan usang dan masa muda mereka tidak akan sirna.”

فَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى كَوْنِهِمَا مَخْلُوقَتَيْنِ، وَأَنَّ نَعِيمَ الْجَنَّةِ دَائِمٌ لَا يَفْنَى، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا، وَقَالَ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ.

Ini adalah dalil atas keberadaan keduanya sebagai makhluk, dan bahwasanya ni’mat Jannah bersifat abadi dan tidak akan sirna, sebagaimana firman Alloh Ta’ala: “Buahnya tak henti-henti dan naungannya (pun demikian).” (QS. Ar-Ro’d: 35).

Dan Dia berfirman: “Yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 33).

11.2 Sifat Bidadari Jannah (Hoorul ‘Iyn) dan Keabadian Penduduk Jannah

وَمِنْ نَعِيمِهَا الْحُورُ الْعِينُ خَلَقَهُنَّ اللهُ تَعَالَى فِي الْجَنَّةِ لِلْبَقَاءِ، لَا يَفْنَيْنَ وَلَا يَمُتْنَ كَمَا قَالَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ، وَقَوْلُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: ﴿حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ.

Di antara ni’matnya adalah bidadari-bidadari (Huurul ‘Iin) yang diciptakan oleh Alloh Ta’ala di Jannah untuk kekal, mereka tidak sirna dan tidak mati sebagaimana firman Alloh : “Di dalam Jannah itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang belum pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rohman: 56).

Dan firman-Nya Tabaroka wa Ta’ala: “Bidadari-bidadari yang dipingit di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rohman: 72).

وَرَوْتْ أُمُّ سَلَمَةَ زَوْجُ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنِي عَنْ قَوْلِ اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿كَأَمْثَالِ اللَّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ. قَالَ: «صَفَاؤُهُنَّ كَصَفَاءِ الدُّرِّ فِي الْأَصْدَافِ ... إِلَى أَنْ قَالَ: يَقُلْنَ نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نَمُوتُ أَبَدًا، وَنَحْنُ النَّاعِمَاتُ فَلَا نَبْأَسُ أَبَدًا، وَنَحْنُ الْمُقِيمَاتُ فَلَا نَظْعَنُ أَبَدًا، وَنَحْنُ الرَّاضِيَاتُ فَلَا نَسْخَطُ أَبَدًا، وَهُنَّ فِي دَارِ حَقٍّ وَلَا يَقُلْنَ إِلَّا حَقًّا، وَالنَّبِيُّ ﷺ صَادِقٌ لَا يَقُولُ إِلَّا حَقًّا فَقَدْ أَخْبَرَ أَنَّهُنَّ خَالِدَاتٌ لَا يَمُتْنَ أَبَدًا».

Ummu Salamah (62 H) istri Nabi meriwayatkan, beliau berkata: Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, kabarkan kepadaku tentang firman Alloh :’Laksana mutiara yang tersimpan’ (QS. Al-Waqi’ah: 23)

Beliau bersabda: “Kejernihan mereka seperti kejernihan mutiara di dalam cangkangnya... sampai beliau bersabda: ‘Mereka berkata: ‘Kami adalah wanita-wanita yang kekal maka kami tidak akan mati selamanya, kami adalah wanita-wanita yang diliputi ni’mat maka kami tidak akan sengsara selamanya, kami adalah wanita-wanita yang menetap maka kami tidak akan berpindah selamanya, dan kami adalah wanita-wanita yang ridho maka kami tidak akan murka selamanya.’ Mereka berada di negeri kebenaran dan tidaklah mereka berkata kecuali kebenaran. Nabi adalah orang yang jujur yang tidak berkata kecuali kebenaran, dan beliau telah mengabarkan bahwa mereka adalah wanita-wanita yang kekal yang tidak mati selamanya.”

وَرَوْى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ: لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ إِنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا».

Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi bahwasanya beliau bersabda: “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya dari kalangan bidadari (Huurul ‘Iin) berkata: ‘Janganlah engkau menyakitinya, semoga Alloh membinasakanmu, sesungguhnya dia di sisimu hanyalah tamu yang sebentar lagi akan berpisah darimu menuju kami.’”

فَإِذَا ثَبُتَ أَنَّهُمَا لَا يَفْنِيَانِ وَمَا فِيهِمَا أَبَدًا فَلَا يُخْرِجُ اللهُ تَعَالَى مِنَ الْجَنَّةِ أَحَدًا، وَلَا يُسَلِّطُ عَلَى أَهْلِهَا الْمَوْتَ فِيهَا، وَلَا يَزُولُ عَنْهُمْ نَعِيمُهَا فَهُمْ فِي كُلِّ يَوْمٍ فِي مَزِيدِ نَعِيمٍ أَبَدَ الْآبَادِ.

Maka apabila telah tetap bahwa keduanya tidak akan sirna beserta apa yang ada di dalamnya selama-lamanya, maka Alloh Ta’ala tidak akan mengeluarkan seorang pun dari Jannah, tidak akan memberikan kekuasaan maut atas penduduknya di dalamnya, dan tidak akan menghilangkan ni’matnya dari mereka. Mereka setiap hari berada dalam tambahan ni’mat sepanjang masa yang abadi.

وَتَمَامُ نَعِيمِهِمْ أَنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- يَأْمُرُ بِالْمَوْتِ فَيُذْبَحُ عَلَى صُورَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَيُنَادِي الْمُنَادِي: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُودٌ وَلَا مَوْتٌ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ وَلَا مَوْتٌ، عَلَى مَا وَرَدَ بِهِ الْخَبَرُ الصَّحِيحُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Dan kesempurnaan ni’mat mereka adalah bahwasanya Alloh memerintahkan kematian, lalu ia disembelih dalam rupa domba jantan yang putih kehitaman di antara Jannah dan Naar. Penyeru berseru: “Wahai penduduk Jannah, kekekalan dan tidak ada kematian! Wahai penduduk Naar, kekekalan dan tidak ada kematian!”, sesuai dengan apa yang disebutkan dalam khabar yang shohih dari Nabi .

 

Bab 12: Kenabian Muhammad dan Mu’jizat Beliau

12.1 Risalah Nabi untuk Seluruh Manusia dan Jin

(فَصْلٌ) وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ الْإِسْلَامِ قَاطِبَةً أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمٍ رَسُولُ اللهِ، وَسَيِّدُ الْمُرْسَلِينَ وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ -عَلَيْهِمُ السَّلَامُ-، وَأَنَّهُ مَبْعُوثٌ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَإِلَى الْجِنِّ عَامَّةً.

(Fashl) Seluruh penganut Islam meyakini bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththolib bin Hasyim adalah Rosululloh, pemimpin para Rosul, dan penutup para Nabi -’alaihimus salam-. Bahwasanya beliau diutus kepada manusia seluruhnya dan kepada jin secara umum.

كَمَا قَالَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

Sebagaimana firman Alloh : “Dan Kami tidak mengutusmu melainkan kepada seluruh manusia.” (QS. Saba: 28).

Dan Dia Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rohmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ فِي حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: «إِنَّ اللهَ فَضَّلَنِي عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِأَرْبَعٍ: أُرْسِلْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً ...» وَذَكَرَ الْحَدِيثَ.

Nabi bersabda dalam Hadits Abu Umamah (86 H) rodhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya Alloh melebihkanku di atas para Nabi dengan 4 hal: Aku diutus kepada manusia seluruhnya...” dan beliau menyebutkan Haditsnya.

12.2 Mu’jizat-Mu’jizat Rosululloh dan Keistimewaan Al-Qur’an

وَأَنَّهُ ﷺ أُعْطِيَ مِنَ الْمُعْجِزَاتِ مَا أُعْطِيَ غَيْرُهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَزِيَادَةً، وَقَدْ عَدَّهَا بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَلْفَ مُعْجِزَةٍ.

Bahwasanya beliau diberikan mu’jizat-mu’jizat sebagaimana yang diberikan kepada para Nabi selainnya bahkan lebih. Sebagian ahli ilmu telah menghitungnya mencapai 1000 mu’jizat.

مِنْهَا الْقُرْآنُ الْمَنْظُومُ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ مُفَارِقٍ لِجَمِيعِ أَوْزَانِ كَلَامِ الْعَرَبِ وَنَظْمِهِ وَتَرْتِيبِهِ وَبَلَاغَتِهِ وَفَصَاحَتِهِ عَلَى وَجْهٍ جَاوَزَ فَصَاحَةَ كُلِّ فَصِيحٍ، وَبَلَاغَةَ كُلِّ بَلِيغٍ، وَعَجَزَتِ الْعَرَبُ أَنْ تَأْتِيَ بِمِثْلِهِ، وَلَا بِسُورَةٍ مِنْهُ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ فَلَمْ يَأْتُوا، ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: ﴿فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ فَعَجَزُوا عَنْ ذَلِكَ مَعَ بَرَاعَتِهِمْ وَفَصَاحَتِهِمْ عَلَى أَهْلِ زَمَانِهِمْ، وَانْقَطَعُوا فَظَهَرَ فَضْلُهُ عَلَيْهِمْ، فَلِذَلِكَ صَارَ الْقُرْآنُ مُعْجِزَةً لَهُ ﷺ، كَالْعَصَا فِي حَقِّ مُوسَى -عَلَيْهِ السَّلَامُ- لِأَنَّ مُوسَى بُعِثَ فِي زَمَنِ السَّحَرَةِ الْحُذَّاقِ فِي صَنْعَتِهِمْ، فَتَلَقَّفَتْ عَصَا مُوسَى -عَلَيْهِ السَّلَامُ- مَا سَحَرُوا بِهِ أَعْيُنَ النَّاسِ وَخَيَّلُوهُ إِلَيْهِمْ: ﴿فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ * وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ.

Di antaranya adalah Al-Qur’an yang tersusun dengan cara yang khusus, yang berbeda dari seluruh pola perkataan Arob baik susunan, urutan, balaghoh (keindahan sastra), maupun kefasihannya. Ia melampaui kefasihan setiap orang fasih dan keindahan sastra setiap ahli sastra. Bangsa Arob tidak mampu mendatangkan yang semisal dengannya, bahkan tidak mampu mendatangkan 1 Suroh pun darinya sebagaimana firman Alloh Ta’ala: “Maka datangkanlah 10 Suroh yang semisal dengannya yang dibuat-buat.” (QS. Hud: 13), namun mereka tidak sanggup.

Kemudian Dia Ta’ala berfirman: “Maka datangkanlah 1 Suroh yang semisal dengannya.” (QS. Al-Baqoroh: 23), mereka pun tetap tidak sanggup meskipun mereka memiliki kemahiran dan kefasihan di atas orang-orang pada zaman mereka. Mereka terbungkam sehingga nampaklah keutamaan Al-Qur’an atas mereka. Oleh karena itulah Al-Qur’an menjadi mu’jizat bagi beliau , seperti halnya tongkat bagi Musa ‘alaihis salam, karena Musa diutus pada zaman ahli sihir yang mahir dalam bidangnya, lalu tongkat Musa ‘alaihis salam menelan apa yang mereka sihirkan pada mata manusia dan apa yang mereka khayalkan kepada manusia: “Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan mereka menjadi hina. Dan para pesihir itu pun tersungkur bersujud.” (QS. Al-A’rof: 119-120).

وَكَإِحْيَاءِ عِيسَى -عَلَيْهِ السَّلَامُ- الْمَوْتَى، وَإِبْرَاءِهِ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ لِأَنَّهُ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- بُعِثَ فِي زَمَنِ النَّاسِ فِيهِ أَطِبَّاءُ حُذَّاقٌ، يُوقِفُونَ الْأَعْلَالَ وَالْأَسْقَامَ الَّتِي لَا تَبْرَأُ بِبَرَاعَتِهِمْ فِي حِذْقِ الصَّنْعَةِ، فَانْقَادُوا إِلَيْهِ وَأَمَّنُوا بِهِ لِمُجَاوَزَتِهِ فِي الصَّنْعَةِ عَلَيْهِمْ وَبَرَاعَتِهِ فِي الْمُعْجِزَةِ فِيمَا تَعَاطَوْهُ مِنْهُ.

Demikian pula seperti tindakan Isa ‘alaihis salam menghidupkan orang mati, serta menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Karena beliau ‘alaihis salam diutus pada zaman di mana manusia saat itu adalah dokter-dokter yang mahir, yang mampu menghentikan penyakit-penyakit yang sulit sembuh dengan kemahiran mereka. Namun mereka tunduk kepada beliau dan beriman kepadanya karena mu’jizat beliau melampaui keahlian mereka dan kemahiran beliau dalam mu’jizat pada hal-hal yang mereka geluti.

فَفَصَاحَةُ الْقُرْآنِ وَإِعْجَازُهُ مُعْجِزَةٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ كَالْعَصَا وَإِحْيَاءِ الْمَوْتَى فِي حَقِّ مُوسَى وَعِيسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ.

Maka kefasihan Al-Qur’an dan kemu’jizatannya adalah mu’jizat bagi Nabi sebagaimana halnya tongkat dan tindakan menghidupkan orang mati bagi Musa dan Isa ‘alaihimas salam.

وَمِنْ مُعْجِزَاتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ نَبْعُ الْمَاءِ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ وَإِطْعَامُ الزَّادِ الْقَلِيلِ لِلْخَلْقِ الْكَثِيرِ، وَكَلَامُ الذِّرَاعِ الْمَسْمُومِ، وَقَوْلُهُ: لَا تَأْكُلْ مِنِّي فَإِنِّي مَسْمُومٌ، وَانْشِقَاقُ الْقَمَرِ، وَحَنِينُ الْجِذْعِ، وَكَلَامُ الْبَعِيرِ، وَمَجِيءُ الشَّجَرَةِ إِلَيْهِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِمَّا يَبْلُغُ أَلْفَ مُعْجِزَةٍ عَلَى مَا ذَكَرُوا.

Di antara mu’jizat-mu’jizat beliau ‘alaihish sholatu was salam adalah terpancarnya air dari celah jari-jemarinya, memberi makan banyak orang dengan perbekalan yang sedikit, berbicaranya paha kambing yang beracun dan perkataannya: “Janganlah engkau memakanku karena aku mengandung racun”, terbelahnya bulan, tangisan batang kurma, perkataan unta, datangnya pohon kepada beliau, dan selain itu dari hal-hal yang mencapai 1000 mu’jizat sebagaimana yang mereka sebutkan.

وَإِنَّمَا لَمْ يَأْتِ النَّبِيُّ ﷺ بِمِثْلِ عَصَا مُوسَى وَيَدِهِ الْبَيْضَاءَ، وَإِحْيَاءِ الْمَوْتَى، وَإِبْرَاءِ الْأكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَمِثْلِ نَاقَةِ صَالِحِ، وَالْمُعْجِزَاتِ الَّتِي كَانَتْ لِلْأَنْبِيَاءِ لِأَمْرَيْنِ اثْنَيْنِ.

Sesungguhnya Nabi tidak mendatangkan mu’jizat yang semisal dengan tongkat Musa dan tangannya yang putih, menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan penyakit kusta, serta semisal unta Nabi Sholih, dan mu’jizat-mu’jizat yang dimiliki para Nabi sebelumnya dikarenakan 2 perkara.

أَحَدُهُمَا: لِئَلَّا يُكَذِّبَ بِهَا أُمَّتُهُ فَيَهْلِكُوا كَمَا هَلَكَتِ الْأُمَمُ قَبْلَهُمْ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ.

Salah satunya: agar umatnya tidak mendustakan mu’jizat tersebut sehingga mereka binasa sebagaimana binasanya umat-umat sebelum mereka, sebagaimana firman Alloh Ta’ala: “Dan tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan mu’jizat-mu’jizat itu melainkan karena mu’jizat-mu’jizat itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS. Al-Isro: 59).

وَالثَّانِي: لَوْ جَاءَ بِمِثْلِ مَا جَاءَ بِهِ الْأَوَّلُونَ لَقَالُوا لَهُ مَا جِئْتَ بِغَرِيبٍ وَقَدْ تَعَلَّمْتَ مِنْ مُوسَى وَعِيسَى، فَأَنْتَ مِنْ أَتْبَاعِهِمْ لَا نُؤْمِنُ لَكَ حَتَّى تَأْتِينَا بِمَا لَمْ يَأْتِ بِهِ الْأَوَّلُونَ.

Yang kedua: sekiranya beliau mendatangkan mu’jizat yang sama dengan apa yang didatangkan orang-orang terdahulu, niscaya mereka akan berkata kepadanya: “Engkau tidak mendatangkan hal yang baru, engkau telah belajar dari Musa dan Isa, maka engkau hanyalah pengikut mereka, kami tidak akan beriman kepadamu sampai engkau mendatangkan apa yang tidak didatangkan oleh orang-orang terdahulu.”

وَلِهَذَا لَمْ يُؤْتِ اللهُ سُبْحَانَهُ نَبِيًّا مِنْ أَنْبِيَائِهِ مُعْجِزَةَ غَيْرِهِ، بَلْ خَصَّ كُلَّ نَبِيٍّ بِمُعْجِزَةٍ غَيْرِ مُعْجِزَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَهُ.

Oleh karena itu Alloh Subhanahu tidak memberikan mu’jizat seorang Nabi kepada Nabi yang lain, melainkan Dia mengkhususkan setiap Nabi dengan mu’jizat yang berbeda dari mu’jizat orang sebelum mereka.

 

Bab 13: Keutamaan Para Shohabat dan Urutan Khilafah

13.1 Keutamaan Umat Muhammad dan Generasi Shohabat

(فَصْلٌ) وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ السُّنَّةِ أَنَّ أُمَّةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ خَيْرُ الْأُمَمِ أَجْمَعِينَ، وَأَفْضَلُهُمْ أَهْلُ الْقَرْنِ الَّذِينَ شَاهَدُوهُ وَآمَنُوا بِهِ وَصَدَّقُوهُ وَبَايَعُوهُ وَتَابَعُوهُ وَقَاتَلُوا بَيْنَ يَدَيْهِ وَمَدُّوهُ بِأَنْفُسِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ.

(Fashl) Ahli Sunnah meyakini bahwa umat Nabi kita Muhammad adalah sebaik-baik umat seluruhnya. Dan yang paling utama di antara mereka adalah orang-orang pada generasi (shohabat) yang menyaksikan beliau, beriman kepadanya, membenarkannya, membaiatnya, mengikutinya, berperang di hadapannya, membantu beliau dengan jiwa dan harta mereka, serta memuliakan dan menolongnya.

وَأَفْضَلُ أَهْلِ الْقُرُونِ أَهْلُ الْحُدَيْبِيَةِ الَّذِينَ بَايَعُوهُ بَيْعَةَ الرِّضْوَانِ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَرْبَعُمِائَةِ رَجُلٍ.

Generasi yang paling utama adalah orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah, yaitu mereka yang membaiat beliau dalam Baiatur Ridwan, yang berjumlah 1400 orang lelaki.

وَأَفْضَلُهُمْ أَهْلُ بَدْرٍ وَهُمْ ثَلَاثُمِائَةٍ وَثَلَاثَةَ عَشَرَ رَجُلًا عَدَدَ أَصْحَابِ طَالُوتَ.

Dan yang lebih utama lagi adalah Ahlul Badr (peserta perang Badr), yang berjumlah 313 orang lelaki, sesuai dengan jumlah pengikut Tholut.

وَأَفْضَلُهُمْ الْأَرْبَعُونَ أَهْلُ دَارِ الْخَيْزُرَانِ الَّذِينَ كَمُلُوا بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ.

Dan yang lebih utama adalah 40 orang yang berada di Darul Khoizuron, yang genap jumlahnya dengan masuk Islamnya Umar bin Al-Khotthob (23 H).

وَأَفْضَلُهُمُ الْعَشَرَةُ الَّذِينَ شَهِدَ لَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ بِالْجَنَّةِ وَهُمْ: أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَسَعْدٌ وَسَعِيدٌ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ.

Dan yang paling utama adalah 10 orang yang telah dipersaksikan oleh Nabi masuk Jannah, mereka adalah: Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Tholhah, Az-Zubair, Abdurrohman bin ‘Auf, Sa’ad, Said, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarroh.

وَأَفْضَلُ هَؤُلَاءِ الْعَشَرَةِ الْأَبْرَارِ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ الْأَرْبَعَةُ الْأَخْيَارُ.

Dan yang paling utama dari 10 orang yang mulia ini adalah Khulafa’ur Rosyidin yang 4 yang terpilih.

وَأَفْضَلُ الْأَرْبَعَةِ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ-.

Dan yang paling utama dari yang 4 adalah Abu Bakr (13 H), kemudian Umar (23 H), kemudian Utsman (35 H), kemudian Ali (40 H) rodhiyallahu Ta’alaanhum.

وَلِهَؤُلَاءِ الْأَرْبَعَةِ الْخِلَافَةُ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ ثَلَاثُونَ سَنَةً وَلِيَ مِنْهَا أَبُو بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- سَنَتَيْنِ وَشَيْئًا، وَعُمَرُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- عَشَرًا، وَعُثْمَانُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- اثْنَتَي عَشَرَةَ، وَعَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- تِسْعًا، ثُمَّ وَلِيَهَا مُعَاوِيَةُ تِسْعَةَ عَشرَةَ سَنَةً، وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ وَلَّاهُ عُمَرُ الْإِمَارَةَ عَلَى أَهْلِ الشَّامِ عِشْرِينَ سَنَةً.

Bagi ke-4 orang ini kekholifahan setelah Nabi berlangsung selama 30 tahun. Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu menjabat selama 2 tahun lebih sedikit, Umar rodhiyallahu ‘anhu selama 10 tahun, Utsman rodhiyallahu ‘anhu selama 12 tahun, dan Ali rodhiyallahu ‘anhu selama 9 tahun. Kemudian Mu’awiyah (60 H) menjabat selama 19 tahun, dan sebelumnya Umar telah mengangkatnya sebagai gubernur (amir) atas penduduk Syam selama 20 tahun.

وَخِلَافَةُ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ كَانَتْ بِاخْتِيَارِ الصَّحَابَةِ وَاتِّفَاقِهِمْ وَرِضَاهُمْ، وَلِفَضْلِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ فِي عَصْرِهِ وَزَمَانِهِ عَلَى مَنْ سِوَاهُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَلَمْ تَكُنْ بِالسَّيْفِ وَالْقَهْرِ وَالْغَلَبَةِ وَالْأَخْذِ مِمَّنْ هُوَ أَفْضَلُ مِنْهُ.

Kekholifahan para Imam yang 4 adalah berdasarkan pilihan para Shohabat, kesepakatan, dan keridhoan mereka. Hal itu dikarenakan keutamaan masing-masing dari mereka pada zamannya di atas Shohabat yang lain. Kekholifahan itu bukan dengan pedang, paksaan, kemenangan (perang), atau mengambil kekuasaan dari orang yang lebih utama darinya.

13.2 Kekholifahan Abu Bakr Ash-Shiddiq

وَأَمَّا خِلَافَةُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَبِاتِّفَاقِ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ كَانَتْ.

Adapun kekholifahan Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu, ia terjadi berdasarkan kesepakatan kaum Muhajirin dan kaum Anshor.

وَذَلِكَ أَنَّهُ لَمَّا تُوُفَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ قَامَتْ خُطَبَاءُ الْأَنْصَارِ فَقَالُوا: مِنَّا أَمِيرٌ وَمِنْكُمْ أَمِيرٌ، فَقَامَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ أَنْ يَؤُمَّ النَّاسَ؟ فَقَالُوا: بَلَى، قَالَ: فَأَيُّكُمْ تَطِيبُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَبَا بَكْرٍ؟ قَالُوا: مَعَاذَ اللهِ أَنْ نَتَقَدَّمَ أَبَا بَكْرٍ.

Hal itu dikarenakan ketika Rosululloh wafat, para orator dari kalangan Anshor berdiri lalu berkata: “Dari kami ada pemimpin dan dari kalian ada pemimpin.” Maka Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu berdiri lalu berkata: “Wahai sekalian kaum Anshor, bukankah kalian tahu bahwa Nabi telah memerintahkan Abu Bakr untuk mengimami orang-orang?” Mereka menjawab: “Benar.” Umar bertanya: “Maka siapakah di antara kalian yang jiwanya merasa tenang untuk mendahului Abu Bakr?” Mereka menjawab: “Kami berlindung kepada Alloh dari mendahului Abu Bakr.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ: فَأَيُّكُمْ تَطِيبُ نَفْسُهُ أَنْ يُزِيلَهُ عَنْ مَقَامٍ أَقَامَهُ فِيهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ؟ فَقَالُوا كُلُّهُمْ: كُلُّنَا لَا تَطِيبُ أَنْفُسُنَا، نَسْتَغْفِرُ اللهَ، فَاتَّفَقُوا مَعَ الْمُهَاجِرِينَ فَبَايَعُوهُ بِأَجْمَعِهِمْ، وَفِيهِمْ عَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ.

Dalam lafazh lain, Umar rodhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: “Maka siapakah di antara kalian yang jiwanya merasa tenang untuk menggesernya dari kedudukan yang telah diletakkan oleh Rosululloh padanya?” Mereka semua menjawab: “Kami semua tidak merasa tenang (untuk melakukannya), kami memohon ampun kepada Alloh.” Maka mereka bersepakat bersama kaum Muhajirin lalu membaiat beliau seluruhnya, dan di antara mereka terdapat Ali (40 H) dan Az-Zubair (36 H).

وَلِهَذَا فِي النَّقْلِ الصَّحِيحِ: «لَمَّا بُويِعَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَامَ ثَلَاثًا يُقْبِلُ عَلَى النَّاسِ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَقَلْتُكُمْ بَيْعَتِي هَلْ مِنْ كَارِهٍ؟ فَيَقُومُ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فِي أَوَائِلِ النَّاسِ فَيَقُولُ: لَا نُقِيلُكَ وَلَا نَسْتَقِيلُكَ أَبَدًا، قَدَّمَكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَمَنْ يُأَخِّرُكَ».

Oleh karena itulah dalam penukilan yang shohih disebutkan: “Ketika Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu Ta’ala ‘anhu dibaiat, beliau berdiri sebanyak 3 kali menghadap orang-orang seraya berkata: ‘Wahai manusia, aku batalkan baiat kalian kepadaku, apakah ada yang tidak suka?’ Maka Ali rodhiyallahu ‘anhu berdiri di barisan depan orang-orang lalu berkata: ‘Kami tidak akan membatalkannya dan kami tidak akan meminta pembatalan selamanya. Rosululloh telah memajukanmu, maka siapakah yang akan mengakhirkanmu?.’”

وَبَلَغْنَا عَنِ الثِّقَاتِ أَنَّ عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- كَانَ أَشَدَّ الصَّحَابَةِ قَوْلًا فِي إِمَامَةِ أَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-. وَرُوِيَ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ الْكَرَّاءِ دَخَلَ عَلَى عَلِيٍّ بَعْدَ قِتَالِ الْجَمَلِ وَسَأَلَهُ: هَلْ عَهِدَ إِلَيْكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي هَذَا الْأَمْرِ شَيْئًا؟ فَقَالَ: نَظَرْنَا فِي أَمْرِنَا فَإِذَا الصَّلَاةُ عَضُدُ الْإِسْلَامِ فَرَضِينَا لِدُنْيَانَا مَنْ رَضِيَ اللهُ وَرَسُولُهُ لِدِينِنَا، فَوَلَّيْنَا الْأَمْرَ أَبَا بَكْرٍ.

Telah sampai kepada kami dari orang-orang terpercaya bahwasanya Ali rodhiyallahu ‘anhu adalah Shohabat yang paling tegas perkataannya dalam membela keimaman Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Al-Karro’ menemui Ali setelah Perang Jamal lalu bertanya kepadanya: “Apakah Rosululloh memberikan wasiat kepadamu dalam urusan (kepemimpinan) ini sedikit pun?” Beliau menjawab: “Kami melihat urusan kami, ternyata Sholat adalah tiang Islam, maka kami pun ridho untuk urusan dunia kami terhadap orang yang telah diridhoi oleh Alloh dan Rosul-Nya untuk urusan agama kami (Imam Sholat), maka kami pun menyerahkan urusan (kepemimpinan) ini kepada Abu Bakr.”

وَذَلِكَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ اسْتَخْلَفَ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فِي إِمَامَةِ الصَّلَاةِ الْمَفْرُوضَةِ أَيَّامَ مَرَضِهِ، فَكَانَ يَأْتِيهِ بِلَالٌ وَقْتَ كُلِّ صَلَاةٍ فَيُؤْذِنُهُ بِالصَّلَاةِ، فَيَقُولُ -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-: «مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ».

Hal itu dikarenakan Nabi telah menunjuk Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti dalam mengimami Sholat fardhu selama hari-hari sakit beliau. Bilal (20 H) mendatangi beliau setiap waktu Sholat untuk memberitahukan masuknya waktu Sholat, lalu beliau ‘alaihish sholatu was salam bersabda: “Perintahkanlah Abu Bakr agar dia Sholat mengimami manusia.”

وَكَانَ النَّبِيَّ ﷺ يَتَكَلَّمُ فِي شَأْنِ أَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فِي حَالِ حَيَاتِهِ بِمَا يَتَبَيَّنُ لِلصَّحَابَةِ أَنَّهُ أَحَقُّ النَّاسِ بِالْخِلَافَةِ بَعْدَهُ. وَكَذَلِكَ فِي حَقِّ عُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ- أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ أَحَقُّ بِالْأَمْرِ فِي عَصْرِهِ وَزَمَانِهِ.

Dahulu Nabi berbicara mengenai kedudukan Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu semasa hidup beliau dengan perkataan yang menjelaskan kepada para Shohabat bahwasanya beliau adalah manusia yang paling berhak atas Khilafah sepeninggal beliau. Demikian pula dalam hak Umar, Utsman, dan Ali rodhiyallahu ‘anhum bahwasanya masing-masing dari mereka adalah yang paling berhak atas urusan (kepemimpinan) pada masa dan zamannya.

13.3 Penegasan Keutamaan Masing-Masing Kholifah

مِنْ ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ بَطَّةَ بِإِسْنَادِهِ عَنْ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- أَنَّهُ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ نُؤَمِّرُ بَعْدَكَ؟ قَالَ ﷺ: «إِنْ تُؤَمِّرُوا أَبَا بَكْرٍ تَجِدُوهُ أَمِينًا زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ، وَإِنْ تُؤَمِّرُوا عُمَرَ تَجِدُوهُ قَوِيًّا أَمِينًا لَا يَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ، وَإِنْ تُؤَمِّرُوا عُثْمَانَ تَجِدُوهُ قَائِمًا بِالدَّلِيلِ وَالْبُرْهَانِ، وَإِنْ تُوَلُّوا عَلِيًّا تَجِدُوهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا، فَلِذَلِكَ أَجْمَعُوا عَلَى خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-.

Di antara hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh (387 H) dengan sanadnya dari Ali (40 H) rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata: “Dikatakan, ‘Wahai Rosululloh, siapakah yang kami angkat sebagai pemimpin sepeninggalmu?’”  Beliau bersabda: “Jika kalian mengangkat Abu Bakr sebagai pemimpin, kalian akan mendapatinya sebagai orang yang amanah, zahid terhadap dunia, dan sangat berharap pada Akhiroh. Jika kalian mengangkat Umar sebagai pemimpin, kalian akan mendapatinya sebagai orang yang kuat lagi amanah, tidak takut terhadap celaan orang yang mencela dalam membela Alloh. Jika kalian mengangkat Utsman sebagai pemimpin, kalian akan mendapatinya sebagai orang yang tegak di atas dalil dan burhan (bukti nyata). Dan jika kalian mengangkat Ali sebagai pemimpin, kalian akan mendapatinya sebagai pemberi hidayah yang mendapatkan hidayah.” Oleh karena itulah mereka bersepakat atas kekholifahan Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu.

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ إِمَامِنَا أَبِي عَبْدِ اللهِ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ -رَحِمَهُ اللهُ- رِوَايَةٌ أُخْرَى: إِنَّ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- ثَبَتَتْ بِالنَّصِّ الْخَفِيِّ وَالْإِشَارَةِ، وَهَذَا مَذْهَبُ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَجَمَاعَةٍ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ -رَحِمَهُمُ اللهُ-.

Telah diriwayatkan pula dari Imam kami Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (241 H) rohimahulloh riwayat yang lain: Sesungguhnya kekholifahan Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu telah tetap berdasarkan nosh khofi (dalil yang samar) dan isyarat. Ini merupakan madzhab Al-Hasan Al-Bashri (110 H) dan sekelompok ahli Hadits rohimahumullah.

وَجْهُ هَذِهِ الرِّوَايَةِ مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «لَمَّا عُرِجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ سَأَلْتُ رَبِّي -عَزَّ وَجَلَّ- أَنْ يَجْعَلَ الْخَلِيفَةَ مِنْ بَعْدِي عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ! الْخَلِيفَةُ مِنْ بَعْدِكَ أَبُو بَكْرٍ». وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-: «الَّذِي بَعْدِي أَبُو بَكْرٍ لَا يَلْبَثُ بَعْدِي إِلَّا قَلِيلًا».

Dasar dari riwayat ini adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi bahwasanya beliau bersabda: “Ketika aku dimikrojkan ke langit, aku memohon kepada Robb-ku Azza wa Jalla agar menjadikan Ali bin Abi Tholib sebagai Kholifah sepeninggalku, namun para Malaikat berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Alloh melakukan apa yang Dia kehendaki!  Kholifah sepeninggalmu adalah Abu Bakr.’”

Beliau ‘alaihish sholatu was salam juga bersabda dalam Hadits Ibnu Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma: “Orang yang menggantikanku adalah Abu Bakr, dia tidak akan tinggal sepeninggalku melainkan hanya sebentar.”

وَعَنْ مُجَاهِدٍ -رَحِمَهُ اللهُ- قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ مِنْ دَارِ الدُّنْيَا حَتَّى عَهِدَ إِلَى «أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَلِي مِنْ بَعْدِي، ثُمَّ عُمَرُ مِنْ بَعْدِهِ، ثُمَّ عُثْمَانُ مِنْ بَعْدِهِ ثُمَّ عَلِيٌّ مِنْ بَعْدِهِ».

Dari Mujahid (104 H) rohimahulloh, beliau berkata: Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhuma berkata kepadaku: Nabi keluar dari negeri dunia hingga beliau berwasiat kepadaku bahwasanya, “Abu Bakr memegang urusan (Khilafah) sepeninggalku, kemudian Umar setelahnya, kemudian Utsman setelahnya, lalu Ali setelahnya.”

13.4 Kekholifahan Umar bin Al-Khotthob

وَأَمَّا خِلَافَةُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، فَإِنَّهَا كَانَتْ بِاسْتِخْلَافِ أَبِي بَكْرٍ لَهُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، فَانْقَادَتِ الصَّحَابَةُ إِلَى بَيْعَتِهِ وَسَمُّوهُ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، فَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-: قَالُوا لِأَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: مَا تَقُولُ لِرَبِّكَ غَدًا إِذَا لَقِيتَهُ وَقَدِ اسْتَخْلَفْتَ عَلَيْنَا عُمَرَ وَقَدْ عَرَفْتَ فَظَاظَتَهُ؟ فَقَالَ: أَقُولُ اسْتَخْلَفْتُ عَلَيْهِمْ خَيْرَ أَهْلِكَ.

Adapun kekholifahan Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, maka sesungguhnya hal itu terjadi berdasarkan penunjukan Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu kepadanya sebagai pengganti. Maka para Shohabat pun tunduk untuk membaiatnya dan mereka menggelarinya Amirul Mu’minin. Abdullah bin Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma berkata: Mereka berkata kepada Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu: “Apa yang akan engkau katakan kepada Robb-mu besok jika engkau menemui-Nya sedangkan engkau telah menunjuk Umar sebagai pemimpin atas kami padahal engkau telah mengetahui sifat kerasnya?”  Beliau menjawab: “Aku akan mengatakan, ‘Aku telah menunjuk orang terbaik dari penduduk-Mu sebagai pemimpin atas mereka.’”

13.5 Kekholifahan Utsman bin Affan

وَأَمَّا خِلَافَةُ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، فَكَانَتْ أَيْضًا عَنْ اتِّفَاقِ الصَّحَابَةِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ-، وَذَلِكَ أَنَّ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- أَخْرَجَ أَوْلَادَهُ عَنِ الْخِلَافَةِ، وَجَعَلَهَا شُورَى بَيْنَ سِتَّةِ نَفَرٍ، وَهُمْ طَلْحَةُ، الزُّبَيْرُ، سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، عُثْمَانُ، عَلِيٌّ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ ابْنُ عَوْفٍ، فَأَخْرَجَ طَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ، وَسَعْدٌ أَنْفُسَهُمْ مِنْهَا، فَبَقِيَتْ بَيْنَ عَلِيٍّ، عُثْمَانَ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ.

Adapun kekholifahan Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, hal itu juga terjadi berdasarkan kesepakatan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum. Hal itu bermula ketika Umar (23 H) rodhiyallahu ‘anhu mengeluarkan anak-anaknya dari bursa Khilafah, dan menjadikannya sebagai urusan Syuro di antara 6 orang, yaitu Tholhah (36 H), Az-Zubair (36 H), Sa’ad bin Abi Waqqosh (55 H), Utsman (35 H), Ali (40 H), dan Abdurrohman bin ‘Auf (32 H). Kemudian Tholhah, Az-Zubair, dan Sa’ad menarik diri, sehingga tersisa di antara Ali, Utsman, dan Abdurrohman.

فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لِعَلِيٍّ وَعُثْمَانَ: أَنَا أَخْتَارُ أَحَدَكُمَا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ، فَأَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَقَالَ: عَلَيْكَ عَهْدُ اللهِ وَمِيثَاقُهُ وَذِمَّتُهُ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ إِنْ أَنَا بَايَعْتُكَ لَتَنْصَحَنَّ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ، وَلَتَسِيرَنَّ بِسِيرَةِ رَسُولِ اللهِ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَخَافَ عَلِيٌّ أَلَّا يَقْوَى عَلَى مَا قَوُوا عَلَيْهِ فَلَمْ يُجِبْهُ.

Lalu Abdurrohman berkata kepada Ali dan Utsman: “Aku akan memilih salah satu dari kalian demi Alloh, Rosul-Nya, dan kaum Mu’min.” Beliau memegang tangan Ali rodhiyallahu ‘anhu seraya berkata: “Engkau memegang janji Alloh, perjanjian-Nya, jaminan-Nya, dan jaminan Rosul-Nya, jika aku membaiatmu maka engkau benar-benar akan tulus demi Alloh, Rosul-Nya, dan kaum Mu’min, serta benar-benar akan berjalan sesuai dengan sirah (perjalanan hidup) Rosululloh, Abu Bakr, dan Umar.” Ali merasa khawatir tidak akan mampu sekuat mereka, maka beliau tidak menjawabnya.

ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِ عُثْمَانَ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِعَلِيٍّ، فَأَجَابَهُ عُثْمَانُ عَلَى ذَلِكَ، فَمَسَحَ يَدَ عُثْمَانَ فَبَايَعَهُ، وَبَايَعَ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- مَعَهُ، ثُمَّ بَايَعَ النَّاسُ أَجْمَعُ. فَصَارَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ خَلِيفَةً مِنْ بَيْنِ السِّتَّةِ بِاتِّفَاقِ الْكُلِّ. فَكَانَ إِمَامًا حَقًّا إِلَى أَنْ مَاتَ، وَلَمْ يُوجَدْ فِيهِ أَمْرٌ يُوجِبُ الطَّعْنَ فِيهِ وَلَا فِسْقَهُ وَلَا قَتْلَهُ، خِلَافَ مَا قَالَتِ الرَّوَافِضُ تَبًّا لَهُمْ.

Kemudian beliau memegang tangan Utsman dan mengatakan kepadanya hal yang serupa dengan perkataannya kepada Ali, lalu Utsman menjawab setuju atas hal tersebut. Maka beliau mengusap tangan Utsman dan membaiatnya. Ali rodhiyallahu ‘anhu pun ikut membaiat bersamanya, kemudian seluruh manusia membaiatnya. Maka jadilah Utsman bin Affan (35 H) sebagai Kholifah dari antara 6 orang tersebut berdasarkan kesepakatan semuanya. Beliau adalah Imam yang benar sampai beliau wafat, dan tidak didapati padanya suatu perkara yang mengharuskan adanya celaan, kefasikan, maupun pembunuhan terhadapnya, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum Rowafidh, binasalah mereka.

13.6 Kekholifahan Ali bin Abi Tholib

وَأَمَّا خِلَافَةُ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- بَعْدَ عُثْمَانَ فَكَانَتْ عَنْ اتِّفَاقِ الْجَمَاعَةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ، لَمَا رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَطَّةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ مَحْصُورًا، فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: إِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَقْتُولٌ السَّاعَةَ. قَالَ فَقَامَ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَأَخَذْتُ بِوَسَطِهِ تَخَوُّفًا عَلَيْهِ. فَقَالَ: خَلِّ لَا أُمَّ لَكَ، قَالَ فَأَتَى عَلَى الدَّارِ وَقَدْ قُتِلَ عُثْمَانُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَأَتَى دَارَهُ فَدَخَلَهَا وَأَغْلَقَ بَابَهُ.

Adapun kekholifahan Ali rodhiyallahu ‘anhu setelah Utsman, maka ia terjadi berdasarkan kesepakatan jamaah dan ijma’ para Shohabat. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Baththoh dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah (81 H), beliau berkata: Aku sedang bersama Ali bin Abi Tholib ketika Utsman bin Affan sedang dikepung, lalu seorang lelaki mendatangi beliau seraya berkata: “Sesungguhnya Amirul Mu’minin akan dibunuh saat ini juga.”  Beliau berkata: Maka Ali rodhiyallahu ‘anhu berdiri lalu aku memegang pinggang beliau karena khawatir atas keselamatannya.  Beliau berkata: “Lepaskanlah, celakalah engkau (ungkapan kiasan).” Beliau berkata: Maka beliau mendatangi rumah Utsman namun ternyata Utsman rodhiyallahu ‘anhu telah dibunuh, lalu beliau kembali ke rumahnya, memasukinya, dan menutup pintunya.

فَأَتَاهُ النَّاسُ فَضَرَبُوا عَلَيْهِ الْبَابَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا: إِنَّ عُثْمَانَ قَدْ قُتِلَ وَلَابُدَّ لِلنَّاسِ مِنْ خَلِيفَةٍ، وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا أَحَقَّ بِهَا مِنْكَ. فَقَالَ لَهُمْ عَلِيٌّ: لَا تُرِيدُونِي فَإِنِّي لَكُمْ وَزِيرٌ خَيْرٌ مِنْ أَمِيرٍ، قَالُوا: وَاللهِ لَا نَعْلَمُ أَحَدًا أَحَقَّ بِهَا مِنْكَ، قَالَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: فَإِنْ أَبَيْتُمْ عَلَيَّ فَإِنَّ بَيْعَتِي لَا تَكُونُ سِرًّا، وَلَكِنْ أَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَمَنْ شَاءَ أَنْ يُبَايِعَنِي بَايَعَنِي. قَالَ: فَخَرَجَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- إِلَى الْمَسْجِدِ فَبَايَعَهُ النَّاسُ، فَكَانَ إِمَامًا حَقًّا إِلَى أَنْ قُتِلَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، خِلَافَ مَا قَالَتِ الْخَوَارِجُ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ إِمَامًا قَطُّ. تَبًّا لَهُمْ إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ.

Maka orang-orang mendatangi beliau lalu mengetuk pintunya. Mereka masuk menemui beliau seraya berkata: “Sesungguhnya Utsman telah dibunuh dan manusia harus memiliki seorang Kholifah, sedangkan kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak darimu.”  Ali berkata kepada mereka: “Janganlah kalian menginginkanku, sesungguhnya aku menjadi menteri (pembantu) bagi kalian itu lebih baik daripada menjadi pemimpin.” Mereka berkata: “Demi Alloh, kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak darimu.” Beliau rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Jika kalian tetap mendesakku, maka ketahuilah bahwa baiatku tidaklah boleh dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan aku akan keluar ke Masjid, maka barang siapa yang ingin membaiatku silakan membaiatku.”  Beliau berkata: Maka beliau rodhiyallahu ‘anhu keluar ke Masjid lalu manusia membaiatnya. Beliau adalah Imam yang benar sampai beliau terbunuh rodhiyallahu ‘anhu, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum Khowarij bahwasanya beliau tidak pernah menjadi Imam sedikit pun.  Binasalah mereka sampai akhir zaman.

13.7 Sikap Terhadap Perselisihan di antara para Shohabat

وَأَمَّا قِتَالُهُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- لِطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ وَعَائِشَةَ وَمُعَاوِيَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ- فَقَدْ نَصَّ الْإِمَامُ أَحْمَدُ -رَحِمَهُ اللهُ- عَلَى الْإِمْسَاكِ عَنْ ذَلِكَ، وَجَمِيعِ مَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ مِنْ مُنَازَعَةٍ وَمُنَافَرَةٍ وَخُصُومَةٍ. لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يُزِيلُ ذَلِكَ مِنْ بَيْنِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَمَا قَالَ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ.

Adapun peperangan beliau rodhiyallahu ‘anhu melawan Tholhah (36 H), Az-Zubair (36 H), Aisyah (58 H), dan Mu’awiyah (60 H) rodhiyallahu ‘anhum, maka sesungguhnya Imam Ahmad (241 H) rohimahulloh telah menegaskan untuk menahan diri (imsak) dari membicarakan hal itu, serta menahan diri dari seluruh perselisihan, pertikaian, maupun permusuhan yang terjadi di antara mereka. Hal itu karena Alloh Ta’ala akan melenyapkan hal tersebut dari antara mereka pada hari Qiyamah, sebagaimana firman-Nya Azza wa Jalla: “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, (sedang mereka merasa) bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47).

وَلِأَنَّ عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- كَانَ عَلَى الْحَقِّ فِي قِتَالِهِمْ. لِأَنَّهُ كَانَ يَعْتَقِدُ صِحَّةَ إِمَامَتِهِ عَلَى مَا بَيَّنَّا مِنِ اتِّفَاقِ أَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ الصَّحَابَةِ عَلَى إِمَامَتِهِ وَخِلَافَتِهِ، فَمَنْ خَرَجَ عَنْ ذَلِكَ بَعْدُ وَنَاصَبَهُ حَرْبًا كَانَ بَاغِيًا خَارِجًا عَلَى الْإِمَامِ فَجَازَ قِتَالُهُ، وَمَنْ قَاتَلَهُ مِنْ مُعَاوِيَةَ وَطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ طَلَبُوا ثَأْرَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ خَلِيفَةِ الْحَقِّ الْمَقْتُولِ ظُلْمًا، وَالَّذِينَ قَتَلُوهُ كَانُوا فِي عَسْكَرِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، فَكُلٌّ ذَهَبَ إِلَى تَأْوِيلٍ صَحِيحٍ، فَأَحْسَنُ أَحْوَالِنَا الْإِمْسَاكُ فِي ذَلِكَ، وَرَدُّهُمْ إِلَى اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ- وَهُوَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ وَخَيْرُ الْفَاصِلِينَ، وَالِاشْتِغَالُ بِعُيُوبِ أَنْفُسِنَا وَتَطْهِيرِ قُلُوبِنَا مِنْ أُمَّهَاتِ الذُّنُوبِ وَظَوَاهِرِنَا مِنْ مُوبِقَاتِ الْأُمُورِ.

Dan karena Ali rodhiyallahu ‘anhu berada di atas kebenaran dalam memerangi mereka. Hal itu karena beliau meyakini keabsahan keimamannya sebagaimana yang telah kami jelaskan mengenai kesepakatan ahlul halli wal aqdi dari kalangan Shohabat atas keimaman dan kekholifahannya. Maka barang siapa yang keluar dari hal tersebut setelahnya dan mengobarkan peperangan terhadapnya maka dia adalah baghi (pemberontak) yang keluar dari ketaatan kepada Imam sehingga boleh diperangi. Sementara orang yang memeranginya dari kalangan Mu’awiyah, Tholhah, dan Az-Zubair, mereka menuntut tebusan darah Utsman bin Affan, Kholifah yang benar yang dibunuh secara zholim, sedangkan orang-orang yang membunuhnya berada di dalam pasukan Ali rodhiyallahu ‘anhu. Maka masing-masing memiliki takwil (landasan ijtihad) yang benar. Oleh karena itu, keadaan terbaik bagi kita adalah menahan diri (imsak) dalam masalah tersebut dan mengembalikan urusan mereka kepada Alloh Azza wa Jalla, Dialah seadil-adil Hakim dan sebaik-baik Pemberi Keputusan. Serta menyibukkan diri dengan aib-aib diri kita sendiri dan menyucikan hati kita dari induk-induk dosa serta menyucikan lahiriah kita dari perkara-perkara yang membinasakan.

13.8 Kekholifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan

وَأَمَّا خِلَافَةُ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَثَابِتَةٌ صَحِيحَةٌ بَعْدَ مَوْتِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- وَبَعْدَ خَلْعِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- نَفْسَهُ مِنَ الْخِلَافَةِ وَتَسْلِيمِهَا إِلَى مُعَاوِيَةَ لِرَأْيٍ رَآهُ الْحَسَنُ وَمَصْلَحَةٍ عَامَّةٍ تَحَقَّقَتْ لَهُ، وَهِيَ حَقْنُ دِمَاءِ الْمُسْلِمِينَ وَتَحْقِيقُ قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ فِي الْحَسَنِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: «إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ يُصْلِحُ اللهُ تَعَالَى بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ».

Adapun kekholifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan (60 H) rodhiyallahu ‘anhu adalah tetap lagi sah setelah wafatnya Ali (40 H) rodhiyallahu ‘anhu dan setelah Al-Hasan bin Ali (49 H) rodhiyallahu ‘anhuma melepaskan sendiri jabatan kekholifahan tersebut serta menyerahkannya kepada Mu’awiyah karena pendapat yang dipandang oleh Al-Hasan dan adanya maslahat umum yang terwujud baginya, yaitu menjaga tumpahnya darah kaum Muslimin serta mewujudkan sabda Nabi mengenai Al-Hasan rodhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin (sayyid), semoga melalui dia Alloh Ta’ala akan mendamaikan antara 2 kelompok besar (kaum Muslimin).”

فَوَجَبَتْ إِمَامَتُهُ بِعَقْدِ الْحَسَنِ لَهُ، فَسُمَّى عَامُهُ عَامَ الْجَمَاعَةِ، لِارْتِفَاعِ الْخِلَافِ بَيْنَ الْجَمِيعِ وَاتِّبَاعِ الْكُلِّ لِمُعَاوِيَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مُنَازِعٌ ثَالِثٌ فِي الْخِلَافَةِ.

Maka wajiblah keimamannya dengan adanya akad dari Al-Hasan untuknya, sehingga tahun tersebut dinamakan Tahun Persatuan (‘Amul Jama’ah), karena hilangnya perselisihan di antara semua pihak dan dipatuhinya Mu’awiyah rodhiyallahu ‘anhu oleh semua orang, dikarenakan tidak ada lagi pihak ketiga yang memperebutkan kekholifahan.

وَخِلَافَتُهُ مَذْكُورَةٌ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ، وَهُوَ مَا رَوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «تَدُورُ رَحَى الْإِسْلَامِ خَمْسًا وَثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ أَوْ سَبْعًا وَثَلَاثِينَ».

Dan kekholifahannya telah disebutkan dalam sabda Nabi , yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi bahwasanya beliau bersabda: “Roda Islam akan berputar selama 35 tahun, atau 36 tahun, atau 37 tahun.”

وَالْمُرَادُ بِالرَّحَى، فِي هَذَا الْحَدِيثِ الْقُوَّةُ فِي الدِّينِ وَالْخَمْسُ السَّنِينَ الْفَاضِلَةُ مِنَ الثَّلَاثِينَ فَهِيَ مِنْ جُمْلَةِ خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ إِلَى تَمَامِ تِسْعِ عَشْرَةَ سَنَةً وَشُهُورٍ، لِأَنَّ الثَّلَاثِينَ كَمُلَتْ بِعَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- كَمَا بَيَّنَّا.

Maksud dari kata “Ar-Roha” (roda/alat giling) dalam Hadits ini adalah kekuatan dalam agama dan sisa 5 tahun yang utama dari 30 tahun (masa khilafah nubuwwah), maka hal itu termasuk dalam masa kekholifahan Mu’awiyah hingga genap 19 tahun dan beberapa bulan, karena masa 30 tahun telah sempurna dengan masa kepemimpinan Ali rodhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang telah kami jelaskan.

 

Bab 14: Keutamaan Keluarga Nabi dan Shohabat

14.1 Kemuliaan Ummahatul Mu’minin dan Fathimah

وَنُحْسِنُ الظَّنَّ بِنِسَاءِ النَّبِيِّ ﷺ أَجْمَعِينَ، وَنَعْتَقِدُ أَنَّهُنَّ أُمَّهَاتُ الْمُؤْمِنِينَ.

Kami berprasangka baik kepada seluruh istri Nabi , dan kami meyakini bahwa mereka adalah Ummahatul Mu’minin (Ibunda kaum Mu’min).

وَأَنَّ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا- أَفْضَلُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ وَبَرَّأَهَا اللهُ تَعَالَى مِنْ قَوْلِ الْمُلْحِدِينَ فِيهَا بِمَا يُقْرَأُ وَيُتْلَى إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Dan bahwasanya Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha adalah wanita paling utama di alam semesta, Alloh Ta’ala telah membersihkan namanya dari tuduhan orang-orang sesat melalui ayat yang senantiasa dibaca dan ditilawah sampai hari pembalasan (Qiyamah).

وَكَذَلِكَ فَاطِمَةُ بِنْتُ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ -وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا وَعَنْ بَعْلِهَا وَأَوْلَادِهَا- أَفْضَلُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ، وَيَجِبُ مُوَالَاتُهَا وَمُحَبَّتُهَا كَمَا يَجِبُ ذَلِكَ فِي حَقِّ أَبِيهَا ﷺ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي، يُرِيبُنِي مَا يُرِيبُهَا».

Demikian pula Fathimah (11 H) putri Nabi kita Muhammad -semoga Alloh Ta’ala meridhoinya, suaminya, dan anak-anaknya- adalah wanita paling utama di alam semesta. Wajib memberikan loyalitas dan rasa cinta kepadanya sebagaimana wajibnya hal itu terhadap ayahnya . Nabi bersabda: “Fathimah adalah bagian dariku, apa yang meragukannya (mengganggunya) maka itu juga menggangguku.”

14.2 Sanjungan Alloh Terhadap Muhajirin dan Anshor

فَهَذَا الْقَرْنُ هُمُ الَّذِينَ ذَكَرَهُمُ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ- فِي كِتَابِهِ وَأَثْنَى عَلَيْهِمْ، فَهُمُ الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ وَالْأَنْصَارُ الَّذِينَ صَلَّوْا إِلَى الْقِبْلَتَيْنِ.

Maka generasi ini adalah mereka yang telah disebut oleh Alloh di dalam Kitab-Nya dan dipuji oleh-Nya. Mereka adalah kaum Muhajirin yang awal dan kaum Anshor yang pernah Sholat menghadap 2 qiblat.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيهِمْ: ﴿لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى.

Alloh Ta’ala berfirman mengenai mereka: “Tidak sama di antara kalian orang yang menginfakkan hartanya sebelum kemenangan (Makkah) dan berperang. Mereka itu lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan hartanya setelah itu dan berperang. Dan masing-masing Alloh janjikan pahala yang terbaik (Jannah).” (QS. Al-Hadid: 10).

وَقَالَ -جَلَّ وَعَلَا-: ﴿وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا.

Dia berfirman: “Alloh telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan mengerjakan amal sholih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka setelah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (QS. An-Nur: 55).

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا ... إِلَى قَوْلِهِ ﴿يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ.

Alloh Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang bersama dengannya (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud... (sampai pada firman-Nya) sehingga menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Alloh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) mereka.” (QS. Al-Fath: 29).

رَوَى جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ فِي قَوْلِهِ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ فِي الْغَارِ وَالْعَرِيشِ أَبُو بَكْرٍ ﴿أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ﴿رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ ﴿تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ﴿يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا طَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ حَوَارِيَا رَسُولِ اللهِ ﷺ ﴿سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ سَعْدٌ وَسَعِيدٌ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ هَؤُلَاءِ الْعَشَرَةُ ﴿ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ يَعْنِي مُحَمَّدًا ﷺ ﴿فَآزَرَهُ بِأَبِي بَكْرٍ ﴿فَاسْتَغْلَظَ بِعُمَرَ ﴿فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ بِعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ ﴿يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ بِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ﴿لِيَغِيظَ بِهِمْ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَأَصْحَابِهِ ﴿الْكُفَّارَ.

Ja’far bin Muhammad (148 H) meriwayatkan dari ayahnya mengenai firman Alloh : “Muhammad adalah Rosululloh dan orang-orang yang bersama dengannya.” maksudnya dalam keadaan susah maupun senang, di dalam gua maupun di gubuk, yaitu Abu Bakr (13 H). “Keras terhadap orang-orang kafir.” yaitu Umar bin Al-Khotthob (23 H). “Berkasih sayang sesama mereka.” yaitu Utsman bin Affan (35 H). “Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud.” yaitu Ali bin Abi Tholib (40 H). “Mereka mencari karunia Alloh dan keridhoan-Nya.” yaitu Tholhah (36 H) dan Az-Zubair (36 H) yang merupakan penolong setia Rosululloh . “Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” yaitu Sa’ad (55 H), Said (51 H), Abdurrohman bin ‘Auf (32 H), dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarroh (18 H); merekalah 10 orang itu. “Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya.” maksudnya Muhammad , “lalu tunas itu menjadikannya kuat.” melalui Abu Bakr, “lalu menjadi besar.” melalui Umar, “kemudian tegak lurus di atas batangnya.” melalui Utsman bin Affan, “sehingga menyenangkan hati penanam-penanamnya.” melalui Ali bin Abi Tholib, “karena Alloh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) mereka.” maksudnya dengan Nabi dan para Shohabat beliau.

14.3 Kewajiban Menahan Diri Dari Mencela Shohabat

وَاتَّفَقَ أَهْلُ السُّنَّةِ عَلَى وُجُوبِ الْكَفِّ عَمَّا شَجَرَ بَيْنَهُمْ، وَالْإِمْسَاكِ عَنْ مَسَاوِئِهِمْ، وَإِظْهَارِ فَضَائِلِهِمْ وَمَحَاسِنِهِمْ، وَتَسْلِيمِ أَمْرِهِمْ إِلَى اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ- عَلَى مَا كَانَ وَجَرَى مِنِ اخْتِلَافِ عَلِيٍّ وَطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ وَعَائِشَةَ وَمُعَاوِيَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ- عَلَى مَا قَدَّمْنَا بَيَانَهُ، وَإِعْطَائِهِ كُلِّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ.

Ahli Sunnah telah bersepakat atas kewajiban menahan diri dari membicarakan perselisihan yang terjadi di antara mereka, menahan diri dari menyebutkan keburukan-keburukan mereka, sebaliknya menampakkan keutamaan-keutamaan dan kebaikan-kebaikan mereka. Serta menyerahkan urusan mereka kepada Alloh atas apa yang telah terjadi berupa perselisihan antara Ali, Tholhah, Az-Zubair, Aisyah, dan Mu’awiyah rodhiyallahu ‘anhum sebagaimana penjelasan kami sebelumnya, serta memberikan hak keutamaan kepada setiap pemilik keutamaan.

كَمَا قَالَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.

Sebagaimana firman Alloh : “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Robb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Robb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 10).

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

Alloh Ta’ala berfirman: “Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagi kalian apa yang kalian usahakan; dan kalian tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh: 134).

وَقَالَ ﷺ: «إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا». وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: «إِيَّاكُمْ وَمَا شَجَرَ بَيْنَ أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ».

Beliau bersabda: “Jika para Shohabatku disebut maka tahanlah diri kalian (jangan mencela).”

Dalam lafazh lain: “Waspadalah kalian terhadap perselisihan di antara Shohabatku, karena seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (cakupan tangan) pun dari mereka, bahkan tidak pula setengahnya.”

وَقَالَ ﷺ: «طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَمَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي»

Beliau bersabda: “Beruntunglah bagi orang yang melihatku dan orang yang melihat orang yang telah melihatku.”

وَقَالَ ﷺ: «لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَمَنْ سَبَّهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ».

Beliau bersabda: “Janganlah kalian mencela Shohabatku, karena barang siapa mencela mereka maka baginya laknat Alloh.”

وَقَالَ ﷺ فِي رِوَايَةِ أَنَسٍ: «إِنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- اخْتَارَنِي وَاخْتَارَ لِي أَصْحَابِي، فَجَعَلَهُمْ أَنْصَارِي، وَجَعَلَهُمْ أَصْهَارِي، وَأَنَّهُ سَيَجِيءُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يَنْقُصُونَهُمْ، أَلَا فَلَا تُوَاكِلُوهُمْ، أَلَا فَلَا تُشَارِبُوهُمْ، أَلَا فَلَا تُنَاكِحُوهُمْ، أَلَا فَلَا تُصَلُّوا مَعَهُمْ، أَلَا فَلَا تُصَلُّوا عَلَيْهِمْ، عَلَيْهِمْ حَلَّتِ اللَّعْنَةُ».

Beliau bersabda dalam riwayat Anas (93 H): “Sesungguhnya Alloh memilihku dan memilihkan Shohabat bagiku, lalu Dia menjadikan mereka sebagai penolongku (anshor) dan menjadikannya sebagai kerabatku melalui pernikahan (ash-har). Sesungguhnya akan datang di akhir zaman suatu kaum yang merendahkan mereka. Ingatlah, janganlah kalian makan bersama mereka, janganlah kalian minum bersama mereka, janganlah kalian menikah dengan mereka, janganlah kalian Sholat bersama mereka, dan janganlah kalian mensholati janazah mereka, atas merekalah laknat itu turun.”

وَرَوَى جَابِرٌ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ».

Jabir (78 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, beliau berkata: Rosululloh bersabda: “Tidak akan masuk Neraka seorang pun dari mereka yang membaiat di bawah pohon (Baiatur Ridwan).”

وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «اطَّلَعَ اللهُ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ يَا أَهْلَ بَدْرٍ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ».

Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, beliau berkata: Rosululloh bersabda: “Alloh memperhatikan para peserta Perang Badr lalu berfirman: ‘Wahai para peserta Perang Badr, berbuatlah sesuka kalian karena Aku sungguh telah mengampuni kalian.’”

وَرَوَى ابْنُ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّمَا أَصْحَابِي مِثْلُ النُّجُومِ، فَأَيُّهُمْ أَخَذْتُمْ بِقَوْلِهِ اهْتَدَيْتُمْ».

Ibnu Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, beliau berkata: Rosululloh bersabda: “Hanyalah para Shohabatku itu seperti bintang-bintang, siapa pun di antara mereka yang kalian ambil perkataannya maka kalian akan mendapatkan petunjuk.”

وَعَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «مَنْ مَاتَ مِنْ أَصْحَابِي بِأَرْضٍ جُعِلَ شَفِيعًا لِأَهْلِ تِلْكَ الْأَرْضِ».

Dari Ibnu Buroidah (105 H) dari ayahnya rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwasanya Nabi bersabda: “Barang siapa di antara Shohabatku yang wafat di suatu bumi (daerah), maka dia akan dijadikan sebagai pemberi syafaat bagi penduduk bumi tersebut.”

وَقَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ -رَحِمَهُ اللهُ-: مَنْ نَطَقَ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ بِكَلِمَةٍ فَهُوَ صَاحِبُ هَوًى.

Sufyan bin ‘Uyainah (198 H) rohimahulloh berkata: “Barang siapa yang berucap buruk tentang para Shohabat Rosululloh meskipun satu kalimat, maka dia adalah pengikut hawa nafsu.”

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini