[PDF] [3 of 5] AL-GHUN-YAH - Aqidah Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani (561)
Bab 10: Hisab,
Mizan, dan Kekekalan Jannah serta Naar
10.1 Perhitungan
Amal (Hisab) dan Timbangan (Mizan)
(فَصْلٌ)
وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ السُّنَّةِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُحَاسِبُ عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَيُدْنِيهِ مِنْهُ فَيَضَعُ كَنَفَهُ عَلَيْهِ حَتَّى يَسْتُرَهُ
مِنَ النَّاسِ. لِمَا رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «يُؤْتَى بِالْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامِ
فَيُدْنِيهِ اللهُ تَعَالَى مِنْهُ، فَيَضَعُ كَنَفَهُ عَلَيْهِ حَتَّى يَسْتُرَهُ
مِنَ النَّاسِ فَيَقُولُ: عَبْدِي أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟
مَرَّتَيْنِ، فَيَقُولُ: نَعَمْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ كُلِّهَا
فَرَأَى نَفْسَهُ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ
فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ».
(Fashl) Ahli Sunnah meyakini bahwa Alloh Ta’ala
menghisab hamba-Nya yang Mu’min pada hari Qiyamah. Dia mendekatkannya
kepada-Nya lalu meletakkan penutup-Nya (kanaf) atasnya hingga Dia
menutupinya dari pandangan manusia. Berdasarkan riwayat Abdullah bin Umar (73
H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mendengar Rosululloh ﷺ bersabda: “Seorang Mu’min didatangkan
pada hari Qiyamah lalu Alloh Ta’ala mendekatkannya kepada-Nya, Dia meletakkan
penutup-Nya atasnya hingga menutupi dia dari manusia, lalu Dia berfirman:
‘Wahai hamba-Ku, apakah engkau mengenali dosa ini, apakah engkau mengenali dosa
itu?’ sebanyak 2 kali. Hamba itu menjawab: ‘Iya Robb-ku’, sampai ketika Alloh
telah membuatnya mengakui seluruh dosanya hingga dia merasa dirinya akan
binasa, Alloh berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupinya bagimu di dunia,
dan Aku mengampuninya bagimu hari ini.’”
وَمَعْنَى
الْمُحَاسَبَةِ: تَعْرِيفُ اللهِ تَعَالَى عَبْدَهُ بِمَقَادِيرِ ثَوَابِ الْأَعْمَالِ
وَعَذَابِهِ بِقِرَاءَةِ سَيِّئَاتِهِ أَوْ حَسَنَاتِهِ وَمَا لَهُ وَمَا عَلَيْهِ.
وَقَدْ أَنْكَرَتِ الْمُعَطِّلَةُ الْمُحَاسَبَةَ، وَقَدْ كَذَّبَهُمُ اللهُ تَعَالَى
بِقَوْلِهِ: ﴿إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ * ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا
حِسَابَهُمْ﴾.
Makna Al-Muhasabah
adalah: Alloh Ta’ala memberitahu hamba-Nya tentang kadar pahala amal
perbuatan dan siksanya dengan membacakan keburukan-keburukannya atau
kebaikan-kebaikannya, serta apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi kewajibannya.
Kaum Mu’athilah telah mengingkari Muhasabah, dan Alloh Ta’ala telah
mendustakan mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya kepada Kami-lah
kembalinya mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.”
(QS. Al-Ghosyiyah: 25-26).
(فَصْلٌ)
وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ السُّنَّةِ أَنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مِيزَانًا يَزِنُ فِيهِ الْحَسَنَاتِ
وَالسَّيِّئَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَهُ كَفَّتَانِ وَلِسَانٌ. وَقَدْ أَنْكَرَتِ
الْمُعْتَزِلَةُ مَعَ الْمُرْجِئَةِ وَالْخَوَارِجِ ذَلِكَ، فَقَالُوا: إِنَّ مَعْنَى
الْمِيزَانِ: الْعَدْلُ دُونَ مُوَازَنَةِ الْأَعْمَالِ، وَفِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ
رَسُولِهِ تَكْذِيبُهُمْ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ
فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا
بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ﴾، وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ * فَهُوَ
فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ * وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ * فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾.
(Fashl) Ahli Sunnah meyakini bahwa Alloh Ta’ala
memiliki Mizan (timbangan) untuk menimbang kebaikan-kebaikan dan
keburukan-keburukan pada hari Qiyamah. Ia memiliki 2 daun timbangan dan lisan.
Kaum Mu’tazilah bersama kaum Murji’ah dan Khowarij mengingkari hal itu. Mereka
berkata: “Sesungguhnya makna Mizan adalah keadilan tanpa adanya penimbangan
amal.” Di dalam Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya terdapat pendustaan bagi
mereka. Alloh Ta’ala berfirman: “Kami akan memasang timbangan yang
tepat pada hari Qiyamah, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun.
Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun Kami pasti mendatangkan
(pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS.
Al-Anbiya: 47).
Alloh Ta’ala
berfirman: “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka
dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan
timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.” (QS.
Al-Qori’ah: 6-9).
وَالْعَدْلُ
لَا يُوصَفُ بِالْخِفَّةِ وَالثِّقَلِ، وَإِنَّمَا هُوَ بِيَدِ الرَّحْمَنِ جَلَّ جَلَالُهُ؛
لِأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَتَوَلَّى حِسَابَهُمْ، لِمَا رَوَى النَّوَّاسُ بْنُ سَمْعَانَ
الْكِلَابِيُّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: سَمَعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «الْمِيزَانُ
بِيَدِ الرَّحْمَنِ -عَزَّ وَجَلَّ-، يَرْفَعُ أَقْوَامًا وَيَضَعُ آخَرِينَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ». وَقِيلَ إِنَّهُ بِيَدِ جِبْرَائِيلَ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- لِمَا
رُوِيَ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ: إِنَّ جِبْرَائِيلَ
-عَلَيْهِ السَّلَامُ- صَاحِبُ الْمِيزَانِ، فَيَقُولُ لَهُ رَبُّهُ زِنْ يَا جِبْرِيلُ
بَيْنَهُمْ فَيَرْجَحُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ.
Keadilan tidaklah
disifati dengan ringan atau berat. Sesungguhnya Mizan itu berada di tangan
Ar-Rohman ﷻ karena
Dialah yang mengurusi perhitungan mereka. Berdasarkan riwayat Nawwas bin Sam’an
Al-Kilabi (wafat setelah 50 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku
mendengar Rosululloh ﷺ
bersabda: “Mizan itu di tangan Ar-Rohman ﷻ, Dia mengangkat satu kaum dan merendahkan
kaum yang lain pada hari Qiyamah.” Dikatakan pula bahwa ia berada di tangan Jibril ‘alaihis salam.
Berdasarkan riwayat Hudzaifah bin Al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhuma,
beliau berkata: “Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam adalah pemegang Mizan,
lalu Robb-nya berfirman kepadanya: ‘Timbanglah wahai Jibril di antara mereka’,
maka sebagian mereka lebih berat timbangannya daripada yang lain.”
وَرَوَى
عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
«يُوضَعُ الْمِيزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُؤْتَى بِالرَّجُلِ فَيُوضَعُ فِي
كَفَّةِ الْمِيزَانِ، وَيُوضَعُ مَا أَحْصَى مِنْ عَمَلِهِ فِي كَفَّةٍ، فَيَمِيلُ
بِهِ الْمِيزَانُ، فَيَبْعَثُ اللهُ بِهِ إِلَى النَّارِ فَإِذَا أَدْبَرَ بِهِ إِذَا
صَائِحٌ يَصِيحُ مِنْ عِنْدِ الرَّحْمَنِ: لَا تَعْجَلُوا لَا تَعْجَلُوا، فَإِنَّهُ
قَدْ بَقَى لَهُ، فَيُؤْتَى بِشَيْءٍ فِيهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فَيُوضَعُ مَعَ
الرَّجُلِ فِي كَفَّةِ حَسَنَاتِهِ حَتَّى يَمِيلُ بِهِ الْمِيزَانُ، فَيُؤْمَرُ بِهِ
إِلَى الْجَنَّةِ».
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu
‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ
bersabda: “Mizan diletakkan pada hari Qiyamah, lalu didatangkan seorang
lelaki dan diletakkan di satu daun timbangan, dan diletakkan apa yang tercatat
dari amalnya di daun lainnya, maka timbangan miring (memberatkannya pada
keburukan). Alloh memerintahkan membawanya ke Neraka, namun ketika dia dibawa
pergi, tiba-tiba ada penyeru yang berseru dari sisi Ar-Rohman: ‘Jangan
terburu-buru, jangan terburu-buru, karena sesungguhnya masih ada miliknya.’
Lalu didatangkan sesuatu yang di dalamnya tertulis ‘Laa ilaaha illalloh’, lalu
diletakkan bersama lelaki itu di daun timbangan kebaikannya hingga timbangan
itu miring (memberatkan kebaikannya), maka dia diperintahkan menuju Jannah.”
وَفِي حَدِيثٍ
آخَرَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّهُ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِلَى الْمِيزَانِ ثُمَّ يُؤْتَى بِتِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ
الْبَصَرِ فِيهَا كُلُّهَا سَيِّئَاتُهُ وَخَطِيئَاتُهُ فَتَرْجَحُ سَيِّئَاتُهُ عَلَى
حَسَنَاتِهِ فَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى النَّارِ، فَإِذَا أَدْبَرَ بِهِ إِذَا صَائِحٌ
يَصِيحُ مِنْ عِنْدِ الرَّحْمَنِ لَا تَعْجَلُوا لَا تَعْجَلُوا فَقَدْ بَقَى لَهُ،
فَيُؤْتَى بِمِثْلِ رَأْسِ الْإِبْهَامِ، وَأَمْسَكَ عَلَى النِّصْفِ مِنْهَا، فِيهِ
شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، فَيُوضَعُ فِي كَفَّةِ
حَسَنَاتِهِ فَتَثْقُلُ حَسَنَاتُهُ عَلَى سَيِّئَاتِهِ، فَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ.
وَفِي لَفْظٍ
آخَرَ: فَيُخْرَجُ لَهُ بِقِرْطَاسٍ مِثْلِ هَذَا -وَأَمْسَكَ عَلَى إِبْهَامِهِ- فِيهِ:
شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ... إِلَى
آخِرِ الْحَدِيثِ.
وَقِيلَ
إِنَّ الصَّنْجَ يَوْمَئِذٍ مَثَاقِيلُ الذَّرِّ وَالْخَرْدَلِ تَكُونُ الْحَسَنَاتُ
فِي صُورَةٍ حَسَنَةٍ تُطْرَحُ فِي كَفَّةِ النُّورِ فَيَثْقُلُ بِهَا الْمِيزَانُ
بِرَحْمَةِ اللهِ وَتَكُونُ السَّيِّئَاتُ فِي صُورَةٍ سَيِّئَةٍ تُطْرَحُ فِي كَفَّةِ
الظُّلْمَةِ فَيَخَفُّ بِهَا الْمِيزَانُ بِعَدْلِ اللهِ تَعَالَى.
Dalam Hadits lain dari
Nabi ﷺ, beliau
bersabda: “Sesungguhnya didatangkan seorang lelaki pada hari Qiyamah ke
Mizan, kemudian didatangkan 99 gulungan catatan (sijill), setiap gulungan
sejauh mata memandang, di dalamnya berisi seluruh keburukan dan kesalahannya.
Maka keburukannya lebih berat daripada kebaikannya sehingga dia diperintahkan
menuju Neraka. Ketika dia dibawa pergi, tiba-tiba ada penyeru berseru dari sisi
Ar-Rohman: ‘Jangan terburu-buru, jangan terburu-buru, sungguh masih ada
miliknya.’ Lalu didatangkan seukuran ujung jempol -beliau memegang separuhnya-
yang di dalamnya terdapat Syahadat ‘Laa ilaaha illalloh dan bahwasanya aku
utusan Alloh.’ Maka diletakkan di daun timbangan kebaikannya sehingga
kebaikannya lebih berat daripada keburukannya, maka dia diperintahkan menuju
Jannah.”
Dalam lafazh lain: “Dikeluarkan
baginya sebuah kartu (qirthos) seperti ini -beliau memegang jempolnya- yang
berisi Syahadat ‘Laa ilaaha illalloh wa anna Muhammadar Rosululloh.’..”
hingga akhir Hadits.
Dikatakan bahwa batu
timbangannya pada hari itu adalah seberat dzarroh dan biji sawi.
Kebaikan nampak dalam rupa yang baik dilemparkan ke daun timbangan cahaya
sehingga Mizan menjadi berat dengan rohmat Alloh. Sedangkan keburukan nampak
dalam rupa yang buruk dilemparkan ke daun timbangan kegelapan sehingga Mizan
menjadi ringan dengan keadilan Alloh Ta’ala.
وَعَلَامَةُ
تَثْقِيلِ الْمِيزَانِ ارْتِفَاعُهَا، وَعَلَامَةُ خِفَّتِهَا انْحِطَاطُهَا بِخِلَافِ
مَوَازِينِ الدُّنْيَا، وَقَدْ قِيلَ مِثْلُ مَوَازِينِ الدُّنْيَا. وَسَبَبُ تَثْقِيلِهَا
الْإِيمَانُ وَقَوْلُ الشَّهَادَتَيْنِ، وَسَبَبُ خِفَّتِهَا الشِّرْكُ بِاللهِ -عَزَّ
وَجَلَّ-، فَإِذَا ارْتَفَعَتْ أُدْخِلَ صَاحِبُهَا الْجَنَّةَ لِأَنَّهَا عَالِيَةٌ،
وَإِذَا خَفَّتْ أُدْخِلَ صَاحِبُهَا النَّارَ الْهَاوِيَةَ، لِأَنَّهَا فِي التُّخُومِ
أَسْفَلَ السَّافِلِينَ. كَمَا قَالَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ * فَهُوَ
فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ﴾ أَيْ فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ. ﴿وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ * فَأُمُّهُ
هَاوِيَةٌ﴾ أَيْ أَصْلُهُ وَمَأْوَاهُ وَمَرْجِعُهُ نَارٌ
حَامِيَةٌ، وَهِيَ هَاوِيَةٌ.
Tanda beratnya Mizan
adalah naiknya daun timbangan, dan tanda ringannya adalah turunnya daun
timbangan, berbeda dengan timbangan dunia; namun ada yang berpendapat seperti
timbangan dunia. Sebab beratnya Mizan adalah Iman dan ucapan dua kalimat
Syahadat, sedangkan sebab ringannya adalah kesyirikan kepada Alloh ﷻ. Jika ia naik maka pemiliknya dimasukkan
ke Jannah karena kedudukannya yang tinggi. Jika ia ringan maka pemiliknya
dimasukkan ke Naar Hawiyah karena ia berada di kerak bumi paling bawah (asfala
safilin). Sebagaimana firman Alloh ﷻ: “Dan adapun orang-orang yang berat
timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS.
Al-Qori’ah: 6-7), yaitu di Jannah yang tinggi.
“Dan adapun
orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah
Neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qori’ah: 8-9), yaitu asalnya, tempat
kembalinya, dan tempat menetapnya adalah Naar yang sangat panas, itulah
Hawiyah.
وَالنَّاسُ
فِي مُوَازَنَةِ الْأَعْمَالِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: مِنْهُمْ مَنْ تَرْجَحُ حَسَنَاتُهُ
عَلَى سَيِّئَاتِهِ، فَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَرْجَحُ سَيِّئَاتُهُ
عَلَى حَسَنَاتِهِ، فَيُؤْمَرُ بِهِ إِلَى النَّارِ. وَمِنْهُمْ مَنْ لَا تَرْجَحُ
إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى، فَهُمْ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ، ثُمَّ يَنَالُهُمُ
اللهُ بِرَحْمَتِهِ إِذَا شَاءَ فَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ. فَهُوَ قَوْلُهُ -عَزَّ
وَجَلَّ-: ﴿وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ﴾. وَالَّذِي يُوزَنُ صَحَائِفُ أَعْمَالِهِمْ
عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنْ تِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ سِجِلًّا وَطَرِيقُ ذَلِكَ النَّقْلُ
وَالسَّمْعُ.
Manusia dalam penimbangan
amal ada 3 golongan: pertama, yang kebaikannya lebih berat daripada
keburukannya maka diperintahkan ke Jannah. Kedua, yang keburukannya
lebih berat daripada kebaikannya maka diperintahkan ke Naar. Ketiga,
yang kebaikannya dan keburukannya sama berat maka mereka adalah Ash-habul A’rof,
kemudian Alloh merohmati mereka jika Dia berkehendak lalu memasukkan mereka ke
Jannah. Itulah firman-Nya ﷻ: “Dan di atas A’rof (tempat yang tinggi) itu ada para
lelaki.” (QS. Al-A’rof: 46)
Yang ditimbang adalah
lembaran catatan amal mereka sebagaimana yang kami sebutkan tentang 99 gulungan
catatan (sijill), dan cara mengetahui hal itu adalah melalui dalil naqli
(Al-Qur’an dan Sunnah) serta pendengaran.
10.2 Ketetapan
Akhir Penduduk Jannah dan Naar
وَأَمَّا
الْمُقَرَّبُونَ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ:
«أَنَّهُ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَمَعَ كُلِّ
وَاحِدٍ مِنْهُمْ سَبْعُونَ ألفًا» عَلَى نَصِّ الْحَدِيثِ الْمَشْهُورِ. وَأَمَّا
الْكَافِرُونَ فَيَدْخُلُونَ النَّارَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَمِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ
يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ثُمَّ يُؤْمَرُ بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ عَلَى مَا تَقَدَّمَ.
وَمِنْهُمْ مَنْ يُنَاقَشُ ثُمَّ أَمْرُهُ إِلَى اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ- إِنْ شَاءَ
أَمَرَ بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ أَوْ إِلَى النَّارِ.
Adapun orang-orang
muqorrobin maka masuk Jannah tanpa hisab. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits: “Bahwasanya
akan masuk Jannah 70.000 orang tanpa hisab, dan bersama setiap 1 orang dari
mereka ada 70.000 orang lagi”” berdasarkan nash Hadits yang masyhur.
Adapun orang-orang kafir
maka masuk Neraka tanpa hisab. Di antara kaum Mu’min ada yang dihisab dengan
hisab yang mudah (hisaban yasiro) kemudian diperintahkan ke Jannah
sebagaimana penjelasan sebelumnya. Di antara mereka ada yang didebat hisabnya (munaqosyah),
kemudian urusannya terserah Alloh ﷻ; jika Dia berkehendak maka diperintahkan
ke Jannah atau ke Neraka.
قَالَ اللهُ
-عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿فأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ
* فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا * وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا﴾، وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي
عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا * اقْرَأْ
كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا﴾.
Alloh ﷻ berfirman: “Adapun orang yang diberikan
kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang
mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan
gembira.” (QS. Al-Insyiqoq: 7-9)
Dia ﷻ berfirman: “Dan setiap manusia telah
Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.
Dan Kami keluarkan baginya pada hari Qiyamah sebuah kitab yang dijumpainya
dalam keadaan terbuka. (Dikatakan kepadanya): ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu
sendiri pada hari ini sebagai penghisab terhadapmu.’” (QS. Al-Isro:
13-14).
وَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ فِي حَدِيثِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: «إِنَّ اللهَ يُحَاسِبُ
كُلَّ الْخَلْقِ إِلَّا مَنْ أَشْرَكَ بِاللهِ، فَإِنَّهُ لَا يُحَاسَبُ وَيُؤْمَرُ
بِهِ إِلَى النَّارِ».
Nabi ﷺ bersabda dalam Hadits Ali (40 H) rodhiyallahu
‘anhu: “Sesungguhnya Alloh menghisab seluruh makhluk kecuali orang yang
menyekutukan Alloh, maka dia tidak dihisab dan langsung diperintahkan ke Neraka.”
Bab 11: Keimanan
terhadap Jannah dan Naar yang Telah Diciptakan
11.1 Penetapan
Bahwa Jannah dan Naar Adalah Makhluk yang Kekal
(فَصْلٌ)
وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ السُّنَّةِ أَنَّ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مَخْلُوقَتَانِ، وَهُمَا
الدَّارَانِ أَعَدَّهُمَا اللهُ تَعَالَى.
(Fashl) Ahli Sunnah meyakini bahwa Jannah dan Naar adalah
makhluk (sudah diciptakan), dan keduanya adalah 2 negeri yang telah disiapkan
oleh Alloh Ta’ala.
إِحْدَاهُمَا
لِلنَّعِيمِ وَالثَّوَابِ لِأَهْلِ الطَّاعَةِ وَالْإِيمَانِ، وَالْأُخْرَى لِلْعِقَابِ
وَالنَّكَالِ لِأَهْلِ الْمَعَاصِي وَالطُّغْيَانِ، وَهُمَا مُنْذُ خَلَقَهُمَا اللهُ
تَعَالَى بَاقِيَتَانِ لَا تَفْنِيَانِ أَبَدًا، وَهِيَ الْجَنَّةُ الَّتِي كَانَ فِيهَا
آدَمُ وَحَوَّاءُ -عَلَيْهِمَا السَّلَامُ- وَإِبْلِيسُ اللَّعِينُ، ثُمَّ أُخْرِجَا
مِنْهَا، الْقِصَّةُ الْمَشْهُورَةُ.
Salah satunya adalah
untuk ni’mat dan pahala bagi ahli ketaatan dan Iman, sedangkan yang lainnya
adalah untuk siksaan dan balasan bagi pelaku maksiat dan kezholiman. Keduanya
sejak diciptakan oleh Alloh Ta’ala bersifat kekal dan tidak akan sirna
selama-lamanya. Itulah Jannah yang dahulu ditempati oleh Adam dan Hawa ‘alaihimas
salam serta Iblis yang terlaknat, kemudian mereka berdua dikeluarkan
darinya, sebagaimana kisah yang masyhur.
وَقَدْ أَنْكَرَتِ
الْمُعْتَزِلَةُ ذَلِكَ، فَأَمَّا الْجَنَّةُ فَلَا يَدْخُلُونَهَا، وَأَمَّا النَّارُ
فَلَعَمْرِي هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ مُخَلَّدُونَ لِإِنْكَارِهِمْ وَلِحُكْمِهِمْ بِذَلِكَ
لِلْمُؤْمِنِ الْمُوَحِّدِ الْمُطِيعِ لِلَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ- سَبْعِينَ سَنَةً بِكَبِيرَةٍ
وَاحِدَةٍ، وَفِي كِتَابِ اللهِ الْعَزِيزِ -عَزَّ وَجَلَّ- وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ
ﷺ تَكْذِيبُهُمْ.
Sungguh kaum Mu’tazilah
telah mengingkari hal itu. Adapun Jannah, maka mereka tidak akan memasukinya,
sedangkan Naar, demi umurku mereka akan kekal di dalamnya selama-lamanya karena
pengingkaran mereka dan karena hukum mereka yang menetapkan kekalnya seorang Mu’min
muwahhid (yang bertauhid) yang telah taat kepada Alloh ﷻ selama 70 tahun hanya karena 1 dosa besar.
Di dalam Kitabulloh yang mulia ﷻ dan Sunnah Rosululloh ﷺ terdapat pendustaan bagi mereka.
قَالَ اللهُ
-عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾.
Alloh ﷻ berfirman: “Dan Jannah yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS.
Aal Imron: 133).
وَقَالَ
-عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ﴾ وَمَا كَانَ مُعَدًّا كَانَ مَوْجُودًا يَعْلَمُهُ
كُلُّ عَاقِلٍ فَعُلِمَ أَنَّهُمَا مَخْلُوقَتَانِ.
Dan Dia ﷻ berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari
api Naar yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS. Aal Imron: 131).
Sesuatu yang sudah
disediakan berarti sudah ada, hal itu diketahui oleh setiap orang yang berakal,
maka diketahuilah bahwa keduanya adalah makhluk (sudah diciptakan).
وَقَالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: «دَخَلْتُ
الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِنَهَرِي يَجْرِي، حَافَتَاهُ خِيَامُ اللُّؤْلُؤِ، فَضَرَبْتُ
بِيَدِي إِلَى مَاءٍ يَجْرِي إِذْ مِسْكٌ أَذْفَرُ، قُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا،
قَالَ: هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِي أَعْطَاكَ اللهُ تَعَالَى»
Rosululloh ﷺ bersabda dalam Hadits Anas bin Malik (93
H) rodhiyallahu ‘anhu: “Aku masuk ke Jannah, tiba-tiba aku mendapati
sungaiku mengalir, kedua tepiannya adalah kemah-kemah dari mutiara. Aku
memukulkan tanganku ke air yang mengalir itu, ternyata ia adalah misk (minyak
wangi) yang sangat harum. Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, apa ini?’ Dia menjawab:
‘Ini adalah Al-Kautsar yang diberikan Alloh Ta’ala kepadamu.’”
وَقَالَ
ﷺ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: حِينَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ
اللهِ: أَخْبِرْنَا عَنِ الْجَنَّةِ مَا بِنَاؤُهَا؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ:
«لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ، وَبِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ،
وَحَصَاهَا الْيَاقُوتُ وَاللُّؤْلُؤُ، وَتُرَابُهَا الْوَرْسُ وَالزَّعْفَرَانُ، مَنْ
دَخَلَهَا يَخْلُدُ وَلَا يَمُوتُ وَيَنْعَمُ وَلَا يَبْأَسُ، وَلَا يَخْلُقُ ثِيَابُهُمْ
وَلَا يَبْلَى شَبَابُهُمْ».
Beliau ﷺ bersabda dalam Hadits Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu
‘anhu ketika dikatakan kepada beliau: “Wahai Rosululloh, kabarkan
kepada kami tentang Jannah, bagaimana bangunannya?” Beliau ‘alaihish
sholatu was salam bersabda: “Satu bata dari perak dan satu bata dari
emas, lantainya adalah misk yang sangat harum, kerikilnya adalah yaqut dan
mutiara, dan tanahnya adalah wars (tumbuhan kuning) dan za’faron. Barang siapa
memasukinya maka dia kekal dan tidak mati, serta bersenang-senang dan tidak
sengsara. Pakaian mereka tidak akan usang dan masa muda mereka tidak akan
sirna.”
فَهَذَا
دَلِيلٌ عَلَى كَوْنِهِمَا مَخْلُوقَتَيْنِ، وَأَنَّ نَعِيمَ الْجَنَّةِ دَائِمٌ لَا
يَفْنَى، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا﴾، وَقَالَ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ﴾.
Ini adalah dalil atas
keberadaan keduanya sebagai makhluk, dan bahwasanya ni’mat Jannah bersifat
abadi dan tidak akan sirna, sebagaimana firman Alloh Ta’ala: “Buahnya
tak henti-henti dan naungannya (pun demikian).” (QS. Ar-Ro’d: 35).
Dan Dia ﷻ berfirman: “Yang tidak berhenti
(buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 33).
11.2 Sifat
Bidadari Jannah (Hoorul ‘Iyn) dan Keabadian Penduduk Jannah
وَمِنْ نَعِيمِهَا
الْحُورُ الْعِينُ خَلَقَهُنَّ اللهُ تَعَالَى فِي الْجَنَّةِ لِلْبَقَاءِ، لَا يَفْنَيْنَ
وَلَا يَمُتْنَ كَمَا قَالَ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ
إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ﴾، وَقَوْلُهُ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى: ﴿حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ﴾.
Di antara ni’matnya
adalah bidadari-bidadari (Huurul ‘Iin) yang diciptakan oleh Alloh Ta’ala
di Jannah untuk kekal, mereka tidak sirna dan tidak mati sebagaimana firman
Alloh ﷻ: “Di
dalam Jannah itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang belum
pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (QS. Ar-Rohman: 56).
Dan firman-Nya Tabaroka
wa Ta’ala: “Bidadari-bidadari yang dipingit di dalam kemah-kemah.” (QS.
Ar-Rohman: 72).
وَرَوْتْ
أُمُّ سَلَمَةَ زَوْجُ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنِي
عَنْ قَوْلِ اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿كَأَمْثَالِ
اللَّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ﴾. قَالَ: «صَفَاؤُهُنَّ كَصَفَاءِ الدُّرِّ
فِي الْأَصْدَافِ ... إِلَى أَنْ قَالَ: يَقُلْنَ نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نَمُوتُ
أَبَدًا، وَنَحْنُ النَّاعِمَاتُ فَلَا نَبْأَسُ أَبَدًا، وَنَحْنُ الْمُقِيمَاتُ فَلَا
نَظْعَنُ أَبَدًا، وَنَحْنُ الرَّاضِيَاتُ فَلَا نَسْخَطُ أَبَدًا، وَهُنَّ فِي دَارِ
حَقٍّ وَلَا يَقُلْنَ إِلَّا حَقًّا، وَالنَّبِيُّ ﷺ صَادِقٌ لَا يَقُولُ إِلَّا حَقًّا
فَقَدْ أَخْبَرَ أَنَّهُنَّ خَالِدَاتٌ لَا يَمُتْنَ أَبَدًا».
Ummu Salamah (62 H) istri
Nabi ﷺ
meriwayatkan, beliau berkata: Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, kabarkan
kepadaku tentang firman Alloh ﷻ:’Laksana mutiara yang tersimpan’ (QS. Al-Waqi’ah: 23)
Beliau bersabda: “Kejernihan
mereka seperti kejernihan mutiara di dalam cangkangnya... sampai beliau
bersabda: ‘Mereka berkata: ‘Kami adalah wanita-wanita yang kekal maka kami
tidak akan mati selamanya, kami adalah wanita-wanita yang diliputi ni’mat maka
kami tidak akan sengsara selamanya, kami adalah wanita-wanita yang menetap maka
kami tidak akan berpindah selamanya, dan kami adalah wanita-wanita yang ridho
maka kami tidak akan murka selamanya.’ Mereka berada di negeri kebenaran dan
tidaklah mereka berkata kecuali kebenaran. Nabi ﷺ adalah orang yang jujur yang tidak berkata
kecuali kebenaran, dan beliau telah mengabarkan bahwa mereka adalah
wanita-wanita yang kekal yang tidak mati selamanya.”
وَرَوْى
مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «لَا
تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ
الْعِينِ: لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ
إِنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا».
Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu
‘anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ
bahwasanya beliau bersabda: “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di
dunia kecuali istrinya dari kalangan bidadari (Huurul ‘Iin) berkata: ‘Janganlah
engkau menyakitinya, semoga Alloh membinasakanmu, sesungguhnya dia di sisimu
hanyalah tamu yang sebentar lagi akan berpisah darimu menuju kami.’”
فَإِذَا
ثَبُتَ أَنَّهُمَا لَا يَفْنِيَانِ وَمَا فِيهِمَا أَبَدًا فَلَا يُخْرِجُ اللهُ تَعَالَى
مِنَ الْجَنَّةِ أَحَدًا، وَلَا يُسَلِّطُ عَلَى أَهْلِهَا الْمَوْتَ فِيهَا، وَلَا
يَزُولُ عَنْهُمْ نَعِيمُهَا فَهُمْ فِي كُلِّ يَوْمٍ فِي مَزِيدِ نَعِيمٍ أَبَدَ الْآبَادِ.
Maka apabila telah tetap
bahwa keduanya tidak akan sirna beserta apa yang ada di dalamnya
selama-lamanya, maka Alloh Ta’ala tidak akan mengeluarkan seorang pun
dari Jannah, tidak akan memberikan kekuasaan maut atas penduduknya di dalamnya,
dan tidak akan menghilangkan ni’matnya dari mereka. Mereka setiap hari berada
dalam tambahan ni’mat sepanjang masa yang abadi.
وَتَمَامُ
نَعِيمِهِمْ أَنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- يَأْمُرُ بِالْمَوْتِ فَيُذْبَحُ عَلَى صُورَةِ
كَبْشٍ أَمْلَحَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَيُنَادِي الْمُنَادِي: يَا أَهْلَ
الْجَنَّةِ خُلُودٌ وَلَا مَوْتٌ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ وَلَا مَوْتٌ، عَلَى
مَا وَرَدَ بِهِ الْخَبَرُ الصَّحِيحُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.
Dan kesempurnaan ni’mat
mereka adalah bahwasanya Alloh ﷻ memerintahkan kematian, lalu ia disembelih
dalam rupa domba jantan yang putih kehitaman di antara Jannah dan Naar. Penyeru
berseru: “Wahai penduduk Jannah, kekekalan dan tidak ada kematian! Wahai
penduduk Naar, kekekalan dan tidak ada kematian!”, sesuai dengan apa yang
disebutkan dalam khabar yang shohih dari Nabi ﷺ.
Bab 12: Kenabian
Muhammad ﷺ dan Mu’jizat
Beliau
12.1 Risalah
Nabi ﷺ untuk
Seluruh Manusia dan Jin
(فَصْلٌ)
وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ الْإِسْلَامِ قَاطِبَةً أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ
عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمٍ رَسُولُ اللهِ، وَسَيِّدُ الْمُرْسَلِينَ وَخَاتَمُ
النَّبِيِّينَ -عَلَيْهِمُ السَّلَامُ-، وَأَنَّهُ مَبْعُوثٌ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً
وَإِلَى الْجِنِّ عَامَّةً.
(Fashl) Seluruh penganut Islam meyakini bahwa Muhammad bin
Abdullah bin Abdul Muththolib bin Hasyim adalah Rosululloh, pemimpin para
Rosul, dan penutup para Nabi -’alaihimus salam-. Bahwasanya beliau
diutus kepada manusia seluruhnya dan kepada jin secara umum.
كَمَا قَالَ
اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ﴾، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ﴾.
Sebagaimana firman Alloh ﷻ: “Dan Kami tidak mengutusmu melainkan
kepada seluruh manusia.” (QS. Saba: 28).
Dan Dia Ta’ala
berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rohmat bagi
semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
وَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ فِي حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: «إِنَّ اللهَ
فَضَّلَنِي عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِأَرْبَعٍ: أُرْسِلْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً
...» وَذَكَرَ الْحَدِيثَ.
Nabi ﷺ bersabda dalam Hadits Abu Umamah (86 H) rodhiyallahu
‘anhu: “Sesungguhnya Alloh melebihkanku di atas para Nabi dengan 4 hal:
Aku diutus kepada manusia seluruhnya...” dan beliau menyebutkan Haditsnya.
12.2 Mu’jizat-Mu’jizat
Rosululloh ﷺ dan
Keistimewaan Al-Qur’an
وَأَنَّهُ
ﷺ أُعْطِيَ مِنَ الْمُعْجِزَاتِ مَا أُعْطِيَ غَيْرُهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَزِيَادَةً،
وَقَدْ عَدَّهَا بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَلْفَ مُعْجِزَةٍ.
Bahwasanya beliau ﷺ diberikan mu’jizat-mu’jizat sebagaimana
yang diberikan kepada para Nabi selainnya bahkan lebih. Sebagian ahli ilmu
telah menghitungnya mencapai 1000 mu’jizat.
مِنْهَا
الْقُرْآنُ الْمَنْظُومُ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ مُفَارِقٍ لِجَمِيعِ أَوْزَانِ كَلَامِ
الْعَرَبِ وَنَظْمِهِ وَتَرْتِيبِهِ وَبَلَاغَتِهِ وَفَصَاحَتِهِ عَلَى وَجْهٍ جَاوَزَ
فَصَاحَةَ كُلِّ فَصِيحٍ، وَبَلَاغَةَ كُلِّ بَلِيغٍ، وَعَجَزَتِ الْعَرَبُ أَنْ تَأْتِيَ
بِمِثْلِهِ، وَلَا بِسُورَةٍ مِنْهُ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ﴾ فَلَمْ يَأْتُوا، ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: ﴿فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ﴾ فَعَجَزُوا عَنْ ذَلِكَ مَعَ بَرَاعَتِهِمْ وَفَصَاحَتِهِمْ
عَلَى أَهْلِ زَمَانِهِمْ، وَانْقَطَعُوا فَظَهَرَ فَضْلُهُ عَلَيْهِمْ، فَلِذَلِكَ
صَارَ الْقُرْآنُ مُعْجِزَةً لَهُ ﷺ، كَالْعَصَا فِي حَقِّ مُوسَى -عَلَيْهِ السَّلَامُ-
لِأَنَّ مُوسَى بُعِثَ فِي زَمَنِ السَّحَرَةِ الْحُذَّاقِ فِي صَنْعَتِهِمْ، فَتَلَقَّفَتْ
عَصَا مُوسَى -عَلَيْهِ السَّلَامُ- مَا سَحَرُوا بِهِ أَعْيُنَ النَّاسِ وَخَيَّلُوهُ
إِلَيْهِمْ: ﴿فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ
* وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ﴾.
Di antaranya adalah
Al-Qur’an yang tersusun dengan cara yang khusus, yang berbeda dari seluruh pola
perkataan Arob baik susunan, urutan, balaghoh (keindahan sastra), maupun
kefasihannya. Ia melampaui kefasihan setiap orang fasih dan keindahan sastra
setiap ahli sastra. Bangsa Arob tidak mampu mendatangkan yang semisal
dengannya, bahkan tidak mampu mendatangkan 1 Suroh pun darinya sebagaimana
firman Alloh Ta’ala: “Maka datangkanlah 10 Suroh yang semisal
dengannya yang dibuat-buat.” (QS. Hud: 13), namun mereka tidak
sanggup.
Kemudian Dia Ta’ala
berfirman: “Maka datangkanlah 1 Suroh yang semisal dengannya.” (QS.
Al-Baqoroh: 23), mereka pun tetap tidak sanggup meskipun mereka memiliki
kemahiran dan kefasihan di atas orang-orang pada zaman mereka. Mereka
terbungkam sehingga nampaklah keutamaan Al-Qur’an atas mereka. Oleh karena
itulah Al-Qur’an menjadi mu’jizat bagi beliau ﷺ,
seperti halnya tongkat bagi Musa ‘alaihis salam, karena Musa diutus pada
zaman ahli sihir yang mahir dalam bidangnya, lalu tongkat Musa ‘alaihis
salam menelan apa yang mereka sihirkan pada mata manusia dan apa yang
mereka khayalkan kepada manusia: “Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan
mereka menjadi hina. Dan para pesihir itu pun tersungkur bersujud.” (QS.
Al-A’rof: 119-120).
وَكَإِحْيَاءِ
عِيسَى -عَلَيْهِ السَّلَامُ- الْمَوْتَى، وَإِبْرَاءِهِ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ
لِأَنَّهُ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- بُعِثَ فِي زَمَنِ النَّاسِ فِيهِ أَطِبَّاءُ حُذَّاقٌ،
يُوقِفُونَ الْأَعْلَالَ وَالْأَسْقَامَ الَّتِي لَا تَبْرَأُ بِبَرَاعَتِهِمْ فِي
حِذْقِ الصَّنْعَةِ، فَانْقَادُوا إِلَيْهِ وَأَمَّنُوا بِهِ لِمُجَاوَزَتِهِ فِي الصَّنْعَةِ
عَلَيْهِمْ وَبَرَاعَتِهِ فِي الْمُعْجِزَةِ فِيمَا تَعَاطَوْهُ مِنْهُ.
Demikian pula seperti
tindakan Isa ‘alaihis salam menghidupkan orang mati, serta menyembuhkan
orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Karena beliau ‘alaihis
salam diutus pada zaman di mana manusia saat itu adalah dokter-dokter yang
mahir, yang mampu menghentikan penyakit-penyakit yang sulit sembuh dengan
kemahiran mereka. Namun mereka tunduk kepada beliau dan beriman kepadanya
karena mu’jizat beliau melampaui keahlian mereka dan kemahiran beliau dalam mu’jizat
pada hal-hal yang mereka geluti.
فَفَصَاحَةُ
الْقُرْآنِ وَإِعْجَازُهُ مُعْجِزَةٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ كَالْعَصَا وَإِحْيَاءِ الْمَوْتَى
فِي حَقِّ مُوسَى وَعِيسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ.
Maka kefasihan Al-Qur’an
dan kemu’jizatannya adalah mu’jizat bagi Nabi ﷺ
sebagaimana halnya tongkat dan tindakan menghidupkan orang mati bagi Musa dan
Isa ‘alaihimas salam.
وَمِنْ مُعْجِزَاتِهِ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ نَبْعُ الْمَاءِ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ وَإِطْعَامُ
الزَّادِ الْقَلِيلِ لِلْخَلْقِ الْكَثِيرِ، وَكَلَامُ الذِّرَاعِ الْمَسْمُومِ، وَقَوْلُهُ:
لَا تَأْكُلْ مِنِّي فَإِنِّي مَسْمُومٌ، وَانْشِقَاقُ الْقَمَرِ، وَحَنِينُ الْجِذْعِ،
وَكَلَامُ الْبَعِيرِ، وَمَجِيءُ الشَّجَرَةِ إِلَيْهِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِمَّا يَبْلُغُ
أَلْفَ مُعْجِزَةٍ عَلَى مَا ذَكَرُوا.
Di antara mu’jizat-mu’jizat
beliau ‘alaihish sholatu was salam adalah terpancarnya air dari celah
jari-jemarinya, memberi makan banyak orang dengan perbekalan yang sedikit,
berbicaranya paha kambing yang beracun dan perkataannya: “Janganlah engkau
memakanku karena aku mengandung racun”, terbelahnya bulan, tangisan batang
kurma, perkataan unta, datangnya pohon kepada beliau, dan selain itu dari
hal-hal yang mencapai 1000 mu’jizat sebagaimana yang mereka sebutkan.
وَإِنَّمَا
لَمْ يَأْتِ النَّبِيُّ ﷺ بِمِثْلِ عَصَا مُوسَى وَيَدِهِ الْبَيْضَاءَ، وَإِحْيَاءِ
الْمَوْتَى، وَإِبْرَاءِ الْأكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَمِثْلِ نَاقَةِ صَالِحِ، وَالْمُعْجِزَاتِ
الَّتِي كَانَتْ لِلْأَنْبِيَاءِ لِأَمْرَيْنِ اثْنَيْنِ.
Sesungguhnya Nabi ﷺ tidak mendatangkan mu’jizat yang semisal
dengan tongkat Musa dan tangannya yang putih, menghidupkan orang mati,
menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan penyakit kusta, serta semisal unta
Nabi Sholih, dan mu’jizat-mu’jizat yang dimiliki para Nabi sebelumnya
dikarenakan 2 perkara.
أَحَدُهُمَا:
لِئَلَّا يُكَذِّبَ بِهَا أُمَّتُهُ فَيَهْلِكُوا كَمَا هَلَكَتِ الْأُمَمُ قَبْلَهُمْ،
كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ﴾.
Salah satunya: agar umatnya tidak mendustakan mu’jizat tersebut
sehingga mereka binasa sebagaimana binasanya umat-umat sebelum mereka,
sebagaimana firman Alloh Ta’ala: “Dan tidak ada yang menghalangi Kami
untuk mengirimkan mu’jizat-mu’jizat itu melainkan karena mu’jizat-mu’jizat itu
telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS. Al-Isro: 59).
وَالثَّانِي:
لَوْ جَاءَ بِمِثْلِ مَا جَاءَ بِهِ الْأَوَّلُونَ لَقَالُوا لَهُ مَا جِئْتَ بِغَرِيبٍ
وَقَدْ تَعَلَّمْتَ مِنْ مُوسَى وَعِيسَى، فَأَنْتَ مِنْ أَتْبَاعِهِمْ لَا نُؤْمِنُ
لَكَ حَتَّى تَأْتِينَا بِمَا لَمْ يَأْتِ بِهِ الْأَوَّلُونَ.
Yang kedua: sekiranya beliau mendatangkan mu’jizat yang sama
dengan apa yang didatangkan orang-orang terdahulu, niscaya mereka akan berkata
kepadanya: “Engkau tidak mendatangkan hal yang baru, engkau telah belajar
dari Musa dan Isa, maka engkau hanyalah pengikut mereka, kami tidak akan
beriman kepadamu sampai engkau mendatangkan apa yang tidak didatangkan oleh
orang-orang terdahulu.”
وَلِهَذَا
لَمْ يُؤْتِ اللهُ سُبْحَانَهُ نَبِيًّا مِنْ أَنْبِيَائِهِ مُعْجِزَةَ غَيْرِهِ، بَلْ
خَصَّ كُلَّ نَبِيٍّ بِمُعْجِزَةٍ غَيْرِ مُعْجِزَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَهُ.
Oleh karena itu Alloh Subhanahu
tidak memberikan mu’jizat seorang Nabi kepada Nabi yang lain, melainkan Dia
mengkhususkan setiap Nabi dengan mu’jizat yang berbeda dari mu’jizat orang
sebelum mereka.
Bab 13:
Keutamaan Para Shohabat dan Urutan Khilafah
13.1 Keutamaan
Umat Muhammad ﷺ dan
Generasi Shohabat
(فَصْلٌ)
وَيَعْتَقِدُ أَهْلُ السُّنَّةِ أَنَّ أُمَّةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ خَيْرُ الْأُمَمِ
أَجْمَعِينَ، وَأَفْضَلُهُمْ أَهْلُ الْقَرْنِ الَّذِينَ شَاهَدُوهُ وَآمَنُوا بِهِ
وَصَدَّقُوهُ وَبَايَعُوهُ وَتَابَعُوهُ وَقَاتَلُوا بَيْنَ يَدَيْهِ وَمَدُّوهُ بِأَنْفُسِهِمْ
وَأَمْوَالِهِمْ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ.
(Fashl) Ahli Sunnah meyakini bahwa umat Nabi kita Muhammad
ﷺ adalah sebaik-baik umat seluruhnya. Dan
yang paling utama di antara mereka adalah orang-orang pada generasi (shohabat)
yang menyaksikan beliau, beriman kepadanya, membenarkannya, membaiatnya,
mengikutinya, berperang di hadapannya, membantu beliau dengan jiwa dan harta
mereka, serta memuliakan dan menolongnya.
وَأَفْضَلُ
أَهْلِ الْقُرُونِ أَهْلُ الْحُدَيْبِيَةِ الَّذِينَ بَايَعُوهُ بَيْعَةَ الرِّضْوَانِ
وَهُمْ أَلْفٌ وَأَرْبَعُمِائَةِ رَجُلٍ.
Generasi yang paling
utama adalah orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah, yaitu
mereka yang membaiat beliau dalam Baiatur Ridwan, yang berjumlah 1400 orang
lelaki.
وَأَفْضَلُهُمْ
أَهْلُ بَدْرٍ وَهُمْ ثَلَاثُمِائَةٍ وَثَلَاثَةَ عَشَرَ رَجُلًا عَدَدَ أَصْحَابِ
طَالُوتَ.
Dan yang lebih utama lagi
adalah Ahlul Badr (peserta perang Badr), yang berjumlah 313 orang lelaki,
sesuai dengan jumlah pengikut Tholut.
وَأَفْضَلُهُمْ
الْأَرْبَعُونَ أَهْلُ دَارِ الْخَيْزُرَانِ الَّذِينَ كَمُلُوا بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ.
Dan yang lebih utama
adalah 40 orang yang berada di Darul Khoizuron, yang genap jumlahnya dengan
masuk Islamnya Umar bin Al-Khotthob (23 H).
وَأَفْضَلُهُمُ
الْعَشَرَةُ الَّذِينَ شَهِدَ لَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ بِالْجَنَّةِ وَهُمْ: أَبُو بَكْرٍ
وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ
عَوْفٍ وَسَعْدٌ وَسَعِيدٌ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ.
Dan yang paling utama
adalah 10 orang yang telah dipersaksikan oleh Nabi ﷺ masuk Jannah, mereka adalah: Abu Bakr,
Umar, Utsman, Ali, Tholhah, Az-Zubair, Abdurrohman bin ‘Auf, Sa’ad, Said, dan
Abu Ubaidah bin Al-Jarroh.
وَأَفْضَلُ
هَؤُلَاءِ الْعَشَرَةِ الْأَبْرَارِ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ الْأَرْبَعَةُ الْأَخْيَارُ.
Dan yang paling utama
dari 10 orang yang mulia ini adalah Khulafa’ur Rosyidin yang 4 yang terpilih.
وَأَفْضَلُ
الْأَرْبَعَةِ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ
تَعَالَى عَنْهُمْ-.
Dan yang paling utama
dari yang 4 adalah Abu Bakr (13 H), kemudian Umar (23 H), kemudian Utsman (35
H), kemudian Ali (40 H) rodhiyallahu Ta’ala ‘anhum.
وَلِهَؤُلَاءِ
الْأَرْبَعَةِ الْخِلَافَةُ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ ثَلَاثُونَ سَنَةً وَلِيَ مِنْهَا
أَبُو بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- سَنَتَيْنِ وَشَيْئًا، وَعُمَرُ -رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ- عَشَرًا، وَعُثْمَانُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- اثْنَتَي عَشَرَةَ، وَعَلِيٌّ
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- تِسْعًا، ثُمَّ وَلِيَهَا مُعَاوِيَةُ تِسْعَةَ عَشرَةَ سَنَةً،
وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ وَلَّاهُ عُمَرُ الْإِمَارَةَ عَلَى أَهْلِ الشَّامِ عِشْرِينَ
سَنَةً.
Bagi ke-4 orang ini kekholifahan
setelah Nabi ﷺ
berlangsung selama 30 tahun. Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu menjabat selama
2 tahun lebih sedikit, Umar rodhiyallahu ‘anhu selama 10 tahun, Utsman rodhiyallahu
‘anhu selama 12 tahun, dan Ali rodhiyallahu ‘anhu selama 9 tahun.
Kemudian Mu’awiyah (60 H) menjabat selama 19 tahun, dan sebelumnya Umar telah
mengangkatnya sebagai gubernur (amir) atas penduduk Syam selama 20 tahun.
وَخِلَافَةُ
الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ كَانَتْ بِاخْتِيَارِ الصَّحَابَةِ وَاتِّفَاقِهِمْ وَرِضَاهُمْ،
وَلِفَضْلِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ فِي عَصْرِهِ وَزَمَانِهِ عَلَى مَنْ سِوَاهُ مِنَ
الصَّحَابَةِ وَلَمْ تَكُنْ بِالسَّيْفِ وَالْقَهْرِ وَالْغَلَبَةِ وَالْأَخْذِ مِمَّنْ
هُوَ أَفْضَلُ مِنْهُ.
Kekholifahan para Imam
yang 4 adalah berdasarkan pilihan para Shohabat, kesepakatan, dan keridhoan
mereka. Hal itu dikarenakan keutamaan masing-masing dari mereka pada zamannya
di atas Shohabat yang lain. Kekholifahan itu bukan dengan pedang, paksaan,
kemenangan (perang), atau mengambil kekuasaan dari orang yang lebih utama
darinya.
13.2 Kekholifahan
Abu Bakr Ash-Shiddiq
وَأَمَّا
خِلَافَةُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَبِاتِّفَاقِ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ كَانَتْ.
Adapun kekholifahan Abu Bakr
Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu, ia terjadi berdasarkan kesepakatan kaum
Muhajirin dan kaum Anshor.
وَذَلِكَ
أَنَّهُ لَمَّا تُوُفَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ قَامَتْ خُطَبَاءُ الْأَنْصَارِ فَقَالُوا:
مِنَّا أَمِيرٌ وَمِنْكُمْ أَمِيرٌ، فَقَامَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ -رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ- فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ النَّبِيَّ
ﷺ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ أَنْ يَؤُمَّ النَّاسَ؟ فَقَالُوا: بَلَى، قَالَ: فَأَيُّكُمْ
تَطِيبُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَبَا بَكْرٍ؟ قَالُوا: مَعَاذَ اللهِ أَنْ نَتَقَدَّمَ
أَبَا بَكْرٍ.
Hal itu dikarenakan
ketika Rosululloh ﷺ wafat,
para orator dari kalangan Anshor berdiri lalu berkata: “Dari kami ada
pemimpin dan dari kalian ada pemimpin.” Maka Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu
‘anhu berdiri lalu berkata: “Wahai sekalian kaum Anshor, bukankah kalian
tahu bahwa Nabi ﷺ telah
memerintahkan Abu Bakr untuk mengimami orang-orang?” Mereka menjawab: “Benar.” Umar bertanya: “Maka
siapakah di antara kalian yang jiwanya merasa tenang untuk mendahului Abu Bakr?”
Mereka menjawab: “Kami berlindung kepada Alloh dari mendahului Abu Bakr.”
وَفِي لَفْظٍ
آخَرَ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ: فَأَيُّكُمْ تَطِيبُ نَفْسُهُ أَنْ
يُزِيلَهُ عَنْ مَقَامٍ أَقَامَهُ فِيهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ؟ فَقَالُوا كُلُّهُمْ: كُلُّنَا
لَا تَطِيبُ أَنْفُسُنَا، نَسْتَغْفِرُ اللهَ، فَاتَّفَقُوا مَعَ الْمُهَاجِرِينَ فَبَايَعُوهُ
بِأَجْمَعِهِمْ، وَفِيهِمْ عَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ.
Dalam lafazh lain, Umar rodhiyallahu
Ta’ala ‘anhu berkata: “Maka siapakah di antara kalian yang jiwanya
merasa tenang untuk menggesernya dari kedudukan yang telah diletakkan oleh
Rosululloh ﷺ
padanya?” Mereka semua menjawab: “Kami
semua tidak merasa tenang (untuk melakukannya), kami memohon ampun kepada
Alloh.” Maka mereka bersepakat bersama kaum Muhajirin lalu membaiat beliau
seluruhnya, dan di antara mereka terdapat Ali (40 H) dan Az-Zubair (36 H).
وَلِهَذَا
فِي النَّقْلِ الصَّحِيحِ: «لَمَّا بُويِعَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ
تَعَالَى عَنْهُ قَامَ ثَلَاثًا يُقْبِلُ عَلَى النَّاسِ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ
أَقَلْتُكُمْ بَيْعَتِي هَلْ مِنْ كَارِهٍ؟ فَيَقُومُ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-
فِي أَوَائِلِ النَّاسِ فَيَقُولُ: لَا نُقِيلُكَ وَلَا نَسْتَقِيلُكَ أَبَدًا، قَدَّمَكَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ فَمَنْ يُأَخِّرُكَ».
Oleh karena itulah dalam
penukilan yang shohih disebutkan: “Ketika Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu
Ta’ala ‘anhu dibaiat, beliau berdiri sebanyak 3 kali menghadap orang-orang
seraya berkata: ‘Wahai manusia, aku batalkan baiat kalian kepadaku, apakah ada
yang tidak suka?’ Maka Ali rodhiyallahu ‘anhu berdiri di barisan depan
orang-orang lalu berkata: ‘Kami tidak akan membatalkannya dan kami tidak akan
meminta pembatalan selamanya. Rosululloh ﷺ telah memajukanmu, maka siapakah yang akan
mengakhirkanmu?.’”
وَبَلَغْنَا
عَنِ الثِّقَاتِ أَنَّ عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- كَانَ أَشَدَّ الصَّحَابَةِ
قَوْلًا فِي إِمَامَةِ أَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-. وَرُوِيَ أَنَّ عَبْدَ
اللهِ بْنَ الْكَرَّاءِ دَخَلَ عَلَى عَلِيٍّ بَعْدَ قِتَالِ الْجَمَلِ وَسَأَلَهُ:
هَلْ عَهِدَ إِلَيْكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي هَذَا الْأَمْرِ شَيْئًا؟ فَقَالَ: نَظَرْنَا
فِي أَمْرِنَا فَإِذَا الصَّلَاةُ عَضُدُ الْإِسْلَامِ فَرَضِينَا لِدُنْيَانَا مَنْ
رَضِيَ اللهُ وَرَسُولُهُ لِدِينِنَا، فَوَلَّيْنَا الْأَمْرَ أَبَا بَكْرٍ.
Telah sampai kepada kami
dari orang-orang terpercaya bahwasanya Ali rodhiyallahu ‘anhu adalah
Shohabat yang paling tegas perkataannya dalam membela keimaman Abu Bakr rodhiyallahu
‘anhu. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Al-Karro’ menemui Ali setelah Perang
Jamal lalu bertanya kepadanya: “Apakah Rosululloh ﷺ memberikan wasiat kepadamu dalam urusan
(kepemimpinan) ini sedikit pun?”
Beliau menjawab: “Kami melihat urusan kami, ternyata Sholat adalah tiang
Islam, maka kami pun ridho untuk urusan dunia kami terhadap orang yang telah
diridhoi oleh Alloh dan Rosul-Nya untuk urusan agama kami (Imam Sholat), maka
kami pun menyerahkan urusan (kepemimpinan) ini kepada Abu Bakr.”
وَذَلِكَ
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ اسْتَخْلَفَ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فِي
إِمَامَةِ الصَّلَاةِ الْمَفْرُوضَةِ أَيَّامَ مَرَضِهِ، فَكَانَ يَأْتِيهِ بِلَالٌ
وَقْتَ كُلِّ صَلَاةٍ فَيُؤْذِنُهُ بِالصَّلَاةِ، فَيَقُولُ -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-:
«مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ».
Hal itu dikarenakan Nabi ﷺ telah menunjuk Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu
‘anhu sebagai pengganti dalam mengimami Sholat fardhu selama hari-hari
sakit beliau. Bilal (20 H) mendatangi beliau setiap waktu Sholat untuk
memberitahukan masuknya waktu Sholat, lalu beliau ‘alaihish sholatu was
salam bersabda: “Perintahkanlah Abu Bakr agar dia Sholat mengimami
manusia.”
وَكَانَ
النَّبِيَّ ﷺ يَتَكَلَّمُ فِي شَأْنِ أَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فِي حَالِ
حَيَاتِهِ بِمَا يَتَبَيَّنُ لِلصَّحَابَةِ أَنَّهُ أَحَقُّ النَّاسِ بِالْخِلَافَةِ
بَعْدَهُ. وَكَذَلِكَ فِي حَقِّ عُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ-
أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ أَحَقُّ بِالْأَمْرِ فِي عَصْرِهِ وَزَمَانِهِ.
Dahulu Nabi ﷺ berbicara mengenai kedudukan Abu Bakr rodhiyallahu
‘anhu semasa hidup beliau dengan perkataan yang menjelaskan kepada para
Shohabat bahwasanya beliau adalah manusia yang paling berhak atas Khilafah
sepeninggal beliau. Demikian pula dalam hak Umar, Utsman, dan Ali rodhiyallahu
‘anhum bahwasanya masing-masing dari mereka adalah yang paling berhak atas
urusan (kepemimpinan) pada masa dan zamannya.
13.3 Penegasan
Keutamaan Masing-Masing Kholifah
مِنْ ذَلِكَ
مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ بَطَّةَ بِإِسْنَادِهِ عَنْ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- أَنَّهُ
قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ نُؤَمِّرُ بَعْدَكَ؟ قَالَ ﷺ: «إِنْ تُؤَمِّرُوا
أَبَا بَكْرٍ تَجِدُوهُ أَمِينًا زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ،
وَإِنْ تُؤَمِّرُوا عُمَرَ تَجِدُوهُ قَوِيًّا أَمِينًا لَا يَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ
لَائِمٍ، وَإِنْ تُؤَمِّرُوا عُثْمَانَ تَجِدُوهُ قَائِمًا بِالدَّلِيلِ وَالْبُرْهَانِ،
وَإِنْ تُوَلُّوا عَلِيًّا تَجِدُوهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا، فَلِذَلِكَ أَجْمَعُوا عَلَى
خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-.”
Di antara hal tersebut
adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Baththoh (387 H) dengan sanadnya dari
Ali (40 H) rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata: “Dikatakan,
‘Wahai Rosululloh, siapakah yang kami angkat sebagai pemimpin sepeninggalmu?’” Beliau ﷺ
bersabda: “Jika kalian mengangkat Abu Bakr sebagai pemimpin, kalian akan
mendapatinya sebagai orang yang amanah, zahid terhadap dunia, dan sangat
berharap pada Akhiroh. Jika kalian mengangkat Umar sebagai pemimpin, kalian
akan mendapatinya sebagai orang yang kuat lagi amanah, tidak takut terhadap
celaan orang yang mencela dalam membela Alloh. Jika kalian mengangkat Utsman
sebagai pemimpin, kalian akan mendapatinya sebagai orang yang tegak di atas
dalil dan burhan (bukti nyata). Dan jika kalian mengangkat Ali sebagai
pemimpin, kalian akan mendapatinya sebagai pemberi hidayah yang mendapatkan
hidayah.” Oleh karena itulah mereka bersepakat atas kekholifahan Abu Bakr
rodhiyallahu ‘anhu.
وَقَدْ رُوِيَ
عَنْ إِمَامِنَا أَبِي عَبْدِ اللهِ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ -رَحِمَهُ
اللهُ- رِوَايَةٌ أُخْرَى: إِنَّ خِلَافَةَ أَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- ثَبَتَتْ
بِالنَّصِّ الْخَفِيِّ وَالْإِشَارَةِ، وَهَذَا مَذْهَبُ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَجَمَاعَةٍ
مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ -رَحِمَهُمُ اللهُ-.
Telah diriwayatkan pula
dari Imam kami Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (241 H) rohimahulloh
riwayat yang lain: Sesungguhnya kekholifahan Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu
‘anhu telah tetap berdasarkan nosh khofi (dalil yang samar) dan
isyarat. Ini merupakan madzhab Al-Hasan Al-Bashri (110 H) dan sekelompok ahli Hadits
rohimahumullah.
وَجْهُ هَذِهِ
الرِّوَايَةِ مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «لَمَّا عُرِجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ سَأَلْتُ رَبِّي -عَزَّ وَجَلَّ-
أَنْ يَجْعَلَ الْخَلِيفَةَ مِنْ بَعْدِي عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ:
يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ! الْخَلِيفَةُ مِنْ بَعْدِكَ أَبُو
بَكْرٍ». وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-: «الَّذِي بَعْدِي أَبُو بَكْرٍ لَا يَلْبَثُ بَعْدِي
إِلَّا قَلِيلًا».
Dasar dari riwayat ini
adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu
dari Nabi ﷺ
bahwasanya beliau bersabda: “Ketika aku dimikrojkan ke langit, aku memohon
kepada Robb-ku Azza wa Jalla agar menjadikan Ali bin Abi Tholib sebagai
Kholifah sepeninggalku, namun para Malaikat berkata: ‘Wahai Muhammad,
sesungguhnya Alloh melakukan apa yang Dia kehendaki! Kholifah sepeninggalmu adalah Abu Bakr.’”
Beliau ‘alaihish
sholatu was salam juga bersabda dalam Hadits Ibnu Umar (73 H) rodhiyallahu
‘anhuma: “Orang yang menggantikanku adalah Abu Bakr, dia tidak akan
tinggal sepeninggalku melainkan hanya sebentar.”
وَعَنْ مُجَاهِدٍ
-رَحِمَهُ اللهُ- قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-
خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ مِنْ دَارِ الدُّنْيَا حَتَّى عَهِدَ إِلَى «أَنَّ أَبَا بَكْرٍ
يَلِي مِنْ بَعْدِي، ثُمَّ عُمَرُ مِنْ بَعْدِهِ، ثُمَّ عُثْمَانُ مِنْ بَعْدِهِ ثُمَّ
عَلِيٌّ مِنْ بَعْدِهِ».
Dari Mujahid (104 H) rohimahulloh,
beliau berkata: Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhuma berkata
kepadaku: Nabi ﷺ keluar
dari negeri dunia hingga beliau berwasiat kepadaku bahwasanya, “Abu Bakr
memegang urusan (Khilafah) sepeninggalku, kemudian Umar setelahnya, kemudian
Utsman setelahnya, lalu Ali setelahnya.”
13.4 Kekholifahan
Umar bin Al-Khotthob
وَأَمَّا
خِلَافَةُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، فَإِنَّهَا كَانَتْ بِاسْتِخْلَافِ
أَبِي بَكْرٍ لَهُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، فَانْقَادَتِ الصَّحَابَةُ إِلَى بَيْعَتِهِ
وَسَمُّوهُ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، فَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا-: قَالُوا لِأَبِي بَكْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: مَا تَقُولُ لِرَبِّكَ
غَدًا إِذَا لَقِيتَهُ وَقَدِ اسْتَخْلَفْتَ عَلَيْنَا عُمَرَ وَقَدْ عَرَفْتَ فَظَاظَتَهُ؟
فَقَالَ: أَقُولُ اسْتَخْلَفْتُ عَلَيْهِمْ خَيْرَ أَهْلِكَ.
Adapun kekholifahan Umar
bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, maka sesungguhnya hal itu
terjadi berdasarkan penunjukan Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu
kepadanya sebagai pengganti. Maka para Shohabat pun tunduk untuk membaiatnya
dan mereka menggelarinya Amirul Mu’minin. Abdullah bin Abbas (68 H) rodhiyallahu
‘anhuma berkata: Mereka berkata kepada Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu: “Apa
yang akan engkau katakan kepada Robb-mu besok jika engkau menemui-Nya sedangkan
engkau telah menunjuk Umar sebagai pemimpin atas kami padahal engkau telah
mengetahui sifat kerasnya?” Beliau
menjawab: “Aku akan mengatakan, ‘Aku telah menunjuk orang terbaik dari
penduduk-Mu sebagai pemimpin atas mereka.’”
13.5 Kekholifahan
Utsman bin Affan
وَأَمَّا
خِلَافَةُ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، فَكَانَتْ أَيْضًا عَنْ
اتِّفَاقِ الصَّحَابَةِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ-، وَذَلِكَ أَنَّ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ- أَخْرَجَ أَوْلَادَهُ عَنِ الْخِلَافَةِ، وَجَعَلَهَا شُورَى بَيْنَ سِتَّةِ
نَفَرٍ، وَهُمْ طَلْحَةُ، الزُّبَيْرُ، سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، عُثْمَانُ، عَلِيٌّ،
وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ ابْنُ عَوْفٍ، فَأَخْرَجَ طَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ، وَسَعْدٌ
أَنْفُسَهُمْ مِنْهَا، فَبَقِيَتْ بَيْنَ عَلِيٍّ، عُثْمَانَ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ.
Adapun kekholifahan
Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, hal itu juga terjadi
berdasarkan kesepakatan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum. Hal itu
bermula ketika Umar (23 H) rodhiyallahu ‘anhu mengeluarkan anak-anaknya
dari bursa Khilafah, dan menjadikannya sebagai urusan Syuro di antara 6 orang,
yaitu Tholhah (36 H), Az-Zubair (36 H), Sa’ad bin Abi Waqqosh (55 H), Utsman
(35 H), Ali (40 H), dan Abdurrohman bin ‘Auf (32 H). Kemudian Tholhah,
Az-Zubair, dan Sa’ad menarik diri, sehingga tersisa di antara Ali, Utsman, dan
Abdurrohman.
فَقَالَ
عَبْدُ الرَّحْمَنِ لِعَلِيٍّ وَعُثْمَانَ: أَنَا أَخْتَارُ أَحَدَكُمَا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ، فَأَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَقَالَ: عَلَيْكَ
عَهْدُ اللهِ وَمِيثَاقُهُ وَذِمَّتُهُ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ إِنْ أَنَا بَايَعْتُكَ
لَتَنْصَحَنَّ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ، وَلَتَسِيرَنَّ بِسِيرَةِ
رَسُولِ اللهِ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَخَافَ عَلِيٌّ أَلَّا يَقْوَى عَلَى مَا
قَوُوا عَلَيْهِ فَلَمْ يُجِبْهُ.
Lalu Abdurrohman berkata
kepada Ali dan Utsman: “Aku akan memilih salah satu dari kalian demi Alloh,
Rosul-Nya, dan kaum Mu’min.” Beliau memegang tangan Ali rodhiyallahu
‘anhu seraya berkata: “Engkau memegang janji Alloh, perjanjian-Nya,
jaminan-Nya, dan jaminan Rosul-Nya, jika aku membaiatmu maka engkau benar-benar
akan tulus demi Alloh, Rosul-Nya, dan kaum Mu’min, serta benar-benar akan
berjalan sesuai dengan sirah (perjalanan hidup) Rosululloh, Abu Bakr, dan
Umar.” Ali merasa khawatir tidak akan mampu sekuat mereka, maka beliau
tidak menjawabnya.
ثُمَّ أَخَذَ
بِيَدِ عُثْمَانَ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِعَلِيٍّ، فَأَجَابَهُ عُثْمَانُ
عَلَى ذَلِكَ، فَمَسَحَ يَدَ عُثْمَانَ فَبَايَعَهُ، وَبَايَعَ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ- مَعَهُ، ثُمَّ بَايَعَ النَّاسُ أَجْمَعُ. فَصَارَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ
خَلِيفَةً مِنْ بَيْنِ السِّتَّةِ بِاتِّفَاقِ الْكُلِّ. فَكَانَ إِمَامًا حَقًّا إِلَى
أَنْ مَاتَ، وَلَمْ يُوجَدْ فِيهِ أَمْرٌ يُوجِبُ الطَّعْنَ فِيهِ وَلَا فِسْقَهُ وَلَا
قَتْلَهُ، خِلَافَ مَا قَالَتِ الرَّوَافِضُ تَبًّا لَهُمْ.
Kemudian beliau memegang
tangan Utsman dan mengatakan kepadanya hal yang serupa dengan perkataannya
kepada Ali, lalu Utsman menjawab setuju atas hal tersebut. Maka beliau mengusap
tangan Utsman dan membaiatnya. Ali rodhiyallahu ‘anhu pun ikut membaiat
bersamanya, kemudian seluruh manusia membaiatnya. Maka jadilah Utsman bin Affan
(35 H) sebagai Kholifah dari antara 6 orang tersebut berdasarkan kesepakatan
semuanya. Beliau adalah Imam yang benar sampai beliau wafat, dan tidak didapati
padanya suatu perkara yang mengharuskan adanya celaan, kefasikan, maupun
pembunuhan terhadapnya, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum Rowafidh,
binasalah mereka.
13.6 Kekholifahan
Ali bin Abi Tholib
وَأَمَّا
خِلَافَةُ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- بَعْدَ عُثْمَانَ فَكَانَتْ عَنْ اتِّفَاقِ
الْجَمَاعَةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ، لَمَا رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَطَّةَ
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ
وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ مَحْصُورًا، فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: إِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ
مَقْتُولٌ السَّاعَةَ. قَالَ فَقَامَ عَلِيٌّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَأَخَذْتُ بِوَسَطِهِ
تَخَوُّفًا عَلَيْهِ. فَقَالَ: خَلِّ لَا أُمَّ لَكَ، قَالَ فَأَتَى عَلَى الدَّارِ
وَقَدْ قُتِلَ عُثْمَانُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَأَتَى دَارَهُ فَدَخَلَهَا وَأَغْلَقَ
بَابَهُ.
Adapun kekholifahan Ali rodhiyallahu
‘anhu setelah Utsman, maka ia terjadi berdasarkan kesepakatan jamaah dan
ijma’ para Shohabat. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Baththoh
dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah (81 H), beliau berkata: Aku sedang bersama Ali
bin Abi Tholib ketika Utsman bin Affan sedang dikepung, lalu seorang lelaki
mendatangi beliau seraya berkata: “Sesungguhnya Amirul Mu’minin akan dibunuh
saat ini juga.” Beliau berkata: Maka
Ali rodhiyallahu ‘anhu berdiri lalu aku memegang pinggang beliau karena
khawatir atas keselamatannya. Beliau
berkata: “Lepaskanlah, celakalah engkau (ungkapan kiasan).” Beliau
berkata: Maka beliau mendatangi rumah Utsman namun ternyata Utsman rodhiyallahu
‘anhu telah dibunuh, lalu beliau kembali ke rumahnya, memasukinya, dan
menutup pintunya.
فَأَتَاهُ
النَّاسُ فَضَرَبُوا عَلَيْهِ الْبَابَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا: إِنَّ عُثْمَانَ
قَدْ قُتِلَ وَلَابُدَّ لِلنَّاسِ مِنْ خَلِيفَةٍ، وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا أَحَقَّ
بِهَا مِنْكَ. فَقَالَ لَهُمْ عَلِيٌّ: لَا تُرِيدُونِي فَإِنِّي لَكُمْ وَزِيرٌ خَيْرٌ
مِنْ أَمِيرٍ، قَالُوا: وَاللهِ لَا نَعْلَمُ أَحَدًا أَحَقَّ بِهَا مِنْكَ، قَالَ
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: فَإِنْ أَبَيْتُمْ عَلَيَّ فَإِنَّ بَيْعَتِي لَا تَكُونُ سِرًّا،
وَلَكِنْ أَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَمَنْ شَاءَ أَنْ يُبَايِعَنِي بَايَعَنِي.
قَالَ: فَخَرَجَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- إِلَى الْمَسْجِدِ فَبَايَعَهُ النَّاسُ، فَكَانَ
إِمَامًا حَقًّا إِلَى أَنْ قُتِلَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، خِلَافَ مَا قَالَتِ الْخَوَارِجُ
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ إِمَامًا قَطُّ. تَبًّا لَهُمْ إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ.
Maka orang-orang
mendatangi beliau lalu mengetuk pintunya. Mereka masuk menemui beliau seraya
berkata: “Sesungguhnya Utsman telah dibunuh dan manusia harus memiliki
seorang Kholifah, sedangkan kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak
darimu.” Ali berkata kepada mereka: “Janganlah
kalian menginginkanku, sesungguhnya aku menjadi menteri (pembantu) bagi kalian
itu lebih baik daripada menjadi pemimpin.” Mereka berkata: “Demi Alloh,
kami tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak darimu.” Beliau rodhiyallahu
‘anhu berkata: “Jika kalian tetap mendesakku, maka ketahuilah bahwa
baiatku tidaklah boleh dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan aku akan
keluar ke Masjid, maka barang siapa yang ingin membaiatku silakan membaiatku.” Beliau berkata: Maka beliau rodhiyallahu
‘anhu keluar ke Masjid lalu manusia membaiatnya. Beliau adalah Imam yang
benar sampai beliau terbunuh rodhiyallahu ‘anhu, berbeda dengan apa yang
dikatakan oleh kaum Khowarij bahwasanya beliau tidak pernah menjadi Imam
sedikit pun. Binasalah mereka sampai
akhir zaman.
13.7 Sikap
Terhadap Perselisihan di antara para Shohabat
وَأَمَّا
قِتَالُهُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- لِطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ وَعَائِشَةَ وَمُعَاوِيَةَ
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ- فَقَدْ نَصَّ الْإِمَامُ أَحْمَدُ -رَحِمَهُ اللهُ- عَلَى
الْإِمْسَاكِ عَنْ ذَلِكَ، وَجَمِيعِ مَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ مِنْ مُنَازَعَةٍ وَمُنَافَرَةٍ
وَخُصُومَةٍ. لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يُزِيلُ ذَلِكَ مِنْ بَيْنِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ،
كَمَا قَالَ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا
عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ﴾.
Adapun peperangan beliau rodhiyallahu
‘anhu melawan Tholhah (36 H), Az-Zubair (36 H), Aisyah (58 H), dan Mu’awiyah
(60 H) rodhiyallahu ‘anhum, maka sesungguhnya Imam Ahmad (241 H) rohimahulloh
telah menegaskan untuk menahan diri (imsak) dari membicarakan hal itu,
serta menahan diri dari seluruh perselisihan, pertikaian, maupun permusuhan
yang terjadi di antara mereka. Hal itu karena Alloh Ta’ala akan
melenyapkan hal tersebut dari antara mereka pada hari Qiyamah, sebagaimana
firman-Nya Azza wa Jalla: “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang
berada di dalam hati mereka, (sedang mereka merasa) bersaudara duduk
berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47).
وَلِأَنَّ
عَلِيًّا -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- كَانَ عَلَى الْحَقِّ فِي قِتَالِهِمْ. لِأَنَّهُ كَانَ
يَعْتَقِدُ صِحَّةَ إِمَامَتِهِ عَلَى مَا بَيَّنَّا مِنِ اتِّفَاقِ أَهْلِ الْحَلِّ
وَالْعَقْدِ مِنَ الصَّحَابَةِ عَلَى إِمَامَتِهِ وَخِلَافَتِهِ، فَمَنْ خَرَجَ عَنْ
ذَلِكَ بَعْدُ وَنَاصَبَهُ حَرْبًا كَانَ بَاغِيًا خَارِجًا عَلَى الْإِمَامِ فَجَازَ
قِتَالُهُ، وَمَنْ قَاتَلَهُ مِنْ مُعَاوِيَةَ وَطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ طَلَبُوا ثَأْرَ
عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ خَلِيفَةِ الْحَقِّ الْمَقْتُولِ ظُلْمًا، وَالَّذِينَ قَتَلُوهُ
كَانُوا فِي عَسْكَرِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، فَكُلٌّ ذَهَبَ إِلَى تَأْوِيلٍ
صَحِيحٍ، فَأَحْسَنُ أَحْوَالِنَا الْإِمْسَاكُ فِي ذَلِكَ، وَرَدُّهُمْ إِلَى اللهِ
-عَزَّ وَجَلَّ- وَهُوَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ وَخَيْرُ الْفَاصِلِينَ، وَالِاشْتِغَالُ
بِعُيُوبِ أَنْفُسِنَا وَتَطْهِيرِ قُلُوبِنَا مِنْ أُمَّهَاتِ الذُّنُوبِ وَظَوَاهِرِنَا
مِنْ مُوبِقَاتِ الْأُمُورِ.
Dan karena Ali rodhiyallahu
‘anhu berada di atas kebenaran dalam memerangi mereka. Hal itu karena beliau
meyakini keabsahan keimamannya sebagaimana yang telah kami jelaskan mengenai
kesepakatan ahlul halli wal aqdi dari kalangan Shohabat atas keimaman
dan kekholifahannya. Maka barang siapa yang keluar dari hal tersebut setelahnya
dan mengobarkan peperangan terhadapnya maka dia adalah baghi
(pemberontak) yang keluar dari ketaatan kepada Imam sehingga boleh diperangi.
Sementara orang yang memeranginya dari kalangan Mu’awiyah, Tholhah, dan
Az-Zubair, mereka menuntut tebusan darah Utsman bin Affan, Kholifah yang benar
yang dibunuh secara zholim, sedangkan orang-orang yang membunuhnya berada di
dalam pasukan Ali rodhiyallahu ‘anhu. Maka masing-masing memiliki takwil
(landasan ijtihad) yang benar. Oleh karena itu, keadaan terbaik bagi kita
adalah menahan diri (imsak) dalam masalah tersebut dan mengembalikan
urusan mereka kepada Alloh Azza wa Jalla, Dialah seadil-adil Hakim dan
sebaik-baik Pemberi Keputusan. Serta menyibukkan diri dengan aib-aib diri kita
sendiri dan menyucikan hati kita dari induk-induk dosa serta menyucikan
lahiriah kita dari perkara-perkara yang membinasakan.
13.8 Kekholifahan
Mu’awiyah bin Abi Sufyan
وَأَمَّا
خِلَافَةُ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- فَثَابِتَةٌ صَحِيحَةٌ
بَعْدَ مَوْتِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- وَبَعْدَ خَلْعِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- نَفْسَهُ مِنَ الْخِلَافَةِ وَتَسْلِيمِهَا إِلَى مُعَاوِيَةَ
لِرَأْيٍ رَآهُ الْحَسَنُ وَمَصْلَحَةٍ عَامَّةٍ تَحَقَّقَتْ لَهُ، وَهِيَ حَقْنُ دِمَاءِ
الْمُسْلِمِينَ وَتَحْقِيقُ قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ فِي الْحَسَنِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-:
«إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ يُصْلِحُ اللهُ تَعَالَى بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ».
Adapun kekholifahan Mu’awiyah
bin Abi Sufyan (60 H) rodhiyallahu ‘anhu adalah tetap lagi sah setelah
wafatnya Ali (40 H) rodhiyallahu ‘anhu dan setelah Al-Hasan bin Ali (49
H) rodhiyallahu ‘anhuma melepaskan sendiri jabatan kekholifahan tersebut
serta menyerahkannya kepada Mu’awiyah karena pendapat yang dipandang oleh
Al-Hasan dan adanya maslahat umum yang terwujud baginya, yaitu menjaga
tumpahnya darah kaum Muslimin serta mewujudkan sabda Nabi ﷺ mengenai Al-Hasan rodhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin (sayyid), semoga melalui
dia Alloh Ta’ala akan mendamaikan antara 2 kelompok besar (kaum Muslimin).”
فَوَجَبَتْ
إِمَامَتُهُ بِعَقْدِ الْحَسَنِ لَهُ، فَسُمَّى عَامُهُ عَامَ الْجَمَاعَةِ، لِارْتِفَاعِ
الْخِلَافِ بَيْنَ الْجَمِيعِ وَاتِّبَاعِ الْكُلِّ لِمُعَاوِيَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-،
لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مُنَازِعٌ ثَالِثٌ فِي الْخِلَافَةِ.
Maka wajiblah keimamannya
dengan adanya akad dari Al-Hasan untuknya, sehingga tahun tersebut dinamakan
Tahun Persatuan (‘Amul Jama’ah), karena hilangnya perselisihan di antara semua
pihak dan dipatuhinya Mu’awiyah rodhiyallahu ‘anhu oleh semua orang,
dikarenakan tidak ada lagi pihak ketiga yang memperebutkan kekholifahan.
وَخِلَافَتُهُ
مَذْكُورَةٌ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ، وَهُوَ مَا رَوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ
قَالَ: «تَدُورُ رَحَى الْإِسْلَامِ خَمْسًا وَثَلَاثِينَ سَنَةً أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ
أَوْ سَبْعًا وَثَلَاثِينَ».
Dan kekholifahannya telah
disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ, yaitu
apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ
bahwasanya beliau bersabda: “Roda Islam akan berputar selama 35 tahun, atau
36 tahun, atau 37 tahun.”
وَالْمُرَادُ
بِالرَّحَى، فِي هَذَا الْحَدِيثِ الْقُوَّةُ فِي الدِّينِ وَالْخَمْسُ السَّنِينَ
الْفَاضِلَةُ مِنَ الثَّلَاثِينَ فَهِيَ مِنْ جُمْلَةِ خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ إِلَى
تَمَامِ تِسْعِ عَشْرَةَ سَنَةً وَشُهُورٍ، لِأَنَّ الثَّلَاثِينَ كَمُلَتْ بِعَلِيٍّ
-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- كَمَا بَيَّنَّا.
Maksud dari kata “Ar-Roha”
(roda/alat giling) dalam Hadits ini adalah kekuatan dalam agama dan sisa 5
tahun yang utama dari 30 tahun (masa khilafah nubuwwah), maka hal itu termasuk
dalam masa kekholifahan Mu’awiyah hingga genap 19 tahun dan beberapa bulan,
karena masa 30 tahun telah sempurna dengan masa kepemimpinan Ali rodhiyallahu
‘anhu sebagaimana yang telah kami jelaskan.
Bab 14:
Keutamaan Keluarga Nabi ﷺ dan
Shohabat
14.1 Kemuliaan
Ummahatul Mu’minin dan Fathimah
وَنُحْسِنُ
الظَّنَّ بِنِسَاءِ النَّبِيِّ ﷺ أَجْمَعِينَ، وَنَعْتَقِدُ أَنَّهُنَّ أُمَّهَاتُ
الْمُؤْمِنِينَ.
Kami berprasangka baik
kepada seluruh istri Nabi ﷺ, dan
kami meyakini bahwa mereka adalah Ummahatul Mu’minin (Ibunda kaum Mu’min).
وَأَنَّ
عَائِشَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا- أَفْضَلُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ وَبَرَّأَهَا اللهُ
تَعَالَى مِنْ قَوْلِ الْمُلْحِدِينَ فِيهَا بِمَا يُقْرَأُ وَيُتْلَى إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ.
Dan bahwasanya Aisyah (58
H) rodhiyallahu ‘anha adalah wanita paling utama di alam semesta, Alloh Ta’ala
telah membersihkan namanya dari tuduhan orang-orang sesat melalui ayat yang
senantiasa dibaca dan ditilawah sampai hari pembalasan (Qiyamah).
وَكَذَلِكَ
فَاطِمَةُ بِنْتُ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ -وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا وَعَنْ
بَعْلِهَا وَأَوْلَادِهَا- أَفْضَلُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ، وَيَجِبُ مُوَالَاتُهَا
وَمُحَبَّتُهَا كَمَا يَجِبُ ذَلِكَ فِي حَقِّ أَبِيهَا ﷺ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «فَاطِمَةُ
بَضْعَةٌ مِنِّي، يُرِيبُنِي مَا يُرِيبُهَا».
Demikian pula Fathimah
(11 H) putri Nabi kita Muhammad ﷺ
-semoga Alloh Ta’ala meridhoinya,
suaminya, dan anak-anaknya-
adalah wanita paling utama di alam semesta. Wajib memberikan loyalitas dan rasa
cinta kepadanya sebagaimana wajibnya hal itu terhadap ayahnya ﷺ. Nabi ﷺ
bersabda: “Fathimah adalah bagian dariku, apa yang meragukannya
(mengganggunya) maka itu juga menggangguku.”
14.2 Sanjungan
Alloh ﷻ
Terhadap Muhajirin dan Anshor
فَهَذَا
الْقَرْنُ هُمُ الَّذِينَ ذَكَرَهُمُ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ- فِي كِتَابِهِ وَأَثْنَى
عَلَيْهِمْ، فَهُمُ الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ وَالْأَنْصَارُ الَّذِينَ صَلَّوْا
إِلَى الْقِبْلَتَيْنِ.
Maka generasi ini adalah
mereka yang telah disebut oleh Alloh ﷻ di dalam Kitab-Nya dan dipuji oleh-Nya.
Mereka adalah kaum Muhajirin yang awal dan kaum Anshor yang pernah Sholat
menghadap 2 qiblat.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى فِيهِمْ: ﴿لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ
الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ
وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى﴾.
Alloh Ta’ala
berfirman mengenai mereka: “Tidak sama di antara kalian orang yang
menginfakkan hartanya sebelum kemenangan (Makkah) dan berperang. Mereka itu
lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan hartanya setelah
itu dan berperang. Dan masing-masing Alloh janjikan pahala yang terbaik
(Jannah).” (QS. Al-Hadid: 10).
وَقَالَ
-جَلَّ وَعَلَا-: ﴿وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ
فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ
دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا﴾.
Dia ﷻ berfirman: “Alloh telah menjanjikan
kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan mengerjakan amal sholih,
bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan
bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar
akan mengubah (keadaan) mereka setelah mereka dalam ketakutan menjadi aman
sentosa.” (QS. An-Nur: 55).
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ
رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا ...﴾ إِلَى قَوْلِهِ ﴿يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ﴾.
Alloh Ta’ala
berfirman: “Dan orang-orang yang bersama dengannya (Muhammad) adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat
mereka ruku’ dan sujud... (sampai pada firman-Nya) sehingga menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Alloh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
dengan (kekuatan) mereka.” (QS. Al-Fath: 29).
رَوَى جَعْفَرُ
بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ فِي قَوْلِهِ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ﴾ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ فِي الْغَارِ وَالْعَرِيشِ
أَبُو بَكْرٍ ﴿أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ﴾ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ﴿رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ ﴿تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا﴾ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ﴿يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا﴾ طَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ حَوَارِيَا رَسُولِ اللهِ
ﷺ ﴿سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ﴾ سَعْدٌ وَسَعِيدٌ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ
عَوْفٍ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ هَؤُلَاءِ الْعَشَرَةُ ﴿ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ
فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ﴾ يَعْنِي مُحَمَّدًا ﷺ ﴿فَآزَرَهُ﴾ بِأَبِي بَكْرٍ ﴿فَاسْتَغْلَظَ﴾ بِعُمَرَ ﴿فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ﴾ بِعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ ﴿يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ﴾ بِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ ﴿لِيَغِيظَ بِهِمْ﴾ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَأَصْحَابِهِ ﴿الْكُفَّارَ﴾.
Ja’far bin Muhammad (148
H) meriwayatkan dari ayahnya mengenai firman Alloh ﷻ: “Muhammad adalah Rosululloh dan
orang-orang yang bersama dengannya.” maksudnya dalam keadaan susah maupun
senang, di dalam gua maupun di gubuk, yaitu Abu Bakr (13 H). “Keras terhadap
orang-orang kafir.” yaitu Umar bin Al-Khotthob (23 H). “Berkasih sayang
sesama mereka.” yaitu Utsman bin Affan (35 H). “Kamu melihat mereka
ruku’ dan sujud.” yaitu Ali bin Abi Tholib (40 H). “Mereka mencari
karunia Alloh dan keridhoan-Nya.” yaitu Tholhah (36 H) dan Az-Zubair (36 H)
yang merupakan penolong setia Rosululloh ﷺ. “Tanda-tanda
mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” yaitu Sa’ad (55 H), Said
(51 H), Abdurrohman bin ‘Auf (32 H), dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarroh (18 H);
merekalah 10 orang itu. “Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan
tunasnya.” maksudnya Muhammad ﷺ, “lalu
tunas itu menjadikannya kuat.” melalui Abu Bakr, “lalu menjadi besar.”
melalui Umar, “kemudian tegak lurus di atas batangnya.” melalui Utsman
bin Affan, “sehingga menyenangkan hati penanam-penanamnya.” melalui Ali
bin Abi Tholib, “karena Alloh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
dengan (kekuatan) mereka.” maksudnya dengan Nabi ﷺ dan para Shohabat beliau.
14.3 Kewajiban
Menahan Diri Dari Mencela Shohabat
وَاتَّفَقَ
أَهْلُ السُّنَّةِ عَلَى وُجُوبِ الْكَفِّ عَمَّا شَجَرَ بَيْنَهُمْ، وَالْإِمْسَاكِ
عَنْ مَسَاوِئِهِمْ، وَإِظْهَارِ فَضَائِلِهِمْ وَمَحَاسِنِهِمْ، وَتَسْلِيمِ أَمْرِهِمْ
إِلَى اللهِ -عَزَّ وَجَلَّ- عَلَى مَا كَانَ وَجَرَى مِنِ اخْتِلَافِ عَلِيٍّ وَطَلْحَةَ
وَالزُّبَيْرِ وَعَائِشَةَ وَمُعَاوِيَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ- عَلَى مَا قَدَّمْنَا
بَيَانَهُ، وَإِعْطَائِهِ كُلِّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ.
Ahli Sunnah telah
bersepakat atas kewajiban menahan diri dari membicarakan perselisihan yang
terjadi di antara mereka, menahan diri dari menyebutkan keburukan-keburukan
mereka, sebaliknya menampakkan keutamaan-keutamaan dan kebaikan-kebaikan
mereka. Serta menyerahkan urusan mereka kepada Alloh ﷻ atas apa yang telah terjadi berupa
perselisihan antara Ali, Tholhah, Az-Zubair, Aisyah, dan Mu’awiyah rodhiyallahu
‘anhum sebagaimana penjelasan kami sebelumnya, serta memberikan hak
keutamaan kepada setiap pemilik keutamaan.
كَمَا قَالَ
اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: ﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا
تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ﴾.
Sebagaimana firman Alloh ﷻ: “Dan orang-orang yang datang sesudah
mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Robb kami, ampunilah kami dan
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah
Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.
Ya Robb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS.
Al-Hasyr: 10).
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ
وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾.
Alloh Ta’ala berfirman: “Itu
adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagi
kalian apa yang kalian usahakan; dan kalian tidak akan diminta
pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.
Al-Baqoroh: 134).
وَقَالَ
ﷺ: «إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا». وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: «إِيَّاكُمْ
وَمَا شَجَرَ بَيْنَ أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا
مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ».
Beliau ﷺ bersabda: “Jika para Shohabatku disebut
maka tahanlah diri kalian (jangan mencela).”
Dalam lafazh lain: “Waspadalah
kalian terhadap perselisihan di antara Shohabatku, karena seandainya salah
seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak
akan menyamai satu mud (cakupan tangan) pun dari mereka, bahkan tidak pula
setengahnya.”
وَقَالَ
ﷺ: «طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَمَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي»
Beliau ﷺ bersabda: “Beruntunglah bagi orang yang
melihatku dan orang yang melihat orang yang telah melihatku.”
وَقَالَ
ﷺ: «لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَمَنْ سَبَّهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ».
Beliau ﷺ bersabda: “Janganlah kalian mencela
Shohabatku, karena barang siapa mencela mereka maka baginya laknat Alloh.”
وَقَالَ
ﷺ فِي رِوَايَةِ أَنَسٍ: «إِنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- اخْتَارَنِي وَاخْتَارَ لِي
أَصْحَابِي، فَجَعَلَهُمْ أَنْصَارِي، وَجَعَلَهُمْ أَصْهَارِي، وَأَنَّهُ سَيَجِيءُ
فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يَنْقُصُونَهُمْ، أَلَا فَلَا تُوَاكِلُوهُمْ، أَلَا فَلَا
تُشَارِبُوهُمْ، أَلَا فَلَا تُنَاكِحُوهُمْ، أَلَا فَلَا تُصَلُّوا مَعَهُمْ، أَلَا
فَلَا تُصَلُّوا عَلَيْهِمْ، عَلَيْهِمْ حَلَّتِ اللَّعْنَةُ».
Beliau ﷺ bersabda dalam riwayat Anas (93 H): “Sesungguhnya
Alloh ﷻ
memilihku dan memilihkan Shohabat bagiku, lalu Dia menjadikan mereka sebagai
penolongku (anshor) dan menjadikannya sebagai kerabatku melalui pernikahan
(ash-har). Sesungguhnya akan datang di akhir zaman suatu kaum yang merendahkan
mereka. Ingatlah, janganlah kalian makan bersama mereka, janganlah kalian minum
bersama mereka, janganlah kalian menikah dengan mereka, janganlah kalian Sholat
bersama mereka, dan janganlah kalian mensholati janazah mereka, atas merekalah
laknat itu turun.”
وَرَوَى
جَابِرٌ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَا يَدْخُلُ النَّارَ
أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ».
Jabir (78 H) rodhiyallahu
‘anhu meriwayatkan, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Tidak akan masuk Neraka
seorang pun dari mereka yang membaiat di bawah pohon (Baiatur Ridwan).”
وَرَوَى
أَبُو هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «اطَّلَعَ
اللهُ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ يَا أَهْلَ بَدْرٍ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ
غَفَرْتُ لَكُمْ».
Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu
‘anhu meriwayatkan, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Alloh memperhatikan para
peserta Perang Badr lalu berfirman: ‘Wahai para peserta Perang Badr, berbuatlah
sesuka kalian karena Aku sungguh telah mengampuni kalian.’”
وَرَوَى
ابْنُ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّمَا
أَصْحَابِي مِثْلُ النُّجُومِ، فَأَيُّهُمْ أَخَذْتُمْ بِقَوْلِهِ اهْتَدَيْتُمْ».
Ibnu Umar (73 H) rodhiyallahu
‘anhuma meriwayatkan, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Hanyalah para Shohabatku itu
seperti bintang-bintang, siapa pun di antara mereka yang kalian ambil
perkataannya maka kalian akan mendapatkan petunjuk.”
وَعَنِ ابْنِ
بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «مَنْ
مَاتَ مِنْ أَصْحَابِي بِأَرْضٍ جُعِلَ شَفِيعًا لِأَهْلِ تِلْكَ الْأَرْضِ».
Dari Ibnu Buroidah (105
H) dari ayahnya rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwasanya Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa di antara
Shohabatku yang wafat di suatu bumi (daerah), maka dia akan dijadikan sebagai
pemberi syafaat bagi penduduk bumi tersebut.”
وَقَالَ
سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ -رَحِمَهُ اللهُ-: مَنْ نَطَقَ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ
ﷺ بِكَلِمَةٍ فَهُوَ صَاحِبُ هَوًى.
Sufyan bin ‘Uyainah (198
H) rohimahulloh berkata: “Barang siapa yang berucap buruk tentang
para Shohabat Rosululloh ﷺ meskipun satu kalimat, maka dia adalah pengikut hawa nafsu.”
.jpg)