Cari Ebook

[PDF] Sifat Pembesar dan Orang Kaya di Masa Turunnya Wahyu - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji hanya bagi Alloh , Robb semesta alam yang telah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , penutup para Nabi yang diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia, juga kepada keluarga beliau, para Shohabat, serta para pengikut setia hingga akhir zaman.

Amma ba’du:

Lembaran sejarah telah mencatat dengan tinta yang tak akan pernah luntur tentang bagaimana wahyu menyapa hati-hati manusia di tengah kegelapan jahiliyyah. Di antara mereka ada yang menyambutnya dengan tunduk, namun tidak sedikit yang justru membusungkan dada dengan penuh kesombongan. Fenomena ini merupakan cermin yang diletakkan di hadapan wajah kita hari ini. Sering kali, kelimpahan harta dan tingginya kedudukan di mata manusia menjadi tirai tebal yang menghalangi masuknya hidayah. Hati yang telah terbiasa dimanjakan oleh fasilitas duniawi cenderung merasa tidak butuh pada bimbingan langit.

Buku ini disusun untuk membedah sifat-sifat kebanyakan pembesar dan orang kaya pada masa turunnya wahyu, sebagaimana yang dikabarkan oleh Al-Quran dan Hadits yang shohih. Tujuannya bukanlah untuk menghakimi, melainkan sebagai pengingat bagi para pemilik harta dan pemegang otoritas di masa kini. Sesungguhnya, adzab Alloh tidak pernah membedakan antara mereka yang mengenakan kain sutra atau kain kasar jika hati mereka dipenuhi dengan penolakan terhadap kebenaran. Bagi mereka yang belum memulai langkah hijroh, semoga pemaparan ini menyentak kesadaran bahwa dunia ini hanyalah perhiasan yang menipu. Bagi yang telah berhijroh namun masih memelihara gengsi untuk duduk di majelis ilmu atau merasa sudah cukup dengan sedikit amal, ingatlah bahwa kesombongan sekecil biji sawi dapat mengharomkan aroma Jannah. Mari kita tadabburi ayat-ayat Robb kita dan petunjuk Rosul-Nya dengan hati yang hancur di hadapan kebesaran-Nya.

 

Bab 1: Penolakan terhadap Kebenaran karena Kedudukan Duniawi

Sifat pertama yang paling menonjol dari para pembesar di masa Nabi adalah kesombongan yang lahir dari rasa memiliki segalanya. Mereka merasa bahwa kebenaran harus selalu sejalan dengan kepentingan dan status sosial mereka.

1.1 Merasa Diri Lebih Mulia Berdasarkan Nasab dan Jabatan

Para pembesar Quroisy merasa bahwa wahyu seharusnya turun kepada orang yang memiliki kedudukan tinggi di dua negeri, yaitu Makkah atau Thoif. Mereka tidak rela jika seorang yatim yang tidak memiliki kekayaan melimpah menjadi pemimpin bagi mereka. Alloh berfirman:

﴿وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ﴾

“Dan mereka yang sombong itu berkata: ‘Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang lelaki yang terpandang dan kaya raya dari salah satu dua kota, yaitu Makkah atau Thoif?’” (QS. Az-Zukhruf: 31)

Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan dalam tafsirnya bahwa mereka menginginkan agar wahyu diturunkan kepada tokoh seperti Al-Walid bin Al-Mughiroh (ayah Kholid bin Walid) atau Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqofi (belakangan masuk Islam) karena mereka menganggap kemuliaan hanya diukur dari materi dan pengaruh. Kesombongan ini menutup mata mereka dari kebenaran yang dibawa oleh Rosululloh .

Rosululloh memberikan definisi yang sangat jelas mengenai hakekat kesombongan agar para pembesar tidak tertipu oleh perasaan mereka sendiri. Beliau bersabda:

«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Dalam sebuah riwayat dari Abu Huroiroh (58 H), Rosululloh menceritakan keadaan orang yang sombong karena pakaian dan kedudukannya:

«بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ، تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ»

“Pernah ada seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang sangat bagus, ia merasa kagum dengan dirinya sendiri, sambil menyisir rambutnya yang panjang hingga menyentuh pundak. Tiba-tiba Alloh membenamkannya ke dalam bumi, maka ia senantiasa tenggelam sambil berteriak kesakitan di dalamnya hingga hari Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no. 5789 dan Muslim no. 2088)

Sifat ini sering kali muncul pada mereka yang merasa memiliki nasab yang tinggi atau jabatan yang mentereng di tengah masyarakat. Mereka merasa lebih berhak untuk ditaati dan didengar daripada orang yang hanya membawa dalil.

1.2 Memandang Rendah Orang-Orang Lemah yang Meniti Jalan Kebenaran

Ketika para pembesar melihat bahwa pengikut Rosululloh kebanyakan terdiri dari kaum dhuafa, budak, dan orang-orang miskin, mereka merasa gengsi untuk bergabung. Mereka menganggap bahwa duduk bersama orang miskin akan menjatuhkan martabat mereka. Alloh merekam ucapan mereka dalam Al-Quran:

﴿أَهَؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ﴾

“Dan orang-orang kafir itu berkata: ‘Apakah orang-orang fakir ini yang Alloh beri anugerah hidayah di antara kami?’ Bukankah Alloh lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur kepada-Nya?” (QS. Al-An’am: 53)

As-Sa’di (1376 H) menyebutkan bahwa para pembesar tersebut menganggap diri mereka lebih layak mendapatkan kebaikan daripada orang miskin. Padahal, kemuliaan di sisi Alloh hanyalah berdasarkan taqwa, bukan saldo simpanan atau luasnya lahan.

Begitu pula sifat yang ditunjukkan oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam yang mewakili karakter pembesar di setiap zaman:

﴿فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ﴾

“Maka berkatalah para pembesar yang kafir dari kaumnya: Kami tidak melihat engkau melainkan sebagai seorang manusia biasa seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti engkau melainkan orang-orang yang paling rendah di antara kami yang lekas percaya tanpa berpikir panjang.” (QS. Hud: 27)

Sifat meremehkan sesama ini sangat dibenci oleh Alloh . Rosululloh bersabda:

«بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ»

“Cukuplah seseorang dianggap melakukan keburukan jika ia meremehkan saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim no. 2564)

Banyak orang kaya masa kini yang enggan hadir di kajian-kajian sunnah karena melihat pesertanya adalah orang-orang biasa atau mereka merasa tidak sebanding level ekonominya. Ini adalah warisan sifat para pembesar kafir Quroisy yang harus segera dibuang.

1.3 Keengganan Tunduk kepada Wahyu karena Gengsi dan Harga Diri Semu

Gengsi adalah penghalang terbesar bagi masuknya ilmu. Pembesar masa lalu seperti Abu Jahl sebenarnya mengetahui bahwa apa yang dibawa Nabi adalah kebenaran, namun ia enggan tunduk karena takut kehilangan pengaruh. Alloh berfirman tentang kerasnya hati mereka:

﴿فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ﴾

“Sesungguhnya mereka itu sebenarnya tidak mendustakan engkau, tetapi orang-orang yang zholim itu mengingkari ayat-ayat Alloh karena keras kepala dan sombong.” (QS. Al-An’am: 33)

Al-Akhnas bin Syariq bertanya kepada Abu Jahl: “Wahai Abu Al-Hakam, beri tahu aku tentang Muhammad, apakah ia jujur atau dusta?” Abu Jahl menjawab: “Demi Alloh, sesungguhnya Muhammad itu jujur, ia tidak pernah berbohong. Akan tetapi, jika Bani Qushoy (kabilah Nabi ) membawa panji kepemimpinan, hijabah, siqoyah, dan nubuwwah (kenabian), lalu apa yang tersisa bagi kabilah Quroisy lainnya?” (Tafsir Ath-Thobari, 9/222)

Inilah potret pembesar yang lebih mendahulukan gengsi daripada keselamatan di Akhiroh. Mereka lebih takut disebut “pengikut” daripada menjadi musuh Alloh . Rosululloh memberikan peringatan keras:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun hanya seberat biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)

Ibnu Rojab Al-Hanbali (795 H) menjelaskan bahwa kesombongan yang menghalangi seseorang dari menerima kebenaran adalah jenis kesombongan yang paling berbahaya karena ia menempatkan dirinya sebagai tandingan bagi hukum-hukum Alloh .

Bagi orang kaya yang telah hijroh, jangan sampai rasa gengsi membuat Anda enggan ditegur ketika salah, atau merasa lebih tahu daripada para ustadz hanya karena Anda sukses dalam bisnis. Ilmu syar’i butuh ketundukan, bukan negosiasi.

 

Bab 2: Ambisi Mengumpulkan Kemegahan

Harta bagi para pembesar di masa turunnya wahyu adalah segalanya. Mereka menganggap bahwa kemuliaan seseorang diukur dari seberapa banyak ia bisa menimbun kekayaan.

2.1 Obsesi Menimbun Kekayaan dan Senantiasa Menghitung-hitungnya

Alloh menggambarkan karakter pembesar yang celaka karena hartanya dalam surat Al-Humazah:

﴿الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ  يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ﴾

“Yaitu orang yang mengumpulkan harta dan senantiasa menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya di dunia.” (QS. Al-Humazah: 2-3)

Sifat ini menunjukkan hati yang terikat mati pada angka-angka. Mereka menghabiskan waktu hanya untuk memastikan aset mereka bertambah tanpa peduli apakah harta itu akan menolong mereka di hadapan Alloh . Mereka begitu asyik menghitung hartanya hingga lupa akan tujuan penciptaan mereka.

Rosululloh memperingatkan tentang bahaya ambisi harta yang tidak ada habisnya:

«لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ»

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah berisi harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian). Alloh menerima taubat bagi yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhori no. 6436 dan Muslim no. 1048)

Para pembesar tersebut tertipu oleh angka-angka yang mereka kumpulkan, padahal harta yang sebenarnya mereka miliki hanyalah apa yang mereka makan lalu habis, apa yang mereka pakai lalu usang, dan apa yang mereka sedekahkan lalu kekal pahalanya.

2.2 Tertipu oleh Kelimpahan Rizqi sebagai Bentuk Istidroj dari Robb

Banyak orang kaya merasa bahwa banyaknya harta adalah bukti bahwa Alloh ridho kepada mereka. Mereka berkata sebagaimana direkam dalam Al-Quran:

﴿وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ﴾

“Dan mereka para pembesar itu berkata: ‘Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak daripada kalian, dan kami tidak akan mungkin diadzab.” (QS. Saba’: 35)

Ini adalah pemahaman yang sesat. Kelimpahan harta pada orang yang bermaksiat dan enggan beribadah adalah istidroj (jebakan). Alloh berfirman:

﴿أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ  نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَا يَشْعُرُونَ﴾

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu berarti Kami segera memberikan kebaikan bagi mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar bahwa itu adalah ujian.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56)

Rosululloh bersabda untuk mengingatkan kita semua:

«إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»

“Jika engkau melihat Alloh memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba yang ia sukai padahal hamba itu terus bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu hanyalah istidroj.” (HR. Ahmad no. 17311, shohih)

Betapa banyak orang kaya masa kini yang merasa “aman” karena bisnisnya lancar meskipun ia meninggalkan Sholat atau tidak pernah Zakat. Ketahuilah, itu adalah awal dari kebinasaan yang sangat pedih.

2.3 Kekikiran dalam Menunaikan Hak Harta kepada Fakir Miskin dan Da’wah

Para pembesar di masa Nabi sangat berat untuk mengeluarkan harta di jalan Alloh . Mereka menganggap sedekah akan mengurangi kekayaan mereka. Alloh berfirman:

﴿وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ﴾

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang kikir dengan harta yang Alloh berikan kepada mereka dari karunia-Nya itu mengira bahwa kekikiran itu baik bagi mereka. Sebenarnya kekikiran itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali ‘Imron: 180)

Mereka sering kali berdalih dengan logika yang dangkal ketika diminta membantu orang miskin:

﴿أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ﴾

“Apakah kami harus memberi makan kepada orang-orang yang jika Alloh menghendaki niscaya Dia akan memberinya makan? Kalian benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 47)

Sifat kikir ini menghancurkan masyarakat dan diri mereka sendiri. Rosululloh bersabda:

«اتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ»

“Jauhilah oleh kalian sifat kikir (pelit yang disertai ambisi), karena sesungguhnya sifat kikir itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Muslim no. 2578)

Orang kaya yang sudah hijroh seharusnya menjadi mesin penggerak da’wah dengan hartanya, bukan malah menghitung-hitung keuntungan saat diminta mendukung kegiatan Islam. Jangan sampai harta Anda menjadi belenggu di leher Anda pada hari Qiyamah nanti.

 

Bab 3: Lisan yang Tajam dalam Menghina

Lisan para pembesar di masa turunnya wahyu sering kali menjadi senjata yang lebih tajam daripada pedang untuk melukai perasaan para pengikut kebenaran. Mereka menggunakan lisan bukan untuk berdiskusi secara ilmiyyah, melainkan untuk menjatuhkan mental para Mu’min.

3.1 Menuduh para Pengajak Kebaikan dengan Gelar-Gelar Rendahan

Kebiasaan para pembesar ketika tidak mampu membantah kebenaran wahyu adalah menyerang pribadi pembawanya. Mereka memberikan gelar-gelar buruk agar orang lain menjauh. Alloh berfirman:

﴿كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ﴾

“Demikianlah, tidak ada seorang Rosul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: ‘Dia itu adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’” (QS. Adz-Dzariyat: 52)

Hati para pembesar dari berbagai zaman memiliki keserupaan dalam kesombongan, sehingga ucapan mereka pun seragam dalam merendahkan para utusan Alloh . Mereka ingin memberikan kesan kepada masyarakat bahwa ajaran Islam hanyalah hasil dari akal yang rusak atau tipu daya sihir.

Rosululloh juga mendapatkan perlakuan serupa dari para pembesar Quroisy. Dalam sebuah riwayat dari Jundub bin Abdillah (64 H), beliau menceritakan:

اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَتَيْنِ - أَوْ ثَلاَثًا -، فَجَاءَتْ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ شَيْطَانُكَ قَدْ تَرَكَكَ، لَمْ أَرَهُ قَرِبَكَ مُنْذُ لَيْلَتَيْنِ - أَوْ ثَلاَثَةٍ

“Rosululloh pernah sakit sehingga beliau tidak bangun Sholat malam selama dua atau tiga malam. Kemudian datanglah seorang wanita lalu berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya aku berharap syaithonmu benar-benar telah meninggalkanmu, aku tidak melihatnya mendekatimu sejak dua atau tiga malam ini.” (HR. Al-Bukhori no. 4950 dan Muslim no. 1797)

Wanita tersebut menyebut Jibril ‘alaihissalam dengan sebutan syaithon sebagai bentuk penghinaan. Sifat ini diwarisi oleh pembesar masa kini yang sering melabeli para aktivis da’wah atau orang yang hijroh dengan sebutan-sebutan negatif seperti fanatik, kuno, atau sok suci hanya untuk menutupi rasa malu mereka karena tidak mampu melakukan hal yang sama.

3.2 Menertawakan Kesungguhan Ibadah para Mu’min yang Fakir

Menjadikan penderitaan dan kesungguhan orang miskin dalam beragama sebagai bahan tertawaan adalah hobi para pembesar yang hatinya telah mati. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ * وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa itu dahulu di dunia selalu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman itu lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan mata karena mengejek.” (QS. Al-Muthoffifin: 29-30)

As-Sa’di (1376 H) memaparkan bahwa para pembesar itu merasa bangga dengan kecerdasan dan harta mereka, sehingga mereka memandang rendah fisik dan kesederhanaan para Mu’min. Mereka merasa bahwa keberagamaan adalah tanda kelemahan akal.

Orang kaya yang sudah hijroh harus berhati-hati agar tidak membawa residu sifat ini, seperti merasa risih saat harus duduk bersimpuh di lantai masjid bersama para pemulung atau buruh kasar yang juga mencari ilmu. Jangan biarkan mata Anda mengedip penuh keremehan kepada mereka yang lebih dicintai langit daripada diri Anda.

Ibnu Mas’ud (32 H) yang bertubuh kecil dan kurus sedang mengambil ranting pohon. Ketika ada yang menertawakannya, Rosululloh bersabda untuk membela kehormatannya:

«مِمَّ تَضْحَكُونَ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ أُحُدٍ»

“Apa yang membuat kalian tertawa? Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, sunggu dua kaki tersebut itu lebih berat dalam timbangan amal daripada gunung Uhud.” (HR. Ahmad no. 920, shohih)

3.3 Menganggap Peringatan Akhiroh sebagai Dongeng Orang-Orang Dahulu

Ketika disampaikan kepada mereka tentang adanya kebangkitan setelah mati, para pembesar menggunakan lisan mereka untuk meragukan janji Alloh dengan nada meremehkan.

﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا أَئِنَّا لَمُخْرَجُونَ * لَقَدْ وُعِدْنَا هَذَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾

“Dan orang-orang kafir itu berkata: ‘Apakah jika kami telah menjadi tanah dan begitu pula leluhur kami, apakah benar kami akan dikeluarkan dari kubur? Sungguh, kami dan leluhur kami telah diberi janji seperti ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang dahulu kala.” (QS. An-Naml: 67-68)

Mereka menganggap bahwa kehidupan hanya ada di dunia ini saja, sehingga peringatan tentang siksaan kubur dan Naar dianggap sebagai cerita untuk menakut-nakuti orang bodoh. Sifat ini membuat mereka berani berbuat zholim karena merasa tidak akan ada pertanggungjawaban.

Abu Jahl pernah mengejek hidangan pohon Zaqqum di Naar dengan mengatakan bahwa Zaqqum hanyalah kurma dan mentega, lalu ia mengajak teman-temannya untuk “melahap” adzab tersebut. Alloh kemudian membungkam kesombongan mereka dengan firman-Nya:

﴿إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ * طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ﴾

“Sesungguhnya itu adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala syaithon-syaithon yang seram.” (QS. Ash-Shoffat: 64-65)

Pembesar masa kini yang merasa risih ketika mendengar bahaya riba atau ancaman adzab bagi pemimpin yang zholim, sebenarnya sedang mengulang pola pikir yang sama. Mereka lebih percaya pada data statistik dunia daripada janji-janji Robb yang menciptakan dunia itu sendiri.

3.4 Kezholiman dan Kesewenang-wenangan dalam Kekuasaan

Kekuasaan tanpa iman akan melahirkan tiran. Para pembesar di masa turunnya wahyu menggunakan pengaruh mereka untuk menindas siapa saja yang menghalangi kepentingan mereka.

Sifat melampaui batas adalah ciri khas mereka yang merasa memiliki otoritas mutlak. Alloh berfirman:

﴿كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى * أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى﴾

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya sudah serba cukup dengan harta dan kedudukan.” (QS. Al-’Alaq: 6-7)

Ketika seseorang merasa cukup, ia cenderung merasa tidak perlu lagi pada aturan Robb-nya dan mulai berbuat semena-mena kepada sesama manusia. Fir’aun adalah simbol dari puncak kezholiman pembesar:

﴿فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى﴾

“Maka ia (Fir’aun) berkata dengan sombongnya: ‘Akulah Robb kalian yang paling tinggi.’” (QS. An-Nazi’at: 24)

Meskipun pembesar masa kini tidak berkata demikian secara lisan, namun tindakan mereka yang meremehkan hak karyawan, menunda gaji, atau menggunakan jabatan untuk menindas orang kecil, adalah bentuk nyata dari sifat Fir’auniyah ini. Rosululloh bersabda:

«اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Takutlah kalian akan perbuatan zholim, karena sesungguhnya kezholiman itu akan menjadi kegelapan yang berlapis-lapis pada hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 2578)

Hati-hatilah wahai para atasan, jangan sampai doa orang yang Anda zholimi menembus langit dan menghancurkan seluruh jerih payah Anda.

 

Bab 4: Merasa Rasa Aman dari Pengadilan Alloh

Harta dan kekuasaan sering kali memberikan ilusi bahwa seseorang kebal terhadap hukum, baik hukum manusia maupun hukum Alloh .

4.1 Keyakinan Sesat bahwa Harta Dapat Mengekalkan Kehidupan

Para pembesar hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati. Mereka merasa bahwa dengan uang, mereka bisa membeli kesehatan, umur panjang, dan bahkan keselamatan di Akhiroh jika memang itu ada.

﴿يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ﴾

“Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya di dunia.” (QS. Al-Humazah: 3)

Al-Baghowi (516 H) menyebutkan bahwa orang tersebut menyangka harta yang dikumpulkannya bisa menolak kematian.

Keasyikan dalam mengelola bisnis dan menambah aset sering kali membuat seseorang lupa bahwa ia sedang mengantre menuju liang lahat yang sempit.

Rosululloh memberikan gambaran betapa hinanya harta di hadapan maut:

«يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ»

“Tiga hal akan mengiringi janazah ke kubur: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua hal akan kembali dan satu hal akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6514 dan Muslim no. 2960)

Wahai orang kaya, berhentilah merasa aman dengan saldo di rekening Anda. Saldo itu tidak akan mampu menyuap Malaikat Maut saat ia datang menjemput nyawa Anda di tengah kemewahan kamar tidur Anda.

4.2 Kelalaian di Tengah Kenikmatan dan Merasa Terbebas dari Adzab

Semakin banyak nikmat yang didapat, semakin besar pula potensi kelalaian jika tidak dibarengi syukur. Para pembesar masa lalu merasa bahwa kesuksesan mereka adalah hak mutlak, bukan ujian.

﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ﴾

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Ini adalah bentuk kemurkaan Alloh yang paling halus. Orang kaya dibiarkan terus sukses dalam kemaksiatannya agar ia semakin jauh dari jalan kembali.

Jangan sampai gaya hidup mewah Anda membuat Anda merasa “pasti selamat”. Bisa jadi kemudahan yang Anda dapatkan hari ini hanyalah cara Alloh untuk membuat Anda benar-benar hancur tanpa sisa di masa depan.

4.3 Kerasnya Hati yang Menutup Pintu Tobat dan Pengingat Mati

Hati para pembesar sering kali membatu seperti batu karang yang tidak bisa ditembus air. Mereka mendengar ayat dibacakan, namun hati mereka sibuk memikirkan tender atau persaingan bisnis.

﴿ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً﴾

“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al-Baqoroh: 74)

Kerasnya hati ini membuat mereka merasa tidak butuh tobat. Mereka merasa sudah cukup baik hanya karena sudah memberi makan beberapa orang miskin atau membangun sebuah Masjid, padahal hati mereka masih penuh dengan kesombongan dan penolakan terhadap Sunnah.

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ»

“Sesungguhnya seorang Mu’min jika berbuat dosa, maka akan ada setitik noda hitam di hatinya. Jika ia bertobat, berhenti dari dosa, dan memohon ampun, maka hatinya akan kembali bersih. Namun jika dosanya bertambah, maka noda itu pun bertambah hingga menutupi seluruh hatinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334, hasan shohih)

Bagi pembesar yang sudah hijroh, waspadalah jika Anda sudah tidak lagi bisa menangis saat mendengar ayat tentang adzab. Itu adalah tanda bahwa harta Anda telah mulai melapisi hati Anda dengan kerak kesombongan yang menjauhkan Anda dari rohmat Robb.

 

Bab 5: Upaya Menghalangi Manusia dari Jalan Alloh

Tidak cukup dengan sesat sendiri, para pembesar sering kali aktif mengajak orang lain untuk ikut sesat atau setidaknya menjauh dari kebenaran.

5.1 Membelanjakan Harta untuk Memadamkan Cahaya Agama

Uang digunakan sebagai instrumen untuk menghalangi da’wah. Mereka membiayai propaganda, mendanai acara-acara maksiat, atau memberikan imbalan bagi orang yang mau meninggalkan agama Islam.

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Alloh. Mereka akan terus menafkahkannya, kemudian harta itu akan menjadi penyesalan bagi mereka, dan akhirnya mereka akan dikalahkan.” (QS. Al-Anfal: 36)

Di masa Rosululloh , para pembesar Quroisy mengumpulkan dana untuk membiayai pasukan dalam perang Badar guna menghancurkan Islam. Harta yang mereka kumpulkan dengan susah payah justru menjadi sebab kehinaan mereka sendiri.

Dalam sejarah, Abu Sufyan (31 H) sebelum masuk Islam pernah membawa kafilah dagang besar yang keuntungannya digunakan untuk membiayai permusuhan terhadap Nabi . Namun Alloh membalikkan keadaan tersebut.

Hari ini, jika Anda menggunakan pengaruh dan harta Anda untuk mendukung kebijakan yang menyulitkan umat Islam, atau mendanai konten yang merusak moral generasi muda, maka Anda sedang berjalan di atas jejak para pembesar yang binasa di perang Badar. Harta itu akan menjadi api yang membakar Anda sendiri.

5.2 Menebarkan Keraguan dan Ketakutan kepada Orang yang Ingin Hijroh

Para pembesar sering kali menakut-nakuti orang yang ingin kembali ke jalan Alloh dengan ancaman kemiskinan atau kehilangan status sosial.

﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ﴾

“Syaithon itu menjanjikan kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji (kikir).” (QS. Al-Baqoroh: 268)

Pembesar yang menjadi kaki tangan syaithon akan berkata kepada temannya yang ingin hijroh: “Jika kamu berhenti dari bisnis riba ini, kamu akan bangkrut. Siapa yang akan memberi makan keluargamu?” Ini adalah ucapan yang menusuk iman namun dibungkus dengan nada “peduli”.

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالحَقِّ»

“Sesungguhnya syaithon memiliki bisikan kepada anak Adam, dan Malaikat juga memiliki bisikan. Adapun bisikan syaithon adalah menjanjikan keburukan (kemiskinan) dan mendustakan kebenaran.” (HR. At-Tirmidzi no. 2988)

Janganlah menjadi syaithon berbentuk manusia bagi teman-teman Anda. Jika Anda belum mampu hijroh total, janganlah menghalangi orang lain yang sedang berusaha merangkak menuju ridho Alloh .

5.3 Mencari-cari Celah dan Kesalahan para Ulama serta Penuntut Ilmu

Untuk melegitimasi penolakan mereka, para pembesar sibuk mencari aib para pengemban da’wah. Jika mereka menemukan satu kesalahan kecil, mereka akan membesarkannya seolah-olah seluruh ajaran agama itu salah.

﴿الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Orang-orang munafiq itu mencela para Mu’min yang memberikan sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memiliki apa pun untuk disedekahkan selain hasil jerih payahnya, lalu mereka menghina orang-orang Mu’min itu. Alloh akan membalas penghinaan mereka, dan bagi mereka adzab yang sangat pedih.” (QS. At-Tauhbah: 79)

Takhrij hadits dan tafsir para ulama sering kali menjadi sasaran kritik para pembesar yang hanya bermodalkan logika duniawi. Mereka merasa lebih pintar daripada ulama yang telah menghabiskan umurnya untuk meneliti satu hadits.

Sikap ini sering muncul pada pembesar yang merasa sukses secara akademik atau finansial, sehingga mereka merasa berhak untuk “mengoreksi” hukum Alloh sesuai selera mereka. Ketahuilah, kecerdasan Anda dalam mengelola dunia tidak ada nilainya jika Anda bodoh dalam memahami tujuan hidup Anda.

 

Bab 6: Belenggu Tradisi Leluhur

Sering kali, seorang pembesar merasa bahwa jati dirinya melekat erat pada tradisi dan kelompoknya. Ketika wahyu datang membawa perubahan yang mendasar, mereka merasa terancam bukan karena dalilnya lemah, melainkan karena mereka takut dianggap berkhianat terhadap warisan leluhur.

6.1 Mendahulukan Kebiasaan Leluhur di Atas Dalil

Para pembesar di masa turunnya wahyu menjadikan kebiasaan leluhur sebagai standar kebenaran tertinggi. Meskipun kebenaran itu sangat benderang, mereka lebih memilih mengikuti kegelapan masa lalu demi menjaga kehormatan marga atau kabilah. Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah Alloh turunkan.’ Mereka menjawab: ‘Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan leluhur kami.’ Apakah mereka akan tetap mengikuti leluhur mereka meskipun leluhur mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqoroh: 170)

Al-Baghowi (516 H) menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para pembesar Yahudi dan kaum kafir Quroisy yang menutup mata dari mukjizat Nabi hanya karena fanatisme buta kepada ajaran orang tua mereka. Sifat ini sangat berbahaya karena mematikan fungsi akal dalam mencari ridho Alloh .

Begitu pula peringatan Alloh tentang perilaku para pembesar yang hidup mewah (mutrof) dalam menolak kebenaran:

﴿وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ﴾

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati leluhur kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23)

Taklid (ikut-ikutan tanpa dalil) adalah rantai yang membelenggu hati dari cahaya Ilmu Syar’i. Banyak orang kaya masa kini yang enggan meninggalkan ritual atau tradisi yang tidak ada tuntunannya hanya karena takut dianggap “berbeda” atau “durhaka” kepada adat keluarga besar mereka.

6.2 Ketakutan akan Kehilangan Pengikut dan Popularitas di Mata Manusia

Bagi seorang pembesar, jumlah pengikut adalah lambang kekuatan. Mereka khawatir jika mereka mengikuti Sunnah secara murni, maka orang-orang akan menjauh dari mereka. Inilah yang menghalangi Heraklius, penguasa Romawi, untuk masuk Islam meskipun ia tahu Nabi adalah utusan yang benar.

Diriwayatkan dari Abdulloh bin Abbas (68 H) dalam sebuah hadits panjang tentang dialog antara Abu Sufyan (31 H) dan Heraklius. Heraklius berkata:

«إِنْ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا فَسَيَمْلِكُ مَوْضِعَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ، وَقَدْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ، لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ أَنَّهُ مِنْكُمْ، فَلَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أَنِّي أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ، وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ»

“Jika apa yang kamu (Abu Sufyan) katakan itu benar, niscaya ia akan menguasai tempat kedua kakiku berpijak ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa ia akan muncul, namun aku tidak menyangka ia muncul dari kalangan kalian. Sekiranya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, niscaya aku akan berusaha payah untuk menemuinya, dan sekiranya aku berada di sisinya niscaya akan aku cuci kedua kakinya.” (HR. Al-Bukhori no. 7 dan Muslim no. 1773)

Namun, pada akhirnya Heraklius tetap pada kekafirannya karena ia takut akan pemberontakan rakyatnya dan kehilangan tahta. Rasa takut akan hilangnya popularitas di mata manusia adalah penjara bagi jiwa. Banyak pembesar masa kini yang sudah hijroh tetapi masih malu menampakkan identitas keislamannya secara utuh karena takut kehilangan rekan bisnis atau pengagum di media sosial.

6.3 Mengagungkan Status Quo demi Menjaga Kenyamanan Duniawi

Status quo atau kemapanan posisi sering kali menjadi berhala yang disembah secara tidak sadar. Para pembesar tidak ingin tatanan sosial yang menguntungkan mereka terusik oleh ajaran Islam yang mengutamakan persamaan derajat di hadapan Alloh .

﴿قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ﴾

“Mereka berkata: ‘Wahai Syu’aib, apakah Sholatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh leluhur kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut apa yang kami kehendaki?” (QS. Hud: 87)

Ayat ini menunjukkan bahwa para pembesar merasa terganggu ketika agama mengatur cara mereka mencari dan membelanjakan harta. Mereka ingin bebas tanpa aturan. Orang kaya yang enggan mengaji biasanya merasa bahwa agama akan membatasi “kenyamanan” mereka dalam bersenang-senang.

Rosululloh memberikan perumpamaan bagi orang yang lebih mengutamakan dunia di atas agama:

«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»

“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah sekawanan kambing lebih merusak daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kehormatan (status sosial) bagi agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376, shohih)

Ambisi menjaga nama baik dan kemewahan hidup telah merusak agama banyak orang besar, lebih parah daripada kerusakan yang dibuat oleh serigala lapar.

 

Bab 7: Kelalaian dan Enggan Menimba Ilmu Syar’i

Kematian hati yang paling nyata adalah ketika seseorang sangat cerdas dalam urusan dunia namun sangat bodoh dalam urusan Akhiroh.

7.1 Merasa Cukup dengan Pengetahuan Dunia namun Buta Ilmu Akhiroh

Inilah ciri khas masyarakat yang didominasi oleh para pembesar yang sombong. Mereka menguasai ilmu manajemen, politik, dan ekonomi, namun tidak mengenal siapa Robb mereka. Alloh berfirman:

﴿يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) saja dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang kehidupan Akhiroh adalah orang-orang yang lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)

At-Thobari (310 H) menyebutkan bahwa mereka sangat pandai dalam membangun gedung, menanam pohon, dan mengumpulkan kekayaan, tetapi mereka buta terhadap perintah dan larangan Alloh .

Rosululloh bersabda tentang kemurkaan Alloh terhadap orang semacam ini:

«إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ، سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ، جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ، عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ»

“Sesungguhnya Alloh Ta’ala membenci setiap orang yang keras lagi sombong, yang rakus mengumpulkan harta, yang suka berteriak-teriak di pasar (berdebat urusan dunia), yang tidurnya seperti bangkai di malam hari (tidak Sholat malam), yang bekerja seperti keledai di siang hari, yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan Akhiroh.” (HR. Ibnu Hibban no. 72, shohih)

Betapa menyedihkan melihat seorang pembesar yang bisa memimpin ribuan karyawan namun tidak tahu cara Sholat janazah atau tidak paham syarat sahnya jual beli secara Islami.

7.2 Rasa Malas dan Gengsi untuk Duduk di Majelis Ilmu Bersama Orang Awam

Setan membisikkan ke telinga orang kaya bahwa duduk di majelis ilmu bersama orang-orang biasa akan menurunkan wibawa mereka. Padahal, kemuliaan hanya ada pada ilmu. Alloh berfirman:

﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾

“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ibnu Al-Mubarok (181 H) pernah ditanya: “Sampai kapan engkau akan terus menuntut ilmu?” Beliau menjawab: “Sampai mati, karena aku tidak tahu kalimat mana yang mungkin akan menyelamatkanku di hadapan Alloh.”

Diriwayatkan dari Abu Waqid Al-Laitsi (68 H) tentang tiga orang yang datang ke majelis Rosululloh :

«أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ»

“Adapun salah seorang dari mereka (yang duduk di depan) maka ia mendekat kepada Alloh maka Alloh pun mendekat kepadanya. Adapun yang kedua (yang duduk di belakang karena malu) maka ia malu kepada Alloh maka Alloh pun malu kepadanya. Adapun yang ketiga (yang berpaling dan pergi) maka ia berpaling dari Alloh maka Alloh pun berpaling darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 66 dan Muslim no. 2176)

Wahai para pemilik kedudukan, janganlah Anda menjadi orang ketiga yang berpaling dari majelis ilmu hanya karena merasa tempat itu tidak eksklusif bagi level sosial Anda. Ingatlah, saat di padang Mahsyar, tidak ada area VIP bagi orang kaya.

7.3 Lebih Mengutamakan Hiburan dan Sendau Gurau daripada Tadabbur Al-Quran

Kehidupan para pembesar masa kini sering diisi dengan hobi-hobi mahal yang melalaikan, sementara Al-Quran hanya menjadi pajangan di lemari.

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan percakapan kosong (hiburan yang melalaikan) untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh tanpa ilmu dan menjadikan jalan Alloh itu sebagai olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)

Al-Hasan Al-Bashri (110 H) berkata bahwa yang dimaksud dengan percakapan kosong dalam ayat ini adalah segala sesuatu yang memalingkan manusia dari ketaatan kepada Alloh , baik itu nyanyian, permainan, atau obrolan duniawi yang berlebihan.

Rosululloh memberikan nasihat yang sangat dalam:

«لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا»

“Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan benar-benar akan banyak menangis.” (HR. Al-Bukhori no. 6485)

Orang kaya yang sudah hijroh tetapi masih sibuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk hobi namun merasa berat membaca satu juz Al-Quran sehari, sebenarnya hatinya sedang tertawan oleh sendau gurau dunia.

 

Bab 8: Perlombaan dalam Kemewahan

Persaingan status materi adalah penyakit kronis yang menjangkiti para pembesar dari zaman ke zaman.

8.1 Berbangga-bangga dengan Megahnya Bangunan dan Kendaraan

Alloh menggambarkan perilaku orang-orang yang sombong dengan harta mereka:

﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴾

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam liang kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)

Perlombaan dalam mengumpulkan harta, anak, dan pengikut telah membuat manusia lupa akan tujuan hidup mereka yang sebenarnya hingga maut menjemput secara tiba-tiba.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) pernah berkata:

لَيْسَ الزُّهدُ بِأَكْلِ الغَلِيْظِ، وَلُبْسِ الخَشِنِ، وَلَكِنَّهُ قِصَرُ الأَمَلِ، وَارْتِقَابُ المَوْتِ

“Zuhud itu bukanlah dengan makan makanan yang kasar atau memakai pakaian yang jelek, melainkan dengan memendekkan angan-angan dan senantiasa menanti kedatangan maut.” (As-Siyar, Adz-Dzahabi, 7/243)

Membangun rumah yang megah atau memiliki kendaraan mewah bukanlah harom secara dzatnya, namun menjadi bencana jika tujuannya adalah untuk membanggakan diri di hadapan manusia dan merasa lebih hebat dari orang lain.

8.2 Persaingan Jumlah Pengikut dan Harta yang Berakhir dengan Kebinasaan

Dalam Al-Quran diceritakan tentang pemilik dua kebun yang sombong kepada temannya yang miskin:

﴿فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا﴾

“Maka ia berkata kepada kawannya ketika bercakap-cakap dengannya: ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat daripada pengikutmu.” (QS. Al-Kahfi: 34)

Akhir dari kesombongan ini adalah kehancuran total atas apa yang ia banggakan. Alloh mengirimkan bencana yang memusnahkan kebunnya dalam sekejap.

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا»

“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Alloh menjadikan kalian sebagai penguasa di dalamnya, kemudian Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. ‘Maka waspadalah kalian terhadap fitnah dunia.” (HR. Muslim no. 2742)

Bagi pembesar masa kini, jumlah “follower” dan besarnya omzet bisnis jangan sampai membuat Anda merasa sebagai orang yang paling mulia. Semua itu bisa hilang dalam satu ketetapan Alloh yang tidak terduga.

8.3 Melupakan Bekal Kubur karena Terlalu Sibuk Memoles Penampilan Lahiriyah

Banyak orang menghabiskan jutaan rupiah untuk perawatan tubuh dan pakaian bermerek, namun tidak mengeluarkan sepeser pun untuk “perawatan” iman.

﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ﴾

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kalian serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak cucu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) memberikan nasihat yang menusuk hati: “Jika engkau mampu untuk tidak dikenal orang, maka lakukanlah. Tidak ada ruginya bagimu jika engkau tidak dikenal manusia, selama engkau dikenal di sisi Alloh.”

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Wahai orang kaya, berhentilah memoles topeng duniawi Anda sementara batin Anda keropos dan penuh dengan noda dosa. Kain kafan yang akan Anda gunakan nanti tidak memiliki saku untuk membawa kartu kredit atau kunci mobil mewah Anda.

 

Bab 9: Penyesalan yang Tiada Guna

Segala kemegahan akan berakhir pada satu titik: kematian. Di sanalah kebenaran akan tampak sejelas-jelasnya, namun pintu tobat telah tertutup.

9.1 Penderitaan saat Sakarotul Maut bagi Pembesar yang Zholim

Alloh memberikan gambaran yang sangat mengerikan tentang bagaimana nyawa para pembesar yang angkuh dicabut:

﴿وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ المَوْتِ وَالمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ اليَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ﴾

“Alangkah ngerinya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zholim berada dalam tekanan sakarotul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangan mereka sambil berkata: ‘Keluarkanlah nyawa kalian! Di hari ini kalian dibalas dengan adzab yang sangat menghinakan, karena kalian selalu mengatakan terhadap Alloh perkataan yang tidak benar dan karena kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.’” (QS. Al-An’am: 93)

Kekuasaan mereka tidak berguna sama sekali saat Malaikat Maut datang membawa aroma Naar. Tidak ada pengawal yang bisa menghalangi, tidak ada pengacara yang bisa membela.

Diriwayatkan dari Al-Barro’ bin ‘Azib (71 H), Rosululloh bersabda tentang cabutan nyawa orang kafir/fajir:

«فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ، [فَتَقْطَعُ مَعَهَا الْعُرُوقَ وَالْعَصَبَ]»

“Maka nyawa itu berpencar di seluruh tubuhnya, lalu malaikat mencabutnya sebagaimana alat pemanggang besi yang penuh duri dicabut dari kain wol yang basah, sehingga ikut terputuslah seluruh urat dan sarafnya.” (HR. Ahmad no. 18534, shohih; Ahkamul Janaiz Al-Albani)

Bayangkanlah wahai para pembesar, tubuh yang selama ini Anda manjakan dengan pijatan dan parfum mahal, akan mengalami kepedihan yang luar biasa ini jika Anda terus berada dalam kesombongan.

9.2 Aduan dan Saling Lepas Tangan antara Pemimpin dan Pengikut di Naar

Di dunia mereka saling memuji dan bekerja sama dalam kezholiman. Di Akhiroh, mereka akan saling melaknat.

﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ﴾

“Yaitu ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti mereka, dan mereka melihat adzab; dan lenyaplah segala hubungan di antara mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 166)

Para pembesar akan berkata kepada pengikutnya: “Jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri karena mau mengikutiku.” Inilah akhir dari persahabatan yang tidak didasari oleh taqwa kepada Alloh .

9.3 Tiadanya Nilai Harta dan Kedudukan di Hadapan Robb pada Hari Qiyamah

Pada hari itu, emas sepenuh bumi pun tidak akan bisa menebus dosa satu kali kesombongan.

﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ  إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾

“Yaitu pada hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna lagi, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Hati yang bersih (qolbun salim) adalah hati yang selamat dari kesyirikan, kesombongan, dan keterikatan pada dunia.

 

Penutup

Demikianlah potret sifat-sifat yang telah membinasakan para pembesar terdahulu. Wahyu diturunkan sebagai peringatan keras agar kita tidak mengulangi lubang kehancuran yang sama. Bagi Anda yang memiliki kelebihan harta dan kedudukan, jadikanlah semua itu sebagai jembatan menuju Jannah dengan ketawadhuan dan ketaatan yang total. Jangan sampai dunia yang sebentar ini menukar Akhiroh yang kekal. Sesungguhnya Robb kita Maha Melihat apa yang tersembunyi di balik jas mewah dan jabatan tinggi kita.

Semoga Alloh memberikan kita taufiq untuk senantiasa hijroh menuju ridho-Nya dan wafat dalam keadaan husnul khotimah.

Walhamdu lillahi Robbil ‘alamin.[NK]

 

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url