[PDF] Sifat Pembesar dan Orang Kaya di Masa Turunnya Wahyu - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam yang telah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk dan pembeda
antara yang haq dan yang bathil.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ, penutup para Nabi yang
diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia, juga kepada keluarga beliau, para
Shohabat, serta para pengikut setia hingga akhir zaman.
Amma
ba’du:
Lembaran
sejarah telah mencatat dengan tinta yang tak akan pernah luntur tentang
bagaimana wahyu menyapa hati-hati manusia di tengah kegelapan jahiliyyah. Di antara
mereka ada yang menyambutnya dengan tunduk, namun tidak sedikit yang justru
membusungkan dada dengan penuh kesombongan. Fenomena ini merupakan cermin
yang diletakkan di hadapan wajah kita hari ini. Sering kali, kelimpahan harta
dan tingginya kedudukan di mata manusia menjadi tirai tebal yang menghalangi
masuknya hidayah. Hati yang telah terbiasa dimanjakan oleh fasilitas duniawi
cenderung merasa tidak butuh pada bimbingan langit.
Buku ini
disusun untuk membedah sifat-sifat kebanyakan pembesar dan orang kaya pada masa
turunnya wahyu, sebagaimana yang dikabarkan oleh Al-Quran dan Hadits yang
shohih. Tujuannya bukanlah untuk menghakimi, melainkan sebagai pengingat bagi
para pemilik harta dan pemegang otoritas di masa kini. Sesungguhnya, adzab
Alloh ﷻ
tidak pernah membedakan antara mereka yang mengenakan kain sutra atau kain
kasar jika hati mereka dipenuhi dengan penolakan terhadap kebenaran. Bagi
mereka yang belum memulai langkah hijroh, semoga pemaparan ini menyentak
kesadaran bahwa dunia ini hanyalah perhiasan yang menipu. Bagi yang telah
berhijroh namun masih memelihara gengsi untuk duduk di majelis ilmu atau merasa
sudah cukup dengan sedikit amal, ingatlah bahwa kesombongan sekecil biji sawi
dapat mengharomkan aroma Jannah. Mari kita tadabburi ayat-ayat Robb kita dan
petunjuk Rosul-Nya dengan hati yang hancur di hadapan kebesaran-Nya.
Bab 1: Penolakan
terhadap Kebenaran karena Kedudukan Duniawi
Sifat
pertama yang paling menonjol dari para pembesar di masa Nabi ﷺ adalah kesombongan
yang lahir dari rasa memiliki segalanya. Mereka merasa bahwa kebenaran harus
selalu sejalan dengan kepentingan dan status sosial mereka.
1.1
Merasa Diri Lebih Mulia Berdasarkan Nasab dan Jabatan
Para
pembesar Quroisy merasa bahwa wahyu seharusnya turun kepada orang yang memiliki
kedudukan tinggi di dua negeri, yaitu Makkah atau Thoif. Mereka tidak rela jika
seorang yatim yang tidak memiliki kekayaan melimpah menjadi pemimpin bagi
mereka. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَقَالُوا
لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ﴾
“Dan mereka
yang sombong itu berkata: ‘Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang
lelaki yang terpandang dan kaya raya dari salah satu dua kota, yaitu Makkah
atau Thoif?’” (QS. Az-Zukhruf: 31)
Ibnu Katsir
(774 H) menjelaskan dalam tafsirnya bahwa mereka menginginkan agar wahyu
diturunkan kepada tokoh seperti Al-Walid bin Al-Mughiroh (ayah Kholid
bin Walid) atau Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqofi (belakangan masuk Islam)
karena mereka menganggap kemuliaan hanya diukur dari materi dan pengaruh.
Kesombongan ini menutup mata mereka dari kebenaran yang dibawa oleh Rosululloh ﷺ.
Rosululloh ﷺ memberikan definisi yang
sangat jelas mengenai hakekat kesombongan agar para pembesar tidak tertipu oleh
perasaan mereka sendiri. Beliau ﷺ bersabda:
«الْكِبْرُ
بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Sombong
itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Dalam
sebuah riwayat dari Abu Huroiroh (58 H), Rosululloh ﷺ menceritakan keadaan orang
yang sombong karena pakaian dan kedudukannya:
«بَيْنَمَا
رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ، تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ
اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ»
“Pernah ada
seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang sangat bagus, ia merasa
kagum dengan dirinya sendiri, sambil menyisir rambutnya yang panjang hingga
menyentuh pundak. Tiba-tiba Alloh membenamkannya ke dalam bumi, maka ia
senantiasa tenggelam sambil berteriak kesakitan di dalamnya hingga hari
Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no. 5789 dan Muslim no. 2088)
Sifat ini
sering kali muncul pada mereka yang merasa memiliki nasab yang tinggi atau
jabatan yang mentereng di tengah masyarakat. Mereka merasa lebih berhak untuk
ditaati dan didengar daripada orang yang hanya membawa dalil.
1.2
Memandang Rendah Orang-Orang Lemah yang Meniti Jalan Kebenaran
Ketika para
pembesar melihat bahwa pengikut Rosululloh ﷺ kebanyakan terdiri dari kaum dhuafa, budak, dan orang-orang
miskin, mereka merasa gengsi untuk bergabung. Mereka menganggap bahwa duduk
bersama orang miskin akan menjatuhkan martabat mereka. Alloh ﷻ
merekam ucapan mereka dalam Al-Quran:
﴿أَهَؤُلَاءِ
مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ﴾
“Dan
orang-orang kafir itu berkata: ‘Apakah orang-orang fakir ini yang Alloh beri
anugerah hidayah di antara kami?’ Bukankah Alloh lebih mengetahui tentang
orang-orang yang bersyukur kepada-Nya?” (QS. Al-An’am: 53)
As-Sa’di
(1376 H) menyebutkan bahwa para pembesar tersebut menganggap diri mereka lebih
layak mendapatkan kebaikan daripada orang miskin. Padahal, kemuliaan di sisi
Alloh ﷻ
hanyalah berdasarkan taqwa, bukan saldo simpanan atau luasnya lahan.
Begitu pula
sifat yang ditunjukkan oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam yang mewakili
karakter pembesar di setiap zaman:
﴿فَقَالَ
الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا
وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ﴾
“Maka
berkatalah para pembesar yang kafir dari kaumnya: Kami tidak melihat engkau
melainkan sebagai seorang manusia biasa seperti kami, dan kami tidak melihat
orang-orang yang mengikuti engkau melainkan orang-orang yang paling rendah di
antara kami yang lekas percaya tanpa berpikir panjang.” (QS. Hud: 27)
Sifat
meremehkan sesama ini sangat dibenci oleh Alloh ﷻ. Rosululloh ﷺ bersabda:
«بِحَسْبِ
امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ»
“Cukuplah
seseorang dianggap melakukan keburukan jika ia meremehkan saudaranya sesama
Muslim.” (HR. Muslim no. 2564)
Banyak
orang kaya masa kini yang enggan hadir di kajian-kajian sunnah karena melihat
pesertanya adalah orang-orang biasa atau mereka merasa tidak sebanding level
ekonominya. Ini adalah warisan sifat para pembesar kafir Quroisy yang harus
segera dibuang.
1.3
Keengganan Tunduk kepada Wahyu karena Gengsi dan Harga Diri Semu
Gengsi
adalah penghalang terbesar bagi masuknya ilmu. Pembesar masa lalu seperti Abu
Jahl sebenarnya mengetahui bahwa apa yang dibawa Nabi ﷺ adalah kebenaran,
namun ia enggan tunduk karena takut kehilangan pengaruh. Alloh ﷻ
berfirman tentang kerasnya hati mereka:
﴿فَإِنَّهُمْ
لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ﴾
“Sesungguhnya
mereka itu sebenarnya tidak mendustakan engkau, tetapi orang-orang yang zholim
itu mengingkari ayat-ayat Alloh karena keras kepala dan sombong.” (QS. Al-An’am:
33)
Al-Akhnas
bin Syariq bertanya kepada Abu Jahl: “Wahai Abu Al-Hakam, beri tahu aku tentang
Muhammad, apakah ia jujur atau dusta?” Abu Jahl menjawab: “Demi Alloh,
sesungguhnya Muhammad itu jujur, ia tidak pernah berbohong. Akan tetapi, jika
Bani Qushoy (kabilah Nabi ﷺ) membawa panji kepemimpinan, hijabah, siqoyah, dan nubuwwah
(kenabian), lalu apa yang tersisa bagi kabilah Quroisy lainnya?” (Tafsir
Ath-Thobari, 9/222)
Inilah
potret pembesar yang lebih mendahulukan gengsi daripada keselamatan di Akhiroh.
Mereka lebih takut disebut “pengikut” daripada menjadi musuh Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ
memberikan peringatan keras:
«لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak akan
masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun hanya
seberat biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)
Ibnu Rojab
Al-Hanbali (795 H) menjelaskan bahwa kesombongan yang menghalangi seseorang
dari menerima kebenaran adalah jenis kesombongan yang paling berbahaya karena
ia menempatkan dirinya sebagai tandingan bagi hukum-hukum Alloh ﷻ.
Bagi orang
kaya yang telah hijroh, jangan sampai rasa gengsi membuat Anda enggan ditegur
ketika salah, atau merasa lebih tahu daripada para ustadz hanya karena Anda
sukses dalam bisnis. Ilmu syar’i butuh ketundukan, bukan negosiasi.
Bab 2: Ambisi
Mengumpulkan Kemegahan
Harta bagi
para pembesar di masa turunnya wahyu adalah segalanya. Mereka menganggap bahwa
kemuliaan seseorang diukur dari seberapa banyak ia bisa menimbun kekayaan.
2.1
Obsesi Menimbun Kekayaan dan Senantiasa Menghitung-hitungnya
Alloh ﷻ
menggambarkan karakter pembesar yang celaka karena hartanya dalam surat
Al-Humazah:
﴿الَّذِي
جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ يَحْسَبُ أَنَّ
مَالَهُ أَخْلَدَهُ﴾
“Yaitu
orang yang mengumpulkan harta dan senantiasa menghitung-hitungnya. Dia mengira
bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya di dunia.” (QS. Al-Humazah: 2-3)
Sifat ini
menunjukkan hati yang terikat mati pada angka-angka. Mereka menghabiskan waktu
hanya untuk memastikan aset mereka bertambah tanpa peduli apakah harta itu akan
menolong mereka di hadapan Alloh ﷻ. Mereka begitu asyik
menghitung hartanya hingga lupa akan tujuan penciptaan mereka.
Rosululloh ﷺ memperingatkan tentang bahaya
ambisi harta yang tidak ada habisnya:
«لَوْ
كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ
ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ»
“Seandainya
anak Adam memiliki dua lembah berisi harta, niscaya ia akan mencari lembah yang
ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah
(kematian). Alloh menerima taubat bagi yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhori no.
6436 dan Muslim no. 1048)
Para
pembesar tersebut tertipu oleh angka-angka yang mereka kumpulkan, padahal harta
yang sebenarnya mereka miliki hanyalah apa yang mereka makan lalu habis, apa
yang mereka pakai lalu usang, dan apa yang mereka sedekahkan lalu kekal
pahalanya.
2.2
Tertipu oleh Kelimpahan Rizqi sebagai Bentuk Istidroj dari Robb
Banyak
orang kaya merasa bahwa banyaknya harta adalah bukti bahwa Alloh ﷻ
ridho kepada mereka.
Mereka berkata sebagaimana direkam dalam Al-Quran:
﴿وَقَالُوا
نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ﴾
“Dan mereka
para pembesar itu berkata: ‘Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak
daripada kalian, dan kami tidak akan mungkin diadzab.” (QS. Saba’: 35)
Ini adalah
pemahaman yang sesat. Kelimpahan harta pada orang yang bermaksiat dan enggan
beribadah adalah istidroj (jebakan). Alloh ﷻ berfirman:
﴿أَيَحْسَبُونَ
أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ
نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَا يَشْعُرُونَ﴾
“Apakah
mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu
berarti Kami segera memberikan kebaikan bagi mereka? Tidak, sebenarnya mereka
tidak sadar bahwa itu adalah ujian.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56)
Rosululloh ﷺ bersabda untuk mengingatkan
kita semua:
«إِذَا
رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا
هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»
“Jika
engkau melihat Alloh memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba yang ia
sukai padahal hamba itu terus bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu hanyalah istidroj.”
(HR. Ahmad no. 17311, shohih)
Betapa
banyak orang kaya masa kini yang merasa “aman” karena bisnisnya lancar meskipun
ia meninggalkan Sholat atau tidak pernah Zakat. Ketahuilah, itu adalah awal
dari kebinasaan yang sangat pedih.
2.3
Kekikiran dalam Menunaikan Hak Harta kepada Fakir Miskin dan Da’wah
Para
pembesar di masa Nabi ﷺ
sangat berat untuk mengeluarkan harta di jalan Alloh ﷻ. Mereka menganggap sedekah
akan mengurangi kekayaan mereka. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلَا
يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا
لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ﴾
“Dan
janganlah sekali-kali orang-orang yang kikir dengan harta yang Alloh berikan
kepada mereka dari karunia-Nya itu mengira bahwa kekikiran itu baik bagi
mereka. Sebenarnya kekikiran itu adalah buruk bagi mereka.” (QS. Ali ‘Imron:
180)
Mereka
sering kali berdalih dengan logika yang dangkal ketika diminta membantu orang
miskin:
﴿أَنُطْعِمُ
مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ﴾
“Apakah
kami harus memberi makan kepada orang-orang yang jika Alloh menghendaki niscaya
Dia akan memberinya makan? Kalian benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS.
Yasin: 47)
Sifat kikir
ini menghancurkan masyarakat dan diri mereka sendiri. Rosululloh ﷺ bersabda:
«اتَّقُوا
الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ»
“Jauhilah
oleh kalian sifat kikir (pelit yang disertai ambisi), karena sesungguhnya sifat
kikir itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR.
Muslim no. 2578)
Orang kaya
yang sudah hijroh seharusnya menjadi mesin penggerak da’wah dengan hartanya,
bukan malah menghitung-hitung keuntungan saat diminta mendukung kegiatan Islam.
Jangan sampai harta Anda menjadi belenggu di leher Anda pada hari Qiyamah
nanti.
Bab 3: Lisan yang
Tajam dalam Menghina
Lisan para
pembesar di masa turunnya wahyu sering kali menjadi senjata yang lebih tajam
daripada pedang untuk melukai perasaan para pengikut kebenaran. Mereka
menggunakan lisan bukan untuk berdiskusi secara ilmiyyah, melainkan untuk
menjatuhkan mental para Mu’min.
3.1
Menuduh para Pengajak Kebaikan dengan Gelar-Gelar Rendahan
Kebiasaan
para pembesar ketika tidak mampu membantah kebenaran wahyu adalah menyerang
pribadi pembawanya. Mereka memberikan gelar-gelar buruk agar orang lain
menjauh. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿كَذَلِكَ
مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ﴾
“Demikianlah,
tidak ada seorang Rosul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka,
melainkan mereka mengatakan: ‘Dia itu adalah seorang tukang sihir atau orang
gila.’” (QS. Adz-Dzariyat: 52)
Hati para
pembesar dari berbagai zaman memiliki keserupaan dalam kesombongan, sehingga
ucapan mereka pun seragam dalam merendahkan para utusan Alloh ﷻ.
Mereka ingin memberikan kesan kepada masyarakat bahwa ajaran Islam hanyalah
hasil dari akal yang rusak atau tipu daya sihir.
Rosululloh ﷺ juga mendapatkan perlakuan
serupa dari para pembesar Quroisy. Dalam sebuah riwayat dari Jundub bin
Abdillah (64 H), beliau menceritakan:
اشْتَكَى
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَتَيْنِ - أَوْ ثَلاَثًا
-، فَجَاءَتْ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ شَيْطَانُكَ
قَدْ تَرَكَكَ، لَمْ أَرَهُ قَرِبَكَ مُنْذُ لَيْلَتَيْنِ - أَوْ ثَلاَثَةٍ
“Rosululloh
ﷺ pernah sakit sehingga beliau
tidak bangun Sholat malam selama dua atau tiga malam. Kemudian datanglah
seorang wanita lalu berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya aku berharap
syaithonmu benar-benar telah meninggalkanmu, aku tidak melihatnya mendekatimu
sejak dua atau tiga malam ini.” (HR. Al-Bukhori no. 4950 dan Muslim no. 1797)
Wanita
tersebut menyebut Jibril ‘alaihissalam dengan sebutan syaithon sebagai
bentuk penghinaan. Sifat ini diwarisi oleh pembesar masa kini yang sering
melabeli para aktivis da’wah atau orang yang hijroh dengan sebutan-sebutan
negatif seperti fanatik, kuno, atau sok suci hanya untuk menutupi rasa malu
mereka karena tidak mampu melakukan hal yang sama.
3.2
Menertawakan Kesungguhan Ibadah para Mu’min yang Fakir
Menjadikan
penderitaan dan kesungguhan orang miskin dalam beragama sebagai bahan tertawaan
adalah hobi para pembesar yang hatinya telah mati. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ * وَإِذَا مَرُّوا
بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang berdosa itu dahulu di dunia selalu menertawakan orang-orang
yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman itu lewat di hadapan mereka,
mereka saling mengedipkan mata karena mengejek.” (QS. Al-Muthoffifin: 29-30)
As-Sa’di
(1376 H) memaparkan bahwa para pembesar itu merasa bangga dengan kecerdasan dan
harta mereka, sehingga mereka memandang rendah fisik dan kesederhanaan para Mu’min.
Mereka merasa bahwa keberagamaan adalah tanda kelemahan akal.
Orang kaya
yang sudah hijroh harus berhati-hati agar tidak membawa residu sifat ini,
seperti merasa risih saat harus duduk bersimpuh di lantai masjid bersama para pemulung
atau buruh kasar yang juga mencari ilmu. Jangan biarkan mata Anda mengedip
penuh keremehan kepada mereka yang lebih dicintai langit daripada diri Anda.
Ibnu Mas’ud
(32 H) yang bertubuh kecil dan kurus sedang mengambil ranting pohon. Ketika ada
yang menertawakannya, Rosululloh ﷺ bersabda untuk membela kehormatannya:
«مِمَّ
تَضْحَكُونَ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ أُحُدٍ»
“Apa yang
membuat kalian tertawa? Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, sunggu dua kaki tersebut
itu lebih berat dalam timbangan amal daripada gunung Uhud.” (HR. Ahmad no. 920,
shohih)
3.3
Menganggap Peringatan Akhiroh sebagai Dongeng Orang-Orang Dahulu
Ketika
disampaikan kepada mereka tentang adanya kebangkitan setelah mati, para pembesar
menggunakan lisan mereka untuk meragukan janji Alloh ﷻ dengan nada meremehkan.
﴿وَقَالَ
الَّذِينَ كَفَرُوا أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا أَئِنَّا لَمُخْرَجُونَ *
لَقَدْ وُعِدْنَا هَذَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ
الْأَوَّلِينَ﴾
“Dan
orang-orang kafir itu berkata: ‘Apakah jika kami telah menjadi tanah dan begitu
pula leluhur kami, apakah benar kami akan dikeluarkan dari kubur? Sungguh, kami
dan leluhur kami telah diberi janji seperti ini dahulu, ini tidak lain hanyalah
dongeng-dongeng orang dahulu kala.” (QS. An-Naml: 67-68)
Mereka
menganggap bahwa kehidupan hanya ada di dunia ini saja, sehingga peringatan
tentang siksaan kubur dan Naar dianggap sebagai cerita untuk menakut-nakuti
orang bodoh. Sifat ini membuat mereka berani berbuat zholim karena merasa tidak
akan ada pertanggungjawaban.
Abu Jahl
pernah mengejek hidangan pohon Zaqqum di Naar dengan mengatakan bahwa Zaqqum
hanyalah kurma dan mentega, lalu ia mengajak teman-temannya untuk “melahap”
adzab tersebut. Alloh ﷻ
kemudian membungkam kesombongan mereka dengan firman-Nya:
﴿إِنَّهَا
شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ * طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ﴾
“Sesungguhnya
itu adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim. Mayangnya
seperti kepala syaithon-syaithon yang seram.” (QS. Ash-Shoffat: 64-65)
Pembesar
masa kini yang merasa risih ketika mendengar bahaya riba atau ancaman adzab
bagi pemimpin yang zholim, sebenarnya sedang mengulang pola pikir yang sama.
Mereka lebih percaya pada data statistik dunia daripada janji-janji Robb yang
menciptakan dunia itu sendiri.
3.4
Kezholiman dan Kesewenang-wenangan dalam Kekuasaan
Kekuasaan
tanpa iman akan melahirkan tiran. Para pembesar di masa turunnya wahyu
menggunakan pengaruh mereka untuk menindas siapa saja yang menghalangi
kepentingan mereka.
Sifat
melampaui batas adalah ciri khas mereka yang merasa memiliki otoritas mutlak.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿كَلَّا
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى * أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى﴾
“Sekali-kali
tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena dia melihat
dirinya sudah serba cukup dengan harta dan kedudukan.” (QS. Al-’Alaq:
6-7)
Ketika
seseorang merasa cukup, ia cenderung merasa tidak perlu lagi pada aturan
Robb-nya dan mulai berbuat semena-mena kepada sesama manusia. Fir’aun adalah
simbol dari puncak kezholiman pembesar:
﴿فَقَالَ
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى﴾
“Maka ia
(Fir’aun) berkata dengan sombongnya: ‘Akulah Robb kalian yang paling tinggi.’” (QS.
An-Nazi’at: 24)
Meskipun
pembesar masa kini tidak berkata demikian secara lisan, namun tindakan mereka
yang meremehkan hak karyawan, menunda gaji, atau menggunakan jabatan untuk
menindas orang kecil, adalah bentuk nyata dari sifat Fir’auniyah ini.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«اتَّقُوا
الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Takutlah
kalian akan perbuatan zholim, karena sesungguhnya kezholiman itu akan menjadi
kegelapan yang berlapis-lapis pada hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 2578)
Hati-hatilah
wahai para atasan, jangan sampai doa orang yang Anda zholimi menembus langit
dan menghancurkan seluruh jerih payah Anda.
Bab 4: Merasa Rasa
Aman dari Pengadilan Alloh ﷻ
Harta dan
kekuasaan sering kali memberikan ilusi bahwa seseorang kebal terhadap hukum,
baik hukum manusia maupun hukum Alloh ﷻ.
4.1
Keyakinan Sesat bahwa Harta Dapat Mengekalkan Kehidupan
Para
pembesar hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati. Mereka merasa bahwa
dengan uang, mereka bisa membeli kesehatan, umur panjang, dan bahkan
keselamatan di Akhiroh jika memang itu ada.
﴿يَحْسَبُ
أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ﴾
“Dia
mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya di dunia.” (QS. Al-Humazah:
3)
Al-Baghowi
(516 H) menyebutkan bahwa orang tersebut menyangka harta yang dikumpulkannya
bisa menolak kematian.
Keasyikan
dalam mengelola bisnis dan menambah aset sering kali membuat seseorang lupa
bahwa ia sedang mengantre menuju liang lahat yang sempit.
Rosululloh ﷺ memberikan gambaran betapa
hinanya harta di hadapan maut:
«يَتْبَعُ
المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ
وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ»
“Tiga hal akan
mengiringi janazah ke kubur: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua hal akan
kembali dan satu hal akan tetap bersamanya: keluarga dan hartanya akan kembali,
sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6514 dan
Muslim no. 2960)
Wahai orang
kaya, berhentilah merasa aman dengan saldo di rekening Anda. Saldo itu tidak
akan mampu menyuap Malaikat Maut saat ia datang menjemput nyawa Anda di tengah
kemewahan kamar tidur Anda.
4.2
Kelalaian di Tengah Kenikmatan dan Merasa Terbebas dari Adzab
Semakin
banyak nikmat yang didapat, semakin besar pula potensi kelalaian jika tidak
dibarengi syukur. Para pembesar masa lalu merasa bahwa kesuksesan mereka adalah
hak mutlak, bukan ujian.
﴿فَلَمَّا
نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا
فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ﴾
“Maka
ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun
membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka
telah bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa
mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS.
Al-An’am: 44)
Ini adalah
bentuk kemurkaan Alloh ﷻ
yang paling halus. Orang kaya dibiarkan terus sukses dalam kemaksiatannya agar
ia semakin jauh dari jalan kembali.
Jangan
sampai gaya hidup mewah Anda membuat Anda merasa “pasti selamat”. Bisa jadi
kemudahan yang Anda dapatkan hari ini hanyalah cara Alloh ﷻ
untuk membuat Anda benar-benar hancur tanpa sisa di masa depan.
4.3
Kerasnya Hati yang Menutup Pintu Tobat dan Pengingat Mati
Hati para
pembesar sering kali membatu seperti batu karang yang tidak bisa ditembus air.
Mereka mendengar ayat dibacakan, namun hati mereka sibuk memikirkan tender atau
persaingan bisnis.
﴿ثُمَّ
قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً﴾
“Kemudian
setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS.
Al-Baqoroh: 74)
Kerasnya
hati ini membuat mereka merasa tidak butuh tobat. Mereka merasa sudah cukup
baik hanya karena sudah memberi makan beberapa orang miskin atau membangun
sebuah Masjid, padahal hati mereka masih penuh dengan kesombongan dan penolakan
terhadap Sunnah.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا
هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى
تَعْلُوَ قَلْبَهُ»
“Sesungguhnya
seorang Mu’min jika berbuat dosa, maka akan ada setitik noda hitam di hatinya.
Jika ia bertobat, berhenti dari dosa, dan memohon ampun, maka hatinya akan
kembali bersih. Namun jika dosanya bertambah, maka noda itu pun bertambah
hingga menutupi seluruh hatinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334, hasan shohih)
Bagi
pembesar yang sudah hijroh, waspadalah jika Anda sudah tidak lagi bisa menangis
saat mendengar ayat tentang adzab. Itu adalah tanda bahwa harta Anda telah
mulai melapisi hati Anda dengan kerak kesombongan yang menjauhkan Anda dari
rohmat Robb.
Bab 5: Upaya
Menghalangi Manusia dari Jalan Alloh ﷻ
Tidak cukup
dengan sesat sendiri, para pembesar sering kali aktif mengajak orang lain untuk
ikut sesat atau setidaknya menjauh dari kebenaran.
5.1
Membelanjakan Harta untuk Memadamkan Cahaya Agama
Uang
digunakan sebagai instrumen untuk menghalangi da’wah. Mereka membiayai
propaganda, mendanai acara-acara maksiat, atau memberikan imbalan bagi orang
yang mau meninggalkan agama Islam.
﴿إِنَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا
ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk menghalangi manusia
dari jalan Alloh. Mereka akan terus menafkahkannya, kemudian harta itu akan
menjadi penyesalan bagi mereka, dan akhirnya mereka akan dikalahkan.” (QS.
Al-Anfal: 36)
Di masa
Rosululloh ﷺ,
para pembesar Quroisy mengumpulkan dana untuk membiayai pasukan dalam perang
Badar guna menghancurkan Islam. Harta yang mereka kumpulkan dengan susah payah
justru menjadi sebab kehinaan mereka sendiri.
Dalam
sejarah, Abu Sufyan (31 H) sebelum masuk Islam pernah membawa kafilah dagang
besar yang keuntungannya digunakan untuk membiayai permusuhan terhadap Nabi ﷺ. Namun Alloh ﷻ
membalikkan keadaan tersebut.
Hari ini,
jika Anda menggunakan pengaruh dan harta Anda untuk mendukung kebijakan yang
menyulitkan umat Islam, atau mendanai konten yang merusak moral generasi muda,
maka Anda sedang berjalan di atas jejak para pembesar yang binasa di perang
Badar. Harta itu akan menjadi api yang membakar Anda sendiri.
5.2
Menebarkan Keraguan dan Ketakutan kepada Orang yang Ingin Hijroh
Para pembesar
sering kali menakut-nakuti orang yang ingin kembali ke jalan Alloh ﷻ
dengan ancaman kemiskinan atau kehilangan status sosial.
﴿الشَّيْطَانُ
يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ﴾
“Syaithon
itu menjanjikan kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji
(kikir).” (QS. Al-Baqoroh: 268)
Pembesar
yang menjadi kaki tangan syaithon akan berkata kepada temannya yang ingin
hijroh: “Jika kamu berhenti dari bisnis riba ini, kamu akan bangkrut. Siapa
yang akan memberi makan keluargamu?” Ini adalah ucapan yang menusuk iman namun
dibungkus dengan nada “peduli”.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ
فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالحَقِّ»
“Sesungguhnya
syaithon memiliki bisikan kepada anak Adam, dan Malaikat juga memiliki bisikan.
Adapun bisikan syaithon adalah menjanjikan keburukan (kemiskinan) dan
mendustakan kebenaran.” (HR. At-Tirmidzi no. 2988)
Janganlah
menjadi syaithon berbentuk manusia bagi teman-teman Anda. Jika Anda belum mampu
hijroh total, janganlah menghalangi orang lain yang sedang berusaha merangkak
menuju ridho Alloh ﷻ.
5.3
Mencari-cari Celah dan Kesalahan para Ulama serta Penuntut Ilmu
Untuk
melegitimasi penolakan mereka, para pembesar sibuk mencari aib para pengemban
da’wah. Jika mereka menemukan satu kesalahan kecil, mereka akan membesarkannya
seolah-olah seluruh ajaran agama itu salah.
﴿الَّذِينَ
يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا
يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Orang-orang
munafiq itu mencela para Mu’min yang memberikan sedekah dengan sukarela dan
mencela orang-orang yang tidak memiliki apa pun untuk disedekahkan selain hasil
jerih payahnya, lalu mereka menghina orang-orang Mu’min itu. Alloh akan
membalas penghinaan mereka, dan bagi mereka adzab yang sangat pedih.” (QS.
At-Tauhbah: 79)
Takhrij
hadits dan tafsir para ulama sering kali menjadi sasaran kritik para pembesar
yang hanya bermodalkan logika duniawi. Mereka merasa lebih pintar daripada
ulama yang telah menghabiskan umurnya untuk meneliti satu hadits.
Sikap ini
sering muncul pada pembesar yang merasa sukses secara akademik atau finansial,
sehingga mereka merasa berhak untuk “mengoreksi” hukum Alloh ﷻ
sesuai selera mereka. Ketahuilah, kecerdasan Anda dalam mengelola dunia tidak
ada nilainya jika Anda bodoh dalam memahami tujuan hidup Anda.
Bab 6: Belenggu
Tradisi Leluhur
Sering
kali, seorang pembesar merasa bahwa jati dirinya melekat erat pada tradisi dan
kelompoknya. Ketika wahyu datang membawa perubahan yang mendasar, mereka merasa
terancam bukan karena dalilnya lemah, melainkan karena mereka takut dianggap
berkhianat terhadap warisan leluhur.
6.1
Mendahulukan Kebiasaan Leluhur di Atas Dalil
Para
pembesar di masa turunnya wahyu menjadikan kebiasaan leluhur sebagai standar
kebenaran tertinggi. Meskipun kebenaran itu sangat benderang, mereka lebih
memilih mengikuti kegelapan masa lalu demi menjaga kehormatan marga atau
kabilah. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَإِذَا
قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا
عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ﴾
“Dan
apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah Alloh turunkan.’
Mereka menjawab: ‘Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati
dari perbuatan leluhur kami.’ Apakah mereka akan tetap mengikuti leluhur mereka
meskipun leluhur mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak mendapat
petunjuk?” (QS. Al-Baqoroh: 170)
Al-Baghowi
(516 H) menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para pembesar Yahudi
dan kaum kafir Quroisy yang menutup mata dari mukjizat Nabi ﷺ hanya karena fanatisme buta
kepada ajaran orang tua mereka. Sifat ini sangat berbahaya karena mematikan fungsi
akal dalam mencari ridho Alloh ﷻ.
Begitu pula
peringatan Alloh ﷻ
tentang perilaku para pembesar yang hidup mewah (mutrof) dalam menolak
kebenaran:
﴿وَكَذَلِكَ
مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ﴾
“Dan
demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun
dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu
berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati leluhur kami menganut suatu agama, dan
sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’” (QS. Az-Zukhruf: 23)
Taklid
(ikut-ikutan tanpa dalil) adalah rantai yang membelenggu hati dari cahaya Ilmu
Syar’i. Banyak orang kaya masa kini yang enggan meninggalkan ritual atau
tradisi yang tidak ada tuntunannya hanya karena takut dianggap “berbeda” atau “durhaka”
kepada adat keluarga besar mereka.
6.2
Ketakutan akan Kehilangan Pengikut dan Popularitas di Mata Manusia
Bagi
seorang pembesar, jumlah pengikut adalah lambang kekuatan. Mereka
khawatir jika mereka mengikuti Sunnah secara murni, maka orang-orang akan
menjauh dari mereka. Inilah yang menghalangi Heraklius, penguasa Romawi, untuk
masuk Islam meskipun ia tahu Nabi ﷺ adalah utusan yang benar.
Diriwayatkan
dari Abdulloh bin Abbas (68 H) dalam sebuah hadits panjang tentang dialog
antara Abu Sufyan (31 H) dan Heraklius. Heraklius berkata:
«إِنْ
كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا فَسَيَمْلِكُ مَوْضِعَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ، وَقَدْ كُنْتُ
أَعْلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ، لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ أَنَّهُ مِنْكُمْ، فَلَوْ أَنِّي أَعْلَمُ
أَنِّي أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ، وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ
عَنْ قَدَمِهِ»
“Jika apa
yang kamu (Abu Sufyan) katakan itu benar, niscaya ia akan menguasai tempat
kedua kakiku berpijak ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa ia akan muncul,
namun aku tidak menyangka ia muncul dari kalangan kalian. Sekiranya aku tahu
bahwa aku bisa sampai kepadanya, niscaya aku akan berusaha payah untuk
menemuinya, dan sekiranya aku berada di sisinya niscaya akan aku cuci kedua
kakinya.” (HR. Al-Bukhori no. 7 dan Muslim no. 1773)
Namun, pada
akhirnya Heraklius tetap pada kekafirannya karena ia takut akan pemberontakan
rakyatnya dan kehilangan tahta. Rasa takut akan hilangnya popularitas di mata
manusia adalah penjara bagi jiwa. Banyak pembesar masa kini yang sudah hijroh
tetapi masih malu menampakkan identitas keislamannya secara utuh karena takut
kehilangan rekan bisnis atau pengagum di media sosial.
6.3
Mengagungkan Status Quo demi Menjaga Kenyamanan Duniawi
Status
quo atau kemapanan
posisi sering kali menjadi berhala yang disembah secara tidak sadar. Para
pembesar tidak ingin tatanan sosial yang menguntungkan mereka terusik oleh
ajaran Islam yang mengutamakan persamaan derajat di hadapan Alloh ﷻ.
﴿قَالُوا
يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ
نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ﴾
“Mereka
berkata: ‘Wahai Syu’aib, apakah Sholatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa
yang disembah oleh leluhur kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut
apa yang kami kehendaki?” (QS. Hud: 87)
Ayat ini
menunjukkan bahwa para pembesar merasa terganggu ketika agama mengatur cara
mereka mencari dan membelanjakan harta. Mereka ingin bebas tanpa aturan. Orang
kaya yang enggan mengaji biasanya merasa bahwa agama akan membatasi “kenyamanan”
mereka dalam bersenang-senang.
Rosululloh ﷺ memberikan perumpamaan bagi
orang yang lebih mengutamakan dunia di atas agama:
«مَا
ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ
عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»
“Tidaklah
dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah sekawanan kambing lebih
merusak daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kehormatan (status sosial)
bagi agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376, shohih)
Ambisi
menjaga nama baik dan kemewahan hidup telah merusak agama banyak orang besar,
lebih parah daripada kerusakan yang dibuat oleh serigala lapar.
Bab 7: Kelalaian
dan Enggan Menimba Ilmu Syar’i
Kematian
hati yang paling nyata adalah ketika seseorang sangat cerdas dalam urusan dunia
namun sangat bodoh dalam urusan Akhiroh.
7.1
Merasa Cukup dengan Pengetahuan Dunia namun Buta Ilmu Akhiroh
Inilah ciri
khas masyarakat yang didominasi oleh para pembesar yang sombong. Mereka
menguasai ilmu manajemen, politik, dan ekonomi, namun tidak mengenal siapa Robb
mereka. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَعْلَمُونَ
ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾
“Mereka
hanya mengetahui yang lahir (tampak) saja dari kehidupan dunia; sedangkan
mereka tentang kehidupan Akhiroh adalah orang-orang yang lalai.” (QS.
Ar-Rum: 7)
At-Thobari
(310 H) menyebutkan bahwa mereka sangat pandai dalam membangun gedung, menanam
pohon, dan mengumpulkan kekayaan, tetapi mereka buta terhadap perintah dan
larangan Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ bersabda tentang kemurkaan
Alloh ﷻ
terhadap orang semacam ini:
«إِنَّ
اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ، سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ، جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ
حِمَارٍ بِالنَّهَارِ، عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ»
“Sesungguhnya
Alloh Ta’ala membenci setiap orang yang keras lagi sombong, yang rakus
mengumpulkan harta, yang suka berteriak-teriak di pasar (berdebat urusan
dunia), yang tidurnya seperti bangkai di malam hari (tidak Sholat malam), yang
bekerja seperti keledai di siang hari, yang pandai dalam urusan dunia namun
bodoh dalam urusan Akhiroh.” (HR. Ibnu Hibban no. 72, shohih)
Betapa
menyedihkan melihat seorang pembesar yang bisa memimpin ribuan karyawan namun
tidak tahu cara Sholat janazah atau tidak paham syarat sahnya jual beli secara
Islami.
7.2
Rasa Malas dan Gengsi untuk Duduk di Majelis Ilmu Bersama Orang Awam
Setan
membisikkan ke telinga orang kaya bahwa duduk di majelis ilmu bersama
orang-orang biasa akan menurunkan wibawa mereka. Padahal, kemuliaan hanya ada
pada ilmu. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾
“Alloh akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ibnu
Al-Mubarok (181 H) pernah ditanya: “Sampai kapan engkau akan terus menuntut
ilmu?” Beliau menjawab: “Sampai mati, karena aku tidak tahu kalimat mana yang
mungkin akan menyelamatkanku di hadapan Alloh.”
Diriwayatkan
dari Abu Waqid Al-Laitsi (68 H) tentang tiga orang yang datang ke majelis
Rosululloh ﷺ:
«أَمَّا
أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا
فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ»
“Adapun salah
seorang dari mereka (yang duduk di depan) maka ia mendekat kepada Alloh maka
Alloh pun mendekat kepadanya. Adapun yang kedua (yang duduk di belakang karena
malu) maka ia malu kepada Alloh maka Alloh pun malu kepadanya. Adapun yang
ketiga (yang berpaling dan pergi) maka ia berpaling dari Alloh maka Alloh pun
berpaling darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 66 dan Muslim no. 2176)
Wahai para
pemilik kedudukan, janganlah Anda menjadi orang ketiga yang berpaling dari
majelis ilmu hanya karena merasa tempat itu tidak eksklusif bagi level sosial
Anda. Ingatlah, saat di padang Mahsyar, tidak ada area VIP bagi orang kaya.
7.3
Lebih Mengutamakan Hiburan dan Sendau Gurau daripada Tadabbur Al-Quran
Kehidupan
para pembesar masa kini sering diisi dengan hobi-hobi mahal yang melalaikan,
sementara Al-Quran hanya menjadi pajangan di lemari.
﴿وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ
عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ﴾
“Dan di
antara manusia ada orang yang mempergunakan percakapan kosong (hiburan yang
melalaikan) untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh tanpa ilmu dan
menjadikan jalan Alloh itu sebagai olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh
adzab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)
Al-Hasan
Al-Bashri (110 H) berkata bahwa yang dimaksud dengan percakapan kosong dalam
ayat ini adalah segala sesuatu yang memalingkan manusia dari ketaatan kepada
Alloh ﷻ,
baik itu nyanyian, permainan, atau obrolan duniawi yang berlebihan.
Rosululloh ﷺ memberikan nasihat yang
sangat dalam:
«لَوْ
تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا»
“Sekiranya
kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan
benar-benar akan banyak menangis.” (HR. Al-Bukhori no. 6485)
Orang kaya
yang sudah hijroh tetapi masih sibuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk hobi
namun merasa berat membaca satu juz Al-Quran sehari, sebenarnya hatinya sedang
tertawan oleh sendau gurau dunia.
Bab 8: Perlombaan
dalam Kemewahan
Persaingan
status materi adalah penyakit kronis yang menjangkiti para pembesar dari zaman
ke zaman.
8.1
Berbangga-bangga dengan Megahnya Bangunan dan Kendaraan
Alloh ﷻ
menggambarkan perilaku orang-orang yang sombong dengan harta mereka:
﴿أَلْهَاكُمُ
التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴾
“Bermegah-megahan
telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam liang kubur.” (QS.
At-Takatsur: 1-2)
Perlombaan
dalam mengumpulkan harta, anak, dan pengikut telah membuat manusia lupa akan
tujuan hidup mereka yang sebenarnya hingga maut menjemput secara tiba-tiba.
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) pernah berkata:
لَيْسَ
الزُّهدُ بِأَكْلِ الغَلِيْظِ، وَلُبْسِ الخَشِنِ، وَلَكِنَّهُ قِصَرُ الأَمَلِ، وَارْتِقَابُ
المَوْتِ
“Zuhud itu
bukanlah dengan makan makanan yang kasar atau memakai pakaian yang jelek,
melainkan dengan memendekkan angan-angan dan senantiasa menanti kedatangan
maut.” (As-Siyar, Adz-Dzahabi, 7/243)
Membangun
rumah yang megah atau memiliki kendaraan mewah bukanlah harom secara dzatnya,
namun menjadi bencana jika tujuannya adalah untuk membanggakan diri di hadapan
manusia dan merasa lebih hebat dari orang lain.
8.2
Persaingan Jumlah Pengikut dan Harta yang Berakhir dengan Kebinasaan
Dalam
Al-Quran diceritakan tentang pemilik dua kebun yang sombong kepada temannya yang
miskin:
﴿فَقَالَ
لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا﴾
“Maka ia
berkata kepada kawannya ketika bercakap-cakap dengannya: ‘Hartaku lebih banyak
daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat daripada pengikutmu.” (QS.
Al-Kahfi: 34)
Akhir dari
kesombongan ini adalah kehancuran total atas apa yang ia banggakan. Alloh ﷻ
mengirimkan bencana yang memusnahkan kebunnya dalam sekejap.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ
كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا»
“Sesungguhnya
dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Alloh menjadikan kalian sebagai
penguasa di dalamnya, kemudian Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. ‘Maka
waspadalah kalian terhadap fitnah dunia.” (HR. Muslim no. 2742)
Bagi
pembesar masa kini, jumlah “follower” dan besarnya omzet bisnis jangan sampai
membuat Anda merasa sebagai orang yang paling mulia. Semua itu bisa hilang
dalam satu ketetapan Alloh ﷻ yang tidak terduga.
8.3
Melupakan Bekal Kubur karena Terlalu Sibuk Memoles Penampilan Lahiriyah
Banyak
orang menghabiskan jutaan rupiah untuk perawatan tubuh dan pakaian bermerek,
namun tidak mengeluarkan sepeser pun untuk “perawatan” iman.
﴿اعْلَمُوا
أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ﴾
“Ketahuilah
bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan,
dan bermegah-megahan di antara kalian serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan
anak cucu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) memberikan nasihat yang menusuk hati: “Jika engkau mampu
untuk tidak dikenal orang, maka lakukanlah. Tidak ada ruginya bagimu jika
engkau tidak dikenal manusia, selama engkau dikenal di sisi Alloh.”
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
وَأَعْمَالِكُمْ»
“Sesungguhnya
Alloh tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan harta kalian, akan tetapi Dia
melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)
Wahai orang
kaya, berhentilah memoles topeng duniawi Anda sementara batin Anda keropos dan
penuh dengan noda dosa. Kain kafan yang akan Anda gunakan nanti tidak memiliki
saku untuk membawa kartu kredit atau kunci mobil mewah Anda.
Bab 9: Penyesalan
yang Tiada Guna
Segala
kemegahan akan berakhir pada satu titik: kematian. Di sanalah kebenaran
akan tampak sejelas-jelasnya, namun pintu tobat telah tertutup.
9.1
Penderitaan saat Sakarotul Maut bagi Pembesar yang Zholim
Alloh ﷻ
memberikan gambaran yang sangat mengerikan tentang bagaimana nyawa para
pembesar yang angkuh dicabut:
﴿وَلَوْ
تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ المَوْتِ وَالمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ
أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ اليَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ
عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ﴾
“Alangkah
ngerinya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zholim berada dalam
tekanan sakarotul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangan mereka
sambil berkata: ‘Keluarkanlah nyawa kalian! Di hari ini kalian dibalas dengan
adzab yang sangat menghinakan, karena kalian selalu mengatakan terhadap Alloh
perkataan yang tidak benar dan karena kalian selalu menyombongkan diri terhadap
ayat-ayat-Nya.’” (QS. Al-An’am: 93)
Kekuasaan
mereka tidak berguna sama sekali saat Malaikat Maut datang membawa aroma Naar.
Tidak ada pengawal yang bisa menghalangi, tidak ada pengacara yang bisa
membela.
Diriwayatkan
dari Al-Barro’ bin ‘Azib (71 H), Rosululloh ﷺ bersabda tentang cabutan nyawa orang kafir/fajir:
«فَتُفَرَّقُ
فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ،
[فَتَقْطَعُ مَعَهَا الْعُرُوقَ وَالْعَصَبَ]»
“Maka
nyawa itu berpencar di seluruh tubuhnya, lalu malaikat mencabutnya sebagaimana
alat pemanggang besi yang penuh duri dicabut dari kain wol yang basah, sehingga
ikut terputuslah seluruh urat dan sarafnya.” (HR. Ahmad no. 18534, shohih;
Ahkamul Janaiz Al-Albani)
Bayangkanlah
wahai para pembesar, tubuh yang selama ini Anda manjakan dengan pijatan dan
parfum mahal, akan mengalami kepedihan yang luar biasa ini jika Anda terus
berada dalam kesombongan.
9.2
Aduan dan Saling Lepas Tangan antara Pemimpin dan Pengikut di Naar
Di dunia
mereka saling memuji dan bekerja sama dalam kezholiman. Di Akhiroh, mereka akan
saling melaknat.
﴿إِذْ
تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ
بِهِمُ الْأَسْبَابُ﴾
“Yaitu
ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang
mengikuti mereka, dan mereka melihat adzab; dan lenyaplah segala hubungan di
antara mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 166)
Para
pembesar akan berkata kepada pengikutnya: “Jangan salahkan aku, salahkan dirimu
sendiri karena mau mengikutiku.” Inilah akhir dari persahabatan yang tidak
didasari oleh taqwa kepada Alloh ﷻ.
9.3
Tiadanya Nilai Harta dan Kedudukan di Hadapan Robb pada Hari Qiyamah
Pada hari
itu, emas sepenuh bumi pun tidak akan bisa menebus dosa satu kali kesombongan.
﴿يَوْمَ
لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ
أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
“Yaitu pada
hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna lagi, kecuali orang-orang yang
menghadap Alloh dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
Hati yang
bersih (qolbun salim) adalah hati yang selamat dari kesyirikan,
kesombongan, dan keterikatan pada dunia.
Penutup
Demikianlah
potret sifat-sifat yang telah membinasakan para pembesar terdahulu. Wahyu
diturunkan sebagai peringatan keras agar kita tidak mengulangi lubang
kehancuran yang sama. Bagi Anda yang memiliki kelebihan harta dan kedudukan,
jadikanlah semua itu sebagai jembatan menuju Jannah dengan ketawadhuan dan
ketaatan yang total. Jangan sampai dunia yang sebentar ini menukar Akhiroh yang
kekal. Sesungguhnya Robb kita Maha Melihat apa yang tersembunyi di balik jas
mewah dan jabatan tinggi kita.
Semoga
Alloh ﷻ
memberikan kita taufiq
untuk senantiasa hijroh menuju ridho-Nya dan wafat dalam keadaan husnul
khotimah.
Walhamdu
lillahi Robbil ‘alamin.[NK]
