[PDF] Sikap Muslim Terhadap Penemuan Moderen - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ
yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai pembeda antara yang haq dan yang
bathil, serta mengutus Rosul-Nya ﷺ sebagai pembawa pelita petunjuk yang tidak akan pernah padam
hingga hari Qiyamah.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang telah mewariskan kepada
umatnya dua perkara agung yang jika berpegang teguh kepadanya niscaya tidak
akan tersesat selamanya.
Amma ba’du:
Urgensi
penyusunan buku ini berpijak pada fenomena akhir zaman, di mana fitnah
pemikiran berkembang dengan sangat pesat seiring kemajuan teknologi dan sains
materi. Banyak manusia yang mulai menjadikan penemuan moderen sebagai hakim
atas wahyu, seolah-olah kebenaran sebuah Hadits baru diakui jika telah melalui
uji laboratorium atau selaras dengan teori para ilmuwan. Padahal, wahyu adalah
kebenaran mutlak yang bersifat qoth’i (tetap/pasti), sedangkan sains
manusia adalah produk akal yang bersifat zhonni (dugaan) dan terus
mengalami revisi. Tanpa pondasi aqidah yang kokoh, seorang Muslim akan mudah
terombang-ambing oleh syubhat kaum Nashroni dan para pemuja materi yang
berusaha melucuti kewibawaan as-Sunnah dari dada-dada kaum Mu’min.
Buku ini
hadir sebagai benteng ilmiah untuk mendudukkan kembali posisi wahyu pada
tempatnya yang tertinggi, sekaligus memberikan kaidah syari yang selamat dalam
menyikapi setiap penemuan baru agar fithroh manusia tetap terjaga dalam
ketundukan kepada Robb semesta alam.
Kerangka
pembahasan dalam buku ini diawali dengan penegasan tentang kewajiban
mengagungkan wahyu di atas akal manusia sebagai pondasi utama keimanan, yang
kemudian diikuti dengan pemaparan tentang keselarasan wahyu dengan fakta alam
yang bersifat pasti. Penulis juga menyajikan kaidah-kaidah penting seperti tawaqquf
terhadap perincian sains yang tidak memiliki nash spesifik, serta bagaimana
menyikapi jika terjadi pertentangan antara wahyu dan teori manusia dengan
mengedepankan integritas nash. Terakhir, buku ini membongkar berbagai fitnah
dan syubhat yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam guna merusak pemahaman umat
terhadap Hadits-Hadits Nabi ﷺ.
Dengan
demikian, diharapkan pembaca memiliki cara pandang yang lurus dalam melihat
hubungan antara iman dan sains, tanpa terjatuh pada sikap menolak fakta alam
yang nyata dan tidak pula terjatuh pada sikap membebek secara buta pada setiap
teori manusia yang belum teruji kebenarannya secara hakiki.
Bab 1: Wahyu di Atas Akal
1.1
Wahyu sebagai Kebenaran Mutlak dari Alloh ﷻ
Keimanan
seorang Mu’min terhadap wahyu merupakan pondasi utama dalam seluruh bangunan
agama. Wahyu, baik yang berupa Al-Qur’an maupun Hadits yang shohih, bersumber
dari Robb semesta alam yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, baik yang nampak
maupun yang ghoib. Alloh ﷻ berfirman tentang wahyu yang dibawa Rosul-Nya ﷺ:
﴿وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ * إِنْ هُوَ
إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ﴾
“Muhammad
tidak berbicara dari hawa (perasaan dan pengalaman serta penelitian).
Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
Ayat ini
menegaskan bahwa segala yang keluar dari lisan Nabi ﷺ yang berkaitan dengan urusan
agama dan kabar-kabar ghoib adalah bimbingan langsung dari Alloh ﷻ yang
terjaga dari kesalahan.
Berbeda
dengan akal manusia yang terbatas, wahyu bersifat mutlak dan tidak akan pernah
mengalami perubahan atau revisi sepeninggal Nabi ﷺ, seiring berjalannya waktu.
Akal manusia hanya mampu menjangkau hal-hal yang bersifat materi dan terbatas
oleh ruang serta waktu, sedangkan wahyu datang dari Sang Pencipta ruang dan
waktu itu sendiri. Oleh karena itu, mengagungkan wahyu adalah konsekuensi logis
dari persaksian bahwa Muhammad adalah Rosululloh ﷺ.
1.2
Kedudukan Hadits Nabawi sebagai Penjelas Al-Qur’an
Hadits
Nabawi memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam syariat Islam. Ia bukan
sekadar ucapan manusia biasa, melainkan penjelasan resmi yang diotorisasi oleh
Alloh ﷻ
untuk menerangkan isi Al-Qur’an. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ
لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Dan Kami
turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang
telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl:
44)
Tanpa Hadits,
banyak perintah dalam Al-Qur’an yang tidak dapat dilaksanakan. Sebagai contoh,
Al-Qur’an memerintahkan Sholat, namun perincian mengenai jumlah rokaat, tata
cara rukuk, sujud, dan waktunya dijelaskan secara detail dalam Hadits. Nabi ﷺ bersabda:
«صَلُّوا
كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»
“Sholatlah
kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 631)
Begitu pula
dalam urusan Zakat, Puasa, dan Haji. Maka, mengingkari Hadits dengan alasan “aku
hanya mengikuti Al-Qur’an bukan Hadits” adalah suatu bentuk kesesatan dan
secara tidak langsung merupakan pengingkaran terhadap Al-Qur’an itu sendiri.
1.3
Larangan Mendahulukan Akal dan Logika di Atas Nash Syari
Bahaya
besar muncul ketika seseorang menjadikan akalnya sebagai standar untuk
menghakimi kebenaran wahyu. Jika akal tidak mampu menjangkau suatu Hadits, lalu
Hadits tersebut ditolak, maka orang tersebut telah menjadikan dirinya sebagai tuhan
bagi wahyu. Padahal, tugas akal adalah memahami wahyu, bukan mengadili wahyu.
Alloh ﷻ
melarang kita mendahului ketetapan-Nya:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا
بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Alloh dan Rosul-Nya dan bertaqwalah
kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.
Al-Hujurot: 1)
Imam Malik
bin Anas (179 H) pernah memberikan peringatan keras bagi orang yang menggunakan
logikanya untuk menentang as-Sunnah. Beliau berkata bahwa as-Sunnah adalah
perahu Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang
tertinggal darinya akan tenggelam.
Akal
manusia seringkali dipengaruhi oleh hawa nafsu, lingkungan, dan keterbatasan
informasi, sehingga sangat tidak layak dijadikan timbangan bagi
perkataan Rosululloh ﷺ
yang ma’shum (terjaga dari salah).
Contohnya adalah
dalam masalah mengusap khuf (sepatu yang menutupi mata kaki) saat berwudhu.
Secara logika manusia, bagian yang kotor adalah bagian bawah sepatu yang
menyentuh tanah, namun syariat memerintahkan untuk mengusap bagian atasnya. Ali
bin Abi Tholib (40 H) berkata:
«لَوْ
كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ،
وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ»
“Seandainya
agama itu dengan logika (semata), niscaya bagian bawah khuf lebih utama untuk diusap
daripada bagian atasnya. Sungguh aku melihat Rosululloh ﷺ mengusap khuf bagian atasnya.”
(HSR. Abu Dawud no. 162)
Ucapan ini
merupakan kaidah agung bahwa kepatuhan kepada perintah lebih didahulukan
daripada penalaran akal yang pendek.
1.4
Contoh Ketundukan Para Shohabat terhadap Berita Ghoib
Para
Shohabat adalah generasi terbaik dalam hal taslim (ketundukan) terhadap
wahyu. Mereka tidak pernah bertanya “bagaimana mungkin?” atau “apakah ini masuk
akal?” ketika Nabi ﷺ
menyampaikan berita tentang urusan Akhiroh, Jannah, Naar, atau kejadian masa
lalu dan masa depan.
Kisah yang
paling masyhur adalah sikap Abu Bakr (13 H) saat peristiwa Isro’ dan Mi’roj.
Ketika orang-orang musyrik Makkah mengejek berita Nabi ﷺ yang pergi ke Baitul Maqdis
dan naik ke langit dalam satu malam, Abu Bakr dengan tegas berkata: “Jika
beliau yang mengatakannya, maka sungguh beliau benar.” Abu Bakr tidak
membutuhkan bukti laboratorium atau penjelasan sains untuk membenarkan berita
tersebut, karena dasar keimanannya adalah kejujuran pembawa wahyu itu sendiri.
Demikian
pula saat turunnya larangan khomr. Begitu ayat tentang keharoman khomr turun,
para Shohabat langsung membuang simpanan khomr mereka ke jalanan di Madinah
tanpa menunda-nunda atau mencari alasan medis terlebih dahulu. Mereka mendengar
dan mereka patuh (sami’na wa atho’na).
Sikap
inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim ketika menghadapi Hadits-Hadits
yang menceritakan tentang pengobatan, penciptaan manusia, atau fenomena alam,
meskipun penemuan moderen belum menjangkaunya atau nampaknya berselisih
dengannya.
Kewajiban
kita adalah mengimani bahwa setiap huruf yang keluar dari lisan Nabi ﷺ adalah kebenaran, sebagaimana
Alloh ﷻ
mensifatkan beliau dalam Al-Qur’an sebagai cahaya dan penjelas bagi manusia.
Kesalahan bukan pada wahyu, melainkan pada pemahaman manusia yang sempit atau
data penelitian manusia yang belum sempurna.
Bab 2:
Keselarasan Wahyu dengan Fakta Alam
2.1
Kesesuaian Wahyu dengan Sunnatulloh di Alam Semesta
Segala sesuatu
yang terjadi di alam semesta ini berjalan di atas Sunnatulloh (ketentuan Alloh)
yang bersifat tetap dan teratur. Wahyu yang diturunkan oleh Alloh ﷻ,
Sang Pencipta alam, mustahil bertentangan dengan fakta-fakta penciptaan yang
diciptakan-Nya sendiri. Alloh ﷻ berfirman:
﴿أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ
الْخَبِيرُ﴾
“Apakah
(Alloh) yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)
Kebenaran
wahyu mencakup berita tentang penciptaan langit, bumi, dan manusia yang
seringkali mendahului pengamatan manusia itu sendiri. Ketika manusia melalui
perangkat sainsnya menemukan sebuah kebenaran yang bersifat qoth’i
(pasti dan tidak berubah), maka ditemukanlah keselarasan yang sempurna antara
apa yang tertulis dalam nash dan apa yang terlihat di alam raya. Kesesuaian ini
bukan berarti wahyu membutuhkan pembenaran dari sains, melainkan sainslah yang
sedang menyingkap tirai keagungan ilmu Alloh ﷻ yang telah dikabarkan lewat
lisan Nabi ﷺ.
2.2
Menjelaskan Sisi I’jaz (Mukjizat) Ilmiyyah dalam Hadits Nabi ﷺ
I’jaz
ilmiyyah adalah bukti bahwa lisan Nabi ﷺ dibimbing oleh wahyu karena beliau menyampaikan fakta-fakta
alam yang tidak mungkin diketahui oleh manusia pada masa itu tanpa bantuan alat
moderen. Hal ini menjadi hujjah bagi orang-orang yang memiliki akal sehat bahwa
Islam adalah agama yang haq. Rosululloh ﷺ bersabda tentang lalat:
«إِذَا
وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ، فَإِنَّ
فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً»
“Jika
seekor lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, maka
celupkanlah seluruhnya kemudian buanglah lalat itu, karena sesungguhnya pada
salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat.” (HR.
Al-Bukhori no. 3320)
Secara zhohir,
Hadits ini mungkin tampak aneh bagi sebagian orang di masa lalu. Namun,
penelitian moderen menyingkap bahwa pada permukaan tubuh lalat memang terdapat
mikroorganisme patogen (penyakit), namun di sisi lain lalat juga membawa zat
antibiotik yang mampu menetralkan bakteri tersebut. Tindakan menenggelamkan
lalat tersebut secara teknis memicu keluarnya zat penawar yang ada pada
tubuhnya. Ini adalah contoh bagaimana wahyu memberikan bimbingan praktis yang
di kemudian hari dibenarkan oleh fakta ilmiah yang jujur.
2.3
Contoh-Contoh Penemuan Moderen yang Membenarkan Kabar Wahyu
Banyak
kabar dari Nabi ﷺ
yang berkaitan dengan fenomena alam atau kedokteran yang kini menjadi dasar
dalam sains moderen. Di antaranya adalah berita tentang penciptaan manusia di
dalam rahim. Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا [نُطْفَةً]،
ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً
مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ»
“Sesungguhnya
salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya
selama 40 hari dalam bentuk nutfah (sperma), kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal
darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu
pula, kemudian diutuslah Malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh ke dalamnya.” (HR.
Al-Bukhori no. 3208 dan lafazh Muslim no. 2643)
Ilmu
embriologi moderen mengonfirmasi tahapan-tahapan ini dengan sangat akurat,
mulai dari pembuahan hingga pembentukan jaringan yang menyerupai daging (somit).
Tidak ada
satupun alat optik di zaman Nabi ﷺ yang mampu melihat perkembangan janin di dalam kegelapan rahim,
namun beliau ﷺ
menjelaskannya dengan sangat rinci.
Begitu pula
tentang siklus malam dan siang serta bentuk bumi. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ
ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ
النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ﴾
“Dia
menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam
atas siang dan menutupkan siang atas malam.” (QS. Az-Zumar: 5)
Kata “yukawwiru”
dalam bahasa Arob berarti melilitkan sesuatu secara melingkar (seperti
melilitkan imamah pada kepala).
Ini menjadi
hujjah bagi sebagian Ulama —seperti Ibnu Taimiyyah— bahwa bumi berbentuk
bulat sehingga pergantian siang dan malam terjadi secara berkelanjutan dengan
cara melingkar. Penemuan astronomi moderen yang menyatakan bumi berbentuk bulat
(spheroid) hanyalah penguat bagi apa yang telah disebutkan sebagian
Ulama secara isyarat wahyu sejak 14 abad yang lalu.
2.4
Batasan Penggunaan Penemuan Moderen sebagai Penguat Keimanan
Meskipun
terdapat kesesuaian, seorang Muslim harus memiliki batasan dalam menggunakan
sains sebagai penguat wahyu. Kita tidak boleh menggantungkan keimanan pada
penemuan sains. Jika sains membenarkan wahyu, kita bersyukur atas tambahan ilmu
tersebut. Namun jika sains belum menjangkau kebenaran wahyu, keimanan kita
tetap teguh dan tidak goyah sedikitpun.
Wahyu
adalah al-hakim (yang menghakimi), sedangkan sains adalah al-mahkum ‘alaihi
(yang dihakimi).
Jangan
sampai terjadi pembalikan logika di mana wahyu baru dianggap benar jika sudah
ada jurnal ilmiah yang menerbitkannya. Iman adalah mempercayai hal ghoib
sebelum nampak, sebagaimana sifat kaum Muttaqin:
﴿الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ
الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾
“(Yaitu)
mereka yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan Sholat, dan menafkahkan
sebagian rizqi yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 3)
Keimanan
kepada wahyu harus bersifat mutlak tanpa syarat. Penemuan sains hanyalah
pelayan bagi wahyu untuk menjelaskan perincian teknis yang memang diperbolehkan
untuk dipelajari selama tidak menabrak batas-batas syariat.
Contoh lain
dalam hal pengobatan adalah madu. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ
أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ﴾
“Dari perut
lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya
terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)
Nabi ﷺ juga bersabda:
«الشِّفَاءُ
فِي ثَلاَثَةٍ: شَرْبَةِ عَسَلٍ، وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ، وَكَيَّةِ نَارٍ، وَأَنْهَى
أُمَّتِي عَنِ الكَيِّ»
“Kesembuhan
itu ada pada tiga hal: minum madu, sayatan alat bekam, dan sundutan api (kay),
namun aku melarang umatku dari kay.” (HR. Al-Bukhori no. 5680)
Sains
moderen telah membuktikan khasiat madu sebagai antibiotik alami, anti-inflamasi,
dan mempercepat penyembuhan luka.
Demikian
pula bekam (hijamah) yang kini diakui dalam dunia medis sebagai metode
untuk mengeluarkan darah statis dan memperbaiki sirkulasi. Semua ini adalah
bukti bahwa wahyu menuntun manusia pada kemaslahatan badan dan jiwa, yang
kebenarannya akan terus tersingkap seiring perkembangan zaman.
Para Ulama
menekankan pentingnya mengikuti atsar dan menjauhi perdebatan akal yang tidak
berdasar. Mereka menegaskan bahwa apa yang datang dari Rosululloh ﷺ wajib diterima dengan penuh
ketundukan, baik akal kita mampu menjangkaunya saat ini atau tidak.
Bab 3: Tawaqquf
Terhadap Perincian Penemuan Moderen
3.1
Kedudukan Penemuan Moderen yang Tidak Bertentangan Namun Tidak Ada Nash
Spesifiknya
Dalam
dinamika ilmu pengetahuan, sering kali ditemukan fakta-fakta baru yang tidak
disinggung secara tekstual oleh wahyu, namun secara logika tidak bertabrakan
dengan aqidah maupun syariat. Terhadap hal ini, seorang Muslim diperintahkan
untuk bersikap bijak. Kita tidak boleh secara terburu-buru mengklaim bahwa
penemuan tersebut adalah bagian dari wahyu yang dipastikan benar, dan tidak
boleh pula menolaknya mentah-mentah jika ia membawa manfaat yang nyata bagi
kehidupan.
Alloh ﷻ
memberikan kaidah umum bahwa segala sesuatu di bumi ini pada dasarnya
diciptakan untuk manusia, selama tidak ada dalil yang mengharomkannya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ
جَمِيعًا﴾
“Dialah
Alloh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqoroh:
29)
Ayat ini
mencakup segala manfaat dari hasil riset manusia, baik dalam bidang kedokteran,
teknologi transportasi, maupun komunikasi. Kedudukannya adalah urusan duniawi
yang diserahkan kepada kreativitas manusia selama tetap dalam koridor taqwa.
Nabi ﷺ
bersabda:
«أَنْتُمْ
أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ»
“Kalian
lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Muslim no. 2363)
Oleh karena
itu, jika sains menemukan perincian tentang susunan atom, struktur galaksi yang
jauh, atau kode genetik yang sangat rumit, dan hal-hal tersebut tidak memiliki
nash spesifik yang membenarkan atau menyalahkannya, maka kedudukannya adalah
mubah untuk dipelajari. Namun, kita dilarang memastikan bahwa “Inilah yang
dimaksud oleh ayat anu” jika tidak ada keterangan dari Rosululloh ﷺ atau para Shohabat.
3.2
Menyamakan Kedudukan Penemuan Sains dengan Kabar Isroiliyyat dalam Hal
Periwayatan
Kaidah
penting dalam menyikapi perincian sains yang “nampak selaras” dengan wahyu
namun tidak ada penyebutan detilnya dalam nash adalah dengan menyamakannya
seperti berita Isroiliyyat (kabar dari Ahli Kitab).
Terhadap
berita semacam ini, kita tidak membenarkannya secara mutlak karena khawatir itu
adalah kebatilan (atau kebohongan atau makar) yang disisipkan manusia, dan kita
tidak mendustakannya secara mutlak karena khawatir itu adalah kebenaran yang
tidak kita ketahui.
Nabi ﷺ memberikan bimbingan dalam
hal ini:
«لَا
تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللَّهِ
وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا»
“Janganlah
kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka. Katakanlah:
Kami beriman kepada Alloh dan apa yang diturunkan kepada kami.” (HR.
Al-Bukhori no. 4485)
Jika sains
menjelaskan perincian tentang bagaimana proses hujan terbentuk dengan siklus
evaporasi dan kondensasi secara sangat teknis, maka perincian tersebut boleh
diriwayatkan sebagai tambahan wawasan (seperti Isroiliyyat), namun pokok
keimanannya tetap kembali pada wahyu bahwa Alloh-lah yang mengirimkan angin dan
menurunkan air. Perincian sains tersebut statusnya adalah tawaqquf (didiamkan)
dalam hal kebenaran mutlaknya di sisi syariat. Kita tidak menjadikannya sebagai
aqidah, tetapi menjadikannya sebagai sarana mengambil pelajaran (i’tibar).
3.3
Larangan Memastikan Kebenaran Sains Secara Mutlak atas Nama Wahyu
Bahaya yang
sering muncul di era moderen adalah sikap “mencocok-cocokkan” ayat atau Hadits
dengan teori sains yang belum mapan. Tindakan ini sangat zholim terhadap wahyu.
Sebab, teori sains dibangun di atas hipotesis yang bisa gugur kapan
saja, sedangkan wahyu adalah kebenaran yang tidak mungkin goyah. Jika kita
memastikan sebuah ayat berarti “Teori A”, lalu sepuluh tahun kemudian “Teori A”
terbukti salah, maka secara tidak langsung pelakunya telah memberi celah bagi
kaum Nashroni dan atheis untuk menyerang kebenaran Al-Qur’an.
Ulama Salaf
lainnya senantiasa menekankan pentingnya menjaga lisan dari berbicara tentang
Alloh tanpa ilmu. Berbicara tentang maksud ayat dengan landasan teori manusia
yang berubah-ubah termasuk dalam larangan:
﴿وَلَا تَقْفُ إِنْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro’: 36)
Seorang
Muslim harus membedakan mana yang merupakan fakta alam yang teramati (seperti
madu yang keluar dari perut lebah) dengan teori spekulatif (seperti asal-usul
alam semesta menurut teori ledakan tertentu).
Memastikan
teori spekulatif sebagai isi wahyu adalah tindakan yang harom.
3.4
Bahaya Memaksakan Tafsir Wahyu agar Sesuai dengan Teori Sains yang Masih Berubah
Memaksakan
makna harfiah nash agar tunduk pada penemuan moderen adalah bentuk penghinaan
terhadap kedudukan wahyu. Seringkali para pengikut hawa nafsu merubah makna “Malaikat”
menjadi “kekuatan alam” atau “jin” menjadi “kuman” hanya agar nampak masuk akal
di mata ilmuwan. Ini adalah kesesatan yang nyata.
Wahyu harus
dipahami sesuai dengan pemahaman para Shohabat dan kaidah bahasa Arob saat
wahyu itu turun. Jika sebuah Hadits menyebutkan tentang Jannah yang luasnya
seluas langit dan bumi, kita wajib mengimaninya apa adanya dengan penjelasan
mufassir, bukan merubahnya menjadi istilah metaforis (kiasan) hanya
karena teleskop manusia belum menemukannya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ
وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ﴾
“Bahkan
mereka mendustakan apa yang mereka belum meliputi ilmunya, padahal belum datang
kepada mereka penjelasannya.” (QS. Yunus: 39)
Kekeliruan
banyak orang adalah menganggap bahwa kebenaran hanya terbatas pada apa yang
bisa ditangkap oleh indera dan alat laboratorium. Padahal, rizqi, rohmat, dan
barokah adalah kenyataan yang tidak bisa diukur dengan timbangan materi, namun
pengaruhnya nyata dalam kehidupan seorang Mu’min. Kita harus tetap teguh pada
zhohir nash dan melakukan tawaqquf pada perincian duniawi yang tidak
kita miliki ilmunya secara pasti.
Sebagai
contoh, dalam Hadits tentang matahari yang bersujud di bawah ‘Arsy:
«أَتَدْرِي
أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ؟... فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ»
“Tahukah
kalian ke mana matahari ini pergi?... Sesungguhnya ia pergi hingga bersujud di
bawah ‘Arsy.” (HR. Al-Bukhori no. 4802 dan Muslim no. 159)
Secara
sains, matahari tidak pernah berhenti berotasi dan berevolusi. Namun secara
wahyu, ia bersujud dengan cara yang hanya diketahui oleh Alloh ﷻ.
Kita tidak perlu memaksakan Hadits ini agar sesuai dengan astronomi dengan cara
membuang makna sujudnya. Kita wajib mengimani matahari bersujud (karena
wahyu itu pasti benar) dan kita tidak boleh memastikan matahari tetap
pada orbitnya.
Bagaimanakah
teknisnya? Di sinilah kita tawaqquf dan menyerahkan ilmunya kepada Alloh
ﷻ.
Inilah sikap yang menyelamatkan aqidah dari istidroj (tipu daya) akal
yang merasa paling tahu segalanya.
Mengagungkan
sains di atas wahyu adalah jalan menuju nifaq. Sains adalah alat bagi manusia
untuk mengenal keagungan Robb-nya, bukan tandingan bagi firman-Nya.
Bab 4: Menyikapi
Pertentangan Antara Wahyu dan Teori Sains
4.1
Hakikat Teori Sains yang Bersifat Zhonni (Dugaan) dan Terus Berubah
Seringkali
terjadi benturan antara teks wahyu dengan apa yang diklaim sebagai penemuan
ilmiah. Dalam kondisi ini, seorang Mu’min wajib menyadari hakikat dari ilmu
pengetahuan manusia. Sains moderen, pada sebagian besar cabangnya, dibangun di atas
metode empiris yang bergantung pada keterbatasan panca indera dan alat ukur.
Sifatnya adalah zhonni (asumsi/dugaan kuat) yang senantiasa terbuka
untuk dikoreksi, dianulir, atau digantikan oleh penemuan baru.
Berbeda
halnya dengan wahyu yang bersifat qoth’i (pasti) karena bersumber dari
Al-Kholiq yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا﴾
“Dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isro’: 85)
Karena ilmu
manusia itu sedikit dan terbatas, maka sangat tidak logis jika sesuatu yang
terbatas dan berubah-ubah dijadikan sebagai tolok ukur untuk menghakimi
kebenaran yang mutlak dan abadi. Jika ada teori sains yang bertentangan dengan Hadits
shohih, maka teori tersebut statusnya jatuh dari derajat “fakta” menjadi “dugaan
yang keliru” atau “simpulan yang belum sempurna”.
4.2
Meninjau Kembali Sisi Pendalilan (Istidlal) yang Tidak Terkait dengan Penemuan
Tersebut
Terkadang,
pertentangan yang nampak bukan terletak pada teks wahyu itu sendiri, melainkan
pada cara manusia melakukan istidlal (pengambilan dalil).
Bisa jadi
sebuah Hadits dipahami secara sempit oleh sebagian orang sehingga nampak
bertabrakan dengan fakta alam, padahal jika dikembalikan kepada kaidah bahasa
Arab dan penjelasan para Salaf, maksud Hadits tersebut tidaklah demikian.
Sebagai
contoh, ketika wahyu berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, wahyu
menggunakan bahasa yang dipahami oleh manusia agar mereka mengambil pelajaran,
bukan bermaksud menjelaskan rumus fisika secara teknis. Jika sains membicarakan
perincian atomik yang nampak berbeda dengan deskripsi umum dalam nash, maka
dipahami bahwa wahyu memang tidak sedang membicarakan dimensi teknis tersebut.
Keduanya berjalan di jalur yang berbeda; wahyu membicarakan hakikat dan hikmah,
sementara sains membicarakan teknis materi.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai batasan pembicaraan tentang hal-hal yang di luar jangkauan:
﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ
الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾
“Dia tidak
dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang
kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am:
103)
Jika
terhadap Dzat-Nya saja mata tidak mampu menjangkau, maka terhadap sebagian
rahasia ciptaan-Nya pun akal manusia memiliki batas pemberhentian. Pertentangan
itu nampak karena manusia memaksakan dalil untuk berbicara di ranah yang bukan
tujuannya.
4.3
Menetapkan Adanya Kekeliruan pada Penemuan Manusia karena Keterbatasan Alat dan
Akal
Sikap yang
paling jujur secara ilmiah bagi seorang Muslim adalah berani menetapkan bahwa
penemuan manusia itulah yang keliru ketika ia secara nyata menabrak nash yang
shohih. Sejarah sains dipenuhi dengan bangkai teori-teori yang dulunya dianggap
sebagai “kebenaran mutlak” namun kemudian terbukti salah total.
Dahulu,
para ilmuwan meyakini teori geosentrisme atau teori spontanitas makhluk hidup
(abiogenesis klasik) lalu berikutnya datang ilmuwan membantahnya.
Jika pada
masa itu seorang Muslim memaksakan ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan
teori-teori tersebut, niscaya para ilmuwan berikutnya akan menjatuhkan wahyu.
Oleh karena itu, kita tetap berpegang pada wahyu, karena Alloh ﷻ
adalah Ash-Shodiq (Yang Maha Benar).
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا﴾
“Dan
siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Alloh?” (QS. An-Nisa’: 122)
Nabi ﷺ juga bersabda tentang
kepastian berita langit:
«إِنِّي
رَسُولُ اللَّهِ، وَلَسْتُ أَعْصِيهِ، وَهُوَ نَاصِرِي»
“Sesungguhnya
aku adalah Rosululloh, aku tidak mendurhakai-Nya, dan Dia adalah penolongku.” (HR.
Al-Bukhori no. 2731)
Maksudnya,
apa yang beliau sampaikan adalah jaminan kebenaran. Jika sains berkata “A” dan
Rosululloh ﷺ
berkata “B”, maka “B” adalah kebenaran hakiki, sementara “A” adalah kesalahan
yang tertunda penyingkapannya.
4.4
Contoh-Contoh Teori Sains Masa Lalu yang Gugur oleh Penemuan Terbaru
Satu bukti
kuat akan kebenaran wahyu adalah ketetapannya di tengah badai perubahan teori
manusia. Contohnya adalah masalah sidik jari. Dahulu manusia tidak menyadari
keunikan sidik jari hingga akhir abad ke-19. Namun Al-Qur’an telah
mengisyaratkan ketelitian penciptaan ujung jari manusia saat membicarakan hari
Qiyamah:
﴿بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ﴾
“Bukan
demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan
sempurna.” (QS. Al-Qiyamah: 4)
Setiap
rincian dalam wahyu mengandung hikmah yang mungkin baru disadari manusia
berabad-abad kemudian. Contoh lainnya adalah teori tentang “ruang hampa” di
alam semesta yang dahulu dianggap benar-benar kosong, namun sains moderen
menemukan adanya materi gelap dan energi gelap. Wahyu sejak awal tidak pernah
menyebut langit sebagai kekosongan belaka, melainkan bangunan yang kokoh dan
terpelihara.
Jika
terjadi kontradiksi, seorang Mu’min tidak akan mengalami kegoncangan jiwa. Ia
akan berkata seperti perkataan Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal, 241 H)
bahwa kita mengimani Hadits Nabi ﷺ sebagaimana adanya tanpa menolaknya dengan akal. Kita meyakini
bahwa para ilmuwan akan terus bersilang pendapat, saling menjatuhkan teori
rekannya, dan terus merevisi bukunya, sementara mushof Al-Qur’an dan
kitab-kitab Hadits shohih tidak pernah berubah satu huruf pun isinya sejak
zaman Shohabat. Inilah kemuliaan iman di atas ketidakpastian sains.
Sikap ini
bukan berarti anti-sains, melainkan menempatkan sains pada posisi yang
semestinya: sebagai pelayan dan penjelas sisi teknis dari kekuasaan Alloh ﷻ,
bukan sebagai tuhan baru yang disembah dan dibenarkan ucapannya secara buta
melebihi ucapan Rosululloh ﷺ.
Kebenaran
wahyu adalah jangkar di tengah lautan teori manusia yang bergejolak. Siapa yang
berpegang pada jangkar tersebut, ia tidak akan terombang-ambing oleh tren
pemikiran zaman.
Bab 5: Fitnah
Sains Barat
5.1
Mewaspadai Cara Pandang Materialisme dalam Memahami Hadits
Fitnah
terbesar di zaman ini adalah upaya membatasi segala kebenaran hanya pada apa
yang bisa diukur oleh panca indera dan perangkat laboratorium (materialisme).
Cara
pandang ini meracuni sebagian kaum Muslimin sehingga mereka mulai meragukan Hadits-Hadits
yang menceritakan tentang perkara ghoib hanya karena tidak sesuai dengan hukum
fisika yang mereka pelajari. Padahal, alam semesta ini memiliki
tingkatan-tingkatan yang tidak semuanya tunduk pada hukum materi yang nampak.
Alloh ﷻ
mengecam orang-orang yang hanya terpaku pada zhohir kehidupan dunia namun lalai
terhadap hakikat kebenaran yang lebih besar:
﴿يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾
“Mereka
hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) Akhiroh adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)
Materialisme
adalah akar dari pengingkaran terhadap mukjizat. Jika seseorang memandang dunia
hanya sebagai mesin mekanis, maka ia akan sulit menerima Hadits tentang Nabi ﷺ yang membelah bulan, air yang
keluar dari sela-sela jari beliau, atau batu yang memberi salam kepada beliau.
Bagi seorang Mu’min, pencipta hukum alam (Al-Kholiq) berkuasa penuh untuk
meniadakan hukum tersebut kapan pun Dia kehendaki demi membuktikan kebenaran
Rosul-Nya.
5.2
Bantahan terhadap Pihak yang Menolak Hadits Shohih karena Alasan Tidak Masuk
Akal
Muncul
sekelompok orang yang mengaku membela Islam namun mereka justru melucuti
kewibawaan as-Sunnah. Mereka menolak Hadits-Hadits shohih dalam Kitab
Al-Bukhori dan Muslim hanya karena dianggap bertentangan dengan sains atau
logika moderen. Ini adalah jalan yang pernah ditempuh oleh kaum Mu’tazilah di
masa lalu dan kini dihidupkan kembali oleh para pemuja akal.
Padahal,
standar shohih atau tidaknya sebuah Hadits adalah berdasarkan ketersambungan
sanad (rantai periwayatan) dan keadilan serta kedhobithan (kekuatan hafalan)
para perawinya, bukan berdasarkan suka atau tidak sukanya akal seseorang. Nabi ﷺ telah memperingatkan akan
datangnya kaum yang duduk santai di atas kursinya lalu menolak Hadits:
«أَلَا
هَلْ عَسَى رَجُلٌ يَبْلُغُهُ الحَدِيثُ عَنِّي وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى أَرِيكَتِهِ،
فَيَقُولُ: بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ، فَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَلَالًا
اسْتَحْلَلْنَاهُ. وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَرَامًا حَرَّمْنَاهُ، وَإِنَّ مَا حَرَّمَ
رَسُولُ اللَّهِ كَمَا حَرَّمَ اللَّهُ»
“Hampir-hampir
ada seorang laki-laki yang bersandar di atas dipannya, lalu disampaikan
kepadanya sebuah Hadits dari Hadits-Haditsku, kemudian ia berkata: ‘Antara kami
dan kalian ada Kitab Alloh ‘Azza wa Jalla, apa yang kami temukan padanya
dari perkara halal maka kami halalkan dan apa yang kami temukan padanya dari
perkara harom maka kami haromkan.’ Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharomkan
oleh Rosululloh ﷺ
adalah sama seperti apa yang diharomkan oleh Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2664 dan Ibnu Majah no. 12)
Penolakan
terhadap Hadits tentang lalat, Hadits tentang penyihiran Nabi ﷺ, atau Hadits tentang
keluarnya Dajjal dengan alasan “ilmiah” adalah bentuk kesombongan intelektual.
Mereka seolah-olah mengklaim bahwa ilmu manusia di abad 21 ini telah sempurna,
padahal para ilmuwan itu sendiri setiap hari meralat teorinya sendiri.
5.3
Menjaga Fithroh dari Pengaruh Pemikiran Luar yang Merusak Aqidah
Barat dan
para orientalis seringkali menggunakan celah sains untuk menggoyahkan keyakinan
umat Islam. Mereka berusaha menampilkan seolah-olah Islam adalah agama yang
anti-sains atau kuno. Ironisnya, sebagian kaum Muslimin justru terjebak dalam
upaya apologetik (membela diri secara berlebihan) dengan cara memaksakan
tafsir sains ke dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara serampangan.
Kita harus
kembali kepada fithroh dan manhaj Salafus Sholih dalam beragama. Kholifah Abu
Bakr (13 H) telah memberikan teladan dalam ketundukan mutlak dalam peristiwa isro
di atas. Begitu pula para ulama seperti Ibnu Qudamah (620 H) yang menegaskan
bahwa jalan keselamatan adalah mengikuti atsar (jejak) para pendahulu yang
sholih. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ
عَلَيْهَا﴾
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alloh); (tetaplah atas) fithroh
Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fithroh itu.” (QS. Ar-Rum: 30)
Menjaga
fithroh berarti meyakini bahwa wahyu adalah cahaya (Nur) yang menerangi
kegelapan spekulasi manusia. Kita tidak butuh pengakuan dari kaum Barat atau
ilmuwan atheis untuk membenarkan agama kita. Jika mereka setuju dengan wahyu,
itu adalah bukti kebenaran wahyu. Jika mereka menyelisihi wahyu, itu adalah
bukti kesesatan mereka.
Sebagai
penutup bab ini, penting untuk diingat bahwa istidroj (tipu daya) bisa
datang dalam bentuk kemajuan teknologi yang membuat manusia merasa tidak butuh
lagi pada bimbingan wahyu. Padahal, semakin maju sains, seharusnya seorang
Muslim semakin tunduk kepada Robb yang menciptakan mekanisme alam yang begitu
rumit dan indah. Kita harus membentengi generasi muda dari syubhat yang
menyamakan antara kebenaran wahyu yang absolut dengan kebenaran sains yang
relatif.
Para ulama
seperti Al-Fudhoil (187 H) mengingatkan bahwa barangsiapa yang mengikuti jalan
yang benar meskipun sedikit pengikutnya, ia akan selamat; dan barangsiapa yang
mengikuti jalan kebatilan meskipun banyak pengikutnya, ia akan binasa. Sains
yang benar akan selalu berakhir pada pengakuan terhadap keagungan Khooliq,
sebagaimana firman-Nya:
﴿سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي
أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ﴾
“Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu
adalah benar.” (QS. Fusshilat: 53)
Penutup
Melalui
lembaran-lembaran yang telah lalu, telah nampak dengan jelas bahwa wahyu adalah
timbangan yang adil (Al-Mizan) dan cahaya yang menerangi jalan bagi akal
manusia yang terbatas. Kewajiban beriman kepada apa yang dikabarkan oleh Alloh ﷻ dan
Rosul-Nya adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan alasan logika
semata, karena hakikat akal adalah untuk memahami wahyu, bukan untuk menjadi
hakim atasnya.
Kita telah
melihat bagaimana sains yang benar dan qoth’i akan selalu menemukan titik
temunya dengan wahyu, karena keduanya berasal dari sumber yang satu, yaitu
Alloh ﷻ.
Namun, kita pun telah diingatkan untuk senantiasa waspada terhadap sikap
terburu-buru dalam memastikan kebenaran sebuah teori sains atas nama agama.
Sikap tawaqquf terhadap perincian yang tidak disebutkan oleh nash adalah
jalan keselamatan yang telah ditempuh oleh para ulama Salaf. Kita tidak
mendustakan apa yang membawa manfaat bagi urusan duniawi, namun kita pun tidak
memberikan kedudukan kesucian pada teori manusia yang bersifat zhonni dan
terus berubah.
Dunia ini
adalah tempat ujian, termasuk ujian dalam hal pemikiran. Fitnah materialisme
yang berusaha melucuti sisi ghoib dari agama adalah racun yang harus dijauhi.
Seorang Muslim yang cerdas adalah ia yang tetap kokoh fithrohnya, tidak merasa
rendah diri di hadapan kaum Barat maupun para pengikut pemikiran luar yang
mencoba meragukan Hadits-Hadits Nabi ﷺ. Jika akal manusia belum mampu menjangkau hakikat sebuah Hadits,
maka ketahuilah bahwa cacatnya bukan pada Hadits tersebut, melainkan pada
sempitnya daya jangkau akal manusia itu sendiri. Sebagaimana ucapan Abu Bakr
(13 H) yang menjadi kaidah abadi bagi kita: “Jika beliau yang mengatakannya,
maka sungguh beliau benar.”
Mari kita
tutup risalah ini dengan tekad yang kuat untuk senantiasa mengagungkan
as-Sunnah di atas segala-galanya. Jangan sampai kemajuan teknologi dan gemerlap
penemuan sains membuat kita lalai dari tujuan utama penciptaan kita, yaitu
beribadah kepada Alloh ﷻ
sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ.
Ketahuilah bahwa kejayaan umat ini hanya akan kembali jika mereka kembali
kepada apa yang membuat generasi pertamanya jaya, yaitu ketundukan mutlak
kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
Semoga
Alloh ﷻ
senantiasa menjaga hati kita dalam ketaatan, menjauhkan kita dari fitnah
syubhat dan syahwat, serta mengumpulkan kita kelak di Jannah-Nya bersama para
Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada, dan para Sholihin. Apa yang benar dalam
buku ini datangnya dari Alloh ﷻ, dan apa yang keliru adalah dari kelemahan hamba dan syaithon. Walhamdu
lillahi Robbil ‘Alamin.
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾
“Wahai Robb
kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah
Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari
sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron:
8)
Selesai
dengan taufiq dari Alloh ﷻ.[NK]
Daftar Pustaka
[1] Kitabut Tauhid
(كتاب
التوحيد)
Karya Dr.
Sholih bin Fauzan al-Fauzan. Kitab ini menjadi rujukan utama dalam menjelaskan
kewajiban setiap Muslim untuk tunduk sepenuhnya kepada Hadits Nabi ﷺ dalam urusan Aqidah dan
perkara-perkara ghoib tanpa menolaknya dengan akal.
[2] Mawaqif al-Madrosah al-Aqliyyah
minal Sunnah an-Nabawiyyah (مواقف المدرسة العقلية من السنة النبوية)
Karya Al-Amin
Ash-Shodiq Al-Amin. Buku ini secara ilmiah membongkar sejarah dan penyimpangan
kelompok-kelompok yang mengagungkan logika secara berlebihan serta dampak
buruknya terhadap pemahaman nash.
[3] Al-I’jaz al-Ilmi fil Sunnah
Nabawiyyah (الإعجاز العلمي في السنة
النبوية)
Karya Dr.
Zaghlul an-Najjar. Beliau memaparkan fakta-fakta sains yang selaras dengan
kabar wahyu, yang membuktikan bahwa apa yang disampaikan Nabi ﷺ adalah benar-benar wahyu dari
Sang Pencipta alam.
[4[ Syarh
Al-Aqidah al-Wasithiyyah (شرح العقيدة الواسطية)
Karya
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin (1421 H). Memberikan kaidah-kaidah agung
dalam memahami teks-teks wahyu yang berkaitan dengan sifat Alloh dan fenomena
alam semesta agar tetap di atas jalan yang lurus.
[5] Bayanu Talbisil Jahmiyyah (بيان تلبيس الجهمية)
Karya Ibnu
Taimiyyah (728 H), kitab klasik, sangat relevan dalam membantah syubhat-syubhat
rasionalitas yang menolak sifat-sifat Alloh dan mukjizat-Nya dengan dalih hukum
alam.
