Cari Ebook

[PDF] Sikap Muslim Terhadap Penemuan Moderen - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil, serta mengutus Rosul-Nya sebagai pembawa pelita petunjuk yang tidak akan pernah padam hingga hari Qiyamah.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , yang telah mewariskan kepada umatnya dua perkara agung yang jika berpegang teguh kepadanya niscaya tidak akan tersesat selamanya.

Amma ba’du:

Urgensi penyusunan buku ini berpijak pada fenomena akhir zaman, di mana fitnah pemikiran berkembang dengan sangat pesat seiring kemajuan teknologi dan sains materi. Banyak manusia yang mulai menjadikan penemuan moderen sebagai hakim atas wahyu, seolah-olah kebenaran sebuah Hadits baru diakui jika telah melalui uji laboratorium atau selaras dengan teori para ilmuwan. Padahal, wahyu adalah kebenaran mutlak yang bersifat qoth’i (tetap/pasti), sedangkan sains manusia adalah produk akal yang bersifat zhonni (dugaan) dan terus mengalami revisi. Tanpa pondasi aqidah yang kokoh, seorang Muslim akan mudah terombang-ambing oleh syubhat kaum Nashroni dan para pemuja materi yang berusaha melucuti kewibawaan as-Sunnah dari dada-dada kaum Mu’min.

Buku ini hadir sebagai benteng ilmiah untuk mendudukkan kembali posisi wahyu pada tempatnya yang tertinggi, sekaligus memberikan kaidah syari yang selamat dalam menyikapi setiap penemuan baru agar fithroh manusia tetap terjaga dalam ketundukan kepada Robb semesta alam.

Kerangka pembahasan dalam buku ini diawali dengan penegasan tentang kewajiban mengagungkan wahyu di atas akal manusia sebagai pondasi utama keimanan, yang kemudian diikuti dengan pemaparan tentang keselarasan wahyu dengan fakta alam yang bersifat pasti. Penulis juga menyajikan kaidah-kaidah penting seperti tawaqquf terhadap perincian sains yang tidak memiliki nash spesifik, serta bagaimana menyikapi jika terjadi pertentangan antara wahyu dan teori manusia dengan mengedepankan integritas nash. Terakhir, buku ini membongkar berbagai fitnah dan syubhat yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam guna merusak pemahaman umat terhadap Hadits-Hadits Nabi .

Dengan demikian, diharapkan pembaca memiliki cara pandang yang lurus dalam melihat hubungan antara iman dan sains, tanpa terjatuh pada sikap menolak fakta alam yang nyata dan tidak pula terjatuh pada sikap membebek secara buta pada setiap teori manusia yang belum teruji kebenarannya secara hakiki.

Bab 1: Wahyu di Atas Akal

1.1 Wahyu sebagai Kebenaran Mutlak dari Alloh

Keimanan seorang Mu’min terhadap wahyu merupakan pondasi utama dalam seluruh bangunan agama. Wahyu, baik yang berupa Al-Qur’an maupun Hadits yang shohih, bersumber dari Robb semesta alam yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, baik yang nampak maupun yang ghoib. Alloh berfirman tentang wahyu yang dibawa Rosul-Nya :

﴿وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Muhammad tidak berbicara dari hawa (perasaan dan pengalaman serta penelitian). Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)

Ayat ini menegaskan bahwa segala yang keluar dari lisan Nabi yang berkaitan dengan urusan agama dan kabar-kabar ghoib adalah bimbingan langsung dari Alloh yang terjaga dari kesalahan.

Berbeda dengan akal manusia yang terbatas, wahyu bersifat mutlak dan tidak akan pernah mengalami perubahan atau revisi sepeninggal Nabi , seiring berjalannya waktu. Akal manusia hanya mampu menjangkau hal-hal yang bersifat materi dan terbatas oleh ruang serta waktu, sedangkan wahyu datang dari Sang Pencipta ruang dan waktu itu sendiri. Oleh karena itu, mengagungkan wahyu adalah konsekuensi logis dari persaksian bahwa Muhammad adalah Rosululloh .

1.2 Kedudukan Hadits Nabawi sebagai Penjelas Al-Qur’an

Hadits Nabawi memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam syariat Islam. Ia bukan sekadar ucapan manusia biasa, melainkan penjelasan resmi yang diotorisasi oleh Alloh untuk menerangkan isi Al-Qur’an. Alloh berfirman:

﴿وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44)

Tanpa Hadits, banyak perintah dalam Al-Qur’an yang tidak dapat dilaksanakan. Sebagai contoh, Al-Qur’an memerintahkan Sholat, namun perincian mengenai jumlah rokaat, tata cara rukuk, sujud, dan waktunya dijelaskan secara detail dalam Hadits. Nabi bersabda:

«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 631)

Begitu pula dalam urusan Zakat, Puasa, dan Haji. Maka, mengingkari Hadits dengan alasan “aku hanya mengikuti Al-Qur’an bukan Hadits” adalah suatu bentuk kesesatan dan secara tidak langsung merupakan pengingkaran terhadap Al-Qur’an itu sendiri.

1.3 Larangan Mendahulukan Akal dan Logika di Atas Nash Syari

Bahaya besar muncul ketika seseorang menjadikan akalnya sebagai standar untuk menghakimi kebenaran wahyu. Jika akal tidak mampu menjangkau suatu Hadits, lalu Hadits tersebut ditolak, maka orang tersebut telah menjadikan dirinya sebagai tuhan bagi wahyu. Padahal, tugas akal adalah memahami wahyu, bukan mengadili wahyu. Alloh melarang kita mendahului ketetapan-Nya:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Alloh dan Rosul-Nya dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Hujurot: 1)

Imam Malik bin Anas (179 H) pernah memberikan peringatan keras bagi orang yang menggunakan logikanya untuk menentang as-Sunnah. Beliau berkata bahwa as-Sunnah adalah perahu Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang tertinggal darinya akan tenggelam.

Akal manusia seringkali dipengaruhi oleh hawa nafsu, lingkungan, dan keterbatasan informasi, sehingga sangat tidak layak dijadikan timbangan bagi perkataan Rosululloh yang ma’shum (terjaga dari salah).

Contohnya adalah dalam masalah mengusap khuf (sepatu yang menutupi mata kaki) saat berwudhu. Secara logika manusia, bagian yang kotor adalah bagian bawah sepatu yang menyentuh tanah, namun syariat memerintahkan untuk mengusap bagian atasnya. Ali bin Abi Tholib (40 H) berkata:

«لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ، وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ»

“Seandainya agama itu dengan logika (semata), niscaya bagian bawah khuf lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya. Sungguh aku melihat Rosululloh mengusap khuf bagian atasnya.” (HSR. Abu Dawud no. 162)

Ucapan ini merupakan kaidah agung bahwa kepatuhan kepada perintah lebih didahulukan daripada penalaran akal yang pendek.

1.4 Contoh Ketundukan Para Shohabat terhadap Berita Ghoib

Para Shohabat adalah generasi terbaik dalam hal taslim (ketundukan) terhadap wahyu. Mereka tidak pernah bertanya “bagaimana mungkin?” atau “apakah ini masuk akal?” ketika Nabi menyampaikan berita tentang urusan Akhiroh, Jannah, Naar, atau kejadian masa lalu dan masa depan.

Kisah yang paling masyhur adalah sikap Abu Bakr (13 H) saat peristiwa Isro’ dan Mi’roj. Ketika orang-orang musyrik Makkah mengejek berita Nabi yang pergi ke Baitul Maqdis dan naik ke langit dalam satu malam, Abu Bakr dengan tegas berkata: “Jika beliau yang mengatakannya, maka sungguh beliau benar.” Abu Bakr tidak membutuhkan bukti laboratorium atau penjelasan sains untuk membenarkan berita tersebut, karena dasar keimanannya adalah kejujuran pembawa wahyu itu sendiri.

Demikian pula saat turunnya larangan khomr. Begitu ayat tentang keharoman khomr turun, para Shohabat langsung membuang simpanan khomr mereka ke jalanan di Madinah tanpa menunda-nunda atau mencari alasan medis terlebih dahulu. Mereka mendengar dan mereka patuh (sami’na wa atho’na).

Sikap inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim ketika menghadapi Hadits-Hadits yang menceritakan tentang pengobatan, penciptaan manusia, atau fenomena alam, meskipun penemuan moderen belum menjangkaunya atau nampaknya berselisih dengannya.

Kewajiban kita adalah mengimani bahwa setiap huruf yang keluar dari lisan Nabi adalah kebenaran, sebagaimana Alloh mensifatkan beliau dalam Al-Qur’an sebagai cahaya dan penjelas bagi manusia. Kesalahan bukan pada wahyu, melainkan pada pemahaman manusia yang sempit atau data penelitian manusia yang belum sempurna.

 

Bab 2: Keselarasan Wahyu dengan Fakta Alam

2.1 Kesesuaian Wahyu dengan Sunnatulloh di Alam Semesta

Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini berjalan di atas Sunnatulloh (ketentuan Alloh) yang bersifat tetap dan teratur. Wahyu yang diturunkan oleh Alloh , Sang Pencipta alam, mustahil bertentangan dengan fakta-fakta penciptaan yang diciptakan-Nya sendiri. Alloh berfirman:

﴿أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah (Alloh) yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)

Kebenaran wahyu mencakup berita tentang penciptaan langit, bumi, dan manusia yang seringkali mendahului pengamatan manusia itu sendiri. Ketika manusia melalui perangkat sainsnya menemukan sebuah kebenaran yang bersifat qoth’i (pasti dan tidak berubah), maka ditemukanlah keselarasan yang sempurna antara apa yang tertulis dalam nash dan apa yang terlihat di alam raya. Kesesuaian ini bukan berarti wahyu membutuhkan pembenaran dari sains, melainkan sainslah yang sedang menyingkap tirai keagungan ilmu Alloh yang telah dikabarkan lewat lisan Nabi .

2.2 Menjelaskan Sisi I’jaz (Mukjizat) Ilmiyyah dalam Hadits Nabi

I’jaz ilmiyyah adalah bukti bahwa lisan Nabi dibimbing oleh wahyu karena beliau menyampaikan fakta-fakta alam yang tidak mungkin diketahui oleh manusia pada masa itu tanpa bantuan alat moderen. Hal ini menjadi hujjah bagi orang-orang yang memiliki akal sehat bahwa Islam adalah agama yang haq. Rosululloh bersabda tentang lalat:

«إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً»

“Jika seekor lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah seluruhnya kemudian buanglah lalat itu, karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat.” (HR. Al-Bukhori no. 3320)

Secara zhohir, Hadits ini mungkin tampak aneh bagi sebagian orang di masa lalu. Namun, penelitian moderen menyingkap bahwa pada permukaan tubuh lalat memang terdapat mikroorganisme patogen (penyakit), namun di sisi lain lalat juga membawa zat antibiotik yang mampu menetralkan bakteri tersebut. Tindakan menenggelamkan lalat tersebut secara teknis memicu keluarnya zat penawar yang ada pada tubuhnya. Ini adalah contoh bagaimana wahyu memberikan bimbingan praktis yang di kemudian hari dibenarkan oleh fakta ilmiah yang jujur.

2.3 Contoh-Contoh Penemuan Moderen yang Membenarkan Kabar Wahyu

Banyak kabar dari Nabi yang berkaitan dengan fenomena alam atau kedokteran yang kini menjadi dasar dalam sains moderen. Di antaranya adalah berita tentang penciptaan manusia di dalam rahim. Nabi bersabda:

«إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا [نُطْفَةً]، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ»

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nutfah (sperma), kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu pula, kemudian diutuslah Malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh ke dalamnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3208 dan lafazh Muslim no. 2643)

Ilmu embriologi moderen mengonfirmasi tahapan-tahapan ini dengan sangat akurat, mulai dari pembuahan hingga pembentukan jaringan yang menyerupai daging (somit).

Tidak ada satupun alat optik di zaman Nabi yang mampu melihat perkembangan janin di dalam kegelapan rahim, namun beliau menjelaskannya dengan sangat rinci.

Begitu pula tentang siklus malam dan siang serta bentuk bumi. Alloh berfirman:

﴿خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam.” (QS. Az-Zumar: 5)

Kata “yukawwiru” dalam bahasa Arob berarti melilitkan sesuatu secara melingkar (seperti melilitkan imamah pada kepala).

Ini menjadi hujjah bagi sebagian Ulama —seperti Ibnu Taimiyyah— bahwa bumi berbentuk bulat sehingga pergantian siang dan malam terjadi secara berkelanjutan dengan cara melingkar. Penemuan astronomi moderen yang menyatakan bumi berbentuk bulat (spheroid) hanyalah penguat bagi apa yang telah disebutkan sebagian Ulama secara isyarat wahyu sejak 14 abad yang lalu.

2.4 Batasan Penggunaan Penemuan Moderen sebagai Penguat Keimanan

Meskipun terdapat kesesuaian, seorang Muslim harus memiliki batasan dalam menggunakan sains sebagai penguat wahyu. Kita tidak boleh menggantungkan keimanan pada penemuan sains. Jika sains membenarkan wahyu, kita bersyukur atas tambahan ilmu tersebut. Namun jika sains belum menjangkau kebenaran wahyu, keimanan kita tetap teguh dan tidak goyah sedikitpun.

Wahyu adalah al-hakim (yang menghakimi), sedangkan sains adalah al-mahkum ‘alaihi (yang dihakimi).

Jangan sampai terjadi pembalikan logika di mana wahyu baru dianggap benar jika sudah ada jurnal ilmiah yang menerbitkannya. Iman adalah mempercayai hal ghoib sebelum nampak, sebagaimana sifat kaum Muttaqin:

﴿الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan Sholat, dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 3)

Keimanan kepada wahyu harus bersifat mutlak tanpa syarat. Penemuan sains hanyalah pelayan bagi wahyu untuk menjelaskan perincian teknis yang memang diperbolehkan untuk dipelajari selama tidak menabrak batas-batas syariat.

Contoh lain dalam hal pengobatan adalah madu. Alloh berfirman:

﴿يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

Nabi juga bersabda:

«الشِّفَاءُ فِي ثَلاَثَةٍ: شَرْبَةِ عَسَلٍ، وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ، وَكَيَّةِ نَارٍ، وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الكَيِّ»

“Kesembuhan itu ada pada tiga hal: minum madu, sayatan alat bekam, dan sundutan api (kay), namun aku melarang umatku dari kay.” (HR. Al-Bukhori no. 5680)

Sains moderen telah membuktikan khasiat madu sebagai antibiotik alami, anti-inflamasi, dan mempercepat penyembuhan luka.

Demikian pula bekam (hijamah) yang kini diakui dalam dunia medis sebagai metode untuk mengeluarkan darah statis dan memperbaiki sirkulasi. Semua ini adalah bukti bahwa wahyu menuntun manusia pada kemaslahatan badan dan jiwa, yang kebenarannya akan terus tersingkap seiring perkembangan zaman.

Para Ulama menekankan pentingnya mengikuti atsar dan menjauhi perdebatan akal yang tidak berdasar. Mereka menegaskan bahwa apa yang datang dari Rosululloh wajib diterima dengan penuh ketundukan, baik akal kita mampu menjangkaunya saat ini atau tidak.

 

Bab 3: Tawaqquf Terhadap Perincian Penemuan Moderen

3.1 Kedudukan Penemuan Moderen yang Tidak Bertentangan Namun Tidak Ada Nash Spesifiknya

Dalam dinamika ilmu pengetahuan, sering kali ditemukan fakta-fakta baru yang tidak disinggung secara tekstual oleh wahyu, namun secara logika tidak bertabrakan dengan aqidah maupun syariat. Terhadap hal ini, seorang Muslim diperintahkan untuk bersikap bijak. Kita tidak boleh secara terburu-buru mengklaim bahwa penemuan tersebut adalah bagian dari wahyu yang dipastikan benar, dan tidak boleh pula menolaknya mentah-mentah jika ia membawa manfaat yang nyata bagi kehidupan.

Alloh memberikan kaidah umum bahwa segala sesuatu di bumi ini pada dasarnya diciptakan untuk manusia, selama tidak ada dalil yang mengharomkannya. Alloh berfirman:

﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dialah Alloh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqoroh: 29)

Ayat ini mencakup segala manfaat dari hasil riset manusia, baik dalam bidang kedokteran, teknologi transportasi, maupun komunikasi. Kedudukannya adalah urusan duniawi yang diserahkan kepada kreativitas manusia selama tetap dalam koridor taqwa. Nabi bersabda:

«أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ»

“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Muslim no. 2363)

Oleh karena itu, jika sains menemukan perincian tentang susunan atom, struktur galaksi yang jauh, atau kode genetik yang sangat rumit, dan hal-hal tersebut tidak memiliki nash spesifik yang membenarkan atau menyalahkannya, maka kedudukannya adalah mubah untuk dipelajari. Namun, kita dilarang memastikan bahwa “Inilah yang dimaksud oleh ayat anu” jika tidak ada keterangan dari Rosululloh atau para Shohabat.

3.2 Menyamakan Kedudukan Penemuan Sains dengan Kabar Isroiliyyat dalam Hal Periwayatan

Kaidah penting dalam menyikapi perincian sains yang “nampak selaras” dengan wahyu namun tidak ada penyebutan detilnya dalam nash adalah dengan menyamakannya seperti berita Isroiliyyat (kabar dari Ahli Kitab).

Terhadap berita semacam ini, kita tidak membenarkannya secara mutlak karena khawatir itu adalah kebatilan (atau kebohongan atau makar) yang disisipkan manusia, dan kita tidak mendustakannya secara mutlak karena khawatir itu adalah kebenaran yang tidak kita ketahui.

Nabi memberikan bimbingan dalam hal ini:

«لَا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا»

“Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka. Katakanlah: Kami beriman kepada Alloh dan apa yang diturunkan kepada kami.” (HR. Al-Bukhori no. 4485)

Jika sains menjelaskan perincian tentang bagaimana proses hujan terbentuk dengan siklus evaporasi dan kondensasi secara sangat teknis, maka perincian tersebut boleh diriwayatkan sebagai tambahan wawasan (seperti Isroiliyyat), namun pokok keimanannya tetap kembali pada wahyu bahwa Alloh-lah yang mengirimkan angin dan menurunkan air. Perincian sains tersebut statusnya adalah tawaqquf (didiamkan) dalam hal kebenaran mutlaknya di sisi syariat. Kita tidak menjadikannya sebagai aqidah, tetapi menjadikannya sebagai sarana mengambil pelajaran (i’tibar).

3.3 Larangan Memastikan Kebenaran Sains Secara Mutlak atas Nama Wahyu

Bahaya yang sering muncul di era moderen adalah sikap “mencocok-cocokkan” ayat atau Hadits dengan teori sains yang belum mapan. Tindakan ini sangat zholim terhadap wahyu. Sebab, teori sains dibangun di atas hipotesis yang bisa gugur kapan saja, sedangkan wahyu adalah kebenaran yang tidak mungkin goyah. Jika kita memastikan sebuah ayat berarti “Teori A”, lalu sepuluh tahun kemudian “Teori A” terbukti salah, maka secara tidak langsung pelakunya telah memberi celah bagi kaum Nashroni dan atheis untuk menyerang kebenaran Al-Qur’an.

Ulama Salaf lainnya senantiasa menekankan pentingnya menjaga lisan dari berbicara tentang Alloh tanpa ilmu. Berbicara tentang maksud ayat dengan landasan teori manusia yang berubah-ubah termasuk dalam larangan:

﴿وَلَا تَقْفُ إِنْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro’: 36)

Seorang Muslim harus membedakan mana yang merupakan fakta alam yang teramati (seperti madu yang keluar dari perut lebah) dengan teori spekulatif (seperti asal-usul alam semesta menurut teori ledakan tertentu).

Memastikan teori spekulatif sebagai isi wahyu adalah tindakan yang harom.

3.4 Bahaya Memaksakan Tafsir Wahyu agar Sesuai dengan Teori Sains yang Masih Berubah

Memaksakan makna harfiah nash agar tunduk pada penemuan moderen adalah bentuk penghinaan terhadap kedudukan wahyu. Seringkali para pengikut hawa nafsu merubah makna “Malaikat” menjadi “kekuatan alam” atau “jin” menjadi “kuman” hanya agar nampak masuk akal di mata ilmuwan. Ini adalah kesesatan yang nyata.

Wahyu harus dipahami sesuai dengan pemahaman para Shohabat dan kaidah bahasa Arob saat wahyu itu turun. Jika sebuah Hadits menyebutkan tentang Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi, kita wajib mengimaninya apa adanya dengan penjelasan mufassir, bukan merubahnya menjadi istilah metaforis (kiasan) hanya karena teleskop manusia belum menemukannya. Alloh berfirman:

﴿بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ

“Bahkan mereka mendustakan apa yang mereka belum meliputi ilmunya, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.” (QS. Yunus: 39)

Kekeliruan banyak orang adalah menganggap bahwa kebenaran hanya terbatas pada apa yang bisa ditangkap oleh indera dan alat laboratorium. Padahal, rizqi, rohmat, dan barokah adalah kenyataan yang tidak bisa diukur dengan timbangan materi, namun pengaruhnya nyata dalam kehidupan seorang Mu’min. Kita harus tetap teguh pada zhohir nash dan melakukan tawaqquf pada perincian duniawi yang tidak kita miliki ilmunya secara pasti.

Sebagai contoh, dalam Hadits tentang matahari yang bersujud di bawah ‘Arsy:

«أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ؟... فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ»

“Tahukah kalian ke mana matahari ini pergi?... Sesungguhnya ia pergi hingga bersujud di bawah ‘Arsy.” (HR. Al-Bukhori no. 4802 dan Muslim no. 159)

Secara sains, matahari tidak pernah berhenti berotasi dan berevolusi. Namun secara wahyu, ia bersujud dengan cara yang hanya diketahui oleh Alloh . Kita tidak perlu memaksakan Hadits ini agar sesuai dengan astronomi dengan cara membuang makna sujudnya. Kita wajib mengimani matahari bersujud (karena wahyu itu pasti benar) dan kita tidak boleh memastikan matahari tetap pada orbitnya.

Bagaimanakah teknisnya? Di sinilah kita tawaqquf dan menyerahkan ilmunya kepada Alloh . Inilah sikap yang menyelamatkan aqidah dari istidroj (tipu daya) akal yang merasa paling tahu segalanya.

Mengagungkan sains di atas wahyu adalah jalan menuju nifaq. Sains adalah alat bagi manusia untuk mengenal keagungan Robb-nya, bukan tandingan bagi firman-Nya.

 

Bab 4: Menyikapi Pertentangan Antara Wahyu dan Teori Sains

4.1 Hakikat Teori Sains yang Bersifat Zhonni (Dugaan) dan Terus Berubah

Seringkali terjadi benturan antara teks wahyu dengan apa yang diklaim sebagai penemuan ilmiah. Dalam kondisi ini, seorang Mu’min wajib menyadari hakikat dari ilmu pengetahuan manusia. Sains moderen, pada sebagian besar cabangnya, dibangun di atas metode empiris yang bergantung pada keterbatasan panca indera dan alat ukur. Sifatnya adalah zhonni (asumsi/dugaan kuat) yang senantiasa terbuka untuk dikoreksi, dianulir, atau digantikan oleh penemuan baru.

Berbeda halnya dengan wahyu yang bersifat qoth’i (pasti) karena bersumber dari Al-Kholiq yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Alloh berfirman:

﴿وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isro’: 85)

Karena ilmu manusia itu sedikit dan terbatas, maka sangat tidak logis jika sesuatu yang terbatas dan berubah-ubah dijadikan sebagai tolok ukur untuk menghakimi kebenaran yang mutlak dan abadi. Jika ada teori sains yang bertentangan dengan Hadits shohih, maka teori tersebut statusnya jatuh dari derajat “fakta” menjadi “dugaan yang keliru” atau “simpulan yang belum sempurna”.

4.2 Meninjau Kembali Sisi Pendalilan (Istidlal) yang Tidak Terkait dengan Penemuan Tersebut

Terkadang, pertentangan yang nampak bukan terletak pada teks wahyu itu sendiri, melainkan pada cara manusia melakukan istidlal (pengambilan dalil).

Bisa jadi sebuah Hadits dipahami secara sempit oleh sebagian orang sehingga nampak bertabrakan dengan fakta alam, padahal jika dikembalikan kepada kaidah bahasa Arab dan penjelasan para Salaf, maksud Hadits tersebut tidaklah demikian.

Sebagai contoh, ketika wahyu berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, wahyu menggunakan bahasa yang dipahami oleh manusia agar mereka mengambil pelajaran, bukan bermaksud menjelaskan rumus fisika secara teknis. Jika sains membicarakan perincian atomik yang nampak berbeda dengan deskripsi umum dalam nash, maka dipahami bahwa wahyu memang tidak sedang membicarakan dimensi teknis tersebut. Keduanya berjalan di jalur yang berbeda; wahyu membicarakan hakikat dan hikmah, sementara sains membicarakan teknis materi.

Alloh berfirman mengenai batasan pembicaraan tentang hal-hal yang di luar jangkauan:

﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103)

Jika terhadap Dzat-Nya saja mata tidak mampu menjangkau, maka terhadap sebagian rahasia ciptaan-Nya pun akal manusia memiliki batas pemberhentian. Pertentangan itu nampak karena manusia memaksakan dalil untuk berbicara di ranah yang bukan tujuannya.

4.3 Menetapkan Adanya Kekeliruan pada Penemuan Manusia karena Keterbatasan Alat dan Akal

Sikap yang paling jujur secara ilmiah bagi seorang Muslim adalah berani menetapkan bahwa penemuan manusia itulah yang keliru ketika ia secara nyata menabrak nash yang shohih. Sejarah sains dipenuhi dengan bangkai teori-teori yang dulunya dianggap sebagai “kebenaran mutlak” namun kemudian terbukti salah total.

Dahulu, para ilmuwan meyakini teori geosentrisme atau teori spontanitas makhluk hidup (abiogenesis klasik) lalu berikutnya datang ilmuwan membantahnya.

Jika pada masa itu seorang Muslim memaksakan ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan teori-teori tersebut, niscaya para ilmuwan berikutnya akan menjatuhkan wahyu. Oleh karena itu, kita tetap berpegang pada wahyu, karena Alloh adalah Ash-Shodiq (Yang Maha Benar).

Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Alloh?” (QS. An-Nisa’: 122)

Nabi juga bersabda tentang kepastian berita langit:

«إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَلَسْتُ أَعْصِيهِ، وَهُوَ نَاصِرِي»

“Sesungguhnya aku adalah Rosululloh, aku tidak mendurhakai-Nya, dan Dia adalah penolongku.” (HR. Al-Bukhori no. 2731)

Maksudnya, apa yang beliau sampaikan adalah jaminan kebenaran. Jika sains berkata “A” dan Rosululloh berkata “B”, maka “B” adalah kebenaran hakiki, sementara “A” adalah kesalahan yang tertunda penyingkapannya.

4.4 Contoh-Contoh Teori Sains Masa Lalu yang Gugur oleh Penemuan Terbaru

Satu bukti kuat akan kebenaran wahyu adalah ketetapannya di tengah badai perubahan teori manusia. Contohnya adalah masalah sidik jari. Dahulu manusia tidak menyadari keunikan sidik jari hingga akhir abad ke-19. Namun Al-Qur’an telah mengisyaratkan ketelitian penciptaan ujung jari manusia saat membicarakan hari Qiyamah:

﴿بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ

“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyamah: 4)

Setiap rincian dalam wahyu mengandung hikmah yang mungkin baru disadari manusia berabad-abad kemudian. Contoh lainnya adalah teori tentang “ruang hampa” di alam semesta yang dahulu dianggap benar-benar kosong, namun sains moderen menemukan adanya materi gelap dan energi gelap. Wahyu sejak awal tidak pernah menyebut langit sebagai kekosongan belaka, melainkan bangunan yang kokoh dan terpelihara.

Jika terjadi kontradiksi, seorang Mu’min tidak akan mengalami kegoncangan jiwa. Ia akan berkata seperti perkataan Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal, 241 H) bahwa kita mengimani Hadits Nabi sebagaimana adanya tanpa menolaknya dengan akal. Kita meyakini bahwa para ilmuwan akan terus bersilang pendapat, saling menjatuhkan teori rekannya, dan terus merevisi bukunya, sementara mushof Al-Qur’an dan kitab-kitab Hadits shohih tidak pernah berubah satu huruf pun isinya sejak zaman Shohabat. Inilah kemuliaan iman di atas ketidakpastian sains.

Sikap ini bukan berarti anti-sains, melainkan menempatkan sains pada posisi yang semestinya: sebagai pelayan dan penjelas sisi teknis dari kekuasaan Alloh , bukan sebagai tuhan baru yang disembah dan dibenarkan ucapannya secara buta melebihi ucapan Rosululloh .

Kebenaran wahyu adalah jangkar di tengah lautan teori manusia yang bergejolak. Siapa yang berpegang pada jangkar tersebut, ia tidak akan terombang-ambing oleh tren pemikiran zaman.

 

Bab 5: Fitnah Sains Barat

5.1 Mewaspadai Cara Pandang Materialisme dalam Memahami Hadits

Fitnah terbesar di zaman ini adalah upaya membatasi segala kebenaran hanya pada apa yang bisa diukur oleh panca indera dan perangkat laboratorium (materialisme).

Cara pandang ini meracuni sebagian kaum Muslimin sehingga mereka mulai meragukan Hadits-Hadits yang menceritakan tentang perkara ghoib hanya karena tidak sesuai dengan hukum fisika yang mereka pelajari. Padahal, alam semesta ini memiliki tingkatan-tingkatan yang tidak semuanya tunduk pada hukum materi yang nampak.

Alloh mengecam orang-orang yang hanya terpaku pada zhohir kehidupan dunia namun lalai terhadap hakikat kebenaran yang lebih besar:

﴿يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) Akhiroh adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)

Materialisme adalah akar dari pengingkaran terhadap mukjizat. Jika seseorang memandang dunia hanya sebagai mesin mekanis, maka ia akan sulit menerima Hadits tentang Nabi yang membelah bulan, air yang keluar dari sela-sela jari beliau, atau batu yang memberi salam kepada beliau. Bagi seorang Mu’min, pencipta hukum alam (Al-Kholiq) berkuasa penuh untuk meniadakan hukum tersebut kapan pun Dia kehendaki demi membuktikan kebenaran Rosul-Nya.

5.2 Bantahan terhadap Pihak yang Menolak Hadits Shohih karena Alasan Tidak Masuk Akal

Muncul sekelompok orang yang mengaku membela Islam namun mereka justru melucuti kewibawaan as-Sunnah. Mereka menolak Hadits-Hadits shohih dalam Kitab Al-Bukhori dan Muslim hanya karena dianggap bertentangan dengan sains atau logika moderen. Ini adalah jalan yang pernah ditempuh oleh kaum Mu’tazilah di masa lalu dan kini dihidupkan kembali oleh para pemuja akal.

Padahal, standar shohih atau tidaknya sebuah Hadits adalah berdasarkan ketersambungan sanad (rantai periwayatan) dan keadilan serta kedhobithan (kekuatan hafalan) para perawinya, bukan berdasarkan suka atau tidak sukanya akal seseorang. Nabi telah memperingatkan akan datangnya kaum yang duduk santai di atas kursinya lalu menolak Hadits:

«أَلَا هَلْ عَسَى رَجُلٌ يَبْلُغُهُ الحَدِيثُ عَنِّي وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى أَرِيكَتِهِ، فَيَقُولُ: بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ، فَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَلَالًا اسْتَحْلَلْنَاهُ. وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَرَامًا حَرَّمْنَاهُ، وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ كَمَا حَرَّمَ اللَّهُ»

“Hampir-hampir ada seorang laki-laki yang bersandar di atas dipannya, lalu disampaikan kepadanya sebuah Hadits dari Hadits-Haditsku, kemudian ia berkata: ‘Antara kami dan kalian ada Kitab Alloh ‘Azza wa Jalla, apa yang kami temukan padanya dari perkara halal maka kami halalkan dan apa yang kami temukan padanya dari perkara harom maka kami haromkan.’ Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharomkan oleh Rosululloh adalah sama seperti apa yang diharomkan oleh Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2664 dan Ibnu Majah no. 12)

Penolakan terhadap Hadits tentang lalat, Hadits tentang penyihiran Nabi , atau Hadits tentang keluarnya Dajjal dengan alasan “ilmiah” adalah bentuk kesombongan intelektual. Mereka seolah-olah mengklaim bahwa ilmu manusia di abad 21 ini telah sempurna, padahal para ilmuwan itu sendiri setiap hari meralat teorinya sendiri.

5.3 Menjaga Fithroh dari Pengaruh Pemikiran Luar yang Merusak Aqidah

Barat dan para orientalis seringkali menggunakan celah sains untuk menggoyahkan keyakinan umat Islam. Mereka berusaha menampilkan seolah-olah Islam adalah agama yang anti-sains atau kuno. Ironisnya, sebagian kaum Muslimin justru terjebak dalam upaya apologetik (membela diri secara berlebihan) dengan cara memaksakan tafsir sains ke dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara serampangan.

Kita harus kembali kepada fithroh dan manhaj Salafus Sholih dalam beragama. Kholifah Abu Bakr (13 H) telah memberikan teladan dalam ketundukan mutlak dalam peristiwa isro di atas. Begitu pula para ulama seperti Ibnu Qudamah (620 H) yang menegaskan bahwa jalan keselamatan adalah mengikuti atsar (jejak) para pendahulu yang sholih. Alloh berfirman:

﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alloh); (tetaplah atas) fithroh Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fithroh itu.” (QS. Ar-Rum: 30)

Menjaga fithroh berarti meyakini bahwa wahyu adalah cahaya (Nur) yang menerangi kegelapan spekulasi manusia. Kita tidak butuh pengakuan dari kaum Barat atau ilmuwan atheis untuk membenarkan agama kita. Jika mereka setuju dengan wahyu, itu adalah bukti kebenaran wahyu. Jika mereka menyelisihi wahyu, itu adalah bukti kesesatan mereka.

Sebagai penutup bab ini, penting untuk diingat bahwa istidroj (tipu daya) bisa datang dalam bentuk kemajuan teknologi yang membuat manusia merasa tidak butuh lagi pada bimbingan wahyu. Padahal, semakin maju sains, seharusnya seorang Muslim semakin tunduk kepada Robb yang menciptakan mekanisme alam yang begitu rumit dan indah. Kita harus membentengi generasi muda dari syubhat yang menyamakan antara kebenaran wahyu yang absolut dengan kebenaran sains yang relatif.

Para ulama seperti Al-Fudhoil (187 H) mengingatkan bahwa barangsiapa yang mengikuti jalan yang benar meskipun sedikit pengikutnya, ia akan selamat; dan barangsiapa yang mengikuti jalan kebatilan meskipun banyak pengikutnya, ia akan binasa. Sains yang benar akan selalu berakhir pada pengakuan terhadap keagungan Khooliq, sebagaimana firman-Nya:

﴿سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (QS. Fusshilat: 53)

 

Penutup

Melalui lembaran-lembaran yang telah lalu, telah nampak dengan jelas bahwa wahyu adalah timbangan yang adil (Al-Mizan) dan cahaya yang menerangi jalan bagi akal manusia yang terbatas. Kewajiban beriman kepada apa yang dikabarkan oleh Alloh dan Rosul-Nya adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan alasan logika semata, karena hakikat akal adalah untuk memahami wahyu, bukan untuk menjadi hakim atasnya.

Kita telah melihat bagaimana sains yang benar dan qoth’i akan selalu menemukan titik temunya dengan wahyu, karena keduanya berasal dari sumber yang satu, yaitu Alloh . Namun, kita pun telah diingatkan untuk senantiasa waspada terhadap sikap terburu-buru dalam memastikan kebenaran sebuah teori sains atas nama agama. Sikap tawaqquf terhadap perincian yang tidak disebutkan oleh nash adalah jalan keselamatan yang telah ditempuh oleh para ulama Salaf. Kita tidak mendustakan apa yang membawa manfaat bagi urusan duniawi, namun kita pun tidak memberikan kedudukan kesucian pada teori manusia yang bersifat zhonni dan terus berubah.

Dunia ini adalah tempat ujian, termasuk ujian dalam hal pemikiran. Fitnah materialisme yang berusaha melucuti sisi ghoib dari agama adalah racun yang harus dijauhi. Seorang Muslim yang cerdas adalah ia yang tetap kokoh fithrohnya, tidak merasa rendah diri di hadapan kaum Barat maupun para pengikut pemikiran luar yang mencoba meragukan Hadits-Hadits Nabi . Jika akal manusia belum mampu menjangkau hakikat sebuah Hadits, maka ketahuilah bahwa cacatnya bukan pada Hadits tersebut, melainkan pada sempitnya daya jangkau akal manusia itu sendiri. Sebagaimana ucapan Abu Bakr (13 H) yang menjadi kaidah abadi bagi kita: “Jika beliau yang mengatakannya, maka sungguh beliau benar.”

Mari kita tutup risalah ini dengan tekad yang kuat untuk senantiasa mengagungkan as-Sunnah di atas segala-galanya. Jangan sampai kemajuan teknologi dan gemerlap penemuan sains membuat kita lalai dari tujuan utama penciptaan kita, yaitu beribadah kepada Alloh sesuai dengan tuntunan Nabi . Ketahuilah bahwa kejayaan umat ini hanya akan kembali jika mereka kembali kepada apa yang membuat generasi pertamanya jaya, yaitu ketundukan mutlak kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.

Semoga Alloh senantiasa menjaga hati kita dalam ketaatan, menjauhkan kita dari fitnah syubhat dan syahwat, serta mengumpulkan kita kelak di Jannah-Nya bersama para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada, dan para Sholihin. Apa yang benar dalam buku ini datangnya dari Alloh , dan apa yang keliru adalah dari kelemahan hamba dan syaithon. Walhamdu lillahi Robbil ‘Alamin.

﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)

Selesai dengan taufiq dari Alloh .[NK]

 

Daftar Pustaka

[1] Kitabut Tauhid (كتاب التوحيد)

Karya Dr. Sholih bin Fauzan al-Fauzan. Kitab ini menjadi rujukan utama dalam menjelaskan kewajiban setiap Muslim untuk tunduk sepenuhnya kepada Hadits Nabi dalam urusan Aqidah dan perkara-perkara ghoib tanpa menolaknya dengan akal.

[2] Mawaqif al-Madrosah al-Aqliyyah minal Sunnah an-Nabawiyyah (مواقف المدرسة العقلية من السنة النبوية)

Karya Al-Amin Ash-Shodiq Al-Amin. Buku ini secara ilmiah membongkar sejarah dan penyimpangan kelompok-kelompok yang mengagungkan logika secara berlebihan serta dampak buruknya terhadap pemahaman nash.

[3] Al-I’jaz al-Ilmi fil Sunnah Nabawiyyah (الإعجاز العلمي في السنة النبوية)

Karya Dr. Zaghlul an-Najjar. Beliau memaparkan fakta-fakta sains yang selaras dengan kabar wahyu, yang membuktikan bahwa apa yang disampaikan Nabi adalah benar-benar wahyu dari Sang Pencipta alam.

[4[ Syarh Al-Aqidah al-Wasithiyyah (شرح العقيدة الواسطية)

Karya Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin (1421 H). Memberikan kaidah-kaidah agung dalam memahami teks-teks wahyu yang berkaitan dengan sifat Alloh dan fenomena alam semesta agar tetap di atas jalan yang lurus.

[5] Bayanu Talbisil Jahmiyyah (بيان تلبيس الجهمية)

Karya Ibnu Taimiyyah (728 H), kitab klasik, sangat relevan dalam membantah syubhat-syubhat rasionalitas yang menolak sifat-sifat Alloh dan mukjizat-Nya dengan dalih hukum alam.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini