Cari Ebook

[PDF] Bagaimana Kita Memahami Tauhid - Dialog Antara Ahli Tauhid dengan Pemuja Kubur - Muhammad Basyumail (1426 H)

 


Pentarjamah

بسم الله الرحمن الرحيم

Berikut adalah terjemahan kitab “Bagaimana Kita Memahami Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Ahmad Basymail (1426 H) yang berisi dialog beliau dengan temannya yang sarat ilmu dan hikmah.

Judul bab dan berasal dari pentarjamah. Semua ditarjamah sebagaimana aslinya kecuali di sebagian tempat diringkas tanpa mengubah maknanya. Silahkan dirujuk ke kitab aslinya di sini.

Pendahuluan

Segala puji bagi Alloh , Sholawat serta Salam semoga senantiasa tercurah kepada penutup para Nabi dan Rosul.

Amma ba’du:

Sesungguhnya Alloh tidaklah menciptakan makhluk dan tidak pula mengutus para Rosul melainkan agar mereka beribadah kepada-Nya semata. Alloh berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاّ لِيَعْبُدُونِ﴾

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Sangat disayangkan dan mengharukan bahwa masyarakat umum dari kalangan orang-orang bodoh tidak mengetahui makna ibadah yang sebenarnya. Mereka justru memalingkan ibadah tersebut kepada selain Alloh karena ketidaktahuan, sehingga mereka terjerumus ke dalam kesyirikan yang mengeluarkan seseorang dari agama.

Hal itu terjadi saat mereka menunjukkan rasa takut dan ketundukan kepada penghuni kubur dari kalangan para Nabi, Wali, dan orang-orang sholih melalui doa, permohonan pertolongan (istighotsah), penyembelihan hewan, serta nadzar. Mereka juga melakukan thowaf di sekeliling kuburan dan peti mati sebagai bentuk pengagungan, sebagaimana mereka melakukan thowaf di Ka’bah yang mulia.

Inilah yang disebut ibadah, meskipun mereka menamakannya dengan istilah tabarruk (mencari berkah) atau tawasul. Jika orang-orang bodoh dari kalangan awam melakukan kesyirikan ini karena ketidaktahuan serta tidak adanya pemahaman terhadap konsep ibadah, maka mereka mungkin masih memiliki sedikit udzur (alasan) karena kebodohannya.

Namun, apa udzur bagi para ulama besar yang mengetahui makna ibadah yang sebenarnya? Mereka menyadari sepenuhnya di dalam hati mereka bahwa apa yang dilakukan oleh orang awam tersebut adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari agama. Akan tetapi, mereka justru mengeluarkan fatwa bahwa kesyirikan yang dilakukan baik dalam ucapan, perbuatan, maupun keyakinan itu adalah tawasul yang dianjurkan dan merupakan bentuk ekspresi kecintaan kepada para Nabi dan orang-orang sholih.

Bahkan, demi memperdalam kesyirikan di hati orang awam yang menjadikan mereka sebagai panutan, para ulama tersebut turut melakukan perbuatan syirik dalam acara maulid, haul-haul bid’ah, dan acara lainnya. Tidakkah para ulama yang menyembunyikan kebenaran dan mendorong kekufuran itu bertaqwa kepada Alloh. Apakah demi dirham yang tidak seberapa atau jabatan yang akan sirna, mereka tega melakukan dosa besar ini terhadap diri mereka sendiri dan terhadap masyarakat awam. Sesungguhnya ulama jenis ini adalah orang-orang sesat yang menyesatkan.

Selanjutnya wahai pembaca yang mulia:

Tatkala aku termasuk orang yang mengetahui fakta-fakta mengerikan mengenai tersebarnya syirik akbar secara menakutkan di berbagai penjuru dunia Islam, maka aku melakukan sholat istikhoroh dan bertawakal kepada Alloh . Aku menerbitkan risalah ini dengan judul “Bagaimana Kita Memahami Tauhid”, dengan harapan Alloh menerimanya dariku dan memberi manfaat bagi hamba-hamba-Nya yang tersesat, baik karena tahu maupun tidak tahu. Ini adalah upaya sederhana dariku untuk mengeluarkan siapa saja yang Alloh kehendaki dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid. Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

 

Bab 1: Dialog Bersama Kawanku

Umar bin Khoththob (23 H) pernah berkata:

«ستنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام من لا يعرف الجاهلية»

“Ikatan-ikatan Islam akan terlepas satu demi satu jika di dalam Islam tumbuh generasi yang tidak mengenal urusan jahiliyah.”

Ada seseorang (kawanku) yang memiliki religiusitas yang tinggi, dia lembut dan baik budi pekertinya, dia sangat jujur dan berterus terang. Aku selalu sepaham dengannya dalam banyak hal, kami tidak pernah berselisih kecuali dalam satu masalah, yaitu masalah tawasul kepada orang mati, berdoa serta meminta pertolongan kepada mereka selain kepada Alloh, serta menyembelih dan bernadzar untuk mereka.

Hal-hal tersebut sering menjadi perdebatan antara aku dan dia. Tampak bagiku dari ucapannya bahwa dia—sebagaimana orang lain—berpendapat bahwa semua itu diperbolehkan, atau setidaknya dianggap sebagai sesuatu yang baik (mustahab).

Suatu hari, dia berkata kepadaku: “Kamu tahu bahwa aku tidak pernah berdoa kepada siapa pun selain Alloh, dan aku tidak bertawasul kepada Alloh melainkan dengan amalku.”

Aku menjawab: “Aku tahu hal itu, dan itulah yang membuatku menaruh harapan besar padamu, karena orang berakal sepertimu tidak boleh luput dari bahaya tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang-orang yang tertipu oleh para penjaga kuburan dan pedagang makam keramat.”

1.1  Apakah Berdoa kepada Para Wali Selain Alloh Adalah Kufur?

Dia bertanya: “Akan tetapi, meskipun demikian (sebagaimana telah kukatakan berkali-kali), hingga saat ini aku belum bisa menerima dan mencerna bahwa berdoa kepada orang mati serta meminta pertolongan kepada mereka (terutama para Wali, Nabi, dan orang sholih) adalah syirik yang mengeluarkan dari agama, selama orang-orang yang meminta pertolongan dan bertawasul tersebut tidak meyakini bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberi mudhorot, manfaat, menciptakan, mengadakan, menghidupkan, mematikan, dan hal-hal lain yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Alloh.”

Diskusi antara aku dan dia sering terjadi, namun biasanya hanya diskusi singkat yang tidak mendalam sehingga belum ada yang berhasil meyakinkan satu sama lain.

Suatu ketika dia berkata: “Bagaimana jika kita bedah masalah ini secara mendalam dan terus terang, dengan syarat kita harus mengesampingkan perasaan dan emosi? Karena manusia tidak akan tersesat melainkan ketika perasaan menguasai mereka dan hawa nafsu yang memegang kendali.”

Aku menjawab: “Demi Alloh, inilah saat yang selama ini aku tunggu-tunggu, karena aku sangat ingin menyingkapkan kepadamu perkara-perkara rumit dan samar yang menjadi penyebab kebingungan serta keraguanmu. Aku senang bisa membahas topik ini secara mendalam bersamamu.”

Dia berkata: “Bagus sekali.” Kemudian dia melanjutkan: “Apa sebenarnya sikap kalian dalam masalah ini? Apa dalil-dalil kuat yang kalian jadikan sandaran dalam mengafirkan orang-orang yang menempuh jalan tersebut—yakni jalan berdoa kepada orang mati, meminta pertolongan kepada para Nabi dan orang sholih, serta menyembelih dan bernadzar untuk mereka—dan menghukumi mereka telah keluar dari agama?”

Aku menjawab: “Sikap kami dalam masalah ini mengikuti sikap Al-Qur’anul Karim. Hukum kami ini bukanlah sekadar pendapat yang kami buat-buat atau teori yang kami ciptakan sendiri, melainkan kelanjutan dari hukum Kitab yang abadi ini, yang tidak dimasuki oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Al-Qur’anul Karim (bukan kami) yang menghukumi para pemuja kubur (kuburiyyun) itu dengan kekufuran dan menetapkan mereka dalam kesyirikan.”

Dia menyahut dengan ketenangannya yang khas: “Tidak perlu mengulang-ulang perkataan yang masih bersifat umum ini, aku sudah mengetahuinya dari kalian. Bagiku itu masih sebatas klaim, dan klaim tanpa dalil tidak bisa diterima. Mana dalil rincinya yang meyakinkan? Masalah ini lebih besar dan lebih berbahaya daripada sekadar melontarkan ucapan tanpa kendali. Dengan tindakan kalian yang mengafirkan kaum Muslimin secara cepat dan tidak peduli seperti ini, kalian telah menimbulkan fitnah buta di tengah kaum Muslimin yang masih berkecamuk hingga sekarang.”

1.2  Penyamaran Para Pemuja Kubur

Aku berkata kepadanya: “Kalian masih berada di bawah pengaruh propaganda menyesatkan yang besar, itulah yang menutup pintu-pintu pemikiran kalian dan membuat kalian berprasangka buruk terhadap kami. Secara umum, kalian bebas menyebut tindakan kami ini sebagai fitnah, kecerobohan, ketergesa-gesaan, atau apa pun yang kalian suka. Namun, semua itu tidak mengubah sedikit pun kebenaran yang terang, yaitu bahwa kami adalah kaum yang menelaah Kitab Alloh dan mentadabburinya sebagaimana Alloh memerintahkan kami.”

Kami melihat sebuah gambaran yang Alloh gunakan untuk menyifati orang-orang musyrik terdahulu, yang ternyata sangat sesuai dengan keadaan para pemuja kubur saat ini yang berdoa kepada orang mati, meminta pertolongan kepada mereka, merendahkan diri di hadapan mereka, serta menyekutukan mereka dengan Alloh dalam hal ibadah dan nadzar. Oleh karena itu, kami tidak ragu untuk memberikan peringatan dan penjelasan. Kami tidak takut kepada siapa pun ketika mengumumkan apa yang telah kami ketahui. Kami menyatakannya secara terang-terangan dan melontarkannya di hadapan orang-orang yang sombong, kami tidak peduli apakah manusia ridho atau marah kepada kami. Sebab, keridhoan manusia tidak pernah menjadi ukuran kebenaran, dan kemarahan mereka pun bukan tolak ukur suatu kebatilan.

1.3  Syubhat Kaum Musyrik dan Pemuja Kubur Serta Bantahannya

Adapun dalil atas apa yang kami ucapkan dan kami yakini sebagai agama dalam masalah ini, maka simaklah rincian berikut:

Pertama: Kalian berpendapat bahwa berdoa kepada orang mati, beristighotsah kepada mereka, dan mendekatkan diri kepada mereka dengan sembelihan serta nadzar agar mereka menjadi pemberi syafaat dan perantara kepada Alloh, semua itu menurut kalian bukanlah kesyirikan maupun kekufuran. Alasannya, selama para pelakunya masih beriman kepada Alloh sebagai Robb dan meyakini tidak ada Pencipta, Pemberi rizqi, Yang menghidupkan, maupun Yang mematikan kecuali Dia semata, serta meyakini bahwa sosok yang mereka seru selain Alloh tidak memiliki kemampuan memberi mudhorot maupun manfaat bagi diri mereka sendiri.

Namun kenyataannya, ini adalah teori yang salah. Analisis ini rusak dan bertentangan total dengan prinsip-prinsip Islam, dan hal ini akan menjadi jelas bagimu dalam penjelasan berikut, In Syaa Alloh.

1.4  Hakikat Perselisihan Antara Para Nabi dan Kaum Musyrik

Siapa pun yang mengikuti sejarah pertikaian antara para Nabi (terutama Nabi kita Muhammad ) dengan kaum musyrik terdahulu, akan mendapati bahwa penyebab dan poros pertikaian itu bukanlah karena kaum musyrik mengingkari keberadaan Alloh atau tidak beriman kepada-Nya. Sebabnya juga bukan karena mereka tidak mengakui bahwa di tangan Dialah kerajaan segala sesuatu. Bukan pula dipicu oleh keyakinan kaum musyrik bahwa sosok yang mereka seru selain Alloh ikut serta bersama Alloh dalam mendatangkan manfaat atau menolak mudhorot. Hal semacam itu sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak salah seorang pun dari kaum musyrik tersebut dan tidak ada satu pun dari mereka yang meyakininya.

1.5  Keimanan Kaum Musyrik Kepada Alloh

Kaum musyrik dahulu beriman kepada keberadaan Alloh dengan keimanan yang pasti dan mentauhidkan-Nya dalam hal Rububiyah secara sempurna tanpa campuran sedikit pun. Artinya, mereka meyakini bahwa Alloh adalah Robb mereka dan Robb segala sesuatu, dan bahwa apa yang mereka seru selain-Nya baik berupa tuhan-tuhan maupun para Nabi hanyalah sebagian dari hamba dan makhluk-Nya yang tidak memiliki manfaat maupun mudhorot bagi diri mereka sendiri. Mereka yakin bahwa mudhorot, manfaat, kematian, dan kehidupan berada di tangan-Nya semata, tidak ada makhluk pun yang menyekutui atau membantu-Nya dalam hal tersebut.

Demikianlah keimanan kaum musyrik terdahulu kepada Robb mereka. Begitulah mereka mentauhidkan-Nya dalam Rububiyah dengan tauhid yang murni, yang mana tauhid para pemuja kubur di zaman ini justru kalah darinya. Para penyembah Wali saat ini tidaklah berpaling kepada wali-wali mereka yang sudah mati—penghuni nisan—untuk beristighotsah, meminta tolong, dan merendahkan diri, melainkan justru di saat-saat genting.

Hal ini terbalik dengan apa yang dilakukan kaum musyrik terdahulu. Mereka tidak memanggil wali-wali mereka yang disimbolkan dalam patung dan berhala kecuali saat kondisi lapang dan tidak ada kesusahan. Adapun dalam kesempitan dan kesulitan yang sangat, mereka tidak berlindung kecuali hanya kepada Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Mendengar ini, temanku mulai emosi dan berkata dengan nada protes: “Aneh, ajaib, bagaimana mungkin?!”

 

Bab 2: Tauhid Abu Jahl dan Abu Lahab

Temanku melanjutkan: “Abu Jahl, Abu Lahab, dan orang-orang yang seagama dengan mereka dari kalangan kaum musyrik, apakah mereka beriman kepada Alloh dan mentauhidkan-Nya dalam Rububiyah sebagai Pencipta, Pemberi rizqi, Yang menghidupkan, Mematikan, Pemberi mudhorot dan manfaat, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dalam hal itu?”

“Ajaib dan aneh sekali jika Abu Jahl dan Abu Lahab dikatakan lebih bertauhid kepada Alloh dan lebih murni imannya daripada kaum Muslimin yang mengucapkan Lā ilāha illallōh Muhammadur Rosūlullōh? Apa-apaan ini? Bagaimana kalian berani menyatakan perkataan berbahaya seperti ini, yang mana perkataan inilah yang membuat kalian dimusuhi oleh jutaan Muslim di dunia?”

Aku menjawab: “Ini tidaklah aneh dan tidak pula ajaib. Inilah kenyataan yang akan kamu ketahui dan kamu akui, In Syaa Alloh, ketika fakta-fakta telah tersingkap dengan jelas dan dalil-dalil telah tegak dengan terang. Saat itulah, dengan izin Alloh, apa yang mengganjal di pikiranmu akan hilang, dan kamu akan terbebas dari sisa-sisa kerancuan yang selama ini kalian gunakan untuk menipu diri sendiri dan kalian anggap sebagai argumen serta bukti.”

2.1  Dalil Atas Tauhid Kaum Musyrik dan Keimanan Mereka Kepada Alloh

Dia berkata: “Mana dalilnya, wahai kawan? Mana bukti atas apa yang kalian klaim ini?”

“Jika apa yang kalian katakan itu benar bahwa kaum musyrik terdahulu beriman kepada Alloh dengan keimanan semacam itu, lalu apa bentuk kesyirikan yang Alloh cela pada mereka dan menyebabkan mereka kekal di Naar, sampai-sampai darah dan harta mereka dihalalkan serta Nabi-Nya diperintahkan untuk memerangi mereka dengan pedang dan tombak?”

Aku menjawab: “Apakah ada sumber lain untuk dalil ini selain Al-Qur’an? Dalilnya ada dalam Kitab yang abadi ini, yang mana kamu dan jutaan manusia yang sefaham denganmu dari kalangan orang yang mengaku Muslim membacanya setiap pagi dan petang, namun tanpa kalian temukan dan kalian fahami.”

2.2  Pengakuan Kaum Musyrik Bahwa Alloh Semata Pencipta, Pemberi Rizqi, Yang Menghidupkan, dan Mematikan

Alloh berfirman menegaskan keimanan kaum musyrik terdahulu kepada-Nya sebagai Robb, Pencipta, Pemberi rizqi, Yang menghidupkan, Mematikan, Pemberi mudhorot, dan manfaat. Alloh berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad mengenai kaum musyrik tersebut:

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ﴾

“Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ niscaya mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Ankabut: 61)

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ﴾

“Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah mati (kering)nya?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Katakanlah: ‘Segala puji bagi Alloh’, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami.” (QS. Al-Ankabut: 63)

﴿قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ، قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ، قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah Robb langit yang tujuh dan Robb Arsy yang agung?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertaqwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka bagaimanakah kamu ditipu?’” (QS. Al-Mu’minun: 84-89).

﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizqi kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka katakanlah: ‘Mangapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’” (QS. Yunus: 31)

Ayat-ayat yang terang ini wahai kawanku, adalah dalil kami yang tidak terbantahkan bahwa kaum musyrik terdahulu tidak mengingkari keberadaan Alloh. Mereka tidak meyakini bahwa Alloh memiliki sekutu yang ikut mengatur kerajaan-Nya, bahkan mereka mentauhidkan-Nya dalam Rububiyah secara sempurna.

Maka benarlah secara meyakinkan bahwa mereka tidaklah berpaling kepada para wali saat berdoa untuk meminta kehidupan, menolak kematian, atau menurunkan hujan. Mereka tidak mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan yang mereka ambil dari kalangan wali agar dituliskan kebahagiaan bagi mereka atau dihapuskan kesengsaraan. Bagaimana mungkin mereka melakukan itu, sementara mereka adalah orang-orang yang beriman secara pasti bahwa semua itu adalah kekuasaan Robb mereka semata yang di tangan-Nya lah segala kerajaan sesuatu. Sebagaimana telah ditetapkan dalam ayat-ayat ini.

Berdasarkan dalil yang sangat kuat ini, nampaklah bagimu kebatilan syarat lemah yang kalian pegangi, saat kalian meyakini bahwa orang yang berdoa kepada selain Alloh tidak dianggap musyrik kecuali jika ia meyakini bahwa manfaat dan mudhorot berada di tangan sosok yang ia seru sebagaimana keyakinannya kepada Alloh. Seandainya syarat ini benar dan klaim kalian dalam pandangan Islam itu selamat, niscaya Alloh tidak akan menghukumi Abu Lahab, Abu Jahl, dan kelompoknya dengan kesyirikan. Karena syarat yang kalian tetapkan itu sebenarnya sudah terpenuhi pada mereka; mereka tidak meyakini bahwa manfaat dan mudhorot ada di tangan sosok yang diseru sebagaimana keyakinan mereka kepada Alloh, dan Al-Qur’an telah merinci hal itu tentang mereka dalam ayat-ayat sebelumnya.

2.3  Kaum Musyrik Terdahulu Lebih Beriman Daripada Musyrik Zaman Sekarang

Adapun dalil bahwa tauhid kaum musyrik terdahulu dan iman mereka kepada Robbnya lebih kuat daripada tauhid dan iman para pemuja kubur di zaman ini, maka ia juga berasal dari Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah harta karun yang tidak akan habis dan cahaya yang tidak akan padam. Alloh berfirman tentang kaum musyrik terdahulu:

﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh).” (QS. Al-Ankabut: 65)

﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُوراً﴾

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya lenyaplah siapa yang kamu seru kecuali Dia, maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isro: 67)

﴿قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ، قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.’ Katakanlah: ‘Alloh menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.’” (QS. Al-An’am: 63-64)

Ayat-ayat ini membuktikan bahwa kaum musyrik terdahulu, jika mereka berada di laut dan terancam bahaya serta menduga bencana akan turun, mereka melupakan tuhan-tuhan mereka dari kalangan wali dan lainnya serta mengingkarinya. Mereka memurnikan ketaatan hanya kepada Alloh semata dan memalingkan doa serta harapan hanya kepada-Nya.

Karena mereka mengetahui secara pasti bahwa sosok yang mereka seru selain-Nya itu terlalu hina dan lemah untuk mendatangkan bantuan apa pun dalam momen kritis tersebut. Bahkan, karena mereka menyadari bahwa apa yang mereka seru selain Alloh lebih tidak berdaya lagi untuk sekadar mendengar suara mereka, apalagi mengabulkan doa mereka. Oleh karena itu, tirai penipuan yang ada di depan mata batin mereka terkoyak pada momen penentuan itu, dan kebenaran nampak nyata di hadapan mereka; yaitu bahwa tidak ada siapa pun selain Alloh yang bisa dimintai perlindungan untuk menyelamatkan keadaan di saat-saat genting.

2.4  Bagaimana Kaum Musyrik Terdahulu Berlindung Kepada Robb Mereka Saat Genting dan Melupakan Tuhan-Tuhan Mereka?

Karena itulah mereka berlindung kepada Alloh semata dengan memurnikan agama bagi-Nya, berdoa dan memohon pertolongan serta dukungan hanya kepada-Nya tanpa selain-Nya. Mereka melupakan para wali yang mereka jadikan tuhan-tuhan selain-Nya di waktu lapang, karena keimanan mereka yang pasti bahwa hanya Dialah yang sanggup menyelamatkan mereka dari tenggelam. Kaum musyrik ini (dengan kesaksian Al-Qur’an) tetap ikhlas memurnikan agama bagi Alloh selama mereka berada di area bahaya. Namun, jika mereka telah melewati area tersebut dan selamat sampai di darat, mereka kembali pada kebiasaan yang mereka dapati dari nenek moyang mereka, yaitu menyekutukan Alloh dengan selain-Nya dalam doa, penyembelihan, dan nadzar. Inilah yang Alloh cela dan karena itulah Alloh menyebut mereka sebagai kaum musyrik dalam firman-Nya: “Maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh).”

Demikianlah kondisi kaum musyrik terdahulu dalam mengikhlaskan agama bagi Alloh dan berpaling kepada-Nya semata saat doa ketika tertimpa urusan berat atau bahaya yang mengancam.

2.5  Bagaimana Musyrik Zaman Sekarang Melupakan Robb Mereka Saat Genting dan Berlindung Kepada Para Wali?

Adapun kaum musyrik zaman ini dari kalangan pemuja kubur, kondisi mereka justru bertolak belakang dengan kaum musyrik terdahulu. Mereka tidak berdoa kepada Alloh dan tidak merendahkan diri kepada-Nya kecuali di waktu lapang saja. Namun, jika mereka ditimpa kesusahan besar, jalan terasa sempit, atau keinginan sulit tercapai, mereka justru melupakan Alloh dan mengingat para wali mereka, lalu menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan. Mereka mendekatkan diri kepada para wali itu dengan penuh kerendahan hati dan ketundukan melalui doa, penyembelihan, nadzar, rasa takut, dan harapan.

Tokoh-tokoh seperti Al-Badawi, Al-Jailani, Ar-Rifa’i, At-Tijani, Al-Aidrus, Ibnu Isa, dan para wali lainnya, tidaklah terdengar teriakan hangat memanggil nama mereka dan doa tulus yang ditujukan kepada mereka melainkan di saat-saat genting. Para pemuja kubur jika naik kapal dan bahaya mengancam, mereka melupakan Alloh dan justru mengingat para wali mereka. Mereka bersegera dalam permohonan dan doa kepada para wali itu, seraya beristighotsah dan meminta tolong dengan penuh kehinaan dan ketundukan: “Tolong wahai Badawi, wahai Jailani, wahai Rifa’i, dst.” Mereka berbicara seolah-olah para wali itu hadir di hadapan mereka.

Seandainya kamu melihat betapa takut dan hinanya mereka berlomba-lomba memberikan nadzar untuk para penghuni kubur ini dan berjanji memberikan kurban di kuburan mereka jika selamat dari tenggelam, niscaya kamu akan menyadari betapa rendahnya kesyirikan dan hinanya kekufuran yang mencoreng martabat manusia ke dalam lumpur kenistaan. Di sana martabat mereka merosot dari derajat manusia berakal ke kedudukan yang lebih rendah daripada hewan ternak.

Kehinaan dan kerendahan apa yang lebih buruk daripada seorang manusia yang hatinya berpaling dari Pencipta dan Pemberi rizqi-Nya, dari Robb-Nya yang senantiasa bersamanya, mendengar dan melihatnya, lalu ia justru berpaling dengan penuh ketundukan dan kekhusyukan kepada tulang-belulang yang telah hancur? Tulang-belulang yang bahkan tidak mampu menolak serangan ulat yang memperebutkan sisa daging di sekelilingnya di dalam kubur, namun ia justru meminta tolong dan dukungan kepadanya, berdoa dan beristighotsah agar segera menyelamatkannya dari tenggelam?

Benarlah firman Alloh yang agung:

﴿وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ﴾

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Alloh yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (QS. Al-Ahqof: 5)

Sungguh aku telah menyaksikan banyak dari kebodohan ini sehingga pandanganku merasa terganggu dan hatiku pedih melihat sandiwara kesyirikan dan tindakan jahiliyah tersebut.

2.6  Bagaimana Penulis Berbenturan dengan Para Pemuja Kubur Saat Hampir Tenggelam?

Aku pernah menyaksikan banyak dari mereka yang merendahkan diri kepada para wali mereka dengan doa yang menggebu-gebu di tengah laut, yaitu saat aku sedang melakukan perjalanan di Laut Merah lebih dari 25 tahun yang lalu. Saat itu kami lebih dari 80 penumpang di atas kapal layar kecil. Ketika ombak besar menghantam dan mengepung kami dari segala arah, kapal mulai terombang-ambing di antara gelombang raksasa seolah hendak menetap di dasar laut, lalu naik lagi seakan ingin terbang dari laut.

Di saat-saat genting itu, para pemuja kubur berteriak riuh rendah dalam doa dan meminta pertolongan serta dukungan. Bukan kepada Alloh Yang Maha Hidup lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu, melainkan kepada orang mati yang tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka menghadap dengan hati yang tunduk dan hancur kepada Syekh Said bin Isa yang telah meninggal dunia lebih dari 600 tahun yang lalu. Mereka memanggilnya dalam ketakutan yang bercampur harapan: “Wahai Ibnu Isa, wahai Ibnu Isa, selesaikanlah ini wahai tiang agama!” Mereka pun berlomba-lomba menjanjikan nadzar untuknya dan berjanji memberikan kurban di kuburannya jika mereka selamat dari tenggelam, seolah-olah urusan mereka ada di tangannya, bukan di tangan Alloh .

2.7  Para Pemuja Kubur Nyaris Melempar Penulis ke Laut

Ketika aku mencoba (meskipun usiaku masih muda saat itu) meyakinkan mereka bahwa posisi seperti ini tidak pantas bagi seorang Muslim untuk berpaling kepada selain Alloh, dan aku memohon kepada mereka dengan penuh kasih sayang dan ketulusan agar berlindung kepada Robb mereka dan memurnikan agama dengan berdoa hanya kepada-Nya semata, serta meninggalkan Syekh Ibnu Isa yang tidak memiliki kekuasaan sedikit pun, yang tidak mendengar mereka apalagi mengabulkan doa mereka. Namun, mereka justru mengamuk dan berteriak serempak: “Wahhabi! Wahhabi!” Mereka nyaris melemparkanku ke tengah gelombang yang mengamuk, seandainya Alloh tidak melindungiku melalui beberapa orang yang menyembunyikan keimanan mereka di kapal tersebut.

Ketika badai mereda dan kami selamat hanya dengan pertolongan dan karunia Alloh semata—tentu bukan berkat Ibnu Isa—dan sebagian dari kami mulai mengucapkan selamat satu sama lain, para pemuja kubur ini justru mulai mencelaku. Mereka menakut-nakutiku agar jangan berprasangka buruk kepada para wali, seraya merasa berjasa atas keselamatanku dengan mengingatkan bahwa seandainya bukan karena kehadiran sang Quthb (Ibnu Isa dan para pengikutnya) pada saat genting itu, niscaya kami semua sudah berada di dalam perut ikan.

2.8  Khurofat Kehadiran Para Wali Saat Genting

Aku berkata kepada mereka—dan sungguh hatiku sakit mendengar kekufuran yang nyata ini: “Sesungguhnya kalian menzholimi diri sendiri dan mengada-ada terhadap Syekh Ibnu Isa rohimahulloh.” Syekh yang sudah mati ini jauh lebih tidak berdaya untuk sekadar mendengar doa kalian, apalagi mengabulkannya lalu hadir di sini di antara ombak besar untuk menyelamatkan kalian.

Gunakanlah akal kalian wahai kaum! Sosok yang kalian seru selain Alloh ini sudah mati, dan Alloh telah menetapkan bahwa orang mati tidak mendengar, demikianlah yang datang dalam Al-Qur’an. Alloh berfirman:

﴿إِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ﴾

“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati itu mendengar dan tidak (pula) menjadikan orang-orang yang tuli itu mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling ke belakang.” (QS. An-Naml: 80)

﴿وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهُ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ﴾

“Dan tidaklah sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Alloh memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada dapat menjadikan orang yang di dalam kubur itu mendengar.” (QS. Fathir: 22)

Ini adalah kaidah alam yang bersifat umum dan tetap yang tidak berubah, yaitu bahwa mayit (mayit mana pun) tidak mendengar, kecuali yang ada dalil khusus untuknya dalam keadaan tertentu. Hal khusus ini tetap menjaga keumuman pada tempatnya. Lalu dari mana dalil bagi para pemuja kubur ini bahwa wali-wali mereka dari kalangan orang mati bisa mendengar mereka? Apakah ada dalam Al-Qur’an bahwa Syekh Fulan atau Sayyid Anu telah dikhususkan oleh Alloh di antara orang mati sehingga ia bisa mendengar siapa pun yang memanggilnya, siapa pun orangnya dan di mana pun tempatnya?

Seandainya kita berandai-andai bahwa mereka memang mendengar, apakah Alloh memberikan keringanan bagi mereka untuk berdoa dan beristighotsah kepada mayit-mayit itu selain kepada-Nya? Apakah Alloh memberi tahu mereka bahwa para mayit itu diberi wewenang untuk mengabulkan doa dan berusaha menyelamatkan mereka saat dimintai tolong? Pertanyaan ini akan tetap tanpa jawaban yang meyakinkan dari para pemuja kubur ini sampai hari mereka dibangkitkan.

Namun karena kebodohan kalian terhadap sunnatulloh dan keengganan kalian untuk mentadabburi serta memahami apa yang ada dalam Kitab Alloh, kalian terjerumus dalam kebodohan semacam ini. Kalian memalingkan hati dari Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang senantiasa bersama kalian, mendengar dan melihat, lalu kalian justru berpaling kepada mayit yang tidak berdaya, yang dalam keadaan lalai dari kalian, tidak mendengar dan tidak melihat kalian.

Adapun keselamatan kita, maka tidak ada pengaruh sedikit pun dari Ibnu Isa maupun selainnya. Satu-satunya yang menyelamatkan kita dengan karunia dan kemuliaan-Nya adalah Robb Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa semata, tanpa dipengaruhi oleh doa kalian kepada orang sholih atau istighotsah kalian kepada Nabi. Sebab semuanya (para Nabi alaihimush sholatu was salam dan orang-orang sholih rodhiyallohu ‘anhum) tidak ada satu pun dari mereka bersama kita pada momen kritis tersebut. Yang ada bersama kita hanyalah Alloh Yang Maha Esa, yang menjalankan kita di darat dan di laut.

Salah satu dari mereka berkata dengan nada sok filosofis: “Kami tidak mengingkari bahwa Alloh berada di atas segalanya dan di tangan-Nya segala sesuatu.” Aku menjawab: “Ini adalah kerancuan lama yang pernah diucapkan oleh kaum musyrik terdahulu. Ucapanmu ini bertentangan dengan perbuatanmu. Jika kamu benar-benar beriman dengan apa yang kamu katakan secara tulus dari hatimu, niscaya kamu tidak akan berpaling di saat susah dan genting dari Robb Pencipta Yang Agung ini menuju makhluk mati yang rendah. Dengan begitu, kamu menjadi orang yang imannya lebih sedikit dan kepercayaan kepada Alloh-nya lebih lemah daripada kaum musyrik terdahulu yang justru memurnikan agama bagi-Nya dan berpaling hanya kepada-Nya saat kesusahan, sebagaimana diceritakan tentang mereka.”

 

Bab 3: Bagaimana Syaithon Menyerupai Para Wali di Hadapan Pemuja Kubur?

Orang lain berkata kepadaku seolah-olah dia telah mengalahkanku dalam hujjah: “Sesungguhnya kamu membenci para wali dan mengingkari karomah mereka, itulah sebabnya Alloh mengharomkanmu untuk menikmati apa yang kami lihat di saat-saat penentuan itu!”

Aku menjawab: “Siapa yang memberitahumu bahwa aku membenci para wali dan mengingkari karomah mereka? Apakah kamu pernah melihatku mencela seorang wali dari wali-wali Alloh? Atau merendahkan orang sholih dari kalangan Mukminin? Kapan kamu pernah mendengarku mengingkari karomah yang tetap, yang Alloh muliakan seorang wali dengan karomah itu, yang disebutkan dalam Kitab-Nya atau datang dalam Sunnah Nabi-Nya ?”

“Apakah kamu pernah mendengar aku mengingkari karomah penghuni gua yang Alloh muliakan dengan menggeser batu besar setelah batu itu menutup dan menyumbat pintu gua bagi mereka? Atau apakah kamu mendengar aku mengingkari kewalian Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, atau para Shohabat lainnya rodhiyallohu ‘anhum yang telah tetap berdasarkan nash hadits syarif bahwa mereka termasuk wali Alloh yang diberi kabar gembira dengan Jannah? Ataukah ini sekadar tuduhan klasik yang kalian ulang-ulang terhadap siapa pun yang tidak setuju dengan tindakan bodoh kalian, tidak percaya pada khurofat kalian, dan tidak diam atas kebodohan kalian?”

“Namun katakan padaku, apa yang Alloh haromkan dariku untuk dinikmati namun kalian lihat di saat-saat penentuan itu?”

Ia menjawab: “Kami melihat sang Quthb yang agung (Syekh Said bin Isa) nampak seperti cahaya yang memegang tiang kapal, seraya berbicara kepada laut memerintahkannya untuk tenang, dan benar saja laut berhenti mengamuk dan kami selamat berkat berkah Quthb yang agung ini!”

Aku bertanya dengan nada menyindir: “Apakah sebelumnya kamu pernah mengenal Syekh Said bin Isa Al-Amudi yang sudah wafat lebih dari 600 tahun yang lalu?”

Ia menjawab: “Tentu tidak.”

Aku bertanya lagi: “Lalu bagaimana kamu tahu bahwa sosok yang kamu lihat di atas tiang kapal yang memberikan perintah kepada laut untuk tenang adalah Syekh Said bin Isa Al-Amudi, padahal kamu belum pernah melihatnya? Apakah turun wahyu dari langit yang memastikan bahwa yang kamu lihat (dengan asumsi kamu memang melihat sesuatu) adalah Syekh Ibnu Isa?”

Di sini dia terdiam dan tidak bisa menjawab.

3.1  Dia Berkhayal Ibnu Isa Hadir Bersamanya

Aku berkata kepadanya: “Kenyataannya, kamu tidak melihat Ibnu Isa maupun selain Ibnu Isa di atas tiang kapal. Akan tetapi, dalam keadaan sangat panik dan takut, imajinasimu menguasai dirimu lalu menggambarkan kepadamu (bekerja sama dengan syaithon) apa yang kamu sangka sebagai Ibnu Isa, agar kamu semakin tenggelam dalam kesesatan dan semakin jauh masuk ke dalam jurang kebodohan.”

Satu-satunya jawaban yang dia berikan (yang mengakhiri perdebatan) adalah sesuatu yang aneh saat ia berteriak: “Wahhabi pengingkar! Zindiq!” Inilah senjata terakhir yang digunakan kaum tersebut ketika hujjah mematahkan mereka atau bukti menampar mereka.

Lalu aku berkata kepada temanku: “Sekarang bagaimana menurutmu? Bukankah ini cukup meyakinkanmu bahwa apa yang aku ceritakan itu benar, bahwa iman kaum musyrik terdahulu kepada Robbnya dan kepercayaan mereka kepada-Nya di saat susah jauh lebih kuat daripada iman para pemuja kubur dan kepercayaan mereka kepada Alloh ?”

3.2  Kerancuan Para Pemuja Kubur

Dia menjawab: “Kamu terlalu keras terhadap orang-orang itu dengan menyifati mereka dengan kesyirikan dan menganggap iman mereka kepada Alloh serta tauhid mereka lebih rendah dari iman dan tauhid kaum musyrik terdahulu. Padahal para pemuja kubur itu (sebagaimana kamu mensifati mereka), saat mereka memanggil nama Ibnu Isa dan beristighotsah kepadanya di momen kritis itu, mereka tidak melakukannya karena tidak percaya kepada Alloh. Mereka tidak melakukannya karena meyakini bahwa Ibnu Isa atau yang lainnya adalah sosok yang menjalankan mereka di darat dan laut, atau bahwa para mayit itu bersama mereka, mendengar dan mengabulkan panggilan sebagaimana Alloh mengabulkannya.”

“Mereka melakukan itu karena keyakinan bahwa Alloh akan menyelamatkan mereka berkat berkah tawasul mereka kepada para wali tersebut. Mereka tidaklah berpaling kepada para wali dan memanggil nama mereka di momen berbahaya itu melainkan karena keyakinan bahwa wali-wali tersebut memiliki kedudukan di sisi Alloh yang pasti akan menyelamatkan mereka sebagai bentuk penghormatan bagi wali-wali-Nya yang tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Aku berkata kepadanya: “Ini adalah kerancuan lama yang diulang-ulang, yang tidak mungkin diterima oleh orang berakal yang menghormati dirinya sendiri, karena beberapa alasan. Di antaranya, para pemuja kubur ini seandainya mereka tidak meyakini bahwa para wali yang sudah mati itu bersama mereka di saat senang maupun susah, mendengar istighotsah mereka, mengabulkan doa mereka, dan memiliki kemampuan untuk menyelamatkan mereka, niscaya mereka tidak akan memohon seperti itu. Mereka tidak akan meminta bantuan dengan penuh ketundukan dan kerendahan, seperti permintaan bantuan orang lemah yang tidak berdaya kepada sosok yang kuat lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu. Mereka juga tidak akan menjanjikan nadzar ini dan berkomitmen memberikan kurban jika dibantu selamat dari tenggelam, bahkan mereka benar-benar menepati nadzar itu dengan rasa harap dan takut.”

“Apakah ada orang berakal yang akan berteriak meminta tolong dan bantuan kepada sosok yang diketahuinya tidak mendengar, tidak menjawab, tidak memberi mudhorot, dan tidak memberi manfaat?”

3.3  Berdoa Kepada Wali yang Sudah Mati: Antara Kufur Atau Gila

Orang-orang yang berdoa kepada para wali yang sudah mati berada di antara dua hal: bisa jadi mereka meyakini bahwa orang mati itu mendengar mereka (meskipun jaraknya jauh), menjawab mereka, dan berusaha menyelamatkan mereka, atau mereka tidak meyakini hal itu. Jika mereka meyakini hal tersebut (dan itulah yang sebenarnya mereka yakini), maka itulah syirik akbar yang tidak akan Alloh ampuni bagi mereka. Adapun jika mereka meyakini bahwa sosok yang diseru itu tidak mendengar dan tidak menjawab, maka inilah kegilaan, dan orang gila telah gugur kewajiban syariatnya. Maka para pemuja kubur ini kalau bukan musyrik, ya mereka itu orang gila, silakan kamu tempatkan mereka di mana pun yang kamu mau.

Kenyataannya, para pemuja kubur ini bukanlah orang gila, melainkan mereka terfitnah. Syaithon telah memfitnah mereka dan menghiasi perbuatan syirik ini serta menjadikannya dicintai oleh hati mereka. Seandainya mereka tidak lebih percaya pada kemampuan wali mereka untuk menyelamatkan daripada kepercayaan mereka pada Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa, niscaya mereka tidak akan berpaling dari-Nya dan menuju orang mati dalam keadaan tunduk, merendah, dan menghinakan diri. Lalu kekufuran dan kesesatan apa lagi setelah ini? Apa lagi yang mereka sisakan untuk Alloh yang telah menciptakan dan membentuk rupa mereka?

Setelah aku sampai pada tingkat diskusi ini dengan temanku, dia berkata dalam kegugupan: “Tapi... tapi...”

Kegugupannya berubah menjadi terbata-bata, lalu ia kelu lidahnya dan berpura-pura sedang mencari dan merenung.

Aku berkata kepadanya: “Jangan pakai tapi... tapi... dalilnya sangatlah jelas. Tidak ada yang bisa kalian gunakan untuk menolaknya atau menghalangi jalannya. Tidak ada dalil bagi tindakan bodoh yang syirik dan khurofat paganisme ini melainkan sekadar kerancuan, berpegang pada angan-angan, dan alasan yang dicari-cari, yang dengannya kalian mengubur agama kalian sendiri dan menyembelih Islam kalian.”

Lalu aku berkata kepadanya: “Aku rasa setelah penjelasan ini, aku tidak perlu bertele-tele untuk meyakinkanmu bahwa syirik yang Alloh cela pada kaum musyrik terdahulu bukanlah keyakinan mereka terhadap sosok yang mereka seru (seperti Yaghuts, Ya’uq, Nasr, Lat, Uzza, dan Manat) bahwa tuhan-tuhan itu menyekutukan Alloh dalam hal penciptaan, pengadaan, menghidupkan, mematikan, mudhorot, maupun manfaat. Syirik itu juga bukan karena mereka mengingkari keberadaan Alloh atau meniadakan kenyataan bahwa kerajaan segala sesuatu ada di tangan-Nya, sebab tidak ada seorang pun dari kaum musyrik itu yang mengatakannya.”

3.4  Komunisme Sebelum Islam

Dia berkata seolah-olah menemukan hujjah: “Tentu ada! Telah tetap dalam Al-Qur’an bahwa kaum musyrik itu mengingkari keberadaan Alloh. Inilah ucapan mereka (sebagaimana diceritakan Alloh tentang mereka): ‘Dan mereka berkata: Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa....’”

Aku menjawab: “Mereka itu bukanlah kaum musyrik yang kita bicarakan sebelumnya. Mereka adalah kaum Dahriyyun (materialis) yang atheis, mereka adalah sekte dari bangsa Arob yang mana orang-orang Komunis zaman sekarang berjalan di atas madzhab mereka. Mereka tidak beriman kepada Alloh, dan tidak pula beriman pada apa yang diyakini kaum musyrik sebagai sarana mendekatkan diri kepada Alloh. Mereka (kaum Dahriyyun) mengingkari keberadaan Alloh dan secara otomatis mengingkari berhala, patung, dan tuhan-tuhan yang dijadikan perantara oleh kaum musyrik untuk mendekatkan diri kepada Alloh.”

Sumber kesyirikan kaum musyrik terdahulu justru adalah keimanan mereka terhadap keberadaan Alloh disertai dengan ber-tawasul kepada-Nya dan meminta tolong kepada selain-Nya. Inilah yang dimaksud oleh firman Alloh :

﴿وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ﴾

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Alloh, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 106)

Seandainya kaum musyrik itu tidak beriman kepada Alloh, niscaya mereka tidak akan mengambil tuhan-tuhan ini sebagai perantara yang mendekatkan mereka kepada Alloh , sebagaimana firman-Nya:

﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى﴾

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3)

Maka benarlah secara meyakinkan bahwa yang dimaksud dengan pengingkar keberadaan Alloh dalam ayat surat Al-Jatsiyah yang kamu jadikan hujjah kepadaku bukanlan kaum musyrik yang telah aku ceritakan hakikatnya kepadamu. Mereka adalah (sebagian orang Arob) Dahriyyun atau Komunis, jika istilah ini boleh digunakan. Karena mustahil bagi orang yang membela kesyirikannya dan menjustifikasinya dengan ucapan mereka tentang tuhan-tuhan dan wali-wali mereka: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya,” atau “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Alloh,” mustahil bagi mereka untuk mengingkari keberadaan Alloh. Sebab mereka tidaklah mengambil tuhan-tuhan dari kalangan wali melainkan agar mendekatkan mereka kepada-Nya dan memberi syafaat bagi mereka di hadapan-Nya. Ini sebagai tambahan bagi ayat-ayat lain yang membuktikan pengakuan mereka secara terus terang akan keberadaan Alloh dan tauhid mereka kepada Alloh dalam Rububiyah sebagaimana telah lewat penjelasannya.

3.5  Hakikat Syirik Kaum Musyrik Terdahulu

Temanku berkata (setelah ia merasa lelah dengan panjangnya diskusi): “Lalu apa sebenarnya kesyirikan yang Alloh cela pada kaum musyrik di dalam Al-Qur’an, yang dengannya darah dan harta mereka dihalalkan serta Rosul-Nya diperintahkan untuk memerangi mereka, padahal mereka beriman kepada Alloh dan mentauhidkan-Nya sedemikian rupa?”

Maka aku katakan kepadanya: Pertanyaan ini sangat tepat dan mendasar. Inilah titik krusial yang sering kali membuat pemahaman menjadi sesat dan langkah kaki tergelincir. Seandainya manusia mau berhenti sejenak di sini untuk melihat dengan jernih, memahami, serta merenungkannya dengan saksama, lalu memberikan haknya dalam penelitian dan perbandingan, niscaya Anda tidak akan menemukan satu pun orang yang mengaku sebagai Muslim namun masih mengarahkan doa, istighotsah (permohonan pertolongan saat kesulitan), penyembelihan, nadzar, atau ibadah lainnya yang merupakan hak khusus Alloh semata kepada selain-Nya, baik kepada para Nabi maupun kepada para Wali dan selain mereka.

 

Bab 4: Hakikat Kesyirikan dan Penyimpangan Pemahaman

4.1 Kebodohan Terhadap Hakikat Syirik

Kebodohan manusia saat ini terhadap hakikat kesyirikan kaum musyrik Arob telah menjatuhkan mereka ke dalam kesyirikan itu sendiri. Kebodohan manusia dalam masalah yang sangat berbahaya ini serta ketidaktahuan mereka tentang hakikat kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrik terdahulu merupakan penyebab mereka terjatuh ke dalam sesuatu yang tidak mereka sangka sebagai kesyirikan, padahal itulah kesyirikan yang sebenarnya. Hal itu telah mengotori mereka dengan sesuatu yang tidak mereka anggap sebagai kekufuran, padahal itulah kekufuran itu sendiri, yaitu berdoa kepada orang-orang yang sudah mati, meminta pertolongan kepada mereka, serta menyembelih dan bernadzar untuk mereka agar mereka memberikan syafaat dan mendekatkan diri mereka kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya, tanpa adanya izin dari Alloh bagi mereka untuk melakukan hal tersebut.

4.2 Kekhawatiran Umar Bin Khoththob

Sungguh Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu telah mengungkapkan kekhawatiran beliau terhadap apa yang menimpa manusia saat ini berupa kesyirikan sejak lebih dari 13 abad yang lalu, di mana beliau berkata: “Ikatan-ikatan Islam akan terurai seutas demi seutas.” Lalu ada yang bertanya: “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Amirul Mu’minin?”

Beliau menjawab:

«إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَا يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةَ»

“Apabila tumbuh dalam Islam orang-orang yang tidak mengenal masa Jahiliyyah.” Atau sebagaimana yang beliau katakan.

Maka mereka yang berdoa kepada orang-orang mati saat ini, menyembelih dan bernadzar untuk mereka, serta melakukan Thowaf di kuburan-kuburan mereka dalam keadaan mengkultuskan, mengagungkan, khusyuk, dan merendahkan diri kepada mereka dengan maksud tawasul (menjadikan perantara) dan mencari perantara melalui mereka kepada Alloh , seandainya mereka mengetahui bahwa perbuatan ini adalah persis seperti perbuatan yang dilakukan oleh orang Arob di masa Jahiliyyah yang telah dinamakan oleh Alloh sebagai kesyirikan dan dianggap sebagai kekufuran, niscaya mereka tidak akan berani melakukannya dan tidak akan berpegang teguh dengannya, serta tidak akan marah atau murka kepada orang yang mengingkari perbuatan tersebut.

4.3 Keyakinan Kaum Musyrik Terdahulu dan Praktek Kesyirikan Mereka

Adapun kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrik terdahulu, yang Anda minta penjelasannya dan Anda tanyakan hakikatnya, maka sesungguhnya kaum musyrik tersebut (di samping keimanan mutlak mereka terhadap keberadaan Alloh dan ketundukan mereka pada kekuasaan-Nya yang mutlak dalam mengatur seluruh urusan alam semesta tanpa ada sekutu maupun pembantu) mereka telah mengada-adakan suatu bid’ah (perkara baru) yang tidak pernah Alloh turunkan keterangannya. Bid’ah ini dianggap baik oleh akal mereka dan membuat jiwa mereka merasa tenang.

Hal itu adalah mereka menjadikan sebagian makhluk (seperti Latta, Uzza, Manat, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr) sebagai para Wali dan perantara yang mereka tuju, di mana mereka mendekatkan diri kepada mereka dengan doa, nadzar, dan penyembelihan supaya mereka mendekatkan diri mereka kepada Alloh serta memberikan syafaat dalam pemenuhan hajat-hajat dan penghilangan penderitaan mereka, tanpa adanya izin atau ridho dari Alloh untuk melakukan hal tersebut.

4.4 Dalil-Dalil Al-Qur’an yang Menafikan Perantara Dalam Ibadah

Inilah yang dimaksud oleh Al-Qur’an dan diingkari atas mereka melalui firman-Nya:

﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

“Dan mereka menyembah (yakni berdoa) kepada selain Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan mudhorot kepada mereka dan tidak pula manfaat, dan mereka berkata: ‘Mereka ini adalah pemberi syafaat kami di sisi Alloh.’ Katakanlah: ‘Apakah kalian hendak memberitahukan kepada Alloh sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak pula di bumi?’ Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Yunus: 18)

﴿مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ﴾

“Tidak ada bagi kalian selain Dia seorang pelindung pun dan tidak pula pemberi syafaat. Maka apakah kalian tidak mengingat?” (QS. As-Sajdah: 4)

Atas dasar filosofi ini, yaitu filosofi tawasul, mencari perantara, dan mencari syafaat melalui tuhan-tuhan dari kalangan para Wali tersebut, mereka berdoa kepada mereka, beristighotsah kepada mereka, menyembelih dan bernadzar untuk mereka, serta melakukan Thowaf di sekitar tugu-tugu dan patung-patung mereka, dengan menjadikan mereka sebagai tumpuan harapan, tempat bergantung, dan pintu yang menurut klaim mereka dapat menghubungkan mereka kepada Alloh .

Hal ini dan yang semisalnya adalah apa yang diingkari oleh Alloh atas mereka serta dianggap sebagai kesyirikan dan kekufuran. Karena sebab itulah Alloh menghalalkan darah dan harta mereka, dan Muhammad memerangi mereka dengan pedang dalam perang Badr, Uhud, Hunain, Khondaq, dan lainnya, serta memutus segala ikatan kekerabatan dan nasab antara beliau dengan mereka karena masalah tersebut.

Alloh menganggap hal itu sebagai ibadah mereka kepada selain-Nya dan kesyirikan kepada-Nya. Alloh murka kepada mereka dan menjauhkan mereka dari rohmat-Nya karena mereka menempuh jalan ini dan mengada-adakan bid’ah ini, yaitu bid’ah menjadikan perantara-perantara dan pemberi syafaat, di mana mereka bertawakal dan berlindung kepada mereka untuk menjadi pintu menuju Alloh tanpa adanya izin dari-Nya :

﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾

“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?” (QS. Al-Baqoroh: 255)

Lalu temanku berkata: “Ini juga merupakan penjelasan yang global yang tidak mengandung dalil-dalil pasti yang dapat meyakinkan kami akan kebenarannya. Maka apakah dalil yang terperinci mengenai kebenarannya?”

Maka aku katakan kepadanya: Dalilnya juga ada di dalam Kitabulloh. Alloh telah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾

“Wahai manusia, telah dibuat suatu perumpamaan, maka dengarkanlah. Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Alloh tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. Mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang semestinya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj: 73-74)

Sebagaimana Dia juga mengingkari mereka dalam ayat Yunus sebelumnya atas doa mereka kepada selain-Nya serta menjadikan mereka sebagai perantara-perantara yang memberi syafaat untuk mereka di sisi-Nya, dan menjadikan hal itu sebagai kesyirikan kepada-Nya serta ibadah kepada selain-Nya ketika Dia berfirman:

﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾

“Dan mereka menyembah selain Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan mudhorot kepada mereka dan tidak pula manfaat, dan mereka berkata: ‘Mereka ini adalah pemberi syafaat kami di sisi Alloh.’” (QS. Yunus: 18)

Kemudian Dia mengingkari mereka seraya membatalkan klaim mereka dan menolak argumen mereka ini—argumen mencari syafaat dan tawasul—dengan nada mengecam dan mencela melalui firman-Nya:

﴿قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Apakah kalian hendak memberitahukan kepada Alloh sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak pula di bumi?’ Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Yunus: 18)

Maknanya adalah bahwa Dia tidak butuh kepada siapa pun di dunia ini untuk datang kepada-Nya melalui perantara atau pemberi syafaat, karena tidak ada sesuatu pun dari keadaan hamba-hamba-Nya yang tersembunyi bagi-Nya sehingga mereka harus datang kepada-Nya dengan para pemberi syafaat dan perantara untuk memberitahukan kepada-Nya apa yang tersembunyi bagi-Nya. Maha Tinggi Alloh dari hal tersebut dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.

Alloh juga berfirman seraya mengingkari mereka yang mencari perantara melalui orang-orang yang mereka anggap baik dari kalangan orang-orang sholih, serta menjelaskan bahwa mereka yang diseru selain-Nya itu adalah hamba-hamba yang serupa dengan mereka, yang tidak memiliki kemampuan bagi diri mereka sendiri untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudhorot, apalagi untuk menghilangkan penderitaan dari orang lain atau memalingkan keburukan. Bahkan sesungguhnya mereka (meskipun memiliki kedudukan dekat di sisi-Nya) mereka sendiri mendekatkan diri kepada-Nya dengan rasa takut kepada-Nya dan berharap akan rohmat-Nya:

﴿قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا﴾

“Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai Robb) selain Alloh, maka mereka tidak memiliki kekuasaan untuk menghilangkan penderitaan dari kalian dan tidak pula memindahkannya.’ Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan menuju Robb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Alloh), dan mereka mengharapkan rohmat-Nya serta takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Robbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isro: 56-57)

Dalam satu qiro’ah disebutkan ﴿يَدْعُونَ﴾ (yang kalian seru).

Alloh juga berfirman seraya menganggap doa kepada selain-Nya dari kalangan makhluk sebagai kesyirikan:

﴿وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ﴾

“Dan orang-orang yang kalian seru selain-Nya tidak memiliki apa pun walau setipis kulit ari biji kurma.” (QS. Fathir: 13)

﴿إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ﴾

“Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar doa kalian; dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan pada hari Qiyamah mereka akan mengingkari kesyirikan kalian. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Alloh) Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir: 14)

﴿لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾

“Hanya bagi Dialah doa yang benar. Dan orang-orang yang mereka seru selain-Nya tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke air supaya air itu sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ro’d: 14)

﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain-Nya (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Alloh akan memberikan putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)

Maka ini adalah sebagian dalil (bukan seluruhnya) yang membuktikan kepada Anda kebenaran dari apa yang telah aku sampaikan mengenai keadaan kaum musyrik, serta menjelaskan hakikat kesyirikan yang mereka lakukan, di mana banyak orang saat ini terjatuh ke dalamnya karena kebodohan mereka terhadap hakikatnya .

4.5 Membantah Syubhat Bahwa Ayat-Ayat Syirik Hanya Berlaku Bagi Kaum Musyrik Arob Terdahulu

Temanku berkata: “Sesungguhnya ayat-ayat yang Anda sebutkan itu hanyalah turun mengenai kaum musyrik Arob di masa Jahiliyyah, sehingga ayat-ayat tersebut khusus bagi mereka. Adapun mereka yang beristighotsah kepada para Wali saat ini, maka tidak ada hubungannya ayat-ayat tersebut dengan mereka dan tidak mungkin ayat-ayat tersebut diterapkan kepada mereka.”

Maka aku katakan kepadanya:

Ini adalah argumen yang runtuh dan bentuk penyesatan yang nyata. Memang benar bahwa ayat-ayat ini turun pada masa kaum musyrik Arob dan mengenai mereka, bahkan Al-Qur’an seluruhnya turun pada masa tersebut. Akan tetapi, Kitab yang kekal ini adalah khithob (seruan) Alloh kepada hamba-hamba-Nya di setiap zaman dan tempat. Perintah-perintah-Nya bersifat kekal dan wajib diikuti, serta larangan-larangan-Nya bersifat abadi dan wajib dijauhi hingga hari mereka dibangkitkan.

Maka patokan dalam Al-Qur’an adalah dengan keumuman lafazhnya, bukan dengan kekhususan sebab turunnya. Kaidah yang tetap di sisi seluruh kaum Muslimin adalah bahwa hukum itu berjalan bersama illat (sebab hukumnya), maka di mana pun ditemukan illat tersebut, wajib pula diterapkan hukumnya.

Illat atau sebab kesyirikan kaum musyrik terdahulu adalah bahwa mereka berdoa kepada hamba-hamba yang serupa dengan mereka selain Alloh dan mereka bergantung kepada mereka untuk menjadi pemberi syafaat mereka di sisi Alloh . Inilah persis apa yang dilakukan oleh para pemuja kubur saat ini; mereka berdoa kepada para Wali dan beristighotsah kepada mereka untuk menjadi perantara mereka kepada Alloh . Dari sinilah datangnya ketetapan hukum atas kedua kelompok tersebut dengan hukum kesyirikan tanpa ada pembedaan, karena mereka bersatu dalam maksud dan perbuatan, yaitu mengarahkan doa, penyembelihan, dan nadzar kepada selain Alloh agar menjadi pemberi syafaat mereka di sisi Alloh .

4.6 Istilah Tidak Mengubah Hakikat

Dia berkata: “Sesungguhnya qiyas (analogi) Anda ini, yang dengannya Anda menerapkan hukum kesyirikan kepada kedua kelompok tersebut tanpa pembedaan, adalah qiyas ma’al fariq (analogi yang tidak setara) yang tidak dapat diterima.”

Aku katakan kepadanya:

Sekarang, setelah aku menjelaskan kepada Anda dengan bersusah payah bahwa kekufuran kaum musyrik terdahulu hanyalah dalam hal menjadikan perantara dan pemberi syafaat serta mendekatkan diri kepada mereka dengan doa, penyembelihan, dan nadzar, dan aku juga telah menjelaskan kepada Anda bahwa para pemuja kubur saat ini menempuh jalan yang persis sama dan berjalan di atas manhaj ini sejengkal demi sejengkal, maka bisakah Anda menjelaskan kepadaku apa perbedaan yang menjadikan perbuatan mereka yang terdahulu sebagai kekufuran dan kesyirikan yang diancam oleh Alloh dengan siksaan kekal di Naar, sedangkan perbuatan mereka yang sekarang dianggap sebagai tawasul yang mubah, yang diridhoi oleh Alloh dan tidak disiksa karenanya, padahal kedua kelompok tersebut bersatu dalam perbuatan dan sepakat dalam tujuan?

Dia menjawab: “Perbedaannya ada dari beberapa sisi:

Pertama: Bahwa kaum musyrik terdahulu menyembah selain Alloh , dan pengakuan mereka akan penyembahan kepada selain Alloh telah datang dengan jelas dalam ucapan mereka (sebagaimana diceritakan tentang mereka): “Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.”

Adapun orang-orang yang bertawasul kepada para Wali saat ini, mereka mengingkari penyembahan kepada selain Alloh . Mereka mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud dengan doa kepada para Wali yang telah mati dan beristighotsah kepada mereka sebagai suatu penyembahan, melainkan mereka bermaksud untuk tabarruk (mencari berkah) dan tawasul. Dari sinilah muncul pembedaan hukum antara mereka dengan kaum musyrik.”

Maka aku katakan kepadanya:

Sesungguhnya perbuatan dan maksud (sebagaimana telah aku katakan sebelumnya) itulah yang menjadi dasar penetapan hukum, dan tidak ada nilainya istilah-istilah yang digunakan sebagai pembelaan atas tindakannya karena takut akan keluarnya hukum atas dirinya, selama perbuatannya merupakan illat yang mewajibkan hukum yang dikeluarkan terhadapnya.

Seandainya ada seseorang yang membiasakan diri bersujud kepada berhala, namun ia (bersamaan dengan kecanduannya bersujud tersebut) terus menyatakan pengingkarannya terhadap penyembahan kepada selain Alloh dan menegaskan bahwa ia tidak pernah dan tidak akan menyembah selain Alloh , apakah ucapannya ini (bersamaan dengan perbuatannya itu) akan menjadi penghalang untuk menghukumnya dengan kesyirikan dan menetapkan kekufuran atasnya?

Temanku menjawab: “Tidak... bahkan ia tetap seorang kafir dan musyrik.”

Maka aku katakan kepadanya:

Maka hal ini benar-benar berlaku bagi para pemuja kubur saat ini. Perbuatan-perbuatan mereka telah menghukum mereka dengan kesyirikan dan kekufuran, namun bersamaan dengan hukuman yang nyata ini, mereka tetap mengingkarinya dan tidak mengakuinya.

Perbedaan antara mereka dengan kaum musyrik terdahulu adalah bahwa kaum musyrik terdahulu lebih jujur ketika mereka mengakui penyembahan mereka kepada selain Alloh . Sedangkan kaum musyrik dari kalangan pemuja kubur lebih lihai dalam melakukan penyamaran dan penyesatan ketika mereka melakukan penyembahan kepada selain Alloh kemudian mengingkari penyembahan ini dan menamakannya dengan selain namanya.

4.7 Membongkar Kesamaan Antara Pemuja Kubur dan Kaum Musyrik

Dia berkata (seraya mencoba berdalih): “Aku telah katakan dan masih tetap kukatakan kepada Anda bahwa perbuatan kaum musyrik terdahulu adalah penyembahan kepada selain Alloh , dan dengan perbuatan itulah mereka berhak mendapatkan nama kesyirikan dan sifat kekufuran. Sedangkan perbuatan orang-orang yang bertawasul kepada para Wali saat ini dan beristighotsah kepada mereka bukanlah penyembahan kepada mereka berdua, oleh karena itu tidak benar menghukum mereka dengan kekufuran dan kesyirikan.”

Aku katakan kepadanya:

Anda telah membuatku lelah dengan pengulangan upaya Anda untuk lari dari pengakuan akan kebenaran, yang aku tidak menyangka bahwa orang berakal seperti Anda akan mendebat dalam mengakuinya seperti ini. Aku telah menjelaskan kepada Anda (dengan penjelasan yang tidak butuh tambahan lagi) tentang hakikat keimanan kaum musyrik terdahulu terhadap keberadaan Alloh dan tauhid mereka kepada-Nya Jalla wa ‘Ala (dalam hal Rububiyyah) dengan tauhid yang sempurna. Aku juga telah menjelaskan dengan sangat gamblang tentang hakikat kesyirikan mereka serta sebab-sebab yang mewajibkan mereka dihukum dengannya.

Aku juga telah menjelaskan secara rinci bahwa hukuman kami atas para pemuja kubur ini dengan kesyirikan hanyalah hasil dari perbandingan antara perbuatan mereka dengan perbuatan kaum musyrik terdahulu yang telah Al-Qur’an keluarkan hukumnya lebih dari 13 abad yang lalu. Kami sampai pada kesimpulan (setelah penelitian mendalam dan perbandingan yang benar) bahwa apa yang dilakukan oleh para pemuja kubur saat ini terhadap para Wali mereka berupa doa, istighotsah, penyembelihan, nadzar, rasa takut, dan harapan, adalah bentuk ibadah kepada selain Alloh .

Karena hal itu (secara persis) adalah perbuatan yang sama yang dilakukan oleh kaum musyrik terdahulu terhadap para Wali mereka dan orang-orang yang mereka seru selain Alloh , di mana Alloh menganggap hal itu sebagai ibadah kepada selain-Nya. Akan tetapi Anda tetap bersikeras membedakan hukum antara kedua kelompok tersebut, padahal semuanya (dengan kesamaan maksud dan perbuatan) berkumpul dalam penyembahan kepada selain Alloh .

Selama ini masih tetap menjadi pendapat Anda, maka aku memiliki satu pertanyaan yang aku harap Anda jawab secara rinci, yaitu:

“Bisakah Anda menjelaskan kepadaku hakikat ibadah yang dengannya kaum musyrik menyembah selain Alloh sehingga Alloh menamakan mereka sebagai kaum musyrik dan menghukum mereka dengan kekufuran karenanya?

Aku ingin jawaban dari Anda atas pertanyaan ini agar kita dapat mengetahui apakah ada perbedaan antara kedua kelompok tersebut, yang dengannya kita dapat mengetahui kebenaran teori Anda yang menganggap perbuatan kaum musyrik terdahulu sebagai ibadah kepada selain Alloh namun meniadakan sifat ibadah tersebut dari para pemuja kubur?”

Di sinilah tampak pada dirinya kebingungan dan kegoncangan. Ia menerima pertanyaan ini seolah-olah cambuk yang membakar punggungnya, pertanyaan ini telah menjepitnya di antara dua batu penggilingan. Namun ia tidak menyerah, hanya saja karena saking bingungnya, ia mengakui suatu hakikat yang (sepanjang diskusi) ia coba hindari untuk diakui.

Ia berkata: “Hakikat yang wajib diakui adalah bahwa kaum musyrik terdahulu tidaklah melakukan sesuatu terhadap berhala-berhala mereka lebih dari sekadar mendekatkan diri kepada mereka dengan doa, penyembelihan, nadzar, dan Thowaf, serta ibadah-ibadah dan sarana pendekatan diri yang serupa dengan itu, disertai keyakinan mereka bahwa berhala-berhala tersebut tidak menciptakan, tidak memberi rizqi, tidak menghidupkan, tidak mematikan, tidak menolak keburukan, dan tidak pula mendatangkan kebaikan.

Tujuan mereka dari apa yang mereka lakukan untuk berhala-berhala tersebut hanyalah agar mereka ridho kepada mereka sehingga mereka mendekatkan diri mereka kepada Robb mereka dan memberi syafaat di sisi-Nya, agar mereka menjadi tempat turunnya rohmat dan penjagaan-Nya. Inilah hakikat penyembahan mereka kepada selain Alloh , yang dengannya Alloh menamakan mereka sebagai kaum musyrik dan menghukum mereka dengan kekufuran. Dan aku tidak menyembunyikannya dari Anda, bahkan kukatakan secara terang-terangan bahwa aku sebelumnya tidak mengetahui bahwa inilah hakikat kesyirikan kaum musyrik terdahulu kecuali dari jalannya diskusi yang berlangsung antara aku dan Anda kali ini.”

Aku katakan kepadanya:

Sangat bagus... kalau begitu kita telah sepakat (setelah diskusi panjang) pada salah satu titik terpenting dalam tema ini, yaitu penentuan bentuk ibadah yang dilakukan oleh kaum musyrik terdahulu. Ini tentu berarti Anda mengakui dan menetapkan bahwa doa, penyembelihan, Thowaf, nadzar, ketundukan, dan perendahan diri adalah bentuk ibadah.

Sekarang, setelah Anda berhasil menjawab pertanyaan ini, aku memiliki pertanyaan lain yang aku harap Anda jawab dengan kejujuran yang sama sebagaimana Anda menjawab pertanyaan pertama. Bukankah para pemuja kubur saat ini mengarahkan doa, penyembelihan, nadzar, Thowaf, perendahan diri, dan kekhusyukan kepada para Wali mereka yang telah mati agar mereka ridho kepada mereka sehingga mereka memberi syafaat di sisi Alloh dan menjadi perantara bagi mereka di sisi-Nya?

Dia menjawab: “Bahkan inilah realita keadaan mereka yang tidak mungkin diingkari sama sekali.”

Maka aku katakan kepadanya:

Kalau begitu kita telah sepakat bahwa kedua kelompok tersebut sama dalam hal ini. Para pemuja kubur mengarahkan doa, perendahan diri, penyembelihan, nadzar, dan Thowaf kepada para Wali mereka, dan demikian pula yang dilakukan oleh kaum musyrik terhadap sesembahan mereka selain Alloh . Ini artinya masing-masing dari kedua kelompok tersebut mengarahkan ibadah kepada selain Alloh , dan inilah inti kesyirikan yang diharomkan oleh Alloh . Maka apakah masih ada penghalang bagi Anda untuk mengakui bahwa para pemuja kubur dengan perbuatan mereka ini telah berbuat syirik kepada Alloh , karena kesamaan dan kesatuan mereka dalam maksud dan perbuatan dengan kaum musyrik terdahulu?

4.8 Syiriknya Kaum Terdahulu Adalah Memuja Orang Sholih

Dia berkata: “Ya... penghalang bagiku untuk mengakui hal ini adalah bahwa kaum musyrik terdahulu itu berdoa kepada berhala dan patung yang merupakan buatan tangan mereka sendiri, yang tidak memiliki kedudukan atau martabat di sisi Alloh . Sedangkan para pemuja kubur ini—sebagaimana kalian menamakan mereka—mereka berdoa kepada para Wali dan beristighotsah kepada orang-orang sholih yang memiliki kedudukan dan martabat di sisi Alloh , sebagaimana firman-Nya:

﴿أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾

“Ingatlah, sesungguhnya Wali-Wali Alloh itu tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62)

Maka perbedaannya sangat besar antara batu-batu dan berhala yang dijadikan oleh kaum musyrik sebagai tuhan-tuhan yang mereka sembah dengan para Wali dan orang-orang sholih yang tidak dikatakan oleh orang-orang yang berdoa kepada mereka bahwa mereka adalah tuhan-tuhan selain Alloh .”

Aku katakan kepadanya:

Aku tadi sempat merasa gembira ketika tampak bagiku bahwa Anda mulai menempuh jalan yang benar menuju pengetahuan akan al-haq dan kebenaran, namun sayangnya Anda kembali terjerumus ke dalam kubangan lagi, di mana Anda kembali menempuh jalan berbelit-belit dan penyesatan yang membuat diskusi kita berputar-putar di lingkaran setan, berakhir di mana ia bermula dan bermula di mana ia berakhir. Pembedaan Anda ini sungguh sangat tidak masuk akal dan dangkal, sebuah argumen yang sangat lemah dan rapuh sehingga tidak layak untuk dipertimbangkan apalagi diterima.

Sesuatu yang sudah diketahui oleh seluruh kaum Muslimin (sebagaimana kaidah yang telah ditetapkan) adalah bahwa mengarahkan ibadah (ibadah apa pun) kepada selain Alloh adalah bentuk kekufuran kepada Alloh dan kesyirikan yang mengeluarkan dari agama. Tidak ada bedanya apakah yang diarahkan ibadah kepadanya itu adalah seorang Nabi yang diutus, Malaikat yang dekat dengan Alloh , Wali yang sholih, batu yang bisu, atau syaithon yang durhaka. Ini adalah hal yang tidak diperselisihkan oleh dua orang Muslim pun.

Anda telah mengakui di tengah tahapan diskusi ini bahwa doa, penyembelihan, nadzar, dan Thowaf adalah ibadah. Anggapan Anda bahwa tindakan kaum musyrik yang mengarahkan ibadah ini kepada berhala dan patung mereka sebagai kekufuran dan kesyirikan, namun tindakan para pemuja kubur yang mengarahkan ibadah yang sama kepada para Wali mereka dari kalangan penghuni kubur bukan sebagai ibadah dan bukan kesyirikan, adalah puncak dari sikap memaksakan kehendak dan penyimpangan yang disengaja dari jalan kebenaran, serta upaya nyata untuk mengingkari sesuatu yang kenyataannya sejelas matahari dan bulan.

Pembedaan Anda ini tidak memiliki argumen agama dari Al-Qur’an atau Hadits yang mendukungnya, tidak pula memiliki bukti akal yang memperkuatnya, melainkan hanyalah ucapan yang didiktekan oleh logika pembangkangan dan kesombongan, yang aku tidak menyangka bahwa Anda akan tetap menjadi tawanan dan korbannya.

Dia berkata: “Aku bukan tawanan pembangkangan dan bukan korban kesombongan. Sesungguhnya aku, seperti Anda, memiliki hak untuk mengungkapkan apa yang aku lihat dan aku yakini, dan inilah yang masih aku lihat dan aku yakini. Kita telah sepakat di awal diskusi untuk jujur dalam berdiskusi dan menyingkirkan emosi kita. Maka aku mohon kepada Anda untuk tidak emosi dan membiarkan aku bebas mengungkapkan apa yang aku lihat. Jika pendapat yang aku pegang tidak berkenan bagi Anda, maka merupakan hak Anda untuk membatalkan dan menolaknya dengan apa yang Anda anggap sebagai hujah dan bukti, dengan catatan hal itu dilakukan tanpa emosi atau kekasaran dalam bicaranya, karena hal itu memiliki dampak buruk dalam diskusi yang tidak membantu tercapainya tujuan yang diinginkan.”

Aku katakan kepadanya:

Aku sependapat dengan Anda bahwa emosi dan kekasaran dalam bicara saat diskusi tidak membantu tercapainya tujuan yang diinginkan dari diskusi tersebut, dan aku akan berusaha keras menyelamatkan Anda dari apa yang aku yakini sebagai kesesatan.

4.9 Penjelasan Tentang Hakikat Berhala

Karena Anda masih bersikeras membedakan hukum antara kedua kelompok tersebut, dan hujah atau syubhat (tepatnya) adalah bahwa kaum musyrik terdahulu menjadikan batu-batu sebagai berhala dan patung untuk mendekatkan diri kepada Alloh , sedangkan para pemuja kubur saat ini hanya menuju kepada para Wali dan orang sholih, maka aku siap untuk menghilangkan syubhat yang lemah ini. Aku akan membuktikan kepada Anda bahwa kaum musyrik terdahulu itu persis seperti para pemuja kubur saat ini; mereka tidak mengarahkan penyembelihan, nadzar, Thowaf, dan doa kecuali kepada hamba-hamba yang mereka yakini kesholihan dan keistiqomahannya dari kalangan manusia, dan bahwa mereka pada hakikatnya tidaklah menyembah kecuali para Wali dan orang-orang sholih.

Patung-patung dan tugu-tugu itu tidaklah mereka sembah karena dzatnya, melainkan mereka menyembah orang-orang yang disimbolkan oleh berhala, patung, dan tugu tersebut serta dinamakan dengan nama-nama mereka (seperti Yaghuts, Ya’uq, Wadd, Nasr, Suwa’, Latta, dan Uzza). Adapun dalil bahwa kaum musyrik terdahulu itu (seperti para pemuja kubur saat ini) menyembah para Wali dan orang sholih serta menjadikan mereka sebagai tuhan selain Alloh , maka hal itu ada di dalam Al-Qur’anul Karim, hanya saja kalian tidak mendapat petunjuk kepadanya. Alloh telah menyeru mereka semua dengan firman-Nya:

﴿إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾

“Sesungguhnya mereka yang kalian seru selain Alloh adalah hamba-hamba yang serupa dengan kalian. Maka serulah mereka, dan biarlah mereka memperkenankan permintaan kalian, jika kalian adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-A’rof: 194)

﴿مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ﴾

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Alloh adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 41)

Kemudian Dia meletakkan kaidah umum dalam ibadah bagi semuanya di setiap zaman dan tempat ketika berfirman:

﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى﴾

“Ingatlah, hanya milik Alloh agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain-Nya (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.’(QS. Az-Zumar: 3)

﴿قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا﴾

“Katakanlah: ‘Maka patutkah kalian mengambil pelindung-pelindung selain-Nya, padahal mereka tidak memiliki kekuasaan untuk mendatangkan manfaat dan tidak pula menolak mudhorot bagi diri mereka sendiri?’” (QS. Ar-Ro’d: 16)

﴿أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ﴾

“Maka apakah orang-orang kafir itu mengira bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku menjadi pelindung selain Aku?” (QS. Al-Kahfi: 102)

﴿أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ فَاللَّهُ هُوَ الْوَلِيُّ﴾

“Ataukah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Dia? Maka Alloh, Dialah Pelindung yang sebenarnya.” (QS. Asy-Syuro: 9)

﴿قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾

“Katakanlah: ‘Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Alloh yang menjadikan langit dan bumi?’” (QS. Al-An’am: 14)

Maka ayat-ayat yang mulia ini membuktikan (tanpa menyisakan keraguan sedikit pun) bahwa kaum musyrik terdahulu itu (seperti para pemuja kubur saat ini) berdoa kepada para Wali dan orang sholih serta menjadikan tuhan-tuhan dari mereka yang mereka sembah dengan doa, penyembelihan, nadzar, Thowaf, rasa takut, dan harapan agar mereka memberi syafaat dan mendekatkan mereka kepada Alloh sedekat-dekatnya.

Bahwa berhala, tugu, patung, dan berhala (seperti Latta, Uzza, Manat, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr) hanyalah merepresentasikan para Wali dan orang sholih tersebut dengan membawa nama-nama mereka. Jadi mereka (kaum musyrik terdahulu) tidak menyembah berhala dan patung ini karena dzatnya, melainkan mereka menyembah orang-orang yang direpresentasikan di dalamnya, dari kalangan mereka yang mereka sangka baik, dan mereka yakini sebagai para Wali dan orang sholih, persis seperti yang dilakukan oleh para pemuja kubur saat ini.

Dengan ini jelaslah bagi Anda bahwa kedua kelompok tersebut—para pemuja kubur dan kaum musyrik terdahulu—adalah sama dalam hal penyembahan kepada para Wali. Satu-satunya perbedaan antara kedua kelompok tersebut adalah bahwa kaum musyrik dahulu berdiam di sekitar patung dan tugu yang membawa nama-nama Wali mereka, mereka menuju dan menghadap kepadanya. Sedangkan para pemuja kubur saat ini berdiam di sekitar kuburan, peti jenazah, makam, dan tempat-tempat keramat yang membawa nama-nama Wali mereka, mereka menuju dan menghadap kepadanya. Padahal maksud yang sebenarnya bukanlah tugu dan patung tersebut, bukan pula kuburan, peti jenazah, dan makam ini, melainkan maksudnya adalah siapa yang membawa nama-nama tersebut.

Seandainya Anda bertanya hari ini kepada salah seorang pemuja kubur yang kembali dari (ziarah) Al-Badawi (misalnya): “Dari mana Anda datang?” Niscaya ia akan menjawab kepada Anda: “Aku datang dari sisi tuanku Al-Badawi.” Padahal ia (pada hakikatnya) tidak datang dari sisi Al-Badawi, tidak pernah mengenalnya, dan tidak pula pernah melihatnya, melainkan ia datang dari sisi kuburan atau peti jenazah yang membawa nama Al-Badawi. Hal yang sama juga terjadi pada kaum musyrik terdahulu yang secara realita tidak pergi kepada (Latta, Yaghuts, atau Ya’uq itu sendiri), melainkan mereka pergi dan menghadap kepada tugu-tugu, berhala, dan patung yang membawa nama-nama para Wali tersebut atau orang yang mereka sangka sebagai Wali .

Temanku berkata: “Dari mana Anda mendapatkan dalil bahwa kaum musyrik terdahulu itu tidak menyembah tugu, berhala, dan patung yang terbuat dari batu, emas, atau tembaga karena dzatnya, melainkan mereka menyembah para Wali dan orang sholih yang nama-namanya digunakan untuk tugu dan patung tersebut?”

Maka aku katakan kepadanya:

Adapun dalil yang pasti mengenai hal itu, sebenarnya Anda bisa memahaminya dari ayat-ayat mulia yang telah lalu yang membuktikan (tanpa menyisakan keraguan sedikit pun) bahwa kaum musyrik terdahulu tidaklah menyembah kecuali para Wali dan orang sholih, dan aku telah menyebutkannya untuk Anda dalam diskusi sebelumnya.

Akan tetapi, sebagai tambahan dalam penyampaian dan perluasan dalam penegakan hujah serta keinginan untuk menghilangkan setiap syubhat yang mungkin Anda pegang, aku akan menyebutkan kepada Anda—In Syaa Alloh—apa yang mendukung ucapanku ini dan meruntuhkan syubhat terakhir yang mungkin Anda gunakan untuk tetap pada pendapat yang Anda pegang.

1- Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Berhala-berhala yang dahulu ada pada kaum Nuh berpindah ke bangsa Arob. Adapun ‘Wadd’, ia menjadi milik kabilah Kalb di Daumatul Jandal. ‘Suwa’ menjadi milik kabilah Hudzail. ‘Yaghuts’ menjadi milik kabilah Murod kemudian berpindah ke Bani Ghothoif di Al-Jurf dekat Saba’. Adapun ‘Ya’uq’, ia menjadi milik kabilah Hamdan. Sedangkan ‘Nasr’ menjadi milik kabilah Himyar untuk keluarga Dzul Kala’. Semuanya itu adalah nama-nama orang sholih dari kaum Nuh. Ketika mereka wafat, syaithon membisikkan kepada kaum mereka agar mendirikan tugu-tugu di majelis-majelis tempat mereka biasa duduk, dan menamakannya dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukannya, namun tugu-tugu itu belum disembah. Hingga ketika generasi tersebut telah wafat dan ilmu telah terangkat, maka tugu-tugu itu pun disembah...”

2- Senada dengan ucapan Ibnu Abbas, Al-Kalbi (204 H) dalam kitabnya (Al-Ashnam) hal. 52 mengatakan sebagai berikut: “Kemudian datanglah generasi ketiga, lalu mereka berkata: Tidaklah pendahulu kita mengagungkan mereka ini kecuali karena mereka mengharapkan syafaat mereka di sisi Alloh, maka mereka pun menyembah mereka.”

3- Muhammad bin Ka’ab (120 H) berkata tentang (Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr): “Ini adalah nama-nama kaum yang sholih yang hidup antara Adam dan Nuh. Ketika mereka mati, mereka memiliki pengikut yang meneladani mereka dan mengambil jalan mereka dalam ibadah. Maka datanglah Iblis kepada mereka dan berkata: ‘Seandainya kalian membuat gambar-gambar mereka, niscaya itu akan membuat kalian lebih bersemangat dan lebih rindu untuk beribadah.’ Maka mereka pun melakukannya. Kemudian tumbuhlah generasi setelah mereka, lalu Iblis berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dahulu menyembah mereka, maka mereka pun menyembah mereka.”

Maka permulaan penyembahan berhala adalah dari hal tersebut, dan gambar-gambar itu dinamai dengan nama-nama tersebut karena mereka menggambarkannya sesuai rupa kaum dari kalangan Muslimin tersebut.

Ibnu Jarir (310 H) meriwayatkan dari Muhammad bin Qois ucapannya: “Mereka adalah kaum yang sholih antara Adam dan Nuh, dan mereka memiliki pengikut yang meneladani mereka. Masyarakat berkata: ‘Seandainya kita menggambar mereka, niscaya itu akan membuat kita lebih rindu untuk beribadah jika kita mengingat mereka, maka mereka pun menggambarnya.” Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Ikrimah (105 H), Ad-Dhohhak (105 H), Qotadah (118 H), dan Ibnu Is-haq (150 H).

4- Adapun Latta, Al-Bukhori (256 H) telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhu: “Latta adalah seorang laki-laki yang dahulu mengaduk adonan gandum untuk para jamaah Haji.”

Ibnu Kalbi (204 H) dalam (Al-Ashnam) hal. 16 berkata: “Latta berada di Thoif, ia lebih baru daripada Manat. Ia berupa batu persegi, dan ada seorang Yahudi yang dahulu mengaduk adonan gandum di sisinya.” Ini sama seperti ucapan Ibnu Abbas.

5- Asy-Syahrostani (548 H) penulis kitab Al-Milal wan Nihal berkata: “Penempatan berhala di mana pun diperkirakan hanyalah didasarkan pada sesembahan yang memiliki kehidupan namun ghoib (tidak tampak), sehingga berhala yang dibuat sesuai rupa, bentuk, dan rupanya itu menjadi pengganti kedudukannya dan berdiri menempati posisinya. Jika tidak demikian, maka kita tahu secara pasti bahwa orang berakal tidak akan memahat dengan tangannya sendiri suatu benda berbentuk gambar, kemudian meyakini bahwa benda itu adalah tuhan. Akan tetapi kaum tersebut ketika mereka berdiam untuk menghadap kepadanya, dan menggantungkan hajat-hajat mereka kepadanya—tanpa izin, hujah, bukti, maupun keterangan dari Alloh —maka berdiamnya mereka itu merupakan suatu penyembahan, dan permintaan hajat mereka darinya merupakan penetapan ketuhanan baginya. Karena itulah mereka berkata: ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.’ Maka apakah setelah ini masih tersisa keraguan pada diri Anda bahwa berhala-berhala itu hanyalah didirikan dengan nama-nama orang yang diyakini kesholehannya oleh kaum mereka dan mereka cintai, dan bahwa berhala-berhala ini tidak disembah karena dzatnya, melainkan disembah karena mengikuti penyembahan kepada orang yang namanya digunakan untuk berhala tersebut?”

Dia berkata—dan tampak pada dirinya tanda-tanda menerima kekuatan argumen yang aku jelaskan kepadanya—: “Akan tetapi masalah ini masih banyak mengandung kemusykilan. “Dan (ingatlah) ketika Ibrohim berkata: ‘Wahai Robbku, jadikanlah negeri ini aman, dan jauhkanlah aku serta anak cucuku dari menyembah berhala.’” (QS. Ibrohim: 35)

Aku katakan kepadanya:

Jelaskan kepadaku kemusykilan ini, dan aku In Syaa Alloh akan menjelaskan kepada Anda segala hal yang Anda anggap musykil dalam masalah ini.

Ia berkata:

“Telah jelas dari ayat-ayat dan atsar yang Anda sebutkan bahwa Anda ingin membuktikan bahwa kaum musyrik terdahulu tidaklah menyembah kecuali para Wali dan orang sholih, agar Anda dapat membuktikan melalui jalur qiyas bahwa para pemuja kubur—sebagaimana Anda menamakan mereka—juga menyembah para Wali dan orang sholih. Akan tetapi disebutkan dalam ayat-ayat yang Anda sampaikan bahwa kaum musyrik menyembah berhala dengan penyembahan yang hakiki karena dzatnya. Seandainya mereka tidak menyembahnya karena dzatnya melainkan menyembah para Wali dan orang sholih yang namanya dibawa oleh berhala tersebut, niscaya Alloh akan menjelaskannya kepada kita dan Al-Qur’an akan mencukupkan diri dengan mencela kaum musyrik atas penyembahan mereka kepada para Wali selama mereka tidak menyembah kecuali para Wali tersebut, dan selama mereka (kaum musyrik terdahulu) tidak bersandar pada berhala-berhala ini untuk memberi syafaat bagi mereka di sisi Alloh .

Akan tetapi, sebagian besar peringatan dan celaan yang datang dalam Al-Qur’an bagi kaum musyrik mengenai tema ini justru terfokus pada pelarangan mereka dari menyembah berhala, patung, dan tugu.

﴿فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ﴾

“Maka jauhilah najis dari berhala-berhala itu dan jauhilah perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)

﴿إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا﴾

“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Alloh hanyalah berhala-berhala, dan kalian membuat kebohongan.” (QS. Al-Ankabut: 17)

﴿وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾

“Dan dia berkata: ‘Sesungguhnya kalian hanya menjadikan berhala-berhala selain Alloh sebagai rasa cinta di antara kalian dalam kehidupan dunia ini.’” (QS. Al-Ankabut: 25)

﴿فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ﴾

“Maka mereka sampai kepada suatu kaum yang sedang menyembah berhala-berhala milik mereka.” (QS. Al-A’rof: 138)

﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً﴾

“Dan (ingatlah) ketika Ibrohim berkata kepada ayahnya, Azar: ‘Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?’” (QS. Al-An’am: 74)

﴿قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ﴾

“Mereka menjawab: ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa berdiam diri (menyembah) kepadanya.’” (QS. Asy-Syu’aro: 71)

﴿وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ﴾

“Dan demi Alloh, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian setelah kalian pergi meninggalkannya.” (QS. Al-Anbiya: 57)

﴿وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ، إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ﴾

“Dan sungguh telah Kami berikan kepada Ibrohim petunjuknya sebelum itu, dan Kami mengetahuinya. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian senantiasa menyembahnya?’” (QS. Al-Anbiya: 51-52)

Maka ayat-ayat ini memberikan gambaran bahwa kaum musyrik dahulu menyembah berhala dan patung karena dzatnya, oleh karena itu datanglah larangan menyembah patung dan berhala ini secara tegas sebagaimana larangan ini juga datang mengenai penyembahan kepada para Wali.”

Aku katakan kepadanya:

Ya, benar telah tetap larangan ini dari menyembah berhala dan juga dari menyembah para Wali. Hal ini secara terang-terangan menghukum para pemuja kubur dengan hukuman menyembah selain Alloh karena mereka menyembah para Wali. Seandainya tidak ada dalam Al-Qur’an kecuali larangan menyembah selain Alloh dengan menyebutkan berhala namun mengabaikan penyebutan para Wali, niscaya kita tetap menganggap para pemuja kubur sebagai penyembah Wali karena para Wali tersebut adalah selain Alloh . Para pemuja kubur ini mengarahkan kepada mereka ibadah yang sama dengan yang diarahkan oleh kaum musyrik kepada berhala mereka (berupa doa, penyembelihan, nadzar, rasa takut, dan harapan). Hal ini berlaku seandainya kita mengasumsikan bahwa kaum musyrik terdahulu tidak menyembah kecuali berhala dan patung dari batu, tembaga, emas, dan benda mati lainnya.

Akan tetapi yang sudah tetap adalah bahwa kaum musyrik tersebut menyembah para Wali dan orang sholih karena dzat mereka, dan menyembah berhala, patung, serta tugu bukan karena dzatnya melainkan mengikuti penyembahan kepada sesembahan mereka yang hakiki dari kalangan para Wali dan orang sholih yang nama-namanya digunakan untuk berhala, patung, dan tugu tersebut, sebagaimana telah aku jelaskan kepada Anda sebelumnya dengan dalil-dalil yang pasti.

Karena itulah Alloh mensifati mereka kadang sebagai penyembah berhala, dan kadang sebagai penyembah Wali. Mereka adalah penyembah berhala dengan upaya mendatangi, melakukan Thowaf di sekitarnya, berdiam diri di sisinya, dan mempersembahkan kurban untuknya. Mereka juga adalah penyembah Wali dengan doa mereka kepada pemilik berhala tersebut, permintaan hajat dari mereka, serta penyandaran kepada mereka sebagai pemberi syafaat dan perantara di sisi Alloh tanpa izin dari-Nya.

Demikian pula para pemuja kubur saat ini; mereka mencium kelambu makam, melakukan Thowaf di sekitarnya, menghiasinya, membangun kubah di atasnya, dan mempersembahkan nadzar untuknya. Maka dengan ini mereka adalah penyembah kubur secara terang-terangan dan penyembah Wali secara tersirat. Kemudian mereka dalam Thowaf mereka di sekitar makam berdoa kepada pemiliknya yang sudah mati, beristighotsah kepadanya, meminta pertolongan, dan meminta bantuan (madad). Maka dengan ini mereka adalah penyembah Wali secara terang-terangan dan penyembah kubur secara tersirat.

Maka jika Anda menamakan mereka sebagai penyembah kubur, Anda benar, dengan mempertimbangkan apa yang mereka perbuat terhadap kuburan. Dan jika Anda menamakan mereka sebagai penyembah Wali, Anda benar, dengan mempertimbangkan ibadah yang mereka arahkan kepada Wali-Wali mereka berupa doa, nadzar, sumpah, rasa takut, dan harapan. Mereka tetaplah dalam kedua keadaan tersebut berada dalam kesyirikan yang besar (syirik akbar). Dan jika Anda menamakan mereka sebagai penyembah ilusi dan hawa nafsu, Anda pun benar. Penyembah kubur hanyalah terfitnah oleh hawa nafsunya hingga tersesat, lalu ia pun menyembah hawa nafsu tersebut. Begitu pula dengan pemuja kubur, sesungguhnya dia hanyalah membayangkan sesuatu di dalam bangunan makam tersebut dan melakukan untuknya apa yang dipicu oleh gejolak syahwatnya.

Dengarlah apa yang dikatakan oleh Ustadz Abdurrohman Al-Wakil (1390 H) dalam kitabnya Da’wah Al-Haq hal. 62 mengenai penggunaan kata Man (siapa) dan Ma (apa) untuk menyebut sesembahan kaum musyrikin serta penjelasan hakikat hal tersebut.

Inilah rahasia penggunaan kata Man pada suatu tempat dan kata Ma di tempat lainnya dalam satu kisah yang sama di Al-Qur’an. Atau rahasia penggunaan kata yang menunjukkan sesuatu yang berakal dan kata yang menunjukkan sesuatu yang tidak berakal pada satu konteks, di mana yang satu diletakkan di posisi yang lain dalam satu kisah.

Apabila digunakan kata Ma yang menunjukkan sesuatu yang tidak berakal, maka yang dimaksud adalah berhala-berhala dan patung-patung yang didirikan atas nama para wali. Kedua istilah tersebut tidaklah berbeda satu sama lain kecuali dari sudut pandang peninjauannya saja, atau keduanya sama-sama mengungkapkan tentang selain Alloh yang disembah tersebut.

Kata Man dikhususkan untuk zatnya, sedangkan kata Ma dikhususkan untuk berhala atau kuburan yang didirikan atas namanya.

4.10  Rahasia Penggunaan Kata Man dan Ma dalam Al-Qur’an

﴿وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ﴾

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Alloh yang tidak dapat memperkenankan doanya sampai hari Qiyamah.” (QS. Al-Ahqof: 5)

Sedangkan pada ayat sebelum ini dalam surat yang sama yaitu Al-Ahqof disebutkan:

﴿قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الأَرْضِ﴾

“Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Alloh; perlihatkanlah kepadaku bagian manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan.” (QS. Al-Ahqof: 4)

Maka Dia mengungkapkan satu hal yang sama dengan menggunakan kata Man dan Ma. Jangan sampai para pemuja kubur menipumu dari kebenaran dengan mencampuradukkannya dengan kebathilan, ketika mereka mengklaim bahwa kesyirikan Jahiliyyah itu sebabnya adalah berdoa kepada berhala, dan karena itulah Alloh mengungkapkannya dengan kata Ma yang menunjukkan sesuatu yang tidak berakal, sedangkan kami hanyalah berdoa kepada para wali.

Engkau telah mengetahui dari Al-Qur’an rahasia penggunaan kata Man dan Ma, dan engkau telah melihat Dia mengungkapkannya dengan kedua kata tersebut pada satu tempat, serta meletakkan salah satunya di posisi yang lain sebagaimana telah aku jelaskan kepadamu sebelumnya:

﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ * إِذْ قَالَ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ * قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَاماً فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ * قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ * أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ * قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ * قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ * أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأَقْدَمُونَ * فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إلاَّ رَبَّ الْعَالَمِينَ﴾

“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrohim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.’ Ibrohim berkata: ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar doa kalian sewaktu kalian berdoa? Atau dapatkah mereka memberi manfaat atau mencelakakan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Bukan begitu, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat demikian.’ Ibrohim berkata: ‘Maka apakah kalian memperhatikan apa yang selalu kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang dahulu? Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, kecuali Robb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’aro: 69-76)

Nabi Ibrohim berkata: “Apakah mereka mendengar kalian” setelah mereka berkata: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya,” agar engkau memahami bahwa yang beliau maksudkan adalah sosok-sosok yang atas nama mereka berhala-berhala ini didirikan. Jika tidak demikian, tentu beliau akan berkata: “Apakah ia mendengar kalian”. Kemudian disebutkan:

﴿قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ﴾

“Ibrohim berkata: ‘Maka apakah kalian memperhatikan apa yang selalu kalian sembah.”

Setelah itu disebutkan:

﴿فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلاَّ رَبَّ الْعَالَمِينَ﴾

“Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, kecuali Robb semesta alam.”

Hal ini memberikan kesan kepadamu bahwa Nabi Ibrohim memaksudkan berhala-berhala tersebut sekaligus sosok-sosok yang atas nama mereka berhala itu didirikan. Jika tidak demikian, tentu beliau akan berkata “Sesungguhnya ia adalah musuhku” dan tidak menggunakan kata “Mereka” (hum), karena “Hum” adalah kata ganti untuk makhluk yang berakal.

4.11  Kesatuan Hakikat di Balik Berbagai Sebutan Sesembahan

Demikianlah dalam ayat-ayat yang membahas satu kisah yang sama, sesembahan kaum musyrikin diungkapkan dengan lafazh-lafazh yang menunjukkan makhluk berakal dan juga dengan lafazh yang menunjukkan selain itu. Hal ini dikarenakan penjelasan yang telah lewat bahwa seorang musyrik, dengan menyembah satu orang wali, sebenarnya ia telah menyembah tuhan yang beraneka ragam. Di antaranya adalah: tuhan berupa berhala atau kuburan yang ia dirikan atas nama wali tersebut, atau tirai di balik penyembahannya kepada tuhan berupa wali itu sendiri.

Berdasarkan apa yang telah disebutkan sebelumnya berupa penjelasan sebab-sebab mengapa Alloh menyifati mereka sebagai penyembah tuhan-tuhan, pengambil sekutu-sekutu, serta penyembah berhala, patung, dan arca, maka engkau harus meyakini bahwa ini semua adalah hasil dari penyembahan terhadap wali, dan bahwasanya fitnah terhadap orang-orang sholih adalah sebab terjadinya kesyirikan.

Apabila engkau melihat adanya perbedaan dalam penyebutan terhadap apa yang disembah oleh kaum musyrikin, maka hal itu hanyalah karena perbedaan sudut pandang peninjauannya saja, padahal hakikatnya adalah  satu. Adapun sudut pandang peninjauan yang menyebabkan perbedaan penamaan bagi para sesembahan selain Alloh tersebut, maka inilah yang dikatakan oleh Ustadz Abdurrohman Al-Wakil (1390 H) dalam kitabnya Da’wah Al-Haq juga:

Sesembahan mereka disifati sebagai Wali dengan meninjau loyalitas mereka kepadanya melalui doa dan lainnya, dan inilah sifat yang paling mendasar. Ia juga disifati sebagai sekutu (syariik) dengan meninjau bahwa mereka telah menyekutukannya dalam ibadah bersama Alloh. Ia juga disebut sebagai Ilah dengan meninjau bahwa mereka telah mempertuhankannya dengan segala makna mempertuhankan, mulai dari penyembahan, merasa takut dan berlindung kepadanya, hingga meminta pertolongan kepadanya. Ia juga disifati sebagai berhala (wathon atau shonam) atau arca (timtsaal) dengan meninjau pada penampakan fisik yang terindera, atau dengan meninjau pada apa yang didirikan atas nama wali yang disembah tersebut. Ia juga disifati sebagai Thoghut dengan meninjau bahwa ia telah menyesatkan mereka dan mereka pun tersesat karenanya. Serta disebut sebagai syaithon dengan meninjau bahwa dialah sumber godaan untuk menyembah sesembahan ini:

﴿إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلاَّ إِنَاثاً وَإِنْ يَدْعُونَ إِلاَّ شَيْطَاناً مَرِيداً﴾

“Yang mereka sembah selain Alloh itu tidak lain hanyalah berhala, dan mereka tidak lain hanyalah menyembah syaithon yang sangat durhaka.” (QS. An-Nisa: 117)

Di sini ia disifati sebagai berhala perempuan dan sebagai syaithon dalam satu ayat sekaligus.

Kholilullah (‘alaihis salam) juga berkata kepada bapaknya:

﴿يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ﴾

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithon.” (QS. Maryam: 44)

Ia juga disifati sebagai persangkaan (zhon) dengan meninjau apa yang mereka sangkakan padanya berupa manfaat dan mudhorot. Ia pun disebut sebagai hawa nafsu dengan meninjau bahwa mereka tunduk kepada hawa nafsu mereka dalam menyembahnya:

﴿وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ﴾

“Dan orang-orang yang menyembah sekutu-sekutu selain Alloh, tidaklah mengikuti kecuali persangkaan belaka dan mereka hanyalah menduga-duga.” (QS. Yunus: 66)

﴿إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى﴾

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, padahal sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Robb mereka.” (QS. An-Najm: 23)

﴿أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ﴾

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Sesembahan mereka juga disifati sebagai Nama-nama (asma’) yang tidak ada wujud bagi pemilik nama tersebut, dengan meninjau pada kenyataan yang ada di mana mereka menamakan mereka sebagai para wali, padahal Alloh-lah Sang Wali. Mereka juga disebut sebagai pemberi syafaat (syufa’a), padahal hanya Alloh-lah yang memiliki syafaat itu sendirian:

﴿مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلاَّ أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ﴾

“Apa yang kalian sembah selain Alloh itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat-buat saja, sedangkan Alloh tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.” (QS. Yusuf: 40)

Maka janganlah kaum musyrikin memfitnahmu dengan banyaknya penyifatan tersebut, karena sesungguhnya itu semua merujuk pada satu sosok yang disifati, yaitu selain-Alloh yang disembah selain-Nya. Jangan pula tertipu dengan perbedaan ungkapan, karena hakikat yang diungkapkan itu adalah satu. Tidak ada alasan lagi bagi kaum musyrikin saat ini dengan khurofat bahwa masyarakat Jahiliyyah dahulu berbuat syirik karena menyembah berhala dan menamakannya sebagai tuhan-tuhan, sedangkan mereka ini hanyalah berdoa kepada para wali. Sungguh, kebenaran dari Al-Qur’an telah jelas benderang menyinari dan melenyapkan kegelapan yang dibawa oleh kebathilan.[NK]

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url