[PDF] Keutamaan dan Amalan Hari Arofah - Edisi 2 - Nor Kandir
﷽
Berikut beberapa keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijjah).
Harapannya: dengan mengetahui keutamaan ini kita semakin bersemangat beribadah
di dalamnya.
1. Dzulhijjah dan Romadhon
Ahli ilmu berselisih pendapat mana yang lebih utama dari
keduanya. Pendapat pertengahan mengatakan: “Ditinjau malam: 10 akhir
Romadhon lebih utama, dan ditinjau siang: 10 awal Dzulhijjah lebih
utama.” Ini pendapat Ibnu Taimiyyah (728 H), Ibnu Katsir (774 H), Ibnu Rojab (795
H).
Dari Ibnu Abbas, Nabi ﷺ
bersabda:
«مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ
الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ»، فَقَالُوا:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ: «وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ»
“Tidak ada hari-hari (dalam setahun) yang amal sholih pada
hari-hari tersebut lebih Allah cintai, melebihi 10 awal Dzulhijjah.”
Orang-orang bertanya: “Tidak pula berjihad wahai Rosulullah?” Beliau menjawab:
“Tidak pula berjihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar membawa jiwa
dan hartanya dan tidak ada yang kembali pulang.” (HR. Al-Bukhori dan ini
lafazh At-Tirmidzi no. 757)
Ibnu Abbas menafsirkan firman Allah: (وَلَيَالٍ
عَشْرٍ) “demi 10 malam” dengan 10 malam dari awal Dzulhijjah.
Ini juga pendapat Abdullah bin Az-Zubair, Mujahid, Masruq, Ikrimah, Qotadah,
Adh-Dhohhak, dan kebanyakan Salaf hingga Ath-Thobari menyatakan ini kesepakatan
ulama tafsir. (Tafsir Ath-Thobari, 24/264)
2. Hari Terbaik dalam Setahun
Hari terbaik dalam setahun (354 hari dari Hijriyah) adalah
hari Arofah (9 Dzulhijjah) dan hari Nahr/Idul Adha (10 Dzulhijjah).
Dari Uqbah bin Amir, Nabi ﷺ
bersabda:
«يَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ
النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ، عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ
أَكْلٍ وَشُرْبٍ»
“Hari Arofah, hari Nahr, hari-hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah)
adalah hari raya kita umat Islam, hari makan dan minum.” (HSR. At-Tirmidzi
no. 773)
Ahli ilmu berselisih pendapat mana dari keduanya yang paling
utama.
Hari Nahr lebih utama dan ini pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul
Qoyyim, Bin Baz: Dari Abdullah bin Qurth, Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ
عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ»
“Sungguh hari terbaik di sisi Allah adalah hari Nahr (10
Dzulhijjah) lalu hari Qor (hari-hari Tasyriq)”. (HSR. Abu Dawud no. 1765)
Hari Arofah lebih utama dan ini pendapat Al-Iroqi,
As-Suyuthi, Az-Zarqoni, Ath-Thibi, dan Prof. Dr. Abdurrozzaq Al-Badr.
Dari Jabir, Nabi ﷺ
bersabda:
«مَا مِنْ يوْمٍ أَفْضَلُ
عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يوْمِ عَرَفَةَ»
“Tidak ada hari yang lebih utama di sisi Allah melebihi hari
Arofah.” (HSR. Ibnu Hibban no. 3853)
Nabi ﷺ
menafsirkan (وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ)
“demi yang menyaksikan dan demi yang disaksikan” dengan:
«وَاليَوْمُ المَشْهُودُ
يَوْمُ عَرَفَةَ، وَالشَّاهِدُ يَوْمُ الجُمُعَةِ»
“Yang disaksikan adalah hari Arofah dan yang menyaksikan adalah
hari Jum’at.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3339)
3. Wukuf di Arofah Inti Haji
Dari Abdurrohman bin Ya’mar, Nabi ﷺ
bersabda:
«الحَجُّ عَرَفَةُ»
“Haji adalah Arofah.” (HSR. At-Tirmidzi no. 889)
Sementara Haji adalah rukun Islam ke-5, yang bangunan Islam
seseorang tidak akan sempurna hingga ia berhaji. Balasan terbesarnya ada 3:
diampuni dosanya, dijamin Surga, dan dihilangkan darinya kefakiran.
Dari Abu Huroiroh, Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ
يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»
“Siapa yang berhaji karena Allah dan tidak melakukan rofats
(ucapan dan perbuatan intim) maupun kefasikan (maksiat) maka ia pulang seperti
di hari ia dilahirkan (tanpa dosa).” (HR. Al-Bukhori no. 1521)
Dari Abu Huroiroh, Nabi ﷺ
bersabda:
«وَالحَجُّ المَبْرُورُ
لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»
“Haji Mabrur balasannya Surga.” (HR. Al-Bukhori no. 1773 dan
Muslim no. 1349)
Mabrur artinya baik dan taat, yakni taat dalam manasik haji
dan sepulang dari Haji.
Dari Ibnu Mas’ud, Nabi ﷺ
bersabda:
«تَابِعُوا بَيْنَ الحَجِّ
وَالعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الكِيرُ
خَبَثَ الحَدِيدِ، وَالذَّهَبِ، وَالفِضَّةِ»
“Kerjakan Haji dan Umroh lagi setelah mengerjakannya, karena
keduanya menghilangkan kafakiran dan dosa sebagaimana kir menghilangkan
karat besi, emas, dan perak.” (HSR. At-Tirmidzi no. 810)
4. Hari Disempurnakan Agama
Islam disempurnakan Allah pada hari Arofah tahun ke-10 H
pada Haji Wada, yaitu dengan turunnya firman Allah:
﴿اليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ
دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا﴾
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian,
Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridho Islam sebagai agama untuk
kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)
Dari Umar bin Al-Khoth-thob, bahwa seorang Yahudi berkata
kepadanya: “Hai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dalam Kitab kalian seandainya
turun kepada kami, akan kami jadikan sebagai hari raya.” Tanya Umar: “Apa itu?”
Dia berkata: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, Aku
sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridho Islam sebagai agama untuk
kalian.” Umar berkata:
«قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ
اليَوْمَ، وَالمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ»
“Sungguh aku tahu hari
tersebut dan tempat turunnya ayat itu kepada Nabi ﷺ,
yaitu saat beliau berdiam (wukuf) di Arofah pada hari Jum’at.” (HR.
Al-Bukhori no. 45 dan Muslim no. 3017)
5. Dibebaskan dari Neraka
Hari Arofah menjadi hari terbanyak Allah membebaskan
hamba-Nya dari daftar penghuni Neraka. Dari Aisyah, Nabi ﷺ
bersabda:
«مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ
مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ
لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟»
“Tidak ada hari yang Allah paling banyak memerdekakan hamba dari
Neraka melebihi hari Arofah. Allah mendekat (kepada hamba-Nya yang wukuf di
Arofah) lalu membanggakan mereka kepada para Malaikat dan berkata: ‘Apa yang
diingankan mereka?’” (HR. Muslim no. 1348)
Dalam hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash ada tambahan
“sore”:
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
يُبَاهِي مَلَائِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا
إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا»
“Allah membanggakan kepada para Malaikat-Nya orang-orang di
Arofah pada sore Arofah dan berkata: ‘Lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka
mendatangiku dalam keadaan rambutnya acak-acakan dan berdebu.’” (HSR. Ahmad
no. 7089)
6. Diampuni Dosa-Dosa Mereka
Dalam hadits Ibnu Umar ada tambahan:
«هَؤُلَاءِ عِبَادِي جَاءُونِي
شُعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَرْجُونَ رَحْمَتِي، وَيَخَافُونَ عَذَابِي،
وَلَمْ يَرَوْنِي، فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي فَلَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ رَمْلِ عَالِجٍ،
أَوْ مِثْلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَوْ مِثْلُ قَطْرِ السَّمَاءِ ذُنُوبًا غَسَلَهَا
اللهُ عَنْكَ»
“Mereka para hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan
rambutnya acak-acakan (terkena angin) dan berdebu, datang dari penjuru bumi,
mereka mengharapkan rohmat-Ku dan takut siksa-Ku, padahal mereka belum pernah
melihat-Ku. Bagaimana jika mereka melihat-Ku?” Nabi ﷺ
melanjutkan: “Seandainya kamu memiliki dosa sebanyak butiran pasir, atau
sebanyak hari-hari dunia atau sebanyak tetesan air hujan, Allah akan
membersihkannya darimu.” (HHR. Ath-Thobaroni no. 13566 dalam Al-Kabir)
Dalam hadits Aisyah ada tambahan:
«اشْهَدُوا مَلَائِكَتِي
أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ»
“Aku menjadikan kalian para Malaikat-Ku sebagai saksi bahwa Aku telah
mengampuni mereka semua.” (Shohih At-Targhib, no. 1153, 2/34)
Dalam hadits Ibnu Umar di atas ada tambahan dalam riwayat
Al-Bazzar:
«أَفِيضُوا عِبَادِي مَغْفُورًا
لَكُمْ وَلِمَنْ شَفَعْتُمْ لَهُ»
“Pulanglah wahai hamba-hamba-Ku dalam keadaan kalian telah
diampuni dan siapa saja yang kalian doakan.” (HHR. Al-Bazzar no. 6177)
7. Doa Paling Mustajab
Dari Amr bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya, Nabi ﷺ bersabda:
«خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ
يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»
“Doa terbaik adalah doa pada hari Arofah. Ucapan terbaik yang
aku dan para Nabi sebelumku ucapkan adalah: ‘Tidak ada yang berhak disembah
selain Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya. Segala kerajaan hanya milik-Nya dan
segala puji hanya milik-Nya. Hanya Dia yang Kuasa atas segela sesuatu.” (HHR.
At-Tirmidzi no. 3585)
Dalam riwayat lain ada tambahan: “... pada sore hari
Arofah.” (HR. Ath-Thobaroni no. 874 dalam Ad-Dua)
Ibnu Abdil Barr berkata: “Fiqih dalam hadits ini: doa pada
hari Arofah lebih utama daripada dipanjatkan pada selainnya. Hadits ini menjadi
dalil bahwa doa pada hari Arofah mustajab seluruhnya pada umumnya.” (At-Tamhid,
6/41)
Ibnul Mubarok (181 H) berkata: aku mendatangi Sufyan
Ats-Tsauri pada sore Arofah dan ia sedang duduk berlutut, sementara kedua
matanya berlinang air mata lalu aku ikut menangis dan ia menoleh kepadaku dan
berkata: “Ada apa denganmu?” Aku bertanya: “Siapa orang yang paling rugi di
padang Arofah ini?” Sufyan menjawab: “Yaitu orang yang berburuk sangka kepada
Allah bahwa Allah tidak akan mengampuni mereka.” (HR. Ibnu Abid Dun-ya dalam
Husnuz Zhon hal. 92)
Al-Fudhoil bin Iyadh wukuf di Arofah dan ia melihat lautan
manusia menangis pada sore Arofah dan ia berkata: “Apa pendapat kalian jika
mereka meminta beberapa dirham kepada seseorang, mungkinkah mereka ditolak?”
Orang-orang menjawab: “Tidak.” Ia berkata: “Demi Allah, ampunan di sisi Allah
lebih ringan daripada pengabulan orang tersebut atas permintaan beberapa dirham
kepada mereka.” (Majlis fi Fadhli Yaimil Arofah hal 63 oleh Ibnu
Nashiruddin Ad-Dimasyq)
8. Puasa Hari Arofah
Dari Abu Qotadah, Nabi ﷺ
bersabda:
«صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ،
أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي
بَعْدَهُ»
“Aku berharap kepada Allah puasa Arofah menghapus dosa setahun
sebelumnya dan setahun setelahnya.” (HR. Muslim no. 1162)
Adapun bagi jamaah Haji, dianjurkan tidak berpuasa agar
lebih kuat dalam berdoa dan berdzikir pada hari Arofah.
9. Setan Sedih di Hari Arofah
Tholhah bin Ubaidillah bin Kuroiz berkata: Rosulullah ﷺ bersabda:
«مَا رَأَى الشَّيْطَانَ
يَوْماً هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ، وَلاَ أَدْحَرُ، وَلاَ أَحْقَرُ، وَلاَ أَغْيَظُ، مِنْهُ
فِي يَوْمِ عَرَفَةَ. وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ،
وَتَجَاوُزِ اللهِ عَنِ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ»
“Tidak ada hari setan melihat dirinya lebih kecil, lebih kalah,
lebih rendah, lebih marah melebihi hari Arofah. Sebabnya karena ia melihat
rohmat turun dan Allah mengampuni dosa-dosa besar dari hamba-Nya.” (HR.
Malik no. 1597 dalam Al-Muwatho)[1]
10. Dzikir Terbaik
Pada hari Arofah, dianjurkan memperbanyak membaca:
«لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ»
“Tidak ada yang berhak disembah selain Allah tanpa ada sekutu
bagi-Nya. Segala kerajaan hanya milik-Nya dan segala puji hanya milik-Nya.
Hanya Dia yang Kuasa atas segela sesuatu.”[2]
Dzikir ini lebih ditekankan pada sore Arofah lalu berdoa
apapun dari hajat dan kebaikan dunia dan Akhirat terutama meminta ampunan.
Di antara doa terbaik adalah doa sapu jagat. Anas berkata:
doa terbanyak Rosulullah ﷺ
adalah:
«اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ»
“Wahai Rob kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
Akhirat dan jagalah kami dari api Neraka.” (HR. Al-Bukhori no. 6389 dan
Muslim no. 2690)
Kebaikan di dunia adalah: sehat, makanan, aman, pasangan
yang baik, rumah yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman. Kebaikan
dunia yang paling besar adalah ilmu dan amal sholih.
Kebaikan di Akhirat adalah Surga.
Ali bin Abi Tholib berkata: “Yakni istri yang baik di dunia
dan istri yang cantik di Akhirat.”
Juga doa dalam hadits Aisyah:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا
لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي
أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ
بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ
أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا»
“Ya Allah aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan
di dunia maupun yang ditunda di Akhirat, baik yang aku ketahui maupun tidak. Aku
berlindung kepada-Mu dari semua keburukan yang disegerakan di dunia maupun
ditunda di Akhirat, baik yang aku ketahui maupun tidak. Ya Allah aku memohon
kepada-Mu apa saja yang dimohon oleh hamba-Mu dan Nabi-Mu Muhammad ﷺ, dan aku berlindung
kepada-Mu dari apa yang berlindung darinya hamba-Mu dan Nabi-Mu Muhammad ﷺ. Ya Allah aku memohon
Surga kepada-Mu dan apa saja dari ucapan dan perbuatan yang mendekatkanku ke
Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka serta apa saja dari ucapan dan
perbuatan yang mendekatkanku kepadanya. Aku memohon kepada-Mu agar menjadikan
semua takdir yang Engkau tetapkan kepadaku adalah kebaikan.” (HSR. Ibnu
Majah no. 3846)
11. Amal Terbaik
Amal terbaik pada hari Arofah adalah melaksanakan kewajiban
yaitu sholat fardhu: Maghrib, Isya, Subuh, Zhuhur, Ashar. Nabi ﷺ bersabda: Allah
berfirman:
«وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ
عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ»
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan
yang paling Aku cintai, melebihi dengan apa saja yang Aku wajibkan atasnya.” (HR.
Al-Bukhori no. 6502)
Jika dikerjakan berjamaah di Masjid maka lebih utama.
Kebanyakan ulama berpendapat sholat berjamaah hukumnya sunnah muakkad
(sangat dianjurkan): Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah. Adapun Hanabilah
berpendapat wajib.
Hendaknya hari Arofah diisi dzikir dan doa. Dari Ibnu Umar,
Nabi ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ
عِنْدَ اللهِ، وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ، وَالتَّكْبِيرِ، وَالتَّحْمِيدِ»
“Tidak ada hari-hari yang amal pada hari-hari itu lebih besar di
sisi Allah dan lebih dicintai-Nya, melebihi 10 awal Dzulhijjah. Maka
perbanyaklah di dalamnya membaca tahlil (لا
إله إلا الله), dan takbir (الله أكبر),
dan tahmid (ولله الحمد).” (HSR. Ahmad no.
5446)
Maka di antara dzikir terbaik pada hari Arofah adalah:
1-
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ
وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
2-
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحَمْدُ
Lalu memperbanyak doa (semua hajat duniawi dan ukhrowi) terutama
doa ampunan. Jika membaca doa ini maka bagus:
1-
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ
الْحِسَابُ
2-
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
3-
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ،
مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ
بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ
إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا
مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي
خَيْرًا
Jika dikerjakan dalam keadaan berpuasa, maka lebih utama,
kecuali bagi jamaah Haji.
Lebih utama jika bisa itikaf pada Maghrib sampai Isya lalu
berdiam pada Subuh sampai matahari terbit lalu sholat sunnah Dhuha sebelum
keluar Masjid untuk beraktifitas. Lalu itikaf dari Ashar sampai Maghrib dan ia
waktu paling utama pada hari Arofah.
12. Beberapa Perhatian
Mengangkat tangan dalam berdoa. Usamah bin Zaid berkata:
«كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ
ﷺ بِعَرَفَاتٍ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ
يَدْعُو، فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ، فَسَقَطَ خِطَامُهَا فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ بِإِحْدَى
يَدَيْهِ، وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ الْأُخْرَى»
“Aku dibonceng Nabi ﷺ
di belakang tunggangannya di Arofah. Beliau mengangkat tangan dalam berdoa lalu
tunggangannya berbelok hingga jatuh tali kendalinya. Beliau meraihnya dengan
satu tangan sementara tangan lainnya tetap terangkat berdoa.” (HSR. An-Nasai
no. 3011)
Dari Salman, Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ،
أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا»
“Rob kalian Maha Pemalu dan Maha Mulia. Dia malu dari hamba-Nya
jika mengangkat tangannya kepada-Nya lalu tidak dikabulkan.” (HSR. Abu Dawud
no. 1488)
Dianjurkan berdoa dari lafazh kenabian, karena ia jauh dari
berlebihan dan telah mencakup semua kebaikan. Abu Nama’ah bekas budak Sa’ad bin
Abi Waqqosh berkata: Sa’ad mendengar putranya berdoa: “Ya Allah, aku memohon
kepada-Mu Surga beserta kenikmatannya dan kebunnya dan lain-lain. Aku
berlindung kepada-Mu dari Neraka beserta rantainya dan borgolnya dan
lain-lain.” Maka Sa’ad berkata: “Hai anakku, kamu telah meminta banyak dan
berlindung banyak. Aku mendengar Rosulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّهُ سَيَكُونُ قَوْمٌ
يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ» وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: ﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا
وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾ [الأعراف: 55] وَإِنَّ بِحَسْبِكَ
أَنْ تَقُولَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا
مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ
قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ»
“Akan ada orang-orang yang berlebihan dalam berdoa.” Lalu Nabi ﷺ membaca ayat:
“Berdoalah kepada Rob-mu dengan khusyu dan merendahkan suara dan Allah tidak
menyukai orang yang berlebihan dalam berdoa.” Cukup bagimu mengucapkan: “Ya
Allah aku memohon Surga kepada-Mu dan apa saja dari ucapan dan perbuatan yang
mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari Neraka dan apa saja dari
ucapan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.” (HSR. Ahmad no. 1483)
Penulis sudah mengumpulkan doa-doa
dari Al-Quran di www.terjemahmatan.com
Referensi utama dalam menyusun buku ini adalah Fadhoil
Yaiumi Arofah karya Prof. Dr. Abdurrozzaq Al-Badr dengan beberapa tambahan.
تمت بحمد الله.
[1] Sanad
hadits ini shohih sampai Tabiin Tholhah bin Ubaidillah bin Kuroiz sehingga ia mursal
(terputus tanpa menyebut Sohabat). Ibnu Abdil Barr berkata: “Makna hadits benar
menurut beberapa jalan periwayatan.”
[2]
Sebagaimana tahlil adalah dzikir terbaik dan Arofah hari terbaik maka ia
dianjurkan dibaca pada hari tersebut. Juga ia hari disempurnakannya agama yang
asasnya adalah tahlil.
