[PDF] Aqidah Imam Sahl At-Tustari (283 H) - Riwayat Imam Al-Lalikai (418 H)
Siapa Sahl At-Tustari?
Sahl bin Abdulloh adalah
pemuka kaum arif, Abu Muhammad At-Tustari, shufi yang zuhud.
Beliau menemani pamannya,
Muhammad bin Sawwar, dan bertemu dengan Dzun Nun Al-Mishri (245 H) saat Haji
lalu menemaninya.
Meriwayatkan
hikayat-hikayat darinya: Umar bin Washil, Abu Muhammad Al-Jariri, Abbas bin
Ishom, Muhammad bin Al-Mundzir Al-Hujaimi, dan sekelompok orang lainnya.
Beliau memiliki untaian
kata yang bermanfaat dan mauizhoh-mauizhoh yang baik, serta kedudukan yang
kokoh dalam menempuh jalan akhiroh.
Abu Zur’ah Ath-Thobari
meriwayatkan dari Ibnu Dustuyah, sahabat Sahl, dia berkata: Sahl berkata saat
melihat para Ash-habul Hadits:
«اجتهدوا
أن لا تلقوا الله إلا ومعكم المحابر»
“Bersungguh-sungguhlah
kalian agar jangan sampai kalian bertemu Alloh melainkan bersama kalian ada
tempat tinta.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi, 13/330)
Diriwayatkan dalam kitab “Dzammul
Kalam”, Sahl ditanya: Sampai kapan seorang lelaki menulis Hadits? Beliau
menjawab:
«حتى
يموت، ويصب باقي حبره في قبره»
“Sampai dia mati, dan
sisa tintanya dituangkan ke dalam kuburnya. (Siyar A’lamin Nubala,
Adz-Dzahabi, 13/331)
Ali bin Al-Husain
Ad-Daqiqi menceritakan: saya mendengar Sahl bin Abdulloh (283 H) berkata:
«من
أراد الدنيا والآخرة فليكتب الحديث، فإن فيه منفعة الدنيا والآخرة.»
“Barangsiapa yang
menginginkan dunia dan akhiroh maka hendaklah dia menulis Hadits, karena di
dalamnya terdapat manfaat dunia dan akhiroh.” (Siyar A’lamin Nubala,
Adz-Dzahabi, 13/331)
Dikatakan bahwa Sahl bin
Abdulloh mendatangi Abu Dawud (275 H), lalu berkata:
«أخرج
لي لسانك هذا الذي حدثت به أحاديث رسول الله ﷺ حتى أقبله»
“Keluarkanlah lidahmu ini
yang engkau gunakan untuk menyampaikan Hadits-Hadits Rosululloh ﷺ agar aku dapat menciumnya.” Maka beliau
mengeluarkannya untuk Sahl. (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi, 13/331)
Di antara perkataan Sahl:
«لا
معين إلا الله، ولا دليل إلا رسول الله، ولا زاد إلا التقوى، ولا عمل إلا الصبر عليه»
“Tidak ada penolong
kecuali Alloh, tidak ada penunjuk jalan kecuali Rosululloh, tidak ada bekal
kecuali taqwa, dan tidak ada amal kecuali kesabaran di atasnya.” (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi, 13/331)
Darinya beliau berkata:
«الجاهل
ميت، والناسي نائم، والعاصي سكران، والمصر هالك»
“Orang bodoh itu mati,
orang yang lupa itu tidur, pelaku maksiat itu mabuk, dan orang yang
terus-menerus dalam dosa itu binasa.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi,
13/331)
Darinya beliau berkata:
«الجوع
سر الله في أرضه، لا يودعه عند من يذيعه»
“Lapar adalah rahasia
Alloh di bumi-Nya, Dia tidak menitipkannya kepada orang yang menyebarkannya.” (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi, 13/331)
Ismail bin Ali Al-Abili
berkata: Saya mendengar Sahl bin Abdulloh di Bashroh pada tahun 280 H berkata:
«العقل
وحده لا يدل على قديم أزلي فوق عرش محدث، نصبه الحق دلالة وعلما لنا، لتهتدي القلوب
به إليه ولا تتجاوزه، ولم يكلف القلوب علم ماهية هويته، فلا كيف لاستوائه عليه، ولا
يجوز أن يقال: كيف الاستواء لمن أوجد الاستواء؟ وإنما على المؤمن الرضى والتسليم، لقول
النبي ﷺ: إنه على عرشه.»
“Akal semata tidak dapat
menunjukkan kepada Dzat Yang Maha Dahulu lagi Azali di atas Arsy yang
diciptakan, yang Al-Haqq (Alloh) telah menetapkannya sebagai petunjuk dan tanda
bagi kita, agar hati mendapat hidayah melalui Arsy tersebut menuju kepada-Nya
dan tidak melampauinya. Alloh tidak membebani hati untuk mengetahui hakikat
Dzat-Nya, maka tidak ada kaifiyah (tata cara) bagi istiwa-Nya di atas Arsy.
Tidak boleh dikatakan: Bagaimana istiwa itu? Bagi Dzat yang menciptakan istiwa
tersebut. Kewajiban seorang Mu’min hanyalah ridho dan taslim (berserah diri),
berdasarkan sabda Nabi ﷺ: ‘Sesungguhnya
Dia di atas Arsy-Nya.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi, 13/331-332)
Beliau juga berkata: “Zindiq
hanyalah dinamakan zindiq karena dia menimbang detilnya perkataan dengan
akalnya yang rusak dan kiasan hawa nafsunya, serta meninggalkan atsar dan
teladan kepada Sunnah, serta menakwilkan Al-Qur’an dengan hawa nafsu. Maka Maha
Suci Dzat yang tidak dapat digambarkan oleh persangkaan-persangkaan.” (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi, 13/332)
Abu Nu’aim (430 H)
berkata dalam “Al-Hilyah”: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu Bakr
Al-Jurobi menceritakan kepada kami, saya mendengar Sahl bin Abdulloh berkata:
«أصولنا
ستة: التمسك بالقرآن، والاقتداء بالسنة، وأكل الحلال، وكف الأذى واجتناب الآثام، والتوبة،
وأداء الحقوق.»
“Ushul (pokok-pokok) kami
ada 6: Berpegang teguh dengan Al-Qur’an, meneladani Sunnah, memakan yang halal,
menahan diri dari menyakiti orang lain, menjauhi dosa-dosa, taubat, dan menunaikan
hak-hak.” (Hilyatul Awliya, Abu Nu’aim, 10/190)
Dari Sahl:
«من
تكلم فيما لا يعنيه حرم الصدق، ومن اشتغل بالفضول حرم الورع، ومن ظن ظن السوء حرم اليقين،
ومن حرم هذه الثلاثة هلك»
“Barangsiapa berbicara
pada hal yang tidak berguna baginya maka diharomkan baginya kejujuran.
Barangsiapa sibuk dengan hal yang sia-sia maka diharomkan baginya sifat waro’
(berhati-hati dari dosa). Barangsiapa berprasangka buruk maka diharomkan
baginya yakin. Dan barangsiapa diharomkan dari 3 hal ini maka dia binasa.” (Siyar
A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi, 13/332)
Darinya beliau berkata:
«من
أخلاق الصديقين أن لا يحلفوا بالله، وأن لا يغتابوا، ولا يغتاب عندهم، وأن لا يشبعوا،
وإذا وعدوا لم يخلفوا، ولا يمزحون أصلا»
“Di antara akhlak kaum
shiddiqin adalah mereka tidak bersumpah dengan nama Alloh, tidak melakukan
ghibah (menggunjing) dan tidak dilakukan ghibah di hadapan mereka, mereka tidak
makan sampai kenyang, jika berjanji tidak menyelisihi, dan mereka tidak
bercanda sama sekali.” (Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi, 13/332)
Ia wafat pada bulan Muharrom tahun 283 H, dan
dikatakan beliau mencapai usia 80 tahun atau lebih.
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Al-Lalikai (418 H)
berkata:
اعْتِقَادُ سَهْلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ التُّسْتَرِيِّ
Ini adalah keyakinan Sahl
bin Abdulloh At-Tustari (283 H).
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ حَارَسْتَ النَّجِيرَمِيُّ قِرَاءَةً عَلَيْهِ، قَالَ: سَمِعْتُ
أَبَا الْقَاسِمِ عَبْدَ الْجَبَّارِ بْنَ شِيرَازَ بْنِ يَزِيدَ الْعَبْدِيَّ صَاحِبَ
سَهْلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ: سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ،
وَقِيلَ لَهُ: مَتَى يَعْلَمُ الرَّجُلُ أَنَّهُ عَلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ؟
Abu Abdulloh Muhammad bin
Ibrohim bin Muhammad bin Harost An-Najiromi (403 H) mengabarkan kepada kami secara
qiro’ah (dibacakan di hadapannya), ia berkata: Aku mendengar Abu Al-Qosim Abdul
Jabbar bin Syiroz bin Yazid Al-Abdi sahabat Sahl bin Abdulloh berkata: Aku
mendengar Sahl bin Abdulloh (283 H) berkata saat ditanyakan kepadanya: “Kapan
seseorang mengetahui bahwa dirinya sudah berada di atas jalan Sunnah dan Jama’ah?”
قَالَ: إِذَا عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ عَشْرَ خِصَالٍ
Beliau menjawab: Yaitu
jika ia mengenali 10 (atau 9) kriteria ada dalam dirinya:
[1] Berjamaah
لَا يَتْرُكُ الْجَمَاعَةَ
ia tidak meninggalkan
Jama’ah,
[2] Tidak
Mencela Shohabat
وَلَا يَسُبُّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ ﷺ
dan tidak mencela para
Shohabat Nabi ﷺ,
[3] Tidak
Memberontak Penguasa Zholim
وَلَا يَخْرُجُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ بِالسَّيْفِ
dan tidak keluar
memberontak terhadap umat ini dengan pedang,
[4] Beriman
kepada Taqdir
وَلَا يُكَذِّبُ بِالْقَدَرِ
dan tidak mendustakan
Taqdir (ketetapan Robb),
[5] Tidak
Meragukan Iman
وَلَا يَشُكُّ فِي الْإِيمَانِ
dan tidak ragu dalam hal
Iman,
[6] Tidak
Berdebat
وَلَا يُمَارِي فِي الدِّينِ
dan tidak melakukan debat
kusir dalam urusan agama,
[7] Tidak
Mengkafirkan Ahli Qiblat karena Kabair
وَلَا يَتْرُكُ الصَّلَاةَ عَلَى مَنْ يَمُوتُ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ
بِالذَّنْبِ
dan tidak meninggalkan
pelaksanaan Sholat Janazah bagi siapa pun dari penduduk kiblat yang meninggal
dunia meski karena suatu dosa,
[8] Mengusap
Khuffain
وَلَا يَتْرُكُ الْمَسْحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ
dan tidak meninggalkan
amalan mengusap dua sepatu (saat berwudhu),
[9] Tidak
Meninggalkan Sholat Bersama Pemimpin
وَلَا يَتْرُكُ الْجَمَاعَةَ خَلْفَ كُلِّ وَالٍ جَارَ أَوْ
عَدَلَ
serta tidak meninggalkan
sholat berjama’ah di belakang setiap pemimpin, baik pemimpin tersebut berbuat
zholim maupun pemimpin yang berlaku adil.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah
wal Jama’ah, Al-Lalaka’i (418 H), 1/198)
%20-%20Riwayat%20Imam%20Al-Lalikai%20(418%20H).jpg)