[PDF] Syiah dan Iran Musuh Bagi Ahlul Bait dan Para Shohabat - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai
petunjuk bagi seluruh alam dan cahaya yang menerangi kegelapan.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada Rosulullah ﷺ,
keluarga beliau yang suci, dan para Shohabat beliau yang mulia.
Amma ba’du:
Penulisan buku ini
dilatarbelakangi oleh sebuah kenyataan pahit yang menimpa umat Islam, di mana
sebuah kelompok telah sekian lama menggunakan nama besar keluarga Nabi ﷺ untuk menanamkan kebencian dan perpecahan.
Kelompok tersebut adalah Syiah, yang saat ini berpusat di Iran, yang mengklaim
diri mereka sebagai pembela paling setia bagi Ahlul Bait.
Tipu daya ini telah
berjalan selama berabad-abad, di mana mereka berusaha meyakinkan manusia bahwa
mereka adalah golongan yang paling dekat dengan kebenaran karena berpegang
teguh pada wasiat-wasiat keturunan Nabi ﷺ. Namun,
penelusuran sejarah dan penelaahan terhadap kitab-kitab rujukan mereka sendiri
justru mengungkap fakta yang sangat mengejutkan. Alih-alih mengikuti jalan
hidup para Imam dari keluarga Nabi ﷺ, Syiah
Iran justru membangun pondasi keyakinan mereka di atas penentangan terhadap
ajaran asli para Imam tersebut.
Buku ini disusun sebagai
bentuk amanah ilmiyyah untuk menyingkap tabir gelap yang menyelimuti
klaim-klaim mereka. Dengan merujuk langsung pada sumber-sumber otentik dari
kitab-kitab Syiah sendiri, kita akan melihat bagaimana para Imam Ahlul Bait
seperti Ali bin Abi Tholib (40 H), Muhammad Al-Baqir (114 H), dan
Ja’far Ash-Shodiq (148 H) justru memberikan pujian dan pembelaan kepada
para Shohabat Nabi ﷺ yang
senantiasa dicaci maki oleh pengikut Syiah hari ini.
Melalui tulisan ini,
diharapkan para pembaca yang selama ini terperdaya oleh slogan kecintaan kepada
Ahlul Bait dapat melihat perbedaan yang sangat mencolok antara cinta yang
hakiki dengan cinta palsu yang digunakan sebagai alat politik dan penyebaran
ajaran sesat. Inilah upaya untuk mengembalikan kemuliaan Ahlul Bait yang
sebenarnya, yang senantiasa sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta bersatu
padu dengan para Shohabat dalam membela Islam.
Bab 1: Tipu Daya
Syiah Atas Nama Ahlul Bait
1.1 Klaim Palsu
Kedekatan dengan Keturunan Nabi ﷺ
Sesungguhnya orang-orang
Syiah telah melakukan upaya sistematis untuk menipu umat manusia dengan
memposisikan diri mereka sebagai satu-satunya pengikut setia keluarga Nabi ﷺ. Mereka membangun narasi bahwa kedekatan
mereka dengan para keturunan Rosulullah ﷺ
menjadikan mereka sebagai golongan yang paling benar dan paling mendapat
petunjuk di antara seluruh kelompok umat Islam lainnya. Syiah beranggapan bahwa
keselamatan hanya bisa dicapai dengan mengikuti tafsiran-tafsiran sepihak
mereka atas kehidupan para kerabat Nabi ﷺ
tersebut.
Dr. Ihsan Ilahi Zhohir
(1407 H) —ulama Sunni— menjelaskan dalam karyanya mengenai hakikat klaim ini
sebagai berikut: “Bab Syiah dan penyelisihan mereka terhadap Ahlul Bait.
Sesungguhnya orang-orang Syiah telah berusaha menipu manusia dengan anggapan
bahwa mereka adalah para pengikut Ahlul Bait Nabi ﷺ, dan bahwa mereka adalah manusia yang
paling dekat kepada kebenaran dan ketepatan di antara golongan-golongan kaum
Muslimin, serta yang paling utama dan paling mendapat petunjuk karena berpegang
teguh kepada kerabat Nabi ﷺ dan
keluarganya, dan bahwasanya orang-orang yang berpegang teguh kepada
ucapan-ucapan mereka, mengamalkan petunjuk mereka, meniti jalan mereka, serta
mengikuti jejak dan ajaran mereka hanyalah mereka sendiri bukan selain mereka.”
(Syiah wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir, hlm. 29)
Klaim eksklusivitas
inilah yang kemudian digunakan oleh Syiah Iran untuk menarik simpati umat Islam
di berbagai belahan dunia. Mereka menggunakan istilah-istilah yang sangat
menyentuh kejiwaan umat untuk menggambarkan seolah-olah seluruh dunia Islam
telah berkhianat kepada keluarga Nabi ﷺ, dan
hanya merekalah yang tetap setia menjaga warisan tersebut. Penampakan rasa
cinta ini sengaja dibuat sedemikian rupa agar masyarakat awam tidak lagi
melihat bukti-bukti sejarah yang menunjukkan sebaliknya.
1.2 Penyempitan
Makna Ahlul Bait untuk Kepentingan Kelompok
Salah satu bentuk
penyelewengan yang dilakukan oleh Syiah adalah penyempitan makna Ahlul Bait
yang tidak sesuai dengan pengertian luas yang ada dalam Al-Qur’an maupun
penuturan sejarah yang jujur. Mereka tidak memaksudkan Ahlul Bait sebagai
seluruh keluarga kenabian yang mencakup istri-istri Nabi ﷺ dan keturunan beliau secara umum.
Sebaliknya, mereka menyaring makna tersebut hanya terbatas pada Ali bin Abi
Tholib (40 H) dan beberapa anak cucunya yang jumlahnya sudah ditentukan secara
khusus oleh kelompok mereka sendiri.
Ihsan Ilahi Zhohir (1407
H) menegaskan hal ini dalam pernyataannya: “Dan sungguh kami telah merinci
perkataan sebelumnya bahwa kaum tersebut (Syiah) tidak memaksudkan dengan Ahlul
Bait adalah keluarga kenabian, dan bahwasanya mereka tidak loyal kepada mereka
dan tidak pula mencintai mereka, melainkan mereka menginginkan dan memaksudkan
di balik itu adalah Ali rodhiyallahu ‘anhu dan anak-anaknya yang
dikhususkan lagi dibatasi jumlahnya.” (Syiah wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir,
hlm. 29)
Dengan penyempitan makna
ini, Syiah Iran berusaha membuang peran besar istri-istri Nabi ﷺ yang telah Alloh ﷻ muliakan di dalam Al-Qur’an sebagai ibunda
orang-orang beriman (Ummahatul Mu’minin). Strategi ini digunakan untuk
mempermudah mereka dalam menyerang kepribadian para istri Nabi ﷺ, terutama Aisyah rodhiyallahu ‘anha,
yang merupakan putri dari Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu (13
H). Dengan membatasi Ahlul Bait hanya pada garis keturunan tertentu, mereka
menciptakan tembok pemisah yang memutus hubungan harmonis antara Nabi ﷺ dengan seluruh lingkaran keluarganya.
1.3 Hakikat
Permusuhan Syiah Terhadap Ajaran Keturunan Nabi ﷺ
Kenyataan yang sering
kali disembunyikan dari pengikut Syiah tingkat bawah adalah bahwasanya
ajaran-ajaran yang mereka praktikkan hari ini justru berlawanan dengan apa yang
diperintahkan oleh para Imam dari keluarga Nabi ﷺ itu sendiri. Meskipun mereka selalu meneriakkan
slogan ketaatan kepada Ahlul Bait, pada hakikatnya mereka tidak mengikuti
petunjuk, pendapat, maupun jalan hidup yang ditempuh oleh Ali bin Abi Tholib
(40 H) dan keturunannya yang sholih.
Para pengikut Syiah ini
justru terang-terangan melakukan perlawanan terhadap ajaran Ahlul Bait yang asli
melalui ucapan maupun perbuatan mereka. Mereka menyimpang dari jalan para Imam
tersebut terutama dalam urusan menyikapi para Kholifah Nabi ﷺ yang telah mendapat petunjuk (Khulafaur
Rosyidin), istri-istri beliau yang suci, serta para Shohabat yang mulia yang
telah menyebarkan risalah agama ini ke seluruh penjuru dunia.
Shohabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang telah Alloh ﷻ puji dalam kitab-Nya yang terjaga dari
kebathilan:
﴿لَّا يَأْتِيهِ
الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ﴾
“Al-Qur’an itu tidak
didatangi oleh kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang
diturunkan dari Robb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS.
Fushshilat: 42)
Namun, orang-orang Syiah
justru mengambil jalan yang berbeda dengan jalan para Shohabat tersebut, yang
berarti mereka juga menyelisihi pujian Alloh ﷻ dan teladan Ahlul Bait yang senantiasa
menghormati mereka. Perlawanan Syiah ini mencakup segala aspek, mulai dari
prinsip-prinsip hukum hingga masalah akhlaq dan sejarah.
1.4 Kontradiksi
Antara Pengakuan Cinta dan Praktik Nyata
Kecintaan yang diklaim
oleh Syiah Iran terhadap Ahlul Bait hanyalah bersifat lisan, sementara praktik
nyata mereka dipenuhi dengan pengingkaran terhadap nilai-nilai yang dijunjung
tinggi oleh keluarga Nabi ﷺ. Para
Shohabat yang dijanjikan ampunan dan pahala yang besar oleh Alloh ﷻ justru menjadi sasaran cercaan mereka.
Padahal, para Shohabat tersebut adalah orang-orang yang digambarkan oleh Alloh ﷻ sebagai hamba yang senantiasa beribadah di
malam hari dan dermawan di siang hari.
Alloh ﷻ berfirman memuji para Shohabat Nabi ﷺ:
﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ
عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴾
“Lambung-lambung mereka
menjauh dari tempat tidur karena mereka melakukan Sholat Tahajjud di malam hari
dengan rasa takut akan adzab Robb mereka dan berharap akan pahala-Nya, dan
mereka menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka di
jalan kebaikan.” (QS. As-Sajdah: 16)
Para Shohabat inilah yang
senantiasa diingat dan dihormati oleh Ahlul Bait yang sebenarnya.
Syiah Iran menampakkan
pertentangan yang nyata dengan mencela orang-orang yang telah Alloh ﷻ puji sebagai pribadi yang berkasih sayang
di antara sesama Mu’min. Mereka membangun ajaran mereka di atas kebencian
kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H), Umar bin Al-Khoththob (23 H), dan Utsman
bin Affan (35 H), sementara Ahlul Bait justru hidup berdampingan secara
harmonis dan bahkan melakukan hubungan pernikahan dengan keturunan para
Shohabat tersebut. Ali menikahkan putrinya kepada Umar bin Khothtob. Kontradiksi
ini membuktikan bahwa Syiah tidak sedang mengikuti Ahlul Bait, melainkan sedang
menggunakan nama mereka untuk menghancurkan sejarah emas Islam.
1.5 Upaya
Menyesatkan Umat dengan Kedok Mencintai Keturunan Nabi ﷺ
Tujuan akhir dari segala
tipu daya ini adalah untuk menggiring opini publik umat Islam agar menjauh dari
ajaran Islam yang murni dan masuk ke dalam jerat pemikiran Syiah yang penuh
dengan penyimpangan. Mereka memanfaatkan rasa hormat yang alami dari setiap
Muslim terhadap keluarga Nabi ﷺ untuk
memasukkan keyakinan-keyakinan yang merusak. Banyak orang awam yang tertipu dan
mengira bahwa mencintai Syiah adalah syarat untuk mencintai Ahlul Bait, padahal
kenyataannya adalah sebaliknya.
Dr. Ihsan Ilahi Zhohir
berkata: “Kebenaran itu justru semakin tampak ketika diakui oleh orang yang
menentangnya. Kami tidak menginginkan dari pembahasan ini kecuali agar jelas
bahwa para Imam yang lurus dari Ahlul Bait tidak berada di pihak kelompok
tersebut (Syiah), baik dalam perkara kecil maupun besar.
Harapannya, Alloh memberi
petunjuk melalui tulisan ini kepada orang-orang yang terpedaya oleh kecintaan
kepada Ahlul Bait—yang mereka sangka bahwa keyakinan-keyakinan Syiah berasal
dari para Imam Ahlul Bait, dibangun oleh mereka, dan ditegakkan di atas ajaran
mereka.
Akibat anggapan itu,
mereka mencintai para Imam tersebut dan memusuhi orang-orang yang mereka kira
sebagai musuh para Imam—yaitu orang-orang yang dituduh telah merampas hak
mereka, menghalangi mereka dari warisan Nabi ﷺ, dan
menzholimi mereka.” (Syiah wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir, hlm. 34)
Dengan demikian, terlihat
jelas bahwa Syiah Iran telah membangun sebuah sistem kepercayaan yang
didasarkan pada manipulasi perasaan sejarah. Mereka menciptakan musuh-musuh
imajiner dari kalangan Shohabat untuk membenarkan kebencian mereka, sementara
mereka sendiri sebenarnya sedang mengkhianati wasiat dan jalan hidup Ahlul Bait
yang asli. Memahami kedok ini adalah langkah awal yang sangat penting bagi
setiap Muslim agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan yang dibungkus dengan
kemasan indah berupa kecintaan kepada keturunan Rosulullah ﷺ.
Bab 2: Shohabat
Nabi ﷺ dalam
Timbangan Al-Qur’an
2.1 Pujian Alloh
ﷻ bagi
Muhajirin dan Anshor dalam Al-Qur’an
Alloh ﷻ telah memberikan kesaksian yang sangat
agung di dalam kitab-Nya mengenai kemuliaan para Shohabat dari kalangan
Muhajirin dan Anshor. Mereka adalah generasi pertama yang menerima dakwah Islam
dengan hati yang lapang, mengorbankan harta dan nyawa demi tegaknya agama ini.
Alloh ﷻ
menegaskan keridhoan-Nya kepada mereka dalam ayat yang sangat jelas:
﴿وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ
رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Orang-orang yang
terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshor
serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka
dan mereka pun ridho kepada Alloh. Dan Alloh menyediakan bagi mereka
Jannah-Jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Pujian ini mencakup
seluruh Muhajirin yang meninggalkan tanah kelahiran mereka demi Alloh ﷻ dan para Anshor yang memberikan tempat
bernaung serta pertolongan bagi agama-Nya. Alloh ﷻ menyifati kaum Muhajirin sebagai orang-orang
yang benar dalam imannya:
﴿لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللهِ
وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴾
“Bagi orang-orang fakir
yang berhijroh yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka
karena mencari karunia dari Alloh dan keridhoan-Nya dan mereka menolong Alloh
dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hashr: 8)
Begitu pula dengan kaum Anshor,
Alloh ﷻ memuji
sifat kedermawanan dan kasih sayang mereka kepada saudara seiman:
﴿وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا
الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ
فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ
بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Dan orang-orang yang
telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum kedatangan
mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijroh kepada mereka. Dan
mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan orang-orang
Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa
yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
2.2 Ridho Alloh ﷻ bagi
Peserta Baiat Ridhwan di Bawah Pohon
Salah satu peristiwa
paling bersejarah yang menunjukkan kedudukan tinggi para Shohabat adalah Baiat
Ridhwan yang terjadi di Hudaibiyah. Di saat genting tersebut, para Shohabat
menyatakan kesetiaan mereka kepada Rosulullah ﷺ untuk
berjuang hingga titik darah penghabisan. Alloh ﷻ secara langsung memberikan legitimasi atas
keimanan dan ketulusan hati mereka:
﴿لَّقَدْ رَضِيَ
اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا
فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا﴾
“Sesungguhnya Alloh telah
ridho terhadap orang-orang Mu’min ketika mereka menjanjikan setia kepadamu di
bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu
menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)
Kesaksian Alloh ﷻ bahwa Dia mengetahui apa yang ada di dalam
hati para Shohabat merupakan bukti tak terbantahkan bahwa mereka bukanlah
orang-orang munafik. Ridho Alloh ﷻ yang bersifat abadi ini mustahil diberikan
kepada orang-orang yang akan murtad atau berkhianat di masa depan, karena Alloh
ﷻ Maha
Mengetahui segala yang akan terjadi. Melalui ayat ini, setiap upaya untuk
mencela peserta Baiat Ridhwan pada hakikatnya adalah penentangan terhadap
penilaian Alloh ﷻ itu
sendiri.
2.3 Kesaksian
Iman yang Benar bagi Para Pejuang di Jalan Alloh ﷻ
Keimanan para Shohabat
bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan dibuktikan dengan pengorbanan yang
nyata dalam berbagai pertempuran demi membela Islam. Alloh ﷻ menyifati mereka sebagai orang-orang Mu’min
yang sebenar-benarnya:
﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَّنَصَرُوا أُولَٰئِكَ
هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ﴾
“Dan orang-orang yang
beriman dan berhijroh serta berjihad pada jalan Alloh, dan orang-orang yang
memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan, mereka itulah orang-orang yang
benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia.” (QS.
Al-Anfal: 74)
Bahkan di saat-saat yang
sangat sulit, seperti dalam perang Tabuk yang dikenal sebagai saat kesusahan,
para Shohabat tetap teguh mengikuti Rosulullah ﷺ. Alloh ﷻ pun menerima taubat mereka dan menegaskan
sifat kasih sayang-Nya kepada mereka:
﴿لَّقَد تَّابَ اللَّهُ
عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ
الْعُسْرَةِ مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ
ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ﴾
“Sesungguhnya Alloh telah
menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshor yang
mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir
berpaling, kemudian Alloh menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Alloh Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 117)
Sifat tegas mereka
terhadap kaum kafir dan lemah lembut terhadap sesama Muslim menjadi ciri khas
yang Alloh ﷻ
abadikan dalam Kitab Suci-Nya:
﴿مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ
اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ
بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ
وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ﴾
“Muhammad itu adalah
utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap
orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’
dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak
pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29)
2.4 Kedudukan
Istri-Istri Nabi ﷺ sebagai
Ummahatul Mu’minin
Syiah Iran sering kali
memisahkan antara keluarga Nabi ﷺ dengan
istri-istri beliau dalam narasi Ahlul Bait mereka. Namun, Al-Qur’an secara
tegas memberikan kedudukan istimewa bagi istri-istri Nabi ﷺ sebagai ibu bagi setiap orang yang
beriman. Kedudukan ini adalah sebuah kehormatan syar’i yang tidak bisa
digugurkan oleh siapapun:
﴿النَّبِيُّ أَوْلَىٰ
بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ﴾
“Nabi itu lebih utama
bagi orang-orang Mu’min dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah
ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)
Alloh ﷻ juga menegaskan bahwa istri-istri Nabi ﷺ tidaklah sama dengan wanita-wanita lainnya
jika mereka bertaqwa. Mereka diperintahkan untuk menjaga kesucian diri dan
menjauhi perilaku jahiliyyah demi menjaga martabat rumah tangga kenabian:
﴿يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ
لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا
مَّعْرُوفًا﴾
“Wahai istri-istri Nabi,
kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka
janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada
penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab:
32)
Dengan menetapkan mereka
sebagai Ummahatul Mu’minin, Alloh ﷻ mewajibkan seluruh umat Islam untuk
menghormati dan mencintai mereka sebagaimana seorang anak menghormati ibunya.
Maka, tindakan mencaci atau menuduh istri-istri Nabi ﷺ dengan hal-hal keji adalah sebuah
pelanggaran berat terhadap hukum Alloh ﷻ dan bentuk ketidakberadaban kepada
Rosulullah ﷺ.
2.5 Jaminan
Surga bagi Generasi Awal Islam
Kesetiaan dan pengorbanan
para Shohabat telah membuahkan jaminan yang pasti dari Alloh ﷻ berupa Jannah dan pengampunan dosa. Alloh ﷻ tidak membedakan antara mereka yang
berinfak dan berperang sebelum penaklukan Makkah maupun sesudahnya dalam hal
janji kebaikan, meskipun derajat mereka berbeda di sisi-Nya:
﴿لَا يَسْتَوِي مِنكُم
مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا
ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾
“Tidak sama di antara
kamu orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sebelum penaklukan kota
Makkah. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan
hartanya dan berperang sesudah itu. Alloh menjanjikan kepada masing-masing
mereka balasan yang lebih baik (Jannah). Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 10)
Alloh ﷻ menjanjikan bahwa setiap tetes darah yang
tumpah dan setiap penderitaan yang mereka alami dalam Jihad akan dibalas dengan
kenikmatan yang abadi:
﴿فَالَّذِينَ هَاجَرُوا
وَأُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ
عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
ثَوَابًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ﴾
“Maka orang-orang yang
berhijroh, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku,
yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan
mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam Jannah yang mengalir
sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Alloh. Dan Alloh pada
sisi-Nya ada pahala yang baik.” (QS. Ali Imron: 195)
Seluruh ayat-ayat
tersebut menjadi pondasi yang kokoh bagi umat Islam untuk mencintai dan
memuliakan para Shohabat. Siapapun yang berusaha meruntuhkan kehormatan mereka
berarti telah berusaha meruntuhkan saksi-saksi sejarah yang dipuji langsung
oleh Robb semesta alam. Inilah standar kebenaran yang harus dipegang oleh
setiap Muslim dalam menilai kedudukan para pembela Rosulullah ﷺ.
Bab 3: Kesaksian
Ali bin Abi Tholib (40 H) Terhadap Kemuliaan Shohabat
Di sini akan disebutkan
langsung bahwa imam besar mereka, Ali bin Abi Tholib, memuji para Shohabat,
yang diambil langsung dari kitab-kitab Syiah.
Namun disayangkan,
ulama-ulama Syiah dulu dan sekarang termasuk Iran, tetap mencela bahkan
mengkafirkan mereka.
3.1 Pujian Ali
bin Abi Tholib (40 H) dalam Kitab Nahjul Balaghoh
Ali bin Abi Tholib (40 H)
adalah Kholifah keempat bagi kaum Muslimin dan merupakan Imam pertama yang ma’shum
(terjaga dari dosa) dalam keyakinan Syiah. Beliau adalah pemimpin Ahlul Bait
yang paling utama setelah Rosulullah ﷺ. Dalam
kitab rujukan utama Syiah, yaitu Nahjul Balaghoh, terdapat banyak
riwayat yang menunjukkan bagaimana beliau memuji para Shohabat Nabi ﷺ secara umum dengan pujian yang sangat
tinggi. Beliau memberikan kesaksian tentang ibadah dan ketulusan para Shohabat
tersebut sebagai berikut:
لقد رأيت أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، فما أرى أحداً يشبههم منكم! لقد كانوا
يصبحون شعثاً غبراً، وقد باتوا سجداً وقياماً، يراوحون بين جباههم وخدودهم، ويقفون
على مثل الجمر من ذكر معادهم! كأن بين أعينهم ركب المعزى من طول سجودهم! إذا ذكر الله
هملت أعينهم حتى تبل جيوبهم، ومادوا كما يميد الشجر يوم الريح العاصف، خوفاً من العقاب،
ورجاء للثواب
“Sungguh aku telah
melihat para Shohabat Muhammad ﷺ, maka
aku tidak melihat seorang pun di antara kalian yang menyerupai mereka! Sungguh
mereka di pagi hari dalam keadaan rambut yang kusut dan berdebu, sementara
mereka telah melewati malam dengan bersujud dan berdiri (Sholat). Mereka
bergantian meletakkan dahi dan pipi mereka (di atas tanah), dan mereka berdiri
seolah-olah di atas bara api karena mengingat tempat kembali mereka (Akhiroh)!
Seakan-akan di antara kedua mata mereka terdapat bekas seperti lutut kambing
karena lamanya sujud mereka! Jika Alloh disebutkan, mata mereka bercucuran air
mata hingga membasahi kerah baju mereka, dan mereka bergoyang sebagaimana
bergoyangnya pepohonan pada hari ditiup angin kencang, karena rasa takut
terhadap siksaan dan mengharap pahala.” (Nahjul Balaghoh, hlm. 143, Tahqiq
Subhi Sholih)
3.2 Perbandingan
Antara Shohabat Nabi ﷺ dengan
Pengikut yang Berkhianat
Ali bin Abi Tholib (40 H)
sering kali membandingkan kualitas keimanan dan keberanian para Shohabat Nabi ﷺ dengan orang-orang yang mengaku sebagai
pengikutnya namun bersifat pengecut. Beliau menjelaskan bahwa para Shohabat
Nabi ﷺ
memiliki loyalitas yang luar biasa tinggi dalam membela agama Alloh ﷻ meskipun harus berhadapan dengan kerabat
sendiri. Beliau berkata:
ولقد كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، نقتل آباءنا وأبناءنا وإخواننا وأعمامنا:
ما يزيدنا ذلك إلا إيماناً وتسليماً، ومضياً على اللقم، وصبراً على مضض الألم، وجداً
في جهاد العدو، ولقد كان الرجل منا والآخر من عدونا يتصاولان تصاول الفحلين، يتخالسان
أنفسهما: أيهما يسقي صاحبه كأس المنون، فمرة لنا من عدونا، ومرة لعدونا منا، فلما رأى
الله صدقنا أنزل بعدونا الكبت، وأنزل علينا النصر، حتى استقر الإسلام ملقياً جرانه،
ومتبوئا أوطانه. ولعمري لو كنا نأتي ما أتيتم، ما قام للدين عمود، ولا اخضر للإيمان
عود. وأيم الله لتحتلبنها دماً، ولتتبعنها ندماً
“Sungguh kami dahulu
bersama Rosulullah ﷺ
memerangi ayah-ayah kami, anak-anak kami, saudara-saudara kami, dan paman-paman
kami; hal itu tidaklah menambah bagi kami kecuali keimanan dan ketundukan,
serta terus melangkah di jalan yang lurus, bersabar atas pedihnya rasa sakit,
dan bersungguh-sungguh dalam berjihad melawan musuh. Dahulu seseorang dari kami
dan yang lainnya dari musuh kami saling menyerang bagaikan dua pejantan yang
bertarung, saling berusaha mencabut nyawa satu sama lain; siapa di antara
keduanya yang akan memberi minum lawannya dengan gelas kematian. Maka terkadang
kemenangan bagi kami atas musuh kami, dan terkadang musuh kami menang atas
kami. Maka tatkala Alloh melihat kejujuran kami, Dia menurunkan kehinaan bagi
musuh kami dan menurunkan kemenangan bagi kami, hingga Islam menjadi kokoh dan
menetap di tanah airnya. Demi umurku, sekiranya kami melakukan apa yang kalian
lakukan, niscaya tidak akan tegak tiang bagi agama ini, dan tidak akan hijau
dahan bagi keimanan. Demi Alloh, sungguh kalian benar-benar akan memeras darah,
dan kalian akan diikuti oleh penyesalan.” (Nahjul Balaghoh, hlm. 91-92,
Tahqiq Subhi Sholih)
3.3 Kesedihan
Ali bin Abi Tholib (40 H) Atas Kepergian Para Shohabat yang Sholih
Rasa cinta Ali bin Abi
Tholib (40 H) kepada para Shohabat Nabi ﷺ
terlihat sangat jelas ketika beliau meratapi kepergian mereka dan merindukan
keberadaan mereka di tengah-tengah umat. Beliau menyebut mereka sebagai
saudara-saudara beliau yang telah mendahului. Ungkapan kesedihan beliau
tertuang dalam ucapan berikut:
أين القوم الذين دعوا إلى الإسلام فقبلوه، وقرءوا القرآن فأحكموه، وهيجوا إلى القتال
فولهوا وله اللقاح إلى أولادها، وسلبوا السيوف أغمادها، وأخذوا بأطراف الأرض زحفاً
زحفاً وصفاً صفاً، بعض هلك وبعض نجا، لا يبشرون بالأحياء ولا يعزون عن الموتى، مرة
العيون من البكاء، خمص البطون من الصيام، ذبل الشفاه من الدعاء، صفر الألوان من السهر،
على وجوههم غبرة الخاشعين، أولئك إخواني الذاهبون، فحق لنا أن نظمأ إليهم ونعض الأيدي
على فراقهم
“Di manakah kaum yang
diseru kepada Islam lalu mereka menerimanya, mereka membaca Al-Qur’an lalu
mereka mengokohkannya, dan mereka dikerahkan menuju peperangan lalu mereka
sangat merindukannya sebagaimana kerinduan unta yang menyusui kepada
anak-anaknya? Mereka menghunuskan pedang dari sarungnya, dan mereka menguasai
ujung-ujung bumi dengan maju sedikit demi sedikit dan berbaris-baris. Sebagian
ada yang gugur dan sebagian ada yang selamat. Mereka tidak diberi kabar gembira
dengan yang masih hidup dan tidak pula berta’ziyah (menyampaikan duka cita)
atas yang mati. Mata mereka memutih karena tangisan, perut mereka kempis karena
Puasa, bibir mereka layu karena berdoa, dan warna kulit mereka pucat karena
terjaga di malam hari. Pada wajah mereka terdapat debu orang-orang yang khusyu’.
Mereka itulah saudara-saudaraku yang telah pergi, maka sudah semestinya bagi
kita untuk merasa haus (rindu) kepada mereka dan menggigit tangan karena
berpisah dengan mereka.” (Nahjul Balaghoh, hlm. 177-178, Tahqiq Subhi
Sholih)
3.4 Pandangan
Ali bin Abi Tholib (40 H) Tentang Keutamaan Muhajirin dan Anshor
Dalam berbagai surat dan
khutbahnya, Ali bin Abi Tholib (40 H) memberikan pengakuan yang jujur mengenai
keutamaan yang dimiliki oleh kaum Muhajirin dan Anshor. Beliau menegaskan bahwa
mereka telah memenangkan perlombaan menuju kebaikan. Dalam jawaban beliau
kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan (60 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau
menyatakan:
فاز أهل السبق بسبقهم، وذهب المهاجرون الأولون بفضلهم
“Orang-orang yang
terdahulu telah menang dengan keterdahuluan mereka, dan kaum Muhajirin yang
pertama telah pergi membawa keutamaan mereka.” (Nahjul Balaghoh, hlm. 383)
Beliau juga memuji kaum Anshor
dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mendidik Islam
sejak awal. Beliau bersumpah dengan nama Alloh ﷻ untuk menegaskan jasa mereka:
هم والله ربوا الإسلام كما يربي الفلو مع غنائهم، بأيديهم السباط، وألسنتهم السلاط
“Mereka demi Alloh, telah
mendidik Islam sebagaimana seseorang mendidik anak kuda, disertai dengan
kecukupan mereka, dengan tangan-tangan mereka yang dermawan dan lisan-lisan
mereka yang tajam (dalam membela kebenaran).” (Nahjul Balaghoh, hlm. 557)
Pujian ini menunjukkan
bahwa di mata Ali bin Abi Tholib (40 H), para Shohabat tersebut adalah pilar
utama yang menyokong tegaknya agama ini. Beliau bahkan menceritakan bagaimana
kaum Anshor melindungi Nabi ﷺ dan
para Muhajirin dari serangan seluruh bangsa Arab dan pengkhianatan kaum Yahudi.
3.5 Prinsip
Syuro dalam Pandangan Sang Kholifah Ke-4
Salah satu bukti paling
kuat bahwa Ali bin Abi Tholib (40 H) mengakui legitimasi para pendahulunya dan
peran para Shohabat adalah pandangan beliau mengenai sistem kepemimpinan.
Beliau menegaskan bahwa urusan kepemimpinan umat (Imamah) adalah hak bagi kaum Muhajirin
dan Anshor melalui mekanisme musyawarah (Syuro). Hal ini membantah klaim Syiah
masa kini yang menyatakan adanya wasiat penunjukan langsung yang bersifat
muthlaq. Ali bin Abi Tholib (40 H) menuliskan:
إنما الشورى للمهاجرين والأنصار، فإن اجتمعوا على رجل وسموه إماماً كان ذلك لله
رضى، فإن خرج منهم خارج بطعن أو بدعة ردوه إلى ما خرج منه، فإن أبي قاتلوه على اتباعه
غير سبيل المؤمنين، وولاه الله ما تولى
“Sesungguhnya Syuro
(musyawarah) itu hanyalah milik kaum Muhajirin dan Anshor. Jika mereka telah bersepakat
atas seseorang dan menamainya sebagai Imam, maka hal itu adalah keridhoan bagi
Alloh. Jika ada orang yang keluar dari kesepakatan mereka dengan celaan atau
bid’ah (perkara baru yang sesat), maka mereka harus mengembalikannya kepada
kesepakatan tersebut. Jika ia menolak, maka mereka harus memeranginya karena ia
mengikuti selain jalan orang-orang Mu’min, dan Alloh akan memalingkannya ke
mana ia berpaling.” (Nahjul Balaghoh, 3/7, Tahqiq Muhammad Abduh)
Dari perkataan Ali bin
Abi Tholib (40 H) ini dapat diambil beberapa kesimpulan penting: urusan
kepemimpinan berada di tangan Muhajirin dan Anshor, kesepakatan mereka adalah
tanda keridhoan Alloh ﷻ, dan
siapapun yang menyelisihi mereka dianggap sebagai ahli bid’ah atau pembangkang.
Kesaksian ini secara otomatis membenarkan keabsahan kepemimpinan Abu Bakr
Ash-Shiddiq (13 H), Umar bin Al-Khoththob (23 H), dan Utsman bin Affan (35 H)
karena mereka dipilih berdasarkan kesepakatan para Shohabat tersebut.
Bab 4: Kedudukan
Shohabat di Mata Para Imam Ahlul Bait
Ahlul Bait memuji para
Shohabat dalam sebagian kitab Syiah yang mu’tamad. Tapi sayang, orang-orang
Syiah bahkan ulamanya terutama Syiah Iran merendahkannya bahkan
mengkafirkannya.
4.1 Doa dan
Permohonan Ampun Ali bin Husain (94 H) bagi Para Shohabat
Ali bin Husain (94 H)
yang dikenal dengan gelar Zainal Abidin merupakan Imam keempat dalam urutan
pemimpin Ahlul Bait menurut klaim kaum Syiah. Beliau adalah sosok pemimpin yang
sangat dihormati di zamannya dan dikenal sebagai hamba yang sangat taat dalam beribadah.
Dalam doa-doa beliau, Ali bin Husain (94 H) senantiasa mengingat para Shohabat
Muhammad ﷺ dengan
penuh penghormatan, bahkan beliau secara khusus memohonkan rahmat dan ampunan
bagi mereka dalam Sholat beliau. Beliau mengakui jasa besar para Shohabat yang
telah menolong Rosulullah ﷺ dalam
menyebarkan ajaran Tauhid dan menyampaikan risalah Robb semesta alam kepada
seluruh makhluq.
Berikut adalah kutipan
doa beliau yang menunjukkan kemuliaan para Shohabat di mata beliau:
فاذكرهم منك بمغفرة ورضوان اللهم وأصحاب محمد خاصة، الذين أحسنوا الصحابة، والذين
أبلوا البلاء الحسن في نصره، وكاتفوه وأسرعوا إلى وفادته، وسابقوا إلى دعوته، واستجابوا
له حيث أسمعهم حجة رسالته، وفارقوا الأزواج والأولاد في إظهار كلمته، وقاتلوا الآباء
والأبناء في تثبيت نبوته، والذين هجرتهم العشائر إذ تعلقوا بعروته، وانتفت منهم القرابات
إذ سكنوا في ظل قرابته
“Maka sebutlah mereka di
sisi-Mu dengan ampunan dan keridhoan. Ya Alloh, khususkanlah bagi para Shohabat
Muhammad, orang-orang yang telah membaguskan persahabatan, orang-orang yang
telah berjuang dengan perjuangan yang baik dalam menolong beliau, membantu
beliau, dan bersegera menyambut kedatangan beliau, serta berlomba-lomba
memenuhi dakwah beliau. Mereka memenuhi seruan beliau saat beliau
memperdengarkan kepada mereka hujjah risalah beliau. Mereka meninggalkan
istri-istri dan anak-anak demi menampakkan kalimat beliau, dan memerangi
ayah-ayah serta anak-anak demi mengokohkan kenabian beliau. Mereka adalah
orang-orang yang dikucilkan oleh kabilah-kabilah saat mereka berpegang teguh
pada tali agama beliau, dan terputus hubungan kekerabatan saat mereka menetap
di bawah naungan kekerabatan beliau.” (Shohifah Kamilah li Zainal Abidin,
hlm. 13)
Ali bin Husain (94 H)
juga mendoakan para Tabi’in yang mengikuti jejak para Shohabat dengan baik.
Beliau menegaskan bahwa para pengikut tersebut adalah orang-orang yang
mengikuti arah dan tujuan para Shohabat tanpa ada keraguan dalam hati mereka
sedikit pun. Mereka meyakini agama yang dibawa para Shohabat, mengikuti
petunjuk mereka, dan tidak pernah menuduh atau mencurigai apa yang telah
disampaikan oleh para Shohabat Nabi ﷺ kepada
mereka.
4.2 Kesaksian
Muhammad Al-Baqir (114 H) Tentang Ketulusan Iman Shohabat
Muhammad bin Ali yang
bergelar Al-Baqir (114 H) adalah putra dari Zainal Abidin dan merupakan tokoh
sentral dalam silsilah keluarga Nabi ﷺ. Beliau
meriwayatkan sebuah kisah yang sangat penting untuk membantah tuduhan
kemunafikan yang sering dialamatkan oleh Syiah Iran kepada para Shohabat. Dalam
sebuah dialog dengan Hamron bin A’yan, Muhammad Al-Baqir (114 H) menceritakan
kekhawatiran para Shohabat itu sendiri terhadap keadaan hati mereka.
Beliau menceritakan bahwa
para Shohabat Nabi ﷺ pernah
mengadu kepada Rosulullah ﷺ karena
merasa ada perbedaan kondisi hati saat berada di dekat Nabi ﷺ dibandingkan saat berada di tengah
keluarga dan harta mereka. Mereka merasa sangat khusyu’ dan seolah-olah melihat
Surga dan Neraka secara langsung saat mendengarkan nasihat Nabi ﷺ, namun perasaan itu berkurang saat mereka
kembali ke urusan duniawi. Mereka khawatir jika hal tersebut merupakan tanda
kemunafikan.
Rosulullah ﷺ kemudian memberikan jawaban yang sangat
tegas untuk menenangkan hati mereka:
«كلا، هذا من خطوات
الشيطان. ليرغبنكم في الدنيا، والله لو أنكم تدومون على الحال التي تكونون عليها وأنتم
عندي في الحال التي وصفتم أنفسكم بها لصافحتكم الملائكة، ومشيتم على الماء، ولولا أنكم
تذنبون، فتستغفرون الله لخلق الله خلقاً لكي يذنبوا، ثم يستغفروا، فيغفر الله لهم،
إن المؤمن مفتن تواب»
“Sama sekali tidak (bukan
nifaq), itu hanyalah langkah-langkah syaithon untuk membuat kalian menyukai
dunia. Demi Alloh, seandainya kalian senantiasa berada dalam kondisi hati
sebagaimana saat kalian berada di dekatku, niscaya para Malaikat akan menjabat tangan
kalian dan kalian akan dapat berjalan di atas air. Seandainya kalian tidak
pernah berdosa lalu kalian memohon ampun kepada Alloh, niscaya Alloh akan
menciptakan makhluq yang berbuat dosa kemudian mereka beristighfar sehingga
Alloh mengampuni mereka. Sesungguhnya seorang Mu’min itu sering diuji lagi
banyak bertaubat.” (Tafsir Al-Ayyasyi, 1/109 dan Al-Burhan, 1/215)
Riwayat yang dinukil oleh
Muhammad Al-Baqir (114 H) ini secara telak membuktikan bahwa para Shohabat
adalah orang-orang yang sangat menjaga kejujuran iman mereka. Pengakuan
Rosulullah ﷺ dengan
kata «كلا» (sama
sekali tidak) adalah jaminan bahwa mereka bukanlah orang-orang munafik
sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum fasik.
4.3 Pembelaan Ja’far
Ash-Shodiq (148 H) Terhadap 12.000 Shohabat Nabi ﷺ
Ja’far bin Muhammad yang
dikenal dengan Ash-Shodiq (148 H) memberikan kesaksian yang sangat kuat
mengenai jumlah dan kemurnian aqidah para Shohabat Nabi ﷺ. Beliau menegaskan bahwa jumlah Shohabat
mencapai 12.000 orang, yang terdiri dari 8.000 orang penduduk Madinah, 2.000
orang penduduk Makkah, dan 2.000 orang dari kalangan Thulaqo (orang yang masuk
Islam saat pembebasan Makkah).
Beliau menyatakan tentang
integritas iman mereka sebagai berikut:
كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم اثني عشر ألفا، ثمانية آلاف من المدينة،
وألفان من مكة، وألفان من الطلقاء، ولم ير فيهم قدري ولا مرجئ ولا حروري ولا معتزلي،
ولا صاحب رأي، كانوا يبكون الليل والنهار ويقولون: اقبض أرواحنا من قبل أن نأكل خبز
الخمير
“Dahulu para Shohabat
Rosulullah ﷺ
berjumlah 12.000 orang; 8.000 dari Madinah, 2.000 dari Makkah, dan 2.000 dari
kalangan Thulaqo. Tidak terlihat di tengah mereka seorang pun penganut
Qodariyyah, tidak pula Murji’ah, tidak pula Haruriyyah (Khowarij), tidak pula
Mu’tazilah, dan tidak pula orang yang mengedepankan logika semata. Mereka
senantiasa menangis di malam dan siang hari seraya berdoa: ‘Matikanlah kami
sebelum kami memakan roti yang dicampur dengan ragi (hidup dalam kemewahan).’” (Al-Khishol,
hlm. 640)
Pernyataan Ja’far
Ash-Shodiq (148 H) ini membantah segala bentuk fitnah yang menyatakan bahwa
mayoritas Shohabat telah murtad atau menyimpang setelah wafatnya Nabi ﷺ. Beliau justru menegaskan bahwa di antara
12.000 Shohabat tersebut tidak ditemukan satu pun pengikut aliran sesat, yang
menunjukkan betapa kuatnya pondasi keimanan dan ketaatan mereka terhadap Sunnah
Nabi ﷺ.
4.4 Pengakuan
Ali bin Musa Ar-Ridho (203 H) Terhadap Hadits Keutamaan Shohabat
Ali bin Musa yang
dijuluki Ar-Ridho (203 H) adalah Imam kedelapan dalam keyakinan Syiah. Dalam
kitab-kitab rujukan Syiah sendiri, beliau mengakui kebenaran hadits-hadits yang
menyebutkan kemuliaan Shohabat. Ketika beliau ditanya mengenai kebenaran sabda
Nabi ﷺ tentang
kedudukan Shohabat sebagai bintang petunjuk, beliau membenarkannya.
Beliau meriwayatkan sabda
Nabi ﷺ sebagai
berikut:
أصحابي كالنجوم فبأيهم اقتديتم اهديتم
“Para Shohabatku laksana
bintang-bintang, dengan siapapun kalian mengikuti maka kalian akan mendapatkan
petunjuk.” (Uyun Akhbar Ar-Ridho, 2/87)
Selain itu, Ali bin Musa
Ar-Ridho (203 H) juga meriwayatkan perintah Nabi ﷺ agar umat Islam tidak mencampuri urusan
perselisihan para Shohabat dengan cara yang buruk. Beliau mengutip ucapan Nabi ﷺ:
دعوا لي أصحابي
“Biarkanlah para
Shohabatku untukku (jangan mencela mereka).” (Uyun Akhbar Ar-Ridho, 2/87)
Pengakuan dari seorang
Imam Ahlul Bait yang agung seperti Ali bin Musa Ar-Ridho (203 H) terhadap keshohihan
hadits-hadits ini menjadi hujjah yang sangat kuat bagi kaum Syiah itu sendiri.
Hal ini membuktikan bahwa para Imam Ahlul Bait tidak pernah memandang buruk
para Shohabat, melainkan memposisikan mereka sebagai teladan dalam meraih
hidayah dari Alloh ﷻ.
4.5 Kesaksian
Ibnu Abbas (68 H) Tentang Pengorbanan Para Pembela Wahyu
Abdullah bin Abbas (68
H), yang merupakan sepupu Nabi ﷺ
sekaligus sepupu Ali bin Abi Tholib (40 H), adalah seorang pakar fiqih dan ahli
tafsir dari kalangan Ahlul Bait. Beliau memberikan kesaksian yang sangat
menyentuh mengenai bagaimana Alloh ﷻ memilihkan para Shohabat terbaik untuk
mendampingi Nabi-Nya.
Beliau berkata tentang
kemuliaan mereka:
إن الله جل ثناؤه وتقدست أسماءه خص نبيه محمداً صلى الله عليه وسلم بصحابة آثروه
على الأنفس والأموال، وبذلوا النفوس دونه في كل حال، ووصفهم الله في كتابه فقال: رُحَمَاء
بَيْنَهُمْ [الفتح:29]، قاموا بمعالم الدين، وناصحوا الاجتهاد للمسلمين، حتى تهذبت
طرقه، وقويت أسبابه، وظهرت آلاء الله، واستقر دينه، ووضحت أعلامه، وأذل بهم الشرك،
وأزال رؤوسه ومحا دعائمه، وصارت كلمة الله هي العليا وكلمة الذين كفروا هي السفلى،
فصلوات الله ورحمته وبركاته على تلك النفوس الزاكية، والأرواح الطاهرة العالية
“Sesungguhnya Alloh Jalla
Tsanauhu dan Maha Suci nama-nama-Nya telah mengkhususkan Nabi-Nya Muhammad ﷺ dengan para Shohabat yang lebih
mengutamakan beliau daripada diri dan harta mereka sendiri. Mereka mengorbankan
jiwa demi membela beliau dalam setiap keadaan. Alloh mensifati mereka dalam
kitab-Nya dengan firman-Nya: ‘Berkasih sayang di antara sesama mereka’.
Mereka menegakkan syiar-syiar agama, bersungguh-sungguh memberikan nasihat bagi
kaum Muslimin, hingga jalan-jalan agama ini menjadi bersih, sebab-sebabnya
menjadi kuat, nikmat-nikmat Alloh nampak nyata, agama-Nya menjadi kokoh, dan
tanda-tandanya menjadi jelas. Alloh menghinakan kesyirikan melalui perantara
mereka, menghilangkan para gembongnya, dan menghapuskan pilar-pilarnya,
sehingga kalimat Alloh-lah yang paling tinggi dan kalimat orang-orang kafir
menjadi yang paling rendah. Maka Sholawat Alloh, rahmat, serta barokah-Nya
semoga tercurah atas jiwa-jiwa yang suci tersebut dan ruh-ruh yang tinggi lagi
murni itu.” (Murujudz Dzahab, 3/52-53)
Ibnu Abbas (68 H) juga
menambahkan bahwa para Shohabat tersebut adalah wali-wali Alloh semasa hidupnya
dan tetap hidup (mulia) setelah wafatnya. Mereka telah melakukan perjalanan
menuju Akhiroh sebelum mereka benar-benar sampai ke sana, dan mereka telah
keluar dari keterikatan dunia padahal mereka masih berada di dalamnya.
Kesaksian ini menutup
segala keraguan bahwa keluarga Nabi ﷺ yang
paling berilmu sekalipun mengakui bahwa tegaknya Islam tidak lepas dari
pengorbanan suci para Shohabat.
Bab 5: Syiah
Iran dan Penyelisihan Terhadap Nash Para Imam
5.1 Riwayat
Larangan Mencela Shohabat dalam Kitab-Kitab Rujukan Syiah
Ali bin Abi Tholib (40 H)
sebagai pemimpin tertinggi Ahlul Bait telah meninggalkan wasiat yang sangat
tegas kepada para pengikutnya untuk menjaga kehormatan para Shohabat Nabi ﷺ. Beliau melarang dengan keras segala
bentuk pencelaan terhadap mereka karena kedekatan dan kesetiaan mereka kepada
Rosulullah ﷺ. Wasiat
ini dicatat dalam kitab-kitab yang menjadi rujukan kaum Syiah sendiri, yang
menunjukkan bahwa mencela Shohabat adalah perbuatan yang menyimpang dari
perintah sang Imam.
Dalam kitab Hayatul
Qulub karya Al-Majlisi (1110 H) —tokoh besar Syiah—, dinukil sebuah riwayat
yang terpercaya dari Ali bin Abi Tholib (40 H) saat beliau berkata kepada para
pengikutnya:
«أوصيكم في أصحاب
رسول الله صلى الله عليه وسلم، لا تسبوهم، فإنهم أصحاب نبيكم، وهم أصحابه الذين لم
يبتدعوا في الدين شيئاً، ولم يوقروا صاحب بدعة، نعم! أوصاني رسول الله صلى الله عليه
وسلم في هؤلاء»
“Aku berwasiat kepada
kalian tentang para Shohabat Rosulullah ﷺ,
janganlah kalian mencaci maki mereka. Karena sesungguhnya mereka adalah para
Shohabat Nabi kalian. Mereka adalah para Shohabat yang tidak mengadakan perkara
baru sedikit pun dalam agama dan tidak pula menghormati pelaku bid’ah. Benar,
Rosulullah ﷺ telah berwasiat
kepadaku tentang mereka ini.” (Hayatul Qulub, Al-Majlisi, 2/621)
Pernyataan ini merupakan
hujjah yang sangat kuat bagi siapa saja yang mengaku sebagai pengikut setia Ali
bin Abi Tholib (40 H). Larangan mencaci maki Shohabat didasarkan pada fakta bahwa
mereka adalah penjaga kemurnian agama yang tidak melakukan penyimpangan (bid’ah).
Maka, praktik Syiah Iran yang menjadikan cacian sebagai bagian dari ritual
keagamaan mereka adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap wasiat Ali bin Abi
Tholib (40 H).
5.2 Keutamaan
Shohabat Nabi ﷺ dalam
Tafsir Hasan Al-Askari (260 H)
Hasan bin Ali yang
dijuluki Al-Askari (260 H) merupakan Imam ke-11 bagi kaum Syiah. Dalam kitab
tafsirnya, beliau menyebutkan sebuah dialog antara Nabi Musa alaihissalam
dengan Alloh ﷻ yang
menegaskan kedudukan luar biasa para Shohabat Muhammad ﷺ di atas Shohabat para Nabi lainnya.
Penegasan ini menunjukkan bahwa kemuliaan Shohabat adalah perkara yang telah
ditetapkan oleh Alloh ﷻ sejak
zaman dahulu.
Al-Askari (260 H)
menyebutkan bahwa Musa bertanya kepada Robb-nya apakah ada pengikut Nabi yang
lebih mulia dari pengikutnya. Alloh ﷻ menjawab pertanyaan tersebut dengan
menyatakan:
«يا موسى! أما علمت
أن فضل صحابة محمد صلى الله عليه وسلم على جميع صحابة المرسلين كفضل محمد صلى الله
عليه وسلم على جميع المرسلين والنبيين»
“Wahai Musa! Tidakkah
engkau mengetahui bahwasanya keutamaan para Shohabat Muhammad ﷺ di atas seluruh Shohabat para Rosul adalah
seperti keutamaan Muhammad ﷺ di atas
seluruh Rosul dan Nabi.” (Tafsir Hasan Al-Askari, hlm. 65, dan Al-Burhan,
3/228, dan ini lafazhnya)
Pengibaratan ini
memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa merendahkan Shohabat Nabi ﷺ sama saja dengan merendahkan ketetapan
Alloh ﷻ. Jika
Nabi Muhammad ﷺ adalah
manusia paling utama, maka para pendampingnya pun merupakan generasi pendamping
terbaik yang pernah ada di muka bumi. Riwayat ini secara otomatis membatalkan
segala klaim yang menyebutkan bahwa para Shohabat adalah orang-orang yang
berkhianat setelah wafatnya Rosulullah ﷺ.
5.3 Mengungkap
Kebohongan Al-Majlisi (1110 H) dan Tokoh Syiah Muta’akhirin
Muhammad Baqir Al-Majlisi
(1110 H) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Syiah masa
kini, khususnya di Iran. Ia dijuluki sebagai Khotimul Mujtahidin dan dianggap
sebagai pilar utama penyebaran madzhab mereka di era belakangan. Namun, di
balik kemasyhuran namanya, Al-Majlisi dikenal sebagai sosok yang sangat
membenci Ahlus Sunnah dan memiliki lisan yang sangat kotor dalam mencela para
Shohabat.
Sejarah mencatat
kepribadiannya yang penuh dengan kebencian sebagai berikut:
Dr. Ihsan Ilahi Zhohir
berkata: “Dan Al-Majlisi meriwayatkan, dia adalah Al-Mulla Muhammad Baqir bin
Muhammad Taqi Al-Majlisi, lahir tahun 1037 H dan mati tahun 1110 H. Termasuk
musuh bebuyutan Sunnah dan penentang mereka. Tidak pernah terlihat di kalangan
Syiah belakangan orang yang selancang lidahnya, seburuk ucapannya, dan sekeji
kata-katanya; ia tidak berbicara satu patah kata pun kecuali mengalir darinya
kekejian dan cercaan.” (Syiah wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir, hlm. 30)
Meskipun kepribadiannya
dipenuhi dengan ucapan keji, kaum Syiah tetap mengangkatnya sebagai Imam para
Imam dalam ilmu Hadits. Pengangkatan tokoh yang hobi mencaci maki sebagai
rujukan agama membuktikan bahwa Syiah Iran lebih mengutamakan nafsu kebencian
daripada mengikuti akhlaq mulia para Imam Ahlul Bait yang terdahulu. Mereka
membangun pondasi keyakinan di atas pondasi yang diletakkan oleh orang-orang
yang lisannya tidak terjaga dari menghina para kekasih Rosulullah ﷺ.
5.4 Paradoks
Syiah Iran: Mengaku Pengikut Namun Menentang Wasiat Imam
Keadaan Syiah Iran saat
ini merupakan sebuah paradoks yang sangat nyata. Di satu sisi mereka
meneriakkan slogan kesetiaan kepada Ahlul Bait, namun di sisi lain mereka
secara terang-terangan menyelisihi perbuatan dan perkataan para Imam tersebut.
Mereka tidak mengikuti pendapat para Imam, tidak menempuh jalan hidup mereka,
dan tidak menaati perintah-perintah mereka. Perlawanan ini dilakukan secara
terbuka baik melalui ucapan maupun perbuatan yang nyata.
Hubungan asli antara
Ahlul Bait dengan para Shohabat dipenuhi dengan kasih sayang dan kerjasama yang
tidak pernah ditampilkan oleh Syiah Iran. Para Imam Ahlul Bait yang asli justru
melakukan hal-hal berikut kepada para Shohabat:
Dr. Ihsan Ilahi berkata: “Bahkan
mereka (Ahlul Bait) justru loyal kepada para Shohabat, saling mencintai,
bersikap lembut, membantu dalam masalah mereka, bermusyawarah dalam urusan
mereka, berbagi keresahan dan rasa sakit, serta berserikat dalam urusan agama
dan dunia. Mereka berbagi dalam urusan pemerintahan, berbaiat atas kepemimpinan
dan kekuasaan para Shohabat, serta berjihad di bawah panji-panji mereka.” (Syiah
wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir, hlm. 30)
Selain itu, para Imam
Ahlul Bait juga melakukan hubungan pernikahan (mushoharoh) dengan
keluarga para Shohabat, memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama para
Shohabat seperti Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta senantiasa menyebutkan
keutamaan-keutamaan para Shohabat dalam majelis mereka. Semua fakta sejarah ini
sangat bertolak belakang dengan ideologi Syiah Iran yang menganggap para
Shohabat sebagai musuh. Ketidaksesuaian ini membuktikan bahwa Syiah Iran
bukanlah pengikut Ahlul Bait, melainkan pengikut ideologi buatan yang sengaja
diciptakan untuk memecah belah umat.
5.5 Ancaman
Adzab bagi Pembenci Shohabat Menurut Lisan Ahlul Bait
Para Imam Ahlul Bait
telah memberikan peringatan yang sangat keras bagi siapa saja yang berani
menanamkan kebencian terhadap para Shohabat Nabi ﷺ. Ancaman ini bukan main-main, melainkan
sebuah peringatan akan adanya siksaan yang sangat pedih di Akhiroh kelak. Dalam
kitab Tafsir Hasan Al-Askari (260 H), disebutkan mengenai konsekuensi
bagi orang yang membenci para Shohabat yang baik tersebut.
Teks tersebut menyatakan
ancaman bagi para pembenci sebagai berikut:
«إن رجلاً ممن يبغض
آل محمد وأصحابه الخيرين أو واحداً منهم يعذبه الله عذاباً لو قسم على مثل عدد خلق
الله لأهلكهم أجمعين»
“Sesungguhnya seseorang
dari kalangan mereka yang membenci keluarga Muhammad dan para Shohabatnya yang
baik, atau membenci salah satu saja dari mereka, maka Alloh akan mengadzabnya
dengan sebuah adzab yang sekiranya adzab itu dibagikan kepada sejumlah makhluq
Alloh, niscaya akan membinasakan mereka semuanya.” (Tafsir Hasan Al-Askari,
hlm. 196)
Ancaman ini menunjukkan
betapa besarnya dosa membenci para Shohabat di sisi Alloh ﷻ dan di mata para Imam Ahlul Bait. Dengan
demikian, Syiah Iran yang mendoktrin pengikutnya untuk membenci dan melaknat
para Shohabat sebenarnya sedang menggiring mereka menuju kehancuran dan adzab
yang sangat mengerikan. Kebencian terhadap satu orang Shohabat saja sudah cukup
untuk mendatangkan murka Alloh ﷻ, apalagi kebencian sistematis terhadap
mayoritas Shohabat sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syiah.
Penutup
Buku ini telah memaparkan
fakta-fakta yang tak terbantahkan bahwa klaim Syiah Iran sebagai pembela Ahlul
Bait hanyalah sebuah tipu daya yang jauh dari kebenaran. Melalui penelusuran
terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan lisan para Imam Ahlul Bait sendiri, terungkap
bahwa mereka senantiasa memuliakan, mencintai, dan bekerjasama dengan para
Shohabat Nabi ﷺ. Para
Imam Ahlul Bait seperti Ali bin Abi Tholib (40 H), Zainal Abidin (94 H),
Muhammad Al-Baqir (114 H), Ja’far Ash-Shodiq (148 H), dan Ali Ar-Ridho (203 H)
semuanya berada di satu barisan dalam menghormati generasi awal Islam.
Segala bentuk cercaan,
laknat, dan pengkafiran yang dilakukan oleh Syiah Iran terhadap para Shohabat
adalah bentuk penyelisihan yang nyata terhadap ajaran asli keluarga Nabi ﷺ. Mereka telah menciptakan sebuah agama
baru di atas puing-puing kebencian sejarah yang dimanipulasi. Sesungguhnya
Ahlul Bait berlepas diri dari segala keyakinan dan perbuatan kaum Syiah
tersebut.
Semoga melalui tulisan
ini, Alloh ﷻ
memberikan hidayah kepada orang-orang yang terpedaya oleh slogan kecintaan
palsu kepada Ahlul Bait. Kebenaran yang sejati adalah dengan mencintai Ahlul
Bait sebagaimana mereka mencintai para Shohabat, dan mengikuti petunjuk mereka
yang senantiasa selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Hanya dengan kembali
kepada jalan yang ditempuh oleh para Salafush Sholih, umat ini akan mendapatkan
kembali kejayaan dan keridhoan dari Robb semesta alam.
Daftar Pustaka
Buku ini menjadikan Mausuah
Firoq Al-Muntasibah lil Islam sebagai referensi utama. Nukilan-nukilan di
sini dinukil darinya terutama Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi
Zhohir.
