×

🔥 PROGRAM PREMIUM TERBATAS 🔥
SETORAN HAFALAN DOA-DOA DARI AL-QUR'AN

Ingin hafal doa-doa pilihan langsung dari Al-Qur'an dengan bimbingan yang terarah, sistematis, disiplin?
Ini kesempatan emas untuk Anda.

✨ Keunggulan Program:

  • 56 doa pilihan dari Al-Qur'an
  • Sistem setoran terarah & konsisten
  • Dibimbing hingga benar dalam hafalan & bacaan
  • Target jelas & progres terukur
  • Cocok untuk semua usia (Ikhwan)

👤 Pembimbing:
Nor Kandir, ST., BA

📅 Pendaftaran:
7 – 12 April 2026 (ditutup pukul 23.00)

📆 Pelaksanaan:
13 April – 13 Mei 2026 (1 bulan)

🗓 Jadwal Setoran:
Senin, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu
⏰ 21.00 – 22.00
📊 Total: 20 pertemuan intensif online

📖 Target Setoran:

  • Minimal: 2 doa pendek / 1 doa panjang
  • Anjuran: 3 – 5 doa per pertemuan

📝 Ujian Akhir:
13 Mei 2026 (pilihan ganda)

💰 Biaya: Rp 99.000

⚠️ Kuota terbatas (ditutup jika penuh)

🏢 Penyelenggara:
Terjemah Matan Official
www.terjemahmatan.com

⏳ Jangan tunda.
1 bulan fokus, puluhan doa bisa bermanfaat seumur hidup.

Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Syiah dan Iran Musuh Bagi Ahlul Bait dan Para Shohabat - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh alam dan cahaya yang menerangi kegelapan.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosulullah , keluarga beliau yang suci, dan para Shohabat beliau yang mulia.

Amma ba’du:

Penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh sebuah kenyataan pahit yang menimpa umat Islam, di mana sebuah kelompok telah sekian lama menggunakan nama besar keluarga Nabi untuk menanamkan kebencian dan perpecahan. Kelompok tersebut adalah Syiah, yang saat ini berpusat di Iran, yang mengklaim diri mereka sebagai pembela paling setia bagi Ahlul Bait.

Tipu daya ini telah berjalan selama berabad-abad, di mana mereka berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah golongan yang paling dekat dengan kebenaran karena berpegang teguh pada wasiat-wasiat keturunan Nabi . Namun, penelusuran sejarah dan penelaahan terhadap kitab-kitab rujukan mereka sendiri justru mengungkap fakta yang sangat mengejutkan. Alih-alih mengikuti jalan hidup para Imam dari keluarga Nabi , Syiah Iran justru membangun pondasi keyakinan mereka di atas penentangan terhadap ajaran asli para Imam tersebut.

Buku ini disusun sebagai bentuk amanah ilmiyyah untuk menyingkap tabir gelap yang menyelimuti klaim-klaim mereka. Dengan merujuk langsung pada sumber-sumber otentik dari kitab-kitab Syiah sendiri, kita akan melihat bagaimana para Imam Ahlul Bait seperti Ali bin Abi Tholib (40 H), Muhammad Al-Baqir (114 H), dan Ja’far Ash-Shodiq (148 H) justru memberikan pujian dan pembelaan kepada para Shohabat Nabi yang senantiasa dicaci maki oleh pengikut Syiah hari ini.

Melalui tulisan ini, diharapkan para pembaca yang selama ini terperdaya oleh slogan kecintaan kepada Ahlul Bait dapat melihat perbedaan yang sangat mencolok antara cinta yang hakiki dengan cinta palsu yang digunakan sebagai alat politik dan penyebaran ajaran sesat. Inilah upaya untuk mengembalikan kemuliaan Ahlul Bait yang sebenarnya, yang senantiasa sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta bersatu padu dengan para Shohabat dalam membela Islam.

 

Bab 1: Tipu Daya Syiah Atas Nama Ahlul Bait

1.1 Klaim Palsu Kedekatan dengan Keturunan Nabi

Sesungguhnya orang-orang Syiah telah melakukan upaya sistematis untuk menipu umat manusia dengan memposisikan diri mereka sebagai satu-satunya pengikut setia keluarga Nabi . Mereka membangun narasi bahwa kedekatan mereka dengan para keturunan Rosulullah menjadikan mereka sebagai golongan yang paling benar dan paling mendapat petunjuk di antara seluruh kelompok umat Islam lainnya. Syiah beranggapan bahwa keselamatan hanya bisa dicapai dengan mengikuti tafsiran-tafsiran sepihak mereka atas kehidupan para kerabat Nabi tersebut.

Dr. Ihsan Ilahi Zhohir (1407 H) —ulama Sunni— menjelaskan dalam karyanya mengenai hakikat klaim ini sebagai berikut: “Bab Syiah dan penyelisihan mereka terhadap Ahlul Bait. Sesungguhnya orang-orang Syiah telah berusaha menipu manusia dengan anggapan bahwa mereka adalah para pengikut Ahlul Bait Nabi , dan bahwa mereka adalah manusia yang paling dekat kepada kebenaran dan ketepatan di antara golongan-golongan kaum Muslimin, serta yang paling utama dan paling mendapat petunjuk karena berpegang teguh kepada kerabat Nabi dan keluarganya, dan bahwasanya orang-orang yang berpegang teguh kepada ucapan-ucapan mereka, mengamalkan petunjuk mereka, meniti jalan mereka, serta mengikuti jejak dan ajaran mereka hanyalah mereka sendiri bukan selain mereka.” (Syiah wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir, hlm. 29)

Klaim eksklusivitas inilah yang kemudian digunakan oleh Syiah Iran untuk menarik simpati umat Islam di berbagai belahan dunia. Mereka menggunakan istilah-istilah yang sangat menyentuh kejiwaan umat untuk menggambarkan seolah-olah seluruh dunia Islam telah berkhianat kepada keluarga Nabi , dan hanya merekalah yang tetap setia menjaga warisan tersebut. Penampakan rasa cinta ini sengaja dibuat sedemikian rupa agar masyarakat awam tidak lagi melihat bukti-bukti sejarah yang menunjukkan sebaliknya.

1.2 Penyempitan Makna Ahlul Bait untuk Kepentingan Kelompok

Salah satu bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh Syiah adalah penyempitan makna Ahlul Bait yang tidak sesuai dengan pengertian luas yang ada dalam Al-Qur’an maupun penuturan sejarah yang jujur. Mereka tidak memaksudkan Ahlul Bait sebagai seluruh keluarga kenabian yang mencakup istri-istri Nabi dan keturunan beliau secara umum. Sebaliknya, mereka menyaring makna tersebut hanya terbatas pada Ali bin Abi Tholib (40 H) dan beberapa anak cucunya yang jumlahnya sudah ditentukan secara khusus oleh kelompok mereka sendiri.

Ihsan Ilahi Zhohir (1407 H) menegaskan hal ini dalam pernyataannya: “Dan sungguh kami telah merinci perkataan sebelumnya bahwa kaum tersebut (Syiah) tidak memaksudkan dengan Ahlul Bait adalah keluarga kenabian, dan bahwasanya mereka tidak loyal kepada mereka dan tidak pula mencintai mereka, melainkan mereka menginginkan dan memaksudkan di balik itu adalah Ali rodhiyallahu ‘anhu dan anak-anaknya yang dikhususkan lagi dibatasi jumlahnya.” (Syiah wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir, hlm. 29)

Dengan penyempitan makna ini, Syiah Iran berusaha membuang peran besar istri-istri Nabi yang telah Alloh muliakan di dalam Al-Qur’an sebagai ibunda orang-orang beriman (Ummahatul Mu’minin). Strategi ini digunakan untuk mempermudah mereka dalam menyerang kepribadian para istri Nabi , terutama Aisyah rodhiyallahu ‘anha, yang merupakan putri dari Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu (13 H). Dengan membatasi Ahlul Bait hanya pada garis keturunan tertentu, mereka menciptakan tembok pemisah yang memutus hubungan harmonis antara Nabi dengan seluruh lingkaran keluarganya.

1.3 Hakikat Permusuhan Syiah Terhadap Ajaran Keturunan Nabi

Kenyataan yang sering kali disembunyikan dari pengikut Syiah tingkat bawah adalah bahwasanya ajaran-ajaran yang mereka praktikkan hari ini justru berlawanan dengan apa yang diperintahkan oleh para Imam dari keluarga Nabi itu sendiri. Meskipun mereka selalu meneriakkan slogan ketaatan kepada Ahlul Bait, pada hakikatnya mereka tidak mengikuti petunjuk, pendapat, maupun jalan hidup yang ditempuh oleh Ali bin Abi Tholib (40 H) dan keturunannya yang sholih.

Para pengikut Syiah ini justru terang-terangan melakukan perlawanan terhadap ajaran Ahlul Bait yang asli melalui ucapan maupun perbuatan mereka. Mereka menyimpang dari jalan para Imam tersebut terutama dalam urusan menyikapi para Kholifah Nabi yang telah mendapat petunjuk (Khulafaur Rosyidin), istri-istri beliau yang suci, serta para Shohabat yang mulia yang telah menyebarkan risalah agama ini ke seluruh penjuru dunia.

Shohabat Nabi adalah orang-orang yang telah Alloh puji dalam kitab-Nya yang terjaga dari kebathilan:

﴿لَّا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ﴾

“Al-Qur’an itu tidak didatangi oleh kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Robb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat: 42)

Namun, orang-orang Syiah justru mengambil jalan yang berbeda dengan jalan para Shohabat tersebut, yang berarti mereka juga menyelisihi pujian Alloh dan teladan Ahlul Bait yang senantiasa menghormati mereka. Perlawanan Syiah ini mencakup segala aspek, mulai dari prinsip-prinsip hukum hingga masalah akhlaq dan sejarah.

1.4 Kontradiksi Antara Pengakuan Cinta dan Praktik Nyata

Kecintaan yang diklaim oleh Syiah Iran terhadap Ahlul Bait hanyalah bersifat lisan, sementara praktik nyata mereka dipenuhi dengan pengingkaran terhadap nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh keluarga Nabi . Para Shohabat yang dijanjikan ampunan dan pahala yang besar oleh Alloh justru menjadi sasaran cercaan mereka. Padahal, para Shohabat tersebut adalah orang-orang yang digambarkan oleh Alloh sebagai hamba yang senantiasa beribadah di malam hari dan dermawan di siang hari.

Alloh berfirman memuji para Shohabat Nabi :

﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴾

“Lambung-lambung mereka menjauh dari tempat tidur karena mereka melakukan Sholat Tahajjud di malam hari dengan rasa takut akan adzab Robb mereka dan berharap akan pahala-Nya, dan mereka menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka di jalan kebaikan.” (QS. As-Sajdah: 16)

Para Shohabat inilah yang senantiasa diingat dan dihormati oleh Ahlul Bait yang sebenarnya.

Syiah Iran menampakkan pertentangan yang nyata dengan mencela orang-orang yang telah Alloh puji sebagai pribadi yang berkasih sayang di antara sesama Mu’min. Mereka membangun ajaran mereka di atas kebencian kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H), Umar bin Al-Khoththob (23 H), dan Utsman bin Affan (35 H), sementara Ahlul Bait justru hidup berdampingan secara harmonis dan bahkan melakukan hubungan pernikahan dengan keturunan para Shohabat tersebut. Ali menikahkan putrinya kepada Umar bin Khothtob. Kontradiksi ini membuktikan bahwa Syiah tidak sedang mengikuti Ahlul Bait, melainkan sedang menggunakan nama mereka untuk menghancurkan sejarah emas Islam.

1.5 Upaya Menyesatkan Umat dengan Kedok Mencintai Keturunan Nabi

Tujuan akhir dari segala tipu daya ini adalah untuk menggiring opini publik umat Islam agar menjauh dari ajaran Islam yang murni dan masuk ke dalam jerat pemikiran Syiah yang penuh dengan penyimpangan. Mereka memanfaatkan rasa hormat yang alami dari setiap Muslim terhadap keluarga Nabi untuk memasukkan keyakinan-keyakinan yang merusak. Banyak orang awam yang tertipu dan mengira bahwa mencintai Syiah adalah syarat untuk mencintai Ahlul Bait, padahal kenyataannya adalah sebaliknya.

Dr. Ihsan Ilahi Zhohir berkata: “Kebenaran itu justru semakin tampak ketika diakui oleh orang yang menentangnya. Kami tidak menginginkan dari pembahasan ini kecuali agar jelas bahwa para Imam yang lurus dari Ahlul Bait tidak berada di pihak kelompok tersebut (Syiah), baik dalam perkara kecil maupun besar.

Harapannya, Alloh memberi petunjuk melalui tulisan ini kepada orang-orang yang terpedaya oleh kecintaan kepada Ahlul Bait—yang mereka sangka bahwa keyakinan-keyakinan Syiah berasal dari para Imam Ahlul Bait, dibangun oleh mereka, dan ditegakkan di atas ajaran mereka.

Akibat anggapan itu, mereka mencintai para Imam tersebut dan memusuhi orang-orang yang mereka kira sebagai musuh para Imam—yaitu orang-orang yang dituduh telah merampas hak mereka, menghalangi mereka dari warisan Nabi , dan menzholimi mereka.” (Syiah wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir, hlm. 34)

Dengan demikian, terlihat jelas bahwa Syiah Iran telah membangun sebuah sistem kepercayaan yang didasarkan pada manipulasi perasaan sejarah. Mereka menciptakan musuh-musuh imajiner dari kalangan Shohabat untuk membenarkan kebencian mereka, sementara mereka sendiri sebenarnya sedang mengkhianati wasiat dan jalan hidup Ahlul Bait yang asli. Memahami kedok ini adalah langkah awal yang sangat penting bagi setiap Muslim agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan yang dibungkus dengan kemasan indah berupa kecintaan kepada keturunan Rosulullah .

 

Bab 2: Shohabat Nabi dalam Timbangan Al-Qur’an

2.1 Pujian Alloh bagi Muhajirin dan Anshor dalam Al-Qur’an

Alloh telah memberikan kesaksian yang sangat agung di dalam kitab-Nya mengenai kemuliaan para Shohabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Mereka adalah generasi pertama yang menerima dakwah Islam dengan hati yang lapang, mengorbankan harta dan nyawa demi tegaknya agama ini. Alloh menegaskan keridhoan-Nya kepada mereka dalam ayat yang sangat jelas:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Dan Alloh menyediakan bagi mereka Jannah-Jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Pujian ini mencakup seluruh Muhajirin yang meninggalkan tanah kelahiran mereka demi Alloh dan para Anshor yang memberikan tempat bernaung serta pertolongan bagi agama-Nya. Alloh menyifati kaum Muhajirin sebagai orang-orang yang benar dalam imannya:

﴿لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴾

“Bagi orang-orang fakir yang berhijroh yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Alloh dan keridhoan-Nya dan mereka menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hashr: 8)

Begitu pula dengan kaum Anshor, Alloh memuji sifat kedermawanan dan kasih sayang mereka kepada saudara seiman:

﴿وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijroh kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

2.2 Ridho Alloh bagi Peserta Baiat Ridhwan di Bawah Pohon

Salah satu peristiwa paling bersejarah yang menunjukkan kedudukan tinggi para Shohabat adalah Baiat Ridhwan yang terjadi di Hudaibiyah. Di saat genting tersebut, para Shohabat menyatakan kesetiaan mereka kepada Rosulullah untuk berjuang hingga titik darah penghabisan. Alloh secara langsung memberikan legitimasi atas keimanan dan ketulusan hati mereka:

﴿لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا﴾

“Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang Mu’min ketika mereka menjanjikan setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)

Kesaksian Alloh bahwa Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati para Shohabat merupakan bukti tak terbantahkan bahwa mereka bukanlah orang-orang munafik. Ridho Alloh yang bersifat abadi ini mustahil diberikan kepada orang-orang yang akan murtad atau berkhianat di masa depan, karena Alloh Maha Mengetahui segala yang akan terjadi. Melalui ayat ini, setiap upaya untuk mencela peserta Baiat Ridhwan pada hakikatnya adalah penentangan terhadap penilaian Alloh itu sendiri.

2.3 Kesaksian Iman yang Benar bagi Para Pejuang di Jalan Alloh

Keimanan para Shohabat bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan dibuktikan dengan pengorbanan yang nyata dalam berbagai pertempuran demi membela Islam. Alloh menyifati mereka sebagai orang-orang Mu’min yang sebenar-benarnya:

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَّنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ﴾

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijroh serta berjihad pada jalan Alloh, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)

Bahkan di saat-saat yang sangat sulit, seperti dalam perang Tabuk yang dikenal sebagai saat kesusahan, para Shohabat tetap teguh mengikuti Rosulullah . Alloh pun menerima taubat mereka dan menegaskan sifat kasih sayang-Nya kepada mereka:

﴿لَّقَد تَّابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ﴾

“Sesungguhnya Alloh telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshor yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Alloh menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Alloh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 117)

Sifat tegas mereka terhadap kaum kafir dan lemah lembut terhadap sesama Muslim menjadi ciri khas yang Alloh abadikan dalam Kitab Suci-Nya:

﴿مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ﴾

“Muhammad itu adalah utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29)

2.4 Kedudukan Istri-Istri Nabi sebagai Ummahatul Mu’minin

Syiah Iran sering kali memisahkan antara keluarga Nabi dengan istri-istri beliau dalam narasi Ahlul Bait mereka. Namun, Al-Qur’an secara tegas memberikan kedudukan istimewa bagi istri-istri Nabi sebagai ibu bagi setiap orang yang beriman. Kedudukan ini adalah sebuah kehormatan syar’i yang tidak bisa digugurkan oleh siapapun:

﴿النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ﴾

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mu’min dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)

Alloh juga menegaskan bahwa istri-istri Nabi tidaklah sama dengan wanita-wanita lainnya jika mereka bertaqwa. Mereka diperintahkan untuk menjaga kesucian diri dan menjauhi perilaku jahiliyyah demi menjaga martabat rumah tangga kenabian:

﴿يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا﴾

“Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)

Dengan menetapkan mereka sebagai Ummahatul Mu’minin, Alloh mewajibkan seluruh umat Islam untuk menghormati dan mencintai mereka sebagaimana seorang anak menghormati ibunya. Maka, tindakan mencaci atau menuduh istri-istri Nabi dengan hal-hal keji adalah sebuah pelanggaran berat terhadap hukum Alloh dan bentuk ketidakberadaban kepada Rosulullah .

2.5 Jaminan Surga bagi Generasi Awal Islam

Kesetiaan dan pengorbanan para Shohabat telah membuahkan jaminan yang pasti dari Alloh berupa Jannah dan pengampunan dosa. Alloh tidak membedakan antara mereka yang berinfak dan berperang sebelum penaklukan Makkah maupun sesudahnya dalam hal janji kebaikan, meskipun derajat mereka berbeda di sisi-Nya:

﴿لَا يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sebelum penaklukan kota Makkah. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sesudah itu. Alloh menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik (Jannah). Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 10)

Alloh menjanjikan bahwa setiap tetes darah yang tumpah dan setiap penderitaan yang mereka alami dalam Jihad akan dibalas dengan kenikmatan yang abadi:

﴿فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ﴾

“Maka orang-orang yang berhijroh, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam Jannah yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Alloh. Dan Alloh pada sisi-Nya ada pahala yang baik.” (QS. Ali Imron: 195)

Seluruh ayat-ayat tersebut menjadi pondasi yang kokoh bagi umat Islam untuk mencintai dan memuliakan para Shohabat. Siapapun yang berusaha meruntuhkan kehormatan mereka berarti telah berusaha meruntuhkan saksi-saksi sejarah yang dipuji langsung oleh Robb semesta alam. Inilah standar kebenaran yang harus dipegang oleh setiap Muslim dalam menilai kedudukan para pembela Rosulullah .

 

Bab 3: Kesaksian Ali bin Abi Tholib (40 H) Terhadap Kemuliaan Shohabat

Di sini akan disebutkan langsung bahwa imam besar mereka, Ali bin Abi Tholib, memuji para Shohabat, yang diambil langsung dari kitab-kitab Syiah.

Namun disayangkan, ulama-ulama Syiah dulu dan sekarang termasuk Iran, tetap mencela bahkan mengkafirkan mereka.

3.1 Pujian Ali bin Abi Tholib (40 H) dalam Kitab Nahjul Balaghoh

Ali bin Abi Tholib (40 H) adalah Kholifah keempat bagi kaum Muslimin dan merupakan Imam pertama yang ma’shum (terjaga dari dosa) dalam keyakinan Syiah. Beliau adalah pemimpin Ahlul Bait yang paling utama setelah Rosulullah . Dalam kitab rujukan utama Syiah, yaitu Nahjul Balaghoh, terdapat banyak riwayat yang menunjukkan bagaimana beliau memuji para Shohabat Nabi secara umum dengan pujian yang sangat tinggi. Beliau memberikan kesaksian tentang ibadah dan ketulusan para Shohabat tersebut sebagai berikut:

لقد رأيت أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، فما أرى أحداً يشبههم منكم! لقد كانوا يصبحون شعثاً غبراً، وقد باتوا سجداً وقياماً، يراوحون بين جباههم وخدودهم، ويقفون على مثل الجمر من ذكر معادهم! كأن بين أعينهم ركب المعزى من طول سجودهم! إذا ذكر الله هملت أعينهم حتى تبل جيوبهم، ومادوا كما يميد الشجر يوم الريح العاصف، خوفاً من العقاب، ورجاء للثواب

“Sungguh aku telah melihat para Shohabat Muhammad , maka aku tidak melihat seorang pun di antara kalian yang menyerupai mereka! Sungguh mereka di pagi hari dalam keadaan rambut yang kusut dan berdebu, sementara mereka telah melewati malam dengan bersujud dan berdiri (Sholat). Mereka bergantian meletakkan dahi dan pipi mereka (di atas tanah), dan mereka berdiri seolah-olah di atas bara api karena mengingat tempat kembali mereka (Akhiroh)! Seakan-akan di antara kedua mata mereka terdapat bekas seperti lutut kambing karena lamanya sujud mereka! Jika Alloh disebutkan, mata mereka bercucuran air mata hingga membasahi kerah baju mereka, dan mereka bergoyang sebagaimana bergoyangnya pepohonan pada hari ditiup angin kencang, karena rasa takut terhadap siksaan dan mengharap pahala.” (Nahjul Balaghoh, hlm. 143, Tahqiq Subhi Sholih)

3.2 Perbandingan Antara Shohabat Nabi dengan Pengikut yang Berkhianat

Ali bin Abi Tholib (40 H) sering kali membandingkan kualitas keimanan dan keberanian para Shohabat Nabi dengan orang-orang yang mengaku sebagai pengikutnya namun bersifat pengecut. Beliau menjelaskan bahwa para Shohabat Nabi memiliki loyalitas yang luar biasa tinggi dalam membela agama Alloh meskipun harus berhadapan dengan kerabat sendiri. Beliau berkata:

ولقد كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، نقتل آباءنا وأبناءنا وإخواننا وأعمامنا: ما يزيدنا ذلك إلا إيماناً وتسليماً، ومضياً على اللقم، وصبراً على مضض الألم، وجداً في جهاد العدو، ولقد كان الرجل منا والآخر من عدونا يتصاولان تصاول الفحلين، يتخالسان أنفسهما: أيهما يسقي صاحبه كأس المنون، فمرة لنا من عدونا، ومرة لعدونا منا، فلما رأى الله صدقنا أنزل بعدونا الكبت، وأنزل علينا النصر، حتى استقر الإسلام ملقياً جرانه، ومتبوئا أوطانه. ولعمري لو كنا نأتي ما أتيتم، ما قام للدين عمود، ولا اخضر للإيمان عود. وأيم الله لتحتلبنها دماً، ولتتبعنها ندماً

“Sungguh kami dahulu bersama Rosulullah memerangi ayah-ayah kami, anak-anak kami, saudara-saudara kami, dan paman-paman kami; hal itu tidaklah menambah bagi kami kecuali keimanan dan ketundukan, serta terus melangkah di jalan yang lurus, bersabar atas pedihnya rasa sakit, dan bersungguh-sungguh dalam berjihad melawan musuh. Dahulu seseorang dari kami dan yang lainnya dari musuh kami saling menyerang bagaikan dua pejantan yang bertarung, saling berusaha mencabut nyawa satu sama lain; siapa di antara keduanya yang akan memberi minum lawannya dengan gelas kematian. Maka terkadang kemenangan bagi kami atas musuh kami, dan terkadang musuh kami menang atas kami. Maka tatkala Alloh melihat kejujuran kami, Dia menurunkan kehinaan bagi musuh kami dan menurunkan kemenangan bagi kami, hingga Islam menjadi kokoh dan menetap di tanah airnya. Demi umurku, sekiranya kami melakukan apa yang kalian lakukan, niscaya tidak akan tegak tiang bagi agama ini, dan tidak akan hijau dahan bagi keimanan. Demi Alloh, sungguh kalian benar-benar akan memeras darah, dan kalian akan diikuti oleh penyesalan.” (Nahjul Balaghoh, hlm. 91-92, Tahqiq Subhi Sholih)

3.3 Kesedihan Ali bin Abi Tholib (40 H) Atas Kepergian Para Shohabat yang Sholih

Rasa cinta Ali bin Abi Tholib (40 H) kepada para Shohabat Nabi terlihat sangat jelas ketika beliau meratapi kepergian mereka dan merindukan keberadaan mereka di tengah-tengah umat. Beliau menyebut mereka sebagai saudara-saudara beliau yang telah mendahului. Ungkapan kesedihan beliau tertuang dalam ucapan berikut:

أين القوم الذين دعوا إلى الإسلام فقبلوه، وقرءوا القرآن فأحكموه، وهيجوا إلى القتال فولهوا وله اللقاح إلى أولادها، وسلبوا السيوف أغمادها، وأخذوا بأطراف الأرض زحفاً زحفاً وصفاً صفاً، بعض هلك وبعض نجا، لا يبشرون بالأحياء ولا يعزون عن الموتى، مرة العيون من البكاء، خمص البطون من الصيام، ذبل الشفاه من الدعاء، صفر الألوان من السهر، على وجوههم غبرة الخاشعين، أولئك إخواني الذاهبون، فحق لنا أن نظمأ إليهم ونعض الأيدي على فراقهم

“Di manakah kaum yang diseru kepada Islam lalu mereka menerimanya, mereka membaca Al-Qur’an lalu mereka mengokohkannya, dan mereka dikerahkan menuju peperangan lalu mereka sangat merindukannya sebagaimana kerinduan unta yang menyusui kepada anak-anaknya? Mereka menghunuskan pedang dari sarungnya, dan mereka menguasai ujung-ujung bumi dengan maju sedikit demi sedikit dan berbaris-baris. Sebagian ada yang gugur dan sebagian ada yang selamat. Mereka tidak diberi kabar gembira dengan yang masih hidup dan tidak pula berta’ziyah (menyampaikan duka cita) atas yang mati. Mata mereka memutih karena tangisan, perut mereka kempis karena Puasa, bibir mereka layu karena berdoa, dan warna kulit mereka pucat karena terjaga di malam hari. Pada wajah mereka terdapat debu orang-orang yang khusyu’. Mereka itulah saudara-saudaraku yang telah pergi, maka sudah semestinya bagi kita untuk merasa haus (rindu) kepada mereka dan menggigit tangan karena berpisah dengan mereka.” (Nahjul Balaghoh, hlm. 177-178, Tahqiq Subhi Sholih)

3.4 Pandangan Ali bin Abi Tholib (40 H) Tentang Keutamaan Muhajirin dan Anshor

Dalam berbagai surat dan khutbahnya, Ali bin Abi Tholib (40 H) memberikan pengakuan yang jujur mengenai keutamaan yang dimiliki oleh kaum Muhajirin dan Anshor. Beliau menegaskan bahwa mereka telah memenangkan perlombaan menuju kebaikan. Dalam jawaban beliau kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan (60 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau menyatakan:

فاز أهل السبق بسبقهم، وذهب المهاجرون الأولون بفضلهم

“Orang-orang yang terdahulu telah menang dengan keterdahuluan mereka, dan kaum Muhajirin yang pertama telah pergi membawa keutamaan mereka.” (Nahjul Balaghoh, hlm. 383)

Beliau juga memuji kaum Anshor dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mendidik Islam sejak awal. Beliau bersumpah dengan nama Alloh untuk menegaskan jasa mereka:

هم والله ربوا الإسلام كما يربي الفلو مع غنائهم، بأيديهم السباط، وألسنتهم السلاط

“Mereka demi Alloh, telah mendidik Islam sebagaimana seseorang mendidik anak kuda, disertai dengan kecukupan mereka, dengan tangan-tangan mereka yang dermawan dan lisan-lisan mereka yang tajam (dalam membela kebenaran).” (Nahjul Balaghoh, hlm. 557)

Pujian ini menunjukkan bahwa di mata Ali bin Abi Tholib (40 H), para Shohabat tersebut adalah pilar utama yang menyokong tegaknya agama ini. Beliau bahkan menceritakan bagaimana kaum Anshor melindungi Nabi dan para Muhajirin dari serangan seluruh bangsa Arab dan pengkhianatan kaum Yahudi.

3.5 Prinsip Syuro dalam Pandangan Sang Kholifah Ke-4

Salah satu bukti paling kuat bahwa Ali bin Abi Tholib (40 H) mengakui legitimasi para pendahulunya dan peran para Shohabat adalah pandangan beliau mengenai sistem kepemimpinan. Beliau menegaskan bahwa urusan kepemimpinan umat (Imamah) adalah hak bagi kaum Muhajirin dan Anshor melalui mekanisme musyawarah (Syuro). Hal ini membantah klaim Syiah masa kini yang menyatakan adanya wasiat penunjukan langsung yang bersifat muthlaq. Ali bin Abi Tholib (40 H) menuliskan:

إنما الشورى للمهاجرين والأنصار، فإن اجتمعوا على رجل وسموه إماماً كان ذلك لله رضى، فإن خرج منهم خارج بطعن أو بدعة ردوه إلى ما خرج منه، فإن أبي قاتلوه على اتباعه غير سبيل المؤمنين، وولاه الله ما تولى

“Sesungguhnya Syuro (musyawarah) itu hanyalah milik kaum Muhajirin dan Anshor. Jika mereka telah bersepakat atas seseorang dan menamainya sebagai Imam, maka hal itu adalah keridhoan bagi Alloh. Jika ada orang yang keluar dari kesepakatan mereka dengan celaan atau bid’ah (perkara baru yang sesat), maka mereka harus mengembalikannya kepada kesepakatan tersebut. Jika ia menolak, maka mereka harus memeranginya karena ia mengikuti selain jalan orang-orang Mu’min, dan Alloh akan memalingkannya ke mana ia berpaling.” (Nahjul Balaghoh, 3/7, Tahqiq Muhammad Abduh)

Dari perkataan Ali bin Abi Tholib (40 H) ini dapat diambil beberapa kesimpulan penting: urusan kepemimpinan berada di tangan Muhajirin dan Anshor, kesepakatan mereka adalah tanda keridhoan Alloh , dan siapapun yang menyelisihi mereka dianggap sebagai ahli bid’ah atau pembangkang. Kesaksian ini secara otomatis membenarkan keabsahan kepemimpinan Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H), Umar bin Al-Khoththob (23 H), dan Utsman bin Affan (35 H) karena mereka dipilih berdasarkan kesepakatan para Shohabat tersebut.

 

Bab 4: Kedudukan Shohabat di Mata Para Imam Ahlul Bait

Ahlul Bait memuji para Shohabat dalam sebagian kitab Syiah yang mu’tamad. Tapi sayang, orang-orang Syiah bahkan ulamanya terutama Syiah Iran merendahkannya bahkan mengkafirkannya.

4.1 Doa dan Permohonan Ampun Ali bin Husain (94 H) bagi Para Shohabat

Ali bin Husain (94 H) yang dikenal dengan gelar Zainal Abidin merupakan Imam keempat dalam urutan pemimpin Ahlul Bait menurut klaim kaum Syiah. Beliau adalah sosok pemimpin yang sangat dihormati di zamannya dan dikenal sebagai hamba yang sangat taat dalam beribadah. Dalam doa-doa beliau, Ali bin Husain (94 H) senantiasa mengingat para Shohabat Muhammad dengan penuh penghormatan, bahkan beliau secara khusus memohonkan rahmat dan ampunan bagi mereka dalam Sholat beliau. Beliau mengakui jasa besar para Shohabat yang telah menolong Rosulullah dalam menyebarkan ajaran Tauhid dan menyampaikan risalah Robb semesta alam kepada seluruh makhluq.

Berikut adalah kutipan doa beliau yang menunjukkan kemuliaan para Shohabat di mata beliau:

فاذكرهم منك بمغفرة ورضوان اللهم وأصحاب محمد خاصة، الذين أحسنوا الصحابة، والذين أبلوا البلاء الحسن في نصره، وكاتفوه وأسرعوا إلى وفادته، وسابقوا إلى دعوته، واستجابوا له حيث أسمعهم حجة رسالته، وفارقوا الأزواج والأولاد في إظهار كلمته، وقاتلوا الآباء والأبناء في تثبيت نبوته، والذين هجرتهم العشائر إذ تعلقوا بعروته، وانتفت منهم القرابات إذ سكنوا في ظل قرابته

“Maka sebutlah mereka di sisi-Mu dengan ampunan dan keridhoan. Ya Alloh, khususkanlah bagi para Shohabat Muhammad, orang-orang yang telah membaguskan persahabatan, orang-orang yang telah berjuang dengan perjuangan yang baik dalam menolong beliau, membantu beliau, dan bersegera menyambut kedatangan beliau, serta berlomba-lomba memenuhi dakwah beliau. Mereka memenuhi seruan beliau saat beliau memperdengarkan kepada mereka hujjah risalah beliau. Mereka meninggalkan istri-istri dan anak-anak demi menampakkan kalimat beliau, dan memerangi ayah-ayah serta anak-anak demi mengokohkan kenabian beliau. Mereka adalah orang-orang yang dikucilkan oleh kabilah-kabilah saat mereka berpegang teguh pada tali agama beliau, dan terputus hubungan kekerabatan saat mereka menetap di bawah naungan kekerabatan beliau.” (Shohifah Kamilah li Zainal Abidin, hlm. 13)

Ali bin Husain (94 H) juga mendoakan para Tabi’in yang mengikuti jejak para Shohabat dengan baik. Beliau menegaskan bahwa para pengikut tersebut adalah orang-orang yang mengikuti arah dan tujuan para Shohabat tanpa ada keraguan dalam hati mereka sedikit pun. Mereka meyakini agama yang dibawa para Shohabat, mengikuti petunjuk mereka, dan tidak pernah menuduh atau mencurigai apa yang telah disampaikan oleh para Shohabat Nabi kepada mereka.

4.2 Kesaksian Muhammad Al-Baqir (114 H) Tentang Ketulusan Iman Shohabat

Muhammad bin Ali yang bergelar Al-Baqir (114 H) adalah putra dari Zainal Abidin dan merupakan tokoh sentral dalam silsilah keluarga Nabi . Beliau meriwayatkan sebuah kisah yang sangat penting untuk membantah tuduhan kemunafikan yang sering dialamatkan oleh Syiah Iran kepada para Shohabat. Dalam sebuah dialog dengan Hamron bin A’yan, Muhammad Al-Baqir (114 H) menceritakan kekhawatiran para Shohabat itu sendiri terhadap keadaan hati mereka.

Beliau menceritakan bahwa para Shohabat Nabi pernah mengadu kepada Rosulullah karena merasa ada perbedaan kondisi hati saat berada di dekat Nabi dibandingkan saat berada di tengah keluarga dan harta mereka. Mereka merasa sangat khusyu’ dan seolah-olah melihat Surga dan Neraka secara langsung saat mendengarkan nasihat Nabi , namun perasaan itu berkurang saat mereka kembali ke urusan duniawi. Mereka khawatir jika hal tersebut merupakan tanda kemunafikan.

Rosulullah kemudian memberikan jawaban yang sangat tegas untuk menenangkan hati mereka:

«كلا، هذا من خطوات الشيطان. ليرغبنكم في الدنيا، والله لو أنكم تدومون على الحال التي تكونون عليها وأنتم عندي في الحال التي وصفتم أنفسكم بها لصافحتكم الملائكة، ومشيتم على الماء، ولولا أنكم تذنبون، فتستغفرون الله لخلق الله خلقاً لكي يذنبوا، ثم يستغفروا، فيغفر الله لهم، إن المؤمن مفتن تواب»

“Sama sekali tidak (bukan nifaq), itu hanyalah langkah-langkah syaithon untuk membuat kalian menyukai dunia. Demi Alloh, seandainya kalian senantiasa berada dalam kondisi hati sebagaimana saat kalian berada di dekatku, niscaya para Malaikat akan menjabat tangan kalian dan kalian akan dapat berjalan di atas air. Seandainya kalian tidak pernah berdosa lalu kalian memohon ampun kepada Alloh, niscaya Alloh akan menciptakan makhluq yang berbuat dosa kemudian mereka beristighfar sehingga Alloh mengampuni mereka. Sesungguhnya seorang Mu’min itu sering diuji lagi banyak bertaubat.” (Tafsir Al-Ayyasyi, 1/109 dan Al-Burhan, 1/215)

Riwayat yang dinukil oleh Muhammad Al-Baqir (114 H) ini secara telak membuktikan bahwa para Shohabat adalah orang-orang yang sangat menjaga kejujuran iman mereka. Pengakuan Rosulullah dengan kata «كلا» (sama sekali tidak) adalah jaminan bahwa mereka bukanlah orang-orang munafik sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum fasik.

4.3 Pembelaan Ja’far Ash-Shodiq (148 H) Terhadap 12.000 Shohabat Nabi

Ja’far bin Muhammad yang dikenal dengan Ash-Shodiq (148 H) memberikan kesaksian yang sangat kuat mengenai jumlah dan kemurnian aqidah para Shohabat Nabi . Beliau menegaskan bahwa jumlah Shohabat mencapai 12.000 orang, yang terdiri dari 8.000 orang penduduk Madinah, 2.000 orang penduduk Makkah, dan 2.000 orang dari kalangan Thulaqo (orang yang masuk Islam saat pembebasan Makkah).

Beliau menyatakan tentang integritas iman mereka sebagai berikut:

كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم اثني عشر ألفا، ثمانية آلاف من المدينة، وألفان من مكة، وألفان من الطلقاء، ولم ير فيهم قدري ولا مرجئ ولا حروري ولا معتزلي، ولا صاحب رأي، كانوا يبكون الليل والنهار ويقولون: اقبض أرواحنا من قبل أن نأكل خبز الخمير

“Dahulu para Shohabat Rosulullah berjumlah 12.000 orang; 8.000 dari Madinah, 2.000 dari Makkah, dan 2.000 dari kalangan Thulaqo. Tidak terlihat di tengah mereka seorang pun penganut Qodariyyah, tidak pula Murji’ah, tidak pula Haruriyyah (Khowarij), tidak pula Mu’tazilah, dan tidak pula orang yang mengedepankan logika semata. Mereka senantiasa menangis di malam dan siang hari seraya berdoa: ‘Matikanlah kami sebelum kami memakan roti yang dicampur dengan ragi (hidup dalam kemewahan).’” (Al-Khishol, hlm. 640)

Pernyataan Ja’far Ash-Shodiq (148 H) ini membantah segala bentuk fitnah yang menyatakan bahwa mayoritas Shohabat telah murtad atau menyimpang setelah wafatnya Nabi . Beliau justru menegaskan bahwa di antara 12.000 Shohabat tersebut tidak ditemukan satu pun pengikut aliran sesat, yang menunjukkan betapa kuatnya pondasi keimanan dan ketaatan mereka terhadap Sunnah Nabi .

4.4 Pengakuan Ali bin Musa Ar-Ridho (203 H) Terhadap Hadits Keutamaan Shohabat

Ali bin Musa yang dijuluki Ar-Ridho (203 H) adalah Imam kedelapan dalam keyakinan Syiah. Dalam kitab-kitab rujukan Syiah sendiri, beliau mengakui kebenaran hadits-hadits yang menyebutkan kemuliaan Shohabat. Ketika beliau ditanya mengenai kebenaran sabda Nabi tentang kedudukan Shohabat sebagai bintang petunjuk, beliau membenarkannya.

Beliau meriwayatkan sabda Nabi sebagai berikut:

أصحابي كالنجوم فبأيهم اقتديتم اهديتم

“Para Shohabatku laksana bintang-bintang, dengan siapapun kalian mengikuti maka kalian akan mendapatkan petunjuk.” (Uyun Akhbar Ar-Ridho, 2/87)

Selain itu, Ali bin Musa Ar-Ridho (203 H) juga meriwayatkan perintah Nabi agar umat Islam tidak mencampuri urusan perselisihan para Shohabat dengan cara yang buruk. Beliau mengutip ucapan Nabi :

دعوا لي أصحابي

“Biarkanlah para Shohabatku untukku (jangan mencela mereka).” (Uyun Akhbar Ar-Ridho, 2/87)

Pengakuan dari seorang Imam Ahlul Bait yang agung seperti Ali bin Musa Ar-Ridho (203 H) terhadap keshohihan hadits-hadits ini menjadi hujjah yang sangat kuat bagi kaum Syiah itu sendiri. Hal ini membuktikan bahwa para Imam Ahlul Bait tidak pernah memandang buruk para Shohabat, melainkan memposisikan mereka sebagai teladan dalam meraih hidayah dari Alloh .

4.5 Kesaksian Ibnu Abbas (68 H) Tentang Pengorbanan Para Pembela Wahyu

Abdullah bin Abbas (68 H), yang merupakan sepupu Nabi sekaligus sepupu Ali bin Abi Tholib (40 H), adalah seorang pakar fiqih dan ahli tafsir dari kalangan Ahlul Bait. Beliau memberikan kesaksian yang sangat menyentuh mengenai bagaimana Alloh memilihkan para Shohabat terbaik untuk mendampingi Nabi-Nya.

Beliau berkata tentang kemuliaan mereka:

إن الله جل ثناؤه وتقدست أسماءه خص نبيه محمداً صلى الله عليه وسلم بصحابة آثروه على الأنفس والأموال، وبذلوا النفوس دونه في كل حال، ووصفهم الله في كتابه فقال: رُحَمَاء بَيْنَهُمْ [الفتح:29]، قاموا بمعالم الدين، وناصحوا الاجتهاد للمسلمين، حتى تهذبت طرقه، وقويت أسبابه، وظهرت آلاء الله، واستقر دينه، ووضحت أعلامه، وأذل بهم الشرك، وأزال رؤوسه ومحا دعائمه، وصارت كلمة الله هي العليا وكلمة الذين كفروا هي السفلى، فصلوات الله ورحمته وبركاته على تلك النفوس الزاكية، والأرواح الطاهرة العالية

“Sesungguhnya Alloh Jalla Tsanauhu dan Maha Suci nama-nama-Nya telah mengkhususkan Nabi-Nya Muhammad dengan para Shohabat yang lebih mengutamakan beliau daripada diri dan harta mereka sendiri. Mereka mengorbankan jiwa demi membela beliau dalam setiap keadaan. Alloh mensifati mereka dalam kitab-Nya dengan firman-Nya: ‘Berkasih sayang di antara sesama mereka’. Mereka menegakkan syiar-syiar agama, bersungguh-sungguh memberikan nasihat bagi kaum Muslimin, hingga jalan-jalan agama ini menjadi bersih, sebab-sebabnya menjadi kuat, nikmat-nikmat Alloh nampak nyata, agama-Nya menjadi kokoh, dan tanda-tandanya menjadi jelas. Alloh menghinakan kesyirikan melalui perantara mereka, menghilangkan para gembongnya, dan menghapuskan pilar-pilarnya, sehingga kalimat Alloh-lah yang paling tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi yang paling rendah. Maka Sholawat Alloh, rahmat, serta barokah-Nya semoga tercurah atas jiwa-jiwa yang suci tersebut dan ruh-ruh yang tinggi lagi murni itu.” (Murujudz Dzahab, 3/52-53)

Ibnu Abbas (68 H) juga menambahkan bahwa para Shohabat tersebut adalah wali-wali Alloh semasa hidupnya dan tetap hidup (mulia) setelah wafatnya. Mereka telah melakukan perjalanan menuju Akhiroh sebelum mereka benar-benar sampai ke sana, dan mereka telah keluar dari keterikatan dunia padahal mereka masih berada di dalamnya.

Kesaksian ini menutup segala keraguan bahwa keluarga Nabi yang paling berilmu sekalipun mengakui bahwa tegaknya Islam tidak lepas dari pengorbanan suci para Shohabat.

 

Bab 5: Syiah Iran dan Penyelisihan Terhadap Nash Para Imam

5.1 Riwayat Larangan Mencela Shohabat dalam Kitab-Kitab Rujukan Syiah

Ali bin Abi Tholib (40 H) sebagai pemimpin tertinggi Ahlul Bait telah meninggalkan wasiat yang sangat tegas kepada para pengikutnya untuk menjaga kehormatan para Shohabat Nabi . Beliau melarang dengan keras segala bentuk pencelaan terhadap mereka karena kedekatan dan kesetiaan mereka kepada Rosulullah . Wasiat ini dicatat dalam kitab-kitab yang menjadi rujukan kaum Syiah sendiri, yang menunjukkan bahwa mencela Shohabat adalah perbuatan yang menyimpang dari perintah sang Imam.

Dalam kitab Hayatul Qulub karya Al-Majlisi (1110 H) —tokoh besar Syiah—, dinukil sebuah riwayat yang terpercaya dari Ali bin Abi Tholib (40 H) saat beliau berkata kepada para pengikutnya:

«أوصيكم في أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، لا تسبوهم، فإنهم أصحاب نبيكم، وهم أصحابه الذين لم يبتدعوا في الدين شيئاً، ولم يوقروا صاحب بدعة، نعم! أوصاني رسول الله صلى الله عليه وسلم في هؤلاء»

“Aku berwasiat kepada kalian tentang para Shohabat Rosulullah , janganlah kalian mencaci maki mereka. Karena sesungguhnya mereka adalah para Shohabat Nabi kalian. Mereka adalah para Shohabat yang tidak mengadakan perkara baru sedikit pun dalam agama dan tidak pula menghormati pelaku bid’ah. Benar, Rosulullah telah berwasiat kepadaku tentang mereka ini.” (Hayatul Qulub, Al-Majlisi, 2/621)

Pernyataan ini merupakan hujjah yang sangat kuat bagi siapa saja yang mengaku sebagai pengikut setia Ali bin Abi Tholib (40 H). Larangan mencaci maki Shohabat didasarkan pada fakta bahwa mereka adalah penjaga kemurnian agama yang tidak melakukan penyimpangan (bid’ah). Maka, praktik Syiah Iran yang menjadikan cacian sebagai bagian dari ritual keagamaan mereka adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap wasiat Ali bin Abi Tholib (40 H).

5.2 Keutamaan Shohabat Nabi dalam Tafsir Hasan Al-Askari (260 H)

Hasan bin Ali yang dijuluki Al-Askari (260 H) merupakan Imam ke-11 bagi kaum Syiah. Dalam kitab tafsirnya, beliau menyebutkan sebuah dialog antara Nabi Musa alaihissalam dengan Alloh yang menegaskan kedudukan luar biasa para Shohabat Muhammad di atas Shohabat para Nabi lainnya. Penegasan ini menunjukkan bahwa kemuliaan Shohabat adalah perkara yang telah ditetapkan oleh Alloh sejak zaman dahulu.

Al-Askari (260 H) menyebutkan bahwa Musa bertanya kepada Robb-nya apakah ada pengikut Nabi yang lebih mulia dari pengikutnya. Alloh menjawab pertanyaan tersebut dengan menyatakan:

«يا موسى! أما علمت أن فضل صحابة محمد صلى الله عليه وسلم على جميع صحابة المرسلين كفضل محمد صلى الله عليه وسلم على جميع المرسلين والنبيين»

“Wahai Musa! Tidakkah engkau mengetahui bahwasanya keutamaan para Shohabat Muhammad di atas seluruh Shohabat para Rosul adalah seperti keutamaan Muhammad di atas seluruh Rosul dan Nabi.” (Tafsir Hasan Al-Askari, hlm. 65, dan Al-Burhan, 3/228, dan ini lafazhnya)

Pengibaratan ini memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa merendahkan Shohabat Nabi sama saja dengan merendahkan ketetapan Alloh . Jika Nabi Muhammad adalah manusia paling utama, maka para pendampingnya pun merupakan generasi pendamping terbaik yang pernah ada di muka bumi. Riwayat ini secara otomatis membatalkan segala klaim yang menyebutkan bahwa para Shohabat adalah orang-orang yang berkhianat setelah wafatnya Rosulullah .

5.3 Mengungkap Kebohongan Al-Majlisi (1110 H) dan Tokoh Syiah Muta’akhirin

Muhammad Baqir Al-Majlisi (1110 H) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Syiah masa kini, khususnya di Iran. Ia dijuluki sebagai Khotimul Mujtahidin dan dianggap sebagai pilar utama penyebaran madzhab mereka di era belakangan. Namun, di balik kemasyhuran namanya, Al-Majlisi dikenal sebagai sosok yang sangat membenci Ahlus Sunnah dan memiliki lisan yang sangat kotor dalam mencela para Shohabat.

Sejarah mencatat kepribadiannya yang penuh dengan kebencian sebagai berikut:

Dr. Ihsan Ilahi Zhohir berkata: “Dan Al-Majlisi meriwayatkan, dia adalah Al-Mulla Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi Al-Majlisi, lahir tahun 1037 H dan mati tahun 1110 H. Termasuk musuh bebuyutan Sunnah dan penentang mereka. Tidak pernah terlihat di kalangan Syiah belakangan orang yang selancang lidahnya, seburuk ucapannya, dan sekeji kata-katanya; ia tidak berbicara satu patah kata pun kecuali mengalir darinya kekejian dan cercaan.” (Syiah wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir, hlm. 30)

Meskipun kepribadiannya dipenuhi dengan ucapan keji, kaum Syiah tetap mengangkatnya sebagai Imam para Imam dalam ilmu Hadits. Pengangkatan tokoh yang hobi mencaci maki sebagai rujukan agama membuktikan bahwa Syiah Iran lebih mengutamakan nafsu kebencian daripada mengikuti akhlaq mulia para Imam Ahlul Bait yang terdahulu. Mereka membangun pondasi keyakinan di atas pondasi yang diletakkan oleh orang-orang yang lisannya tidak terjaga dari menghina para kekasih Rosulullah .

5.4 Paradoks Syiah Iran: Mengaku Pengikut Namun Menentang Wasiat Imam

Keadaan Syiah Iran saat ini merupakan sebuah paradoks yang sangat nyata. Di satu sisi mereka meneriakkan slogan kesetiaan kepada Ahlul Bait, namun di sisi lain mereka secara terang-terangan menyelisihi perbuatan dan perkataan para Imam tersebut. Mereka tidak mengikuti pendapat para Imam, tidak menempuh jalan hidup mereka, dan tidak menaati perintah-perintah mereka. Perlawanan ini dilakukan secara terbuka baik melalui ucapan maupun perbuatan yang nyata.

Hubungan asli antara Ahlul Bait dengan para Shohabat dipenuhi dengan kasih sayang dan kerjasama yang tidak pernah ditampilkan oleh Syiah Iran. Para Imam Ahlul Bait yang asli justru melakukan hal-hal berikut kepada para Shohabat:

Dr. Ihsan Ilahi berkata: “Bahkan mereka (Ahlul Bait) justru loyal kepada para Shohabat, saling mencintai, bersikap lembut, membantu dalam masalah mereka, bermusyawarah dalam urusan mereka, berbagi keresahan dan rasa sakit, serta berserikat dalam urusan agama dan dunia. Mereka berbagi dalam urusan pemerintahan, berbaiat atas kepemimpinan dan kekuasaan para Shohabat, serta berjihad di bawah panji-panji mereka.” (Syiah wa Ahlul Bait, Ihsan Ilahi Zhohir, hlm. 30)

Selain itu, para Imam Ahlul Bait juga melakukan hubungan pernikahan (mushoharoh) dengan keluarga para Shohabat, memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama para Shohabat seperti Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta senantiasa menyebutkan keutamaan-keutamaan para Shohabat dalam majelis mereka. Semua fakta sejarah ini sangat bertolak belakang dengan ideologi Syiah Iran yang menganggap para Shohabat sebagai musuh. Ketidaksesuaian ini membuktikan bahwa Syiah Iran bukanlah pengikut Ahlul Bait, melainkan pengikut ideologi buatan yang sengaja diciptakan untuk memecah belah umat.

5.5 Ancaman Adzab bagi Pembenci Shohabat Menurut Lisan Ahlul Bait

Para Imam Ahlul Bait telah memberikan peringatan yang sangat keras bagi siapa saja yang berani menanamkan kebencian terhadap para Shohabat Nabi . Ancaman ini bukan main-main, melainkan sebuah peringatan akan adanya siksaan yang sangat pedih di Akhiroh kelak. Dalam kitab Tafsir Hasan Al-Askari (260 H), disebutkan mengenai konsekuensi bagi orang yang membenci para Shohabat yang baik tersebut.

Teks tersebut menyatakan ancaman bagi para pembenci sebagai berikut:

«إن رجلاً ممن يبغض آل محمد وأصحابه الخيرين أو واحداً منهم يعذبه الله عذاباً لو قسم على مثل عدد خلق الله لأهلكهم أجمعين»

“Sesungguhnya seseorang dari kalangan mereka yang membenci keluarga Muhammad dan para Shohabatnya yang baik, atau membenci salah satu saja dari mereka, maka Alloh akan mengadzabnya dengan sebuah adzab yang sekiranya adzab itu dibagikan kepada sejumlah makhluq Alloh, niscaya akan membinasakan mereka semuanya.” (Tafsir Hasan Al-Askari, hlm. 196)

Ancaman ini menunjukkan betapa besarnya dosa membenci para Shohabat di sisi Alloh dan di mata para Imam Ahlul Bait. Dengan demikian, Syiah Iran yang mendoktrin pengikutnya untuk membenci dan melaknat para Shohabat sebenarnya sedang menggiring mereka menuju kehancuran dan adzab yang sangat mengerikan. Kebencian terhadap satu orang Shohabat saja sudah cukup untuk mendatangkan murka Alloh , apalagi kebencian sistematis terhadap mayoritas Shohabat sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syiah.

 

Penutup

Buku ini telah memaparkan fakta-fakta yang tak terbantahkan bahwa klaim Syiah Iran sebagai pembela Ahlul Bait hanyalah sebuah tipu daya yang jauh dari kebenaran. Melalui penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan lisan para Imam Ahlul Bait sendiri, terungkap bahwa mereka senantiasa memuliakan, mencintai, dan bekerjasama dengan para Shohabat Nabi . Para Imam Ahlul Bait seperti Ali bin Abi Tholib (40 H), Zainal Abidin (94 H), Muhammad Al-Baqir (114 H), Ja’far Ash-Shodiq (148 H), dan Ali Ar-Ridho (203 H) semuanya berada di satu barisan dalam menghormati generasi awal Islam.

Segala bentuk cercaan, laknat, dan pengkafiran yang dilakukan oleh Syiah Iran terhadap para Shohabat adalah bentuk penyelisihan yang nyata terhadap ajaran asli keluarga Nabi . Mereka telah menciptakan sebuah agama baru di atas puing-puing kebencian sejarah yang dimanipulasi. Sesungguhnya Ahlul Bait berlepas diri dari segala keyakinan dan perbuatan kaum Syiah tersebut.

Semoga melalui tulisan ini, Alloh memberikan hidayah kepada orang-orang yang terpedaya oleh slogan kecintaan palsu kepada Ahlul Bait. Kebenaran yang sejati adalah dengan mencintai Ahlul Bait sebagaimana mereka mencintai para Shohabat, dan mengikuti petunjuk mereka yang senantiasa selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Hanya dengan kembali kepada jalan yang ditempuh oleh para Salafush Sholih, umat ini akan mendapatkan kembali kejayaan dan keridhoan dari Robb semesta alam.

 

Daftar Pustaka

Buku ini menjadikan Mausuah Firoq Al-Muntasibah lil Islam sebagai referensi utama. Nukilan-nukilan di sini dinukil darinya terutama Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhohir.

 

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url