Cari Ebook

[PDF] FAKTA SEJARAH - Dari Wafatnya Nabi ﷺ (11 H) sampai Terbunuhnya Husain (61 H) - Dr. Utsman Al-Khomis

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru diada-adakan (dalam agama), dan setiap perkara yang baru diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Kemudian amma ba’du:

Sungguh, aku semula ragu-ragu (bagaikan melangkahkan kaki satu maju dan satu mundur) ketika terbetik dalam benakku untuk menulis tentang topik ini. Hal itu karena begitu banyak orang yang membahasnya—kadang dengan benar, tetapi kebanyakan dengan kebatilan.

Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah topik yang sangat hangat; meskipun telah berlalu waktu yang lama, namun ia tetap hidup dalam jiwa kita—sebagai bentuk pengagungan terhadap generasi kenabian dan terhadap kumpulan besar Shohabat pilihan yang mulia, para Shohabat Rosululloh , semoga Alloh meridhoi mereka semua.

Karena perkataan yang benar itu adalah cahaya yang memberi petunjuk, dan karena generasi yang diberkahi ini memiliki keutamaan atas kita, maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menunaikan sebagian hak mereka atas kita. Urusan mereka tidak seperti urusan orang lain. Ilmu dan amal mereka tidak pernah didahului oleh siapa pun, dan tidak akan pernah bisa disamai oleh siapa pun setelah mereka. Karena lewat merekalah Alloh memuliakan agama ini dan menampakkannya.

Meskipun kami selalu menyanjung keutamaan-keutamaan para Shohabat Rosululloh , namun kami tidak mengklaim bahwa mereka ma’sum (terjaga dari dosa). Alloh ‘Azza wa Jalla tidak menjadikan kema’suman kecuali bagi para Nabi dan Malaikat-Nya, ‘alaihimus salam.

Benar, sebagian dari mereka pernah melakukan kesalahan, baik di masa hidup Rosululloh maupun setelah wafatnya. Namun, penderitaan, penindasan, dan siksaan yang mereka tanggung demi beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, serta demi da’wah kepada agama yang lurus dan millah Ibrohim; pengorbanan mereka dengan hijroh meninggalkan keluarga dan tanah air; jihad mereka dengan harta dan jiwa di jalan Alloh; serta pembelaan mereka terhadap Rosululloh dengan segala yang mereka miliki—semua ini menjadikan kesalahan-kesalahan tersebut di samping kebaikan-kebaikan besar dan amal sholih yang luar biasa itu: bagaikan butiran pasir di tengah gunung-gunung raksasa, bagaikan tetesan air di lautan yang meluap.

Tidak diragukan lagi bahwa masalah sejarah sangatlah penting dalam kehidupan umat-umat dan bangsa-bangsa. Sejarah membentuk tiang penyangga eksistensi mereka, menentukan metodologi, masa kini, dan masa depan mereka. Tidak ada satu umat pun yang bercita-cita menjadi pemimpin dan penguasa kecuali ia wajib mengokohkan hubungan antara dirinya dengan masa lalunya, agar dapat mengambil kekuatan dan unsur-unsur pembangun masa kini serta menatap masa depannya.

Dan umat seperti umat Islam lebih berhak daripada yang lain untuk melakukan hal itu, karena sejarahnya menyimpan keagungan, kepahlawanan, dan kemenangan yang dibandingkan dengannya sejarah umat mana pun menjadi kecil. Namun, di tengah kelemahan umat kita di masa kini akibat perbuatan tangan-tangan anak-anaknya sendiri, Alloh menguasakan atas kita para pewaris kera dan babi, para penyembah thoghut. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Di tengah kelemahan ini, kita harus kembali kepada sejarah umat kita yang megah dan cemerlang, agar mudah bagi kita merenungkan jati diri kita, melihat sekeliling kita, dan menyusuri langkah-langkah menuju masa depan kita. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan kembali dan merenungkan sejarah kita yang benar—bukan yang lain.

Jika kita cermati dengan sungguh-sungguh sejarah kita, niscaya kita dapati bahwa secemerlang-cemerlang periode (الحِقْبَة)[1] adalah periode yang dijalani oleh Rosululloh dan para Shohabatnya, yaitu generasi yang memikul di atas pundaknya penyebaran risalah Islam. Merekalah sebaik-baik makhluk Alloh setelah para Nabi dan Rosul, ‘alaihimus salam.

Sungguh, sejarah umat Islam telah banyak mengalami distorsi, pemalsuan, dan pengubahan, disebabkan oleh sekte-sekte yang muncul di tengah-tengah peradaban Islam. Setiap sekte berusaha merendahkan yang lain dan meninggikan dirinya sendiri. Maka terjadilah celah-celah dalam sejarah para tokoh agung umat kita.

Kita dapati di tengah umat ini orang-orang yang melampaui batas syariat dalam mencintai tokoh-tokoh tertentu. Mereka mencintai Shohabat agung Ali bin Abi Tholib dengan cinta yang justru merusak seluruh urusan mereka. Mereka menisbatkan kepadanya berbagai peristiwa dan berita yang tidak dapat diterima. Di saat yang sama, mereka berusaha merendahkan yang lain, menganggap orang lain sebagai perampas hak Ali, menzholimi Ali dan diri mereka sendiri. Bahkan, berlebih-lebihan (ghuluw) dalam mencintai Ali membawa mereka melampaui Ali hingga kepada cucu-cucunya. Mereka mengklaim bahwa cucu-cucu Ali adalah imam-imam yang ditunjuk secara nash (teks ilahi) dan ma’sum, menyerupakan mereka dengan para Nabi ‘alaihimus salam.[2]

Padahal Ali rodhiyallahu ‘anhu sendiri berkata:

«لَيُحِبَّنِّي أَقْوَامٌ حَتَّى يَدْخُلُوا النَّارَ فِيَّ، وَلَيُبْغِضُنِي قَوْمٌ حَتَّى يَدْخُلُوا النَّارَ فِي بُغْضِي»

“Benar-benar akan ada kaum yang mencintaiku hingga mereka masuk Neraka karena cinta mereka kepadaku, dan akan ada kaum yang membenciku hingga mereka masuk Neraka karena kebencian mereka kepadaku.”[3]

Dan beliau juga berkata:

«يَهْلِكُ فِيَّ رَجُلَانِ: مُفْرِطٌ فِي حُبِّي، وَمُفْرِطٌ فِي بُغْضِي»

“Akan binasa karena (sikap terhadap)-ku dua orang: yang berlebih-lebihan dalam mencintaiku dan yang berlebih-lebihan dalam membenciku.”[4]

Klaim-klaim dan gambaran ghuluw ini baru muncul setelah pertengahan abad ketiga Hijriyyah, menurut pendapat yang shohih.

Yang semakin mengukuhkan fakta ini adalah bahwa kita tidak menemukan dalam riwayat-riwayat shohih yang berkaitan dengan sejarah dan keadaan para Shohabat sesuatu yang menunjukkan adanya kebencian yang diklaim antara Ali dan Shohabat-Shohabat besar lainnya. Sebaliknya, kita justru menemukan bukti-bukti yang menunjukkan besarnya rasa cinta mereka satu sama lain, serta gambaran-gambaran cemerlang tentang itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan pribadi), persaudaraan, kasih sayang, nasihat, dan hubungan perkawinan yang begitu banyak—yang dengan itu seorang peneliti yang jujur dan mencari kebenaran akan memastikan kepalsuan apa yang dipropagandakan tentang permusuhan, kebencian, dan saling membenci.

Di antara gambaran cemerlang itu adalah:

1) Tiga kholifah yang mendapat petunjuk: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khoththob, dan Utsman bin ‘Affan—merekalah yang mendorong Ali untuk menikahi Fatimah, turut menyumbang untuk mahar/perlengkapan pernikahannya, dan menjadi saksi atas pernikahan itu.

Ali rodhiyallahu ‘anhu berkata:

«أَتَانِي أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَقَالَا: لَوْ أَتَيْتَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتَ لَهُ فَاطِمَةَ»

“Abu Bakr dan Umar mendatangiku, lalu berkata: ‘Alangkah baiknya jika engkau menemui Rosululloh dan menyebutkan (keinginan menikahi) Fatimah.’”[5]

Dan Ali rodhiyallahu ‘anhu juga berkata: Rosululloh bersabda kepadaku:

«انْطَلِقِ الْآنَ فَبِعْ دِرْعَكَ وَائْتِنِي بِثَمَنِهِ حَتَّى أُهَيِّئَ (لَكَ) وَلِابْنَتِي (فَاطِمَةَ) مَا يُصْلِحُكُمَا»

“Pergilah sekarang, juallah baju besimu, lalu bawakan harganya kepadaku sehingga aku bisa menyiapkan untukmu dan untuk putriku (Fatimah) apa yang layak bagi kalian berdua.”

Ali berkata: Maka aku pergi dan menjual baju besiku seharga empat ratus dirham hitam kepada Utsman bin ‘Affan.

Ketika aku telah menerima uang darinya dan dia menerima baju besi itu dariku, dia berkata: “Bukankah aku lebih berhak atas baju besi ini daripada kamu, dan kamu lebih berhak atas uang ini daripada aku?”

Aku menjawab: “Benar.”

Dia berkata: “Baju besi ini adalah hadiah dariku untukmu.”

Aku pun mengambil baju besi dan uang itu, lalu kembali menghadap Rosululloh Aku letakkan baju besi dan uang itu di hadapannya, dan aku kabarkan kepadanya tentang perbuatan Utsman. Maka beliau mendoakan kebaikan untuk Utsman. Rosululloh mengambil segenggam uang dirham itu, lalu memanggil Abu Bakr, memberikannya kepadanya, dan bersabda:

«يَا أَبَا بَكْرٍ، اشْتَرِ بِهَذِهِ الدَّرَاهِمِ لِابْنَتِي مَا يَصْلُحُ لَهَا فِي بَيْتِهَا»

“Wahai Abu Bakr, belikanlah untuk putriku dengan dirham-dirham ini apa yang layak baginya di rumahnya.”[6]

Anas rodhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi bersabda kepadaku:

«انْطَلِقْ فَادْعُ لِي: أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيًّا، وَطَلْحَةَ، وَالزُّبَيْرَ، وَبِعَدَدِهِمْ مِنَ الْأَنْصَارِ»

“Pergilah, panggilkan untukku: Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Tholhah, Zubair, dan sejumlah mereka dari kaum Anshor.”

Anas berkata: Aku pergi lalu memanggil mereka untuk beliau. Ketika mereka telah duduk di tempat masing-masing, beliau bersabda:

«إِنِّي أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ زَوَّجْتُ (فَاطِمَةَ) مِنْ (عَلِيٍّ) عَلَى أَرْبَعِمِائَةِ مِثْقَالٍ مِنْ فِضَّةٍ»

“Sesungguhnya aku jadikan kalian semua saksi bahwa aku telah menikahkan (Fatimah) dengan (Ali) dengan maskawin 400 mitsqol perak.”[7]

2) Ali rodhiyallahu ‘anhu menikahkan putrinya (Ummu Kultsum binti Fatimah) dengan Umar bin al-Khoththob rodhiyallahu ‘anhu—semoga Alloh meridhoi mereka semua.[8]

Ali rodhiyallahu ‘anhu memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama saudara dan kekasihnya karena Alloh Ta’ala: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khoththob, dan Utsman bin ‘Affan. [9]

3) Dan Ali memuji mereka semua.

Ali rodhiyallahu ‘anhu bersabda:

«لَقَدْ رَأَيْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا أَرَى أَحَدًا مِنْكُمْ يُشْبِهُهُمْ، لَقَدْ كَانُوا يُصْبِحُونَ شُعْثًا غُبْرًا وَقَدْ بَاتُوا سُجَّدًا وَقِيَامًا يُرَاوِحُونَ جِبَاهَهُمْ وَجُنُوبَهُمْ وَيَقِفُونَ عَلَى مِثْلِ الْجَمْرِ مِنْ ذِكْرِ مَعَادِهِمْ كَأَنَّ بَيْنَ أَعْيُنِهِمْ رُكَبَ الْمِعْزَى مِنْ طُولِ سُجُودِهِمْ، إِذَا ذَكَرُوا اللهَ هَمَلَتْ أَعْيُنُهُمْ وَمَادُوا كَمَا يَمِيدُ الشَّجَرُ يَوْمَ الرِّيحِ الْعَاصِفِ»

“Sungguh aku pernah melihat para Shohabat Rosululloh , maka aku tidak melihat seorang pun di antara kalian yang menyerupai mereka. Benar-benar mereka di pagi hari kusut dan berdebu, padahal semalam suntuk mereka sujud dan berdiri (sholat), mengistirahatkan dahi dan lambung mereka. Mereka berdiri seperti di atas bara api karena mengingat hari kembali (Akhirat). Seolah-olah di antara kening mereka terdapat bekas seperti lutut kambing karena lama bersujud. Apabila mereka mengingat Alloh, mata mereka mencucurkan air mata dan tubuh mereka bergoyang seperti goyangan pohon di hari angin kencang.”[10]

Ali memiliki anak: Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Abu Bakr dan Utsman gugur bersama Husain di Karbala (ath-Thoff), sedangkan Umar termasuk yang berumur panjang.[11]

Seperti yang aku sebutkan di awal kitab, aku tadinya ragu-ragu (melangkahkan kaki satu maju dan satu mundur), hingga aku memandang bahwa ada kemaslahatan untuk menulis tentang topik ini dengan apa yang dimudahkan oleh Alloh Ta’ala bagiku, setelah berkonsultasi dengan orang-orang yang kupercaya dari kalangan ulama. Maka jika yang benar itu dari Alloh Ta’ala, dan jika selain itu maka dari diriku sendiri dan setan.

Dalam penelitian ini, aku akan membahas periode waktu yang tergolong paling penting dalam sejarah panjang kita, yaitu periode antara wafatnya Rosululloh hingga tahun 61 Hijriyyah yang diberkahi.

Aku membagi kitab ini menjadi muqoddimah dan tiga bab.

Adapun muqoddimah: Aku sebutkan di dalamnya tiga hal penting:

[1] Cara membaca sejarah.

[2] Kitab sejarah siapa yang boleh kita?

[3] Sarana para tukang berita (akhbariyyun) dalam mendistorsi sejarah.[12]

Adapun bab pertama: Aku paparkan di dalamnya peristiwa-peristiwa sejarah dari wafatnya Nabi hingga tahun 61 Hijriyyah. Aku sebutkan peristiwa-peristiwa penting dalam periode penting ini dengan sanad-sanad yang shohih semampuku, disertai peringatan terhadap beberapa cerita palsu dan kebatilan.

Adapun bab kedua: Aku bahas di dalamnya topik ‘adalah (kejujuran dan kesholihan) para Shohabat, dengan berdalil kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, serta menyebutkan syubhat-syubhat terpenting yang dihembuskan seputar mereka dan menjelaskan kebenaran tentangnya.

Adapun bab ketiga: Aku bahas di dalamnya “masalah kekholifahan”. Aku sebutkan dalil-dalil Syiah secara terperinci tentang lebih berhaknya Ali bin Abi Tholib atas Abu Bakr, Umar, dan Utsman dalam kekholifahan, lalu aku bahas secara ilmiah dan teliti—yang mungkin tidak engkau temukan selain dalam kitab ini. Aku mengucapkan ini bukan karena bangga diri, tetapi karena firman Alloh:

﴿وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Robbmu, hendaklah engkau ceritakan.” (QS. Ad-Dhuha: 11)

Ini semua, dan aku memohon kepada Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa agar menjadikan karya ini ikhlas karena wajah-Nya yang mulia. Sungguh, Dia Maha Menguasai hal itu dan Maha Kuasa atasnya.

Dan akhir doa kami: segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam.

Utsman bin Muhammad al-Khomis

Semoga Alloh mengampuni dirinya, kedua orang tuanya, dan seluruh umat Islam.

 

3 Hal Penting Sebelum Menyentuh Sejarah

1)      Cara Membaca Sejarah

2)      Siapa buku sejarah yang boleh kita baca?

3)      Sarana para tukang berita (akhbariyyun) dalam mendistorsi sejarah

 

Pendahuluan (Tamhid)

Sungguh, di antara kedustaan sejarah terbesar adalah klaim para pengklaim bahwa para Shohabat Rosululloh saling menyembunyikan permusuhan satu sama lain!!

Ini adalah kebatilan, dan sangat jauh dari firman Alloh Ta’ala kepada mereka:

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh.” (QS. Ali ‘Imron: 110)

Dan sabda Rosululloh :

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (qorni).”[13]

Sungguh, di antara keterasingan Islam setelah tiga generasi utama yang diutamakan itu adalah munculnya para penulis yang merusak sejarah dan mengubahnya, menyalahi kebenaran dan memusuhinya. Mereka mengklaim bahwa para Shohabat Rosululloh tidaklah bersaudara karena Alloh Ta’ala, tidak saling menyayangi, tetapi mereka adalah musuh-musuh yang saling melaknat, saling menjebak, saling bermunafikan, dan saling bersekongkol—karena kezoliman, permusuhan, serta mengikuti dunia dan hawa nafsu.

Demi Alloh: mereka dusta dan telah mendatangkan kebohongan besar serta kedustaan yang nyata.

Sungguh, Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abu ‘Ubaidah, ‘Aisyah, Fatimah, dan lainnya dari as-Sabiqun (orang-orang yang terdahulu) dan para Shohabat yang penuh keberkahan—mereka lebih mulia dan lebih suci daripada melakukan sesuatu seperti itu. Bani Hasyim dan Bani Umayyah lebih setia daripada itu terhadap Islam mereka, tali kekeluargaan mereka, hubungan kekerabatan mereka; hubungan mereka lebih kokoh dan kerja sama mereka dalam kebaikan lebih besar. Merekalah yang membuka penjuru-penjuru bumi dengan tangan mereka, dan umat-umat bangsa lain masuk ke dalam agama Alloh berombong-rombongan melalui usaha dan da’wah mereka.

Tidak seorang pun dari mereka kecuali terhubung dengan Bani Hasyim melalui hubungan kemanakan, kekerabatan, atau perkawinan.

Ketahuilah bahwa berita-berita shohih yang diriwayatkan oleh para ahli kejujuran dan keadilan adalah yang menetapkan bahwa para Shohabat Rosululloh semuanya adalah pilihan-pilihan terbaik yang pernah dikenal oleh umat manusia setelah para Nabi dan Rosul.

Adapun berita-berita yang mencitrakan buruk perjalanan hidup para Shohabat dan membuat kesan bahwa mereka kecil jiwa—itulah yang diriwayatkan oleh para pendusta dan pemalsu.

Sejarah umat Islam membutuhkan penulisan ulang, dengan cara mengambilnya dari sumber-sumbernya yang jernih, terutama dalam persoalan-persoalan yang telah dirusak oleh orang-orang yang hati mereka rusak—para perangkai berita. Perlu diketahui bahwa umat Islam kita adalah umat paling kaya dengan bahan sejarahnya, yang terpelihara dengan sanad-sanad yang kuat.

Para pendahulu (Salaf) kita yang sholih dari kalangan sejarawan pilihan telah berusaha menyelamatkannya sebelum lenyap. Mereka mengumpulkan semua yang sampai ke tangan mereka—yang bagus maupun yang buruk—sambil memberi peringatan tentang sumber-sumber berita dan nama-nama rowinya, agar pembaca berada dalam keyakinan tentang mana yang shohih dan mana yang cacat.

Sekarang tibalah giliran kita sebagai generasi setelah mereka (kholaf) untuk melanjutkan jejak Salaf Sholih kita, menyaring kitab-kitab ini, membedakan yang cacat dari yang shohih, yang buruk dari yang baik. Dengan demikian kita menjadi sebaik-baik generasi setelah mereka (kholaf) untuk sebaik-baik generasi terdahulu (Salaf), dan agar semua orang mengetahui bahwa lembaran-lembaran sejarah para Shohabat Muhammad adalah seperti hati mereka—bersih, selamat, dan suci.

Sungguh, umat Islam telah kehilangan sumber kekuatan mereka yang paling melimpah, yaitu iman terhadap kebesaran masa lalu mereka. Padahal mereka adalah keturunan dari generasi pendahulu yang sejarahnya tidak pernah menyaksikan perjalanan hidup yang lebih suci, lebih menakjubkan, dan lebih cemerlang dari perjalanan hidup mereka.

Barang siapa ingin menulis tentang sejarah, maka ia harus memiliki hati yang bersih terhadap para pemilik kebenaran dan kebaikan, mengenal mereka, mengetahui hak dan kedudukan mereka, mahir dalam membedakan para pembawa berita, membedakan yang shohih dari yang cacat, serta amanah, jujur, dan sungguh-sungguh mencari kebenaran.

 

[1] Bagaimana Cara Membaca Sejarah?

Kita harus membaca sejarah sebagaimana kita membaca Hadits-Hadits Rosululloh .

Ketika kita hendak membaca Hadits Rosululloh , kita harus memverifikasi apakah berita itu benar-benar tsabit (shohih) dari Rosululloh atau tidak.

Kita tidak akan bisa mengetahui kebenaran berita dari kepalsuannya kecuali dengan melihat sanad dan matan sekaligus. Karena para ulama sangat memperhatikan Hadits dan rowi-rowinya, menelusuri Hadits-Hadits mereka, menelitinya, menilainya, dan menjelaskan mana yang shohih dan mana yang lemah. Dengan demikian, Hadits-Hadits ini telah dibersihkan dari apa yang ada di dalamnya atau dari kebohongan atau tadlis yang dimasukkan ke dalamnya.

Namun, sejarah berbeda. Kadang-kadang kita dapati banyak riwayat sejarah tidak memiliki sanad. Kadang-kadang juga, ada sanadnya, tetapi kita mungkin tidak menemukan biografi untuk para rowi dalam sanad itu, dan kita tidak mendapati seorang ulama pun yang mengomentari mereka secara jarh atau ta’dil, pujian atau celaan. Maka akan sulit bagi kita menilai riwayat itu karena kita tidak mengetahui keadaan sebagian rowinya.

Jadi, masalah sejarah lebih sulit dari (masalah) Hadits. Tetapi ini sama sekali tidak berarti kita boleh bersikap longgar terhadapnya. Kita wajib melakukan verifikasi dan mengetahui cara mengambil sejarah kita.

Barangkali ada yang berkata: “Dengan cara ini, banyak sekali sejarah yang akan terlewatkan (lenyap) dari kita.”

Maka kita menjawab: Tidak akan banyak sejarah yang hilang seperti yang kamu bayangkan. Karena sesungguhnya banyak riwayat sejarah yang kita butuhkan—khususnya dalam penelitian ini—disebutkan beserta sanad-sanadnya, baik sanad-sanad itu terdapat dalam kitab-kitab sejarah itu sendiri seperti Tarikh ath-Thobari, Jami’ at-Tirmidzi, atau di dalam kitab-kitab Mushonnaf seperti Mushonnaf Ibni Abi Syaibah, atau dalam kitab-kitab tafsir yang menyebutkan sebagian riwayat sejarah dengan sanad seperti Tafsir Ibnu Jarir dan Tafsir Ibnu Katsir, dan kadang-kadang dalam kitab-kitab khusus yang membahas masa-masa tertentu, misalnya kitab Hurub ar-Riddah karya al-Kala’i, atau kitab Tarikh Kholifah bin Khoyyath yang ringkas.

Intinya: kita tidak kesulitan untuk mendapatkan sanad bagi suatu riwayat dari sekian riwayat.

Jika kita tidak mampu dan tidak mendapatkan sanad, maka kita memiliki satu prinsip umum yang kita ikuti, khususnya untuk apa yang terjadi di masa Shohabat—dan itulah pokok pembicaraan kita—yaitu pujian Alloh Tabaroka wa Ta’ala dan pujian Rosululloh (sebagaimana akan dijelaskan) atas para Shohabat. Maka prinsip dasar menyikapi mereka adalah ‘adalah (mereka jujur dan sholih).

Setiap riwayat yang di dalamnya terdapat celaan terhadap para Shohabat Rosululloh , kita perlu periksa sanadnya:

Jika sanadnya shohih, maka setelah itu kita lihat ta’wil (penafsiran) riwayat tersebut dan apa yang ditunjukkannya.

Jika ditemukan bahwa sanadnya lemah atau kita tidak mendapatkan sanadnya, maka kita berpegang pada prinsip dasar, yaitu ‘adalah orang-orang tersebut (para Shohabat).

Kesimpulannya: ketika membaca sejarah, kita harus membaca dengan analisis kritis (tamhis) sebagaimana kita membaca Hadits. Dan sejarah yang paling khusus adalah sejarah para Shohabat Rosululloh .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata:

«لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مَعَ الْإِنْسَانِ أُصُولٌ كُلِّيَّةٌ تُرَدُّ إِلَيْهَا الْجُزْئِيَّاتُ؛ لِيَتَكَلَّمَ بِعِلْمِ وَعَدْلٍ، ثُمَّ يَعْرِفَ الْجُزْئِيَّاتِ كَيْفَ وَقَعَتْ وَإِلَّا فَيَبْقَى فِي كَذِبٍ وَجَهْلٍ فِي الْجُزْئِيَّاتِ، وَجَهْلٍ وَظُلْمٍ فِي الْكُلِّيَّاتِ، فَيَتَوَلَّدُ فَسَادٌ عَظِيمٌ»

“Seseorang harus memiliki prinsip-prinsip universal (kuliyyah) yang kepadanya bagian-bagian detail (juz’iyyat) dikembalikan, agar ia berbicara dengan ilmu dan keadilan. Kemudian ia mengetahui bagaimana detail peristiwa terjadi. Jika tidak, ia akan tetap berada dalam kebohongan dan kebodohan dalam hal-hal detail, serta kebodohan dan kezoliman dalam hal-hal universal, sehingga akan melahirkan kerusakan yang besar.” (Majmu’ al-Fatawa 19/203)

Sayang sekali, banyak orang pada zaman kita ini sangat tergila-gila membaca kitab-kitab modern yang ditulis tentang sejarah, yang lebih mementingkan keindahan cerita atau pencitraan yang buruk, atau keduanya sekaligus, tanpa memedulikan shohih atau tidaknya.

Seperti kitab-kitab Abbas al-‘Aqqod,[14]

atau kitab-kitab Kholid Muhammad Kholid,[15]

atau kitab-kitab Thoha Husain,[16]

atau kitab-kitab Jurji Zaidan an-Nashroni,[17]

atau yang lainnya dari kalangan para penulis modern.

Mereka ini ketika berbicara tentang sejarah, lebih mementingkan konteks, keindahan cerita, dan gaya penulisan yang bagus, tanpa memedulikan apakah cerita itu shohih atau tidak. Sebagian mereka bahkan bermaksud mendistorsi karena ada tujuan jelek dari dirinya. Yang penting baginya adalah menyampaikan cerita yang indah.

Di antara kitab-kitab yang wajib diwaspadai adalah:

1. Al-Aghoni karya Abu al-Faroj al-Asfahani: Ini adalah kitab untuk bersantai ria, syair, dan hiburan, tetapi ia banyak dicemari oleh berita-berita batil.

2. Al-‘Iqd al-Farid karya Ibnu ‘Abd Robbih: Ini juga kitab sastra, tetapi tidak luput dari kebatilan.

3. Al-Imamah was Siyasah yang dinisbahkan kepada Ibnu Qutaibah: Kitab ini adalah palsu atas namanya (maksudnya tidak shohih dinisbahkan kepadanya).

4. Muruj adz-Dzahab karya al-Mas’udi: Kitab ini tanpa sanad.

Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata:

«فِي تَارِيخِ الْمَسْعُودِيِّ مِنَ الْأَكَاذِيبِ مَا لَا يُحْصِيهِ إِلَّا اللهُ، فَكَيْفَ يُوثَقُ بِحِكَايَةٍ مُنْقَطِعَةِ الْإِسْنَادِ فِي كِتَابٍ قَدْ عُرِفَ بِكَثْرَةِ الْكَذِبِ»

“Dalam Tarikh al-Mas’udi terdapat kedustaan yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Alloh. Maka bagaimana mungkin seseorang dapat mempercayai cerita yang terputus sanadnya dalam kitab yang telah dikenal memiliki banyak kebohongan?” (Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, 4/84)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh berkata:

«وَكُتُبُهُ طَافِحَةٌ بِأَنَّهُ كَانَ شِيعِيًّا مُعْتَزِلِيًّا»

“Dan kitab-kitabnya jelas menunjukkan bahwa dia adalah Syi’ah Mu’tazilah.” (Lisan al-Mizan, 5/532)

5. Syarh Nahjil Balaghoh karya ‘Abdul Hamid bin Abi al-Hadid al-Mu’tazili. Ia lemah menurut ulama jarh wa ta’dil. Bahkan orang yang meneliti sebab penulisan kitab ini oleh Ibnu Abi al-Hadid akan merasa terpaksa untuk meragukan kitab ini dan penulisnya. Karena ia menulisnya untuk menteri Ibnu al-‘Alqomi—menteri yang menjadi penyebab terbunuhnya satu juta umat Islam di Baghdad oleh tentara Tartar.

Al-Khuanasari berkata tentang kitab Ibnu Abi al-Hadid ini:

«صَنَّفَهُ لِخِزَانَةِ كُتُبِ الْوَزِيرِ مُؤَيِّدِ الدِّينِ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَلْقَمِيِّ»

“Dia menyusunnya untuk perpustakaan milik al-Wazir Mu’ayyid ad-Din Muhammad bin al-‘Alqomi.” (Roudhot al-Jannat al-Khuanasari, 3/20-21)

Bahkan banyak ulama Syi’ah sendiri yang mencela penulis kitab ini dan kitabnya. Al-Mirza Habibullah al-Khu’i menggambarkan Ibnu Abi al-Hadid: “Dia bukan termasuk ahli diroyah dan atsar ... pendapatnya rusak dan pandangannya tidak berguna ... dia banyak bersikap keras kepala ... dia telah menyesatkan banyak orang dan ia pun tersesat dari jalan yang lurus.”

Adapun tentang kitabnya, al-Mirza mendeskripsikannya dengan berbagai sifat, di antaranya: “Jasad tanpa ruh ... berkisar pada kulit luar tanpa inti ... tidak banyak manfaatnya ... di dalamnya terdapat takwil-takwil yang jauh, yang tabiat merasa jijik dan pendengaran menjadi lari darinya.”[18]

6. Tarikh al-Ya’qubi: Kitab ini seluruhnya adalah mursal tanpa sanad, dan penulisnya tertuduh.

 

[2] Kitab Sejarah Siapa yang Boleh Kita Baca?

Jawabannya adalah: Jika engkau mampu meneliti sanad-sanad dan menganalisisnya secara kritis, maka bacalah karya Imam ath-Thobari, karena dialah rujukan utama (al-‘umdah) bagi mereka yang menulis tentang sejarah.

Dan jika engkau tidak mampu menganalisis sanad-sanad secara kritis, maka bacalah:

- Karya al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah.

- Karya al-Hafizh adz-Dzahabi dalam kitabnya Tarikh al-Islam.

- Karya al-‘Allamah Abu Bakr ibn al-‘Arobi dalam kitabnya Al-‘Awashim minal Qowashim. Kitab ini termasuk sebaik-baik kitab yang membahas periode ini.

Di antara kitab-kitab yang bermanfaat dalam sejarah untuk bab ini, yang ringkas namun bermanfaat, seperti:

1. Marwiyyat Abi Mikhnaf fi Tarikh ath-Thobari karya Dr. Yahya bin Ibrohim al-Yahya.

2. Al-Khilafah ar-Rosyidah wal Khilafah al-Umawiyyah (dari Fath al-Bari) karya Dr. Yahya bin Ibrohim al-Yahya.

3. Tahqiq Mauqif ash-Shahabah minal Fitan karya Dr. Muhammad Amhazun.

4. ‘Ashr al-Khilafah ar-Rosyidah karya Dr. Akrom Dhiya’ al-‘Umari.

5. Marwiyyat Khilafah Mu’awiyah fi Tarikh ath-Thobari karya Kholid al-Ghoits.

6. Ath-Thobaqot al-Kubro karya Ibnu Sa’d. Kitab ini sangat penting karena pengarangnya meriwayatkan dengan sanad-sanad.

7. Tarikh Kholifah bin Khoyyath; kitab ringkas namun perhatiannya besar pada sanad.

8. Tarikh al-Madinah karya Ibnu Syabbah; kitab ini juga musnad (dengan sanad).

9. Ahdats wa Ahadits Fitnat al-Harj karya Dr. ‘Abdul ‘Aziz Dukhon.

10. Akhtho’un Yajibu an Tushahhah min at-Tarikh karya Dr. Jamal ‘Abdul Hadi dan Dr. Wafa’ Jum’ah.

Dari apa kita harus berhati-hati ketika membaca kitab-kitab sejarah?

Ketika kita membaca kitab-kitab sejarah, kita harus berhati-hati agar tidak cenderung mengikuti pendapat pengarang. Sebab, kita wajib melihat kepada asal riwayatnya, bukan kepada pendapatnya. Kita harus berusaha bersikap adil ketika membaca. Dan kita wajib meyakini—ketika membaca sejarah para Shohabat Rosululloh —dua hal:

Hal Pertama:

Kita wajib meyakini bahwa para Shohabat Nabi adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi Alloh—ṣolawātulloohi wa salāmuhu ‘alaihim. Karena Alloh Tabaroka wa Ta’ala telah memuji mereka, dan Nabi juga memuji mereka. Beliau telah menjelaskan dalam lebih dari satu Hadits bahwa mereka adalah manusia terbaik setelah para Nabi Alloh.

Hal Kedua:

Kita wajib mengetahui bahwa para Shohabat Rosululloh tidak ma’sum (terjaga dari dosa). Benar, kita meyakini kema’suman dalam ijma’ (konsensus) mereka, karena Nabi telah mengabarkan kepada kita bahwa umat ini tidak akan bersepakat (berijma’) di atas kesesatan. Maka mereka ma’sum dalam arti tidak mungkin bersepakat di atas kesesatan. Namun sebagai individu, mereka tidak ma’sum. Kema’suman hanya untuk para Nabi Alloh dan Malaikat-Nya. Selain Nabi dan Malaikat, kita tidak meyakini kema’suman siapa pun.

Dalam kitab kami ini, kami berusaha keras untuk membedakan antara fakta (hakikat) dan cerita-cerita lembut (roqo’iq). Kecintaan kami kepada para Shohabat Nabi tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi sebab untuk menghapus dan mengabaikan fakta-fakta. Kami juga tidak melihat celaan (fitnah peperangan)—setelah kami berkonsultasi dengan ulama dan syaikh yang kami percayai—untuk membahas hal ini.

Aku katakan: Kami tidak melihat terlarang dalam membahas topik ini sekadar untuk membahasnya. Yang terlarang adalah jika seseorang membahasnya dengan kebodohan, niat buruk, atau keduanya sekaligus. Adapun jika pembahasan dilakukan dengan ilmu, keadilan, objektivitas (inshof), dan taqwa, maka menurutku tidak ada larangan.

Kesimpulan: Kita wajib meyakini bahwa para Shohabat adalah sebaik-baik manusia; dan kita wajib meyakini bahwa mereka tidak ma’sum; dan bahwa apa yang terjadi dari sebagian mereka adalah khotho’ (salah/keliru, bukan dosa besar) bukan khothi’ah (dosa). Sungguh jauh perbedaan antara keduanya. Maka jika datang kepadamu sebuah riwayat yang mengandung celaan terhadap seorang Shohabat, jangan terburu-buru menolaknya dan jangan pula menerimanya sebelum engkau menelitinya. Jika engkau dapati sanadnya shohih, maka ini adalah salah satu hal yang memang mereka tidak ma’sum di dalamnya; mereka bisa keliru sebagaimana manusia lainnya. Jika engkau dapati sanadnya lemah, maka tetaplah pada prinsip dasar, yaitu bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi Alloh.

Adapun pujian Alloh Tabaroka wa Ta’ala terhadap para Shohabat Rosululloh terdapat dalam firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad adalah utusan Alloh; dan orang-orang yang bersamanya (Shohabat) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia dari Alloh dan keridhoan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Itulah perumpamaan mereka dalam Taurot. (Sementara) perumpamaan mereka dalam Injil adalah seperti tanaman (Muhammad) yang mengeluarkan tunasnya (Muhajirin), lalu tunas itu semakin kuat (dengan Anshor), lalu menjadi keras (dengan Abu Bakr), lalu tegak di atas batangnya (dengan Umar); tanaman itu mengagumkan para petani—untuk membuat orang-orang kafir murka karena mereka. Alloh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Dalam ayat ini, Alloh Tabaroka wa Ta’ala memuji keseluruhan para Shohabat Rosululloh . Maka prinsip dasar terhadap mereka adalah pujian (al-mad-hu). Dan telah tsabit (shohih) dari Nabi bahwa beliau bersabda:

«فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ»

“Maka sekiranya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya itu tidak akan mencapai satu mud (takaran) salah seorang dari mereka (para Shohabat), dan tidak pula setengahnya.”[19]

Ini adalah pujian dari Rosululloh terhadap para Shohabatnya—rodhiyAllohu ‘anhum.

Dan akan datang rinciannya dalam pembahasan tentang ‘adalah para Shohabat di bab tersendiri dalam kitab ini.

Abu Muhammad al-Qohthani berkata dalam Nuniyyah-nya:

لَا تَقْبَلَنْ مِنَ التَّوَارِخِ كُلَّ مَا ... جَمَعَ الرُّوَاةُ وَخَطَّ كُلُّ بَنَانِ

ارْوِ الْحَدِيثَ الْمُنْتَقَى عَنْ أَهْلِهِ ... سِيَّمَا ذَوِي الْأَحْلَامِ وَالْأَسْنَانِ

كَابْنِ الْمُسَيِّبِ وَالْعَلَاءِ وَمَالِكٍ ... وَاللَّيْثِ وَالزُّهْرِيِّ أَوْ سُفْيَانِ

“Janganlah engkau terima dari kitab-kitab sejarah semua yang dikumpulkan para rowi dan ditulis setiap jari.

Riwayatkanlah Hadits yang terpilih dari ahlinya—terutama mereka yang memiliki akal dan usia dewasa,

Seperti Ibnu al-Musayyib, al-‘Ala’, Malik, al-Laits, az-Zuhri, atau Sufyan.”[20]

Maksudnya: Jika engkau menginginkan sejarah yang shohih, maka sejarah itu adalah yang diriwayatkan oleh mereka dan orang-orang sepercaya (tsiqot) seperti mereka—bukan seperti yang dikatakan oleh banyak orang yang mencela perjalanan hidup para Shohabat Rosululloh: “Sejarah kita hitam, gelap, suram!!”

Tidak! Bahkan sejarah kita cemerlang, indah, baik. Seseorang menikmati saat membacanya.

Barang siapa ingin memperluas bacaannya, hendaklah kembali kepada kitab-kitab sejarah, seperti:

- Tarikh al-Umam wal Muluk yang masyhur dengan Tarikh ath-Thobari.

- Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir.

- Tarikh al-Islam karya adz-Dzahabi.

- Atau lainnya dari kitab-kitab sejarah yang terpercaya (mu’tamadah).

Kitab Tarikh al-Imam ath-Thobari dianggap sebagai kitab terpenting dalam sejarah Islam. Banyak orang menukil darinya. Baik Ahlus Sunnah maupun ahli bid’ah sama-sama menukil dan berhujjah dengan Tarikh ath-Thobari. Mengapa demikian? Mengapa mereka mendahulukannya daripada kitab-kitab sejarah lainnya?

Tarikh al-Imam ath-Thobari didahulukan atas yang lain karena beberapa hal, di antaranya:

1. Dekatnya masa Imam ath-Thobari dengan peristiwa-peristiwa tersebut.

2. Imam ath-Thobari meriwayatkan dengan sanad-sanad.

3. Keluhuran (jalalah) Imam ath-Thobari rohimahulloh[21] dan kedudukan ilmiahnya.

4. Bahwa sebagian besar kitab-kitab sejarah hanya menukil darinya.

Jika demikian keadaannya, maka ketika kita ingin membaca sejarah, marilah langsung menuju kepada Imam ath-Thobari. Namun, seperti yang aku sebutkan, Ahlus Sunnah mengambil dari Tarikh ath-Thobari, sementara ahli bid’ah juga mengambil apa yang sesuai dengan mazhab mereka. Lalu bagaimana kita menyelaraskan antara ini dan itu?

Tarikh ath-Thobari—seperti yang kami sebutkan—di antara keistimewaannya adalah bahwa ia tidak bercerita kecuali dengan sanad-sanad. Ahlus Sunnah mengambil riwayat yang shohih dari sanad-sanad ath-Thobari. Sementara ahli bid’ah mengambil yang shohih dan yang buruk—yang penting sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Jika demikian keadaannya, maka wajib bagi kita untuk mengetahui manhaj (metodologi) Imam ath-Thobari dalam Tarikh-nya.

Manhaj Imam ath-Thobari dalam Tarikh-nya

Imam ath-Thobari rohimahulloh telah membebaskan kita dalam masalah ini dengan sebuah muqoddimah yang ia tulis di awal kitabnya. Andai saja mereka yang membaca sejarah ini mau membaca muqoddimah tersebut.[22]

Imam ath-Thobari rohimahulloh berkata dalam muqoddimah Tarikh-nya (hal. 5):

«وَلْيَعْلَمِ النَّاظِرُ فِي كِتَابِنَا هَذَا أَنَّ اعْتِمَادِي فِي كُلِّ مَا أَحْضَرْتُ ذِكْرَهُ فِيهِ مِمَّا شَرَطْتُ أَنِّي رَاسِمُهُ فِيهِ، إِنَّمَا هُوَ عَلَى مَا رُوِّيتُ مِنَ الْأَخْبَارِ الَّتِي أَنَا ذَاكِرُهَا فِيهِ وَالْآثَارِ الَّتِي أَنَا مُسْنِدُهَا إِلَى رُوَاتِهَا، فَمَا يَكُنْ فِي كِتَابِي هَذَا مِنْ خَبَرٍ ذَكَرْنَاهُ عَنْ بَعْضِ الْمَاضِينَ، مِمَّا يَسْتَنْكِرُهُ قَارِئُهُ، أَوْ يَسْتَشْنِعُهُ سَامِعُهُ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ لَمْ يَعْرِفْ لَهُ وَجْهًا فِي الصِّحَّةِ، وَلَا مَعْنًى فِي الْحَقِيقَةِ؛ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يُؤْتَ فِي ذَلِكَ مِنْ قِبَلِنَا، وَإِنَّمَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ بَعْضِ نَاقِلِيهِ إِلَيْنَا، إِنَّمَا أَدَّيْنَا ذَلِكَ عَلَى نَحْوِ مَا أُدِّيَ إِلَيْنَا»

“Dan hendaklah orang yang meneliti kitab kami ini mengetahui bahwa ketergantunganku dalam segala sesuatu yang aku hadirkan penyebutannya di dalamnya—dari apa yang aku tetapkan sebagai ketentuanku untuk menuliskannya—hanyalah berdasarkan apa yang diriwayatkan kepadaku dari berita-berita yang aku sebutkan di dalamnya dan atsar-atsar yang aku sandarkan kepada para rowinya. Maka apa pun dalam kitabku ini berupa berita yang aku sebutkan tentang sebagian generasi terdahulu, yang mungkin diingkari oleh pembacanya atau dianggap buruk oleh pendengarnya—karena ia tidak mengetahui baginya segi keshohihan dan tidak makna hakikat—maka hendaklah ia mengetahui bahwa kesalahan itu tidak datang dari pihak kami, tetapi datang dari pihak sebagian rowi yang menyampaikannya kepada kami. Kami hanya menyampaikannya sebagaimana yang disampaikan kepada kami.”

Aku kira, dengan muqoddimah yang ia tulis untuk kitabnya ini, Imam ath-Thobari telah melemparkan tanggung jawab kepadamu, wahai pembaca!!

Dia berkata kepadamu: “Jika engkau temukan dalam kitabku ini berita yang engkau anggap buruk dan tidak engkau terima, maka lihatlah dari siapa kami meriwayatkannya. Tanggung jawab ada padanya. Kewajibanku hanyalah menyebutkan siapa yang menceritakan kepadaku berita ini. Jika dia tsiqah, terimalah. Jika tidak tsiqah, jangan terima.”

Hal ini telah dilakukan oleh kebanyakan ahli Hadits. Maka ketika engkau kembali ke kitab-kitab Hadits selain ash-Shohihain (Bukhori & Muslim) yang berkomitmen untuk hanya mengeluarkan Hadits shohih—seperti engkau kembali ke Jami’ at-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, ad-Daruquthni, ad-Darimi, Musnad Ahmad, atau lainnya—engkau dapati mereka menyebutkan sanad, dan mereka tidak berkomitmen untuk hanya menyebutkan yang shohih. Mereka hanya menyebutkan sanad, dan kewajibanmulah untuk melihat sanad itu. Maka jika sanadnya shohih, terimalah; jika tidak shohih, tolaklah.

Ath-Thobari di sini juga tidak berkomitmen untuk hanya menukil yang shohih. Dia hanya berkomitmen untuk menyebutkan nama orang yang menukil darinya.

Ibnu Hajar rohimahulloh telah menunjukkan manhaj ini, menjelaskan cara dan manhab kebanyakan ulama terdahulu, di mana beliau berkata:

«أَكْثَرُ الْمُحَدِّثِينَ فِي الْأَعْصَارِ الْمَاضِيَةِ مِنْ سَنَةِ مِائَتَيْنِ وَهَلُمَّ جَرًّا إِذَا سَاقُوا الْحَدِيثَ بِإِسْنَادِهِ، اعْتَقَدُوا أَنَّهُمْ تَبَرَّؤُوا مِنْ عُهْدَتِهِ»

“Kebanyakan ahli Hadits pada masa-masa lampau sejak tahun dua ratus (H)[23] dan seterusnya, ketika mereka menyebutkan Hadits dengan sanadnya, mereka meyakini bahwa mereka telah terbebas dari tanggung jawabnya (karena sudah menyebutkan sanad).”

Maka jika demikian keadaannya, tidak ada tanggung jawab (tanggung jawab kelemahan riwayat) atas Imam ath-Thobari rohimahulloh.

Imam ath-Thobari dalam kitabnya at-Tarikh banyak menukil dari seorang laki-laki bernama Luth bin Yahya, yang dijuluki Abu Mikhnaf.

Luth bin Yahya ini—ath-Thobari meriwayatkan darinya lima ratus delapan puluh tujuh (587) riwayat.

Riwayat-riwayat ini dimulai dari wafatnya Nabi dan berakhir pada masa kekholifahan Yazid. Inilah periode yang akan kita bicarakan dalam kitab kita ini. Di antara riwayat-riwayat yang paling penting adalah:

1. Saqifah Bani Sa’idah.

2. Kisah Syuro (pemilihan kholifah setelah Umar).

3. Hal-hal yang menjadi sebab kaum Khowarij bangkit melawan Utsman rodhiyallahu ‘anhu

4. Kemudian setelah itu, terbunuhnya Utsman.

5. Kekholifahan Ali rodhiyallahu ‘anhu

6. Perang Jamal.

7. Perang Shiffin.

8. Peristiwa Tahkim (arbitrase).

9. Perang Nahrowan.

10. Kekholifahan Mu’awiyah rodhiyallahu ‘anhu

11. Terbunuhnya Husain rodhiyallahu ‘anhu

Dalam semua ini, engkau dapati riwayat dari Abu Mikhnaf. Dan riwayat Abu Mikhnaflah yang menjadi andalan ahli bid’ah dan mereka sangat berpegang kepadanya.

Siapakah Abu Mikhnaf ini?

- Ibnu Ma’in berkata tentangnya: “Dia bukanlah apa-apa (tidak bernilai).”

- Abu Hatim berkata: “Dia ditinggalkan (matruk) dalam Hadits.”

- Suatu kali beliau ditanya tentang Abu Mikhnaf, lalu beliau mengibaskan tangannya dan berkata: “Apakah ada orang yang bertanya tentang orang ini?!”

- Ad-Daruquthni berkata: “Dia lemah.”

- Ibnu Hibban berkata “Dia meriwayatkan Hadits-Hadits palsu dari rowi-rowi tsiqah.”

- Adz-Dzahabi berkata: “Dia seorang tukang cerita (akhbari) yang rusak, tidak dapat dipercaya.”[24]

Maka jika engkau membuka Tarikh ath-Thobari dan menemukan riwayat yang di dalamnya terdapat celaan terhadap para Shohabat Rosululloh , lalu engkau dapati bahwa ath-Thobari meriwayatkannya dari Abu Mikhnaf, maka engkau wajib mengesampingkannya.

Mengapa? Karena itu dari riwayat Abu Mikhnaf!

Dan Abu Mikhnaf ini mengumpulkan antara bid’ah, kebohongan, dan banyaknya riwayat.

Dia ahli bid’ah, pendusta, dan sangat banyak meriwayatkan!!

Bukan hanya Abu Mikhnaf sendirian. Abu Mikhnaf adalah yang paling terkenal di antara mereka. Selain dia ada pula yang lain, seperti:

[2] Al-Waqidi[25] misalnya. Dia matruk, dituduh berdusta. Tidak diragukan lagi bahwa dia sejarawan besar, hafizh, alim tentang sejarah, tetapi dia tidak tsiqoh.

[3] Saif bin Umar at-Tamimi[26]. Dia juga sejarawan terkenal, tetapi dia juga matruk dan dituduh (berdusta).

[4] Demikian juga al-Kalbi[27], dia pendusta yang terkenal. Maka seseorang harus benar-benar memverifikasi riwayat-riwayat mereka dan orang-orang sejenis mereka.

[3] Sarana Para Tukang Berita (Akhbariyyun) dalam Mendistorsi Sejarah

1. Rekayasa (ikhtilaq) dan kebohongan:

Mereka merekayasa suatu cerita, sebagaimana mereka pernah merekayasa misalnya bahwa ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha ketika kabar kematian Ali rodhiyallahu ‘anhu sampai kepadanya, ia sujud syukur kepada Alloh.

Cerita ini palsu (makdzuubah).[28]

2. Menambahi (az-ziyadah ‘alal haditsah) atau mengurangi (an-nuqsan minha) suatu peristiwa dengan tujuan mendistorsi:

Di sini, asal peristiwa itu shohih, seperti peristiwa Saqifah. Kisah Saqifah itu shohih. Telah terjadi pertemuan antara Abu Bakr, Umar, Abu ‘Ubaidah di satu pihak, dan al-Hubab bin al-Mundzir, Sa’d bin ‘Ubadah, serta lainnya dari kaum Anshor di pihak lain. Namun mereka menambahi hal-hal tertentu—seperti akan disebutkan nanti—yang dengannya mereka bermaksud mendistorsi fakta ini.

3. Takwil yang batil terhadap peristiwa:

Yaitu bersungguh-sungguh menakwilkan suatu peristiwa dengan takwil batil yang sesuai dengan hawa nafsunya, sesuai dengan keyakinan dan bid’ah yang dianutnya.

4. Menonjolkan keburukan (matsalib) dan kesalahan (akhtho’):

Di sini, ceritanya shohih, tetapi ia menyajikannya dengan penonjolan yang memfokuskan pada kesalahan dan menutupi segala kebaikan.

5. Menciptakan syair untuk mendukung peristiwa sejarah:

Mereka membuat syair yang digubah oleh salah seorang dari mereka, lalu menisbatkannya kepada Amirul Mukminin Ali rodhiyallahu ‘anhu, atau menisbatkannya kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anhu, atau kepada Zubair, atau kepada Tholhah—untuk mencela salah seorang Shohabat. Seperti syair yang mereka nisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas tentang Ummul Mukminin ‘Aisyah:

تَبَغَّلْتِ تَجَمَّلْتِ ... وَلَوْ شِئْتِ تَفَيَّلْتِ

“Engkau menaiki baghol, lalu engkau menaiki unta... dan jika engkau mau, engkau menaiki gajah.”[29]

6. Membuat kitab-kitab dan risalah-risalah palsu (muzayyafah):

Sebagaimana akan kita lihat nanti—insya Alloh Ta’ala—dalam kisah terbunuhnya Utsman rodhiyallahu ‘anhu, ketika kitab-kitab dipalsukan atas nama Utsman, kitab-kitab dipalsukan atas nama ‘Aisyah, kitab-kitab dipalsukan atas nama Ali, Tholhah, dan Zubair.

Ini selain kitab-kitab yang ditulis dan dipalsukan seperti kitab Nahj al-Balaghoh yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Tholib, dan kitab Al-Imamah was Siyasah yang mereka nisbatkan kepada Ibnu Qutaibah.[30]

7. Eksploitasi kemiripan nama (tasyabuh al-asma’):

Misalnya, Ibnu Jarir ada dua:

- Pertama: Muhammad bin Jarir bin Yazid Abu Ja’far ath-Thobari, imam dari imam-imam Ahlus Sunnah.

- Kedua: Muhammad bin Jarir bin Rustum, Abu Ja’far ath-Thobari, imam dari imam-imam Syi’ah.[31]

Maka mereka menisbatkan kitab-kitabnya Ibnu Jarir yang Syi’ah kepada Ibnu Jarir yang Sunni, seperti kitab Dala’il al-Imamah al-Wadihah wa Nur al-Mu’jizat. Keduanya wafat pada tahun yang sama, 310 H.

Demikian pula Ibnu Hajar ada dua:

- Pertama: Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqolani, imam ahli Hadits.

- Kedua: Ahmad bin Hajar al-Haitami, imam dalam fikih, tetapi tidak memiliki modal dalam Hadits.

Maka mereka mengambil koreksi (tashih) dari al-Haitami lalu menisbatkannya kepada al-‘Asqolani.

Kapan manhaj at-tatsabbut (verifikasi) dimulai di kalangan Ahlus Sunnah?

Manhaj ini dimulai ketika fitnah terjadi, sebagaimana dikatakan oleh Imam Muhammad bin Sirin—tabi’i agung rohimahulloh Ta’ala—semoga Alloh meridhoinya. Beliau berkata:

«لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ؛ قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ»

“Dahulu mereka (para Shohabat & Tabi’in awal) tidak bertanya tentang sanad. Ketika fitnah terjadi, mereka berkata: ‘Sebutkanlah kepada kami nama-nama rowi kalian.’ Maka dilihatlah kepada Ahlus Sunnah, lalu Hadits mereka diambil; dan dilihat kepada ahli bid’ah, maka Hadits mereka tidak diambil.”[32]

Itu karena prinsip dasar pada manusia adalah tsiqoh (terpercaya). Dan karena Ibnu Sirin termasuk tabi’in besar, beliau sempat mengalami masa hidup para Shohabat, hidup bersama Tabi’in besar dan Tabi’in kecil. Adapun “fitnah” yang dimaksud di sini adalah munculnya sekte-sekte sesat di akhir kekholifahan Utsman.

Kewajiban at-tatsabbut (verifikasi) dalam menukil berita-berita

Sungguh, Alloh Tabaroka wa Ta’ala telah meletakkan dalam kitab-Nya suatu kaidah emas yang jarang diperhatikan oleh banyak orang, yaitu firman-Nya Ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka verifikasilah (tabayyun), agar kamu tidak menimpakan (mudhorot kepada) suatu kaum dengan kebodohan (kecerobohan), sehingga pada akhirnya kamu menyesali apa yang telah kamu perbuat.” (QS. Al-Hujurot: 6)

Maka dengannya, wajib melakukan verifikasi (at-tatsabbut) dalam menukil berita secara umum.[33]



[1] Al-huqub atau al-huqb: masa yang panjang. Al-hiqbah: masa yang tidak ditentukan batas waktunya, atau setahun. Lihat Lisan al-Arob karya Ibnu Manzhur (3/253) materi (ha-qof-ba).

[2] Bahkan kita dapati dalam Bihar al-Anwar karya al-Majlisi (jilid 23-27) dan lainnya, bentuk-bentuk ghuluw yang lebih parah dari itu.

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah no. 983, dan al-‘Allamah Nashiruddin al-Albani berkata: “Sanadnya shohih sesuai syarat Syaikhoin.” Lihat juga Nahjul Balaghoh (469) 4/108, Manaqib al-Imam Amir al-Mu’minin (Muhammad bin Sulaiman al-Kufi) 2/283, al-Amali ath-Thusi hal. 256.

[4] Sumber sebelumnya no. 984, dan al-‘Allamah al-Albani berkata: “Sanadnya hasan.”

[5] Amali ath-Thusi hal. 39, Bihar al-Anwar 43/93. [Kitab Syiah]

[6] Kasyf al-Ghummah 1/369, Bihar al-Anwar 43/130.

[7] Kasyf al-Ghummah 1/358, Bihar al-Anwar 43/119.

[8] Furu’ al-Kafi – Kitab an-Nikah – Bab Tazwij Ummi Kultsum 5/346, dan Furu’ al-Kafi – Kitab ath-Tholaq – Bab al-Mutawaffa ‘anha Zaujaha 6/121; sebelumnya juga oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro 7/63, Mushonnaf ‘Abdurrozzaq 6/163.

[9] Lihat kitab-kitab nasab seperti ‘Umdah ath-Tholib karya Ibnu ‘Anbah, dan al-Ansab karya as-Sam’ani.

[10] Nahjul Balaghoh, khutbah no. 97. Meskipun kami tidak meyakini keshohihan penisbatan kitab Nahjul Balaghoh kepada Ali rodhiyallahu ‘anhu, tetapi ini kami kutip sebagai argumen untuk mengalahkan Syiah dari kitab mereka sendiri. Adapun kitab Ahlus Sunnah penuh dengan pujian Ali terhadap para Shohabat Rosululloh, khususnya dua Syaikh (Abu Bakr & Umar). Lihat misalnya apa yang disebutkan tentang Abu Bakr dan Umar dalam biografi keduanya.

[11] Bihar al-Anwar 42/74, asy-Syajaroh az-Zakiyyah fil Ansab hal. 413.

[12] Jilid 1 dari tarjamah ini hanya sampai sini. Adapun bab 1 sd akhir pada jilid-jilid berikutnya. Semoga Alloh memudahkan pentarjamahannya.[Nor Kandir]

[13] Shohih al-Bukhori, Kitab Fadhoil ash-Shohabah, Bab Fadhoil Ashhab an-Nabi, no. 3651.

[14] Dia memiliki serial al-‘Abqoriyyat. [sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia]

[15] Karyanya Khulafa’ ar-Rosul dan Rijal Haula ar-Rosul. [Sayang sudah diterjemahkan ke Indonesia]

[16] Karyanya Mauqi’ah al-Jamal, ‘Aliyyun wa Banuh, al-Fitnah al-Kubro. [Sayang sudah diterjemahkan ke Indonesia]

[17] Karyanya Tarikh at-Tamaddun al-Islami.

[18] Lihat: Minhaj al-Baro’ah fi Syarh Nahj al-Balaghoh oleh al-Mirza Habibullah al-Khu’i, 1/14, cetakan Dar Ihya’ at-Turots al-‘Arobi, Beirut.

[19] Shohih al-Bukhori, Kitab Fadho’il ash-Shohabah, Bab Law Kuntu Mutakhidzan Kholilan, Hadits (3673); Shohih Muslim, Kitab Fadho’il ash-Shohabah, Bab Tahrimi Sabbi ash-Shohabah, Hadits (2541).

[20] Nuniyyah al-Qohthoni, bait 179-181.

[21] Ath-Thobari adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid Abu Ja’far ath-Thobari, seorang mufasir, muhaddis, sejarawan, fakih, ushuli, imam mujtahid. Lahir di Amul Thobaristan tahun 224 H, wafat tahun 310 H. Di antara karyanya: Tarikh al-Umam wal Muluk dan Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ayi al-Qur’an. Imam adz-Dzahabi berkata: “Dia tsiqah, hafizh, rujukan dalam tafsir, imam dalam fikih, ijma’, dan ikhtilaf, seorang ‘allamah dalam sejarah dan hari-hari (peristiwa) manusia, mengetahui qiro’at dan lainnya.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 14/270)

[22] Bahkan seharusnya setiap orang, jika ingin membaca suatu kitab, membaca muqoddimah kitab itu agar mengetahui manhaj pengarangnya.

[23] Lisan al-Mizan (4/128) pada biografi ath-Thobaroni (pengarang tiga mu’jam).

[24] Al-Jarh wa at-Ta’dil (7/182), Mizan al-I’tidal (3/419), Lisan al-Mizan (4/492).

[25] Siyar A’lam an-Nubala’ (9/172).

[26] Lihat biografinya dalam Mizan al-I’tidal (2/255) dan Tahdzib at-Tahdzib (4/295).

[27] Biografi Muhammad bin as-Sa’ib al-Kalbi dalam Mizan al-I’tidal (3/556).

[28] Diceritakan oleh Abu al-Faroj al-Ashfahani dalam al-Aghani hal. 55. Abu al-Faraj adalah Syi’ah yang dituduh berdusta, sebagaimana dalam biografinya di Tarikh Baghdad dan al-Mizan. Juga diceritakan oleh at-Tijani (yang cenderung Syi’ah) dalam kitabnya Fa as’alū Ahl adz-Dzikr hal. 97 tanpa menyandarkannya kepada siapa pun.

[29] Maksudnya: engkau menaiki baghol, lalu unta—untuk berperang dan memicu fitnah.

[30] Lihat Muqoddimah Ta’wil Musykil al-Qur’an karya Ibnu Qutaibah hal. 32, tahqiq as-Sayyid Ahmad Shoqr; dan Muqoddimah Al-Maisir wal Qidah karya Ibnu Qutaibah, tahqiq Muhibbudin al-Khothib.

[31] Lisan al-Mizan dalam biografi Muhammad bin Jarir bin Rustum (7/29).

[32] Muqoddimah Shohih Muslim (1/15), Bab: Bayani ann al-Isnada min ad-Din.

[33] Bersambung ke jilid 2 (in syaa Alloh): Bab Pertama: Peristiwa-Peristiwa Sejarah dari Wafatnya Nabi hingga Tahun 61 H.

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini