×

🔥 PROGRAM PREMIUM TERBATAS 🔥
SETORAN HAFALAN DOA-DOA DARI AL-QUR'AN

Ingin hafal doa-doa pilihan langsung dari Al-Qur'an dengan bimbingan yang terarah, sistematis, disiplin?
Ini kesempatan emas untuk Anda.

✨ Keunggulan Program:

  • 56 doa pilihan dari Al-Qur'an
  • Sistem setoran terarah & konsisten
  • Dibimbing hingga benar dalam hafalan & bacaan
  • Target jelas & progres terukur
  • Cocok untuk semua usia (Ikhwan)

👤 Pembimbing:
Nor Kandir, ST., BA

📅 Pendaftaran:
7 – 12 April 2026 (ditutup pukul 23.00)

📆 Pelaksanaan:
13 April – 13 Mei 2026 (1 bulan)

🗓 Jadwal Setoran:
Senin, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu
⏰ 21.00 – 22.00
📊 Total: 20 pertemuan intensif online

📖 Target Setoran:

  • Minimal: 2 doa pendek / 1 doa panjang
  • Anjuran: 3 – 5 doa per pertemuan

📝 Ujian Akhir:
13 Mei 2026 (pilihan ganda)

💰 Biaya: Rp 99.000

⚠️ Kuota terbatas (ditutup jika penuh)

🏢 Penyelenggara:
Terjemah Matan Official
www.terjemahmatan.com

⏳ Jangan tunda.
1 bulan fokus, puluhan doa bisa bermanfaat seumur hidup.

Cari Ebook

Mempersiapkan...

Pengkhianatan Syiah Terhadap Ahlul Bait dan Umat Islam Sepanjang Sejarah - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam yang telah menyempurnakan agama Islam dan meridhoinya sebagai jalan keselamatan bagi para hamba-Nya.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosul pilihan, Muhammad , beserta keluarga, para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan ihsan hingga hari Akhiroh.

Amma ba’du:

Buku ini disusun untuk menyingkap tabir sejarah yang sering kali tertutup oleh kabut التقية (taqiyyah: menyembunyikan identitas atau keyakinan yang sebenarnya). Sejarah umat Islam tidak hanya berisi kegemilangan futuhat (pembukaan wilayah baru) dan kemajuan peradaban, namun juga menyimpan catatan perih tentang pengkhianatan yang dilakukan dari dalam tubuh umat itu sendiri. Pengkhianatan yang dilakukan oleh kelompok Syiah bukanlah sekadar peristiwa politik yang berdiri sendiri, melainkan konsekuensi logis dari sebuah bangunan Aqidah yang telah mereka sepakati dalam kitab-kitab rujukan utama mereka.

Alloh telah memperingatkan tentang karakter para perusak di muka bumi dalam firman-Nya:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ  أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqoroh: 11-12)

Mendasari setiap gerak-gerik mereka adalah keyakinan bahwa siapa saja yang tidak mengimani Imamah 12 imam maka ia telah kafir. Mereka memandang Ahlus Sunnah bukan sebagai saudara, melainkan sebagai Nawaashib yang najis dan halal darah serta hartanya. Prinsip inilah yang menjadi motor penggerak bagi mereka untuk lebih memilih bersekutu dengan musuh-musuh luar seperti Tatar, Franja (Prancis, Salib), maupun penjajah modern, daripada berdiri tegak membela kedaulatan umat Islam.

Nabi telah memperingatkan tentang haromnya tindakan ghodar (khianat) dalam sabdanya:

«أَيُّمَا مُؤْمِنٍ أَمَّنَ مُؤْمِنًا عَلَى دَمِهِ فَقَتَلَهُ، فَأَنَا مِنَ الْقَاتِلِ بَرِيءٌ»

“Siapa dari Mu’min yang memberi jaminan keamanan kepada Mu’min lainnya atas darahnya kemudian dia justru membunuhnya (mengkhianatinya), maka aku berlepas diri dari si pembunuh.” (HSR. Ahmad no. 21947)

Betapa besarnya dosa pengkhianatan yang dilakukan terhadap saudara seiman yang sedang berjihad membela agama Alloh .

Melalui lembaran buku ini, kita akan menelusuri bagaimana pengkhianatan itu bermula dari masa Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, berlanjut pada tragedi Karbala yang menimpa Husain (61 H) rodhiyallahu ‘anhu, hingga kolaborasi hitam antara Ibnul ‘Alqomi (656 H) dan Nashiruddin Ath-Thusi (672 H) yang meruntuhkan Baghdad di bawah telapak kaki Tatar.

Buku ini merupakan amanah ilmiah untuk mengingatkan umat agar tidak jatuh ke dalam lubang yang sama berulang kali. Memahami sejarah pengkhianatan ini adalah langkah awal untuk menjaga kemurnian Sunnah dan keutuhan umat dari makar yang senantiasa mengintai di setiap zaman. Semoga Alloh senantiasa menjaga negeri-negeri kaum Muslimin dari fitnah Rofidhoh yang khobits (buruk) dan menghimpun kita semua di atas kebenaran.

 

Bab 1: Akar Pengkhianatan Terhadap Umat

1.1 Pandangan Syiah Tentang Kedudukan Imamah

Buku-buku dan rujukan utama Syiah telah menegaskan bahwa Imamah merupakan salah satu ushuluddin (pokok agama), dan siapa saja yang mengingkarinya atau mengingkari salah satu dari para imam, maka dia telah kafir. Pemimpin ahli hadits mereka, Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Babawaih Al-Qummi yang bergelar Ash-Shoduq (381 H), menyatakan dalam risalah Al-I’tiqodat:

وَاعْتِقَادُنَا فِيمَنْ جَحَدَ إِمَامَةَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ - عَلَيْهِمُ السَّلَامُ - أَنَّهُ كَمَنْ جَحَدَ نُبُوَّةَ جَمِيعِ الْأَنْبِيَاءِ، وَاعْتِقَادُنَا فِيمَنْ أَقَرَّ بِأَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْكَرَ وَاحِدًا مِمَّنْ بَعْدَهُ مِنَ الْأَئِمَّةِ أَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ مَنْ أَقَرَّ بِجَمِيعِ الْأَنْبِيَاءِ وَأَنْكَرَ نُبُوَّةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ

“Keyakinan kami mengenai orang yang mengingkari Imamah Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tholib dan para imam setelahnya - alaihimussalam - adalah bahwa dia seperti orang yang mengingkari kenabian seluruh Nabi. Keyakinan kami mengenai orang yang mengakui Amirul Mu’minin namun mengingkari salah satu imam setelahnya adalah bahwa dia berkedudukan seperti orang yang mengakui seluruh Nabi namun mengingkari kenabian Nabi kita Muhammad .” (Al-I’tiqodat, Ash-Shoduq, hlm. 103)

Dia juga menukil ucapan yang disandarkan kepada Nabi :

الْأَئِمَّةُ مِنْ بَعْدِي اثْنَا عَشَرَ؛ أَوَّلُهُمْ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيُّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَآخِرُهُمُ الْقَائِمُ، طَاعَتُهُمْ طَاعَتِي وَمَعْصِيَتُهُمْ مَعْصِيَتِي، مَنْ أَنْكَرَ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَدْ أَنْكَرَنِي

“Para imam setelahku ada 12; yang pertama adalah Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tholib alaihissalam dan yang terakhir adalah Al-Qo’im. Menaati mereka adalah menaatiku dan mendurhakai mereka adalah mendurhakaitku. Siapa yang mengingkari salah satu dari mereka, maka dia telah mengingkariku.” (Al-I’tiqodat, Ash-Shoduq, hlm. 103)

Tokoh mereka, Jamaluddin Al-Hasan bin Yusuf bin Al-Muthohhir Al-Hilli (726 H), dalam kitab Al-Alfain menyatakan bahwa Imamah adalah kelembutan umum (luthfun ‘am) sedangkan kenabian adalah kelembutan khusus, dan mengingkari kelembutan umum lebih buruk daripada mengingkari kelembutan khusus.

1.2 Ahlus Sunnah dalam Pandangan Syiah

Salah satu keyakinan yang paling berbahaya yang menyulut api pengkhianatan dalam hati Syiah adalah anggapan bahwa Ahlus Sunnah merupakan musuh bagi Ahlul Bait. Mereka menjuluki Ahlus Sunnah dengan sebutan Nawaashib, yaitu orang-orang yang menampakkan permusuhan kepada Ahlul Bait. Syaikh mereka, Yusuf Al-Bahroni (1186 H), menyatakan dalam ensiklopedianya, Al-Hada’iq An-Nadhiroh:

وَلَيْتَ شِعْرِي أَيُّ فَرْقٍ بَيْنَ مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَرَسُولِهِ، وَبَيْنَ مَنْ كَفَرَ بِالْأَئِمَّةِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ مَعَ ثُبُوتِ كَوْنِ الْإِمَامَةِ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ

“Aduhai, aku tidak tahu apa perbedaan antara orang yang kafir kepada Alloh dan Rosul-Nya dengan orang yang kafir kepada para imam alaihimussalam, padahal telah tetap bahwa Imamah termasuk pokok agama.” (Al-Hada’iq An-Nadhiroh, Yusuf Al-Bahroni, 18/153)

Mullah Muhammad Baqir Al-Majlisi (1111 H) juga menegaskan bahwa penyebutan syirik dan kafir bagi orang yang tidak meyakini Imamah Ali dan para imam dari keturunannya, serta mendahulukan orang lain di atas mereka, menunjukkan bahwa mereka kekal di dalam Naar.

Syaikh Muhammad Hasan An-Najafi (1266 H) dalam Jawaahirul Kalaam menyatakan bahwa orang yang menyelisihi ahli kebenaran adalah kafir tanpa ada perselisihan di antara mereka. Marja’ besar mereka, Abu Al-Qosim Al-Khu’i (1413 H), menegaskan dalam Mishbahul Faqohah bahwa tidak ada keraguan atas kekafiran mereka (Ahlus Sunnah) karena pengingkaran terhadap Imamah menyebabkan kekafiran dan zindiq (orang yang berpura-pura beriman namun menyembunyikan kekafiran), serta menyatakan tidak ada persaudaraan maupun penjagaan harta dan darah antara Syiah dengan Ahlus Sunnah.

1.3 Keyakinan Mengenai Darah, Harta, dan Najisnya Ahlus Sunnah

Meskipun syariat Islam sangat menjaga kehormatan darah, Syiah justru menghalalkan darah dan harta Ahlus Sunnah. Ash-Shoduq (381 H) meriwayatkan dalam kitab ‘Ilalush Syaro’i’ dari Dawud bin Farqod yang bertanya kepada Abu Abdillah mengenai membunuh Naashib (Sunni):

حَلَالُ الدَّمِ، وَلَكِنِّي أَتَّقِي عَلَيْكَ، فَإِنْ قَدَرْتَ أَنْ تَقْلِبَ عَلَيْهِ حَائِطًا أَوْ تُغْرِقَهُ فِي مَاءٍ لِكَيْلَا يُشْهَدَ بِهِ عَلَيْكَ فَافْعَلْ، قُلْتُ فَمَا تَرَى فِي مَالِهِ؟ قَالَ: تُوَّهْ مَا قَدَرْتَ عَلَيْهِ

“Darahnya halal, namun aku mengkhawatirkan keselamatanmu. Jika engkau mampu meruntuhkan tembok atasnya atau menenggelamkannya ke dalam air agar tidak ada bukti yang memberatkamu, maka lakukanlah.” Aku bertanya: “Apa pendapatmu tentang hartanya?” Ia menjawab: “Ambillah semampumu.” (‘Ilalush Syaro’i, Ash-Shoduq, hlm. 601)

Mengenai harta Ahlus Sunnah, mereka meriwayatkan perintah untuk mengambil harta Naashib di mana pun ditemukan dan memberikan seperlimanya (Khumus) kepada para imam. Marja’ mereka, Ruhullah Khomeini (1409 H), memfatwakan dalam Tahrirul Wasilah bahwa yang lebih kuat adalah menyamakan Nawaashib dengan kafir harbi (kafir yang boleh diperangi) dalam hal bolehnya mengambil harta rampasan dari mereka. Terkait kenajisan, Ni’matullah Al-Jaza’iri (1112 H) dalam Al-Anwar An-Nu’maniyah menyatakan bahwa Naashib itu najis menurut ijma’ (kesepakatan) ulama Imamiyah, bahkan lebih buruk daripada Yahudi, Nashroni, dan Majusi.

1.4 Larangan Jihad Sebelum Munculnya Al-Mahdi

Keyakinan ini membuat Syiah sering kali hanya menjadi penonton saat bencana menimpa umat Islam, atau bahkan bersekutu dengan musuh. Sejarah tidak mencatat adanya Jihad Syiah melawan kaum kafir, kecuali pengkhianatan terhadap Ahlus Sunnah. Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (329 H) meriwayatkan dalam Al-Kafi:

كُلُّ رَايَةٍ تُرْفَعُ قَبْلَ قِيَامِ الْقَائِمِ -أَيِ الْإِمَامِ الثَّانِي عَشَرَ- فَصَاحِبُهَا طَاغُوتٌ يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap bendera (Jihad) yang diangkat sebelum bangkitnya Al-Qo’im (Imam ke-12), maka pemiliknya adalah Thoghut (sembahan selain Alloh) yang disembah selain Alloh .” (Al-Kafi, Al-Kulaini, 8/295)

Mereka bahkan mencela Ahlus Sunnah yang melakukan Jihad di perbatasan. Al-Khosyany (1091 H) menukil riwayat yang menyebutkan bahwa orang-orang yang terbunuh di perbatasan tersebut disegerakan kematiannya di dunia dan siksanya di Akhiroh, serta mengklaim bahwa syahid hanyalah dari kalangan Syiah meskipun mereka mati di atas tempat tidur.

 

Bab 2: Pengkhianatan Terhadap Para Imam Ahlul Bait

2.1 Pengkhianatan Penduduk Kufah Terhadap Ali bin Abi Tholib (40 H)

Sifat khianat adalah penyakit yang jika telah bercampur dengan darah manusia, akan menjadikannya pengkhianat bahkan kepada orang yang paling dekat dengannya. Syiah yang berlebih-lebihan dalam mengklaim cinta kepada Ahlul Bait, terutama Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, telah terbukti berkhianat sejak saat-saat pertama munculnya Tasyayyu’ (paham Syiah) di tengah fitnah antara Ali dan Muawiyah (60 H) rodhiyallahu ‘anhuma. Saat Ali rodhiyallahu ‘anhu hendak berangkat menghadapi penduduk Syam, penduduk Kufah berkata bahwa anak panah mereka telah habis, pedang mereka tumpul, dan mata tombak mereka telah tanggal, lalu mereka meminta kembali untuk bersiap dengan perlengkapan yang lebih baik. Ali rodhiyallahu ‘anhu menyadari bahwa tekad merekalah yang telah tumpul dan melemah, bukan pedang mereka; mereka mulai menyelinap pergi meninggalkan perkemahan tanpa sepengetahuan beliau hingga perkemahan menjadi kosong. Ali rodhiyallahu ‘anhu menyadari bahwa kaum seperti ini tidak akan memenangkan perkara apa pun, lalu beliau berkata kepada mereka:

مَا أَنْتُمْ إِلَّا أُسُودُ الشَّرَى فِي الدَّعَةِ وَثَعَالِبُ رَوَاغَةٌ حِينَ تُدْعَوْنَ إِلَى الْبَأْسِ وَمَا أَنْتُمْ لِي بِثِقَةٍ... وَمَا أَنْتُمْ بِرَكْبٍ يُصَالُ بِكُمْ، وَلَا ذِي عِزٍّ يَعْتَصِمُ إِلَيْهِ، لَعَمْرُ اللَّهِ لَبِئْسَ حُشَاشُ الْحَرْبِ أَنْتُمْ، إِنَّكُمْ تُكَادُونَ وَلَا تَكِيدُونَ وَتَنْتَقِصُ أَطْرَافُكُمْ وَلَا تَتَحَاشَوْنَ..

“Kalian tidak lain hanyalah singa-singa hutan saat santai, dan rubah-rubah yang licik saat dipanggil menuju medan perang. Kalian bukanlah orang-orang yang bisa dipercaya bagiku... Kalian bukanlah kavaleri yang bisa digunakan untuk menyerang, bukan pula pemilik kemuliaan yang dijadikan tempat berlindung. Demi Alloh, sungguh kalian adalah bahan bakar perang yang paling buruk. Kalian ditipu namun tidak menipu, wilayah kalian dikurangi namun kalian tidak merasa khawatir..” (Tarikh Ath-Thobari, 5/90)

Penduduk Kufah tidak hanya enggan berangkat berperang bersama beliau, tetapi juga pengecut dalam membela negeri mereka sendiri saat pasukan Muawiyah menyerang daerah pinggiran Iraq.

Ali rodhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka:

يَا أَهْلَ الْكُوفَةِ كُلَّمَا سَمِعْتُمْ بِمَنْسِرٍ مِنْ مَنَاسِرِ أَهْلِ الشَّامِ انْجَحَرَ كُلُّ امْرِئٍ مِنْكُمْ فِي بَيْتِهِ وَأَغْلَقَ بَابَهُ انْجِحَارَ الضَّبِّ فِي جُحْرِهِ وَالضَّبُعِ فِي وِجَارِهَا، الْمَغْرُورُ مَنْ غَرَرْتُمُوهُ وَلِمَنْ فَازَكُمْ فَازَ بِالسَّهْمِ الْأَخْيَبِ، لَا أَحْرَارَ عِنْدَ النِّدَاءِ، وَلَا إِخْوَانَ ثِقَةٍ عِنْدَ النِّجَاءِ، إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Wahai penduduk Kufah, setiap kali kalian mendengar pasukan dari pasukan penduduk Syam, setiap orang dari kalian masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya seperti masuknya dhob (biawak gurun) ke dalam lubangnya dan dubuk ke dalam sarangnya. Orang yang tertipu adalah orang yang kalian tipu, dan barangsiapa yang menang bersama kalian maka dia menang dengan bagian yang paling merugi. Tidak ada kemerdekaan saat ada seruan, dan tidak ada saudara yang bisa dipercaya saat keselamatan dicari. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un.” (Tarikh Ath-Thobari, 5/135)

2.2 Pengkhianatan Terhadap Hasan bin Ali (50 H)

Setelah Ali rodhiyallahu ‘anhu wafat dan Hasan (50 H) rodhiyallahu ‘anhu dibaiat, beliau tidak meyakini adanya manfaat memerangi Muawiyah karena Syiah telah mengecewakan ayahnya sebelumnya. Penduduk Iraq kembali menuntut Hasan untuk keluar memerangi penduduk Syam, maka Hasan menyetujui untuk menunjukkan bukti atas keraguan beliau terhadap mereka. Saat berita bohong tersebar bahwa Qois telah terbunuh, kekacauan melanda pasukan penduduk Iraq dan sifat tidak konsisten mereka muncul kembali; mereka menyerang tenda Hasan, menjarah barang-barangnya, bahkan menarik permadani yang beliau duduki serta melukai beliau. Salah seorang Syiah Iraq, Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqofi, bahkan berpikir untuk menangkap Hasan dan menyerahkannya kepada Muawiyah demi mendapatkan kekayaan dan kehormatan. Hasan rodhiyallahu ‘anhu berkata mengenai mereka:

أَرَى مُعَاوِيَةَ خَيْرًا لِي مِنْ هَؤُلَاءِ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ لِي شِيعَةٌ ابْتَغَوْا قَتْلِي وَأَخْذُوا مَالِي وَاللَّهِ لَأَنْ آخُذَ مِنْ مُعَاوِيَةَ مَا أَحْقُنُ بِهِ دَمِي فِي أَهْلِي وَآَمَنُ بِهِ فِي أَهْلِي خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَقْتُلُونِي؛ فَيَضِيعَ أَهْلُ بَيْتِي وَأَهْلِي، وَاللَّهِ لَوْ قَتَلْتُ مُعَاوِيَةَ لَأَخَذُوا بِعُنُقِي حَتَّى يَدْفَعُوا بِي إِلَيْهِ سَلَمًا، وَاللَّهِ لَأَنْ أُسَالِمَهُ وَأَنَا عَزِيزٌ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَقْتُلَنِي وَأَنَا أَسِيرٌ

“Aku melihat Muawiyah lebih baik bagiku daripada mereka yang mengaku sebagai Syiah bagiku, namun mereka menginginkan kematianku dan mengambil hartaku. Demi Alloh, sungguh jika aku mengambil dari Muawiyah apa yang dengannya aku menjaga darahku di tengah keluargaku dan aku merasa aman dengannya bagi keluargaku, itu lebih baik daripada mereka membunuhku sehingga sia-sialah Ahlul Baitku dan keluargaku. Demi Alloh, seandainya aku membunuh Muawiyah, niscaya mereka akan memegang leherku hingga mereka menyerahkanku kepadanya dalam keadaan damai. Demi Alloh, sungguh jika aku berdamai dengannya saat aku mulia, lebih baik daripada dia membunuhku saat aku menjadi tawanan.” (Al-Ihtijaj, Ath-Thobarsi, hlm. 148)

2.3 Tragedi Karbala dan Pengkhianatan Terhadap Husain bin Ali

Setelah wafatnya Muawiyah pada tahun 60 H, surat-surat dari penduduk Iraq mengalir kepada Husain (61 H) rodhiyallahu ‘anhu dengan penuh semangat, menyatakan bahwa mereka telah menahan diri demi beliau dan mengundang beliau untuk datang. Husain mengirim sepupunya, Muslim bin Aqil, untuk meninjau situasi dan 12.000 orang membaiatnya. Husain pun berangkat meskipun telah diperingatkan oleh banyak Shohabat yang mengetahui pengkhianatan Syiah Iraq, termasuk Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhu yang berkata bahwa mereka akan menipu, mendustakan, menyelisihi, dan mengkhianati beliau. Pengkhianatan penduduk Kufah terbukti bahkan sebelum Husain tiba; saat Gubernur Ubaidullah bin Ziyad datang dan membunuh Muslim bin Aqil, Syiah Kufah tidak bergerak sedikit pun, bahkan mereka mengingkari janji karena Ziyad telah membeli loyalitas mereka dengan harta. Husain rodhiyallahu ‘anhu akhirnya dikepung bersama 70 orang pengikutnya dan dibunuh. Kata-kata terakhir beliau sebelum wafat adalah:

اللَّهُمَّ احْكُمْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمٍ دَعَوْنَا لِيَنْصُرُونَا فَقَتَلُونَا

“Ya Alloh, hukumlah antara kami dengan kaum yang mengundang kami untuk menolong kami, namun kemudian mereka membunuh kami.” (Tarikh Ath-Thobari, 5/389)

Beliau juga mendoakan keburukan bagi mereka:

اللَّهُمَّ إِنْ مَتَّعْتَهُمْ فَفَرِّقْهُمْ فِرَقًا وَاجْعَلْهُمْ طَرَائِقَ قِدَدًا وَلَا تُرْضِي الْوُلَاةَ عَنْهُمْ أَبَدًا، فَإِنَّهُمْ دَعَوْنَا لِيَنْصُرُونَا ثُمَّ عَدَوْا عَلَيْنَا فَقَتَلُونَا

“Ya Alloh, jika Engkau memberikan mereka kenikmatan, maka cerai-beraikanlah mereka dalam beberapa kelompok, jadikanlah mereka berpecah-belah, dan janganlah Engkau ridhoi para penguasa terhadap mereka selamanya. Karena sesungguhnya mereka mengundang kami untuk menolong kami, namun kemudian mereka memusuhi kami lalu membunuh kami.” (Al-Irsyad, hlm. 241)

Pengkhianatan ini menjadi bukti bahwa mereka yang mengklaim mencinta Ahlul Bait justru menjadi penyebab terbunuhnya para imam tersebut demi harta dan kepentingan pribadi.

 

Bab 3: Jejak Hitam Wazir dan Kholifah yang Menyimpang

3.1 Kekejaman Wazir Ali bin Yaqthin (182 H)

Kisah ini merupakan salah satu bentuk pengkhianatan Syiah terhadap Daulah Abbasiyah yang telah berbuat baik kepada mereka hingga memberikan jabatan tinggi seperti kementerian. Pengkhianatan Ali bin Yaqthin (182 H), yang merupakan menteri dari Kholifah Harun Ar-Rosyid (193 H), dicatat oleh para perowi Syiah sendiri seperti Ni’matullah Al-Jaza’iri (1112 H) dalam kitab Al-Anwar An-Nu’maniyah dan Muhsin Al-Mu’allim dalam kitab An-Nashbu wan Nawoshib.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Ali bin Yaqthin adalah pengikut Syiah yang sangat khusus. Di dalam penjaranya, berkumpul sekelompok orang dari kaum yang menyelisihi Syiah (Ahlus Sunnah). Dia kemudian memerintahkan para pelayannya untuk meruntuhkan atap penjara tersebut ke atas para tahanan hingga mereka semua mati, yang jumlahnya mencapai sekitar 500 orang laki-laki. Karena ingin terlepas dari konsekuensi darah mereka, dia mengirim surat kepada Musa Al-Kazim (183 H), dan Al-Kazim menuliskan jawaban untuknya:

بِأَنَّكَ لَوْ كُنْتَ تَقَدَّمْتَ إِلَيَّ قَبْلَ قَتْلِهِمْ لَمَا كَانَ عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ دِمَائِهِمْ، وَحَيْثُ إِنَّكَ لَمْ تَتَقَدَّمْ إِلَيَّ فَكَفِّرْ عَنْ كُلِّ رَجُلٍ قَتَلْتَهُ مِنْهُمْ بِتَيْسٍ وَالتَّيْسُ خَيْرٌ مِنْهُ

“Bahwasanya seandainya engkau meminta izin kepadaku sebelum membunuh mereka, niscaya tidak ada tanggungan apa pun atasmu dari darah mereka. Namun karena engkau tidak meminta izin kepadaku, maka bayarlah kafarat untuk setiap laki-laki yang engkau bunuh dari mereka dengan seekor tays (kambing jantan), dan tays itu lebih baik darinya (Ahlus Sunnah).” (Al-Anwar An-Nu’maniyah, Ni’matullah Al-Jaza’iri, 2/308)

Riwayat ini sering mereka jadikan dalil tentang bolehnya membunuh Nawoshib (Ahlus Sunnah). Nilai tebusan (diyat) yang hanya berupa seekor kambing jantan menunjukkan betapa rendahnya martabat Ahlus Sunnah di mata mereka, bahkan mereka menganggap kambing jantan tersebut lebih baik daripada seorang Sunni.

3.2 Penyimpangan Kholifah An-Nashir Lidinillah (622 H) dan Korespondensi dengan Tatar

Kekhilafahan merupakan صمام الأمان (katup pengaman) bagi umat Islam dan laksana benang yang menyatukan butiran-butiran kalung umat. Sayangnya, beberapa Kholifah Abbasiyah telah berpaling dari jalan Ahlus Sunnah menuju madzhab-madzhab lain. Sebagaimana Kholifah Al-Ma’mun (218 H) yang menganut madzhab Mu’tazilah karena pengaruh menterinya, Ahmad bin Abi Du’ad (240 H), hingga menyiksa manusia dalam fitnah Kholqul Qur’an.

Kholifah An-Nashir Lidinillah (622 H) juga terpengaruh oleh beberapa menterinya yang Rofidhoh hingga dia menganut madzhab Syiah. Ibnu Katsir (774 H) rohimahullah berkata mengenai dirinya:

«كَانَ قَبِيحَ السِّيرَةِ فِي رَعِيَّتِهِ ظَالِمًا لَهُمْ، فَخَرِبَ فِي أَيَّامِهِ الْعِرَاقُ وَتَفَرَّقَ أَهْلُهُ فِي الْبِلَادِ، وَكَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَضِدَّهُ.. وَكَانَ اعْتَنَقَ الْمَذْهَبَ الشِّيْعِيَّ.. وَيُقَالُ: كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّتَرِ مُرَاسَلَاتٌ حَتَّى أَطْمَعَهُمْ فِي الْبِلَادِ، وَهَذِهِ طَامَّةٌ كُبْرَى يَصْغُرُ عِنْدَهَا كُلُّ ذَنْبٍ عَظِيمٍ»

“Dia memiliki rekam jejak yang buruk terhadap rakyatnya dan berbuat zholim (aniaya) kepada mereka. Maka Iroq menjadi hancur di zamannya dan penduduknya berpencar ke berbagai negeri. Dia melakukan sesuatu dan lawannya secara bersamaan... Dia telah memeluk madzhab Syiah... Dikatakan: ‘Terjadi korespondensi antara dirinya dengan pihak Tatar hingga dia membuat mereka tamak terhadap negeri-negeri (Islam), dan ini adalah bencana besar yang membuat setiap dosa besar lainnya terasa kecil di hadapannya.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibn Katsir, 13/106-107)

Perilaku Kholifah yang menyimpang ini menjadi awal dari kehancuran Iroq karena penguasa justru membuka pintu bagi musuh luar demi kepentingan golongan yang sempit.

 

Bab 4: Daulah Fatimiyah (Ubaidiyah): Makar di Tanah Maghrib dan Mesir

4.1 Upaya Penghapusan Ajaran Sunnah dan Pemaksaan Tasyayyu’

Daulah Fatimiyah telah mengerahkan upaya khobits (buruk) untuk menghapus ajaran Sunnah dan menyebarkan paham Syiah. Strategi mereka adalah mendistribusikan para da’i secara rahasia untuk berdakwah pada ajaran Ismailiyah saat posisi mereka lemah, dan akan menjadikan Syiah sebagai agama resmi saat mereka berhasil mendirikan negara. Saat mulai berdakwah di Maghrib, mereka memanfaatkan kondisi wilayah tersebut yang sudah terpengaruh Tasyayyu’ akibat keberadaan Daulah Adarisah yang didirikan oleh Idris bin Abdullah (177 H).

Salah satu da’i Fatimiyah yang paling menonjol di sana adalah Abu Abdullah Asy-Syi’i (298 H) dari Yaman yang memiliki berbagai macam tipu daya.

Setelah kekuasaan mereka meluas hingga ke Mesir, Kholifah Al-Mu’izz Lidinillah (365 H) memerintahkan pembangunan Qohiroh dan memusatkan perhatiannya untuk merubah penduduk Mesir menjadi berpaham Syiah. Mereka menempuh berbagai cara, seperti memberikan jabatan tinggi dan posisi hakim hanya kepada orang Syiah, serta menjadikan Masjid besar seperti Al-Azhar, Masjid Amr, dan Masjid Ibnu Thulun sebagai pusat propaganda mereka. Mereka juga menampakkan syiar yang menyelisihi Ahlus Sunnah, seperti menambahkan kalimat “Hayya ‘ala khoiril ‘amal” dalam Adzan dan merayakan hari 10 Muharrom dengan meratap atas kematian Husain di Karbala.

Pada hari 10 Muharrom tahun 363 H, sekelompok orang Syiah Mesir dan Maghrib melakukan pawai sambil meratap dan menangis, serta menyerang siapa pun yang tidak ikut serta dalam ekspresi kesedihan tersebut hingga menyebabkan pasar-pasar tutup dan timbul kekacauan. Kebencian mereka mencapai puncaknya pada masa Al-Hakim bi Amrilllah (411 H), yang pada tahun 395 H memerintahkan:

أَمَرَ فِي سَنَةِ (395) هـ بِنَقْشِ سَبِّ الصَّحَابَةِ عَلَى جُدْرَانِ الْمَسَاجِدِ وَفِي الْأَسْوَاقِ وَالشَّوَارِعِ وَالدُّرُوبِ

“Dia memerintahkan pada tahun 395 H untuk mengukir cacian terhadap para Shohabat di dinding-dinding Masjid, pasar-pasar, jalan-jalan, dan gang-gang.” (Wafayatul A’yan, Ibnu Khollikan, 2/166)

4.2 Kerja Sama Fatimiyah dengan Tentara Salib

Sejarah mencatat bahwa Daulah Fatimiyah tidak pernah melakukan Jihad atau operasi militer melawan bangsa Franja (Tentara Salib). Sebaliknya, mereka justru menjadi musuh bagi umat Islam dan bersahabat dengan musuh-musuh-Nya. Ketika Sholahuddin Al-Ayyubi (589 H) diangkat menjadi wazir dan mulai memperlemah Khilafah Fatimiyah, para tokoh istana yang dengki melakukan pengkhianatan dengan menyurati pasukan Salib dan mengundang mereka ke Mesir untuk menyingkirkan Sholahuddin.

Akibat mufakat jahat ini, pasukan Salib datang mengepung Dimyath pada tahun 565 H, mempersempit ruang gerak penduduknya, dan membunuh banyak umat Islam. Sebelumnya, wazir Syawir (564 H) juga berulang kali melakukan pengkhianatan dengan meminta bantuan kepada Amalric, raja Salib di Baitul Maqdis, karena takut terhadap pengaruh Nuruddin Mahmud (569 H). Syawir bahkan memerintahkan pembakaran kota Qohiroh demi menghambat gerak pasukan Sunnah;

فَأَمَرَ الْوَزِيرُ شَاوِرُ رِجَالَهُ بِإِشْعَالِ النَّارِ فِيهَا عَلَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْهَا أَهْلُهَا؛ فَهَلَكَتْ لِلنَّاسِ أَمْوَالٌ كَثِيرَةٌ، وَأَنْفُسٌ، وَشَاعَتِ الْفَوْضَى، وَاسْتَمَرَّتِ النِّيرَانُ أَرْبَعَةً وَخَمْسِينَ يَوْمًا

“Wazir Shawir memerintahkan anak buahnya untuk membakar kota itu agar penduduknya keluar darinya; maka musnahlah harta benda milik orang banyak dalam jumlah besar serta banyak nyawa yang melayang, kekacauan tersebar luas, dan api terus berkobar selama 54 hari.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibn Katsir, 12/255)

Syawir kemudian berdamai dengan raja Salib dengan membayar 800.000 dinar demi mengusir pasukan Nuruddin. Pengkhianatan lainnya dilakukan oleh seorang pelayan istana bernama Mu’tamanul Khilafah, yang menyurati pasukan Salib agar datang ke Mesir untuk mengusir pasukan Islam asal Syam.

4.3 Kekejaman Terhadap Ulama: Kisah Syahidnya Abu Bakar An-Nabulsi (363 H)

Meskipun penguasa Fatimiyah sering kali menampakkan kewaro’an (sifat menjauhi dosa) dan keadilan, kenyataan mengungkap bahwa mereka adalah penipu yang tidak menjaga janji maupun perlindungan terhadap orang-orang Mu’min, terutama terhadap para ulama Ahlus Sunnah. Salah satu korbannya adalah Abu Bakar An-Nabulsi (363 H), seorang ulama yang zuhud dan bertaqwa. Beliau dihadirkan di hadapan Al-Mu’izz Lidinillah (365 H) yang bertanya mengenai ucapan beliau: “Seandainya aku memiliki 10 anak panah, maka aku akan memanah Romawi dengan 9 anak panah dan memanah penduduk Mesir (Fatimiyah) dengan satu anak panah?”

Abu Bakar An-Nabulsi dengan tegar menjawab:

«مَا قُلْتُ هَذَا.. يَنْبَغِي أَنْ نَرْمِيَكُمْ بِتِسْعَةٍ ثُمَّ نَرْمِيَهُمْ بِالْعَاشِرِ، قَالَ: وَلِمَ؟ قَالَ: لِأَنَّكُمْ غَيَّرْتُمْ دِينَ الْأُمَّةِ، وَقَتَلْتُمُ الصَّالِحِينَ، وَأَطْفَأْتُمْ نُورَ الْإِلَهِيَّةِ، وَادَّعَيْتُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ»

“Aku tidak mengatakan demikian.. (akan tetapi) seharusnya kami memanah kalian dengan 9 anak panah kemudian memanah mereka (Romawi) dengan anak panah ke-10.” Al-Mu’izz bertanya: “Mengapa?” Beliau menjawab: “Karena kalian telah mengubah agama umat ini, membunuh orang-orang sholih, memadamkan cahaya Robb, dan mengklaim sesuatu yang bukan hak kalian.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibn Katsir, 11/284)

Mendengar jawaban itu, Al-Mu’izz memerintahkan agar beliau diarak pada hari pertama, lalu dicambuk dengan sangat keras pada hari kedua. Pada hari ketiga, beliau diperintahkan untuk dikuliti hidup-hidup. Al-Mu’izz memanggil seorang Yahudi untuk menguliti beliau, namun di tengah proses yang sangat menyakitkan itu, sang ulama tetap terus membaca Al-Qur’an. Orang Yahudi yang mengulitinya merasa iba, lalu menusukkan pisau ke jantung beliau hingga beliau wafat (363 H) rohimahullah. Beliau pun dikenal dengan julukan Asy-Syahid.

4.4 Runtuhnya Kekuasaan Ubaidiyah di Tangan Sholahuddin Al-Ayyubi (589 H)

Daulah Fatimiyah berkuasa selama 280 tahun lebih. Kholifah pertama mereka adalah Al-Mahdi, yang merupakan seorang keturunan Yahudi dari Salamiyah bernama Said (yang kemudian merubah nama menjadi Ubaidillah). Kholifah terakhir mereka adalah Al-Adhid bin Yusuf (567 H), yang memiliki rekam jejak tercela dan merupakan seorang Rofidhoh yang khobits (jahat).

Ibn Katsir (774 H) rohimahullah menggambarkan keadaan mereka:

«كَانُوا مِنْ أَغْنَى الْخُلَفَاءِ وَأَجْبَرِهِمْ وَأَظْلَمِهِمْ وَأَنْجَسِ الْمُلُوكِ سِيرَةً، وَأَخْبَثِهِمْ سَرِيرَةً، ظَهَرَتْ فِي دَوْلَتِهِمُ الْبِدَعُ وَالْمُنْكَرَاتُ.. وَتَغَلَّبَ الْفِرَنْجُ عَلَى سَوَاحِلِ الشَّامِ بِأَكْمَلِهِ»

“Mereka termasuk Kholifah yang paling kaya, paling otoriter, paling zholim, serta raja dengan rekam jejak yang paling najis dan batin yang paling buruk. Di masa negara mereka, muncul berbagai bid’ah dan kemungkaran.. dan bangsa Franja (Salib) berhasil menguasai seluruh pesisir Syam.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibn Katsir, 12/267)

Akibat pengkhianatan mereka, wilayah-wilayah Islam seperti Al-Quds, Nablus, Gaza, Akka, Shoida, Beirut, hingga Thiroblus jatuh ke tangan musuh. Umat Islam dibantai dalam jumlah yang tidak terhitung dan anak-anak mereka ditawan. Qodhi Al-Baqillani (403 H) memberikan kesimpulan tegas tentang jati diri mereka:

«هُمْ قَوْمٌ يُظْهِرُونَ الرَّفْضَ وَيُبْطِنُونَ الْكُفْرَ الْمَحْضَ»

“Mereka adalah kaum yang menampakkan Rofidhoh namun menyembunyikan kekafiran yang murni.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibn Katsir, 11/346)

Ketika kekuasaan mereka lenyap di tangan Sholahuddin Al-Ayyubi (589 H) pada tahun 567 H, orang-orang merasa sangat bersyukur. Syiar Islam kembali ditegakkan, Bid’ah dipadamkan, dan Mesir berubah dari sarang Syiah menjadi pusat Sunnah dan Hadits hingga saat ini.

 

Bab 5: Fitnah Qoromithoh dan Penodaan Ka’bah

5.1 Pembantaian Jamaah Haji dan Pencurian Hajar Aswad

Qoromithoh adalah kelompok yang mengaku menisbatkan diri kepada Ismail bin Jafar Ash-Shodiq. Awal kemunculan mereka terjadi pada tahun 278 H di masa Kholifah Abbasiyah Al-Mu’tadhid. Kelompok ini berhasil menguasai Al-Ahsa, Bahroin, Oman, dan negeri Syam, serta terus melakukan upaya untuk melemahkan Khilafah Abbasiyah. Kekejian mereka mencapai puncaknya ketika mereka berani menodai tempat paling mulia, yaitu Tanah Harom Makkah, dan mencuri Hajar Aswad dari Ka’bah untuk dibawa ke negeri mereka.

Pada tahun 294 H, Qoromithoh menghadang para jamaah Haji yang sedang dalam perjalanan pulang dari Makkah. Awalnya mereka berpura-pura memberikan keamanan, namun setelah jamaah Haji merasa tenang, mereka justru melakukan serangan mendadak dan menyembelih para jamaah Haji tersebut sampai orang yang terakhir. Mereka mengejar jamaah yang melarikan diri, memberikan janji keamanan palsu, lalu membunuh mereka ketika mereka kembali. Bahkan para wanita Qoromithoh berkeliling di antara tumpukan mayat menawarkan air; siapa pun yang berbicara meminta minum maka akan langsung mereka bunuh. Jumlah korban tewas dalam tragedi ini mencapai 20.000 jiwa. Tidak hanya membantai manusia, mereka juga merusak sumur-sumur dengan memasukkan bangkai, debu, dan batu agar airnya tidak bisa digunakan.

5.2 Hubungan Wazir Rofidhoh dengan Teror Qoromithoh

Kekuatan Qoromithoh untuk melakukan teror tidak lepas dari adanya pengkhianatan di dalam jantung pemerintahan Abbasiyah sendiri. Pada tahun 312 H, Abu Thohir Asy-Syi’i Al-Qormathi memimpin pasukan besar untuk menyerang jamaah Haji yang kembali dari Makkah. Banyak jamaah Haji dari Baghdad yang dirampas harta, hewan ternak, serta diculik wanita dan anak-anaknya. Mereka yang tersisa dibiarkan mati kelaparan dan kehausan di bawah terik matahari. Kota Baghdad pun bergejolak karena kemarahan penduduk.

Dalam situasi tersebut, Kholifah Al-Muqtadir (320 H) mencela wazirnya yang beraliran Rofidhoh, yaitu Ibnul Furot. Kholifah menyadari bahwa Ibnul Furot telah bersikap lunak dan melakukan korespondensi rahasia dengan musuh-musuh negara. Kholifah berkata kepadanya:

«وَمَنِ الَّذِي سَلَّمَ النَّاسَ إِلَى الْقُرْمُطِيِّ غَيْرُكَ، لِمَا يَجْمَعُ بَيْنَكُمَا مِنَ التَّشَيُّعِ وَالرَّفْضِ»

“Dan siapakah yang menyerahkan orang-orang kepada si Qormathi itu selain dirimu, karena adanya kesamaan di antara kalian berdua yaitu Tasyayyu’ dan Rofidhoh.” (Al-Kamil fit Tarikh, Ibnul Atsir, 7/312)

Anak sang menteri, yaitu Al-Muhsin bin Ibnul Furot yang juga seorang Syiah, melakukan kekejaman dengan membunuh semua tahanan yang ada padanya karena takut mereka akan memberikan kesaksian mengenai harta yang telah dia ambil secara ilegal. Pengkhianatan ini menunjukkan bahwa solidaritas sesama Rofidhoh lebih mereka utamakan daripada keselamatan nyawa umat Islam dan jamaah Haji.

5.3 Keyakinan Mengenai Keutamaan Karbala di Atas Ka’bah

Keberanian Qoromithoh dan kelompok Syiah lainnya dalam menodai Makkah berakar dari keyakinan mereka yang merendahkan kesucian Ka’bah dibandingkan Karbala. Tokoh besar mereka, Muhammad Al-Husaini Asy-Syirozi (1422 H), dalam kitabnya Al-Fiqh wal ‘Aqo’id ditanya mengenai apakah benar tanah Karbala lebih utama dari Makkah dan sujud di atas tanah Husainiyah lebih utama dari sujud di tanah Harom; beliau menjawab: “Ya”. Demikian pula Al-Abbasi Al-Husaini Al-Kasyani dalam kitab Mashobihul Jinan menyatakan:

وَأَمَّا أَفْضَلِيَّةُ كَرْبَلَاءَ عَلَى سَائِرِ الْبِقَاعِ حَتَّى الْكَعْبَةِ فَلَا شَكَّ فِي أَنَّ أَرْضَ كَرْبَلَاءَ أَقْدَسُ بُقْعَةٍ فِي الْإِسْلَامِ... فَإِنَّ هَذِهِ الْمَزَايَا وَأَمْثَالَهَا الَّتِي اجْتَمَعَتْ لِكَرْبَلَاءَ لَمْ تَجْتَمِعْ لِأَيِّ بُقْعَةٍ مِنْ بِقَاعِ الْأَرْضِ حَتَّى الْكَعْبَةِ

“Adapun keutamaan Karbala di atas seluruh tempat lainnya bahkan Ka’bah, maka tidak ada keraguan bahwa tanah Karbala adalah tempat paling suci dalam Islam... Sesungguhnya keistimewaan ini dan yang semisalnya yang terkumpul pada Karbala tidak terkumpul pada satu pun tempat di muka bumi ini bahkan Ka’bah sekalipun.” (Mashobihul Jinan, Al-Kasyani, hlm. 360)

Selain itu, mereka juga meyakini bahwa berziarah ke kubur Husain setara dengan melaksanakan Haji ke Baitullah. Dalam kitab Kamiluz Ziyarat karya Abu Al-Qosim Jafar bin Muhammad (367 H), terdapat bab-bab khusus yang menyatakan bahwa ziarah ke makam Husain setara dengan Umroh, setara dengan Haji, bahkan setara dengan Haji dan Umroh sekaligus. Keyakinan inilah yang membuat mereka tidak lagi memiliki rasa hormat terhadap kesucian Makkah dan Ka’bah.

5.4 Catatan Kelam Enam Tahun Teror di Makkah dan Sekitarnya

Puncak pengkhianatan Qoromithoh terjadi pada tahun 317 H ketika Abu Thohir Al-Qormathi (332 H) menyerang Makkah tepat pada hari Tarwiyah. Mereka membantai jamaah Haji di lorong-lorong kota Makkah, di dalam Masjidil Harom, bahkan di dalam Ka’bah itu sendiri. Abu Thohir duduk di depan pintu Ka’bah sambil menyaksikan pedang-pedang anak buahnya menebas nyawa manusia di bulan yang harom dan di hari yang mulia. Para jamaah Haji yang berusaha bergantung pada tirai Ka’bah pun tetap dibunuh tanpa belas kasihan.

Setelah pembantaian selesai, Abu Thohir memerintahkan agar sumur Zamzam ditimbun dengan mayat-mayat jamaah Haji. Dia merobek kiswah (penutup) Ka’bah dan membagikannya kepada pengikutnya. Kekejiannya semakin menjadi-jadi ketika dia memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mencopot Hajar Aswad. Saat melakukan penistaan itu, dia berkata dengan nada mengejek: “Di mana burung Ababil? Di mana batu dari Sijjil?” Hajar Aswad kemudian dibawa lari ke negeri mereka dan tetap berada di sana selama 22 tahun hingga akhirnya dikembalikan pada tahun 339 H.

Kekejaman ini bahkan tidak pernah dilakukan oleh penduduk Jahiliyah dahulu maupun oleh Abrohah An-Nashroni; gajah-gajah Abrohah menolak diarahkan untuk merusak Ka’bah, sementara kaum Rofidhoh Qoromithoh ini justru dengan bangga menghancurkan dan merampasnya. Pengkhianatan internal ini juga berakibat pada melemahnya pertahanan umat Islam; saat Qoromithoh sibuk memerangi sesama Muslim, bangsa Romawi mengambil kesempatan dengan masuk ke wilayah kaum Muslimin di Sumaisath, merampas harta, dan membunyikan lonceng gereja di dalam Masjid-masjid mereka saat waktu Sholat tiba.

 

Bab 6: Dinasti Buwaihiyah dan Kehancuran Martabat Umat

6.1 Makar Wazir Ibnu Muqlah (328 H) dan Jatuhnya Baghdad ke Tangan Dailam

Kelompok Buwaihiyah menisbatkan diri kepada seorang lelaki dari Dailam (wilayah pegunungan di selatan Laut Kaspia) yang bernama Buwaih atau Abu Syuja’. Dia memiliki 3 orang anak, yaitu Abu Al-Hasan Ali yang bergelar Imadud Daulah, Abu Ali Al-Hasan yang bergelar Ruknud Daulah, dan Abu Al-Husain Ahmad yang bergelar Mu’izzud Daulah. Ketiganya merupakan panglima dalam pasukan Ibnu Kali ketika dia memberontak terhadap Khilafah Abbasiyah dan menguasai beberapa wilayah seperti Ashbahan, Arrojan, dan Syiroz.

Pada saat itu, Kholifah Ar-Rodhi Billah (329 H) memiliki seorang menteri Syiah bernama Abu Ali Muhammad bin Ali bin Muqlah (328 H). Menteri ini mulai merencanakan dan mengatur siasat untuk menyingkirkan Kholifah Abbasiyah dan memberikan kekuasaan kepada Bani Buwaihiyah yang berpaham Syiah. Dia menyurati pihak Buwaihiyah untuk membuat mereka tamak terhadap Baghdad sebagai pusat Khilafah, dengan menggambarkan kondisi Kholifah yang sangat lemah. Akhirnya Mu’izzud Daulah masuk ke Baghdad dan menguasainya pada tahun 334 H. Terkait keberhasilan makar ini, Wazir Ibnu Muqlah (328 H) berkata:

«إِنَّنِي أَزَلْتُ دَوْلَةَ بَنِي الْعَبَّاسِ وَأَسْلَمْتُهَا إِلَى الدَّيْلَمِ لِأَنِّي كَاتَبْتُ الدَّيْلَمَ وَقْتَ إِنْفَاذِي إِلَى أَصْبَهَانَ، وَأَطْمَعْتُهُمْ فِي سَرِيرِ الْمُلْكِ بِبَغْدَادَ، فَإِنِّي اجْتَنَيْتُ ثَمَرَةَ ذَلِكَ فِي حَيَاتِي»

“Sesungguhnya aku telah melenyapkan daulah Bani Abbas dan menyerahkannya kepada Dailam karena aku telah menyurati orang-orang Dailam saat aku dikirim ke Ashbahan, dan aku membuat mereka tamak terhadap tahta kekuasaan di Baghdad, maka aku telah memetik buah dari hal itu di masa hidupku.” (As-Suluk li Ma’rifati Duwalil Muluk, Al-Maqrizi, 1/25)

Setelah Mu’izzud Daulah menguasai Baghdad, dia mencopot Kholifah dan membiarkan pasukan Dailam menjarah istana hingga tidak ada yang tersisa. Meskipun dia mengangkat Al-Fadhl bin Al-Muqtadir (363 H) sebagai Kholifah dengan gelar Al-Muthi’ Lillah, dia tidak memberikan otoritas, larangan, pendapat, maupun kemampuan bagi Kholifah untuk mengangkat menteri. Kekuasaan menteri berada di tangan Mu’izzud Daulah sendiri, sementara wilayah Iraq jatuh sepenuhnya ke tangan mereka, meninggalkan Kholifah dalam kondisi yang sangat fakir dan lemah.

6.2 Bid’ah Ratapan Asyuro dan Idul Ghodir

Pada tahun 352 H, kaum Buwaihiyah memerintahkan penutupan pasar-pasar pada hari ke-10 bulan Muharrom. Mereka menghentikan aktivitas jual beli, mendirikan kubah-kubah di pasar yang digantungi kain karung, dan para wanita keluar dengan rambut terurai sambil menampar wajah mereka di pasar-pasar sebagai bentuk ratapan bagi Husain bin Ali rodhiyallahu ‘anhu. Praktik ini terus berulang selama masa kekuasaan orang-orang Dailam di Baghdad yang berlangsung selama sekitar 103 tahun.

Perbuatan ini kemudian menjadi tradisi agama bagi kelompok Jafariyah Imamiyah Itstna Asyariyah. Ahlus Sunnah tidak mampu mencegah hal tersebut karena banyaknya jumlah orang Syiah saat itu serta posisi Sultan yang berpihak kepada mereka. Selain itu, Mu’izzud Daulah juga mengada-adakan perayaan Idul Ghodir pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dia memerintahkan pemasangan perhiasan di Baghdad, pembukaan pasar-pasar pada malam hari seperti suasana Id, pemukulan genderang, peniupan terompet, serta penyalaan api di depan pintu-pintu para amir. Peristiwa tersebut merupakan bid’ah yang sangat buruk, tampak nyata, dan mungkar.

6.3 Dominasi Romawi Akibat Lemahnya Kekuasaan Sunnah

Di tengah kesibukan orang-orang Syiah Buwaihiyah melakukan bid’ah dan melemahkan otoritas Sunnah, bangsa Romawi mengambil kesempatan untuk melanggar kehormatan wilayah-wilayah Islam.

Ibnu Katsir (774 H) rohimahullah menggambarkan salah satu raja Romawi saat itu yang bernama Niqfur (Nikephoros II Phokas) sebagai sosok yang sangat keras kekafirannya dan banyak membantai Muslim. Dia berhasil merebut banyak wilayah pesisir dari tangan Muslim karena kelalaian orang-orang di zaman tersebut serta munculnya bid’ah yang buruk di tengah mereka.

Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan penyebab kehinaan ini:

«وَفَشَوُا الْبِدَعِ فِيهِمْ وَكَثْرَةِ الرَّفْضِ وَالتَّشَيُّعِ مِنْهُمْ، وَقَهْرِ أَهْلِ السُّنَّةِ بَيْنَهُمْ، فَلِهَذَا أُدِيلَ عَلَيْهِمْ أَعْدَاءُ الْإِسْلَامِ فَانْتَزَعُوا مَا بِأَيْدِيهِمْ مِنَ الْبِلَادِ مَعَ الْخَوْفِ الشَّدِيدِ»

“Tersebarnya berbagai bid’ah di tengah mereka, banyaknya Rofidhoh dan Tasyayyu’ di antara mereka, serta ditindasnya Ahlus Sunnah di tengah mereka, maka karena itulah musuh-musuh Islam dimenangkan atas mereka sehingga musuh merebut negeri-negeri yang ada di tangan mereka disertai rasa takut yang sangat hebat.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 14/243)

Pada tahun 351 H, Niqfur menyerang Aleppo dengan 200.000 pasukan. Dia membantai laki-laki dan perempuan, menjadikan Masjid Jami’ sebagai istal bagi kuda-kudanya, serta menghancurkan mimbar. Niqfur bahkan mengirimkan puisi yang menghina Islam kepada Kholifah Al-Muthi’ Lillah (363 H). Pada tahun 353 H, ketika kaum Rofidhoh sibuk mengadakan upacara kematian Husain, bangsa Romawi membantai sekitar 15.000 orang di Thartus dan Al-Mashishah. Hal yang sama berulang pada tahun 354 H, di mana saat Syiah melakukan ratapan di bulan Muharrom, Romawi menawan sekitar 200.000 orang Muslim di Al-Mashishah.

Pengkhianatan semakin nyata pada tahun 361 H saat Romawi menyerang Al-Jazirah dan Diyar Bakr. Bakhtiyar bin Mu’izzud Daulah (367 H), pemimpin Buwaihiyah yang beraliran Syiah Rofidhoh, justru sibuk berburu saat rakyat meminta tolong. Ketika didesak untuk berjihad, Bakhtiyar justru menekan Kholifah Al-Muthi’ Lillah yang sedang lemah untuk menyerahkan harta. Karena tidak memiliki harta di baitul mal, Kholifah terpaksa menjual pakaian tubuhnya, perabotan rumahnya, hingga membongkar sebagian atap rumahnya untuk mendapatkan 400.000 dirham. Namun, Bakhtiyar justru menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadinya dan membatalkan Jihad tersebut.

 

Bab 7: Bencana Tatar: Peran Ibnul ‘Alqomi (656 H) dan Ath-Thusi (672 H)

7.1 Wazir Ibnul ‘Alqomi dan Jatuhnya Baghdad ke Tangan Hulagu Khon

Peristiwa jatuhnya Baghdad pada tahun 656 H merupakan salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Islam yang dipicu oleh pengkhianatan internal. Tokoh utama di balik musibah ini adalah menteri Khilafah Abbasiyah yang bernama Muayyiduddin Abu Tholib Muhammad bin Ahmad Al-Alqomi (656 H).

Ibn Katsir (774 H) rohimahullah menyebutnya sebagai sosok pembawa sial bagi dirinya sendiri dan penduduk Baghdad karena dia tidak menjadi menteri yang jujur dan tulus.

Ibnul ‘Alqomi (656 H) melakukan konspirasi sistematis untuk melemahkan pertahanan Baghdad dari dalam. Dia berusaha keras mengurangi jumlah personil militer dan menghapus nama-nama mereka dari diwan (daftar gaji). Pasukan yang pada masa akhir Kholifah Al-Mustanshir berjumlah hampir 100.000 pejuang, terus dia kurangi hingga hanya tersisa 10.000 personil saja. Akibatnya, para tentara yang diberhentikan terpaksa mengemis di pasar-pasar dan di depan pintu Masjid-Masjid.

Motif utama pengkhianatan ini adalah dendam kesumat setelah terjadinya konflik antara Ahlus Sunnah dan Rofidhoh di Baghdad pada tahun sebelumnya, yang menyebabkan penjarahan di wilayah Karkh tempat kerabat sang menteri tinggal. Ibnul ‘Alqomi (656 H) kemudian menyurati pihak Tatar dan membuat mereka tamak untuk menyerang Baghdad dengan menceritakan kelemahan pertahanan kota. Tujuannya adalah untuk melenyapkan Sunnah secara total, memunculkan Bid’ah Rofidhoh, dan membangun sekolah besar bagi kaumnya.

7.2 Skala Pembantaian dan Dampak Kerusakan Peradaban

Ketika pasukan Tatar yang berjumlah sekitar 200.000 orang mengepung Baghdad, Ibnul ‘Alqomi (656 H) menipu Kholifah Al-Musta’shim (656 H) dengan menyarankan agar beliau keluar menemui Hulagu Khon demi perdamaian. Namun, saat Kholifah keluar bersama 700 pengendara yang terdiri dari para Qodhi, Faqih, dan pembesar negara, mereka semua ditawan dan dibunuh kecuali beberapa orang saja. Pasukan Tatar kemudian masuk ke kota dan melakukan pembantaian massal yang sangat mengerikan selama berhari-hari.

Para sejarawan berbeda pendapat mengenai jumlah korban Muslimin yang tewas dalam tragedi ini. Ada yang menyebutkan 800.000 jiwa, ada yang mengatakan 1.800.000 jiwa, bahkan ada yang menyebutkan hingga 2.000.000 jiwa. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan laksana bukit-bukit kecil, dan ketika hujan turun, aroma busuk dari jasad tersebut merusak udara hingga memicu wabah penyakit yang sangat dahsyat. Wabah ini bahkan menyebar tertiup angin hingga ke negeri Syam dan menyebabkan banyak kematian tambahan.

Selain hilangnya nyawa, peradaban Islam mengalami kerugian yang tak ternilai harganya. Ribuan karya ilmiah para imam Salaf ditenggelamkan ke Sungai Tigris hingga airnya mengalir hitam karena tinta dari buku-buku tersebut. Masjid-masjid, madrasah, dan pusat-pusat ilmu dihancurkan atau ditinggalkan, sehingga Adzan dan Sholat berjamaah terhenti selama berbulan-bulan di Baghdad.

7.3 Pengkhianatan Syiah Saat Tatar Memasuki Negeri Syam

Setelah menghancurkan Baghdad, pasukan Tatar melanjutkan invasi ke negeri Syam pada tahun 658 H. Di wilayah ini pun, jejak pengkhianatan Syiah kembali ditemukan. Ketika Hulagu Khon berhasil merebut Damaskus, dia memberikan jabatan sebagai Qodhi tertinggi untuk seluruh wilayah Syam, Al-Jazirah, Mosul, dan Mardin kepada seorang tokoh Syiah bernama Kamaluddin Umar bin Badr At-Tiflisi.

Dukungan terhadap Tatar juga ditunjukkan oleh seorang tokoh Rofidhoh bernama Fakhr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanji. Ibn Katsir (774 H) rohimahullah menyebutnya sebagai sosok yang menyukai Tatar dan membantu mereka dalam merampas harta kaum Muslimin.

«شَيْخًا رَافِضِيًّا كَانَ مُصَانِعًا لِلتَّتَارِ عَلَى أَمْوَالِ الْمُسْلِمِينَ، وَكَانَ خَبِيثَ الطَّوِيَّةِ، مَشْرِقِيًا مُمَالِئًا لَهُمْ عَلَى أَمْوَالِ الْمُسْلِمِينَ قَبَّحَهُ اللَّهُ»

“Seorang Syaikh Rofidhoh yang menyuap (bekerja sama) dengan Tatar untuk merampas harta Muslimin, dia memiliki batin yang buruk, orang dari timur yang bersekongkol dengan mereka atas harta Muslimin, semoga Alloh memburukkannya.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibn Katsir, 13/221)

Akhirnya, ketika umat Islam berhasil memenangkan pertempuran Ain Jalut di bawah kepemimpinan Sultan Quthuz (658 H), penduduk Syam melakukan balas dendam terhadap para pengkhianat ini, dan Al-Kanji pun dibunuh karena pengkhianatannya.

7.4 Nashiruddin Ath-Thusi: Penghancur Warisan Ilmiah Islam

Nashiruddin Ath-Thusi (672 H) adalah seorang Rofidhoh khobits yang bekerja sama dengan Ibnul ‘Alqomi dalam membantu Hulagu Khon. Dia sebelumnya menjadi menteri bagi kelompok Ismailiyah di benteng Alamut sebelum akhirnya bergabung dengan Tatar. Ath-Thusi (672 H) adalah orang yang menghilangkan rasa takut Hulagu Khon untuk membunuh Kholifah Al-Musta’shim. Dia memberikan saran agar Kholifah dibunuh dengan cara dimasukkan ke dalam karung lalu ditendang hingga mati, dengan keyakinan sesat agar darah beliau tidak menyentuh tanah.

Ath-Thusi (672 H) juga menyarankan pembunuhan para ulama, Qodhi, dan pembesar negara Ahlus Sunnah. Sebaliknya, dia justru memuliakan dan mengumpulkan para filosof, ahli nujum, penyihir, dan penganut paham قدم العالم (keyakinan bahwa alam semesta ini kekal/tidak diciptakan). Dia memindahkan wakaf-wakaf dari madrasah dan Masjid untuk kepentingan para filosof tersebut.

Dalam bidang pemikiran, Ath-Thusi (672 H) berusaha menggantikan posisi Al-Qur’an dengan kitab Isyarat karya filosof Ibnu Sina (428 H), yang dia sebut sebagai Al-Qur’an bagi kalangan elit (khowash), sementara Al-Qur’an adalah bagi kalangan awam. Dia bahkan berupaya mengubah Sholat dari lima waktu menjadi dua waktu saja.

Ibnul Qoyyim (751 H) rohimahullah menegaskan bahwa Ath-Thusi dan pengikutnya adalah para atheis yang kafir kepada Alloh , Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rosul-rosul-Nya, dan hari Akhiroh.

Pengkhianatan Ath-Thusi ini tetap dipuji oleh tokoh-tokoh Syiah modern seperti Khomeini (1409 H) yang menyebutnya telah memberikan layanan besar bagi Islam.

 

Bab 8: Upaya Pembunuhan Sholahuddin Al-Ayyubi dan Perlawanan Sunnah

8.1 Konspirasi Internal Syiah Mesir Mengundang Pasukan Salib

Kaum Syiah tidak pernah melupakan bahwa Sholahuddin Al-Ayyubi (589 H) rohimahullah adalah sosok yang melenyapkan negara Fatimiyah mereka di Mesir dan kembali membentangkan jalan bagi tegaknya Sunnah. Oleh karena itu, mereka berulang kali berupaya untuk membinasakan beliau demi mendirikan kembali negara Fatimiyah, bahkan dengan meminta bantuan kepada kaum Franja (Tentara Salib).

Al-Maqrizi (845 H) rohimahullah menceritakan dalam kitab As-Suluk bahwa pada tahun 569 H, berkumpullah sekelompok orang di Qohiroh untuk mengangkat kembali salah seorang anak dari Al-Adhid (567 H) -Kholifah Fatimiyah terakhir di Mesir- dan berencana membunuh Sholahuddin. Para konspirator tersebut antara lain Qodhi Al-Mufadhdhol Dhiyauddin Nashrullah bin Kamil, Ammarah bin Ali Al-Yamani (569 H), dan beberapa pejabat lainnya. Mereka menyurati pasukan Franja untuk meminta bantuan. Namun, rencana busuk ini dibocorkan oleh seorang pemberi nasihat bernama Zainuddin bin Naja kepada Sholahuddin.

Setelah pengkhianatan ini terungkap, Sholahuddin (589 H) segera bertindak tegas dengan mengeksekusi para pengkhianat tersebut. Al-Maqrizi (845 H) mencatat tindakan Sholahuddin:

«وَتَتَبَّعَ أَيْ صَلَاحُ الدِّينِ مَنْ لَهُ هَوًى فِي الدَّوْلَةِ الْفَاطِمِيَّةِ، فَقَتَلَ كَثِيرًا وَأَسَرَ كَثِيرًا، وَنُودِيَ بِأَنْ يَرْحَلَ كَافَّةُ الْأَجْنَادِ وَحَاشِيَةُ الْقَصْرِ، وَزَاجِلُ السُّودَانِ إِلَى أَقْصَى بِلَادِ الصَّعِيدِ»

“Dan Sholahuddin menelusuri siapa saja yang memiliki kecenderungan terhadap Daulah Fatimiyah, maka beliau membunuh banyak orang dan menawan banyak orang.. dan diserukan agar seluruh prajurit, pengawal istana, serta pasukan Sudan pergi ke pelosok negeri Sho’id.” (As-Suluk, Al-Maqrizi, 1/53-54)

Meski para pengkhianat telah dihukum, pasukan Franja tetap datang ke Mesir sesuai dengan kesepakatan rahasia yang telah dibuat sebelumnya. Pada akhir tahun 569 H, armada Franja dari Sisilia mendarat di pelabuhan Iskandariyah secara tiba-tiba. Mereka membawa 30.000 pejuang, terdiri dari kavaleri dan infanteri, serta 6 kapal besar yang mengangkut alat perang dan 40 kapal pengangkut logistik. Pasukan Muslimin di Iskandariyah bertempur dengan gigih, dan dengan pertolongan Alloh , mereka berhasil menghancurkan alat-alat pengepungan musuh dan membunuh banyak tentara Franja hingga sisanya melarikan diri pada awal tahun 570 H.

8.2 Makar di Balik Kedok Pembelaan Terhadap Keturunan Ubaidiyah

Belum genap setahun berlalu, pengkhianatan lain kembali muncul pada tahun 570 H. Kanzud Daulah, gubernur Aswan, mengumpulkan orang-orang Arob dan Sudan dengan tujuan mengembalikan Daulah Fatimiyah. Dia menghabiskan harta dalam jumlah besar untuk mengumpulkan pengikut dan membunuh beberapa panglima Sholahuddin. Sholahuddin (589 H) kemudian mengirim saudaranya, Al-Malik Al-Adil (615 H), dengan pasukan besar untuk memadamkan pemberontakan tersebut hingga Kanzud Daulah berhasil dibunuh pada bulan Shofar tahun 570 H.

Hambatan dari kaum Syiah ini sangat membebani langkah Sholahuddin (589 H) dalam menjaga negeri Syam dari ancaman Franja. Ketika beliau hendak berangkat menuju Syam untuk menyatukan kekuatan umat Islam setelah wafatnya Nuruddin Mahmud (569 H), kaum Rofidhoh di Halab (Aleppo) justru mengajukan syarat-syarat yang berat sebagai imbalan ketaatan mereka. Syarat-syarat tersebut antara lain:

«أَنْ يُعَادَ الْأَذَانُ بِحَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ. وَأَنْ يُذْكَرَ فِي الْأَسْوَاقِ، وَأَنْ يَكُونَ لَهُمْ فِي الْجَامِعِ الْجَانِبُ الشَّرْقِيُّ، وَأَنْ يُذْكَرَ أَسْمَاءُ الْأَئِمَّةِ الِاثْنَيْ عَشَرَ بَيْنَ يَدَيْ الْجَنَائِزِ، وَأَنْ يُكَبِّرُوا عَلَى الْجَنَازَةِ خَمْسًا، وَأَنْ تَكُونَ عُقُودُ أَنْكِحَتِهِمْ إِلَى الشَّرِيفِ بْنِ أَبِي الْمَكَارِمِ حَمْزَةَ الْحُسَيْنِيِّ»

“Adhan dikembalikan dengan ucapan ‘Hayya ‘ala khoiril ‘amal’. Disebutkan di pasar-pasar. Mereka memiliki bagian timur di Masjid Jami’. Nama-nama imam yang 12 disebutkan di depan jenazah. Bertakbir 5 kali atas jenazah. Akad nikah mereka diserahkan kepada Asy-Syarif bin Abul Makarim Hamzah Al-Husaini.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibn Katsir, 12/289)

Syarat-syarat tersebut pun dipenuhi demi kemaslahatan. Tidak berhenti di situ, pada tahun 571 H, beberapa orang dari sekte Ismailiyah (Hashshashin) mencoba membunuh Sholahuddin namun gagal, meskipun mereka berhasil melukai beberapa panglima. Bahkan pada tahun 584 H, terdapat 12 orang Syiah yang berkeliaran di lorong-lorong kota pada malam hari sambil berteriak:

«يَالِ عَلِيّ! يَالِ عَلِيّ!»

“Wahai keluarga Ali! Wahai keluarga Ali!”

Mereka menyangka rakyat akan menyambut seruan tersebut untuk membangkitkan kembali Daulah Fatimiyah, namun tidak ada satu pun orang yang menggubris mereka hingga akhirnya mereka kocar-kacir. Seluruh rangkaian peristiwa ini membuktikan bahwa sementara Sholahuddin (589 H) berjuang keras melawan tentara Salib demi kemuliaan Islam, kaum Syiah justru sibuk menusuk dari belakang demi ambisi kekuasaan dan fanatisme madzhab mereka.

 

Bab 9: Pengkhianatan Terhadap Daulah Saljuk dan Aliansi Salib

9.1 Fitnah Al-Basasiri di Baghdad

Setelah Daulah Buwaihiyah yang berpaham Syiah runtuh dan lenyap, muncul kekuasaan baru dari bangsa Turki Saljuk yang mencintai Ahlus Sunnah, loyal kepada mereka, dan mengangkat derajat mereka. Namun, kemunculan kekuatan Sunnah ini tetap tidak luput dari makar kaum Rofidhoh. Pada tahun 450 H, seorang tokoh Rofidhoh bernama Al-Basasiri (451 H) datang ke Baghdad dengan membawa panji-panji putih dari penguasa Mesir (Fatimiyah) saat Sultan Saljuk sedang tidak berada di tempat.

Kedatangan Al-Basasiri (451 H) disambut dengan gembira oleh penduduk wilayah Karkh yang beraliran Rofidhoh. Mereka menjarah rumah-rumah Ahlus Sunnah di Bashroh serta merampas berbagai catatan serta buku-buku hukum milik Qodhi Al-Qudhoh Ad-Damaghoni. Kaum Rofidhoh juga mengembalikan Adzan dengan tambahan “Hayya ‘ala khoiril ‘amal” di wilayah Baghdad dan membacakan khutbah untuk Al-Mustanshir Al-Ubaidi (487 H) dari Mesir.

Puncak kekejaman mereka ditujukan kepada menteri Ibnu Al-Muslimah yang bergelar Ro’isur Ru’asa (450 H). Beliau diarak keliling kota dengan mengenakan pakaian wol, topi merah dari bulu, serta dikalungi sesuatu di lehernya. Saat melewati wilayah Karkh, kaum Rofidhoh meludahi wajah beliau, melaknat, serta mencaci-maki beliau. Akhirnya beliau disiksa secara biadab:

«فَأُلْبِسَ جِلْدَ ثَوْرٍ بِقَرْنَيْهِ وَعُلِّقَ بِكَلُّوبٍ فِي شِدْقَيْهِ، وَرُفِعَ إِلَى الْخَشَبَةِ فَجَعَلَ يُضْرَبُ إِلَى آخِرِ النَّهَارِ»

“Maka dia dipakaikan kulit sapi beserta kedua tanduknya dan digantung dengan pengait besi pada kedua pipinya, lalu dinaikkan ke atas kayu salib dan terus dipukuli hingga akhir siang.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 12/76-79)

Beliau wafat (450 H) rohimahullah dengan ucapan terakhir: “Alhamdulillah yang telah menghidupkanku sebagai orang yang bahagia dan mematikanku sebagai syahid.”

9.2 Aliansi Syiah dan Salib Mengincar Baitul Maqdis

Perselisihan antara Saljuk yang Sunni dan Fatimiyah yang Syiah melemahkan kekuatan umat Islam dan membuka jalan bagi Tentara Salib (Franja) untuk menyerang Syam dengan mudah pada tahun 490 H. Pengkhianatan Fatimiyah terlihat nyata ketika Badr Al-Jamali (487 H), menteri dari penguasa Fatimiyah, mengirim utusan kepada pemimpin Tentara Salib pertama. Isi tawarannya adalah kerja sama untuk melenyapkan Saljuk di Syam dengan pembagian wilayah; bagian utara Syam untuk Tentara Salib sementara Palestina untuk Fatimiyah.

Saat Amir Karbuqo (495 H) dari Mosul menyiapkan pasukan untuk mencegah jatuhnya Anthokiyah ke tangan Salib, pihak Fatimiyah justru hanya menjadi penonton. Bahkan mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk mengepung Baitul Maqdis yang saat itu berada di bawah kekuasaan Saljuk; mereka menembakkan lebih dari 40 manjaniq (alat pelontar batu) hingga temboknya runtuh dan mereka berhasil menguasainya.

Tokoh Syiah Ismailiyah juga mendekati Rodhwan bin Tajud Daulah Tutusy (507 H) yang berkuasa di Syam. Rodhwan (507 H) kemudian terpengaruh oleh paham mereka dan tidak peduli dengan kemenangan Tentara Salib yang merebut Anthokiyah pada tahun 491 H serta Ma’aroh pada tahun 492 H. Pada tahun 492 H, Baitul Maqdis akhirnya jatuh ke tangan Salib dan terjadi pembantaian lebih dari 60.000 Muslim di dalamnya. Hal ini terjadi akibat pengkhianatan Syiah yang terus menciptakan kekacauan internal.

Setiap kali penguasa Ahlus Sunnah meraih kemenangan atas Tentara Salib, hal itu justru membuat kaum Syiah sedih karena menganggapnya sebagai penguatan bagi posisi Sunnah. Sebagai contoh, pada tahun 505 H, ketika Amir Mawdud bin Zanki (507 H) berhasil merebut banyak benteng dari Salib dan membantai mereka, seorang anggota sekte Bathiniyah (Syiah) yang menyamar sebagai peminta-minta justru menikamnya hingga wafat (507 H) rohimahullah di dalam Masjid Jami’ Damaskus. Pengkhianatan serupa juga dilakukan sekte Ismailiyah terhadap Sultan Jalaluddin bin Khowarizm Syah (628 H) dengan membantai pasukannya saat Tatar mulai menyerang, karena mereka adalah bantuan terbesar bagi kaum kafir dalam melawan Muslim.

 

Bab 10: Jejak Berdarah Sekte Nushoiriyah dan Druz

10.1 Keyakinan Kufur Sekte Nushoiriyah

Nushoiriyah adalah salah satu sekte Syiah yang paling ghuluw (berlebihan). Sekte ini didirikan oleh Muhammad bin Nushoir (260 H) yang merupakan pengikut Syiah Itstna Asyariyah sebelum akhirnya memisahkan diri dan mengaku sebagai Nabi. Mereka memiliki keyakinan yang sangat sesat, di antaranya adalah mempertuhankan Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu. Mereka meyakini bahwa Ali menciptakan Muhammad , dan Muhammad menciptakan Salman Al-Farisi (33 H) rodhiyallahu ‘anhu, lalu Salman menciptakan 5 orang yang memegang kendali langit dan bumi.

Sekte ini tidak beriman kepada hari kebangkitan dan hisab (perhitungan amal), melainkan meyakini perpindahan ruh ke jasad lain. Mereka menghalalkan khomr (minuman keras), zina, dan berbagai hal yang diharomkan dalam Islam. Sebagaimana sekte Syiah lainnya, mereka mewajibkan mencaci para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum karena dianggap merampas hak keKholifahan. Nushoiriyah yang kini sering menyebut diri mereka sebagai kaum Alawi sangat membenci umat Islam dan sering kali melakukan pengkhianatan dengan bekerja sama dengan musuh luar.

10.2 Kolaborasi Nushoiriyah dengan Pasukan Tatar dan Timur Lenk

Sejarah mencatat bahwa kaum Nushoiriyah selalu mengambil kesempatan untuk menyerang Ahlus Sunnah saat musuh luar datang menyerbu. Pada tahun 696 H, ketika pasukan Tatar bermaksud menyerang negeri Syam, kaum Nushoiriyah bersekongkol dengan mereka. Tokoh mereka, Muhammad bin Ahmad Al-Qummi, menerima imbalan sebesar 100.000 dirham atas pengkhianatannya tersebut. Saat pasukan Muslimin kalah dalam pertempuran di Wadi Salimah, kaum Nushoiriyah yang tinggal di pegunungan menghadang pasukan Islam yang melarikan diri, lalu merampas senjata dan kuda mereka serta membunuh banyak dari mereka. Hal ini memaksa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah untuk memimpin pasukan guna memerangi dan menertibkan mereka.

Pengkhianatan yang lebih mengerikan terjadi saat invasi Timur Lenk (807 H) pada tahun 822-823 H. Dalam kitab Tarikhul Alawiyyin, seorang penulis Nushoiriyah bernama Muhammad Amin Gholib menyatakan bahwa pengkhianatan adalah cara bagi mereka untuk mempertahankan hak:

وَلَمَّا كَانَ لَا بُدَّ لِلضَّعِيفِ الْمَظْلُومِ مِنَ التَّوَسُّلِ بِالْخِيَانَةِ لِكَيْ يُحَافِظَ عَلَى حُقُوقِهِ أَوْ يَسْتَرِدَّهَا وَهَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ يُسَاقُ إِلَيْهِ كُلُّ إِنْسَانٍ كَانَ الْعَلَوِيُّونَ كُلَّمَا غَصَبَ السُّنِّيُّونَ أَمْوَالَهُمْ وَحُقُوقَهُمْ يَتَوَسَّلُونَ بِغَدْرِ السُّنِّيِّينَ عِنْدَ سُنُوحِ الْفُرْصَةِ

“Dan karena merupakan keharusan bagi yang lemah lagi dizholimi untuk bertawasul (menggunakan perantara) dengan pengkhianatan demi menjaga hak-haknya atau merebutnya kembali – dan ini adalah perkara alami yang menggiring setiap manusia – maka orang-orang Alawi (Nushoiriyah) setiap kali Ahlus Sunnah merampas harta dan hak-hak mereka, mereka bertawasul dengan mengkhianati Ahlus Sunnah saat ada kesempatan.” (Tarikhul Alawiyyin, Muhammad Amin Gholib, hlm. 407)

Saat Timur Lenk (807 H) menyerang Aleppo, penguasa wilayah tersebut yang bernama Timur Thasy merupakan seorang Nushoiriyah yang melakukan kesepakatan rahasia dengan Timur Lenk untuk membukakan pintu kota. Akibatnya, terjadi pembantaian, penjarahan, dan penyiksaan massal terhadap Ahlus Sunnah. Timur Lenk (807 H) diperintah untuk membunuh Ahlus Sunnah namun mengecualikan kaum Nushoiriyah.

10.3 Kerja Sama dengan Penjajah Prancis di Era Modern

Pada masa modern, kaum Nushoiriyah menjadi pendukung utama penjajahan Prancis di Suriah untuk meruntuhkan keKholifahan Utsmaniyah (1342 H). Sebagai imbalannya, Prancis memberikan mereka otonomi khusus di wilayah pegunungan pada tahun 1920 M. Salah satu pemimpin mereka yang paling tersohor karena kesesatannya adalah Salman Al-Mursyid (1366 H) yang mengaku sebagai tuhan. Salman Al-Mursyid (1366 H) sangat didukung oleh Prancis hingga dia memiliki pasukan sendiri dan menarik pajak dari penduduk desa.

Bahkan, pada 15 Juni 1936, para pemimpin Nushoiriyah—termasuk Sulaiman Al-Asad—mengirimkan petisi kepada Perdana Menteri Prancis, Leon Blum (1950 M), agar Prancis tidak meninggalkan Suriah. Dalam dokumen tersebut, mereka memuji orang-orang Yahudi di Palestina dan memprovokasi Prancis untuk melawan Muslim Sunni yang mereka sebut sebagai kaum feodal religius. Mereka secara terang-terangan meminta perlindungan Prancis agar terbebas dari kekuasaan umat Islam.

10.4 Keyakinan dan Sejarah Pengkhianatan Suku Druz

Druz adalah sekte yang memisahkan diri dari Ismailiyah Fatimiyah dan meyakini ketuhanan Al-Hakim bi Amrilllah (411 H). Mereka percaya bahwa ruh para Nabi dan Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu berpindah ke dalam jasad Al-Hakim. Mereka menghalalkan darah dan harta umat Islam serta meyakini bahwa syariat Islam telah dihapus oleh ajaran mereka.

Suku Druz memiliki catatan pengkhianatan yang panjang, di antaranya saat mereka membantu Napoleon Bonaparte (1821 M) ketika mengepung Akka pada tahun 1799 M. Napoleon (1821 M) menyurati pemimpin Druz, Basyir Asy-Syihabi (1266 H), untuk bekerja sama melawan umat Islam:

مُخَيَّمُ عَكَّا 20 آذَار 1798م إِلَى بَشِير: بَعْدَ السَّيْطَرَةِ عَلَى مِصْرَ دَخَلْتُ صَحْرَاءَ سِينَاءَ.. فَأَتَيْتُ إِلَى الْعَرِيشِ ثُمَّ إِلَى غَزَّةَ ثُمَّ إِلَى يَافَا بَعْدَ أَنْ الْتَقَيْتُ بِجُيُوشِ الْجَزَّارِ وَسَحَقْتُهَا، وَمُنْذُ يَوْمَيْنِ وَصَلْتُ إِلَى عَكَّا وَأَنَا أُحَاصِرُهَا الْآنَ. وَأَسْرِعُ إِلَى إِعْلَامِكَ بِكُلِّ ذَلِكَ لِأَنَّكَ لَا شَكَّ فِي أَنَّكَ تَفْرَحُ لِهَزَائِمِ هَذَا الطَّاغِيَةِ (يَعْنِي الْجَزَّارَ) الَّذِي سَبَّبَ الْكَثِيرَ مِنَ الذُّعْرِ لِلْإِنْسَانِيَّةِ عَامَّةً وَلِلدُّرُوزِ الْأَبَاةِ بِشَكْلٍ خَاصٍّ، وَرَغْبَتِي الْمُخْلِصَةُ هِيَ أَنْ أُقِيمَ لِلدُّرُوزِ اسْتِقْلَالَهُمْ وَأُعْطِيَهُمْ مَدِينَةَ بَيْرُوتَ ذَاتَ الْمَرْفَأِ كَمَرْكَزٍ تِجَارِيٍّ لَهُمْ.”

“Perkemahan Akka 20 Maret 1798 M kepada Basyir: Setelah menguasai Mesir, aku memasuki gurun Sinai.. lalu aku datang ke Al-Arisy kemudian ke Gaza kemudian ke Jaffa setelah aku bertemu dengan pasukan Al-Jazzar dan menghancurkannya. Sejak 2 hari lalu aku sampai di Akka dan aku sedang mengepungnya sekarang. Aku segera mengabarkanmu tentang semua itu karena engkau tidak diragukan lagi akan merasa gembira atas kekalahan thoghut ini (maksudnya Al-Jazzar) yang telah menyebabkan banyak ketakutan bagi kemanusiaan secara umum dan bagi orang-orang Druz yang gagah secara khusus. Keinginanku yang tulus adalah mendirikan kemerdekaan bagi orang-orang Druz dan memberikan mereka kota Beirut yang memiliki pelabuhan sebagai pusat perdagangan bagi mereka.” (Ru’yah Islamiyah fis Shiro’ Al-Arobi Al-Isro’ili, hlm. 31)

Selain itu, saat Prancis menjajah Suriah pada tahun 1920 M, Jenderal Gouraud (1946 M) menjadikan orang-orang Druz sebagai pengawal pribadinya karena kepercayaan penuh terhadap loyalitas mereka kepada penjajah. Suku Druz selalu berusaha mendirikan negara sendiri dengan mengusir umat Islam dari wilayah mereka, sebagaimana yang terjadi di pegunungan Hauran.

 

Bab 11: Pengkhianatan Modern di Lebanon dan Konflik Iraq

11.1 Tragedi Kamp Tel Al-Za’atar dan Sabra-Shatila

Syiah Lebanon merupakan penganut Itstna Asyariyah Rofidhoh yang khobits (buruk), di mana mereka mewarisi pengkhianatan dan kebencian terhadap Ahlus Sunnah dari para pendahulu mereka. Sejarah modern mencatat rangkaian pembantaian berdarah yang melibatkan rezim Nushoiri Suriah dan milisi Syiah Itstna Asyariyah terhadap pengungsi Palestina yang berstatus Ahlus Sunnah di Lebanon. Perang saudara di Lebanon menjadi sarana bagi kelompok Syiah untuk menumpahkan dendam mereka.

Pada tahun 1976, pasukan Suriah dan milisi Syiah melakukan pengepungan terhadap kamp Tel Al-Za’atar. Mereka menjalankan taktik kelaparan dengan memutus pasokan roti serta obat-obatan disertai pemboman yang sangat mengerikan. Setelah berhasil merangsek masuk, mereka bertindak laksana binatang buas dengan menyembelih anak-anak dan orang tua, membelah perut wanita hamil, serta menodai kehormatan para wanita merdeka. Seluruh kamp Tel Al-Za’atar akhirnya dihancurkan total.

Tragedi serupa kembali terulang pada tahun 1985 di kamp Sabra dan Shatila. Milisi Amal Syiah melakukan serangan brutal, menangkap para pekerja medis, dan membantai warga sipil. Kekejaman mereka bahkan melampaui apa yang dilakukan oleh musuh Zionis. Seorang wartawan dari Sunday Times melaporkan bahwa banyak warga Palestina yang disembelih di leher mereka saat berada di rumah sakit. Agen berita Associated Press melaporkan kesaksian bahwa milisi Amal mengumpulkan puluhan orang terluka dan warga sipil lalu membunuh mereka tanpa belas kasihan.

11.2 Kolaborasi Gerakan Amal dengan Pasukan Israel

Kerja sama antara kelompok Syiah dengan musuh Zionis di Lebanon selatan merupakan fakta sejarah yang nyata, bukan sekadar dongeng. Israel secara strategis hanya melucuti senjata organisasi-organisasi Sunni dan membiarkan milisi Syiah Amal tetap memegang senjata mereka. Hal ini dilakukan karena adanya kesamaan kepentingan untuk menghancurkan perlawanan Ahlus Sunnah di Lebanon selatan.

Pihak intelijen militer Israel menyatakan keyakinan penuh bahwa milisi Amal akan menjadi kekuatan dominan yang menjaga keamanan di perbatasan dan mencegah faksi-faksi Sunni melakukan tindakan melawan Israel. Pemimpin gerakan Amal, Nabih Berri, bahkan diketahui mengirimkan pesan rahasia kepada pimpinan Israel melalui Menteri Luar Negeri Swedia. Salah satu komandan Amal di selatan, Haidar Al-Dayikh, secara terang-terangan memuji tindakan Israel dalam wawancara dengan majalah Al-Usbu’ Al-Arobi:

«كُنَّا نَحْمِلُ السِّلَاحَ قَبْلَ دُخُولِ إِسْرَائِيلَ إِلَى الْجَنُوبِ، وَمَعَ ذَلِكَ فَإِنَّهَا فَتَحَتْ لَنَا يَدَهَا وَأَحَبَّتْ أَنْ تُسَاعِدَنَا فَقَامَتْ بِاقْتِلَاعِ الْإِرْهَابِ الْفِلَسْطِينِيِّ مِنَ الْجَنُوبِ وَغَيْرِهَا وَلَنْ نَسْتَطِيعَ أَنْ نَرُدَّ لَهَا الْجَمِيلَ»

“Kami telah membawa senjata sebelum Israel masuk ke (Lebanon) selatan, namun demikian, mereka membuka tangan bagi kami dan ingin membantu kami dengan mencabut terorisme Palestina dari selatan dan wilayah lainnya. Kami tidak akan sanggup membalas budi baik mereka.” (Al-Usbu’ Al-Arobi, 24/10/1983)

Hal ini menunjukkan bahwa klaim perlawanan terhadap penjajah hanyalah kedok politik, sementara fakta di lapangan menunjukkan kolaborasi erat demi kepentingan kelompok Syiah.

11.3 Makar Syiah dalam Perang Amerika di Iraq

Di negeri Iraq, pengkhianatan Syiah muncul kembali saat invasi Amerika dan Inggris pada tahun 2003. Kelompok Syiah di Iraq menempatkan loyalitas mereka kepada Iran di atas kedaulatan tanah air mereka sendiri. Mereka memandang jatuhnya rezim saat itu sebagai kesempatan emas untuk mendirikan negara Syiah atau menyatukan diri dengan kekuatan induk mereka di Iran.

Saat invasi berlangsung, kaum Syiah tidak ikut serta dalam perlawanan terhadap pasukan asing. Sebaliknya, setelah Baghdad jatuh, mereka keluar ke jalan-jalan laksana anjing yang kelaparan, menjarah harta benda, merusak bangunan, bahkan merampok rumah sakit di bawah perlindungan tentara penjajah. Tindakan ini serupa dengan apa yang dilakukan oleh Ibnul ‘Alqomi (656 H) dan Ath-Thusi (672 H) saat membantu Tatar menghancurkan Baghdad di masa silam.

Tokoh-tokoh oposisi Syiah seperti Ahmad Al-Jalabi diketahui memiliki hubungan gelap dengan Mossad dan pejabat Zionis jauh sebelum invasi dimulai. Setelah pendudukan, para pemuka Hauzah Syiah menuntut agar pemerintah transisi didominasi oleh kelompok mereka, dengan anggapan bahwa Ahlus Sunnah hanyalah minoritas di Iraq. Mohammad Baqir Al-Hakim (1424 H) bahkan menuntut kompensasi politik dari penjajah Amerika atas apa yang dia sebut sebagai dekade penindasan. Kontras dengan sikap Syiah, warga Ahlus Sunnah di Iraq justru melakukan perlawanan sengit terhadap penjajah dan secara sukarela menyumbangkan darah mereka bagi para pejuang di Masjid-masjid. Pengkhianatan ini mengonfirmasi bahwa kaum Syiah siap bekerja sama dengan musuh salib maupun zionis demi meraih kekuasaan politik.

 

Bab 12: Konspirasi Global dan Ancaman di Jazirah Arob

12.1 Pengkhianatan Syiah di India terhadap Umat Islam

Di belahan bumi India, kaum Syiah telah menjadi pendukung bagi musuh Islam dan kaum Muslimin, mulai dari kaum penyembah berhala Hindu, Sikh, hingga penjajah Inggris demi menyakiti Ahlus Sunnah. Salah satu peristiwa kelam terjadi di kota Ajodhya, di mana terdapat sebuah Masjid besar yang dibangun oleh Sultan Babur (937 H). Ketika kaum Hindu mengklaim tanah tersebut sebagai tanah suci mereka dan merampas Masjid tersebut pada tahun 1273 H, kaum Muslimin yang dipimpin oleh Syaikh Ghulam Husain Al-Audi berusaha merebutnya kembali namun mereka dibantai dan Mushaf Al-Qur’an dibakar.

Syaikh Amir Ali Al-Amitahuri kemudian mendatangi kota Lucknow untuk meminta bantuan kepada para penguasa yang saat itu adalah orang-orang Syiah. Namun, menteri Syiah yang bernama Taqiy Ali justru menerima suap dari kaum Hindu dan menghalangi upaya kaum Muslimin tersebut. Bahkan, penguasa wilayah itu yang bernama Wajid Ali Syah, seorang Syiah yang tenggelam dalam kemaksiatan, mengerahkan pasukannya untuk menyerang rombongan Syaikh Amir Ali hingga mereka semua gugur sebagai Syahid. Upaya penguatan madzhab Syiah di India ini juga digerakkan oleh tokoh mereka, Dildar Ali An-Nashir, yang berupaya membatalkan madzhab-madzhab lain di tanah India. Pengkhianatan ini menunjukkan bahwa kaum Rofidhoh lebih memilih bersekutu dengan penyembah sapi daripada membantu kaum Muslimin Sunni.

12.2 Ambisi Iran di Teluk: Bahroin, Kuwait, dan Saudi Arobia

Negeri Iran dianggap sebagai induk yang mengasuh seluruh kaum Syiah, terutama Itstna Asyariyah, di mana kaum Syiah di mana pun berada lebih memberikan loyalitas mereka kepada Iran daripada kepada tanah air mereka sendiri. Setelah revolusi Khomeini (1409 H) pada tahun 1979, ambisi Iran untuk menguasai negara-negara Teluk semakin nyata dengan menjadikan Syiah lokal sebagai penggerak kekacauan.

Di Bahroin, Iran secara terang-terangan menuntut penggabungan wilayah tersebut ke dalam kekuasaan mereka. Tokoh mereka, Hadi Al-Mudarrisi yang merupakan wakil khusus Khomeini (1409 H), menggerakkan kerusuhan besar untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Di Kuwait, pengkhianatan serupa dilakukan oleh Ahmad Abbas Al-Muhri yang memicu isu-isu politik untuk menciptakan ketidakstabilan atas perintah langsung dari Khomeini (1409 H). Sementara di Saudi Arobia, wilayah Qathif menjadi pusat kerusuhan kaum Syiah sejak tahun 1913 M, yang puncaknya terjadi pada tahun 1979 M sebagai respon atas seruan revolusi dari Iran. Kaum Syiah di sana menuntut pemisahan diri dari Kerajaan Saudi Arobia, membuktikan bahwa loyalitas mereka sepenuhnya tertuju kepada agenda politik Itsna Asyariyah di Iran.

12.3 Jejak Konflik Batin Syiah di Yaman

Kaum Syiah di Yaman, baik dari kelompok Bathiniyah maupun Zaidiyah, telah lama menjadi duri dalam daging bagi keamanan wilayah tersebut. Qodhi Husain bin Ahmad Al-Arsyi (1329 H) menjelaskan tentang kekejaman kaum Bathiniyah di Yaman:

اعْلَمْ أَنَّ الْبَاطِنِيَّةَ أَخْزَاهُمُ اللَّهُ تَعَالَى أَضَرُّ عَلَى الْإِسْلَامِ مِنْ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ، وَسُمُّوا بِهَا لِأَنَّهُمْ يُبْطِنُونَ الْكُفْرَ وَيَتَظَاهَرُونَ بِالْإِسْلَامِ

“Ketahuilah bahwa kaum Bathiniyah –semoga Alloh Ta’ala menghinakan mereka– lebih berbahaya bagi Islam daripada para penyembah berhala, dan mereka dinamakan demikian karena mereka menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman.” (Bulughul Marom, Al-Arsyi, hlm. 21)

Kelompok ini sering kali melakukan tindakan kejam seperti menghalalkan hal-hal harom serta mengingkari kenabian dan Akhiroh. Di sisi lain, kaum Syiah Zaidiyah di Yaman juga melakukan penindasan terhadap Ahlus Sunnah, terutama setelah penarikan pasukan Turki Utsmani pada tahun 1337 H. Mereka membantai banyak ulama Sunni, seperti Syaikh Muhammad Sholeh Al-Akhorom dan Syaikh Muhammad bin Ali Al-Umroni (1263 H) yang merupakan murid dari Imam Asy-Syaukani (1250 H). Syaikh Muhammad Abu Zahroh (1394 H) menilai bahwa kelompok Zaidiyah di masa belakangan telah banyak terpengaruh oleh prinsip-prinsip Rofidhoh hingga mereka menolak kepemimpinan Abu Bakar (13 H) dan Umar (23 H) rodhiyallahu ‘anhuma. Perpecahan ini sengaja dipelihara oleh para pemuka Syiah agar mereka tetap bisa mendapatkan harta dan kedudukan dengan cara mengadu domba umat.

12.4 Mengutamakan Nashroni Daripada Sunnah

Pengkhianatan kaum Syiah mencapai puncaknya ketika mereka lebih rela melihat kaum Muslimin menjadi Nashroni daripada membiarkan mereka tetap di atas Sunnah. Pada tahun 1910 M di Edinburgh, pemerintah Iran melakukan kesepakatan dengan lembaga misi penjajah Amerika untuk mengizinkan Gereja Injili Lutheran melakukan tanshir (kristenisasi) terhadap suku Kurdi yang merupakan Muslim Sunni.

Tujuan utama dari Syah Iran dalam mendukung tanshir ini adalah untuk menghancurkan identitas Sunnah pada suku Kurdi agar mereka lebih mudah dikendalikan oleh kekuasaan Syiah Iran. Kebencian mendalam ini bukan sekadar urusan politik, melainkan berakar pada Aqidah mereka yang menganggap Ahlus Sunnah lebih buruk daripada kaum kafir asli. Hal ini ditegaskan oleh Khomeini (1409 H) dalam fatwanya di kitab Tahrirul Wasilah:

وَيُعْتَبَرُ فِي الْمُتَصَدَّقِ عَلَيْهِ فِي الصَّدَقَةِ الْمَنْدُوبَةِ الْفَقْرُ لَا الْإِيمَانُ وَالْإِسْلَامُ، فَتَجُوزُ عَلَى الْغَنِيِّ الذِّمِّيِّ وَالْمُخَالِفِ إِنْ كَانَ أَجْنَبِيَّيْنِ نَعَمْ، وَلَا تَجُوزُ عَلَى النَّاصِبِيِّ وَلَا عَلَى الْحَرْبِيِّ وَإِنْ كَانَ قَرِيبَيْنِ

“Dalam sedekah yang sifatnya sunnah, yang menjadi pertimbangan pada orang yang menerima adalah kondisi fakirnya, bukan keimanan atau keislamannya. Karena itu, sedekah sunnah boleh diberikan kepada orang kaya dari kalangan dzimmi maupun kepada orang yang berbeda keyakinan, selama keduanya bukan kerabat dekat.

Namun, sedekah tersebut tidak boleh diberikan kepada orang yang memusuhi Ahlul Bait (nashibi) dan tidak pula kepada orang kafir yang memerangi (harbi), meskipun keduanya masih memiliki hubungan kekerabatan.” (Tahrirul Wasilah, Al-Khomeini, 1/91)

Fatwa ini menunjukkan bahwa bagi kaum Syiah, seorang Nashroni atau Yahudi dzimmi masih layak menerima kebaikan, sementara seorang Sunni harom untuk dibantu meskipun ia adalah kerabat dekat. Inilah bukti nyata bahwa kaum Rofidhoh adalah duri dalam daging bagi umat Islam yang selalu siap bekerja sama dengan musuh manapun demi menghancurkan Ahlus Sunnah.

 

Penutup

Perjalanan panjang sejarah yang telah kita telusuri dari bab ke bab memberikan gambaran yang sangat terang bahwa pengkhianatan kaum Syiah bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Dari masa Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu hingga era modern di Iraq dan Lebanon, terdapat benang merah yang menyatukan setiap tragedi, yaitu Aqidah yang menyimpang. Pengkhianatan tersebut lahir dari rahim keyakinan bahwa selain kelompok mereka adalah musuh yang halal darah dan hartanya.

Umat Islam telah membayar harga yang sangat mahal akibat makar ini. Runtuhnya Khilafah Abbasiyah di Baghdad, jatuhnya Baitul Maqdis ke tangan Tentara Salib, hingga pembantaian ulama-ulama Sunnah di berbagai belahan bumi adalah bukti nyata betapa berbahayanya duri dalam daging ini. Mereka tidak segan-segan menjadi jembatan bagi musuh-musuh Islam seperti Tatar, Romawi, dan penjajah Barat demi menghancurkan kekuatan Ahlus Sunnah. Sejarah ini adalah cermin bagi kita semua agar tidak tertipu oleh slogan-slogan palsu persatuan yang sering kali mereka dengungkan di atas mimbar-mimbar Taqiyyah.

Pelajaran terpenting dari seluruh catatan kelam ini adalah kewajiban bagi setiap Muslim untuk kembali kepada kemurnian Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum. Lemahnya pertahanan umat Islam sering kali bermula dari tersebarnya Bid’ah dan jauhnya masyarakat dari ilmu syar’i. Alloh telah memberikan peringatan yang sangat jelas bagi orang-orang yang beriman agar senantiasa waspada:

﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Dan waspadalah (wahai orang-orang Mu’min) terhadap ujian dan musibah yang jika turun tidak hanya menimpa pelaku maksiat saja secara khusus, namun akan menimpa semuanya. Dan ketahuilah bahwa Alloh sangat keras siksaan-Nya bagi orang yang menyelisihi perintah-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Kesadaran akan sejarah pengkhianatan ini haruslah melahirkan sikap mawas diri, bukan sekadar menjadi pengetahuan kosong. Kita harus membentengi generasi mendatang dengan Aqidah yang sholih agar mereka mampu membedakan antara kawan dan lawan, serta antara pembela agama dan perusak agama.

Kita memohon kepada Alloh agar senantiasa menjaga kaum Muslimin di mana pun mereka berada, menguatkan barisan Ahlus Sunnah, dan menghancurkan setiap makar jahat yang ditujukan untuk memadamkan cahaya Islam.

Semoga buku ini menjadi amal jariyah yang bermanfaat dan menjadi pengingat bagi umat akan bahaya laten yang senantiasa mengintai dari zaman ke zaman.

Segala puji bagi Alloh yang dengan ni’mat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.[NK]

 

Daftar Pustaka

Buku ini menjadikan Mausuatul Firoq Al-Muntasibah lil Islam karya Duror Saniyyah sebagai rujukan utama. Penukilan di sini berasal dari sana.

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url