[PDF] Menjadi Muadz-dzin Sampai Wafat - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم
الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam yang telah
mensyariatkan Adzan sebagai panggilan suci untuk mengagungkan nama-Nya dan
mengajak hamba-hamba-Nya menuju keberuntungan. Sholawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang
telah mengajarkan syariat ini dengan sempurna melalui lisan dan perbuatan
beliau, juga kepada para Shohabat rodhiyallahu ‘anhuma dan pengikut
mereka yang setia hingga hari Qiyamah.
Amma ba’du:
Sesungguhnya Adzan merupakan
sebuah proklamasi Tauhid yang menggetarkan jiwa dan mengusir syaithon. Menjadi Muadz-dzin
adalah sebuah kemuliaan yang sangat besar, sebuah amanah untuk menjaga waktu
Sholat umat Islam, dan sebuah pengabdian yang menjanjikan kedudukan tinggi di
Akhiroh.
Buku ini disusun untuk
mengumpulkan mutiara-mutiara dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta jejak
para Salaf yang sholih mengenai keutamaan Adzan dan para pelakunya.
Tujuannya adalah agar
setiap Muslim, terutama para Muadz-dzin, memahami betapa berharganya tugas yang
mereka emban sehingga mereka dapat istiqomah menjalankan peran ini dengan penuh
keikhlasan dan profesionalisme sampai ajal menjemput.
Buku ini ditulis untuk
mengenang saudara kami sekaligus “orang tua” kami Pak Winaryoto رحمه الله, Muadz-dzin Masjid Thaybah yang wafat
Selasa 4 Dzulqo’dah 1447 H (21 April 2026), menggantikan Pak Qosim رحمه الله. Keduanya adalah sosok yang sederhana,
sabar dalam kefakiran dan Sholat, serta semangat dalam majlis ilmu.
Bab 1: Kedudukan
Adzan dalam Syariat
1.1 Definisi dan
Makna Adzan secara Bahasa dan Istilah
Adzan secara bahasa
bermakna pemberitahuan atau pengumuman. Hal ini sebagaimana firman Alloh ﷻ dalam Al-Qur’an:
﴿وَأَذٰنٌ
مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٓ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ
الْاَكْبَرِ أَنَّ اللّٰهَ بَرِيْءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۙ وَرَسُوْلُه﴾
“Dan ini adalah pemberitahuan
dari Alloh dan Rosul-Nya kepada umat manusia pada hari Haji Akbar bahwa
sesungguhnya Alloh dan Rosul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.” (QS.
At-Taubah: 3)
Secara syariat, Adzan
adalah perkataan tertentu yang digunakan untuk memberitahukan masuknya waktu
Sholat Fardhu. Ia merupakan dzikir yang paling agung karena mencakup
persaksian keesaan Alloh ﷻ dan kerosulan Nabi Muhammad ﷺ,
disamping berkaitan dengan ibadah paling utama secara mutlak, Sholat Fadhu.
Adzan adalah syiar Islam yang sangat ditekankan untuk menunjukkan keberadaan
kaum Muslimin di suatu negeri.
1.2 Sejarah
Pensyariatan Adzan di Masa Nabi ﷺ
Pada awal masa Hijroh di
Madinah, kaum Muslimin berkumpul untuk Sholat dengan cara memperkirakan
waktunya tanpa ada panggilan khusus. Kemudian muncul beberapa usulan dari para
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, seperti menggunakan lonceng atau terompet,
namun Nabi ﷺ
membencinya karena menyerupai kaum Yahudi dan Nashoro. Hingga akhirnya Alloh ﷻ memberikan petunjuk melalui mimpi seorang
Shohabat.
Dari Abdullah bin Zaid
(32 H) ia berkata: Ketika Rosululloh ﷺ
disarankan untuk menggunakan lonceng
agar dibunyikan untuk mengumpulkan orang-orang guna Sholat, berkelilinglah
kepadaku (dalam mimpi) saat aku tidur seorang laki-laki yang membawa lonceng di
tangannya. Aku bertanya: “Wahai hamba Alloh, apakah engkau menjual lonceng itu?”
Ia menjawab: “Apa yang akan engkau lakukan dengannya?” Aku menjawab: “Kami akan
menggunakannya untuk memanggil orang Sholat.” Ia berkata: “Maukah aku tunjukkan
kepadamu apa yang lebih baik dari itu?” Aku menjawab: “Tentu”. Ia berkata:
Ucapkanlah
اللَّهُ
أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،
أَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ،
حَيَّ عَلَى
الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ،
حَيَّ عَلَى
الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ،
اللَّهُ
أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،
لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ
“Alloh Akbar Alloh
Akbar...” (HSR. Abu Dawud no. 499)
Setelah Abdullah bin Zaid
menceritakan mimpinya, Nabi ﷺ
bersabda bahwa itu adalah mimpi yang benar, lalu beliau memerintahkan Bilal bin
Robah (20 H) untuk mengumandangkannya karena suaranya lebih lantang.
1.3 Hukum
Mengumandangkan Adzan dalam Sholat Lima Waktu
Hukum Adzan adalah fardhu
kifayah bagi laki-laki yang sedang mukim (tidak bepergian) untuk Sholat
jamaah lima waktu. Jika sudah ada yang melakukannya di suatu daerah, maka
kewajiban bagi yang lain gugur. Hal ini didasarkan pada perintah Nabi ﷺ kepada Malik bin Al-Huwairits (74 H):
«فَإِذَا
حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ»
“Maka jika Sholat telah
tiba waktunya, hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan
Adzan untuk kalian, dan hendaklah yang paling tua di antara kalian menjadi imam
kalian.” (HR. Al-Bukhori no. 631 dan Muslim no. 674)
Perintah dalam Hadits ini
menunjukkan kewajiban kifayah karena Adzan berkaitan dengan pelaksanaan Sholat
yang merupakan tiang agama.
1.4 Adzan
sebagai Syiar Islam yang Paling Nampak
Adzan merupakan tanda
kemenangan Islam di suatu wilayah. Nabi ﷺ
senantiasa memperhatikan kumandang Adzan sebelum memutuskan untuk melakukan
tindakan terhadap suatu kaum guna memastikan apakah mereka Muslim atau bukan.
Dari Anas bin Malik (93
H), ia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا غَزَا بِنَا قَوْمًا، لَمْ يَكُنْ يَغْزُو
بِنَا حَتَّى يُصْبِحَ وَيَنْظُرَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ، وَإِنْ
لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ
“Nabi ﷺ apabila berperang bersama kami melawan
suatu kaum, beliau tidak menyerang sampai datang waktu pagi dan beliau
memperhatikan. Jika beliau mendengar Adzan, beliau menahan diri dari mereka.
Namun jika tidak mendengar Adzan, beliau menyerang mereka.” (HR. Al-Bukhori
no. 610 dan Muslim no. 382)
Ini menunjukkan bahwa
Adzan adalah pembeda antara negeri Islam dan negeri kafir, serta simbol
keamanan bagi penganutnya.
Bab 2: Keutamaan
Adzan
2.1 Adzan
sebagai Pengusir Syaithon
Salah satu kekuatan
dahsyat dari kalimat Adzan adalah kemampuannya untuk mengusir syaithon.
Syaithon tidak sanggup mendengar keagungan Alloh ﷻ yang diteriakkan oleh Muadz-dzin.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا
نُودِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ، وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ،
فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتَّى
إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ، حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ المَرْءِ وَنَفْسِهِ، يَقُولُ:
اذْكُرْ كَذَا، اذْكُرْ كَذَا، لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ
لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى»
“Apabila Adzan untuk
Sholat dikumandangkan, syaithon lari sambil terkentut-kentut agar ia tidak
mendengar suara Adzan. Apabila Adzan telah selesai, ia datang kembali. Dan
apabila Iqomah dikumandangkan, ia lari lagi. Apabila Iqomah telah selesai, ia
datang lagi hingga ia membisikkan godaan antara seseorang dengan jiwanya:
‘Ingatlah itu, ingatlah ini,’ hingga ia mengingat apa yang telah dilupakan
hingga ia lupa roka’at Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 608 dan Muslim no. 389)
Ini membuktikan bahwa Muadz-dzin
berperan dalam membersihkan lingkungan Masjid dari gangguan syaithon sebelum
para jamaah memulai ibadah mereka.
2.2 Adzan
Sebagai Saksi
Suara Adzan yang menembus
ruang dan waktu akan menjadi saksi kebaikan bagi sang Muadz-dzin di hadapan
Alloh ﷻ kelak.
Setiap benda mati maupun makhluk hidup yang mendengarnya akan memberikan
kesaksian.
Dari Abdurrohman bin Abi
Sho’sho’ah (Tabi’in) bahwa Abu Said Al-Khudri (74 H) berkata kepadanya:
Sesungguhnya aku melihatmu menyukai kambing dan padang pasir. Jika engkau
sedang bersama kambingmu atau di padang pasirmu lalu engkau mengumandangkan
Adzan untuk Sholat, maka keraskanlah suaramu. Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:
«لاَ
يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ المُؤَذِّنِ، جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ
لَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Tidaklah mendengar
jangkauan suara Muadz-dzin, baik itu jin, manusia, maupun sesuatu apa pun,
kecuali ia akan menjadi saksi baginya di hari Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no.
609)
Maka, setiap pohon, batu,
dan gumpalan tanah yang terkena getaran suara Muadz-dzin akan menjadi pembela
baginya di hari yang sangat berat tersebut.
2.3 Pahala dalam
Adzan
Besarnya pahala Adzan
membuat banyak orang seandainya mengetahui hakikatnya, mereka akan saling
berebut bahkan dengan cara mengundi.
«لَوْ
يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا
أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا»
“Seandainya manusia
mengetahui apa yang ada pada Adzan dan shof pertama, kemudian mereka tidak
mendapatkan kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan melakukan undian
tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 615 dan Muslim no. 437)
Imam An-Nawawi (676 H)
menjelaskan bahwa maksud dari “apa yang ada pada Adzan” adalah besarnya pahala
dan keutamaan yang disediakan Alloh ﷻ yang tidak dapat dibayangkan oleh akal
manusia biasa.
Hadits di atas ada
kelanjutannya:
«وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ
لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ، لَأَتَوْهُمَا
وَلَوْ حَبْوًا»
“Seandainya mereka
mengetahui pahala pada datang lebih awal (ke Masjid) tentu mereka akan berlomba
menujunya. Seandainya mereka mengetahui pahala Sholat Isya dan Shubuh, tentu
mereka akan mendatangi keduanya meskipun dengan merangkak.”
Muadz-dzin secara
otomatis mendapatkan keutamaan ini.
2.4 Keutamaan
Menggabungkan Adzan dan Iqomah
Seorang Muadz-dzin yang
melaksanakan tugasnya dari Adzan hingga Iqomah mendapatkan keutamaan tambahan
berupa doa yang dikabulkan di antara keduanya.
«لَا
يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ»
“Doa antara Adzan dan
Iqomah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud no. 521 dan At-Tirmidzi no. 212)
Hal ini menunjukkan bahwa
waktu yang dihabiskan Muadz-dzin di dalam Masjid untuk menunggu Sholat adalah
waktu yang sangat mulia dan penuh keberkahan.
Masa tunggu berpahala
seperti Sholat, didoakan Malaikat, dan doa-doanya dikabulkan.
Nabi ﷺ bersabda:
«وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ
مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ»
“Seorang dari kalian
senantiasa (dianggap) di dalam Sholat selama menunggu waktu Sholat.” (HR.
Al-Bukhori no. 647)
«وَإِذَا دَخَلَ المَسْجِدَ، كَانَ
فِي صَلاَةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ، وَتُصَلِّي - يَعْنِي عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ
- مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ
ارْحَمْهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ»
“Apabila ia masuk Masjid,
maka ia berada di dalam pahala Sholat selama itu yang menahannya. Juga Malaikat
senantiasa mendoakannya selama ia di tempatnya Sholat: ‘Ya Alloh ampuni ia,
ya Alloh rohmati ia,’ selama ia belum berhadats.” (HR. Al-Bukhori no.
477)
Bab 3: Kemuliaan
Khusus Muadz-dzin
3.1 Muadz-dzin
adalah Orang yang Memiliki Leher Paling Panjang di Hari Qiyamah
Di saat manusia tenggelam
dalam keringat mereka di hari Qiyamah, para Muadz-dzin mendapatkan keistimewaan
fisik yang membedakan mereka dari yang lain sebagai bentuk kemuliaan.
«الْمُؤَذِّنُونَ
أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Para Muadz-dzin adalah
orang yang paling panjang lehernya di hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 387)
Sebagian ulama seperti
Ibnu Al-Arob (543 H) menafsirkan hal ini secara hakiki sebagai tanda pengenal
kemuliaan, sedangkan yang lain menafsirkannya sebagai kiasan bahwa mereka
adalah orang yang paling banyak mengharapkan rohmat Alloh ﷻ atau paling cepat melihat pahala mereka.
3.2 Ampunan
Alloh ﷻ bagi Muadz-dzin
Sejauh Jangkauan Suaranya
Alloh ﷻ memberikan ampunan yang sangat luas bagi
mereka yang lantang menyuarakan Tauhid di muka bumi.
«الْمُؤَذِّنُ
يُغْفَرُ لَهُ مَدَى صَوْتِهِ، وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ»
“Muadz-dzin akan diampuni
sejauh jangkauan suaranya, dan setiap benda basah maupun kering akan menjadi
saksi baginya.” (HSR. Abu Dawud no. 515)
Luasnya ampunan ini
berbanding lurus dengan usaha Muadz-dzin dalam mengeraskan suaranya agar dakwah
Sholat sampai ke telinga umat manusia.
3.3 Doa
Rosululloh ﷺ bagi
Para Muadz-dzin agar Mendapatkan Ampunan
Betapa beruntungnya
seorang Muadz-dzin karena ia mendapatkan doa khusus dari manusia yang paling
mulia, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
«الْإِمَامُ
ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ»
“Imam adalah penanggung
jawab dan Muadz-dzin adalah pemegang amanah. Ya Alloh, berilah petunjuk kepada
para imam dan berilah ampunan kepada para Muadz-dzin.” (HSR. Abu Dawud no.
517)
Amanah yang dipikul Muadz-dzin
adalah menjaga waktu Sholat agar umat tidak terlambat atau melakukan Sholat
sebelum waktunya. Atas amanah ini, Nabi ﷺ
memohonkan ampunan bagi mereka.
3.4 Jaminan
Jannah bagi Muadz-dzin yang Ikhlas
Surga adalah balasan
akhir yang pasti bagi hamba Alloh ﷻ yang melazimkan Adzan dengan penuh
keimanan dan hanya mengharap wajah-Nya.
Dari Ibnu Umar (73 H)
bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
أَذَّنَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَكُتِبَ لَهُ بِتَأْذِينِهِ
فِي كُلِّ يَوْمٍ سِتُّونَ حَسَنَةً، وَلِكُلِّ إِقَامَةٍ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً»
“Barangsiapa yang
mengumandangkan Adzan selama 12 tahun, maka wajib baginya Jannah, dan dicatat
baginya setiap kali Adzan 60 kebaikan dan setiap kali Iqomah 30 kebaikan.” (HSR.
Ibnu Majah no. 728)
Keistiqomahan dalam
jangka waktu yang lama menunjukkan ketulusan hati yang luar biasa, sehingga
Alloh ﷻ pun
memberikan ganjaran yang tak ternilai harganya.
Bab 4: Adab
Seorang Muadz-dzin Pilihan
4.1 Mengharap
Wajah Alloh ﷻ
Seorang Muadz-dzin yang
mengharap kemuliaan di Akhiroh harus menyandarkan niatnya hanya kepada Alloh ﷻ. Tidak selayaknya seorang penyeru Sholat
menjadikan tugas suci ini sebagai wasilah untuk mencari keuntungan duniawi
semata. Namun tidak mengapa mengambil upah jika ia fakir, karena nafkah
keluarga wajib dan adzan tidak wajib bagi pribadinya.
Hal ini didasarkan pada
wasiat Nabi ﷺ kepada
Utsman bin Abil Ash (51 H):
«اتَّخِذْ
مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا»
“Dan angkatlah seorang Muadz-dzin
yang tidak mengambil upah atas Adzannya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 209)
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata, “Mengenai upah untuk ibadah dalam
hal ini dibedakan antara orang yang butuh upah dan selainnya. Itulah yang lebih
tepat. Jika seseorang membutuhkan upah, ia tetap niatkan amalannya itu karena
Allah, masih boleh baginya untuk mengambil upah dalam ibadah. Karena nafkah
pada keluarga itu wajib dan boleh sesuatu yang wajib dibayarkan dengan upah
ini. Sedangkan orang kaya tidaklah butuh pada upah ini karena nantinya ia
termasuk orang yang beramal pada selain Alloh.”
(Majmu’ Al-Fatawa, 3/207)
4.2 Memiliki
Suara yang Lantang dan Bagus
Suara yang keras dan
merdu merupakan sarana agar dakwah melalui Adzan dapat menjangkau telinga
sebanyak mungkin manusia dan menggetarkan hati mereka. Ketika Abdullah bin Zaid
(32 H) melaporkan mimpinya tentang lafazh Adzan, Rosululloh ﷺ memerintahkan:
«فَقُمْ
مَعَ بِلَالٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى
صَوْتًا مِنْكَ»
“Bangunlah bersama Bilal,
sampaikanlah kepadanya apa yang telah engkau lihat (dalam mimpi) agar dia
mengumandangkannya, karena sesungguhnya dia memiliki suara yang lebih lantang
dan lebih bagus darimu.” (HSR. Abu Dawud no. 499)
Keindahan suara dalam
Adzan bukanlah untuk pamer, melainkan untuk mengagungkan syiar Islam. Hal ini
juga ditegaskan dalam kisah Abu Mahdzuroh (59 H) yang diajarkan Adzan oleh Nabi
ﷺ karena suaranya yang memukau.
Di zaman sekarang sudah
ada pengeras suara, sehingga banyak Muadz-dzin terbantu.
4.3 Menjaga
Amanah Waktu Sholat dengan Disiplin
Muadz-dzin disebut
sebagai orang yang dipercaya karena umat bergantung kepadanya dalam menentukan
waktu Sholat dan waktu berbuka Puasa. Jika Muadz-dzin teledor, maka ia memikul
beban kesalahan orang banyak. Nabi ﷺ
bersabda:
«أُمَنَاءُ
النَّاسِ عَلَى صَلَاتِهِمْ وَسُحُورِهِمْ الْمُؤَذِّنُونَ»
“Para Muadz-dzin adalah
orang-orang yang dipercaya oleh manusia atas Sholat dan sahur mereka.” (HHR.
Al-Baihaqi no. 2023. Irwa no. 221)
Oleh karena itu, seorang Muadz-dzin
harus memiliki pengetahuan tentang waktu-waktu Sholat dan memiliki sifat
disiplin yang tinggi agar tidak menyesatkan jamaah.
Sekarang ada hp dan
kalender digital yang membantu Muadz-dzin menentukan waktu Sholat dengan teliti.
4.4 Kesucian
Diri dan Menghadap Kiblat saat Adzan
Meskipun Adzan sah
dilakukan tanpa wudhu, namun yang paling utama adalah dalam keadaan suci
(berwudhu) sebagai bentuk pengagungan terhadap dzikir kepada Alloh ﷻ. Dari Muhajir bin Qunfudz (Shohabat) bahwasanya
Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنِّي
كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا عَلَى طُهْرٍ»
“Sesungguhnya aku tidak
suka menyebut nama Alloh kecuali dalam keadaan suci.” (HSR. Abu Dawud no.
17)
Selain itu, merupakan
sunnah yang terus berlangsung sejak zaman Rosululloh ﷺ bahwa Muadz-dzin mengumandangkan Adzan
dengan menghadap ke arah Kiblat.
Imam Ibnu Abdil Barr (463
H) menyatakan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa Muadz-dzin menghadap
Kiblat saat Adzan.
Bab 5: Jejak
Perjuangan Muadz-dzin di Masa Salaf
5.1 Bilal bin
Robah Sang Muadz-dzin Rosululloh ﷺ
Bilal bin Robah (20 H)
adalah simbol kesetiaan dan keteguhan iman. Beliau adalah Muadz-dzin pertama
dalam Islam yang dipilih langsung oleh Nabi ﷺ.
Suaranya yang menggelegar di atas Ka’bah saat penaklukan kota Makkah menjadi
tanda kemenangan Tauhid atas kesyirikan. Setelah wafatnya Nabi ﷺ, Bilal merasa sangat berat untuk
mengumandangkan Adzan lagi karena kerinduan yang mendalam.
Dalam suatu riwayat
disebutkan bahwa ketika Bilal diminta untuk Adzan di masa Umar bin Al-Khoththob
(23 H) saat penaklukan Baitul Maqdis, semua Shohabat menangis tersedu-sedu
teringat masa-masa bersama Rosululloh ﷺ.
Ini menunjukkan betapa
kuatnya pengaruh suara Muadz-dzin sholih dalam mengingatkan umat kepada Robb
mereka.
5.2 Sang Buta
Ibnu Ummi Maktum
Abdullah bin Ummi Maktum
(15 H) adalah seorang Shohabat yang buta namun memiliki semangat yang luar
biasa dalam menjalankan tugas sebagai Muadz-dzin. Beliau bergantian dengan
Bilal dalam mengumandangkan Adzan di Madinah. Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
بِلاَلًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ»
“Sesungguhnya Bilal
mengumandangkan Adzan pada malam hari (sebelum Shubuh), maka makan dan minumlah
kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan Adzan.” (HR. Al-Bukhori no.
617 dan Muslim no. 1092)
Ia buta dan tidak memulai
adzan kecuali diberitahu orang: “Sudah masuk Subuh!”
Meskipun memiliki
keterbatasan fisik, Ibnu Ummi Maktum tetap teguh menjalankan perannya, bahkan
beliau ikut serta dalam Jihad dan gugur sebagai Syahid di perang Qodisiyyah.
5.3 Abu
Mahdzuroh Pemilik Suara Merdu
Abu Mahdzuroh (59 H)
awalnya adalah seorang pemuda yang meniru suara Adzan dengan maksud mengejek.
Namun, ketika Nabi ﷺ
mendengar suaranya yang bagus, beliau justru memanggilnya, mengusap dadanya,
dan mendoakan keberkahan baginya. Seketika itu juga hidayah masuk ke dalam
hatinya. Nabi ﷺ
bersabda kepadanya:
«اذْهَبْ
فَأَذِّنْ عِنْدَ الْبَيْتِ الْحَرَامِ»
“Pergilah dan
kumandangkanlah Adzan di Baitul Harom.” (HSR. An-Nasai no. 633)
Abu Mahdzuroh kemudian
menjadi Muadz-dzin di Makkah dan keturunannya mewarisi tugas mulia tersebut
selama berabad-abad sebagai bentuk penjagaan terhadap amanah Rosululloh ﷺ.
5.4 Tabi’in yang
Melazimkan Adzan
Generasi Tabi’in sangat
menghargai kedudukan Muadz-dzin. Said bin Al-Musayyib (94 H), seorang pemimpin
para Tabi’in, sangat menjaga kehadirannya di Masjid sebelum Adzan
dikumandangkan. Beliau berkata:
«مَا
أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً إِلَّا وَأَنَا فِي الْمَسْجِدِ»
“Tidaklah Muadz-dzin
mengumandangkan Adzan sejak 30 tahun yang lalu melainkan aku sudah berada di
dalam Masjid.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 3522)
Begitu pula dengan banyak
ulama Salaf lainnya yang lebih memilih menjadi Muadz-dzin daripada menjadi
pejabat atau penguasa dunia, karena mereka mengetahui hakikat pahala yang
tersembunyi di balik kalimat-kalimat Adzan.
Bab 6: Istiqomah
Menjadi Muadz-dzin Hingga Akhir Hayat
6.1 Keutamaan
Menjaga Adzan Selama 7 Tahun Hingga 12 Tahun
Konsistensi dalam
ketaatan adalah tanda diterimanya amalan. Bagi mereka yang sabar menjaga Adzan
dalam waktu yang lama, Alloh ﷻ menjanjikan pembebasan dari api Naar.
Dari Ibnu Abbas (68 H)
bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
أَذَّنَ سَبْعَ سِنِينَ مُحْتَسِبًا كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ»
“Barangsiapa yang
mengumandangkan Adzan selama 7 tahun dengan mengharap pahala dari Alloh, maka
dicatat baginya pembebasan dari api Naar.” (HR. At-Tirmidzi no. 206, lemah)
Angka 7 tahun maupun 12
tahun yang disebutkan dalam berbagai riwayat menunjukkan bahwa kemuliaan ini
diraih melalui perjuangan panjang melawan rasa malas dan kebosanan, sehingga
hanya orang-orang yang berjiwa besar yang mampu mencapainya.
Adapun Hadits 12 tahun
adalah shohih sebagaimana telah disebutkan dalam subbab 3.4.
6.2 Menjaga
Sholat Jamaah sebagai Dampak Konsistensi Adzan
Seorang Muadz-dzin adalah
orang yang pertama kali datang ke Masjid dan orang yang paling menjaga Sholat
jamaah. Dengan mengumandangkan Adzan, ia secara otomatis mendisiplinkan dirinya
sendiri untuk selalu berada di barisan terdepan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَنْ
اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ
مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ﴾
“Dan siapakah yang lebih
baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh dan mengerjakan
kebajikan serta berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim.’” (QS.
Fussilat: 33)
Sebagian mufassir seperti
Ikrimah (105 H) dan Al-Hasan (110 H) menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan
dengan para Muadz-dzin. Hal ini karena Muadz-dzin menggabungkan antara ajakan
kepada kebaikan dan pengamalan nyata dari ajakan tersebut.
6.3 Meraih
Khusnul Khotimah Melalui Pengabdian sebagai Muadz-dzin
Banyak kisah nyata di
mana para Muadz-dzin wafat dalam keadaan yang dicita-citakan oleh setiap
Muslim, yaitu saat sedang mengagungkan nama Alloh ﷻ. Seseorang akan dibangkitkan kelak sesuai
dengan kebiasaan yang ia lakukan saat di dunia. Nabi ﷺ bersabda:
«يُبْعَثُ
كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ»
“Setiap hamba akan
dibangkitkan berdasarkan keadaan saat ia wafat.” (HR. Muslim no. 2878)
Betapa indahnya jika
seseorang wafat saat lisan mereka mengucapkan “Laa ilaha illalloh” di
akhir Adzannya, atau wafat saat melangkah menuju Masjid untuk mengumandangkan
panggilan Robb-nya. Inilah puncak dari cita-cita “Menjadi Muadz-dzin Sampai
Wafat”.
6.4 Peringatan
bagi Muadz-dzin agar Terhindar dari Sifat Ujub
Meskipun kedudukan Muadz-dzin
sangat tinggi, ia tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain atau sombong
karena suaranya yang bagus. Sifat ujub (bangga diri) dapat menghapuskan pahala
yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Rosululloh ﷺ memperingatkan:
«لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak akan masuk Jannah
orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR.
Muslim no. 91)
Seorang Muadz-dzin harus
tetap tawadhu’ (rendah hati), menyadari bahwa suara bagus dan kesempatan
berkhidmat di Masjid adalah murni ni’mat dari Alloh ﷻ, bukan karena kehebatan dirinya semata.
Penutup
Menjadi Muadz-dzin adalah
sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan keberkahan. Dari uraian
dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits serta atsar para Salaf, kita dapat
menyimpulkan bahwa pengabdian ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa di
sisi Alloh ﷻ.
Seorang Muadz-dzin adalah pemegang amanah waktu, pengusir syaithon, dan pemberi
syafaat bagi dirinya sendiri melalui persaksian makhluk-makhluk di sekitarnya.
Tantangan yang dihadapi, baik itu rasa kantuk di waktu Shubuh, teriknya
matahari di waktu Zhuhur, atau kelelahan di waktu Isya, semuanya akan terbayar
lunas dengan ampunan seluas jangkauan suara dan tempat yang mulia di Akhiroh
kelak.
Semoga buku ini menjadi
penyemangat bagi para Muadz-dzin untuk tetap istiqomah dalam tugasnya, menjaga
keikhlasan hati, dan tidak melepaskan tugas mulia ini kecuali saat nyawa telah
berpisah dari raga. Mari kita jadikan kalimat Tauhid terus berkumandang di muka
bumi melalui lisan-lisan yang jujur dan hati yang tunduk kepada Robb semesta
alam.
Segala kebenaran
datangnya dari Alloh ﷻ, dan
segala kekurangan adalah dari penulis. Akhir doa kami, segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam.[NK]
