Cari Ebook

[PDF] Menjadi Muadz-dzin Sampai Wafat - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam yang telah mensyariatkan Adzan sebagai panggilan suci untuk mengagungkan nama-Nya dan mengajak hamba-hamba-Nya menuju keberuntungan. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , yang telah mengajarkan syariat ini dengan sempurna melalui lisan dan perbuatan beliau, juga kepada para Shohabat rodhiyallahu ‘anhuma dan pengikut mereka yang setia hingga hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Sesungguhnya Adzan merupakan sebuah proklamasi Tauhid yang menggetarkan jiwa dan mengusir syaithon. Menjadi Muadz-dzin adalah sebuah kemuliaan yang sangat besar, sebuah amanah untuk menjaga waktu Sholat umat Islam, dan sebuah pengabdian yang menjanjikan kedudukan tinggi di Akhiroh.

Buku ini disusun untuk mengumpulkan mutiara-mutiara dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta jejak para Salaf yang sholih mengenai keutamaan Adzan dan para pelakunya.

Tujuannya adalah agar setiap Muslim, terutama para Muadz-dzin, memahami betapa berharganya tugas yang mereka emban sehingga mereka dapat istiqomah menjalankan peran ini dengan penuh keikhlasan dan profesionalisme sampai ajal menjemput.

Buku ini ditulis untuk mengenang saudara kami sekaligus “orang tua” kami Pak Winaryoto رحمه الله, Muadz-dzin Masjid Thaybah yang wafat Selasa 4 Dzulqo’dah 1447 H (21 April 2026), menggantikan Pak Qosim رحمه الله. Keduanya adalah sosok yang sederhana, sabar dalam kefakiran dan Sholat, serta semangat dalam majlis ilmu.

 

Bab 1: Kedudukan Adzan dalam Syariat

1.1 Definisi dan Makna Adzan secara Bahasa dan Istilah

Adzan secara bahasa bermakna pemberitahuan atau pengumuman. Hal ini sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an:

﴿وَأَذٰنٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٓ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْاَكْبَرِ أَنَّ اللّٰهَ بَرِيْءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۙ وَرَسُوْلُه﴾

“Dan ini adalah pemberitahuan dari Alloh dan Rosul-Nya kepada umat manusia pada hari Haji Akbar bahwa sesungguhnya Alloh dan Rosul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.” (QS. At-Taubah: 3)

Secara syariat, Adzan adalah perkataan tertentu yang digunakan untuk memberitahukan masuknya waktu Sholat Fardhu. Ia merupakan dzikir yang paling agung karena mencakup persaksian keesaan Alloh dan kerosulan Nabi Muhammad , disamping berkaitan dengan ibadah paling utama secara mutlak, Sholat Fadhu. Adzan adalah syiar Islam yang sangat ditekankan untuk menunjukkan keberadaan kaum Muslimin di suatu negeri.

1.2 Sejarah Pensyariatan Adzan di Masa Nabi

Pada awal masa Hijroh di Madinah, kaum Muslimin berkumpul untuk Sholat dengan cara memperkirakan waktunya tanpa ada panggilan khusus. Kemudian muncul beberapa usulan dari para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, seperti menggunakan lonceng atau terompet, namun Nabi membencinya karena menyerupai kaum Yahudi dan Nashoro. Hingga akhirnya Alloh memberikan petunjuk melalui mimpi seorang Shohabat.

Dari Abdullah bin Zaid (32 H) ia berkata: Ketika Rosululloh disarankan untuk menggunakan lonceng agar dibunyikan untuk mengumpulkan orang-orang guna Sholat, berkelilinglah kepadaku (dalam mimpi) saat aku tidur seorang laki-laki yang membawa lonceng di tangannya. Aku bertanya: “Wahai hamba Alloh, apakah engkau menjual lonceng itu?” Ia menjawab: “Apa yang akan engkau lakukan dengannya?” Aku menjawab: “Kami akan menggunakannya untuk memanggil orang Sholat.” Ia berkata: “Maukah aku tunjukkan kepadamu apa yang lebih baik dari itu?” Aku menjawab: “Tentu”. Ia berkata: Ucapkanlah

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ،

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ،

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ،

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Alloh Akbar Alloh Akbar...” (HSR. Abu Dawud no. 499)

Setelah Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya, Nabi bersabda bahwa itu adalah mimpi yang benar, lalu beliau memerintahkan Bilal bin Robah (20 H) untuk mengumandangkannya karena suaranya lebih lantang.

1.3 Hukum Mengumandangkan Adzan dalam Sholat Lima Waktu

Hukum Adzan adalah fardhu kifayah bagi laki-laki yang sedang mukim (tidak bepergian) untuk Sholat jamaah lima waktu. Jika sudah ada yang melakukannya di suatu daerah, maka kewajiban bagi yang lain gugur. Hal ini didasarkan pada perintah Nabi kepada Malik bin Al-Huwairits (74 H):

«فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ»

“Maka jika Sholat telah tiba waktunya, hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan Adzan untuk kalian, dan hendaklah yang paling tua di antara kalian menjadi imam kalian.” (HR. Al-Bukhori no. 631 dan Muslim no. 674)

Perintah dalam Hadits ini menunjukkan kewajiban kifayah karena Adzan berkaitan dengan pelaksanaan Sholat yang merupakan tiang agama.

1.4 Adzan sebagai Syiar Islam yang Paling Nampak

Adzan merupakan tanda kemenangan Islam di suatu wilayah. Nabi senantiasa memperhatikan kumandang Adzan sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan terhadap suatu kaum guna memastikan apakah mereka Muslim atau bukan.

Dari Anas bin Malik (93 H), ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا غَزَا بِنَا قَوْمًا، لَمْ يَكُنْ يَغْزُو بِنَا حَتَّى يُصْبِحَ وَيَنْظُرَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ

“Nabi apabila berperang bersama kami melawan suatu kaum, beliau tidak menyerang sampai datang waktu pagi dan beliau memperhatikan. Jika beliau mendengar Adzan, beliau menahan diri dari mereka. Namun jika tidak mendengar Adzan, beliau menyerang mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 610 dan Muslim no. 382)

Ini menunjukkan bahwa Adzan adalah pembeda antara negeri Islam dan negeri kafir, serta simbol keamanan bagi penganutnya.

 

Bab 2: Keutamaan Adzan

2.1 Adzan sebagai Pengusir Syaithon

Salah satu kekuatan dahsyat dari kalimat Adzan adalah kemampuannya untuk mengusir syaithon. Syaithon tidak sanggup mendengar keagungan Alloh yang diteriakkan oleh Muadz-dzin.

Nabi bersabda:

«إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ، وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ، حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ المَرْءِ وَنَفْسِهِ، يَقُولُ: اذْكُرْ كَذَا، اذْكُرْ كَذَا، لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى»

“Apabila Adzan untuk Sholat dikumandangkan, syaithon lari sambil terkentut-kentut agar ia tidak mendengar suara Adzan. Apabila Adzan telah selesai, ia datang kembali. Dan apabila Iqomah dikumandangkan, ia lari lagi. Apabila Iqomah telah selesai, ia datang lagi hingga ia membisikkan godaan antara seseorang dengan jiwanya: ‘Ingatlah itu, ingatlah ini,’ hingga ia mengingat apa yang telah dilupakan hingga ia lupa roka’at Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 608 dan Muslim no. 389)

Ini membuktikan bahwa Muadz-dzin berperan dalam membersihkan lingkungan Masjid dari gangguan syaithon sebelum para jamaah memulai ibadah mereka.

2.2 Adzan Sebagai Saksi

Suara Adzan yang menembus ruang dan waktu akan menjadi saksi kebaikan bagi sang Muadz-dzin di hadapan Alloh kelak. Setiap benda mati maupun makhluk hidup yang mendengarnya akan memberikan kesaksian.

Dari Abdurrohman bin Abi Sho’sho’ah (Tabi’in) bahwa Abu Said Al-Khudri (74 H) berkata kepadanya: Sesungguhnya aku melihatmu menyukai kambing dan padang pasir. Jika engkau sedang bersama kambingmu atau di padang pasirmu lalu engkau mengumandangkan Adzan untuk Sholat, maka keraskanlah suaramu. Aku mendengar Nabi bersabda:

«لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ المُؤَذِّنِ، جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Tidaklah mendengar jangkauan suara Muadz-dzin, baik itu jin, manusia, maupun sesuatu apa pun, kecuali ia akan menjadi saksi baginya di hari Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no. 609)

Maka, setiap pohon, batu, dan gumpalan tanah yang terkena getaran suara Muadz-dzin akan menjadi pembela baginya di hari yang sangat berat tersebut.

2.3 Pahala dalam Adzan

Besarnya pahala Adzan membuat banyak orang seandainya mengetahui hakikatnya, mereka akan saling berebut bahkan dengan cara mengundi.

«لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا»

“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada Adzan dan shof pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan melakukan undian tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 615 dan Muslim no. 437)

Imam An-Nawawi (676 H) menjelaskan bahwa maksud dari “apa yang ada pada Adzan” adalah besarnya pahala dan keutamaan yang disediakan Alloh yang tidak dapat dibayangkan oleh akal manusia biasa.

Hadits di atas ada kelanjutannya:

«وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ، لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»

“Seandainya mereka mengetahui pahala pada datang lebih awal (ke Masjid) tentu mereka akan berlomba menujunya. Seandainya mereka mengetahui pahala Sholat Isya dan Shubuh, tentu mereka akan mendatangi keduanya meskipun dengan merangkak.”

Muadz-dzin secara otomatis mendapatkan keutamaan ini.

2.4 Keutamaan Menggabungkan Adzan dan Iqomah

Seorang Muadz-dzin yang melaksanakan tugasnya dari Adzan hingga Iqomah mendapatkan keutamaan tambahan berupa doa yang dikabulkan di antara keduanya.

«لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ»

“Doa antara Adzan dan Iqomah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Dawud no. 521 dan At-Tirmidzi no. 212)

Hal ini menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan Muadz-dzin di dalam Masjid untuk menunggu Sholat adalah waktu yang sangat mulia dan penuh keberkahan.

Masa tunggu berpahala seperti Sholat, didoakan Malaikat, dan doa-doanya dikabulkan.

Nabi bersabda:

«وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ»

“Seorang dari kalian senantiasa (dianggap) di dalam Sholat selama menunggu waktu Sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 647)

«وَإِذَا دَخَلَ المَسْجِدَ، كَانَ فِي صَلاَةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ، وَتُصَلِّي - يَعْنِي عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ - مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ»

“Apabila ia masuk Masjid, maka ia berada di dalam pahala Sholat selama itu yang menahannya. Juga Malaikat senantiasa mendoakannya selama ia di tempatnya Sholat: ‘Ya Alloh ampuni ia, ya Alloh rohmati ia,’ selama ia belum berhadats.” (HR. Al-Bukhori no. 477)

 

Bab 3: Kemuliaan Khusus Muadz-dzin

3.1 Muadz-dzin adalah Orang yang Memiliki Leher Paling Panjang di Hari Qiyamah

Di saat manusia tenggelam dalam keringat mereka di hari Qiyamah, para Muadz-dzin mendapatkan keistimewaan fisik yang membedakan mereka dari yang lain sebagai bentuk kemuliaan.

«الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Para Muadz-dzin adalah orang yang paling panjang lehernya di hari Qiyamah.” (HR. Muslim no. 387)

Sebagian ulama seperti Ibnu Al-Arob (543 H) menafsirkan hal ini secara hakiki sebagai tanda pengenal kemuliaan, sedangkan yang lain menafsirkannya sebagai kiasan bahwa mereka adalah orang yang paling banyak mengharapkan rohmat Alloh atau paling cepat melihat pahala mereka.

3.2 Ampunan Alloh bagi Muadz-dzin Sejauh Jangkauan Suaranya

Alloh memberikan ampunan yang sangat luas bagi mereka yang lantang menyuarakan Tauhid di muka bumi.

«الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ مَدَى صَوْتِهِ، وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ»

“Muadz-dzin akan diampuni sejauh jangkauan suaranya, dan setiap benda basah maupun kering akan menjadi saksi baginya.” (HSR. Abu Dawud no. 515)

Luasnya ampunan ini berbanding lurus dengan usaha Muadz-dzin dalam mengeraskan suaranya agar dakwah Sholat sampai ke telinga umat manusia.

3.3 Doa Rosululloh bagi Para Muadz-dzin agar Mendapatkan Ampunan

Betapa beruntungnya seorang Muadz-dzin karena ia mendapatkan doa khusus dari manusia yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad .

«الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ»

“Imam adalah penanggung jawab dan Muadz-dzin adalah pemegang amanah. Ya Alloh, berilah petunjuk kepada para imam dan berilah ampunan kepada para Muadz-dzin.” (HSR. Abu Dawud no. 517)

Amanah yang dipikul Muadz-dzin adalah menjaga waktu Sholat agar umat tidak terlambat atau melakukan Sholat sebelum waktunya. Atas amanah ini, Nabi memohonkan ampunan bagi mereka.

3.4 Jaminan Jannah bagi Muadz-dzin yang Ikhlas

Surga adalah balasan akhir yang pasti bagi hamba Alloh yang melazimkan Adzan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap wajah-Nya.

Dari Ibnu Umar (73 H) bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَذَّنَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَكُتِبَ لَهُ بِتَأْذِينِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ سِتُّونَ حَسَنَةً، وَلِكُلِّ إِقَامَةٍ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً»

“Barangsiapa yang mengumandangkan Adzan selama 12 tahun, maka wajib baginya Jannah, dan dicatat baginya setiap kali Adzan 60 kebaikan dan setiap kali Iqomah 30 kebaikan.” (HSR. Ibnu Majah no. 728)

Keistiqomahan dalam jangka waktu yang lama menunjukkan ketulusan hati yang luar biasa, sehingga Alloh pun memberikan ganjaran yang tak ternilai harganya.

Bab 4: Adab Seorang Muadz-dzin Pilihan

4.1 Mengharap Wajah Alloh

Seorang Muadz-dzin yang mengharap kemuliaan di Akhiroh harus menyandarkan niatnya hanya kepada Alloh . Tidak selayaknya seorang penyeru Sholat menjadikan tugas suci ini sebagai wasilah untuk mencari keuntungan duniawi semata. Namun tidak mengapa mengambil upah jika ia fakir, karena nafkah keluarga wajib dan adzan tidak wajib bagi pribadinya.

Hal ini didasarkan pada wasiat Nabi kepada Utsman bin Abil Ash (51 H):

«اتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا»

“Dan angkatlah seorang Muadz-dzin yang tidak mengambil upah atas Adzannya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 209)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) rohimahullah berkata, “Mengenai upah untuk ibadah dalam hal ini dibedakan antara orang yang butuh upah dan selainnya. Itulah yang lebih tepat. Jika seseorang membutuhkan upah, ia tetap niatkan amalannya itu karena Allah, masih boleh baginya untuk mengambil upah dalam ibadah. Karena nafkah pada keluarga itu wajib dan boleh sesuatu yang wajib dibayarkan dengan upah ini. Sedangkan orang kaya tidaklah butuh pada upah ini karena nantinya ia termasuk orang yang beramal pada selain Alloh.”  (Majmu’ Al-Fatawa, 3/207)

4.2 Memiliki Suara yang Lantang dan Bagus

Suara yang keras dan merdu merupakan sarana agar dakwah melalui Adzan dapat menjangkau telinga sebanyak mungkin manusia dan menggetarkan hati mereka. Ketika Abdullah bin Zaid (32 H) melaporkan mimpinya tentang lafazh Adzan, Rosululloh memerintahkan:

«فَقُمْ مَعَ بِلَالٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ»

“Bangunlah bersama Bilal, sampaikanlah kepadanya apa yang telah engkau lihat (dalam mimpi) agar dia mengumandangkannya, karena sesungguhnya dia memiliki suara yang lebih lantang dan lebih bagus darimu.” (HSR. Abu Dawud no. 499)

Keindahan suara dalam Adzan bukanlah untuk pamer, melainkan untuk mengagungkan syiar Islam. Hal ini juga ditegaskan dalam kisah Abu Mahdzuroh (59 H) yang diajarkan Adzan oleh Nabi karena suaranya yang memukau.

Di zaman sekarang sudah ada pengeras suara, sehingga banyak Muadz-dzin terbantu.

4.3 Menjaga Amanah Waktu Sholat dengan Disiplin

Muadz-dzin disebut sebagai orang yang dipercaya karena umat bergantung kepadanya dalam menentukan waktu Sholat dan waktu berbuka Puasa. Jika Muadz-dzin teledor, maka ia memikul beban kesalahan orang banyak. Nabi bersabda:

«أُمَنَاءُ النَّاسِ عَلَى صَلَاتِهِمْ وَسُحُورِهِمْ الْمُؤَذِّنُونَ»

“Para Muadz-dzin adalah orang-orang yang dipercaya oleh manusia atas Sholat dan sahur mereka.” (HHR. Al-Baihaqi no. 2023. Irwa no. 221)

Oleh karena itu, seorang Muadz-dzin harus memiliki pengetahuan tentang waktu-waktu Sholat dan memiliki sifat disiplin yang tinggi agar tidak menyesatkan jamaah.

Sekarang ada hp dan kalender digital yang membantu Muadz-dzin menentukan waktu Sholat dengan teliti.

4.4 Kesucian Diri dan Menghadap Kiblat saat Adzan

Meskipun Adzan sah dilakukan tanpa wudhu, namun yang paling utama adalah dalam keadaan suci (berwudhu) sebagai bentuk pengagungan terhadap dzikir kepada Alloh . Dari Muhajir bin Qunfudz (Shohabat) bahwasanya Nabi bersabda:

«إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا عَلَى طُهْرٍ»

“Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Alloh kecuali dalam keadaan suci.” (HSR. Abu Dawud no. 17)

Selain itu, merupakan sunnah yang terus berlangsung sejak zaman Rosululloh bahwa Muadz-dzin mengumandangkan Adzan dengan menghadap ke arah Kiblat.

Imam Ibnu Abdil Barr (463 H) menyatakan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa Muadz-dzin menghadap Kiblat saat Adzan.

 

Bab 5: Jejak Perjuangan Muadz-dzin di Masa Salaf

5.1 Bilal bin Robah Sang Muadz-dzin Rosululloh

Bilal bin Robah (20 H) adalah simbol kesetiaan dan keteguhan iman. Beliau adalah Muadz-dzin pertama dalam Islam yang dipilih langsung oleh Nabi . Suaranya yang menggelegar di atas Ka’bah saat penaklukan kota Makkah menjadi tanda kemenangan Tauhid atas kesyirikan. Setelah wafatnya Nabi , Bilal merasa sangat berat untuk mengumandangkan Adzan lagi karena kerinduan yang mendalam.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Bilal diminta untuk Adzan di masa Umar bin Al-Khoththob (23 H) saat penaklukan Baitul Maqdis, semua Shohabat menangis tersedu-sedu teringat masa-masa bersama Rosululloh .

Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh suara Muadz-dzin sholih dalam mengingatkan umat kepada Robb mereka.

5.2 Sang Buta Ibnu Ummi Maktum

Abdullah bin Ummi Maktum (15 H) adalah seorang Shohabat yang buta namun memiliki semangat yang luar biasa dalam menjalankan tugas sebagai Muadz-dzin. Beliau bergantian dengan Bilal dalam mengumandangkan Adzan di Madinah. Nabi bersabda:

«إِنَّ بِلاَلًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ»

“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan Adzan pada malam hari (sebelum Shubuh), maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan Adzan.” (HR. Al-Bukhori no. 617 dan Muslim no. 1092)

Ia buta dan tidak memulai adzan kecuali diberitahu orang: “Sudah masuk Subuh!”

Meskipun memiliki keterbatasan fisik, Ibnu Ummi Maktum tetap teguh menjalankan perannya, bahkan beliau ikut serta dalam Jihad dan gugur sebagai Syahid di perang Qodisiyyah.

5.3 Abu Mahdzuroh Pemilik Suara Merdu

Abu Mahdzuroh (59 H) awalnya adalah seorang pemuda yang meniru suara Adzan dengan maksud mengejek. Namun, ketika Nabi mendengar suaranya yang bagus, beliau justru memanggilnya, mengusap dadanya, dan mendoakan keberkahan baginya. Seketika itu juga hidayah masuk ke dalam hatinya. Nabi bersabda kepadanya:

«اذْهَبْ فَأَذِّنْ عِنْدَ الْبَيْتِ الْحَرَامِ»

“Pergilah dan kumandangkanlah Adzan di Baitul Harom.” (HSR. An-Nasai no. 633)

Abu Mahdzuroh kemudian menjadi Muadz-dzin di Makkah dan keturunannya mewarisi tugas mulia tersebut selama berabad-abad sebagai bentuk penjagaan terhadap amanah Rosululloh .

5.4 Tabi’in yang Melazimkan Adzan

Generasi Tabi’in sangat menghargai kedudukan Muadz-dzin. Said bin Al-Musayyib (94 H), seorang pemimpin para Tabi’in, sangat menjaga kehadirannya di Masjid sebelum Adzan dikumandangkan. Beliau berkata:

«مَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً إِلَّا وَأَنَا فِي الْمَسْجِدِ»

“Tidaklah Muadz-dzin mengumandangkan Adzan sejak 30 tahun yang lalu melainkan aku sudah berada di dalam Masjid.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 3522)

Begitu pula dengan banyak ulama Salaf lainnya yang lebih memilih menjadi Muadz-dzin daripada menjadi pejabat atau penguasa dunia, karena mereka mengetahui hakikat pahala yang tersembunyi di balik kalimat-kalimat Adzan.

 

Bab 6: Istiqomah Menjadi Muadz-dzin Hingga Akhir Hayat

6.1 Keutamaan Menjaga Adzan Selama 7 Tahun Hingga 12 Tahun

Konsistensi dalam ketaatan adalah tanda diterimanya amalan. Bagi mereka yang sabar menjaga Adzan dalam waktu yang lama, Alloh menjanjikan pembebasan dari api Naar.

Dari Ibnu Abbas (68 H) bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَذَّنَ سَبْعَ سِنِينَ مُحْتَسِبًا كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ»

“Barangsiapa yang mengumandangkan Adzan selama 7 tahun dengan mengharap pahala dari Alloh, maka dicatat baginya pembebasan dari api Naar.” (HR. At-Tirmidzi no. 206, lemah)

Angka 7 tahun maupun 12 tahun yang disebutkan dalam berbagai riwayat menunjukkan bahwa kemuliaan ini diraih melalui perjuangan panjang melawan rasa malas dan kebosanan, sehingga hanya orang-orang yang berjiwa besar yang mampu mencapainya.

Adapun Hadits 12 tahun adalah shohih sebagaimana telah disebutkan dalam subbab 3.4.

6.2 Menjaga Sholat Jamaah sebagai Dampak Konsistensi Adzan

Seorang Muadz-dzin adalah orang yang pertama kali datang ke Masjid dan orang yang paling menjaga Sholat jamaah. Dengan mengumandangkan Adzan, ia secara otomatis mendisiplinkan dirinya sendiri untuk selalu berada di barisan terdepan. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ﴾

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh dan mengerjakan kebajikan serta berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim.’” (QS. Fussilat: 33)

Sebagian mufassir seperti Ikrimah (105 H) dan Al-Hasan (110 H) menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para Muadz-dzin. Hal ini karena Muadz-dzin menggabungkan antara ajakan kepada kebaikan dan pengamalan nyata dari ajakan tersebut.

6.3 Meraih Khusnul Khotimah Melalui Pengabdian sebagai Muadz-dzin

Banyak kisah nyata di mana para Muadz-dzin wafat dalam keadaan yang dicita-citakan oleh setiap Muslim, yaitu saat sedang mengagungkan nama Alloh . Seseorang akan dibangkitkan kelak sesuai dengan kebiasaan yang ia lakukan saat di dunia. Nabi bersabda:

«يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ»

“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan keadaan saat ia wafat.” (HR. Muslim no. 2878)

Betapa indahnya jika seseorang wafat saat lisan mereka mengucapkan “Laa ilaha illalloh” di akhir Adzannya, atau wafat saat melangkah menuju Masjid untuk mengumandangkan panggilan Robb-nya. Inilah puncak dari cita-cita “Menjadi Muadz-dzin Sampai Wafat”.

6.4 Peringatan bagi Muadz-dzin agar Terhindar dari Sifat Ujub

Meskipun kedudukan Muadz-dzin sangat tinggi, ia tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain atau sombong karena suaranya yang bagus. Sifat ujub (bangga diri) dapat menghapuskan pahala yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Rosululloh memperingatkan:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim no. 91)

Seorang Muadz-dzin harus tetap tawadhu’ (rendah hati), menyadari bahwa suara bagus dan kesempatan berkhidmat di Masjid adalah murni ni’mat dari Alloh , bukan karena kehebatan dirinya semata.

 

Penutup

Menjadi Muadz-dzin adalah sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan keberkahan. Dari uraian dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits serta atsar para Salaf, kita dapat menyimpulkan bahwa pengabdian ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Alloh . Seorang Muadz-dzin adalah pemegang amanah waktu, pengusir syaithon, dan pemberi syafaat bagi dirinya sendiri melalui persaksian makhluk-makhluk di sekitarnya. Tantangan yang dihadapi, baik itu rasa kantuk di waktu Shubuh, teriknya matahari di waktu Zhuhur, atau kelelahan di waktu Isya, semuanya akan terbayar lunas dengan ampunan seluas jangkauan suara dan tempat yang mulia di Akhiroh kelak.

Semoga buku ini menjadi penyemangat bagi para Muadz-dzin untuk tetap istiqomah dalam tugasnya, menjaga keikhlasan hati, dan tidak melepaskan tugas mulia ini kecuali saat nyawa telah berpisah dari raga. Mari kita jadikan kalimat Tauhid terus berkumandang di muka bumi melalui lisan-lisan yang jujur dan hati yang tunduk kepada Robb semesta alam.

Segala kebenaran datangnya dari Alloh , dan segala kekurangan adalah dari penulis. Akhir doa kami, segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam.[NK]

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url