[PDF] Mengenal Ruh Lebih Dekat - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Kematian sering kali
dipandang sebagai sebuah akhir, namun dalam perspektif yang lebih dalam, ia
sebenarnya adalah awal dari sebuah perjalanan panjang menuju hakikat yang
sesungguhnya. Tema mengenai ruh bukan sekadar bahasan metafisika yang jauh dari
jangkauan, melainkan cermin bagi setiap manusia untuk memahami eksistensi diri
dan masa depan setelah napas berhenti. Memahami bagaimana ruh berpindah dari
satu alam ke alam lain memberikan pandangan baru tentang nilai kehidupan di
dunia, sekaligus menjadi pengingat akan adanya tanggung jawab di fase kehidupan
berikutnya. Salah satu referensi klasik yang paling otoritatif (amanah) dan
komprehensif (lengkap) dalam membedah misteri ini adalah Kitab Ar-Ruh karya
ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah.
Buku ringkasan ini
disusun untuk membawa pembaca menyelami kedalaman pemikiran tersebut melalui
narasi yang mengalir, menyentuh sisi kemanusiaan, dan sistematis. Kerangka buku
ini dirancang sedemikian rupa untuk menelusuri 21 masalah pokok yang sering
menjadi kegelisahan batin manusia mengenai alam barzakh.
Alur pembahasannya
dimulai dengan menyingkap jalinan komunikasi yang masih tersisa antara mereka
yang telah tiada dengan para peziarah di dunia. Pembaca akan diajak memahami
bagaimana mimpi dapat menjadi jembatan pertemuan antara ruh orang yang hidup
dan ruh orang yang sudah meninggal. Narasi kemudian berkembang pada penjelasan
mengenai realitas alam barzakh, termasuk fenomena azab dan ni’mat kubur, yang
dibedah dengan perpaduan antara kekuatan wahyu dan logika yang jernih untuk
menjawab keraguan yang mungkin muncul.
Selanjutnya, buku ini
menyoroti sisi kasih sayang dan kepedulian yang melintasi dimensi, yaitu
bagaimana kontribusi amal kebaikan dari orang yang masih hidup—seperti sedekah,
puasa, dan haji—dapat memberikan manfaat nyata bagi ruh di alam sana. Sebagai
inti dari perjalanan ini, pembaca akan diajak mengenali berbagai lapisan jiwa
manusia, mulai dari jiwa yang tenang hingga jiwa yang cenderung pada keburukan.
Penjelasan mengenai asal-usul ruh dan tipologi jiwa ini berfungsi sebagai
panduan untuk melakukan refleksi diri dan transformasi batin yang lebih baik.
Seluruh rangkaian pembahasan ini diharapkan tidak hanya menjadi sumber
pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbaiki kualitas hidup dan
mempersiapkan pertemuan yang indah dengan Sang Pencipta di akhirat kelak.
Bab 1: Apakah
orang-orang mati mengetahui ziarah dan salam orang-orang hidup atau tidak?
Ibnu Abdil Barr (463 H)
menegaskan adanya ketetapan dari Nabi ﷺ bahwa
seorang Muslim yang melewati kuburan saudaranya yang ia kenal saat di dunia,
kemudian ia mengucapkan salam, maka Alloh ﷻ akan mengembalikan ruh kepada mayit
tersebut agar ia bisa menjawab salamnya.
Hal ini menjadi dalil
yang sangat kuat bahwa ruh memiliki kesadaran dan mengenali siapa yang
mengunjunginya. Penjelasan ini memberikan penghiburan bagi kita bahwa setiap
kata salam dan kunjungan yang kita lakukan sampai kepada mereka dengan penuh
makna.
Bahkan dalam peristiwa
besar setelah perang Badr, Nabi ﷺ berdiri
di hadapan sumur tempat janazah kaum musyrikin dilemparkan dan memanggil mereka
satu per satu. Saat Shohabat Umar bin Khoththob (23 H) merasa heran dan
bertanya bagaimana beliau berbicara kepada jasad yang telah membusuk, Nabi ﷺ menjawab dengan sangat tegas bahwa mereka
mendengar perkataan beliau sama jelasnya dengan para Shohabat yang masih hidup,
hanya saja mereka tidak mampu memberikan jawaban.
Syariat ziarah kubur pun
mengajarkan kita untuk menyapa penghuni kubur layaknya menyapa orang yang hadir
dan berakal. Ucapan:
«السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ»
“Semoga keselamatan
tercurah kepada kalian, wahai penghuni negeri kaum Mu’min.” (HR. Muslim no. 974)
Kalimat ini menunjukkan
bahwa kita sedang berbicara kepada sosok yang mendengar dan memahami. Jika
mayit tidak bisa mendengar atau tidak berakal, tentu sapaan ini akan menjadi
sia-sia seperti berbicara kepada benda mati atau ketiadaan.
Para Salaf telah bersepakat
mengenai hal ini. Berbagai atsar menunjukkan bahwa mayit merasa senang dengan
kunjungan orang yang masih hidup dan merasa terhibur dengan kehadiran mereka.
Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Abi Dunya (281 H) menceritakan
bahwa seorang yang mengunjungi kubur saudaranya dan duduk di dekatnya akan
membuat mayit tersebut merasa senang dan tenang sampai orang itu bangkit
meninggalkan tempat tersebut.
1.1: Dalil dari
amal perbuatan manusia zaman dahulu hingga sekarang
Kesaksian mengenai kedekatan
hubungan ini tidak hanya datang dari dalil nash, tetapi juga dari pengalaman
ruhani yang dialami banyak orang sholih. Dikisahkan bahwa penghuni kubur
mengetahui ziarah yang dilakukan terutama pada hari Jum’at dan waktu-waktu di
sekitarnya karena kemuliaan hari tersebut. Seorang bernama Ashim Al-Jahdari
terlihat dalam mimpi dua tahun setelah wafatnya. Ia menceritakan bahwa ruh-ruh
orang Mu’min berkumpul setiap malam Jum’at dan pagi harinya untuk saling
bertukar kabar tentang keadaan kita yang masih hidup.
Bahkan, terdapat riwayat
yang menyebutkan bahwa amal perbuatan kita yang masih hidup diperlihatkan
kepada kerabat kita yang telah wafat. Jika mereka melihat amal yang baik,
mereka akan merasa gembira dan bersuka cita. Namun jika yang terlihat adalah amal
buruk, mereka akan berdoa kepada Alloh ﷻ agar kita diberikan petunjuk untuk kembali
ke jalan yang benar. Hal ini menumbuhkan kesadaran dalam diri kita bahwa
perilaku kita di dunia ini memberikan dampak emosional bagi orang tua atau
kerabat yang telah tiada.
Selain salam dan ziarah,
mayit juga mendapatkan manfaat dari doa dan bacaan Al-Qur’an. Sebagian besar
kaum Anshor memiliki kebiasaan mendatangi kuburan kerabat mereka untuk
membacakan ayat-ayat suci sebagai hadiah pahala. Imam Ahmad bin Hanbal (241 H)
yang awalnya mengingkari praktik membaca Al-Qur’an di sisi kubur sebagai bid’ah,
akhirnya mencabut pendapatnya setelah mendengar riwayat dari Abdullah bin Umar
(73 H) yang mewasiatkan agar dibacakan awal dan akhir surat Al-Baqoroh di sisi
kepalanya saat pemakaman.
Pelajaran penting dari
bab ini adalah bahwa hubungan kasih sayang tidak terputus oleh maut. Penghuni
kubur tetap memiliki rasa, kesadaran, dan kerinduan sebagaimana manusia yang
masih hidup, namun dalam bentuk yang berbeda sesuai aturan alam Barzakh.
Bab 2: Apakah
ruh-ruh orang mati saling bertemu, saling berziarah, dan saling berbincang atau
tidak?
Ibnu Qoyyim menjelaskan
bahwa ruh itu terbagi menjadi dua kelompok besar.
Pertama, ruh-ruh yang sedang diadzab. Mereka terjebak
dalam penderitaan dan kesengsaraan yang luar biasa sehingga tidak memiliki
kesempatan untuk saling mengunjungi atau berbincang. Kesibukan mereka hanyalah
menanggung pedihnya hukuman.
Kedua adalah ruh-ruh yang mendapatkan ni’mat. Mereka
adalah ruh-ruh yang bebas, tidak tertahan, dan saling bertemu serta mengenang
apa yang pernah mereka alami di dunia dahulu. Mereka berkumpul bersama
teman-teman yang selevel dalam amal perbuatannya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَن
يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم
مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا﴾
“Dan barangsiapa
menaati Alloh dan Rosul-Nya, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang
dianugerahi ni’mat oleh Alloh, yaitu: para Nabi, para Shiddiqin (orang-orang
yang sangat benar dalam keimanannya), para Syuhada (orang-orang yang mati
syahid), dan orang-orang Sholih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)
Kebersamaan ini berlaku
di dunia, di alam Barzakh, maupun di hari pembalasan kelak. Seseorang akan
dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai. Riwayat menyebutkan bahwa ketika
nyawa seorang Mu’min dicabut, ia akan disambut oleh para Malaikat pembawa rohmat
dan ruh-ruh kaum Mu’min lainnya dengan penuh kegembiraan, melebihi kegembiraan
keluarga di dunia saat menyambut anggota keluarga yang lama pergi merantau.
Mereka akan saling bertanya, “Bagaimana kabar si fulan? Apa yang dilakukan
si fulana? Apakah ia sudah menikah?” Jika dijawab bahwa orang tersebut
sudah meninggal sebelumnya namun belum sampai kepada mereka (yakni tidak
berjumpa mereka), maka mereka akan berucap pilu, “Inna lillahi wa inna
ilaihi roji’un, ternyata ia telah dibawa ke tempat kembalinya yang buruk
(Naar).”
Bab 3: Apakah
ruh-ruh orang hidup dan ruh-ruh orang mati saling bertemu atau tidak?
Fenomena ini adalah
kenyataan yang tak terbantahkan, terutama melalui media mimpi. Pertemuan antara
ruh orang yang tidur dengan ruh mereka yang sudah wafat adalah bukti kekuasaan
Alloh ﷻ. Dasar
dari masalah ini adalah firman-Nya:
﴿اللَّهُ
يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ
وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Alloh mencabut nyawa
manusia ketika datang waktu kematiannya, dan mencabut nyawa orang yang belum
mati ketika ia tidur. Maka Dia menahan nyawa orang yang telah Dia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain (yang sedang tidur) sampai waktu
yang telah ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42)
Ibnu Abbas (68 H)
menjelaskan bahwa ruh orang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi.
Mereka saling bertanya satu sama lain. Kemudian Alloh ﷻ menahan ruh orang mati dan mengembalikan
ruh orang yang sedang tidur ke jasadnya. Inilah mengapa dalam mimpi kita
seringkali mendapatkan informasi-informasi akurat dari mereka yang telah wafat,
seperti letak harta yang dikubur, utang yang belum terbayar, atau peringatan
akan peristiwa yang akan terjadi.
Kisah-kisah nyata tentang
ini sangat banyak. Seperti Sa’b bin Jatsamah (18 H) yang bertemu dalam
mimpi dengan Auf bin Malik (73 H) dan mengabarkan tentang utang sepuluh
dinar yang ia simpan di dalam tanduk hewan di rumahnya. Ketika Auf mengeceknya,
ia menemukan uang tersebut persis seperti yang disebutkan dalam mimpi.
Begitu pula wasiat Tsabit
bin Qoys bin Syammas (12 H) yang syahid dalam perang Yamamah. Beliau
mendatangi seseorang dalam mimpi untuk memberikan instruksi tentang baju
besinya yang diambil oleh seorang prajurit. Wasiat ini dijalankan oleh Kholid
bin Walid (21 H) dan disahkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H), menjadikannya
satu-satunya wasiat yang dijalankan setelah kematian sang pemberi wasiat
berdasarkan mimpi.
Bab 4: Apakah
ruh itu mati atau kematian itu hanya untuk badan saja?
Terdapat diskusi panjang
mengenai apakah ruh mengalami kematian sebagaimana badan. Sebagian berpendapat
bahwa ruh itu mati karena setiap yang bernyawa pasti merasakan mati. Namun,
mayoritas ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kematian
bagi ruh adalah perpisahannya dengan badan. Ruh itu sendiri tetap ada
dan terjaga kesadarannya untuk menerima ni’mat atau siksaan.
Jika ruh ikut hancur dan
menjadi tiada, tentu kabar mengenai adanya ni’mat dan siksa kubur menjadi tidak
relevan. Alloh ﷻ
berfirman mengenai para Syuhada:
﴿وَلَا
تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ﴾
“Dan janganlah kamu
mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati; bahkan mereka itu
hidup di sisi Robb mereka dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imron: 169)
Ayat ini secara shorih
(tegas) menyatakan kehidupan mereka di alam Barzakh meskipun jasad mereka telah
berpisah dengan nyawa. Mengenai peristiwa tiupan sangkakala (nafkhush shur),
terdapat pengecualian bagi sebagian makhluk agar tidak ikut pingsan atau mati,
di antaranya adalah para Malaikat utama (Jibril, Mikail, Isrofil, dan Malaikat
Maut), para Syuhada, serta penghuni Jannah (Huurul ‘Iin dan para pelayan Jannah).
Bab 5: Dengan
apa ruh dikenali setelah berpisah dari badan?
Bagaimana ruh-ruh itu
bisa saling mengenali jika mereka sudah tidak memiliki raga? Ibnu Qoyyim
menjelaskan bahwa ruh bukanlah sesuatu yang abstrak tanpa bentuk. Ruh adalah
entitas yang tegak sendiri, ia bisa naik, turun, bersambung, berpisah, keluar,
pergi, dan diam. Ruh memiliki bentuk dan rupa yang menyerupai jasadnya saat
di dunia, namun dalam kualitas yang lebih halus.
Bahkan, karakter
seseorang di dunia sangat dipengaruhi oleh ruhnya. Ruh yang baik akan
memberikan pancaran kebaikan pada jasad, dan ruh yang buruk akan memberikan
kesan yang buruk pula. Para ahli firasat seringkali bisa mengenali sifat jiwa
seseorang hanya dengan melihat bentuk fisiknya karena adanya keterikatan yang
sangat kuat antara ruh dan badan.
Setelah berpisah dari
badan, ruh Mu’min akan membawa aroma yang sangat wangi seperti misk terbaik di
bumi, sedangkan ruh kafir akan membawa bau busuk yang paling menyengat. Hal ini
menjadi identitas yang sangat jelas bagi para Malaikat saat ruh tersebut dibawa
naik ke langit. Perbedaan antara satu ruh dengan ruh lainnya setelah mati jauh
lebih nyata dan jelas dibandingkan perbedaan fisik saat mereka masih di dunia.
Bab 6: Apakah
ruh dikembalikan kepada mayit di kuburnya pada saat pertanyaan atau tidak?
Nabi ﷺ telah memberikan penjelasan yang sangat
detil melalui Hadits Al-Baro’ bin ‘Azib (71 H). Beliau ﷺ menceritakan bahwa setelah ruh seorang Mu’min
dibawa naik ke hadapan Alloh ﷻ dan diperintahkan untuk dicatat di Illiyyin, Alloh ﷻ berfirman: “Kembalikanlah hamba-Ku ke
bumi, karena darinya Aku menciptakan mereka, ke dalamnya Aku mengembalikan
mereka, dan darinya pula Aku mengeluarkan mereka sekali lagi.”
Maka ruh tersebut dikembalikan
ke dalam jasadnya di dalam kubur. Saat itulah dua Malaikat yang dikenal sebagai
Munkar dan Nakir datang. Mereka mendudukkan mayit tersebut dan bertanya: “Siapa
Robb-mu? Apa agamamu? Siapa laki-laki yang diutus di tengah kalian ini?”
Orang Mu’min akan menjawab dengan kokoh: “Robb-ku adalah Alloh, agamaku adalah
Islam, dan laki-laki itu adalah Muhammad Rosululloh ﷺ.”
Sebaliknya, bagi orang
kafir, ruhnya dilemparkan kembali ke jasadnya dengan penuh kehinaan. Ketika
ditanya, ia hanya bisa bergumam ketakutan, “Hah, hah, aku tidak tahu.”
Akibatnya, dibukakan baginya pintu menuju Naar yang hawa panasnya sampai ke
kuburnya, dan kuburnya menyempit hingga tulang-tulang rusuknya saling
bersilangan.
Keterikatan ruh dengan
jasad di alam Barzakh ini adalah tingkatan keterikatan yang unik. Tidak seperti
saat janin dalam kandungan, tidak pula seperti saat terjaga di dunia, atau saat
tidur. Ini adalah keterikatan khusus untuk merasakan proses ujian di
kubur dan menerima ni’mat atau adzab Barzakh.
Kebenaran adzab kubur ini
telah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berbagai Hadits
telah mencapai tingkatan mutawatir yang tidak mungkin diingkari kecuali oleh
orang yang sesat atau menyesatkan. Nabi ﷺ bahkan
seringkali mendengar suara adzab tersebut, dan beliau ﷺ memerintahkan umatnya untuk selalu
berlindung dari adzab kubur dalam setiap Sholat mereka setelah tasyahud akhir.
Bab 7: Jawaban
bagi kaum Mulhid dan Zindiq yang mengingkari adzab kubur
Terdapat golongan manusia
yang mengingkari adanya adzab kubur dengan alasan bahwa jika mereka menggali
kuburan, mereka tidak melihat api yang berkobar atau penyempitan liang lahat.
Ibnu Qoyyim memberikan jawaban yang sangat mendalam untuk mendudukkan pemahaman
yang benar lewat 8 argumen berikut.
7.1: Rosul ﷺ tidak mengabarkan hal yang mustahil secara
akal
Kita harus memahami
prinsip dasar dalam menerima berita dari para Nabi.
“Para Rosul ﷺ tidak mengabarkan apa yang dianggap
mustahil oleh akal, justru mereka mengabarkan apa yang membuat akal menjadi
bingung.”
Akal manusia memiliki
keterbatasan. Sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra bukan berarti
hal tersebut tidak ada. Adzab kubur adalah perkara ghoib yang tidak bisa diukur
dengan standar fisika duniawi.
7.2: Memahami
maksud Rosul ﷺ tanpa
sikap melampaui batas
Banyak penyimpangan
terjadi karena salah dalam memahami maksud ucapan Nabi ﷺ. Sebagian orang terlalu berlebihan dalam
menafsirkan (ghuluw) atau justru meremehkan. Kita wajib mengimani apa
yang beliau sampaikan sesuai dengan hakikat yang dimaksudkan oleh beliau tanpa
memaksakannya harus serupa dengan hukum-hukum di dunia ini.
7.3: Alloh ﷻ
menjadikan perkara Akhiroh bersifat ghoib
Alloh ﷻ dengan hikmah-Nya menutup pandangan
manusia dari melihat adzab kubur. Jika setiap manusia bisa melihat api di dalam
kubur atau mendengar jeritan mereka yang disiksa, maka tidak akan ada lagi
ujian keimanan. Keimanan kepada yang ghoib adalah pembeda utama antara kaum Mu’min
dan kafir. Alloh ﷻ
berfirman dalam Tafsir Muyassar:
﴿الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ﴾
“Yaitu mereka yang
beriman kepada yang ghoib.” (QS.
Al-Baqoroh: 3)
7.4: Api dan
hijaunya kubur bukan berasal dari api dunia
Api yang membakar pelaku
dosa di kuburnya atau taman hijau yang menjadi ni’mat bagi kaum Mu’min bukanlah
materi yang bisa diraba dengan tangan atau dideteksi dengan alat dunia. Itu
adalah api dan keni’matan dari alam Barzakh. Dua orang bisa saja dikuburkan di
satu lubang yang sama, namun yang satu berada di taman Jannah sementara yang
lain berada di lubang Naar, tanpa yang satu merasakan apa yang dialami yang
lainnya.
7.5: Alloh ﷻ
menciptakan hal yang lebih menakjubkan di dunia ini
Ibnu Qoyyim mengajak kita
merenungi bagaimana Alloh ﷻ menciptakan ruh yang tidak terlihat namun bisa menggerakkan
jasad. Jika kita saja tidak mampu melihat ruh dalam diri kita sendiri,
bagaimana mungkin kita berani mengingkari adzab kubur hanya karena mata kita
tidak melihatnya? Penciptaan langit, bumi, dan segala isinya jauh lebih besar
dan menakjubkan daripada sekadar mengadzab seseorang di dalam kuburnya.
7.6: Tidak
mustahil ruh dikembalikan kepada orang yang disalib atau tenggelam
Kaum skeptis bertanya, “Bagaimana
dengan orang yang dimakan binatang buas atau tenggelam di laut sehingga
jasadnya hancur?” Jawabannya adalah Alloh ﷻ Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sebagaimana Dia menciptakan manusia dari ketiadaan, Dia mampu mengembalikan
kesadaran pada bagian-bagian tubuh yang tersisa, bahkan pada partikel terkecil
sekalipun, agar ia bisa merasakan siksa atau ni’mat. Penyaliban atau
tenggelamnya seseorang tidak menghalangi datangnya adzab Barzakh kepadanya.
7.7: Adzab dan ni’mat
kubur adalah sebutan bagi adzab dan ni’mat Barzakh
Penting untuk dipahami
bahwa istilah “adzab kubur” digunakan karena umumnya manusia dikuburkan
di dalam tanah. Namun secara hakiki, itu adalah adzab alam Barzakh. Siapa pun
yang meninggal, baik ia dikubur, dibakar, atau hilang di lautan, ia akan tetap
mendapatkan bagiannya dari adzab atau ni’mat tersebut sesuai dengan amal
perbuatannya.
7.8: Kematian
adalah tempat kembali dan kebangkitan pertama
Kematian bukanlah akhir,
melainkan awal dari perjalanan panjang menuju Akhiroh. Ibnu Qoyyim menyebutnya
sebagai Qiyamat kecil. Seseorang yang meninggal telah tegak Qiyamatnya sendiri.
Ia mulai melihat hakikat yang selama ini tertutup oleh tirai kehidupan dunia.
Bab 8: Hikmah
mengapa adzab kubur tidak disebutkan secara shorih (tegas) dalam Al-Qur’an
Meskipun istilah “adzab
kubur” tidak muncul dalam satu kata yang eksplisit, namun Al-Qur’an
memberikan isyarat yang sangat kuat. Misalnya tentang Fir’aun dan pengikutnya:
﴿النَّارُ
يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ
فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ﴾
“Kepada mereka
ditampakkan api pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Qiyamat
(dikatakan), ‘Masukkanlah pengikut-pengikut Fir’aun ke dalam adzab yang sangat
keras.’” (QS. Ghafir: 46)
Penampakan api pada pagi
dan petang itu terjadi di alam Barzakh sebelum Qiyamat besar tegak. Hikmah
mengapa tidak dirinci secara detil di Al-Qur’an adalah karena fungsi Sunnah
adalah sebagai penjelas bagi Al-Qur’an. Apa yang telah ditetapkan oleh Rosul ﷺ sama kedudukannya dengan apa yang ada di
dalam Kitabulloh dalam hal kewajiban untuk mengimaninya.
Bab 9:
Sebab-sebab yang mengakibatkan penghuni kubur diadzab
Secara garis besar, adzab
kubur disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap Alloh ﷻ, meremehkan perintah-Nya, dan menerjang
larangan-Nya. Namun secara khusus, Nabi ﷺ
menyebutkan beberapa perilaku yang sering dianggap sepele namun berakibat
fatal:
1. Namimah (adu domba).
2. Tidak menjaga
kebersihan dari percikan kencing (istibro’).
3. Ghulul (mengambil
harta rampasan perang secara sembunyi-sembunyi).
4. Berdusta hingga
beritanya tersebar ke penjuru dunia.
5. Memakan riba.
6. Berzina.
7. Melalaikan Sholat dan enggan
mengamalkan Al-Qur’an setelah mempelajarinya.
Hati yang penuh dengan
kotoran dunia dan jauh dari dzikir kepada Alloh ﷻ akan menjadi tempat yang sangat sempit di
dalam kubur.
Bab 10:
Sebab-sebab penyelamat dari adzab kubur
Penyelamat yang paling utama
adalah dengan selalu bermuhasabah (mengevaluasi diri) setiap malam sebelum
tidur. Seseorang hendaknya memperbarui taubatnya dan tidur dalam keadaan suci.
Selain itu, terdapat amalan khusus yang disebutkan dalam Hadits:
1. Membaca Surat Al-Mulk
setiap malam.
2. Meninggal dalam
keadaan ribath (menjaga perbatasan wilayah Muslim) di jalan Alloh ﷻ.
3. Meninggal karena sakit
perut.
4. Menjadi Syahid di
medan Jihad.
Namun intinya adalah
menjauhi segala hal yang mengundang kemurkaan Alloh ﷻ dan selalu memohon perlindungan
kepada-Nya.
Bab 11:
Pertanyaan di dalam kubur
Setelah pemakaman selesai
dan para pengantar pulang, datanglah dua Malaikat yang sangat mengerikan rupa
dan suaranya. Mereka akan bertanya tentang tiga landasan utama: Robb, agama,
dan Nabi. Inilah saat di mana lisan tidak bisa lagi bersandiwara. Hanya
keimanan yang menghujam di hati yang akan menuntun lisan untuk menjawab dengan
benar. Alloh ﷻ akan
meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di
Akhiroh.
Bab 12: Apakah
pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir khusus untuk umat ini atau tidak?
Ibnu Qoyyim menyebutkan
adanya perselisihan di kalangan ulama. Sebagian berpendapat ini khusus untuk
umat Nabi Muhammad ﷺ karena
beban syariat dan ujian yang mereka hadapi lebih berat namun juga lebih mulia.
Namun pendapat lain menyatakan bahwa ujian kubur berlaku bagi seluruh umat
sejak dahulu karena fitnah (ujian) keimanan adalah sunnatulloh bagi seluruh
hamba-Nya. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa pertanyaan ini bersifat umum
bagi semua umat.
Bab 13: Apakah
anak-anak diuji di dalam kubur mereka?
Para ulama berbeda
pendapat dalam hal ini. Golongan yang berpendapat mereka diuji beralasan bahwa
dalam Sholat janazah untuk anak-anak, disyariatkan berdoa memohon perlindungan
bagi mereka dari adzab kubur. Namun golongan lain berpendapat mereka tidak
diuji karena belum mencapai usia taklif (beban syariat) sehingga tidak
ditanya tentang amal perbuatan mereka. Ibnu Qoyyim merinci hujah kedua belah
pihak dengan sangat adil, menunjukkan kedalaman ilmu beliau dalam masalah ini.
Bab 14: Apakah
adzab kubur itu selamanya atau terputus?
Adzab kubur terbagi dua.
Pertama, adzab yang terus-menerus hingga hari Qiyamat
bagi orang-orang kafir dan sebagian pelaku dosa besar yang sangat berat
dosanya.
Kedua, adzab yang terputus bagi sebagian kaum Mu’min
yang bermaksiat. Mereka diadzab sesuai dengan kadar dosa mereka, kemudian
setelah bersih, adzab tersebut dihentikan. Selain itu, doa dari orang hidup,
Shodaqoh, atau syafaat bisa menjadi sebab diringankan atau dihentikannya adzab
tersebut bagi mereka.
Bab 15: Di mana
tempat menetapnya ruh-ruh di alam Barzakh hingga hari Qiyamat?
Ini adalah salah satu bab
terpanjang yang merinci berbagai pendapat mengenai domisili ruh. Ibnu Qoyyim
menegaskan bahwa kedudukan ruh itu bertingkat-tingkat sesuai kemuliaannya.
15.1 - 15.3:
Perbedaan keadaan ruh
Ada ruh yang berada di
tempat tertinggi (Illiyyin) yaitu ruh para Nabi. Ada ruh yang berada di dalam
tembolok burung hijau yang terbang bebas di Jannah, yaitu ruh para Syuhada.
Namun ada pula ruh Syahid yang tertahan di pintu Jannah karena ia masih
memiliki utang yang belum terlunasi di dunia. Hal ini menunjukkan betapa
seriusnya urusan hak sesama manusia.
15.4 - 15.10:
Lokasi-lokasi spesifik
Ruh kaum Mu’min secara
umum berada di pintu Jannah, di mana mereka mendapatkan hembusan wangi dan ni’matnya.
Ada pendapat yang menyatakan ruh Mu’min berkumpul di sumur Zamzam dan ruh kafir
di sumur Barhut di Yaman. Namun Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa ruh memiliki
sifat yang berbeda dengan materi fisik; ia bisa berada di suatu tempat namun
tetap memiliki koneksi dengan kuburnya.
15.11 - 15.13:
Bantahan terhadap pendapat menyimpang
Beliau membantah keras pendapat
Ibnu Hazm (456 H) yang menyatakan ruh kembali ke tempat asalnya sebelum
diciptakan, atau pendapat kaum filosof yang menganggap ruh sebagai ketiadaan,
apalagi pendapat batil tentang reinkarnasi (tanasukhul arwah) yaitu
perpindahan ruh ke jasad lain. Semua ini bertentangan dengan dalil nash yang
shohih.
Kesimpulan dari bab-bab
ini memberikan gambaran bahwa kehidupan setelah mati adalah realitas yang penuh
dengan keadilan Alloh ﷻ. Ruh
manusia tetap eksis, merasakan, dan berinteraksi dalam koridor alam yang
berbeda. Hal ini mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam bertindak di
dunia, karena setiap langkah kita hari ini menentukan kenyamanan hunian kita di
alam Barzakh kelak.
Bab 16: Apakah
ruh orang mati dapat mengambil manfaat dari amal orang yang masih hidup?
Masalah ini adalah salah
satu yang paling luas pembahasannya karena berkaitan langsung dengan praktik
keseharian umat Islam. Beliau menegaskan bahwa seorang mayit dapat mengambil
manfaat dari amal orang lain dalam 2 cara: pertama, dari apa yang ia
usahakan sendiri saat hidup, dan kedua, dari doa, permohonan ampunan,
serta pemberian hadiah pahala dari kaum Muslimin lainnya.
16.1: Dalil dari
Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’.
Landasan utama dari
masalah ini adalah rohmat Alloh ﷻ yang sangat luas. Alloh ﷻ memerintahkan kita untuk mendoakan sesama
Muslim, baik yang hidup maupun yang mati. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ
سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ﴾
“Dan orang-orang yang
datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, ‘Wahai Robb kami,
ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan
membawa keimanan.’” (QS.
Al-Hasyr: 10)
Doa ini adalah bentuk
nyata dari manfaat yang diterima oleh mereka yang telah tiada. Jika doa
tersebut tidak bermanfaat, tentu Alloh ﷻ tidak akan memuji orang-orang yang
mengucapkannya. Demikian pula Sholat janazah, yang intinya adalah permohonan
syafaat dan ampunan bagi si mayit.
16.2: Sampainya
pahala Shodaqoh
Mengenai Shodaqoh, para
ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa pahalanya sampai kepada mayit. Hal ini
didasarkan pada riwayat dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H) bahwa ada
seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ: “Ibuku
meninggal dunia secara mendadak dan ia tidak sempat berwasiat. Aku mengira jika
ia bisa bicara, ia akan bershodaqoh. Apakah ia akan mendapat pahala jika aku
bershodaqoh atas namanya?” Beliau ﷺ
menjawab:
«نَعَمْ»
“Ya.” (HR. Al-Bukhori no. 1388 dan Muslim no. 1004)
16.3: Sampainya
pahala Puasa
Dalam masalah Puasa,
terdapat dalil yang sangat kuat dari sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Aisyah rodhiyallahu
‘anha (58 H):
«مَنْ
مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ»
“Barangsiapa meninggal
dunia dan ia masih memiliki hutang Puasa, maka walinya (kerabatnya) berpuasa
untuknya.” (HR. Al-Bukhori no.
1952 dan Muslim no. 1147)
Ibnu Qoyyim menjelaskan
bahwa ini mencakup Puasa nadzar maupun Puasa fardhu yang terlewat karena udzur
namun belum sempat diqodho’. Hal ini merupakan bentuk kasih sayang antar sesama
anggota keluarga yang tidak terputus oleh maut.
16.4: Sampainya
pahala Haji
Demikian pula dengan
ibadah Haji. Seorang wanita dari suku Juhainah bertanya kepada Rosul ﷺ tentang ibunya yang bernadzar Haji namun
meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau ﷺ
memerintahkan wanita itu untuk menghajikan ibunya, seraya memberikan
perumpamaan: “Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki hutang, bukankah
engkau akan melunasinya? Tunaikanlah hak Alloh, karena hak Alloh lebih berhak
untuk dilunasi.” (HR. Al-Bukhori no. 1852)
16.5: Penjelasan
ayat “manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”
Ibnu Qoyyim memberikan
penjelasan cerdas atas ayat yang sering disalahpahami:
﴿وَأَن
لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى﴾
“Dan bahwasanya
manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Beliau menjelaskan bahwa
ayat ini bermaksud menyatakan bahwa seseorang tidak memiliki hak milik atas
usaha orang lain secara otomatis. Namun, hal itu tidak menghalangi orang
lain untuk memberikan hadiah pahala kepadanya. Ibarat seseorang yang tidak
memiliki uang kecuali dari hasil kerjanya sendiri, namun ia tetap boleh
menerima pemberian atau hibah dari orang lain. Selain itu, jalinan persaudaraan
Islam dan kecintaan kepada sesama Muslim adalah bagian dari “usaha”
orang tersebut saat hidup sehingga ia layak mendapatkan kiriman doa dan pahala.
16.6 - 16.15:
Jawaban atas berbagai argumen logika
Beliau membedah satu per
satu keberatan yang diajukan oleh mereka yang menolak sampainya pahala.
Misalnya, anggapan bahwa ibadah adalah ujian personal yang tidak bisa
diwakilkan. Ibnu Qoyyim menjawab bahwa memang benar tanggung jawab asal adalah
personal, namun syariat memberikan kemurahan (rukhshoh) dalam bentuk
bantuan dari sesama Muslim sebagai bentuk solidaritas umat (al-jasad
al-wahid).
Beliau juga membantah
anggapan bahwa jika pahala amal sampai, maka taubat dan masuk Islamnya orang
lain pun seharusnya sampai. Beliau menjelaskan perbedaan mendasar: iman dan taubat
adalah syarat sahnya status seseorang sebagai hamba Alloh ﷻ yang tidak bisa dialihkan, sedangkan
pahala amal adalah buah dari keimanan yang bisa dihadiahkan sebagai bentuk
bantuan.
16.16 - 16.20:
Diskusi mendalam mengenai Puasa dan pendapat para imam
Ibnu Qoyyim merinci
pandangan Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) yang sangat kuat memegang hadits
tentang Puasa untuk mayit. Meskipun ada pendapat dari Imam Malik bin Anas (179
H) dan Imam Asy-Syafi’i (204 H) yang cenderung menyatakan bahwa ibadah badan
(seperti Sholat dan Puasa) tidak bisa dihadiahkan, namun Ibnu Qoyyim
menunjukkan bahwa dalam madzhab mereka pun terdapat riwayat-riwayat yang
membolehkan, terutama jika ada dalil shohih yang melandasinya.
16.22: Apakah
syarat sampainya pahala harus diucapkan?
Beliau menjelaskan bahwa
niat di dalam hati sudah cukup bagi Alloh ﷻ yang Maha Mengetahui. Namun,
mengucapkannya dengan lisan seperti “Yaa Robb, sampaikanlah pahala amal ini
kepada si fulan” adalah hal yang baik untuk memantapkan niat.
Bab 17: Apakah
ruh itu sesuatu yang baru diciptakan atau qodim (terdahulu tanpa awal)?
Ini adalah masalah akidah
yang sangat fundamental. Terdapat kelompok yang tersesat dengan menganggap ruh
adalah bagian dari dzat Alloh ﷻ atau sesuatu yang tidak diciptakan. Ibnu Qoyyim dengan tegas
menyatakan bahwa ruh adalah makhluk yang diciptakan.
17.1: Dalil-dalil
penciptaan ruh.
Alloh ﷻ adalah pencipta segala sesuatu tanpa
terkecuali. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿اللَّهُ
خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ﴾
“Alloh adalah pencipta
segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar:
62)
Ruh termasuk dalam “segala
sesuatu” tersebut. Jika ruh bersifat qodim, maka ia akan setara dengan
Alloh ﷻ, dan
ini adalah kesyirikan yang nyata. Selain itu, ruh bersifat berubah-ubah; ia
bisa merasakan sakit, sedih, gembira, dan adzab. Sifat berubah-ubah ini adalah
ciri khas makhluk, bukan Sang Pencipta.
17.3: Penjelasan
penyandaran ruh kepada Alloh ﷻ
Mengenai firman Alloh ﷻ “dan Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku”, penyandaran (idhofah) ruh kepada Alloh ﷻ di sini adalah idhofatun tasyriif (penyandaran
untuk pemuliaan), seperti penyebaran “Baitulloh” (Rumah Alloh) atau “Naqotulloh”
(Unta Alloh). Ini bukan berarti ruh adalah bagian dari dzat Alloh ﷻ.
Bab 18: Mana
yang diciptakan lebih dahulu, ruh atau badan?
Terjadi diskusi di
kalangan ulama Salaf mengenai urutan penciptaan ini. Sebagian besar ulama
berpendapat bahwa ruh diciptakan jauh sebelum jasad.
18.2: Peristiwa
pengambilan sumpah di alam ruh
Dalil utamanya adalah
firman Alloh ﷻ dalam
Tafsir Muyassar:
﴿وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ
أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ﴾
“Dan (ingatlah) ketika
Robb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh
mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini
Robb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Robb kami).’” (QS. Al-A’rof: 172)
Peristiwa ini menunjukkan
bahwa ruh sudah ada dan memiliki kesadaran sebelum mereka ditiupkan ke dalam
jasad di dunia. Meskipun demikian, Ibnu Qoyyim juga menukil pendapat yang
menyatakan bahwa ruh diciptakan bersamaan dengan pembentukan jasad di dalam
rahim, namun pendapat pertama lebih kuat didukung oleh atsar para Shohabat.
Bab 19: Hakikat
ruh, apakah ia bersifat materi (jisim) atau عرض (sifat)?
Ini adalah pembahasan
yang sangat teknis namun penting untuk membantah kaum filosof yang menganggap
ruh hanyalah energi atau sifat yang tidak memiliki wujud nyata. Ibnu Qoyyim
menegaskan bahwa ruh adalah jismun nuuroniyyun ‘ulwiyyun (jisim yang
bercahaya dan bersifat tinggi).
Ruh memiliki wujud yang
sangat halus, ia bergerak di dalam anggota tubuh seperti mengalirnya air di
dalam bunga mawar atau mengalirnya minyak di dalam buah zaitun. Ruh tidak
hancur dengan hancurnya badan.
19.1 - 19.7:
Dalil dari sifat-sifat ruh dalam Hadits.
Nabi ﷺ menggambarkan ruh dengan sifat-sifat
materi: ia bisa digenggam oleh Malaikat, keluar dari jasad, memiliki aroma
(wangi atau busuk), dibawa naik ke langit, dan dikembalikan ke bumi. Semua
sifat ini (naik, turun, keluar, masuk, berbau) hanya dimiliki oleh sesuatu yang
memiliki hakikat wujud (jisim), bukan sekadar sifat yang menempel.
19.11 - 19.30:
Jawaban terhadap 22 keraguan kaum filosof
Beliau membedah argumen
akal yang rumit. Misalnya, kaum filosof berkata: “Jika ruh adalah materi,
maka ia butuh tempat, dan jika ia butuh tempat, ia harus terbagi-bagi.”
Ibnu Qoyyim menjawab bahwa ruh adalah materi dengan kualitas yang berbeda dari
materi dunia. Ia bisa menempati jasad tanpa harus terhimpit, sebagaimana cahaya
matahari menempati ruangan tanpa memenuhi ruang tersebut secara fisik yang
kasar.
Beliau juga menjelaskan
bahwa kekuatan akal, memori, dan perasaan adalah fungsi dari ruh yang
menggunakan jasad sebagai alatnya. Ketika jasad rusak, bukan berarti ruhnya
yang rusak, melainkan alat untuk mengekspresikannya yang terganggu. Ibarat
seorang penunggang kuda yang mahir, jika kudanya sakit, ia tidak bisa berlari
cepat, namun kemahiran sang penunggang tetap ada pada dirinya.
Bab 20: Apakah
Nafs (jiwa) dan Ruh itu satu hal yang sama atau dua hal yang berbeda?
Ibnu Qoyyim menjelaskan
bahwa secara esensi keduanya adalah satu, namun dibedakan berdasarkan
sifat dan fungsinya. Ketika ia berada di dalam jasad dan menjalankan
fungsi-fungsi biologis serta nafsu, ia sering disebut Nafs. Namun ketika ia
dipandang sebagai entitas yang halus, suci, dan berhubungan dengan alam langit,
ia disebut Ruh.
Para ulama seperti Abu
Muhammad bin Hazm (456 H) menyatakan bahwa keduanya adalah sinonim. Namun
kelompok lain membedakannya dengan sangat rinci. Ibnu Qoyyim mengambil jalan
tengah: secara substansi mereka adalah satu entitas, namun penamaannya
bergantung pada sisi mana kita memandangnya.
Bab 21: Apakah
Nafs itu satu atau tiga?
Ini adalah pembahasan
yang sangat menyentuh sisi psikologi Islami. Seringkali kita mendengar tentang
Nafs Mutmainnah, Lawwamah, dan Ammaroh. Beliau menjelaskan bahwa ini bukanlah
tiga jiwa yang berbeda dalam satu raga, melainkan tiga sifat atau keadaan yang
berganti-ganti pada satu jiwa yang sama.
21.5 - 21.7:
Mengenai tiga jenis sifat Nafs
1. Nafs Mutmainnah: Jiwa yang telah tenang dengan ketaatan kepada
Alloh ﷻ, ridho
dengan takdir-Nya, dan merasa tentram dengan dzikir kepada-Nya. Ia telah keluar
dari kegoncangan keraguan menuju cahaya keyakinan.
2. Nafs Lawwamah: Jiwa yang selalu mencela. Ulama Salaf
menjelaskan ada dua jenis celaan: celaan yang terpuji (mencela diri sendiri
karena kurang dalam beramal) dan celaan yang tercela (jiwa yang tidak stabil,
sebentar taat sebentar maksiat). Alloh ﷻ bersumpah dengan jiwa ini dalam Al-Qur’an.
3. Nafs Ammaroh: Jiwa yang selalu memerintahkan pada keburukan.
Ini adalah musuh dari dalam diri yang harus ditundukkan dengan Jihad melawan
hawa nafsu.
21.11 - 21.54:
Perbedaan-perbedaan halus dalam perilaku manusia
Bagian penutup kitab ini sangat
luar biasa karena Ibnu Qoyyim merinci perbedaan antara sifat-sifat yang tampak
serupa namun hakikatnya sangat berbeda. Ini adalah seni mendidik jiwa
(Tazkiyatun Nafs).
Beliau membedakan antara:
- Tawadhu’ (rendah hati)
yang bersumber dari kemuliaan jiwa, dengan Mahanan (hina diri) yang bersumber
dari kelemahan mental.
- Syaja’ah (keberanian)
yang merupakan keteguhan hati di saat genting, dengan Juroh (nekat) yang
merupakan kebodohan dalam menghadapi bahaya tanpa perhitungan.
- Nashihat yang bertujuan
memperbaiki orang lain dengan penuh kasih sayang, dengan Ta’nib (mencela) yang
bertujuan menjatuhkan dan mempermalukan.
- Firasat yang merupakan
cahaya dari Alloh ﷻ di hati
orang Mu’min, dengan Zhonn (dugaan) yang seringkali keliru karena didasari oleh
buruk sangka.
Beliau menutup dengan
sangat indah bahwa seluruh kunci kebahagiaan ruh terletak pada kemampuannya
untuk membedakan antara yang benar dan yang samar, serta keteguhannya dalam
mengikuti jejak Nabi ﷺ di atas
jalan yang diridhoi Alloh ﷻ.
Rangkuman ini mencakup
inti sari dari kitab yang sangat mendalam ini, memberikan kita pemahaman bahwa
urusan ruh adalah urusan yang agung, yang membawa kita untuk lebih mengenal
diri kita sendiri agar bisa lebih mengenal Robb kita, Alloh ﷻ.
Penutup
Demikian pembahasan buku
kecil Mengenal Ruh Lebih Dekat yang kami rangkum dari Kitab Ruh
karya Imam Ibnu Qoyyim (751 H). Buku ini sama sekali tidak mewakili kitab asal,
karena kami sadar lemahnya dalam merangkum dan ketelitian, disamping adanya
beberapa penambahan di luar kitab asli.
Mudah-mudahan Alloh
mengampuni kita dan menerima buku ini dan menjadikannya bermanfaat bagi
Muslimin.
Allohu a’lam.[NK]
