Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Mengenal Ruh Lebih Dekat - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Kematian sering kali dipandang sebagai sebuah akhir, namun dalam perspektif yang lebih dalam, ia sebenarnya adalah awal dari sebuah perjalanan panjang menuju hakikat yang sesungguhnya. Tema mengenai ruh bukan sekadar bahasan metafisika yang jauh dari jangkauan, melainkan cermin bagi setiap manusia untuk memahami eksistensi diri dan masa depan setelah napas berhenti. Memahami bagaimana ruh berpindah dari satu alam ke alam lain memberikan pandangan baru tentang nilai kehidupan di dunia, sekaligus menjadi pengingat akan adanya tanggung jawab di fase kehidupan berikutnya. Salah satu referensi klasik yang paling otoritatif (amanah) dan komprehensif (lengkap) dalam membedah misteri ini adalah Kitab Ar-Ruh karya ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah.

Buku ringkasan ini disusun untuk membawa pembaca menyelami kedalaman pemikiran tersebut melalui narasi yang mengalir, menyentuh sisi kemanusiaan, dan sistematis. Kerangka buku ini dirancang sedemikian rupa untuk menelusuri 21 masalah pokok yang sering menjadi kegelisahan batin manusia mengenai alam barzakh.

Alur pembahasannya dimulai dengan menyingkap jalinan komunikasi yang masih tersisa antara mereka yang telah tiada dengan para peziarah di dunia. Pembaca akan diajak memahami bagaimana mimpi dapat menjadi jembatan pertemuan antara ruh orang yang hidup dan ruh orang yang sudah meninggal. Narasi kemudian berkembang pada penjelasan mengenai realitas alam barzakh, termasuk fenomena azab dan ni’mat kubur, yang dibedah dengan perpaduan antara kekuatan wahyu dan logika yang jernih untuk menjawab keraguan yang mungkin muncul.

Selanjutnya, buku ini menyoroti sisi kasih sayang dan kepedulian yang melintasi dimensi, yaitu bagaimana kontribusi amal kebaikan dari orang yang masih hidup—seperti sedekah, puasa, dan haji—dapat memberikan manfaat nyata bagi ruh di alam sana. Sebagai inti dari perjalanan ini, pembaca akan diajak mengenali berbagai lapisan jiwa manusia, mulai dari jiwa yang tenang hingga jiwa yang cenderung pada keburukan. Penjelasan mengenai asal-usul ruh dan tipologi jiwa ini berfungsi sebagai panduan untuk melakukan refleksi diri dan transformasi batin yang lebih baik. Seluruh rangkaian pembahasan ini diharapkan tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbaiki kualitas hidup dan mempersiapkan pertemuan yang indah dengan Sang Pencipta di akhirat kelak.

 

Bab 1: Apakah orang-orang mati mengetahui ziarah dan salam orang-orang hidup atau tidak?

Ibnu Abdil Barr (463 H) menegaskan adanya ketetapan dari Nabi bahwa seorang Muslim yang melewati kuburan saudaranya yang ia kenal saat di dunia, kemudian ia mengucapkan salam, maka Alloh akan mengembalikan ruh kepada mayit tersebut agar ia bisa menjawab salamnya.

Hal ini menjadi dalil yang sangat kuat bahwa ruh memiliki kesadaran dan mengenali siapa yang mengunjunginya. Penjelasan ini memberikan penghiburan bagi kita bahwa setiap kata salam dan kunjungan yang kita lakukan sampai kepada mereka dengan penuh makna.

Bahkan dalam peristiwa besar setelah perang Badr, Nabi berdiri di hadapan sumur tempat janazah kaum musyrikin dilemparkan dan memanggil mereka satu per satu. Saat Shohabat Umar bin Khoththob (23 H) merasa heran dan bertanya bagaimana beliau berbicara kepada jasad yang telah membusuk, Nabi menjawab dengan sangat tegas bahwa mereka mendengar perkataan beliau sama jelasnya dengan para Shohabat yang masih hidup, hanya saja mereka tidak mampu memberikan jawaban.

Syariat ziarah kubur pun mengajarkan kita untuk menyapa penghuni kubur layaknya menyapa orang yang hadir dan berakal. Ucapan:

«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ»

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni negeri kaum Mu’min.” (HR. Muslim no. 974)

Kalimat ini menunjukkan bahwa kita sedang berbicara kepada sosok yang mendengar dan memahami. Jika mayit tidak bisa mendengar atau tidak berakal, tentu sapaan ini akan menjadi sia-sia seperti berbicara kepada benda mati atau ketiadaan.

Para Salaf telah bersepakat mengenai hal ini. Berbagai atsar menunjukkan bahwa mayit merasa senang dengan kunjungan orang yang masih hidup dan merasa terhibur dengan kehadiran mereka. Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Abi Dunya (281 H) menceritakan bahwa seorang yang mengunjungi kubur saudaranya dan duduk di dekatnya akan membuat mayit tersebut merasa senang dan tenang sampai orang itu bangkit meninggalkan tempat tersebut.

1.1: Dalil dari amal perbuatan manusia zaman dahulu hingga sekarang

Kesaksian mengenai kedekatan hubungan ini tidak hanya datang dari dalil nash, tetapi juga dari pengalaman ruhani yang dialami banyak orang sholih. Dikisahkan bahwa penghuni kubur mengetahui ziarah yang dilakukan terutama pada hari Jum’at dan waktu-waktu di sekitarnya karena kemuliaan hari tersebut. Seorang bernama Ashim Al-Jahdari terlihat dalam mimpi dua tahun setelah wafatnya. Ia menceritakan bahwa ruh-ruh orang Mu’min berkumpul setiap malam Jum’at dan pagi harinya untuk saling bertukar kabar tentang keadaan kita yang masih hidup.

Bahkan, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa amal perbuatan kita yang masih hidup diperlihatkan kepada kerabat kita yang telah wafat. Jika mereka melihat amal yang baik, mereka akan merasa gembira dan bersuka cita. Namun jika yang terlihat adalah amal buruk, mereka akan berdoa kepada Alloh agar kita diberikan petunjuk untuk kembali ke jalan yang benar. Hal ini menumbuhkan kesadaran dalam diri kita bahwa perilaku kita di dunia ini memberikan dampak emosional bagi orang tua atau kerabat yang telah tiada.

Selain salam dan ziarah, mayit juga mendapatkan manfaat dari doa dan bacaan Al-Qur’an. Sebagian besar kaum Anshor memiliki kebiasaan mendatangi kuburan kerabat mereka untuk membacakan ayat-ayat suci sebagai hadiah pahala. Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) yang awalnya mengingkari praktik membaca Al-Qur’an di sisi kubur sebagai bid’ah, akhirnya mencabut pendapatnya setelah mendengar riwayat dari Abdullah bin Umar (73 H) yang mewasiatkan agar dibacakan awal dan akhir surat Al-Baqoroh di sisi kepalanya saat pemakaman.

Pelajaran penting dari bab ini adalah bahwa hubungan kasih sayang tidak terputus oleh maut. Penghuni kubur tetap memiliki rasa, kesadaran, dan kerinduan sebagaimana manusia yang masih hidup, namun dalam bentuk yang berbeda sesuai aturan alam Barzakh.

 

Bab 2: Apakah ruh-ruh orang mati saling bertemu, saling berziarah, dan saling berbincang atau tidak?

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa ruh itu terbagi menjadi dua kelompok besar.

Pertama, ruh-ruh yang sedang diadzab. Mereka terjebak dalam penderitaan dan kesengsaraan yang luar biasa sehingga tidak memiliki kesempatan untuk saling mengunjungi atau berbincang. Kesibukan mereka hanyalah menanggung pedihnya hukuman.

Kedua adalah ruh-ruh yang mendapatkan ni’mat. Mereka adalah ruh-ruh yang bebas, tidak tertahan, dan saling bertemu serta mengenang apa yang pernah mereka alami di dunia dahulu. Mereka berkumpul bersama teman-teman yang selevel dalam amal perbuatannya. Alloh berfirman:

﴿وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا﴾

“Dan barangsiapa menaati Alloh dan Rosul-Nya, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Alloh, yaitu: para Nabi, para Shiddiqin (orang-orang yang sangat benar dalam keimanannya), para Syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan orang-orang Sholih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)

Kebersamaan ini berlaku di dunia, di alam Barzakh, maupun di hari pembalasan kelak. Seseorang akan dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai. Riwayat menyebutkan bahwa ketika nyawa seorang Mu’min dicabut, ia akan disambut oleh para Malaikat pembawa rohmat dan ruh-ruh kaum Mu’min lainnya dengan penuh kegembiraan, melebihi kegembiraan keluarga di dunia saat menyambut anggota keluarga yang lama pergi merantau. Mereka akan saling bertanya, “Bagaimana kabar si fulan? Apa yang dilakukan si fulana? Apakah ia sudah menikah?” Jika dijawab bahwa orang tersebut sudah meninggal sebelumnya namun belum sampai kepada mereka (yakni tidak berjumpa mereka), maka mereka akan berucap pilu, “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, ternyata ia telah dibawa ke tempat kembalinya yang buruk (Naar).”

 

Bab 3: Apakah ruh-ruh orang hidup dan ruh-ruh orang mati saling bertemu atau tidak?

Fenomena ini adalah kenyataan yang tak terbantahkan, terutama melalui media mimpi. Pertemuan antara ruh orang yang tidur dengan ruh mereka yang sudah wafat adalah bukti kekuasaan Alloh . Dasar dari masalah ini adalah firman-Nya:

﴿اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾

“Alloh mencabut nyawa manusia ketika datang waktu kematiannya, dan mencabut nyawa orang yang belum mati ketika ia tidur. Maka Dia menahan nyawa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain (yang sedang tidur) sampai waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42)

Ibnu Abbas (68 H) menjelaskan bahwa ruh orang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling bertanya satu sama lain. Kemudian Alloh menahan ruh orang mati dan mengembalikan ruh orang yang sedang tidur ke jasadnya. Inilah mengapa dalam mimpi kita seringkali mendapatkan informasi-informasi akurat dari mereka yang telah wafat, seperti letak harta yang dikubur, utang yang belum terbayar, atau peringatan akan peristiwa yang akan terjadi.

Kisah-kisah nyata tentang ini sangat banyak. Seperti Sa’b bin Jatsamah (18 H) yang bertemu dalam mimpi dengan Auf bin Malik (73 H) dan mengabarkan tentang utang sepuluh dinar yang ia simpan di dalam tanduk hewan di rumahnya. Ketika Auf mengeceknya, ia menemukan uang tersebut persis seperti yang disebutkan dalam mimpi.

Begitu pula wasiat Tsabit bin Qoys bin Syammas (12 H) yang syahid dalam perang Yamamah. Beliau mendatangi seseorang dalam mimpi untuk memberikan instruksi tentang baju besinya yang diambil oleh seorang prajurit. Wasiat ini dijalankan oleh Kholid bin Walid (21 H) dan disahkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H), menjadikannya satu-satunya wasiat yang dijalankan setelah kematian sang pemberi wasiat berdasarkan mimpi.

 

Bab 4: Apakah ruh itu mati atau kematian itu hanya untuk badan saja?

Terdapat diskusi panjang mengenai apakah ruh mengalami kematian sebagaimana badan. Sebagian berpendapat bahwa ruh itu mati karena setiap yang bernyawa pasti merasakan mati. Namun, mayoritas ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kematian bagi ruh adalah perpisahannya dengan badan. Ruh itu sendiri tetap ada dan terjaga kesadarannya untuk menerima ni’mat atau siksaan.

Jika ruh ikut hancur dan menjadi tiada, tentu kabar mengenai adanya ni’mat dan siksa kubur menjadi tidak relevan. Alloh berfirman mengenai para Syuhada:

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ﴾

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Robb mereka dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imron: 169)

Ayat ini secara shorih (tegas) menyatakan kehidupan mereka di alam Barzakh meskipun jasad mereka telah berpisah dengan nyawa. Mengenai peristiwa tiupan sangkakala (nafkhush shur), terdapat pengecualian bagi sebagian makhluk agar tidak ikut pingsan atau mati, di antaranya adalah para Malaikat utama (Jibril, Mikail, Isrofil, dan Malaikat Maut), para Syuhada, serta penghuni Jannah (Huurul ‘Iin dan para pelayan Jannah).

 

Bab 5: Dengan apa ruh dikenali setelah berpisah dari badan?

Bagaimana ruh-ruh itu bisa saling mengenali jika mereka sudah tidak memiliki raga? Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa ruh bukanlah sesuatu yang abstrak tanpa bentuk. Ruh adalah entitas yang tegak sendiri, ia bisa naik, turun, bersambung, berpisah, keluar, pergi, dan diam. Ruh memiliki bentuk dan rupa yang menyerupai jasadnya saat di dunia, namun dalam kualitas yang lebih halus.

Bahkan, karakter seseorang di dunia sangat dipengaruhi oleh ruhnya. Ruh yang baik akan memberikan pancaran kebaikan pada jasad, dan ruh yang buruk akan memberikan kesan yang buruk pula. Para ahli firasat seringkali bisa mengenali sifat jiwa seseorang hanya dengan melihat bentuk fisiknya karena adanya keterikatan yang sangat kuat antara ruh dan badan.

Setelah berpisah dari badan, ruh Mu’min akan membawa aroma yang sangat wangi seperti misk terbaik di bumi, sedangkan ruh kafir akan membawa bau busuk yang paling menyengat. Hal ini menjadi identitas yang sangat jelas bagi para Malaikat saat ruh tersebut dibawa naik ke langit. Perbedaan antara satu ruh dengan ruh lainnya setelah mati jauh lebih nyata dan jelas dibandingkan perbedaan fisik saat mereka masih di dunia.

 

Bab 6: Apakah ruh dikembalikan kepada mayit di kuburnya pada saat pertanyaan atau tidak?

Nabi telah memberikan penjelasan yang sangat detil melalui Hadits Al-Baro’ bin ‘Azib (71 H). Beliau menceritakan bahwa setelah ruh seorang Mu’min dibawa naik ke hadapan Alloh dan diperintahkan untuk dicatat di Illiyyin, Alloh berfirman: “Kembalikanlah hamba-Ku ke bumi, karena darinya Aku menciptakan mereka, ke dalamnya Aku mengembalikan mereka, dan darinya pula Aku mengeluarkan mereka sekali lagi.”

Maka ruh tersebut dikembalikan ke dalam jasadnya di dalam kubur. Saat itulah dua Malaikat yang dikenal sebagai Munkar dan Nakir datang. Mereka mendudukkan mayit tersebut dan bertanya: “Siapa Robb-mu? Apa agamamu? Siapa laki-laki yang diutus di tengah kalian ini?” Orang Mu’min akan menjawab dengan kokoh: “Robb-ku adalah Alloh, agamaku adalah Islam, dan laki-laki itu adalah Muhammad Rosululloh .”

Sebaliknya, bagi orang kafir, ruhnya dilemparkan kembali ke jasadnya dengan penuh kehinaan. Ketika ditanya, ia hanya bisa bergumam ketakutan, “Hah, hah, aku tidak tahu.” Akibatnya, dibukakan baginya pintu menuju Naar yang hawa panasnya sampai ke kuburnya, dan kuburnya menyempit hingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan.

Keterikatan ruh dengan jasad di alam Barzakh ini adalah tingkatan keterikatan yang unik. Tidak seperti saat janin dalam kandungan, tidak pula seperti saat terjaga di dunia, atau saat tidur. Ini adalah keterikatan khusus untuk merasakan proses ujian di kubur dan menerima ni’mat atau adzab Barzakh.

Kebenaran adzab kubur ini telah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berbagai Hadits telah mencapai tingkatan mutawatir yang tidak mungkin diingkari kecuali oleh orang yang sesat atau menyesatkan. Nabi bahkan seringkali mendengar suara adzab tersebut, dan beliau memerintahkan umatnya untuk selalu berlindung dari adzab kubur dalam setiap Sholat mereka setelah tasyahud akhir.

 

Bab 7: Jawaban bagi kaum Mulhid dan Zindiq yang mengingkari adzab kubur

Terdapat golongan manusia yang mengingkari adanya adzab kubur dengan alasan bahwa jika mereka menggali kuburan, mereka tidak melihat api yang berkobar atau penyempitan liang lahat. Ibnu Qoyyim memberikan jawaban yang sangat mendalam untuk mendudukkan pemahaman yang benar lewat 8 argumen berikut.

7.1: Rosul tidak mengabarkan hal yang mustahil secara akal

Kita harus memahami prinsip dasar dalam menerima berita dari para Nabi.

“Para Rosul tidak mengabarkan apa yang dianggap mustahil oleh akal, justru mereka mengabarkan apa yang membuat akal menjadi bingung.”

Akal manusia memiliki keterbatasan. Sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra bukan berarti hal tersebut tidak ada. Adzab kubur adalah perkara ghoib yang tidak bisa diukur dengan standar fisika duniawi.

7.2: Memahami maksud Rosul tanpa sikap melampaui batas

Banyak penyimpangan terjadi karena salah dalam memahami maksud ucapan Nabi . Sebagian orang terlalu berlebihan dalam menafsirkan (ghuluw) atau justru meremehkan. Kita wajib mengimani apa yang beliau sampaikan sesuai dengan hakikat yang dimaksudkan oleh beliau tanpa memaksakannya harus serupa dengan hukum-hukum di dunia ini.

7.3: Alloh menjadikan perkara Akhiroh bersifat ghoib

Alloh dengan hikmah-Nya menutup pandangan manusia dari melihat adzab kubur. Jika setiap manusia bisa melihat api di dalam kubur atau mendengar jeritan mereka yang disiksa, maka tidak akan ada lagi ujian keimanan. Keimanan kepada yang ghoib adalah pembeda utama antara kaum Mu’min dan kafir. Alloh berfirman dalam Tafsir Muyassar:

﴿الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ﴾

“Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghoib.” (QS. Al-Baqoroh: 3)

7.4: Api dan hijaunya kubur bukan berasal dari api dunia

Api yang membakar pelaku dosa di kuburnya atau taman hijau yang menjadi ni’mat bagi kaum Mu’min bukanlah materi yang bisa diraba dengan tangan atau dideteksi dengan alat dunia. Itu adalah api dan keni’matan dari alam Barzakh. Dua orang bisa saja dikuburkan di satu lubang yang sama, namun yang satu berada di taman Jannah sementara yang lain berada di lubang Naar, tanpa yang satu merasakan apa yang dialami yang lainnya.

7.5: Alloh menciptakan hal yang lebih menakjubkan di dunia ini

Ibnu Qoyyim mengajak kita merenungi bagaimana Alloh menciptakan ruh yang tidak terlihat namun bisa menggerakkan jasad. Jika kita saja tidak mampu melihat ruh dalam diri kita sendiri, bagaimana mungkin kita berani mengingkari adzab kubur hanya karena mata kita tidak melihatnya? Penciptaan langit, bumi, dan segala isinya jauh lebih besar dan menakjubkan daripada sekadar mengadzab seseorang di dalam kuburnya.

7.6: Tidak mustahil ruh dikembalikan kepada orang yang disalib atau tenggelam

Kaum skeptis bertanya, “Bagaimana dengan orang yang dimakan binatang buas atau tenggelam di laut sehingga jasadnya hancur?” Jawabannya adalah Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebagaimana Dia menciptakan manusia dari ketiadaan, Dia mampu mengembalikan kesadaran pada bagian-bagian tubuh yang tersisa, bahkan pada partikel terkecil sekalipun, agar ia bisa merasakan siksa atau ni’mat. Penyaliban atau tenggelamnya seseorang tidak menghalangi datangnya adzab Barzakh kepadanya.

7.7: Adzab dan ni’mat kubur adalah sebutan bagi adzab dan ni’mat Barzakh

Penting untuk dipahami bahwa istilah “adzab kubur” digunakan karena umumnya manusia dikuburkan di dalam tanah. Namun secara hakiki, itu adalah adzab alam Barzakh. Siapa pun yang meninggal, baik ia dikubur, dibakar, atau hilang di lautan, ia akan tetap mendapatkan bagiannya dari adzab atau ni’mat tersebut sesuai dengan amal perbuatannya.

7.8: Kematian adalah tempat kembali dan kebangkitan pertama

Kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju Akhiroh. Ibnu Qoyyim menyebutnya sebagai Qiyamat kecil. Seseorang yang meninggal telah tegak Qiyamatnya sendiri. Ia mulai melihat hakikat yang selama ini tertutup oleh tirai kehidupan dunia.

 

Bab 8: Hikmah mengapa adzab kubur tidak disebutkan secara shorih (tegas) dalam Al-Qur’an

Meskipun istilah “adzab kubur” tidak muncul dalam satu kata yang eksplisit, namun Al-Qur’an memberikan isyarat yang sangat kuat. Misalnya tentang Fir’aun dan pengikutnya:

﴿النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ﴾

“Kepada mereka ditampakkan api pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Qiyamat (dikatakan), ‘Masukkanlah pengikut-pengikut Fir’aun ke dalam adzab yang sangat keras.’” (QS. Ghafir: 46)

Penampakan api pada pagi dan petang itu terjadi di alam Barzakh sebelum Qiyamat besar tegak. Hikmah mengapa tidak dirinci secara detil di Al-Qur’an adalah karena fungsi Sunnah adalah sebagai penjelas bagi Al-Qur’an. Apa yang telah ditetapkan oleh Rosul sama kedudukannya dengan apa yang ada di dalam Kitabulloh dalam hal kewajiban untuk mengimaninya.

 

Bab 9: Sebab-sebab yang mengakibatkan penghuni kubur diadzab

Secara garis besar, adzab kubur disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap Alloh , meremehkan perintah-Nya, dan menerjang larangan-Nya. Namun secara khusus, Nabi menyebutkan beberapa perilaku yang sering dianggap sepele namun berakibat fatal:

1. Namimah (adu domba).

2. Tidak menjaga kebersihan dari percikan kencing (istibro’).

3. Ghulul (mengambil harta rampasan perang secara sembunyi-sembunyi).

4. Berdusta hingga beritanya tersebar ke penjuru dunia.

5. Memakan riba.

6. Berzina.

7. Melalaikan Sholat dan enggan mengamalkan Al-Qur’an setelah mempelajarinya.

Hati yang penuh dengan kotoran dunia dan jauh dari dzikir kepada Alloh akan menjadi tempat yang sangat sempit di dalam kubur.

 

Bab 10: Sebab-sebab penyelamat dari adzab kubur

Penyelamat yang paling utama adalah dengan selalu bermuhasabah (mengevaluasi diri) setiap malam sebelum tidur. Seseorang hendaknya memperbarui taubatnya dan tidur dalam keadaan suci. Selain itu, terdapat amalan khusus yang disebutkan dalam Hadits:

1. Membaca Surat Al-Mulk setiap malam.

2. Meninggal dalam keadaan ribath (menjaga perbatasan wilayah Muslim) di jalan Alloh .

3. Meninggal karena sakit perut.

4. Menjadi Syahid di medan Jihad.

Namun intinya adalah menjauhi segala hal yang mengundang kemurkaan Alloh dan selalu memohon perlindungan kepada-Nya.

Bab 11: Pertanyaan di dalam kubur

Setelah pemakaman selesai dan para pengantar pulang, datanglah dua Malaikat yang sangat mengerikan rupa dan suaranya. Mereka akan bertanya tentang tiga landasan utama: Robb, agama, dan Nabi. Inilah saat di mana lisan tidak bisa lagi bersandiwara. Hanya keimanan yang menghujam di hati yang akan menuntun lisan untuk menjawab dengan benar. Alloh akan meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang kokoh di dunia dan di Akhiroh.

 

Bab 12: Apakah pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir khusus untuk umat ini atau tidak?

Ibnu Qoyyim menyebutkan adanya perselisihan di kalangan ulama. Sebagian berpendapat ini khusus untuk umat Nabi Muhammad karena beban syariat dan ujian yang mereka hadapi lebih berat namun juga lebih mulia. Namun pendapat lain menyatakan bahwa ujian kubur berlaku bagi seluruh umat sejak dahulu karena fitnah (ujian) keimanan adalah sunnatulloh bagi seluruh hamba-Nya. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa pertanyaan ini bersifat umum bagi semua umat.

 

Bab 13: Apakah anak-anak diuji di dalam kubur mereka?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Golongan yang berpendapat mereka diuji beralasan bahwa dalam Sholat janazah untuk anak-anak, disyariatkan berdoa memohon perlindungan bagi mereka dari adzab kubur. Namun golongan lain berpendapat mereka tidak diuji karena belum mencapai usia taklif (beban syariat) sehingga tidak ditanya tentang amal perbuatan mereka. Ibnu Qoyyim merinci hujah kedua belah pihak dengan sangat adil, menunjukkan kedalaman ilmu beliau dalam masalah ini.

 

Bab 14: Apakah adzab kubur itu selamanya atau terputus?

Adzab kubur terbagi dua.

Pertama, adzab yang terus-menerus hingga hari Qiyamat bagi orang-orang kafir dan sebagian pelaku dosa besar yang sangat berat dosanya.

Kedua, adzab yang terputus bagi sebagian kaum Mu’min yang bermaksiat. Mereka diadzab sesuai dengan kadar dosa mereka, kemudian setelah bersih, adzab tersebut dihentikan. Selain itu, doa dari orang hidup, Shodaqoh, atau syafaat bisa menjadi sebab diringankan atau dihentikannya adzab tersebut bagi mereka.

 

Bab 15: Di mana tempat menetapnya ruh-ruh di alam Barzakh hingga hari Qiyamat?

Ini adalah salah satu bab terpanjang yang merinci berbagai pendapat mengenai domisili ruh. Ibnu Qoyyim menegaskan bahwa kedudukan ruh itu bertingkat-tingkat sesuai kemuliaannya.

15.1 - 15.3: Perbedaan keadaan ruh

Ada ruh yang berada di tempat tertinggi (Illiyyin) yaitu ruh para Nabi. Ada ruh yang berada di dalam tembolok burung hijau yang terbang bebas di Jannah, yaitu ruh para Syuhada. Namun ada pula ruh Syahid yang tertahan di pintu Jannah karena ia masih memiliki utang yang belum terlunasi di dunia. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya urusan hak sesama manusia.

15.4 - 15.10: Lokasi-lokasi spesifik

Ruh kaum Mu’min secara umum berada di pintu Jannah, di mana mereka mendapatkan hembusan wangi dan ni’matnya. Ada pendapat yang menyatakan ruh Mu’min berkumpul di sumur Zamzam dan ruh kafir di sumur Barhut di Yaman. Namun Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa ruh memiliki sifat yang berbeda dengan materi fisik; ia bisa berada di suatu tempat namun tetap memiliki koneksi dengan kuburnya.

15.11 - 15.13: Bantahan terhadap pendapat menyimpang

Beliau membantah keras pendapat Ibnu Hazm (456 H) yang menyatakan ruh kembali ke tempat asalnya sebelum diciptakan, atau pendapat kaum filosof yang menganggap ruh sebagai ketiadaan, apalagi pendapat batil tentang reinkarnasi (tanasukhul arwah) yaitu perpindahan ruh ke jasad lain. Semua ini bertentangan dengan dalil nash yang shohih.

Kesimpulan dari bab-bab ini memberikan gambaran bahwa kehidupan setelah mati adalah realitas yang penuh dengan keadilan Alloh . Ruh manusia tetap eksis, merasakan, dan berinteraksi dalam koridor alam yang berbeda. Hal ini mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam bertindak di dunia, karena setiap langkah kita hari ini menentukan kenyamanan hunian kita di alam Barzakh kelak.

 

Bab 16: Apakah ruh orang mati dapat mengambil manfaat dari amal orang yang masih hidup?

Masalah ini adalah salah satu yang paling luas pembahasannya karena berkaitan langsung dengan praktik keseharian umat Islam. Beliau menegaskan bahwa seorang mayit dapat mengambil manfaat dari amal orang lain dalam 2 cara: pertama, dari apa yang ia usahakan sendiri saat hidup, dan kedua, dari doa, permohonan ampunan, serta pemberian hadiah pahala dari kaum Muslimin lainnya.

16.1: Dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’.

Landasan utama dari masalah ini adalah rohmat Alloh yang sangat luas. Alloh memerintahkan kita untuk mendoakan sesama Muslim, baik yang hidup maupun yang mati. Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ﴾

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, ‘Wahai Robb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan membawa keimanan.’” (QS. Al-Hasyr: 10)

Doa ini adalah bentuk nyata dari manfaat yang diterima oleh mereka yang telah tiada. Jika doa tersebut tidak bermanfaat, tentu Alloh tidak akan memuji orang-orang yang mengucapkannya. Demikian pula Sholat janazah, yang intinya adalah permohonan syafaat dan ampunan bagi si mayit.

16.2: Sampainya pahala Shodaqoh

Mengenai Shodaqoh, para ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa pahalanya sampai kepada mayit. Hal ini didasarkan pada riwayat dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H) bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi : “Ibuku meninggal dunia secara mendadak dan ia tidak sempat berwasiat. Aku mengira jika ia bisa bicara, ia akan bershodaqoh. Apakah ia akan mendapat pahala jika aku bershodaqoh atas namanya?” Beliau menjawab:

«نَعَمْ»

“Ya.” (HR. Al-Bukhori no. 1388 dan Muslim no. 1004)

16.3: Sampainya pahala Puasa

Dalam masalah Puasa, terdapat dalil yang sangat kuat dari sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H):

«مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ»

“Barangsiapa meninggal dunia dan ia masih memiliki hutang Puasa, maka walinya (kerabatnya) berpuasa untuknya.” (HR. Al-Bukhori no. 1952 dan Muslim no. 1147)

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa ini mencakup Puasa nadzar maupun Puasa fardhu yang terlewat karena udzur namun belum sempat diqodho’. Hal ini merupakan bentuk kasih sayang antar sesama anggota keluarga yang tidak terputus oleh maut.

16.4: Sampainya pahala Haji

Demikian pula dengan ibadah Haji. Seorang wanita dari suku Juhainah bertanya kepada Rosul tentang ibunya yang bernadzar Haji namun meninggal sebelum melaksanakannya. Beliau memerintahkan wanita itu untuk menghajikan ibunya, seraya memberikan perumpamaan: “Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki hutang, bukankah engkau akan melunasinya? Tunaikanlah hak Alloh, karena hak Alloh lebih berhak untuk dilunasi.” (HR. Al-Bukhori no. 1852)

16.5: Penjelasan ayat “manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”

Ibnu Qoyyim memberikan penjelasan cerdas atas ayat yang sering disalahpahami:

﴿وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى﴾

“Dan bahwasanya manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Beliau menjelaskan bahwa ayat ini bermaksud menyatakan bahwa seseorang tidak memiliki hak milik atas usaha orang lain secara otomatis. Namun, hal itu tidak menghalangi orang lain untuk memberikan hadiah pahala kepadanya. Ibarat seseorang yang tidak memiliki uang kecuali dari hasil kerjanya sendiri, namun ia tetap boleh menerima pemberian atau hibah dari orang lain. Selain itu, jalinan persaudaraan Islam dan kecintaan kepada sesama Muslim adalah bagian dari “usaha” orang tersebut saat hidup sehingga ia layak mendapatkan kiriman doa dan pahala.

16.6 - 16.15: Jawaban atas berbagai argumen logika

Beliau membedah satu per satu keberatan yang diajukan oleh mereka yang menolak sampainya pahala. Misalnya, anggapan bahwa ibadah adalah ujian personal yang tidak bisa diwakilkan. Ibnu Qoyyim menjawab bahwa memang benar tanggung jawab asal adalah personal, namun syariat memberikan kemurahan (rukhshoh) dalam bentuk bantuan dari sesama Muslim sebagai bentuk solidaritas umat (al-jasad al-wahid).

Beliau juga membantah anggapan bahwa jika pahala amal sampai, maka taubat dan masuk Islamnya orang lain pun seharusnya sampai. Beliau menjelaskan perbedaan mendasar: iman dan taubat adalah syarat sahnya status seseorang sebagai hamba Alloh yang tidak bisa dialihkan, sedangkan pahala amal adalah buah dari keimanan yang bisa dihadiahkan sebagai bentuk bantuan.

16.16 - 16.20: Diskusi mendalam mengenai Puasa dan pendapat para imam

Ibnu Qoyyim merinci pandangan Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) yang sangat kuat memegang hadits tentang Puasa untuk mayit. Meskipun ada pendapat dari Imam Malik bin Anas (179 H) dan Imam Asy-Syafi’i (204 H) yang cenderung menyatakan bahwa ibadah badan (seperti Sholat dan Puasa) tidak bisa dihadiahkan, namun Ibnu Qoyyim menunjukkan bahwa dalam madzhab mereka pun terdapat riwayat-riwayat yang membolehkan, terutama jika ada dalil shohih yang melandasinya.

16.22: Apakah syarat sampainya pahala harus diucapkan?

Beliau menjelaskan bahwa niat di dalam hati sudah cukup bagi Alloh yang Maha Mengetahui. Namun, mengucapkannya dengan lisan seperti “Yaa Robb, sampaikanlah pahala amal ini kepada si fulan” adalah hal yang baik untuk memantapkan niat.

 

Bab 17: Apakah ruh itu sesuatu yang baru diciptakan atau qodim (terdahulu tanpa awal)?

Ini adalah masalah akidah yang sangat fundamental. Terdapat kelompok yang tersesat dengan menganggap ruh adalah bagian dari dzat Alloh atau sesuatu yang tidak diciptakan. Ibnu Qoyyim dengan tegas menyatakan bahwa ruh adalah makhluk yang diciptakan.

17.1: Dalil-dalil penciptaan ruh.

Alloh adalah pencipta segala sesuatu tanpa terkecuali. Alloh berfirman:

﴿اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ﴾

“Alloh adalah pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

Ruh termasuk dalam “segala sesuatu” tersebut. Jika ruh bersifat qodim, maka ia akan setara dengan Alloh , dan ini adalah kesyirikan yang nyata. Selain itu, ruh bersifat berubah-ubah; ia bisa merasakan sakit, sedih, gembira, dan adzab. Sifat berubah-ubah ini adalah ciri khas makhluk, bukan Sang Pencipta.

17.3: Penjelasan penyandaran ruh kepada Alloh

Mengenai firman Alloh “dan Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku”, penyandaran (idhofah) ruh kepada Alloh di sini adalah idhofatun tasyriif (penyandaran untuk pemuliaan), seperti penyebaran “Baitulloh” (Rumah Alloh) atau “Naqotulloh” (Unta Alloh). Ini bukan berarti ruh adalah bagian dari dzat Alloh .

 

Bab 18: Mana yang diciptakan lebih dahulu, ruh atau badan?

Terjadi diskusi di kalangan ulama Salaf mengenai urutan penciptaan ini. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa ruh diciptakan jauh sebelum jasad.

18.2: Peristiwa pengambilan sumpah di alam ruh

Dalil utamanya adalah firman Alloh dalam Tafsir Muyassar:

﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ﴾

“Dan (ingatlah) ketika Robb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Robb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Robb kami).’” (QS. Al-A’rof: 172)

Peristiwa ini menunjukkan bahwa ruh sudah ada dan memiliki kesadaran sebelum mereka ditiupkan ke dalam jasad di dunia. Meskipun demikian, Ibnu Qoyyim juga menukil pendapat yang menyatakan bahwa ruh diciptakan bersamaan dengan pembentukan jasad di dalam rahim, namun pendapat pertama lebih kuat didukung oleh atsar para Shohabat.

 

Bab 19: Hakikat ruh, apakah ia bersifat materi (jisim) atau عرض (sifat)?

Ini adalah pembahasan yang sangat teknis namun penting untuk membantah kaum filosof yang menganggap ruh hanyalah energi atau sifat yang tidak memiliki wujud nyata. Ibnu Qoyyim menegaskan bahwa ruh adalah jismun nuuroniyyun ‘ulwiyyun (jisim yang bercahaya dan bersifat tinggi).

Ruh memiliki wujud yang sangat halus, ia bergerak di dalam anggota tubuh seperti mengalirnya air di dalam bunga mawar atau mengalirnya minyak di dalam buah zaitun. Ruh tidak hancur dengan hancurnya badan.

19.1 - 19.7: Dalil dari sifat-sifat ruh dalam Hadits.

Nabi menggambarkan ruh dengan sifat-sifat materi: ia bisa digenggam oleh Malaikat, keluar dari jasad, memiliki aroma (wangi atau busuk), dibawa naik ke langit, dan dikembalikan ke bumi. Semua sifat ini (naik, turun, keluar, masuk, berbau) hanya dimiliki oleh sesuatu yang memiliki hakikat wujud (jisim), bukan sekadar sifat yang menempel.

19.11 - 19.30: Jawaban terhadap 22 keraguan kaum filosof

Beliau membedah argumen akal yang rumit. Misalnya, kaum filosof berkata: “Jika ruh adalah materi, maka ia butuh tempat, dan jika ia butuh tempat, ia harus terbagi-bagi.” Ibnu Qoyyim menjawab bahwa ruh adalah materi dengan kualitas yang berbeda dari materi dunia. Ia bisa menempati jasad tanpa harus terhimpit, sebagaimana cahaya matahari menempati ruangan tanpa memenuhi ruang tersebut secara fisik yang kasar.

Beliau juga menjelaskan bahwa kekuatan akal, memori, dan perasaan adalah fungsi dari ruh yang menggunakan jasad sebagai alatnya. Ketika jasad rusak, bukan berarti ruhnya yang rusak, melainkan alat untuk mengekspresikannya yang terganggu. Ibarat seorang penunggang kuda yang mahir, jika kudanya sakit, ia tidak bisa berlari cepat, namun kemahiran sang penunggang tetap ada pada dirinya.

 

Bab 20: Apakah Nafs (jiwa) dan Ruh itu satu hal yang sama atau dua hal yang berbeda?

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa secara esensi keduanya adalah satu, namun dibedakan berdasarkan sifat dan fungsinya. Ketika ia berada di dalam jasad dan menjalankan fungsi-fungsi biologis serta nafsu, ia sering disebut Nafs. Namun ketika ia dipandang sebagai entitas yang halus, suci, dan berhubungan dengan alam langit, ia disebut Ruh.

Para ulama seperti Abu Muhammad bin Hazm (456 H) menyatakan bahwa keduanya adalah sinonim. Namun kelompok lain membedakannya dengan sangat rinci. Ibnu Qoyyim mengambil jalan tengah: secara substansi mereka adalah satu entitas, namun penamaannya bergantung pada sisi mana kita memandangnya.

 

Bab 21: Apakah Nafs itu satu atau tiga?

Ini adalah pembahasan yang sangat menyentuh sisi psikologi Islami. Seringkali kita mendengar tentang Nafs Mutmainnah, Lawwamah, dan Ammaroh. Beliau menjelaskan bahwa ini bukanlah tiga jiwa yang berbeda dalam satu raga, melainkan tiga sifat atau keadaan yang berganti-ganti pada satu jiwa yang sama.

21.5 - 21.7: Mengenai tiga jenis sifat Nafs

1. Nafs Mutmainnah: Jiwa yang telah tenang dengan ketaatan kepada Alloh , ridho dengan takdir-Nya, dan merasa tentram dengan dzikir kepada-Nya. Ia telah keluar dari kegoncangan keraguan menuju cahaya keyakinan.

2. Nafs Lawwamah: Jiwa yang selalu mencela. Ulama Salaf menjelaskan ada dua jenis celaan: celaan yang terpuji (mencela diri sendiri karena kurang dalam beramal) dan celaan yang tercela (jiwa yang tidak stabil, sebentar taat sebentar maksiat). Alloh bersumpah dengan jiwa ini dalam Al-Qur’an.

3. Nafs Ammaroh: Jiwa yang selalu memerintahkan pada keburukan. Ini adalah musuh dari dalam diri yang harus ditundukkan dengan Jihad melawan hawa nafsu.

21.11 - 21.54: Perbedaan-perbedaan halus dalam perilaku manusia

Bagian penutup kitab ini sangat luar biasa karena Ibnu Qoyyim merinci perbedaan antara sifat-sifat yang tampak serupa namun hakikatnya sangat berbeda. Ini adalah seni mendidik jiwa (Tazkiyatun Nafs).

Beliau membedakan antara:

- Tawadhu’ (rendah hati) yang bersumber dari kemuliaan jiwa, dengan Mahanan (hina diri) yang bersumber dari kelemahan mental.

- Syaja’ah (keberanian) yang merupakan keteguhan hati di saat genting, dengan Juroh (nekat) yang merupakan kebodohan dalam menghadapi bahaya tanpa perhitungan.

- Nashihat yang bertujuan memperbaiki orang lain dengan penuh kasih sayang, dengan Ta’nib (mencela) yang bertujuan menjatuhkan dan mempermalukan.

- Firasat yang merupakan cahaya dari Alloh di hati orang Mu’min, dengan Zhonn (dugaan) yang seringkali keliru karena didasari oleh buruk sangka.

Beliau menutup dengan sangat indah bahwa seluruh kunci kebahagiaan ruh terletak pada kemampuannya untuk membedakan antara yang benar dan yang samar, serta keteguhannya dalam mengikuti jejak Nabi di atas jalan yang diridhoi Alloh .

Rangkuman ini mencakup inti sari dari kitab yang sangat mendalam ini, memberikan kita pemahaman bahwa urusan ruh adalah urusan yang agung, yang membawa kita untuk lebih mengenal diri kita sendiri agar bisa lebih mengenal Robb kita, Alloh .

 

Penutup

Demikian pembahasan buku kecil Mengenal Ruh Lebih Dekat yang kami rangkum dari Kitab Ruh karya Imam Ibnu Qoyyim (751 H). Buku ini sama sekali tidak mewakili kitab asal, karena kami sadar lemahnya dalam merangkum dan ketelitian, disamping adanya beberapa penambahan di luar kitab asli.

Mudah-mudahan Alloh mengampuni kita dan menerima buku ini dan menjadikannya bermanfaat bagi Muslimin.

Allohu a’lam.[NK]

 

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url