Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Biografi Imam Ghozali dan Kritik Ihya Ulumiddin - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Risalah ini saya ringkas dari Siyar Alamin Nubala karya Adz-Dzahabi (748 H) dan makalah نبذة عن أبي حامد الغزالي karya Ihsan Abu Thoriq. Saya menatanya dan menambahkan bab dan subbab.

 

Bab 1: Mengenal Sosok Al-Ghozali

1.1 Nasab, Kelahiran, dan Gelar Sang Imam

Al-Ghozali rohimahullah adalah seorang ulama besar yang dikenal dengan nama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghozali Ath-Thusi. Beliau lahir di Thus pada tahun 450 H dan wafat pada tahun 505 H. Nama beliau ditulis dengan penekanan pada huruf Zay (Al-Ghozzali).

Di antara gelar-gelar besar yang disematkan kepadanya adalah Al-Imam Al-Bahr (Lautan Ilmu), Hujjatul Islam, A’jubatuz Zaman (Keajaiban Zaman), dan Zainuddin. Beliau merupakan pengikut madzhab Syafi’i dan dikenal sebagai pemilik berbagai karya tulis serta kecerdasan yang sangat luar biasa.

1.2 Awal Perjalanan Menuntut Ilmu dan Kecerdasan yang Melimpah

Perjalanan menuntut ilmu beliau dimulai di tanah kelahirannya sendiri. Setelah itu, beliau berpindah ke Naisabur bersama sekelompok pelajar lainnya untuk berguru kepada Imamul Haromain (478 H). Di bawah bimbingan gurunya, beliau menunjukkan keunggulan yang luar biasa dalam waktu singkat. Beliau sangat ahli dalam bidang Fiqih, ilmu Kalam (teologi), dan perdebatan, hingga menjadi sosok yang sangat diperhitungkan di kalangan para pendebat.

Beliau juga sempat membantu gurunya dalam mengajar para siswa dan mulai aktif menulis karya ilmiah. Abul Ma’ali Imamul Haromain (478 H), terkadang merasa takjub dengan pencapaiannya, beliau merasa bangga terhadap muridnya tersebut.

 

Bab 2: Puncak Karir dan Persentuhan dengan Filsafat

2.1 Kedudukan di Bagdad dan Hubungan dengan Nidhomul Mulk

Setelah menyelesaikan masa belajarnya, Al-Ghozali rohimahullah berangkat menuju perkemahan Sultan dan bertemu dengan menteri ternama, Nidhomul Mulk (485 H). Sang menteri sangat senang dengan kehadiran beliau dan beliau pun sering melakukan debat dengan tokoh-tokoh besar di hadapan menteri tersebut hingga membuat semua orang kagum.

Karena reputasinya yang cemerlang, Nidhomul Mulk (485 H) mengangkatnya menjadi pengajar di Madrasah Nidhomiyyah Bagdad pada tahun 484 H. Saat itu usia beliau masih tergolong muda, yaitu sekitar 30 tahun. Di Bagdad, beliau semakin giat menyusun kitab-kitab dalam bidang Ushul, Fiqih, Kalam, dan Hikmah. Kedudukan dan kemegahan beliau meningkat pesat hingga setara dengan para pemimpin besar.

2.2 Masuknya Pemikiran Filsafat dan Dampak Seleret Pikirannya

Kecerdasan Al-Ghozali rohimahullah yang sangat tajam justru membawanya masuk ke dalam kerumitan ilmu Kalam dan tempat-tempat yang membahayakan bagi kaki dalam melangkah. Mengenai hal ini, Adz-Dzahabi (748 H) memberikan komentar:

أَدْخَلَهُ سَيَلَانُ ذِهْنِهِ فِي مَضَايِقِ الْكَلَامِ، وَمَزَالِّ الْأَقْدَامِ

“Kecerdasannya yang meluap telah memasukkannya ke dalam kerumitan ilmu Kalam dan tempat-tempat yang membuat kaki tergelincir.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/323)

Begitu pula dengan persentuhannya terhadap filsafat. Abu Bakr bin Al-‘Arobi (543 H) menceritakan kondisi gurunya tersebut:

شَيْخُنَا أَبُو حَامِدٍ: بَلَعَ الْفَلَاسِفَةَ، وَأَرَادَ أَنْ يَتَقَيَّأَهُمْ فَمَا اسْتَطَاعَ

“Guru kami Abu Hamid: beliau telah menelan para filosof, dan ingin memuntahkannya kembali namun beliau tidak mampu.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/327)

Meskipun beliau menulis kitab At-Tahafut untuk menyingkap kebusukan para filosof, namun karena kurangnya penguasaan terhadap ilmu atsar (hadits dan riwayat Shohabat) serta Sunnah Nabi yang seharusnya menjadi hakim atas akal, beliau tetap menyetujui mereka di beberapa tempat yang beliau anggap sebagai kebenaran. Beliau juga gemar mempelajari kitab Rosail Ikhwanush Shofa, yang dianggap oleh para ulama sebagai penyakit kronis dan racun yang mematikan bagi agama.

 

Bab 3: Masa Perubahan Jati Diri dan Jalan Tasawwuf

3.1 Meninggalkan Kemegahan Dunia demi Memperbaiki Jiwa

Al-Ghozali rohimahullah mencapai kedudukan yang sangat tinggi di Bagdad hingga setara dengan pemimpin besar. Pandangan beliau dalam ilmu pengetahuan dan latihan berbagai macam kezuhudan membawanya untuk meninggalkan jabatan kepemimpinan tersebut. Beliau memilih untuk kembali ke negeri Akhiroh, beribadah, ikhlas, serta memperbaiki jiwa. Beliau segera menunaikan ibadah Haji dan mengunjungi Baitul Maqdis.

3.2 Kehidupan di Damaskus dan Baitul Maqdis

Selama di Damaskus, beliau bersahabat dengan seorang ahli Fiqih bernama Nashr bin Ibrahim rohimahullah dan menetap di sana dalam waktu tertentu. Pada masa inilah beliau mulai menyusun kitab Ihya Ulumiddin. Beliau juga melatih jiwanya, bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu, mengusir bisikan kesombongan, serta mengenakan pakaian orang-orang yang bertakwa. Abdul Ghofir (529 H) menceritakan perubahan besar pada diri beliau melalui kesaksiannya:

“Sungguh aku telah mengunjunginya berkali-kali. Aku tidak pernah menyangka dalam diriku—setelah apa yang aku ketahui sebelumnya tentang sifat kerasnya dan cara beliau memandang manusia dengan pandangan remeh karena kesombongan, keangkuhan, serta rasa bangga atas keluasan ilmu, lisan, kecerdasan, dan ambisi mencari kedudukan—bahwa beliau telah berubah menjadi sebaliknya dan telah bersih dari kotoran-kotoran tersebut.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/324)

 

Bab 4: Kitab Ihya Ulumiddin dalam Timbangan Para Ulama

4.1 Faidah-faidah di dalam Ihya Ulumiddin

Para ulama mengakui bahwa kitab Ihya Ulumiddin memiliki banyak manfaat, terutama dalam hal pengobatan hati.

Ibnu Taimiyah (728 H) memberikan penjelasan yang adil mengenai kitab ini:

وَالْإِحْيَاءُ فِيهِ فَوَائِدُ كَثِيرَةٌ، لَكِنْ فِيهِ مَوَادُّ مَذْمُومَةٌ، فَإِنَّ فِيهِ مَوَادَّ فَاسِدَةً مِنْ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ، تَتَعَلَّقُ بِالتَّوْحِيدِ، وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ

“Kitab Al-Ihya di dalamnya terdapat banyak faidah, namun di dalamnya juga terdapat materi-materi yang tercela. Sesungguhnya di dalamnya ada materi yang rusak dari perkataan para filosof yang berkaitan dengan Tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan.” (Majmu’ul Fatawa, Ibnu Taimiyah, 10/551-552)

4.2 Kritik Tajam Ulama terhadap Hadits-hadits Palsu dan Unsur Filsafat

Salah satu kritik terbesar terhadap kitab Ihya Ulumiddin adalah banyaknya hadits-hadits yang tidak memiliki dasar atau palsu (maudhu’). Al-Ghozali rohimahullah sendiri diakui tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang hadits-hadits Nabi dan atsar. Ath-Thurthusi (520 H) menyatakan:

فَلَمَّا عَمِلَ الْإِحْيَاءَ: عَمَدَ يَتَكَلَّمُ فِي عُلُومِ الْأَحْوَالِ، وَمَرَامِزِ الصُّوفِيَّةِ، وَكَانَ غَيْرَ أَنِيسٍ بِهَا، وَلَا خَبِيٍر بِمَعْرِفَتِهَا، فَسَقَطَ عَلَى أُمِّ رَأْسِهِ، وَشَحَنَ كِتَابَهُ بِالْمَوْضُوعَاتِ

“Maka ketika beliau menyusun kitab Al-Ihya, beliau sengaja berbicara tentang ilmu ahwal (keadaan jiwa) dan isyarat-isyarat kaum Shufi, padahal beliau tidak terbiasa dengannya dan tidak ahli mengenalnya. Akhirnya beliau tersungkur dan memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits palsu.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/327)

Ibnu Jauzi (597 H) juga menambahkan kritiknya:

صَنَّفَ أَبُو حَامِدٍ الْإِحْيَاءَ، وَمَلَأَهُ بِالْأَحَادِيثِ الْبَاطِلَةِ، وَلَمْ يَعْلَمْ بُطْلَانَهَا، وَتَكَلَّمَ عَلَى الْكَشْفِ، وَخَرَجَ عَنْ قَانُونِ الْفِقْهِ

“Abu Hamid menyusun Al-Ihya dan memenuhinya dengan hadits-hadits batil namun beliau tidak mengetahui kebatilannya. Beliau juga berbicara tentang kasyaf (penyingkapan tabir gaib) dan keluar dari aturan Fiqih.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/328)

4.3 Peringatan Para Ulama tentang Bahaya Kesesatan di Dalamnya

Karena banyaknya unsur filsafat dan pemikiran Shufi yang menyimpang, para ulama memberikan peringatan keras. Adz-Dzahabi (748 H) memperingatkan:

فَالْحِذَارَ الْحِذَارَ مِنْ هَذِهِ الْكُتُبِ، وَاهْرُبُوا بِدِينِكُمْ مِنْ شُبَه الأَوَّائِلِ وَإِلَّا وَقَعْتُمْ فِي الْحَيْرَةِ

“Maka waspadalah, benar-benar waspadalah terhadap kitab-kitab ini. Larilah membawa agama kalian dari syubhat (kerancuan) orang-orang terdahulu, jika tidak, maka kalian akan terjerumus ke dalam kebingungan.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/328)

Bahkan Qodhi Iyadh (544 H) menceritakan tindakan tegas di wilayahnya:

وَالنَّفَذُ أَمْرُ السُّلْطَانِ عِنْدَنَا وَفَتْوَى الْفُقَهَاءِ بِإِحْرَاقِهَا وَالْبُعْدِ عَنْهَا فَاِمْتُثِلَ لِذَلِكَ

“Maka berlakulah perintah Sultan di negeri kami dan fatwa para ahli Fiqih untuk membakar kitab-kitab tersebut dan menjauhinya, maka hal itu pun dilaksanakan.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/327)

Muhammad bin Hamdin (508 H) juga menyebut Al-Ghozali rohimahullah sebagai sosok yang menanamkan kesesatan bagi pengikutnya melalui kitab ini. Beliau mengecam pengakuan bahwa kitab tersebut mengandung rahasia Robbaniyyah yang dapat membawa seseorang pada penyingkapan rahasia ketuhanan yang tidak bisa dicapai kecuali dengan cara-cara yang menyimpang dari agama.

4.4 Beberapa Contoh Kesesatan dan Pemikiran Menyimpang dalam Al-Ihya

Di dalam kitab Al-Ihya, Al-Ghozali rohimahullah menukil berbagai kisah dan pernyataan yang dianggap sangat berbahaya oleh para ulama karena bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Di antaranya adalah nukilan dari Abu Turob An-Nakhsyabi (245 H) tentang seorang murid yang berkata bahwa lebih baik melihat Abu Yazid Al-Bisthomi (261 H) daripada Alloh. Abu Turob berkata:

وَيْلَكَ تَغْتَرُّ بِاللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَ أَبَا يَزِيدَ مَرَّةً وَاحِدَةً كَانَ أَنْفَعَ لَكَ مِنْ أَنْ تَرَى اللَّهَ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Celaka kamu, kamu tertipu oleh Alloh. Jika kamu melihat Abu Yazid satu kali saja, itu lebih bermanfaat bagimu daripada melihat Alloh 70 kali.” (Ihya Ulumiddin, Al-Ghozali, 4/305)

Al-Ghozali rohimahullah mengomentari kisah ini dengan menyatakan bahwa hal-hal tersebut adalah mungkin terjadi secara akal. Selain itu, beliau menukil perkataan Sahl At-Tustari (283 H) yang mengklaim bahwa jika para wali meminta kepada Alloh agar hari Kiamat tidak ditegakkan, niscaya Alloh tidak akan menegakkannya. Beliau juga menukil pernyataan yang sangat berani mengenai rahasia jiwa:

النَّفْسُ سِرُّ اللَّهِ، مَا ظَهَرَ ذَلِكَ السِّرُّ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ إِلَّا عَلَى فِرْعَوْنَ! فَقَالَ: أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

“Jiwa adalah rahasia Alloh, dan rahasia itu tidak ditampakkan kepada seorang pun dari makhluk-Nya—kecuali kepada Fir’aun. Maka ia pun berkata: ‘Aku adalah Robb kalian yang paling tinggi.’” (Ihya Ulumiddin, Al-Ghozali, 4/61).

Pernyataan lain yang sangat dikecam adalah ketika beliau menuduh Alloh melakukan kezholiman dengan perkataannya:

قَرَّبَ الْمَلَائِكَةَ مِنْ غَيْرِ وَسِيلَةٍ سَابِقَةٍ، وَأَبْعَدَ إِبْلِيسَ مِنْ غَيْرِ جَرِيمَةٍ سَالِفَةٍ

“Dia (Alloh) mendekatkan Malaikat tanpa perantara sebelumnya, dan menjauhkan Iblis tanpa kejahatan terdahulu.” (Ihya Ulumiddin, Al-Ghozali, 4/168)

Karena isi yang bercampur antara kebenaran dan kebathilan inilah, Ibnu ‘Aqil (513 H) mengecam keras kitab ini dan menyatakan bahwa banyak pembahasannya mengandung kekufuran yang murni.

4.5 Pengaruh Rosail Ikhwanush Shofa

Salah satu faktor yang menyebabkan kerancuan dalam pemikiran Al-Ghozali rohimahullah adalah kegemarannya menelaah kitab Rosail Ikhwanush Shofa. Kitab ini merupakan hasil pemikiran kelompok kebatinan yang mencampur filsafat Yunani dengan akidah Islam. Ibnu Taimiyah (728 H) menyebutkan bahwa di dalam kitab tersebut terdapat banyak kekufuran dan kebodohan. Adz-Dzahabi (748 H) memberikan peringatan keras mengenai hal ini:

وَحُبِّبَ إِلَيْهِ إِدْمَانُ النَّظَرِ فِي كِتَابِ رَسَائِلِ إِخْوَانِ الصَّفَا، وَهُوَ دَاءٌ عُضَالٌ، وَجَرَبٌ مُرْدٍ، وَسُمٌّ قَتَّالٌ

“Dijadikan bagi beliau kegemaran untuk terus-menerus menelaah kitab Risail Ikhwanush Shofa, padahal ia adalah penyakit kronis, kudis yang membinasakan, dan racun yang mematikan.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/328).

4.6 Bahaya Mengungkap Rahasia Ketuhanan

Salah satu titik paling krusial yang dikritik oleh para Ulama adalah konsep sirrur rububiyyah (rahasia ketuhanan) yang disinggung dalam karya-karya beliau. Al-Ghozali rohimahullah menukil sebuah pernyataan yang sangat berbahaya bagi orang awam maupun penuntut ilmu:

مَنْ أَفْشَى سِرَّ الرُّبُوبِيَّةِ، كَفَرَ

“Barangsiapa yang membocorkan rahasia ketuhanan, maka dia telah kafir.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/332).

Pernyataan ini, jika tidak dipahami dengan benar, dapat menggiring seseorang pada pemikiran kebatinan yang meyakini adanya rahasia yang dapat membatalkan Syariat, sebagaimana kekhawatiran yang disampaikan oleh Ibnu Hamdin (508 H).

4.7 Tindakan Tegas Penguasa Terhadap Kitab-kitabnya

Penyebaran kitab Ihya Ulumiddin di masa itu memicu reaksi keras dari para Ulama dan penguasa, terutama di wilayah Maghrib (Maroko). Sultan Ali bin Yusuf bin Tashfin (537 H), penguasa dinasti Al-Murobithun, dikenal sebagai sosok yang sangat mengagungkan para Ulama dan menjauhi ilmu Kalam. Setelah mendapatkan fatwa dari para ahli Fiqih, Sultan memerintahkan pembakaran terhadap karya-karya Al-Ghozali rohimahullah. Adz-Dzahabi (748 H) meriwayatkan:

وَكَتَبَ يَأْمُرُ بِإِحْرَاقِ تَوَالِيفِ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ -يَعْنِي: الْغَزَالِي- وَتَوَعَّدَ بِالْقَتْلِ مَنْ كَتَمَهَا

“Sultan menulis surat perintah untuk membakar karya-karya Syaikh Abu Hamid—yakni: Al-Ghozali—dan mengancam akan membunuh siapa saja yang menyembunyikannya.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 20/124)

4.8 Keraguan Para Ulama Terhadap Sebagian Karya Tulisnya

Sebagian Ulama meragukan keaslian beberapa kitab yang dinisbatkan kepada Al-Ghozali rohimahullah karena isinya yang sangat menyimpang dari prinsip Islam. Salah satunya adalah kitab Al-Mudhnon bihi ‘ala Ghoiri Ahlihi. Abu ‘Amr bin Sholah (643 H) menjelaskan adanya kemungkinan kitab tersebut merupakan buatan orang lain:

شَاهَدْتُ عَلَى نُسْخَةٍ بِهِ بِخَطِّ الْقَاضِي كَمَالِ الدِّينِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الشَّهْرَزُورِيِّ أَنَّهُ مَوْضُوعٌ عَلَى الْغَزَالِيِّ، وَأَنَّهُ مُخْتَرَعٌ مِنْ كِتَابِ مَقَاصِدِ الْفَلَاسِفَةِ”

“Aku melihat pada sebuah naskah kitab tersebut dengan tulisan tangan Qodhi Kamaluddin Muhammad bin Abdullah Asy-Syahrozuri (572 H) bahwa kitab itu dipalsukan atas nama Al-Ghozali, dan itu direkayasa dari kitab Maqoshidul Falasifah.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/329-330).

4.9 Pengakuan Mengenai Keterbatasannya

Al-Ghozali rohimahullah merupakan sosok yang jujur dalam mengakui keterbatasannya. Meskipun beliau mampu menyusun pidato dan kitab dengan gaya bahasa yang sulit ditandingi oleh sastrawan besar, beliau mengakui kekurangan dalam penguasaan ilmu Nahwu (tata bahasa Arab). Beliau hanya mengambil kadar yang beliau butuhkan saja dalam ucapannya. Selain itu, beliau juga secara terbuka mengakui ketidakpahamannya terhadap ilmu Hadits, sebagaimana dicatat oleh para sejarawan bahwa pengetahuan beliau tentang atsar dan Sunnah Nabi yang seharusnya menjadi hakim atas akal belumlah mendalam.

4.10 Pelajaran dari Kehidupan Sang Imam

Kisah perjalanan hidup Al-Ghozali rohimahullah memberikan pelajaran berharga bagi setiap Muslim. Kecerdasan yang melimpah tanpa dibarengi dengan pemahaman yang mendalam terhadap Sunnah Nabi dan atsar para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dapat membawa seseorang pada kebingungan di tengah belantara filsafat dan ilmu Kalam. Namun, akhir hayat beliau yang kembali kepada Shohih Bukhori memberikan harapan besar akan kembalinya beliau kepada jalan yang lurus.

Semoga Alloh mengampuni ketergelinciran beliau dan memberikan rahmat-Nya yang luas atas segala usaha beliau dalam membela agama Islam.

فَبِحُسْنِ قَصْدِ الْعَالِمِ يُغْفَرُ لَهُ وَيَنْجُو إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dengan niat baik seorang alim, niscaya dia akan diampuni dan selamat in sya Alloh.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/329)

 

Bab 5: Akhir Hayat dan Kembali kepada Sunnah

5.1 Masa-masa Terakhir Mempelajari Shohih Bukhori

Menjelang akhir hayatnya, Al-Ghozali rohimahullah mengalami perubahan besar dalam orientasi keilmuannya. Beliau mulai meninggalkan perdebatan ilmu Kalam dan filsafat, lalu memusatkan perhatiannya pada ilmu Hadits. Beliau duduk bersama para ahli Hadits dan tekun mempelajari kitab Shohih Bukhori dan Shohih Muslim.

Adz-Dzahabi (748 H) mencatat bahwa seandainya beliau hidup lebih lama, niscaya beliau akan mengungguli semua orang dalam bidang Hadits dalam waktu singkat. Beliau bahkan sempat mengoreksi naskah Shohih Bukhori dan Shohih Muslim di hadapan Al-Hafizh Abu Al-Fityan ‘Umar Ar-Rowasi (503 H) di Thus. Perubahan ini menunjukkan keinginan kuat beliau untuk kembali kepada jalan Salafus Sholih yang berpegang teguh pada wahyu di atas akal.

5.2 Wafatnya Sang Imam dan Harapan Rahmat baginya

Al-Ghozali rohimahullah wafat pada tahun 505 H. Diriwayatkan bahwa beliau wafat dalam keadaan Shohih Bukhori berada di atas dadanya. Meskipun banyak kritik tajam yang diarahkan kepada karya-karyanya, para ulama tetap mengakui bahwa beliau adalah salah satu lautan ilmu dan orang yang memiliki keikhlasan serta kecerdasan yang luar biasa.

Adz-Dzahabi (748 H) menutup biografi beliau dengan doa:

لَكِنَّ فَضْلَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ عَظِيمٌ، وَرَحْمَتُهُ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَنَسْأَلُ اللَّهَ لَهُ الرَّحْمَةَ

“Akan tetapi karunia Alloh kepada makhluk-Nya sangatlah besar, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, maka kita memohon rahmat kepada Alloh untuknya.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/318)

Kisah hidup beliau menjadi pelajaran besar bagi umat tentang bahayanya mencampuradukkan agama dengan filsafat, serta pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum di akhir hayat. Beliau telah berusaha menyingkap kebenaran dengan segala kemampuannya, dan semoga niat baiknya menjadi sebab ampunan baginya di sisi Robb semesta alam.

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url