[PDF] Biografi Imam Ghozali dan Kritik Ihya Ulumiddin - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Risalah ini saya ringkas
dari Siyar Alamin Nubala karya Adz-Dzahabi (748 H) dan makalah نبذة عن أبي حامد الغزالي karya Ihsan Abu Thoriq. Saya menatanya dan
menambahkan bab dan subbab.
Bab 1: Mengenal
Sosok Al-Ghozali
1.1 Nasab,
Kelahiran, dan Gelar Sang Imam
Al-Ghozali rohimahullah
adalah seorang ulama besar yang dikenal dengan nama lengkap Muhammad bin
Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghozali Ath-Thusi. Beliau lahir di Thus pada
tahun 450 H dan wafat pada tahun 505 H. Nama beliau ditulis dengan penekanan
pada huruf Zay (Al-Ghozzali).
Di antara gelar-gelar
besar yang disematkan kepadanya adalah Al-Imam Al-Bahr (Lautan Ilmu), Hujjatul
Islam, A’jubatuz Zaman (Keajaiban Zaman), dan Zainuddin. Beliau merupakan
pengikut madzhab Syafi’i dan dikenal sebagai pemilik berbagai karya tulis serta
kecerdasan yang sangat luar biasa.
1.2 Awal
Perjalanan Menuntut Ilmu dan Kecerdasan yang Melimpah
Perjalanan menuntut ilmu
beliau dimulai di tanah kelahirannya sendiri. Setelah itu, beliau berpindah ke
Naisabur bersama sekelompok pelajar lainnya untuk berguru kepada Imamul
Haromain (478 H). Di bawah bimbingan gurunya, beliau menunjukkan keunggulan
yang luar biasa dalam waktu singkat. Beliau sangat ahli dalam bidang Fiqih,
ilmu Kalam (teologi), dan perdebatan, hingga menjadi sosok yang sangat
diperhitungkan di kalangan para pendebat.
Beliau juga sempat
membantu gurunya dalam mengajar para siswa dan mulai aktif menulis karya
ilmiah. Abul Ma’ali Imamul Haromain (478 H), terkadang merasa takjub dengan
pencapaiannya, beliau merasa bangga terhadap muridnya tersebut.
Bab 2: Puncak
Karir dan Persentuhan dengan Filsafat
2.1 Kedudukan di
Bagdad dan Hubungan dengan Nidhomul Mulk
Setelah menyelesaikan
masa belajarnya, Al-Ghozali rohimahullah berangkat menuju perkemahan
Sultan dan bertemu dengan menteri ternama, Nidhomul Mulk (485 H). Sang menteri
sangat senang dengan kehadiran beliau dan beliau pun sering melakukan debat
dengan tokoh-tokoh besar di hadapan menteri tersebut hingga membuat semua orang
kagum.
Karena reputasinya yang
cemerlang, Nidhomul Mulk (485 H) mengangkatnya menjadi pengajar di Madrasah Nidhomiyyah
Bagdad pada tahun 484 H. Saat itu usia beliau masih tergolong muda, yaitu
sekitar 30 tahun. Di Bagdad, beliau semakin giat menyusun kitab-kitab dalam
bidang Ushul, Fiqih, Kalam, dan Hikmah. Kedudukan dan kemegahan beliau
meningkat pesat hingga setara dengan para pemimpin besar.
2.2 Masuknya
Pemikiran Filsafat dan Dampak Seleret Pikirannya
Kecerdasan Al-Ghozali rohimahullah
yang sangat tajam justru membawanya masuk ke dalam kerumitan ilmu Kalam dan
tempat-tempat yang membahayakan bagi kaki dalam melangkah. Mengenai hal ini,
Adz-Dzahabi (748 H) memberikan komentar:
أَدْخَلَهُ سَيَلَانُ ذِهْنِهِ فِي مَضَايِقِ الْكَلَامِ، وَمَزَالِّ
الْأَقْدَامِ
“Kecerdasannya yang
meluap telah memasukkannya ke dalam kerumitan ilmu Kalam dan tempat-tempat yang
membuat kaki tergelincir.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/323)
Begitu pula dengan
persentuhannya terhadap filsafat. Abu Bakr bin Al-‘Arobi (543 H) menceritakan
kondisi gurunya tersebut:
شَيْخُنَا أَبُو حَامِدٍ: بَلَعَ الْفَلَاسِفَةَ، وَأَرَادَ
أَنْ يَتَقَيَّأَهُمْ فَمَا اسْتَطَاعَ
“Guru kami Abu Hamid:
beliau telah menelan para filosof, dan ingin memuntahkannya kembali namun
beliau tidak mampu.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/327)
Meskipun beliau menulis
kitab At-Tahafut untuk menyingkap kebusukan para filosof, namun karena
kurangnya penguasaan terhadap ilmu atsar (hadits dan riwayat Shohabat) serta
Sunnah Nabi ﷺ yang
seharusnya menjadi hakim atas akal, beliau tetap menyetujui mereka di beberapa
tempat yang beliau anggap sebagai kebenaran. Beliau juga gemar mempelajari
kitab Rosail Ikhwanush Shofa, yang dianggap oleh para ulama sebagai
penyakit kronis dan racun yang mematikan bagi agama.
Bab 3: Masa
Perubahan Jati Diri dan Jalan Tasawwuf
3.1 Meninggalkan
Kemegahan Dunia demi Memperbaiki Jiwa
Al-Ghozali rohimahullah
mencapai kedudukan yang sangat tinggi di Bagdad hingga setara dengan pemimpin
besar. Pandangan beliau dalam ilmu pengetahuan dan latihan berbagai macam
kezuhudan membawanya untuk meninggalkan jabatan kepemimpinan tersebut. Beliau
memilih untuk kembali ke negeri Akhiroh, beribadah, ikhlas, serta memperbaiki
jiwa. Beliau segera menunaikan ibadah Haji dan mengunjungi Baitul Maqdis.
3.2 Kehidupan di
Damaskus dan Baitul Maqdis
Selama di Damaskus,
beliau bersahabat dengan seorang ahli Fiqih bernama Nashr bin Ibrahim rohimahullah
dan menetap di sana dalam waktu tertentu. Pada masa inilah beliau mulai
menyusun kitab Ihya Ulumiddin. Beliau juga melatih jiwanya,
bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu, mengusir bisikan kesombongan, serta
mengenakan pakaian orang-orang yang bertakwa. Abdul Ghofir (529 H) menceritakan
perubahan besar pada diri beliau melalui kesaksiannya:
“Sungguh aku telah
mengunjunginya berkali-kali. Aku tidak pernah menyangka dalam diriku—setelah
apa yang aku ketahui sebelumnya tentang sifat kerasnya dan cara beliau
memandang manusia dengan pandangan remeh karena kesombongan, keangkuhan, serta
rasa bangga atas keluasan ilmu, lisan, kecerdasan, dan ambisi mencari kedudukan—bahwa
beliau telah berubah menjadi sebaliknya dan telah bersih dari kotoran-kotoran
tersebut.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/324)
Bab 4: Kitab
Ihya Ulumiddin dalam Timbangan Para Ulama
4.1
Faidah-faidah di dalam Ihya Ulumiddin
Para ulama mengakui bahwa
kitab Ihya Ulumiddin memiliki banyak manfaat, terutama dalam hal pengobatan
hati.
Ibnu Taimiyah (728 H)
memberikan penjelasan yang adil mengenai kitab ini:
وَ”الْإِحْيَاءُ” فِيهِ فَوَائِدُ كَثِيرَةٌ، لَكِنْ فِيهِ مَوَادُّ
مَذْمُومَةٌ، فَإِنَّ فِيهِ مَوَادَّ فَاسِدَةً مِنْ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ، تَتَعَلَّقُ
بِالتَّوْحِيدِ، وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ
“Kitab Al-Ihya di
dalamnya terdapat banyak faidah, namun di dalamnya juga terdapat materi-materi
yang tercela. Sesungguhnya di dalamnya ada materi yang rusak dari perkataan
para filosof yang berkaitan dengan Tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan.” (Majmu’ul
Fatawa, Ibnu Taimiyah, 10/551-552)
4.2 Kritik Tajam
Ulama terhadap Hadits-hadits Palsu dan Unsur Filsafat
Salah satu kritik
terbesar terhadap kitab Ihya Ulumiddin adalah banyaknya hadits-hadits
yang tidak memiliki dasar atau palsu (maudhu’). Al-Ghozali rohimahullah
sendiri diakui tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang hadits-hadits Nabi ﷺ dan atsar. Ath-Thurthusi (520 H)
menyatakan:
فَلَمَّا عَمِلَ “الْإِحْيَاءَ”: عَمَدَ يَتَكَلَّمُ فِي عُلُومِ الْأَحْوَالِ،
وَمَرَامِزِ الصُّوفِيَّةِ، وَكَانَ غَيْرَ أَنِيسٍ بِهَا، وَلَا خَبِيٍر بِمَعْرِفَتِهَا،
فَسَقَطَ عَلَى أُمِّ رَأْسِهِ، وَشَحَنَ كِتَابَهُ بِالْمَوْضُوعَاتِ
“Maka ketika beliau
menyusun kitab Al-Ihya, beliau sengaja berbicara tentang ilmu ahwal
(keadaan jiwa) dan isyarat-isyarat kaum Shufi, padahal beliau tidak terbiasa
dengannya dan tidak ahli mengenalnya. Akhirnya beliau tersungkur dan memenuhi
kitabnya dengan hadits-hadits palsu.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi,
19/327)
Ibnu Jauzi (597 H) juga
menambahkan kritiknya:
صَنَّفَ “أَبُو حَامِدٍ” الْإِحْيَاءَ، وَمَلَأَهُ بِالْأَحَادِيثِ الْبَاطِلَةِ،
وَلَمْ يَعْلَمْ بُطْلَانَهَا، وَتَكَلَّمَ عَلَى الْكَشْفِ، وَخَرَجَ عَنْ قَانُونِ
الْفِقْهِ
“Abu Hamid menyusun
Al-Ihya dan memenuhinya dengan hadits-hadits batil namun beliau tidak
mengetahui kebatilannya. Beliau juga berbicara tentang kasyaf (penyingkapan
tabir gaib) dan keluar dari aturan Fiqih.” (Siyar A’lam An-Nubala,
Adz-Dzahabi, 19/328)
4.3 Peringatan
Para Ulama tentang Bahaya Kesesatan di Dalamnya
Karena banyaknya unsur
filsafat dan pemikiran Shufi yang menyimpang, para ulama memberikan peringatan
keras. Adz-Dzahabi (748 H) memperingatkan:
فَالْحِذَارَ الْحِذَارَ مِنْ هَذِهِ الْكُتُبِ، وَاهْرُبُوا
بِدِينِكُمْ مِنْ شُبَه الأَوَّائِلِ وَإِلَّا وَقَعْتُمْ فِي الْحَيْرَةِ
“Maka waspadalah,
benar-benar waspadalah terhadap kitab-kitab ini. Larilah membawa agama kalian
dari syubhat (kerancuan) orang-orang terdahulu, jika tidak, maka kalian akan terjerumus
ke dalam kebingungan.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/328)
Bahkan Qodhi Iyadh (544
H) menceritakan tindakan tegas di wilayahnya:
وَالنَّفَذُ أَمْرُ السُّلْطَانِ عِنْدَنَا وَفَتْوَى الْفُقَهَاءِ
بِإِحْرَاقِهَا وَالْبُعْدِ عَنْهَا فَاِمْتُثِلَ لِذَلِكَ
“Maka berlakulah perintah
Sultan di negeri kami dan fatwa para ahli Fiqih untuk membakar kitab-kitab
tersebut dan menjauhinya, maka hal itu pun dilaksanakan.” (Siyar A’lam
An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/327)
Muhammad bin Hamdin (508
H) juga menyebut Al-Ghozali rohimahullah sebagai sosok yang menanamkan
kesesatan bagi pengikutnya melalui kitab ini. Beliau mengecam pengakuan bahwa
kitab tersebut mengandung rahasia Robbaniyyah yang dapat membawa seseorang pada
penyingkapan rahasia ketuhanan yang tidak bisa dicapai kecuali dengan cara-cara
yang menyimpang dari agama.
4.4 Beberapa
Contoh Kesesatan dan Pemikiran Menyimpang dalam Al-Ihya
Di dalam kitab Al-Ihya,
Al-Ghozali rohimahullah menukil berbagai kisah dan pernyataan yang
dianggap sangat berbahaya oleh para ulama karena bertentangan dengan prinsip
dasar Islam. Di antaranya adalah nukilan dari Abu Turob An-Nakhsyabi (245 H)
tentang seorang murid yang berkata bahwa lebih baik melihat Abu Yazid
Al-Bisthomi (261 H) daripada Alloh. Abu Turob berkata:
وَيْلَكَ تَغْتَرُّ بِاللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَ أَبَا يَزِيدَ
مَرَّةً وَاحِدَةً كَانَ أَنْفَعَ لَكَ مِنْ أَنْ تَرَى اللَّهَ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Celaka kamu, kamu
tertipu oleh Alloh. Jika kamu melihat Abu Yazid satu kali saja, itu lebih
bermanfaat bagimu daripada melihat Alloh 70 kali.” (Ihya Ulumiddin,
Al-Ghozali, 4/305)
Al-Ghozali rohimahullah
mengomentari kisah ini dengan menyatakan bahwa hal-hal tersebut adalah mungkin
terjadi secara akal. Selain itu, beliau menukil perkataan Sahl At-Tustari (283
H) yang mengklaim bahwa jika para wali meminta kepada Alloh ﷻ agar hari Kiamat tidak ditegakkan, niscaya
Alloh ﷻ tidak
akan menegakkannya. Beliau juga menukil pernyataan yang sangat berani mengenai
rahasia jiwa:
النَّفْسُ سِرُّ اللَّهِ، مَا ظَهَرَ ذَلِكَ السِّرُّ عَلَى
أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ إِلَّا عَلَى فِرْعَوْنَ! فَقَالَ: أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
“Jiwa adalah rahasia
Alloh, dan rahasia itu tidak ditampakkan kepada seorang pun dari
makhluk-Nya—kecuali kepada Fir’aun. Maka ia pun berkata: ‘Aku adalah Robb
kalian yang paling tinggi.’” (Ihya Ulumiddin, Al-Ghozali, 4/61).
Pernyataan lain yang
sangat dikecam adalah ketika beliau menuduh Alloh ﷻ melakukan kezholiman dengan perkataannya:
قَرَّبَ الْمَلَائِكَةَ مِنْ غَيْرِ وَسِيلَةٍ سَابِقَةٍ، وَأَبْعَدَ
إِبْلِيسَ مِنْ غَيْرِ جَرِيمَةٍ سَالِفَةٍ
“Dia (Alloh) mendekatkan
Malaikat tanpa perantara sebelumnya, dan menjauhkan Iblis tanpa kejahatan
terdahulu.” (Ihya Ulumiddin, Al-Ghozali, 4/168)
Karena isi yang bercampur
antara kebenaran dan kebathilan inilah, Ibnu ‘Aqil (513 H) mengecam keras kitab
ini dan menyatakan bahwa banyak pembahasannya mengandung kekufuran yang murni.
4.5 Pengaruh Rosail
Ikhwanush Shofa
Salah satu faktor yang
menyebabkan kerancuan dalam pemikiran Al-Ghozali rohimahullah adalah
kegemarannya menelaah kitab Rosail Ikhwanush Shofa. Kitab ini merupakan
hasil pemikiran kelompok kebatinan yang mencampur filsafat Yunani dengan akidah
Islam. Ibnu Taimiyah (728 H) menyebutkan bahwa di dalam kitab tersebut terdapat
banyak kekufuran dan kebodohan. Adz-Dzahabi (748 H) memberikan peringatan keras
mengenai hal ini:
وَحُبِّبَ إِلَيْهِ إِدْمَانُ النَّظَرِ فِي كِتَابِ “رَسَائِلِ إِخْوَانِ الصَّفَا”، وَهُوَ دَاءٌ عُضَالٌ، وَجَرَبٌ مُرْدٍ، وَسُمٌّ
قَتَّالٌ
“Dijadikan bagi beliau
kegemaran untuk terus-menerus menelaah kitab Risail Ikhwanush Shofa, padahal ia
adalah penyakit kronis, kudis yang membinasakan, dan racun yang mematikan.” (Siyar
A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/328).
4.6 Bahaya
Mengungkap Rahasia Ketuhanan
Salah satu titik paling
krusial yang dikritik oleh para Ulama adalah konsep sirrur rububiyyah
(rahasia ketuhanan) yang disinggung dalam karya-karya beliau. Al-Ghozali rohimahullah
menukil sebuah pernyataan yang sangat berbahaya bagi orang awam maupun penuntut
ilmu:
مَنْ أَفْشَى سِرَّ الرُّبُوبِيَّةِ، كَفَرَ
“Barangsiapa yang
membocorkan rahasia ketuhanan, maka dia telah kafir.” (Siyar A’lam An-Nubala,
Adz-Dzahabi, 19/332).
Pernyataan ini, jika
tidak dipahami dengan benar, dapat menggiring seseorang pada pemikiran
kebatinan yang meyakini adanya rahasia yang dapat membatalkan Syariat,
sebagaimana kekhawatiran yang disampaikan oleh Ibnu Hamdin (508 H).
4.7 Tindakan
Tegas Penguasa Terhadap Kitab-kitabnya
Penyebaran kitab Ihya
Ulumiddin di masa itu memicu reaksi keras dari para Ulama dan penguasa,
terutama di wilayah Maghrib (Maroko). Sultan Ali bin Yusuf bin Tashfin (537 H),
penguasa dinasti Al-Murobithun, dikenal sebagai sosok yang sangat mengagungkan
para Ulama dan menjauhi ilmu Kalam. Setelah mendapatkan fatwa dari para ahli
Fiqih, Sultan memerintahkan pembakaran terhadap karya-karya Al-Ghozali rohimahullah.
Adz-Dzahabi (748 H) meriwayatkan:
وَكَتَبَ يَأْمُرُ بِإِحْرَاقِ تَوَالِيفِ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ
-يَعْنِي: الْغَزَالِي- وَتَوَعَّدَ بِالْقَتْلِ مَنْ كَتَمَهَا
“Sultan menulis surat
perintah untuk membakar karya-karya Syaikh Abu Hamid—yakni: Al-Ghozali—dan
mengancam akan membunuh siapa saja yang menyembunyikannya.” (Siyar A’lam
An-Nubala, Adz-Dzahabi, 20/124)
4.8 Keraguan
Para Ulama Terhadap Sebagian Karya Tulisnya
Sebagian Ulama meragukan
keaslian beberapa kitab yang dinisbatkan kepada Al-Ghozali rohimahullah
karena isinya yang sangat menyimpang dari prinsip Islam. Salah satunya adalah
kitab Al-Mudhnon bihi ‘ala Ghoiri Ahlihi. Abu ‘Amr bin Sholah (643 H)
menjelaskan adanya kemungkinan kitab tersebut merupakan buatan orang lain:
شَاهَدْتُ عَلَى نُسْخَةٍ بِهِ بِخَطِّ الْقَاضِي كَمَالِ الدِّينِ
مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الشَّهْرَزُورِيِّ أَنَّهُ مَوْضُوعٌ عَلَى الْغَزَالِيِّ،
وَأَنَّهُ مُخْتَرَعٌ مِنْ كِتَابِ “مَقَاصِدِ الْفَلَاسِفَةِ”
“Aku melihat pada sebuah
naskah kitab tersebut dengan tulisan tangan Qodhi Kamaluddin Muhammad bin
Abdullah Asy-Syahrozuri (572 H) bahwa kitab itu dipalsukan atas nama
Al-Ghozali, dan itu direkayasa dari kitab Maqoshidul Falasifah.” (Siyar
A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/329-330).
4.9 Pengakuan
Mengenai Keterbatasannya
Al-Ghozali rohimahullah
merupakan sosok yang jujur dalam mengakui keterbatasannya. Meskipun beliau
mampu menyusun pidato dan kitab dengan gaya bahasa yang sulit ditandingi oleh
sastrawan besar, beliau mengakui kekurangan dalam penguasaan ilmu Nahwu (tata
bahasa Arab). Beliau hanya mengambil kadar yang beliau butuhkan saja dalam
ucapannya. Selain itu, beliau juga secara terbuka mengakui ketidakpahamannya
terhadap ilmu Hadits, sebagaimana dicatat oleh para sejarawan bahwa pengetahuan
beliau tentang atsar dan Sunnah Nabi ﷺ yang
seharusnya menjadi hakim atas akal belumlah mendalam.
4.10 Pelajaran
dari Kehidupan Sang Imam
Kisah perjalanan hidup
Al-Ghozali rohimahullah memberikan pelajaran berharga bagi setiap
Muslim. Kecerdasan yang melimpah tanpa dibarengi dengan pemahaman yang mendalam
terhadap Sunnah Nabi ﷺ dan
atsar para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dapat membawa seseorang pada
kebingungan di tengah belantara filsafat dan ilmu Kalam. Namun, akhir hayat
beliau yang kembali kepada Shohih Bukhori memberikan harapan besar akan
kembalinya beliau kepada jalan yang lurus.
Semoga Alloh ﷻ mengampuni ketergelinciran beliau dan
memberikan rahmat-Nya yang luas atas segala usaha beliau dalam membela agama
Islam.
فَبِحُسْنِ قَصْدِ الْعَالِمِ يُغْفَرُ لَهُ وَيَنْجُو إِنْ
شَاءَ اللَّهُ
“Dengan niat baik seorang
alim, niscaya dia akan diampuni dan selamat in sya Alloh.” (Siyar A’lam
An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/329)
Bab 5: Akhir Hayat
dan Kembali kepada Sunnah
5.1 Masa-masa
Terakhir Mempelajari Shohih Bukhori
Menjelang akhir hayatnya,
Al-Ghozali rohimahullah mengalami perubahan besar dalam orientasi
keilmuannya. Beliau mulai meninggalkan perdebatan ilmu Kalam dan filsafat, lalu
memusatkan perhatiannya pada ilmu Hadits. Beliau duduk bersama para ahli Hadits
dan tekun mempelajari kitab Shohih Bukhori dan Shohih Muslim.
Adz-Dzahabi (748 H)
mencatat bahwa seandainya beliau hidup lebih lama, niscaya beliau akan
mengungguli semua orang dalam bidang Hadits dalam waktu singkat. Beliau bahkan
sempat mengoreksi naskah Shohih Bukhori dan Shohih Muslim di
hadapan Al-Hafizh Abu Al-Fityan ‘Umar Ar-Rowasi (503 H) di Thus. Perubahan ini
menunjukkan keinginan kuat beliau untuk kembali kepada jalan Salafus Sholih
yang berpegang teguh pada wahyu di atas akal.
5.2 Wafatnya
Sang Imam dan Harapan Rahmat baginya
Al-Ghozali rohimahullah
wafat pada tahun 505 H. Diriwayatkan bahwa beliau wafat dalam keadaan Shohih
Bukhori berada di atas dadanya. Meskipun banyak kritik tajam yang diarahkan
kepada karya-karyanya, para ulama tetap mengakui bahwa beliau adalah salah satu
lautan ilmu dan orang yang memiliki keikhlasan serta kecerdasan yang luar
biasa.
Adz-Dzahabi (748 H)
menutup biografi beliau dengan doa:
لَكِنَّ فَضْلَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ عَظِيمٌ، وَرَحْمَتُهُ
وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَنَسْأَلُ اللَّهَ لَهُ الرَّحْمَةَ
“Akan tetapi karunia
Alloh kepada makhluk-Nya sangatlah besar, dan rahmat-Nya meliputi segala
sesuatu, maka kita memohon rahmat kepada Alloh untuknya.” (Siyar A’lam
An-Nubala, Adz-Dzahabi, 19/318)
Kisah hidup beliau
menjadi pelajaran besar bagi umat tentang bahayanya mencampuradukkan agama
dengan filsafat, serta pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai
pemahaman para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum di akhir hayat. Beliau telah
berusaha menyingkap kebenaran dengan segala kemampuannya, dan semoga niat
baiknya menjadi sebab ampunan baginya di sisi Robb semesta alam.
