[PDF] Aqidah Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari (310 H) - Riwayat Imam Al-Lalikai (418 H)
Muqoddimah
بسم الله الرحمن الرحيم
Berikut adalah Aqidah Imam Ath-Thobari (310 H) yang diriwayatkan oleh Imam Al-Lalikai
dalam kitabnya Syarh Ushul Itiqod Ahli Sunnah yang merupakan salah satu
ensiklopedi aqidah bersanad terbesar.
Imam Al-Lalikai (418 H)
berkata:
اعْتِقَادُ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ جَرِيرٍ الطَّبَرِيِّ
Ini keyakinan Abu Ja’far
Muhammad bin Jarir Ath-Thobari (310 H).
أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ
قِرَاءَةً عَلَيْهِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الْقَاضِي أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ كَامِلٍ
قَالَ: قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَرِيرٍ
Telah mengabarkan kepada
kami ‘Ubaidulloh bin Muhammad bin Ahmad melalui bacaan di hadapannya, ia
berkata: Telah mengabarkan kepada kami Al-Qodhi Abu Bakr Ahmad bin Kamil (350
H) ia berkata: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir (310 H) berkata:
[1] Al-Qur’an
Adalah Kalamulloh Bukan Makhluk
فَأَوَّلُ مَا نَبْدَأُ فِيهِ الْقَوْلَ مِنْ ذَلِكَ كَلَامُ
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَنْزِيلُهُ؛ إِذْ كَانَ مِنْ مَعَانِي تَوْحِيدِهِ
Maka hal pertama yang
kami mulai ucapannya dari perkara tersebut adalah tentang Kalamulloh ﷻ dan wahyu yang diturunkan-Nya; karena hal
itu termasuk dalam makna-makna Tauhid-Nya.
فَالصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ فِي ذَلِكَ عِنْدَنَا أَنَّهُ كَلَامُ
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ غَيْرُ مَخْلُوقٍ كَيْفَ كُتِبَ، وَكَيْفَ تُلِيَ، وَفِي أَيِّ
مَوْضِعٍ قُرِئَ، فِي السَّمَاءِ وُجِدَ أَوْ فِي الْأَرْضِ حَيْثُ حُفِظَ
Maka pendapat yang benar
menurut kami dalam masalah tersebut adalah bahwa ia merupakan Kalamulloh ﷻ dan bukan makhluk, bagaimanapun ia
ditulis, bagaimanapun ia dibaca, dan di tempat mana pun ia dibacakan, baik ia
berada di langit maupun di bumi di mana pun ia dihafal.
فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ كَانَ مَكْتُوبًا أَوْ فِي أَلْوَاحِ
صِبْيَانِ الْكَتَاتِيبِ مَرْسُومًا، فِي حَجَرٍ نُقِشَ أَوْ فِي وَرَقٍ خُطَّ، فِي
الْقَلْبِ حُفِظَ أَوْ بِاللِّسَانِ لُفِظَ
Baik ia tertulis di Lauh
Mahfuzh atau terlukis di papan tulis anak-anak di tempat belajar, baik ia
diukir di batu atau digoreskan di kertas, baik ia dihafal di dalam hati atau
diucapkan dengan lisan.
[2] Konsekuensi
Bagi yang Menyelisihi Keyakinan Terhadap Al-Qur’an
فَمَنْ قَالَ غَيْرَ ذَلِكَ أَوِ ادَّعَى أَنَّ قُرْآنًا فِي
الْأَرْضِ أَوْ فِي السَّمَاءِ سِوَى الْقُرْآنِ الَّذِي نَتْلُوهُ بِأَلْسِنَتِنَا
وَنْكَتُبُهُ فِي مَصَاحِفِنَا، أَوِ اعْتَقَدَ غَيْرَ ذَلِكَ بِقَلْبِهِ أَوْ أَضْمَرَهُ
فِي نَفْسِهِ أَوْ قَالَ بِلِسَانِهِ دَايِنًا بِهِ؛
Maka barangsiapa yang
mengatakan selain itu, atau mengaku bahwa ada Al-Qur’an di bumi atau di langit
selain Al-Qur’an yang kita baca dengan lisan-lisan kita dan kita tulis dalam
Mushaf-Mushaf kita, atau meyakini selain hal tersebut dengan hatinya, atau
menyembunyikannya dalam dirinya, atau mengucapkannya dengan lisannya sebagai
bentuk keyakinan agama;
فَهُوَ بِاللَّهِ كَافِرٌ حَلَالُ الدَّمِ وَبَرِيءٌ مِنَ اللَّهِ،
وَاللَّهُ بَرِيءٌ مِنْهُ
Maka dia telah kafir
kepada Alloh ﷻ, halal
darahnya, dan berlepas diri dari Alloh ﷻ, serta Alloh ﷻ berlepas diri darinya.
[3] Dalil Al-Qur’an
Tentang Kalamulloh
لِقَوْلِ اللَّهِ جَلَّ ثَنَاؤُهُ: ﴿بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ
فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ﴾
Hal ini berdasarkan
firman Alloh ﷻ yang
Maha Agung pujian-Nya: “Bahkan (yang mereka dustakan itu) adalah Al-Qur’an
yang mulia (lagi agung), yang tertulis di Lauh Mahfuzh (papan yang
terpelihara).” (QS. Al-Buruj: 22)
وَقَالَ وَقَوْلُهُ الْحَقُّ: ﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ﴾
Dan Dia berfirman,
sementara firman-Nya adalah kebenaran: “Dan jika ada seseorang dari kaum
musyrikin meminta perlindungan kepadamu (agar ia dapat mendengar apa yang
engkau dakwahkan), maka lindungilah dia sampai dia mendengar Kalamulloh
(Al-Qur’an).” (QS. At-Taubah: 6)
فَأَخْبَرَنَا جَلَّ ثَنَاؤُهُ أَنَّهُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ
مَكْتُوبٌ، وَأَنَّهُ مِنْ لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسْمُوعٌ
Alloh ﷻ yang Maha Agung pujian-Nya telah
mengabarkan kepada kita bahwa Al-Qur’an itu tertulis di Lauh Mahfuzh, dan ia
didengar dari lisan Muhammad ﷺ.
وَهُوَ قُرْآنٌ وَاحِدٌ مِنْ مُحَمَّدٍ مَسْمُوعٌ، وَفِي اللَّوْحِ
الْمَحْفُوظِ مَكْتُوبٌ، وَكَذَلِكَ فِي الصُّدُورِ مَحْفُوظٌ، وَبِأَلْسُنِ الشُّيُوخِ
وَالشُّبَّانِ مَتْلُوٌّ
Ia adalah Al-Qur’an yang
satu yang didengar dari Muhammad ﷺ,
tertulis di Lauh Mahfuzh, demikian pula ia terjaga di dalam dada, dan dibaca
oleh lisan para orang tua maupun pemuda.
فَمَنْ رَوَى عَنَّا، أَوْ حَكَى عَنَّا، أَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا،
أَوِ ادَّعَى عَلَيْنَا أَنَّا قُلْنَا غَيْرَ ذَلِكَ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ
وَغَضَبُهُ، وَلَعْنَةُ اللَّاعِنِينَ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Maka barangsiapa yang
meriwayatkan dari kami, atau menghikayatkan dari kami, atau mengada-ada atas
nama kami, atau mendaku atas nama kami bahwa kami mengatakan selain itu, maka
baginya laknat Alloh ﷻ dan
kemurkaan-Nya, serta laknat orang-orang yang melaknat, para Malaikat, dan
seluruh manusia.
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا، وَهَتَكَ
سِتْرَهُ وَفَضَحَهُ عَلَى رُءُوسِ الْأَشْهَادِ ﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ الظَّالِمِينَ
مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ﴾
Alloh ﷻ tidak akan menerima darinya amalan wajib
maupun amalan sunnah, Alloh ﷻ akan mengoyak tirainya dan mempermalukannya di hadapan para
saksi: “yaitu hari di mana permintaan maaf tidak lagi berguna bagi
orang-orang zholim, dan bagi mereka laknat (yaitu dijauhkan dari rohmat Alloh)
serta bagi mereka tempat tinggal yang buruk (di dalam Naar).” (QS. Ghofir:
52)
[4] Melihat
Alloh di Hari Qiyamat
وَأَمَّا الصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ لَدَيْنَا فِي رُؤْيَةِ
الْمُؤْمِنِينَ رَبَّهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ دِينُنَا الَّذِي نَدِينُ اللَّهَ
بِهِ وَأَدْرَكْنَا عَلَيْهِ أَهْلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، فَهُوَ أَنَّ أَهْلَ
الْجَنَّةِ يَرَوْنَهُ عَلَى مَا صَحَّتْ بِهِ الْأَخْبَارُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Adapun pendapat yang
benar menurut kami mengenai masalah kaum Mu’minin melihat Robb mereka pada hari
Qiyamat, yang merupakan agama yang kami jadikan pegangan kepada Alloh ﷻ dan kami dapati para Ahlus Sunnah wal Jama’ah
berada di atasnya, adalah bahwa penduduk Jannah akan melihat-Nya sesuai dengan
berita-berita yang shohih dari Rosululloh ﷺ.
[5] Perbuatan
Hamba dan Takdir
وَالصَّوَابُ لَدَيْنَا فِي الْقَوْلِ فِيمَا اخْتُلِفَ فِيهِ
مِنْ أَفْعَالِ الْعِبَادِ وَحَسَنَاتِهِمْ وَسَيِّئَاتِهِمْ أَنَّ جَمِيعَ ذَلِكَ
مِنْ عِنْدِ اللَّهِ، وَاللَّهُ مُقَدِّرُهُ وَمُدَبِّرُهُ
Dan pendapat yang benar
menurut kami mengenai perkara yang diperselisihkan tentang perbuatan-perbuatan
hamba, baik kebaikan-kebaikan maupun keburukan-keburukan mereka, adalah bahwa
semua itu berasal dari sisi Alloh ﷻ, dan Alloh ﷻ adalah Penentunya serta Pengaturnya.
لَا يَكُونُ شَيْءٌ إِلَّا بِإِرَادَتِهِ، وَلَا يَحْدُثُ شَيْءٌ
إِلَّا بِمَشِيئَتِهِ، لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
Tidak akan ada sesuatu
pun kecuali dengan irodah-Nya (kehendak-Nya), dan tidak akan terjadi sesuatu
pun kecuali dengan masyi’ah-Nya (keinginan-Nya), hanya milik-Nyalah segala
penciptaan dan urusan.
[6] Hakikat Iman
وَالصَّوَابُ لَدَيْنَا مِنَ الْقَوْلِ أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ
وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ، وَبِهِ الْخَبَرُ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَيْهِ مَضَى أَهْلُ الدِّينِ وَالْفَضْلِ
Dan pendapat yang benar
menurut kami adalah bahwa Iman itu merupakan ucapan dan perbuatan, ia bertambah
dan berkurang, dan demikianlah kabar yang diriwayatkan dari sekelompok Shohabat
Rosululloh ﷺ, dan di
atas itulah orang-orang yang berpegang pada agama dan keutamaan telah berlalu.
[7] Masalah
Lafadz Al-Qur’an
وَالْقَوْلُ فِي أَلْفَاظِ الْعِبَادِ بِالْقُرْآنِ فَلَا أَثَرَ
فِيهِ أَعْلَمُهُ عَنْ صَحَابِيٍّ مَضَى، وَلَا عَنْ تَابِعِيٍّ قَفَى إِلَّا عَمَّنْ
فِي قَوْلِهِ الشِّفَاءُ وَالْغِنَا رَحْمَةُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَرِضْوَانُهُ وَفِي
اتِّبَاعِهِ الرُّشْدُ وَالْهدَى، وَمَنْ يَقُومُ لَدَيْنَا مَقَامَ الْأَئِمَّةِ الْأُولَى
أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ
Mengenai ucapan tentang
lafadz-lafadz hamba terhadap Al-Qur’an, maka tidak ada atsar (riwayat) di
dalamnya yang aku ketahui dari seorang Shohabat pun yang telah berlalu, tidak
pula dari seorang Tabi’in yang mengikuti, kecuali dari orang yang ucapannya
mengandung kesembuhan dan kecukupan -semoga rohmat Alloh ﷻ dan keridhoan-Nya senantiasa baginya-
serta dalam mengikutinya terdapat kecerdasan dan petunjuk, dialah orang yang
kedudukannya menurut kami setara dengan para imam terdahulu, yaitu Abu ‘Abdillah
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (241 H).
فَإِنَّ أَبَا إِسْمَاعِيلَ التِّرْمِذِيَّ حَدَّثَنِي قَالَ:
سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ يَقُولُ: اللَّفْظِيَّةُ
جَهْمِيَّةٌ لِقَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ﴾ مِمَّنْ
يَسْمَعُ
Karena Abu Isma’il
At-Tirmidzi (280 H) telah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu ‘Abdillah
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (241 H) berkata: “Kaum Lafzhiyyah (yang
mengatakan lafadzku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk) adalah kaum Jahmiyyah,
berdasarkan firman Alloh ﷻ: ‘Sampai dia mendengar Kalamulloh’ (QS. At-Taubah: 6)
dari siapa pun yang mendengarnya..”
[8] Masalah Nama
dan yang Dinamai
وَأَمَّا الْقَوْلُ فِي الِاسْمِ أَهُوَ الْمُسَمَّى أَوْ غَيْرُ
الْمُسَمَّى فَإِنَّهُ مِنَ الْحَمَاقَاتِ الْحَادِثَةِ الَّتِي لَا أَثَرَ فِيهَا
فَيُتَّبَعَ وَلَا قَوْلَ مِنْ إِمَامٍ فَيُسْتَمَعَ
Adapun ucapan mengenai
Nama (al-Ism), apakah ia adalah yang Dinamai (al-Musamma) ataukah
selain yang Dinamai, maka sesungguhnya itu termasuk dari kebodohan-kebodohan
baru yang tidak ada riwayat di dalamnya untuk diikuti, tidak pula ada ucapan
dari seorang imam untuk didengarkan.
وَالْخَوْضُ فِيهِ شَيْنٌ، وَالصَّمْتُ عَنْهُ زَيْنٌ
Mendalami masalah
tersebut merupakan suatu keburukan, sedangkan diam darinya adalah suatu
perhiasan (kebaikan).
وَحَسْبُ امْرِئٍ مِنَ الْعِلْمِ بِهِ وَالْقَوْلِ فِيهِ أَنْ
يَنْتَهِيَ إِلَى قَوْلِ الصَّادِقِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ قَوْلُهُ: ﴿قُلِ ادْعُوا
اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُو فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى﴾
Cukuplah bagi seseorang
dalam mengetahui dan berucap mengenainya untuk berhenti pada ucapan Yang Maha
Benar ﷻ, yaitu
firman-Nya: “Katakanlah (wahai Rosul kepada kaum musyrikin yang mengingkari
penyebutan nama Ar-Rohman): ‘Serulah Alloh atau serulah Ar-Rohman, dengan nama
mana saja yang kalian seru (maka itu baik), karena Dia memiliki Nama-Nama yang
paling indah.” (QS. Al-Isro: 110)
وَقَوْلُهُ: ﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ
بِهَا﴾
Dan firman-Nya: “Hanya
milik Allohlah Nama-Nama yang paling indah, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut Nama-Nama itu.” (QS. Al-A’rof: 180)
[9] Istiwa Alloh
di Atas Arsy
وَيَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ هُوَ الَّذِي ﴿عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى﴾
Dan hendaknya ia
mengetahui bahwa Robbnya adalah Dzat yang: “(Yaitu) Robb Yang Maha Pengasih,
yang di atas Arsy Dia beristiwa (bersemayam) dengan cara yang sesuai dengan
keagungan-Nya. Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa
yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.” (QS.
Thoha: 5-6)
[10] Peringatan
Terhadap Kedustaan
فَمَنْ تَجَاوَزَ ذَلِكَ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
Maka barangsiapa yang
melampaui hal tersebut, sungguh dia telah merugi dan celaka.
فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ بَعُدَ
مِنَّا فَنَأَى، أَوْ قَرُبَ فَدَنَا أَنَّ الدِّينَ الَّذِي نَدِينُ بِهِ فِي الْأَشْيَاءِ
الَّتِي ذَكَرْنَاهَا مَا بَيَّنَّاهُ لَكُمْ عَلَى مَا وَصَفْنَاهُ
Maka hendaknya orang yang
hadir di antara kalian, wahai sekalian manusia, menyampaikan kepada orang yang
jauh dari kami maupun yang dekat, bahwa agama yang kami anut dalam
perkara-perkara yang telah kami sebutkan adalah apa yang telah kami jelaskan
kepada kalian sesuai dengan apa yang kami sifati.
فَمَنْ رَوَى خِلَافَ ذَلِكَ أَوْ أَضَافَ إِلَيْنَا سِوَاهُ
أَوْ نَحَلَنَا فِي ذَلِكَ قَوْلًا غَيْرَهُ فَهُوَ كَاذِبٌ، فَهُوَ مُفْتَرٍ مُعْتَدٍ
مُتَخَرِّصٌ
Maka barangsiapa yang
meriwayatkan hal yang bertentangan dengan itu, atau menyandarkan kepada kami
selain hal itu, atau menisbatkan kepada kami dalam perkara tersebut suatu
ucapan yang lain, maka dia adalah seorang pendusta, dia adalah orang yang
mengada-ada, melampaui batas, dan membual.
يَبُوءُ بِإِثْمِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ، وَعَلَيْهِ غَضَبُ اللَّهِ
وَلَعْنَتُهُ فِي الدَّارَيْنِ
Dia akan memikul dosa di
hadapan Alloh ﷻ dan
kemurkaan-Nya, serta baginya kemarahan Alloh ﷻ dan laknat-Nya di dunia maupun di Akhiroh.
وَحَقٌّ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُورِدَهُ الْمَوْرِدَ الَّذِي وَعَدَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضُرَبَاءَهُ، وَأَنْ يُحِلَّهُ الْمَحَلَّ
الَّذِي أَخْبَرَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِلُّهُ
أَمْثَالَهُ
Sungguh menjadi janji
pasti dari Alloh, Dia akan memasukkan orang itu ke dalam tempat (yakni masuk
Jannah) yang telah Rosululloh ﷺ
janjikan bagi orang-orang yang
sejalan dengannya (yakni orang-orang yang sama dalam iman, amal, dan keteguhan
di atas kebenaran), dan menempatkannya pada kedudukan yang telah Nabi Alloh ﷺ kabarkan (yakni derajat tinggi di
Jannah) —bahwa Alloh akan menempatkan orang-orang yang semisal dengannya di
sana (yaitu kedudukan mulia di Jannah sesuai derajat amal dan keikhlasan
mereka). [NK]
%20-%20Riwayat%20Imam%20Al-Lalikai%20(418%20H).jpg)