Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Aqidah Imam Al-Auza'i (157 H) - Riwayat Imam Al-Lalikai (418 H)

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Berikut adalah Abu ‘Amr Al-Auza’i (157 H) yang diriwayatkan oleh Imam Al-Lalikai dalam kitabnya Syarh Ushul Itiqod Ahli Sunnah yang merupakan salah satu ensiklopedi aqidah bersanad terbesar.

 

[1] Sanad Aqidah Al-Auza’i

Imam Al-Lalikai (418 H) berkata:

اعْتِقَادُ أَبِي عَمْرٍو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيِّ

Ini adalah keyakinan Abu ‘Amr ‘Abdurrohman bin ‘Amr Al-Auza’i (157 H) rohimahullah.

315 - أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ عُثْمَانَ

[315] Telah mengabarkan kepada kami Al-Hasan bin ‘Utsman.

قَالَ: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَمْدَانَ

Dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Hamdan.

قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُوسَى

Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Musa (288 H).

قَالَ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو

Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin ‘Amr (214 H).

قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ

Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq (188 H).

قَالَ: سَأَلْتُ الْأَوْزَاعِيَّ فَقَالَ:

Dia berkata: Aku bertanya kepada Al-Auza’i (157 H) rohimahullah, lalu beliau berkata:

[2] Keteguhan dalam Menjalankan Sunnah

«اصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ»

“Sabarkanlah dirimu di atas Sunnah.”

 

[3] Meneladani Batasan dan Ucapan Para Shohabat

«وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ»

“Berhentilah di mana kaum itu (para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum) berhenti.”

«وَقُلْ بِمَا قَالُوا»

“Ucapkanlah apa yang mereka ucapkan.”

«وَكُفَّ عَمَّا كَفُّوا عَنْهُ»

“Tahanlah dirimu dari apa yang mereka menahan diri darinya.”

 

[4] Menempuh Jalan Salafus Sholih

«وَاسْلُكْ سَبِيلَ سَلَفِكَ الصَّالِحِ»

“Tempuhlah jalan Salafmu yang Sholih.”

«فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسِعَهُمْ»

“Karena sesungguhnya apa yang melapangkan mereka, akan melapangkanmu juga.”

 

[5] Sejarah Masuknya Bid’ah ke Wilayah Syam

«وَقَدْ كَانَ أَهْلُ الشَّامِ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذِهِ الْبِدْعَةِ حَتَّى قَذَفَهَا إِلَيْهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْعِرَاقِ مِمَّنْ دَخَلَ فِي تِلْكَ الْبِدْعَةِ بَعْدَمَا رَدَّهَا عَلَيْهِمْ فُقَهَاؤُهُمْ وَعُلَمَاؤُهُمْ»

“Dahulu penduduk Syam berada dalam ketidaktahuan dari bid’ah (perkara baru dalam agama) ini sampai sebagian penduduk Iraq melemparkannya kepada mereka, yaitu dari orang-orang yang masuk ke dalam bid’ah tersebut setelah para ahli fikih dan ulama mereka menolaknya.”

 

[6] Pengaruh Bid’ah terhadap Penduduk Syam

«فَأُشْرِبَهَا قُلُوبُ طَوَائِفَ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ وَاسْتَحَلَّتْهَا أَلْسِنَتُهُمْ»

“Lalu Bid’ah itu meresap ke dalam hati sekelompok penduduk Syam dan lisan-lisan mereka pun menganggapnya manis (menghalalkannya).”

«وَأَصَابَهُمْ مَا أَصَابَ غَيْرَهُمْ مِنَ الِاخْتِلَافِ فِيهِ»

“Hingga mereka tertimpa perselisihan padanya sebagaimana yang menimpa orang-orang selain mereka.”

 

[7] Harapan akan Kembalinya Persaudaraan Islam

«وَلَسْتُ بِآيِسٍ أَنْ يَرْفَعَ اللَّهُ شَرَّ هَذِهِ الْبِدْعَةِ إِلَى أَنْ يَصِيرُوا إِخْوَانًا إِلَى تَوَادٍّ بَعْدَ تَفَرُّقٍ فِي دِينِهِمْ وَتَبَاغُضٍ»

“Aku tidak berputus asa bahwa Alloh akan mengangkat keburukan bid’ah ini hingga mereka kembali menjadi saudara yang saling mencintai setelah sebelumnya terpecah-belah dalam agama dan saling membenci.”

 

[8] Bantahan terhadap Anggapan Kebaikan dalam Bid’ah

«وَلَوْ كَانَ هَذَا خَيْرًا مَا خُصِصْتُمْ بِهِ دُونَ أَسْلَافِكُمْ»

“Kalau memang perkara ini benar-benar kebaikan (yakni bid’ah), tentu bukan kalian saja yang mendapatkannya, sementara para Salaf sebelum kalian tidak. (Artinya: kebaikan dalam agama tidak mungkin “baru muncul belakangan”, tapi pasti sudah lebih dahulu diketahui dan diamalkan generasi terbaik.)”

«فَإِنَّهُ لَمْ يُدَّخَرْ عَنْهُمْ خَيْرٌ خُبِّئَ لَكُمْ دُونَهُمْ لِفَضْلٍ عِنْدَكُمْ»

“Sebab tidak ada satu pun kebaikan yang sengaja disembunyikan dari mereka, lalu baru diberikan khusus kepada kalian karena kalian dianggap lebih utama. (Maksudnya: para Salaf jauh lebih utama, lebih berilmu, dan lebih dekat kepada kebenaran, sehingga mustahil mereka tidak mengetahui kebaikan lalu kita yang datang belakangan justru mendapatkannya.)”

 

[9] Kedudukan Mulia Para Shohabat Nabi

«وَهُمْ أَصْحَابُ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِينَ اخْتَارَهُمْ وَبَعْثَهُ فِيهِمْ وَوَصَفَهُمْ بِمَا وَصَفَهُمْ بِهِ , فَقَالَ»

“Padahal mereka adalah para Shohabat Nabi-Nya yang telah Dia pilih dan Dia mengutus Nabi di tengah-tengah mereka, serta Dia mensifati mereka dengan sifat yang telah Dia sebutkan, lalu Dia berfirman:”

 

[10] Sifat-Sifat Shohabat dalam Al-Qur’an

﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا﴾

“Muhammad adalah utusan Alloh. Dan orang-orang yang bersamanya dari kalangan Shohabat bersikap keras terhadap orang-orang kafir, saling berkasih sayang di antara sesama mereka, kamu melihat mereka senantiasa ruku’ dan sujud kepada Alloh dengan menunaikan Sholat, mereka mengharap karunia Alloh berupa pahala yang melimpah dan keridhoan-Nya yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)[NK]

 

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url