Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Malapetaka Mengikuti Primbon Jawa - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan Agama yang haq untuk dimenangkan di atas seluruh agama lainnya.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarga, para Shohabat Rodhiyallahu ‘Anhum, serta para pengikutnya hingga hari Kiamat.

Amma ba’du:

Alloh menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya dalam segala urusan. Tauhid adalah pondasi utama yang menentukan keselamatan seorang hamba di dunia dan di Akhirat. Namun, musuh utama manusia yaitu syaithon tidak pernah berhenti berusaha merusak kemurnian Tauhid tersebut melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan menyusupkan keyakinan-keyakinan jahiliyyah ke dalam adat istiadat. Di tengah masyarakat kita, salah satu warisan masa lalu yang sangat kental dengan aroma kesyirikan dan ramalan adalah Primbon Jawa. Primbon bukan sekadar catatan harian atau kumpulan petuah, melainkan telah menjelma menjadi rujukan dalam menentukan nasib, hari baik, hingga kecocokan pasangan hidup. Hal ini sangat berbahaya karena telah merampas hak prerogatif Alloh dalam mengetahui perkara ghoib.

Seorang Muslim yang mendasarkan langkah hidupnya pada hitungan Primbon berarti telah terjatuh ke dalam jurang ramalan yang diharomkan oleh Syari’at Islam. Padahal, Alloh telah menegaskan dalam Al-Qur’an:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro: 36)

Nabi juga telah memperingatkan dengan keras bagi siapa saja yang mendatangi peramal atau tukang tenung, yang mana prinsip kerja mereka sangat mirip dengan apa yang tertuang dalam kitab-kitab Primbon yang meramal masa depan. Beliau bersabda:

«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima Sholatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230)

Primbon membawa manusia pada sikap ketergantungan kepada makhluk dan benda-benda mati, serta hitungan matematis yang tidak memiliki landasan Syar’i maupun logika yang shohih. Ini adalah bentuk pengingkaran terhadap takdir Alloh . Menggantungkan hati kepada selain Alloh adalah inti dari kesyirikan yang akan menghancurkan kebahagiaan seorang hamba.

Buku ini hadir untuk membedah sisi gelap tersebut, membongkar unsur-unsur kesyirikan yang tersembunyi di balik kata adat, dan mengajak kaum Muslimin untuk kembali kepada kemurnian Tauhid. Sesungguhnya jalan menuju Jannah hanya bisa ditempuh dengan mengikuti Sunnah Nabi dan menjauhi segala bentuk kemungkaran, termasuk praktik meramal nasib melalui Primbon.

 

Bab 1: Hakikat Primbon Jawa

1.1 Definisi Primbon dan kedudukannya dalam adat Jawa

Primbon secara bahasa berasal dari kata primbi yang berarti induk atau kumpulan. Dalam praktiknya, Primbon adalah kitab warisan leluhur yang berisi kumpulan pengetahuan tentang berbagai hal, mulai dari ramalan nasib, watak manusia berdasarkan hari lahir, hingga petunjuk untuk memulai suatu pekerjaan. Namun, kedudukan Primbon dalam adat Jawa sering kali melampaui sekadar catatan budaya, ia dijadikan sebagai standar kebenaran dalam melangkah. Hal ini sangat kontras dengan perintah Alloh agar manusia hanya merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Alloh berfirman:

﴿اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ﴾

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al-A’rof: 3)

Keyakinan terhadap isi Primbon merupakan bentuk mengikuti tradisi nenek moyang yang menyelisihkan Syari’at.

Para Salaf telah memberikan teladan dalam meninggalkan adat yang batil. Orang-orang jahiliyyah dahulu juga memiliki cara-cara tersendiri untuk meramal nasib mereka, dan Islam datang untuk menghapuskannya. Islam menuntut bukti dan ilmu, bukan sekadar persangkaan. Alloh berfirman:

﴿وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ﴾

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)

1.2 Asal usul pemikiran Primbon dan pengaruh ajaran di luar Islam

Secara historis, Primbon merupakan hasil asimilasi antara budaya lokal dengan ajaran-ajaran sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Di dalamnya terdapat unsur animisme, dinamisme, serta pengaruh ajaran Hindu dan Budha yang sangat kuat, terutama dalam konsep pengkastaan watak dan hitungan kosmis. Hal ini sangat mirip dengan perbuatan kaum musyrikin terdahulu yang mengaitkan fenomena alam dengan nasib manusia. Nabi bersabda menceritakan firman Alloh dalam Hadits Qudsi:

«أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالكَوْكَبِ»

“Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun orang yang mengatakan: Kita diberi hujan karena karunia Alloh dan rohmat-Nya, maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun orang yang mengatakan: Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu, maka dialah yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR. Al-Bukhori no. 846 dan Muslim no. 71)

Primbon menggunakan rasi bintang dan posisi bulan (pranata mangsa) bukan untuk kepentingan navigasi atau pertanian semata, melainkan untuk meramal nasib buruk. Ini adalah bagian dari ilmu nujum yang diharomkan. Sebagaimana sabda Nabi :

«مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ»

“Barangsiapa mengambil satu cabang ilmu perbintangan, maka dia telah mengambil satu cabang sihir, dia akan menambah sebanyak apa yang dia tambah.” (HHR. Abu Dawud no. 3905)

1.3 Masuknya unsur ramalan dalam tatanan hidup masyarakat

Ramalan masuk ke dalam sendi kehidupan masyarakat Jawa melalui kedok kebijakan lokal. Masyarakat diajarkan untuk takut melakukan sesuatu di hari tertentu karena dianggap hari naas. Praktik ini disebut dengan Tathoyyur (merasa sial karena sesuatu). Islam telah melarang keras hal ini. Alloh berfirman:

﴿أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Alloh, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’rof: 131)

Nabi juga menegaskan bahwa Tathoyyur adalah kesyirikan. Beliau bersabda:

«الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ»

“Tathoyyur (merasa sial) adalah syirik, Tathoyyur adalah syirik.” (HSR. Abu Dawud no. 3910)

Umar bin Khoththob (23 H) Rodhiyallahu ‘Anhu pernah melarang seseorang yang hendak pergi berperang namun membatalkannya karena melihat burung tertentu terbang ke arah kiri. Beliau mendidik umat agar hanya bersandar kepada Alloh dan tidak terpengaruh oleh tanda-tanda yang tidak masuk akal. Primbon yang mengajarkan ramalan melalui tanda-tanda tubuh, hari, atau hewan adalah kelanjutan dari tradisi jahiliyyah yang telah dibuang oleh Islam.

1.4 Mengapa Primbon masih bertahan di tengah masyarakat Muslim?

Masih bertahannya Primbon disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap Tauhid yang benar serta rasa takut yang berlebihan terhadap kualat atau murka alam. Syaithon menghiasi kebatilan ini sehingga terlihat seperti kearifan lokal. Alloh berfirman:

﴿وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ﴾

“Dan syaithon telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Alloh), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.” (QS. An-Naml: 24)

Banyak masyarakat yang tertipu karena merasa ramalan Primbon itu benar atau terjadi. Padahal, benarnya sebuah ramalan hanyalah kebetulan atau bantuan jin yang mencuri berita dari langit. Nabi bersabda tentang para dukun dan peramal:

«فَيَسْمَعُ الكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، ثُمَّ يُلْقِيهَا الآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الكَاهِنِ، فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا، وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ، فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ، فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا: كَذَا وَكَذَا، فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنَ السَّمَاءِ»

“Lalu ia (syaithon pencuri berita) mendengar satu kalimat, kemudian ia melemparkannya kepada yang berada di bawahnya, lalu yang lain melemparkannya lagi kepada yang di bawahnya, hingga akhirnya ia melemparkannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang meteor menyambarnya sebelum ia sempat melemparkannya, dan terkadang ia sudah melemparkannya sebelum meteor itu mengenainya. Lalu dukun itu menambahinya dengan 100 kedustaan. Kemudian diviralkan: Bukankah dia telah berkata kepada kita pada hari ini dan itu, begini dan begitu? Maka dia pun dipercayai karena satu kalimat yang didengar dari langit tersebut.(HR. Al-Bukhori no. 4800)

Sufyan bin ‘Uyainah (198 H) Rohimahullah mengatakan bahwa fitnah syahwat lebih mudah diobati daripada fitnah syubhat (kerancuan berpikir). Primbon adalah syubhat yang berakar pada hati yang lemah tawakalnya. Maka, membentengi diri dengan ilmu Tauhid adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai keterikatan pada Primbon ini.

 

Bab 2: Keyakinan kepada Perkara Ghoib dan Larangan Meramal

2.1 Kekhususan Alloh dalam mengetahui perkara Ghoib

Salah satu rukun iman adalah beriman kepada yang ghoib. Namun, hanya Alloh yang memegang kunci-kunci keghoiban tersebut. Primbon mencoba mendahului kehendak Alloh dengan menetapkan apa yang akan terjadi di masa depan. Alloh berfirman:

﴿وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ﴾

“Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghoib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59)

Nabi Muhammad sendiri, yang merupakan manusia paling mulia, tidak mengetahui perkara ghoib kecuali apa yang diwahyukan kepadanya. Alloh memerintahkan beliau untuk berucap:

﴿قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudhorotan kecuali yang dikehendaki Alloh. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghoib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudhorotan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.(QS. Al-A’rof: 188)

Jika Rosululloh saja tidak mengetahui masa depan, bagaimana mungkin sebuah kitab karangan manusia yang berisi hitungan hari bisa menentukan nasib seseorang? Ibnu Taimiyyah (728 H) Rohimahullah menjelaskan bahwa siapa saja yang mengklaim mengetahui hal ghoib selain melalui jalur wahyu, maka ia telah mendustakan Al-Qur’an.

2.2 Larangan mendatangi peramal dan tukang tenung

Primbon dalam banyak aspek berfungsi sebagai pengganti peramal (dukun) dalam bentuk tulisan. Mempelajari dan mempercayainya sama hukumnya dengan mendatangi dukun. Nabi bersabda:

«مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ»

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad .” (HHR. Ahmad no. 9536)

Larangan ini bersifat mutlak. Tidak boleh ada alasan sekadar iseng atau hanya ingin tahu. Perbuatan ini adalah pintu menuju kesyirikan besar karena ada unsur pengakuan terhadap selain Alloh dalam pengaturan alam semesta. Al-Khoththobi (388 H) Rohimahullah menyebutkan bahwa peramal biasanya menggunakan metode yang samar dan penuh tipu daya untuk menarik simpati orang awam. Primbon melakukan hal yang sama dengan menyusun skema hitungan weton yang seolah-olah logis padahal tanpa dasar.

2.3 Bahaya mempercayai ramalan terhadap keabsahan Iman

Iman seorang hamba akan terkikis ketika ia mulai menggantungkan rasa takut dan harapnya pada ramalan. Jika Primbon mengatakan suatu hari adalah hari sial, lalu orang tersebut membatalkan hajatnya karena takut sial, maka ia telah jatuh dalam kesyirikan. Alloh berfirman:

﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imron: 175)

Keabsahan iman menuntut penyerahan diri secara total kepada takdir Alloh , baik yang manis maupun yang pahit. Mempercayai ramalan berarti meragukan hikmah Alloh . Hasan Al-Bashri (110 H) Rohimahullah mengatakan bahwa seorang Mu’min sejati adalah yang yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang luput darinya tidak akan menimpanya, tanpa butuh bantuan ramalan bintang atau kitab-kitab jahiliyyah.

2.4 Kedudukan sebab dan musabbab dalam Syari’at Islam

Islam mengakui hukum sebab akibat, namun sebab tersebut haruslah sebab yang Syar’i (berdasarkan dalil) atau sebab yang Kauni (berdasarkan sains dan kenyataan yang teruji). Menikah di bulan Syuro (Muharrom) dianggap sial dalam Primbon adalah sebab yang batil, karena tidak ada dalil maupun fakta medis/logika yang membuktikannya. Alloh berfirman:

﴿وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾

“Jika Alloh menimpakan sesuatu kemudhorotan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Seorang Muslim diperintahkan untuk melakukan sebab yang bermanfaat, bukan sebab yang dikarang-karang. Nabi bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ»

“Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Alloh, dan janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Menggunakan Primbon untuk mencari keselamatan adalah kesia-siaan dan justru mendatangkan murka Alloh . Segala bentuk perlindungan hanya diminta kepada Alloh melalui dzikir dan doa yang diajarkan Nabi , bukan melalui hitungan Neptu.

 

Bab 3: Unsur Kesyirikan dalam Hitungan Primbon

3.1 Kerusakan keyakinan dalam hitungan Weton dan Neptu

Sistem hitungan hari lahir yang dikenal dengan Weton dan nilai angka hari yang disebut Neptu merupakan akar utama penyimpangan dalam Primbon. Masyarakat diajarkan untuk menghitung nilai hari dan pasaran guna meramal nasib, watak, hingga masa depan seseorang. Hal ini merupakan bentuk pengakuan terhadap adanya pihak lain selain Alloh yang mengetahui urusan masa depan. Padahal, urusan apa yang akan terjadi di hari esok adalah rahasia Alloh semata yang tidak diberikan kepada manusia melalui rumus matematis apa pun. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾

“Sesungguhnya Alloh, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Menetapkan watak seseorang berdasarkan hari lahirnya adalah sebuah kedustaan besar. Seseorang tidaklah menjadi baik atau buruk hanya karena ia lahir pada hari tertentu. Nabi Muhammad lahir pada hari Senin, namun bukan berarti semua orang yang lahir hari Senin memiliki kemuliaan seperti beliau . Keyakinan ini merusak keimanan karena mengaitkan sebab yang tidak pernah ditetapkan oleh Syari’at maupun ilmu pengetahuan yang nyata. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) Rohimahullah menegaskan bahwa termasuk kesyirikan adalah menetapkan sesuatu sebagai sebab padahal Alloh tidak menjadikannya sebagai sebab, baik secara aturan Agama maupun aturan alam.

3.2 Keyakinan terhadap hari baik dan hari buruk (Tathoyyur)

Primbon sangat menekankan adanya hari-hari naas atau hari sial yang harus dihindari untuk mengadakan acara besar seperti pernikahan atau memulai usaha. Perasaan merasa sial karena waktu, tempat, atau tanda-tanda tertentu inilah yang dalam Islam disebut sebagai Tathoyyur. Praktik ini adalah warisan jahiliyyah yang menghancurkan ketenangan batin manusia. Seorang Muslim harus yakin bahwa semua hari adalah milik Alloh dan tidak ada hari yang membawa sial dengan sendirinya. Alloh berfirman:

﴿قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾

“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Alloh untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Alloh orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51)

Nabi menghapus segala bentuk keyakinan terhadap kesialan waktu melalui sabda beliau :

«لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ»

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya tanpa izin Alloh), tidak ada ramalan sial, tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Shofar.” (HR. Al-Bukhori no. 5757 dan Muslim no. 2220)

Ibnu Rojab (795 H) Rohimahullah menjelaskan bahwa orang yang merasa sial dengan suatu hari akan terhalangi dari melakukan banyak kebaikan dan pintu-pintu rizki.

Hal ini karena syaithon membisikkan rasa takut ke dalam hatinya sehingga ia tidak lagi bersandar kepada Alloh , melainkan bersandar pada ramalan hari yang tertulis di kitab-kitab Primbon.

3.3 Kesyirikan dalam menentukan kecocokan pasangan berdasarkan hitungan lahir

Salah satu praktik yang paling merusak dalam masyarakat adalah perjodohan yang didasarkan pada hitungan kecocokan Weton. Jika hitungan menunjukkan angka yang dianggap tidak cocok, maka pernikahan sering kali dibatalkan atau dipaksakan untuk melakukan ritual tertentu guna membuang sial. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap ketetapan Alloh . Islam telah memberikan standar yang jelas dalam memilih pasangan, yaitu berdasarkan Agama dan akhlak, bukan berdasarkan tanggal lahir. Alloh berfirman:

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Nabi bersabda tentang kriteria memilih pasangan:

«تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ»

“Wanita (biasanya) dinikahi karena 4 perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan Agamanya. Maka pilihlah yang memiliki Agama, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Al-Bukhori no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Menambahkan syarat hitungan Primbon dalam pernikahan adalah bid’ah yang menyesatkan dan mengandung unsur kesyirikan karena meyakini adanya kekuatan selain Alloh yang dapat mendatangkan celaka atau manfaat dalam rumah tangga.

Orang yang meyakini nasibnya diatur oleh pergerakan bintang atau hitungan hari telah keluar dari jalur bimbingan para Nabi.

3.4 Praktik sesajen dan ritual pengiring dalam Primbon yang menyelisihkan Tauhid

Primbon sering kali mewajibkan adanya ritual tertentu seperti memberikan sesajen di tempat-tempat yang dianggap keramat atau pada waktu-waktu tertentu untuk menolak bala yang diramalkan. Sesajen adalah bentuk persembahan (Nusuk) yang hanya boleh ditujukan kepada Alloh . Memberikan persembahan kepada selain Alloh , baik itu kepada jin, arwah leluhur, atau penunggu tempat tertentu, adalah kesyirikan besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Alloh berfirman:

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Katakanlah: Sesungguhnya Sholatku, ibadahku (sembelihanku/sesajenku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

Nabi memberikan peringatan keras terhadap siapa saja yang mempersembahkan sesuatu kepada selain Alloh :

«لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ»

“Alloh melaknat orang yang menyembelih (mempersembahkan sesuatu) untuk selain Alloh.” (HR. Muslim no. 1978)

Segala bentuk ritual penolak bala yang diajarkan dalam Primbon hanyalah tipu daya syaithon untuk menyeret manusia ke dalam api Naar. Keselamatan hanya bisa diraih dengan memurnikan Tauhid dan memohon perlindungan hanya kepada Alloh melalui doa-doa yang diajarkan oleh Nabi .

 

Bab 4: Malapetaka Primbon bagi Aqidah dan Kehidupan

4.1 Primbon sebagai pintu masuk syaithon merusak hati manusia

Syaithon selalu mencari celah untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Primbon menyediakan celah tersebut melalui rasa ingin tahu yang berlebihan terhadap masa depan. Ketika seseorang mulai membuka Primbon, syaithon akan mulai membisikkan keraguan dan ketakutan dalam hatinya. Hal ini merupakan langkah awal syaithon untuk menjauhkan hamba dari Sang Pencipta. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaithon, maka sesungguhnya syaithon itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. An-Nur: 21)

Mempelajari Primbon dengan tujuan meramal nasib adalah bentuk kerja sama terselubung dengan jin. Al-Qurthubi (671 H) Rohimahullah menjelaskan bahwa syaithon menghiasi kebatilan dengan nama-nama yang indah agar manusia tidak merasa sedang melakukan dosa. Dalam konteks ini, kesyirikan dibungkus dengan istilah kearifan atau pelestarian budaya.

4.2 Hilangnya tawakul kepada Alloh karena bergantung pada hitungan

Tawakul adalah inti dari ibadah batin seorang Muslim. Dengan tawakul, seseorang menyerahkan segala urusannya kepada Alloh setelah melakukan usaha yang dibenarkan. Namun, ketika seseorang mulai percaya pada hitungan Primbon, rasa tawakulnya akan bergeser. Ia tidak lagi tenang karena perlindungan Alloh , melainkan merasa tenang karena hitungannya dianggap bagus, atau merasa cemas karena hitungannya dianggap buruk. Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴾

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Tholaq: 3)

Tawakul adalah setengah dari Agama. Maka, barangsiapa yang menggantungkan urusannya pada angka-angka dan hari-hari, ia telah kehilangan setengah dari Agamanya. Hidupnya akan dipenuhi dengan kegelisahan karena ia bersandar pada sesuatu yang lemah dan tidak mampu memberi manfaat atau menolak mudhorot.

4.3 Munculnya rasa takut dan cemas yang berlebihan (was-was)

Primbon menciptakan penjara pikiran bagi penganutnya. Mereka tidak berani melangkah tanpa melihat catatan. Rasa takut akan kualat atau tertimpa musibah karena melanggar hitungan Primbon adalah penyakit batin yang sangat berat. Hal ini membuat hidup seseorang tidak merdeka dan selalu dalam bayang-bayang kegelapan was-was. Alloh memerintahkan kita berlindung dari gangguan semacam ini:

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَٰهِ النَّاسِ * مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ﴾

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Robb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaithon yang biasa bersembunyi.” (QS. An-Nas: 1-4)

Seorang Muslim yang memiliki keyakinan yang kuat tidak akan pernah takut dengan ramalan apa pun. Nabi bersabda:

«وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ»

“Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Alloh untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan suatu mudhorot kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakan mudhorot itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Alloh atasmu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

4.4 Terpecahnya hubungan kekeluargaan akibat ramalan buruk

Tidak sedikit hubungan persaudaraan atau kekeluargaan yang rusak hanya karena hitungan Primbon. Orang tua melarang anaknya menikah dengan pilihan hatinya hanya karena hitungan Neptu yang tidak cocok. Calon menantu dianggap akan membawa sial bagi keluarga. Ini adalah bentuk kezholiman yang nyata dan pemutusan tali silaturrohim yang dilarang oleh Islam. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (buruk sangka), karena purba-sangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Menuduh seseorang membawa sial hanya berdasarkan ramalan adalah fitnah yang besar. Islam mengajarkan untuk saling mencintai dan membantu, bukan saling mencurigai berdasarkan khurofat (cerita bohong yang dianggap nyata). Tidak ada yang lebih merusak hubungan antarmanusia selain dari bisikan-bisikan syaithon yang bersumber dari prasangka buruk.

4.5. Contoh Nyata Malapetaka Primbon

Telah sampai kabar kepada penulis beberapa orang yang terkena dampaknya langsung —terutama yang positif kerasukan jin baik jin nasab atau dari dukun­— ada yang gila, tidak punya anak, usaha selalu gagal, sakit tidak wajar, emosian seakan memiliki dua kepribadian, depresi, dan lain-lain. Itu semua bagian dari rasukan syaithon dari kalangan jin sebagai hasil dari Primbon, terutama mempersembahkan sesajen.

 

Bab 5: Bantahan Syar’i terhadap Praktik Primbon dalam Keseharian

5.1 Bantahan terhadap larangan menikah di bulan-bulan tertentu

Masyarakat sering kali menghindari menikah di bulan Suro (Muharrom) atau bulan-bulan tertentu lainnya karena dianggap bulan keramat yang tidak boleh ada hajatan. Padahal, Muharrom adalah salah satu dari 4 bulan harom (mulia) yang ditetapkan oleh Alloh . Menjadikan bulan mulia sebagai bulan sial adalah bentuk penentangan terhadap ketetapan Alloh . Nabi bersabda:

«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ»

“Puasa yang paling utama setelah Romadhon adalah puasa di bulan Alloh, yaitu Al-Muharrom.” (HR. Muslim no. 1163)

Jika bulan tersebut adalah bulan Alloh , maka bagaimana mungkin ia membawa sial? An-Nawawi (676 H) Rohimahullah menegaskan bahwa semua waktu adalah milik Alloh dan tidak ada larangan Syar’i untuk menikah di hari atau bulan mana pun sepanjang tahun. Keyakinan sial pada bulan tertentu hanyalah sisa-sisa ajaran jahiliyyah yang ingin merusak syiar Islam.

5.2 Bantahan terhadap hitungan arah rumah dan posisi tempat tinggal

Primbon mengatur dengan detail arah hadap rumah, posisi pintu, hingga tata letak dapur yang jika dilanggar dianggap akan menutup pintu rizki. Ini adalah kesia-siaan. Rizki ada di tangan Alloh , bukan pada arah mata angin. Alloh berfirman:

﴿وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾

“Dan kepunyaan Alloh-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Luas (rohmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 115)

Membangun rumah haruslah didasarkan pada kebutuhan, kenyamanan, dan kemaslahatan, bukan pada ramalan nasib. Mengikuti aturan arah rumah dalam Primbon hanya akan menyulitkan diri sendiri dan mendatangkan kesyirikan dalam hati karena merasa rizki terhalang oleh posisi bangunan.

5.3 Bantahan terhadap ramalan nasib melalui kedutan atau tanda tubuh

Sering kita jumpai orang yang merasa akan mendapat kabar baik jika matanya kedutan, atau akan ada tamu jika telinganya berdenging. Primbon mencatat fenomena tubuh ini sebagai isyarat masa depan. Secara medis, hal tersebut adalah reaksi saraf biasa, dan secara Agama tidak memiliki kaitan sama sekali dengan kejadian ghoib. Alloh menegaskan:

﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib, kecuali Alloh.” (QS. An-Naml: 65)

Mengaitkan gerakan tubuh dengan nasib adalah bagian dari ilmu ramal yang dilarang. Malik bin Anas (179 H) Rohimahullah sangat membenci orang yang berbicara tentang perkara-perkara yang tidak ada dasarnya dari Kitabulloh maupun Sunnah Rosul-Nya.

5.4 Bantahan terhadap penggunaan jimat atau rajah yang bersumber dari Primbon

Untuk menangkal kesialan yang diramalkan, Primbon sering menyarankan penggunaan jimat, rajah, atau benda-benda tertentu yang disimpan di rumah atau dipakai di badan. Ini adalah kesyirikan yang sangat nyata. Nabi bersabda:

«مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»

“Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh ia telah berbuat syirik.” (HSR. Ahmad no. 17422)

Perlindungan hanya datang dari Alloh . Benda-benda mati tersebut tidak mampu melindungi dirinya sendiri, apalagi melindungi orang lain. Seorang Muslim yang cerdas akan meninggalkan segala bentuk benda keramat dan hanya membentengi diri dengan Dzikir Pagi dan Petang serta membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Al-Albani (1420 H) Rohimahullah menjelaskan bahwa jimat tidak akan menambah bagi pemakainya kecuali kelemahan iman dan ketergantungan kepada selain Alloh .

 

Bab 6: Sikap Muslim terhadap Warisan Budaya yang Menyimpang

6.1 Kewajiban mendahulukan dalil di atas adat istiadat

Seorang hamba yang telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh , maka konsekuensinya adalah ketundukan mutlak kepada wahyu. Adat istiadat, termasuk Primbon Jawa, hanyalah buatan manusia yang tidak memiliki otoritas dalam urusan Agama dan keyakinan. Jika adat bertentangan dengan dalil, maka dalil harus didahulukan tanpa tawar-menawar. Alloh berfirman:

﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا﴾

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Imam Syafi’i (204 H) Rohimahullah menegaskan bahwa kaum Muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah Sunnah dari Rosululloh , maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena mengikuti ucapan siapa pun.

Primbon adalah ucapan dan catatan manusia yang penuh dengan kesalahan, sedangkan Al-Qur’an dan Sunnah adalah kebenaran yang mutlak. Mengutamakan Primbon di atas dalil merupakan ciri orang-orang yang hatinya terjangkit penyakit kemunafikan atau kebodohan yang parah terhadap hakikat Tauhid.

6.2 Cara menyikapi orang tua atau keluarga yang masih memegang Primbon

Sering kali tantangan terbesar dalam meninggalkan Primbon adalah tekanan dari orang tua atau keluarga besar yang masih sangat memegang teguh tradisi tersebut. Dalam Islam, berbakti kepada orang tua adalah wajib, namun ketaatan kepada makhluk tidak boleh dalam kemaksiatan kepada Kholiq (Pencipta). Alloh memberikan bimbingan dalam menghadapi situasi ini:

﴿وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا﴾

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

Seorang Muslim harus tetap bersikap lembut, sopan, dan menunjukkan akhlak yang mulia kepada orang tuanya meskipun ia menolak perintah mereka untuk menggunakan hitungan Primbon. Penolakan dilakukan dengan penjelasan yang baik dan ilmiah, bukan dengan kekasaran. Sebagaimana teladan Nabi Ibrohim (Alaihissalam) saat mendakwahi ayahnya yang pembuat berhala dengan ucapan yang santun namun tegas dalam prinsip Tauhid. Seseorang tidak boleh mengorbankan Agamanya hanya demi menyenangkan hati manusia, karena keridhoan Alloh adalah tujuan utama di atas segalanya.

6.3 Memurnikan ibadah dari noda-noda tradisi jahiliyyah

Ibadah yang diterima oleh Alloh adalah yang ikhlas karena-Nya dan mengikuti tuntunan Nabi . Mencampuradukkan ibadah dengan tradisi yang mengandung kesyirikan seperti ritual tolak bala dalam Primbon akan membatalkan amalan tersebut. Tradisi jahiliyyah adalah segala sesuatu yang tidak memiliki dasar dari wahyu dan menyelisihi ajaran para Nabi. Alloh mencela orang-orang yang keras kepala mempertahankan tradisi batil nenek moyang mereka:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqoroh: 170)

Memurnikan ibadah berarti membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Alloh . Hal ini mencakup membuang segala bentuk keyakinan terhadap hari baik, arah rumah, dan ramalan nasib. Ibnu Qudamah (620 H) Rohimahullah menjelaskan bahwa ibadah yang benar adalah yang tegak di atas ilmu dan menjauhi segala bentuk inovasi yang diada-adakan (bid’ah).

6.4 Pentingnya menuntut ilmu Syar’i sebagai benteng dari kesesatan

Kebodohan adalah pintu utama masuknya Khurofat dan kesesatan. Tanpa ilmu yang benar, seseorang akan mudah tertipu oleh bungkus budaya yang dianggap baik padahal isinya merusak Aqidah. Menuntut ilmu Syar’i hukumnya wajib bagi setiap Muslim agar ia bisa membedakan mana Tauhid dan mana Syirik, mana Sunnah dan mana Bid’ah. Nabi bersabda:

«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HSR. Ibnu Majah no. 224)

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang Kitabulloh dan Sunnah dengan pemahaman para Shohabat. Dengan ilmu tersebut, seorang Muslim akan memiliki Bashiroh (pandangan mata hati yang tajam) sehingga ia tidak akan silau dengan ramalan-ramalan Primbon yang tampak hebat di mata orang awam. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) Rohimahullah, bahwa manusia lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka terhadap makan dan minum, karena makan dan minum dibutuhkan sehari sekali atau dua kali, sedangkan ilmu dibutuhkan dalam setiap helaan nafas untuk menjaga keselamatan Agama.

 

Bab 7: Langkah Taubat dan Kembali kepada Sunnah

7.1 Cara membersihkan diri dari bekas keyakinan Primbon

Bagi siapa saja yang pernah terjerumus dalam keyakinan Primbon, jalan kembali selalu terbuka lebar. Taubat yang benar (Taubatan Nasuha) menuntut 3 syarat utama: menyesali perbuatan masa lalu, meninggalkannya seketika itu juga, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya selamanya. Alloh yang Maha Pengampun berfirman:

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Langkah nyata untuk membersihkan diri adalah dengan membuang atau menghancurkan kitab-kitab Primbon, jimat, atau rajah yang pernah dimiliki. Jangan disimpan sebagai koleksi atau warisan, karena benda tersebut adalah sumber malapetaka Aqidah. Selain itu, perbanyaklah membaca kalimat Tauhid (Laa Ilaaha Illalloh) untuk memurnikan kembali keyakinan yang sempat ternoda. Al-Fudhoil bin Iyadh (187 H) Rohimahullah mengatakan bahwa tanda diterimanya taubat seseorang adalah adanya perubahan ke arah yang lebih baik dan rasa takut yang lebih besar kepada Alloh .

7.2 Mengganti ketergantungan pada ramalan dengan Sholat Istikhoroh

Islam telah memberikan solusi yang sempurna dalam menghadapi keraguan atau saat hendak mengambil keputusan penting, yaitu dengan Sholat Istikhoroh. Ini adalah pengganti yang Syar’i bagi segala bentuk ramalan atau hitungan hari. Dalam Istikhoroh, kita memohon bimbingan kepada Alloh yang Maha Mengetahui segala hal yang akan terjadi, bukan kepada hitungan angka yang mati. Nabi mengajarkan doa Istikhoroh yang luar biasa maknanya, di antaranya adalah:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui dan aku tidak tahu, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghoib….” (HR. Al-Bukhori no. 1162)

Istikhoroh menumbuhkan rasa tenang dan tawakul, berbeda dengan Primbon yang menumbuhkan rasa takut dan ketergantungan pada makhluk. Dengan Istikhoroh, seorang Muslim menyerahkan hasilnya kepada Alloh , apa pun pilihannya, karena ia yakin itulah yang terbaik bagi dunianya dan Akhiratnya.

7.3 Memperbanyak dzikir dan doa pelindung dari gangguan syaithon

Syaithon akan terus mencoba menarik kembali orang yang sudah bertaubat ke dalam kubangan kesyirikan. Oleh karena itu, membentengi diri dengan Dzikir Pagi dan Petang adalah sebuah keharusan. Gunakan doa-doa yang diajarkan Nabi untuk perlindungan. Beliau bersabda:

«قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ»

“Bacalah Qul Huwallohu Ahad (Surat Al-Ikhlas) dan Mu’awwidzatain (Surat Al-Falaq dan An-Nas) saat sore dan pagi hari sebanyak 3 kali, maka itu akan mencukupimu dari segala sesuatu (melindungimu dari segala keburukan).” (HHR. Abu Dawud no. 5082)

Juga doa agar terhindar dari kesyirikan, baik yang disadari maupun tidak:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ»

“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu padahal aku mengetahuinya, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.” (Shohih Adabul Mufrod no. 551)

Adz-Dzahabi (748 H) Rohimahullah menekankan bahwa hati manusia sangat lemah, sedangkan syubhat (kerancuan berpikir) menyambar-nyambar. Maka, hanya dengan pertolongan Alloh melalui dzikir yang istiqomah seseorang dapat selamat dari jeratan syirik.

7.4 Mengajak masyarakat kembali kepada Tauhid yang murni

Setelah seseorang memahami bahaya Primbon, kewajiban berikutnya adalah mengajak orang lain untuk kembali kepada kebenaran. Dakwah harus dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik, terutama kepada keluarga terdekat. Alloh berfirman:

﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾

“Serulah (manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Sampaikanlah bahwa rezeki, jodoh, dan maut sepenuhnya di tangan Alloh , bukan pada hitungan Weton. Buktikan dengan kenyataan hidup bahwa banyak orang yang tidak menggunakan Primbon namun hidupnya berkah dan bahagia, sementara banyak yang fanatik terhadap Primbon justru hidupnya sempit dan penuh ketakutan. Membangun kesadaran kolektif untuk meninggalkan Primbon adalah bentuk Jihad dalam menjaga kemurnian Aqidah umat. Syaikh Abdurrohman bin Hasan (1285 H) Rohimahullah menyatakan bahwa tidak ada perjuangan yang lebih mulia daripada mengajak manusia untuk mentauhidkan Alloh secara murni dan meninggalkan segala bentuk thoghut (sesembahan atau rujukan selain Alloh).

 

Penutup

Segala puji bagi Alloh yang dengan nikmat-Nya sempurnalah segala kebaikan. Mengetahui sisi gelap dan bahaya Primbon Jawa bukanlah sekadar menambah wawasan budaya, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan Aqidah dari ancaman kesyirikan. Primbon, dengan segala rumus hitungan dan ramalannya, telah terbukti menjadi malapetaka bagi kehidupan batin dan nyata seorang hamba. Ia merampas hak Alloh sebagai Dzat yang Maha Mengetahui perkara ghoib dan menggantikannya dengan prasangka-prasangka kosong yang dihiasi oleh syaithon.

Seorang Muslim yang cerdas adalah yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai satu-satunya kompas dalam melangkah. Tidak ada hari yang sial kecuali hari di mana seseorang bermaksiat kepada Alloh . Tidak ada kesialan yang menimpa seseorang kecuali karena takdir yang telah ditetapkan-Nya untuk menguji kesabaran dan keimanan hamba-Nya. Marilah kita bersihkan rumah-rumah kita dari kitab-kitab Primbon, kita bersihkan hati kita dari sisa-sisa keyakinan jahiliyyah, dan kita tegakkan Tauhid setegak-tegaknya.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian, serta menjadi pemberat timbangan amal kebaikan di hari ketika harta dan anak tidak lagi berguna kecuali mereka yang menghadap Alloh dengan hati yang selamat (Qolbun Salim).

Segala kebenaran datangnya dari Alloh , dan segala kesalahan datangnya dari diri pribadi serta godaan syaithon.

Kita memohon perlindungan kepada Alloh agar senantiasa ditetapkan di atas Sunnah Nabi hingga ajal menjemput.

Walhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin.

 

Daftar Pustaka

Al-Albani, Muhammad Nashiruddin (1420 H). Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif.

Al-Bukhori, Muhammad bin Ismail (256 H). Shohih Al-Bukhori. Kairo: Daru Thowqin Najah.

Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad (748 H). Siyar A’lamin Nubala. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.

Al-Khoththobi, Abu Sulaiman (388 H). Ma’alimus Sunan. Aleppo: Al-Mathba’ah Al-Ilmiyyah.

Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad (671 H). Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an. Kairo: Darul Kutub Al-Mishriyyah.

An-Nawawi, Muhyiddin Yahya bin Syarof (676 H). Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim bin Al-Hajjaj. Beirut: Daru Ihya At-Turots Al-Arobi.

As-Sijistani, Abu Dawud (275 H). Sunan Abu Dawud. Sidon: Al-Maktabah Al-Ashriyyah.

At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa (279 H). Sunan At-Tirmidzi. Mesir: Musthofa Al-Babi Al-Halabi.

Ibnu Abdil Barr, Abu Umar Yusuf bin Abdullah (463 H). At-Tamhid lima fil Muwaththo’ minal Ma’ani wal Asanid. Maroko: Wizarotul Awqof.

Ibnu Hanbal, Ahmad bin Muhammad (241 H). Musnad Ahmad bin Hanbal. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.

Ibnu Katsir, Imaduddin Ismail bin Umar (774 H). Tafsir Al-Qur’anil Azhim. Beirut: Daruth Thoyyibah.

Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid (273 H). Sunan Ibnu Majah. Kairo: Daru Ihyail Kutubil Arobiyyah.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr (751 H). Al-Fawaid. Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Muwaffaquddin Abdullah bin Ahmad (620 H). Al-Mughni. Kairo: Maktabah Al-Qohiroh.

Ibnu Rojab Al-Hanbali, Zainuddin Abdurrohman bin Ahmad (795 H). Lathoiful Ma’arif fima li Mawasimil Ami minal Wazhoif. Beirut: Daru Ibni Katsir.

Ibnu Taimiyyah, Taqiyuddin Ahmad bin Abdil Halim (728 H). Majmu’ul Fatawa. Madinah: Mujamma’ Al-Malik Fahd.

Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi (261 H). Shohih Muslim. Beirut: Daru Ihya At-Turots Al-Arobi.

Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh (1285 H). Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid. Kairo: Mathba’ah An-Shoros Sunnah Al-Muhammadiyyah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H). Kitabut Tauhid Alladzi Huwa Haqqullohi ‘alal ‘Abid. Riyadh: Darus Salam.

 

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url