[PDF] Malapetaka Mengikuti Primbon Jawa - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ
yang telah mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan Agama yang haq untuk
dimenangkan di atas seluruh agama lainnya.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para Shohabat Rodhiyallahu
‘Anhum, serta para pengikutnya hingga hari Kiamat.
Amma ba’du:
Alloh ﷻ
menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya
dalam segala urusan. Tauhid adalah pondasi utama yang menentukan keselamatan
seorang hamba di dunia dan di Akhirat. Namun, musuh utama manusia yaitu syaithon
tidak pernah berhenti berusaha merusak kemurnian Tauhid tersebut melalui
berbagai cara, salah satunya adalah dengan menyusupkan keyakinan-keyakinan jahiliyyah
ke dalam adat istiadat. Di tengah masyarakat kita, salah satu warisan masa lalu
yang sangat kental dengan aroma kesyirikan dan ramalan adalah Primbon Jawa.
Primbon bukan sekadar catatan harian atau kumpulan petuah, melainkan telah
menjelma menjadi rujukan dalam menentukan nasib, hari baik, hingga kecocokan
pasangan hidup. Hal ini sangat berbahaya karena telah merampas hak prerogatif
Alloh ﷻ
dalam mengetahui perkara ghoib.
Seorang Muslim yang mendasarkan langkah hidupnya pada
hitungan Primbon berarti telah terjatuh ke dalam jurang ramalan yang diharomkan
oleh Syari’at Islam. Padahal, Alloh ﷻ telah menegaskan dalam Al-Qur’an:
﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ
لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ
عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro: 36)
Nabi ﷺ
juga telah memperingatkan dengan keras bagi siapa saja yang mendatangi peramal
atau tukang tenung, yang mana prinsip kerja mereka sangat mirip dengan apa yang
tertuang dalam kitab-kitab Primbon yang meramal masa depan. Beliau ﷺ bersabda:
«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ
عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu menanyakan
sesuatu kepadanya, maka tidak diterima Sholatnya selama 40 malam.” (HR.
Muslim no. 2230)
Primbon membawa manusia pada sikap ketergantungan kepada
makhluk dan benda-benda mati, serta hitungan matematis yang tidak memiliki
landasan Syar’i maupun logika yang shohih. Ini adalah bentuk pengingkaran
terhadap takdir Alloh ﷻ.
Menggantungkan hati
kepada selain Alloh ﷻ
adalah inti dari kesyirikan yang akan menghancurkan kebahagiaan seorang hamba.
Buku ini hadir untuk membedah sisi gelap tersebut,
membongkar unsur-unsur kesyirikan yang tersembunyi di balik kata adat, dan
mengajak kaum Muslimin untuk kembali kepada kemurnian Tauhid. Sesungguhnya
jalan menuju Jannah hanya bisa ditempuh dengan mengikuti Sunnah Nabi ﷺ dan menjauhi segala
bentuk kemungkaran, termasuk praktik meramal nasib melalui Primbon.
Bab 1: Hakikat Primbon Jawa
1.1
Definisi Primbon dan kedudukannya dalam adat Jawa
Primbon secara bahasa berasal dari kata primbi yang
berarti induk atau kumpulan. Dalam praktiknya, Primbon adalah kitab
warisan leluhur yang berisi kumpulan pengetahuan tentang berbagai hal, mulai
dari ramalan nasib, watak manusia berdasarkan hari lahir, hingga petunjuk untuk
memulai suatu pekerjaan. Namun, kedudukan Primbon dalam adat Jawa sering kali
melampaui sekadar catatan budaya, ia dijadikan sebagai standar kebenaran dalam
melangkah. Hal ini sangat kontras dengan perintah Alloh ﷻ agar manusia hanya merujuk
kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Alloh ﷻ berfirman:
﴿اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ
إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ﴾
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu dan
janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu
mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al-A’rof: 3)
Keyakinan terhadap isi Primbon merupakan bentuk mengikuti
tradisi nenek moyang yang menyelisihkan Syari’at.
Para Salaf telah memberikan teladan dalam meninggalkan adat
yang batil. Orang-orang
jahiliyyah dahulu juga memiliki cara-cara tersendiri untuk meramal nasib
mereka, dan Islam datang untuk menghapuskannya. Islam menuntut bukti dan ilmu,
bukan sekadar persangkaan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ
إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ
بِمَا يَفْعَلُونَ﴾
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan
saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai
kebenaran. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS.
Yunus: 36)
1.2
Asal usul pemikiran Primbon dan pengaruh ajaran di luar Islam
Secara historis, Primbon merupakan hasil asimilasi antara
budaya lokal dengan ajaran-ajaran sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Di
dalamnya terdapat unsur animisme, dinamisme, serta pengaruh ajaran Hindu dan
Budha yang sangat kuat, terutama dalam konsep pengkastaan watak dan hitungan
kosmis. Hal ini sangat mirip dengan perbuatan kaum musyrikin terdahulu yang
mengaitkan fenomena alam dengan nasib manusia. Nabi ﷺ bersabda menceritakan firman Alloh ﷻ dalam Hadits Qudsi:
«أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي
مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ،
فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا
وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالكَوْكَبِ»
“Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan
ada yang kafir. Adapun orang yang mengatakan: ‘Kita diberi hujan karena karunia Alloh
dan rohmat-Nya,’ maka
dialah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun orang
yang mengatakan: ‘Kita
diberi hujan karena bintang ini dan itu,’ maka dialah yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada
bintang-bintang.” (HR. Al-Bukhori no. 846 dan Muslim no. 71)
Primbon menggunakan rasi bintang dan posisi bulan (pranata
mangsa) bukan untuk kepentingan navigasi atau pertanian semata, melainkan
untuk meramal nasib buruk. Ini adalah bagian dari ilmu nujum yang diharomkan.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا
مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ»
“Barangsiapa mengambil satu cabang ilmu perbintangan, maka
dia telah mengambil satu cabang sihir, dia akan menambah sebanyak apa yang dia
tambah.” (HHR.
Abu Dawud no. 3905)
1.3
Masuknya unsur ramalan dalam tatanan hidup masyarakat
Ramalan masuk ke dalam sendi kehidupan masyarakat Jawa
melalui kedok kebijakan lokal. Masyarakat diajarkan untuk takut melakukan
sesuatu di hari tertentu karena dianggap hari naas. Praktik ini disebut dengan
Tathoyyur (merasa sial karena sesuatu). Islam telah melarang keras hal ini.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ
عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah
ketetapan dari Alloh, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’rof:
131)
Nabi ﷺ
juga menegaskan bahwa Tathoyyur adalah kesyirikan. Beliau ﷺ bersabda:
«الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ
شِرْكٌ»
“Tathoyyur (merasa sial) adalah syirik, Tathoyyur adalah
syirik.” (HSR. Abu Dawud no. 3910)
Umar bin Khoththob (23 H) Rodhiyallahu ‘Anhu pernah
melarang seseorang yang hendak pergi berperang namun membatalkannya karena
melihat burung tertentu terbang ke arah kiri. Beliau mendidik umat agar hanya
bersandar kepada Alloh ﷻ
dan tidak terpengaruh oleh tanda-tanda yang tidak masuk akal. Primbon yang
mengajarkan ramalan melalui tanda-tanda tubuh, hari, atau hewan adalah
kelanjutan dari tradisi jahiliyyah yang telah dibuang oleh Islam.
1.4
Mengapa Primbon masih bertahan di tengah masyarakat Muslim?
Masih bertahannya Primbon disebabkan oleh kurangnya
pemahaman terhadap Tauhid yang benar serta rasa takut yang berlebihan terhadap
kualat atau murka alam. Syaithon menghiasi kebatilan ini sehingga terlihat
seperti kearifan lokal. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ
أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ﴾
“Dan syaithon telah menjadikan mereka memandang baik
perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Alloh), sehingga
mereka tidak dapat petunjuk.” (QS. An-Naml: 24)
Banyak masyarakat yang tertipu karena merasa ramalan Primbon
itu benar atau terjadi. Padahal, benarnya sebuah ramalan hanyalah kebetulan
atau bantuan jin yang mencuri berita dari langit. Nabi ﷺ bersabda tentang para
dukun dan peramal:
«فَيَسْمَعُ الكَلِمَةَ
فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، ثُمَّ يُلْقِيهَا الآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ،
حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الكَاهِنِ، فَرُبَّمَا أَدْرَكَ
الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا، وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ،
فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ، فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ
كَذَا وَكَذَا: كَذَا وَكَذَا، فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنَ
السَّمَاءِ»
“Lalu ia (syaithon pencuri berita) mendengar satu kalimat,
kemudian ia melemparkannya kepada yang berada di bawahnya, lalu yang lain
melemparkannya lagi kepada yang di bawahnya, hingga akhirnya ia melemparkannya
ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang meteor menyambarnya sebelum ia
sempat melemparkannya, dan terkadang ia sudah melemparkannya sebelum meteor itu
mengenainya. Lalu dukun itu menambahinya dengan 100 kedustaan. Kemudian diviralkan: ‘Bukankah dia telah berkata kepada kita
pada hari ini dan itu, begini dan begitu?’ Maka dia pun dipercayai karena satu kalimat yang didengar dari
langit tersebut.” (HR.
Al-Bukhori no.
4800)
Sufyan bin ‘Uyainah (198 H) Rohimahullah mengatakan bahwa fitnah syahwat
lebih mudah diobati daripada fitnah syubhat (kerancuan berpikir). Primbon
adalah syubhat yang berakar pada hati yang lemah tawakalnya. Maka, membentengi diri dengan
ilmu Tauhid adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai keterikatan pada
Primbon ini.
Bab 2: Keyakinan kepada Perkara
Ghoib dan Larangan Meramal
2.1
Kekhususan Alloh ﷻ dalam mengetahui perkara Ghoib
Salah satu rukun iman adalah beriman kepada yang ghoib. Namun, hanya Alloh ﷻ
yang memegang kunci-kunci keghoiban tersebut. Primbon mencoba mendahului
kehendak Alloh ﷻ
dengan menetapkan apa yang akan terjadi di masa depan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ
لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ
وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا
يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ﴾
“Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghoib; tidak
ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di
daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi,
dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab
yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59)
Nabi Muhammad ﷺ
sendiri, yang merupakan manusia paling mulia, tidak mengetahui perkara ghoib
kecuali apa yang diwahyukan kepadanya. Alloh ﷻ memerintahkan beliau ﷺ untuk berucap:
﴿قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي
نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ
الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا
نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi
diriku dan tidak (pula) menolak kemudhorotan kecuali yang dikehendaki Alloh.
Dan sekiranya aku mengetahui yang ghoib, tentulah aku membuat kebajikan
sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudhorotan. Aku tidak lain
hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang
beriman.’” (QS. Al-A’rof:
188)
Jika Rosululloh ﷺ
saja tidak mengetahui masa depan, bagaimana mungkin sebuah kitab karangan
manusia yang berisi hitungan hari bisa menentukan nasib seseorang? Ibnu
Taimiyyah (728 H) Rohimahullah menjelaskan bahwa siapa saja yang
mengklaim mengetahui hal ghoib selain melalui jalur wahyu, maka ia telah
mendustakan Al-Qur’an.
2.2
Larangan mendatangi peramal dan tukang tenung
Primbon dalam banyak aspek berfungsi sebagai pengganti
peramal (dukun) dalam bentuk tulisan. Mempelajari dan mempercayainya sama
hukumnya dengan mendatangi dukun. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ
عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ»
“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia
membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir kepada apa yang
diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”
(HHR. Ahmad
no. 9536)
Larangan ini bersifat mutlak. Tidak boleh ada alasan sekadar
iseng atau hanya ingin tahu. Perbuatan ini adalah pintu menuju kesyirikan besar
karena ada unsur pengakuan terhadap selain Alloh ﷻ dalam pengaturan alam
semesta. Al-Khoththobi (388 H) Rohimahullah menyebutkan bahwa peramal
biasanya menggunakan metode yang samar dan penuh tipu daya untuk menarik
simpati orang awam. Primbon melakukan hal yang sama dengan menyusun skema
hitungan weton yang seolah-olah logis padahal tanpa dasar.
2.3
Bahaya mempercayai ramalan terhadap keabsahan Iman
Iman seorang hamba akan terkikis ketika ia mulai
menggantungkan rasa takut dan harapnya pada ramalan. Jika Primbon mengatakan
suatu hari adalah hari sial, lalu orang tersebut membatalkan hajatnya karena
takut sial, maka ia telah jatuh dalam kesyirikan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ
إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi
takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali
Imron: 175)
Keabsahan iman menuntut penyerahan diri secara total kepada
takdir Alloh ﷻ,
baik yang manis maupun yang pahit. Mempercayai ramalan berarti meragukan hikmah
Alloh ﷻ.
Hasan Al-Bashri (110 H) Rohimahullah mengatakan bahwa seorang Mu’min
sejati adalah yang yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya,
dan apa yang luput darinya tidak akan menimpanya, tanpa butuh bantuan ramalan
bintang atau kitab-kitab jahiliyyah.
2.4
Kedudukan sebab dan musabbab dalam Syari’at Islam
Islam mengakui hukum sebab akibat, namun sebab tersebut
haruslah sebab yang Syar’i (berdasarkan dalil) atau sebab yang Kauni
(berdasarkan sains dan kenyataan yang teruji). Menikah di bulan Syuro
(Muharrom) dianggap sial dalam Primbon adalah sebab yang batil, karena tidak
ada dalil maupun fakta medis/logika yang membuktikannya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ
بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ
فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ﴾
“Jika Alloh menimpakan sesuatu kemudhorotan kepadamu, maka
tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki
kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan
kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan
Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)
Seorang Muslim diperintahkan untuk melakukan sebab yang
bermanfaat, bukan sebab yang dikarang-karang. Nabi ﷺ bersabda:
«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ»
“Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mintalah
pertolongan kepada Alloh, dan janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Menggunakan Primbon untuk mencari keselamatan adalah
kesia-siaan dan justru mendatangkan murka Alloh ﷻ. Segala bentuk
perlindungan hanya diminta kepada Alloh ﷻ melalui dzikir dan
doa yang diajarkan Nabi ﷺ,
bukan melalui hitungan Neptu.
Bab 3: Unsur Kesyirikan dalam
Hitungan Primbon
3.1
Kerusakan keyakinan dalam hitungan Weton dan Neptu
Sistem hitungan hari lahir yang dikenal dengan Weton dan
nilai angka hari yang disebut Neptu merupakan akar utama penyimpangan dalam
Primbon. Masyarakat diajarkan untuk menghitung nilai hari dan pasaran guna
meramal nasib, watak, hingga masa depan seseorang. Hal ini merupakan bentuk
pengakuan terhadap adanya pihak lain selain Alloh ﷻ yang mengetahui
urusan masa depan. Padahal, urusan apa yang akan terjadi di hari esok adalah
rahasia Alloh ﷻ
semata yang tidak diberikan kepada manusia melalui rumus matematis apa pun.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ
عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ
مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ
خَبِيرٌ﴾
“Sesungguhnya Alloh, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang
ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa
yang akan dikerjakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di
bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Luqman: 34)
Menetapkan watak seseorang berdasarkan hari lahirnya adalah
sebuah kedustaan besar. Seseorang tidaklah menjadi baik atau buruk hanya karena
ia lahir pada hari tertentu. Nabi Muhammad ﷺ lahir pada hari Senin, namun bukan berarti semua orang yang
lahir hari Senin memiliki kemuliaan seperti beliau ﷺ. Keyakinan ini merusak keimanan karena mengaitkan sebab yang
tidak pernah ditetapkan oleh Syari’at maupun ilmu pengetahuan yang nyata.
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) Rohimahullah
menegaskan bahwa termasuk kesyirikan adalah menetapkan sesuatu sebagai sebab
padahal Alloh ﷻ
tidak menjadikannya sebagai sebab, baik secara aturan Agama maupun aturan alam.
3.2
Keyakinan terhadap hari baik dan hari buruk (Tathoyyur)
Primbon sangat menekankan adanya hari-hari naas atau hari
sial yang harus dihindari untuk mengadakan acara besar seperti pernikahan atau
memulai usaha. Perasaan merasa sial karena waktu, tempat, atau tanda-tanda
tertentu inilah yang dalam Islam disebut sebagai Tathoyyur. Praktik ini adalah
warisan jahiliyyah yang menghancurkan ketenangan batin manusia. Seorang Muslim
harus yakin bahwa semua hari adalah milik Alloh ﷻ dan tidak ada hari
yang membawa sial dengan sendirinya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا
مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ
الْمُؤْمِنُونَ﴾
“Katakanlah: ‘Sekali-kali
tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Alloh untuk kami.
Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Alloh orang-orang yang beriman harus
bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51)
Nabi ﷺ
menghapus segala bentuk keyakinan terhadap kesialan waktu melalui sabda beliau ﷺ:
«لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ
وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ»
“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya tanpa izin
Alloh), tidak ada ramalan sial, tidak ada kesialan karena burung hantu, dan
tidak ada kesialan pada bulan Shofar.” (HR. Al-Bukhori no. 5757 dan Muslim
no. 2220)
Ibnu Rojab (795 H) Rohimahullah menjelaskan bahwa
orang yang merasa sial dengan suatu hari akan terhalangi dari melakukan banyak
kebaikan dan pintu-pintu rizki.
Hal ini karena syaithon membisikkan rasa takut ke dalam
hatinya sehingga ia tidak lagi bersandar kepada Alloh ﷻ, melainkan bersandar
pada ramalan hari yang tertulis di kitab-kitab Primbon.
3.3
Kesyirikan dalam menentukan kecocokan pasangan berdasarkan hitungan
lahir
Salah satu praktik yang paling merusak dalam masyarakat
adalah perjodohan yang didasarkan pada hitungan kecocokan Weton. Jika hitungan
menunjukkan angka yang dianggap tidak cocok, maka pernikahan sering kali
dibatalkan atau dipaksakan untuk melakukan ritual tertentu guna membuang sial.
Ini adalah bentuk penghinaan terhadap ketetapan Alloh ﷻ. Islam telah
memberikan standar yang jelas dalam memilih pasangan, yaitu berdasarkan Agama
dan akhlak, bukan berdasarkan tanggal lahir. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ
لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً
وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Nabi ﷺ
bersabda tentang kriteria memilih pasangan:
«تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ
لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ
تَرِبَتْ يَدَاكَ»
“Wanita
(biasanya) dinikahi karena 4 perkara: karena hartanya, keturunannya,
kecantikannya, dan Agamanya. Maka pilihlah yang memiliki Agama, niscaya kamu
akan beruntung.” (HR. Al-Bukhori no. 5090 dan Muslim no. 1466)
Menambahkan syarat hitungan Primbon dalam pernikahan adalah
bid’ah yang menyesatkan dan mengandung unsur kesyirikan karena meyakini adanya
kekuatan selain Alloh ﷻ
yang dapat mendatangkan celaka atau manfaat dalam rumah tangga.
Orang
yang meyakini nasibnya diatur oleh pergerakan bintang atau hitungan hari telah
keluar dari jalur bimbingan para Nabi.
3.4
Praktik sesajen dan ritual pengiring dalam Primbon yang menyelisihkan
Tauhid
Primbon sering kali mewajibkan adanya ritual tertentu
seperti memberikan sesajen di tempat-tempat yang dianggap keramat atau pada
waktu-waktu tertentu untuk menolak bala yang diramalkan. Sesajen adalah bentuk
persembahan (Nusuk) yang hanya boleh ditujukan kepada Alloh ﷻ. Memberikan
persembahan kepada selain Alloh ﷻ, baik itu kepada jin, arwah leluhur, atau
penunggu tempat tertentu, adalah kesyirikan besar yang mengeluarkan pelakunya
dari Islam. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي
وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
“Katakanlah: Sesungguhnya Sholatku, ibadahku (sembelihanku/sesajenku),
hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Al-An’am:
162)
Nabi ﷺ
memberikan peringatan keras terhadap siapa saja yang mempersembahkan sesuatu
kepada selain Alloh ﷻ:
«لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ
لِغَيْرِ اللَّهِ»
“Alloh melaknat orang yang menyembelih (mempersembahkan
sesuatu) untuk selain Alloh.” (HR. Muslim no. 1978)
Segala bentuk ritual penolak bala yang diajarkan dalam
Primbon hanyalah tipu daya syaithon untuk menyeret manusia ke dalam api Naar.
Keselamatan hanya bisa diraih dengan memurnikan Tauhid dan memohon perlindungan
hanya kepada Alloh ﷻ
melalui doa-doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Bab 4: Malapetaka Primbon bagi
Aqidah dan Kehidupan
4.1
Primbon sebagai pintu masuk syaithon merusak hati manusia
Syaithon selalu mencari celah untuk menyesatkan manusia dari
jalan yang lurus. Primbon menyediakan celah tersebut melalui rasa ingin tahu
yang berlebihan terhadap masa depan. Ketika seseorang mulai membuka Primbon, syaithon
akan mulai membisikkan keraguan dan ketakutan dalam hatinya. Hal ini merupakan
langkah awal syaithon untuk menjauhkan hamba dari Sang Pencipta. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ
الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah syaithon. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaithon,
maka sesungguhnya syaithon itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan
yang mungkar.” (QS. An-Nur: 21)
Mempelajari Primbon dengan tujuan meramal nasib adalah
bentuk kerja sama terselubung dengan jin. Al-Qurthubi (671 H) Rohimahullah
menjelaskan bahwa syaithon menghiasi kebatilan dengan nama-nama yang indah agar
manusia tidak merasa sedang melakukan dosa. Dalam konteks ini, kesyirikan
dibungkus dengan istilah kearifan atau pelestarian budaya.
4.2 Hilangnya tawakul kepada Alloh ﷻ
karena bergantung pada hitungan
Tawakul adalah inti dari ibadah batin seorang Muslim. Dengan
tawakul, seseorang menyerahkan segala urusannya kepada Alloh ﷻ setelah melakukan
usaha yang dibenarkan. Namun, ketika seseorang mulai percaya pada hitungan
Primbon, rasa tawakulnya akan bergeser. Ia tidak lagi tenang karena
perlindungan Alloh ﷻ,
melainkan merasa tenang karena hitungannya dianggap bagus, atau merasa cemas
karena hitungannya dianggap buruk. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى
اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ
لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴾
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh niscaya Alloh
akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu.” (QS. At-Tholaq: 3)
Tawakul adalah setengah dari Agama. Maka, barangsiapa yang
menggantungkan urusannya pada angka-angka dan hari-hari, ia telah kehilangan
setengah dari Agamanya. Hidupnya akan dipenuhi dengan kegelisahan karena ia
bersandar pada sesuatu yang lemah dan tidak mampu memberi manfaat atau menolak
mudhorot.
4.3
Munculnya rasa takut dan cemas yang berlebihan (was-was)
Primbon menciptakan penjara pikiran bagi penganutnya. Mereka
tidak berani melangkah tanpa melihat catatan. Rasa takut akan kualat atau
tertimpa musibah karena melanggar hitungan Primbon adalah penyakit batin yang
sangat berat. Hal ini membuat hidup seseorang tidak merdeka dan selalu dalam
bayang-bayang kegelapan was-was. Alloh ﷻ memerintahkan kita
berlindung dari gangguan semacam ini:
﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
* مَلِكِ النَّاسِ * إِلَٰهِ النَّاسِ * مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ﴾
“Katakanlah: ‘Aku
berlindung kepada Robb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia.
Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaithon yang biasa bersembunyi.” (QS.
An-Nas: 1-4)
Seorang Muslim yang memiliki keyakinan yang kuat tidak akan
pernah takut dengan ramalan apa pun. Nabi ﷺ bersabda:
«وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ
لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ
قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ
يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ»
“Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk
memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali
dengan sesuatu yang telah ditetapkan Alloh untukmu. Dan seandainya mereka
berkumpul untuk menimpakan suatu mudhorot kepadamu, mereka tidak akan dapat
menimpakan mudhorot itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Alloh
atasmu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2516)
4.4
Terpecahnya hubungan kekeluargaan akibat ramalan buruk
Tidak sedikit hubungan persaudaraan atau kekeluargaan yang
rusak hanya karena hitungan Primbon. Orang tua melarang anaknya menikah dengan
pilihan hatinya hanya karena hitungan Neptu yang tidak cocok. Calon menantu
dianggap akan membawa sial bagi keluarga. Ini adalah bentuk kezholiman yang nyata dan pemutusan tali silaturrohim
yang dilarang oleh Islam. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
purba-sangka (buruk sangka), karena purba-sangka itu adalah dosa.” (QS.
Al-Hujurot: 12)
Menuduh seseorang membawa sial hanya berdasarkan ramalan
adalah fitnah yang besar. Islam mengajarkan untuk saling mencintai dan
membantu, bukan saling mencurigai berdasarkan khurofat (cerita bohong yang
dianggap nyata). Tidak
ada yang lebih merusak hubungan antarmanusia selain dari bisikan-bisikan syaithon
yang bersumber dari prasangka buruk.
4.5. Contoh Nyata Malapetaka Primbon
Telah sampai kabar kepada penulis beberapa orang yang terkena
dampaknya langsung —terutama yang positif kerasukan jin baik jin nasab atau
dari dukun— ada yang gila, tidak punya anak, usaha selalu gagal, sakit tidak
wajar, emosian seakan memiliki dua kepribadian, depresi, dan lain-lain. Itu semua bagian dari rasukan
syaithon dari kalangan jin sebagai hasil dari Primbon, terutama mempersembahkan
sesajen.
Bab 5: Bantahan Syar’i terhadap
Praktik Primbon dalam Keseharian
5.1
Bantahan terhadap larangan menikah di bulan-bulan tertentu
Masyarakat sering kali menghindari menikah di bulan Suro
(Muharrom) atau bulan-bulan tertentu lainnya karena dianggap bulan keramat yang
tidak boleh ada hajatan. Padahal, Muharrom adalah salah satu dari 4 bulan harom
(mulia) yang ditetapkan oleh Alloh ﷻ. Menjadikan bulan mulia sebagai bulan sial
adalah bentuk penentangan terhadap ketetapan Alloh ﷻ. Nabi ﷺ bersabda:
«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ
رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ»
“Puasa yang paling utama setelah Romadhon adalah puasa di
bulan Alloh, yaitu Al-Muharrom.” (HR. Muslim no. 1163)
Jika bulan tersebut adalah bulan Alloh ﷻ, maka bagaimana
mungkin ia membawa sial? An-Nawawi (676 H) Rohimahullah menegaskan bahwa
semua waktu adalah milik Alloh ﷻ dan tidak ada larangan Syar’i untuk
menikah di hari atau bulan mana pun sepanjang tahun. Keyakinan sial pada bulan
tertentu hanyalah sisa-sisa ajaran jahiliyyah yang ingin merusak syiar Islam.
5.2
Bantahan terhadap hitungan arah rumah dan posisi tempat tinggal
Primbon mengatur dengan detail arah hadap rumah, posisi
pintu, hingga tata letak dapur yang jika dilanggar dianggap akan menutup pintu
rizki. Ini adalah kesia-siaan. Rizki ada di tangan Alloh ﷻ, bukan pada arah mata
angin. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ
وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ
عَلِيمٌ﴾
“Dan kepunyaan Alloh-lah timur dan barat, maka kemanapun
kamu menghadap di situlah wajah Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Luas (rohmat-Nya)
lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 115)
Membangun rumah haruslah didasarkan pada kebutuhan,
kenyamanan, dan kemaslahatan, bukan pada ramalan nasib. Mengikuti aturan arah
rumah dalam Primbon hanya akan menyulitkan diri sendiri dan mendatangkan
kesyirikan dalam hati karena merasa rizki terhalang oleh posisi bangunan.
5.3
Bantahan terhadap ramalan nasib melalui kedutan atau tanda tubuh
Sering kita jumpai orang yang merasa akan mendapat kabar
baik jika matanya kedutan, atau akan ada tamu jika telinganya berdenging.
Primbon mencatat fenomena tubuh ini sebagai isyarat masa depan. Secara medis,
hal tersebut adalah reaksi saraf biasa, dan secara Agama tidak memiliki kaitan
sama sekali dengan kejadian ghoib. Alloh ﷻ menegaskan:
﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ
فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾
“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi
yang mengetahui perkara yang ghoib, kecuali Alloh.” (QS. An-Naml: 65)
Mengaitkan gerakan tubuh dengan nasib adalah bagian dari
ilmu ramal yang dilarang. Malik bin Anas (179 H) Rohimahullah sangat
membenci orang yang berbicara tentang perkara-perkara yang tidak ada dasarnya
dari Kitabulloh maupun Sunnah Rosul-Nya.
5.4
Bantahan terhadap penggunaan jimat atau rajah yang bersumber dari
Primbon
Untuk menangkal kesialan yang diramalkan, Primbon sering
menyarankan penggunaan jimat, rajah, atau benda-benda tertentu yang disimpan di
rumah atau dipakai di badan. Ini adalah kesyirikan yang sangat nyata. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً
فَقَدْ أَشْرَكَ»
“Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh ia
telah berbuat syirik.” (HSR. Ahmad no. 17422)
Perlindungan hanya datang dari Alloh ﷻ. Benda-benda mati
tersebut tidak mampu melindungi dirinya sendiri, apalagi melindungi orang lain.
Seorang Muslim yang cerdas akan meninggalkan segala bentuk benda keramat dan
hanya membentengi diri dengan Dzikir
Pagi dan Petang serta membaca Al-Qur’an di dalam rumahnya. Al-Albani (1420
H) Rohimahullah menjelaskan bahwa jimat tidak akan menambah bagi
pemakainya kecuali kelemahan iman dan ketergantungan kepada selain Alloh ﷻ.
Bab 6: Sikap Muslim terhadap
Warisan Budaya yang Menyimpang
6.1
Kewajiban mendahulukan dalil di atas adat istiadat
Seorang hamba yang telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh ﷻ dan Muhammad ﷺ adalah utusan Alloh ﷻ,
maka konsekuensinya adalah ketundukan mutlak kepada wahyu. Adat istiadat,
termasuk Primbon Jawa, hanyalah buatan manusia yang tidak memiliki otoritas
dalam urusan Agama dan keyakinan. Jika adat bertentangan dengan dalil, maka
dalil harus didahulukan tanpa tawar-menawar. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ
وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ
مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا﴾
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak
(pula) bagi perempuan yang Mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan
suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguhlah dia telah
sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Imam Syafi’i (204 H) Rohimahullah menegaskan bahwa
kaum Muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah
Sunnah dari Rosululloh ﷺ,
maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena mengikuti ucapan siapa
pun.
Primbon adalah ucapan dan catatan manusia yang penuh dengan
kesalahan, sedangkan Al-Qur’an dan Sunnah adalah kebenaran yang mutlak.
Mengutamakan Primbon di atas dalil merupakan ciri orang-orang yang hatinya
terjangkit penyakit kemunafikan atau kebodohan yang parah terhadap hakikat
Tauhid.
6.2
Cara menyikapi orang tua atau keluarga yang masih memegang Primbon
Sering kali tantangan terbesar dalam meninggalkan Primbon
adalah tekanan dari orang tua atau keluarga besar yang masih sangat memegang
teguh tradisi tersebut. Dalam Islam, berbakti kepada orang tua adalah wajib,
namun ketaatan kepada makhluk tidak boleh dalam kemaksiatan kepada Kholiq
(Pencipta). Alloh ﷻ
memberikan bimbingan dalam menghadapi situasi ini:
﴿وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ
أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي
الدُّنْيَا مَعْرُوفًا﴾
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan
Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS.
Luqman: 15)
Seorang Muslim harus tetap bersikap lembut, sopan, dan
menunjukkan akhlak yang mulia kepada orang tuanya meskipun ia menolak perintah
mereka untuk menggunakan hitungan Primbon. Penolakan dilakukan dengan
penjelasan yang baik dan ilmiah, bukan dengan kekasaran. Sebagaimana teladan
Nabi Ibrohim (Alaihissalam) saat mendakwahi ayahnya yang pembuat berhala
dengan ucapan yang santun namun tegas dalam prinsip Tauhid. Seseorang tidak
boleh mengorbankan Agamanya hanya demi menyenangkan hati manusia, karena keridhoan
Alloh ﷻ
adalah tujuan utama di atas segalanya.
6.3
Memurnikan ibadah dari noda-noda tradisi jahiliyyah
Ibadah yang diterima oleh Alloh ﷻ adalah yang ikhlas
karena-Nya dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ. Mencampuradukkan ibadah dengan tradisi yang mengandung
kesyirikan seperti ritual tolak bala dalam Primbon akan membatalkan amalan
tersebut. Tradisi jahiliyyah adalah segala sesuatu yang tidak memiliki dasar
dari wahyu dan menyelisihi ajaran para Nabi. Alloh ﷻ mencela orang-orang
yang keras kepala mempertahankan tradisi batil nenek moyang mereka:
﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ
لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ﴾
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang
telah diturunkan Alloh,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti
apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka
akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu
apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqoroh: 170)
Memurnikan ibadah berarti membersihkan hati dari
ketergantungan kepada selain Alloh ﷻ. Hal ini mencakup membuang segala bentuk
keyakinan terhadap hari baik, arah rumah, dan ramalan nasib. Ibnu Qudamah (620
H) Rohimahullah menjelaskan bahwa ibadah yang benar adalah yang tegak di
atas ilmu dan menjauhi segala bentuk inovasi yang diada-adakan (bid’ah).
6.4
Pentingnya menuntut ilmu Syar’i sebagai benteng dari kesesatan
Kebodohan adalah pintu utama masuknya Khurofat dan
kesesatan. Tanpa ilmu yang benar, seseorang akan mudah tertipu oleh bungkus
budaya yang dianggap baik padahal isinya merusak Aqidah. Menuntut ilmu Syar’i
hukumnya wajib bagi setiap Muslim agar ia bisa membedakan mana Tauhid dan mana
Syirik, mana Sunnah dan mana Bid’ah. Nabi ﷺ bersabda:
«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HSR. Ibnu Majah no. 224)
Ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang Kitabulloh dan Sunnah
dengan pemahaman para Shohabat. Dengan ilmu tersebut, seorang Muslim akan
memiliki Bashiroh (pandangan mata hati yang tajam) sehingga ia tidak akan silau
dengan ramalan-ramalan Primbon yang tampak hebat di mata orang awam.
Sebagaimana perkataan Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) Rohimahullah, bahwa
manusia lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka terhadap makan dan
minum, karena makan dan minum dibutuhkan sehari sekali atau dua kali, sedangkan
ilmu dibutuhkan dalam setiap helaan nafas untuk menjaga keselamatan Agama.
Bab 7: Langkah Taubat dan Kembali
kepada Sunnah
7.1
Cara membersihkan diri dari bekas keyakinan Primbon
Bagi siapa saja yang pernah terjerumus dalam keyakinan
Primbon, jalan kembali selalu terbuka lebar. Taubat yang benar (Taubatan
Nasuha) menuntut 3 syarat utama: menyesali perbuatan masa lalu, meninggalkannya
seketika itu juga, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya selamanya. Alloh
ﷻ
yang Maha Pengampun berfirman:
﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ
أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Katakanlah: ‘Wahai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah
kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Az-Zumar: 53)
Langkah nyata untuk membersihkan diri adalah dengan membuang
atau menghancurkan kitab-kitab Primbon, jimat, atau rajah yang pernah dimiliki.
Jangan disimpan sebagai koleksi atau warisan, karena benda tersebut adalah
sumber malapetaka Aqidah. Selain itu, perbanyaklah membaca kalimat Tauhid (Laa
Ilaaha Illalloh) untuk memurnikan kembali keyakinan yang sempat ternoda.
Al-Fudhoil bin Iyadh (187 H) Rohimahullah mengatakan bahwa tanda
diterimanya taubat seseorang adalah adanya perubahan ke arah yang lebih baik
dan rasa takut yang lebih besar kepada Alloh ﷻ.
7.2
Mengganti ketergantungan pada ramalan dengan Sholat Istikhoroh
Islam telah memberikan solusi yang sempurna dalam menghadapi
keraguan atau saat hendak mengambil keputusan penting, yaitu dengan Sholat
Istikhoroh. Ini adalah pengganti yang Syar’i bagi segala bentuk ramalan atau
hitungan hari. Dalam Istikhoroh, kita memohon bimbingan kepada Alloh ﷻ
yang Maha Mengetahui segala hal yang akan terjadi, bukan kepada hitungan angka
yang mati. Nabi ﷺ
mengajarkan doa Istikhoroh yang luar biasa maknanya, di antaranya adalah:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ
بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ
تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ»
“Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan
ilmu-Mu, aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu
yang agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan aku tidak kuasa, Engkau Maha
Mengetahui dan aku tidak tahu, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui
perkara-perkara yang ghoib….” (HR. Al-Bukhori no. 1162)
Istikhoroh menumbuhkan rasa tenang dan tawakul, berbeda
dengan Primbon yang menumbuhkan rasa takut dan ketergantungan pada makhluk.
Dengan Istikhoroh, seorang Muslim menyerahkan hasilnya kepada Alloh ﷻ,
apa pun pilihannya, karena ia yakin itulah yang terbaik bagi dunianya dan
Akhiratnya.
7.3
Memperbanyak dzikir dan doa pelindung dari gangguan syaithon
Syaithon akan terus mencoba menarik kembali orang yang sudah
bertaubat ke dalam kubangan kesyirikan. Oleh karena itu, membentengi diri
dengan Dzikir
Pagi dan Petang adalah sebuah keharusan. Gunakan doa-doa yang diajarkan
Nabi ﷺ untuk perlindungan.
Beliau ﷺ bersabda:
«قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ
كُلِّ شَيْءٍ»
“Bacalah Qul Huwallohu Ahad (Surat Al-Ikhlas) dan Mu’awwidzatain
(Surat Al-Falaq dan An-Nas) saat sore dan pagi hari sebanyak 3 kali, maka itu
akan mencukupimu dari segala sesuatu (melindungimu dari segala keburukan).” (HHR.
Abu Dawud no. 5082)
Juga doa agar terhindar dari kesyirikan, baik yang disadari
maupun tidak:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ
بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ»
“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu
padahal aku mengetahuinya, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak aku
ketahui.” (Shohih Adabul Mufrod no. 551)
Adz-Dzahabi (748 H) Rohimahullah menekankan bahwa
hati manusia sangat lemah, sedangkan syubhat (kerancuan berpikir)
menyambar-nyambar. Maka, hanya dengan pertolongan Alloh ﷻ melalui dzikir yang
istiqomah seseorang dapat selamat dari jeratan syirik.
7.4 Mengajak masyarakat kembali kepada Tauhid yang
murni
Setelah seseorang memahami bahaya Primbon, kewajiban
berikutnya adalah mengajak orang lain untuk kembali kepada kebenaran. Dakwah harus
dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik, terutama kepada keluarga terdekat.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ
بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي
هِيَ أَحْسَنُ﴾
“Serulah (manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS.
An-Nahl: 125)
Sampaikanlah bahwa rezeki, jodoh, dan maut sepenuhnya di
tangan Alloh ﷻ,
bukan pada hitungan Weton. Buktikan dengan kenyataan hidup bahwa banyak orang
yang tidak menggunakan Primbon namun hidupnya berkah dan bahagia, sementara
banyak yang fanatik terhadap Primbon justru hidupnya sempit dan penuh
ketakutan. Membangun kesadaran kolektif untuk meninggalkan Primbon adalah
bentuk Jihad dalam menjaga kemurnian Aqidah umat. Syaikh Abdurrohman bin Hasan
(1285 H) Rohimahullah menyatakan bahwa tidak ada perjuangan yang lebih
mulia daripada mengajak manusia untuk mentauhidkan Alloh ﷻ secara murni dan
meninggalkan segala bentuk thoghut (sesembahan atau rujukan selain Alloh).
Penutup
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang dengan
nikmat-Nya sempurnalah segala kebaikan. Mengetahui sisi gelap dan bahaya
Primbon Jawa bukanlah sekadar menambah wawasan budaya, melainkan sebuah
kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan Aqidah dari ancaman kesyirikan. Primbon,
dengan segala rumus hitungan dan ramalannya, telah terbukti menjadi malapetaka
bagi kehidupan batin dan nyata seorang hamba. Ia merampas hak Alloh ﷻ
sebagai Dzat yang Maha Mengetahui perkara ghoib dan menggantikannya dengan
prasangka-prasangka kosong yang dihiasi oleh syaithon.
Seorang Muslim yang cerdas adalah yang menjadikan Al-Qur’an
dan Sunnah sebagai satu-satunya kompas dalam melangkah. Tidak ada hari yang
sial kecuali hari di mana seseorang bermaksiat kepada Alloh ﷻ. Tidak ada kesialan
yang menimpa seseorang kecuali karena takdir yang telah ditetapkan-Nya untuk
menguji kesabaran dan keimanan hamba-Nya. Marilah kita bersihkan rumah-rumah
kita dari kitab-kitab Primbon, kita bersihkan hati kita dari sisa-sisa
keyakinan jahiliyyah, dan kita tegakkan Tauhid setegak-tegaknya.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca
sekalian, serta menjadi pemberat timbangan amal kebaikan di hari ketika harta
dan anak tidak lagi berguna kecuali mereka yang menghadap Alloh ﷻ
dengan hati yang selamat (Qolbun Salim).
Segala kebenaran datangnya dari Alloh ﷻ, dan segala kesalahan
datangnya dari diri pribadi serta godaan syaithon.
Kita memohon perlindungan kepada Alloh ﷻ agar senantiasa
ditetapkan di atas Sunnah Nabi ﷺ
hingga ajal menjemput.
Walhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin.
Daftar Pustaka
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin (1420 H). Silsilah
Al-Ahadits Ash-Shohihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif.
Al-Bukhori, Muhammad bin Ismail (256 H). Shohih
Al-Bukhori. Kairo: Daru Thowqin Najah.
Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad (748 H). Siyar
A’lamin Nubala. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
Al-Khoththobi, Abu Sulaiman (388 H). Ma’alimus Sunan. Aleppo: Al-Mathba’ah
Al-Ilmiyyah.
Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad (671 H). Al-Jami’ li
Ahkamil Qur’an. Kairo: Darul Kutub Al-Mishriyyah.
An-Nawawi, Muhyiddin Yahya bin Syarof (676 H). Al-Minhaj
Syarh Shohih Muslim bin Al-Hajjaj. Beirut: Daru Ihya At-Turots Al-Arobi.
As-Sijistani, Abu Dawud (275 H). Sunan Abu Dawud.
Sidon: Al-Maktabah Al-Ashriyyah.
At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa (279 H). Sunan At-Tirmidzi.
Mesir: Musthofa Al-Babi Al-Halabi.
Ibnu Abdil Barr, Abu Umar Yusuf bin Abdullah (463 H). At-Tamhid
lima fil Muwaththo’ minal Ma’ani wal Asanid. Maroko: Wizarotul Awqof.
Ibnu Hanbal, Ahmad bin Muhammad (241 H). Musnad Ahmad bin
Hanbal. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
Ibnu Katsir, Imaduddin Ismail bin Umar (774 H). Tafsir
Al-Qur’anil Azhim. Beirut: Daruth Thoyyibah.
Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid (273 H). Sunan Ibnu Majah.
Kairo: Daru Ihyail Kutubil Arobiyyah.
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr
(751 H). Al-Fawaid. Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Muwaffaquddin Abdullah bin Ahmad
(620 H). Al-Mughni. Kairo: Maktabah Al-Qohiroh.
Ibnu Rojab Al-Hanbali, Zainuddin Abdurrohman bin Ahmad (795
H). Lathoiful Ma’arif fima li Mawasimil Ami minal Wazhoif. Beirut: Daru
Ibni Katsir.
Ibnu Taimiyyah, Taqiyuddin Ahmad bin Abdil Halim (728 H). Majmu’ul
Fatawa. Madinah: Mujamma’ Al-Malik Fahd.
Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi (261 H). Shohih Muslim.
Beirut: Daru Ihya At-Turots Al-Arobi.
Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh (1285 H). Fathul
Majid Syarh Kitabit Tauhid. Kairo: Mathba’ah An-Shoros Sunnah
Al-Muhammadiyyah.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H). Kitabut Tauhid
Alladzi Huwa Haqqullohi ‘alal ‘Abid. Riyadh: Darus Salam.
