[PDF Premium] 7 Cara Menikmati Pasangan Haidh - Nor Kandir
7 Cara Menikmati
Pasangan Haidh
***
Penulis: Nor Kandir, ST., BA
Penerbit: Pustaka Syabab
Halaman: 88
Cetakan: Ke-1, 1447 H (2026)
Edisi Premium: Rp 8.800
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Daftar Isi
Muqoddimah
Bab 1: Haidh dalam Ketetapan Alloh dan Tinjauan Medis
1.1 Haidh sebagai Fithroh bagi
Anak Cucu Adam
1.2 Memahami Perubahan
Biologis dan Gejala Kejiwaan Wanita (PMS)
1.3 Hikmah Medis di Balik
Larangan Hubungan Badan saat Haidh
Bab 2: Kaidah Syari’at dalam Berinteraksi
2.1 Meluruskan Pemahaman
Keliru Kaum Jahiliyyah dan Ahli Kitab
2.2 Batasan yang Dihalalkan
oleh Alloh bagi Suami Istri
2.3 Pentingnya Menjaga
Kemesraan di Tengah Uzur Syar’i
Bab 3: [1] Kemesraan Lewat Satu Wadah Makanan
3.1 Sunnah Nabi ﷺ Mencari Bekas Bibir Istri pada Gelas Minum
3.2 Menumbuhkan Rasa Dicintai melalui Aktivitas Makan Bersama
Bab 4: [2] Kemesraan di Tempat Tidur
4.1 Tetap Tidur dalam Satu
Selimut sebagai Bentuk Kasih Sayang
4.2 Mengambil Keberkahan
dengan Bersandar dan Membaca Al-Qur’an di Pangkuan Istri
Bab 5: [3] Teknik Mubasyaroh
5.1 Memahami Makna Mencumbu
Selain Kemaluan
5.2 Penggunaan Kain (Sarung)
sebagai Adab Bermesraan saat Haidh
Bab 6: [4] Dukungan Maknawi
6.1 Menjadi Pendengar yang
Baik saat Istri Mengalami Ketidakstabilan Perasaan
6.2 Pujian dan Sanjungan untuk
Menjaga Kepercayaan Diri Istri
Bab 7: [5] Khidmah Suami
7.1 Meringankan Beban Rumah
Tangga saat Istri Merasa Lemah dan Sakit
7.2 Sentuhan Pijatan Ringan
untuk Mengurangi Nyeri Haidh
Bab 8: [6] Menjaga Penampilan dan Kebersihan Bersama
8.1 Anjuran Tetap Berhias bagi
Istri di Hadapan Suami
8.2 Edukasi Kebersihan Diri
(Thoharoh) demi Kenyamanan Pasangan
Bab 9: [7] Melibatkan Istri dalam Suasana Ibadah
9.1 Mengajak Istri Mendengar
Bacaan Al-Qur’an dan Dzikir
9.2 Menghadirkan Istri dalam
Majelis Ilmu atau Kegiatan Sosial
Penutup
Daftar Pustaka
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya milik Alloh, Robb semesta alam, yang telah menciptakan manusia
berpasang-pasangan agar mereka cenderung dan merasa tenteram satu sama lain.
Sungguh, di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah Dia menjadikan rasa cinta
dan kasih sayang (mawaddah dan rohmah) di antara suami dan istri, sehingga
kehidupan rumah tangga menjadi madrosah pertama bagi tegaknya nilai-nilai
ketaatan.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada tauladan kita, Nabi Muhammad ﷺ, yang telah diutus membawa
risalah yang sempurna, mencakup segala sisi kehidupan manusia, termasuk perkara
yang sering dianggap tabu namun sangat krusial dalam menjaga keharmonisan
keluarga, yaitu pergaulan suami istri saat masa haidh tiba.
Amma
ba’du:
Buku ini
hadir sebagai upaya untuk membedah bagaimana seorang Muslim dapat tetap memupuk
rasa cinta dan menikmati kebersamaan dengan pasangannya meski di tengah uzur
syar’i. Islam adalah agama yang sangat manusiawi; ia tidak membebani pemeluknya
dengan aturan yang menyiksa, namun juga tidak membiarkan mereka terjatuh dalam
perbuatan yang melampaui batas. Ketika masa haidh datang, seorang wanita
seringkali mengalami perubahan, baik secara fisik yang melemah maupun kejiwaan
yang lebih sensitif. Di sinilah peran suami diuji untuk menjadi pelindung dan
penyejuk hati, bukan justru menjauh atau merasa terbebani.
Dalam
lintasan sejarah, kita melihat bagaimana kaum Yahudi memperlakukan wanita haidh
dengan sangat buruk; mereka tidak mau makan bersama, tidak mau minum dalam satu
wadah, bahkan menjauhkan diri dari satu ranjang seolah-olah wanita haidh adalah
najis yang harus dihindari.
Sebaliknya,
kaum Nasroni cenderung tidak memiliki batasan dan tetap melakukan hubungan
badan meskipun dalam keadaan haidh. Islam datang sebagai jalan tengah (wasath),
memuliakan kedudukan wanita, menjaga kesehatan fisik keduanya, dan tetap
membuka pintu-pintu kemesraan yang luas tanpa melanggar ketentuan yang harom.
Penulis
berusaha menyajikan materi ini dengan menggabungkan pendekatan wahyu yang
suci—Al-Qur’an dan Sunnah—, serta diperkuat dengan tinjauan kesehatan dan
kondisi kejiwaan modern.
Fokus utama
buku ini adalah memberikan bimbingan praktis bagi para suami agar mampu
memahami kondisi biologis istrinya dan tetap bisa merasakan kehangatan cinta tanpa
harus melakukan apa yang telah dilarang oleh Alloh. Sungguh, ketaatan kepada
syari’at tidak akan pernah menghalangi kebahagiaan, justru di dalamnyalah
terdapat puncak kenikmatan yang terjaga dan barokah. Semoga tulisan ini menjadi
amal sholih yang bermanfaat bagi kaum Muslimin dalam membina rumah tangga yang
sakinah di bawah naungan rohmat-Nya.
