[PDF] Jeritan Hati Si Kaya - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji bagi Alloh yang telah membagi-bagi rizki di
antara hamba-hamba-Nya dengan hikmah yang sangat dalam. Ada yang Dia luaskan
hartanya sebagai ujian syukur, dan ada yang Dia sempitkan hartanya sebagai
ujian kesabaran.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad ﷺ, keluarganya, dan
para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum yang telah memberikan teladan terbaik
dalam menyikapi dunia.
Amma
ba’du:
Sering kali manusia hanya melihat kulit luar dari sebuah
kemewahan. Mata mereka silau oleh megahnya istana, kilau perhiasan, dan deru
kendaraan mewah yang melintas di depan mata. Namun, jarang ada yang mau
menyingkap apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding-dinding kokoh tersebut.
Di sana, di balik senyum yang dipaksakan di depan kamera atau rekan bisnis,
tersimpan jeritan hati yang jarang terdengar. Sungguh, kekayaan bukan sekadar
angka di rekening bank, melainkan sebuah beban tanggung jawab yang sangat berat
yang sering kali menguras air mata dan ketenangan jiwa pemiliknya.
Buku ini hadir bukan untuk merendahkan ni’mat harta,
melainkan sebagai pengingat akan hakikat dunia yang menipu. Banyak orang kaya
yang merasa letih bukan karena kekurangan fisik, tetapi karena batin yang
terus-menerus dikejar oleh ambisi yang tidak pernah mengenal kata cukup. Mereka
mengalami kesedihan yang mendalam saat tubuh yang biasa dimanja dengan
fasilitas terbaik, tiba-tiba diuji dengan penyakit yang tidak mampu disembuhkan
oleh tumpukan uang. Ada ketakutan yang menghantui setiap malam tentang kapan
harta itu akan sirna, serta penyesalan yang menyelinap saat menyadari bahwa
waktu untuk beribadah kepada Alloh terkikis habis oleh urusan duniawi yang
tidak ada ujungnya.
Tujuan utama dari tulisan ini adalah agar para Muslim yang
hidup dalam kekurangan tidak lagi merasa iri kepada mereka yang dilebihkan
hartanya. Sungguh, setiap kelebihan ni’mat dunia dibarengi dengan kelebihan
beban ujian. Dengan memahami jeritan hati orang kaya, diharapkan si miskin
dapat lebih bersyukur atas ringannya beban hidup mereka dan fokus pada kekayaan
yang sesungguhnya, yaitu qona’ah. Begitu pula bagi si kaya, tulisan ini
menawarkan solusi agar harta yang mereka miliki tidak menjadi bumerang di
Akhiroh, melainkan menjadi kendaraan yang mengantarkan mereka menuju Jannah.
Alloh Ta’ala telah memperingatkan manusia tentang
hakikat persaingan harta ini dalam Al-Qur’an:
﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۞ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴾
“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian
masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang sebentar. Siapa
yang menjadikannya sebagai tujuan utama, maka dia akan hidup dalam keletihan
yang abadi. Marilah kita selami lebih dalam bagaimana jeritan-jeritan hati itu
muncul di tengah limpahan materi, agar kita semua bisa kembali kepada jalan
yang diridhoi Alloh Azza wa Jalla.
Bab 1: Keletihan di Balik Kemilau
Harta
1.1
Dunia Darul Kabad (Negeri Keletihan)
Dunia ini diciptakan oleh Alloh bukan sebagai tempat
istirahat yang mutlak. Baik orang kaya maupun orang miskin, keduanya berada
dalam lingkaran kepayahan yang sudah menjadi kodrat manusia. Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ
فِي كَبَدٍ﴾
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam hidup susah
payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Imam Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa manusia
senantiasa berada dalam kesulitan dan keletihan dalam menghadapi urusan dunia
maupun Akhiroh.
Orang kaya yang terlihat santai di kursi empuknya,
sebenarnya jiwanya sedang bertarung dengan berbagai beban pikiran yang jauh
lebih melelahkan daripada sekadar peluh di dahi seorang kuli. Mereka harus
memeras otak agar hartanya tidak berkurang, memikirkan strategi agar usahanya
tetap unggul, dan menanggung beban mental saat apa yang mereka rencanakan tidak
berjalan sesuai keinginan. Sungguh, keletihan itu merata bagi setiap manusia
yang bernafas di bumi ini.
1.2
Terkurasnya Waktu dan Raga dalam Mencari Dunia
Orang kaya sering kali menjadi tawanan dari hartanya
sendiri. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun, berangkat saat matahari
belum terbit dan pulang saat bintang sudah tinggi, hanya demi menambah
pundi-pundi yang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk makan sehari-hari.
Rosulullah ﷺ bersabda:
«لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ
مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ»
“Sekiranya anak Adam memiliki dua lembah harta, tentu dia
akan mencari yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam
melainkan tanah (kematian).” (HR. Al-Bukhori no. 6436 dan Muslim no. 1048)
Keletihan fisik yang dialami orang kaya sering kali tidak
dirasakan karena tertutup oleh syahwat mencintai harta. Namun, seiring
berjalannya waktu, raga mereka mulai protes. Banyak di antara mereka yang
kehilangan waktu bersama keluarga, kehilangan saat-saat indah melihat anak
tumbuh besar, hanya karena terjebak dalam lingkaran syaithon pengejaran dunia
yang tidak pernah berhenti. Mereka mengira sedang menguasai harta, padahal
hartalah yang sedang memperbudak raga mereka.
1.3
Pikiran yang Tidak Pernah Beristirahat dari Angka dan Strategi
Salah satu jeritan paling menyakitkan bagi orang kaya adalah
pikiran yang tidak pernah bisa tenang. Di saat orang miskin bisa tidur nyenyak
setelah makan seadanya, orang kaya sering kali terjaga di tengah malam karena
memikirkan fluktuasi pasar, laporan keuangan, atau ancaman dari pesaing bisnis.
Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Nabi ﷺ tentang orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya:
«مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ،
فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ
مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ»
“Siapa yang menjadikan dunia sebagai puncak tujuannya, maka
Alloh akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran selalu
membayang di depan kedua matanya, serta dunia tidak mendatanginya selain apa
yang sudah ditulis untuknya.” (HSR. Ibnu Majah no. 4105)
Sungguh, meski hartanya melimpah, hatinya selalu merasa
kurang. Inilah bentuk siksaan batin yang paling nyata. Pikiran mereka dipenuhi
oleh angka-angka yang menari-nari, strategi yang melelahkan jiwa, dan ambisi
yang terus menekan jantung. Mereka tidak pernah benar-benar meni’mati apa yang
mereka miliki karena selalu khawatir tentang apa yang belum mereka dapatkan.
1.4
Hilangnya Kelezatan Istirahat akibat Ambisi yang Tidak Bertepi
Kekayaan yang besar sering kali merampas keni’matan yang
paling sederhana: istirahat yang tenang. Ambisi untuk selalu menjadi yang
terdepan membuat waktu istirahat dianggap sebagai kerugian. Padahal, Alloh
telah menjadikan malam untuk beristirahat. Akibat nafsu yang besar terhadap
dunia, waktu tidur pun menjadi tidak berkualitas. Rosulullah ﷺ memperingatkan:
«يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ
مِنْهُ اثْنَتَانِ: الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ، وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ»
“Anak Adam itu akan semakin tua, namun ada dua perkara yang
akan tetap muda padanya: ambisi terhadap harta dan ambisi terhadap panjang
umur.” (HR. Muslim no. 1047)
Keinginan yang menggebu-gebu ini membuat tubuh mereka terus
dipacu melampaui batas kemampuannya. Banyak orang kaya yang akhirnya jatuh
sakit bukan karena kurang makan, melainkan karena stres yang luar biasa akibat
ambisi yang tidak terkendali. Mereka memiliki kasur yang paling mahal, namun
tidak bisa membeli tidur yang nyenyak.
1.5
Tekanan Sosial dan Persaingan dalam Menjaga Gengsi
Beban lain yang menghimpit hati orang kaya adalah keharusan
untuk tetap terlihat sukses di mata manusia. Ada tekanan sosial yang luar biasa
untuk selalu tampil mewah guna menjaga citra dan relasi. Mereka harus membeli
barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, hanya untuk membuat kagum
orang-orang yang sebenarnya tidak mereka sukai. Alloh Ta’ala berfirman
tentang sifat bangga diri dengan harta:
﴿يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا
لُبَدًا ۞ أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ﴾
“Dia mengatakan: ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’.
Apakah dia menyangka bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya?” (QS.
Al-Balad: 6-7)
Menjaga gengsi adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.
Mereka harus selalu mengikuti tren, mengganti kendaraan dengan model terbaru,
dan tinggal di kawasan elit demi sebuah pengakuan. Jika posisi mereka mulai
turun, mereka akan merasakan kesedihan dan kehinaan yang luar biasa di hadapan
manusia. Jeritan hati mereka muncul saat mereka sadar bahwa nilai diri mereka
di mata lingkungan hanya diukur dari seberapa tebal dompet mereka, bukan dari
kemuliaan akhlaq mereka.
Bab 2: Kecemasan atas Hilangnya
Harta dan Jabatan
2.1
Ketakutan akan Kemiskinan setelah Merasakan Kekayaan
Satu hal
yang menjadi beban paling berat bagi orang kaya adalah rasa takut yang
berlebihan akan hilangnya fasilitas yang selama ini mereka ni’mati. Bagi mereka
yang sudah terbiasa dengan kemewahan, bayang-bayang menjadi miskin adalah
siksaan yang lebih menyakitkan daripada kemiskinan itu sendiri. Syaithon sering
kali membisikkan ketakutan ini agar mereka terus mengejar dunia tanpa henti.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿الشَّيْطَانُ
يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا﴾
“Syaithon
menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian
berbuat keji; sedang Alloh menjanjikan ampunan dan karunia-Nya bagi kalian.” (QS.
Al-Baqoroh: 268)
Sungguh,
ketakutan ini membuat hati mereka tidak pernah tenang. Mereka merasa harus
selalu memiliki cadangan yang lebih banyak lagi, seolah-olah tumpukan harta itu
bisa menjamin masa depan mereka. Inilah jeritan batin yang membuat mereka tidak
bisa meni’mati apa yang sudah ada di tangan, karena pikiran mereka sudah lari
ke kemungkinan buruk di masa depan yang belum tentu terjadi.
2.2
Tidur yang Tidak Nyenyak karena Khawatir Aset Sirna
Pernahkah
terbayang bagaimana rasanya memiliki ribuan karyawan dan aset di mana-mana?
Secara fisik mereka tampak tenang, namun di dalam kepala mereka berkecamuk
badai kekhawatiran. Mereka takut nilai saham turun, takut properti mereka
terbakar, atau takut kebijakan ekonomi merugikan bisnis mereka. Hati mereka
terpaut pada benda-benda mati tersebut. Rosulullah ﷺ bersabda:
«تَعِسَ
عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ»
“Celakalah
penyembah dinar, celakalah penyembah dirham, dan celakalah penyembah pakaian
(kemewahan).” (HR. Al-Bukhori no. 2887 dan Tirmidzi no. 4135)
Siapa yang
hatinya sudah menjadi budak bagi hartanya, maka dia akan selalu merasa gelisah.
Setiap ada goncangan ekonomi, jantung mereka berdegup kencang melebihi orang
lain. Mereka memiliki rumah yang sangat kokoh dengan penjagaan ketat, namun
mereka tidak bisa mengunci pintu hati mereka dari masuknya rasa cemas yang
merampas tidur nyenyak mereka. Sungguh, ini adalah penjara tak kasat mata bagi
pemilik kekayaan.
2.3
Bayang-bayang Pengkhianatan dari Orang Kepercayaan
Orang kaya
sering kali hidup dalam kecurigaan. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin
besar pula rasa tidak percaya kepada orang lain. Mereka khawatir rekan
bisnisnya akan menusuk dari belakang, atau pegawainya akan menggelapkan
uangnya. Hal ini membuat hubungan sosial mereka menjadi kaku dan penuh
kepura-puraan. Alloh Azza wa Jalla mengingatkan tentang fitnah harta:
﴿إِنَّمَا
أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ﴾
“Sungguh,
hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian), dan di sisi Allohlah pahala
yang besar.” (QS. At-Taghobun: 15)
Fitnah
harta ini merusak rasa aman dalam hati. Mereka sulit menemukan teman yang tulus
mencintai mereka karena pribadi mereka, bukan karena fasilitas yang mereka
berikan. Jeritan hati mereka muncul saat mereka merasa sendirian di puncak
kesuksesan, karena tidak tahu mana kawan sejati dan mana lawan yang memakai
topeng kawan demi mendapatkan remah-remah hartanya.
2.4
Kesedihan saat Harta Tidak Lagi Mampu Memberi Kebahagiaan
Ada titik
jenuh di mana seorang kaya merasa bahwa semua kemewahan ini hambar. Mobil mewah
terbaru sudah tidak lagi memberikan getaran kegembiraan, makanan paling mahal
sudah terasa biasa saja di lidah. Mereka mencari kebahagiaan di luar sana
dengan menghabiskan uang, namun hati mereka tetap terasa kosong dan sempit.
Alloh Ta’ala telah memperingatkan:
﴿وَمَنْ
أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا﴾
“Dan siapa
yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan
yang sempit.” (QS. Thoha: 124)
Kekosongan
jiwa ini adalah kesedihan yang nyata. Mereka memiliki segalanya untuk tubuh
mereka, tetapi tidak memiliki apa-apa untuk ruh mereka. Inilah sebabnya mengapa
banyak orang kaya yang akhirnya terjatuh pada perbuatan sia-sia hanya untuk
mencari sedikit hiburan, padahal kebahagiaan yang sesungguhnya ada pada
kedekatan dengan Robb mereka, bukan pada tumpukan materi.
2.5
Tekanan saat Mengalami Kerugian Besar dalam Perniagaan
Saat
kerugian datang menghantam, guncangan mental yang dialami orang kaya jauh lebih
hebat daripada orang yang terbiasa hidup pas-pasan. Mereka merasa dunia Qiyamat
ketika aset mereka menyusut. Rasa sedih yang mendalam sering kali membawa
mereka pada keputusasaan. Alloh mengajarkan agar manusia tidak terlalu bersedih
atas apa yang luput darinya:
﴿لِكَيْلَا
تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ﴾
“Agar
kalian tidak berputus asa terhadap apa yang luput dari kalian, dan tidak pula
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian.” (QS.
Al-Hadid: 23)
Orang kaya
yang tidak memiliki landasan iman yang kuat akan merasa hancur
sehancur-hancurnya saat bisnisnya bangkrut. Mereka merasa harga dirinya hilang
bersama hilangnya harta tersebut. Ini adalah jeritan hati yang sangat
memilukan, di mana seseorang merasa tidak berharga lagi hanya karena
angka-angka di rekeningnya berkurang.
Bab 3: Ujian Rasa Sakit yang Tidak
Terobati oleh Uang
3.1
Ketika Tubuh Ringkih Meski Berada di Ranjang Mewah
Sering kali
kita melihat orang kaya memiliki fasilitas kesehatan nomor satu, namun mereka
tetap tidak bisa membeli kesehatan. Mereka terbaring di kasur yang harganya
ratusan juta, di ruangan yang sangat nyaman, namun tubuh mereka dipenuhi selang
dan rasa sakit yang menyiksa. Nabi ﷺ bersabda:
«نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
“Ada dua ni’mat
yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR.
Al-Bukhori no. 6412)
Saat sakit
datang, barulah si kaya menyadari bahwa tumpukan emasnya tidak ada harganya
dibanding satu tarikan nafas yang lega. Mereka merasa letih karena meski bisa
membayar dokter terbaik di dunia, kesembuhan tetaplah mutlak di tangan Alloh.
Di saat itulah, kemewahan di sekelilingnya terasa seperti pajangan yang
menyakitkan mata.
3.2
Kesedihan karena Tidak Bisa Meni’mati Hidangan Lezat akibat Penyakit
Ini adalah
salah satu ironi terbesar dalam kehidupan orang kaya. Mereka mampu membeli
makanan apa pun yang mereka inginkan, namun karena penyakit seperti gula darah
atau kolesterol, mereka dilarang oleh dokter untuk menyentuhnya. Mereka melihat
makanan lezat di depan mata, namun hanya bisa menelan ludah. Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿كُلُوا
مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي﴾
“Makanlah
dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian, dan janganlah
kalian melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpa kalian.” (QS.
Thoha: 81)
Kepayahan
ini sangat terasa di hati. Si kaya yang memiliki segalanya justru merasa lebih
menderita daripada si miskin yang meski hanya makan nasi dan garam, namun
tubuhnya sehat dan bisa makan dengan lahap. Ni’mat rasa itu telah dicabut oleh
Alloh, sehingga harta yang melimpah tidak lagi memiliki fungsi untuk memuaskan
lidah.
3.3
Harta yang Melimpah Namun Tidak Mampu Membeli Kesembuhan
Banyak
orang kaya yang menghabiskan seluruh hartanya di akhir hayatnya hanya untuk
memperpanjang usia beberapa hari saja. Namun, ketika ajal sudah ditentukan,
tidak ada satu dinar pun yang bisa menundanya. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿قُلْ
إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾
“Katakanlah:
‘Sungguh kematian yang kalian lari daripadanya (seperi berobat dan olah raga),
maka sungguh kematian itu akan menemui (menjumpai) kalian, kemudian kalian akan
dikembalikan kepada (Alloh) yang mengetahui yang ghoib dan yang nyata, lalu Dia
beritahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’” (QS. Al-Jumu’ah:
8)
Jeritan
hati ini muncul saat mereka sadar bahwa selama ini mereka mengejar sesuatu yang
tidak bisa menolong mereka di saat paling genting. Kekuasaan dan kekayaan
mereka seolah lenyap tidak berbekas di hadapan ketetapan Alloh. Mereka merasa
tertipu oleh fatamorgana dunia yang mereka kumpulkan dengan susah payah.
3.4
Kesunyian Hati di Tengah Keramaian Fasilitas Dunia
Fasilitas
dunia sering kali membuat orang kaya terisolasi. Mereka memiliki bioskop
pribadi, kolam renang pribadi, dan segala sesuatu yang serba pribadi. Namun,
privasi yang berlebihan ini sering kali mendatangkan kesunyian yang membunuh.
Mereka merasa tidak ada orang yang benar-benar mengerti penderitaan batin
mereka. Al-Ghozali (505 H) pernah menjelaskan bahwa keterikatan pada dunia akan
membuat hati selalu merasa kesepian meski di tengah keramaian.
Kesunyian
ini semakin terasa ketika mereka sakit. Orang-orang mendekat hanya karena ingin
memastikan pembagian warisan atau kelangsungan bisnis, bukan karena empati yang
tulus. Ini adalah luka batin yang sangat dalam, di mana seseorang merasa
menjadi asing di tengah kemewahan yang dia bangun sendiri.
3.5
Penyesalan atas Waktu Sehat yang Terbuang Hanya untuk Menumpuk Harta
Penyesalan
terdalam bagi orang kaya adalah saat kesehatan telah hilang dan mereka menyadari
bahwa waktu sehat mereka hanya digunakan untuk urusan materi. Mereka lupa
membekali diri untuk perjalanan panjang setelah kematian. Rosulullah ﷺ memberikan wasiat:
«اغْتَنِمْ
خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ...»
“Manfaatkanlah
lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu,
sehatmu sebelum sakitmu...” (HSR. Al-Hakim no. 7846)
Saat tubuh
sudah tidak lagi berdaya, mereka menangis dalam hati. Ingin rasanya mereka
kembali ke masa sehat hanya untuk bersujud lebih lama atau membaca Al-Qur’an
lebih banyak, namun waktu tidak bisa diputar kembali. Harta yang dahulu
dibangga-banggakan kini justru menjadi saksi bisu atas kelalaian mereka selama
di dunia.
Bab 4: Lalai dari Ibadah Akibat
Kesibukan Dunia
4.1
Jauhnya Jarak antara Hati dengan Masjid
Kesibukan
mengejar angka-angka sering kali membuat telinga seorang kaya menjadi tuli
terhadap panggilan adzan. Meski rumah atau kantornya megah, namun kakinya
terasa sangat berat untuk melangkah ke Masjid. Hatinya sudah terpenjara oleh
rapat-rapat penting dan negosiasi yang dianggap tidak bisa ditunda. Alloh Ta’ala
memuji orang-orang yang tidak terpedaya oleh perniagaan dalam firman-Nya:
﴿رِجَالٌ
لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ
وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾
“Para
lelaki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat
Alloh, mendirikan Sholat, dan menunaikan Zakat. Mereka takut pada suatu hari
yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An-Nur: 37)
Sungguh,
jeritan hati orang kaya yang beriman muncul saat mereka sadar bahwa mereka
memiliki segalanya, namun mereka kehilangan waktu untuk bersimpuh di hadapan
Robb mereka. Mereka melihat orang miskin dengan pakaian sederhana bisa tenang
ber-i’tikaf di Masjid, sementara mereka sendiri merasa asing di rumah Alloh
tersebut.
4.2
Terhalangnya Kelezatan Sholat akibat Pikiran yang Terpaut Bisnis
Banyak
orang kaya yang mampu mendirikan Sholat secara fisik, namun hati mereka tetap
berada di meja kantor. Saat takbirotul ihrom, yang terbayang bukanlah keagungan
Alloh, melainkan grafik keuntungan yang naik turun atau masalah hutang piutang.
Rosulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا
سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا»
“Sungguh,
seorang hamba melakukan Sholat, namun tidak dicatat baginya kecuali
sepersepuluh pahalanya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam,
seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya.” (HHR. Abu Dawud no.
796)
Betapa
letihnya raga yang ruku’ dan sujud, namun tidak mendapatkan kelezatan iman.
Inilah kemiskinan batin yang sesungguhnya. Mereka memiliki harta untuk membeli
segala hiburan, namun tidak mampu membeli kekhusyu’an yang merupakan sumber
ketenangan jiwa yang hakiki.
4.3
Sedikitnya Waktu untuk Menuntut Ilmu Syar’i
Orang kaya
sering kali menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajari strategi pasar,
namun mereka tidak memiliki waktu sepuluh menit pun untuk mempelajari
hukum-hukum Alloh. Mereka pandai dalam urusan dunia, namun buta dalam urusan
Akhiroh. Alloh Azza wa Jalla berfirman:
﴿يَعْلَمُونَ
ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾
“Mereka
hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) Akhiroh adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)
Ketidaktahuan
ini membawa petaka. Banyak orang kaya yang terjebak dalam riba atau transaksi
harom hanya karena mereka tidak sempat hadir di majelis ilmu. Rasa letih
mencari harta akan menjadi sia-sia jika harta tersebut justru menyeret mereka
ke dalam Naar akibat ketidaktahuan akan batas-batas syariat.
Mereka juga
tidak tahu kewajiban Zakat Mal. Andaikan tahu kewajibannya, tidak tahu cara
menghitung dan menyalurkannya.
4.4
Bahaya Harta yang Menjadi Penghalang Menuju Jannah
Harta laksana
air; jika jumlahnya pas maka akan menumbuhkan tanaman, namun jika berlebihan
maka akan menenggelamkan. Terlalu banyak aset sering kali membuat seseorang
merasa tidak butuh kepada Alloh (mustaghni). Alloh Ta’ala
memperingatkan:
﴿كَلَّا
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ ۞ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ﴾
“Ketahuilah!
Sungguh manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba
cukup.” (QS. Al-Alaq: 6-7)
Jeritan
hati orang kaya adalah saat mereka menyadari bahwa fasilitas duniawi yang
mereka kumpulkan justru menjadi dinding penghalang yang menjauhkan mereka dari
rahmat Alloh. Mereka terlalu sibuk menjaga “istana” di dunia hingga lupa
membangun pondasi untuk istana di Jannah.
4.5
Kerasnya Hati akibat Terlalu Banyak Meni’mati Kemewahan
Kemewahan
yang melampaui batas dapat mematikan sensitivitas hati. Ketika seseorang selalu
mendapatkan apa yang diinginkannya, dia akan sulit merasakan penderitaan orang
lain. Hatinya menjadi keras laksana batu. Rosulullah ﷺ bersabda:
«تَعِسَ
عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ»
“Celakalah
penyembah pakaian (kemewahan). Jika diberi dia ridho, namun jika tidak diberi
dia marah (karena hatinya keras).” (HR. Al-Bukhori no. 2887)
Hati yang
keras ini sulit menerima nasihat. Orang kaya yang hatinya keras akan merasa
bahwa kesuksesannya adalah semata-mata karena kehebatannya sendiri, sebagaimana
Qorun yang berkata: “Sungguh, aku diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku.”
(Al-Qoshosh: 78). Ini adalah jeritan batin yang paling berbahaya, karena
kesombongan adalah penghalang masuk Jannah.
Bab 5: Hisab yang Panjang di Hari Qiyamat
5.1
Pertanyaan tentang dari Mana Harta Didapat dan ke Mana Dibelanjakan
Setiap
rupiah yang dimiliki orang kaya akan ditanya secara detail. Berbeda dengan
orang miskin yang hisabnya ringan, orang kaya harus mempertanggungjawabkan
setiap sen asetnya. Rosulullah ﷺ bersabda:
«لَا
تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ،
... وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ»
“Tidak akan
bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Qiyamat hingga dia ditanya tentang
umurnya untuk apa dihabiskan... dan tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan
untuk apa dia belanjakan.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2417)
Bayangkan
betapa panjangnya antrian hisab bagi pemilik aset yang tersebar di mana-mana.
Orang miskin mungkin sudah duduk santai di Jannah, sementara si kaya masih
berkeringat dingin menjawab pertanyaan Malaikat tentang asal-usul hartanya.
Inilah kepayahan yang sesungguhnya di hari Akhiroh.
5.2
Tertahannya Orang Kaya di Pintu Jannah karena Hisab Harta
Kekayaan
dunia adalah beban yang memperlambat perjalanan menuju Jannah. Nabi ﷺ pernah bersabda:
«قُمْتُ
عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ، وَأَصْحَابُ
الْجَدِّ (أَيِ الْغِنَى) مَحْبُوسُونَ»
“Aku
berdiri di depan pintu Jannah, ternyata mayoritas yang memasukinya adalah
orang-orang miskin. Sedangkan orang-orang kaya (pemilik kekayaan) tertahan
(untuk dihisab).” (HR. Al-Bukhori no. 5196 dan Muslim no. 2736)
Tertahannya
seseorang di pintu Jannah sementara rekan-rekannya yang miskin sudah masuk
adalah sebuah kesedihan yang luar biasa. Harta yang dahulu memudahkan urusannya
di dunia, kini justru menjadi beban yang menahan langkahnya di pintu
keselamatan.
Tertahannya
ini, paling cepat 40 tahun dan paling lama 500 tahun, seperti dalam Hadits
Aisyah dan Abu Huroiroh yang shohih.
5.3
Penyesalan bagi Pemilik Harta yang Tidak Menunaikan Hak Alloh
Bagi orang
kaya yang bakhil, harta mereka akan berubah menjadi siksaan yang pedih. Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ
بِعَذَابٍ أَلِيمٍ﴾
“Dan
orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan
Alloh, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) adzab
yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34)
Harta itu
akan dipanaskan di api Naar lalu disetrikakan ke dahi, lambung, dan punggung
mereka. Jeritan hati mereka di Akhiroh adalah teriakan penyesalan karena tidak
menggunakan harta tersebut untuk menolong agama Alloh saat di dunia.
5.4
Keutamaan Orang Miskin yang Masuk Jannah Lebih Dahulu
Seorang
Muslim yang miskin namun sabar memiliki keistimewaan yang membuat orang kaya
merasa iri di hari Qiyamat. Rosulullah ﷺ bersabda:
«يَدْخُلُ
الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِخَمْسِمِائَةِ عَامٍ نِصْفِ يَوْمٍ»
“Orang-orang
fakir dari kaum Muslimin akan masuk Jannah mendahului orang-orang kaya mereka
dengan selisih waktu lima ratus tahun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2353)
Lima ratus
tahun bukanlah waktu yang singkat. Itu adalah setengah hari di sisi Robbmu.
Sementara si miskin sudah meni’mati buah-buahan Jannah, si kaya masih berjibaku
dengan audit Robbani yang sangat teliti atas setiap ni’mat yang diterimanya.
5.5
Beratnya Tanggung Jawab atas Setiap Ni’mat yang Diterima
Semakin
banyak ni’mat dunia yang dirasakan, semakin berat pula pertanggungjawabannya.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿ثُمَّ
لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾
“Kemudian
kalian sungguh-sungguh akan ditanya pada hari itu tentang ni’mat (yang kalian
megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)
Ibnu Katsir
(774 H) menjelaskan bahwa pertanyaan ini mencakup segala hal, mulai dari air
dingin yang diminum, makanan yang mengenyangkan, hingga tempat tinggal yang
nyaman. Orang kaya yang memiliki fasilitas berlebih tentu akan menghadapi
rentetan pertanyaan yang jauh lebih banyak. Jeritan hati mereka adalah saat
mereka menyadari bahwa setiap kemudahan yang mereka ni’mati di dunia ada
harganya di Akhiroh.
Wahai
saudaraku si miskin, janganlah kau pandang istana mereka dengan rasa dengki.
Tahukah kau bahwa setiap tiang di istana itu akan ditanyakan dari mana kayunya
dibeli? Setiap ubin yang mengkilap akan ditanyakan dengan uang apa ia dibayar?
Kau yang tidur beralas tikar mungkin merasa letih di dunia, namun kau akan
berlari ringan di hari Qiyamat tanpa beban hisab yang menghimpit. Sungguh,
kemiskinanmu adalah “jalur cepat” menuju Jannah jika kau sabar, sementara
kekayaan mereka adalah “jalur audit” yang panjang dan melelahkan.
Bab 6: Obat Bagi Si Kaya Agar
Harta Menjadi Berkah
6.1
Menanamkan Sifat Zuhud di Tengah Kekayaan
Zuhud bukan
berarti membuang harta atau berpakaian compang-camping, melainkan kosongnya
hati dari ketergantungan kepada dunia meskipun tangan menggenggam kekayaan.
Orang kaya yang zuhud adalah mereka yang tidak merasa bangga dengan adanya
harta dan tidak merasa hancur dengan hilangnya harta. Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿لِكَيْلَا
تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ﴾
“Agar
kalian tidak berputus asa terhadap apa yang luput dari kalian, dan tidak pula
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Alloh tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid:
23)
Imam Ahmad
bin Hanbal (241 H) pernah ditanya, “Apakah orang kaya bisa menjadi zuhud?”
Beliau menjawab, “Bisa, jika dia tidak gembira ketika hartanya bertambah dan
tidak sedih ketika hartanya berkurang.”
Inilah obat
pertama bagi jeritan hati orang kaya; melepaskan ikatan hati dari materi agar
jiwa tetap tenang dalam situasi apa pun.
6.2
Menjadikan Harta di Tangan, Bukan di Hati
Penderitaan
orang kaya bersumber dari meletakkan harta di dalam relung hatinya, sehingga
setiap fluktuasi harta akan mengguncang jiwanya. Seharusnya harta diposisikan
seperti air di bawah kapal; ia menopang kapal untuk berlayar namun tidak boleh
masuk ke dalam kapal karena akan menenggelamkannya. Nabi ﷺ bersabda:
«نِعْمًا
بِالْمَالِ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ»
“Sebaik-baik
harta yang sholih adalah yang dimiliki oleh orang yang sholih.” (HSR. Ahmad
no. 17763)
Orang
sholih menjadikan hartanya sebagai pelayan bagi agamanya, bukan menjadikan
dirinya budak bagi hartanya. Ketika harta hanya di tangan, maka saat Alloh
memintanya melalui Zakat atau Shodaqoh, tangan itu akan sangat ringan untuk
memberikannya tanpa ada beban di hati.
6.3
Rahasia Kebahagiaan dalam Zakat dan Shodaqoh yang Luas
Jeritan
hati berupa kekosongan jiwa hanya bisa diobati dengan berbagi. Harta yang
dikeluarkan di jalan Alloh tidak akan berkurang, melainkan justru membersihkan
jiwa dan memberikan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Alloh Azza
wa Jalla berfirman:
﴿خُذْ
مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا﴾
“Ambillah
Zakat dari sebagian harta mereka, dengan Zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Kebahagiaan
sejati si kaya adalah saat melihat senyum si miskin yang terbantu oleh
hartanya. Shodaqoh memadamkan murka Robb dan mendinginkan panasnya hati yang
stres karena urusan dunia. Nabi ﷺ bersabda:
«الصَّدَقَةُ
تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ»
“Shodaqoh
itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HSR. At-Tirmidzi
no. 2616)
6.4
Membangun Istana di Akhiroh dengan Aset di Dunia
Solusi
cerdas bagi orang kaya adalah “mentransfer” aset duniawinya ke Akhiroh melalui
wakaf dan amal jariyah. Dengan begitu, dia tidak akan merasa kehilangan
hartanya, melainkan merasa sedang menabung untuk masa depannya yang abadi.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿مَنْ
ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً﴾
“Siapa yang
mau memberi pinjaman kepada Alloh, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di
jalan Alloh), maka Alloh akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat
ganda yang banyak.” (QS. Al-Baqoroh: 245)
Setiap
jengkal tanah yang diwakafkan untuk Masjid atau setiap rupiah untuk pendidikan
Muslim adalah batu bata bagi istananya di Jannah. Ini akan menghilangkan rasa
cemas akan hilangnya harta, karena dia tahu hartanya telah aman di sisi Alloh.
6.5
Mewaspadai Istidroj dalam Melimpahnya Fasilitas
Orang kaya
harus selalu mawas diri. Jangan sampai limpahan ni’mat yang terus mengalir
padahal dia jauh dari Alloh adalah bentuk istidroj (penghasutan menuju
kebinasaan). Nabi ﷺ
memperingatkan:
«إِذَا
رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا
هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»
“Apabila
engkau melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba ni’mat dunia yang dia
sukai padahal dia terus bermaksiat, maka sungguh itu adalah istidroj.” (HHR.
Ahmad no. 17311)
Kesadaran
akan bahaya istidroj akan membuat si kaya tidak sombong dan selalu waspada,
sehingga dia akan terus memperbaiki ibadahnya seiring dengan bertambahnya
hartanya.
Bab 7: Pesan untuk Si Miskin
7.1
Memahami Bahwa Kemiskinan Bukan Berarti Alloh Benci
Si miskin
sering merasa terhina dengan keadaannya. Padahal, dunia ini tidak berharga di
sisi Alloh bahkan seberat sayap nyamuk pun tidak. Banyak kekasih Alloh yang
hidup dalam kemiskinan, termasuk para Nabi. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿فَأَمَّا
الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي
أَكْرَمَنِ ۞ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ
رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ۞ كَلَّا﴾
“Adapun
manusia apabila Robbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya ni’mat,
maka dia berkata: ‘Robbku telah memuliakanku’. Adapun bila Robbnya mengujinya
lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Robbku menghinakanku’. Sekali-kali
tidak!” (QS. Al-Fajr: 15-17)
Ayat ini
menegaskan bahwa harta bukan tolok ukur kemuliaan. Si miskin harus sadar bahwa
kesempitan rizki adalah bentuk penjagaan Alloh agar dia tidak melampaui batas
di muka bumi.
7.2
Bahaya Hasad kepada Pemilik Dunia
Hasad
adalah penyakit yang hanya akan menambah penderitaan si miskin. Iri kepada
orang kaya hanya akan membuat hati sesak tanpa mengubah takdir sedikit pun.
Nabi ﷺ
bersabda:
«إِيَّاكُمْ
وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ»
“Jauhilah
oleh kalian sifat hasad, karena sungguh hasad itu memakan kebaikan-kebaikan
sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud no. 4903)
Si miskin
harus melihat kepada orang yang di bawahnya dalam urusan dunia agar dia bisa
bersyukur. Jika dia melihat ke atas, dia akan selalu merasa kurang dan
menderita.
7.3
Keleluasaan Waktu untuk Beribadah yang Tidak Dimiliki Si Kaya
Ini adalah
ni’mat besar yang sering dilupakan. Si miskin tidak disibukkan dengan laporan
keuangan atau rapat yang menyita waktu Sholat. Dia memiliki waktu lebih banyak
untuk berdzikir, menghadiri majelis ilmu di Masjid, dan membaca Al-Qur’an.
Sungguh, waktu luang adalah modal utama untuk meraih derajat tinggi di Jannah
yang sering kali dicemburui oleh orang kaya yang sholih.
7.4
Ringannya Hisab di Akhiroh bagi Mereka yang Sedikit Hartanya
Pesan
paling menyejukkan bagi si miskin adalah singkatnya perjalanan mereka di padang
mahsyar. Mereka tidak memiliki banyak aset untuk dipertanggungjawabkan. Nabi ﷺ bersabda:
«اطَّلَعْتُ
فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ»
“Aku
melihat ke dalam Jannah, maka aku melihat mayoritas penduduknya adalah
orang-orang fakir.” (HR. Al-Bukhori no. 3241 dan Muslim no. 2737)
Kekurangan
di dunia yang sebentar ini adalah bayaran untuk kemudahan yang abadi di
Akhiroh. Si miskin yang sabar akan tertawa bahagia saat si kaya masih gemetar
menghadapi audit ilahiyyah yang sangat teliti.
7.5
Menanamkan Qona’ah sebagai Kekayaan yang Sesungguhnya
Kekayaan
bukan tentang seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi tentang seberapa
cukup hati merasa. Qona’ah adalah merasa ridho dengan pemberian Alloh. Nabi ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
“Kekayaan
itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah
kekayaan jiwa.” (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Si miskin
yang qona’ah sejatinya lebih kaya daripada miliarder yang tamak. Dia tidur
dengan tenang, makan dengan lahap, dan hatinya penuh dengan rasa syukur kepada
Robbnya.
Penutup
Dunia ini
adalah darul imtihan (negeri ujian). Kekayaan adalah ujian syukur yang
sangat berat, dan kemiskinan adalah ujian kesabaran yang sangat mulia. Melalui
lembaran-lembaran buku ini, kita telah melihat bahwa di balik kemilau harta
terdapat jeritan hati, keletihan jiwa, dan ketakutan yang menghantui. Tidak
perlu ada rasa iri di antara sesama hamba Alloh, karena masing-masing telah
diberikan beban sesuai dengan kemampuannya.
Sungguh,
tujuan akhir kita bukan untuk menjadi yang terkaya di dunia, melainkan menjadi
yang paling bertaqwa. Kekayaan yang tidak membawa pemiliknya ke Masjid adalah
kemiskinan yang nyata. Dan kemiskinan yang tidak membuat pemiliknya sabar
adalah kerugian yang besar. Mari kita jadikan dunia ini hanya sebagai ladang
untuk menanam kebaikan bagi Akhiroh kita yang abadi.
Alloh Ta’ala
menutup pengingat ini dengan firman-Nya:
﴿وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾
“Dan
kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali
Imron: 185)
Semoga buku
ini menjadi cahaya bagi si kaya agar tidak tersesat dalam hartanya, dan menjadi
pelipur lara bagi si miskin agar tetap teguh dalam kesabarannya.
Walhamdulillahirobbil
‘alamin. [NK]
