Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Jeritan Hati Si Kaya - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah membagi-bagi rizki di antara hamba-hamba-Nya dengan hikmah yang sangat dalam. Ada yang Dia luaskan hartanya sebagai ujian syukur, dan ada yang Dia sempitkan hartanya sebagai ujian kesabaran.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarganya, dan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum yang telah memberikan teladan terbaik dalam menyikapi dunia.

Amma ba’du:

Sering kali manusia hanya melihat kulit luar dari sebuah kemewahan. Mata mereka silau oleh megahnya istana, kilau perhiasan, dan deru kendaraan mewah yang melintas di depan mata. Namun, jarang ada yang mau menyingkap apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding-dinding kokoh tersebut. Di sana, di balik senyum yang dipaksakan di depan kamera atau rekan bisnis, tersimpan jeritan hati yang jarang terdengar. Sungguh, kekayaan bukan sekadar angka di rekening bank, melainkan sebuah beban tanggung jawab yang sangat berat yang sering kali menguras air mata dan ketenangan jiwa pemiliknya.

Buku ini hadir bukan untuk merendahkan ni’mat harta, melainkan sebagai pengingat akan hakikat dunia yang menipu. Banyak orang kaya yang merasa letih bukan karena kekurangan fisik, tetapi karena batin yang terus-menerus dikejar oleh ambisi yang tidak pernah mengenal kata cukup. Mereka mengalami kesedihan yang mendalam saat tubuh yang biasa dimanja dengan fasilitas terbaik, tiba-tiba diuji dengan penyakit yang tidak mampu disembuhkan oleh tumpukan uang. Ada ketakutan yang menghantui setiap malam tentang kapan harta itu akan sirna, serta penyesalan yang menyelinap saat menyadari bahwa waktu untuk beribadah kepada Alloh terkikis habis oleh urusan duniawi yang tidak ada ujungnya.

Tujuan utama dari tulisan ini adalah agar para Muslim yang hidup dalam kekurangan tidak lagi merasa iri kepada mereka yang dilebihkan hartanya. Sungguh, setiap kelebihan ni’mat dunia dibarengi dengan kelebihan beban ujian. Dengan memahami jeritan hati orang kaya, diharapkan si miskin dapat lebih bersyukur atas ringannya beban hidup mereka dan fokus pada kekayaan yang sesungguhnya, yaitu qona’ah. Begitu pula bagi si kaya, tulisan ini menawarkan solusi agar harta yang mereka miliki tidak menjadi bumerang di Akhiroh, melainkan menjadi kendaraan yang mengantarkan mereka menuju Jannah.

Alloh Ta’ala telah memperingatkan manusia tentang hakikat persaingan harta ini dalam Al-Qur’an:

﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۞ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴾

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)

Dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang sebentar. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan utama, maka dia akan hidup dalam keletihan yang abadi. Marilah kita selami lebih dalam bagaimana jeritan-jeritan hati itu muncul di tengah limpahan materi, agar kita semua bisa kembali kepada jalan yang diridhoi Alloh Azza wa Jalla.

 

Bab 1: Keletihan di Balik Kemilau Harta

1.1 Dunia Darul Kabad (Negeri Keletihan)

Dunia ini diciptakan oleh Alloh bukan sebagai tempat istirahat yang mutlak. Baik orang kaya maupun orang miskin, keduanya berada dalam lingkaran kepayahan yang sudah menjadi kodrat manusia. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ﴾

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam hidup susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Imam Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa manusia senantiasa berada dalam kesulitan dan keletihan dalam menghadapi urusan dunia maupun Akhiroh.

Orang kaya yang terlihat santai di kursi empuknya, sebenarnya jiwanya sedang bertarung dengan berbagai beban pikiran yang jauh lebih melelahkan daripada sekadar peluh di dahi seorang kuli. Mereka harus memeras otak agar hartanya tidak berkurang, memikirkan strategi agar usahanya tetap unggul, dan menanggung beban mental saat apa yang mereka rencanakan tidak berjalan sesuai keinginan. Sungguh, keletihan itu merata bagi setiap manusia yang bernafas di bumi ini.

1.2 Terkurasnya Waktu dan Raga dalam Mencari Dunia

Orang kaya sering kali menjadi tawanan dari hartanya sendiri. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun, berangkat saat matahari belum terbit dan pulang saat bintang sudah tinggi, hanya demi menambah pundi-pundi yang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk makan sehari-hari. Rosulullah bersabda:

«لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ»

“Sekiranya anak Adam memiliki dua lembah harta, tentu dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam melainkan tanah (kematian).” (HR. Al-Bukhori no. 6436 dan Muslim no. 1048)

Keletihan fisik yang dialami orang kaya sering kali tidak dirasakan karena tertutup oleh syahwat mencintai harta. Namun, seiring berjalannya waktu, raga mereka mulai protes. Banyak di antara mereka yang kehilangan waktu bersama keluarga, kehilangan saat-saat indah melihat anak tumbuh besar, hanya karena terjebak dalam lingkaran syaithon pengejaran dunia yang tidak pernah berhenti. Mereka mengira sedang menguasai harta, padahal hartalah yang sedang memperbudak raga mereka.

1.3 Pikiran yang Tidak Pernah Beristirahat dari Angka dan Strategi

Salah satu jeritan paling menyakitkan bagi orang kaya adalah pikiran yang tidak pernah bisa tenang. Di saat orang miskin bisa tidur nyenyak setelah makan seadanya, orang kaya sering kali terjaga di tengah malam karena memikirkan fluktuasi pasar, laporan keuangan, atau ancaman dari pesaing bisnis. Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Nabi tentang orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya:

«مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ»

“Siapa yang menjadikan dunia sebagai puncak tujuannya, maka Alloh akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran selalu membayang di depan kedua matanya, serta dunia tidak mendatanginya selain apa yang sudah ditulis untuknya.” (HSR. Ibnu Majah no. 4105)

Sungguh, meski hartanya melimpah, hatinya selalu merasa kurang. Inilah bentuk siksaan batin yang paling nyata. Pikiran mereka dipenuhi oleh angka-angka yang menari-nari, strategi yang melelahkan jiwa, dan ambisi yang terus menekan jantung. Mereka tidak pernah benar-benar meni’mati apa yang mereka miliki karena selalu khawatir tentang apa yang belum mereka dapatkan.

1.4 Hilangnya Kelezatan Istirahat akibat Ambisi yang Tidak Bertepi

Kekayaan yang besar sering kali merampas keni’matan yang paling sederhana: istirahat yang tenang. Ambisi untuk selalu menjadi yang terdepan membuat waktu istirahat dianggap sebagai kerugian. Padahal, Alloh telah menjadikan malam untuk beristirahat. Akibat nafsu yang besar terhadap dunia, waktu tidur pun menjadi tidak berkualitas. Rosulullah memperingatkan:

«يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ: الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ، وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ»

“Anak Adam itu akan semakin tua, namun ada dua perkara yang akan tetap muda padanya: ambisi terhadap harta dan ambisi terhadap panjang umur.” (HR. Muslim no. 1047)

Keinginan yang menggebu-gebu ini membuat tubuh mereka terus dipacu melampaui batas kemampuannya. Banyak orang kaya yang akhirnya jatuh sakit bukan karena kurang makan, melainkan karena stres yang luar biasa akibat ambisi yang tidak terkendali. Mereka memiliki kasur yang paling mahal, namun tidak bisa membeli tidur yang nyenyak.

1.5 Tekanan Sosial dan Persaingan dalam Menjaga Gengsi

Beban lain yang menghimpit hati orang kaya adalah keharusan untuk tetap terlihat sukses di mata manusia. Ada tekanan sosial yang luar biasa untuk selalu tampil mewah guna menjaga citra dan relasi. Mereka harus membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, hanya untuk membuat kagum orang-orang yang sebenarnya tidak mereka sukai. Alloh Ta’ala berfirman tentang sifat bangga diri dengan harta:

﴿يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا ۞ أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ﴾

“Dia mengatakan: ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak’. Apakah dia menyangka bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya?” (QS. Al-Balad: 6-7)

Menjaga gengsi adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Mereka harus selalu mengikuti tren, mengganti kendaraan dengan model terbaru, dan tinggal di kawasan elit demi sebuah pengakuan. Jika posisi mereka mulai turun, mereka akan merasakan kesedihan dan kehinaan yang luar biasa di hadapan manusia. Jeritan hati mereka muncul saat mereka sadar bahwa nilai diri mereka di mata lingkungan hanya diukur dari seberapa tebal dompet mereka, bukan dari kemuliaan akhlaq mereka.

 

Bab 2: Kecemasan atas Hilangnya Harta dan Jabatan

2.1 Ketakutan akan Kemiskinan setelah Merasakan Kekayaan

Satu hal yang menjadi beban paling berat bagi orang kaya adalah rasa takut yang berlebihan akan hilangnya fasilitas yang selama ini mereka ni’mati. Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kemewahan, bayang-bayang menjadi miskin adalah siksaan yang lebih menyakitkan daripada kemiskinan itu sendiri. Syaithon sering kali membisikkan ketakutan ini agar mereka terus mengejar dunia tanpa henti. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا﴾

“Syaithon menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji; sedang Alloh menjanjikan ampunan dan karunia-Nya bagi kalian.” (QS. Al-Baqoroh: 268)

Sungguh, ketakutan ini membuat hati mereka tidak pernah tenang. Mereka merasa harus selalu memiliki cadangan yang lebih banyak lagi, seolah-olah tumpukan harta itu bisa menjamin masa depan mereka. Inilah jeritan batin yang membuat mereka tidak bisa meni’mati apa yang sudah ada di tangan, karena pikiran mereka sudah lari ke kemungkinan buruk di masa depan yang belum tentu terjadi.

2.2 Tidur yang Tidak Nyenyak karena Khawatir Aset Sirna

Pernahkah terbayang bagaimana rasanya memiliki ribuan karyawan dan aset di mana-mana? Secara fisik mereka tampak tenang, namun di dalam kepala mereka berkecamuk badai kekhawatiran. Mereka takut nilai saham turun, takut properti mereka terbakar, atau takut kebijakan ekonomi merugikan bisnis mereka. Hati mereka terpaut pada benda-benda mati tersebut. Rosulullah bersabda:

«تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ»

“Celakalah penyembah dinar, celakalah penyembah dirham, dan celakalah penyembah pakaian (kemewahan).” (HR. Al-Bukhori no. 2887 dan Tirmidzi no. 4135)

Siapa yang hatinya sudah menjadi budak bagi hartanya, maka dia akan selalu merasa gelisah. Setiap ada goncangan ekonomi, jantung mereka berdegup kencang melebihi orang lain. Mereka memiliki rumah yang sangat kokoh dengan penjagaan ketat, namun mereka tidak bisa mengunci pintu hati mereka dari masuknya rasa cemas yang merampas tidur nyenyak mereka. Sungguh, ini adalah penjara tak kasat mata bagi pemilik kekayaan.

2.3 Bayang-bayang Pengkhianatan dari Orang Kepercayaan

Orang kaya sering kali hidup dalam kecurigaan. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar pula rasa tidak percaya kepada orang lain. Mereka khawatir rekan bisnisnya akan menusuk dari belakang, atau pegawainya akan menggelapkan uangnya. Hal ini membuat hubungan sosial mereka menjadi kaku dan penuh kepura-puraan. Alloh Azza wa Jalla mengingatkan tentang fitnah harta:

﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ﴾

“Sungguh, hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian), dan di sisi Allohlah pahala yang besar.” (QS. At-Taghobun: 15)

Fitnah harta ini merusak rasa aman dalam hati. Mereka sulit menemukan teman yang tulus mencintai mereka karena pribadi mereka, bukan karena fasilitas yang mereka berikan. Jeritan hati mereka muncul saat mereka merasa sendirian di puncak kesuksesan, karena tidak tahu mana kawan sejati dan mana lawan yang memakai topeng kawan demi mendapatkan remah-remah hartanya.

2.4 Kesedihan saat Harta Tidak Lagi Mampu Memberi Kebahagiaan

Ada titik jenuh di mana seorang kaya merasa bahwa semua kemewahan ini hambar. Mobil mewah terbaru sudah tidak lagi memberikan getaran kegembiraan, makanan paling mahal sudah terasa biasa saja di lidah. Mereka mencari kebahagiaan di luar sana dengan menghabiskan uang, namun hati mereka tetap terasa kosong dan sempit. Alloh Ta’ala telah memperingatkan:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا﴾

“Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thoha: 124)

Kekosongan jiwa ini adalah kesedihan yang nyata. Mereka memiliki segalanya untuk tubuh mereka, tetapi tidak memiliki apa-apa untuk ruh mereka. Inilah sebabnya mengapa banyak orang kaya yang akhirnya terjatuh pada perbuatan sia-sia hanya untuk mencari sedikit hiburan, padahal kebahagiaan yang sesungguhnya ada pada kedekatan dengan Robb mereka, bukan pada tumpukan materi.

2.5 Tekanan saat Mengalami Kerugian Besar dalam Perniagaan

Saat kerugian datang menghantam, guncangan mental yang dialami orang kaya jauh lebih hebat daripada orang yang terbiasa hidup pas-pasan. Mereka merasa dunia Qiyamat ketika aset mereka menyusut. Rasa sedih yang mendalam sering kali membawa mereka pada keputusasaan. Alloh mengajarkan agar manusia tidak terlalu bersedih atas apa yang luput darinya:

﴿لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ﴾

“Agar kalian tidak berputus asa terhadap apa yang luput dari kalian, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Hadid: 23)

Orang kaya yang tidak memiliki landasan iman yang kuat akan merasa hancur sehancur-hancurnya saat bisnisnya bangkrut. Mereka merasa harga dirinya hilang bersama hilangnya harta tersebut. Ini adalah jeritan hati yang sangat memilukan, di mana seseorang merasa tidak berharga lagi hanya karena angka-angka di rekeningnya berkurang.

 

Bab 3: Ujian Rasa Sakit yang Tidak Terobati oleh Uang

3.1 Ketika Tubuh Ringkih Meski Berada di Ranjang Mewah

Sering kali kita melihat orang kaya memiliki fasilitas kesehatan nomor satu, namun mereka tetap tidak bisa membeli kesehatan. Mereka terbaring di kasur yang harganya ratusan juta, di ruangan yang sangat nyaman, namun tubuh mereka dipenuhi selang dan rasa sakit yang menyiksa. Nabi bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Ada dua ni’mat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori no. 6412)

Saat sakit datang, barulah si kaya menyadari bahwa tumpukan emasnya tidak ada harganya dibanding satu tarikan nafas yang lega. Mereka merasa letih karena meski bisa membayar dokter terbaik di dunia, kesembuhan tetaplah mutlak di tangan Alloh. Di saat itulah, kemewahan di sekelilingnya terasa seperti pajangan yang menyakitkan mata.

3.2 Kesedihan karena Tidak Bisa Meni’mati Hidangan Lezat akibat Penyakit

Ini adalah salah satu ironi terbesar dalam kehidupan orang kaya. Mereka mampu membeli makanan apa pun yang mereka inginkan, namun karena penyakit seperti gula darah atau kolesterol, mereka dilarang oleh dokter untuk menyentuhnya. Mereka melihat makanan lezat di depan mata, namun hanya bisa menelan ludah. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي﴾

“Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian, dan janganlah kalian melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpa kalian.” (QS. Thoha: 81)

Kepayahan ini sangat terasa di hati. Si kaya yang memiliki segalanya justru merasa lebih menderita daripada si miskin yang meski hanya makan nasi dan garam, namun tubuhnya sehat dan bisa makan dengan lahap. Ni’mat rasa itu telah dicabut oleh Alloh, sehingga harta yang melimpah tidak lagi memiliki fungsi untuk memuaskan lidah.

3.3 Harta yang Melimpah Namun Tidak Mampu Membeli Kesembuhan

Banyak orang kaya yang menghabiskan seluruh hartanya di akhir hayatnya hanya untuk memperpanjang usia beberapa hari saja. Namun, ketika ajal sudah ditentukan, tidak ada satu dinar pun yang bisa menundanya. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Sungguh kematian yang kalian lari daripadanya (seperi berobat dan olah raga), maka sungguh kematian itu akan menemui (menjumpai) kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Alloh) yang mengetahui yang ghoib dan yang nyata, lalu Dia beritahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Jeritan hati ini muncul saat mereka sadar bahwa selama ini mereka mengejar sesuatu yang tidak bisa menolong mereka di saat paling genting. Kekuasaan dan kekayaan mereka seolah lenyap tidak berbekas di hadapan ketetapan Alloh. Mereka merasa tertipu oleh fatamorgana dunia yang mereka kumpulkan dengan susah payah.

3.4 Kesunyian Hati di Tengah Keramaian Fasilitas Dunia

Fasilitas dunia sering kali membuat orang kaya terisolasi. Mereka memiliki bioskop pribadi, kolam renang pribadi, dan segala sesuatu yang serba pribadi. Namun, privasi yang berlebihan ini sering kali mendatangkan kesunyian yang membunuh. Mereka merasa tidak ada orang yang benar-benar mengerti penderitaan batin mereka. Al-Ghozali (505 H) pernah menjelaskan bahwa keterikatan pada dunia akan membuat hati selalu merasa kesepian meski di tengah keramaian.

Kesunyian ini semakin terasa ketika mereka sakit. Orang-orang mendekat hanya karena ingin memastikan pembagian warisan atau kelangsungan bisnis, bukan karena empati yang tulus. Ini adalah luka batin yang sangat dalam, di mana seseorang merasa menjadi asing di tengah kemewahan yang dia bangun sendiri.

3.5 Penyesalan atas Waktu Sehat yang Terbuang Hanya untuk Menumpuk Harta

Penyesalan terdalam bagi orang kaya adalah saat kesehatan telah hilang dan mereka menyadari bahwa waktu sehat mereka hanya digunakan untuk urusan materi. Mereka lupa membekali diri untuk perjalanan panjang setelah kematian. Rosulullah memberikan wasiat:

«اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ...»

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu...” (HSR. Al-Hakim no. 7846)

Saat tubuh sudah tidak lagi berdaya, mereka menangis dalam hati. Ingin rasanya mereka kembali ke masa sehat hanya untuk bersujud lebih lama atau membaca Al-Qur’an lebih banyak, namun waktu tidak bisa diputar kembali. Harta yang dahulu dibangga-banggakan kini justru menjadi saksi bisu atas kelalaian mereka selama di dunia.

 

Bab 4: Lalai dari Ibadah Akibat Kesibukan Dunia

4.1 Jauhnya Jarak antara Hati dengan Masjid

Kesibukan mengejar angka-angka sering kali membuat telinga seorang kaya menjadi tuli terhadap panggilan adzan. Meski rumah atau kantornya megah, namun kakinya terasa sangat berat untuk melangkah ke Masjid. Hatinya sudah terpenjara oleh rapat-rapat penting dan negosiasi yang dianggap tidak bisa ditunda. Alloh Ta’ala memuji orang-orang yang tidak terpedaya oleh perniagaan dalam firman-Nya:

﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾

“Para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Alloh, mendirikan Sholat, dan menunaikan Zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An-Nur: 37)

Sungguh, jeritan hati orang kaya yang beriman muncul saat mereka sadar bahwa mereka memiliki segalanya, namun mereka kehilangan waktu untuk bersimpuh di hadapan Robb mereka. Mereka melihat orang miskin dengan pakaian sederhana bisa tenang ber-i’tikaf di Masjid, sementara mereka sendiri merasa asing di rumah Alloh tersebut.

4.2 Terhalangnya Kelezatan Sholat akibat Pikiran yang Terpaut Bisnis

Banyak orang kaya yang mampu mendirikan Sholat secara fisik, namun hati mereka tetap berada di meja kantor. Saat takbirotul ihrom, yang terbayang bukanlah keagungan Alloh, melainkan grafik keuntungan yang naik turun atau masalah hutang piutang. Rosulullah bersabda:

«إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا»

“Sungguh, seorang hamba melakukan Sholat, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluh pahalanya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya.” (HHR. Abu Dawud no. 796)

Betapa letihnya raga yang ruku’ dan sujud, namun tidak mendapatkan kelezatan iman. Inilah kemiskinan batin yang sesungguhnya. Mereka memiliki harta untuk membeli segala hiburan, namun tidak mampu membeli kekhusyu’an yang merupakan sumber ketenangan jiwa yang hakiki.

4.3 Sedikitnya Waktu untuk Menuntut Ilmu Syar’i

Orang kaya sering kali menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajari strategi pasar, namun mereka tidak memiliki waktu sepuluh menit pun untuk mempelajari hukum-hukum Alloh. Mereka pandai dalam urusan dunia, namun buta dalam urusan Akhiroh. Alloh Azza wa Jalla berfirman:

﴿يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) Akhiroh adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)

Ketidaktahuan ini membawa petaka. Banyak orang kaya yang terjebak dalam riba atau transaksi harom hanya karena mereka tidak sempat hadir di majelis ilmu. Rasa letih mencari harta akan menjadi sia-sia jika harta tersebut justru menyeret mereka ke dalam Naar akibat ketidaktahuan akan batas-batas syariat.

Mereka juga tidak tahu kewajiban Zakat Mal. Andaikan tahu kewajibannya, tidak tahu cara menghitung dan menyalurkannya.

4.4 Bahaya Harta yang Menjadi Penghalang Menuju Jannah

Harta laksana air; jika jumlahnya pas maka akan menumbuhkan tanaman, namun jika berlebihan maka akan menenggelamkan. Terlalu banyak aset sering kali membuat seseorang merasa tidak butuh kepada Alloh (mustaghni). Alloh Ta’ala memperingatkan:

﴿كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ ۞ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ﴾

“Ketahuilah! Sungguh manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaq: 6-7)

Jeritan hati orang kaya adalah saat mereka menyadari bahwa fasilitas duniawi yang mereka kumpulkan justru menjadi dinding penghalang yang menjauhkan mereka dari rahmat Alloh. Mereka terlalu sibuk menjaga “istana” di dunia hingga lupa membangun pondasi untuk istana di Jannah.

4.5 Kerasnya Hati akibat Terlalu Banyak Meni’mati Kemewahan

Kemewahan yang melampaui batas dapat mematikan sensitivitas hati. Ketika seseorang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, dia akan sulit merasakan penderitaan orang lain. Hatinya menjadi keras laksana batu. Rosulullah bersabda:

«تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ»

“Celakalah penyembah pakaian (kemewahan). Jika diberi dia ridho, namun jika tidak diberi dia marah (karena hatinya keras).” (HR. Al-Bukhori no. 2887)

Hati yang keras ini sulit menerima nasihat. Orang kaya yang hatinya keras akan merasa bahwa kesuksesannya adalah semata-mata karena kehebatannya sendiri, sebagaimana Qorun yang berkata: “Sungguh, aku diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qoshosh: 78). Ini adalah jeritan batin yang paling berbahaya, karena kesombongan adalah penghalang masuk Jannah.

 

Bab 5: Hisab yang Panjang di Hari Qiyamat

5.1 Pertanyaan tentang dari Mana Harta Didapat dan ke Mana Dibelanjakan

Setiap rupiah yang dimiliki orang kaya akan ditanya secara detail. Berbeda dengan orang miskin yang hisabnya ringan, orang kaya harus mempertanggungjawabkan setiap sen asetnya. Rosulullah bersabda:

«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، ... وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ»

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Qiyamat hingga dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan... dan tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2417)

Bayangkan betapa panjangnya antrian hisab bagi pemilik aset yang tersebar di mana-mana. Orang miskin mungkin sudah duduk santai di Jannah, sementara si kaya masih berkeringat dingin menjawab pertanyaan Malaikat tentang asal-usul hartanya. Inilah kepayahan yang sesungguhnya di hari Akhiroh.

5.2 Tertahannya Orang Kaya di Pintu Jannah karena Hisab Harta

Kekayaan dunia adalah beban yang memperlambat perjalanan menuju Jannah. Nabi pernah bersabda:

«قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ، وَأَصْحَابُ الْجَدِّ (أَيِ الْغِنَى) مَحْبُوسُونَ»

“Aku berdiri di depan pintu Jannah, ternyata mayoritas yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Sedangkan orang-orang kaya (pemilik kekayaan) tertahan (untuk dihisab).” (HR. Al-Bukhori no. 5196 dan Muslim no. 2736)

Tertahannya seseorang di pintu Jannah sementara rekan-rekannya yang miskin sudah masuk adalah sebuah kesedihan yang luar biasa. Harta yang dahulu memudahkan urusannya di dunia, kini justru menjadi beban yang menahan langkahnya di pintu keselamatan.

Tertahannya ini, paling cepat 40 tahun dan paling lama 500 tahun, seperti dalam Hadits Aisyah dan Abu Huroiroh yang shohih.

5.3 Penyesalan bagi Pemilik Harta yang Tidak Menunaikan Hak Alloh

Bagi orang kaya yang bakhil, harta mereka akan berubah menjadi siksaan yang pedih. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ﴾

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Alloh, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) adzab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34)

Harta itu akan dipanaskan di api Naar lalu disetrikakan ke dahi, lambung, dan punggung mereka. Jeritan hati mereka di Akhiroh adalah teriakan penyesalan karena tidak menggunakan harta tersebut untuk menolong agama Alloh saat di dunia.

5.4 Keutamaan Orang Miskin yang Masuk Jannah Lebih Dahulu

Seorang Muslim yang miskin namun sabar memiliki keistimewaan yang membuat orang kaya merasa iri di hari Qiyamat. Rosulullah bersabda:

«يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِخَمْسِمِائَةِ عَامٍ نِصْفِ يَوْمٍ»

“Orang-orang fakir dari kaum Muslimin akan masuk Jannah mendahului orang-orang kaya mereka dengan selisih waktu lima ratus tahun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2353)

Lima ratus tahun bukanlah waktu yang singkat. Itu adalah setengah hari di sisi Robbmu. Sementara si miskin sudah meni’mati buah-buahan Jannah, si kaya masih berjibaku dengan audit Robbani yang sangat teliti atas setiap ni’mat yang diterimanya.

5.5 Beratnya Tanggung Jawab atas Setiap Ni’mat yang Diterima

Semakin banyak ni’mat dunia yang dirasakan, semakin berat pula pertanggungjawabannya. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾

“Kemudian kalian sungguh-sungguh akan ditanya pada hari itu tentang ni’mat (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)

Ibnu Katsir (774 H) menjelaskan bahwa pertanyaan ini mencakup segala hal, mulai dari air dingin yang diminum, makanan yang mengenyangkan, hingga tempat tinggal yang nyaman. Orang kaya yang memiliki fasilitas berlebih tentu akan menghadapi rentetan pertanyaan yang jauh lebih banyak. Jeritan hati mereka adalah saat mereka menyadari bahwa setiap kemudahan yang mereka ni’mati di dunia ada harganya di Akhiroh.

Wahai saudaraku si miskin, janganlah kau pandang istana mereka dengan rasa dengki. Tahukah kau bahwa setiap tiang di istana itu akan ditanyakan dari mana kayunya dibeli? Setiap ubin yang mengkilap akan ditanyakan dengan uang apa ia dibayar? Kau yang tidur beralas tikar mungkin merasa letih di dunia, namun kau akan berlari ringan di hari Qiyamat tanpa beban hisab yang menghimpit. Sungguh, kemiskinanmu adalah “jalur cepat” menuju Jannah jika kau sabar, sementara kekayaan mereka adalah “jalur audit” yang panjang dan melelahkan.

 

Bab 6: Obat Bagi Si Kaya Agar Harta Menjadi Berkah

6.1 Menanamkan Sifat Zuhud di Tengah Kekayaan

Zuhud bukan berarti membuang harta atau berpakaian compang-camping, melainkan kosongnya hati dari ketergantungan kepada dunia meskipun tangan menggenggam kekayaan. Orang kaya yang zuhud adalah mereka yang tidak merasa bangga dengan adanya harta dan tidak merasa hancur dengan hilangnya harta. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ﴾

“Agar kalian tidak berputus asa terhadap apa yang luput dari kalian, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)

Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) pernah ditanya, “Apakah orang kaya bisa menjadi zuhud?” Beliau menjawab, “Bisa, jika dia tidak gembira ketika hartanya bertambah dan tidak sedih ketika hartanya berkurang.”

Inilah obat pertama bagi jeritan hati orang kaya; melepaskan ikatan hati dari materi agar jiwa tetap tenang dalam situasi apa pun.

6.2 Menjadikan Harta di Tangan, Bukan di Hati

Penderitaan orang kaya bersumber dari meletakkan harta di dalam relung hatinya, sehingga setiap fluktuasi harta akan mengguncang jiwanya. Seharusnya harta diposisikan seperti air di bawah kapal; ia menopang kapal untuk berlayar namun tidak boleh masuk ke dalam kapal karena akan menenggelamkannya. Nabi bersabda:

«نِعْمًا بِالْمَالِ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ»

“Sebaik-baik harta yang sholih adalah yang dimiliki oleh orang yang sholih.” (HSR. Ahmad no. 17763)

Orang sholih menjadikan hartanya sebagai pelayan bagi agamanya, bukan menjadikan dirinya budak bagi hartanya. Ketika harta hanya di tangan, maka saat Alloh memintanya melalui Zakat atau Shodaqoh, tangan itu akan sangat ringan untuk memberikannya tanpa ada beban di hati.

6.3 Rahasia Kebahagiaan dalam Zakat dan Shodaqoh yang Luas

Jeritan hati berupa kekosongan jiwa hanya bisa diobati dengan berbagi. Harta yang dikeluarkan di jalan Alloh tidak akan berkurang, melainkan justru membersihkan jiwa dan memberikan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Alloh Azza wa Jalla berfirman:

﴿خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا﴾

“Ambillah Zakat dari sebagian harta mereka, dengan Zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

Kebahagiaan sejati si kaya adalah saat melihat senyum si miskin yang terbantu oleh hartanya. Shodaqoh memadamkan murka Robb dan mendinginkan panasnya hati yang stres karena urusan dunia. Nabi bersabda:

«الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ»

“Shodaqoh itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2616)

6.4 Membangun Istana di Akhiroh dengan Aset di Dunia

Solusi cerdas bagi orang kaya adalah “mentransfer” aset duniawinya ke Akhiroh melalui wakaf dan amal jariyah. Dengan begitu, dia tidak akan merasa kehilangan hartanya, melainkan merasa sedang menabung untuk masa depannya yang abadi. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً﴾

“Siapa yang mau memberi pinjaman kepada Alloh, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Alloh), maka Alloh akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (QS. Al-Baqoroh: 245)

Setiap jengkal tanah yang diwakafkan untuk Masjid atau setiap rupiah untuk pendidikan Muslim adalah batu bata bagi istananya di Jannah. Ini akan menghilangkan rasa cemas akan hilangnya harta, karena dia tahu hartanya telah aman di sisi Alloh.

6.5 Mewaspadai Istidroj dalam Melimpahnya Fasilitas

Orang kaya harus selalu mawas diri. Jangan sampai limpahan ni’mat yang terus mengalir padahal dia jauh dari Alloh adalah bentuk istidroj (penghasutan menuju kebinasaan). Nabi memperingatkan:

«إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»

“Apabila engkau melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba ni’mat dunia yang dia sukai padahal dia terus bermaksiat, maka sungguh itu adalah istidroj.” (HHR. Ahmad no. 17311)

Kesadaran akan bahaya istidroj akan membuat si kaya tidak sombong dan selalu waspada, sehingga dia akan terus memperbaiki ibadahnya seiring dengan bertambahnya hartanya.

 

Bab 7: Pesan untuk Si Miskin

7.1 Memahami Bahwa Kemiskinan Bukan Berarti Alloh Benci

Si miskin sering merasa terhina dengan keadaannya. Padahal, dunia ini tidak berharga di sisi Alloh bahkan seberat sayap nyamuk pun tidak. Banyak kekasih Alloh yang hidup dalam kemiskinan, termasuk para Nabi. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۞ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ۞ كَلَّا﴾

“Adapun manusia apabila Robbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya ni’mat, maka dia berkata: ‘Robbku telah memuliakanku’. Adapun bila Robbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Robbku menghinakanku’. Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15-17)

Ayat ini menegaskan bahwa harta bukan tolok ukur kemuliaan. Si miskin harus sadar bahwa kesempitan rizki adalah bentuk penjagaan Alloh agar dia tidak melampaui batas di muka bumi.

7.2 Bahaya Hasad kepada Pemilik Dunia

Hasad adalah penyakit yang hanya akan menambah penderitaan si miskin. Iri kepada orang kaya hanya akan membuat hati sesak tanpa mengubah takdir sedikit pun. Nabi bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ»

“Jauhilah oleh kalian sifat hasad, karena sungguh hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud no. 4903)

Si miskin harus melihat kepada orang yang di bawahnya dalam urusan dunia agar dia bisa bersyukur. Jika dia melihat ke atas, dia akan selalu merasa kurang dan menderita.

7.3 Keleluasaan Waktu untuk Beribadah yang Tidak Dimiliki Si Kaya

Ini adalah ni’mat besar yang sering dilupakan. Si miskin tidak disibukkan dengan laporan keuangan atau rapat yang menyita waktu Sholat. Dia memiliki waktu lebih banyak untuk berdzikir, menghadiri majelis ilmu di Masjid, dan membaca Al-Qur’an. Sungguh, waktu luang adalah modal utama untuk meraih derajat tinggi di Jannah yang sering kali dicemburui oleh orang kaya yang sholih.

7.4 Ringannya Hisab di Akhiroh bagi Mereka yang Sedikit Hartanya

Pesan paling menyejukkan bagi si miskin adalah singkatnya perjalanan mereka di padang mahsyar. Mereka tidak memiliki banyak aset untuk dipertanggungjawabkan. Nabi bersabda:

«اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ»

“Aku melihat ke dalam Jannah, maka aku melihat mayoritas penduduknya adalah orang-orang fakir.” (HR. Al-Bukhori no. 3241 dan Muslim no. 2737)

Kekurangan di dunia yang sebentar ini adalah bayaran untuk kemudahan yang abadi di Akhiroh. Si miskin yang sabar akan tertawa bahagia saat si kaya masih gemetar menghadapi audit ilahiyyah yang sangat teliti.

7.5 Menanamkan Qona’ah sebagai Kekayaan yang Sesungguhnya

Kekayaan bukan tentang seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi tentang seberapa cukup hati merasa. Qona’ah adalah merasa ridho dengan pemberian Alloh. Nabi bersabda:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Si miskin yang qona’ah sejatinya lebih kaya daripada miliarder yang tamak. Dia tidur dengan tenang, makan dengan lahap, dan hatinya penuh dengan rasa syukur kepada Robbnya.

 

Penutup

Dunia ini adalah darul imtihan (negeri ujian). Kekayaan adalah ujian syukur yang sangat berat, dan kemiskinan adalah ujian kesabaran yang sangat mulia. Melalui lembaran-lembaran buku ini, kita telah melihat bahwa di balik kemilau harta terdapat jeritan hati, keletihan jiwa, dan ketakutan yang menghantui. Tidak perlu ada rasa iri di antara sesama hamba Alloh, karena masing-masing telah diberikan beban sesuai dengan kemampuannya.

Sungguh, tujuan akhir kita bukan untuk menjadi yang terkaya di dunia, melainkan menjadi yang paling bertaqwa. Kekayaan yang tidak membawa pemiliknya ke Masjid adalah kemiskinan yang nyata. Dan kemiskinan yang tidak membuat pemiliknya sabar adalah kerugian yang besar. Mari kita jadikan dunia ini hanya sebagai ladang untuk menanam kebaikan bagi Akhiroh kita yang abadi.

Alloh Ta’ala menutup pengingat ini dengan firman-Nya:

﴿وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imron: 185)

Semoga buku ini menjadi cahaya bagi si kaya agar tidak tersesat dalam hartanya, dan menjadi pelipur lara bagi si miskin agar tetap teguh dalam kesabarannya.

Walhamdulillahirobbil ‘alamin. [NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url