[PDF] Syarah Ringkas Qoshiidah Laamiyyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) - Nor Kandir
MUQODDIMAH
PENTARJAMAH
بسم
الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang telah mengutus para Rosul dengan membawa petunjuk dan
agama yang haq. Semoga sholawat dan salam untuk Rosul-Nya.
Amma ba’du:
Aqidah adalah pondasi paling mendasar dalam
Islam. Sebagaimana sebuah bangunan tidak akan tegak tanpa pondasi yang kokoh,
demikian pula amal ibadah seperti Sholat, Zakat, Puasa, dan Haji tidak akan diterima di
sisi Alloh ﷻ jika tidak dibangun di atas Aqidah yang shohih sesuai pemahaman
Salafush Sholih.
Di tengah banyaknya aliran pemikiran dan
syubhat yang berkembang, kembali kepada teks-teks ringkas namun padat seperti Qoshiidah
Laamiyyah ini menjadi sangat penting bagi setiap Muslim untuk membentengi
diri dari penyimpangan.
Bait ini sangat ringkas
hanya memuat 16 bait, tetapi isinya mencakup pokok Aqidah. Diversi tarjamah
matan, saya sebutkan tarjamahnya dan beberapa link penting. Silahkan dirujuk di sini.
Mengenal Penulis
Beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin
Abdissalam bin Taimiyyah Al-Harroni, yang dikenal dengan gelar Syaikhul Islam.
Beliau lahir di Harron pada tahun 661 H dan wafat di dalam penjara Kastil
Damaskus pada tahun 728 H.
Beliau adalah seorang Muhaqqiq (peneliti) yang
menghabiskan umurnya untuk membela Sunnah dan berjihad dengan lisan serta pena.
Karya-karyanya menjadi rujukan utama dalam memahami Manhaj Salaf, di antaranya:
1.
Al-Aqidah
Al-Wasithiyyah
2.
Al-Hamawiyyah
Al-Kubro
3.
Majmu’
Al-Fatawa
Qoshiidah Laamiyyah sendiri adalah
bait-bait syair yang dinisbatkan kepada beliau (meskipun ada sebagian ulama
yang mendiskusikannya, namun maknanya 100% sejalan dengan Aqidah beliau). Syair
ini dinamakan Laamiyyah karena setiap baitnya diakhiri dengan huruf Lam (ل).
Landasan Penulisan Syarah
Syarah (penjelasan) ini disusun dengan
berpijak pada metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sesuai permintaan, setiap poin
dijelaskan secara detail dengan sistematika:
Makna Mufrodat: Membedah kosa kata agar tidak salah paham.
Makna Umum:
Memberikan gambaran global pesan penulis.
Penjelasan Aqidah: Menyertakan penjelasan
bait dari Al-Qur’an dan Hadits yang jumlahnya lebih
dari dua dalil per poin untuk memberikan keyakinan yang mantap bagi pembaca.
Dalil Perintah Mengikuti Jalan
Salaf
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ﴾
“Dan ikutilah jalan orang yang kembali
kepada-Ku (yakni para Shohabat).” (QS. Luqman: 15)
Rosulullah ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»
“Wajib bagi kalian berpegang teguh pada
Sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk (setelahku).
Gigitlah ia dengan gigi geraham.” (HSR. Abu Dawud no. 4607)
[1] PENTINGNYA BERTANYA TENTANG AQIDAH (BAIT 1-2)
Teks Bait 1 & 2
1- يَا سَائِلِي عَن مَذْهَبِي
وعَقِيدَتِي * رُزِقَ الهُدَى مَن لِلْهِدَايَةِ يَسْأَلُ
2- اسْمَعْ كَلامَ مُحَقِّقٍ
فِي قَوْلِهِ * لا يَنْثَنِي عَنْهُ وَلا يَتَبَدَّلُ
Makna Mufrodat (Kosa Kata)
(سَائِلِي): Orang yang bertanya
kepadaku.
(مَذْهَبِي): Secara bahasa berarti
tempat berjalan, secara istilah berarti jalan pemikiran atau keyakinan yang
diikuti.
(عَقِيدَتِي): Berasal dari kata ‘aqoda
(mengikat), yaitu keyakinan yang terikat kuat di dalam hati sehingga tidak ada
keraguan padanya.
(الهُدَى): Petunjuk menuju
kebenaran.
(مُحَقِّقٍ): Seseorang yang meneliti
sesuatu dengan saksama hingga mengetahui hakikat kebenarannya.
(لا يَنْثَنِي): Tidak berpaling atau
tidak membungkuk/bergeser.
(وَلا يَتَبَدَّلُ): Tidak berubah atau
tidak berganti.
Makna Umum Bait
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H)
mengawali Qoshiidah ini dengan menyambut penanya yang ingin mengetahui
keyakinan beliau. Beliau mendoakan agar penanya tersebut mendapatkan hidayah
karena bertanya dengan niat mencari kebenaran. Beliau kemudian menegaskan bahwa
jawaban yang akan diberikan adalah hasil penelitian mendalam (tahqiq),
sebuah keyakinan yang kokoh, tidak berubah-ubah karena pengaruh syubhat, dan
tidak akan pernah beliau tinggalkan.
Urgensi Menuntut Ilmu Syar’i dan
Bertanya kepada Ahlinya
Seorang Muslim wajib membangun agamanya di
atas ilmu, bukan sekadar ikut-ikutan (taklid). Bertanya kepada ulama adalah
wasilah (sarana) utama untuk mendapatkan petunjuk ketika seseorang tidak
mengetahui suatu perkara, terutama dalam masalah Aqidah yang merupakan pondasi
keselamatan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَسْـَٔلُوٓا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Maka bertanyalah kepada orang yang
mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Alloh ﷻ
berfirman memerintahkan Nabi-Nya ﷺ:
﴿وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا﴾
“Dan katakanlah: ‘Ya Robb-ku, tambahkanlah
kepadaku ilmu.’” (QS. Thoha: 114)
Rosulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ
خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Siapa yang Alloh kehendaki kebaikan
baginya, maka Alloh akan pahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhori
no. 71)
Rosulullah ﷺ bersabda:
«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap
Muslim.” (HSR. Ibnu Majah no. 224)
Keteguhan (Tsabat) di Atas Al-Haq
Aqidah Salaf bukanlah hasil rekayasa akal
yang berubah seiring zaman, melainkan bersumber dari wahyu yang bersifat tetap.
Syaikhul Islam menekankan bahwa beliau adalah seorang Muhaqqiq. Ini menunjukkan
bahwa kebenaran harus diikuti dengan kemantapan hati tanpa keraguan.
Sifat Muhaqqiq yang disebutkan oleh
penulis memberikan pelajaran bahwa dalam
beragama, kita tidak boleh bersikap plin-plan. Keyakinan yang benar adalah yang
dibangun di atas dalil (argumen) yang kuat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah,
sehingga ketika badai fitnah datang, seorang Muslim tetap teguh dan tidak
mengganti agamanya demi kepentingan duniawi.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى
الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَفِى الْءَاخِرَةِ﴾
“Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang
beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat.” (QS.
Ibrohim:
27)
Rosulullah ﷺ sering berdoa:
«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ
ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati,
teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2140)
[2] KECINTAAN KEPADA SHOHABAT DAN AHLUL BAIT (BAIT 3-4)
Teks Bait 3 & 4
3- حُبُّ الصَّحَابَةِ كُلِّهِم
لِي مَذْهَبٌ * وَمَوَدَّةُ القُرْبَى بِهَا أَتَوَسَّلُ
4- وَلِكُلِّهِم قَدْرٌ
وَفَضْلٌ سَاطِعٌ * لَكِنَّمَا الصِّدِّيقُ مِنْهُمْ أَفْضَلُ
Makna Mufrodat
(الصَّحَابَةِ): Secara istilah adalah
setiap orang yang bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan beriman dan
mati di atasnya.
(مَوَدَّةُ): Tingkatan cinta yang
paling murni dan tampak dalam perbuatan (ekspresif).
(القُرْبَى): Kerabat dekat Nabi ﷺ yang
beriman.
(أَتَوَسَّلُ): Menjadikan cinta tersebut sebagai Amal Sholih untuk memohon
kepada Alloh agar doa dikabulkan.
(سَاطِعٌ): Cahaya yang memancar kuat, menunjukkan kemuliaan mereka tidak
bisa ditutupi oleh siapapun.
Tentang Shohabat
Rodhiyallahu ‘Anhum
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah (728 H) menegaskan bahwa mencintai seluruh Shohabat adalah Madzhab
(prinsip beragama). Ini mencakup kewajiban:
Menyucikan Hati: Membersihkan hati dari dendam atau kebencian kepada salah seorang
dari mereka.
Menyucikan Lisan: Menahan diri dari membicarakan perselisihan di antara mereka
(Fitnah Shiffin atau Jamal).
Meyakini Keadilan Mereka: Seluruh Shohabat adalah adil dan terpercaya.
Alloh ﷻ
memuji mereka:
﴿لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ
الشَّجَرَةِ﴾
“Sesungguhnya Alloh telah
ridho terhadap orang-orang Mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di
bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18)
Karena Alloh sudah Ridho, maka mustahil
mereka menjadi kafir atau murtad secara massal, seperti tuduhan Syi’ah.
Rosulullah ﷺ bersabda:
«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku
(Shohabat), kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’in), kemudian orang-orang
setelah mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2652 dan Muslim no. 2533)
Tentang Ahlul Bait
Penulis menyebutkan mawaddatul qurba
(mencintai kerabat Nabi ﷺ). Siapakah mereka?
Definisi Luas: Mereka adalah seluruh
keturunan Bani Hasyim dan Bani Mutholib yang Muslim.
Keluarga Inti: Ali bin Abi Tholib, Fatimah,
Al-Hasan, dan Al-Husain Rodhiyallahu ‘Anhum.
Juga: Istri-istri Nabi (Ummahatul Mu’minin): Khodijah binti Khuwailid, ‘Aisyah
binti Abi Bakr, Hafshoh binti ‘Umar, dan seterusnya. Memisahkan istri Nabi dari
sebutan Ahlul Bait adalah kesalahan fatal secara bahasa dan syariat.
Zaid bin Arqom berkata:
Rosulullah ﷺ
bersabda:
«وَأَهْلُ
بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي،
أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي»
“... dan Ahlul Bait-ku.
Aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang urusan keluargaku (Ahlul Bait-ku), aku
ingatkan kalian kepada Alloh tentang urusan keluargaku (Ahlul Bait-ku), aku
ingatkan kalian kepada Alloh tentang urusan keluargaku (Ahlul Bait-ku).”
Hushoin bertanya kepada
Zaid: “Wahai Zaid, siapakah Ahlul Bait beliau? Bukankah istri-istri beliau
adalah bagian dari Ahlul Bait beliau?”
Zaid menjawab:
“Istri-istri beliau adalah bagian dari Ahlul Bait beliau (secara bahasa dan
tempat tinggal), namun Ahlul Bait beliau (yang dimaksud dalam wasiat ini secara
khusus) adalah orang-orang yang diharomkan menerima Zakat (shodaqoh wajib)
sepeninggal beliau.”
Hushoin bertanya lagi:
“Siapakah mereka itu?” Zaid menjawab:
هُمْ آلُ عَلِيٍّ، وَآلُ عَقِيلٍ، وَآلُ جَعْفَرٍ، وَآلُ عَبَّاسٍ
“Mereka adalah keluarga
Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Al-Abbas.”
Hushoin bertanya: “Apakah
mereka semua itu diharamkan menerima Zakat?” Zaid menjawab: “Ya.” (HR.
Muslim no. 2408)
Mencintai mereka adalah Ibadah. Penulis bertawassul
dengan amal sholih berupa rasa cinta tersebut.
Ini adalah Tawassul yang disyariatkan, yaitu bertawassul dengan amal
sholih diri sendiri.
Keutamaan Abu Bakr Ash-Shiddiq
Rodhiyallahu ‘Anhu
Meskipun semua memiliki keutamaan (fadhlun
saathi’), namun ada urutan tingkatan (tafdhil). Urutan terbaik
menurut Ahlus Sunnah adalah: Abu Bakr (13 H), kemudian ‘Umar (25 H), kemudian ‘Utsman
(35 H), kemudian ‘Ali (40 H).
Mengapa Abu Bakr yang Utama?
1. Gelar Ash-Shiddiq: Orang yang pertama
kali membenarkan peristiwa Isro’ Mi’raj tanpa ragu.
2. Kawan di Gua: Satu-satunya manusia yang
disebut Alloh sebagai Shohib (teman) Nabi ﷺ di dalam Al-Qur’an saat
peristiwa Genting.
3. Pengorbanan Harta: Beliau menginfakkan
seluruh hartanya untuk Jihad.
Alloh ﷻ
berfirman tentang orang yang paling bertaqwa:
﴿وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى
* الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى﴾
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling
taqwa dari Naar,
yang menafkahkan hartanya (di jalan Alloh) untuk membersihkannya.” (QS.
Al-Layl: 17-18)
Para mufassir sepakat ayat ini turun
berkenaan dengan Abu Bakr Rodhiyallahu ‘Anhu.
Sabda Nabi ﷺ:
«إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ
عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ»
“Sesungguhnya orang yang paling berjasa
kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakr.” (HR. Al-Bukhori
no. 466)
Ahlus Sunnah mencintai Shohabat karena
mereka adalah pembawa syariat, dan mencintai Ahlul Bait karena wasiat Nabi ﷺ dan
kemuliaan nasab mereka. Kita memberikan hak kepada setiap pemilik hak tanpa
melampaui batas (ghuluw) dan tanpa merendahkan (jafa’).
[3] AL-QUR’AN KALAMULLAH DAN SIKAP TERHADAP SIFAT ALLOH (BAIT 5-8)
Teks Bait 5 s.d 8
5- وَأَقُولُ فِي القُرْآنِ
مَا جَاءَتْ بِهِ * آيَاتُهُ فَهْوَ القَدِيمُ المُنْزَلُ
6- وَأَقُولُ: قَالَ اللهُ
جَلَّ جَلالُهُ * وَالمُصْطَفَى الهَادِي وَلا أَتَأَوَّلُ
7- وَجَمِيعُ آيَاتِ الصِّفَاتِ
أُمِرُّهَا * حَقًّا كَمَا نَقَلَ الطِّرَازُ الأَوَّلُ
8- وَأَرُدُّ عُهْدَتَهَا
إِلَى نُقَّالِهَا * وَأَصُونُهَا عَن كُلِّ مَا يُتَخَيَّلُ
Makna Mufrodat
(القُرْآنِ): Secara bahasa berarti
bacaan. Secara istilah adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ,
tertulis dalam mushaf, dinukil secara mutawatir, dan membacanya adalah ibadah.
(القَدِيمُ): Dalam bait ini,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) menggunakan istilah ini untuk menunjukkan
bahwa sifat Kalam bagi Alloh sudah ada sejak dahulu (Azali), bukan sesuatu yang
baru diciptakan.
(المُنْزَلُ): Yang diturunkan. Ini
menegaskan bahwa Al-Qur’an berasal dari Alloh (di atas), bukan dari diri Nabi ﷺ atau
Malaikat Jibril.
(وَلا أَتَأَوَّلُ): Aku tidak melakukan Ta’wil
yang menyimpang, yaitu memalingkan makna ayat dari makna lahiriahnya yang benar
kepada makna lain tanpa dalil yang shohih.
(الطِّرَازُ الأَوَّلُ): Istilah kiasan untuk
Shohabat Rodhiyallahu ‘Anhum sebagai generasi terbaik dan rujukan
pertama dalam memahami agama.
Al-Qur’an adalah Kalamullah, Bukan
Makhluk
Syaikhul Islam menegaskan bahwa keyakinan
beliau tentang Al-Qur’an didasarkan langsung pada apa yang dibawa oleh
ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri. Ahlus
Sunnah meyakini bahwa:
1.
Al-Qur’an
adalah firman Alloh yang sesungguhnya (huruf dan suaranya)
2.
Alloh
berbicara dengannya sesuai kehendak-Nya (Ikhtiyariyyah)
Bantahan terhadap kaum Mu’tazilah yang
mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk dan kaum Asy’ariyyah yang mengatakan Al-Qur’an
adalah Kalam Nafsi (makna di dalam hati saja) adalah firman Alloh:
﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ
يَسْمَعَ كَلَٰمَ اللَّهِ﴾
“Dan jika seorang di antara orang-orang
musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia
sempat mendengar Kalamullah (firman Alloh).” (QS. At-Taubah: 6)
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَكَلّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا﴾
“Dan Alloh telah berbicara kepada Musa
dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164)
Ayat ini menggunakan Maf’ul Muthlaq (takliiman)
untuk meniadakan kemungkinan majas/kiasan.
Rosulullah ﷺ bersabda:
«مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ
إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ، وَلاَ حِجَابٌ
يَحْجُبُهُ»
“Sesungguhnya setiap dari kalian akan diajak bicara Robbnya, tanpa penerjemah di antara
kedua dan tanpa penutup apapun.” (HR. Al-Bukhori no.
7443)
Nabi ﷺ juga bersabda:
«وَفَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ
عَلَى سَائِرِ الكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ»
“Keutamaan Kalamullah atas seluruh
perkataan adalah seperti keutamaan Alloh atas makhluk-Nya.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2926)
Prinsip Menetapkan Sifat Alloh
Tanpa Ta’wil
Penulis menyatakan hanya mengikuti apa yang
difirmankan Alloh dan disabdakan oleh Al-Mushthofa ﷺ. Beliau menetapkan empat larangan dalam
memahami sifat Alloh:
1. Tanpa Ta’thil: Tidak meniadakan
sifat tersebut.
2. Tanpa Tamtsil: Tidak menyerupakan
Alloh dengan makhluk.
3. Tanpa Takyif: Tidak menanyakan “bagaimana”
hakikat bentuknya.
4. Tanpa Ta’wil: Tidak
menyimpangkan maknanya.
Tentang pengingkaran terhadap penyerupaan:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan
Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)
Tentang dilarangnya mengikuti
dugaan/khayalan dalam sifat Alloh:
﴿فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ﴾
“Maka janganlah kamu mengadakan
penyerupaan-penyerupaan bagi Alloh.” (QS. An-Nahl: 74)
Mengikuti Manhaj Shohabat
(Ath-Thiroz Al-Awwal)
Penulis menegaskan bahwa beliau membiarkan
(amirruha) ayat-ayat sifat tersebut sebagaimana datangnya tanpa
melakukan Tahrif (perubahan). Inilah
jalan para Shohabat. Mereka mengimani makna sifat tersebut (seperti tangan,
wajah, turun, dsb.) secara bahasa, namun menyerahkan hakikat bentuknya kepada
Alloh.
Ayat mengenai sifat Alloh yang memiliki dua tangan:
﴿قَالَ يَاإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ
أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ﴾
“Alloh berkata: ‘Hai iblis, apa yang menghalangimu dari bersujud kepada
orang yang aku ciptakan dengan dua Tangan-Ku, apakah kamu sombong bahkan merasa
angkuh?” (QS. Shod: 75)
Hadits tentang Alloh berada di atas langit:
فَقَالَ لَهَا: «أَيْنَ
اللهُ؟» قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ، قَالَ: «مَنْ أَنَا؟» قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ،
قَالَ: «أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ»
Nabi ﷺ bertanya kepada seorang
budak wanita: “Di mana Alloh?”. Ia menjawab: “Di atas langit.” Nabi ﷺ
kemudian bersabda: “Bebaskan dia, karena dia seorang Mu’minah.” (HR. Muslim
no. 537)
Menjaga dari Khayalan dan
Penyerupaan
Bait ke-8 menjelaskan bahwa meskipun kita
menetapkan sifat, kita harus menjaga hati dari Takhayyul (membayangkan bentuk
Alloh). Akal manusia sangat terbatas
untuk menjangkau hakikat Dzat Alloh yang Maha Agung. Jika kita tidak mengetahui
hakikat Dzat-Nya, maka kita tidak akan mungkin mengetahui hakikat sifat-Nya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ
بِهِ عِلْمًا﴾
“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan
mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat
meliputi-Nya.” (QS. Thoha: 110)
[4] BANTAHAN TERHADAP AHLI KALAM (BAIT 9)
Teks Bait 9
9- قُبْحًا لِمَنْ نَبَذَ
القُرْآنَ وَرَاءَهُ * وَإِذَا اسْتَدَلَّ يَقُولُ قَالَ الأَخْطَلُ
Makna Mufrodat
(قُبْحًا): Secara bahasa berarti
keburukan atau kejelekan yang sangat. Dalam konteks ini, ia berfungsi sebagai
celaan (taqbih) yang keras.
(نَبَذَ): Mencampakkan atau
membuang sesuatu dengan sengaja ke belakang.
(الأَخْطَلُ): Nama seorang penyair
Nasroni (Kristen) yang bernama Ghiyats bin Ghouts.
Ia dijadikan rujukan oleh ahli kalam (seperti kaum Asy’ariyyah) dalam masalah
Aqidah untuk mendukung pendapat bahwa Kalamullah hanyalah makna di dalam hati
(Kalam Nafsi).
Makna Umum Bait
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H)
mencela dengan keras orang-orang yang mengesampingkan dalil-dalil Al-Qur’an
dalam masalah Aqidah. Beliau menyindir para pengikut ahli kalam yang ketika
berbicara tentang sifat-sifat Alloh, mereka justru meninggalkan wahyu dan
beralih mencari legitimasi dari bait syair seorang penyair Nasroni (Al-Akhtol).
Ini adalah bentuk penyimpangan besar dalam berdalil.
Bahaya Mencampakkan Al-Qur’an
Mencampakkan Al-Qur’an ke belakang punggung
(nabadza Al-Qur’an) berarti tidak menjadikannya sebagai timbangan utama
dalam menetapkan Aqidah. Ahli bid’ah seringkali mendahulukan akal (aql) daripada wahyu (naql). Jika wahyu dianggap bertentangan
dengan akal mereka, maka wahyu tersebut dibuang atau di-ta’wil secara paksa.
Alloh ﷻ
berfirman mengadukan sikap umatnya:
﴿وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ
مَهْجُورًا﴾
“Berkatalah Rosul: ‘Ya
Robb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak
diacuhkan.’” (QS. Al-Furqon: 30)
Alloh ﷻ juga
berfirman tentang ahli kitab yang kemudian diikuti polanya oleh ahli bid’ah:
﴿نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَٰبَ كِتَٰبَ اللَّهِ
وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Sebagian dari
orang-orang yang diberi Kitab mencampakkan Kitab Alloh ke belakang punggungnya,
seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Alloh).” (QS. Al-Baqoroh: 101)
Siapa Al-Akhtol dan Mengapa Ia
Disebut?
Ahli kalam sering menggunakan bait syair
Al-Akhtol yang berbunyi: “Innal kalaama lafil fuaadi...” (Sesungguhnya
perkataan itu ada di dalam hati). Mereka menggunakan syair ini untuk menolak
bahwa Alloh berbicara dengan suara dan huruf, melainkan hanya “bisikan hati”
saja.
Syaikhul Islam membantah ini karena:
1. Status Penulis: Al-Akhtol adalah seorang
Nasroni yang tidak bisa dijadikan hujjah dalam Aqidah Islam.
2. Keaslian Syair: Para pakar bahasa
menyatakan bahwa bait syair tersebut telah dipalsukan atau diubah untuk
mendukung pemahaman ahli kalam.
3. Pertentangan dengan Wahyu: Menjadikan
syair manusia sebagai penafsir utama ayat-ayat sifat adalah penghinaan terhadap
kejelasan Al-Qur’an.
Prinsip Salaf dalam Berdalil
Salafus Sholih meyakini bahwa akal yang
sehat tidak akan pernah bertentangan dengan dalil yang shohih. Jika terjadi
pertentangan semu, maka yang didahulukan adalah dalil wahyu karena akal manusia
memiliki batas, sedangkan ilmu Alloh tidak terbatas.
Rosulullah ﷺ bersabda:
«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ
لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara
yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab
Alloh (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwattho’ no.
1661)
[5] RU’YATULLAH DAN SIFAT NUZUL (BAIT 10)
Teks Bait 10
10- وَالمُؤْمِنُونَ يَرَوْنَ
حَقًّا رَبَّهُمْ * وَإِلَى السَّمَاءِ بِغَيْرِ كَيْفٍ يَنْزِلُ
Makna Mufrodat
(يَرَوْنَ): Melihat dengan mata
kepala secara nyata, bukan sekadar melihat dengan mata hati atau mimpi.
(حَقًّا): Secara nyata, benar-benar terjadi,
dan bukan kiasan.
(بِغَيْرِ كَيْفٍ): Tanpa menanyakan atau
menetapkan bagaimana bentuk/caranya, karena akal tidak mampu menjangkaunya.
(يَنْزِلُ): Turun. Ini merujuk pada
sifat Nuzul Alloh ﷻ ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir.
Ru’yatullah (Melihat Alloh di
Akhirat)
Melihat wajah Alloh ﷻ
adalah nikmat terbesar bagi penduduk Jannah. Sifat ini diingkari oleh kaum Mu’tazilah
dan Jahmiyyah, namun ditetapkan oleh Ahlus Sunnah berdasarkan dalil yang
mutawatir.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾
“Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari
itu berseri-seri. Kepada Robb-nyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)
Alloh ﷻ
berfirman tentang orang kafir sebagai ancaman:
﴿كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ﴾
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka
pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Robb mereka.” (QS.
Al-Muthoffifin: 15)
Imam Asy-Syafi’i (204 H) menjelaskan bahwa
jika orang kafir terhalang karena murka Alloh, maka orang beriman akan
melihat-Nya karena keridhoan-Nya.
Rosulullah ﷺ bersabda sambil melihat
ke arah bulan purnama:
«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ
كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ»
“Sesungguhnya kalian akan melihat Robb
kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak akan berdesak-desakan
dalam melihat-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 554 dan Muslim no. 633)
Sifat Nuzul (Turunnya Alloh)
Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Alloh ﷻ
turun ke langit dunia pada setiap malam. Kita menetapkan sifat ini tanpa
menyerupakan turun-Nya Alloh dengan turunnya makhluk (tamtsil) dan tanpa
menanyakan caranya (takyif).
Rosulullah ﷺ bersabda:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ
وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ
الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ،
مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»
“Robb kita Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
yang terakhir. Alloh berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan? Siapa yang
meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang meminta ampun kepada-Ku,
niscaya Aku ampuni?” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)
Kita tidak boleh
mengatakan bahwa yang turun adalah Rohmat-Nya atau Malaikat-Nya, karena Rohmat
dan Malaikat turun setiap saat, bukan hanya pada sepertiga malam, dan Rohmat
tidak bisa berkata “Aku ampuni”.
[6] HARI KEBANGKITAN, MIZAN, DAN TELAGA (BAIT 11)
Teks Bait 11
11- وَأُؤْمِنُ بِالمِيزَانِ
وَالحَوْضِ الَّذِي * أَرْجُوا بِأَنِّي مِنْهُ رَيًّا أَنْهَلُ
Makna Mufrodat
(أُؤْمِنُ): Aku membenarkan dengan
hati, mengikrarkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal perbuatan.
(بِالمِيزَانِ): Timbangan amal yang
hakiki di Hari Kiamat untuk menimbang amal kebaikan dan keburukan hamba.
(وَالحَوْضِ): Telaga milik Nabi ﷺ di
padang Mahsyar yang airnya berasal dari sungai Al-Kautsar di Jannah.
(أَرْجُوا): Aku berharap dengan
sangat kepada Alloh ﷻ.
(رَيًّا): Minuman yang
benar-benar menghilangkan dahaga hingga tidak akan haus lagi selamanya.
(أَنْهَلُ): Aku meminumnya pada
tegukan pertama.
Makna Umum Bait
Penulis menegaskan keimanan beliau terhadap
peristiwa-peristiwa besar di Hari Kiamat. Beliau menetapkan adanya Mizan
(timbangan) yang nyata dan Al-Haudh (telaga). Beliau menutup bait ini dengan
untaian doa dan harapan agar Alloh memberikan beliau kesempatan untuk meminum
air telaga Nabi ﷺ tersebut, sebuah minuman yang memberikan kesegaran abadi bagi
setiap Mu’min yang meminumnya.
Iman kepada Mizan (Timbangan Amal)
Ahlus Sunnah meyakini bahwa Mizan adalah
timbangan yang memiliki dua daun timbangan dan lisan (jarum penunjuk) yang
nyata. Yang ditimbang adalah amal perbuatan, lembaran catatan amal, dan
pelakunya sendiri.
Alloh ﷻ
berfirman tentang keadilan timbangan-Nya:
﴿وَنَضَعُ الْمَوَٰزِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ
نَفْسٌ شَيْئًا﴾
“Kami akan memasang timbangan yang tepat
pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.” (QS.
Al-Anbiya: 47)
Alloh ﷻ
berfirman mengenai beratnya timbangan:
﴿فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ
مَوَٰزِينُهُۥ * فَهُوَ فِى عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ﴾
“Dan adapun orang-orang yang berat
timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS.
Al-Qori’ah: 6-7)
Rosulullah ﷺ bersabda tentang dua
kalimat yang berat di timbangan:
«كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ
إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ: سُبْحَانَ
اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ»
“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar-Rohman,
ringan di lisan, namun berat di Mizan (timbangan): Subhanallohi wa bihamdih,
subhanallohil ‘azhim.” (HR. Al-Bukhori no. 7563 dan Muslim no. 2694)
Hadits tentang Bithoqoh (kartu tauhid) yang
lebih berat daripada 99 gulungan catatan dosa:
«فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ
فِي كَفَّةٍ وَالبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ البِطَاقَةُ»
“Maka diletakkanlah gulungan-gulungan
catatan dosa di satu daun timbangan dan kartu (Lailahaillallah) di daun
timbangan lainnya, maka ringannlah gulungan-gulungan itu dan beratlah kartu
tersebut.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2639)
Iman kepada Al-Haudh (Telaga Nabi ﷺ)
Setiap Nabi memiliki telaga, namun telaga
Nabi Muhammad ﷺ adalah yang paling besar dan luas. Sifatnya: airnya lebih putih
dari susu, lebih manis dari madu, baunya lebih harum dari minyak kasturi, dan
jumlah gelasnya sebanyak bintang di langit.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ الْكَوْثَرَ﴾
“Sesungguhnya Kami telah memberikan
kepadamu Al-Kautsar (nikmat yang banyak/sungai di Jannah).” (QS. Al-Kautsar:
1)
Para ulama menjelaskan bahwa air telaga
Nabi di Mahsyar bersumber dari sungai Al-Kautsar ini.
Rosulullah ﷺ bersabda menggambarkan
luas telaganya:
«حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ،
[وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ]، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ
المِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ
أَبَدًا»
“Telagaku sejauh perjalanan satu bulan,
sudut-sudutnya sama luasnya, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih
harum daripada minyak kasturi, gelas-gelasnya sebanyak bintang di langit. Siapa
yang meminum darinya, maka ia tidak akan haus selamanya.” (HR. Al-Bukhori
no. 6579 dan Muslim no. 2292)
Nabi ﷺ memperingatkan adanya
orang yang diusir dari telaga:
«لَيُرَدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ
أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ... فَيُقَالُ: إِنَّكَ
لاَ تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ»
“Sungguh akan ada kaum yang mendatangiku,
aku mengenal mereka dan mereka mengenalku, kemudian aku dihalangi dari
mereka... Maka dikatakan: ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa (bid’ah) yang
mereka ada-adakan sepeninggalmu.’” (HR. Al-Bukhori no. 7050)
Hadits ini menjadi dalil kewajiban menjauhi
bid’ah agar bisa meminum air telaga.
Harapan dan Doa
Seorang Mu’min
Kata “Arjuu” (aku
berharap) menunjukkan bahwa seorang Mu’min harus menggabungkan rasa takut (khouf)
dan harap (roja’). Penulis tidak sombong dengan ilmunya, melainkan tetap
memohon rohmat Alloh agar termasuk golongan yang mendapatkan syafaat dan
minuman dari tangan Nabi ﷺ yang mulia.
[7] SHIROTH, JANNAH, DAN NAAR (BAIT 12-13)
Teks Bait 12 & 13
12- وَكَذَا الصِّرَاطُ
يُمَدُّ فَوْقَ جَهَنَّمٍ * فَمُوَحِّدٌ نَاجٍ وَآخَرُ مُهْمَلُ
13- وَالنَّارُ يَصْلَاهَا
الشَّقِيُّ بِحِكْمَةٍ * وَكَذَا التَّقِيُّ إِلَى الجِنَانِ سَيَدْخُلُ
Makna Mufrodat
(الصِّرَاطُ): Titian atau jembatan
yang dibentangkan di atas punggung Jahanam menuju Jannah.
(فَوْقَ): Di atas.
(مُوحِّدٌ): Orang yang mengesakan
Alloh ﷻ dan menjauhi syirik.
(نَاجٍ):
Selamat dan berhasil menyeberang.
(مُهْمَلُ): Yang dicampakkan,
dibiarkan jatuh ke dalam api karena kemaksiatan atau kekafirannya.
(الشَّقِيُّ): Orang yang celaka,
yaitu mereka yang mati dalam kekafiran.
(بِحِكْمَةٍ): Dengan keadilan dan
kebijaksanaan Alloh ﷻ (bukan karena Alloh zholim).
(التَّقِيُّ): Orang yang bertaqwa,
yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
Makna Umum Bait
Penulis menjelaskan bahwa di antara perkara
ghoib yang
wajib diimani adalah adanya Shiroth yang dibentangkan di atas Jahanam. Manusia
akan melewatinya sesuai dengan kadar amal dan Tauhid mereka. Orang yang
bertauhid akan selamat, meskipun ada yang cepat dan ada yang lambat, sedangkan
yang tidak membawa Tauhid akan jatuh. Kemudian, manusia akan terbagi menjadi
dua kelompok akhir: orang celaka yang masuk ke dalam Naar dan orang bertaqwa
yang masuk ke dalam Jannah.
Iman kepada Shiroth (Titian di
Atas Jahanam)
Ahlus Sunnah meyakini Shiroth adalah benar
adanya. Sifatnya sebagaimana dalam riwayat adalah miring dan licin, serta
memiliki pengait-pengait (kalathif) yang akan menyambar orang yang
diperintahkan untuk disambar.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا
مَّقْضِيًّا * ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِينَ اتَّقَوا وَّنَذَرُ الظَّٰلِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا﴾
“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu,
melainkan mendatangi Neraka itu. Hal itu bagi Robb-mu adalah suatu kemestian
yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang
bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zholim di dalam neraka dalam keadaan
berlutut.” (QS. Maryam: 71-72)
Rosulullah ﷺ bersabda dalam Hadits
yang panjang tentang Kiamat:
«ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ
فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ... المُؤْمِنُ عَلَيْهَا كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ
وَكَالرِّيحِ، وَكَأَجَاوِيدِ الخَيْلِ وَالرِّكَابِ، فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ، وَنَاجٍ مَخْدُوشٌ،
وَمَكْدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ»
“Kemudian didatangkan jembatan (Shiroth)
lalu diletakkan di atas punggung Jahanam... Maka orang Mu’min melewatinya ada
yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, secepat angin, secepat kuda
pacuan yang kencang. Maka ada yang selamat sampai tujuan, ada yang
tercabik-cabik namun selamat, dan ada yang terjungkal jatuh ke dalam Naar
Jahanam.” (HR. Al-Bukhori
no. 7439 dan Muslim no. 183)
Nabi ﷺ bersabda mengenai keadaan
Shiroth:
«وَفِي جَهَنَّمَ كَلاَلِيبُ
مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ... تَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ»
“Di Shiroth terdapat pengait-pengait
seperti duri pohon Sa’dan... yang menyambar manusia sesuai dengan amal
perbuatan mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 806)
Keberadaan Jannah dan Naar
Ahlus Sunnah meyakini bahwa Jannah dan Naar
adalah makhluk Alloh yang saat ini sudah ada (maujudah) dan tidak akan
pernah hancur atau punah selamanya.
Alloh memasukkan hamba ke Neraka bukan
karena zholim
menyiksa, melainkan karena keadilan-Nya atas pilihan hamba tersebut yang
memilih kekafiran. Sebaliknya, masuknya seseorang ke Surga adalah karena Rohmat-Nya
dan ketaqwaan hamba tersebut.
Tentang Jannah yang sudah disiapkan:
﴿وَسَارِعُوٓا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا
السَّمَٰوَٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Robb-mu dan kepada Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan
untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali ‘Imron: 133)
Tentang Naar yang sudah disiapkan:
﴿وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ﴾
“Dan peliharalah dirimu dari api Naar, yang
disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali ‘Imron: 131)
Rosulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا
مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ
وَالعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ
مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى
يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Apabila salah seorang dari kalian mati,
maka akan diperlihatkan kepadanya tempat duduknya pada waktu pagi dan petang.
Jika ia penduduk Jannah, maka diperlihatkan tempatnya di Jannah. Dan jika ia
penduduk Naar, maka diperlihatkan tempatnya di Naar. Dikatakan: ‘Inilah tempatmu untuk hari kamu nanti
dibangkitkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1379 dan Muslim no. 2866)
Nabi ﷺ menceritakan perdebatan antara Surga dan Neraka:
«تَحَاجَّتِ الْجَنَّةُ
وَالنَّارُ... قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ
بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي، وَقَالَ لِلنَّارِ: إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ
بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي»
“Surga dan Neraka saling berdebat... maka
Alloh berfirman kepada Jannah: ‘Engkau adalah Rohmat-Ku, Aku merohmati denganmu
siapa saja yang Aku kehendaki’. Dan Alloh berfirman kepada Naar: ‘Engkau adalah
Adzab-Ku, Aku mengadzab denganmu siapa saja yang Aku kehendaki.’” (HR. Al-Bukhori no. 4850 dan Muslim
no. 2846)
[8] FITNAH KUBUR (BAIT 14)
Teks Bait 14
14- وَلِكُلِّ حَيٍّ عَاقِلٍ
فِي قَبْرِهِ * عَمَلٌ يُقَارِنُهُ هُنَاكَ وَيُسْأَلُ
Makna Mufrodat
(حَيٍّ عَاقِلٍ): Setiap makhluk hidup
yang mukallaf (dibebani syariat/berakal).
(عَمَلٌ يُقَارِنُهُ): Amal perbuatan yang
akan berubah wujud menjadi teman yang mendampingi di alam kubur.
(وَيُسْأَلُ): Akan ditanya oleh dua
Malaikat (Munkar dan Nakir).
Pertanyaan Kubur dan Pendamping
Amal
Setiap manusia akan mengalami alam Barzakh.
Di sana mereka akan ditanya tentang tiga hal landasan utama: Siapa Robb-mu? Apa
Agamamu? Dan siapa Nabimu?
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى
الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَفِى الاخِرَةِ﴾
“Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang
beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat (alam
kubur).” (QS. Ibrohim: 27)
Rosulullah ﷺ menjelaskan tentang teman
di kubur bagi orang Mu’min:
«وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ
الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ،
هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ
يَجِيءُ بِالْخَيْرِ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ»
“Maka datanglah kepadanya seorang laki-laki
yang berwajah tampan, berpakaian bagus, dan beraroma harum, ia berkata: ‘Bergembiralah...’.
Maka si mayit bertanya: ‘Siapakah engkau?’. Ia menjawab: ‘Aku adalah Amal
sholihmu.’” (HSR. Ahmad no. 18534)
Tentang pertanyaan dua Malaikat:
«إِذَا قُبِرَ المَيِّتُ
أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ:
النَّكِيرُ»
“Apabila mayit telah dikuburkan, maka
datanglah kepadanya dua Malaikat yang hitam lagi biru, salah satunya disebut
Munkar dan yang lainnya Nakir.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1071)
[9] AQIDAH EMPAT IMAM MADZHAB DAN LARANGAN BID’AH (BAIT 15-16)
Teks Bait 15 & 16
15- هَذَا اعْتِقَادُ الشَّافِعِيِّ
وَمَالِكٍ * وَأَبِي حَنِيفَةَ ثُمَّ أَحْمَدَ يَنْقُلُ
16- فَإِنِ اتَّبَعْتَ سَبِيلَهُمْ
فَمُوَفَّقٌ * وَإِنِ ابْتَدَعْتَ فَمَا عَلَيْكَ مُعَوَّلُ
Makna Mufrodat
(اعْتِقَادُ): Keyakinan yang menghunjam
kuat di dalam hati.
(يَنْقُلُ): Dinukil atau
diriwayatkan. Maksudnya, Aqidah ini adalah apa yang diriwayatkan secara
turun-temurun dari para Imam.
(سَبِيلَهُمْ): Jalan mereka, yaitu
Manhaj mereka dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.
(فَمُوَفَّقٌ): Orang yang mendapatkan
taufiq (petunjuk dan kemudahan) dari Alloh ﷻ.
(ابْتَدَعْتَ): Kamu berbuat bid’ah
atau membuat-buat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada contohnya dari
Nabi ﷺ dan para Salaf.
(مُعَوَّلُ): Sandaran atau tumpuan.
Maksudnya, tidak ada yang bisa dijadikan sandaran bagi orang yang berbuat bid’ah;
ia berada dalam kerugian.
Makna Umum Bait
Syaikhul Islam menegaskan bahwa seluruh
poin Aqidah yang telah beliau sebutkan (mulai dari masalah Shohabat, Sifat
Alloh, Al-Qur’an, hingga Hari Kiamat) adalah keyakinan yang dipegang teguh oleh
empat Imam madzhab: Asy-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad. Beliau
memberikan nasihat penutup: siapa yang mengikuti jalan mereka, maka ia adalah
orang yang beruntung dan mendapat taufiq. Namun, siapa yang menyimpang dengan
melakukan bid’ah, maka ia tidak memiliki sandaran yang kuat dan berada dalam
kesesatan.
Kesepakatan Empat Imam dalam
Aqidah
Meskipun para Imam memiliki perbedaan dalam
masalah Fikih (cabang), namun dalam masalah Aqidah (pokok), mereka berada di
atas jalan yang satu, yaitu jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Abu Hanifah (150 H): Menegaskan dalam Al-Fiqh
al-Akbar bahwa Alloh berbicara dengan Kalam yang bukan makhluk.
Malik bin Anas (179 H): Terkenal dengan
ucapannya tentang Istiwa’ (Alloh tinggi di atas ‘Arsy): “Istiwa’ itu maknanya
telah diketahui (secara bahasa), namun caranya (Kaifiyyah) tidak diketahui.”
Asy-Syafi’i (204 H): Menegaskan bahwa
Al-Qur’an adalah Kalamullah dan menetapkan sifat-sifat Alloh sesuai Al-Qur’an
dan Sunnah.
Ahmad bin Hanbal (241 H): Imam Ahlus Sunnah
yang teguh menghadapi fitnah makhluqul Qur’an.
Alloh ﷻ
memerintahkan untuk mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Nya:
﴿وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ﴾
“Dan ikutilah jalan orang yang kembali
kepada-Ku.” (QS. Luqman: 15)
Perintah untuk tetap berada di jalan yang
satu:
﴿وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ﴾
“Dan bahwa (yang Kami
perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am:
153)
Kewajiban Ittiba’ dan Larangan Bid’ah
Penulis menutup Qoshiidah dengan peringatan
keras terhadap bid’ah. Bid’ah dalam Aqidah jauh lebih berbahaya daripada bid’ah
dalam amal lahiriah karena ia merusak pondasi keimanan.
Ancaman bagi yang menyimpang dari jalan Mu’minin
(Shohabat dan Imam):
﴿وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا﴾
“Dan siapa yang menentang
Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan
orang-orang Mu’min (Shohabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang
telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)
Rosulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا
هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa yang mengada-adakan dalam urusan
(agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR.
Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Rosulullah ﷺ juga bersabda:
«إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ
الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru
(dalam agama), karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah
adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607)
PENUTUP SYARAH
Dengan berakhirnya bait ke-16 ini,
selesailah penjelasan ringkas namun padat dari Qoshiidah Laamiyyah.
Bait-bait ini meskipun singkat, telah mencakup rukun-rukun iman yang sangat
penting dan menjadi pembeda antara pengikut Salafus Sholih dengan
kelompok-kelompok lainnya.
Semoga Syarah ini bermanfaat dan menjadi
amal jariyah bagi penulis aslinya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H), serta
bagi kita yang mempelajarinya.
Alhamdulillahilladzi bini’matihi
tatimmush sholihaat.[NK]
%20-%20Nor%20Kandir.jpg)