Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Syarah Ringkas Qoshiidah Laamiyyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH PENTARJAMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus para Rosul dengan membawa petunjuk dan agama yang haq. Semoga sholawat dan salam untuk Rosul-Nya.

Amma ba’du:

Aqidah adalah pondasi paling mendasar dalam Islam. Sebagaimana sebuah bangunan tidak akan tegak tanpa pondasi yang kokoh, demikian pula amal ibadah seperti Sholat, Zakat, Puasa, dan Haji tidak akan diterima di sisi Alloh jika tidak dibangun di atas Aqidah yang shohih sesuai pemahaman Salafush Sholih.

Di tengah banyaknya aliran pemikiran dan syubhat yang berkembang, kembali kepada teks-teks ringkas namun padat seperti Qoshiidah Laamiyyah ini menjadi sangat penting bagi setiap Muslim untuk membentengi diri dari penyimpangan.

Bait ini sangat ringkas hanya memuat 16 bait, tetapi isinya mencakup pokok Aqidah. Diversi tarjamah matan, saya sebutkan tarjamahnya dan beberapa link penting. Silahkan dirujuk di sini.

Mengenal Penulis

Beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdissalam bin Taimiyyah Al-Harroni, yang dikenal dengan gelar Syaikhul Islam. Beliau lahir di Harron pada tahun 661 H dan wafat di dalam penjara Kastil Damaskus pada tahun 728 H.

Beliau adalah seorang Muhaqqiq (peneliti) yang menghabiskan umurnya untuk membela Sunnah dan berjihad dengan lisan serta pena. Karya-karyanya menjadi rujukan utama dalam memahami Manhaj Salaf, di antaranya:

1.       Al-Aqidah Al-Wasithiyyah

2.       Al-Hamawiyyah Al-Kubro

3.       Majmu’ Al-Fatawa

Qoshiidah Laamiyyah sendiri adalah bait-bait syair yang dinisbatkan kepada beliau (meskipun ada sebagian ulama yang mendiskusikannya, namun maknanya 100% sejalan dengan Aqidah beliau). Syair ini dinamakan Laamiyyah karena setiap baitnya diakhiri dengan huruf Lam (ل).

Landasan Penulisan Syarah

Syarah (penjelasan) ini disusun dengan berpijak pada metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sesuai permintaan, setiap poin dijelaskan secara detail dengan sistematika:

Makna Mufrodat: Membedah kosa kata agar tidak salah paham.

Makna Umum: Memberikan gambaran global pesan penulis.

Penjelasan Aqidah: Menyertakan penjelasan bait dari Al-Qur’an dan Hadits yang jumlahnya lebih dari dua dalil per poin untuk memberikan keyakinan yang mantap bagi pembaca.

Dalil Perintah Mengikuti Jalan Salaf

Alloh berfirman:

﴿وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku (yakni para Shohabat).” (QS. Luqman: 15)

Rosulullah bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»

“Wajib bagi kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk (setelahku). Gigitlah ia dengan gigi geraham.(HSR. Abu Dawud no. 4607)

[1] PENTINGNYA BERTANYA TENTANG AQIDAH (BAIT 1-2)

Teks Bait 1 & 2

1- يَا سَائِلِي عَن مَذْهَبِي وعَقِيدَتِي * رُزِقَ الهُدَى مَن لِلْهِدَايَةِ يَسْأَلُ

2- اسْمَعْ كَلامَ مُحَقِّقٍ فِي قَوْلِهِ * لا يَنْثَنِي عَنْهُ وَلا يَتَبَدَّلُ

Makna Mufrodat (Kosa Kata)

(سَائِلِي): Orang yang bertanya kepadaku.

(مَذْهَبِي): Secara bahasa berarti tempat berjalan, secara istilah berarti jalan pemikiran atau keyakinan yang diikuti.

(عَقِيدَتِي): Berasal dari kata ‘aqoda (mengikat), yaitu keyakinan yang terikat kuat di dalam hati sehingga tidak ada keraguan padanya.

(الهُدَى): Petunjuk menuju kebenaran.

(مُحَقِّقٍ): Seseorang yang meneliti sesuatu dengan saksama hingga mengetahui hakikat kebenarannya.

(لا يَنْثَنِي): Tidak berpaling atau tidak membungkuk/bergeser.

(وَلا يَتَبَدَّلُ): Tidak berubah atau tidak berganti.

Makna Umum Bait

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) mengawali Qoshiidah ini dengan menyambut penanya yang ingin mengetahui keyakinan beliau. Beliau mendoakan agar penanya tersebut mendapatkan hidayah karena bertanya dengan niat mencari kebenaran. Beliau kemudian menegaskan bahwa jawaban yang akan diberikan adalah hasil penelitian mendalam (tahqiq), sebuah keyakinan yang kokoh, tidak berubah-ubah karena pengaruh syubhat, dan tidak akan pernah beliau tinggalkan.

Urgensi Menuntut Ilmu Syar’i dan Bertanya kepada Ahlinya

Seorang Muslim wajib membangun agamanya di atas ilmu, bukan sekadar ikut-ikutan (taklid). Bertanya kepada ulama adalah wasilah (sarana) utama untuk mendapatkan petunjuk ketika seseorang tidak mengetahui suatu perkara, terutama dalam masalah Aqidah yang merupakan pondasi keselamatan.

Alloh berfirman:

﴿فَسْـَٔلُوٓا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Alloh berfirman memerintahkan Nabi-Nya :

﴿وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا

“Dan katakanlah: ‘Ya Robb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thoha: 114)

Rosulullah bersabda:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

“Siapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, maka Alloh akan pahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhori no. 71)

Rosulullah bersabda:

«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HSR. Ibnu Majah no. 224)

Keteguhan (Tsabat) di Atas Al-Haq

Aqidah Salaf bukanlah hasil rekayasa akal yang berubah seiring zaman, melainkan bersumber dari wahyu yang bersifat tetap. Syaikhul Islam menekankan bahwa beliau adalah seorang Muhaqqiq. Ini menunjukkan bahwa kebenaran harus diikuti dengan kemantapan hati tanpa keraguan.

Sifat Muhaqqiq yang disebutkan oleh penulis  memberikan pelajaran bahwa dalam beragama, kita tidak boleh bersikap plin-plan. Keyakinan yang benar adalah yang dibangun di atas dalil (argumen) yang kuat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga ketika badai fitnah datang, seorang Muslim tetap teguh dan tidak mengganti agamanya demi kepentingan duniawi.

Alloh berfirman:

﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَفِى الْءَاخِرَةِ

“Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat.” (QS. Ibrohim: 27)

Rosulullah sering berdoa:

«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2140)

 [2] KECINTAAN KEPADA SHOHABAT DAN AHLUL BAIT (BAIT 3-4)

Teks Bait 3 & 4

3- حُبُّ الصَّحَابَةِ كُلِّهِم لِي مَذْهَبٌ * وَمَوَدَّةُ القُرْبَى بِهَا أَتَوَسَّلُ

4- وَلِكُلِّهِم قَدْرٌ وَفَضْلٌ سَاطِعٌ * لَكِنَّمَا الصِّدِّيقُ مِنْهُمْ أَفْضَلُ

Makna Mufrodat

(الصَّحَابَةِ): Secara istilah adalah setiap orang yang bertemu dengan Nabi dalam keadaan beriman dan mati di atasnya.

(مَوَدَّةُ): Tingkatan cinta yang paling murni dan tampak dalam perbuatan (ekspresif).

(القُرْبَى): Kerabat dekat Nabi yang beriman.

(أَتَوَسَّلُ): Menjadikan cinta tersebut sebagai Amal Sholih untuk memohon kepada Alloh agar doa dikabulkan.

(سَاطِعٌ): Cahaya yang memancar kuat, menunjukkan kemuliaan mereka tidak bisa ditutupi oleh siapapun.

Tentang Shohabat Rodhiyallahu ‘Anhum

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) menegaskan bahwa mencintai seluruh Shohabat adalah Madzhab (prinsip beragama).  Ini mencakup kewajiban:

Menyucikan Hati: Membersihkan hati dari dendam atau kebencian kepada salah seorang dari mereka.

Menyucikan Lisan: Menahan diri dari membicarakan perselisihan di antara mereka (Fitnah Shiffin atau Jamal).

Meyakini Keadilan Mereka: Seluruh Shohabat adalah adil dan terpercaya.

Alloh memuji mereka:

﴿لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang Mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18)

Karena Alloh sudah Ridho, maka mustahil mereka menjadi kafir atau murtad secara massal, seperti tuduhan Syi’ah.

Rosulullah bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Shohabat), kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2652 dan Muslim no. 2533)

Tentang Ahlul Bait

Penulis menyebutkan mawaddatul qurba (mencintai kerabat Nabi ).  Siapakah mereka?

Definisi Luas: Mereka adalah seluruh keturunan Bani Hasyim dan Bani Mutholib yang Muslim.

Keluarga Inti: Ali bin Abi Tholib, Fatimah, Al-Hasan, dan Al-Husain Rodhiyallahu ‘Anhum.

Juga: Istri-istri Nabi (Ummahatul Mu’minin): Khodijah binti Khuwailid, ‘Aisyah binti Abi Bakr, Hafshoh binti ‘Umar, dan seterusnya. Memisahkan istri Nabi dari sebutan Ahlul Bait adalah kesalahan fatal secara bahasa dan syariat.

Zaid bin Arqom berkata: Rosulullah bersabda:

«وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي»

“... dan Ahlul Bait-ku. Aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang urusan keluargaku (Ahlul Bait-ku), aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang urusan keluargaku (Ahlul Bait-ku), aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang urusan keluargaku (Ahlul Bait-ku).”

Hushoin bertanya kepada Zaid: “Wahai Zaid, siapakah Ahlul Bait beliau? Bukankah istri-istri beliau adalah bagian dari Ahlul Bait beliau?”

Zaid menjawab: “Istri-istri beliau adalah bagian dari Ahlul Bait beliau (secara bahasa dan tempat tinggal), namun Ahlul Bait beliau (yang dimaksud dalam wasiat ini secara khusus) adalah orang-orang yang diharomkan menerima Zakat (shodaqoh wajib) sepeninggal beliau.”

Hushoin bertanya lagi: “Siapakah mereka itu?” Zaid menjawab:

هُمْ آلُ عَلِيٍّ، وَآلُ عَقِيلٍ، وَآلُ جَعْفَرٍ، وَآلُ عَبَّاسٍ

“Mereka adalah keluarga Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Al-Abbas.”

Hushoin bertanya: “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima Zakat?” Zaid menjawab: “Ya.” (HR. Muslim no. 2408)

Mencintai mereka adalah Ibadah. Penulis bertawassul dengan amal sholih berupa rasa cinta tersebut.  Ini adalah Tawassul yang disyariatkan, yaitu bertawassul dengan amal sholih diri sendiri.

Keutamaan Abu Bakr Ash-Shiddiq Rodhiyallahu ‘Anhu

Meskipun semua memiliki keutamaan (fadhlun saathi’), namun ada urutan tingkatan (tafdhil). Urutan terbaik menurut Ahlus Sunnah adalah: Abu Bakr (13 H), kemudian ‘Umar (25 H), kemudian ‘Utsman (35 H), kemudian ‘Ali (40 H).

Mengapa Abu Bakr yang Utama?

1. Gelar Ash-Shiddiq: Orang yang pertama kali membenarkan peristiwa Isro’ Mi’raj tanpa ragu.

2. Kawan di Gua: Satu-satunya manusia yang disebut Alloh sebagai Shohib (teman) Nabi di dalam Al-Qur’an saat peristiwa Genting.

3. Pengorbanan Harta: Beliau menginfakkan seluruh hartanya untuk Jihad.

Alloh berfirman tentang orang yang paling bertaqwa:

﴿وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى * الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى﴾

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari Naar, yang menafkahkan hartanya (di jalan Alloh) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Layl: 17-18)

Para mufassir sepakat ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakr Rodhiyallahu ‘Anhu.

Sabda Nabi :

«إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ»

“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakr.” (HR. Al-Bukhori no. 466)

Ahlus Sunnah mencintai Shohabat karena mereka adalah pembawa syariat, dan mencintai Ahlul Bait karena wasiat Nabi dan kemuliaan nasab mereka. Kita memberikan hak kepada setiap pemilik hak tanpa melampaui batas (ghuluw) dan tanpa merendahkan (jafa’).

[3] AL-QUR’AN KALAMULLAH DAN SIKAP TERHADAP SIFAT ALLOH (BAIT 5-8)

Teks Bait 5 s.d 8

5- وَأَقُولُ فِي القُرْآنِ مَا جَاءَتْ بِهِ * آيَاتُهُ فَهْوَ القَدِيمُ المُنْزَلُ

6- وَأَقُولُ: قَالَ اللهُ جَلَّ جَلالُهُ * وَالمُصْطَفَى الهَادِي وَلا أَتَأَوَّلُ

7- وَجَمِيعُ آيَاتِ الصِّفَاتِ أُمِرُّهَا * حَقًّا كَمَا نَقَلَ الطِّرَازُ الأَوَّلُ

8- وَأَرُدُّ عُهْدَتَهَا إِلَى نُقَّالِهَا * وَأَصُونُهَا عَن كُلِّ مَا يُتَخَيَّلُ

Makna Mufrodat

(القُرْآنِ): Secara bahasa berarti bacaan. Secara istilah adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad , tertulis dalam mushaf, dinukil secara mutawatir, dan membacanya adalah ibadah.

(القَدِيمُ): Dalam bait ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) menggunakan istilah ini untuk menunjukkan bahwa sifat Kalam bagi Alloh sudah ada sejak dahulu (Azali), bukan sesuatu yang baru diciptakan.

(المُنْزَلُ): Yang diturunkan. Ini menegaskan bahwa Al-Qur’an berasal dari Alloh (di atas), bukan dari diri Nabi atau Malaikat Jibril.

(وَلا أَتَأَوَّلُ): Aku tidak melakukan Ta’wil yang menyimpang, yaitu memalingkan makna ayat dari makna lahiriahnya yang benar kepada makna lain tanpa dalil yang shohih.

(الطِّرَازُ الأَوَّلُ): Istilah kiasan untuk Shohabat Rodhiyallahu ‘Anhum sebagai generasi terbaik dan rujukan pertama dalam memahami agama.

Al-Qur’an adalah Kalamullah, Bukan Makhluk

Syaikhul Islam menegaskan bahwa keyakinan beliau tentang Al-Qur’an didasarkan langsung pada apa yang dibawa oleh ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri.  Ahlus Sunnah meyakini bahwa:

1.       Al-Qur’an adalah firman Alloh yang sesungguhnya (huruf dan suaranya)

2.       Alloh berbicara dengannya sesuai kehendak-Nya (Ikhtiyariyyah)

Bantahan terhadap kaum Mu’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk dan kaum Asy’ariyyah yang mengatakan Al-Qur’an adalah Kalam Nafsi (makna di dalam hati saja) adalah firman Alloh:

﴿وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَٰمَ اللَّهِ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Kalamullah (firman Alloh).” (QS. At-Taubah: 6)

Alloh berfirman:

﴿وَكَلّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan Alloh telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164)

Ayat ini menggunakan Maf’ul Muthlaq (takliiman) untuk meniadakan kemungkinan majas/kiasan.

Rosulullah bersabda:

«مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ، وَلاَ حِجَابٌ يَحْجُبُهُ»

“Sesungguhnya setiap dari kalian akan diajak bicara Robbnya, tanpa penerjemah di antara kedua dan tanpa penutup apapun.(HR. Al-Bukhori no. 7443)

Nabi juga bersabda:

«وَفَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ»

“Keutamaan Kalamullah atas seluruh perkataan adalah seperti keutamaan Alloh atas makhluk-Nya.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2926)

Prinsip Menetapkan Sifat Alloh Tanpa Ta’wil

Penulis menyatakan hanya mengikuti apa yang difirmankan Alloh dan disabdakan oleh Al-Mushthofa .  Beliau menetapkan empat larangan dalam memahami sifat Alloh:

1. Tanpa Ta’thil: Tidak meniadakan sifat tersebut.

2. Tanpa Tamtsil: Tidak menyerupakan Alloh dengan makhluk.

3. Tanpa Takyif: Tidak menanyakan “bagaimana” hakikat bentuknya.

4. Tanpa Ta’wil: Tidak menyimpangkan maknanya.

Tentang pengingkaran terhadap penyerupaan:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Tentang dilarangnya mengikuti dugaan/khayalan dalam sifat Alloh:

﴿فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ

“Maka janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Alloh.” (QS. An-Nahl: 74)

Mengikuti Manhaj Shohabat (Ath-Thiroz Al-Awwal)

Penulis menegaskan bahwa beliau membiarkan (amirruha) ayat-ayat sifat tersebut sebagaimana datangnya tanpa melakukan Tahrif (perubahan).  Inilah jalan para Shohabat. Mereka mengimani makna sifat tersebut (seperti tangan, wajah, turun, dsb.) secara bahasa, namun menyerahkan hakikat bentuknya kepada Alloh.

Ayat mengenai sifat Alloh yang memiliki dua tangan:

﴿قَالَ يَاإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

Alloh berkata: ‘Hai iblis, apa yang menghalangimu dari bersujud kepada orang yang aku ciptakan dengan dua Tangan-Ku, apakah kamu sombong bahkan merasa angkuh?” (QS. Shod: 75)

Hadits tentang Alloh berada di atas langit:

فَقَالَ لَهَا: «أَيْنَ اللهُ؟» قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ، قَالَ: «مَنْ أَنَا؟» قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، قَالَ: «أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ»

Nabi bertanya kepada seorang budak wanita: “Di mana Alloh?”. Ia menjawab: “Di atas langit.” Nabi kemudian bersabda: “Bebaskan dia, karena dia seorang Mu’minah.” (HR. Muslim no. 537)

Menjaga dari Khayalan dan Penyerupaan

Bait ke-8 menjelaskan bahwa meskipun kita menetapkan sifat, kita harus menjaga hati dari Takhayyul (membayangkan bentuk Alloh).  Akal manusia sangat terbatas untuk menjangkau hakikat Dzat Alloh yang Maha Agung. Jika kita tidak mengetahui hakikat Dzat-Nya, maka kita tidak akan mungkin mengetahui hakikat sifat-Nya.

Alloh berfirman:

﴿يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya.” (QS. Thoha: 110)

[4] BANTAHAN TERHADAP AHLI KALAM (BAIT 9)

Teks Bait 9

9- قُبْحًا لِمَنْ نَبَذَ القُرْآنَ وَرَاءَهُ * وَإِذَا اسْتَدَلَّ يَقُولُ قَالَ الأَخْطَلُ

Makna Mufrodat

(قُبْحًا): Secara bahasa berarti keburukan atau kejelekan yang sangat. Dalam konteks ini, ia berfungsi sebagai celaan (taqbih) yang keras.

(نَبَذَ): Mencampakkan atau membuang sesuatu dengan sengaja ke belakang.

(الأَخْطَلُ): Nama seorang penyair Nasroni (Kristen) yang bernama Ghiyats bin Ghouts. Ia dijadikan rujukan oleh ahli kalam (seperti kaum Asy’ariyyah) dalam masalah Aqidah untuk mendukung pendapat bahwa Kalamullah hanyalah makna di dalam hati (Kalam Nafsi).

Makna Umum Bait

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) mencela dengan keras orang-orang yang mengesampingkan dalil-dalil Al-Qur’an dalam masalah Aqidah. Beliau menyindir para pengikut ahli kalam yang ketika berbicara tentang sifat-sifat Alloh, mereka justru meninggalkan wahyu dan beralih mencari legitimasi dari bait syair seorang penyair Nasroni (Al-Akhtol). Ini adalah bentuk penyimpangan besar dalam berdalil.

Bahaya Mencampakkan Al-Qur’an

Mencampakkan Al-Qur’an ke belakang punggung (nabadza Al-Qur’an) berarti tidak menjadikannya sebagai timbangan utama dalam menetapkan Aqidah. Ahli bid’ah seringkali mendahulukan akal (aql) daripada wahyu (naql). Jika wahyu dianggap bertentangan dengan akal mereka, maka wahyu tersebut dibuang atau di-ta’wil secara paksa.

Alloh berfirman mengadukan sikap umatnya:

﴿وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rosul: ‘Ya Robb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan.’” (QS. Al-Furqon: 30)

Alloh juga berfirman tentang ahli kitab yang kemudian diikuti polanya oleh ahli bid’ah:

﴿نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَٰبَ كِتَٰبَ اللَّهِ وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab mencampakkan Kitab Alloh ke belakang punggungnya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Alloh).” (QS. Al-Baqoroh: 101)

Siapa Al-Akhtol dan Mengapa Ia Disebut?

Ahli kalam sering menggunakan bait syair Al-Akhtol yang berbunyi: “Innal kalaama lafil fuaadi...” (Sesungguhnya perkataan itu ada di dalam hati). Mereka menggunakan syair ini untuk menolak bahwa Alloh berbicara dengan suara dan huruf, melainkan hanya “bisikan hati” saja.

Syaikhul Islam membantah ini karena:

1. Status Penulis: Al-Akhtol adalah seorang Nasroni yang tidak bisa dijadikan hujjah dalam Aqidah Islam.

2. Keaslian Syair: Para pakar bahasa menyatakan bahwa bait syair tersebut telah dipalsukan atau diubah untuk mendukung pemahaman ahli kalam.

3. Pertentangan dengan Wahyu: Menjadikan syair manusia sebagai penafsir utama ayat-ayat sifat adalah penghinaan terhadap kejelasan Al-Qur’an.

Prinsip Salaf dalam Berdalil

Salafus Sholih meyakini bahwa akal yang sehat tidak akan pernah bertentangan dengan dalil yang shohih. Jika terjadi pertentangan semu, maka yang didahulukan adalah dalil wahyu karena akal manusia memiliki batas, sedangkan ilmu Alloh tidak terbatas.

Rosulullah bersabda:

«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Alloh (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwattho’ no. 1661)

[5] RU’YATULLAH DAN SIFAT NUZUL (BAIT 10)

Teks Bait 10

10- وَالمُؤْمِنُونَ يَرَوْنَ حَقًّا رَبَّهُمْ * وَإِلَى السَّمَاءِ بِغَيْرِ كَيْفٍ يَنْزِلُ

Makna Mufrodat

(يَرَوْنَ): Melihat dengan mata kepala secara nyata, bukan sekadar melihat dengan mata hati atau mimpi.

(حَقًّا): Secara nyata, benar-benar terjadi, dan bukan kiasan.

(بِغَيْرِ كَيْفٍ): Tanpa menanyakan atau menetapkan bagaimana bentuk/caranya, karena akal tidak mampu menjangkaunya.

(يَنْزِلُ): Turun. Ini merujuk pada sifat Nuzul Alloh ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir.

Ru’yatullah (Melihat Alloh di Akhirat)

Melihat wajah Alloh adalah nikmat terbesar bagi penduduk Jannah. Sifat ini diingkari oleh kaum Mu’tazilah dan Jahmiyyah, namun ditetapkan oleh Ahlus Sunnah berdasarkan dalil yang mutawatir.

Alloh berfirman:

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Robb-nyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Alloh berfirman tentang orang kafir sebagai ancaman:

﴿كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15)

Imam Asy-Syafi’i (204 H) menjelaskan bahwa jika orang kafir terhalang karena murka Alloh, maka orang beriman akan melihat-Nya karena keridhoan-Nya.

Rosulullah bersabda sambil melihat ke arah bulan purnama:

«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ»

“Sesungguhnya kalian akan melihat Robb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihat-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 554 dan Muslim no. 633)

Sifat Nuzul (Turunnya Alloh)

Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Alloh turun ke langit dunia pada setiap malam. Kita menetapkan sifat ini tanpa menyerupakan turun-Nya Alloh dengan turunnya makhluk (tamtsil) dan tanpa menanyakan caranya (takyif).

Rosulullah bersabda:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»

“Robb kita Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Alloh berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan? Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri? Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni?” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)

Kita tidak boleh mengatakan bahwa yang turun adalah Rohmat-Nya atau Malaikat-Nya, karena Rohmat dan Malaikat turun setiap saat, bukan hanya pada sepertiga malam, dan Rohmat tidak bisa berkata “Aku ampuni”.

[6] HARI KEBANGKITAN, MIZAN, DAN TELAGA (BAIT 11)

Teks Bait 11

11- وَأُؤْمِنُ بِالمِيزَانِ وَالحَوْضِ الَّذِي * أَرْجُوا بِأَنِّي مِنْهُ رَيًّا أَنْهَلُ

Makna Mufrodat

(أُؤْمِنُ): Aku membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal perbuatan.

(بِالمِيزَانِ): Timbangan amal yang hakiki di Hari Kiamat untuk menimbang amal kebaikan dan keburukan hamba.

(وَالحَوْضِ): Telaga milik Nabi di padang Mahsyar yang airnya berasal dari sungai Al-Kautsar di Jannah.

(أَرْجُوا): Aku berharap dengan sangat kepada Alloh .

(رَيًّا): Minuman yang benar-benar menghilangkan dahaga hingga tidak akan haus lagi selamanya.

(أَنْهَلُ): Aku meminumnya pada tegukan pertama.

Makna Umum Bait

Penulis menegaskan keimanan beliau terhadap peristiwa-peristiwa besar di Hari Kiamat. Beliau menetapkan adanya Mizan (timbangan) yang nyata dan Al-Haudh (telaga). Beliau menutup bait ini dengan untaian doa dan harapan agar Alloh memberikan beliau kesempatan untuk meminum air telaga Nabi tersebut, sebuah minuman yang memberikan kesegaran abadi bagi setiap Mu’min yang meminumnya.

Iman kepada Mizan (Timbangan Amal)

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Mizan adalah timbangan yang memiliki dua daun timbangan dan lisan (jarum penunjuk) yang nyata. Yang ditimbang adalah amal perbuatan, lembaran catatan amal, dan pelakunya sendiri.

Alloh berfirman tentang keadilan timbangan-Nya:

﴿وَنَضَعُ الْمَوَٰزِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا﴾

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.” (QS. Al-Anbiya: 47)

Alloh berfirman mengenai beratnya timbangan:

﴿فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ * فَهُوَ فِى عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ﴾

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS. Al-Qori’ah: 6-7)

Rosulullah bersabda tentang dua kalimat yang berat di timbangan:

«كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ»

“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar-Rohman, ringan di lisan, namun berat di Mizan (timbangan): Subhanallohi wa bihamdih, subhanallohil ‘azhim.” (HR. Al-Bukhori no. 7563 dan Muslim no. 2694)

Hadits tentang Bithoqoh (kartu tauhid) yang lebih berat daripada 99 gulungan catatan dosa:

«فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ البِطَاقَةُ»

“Maka diletakkanlah gulungan-gulungan catatan dosa di satu daun timbangan dan kartu (Lailahaillallah) di daun timbangan lainnya, maka ringannlah gulungan-gulungan itu dan beratlah kartu tersebut.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2639)

Iman kepada Al-Haudh (Telaga Nabi )

Setiap Nabi memiliki telaga, namun telaga Nabi Muhammad adalah yang paling besar dan luas. Sifatnya: airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, baunya lebih harum dari minyak kasturi, dan jumlah gelasnya sebanyak bintang di langit.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar (nikmat yang banyak/sungai di Jannah).” (QS. Al-Kautsar: 1)

Para ulama menjelaskan bahwa air telaga Nabi di Mahsyar bersumber dari sungai Al-Kautsar ini.

Rosulullah bersabda menggambarkan luas telaganya:

«حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، [وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ]، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا»

“Telagaku sejauh perjalanan satu bulan, sudut-sudutnya sama luasnya, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada minyak kasturi, gelas-gelasnya sebanyak bintang di langit. Siapa yang meminum darinya, maka ia tidak akan haus selamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6579 dan Muslim no. 2292)

Nabi memperingatkan adanya orang yang diusir dari telaga:

«لَيُرَدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ... فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ»

“Sungguh akan ada kaum yang mendatangiku, aku mengenal mereka dan mereka mengenalku, kemudian aku dihalangi dari mereka... Maka dikatakan: ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.’” (HR. Al-Bukhori no. 7050)

Hadits ini menjadi dalil kewajiban menjauhi bid’ah agar bisa meminum air telaga.

Harapan dan Doa Seorang Mu’min

Kata “Arjuu” (aku berharap) menunjukkan bahwa seorang Mu’min harus menggabungkan rasa takut (khouf) dan harap (roja’). Penulis tidak sombong dengan ilmunya, melainkan tetap memohon rohmat Alloh agar termasuk golongan yang mendapatkan syafaat dan minuman dari tangan Nabi yang mulia.

[7] SHIROTH, JANNAH, DAN NAAR (BAIT 12-13)

Teks Bait 12 & 13

12- وَكَذَا الصِّرَاطُ يُمَدُّ فَوْقَ جَهَنَّمٍ * فَمُوَحِّدٌ نَاجٍ وَآخَرُ مُهْمَلُ

13- وَالنَّارُ يَصْلَاهَا الشَّقِيُّ بِحِكْمَةٍ * وَكَذَا التَّقِيُّ إِلَى الجِنَانِ سَيَدْخُلُ

Makna Mufrodat

(الصِّرَاطُ): Titian atau jembatan yang dibentangkan di atas punggung Jahanam menuju Jannah.

(فَوْقَ): Di atas.

(مُوحِّدٌ): Orang yang mengesakan Alloh dan menjauhi syirik.

(نَاجٍ): Selamat dan berhasil menyeberang.

(مُهْمَلُ): Yang dicampakkan, dibiarkan jatuh ke dalam api karena kemaksiatan atau kekafirannya.

(الشَّقِيُّ): Orang yang celaka, yaitu mereka yang mati dalam kekafiran.

(بِحِكْمَةٍ): Dengan keadilan dan kebijaksanaan Alloh (bukan karena Alloh zholim).

(التَّقِيُّ): Orang yang bertaqwa, yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Makna Umum Bait

Penulis menjelaskan bahwa di antara perkara ghoib yang wajib diimani adalah adanya Shiroth yang dibentangkan di atas Jahanam. Manusia akan melewatinya sesuai dengan kadar amal dan Tauhid mereka. Orang yang bertauhid akan selamat, meskipun ada yang cepat dan ada yang lambat, sedangkan yang tidak membawa Tauhid akan jatuh. Kemudian, manusia akan terbagi menjadi dua kelompok akhir: orang celaka yang masuk ke dalam Naar dan orang bertaqwa yang masuk ke dalam Jannah.

Iman kepada Shiroth (Titian di Atas Jahanam)

Ahlus Sunnah meyakini Shiroth adalah benar adanya. Sifatnya sebagaimana dalam riwayat adalah miring dan licin, serta memiliki pengait-pengait (kalathif) yang akan menyambar orang yang diperintahkan untuk disambar.

Alloh berfirman:

﴿وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا * ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِينَ اتَّقَوا وَّنَذَرُ الظَّٰلِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا﴾

“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu, melainkan mendatangi Neraka itu. Hal itu bagi Robb-mu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zholim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam: 71-72)

Rosulullah bersabda dalam Hadits yang panjang tentang Kiamat:

«ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ... المُؤْمِنُ عَلَيْهَا كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ، وَكَأَجَاوِيدِ الخَيْلِ وَالرِّكَابِ، فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ، وَنَاجٍ مَخْدُوشٌ، وَمَكْدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ»

“Kemudian didatangkan jembatan (Shiroth) lalu diletakkan di atas punggung Jahanam... Maka orang Mu’min melewatinya ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, secepat angin, secepat kuda pacuan yang kencang. Maka ada yang selamat sampai tujuan, ada yang tercabik-cabik namun selamat, dan ada yang terjungkal jatuh ke dalam Naar Jahanam.” (HR. Al-Bukhori no. 7439 dan Muslim no. 183)

Nabi bersabda mengenai keadaan Shiroth:

«وَفِي جَهَنَّمَ كَلاَلِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ... تَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ»

“Di Shiroth terdapat pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan... yang menyambar manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 806)

Keberadaan Jannah dan Naar

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Jannah dan Naar adalah makhluk Alloh yang saat ini sudah ada (maujudah) dan tidak akan pernah hancur atau punah selamanya.

Alloh memasukkan hamba ke Neraka bukan karena zholim menyiksa, melainkan karena keadilan-Nya atas pilihan hamba tersebut yang memilih kekafiran. Sebaliknya, masuknya seseorang ke Surga adalah karena Rohmat-Nya dan ketaqwaan hamba tersebut.

Tentang Jannah yang sudah disiapkan:

﴿وَسَارِعُوٓا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَٰوَٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb-mu dan kepada Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali ‘Imron: 133)

Tentang Naar yang sudah disiapkan:

﴿وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ

“Dan peliharalah dirimu dari api Naar, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Ali ‘Imron: 131)

Rosulullah bersabda:

«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ  بِالْغَدَاةِ وَالعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Apabila salah seorang dari kalian mati, maka akan diperlihatkan kepadanya tempat duduknya pada waktu pagi dan petang. Jika ia penduduk Jannah, maka diperlihatkan tempatnya di Jannah. Dan jika ia penduduk Naar, maka diperlihatkan tempatnya di Naar. Dikatakan: ‘Inilah tempatmu untuk hari kamu nanti dibangkitkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1379 dan Muslim no. 2866)

Nabi menceritakan perdebatan antara Surga dan Neraka:

«تَحَاجَّتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ... قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي، وَقَالَ لِلنَّارِ: إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي»

“Surga dan Neraka saling berdebat... maka Alloh berfirman kepada Jannah: ‘Engkau adalah Rohmat-Ku, Aku merohmati denganmu siapa saja yang Aku kehendaki’. Dan Alloh berfirman kepada Naar: ‘Engkau adalah Adzab-Ku, Aku mengadzab denganmu siapa saja yang Aku kehendaki.’” (HR. Al-Bukhori no. 4850 dan Muslim no. 2846)

[8] FITNAH KUBUR (BAIT 14)

Teks Bait 14

14- وَلِكُلِّ حَيٍّ عَاقِلٍ فِي قَبْرِهِ * عَمَلٌ يُقَارِنُهُ هُنَاكَ وَيُسْأَلُ

Makna Mufrodat

(حَيٍّ عَاقِلٍ): Setiap makhluk hidup yang mukallaf (dibebani syariat/berakal).

(عَمَلٌ يُقَارِنُهُ): Amal perbuatan yang akan berubah wujud menjadi teman yang mendampingi di alam kubur.

(وَيُسْأَلُ): Akan ditanya oleh dua Malaikat (Munkar dan Nakir).

Pertanyaan Kubur dan Pendamping Amal

Setiap manusia akan mengalami alam Barzakh. Di sana mereka akan ditanya tentang tiga hal landasan utama: Siapa Robb-mu? Apa Agamamu? Dan siapa Nabimu?

Alloh berfirman:

﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَفِى الاخِرَةِ

“Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat (alam kubur).” (QS. Ibrohim: 27)

Rosulullah menjelaskan tentang teman di kubur bagi orang Mu’min:

«وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ»

“Maka datanglah kepadanya seorang laki-laki yang berwajah tampan, berpakaian bagus, dan beraroma harum, ia berkata: ‘Bergembiralah...’. Maka si mayit bertanya: ‘Siapakah engkau?’. Ia menjawab: ‘Aku adalah Amal sholihmu.’” (HSR. Ahmad no. 18534)

Tentang pertanyaan dua Malaikat:

«إِذَا قُبِرَ المَيِّتُ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ: النَّكِيرُ»

“Apabila mayit telah dikuburkan, maka datanglah kepadanya dua Malaikat yang hitam lagi biru, salah satunya disebut Munkar dan yang lainnya Nakir.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1071)

[9] AQIDAH EMPAT IMAM MADZHAB DAN LARANGAN BID’AH (BAIT 15-16)

Teks Bait 15 & 16

15- هَذَا اعْتِقَادُ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ * وَأَبِي حَنِيفَةَ ثُمَّ أَحْمَدَ يَنْقُلُ

16- فَإِنِ اتَّبَعْتَ سَبِيلَهُمْ فَمُوَفَّقٌ * وَإِنِ ابْتَدَعْتَ فَمَا عَلَيْكَ مُعَوَّلُ

Makna Mufrodat

(اعْتِقَادُ): Keyakinan yang menghunjam kuat di dalam hati.

(يَنْقُلُ): Dinukil atau diriwayatkan. Maksudnya, Aqidah ini adalah apa yang diriwayatkan secara turun-temurun dari para Imam.

(سَبِيلَهُمْ): Jalan mereka, yaitu Manhaj mereka dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

(فَمُوَفَّقٌ): Orang yang mendapatkan taufiq (petunjuk dan kemudahan) dari Alloh .

(ابْتَدَعْتَ): Kamu berbuat bid’ah atau membuat-buat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada contohnya dari Nabi dan para Salaf.

(مُعَوَّلُ): Sandaran atau tumpuan. Maksudnya, tidak ada yang bisa dijadikan sandaran bagi orang yang berbuat bid’ah; ia berada dalam kerugian.

Makna Umum Bait

Syaikhul Islam menegaskan bahwa seluruh poin Aqidah yang telah beliau sebutkan (mulai dari masalah Shohabat, Sifat Alloh, Al-Qur’an, hingga Hari Kiamat) adalah keyakinan yang dipegang teguh oleh empat Imam madzhab: Asy-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad. Beliau memberikan nasihat penutup: siapa yang mengikuti jalan mereka, maka ia adalah orang yang beruntung dan mendapat taufiq. Namun, siapa yang menyimpang dengan melakukan bid’ah, maka ia tidak memiliki sandaran yang kuat dan berada dalam kesesatan.

Kesepakatan Empat Imam dalam Aqidah

Meskipun para Imam memiliki perbedaan dalam masalah Fikih (cabang), namun dalam masalah Aqidah (pokok), mereka berada di atas jalan yang satu, yaitu jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Abu Hanifah (150 H): Menegaskan dalam Al-Fiqh al-Akbar bahwa Alloh berbicara dengan Kalam yang bukan makhluk.

Malik bin Anas (179 H): Terkenal dengan ucapannya tentang Istiwa’ (Alloh tinggi di atas ‘Arsy): “Istiwa’ itu maknanya telah diketahui (secara bahasa), namun caranya (Kaifiyyah) tidak diketahui.”

Asy-Syafi’i (204 H): Menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah dan menetapkan sifat-sifat Alloh sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.

Ahmad bin Hanbal (241 H): Imam Ahlus Sunnah yang teguh menghadapi fitnah makhluqul Qur’an.

Alloh memerintahkan untuk mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Nya:

﴿وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (QS. Luqman: 15)

Perintah untuk tetap berada di jalan yang satu:

﴿وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)

Kewajiban Ittiba’ dan Larangan Bid’ah

Penulis menutup Qoshiidah dengan peringatan keras terhadap bid’ah. Bid’ah dalam Aqidah jauh lebih berbahaya daripada bid’ah dalam amal lahiriah karena ia merusak pondasi keimanan.

Ancaman bagi yang menyimpang dari jalan Mu’minin (Shohabat dan Imam):

﴿وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Dan siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mu’min (Shohabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Rosulullah bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

“Siapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Rosulullah juga bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607)

PENUTUP SYARAH

Dengan berakhirnya bait ke-16 ini, selesailah penjelasan ringkas namun padat dari Qoshiidah Laamiyyah. Bait-bait ini meskipun singkat, telah mencakup rukun-rukun iman yang sangat penting dan menjadi pembeda antara pengikut Salafus Sholih dengan kelompok-kelompok lainnya.

Semoga Syarah ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi penulis aslinya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H), serta bagi kita yang mempelajarinya.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush sholihaat.[NK]

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url