[]

Terjemah Wasiat Sughro - Ibnu Taimiyyah | PUSTAKA SYABAB

 Terjemah Wasiat Sughro - Ibnu Taimiyyah DOWNLOAD PDF - WORD Pertanyaan Abul Qōsim Al-Maghribī Fadhilatusy syaikh, imam, pemuka orang-ora...

 Terjemah Wasiat Sughro - Ibnu Taimiyyah




DOWNLOAD PDF - WORD


Pertanyaan Abul Qōsim Al-Maghribī

Fadhilatusy syaikh, imam, pemuka orang-orang terdahulu, panutan orang-orang kemudian, orang paling berilmu yang pernah kujumpai di negeri timur dan barat, Taqiyuddin Abul Abbās Ahmad bin Taimiyyah, aku bertanya kepadanya tentang:

(1)   Wasiat (pesan penting) yang akan memperbaiki agama dan duniaku;

(2)   Kitab apa yang akan kujadikan rujukan ilmu hadits dan ilmu-ilmu syar’i lainnya;

(3)   Amal paling utama setelah kewajiban;

(4)   Pekerjaan yang paling utama;

Semua penjelasan itu dalam bentuk ringkas, dan semoga Allah menjaganya. Semoga salam yang mulia, rohmat Allah, dan barokah-Nya tercurah kepadanya.

Ibnu Taimiyah menjawab:

1. Wasiat Terbaik Untuk Agama dan Dunia

Segala puji bagi Allah Pencipta seluruh alam. Adapun wasiat (pesan penting), aku tidak mengetahui wasiat yang lebih bermanfaat melebihi wasiat dari Allah dan Rosul-Nya bagi siapa saja yang memikirkannya dan mengikutinya. Allah berfirman:

﴿وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ﴾

“Sungguh Kami telah memberi wasiat (pesan penting) kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab sebelum kalian (umat Islam) dan juga kepada kalian: ‘Bertaqwalah kepada Allah.’” (QS. An-Nisa: 131)

Nabi berwasiat kepada Muadz ketika mengutusnya ke negeri Yaman:

«يَا مُعَاذُ، اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»

“Wahai Muadz! Bertaqwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada; iringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapusnya; dan pergauli manusia dengan akhlak yang mulia.”[1]

Kedudukan Muadz di sisi Nabi amat tinggi, karena beliau pernah bersabda kepadanya:

«يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»

“Wahai Muadz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.”[2]

Dia juga pernah dibonceng Nabi di belakangnya. Juga diriwayatkan bahwa ia adalah orang yang paling mengerti halal dan harom[3]. Dia kelak dikumpulkan lebih terdepan sejengkal dari para ulama[4]. Di antara keutamaannya, Nabi mengutusnya sebagai dai, ahli fiqih, mufti, dan hakim bagi penduduk Yaman.

Dia menyerupai Ibrohim Al-Kholīl Alaihissalam, sementara Ibrohim adalah pemimpin manusia. Ibnu Mas’ud berkata:

«إِنَّ مُعَاذًا كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا، وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ»

“Muadz adalah umat (pengajar manusia), qōnit (patuh) kepada Allah, dan ia tidak termasuk orang-orang musyrik,”[5] ia menyerupakannya dengan Ibrohim[6].

Lalu wasiat Nabi kepada Muadz adalah wasiat ini, maka menjadi jelaslah bahwa wasiat ini adalah wasiat yang lengkap, dan memang demikian bagi siapa saja yang memikirkannya. Di samping itu, wasiat taqwa ini adalah wasiat Al-Qur’an.

Adapun penjelasan kenapa wasiat ini begitu lengkap, karena hamba memiliki dua ketergelinciran, yaitu berkaitan dengan hak Allah dan berkaitan dengan hak manusia.

Ketergelinciran yang pasti dilakukan seseorang adakalanya berupa meninggalkan perintah dan adakalanya berupa mengerjakan larangan, karena Nabi bersabda: “Bertaqwalah kamu di mana saja kamu berada.” Kalimat hadits ini begitu menyeluruh. Ungkapan “di mana saja kamu berada” merupakan penjelasan akan butuhnya seseorang kepada taqwa saat sendirian maupun di tengah banyak orang. Lalu sabda Nabi : “dan iringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk tersebut,” mengisyaratkan bahwa seorang dokter jika menjumpai pasiennya terkena penyakit yang membahayakannya maka ia akan memerintahkannya untuk melakukan terapi untuk penyembuhannya. Dosa bagi setiap hamba, seakan perkara yang pasti terjadi.

Maka orang cerdas adalah orang yang senantiasa mengerjakan kebaikan untuk menghapus dosa-dosanya. Lafazh hadits mendahulukan “perbuatan dosa” padahal ia objek (yang semestinya diakhirkan)[7], karena fokus hadits pada menghapus, bukan mengerjakan kebaikan. Hal ini mirip dengan hadits kecingnya Arab baduwi:

«صُبُّوا عَلَيْهِ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ»

“Tuangkan di atasnya (bekas kencing) beberapa ember berisi air.”[8]

Semestinya amal sholih yang dikerjakan setema dengan perbuatan dosanya, karena hal itu lebih diharapkan bisa menghapusnya.

Dosa-dosa bisa terhapus dengan beberapa faktor berikut:

(1) Taubat.

(2) Istighfar tanpa taubat, karena Allah terkadang mengampuni seseorang atas doanya (meminta ampun) meskipun belum bertaubat (belum menyesal dan belum berhenti).[9] Jika taubat dan istighfar terkumpul maka ia sempurna.

(3) Amal sholih sebagai kaffarot[10] (muqoddar maupun mutlaq). Adapun [1] kaffarot muqoddar, seperti kaffarot muqoyyad (sudah ditentukan amal penghapusnya) atas: orang yang senggama di (siang hari) bulan Romadhan; orang yang menzhihar[11] isterinya; orang yang melakukan larangan dalam ritual haji atau meninggalkan kewajiban dalam haji atau membunuh buruan. Bentuk kaffarotnya ada 4 macam: (1) menyembelih hadyu (unta), (2) memerdekakan budak, (3) sedekah, atau (4) puasa.

Adapun [2] kaffarot mutlaq, seperti yang dikatakan Hudzaifah kepada Umar :

«فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ [وَجَارِهِ]، تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ، وَالصِّيَامُ، وَالصَّدَقَةُ، وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنِ المُنْكَرِ»

“Dosa seseorang pada keluarganya, hartanya, anaknya, [tetangganya], dihapus oleh sholat, puasa, sedekah, amar ma’ruf, dan nahi munkar.”[12]

Hal ini didukung oleh Al-Qur’an dan hadits-hadits shohih tentang amal-amal yang bisa menghapus dosa: sholat lima waktu, Jum’atan, puasa, haji, dan semua amal yang terdapat ungkapan “siapa yang mengucapkan demikian atau mengerjakan demikian maka dosanya diampuni atau dosanya yang lalu diampuni”. Hadits-hadits seperti ini banyak sekali dijumpai bagi siapa saja yang mencarinya di kitab-kitab Sunan, terutama kitab yang disusun khusus tentang Keutamaan Amal.

Ketahuilah, memberi perhatian pada hal ini sangat dibutuhkan seseorang. Ketika seseorang sudah mencapai usia baligh, khususnya di zaman kita ini maupun zaman-zaman lainnya yang menyerupai zaman jahiliyah dalam beberapa perkara, begitu juga seseorang yang hidup di tengah ahli ilmu dan ahli agama, terkadang ia terpapar sebagian perbuatan jahiliyah. Lantas bagaimana lagi dengan selain mereka?!

Dalam Shohihain dari Nabi dalam hadits Abu Sa’id :

«لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ؟»

“Kalian pasti akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian, selangkah demi selangkah, hingga andai mereka masuk lubang dhob (kadal gurun)[13] tentu kalian akan ikut memasukinya.” Mereka bertanya: “Wahai Rosulullah, apakah maksudnya Yahudi dan Nashoro?” Jawabnya: “Siapa lagi?!”[14]

Hadits ini membenarkan firman Allah:

﴿فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا

“Maka kalian bersenang-senang dengan bagian kalian seperti orang-orang sebelum kalian bersenang-senang dengan bagian mereka, dan kalian bersuara gaduh seperti mereka bersuara gaduh.” (QS. At-Taubah: 69)[15]

Ayat ini juga memiliki banyak hadits shohih dan hasan yang mendukungnya.

Perbuatan ini terkadang dilakukan oleh orang-orang khusus yang menisbatkan dirinya kepada agama, seperti yang dikatakan oleh beberapa ulama Salaf seperti Ibnu Uyainah: “Banyak perbuatan-perbuatan Yahudi yang dikerjakan oleh sebagian ahli ilmu dari kita, dan banyak perbuatan-perbuatan Nashoro yang dikerjakan oleh sebagian ahli ibadah dari kita.”

Begitu juga orang yang memahami agama Islam hakiki yang dibawa Muhammad , lalu menerapkan ilmunya tersebut untuk memahami keadaan kaum Musliminin, maka ia akan melihat kebenaran ucapan Ibnu Uyainah di atas.

Jika perkaranya demikian, maka siapa yang Allah lapangkan dadanya menerima Islam serta dia di atas cahaya Allah (ilmu) atau sebelumnya mati (jahil) lalu Allah hidupkan kembali dan memberinya cahaya untuk berjalan di tengah manusia, maka ia harus benar-benar perhatian terhadap perkara jahiliyah terutama perilaku dua kaum: kaum yang dimurkai (Yahudi) dan kaum yang sesat (Nashoro). Dengan demikian, ia akan mampu melihat bahwa terkadang dirinya terjatuh pada perkara jahiliyah tersebut.

Perkara yang sangat bermanfaat bagi orang khusus dan orang awam adalah ilmu, yang akan membebaskan jiwanya dari kotoran-kotoran jahiliyah, dan ilmu itu tidak lain adalah mengiringi dosa-dosa dengan amal sholih.

Amal sholih adalah apa saja yang diperintahkan Allah lewat lisan Nabi-Nya berupa amal kebaikan dan akhlak.

Di antara perkara yang menggugurkan dosa adalah [3] kaffarot musibah yaitu segala hal yang menyakitkan: kekhawatiran; kesedihan; gangguan pada harta, kehormatan, jasad, atau selainnya. Akan tetapi perkara-perkara ini bukan termasuk perbuatan hamba (tetapi murni takdir).

Setelah ia menunaikan dua kalimat tersebut (bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikuti dosa dengan amal sholih maka amal sholih tersebut akan menghapusnya) yaitu hak Allah berupa amal sholih dan memperbaiki apa yang telah rusak, maka Nabi melanjutkan: “dan pergauli manusia dengan akhlak yang mulia.”

Secara umum, akhlak mulia kepada manusia berupa kamu menyambung orang yang memutusmu dengan mengucapkan salam, memuliakannya, mendoakannya, beristighfar untuknya, memujinya, mengunjunginya; dan kamu memberi orang yang pelit kepadamu berupa memberi ilmu, manfaat, harta; juga kamu memaafkan orang yang menzolimimu baik dalam darah, harta, atau kehormatan. Sebagian perbuatan ini wajib dilakukan dan sebagian lainnya hanya anjuran.

Adapun akhlak mulia yang merupakan sifat Muhammad adalah agama itu sendiri yang mencakup segala yang diperintahkan Allah. Demikian pendapat Mujahid dan selainnya.

Akhlak mulia ini adalah tafsir Al-Qur’an, seperti yang dikatakan Aisyah ڤ: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”[16]

Hakikat akhlak mulia adalah bersegera mengerjakan apa saja yang dicintai Allah dengan jiwa lapang dan gembira.

Adapun penjelasan bahwa ini semua wasiat Allah, karena lafazh “taqwa kepada Allah” menghimpun apa saja yang Allah perintahkan baik wajib maupun sunnah, dan apa saja yang Allah larang baik harom maupun makruh. Ini menghimpun hak Allah dan hak manusia.

Namun, terkadang taqwa berupa takut siksa yang mendorong seseorang menahan diri dari perkara harom. Ini tafsir dari hadits Muadz tadi, dan begitu juga tafsir dari hadits Abu Huroiroh yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia menilainya shohih, bahwa ada yang bertanya: “Wahai Rosulullah, apa yang paling banyak memasukkan ke Surga?” Beliau menjawab: “Taqwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” Ia bertanya lagi: “Apa yang paling banyak memasukkan ke Neraka?” Jawab beliau: “Dua rongga, yaitu mulut dan kemaluan.”[17]

Dalam hadits shohih yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rosulullah bersabda:

«أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا»

“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya.”[18] Nabi menjadikan sempurnanya iman pada sempurnanya akhlak mulia.

Telah diketahui bersama bahwa iman secara keseluruhan adalah taqwa kepada Allah, sementara rincian pokok-pokok taqwa dan cabang-cabangnya tidak bisa kujelaskan di sini, karena dia pada hakikatnya adalah agama itu sendiri.

Akan tetapi sumber segala kebaikan dan dasarnya adalah ikhlas kepada Allah, baik dalam ibadah maupun meminta pertolongan, seperti dalam firman-Nya: “Kami hanya menyembah-Mu dan kami hanya meminta pertolongan kepada-Mu.” (QS. Al-Fatihah: 4) Juga firman-Nya:

﴿فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123) Juga firman-Nya:

﴿عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ﴾

“Aku hanya bertawakal kepada-Nya dan aku hanya kembali (bertaubat) kepada-Nya.” (QS. Hud: 88) Juga firman-Nya:

﴿فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ﴾

“Maka carilah rizki di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya.” (QS. Al-Ankabut: 17)

Ayat-ayat ini menjadikan hamba memutus ketergantungan hatinya kepada manusia, baik dengan berharap manfaat maupun beramal karena mereka. Ayat-ayat ini juga menjadikan hamba hanya berharap kepada Robnya, dan hal itu bisa diraih dengan membiasakan diri berdoa kepada-Nya dalam semua permintaannya, baik kemiskinan, hajat, ketakutan, maupun selainnya. Ayat-ayat ini juga menjadikan hamba mengerjakan untuk Allah apa saja yang dicintai-Nya.

Siapa yang menerapkan ini, maka ia tidak akan sempat mengerjakan kebalikannya.

2. Amal Terbaik Setelah Fardhu

Adapun pertanyaanmu tentang amal terbaik setelah amal fardhu, ia berbeda-beda sesuai perbedaan orangnya: sesuai kemampuannya dan sesuai waktunya, sehingga jawabannya tidak menyeluruh untuk semua orang, tidak berlaku untuk setiap orang.

Akan tetapi, seakan kesepakan para ulama bahwa senantiasa berdzikir adalah amal terbaik yang seseorang menyibukkan diri dengannya. Yang menunjukan hal itu adalah hadits Abu Huroiroh yang diriwayatkan Muslim:

«سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»

“Orang-orang yang menyendiri menang.” Orang-orang bertanya: “Siapa orang-orang yang menyendiri itu wahai Rosulullah?” Jawab beliau: “Orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, baik laki maupun perempuan.”[19]

Begitu juga hadits Abu Dawud dari Abu Darda bahwa Nabi bersabda:

«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ»؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: «ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى»

“Maukah kalian kuberitahu amal terbaik kalian, amal tersuci di sisi Raja kalian, amal tertinggi dalam derajat kalian, serta lebih baik bagi kalian daripada bersedekah emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian dari bertemu musuh yang kalian tebas lehernya dan mereka menebas leher kalian?” Mereka menjawab: “Mau.” Sabda beliau: “Berdzikir kepada Allah.”[20]

Dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang hal itu sangat banyak. Paling tidak seseorang merutinkan dzikir shohih dari Nabi , seperti dzikir-dzikir mu’aqqot (yang sudah ditentukan waktunya): dzikir pagi dan sore, ketika hendak tidur, ketika bangun tidur, dan dzikir bakda sholat fardhu.[21]

Begitu pula merutinkan dzikir-dzikir muqoyyad (terikat dengan aktifitas) seperti dzikir/doa ketika hendak makan, minum, berpakaian, jima (senggama); masuk rumah, Masjid, toilet, dan keluar darinya; ketika hujan dan guntur, dan lain-lain. Banyak kitab yang disusun tentangnya dengan nama Amalul Yaum wal Lailah (amal sehari semalam).

Begitu juga merutinkan dzikir-dzikir mutlaq (tanpa terikat waktu), dan dzikir paling utama adalah لا إله إلا الله. Pada kondisi tertentu lebih utama membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ

“Mahasuci Allah. Segala puji bagi Allah. Allah Mahabesar. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”[22]

Lalu perlu diketahui bahwa segala ucapan lisan dan keyakinan hati yang mendekatkan kepada Allah berupa belajar ilmu syar’i, mengajarkannya, amar ma’ruf dan nahi munkar, termasuk berdzikir kepada Allah.

Oleh karena itu, orang yang menyibukkan dirinya dengan menuntut ilmu yang bermanfaat setelah menunaikan kewajiban-kewajiban, atau duduk bermajlis fiqih dan mengajarkan fiqih yang dinamakan Allah dan Rosul-Nya fiqih, maka ini juga termasuk dzikir terbaik kepada Allah.

Atas dasar di atas, jika kamu merenungkan maka kamu tidak akan mendapati banyak perselisihan dari para ulama terdahulu tentang amal terbaik (selain dzikir).

Jika seseorang memiliki masalah yang rumit, hendaknya ia melakukan istikhoroh, karena orang yang melakukan istikhoroh tidak akan menyesal. Maka perbanyaklah melakukannya dan berdoa, karena doa adalah kunci segala kebaikan, dan jangan tergesa-gesa mengucapkan: “Aku sudah berdoa tetapi belum dikabulkan.” Hendaknya seseorang memilih waktu utama dalam berdoa, seperti akhir malam, bakda sholat fardhu, saat adzan, saat hujan turun, dan semisalnya.

3. Pekerjaan Paling Utama

Adapun pekerjaan paling utama adalah tawakal kepada Allah, yakin Allah mencukupi, dan berbaik sangka kepada-Nya. Selayaknya orang yang mengais rezeki untuk menuju Allah dan berdoa kepadanya, seperti yang yang disabdakan Nabi-Nya (dalam hadits qudsi):

«يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ، إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ، يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ، إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ»

“Wahai hamba-Ku, setiap kalian lapar kecuali yang Kuberi makan maka mintalah makan kepada-Ku pasti Kuberi makan. Wahai hamba-Ku, setiap kalian telanjang kecuali siapa yang kuberi pakaian maka mintalah pakaian kepada-Ku pasti Kuberi pakaian.”[23]

Begitu pula hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Anas , ia berkata: Rosulullah bersabda:

«لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى شِسْعَ نَعْلِهِ إذَا انْقَطَعَ، فَإِنَّهُ إنْ لَمْ يُيَسِّرْهُ لَمْ يَتَيَسَّرْ»

“Hendaknya seorang dari kalian meminta Allah segala kebutuhannya sampai tali sandalnya yang terputus, karena jika tidak Allah mudahkan, tidak akan terlaksana.”[24]

Allah berfirman dalam Kitab-Nya:

﴿وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ﴾

“Mintalah kepada Allah sebagian karunia-Nya.” (QS. An-Nisa: 32)

Allah berfirman:

﴿فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ﴾

“Apabila sholat Jum’at sudah ditunaikan, silahkan beterbaran di muka bumi mencari karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 10) Meskipun ayat ini berkaitan dengan sholat Jum’at, tetapi maknanya berlaku juga pada semua sholat. Oleh karena itu —Allahu a’lam—, Nabi memerintahkan orang yang masuk Masjid membaca:

«اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِك»

“Ya Allah, bukalah untuku pintu-pintu rohmat-Mu.” Dan jika keluar Masjid membaca:

«اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك مِنْ فَضْلِك»

“Ya Allah, aku meminta sebagian dari karunia-Mu.”[25]

Al-Kholil Ibrohim berkata: “Carilah rizki di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya.” (QS. Al-Ankabut: 17) Ayat ini berupa perintah, dan asal perintah adalah wajib. Maka meminta tolong kepada Allah dan bersandar kepada-Nya dalam masalah rizki dan selainnya adalah perkara yang sangat penting.

Lalu, hendaknya ia mengambil harta dengan hati yang qonaah (ridho atas pemberian Allah) agar diberkahi, dan jangan mengambilnya dengan tamak. Bahkan, hendaknya ia menjadikan harta di sisinya bagaikan toilet yang didatangi sewaktu-waktu saja jika dibutuhkan, tanpa menempati hatinya; dan bekerja mencari rezeki bagaikan memperbaiki toilet (ala kadarnya).

Dalam hadits marfu yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan selainnya:

«مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ شَتَّتَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْ أَصْبَحَ وَالْآخِرَةُ أَكْبَرُ هَمِّهِ جَمَعَ اللَّهُ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ»

“Siapa yang memasuki pagi sementara dunia menjadi keinginan terbesarnya, maka Allah akan mencerai beraikan urusannya dan dunia tidak mendatanginya kecuali sebatas apa yang telah ditentukan untuknya. Siapa yang memasuki pagi sementara Akhirat menjadi keinginan terbesarnya, maka Allah akan menghimpun urusannya dan menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia mendatanginya dalam keadaan tunduk.”[26]

Sebagian Salaf berkata: “Kamu memang membutuhkan dunia, tetapi kamu jauh lebih butuh simpanan Akhirat. Jika kamu fokus Akhirat maka duniamu akan terlewat darimu. Oleh karena itu aturlah waktumu dengan baik.” Allah berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Aku menciptakan jin dan manusia agar mereka hanya menyembah-Ku. Aku tidak meminta rizki kepada mereka dan tidak pula Aku ingin diberi makan oleh mereka. Sungguh hanya Allah yang Maha Pemberi rizki, dan Mahakuat.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

Adapun menentukan jenis pekerjaan seperti tukang kayu, pedagang, kuli bangunan, tukang ladang, atau selainnya, maka ini tidak sama bagi setiap orang, dan aku tidak mengetahui jenis pekerjaan yang menyeluruh. Akan tetapi jika seseorang berkeinginan menentukan jenis pekerjaan, hendaknya ia melakukan istikhoroh kepada Allah yang diambil dari hadits shohih, karena di dalamnya ada keberkahan yang tidak bisa diprediksi. Lalu pekerjaan yang mudah baginya, jangan dibebankan kepada orang lain (untuk mengikutinya) kecuali jika pekerjaan itu memang dilarang secara syariat.

4. Kitab Rujukan dalam Semua Disiplin Ilmu Syar’i

Adapun kitab-kitab dari ilmu syar’i yang ingin kamu jadikan rujukan, maka ini pembahasan yang luas. Hal ini juga berbeda sesuai dengan tempat di mana ia hidup. Terkadang seseorang mudah dalam mendapatkan sebuah ilmu atau madzhab di sebuah negeri, yang tidak mudah didapatkan di negeri lain.

Akan tetapi secara umum dari kebaikan adalah seseorang meminta tolong kepada Allah dalam menuntut ilmu warisan Nabi . Warisan Nabi itulah ilmu sesungguhnya, dan selain itu adakalanya disebut ilmu tetapi tidak bermanfaat, dan adakalanya bukan ilmu meski disebut ilmu. Maka disebut ilmu bermanfaat jika ia berasal dari warisan Muhammad .

Hendaknya keinginan utamanya adalah memahami maksud sabda Nabi[27] baik dalam perintahnya maupun larangan dan seluruh sabdanya. Jika hatinya merasa tenang bahwa ini adalah maksud sabda Rosul , maka ia tidak boleh menoleh kepada yang lain.

Hendaknya ia bersungguh-sungguh berpegang pada setiap bab ilmu yang berasal dari Nabi . Jika ada yang terasa tersamar baginya karena diperselisihkan manusia, maka berdoalah seperti doa yang diriwayatkan Muslim dalam Shohihnya dari Aisyah ڤ bahwa Rosulullah beliau biasa membaca (iftitah) dalam sholat malam:

«اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ»

“Ya Allah, Pencipta Jibril, Mikail, Isrofil, Pencipta langit dan bumi, Maha mengetahui alam ghoib dan alam nyata, Engkau memutuskan perkara yang diperselisihkan hamba-hamba-Mu. Bimbinglah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan mereka dengan seizin-Mu. Sungguh Engkau membimbing siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.”[28]

Allah berfirman dalam hadits qudsi yang diriwayatkan Rosul-Nya:

«يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ»

“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian sesat kecuali siapa yang Kubimbing, maka mintalah bimbingan kepada-Ku pasti Kubimbing kalian.”[29]

Adapun nama-nama kitab dan penyusun, sudah kusinggung apa yang dimudahkan Allah di tengah-tengah ceramahku.

Tidak ada kitab yang disusun per bab yang lebih bermanfaat dari Shohih Al-Bukhori, tetapi ia belum mencukupi dasar-dasar ilmu, dan belum mewakili semua bab ilmu. Maka perlu mengkaji hadits-hadits lain.

Siapa yang hatinya diterangi cahaya oleh Allah, akan meraih ilmu tersebut. Siapa yang dibutakan hatinya, maka banyaknya kitab tidak akan menambah dirinya kecuali kebingunan dan kesesatan, sebagaimana yang disabdakan Nabi kepada Abi Labid[30] Al-Anshori :

«أَوَلَيْسَتْ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى؟ فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ؟»

“Bukankah Taurot dan Injil di sisi Yahudi dan Nashoro? Apa gunanya itu bagi mereka?”[31]

Penutup

Kita memohon kepada Allah yang Mahaagung agar memberi kita petunjuk dan kelurusan, mengilhami kita petunjuk, menjaga kita dari akibat buruk dosa kita, tidak menyimpangkan hati kita setelah diberi petunjuk, dan memberi kita rohmat dari sisi-Nya. Sungguh Dia Maha Pemberi.

Segala puji bagi Allah Pencipta seluruh alam. Sholawat dan salam semoga tercurah atas Rosul paling mulia.


[1] HR. At-Tirmidzi no. 1987 dengan sanad hasan.

[2] HR. Abu Dawud no. 1522 dengan sanad shohih.

[3] HR. At-Tirmidzi no. 3790 dengan sanad shohih:

«وَأَعْلَمُهُمْ بِالحَلَالِ وَالحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ»

“Umatku yang paling mengerti halal dan harom adalah Muadz bin Jabal.”

[4] HR. Ath-Thobaroni no. 556 dalam Ash-Shoghīr dengan sanad shohih mursal:

«مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمَامَ الْعُلَمَاءِ بِرَتْوَةٍ»

“Kelak Muadz bin Jabal datang pada hari Kiamat sejengkal lebih terdepan dari para ulama.”

[5] HR. Ath-Thobaroni no. 47 dengan sanad shohih dari Ibnu Mas’ud ia berkata: “Muadz adalah pengajar manusia, patuh kepada Allah, dan ia tidak termasuk orang-orang musyrik.” Murid-muridnya berkata: “Ibrohim.” Ibnu Mas’ud menjawab: “Aku tidak lupa. Apakah kalian tahu apa itu umat?” Jawab mereka: “Tidak.” Ia berkata: “Yaitu orang yang mengajari manusia kebaikan. Apakah kalian tahu apa itu qōnit?” Jawab mereka: “Tidak.” Ia berkata: “Yaitu orang yang patuh kepada Allah.”

[6] Yakni ayat:

﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrohim adalah pengajar manusia, patuh kepada Allah, dan ia tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 120)

[7] Perbuatan dosa (السيئة) semestinya diakhirkan jika melihat asli kalimatnya تمح الحسنة السيئة. Yang mengerti kaidah Nahwu akan mudah memahami ini.

[8] HR. Syaikhon dan ini lafazhnya Abu Dawud no. 380.

[9] Istighfar adalah ucapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ (aku meminta ampunan) atau اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي (ya Allah ampuni aku). Ampunan di sini mengandung dua makna: menutupinya dari manusia dan mengabaikannya hingga tidak menyiksanya. Sehingga orang yang beristighfar seakan berkata: “Ya Allah tutupi dosaku dari pandangan manusia dan jangan siksa aku atas dosaku tersebut.” Adapun taubat di sini bermakna kembali kepada Allah dari maksiat dengan: (1) menyesali dosanya, (2) berhenti, dan (3) bertekad tidak mengulanginya. Dari sini, menjadi jelas perbedaan taubat dan istighfar.

[10] Secara bahasa artinya penghapus, yakni amal-amal sholih yang menghapus dosa-dosa, meski yang bersangkutan belum bertaubat.

[11] Yakni suami yang mengharomkan dirinya menyetubuhi istrinya, mungkin karena sedang marah, dan biasanya diserupakan dengan ibunya: “Punggungmu seperti punggung ibuku” Yakni sebagaimana harom menyetubuhi ibuku begitu juga dirimu. Hal ini dianggap cerai sejak zaman jahiliyyah, lalu Islam datang menghapusnya. Si suami diberi tempo sampai 40 hari: antara kembali atau menceraikannya. Jika ia memilih kembali maka membayar kaffarot, dan jika ia memilih cerai maka diperbolehkan. Jika suami ingin memudhorotkan istrinya, tanpa mau menceraikannya, maka hakim berhak menceraikan keduaya.

[12] HR. Al-Bukhori no. 7096 dan Muslim no. 144. Dosa kepada keluarganya seperti memukul wajahnya; pada hartanya seperti menggunakannya untuk maksiat; pada anaknya seperti tidak mengajarinya sholat; pada tetangganya seperti membicarakan aibnya.

[13] Arti dhob bukan biawak. Biawak binatang liar dan memangsa dengan kuku dan taringnya dan ia harom dimakan, sementara makanan dhob adalah rumput dan ia halal dimakan.

[14] HR. Al-Bukhori no. 3456 dan Muslim no. 2669 dengan perbedaan lafazh.

[15] Ayat ini tentang orang-orang yang munafik yang gemar bersenang-senang bersamaan dengan malasnya ibadah. Mereka juga suka berbuat gaduh di tengah kaum Muslimin. Lalu kalian (para Sahabat) melakukannya juga. Poin ayat ini, generasi terbaik ini, mereka tanpa sengaja melakukan perbuatan orang-orang munafik (di awal-awal Islam), lantas bagaimana lagi dengan orang-orang selain mereka?

[16] HR. Muslim no. 746.

[17] HR. At-Tirmidzi no. 2004 dengan sanad shohih.

[18] HR. Abu Dawud no. 4682 dengan sanad hasan shohih.

[19] HR. Muslim no. 2676. Ahli dzikir disebut orang yang menyendiri, karena asal berdzikir bukan jamaah, tetapi sendiri-sendiri dan disembunyikan antara dirinya dengan Allah.

[20] Yang benar diriwayatkan At-Tirmidzi no. 3377 dan Ibnu Majah no. 3790 dengan sanad shohih.

[21] Buku yang bagus untuk doa dan dzikir adalah Hisnul Muslim karya Syaikh Dr. Sa’id Al-Qohthoni dan Doa dan Dzikir karya Ustadz Yazid Abdul Qodir Jawas.

[22] Empat kalimat ini ditambah La ilāha illa Allah merupakan kalimat yang paling Allah cintai dan tidak masalah dibolak balik urutannya, sebagaimana dalam hadits Muslim no. 2137.

[23] HR. Muslim no. 2577.

[24] HR. At-Tirmidzi 5/583 dan Abu Ya’la no. 3403 dengan sanad shohih sesuai syarat Muslim. Lafazh (فَإِنَّهُ...) adalah tambahan dari ucapan Aisyah ڤ yang shohih dalam Musnad Abu Ya’la.

[25] HR. Muslim no. 713.

[26] HR. At-Tirmidzi no. 2465 dengan perbedaan lafazh, sanadnya shohih.

[27] Cara memahaminya dengan mengajukan dua pertanyaan: (1) apa yang diinginkan Nabi saat mengucapkannya pada waktu itu dan (2) apa yang dipahami oleh Sahabat saat mendengarnya.

[28] HR. Muslim no. 770.

[29] HR. Muslim no. 2577.

[30] Yang benar Ziyad bin Labid.

[31] HR. At-Tirmidzi no. 2653 dengan perbedaan lafazh, sanadnya shohih.


Related

DOA DAN TAZKIYATUN NUFUS 1753025643321816834

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda yang sopan dan rapi.

emo-but-icon

Total Tayangan Halaman

Tentang Admin

Penulis bernama Nor Kandir ini kelahiran Jepara. Semenjak kecil tertarik dengan membaca terutama tentang alam ghoib dan huru-hara Hari Kiamat. Alumni Mahad Radlatul Ulum Pati ini juga pernah nyantri di Mahad Tahfiz Quran Wadi Mubarok Bogor dan Pondok Mahasiswa Thaybah Surabaya dibawah asuhan Ust. Muhammad Nur Yasin, Lc dan beliau adalah guru utama penulis.

Gelar akademik penulis diperoleh di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan LIPIA Surabaya (cabang Universitas Al Imam di Riyadh KSA). Kesibukan hariannya adalah imam Rowatib, mengajar bahasa Arab, dan menerjemahkan kitab-kitab yang diupload secara gratis di www.terjemahmatan.com

PENTING

Semua buku di situs ini adalah legal dan telah mendapatkan izin dari penerbit dan penulisnya untuk dicetak, disebar, dan dimanfaatkan dalam bentuk apapun. Boleh dikomersialkan dengan syarat: meminta izin ke penulis dan harganya dibuat murah (tanpa royalti penulis) serta tidak merubah isi kecuali ada kesalahan secara ejaan dan kesalahan syar'i. .

Bagi yang membutuhkan file wordnya untuk keperluan dakwah, bisa menghubungi Penulis di 085730-219-208.

Barokallahu fikum.

Pengikut

Hot in week

item