[]

Kitab Pengobatan - Shohih Al-Bukhori | Pustaka Syabab

 Kitab Pengobatan - Shohih Al-Bukhori Download PDF atau WORD 1. Bab: Allah Tidak Menurunkan Penyakit Kecuali Menurunkan Juga Obatnya 5678...

 Kitab Pengobatan - Shohih Al-Bukhori



Download PDF atau WORD


1. Bab: Allah Tidak Menurunkan Penyakit Kecuali Menurunkan Juga Obatnya

5678 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً»

5678. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan juga obatnya.”

2. Bab: Bolehkah Lelaki Mengobati Wanita atau Sebaliknya?

5679 - عَنْ رُبَيِّعَ بِنْتِ مُعَوِّذِ ابْنِ عَفْرَاءَ ڤ، قَالَتْ: «كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، نَسْقِي القَوْمَ وَنَخْدُمُهُمْ، وَنَرُدُّ القَتْلَى وَالجَرْحَى إِلَى المَدِينَةِ»

5679. Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin Afro Rodhiyallōhu ‘Anhuma, dia berkata: “Kami dahulu ikut berperang bersama Rasulullah . Kami bertugas memberi minum pasukan dan melayani (mengobati) mereka. Pasukan yang terbunuh dan terluka kami bawa ke Madinah.”

3. Bab: Kesembuhan Pada Tiga Hal

5680 - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ﭭ، قَالَ: «الشِّفَاءُ فِي ثَلاَثَةٍ: شَرْبَةِ عَسَلٍ، وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ، وَكَيَّةِ نَارٍ، وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الكَيِّ» رَفَعَ الحَدِيثَ

5680. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Kesembuhan ada pada tiga hal, yaitu meminum madu, menyayat dengan bekam, dan kay dengan api (menempelkan besi panas pada bagian yang luka), dan aku melarang umatku dari kay.”[1]

5681 - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «الشِّفَاءُ فِي ثَلاَثَةٍ: فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ، أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ، وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الكَيِّ»

5681. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, dari Nabi , beliau bersabda: “Kesembuhan ada pada tiga hal, yaitu pada sayatan bekam, meminum madu, dan kay dengan api, dan aku melarang umatku dari kay.”

4. Bab: Berobat dengan Madu

5682 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعْجِبُهُ الحَلْوَاءُ وَالعَسَلُ»

5682. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, dia berkata: “Rasulullah suka manisan dan madu.”

5683 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ﭭ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ - أَوْ: يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ - خَيْرٌ، فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ، أَوْ لَذْعَةٍ بِنَارٍ تُوَافِقُ الدَّاءَ، وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ»

5683. Dari Jabir bin Abdillah Rodhiyallōhu ‘Anhuma, ia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: “Jika ada dari obat kalian yang dapat menyembuhkan, maka itu terdapat pada sayatan bekam, meminum madu, atau mengecos besi panas yang mengenai luka, dan aku tidak menyukai kay.”

5684 - عَنْ أَبِي سَعِيدٍ : أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ، فَقَالَ: «اسْقِهِ عَسَلًا». ثُمَّ أَتَى الثَّانِيَةَ، فَقَالَ: «اسْقِهِ عَسَلًا». ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ: «اسْقِهِ عَسَلًا». ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ: قَدْ فَعَلْتُ، فَقَالَ: «صَدَقَ اللَّهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ، اسْقِهِ عَسَلًا»، فَسَقَاهُ فَبَرَأَ

5684. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa seseorang mendatangi Nabi lalu berkata: “Saudaraku sakit perut.” Jawab beliau: “Minumkanlah ia madu.” Kemudian dia datang untuk kedua kalinya, lalu beliau menyuruh lagi: “Minumkanlah ia madu.” Kemudian dia datang untuk ketiga kalinya, lalu beliau menyuruh lagi: “Minumkanlah ia madu.” Kemudian dia datang lagi dan berkata: “Sudah kulakukan (tetapi belum sembuh).” Beliau bersabda: “Allah benar dan perut saudaramu bohong, minumkanlah dia madu lagi.” Lalu dia memberinya minum lagi dan sembuh.[2]

5. Bab: Berobat dengan Susu Unta

5685 - عَنْ أَنَسٍ : أَنَّ نَاسًا كَانَ بِهِمْ سَقَمٌ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! آوِنَا وَأَطْعِمْنَا، فَلَمَّا صَحُّوا، قَالُوا: إِنَّ المَدِينَةَ وَخِمَةٌ، فَأَنْزَلَهُمُ الحَرَّةَ فِي ذَوْدٍ لَهُ، فَقَالَ: «اشْرَبُوا أَلْبَانَهَا»، فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ ﷺ وَاسْتَاقُوا ذَوْدَهُ، فَبَعَثَ فِي آثَارِهِمْ، فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ، وَسَمَرَ أَعْيُنَهُمْ، فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنْهُمْ يَكْدِمُ الأَرْضَ بِلِسَانِهِ حَتَّى يَمُوتَ. قَالَ سَلَّامٌ: فَبَلَغَنِي أَنَّ الحَجَّاجَ قَالَ لِأَنَسٍ: حَدِّثْنِي بِأَشَدِّ عُقُوبَةٍ عَاقَبَهُ النَّبِيُّ ﷺ، فَحَدَّثَهُ بِهَذَا فَبَلَغَ الحَسَنَ، فَقَالَ: وَدِدْتُ أَنَّهُ لَمْ يُحَدِّثْهُ بِهَذَا

5685. Dari Anas bin Malik Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa sekelompok orang yang tertimpa penyakit demam (karena cuaca Madinah) berkata: “Wahai Rasulullah! Berilah kami tempat menginap dan jamuan makan.” Setelah sehat, mereka berkata: “Cuaca Madinah tidak cocok dengan kami.” Maka beliau menyuruh mereka tinggal di piggiran Madinah bersama beberapa onta (3-9 ekor), seraya bersabda: “Silahkan minum susunya.” Setelah sehat, mereka membunuh penggembala Nabi dan menggiring unta-untanya. Maka beliau mengirim pasukan untuk melacak jejak mereka. (Setelah ditangkap) pasukan disuruh untuk memotong tangan-tangan dan kaki-kai mereka, dan mencongkel mata-mata mereka. Aku melihat salah satu dari mereka menjulurkan lidahnya ke tanah (kehausan) hingga mati.

Sallam (perawi) berkata: Telah sampai kabar kepadaku bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf berkata kepada Anas: “Sampaikan kepadaku hukuman paling berat yang pernah diterapkan Nabi ,” lalu Anas menyampaikan hadits ini, lalu hal ini sampai kepada Al-Hasan Al-Bashri lalu ia berkata: “Aku sangat berharap Anas tidak menceritakan hadits ini kepadanya.”[3]

6. Bab: Berobat dengan Kencing Unta

5686 - عَنْ أَنَسٍ ﭬ: «أَنَّ نَاسًا اجْتَوَوْا فِي المَدِينَةِ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ أَنْ يَلْحَقُوا بِرَاعِيهِ - يَعْنِي الإِبِلَ - فَيَشْرَبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا، فَلَحِقُوا بِرَاعِيهِ، فَشَرِبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا، حَتَّى صَلَحَتْ أَبْدَانُهُمْ، فَقَتَلُوا الرَّاعِيَ وَسَاقُوا الإِبِلَ، فَبَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ، فَبَعَثَ فِي طَلَبِهِمْ فَجِيءَ بِهِمْ ، فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ، وَسَمَرَ أَعْيُنَهُمْ».

5686. Dari Anas bin Malik Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa beberapa orang terkena demam karena cuaca Madinah, lalu Nabi memerintahkan mereka untuk menyusul penggembala unta agar bisa minum air susu dan air kencing unta-untanya (sebagai obat). Mereka pun menyusul penggembalanya dan meminum air susu dan air kencingnya hingga menjadikan mereka sehat. Lalu mereka membunuh penggembala dan menggiring unta-untanya. Kabar itu sampai kepada Nabi sehingga beliau mengutus pasukan untuk melacak mereka. Lalu tangan dan kaki mereka dipotong (secara bersilang) dan mata mereka dicongkel.

7. Bab: Habbatus Sauda (Jinten Hitam)[4]

5687 - عَنْ خَالِدِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: خَرَجْنَا وَمَعَنَا غَالِبُ بْنُ أَبْجَرَ فَمَرِضَ فِي الطَّرِيقِ، فَقَدِمْنَا المَدِينَةَ وَهُوَ مَرِيضٌ، فَعَادَهُ ابْنُ أَبِي عَتِيقٍ، فَقَالَ لَنَا: عَلَيْكُمْ بِهَذِهِ الحُبَيْبَةِ السَّوْدَاءِ، فَخُذُوا مِنْهَا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا فَاسْحَقُوهَا، ثُمَّ اقْطُرُوهَا فِي أَنْفِهِ بِقَطَرَاتِ زَيْتٍ، فِي هَذَا الجَانِبِ وَفِي هَذَا الجَانِبِ، فَإِنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَتْنِي: أَنَّهَا سَمِعَتِ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ هَذِهِ الحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ، إِلَّا مِنَ السَّامِ»، قُلْتُ: وَمَا السَّامُ؟ قَالَ: المَوْتُ

5687. Dari Kholid bin Sa’ad, dia berkata: Kami keluar safar bersama Gholib bin Abjar lalu ia jatuh sakit di jalan. Ketika sampai di Madinah dia masih sakit, lalu Ibnu Abi Athiq menjenguknya, lalu ia berkata kepada kami: “Berobatlah dengan Habbatus Sauda, ambillah lima atau tujuh biji lalu tumbuklah lalu teteskanlah ke hidungnya disertai beberapa tetes minyak (Zaitun), di bagian ini dan bagian itu, karena ‘Aisyah menyampaikan kepadaku: Aku mendengar Nabi bersabda: “Sesungguhnya Habbatus Suada ini adalah obat segala penyakit kecuali sām.” Aku bertanya: “Apa itu sām?” Jawab beliau: “Kematian.”[5]

5688 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «فِي الحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ، إِلَّا السَّامَ»

5688. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda: “Pada Habbatus Sauda terdapat obat segala penyakit kecuali kematian.”

8. Bab: Talbinah Untuk Orang Sakit[6]

5689 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، أَنَّهَا كَانَتْ تَأْمُرُ بِالتَّلْبِينِ لِلْمَرِيضِ وَلِلْمَحْزُونِ عَلَى الهَالِكِ، وَكَانَتْ تَقُولُ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ التَّلْبِينَةَ تُجِمُّ فُؤَادَ المَرِيضِ، وَتَذْهَبُ بِبَعْضِ الحُزْنِ»

5689. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, bahwa dia menyuruh agar memakan talbinah untuk orang yang sakit dan orang yang dilanda kesedihan dari kematian, dan dia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya talbinah menyegarkan hati orang yang sakit dan menghilangkan sebagian rasa sedih.”

5690 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، أَنَّهَا كَانَتْ تَأْمُرُ بِالتَّلْبِينَةِ وَتَقُولُ: «هُوَ البَغِيضُ النَّافِعُ»

5690. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, bahwa dia menyuruh memakan talbinah dan berkata: “Dia dibenci tetapi bermanfaat.”

9. Bab: Obat Tetes Hidung

5691 - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ﭭ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «احْتَجَمَ وَأَعْطَى الحَجَّامَ أَجْرَهُ، وَاسْتَعَطَ»

5691. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, dari Nabi , bahwa beliau berbekam dan memberi tukang bekam upahnya, dan melakukan pengobatan tetes hidung.

10. Bab: Berobat Tetes Hidung dengan Qushthul Hindi dan Qushthul Bahri

5692 - عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ ڤ، قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «عَلَيْكُمْ بِهَذَا العُودِ الهِنْدِيِّ، فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ: يُسْتَعَطُ بِهِ مِنَ العُذْرَةِ، وَيُلَدُّ بِهِ مِنْ ذَاتِ الجَنْبِ»

5692. Dari Ummu Qois binti Mihson Rodhiyallōhu ‘Anhuma, dia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: “Berobatlah dengan kayu Hindia, karena di dalamnya terdapat tujuh macam obat, (di antaranya) untuk mengobati amandel dengan ditetaskan/dioleskan, dan untuk mengobati radang selaput dada dengan dioleskan.”

5693 - وَدَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ بِابْنٍ لِي لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ، فَبَالَ عَلَيْهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَرَشَّ عَلَيْهِ

5693. “Dan aku menemui Nabi membawa putraku yang belum makan apa-apa (masih bayi) lalu mengencingi beliau. Beliau meminta diambilkan air lalu memercikkannya pada bagian tersebut.”

11. Bab: Kapan Waktu Berbekam?

5694 - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ: «احْتَجَمَ النَّبِيُّ ﷺ وَهُوَ صَائِمٌ»

5694. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, dia berkata: “Nabi berbekam saat berpuasa.”

12. Bab: Berbekam Ketika Safar dan Ihrom

5695 - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ: «احْتَجَمَ النَّبِيُّ ﷺ وَهُوَ مُحْرِمٌ»

5695. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, dia berkata: “Nabi berbekam saat ihrom.”

13. Bab: Berbekam dari Penyakit

5696 - عَنْ أَنَسٍ ﭬ، أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ أَجْرِ الحَجَّامِ، فَقَالَ: احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ، وَأَعْطَاهُ صَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ، وَكَلَّمَ مَوَالِيَهُ فَخَفَّفُوا عَنْهُ، وَقَالَ: «إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الحِجَامَةُ، وَالقُسْطُ البَحْرِيُّ» وَقَالَ: «لاَ تُعَذِّبُوا صِبْيَانَكُمْ بِالْغَمْزِ مِنَ العُذْرَةِ، وَعَلَيْكُمْ بِالقُسْطِ»

5696. Dari Anas bin Malik Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa dia ditanya tentang upah tukang bekam lalu menjawab: Rasulullah pernah dibekam Abu Thoybah dan memberinya upah dua sho’ (sekitar 5 kg) makanan. Beliau menyarankan agar budak-budak yang dimerdekakannya diringankan (kewajiban-kewajiban kepada mantan majikan). Beliau bersabda: “Obat kalian yang paling mujarab adalah bekam dan kayu Hindia.” Beliau juga bersabda: “Kalian jangan menyiksa anak-anak kalian yang sakit amandel dengan menekankan jari-jari ke kerongkongannya. Akan tetapi obatilah dengan kayu Hindia.”

5697 عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ: أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ﭭ عَادَ المُقَنَّعَ ثُمَّ قَالَ: لاَ أَبْرَحُ حَتَّى تَحْتَجِمَ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ فِيهِ شِفَاءً»

5697. Dari Ashim bin Umar bin Qotadah, bahwa Jabir bin Abdillah Rodhiyallōhu ‘Anhuma menjenguk Al-Muqonna’ lalu ia berkata: Aku tidak akan pulang hingga kamu berbekam, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya padanya ada kesembuhan.”

14. Bab: Membekam Bagian Atas Kepala

5698 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ ، قَالَ: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ احْتَجَمَ بِلَحْيِ جَمَلٍ مِنْ طَرِيقِ مَكَّةَ، وَهُوَ مُحْرِمٌ، فِي وَسَطِ رَأْسِهِ»

5698. Dari Abdullah bin Buhainah Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah berbekam di Lahyi Jamal di jalan Makkah saat ihrom, di tengah kepala.

5699 - عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ ﭭ: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ احْتَجَمَ فِي رَأْسِهِ»

5699. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah berbekam di kepalanya.

15. Bab: Berbekam Karena Migren dan Pusing

5700 - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : «احْتَجَمَ النَّبِيُّ ﷺ فِي رَأْسِهِ وَهُوَ مُحْرِمٌ، مِنْ وَجَعٍ كَانَ بِهِ، بِمَاءٍ يُقَالُ لَهُ لُحْيُ جَمَلٍ»

5700. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, bahwa Nabi membekam kepalanya saat ihrom, karena penyakit yang menimpa beliau dengan air bernama Luhyu Jamal.

5701 - عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ فِي رَأْسِهِ، مِنْ شَقِيقَةٍ كَانَتْ بِهِ»

5701. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah berbekam di kepalanya saat ihrom, karena migren (sakit kepala sebelah) yang menimpanya.

5702 - عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ: فَفِي شَرْبَةِ عَسَلٍ، أَوْ شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ لَذْعَةٍ مِنْ نَارٍ، وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ»

5702. Dari Jabir bin Abdillah Rodhiyallōhu ‘Anhuma, dia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: “Jika ada dari obat kalian yang mujarab maka itu terdapat pada meminum madu, sayatan bekam, atau cosan besi panas, dan aku tidak menyukai kay.”

16. Bab: Mencukur Rambut Kepala Karena Sakit

5703 - عَنْ كَعْبٍ هُوَ ابْنُ عُجْرَةَ ، قَالَ: أَتَى عَلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ زَمَنَ الحُدَيْبِيَةِ، وَأَنَا أُوقِدُ تَحْتَ بُرْمَةٍ، وَالقَمْلُ يَتَنَاثَرُ عَنْ رَأْسِي، فَقَالَ: «أَيُؤْذِيكَ هَوَامُّكَ؟» قُلْتُ: نَعَمْ ، قَالَ: «فَاحْلِقْ، وَصُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةً، أَوِ انْسُكْ نَسِيكَةً»

5703. Dari Ka’ab bin Ujroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Nabi mendatangiku pada saat Hudaibiyah (umroh Qodho), sementara aku menyalakan api di bawah periuk, dan kutu-kutu berjatuhan dari kepalaku lalu beliau bersabda: “Apakah kutu-kutumu ini mengganggumu?” Jawabku: “Iya.” Beliau bersbada: “Cukurlah rambutmu, dan puasalah tiga hari atau memberi makan enam orang miskin atau menyembelih kambing (sebagai fidyah).”

17. Bab: Orang yang Melakukan Kay atau Menerapkannya Pada Orang Lain dan Keutamaan Orang yang Tidak Melakukan Kay

5704 عَنْ جَابِرٍ ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ شِفَاءٌ: فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ لَذْعَةٍ بِنَارٍ، وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ»

5704. Dari Jabir Rodhiyallōhu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Jika ada sesuatu yang menyembuhkan dari obat-obatan kalian, maka itu terdapat pada sayatan bekam, pengecosan besi panas, dan aku tidak suka melakukan kay (pengecosan besi panas).”

5705 - عَنْ عَامِرٍ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ ﭭ، قَالَ: «لاَ رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ»، فَذَكَرْتُهُ لِسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، فَقَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ وَالنَّبِيَّانِ يَمُرُّونَ مَعَهُمُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، حَتَّى رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ، قُلْتُ: مَا هَذَا؟ أُمَّتِي هَذِهِ؟ قِيلَ: بَلْ هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ، قِيلَ: انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ، فَإِذَا سَوَادٌ يَمْلَأُ الأُفُقَ، ثُمَّ قِيلَ لِي: انْظُرْ هَا هُنَا وَهَا هُنَا فِي آفَاقِ السَّمَاءِ، فَإِذَا سَوَادٌ قَدْ مَلَأَ الأُفُقَ، قِيلَ: هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَيَدْخُلُ الجَنَّةَ مِنْ هَؤُلاَءِ سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ». ثُمَّ دَخَلَ وَلَمْ يُبَيِّنْ لَهُمْ، فَأَفَاضَ القَوْمُ، وَقَالُوا: نَحْنُ الَّذِينَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاتَّبَعْنَا رَسُولَهُ، فَنَحْنُ هُمْ، أَوْ أَوْلاَدُنَا الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الإِسْلاَمِ، فَإِنَّا وُلِدْنَا فِي الجَاهِلِيَّةِ، فَبَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ فَخَرَجَ، فَقَالَ: «هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَلاَ يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ». فَقَالَ عُكَاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ: أَمِنْهُمْ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ». فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ: أَمِنْهُمْ أَنَا؟ قَالَ: «سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ»

5705. Dari Amir, dari Imron bin Hushoin Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: “Ruqyah hanya diterapkan pada penyakit ain dan sengatan berbisa.” Aku sampaikan hadits itu kepada Sa’id bin Jubair lalu dia berkata: Ibnu Abbas menceritakan kepadaku: Rasulullah bersabda: “Umat-umat ditampakkan kepadaku, ternyata ada seorang Nabi atau dua Nabi berjalan bersama beberapa orang pengikutnya, ada pula seorang Nabi tanpa pengikut satupun, hingga ditampakkan kepadaku sekelompok manusia yang banyak sekali dan aku bertanya: ‘Siapa mereka? Apakah mereka umatku?’ Ada yang menjawab: ‘Bahkan mereka adalah Musa dan kaumnya. Akan tetapi lihatlah ke ufuk sana.’ Ternyata nampak sekelompok manusia yang menutupi ufuk (saking banyaknya). Lalu dikatakan kepadaku: ‘Lihatlah apa yang di ufuk sana dan sana.’ Ternyata ada sekelompok manusia banyak sekali hingga menutupi ufuk. Ada yang menyeru: ‘Mereka ini adalah umatmu berserta 70.000 dari mereka yang masuk Surga tanpa hisab.” Kemudian beliau masuk rumahnya dan belum menjelaskan siapakah mereka yang 70.000 itu. Perbincangan para Sahabat didengar beliau, hingga beliau keluar dan menjelaskan: “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak menyakini ada kesialan, tidak melakukan kay, dan hanya bertawakal kepada Allah.” Lalu Ukasyah bin Mihshon berkata: “Apakah aku termasuk mereka wahai Rasulullah?” Jawab beliau: “Benar.” Lalu orang lain berdiri dan bertanya yang sama lalu dijawab beliau: “Kamu sudah didahului Ukkasyah.”

18. Bab: Menggunakan Itsmid dan Celak Karena Sakit Mata

5706 - عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ ڤ: أَنَّ امْرَأَةً تُوُفِّيَ زَوْجُهَا، فَاشْتَكَتْ عَيْنَهَا، فَذَكَرُوهَا لِلنَّبِيِّ ﷺ، وَذَكَرُوا لَهُ الكُحْلَ، وَأَنَّهُ يُخَافُ عَلَى عَيْنِهَا، فَقَالَ: «لَقَدْ كَانَتْ إِحْدَاكُنَّ تَمْكُثُ فِي بَيْتِهَا فِي شَرِّ أَحْلاَسِهَا - أَوْ: فِي أَحْلاَسِهَا فِي شَرِّ بَيْتِهَا - فَإِذَا مَرَّ كَلْبٌ رَمَتْ بَعْرَةً، فَهَلَّا، أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا»

5706. Dari Ummu Salamah Rodhiyallōhu ‘Anha, bahwa ada seorang wanita yang ditinggal wafat suaminya lalu bengkak matanya (karena banyak menangis). Orang-orang memberitahukan hal itu kepada Nabi dan mereka meminta izin untuk bercelak karena mengkhawatirkan matanya, lalu beliau bersabda: “Sungguh salah seorang wanita (di masa Jahiliyah) berdiam di rumahnya dengan pakaiannya yang paling jelek —atau: dengan mengenakan pakaian terjelek di rumah terjelek—. Apabila ada anjing yang lewat, dia lempari dengan kotoran. Tunggulah sampai empat bulan sepuluh hari.”[7]

19. Bab: Kusta

5707 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ المَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ»

5707. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada kesialan, tidak ada hantu, tidak ada bulan Shofar yang sial, dan larilah dari kusta seperti larimu dari singa.”[8]

20. Bab: Mann Mengobati Penyakit Mata

5708 عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «الكَمْأَةُ مِنَ المَنِّ، وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ»

5708. Dari Sa’id bin Zaid Rodhiyallōhu ‘Anhuma, ia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: “Kam’ah termasuk mann (pemberian), dan airnya bisa digunakan untuk mengobati mata.”[9]

21. Bab: Memasukkan Obat Lewat Mulut

5709 عَائِشَةَ ڤ: «أَنَّ أَبَا بَكْرٍ ﭬ قَبَّلَ النَّبِيَّ ﷺ وَهُوَ مَيِّتٌ»

5709. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, dia berkata: “Abu Bakar mencium Nabi saat wafat.”

5712 - قَالَتْ عَائِشَةُ ڤ: لَدَدْنَاهُ فِي مَرَضِهِ فَجَعَلَ يُشِيرُ إِلَيْنَا: «أَنْ لاَ تَلُدُّونِي»، فَقُلْنَا: كَرَاهِيَةُ المَرِيضِ لِلدَّوَاءِ، فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ: «أَلَمْ أَنْهَكُمْ أَنْ تَلُدُّونِي؟» قُلْنَا: كَرَاهِيَةَ المَرِيضِ لِلدَّوَاءِ، فَقَالَ: «لاَ يَبْقَى فِي البَيْتِ أَحَدٌ إِلَّا لُدَّ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَّا العَبَّاسَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَشْهَدْكُمْ»

5712. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, ia berkata: Kami memasukkan obat ke mulut Rasulullah saat sakit dan beliau berisyarat kepada kami agar tidak melakukannya. Kami berkata: “Kebencian orang sakit kepada obat.” Ketika beliau sudah baikan, beliau berkata: “Bukankah aku sudah melarangmu memasukkan obat ke mulutku?” Jawab kami: “Kukira penolakan itu karena kebiasaan orang sakit yang tidak suka obat.” Beliau bersabda: “Tidak tersisa orang di rumah ini kecuali pernah dimasukkan obat ke mulutnya dan aku melihatnya kecuali Al-Abbas, karena dia tidak bersama kalian.”

5713 - عَنْ أُمِّ قَيْسٍ ڤ، قَالَتْ: دَخَلْتُ بِابْنٍ لِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَقَدْ أَعْلَقْتُ عَلَيْهِ مِنَ العُذْرَةِ، فَقَالَ: «عَلَى مَا تَدْغَرْنَ أَوْلاَدَكُنَّ بِهَذَا العِلاَقِ؟ عَلَيْكُنَّ بِهَذَا العُودِ الهِنْدِيِّ، فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ، مِنْهَا ذَاتُ الجَنْبِ: يُسْعَطُ مِنَ العُذْرَةِ، وَيُلَدُّ مِنْ ذَاتِ الجَنْبِ»

5713. Dari Ummu Qois Rodhiyallōhu ‘Anha, dia berkata: Aku menemui Rasulullah bersama anakku, dan pernah kuobati penyakit amandelnya dengan memasukkan jari-jari ke mulutnya. Lalu beliau bersabda: “Atas dasar apa kalian memaksa memasukkan jari-jari ke anak kalian? Akan tetapi obatilah dengan kayu Hindia, karena ia mengandung tujuh obat, di antaranya untuk mengobati radang selaput dada. Jika ditetaskan ke hidung, mengobati penyakit amandel dan jika dimasukkan ke mulut, mengobati penyakit radang selaput dada.”

22. Bab:

5714 عَنْ  عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ: أَنَّ عَائِشَةَ ڤ زَوْجَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتْ: «لَمَّا ثَقُلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَاشْتَدَّ وَجَعُهُ، اسْتَأْذَنَ أَزْوَاجَهُ فِي أَنْ يُمَرَّضَ فِي بَيْتِي، فَأَذِنَّ لَهُ، فَخَرَجَ بَيْنَ رَجُلَيْنِ تَخُطُّ رِجْلاَهُ فِي الأَرْضِ، بَيْنَ عَبَّاسٍ وَآخَرَ». فَأَخْبَرْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ، قَالَ: هَلْ تَدْرِي مَنِ الرَّجُلُ الآخَرُ الَّذِي لَمْ تُسَمِّ عَائِشَةُ؟ قُلْتُ: لاَ، قَالَ: هُوَ عَلِيٌّ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ بَعْدَ مَا دَخَلَ بَيْتَهَا، وَاشْتَدَّ بِهِ وَجَعُهُ: «هَرِيقُوا عَلَيَّ مِنْ سَبْعِ قِرَبٍ لَمْ تُحْلَلْ أَوْكِيَتُهُنَّ، لَعَلِّي أَعْهَدُ إِلَى النَّاسِ». قَالَتْ: فَأَجْلَسْنَاهُ فِي مِخْضَبٍ لِحَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ طَفِقْنَا نَصُبُّ عَلَيْهِ مِنْ تِلْكَ القِرَبِ، حَتَّى جَعَلَ يُشِيرُ إِلَيْنَا: «أَنْ قَدْ فَعَلْتُنَّ». قَالَتْ: وَخَرَجَ إِلَى النَّاسِ، فَصَلَّى لَهُمْ وَخَطَبَهُمْ

5714. Dari Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bahwa ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha istri Nabi berkata: “Ketika sakit yang diderita Rasulullah semakin parah, beliau meminta izin istri-istrinya untuk dirawat di rumahku. Mereka pun menginzinkannya dan dibopong oleh dua lelaki sambil kaki beliau tertatih menyeret tanah, salah satunya Abbas dan lelaki lain.” Aku kabarkan cerita ini kepada Ibnu Abbas dan ia berkata: “Apakah kamu tahu siapa nama lelaki yang tidak disebut namanya oleh ‘Aisyah?” Jawabku: “Tidak.” Katanya: “Dia adalah Ali.” ‘Aisyah melanjutkan: “Setelah masuk rumah dan bertambah rasa sakitnya, beliau bersabda: ‘Tolong guyurkan atasku tujuh geriba berisi air yang belum dibuka tali pengikatnya, mudah-mudahan aku bisa menemui manusia untuk menyampaikan pesan.’ Lalu kami dudukkan beliau di bejana milik Hafshoh istri Nabi . Kami pelan-pelan mengguyurkan air dari geriba tersebut atasnya hingga beliau berisyarat menyuruh kami berhenti. Lalu beliau keluar menemui manusia, mengimami mereka dan berkhutbah kepada mereka.

23. Bab: Sakit Amandel

5715 عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ الأَسَدِيَّةَ، أَسَدَ خُزَيْمَةَ، وَكَانَتْ مِنَ الْمُهَاجِرَاتِ الأُوَلِ اللَّاتِي بَايَعْنَ النَّبِيَّ ﷺ، وَهِيَ أُخْتُ عُكَاشَةَ: أَنَّهَا أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِابْنٍ لَهَا قَدْ أَعْلَقَتْ عَلَيْهِ مِنَ العُذْرَةِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «عَلَى مَا تَدْغَرْنَ أَوْلاَدَكُنَّ بِهَذَا الْعِلاَقِ؟ عَلَيْكُمْ بِهَذَا العُودِ الهِنْدِيِّ، فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ، مِنْهَا ذَاتُ الجَنْبِ» يُرِيدُ الكُسْتَ، وَهُوَ العُودُ الهِنْدِيُّ

5715. Dari Ummu Qois binti Mihshon Al-Asadiyah —termasuk Muhajirin pertama yang berbaiat kepada Nabi sekaligus saudari Ukkasyah—, dia mendatangi Rasulullah membawa anaknya berpenyakit amandel yang habis diobati dengan memasukkan jari-jari ke kerongkongannya. Lantas Nabi bersabda: “Atas dasar apa kalian memaksa memasukkan jari-jari ini ke anak-anak kalian? Gunakanlah kayu Hindia karena ia mengandung tujuh obat, di antaranya adalah mengobati penyakit radang selaput dada.”

24. Bab: Obat Sakit Perut

5716 - عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: إِنَّ أَخِي اسْتَطْلَقَ بَطْنُهُ، فَقَالَ: «اسْقِهِ عَسَلًا». فَسَقَاهُ فَقَالَ: إِنِّي سَقَيْتُهُ فَلَمْ يَزِدْهُ إِلَّا اسْتِطْلاَقًا، فَقَالَ: «صَدَقَ اللَّهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ»

5716. Dari Abu Said Al-Khudri Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Seseorang datang mendatangi Nabi seraya berkata: “Saudaraku sakit perutnya.” Beliau bersabda: “Beri dia minum madu.” Lalu diberinya ia madu lalu datang berkata lagi: “Aku sudah memberinya minum madu tetapi justru penyakit semakin parah.” Beliau bersabda: “Allah maha benar dan perut saudaramu bohong.”

25. Bab: Tidak Ada Penyakit yang Menyerang Perut

5717 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ». فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! فَمَا بَالُ إِبِلِي، تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ، فَيَأْتِي البَعِيرُ الأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا؟ فَقَالَ: «فَمَنْ أَعْدَى الأَوَّلَ؟»

5717. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada kesialan bulan Shofar, dan tidak ada hantu.” Ada Arab Baduwi yang berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan untaku yang saat di padang pasir bagaikan kijang liar (sehat) lalu setelah dikumpuli unta berpenyakit ia pun jadi sakit?” Beliau bersabda: “Lalu siapa yang menularkan penyakit pertama kali?”[10]

26. Bab: Radang Selaput Dada

5718 - عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ ڤ، وَكَانَتْ مِنَ الْمُهَاجِرَاتِ الأُوَلِ اللَّاتِي بَايَعْنَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، وَهِيَ أُخْتُ عُكَّاشَةَ بْنِ مِحْصَنٍ: أَنَّهَا أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِابْنٍ لَهَا قَدْ عَلَّقَتْ عَلَيْهِ مِنَ العُذْرَةِ، فَقَالَ: «اتَّقُوا اللَّهَ! عَلَى مَا تَدْغَرُونَ أَوْلاَدَكُمْ بِهَذِهِ الأَعْلاَقِ؟ عَلَيْكُمْ بِهَذَا العُودِ الهِنْدِيِّ، فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ، مِنْهَا ذَاتُ الجَنْبِ» يُرِيدُ الكُسْتَ، يَعْنِي القُسْطَ

5718. Dari Ummu Qois binti Mihshon Rodhiyallōhu ‘Anha —temasuk generasi Muhajirin pertama yang berbaiat kepada Rasulullah sekaligus saudara Ukkasyah bin Mihshon— bahwa dia mendatangi Rasululah membawa anaknya berpenyakit amandel (tonsilitis) yang baru saja diobati dengan cara memasukkan jari-jari ke kerongkongannya. Beliau bersabda: “Bertakwallah kepada Allah, atas dasar apa kalian memasukkan jari-jari ini ke mulut anak-anak kalian? Akan tetapi obatilah dengan kaya Hindia karena ia mengandung tujuh obat, di antaranya adalah untuk mengobati sakit radang selaput dada (pleuritis).”[11]

5719 - عَنْ أَنَسٍ : «أَنَّ أَبَا طَلْحَةَ وَأَنَسَ بْنَ النَّضْرِ كَوَيَاهُ، وَكَوَاهُ أَبُو طَلْحَةَ بِيَدِهِ»، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ: «أَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِأَهْلِ بَيْتٍ مِنَ الأَنْصَارِ أَنْ يَرْقُوا مِنَ الحُمَةِ وَالأُذُنِ». قَالَ أَنَسٌ: «كُوِيتُ مِنْ ذَاتِ الجَنْبِ، وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَيٌّ، وَشَهِدَنِي أَبُو طَلْحَةَ وَأَنَسُ بْنُ النَّضْرِ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ ، وَأَبُو طَلْحَةَ كَوَانِي»

5719. Dari Anas bin Malik Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa Abu Tholhah dan Anas bin An-Nadhor mengobatinya (Anas bin Malik) dengan kay, dan Abu Tholhah mengobatinya dengan tangannya sendiri.” Anas berkata: “Rasulullah menginzinkan salah satu keluarga Anshor untuk meruqyah dari bisa binatang dan penyakit telinga.” Anas berkata: “Aku pernah diobati dengan kay karena penyakit radang selaput dada saat Rasulullah masih hidup, sementara Abu Tholhah, Anas bin An-Nadhor, dan Zaid bin Tsabit menyaksikannya, dan yang mengobatiku adalah Abu Tholhah.”

27. Bab: Membakar Tikar (Penggunaan Debu) Untuk Menyumbat Darah

5722 - عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ ، قَالَ: «لَمَّا كُسِرَتْ عَلَى رَأْسِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ البَيْضَةُ، وَأُدْمِيَ وَجْهُهُ، وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ، وَكَانَ عَلِيٌّ يَخْتَلِفُ بِالْمَاءِ فِي المِجَنِّ، وَجَاءَتْ فَاطِمَةُ تَغْسِلُ عَنْ وَجْهِهِ الدَّمَ، فَلَمَّا رَأَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلاَمُ الدَّمَ يَزِيدُ عَلَى المَاءِ كَثْرَةً، عَمَدَتِ إِلَى حَصِيرٍ فَأَحْرَقَتْهَا، وَأَلْصَقَتْهَا عَلَى جُرْحِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَرَقَأَ الدَّمُ»

5722. Dari Sahal bin Sa’ad As-Saidi Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: “Ketika topi besi yang dipakai di kepala Rasulullah patah, wajah beliau berdarah, gigi seri beliau patah, sementara Ali mondar-mandir membawa dan mengambil air di wadah dan Fathimah membersihkan darah dari wajah beliau, maka ketika Fathimah melihat basuhan air tersebut justru menambah banyaknya darah, dia mengambil seikat tikar lalu dibakar dan abunya dioleskan ke luka Rasulullah . Seketika darah berhenti mengalir.”

28. Bab: Demam Berasal dari Uap Jahannam

5723 - عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ﭭ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «الحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ، فَأَطْفِئُوهَا بِالْمَاءِ». قَالَ نَافِعٌ: وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَقُولُ: «اكْشِفْ عَنَّا الرِّجْزَ»

5723. Dari Nafi, dari Ibnu Umar, dari Nabi , beliau bersabda: “Demam berasal dari uap Jahannam, maka padamkanlah dengan air.” Nafi berkata: Ibnu Ummar berkata: “Bebaskanlah penyakit ini dari kami (dengan menuangkan air).”

5724 - عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ المُنْذِرِ، أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ ﭭ: كَانَتْ إِذَا أُتِيَتْ بِالْمَرْأَةِ قَدْ حُمَّتْ تَدْعُو لَهَا، أَخَذَتِ المَاءَ، فَصَبَّتْهُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ جَيْبِهَا، قَالَتْ: «وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْمُرُنَا أَنْ نَبْرُدَهَا بِالْمَاءِ»

5724. Dari Fathimah binti Al-Mundzir bahwa Asma binti Abu Bakar apabila dibawa kepadanya wanita demam maka ia akan mempercikkan air di keningnya dan berkata: “Rasulullah menyuruh kami mendinginkannya dengan air.”

5725 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «الحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ، فَابْرُدُوهَا بِالْمَاءِ»

5725. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, dari Nabi , beliau bersabda: “Demam berasal dari uap Jahannam, maka dinginkanlah dengan air.”

5726 عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «الحُمَّى مِنْ فَوْحِ جَهَنَّمَ، فَابْرُدُوهَا بِالْمَاءِ»

5726. Dari Rofi bin Khodij Rodhiyallōhu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: “Demam berasal dari uap Jahannam, dinginkanlah dengan air.”

29. Bab: Mengungsi dari Tempat yang Tidak Cocok

5727 عَنْ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ نَاسًا أَوْ رِجَالًا مِنْ عُكْلٍ وَعُرَيْنَةَ قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَتَكَلَّمُوا بِالإِسْلاَمِ، وَقَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ! إِنَّا كُنَّا أَهْلَ ضَرْعٍ، وَلَمْ نَكُنْ أَهْلَ رِيفٍ، وَاسْتَوْخَمُوا المَدِينَةَ، فَأَمَرَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِذَوْدٍ وَبِرَاعٍ، وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَخْرُجُوا فِيهِ، فَيَشْرَبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا، فَانْطَلَقُوا حَتَّى كَانُوا نَاحِيَةَ الحَرَّةِ، كَفَرُوا بَعْدَ إِسْلاَمِهِمْ، وَقَتَلُوا رَاعِيَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَاسْتَاقُوا الذَّوْدَ، فَبَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ، فَبَعَثَ الطَّلَبَ فِي آثَارِهِمْ، وَأَمَرَ بِهِمْ فَسَمَرُوا أَعْيُنَهُمْ وَقَطَعُوا أَيْدِيَهُمْ، وَتُرِكُوا فِي نَاحِيَةِ الحَرَّةِ، حَتَّى مَاتُوا عَلَى حَالِهِمْ

5727. Dari Anas bin Malik Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa beberapa orang dari suku ‘Ukl dan ‘Uroinah mendatangi Rasulullah dan menyatakan ke-Islamannya. Mereka berkata: “Wahai Nabi Allah! Kami adalah para peternak dan bukan para petani.” Mereka tertimpa demam karena cuaca Madinah lalu mereka diperintahkan Rasulullah untuk menuju sekumpulan unta berserta penggembalaanya, dan mereka diperintahkan keluar Madinah dan tinggal di sana minum susu dan air kencing unta (sebagai obat). Ketika sampai di pinggiran gurun Madinah,  mereka kafir setelah masuk Islam dan membunuh penggembala Rasulullah dan mencuri unta-unta tersebut. Kabar itu sampai kepada Rasulullah lalu beliau mengirim pasukan untuk menangkap mereka. Akhirnya beliau memerintahkan agar mereka dicongkel matanya dan dipotong tangannya dan dibiarkan di gurun pasir hingga mati dalam kondisi seperti itu.

30. Bab: Tentang Thoun

5728 عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا»

5728. Dari Usamah bin Zaid, dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Jika kalian mendengar wabah Tho’un di sebuah wilayah, jangan masuk kepadanya. Jika ia mewabah sebuah wilayah yang kalian berada di dalamnya, maka jangan keluar darinya.”

5729 - عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ ﭬ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أُمَرَاءُ الأَجْنَادِ أَبُوعُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ، فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِأَرْضِ الشَّأْمِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَقَالَ عُمَرُ: ادْعُ لِي المُهَاجِرِينَ الأَوَّلِينَ، فَدَعَاهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ، وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ الوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَاخْتَلَفُوا، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: قَدْ خَرَجْتَ لِأَمْرٍ، وَلاَ نَرَى أَنْ تَرْجِعَ عَنْهُ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: مَعَكَ بَقِيَّةُ النَّاسِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَلاَ نَرَى أَنْ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الوَبَاءِ، فَقَالَ: ارْتَفِعُوا عَنِّي، ثُمَّ قَالَ: ادْعُوا لِي الأَنْصَارَ، فَدَعَوْتُهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ، فَسَلَكُوا سَبِيلَ المُهَاجِرِينَ، وَاخْتَلَفُوا كَاخْتِلاَفِهِمْ، فَقَالَ: ارْتَفِعُوا عَنِّي، ثُمَّ قَالَ: ادْعُ لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مُهَاجِرَةِ الفَتْحِ، فَدَعَوْتُهُمْ، فَلَمْ يَخْتَلِفْ مِنْهُمْ عَلَيْهِ رَجُلاَنِ، فَقَالُوا: نَرَى أَنْ تَرْجِعَ بِالنَّاسِ وَلاَ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الوَبَاءِ، فَنَادَى عُمَرُ فِي النَّاسِ: إِنِّي مُصَبِّحٌ عَلَى ظَهْرٍ فَأَصْبِحُوا عَلَيْهِ. قَالَ أَبُوعُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ: أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ؟ فَقَالَ عُمَرُ: لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ؟ نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ إِبِلٌ هَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ، إِحْدَاهُمَا خَصِبَةٌ وَالأُخْرَى جَدْبَةٌ، أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ، وَإِنْ رَعَيْتَ الجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ؟ قَالَ: فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ - وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ - فَقَالَ: إِنَّ عِنْدِي فِي هَذَا عِلْمًا، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ». قَالَ: فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ ثُمَّ انْصَرَفَ

5729. Dari Abdullah bin Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, bahwa Umar bin Khotob Rodhiyallōhu ‘Anhu keluar menuju Syam hingga ketika sampai di Sargho, ia ditemui oleh beberapa pemimpin pasukan yaitu Abu Ubaidah bin Al-Jarroh dan teman-temannya yang mengabarkan bahwa wabah telah menyerang Syam. Maka Umar berkata: “Panggilkan kaum Muhajirin.” Lalu mereka dipanggil dan diajak musyawaroh tentang wabah yang sudah menyerang Syam. Mereka bersilang pendapat, ada yang berkata: “Anda keluar untuk suatu tujuan dan kami memandang Anda tidak perlu mengurungkan niat kembali.” Yang lain berkata: “Anda membawa para Sahabat senior dan sahabat-sahabat Rasulullah , dan kami memandang Anda jangan memasukkan mereka ke dalam wabah.” Umar berkata: “Silahkan kalian pergi.” Lalu Umar berkata: “Panggillakan kaum Anshor.” Maka mereka dipanggil dan diajak musyawaroh, dan pendapat mereka sama dengan Muhajirin, bersilang pendapat seperti mereka. Umar berkata: “Silahkan kalian pergi.” Lalu Umar berkata: “Panggilkan pemuka-pemuka Quroisy dari orang-orang yang berhijroh pada Fathu Makkah.” Aku memanggil mereka dan mereka tidak ada yang berselisih kata satu pun, mereka berkata: “Kami memandang Anda membawa rombongan balik dan tidak memasukkan mereka ke dalam wabah.” Maka Umar mengumumkan: “Besok pagi saya akan berkemas balik dan berkemaslah kalian.” Abu Ubaidah bin Al-Jarroh berkata: “Apakah Anda hendak lari dari takdir Allah?” Umar berkata: “Andai yang mengatakannya bukan kamu wahai Abu Ubaidah. Benar, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bukankah jika kamu memiliki unta yang turun ke sebuah lembah yang memiliki dua tanah, satunya subur dan satunya tandus, bukanlah jika kamu menggembalakannya di tanah subur berarti kamu menggembalakannya dengan takdir Allah, begitu juga di tanah tandus?” Tiba-tiba Abdurrahman bin Auf datang, dan dia tidak hadir di awal karena ada keperluan, lalu ia berkata: “Aku memiliki ilmu tentang masalah ini, aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Jika kalian mendengar wabah menyerang di sebuah wilayah maka janganlah kalian memasukinya, dan jika ia menyerang di wilayah yang kalian berada di sana maka janganlah kalian keluar untuk kabur darinya.” Umar memuji Allah dan berpaling.

5730 - عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ - أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ - فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ»

5730. Dari Abdullah bin Amir bahwa Umar keluar menuju Syam, ketika sampai di Sargho, sampai kepadanya kabar bahwa wabah Tho’un telah menimpa Syam lalu Abdurrahman bin Auf mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah bersabda: “Apabila kalian mendengar wabah di sebuah wilayah maka kalian jangan memasukinya, dan jika wabah itu menimpah wilayah yang kalian ada di sana, maka kalian jangan keluar darinya melarikan diri.”

5731 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لاَ يَدْخُلُ المَدِينَةَ المَسِيحُ، وَلاَ الطَّاعُونُ»

5731. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Dajjal tidak bisa memasuki Madinah dan tidak pula Tho’un.”

5732 عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ، قَالَتْ: قَالَ لِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ﭬ: يَحْيَى بِمَ مَاتَ؟ قُلْتُ: مِنَ الطَّاعُونِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ»

5732. Dari Hafshoh binti Sirin, dia berkata: Anas bin Malik berkata kepadaku: “Apakah benar Yahya meninggal?” Jawabku: “Meninggal karena Tho’un.” Dia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Tho’un adalah kematian syahid bagi setiap Muslim.”

5733 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «المَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَالمَطْعُونُ شَهِيدٌ»

5733. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Orang mati karena sakit perut adalah syahid, dan orang mati karena Tho’un juga syahid.”

31. Bab: Pahala Bagi yang Sabar Menjalani Thoun

5734 - عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ: «أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ»

5734. Dari ‘Aisyah istri Nabi , bahwa ia bertanya kepada Rasulullah tentang Tho’un lalu Nabi menjawab: “Dia adalah adzab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki (dari orang-orang kafir), dan menjadikannya rahmat bagi orang-orang beriman. Siapa saja dari hamba yang terserang Tho’un lalu tetap tinggal di negerinya dengan sabar seraya meyakini bahwa apa yang menimpanya sudah ditulis Allah untuknya, niscaya dia mendapatkan seperti pahala orang mati syahid.”

32. Bab: Meruqyah dengan Al-Quran dan Muawwidzat

5735 - عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ ڤ: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي المَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ، وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا». فَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ: كَيْفَ يَنْفِثُ؟ قَالَ: «كَانَ يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ»

5735. Dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, “Nabi meniup (meruqyah) diri sendiri saat sakit yang mengantarkannya kepada kematian dengan Muawwidzât. Ketika sakit beliau bertambah parah, aku yang meniupkan untuknya dan mengusap menggunakan tangannya sendiri karena berbarokah.” Aku (Ma’mar) bertanya kepada Az-Zuhri: “Bagaimana cara meniupnya?” Dia menjawab: “Beliau meniupnya di kedua tangannya lalu mengusapkannya ke wajahnya.”[12]

33. Bab: Meruqyah dengan Al-Fatihah

5736 - عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ ﭬ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ أَتَوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ، إِذْ لُدِغَ سَيِّدُ أُولَئِكَ، فَقَالُوا: هَلْ مَعَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رَاقٍ؟ فَقَالُوا: إِنَّكُمْ لَمْ تَقْرُونَا، وَلاَ نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَجَعَلُوا لَهُمْ قَطِيعًا مِنَ الشَّاءِ، فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ القُرْآنِ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ، فَبَرَأَ، فَأَتَوْا بِالشَّاءِ، فَقَالُوا: لاَ نَأْخُذُهُ حَتَّى نَسْأَلَ النَّبِيَّ ﷺ، فَسَأَلُوهُ فَضَحِكَ وَقَالَ: «وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ خُذُوهَا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ»

5736. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa beberapa Sahabat Nabi mendatangi sebuah perkampungan Arob tetapi mereka tidak mau menjamu tamu. Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba kepala suku mereka tersengat kalajengking lalu mereka berkata: “Apakah kalian membawa obat atau peruqyah?” Para Sahabat menjawab: “Kalian tidak mau menjamu kami, dan kami tidak akan mengobati kecuali kalian memberi kami upah.” Mereka berjanji memberikan beberapa kambing. Maka salah seorang dari Sahabat (yakni Abu Sa’id) meruqyah dengan Ummul Qur’an (Al-Fatihah), dengan meludahi bagian yang sakit tersebut, lalu ia pun sembuh. Mereka memberi beberapa kambing, tetapi para Sahabat berkata: “Kita tidak akan mengambilnya hingga bertanya kepada Nabi .” Mereka bertanya kepada beliau dan beliau tertawa dan bersabda: “Dari mana kalian tahu bahwa ia adalah ruqyah? Ambil kambing-kambing itu dan beri aku bagiannya.”

34. Bab: Meruqyah dengan Syarat Beberapa Kambing

5737 - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ مَرُّوا بِمَاءٍ، فِيهِمْ لَدِيغٌ أَوْ سَلِيمٌ، فَعَرَضَ لَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ المَاءِ، فَقَالَ: هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ، إِنَّ فِي المَاءِ رَجُلًا لَدِيغًا أَوْ سَلِيمًا، فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْهُمْ، فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ عَلَى شَاءٍ، فَبَرَأَ، فَجَاءَ بِالشَّاءِ إِلَى أَصْحَابِهِ، فَكَرِهُوا ذَلِكَ وَقَالُوا: أَخَذْتَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْرًا؟ حَتَّى قَدِمُوا المَدِينَةَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَخَذَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْرًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ»

5737. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, bahwa beberapa Sahabat Nabi melewati sebuah pemukiman yang salah seorang dari mereka tersengat bisa atau sakit. Salah seorang dari perkampungan itu menghadap dan berkata: “Apakah di antara kalian ada peruqyah? Di perkampungan kami ada seseorang yang terkena sengatan bisa atau sakit.” Maka seorang dari Sahabat pergi untuk meruqyahnya menggunakan surat Al-Fatihah lalu sembuh. Akhirnya mereka mengupahi beberapa kambing kepada para Sahabat, tetapi mereka tidak menyukainya dan berkata: “Apakah kamu mengambil upah dari Kitabullah?” Ketika tiba di Madinah, mereka berkata: “Wahai Rasulullah! Dia mengambil upah dari Kitabullah.” Beliau menjawab: “Upah yang paling berhak kalian ambil adalah Kitabullah.”

35. Bab: Meruqyah Karena Ain[13]

5738 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، قَالَتْ: «أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَوْ أَمَرَ أَنْ يُسْتَرْقَى مِنَ العَيْنِ»

5738. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, dia berkata: “Rasulullah menyuruhku atau menyuruh mencarikan peruqyah untuk orang yang terkena penyakit Ain.”[14]

5739 - عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ ڤ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى فِي بَيْتِهَا جَارِيَةً فِي وَجْهِهَا سَفْعَةٌ، فَقَالَ: «اسْتَرْقُوا لَهَا، فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ»

5739. Dari Ummu Salamah Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa Nabi melihat seorang budak wanita di rumahnya berwajah hitam kekuningan (pucat) lalu bersabda: “Carikan peruqyah untuknya, karena dia tekena Ain.”

36. Bab: Ain Benar Adanya

5740 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «العَيْنُ حَقٌّ» وَنَهَى عَنِ الوَشْمِ

5740. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Ain benar adanya,” dan beliau melarang tato.

37. Bab: Meruqyah Karena Gigitan Ular dan Kalajengking

5741 - عَنِ الأَسْوَدِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ، عَنِ الرُّقْيَةِ مِنَ الحُمَةِ، فَقَالَتْ: «رَخَّصَ النَّبِيُّ ﷺ الرُّقْيَةَ مِنْ كُلِّ ذِي حُمَةٍ»

5741. Dari Al-Aswad, dia berkata: Aku bertanya ‘Aisyah tentang meruqyah karena sengatan berbisa lalu ia berkata: “Nabi mengizinkan meruqyah dari semua binatang berbisa.”

38. Bab: Ruqyah Nabi

5742 - عَنْ عَبْدِ العَزِيزِ، قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَثَابِتٌ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، فَقَالَ ثَابِتٌ: يَا أَبَا حَمْزَةَ! اشْتَكَيْتُ، فَقَالَ أَنَسٌ: أَلاَ أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: «اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ البَاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»

5742. Dari Abdul Aziz, dia berkata: Aku dan Tsabit Al-Bunani menemui Anas bin Malik lalu Tsabit berkata: “Wahai Abu Hamzah (Anas)! Aku sedang sakit.” Anas berkata: “Maukah kamu kuruqyah dengan ruqyah Rasulullah ?” Jawabnya: “Mau.” Dia membaca: “Wahai Robb manusia, penghilang penyakit, sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tidak ada penyembah kecuali Engkau, kesembuhan tanpa meninggalkan penyakit lain (efek samping).”

5743 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُعَوِّذُ بَعْضَ أَهْلِهِ، يَمْسَحُ بِيَدِهِ اليُمْنَى وَيَقُولُ: «اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»

5743. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, bahwa Nabi biasa menjenguk keluarganya (yang sakit) sambil mengusap dengan tangan kanannya dan berdoa: “Wahai Robb manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah dia, dan Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan tanpa meninggalkan penyakit lain (efek samping).”

5744 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَرْقِي يَقُولُ: «امْسَحِ البَاسَ رَبَّ النَّاسِ، بِيَدِكَ الشِّفَاءُ، لاَ كَاشِفَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ»

5744. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, bahwa Rasulullah biasa meruqyah dengan membaca: “Hilangkanlah penyakit ini wahai Robb manusia, hanya di Tangan-Mu kesembuhan, tidak ada yang menyembuhkannya kecuali Engkau.”

5745 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُولُ لِلْمَرِيضِ: «بِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا»

5745. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, bahwa Nabi biasa meruqyah orang sakit: “Dengan nama Allah, (ini) debu tanah kami, dengan air liur sebagian kami, akan sembuh orang yang sakit dari kami, dengan seizin Robb kami.”[15]

5746 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي الرُّقْيَةِ: «تُرْبَةُ أَرْضِنَا، وَرِيقَةُ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا»

5746. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, dia berkata: Nabi biasa membaca ruqyah: “(Ini) debu tanah kami dan air liur sebagian dari kami, akan sembuh orang yang sakit dari kami, dengan seizin Robb kami.”[16]

39. Bab: Meniup dalam Meruqyah

5747 - عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا قَتَادَةَ يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «الرُّؤْيَا مِنَ اللَّهِ، وَالحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفِثْ حِينَ يَسْتَيْقِظُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، وَيَتَعَوَّذْ مِنْ شَرِّهَا، فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ». وَقَالَ أَبُو سَلَمَةَ: وَإِنْ كُنْتُ لَأَرَى الرُّؤْيَا أَثْقَلَ عَلَيَّ مِنَ الجَبَلِ، فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ سَمِعْتُ هَذَا الحَدِيثَ فَمَا أُبَالِيهَا

5747. Dari Abu Salamah, dia berkata: Aku mendengar Abu Qotadah berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: “Mimpi baik dari Allah dan mimpi buruk dari setan. Apabila seorang dari kalian bermimpi buruk, meludahlah tiga kali saat terbangun, dan berlindung dari keburukannya, karena hal itu tidak membahayakannya.” Abu Salamah berkata: “Sungguh aku benar-benar bermimpi buruk yang lebih berat bagiku daripada gunung, tetapi setelah mendengar hadits ini, aku tidak peduli lagi.”[17]

5748 - عَنْ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ ڤ، قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ، نَفَثَ فِي كَفَّيْهِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَبِالْمُعَوِّذَتَيْنِ جَمِيعًا، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ، وَمَا بَلَغَتْ يَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ». قَالَتْ عَائِشَةُ: «فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ». قَالَ يُونُسُ: كُنْتُ أَرَى ابْنَ شِهَابٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ إِذَا أَتَى إِلَى فِرَاشِهِ

5748. Dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Az-Zubair, ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, dia berkata: “Apabila Rasulullah rebahan di ranjangnya (hendak tidur), beliau meniup kedua tangannya dengan Al-Ikhlas dan Muawwidzatain, kemudian digunakan untuk mengusap wajahnya dan bagian tubuh yang terjangkau oleh kedua tangannya. Ketika sakit, beliau menyuruhku melalukan itu.” Yunus berkata: Aku melihat Ibnu Syihab melakukan itu, jika rebahan di ranjangnya.[18]

5749 - عَنْ أَبِي سَعِيدٍ : أَنَّ رَهْطًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ انْطَلَقُوا فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا، حَتَّى نَزَلُوا بِحَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ، فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ، فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الحَيِّ، فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ قَدْ نَزَلُوا بِكُمْ، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ، فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوا: يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ، إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ، فَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ، فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ شَيْءٌ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ، وَاللَّهِ إِنِّي لَرَاقٍ، وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُونَا، فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنَ الغَنَمِ، فَانْطَلَقَ فَجَعَلَ يَتْفُلُ وَيَقْرَأُ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ حَتَّى لَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ، فَانْطَلَقَ يَمْشِي مَا بِهِ قَلَبَةٌ، قَالَ: فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: اقْسِمُوا، فَقَالَ الَّذِي رَقَى: لاَ تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ، فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا، فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَذَكَرُوا لَهُ، فَقَالَ: «وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ أَصَبْتُمْ، اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ بِسَهْمٍ»

5749. Dari Abu Said Al-Khudri Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa sekelompk Sahabat Rasulullah melakukan safar hingga singgah di sebuah perkampungan Arob. Mereka meminta dijamu tetapi ditolak dijamu. Ketua suku perkampungan tersebut tersengat binatang berbisa sehingga orang-orang melakukan segala cara untuk menyembuhkannya tetapi tidak ada yang mujarab. Di antara mereka ada yang berkata: “Bagaimana jika kita mendatangi rombongan yang singgah di kampung kita, mudah-mudahan mereka memiliki sesuatu.” Mereka pun mendatangi mereka dan berkata: “Wahai rombongan, kepala suku kami tersengat binatang berbisa, dan kami telah melakukan segala cara tetapi tidak ada yang mujarab, apakah kalian memiliki sesuatu untuk mengobatinya?” Ada yang menjawab: “Benar, demi Allah aku adalah peruqyah, tetapi demi Allah saat kami minta dijamu, kalian tidak menjamu kami, maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian kecuali kalian memberi kami upah.” Akhirnya mereka sepakat berupa beberapa kambing. Maka dia (Abu Sa’id) pun pergi (untuk meruqyahnya) dengan meludahi (bagian sengatan) dengan bacaan Al-Fatihah. Kepala suku itu seolah-olah terlepas dari ikatan dan bisa kembali berjalan seperti tidak pernah sakit. Dia berkata: “Beri mereka upah yang tadi kalian sepakati bersama mereka.” Ada yang berkata: “Ayo kita bagi-bagi.” Sahabat yang meruqyah berkata: “Jangan lakukan sampai kita mendatangi Rasulullah dan menceritakan ini. Kita akan melihat apa yang beliau perintahkan kepada kita.” Mereka pun mendatangi Nabi dan menceritakan kisah itu, lalu beliau bersabda: “Dari mana kamu bahwa ia adalah ruqyah? Kalian benar, bagilah upah itu dan sertakan aku dalam bagian itu bersama kalian.”[19]

40. Bab: Peruqyah Mengusap Bagian yang Sakit dengan Tangan Kanannya

5750 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعَوِّذُ بَعْضَهُمْ، يَمْسَحُهُ بِيَمِينِهِ: «أَذْهِبِ البَاسَ رَبَّ النَّاسِ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»

5750. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, dia berkata: Nabi meruqyah orang-orang sambil mengusapnya dengan tangan kanannya: “Hilangkanlah penyakit ini wahai Robb manusia, dan sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain (efek samping).”

41. Bab: Wanita Meruqyah Lelaki

5751 عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ ڤ: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي مَرَضِهِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنَا أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ، فَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا». فَسَأَلْتُ ابْنَ شِهَابٍ: كَيْفَ كَانَ يَنْفِثُ؟ قَالَ: «يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ»

5751. Dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, bahwa Nabi meniuap (meruqyah) dirinya saat sakit yang mengantarkannya kepada kematian dengan Muawwidzat (tiga qul). Ketika sakitnya bertambah berat, aku yang membantu meniupnya dan mengusap dengan tangan kanannya sendiri karena berbarokah.” Ma’mar berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Syihab (Az-Zuhri): “Bagaimana cara meniup?” Jawabnya: “Meniuap pada kedua tangannya lalu diusapkan ke wajah.”

42. Bab: Tanpa Meruqyah

5752 - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ﭭ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ ﷺ يَوْمًا فَقَالَ: عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ، وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، وَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الأُفُقَ، فَرَجَوْتُ أَنْ تَكُونَ أُمَّتِي، فَقِيلَ: هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ، ثُمَّ قِيلَ لِي: انْظُرْ، فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الأُفُقَ، فَقِيلَ لِي: انْظُرْ هَكَذَا وَهَكَذَا، فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الأُفُقَ، فَقِيلَ: هَؤُلاَءِ أُمَّتُكَ، وَمَعَ هَؤُلاَءِ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَتَفَرَّقَ النَّاسُ وَلَمْ يُبَيَّنْ لَهُمْ، فَتَذَاكَرَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالُوا: أَمَّا نَحْنُ فَوُلِدْنَا فِي الشِّرْكِ، وَلَكِنَّا آمَنَّا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَلَكِنْ هَؤُلاَءِ هُمْ أَبْنَاؤُنَا، فَبَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: «هُمُ الَّذِينَ لاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَلاَ يَسْتَرْقُونَ، وَلاَ يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ». فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ: أَمِنْهُمْ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ». فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ: أَمِنْهُمْ أَنَا؟ فَقَالَ: «سَبَقَكَ بِهَا عُكَاشَةُ»

5752. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallōhu ‘Anhuma, dia berkata: Pada suatu hari Nabi menemui kami lalu bersabda: “Umat-umat diperlihatkan kepadaku. Tiba-tiba ada seorang Nabi bersama seorang pengikut, seorang Nabi bersama dua pengikut, seorang Nabi bersama beberapa pengikut, dan ada Nabi tanpa pengikut satu pun. Aku melihat rombongan manusia banyak sekali hingga menutupi ufuk, dan aku berharap mereka adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku: ‘Itu Musa dan umatnya.’ Kemudian dikatakan kepadaku: ‘Lihatlah ke sana.’ Aku melihat manusia yang banyak sekali hingga menutupi ufuk. Lalu dikatakan kepadaku: ‘Lihatlah ini dan itu juga.’ Aku melihat lagi rombongan manusia sangat banyak hingga menutupi ufuk. Lalu dikatakan kepadaku: ‘Mereka ini adalah umatmu beserta 70.000 orang yang akan masuk Surga tanpa hisab.’” Manusia berbeda pendapat siapakah mereka dan beliau belum menjelaskannya kepada mereka. Maka Sahabat-Sahabat Nabi berkata: “Adapun kita maka kita dilahirkan dalam kesyirikan, akan tetapi kita beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, mungkin mereka adalah anak-anak kita.” Hal itu sampai kepada Nabi lalu beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyakini adanya kesialan, tidak minta diruqyah, tidak melakukan pengobatan kay, dan hanya bertawakal kepada Allah.” Lalu Ukkasyah bin Mihshon berdiri seraya berkata: “Apakah aku termasuk mereka wahai Rasulullah?” Jawab beliau: “Benar.” Lalu lelaki lain berdiri seraya berkata: “Apakah aku juga termasuk mereka?” Jawab beliau: “Kamu telah didahului Ukkasyah.”

43. Bab: Thiyaroh (Anggapan Sial dengan Burung)

5753 - عَنِ ابْنِ عُمَرَ ﭭ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَالشُّؤْمُ فِي ثَلاَثٍ: فِي المَرْأَةِ، وَالدَّارِ، وَالدَّابَّةِ»

5753. Dari Ibnu Umar Rodhiyallōhu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular (tanpa kehendak Allah), tidak ada kesialan dengan burung, dan kesialan ada pada tiga hal: wanita, rumah, dan kendaraan.”[20]

5754 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «لاَ طِيَرَةَ، وَخَيْرُهَا الفَأْلُ». قَالُوا: وَمَا الفَأْلُ؟ قَالَ: «الكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ»

5754. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Tidak ada anggapan kesialan, dan anggapan terbaik adalah optimis (berbaik sangka).” Orang-orang bertanya: “Apa itu optimis?” Jawab beliau: “Kalimat baik yang didengar oleh seorang dari kalian.”[21]

44. Bab: Optimis

5755 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لاَ طِيَرَةَ، وَخَيْرُهَا الفَأْلُ». قَالَ: وَمَا الفَأْلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ»

5755. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Nabi bersabda: “Tidak ada anggapan kesialan, dan anggapan terbaik adalah optimis.” Ada yang bertanya: “Apa itu optimis wahai Rasulullah?” Jawab beliau: “Kalimat baik yang didengar oleh salah seorang dari kalian.”

5756 - عَنْ أَنَسٍ ﭬ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الفَأْلُ الصَّالِحُ: الكَلِمَةُ الحَسَنَةُ»

5756. Dari Anas Rodhiyallōhu ‘Anhu, dari Nabi , dia bersabda: “Tidak ada penyakit menular (tanpa kehendak Allah), tidak ada anggapan kesialan, dan aku sangat suka optimis yang baik yaitu kalimat yang baik.”

45. Bab: Tidak Ada Hantu

5757 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ»

5757. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Tidak ada penyakit menular (tanpa kehendak Allah), tidak ada kesialan, tidak ada hantu, dan tidak ada bulan Shofar yang sial.”[22]

46. Bab: Perdukunan

5758 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَضَى فِي امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا، فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى بِحَجَرٍ، فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهِيَ حَامِلٌ، فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِي فِي بَطْنِهَا، فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَضَى: أَنَّ دِيَةَ مَا فِي بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ، فَقَالَ وَلِيُّ المَرْأَةِ الَّتِي غَرِمَتْ: كَيْفَ أَغْرَمُ، يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ لاَ شَرِبَ وَلاَ أَكَلَ، وَلاَ نَطَقَ وَلاَ اسْتَهَلَّ، فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الكُهَّانِ»

5758. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, Rasulullah mengadili dua wanita dari suku Hudzail yang saling berkelahi. Salah satu dari keduanya melemparinya dengan batu dan mengenai perutnya yang sedang hamil, yang menyebabkan janin yang di perutnya mati. Lalu orang-orang mengadukan perkara itu kepada Nabi dan beliau  memutuskan bahwa diyat (ganti rugi) untuk janin yang di perutnya berupa satu budak lelaki atau perempuan. Lalu wali si wanita yang berkewajiban membayar diyat itu berkata: “Bagaimana bisa aku menanggung diyat janin yang belum minum, makan, berbicara, dan berteriyak? Semestinya diyatnya dibebaskan.” Nabi bersabda: “Orang ini termasuk saudara dukun.”[23]

5759 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ أَنَّ امْرَأَتَيْنِ رَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ، فَطَرَحَتْ جَنِينَهَا، فَقَضَى فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ أَوْ وَلِيدَةٍ

5759. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa ada dua wanita yang salah satu dari keduanya melemparinya dengan batu hingga mengenai janinnya. Lalu Nabi memutuskan menggantinya dengan membayar satu budak lelaki atau budak perempuan.

5760 - عَنْ سَعِيدِ بْنِ المُسَيِّبِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَضَى فِي الجَنِينِ يُقْتَلُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ أَوْ وَلِيدَةٍ، فَقَالَ الَّذِي قُضِيَ عَلَيْهِ: كَيْفَ أَغْرَمُ مَا لاَ أَكَلَ وَلاَ شَرِبَ، وَلاَ نَطَقَ وَلاَ اسْتَهَلَّ، وَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الكُهَّانِ»

5760. Dari Sa’id bin Al-Musayyib, bahwa Rasulullah memutuskan janin yang dibunuh di perut ibunya berupa satu budak lelaki atau budak perempuan lalu wali pelaku tersebut berkata: “Bagaimana bisa aku harus menanggung diyat untuk janin yang tidak makan, minum, berbicara, dan berteriak? Semestinya diyatnya dibebaskan.” Lalu Rasulullah bersabda: “Orang ini termasuk saudara dukun.”

5761 - عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: «نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنْ ثَمَنِ الكَلْبِ، وَمَهْرِ البَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الكَاهِنِ»

5761. Dari Abu Mas’ud Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: “Nabi melarang harga anjing, upah pezina, dan upah dukun.”[24]

5762 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، قَالَتْ: سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَاسٌ عَنِ الكُهَّانِ، فَقَالَ: «لَيْسَ بِشَيْءٍ». فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تِلْكَ الكَلِمَةُ مِنَ الحَقِّ، يَخْطَفُهَا مِنَ الجِنِّيِّ، فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ، فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ»

5762. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah tentang dukun lalu dijawab: “Tidak benar sama sekali.”  Orang-orang berkata: “Wahai Rasulullah! Kadang mereka menyampaikan kabar yang benar terjadi.” Rasulullah bersabda: “Kabar yang disampaikannya itu memang dari kebenaran (wahyu langit) yang didapatkannya dari jin. Lalu oleh jin itu, informasi itu disampaikan ke telinga temannya (para dukun), lalu para dukun mencampurinya seratus kebohongan.”

47. Bab: Sihir

5763 - عَنْ عَائِشَةَ ڤ، قَالَتْ: سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ، يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَهُوَ عِنْدِي، لَكِنَّهُ دَعَا وَدَعَا، ثُمَّ قَالَ: «يَا عَائِشَةُ! أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ أَتَانِي رَجُلاَنِ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي، وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ فَقَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ، وَجُفِّ طَلْعِ نَخْلَةٍ ذَكَرٍ، قَالَ: وَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ». فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَجَاءَ فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ! كَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الحِنَّاءِ، أَوْ كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ». قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَفَلاَ اسْتَخْرَجْتَهُ؟ قَالَ: «قَدْ عَافَانِي اللَّهُ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ فِيهِ شَرًّا»، فَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ

5763. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, ia berkata: Rasulullah disihir oleh seorang lelaki dari suku Zuroiq bernama Labid bin Al-A’shom, hingga efeknya Rasulullah menghayal melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya. Hal itu berlanjut hingga hari atau malam beliau bermalam bersamaku, beliau sibuk berdoa. Lalu beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah kamu tahu bahwa Allah mengabulkan permohonanku saat aku memohon kepadanya (berkenan dengan sihir ini)? Dua Malaikat mendatangiku, salah satunya duduk di sisi kepalaku dan yang lain duduk di sisi kakiku lalu salah satu dari keduanya berkata: ‘Penyakit apa yang menimpa lelaki ini?’ Dijawab: ‘Disihir.’ Dia bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’ Dijawab: ‘Labid bin Al-A’shom.’ Dia bertanya: ‘Sihirnya diletakkan di (buhul) apa?’ Dijawab: ‘Sisir dan rambut beliau yang diikatkan pada mayang kurma kering.’ Dia bertanya: ‘Di mana itu?’ Dijawab: ‘Di dalam sumur Dzarwan.’” Lalu Rasulullah bersama beberapa Sahabatnya mendatanginya. Setelah pulang, beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, air sumur tersebut seperti rendaman inai (yakni berwarna merah) dan mayang (kepala) pohon kurmanya seperti kepala setan (yakni menyeramkan).” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda keluarkan saja buhul itu?” Jawab beliau: “Allah sudah menyembuhkanku dan aku khawatir bisa menimbulkan keburukan kepada manusia.” Maka beliau memerintahkan agar sumur tersebut ditimbun tanah.[25]

48. Bab: Syirik dan Sihir Termasuk Dosa Besar yang Membinasakan

5764 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «اجْتَنِبُوا المُوبِقَاتِ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ»

5764. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa Rasulullah bersabda: “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang membinasakan, yaitu syirik kepada Allah dan sihir.”

49. Bab: Apakah Sihir Bisa Dikeluarkan?

5765 - عَنْ عَائِشَةَ، ڤ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ سُحِرَ، حَتَّى كَانَ يَرَى أَنَّهُ يَأْتِي النِّسَاءَ وَلاَ يَأْتِيهِنَّ، قَالَ سُفْيَانُ: وَهَذَا أَشَدُّ مَا يَكُونُ مِنَ السِّحْرِ، إِذَا كَانَ كَذَا، فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ! أَعَلِمْتِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ أَتَانِي رَجُلاَنِ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي، وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلْآخَرِ: مَا بَالُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ أَعْصَمَ - رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ حَلِيفٌ لِيَهُودَ كَانَ مُنَافِقًا - قَالَ: وَفِيمَ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ، قَالَ: وَأَيْنَ؟ قَالَ: فِي جُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ، تَحْتَ رَاعُوفَةٍ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ». قَالَتْ: فَأَتَى النَّبِيُّ ﷺ البِئْرَ حَتَّى اسْتَخْرَجَهُ، فَقَالَ: «هَذِهِ البِئْرُ الَّتِي أُرِيتُهَا، وَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الحِنَّاءِ، وَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» قَالَ: فَاسْتُخْرِجَ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: أَفَلاَ؟ - أَيْ تَنَشَّرْتَ - فَقَالَ: «أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ شَفَانِي، وَأَكْرَهُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ شَرًّا»

5765. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, dia berkata: Rasulullah disihir hingga beliau merasa mendatangi istrinya, padahal tidak melakukannya. —Sufyan berkata: Jenis sihir seperti ini termasuk sihir paling berat— Beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah! Apakah kamu tahu bahwa Allah telah mengabulkan doaku dari apa yang aku selalu panjatkan? Dua Malaikat mendatangiku, salah satu dari keduanya duduk di sisi kepalaku, dan yang kedua di samping kakiku. Malaikat yang di sisi kepalaku berkata kepada temannya: ‘Ada apa dengan lelaki ini?’ Dijawab: ‘Tersihir.’ Dia bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’ Dijawab: ‘Labid bin Al-A’shom, seorang lelaki dari Bani Zuroiq, sekutu Yahudi, dia orang munafik.’ Dia bertanya: ‘Di sihir di mana?’ Dijawab: ‘Di sihir dan rambut (sebagai buhul/media).’ Dia bertanya: ‘Di mana?’ Dijawab: ‘Di dalam mayang kurma, yang dipendam di bawah batu besar di dalam sumur Dzarwan.’” Lalu Nabi mendatangi sumur tersebut dan berhasil mengeluarkannya. Beliau bersabda: “Sumur yang kulihat tadi, airnya seperti rendaman inai (yakni memerah), dan mayang kurmanya seperti kepala setan.” Lalu ia (pengaruh sihirnya) dikeluarkan. Aku berkata: “Tidakkah Anda melakukan nusyroh?” Beliau menjawab: “Allah telah menyembuhkanku, dan aku khawatir (jika mengeluarkannya) akan menimbulkan keburukan bagi manusia.”[26]

50. Bab: Sihir

5766 - عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سُحِرَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى إِنَّهُ لَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ وَهُوَ عِنْدِي؛ دَعَا اللَّهَ وَدَعَاهُ، ثُمَّ قَالَ: «أَشَعَرْتِ يَا عَائِشَةُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟». قُلْتُ: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «جَاءَنِي رَجُلاَنِ، فَجَلَسَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي، وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، ثُمَّ قَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ اليَهُودِيُّ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ، قَالَ: فِيمَا ذَا؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ، قَالَ: فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ». قَالَ: فَذَهَبَ النَّبِيُّ ﷺ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ إِلَى البِئْرِ، فَنَظَرَ إِلَيْهَا وَعَلَيْهَا نَخْلٌ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَ: «وَاللَّهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الحِنَّاءِ، وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ». قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَفَأَخْرَجْتَهُ؟ قَالَ: «لاَ، أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِيَ اللَّهُ وَشَفَانِي، وَخَشِيتُ أَنْ أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ مِنْهُ شَرًّا» وَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ

5766. Dari ‘Aisyah Rodhiyallōhu ‘Anha, ia berkata: Rasulullah disihir, hingga efeknya Rasulullah menghayal melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya. Hal itu berlanjut hingga hari atau malam beliau bermalam bersamaku, beliau banyak berdoa. Lalu beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah kamu tahu bahwa Allah mengabulkan permohonanku saat aku memohon kepadanya (berkenan dengan sihir ini)?” Aku bertanya: “Bagaimana itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dua Malaikat mendatangiku, salah satunya duduk di sisi kepalaku dan yang lain duduk di sisi kakiku lalu salah satu dari keduanya berkata: ‘Penyakit apa yang menimpa lelaki ini?’ Dijawab: ‘Disihir.’ Dia bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’ Dijawab: ‘Labid bin Al-A’shom, seorang Yahudi dari suku Zuroiq.’ Dia bertanya: ‘Sihirnya diletakkan di (buhul) apa?’ Dijawab: ‘Sisir dan rambut beliau yang diikatkan pada mayang kurma kering.’ Dia bertanya: ‘Di mana itu?’ Dijawab: ‘Di dalam sumur Dzarwan.’” Lalu Rasulullah bersama beberapa Sahabatnya mendatanginya. Beliau mengamati sumurnya dan ternyata terdapat batang kurma. Setelah pulang, beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, air sumur tersebut seperti rendaman inai (yakni berwarna merah) dan mayang (kepala) pohon kurmanya seperti kepala setan (yakni menyeramkan).” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda keluarkan saja buhul itu?” Jawab beliau: “Allah sudah menyembuhkanku dan aku khawatir bisa menimbulkan keburukan kepada manusia.” Maka beliau memerintahkan agar sumur tersebut ditimbun tanah.

51. Bab: Sebagian Ucapan Adalah Sihir

5767 - عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ﭭ: أَنَّهُ قَدِمَ رَجُلَانِ مِنَ المَشْرِقِ فَخَطَبَا، فَعَجِبَ النَّاسُ لِبَيَانِهِمَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ مِنَ البَيَانِ لَسِحْرًا، أَوْ: إِنَّ بَعْضَ البَيَانِ لَسِحْرٌ»

5767. Dari Abdullah bin Umar Rodhiyallōhu ‘Anhuma, bahwa dua orang dari daerah Timur tiba di Madinah dan berpidato. Manusia merasa takjub dengan gaya pidatonya. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di antara bayān (ucapan) ada yang berupa sihir.”[27]

52. Bab: Berobat dengan Kurma Ajwah Untuk Menangkal Sihir

5768 عَنْ سَعْدٍ ﭬ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنِ اصْطَبَحَ كُلَّ يَوْمٍ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً؛ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ، وَلَا سِحْرٌ ذَلِكَ اليَوْمَ إِلَى اللَّيْلِ». وَقَالَ غَيْرُهُ: «سَبْعَ تَمَرَاتٍ»

5768. Dari Sa’ad Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Nabi bersabda: “Siapa yang di pagi hari makan beberapa kurma Ajwah, maka racun dan sihir tidak bisa membahayakannya pada hari itu hingga malam.” Dalam riwayat lain: “tujuh kurma.”

5769 عَنْ سَعْدٍ ﭬ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ تَصَبَّحَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً؛ لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ اليَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ»

5769. Dari Sa’ad Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Siapa yang di pagi hari makan tujuh kurma Ajwah, maka racun dan sihir tidak bisa membahayakannya pada hari itu.”

53. Bab: Tidak Ada Hantu

5770 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ، وَلاَ هَامَةَ». فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! فَمَا بَالُ الإِبِلِ، تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ، فَيُخَالِطُهَا البَعِيرُ الأَجْرَبُ فَيُجْرِبُهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «فَمَنْ أَعْدَى الأَوَّلَ؟»

5770. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Nabi bersabda: “Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada kesialan di bulan Shofar, dan tidak ada hantu.” Seorang Baduwi berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan unta liar di padang pasir yang laksana kijang lalu setelah bercampur dengan unta lain yang berpenyakit ia ikut sakit juga?” Rasulullah menjawab: “Siapa yang menularkan pertama kali?”[28]

5771 - وَعَنْ أَبِي سَلَمَةَ: سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ بَعْدُ يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لاَ يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ». وَأَنْكَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ حَدِيثَ الأَوَّلِ، قُلْنَا: أَلَمْ تُحَدِّثْ أَنَّهُ: «لاَ عَدْوَى» فَرَطَنَ بِالحَبَشِيَّةِ، قَالَ أَبُو سَلَمَةَ: فَمَا رَأَيْتُهُ نَسِيَ حَدِيثًا غَيْرَهُ

5771. Dari Abu Salamah bahwa ia dahulu mendengar Abu Huroiroh berkata: Nabi bersabda: “Unta berpenyakit jangan digabung dengan onta yang sehat.” Abu Hurairoh mengingkari hadits yang pertama (yakni hadits “tidak ada penyakit menular”), lalu kami menjawab: “Bukankah Anda pernah menceritakan bahwa tidak ada penyakit menular?” Abu Huroiroh marah dengan bahasa Habasyah. Abu Salamah berkata: “Aku belum pernah melihatnya lupa sebuah hadits kecuali hadits ini.”[29]

54. Bab: Tidak Ada Penyakit Menular

5772 عَنْ  عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ﭭ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، إِنَّمَا الشُّؤْمُ فِي ثَلاَثٍ: فِي الفَرَسِ، وَالمَرْأَةِ، وَالدَّارِ»

5772. Dari Abdullah bin Umar Rodhiyallōhu ‘Anhuma, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular, dan tidak ada kesialan. Jika pun ada, ia ada pada tiga hal yaitu kuda, istri, dan rumah.”[30]

5773 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «لاَ عَدْوَى»

5773. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular.”

5774 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «لاَ تُورِدُوا المُمْرِضَ عَلَى المُصِحِّ»

5774. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Kalian jangan menggabung unta sakit dengan unta sehat.”

5775 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «لاَ عَدْوَى». فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ الإِبِلَ، تَكُونُ فِي الرِّمَالِ أَمْثَالَ الظِّبَاءِ، فَيَأْتِيهَا البَعِيرُ الأَجْرَبُ فَتَجْرَبُ؟ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «فَمَنْ أَعْدَى الأَوَّلَ؟»

5775. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular.” Tiba-tiba seorang Baduwi berdiri seraya berkata: “Bagaimana menurut Anda dengan unta yang berada di padang pasir bagaikan kijang-kijang lalu dikumpuli oleh unta berpenyakit lantas ikut sakit juga?” Nabi bersabda: “Siapa yang menularkan pertama kali?”

5776 - عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ﭬ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الفَأْلُ» قَالُوا: وَمَا الفَأْلُ؟ قَالَ: «كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ»

5776. Dari Anas bin Malik Rodhiyallōhu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada kesialan, dan aku suka optimis.” Orang-orang bertanya: “Apa itu optimis?” Beliau menjawab: “Kalimat yang baik.”

55. Bab: Tentang Racun Nabi

5777 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّهُ قَالَ: لَمَّا فُتِحَتْ خَيْبَرُ، أُهْدِيَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ شَاةٌ فِيهَا سَمٌّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اجْمَعُوا لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنَ اليَهُودِ»، فَجُمِعُوا لَهُ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنِّي سَائِلُكُمْ عَنْ شَيْءٍ، فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْهُ؟». فَقَالُوا: نَعَمْ يَا أَبَا القَاسِمِ! فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ أَبُوكُمْ؟». قَالُوا: أَبُونَا فُلاَنٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «كَذَبْتُمْ، بَلْ أَبُوكُمْ فُلاَنٌ». فَقَالُوا: صَدَقْتَ وَبَرِرْتَ، فَقَالَ: «هَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ؟» فَقَالُوا: نَعَمْ يَا أَبَا القَاسِمِ! وَإِنْ كَذَبْنَاكَ عَرَفْتَ كَذِبَنَا كَمَا عَرَفْتَهُ فِي أَبِينَا، قَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ أَهْلُ النَّارِ؟»، فَقَالُوا: نَكُونُ فِيهَا يَسِيرًا، ثُمَّ تَخْلُفُونَنَا فِيهَا، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اخْسَئُوا فِيهَا، وَاللَّهِ لاَ نَخْلُفُكُمْ فِيهَا أَبَدًا»، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ: «فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ؟»، قَالُوا: نَعَمْ، فَقَالَ: «هَلْ جَعَلْتُمْ فِي هَذِهِ الشَّاةِ سَمًّا؟» فَقَالُوا: نَعَمْ، فَقَالَ: «مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ؟»، فَقَالُوا: أَرَدْنَا إِنْ كُنْتَ كَذَّابًا نَسْتَرِيحُ مِنْكَ، وَإِنْ كُنْتَ نَبِيًّا لَمْ يَضُرَّكَ

5777. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: Ketika Khoibar berhasil ditaklukan, Rasulullah dikirimi hadiah seekor kambing yang sudah diberi racun. Rasulullah bersabda: “Kumpulkan siapa pun dari orang Yahudi yang ada di sini.” Lalu mereka semua dikumpulkan dan Rasulullah bertanya kepada mereka: “Aku akan bertanya kepada kalian, apakah kalian mau jujur kepadaku?” Mereka menjawab: “Baik, wahai Abul Qosim.” Rasulullah bertanya kepada mereka: “Siapa leluhur kalian?” Mereka menjawab: “Leluhur kami adalah si A.” Rasulullah bersabda: “Kalian bohong, bahkan leluhur kalian adalah si B.” Mereka menjawab: “Anda benar dan baik.” Beliau bersabda: “Apakah kalian mau jujur kepadaku jika aku bertanya lagi?” Mereka menjawab: “Baik wahai Abul Qosim. Jika pun kami bohong, kamu bisa mengenali kebohongan kami seperti pada kasus lelehur kami tadi.” Rasulullah bertanya kepada mereka: “Siapakah penduduk Neraka?” Mereka menjawab: “Kami akan memasukinya sebentar lalu digantikan oleh kalian.” Rasulullah bersabda: “Kekallah kalian di sana! Demi Allah, kami tidak akan menggantikan kalian selamanya.” Kemudian beliau bersabda kepada mereka: “Apakah kalian akan jujur kepadaku jika aku bertanya lagi?” Mereka menjawab: “Baiklah.” Beliau bertanya: “Apakah kalian meletakkan racun pada kambing ini?” Mereka menjawab: “Benar.” Beliau bertanya: “Apa yang mendorong kalian melakukannya?” Jawab mereka: “Tujuan ini, jika kamu seorang pendusta, kami bisa beristirahat darimu, dan jika kamu benar seorang Nabi, hal itu tidak akan membahayakanmu.”

56. Bab: Meminum Racun dan Berobat dengan Racun, Segala yang Membahayakan dan Buruk

5778 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: « مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ؛ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا. وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ؛ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا. وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ؛ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا»

5778. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung untuk bunuh diri, maka dia akan diadzab di Jahannam dengan menjatuhkan dirinya, kekal di dalamnya selama-lamanya. Siapa yang meneguk racun untuk bunuh diri, maka racun tersebut akan diletakkan di tangannya dan diteguknya di Neraka Jahannam, kekal di dalamnya selama-lamanya. Siapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi tersebut akan diletakkan di tangannya dan ditusukkan ke perutnya di Neraka Jahannam, kekal di dalamnya selama-lamanya.”

5779 عَنْ سَعْدٍ ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنِ اصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتِ عَجْوَةٍ، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ اليَوْمَ سَمٌّ، وَلاَ سِحْرٌ»

5779. Dari Sa’ad Rodhiyallōhu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Siapa yang di pagi hari makan tujuh butir kurma Ajwah, maka racun dan sihir tidak akan membahayakannya pada hari itu.”

57. Bab: Susu Keledai Betina

5780 - عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الخَوْلاَنِيِّ، عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الخُشَنِيِّ ﭬ قَالَ: «نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السَّبُعِ»، قَالَ الزُّهْرِيُّ: وَلَمْ أَسْمَعْهُ حَتَّى أَتَيْتُ الشَّأْمَ

5780. Dari Az-Zuhri, dari Abu Idris Al-Khoulani, dari Abu Tsa’labah Al-Khusyanni Rodhiyallōhu ‘Anhu, dia berkata: “Rasulullah melarang memakan setiap binatang buas yang bergigi taring.” Az-Zuhri berkata: “Aku belum mendengar hadits ini hingga mendatangi Syam.”

5781 - عَنْ يُونُسَ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: وَسَأَلْتُهُ هَلْ نَتَوَضَّأُ أَوْ نَشْرَبُ أَلْبَانَ الأُتُنِ، أَوْ مَرَارَةَ السَّبُعِ، أَوْ أَبْوَالَ الإِبِلِ؟ قَالَ: قَدْ كَانَ المُسْلِمُونَ يَتَدَاوَوْنَ بِهَا، فَلاَ يَرَوْنَ بِذَلِكَ بَأْسًا، فَأَمَّا أَلْبَانُ الأُتُنِ: فَقَدْ بَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَهَى عَنْ لُحُومِهَا، وَلَمْ يَبْلُغْنَا عَنْ أَلْبَانِهَا أَمْرٌ وَلاَ نَهْيٌ، وَأَمَّا مَرَارَةُ السَّبُعِ: أَخْبَرَنِي أَبُو إِدْرِيسَ الخَوْلاَنِيُّ، أَنَّ أَبَا ثَعْلَبَةَ الخُشَنِيَّ، أَخْبَرَهُ: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السَّبُعِ»

5781. Dari Yunus, dari Ibnu Syihab, Yunus berkata: “Aku bertanya kepadanya (Ibnu Syihab Az-Zuhri), apakah perlu berwudhu setelah minum susu keledai betina atau empedu binatang buas atau kencing unta?” Dia menjawab: “Kaum Muslimin (para Sahabat) menjadikannya (kencing unta) obat dan mereka memandang tidak mengapa. Adapun susu keledai betina, maka telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah melarang memakan dagingnya, tetapi tentang susunya belum sampai kepada kami perintah dan larangannya. Adapun empedu binatang buas, Abu Idris Al-Khoulani mengabarkan kepadaku bahwa Abu Tsa’labah Al-Khusyanni mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah melarang memakan setiap binatang buas yang bergigi taring.”

58. Bab: Jika Lalat Terjatuh di Wadah

5782 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﭬ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ، ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ؛ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً، وَفِي الآخَرِ دَاءً»

5782. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallōhu ‘Anhu, bahwa Rasulullah bersabda: “Apabila lalat terhatuh di wadah minuman kalian, maka benamkanlah lalat tersebut lalu buanglah lalat itu. Sebab salah di salah satu sayapnya membawa obat dan sayapnya lain membawa penyakit.”
[]

[1] Kay dikenal semenjak Jahiliyah sebagai pengobatan mujarab, dan hanya dilakukan oleh ahlinya. Nabi tidak menyukainya karena ia menyakitkan dan membahayakan pasien. Namun, jika memang sangat dibutuhkan dan terbukti mujarab untuk mengobari penyakit tertentu, maka ia tidak terlarang dan tidak makruh. Larangan pengobatan dengan kay dalam hadits ini tidak mutlak, karena akan datang hadits yang menyebutkan Abu Tholhah mengobati anaknya dengan terapi kay dan Nabi mendiamkannya.

[2] Allah benar: yakni firman Allah: “Pada madu adalah kesembuhan bagi manusia,” (QS. An-Nahl [16]: 69). Madu pasti menyembuhkan, asal dosisnya benar dan tidak adanya penghalang. Untuk kasus di atas, sebabnya adalah kurangnya dosis, karena penyakit berat butuh dosis tinggi dan berkala, atau kurangnya keyakinan. Firman Allah pasti benar, dan ketidakmujaraban madu karena sebab manusia.

[3] Beberapa orang dari suku Ukal dan Uroinah berpura-pura masuk Islam dan dijamu Nabi di Madinah, ternyata cuaca Madinah membuat mereka sakit sehingga Nabi mengizinkan mereka tinggal di pinggiran Madinah dan diizinkan mengkonsumi susu beberapa unta di sana, dan disuruh meminum air kencingnya sebagai obat. Setelah sembuh, mereka justru murtad dan membunuh penggembalanya serta membawa lari unta-untanya. Lalu mereka dihukum potong tangan dan kaki secara bersilang serta dicongkel matanya, seperti yang mereka lakukan kepada penggembala, sebagai balasan yang setimpal. Namun, setelah itu Nabi banyak bersedekah dan memerintahkan agar jangan memutilasi (menyayat dan memotong anggota badan saat masih hidup). Al-Hasan tidak suka hadits ini diceritakan kepada Al-Hajaj si gubernur yang zolim karena akan disalahgunakan untuk menghukum lawan politiknya.

[4] Habbatus Suada adalah (jinten hitam, nigella sativa) adalah salah satu tanaman obat yang banyak didapatkan di wilayah Arob. Bijinya kecil berwarna hitam ditumbuk untuk diminum sebagai obat. Di zaman modern sekarang, ia dijual dalam bentuk kapsul, yang mudah dikonsumi.

[5] Kholid bin Sa’ad: bekas budak Abu Mas’ud Al-Anshori Al-Badri. Gholib bin Abjar: salah seorang Sahabat Rodhiyallōhu ‘Anhu. Ibnu Abi Athiq: Abdullah bin Muhammad bin Abdurrohman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, termasuk ulama Tabiin. Ada yang berpendapat bahwa yang dijadikan obat bukan bijinya, tetapi daunnya yang berwarna hijau. Kecuali sâm: maksudnya penyakit yang menjadi sebab ia ditakdirkan wafat, misalnya dia ditakdirkan wafat karena influensa, maka penyakit ini bagi dirinya akan mengantarkannya kepada kematikan meski diobati dengan obat apapun.

[6] Talbinah adalah bubur dari tepung gandum. Jika biji gandum digiling hingga halus maka ia dinamakan tepung gandum atau terigu. Ia dinamakan talbinah karena mirip laban (susu) dalam warna putih dan halus. Kadang dia dicampur madu atau kurma. Sebagian orang membedakan tepung gandum dengan tepung terigu. Jika yang ditumbuk hanya bagian dalam biji maka ia dinamakan tepung terigu, warnanya putih. Jika yang ditumbuh biji beserta kulitnya maka ia dinamakan tepung gandum, warnanya putih kecoklatan. Jika merujuk kepada perbedaan ini, maka terigu lebih dekat kepada talbinah karena kesamaan warna putih susu.

[7] Ihdād adalah masa di mana wanita tidak boleh berhias, berparfum, bercelak, keluar rumah, setelah meninggalnya suami selama 4 bulan 10 hari, untuk menghormati suaminya. Ihdād di masa Islam lebih ringan daripada di masa Jahiliyah di mana lamanya satu tahun penuh. Dia keluar rumah hanya jika ada bahaya atau mudhorot seperti gangguan anjing.

[8] Hadits ini mu’allaq (sanad terputus), tidak memenuhui kriteria Shahih Al-Bukhari, dan dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad shohih.

[9] Kam’ah bukanlah hewan ataupun tumbuhan, ia tidak mempunyai karakteristik tumbuhan, ia tidak mempunyai daun, bunga, akar, batang. Kam’ah juga tumbuh dengan sendirinya, tidak perlu benih, tidak perlu pengolahan tanah, penanaman atau bahkan tidak butuh pengairan, seperti halnya dalam bercocok tanam. Benar-benar murni karunia Allah, untuk itulah dia disebut mann (pemberian Allah). Kam’ah adalah jamur atau salah satu jenis jamur. Ibnu Hajar Al-Asqolani menyatakan di dalam Fathul Bāri, Kam’ah dapat dibelah lalu diletakkan di dalam panci kecil berisi air kemudian direbus, hingga airnya mendidih, lalu belahan itu diambil dan diperas. Air hasil perasan ini dapat digunakan sebagai celak. Para ahli pengobatan mengenal air tanaman ini untuk membeningkan mata dan membersihkan debu-debu yang panas. Imam Nawawi berkata, “Yang benar, airnya bisa menyembuhkan seluruh penyakit mata secara mutlak. Air kam’ah diperas dan diteteskan ke mata.” Beliau juga berkata, “Saya dan beberapa orang lain pernah melihat di zaman sekarang, orang yang buta dan sudah tidak memiliki kemampuan penglihatan sama sekali. Lantas, ia mencelaki matanya dengan air Kam’ah saja, maka ia pun sembuh dan penglihatannya kembali normal.”

[10] Shofar dalam hadits sebelumnya bermakna bulan yang dianggap sial oleh Jahiliyah, dan pada hadits ini bermakna penyakit yang menyerang perut. Pada intinya hadits-hadits semacam ini tidak menafikan adanya penularan penyakit, tetapi yang dinafikan adalah menular dengan sendirinya tanpa takdir dan kehendak Allah. Sementara hantu yang dinafikan dalam hadits ini adalah keyakinan Jahiliyah bahwa hantu asalnya adalah arwah gentayangan dari orang mati yang hidup kembali. Yang benar bahwa hantu adalah penyihir dari kalangan jin jahat yang membaca mantra-mantar hingga bisa menjelma menjadi wujud yang ditakuti manusia untuk menggodanya.

[11] Pleuritis adalah peradangan pada selaput pembungkus organ paru-paru atau pleura. Kondisi ini menyebabkan penderitanya merasakan nyeri dada yang menusuk, terutama ketika bernapas. Pleura adalah selaput tipis yang menyelimuti paru-paru dan dinding dada bagian dalam. Pleura terdiri dari dua lapis. Kedua lapisan ini berperan menjaga paru-paru agar tidak bergesekan dengan dinding rongga dada. Di antara kedua lapisan paru ini, terdapat cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas dan membantu mengurangi gesekan saat bernapas. Saat terjadi peradangan, pleura akan membengkak dan menyebabkan gangguan pernapasan.

[12] Muawwidzât: surat-surat perlindungan yaitu Al-Ikhlās, Al-Falaq, dan An-Nās. Untuk dua yang terakhir bisa disebut Muawwidzatain. Selesai membaca ketiga surat ini, ditiupkan kepada dua tangan lalu diusapkan ke wajah.

[13] Ain: artinya mata, maksudnya penyakit yang diakibatkan oleh pandangan mata jahad/dengki atau pandangan takjub tanpa mendoakan berkah dan memuji Allah. Efek pandangan mata ini nyata terjadi dengan seizin Allah.

[14] Cara meruqyah Ain adalah dengan membaca bacaan ruqyah dari Al-Quran, hadits shohih, maupun mantra-mantra yang tidak mengandung kesyirikan. Jika pelaku Ain diketahui, ia disuruh mandi atau berwudhu lalu bekas airnya diguyurkan kepada korban Ain.

[15] Caranya telunjuk jari tangan kanan diludahi lalu ditempelkan ke tanah lalu dibacakaan ruqyah ini lalu ditempelkan pada luka atau bagian yang sakit. Dengan seizin Allah, akan sembuh.

[16] Doa ini dan sebelumnya mirip, dan diperbolehkan menggunakan salah satunya yang mudah dihafal.

[17] Mimpi baik dari Allah: mimpi yang berisi kabar gembira atau informasi penting agar waspada, adalah karunia dan kebaikan dari Allah untuknya. Mimpi buruk dari setan: seperti melihat makhluk menakutkan dan tempat menakutkan, itu hasil dari bisikan dan peran setan untuk menakut-nakuti korban atau mempermainkannya. Meludahlah: meludah ke kiri tiga kali baik berliur maupun tidak, untuk mengusir setan dan menghinakannya, lalu berpindah posisi tidur, dan berwudhu sholat jika mau. Mimpi buruk itu tidak berbahaya sama sekali. Namun perlu diperhatikan, jika seseorang sering bermimpi hal-hal berikut ini: melihat binatang (anjing, ular, kucing, kalajengking, harimau), setan (pocong, gendruwo, kutilanak, raksasa, tuyul), seolah jatuh dari tempat tinggi, dipaksa makan, berjalan di tempat yang menakutkan, apalagi ditambah mendengar suara benda jatuh di atas rumah tanpa bekas, muncul binatang mati di rumah tidak wajar, seperti gosong, di kamar yang tertutup tak mungkin bisa masuk, elektronik rumah mati dan nyala tidak wajar, seperti kran menyala sendiri, lampu sering mati tidak wajar, PLN sering padam tidak wajar, maka itu pertanda rumahnya dan dirinya terkena sihir. Maka dia harus membentengi diri dan mencari peruqyah.

[18] Muawwidzatain: dua surat perlindungan yaitu Al-Falaq dan An-Nas. Tatacaranya adalah dua telapak tangan dihimpun seperti berdoa lalu membaca tiga surat lalu ditiupkan kepadanya lalu diusapkan ke wajah dan bagian badan yang terjangkau tangannya. Ini dilakukan sebanyak tiga kali.

[19] Jumlah rombongan sariyyah sebanyak 30 orang. Tidak disebutkan dalam hadits berapa kali Abu Sa’id membaca Al-Fatihah, maka bacalah secukupnya sampai sembuh penyakitnya, cepat lambatnya sembuh sesuai dengan keyakinan peruqyah dan dosis penyakit. Disukai ganjil, seperti 7 dan 41. Tata caranya, peruqyah membaca Al-Fatihah lalu bagian yang luka diludahi.

[20] Penyakit menular benar adanya, tetapi menularnya bukan sendirinya, tetapi atas kehendak Allah, jika Allah tidak menghendaki, virus dan penyakit ganas apapun tidak akan mengenai seseorang. Thiyaroh atau anggapan kesialan dengan burung: dahulu orang Arob jika melihat burung terbang datang maupun pergi dari sisi kanannya maka ia beranggapan manjur berdagang, jika ke kiri maka mereka beranggapan sial dan rugi. Kesialan ada pada tiga hal: yakni jika ada kesialan maka itu ada pada tiga hal, yaitu wanita yang kasar lisannya atau tidak qonaah, rumah yang sempit, dikelilingi tetangga jelek, atau jauh dari masjid, atau kendaraan yang sering mogok atau tidak digunakan untuk berjihad fi sabilillah. Ketiga hal ini menyengsarakan hari-hari seseorang.

[21] Jika seseorang melihat atau mendengar apapun, maka ia berbaik sangka alias optimis, misalkan melihat kucing ketabrak di depan matanya maka ia tidak beranggapan sial dengan meyangka akan ada kematikan menimpa keluarganya atau kecelakaan, tetapi ia optimis dan berbaik sangka misalnya membatin: “Nampaknya aku diberi kesempatan untuk beramal hari ini dengan mengubur mayat kucing ini, agar bangkainya tidak menganggu kaum Muslimin.”

[22] Orang Arob menganggap penampakan hantu yang menakut-nakuti para musafir di padang pasir adalah arwah gentayangan, dan ini dibatalkan oleh QS. Mukminun ayat 100 bahwa arwah orang yang mati sudah berpindah ke alam Barzah, tidak lagi di alam dunia dan mustahil kembali ke alam dunia, bahkan mereka sibuk disiksa atau menikmati kenikmatan. Adapun penampakan tersebut adalah penyihir dari kalangan jin kafir, yang akan takut, menghilang, bahkan terbakar jika dibacakan ayat Kursi, dzikir shohih dari Hadits Nabawi, dan adzan. Tidak ada bulan Shofar yang sial: orang Arob beranggapan memulai perniagaan atau aktifitas di bulan Shofar adalah kesialan, lalu dibatalkan syariat bahwa semua bulan adalah baik, tidak mengandung kesialan, kesialan itu datangnya bukan dari waktu tetapi dosa-dosanya sendiri.

[23] Disamakannya dirinya dengan dukun karena sama-sama menghiasi ucapan batil seolah-olah benar untuk menentang kebenaran. Kāhin adalah orang yang mengakui perkara ghoib, baik yang telah terjadi maupun akan terjati dan mengabarkannya kepada pasiennya.

[24] Yakni larangan melakukan jual-beli anjing serta jasa perzinahan dan perdukunan. Upah dari hasil aktifitas-aktifitas tersebut adalah haram.

[25] Keburukan yang dimaksud seperti menjadikan manusia penasaran untuk mempelajarinya atau sisa-sisanya dimanfaatkan dukun untuk kejahatan.

[26] Lafazh (استخرج), ulama berselisih apa yang dikeluarkan? Konteks kalimat mengarah kepada buhul-buhul tersebut, tetapi hal ini bertolak belakang dengan riwayat sebelumnya yang menyatakan bahwa buhul tersebut tidak dikeluarkan, tetapi ditimbun dengan  tanah bersama sumurnya. Sehingga dimungkinkan makna dikeluarkan di sini adalah pengaruh sihirnya. Nusyroh: artinya melepaskan, dan dia ada dua, (1) menggunakan ruqyah syar’iyyah dan (2) menggunakan sihir untuk melepas sihir lainnya dan ini tidak boleh.

[27] Ucapan (bayān) ada dua macam : (1) informatif, sebatas menyampaikan berita tanpa polesan, dan (2) informasi dengan memoles kalimat. Model ucapan yang ke dua inilah yang menyerupai sihir, karena keduanya bisa memalingkan sesuatu dari hakikatnya. Dan yang buruk adalah jika ucapan itu digunakan untuk tujuan kebatilan.

[28] Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, yang ada menular dengan izin Allah, dan jika Allah tidak berkehendak, tentu tidak menular. Tidak ada pula bulan yang sial, sebagaimana anggapan Arab Jahiliyah terutama bulan Shofar, kalaupun seseorang merasa sial dengan mendapatkan banyak musibah di bulan itu, sebabnya karena kecerobohannya dan dosa-dosanya, bukan karena berada di bulan tersebut. Tidak ada pula hantu, tetapi yang ada adalah para tukang sihir dari kalangan jin yang membaca mantra-mantra lalu ia menjelma untuk menakuti manusia. Maksud “Siapa yang menularkan pertama kali?” Yakni Allah berkehendak sesukanya, sebagaimana binatang pertama tertular, begitu pula unta tersebut, tetapi semuanya atas izin Allah.

[29] Abu Salamah bin Abdurrohman bin Auf pernah mendengar dua hadits dari Abu Huroiroh. Hadits pertama tentang larangan menggabung unta berpenyakit dengan unta sehat karena khawatir tertular, dan hadits kedua tentang ketiadaan penyakit menular. Tetapi Abu Huroiroh tidak mengakui bahwa ia pernah menceritakan hadits kedua. Keponakan Abu Huroiroh bernama Al-Harits bin Abu Dzubab menyanggahnya dan meyakinkan bahwa dia mendengar hadits itu dari Abu Huroiroh juga. Maka Abu Huroiroh marah kepadanya karena menganggap tidak memahami ucapan Abu Huroiroh dengan baik. Abu Salamah berkata: “Aku tidak tahu apakah Abu Huroiroh memang lupa, atau hadits kedua menghapus hadits pertama.” Yakni hadits “tidak ada penyakit menular” dihapus hadits pertama. Sebagian ulama berkata: Abu Huroiroh sengaja tidak menggabung dua hadits ini karena khawatir orang yang belum sempurna akalnya salah memahaminya. Kedua hadits ini berlaku semuanya, dan cara menggabungkannya: tidak boleh menyakini ada penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah, tetapi kita juga diperintahkan untuk berikhtiar menjauhi penyakit.

[30] Contoh kesialan pada kuda adalah mogok sehingga menyusahkan pemiliknya; pada istri seperti keras kepala, angkuh, cerewet, banyak menuntut, tidak pandai bersyukur, tidak serius mengurus anak dan rumah. Contoh kesialan pada rumah: sempit, rapuh, dekat tetangga jelek, jauh dari masjid. Semua ini menyusahkan pemiliknya. Ini pun jika dianggap kesialan, tetapi pada hakikatnya adalah ujian untuk menambah pahala orang beriman.


Related

Terjemah Shohih Al-Bukhori 517861753077184049

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda yang sopan dan rapi.

emo-but-icon

Total Tayangan Halaman

Tentang Admin

Penulis bernama Nor Kandir ini kelahiran Jepara. Semenjak kecil tertarik dengan membaca terutama tentang alam ghoib dan huru-hara Hari Kiamat. Alumni Mahad Radlatul Ulum Pati ini juga pernah nyantri di Mahad Tahfiz Quran Wadi Mubarok Bogor dan Pondok Mahasiswa Thaybah Surabaya dibawah asuhan Ust. Muhammad Nur Yasin, Lc dan beliau adalah guru utama penulis.

Gelar akademik penulis diperoleh di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan LIPIA Surabaya (cabang Universitas Al Imam di Riyadh KSA). Kesibukan hariannya adalah imam Rowatib, mengajar bahasa Arab, dan menerjemahkan kitab-kitab yang diupload secara gratis di www.terjemahmatan.com

PENTING

Semua buku di situs ini adalah legal dan telah mendapatkan izin dari penerbit dan penulisnya untuk dicetak, disebar, dan dimanfaatkan dalam bentuk apapun. Boleh dikomersialkan dengan syarat: meminta izin ke penulis dan harganya dibuat murah (tanpa royalti penulis) serta tidak merubah isi kecuali ada kesalahan secara ejaan dan kesalahan syar'i. .

Bagi yang membutuhkan file wordnya untuk keperluan dakwah, bisa menghubungi Penulis di 085730-219-208.

Barokallahu fikum.

Pengikut

Hot in week

item