Pembatal-Pembatal Pahala - Syaikh Salim bin Id Al-Hilali

PEMBATAL-PEMBATAL PAHALA Syaikh Salim bin Id Al-Hilali Abu Usamah Download PDF >> https://docs.google.com/uc?export=down...


PEMBATAL-PEMBATAL PAHALA

Syaikh Salim bin Id Al-Hilali Abu Usamah










MUQODDIMAH


Kebahagiaan abadi di Surga yang lebarnya seperti langit dan bumi adalah mustahil diraih kecuali dengan ibadah di atas ilmu.
Ibadah tanpa niat hanya melelahkan. Niat tanpa ikhlas adalah pamer. Ikhlas tanpa ittiba (mencotoh Nabi) adalah debu (tidak berpahala). Maka bagi setiap hamba yang menginginkan Allah dan negeri Akhirat untuk berusaha memperbaiki niatnya setelah mengetahui hakikat ikhlas dan memperbaiki amalnya dengan mengenal hakikat ittiba.
Dari sini, selayaknya ia bersungguh-sungguh menjaga diri dengan berusaha memenuhi syarat diterimanya amal, muroqobah (selalu merasa diawasi Allah), muhasabah (introspeksi diri), menghukum jiwa jika salah, berjuang, dan mengkritisi diri.
Keuntungan dagang seorang Muslim adalah Surga Firdaus tertinggi. Ketelitian berbisnis ini sepantasnya lebih serius daripada bisnis dunia. Wajib bagi setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk tidak lalai dari introspeksi diri dan menyikapinya dengan ketat dalam pergerakannya, diamnya, dan menimbang mudhorotnya. Sebab setiap detik dari umurnya adalah mutiara yang sangat mahal.
Untuk itu, ia harus menjaga diri dari perkara-perkara yang menggugurkan amalnya sehingga batal pahalanya tanpa disadarinya. Buku ini menghimpun perkara-perkara tersebut yang aku namai:
مُبْطِلاَتُ الاَعْمَالِ فِي ضَوْءِ القُرْآنِ الكَرِيمِ وَالسُّنَّةِ الصَّحِيْحَةِ المُطَهَّرَةِ
“Pembatal Pahala Menurut Al-Quran dan As-Sunnah”
Aku memohon kepada  Allah semoga berkenan menerimanya dengan baik dan menyimpannya untukku pahalanya hingga hari bertemu dengan-Nya. Hanya kepada Allah segala tujuan.

Ditulis oleh: Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali
Malam Kamis pada pertengahan Rabiul Awwal 1408 H
Di Amman ibukota Yordania Negeri Syam

A.     KETAKUTAN SALAFUS SHALIH


Ketahuilah wahai Saudaraku seiman - semoga Allah menerangi hatimu dengan petunjuk - bahwa balasan yang agung dan kebaikan melimpah yang Allah janjikan kepada hamba-Nya, hanya diberikan kepada siapa yang beramal disertai iman dan ihtisab (mengharap pahala).
Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata, “Setiap amal memiliki permulaan (start) dan akhiran (finish). Amal tidak menjadi ketaatan dan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) hingga berlandaskan iman. Pemicu amal adalah murni iman, bukan rutinitas, hawa nafsu, mencari pamor, kedudukan, dan semisalnya. Startnya adalah iman dan finishnya adalah pahala Allah dan mencari keridhaan-Nya, yaitu ihtisab.
Oleh karena itu, banyak dijumpai dua hal ini beriringan, seperti dalam hadits:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا»
“Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ihtisab,” dan,
«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا»
“Siapa yang mendirikan Malam Kemuliaan karena iman dan ihtisab,” (HR. Al-Bukhari no. 1901 ) dan hadits yang semisalnya.
Hati para hamba berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman. Dia membolak-baliknya sekehendak-Nya - Ya Allah tetapkan hati kami di atas agamaMu-. Terkadang seseorang diuji dengan sesuatu yang mengotori tujuan murninya sehingga dihalangi dari mendapatkan janji (pahala), tanpa disadarinya. Sebab balasan itu hanya untuk yang ikhlas.
Oleh sebab itu, orang yang mendalami perjalanan hidup Salafus Shalih dalam ucapan dan perbuatan mereka, mereka berada di antara takut dan berharap.
Allah berfirman menyifati manusia terbaik:
﴿إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لاَ يُشْرِكُونَ * وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun [23]: 57-61)
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ عَنْ هَذِهِ الاَيَةِ: ﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ﴾ قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟ قَالَ: «لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ تُقْبَلَ مِنْهُمْ ﴿أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ﴾»
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang ayat ini, “Apakah mereka orang-orang yang minum khomr dan mencuri?” Beliau menjawab, “Bukan wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, dan bersedekah dalam keadaan takut tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 3175)
Allah telah menyebutkan orang-orang beriman yang bersegera dalam kebaikan dengan sifat paling dalam. Mereka melaksanakan ibadah dengan berusaha terbaik tetapi khawatir tidak diterima.
Rahasianya, mereka bukan khawatir Allah tidak menetapi janji-Nya memberi pahala. Bukan itu. Sebab Allah tidak akan menyalahi janji.
﴿وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ﴾
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka.” (QS. Al-i Imron [3]: 57)
Bahkan Dia menambah untuk mereka karunia, kebaikan, dan anugerah.
﴿لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ﴾
“Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.” (QS. Fathir [35]: 30)
Akan tetapi kekhawatiran mereka adalah karena mereka merasa kurang maksimal dalam menunaikannya, dengan memenuhi hak ibadah seperti yang Allah perintahkan. Mereka tidak memastikan dirinya menunaikannya sebagaimana yang Allah inginkan, bahkan mereka menyangka kurang maksimal. Oleh karena itu, mereka takut amalnya tidak diterima. Akhirnya mereka belomba-lomba dalam kebaikan, bersegera dalam ketaatan. Seseorang perlu merenungkan ini agar bertambah semangatnya dalam memperbaiki ibadah, merutinkannya, ikhlas, dan ittiba.
Sungguh para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam khawatir amal mereka berguguran tanpa disadarinya. Hal itu dikarenakan kesempurnaan iman mereka. Allah berfirman:
﴿فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلاَ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾
“Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Araf [7]: 99)
Abdullah bin Ubaidillah bin Abi Mulaikah, seorang yang terpercaya dan faqih, berkata:
أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ
“Aku menjumpai 30 Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semuanya mengkhawatirkan nifak atas diri mereka. Tak ada seorang pun dari mereka yang menyatakan imannya seperti iman Jibril dan Mikail.” (HR. Al-Bukhari, 1/18)
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (1/110-111), “Para Sahabat yang pernah dijumpai oleh Ibnu Abi Mulaikah, yang terutama adalah Aisyah, saudarinya Asma, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Uqbah bin Al-Harits, Al-Musawwar bin Mahramah. Mereka itu orang yang diambil haditsnya olehnya. Dia juga bertemu dengan sekelompok Sahabat lainnya seperti Al-i bin Abi Thalib, Saad bin Abi Waqqash. Mereka semuanya takut nifaq amal. Tidak dinukil mereka berbeda dalam hal itu, seolah-olah ijma. Hal itu dikarenakan terkadang seorang Mukmin diuji dalam amalnya apa yang bisa merusaknya dari apa-apa yang menyelisihi ikhlas. Kekhawatiran mereka (para Sahabat) tidak berarti terjatuh kepada sifat nifaq tersebut, tetapi ungkapan itu hanyalah ekspresi besarnya wara dan taqwa mereka. Semoga Allah meridhai mereka.”
Al-Hafizh benar. Generasi Rabbani tersebut mencela jiwanya berkenaan dengan Dzat Allah, sehingga mereka justru dekat kepada Allah berlipat-lipat yang tidak mampu dikejar dengan amal selainnya.
Orang-orang yang jujur ini memperhatikan hak Allah atas mereka sehingga Allah berikan kepada mereka mawas diri, yang menjadikan mereka tahu bahwa keselamatan tidak bisa diraih kecuali ampunan Allah dan rahmat-Nya. Hak Allah adalah ditaati, tidak dimaksiati; diingat bukan dilupakan; dan disyukuri bukan diingkari.
Siapa yang memperhatikan hak Allah ini atas dirinya maka ia yakin bahwa ia belum menunaikan kepada Allah dengan semestinya, sehingga ia sangat butuh pemaafan dan ampunan. Apabila ia dihalangi dari amal ini niscaya ia binasa.
Ini adalah pandangan orang-orang yang ikhlas kepada Allah. Inilah yang menjadikan mereka berputus asa atas diri sendiri dan menggantungkan pengharapannya penuh kepada ampunan dan rahmat-Nya.
Akan tetapi, sangat disayangkan, apabila orang yang mau jujur merenungi kondisi manusia saat ini justru kebalikannya. Mereka banyak menuntut hak mereka atas Allah dan tidak memperhatikan hak Allah atas mereka. Dari sinilah mereka terputus dari Allah, hati mereka tertutup dari mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan kerinduan bertemu dengan-Nya, serta nikmatnya berdzikir kepada-Nya. Inilah puncak kebodohan manusia kepada Rabbnya dan dirinya sendiri.
Ketahuilah - semoga Allah merahmati kalian - bahwa modal dari perdagangan yang tidak akan merugi adalah hamba melihat hak Allah kemudian ia merenung apakah sudah menunaikannya dengan semestinya, karena hal itu akan membawa hamba kepada kedudukan para shiddiqin rabbani yang merendahkan dirinya di hadapan Rabbnya dengan penuh ketundukan dan kehinaan serta penuh rasa butuh kepada-Nya.
Ya Allah, ini adalah hati-hati kami di Tangan-Mu. Amal-amal kami tak satupun yang tersembunyi dari-Mu. Ya Allah, kokohkan hati kami ke jalan-Mu yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shalih. Merekalah teman terbaik.[]


B.      SIKAP SALAFUS SHALIH


Kelompok Qodariyah yang merupakan salah satu sekte yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu ‘Anhum berpendapat bahwa keburukan (dosa) menghapus kebaikan (pahala), sehingga iman yang bercampur maksiat tidak berguna. Mereka memvonis pelaku dosa sebagai kafir dan memvonis kekal di Neraka Jahannam.
Adapun Murjiah yang juga sekte sesat seperti Qodariyah, berpendapat bahwa maksiat tidak berefek terhadap keimanan.
Adapun sikap Salafus Shalih adalah pertengahan antara ifroth (ekstrim kanan) dan tafrith (ekstrim kiri). Mereka menetapkan bahwa yang menghapus secara keseluruhan iman hanyalah kufur, syirik, murtad, dan nifak.
Sebagian ibadah bisa saja terhapus (pahalanya) disebabkan maksiat atau berkurangnya pahala karena sebab lainnya atau tidak berguna saat diperlukan. Ini adalah penghapus nisbi yang tidak sampai menghilangkan asal iman.
Untuk itu, mereka menetapkan berdasarkan nash-nash yang jelas bahwa iman berupa ucapan dan perbuatan yang bisa berkurang dan bertambah. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.[]


C.       PEMBATAL AMAL (PAHALA)


1.           Kufur, Syirik, Murtad, dan Nifaq

Ketahuilah wahai Muslim wahai Hamba Allah! Siapa yang meninggal dalam keadaan kafir, musyrik, atau murtad maka amal shalihnya tidak sah, seperti sedekah, silaturahmi, menjaga ketetanggaan, dan selainnya. Sebab syarat taqorrub adalah seseorang mesti mengenal kepada siapa ia bertaqorrub, sementara orang kafir tidak demikian sehingga amalnya batal.
Allah berfirman:
﴿وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالاَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴾
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia (terhapus) amalannya di dunia dan di Akhirat, dan mereka itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 217)
﴿مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ﴾
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia (terhapus) amalnya, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (QS. At-Taubah [9]: 17)
Allah berfirman:
﴿وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الاَخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلاَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui Akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Araf [7]: 147)
﴿وَمَنْ يَكْفُرْ بِالاَيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الاَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
Barangsiapa yang kafir sesudah maka hapuslah amalannya dan ia di hari Akhirat termasuk orang-orang merugi. (QS. Al-Maidah [5]: 5)
﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ مَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka.” (QS. Muhammad [47]: 34)
Ketegasan firman Allah bisa dilihat kepada siapa yang diajak bicara, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam rangka menakuti umatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan martabatnya yang tinggi, seandainya berbuat syirik pasti batal amal shalihnya. Lantas bagaimana dengan kalian wahai manusia?! Akan tetapi beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mustahil berbuat syirik karena martabatnya yang tinggi. Murtad bagi beliau adalah kemustahilan. Beliau mashum (terjaga) yang dijaga Allah. Firman Allah yang dimaksud adalah:
﴿لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39]: 65)
Allah Ta’ala mengabarkan tentang para Rasul lalu berfirman:
﴿وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An’am [6]: 88)
Ayat-ayat tentang hal ini begitu banyak.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الاَوَّلِينَ وَالاَخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لِيَوْمٍ لاَ رَيْبَ فِيهِ، نَادَى مُنَادٍ: مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ، فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ»
“Ketika Allah menghimpun semua makhluk dari yang pertama sampai terakhir di hari yang tidak diragukan, ada yang berseru: siapa yang pernah menyekutukan dalam beramal yang seharusnya untuk Allah, mintalah pahala kepadanya karena Allah sangat tidak butuh sekutu.“ (Shahih: HR. Ibnu Majah no. 4203)
Ada tiga hal penting yang selayaknya diketahui ini secara ringkas:
1. Orang-orang yang meninggal di atas kekufuran tetapi pernah mengerjakan beberapa amal baik maka Allah tidak menyia-nyiakan hal itu bagi mereka, bahkan mereka dibalas di dunia. Allah berfirman:
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الاَخِرَةِ إِلاَ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di Akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11]: 15-16)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً، يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الاَخِرَةِ، وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الاَخِرَةِ، لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا»
“Allah tidak menzhalimi sedikitpun dari kebaikan orang beriman. Dengan itu Allah beri ia rezki di dunia dan dibalas pahala di Akhirat. Adapun orang kafir, ia diberi makan dengan kebaikan amal yang pernah dikerjakannya di dunia karena Allah hingga ketika ia berpindah ke Akhirat ia tidak memiliki kebaikan yang perlu dibalas.” (HR. Muslim no. 2808)
2. Orang kafir yang masuk Islam dan meninggal di atas keimanan maka Allah hapus kesalahannya dan ditulis kebaikannya yang pernah dikerjakan sewaktu di masa jahiliyahnya. Banyak nash-nash yang menjelaskan hal ini secara jelas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلاَمُهُ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ كُلَّ حَسَنَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا، وَمُحِيَتْ عَنْهُ كُلُّ سَيِّئَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا، ثُمَّ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلاَ أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا»
“Jika hamba masuk Islam lalu bagus ke-Islamannya maka semua kebaikan yang pernah dilakukannya (semasa kafir) ditulis, dihapus semua keburukan yang dahulu dikerjakannya. Kemudian setelah itu berlaku ketentuan dimana satu kebaikan dilipatkan sepuluh semisalnya hingga 700 lipat. Adapun keburukan maka dibalas yang semisalnya saja, kecuali jika Allah mengampuninya.” (Shahih: HR. An-Nasai no. 4998)
Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ، وَصِلَةِ رَحِمٍ، فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَجْرٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ : «أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ»
Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku tentang amal shalih yang pernah aku kerjakan di masa jahiliyah berupa sedekah, memerdekakan budak, atau silaturahmi, apakah ada pahalanya? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Kamu masuk Islam beserta pahala kebaikan yang dulu kamu kerjakan.” (HR. Al-Bukhari no. 1436)
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: «لاَ يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ»
“Wahai Rasulullah, dahulu Ibnu Jad’an sewaktu Jahiliyah gemar silaturahim, memberi makan orang miskin, apakah semua itu berguna baginya?” Beliau menjawab, “Tidak, sebab ia tak pernah mengucapkan: ya Allah ampunilah kesalahanku pada hari Pembalasan.” (HR. Muslim no. 214)
Ibu Jad’an ini dahulunya gemar memberi makan hingga menghidangkan jufnah kepara para tamu jamaah haji dengan menaiki tangga, itu pun tidak berguna di Akhirat, karena ia meninggal dalam keadaan kafir dan menentang hari Kebangkitan.
Inilah keyakinan yang benar yang ditegaskan oleh banyak dalil shahih, yaitu orang kafir apabila masuk Islam maka amal shalih yang dikerjakannya di masa Jahiliyah bermanfaat baginya, berbeda jika ia meninggal dalam keadaan kafir, semua amalnya tidak bermanfaat karena kekafirannya menghapusnya. Akan tetapi kebaikan yang pernah dikerjakannya dibalas di dunia, sedangkan di Akhirat kebaikannya tidak berguna sedikitpun, tidak pula adzab diringankan untuknya dan tidak selamat darinya.
Jika Anda wahai Muslim tahu hakikat ini, maka menjadi jelas bagi Anda kesalahan sebagian kaum Muslimin yang mengatakan -dengan kebodohan- saat melihat orang Islam yang akhlaknya jelek lantas berkata: “Orang Yahudi dan Nashrani lebih utama daripada mereka.” Yang mereka inginkan hanya mengejek umat Islam.
Begitu pula, nampak kesalahan ucapan sebagian kaum Muslimin yang mendahului Rabbnya: demi Allah, penemu teknologi dan penemu telpon tidak akan masuk Neraka. Cukuplah khidmah agung yang dipersembahkan kepada manusia ini meringankan siksanya.
Aku katakan bahwa ini hanya angan-angan semata. Sungguh Allah berfirman:
﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الاَسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الاَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di Akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3]: 85)
Orang-orang kafir ini tidak diterima amal sunnah dan fardhunya, karena mereka telah menukarnya dengan kenikmatan dunia, seperti yang Allah firmankan:
﴿وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ﴾
“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke Neraka (kepada mereka dikatakan): ‘Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik.’” (QS. Al-Ahqaf [46]: 20)[]


2.           Riya

Banyak dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah yang mencela riya, di antaranya adalah firman Allah:
﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ * الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ * الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ * وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ﴾
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Maun [107]: 4-7)
Adapun dari hadits, maka sudah disinggung di bab syirik, karena riya adalah syirik kecil.
Ketahuilah wahai Muslim wahai Hamba Allah! Riya diambil dari kata ru’yah (melihat). Orang yang riya melakukan pamer amal kepada manusia. Jiwanya mendapatkan bagian dari amalnya di dunia.
Riya banyak macamnya, contohnya beragam, dan aibnya jelek sekali. Ia membatalkan amal dengan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah berfirman:
﴿كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ﴾
“Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 264)
Beliau bersabda:
«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الاَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الاَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً»
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Riya. Allah kelak berfirman kepada mereka pada hari Kiamat tatkala manusia dibalas amalnya: pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian pamer kepada mereka di dunia. Perhatikanlah, apakah kalian mendapati balasan di sisi mereka?” (Shahih: HR. Ahmad no. 23630)
Beliau bersabda:
«أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ»
“Maukah kalian kuberitahu sesuatu yang lebih kutakutkan atas kalian melebihi Dajjal? Yaitu syirik tersembunyi: seseorang berdiri shalat lalu memperindah shalatnya karena melihat pandangan manusia.” (Hasan: HR. Ibnu Majah no. 4204)
Waspadalah wahai Saudaraku seiman dari riya karena ia adalah musibah terbesar yang menyeret amal menjadi debu.
Ketahuilah wahai Saudaraku se-Islam! Orang-orang yang riya adalah orang yang pertama kali dinyalakan untuk mereka api Neraka, karena mereka sudah menikmati hasil amal mereka di kehidupan dunia.
Larilah engkau wahai hamba dari riya seperti lari dari singa. Riya dan syahwat yang tersembunyi bisa mengalahkan para ulama kibar apalagi orang awam. Para ulama dan ahli ibadah diuji dengan riya ini dari jalan Akhirat.[]


3.           Menyebut Pemberian dan Menyakiti

Infak fi sabillah termasuk perbuatan makruf yang mendekatkan hamba kepada Rabbnya dan menjaganya dari keburukan.
Allah memuji hamba-hamban-Nya dalam firmannya:
﴿الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لاَ يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلاَ أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ﴾
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 262)
Dari ayat ini jelas bahwa pahala berinfak itu hanya untuk orang yang ikhlas tanpa diikuti mann (menyembut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti penerima), karena keduanya membatalkan pahala sedekah, sebagaimana yang Allah kabarkan:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالاَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ﴾
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 264)
Maka bersungguh-sungguhlah wahai hamba Allah untuk berinfak, memberi makan, dan memberi apapun dengan murni karena Allah, jangan melihat sedikitpun kepada manusia, jangan melihat kepada harta mereka, sebagaimana yang Allah firmankan:
﴿وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لاَ نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلاَ شُكُورًا﴾
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan [76]: 8-9)
Ketahuilah, jika kamu berinfak mencari balasan dari orang yang diberi dalam bentuk apapun, maka itu berarti kamu tidak ikhlas karena Allah. Jika kamu tidak mendapatkan itu maka biasanya akan menyeret kepada mann dan adza.
Allah hanya menerima dari orang-orang yang ikhlas yang memberi karena Allah dan hanya mencari ridho Allah. Mereka tidak suka dipuji terhadap amal shalih mereka karena mereka yakin bahwa mann dan adza menghancurkan pahala.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لَهُمْ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً: عَاقٌّ، وَمَنَّانٌ، وَمُكَذِّبٌ بِالْقَدَرِ»
“Tiga orang yang tidak Allah terima amalnya baik amal sunnah maupun wajibnya yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, orang yang melakukan mann dalam sedekah, dan pendusta takdir.” (Hasan: HR. Ibnu Abi Ashim no. 323)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,  dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ» قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ ثَلاَثَ مِرَارًا، قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ»
“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara Allah pada hari Kiamat, tidak dilihat, tidak disucikan dosanya, serta mendapatkan adzab yang pedih.” Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengulanginya sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Celaka dan rugi sekali ia. Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Musbil (laki-laki yang menjulurkan kain bawahnya melebihi mata kaki), mannan (orang yang suka menyembut-nyebut pemberian), dan pedagang yang suka bersumpah dusta.” (HR. Muslim no. 106)
Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«وَثَلاَثَةٌ لاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمُدْمِنُ عَلَى الْخَمْرِ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى»
“Ada tiga orang yang tidak masuk Surga, yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, pecandu khomr, dan mann dalam sedekah.” (Shahih: HR. An-Nasai no. 2562)
Ada yang mengatakan, “Siapa yang melakukan mann dalam kebaikannya maka gugur syukurnya, dan siapa yang ujub dalam amalnya maka terhapus pahalanya.”
Sungguh benar firman Allah:
﴿قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ﴾
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 263)[]


4.           Mendustakan Takdir

Ketahuilah wahai Mukmin bahwa iman tidak sah tanpa beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Ia meyakini bahwa apa yang akan menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang tidak menimpanya tidak akan mengenainya. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering dengan ilmu Allah sebelum terjadinya dan terciptanya alam semesta.
Siapa yang mendustakannya maka gugur amalnya, dan ia termasuk orang yang rugi meskipun telah berinfak sepenuh bumi emas.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لَهُمْ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاَ: عَاقٌّ، وَمَنَّانٌ، وَمُكَذِّبٌ بِالْقَدَرِ»
“Tiga orang yang tidak Allah terima amalnya baik amal sunnah maupun wajibnya yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, orang yang melakukan mann dalam sedekah, dan pendusta takdir.” (Hasan: HR. Ibnu Abi Ashim no. 323)
Dari Zaid bin Tsabit, Ubay bin Kaab, Abdullah bin Mas’ud, dan Hudzaifah bin Yaman, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ عَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ، وَلَوْ أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قَبِلَهُ اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ، وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَلَوْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا لَدَخَلْتَ النَّارَ»
“Andai Allah menyiksa seluruh penduduk langit dan penduduk bumi, niscaya Dia menyiksa mereka tanpa dikatakan zhalim. Andai Dia merahmati mereka maka rahmat itu lebih baik bagi mereka melebihi amal shalih mereka. Andai kamu berinfak emas seperti gunung Uhud maka Allah tidak akan menerimanya darimu hingga kamu beriman kepada takdir. Kamu meyakini bahwa apa yang akan menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang tidak menimpamu tidak mengenaimu. Andai kamu mati dalam keadaan selain keyakinan ini maka kamu pasti masuk Neraka.” (Shahih: HR. Abu Dawud no. 4699)
Ketika terjadi pengingkaran takdir di akhir masa generasi Sahabat, para Tabiin bersegera menuju para Sahabat meminta fatwa tentang masalah ini. Permasalahan ini terjawab dengan hadits Umar bin Khathab.
Yahya bin Ya’mar berkata, “Orang pertama yang melakukan bid’ah tentang takdir adalah Ma’bad Al-Juhani di Bashrah. Aku dan Humaid bin Abdurrahman Al-Himyari pergi haji atau umrah dan kami berandai-andai bertemu salah seorang dari Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta fatwa berkenaan dengan perkataan mereka tentang takdir. Kami bertemu Abdullah bin Umar bin Khathab yang masuk masjid. Maka kami mengikutinya dari kanan dan kiri. Temanku menyerahkan kesempatan bertanya kepadaku lalu aku berkata, ‘Wahai Abu Abdirrahman (Ibnu Umar), muncul di negeri kami sekelompok manusia yang hafal Al-Qur’an, rajin mengumpulkan ilmu –ia menyebutkan kelebihan-kelebihan lainnya- akan tetapi mereka berpendapat tidak ada takdir dan setiap perkara diketahui Allah setelah terjadi.” Maka Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu bertemu mereka maka kabarkan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka belepas diri dariku. Demi Dzat yang Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya, andai mereka berinfak emas sepenuh gunung Uhud maka Allah tidak akan menerimanya hingga beriman kepada takdir.”
Lalu dia berkata, ‘Ayahku Umar bin Khathab menceritakan kepadaku bahwa ia berkata: pada suatu hari kami berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak nampak kalau sedang bepergian, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk menghadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu menyandarkan lututnya kepada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau. Dia bertanya, “Ya Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Maka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Islam adalah Anda bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika Anda mampu menempuh jalannya.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kami heran terhadapnya, dia yang bertanya sekaligus membenarkannya. Lelaki itu bekata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman!” Beliau menjawab, “Anda beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Akhir, dan Anda beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Lelaki itu menjawab, “Engkau benar.” Dia bekata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang ihsan!” Beliau menjawab, “Anda menyembah Allah seolah-olah melihatnya. Jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat Anda.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Beliau menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika Anda melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing saling bermegahMegahan meninggikan bangunan.”
Kemudian lelaki itu pergi. Aku diam sejenak lalu beliau bersabda, “Hai ‘Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu?”  Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim no. 8)[]


5.           Meninggalkan Shalat Ashar

Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk mengerjakan shalat terutama shalat Wustha yaitu shalat Ashar. Allah berfirman:
﴿حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ﴾
“Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat Wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 238)
Allah memperingatkan dari kelalaian shalat ini, baik lalai karena harta, keluarga, atau keuntungan duniawi. Pelakunya diancam dengan berat, terutama berkaitan shalat Ashar. Allah berfirman:
﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ * الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ﴾
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maun [107]: 4-7)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«الَّذِي تَفُوتُهُ صَلاَةُ العَصْرِ، كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ»
“Yang terluput shalat Ashar maka seolah-olah berkurang keluarga dan hartanya.” (HR. Al-Bukhari no. 553)
Dari Abul Malih Amir bin Usamah bin Amir Al-Hudzli, ia bekata: kami bersama Buraidah pada sebuah peperangan yang berkecamuk lalu ia berkata: shalatlah Ashar segera karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ العَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ»
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka gugur amalnya.” (HR. Al-Bukhari no. 553)[]


6.           Mendahului Allah

Rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Di antara rahmat-Nya adalah apabila menghendaki maka Dia mengampuni dosa tanpa taubat sebagai bentuk karunia dan kebaikan-Nya.
Allah tidak ditanya atas perbuatan-Nya, tetapi manusia yang akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban). Dia Maha lembut, Maha penyayang Maha Pengampun, Maha Pengasih. Akan tetapi sebagian manusia yang digelincirkan setan dan dihiasai amal jeleknya, apabila melihat sebagian kesalahan manusia, kamu melihatnya mereka langsung memvonisnya sambil mengatakan: demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan. Mereka tidak tahu bahwa ucapan itu salah dan menggugurkan pahala amal. Karena mereka membuat manusia berputus asa dari rahmat Rabbnya.
Dari Jundub Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan:
«أَنَّ رَجُلاً قَالَ: وَاللَّهِ لاَ يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلاَنٍ، وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ»
“Ada seseorang yang berkata: demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan. Allah berfirman: siapa yang berani mendahului Aku bahwa Aku tidak mengampuni fulan. Sungguh Aku telah mengampuninya dan Aku hapus amal shalihmu.” (HR. Muslim no. 2621)
Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa menjadikan manusia berputus asa dari rahmat Allah adalah sebab ia menambah maksiatannya karena berkeyakinan bahwa rahmat Allah telah tertutup baginya, sehingga ia menambah penyimpangan dan kedurhakaannya, karena syahwatnya lapar sebelum mati. Lalu Allah pun mengadzabnya dengan adzab yang belum pernah diterapkan kepada seorang pun.
Tidakkah orang yang menutup kebaikan dan membuka kejelekan ini layak dihapus amal kebaikannya sebagai balasan yang setimpal?
Ya Allah,  jadikanlah kami sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan.[]


7.           Menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُونَ﴾
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat [49]: 2)
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: ketika turun ayat ini, Tsabit bin Qois berdiam di rumahnya sambil berkata: amalku hangus dan aku termasuk penghuni Neraka. Dia tidak lagi menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sehingga beliau menanyakannya kepada Saad bin Muadz, “Wahai Abu Amr, apa yang terjadi dengan Tsabit?” Saad berkata, “Dia memang tetanggaku tetapi aku tidak tahu keluhannya.” Lantas Saad menemuinya lalu menyampaikan ucapan Rasulullah tentangnya lalu Tsabit berkata, “Turun ayat dan kalian sudah mengerti kalau aku adalah orang yang paling tinggi suaranya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku penghuni Neraka. Saad menyampaikan berita itu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»
“Bahkan ia termasuk penghuni Surga.” (HR. Muslim no. 119)
Dari hadits ini menjadi jelas bahwa mengangkat suara yang membatalkan amal adalah penentangan dan penyelisihan perintah Rasulullah dan tidak mentaatinya baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.
Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلاَ تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ﴾
“Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan jangan kalian membatalkan amal kalian.” (QS. Muhammad [47]: 33)[]


8.           Bid’ah

Ketahuilah semoga Allah merahmati kalian! Seorang Muslim harus menempuh dua hal dalam beribadah. Yang pertama adalah ikhlas kepada Allah dan yang kedua adalah mengikuti perintah Allah yang diturunkan lewat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam persis seperti apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Perkara yang membatalkan dua perkara ini adalah bid’ah dalam agama.
Bid’ah membatalkan amal dan menghapus pahala. Tentang hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
“Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
وَفِي رِوَايَةٍ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلاَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Imam An Nawawi menilai hadits ini sebagai pokok agama Islam dan kaidah Islam bahkan syarat agama Islam.
Oleh karena itu, selayaknya hadits ini dihafalkan dan diterapkan untuk membatalkan bid’ah-bid’ah. Karena ia sangat jelas dalam menolak setiap bid’ah dan kreasi ibadah.

9.           Melanggar Larangan Allah Saat Sendirian

Dari Tsauban Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda:
«لاَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا، فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا»، قَالَ ثَوْبَانُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا، جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ، وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ، قَالَ: «أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ، وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ، وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا»
“Aku benar-benar tahu sekelompok umatku yang datang para hari Kiamat dengan membawa pahala sepenuh gunung Tihamah yang putih lalu Allah jadikan itu laksana debu yang beterbangan.” Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, jelaskan siapa mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.” beliau menjawab, “Mereka saudara kalian dan sejenis dengan kalian. Mereka shalat malam seperti kalian, tetapi mereka adalah kaum yang apabila bersendirian dengan larangan Allah maka mereka melanggarnya.” (Shahih: HR. Abu Dawud no. 4245)
Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang takut kepada-Mu di kala sendirian, mengagungkan syiar-syiar-Mu, menjauhi larangan-Mu di kala sendirian maupun di khalayak umum. Jauhkanlah kami dari dosa dan fahisyah yang nampak maupun yang tersembunyi.[]


10.      Gembira Membunuh Orang Beriman

Orang Islam terjaga darahnya. Tidak halal bagi siapapun menumpahkan darahnya tanpa hak Islam.
Banyak ayat-ayat yang jelas dan hadits-hadits shahih tentang agungnya kemuliaan orang beriman, dan ancaman keras bagi siapa saja yang menghalalkan darahnya lalu membunuhnya, yang tidak memiliki hujjah di sisi Allah. Allah berfirman:
﴿وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا﴾
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa [4]: 93)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا فَاعْتَبَطَ بِقَتْلِهِ، لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا، وَلاَ عَدْلاَ»
“Siapa yang membunuh orang beriman dengan perasaan gembira dalam membunuhnya maka Allah tidak akan menerima darinya ibadah sunnahnya maupun ibadah wajibnya.” (Shahih: HR. Abu Dawud no. 4270)
«لاَ يَزَالُ الْمُؤْمِنُ مُعْنِقًا صَالِحًا، مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا، فَإِذَا أَصَابَ دَمًا حَرَامًا بَلَّحَ»
Orang beriman senantiasa dalam keadaan baik selagi tidak menumpahkan darah yang haram. Apabila ia menumpahkan darah yang haram maka binasalah ia.” (Shahih: HR. Abu Dawud no. 4270)
Oleh karena itu, sangat sedikit sekali pembunuh diberi taufik kepada taubat, berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
«أَبَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ لِقَاتِلِ الْمُؤمِنِ تَوْبَةٌ»
“Allah enggan memberi taubat kepada orang yang membunuh orang beriman.” (As-Shahihah no. 689)
Ahli fiqih berselisih pendapat tentang taubat pembunuh yang sengaja. Sebagian berpendapat diterima taubatnya dan yang lain berpendapat tidak diterima taubatnya. Yang pertama lebih kuat, Allahu a’lam.[]


11.      Tinggal Bersama Orang-orang Musyrik di Negeri Harbi

Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, ia bekata, “Apa itu tanda-tanda Islam?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«أَنْ تَقُولَ: أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَتَخَلَّيْتُ، وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، كُلُّ مُسْلِمٍ عَلَى مُسْلِمٍ مُحَرَّمٌ أَخَوَانِ نَصِيرَانِ لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ مُشْرِكٍ بَعْدَمَا أَسْلَمَ عَمَلاً، أَوْ يُفَارِقَ الْمُشْرِكِينَ إِلَى الْمُسْلِمِينَ»
“Kamu berkata: aku serahkan dan hadapkan wajahku kepada Allah Azza wa Jalla, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, setiap Muslim atas Muslim lainnya diharamkan (saling membunuh tanpa hak), keduanya bersaudara, saling menolong, Allah tidak menerima amalan orang musyrik yang masuk Islam hingga memisahkan dirinya dari masyarakat musyrik kepada kaum Muslimin.” (Hasan: An Nasai no. 2568, 5/82-83 dan Ibnu Majah no. 2536)[]


12.      Mendatangi Dukun dan Tukang Ramal

Praktek perbintangan yang mengandung unsur falak untuk menentukan peristiwa yang terjadi di bumi atau menganggap tuhan-tuhan mereka mengetahui peristiwa yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi adalah haram berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah serta kesepakatan ulama.
Islam mengharamkan perdukunan, yaitu apa yang berhubungan dengan perbintangan, baik dengan memukulkan tongkat, menggaris pada pasir, maupun membaca cangkir.
Begitu pula, Islam mengharamkan berinteraksi dengan mereka dalam bentuk apapun, kecuali mendatangi dalam rangka amar makruf nahi munkar, seperti yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Ibnu Shoyyad Al-Yahudi.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengancam siapa yang mendatanginya lalu bertanya, dengan ancaman tidak diterima shalatnya selama 40 hari. Beliau bersabda:
«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»
“Siapa yang mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang apapun maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari.” (HR. Muslim no. 2230)
Ancaman ini bagi yang mendatangi dan bertanya, adapun yang menambahnya dengan membenarkannya maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda:
«مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ»
“Siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal lalu membenarkannya maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Shahih: HR. Ahmad no. 9536)
Wahai saudaraku Muslim, semoga Allah memberimu taufik kepada apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, ini keadaan yang bertanya, lantas bagaimana lagi dengan nasib yang ditanya?!
Yang mengherankan lagi adalah anggapan sebagian manusia bahwa praktek para dukun dan peramal tersebut sebagai karomah.
Karomah diberikan Allah kepada hamba shalih, dan hamba tidak bisa mengupayakannya sendiri dan tidak memiliki kemampuan akan hal itu.
Ketahuilah bahwa orang-orang musyrik Quraisy di saat masa sulit, mereka berdoa kepada Allah dengan tulus seperti yang Allah kabarkan:
﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut [29]: 65)
Akan tetapi, sayangnya kebanyakan orang yang mengaku Muslim meninggalkan Allah saat kesusahan lalu berpaling menuju rumah para dukun dan para peramal.[]


13.      Durhaka kepada Orang Tua

Allah memerintahkan untuk beribadah dan mentauhidkan-Nya dan menjadikan bakti orang tua beriringan dengan hal itu, dalam firman Allah:
﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra [17]: 23)
Juga Dia mengiringi perintah bersyukur kepada-Nya dengan bersyukur kepada kedua orang tua.
﴿وَوَصَّيْنَا الاَنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14)
Berbakti kepada orang tua adalah mentaatinya dalam ucapan dan perbuatannya selama diperbolehkan syariat, tidak boleh mentaatinya dalam kesyirikan, dosa besar, atau meninggalkan kewajiban.
Allah memerintahkan berbakti kepada keduanya dan berbuat baik kepada keduanya, serta mengancam siapa yang durhaka dan menjadikannya sebagai dosa besar dan pembatal amal.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لَهُمْ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاَ: عَاقٌّ، وَمَنَّانٌ، وَمُكَذِّبٌ بِالْقَدَرِ»
“Tiga orang yang tidak Allah terima amalnya baik amal sunnahnya maupun wajibnya yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, orang yang melakukan mann dalam sedekah, dan pendusta takdir.” (Hasan: HR. Ibnu Abi Ashim no. 323)
Maka berusahalah berbakti kepada kedua orangtua, menyayangi keduanya, merendahkan diri karena sayang kepadanya, lebih khusus jika keduanya menginjak usia tua.
Hendaknya anak selalu mengingat kasih sayang dan kelelahan orang tuanya ketika mendidiknya sewaktu kecil agar bertambah rasa cintanya kepada kedua orangtuanya.[]


14.      Pecandu Khomr

Khomr adalah induk keburukan, kepala segala dosa, karena ia membuat akal tidak sehat sehingga terhubung dengan tali setan.
Allah memerintahkan di dalam Kitab-Nya agar menjauhi khomr. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa ia adalah sebab datangnya laknat Allah kepada setiap orang yang berhubungan dengannya, apapun bentuknya. Oleh karena itu, siapa yang meminumnya maka balasannya adalah Allah menghapus amalnya secara tertahap kecuali jika bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مَنْ شَرِبَ الخَمْرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ عَادَ لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ لَهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ عَادَ لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ لَهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ عَادَ الرَّابِعَةَ لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ لَهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، فَإِنْ تَابَ لَمْ يَتُبِ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَسَقَاهُ مِنْ نَهْرِ الخَبَالِ» قِيلَ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ: وَمَا نَهْرُ الخَبَالِ؟ قَالَ: نَهْرٌ مِنْ صَدِيدِ أَهْلِ النَّارِ.
“Siapa yang minum khomr maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. Jika ia bertaubat maka Allah terima taubatnya. Jika ia mengulanginya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. Jika ia bertaubat maka Allah terima taubatnya. Jika ia mengulangi, maka shalatnya selama 40 hari tidak Allah terima. Jika ia bertaubat maka Allah terima taubatnya. Jika ia mengulangi keempat kalinya Allah tidak menerima taubatnya dan memberinya minuman dari sungai Khobal.” Ibnu Umar ditanya, “Wahai Abu Abdirrahman, apa itu sungai Khobal?” Dia menjawab, “Yaitu sungai dari nanah penduduk Neraka.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 1862)
Hal itu disebabkan kecanduan khomr umumnya menjadikannya menghalalkan khomr.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مُدْمِنُ الْخَمْرِ إِنْ مَاتَ، لَقِيَ اللَّهَ كَعَابِدِ وَثَنٍ»
“Pecandu khomr jika mati maka bertemu Allah seperti penyembah berhala.” (Hasan: HR. Ahmad 1/272)
Ibnu Hibban berkata, “Makna hadits ini sepertinya bagi siapa yang bertemu Allah dalam keadaan menghalalkan khomr, karena kesamaan keduanya (pecandu khomr dan penyembah berhala) dalam kekufuran.” (Shahih Ibnu Hibban 7/367)[]


15.      Ucapan dan Perbuatan Zurr

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»
“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan zurr maka Allah tidak memerdulikan dia meninggalkan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari no.)
Hadits ini menunjukkan bahwa ucapan dan perbuatan zurr[1] membatalkan pahala puasa.[]


16.      Memelihara Anjing

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا، فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطٌ، إِلاَّ كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ»
“Siapa yang memelihara anjing maka ia akan mengurangi pahala amalnya setiap hari satu qiroth, kecuali anjing untuk menjaga ladang atau anjing untuk menjaga binatang ternak.”[2] (HR. Al-Bukhari no. 2322)


17.      Budak yang Kabur dari Majikannya

18.      Wanita yang Nusyuz

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«اثْنَانِ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمَا رُءُوسَهُمَا: عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيهِ حَتَّى يَرْجِعَ، وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ»
“Ada dua orang yang shalatnya tidak melewati kepala mereka (pahalanya tidak naik ke langit), yaitu budak yang kabur dari majikannya hingga kembali, dan wanita yang durhaka kepada suaminya hingga kembali.” (Shahih: HR. Al-Hakim no. 7330)[]


19.      Imam yang Dibenci Makmum

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«ثَلاَثَةٌ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمْ آذَانَهُمْ: العَبْدُ الاَبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ»
“Tiga orang yang shalatnya tidak melewati telinganya, yaitu budak yang kabur hingga kembali, wanita yang di malam hari suaminya murka kepadanya, dan imam yang dibenci makmumnya.” (Hasan: HR. At-Tirmidzi no. 360)
Imam At-Tirmidzi berkata, “Sebagian ahli ilmu membenci seseorang yang dibenci makmum menjadi imam. Jika ternyata imam bukan orang zhalim maka dosanya ditanggung oleh yang membenci.” (Sunan At-Tirmidzi 2/192)
Dinukil dari Manshur (2/193), “Kami pernah bertanya tentang perkara imam ini lalu dijawab bahwa maksud hadits adalah imam yang zhalim, adapun imam yang menegakkan sunnah maka dosa tersebut ditanggung oleh yang membenci.”
Dari sini menjadi jelas bahwa yang dimaksud bukanlah terkait menurut selera makmum tetapi terkait mengukuti sunnah atau menyelisihinya.[]


20.      Menghajr[3] Muslim Tanpa Uzur Syari

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا»
“Pintu-pintu Surga terbuka hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun diampuni, kecuali seseorang yang sedang bersengketa dengan saudaranya. Dikatakan: tundalah dua orang ini hingga keduanya berdamai. Tundalah dua orang ini hingga berdamai. Tundalah dua orang ini hingga berdamai.” (HR. Muslim no. 2565)[][4]



[1] Zurr adalah dusta, dan ucapan zurr adalah berdusta saat berpuasa, sementara perbuatannya adalah konsekuensi darinya dalam bentuk perbuatan.
[2] Dalam riwayat lain, “Dan anjing untuk berburu.”
[3] Hajr artinya memboikot, yaitu tidak menyapa karena sedang bertengkar.
[4] Kitab ini diterjemahkan secara bebas dengan pembuangan beberapa paragraf.

Related

TERJEMAH AQIDAH DAN TAUHID 5503611922340253431

Follow Us

Pengikut

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item