[PDF] Arbain (40 Hadits) Tentang Pernikahan - Edisi 2 - Nor Kandir
Muqoddimah Edisi 2
﷽
Pada edisi
2, dua Hadits yang pada edisi sebelumnya belum terverifikasi, sudah ditambahkan
komentar sanadnya.
Pengantar
Penerbit dan muqoddimah edisi pertama ditiadakan untuk lebih meringkas ukuran
buku.
Telah
dilakukan koreksi ulang dari awal sampai akhir. Hanya karena Allah semua amal
sholih menjadi sempurna.
Nor Kandir.
Ke-1: Bahaya Fitnah Wanita
قَالَ تَعَالىَ: ﴿وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا﴾
Allah ta’ala berfirman, “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
(QS. An-Nisâ`
[4]: 28)
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى
الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ»
Nabi ﷺ bersabda,
“Aku tidak meninggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum
lelaki melebihi kaum wanita.” (Muttafaqun ‘Alaih)
«إِنَّ الدُّنْيَا
حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللّٰهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ
تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ
فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ»
“Sesungguhnya dunia itu manis (dirasakan) lagi hijau (dipandang), dan sesungguhnya Allah
menjadikan kalian berkuasa di dalamnya lalu Dia melihat apa yang kalian
lakukan. Waspadalah
kalian terhadap dunia dan waspadalah kalian terhadap wanita. Sesungguhnya fitnah pertama
Bani Isra`il adalah wanita.” (HR. Muslim, no. 2742)
«إِنَّ اللّٰهَ كَتَبَ
عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا
العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، وَالنَّفْسُ تَمَنَّى
وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ»
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas keturunan Adam
bagiannya dari zina, yang pasti dilakukannya tidak mungkin tidak. Zina mata
adalah melihat, zina lisan adalah berbicara, dan jiwa berandai-andai dan
berkeinginan, sementara kemaluan
membenarkan (mewujudkan) hal tersebut atau mendustakannya.” (Muttafaqun
‘Alaih)
Ke-2: Membendung Fitnah Wanita dengan Menikah
«إِنَّ الْمَرْأَةَ
تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا
أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا
فِي نَفْسِهِ»
وَفِى رِوَايَةٍ: «فَإِنَّ
مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا»
“Sesungguhnya wanita menghadap dalam rupa syaithon dan
membelakangi dalam rupa syaithon pula. Jika salah seorang dari kalian melihat
wanita, hendaklah ia mendatangi (menyetubuhi) istrinya karena hal tersebut bisa menolak apa (yang bergejolak) di dalam jiwanya.” (HR.
Muslim, no. 1403)
Dalam riwayat lain, “Karena istrinya memiliki yang
semisal dimiliki wanita tersebut.” (HSR. At-Tirmidzi, no. 1158)
Ke-3: Menikah Sunnah Para Nabi dan Rosul
﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا
وَذُرِّيَّةً﴾
“Dan sungguh Kami telah mengutus para Rosul sebelummu dan Kami
jadikan untuk mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ro’du [13]: 38)
«أَمَا وَاللّٰهِ،
إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلّٰهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ،
وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي
فَلَيْسَ مِنِّي»
“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan
paling bertaqwa kepada-Nya di antara kalian. Namun, aku puasa dan tidak puasa,
aku sholat malam dan tidur, dan aku menikahi beberapa wanita. Siapa yang
membenci sunnahku maka dia bukan dari golonganku.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Ke-4: Menikah Memberikan Ketenangan
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا
إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Di antara tanda-tanda (kebesaran-Nya) adalah Dia menciptakan
untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian merasa tenang
karena mereka, dan Dia jadikan di antara kalian mawaddah dan rohmah. Sungguh pada demikian
itu terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berfikir.” (QS. Ar-Rûm [30]: 21)
﴿هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ﴾
“Mereka (para istri) adalah pakaian untuk kalian (para
suami) dan kalian adalah pakaian untuk mereka.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 187)
Ke-5: Menikah Termasuk Kesempurnaan Iman
«مَنْ أَعْطَى لِلّٰهِ،
وَمَنَعَ لِلّٰهِ، وَأَحَبَّ لِلّٰهِ، وَأَبْغَضَ لِلّٰهِ، وَأَنْكَحَ لِلّٰهِ،
فَقَدِ اسْتَكْمَلَ إِيمَانُهُ»
“Siapa yang memberi karena Allah, menahan karena Allah,
mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka
sungguh telah sempurna keimanannya.” (HHR. At-Tirmidzi, no. 2521)
Ke-6: Setengah Agama Pada Menikah
«إِذَا تَزَوَّجَ
الْعَبْدُ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفُ الدِّينِ، فَلْيَتَّقِ اللّٰهَ فِي النِّصْفِ
الْبَاقِي»
“Jika seorang hamba menikah maka dia telah menyempurnakan
setengah agama. Hendaklah dia bertaqwa kepada Allah di setengah sisanya.” (HHR.
Al-Baihaqi, no. 5100)
«مَنْ رَزَقَهُ اللّٰهُ
امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ، فَلْيَتَّقِ اللّٰهَ
فِي الشَّطْرِ الثَّانِي»
“Siapa yang diberi karunia Allah wanita sholihah, maka sungguh Dia telah
membantunya dalam setengah agamanya. Hendaklah ia bertaqwa kepada Allah di
setengah sisanya.” (HSR. Al-Hakim, no. 2681)
Ke-7: Anjuran Menikah dengan Penekanan
﴿وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ
وَإِمَائِكُمْ﴾
“Dan nikahkanlah wanita-wanita sendirian di antara kalian dan
orang-orang sholih dari hamba-hamba lelaki dan perempuan kalian.” (QS.
An-Nûr [24]: 32)
«يَا مَعْشَرَ
الشَّبَابِ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ
أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ
بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ»
“Wahai para pemuda! Siapa di antara kalian mampu ba`ah (biaya
menikah) maka menikahlah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih
menjaga kemaluan. Siapa yang belum sanggup, maka hendaklah ia berpuasa karena
ia akan menjadi tameng baginya.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Ke-8: Anjuran Menikah Meskipun Miskin
﴿إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ
وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾
“Jika mereka
miskin, niscaya Allah akan menjadikan mereka kaya dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya)
dan Mahatahu.” (QS. An-Nûr [24]: 32)
«ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى
اللّٰهِ عَوْنُهُمْ: المُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ، وَالمُكَاتَبُ الَّذِي
يُرِيدُ الأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ العَفَافَ»
“Tiga orang yang pasti Allah tolong, yaitu orang yang
berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang ingin menebus dirinya, dan orang
yang menikah demi menjaga kehormatan.” (HHR. At-Tirmidzi, no. 1655)
«تَزَوَّجُوا
النِّسَاءَ، فَإِنَّهُنَّ يَأْتِينَكُمْ بِالْمَالِ»
“Nikahilah oleh kalian wanita-wanita karena sesungguhnya
mereka akan mendatangkan harta kepada kalian.” (HSR. Al-Hakim, no. 2679)
قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ
اللّٰهُ عَنْهُ: «اَطِيْعُوا اللّٰهَ فِيْمَا اَمَرَكُمْ بِهِ مِنَ النِّكَاحِ،
يُنْجِزُ لَكُمْ مَا وَعَدَكُمْ مِنَ الْغِنَى، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ﴾»
Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu
berkata, “Taatilah Allah atas apa yang Dia perintahkan kepada kalian berupa
menikah, niscaya Dia akan menepati apa yang Dia janjikan kepada kalian berupa
kekayaan, karena Allah berfirman, ‘Jika mereka miskin, niscaya Allah akan
menjadikan mereka kaya dari karunia-Nya.’” (Tafsîr Ibnu Abî Hâtim,
no. 14449)
قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ
عَنْهُ: «عَجِبْتُ لِمَنِ ابْتَغَى الْغِنَى بِغَيْرِ النِّكَاحِ، وَاللّٰهُ عَزَّ
وَجَلَّ يَقُوْلُ: ﴿إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ﴾»
‘Umar bin al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu
berkata, “Aku heran terhadap seseorang yang mencari kekayaan tanpa menikah,
padahal Allah ta’ala berfirman, ‘Jika mereka miskin, niscaya Allah
akan menjadikan mereka kaya dari karunia-Nya.’” (Tafsîr al-Baghowî, III/410)
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ
اللّٰهُ عَنْهُمَا: «أَمَرَ اللّٰهُ سُبْحَانَهُ بِالنِّكَاحِ وَرَغَّبَهُمْ
فِيْهِ، وَأَمَرَهُمْ أَنْ يُزَوِّجُواْ أَحْرَارَهُمْ وَعَبِيْدَهُمْ،
وَوَعَدَهُمْ فِي ذَلِكَ الْغِنَى فَقَالَ: ﴿إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ﴾»
Ibnu ‘Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Allah memerintahkan menikah dan mendorong untuk itu, dan memerintah mereka
untuk menikahkan orang-orang yang merdeka dan budak mereka, serta menjanjikan
mereka kekayaan pada pernikahan tersebut karena Allah berfirman, ‘Jika
mereka miskin, niscaya Allah akan menjadikan mereka kaya dengan karunia-Nya.’”
(Tafsîr Ibnu Abi Hâtim, no. 14442)
قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ
رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ: «الْتَمِسُواْ الْغِنَى فِي النِّكَاحِ، يَقُوْلُ اللّٰهُ: ﴿إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ﴾»
Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H) berkata,
“Carilah kekayaan di dalam pernikahan, karena Allah berfirman, ‘Jika mereka
miskin, niscaya Allah akan menjadikan mereka kaya dengan karunia-Nya.’”
(Tafsîr Ibnu Katsîr VI/51)
Ke-9: Doa Istikhoroh dan Bersandar Kepada Allah
«اللَّهُمَّ إِنِّي
أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ
فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ
أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ
هَذَا الأَمْرَ [النِّكَاحَ] خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ
أَمْرِي -أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي،
ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ. وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ
[النِّكَاحَ] شَرٌّ لِي فِي دِينِي
وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ-
فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ،
ثُمَّ أَرْضِنِي»
“Ya Allah, aku beristikhoroh (meminta pilihan dan arahan)
kepada-Mu dan meminta takdir (baik) dengan takdir-Mu, dan aku memohon kepada-Mu
sebagian karunia-Mu yang agung, karena Engkau Mahamampu dan aku tidak mampu,
dan Engkau Mahatahu dan aku tidak tahu, dan Engkau Mahatahu yang ghoib. Ya
Allah, jika Engkau tahu bahwa urusan [atau nikah] ini baik bagiku dalam
agamaku, kehidupanku, dan berakibat (baik) dalam urusanku --atau berdoa:
urusanku sekarang dan akan datang-- maka takdirkanlah ia untukku dan
mudahkanlah ia untukku kemudian berkahilah ia untukku. Dan jika Engkau tahu
bahwa urusan [atau nikah] ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan
berakibat (buruk) dalam urusanku --atau berdoa: urusanku sekarang dan akan
datang-- maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan
takdirkanlah kebaikan apapun untukku kemudian jadikan aku ridho.” (HR.
Al-Bukhori,
II/57)
Ke-10: Perhatian dalam Memilih Pasangan
﴿الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ
لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ﴾
“Wanita-wanita buruk untuk lelaki-lelaki buruk, dan lelaki-lelaki
buruk untuk wanita-wanita buruk. Dan wanita-wanita baik untuk lelaki-lelaki
baik, dan lelaki-lelaki baik untuk wanita-wanita baik.” (QS. An-Nûr
[24]: 26)
«تَخَيَّرُوا
لِنُطَفِكُمْ، وَانْكِحُوا الْأَكْفَاءَ، وَأَنْكِحُوا إِلَيْهِمْ»
“Pilihkanlah (tempat yang baik) untuk sperma kalian,
nikahilah wanita yang sepadan, dan nikahkanlah (putri-putri kalian) kepada
mereka.” (HHR. Ibnu Majah, no. 1968)
Ke-11: Sebaik-Baik Kenikmatan Dunia
«الدُّنْيَا مَتَاعٌ،
وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ»
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasaan dunia
adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim, no. 1467)
«حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ
الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ»
“Telah dijadikan kecintaanku dari dunia adalah wanita dan
wewangian, dan dijadikan kesejukan mataku dalam sholat.” (HSR. An-Nasa`i,
no. 3939)
«أَرْبَعٌ مِنَ
السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ
الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ. وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ: الْجَارُ
السُّوءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضِّيقُ، وَالْمَرْكَبُ
السُّوءُ»
“Empat
kebahagiaan adalah istri sholihah, rumah yang luas, tetangga sholih, dan
kendaraan nyaman. Dan empat kesengsaraan adalah tetangga yang jahat, istri yang
jahat, rumah yang sempit, dan kendaraan yang jelek.” (HSR. Ibnu Hibban,
no. 4032)
Ke-12: Kriteria Wanita Sholihah
﴿فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ﴾
“Maka wanita sholihah adalah yang taat kepada Allah dan menjaga
diri saat suaminya tidak ada karena Allah telah menjaganya.” (QS.
An-Nisâ` [4]: 34)
«تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ
لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ
بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ»
Nabi ﷺ bersabda, “Wanita
(biasanya) dinikahi karena empat hal: karena hartanya, nasabnya, kecantikannya,
dan agamanya. Nikahilah karena agamanya, kalau tidak kamu akan sengsara.” (Muttafaqun
‘Alaih)
Ke-13: Kriteria Wanita Idaman
﴿وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ
الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ﴾
“Dan hendaklah kalian (para istri) tetap tinggal di rumah-rumah
kalian dan jangan bersolek seperti kaum jahiliyyah tempo dulu. Kerjakanlah sholat,
tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rosul-Nya.” (QS. Al-Ahzâb
[33]: 33)
«خَيْرُ النِّسَاءِ
مَنْ تَسَرُّ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي
نَفْسِهَا وَمَالِهَا»
“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan jika suami
memandangnya, mentaati suami jika memerintahnya, dan tidak menyelisihi suami
dalam diri dan hartanya.” (HSR. Al-Hakim, no. 2682)
«عَلَيْكُمْ
بِالْأَبْكَارِ، فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا، وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا،
وَأَرْضَى بِالْيَسِيرِ»
“Hendaklah kalian menikahi gadis (perawan), karena mereka
lebih harum mulutnya, lebih subur rahimnya, dan lebih ridho dengan yang sedikit.”
(HHR. Ibnu Majah, no. 1861)
«تَزَوَّجُوا
الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ [يَوْمَ
الْقِيَامَةِ]»
“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya
jumlah kalian di
hadapan para umat [pada hari Kiamat].” (HSR. Abu Dawud, no. 2050)
Ke-14: Nazhor dan Dianjurkan Cantik Menurut
Kedua Matanya
«انْظُرْ إِلَيْهَا،
فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا»
“Lihatlah wanita tersebut karena hal tersebut lebih
menimbulkan kelanggengan di antara kalian berdua.” (HSR. At-Tirmidzi,
no. 1087)
Ke-15: Larangan Menikah dengan Paksaan
«لاَ تُنْكَحُ
الأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَلاَ تُنْكَحُ البِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ»
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، وَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: «أَنْ تَسْكُتَ»
“Janda tidak boleh dinikahkan hingga diminta perintahnya (pendapat/diskusi), dan
gadis tidak boleh dinikahkan hingga diminta izinnya (persetujuannya).” Mereka bertanya,
“Wahai Rosulullah, bagaimana izinya?” Beliau menjawab, “Diamnya.” (Muttafaqun
‘Alaih)
Ke-16: Dibenci Menolak Lamaran Lelaki Sholih
«إِذَا خَطَبَ
إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا
تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ»
“Jika melamar kepada kalian (para wali wanita) seseorang
yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak
melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HHR.
At-Tirmidzi, no. 1084)
Ke-17: Termasuk Sunnah Mempermudah Pernikahan
«أَحَقُّ الشُّرُوطِ
أَنْ تُوفُوا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الفُرُوجَ»
“Syarat yang paling berhak dipenuhi adalah apa yang menyebabkan
kemaluan menjadi halal.” (Muttafaqun ‘Alaih)
«خَيْرُ النِّكَاحِ
أَيْسَرُهُ»
“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” (HSR.
Abu Dawud, no. 2117)
«إِنَّ مِنْ يُمْنِ
الْمَرْأَةِ تَيْسِيرَ خِطْبَتِهَا، وَتَيْسِيرَ صَدَاقِهَا، وَتَيْسِيرَ
رَحِمِهَا»
“Termasuk wanita yang berkah adalah yang mudah
lamarannya, mudah mas kawinnya, dan mudah rahimnya (subur).” (HSR. Ahmad,
no. 24478)
Ke-18: Tidak Sah Nikah Tanpa Wali, Mahar, dan
Saksi
﴿فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ﴾
“Nikahilah
mereka dengan seizin keluarga mereka dan berikanlah mahar mereka dengan ma’ruf.”
(QS. An-Nisâ`
[4]: 25)
«لَا نِكَاحَ إِلَّا
بِوَلِيٍّ»
“Tidak sah nikah tanpa wali.” (HSR. At-Tirmidzi,
no. 1101)
Ke-19: Mengumumkan Pernikahan dan Walimah
«أَعْلِنُوا
النِّكَاحَ»
“Umumkan pernikahan.” (HSR. Ahmad, no. 16130)
«أَوْلِمْ وَلَوْ
بِشَاةٍ»
“Adakanlah walimah meskipun dengan seekor kambing.” (Muttafaqun
‘Alaih)
Ke-20: Masa Bermalam Pengantin Baru
«السُّنَّةُ إِذَا
تَزَوَّجَ البِكْرَ أَقَامَ عِنْدَهَا سَبْعًا، وَإِذَا تَزَوَّجَ الثَّيِّبَ
أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلاَثًا»
“Sunnah adalah jika seseorang menikahi gadis bermalam di
sisinya selama tujuh hari dan apabila menikahi janda bermalam di sisinya selama
tiga hari.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Ke-21: Doa Untuk Pengantin Baru
«بَارَكَ اللّٰهُ لَكَ،
وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ»
“Semoga Allah memberikan berkah kepadamu (saat senang) dan semoga
memberi berkah atasmu
(saat sedih), dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HSR.
Abu Dawud, no. 2130)
Ke-22: Mendoakan Istri Pengantin Baru
«إِذَا تَزَوَّجَ
أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا [ثُمَّ لِيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا
وَلْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ فِي الْمَرْأَةِ وَالْخَادِمِ]، فَلْيَقُلِ: اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِكَ
مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ. وَإِذَا اشْتَرَى
بَعِيرًا فَلْيَأْخُذْ بِذِرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ»
“Jika salah seorang dari kalian menikahi wanita atau
membeli budak, [kemudian hendaklah memegang ubun-ubunnya dan mendoakan
keberkahan untuk istri dan budak tersebut], maka hendaklah dia berdoa: ‘Ya
Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau
ciptakan atasnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan
yang Engkau ciptakan atasnya.’ Jika ia membeli unta peganglah punuknya dan
berdoalah seperti itu.” (HHR. Abu Dawud, no. 2160)
Ke-23: Doa Saat Bersenggama
«لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ
إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، فَقَالَ: بِاسْمِ اللّٰهِ، اللّٰهُمَّ
جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ
إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا»
“Seandainya salah seorang dari kalian jika ingin
mendatangi keluarganya (menyetubuhi istrinya) lalu berdoa: ‘Dengan nama
Allah, ya Allah jauhkanlah syaithon dari kami dan jauhkanlah syaithon dari apa
(anak) yang Engkau rezekikan kepada kami.’ Jika mereka berdua ditakdirkan
mendapatkan anak karena persetubuhan tersebut, maka syaithon tidak akan
membahayakannya selamanya.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Ke-24: Larangan Membicarakan Rahasia Ranjang
«إِنَّ مِنْ أَشَرِّ
النَّاسِ عِنْدَ اللّٰهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى
امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا»
“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk
tempatnya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seseorang yang bersenggama
dengan istrinya dan sebaliknya, lalu ia menyebarkan rahasianya.” (HR.
Muslim, no. 1437)
Ke-25: Pahala Setahun Puasa dan
Sholat
«مَنْ غَسَّلَ
وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ،
فَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ وَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ
أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا»
“Siapa yang membuat junub (bersenggama hingga membuat
istri wajib mandi junub) dan mandi junub pada hari Jum’at, dan bersegera
(mendatangi sholat di awal waktu) dan pergi (sebelum khutbah dimulai), dan
berjalan tidak berkendara, lalu mendekat kepada imam dan mendengarkan dengan
baik dan tidak berbuat sia-sia (berbicara saat khotib berkhutbah), maka dia
mendapatkan setiap langkah pahala satu tahun puasa dan sholat malam.” (HSR.
Ahmad, no. 16962)
Ke-26: Indahnya Pacaran
Setelah Nikah
«لَمْ نَرَ
لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ»
“Kami tidak melihat dua orang yang lebih saling mencintai
seperti nikah.” (HSR. Ibnu Majah, no. 1847)
Ke-27: Hak Suami Atas Istri
«لَوْ كُنْتُ آمِرًا
أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللّٰهِ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا.
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا
حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى
قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ»
“Seandainya aku perintahkan seseorang untuk bersujud
kepada selain Allah, tentulah aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya.
Demi jiwa Muhammad yang berada di Tangan-Nya, seorang wanita belum dianggap
menunaikan hak Robb-nya hingga menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya
meminta dirinya (bersenggama) saat dia di pelana unta, maka tidak boleh dia
menolaknya.” (HSR. Ibnu Majah, no. 1853)
«لاَ يَحِلُّ
لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنَ
فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ
فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ»
“Tidak boleh bagi seorang wanita berpuasa saat suaminya
hadir kecuali dengan seizinnya, tidak boleh memberi izin masuk rumahnya kecuali
dengan seizinnya, dan apa yang disedekahkan tanpa perintah suaminya maka setengahnya
(pahala) dikembalikan kepada suaminya.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Ke-28: Hak Istri Atas Suami
«أَنْ تُطْعِمَهَا
إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ،
وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ»
“Kamu memberinya makan jika kamu makan, kamu memberinya
pakaian jika kamu berpakaian, jangan memukul wajah, jangan memburukkannya, dan
jangan mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HSR. Abu Dawud, no. 2142)
Ke-29: Berusaha Memahami Karakter Pasangannya
«إِنِّي لَأَعْلَمُ
إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى» قَالَتْ:
فَقُلْتُ: مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: «أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي
رَاضِيَةً، فَإِنَّكِ تَقُولِينَ: لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ! وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ
غَضْبَى، قُلْتِ: لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ!» قَالَتْ: قُلْتُ: أَجَلْ وَاللّٰهِ
يَا رَسُولَ اللّٰهِ، مَا أَهْجُرُ إِلَّا اسْمَكَ
“Sungguh aku benar-benar tahu kapan kamu sedang ridho
kepadaku dan kapan kamu sedang marah kepadaku.” Aku (‘Aisyah) berkata, “Dari
mana Anda tahu itu?” Beliau menjawab, “Adapun jika kamu sedang ridho
kepadaku, kamu berkata, ‘Demi Robb Muhammad!’ Dan jika kamu sedang marah
kepadaku, kamu berkata, ‘Demi Robb Ibrahim!’” Aku berkata, “Benar, demi
Allah wahai Rosulullah, aku tidak menjauhi kecuali namamu.” (Muttafaqun
‘Alaih)
Ke-30: Perhatian dalam Mendidik Anak dan
Melayani Suami
«خَيْرُ نِسَاءٍ
رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي
صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ»
“Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita sholihah
Quroiys yang
mendidik anak semenjak kecil dan melayani suami dengan tangannya sendiri.” (HR.
Al-Bukhori, no. 5082)
Ke-31: Saling Melaksanakan Kewajiban
Masing-Masing
«أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ
رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ
بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ
بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ
رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan
setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Imam yang
mengurus manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin (pengurus) bagi rumah
suaminya dan anak suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya. Budak adalah pemimpin bagi harta majikannya dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka ketahuilah bahwa setiap kalian
adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya.” (Muttafaqun ‘Alaih)
«أَدُّوا إِلَيْهِمْ
حَقَّهُمْ، وَسَلُوا اللّٰهَ حَقَّكُمْ»
“Tunaikanlah
kepada mereka hak mereka dan mintalah kepada Allah hak kalian.” (HR. Al-Bukhori, no. 7052)
Ke-32: Saling Tolong-Menolong dalam Kebaikan
«رَحِمَ اللّٰهُ
رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ
نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. رَحِمَ اللّٰهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ
فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ»
“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di
malam hari lalu sholat dan membangunkan istrinya, jika enggan maka ia percikkan
air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari
lalu sholat dan membangunkan suaminya, jika enggan maka ia percikkan air di
wajahnya.” (HSR. Abu Dawud, no. 1308)
Ke-33: Perintah Sabar, Lembut, dan Berbuat Baik
Kepada Istri
﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ
تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا﴾
“Dan
pergaulilah
mereka (istri-istri) dengan cara yang ma’ruf. Jika kamu membenci mereka, boleh
jadi kamu membenci sesuatu sementara Allah menjadikan padanya kebaikan yang
banyak.” (QS. An-Nisâ`
[4]: 19)
«وَاسْتَوْصُوا
بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ
شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ
تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا»
“Hendaklah kalian saling berwasiat berbuat baik kepada
kaum wanita (istri), karena mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian
tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Maka jika kamu paksa
meluruskannya berarti kamu mematahkannya, dan jika kamu membiarkanya dia akan
selalu bengkok. Oleh karena itu, hendaklah kalian saling berwasiat berbuat baik
kepada kaum wanita.” (Muttafaqun ‘Alaih)
«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ
لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي»
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada
keluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku.” (HSR. Ibnu
Majah, no. 1977)
«لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ
مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ»
“Lelaki beriman (suami) tidak boleh membenci wanita
beriman (istri). Jika dia membenci satu akhlaknya, dia tentu senang dengan
akhlaknya yang lain.” (HR. Muslim, no. 1469)
Ke-34: Kebanyakan Istri Binasa Karena Tidak
Pandai Bersyukur
«أُرِيتُ النَّارَ
فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ» قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ
بِاللّٰهِ؟ قَالَ: «يَكْفُرْنَ العَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ
أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ:
مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ»
“Neraka telah diperlihatkan kepadaku, ternyata kebanyakan
penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ditanyakan kepada beliau,
“Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau bersabda, “Mereka kufur kepada
suami dan kufur kepada kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik kepada seorang
dari mereka sepanjang masa lalu melihat sesuatu (yang tidak disukainya) darimu,
maka dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sedikitpun
(tidak pernah diperlakukan baik sedikitpun).’” (Muttafaqun ‘Alaih)
Ke-35: Bidadari Cemburu dan Marah kepada Istri
yang Jahat
«لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ
زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الحُورِ العِينِ: لَا
تُؤْذِيهِ! قَاتَلَكِ اللّٰهُ! فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ
يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا»
“Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia
melainkan istrinya dari kalangan bidadari berkata, ‘Jangan engkau menyakitinya! Semoga Allah memerangimu! Dia hanya sebentar
bersamamu dan akan tiba waktunya berpisah denganmu menuju kepada kami.’” (HSR.
At-Tirmidzi, no. 1174)
Ke-36: Keutamaan Nafkah Suami kepada
Keluarganya
﴿الم * ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾
“Alif
Lâm Mîm. Inilah al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi
orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghoib,
menegakkan sholat, dan menafkahkan sebagian yang kami rezekikan kepada
mereka.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 1-3)
«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ
نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللّٰهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا
تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ»
“Tidaklah engkau memberi nafkah karena mengharap wajah Allah
melainkan engkau akan diberi pahala, hingga apa yang engkau suapkan ke mulut
istrimu.” (Muttafaqun ‘Alaih)
«دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ
فِي سَبِيلِ اللّٰهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ
تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ،
أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ»
“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu
dinar yang engkau nafkahkan untuk pembebasan budak, satu dinar yang engkau
sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk
keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk
keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)
Ke-37: Larangan Mengabaikan Masalah Ranjang
Suami
«إِذَا دَعَا الرَّجُلُ
امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ
حَتَّى تُصْبِحَ»
“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjangnya
(bersenggama) tetapi ia enggan sehingga malam tersebut suaminya marah
kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga waktu pagi.” (Muttafaqun
‘Alaih)
Ke-38: Keutamaan Bersenggama yang Syar’i
﴿فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ﴾
“Maka sekarang gaulilah mereka dan carilah apa (anak)
yang telah ditetapkan Allah atas kalian.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 187)
«وَفِي بُضْعِ
أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ»
“Dan dalam bersenggama salah seorang dari kalian ada
sedekah.” (HR. Muslim, no. 1006)
قَالَ عُمَرُ بْنُ
الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: «وَاللّٰهِ إِنِّي لَأُكْرِهُ نَفْسِي عَلَى
الْجِمَاعِ، رَجَاءَ أَنْ يُخْرِجَ اللّٰهُ مِنِّي نَسَمَةً تُسَبِّحُ اللّٰهَ»
“Demi Allah sungguh aku memaksa jiwaku untuk bersenggama
karena berharap Allah akan mengeluarkan dariku keturunan yang akan bertasbih
kepada Allah.” (HR. Al-Baihaqi, no. 13460)
Ke-39: Keutamaan Memiliki Anak Sholih
«إِذَا مَاتَ
الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو
لَهُ»
“Jika manusia meninggal dunia maka terputuslah amal
darinya kecuali tiga, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih
yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631)
«مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ
يَمُوتُ لَهُمَا ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا جِيءَ
بِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُوقَفُوا عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَيُقَالُ
لَهُمُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ! فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا،
فَيُقَالُ لَهُمُ: ادْخُلُوا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْجَنَّةَ!»
“Tidaklah dua orang muslim (orang tua) yang meninggal memiliki tiga orang anak yang
belum baligh melainkan akan didatangkan pada hari Kiamat hingga berhenti di
pintu Jannah. Dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian ke dalam Jannah!’ Mereka menjawab, ‘Hingga
masuk juga orang tua kami.’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian
bersama orang tua kalian ke dalam Jannah!’” (HSR. Ath-Thobaroni, no. 571)
Ke-40: Wajib Adil Bagi yang Berpoligami
﴿وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ
فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا
وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا﴾
“Dan kalian tidak akan mampu untuk adil di antara
istri-istri meskipun kalian sangat menginginkannya. Maka janganlah kamu terlalu condong (kepada
yang kalian cintai) sehingga kalian biarkan yang lain terkatung-katung. Dan
jika kalian mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari ketidakadilan), maka
sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisâ` [4]: 129)
«اللَّهُمَّ هَذَا
قَسْمِي فِيمَا أَمْلِكُ، فَلَا تَلُمْنِي فِيمَا تَمْلِكُ وَلَا أَمْلِكُ»
“Ya Allah inilah pembagianku yang aku miliki, maka
janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki dan aku tidak
memiliki.” (HSR. Al-Hakim, no. 2761)
«إِذَا كَانَ عِنْدَ
الرَّجُلِ امْرَأَتَانِ فَلَمْ يَعْدِلْ بَيْنَهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ
وَشِقُّهُ سَاقِطٌ»
“Jika ada seorang lelaki yang memiliki dua istri tetapi
tidak adil di antara keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dengan sisi
badannya miring.” (HSR. At-Tirmidzi, no. 1141)
Ke-41: Ancaman Meminta Cerai Tanpa Alasan yang
Dibenarkan
«أَيُّمَا امْرَأَةٍ
سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ
الجَنَّةِ»
“Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya
tanpa alasan yang dibenarkan, maka haram baginya aroma Jannah.” (HSR. At-Tirmidzi,
no. 1187)
Ke-42: Keutamaan Berbakti Kepada Suami dengan
Balasan Jannah
«إِذَا صَلَّتِ
الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ
زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ
شِئْتِ!»
“Jika seorang wanita sholat lima waktu, puasa Ramadhan,
menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya,
‘Masuklah dari pintu Jannah mana saja yang kamu kehendaki!” (HSR. Ahmad,
no. 1661)
«أَيُّمَا امْرَأَةٍ
مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ»
“Wanita mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridho
kepadanya, akan masuk Jannah.” (HR. Al-Hakim, no. 7328)
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ
وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Al-Faqir Ilallah
Nor Kandir
Ya Allah, Siapakah Tulang Rusukku?
Sungguh aneh keinginan si Qais
Mendapatkan Laila si senyum manis
Sholihah, taat, berakhlaq, dan agamis
Seolah-olah ia butiran kecil buah kismis
Inginmu yang sholihah tapi kamu justru penjahat
Inginmu yang taat tapi kamu justru suka maksiat
Inginmu yang hafizhah tapi bacaanmu koran dan
surat
Inginmu seperti Zulaikha, biarkan cermin
melihat!
Hey Qois...
Tapi jangan sekali-kali kamu pesimis
Karena di sana ada takdir yang misteris
Maka, selalulah berbenah diri dan optimis
Akan ampunan dan karunia Allah dalam hadis
Hanya saja Allah menetapkan hukum muhkamat
Sebagaimana termaktub berikut dalam ayat
Wanita-wanita taat untuk lelaki-lelaki taat
Dan wanita-wanita jahat untuk lelaki-lelaki
jahat
Takhrij Luas dan Tahqiq
[1] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhori
(no. 5096, VII/8), Muslim (no. 2740), at-Tirmidzi (no. 2780), Ibnu Majah (no.
3998), Ahmad (no. 21746) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 5967) dalam Shahîhnya,
ath-Thobaroni (no. 564) dalam al-Mu’jam al-Ausath dan (no. 415) dalam al-Mu’jam
al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 2363) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Abi
Syaibah (no. 154) dalam Mushannafnya, Abu ‘Awanah (no. 4023) dalam al-Mustakhrâj,
al-Bazzar (no. 1255) dalam Musnadnya, dan Abu Ya’la (no. 972) dalam Musnadnya
dari Usamah bin Zaid bin Haritsah rodhiyallahu ‘anhuma.
b. Shohih:
HR. Muslim (no. 2742, IV/2098), at-Tirmidzi (no. 2191), Ibnu Majah (no. 4000),
Ahmad (no. 11169) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 3221) dalam Shahîhnya, dan al-Baihaqi (no. 13523) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abu
‘Awanah (no. 4027) dalam al-Mustakhrâj, dan an-Nasa`i (no. 9224) dalam as-Sunan
al-Kubrâ dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu.
c. Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 6612, VIII/125), Muslim (no. 2657), Ahmad (no.
7719) dalam Musnadnya, Ibnu Khuzaimah (no. 30) dalam Shahîhnya,
Ibnu Hibban (no. 4420) dalam Shahîhnya, dan al-Baihaqi (no. 20747) dalam
as-Sunan al-Kubrâ dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
[2] Shohih:
HR. Muslim (no. 1403, II/1021), at-Tirmidzi (no. 1158), Abu Dawud (no. 2151),
Ahmad (no. 14537) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 5572) dalam Shahîhnya,
ath-Thobaroni (no. 2385) dalam al-Mu’jam al-Ausath dan (no. 132) dalam al-Mu’jam
al-Kabîr, Abu ‘Awanah (no. 4028) dalam al-Mustakhrâj, an-Nasa`i (no.
9072) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Daulabi (no. 2093) dalam al-Kunâ
wal Asmâ`, ath-Thahawi (no. 5550) dalam Syarh Musykilul Atsâr, dan
Abu Nu’aim (no. 4544) dalam Ma’rifatush Shahâbah dari Jabir bin
‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhuma.
[3] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 5063, VII/2), Muslim (no. 1401), an-Nasa`i (no.
3217), Ahmad (no. 13534) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 14) dalam Shahîhnya,
al-Baihaqi (no. 2345) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 13448) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, dan Abu ‘Awanah (no. 3986) dalam al-Mustakhrâj dari Anas
bin Malik rodhiyallahu ‘anhu.
[5] Hasan:
HR. At-Tirmidzi (no. 2521, IV/670), al-Hakim (no. 2694) dalam al-Mustadrâk,
Ahmad (no. 15638) dalam Musnadnya, ath-Thobaroni (no. 412) dalam al-Mu’jam
al-Kabîr, Abu Ya’la al-Maushili (no. 1485) dalam Musnadnya, Abu
Bakar bin al-Khallal (no. 1616) dalam as-Sunnah, Ibnu Baththah (no. 847)
dalam al-Ibânah al-Kubrâ, dan al-Baihaqi (no. 15) dalam Syu’abul Imân
dari Sahl bin Mu’adz bin Anas al-Juhanni rodhiyallahu ‘anhu. Dinilai
hasan oleh al-Albani dan al-Arna`uth, sementara al-Hakim berkata, “Hadits shohih
sesuai syarat al-Bukhori Muslim tetapi keduanya tidak mengeluarkannya,” dan
disetujui adz-Dzahabi dalam at-Talkhîs. Anehnya, Imam at-Tirmidzi
setelah membawakan hadits ini menyatakan, “Hadits mungkar.” (!!!)
[6] Hasan:
HR. Al-Baihaqi (no. 5100, VII/340) dalam Syu’abul Imân. Dinilai hasan
al-Albani dalam Misykâtul Masyâbih (no. 3096).
b. Shohih:
HR. Al-Hakim (no. 2681, II/175)
dalam al-Mustadrâk, ath-Thobaroni (no. 972) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, dan al-Baihaqi (no. 5101) dalam Syu’abul Imân dari Anas
bin Malik rodhiyallahu ‘anhu. Al-Hakim berkata, “Hadits shohih sanadnya
tetapi tidak dikeluarkan oleh keduanya dan ‘Abdurrahman di sini adalah Ibnu
Zaid bin ‘Uqbah al-Azra` Madani seorang yang tsiqah dan aman.” Dinilai shohih
adz-Dzahabi dalam at-Talkhîs.
[7] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Muslim (no. 1400, II/1018), al-Bukhori (no. 5066), at-Tirmidzi
(no. 1081), Abu Dawud (no. 2046), an-Nasa`i (no. 2239), Ibnu Majah (no. 1845),
Ahmad (no. 3592), Ibnu Hibban (no. 4026) dalam Shahîhnya, ath-Thobaroni
(no. 517) dalam al-Mu’jam ash-Shaghîr dan (no. 1163) dalam al-Mu’jam
al-Ausath dan (no. 10027) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no.
2344) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 8453) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, Abu ‘Awanah (no. 3987) dalam al-Mustakhrâj, al-Bazzar (no.
1476) dalam Musnadnya, Abu Ya’la (no. 5192) dalam Musnadnya,
al-Humaidi (no. 115) dalam Musnadnya, Sa’id bin Manshur (no. 489) dalam Sunannya,
dan Ibnul Jarud (no. 672) dalam al-Muntaqâ dari ‘Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu
‘anhu.
Fuad Abdul Baqi berkata, “Makna yang shohih ba`ah adalah
jima’, maka artinya: Siapa yang mampu berjima’ dengan kesanggupan memberi
nafkah maka menikahlah, dan Siapa yang mampu berjima’ tetapi tidak mampu
memberi nafkah maka puasalah.” (Ta’liq Shahîh Muslim (II/1018))
[8] Hasan:
HR. At-Tirmidzi (no. 1655, IV/184), an-Nasa`i (no. 3120), Ibnu Majah (no.
2518), Ahmad (no. 7416) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 4030) dalam Shahîhnya,
al-Hakim (no. 2678) dalam al-Mustadrâk, al-Baihaqi (no. 13456) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, Abdurrazzaq (no. 9542) dalam Mushannafnya, Abu Ya’la (no.
6535) dalam Musnadnya, Ibnul Jarud (no. 979) dalam al-Muntaqâ,
Ibnu Abi ‘Ashim (no. 83) dalam al-Jihâd, Abu Nu’aim (VIII/388) dalam al-Hilyah,
dan Ibnul Mubarak (no. 225) dalam Musnadnya dari Abu Hurairah rodhiyallahu
‘anhu. Dinilai hasan oleh at-Tirmidzi, al-Albani, al-Arna’uth, dan Husain
Salim Asad. Al-Hakim berkata, “Hadits shohih sesuai syarat Muslim tetapi tidak
dikeluarkannya,” dan disetujui adz-Dzahabi.
[9] Shohih:
HR. Al-Bukhori (tanpa nomor, II/57) juga no. 6382 & 7390 tetapi dengan
lafazh yang kurang lengkap, at-Tirmidzi (no. 480), Abu Dawud (no. 1538),
an-Nasa`i (no. 3253), Ibnu Majah (no. 1383), Ahmad (no. 14707) dalam Musnadnya,
Ibnu Hibban (no. 887) dalam Shahîhnya, ath-Thobaroni (no. 1303) dalam ad-Du’â`,
al-Baihaqi (no. 830) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 4921) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, Ibnu Abi Syaibah (no. 29403) dalam Mushannafnya, al-Bukhori
(no. 703) dalam al-Adâb al-Mufrâd, Ibnu Abi ‘Ashim (no. 421) dalam as-Sunnah,
dan al-Khathib al-Baghdadi (no. 1715) dalam al-Jâmi’ dari Jabir bin
‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhuma dan berkata, “Rosulullah ﷺ mengajari kami istikhoroh untuk semua urusan seperti mengajari
kami al-Qur`an seraya bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian menginginkan
suatu perkara, maka sholatlah dua rakaat selain sholat fardhu lalu
berdoalah:....’” Lafazh dalam kurung tambahan penyusun dan silahkan lihat redaksi
al-Bukhori (no. 7390), Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Hibban di atas. Boleh pula
hajatnya disebut di akhir doa.
[10] Hasan:
HR. Ibnu Majah (no. 1968, I/633), al-Hakim (no. 2687) dalam al-Mustadrâk,
al-Baihaqi (no. 13758) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Daruquthni (no. 3788)
dalam Sunannya, dan Ibnu Abid Dunya (no. 131) dalam an-Nafaqah ‘alâl
‘Iyâl dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha. Al-Haitsami dalam az-Zawâ`id
menyebutkan bahwa di dalam sanadnya ada al-Harits bin ‘Imran al-Madani yang
dikatakan Abu Hatim, “Tidak kuat,” dan adz-Dzahabi mengomentarinya muttaham
(tertuduh berdusta). Adapun al-Albani menilai hadits hasan dan al-Hakim hadits shohih.
Allahu a’lam.
[11] Shohih:
HR. Muslim (no. 1467, II/1090), an-Nasa`i (no. 3232), Ahmad (no. 6567) dalam Musnadnya,
Ibnu Hibban (no. 4031) dalam Shahîhnya, ath-Thobaroni (no. 8639) dalam al-Mu’jam
al-Ausath dan (no. 49) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no.
2350) dalam as-Sunan ash-Shaghîr, Abu ‘Awanah (no. 4504) dalam al-Mustakhrâj,
al-Bazzar (no. 2441) dalam Musnadnya, dan Ibnu Abi ‘Ashim (no. 148)
dalam az-Zuhd dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash rodhiyallahu ‘anhuma.
b. HSR.
An-Nasa`i (no. 3939, VII/61), Ahmad (no. 12294) dalam Musnadnya,
ath-Thobaroni (no. 5203) dalam al-Mu’jam al-Ausath, al-Baihaqi (no.
13454) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abu ‘Awanah (no. 4020) dalam al-Mustakhrâj,
Abu Ya’la (no. 3530) dalam Musnadnya, dan Ibnu Abi ‘Ashim (no. 234)
dalam az-Zuhd, dan al-Hakim (no. 2676) dalam al-Mustadrâk tanpa lafazh ad-dunya
dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu. Dinilai hasan shohih oleh al-Albani dan shohih oleh al-Hakim
atas syarat Muslim dan disetujui adz-Dzahabi.
c. Shohih:
HR. Ibnu Hibban (no. 4032, IX/340-341) dalam Shahîhnya dan Abu Nu’aim
(VIII/388) dalam al-Hilyah dari Sa’ad bin Abi Waqqash rodhiyallahu
‘anhu. Dinilai shohih al-Albani (no. 282) dalam ash-Shahîhah dan
Syu’aib al-Arna`uth berkata, “Sanadnya shohih sesuai syarat al-Bukhori.”
[12] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 5090, VII/7), Muslim (no. 1466), Abu Dawud (no.
2047), an-Nasa`i (no. 3230), Ibnu Majah (no. 1858), Ahmad (no. 9521), Ibnu
Hibban (no. 4036) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 2349) dalam as-Sunan
ash-Shaghîr dan (no. 13466) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Daruquthni
(no. 3802) dalam Sunannya, ad-Darimi (no. 2216) dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 4010) dalam al-Mustakhrâj,
Abu Ya’la (no. 6578) dalam Musnadnya, dan Abu Nu’aim (VIII/383) dalam al-Hilyah
dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
[13] Shohih:
HR. Al-Hakim (no. 2682, II/175) dalam al-Mustadrâk, an-Nasa`i (no.
3231), Ahmad (no. 7421) dalam Musnadnya, dan al-Baihaqi (no. 13477)
dalam as-Sunan al-Kubrâ dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu. Al-Hakim
berkata, “Hadits shohih atas syarat Muslim tapi tidak dikeluarkannya,” dan
disetujui adz-Dzahabi. Adapun al-Albani dengan sanad dalam an-Nasa`i menilainya
hasan shohih.
b. Hasan:
HR. Ibnu Majah (no. 1861, I/598) dan Ibnu Abi ‘Ashim (no. 1947) dalam al-Ahâd
wal Matsâni dari ‘Abdurrahman bin Salim bin Utbah bin ‘Uwaim bin Saidah
al-Anshari dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi ﷺ.
Al-Haitsami menyebutkan dalam az-Zawa`id bahwa di dalamnya ada perawi
Muhammad bin Thalhah yang tidak diambil sebagai hujjah oleh Abu Hatim tetapi
Ibnu Hibban menggolongkannya dalam perawi tsiqah tetapi kadang keliru
hafalannya, dan juga ada ‘Abdurrahman bin Salim bin Utbah yang dikatakan al-Bukhori
bahwa haditsnya tidak sah. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani. Anjuran
menikahi gadis atas janda masyhur dan shohih dari Jabir dari Nabi ﷺ.
c. Shohih: HR. Abu Dawud (no. 2050, II/220),
an-Nasa`i (no. 3227), Ibnu Hibban (no. 4056) dalam Shahîhnya, al-Hakim
(no. 2685) dalam al-Mustadrâk, ath-Thobaroni (no. 508) dalam al-Mu’jam
al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 13475) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abu
‘Awanah (no. 4018) dalam al-Mustakhrâj, dan Abu Nu’aim (III/61) dalam al-Hilyah
dari Ma’qil bin Yasar rodhiyallahu ‘anhu. Tambahan dalam kurung dari
al-Baihaqi (no. 2351) dalam as-Sunan ash-Shaghîr. Dinilai hasan shohih oleh al-Albani dan shohih oleh al-Hakim dan
adz-Dzahabi, sementara Syu’aib berkata, “Sanadnya kuat.”
[14] Shohih:
HR. At-Tirmidzi (no. 1087, III/389), an-Nasa`i (no. 3235), Ibnu Majah (no.
1865), Ahmad (no. 18137) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 4043) dalam Shahîhnya,
al-Hakim (no. 2697) dalam al-Mustadrâk, ath-Thobaroni (no. 1052) dalam al-Mu’jam
al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 2353) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no.
13488) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Daruquthni (no. 3621) dalam Sunannya,
Abdurrazzaq (no. 10335) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 17388)
dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 2218) dalam Sunannya, Abu
‘Awanah (no. 4036) dalam al-Mustakhrâj, Abu Ya’la al-Maushili (no. 3438)
dalam Musnadnya, Sa’id bin Manshur (no. 516) dalam Sunannya,
Ibnul Jarud (no. 675) dalam al-Muntaqâ, dan ath-Thahawi (no. 4282) dalam
Syarh Ma’ânil Atsâr dari al-Mughirah bin Syu’bah rodhiyallahu ‘anhu. Dinilai shohih oleh al-Albani dan
al-Hakim dan berkata, “Hadits shohih sesuai syarat Syaikhan tetapi keduanya
tidak mengeluarkannya,” dan disetujui adz-Dzahabi.
[15] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 5136,
VII/17), Muslim (no. 1419), at-Tirmidzi (no. 1107), Abu Dawud (no. 2092),
an-Nasa`i (no. 3265), Ibnu Majah (no. 1871), Ahmad (no. 7131) dalam Musnadnya,
ath-Thobaroni (no. 8820) dalam al-Mu’jam al-Ausath, al-Baihaqi (no.
2394) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 13682) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, ad-Daruquthni (no. 3574) dalam Sunannya, Abdurrazzaq (no.
10286) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 2232) dalam Sunannya,
Abu ‘Awanah (no. 4238) dalam al-Mustakhrâj, Abu Ya’la al-Maushili (no.
6013) dalam Musnadnya, dan Ibnul Jarud (no. 707) dalam al-Muntaqâ
dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
[16] Hasan:
HR. At-Tirmidzi (no. 1084, III/386-387), Ibnu Majah (no. 1967), al-Hakim (no.
2695) dalam al-Mustadrâk, dan ath-Thobaroni (no. 446) dalam al-Mu’jam
al-Ausath. Dinilai hasan oleh al-Albani dan dinilai shohih oleh al-Hakim dan
berkata, “Ini hadits shohih sanadnya tetapi tidak dikeluarkan oleh al-Bukhori
Muslim.”
[17] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 2721, III/190-191), Muslim (no. 1418),
at-Tirmidzi (no. 1127), Abu Dawud (no. 2139), an-Nasa`i (no. 3281), Ibnu Majah
(no. 1954), Ahmad (no. 17302) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 4092)
dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 2562) dalam as-Sunan ash-Shaghîr
dan (no. 14430) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abdurrazzaq (no. 10613) dalam
al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah (no. 16451) dalam Mushannafnya,
ad-Darimi (no. 2249) dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 4227) dalam Mustakhrâjnya,
Abu Ya’la al-Maushili (no. 1754) dalam Musnadnya, Sa’id bin Manshur (no.
658) dalam Sunannya, Ibnu Abi ‘Ashim (no. 2584) dalam al-Ahâd wal Matsânî, an-Nasa`i
(no. 5506) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ar-Ruyani (no. 163) dalam Musnadnya,
dan ath-Thahawi (no. 4862) dalam Musykilul Atsâr dari ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyallahu
‘anhu.
b. Shohih:
HR. Abu Dawud (no. 2117, II/238), ath-Thobaroni (no. 724) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, ad-Daulabi (no. 599) dalam al-Kunâ wal Asmâ`, al-Qadha’i
(no. 599) dalam Musnad asy-Syihab, dan al-Hakim (no. 2742) dalam al-Mustadrâk
dengan lafazh khairu ash-shadâq “sebaik-baik mahar”. Dinilai shohih
al-Albani dan al-Hakim atas syarat al-Bukhori Muslim dan disepakati
adz-Dzahabi.
c. Shohih:
HR. Ahmad (no. 24478, 41/27-28)
dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 4095) dalam Shahîhnya, ath-Thobaroni
(no. 469) dalam al-Mu’jam ash-Shaghîr dan (no. 3612) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, al-Baihaqi (no. 14357) dalam as-Sunan al-Kubrâ, dan Abu
Nu’aim (III/163) dalam al-Hilyah dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha. ‘Urwah bin az-Zubair
bin Awwam berkata, “Aku berpendapat bahwa termasuk awal kesialan wanita adalah
mahal mas kawinnya.” Dinilai shohih
oleh al-Hakim atas syarat Muslim dan disepakati adz-Dzahabi.
[18] Shohih:
HR. At-Tirmidzi (no. 1101, III/399), Abu Dawud (no. 2085), Ibnu Majah (no.
1881), Ahmad (no. 19518), Ibnu Hibban (no. 4077) dalam Shahîhnya,
al-Hakim (no. 2710) dalam al-Mustadrâk, ath-Thobaroni (no. 681) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, al-Baihaqi (no. 2368) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no.
13611) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Daruquthni (no. 3514) dalam Sunannya,
dan ath-Thayalisi (no. 525) dalam Musnadnya dari Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallahu
‘anhu. Dinilai shohih oleh al-Albani dan al-Hakim serta adz-Dzahabi.
Dalam riwayat shohih dari ‘Umar bin al-Khaththab rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«لَا نِكَاحَ إِلَّا
بِوَلِيٍّ، وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ»
“Tidak sah nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.”
(HSR. Al-Baihaqi (no. 2383, III/21) dalam as-Sunan ash-Shaghîr.
Dinilai shohih al-Albani dan al-Baihaqi)
[19]] HSR.
Ahmad (no. 16130, XXVI/53) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 2748)
dalam al-Mustadrâk, ath-Thobaroni (no. 5145) dalam al-Mu’jam
al-Ausath dan (no. 235) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no.
2591) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 14686) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, dan Abu Nu’aim (VIII/328) dalam al-Hilyah dari ‘Abdullah
bin az-Zubair rodhiyallahu ‘anhu. Dinilai hasan oleh al-Arna`uth, hasan shohih
oleh al-Albani, dan shohih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi.
b. Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 5167, VII/24), Muslim (no. 1427), at-Tirmidzi
(no. 1933), Abu Dawud (no. 2109), an-Nasa`i (no. 3351), Ibnu Majah (no. 1907),
Ahmad (no. 12685) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 4060) dalam Shahîhnya,
ath-Thobaroni (no. 164) dalam al-Mu’jam al-Ausath dan (no. 728) dalam al-Mu’jam
al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 2576) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no.
14360) dalam as-Sunan al-Kabîr, ath-Thayalisi (no. 2242) dalam Musnadnya,
Abdurrazzaq (no. 10410) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 17159)
dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 2108) dalam Sunannya, Abu
‘Awanah (no. 4150) dalam al-Mustakhrâj, al-Bazzar (no. 1004) dalam Musnadnya,
Abu Ya’la (no. 3348) dalam Musnadnya, al-Humaidi (no. 1252) dalam Musnadnya,
Sa’id bin Manshur (no. 609) dalam Sunannya, Ibnul Ja’ad (no. 1463) dalam
Musnadnya, Ibnul Jarud (no. 726) dalam al-Muntaqâ, Imam Malik
(no. 47) dalam al-Muwaththâ`, ath-Thahawi (no. 3019) dalam Musykilul
Atsâr, dan Ibnul
Muqri` (no. 1187) dalam Mu’jamnya dari Anas bin Malik rodhiyallahu
‘anhu.
[20] Muttafaqun
‘Alaihi: HR. Al-Bukhori (no. 5213, VII/34), Muslim (no. 1461), at-Tirmidzi (no.
1139), Abu Dawud (no. 2124), ath-Thobaroni (no. 9011) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, al-Baihaqi (no. 2615) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no.
14761) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abdurrazzaq (no. 10643) dalam Mushannafnya,
Ibnu Abi Syaibah (no. 16949) dalam Mushannafnya, Abu ‘Awanah (no. 4309)
dalam al-Mustakhrâj, Abu Ya’la al-Maushili (no. 4011) dalam Musnadnya,
Sa’id bin Manshur (no. 778) dalam Sunannya, Ibnul Jarud (no. 724) dalam al-Muntaqâ,
ath-Thahawi (no. 4323) dalam Ma’ânil Atsâr, dan Ibnul Muqri` (no. 463) dalam Mu’jamnya
dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu.
[21] Shohih:
HR. Abu Dawud (no. 2130,
II/241), at-Tirmidzi
(no. 1091), Ibnu Majah (no. 1905),
Ahmad (no. 8956) dalam Musnadnya, al-Hakim (no. 2745) dalam al-Mustadrâk,
al-Baihaqi (no. 13841) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Darimi (no. 2220)
dalam Sunannya, Abu Ya’la al-Maushili (no. 325) dalam Mu’jamnya, dan Sa’id bin Manshur (no.
522) dalam Sunannya dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu. Dinilai shohih oleh al-Albani dan
al-Hakim dan berkata, “Hadits shohih sesuai syarat Muslim tapi tidak
dikeluarkannya,” dan disepakati adz-Dzahabi.
[22] Hasan:
HR. Abu Dawud (no. 2160, II/248-249), al-Hakim (no. 2757) dalam al-Mustadrâk,
ath-Thobaroni (no. 940) dalam ad-Du’â`, an-Nasa`i (no. 9998) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, dan Ibnu as-Sunni (no. 600) dalam ‘Amalul Yaum
wal Lailah dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya. Tambahan dalam
kurung dari Abu Sa’id, kata Abu Dawud. Dinilai hasan oleh al-Albani tetapi shohih
oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi dengan redaksi yang berbeda.
[23] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 7396, IX/119), Muslim (no. 1434), at-Tirmidzi (no. 1092), Abu
Dawud (no. 2161), Ibnu Majah (no. 1919), Ahmad (no. 1867) dalam Musnadnya,
Ibnu Hibban (no. 983) dalam Shahîhnya, ath-Thobaroni (no. 7534) dalam al-Mu’jam
al-Ausath dan (no. 12195) dalam al-Mu’jam al-Kabîr dan (no. 941)
dalam ad-Du’â, al-Baihaqi (no. 13844) dalam as-Sunan al-Kubrâ,
ath-Thayalisi (no. 2828) dalam Sunannya, Abdurrazzaq (no. 10465) dalam Mushannafnya,
Ibnu Abi Syaibah (no. 17152) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 2258)
dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 4280) dalam al-Mustakhrâj,
al-Humaidi (no. 526) dalam Musnadnya, Ibnul Ja’ad (no. 822) dalam Musnadnya,
an-Nasa`i (no. 8981) dalam as-Sunan al-Kubrâ, dan al-Lalika`i (no. 338)
dalam Syarhul Ushûl dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma.
[24] Shohih:
HR. Muslim (no. 1437, II/1060), Ibnu Abi Syaibah (no. 17559) dalam Mushannafnya,
dan Abu Nu’aim (X/236) dalam al-Hilyah dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallahu
‘anhu.
[25] Shohih:
HR. Ahmad (no. 16962, XXVIII/161-162) dalam Musnadnya, Abu Dawud (no. 345),
an-Nasa`i (no. 1381), Ibnu Majah (no. 1087), Ibnu Khuzaimah (no. 1758), Ibnu
Hibban (no. 2781) dalam Shahîhnya, al-Hakim (no. 1042) dalam al-Mustadrâk,
ath-Thobaroni (no. 1452) dalam al-Mu’jam al-Ausath dan (no. 585) dalam al-Mu’jam
al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 615) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no.
5878) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ath-Thayalisi (no. 1210) dalam Musnadnya,
Abdurrazzaq (no. 5566) dalam Mushannafnya, Ibnu Abi Syaibah (no. 4990)
dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 1588) dalam Sunannya, dan
ath-Thahawi (no. 2167) dalam Syarh Ma’ânil Atsâr dari Aus bin Aus
ath-Tsaqafi rodhiyallahu ‘anhu. Dinilai shohih oleh al-Hakim, al-Albani,
al-Arna`uth, dan Husain Salim Asad. Penyusun berkata, “Ini hadits yang luar biasa dan dalil atas
kemurahan Allah bagi hamba-hamba-Nya. Allah menggabungkan pahala dalam amal
yang dicintai-Nya dan pelakunya.”
[26] Shohih:
HR. Ibnu Majah (no. 1847, I/593), al-Hakim (no. 2677) dalam al-Mustadrâk,
ath-Thobaroni (no. 3153) dalam al-Mu’jam al-Ausath dan (no. 10895) dalam
al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 2347) dalam as-Sunan ash-Shaghîr
dan (no. 13453) dalam as-Sunan al-Kubrâ, dan Tamam (no. 816) dalam al-Fawâ`id dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu
‘anhuma. Dinilai shohih oleh al-Albani dan al-Hakim sesuai syarat Muslim.
[27] HSR.
Ibnu Majah (no. 1853, I/595), Ahmad (no. 19403) dalam Musnadnya, dan
Ibnu Hibban (no. 4171) dalam Shahîhnya dari ‘Abdullah bin Abi Aufa rodhiyallahu
‘anhu. Dinilai hasan oleh al-Arna`uth dan hasan shohih oleh al-Albani.
b. Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 5195, VII/30), Muslim (no. 1026), Ahmad (no.
8188), Ibnu Hibban (no. 4170) dalam Shahîhnya, ath-Thobaroni (no. 282)
dalam al-Mu’jam al-Ausath, al-Baihaqi (no. 7850) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, dan Abdurrazzaq
(no. 7886) dalam Mushannafnya dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
[28] HSR.
Abu Dawud (no. 2142, II/244-245),
Ahmad (no. 20013) dalam Musnadnya, a-Nasa`i (no. 9126) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, Ibnu Majah (no. 1850), Ibnu Hibban (no. 4175) dalam Shahîhnya,
al-Hakim (no. 2764) dalam al-Mustadrâk, ath-Thobaroni (no. 1034) dalam al-Mu’jam
al-Kabîr, dan Abdurrazzaq
(no. 12584) dalam Mushannafnya dari Hakim bin Muawiyah al-Qusyairi dari
ayahnya rodhiyallahu ‘anhu. Abu Dawud berkata: “memburukkannya” adalah
seperti kamu mendoakan istrimu, “Semoga Allah memburukkanmu.” Hadits ini umum mencakup tidak boleh
menisbatkan keburukan atas perbuatan, ucapan, dan fisik istri.
Hadits ini dinilai hasan oleh al-Arna`uth dan hasan shohih
oleh al-Albani. Sebenarnya sanad yang masyhur memakai khithab “huwa” dan
sanad ini shohih sebagaimana penilaian al-Albani sendiri, al-Hakim, dan
adz-Dzahabi. Adapun sanad 3 pertama (Abu Dawud, Ahmad, dan an-Nasa`i) yang memakai khithab “anta” tidak mencapai shohih, tapi hasan.
[29] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 5228, VII/36), Muslim (no. 2439), Ahmad (no.
24318) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 7112) dalam Shahîhnya,
ath-Thobaroni (no. 121) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Baihaqi (no. 19814)
dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abu Ya’la al-Maushili (no. 4893) dalam Musnadnya,
an-Nasa`i (no. 9111) dalam as-Sunan al-Kubrâ, al-Ajurri (no. 1891) dalam
asy-Syari’ah, dan Abu
Nu’aim (IX/227) dalam al-Hilyah dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha.
[30] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 5082, VII/6), Muslim (no. 2527), Ahmad (no.
7650) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 6268) dalam Shahîhnya,
ath-Thobaroni (no. 4211) dalam al-Mu’jam al-Ausath, al-Baihaqi (no.
14716) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Abi Syaibah (no. 32401) dalam Mushannafnya,
Abu Ya’la (no. 6673) dalam Mushannafnya, al-Humaidi (no. 1078) dalam Musnadnya,
Ibnu Abi ‘Ashim (no. 1533) dalam as-Sunnah, Ibnu Abi Hatim (no. 3488)
dalam Tafsirnya, dan Abdurrazzaq (no. 400) dalam Tafsirnya dari
Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
[31] Muttafaqun
‘Alaihi: HR. Al-Bukhori (no. 7138, IX/62), Muslim (no. 1829), at-Tirmidzi
(no. 1705), Abu Dawud (no. 2928), Ahmad (no. 4495) dalam Musnadnya, Ibnu
Hibban (no. 4489) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 16637) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, Abu ‘Awanah (no. 7027) dalam al-Mustakhrâj, Abu Ya’la
al-Maushili (no. 5831) dalam Musnadnya, Ibnul Jarud (no. 1094) dalam al-Muntaqâ,
al-Bukhori (no. 206) dalam al-Adâb al-Mufrâd, Ibnu Abi ‘Ashim (no. 749)
dalam al-Ahâd
wal Matsânî, an-Nasa`i (no. 9128) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnul
Muqri` (no. 47) dalam Mu’jamnya, ath-Thahawi (no. 17706) dalam Musykilul
Atsâr, dan Abu
Nu’aim (VIII/281) dalam al-Hilyah dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu
‘anhuma.
b. Shahîh:
HR. Al-Bukhori (no. 7052, IX/47), at-Tirmidzi (no. 2190), Ahmad (no. 3641) dalam Musnadnya, ath-Thobaroni
(no. 10073) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, ath-Thayalisi (no. 295) dalam Musnadnya,
dan Abu Nu’aim (IV/146)
dalam al-Hilyah dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu. Hadits ini
merupakan kaidah terbesar dalam berumah tangga yang sakinah dan mawaddah, di
mana tiap pasangan menjalankan kewajibannya masing-masing tanpa menuntut
hak-hak untuk dirinya, Allah nanti yang akan menggantinya dengan yang lebih
baik atau justru pasangannya akan sadar sendiri dan menunaikan hak-hak
pasangannya. Dengan begitu akan tercipta keluarga yang harmonis dan penuh rasa
cinta. Sebenarnya, asal hadits ini berbicara tentang penguasa yang zhalim.
Allahu ‘alam.
[32] HSR.
Abu Dawud (no. 1308, II/33), an-Nasa`i (no. 1610), Ibnu Majah (no. 1336),
Ahmad (no. 7410) dalam Musnadnya, Ibnu Khuzaimah (no. 1148) dalam Shahîhnya,
Ibnu Hibban (no. 2567) dalam Shahîhnya, al-Hakim (no. 1164) dalam al-Mustadrâk,
dan al-Baihaqi (no.
799) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
Dinilai hasan shohih oleh al-Albani dan dinilai shohih oleh al-A’zhami dan
al-Hakim atas syarat Muslim. Al-Arna`uth berkata, “Sanadnya kuat.”
[33] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 5185, VII/26), Muslim (no. 1468), at-Tirmidzi
(no. 1188), Ahmad (no. 9524) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 4179)
dalam Shahîhnya, al-Hakim (no. 7334) dalam al-Mustadrâk, ath-Thobaroni (no. 283) dalam
al-Mu’jam al-Ausath, al-Baihaqi (no. 14722) dalam al-Mu’jam al-Kubrâ
dan (no. 8348) dalam Syu’abul Imân, Ibnu Abi Syaibah (no. 19272) dalam Mushannafnya,
ad-Darimi (no. 2268) dalam Sunannya, Abu ‘Awanah (no. 4495) dalam al-Mustakhrâj,
al-Humaidi (no. 1202) dalam Musnadnya, an-Nasa`i (no. 9095) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, dan Ibnu
Mandah (no. 75) dalam at-Tauhid dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
b. Shohih:
HR. Ibnu Majah (no. 1977, I/636), Ibnu Hibban (no. 4186) dalam Shahîhnya,
al-Hakim (no. 7327) dalam al-Mustadrâk dengan lafazh “lin nisâ`”, dan
ath-Thahawi (no. 2523) dalam Syarh Musykilul Atsâr dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu
‘anhuma. Dinilai shohih oleh al-Albani, al-Hakim, dan adz-Dzahabi.
c. Shohih:
HR. Muslim (no. 1469, II/1091), Ahmad (no. 8363) dalam Musnadnya,
al-Baihaqi (no. 14727) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abu ‘Awanah (no. 4493)
dalam al-Mustakhrâj, dan
Abu Ya’la (no. 6418) dalam al-Musnadnya dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
[34] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 29, I/15), Muslim (no. 884), at-Tirmidzi (no. 2602),
Ahmad (no. 2086), ath-Thobaroni (no. 12765) dalam al-Mu’jam al-Kabîr,
al-Baihaqi (no. 14719) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ath-Thayalisi (no. 872)
dalam Musnadnya, dan Ibnul Ja’ad (no. 3044) dalam Musnadnya dari
Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma.
[35] Shohih:
HR. At-Tirmidzi (no. 1174, III/468), Ibnu Majah (no. 2014), Ahmad (no. 22101),
ath-Thobaroni (no. 224) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Abu Nu’aim (no. 86)
dalam Shifatul Jannah dan (V/220) dalam al-Hilyah, dan Ibnu Abi
Dawud (no. 77) dalam al-Ba’ts dari Muadz bin Jabal rodhiyallahu
‘anhu. Dinilai shohih oleh al-Albani.
[36] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 56, I/20), Muslim (no. 1628), at-Tirmidzi (no.
2116), Abu Dawud (no. 2864), Ahmad (no. 1480) dalam Musnadnya, Ibnu
Hibban (no. 4249) dalam Shahîhnya, ath-Thobaroni (no. 1147) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, dan al-Baihaqi
(no. 2319) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dari Sa’ad bin Abi Waqqash rodhiyallahu
‘anhu.
b. Shohih:
HR. Muslim (no. 995, II/692), Ahmad
(no. 10119) dalam Musnadnya, ath-Thobaroni (no. 9079) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, al-Baihaqi (no. 15697) dalam as-Sunan al-Kubrâ, al-Bukhori
(no. 751) dalam al-Adâb al-Mufrâd, an-Nasa`i (no. 9139) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, dan Ibnu Abid Dunya (no. 9) dalam an-Nafaqah ‘alâl ‘Iyâl dari
Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
[37] Muttafaqun
‘Alaih: HR. Al-Bukhori (no. 3237, IV/116), Muslim (no. 1436), Abu Dawud (no. 2141), Ahmad (no. 9671) dalam Musnadnya,
Ibnu Hibban (no. 4173) dalam Shahîhnya, ath-Thobaroni (no. 8072) dalam al-Mu’jam
al-Ausath, al-Baihaqi (no. 14708) dalam as-Sunan al-Kubrâ,
ath-Thayalisi (no. 2580) dalam Sunannya, Ibnu Abi Syaibah (no. 17133)
dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 2274) dalam Sunannya, Abu
‘Awanah (no. 4296) dalam Sunannya, Abu Ya’la al-Maushili (no. 6196)
dalam Musnadnya, an-Nasa`i (no. 8921) dalam as-Sunan al-Kubrâ, dan Abu Nu’aim (II/259) dalam
al-Hilyah dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
[38] Shohih:
HR. Muslim (no. 1006, II/697), Ahmad (no. 21363) dalam Musnadnya, al-Baihaqi
(no. 11440) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Abu ‘Awanah (no. 4031) dalam al-Mustakhrâj,
dan al-Bukhori (no.
227) dalam al-Adâb al-Mufrâd dengan redaksi-redaksi yang sedikit berbeda
dari Abu Dzarr rodhiyallahu ‘anhu.
b. Diriwayatkan
al-Baihaqi (no. 13460, VII/126) dalam as-Sunan al-Kubrâ dan Ibnu Abid
Dunya (no. 392) dalam an-Nafaqah ‘alâl ‘Iyâl.
[39] Shohih:
HR. Muslim (no. 1631, III/1255), at-Tirmidzi (no. 1376), Abu Dawud (no. 2880),
an-Nasa`i (no. 3651), Ibnu Majah (no. 242), Ahmad (no. 8844) dalam Musnadnya,
Ibnu Khuzaimah (no.
2494) dalam Shahîhnya, Ibnu Hibban (no. 3016) dalam Shahîhnya,
ath-Thobaroni (no. 1250) dalam ad-Du’â`, al-Baihaqi (no. 2331) dalam as-Sunan
ash-Shaghîr dan (no. 12635) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Darimi (no.
578) dalam Sunannya, dan Abu ‘Awanah (no. 5824) dalam al-Mustakhrâj
dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
b. Shohih:
HR. Ath-Thobaroni (no. 571, XXIV/225) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Ahmad
(no. 10622) dalam Musnadnya, al-Baihaqi (no. 7144) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, dan Ibnu Abi ‘Ashim (no. 3304) dalam al-Ahâd wal Matsânî dari
Habibah rodhiyallahu ‘anha. Syu’aib al-Arna`uth berkata, “Shohih sesuai
syarat al-Bukhori Muslim.”
[40] Shohih:
HR. Al-Hakim (no. 2761, II/204) dalam al-Mustadrâk, at-Tirmidzi (no.
1140), Abu Dawud (no. 2134), an-Nasa`i (no. 3943), Ibnu Majah (no. 1971), Ahmad
(no. 25111), Ibnu Hibban (no. 4205) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no.
2608) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 14745) dalam as-Sunan
al-Kubrâ, Ibnu Abi Syaibah (no. 17540) dalam Mushannafnya, ad-Darimi
(no. 2253) dalam Sunannya, dan ath-Thahawi (no. 232) dalam Syarh
Musykilul Atsâr dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha. Ismail al-Qadhi berkata, “Yakni
hati, hadits ini tentang keadilan di antara para istri.”
Dinilai shohih oleh Husain Salim Asad dan al-Hakim sesuai
syarat Muslim dan disepakati adz-Dzahabi. Syu’aib al-Arnauth berkata, “Para
perawinya orang-orang
tsiqah,” tetapi al-Albani menyendiri menilainya dho’if dalam Dho’if Abu
Dawud (no. 370), al-Irwâ` (no. 2018), dan at-Targhîb
(III/79). Hadits ini derajatnya sesuai dengan yang dikatakan Husain Salim Asad,
al-Hakim, adz-Dzahabi, dan Syu’aib al-Arnauth karena dibutuhkan untuk
menjelaskan ayat dalam surat an-Nisa` di atas. Allahu a’lam.
b. Shohih:
HR. At-Tirmidzi (no. 1141, III/439), Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa`i (no.
3942), Ibnu Majah (no. 1969), Ahmad (no. 7936) dalam Musnadnya, Ibnu
Hibban (no. 4207) dalam Shahîhnya, al-Hakim (no. 2759) dalam al-Mustadrâk,
al-Baihaqi (no. 2610) dalam as-Sunan ash-Shughrâ dan (no. 14738)
dalam as-Sunan al-Kubrâ, ath-Thayalisi (no. 2576) dalam Musnadnya,
Ibnu Abi Syaibah (no. 17548) dalam Mushannafnya, ad-Darimi (no. 2252)
dalam Sunannya, Ibnul Jarud (no. 722) dalam al-Muntaqâ, dan ath-Thahawi (no. 234)
dalam Musykilul Atsâr dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
Yakni, wajib adil dalam nafkah, jatah bergilir, dan materi.
Dinilai shohih oleh al-Albani dalam al-Irwâ` (no.
2017), Shahîh Abû Dâwûd (no. 1851), dan at-Targhîb (III/79), juga
Syu’aib al-Arnauth, Husain Salim Asad, dan al-Hakim seraya berkata, “Hadits shohih
atas syarat Syaikhan tetapi tidak dikeluarkannya,” dan disetujui adz-Dzahabi.
[41] Shohih:
HR. At-Tirmidzi (no. 1187, III/485), Abu Dawud (no. 2226), Ibnu Majah (no.
2055), Ahmad (no. 22379), Ibnu Hibban (no. 4184), al-Hakim (no. 2809) dalam al-Mustadrâk,
ath-Thobaroni (no. 5469) dalam al-Mu’jam al-Ausath, al-Baihaqi (no.
14860) dalam as-Sunan al-Kubrâ, ad-Darimi (no. 2316) dalam Sunannya,
Ibnul Jarud (no. 748) dalam al-Muntaqâ, dan ar-Ruyani (no. 631) dalam Musnadnya
dari Tsauban rodhiyallahu ‘anhu. Dinilai shohih oleh al-Albani, Husain Salim Asad, dan
Syua’ib al-Arna`uth. Al-Hakim berkata, “Hadits shohih sesuai syarat al-Bukhori
Muslim tetapi keduanya tidak mengeluarkannya,” dan disepakati adz-Dzahabi.
[42] Shohih:
HR. Ahmad (no. 1661,
III/199) dalam Musnadnya
dan ath-Thobaroni (no. 8805)
dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
Dinilai shohih oleh Syu’aib al-Arna`uth.
b. Dho’if:
HR. Al-Hakim (no. 7328, IV/191) dalam al-Mustadrâk, at-Tirmidzi (no.
1161), ath-Thobaroni (no. 884) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, Ibnu Abi
Syaibah (no. 17123) dalam al-Mushannaf, Abu Ya’la (no. 6903) dalam Musnadnya,
al-Baihaqi (no. 8370) dalam Syu’abul Imân, dan Ibnu Abid Dunya (no. 532)
dalam an-Nafaqah ‘alâl ‘Iyâl. Dinilai dho’if oleh al-Albani dalam Sunan
at-Tirmidzi, tetapi at-Tirmidzi sendiri menilainya hasan ghorib sedangkan
al-Hakim menilainya shohih dan disetujui adz-Dzahabi.
Jika maksudnya suami ridho atas ketaatan istri kepadanya
karena memenuhi hak-hak suaminya sehingga suami merasa senang kepadanya dan
menjadikan Allah ridho kepadanya kemudian hal ini menyebabkannya masuk Jannah,
maka ini makna yang benar. Allahu a’lam.[NK]
%20Tentang%20Pernikahan%20-%20Edisi%202%20-%20Nor%20Kandir.jpg)
bismillah...
izin share
bismillah...
izin share