Cari Ebook

[PDF] ARBAIN Siroh Nabawiyyah - Nor Kandir



Muqoddimah

Siroh Nabawiyyah merupakan cermin jernih yang memantulkan seluruh aspek kehidupan Rosululloh . Di dalamnya terkandung petunjuk hidup, keteladanan akhlaq, keteguhan aqidah, hingga strategi da’wah dan kepemimpinan yang menjadi hujjah bagi setiap Mu’min. Memahami perjalanan hidup beliau merupakan landasan utama untuk menumbuhkan rasa cinta yang jujur serta mengikhlaskan ittiba’ (mengikuti) Sunnah.

Buku “Arbain Siroh Nabawi” ini disusun sebagai panduan ringkas yang merangkum 40 Hadits pokok terkait perjalanan hidup Rosululloh secara kronologis, dimulai dari detik-detik kelahiran beliau hingga wafatnya. Setiap bab disajikan dengan menyertakan petunjuk ayat Al-Qur’an yang relevan, dilanjutkan dengan matan Hadits shohih.

Semoga Alloh Ta’ala menjadikan penyusunan buku ini sebagai amal sholih yang murni hanya mengharap Ridho-Nya, serta memberikan manfaat yang luas bagi kaum Muslimin dalam memperdalam kecintaan dan meneladani jejak langkah Rosululloh .

 

Hadits 1: Kelahiran Nabi

﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Tidaklah Kami mengutus engkau wahai Nabi melainkan sebagai rohmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Dari Abu Qotadah Al-Anshori rodhiyallahu ‘anhu (54 H), bahwa Rosululloh ditanya tentang Puasa hari Senin, maka beliau bersabda:

«ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ - أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ -»

“Hari itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku.” (HR. Muslim no. 1162)

 

Hadits 2: Wafatnya Ibunda

﴿أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى

“Bukankah Dia mendapati engkau sebagai seorang anak yatim lalu Dia melindungi engkau?” (QS. Adh-Dhuha: 6)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), beliau berkata:

زَارَ النَّبِيُّ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: «اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ»

Nabi menziarahi makam ibundanya lalu beliau menangis dan membuat orang-orang di sekitarnya ikut menangis, kemudian beliau bersabda: “Aku meminta izin kepada Robb-ku untuk memohonkan ampunan baginya namun tidak diizinkan bagiku, dan aku meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi makamnya maka Dia mengizinkanku, maka ziarahilah kubur karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada kematian.” (HR. Muslim no. 976)

 

Hadits 3: Pernikahan Nabi dengan Khodijah

﴿وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى

“Dan Dia mendapati engkau sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh-Dhuha: 8)

Dari ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha (58 H), beliau berkata: Rosululloh bersabda:

«مَا أَبْدَلَنِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا، قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ»

“Alloh Azza wa Jalla tidak menggantikan bagiku wanita yang lebih baik darinya, dia telah beriman kepadaku saat manusia mengkafiriku, dia membenarkanku saat manusia mendustakanku, dia membantuku dengan hartanya saat manusia tidak memberiku, dan Alloh Azza wa Jalla memberiku rizqi anak darinya saat Alloh tidak memberiku anak dari wanita-wanita yang lain.” (HSR. Ahmad no. 24864)

 

Hadits 4: Renovasi Ka’bah dan Peletakan Hajar Aswad

Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhuma (78 H), beliau berkata:

لَمَّا بُنِيَتِ الكَعْبَةُ، ذَهَبَ النَّبِيُّ ﷺ وَعَبَّاسٌ يَنْقُلاَنِ الحِجَارَةَ، فَقَالَ عَبَّاسٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ: اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ يَقِيكَ مِنَ الحِجَارَةِ، فَخَرَّ إِلَى الأَرْضِ وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ، ثُمَّ أَفَاقَ، فَقَالَ: «إِزَارِي إِزَارِي» فَشَدَّ عَلَيْهِ إِزَارَهُ

Ketika Ka’bah dibangun, Nabi dan Al-’Abbas pergi mengangkut batu, lalu Al-’Abbas berkata kepada Nabi : “Jadikanlah kain sarungmu di atas lehermu untuk melindungimu dari gesekan batu,” maka beliau tersungkur jatuh ke tanah dan kedua matanya menatap ke arah langit, kemudian setelah sadar beliau bersabda: “Kain sarungku, kain sarungku,” lalu kain sarung beliau dikencangkan kembali padanya. (HR. Al-Bukhori no. 1582 dan Muslim no. 340)

 

Hadits 5: Permulaan Wahyu di Gua Hiro

﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

“Bacalah dengan menyebut nama Robb-mu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Robb-mulah Yang Maha Mulia.” (QS. Al-’Alaq: 1-5)

Dari ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha (58 H), beliau berkata:

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الخَلاَءُ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ - وَهُوَ التَّعَبُّدُ - اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ العَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا، حَتَّى جَاءَهُ الحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ المَلَكُ فَقَالَ: اقْرَأْ، قَالَ: «مَا أَنَا بِقَارِئٍ»، قَالَ: «فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ، قُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ، فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ»

Awal mula dimulainya wahyu kepada Rosululloh adalah berupa mimpi yang sholih (benar) dalam tidur, tidaklah beliau melihat suatu mimpi melainkan datang terang benderang seperti fajar subuh, kemudian beliau dijadikan menyukai menyendiri, beliau berkhalwat (menyendiri) di Gua Hiro untuk bertahannuts yaitu beribadah selama beberapa malam sebelum kembali kepada keluarganya dan mengambil bekal untuk itu, kemudian beliau pulang kembali kepada Khodijah rodhiyallahu ‘anha dan mengambil bekal yang serupa, hingga datanglah kebenaran kepada beliau saat beliau berada di Gua Hira, lalu Malaikat mendatanginya seraya berkata: “Bacalah, beliau bersabda: ‘Aku tidak bisa membaca,’” beliau bersabda: “Maka dia memegangku lalu memelukku dengan erat hingga aku merasa sangat lelah kemudian dia melepaskanku, lalu berkata: ‘Bacalah,’ aku menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca,’ maka dia memegangku lalu memelukku dengan erat untuk kedua kalinya hingga aku merasa sangat lelah kemudian dia melepaskanku, lalu berkata: ‘Bacalah,’ aku menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca,’ maka dia memegangku lalu memelukku dengan erat untuk ketiga kalinya kemudian dia melepaskanku, lalu berkata: ‘Bacalah dengan menyebut nama Robb-mu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Robb-mulah Yang Maha Mulia.’ (QS. Al-’Alaq: 1-3)

فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَقَالَ: «زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي» فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الخَبَرَ: «لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي» فَقَالَتْ خَدِيجَةُ: كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ، وَتَكْسِبُ المَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الحَقِّ،

Maka Rosululloh pulang dengan membawa ayat-ayat tersebut dalam keadaan hatinya bergetar hebat, lalu beliau masuk menemui Khodijah binti Khuwailid rodhiyallahu ‘anha seraya bersabda: “Selimuti aku, selimuti aku,” maka ia menyelimutinya hingga hilang rasa takut darinya, lalu beliau bersabda kepada Khodijah rodhiyallahu ‘anha seraya memberitahukan kabar itu: “Sungguh aku mengkhawatirkan diriku,” maka Khodijah rodhiyallahu ‘anha berkata: “Sekali-kali tidak, demi Alloh, Alloh tidak akan pernah menghinakanmu selama-lamanya, sesungguhnya engkau benar-benar menyambung silaturrohim, menanggung beban orang lemah, memberi usahawan bagi orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang menegakkan kebenaran.”

فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ العُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الكِتَابَ العِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ، فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ: يَا ابْنَ عَمِّ، اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ، فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى؟ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَبَرَ مَا رَأَى، فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى، يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ»، قَالَ: نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا. ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ، وَفَتَرَ الوَحْيُ

Kemudian Khodijah pergi bersamanya hingga membawanya menemui Waroqoh bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, sepupu Khodijah, dan dia adalah seorang lelaki yang memeluk Agama Nashroni pada masa Jahiliyyah, dia bisa menulis Kitab dengan bahasa ‘Ibroni, maka dia menulis dari Injil dengan bahasa ‘Ibroni apa yang Alloh kehendaki untuk ditulis, dan dia adalah seorang tua renta yang telah buta, maka Khodijah berkata kepadanya: “Wahai putra pamanku, dengarkanlah dari putra saudaramu,” lalu Waroqoh berkata kepadanya: “Wahai putra saudaraku, apa yang engkau lihat?” Maka Rosululloh memberitahukan kepadanya kabar tentang apa yang beliau lihat, lalu Waroqoh berkata kepadanya: “Ini adalah An-Namus (Malaikat Jibril ‘alaihis salam) yang pernah Alloh turunkan kepada Musa ‘alaihis salam, duhai sekiranya aku masih muda belia saat itu, duhai sekiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu,” maka Rosululloh bersabda: “Apakah mereka akan mengusirku?” Dia menjawab: “Ya, tidak ada seorang lelaki pun yang datang membawa seperti apa yang engkau bawa melainkan pasti dimusuhi, dan jika aku mendapati harimu niscaya aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.” Kemudian tidak lama setelah itu Waroqoh meninggal dunia, dan wahyu pun terputus untuk sementara waktu. (HR. Al-Bukhori no. 3 dan Muslim no. 160)

 

Hadits 6: Da’wah Secara Sembunyi-Sembunyi dan Terang-Terangan

﴿فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), beliau berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ: ﴿وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ، صَعِدَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى الصَّفَا، فَجَعَلَ يُنَادِي: «يَا بَنِي فِهْرٍ، يَا بَنِي عَدِيٍّ» - لِبُطُونِ قُرَيْشٍ - حَتَّى اجْتَمَعُوا فَجَعَلَ الرَّجُلُ إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَخْرُجَ أَرْسَلَ رَسُولًا لِيَنْظُرَ مَا هُوَ، فَجَاءَ أَبُو لَهَبٍ وَقُرَيْشٌ، فَقَالَ: «أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟» قَالُوا: نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا، قَالَ: «فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ» فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ: تَبًّا لَكَ سَائِرَ اليَوْمِ، أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا؟ فَنَزَلَتْ: ﴿تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

Ketika turun ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat,” Nabi naik ke Bukit Shofa lalu menyeru: “Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘Adi,” kepada kabilah-kabilah Quroisy hingga mereka berkumpul, apabila seorang lelaki tidak bisa keluar maka dia mengutus utusan untuk melihat apa yang terjadi, lalu datanglah Abu Lahab dan kaum Quroisy, maka beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang ingin menyerang kalian, apakah kalian membenarkanku?” Mereka menjawab: “Ya, kami tidak pernah mendapati darimu melainkan kejujuran.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian sebelum datangnya adzab yang pedih.” Maka Abu Lahab berkata: “Celakalah engkau sepanjang hari ini, apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?” Lalu turunlah ayat: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa…” (HR. Al-Bukhori no. 4770 dan Muslim no. 208)

 

Hadits 7: Siksaan Orang Kafir Quroisy dan Hijroh ke Habasyah

﴿ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kemudian sesungguhnya Robb-mu bagi orang-orang yang berhijroh setelah mereka menderita ujian lalu mereka berjihad dan bersabar, sesungguhnya Robb-mu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 110)

Dari Khobbab bin Al-Arott rodhiyallahu ‘anhu (37 H), beliau berkata:

شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ: أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا، أَلاَ تَدْعُو اللَّهَ لَنَا؟ قَالَ: «كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ، أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ»

Kami mengadukan penderitaan kami kepada Rosululloh saat beliau berbantalkan kain selendangnya di bawah naungan Ka’bah, kami berkata: “Tidakkah Engkau memohon pertolongan untuk kami, tidakkah Engkau berdoa kepada Alloh untuk kami?” Maka beliau bersabda: “Dahulu ada seorang lelaki sebelum kalian digali tanah baginya lalu dia dimasukkan ke dalamnya, kemudian didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya lalu dibelah menjadi 2 bagian dan hal itu tidak memalingkannya dari Agamanya, dan tubuhnya disisir dengan sisir besi hingga memisahkan daging dari tulang atau uratnya dan hal itu tidak memalingkannya dari Agamanya, demi Alloh sungguh Alloh akan menyempurnakan urusan Agama ini hingga seorang pengendara berjalan dari Shon’a ke Hadhromaut tidak takut melainkan hanya kepada Alloh atau takut serigala atas kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa.” (HR. Al-Bukhori no. 3612)

 

Hadits 8: Pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Muttholib

﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan ingatlah ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu, mereka membuat tipu daya dan Alloh membalas tipu daya mereka, dan Alloh adalah Sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), beliau berkata: Rosululloh bersabda:

«نَحْنُ نَازِلُونَ غَدًا [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] بِخَيْفِ بَنِي كِنَانَةَ، حَيْثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الكُفْرِ»

“Kita akan singgah besok In Syaa Alloh di Khoif Bani Kinanah tempat mereka saling bersumpah setia atas kekafiran.” (HR. Al-Bukhori no. 1590 dan Muslim no. 1317)

 

Hadits 9: Tahun Kesedihan dan Da’wah ke Tho’if

﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rosul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan kebaikan bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mu’min.” (QS. At-Taubah: 128)

Dari ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha (58 H), beliau berkata:

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟ قَالَ: «لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ العَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلاَلٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، فَنَادَانِي فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ، فَنَادَانِي مَلَكُ الجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ، ذَلِكَ فِيمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الأَخْشَبَيْنِ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»

“Apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Perang Uhud?” Beliau menjawab: “Sungguh aku telah mengalami penderitaan dari kaummu, dan penderitaan terberat yang aku alami dari mereka adalah pada hari ‘Aqobah saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdi Kulal namun dia tidak menyambut apa yang aku inginkan, maka aku pergi dalam keadaan berduka cita menyelimuti wajahku dan aku tidak tersadar melainkan setelah sampai di Qorn Ats-Sya’alib, lalu aku mengangkat kepalaku dan ternyata ada awan yang menaungiku, aku melihat ternyata di dalamnya ada Jibril, lalu dia memanggilku seraya berkata: ‘Sesungguhnya Alloh telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu, dan Alloh telah mengutus Malaikat penjaga gunung kepadamu agar engkau memerintahkannya sesuai kehendakmu terhadap mereka.’ Lalu Malaikat penjaga gunung memanggilku dan memberi salam kepadaku kemudian berkata: ‘Wahai Muhammad, katakanlah apa yang engkau kehendaki, jika engkau mau aku akan menimpakan atas mereka dua gunung besar Makkah.’” Maka Nabi bersabda: “Bahkan aku berharap Alloh akan mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka orang-orang yang beribadah kepada Alloh semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhori no. 3231 dan Muslim no. 1795)

 

Hadits 10: Peristiwa Isro’ dan Mi’roj

﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Alloh yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isro’: 1)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), bahwa Rosululloh bersabda:

«أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ»، قَالَ: «فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ»، قَالَ: «فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ»، قَالَ: «ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ، فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبْرِيلُ ﷺ: اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ، ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ»

“Aku didatangi Buroq yaitu seekor hewan tunggangan berwarna putih yang tubuhnya lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari bagal, ia meletakkan kakinya di ujung pandangannya. Maka aku mengendarainya hingga sampai di Baitu Maqdis. Lalu aku mengikatnya pada simpul tempat mengikat para Nabi. Kemudian aku masuk ke dalam Masjid lalu Sholat di dalamnya 2 rokaat kemudian aku keluar, lalu Jibril ‘alaihis salam datang membawakanku bejana berisi khomr dan bejana berisi susu, maka aku memilih susu, lalu Jibril berkata: ‘Engkau telah memilih fithroh,’ kemudian kami dinaikkan ke langit.” (HR. Muslim no. 162)

 

Hadits 11: Bai’at ‘Aqobah Pertama dan Kedua

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Wahai Nabi, apabila datang kepadamu wanita-wanita yang Mu’min untuk mengadakan janji setia (bai’at) kepadamu bahwa mereka tidak akan menyekutukan sesuatupun dengan Alloh, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 12)

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit rodhiyallahu ‘anhu (34 H), beliau berkata: Rosululloh bersabda:

«بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلاَ تَسْرِقُوا، وَلاَ تَزْنُوا، وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ، وَلاَ تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ، وَلاَ تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ، فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ، إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ» فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِكَ

“Berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak mendatangkan kebohongan yang kalian buat-buat di antara tangan dan kaki kalian, serta tidak mendurhakai dalam kebaikan. Siapa di antara kalian yang menyempurnakannya maka pahalanya di sisi Alloh, dan siapa yang melanggar sesuatu dari hal itu lalu dihukum di dunia maka itu menjadi penebus dosa baginya, dan siapa yang melanggar sesuatu dari hal itu kemudian Alloh menutupi dosanya maka urusannya terserah Alloh, jika Alloh menghendaki maka Alloh memaafkannya dan jika Alloh menghendaki maka Alloh mengadzabnya.” Kami membait beliau atas hal itu. (HR. Al-Bukhori no. 18 dan Muslim no. 1709)

Hadits 12: Hijroh Nabi ke Madinah

﴿إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Jika kalian tidak menolongnya maka sungguh Alloh telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya sedang dia salah seorang dari 2 orang ketika keduanya berada dalam gua, di kala dia berkata kepada shohabatnya: ‘Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Alloh bersama kita.’” (QS. At-Taubah: 40)

Dari Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu (13 H), beliau berkata:

قُلْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ: وَأَنَا فِي الغَارِ: لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا، فَقَالَ: «مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا»

Aku berkata kepada Nabi saat aku berada di dalam gua: “Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kedua kakinya niscaya mereka melihat kita.” Maka beliau bersabda: “Bagaimana prasangkamu wahai Abu Bakr terhadap 2 orang yang Alloh adalah Yang Ketiga dari keduanya?” (HR. Al-Bukhori no. 3653 dan Muslim no. 2381)

 

Hadits 13: Pembangunan Masjid Nabawi

﴿لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِين

“Sungguh Masjid yang didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama adalah lebih berhak untuk engkau berdiri Sholat di dalamnya. Di dalamnya ada para lelaki yang menyukai pembersihan diri, dan Alloh menyukai orang-orang yang membersihkan diri.” (QS. At-Taubah: 108)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau berkata: Nabi bersabda:

«يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُونِي حَائِطَكُمْ هَذَا» فَقَالُوا لاَ وَاللَّهِ، لاَ نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ

“Wahai Bani An-Najjar, berikanlah harga kebun kalian ini kepadaku.” Mereka menjawab: “Tidak demi Alloh, kami tidak meminta harganya melainkan hanya kepada Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 3932 dan Muslim no. 524)

 

Hadits 14: Persaudaraan Muhajirin dan Anshor

﴿وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka, mereka mencintai orang yang berhijroh kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka, dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau berkata:

قَدِمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ المَدِينَةَ فَآخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ الأَنْصَارِيِّ فَعَرَضَ عَلَيْهِ أَنْ يُنَاصِفَهُ أَهْلَهُ وَمَالَهُ، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلَّنِي عَلَى السُّوقِ

Abdurrohman bin ‘Auf rodhiyallahu ‘anhu (32 H) tiba di Madinah, lalu Nabi dipersaudarakan antara dirinya dengan Sa’d bin Ar-Robi’ Al-Anshori rodhiyallahu ‘anhu (3 H), maka Sa’d menawarkan kepadanya untuk membagi harta dan istrinya, lalu Abdurrohman berkata: “Semoga Alloh memberkahi bagimu pada keluarga dan hartamu, tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.” (HR. Al-Bukhori no. 3937)

 

Hadits 15: Perubahan Qiblat ke Ka’bah

﴿قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Sungguh Kami melihat wajahmu sering memandang ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke Qiblat yang engkau sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Harom.” (QS. Al-Baqoroh: 144)

Dari Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhuma (72 H), beliau berkata:

«صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوَ بَيْتِ المَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ، أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ القِبْلَةِ»

“Kami Sholat bersama Nabi menghadap ke arah Baitu Maqdis selama 16 atau 17 bulan, kemudian Alloh memalingkan beliau ke arah Qiblat.” (HR. Al-Bukhori no. 4492 dan Muslim no. 525)

 

Hadits 16: Perang Badar Al-Kubro

﴿وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Alloh telah menolong kalian dalam Perang Badar padahal kalian dalam keadaan lemah, maka bertaqwalah kepada Alloh agar kalian bersyukur.” (QS. Ali ‘Imron: 123)

Dari ‘Umar bin Al-Khottob rodhiyallahu ‘anhu (23 H), beliau berkata:

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ، وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا، فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ الْقِبْلَةَ، ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ، فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: «اللهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ»

Ketika hari Perang Badar, Rosululloh melihat kepada kaum musyrikin sedang jumlah mereka 1000 orang sedangkan para Shohabat beliau 318 orang lelaki, maka Nabi Alloh menghadap Qiblat kemudian membentangkan kedua tangannya seraya berdoa memohon kepada Robb-nya: “Ya Alloh tunaikanlah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Alloh berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Alloh jika Engkau membinasakan kelompok dari pemeluk Islam ini niscaya Engkau tidak akan diibadahi lagi di bumi.” (HR. Muslim no. 1763)

 

Hadits 17: Perang Uhud

﴿إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Jika kalian mendapat luka maka sungguh kaum kafir itu pun telah mendapat luka yang serupa. Dan masa-masa keberuntungan dan kejayaan itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imron: 140)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ، وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ، فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ، وَيَقُولُ: «كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ، وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللهِ؟»، فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

Rosululloh pecah gigi seri beliau pada hari Perang Uhud dan terluka di kepalanya, maka beliau mengusap darah dari wajahnya seraya bersabda: “Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka dan memecahkan gigi serinya padahal aku menyeru mereka kepada Alloh?!” Lalu Alloh menurunkan ayat: “Itu bukan menjadi urusanmu sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1791)

Hadits 18: Tragedi Bir Ma’unah dan Ar-Raji’

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Robb mereka dengan mendapat rizqi.” (QS. Ali ‘Imron: 169)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau berkata:

«دَعَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى الَّذِينَ قَتَلُوا أَصْحَابَ بِئْرِ مَعُونَةَ ثَلاَثِينَ غَدَاةً، عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ»

“Nabi mendoakan keburukan atas orang-orang yang membunuh para Shohabat pembawa Al-Qur’an di Bir Ma’unah selama 30 hari subuh, beliau mendoakan keburukan atas kabilah Ri’l, Dzakwan, dan ‘Ushoyyah yang telah bermaksiat kepada Alloh dan Rosul-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 2814 dan Muslim no. 677)

 

Hadits 19: Perang Khondaq

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا

“Wahai orang-orang yang beriman ingatlah ni’mat Alloh yang telah dianugerahkan kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taufan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat.” (QS. Al-Ahzab: 9)

Dari Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhuma (72 H), beliau berkata:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَوْمَ الخَنْدَقِ وَهُوَ يَنْقُلُ التُّرَابَ حَتَّى وَارَى التُّرَابُ شَعَرَ صَدْرِهِ، وَكَانَ رَجُلًا كَثِيرَ الشَّعَرِ، وَهُوَ يَرْتَجِزُ بِرَجَزِ عَبْدِ اللَّهِ:

اللَّهُمَّ لَوْلاَ أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا ... وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا

فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا ... وَثَبِّتِ الأَقْدَامَ إِنْ لاَقَيْنَا

إِنَّ الأَعْدَاءَ قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا ... إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا

يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ

Aku melihat Rosululloh pada hari Perang Khondaq memindahkan tanah hingga tanah itu menutupi kulit perut beliau sedang beliau seorang yang berbulu lebat di dadanya, lalu beliau bersenandung dengan bait-bait syair Ibnu Rowahah rodhiyallahu ‘anhu (8 H): “Ya Alloh seandainya bukan karena Engkau niscaya kami tidak mendapat petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak Sholat, maka turunkanlah ketenangan atas kami dan teguhkanlah kaki-kaki kami jika bertemu musuh, sesungguhnya orang-orang itu telah berbuat zholim kepada kami, apabila mereka menginginkan fitnah (syirik) kami menolaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 3034 dan Muslim no. 1803)

 

Hadits 20: Perang Bani Quroizhoh

﴿وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا

“Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan.” (QS. Al-Ahzab: 26)

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma (73 H), beliau berkata: Nabi bersabda:

«لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ العَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ»

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian Sholat Ashar melainkan di perkampungan Bani Quroizhoh.” (HR. Al-Bukhori no. 946 dan Muslim no. 1770)

 

Hadits 21: Perjanjian Hudaibiyah

﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sungguh Alloh telah ridho terhadap orang-orang Mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)

Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhuma (78 H), beliau berkata:

قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ الحُدَيْبِيَةِ: «أَنْتُمْ خَيْرُ أَهْلِ الأَرْضِ» وَكُنَّا أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ

Rosululloh bersabda kepada kami pada hari Hudaibiyah: “Kalian adalah sebaik-baik penduduk bumi.” Dan jumlah kami saat itu adalah 1400 orang. (HR. Al-Bukhori no. 4154 dan Muslim no. 1856)

 

Hadits 22: Surat Kepada Para Raja

﴿قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Katakanlah wahai Nabi: ‘Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi.’” (QS. Al-A’rof: 158)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau berkata:

«أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى، وَإِلَى قَيْصَرَ، وَإِلَى النَّجَاشِيِّ، وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللهِ تَعَالَى»

“Nabi Alloh menulis surat kepada Kisro (raja Persia), Qoishor (Raja Romawi), An-Najasyi (raja Habasyah bukan yang wafat sebagai Muslim), dan kepada setiap penguasa yang sombong menyeru mereka kepada Alloh Ta’ala.” (HR. Muslim no. 1774)

 

Hadits 23: Perang Khoibar

﴿وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْ

“Alloh menjanjikan kepada kalian harta rampasan perang yang banyak yang dapat kalian ambil, maka Alloh menyegerakan harta rampasan perang ini untuk kalian dan menahan tangan manusia dari membinasakan kalian.” (QS. Al-Fath: 20)

Dari Sahl bin Sa’d rodhiyallahu ‘anhu (88 H), beliau berkata:

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ يَوْمَ خَيْبَرَ: «لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ»، فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى، فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ، فَقَالَ: «أَيْنَ عَلِيٌّ؟»، فَقِيلَ يَشْتَكِي عَيْنَيْهِ، فَبَصَقَ فِي عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ: أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا؟ فَقَالَ: «انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ، فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ»

Nabi bersabda pada hari Perang Khoibar: “Sungguh aku akan memberikan bendera ini besok kepada seorang lelaki yang akan diberikan kemenangan melalui kedua tangannya, dia mencintai Alloh dan Rosul-Nya serta dicintai oleh Alloh dan Rosul-Nya.” Maka orang-orang membicarakan sepanjang malam mereka tentang siapakah di antara mereka yang akan diberikannya, lalu pagi harinya mereka semua pergi mendatangi beliau dengan sangat berharap agar diberikannya, kemudian beliau bersabda: “Di manakah ‘Ali?” Dikatakan: “Kedua matanya sedang sakit,” lalu beliau meludahi kedua matanya dan mendoakannya, maka dia pun sembuh seolah-olah tidak pernah mengalami sakit sebelumnya, lalu beliau menyerahkan bendera kepadanya, kemudian dia berkata: “Apakah aku harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?” Beliau bersabda: “Berjalanlah engkau dengan tenang hingga engkau sampai di daerah mereka, kemudian serulah mereka kepada Islam dan kabarkanlah kepada mereka apa yang diwajibkan atas mereka, demi Alloh sungguh jika Alloh memberi petunjuk kepada seorang lelaki saja melalui perantaramu, hal itu jauh lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta-unta merah (harta paling berharga).” (HR. Al-Bukhori no. 3009 dan Muslim no. 2406)

 

Hadits 24: Umroh Qodho’

﴿لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ

“Sungguh Alloh akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Harom In Syaa Alloh dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan memotongnya sedang kamu tidak merasa takut.” (QS. Al-Fath: 27)

Dari Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhuma (72 H), beliau berkata:

«صَالَحَ النَّبِيُّ ﷺ أَهْلَ مَكَّةَ عَلَى أَنْ يُقِيمُوا ثَلَاثًا، وَلَا يَدْخُلُوهَا إِلَّا بِجُلُبَّانِ السِّلَاحِ» الْقِرَابُ وَمَا فِيهِ

“Ketika Rosululloh berdamai dengan penduduk Makkah, mereka mensyaratkan agar beliau memasuki Makkah lalu tinggal di sana selama 3 hari dan tidak memasukinya melainkan dengan senjata dalam sarungnya yaitu pedang beserta sarungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 4251 dan Muslim no. 1783 dan lafazh Ahmad no. 18545)

 

Hadits 25: Perang Mu’tah

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan musuh maka teguhkanlah hati kalian dan sebutlah nama Alloh sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَعَى زَيْدًا، وَجَعْفَرًا، وَابْنَ رَوَاحَةَ لِلنَّاسِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَهُمْ خَبَرُهُمْ، فَقَالَ: «أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ، ثُمَّ أَخَذَ جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ، ثُمَّ أَخَذَ ابْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ» وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ: «حَتَّى أَخَذَ الرَّايَةَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ، حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ»

Nabi mengumumkan kematian Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rowahah rodhiyallahu ‘anhum kepada manusia sebelum datang berita kematian mereka, beliau bersabda: “Bendera diambil oleh Zaid lalu dia gugur, kemudian diambil oleh Ja’far lalu dia gugur, kemudian diambil oleh Ibnu Rowahah lalu dia gugur,” sedang kedua mata beliau bercucuran air mata, “hingga bendera itu diambil oleh pedang di antara pedang-pedang Alloh sampai Alloh memberikan kemenangan kepada mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 4262)

 

Hadits 26: Fathu Makkah

﴿إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam Agama Alloh. Maka bertasbihlah dengan memuji Robb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), beliau berkata:

دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ مَكَّةَ يَوْمَ الفَتْحِ، وَحَوْلَ البَيْتِ سِتُّونَ وَثَلاَثُ مِائَةِ نُصُبٍ فَجَعَلَ يَطْعُنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ، وَيَقُولُ: «جَاءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلُ، جَاءَ الحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ البَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ»

Nabi memasuki Makkah pada hari Fathu Makkah sedangkan di sekitar Ka’bah terdapat 360 berhala, maka beliau mulai menggulingkannya dengan tongkat di tangan beliau seraya mengucapkan: “Kebenaran telah datang dan kebathilan telah lenyap, sesungguhnya kebathilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Kebenaran telah datang dan kebathilan tidak akan memulai dan tidak akan mengulangi.” (HR. Al-Bukhori no. 4287 dan Muslim no. 1781)

 

Hadits 27: Perang Hunain

﴿لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ 25 ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

“Sungguh Alloh telah menolong kalian di banyak medan perang dan pada hari Perang Hunain, ketika jumlah kalian yang banyak itu membanggakan kalian namun tidak memberi manfaat sedikit pun kepada kalian dan bumi yang luas itu terasa sempit bagi kalian kemudian kalian berpaling lari ke belakang…” (QS. At-Taubah: 25-26)

Dari Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhuma (72 H) bahwa seseorang berkata kepadanya:

يَا أَبَا عُمَارَةَ وَلَّيْتُمْ يَوْمَ حُنَيْنٍ؟ قَالَ: لاَ، وَاللَّهِ مَا وَلَّى النَّبِيُّ ﷺ، وَلَكِنْ وَلَّى سَرَعَانُ النَّاسِ، فَلَقِيَهُمْ هَوَازِنُ بِالنَّبْلِ، وَالنَّبِيُّ ﷺ عَلَى بَغْلَتِهِ البَيْضَاءِ، وَأَبُو سُفْيَانَ بْنُ الحَارِثِ آخِذٌ بِلِجَامِهَا، وَالنَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ: «أَنَا النَّبِيُّ لاَ كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ المُطَّلِبْ»

“Wahai Abu ‘Umaroh, apakah kamu lari melarikan diri pada hari Perang Hunain?” Ia menjawab: “Tidak demi Alloh, Rosululloh tidak lari melarikan diri, akan tetapi para pemuda Shohabat beliau dan orang-orang yang tidak bersenjata keluar tanpa membawa senjata lengkap lalu mereka berhadapan dengan kaum pemanah dari Bani Hawazin dan Bani Nashr yang hantaman panahnya hampir tidak pernah meleset, maka mereka dihujani panah secara bertubi-tubi yang hampir tidak pernah salah, lalu orang-orang beralih menuju Nabi sedangkan Rosululloh berada di atas bagal putih beliau sedang Abu Sufyan bin Al-Harits rodhiyallahu ‘anhu menuntunnya, kemudian beliau turun dan memohon pertolongan seraya bersabda: “Aku adalah seorang Nabi tidak ada kedustaan, aku adalah putra ‘Abdul Muttholib.” (HR. Al-Bukhori no. 2874 dan Muslim no. 1776)

 

Hadits 28: Perang Tho’if

﴿وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang yang dengan persiapan itu kalian menggentarkan musuh Alloh dan musuh kalian.” (QS. Al-Anfal: 60)

Dari ‘Abdulloh bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhuma (65 H), beliau berkata:

لَمَّا حَاصَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الطَّائِفَ، فَلَمْ يَنَلْ مِنْهُمْ شَيْئًا، قَالَ: «إِنَّا قَافِلُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ». فَثَقُلَ عَلَيْهِمْ، وَقَالُوا: نَذْهَبُ وَلاَ نَفْتَحُهُ، وَقَالَ مَرَّةً: «نَقْفُلُ». فَقَالَ: «اغْدُوا عَلَى القِتَالِ». فَغَدَوْا فَأَصَابَهُمْ جِرَاحٌ، فَقَالَ: «إِنَّا قَافِلُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ». فَأَعْجَبَهُمْ، فَضَحِكَ النَّبِيُّ ﷺ

Ketika Rosululloh mengepung Tho’if namun beliau belum berhasil menundukkan mereka, beliau bersabda: “Sesungguhnya kita akan pulang besok In Syaa Alloh.” Para Shohabat beliau berkata: “Apakah kita akan pulang padahal kita belum menaklukkannya?” Maka beliau bersabda kepada mereka: “Berangkatlah kalian untuk berperang besok pagi,” lalu mereka berangkat pagi hari hingga mereka mengalami luka-luka, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya kita akan pulang besok In Syaa Alloh,” lalu hal itu membuat mereka senang dan Rosululloh tertawa. (HR. Al-Bukhori no. 4325 dan Muslim no. 1778)

 

Hadits 29: Perang Tabuk

﴿لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيم

“Sungguh Alloh telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshor yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan setelah hati sekelompok dari mereka hampir berpaling, kemudian Alloh menerima taubat mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 117)

Dari Abu Humaid As-Sa’idi rodhiyallahu ‘anhu (60 H), beliau berkata:

أَقْبَلْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ، حَتَّى إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى المَدِينَةِ قَالَ: «هَذِهِ طَابَةُ، وَهَذَا أُحُدٌ، جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»

Kami berperang bersama Rosululloh pada Perang Tabuk, lalu ketika kami kembali hingga tatkala kami melihat kota Madinah beliau bersabda: “Ini adalah Thobah (Madinah) dan ini adalah Gunung Uhud, yaitu gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya.” (HR. Al-Bukhori no. 4422 dan Muslim no. 1392)

 

Hadits 30: Kedatangan Delegasi Arob

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), beliau berkata:

إِنَّ وَفْدَ عَبْدِ القَيْسِ أَتَوُا النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: «مَنِ الوَفْدُ أَوْ مَنِ القَوْمُ» قَالُوا: رَبِيعَةُ فَقَالَ: «مَرْحَبًا بِالقَوْمِ أَوْ بِالوَفْدِ، غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى»

Sesungguhnya utusan ‘Abdul Qois ketika mendatangi Nabi , beliau bertanya: “Siapakah rombongan atau utusan ini?” Mereka menjawab: “Kabilah Robi’ah.” Beliau bersabda: “Selamat datang kepada rombongan atau utusan tanpa merasa terhina dan tanpa penyesalan.” (HR. Al-Bukhori no. 87 dan Muslim no. 17)

Hadits 31: Pelaksanaan Haji Wada’

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian Agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian ni’mat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam itu jadi Agama bagi kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhuma (78 H), bahwa Rosululloh bersabda:

«لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ، فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ»

“Hendaklah kalian mengambil tata cara ibadah Haji kalian dariku, karena sesungguhnya aku tidak tahu boleh jadi aku tidak dapat berhaji lagi setelah Hajiku ini.” (HR. Muslim no. 1297)

Hadits 32: Khutbah Wada’

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ

“Wahai manusia bertaqwalah kepada Robb kalian Yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu.” (QS. An-Nisa’: 1)

Dari Abu Bakroh rodhiyallahu ‘anhu (51 H), dari Nabi , beliau berkhutbah pada hari Nahr seraya bersabda:

«فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ [وَأَعْرَاضَكُمْ] عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟»، قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: «اللَّهُمَّ اشْهَدْ»

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah harom atas kalian sebagaimana sucinya hari kalian ini, pada bulan kalian ini, di negeri kalian ini, sampai hari kalian bertemu Robb kalian. Ketahuilah, bukankah aku telah menyampaikan?” Para Shohabat menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Ya Alloh saksikanlah.” (HR. Al-Bukhori no. 1741 dan Muslim no. 1679)

 

Hadits 33: Awal Sakit Nabi

﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُون

“Sesungguhnya engkau wahai Nabi akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30)

Dari ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha (58 H), beliau berkata:

رَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْبَقِيعِ، فَوَجَدَنِي وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعًا فِي رَأْسِي، وَأَنَا أَقُولُ: وَا رَأْسَاهُ، فَقَالَ: «بَلْ أَنَا يَا عَائِشَةُ وَا رَأْسَاهُ»

“Rosululloh kembali dari pemakaman Al-Baqi’ lalu beliau mendapati aku sedang merasakan sakit kepala dan aku mengatakan: ‘Aduh kepalaku.’ Maka beliau bersabda: ‘Bahkan aku wahai ‘A-isyah yang merasa aduh kepalaku.’” (HHR. Ibnu Majah no. 1465)

 

Hadits 34: Abu Bakr Menjadi Imam Sholat

Dari ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha (58 H), beliau berkata: Ketika sakit Rosululloh semakin berat, beliau bersabda:

«مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ»

“Perintahkanlah Abu Bakr agar dia Sholat menjadi imam bagi manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 664 dan Muslim no. 418)

 

Hadits 35: Detik-Detik Wafatnya Nabi

﴿وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ

“Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelum beliau beberapa rosul. Apakah jika beliau wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang?” (QS. Ali ‘Imron: 144)

Dari ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha (58 H), bahwa ia mendengar Nabi sebelum wafatnya berdoa —sambil menyendarkan punggungnya ke ‘A-isyah:

«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ [الْأَعْلَى]»

“Ya Alloh ampunilah aku, rohmatilah aku, dan pertemukanlah aku dengan Ar-Rofiq Al-A’la (Teman Yang Tinggi).” (HR. Al-Bukhori no. 4440 dan Muslim no. 2444)

 

Hadits 36: Pemakaman Nabi

Dari ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha (58 H), beliau berkata:

لَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ اخْتَلَفُوا فِي دَفْنِهِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ شَيْئًا مَا نَسِيتُهُ، قَالَ: «مَا قَبَضَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا فِي المَوْضِعِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُدْفَنَ فِيهِ»، ادْفِنُوهُ فِي مَوْضِعِ فِرَاشِهِ

Ketika Rosululloh diwafatkan, para Shohabat berselisih pendapat tentang pemakamannya, lalu Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu (13 H) berkata: Aku telah mendengar dari Rosululloh sesuatu yang tidak aku lupakan, beliau bersabda: “Tidaklah Alloh mencabut nyawa seorang Nabi melainkan di tempat yang dia suka untuk dimakamkan padanya.” Maka makamkanlah beliau di tempat tempat tidurnya. (HSR. At-Tirmidzi no. 1018)

 

Hadits 37: Akhlaq dan Sifat Fisik Nabi

﴿وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam: 4)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا

“Rosululloh adalah manusia yang paling baik akhlaqnya.” (HR. Al-Bukhori no. 6203 dan Muslim no. 2310)

 

Hadits 38: Ibadah dan Zuhudnya Nabi

﴿وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Robb-mu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)

Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah rodhiyallahu ‘anhu (50 H), beliau berkata:

إِنْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَيَقُومُ لِيُصَلِّيَ حَتَّى تَرِمُ قَدَمَاهُ - أَوْ سَاقَاهُ - فَيُقَالُ لَهُ فَيَقُولُ: «أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا»

Sungguh Nabi berdiri Sholat malam hingga bengkak kedua kakinya atau kedua betisnya, lalu dikatakan kepada beliau tentang hal itu, maka beliau bersabda: “Apakah tidak boleh aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Al-Bukhori no. 1130 dan Muslim no. 2819)

 

Hadits 39: Mukjizat-Mukjizat Nabi

﴿اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَر

“Telah dekat Hari Qiyamah dan telah terbelah bulan.” (QS. Al-Qomor: 1)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), beliau berkata:

انْشَقَّ القَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِرْقَتَيْنِ، فِرْقَةً فَوْقَ الجَبَلِ، وَفِرْقَةً دُونَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اشْهَدُوا»

Bulan terbelah menjadi 2 bagian pada zaman Rosululloh , satu bagian di atas gunung dan satu bagian lagi di bawahnya, lalu Rosululloh bersabda: “Saksikanlah.” (HR. Al-Bukhori no. 4864 dan Muslim no. 2800)

 

Hadits 40: Hak-Hak Nabi Atas Ummatnya

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Alloh dan para Malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau berkata: Rosululloh bersabda:

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku menjadi orang yang lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 15 dan Muslim no. 44)

 

Penutup

Mempelajari dan mendalami 40 Hadits pokok tentang Siroh Nabawiyyah ini memberikan gambaran yang utuh mengenai keteladanan Rosululloh sejak masa awal kehidupan beliau hingga wafatnya. Setiap peristiwa mengandung pelajaran berharga bagi kehidupan kaum Muslimin dalam menegakkan Tauhid, bersabar menghadapi cobaan, memperjuangkan da’wah, serta meneladani akhlaq mulia beliau.

Semoga buku ini menjadi amalan yang ikhlas dan bermanfaat bagi ummat Islam dalam menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad serta mengamalkan sunnah-sunnah beliau.[NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini