[PDF] Kerusakan Akal dan Jiwa Pembela LGBT - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ.
Sholawat dan salam untuk Rosul-Nya.
Amma
ba’du:
Alloh
berfirman:
﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ
اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ
الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam). Tetaplah di atas fithroh
Alloh yang Dia telah menciptakan manusia menurut fithroh itu. Tidak ada
perubahan pada ciptaan Alloh. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
Alloh ﷻ
menciptakan manusia dengan fithroh yang suci. Penyimpangan berupa ketertarikan
kepada sesama jenis dan segala bentuk perusakan gender adalah bentuk
hilangnya akal dan kebinasaan jiwa.
«مَا
مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»
“Setiap
anak dilahirkan di atas fithroh, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya
Yahudi, atau Nashroni, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhori no. 1358 dan Muslim no.
2658)
Membela
kaum pembuat kerusakan ini adalah dosa besar yang mendatangkan kemurkaan dari
langit. Para pembela kejahatan ini berdalih menuntut hak asasi, padahal mereka
sedang menghancurkan kemanusiaan itu sendiri.
﴿وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ
الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِين﴾
“Dan
(ingatlah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Apakah kalian mengerjakan perbuatan
keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di alam semesta sebelum
kalian?’” (QS. Al-A’rof: 80)
﴿إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً
مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ﴾
“Sesungguhnya
kalian mendatangi para lelaki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada wanita,
bahkan kalian adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’rof: 81)
Klaim
perbaikan yang diusung oleh para pembela penyimpangan hanyalah tipu daya.
﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ
قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ﴾
“Dan
apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi,’
mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang mengadakan
perbaikan.’” (QS. Al-Baqoroh: 11)
﴿أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ
لَا يَشْعُرُونَ﴾
“Ingatlah,
sesungguhnya merekalah orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak
menyadari.” (QS. Al-Baqoroh: 12)
Tujuan
penciptaan manusia adalah ibadah semata, bukan mengikuti hawa nafsu hewaniah
yang merendahkan martabat.
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ﴾
“Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS.
Az-Zariyat: 56)
Bab 1: Fithroh Menyukai Lawan
Jenis
1.1
Penciptaan Manusia Berpasangan dan Kemuliaan Nasab
Manusia
diciptakan berpasangan antara laki-laki dan wanita untuk menjaga keturunan dan
kemuliaan nasab di muka bumi.
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾
“Wahai
manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa
yang satu (Adam), dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa dari tulang rusuk
Adam), dan mengembangbiakkan dari keduanya banyak laki-laki dan wanita. Dan
bertaqwalah kepada Alloh yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan
peliharalah hubungan silaturrohim. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan
mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa: 1)
Alloh ﷻ
menjadikan pasangan laki-laki dan wanita sebagai ketetapan penciptaan bagi alam
semesta.
﴿وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾
“Dan segala
sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kalian mengingat (kebesaran
Alloh).” (QS. Az-Zariyat: 49)
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ
مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾
“Wahai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan
seorang wanita, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar
kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian
di sisi Alloh adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Alloh Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurot: 13)
Nabi ﷺ memerintahkan pernikahan yang
sesuai syariat untuk menjaga pandangan dan kehormatan.
«مَنِ
اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ،
وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ»
“Wahai para
pemuda, siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah, maka menikahlah,
karena sesungguhnya ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.
Dan siapa yang belum mampu, maka wajib atasnya berpuasa, karena sesungguhnya
puasa itu adalah perisai baginya.” (HR. Al-Bukhori no. 1905 dan Muslim no.
1400)
﴿وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ
مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ
فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾
“Dan
kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba
sahaya kalian yang perempuan. Jika mereka miskin, Alloh akan memampukan mereka
dengan karunia-Nya. Dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.
An-Nur: 32)
Pernikahan
laki-laki dan wanita melahirkan nasab yang suci. Sebaliknya, pernikahan sesama
jenis menolak fithroh tersebut. Kasus adopsi anak oleh pasangan menyimpang
sering kali berujung pada kerusakan mental anak yang hidup tanpa figur ayah dan
ibu yang hakiki, menghancurkan masa depan generasi secara masif.
1.2
Kesucian Fithroh dalam Pemeliharaan Syariat Alloh ﷻ
Alloh ﷻ
memerintahkan manusia menjaga fithroh murni dari makar jahat syaithon.
﴿وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ
فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ
وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا
مُبِينًا﴾
“Dan pasti
aku akan menyesatkan mereka, dan pasti aku akan membangkitkan angan-angan
kosong pada mereka, dan pasti aku akan menyuruh mereka memotong telinga hewan
ternak, dan pasti aku akan menyuruh mereka mengubah ciptaan Alloh. Dan siapa
menjadikan syaithon sebagai pelindung selain Alloh, maka sungguh dia telah
menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa: 119)
Ketersesatan
akal membuat para pelaku menganggap keburukan memuakkan sebagai kebaikan yang
layak diperjuangkan.
﴿أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ
حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ
نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾
“Maka
apakah orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya lalu dia
menganggapnya baik (sama dengan orang yang diberi petunjuk)? Maka sesungguhnya
Alloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa
yang Dia kehendaki. Maka janganlah jiwamu binasa karena kesedihan terhadap
mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS.
Fathir: 8)
Penyimpangan
ini dilaknat secara tegas oleh lisan yang mulia.
«لَعَنَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ
بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»
“Rosululloh
melaknat para lelaki yang menyerupai wanita, dan para wanita yang menyerupai
lelaki.” (HR. Al-Bukhori no. 5885)
﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ
تَقْوِيمٍ﴾
“Sungguh
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS.
At-Tin: 4)
Praktik
mutilasi medis lewat operasi kelamin serta terapi hormon berbahaya yang
difasilitasi oleh para pembela penyimpangan di masa kini adalah bukti nyata
ketundukan mereka pada perintah syaithon untuk mengubah ciptaan Alloh ﷻ.
1.3
Hikmah Syar’i dalam Pernikahan Laki-Laki dan Wanita
Pernikahan
syar’i membawa ketenangan batin yang tidak akan pernah direngkuh oleh para
pendosa sesama jenis.
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ
أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ
فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Dan di
antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri
dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS.
Ar-Rum: 21)
Pelaku
penyimpangan tersiksa oleh kegelisahan jiwa yang berkepanjangan karena menabrak
hukum penciptaan dan hukum syariat sekaligus.
﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ
أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ
الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ﴾
“Dan Alloh
menjadikan bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri, dan
menjadikan bagi kalian dari pasangan kalian anak-anak dan cucu-cucu, serta
memberi kalian rizqi dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada
yang bathil dan mengingkari ni’mat Alloh?” (QS. An-Nahl: 72)
Keluarga Mu’min
senantiasa menengadahkan tangan demi lahirnya keturunan yang sholih.
﴿وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا
مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا﴾
“Dan
orang-orang yang berkata: ‘Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami
pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.’” (QS. Al-Furqon: 74)
Nabi ﷺ membanggakan umatnya dengan
memperbanyak keturunan suci.
«تَزَوَّجُوا
الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ»
“Menikahlah
dengan wanita yang penyayang dan subur, karena sesungguhnya aku akan
membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat pada hari Qiyamah.” (HSR.
Abu Dawud no. 2050)
Bab 2: Penyimpangan Liwath dan
Sihaq
2.1
Keharoman Liwath dan Adzab bagi Pelakunya
Liwath (homoseks)
adalah seburuk-buruk kekejian yang pelakunya pantas dihapuskan dari muka bumi.
﴿فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا
سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُود﴾
“Maka
tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke
bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan
bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)
﴿مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ
الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ﴾
“Yang
diberi tanda oleh Robbmu, dan azab itu tiadalah jauh dari orang-orang yang
zholim.” (QS. Hud: 83)
Proses
pembinasaan mereka sangat mengerikan dan cepat.
﴿فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِين﴾
“Maka
mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari akan terbit.”
(QS. Al-Hijr: 73)
﴿فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا
عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ﴾
“Maka Kami
jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan
batu dari tanah yang keras.” (QS. Al-Hijr: 74)
Liwath
mengundang laknat yang berlapis-lapis dari lisan Nabi ﷺ.
«لَعَنَ
اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ
لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ»
“Alloh
melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Alloh melaknat orang yang
melakukan perbuatan kaum Luth, Alloh melaknat orang yang melakukan perbuatan
kaum Luth.” (HHR. Ahmad no. 2915)
Hukuman
syariat di dunia bagi pelaku liwath teramat keras untuk memutus mata rantai
kerusakan.
«مَنْ
وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ
بِهِ»
“Siapa yang
kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan
pasangannya.” (HSR. Abu Dawud no. 4462)
Penyakit
menular mematikan yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh kaum liwath di zaman
ini merupakan tamparan keras dan hukuman duniawi yang disegerakan. Ibnu
Taimiyyah (728 H) dan Ibnu Qoyyim (751 H) rohimahumalloh menegaskan
bahwa tingkat kerusakan liwath melampaui zina karena ia membalikkan tatanan
alam kehidupan.
2.2
Dosa Sihaq di Antara Wanita dan Perusak Rumah Tangga
Sihaq (lesbi:
wanita menjimak waanita) adalah pelampiasan syahwat menyimpang antar wanita
yang mencabik-cabik kehormatan.
﴿وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ﴾
“Dan orang-orang
yang memelihara kemaluannya.” (QS. Al-Mu’minun: 5)
﴿إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ﴾
“Kecuali
terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS. Al-Mu’minun: 6)
﴿فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ
هُمُ الْعَادُونَ﴾
“Maka siapa
mencari selain dari itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-Mu’minun: 7)
Nabi ﷺ menutup rapat segala celah
yang mengarah kepada sihaq.
«لَا
يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ،
وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ
إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ»
“Janganlah
seorang laki-laki melihat aurot laki-laki lain, dan janganlah seorang wanita
melihat aurot wanita lain, dan janganlah seorang laki-laki berkumpul dengan
laki-laki lain dalam satu selimut, dan janganlah seorang wanita berkumpul
dengan wanita lain dalam satu selimut.” (HR. Muslim no. 338)
﴿وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ
مِنْهَا وَمَا بَطَنَ﴾
“Dan
janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di
antaranya maupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An’am: 151)
Praktik
sihaq mematikan kelembutan fithroh wanita. Banyak fakta menunjukkan para istri
rela menghancurkan rumah tangganya, membuang suaminya, dan menelantarkan anak
kandungnya demi merajut ikatan kotor bersama kawan wanitanya.
2.3
Kekejian yang Merusak Tatanan Kehidupan dan Keamanan
Membiarkan
penyakit ini menular dengan kedok kebebasan berpendapat adalah bunuh diri
massal.
﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ
ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan
peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zholim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat keras
siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)
Tersebarnya
pembenaran terhadap kemaksiatan mengundang azab massal yang tiada tertolak.
«لَمْ
تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ، حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ
الطَّاعُونُ، وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِينَ
مَضَوْا»
“Tidaklah
perbuatan keji (zina dan liwath) tampak pada suatu kaum sehingga mereka
melakukannya secara terang-terangan, melainkan akan tersebar di tengah-tengah
mereka wabah penyakit dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada
nenek moyang mereka yang telah berlalu.” (HSR. Ibnu Majah no. 4019)
Para
pembela LGBT gencar menuntut keistimewaan hukum dan menyingkirkan siapa pun
yang menentang mereka, persis sebagaimana kesombongan kaum terdahulu.
﴿أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ
السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا
أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ﴾
“Apakah
sesungguhnya kalian patut mendatangi laki-laki, menyamun (merampok) dan
mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan kalian? Maka jawaban kaumnya
tidak lain hanya mengatakan: ‘Datangkanlah kepada kami azab Alloh, jika kamu
termasuk orang-orang yang benar.’” (QS. Al-‘Ankabut: 29)
Mereka adalah
pihak yang paling menyukai hancurnya kehormatan umat Islam.
﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ
فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang ingin agar perbuatan keji tersebar di kalangan orang-orang
yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di Akhiroh. Dan Alloh
mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)
Kejahatan
ini tidak berhenti pada urusan kamar semata, melainkan merembet mencuci otak
generasi penerus. Mereka menyelundupkan ideologi gender liar melalui buku
anak-anak dan kurikulum pendidikan, mengubah sistem keamanan sosial menjadi
lingkungan yang melegalkan kehancuran sejak dini.
Bab 3: Kerusakan Akal para Pembela
Penyimpangan
3.1
Penolakan terhadap Ayat Alloh ﷻ
Akal yang
sehat akan tunduk pada bukti kebenaran. Para pembela penyimpangan menolak
tanda-tanda kekuasaan Alloh ﷻ karena kesombongan yang membatu di dalam dada mereka.
﴿سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ
فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا
وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ
الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا
عَنْهَا غَافِلِينَ﴾
“Aku akan memalingkan
orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dari
tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak
beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk,
mereka tidak mau menempuhnya sebagai jalan hidup. Tetapi jika mereka melihat
jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka
mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (QS. Al-A’rof:
146)
﴿وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا
عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ يَرَوْا
كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ
كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾
“Dan di
antara mereka ada orang yang mendengarkan bacaanmu, padahal Kami telah
meletakkan tutupan di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya, dan
(Kami meletakkan) penyumbat di telinga mereka. Dan jikalau mereka melihat
setiap tanda kekuasaan-Ku, mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga
apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu
berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.’” (QS. Al-An’am:
25)
Kesombongan
menolak kebenaran adalah akar kehancuran akal manusia.
«الْكِبْرُ
بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Kesombongan
adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Bukti
kerusakan ini terlihat pada gerakan pendukung liwath modern yang menolak fakta
penciptaan laki-laki dan wanita. Mereka menepis dalil syariat yang pasti demi
memaksakan khayalan gender buatan mereka sendiri.
3.2
Pemutarbalikan Makna Dalil demi Mengikuti Hawa Nafsu
Para
pembela kejahatan berupaya mengubah makna ayat dan Hadits untuk melegalkan kemaksiatan.
﴿فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ
وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا
حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا
قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Maka
karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati
mereka keras membatu. Mereka mengubah perkataan (Alloh) dari tempat-tempatnya,
dan mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka,
dan kamu senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di
antara mereka.” (QS. Al-Ma’idah: 13)
﴿أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ
كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ
مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾
“Apakah
kalian masih mengharapkan mereka akan beriman kepadamu, padahal sungguh ada
segolongan dari mereka yang mendengar firman Alloh, lalu mereka mengubahnya
setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (QS. Al-Baqoroh: 75)
Membuat
rekayasa hukum penyesatan membawa bagian dosa dari seluruh pengikutnya.
«مَنْ
سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ
عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»
“Dan siapa
membuat-buat suatu jalan yang buruk dalam Islam, maka atasnya dosanya dan dosa
orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka
sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)
Penyimpangan
penafsiran seperti klaim bahwa adzab kaum Nabi Luth disebabkan penolakan
memuliakan tamu atau gaya seks yang kasar —seperti ucapan kaum liberal masa
kini, bukan karena perbuatan sodomi, adalah bentuk pengubahan makna dalil
secara lancang. Ibnu Katsir (774 H) rohimahulloh menegaskan bahwa
perbuatan keji mendatangi sesama lelaki adalah inti kebinasaan mereka.
3.3
Kebutaan Logika akibat Syubhat dan Tipu Daya Syaithon
Mengikuti
suara mayoritas penyeru kebatilan melumpuhkan akal sehat.
﴿وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ
يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا
يَخْرُصُونَ﴾
“Dan jika
kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Al-An’am:
116)
﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ
الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا
يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ
بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ﴾
“Dan
sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat
Alloh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS.
Al-A’rof: 179)
Syaithon
membungkus keharoman samar dengan peristilahan indah.
«الحَلاَلُ
بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ
مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ»
“Yang halal
itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat
perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka siapa
memelihara diri dari perkara-perkara samar, sungguh dia telah membersihkan
agama dan kehormatannya.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)
Syubhat
modern menyamarkan kejahatan liwath dengan nama hak asasi dan cinta kasih
sesama. Akal lumpuh tidak lagi sanggup membedakan antara kemuliaan fithroh dan
kejahatan hewaniah.
Bab 4: Kerusakan Jiwa Pembela
Kejahatan
4.1
Kerasnya Hati dari Menerima Kebenaran dan Peringatan
Maksiat
yang menumpuk membakar kepekaan jiwa hingga hati membatu.
﴿ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ
فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ
مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَّشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ
وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا
تَعْمَلُونَ﴾
“Kemudian
setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.
Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai
daripadanya dan sungguh di antaranya ada yang terbelah lalu keluarlah mata air
daripadanya dan sungguh di antaranya ada yang meluncur jatuh, karena takut
kepada Alloh. Dan Alloh sekali-kali tidak lalai dari apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Al-Baqoroh: 74)
﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 14)
Kekufuran
dan kemaksiatan merusak kelurusan hati hingga menolak petunjuk.
«تُعْرَضُ
الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا،
نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ
بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا
تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا
كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا
مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ»
“Fitnah-fitnah
akan ditawarkan kepada hati seperti tikar yang dianyam sebatang demi sebatang.
Hati mana pun yang menyerapnya akan dititikkan padanya titik hitam, dan hati
mana pun yang menolaknya akan dititikkan padanya titik putih, hingga hati
menjadi dua jenis: hati yang putih bersih seperti batu licin yang tidak akan
terganggu oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada, dan hati yang hitam
keabu-abuan seperti cangkir terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak menolak
kemungkaran, kecuali apa yang diserap oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim no.
144)
4.2
Hilangnya Rasa Malu dalam Diri
Rasa malu
dan cemburu Syar’i adalah pelindung kehormatan yang runtuh pada diri pembela
penyimpangan.
«الْإِيمَانُ
بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ
شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»
“Iman itu
ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan Laa ilaha
illalloh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa
malu adalah cabang dari iman.” (HR. Al-Bukhori no. 9 dan lafazh Muslim
no. 35)
«إِنَّ
مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ
فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»
“Sesungguhnya
di antara apa yang didapati manusia dari perkataan kenabian yang pertama
adalah: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhori
no. 6120)
Pembiaran
kemaksiatan dalam keluarga menghapus pandangan rohmat Alloh ﷻ di
hari Qiyamah.
«ثَلَاثَةٌ
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ،
وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ»
“Ada 3
golongan yang Alloh tidak akan melihat kepada mereka pada hari Qiyamah (dengan
pandangan rohmat): orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang
menyerupai laki-laki, dan dayyuts (lelaki yang tidak memiliki cemburu Syar’i
terhadap kejahatan di keluarganya).” (HSR. An-Nasa’i no. 2562)
Hilangnya
cemburu Syar’i tercermin dari orang tua yang bangga melihat anaknya mendukung
festival parade kejahatan seksual sesama jenis.
4.3
Waspada Semakin Kaya dan Sehat Padahal LBGT
Kelimpahan
harta dan wewenang bagi pendukung penyimpangan bukanlah keagungan, melainkan
jebakan pembantaian tak terlihat.
﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ
بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ﴾
“Maka
tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami
pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila
mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa
mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka diam berputus asa.” (QS.
Al-An’am: 44)
﴿وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ
مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Dan orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan
berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS.
Al-A’rof: 182)
Nabi ﷺ memberikan tolok ukur nyata
tentang hakikat Istidroj.
«إِذَا
رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ،
فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»
“Jika
engkau melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia atas
perbuatan-perbuatan maksiatnya sesuai dengan apa yang disukainya, maka
sesungguhnya itu hanyalah istidroj.” (HHR. Ahmad no. 17311)
Bab 5: Dosa Mendukung Kebathilan
dan Bahayanya bagi Umat
5.1
Ancaman Alloh ﷻ bagi
Orang yang Menyukai Menyebarnya Kekejian
Kecondongan
hati dan dukungan penuh pada kaum pendosa mengaitkan siksa yang sama.
﴿وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا
فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا
تُنْصَرُونَ﴾
“Dan
janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zholim yang menyebabkan
kalian disentuh api Neraka, dan kalian tidak mempunyai seorang pelindung pun
selain daripada Alloh, kemudian kalian tidak akan ditolong.” (QS. Hud: 113)
Duduk dan
bergabung dalam forum yang melegalkan pembangkangan hukum Alloh ﷻ
menjadikan pelakunya setara.
﴿وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ
أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا
مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ
اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا﴾
“Dan
sungguh Alloh telah menurunkan aturan kepada kalian di dalam Al-Qur’an bahwa
apabila kalian mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh
orang-orang kafir), maka janganlah kalian duduk bersama mereka, sehingga mereka
memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian melakukan
demikian), tentulah kalian serupa dengan mereka. Sesungguhnya Alloh akan
mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam
semuanya.” (QS. An-Nisa: 140)
Kewajiban
merubah kemungkaran berlaku mutlak bagi setiap Mu’min.
«مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ،
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
“Siapa di
antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan
tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka
dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR.
Muslim no. 49)
5.2
Turunnya Adzab dan Kerusakan Sosial akibat Pembiaran
Penyiksaan
akhir dari pembiaran maksiat menimpa seluruh lapisan masyarakat.
﴿فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ
مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ
مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمَنْ هُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ
وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ﴾
“Maka
masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka
ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada
yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami
benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan
Alloh sekali-kali tidak hendak aniaya terhadap mereka, akan tetapi merekalah
yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-‘Ankabut: 40)
«إِنَّ
النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ، أَوْشَكَ أَنْ
يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ»
“Sesungguhnya
manusia jika melihat orang zholim lalu tidak memegang tangannya
(menghentikannya), hampir-hampir Alloh akan meratakan adzab-Nya kepada mereka
semua.” (HSR. Abu Dawud no. 4338)
Umat Islam
diibaratkan penumpang kapal yang harus saling mencegah kehancuran.
«مَثَلُ
القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا
عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ
الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ،
فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا،
فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ
نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا»
“Perumpamaan
orang yang menegakkan hukum-hukum Alloh dan orang yang melanggarnya adalah
seperti kaum yang mengundi tempat di atas kapal. Sebagian mendapatkan tempat di
atas dan sebagian di bawah. Orang yang berada di bawah jika mengambil air harus
melewati orang di atasnya. Mereka berkata: ‘Seandainya kita lubangi saja bagian
kita agar tidak mengganggu orang di atas kita.’ Jika mereka membiarkannya,
niscaya binasalah seluruhnya. Dan jika mereka mencegahnya, niscaya selamatlah
mereka dan selamatlah seluruhnya.” (HR. Al-Bukhori no. 2493)
5.3
Bahaya Kerjasama dalam Dosa dan Permusuhan
Tolong-menolong
harus berdiri di atas landasan taqwa, bukan dalam perbuatan harom.
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ
شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan
tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kalian kepada
Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Orang
munafik saling mendukung penyebaran perkara mungkar.
﴿الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ
مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ
أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾
“Orang-orang
munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah
sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan
mereka menggenggamkan tangannya (bersikap kikir). Mereka telah lupa kepada
Alloh, maka Alloh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah
orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 67)
Persaudaraan
Islam menuntut pertolongan dengan menghentikan kezholiman.
«الْمُسْلِمُ
أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ»
“Seorang
Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh menzholiminya dan
tidak boleh membiarkannya disakiti.” (HR. Muslim no. 2564)
Bab 6: Benteng Jiwa serta Keluarga
6.1
Keharusan Bertaubat dan Kembali kepada Fithroh Suci
Pintu
taubat senantiasa terbuka bagi mereka yang hendak meninggalkan kemaksiatan
liwath dan pembenarannya.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى
اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang
semurni-murninya, mudah-mudahan Robb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan
kalian dan memasukkan kalian ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8)
﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى
أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ
جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Katakanlah:
‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kalian berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Taubat
menghapuskan jejak noda dosa secara utuh.
«التَّائِبُ
مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ»
“Orang yang
bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak ada dosa baginya.” (HSR.
Ibnu Majah no. 4250)
6.2
Memperkuat Taqwa dan Ilmu Syar’i sebagai Perisai
Menjaga
pandangan dan kemaluan adalah pondasi taqwa.
﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾
“Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Seharusnya mereka menahan pandanganya,
dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur:
30)
﴿وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ
وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ﴾
“Katakanlah
kepada wanita yang beriman: ‘Seharusnya mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya.’” (QS. An-Nur: 31)
Menuntut
ilmu Syar’i adalah kewajiban individu untuk membentengi jiwa dari propaganda
sesat.
«طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
“Menuntut
ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim.” (HSR. Ibnu Majah no. 224)
6.3
Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Da’wah
Umat
terpilih berdiri dengan keteguhan da’wah mencegah kemungkaran.
﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى
الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ
هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Dan
hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)
﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾
“Kalian
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf,
dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh.” (QS. Ali ‘Imron:
110)
Meninggalkan
amar ma’ruf nahi mungkar menyebabkan doa tertolak.
«وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ
لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ
فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»
“Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus menyuruh kepada
yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau hampir-hampir Alloh akan
mengirimkan siksaan dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa
kepada-Nya namun tidak dikabulkan.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2169)
Penutup
Keselamatan
fithroh manusia hanya diraih dengan memegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah di atas
pemahaman Salafus Sholih. Segala bentuk penyimpangan seksual liwath dan sihaq
serta propaganda pembelaannya adalah kejahatan yang merusak akal dan meracuni
jiwa.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh sebenar-benar taqwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imron: 102)
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Alloh dan katakanlah
perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
﴿يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾
“Niscaya
Alloh memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengampuni bagi kalian
dosa-dosa kalian. Dan siapa mentaati Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya ia
telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71)
Petunjuk
terbaik adalah petunjuk Nabi ﷺ.
«فَإِنَّ
خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Maka
sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang
diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim
no. 867)
Semoga Alloh ﷻ memelihara kita, keluarga kita, dan seluruh kaum Mu’minin dari kerusakan akal dan jiwa kaum penyimpang serta para pembelanya. Walhamdulillahi Robbil ‘Alamin.
