Cari Ebook

[PDF] Kerusakan Akal dan Jiwa Pembela LGBT - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh . Sholawat dan salam untuk Rosul-Nya.

Amma ba’du:

Alloh berfirman:

﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam). Tetaplah di atas fithroh Alloh yang Dia telah menciptakan manusia menurut fithroh itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Alloh. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)

Alloh menciptakan manusia dengan fithroh yang suci. Penyimpangan berupa ketertarikan kepada sesama jenis dan segala bentuk perusakan gender adalah bentuk hilangnya akal dan kebinasaan jiwa.

«مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

“Setiap anak dilahirkan di atas fithroh, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nashroni, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhori no. 1358 dan Muslim no. 2658)

Membela kaum pembuat kerusakan ini adalah dosa besar yang mendatangkan kemurkaan dari langit. Para pembela kejahatan ini berdalih menuntut hak asasi, padahal mereka sedang menghancurkan kemanusiaan itu sendiri.

﴿وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِين

“Dan (ingatlah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Apakah kalian mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di alam semesta sebelum kalian?’” (QS. Al-A’rof: 80)

﴿إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Sesungguhnya kalian mendatangi para lelaki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada wanita, bahkan kalian adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’rof: 81)

Klaim perbaikan yang diusung oleh para pembela penyimpangan hanyalah tipu daya.

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.’” (QS. Al-Baqoroh: 11)

﴿أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (QS. Al-Baqoroh: 12)

Tujuan penciptaan manusia adalah ibadah semata, bukan mengikuti hawa nafsu hewaniah yang merendahkan martabat.

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Bab 1: Fithroh Menyukai Lawan Jenis

1.1 Penciptaan Manusia Berpasangan dan Kemuliaan Nasab

Manusia diciptakan berpasangan antara laki-laki dan wanita untuk menjaga keturunan dan kemuliaan nasab di muka bumi.

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu (Adam), dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa dari tulang rusuk Adam), dan mengembangbiakkan dari keduanya banyak laki-laki dan wanita. Dan bertaqwalah kepada Alloh yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturrohim. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa: 1)

Alloh menjadikan pasangan laki-laki dan wanita sebagai ketetapan penciptaan bagi alam semesta.

﴿وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kalian mengingat (kebesaran Alloh).” (QS. Az-Zariyat: 49)

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Alloh adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurot: 13)

Nabi memerintahkan pernikahan yang sesuai syariat untuk menjaga pandangan dan kehormatan.

«مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ»

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah, maka menikahlah, karena sesungguhnya ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan siapa yang belum mampu, maka wajib atasnya berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah perisai baginya.” (HR. Al-Bukhori no. 1905 dan Muslim no. 1400)

﴿وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya kalian yang perempuan. Jika mereka miskin, Alloh akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)

Pernikahan laki-laki dan wanita melahirkan nasab yang suci. Sebaliknya, pernikahan sesama jenis menolak fithroh tersebut. Kasus adopsi anak oleh pasangan menyimpang sering kali berujung pada kerusakan mental anak yang hidup tanpa figur ayah dan ibu yang hakiki, menghancurkan masa depan generasi secara masif.

1.2 Kesucian Fithroh dalam Pemeliharaan Syariat Alloh

Alloh memerintahkan manusia menjaga fithroh murni dari makar jahat syaithon.

﴿وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

“Dan pasti aku akan menyesatkan mereka, dan pasti aku akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan pasti aku akan menyuruh mereka memotong telinga hewan ternak, dan pasti aku akan menyuruh mereka mengubah ciptaan Alloh. Dan siapa menjadikan syaithon sebagai pelindung selain Alloh, maka sungguh dia telah menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa: 119)

Ketersesatan akal membuat para pelaku menganggap keburukan memuakkan sebagai kebaikan yang layak diperjuangkan.

﴿أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Maka apakah orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya lalu dia menganggapnya baik (sama dengan orang yang diberi petunjuk)? Maka sesungguhnya Alloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka janganlah jiwamu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fathir: 8)

Penyimpangan ini dilaknat secara tegas oleh lisan yang mulia.

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»

“Rosululloh melaknat para lelaki yang menyerupai wanita, dan para wanita yang menyerupai lelaki.” (HR. Al-Bukhori no. 5885)

﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Praktik mutilasi medis lewat operasi kelamin serta terapi hormon berbahaya yang difasilitasi oleh para pembela penyimpangan di masa kini adalah bukti nyata ketundukan mereka pada perintah syaithon untuk mengubah ciptaan Alloh .

1.3 Hikmah Syar’i dalam Pernikahan Laki-Laki dan Wanita

Pernikahan syar’i membawa ketenangan batin yang tidak akan pernah direngkuh oleh para pendosa sesama jenis.

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Pelaku penyimpangan tersiksa oleh kegelisahan jiwa yang berkepanjangan karena menabrak hukum penciptaan dan hukum syariat sekaligus.

﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“Dan Alloh menjadikan bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri, dan menjadikan bagi kalian dari pasangan kalian anak-anak dan cucu-cucu, serta memberi kalian rizqi dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni’mat Alloh?” (QS. An-Nahl: 72)

Keluarga Mu’min senantiasa menengadahkan tangan demi lahirnya keturunan yang sholih.

﴿وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.’” (QS. Al-Furqon: 74)

Nabi membanggakan umatnya dengan memperbanyak keturunan suci.

«تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ»

“Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat pada hari Qiyamah.” (HSR. Abu Dawud no. 2050)

 

Bab 2: Penyimpangan Liwath dan Sihaq

2.1 Keharoman Liwath dan Adzab bagi Pelakunya

Liwath (homoseks) adalah seburuk-buruk kekejian yang pelakunya pantas dihapuskan dari muka bumi.

﴿فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُود

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)

﴿مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

“Yang diberi tanda oleh Robbmu, dan azab itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zholim.” (QS. Hud: 83)

Proses pembinasaan mereka sangat mengerikan dan cepat.

﴿فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِين

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari akan terbit.” (QS. Al-Hijr: 73)

﴿فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

“Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.” (QS. Al-Hijr: 74)

Liwath mengundang laknat yang berlapis-lapis dari lisan Nabi .

«لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ»

“Alloh melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Alloh melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Alloh melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” (HHR. Ahmad no. 2915)

Hukuman syariat di dunia bagi pelaku liwath teramat keras untuk memutus mata rantai kerusakan.

«مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ»

“Siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HSR. Abu Dawud no. 4462)

Penyakit menular mematikan yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh kaum liwath di zaman ini merupakan tamparan keras dan hukuman duniawi yang disegerakan. Ibnu Taimiyyah (728 H) dan Ibnu Qoyyim (751 H) rohimahumalloh menegaskan bahwa tingkat kerusakan liwath melampaui zina karena ia membalikkan tatanan alam kehidupan.

2.2 Dosa Sihaq di Antara Wanita dan Perusak Rumah Tangga

Sihaq (lesbi: wanita menjimak waanita) adalah pelampiasan syahwat menyimpang antar wanita yang mencabik-cabik kehormatan.

﴿وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya.” (QS. Al-Mu’minun: 5)

﴿إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

“Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS. Al-Mu’minun: 6)

﴿فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Maka siapa mencari selain dari itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun: 7)

Nabi menutup rapat segala celah yang mengarah kepada sihaq.

«لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ»

“Janganlah seorang laki-laki melihat aurot laki-laki lain, dan janganlah seorang wanita melihat aurot wanita lain, dan janganlah seorang laki-laki berkumpul dengan laki-laki lain dalam satu selimut, dan janganlah seorang wanita berkumpul dengan wanita lain dalam satu selimut.” (HR. Muslim no. 338)

﴿وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An’am: 151)

Praktik sihaq mematikan kelembutan fithroh wanita. Banyak fakta menunjukkan para istri rela menghancurkan rumah tangganya, membuang suaminya, dan menelantarkan anak kandungnya demi merajut ikatan kotor bersama kawan wanitanya.

2.3 Kekejian yang Merusak Tatanan Kehidupan dan Keamanan

Membiarkan penyakit ini menular dengan kedok kebebasan berpendapat adalah bunuh diri massal.

﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Tersebarnya pembenaran terhadap kemaksiatan mengundang azab massal yang tiada tertolak.

«لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ، حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ، وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا»

“Tidaklah perbuatan keji (zina dan liwath) tampak pada suatu kaum sehingga mereka melakukannya secara terang-terangan, melainkan akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada nenek moyang mereka yang telah berlalu.” (HSR. Ibnu Majah no. 4019)

Para pembela LGBT gencar menuntut keistimewaan hukum dan menyingkirkan siapa pun yang menentang mereka, persis sebagaimana kesombongan kaum terdahulu.

﴿أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Apakah sesungguhnya kalian patut mendatangi laki-laki, menyamun (merampok) dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan kalian? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Datangkanlah kepada kami azab Alloh, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’” (QS. Al-‘Ankabut: 29)

Mereka adalah pihak yang paling menyukai hancurnya kehormatan umat Islam.

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan keji tersebar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di Akhiroh. Dan Alloh mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)

Kejahatan ini tidak berhenti pada urusan kamar semata, melainkan merembet mencuci otak generasi penerus. Mereka menyelundupkan ideologi gender liar melalui buku anak-anak dan kurikulum pendidikan, mengubah sistem keamanan sosial menjadi lingkungan yang melegalkan kehancuran sejak dini.

 

Bab 3: Kerusakan Akal para Pembela Penyimpangan

3.1 Penolakan terhadap Ayat Alloh

Akal yang sehat akan tunduk pada bukti kebenaran. Para pembela penyimpangan menolak tanda-tanda kekuasaan Alloh karena kesombongan yang membatu di dalam dada mereka.

﴿سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya sebagai jalan hidup. Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (QS. Al-A’rof: 146)

﴿وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan bacaanmu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya, dan (Kami meletakkan) penyumbat di telinga mereka. Dan jikalau mereka melihat setiap tanda kekuasaan-Ku, mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.’” (QS. Al-An’am: 25)

Kesombongan menolak kebenaran adalah akar kehancuran akal manusia.

«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Bukti kerusakan ini terlihat pada gerakan pendukung liwath modern yang menolak fakta penciptaan laki-laki dan wanita. Mereka menepis dalil syariat yang pasti demi memaksakan khayalan gender buatan mereka sendiri.

3.2 Pemutarbalikan Makna Dalil demi Mengikuti Hawa Nafsu

Para pembela kejahatan berupaya mengubah makna ayat dan Hadits untuk melegalkan kemaksiatan.

﴿فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Maka karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka mengubah perkataan (Alloh) dari tempat-tempatnya, dan mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka, dan kamu senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka.” (QS. Al-Ma’idah: 13)

﴿أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Apakah kalian masih mengharapkan mereka akan beriman kepadamu, padahal sungguh ada segolongan dari mereka yang mendengar firman Alloh, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (QS. Al-Baqoroh: 75)

Membuat rekayasa hukum penyesatan membawa bagian dosa dari seluruh pengikutnya.

«مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»

“Dan siapa membuat-buat suatu jalan yang buruk dalam Islam, maka atasnya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

Penyimpangan penafsiran seperti klaim bahwa adzab kaum Nabi Luth disebabkan penolakan memuliakan tamu atau gaya seks yang kasar —seperti ucapan kaum liberal masa kini, bukan karena perbuatan sodomi, adalah bentuk pengubahan makna dalil secara lancang. Ibnu Katsir (774 H) rohimahulloh menegaskan bahwa perbuatan keji mendatangi sesama lelaki adalah inti kebinasaan mereka.

3.3 Kebutaan Logika akibat Syubhat dan Tipu Daya Syaithon

Mengikuti suara mayoritas penyeru kebatilan melumpuhkan akal sehat.

﴿وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Al-An’am: 116)

﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’rof: 179)

Syaithon membungkus keharoman samar dengan peristilahan indah.

«الحَلاَلُ بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ»

“Yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka siapa memelihara diri dari perkara-perkara samar, sungguh dia telah membersihkan agama dan kehormatannya.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)

Syubhat modern menyamarkan kejahatan liwath dengan nama hak asasi dan cinta kasih sesama. Akal lumpuh tidak lagi sanggup membedakan antara kemuliaan fithroh dan kejahatan hewaniah.

 

Bab 4: Kerusakan Jiwa Pembela Kejahatan

4.1 Kerasnya Hati dari Menerima Kebenaran dan Peringatan

Maksiat yang menumpuk membakar kepekaan jiwa hingga hati membatu.

﴿ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَّشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan sungguh di antaranya ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan sungguh di antaranya ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Alloh. Dan Alloh sekali-kali tidak lalai dari apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh: 74)

﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 14)

Kekufuran dan kemaksiatan merusak kelurusan hati hingga menolak petunjuk.

«تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ»

“Fitnah-fitnah akan ditawarkan kepada hati seperti tikar yang dianyam sebatang demi sebatang. Hati mana pun yang menyerapnya akan dititikkan padanya titik hitam, dan hati mana pun yang menolaknya akan dititikkan padanya titik putih, hingga hati menjadi dua jenis: hati yang putih bersih seperti batu licin yang tidak akan terganggu oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada, dan hati yang hitam keabu-abuan seperti cangkir terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak menolak kemungkaran, kecuali apa yang diserap oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144)

4.2 Hilangnya Rasa Malu dalam Diri

Rasa malu dan cemburu Syar’i adalah pelindung kehormatan yang runtuh pada diri pembela penyimpangan.

«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»

“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan Laa ilaha illalloh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah cabang dari iman.” (HR. Al-Bukhori no. 9 dan lafazh Muslim no. 35)

«إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»

“Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhori no. 6120)

Pembiaran kemaksiatan dalam keluarga menghapus pandangan rohmat Alloh di hari Qiyamah.

«ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ»

“Ada 3 golongan yang Alloh tidak akan melihat kepada mereka pada hari Qiyamah (dengan pandangan rohmat): orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayyuts (lelaki yang tidak memiliki cemburu Syar’i terhadap kejahatan di keluarganya).” (HSR. An-Nasa’i no. 2562)

Hilangnya cemburu Syar’i tercermin dari orang tua yang bangga melihat anaknya mendukung festival parade kejahatan seksual sesama jenis.

4.3 Waspada Semakin Kaya dan Sehat Padahal LBGT

Kelimpahan harta dan wewenang bagi pendukung penyimpangan bukanlah keagungan, melainkan jebakan pembantaian tak terlihat.

﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka diam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

﴿وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’rof: 182)

Nabi memberikan tolok ukur nyata tentang hakikat Istidroj.

«إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»

“Jika engkau melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia atas perbuatan-perbuatan maksiatnya sesuai dengan apa yang disukainya, maka sesungguhnya itu hanyalah istidroj.” (HHR. Ahmad no. 17311)

 

Bab 5: Dosa Mendukung Kebathilan dan Bahayanya bagi Umat

5.1 Ancaman Alloh bagi Orang yang Menyukai Menyebarnya Kekejian

Kecondongan hati dan dukungan penuh pada kaum pendosa mengaitkan siksa yang sama.

﴿وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zholim yang menyebabkan kalian disentuh api Neraka, dan kalian tidak mempunyai seorang pelindung pun selain daripada Alloh, kemudian kalian tidak akan ditolong.” (QS. Hud: 113)

Duduk dan bergabung dalam forum yang melegalkan pembangkangan hukum Alloh menjadikan pelakunya setara.

﴿وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

“Dan sungguh Alloh telah menurunkan aturan kepada kalian di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kalian duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian melakukan demikian), tentulah kalian serupa dengan mereka. Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam semuanya.” (QS. An-Nisa: 140)

Kewajiban merubah kemungkaran berlaku mutlak bagi setiap Mu’min.

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

“Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)

5.2 Turunnya Adzab dan Kerusakan Sosial akibat Pembiaran

Penyiksaan akhir dari pembiaran maksiat menimpa seluruh lapisan masyarakat.

﴿فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمَنْ هُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Alloh sekali-kali tidak hendak aniaya terhadap mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-‘Ankabut: 40)

«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ»

“Sesungguhnya manusia jika melihat orang zholim lalu tidak memegang tangannya (menghentikannya), hampir-hampir Alloh akan meratakan adzab-Nya kepada mereka semua.” (HSR. Abu Dawud no. 4338)

Umat Islam diibaratkan penumpang kapal yang harus saling mencegah kehancuran.

«مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا»

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Alloh dan orang yang melanggarnya adalah seperti kaum yang mengundi tempat di atas kapal. Sebagian mendapatkan tempat di atas dan sebagian di bawah. Orang yang berada di bawah jika mengambil air harus melewati orang di atasnya. Mereka berkata: ‘Seandainya kita lubangi saja bagian kita agar tidak mengganggu orang di atas kita.’ Jika mereka membiarkannya, niscaya binasalah seluruhnya. Dan jika mereka mencegahnya, niscaya selamatlah mereka dan selamatlah seluruhnya.” (HR. Al-Bukhori no. 2493)

5.3 Bahaya Kerjasama dalam Dosa dan Permusuhan

Tolong-menolong harus berdiri di atas landasan taqwa, bukan dalam perbuatan harom.

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Orang munafik saling mendukung penyebaran perkara mungkar.

﴿الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (bersikap kikir). Mereka telah lupa kepada Alloh, maka Alloh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 67)

Persaudaraan Islam menuntut pertolongan dengan menghentikan kezholiman.

«الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ»

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh menzholiminya dan tidak boleh membiarkannya disakiti.” (HR. Muslim no. 2564)

 

Bab 6: Benteng Jiwa serta Keluarga

6.1 Keharusan Bertaubat dan Kembali kepada Fithroh Suci

Pintu taubat senantiasa terbuka bagi mereka yang hendak meninggalkan kemaksiatan liwath dan pembenarannya.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Robb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8)

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Taubat menghapuskan jejak noda dosa secara utuh.

«التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ»

“Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak ada dosa baginya.” (HSR. Ibnu Majah no. 4250)

6.2 Memperkuat Taqwa dan Ilmu Syar’i sebagai Perisai

Menjaga pandangan dan kemaluan adalah pondasi taqwa.

﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Seharusnya mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur: 30)

﴿وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Seharusnya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.’” (QS. An-Nur: 31)

Menuntut ilmu Syar’i adalah kewajiban individu untuk membentengi jiwa dari propaganda sesat.

«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»

“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim.” (HSR. Ibnu Majah no. 224)

6.3 Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Da’wah

Umat terpilih berdiri dengan keteguhan da’wah mencegah kemungkaran.

﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh.” (QS. Ali ‘Imron: 110)

Meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar menyebabkan doa tertolak.

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau hampir-hampir Alloh akan mengirimkan siksaan dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun tidak dikabulkan.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2169)

 

Penutup

Keselamatan fithroh manusia hanya diraih dengan memegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman Salafus Sholih. Segala bentuk penyimpangan seksual liwath dan sihaq serta propaganda pembelaannya adalah kejahatan yang merusak akal dan meracuni jiwa.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imron: 102)

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

﴿يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Niscaya Alloh memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan siapa mentaati Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71)

Petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi .

«فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

Semoga Alloh memelihara kita, keluarga kita, dan seluruh kaum Mu’minin dari kerusakan akal dan jiwa kaum penyimpang serta para pembelanya. Walhamdulillahi Robbil ‘Alamin.

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini