[PDF] Taubatnya Tokoh-Tokoh Utama Asya'iroh - Firos bin Muhammad Ar-Rifa'i
Rekomendasi Syaikh As-Suhaimi
﷽
Segala puji
bagi Alloh semata, dan semoga sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada
Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para Shohabat beliau.
Amma ba’du:
Saya telah
membaca penelitian yang diajukan oleh saudara, seorang Syaikh, Firos bin
Muhammad Said Jandal Ar-Rifa’i, yang berjudul “Taubatnya Tokoh-Tokoh Utama Asya’iroh”,
yang kemudian diikuti dengan lampiran ringkas “Empat Madzhab Mengkritik
Asya’iroh.”
Saya
mendapati karya ini sebagai sebuah penelitian yang
sangat bagus lagi bermanfaat, yang memiliki keunggulan dalam hal otentisitas
rujukan, ketepatan informasi beserta pendasaran teoritisnya, keindahan gaya bahasa,
keselamatan tutur kata, serta kebagusan dalam pengorganisasian maupun
penyusunan. Saya menilai bahwa ini adalah sebuah penelitian yang sangat
berharga, layak untuk diterbitkan, dan mendatangkan manfaat bagi kaum Muslimin
secara umum, khususnya bagi para penuntut ilmu.
Semoga
Alloh membalas peneliti dengan kebaikan atas usahanya dalam menyusun penelitian
ini, dan menjadikannya bermanfaat bagi Islam beserta kaum Muslimin.
Semoga
sholawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, juga
kepada keluarga dan para Shohabat beliau seluruhnya.
Dikte ini
disampaikan oleh seorang yang faqir yang mengharapkan ampunan Robbnya,
Sholih bin
Sa’ad As-Suhaimi
Pada tanggal
8 Romadhon 1443 H.
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh, Robb semesta alam.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada pemimpin para Rosul, penutup para
Nabi, dan imam bagi orang-orang yang bertaqwa, juga kepada keluarga dan para
Shohabat beliau seluruhnya, serta setiap orang yang berjalan di atas jalan
mereka hingga hari pembalasan.
Amma ba’du;
Sesungguhnya
Aqidah Islam merupakan ikatan yang menghubungkan seorang hamba dengan Robbnya.
Nash-nash syariat pun telah datang dengan membawa perintah untuk bersatu di
atas satu Aqidah yang sama. Di antara hal tersebut adalah firman-Nya Subhanahu
wa Ta’ala:
﴿وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾
“Dan
berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Robbmu, dan janganlah kamu
bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imron: 103)
Hanya saja,
hikmah Alloh Jalla Jalaluhu telah menetapkan bahwa kaum Muslimin akan
terpecah-pecah dalam Aqidah mereka menjadi berbagai macam golongan dan jalan
yang berbeda-beda. Tidak ada satu pun di antara golongan tersebut yang
mendapatkan pertolongan di dunia dan keselamatan di Akhiroh melainkan hanya
satu golongan saja, yaitu mereka yang berada di atas pemahaman yang memisalkan
apa yang dipegang oleh Nabi ﷺ
bersama para Shohabat beliau, di setiap waktu dan tempat.
Sesungguhnya
di antara golongan umat Islam yang menyelisihi jalan yang selamat dan jalan
yang lurus adalah sebuah golongan yang muncul setelah abad ke-3 Hijriyyah, yang
dikenal dengan nama Asya’iroh atau Asy’ariyyah, yang menyandarkan diri mereka
kepada Abu Al-Hasan Al-Asy’ari rohimahulloh (324 H).
Asya’iroh
merupakan sebuah golongan Islam yang fondasi pemikirannya dibangun di atas
tindakan mendahulukan akal para pendiri mereka daripada nash-nash
syariat. Mereka bersandar pada ilmu kalam dan logika dalam menggali kompas Aqidah
mereka, yang mana pemikiran tersebut mereka serap dari pemeluk Mu’tazilah.
Meski
demikian, mereka menyelisihi Mu’tazilah dalam beberapa pokok pemikiran ini, dan
memaksakan diri untuk membantah kaum Mu’tazilah dengan menggunakan prinsip-prinsip
pemikiran yang menjadi landasan tumbuhnya madzhab kedua golongan tersebut!
Akibatnya, mereka menyepakati Mu’tazilah dalam pokok-pokok pengambilan dalil,
namun menyelisihi Mu’tazilah dalam hal Aqidah batil yang melampaui batas. Oleh
karena itulah, muncul suatu ungkapan: “Sesungguhnya Asya’iroh adalah
kebanci-banciannya Mu’tazilah!”[1]
Masalah
pengkultusan akal di kalangan Asya’iroh, serta tindakan menempatkan akal pada
kedudukan di atas nash-nash syariat, senantiasa menempati posisi seperti
seorang ibu mandul yang mengadopsi Aqidah-Aqidah yang menyelisihi kemurnian
Al-Qur’an dan As-Sunnah!
Tidak ada
keraguan bahwa sumber yang jernih untuk menerima Aqidah Islam yang benar adalah
Al-Kitab dan As-Sunnah yang tsabit, bukan akal yang justru memegang kendali
atas nash-nash syariat, apalagi logika yang diimpor dari para filosof Yunani!
Konsep Kewajiban Pertama bagi
Mukallaf
Sesungguhnya
di antara Aqidah yang paling batil di kalangan Asya’iroh adalah tindakan mereka
yang mewajibkan sesuatu yang tidak sanggup dipikul oleh seorang Muslim. Mereka
menjadikan kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah meragukan keberadaan
Alloh[2],
yang kemudian diikuti dengan kewajiban melakukan penelaahan dan penalaran demi
meraih ma’rifat kepada Alloh; kemudian menetapkan keberadaan-Nya berdasarkan
kaidah-kaidah akal serta premis-premis logika![3]
Penyempitan Rohmat Alloh
Kemudian,
seolah-olah Asya’iroh ingin mempersempit rohmat Alloh Yang berfirman di dalam
Kitab-Nya:
﴿وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ﴾
“Dan
ingatlah ketika Robbmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka
dan Robb mengambil kesaksian terhadap diri mereka sendiri seraya berfirman, ‘Bukankah
Aku ini Robbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul Engkau Robb kami, kami
bersaksi.’ Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Qiyamah kamu tidak
mengatakan, ‘Sesungguhnya kami dahulu lalai terhadap ini.’” (QS. Al-A’rof:
172)
Dia
berfirman:
﴿فَأَقِمْ
وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا
تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ
لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam sesuai fitroh Alloh yang
Dia telah menciptakan manusia di atas fitroh itu. Tidak ada perubahan pada
ciptaan Alloh. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui..” (QS. Ar-Rum: 30)
Maka
sesungguhnya Asya’iroh telah menetapkan adanya 7 tuntutan yang berurutan
layaknya sebuah mata rantai, yang mana seorang Asy’ari menempuh hal tersebut
untuk sampai pada pembuktian keberadaan Alloh Ta’ala!
Ibrohim
Al-Baijuri yang berpemikiran Asy’ari mengatakan: “Dan 7 tuntutan ini tidak ada
yang mengetahuinya melainkan orang-orang yang mendalam ilmunya!”
Kemudian
dia berkata: As-Sanusi (895 H) mengatakan: “Dan dengannya seorang mukallaf akan
selamat dari 7 pintu jahannam”)![4]
Maka
renungkanlah bagaimana dia membatasi keselamatan dari Naar hanya bagi
orang-orang yang mendalam ilmunya saja. Konsekuensi dari ucapannya adalah bahwa
kebinasaan menjadi bagian bagi para ulama yang tidak mendalam ilmunya,
sedangkan bagi para penuntut ilmu serta orang awam dari kalangan Muslimin, maka
kebinasaan mereka tentu menjadi lebih pantas dan lebih utama lagi![5]
Kebingungan di Kalangan Tokoh Asya’iroh
Dan sebagai
bentuk dari sikap inshof (adil dan objektif), sesungguhnya mereka telah
berselisih pendapat mengenai hukum orang yang bertaqlid dalam masalah-masalah Aqidah.
Di antara mereka ada yang mengkafirkannya sebagaimana yang dinyatakan secara
tegas oleh As-Sanusi (895 H), dan di antara mereka ada pula yang memandangnya
sebagai orang yang bermaksiat secara mutlak hingga dia meninggalkan taqlid dan
menjadi seorang mujtahid! Di antara mereka ada juga yang memberikan udzur
(pemaafan) jika dia memang bukan orang yang memiliki keahlian untuk berijtihad,
akan tetapi hal yang mengherankan dalam urusan ini adalah ketiadaan sikap
saling mengingkari di antara sebagian mereka terhadap sebagian yang lain dalam
masalah ini, seolah-olah mereka menjadikannya sebagai bagian dari perselisihan
yang sa’igh (longgar dan diperbolehkan)![6]
Tatkala
bangunan Aqidah Asya’iroh berdiri di atas tepi jurang yang runtuh, maka menjadi
suatu keniscayaan akan munculnya rasa bimbang, keraguan, dan sikap yang
berpindah-pindah di antara lingkaran para tokoh utama serta pemuka mereka[7],
hingga keadaan mereka sampai pada apa yang disifatkan oleh “orang yang tidak
dituduh memiliki kebencian terhadap mereka”, yaitu Abu Hamid Al-Ghozali rohimahulloh
(505 H); yang mana beliau mengatakan:
«أكثرُ
النَّاسِ شَكًّا عند الموتِ أَهْلُ الكَلَام»
“Orang yang
paling banyak mengalami keraguan tatkala menjelang kematiannya adalah ahli
kalam.”[8]
Dan beliau rohimahulloh
(505 H) juga mengatakan: “Maka bandingkanlah Aqidah orang-orang yang memiliki
kesholihan dan taqwa dari kalangan orang awam dengan Aqidah para ahli kalam dan
orang-orang yang suka berdebat; niscaya kamu akan melihat i’tiqod (keyakinan)
orang awam dalam hal keteguhan adalah bagaikan gunung yang menjulang tinggi,
yang tidak dapat digoyahkan oleh berbagai petaka maupun petir yang menyambar.
Sementara itu, Aqidah ahli kalam yang menjaga keyakinannya dengan
pembagian-pembagian jidal (perdebatan) adalah bagaikan seutas benang yang
dilepaskan di udara, yang diterbangkan oleh angin sekali waktu ke arah sini dan
sekali waktu ke arah sana; kecuali orang di antara mereka yang mendengar dalil
keyakinan tersebut, lalu dia menangkapnya secara taqlid sebagaimana dia
menangkap inti keyakinan itu sendiri secara taqlid...”[9]
Pengakuan Atas Kelemahan Ilmu
Kalam
Dan beliau rohimahulloh
(505 H) berkata: “Dan demi umurku, sesungguhnya ilmu kalam itu tidak terlepas
dari menyingkap, mengenalkan, dan menjelaskan sebagian perkara, akan tetapi hal
itu jarang terjadi pada perkara-perkara yang jaliyyah (jelas) yang hampir-hampir
dapat dipahami sebelum adanya sikap ta’ammuq (terlalu mendalam) dalam
seni ilmu kalam.”[10]
Tatkala
dihadapkan kepada Al-‘Izz bin Abdissalam (660 H) sebuah kemusykilan yang
dibangun di atas Aqidah Asya’iroh yang berkaitan dengan Kalamulloh, beliau rohimahulloh
berkata: “Ini bukanlah kemusykilan pertama yang datang menimpa madzhab Al-Asy’ari.”[11]
Dan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh (728 H) mengatakan tentang
mereka: “Kamu akan mendapati mereka sebagai manusia yang paling besar keraguan
dan kegoncangannya, serta manusia yang paling lemah ilmu dan keyakinannya...
Dan hanyalah keutamaan salah seorang dari mereka berada pada kemampuannya untuk
melakukan penentangan, celaan, dan perdebatan! Dan telah diketahui bahwa
tindakan menentang dan mencela itu bukanlah suatu ilmu, dan tidak pula ada
kemanfaatan di dalamnya.”[12]
Beliau rohimahulloh
(728 H) juga berkata: “Bahkan kamu mendapati salah seorang dari mereka
mengumpulkan di antara dua hal yang kontradiktif, atau di antara pengangkatan
dua hal yang kontradiktif. Padahal dua hal yang kontradiktif—yang mana keduanya
merupakan penetapan dan penafian—tidak akan mungkin bersatu dan tidak pula
mungkin terangkat. Bahkan hal ini memberikan keraguan dan sikap waqf (bimbang
tanpa kepastian) bagi pemiliknya, sehingga dia terombang-ambing di antara dua
keyakinan yang saling bertolak belakang; yaitu antara penetapan dan penafian,
sebagaimana dia terombang-ambing di antara dua kehendak yang saling bertolak
belakang.
Dan ini
adalah keadaan orang-orang yang cerdik dari kalangan mereka, seperti Abu Al-Ma’ali
(478 H), Abu Hamid (505 H), Asy-Syahrostani (548 H), Ar-Rozi (606 H), dan
Al-Amidi (631 H). Adapun Ibnu Sina (428 H) dan yang semisalnya, maka mereka
lebih besar lagi kontradiksi dan kegoncangannya!”[13]
Beliau rohimahulloh
(728 H) juga berkata: “Seandainya aku mengumpulkan apa yang telah sampai
kepadaku dalam bab ini dari para pemuka mereka seperti si fulan dan si fulan,
niscaya hal itu akan menjadi sesuatu yang sangat banyak.”[14]
Abu Al-Fath
As-Syahrostani yang berpemikiran Asy’ari rohimahulloh (548 H)
melantunkan bait syair: “Demi umurku, sungguh aku telah mengelilingi seluruh
tempat menuntut ilmu itu, dan aku telah melayangkan pandanganku di antara
tanda-tanda peninggalan tersebut. Namun aku tidak melihat melainkan seseorang
yang meletakkan telapak tangannya di atas dagu dalam keadaan bingung, atau
seseorang yang mengetukkan giginya dalam keadaan penuh penyesalan!”[15]
Dan sungguh
kitab-kitab sejarah serta biografi telah menyebutkan kepada kita tentang
kembalinya banyak pemuka madzhab yang menyelisihi Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
ini, serta tobat mereka dari ilmu kalam dan thoriqoh (jalan) Asya’iroh,
sekaligus tindakan mereka dalam membuat para pengikut mereka lari menjauh
darinya.
Di antara
mereka ada yang berwasiat untuk memegangi keyakinan yang dahulu dipegang oleh Imam
Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rohimahulloh (241
H). Di antara mereka ada yang berharap mati di atas agama fitroh yang Alloh
ciptakan pada wanita-wanita tua di negerinya, yang mana mereka tidak ikut masuk
menyelami apa yang diselami oleh tokoh tersebut! Di antara mereka ada yang
disebutkan rujuknya dari rincian masalah-masalah tertentu dalam Aqidah Asya’iroh,
demi mencocoki Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di dalamnya. Di antara mereka
ada pula yang disebutkan mengenainya berbagai hal di akhir umurnya yang
mengisyaratkan kepada tobat dan rujuknya[16],
serta masih banyak lagi yang lainnya.
Dan ini
merupakan bagian dari karunia Alloh serta rohmat-Nya kepada umat Islam ini
beserta para ulamanya...
﴿وَتُوبُوا
إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung..” (QS. An-Nur: 31)
Lima Tokoh Besar Asya’iroh yang
Bertaubat
Dan di
antara para tokoh utama tersebut adalah:
1)
Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (wafat 324 H)
Al-Hafizh
Adz-Dzahabi rohimahulloh (748 H) mengatakan: “Aku telah melihat bagi Abu
Al-Hasan empat karya tulis dalam masalah ushul, yang beliau menyebutkan di
dalamnya kaidah-kaidah madzhab Salaf dalam hal sifat-sifat Alloh, dan beliau
mengatakan di dalamnya: ‘Biarkan ia (Hadits tentang Sifat Alloh) berlalu
sebagaimana datangnya’, kemudian beliau berkata: ‘Dan dengan itulah aku
berpendapat, dan dengannya aku beragama, serta tidak dita’wil’... Dan
setiap orang itu diambil ucapannya dan ditinggalkan; kecuali orang yang Alloh Ta’ala
jaga. Ya Alloh, tunjukilah kami dan rohmatilah kami.”[17]
Abu
Al-Hasan Al-Asy’ari rohimahulloh (324 H) mengatakan: “Ucapan kami yang
kami berpendapat dengannya, dan diyanah (keyakinan agama) kami yang kami
beragama dengannya adalah: berpegang teguh dengan Kitab Alloh Robb kami ‘Azza
wa Jalla, dan dengan Sunnah Nabi kita Muhammad ﷺ, serta apa yang diriwayatkan
dari para pemuka Shohabat, Tabi’in, dan para imam Ahli Hadits. Kami dengan hal
tersebut senantiasa berpegang teguh, dan dengan apa yang dahulu diucapkan oleh
Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal—semoga Alloh membuat wajahnya
berseri-seri, mengangkat derajatnya, dan melipatgandakan pahalanya—kami
berpendapat, dan bagi apa yang menyelisihi ucapannya kami menyelisihinya.
Dan... garis besar ucapan kami adalah: bahwa kami menetapkan keimanan kepada
Alloh, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rosul-Nya, dan dengan apa yang
mereka bawa dari sisi Alloh, serta apa yang diriwayatkan oleh para rowi yang
tsiqoh (terpercaya) dari Rosululloh ﷺ, kami tidak menolak sedikit pun dari hal tersebut.
Dan
sesungguhnya Alloh Ta’ala ber-istiwa di atas ‘Arsy sesuai dengan cara
yang Dia firmankan dan dengan makna yang Dia kehendaki.[18]
Dan
sesungguhnya Dia Subhanahu memiliki Wajah tanpa menanyakan bagaimananya[19],
sebagaimana firman-Nya:
﴿وَيَبْقَى
وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾
“Dan tetap
kekal Wajah Robbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan..” (QS. Ar-Rohman:
27)
Dan
sesungguhnya Dia Subhanahu memiliki dua Tangan tanpa menanyakan bagaimananya
sebagaimana firman-Nya Subhanahu:
﴿خَلَقْتُ
بِيَدَيَّ﴾
“Yang telah
Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku.” (QS. Shod: 75)
Dan
sebagaimana firman-Nya:
﴿بَلْ
يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾
“Tetapi
kedua Tangan-Ku terbuka.” (QS. Al-Ma’idah: 64)
Dan
sesungguhnya Dia Subhanahu memiliki dua Mata tanpa menanyakan
bagaimananya sebagaimana firman-Nya Subhanahu:
﴿تَجْرِي
بِأَعْيُنِنَا﴾
“Yang
berlayar dengan pengawasan Mata Kami.” (QS. Al-Qomar: 14)
Dan
bahwasanya barangsiapa yang menyangka bahwa nama-nama Alloh adalah selain
diri-Nya, maka dia adalah orang yang sesat.
Dan
bahwasanya Alloh memiliki ilmu, sebagaimana firman-Nya:
﴿أَنْزَلَهُ
بِعِلْمِهِ﴾
“Alloh menurunkannya
dengan ilmu-Nya.” (QS. An-Nisa’: 166)
Dan
sebagaimana firman-Nya:
﴿وَمَا
تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ﴾
“Dan tidak
ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak pula melahirkan melainkan dengan
ilmu-Nya.” (QS. Fathir: 11)
Dan kami
menetapkan bagi Alloh sifat Pendengaran dan Penglihatan, serta kami tidak
menafikan hal tersebut sebagaimana yang dinafikan oleh Mu’tazilah, Jahmiyyah,
dan Khowarij.
... Dan
kami mengatakan bahwa kalamulloh (firman Alloh) bukanlah makhluk, dan
bahwasanya barangsiapa yang mengatakan makhluknya Al-Qur’an maka dia telah
kafir.
Dan kami
beragama dengan keyakinan bahwa Alloh dapat dilihat di Akhiroh dengan pandangan
mata, sebagaimana bulan dilihat pada malam purnama; kaum Mu’min akan melihat-Nya
sebagaimana riwayat-riwayat yang telah datang dari Rosululloh ﷺ.[20]
Dan kami
mengatakan bahwa orang-orang kafir terhalang dari melihat-Nya tatkala kaum Mu’min
melihat-Nya di Jannah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu:...
﴿كَلَّا
إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari melihat
Robb mereka..” (QS. Al-Muthoffifin: 15)[21]
Dan beliau rohimahulloh
(324 H) berkata: “Maka bagi Alloh Ta’ala itu memiliki ilmu, dan apabila
kita tatkala menetapkan-Nya dalam keadaan murka kepada orang-orang kafir; maka
wajib bagi kita untuk menetapkan adanya sifat Murka. Dan demikian pula apabila
kita menetapkan-Nya dalam keadaan ridho kepada orang-orang Mu’min; maka wajib
bagi kita untuk menetapkan adanya sifat Ridho. Dan demikian pula apabila kita
menetapkan-Nya dalam keadaan Maha Hidup, Maha Mendengar, lagi Maha Melihat;
maka wajib bagi kita untuk menetapkan adanya sifat Hidup, Pendengaran, dan
Penglihatan.”[22]
2)
Abu Bakr Al-Baqillani (Wafat 403 H)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh (wafat 728
H) mengatakan tentang beliau: “Dia adalah mutakallim (ahli ilmu kalam) yang
paling utama di antara orang-orang yang menisbatkan diri kepada Al-Asy’ari. Tidak ada seorang pun di antara
mereka yang sebanding dengannya, baik sebelum maupun sesudahnya.”[23]
Al-Baqillani
rohimahulloh (wafat 403 H) berkata: “Jika ada seseorang yang bertanya: ‘Lantas,
apa argumen yang melandasi bahwa Alloh memiliki Wajah dan dua Tangan?’
Maka
dikatakan kepadanya: Argumennya adalah firman Alloh Ta’ala:
﴿وَيَبْقَىٰ
وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾
“Dan tetap
kekal Wajah Robbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan..” (QS. Ar-Rohman:
27)
Serta
firman-Nya:
﴿مَا
مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ﴾
“Apakah
yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan
kedua Tangan-Ku..” (QS. Shod: 75)
Melalui
ayat-ayat ini, Alloh menetapkan bagi diri-Nya sendiri bahwa Dia memiliki Wajah
dan dua Tangan.
Jika mereka
berkata: Lalu mengapa kalian mengingkari jika makna dalam firman-Nya “Aku
ciptakan dengan kedua Tangan-Ku” adalah bahwa Dia menciptakannya dengan
kekuasaan-Nya atau dengan ni’mat-Nya? Karena kata ‘tangan’ dalam
struktur bahasa Arob terkadang bermakna ni’mat dan terkadang bermakna
kekuasaan.
Sebagaimana
diucapkan: “Saya memiliki tangan yang putih di sisi si fulan,” yang dimaksudkan
dengannya adalah ni’mat.
Dan
sebagaimana diucapkan: “Sesuatu ini berada di tangan si fulan, atau di bawah tangan
si fulan,” yang dimaksudkan dengannya adalah bahwa sesuatu itu berada di bawah
kekuasaan dan kepemilikannya.
Serta
diucapkan pula: “Seorang lelaki yang memiliki tangan (ayyid),” apabila
ia adalah seorang yang berkuasa.
Dan
sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
﴿أَوَلَمْ
يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُم مِّمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا﴾
“Dan
tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan bagi mereka hewan-hewan
ternak dari apa yang telah dikerjakan oleh tangan-tangan Kami (maksudnya Kami
kerjakan dengan kekuasaan Kami)..” (QS. Yasin: 71)
Dan seorang
penyair berkata:
إذا ما
رايةٌ رُفِعِتْ لَمَجْدِ تَلقَّاهَا عُرَابَةُ باليَمِينِ
“Apabila
sebuah bendera diangkat demi suatu kemuliaan, maka ‘Urobah akan menyambutnya
dengan tangan kanan.”
Maka
demikian pula firman-Nya “Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku”, maknanya adalah
dengan kekuasaan-Ku atau dengan ni’mat-Ku?!’
Kita bantah
mereka: Pendapat ini batil! Karena firman-Nya “dengan kedua Tangan-Ku”
berkonsekuensi pada penetapan dua Tangan yang keduanya merupakan sifat
bagi-Nya.
Jika yang
dimaksud dengan kedua tangan itu adalah kekuasaan, tentulah konsekuensinya
Alloh memiliki dua kekuasaan!
Padahal
kalian sendiri tidak beranggapan bahwa Sang Pencipta –Maa Syaa Alloh– memiliki
melainkan satu kekuasaan saja. Lantas bagaimana mungkin kalian membolehkan
untuk menetapkan dua kekuasaan bagi-Nya?!
Sungguh,
kaum Muslimin –baik dari kalangan yang menetapkan sifat-sifat Alloh maupun yang
menafikannya– telah bersepakat secara konsensus bahwa tidak boleh bagi Alloh Ta’ala
memiliki dua kekuasaan. Maka batillah apa yang telah kalian katakan!
Demikian
pula, tidak boleh dikatakan bahwa Alloh Ta’ala menciptakan Adam dengan
dua ni’mat, sebab ni’mat-ni’mat Alloh Ta’ala kepada Adam –dan kepada
selainnya– sangat banyak dan tidak terhitung.
Selain itu,
seseorang tidak boleh mengatakan: “Aku telah mengangkat sesuatu dengan kedua
tanganku, atau aku meletakkannya dengan kedua tanganku, atau aku mengurusnya
dengan kedua tanganku,” sementara yang ia maksudkan adalah ni’matnya!
Begitu pula,
tidak boleh dikatakan: “Aku memiliki dua tangan di sisi si fulan,” dengan
maksud memiliki dua ni’mat.
Melainkan
ungkapan yang benar adalah: “Aku memiliki dua tangan yang putih (jasa yang
baik) di sisinya.”
Sebab kata ‘tangan’
dalam bentuk tunggal maupun dual tidaklah digunakan kecuali pada tangan yang
merupakan sifat bagi dzat.
Argumen
lain yang menunjukkan rusaknya ta’wil mereka adalah: jika perkara
maknanya seperti apa yang mereka katakan, tentulah Iblis tidak akan lalai untuk
menyanggah dan berkata: ‘Lalu apa keutamaan Adam di atasku yang mengharuskan
aku bersujud kepadanya, sementara aku juga Engkau ciptakan dengan tangan-Mu
yang merupakan kekuasaan-Mu, dan dengan ni’mat-Mu Engkau telah
menciptakanku!’
Maka dari
pengetahuan bahwa Alloh Ta’ala memberikan keutamaan kepada Adam di atas
Iblis dengan menciptakannya langsung dengan kedua Tangan-Nya, menjadi dalil
yang jelas atas rusaknya apa yang mereka katakan.
Jika ada
seseorang yang bertanya: ‘Lalu mengapa kalian mengingkari jika Wajah dan
Tangan-Nya merupakan organ tubuh (anggota badan); sebab kalian sendiri tidak
memahami adanya tangan yang merupakan sifat, dan wajah yang merupakan sifat,
melainkan berupa organ tubuh?!’
Dikatakan
kepadanya: Hal itu tidaklah mutlak mengharuskan demikian! Sebagaimana kalian
tidak memahami adanya dzat yang hidup, mengetahui, lagi berkuasa melainkan
berupa susunan fisik (jasad), namun tidaklah membuat kami dan kalian menetapkan
kesimpulan seperti itu terhadap Alloh Ta’ala.
Sebagaimana
pula tidak mengharuskan ketika Alloh itu berdiri sendiri (Qoimun bi dzatihi)
maka Dia harus berupa substansi materi (jauhar) atau fisik (jism).
Sebab kami dan kalian tidak mendapati sesuatu yang berdiri sendiri dalam alam
yang kita saksikan ini melainkan berupa bentuk fisik tersebut!
Demikian
pula jawaban bagi mereka jika mereka berkata: ‘Kalau begitu, mestinya
konsekuensinya ilmu-Nya, hidup-Nya, kalam-Nya, dan seluruh sifat-sifat bagi
dzat-Nya merupakan sifat-sifat baru yang menempel pada jism (a’rodh), atau
jenis-jenis materi, atau perkara-perkara baru yang berproses, atau sesuatu yang
berbeda dari diri-Nya, atau kondisi yang menempel di dalam diri-Nya, atau
sifat-sifat yang membutuhkan organ hati untuk mengetahuinya!’ Dan mereka pun
membuat alasan-alasan berdasarkan realitas makhluk yang ada!”[24]
Beliau rohimahulloh
(wafat 403 H) juga berkata: “Jika ada seseorang yang bertanya: ‘Lantas apa
dalil atas wajibnya melihat Alloh secara pasti di Akhiroh nanti?’ Maka
dikatakan kepadanya: Argumennya adalah firman Alloh Ta’ala:
﴿وُجُوهٌ
يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾
“Wajah-wajah
(orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Robbnyalah mereka melihat..” (QS.
Al-Qiyamah: 22-23)
Kata ‘melihat’
(an-nazhor) dalam tatanan bahasa Arob, apabila digandengkan dengan wajah,
dan wajah yang digandengkan penyebutannya itu tidak disandarkan kepada suatu
kabilah maupun kelompok kekerabatan, serta kata tersebut ditransitifkan (muta’addi)
dengan huruf jer (ilaa), serta tidak ditransitifkan kepada dua objek (maf’ul),
maka makna yang dimaksudkan darinya tidak lain adalah melihat dengan mata
kepala secara langsung!
Tidakkah
kamu memperhatikan ungkapan orang Arob: ‘Lihatlah kepada Zaid dengan wajahmu’,
yang mereka maksudkan adalah dengan mata yang ada di wajahmu?”[25]
Beliau rohimahulloh
(wafat 403 H) juga menyatakan: “Ketahuilah bahwa Alloh Ta’ala adalah
Dzat yang berbicara (Mutakallim). Dia memiliki sifat kalam (berbicara) menurut
pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sesungguhnya kalam-Nya bersifat qodim
(terdahulu tanpa permulaan), bukan makhluk ciptaan, bukan sesuatu yang
dijadikan, dan bukan pula hal baru yang diadakan. Melainkan kalam-Nya itu
qodim, sebagai salah satu sifat dari sifat-sifat dzat-Nya, kedudukannya sama
seperti ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, dan sifat-sifat dzat yang
sejenis dengan itu.
Dan tidak
boleh dikatakan bahwa Kalam Alloh itu adalah berupa redaksi ungkapan pengganti
(ibaroh) atau cerita tiruan (hikayah)!”[26]
Beliau rohimahulloh
(wafat 403 H) juga berkata: “Jika ditanyakan: ‘Apakah kalian mengatakan
bahwa Dia berada di setiap tempat?!’
Maka
dikatakan kepadanya: Mahasuci Alloh! Sama sekali tidak demikian, melainkan Dia
beristiwa (bersemayam) di atas ‘Arsy sebagaimana yang Dia kabarkan sendiri di
dalam kitab-Nya melalui firman-Nya:
﴿الرَّحْمَٰنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾
“Robb Yang
Maha Pengasih, Dia beristiwa di atas ‘Arsy..” (QS. Thoha: 5)
Dia
berfirman:
﴿إِلَيْهِ
يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾
“Kepada-Nyalah
akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang sholih akan
diangkat-Nya..” (QS. Fathir: 10)
Dan Dia
berfirman:
﴿أَأَمِنتُم
مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴾
“Sudah
amankah kamu dari Dzat yang berada di langit bahwa Dia akan membenamkan kamu ke
dalam bumi, maka tiba-tiba bumi itu menyembur-nyembur hancur..” (QS.
Al-Mulk: 16)
Sekiranya
Dia berada di setiap tempat, tentulah Dia juga berada di dalam perut manusia
dan mulutnya, serta di dalam tempat-tempat kotor (toilet). Dan tentulah
konsekuensinya Dzat-Nya akan bertambah seiring bertambahnya tempat-tempat baru
yang diciptakan setelah sebelumnya belum ada tempat tersebut. Serta akan sah
bagi seseorang untuk memohon dan berdoa menghadap ke arah bumi, ke arah
belakang kita, ke arah kanan, maupun ke arah kiri kita..!
Padahal
perkara ini telah disepakati oleh seluruh kaum Muslimin atas kebalikannya, dan
mereka menyalahkan orang yang berpendapat demikian.”[27]
Beliau rohimahulloh
(wafat 403 H) berkata: “Sifat-sifat dzat-Nya yang Dia senantiasa dan akan
terus-menerus bersifat dengannya adalah: Hidup, Ilmu, Kuasa, Mendengar,
Melihat, Bicara, Berkehendak, Wajah, Dua Tangan, Dua Mata, Marah, serta Ridho.”[28]
Beliau rohimahulloh
(wafat 403 H) juga berkata: “Ketahuilah oleh kalian sekalian, sesungguhnya
madzhab kami dan madzhab Abu Al-Hasan (Al-Asy’ari) yang telah ia gariskan di
dalam seluruh kitab-kitab besarnya maupun ringkasannya, adalah madzhab Al-Jama’ah
dan Salaf umat ini, serta apa yang telah dilalui oleh para imam yang sholih
terdahulu, yaitu: ‘Bahwa Kalam Alloh merupakan sifat di antara sifat-sifat
dzat-Nya, bukan perkara baru, bukan makhluk ciptaan, dan sesungguhnya Dia
senantiasa berbicara’.” Dan beliau pun menyebutkan argumen-argumen atas hal
tersebut.
Hingga
beliau rohimahulloh (wafat 403 H) berkata: “Demikian pula pendapat kami
mengenai seluruh riwayat yang bersumber dari Rosululloh ﷺ tentang sifat-sifat Alloh Ta’ala
apabila riwayat tersebut telah tsabit (shohih), berupa penetapan Sifat Wajah
bagi-Nya, Dua Tangan, dan Dua Mata yang semuanya telah disebutkan dengan tegas
oleh Al-Kitab.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَيَبْقَىٰ
وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾
“Dan tetap
kekal Wajah Robbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan..” (QS. Ar-Rohman:
27)
Dan Dia
berfirman:
﴿كُلُّ
شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾
“Segala
sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya..” (QS. Al-Qoshosh: 88)
Dan Dia
berfirman kepada Iblis:
﴿مَا
مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ﴾
“Apakah
yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan
kedua Tangan-Ku..” (QS. Shod: 75)
Dan Dia
berfirman:
﴿بَلْ
يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾
“Tetapi
kedua Tangan-Nya terhampar terbuka..” (QS. Al-Maidah: 64)
Dan Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَلِتُصْنَعَ
عَلَىٰ عَيْنِي﴾
“Dan agar
kamu diasuh di atas Mata-Ku..” (QS. Thoha: 39)
Dan Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿تَجْرِي
بِأَعْيُنِنَا﴾
“Bahtera
itu berlayar dengan pengawasan Mata-Mata Kami..” (QS. Al-Qomar: 14)
Maka Alloh
telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri di dalam teks Kitab-Nya yang jelas akan
sifat Wajah, Dua Mata, dan Dua Tangan.
Dan
diriwayatkan di dalam Hadits dari riwayat Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma,
bahwasanya Nabi ﷺ
menyebutkan tentang Dajjal dan menjelaskan bahwa ia buta sebelah matanya, lalu
beliau bersabda:
«إِنَّ
رَبَّكم ليس بأعور»
“Sesungguhnya
Robb kalian tidaklah buta sebelah.”
Maka beliau
menetapkan sifat dua mata bagi-Nya, dan Hadits ini sama sekali tidak diperselisihkan
keshohihannya di kalangan para ulama ahli Hadits, dan Hadits ini tercantum di
dalam Shohih Al-Bukhori.
Dan beliau ﷺ bersabda di dalam riwayat
yang bersumber dari kabar-kabar yang masyhur:
«وكلتا
يَدَيْهِ يَمِينُ»
“Dan kedua
Tangan-Nya adalah tangan kanan.”
Maksud dari
sabda Nabi ﷺ
tersebut adalah bahwa Dia –Subhanalloh– tidak merasa kesulitan atau lemah pada
salah satu tangan-Nya dalam mendatangkan apa yang dikehendaki-Nya dibandingkan
tangan yang lainnya, tidak sebagaimana kondisi makhluk yang kidal (al-aysar)
yang merasa kesulitan menggunakan tangan kirinya dibandingkan tangan kanannya.
Dan kita
katakan: Sesungguhnya Dia akan datang pada hari Qiyamah dalam naungan awan
bersama para Malaikat, sebagaimana Al-Qur’an telah berfirman demikian. (QS.
Al-Baqoroh: 210)
Dan
bahwasanya Dia ‘Azza wa Jalla:
«يَنزِلُ
إِلى سَماءِ الدُّنيا ؛ فيقولُ : هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعطَى، أو مُستغفر فيُغفَرَ
له»
“Akan turun
ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Apakah ada orang yang meminta maka akan Aku
beri, atau ada orang yang memohon ampunan maka akan Aku ampuni dosanya’.” Al-Hadits (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no.
758) dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu.
Dan
bahwasanya Dia –Jalla Tsanauhu– beristiwa di atas ‘Arsy-Nya. Sebagaimana
firman Alloh Ta’ala:
﴿الرَّحْمَٰنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾
“Robb Yang
Maha Pengasih, Dia beristiwa di atas ‘Arsy..” (QS. Thoha: 5)
Dan Dia
berfirman:
﴿ثُمَّ
اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ﴾
“Kemudian
Dia beristiwa di atas ‘Arsy..” (QS. Al-A’rof: 54)
Dan telah
kami jelaskan sesungguhnya agama kami dan agama para imam serta Ahlus Sunnah
adalah: bahwasanya sifat-sifat ini dilewati jalannya sebagaimana ia datang,
tanpa melakukan bagaimana (takyif), tanpa membatasi ukuran (tahdid),
tanpa memfisikkan (tajsim), dan tanpa menggambarkan bentuknya (tashwir).
Melainkan disikapi sebagaimana Hadits datang membawanya, dan sebagaimana
diriwayatkan dari Ibnu Syihab Az-Zuhri (wafat 124 H) serta para imam Hadits
lainnya mengenai kewajiban mengalirkan nash sifat tersebut sesuai apa adanya
riwayat Hadits tanpa takyif.
Dan
orang-orang tsiqoh (terpercaya) telah meriwayatkan dari Imam Malik (wafat 179
H), bahwasanya ada seorang penanya yang bertanya kepadanya tentang firman Alloh
Ta’ala:
﴿الرَّحْمَٰنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾
“Robb Yang
Maha Pengasih, Dia beristiwa di atas ‘Arsy.”
Maka Imam
Malik menjawab: “Istiwa itu maknanya tidaklah asing (diketahui maknanya),
sedangkan bagaimana bentuk caranya tidak dapat dinalar akal, dan mengimaninya
adalah kewajiban, sementara mempertanyakan tentang caranya adalah perkara bid’ah.”[29]
3)
Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini (Wafat 478 H)
Ibnu
An-Najjar rohimahulloh (wafat 643 H) mengatakan tentang beliau: “Imam
para ahli fikih di belahan timur maupun barat, tokoh terdepan mereka baik
bangsa non-Arob maupun bangsa Arob. Seseorang yang matanya belum pernah melihat
sosok yang sepadan dengannya dalam hal keutamaan, dan telinga belum pernah
mendengar kisah perjalanan hidup yang seperti penukilan kisahnya.”[30]
Abu Al-Ma’ali
Al-Juwaini rohimahulloh (wafat 478 H) berkata: “Sekiranya aku dapat
menghadapi perkaraku yang telah lalu dari apa yang aku hadapi sekarang, niscaya
aku tidak akan menyibukkan diriku dengan ilmu kalam (filsafat teologi).”[31]
Dan Abu
Al-Faroj ibnul Jauzi rohimahulloh (wafat 597 H) mengatakan: “Dahulu Abu
Al-Ma’ali Al-Juwaini sering berkata: ‘Sungguh aku telah menjelajahi para
pemeluk Islam beserta seluruh cabang ilmu mereka, aku telah mengarungi lautan
yang sangat luas, dan menyelami hal-hal yang mereka (para ulama terdahulu)
telah melarang darinya. Semua itu aku lakukan dalam rangka mencari kebenaran,
dan karena berlari dari sikap ikut-ikutan tanpa dalil (taqlid).
Dan
sekarang, sungguh aku telah kembali dari semuanya itu menuju kepada kalimat
kebenaran. Hendaklah kalian berpegang teguh pada agamanya orang-orang tua awam
yang lugu (dinul ‘ajaiz). Maka sekiranya kebenaran itu tidak menjumpai
diriku dengan kelembutan kebaikan-Nya sehingga aku mati di atas agamanya
orang-orang tua awam tersebut, dan menutup akhir perkaraku di saat kepergianku
dengan kalimat ikhlas (tauhid); maka celakalah bagi Ibnu Al-Juwaini!’”
Dan beliau
dahulu sering berkata kepada para sahabatnya: “Wahai para sahabat kami!
Janganlah kalian menyibukkan diri dengan ilmu kalam. Sebab sekiranya aku
mengetahui bahwa ilmu kalam akan membawa diriku sampai pada batas kondisi yang
aku capai saat ini, niscaya aku tidak akan menyibukkan diri dengannya!”[32]
Abu Al-Fath
At-Thobari sang ahli fikih rohimahulloh berkata: “Aku menemui Abu Al-Ma’ali
di saat ia menderita sakit menjelang wafatnya. Lalu ia berkata: ‘Saksikanlah
oleh kalian atas diriku, bahwasanya aku sungguh telah kembali dari setiap
pendapat yang menyelisihi ulama Salaf terdahulu, dan sesungguhnya aku mati di
atas apa yang di atasnya mati orang-orang tua awam di kota Naisabur!’”[33]
Abu Al-Ma’ali
Al-Juwaini rohimahulloh (wafat 478 H) berkata: “Sungguh metode para
ulama telah berbeda-beda di dalam menyikapi teks-teks lahiriah yang warid
(datang) di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, yang mana para pengikut kebenaran
terhalang untuk meyakini kandungan fisiknya secara mentah, serta enggan
menjalankannya sesuai cakupan makna awal yang terbersit di dalam pemahaman
orang-orang pemilik bahasa itu.
Maka
sebagian mereka berpandangan untuk menta’wilkannya, serta berkomitmen
menempuh jalan ini terhadap ayat-ayat Al-Kitab dan apa-apa yang shohih dari
sunnah-sunnah Rosululloh ﷺ.
Sedangkan
para imam Salaf terdahulu menempuh jalan menahan diri dari melakukan ta’wil,
mengalirkan teks-teks lahiriah tersebut sesuai dengan tempat datangnya, serta
menyerahkan hakikat maknanya kepada Robb Ta’ala.”[34]
Dan apa
yang kami ridhoi sebagai sebuah pandangan, dan kami beragama kepada Alloh
dengannya secara amalan adalah: mengikuti Salaf umat ini. Maka yang paling
utama adalah ittiba’ (mengikuti) dan meninggalkan ibtida’ (membuat bid’ah).
Dan dalil sam’i
(dalil penukilan) yang qoth’i (pasti) dalam perkara itu adalah:
bahwasanya ijma’ (kesepakatan) umat merupakan hujah yang wajib diikuti, dan ia
merupakan sandaran bagi sebagian besar syariat. Dan sungguh para Shohabat Rosululloh
ﷺ telah berlalu di atas sikap
meninggalkan upaya mengulik hakikat maknanya, serta meninggalkan upaya mencari
batasan apa yang ada di dalamnya, padahal mereka adalah hamba-hamba pilihan
dalam Islam, dan para pemikul beban syariat secara mandiri. Dahulu mereka tidak
pernah mengurangi kesungguhan di dalam menjaga kaidah-kaidah agama, saling
berwasiat untuk memeliharanya, serta mengajarkan manusia apa-apa yang mereka
butuhkan dari perkara agama tersebut.
Maka
sekiranya menta’wilkan ayat-ayat dan teks lahiriah ini merupakan perkara
yang diperbolehkan lagi diharuskan, tentulah perhatian mereka terhadap hal itu
akan berada di atas perhatian mereka terhadap perkara cabang-cabang (furu’)
syariat. Dan apabila zaman mereka beserta zaman para Tabi’in telah berakhir di
atas sikap berpaling dari melakukan ta’wil, maka hal tersebut menjadi
bukti yang memutus perkara bahwasanya jalan Salaf itulah jalan yang wajib
diikuti.”[35]
Maka
perhatikanlah bagaimana beliau berlepas diri dari metode ta’wil kaum Asy’ariyah
di dalam masalah sifat, dan memilih kembali kepada madzhab Salaf.
4)
Al-Fakhr Ar-Rozi (Wafat 606 H)
Beliau
merupakan sandaran utama kaum Asy’ariyah pada masa sekarang. Al-Muwaffaq Ahmad
bin Abi Ushoibi’ah rohimahulloh berkata di dalam kitab sejarahnya: “Karya-karya
tulis Fakhruddin beserta para muridnya telah tersebar luas di berbagai penjuru
cakrawala. Dahulu apabila beliau berkendara, maka berjalan di sekelilingnya
sekitar 300 orang murid dari kalangan ahli fikih dan selain mereka. Dan dahulu
Khowarizm Syah sering mendatanginya. Beliau adalah orang yang sangat
bersemangat tinggi di dalam ilmu-ilmu syariat dan ilmu hikmah (filsafat), tajam
pemikirannya, banyak kelebihannya, serta kuat analisanya di dalam industri
kedokteran, menguasai bidang sastra, dan memiliki gubahan syair dalam bahasa
Persia maupun bahasa Arob.”[36]
Dan
Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh berkata ketika menyebutkan biografi
Ar-Rozi: “Dan beliau telah mewasiatkan sebuah wasiat yang menunjukkan
bahwasanya Aqidahnya telah membaik di akhir hayatnya!”[37]
Dan Imam
Abu ‘Amr Ibnush Sholah rohimahulloh (wafat 643 H) berkata: “Al-Quthb
At-Thu’ani telah menceritakan kepadaku sebanyak dua kali bahwasanya ia
mendengar Al-Fakhr Ar-Rozi berkata: ‘Duhai, sekiranya aku tidak menyibukkan
diri dengan ilmu kalam’, dan beliau pun menangis!”
Dan
dikatakan: “Sesungguhnya Al-Fakhr Ar-Rozi pernah menyampaikan nasihat di
hadapan Sultan Syihabuddin, lalu beliau berkata: ‘Wahai sultan alam! Kerajaanmu
tidak akan kekal, dan tipuan muslihat Ar-Rozi pun tidak akan kekal! Dan
sesungguhnya kepada Alloh tempat kembali kita’. Maka ucapan ini membuat sang
sultan menangis.”[38]
Al-Fakhr
Ar-Rozi rohimahulloh (wafat 606 H) berkata: “Sungguh aku telah
merenungkan metode-metode ilmu kalam, dan jalan-jalan filsafat, namun aku tidak
melihatnya dapat menyembuhkan orang yang sakit, tidak pula dapat menghilangkan
dahaga orang yang kehausan! Dan aku melihat bahwa jalan yang paling dekat adalah
jalannya Al-Qur’an: Aku membaca di dalam penetapan sifat:
﴿الرَّحْمَٰنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾
“Robb Yang
Maha Pengasih, Dia beristiwa di atas ‘Arsy..” (QS. Thoha: 5)
Serta
membaca:
﴿إِلَيْهِ
يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ﴾
“Kepada-Nyalah
akan naik perkataan-perkataan yang baik..” (QS. Fathir: 10)
Dan aku
membaca di dalam penafian penyerupaan makhluk:
﴿لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat..”
(QS. Asy-Syuro: 11)
Dan
barangsiapa yang telah merasakan pengalaman seperti pengalamanku, niscaya ia
akan mengetahui ilmu makrifah seperti makrifahku!”[39]
Beliau juga
berkata di dalam bait syairnya:
نِهَايَةُ
إِقْدامِ العُقولِ عِقالُ وأكثر سعي العالَمينَ ضَلَالُ
وأَرواحنا
في وَحشَةٍ مِنْ جُسومنا وحَاصِلُ دُنيانا أَذًى وَوَبَالُ
وَلَمْ
نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنا طُوْلَ عُمْرِنَا سوى أَنْ جَمَعنا فيهِ قِيلَ وقَالُوا
“Puncak
keberanian akal manusia berakhir pada belenggu tali, dan kebanyakan usaha
seluruh manusia di dunia adalah kesesatan.
Dan ruh-ruh
kami berada dalam ketakutan yang asing dari jasad-jasad kami, dan hasil akhir
dari urusan dunia kami adalah gangguan dan bencana.
Dan kami
tidaklah mendapatkan faedah dari penelitian kami di sepanjang umur kami, selain
kami mengumpulkan di dalamnya perkataan katanya dan katanya!”[40]
Dan Al-Khosruusyaahii
ini merupakan salah satu murid dari Ar-Rozi, di mana ia pernah masuk menemui
Ar-Rozi, lalu Ar-Rozi bertanya kepadanya: “Wahai fulan, apa yang kamu yakini
sebagai Aqidahmu?” Maka ia menjawab: “Aku meyakini apa yang diyakini oleh kaum
Muslimin.” Ar-Rozi bertanya lagi: “Dan apakah kamu mantap atas hal tersebut,
serta dadamu merasa lapang dengannya?” Aku menjawab: “Benar.” Maka Ar-Rozi pun
menangis dengan tangisan yang sangat keras dan berat, dan aku mengira beliau
berkata: “Akan tetapi aku —demi Alloh— tidak tahu apa yang aku yakini, akan
tetapi aku —demi Alloh— tidak tahu apa yang aku yakini, akan tetapi aku —demi
Alloh— tidak tahu apa yang aku yakini!”[41]
5)
Imam An-Nawawi (Wafat 676 H)
Sungguh beliau telah menulis sebuah risalah yang ringkas di
akhir masa hidupnya, beliau membantah di dalamnya terhadap pendapat kaum Asy’ariyah
di dalam permasalahan yang berkaitan dengan Kalam Alloh ‘Azza wa Jalla.
Imam An-Nawawi rohimahulloh (wafat 676 H) berkata: “Dan
kami termasuk bagian dari agama kami: berpegang teguh dengan kitab Alloh ‘Azza
wa Jalla dan sunnah Nabi kita ﷺ, serta apa yang diriwayatkan dari para Shohabat,
Tabi’in, dan para imam Hadits yang masyhur.
Dan kami
mengimani seluruh Hadits-Hadits sifat, kami tidak menambahkan di atas hal itu
sedikit pun, dan tidak pula menguranginya sedikit pun. Contohnya seperti Hadits
tentang kisah Dajjal dan sabda Nabi ﷺ di
dalamnya: ‘Dan sesungguhnya Robb kalian tidaklah buta sebelah.’[42]
Dan Hadits
tentang turunnya Alloh ke langit dunia.[43]
Dan Hadits
tentang istiwa di atas ‘Arsy.[44]
Dan Hadits
bahwasanya hati-hati manusia berada di antara dua jemari dari jemari-jemari-Nya.[45]
Dan
bahwasanya Dia meletakkan seluruh langit di atas satu jemari, dan bumi-bumi di
atas satu jemari.[46]
Dan kami
berpendapat dengan membenarkan Hadits Mi’roj, serta membenarkan apa yang shohih
di dalamnya dari riwayat-riwayat yang ada.[47]
Dan kami beragama
dengan keyakinan bahwasanya Alloh adalah Dzat yang membolak-balikkan hati.
Dan apa
saja yang menyerupai Hadits-Hadits ini seluruhnya, disikapi sebagaimana riwayat
itu datang, tanpa melakukan pembongkaran terhadap ta’wilnya, dan wajib
bagi kita untuk melewatkannya sebagaimana ia datang.”[48]
Beliau rohimahulloh
(wafat 676 H) berkata dalam kondisi membantah kaum Asy’ariyah atas pendapat
baru mereka tentang Al-Qur’anul Karim, bahwasanya Al-Qur’an itu hanyalah berupa
redaksi ungkapan pengganti (ibaroh) atau cerita tiruan (hikayah)
dari Kalam Alloh!
Beliau
berkata: “Sekiranya dikatakan kepada seorang qori’ (pembaca) yang sedang
membaca suatu ayat: ‘Sesungguhnya ia sedang membaca Kalam Alloh’, maka ia
tidaklah salah dalam menetapkan keputusan ini berdasarkan konsensus ijma’.
Namun sekiranya dikatakan: ‘Ia sedang membaca redaksi ungkapan Kalam Alloh, dan
bukan membaca Kalam Alloh yang sesungguhnya’, niscaya manusia akan bersepakat
secara ijma’ atas kesesatannya dan pembid’ahannya!”[49]
Beliau rohimahulloh
(wafat 676 H) berkata di dalam konteks bantahannya terhadap kaum Asy’ariyah
pada bab yang paling penting di antara bab-bab sifat, yaitu setelah menyebutkan
dalil-dalil bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalam Alloh, dan bahwasanya ia berupa
huruf dan suara, beliau berkata:
“Dan
perkara yang mengherankan adalah bahwasanya kitab-kitab kaum Asy’ariyah
dipenuhi dengan pernyataan bahwasanya Kalam Alloh itu: diturunkan kepada
Nabi-Nya, ditulis di dalam mushaf-mushaf, serta dibaca oleh lisan-lisan secara
hakiki, kemudian setelah itu mereka mengatakan: ‘Yang diturunkan itu hanyalah
redaksi ungkapan penggantinya saja! Dan yang tertulis itu berbeda dengan
penulisan itu sendiri! Dan yang dibaca itu berbeda dengan pembacaan itu
sendiri!’
Dan mereka
pun mulai masuk ke dalam kontradiksi-kontradiksi yang nyata, serta pengejaran
argumen yang dingin lagi lemah!
Dan
cukuplah di dalam meruntuhkan keyakinan Aqidah ini; kondisi mereka yang tidak
mampu untuk menyuarakannya secara terang-terangan, melainkan mereka berada di
dalam kondisi tersebut di atas semacam keragu-raguan (miro’)!”[50]
Dan tatkala
beliau menuliskan biografi bagi sang ahli fikih Abu Sulaiman Al-Khothobi rohimahulloh
(wafat 388 H), beliau menukil –di dalam konteks memberikan pujian serta
ketetapan persetujuan– dari kitabnya yang berjudul “Syi’aruddin”, maka
Imam An-Nawawi rohimahulloh (wafat 676 H) berkata: “Dan beliau
menegaskan secara terang-terangan bahwasanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala
berada di atas langit, dan beliau berkata: ‘Sebagian orang telah mengklaim
bahwasanya makna istiwa di sini adalah menguasai (bukan bersemayam)! Dan
orang itu berargumen di dalam pendapatnya tersebut dengan menggunakan bait
syair yang tidak dikenal penuturnya, yang mana tidak sah berhujjah dengan
ucapan orang yang melantunkannya!’”[51]
Beliau rohimahulloh
(wafat 676 H) berkata di dalam penjelasan mengenai lafazh-lafazh yang sah
dengannya keimanan seorang kafir untuk masuk Islam: “Dan bahwasanya sekiranya
orang kafir itu mengucapkan: ‘Tidak ada yang berhak disembah selain Alloh Sang
Raja yang berada di langit’, atau mengucapkan: ‘Kecuali Raja langit’, maka ia
sah menjadi seorang Mu’min.
Sebab Alloh
Ta’ala berfirman:
﴿أَأَمِنتُم
مَّن فِي السَّمَاءِ﴾
“Sudah
amankah kamu dari Dzat yang berada di langit..” (QS. Al-Mulk: 16)[52]
Peringatan
Perlu
dicatat secara khusus bahwasanya kembalinya para ulama tersebut adalah setelah
mereka mendalami ilmu kalam (filsafat teologi), dan setelah mereka menyusun
berbagai macam karya tulis di dalam bidang tersebut, yang mana karya-karya itu
masih ada hingga hari kita ini, dan kaum Asy’ariyah masih terus menisbatkannya
kepada mereka. Padahal, kewajiban yang semestinya bagi mereka adalah
memusnahkan dan mengubur karya-karya tersebut. Dan milik Alloh-lah hikmah yang
sangat mendalam.
Syaikhul
Islam rohimahulloh (wafat 728 H) berkata: “Akan tetapi, tetap beradanya
ucapan mereka, kitab-kitab mereka, serta rekam jejak mereka merupakan sebuah
ujian yang sangat besar di tengah-tengah umat, serta fitnah yang besar bagi
siapa saja yang memperhatikannya, dan tidak ada daya maupun kekuatan melainkan
dengan pertolongan Alloh.”[53]
Begitu pula
di antara perkara-perkara yang wajib untuk diketahui adalah: sesungguhnya apa
saja yang datang dari Alloh dan Rosul-Nya ﷺ berdasarkan apa yang dipahami oleh para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum dalam urusan Aqidah maupun amalan, di dalamnya sudah terdapat
kecukupan dan pemenuhan kebutuhan daripada ilmu kaum mutakallimin (ahli kalam)
atau ilmu selain mereka.
Syaikhul
Islam rohimahulloh (wafat 728 H) berkata:
وَإِنْ
كُنَّا مُسْتَغْنِينَ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَآثَارِ السَّلَفِ عَنْ كُلِّ كَلَامٍ،
وَمَلَاكُ الْأَمْرِ أَنْ يَهَبَ اللَّهُ لِلْعَبْدِ حِكْمَةً وَإِيمَانًا بِحَيْثُ
يَكُونُ لَهُ عَقْلٌ وَدِينٌ حَتَّى يَفْهَمَ وَيَدِينَ
“Dan
sekiranya kita telah merasa cukup dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan atsar-atsar
ulama Salaf daripada setiap ilmu kalam, maka inti dari perkara ini adalah Alloh
menganugerahkan kepada seorang hamba hikmah dan keimanan, sekiranya ia memiliki
akal dan agama hingga ia dapat memahami dan beragama dengannya. Kemudian,
cahaya Al-Kitab dan As-Sunnah akan mencukupinya dari segala sesuatu. Akan
tetapi, kebanyakan manusia telah menjadi orang yang menisbatkan diri kepada
sebagian kelompok ahli kalam, dan berprasangka baik kepada mereka bukan kepada
selain mereka, serta berhalusinasi bahwasanya mereka telah meneliti di dalam
bab ini dengan suatu penelitian yang belum pernah dicapai oleh selain mereka.
Maka sekiranya didatangkan kepada orang tersebut setiap ayat, ia tidak akan
mengikutinya sampai didatangkan kepadanya sesuatu dari ucapan ahli kalam
mereka!”[54]
Dan
sesungguhnya di antara taufiq Alloh dan hidayah-Nya: engkau mengetahui
bahwasanya apa yang disibukkan oleh ahli kalam dari perkara yang ditinggalkan
oleh para Shohabat Nabi ﷺ
rodhiyallahu ‘anhum tidaklah menambah ilmu dan hikmah
sebagaimana yang diklaim oleh kaum tersebut. Di mana mereka mengatakan: “Metode
ulama Salaf itu lebih selamat, sedangkan metode ulama Kholaf itu lebih berilmu
dan lebih kokoh.”
Maka
sekadar menceritakan ungkapan ini saja sudah cukup di dalam menjelaskan
kerusakan dan kebatilannya. Bagaimana mungkin sah dikatakan bahwa ilmu orang
yang memungut ilmu-ilmu Aristoteles, Socrates, dan Plato itu lebih berilmu dan
lebih kokoh daripada ilmu orang yang menerima ilmu tersebut dalam kondisi yang
masih murni lagi segar langsung dari Rosululloh ﷺ?! Maka hakikat dari ungkapan
ini adalah ia merupakan dalil atas rusaknya ilmu-ilmu para pemiliknya;
dikarenakan penyelisihan mereka terhadap orang-orang yang mereka diperintahkan
untuk diteladani dan diikuti![55]
Abu Al-Wafa
bin ‘Aqil rohimahulloh (wafat 513 H) berkata:
أَنَا
أَقْطَعُ أَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَاتُوا وَمَا عَرَفُوا الْجَوْهَرَ
وَالْعَرَضَ. فَإِنْ رَضِيتَ أَنْ تَكُونَ مِثْلَهُمْ فَكُنْ. وَإِنْ رَأَيْتَ أَنَّ
طَرِيقَةَ الْمُتَكَلِّمِينَ أَوْلَى مِنْ طَرِيقَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ - فَبِئْسَ
مَا رَأَيْتَ!
“Aku
memastikan secara mutlak bahwasanya para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum
telah wafat dalam keadaan mereka tidak mengenal istilah jauhar
(substansi materi) dan a’rodh (sifat materi). Maka jika engkau ridho
untuk menjadi seperti mereka, jadilah demikian. Dan jika engkau berpandangan
bahwasanya metode kaum mutakallimin lebih utama daripada metode Abu Bakr (13 H)
dan ‘Umar (23 H), maka alangkah buruknya apa yang engkau pandang! Dan sungguh
ilmu kalam telah mengantarkan para pemiliknya kepada keragu-raguan, dan membawa
banyak di antara mereka menuju kepada keilahidan (ateisme), engkau dapat
mencium aroma keilahidan dari ketergelinciran ucapan kaum mutakallimin.”[56]
Dan ini
adalah Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini (wafat 478 H), beliau memperingatkan manusia
dari apa yang didalami oleh kaum mutaakhirin (generasi belakangan) dan ahli
kalam, serta bersaksi bahwasanya metode para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum
dan orang-orang yang menyepakati mereka adalah lebih selamat, lebih berilmu,
dan lebih kokoh. Maka beliau berkata tentang mereka di dalam kitab terakhir
yang beliau susun tentang para Shohabat:
وَمَا
كَانُوا يَنْكَفِئُونَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَمَّا تَعَرَّضَ لَهُ الْمُتَأَخِّرُونَ
عَنْ عِيٍّ وَحَصَرٍ، وَتَبَلُّدٍ فِي الْقَرَائِحِ.. هَيْهَاتَ. قَدْ كَانُوا أَذْكَى
الْخَلَائِقِ أَذْهَانًا، وَأَرْجَحَهُمْ بَيَانًا، وَلَكِنَّهُمْ اسْتَيْقَنُوا أَنَّ
اقْتِحَامَ الشُّبُهَاتِ، دَاعِيَةُ الْغَوَايَاتِ، وَسَبَبُ الضَّلَالَاتِ
“Dan
tidaklah mereka rodhiyallahu ‘anhum menahan diri dari apa-apa yang
dihadapi oleh kaum mutaakhirin dikarenakan ketidakmampuan berbicara, kelemahan,
ataupun ketumpulan di dalam pemikiran.. tidak mungkin, jauh sekali. Sungguh
mereka adalah makhluk yang paling cerdas akalnya, paling unggul penjelasannya,
akan tetapi mereka meyakini secara pasti bahwasanya menceburkan diri ke dalam
syubhat merupakan penyeru kepada penyimpangan, serta sebab bagi kesesatan.”[57]
Al-Hafizh
Ibnu Hajar rohimahulloh (wafat 852 H) berkata: “Maka barangsiapa yang
menginginkan untuk mengumpulkan antara ilmunya para Nabi ‘alaihimus salam
dengan ilmunya para filosof berdasarkan kecerdasannya, niscaya ia pasti akan
menyelisihi mereka sekalian. Dan barangsiapa yang menahan diri dan berjalan di
belakang apa yang dibawa oleh para Rosul berupa memutlakkan apa yang mereka
mutlakkan, serta tidak sok tahu dan tidak mendalam-dalamkan; karena
sesungguhnya mereka –sholawatulloh ‘alaihim– memutlakkan dan tidak
mendalam-dalamkan; maka sungguh ia telah menempuh jalannya ulama Salaf yang
sholih, dan selamatlah baginya agama serta keyakinannya.. kita memohon
keselamatan di dalam agama kepada Alloh.”[58]
Beliau rohimahulloh
(wafat 852 H) juga berkata: “Dan sungguh telah memperluas diri orang-orang yang
datang belakangan setelah tiga kurun generasi yang utama di dalam mayoritas
perkara yang telah diingkari oleh para imam Tabi’in dan para pengikut mereka.
Dan mereka tidak merasa puas dengan hal itu hingga mereka mencampuradukkan
masalah-masalah agama dengan ucapan bangsa Yunani, dan mereka menjadikan ucapan
para filosof sebagai pondasi dasar yang mereka gunakan untuk mengembalikan
atsar-atsar yang menyelisihinya melalui jalan ta’wil meskipun secara
paksaan! Kemudian mereka tidak cukup dengan hal itu, hingga mereka mengklaim
bahwasanya apa yang mereka susun itu merupakan ilmu yang paling mulia dan
paling utama untuk didapatkan, dan bahwasanya barangsiapa yang tidak
menggunakan apa yang mereka istilahkan tersebut, maka ia adalah orang awam yang
bodoh! Maka orang yang berbahagia adalah orang yang berpegang teguh dengan apa
yang ulama Salaf berada di atasnya, dan menjauhi apa yang diada-adakan oleh
kaum Kholaf.”[59]
Renungan
Sebagian
kaum Asy’ariyah di zaman ini mengklaim bahwasanya kaum Asy’ariyah merupakan
kelompok mayoritas terbesar (as-sawadul a’zhom) dari kalangan kaum
Muslimin, dan bahwasanya mayoritas ulama Islam berada di atas Aqidah Asy’ariyah!
Dan tidak ada keraguan bahwasanya perkara ini termasuk bentuk kedustaan atas
para ulama Islam, serta kebohongan yang nyata terhadap sejarah Islam! Dan
bantahan atas hal tersebut ditinjau dari beberapa sisi, aku sebutkan sebagian
darinya secara ringkas:
Sisi
pertama: Bahwasanya
banyak di antara para ulama yang dinisbatkan oleh kaum Asy’ariyah hari ini
kepada madzhab mereka, sesungguhnya mereka berlepas diri –di akhir kehidupan
mereka– dari pemikiran Asy’ariyah dan ilmu kalam, sebagaimana berlepas dirinya
serigala dari darah Yusuf ‘alaihis sholatu was salam! Dan bukti nyata
yang paling jelas atas hal tersebut adalah orang-orang yang telah disebutkan
nama-nama mereka di dalam risalah ini dari kalangan tokoh-tokoh besar yang
dinisbatkan kepada Aqidah ini, serta selain mereka sangat banyak!
Sisi
kedua: Dengan
mengasumsikan kebenaran jumlah banyak yang diklaim tersebut; maka sesungguhnya
kebenaran itu tidaklah dikenal dengan banyaknya jumlah manusia, melainkan
kebenaran itu dikenal dengan dalilnya yang shohih. Dan barangsiapa yang membaca
kitab Alloh Ta’ala, ia akan mendapati bahwasanya mayoritas apa yang
disebutkan di dalam jumlah yang banyak senantiasa digandengkan dengan celaan
dan kecaman; sedangkan mayoritas apa yang disebutkan di dalam jumlah yang
sedikit senantiasa digandengkan dengan pujian dan sanjungan. Dan ini adalah
kitab Robb kalian berada di hadapan kalian, maka bacalah ia!
Adapun
penelitian mendalam di dalam permasalahan jumlah yang banyak; maka sesungguhnya
para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah melimpah ruah jumlahnya melampaui orang
yang berada di atas Aqidah Asy’ari dari segi bilangan dengan berlipat-lipat
ganda. Dan tidaklah kaum Asy’ariyah itu menggelar Aqidahnya, dan tidak pula
kuat pengaruh kekuasaannya di dalam beberapa periode zaman; melainkan
dikarenakan sebab diadopsinya Aqidah ini oleh sebagian para kholifah dan para
penguasa. Maka kondisi mereka tidak lain kecuali seperti halnya kondisi
orang-orang yang memenangkan urusan mereka, lalu mereka menjadikan sebuah Masjid
di atas kuburan para penghuni Al-Kahfi!
Dan
barangsiapa yang ingin membuktikan dari banyaknya dan melimpahnya para ulama
Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyelisihi metodenya kaum Asy’ariyah; maka
hendaklah ia melihat mereka dan menghitung jumlah mereka pada orang-orang yang
disebutkan oleh Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah (wafat 751 H) di dalam kitabnya: Ijtima’ul
Juyusyil Islamiyah, dan orang-orang yang disebutkan oleh Imam Al-Hafizh
Adz-Dzahabi (wafat 748 H) di dalam kitabnya: Al-‘Uluw lil ‘Aliyil Ghoffar.
Karena sesungguhnya kedua penulis tersebut menukil dari jamaah yang sangat
besar dari kalangan para Shohabat, Tabi’in, dan para pengikut mereka; sampai
kepada zaman kedua penulis tersebut, dari orang-orang yang mereka berada di
atas kebalikan dari apa yang kaum Asy’ariyah berada di atasnya.
Begitu pula
sang ahli fikih yang mutafannin (menguasai banyak bidang ilmu) Al-‘Allamah Ibnu
Abdul Hadi rohimahulloh (wafat 744 H), beliau telah menyebutkan di dalam
kitabnya yang beliau gunakan untuk membantah Ibnu ‘Asakir (wafat 571 H),
mengenai lebih dari 400 orang, di antara ahli Hadits, ahli fikih, ahli ibadah,
dan ulama; yang mana mereka seluruhnya menjauhkan diri dari kaum Asy’ariyah dan
metode mereka. Kemudian beliau rohimahulloh berkata setelah hal itu: “Demi
Alloh, kemudian demi Alloh, dan demi Alloh, sungguh apa yang kami tinggalkan
(tidak kami sebutkan) jauh lebih banyak daripada apa yang telah kami sebutkan.
Dan sekiranya kami pergi untuk meneliti secara tuntas dan melacak setiap orang
yang menjauhi mereka mulai dari hari mereka ada hingga sekarang, niscaya jumlah
mereka akan bertambah melebihi 10.000 jiwa!”[60]
Sisi
ketiga: Sungguh
kaum Asy’ariyah telah membedakan antara ulama Salaf dan ulama Kholaf; di mana
mereka menjadikan madzhab Salaf itu lebih selamat, sedangkan madzhab Kholaf
lebih berilmu dan lebih kokoh. Kemudian mereka berselisih di dalam batasan
pemisah antara Salaf dan Kholaf di atas dua pendapat:
Pertama: Bahwasanya ulama Salaf adalah
mereka yang berada pada lima kurun generasi yang pertama, kemudian ulama Kholaf
adalah orang-orang setelah mereka.
Kedua: Bahwasanya ulama Salaf adalah
mereka yang berada pada tiga kurun generasi yang pertama, yaitu para Shohabat,
Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in, kemudian barulah adanya ulama Kholaf setelah itu.
Dan mereka menyebutkan pendapat yang pertama sebagai pendapat yang rojih
(kuat), sedangkan pendapat yang kedua sebagai pendapat yang marjuh
(lemah).[61]
Maka ulama
Salaf –menurut pandangan kaum Asy’ariyah– adalah mereka yang berada pada lima
kurun generasi yang pertama, atau tiga kurun generasi yang pertama; dan ini
merupakan persaksian kaum Asy’ariyah sendiri atas diri mereka sendiri!
Maka
renungkanlah olehmu sabda Nabi ﷺ:
«خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ
يَتَخَلَّفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ
شَهَادَتَهُ»
“Sebaik-baik
manusia adalah yang berada pada generasiku, kemudian orang-orang yang setelah
mereka, kemudian orang-orang yang setelah mereka, kemudian akan digantikan
setelah mereka oleh generasi pengganti yang mana persaksian salah seorang di
antara mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”[62]
Maka di
manakah engkau mendapati posisi keberadaan kaum Asy’ariyah di dalam Hadits ini,
apakah di awalnya ataukah di akhirnya?!
Dan
renungkanlah bagaimana bahwasanya kurun generasi yang paling utama, paling
baik, dan paling berbakti.. yang mana di dalamnya berkumpul para imam kaum
Muslimin dari kalangan Khulafaur Rosyidin; Abu Bakr (13 H), ‘Umar (23 H), ‘Utsman
(35 H), dan ‘Ali (40 H), serta seluruh para Shohabat yang mulia rodhiyallahu
‘anhum ajma’in, kemudian para imam Tabi’in dan para pengikut mereka,
dari kalangan ahli tafsir, ahli fikih, ahli Hadits, ahli ibadah, ahli zuhud,
ahli ilmu dan amal, serta ahli jihad di jalan Alloh.. seluruh orang-orang yang
agung ini –dan dengan persaksian kaum Asy’ariyah sendiri– mereka dahulu berada
terasing dan jauh dari sifat “lebih berilmu dan lebih kokoh” yang diada-adakan
oleh kaum Asy’ariyah! Maka apa lagi yang tersisa bagi mereka?!
Dan aku
menambahkan bagi pembaca yang cerdas sebuah peringatan, bahwasanya para imam
Islam yang empat: Abu Hanifah (150 H), Malik (179 H), Asy-Syafi’i (204 H), dan
Ahmad (241 H) rohimahumulloh jamian, mereka seluruhnya berada di
atas selain Aqidahnya kaum Asy’ariyah![63]
Ini (yang
bisa saya tulis), dan Alloh yang paling tinggi lagi Maha Mengetahui, dan semoga
sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, dan
kepada keluarganya serta para shohabatnya sekalian, dan segala puji bagi Alloh
Robb semesta alam.[]
[1] Ungkapan ini disebutkan oleh Ibnu Taimiyah rohimahulloh
(728 H) di beberapa tempat dalam kitab-kitabnya, dan maknanya juga dituturkan
oleh Imam Khurosan pada zamannya, yaitu Syaikh Abu Ismail Al-Anshori rohimahulloh
(481 H), silakan lihat Majmu’ al-Fatawa (14/349) cetakan Majma’ al-Malik
Fahd 1416 H.
[2] Sebagian orang mungkin akan mengingkari penyandaran
pendapat ini kepada Asya’iroh; sebab pendapat yang paling masyhur yang dikenal
dari mereka mengenai kewajiban pertama bagi mukallaf adalah ma’rifat,
ada pula yang mengatakan: penalaran, dan ada yang mengatakan: bermaksud
untuk penalaran. Ada yang menyebutkan pula bahwa perbedaan di antara ketiga
pendapat ini hanyalah sebatas lafazh semata, yang mana semuanya menunjukkan
pada satu hal yang sama; sebab ma’rifat merupakan sebuah tujuan akhir,
sedangkan penalaran beserta maksud untuk penalaran adalah sarana untuk
mengantarkan pada tujuan akhir tersebut. Adapun mengenai keberadaan ragu
terhadap Alloh sebagai kewajiban pertama bagi mukallaf, maka hal ini
merupakan pendapat yang dikenal dari kalangan Mu’tazilah sebagaimana yang
dinyatakan secara terang-terangan oleh Abu Hasyim Al-Jubba’i (321 H). Orang
yang merenungkan pendapat-pendapat Asya’iroh yang lahir dari rahim
Mu’tazilah—di samping adanya perbedaan redaksi di antara mereka antara
ma’rifat, penalaran, dan maksud untuk penalaran, kemudian perbedaan mereka
mengenai sahnya iman seorang mukallaf sebelum melakukan penelaahan dan
penalaran—akan mendapati bahwa seluruh pendapat tersebut berputar pada poros keraguan
semata. Sampai-sampai Abu Hamid Al-Ghozali rohimahulloh (505 H)
mengatakan: “Keraguan itu adalah jalan yang mengantarkan kepada kebenaran;
barangsiapa yang tidak ragu maka dia tidak akan menalar, barangsiapa yang tidak
menalar maka dia tidak akan melihat, dan barangsiapa yang tidak melihat maka
dia akan tetap berada dalam kebutaan dan kesesatan!” (Mizan al-‘Amal, Al-Gozali, (hal.
409) cetakan Dar al-Ma’arif - Mesir 1384 H dengan tahqiq Sulaiman Dunya)
Ibnu Hazm rohimahulloh
(456 H) mengatakan: “Adapun Asya’iroh, sesungguhnya mereka membawa ucapan yang
memenuhi mulut, membuat bergidik kulit pemeluk Islam, dan membuat telinga
menjadi muak... Mereka berkata—tanpa menyembunyikannya—: “Tidak sah Islam
seseorang hingga dia setelah masa balighnya berada dalam keadaan ragu dan tidak
membenarkan!”
Kemudian Ibnu Hazm rohimahulloh
(456 H) berkata: “Kami tidak pernah mendengar sama sekali dalam hal kekufuran
dan lepasnya diri dari Islam yang lebih keji daripada ucapan mereka ini.” (Al-Fishol
fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal oleh Ibnu Hazm (4/41) cetakan Al-Khonji
di Percetakan At-Tamaddun 1321 H)
Ibnu Taimiyah rohimahulloh
(728 H) mengatakan: “Karena mereka hanyalah mewajibkan penalaran atasnya;
apabila mereka mewajibkannya, maka konsekuensinya adalah hilangnya ilmu
terhadap apa yang ditunjukkan; sehingga orang yang menalar tersebut menjadi
orang yang mencari ilmu; maka konsekuensinya dia menjadi orang yang ragu;
sehingga mereka pun mewajibkan atas setiap Muslim bahwa imannya tidak sempurna
hingga muncul keraguan pada dirinya terhadap Alloh dan Rosul-Nya ﷺ setelah dia
baligh, baik mereka mewajibkannya secara langsung atau mereka mengatakan: hal
tersebut termasuk bagian dari konsekuensi kewajiban.” (Dar’u Ta’arudh
al-’Aql wa an-Naql (7/421) cetakan Jami’ah al-Imam Muhammad bin Saud -
Riyadh 1411 H dengan tahqiq Muhammad Rosyad Salim)
Sebuah riwayat
menyebutkan ucapan dari seorang Tabi’in:
«ما
الرَّجْسُ؟» قال : «الشَّكُ في الله عزَّ وجلَّ»
Watsilah bin
Al-Asqo’ rodhiyallahu ‘anhu ditanya: “Apakah ar-rijs itu?” Beliau
menjawab: “Keraguan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.” (Asy-Syari’ah oleh
Al-Ajurri no. 1998, cetakan Dar al-Wathon - Riyadh 1420 H dengan tahqiq
Abdullah ad-Dumaiji)
[3] Lihat kitab: Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql
(7/407-408).
Dan silakan lihat—jika Anda
menghendaki—pendapat-pendapat mereka yang dikumpulkan dalam kitab mereka: “Tuhfat
al-Murid ‘ala Jawharot
at-Tauhid” karya Al-Baijuri (hal.
82-83) cetakan Dar as-Salam Kairo Mesir 1422 H dengan tahqiq Dr. Ali Jum’ah
Muhammad.
[4] Kitab mereka: “Tuhfat al-Murid” (hal. 89).
[5] Kemudian setelah itu mereka menuduh orang-orang Salafi
bertindak melampaui batas dan suka mengkafirkan!
[6] Lihat kitab mereka: “Syarh al-‘Aqidah al-Kubro”
karya As-Sanusi (hal. 13-16) cetakan Jaridah al-Islam di Mesir 1316 H.
[7] Al-Ghozali rohimahulloh (505 H) mengatakan
tentang ilmu kalam: “Maka tidak menghasilkan darinya apa yang dapat
menghapuskan secara keseluruhan pekatnya kegelapan kebingungan dalam
perselisihan makhluk!” Lihat kitab Al-Ghozali: “Al-Munqidzh min adh-Dholal”
(hal. 137) cetakan Maktabah al-Anjlo al-Mishriyyah - Kairo tanpa tahun, dengan
tahqiq Dr. Abdul Halim Mahmud.
[8] Naqdh al-Manthiq oleh Ibnu Taimiyah (hal. 25)
Percetakan As-Sunnah al-Muhammadiyyah - Kairo Mesir 1370 H dengan tahqiq
Muhammad Hamid Al-Fiqi.
[9] Ihya ‘Ulum ad-Din (1/94) cetakan Dar
al-Ma’rifah Beirut - Lebanon 1402 H.
[10] Ihya ‘Ulum ad-Din (1/97).
[11] At-Tis’iniyyah oleh Ibnu Taimiyah (3/952)
cetakan Maktabah al-Ma’arif, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1420 H dengan tahqiq
Dr. Muhammad bin Ibrohim Al-‘Ajlan.
[12] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (4/27).
[13] Ash-Shofadiyyah, Ibnu Taimiyyah, 1/294.
[14] Dar’u Ta’arudil Aqli wan Naql, Ibnu Taimiyyah,
1/166.
[15] Nihayatul Iqdam ‘an Ilmil Kalam, Asy-Syahrostani,
hal. 7.
[16] Abu Al-Hasan Al-Farisi (511 H) mengatakan dalam
biografi Abu Hamid Al-Ghozali rohimahulloh: “Dan adalah akhir dari
urusannya berupa tindakannya yang menghadapkan diri untuk mencari Hadits
Al-Musthofa ﷺ, duduk bersama para ahlinya, serta
menelaah Ash-Shohihain karya Al-Bukhori
(256 H) dan Muslim (261 H), yang mana keduanya merupakan hujjah Islam.” (Al-Mukhtashor
min As-Siyâq li Tarîkhi Naisâbûr (hal. 74) cetakan Dar al-Kutub
al-’Ilmiyyah - Beirut Lebanon 1409 H dengan tahqiq Muhammad Ahmad Abdul Aziz)
Dan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rohimahulloh (792
H) mengatakan: “Dan demikian pula Al-Ghozali rohimahulloh, akhir
urusannya berujung pada sikap waqf (berdiam diri) dan kebingungan dalam
masalah-masalah kalamiyyah, kemudian beliau berpaling dari jalan-jalan tersebut
dan menghadapkan diri pada Hadits-Hadits Rosul ﷺ; hingga beliau wafat dalam keadaan kitab Shohih Imam Al-Bukhori
berada di atas dadanya.” (Syarh al-‘Aqidah ath-Thohawiyyah (hal. 243-244) Muassasah ar-Risalah, Beirut -
Lebanon, dengan tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth dan Abdullah At-Turki)
[17] Kitab: “Siyar A’lam an-Nubala” karya
Adz-Dzahabi (15/86) cetakan Muassasah ar-Risalah, Beirut - Lebanon 1405 H
dengan tahqiq sekelompok peneliti di bawah bimbingan Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth
rohimahulloh.
[18] Asya’iroh mengingkari sifat istiwa, dan mereka
mengubah maknanya seraya berkata: “Istiwa bermakna istaula (menguasai)”!
Dan tahrif (pengubahan) ini, di samping keberadaannya tidak sah dari
sisi bahasa Arob yang Al-Qur’an Al-Karim turun dengannya: ia juga merupakan
Aqidah Mu’tazilah yang diwarisi oleh Asya’iroh dari ibu mereka! Abu Al-Hasan
Al-Asy’ari rohimahulloh (324 H) mengatakan: “Dan Mu’tazilah berkata
mengenai firman Alloh ‘Azza wa Jalla: ‘Ar-Rohman ‘alal ‘Arsyis tawa’,
maknanya adalah istaula (menguasai)” (Kitab: “Maqolat al-Islamiyyin”
oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (1/237) cetakan Al-Maktabah al-’Ashriyyah, Beirut
Lebanon 1400 H dengan tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid)
Dan beliau rohimahulloh
(324 H) berkata: “Dan tidaklah istiwa-Nya di atas ‘Arsy itu bermakna penguasaan
(istila’), sebagaimana yang dikatakan oleh ahli qodar (Mu’tazilah);
karena Dia—'Azza wa Jalla—senantiasa menguasai segala sesuatu.” (Risalah
ila Ahli ats-Tsaghor oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (hal. 233-234) cetakan
Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam - Madinah An-Nabawiyyah 1422 H dengan tahqiq
Abdullah Al-Junaidi)
[19] Yang dimaksud adalah menafikan ilmu tentang kaifiyyah
(bagaimananya sifat tersebut); karena sesungguhnya makhluk tidak dapat meliputi
Alloh dengan ilmu mereka. Adapun menafikan keberadaan kaifiyyah itu
sendiri, maka hal tersebut sama sekali bukan yang dimaksudkan: karena menafikan
keberadaan kaifiyyah mengonsekuensikan penafian keberadaan sifat itu
sendiri. Maka tidak sah dalam keadaan bagaimana pun jika pembicaraan dalam rangka
menetapkan sesuatu yang tidak ada; maka perhatikanlah!
[20] Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ ، كَمَا
تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ»
“Sesungguhnya kalian akan melihat Robb kalian
sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak saling berdesakan dalam
melihat-Nya.” Al-Bukhori (no. 554) dan Muslim (no. 633) dari Jabir bin Abdillah
rodhiyallahu ‘anhuma.
[21] Kitab: “Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah” karya
Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (secara ringkas hal. 20-26) cetakan Dar al-Anshar,
Kairo Mesir 1397 H dengan tahqiq Dr. Fauqiyyah Husain Mahmud.
[22] Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah (hal. 150).
[23] Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubro, Ibnu Taimiyah, hlm.
507-508, cetakan Dar Ash-Shumai’i - Riyadh, Kerajaan Arob Saudi, 1419 H,
ditahqiq oleh Dr. Hamad At-Tuwaijiri.
[24] Tamhidul Awail fi Talkhisil Dalail, Al-Baqillani,
hlm. 295-298, cetakan Muassasatul Kutub Ats-Tsaqofiyah, Beirut - Lebanon, 1407
H, ditahqiq oleh ‘Imaduddin Ahmad Haidar.
[25] Tamhidul Awail fi Talkhisil Dalail, hlm. 303.
[26] Al-Inshof fima Yajibu I’tiqoduhu wa la Yajuzu Al-Jahlu
bihi,
Al-Baqillani, hlm. 67, cetakan Al-Maktabah Al-Azhariyah, Mesir, 1421 H,
ditahqiq oleh Muhammad Zahid Al-Kautsari.
[27] Dinukil dari kitab Al-Ibanah karya Al-Baqillani
oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi (wafat 748 H) dalam kitabnya: Al-‘Uluw lil
‘Aliyil Ghoffar, hlm. 238, cetakan Maktabah Adhwaus Salaf - Riyadh, 1416 H,
ditahqiq oleh Asyrof bin Abdul Maqshud.
[28] Al-‘Uluw lil ‘Aliyil Ghoffar, Adz-Dzahabi, hlm.
238.
[29] Ijtima’ul Juyusyil Islamiyah, Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyah, 2/301-302, cetakan Mathabi’ Al-Farozdaq - Riyadh, Kerajaan Arob
Saudi, 1408 H, ditahqiq oleh ‘Awwad Abdullah Al-Mu’tiq.
[30] Al-Mustafad min Dzaili Tarikhi Baghdad, Ad-Dimyathi,
21/130, cetakan Muassasatur Risalah, Beirut - Lebanon, 1406 H, ditahqiq oleh
Muhammad Maulud Kholaf, di bawah bimbingan Dr. Basysyar ‘Awwad.
[31] Siyar A’lamin Nubala, 18/473.
[32] Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 83, cetakan
Darul Qolam, Beirut - Lebanon, 1403 H.
[33] Tarikhul Islam, Adz-Dzahabi, 10/427, cetakan
Darul Ghorb Al-Islami, Beirut - Lebanon, 1424 H, ditahqiq oleh Dr. Basysyar
‘Awwad.
[34] Ulama Salaf dari kalangan Shohabat rodhiyallahu
‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka, mereka dahulu menyerahkan
urusan bagaimananya (kaifiyah) sifat (kepada Alloh), namun mereka mengimani makna-maknanya berdasarkan
apa yang dikonsekuensikan oleh bahasa Arob yang merupakan bahasa Al-Qur’an dan
As-Sunnah, disertai dengan menyertakan prinsip penyucian Alloh Subhanahu wa
Ta’ala dari menyerupai makhluk-Nya, selaras dengan firman-Nya: “Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)
Maka sesungguhnya Alloh telah memberikan taufiq kepada
mereka untuk menetapkan sifat bersamaan dengan menyucikan-Nya. Adapun
menyandarkan Aqidah Salaf kepada pemasrahan makna-makna sifat kepada Alloh (tafwidhul
ma’ani) disertai ketidaktahuan terhadap maknanya, maka hal itu merupakan
kekeliruan yang nyata. Sebab Alloh Subhanahu wa Ta’ala memperkenalkan
diri-Nya kepada makhluk-Nya melalui sifat-sifat-Nya, tujuannya adalah agar
membuahkan keimanan di dalam hati mereka berupa rasa cinta kepada-Nya, rasa
takut kepada-Nya, dan berharap kepada-Nya... Alloh tidak mengabarkan kepada
mereka tentang sifat-sifat yang agung ini agar mereka sekadar membacanya sebagai
susunan huruf tanpa makna, lalu menganggap posisinya sama seperti huruf-huruf muqottho’ah
di awal surat dalam Al-Qur’an!
Ibnu Al-Qoyyim rohimahulloh (wafat 751 H)
berkata: “Para Shohabat dan Tabi’in telah menafsirkan Al-Qur’an dan mengetahui
maksud dari ayat-ayat Sifat Alloh sebagaimana mereka mengetahui maksud dari
ayat-ayat perintah dan larangan, meskipun mereka tidak mengetahui bagaimananya
(kaifiyah). Sebagaimana mereka mengetahui makna-makna apa saja yang
dikabarkan oleh Alloh mengenai apa yang ada di dalam Jannah dan Naar, meskipun
mereka tidak mengetahui hakikat bentuk rupa dan bagaimananya. Maka barangsiapa
di antara ulama Salaf yang mengatakan: ‘Sesungguhnya ta’wil ayat mutasyabih
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh’ dengan makna kaifiyah
ini, maka perkataannya adalah benar. Adapun orang yang mengatakan bahwa ta’wil
yang bermakna tafsirnya dan penjelasan maksud darinya tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Alloh, maka ini keliru, dan para Shohabat, Tabi’in, serta
mayoritas umat menyelisihi hal tersebut.
Mujahid (wafat 104 H) berkata: ‘Aku telah menyodorkan
mushaf kepada Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma mulai dari pembukaannya
hingga penutupnya, aku menghentikannya pada setiap ayat dan bertanya kepadanya
tentang ayat tersebut’. And Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu
berkata: ‘Tidak ada satu ayat pun dalam kitab Alloh melainkan aku mengetahui
mengenai apa ayat tersebut diturunkan’. Dan Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh
(wafat 110 H) berkata: ‘Tidaklah Alloh menurunkan suatu ayat melainkan Dia
sangat suka untuk diketahui apa yang Dia inginkan melalui ayat tersebut’. Dan
Masruq rohimahulloh (wafat 63 H) berkata: ‘Tidaklah kami bertanya kepada
para Shohabat Muhammad ﷺ tentang
sesuatu melainkan ilmunya ada di dalam Al-Qur’an, akan tetapi ilmu kami yang
terlalu pendek darinya’. Dan Asy-Sya’bi (wafat 103 H) berkata: ‘Tidaklah suatu
kaum membuat-buat suatu perkara bid’ah melainkan di dalam kitab Alloh terdapat
penjelasan yang membantahnya’.” (Showa’iqul Mursalah, Ibnu Al-Qoyyim,
1/571-572, cetakan Dar Ibnu Hazm, Beirut - Lebanon, 1442 H, ditahqiq oleh
Husain bin ‘Ukasyah bin Romadhon)
Dan Ibnu Qutaibah Ad-Dinawari rohimahulloh
(wafat 276 H) berkata: “Kewajiban atas kita adalah berhenti di dalam menetapkan
sifat-sifat Alloh pada batasan di mana Dia berhenti di dalam menyifati
diri-Nya, atau pada batasan di mana Rosul-Nya ﷺ berhenti, dan kita tidak menggeser lafazh tersebut dari apa
yang dikenal oleh orang Arob dan meletakkannya di atas makna tersebut, serta
menahan diri dari perkara di luar hal itu.” (Kitab Al-Ikhtilaf fil Lafzhi,
Ibnu Qutaibah, hlm. 44, cetakan Dar Ar-Royah, Riyadh, 1412 H, ditahqiq oleh
‘Umar bin Mahmud)
Ibnu Al-Majisyun rohimahulloh (wafat 212 H)
berkata: “Sesungguhnya kita tidak mengetahui bagaimanakah hakikat apa yang
dikabarkan oleh Alloh tentang diri-Nya, walaupun kita mengetahui tafsir serta
maknanya.” (Showa’iqul Mursalah, 1/571)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh (wafat 852 H)
berkata: “Ucapan orang yang mengatakan: ‘Metode Salaf itu lebih selamat,
sedangkan metode Kholaf itu lebih kokoh secara ilmiah’ merupakan ucapan yang
tidak lurus. Karena orang ini mengira bahwa metode Salaf hanyalah sekadar
beriman kepada lafazh-lafazh Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa adanya pemahaman
fikih di dalam hal itu, dan ia mengira bahwa metode Kholaf adalah mengeluarkan
makna-makna nash yang dipalingkan dari hakikatnya dengan menggunakan berbagai
macam majas (gaya bahasa kiasan). Maka orang yang berkata demikian telah
mengumpulkan antara ketidaktahuan terhadap metode Salaf, dan klaim kosong pada
metode Kholaf. Perkaranya tidaklah seperti apa yang ia kira; melainkan ulama
Salaf berada pada puncak tingkat ma’rifah (pengetahuan) mengenai apa yang layak
bagi Alloh Ta’ala, dan berada pada puncak pengagungan terhadap-Nya,
tunduk terhadap perintah-Nya, serta berserah diri terhadap kehendak-Nya. Dan
tidaklah orang yang menempuh jalan Kholaf merasa tenang meyakini bahwa apa yang
ia ta’wilkan itulah yang merupakan maksud sejati dari Alloh, dan tidak mungkin
baginya untuk memastikan keshohihan hasil ta’wilannya!” (Fathul Bari,
13/352, cetakan Darul Ma’rifah, Beirut - Lebanon, 1390 H, di bawah bimbingan
Muhibbuddin Al-Khothib)
[35] Al-‘Aqidah An-Nizh’miyah fil Arkanil Islamiyah, Al-Juwaini, hlm. 32-33, cetakan Al-Maktabah
Al-Azhariyah lit Turats, Kairo - Mesir, 1412 H, ditahqiq oleh Dr. Muhammad
Zahid Al-Kautsari.
[36] Tarikhul Islam, 13/137, dan Adz-Dzahabi
berkata: yang dimaksud dengan hikmah oleh beliau adalah filsafat.
[37] Lisanul Mizan, 6/321, cetakan Darul
Basya’ir Al-Islamiyah, Beirut - Lebanon, 1423 H, ditahqiq oleh Abdul Fattah Abu
Ghuddah.
Dan kalimat ini
lebih dekat sebagai bentuk persaksian atas baiknya Aqidah Al-Hafizh Ibnu Hajar
sendiri dibandingkan dengan baiknya Aqidah Ar-Rozi rohimahumalloh; maka
renungkanlah!
[38] Tarikhul Islam, 13/142.
[39] Siyar A’lamin Nubala, 21/501.
[40] Syarh Al-‘Aqidah At-Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz
Al-Hanafi, 1/244, cetakan Muassasatur Risalah, Beirut - Lebanon, 1417 H,
ditahqiq oleh Syu’aib Al-Arna’uth dan Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki.
[41] At-Tis’iniyah, hlm. 201-202.
[42] Al-Bukhori no. 3057 dan Muslim no. 169 dari Ibnu ‘Umar
rodhiyallahu ‘anhuma.
[43] Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758 dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu.
[44] Mungkin yang beliau maksudkan adalah sabda Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Alloh tatkala menetapkan penciptaan makhluk, Dia menulis di
sisi-Nya di atas ‘Arsy-Nya: Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku”
(Shohih Al-Bukhori no. 7422 dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu)
[45] Hadits diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya no.
2654 dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhuma.
[46] Al-Bukhori no. 4811 dan Muslim no. 2786 dari Abdullah
bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu.
[47] Al-Bukhori no. 3887 dan Muslim no. 164 dari Malik bin
Sho’sho’ah rodhiyallahu ‘anhu.
[48] Juz’un fihi Dzikru I’tiqodis Salaf fil Hurufi wal
Ashwath, An-Nawawi, hlm. 67-68, cetakan Maktabah Al-Anshar, Kairo - Mesir,
ditahqiq oleh Ahmad bin Ali Ad-Dimyathi. Dan naskah aslinya yang berupa
manuskrip berada di Darul Kutub Al-Mishriyah dengan nomor 213 mikrofilm 14129.
[49] I’tiqodis Salaf fil Hurufi wal Ashwath, An-Nawawi, hlm.
46-47.
[50] I’tiqodis Salaf fil Hurufi wal Ashwath, hlm. 39.
[51] Thobaqotul Fuqoha Asy-Syafiiyah, Ibnu Ash-Sholah,
dengan tahdzib dan tartib oleh Imam An-Nawawi, 1/470, cetakan Darul Basya’ir
Al-Islamiyah, Beirut - Lebanon, 1413 H, ditahqiq oleh Muhyiddin Ali Najib.
[52] Roudhotut Tholibin, An-Nawawi, 10/85, cetakan
Al-Maktab Al-Islami, Beirut - Lebanon, 1412 H, di bawah bimbingan Zuhair
Asy-Syawisy.
[53] Al-Istiqomah, Ibnu Taimiyah, 1/79-80, cetakan
Universitas Al-Imam Muhammad bin Saud Al-Islamiyah, Riyadh - Kerajaan Arob
Saudi, 1403 H, ditahqiq oleh Dr. Muhammad Rasyad Salim.
[54] Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubro, hlm. 511.
[55] Lihat –jika engkau mau– ketetapan kaidah yang rusak
ini di dalam kitab mereka: Tuhfatul Murid, hlm. 156.
[56] Talbis Iblis, hlm. 83.
[57] Ghiyatsul Umam, Al-Juwaini, hlm. 141,
cetakan Darul Da’wah, Iskandariyah - Mesir, ditahqiq oleh Dr. Mustafa Hilmi dan
Dr. Fuad Abdul Mun’im Ahmad.
[58] Lisanul Mizan, 5/561.
[59] Fathul Bari, 13/253.
[60] Jam’ul Juyusy wad Dasakir, Ibnu Abdul Hadi, hlm. 320,
cetakan Darul ‘Aqidah, Madinah An-Nabawiyah, 1439 H, ditahqiq oleh Husain
Al-Qohthani.
[61] Lihat kitab mereka: Tuhfatul Murid, hlm. 156.
[62] Al-Bukhori no. 2562 dan Muslim no. 2533 dari Ibnu
Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, dan lafazh ini milik Muslim.
[63] Al-Hafizh Adz-Dzahabi rohimahulloh (wafat 748
H) berkata di dalam konteks pembicaraan mengenai keikhlasan di dalam menuntut
ilmu: “Maka apabila pencarianmu terhadap Hadits Nabawi diliputi dengan penyakit-penyakit
ini; maka kapankah keselamatanmu darinya menuju kepada keikhlasan? Dan apabila
ilmu tentang atsar-atsar saja bisa kemasukan penyakit; maka bagaimana dugaanmu
dengan ilmu manthiq (logika Aristoteles), ilmu jidal (debat filsafat), serta
hikmah orang-orang terdahulu (filsafat Yunani kuno); yang mana ia merampas
keimanan, serta mewariskan keragu-raguan dan kebingungan?! Yang mana ilmu-ilmu
tersebut –demi Alloh– bukanlah termasuk dari ilmunya para Shohabat, bukan pula
para Tabi’in, dan bukan pula dari ilmunya Al-Auza’i (157 H), Ats-Tsauri (161
H), Malik (179 H), Abu Hanifah (150 H), Ibnu Abi Dzi’b (158 H), dan Syu’bah
(160 H). Dan tidak pula –demi Alloh– dikenal oleh Ibnu Al-Mubarok (181 H),
tidak pula Abu Yusuf (182 H) yang mengatakan: ‘Barangsiapa yang mencari agama
dengan ilmu kalam maka ia telah zindiq’. Tidak pula Waki’ (197 H), tidak pula
Ibnu Mahdi (198 H), tidak pula Ibnu Wahb (197 H), tidak pula Asy-Syafi’i (204
H), tidak pula ‘Affan (220 H), tidak pula Abu ‘Ubaid (224 H), tidak pula Ibnu
Al-Madini (234 H), Ahmad (241 H), dan Abu Tsaur (240 H) rohimahulloh.” (Tadzkirotul
Huffazh, Adz-Dzahabi, 1/205, cetakan Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut -
Lebanon)
