Cari Ebook

[PDF] Taubatnya Tokoh-Tokoh Utama Asya'iroh - Firos bin Muhammad Ar-Rifa'i

 


Rekomendasi Syaikh As-Suhaimi

Segala puji bagi Alloh semata, dan semoga sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para Shohabat beliau.

Amma ba’du:

Saya telah membaca penelitian yang diajukan oleh saudara, seorang Syaikh, Firos bin Muhammad Said Jandal Ar-Rifa’i, yang berjudul “Taubatnya Tokoh-Tokoh Utama Asya’iroh”, yang kemudian diikuti dengan lampiran ringkas “Empat Madzhab Mengkritik Asya’iroh.”

Saya mendapati karya ini sebagai sebuah penelitian yang sangat bagus lagi bermanfaat, yang memiliki keunggulan dalam hal otentisitas rujukan, ketepatan informasi beserta pendasaran teoritisnya, keindahan gaya bahasa, keselamatan tutur kata, serta kebagusan dalam pengorganisasian maupun penyusunan. Saya menilai bahwa ini adalah sebuah penelitian yang sangat berharga, layak untuk diterbitkan, dan mendatangkan manfaat bagi kaum Muslimin secara umum, khususnya bagi para penuntut ilmu.

Semoga Alloh membalas peneliti dengan kebaikan atas usahanya dalam menyusun penelitian ini, dan menjadikannya bermanfaat bagi Islam beserta kaum Muslimin.

Semoga sholawat, salam, dan berkah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para Shohabat beliau seluruhnya.

Dikte ini disampaikan oleh seorang yang faqir yang mengharapkan ampunan Robbnya,

Sholih bin Sa’ad As-Suhaimi

Pada tanggal 8 Romadhon 1443 H.

 

Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada pemimpin para Rosul, penutup para Nabi, dan imam bagi orang-orang yang bertaqwa, juga kepada keluarga dan para Shohabat beliau seluruhnya, serta setiap orang yang berjalan di atas jalan mereka hingga hari pembalasan.

Amma ba’du;

Sesungguhnya Aqidah Islam merupakan ikatan yang menghubungkan seorang hamba dengan Robbnya. Nash-nash syariat pun telah datang dengan membawa perintah untuk bersatu di atas satu Aqidah yang sama. Di antara hal tersebut adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Robbmu, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imron: 103)

Hanya saja, hikmah Alloh Jalla Jalaluhu telah menetapkan bahwa kaum Muslimin akan terpecah-pecah dalam Aqidah mereka menjadi berbagai macam golongan dan jalan yang berbeda-beda. Tidak ada satu pun di antara golongan tersebut yang mendapatkan pertolongan di dunia dan keselamatan di Akhiroh melainkan hanya satu golongan saja, yaitu mereka yang berada di atas pemahaman yang memisalkan apa yang dipegang oleh Nabi bersama para Shohabat beliau, di setiap waktu dan tempat.

Sesungguhnya di antara golongan umat Islam yang menyelisihi jalan yang selamat dan jalan yang lurus adalah sebuah golongan yang muncul setelah abad ke-3 Hijriyyah, yang dikenal dengan nama Asya’iroh atau Asy’ariyyah, yang menyandarkan diri mereka kepada Abu Al-Hasan Al-Asy’ari rohimahulloh (324 H).

Asya’iroh merupakan sebuah golongan Islam yang fondasi pemikirannya dibangun di atas tindakan mendahulukan akal para pendiri mereka daripada nash-nash syariat. Mereka bersandar pada ilmu kalam dan logika dalam menggali kompas Aqidah mereka, yang mana pemikiran tersebut mereka serap dari pemeluk Mu’tazilah.

Meski demikian, mereka menyelisihi Mu’tazilah dalam beberapa pokok pemikiran ini, dan memaksakan diri untuk membantah kaum Mu’tazilah dengan menggunakan prinsip-prinsip pemikiran yang menjadi landasan tumbuhnya madzhab kedua golongan tersebut! Akibatnya, mereka menyepakati Mu’tazilah dalam pokok-pokok pengambilan dalil, namun menyelisihi Mu’tazilah dalam hal Aqidah batil yang melampaui batas. Oleh karena itulah, muncul suatu ungkapan: “Sesungguhnya Asya’iroh adalah kebanci-banciannya Mu’tazilah!”[1]

Masalah pengkultusan akal di kalangan Asya’iroh, serta tindakan menempatkan akal pada kedudukan di atas nash-nash syariat, senantiasa menempati posisi seperti seorang ibu mandul yang mengadopsi Aqidah-Aqidah yang menyelisihi kemurnian Al-Qur’an dan As-Sunnah!

Tidak ada keraguan bahwa sumber yang jernih untuk menerima Aqidah Islam yang benar adalah Al-Kitab dan As-Sunnah yang tsabit, bukan akal yang justru memegang kendali atas nash-nash syariat, apalagi logika yang diimpor dari para filosof Yunani!

 

Konsep Kewajiban Pertama bagi Mukallaf

Sesungguhnya di antara Aqidah yang paling batil di kalangan Asya’iroh adalah tindakan mereka yang mewajibkan sesuatu yang tidak sanggup dipikul oleh seorang Muslim. Mereka menjadikan kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah meragukan keberadaan Alloh[2], yang kemudian diikuti dengan kewajiban melakukan penelaahan dan penalaran demi meraih ma’rifat kepada Alloh; kemudian menetapkan keberadaan-Nya berdasarkan kaidah-kaidah akal serta premis-premis logika![3]

 

Penyempitan Rohmat Alloh

Kemudian, seolah-olah Asya’iroh ingin mempersempit rohmat Alloh Yang berfirman di dalam Kitab-Nya:

﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ﴾

“Dan ingatlah ketika Robbmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Robb mengambil kesaksian terhadap diri mereka sendiri seraya berfirman, ‘Bukankah Aku ini Robbmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul Engkau Robb kami, kami bersaksi.’ Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Qiyamah kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami dahulu lalai terhadap ini.’(QS. Al-A’rof: 172)

Dia berfirman:

﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam sesuai fitroh Alloh yang Dia telah menciptakan manusia di atas fitroh itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Alloh. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui..” (QS. Ar-Rum: 30)

Maka sesungguhnya Asya’iroh telah menetapkan adanya 7 tuntutan yang berurutan layaknya sebuah mata rantai, yang mana seorang Asy’ari menempuh hal tersebut untuk sampai pada pembuktian keberadaan Alloh Ta’ala!

Ibrohim Al-Baijuri yang berpemikiran Asy’ari mengatakan: “Dan 7 tuntutan ini tidak ada yang mengetahuinya melainkan orang-orang yang mendalam ilmunya!”

Kemudian dia berkata: As-Sanusi (895 H) mengatakan: “Dan dengannya seorang mukallaf akan selamat dari 7 pintu jahannam”)![4]

Maka renungkanlah bagaimana dia membatasi keselamatan dari Naar hanya bagi orang-orang yang mendalam ilmunya saja. Konsekuensi dari ucapannya adalah bahwa kebinasaan menjadi bagian bagi para ulama yang tidak mendalam ilmunya, sedangkan bagi para penuntut ilmu serta orang awam dari kalangan Muslimin, maka kebinasaan mereka tentu menjadi lebih pantas dan lebih utama lagi![5]

 

Kebingungan di Kalangan Tokoh Asya’iroh

Dan sebagai bentuk dari sikap inshof (adil dan objektif), sesungguhnya mereka telah berselisih pendapat mengenai hukum orang yang bertaqlid dalam masalah-masalah Aqidah. Di antara mereka ada yang mengkafirkannya sebagaimana yang dinyatakan secara tegas oleh As-Sanusi (895 H), dan di antara mereka ada pula yang memandangnya sebagai orang yang bermaksiat secara mutlak hingga dia meninggalkan taqlid dan menjadi seorang mujtahid! Di antara mereka ada juga yang memberikan udzur (pemaafan) jika dia memang bukan orang yang memiliki keahlian untuk berijtihad, akan tetapi hal yang mengherankan dalam urusan ini adalah ketiadaan sikap saling mengingkari di antara sebagian mereka terhadap sebagian yang lain dalam masalah ini, seolah-olah mereka menjadikannya sebagai bagian dari perselisihan yang sa’igh (longgar dan diperbolehkan)![6]

Tatkala bangunan Aqidah Asya’iroh berdiri di atas tepi jurang yang runtuh, maka menjadi suatu keniscayaan akan munculnya rasa bimbang, keraguan, dan sikap yang berpindah-pindah di antara lingkaran para tokoh utama serta pemuka mereka[7], hingga keadaan mereka sampai pada apa yang disifatkan oleh “orang yang tidak dituduh memiliki kebencian terhadap mereka”, yaitu Abu Hamid Al-Ghozali rohimahulloh (505 H); yang mana beliau mengatakan:

«أكثرُ النَّاسِ شَكًّا عند الموتِ أَهْلُ الكَلَام»

“Orang yang paling banyak mengalami keraguan tatkala menjelang kematiannya adalah ahli kalam.”[8]

Dan beliau rohimahulloh (505 H) juga mengatakan: “Maka bandingkanlah Aqidah orang-orang yang memiliki kesholihan dan taqwa dari kalangan orang awam dengan Aqidah para ahli kalam dan orang-orang yang suka berdebat; niscaya kamu akan melihat i’tiqod (keyakinan) orang awam dalam hal keteguhan adalah bagaikan gunung yang menjulang tinggi, yang tidak dapat digoyahkan oleh berbagai petaka maupun petir yang menyambar. Sementara itu, Aqidah ahli kalam yang menjaga keyakinannya dengan pembagian-pembagian jidal (perdebatan) adalah bagaikan seutas benang yang dilepaskan di udara, yang diterbangkan oleh angin sekali waktu ke arah sini dan sekali waktu ke arah sana; kecuali orang di antara mereka yang mendengar dalil keyakinan tersebut, lalu dia menangkapnya secara taqlid sebagaimana dia menangkap inti keyakinan itu sendiri secara taqlid...”[9]

 

Pengakuan Atas Kelemahan Ilmu Kalam

Dan beliau rohimahulloh (505 H) berkata: “Dan demi umurku, sesungguhnya ilmu kalam itu tidak terlepas dari menyingkap, mengenalkan, dan menjelaskan sebagian perkara, akan tetapi hal itu jarang terjadi pada perkara-perkara yang jaliyyah (jelas) yang hampir-hampir dapat dipahami sebelum adanya sikap ta’ammuq (terlalu mendalam) dalam seni ilmu kalam.”[10]

Tatkala dihadapkan kepada Al-‘Izz bin Abdissalam (660 H) sebuah kemusykilan yang dibangun di atas Aqidah Asya’iroh yang berkaitan dengan Kalamulloh, beliau rohimahulloh berkata: “Ini bukanlah kemusykilan pertama yang datang menimpa madzhab Al-Asy’ari.”[11]

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh (728 H) mengatakan tentang mereka: “Kamu akan mendapati mereka sebagai manusia yang paling besar keraguan dan kegoncangannya, serta manusia yang paling lemah ilmu dan keyakinannya... Dan hanyalah keutamaan salah seorang dari mereka berada pada kemampuannya untuk melakukan penentangan, celaan, dan perdebatan! Dan telah diketahui bahwa tindakan menentang dan mencela itu bukanlah suatu ilmu, dan tidak pula ada kemanfaatan di dalamnya.”[12]

Beliau rohimahulloh (728 H) juga berkata: “Bahkan kamu mendapati salah seorang dari mereka mengumpulkan di antara dua hal yang kontradiktif, atau di antara pengangkatan dua hal yang kontradiktif. Padahal dua hal yang kontradiktif—yang mana keduanya merupakan penetapan dan penafian—tidak akan mungkin bersatu dan tidak pula mungkin terangkat. Bahkan hal ini memberikan keraguan dan sikap waqf (bimbang tanpa kepastian) bagi pemiliknya, sehingga dia terombang-ambing di antara dua keyakinan yang saling bertolak belakang; yaitu antara penetapan dan penafian, sebagaimana dia terombang-ambing di antara dua kehendak yang saling bertolak belakang.

Dan ini adalah keadaan orang-orang yang cerdik dari kalangan mereka, seperti Abu Al-Ma’ali (478 H), Abu Hamid (505 H), Asy-Syahrostani (548 H), Ar-Rozi (606 H), dan Al-Amidi (631 H). Adapun Ibnu Sina (428 H) dan yang semisalnya, maka mereka lebih besar lagi kontradiksi dan kegoncangannya!”[13]

Beliau rohimahulloh (728 H) juga berkata: “Seandainya aku mengumpulkan apa yang telah sampai kepadaku dalam bab ini dari para pemuka mereka seperti si fulan dan si fulan, niscaya hal itu akan menjadi sesuatu yang sangat banyak.”[14]

Abu Al-Fath As-Syahrostani yang berpemikiran Asy’ari rohimahulloh (548 H) melantunkan bait syair: “Demi umurku, sungguh aku telah mengelilingi seluruh tempat menuntut ilmu itu, dan aku telah melayangkan pandanganku di antara tanda-tanda peninggalan tersebut. Namun aku tidak melihat melainkan seseorang yang meletakkan telapak tangannya di atas dagu dalam keadaan bingung, atau seseorang yang mengetukkan giginya dalam keadaan penuh penyesalan!”[15]

Dan sungguh kitab-kitab sejarah serta biografi telah menyebutkan kepada kita tentang kembalinya banyak pemuka madzhab yang menyelisihi Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, serta tobat mereka dari ilmu kalam dan thoriqoh (jalan) Asya’iroh, sekaligus tindakan mereka dalam membuat para pengikut mereka lari menjauh darinya.

Di antara mereka ada yang berwasiat untuk memegangi keyakinan yang dahulu dipegang oleh Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rohimahulloh (241 H). Di antara mereka ada yang berharap mati di atas agama fitroh yang Alloh ciptakan pada wanita-wanita tua di negerinya, yang mana mereka tidak ikut masuk menyelami apa yang diselami oleh tokoh tersebut! Di antara mereka ada yang disebutkan rujuknya dari rincian masalah-masalah tertentu dalam Aqidah Asya’iroh, demi mencocoki Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di dalamnya. Di antara mereka ada pula yang disebutkan mengenainya berbagai hal di akhir umurnya yang mengisyaratkan kepada tobat dan rujuknya[16], serta masih banyak lagi yang lainnya.

Dan ini merupakan bagian dari karunia Alloh serta rohmat-Nya kepada umat Islam ini beserta para ulamanya...

﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung..” (QS. An-Nur: 31)

 

Lima Tokoh Besar Asya’iroh yang Bertaubat

Dan di antara para tokoh utama tersebut adalah:

1) Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (wafat 324 H)

Al-Hafizh Adz-Dzahabi rohimahulloh (748 H) mengatakan: “Aku telah melihat bagi Abu Al-Hasan empat karya tulis dalam masalah ushul, yang beliau menyebutkan di dalamnya kaidah-kaidah madzhab Salaf dalam hal sifat-sifat Alloh, dan beliau mengatakan di dalamnya: ‘Biarkan ia (Hadits tentang Sifat Alloh) berlalu sebagaimana datangnya’, kemudian beliau berkata: ‘Dan dengan itulah aku berpendapat, dan dengannya aku beragama, serta tidak dita’wil’... Dan setiap orang itu diambil ucapannya dan ditinggalkan; kecuali orang yang Alloh Ta’ala jaga. Ya Alloh, tunjukilah kami dan rohmatilah kami.”[17]

Abu Al-Hasan Al-Asy’ari rohimahulloh (324 H) mengatakan: “Ucapan kami yang kami berpendapat dengannya, dan diyanah (keyakinan agama) kami yang kami beragama dengannya adalah: berpegang teguh dengan Kitab Alloh Robb kami ‘Azza wa Jalla, dan dengan Sunnah Nabi kita Muhammad , serta apa yang diriwayatkan dari para pemuka Shohabat, Tabi’in, dan para imam Ahli Hadits. Kami dengan hal tersebut senantiasa berpegang teguh, dan dengan apa yang dahulu diucapkan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal—semoga Alloh membuat wajahnya berseri-seri, mengangkat derajatnya, dan melipatgandakan pahalanya—kami berpendapat, dan bagi apa yang menyelisihi ucapannya kami menyelisihinya. Dan... garis besar ucapan kami adalah: bahwa kami menetapkan keimanan kepada Alloh, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rosul-Nya, dan dengan apa yang mereka bawa dari sisi Alloh, serta apa yang diriwayatkan oleh para rowi yang tsiqoh (terpercaya) dari Rosululloh , kami tidak menolak sedikit pun dari hal tersebut.

Dan sesungguhnya Alloh Ta’ala ber-istiwa di atas ‘Arsy sesuai dengan cara yang Dia firmankan dan dengan makna yang Dia kehendaki.[18]

Dan sesungguhnya Dia Subhanahu memiliki Wajah tanpa menanyakan bagaimananya[19], sebagaimana firman-Nya:

﴿وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾

“Dan tetap kekal Wajah Robbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan..” (QS. Ar-Rohman: 27)

Dan sesungguhnya Dia Subhanahu memiliki dua Tangan tanpa menanyakan bagaimananya sebagaimana firman-Nya Subhanahu:

﴿خَلَقْتُ بِيَدَيَّ﴾

“Yang telah Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku.” (QS. Shod: 75)

Dan sebagaimana firman-Nya:

﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾

“Tetapi kedua Tangan-Ku terbuka.” (QS. Al-Ma’idah: 64)

Dan sesungguhnya Dia Subhanahu memiliki dua Mata tanpa menanyakan bagaimananya sebagaimana firman-Nya Subhanahu:

﴿تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا﴾

“Yang berlayar dengan pengawasan Mata Kami.” (QS. Al-Qomar: 14)

Dan bahwasanya barangsiapa yang menyangka bahwa nama-nama Alloh adalah selain diri-Nya, maka dia adalah orang yang sesat.

Dan bahwasanya Alloh memiliki ilmu, sebagaimana firman-Nya:

﴿أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ﴾

“Alloh menurunkannya dengan ilmu-Nya.” (QS. An-Nisa’: 166)

Dan sebagaimana firman-Nya:

﴿وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ﴾

“Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak pula melahirkan melainkan dengan ilmu-Nya.” (QS. Fathir: 11)

Dan kami menetapkan bagi Alloh sifat Pendengaran dan Penglihatan, serta kami tidak menafikan hal tersebut sebagaimana yang dinafikan oleh Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan Khowarij.

... Dan kami mengatakan bahwa kalamulloh (firman Alloh) bukanlah makhluk, dan bahwasanya barangsiapa yang mengatakan makhluknya Al-Qur’an maka dia telah kafir.

Dan kami beragama dengan keyakinan bahwa Alloh dapat dilihat di Akhiroh dengan pandangan mata, sebagaimana bulan dilihat pada malam purnama; kaum Mu’min akan melihat-Nya sebagaimana riwayat-riwayat yang telah datang dari Rosululloh .[20]

Dan kami mengatakan bahwa orang-orang kafir terhalang dari melihat-Nya tatkala kaum Mu’min melihat-Nya di Jannah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu:...

﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ﴾

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari melihat Robb mereka..” (QS. Al-Muthoffifin: 15)[21]

Dan beliau rohimahulloh (324 H) berkata: “Maka bagi Alloh Ta’ala itu memiliki ilmu, dan apabila kita tatkala menetapkan-Nya dalam keadaan murka kepada orang-orang kafir; maka wajib bagi kita untuk menetapkan adanya sifat Murka. Dan demikian pula apabila kita menetapkan-Nya dalam keadaan ridho kepada orang-orang Mu’min; maka wajib bagi kita untuk menetapkan adanya sifat Ridho. Dan demikian pula apabila kita menetapkan-Nya dalam keadaan Maha Hidup, Maha Mendengar, lagi Maha Melihat; maka wajib bagi kita untuk menetapkan adanya sifat Hidup, Pendengaran, dan Penglihatan.”[22]

2) Abu Bakr Al-Baqillani (Wafat 403 H)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh (wafat 728 H) mengatakan tentang beliau: “Dia adalah mutakallim (ahli ilmu kalam) yang paling utama di antara orang-orang yang menisbatkan diri kepada Al-Asy’ari. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang sebanding dengannya, baik sebelum maupun sesudahnya.”[23]

Al-Baqillani rohimahulloh (wafat 403 H) berkata: “Jika ada seseorang yang bertanya: ‘Lantas, apa argumen yang melandasi bahwa Alloh memiliki Wajah dan dua Tangan?’

Maka dikatakan kepadanya: Argumennya adalah firman Alloh Ta’ala:

﴿وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾

“Dan tetap kekal Wajah Robbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan..” (QS. Ar-Rohman: 27)

Serta firman-Nya:

﴿مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ﴾

“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku..” (QS. Shod: 75)

Melalui ayat-ayat ini, Alloh menetapkan bagi diri-Nya sendiri bahwa Dia memiliki Wajah dan dua Tangan.

Jika mereka berkata: Lalu mengapa kalian mengingkari jika makna dalam firman-Nya “Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku” adalah bahwa Dia menciptakannya dengan kekuasaan-Nya atau dengan ni’mat-Nya? Karena kata ‘tangan’ dalam struktur bahasa Arob terkadang bermakna ni’mat dan terkadang bermakna kekuasaan.

Sebagaimana diucapkan: “Saya memiliki tangan yang putih di sisi si fulan,” yang dimaksudkan dengannya adalah ni’mat.

Dan sebagaimana diucapkan: “Sesuatu ini berada di tangan si fulan, atau di bawah tangan si fulan,” yang dimaksudkan dengannya adalah bahwa sesuatu itu berada di bawah kekuasaan dan kepemilikannya.

Serta diucapkan pula: “Seorang lelaki yang memiliki tangan (ayyid),” apabila ia adalah seorang yang berkuasa.

Dan sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُم مِّمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا﴾

“Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan bagi mereka hewan-hewan ternak dari apa yang telah dikerjakan oleh tangan-tangan Kami (maksudnya Kami kerjakan dengan kekuasaan Kami)..” (QS. Yasin: 71)

Dan seorang penyair berkata:

إذا ما رايةٌ رُفِعِتْ لَمَجْدِ تَلقَّاهَا عُرَابَةُ باليَمِينِ

“Apabila sebuah bendera diangkat demi suatu kemuliaan, maka ‘Urobah akan menyambutnya dengan tangan kanan.”

Maka demikian pula firman-Nya “Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku”, maknanya adalah dengan kekuasaan-Ku atau dengan ni’mat-Ku?!’

Kita bantah mereka: Pendapat ini batil! Karena firman-Nya “dengan kedua Tangan-Ku” berkonsekuensi pada penetapan dua Tangan yang keduanya merupakan sifat bagi-Nya.

Jika yang dimaksud dengan kedua tangan itu adalah kekuasaan, tentulah konsekuensinya Alloh memiliki dua kekuasaan!

Padahal kalian sendiri tidak beranggapan bahwa Sang Pencipta –Maa Syaa Alloh– memiliki melainkan satu kekuasaan saja. Lantas bagaimana mungkin kalian membolehkan untuk menetapkan dua kekuasaan bagi-Nya?!

Sungguh, kaum Muslimin –baik dari kalangan yang menetapkan sifat-sifat Alloh maupun yang menafikannya– telah bersepakat secara konsensus bahwa tidak boleh bagi Alloh Ta’ala memiliki dua kekuasaan. Maka batillah apa yang telah kalian katakan!

Demikian pula, tidak boleh dikatakan bahwa Alloh Ta’ala menciptakan Adam dengan dua ni’mat, sebab ni’mat-ni’mat Alloh Ta’ala kepada Adam –dan kepada selainnya– sangat banyak dan tidak terhitung.

Selain itu, seseorang tidak boleh mengatakan: “Aku telah mengangkat sesuatu dengan kedua tanganku, atau aku meletakkannya dengan kedua tanganku, atau aku mengurusnya dengan kedua tanganku,” sementara yang ia maksudkan adalah ni’matnya!

Begitu pula, tidak boleh dikatakan: “Aku memiliki dua tangan di sisi si fulan,” dengan maksud memiliki dua ni’mat.

Melainkan ungkapan yang benar adalah: “Aku memiliki dua tangan yang putih (jasa yang baik) di sisinya.”

Sebab kata ‘tangan’ dalam bentuk tunggal maupun dual tidaklah digunakan kecuali pada tangan yang merupakan sifat bagi dzat.

Argumen lain yang menunjukkan rusaknya ta’wil mereka adalah: jika perkara maknanya seperti apa yang mereka katakan, tentulah Iblis tidak akan lalai untuk menyanggah dan berkata: ‘Lalu apa keutamaan Adam di atasku yang mengharuskan aku bersujud kepadanya, sementara aku juga Engkau ciptakan dengan tangan-Mu yang merupakan kekuasaan-Mu, dan dengan ni’mat-Mu Engkau telah menciptakanku!’

Maka dari pengetahuan bahwa Alloh Ta’ala memberikan keutamaan kepada Adam di atas Iblis dengan menciptakannya langsung dengan kedua Tangan-Nya, menjadi dalil yang jelas atas rusaknya apa yang mereka katakan.

Jika ada seseorang yang bertanya: ‘Lalu mengapa kalian mengingkari jika Wajah dan Tangan-Nya merupakan organ tubuh (anggota badan); sebab kalian sendiri tidak memahami adanya tangan yang merupakan sifat, dan wajah yang merupakan sifat, melainkan berupa organ tubuh?!’

Dikatakan kepadanya: Hal itu tidaklah mutlak mengharuskan demikian! Sebagaimana kalian tidak memahami adanya dzat yang hidup, mengetahui, lagi berkuasa melainkan berupa susunan fisik (jasad), namun tidaklah membuat kami dan kalian menetapkan kesimpulan seperti itu terhadap Alloh Ta’ala.

Sebagaimana pula tidak mengharuskan ketika Alloh itu berdiri sendiri (Qoimun bi dzatihi) maka Dia harus berupa substansi materi (jauhar) atau fisik (jism). Sebab kami dan kalian tidak mendapati sesuatu yang berdiri sendiri dalam alam yang kita saksikan ini melainkan berupa bentuk fisik tersebut!

Demikian pula jawaban bagi mereka jika mereka berkata: ‘Kalau begitu, mestinya konsekuensinya ilmu-Nya, hidup-Nya, kalam-Nya, dan seluruh sifat-sifat bagi dzat-Nya merupakan sifat-sifat baru yang menempel pada jism (a’rodh), atau jenis-jenis materi, atau perkara-perkara baru yang berproses, atau sesuatu yang berbeda dari diri-Nya, atau kondisi yang menempel di dalam diri-Nya, atau sifat-sifat yang membutuhkan organ hati untuk mengetahuinya!’ Dan mereka pun membuat alasan-alasan berdasarkan realitas makhluk yang ada!”[24]

Beliau rohimahulloh (wafat 403 H) juga berkata: “Jika ada seseorang yang bertanya: ‘Lantas apa dalil atas wajibnya melihat Alloh secara pasti di Akhiroh nanti?’ Maka dikatakan kepadanya: Argumennya adalah firman Alloh Ta’ala:

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ  إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾

“Wajah-wajah (orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Robbnyalah mereka melihat..” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Kata ‘melihat’ (an-nazhor) dalam tatanan bahasa Arob, apabila digandengkan dengan wajah, dan wajah yang digandengkan penyebutannya itu tidak disandarkan kepada suatu kabilah maupun kelompok kekerabatan, serta kata tersebut ditransitifkan (muta’addi) dengan huruf jer (ilaa), serta tidak ditransitifkan kepada dua objek (maf’ul), maka makna yang dimaksudkan darinya tidak lain adalah melihat dengan mata kepala secara langsung!

Tidakkah kamu memperhatikan ungkapan orang Arob: ‘Lihatlah kepada Zaid dengan wajahmu’, yang mereka maksudkan adalah dengan mata yang ada di wajahmu?”[25]

Beliau rohimahulloh (wafat 403 H) juga menyatakan: “Ketahuilah bahwa Alloh Ta’ala adalah Dzat yang berbicara (Mutakallim). Dia memiliki sifat kalam (berbicara) menurut pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sesungguhnya kalam-Nya bersifat qodim (terdahulu tanpa permulaan), bukan makhluk ciptaan, bukan sesuatu yang dijadikan, dan bukan pula hal baru yang diadakan. Melainkan kalam-Nya itu qodim, sebagai salah satu sifat dari sifat-sifat dzat-Nya, kedudukannya sama seperti ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, dan sifat-sifat dzat yang sejenis dengan itu.

Dan tidak boleh dikatakan bahwa Kalam Alloh itu adalah berupa redaksi ungkapan pengganti (ibaroh) atau cerita tiruan (hikayah)!”[26]

Beliau rohimahulloh (wafat 403 H) juga berkata: “Jika ditanyakan: ‘Apakah kalian mengatakan bahwa Dia berada di setiap tempat?!’

Maka dikatakan kepadanya: Mahasuci Alloh! Sama sekali tidak demikian, melainkan Dia beristiwa (bersemayam) di atas ‘Arsy sebagaimana yang Dia kabarkan sendiri di dalam kitab-Nya melalui firman-Nya:

﴿الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾

“Robb Yang Maha Pengasih, Dia beristiwa di atas ‘Arsy..” (QS. Thoha: 5)

Dia berfirman:

﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾

“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang sholih akan diangkat-Nya..” (QS. Fathir: 10)

Dan Dia berfirman:

﴿أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴾

“Sudah amankah kamu dari Dzat yang berada di langit bahwa Dia akan membenamkan kamu ke dalam bumi, maka tiba-tiba bumi itu menyembur-nyembur hancur..” (QS. Al-Mulk: 16)

Sekiranya Dia berada di setiap tempat, tentulah Dia juga berada di dalam perut manusia dan mulutnya, serta di dalam tempat-tempat kotor (toilet). Dan tentulah konsekuensinya Dzat-Nya akan bertambah seiring bertambahnya tempat-tempat baru yang diciptakan setelah sebelumnya belum ada tempat tersebut. Serta akan sah bagi seseorang untuk memohon dan berdoa menghadap ke arah bumi, ke arah belakang kita, ke arah kanan, maupun ke arah kiri kita..!

Padahal perkara ini telah disepakati oleh seluruh kaum Muslimin atas kebalikannya, dan mereka menyalahkan orang yang berpendapat demikian.”[27]

Beliau rohimahulloh (wafat 403 H) berkata: “Sifat-sifat dzat-Nya yang Dia senantiasa dan akan terus-menerus bersifat dengannya adalah: Hidup, Ilmu, Kuasa, Mendengar, Melihat, Bicara, Berkehendak, Wajah, Dua Tangan, Dua Mata, Marah, serta Ridho.”[28]

Beliau rohimahulloh (wafat 403 H) juga berkata: “Ketahuilah oleh kalian sekalian, sesungguhnya madzhab kami dan madzhab Abu Al-Hasan (Al-Asy’ari) yang telah ia gariskan di dalam seluruh kitab-kitab besarnya maupun ringkasannya, adalah madzhab Al-Jama’ah dan Salaf umat ini, serta apa yang telah dilalui oleh para imam yang sholih terdahulu, yaitu: ‘Bahwa Kalam Alloh merupakan sifat di antara sifat-sifat dzat-Nya, bukan perkara baru, bukan makhluk ciptaan, dan sesungguhnya Dia senantiasa berbicara’.” Dan beliau pun menyebutkan argumen-argumen atas hal tersebut.

Hingga beliau rohimahulloh (wafat 403 H) berkata: “Demikian pula pendapat kami mengenai seluruh riwayat yang bersumber dari Rosululloh tentang sifat-sifat Alloh Ta’ala apabila riwayat tersebut telah tsabit (shohih), berupa penetapan Sifat Wajah bagi-Nya, Dua Tangan, dan Dua Mata yang semuanya telah disebutkan dengan tegas oleh Al-Kitab.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾

“Dan tetap kekal Wajah Robbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan..” (QS. Ar-Rohman: 27)

Dan Dia berfirman:

﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya..” (QS. Al-Qoshosh: 88)

Dan Dia berfirman kepada Iblis:

﴿مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ﴾

“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku..” (QS. Shod: 75)

Dan Dia berfirman:

﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾

“Tetapi kedua Tangan-Nya terhampar terbuka..” (QS. Al-Maidah: 64)

Dan Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي﴾

“Dan agar kamu diasuh di atas Mata-Ku..” (QS. Thoha: 39)

Dan Alloh Ta’ala berfirman:

﴿تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا﴾

“Bahtera itu berlayar dengan pengawasan Mata-Mata Kami..” (QS. Al-Qomar: 14)

Maka Alloh telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri di dalam teks Kitab-Nya yang jelas akan sifat Wajah, Dua Mata, dan Dua Tangan.

Dan diriwayatkan di dalam Hadits dari riwayat Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi menyebutkan tentang Dajjal dan menjelaskan bahwa ia buta sebelah matanya, lalu beliau bersabda:

«إِنَّ رَبَّكم ليس بأعور»

“Sesungguhnya Robb kalian tidaklah buta sebelah.”

Maka beliau menetapkan sifat dua mata bagi-Nya, dan Hadits ini sama sekali tidak diperselisihkan keshohihannya di kalangan para ulama ahli Hadits, dan Hadits ini tercantum di dalam Shohih Al-Bukhori.

Dan beliau bersabda di dalam riwayat yang bersumber dari kabar-kabar yang masyhur:

«وكلتا يَدَيْهِ يَمِينُ»

“Dan kedua Tangan-Nya adalah tangan kanan.”

Maksud dari sabda Nabi tersebut adalah bahwa Dia –Subhanalloh– tidak merasa kesulitan atau lemah pada salah satu tangan-Nya dalam mendatangkan apa yang dikehendaki-Nya dibandingkan tangan yang lainnya, tidak sebagaimana kondisi makhluk yang kidal (al-aysar) yang merasa kesulitan menggunakan tangan kirinya dibandingkan tangan kanannya.

Dan kita katakan: Sesungguhnya Dia akan datang pada hari Qiyamah dalam naungan awan bersama para Malaikat, sebagaimana Al-Qur’an telah berfirman demikian. (QS. Al-Baqoroh: 210)

Dan bahwasanya Dia ‘Azza wa Jalla:

«يَنزِلُ إِلى سَماءِ الدُّنيا ؛ فيقولُ : هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعطَى، أو مُستغفر فيُغفَرَ له»

“Akan turun ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Apakah ada orang yang meminta maka akan Aku beri, atau ada orang yang memohon ampunan maka akan Aku ampuni dosanya’.” Al-Hadits  (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758) dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu.

Dan bahwasanya Dia –Jalla Tsanauhu– beristiwa di atas ‘Arsy-Nya. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

﴿الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾

“Robb Yang Maha Pengasih, Dia beristiwa di atas ‘Arsy..” (QS. Thoha: 5)

Dan Dia berfirman:

﴿ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ﴾

“Kemudian Dia beristiwa di atas ‘Arsy..” (QS. Al-A’rof: 54)

Dan telah kami jelaskan sesungguhnya agama kami dan agama para imam serta Ahlus Sunnah adalah: bahwasanya sifat-sifat ini dilewati jalannya sebagaimana ia datang, tanpa melakukan bagaimana (takyif), tanpa membatasi ukuran (tahdid), tanpa memfisikkan (tajsim), dan tanpa menggambarkan bentuknya (tashwir). Melainkan disikapi sebagaimana Hadits datang membawanya, dan sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Syihab Az-Zuhri (wafat 124 H) serta para imam Hadits lainnya mengenai kewajiban mengalirkan nash sifat tersebut sesuai apa adanya riwayat Hadits tanpa takyif.

Dan orang-orang tsiqoh (terpercaya) telah meriwayatkan dari Imam Malik (wafat 179 H), bahwasanya ada seorang penanya yang bertanya kepadanya tentang firman Alloh Ta’ala:

﴿الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾

“Robb Yang Maha Pengasih, Dia beristiwa di atas ‘Arsy.”

Maka Imam Malik menjawab: “Istiwa itu maknanya tidaklah asing (diketahui maknanya), sedangkan bagaimana bentuk caranya tidak dapat dinalar akal, dan mengimaninya adalah kewajiban, sementara mempertanyakan tentang caranya adalah perkara bid’ah.”[29]

3) Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini (Wafat 478 H)

Ibnu An-Najjar rohimahulloh (wafat 643 H) mengatakan tentang beliau: “Imam para ahli fikih di belahan timur maupun barat, tokoh terdepan mereka baik bangsa non-Arob maupun bangsa Arob. Seseorang yang matanya belum pernah melihat sosok yang sepadan dengannya dalam hal keutamaan, dan telinga belum pernah mendengar kisah perjalanan hidup yang seperti penukilan kisahnya.”[30]

Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini rohimahulloh (wafat 478 H) berkata: “Sekiranya aku dapat menghadapi perkaraku yang telah lalu dari apa yang aku hadapi sekarang, niscaya aku tidak akan menyibukkan diriku dengan ilmu kalam (filsafat teologi).”[31]

Dan Abu Al-Faroj ibnul Jauzi rohimahulloh (wafat 597 H) mengatakan: “Dahulu Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini sering berkata: ‘Sungguh aku telah menjelajahi para pemeluk Islam beserta seluruh cabang ilmu mereka, aku telah mengarungi lautan yang sangat luas, dan menyelami hal-hal yang mereka (para ulama terdahulu) telah melarang darinya. Semua itu aku lakukan dalam rangka mencari kebenaran, dan karena berlari dari sikap ikut-ikutan tanpa dalil (taqlid).

Dan sekarang, sungguh aku telah kembali dari semuanya itu menuju kepada kalimat kebenaran. Hendaklah kalian berpegang teguh pada agamanya orang-orang tua awam yang lugu (dinul ‘ajaiz). Maka sekiranya kebenaran itu tidak menjumpai diriku dengan kelembutan kebaikan-Nya sehingga aku mati di atas agamanya orang-orang tua awam tersebut, dan menutup akhir perkaraku di saat kepergianku dengan kalimat ikhlas (tauhid); maka celakalah bagi Ibnu Al-Juwaini!’”

Dan beliau dahulu sering berkata kepada para sahabatnya: “Wahai para sahabat kami! Janganlah kalian menyibukkan diri dengan ilmu kalam. Sebab sekiranya aku mengetahui bahwa ilmu kalam akan membawa diriku sampai pada batas kondisi yang aku capai saat ini, niscaya aku tidak akan menyibukkan diri dengannya!”[32]

Abu Al-Fath At-Thobari sang ahli fikih rohimahulloh berkata: “Aku menemui Abu Al-Ma’ali di saat ia menderita sakit menjelang wafatnya. Lalu ia berkata: ‘Saksikanlah oleh kalian atas diriku, bahwasanya aku sungguh telah kembali dari setiap pendapat yang menyelisihi ulama Salaf terdahulu, dan sesungguhnya aku mati di atas apa yang di atasnya mati orang-orang tua awam di kota Naisabur!’”[33]

Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini rohimahulloh (wafat 478 H) berkata: “Sungguh metode para ulama telah berbeda-beda di dalam menyikapi teks-teks lahiriah yang warid (datang) di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, yang mana para pengikut kebenaran terhalang untuk meyakini kandungan fisiknya secara mentah, serta enggan menjalankannya sesuai cakupan makna awal yang terbersit di dalam pemahaman orang-orang pemilik bahasa itu.

Maka sebagian mereka berpandangan untuk menta’wilkannya, serta berkomitmen menempuh jalan ini terhadap ayat-ayat Al-Kitab dan apa-apa yang shohih dari sunnah-sunnah Rosululloh .

Sedangkan para imam Salaf terdahulu menempuh jalan menahan diri dari melakukan ta’wil, mengalirkan teks-teks lahiriah tersebut sesuai dengan tempat datangnya, serta menyerahkan hakikat maknanya kepada Robb Ta’ala.”[34]

Dan apa yang kami ridhoi sebagai sebuah pandangan, dan kami beragama kepada Alloh dengannya secara amalan adalah: mengikuti Salaf umat ini. Maka yang paling utama adalah ittiba’ (mengikuti) dan meninggalkan ibtida’ (membuat bid’ah).

Dan dalil sam’i (dalil penukilan) yang qoth’i (pasti) dalam perkara itu adalah: bahwasanya ijma’ (kesepakatan) umat merupakan hujah yang wajib diikuti, dan ia merupakan sandaran bagi sebagian besar syariat. Dan sungguh para Shohabat Rosululloh telah berlalu di atas sikap meninggalkan upaya mengulik hakikat maknanya, serta meninggalkan upaya mencari batasan apa yang ada di dalamnya, padahal mereka adalah hamba-hamba pilihan dalam Islam, dan para pemikul beban syariat secara mandiri. Dahulu mereka tidak pernah mengurangi kesungguhan di dalam menjaga kaidah-kaidah agama, saling berwasiat untuk memeliharanya, serta mengajarkan manusia apa-apa yang mereka butuhkan dari perkara agama tersebut.

Maka sekiranya menta’wilkan ayat-ayat dan teks lahiriah ini merupakan perkara yang diperbolehkan lagi diharuskan, tentulah perhatian mereka terhadap hal itu akan berada di atas perhatian mereka terhadap perkara cabang-cabang (furu’) syariat. Dan apabila zaman mereka beserta zaman para Tabi’in telah berakhir di atas sikap berpaling dari melakukan ta’wil, maka hal tersebut menjadi bukti yang memutus perkara bahwasanya jalan Salaf itulah jalan yang wajib diikuti.”[35]

Maka perhatikanlah bagaimana beliau berlepas diri dari metode ta’wil kaum Asy’ariyah di dalam masalah sifat, dan memilih kembali kepada madzhab Salaf.

4) Al-Fakhr Ar-Rozi (Wafat 606 H)

Beliau merupakan sandaran utama kaum Asy’ariyah pada masa sekarang. Al-Muwaffaq Ahmad bin Abi Ushoibi’ah rohimahulloh berkata di dalam kitab sejarahnya: “Karya-karya tulis Fakhruddin beserta para muridnya telah tersebar luas di berbagai penjuru cakrawala. Dahulu apabila beliau berkendara, maka berjalan di sekelilingnya sekitar 300 orang murid dari kalangan ahli fikih dan selain mereka. Dan dahulu Khowarizm Syah sering mendatanginya. Beliau adalah orang yang sangat bersemangat tinggi di dalam ilmu-ilmu syariat dan ilmu hikmah (filsafat), tajam pemikirannya, banyak kelebihannya, serta kuat analisanya di dalam industri kedokteran, menguasai bidang sastra, dan memiliki gubahan syair dalam bahasa Persia maupun bahasa Arob.”[36]

Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh berkata ketika menyebutkan biografi Ar-Rozi: “Dan beliau telah mewasiatkan sebuah wasiat yang menunjukkan bahwasanya Aqidahnya telah membaik di akhir hayatnya!”[37]

Dan Imam Abu ‘Amr Ibnush Sholah rohimahulloh (wafat 643 H) berkata: “Al-Quthb At-Thu’ani telah menceritakan kepadaku sebanyak dua kali bahwasanya ia mendengar Al-Fakhr Ar-Rozi berkata: ‘Duhai, sekiranya aku tidak menyibukkan diri dengan ilmu kalam’, dan beliau pun menangis!”

Dan dikatakan: “Sesungguhnya Al-Fakhr Ar-Rozi pernah menyampaikan nasihat di hadapan Sultan Syihabuddin, lalu beliau berkata: ‘Wahai sultan alam! Kerajaanmu tidak akan kekal, dan tipuan muslihat Ar-Rozi pun tidak akan kekal! Dan sesungguhnya kepada Alloh tempat kembali kita’. Maka ucapan ini membuat sang sultan menangis.”[38]

Al-Fakhr Ar-Rozi rohimahulloh (wafat 606 H) berkata: “Sungguh aku telah merenungkan metode-metode ilmu kalam, dan jalan-jalan filsafat, namun aku tidak melihatnya dapat menyembuhkan orang yang sakit, tidak pula dapat menghilangkan dahaga orang yang kehausan! Dan aku melihat bahwa jalan yang paling dekat adalah jalannya Al-Qur’an: Aku membaca di dalam penetapan sifat:

﴿الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾

“Robb Yang Maha Pengasih, Dia beristiwa di atas ‘Arsy..” (QS. Thoha: 5)

Serta membaca:

﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ﴾

“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik..” (QS. Fathir: 10)

Dan aku membaca di dalam penafian penyerupaan makhluk:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat..” (QS. Asy-Syuro: 11)

Dan barangsiapa yang telah merasakan pengalaman seperti pengalamanku, niscaya ia akan mengetahui ilmu makrifah seperti makrifahku!”[39]

Beliau juga berkata di dalam bait syairnya:

نِهَايَةُ إِقْدامِ العُقولِ عِقالُ وأكثر سعي العالَمينَ ضَلَالُ

وأَرواحنا في وَحشَةٍ مِنْ جُسومنا وحَاصِلُ دُنيانا أَذًى وَوَبَالُ

وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنا طُوْلَ عُمْرِنَا سوى أَنْ جَمَعنا فيهِ قِيلَ وقَالُوا

“Puncak keberanian akal manusia berakhir pada belenggu tali, dan kebanyakan usaha seluruh manusia di dunia adalah kesesatan.

Dan ruh-ruh kami berada dalam ketakutan yang asing dari jasad-jasad kami, dan hasil akhir dari urusan dunia kami adalah gangguan dan bencana.

Dan kami tidaklah mendapatkan faedah dari penelitian kami di sepanjang umur kami, selain kami mengumpulkan di dalamnya perkataan katanya dan katanya!”[40]

Dan Al-Khosruusyaahii ini merupakan salah satu murid dari Ar-Rozi, di mana ia pernah masuk menemui Ar-Rozi, lalu Ar-Rozi bertanya kepadanya: “Wahai fulan, apa yang kamu yakini sebagai Aqidahmu?” Maka ia menjawab: “Aku meyakini apa yang diyakini oleh kaum Muslimin.” Ar-Rozi bertanya lagi: “Dan apakah kamu mantap atas hal tersebut, serta dadamu merasa lapang dengannya?” Aku menjawab: “Benar.” Maka Ar-Rozi pun menangis dengan tangisan yang sangat keras dan berat, dan aku mengira beliau berkata: “Akan tetapi aku —demi Alloh— tidak tahu apa yang aku yakini, akan tetapi aku —demi Alloh— tidak tahu apa yang aku yakini, akan tetapi aku —demi Alloh— tidak tahu apa yang aku yakini!”[41]

5) Imam An-Nawawi (Wafat 676 H)

Sungguh beliau telah menulis sebuah risalah yang ringkas di akhir masa hidupnya, beliau membantah di dalamnya terhadap pendapat kaum Asy’ariyah di dalam permasalahan yang berkaitan dengan Kalam Alloh ‘Azza wa Jalla.

Imam An-Nawawi rohimahulloh (wafat 676 H) berkata: “Dan kami termasuk bagian dari agama kami: berpegang teguh dengan kitab Alloh ‘Azza wa Jalla dan sunnah Nabi kita , serta apa yang diriwayatkan dari para Shohabat, Tabi’in, dan para imam Hadits yang masyhur.

Dan kami mengimani seluruh Hadits-Hadits sifat, kami tidak menambahkan di atas hal itu sedikit pun, dan tidak pula menguranginya sedikit pun. Contohnya seperti Hadits tentang kisah Dajjal dan sabda Nabi di dalamnya: ‘Dan sesungguhnya Robb kalian tidaklah buta sebelah.’[42]

Dan Hadits tentang turunnya Alloh ke langit dunia.[43]

Dan Hadits tentang istiwa di atas ‘Arsy.[44]

Dan Hadits bahwasanya hati-hati manusia berada di antara dua jemari dari jemari-jemari-Nya.[45]

Dan bahwasanya Dia meletakkan seluruh langit di atas satu jemari, dan bumi-bumi di atas satu jemari.[46]

Dan kami berpendapat dengan membenarkan Hadits Mi’roj, serta membenarkan apa yang shohih di dalamnya dari riwayat-riwayat yang ada.[47]

Dan kami beragama dengan keyakinan bahwasanya Alloh adalah Dzat yang membolak-balikkan hati.

Dan apa saja yang menyerupai Hadits-Hadits ini seluruhnya, disikapi sebagaimana riwayat itu datang, tanpa melakukan pembongkaran terhadap ta’wilnya, dan wajib bagi kita untuk melewatkannya sebagaimana ia datang.”[48]

Beliau rohimahulloh (wafat 676 H) berkata dalam kondisi membantah kaum Asy’ariyah atas pendapat baru mereka tentang Al-Qur’anul Karim, bahwasanya Al-Qur’an itu hanyalah berupa redaksi ungkapan pengganti (ibaroh) atau cerita tiruan (hikayah) dari Kalam Alloh!

Beliau berkata: “Sekiranya dikatakan kepada seorang qori’ (pembaca) yang sedang membaca suatu ayat: ‘Sesungguhnya ia sedang membaca Kalam Alloh’, maka ia tidaklah salah dalam menetapkan keputusan ini berdasarkan konsensus ijma’. Namun sekiranya dikatakan: ‘Ia sedang membaca redaksi ungkapan Kalam Alloh, dan bukan membaca Kalam Alloh yang sesungguhnya’, niscaya manusia akan bersepakat secara ijma’ atas kesesatannya dan pembid’ahannya!”[49]

Beliau rohimahulloh (wafat 676 H) berkata di dalam konteks bantahannya terhadap kaum Asy’ariyah pada bab yang paling penting di antara bab-bab sifat, yaitu setelah menyebutkan dalil-dalil bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalam Alloh, dan bahwasanya ia berupa huruf dan suara, beliau berkata:

“Dan perkara yang mengherankan adalah bahwasanya kitab-kitab kaum Asy’ariyah dipenuhi dengan pernyataan bahwasanya Kalam Alloh itu: diturunkan kepada Nabi-Nya, ditulis di dalam mushaf-mushaf, serta dibaca oleh lisan-lisan secara hakiki, kemudian setelah itu mereka mengatakan: ‘Yang diturunkan itu hanyalah redaksi ungkapan penggantinya saja! Dan yang tertulis itu berbeda dengan penulisan itu sendiri! Dan yang dibaca itu berbeda dengan pembacaan itu sendiri!’

Dan mereka pun mulai masuk ke dalam kontradiksi-kontradiksi yang nyata, serta pengejaran argumen yang dingin lagi lemah!

Dan cukuplah di dalam meruntuhkan keyakinan Aqidah ini; kondisi mereka yang tidak mampu untuk menyuarakannya secara terang-terangan, melainkan mereka berada di dalam kondisi tersebut di atas semacam keragu-raguan (miro’)!”[50]

Dan tatkala beliau menuliskan biografi bagi sang ahli fikih Abu Sulaiman Al-Khothobi rohimahulloh (wafat 388 H), beliau menukil –di dalam konteks memberikan pujian serta ketetapan persetujuan– dari kitabnya yang berjudul “Syi’aruddin”, maka Imam An-Nawawi rohimahulloh (wafat 676 H) berkata: “Dan beliau menegaskan secara terang-terangan bahwasanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit, dan beliau berkata: ‘Sebagian orang telah mengklaim bahwasanya makna istiwa di sini adalah menguasai (bukan bersemayam)! Dan orang itu berargumen di dalam pendapatnya tersebut dengan menggunakan bait syair yang tidak dikenal penuturnya, yang mana tidak sah berhujjah dengan ucapan orang yang melantunkannya!’”[51]

Beliau rohimahulloh (wafat 676 H) berkata di dalam penjelasan mengenai lafazh-lafazh yang sah dengannya keimanan seorang kafir untuk masuk Islam: “Dan bahwasanya sekiranya orang kafir itu mengucapkan: ‘Tidak ada yang berhak disembah selain Alloh Sang Raja yang berada di langit’, atau mengucapkan: ‘Kecuali Raja langit’, maka ia sah menjadi seorang Mu’min.

Sebab Alloh Ta’ala berfirman:

﴿أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ﴾

“Sudah amankah kamu dari Dzat yang berada di langit..” (QS. Al-Mulk: 16)[52]

Peringatan

Perlu dicatat secara khusus bahwasanya kembalinya para ulama tersebut adalah setelah mereka mendalami ilmu kalam (filsafat teologi), dan setelah mereka menyusun berbagai macam karya tulis di dalam bidang tersebut, yang mana karya-karya itu masih ada hingga hari kita ini, dan kaum Asy’ariyah masih terus menisbatkannya kepada mereka. Padahal, kewajiban yang semestinya bagi mereka adalah memusnahkan dan mengubur karya-karya tersebut. Dan milik Alloh-lah hikmah yang sangat mendalam.

Syaikhul Islam rohimahulloh (wafat 728 H) berkata: “Akan tetapi, tetap beradanya ucapan mereka, kitab-kitab mereka, serta rekam jejak mereka merupakan sebuah ujian yang sangat besar di tengah-tengah umat, serta fitnah yang besar bagi siapa saja yang memperhatikannya, dan tidak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan pertolongan Alloh.”[53]

Begitu pula di antara perkara-perkara yang wajib untuk diketahui adalah: sesungguhnya apa saja yang datang dari Alloh dan Rosul-Nya berdasarkan apa yang dipahami oleh para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dalam urusan Aqidah maupun amalan, di dalamnya sudah terdapat kecukupan dan pemenuhan kebutuhan daripada ilmu kaum mutakallimin (ahli kalam) atau ilmu selain mereka.

Syaikhul Islam rohimahulloh (wafat 728 H) berkata:

وَإِنْ كُنَّا مُسْتَغْنِينَ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَآثَارِ السَّلَفِ عَنْ كُلِّ كَلَامٍ، وَمَلَاكُ الْأَمْرِ أَنْ يَهَبَ اللَّهُ لِلْعَبْدِ حِكْمَةً وَإِيمَانًا بِحَيْثُ يَكُونُ لَهُ عَقْلٌ وَدِينٌ حَتَّى يَفْهَمَ وَيَدِينَ

“Dan sekiranya kita telah merasa cukup dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan atsar-atsar ulama Salaf daripada setiap ilmu kalam, maka inti dari perkara ini adalah Alloh menganugerahkan kepada seorang hamba hikmah dan keimanan, sekiranya ia memiliki akal dan agama hingga ia dapat memahami dan beragama dengannya. Kemudian, cahaya Al-Kitab dan As-Sunnah akan mencukupinya dari segala sesuatu. Akan tetapi, kebanyakan manusia telah menjadi orang yang menisbatkan diri kepada sebagian kelompok ahli kalam, dan berprasangka baik kepada mereka bukan kepada selain mereka, serta berhalusinasi bahwasanya mereka telah meneliti di dalam bab ini dengan suatu penelitian yang belum pernah dicapai oleh selain mereka. Maka sekiranya didatangkan kepada orang tersebut setiap ayat, ia tidak akan mengikutinya sampai didatangkan kepadanya sesuatu dari ucapan ahli kalam mereka!”[54]

Dan sesungguhnya di antara taufiq Alloh dan hidayah-Nya: engkau mengetahui bahwasanya apa yang disibukkan oleh ahli kalam dari perkara yang ditinggalkan oleh para Shohabat Nabi rodhiyallahu ‘anhum tidaklah menambah ilmu dan hikmah sebagaimana yang diklaim oleh kaum tersebut. Di mana mereka mengatakan: “Metode ulama Salaf itu lebih selamat, sedangkan metode ulama Kholaf itu lebih berilmu dan lebih kokoh.”

Maka sekadar menceritakan ungkapan ini saja sudah cukup di dalam menjelaskan kerusakan dan kebatilannya. Bagaimana mungkin sah dikatakan bahwa ilmu orang yang memungut ilmu-ilmu Aristoteles, Socrates, dan Plato itu lebih berilmu dan lebih kokoh daripada ilmu orang yang menerima ilmu tersebut dalam kondisi yang masih murni lagi segar langsung dari Rosululloh ?! Maka hakikat dari ungkapan ini adalah ia merupakan dalil atas rusaknya ilmu-ilmu para pemiliknya; dikarenakan penyelisihan mereka terhadap orang-orang yang mereka diperintahkan untuk diteladani dan diikuti![55]

Abu Al-Wafa bin ‘Aqil rohimahulloh (wafat 513 H) berkata:

أَنَا أَقْطَعُ أَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَاتُوا وَمَا عَرَفُوا الْجَوْهَرَ وَالْعَرَضَ. فَإِنْ رَضِيتَ أَنْ تَكُونَ مِثْلَهُمْ فَكُنْ. وَإِنْ رَأَيْتَ أَنَّ طَرِيقَةَ الْمُتَكَلِّمِينَ أَوْلَى مِنْ طَرِيقَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ - فَبِئْسَ مَا رَأَيْتَ!

“Aku memastikan secara mutlak bahwasanya para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum telah wafat dalam keadaan mereka tidak mengenal istilah jauhar (substansi materi) dan a’rodh (sifat materi). Maka jika engkau ridho untuk menjadi seperti mereka, jadilah demikian. Dan jika engkau berpandangan bahwasanya metode kaum mutakallimin lebih utama daripada metode Abu Bakr (13 H) dan ‘Umar (23 H), maka alangkah buruknya apa yang engkau pandang! Dan sungguh ilmu kalam telah mengantarkan para pemiliknya kepada keragu-raguan, dan membawa banyak di antara mereka menuju kepada keilahidan (ateisme), engkau dapat mencium aroma keilahidan dari ketergelinciran ucapan kaum mutakallimin.”[56]

Dan ini adalah Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini (wafat 478 H), beliau memperingatkan manusia dari apa yang didalami oleh kaum mutaakhirin (generasi belakangan) dan ahli kalam, serta bersaksi bahwasanya metode para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang menyepakati mereka adalah lebih selamat, lebih berilmu, dan lebih kokoh. Maka beliau berkata tentang mereka di dalam kitab terakhir yang beliau susun tentang para Shohabat:

وَمَا كَانُوا يَنْكَفِئُونَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَمَّا تَعَرَّضَ لَهُ الْمُتَأَخِّرُونَ عَنْ عِيٍّ وَحَصَرٍ، وَتَبَلُّدٍ فِي الْقَرَائِحِ.. هَيْهَاتَ. قَدْ كَانُوا أَذْكَى الْخَلَائِقِ أَذْهَانًا، وَأَرْجَحَهُمْ بَيَانًا، وَلَكِنَّهُمْ اسْتَيْقَنُوا أَنَّ اقْتِحَامَ الشُّبُهَاتِ، دَاعِيَةُ الْغَوَايَاتِ، وَسَبَبُ الضَّلَالَاتِ

“Dan tidaklah mereka rodhiyallahu ‘anhum menahan diri dari apa-apa yang dihadapi oleh kaum mutaakhirin dikarenakan ketidakmampuan berbicara, kelemahan, ataupun ketumpulan di dalam pemikiran.. tidak mungkin, jauh sekali. Sungguh mereka adalah makhluk yang paling cerdas akalnya, paling unggul penjelasannya, akan tetapi mereka meyakini secara pasti bahwasanya menceburkan diri ke dalam syubhat merupakan penyeru kepada penyimpangan, serta sebab bagi kesesatan.”[57]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh (wafat 852 H) berkata: “Maka barangsiapa yang menginginkan untuk mengumpulkan antara ilmunya para Nabi ‘alaihimus salam dengan ilmunya para filosof berdasarkan kecerdasannya, niscaya ia pasti akan menyelisihi mereka sekalian. Dan barangsiapa yang menahan diri dan berjalan di belakang apa yang dibawa oleh para Rosul berupa memutlakkan apa yang mereka mutlakkan, serta tidak sok tahu dan tidak mendalam-dalamkan; karena sesungguhnya mereka –sholawatulloh ‘alaihim– memutlakkan dan tidak mendalam-dalamkan; maka sungguh ia telah menempuh jalannya ulama Salaf yang sholih, dan selamatlah baginya agama serta keyakinannya.. kita memohon keselamatan di dalam agama kepada Alloh.”[58]

Beliau rohimahulloh (wafat 852 H) juga berkata: “Dan sungguh telah memperluas diri orang-orang yang datang belakangan setelah tiga kurun generasi yang utama di dalam mayoritas perkara yang telah diingkari oleh para imam Tabi’in dan para pengikut mereka. Dan mereka tidak merasa puas dengan hal itu hingga mereka mencampuradukkan masalah-masalah agama dengan ucapan bangsa Yunani, dan mereka menjadikan ucapan para filosof sebagai pondasi dasar yang mereka gunakan untuk mengembalikan atsar-atsar yang menyelisihinya melalui jalan ta’wil meskipun secara paksaan! Kemudian mereka tidak cukup dengan hal itu, hingga mereka mengklaim bahwasanya apa yang mereka susun itu merupakan ilmu yang paling mulia dan paling utama untuk didapatkan, dan bahwasanya barangsiapa yang tidak menggunakan apa yang mereka istilahkan tersebut, maka ia adalah orang awam yang bodoh! Maka orang yang berbahagia adalah orang yang berpegang teguh dengan apa yang ulama Salaf berada di atasnya, dan menjauhi apa yang diada-adakan oleh kaum Kholaf.”[59]

 

Renungan

Sebagian kaum Asy’ariyah di zaman ini mengklaim bahwasanya kaum Asy’ariyah merupakan kelompok mayoritas terbesar (as-sawadul a’zhom) dari kalangan kaum Muslimin, dan bahwasanya mayoritas ulama Islam berada di atas Aqidah Asy’ariyah! Dan tidak ada keraguan bahwasanya perkara ini termasuk bentuk kedustaan atas para ulama Islam, serta kebohongan yang nyata terhadap sejarah Islam! Dan bantahan atas hal tersebut ditinjau dari beberapa sisi, aku sebutkan sebagian darinya secara ringkas:

Sisi pertama: Bahwasanya banyak di antara para ulama yang dinisbatkan oleh kaum Asy’ariyah hari ini kepada madzhab mereka, sesungguhnya mereka berlepas diri –di akhir kehidupan mereka– dari pemikiran Asy’ariyah dan ilmu kalam, sebagaimana berlepas dirinya serigala dari darah Yusuf ‘alaihis sholatu was salam! Dan bukti nyata yang paling jelas atas hal tersebut adalah orang-orang yang telah disebutkan nama-nama mereka di dalam risalah ini dari kalangan tokoh-tokoh besar yang dinisbatkan kepada Aqidah ini, serta selain mereka sangat banyak!

Sisi kedua: Dengan mengasumsikan kebenaran jumlah banyak yang diklaim tersebut; maka sesungguhnya kebenaran itu tidaklah dikenal dengan banyaknya jumlah manusia, melainkan kebenaran itu dikenal dengan dalilnya yang shohih. Dan barangsiapa yang membaca kitab Alloh Ta’ala, ia akan mendapati bahwasanya mayoritas apa yang disebutkan di dalam jumlah yang banyak senantiasa digandengkan dengan celaan dan kecaman; sedangkan mayoritas apa yang disebutkan di dalam jumlah yang sedikit senantiasa digandengkan dengan pujian dan sanjungan. Dan ini adalah kitab Robb kalian berada di hadapan kalian, maka bacalah ia!

Adapun penelitian mendalam di dalam permasalahan jumlah yang banyak; maka sesungguhnya para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah melimpah ruah jumlahnya melampaui orang yang berada di atas Aqidah Asy’ari dari segi bilangan dengan berlipat-lipat ganda. Dan tidaklah kaum Asy’ariyah itu menggelar Aqidahnya, dan tidak pula kuat pengaruh kekuasaannya di dalam beberapa periode zaman; melainkan dikarenakan sebab diadopsinya Aqidah ini oleh sebagian para kholifah dan para penguasa. Maka kondisi mereka tidak lain kecuali seperti halnya kondisi orang-orang yang memenangkan urusan mereka, lalu mereka menjadikan sebuah Masjid di atas kuburan para penghuni Al-Kahfi!

Dan barangsiapa yang ingin membuktikan dari banyaknya dan melimpahnya para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyelisihi metodenya kaum Asy’ariyah; maka hendaklah ia melihat mereka dan menghitung jumlah mereka pada orang-orang yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah (wafat 751 H) di dalam kitabnya: Ijtima’ul Juyusyil Islamiyah, dan orang-orang yang disebutkan oleh Imam Al-Hafizh Adz-Dzahabi (wafat 748 H) di dalam kitabnya: Al-‘Uluw lil ‘Aliyil Ghoffar. Karena sesungguhnya kedua penulis tersebut menukil dari jamaah yang sangat besar dari kalangan para Shohabat, Tabi’in, dan para pengikut mereka; sampai kepada zaman kedua penulis tersebut, dari orang-orang yang mereka berada di atas kebalikan dari apa yang kaum Asy’ariyah berada di atasnya.

Begitu pula sang ahli fikih yang mutafannin (menguasai banyak bidang ilmu) Al-‘Allamah Ibnu Abdul Hadi rohimahulloh (wafat 744 H), beliau telah menyebutkan di dalam kitabnya yang beliau gunakan untuk membantah Ibnu ‘Asakir (wafat 571 H), mengenai lebih dari 400 orang, di antara ahli Hadits, ahli fikih, ahli ibadah, dan ulama; yang mana mereka seluruhnya menjauhkan diri dari kaum Asy’ariyah dan metode mereka. Kemudian beliau rohimahulloh berkata setelah hal itu: “Demi Alloh, kemudian demi Alloh, dan demi Alloh, sungguh apa yang kami tinggalkan (tidak kami sebutkan) jauh lebih banyak daripada apa yang telah kami sebutkan. Dan sekiranya kami pergi untuk meneliti secara tuntas dan melacak setiap orang yang menjauhi mereka mulai dari hari mereka ada hingga sekarang, niscaya jumlah mereka akan bertambah melebihi 10.000 jiwa!”[60]

Sisi ketiga: Sungguh kaum Asy’ariyah telah membedakan antara ulama Salaf dan ulama Kholaf; di mana mereka menjadikan madzhab Salaf itu lebih selamat, sedangkan madzhab Kholaf lebih berilmu dan lebih kokoh. Kemudian mereka berselisih di dalam batasan pemisah antara Salaf dan Kholaf di atas dua pendapat:

Pertama: Bahwasanya ulama Salaf adalah mereka yang berada pada lima kurun generasi yang pertama, kemudian ulama Kholaf adalah orang-orang setelah mereka.

Kedua: Bahwasanya ulama Salaf adalah mereka yang berada pada tiga kurun generasi yang pertama, yaitu para Shohabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in, kemudian barulah adanya ulama Kholaf setelah itu. Dan mereka menyebutkan pendapat yang pertama sebagai pendapat yang rojih (kuat), sedangkan pendapat yang kedua sebagai pendapat yang marjuh (lemah).[61]

Maka ulama Salaf –menurut pandangan kaum Asy’ariyah– adalah mereka yang berada pada lima kurun generasi yang pertama, atau tiga kurun generasi yang pertama; dan ini merupakan persaksian kaum Asy’ariyah sendiri atas diri mereka sendiri!

Maka renungkanlah olehmu sabda Nabi :

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَتَخَلَّفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ»

“Sebaik-baik manusia adalah yang berada pada generasiku, kemudian orang-orang yang setelah mereka, kemudian orang-orang yang setelah mereka, kemudian akan digantikan setelah mereka oleh generasi pengganti yang mana persaksian salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”[62]

Maka di manakah engkau mendapati posisi keberadaan kaum Asy’ariyah di dalam Hadits ini, apakah di awalnya ataukah di akhirnya?!

Dan renungkanlah bagaimana bahwasanya kurun generasi yang paling utama, paling baik, dan paling berbakti.. yang mana di dalamnya berkumpul para imam kaum Muslimin dari kalangan Khulafaur Rosyidin; Abu Bakr (13 H), ‘Umar (23 H), ‘Utsman (35 H), dan ‘Ali (40 H), serta seluruh para Shohabat yang mulia rodhiyallahu ‘anhum ajma’in, kemudian para imam Tabi’in dan para pengikut mereka, dari kalangan ahli tafsir, ahli fikih, ahli Hadits, ahli ibadah, ahli zuhud, ahli ilmu dan amal, serta ahli jihad di jalan Alloh.. seluruh orang-orang yang agung ini –dan dengan persaksian kaum Asy’ariyah sendiri– mereka dahulu berada terasing dan jauh dari sifat “lebih berilmu dan lebih kokoh” yang diada-adakan oleh kaum Asy’ariyah! Maka apa lagi yang tersisa bagi mereka?!

Dan aku menambahkan bagi pembaca yang cerdas sebuah peringatan, bahwasanya para imam Islam yang empat: Abu Hanifah (150 H), Malik (179 H), Asy-Syafi’i (204 H), dan Ahmad (241 H) rohimahumulloh jamian, mereka seluruhnya berada di atas selain Aqidahnya kaum Asy’ariyah![63]

Ini (yang bisa saya tulis), dan Alloh yang paling tinggi lagi Maha Mengetahui, dan semoga sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarganya serta para shohabatnya sekalian, dan segala puji bagi Alloh Robb semesta alam.[]



[1] Ungkapan ini disebutkan oleh Ibnu Taimiyah rohimahulloh (728 H) di beberapa tempat dalam kitab-kitabnya, dan maknanya juga dituturkan oleh Imam Khurosan pada zamannya, yaitu Syaikh Abu Ismail Al-Anshori rohimahulloh (481 H), silakan lihat Majmu’ al-Fatawa (14/349) cetakan Majma’ al-Malik Fahd 1416 H.

[2] Sebagian orang mungkin akan mengingkari penyandaran pendapat ini kepada Asya’iroh; sebab pendapat yang paling masyhur yang dikenal dari mereka mengenai kewajiban pertama bagi mukallaf adalah ma’rifat, ada pula yang mengatakan: penalaran, dan ada yang mengatakan: bermaksud untuk penalaran. Ada yang menyebutkan pula bahwa perbedaan di antara ketiga pendapat ini hanyalah sebatas lafazh semata, yang mana semuanya menunjukkan pada satu hal yang sama; sebab ma’rifat merupakan sebuah tujuan akhir, sedangkan penalaran beserta maksud untuk penalaran adalah sarana untuk mengantarkan pada tujuan akhir tersebut. Adapun mengenai keberadaan ragu terhadap Alloh sebagai kewajiban pertama bagi mukallaf, maka hal ini merupakan pendapat yang dikenal dari kalangan Mu’tazilah sebagaimana yang dinyatakan secara terang-terangan oleh Abu Hasyim Al-Jubba’i (321 H). Orang yang merenungkan pendapat-pendapat Asya’iroh yang lahir dari rahim Mu’tazilah—di samping adanya perbedaan redaksi di antara mereka antara ma’rifat, penalaran, dan maksud untuk penalaran, kemudian perbedaan mereka mengenai sahnya iman seorang mukallaf sebelum melakukan penelaahan dan penalaran—akan mendapati bahwa seluruh pendapat tersebut berputar pada poros keraguan semata. Sampai-sampai Abu Hamid Al-Ghozali rohimahulloh (505 H) mengatakan: “Keraguan itu adalah jalan yang mengantarkan kepada kebenaran; barangsiapa yang tidak ragu maka dia tidak akan menalar, barangsiapa yang tidak menalar maka dia tidak akan melihat, dan barangsiapa yang tidak melihat maka dia akan tetap berada dalam kebutaan dan kesesatan!” (Mizan al-‘Amal, Al-Gozali, (hal. 409) cetakan Dar al-Ma’arif - Mesir 1384 H dengan tahqiq Sulaiman Dunya)

Ibnu Hazm rohimahulloh (456 H) mengatakan: “Adapun Asya’iroh, sesungguhnya mereka membawa ucapan yang memenuhi mulut, membuat bergidik kulit pemeluk Islam, dan membuat telinga menjadi muak... Mereka berkata—tanpa menyembunyikannya—: “Tidak sah Islam seseorang hingga dia setelah masa balighnya berada dalam keadaan ragu dan tidak membenarkan!”

Kemudian Ibnu Hazm rohimahulloh (456 H) berkata: “Kami tidak pernah mendengar sama sekali dalam hal kekufuran dan lepasnya diri dari Islam yang lebih keji daripada ucapan mereka ini.” (Al-Fishol fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal oleh Ibnu Hazm (4/41) cetakan Al-Khonji di Percetakan At-Tamaddun 1321 H)

Ibnu Taimiyah rohimahulloh (728 H) mengatakan: “Karena mereka hanyalah mewajibkan penalaran atasnya; apabila mereka mewajibkannya, maka konsekuensinya adalah hilangnya ilmu terhadap apa yang ditunjukkan; sehingga orang yang menalar tersebut menjadi orang yang mencari ilmu; maka konsekuensinya dia menjadi orang yang ragu; sehingga mereka pun mewajibkan atas setiap Muslim bahwa imannya tidak sempurna hingga muncul keraguan pada dirinya terhadap Alloh dan Rosul-Nya setelah dia baligh, baik mereka mewajibkannya secara langsung atau mereka mengatakan: hal tersebut termasuk bagian dari konsekuensi kewajiban.” (Dar’u Ta’arudh al-’Aql wa an-Naql (7/421) cetakan Jami’ah al-Imam Muhammad bin Saud - Riyadh 1411 H dengan tahqiq Muhammad Rosyad Salim)

Sebuah riwayat menyebutkan ucapan dari seorang Tabi’in:

«ما الرَّجْسُ؟» قال : «الشَّكُ في الله عزَّ وجلَّ»

Watsilah bin Al-Asqo’ rodhiyallahu ‘anhu ditanya: “Apakah ar-rijs itu?” Beliau menjawab: “Keraguan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.” (Asy-Syari’ah oleh Al-Ajurri no. 1998, cetakan Dar al-Wathon - Riyadh 1420 H dengan tahqiq Abdullah ad-Dumaiji)

[3] Lihat kitab: Dar’u Ta’arudh al-Aql wa an-Naql (7/407-408).

Dan silakan lihat—jika Anda menghendaki—pendapat-pendapat mereka yang dikumpulkan dalam kitab mereka: “Tuhfat al-Murid ‘ala Jawharot at-Tauhid” karya Al-Baijuri (hal. 82-83) cetakan Dar as-Salam Kairo Mesir 1422 H dengan tahqiq Dr. Ali Jum’ah Muhammad.

[4] Kitab mereka: “Tuhfat al-Murid” (hal. 89).

[5] Kemudian setelah itu mereka menuduh orang-orang Salafi bertindak melampaui batas dan suka mengkafirkan!

[6] Lihat kitab mereka: “Syarh al-‘Aqidah al-Kubro” karya As-Sanusi (hal. 13-16) cetakan Jaridah al-Islam di Mesir 1316 H.

[7] Al-Ghozali rohimahulloh (505 H) mengatakan tentang ilmu kalam: “Maka tidak menghasilkan darinya apa yang dapat menghapuskan secara keseluruhan pekatnya kegelapan kebingungan dalam perselisihan makhluk!” Lihat kitab Al-Ghozali: “Al-Munqidzh min adh-Dholal” (hal. 137) cetakan Maktabah al-Anjlo al-Mishriyyah - Kairo tanpa tahun, dengan tahqiq Dr. Abdul Halim Mahmud.

[8] Naqdh al-Manthiq oleh Ibnu Taimiyah (hal. 25) Percetakan As-Sunnah al-Muhammadiyyah - Kairo Mesir 1370 H dengan tahqiq Muhammad Hamid Al-Fiqi.

[9] Ihya ‘Ulum ad-Din (1/94) cetakan Dar al-Ma’rifah Beirut - Lebanon 1402 H.

[10] Ihya ‘Ulum ad-Din (1/97).

[11] At-Tis’iniyyah oleh Ibnu Taimiyah (3/952) cetakan Maktabah al-Ma’arif, Riyadh Kerajaan Arob Saudi 1420 H dengan tahqiq Dr. Muhammad bin Ibrohim Al-‘Ajlan.

[12] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (4/27).

[13] Ash-Shofadiyyah, Ibnu Taimiyyah, 1/294.

[14] Dar’u Ta’arudil Aqli wan Naql, Ibnu Taimiyyah, 1/166.

[15] Nihayatul Iqdam ‘an Ilmil Kalam, Asy-Syahrostani, hal. 7.

[16] Abu Al-Hasan Al-Farisi (511 H) mengatakan dalam biografi Abu Hamid Al-Ghozali rohimahulloh: “Dan adalah akhir dari urusannya berupa tindakannya yang menghadapkan diri untuk mencari Hadits Al-Musthofa , duduk bersama para ahlinya, serta menelaah Ash-Shohihain karya Al-Bukhori (256 H) dan Muslim (261 H), yang mana keduanya merupakan hujjah Islam.” (Al-Mukhtashor min As-Siyâq li Tarîkhi Naisâbûr (hal. 74) cetakan Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah - Beirut Lebanon 1409 H dengan tahqiq Muhammad Ahmad Abdul Aziz)

Dan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rohimahulloh (792 H) mengatakan: “Dan demikian pula Al-Ghozali rohimahulloh, akhir urusannya berujung pada sikap waqf (berdiam diri) dan kebingungan dalam masalah-masalah kalamiyyah, kemudian beliau berpaling dari jalan-jalan tersebut dan menghadapkan diri pada Hadits-Hadits Rosul ; hingga beliau wafat dalam keadaan kitab Shohih Imam Al-Bukhori berada di atas dadanya.” (Syarh al-Aqidah ath-Thohawiyyah (hal. 243-244) Muassasah ar-Risalah, Beirut - Lebanon, dengan tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth dan Abdullah At-Turki)

[17] Kitab: “Siyar A’lam an-Nubala” karya Adz-Dzahabi (15/86) cetakan Muassasah ar-Risalah, Beirut - Lebanon 1405 H dengan tahqiq sekelompok peneliti di bawah bimbingan Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth rohimahulloh.

[18] Asya’iroh mengingkari sifat istiwa, dan mereka mengubah maknanya seraya berkata: “Istiwa bermakna istaula (menguasai)”! Dan tahrif (pengubahan) ini, di samping keberadaannya tidak sah dari sisi bahasa Arob yang Al-Qur’an Al-Karim turun dengannya: ia juga merupakan Aqidah Mu’tazilah yang diwarisi oleh Asya’iroh dari ibu mereka! Abu Al-Hasan Al-Asy’ari rohimahulloh (324 H) mengatakan: “Dan Mu’tazilah berkata mengenai firman Alloh ‘Azza wa Jalla: ‘Ar-Rohman ‘alal ‘Arsyis tawa’, maknanya adalah istaula (menguasai)” (Kitab: “Maqolat al-Islamiyyin” oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (1/237) cetakan Al-Maktabah al-’Ashriyyah, Beirut Lebanon 1400 H dengan tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid)

Dan beliau rohimahulloh (324 H) berkata: “Dan tidaklah istiwa-Nya di atas ‘Arsy itu bermakna penguasaan (istila’), sebagaimana yang dikatakan oleh ahli qodar (Mu’tazilah); karena Dia—'Azza wa Jalla—senantiasa menguasai segala sesuatu.” (Risalah ila Ahli ats-Tsaghor oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (hal. 233-234) cetakan Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam - Madinah An-Nabawiyyah 1422 H dengan tahqiq Abdullah Al-Junaidi)

[19] Yang dimaksud adalah menafikan ilmu tentang kaifiyyah (bagaimananya sifat tersebut); karena sesungguhnya makhluk tidak dapat meliputi Alloh dengan ilmu mereka. Adapun menafikan keberadaan kaifiyyah itu sendiri, maka hal tersebut sama sekali bukan yang dimaksudkan: karena menafikan keberadaan kaifiyyah mengonsekuensikan penafian keberadaan sifat itu sendiri. Maka tidak sah dalam keadaan bagaimana pun jika pembicaraan dalam rangka menetapkan sesuatu yang tidak ada; maka perhatikanlah!

[20] Nabi bersabda:

«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ»

Sesungguhnya kalian akan melihat Robb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak saling berdesakan dalam melihat-Nya.” Al-Bukhori (no. 554) dan Muslim (no. 633) dari Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhuma.

[21] Kitab: “Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah” karya Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (secara ringkas hal. 20-26) cetakan Dar al-Anshar, Kairo Mesir 1397 H dengan tahqiq Dr. Fauqiyyah Husain Mahmud.

[22] Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah (hal. 150).

[23] Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubro, Ibnu Taimiyah, hlm. 507-508, cetakan Dar Ash-Shumai’i - Riyadh, Kerajaan Arob Saudi, 1419 H, ditahqiq oleh Dr. Hamad At-Tuwaijiri.

[24] Tamhidul Awail fi Talkhisil Dalail, Al-Baqillani, hlm. 295-298, cetakan Muassasatul Kutub Ats-Tsaqofiyah, Beirut - Lebanon, 1407 H, ditahqiq oleh ‘Imaduddin Ahmad Haidar.

[25] Tamhidul Awail fi Talkhisil Dalail, hlm. 303.

[26] Al-Inshof fima Yajibu I’tiqoduhu wa la Yajuzu Al-Jahlu bihi, Al-Baqillani, hlm. 67, cetakan Al-Maktabah Al-Azhariyah, Mesir, 1421 H, ditahqiq oleh Muhammad Zahid Al-Kautsari.

[27] Dinukil dari kitab Al-Ibanah karya Al-Baqillani oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi (wafat 748 H) dalam kitabnya: Al-‘Uluw lil ‘Aliyil Ghoffar, hlm. 238, cetakan Maktabah Adhwaus Salaf - Riyadh, 1416 H, ditahqiq oleh Asyrof bin Abdul Maqshud.

[28] Al-‘Uluw lil ‘Aliyil Ghoffar, Adz-Dzahabi, hlm. 238.

[29] Ijtima’ul Juyusyil Islamiyah, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, 2/301-302, cetakan Mathabi’ Al-Farozdaq - Riyadh, Kerajaan Arob Saudi, 1408 H, ditahqiq oleh ‘Awwad Abdullah Al-Mu’tiq.

[30] Al-Mustafad min Dzaili Tarikhi Baghdad, Ad-Dimyathi, 21/130, cetakan Muassasatur Risalah, Beirut - Lebanon, 1406 H, ditahqiq oleh Muhammad Maulud Kholaf, di bawah bimbingan Dr. Basysyar ‘Awwad.

[31] Siyar A’lamin Nubala, 18/473.

[32] Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 83, cetakan Darul Qolam, Beirut - Lebanon, 1403 H.

[33] Tarikhul Islam, Adz-Dzahabi, 10/427, cetakan Darul Ghorb Al-Islami, Beirut - Lebanon, 1424 H, ditahqiq oleh Dr. Basysyar ‘Awwad.

[34] Ulama Salaf dari kalangan Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka, mereka dahulu menyerahkan urusan bagaimananya (kaifiyah) sifat (kepada Alloh), namun mereka mengimani makna-maknanya berdasarkan apa yang dikonsekuensikan oleh bahasa Arob yang merupakan bahasa Al-Qur’an dan As-Sunnah, disertai dengan menyertakan prinsip penyucian Alloh Subhanahu wa Ta’ala dari menyerupai makhluk-Nya, selaras dengan firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Maka sesungguhnya Alloh telah memberikan taufiq kepada mereka untuk menetapkan sifat bersamaan dengan menyucikan-Nya. Adapun menyandarkan Aqidah Salaf kepada pemasrahan makna-makna sifat kepada Alloh (tafwidhul ma’ani) disertai ketidaktahuan terhadap maknanya, maka hal itu merupakan kekeliruan yang nyata. Sebab Alloh Subhanahu wa Ta’ala memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk-Nya melalui sifat-sifat-Nya, tujuannya adalah agar membuahkan keimanan di dalam hati mereka berupa rasa cinta kepada-Nya, rasa takut kepada-Nya, dan berharap kepada-Nya... Alloh tidak mengabarkan kepada mereka tentang sifat-sifat yang agung ini agar mereka sekadar membacanya sebagai susunan huruf tanpa makna, lalu menganggap posisinya sama seperti huruf-huruf muqottho’ah di awal surat dalam Al-Qur’an!

Ibnu Al-Qoyyim rohimahulloh (wafat 751 H) berkata: “Para Shohabat dan Tabi’in telah menafsirkan Al-Qur’an dan mengetahui maksud dari ayat-ayat Sifat Alloh sebagaimana mereka mengetahui maksud dari ayat-ayat perintah dan larangan, meskipun mereka tidak mengetahui bagaimananya (kaifiyah). Sebagaimana mereka mengetahui makna-makna apa saja yang dikabarkan oleh Alloh mengenai apa yang ada di dalam Jannah dan Naar, meskipun mereka tidak mengetahui hakikat bentuk rupa dan bagaimananya. Maka barangsiapa di antara ulama Salaf yang mengatakan: ‘Sesungguhnya ta’wil ayat mutasyabih tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh’ dengan makna kaifiyah ini, maka perkataannya adalah benar. Adapun orang yang mengatakan bahwa ta’wil yang bermakna tafsirnya dan penjelasan maksud darinya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh, maka ini keliru, dan para Shohabat, Tabi’in, serta mayoritas umat menyelisihi hal tersebut.

Mujahid (wafat 104 H) berkata: ‘Aku telah menyodorkan mushaf kepada Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma mulai dari pembukaannya hingga penutupnya, aku menghentikannya pada setiap ayat dan bertanya kepadanya tentang ayat tersebut’. And Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Tidak ada satu ayat pun dalam kitab Alloh melainkan aku mengetahui mengenai apa ayat tersebut diturunkan’. Dan Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh (wafat 110 H) berkata: ‘Tidaklah Alloh menurunkan suatu ayat melainkan Dia sangat suka untuk diketahui apa yang Dia inginkan melalui ayat tersebut’. Dan Masruq rohimahulloh (wafat 63 H) berkata: ‘Tidaklah kami bertanya kepada para Shohabat Muhammad tentang sesuatu melainkan ilmunya ada di dalam Al-Qur’an, akan tetapi ilmu kami yang terlalu pendek darinya’. Dan Asy-Sya’bi (wafat 103 H) berkata: ‘Tidaklah suatu kaum membuat-buat suatu perkara bid’ah melainkan di dalam kitab Alloh terdapat penjelasan yang membantahnya’.” (Showa’iqul Mursalah, Ibnu Al-Qoyyim, 1/571-572, cetakan Dar Ibnu Hazm, Beirut - Lebanon, 1442 H, ditahqiq oleh Husain bin ‘Ukasyah bin Romadhon)

Dan Ibnu Qutaibah Ad-Dinawari rohimahulloh (wafat 276 H) berkata: “Kewajiban atas kita adalah berhenti di dalam menetapkan sifat-sifat Alloh pada batasan di mana Dia berhenti di dalam menyifati diri-Nya, atau pada batasan di mana Rosul-Nya berhenti, dan kita tidak menggeser lafazh tersebut dari apa yang dikenal oleh orang Arob dan meletakkannya di atas makna tersebut, serta menahan diri dari perkara di luar hal itu.” (Kitab Al-Ikhtilaf fil Lafzhi, Ibnu Qutaibah, hlm. 44, cetakan Dar Ar-Royah, Riyadh, 1412 H, ditahqiq oleh ‘Umar bin Mahmud)

Ibnu Al-Majisyun rohimahulloh (wafat 212 H) berkata: “Sesungguhnya kita tidak mengetahui bagaimanakah hakikat apa yang dikabarkan oleh Alloh tentang diri-Nya, walaupun kita mengetahui tafsir serta maknanya.” (Showa’iqul Mursalah, 1/571)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh (wafat 852 H) berkata: “Ucapan orang yang mengatakan: ‘Metode Salaf itu lebih selamat, sedangkan metode Kholaf itu lebih kokoh secara ilmiah’ merupakan ucapan yang tidak lurus. Karena orang ini mengira bahwa metode Salaf hanyalah sekadar beriman kepada lafazh-lafazh Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa adanya pemahaman fikih di dalam hal itu, dan ia mengira bahwa metode Kholaf adalah mengeluarkan makna-makna nash yang dipalingkan dari hakikatnya dengan menggunakan berbagai macam majas (gaya bahasa kiasan). Maka orang yang berkata demikian telah mengumpulkan antara ketidaktahuan terhadap metode Salaf, dan klaim kosong pada metode Kholaf. Perkaranya tidaklah seperti apa yang ia kira; melainkan ulama Salaf berada pada puncak tingkat ma’rifah (pengetahuan) mengenai apa yang layak bagi Alloh Ta’ala, dan berada pada puncak pengagungan terhadap-Nya, tunduk terhadap perintah-Nya, serta berserah diri terhadap kehendak-Nya. Dan tidaklah orang yang menempuh jalan Kholaf merasa tenang meyakini bahwa apa yang ia ta’wilkan itulah yang merupakan maksud sejati dari Alloh, dan tidak mungkin baginya untuk memastikan keshohihan hasil ta’wilannya!” (Fathul Bari, 13/352, cetakan Darul Ma’rifah, Beirut - Lebanon, 1390 H, di bawah bimbingan Muhibbuddin Al-Khothib)

[35] Al-Aqidah An-Nizhmiyah fil Arkanil Islamiyah, Al-Juwaini, hlm. 32-33, cetakan Al-Maktabah Al-Azhariyah lit Turats, Kairo - Mesir, 1412 H, ditahqiq oleh Dr. Muhammad Zahid Al-Kautsari.

[36] Tarikhul Islam, 13/137, dan Adz-Dzahabi berkata: yang dimaksud dengan hikmah oleh beliau adalah filsafat.

[37] Lisanul Mizan, 6/321, cetakan Darul Basya’ir Al-Islamiyah, Beirut - Lebanon, 1423 H, ditahqiq oleh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Dan kalimat ini lebih dekat sebagai bentuk persaksian atas baiknya Aqidah Al-Hafizh Ibnu Hajar sendiri dibandingkan dengan baiknya Aqidah Ar-Rozi rohimahumalloh; maka renungkanlah!

[38] Tarikhul Islam, 13/142.

[39] Siyar A’lamin Nubala, 21/501.

[40] Syarh Al-‘Aqidah At-Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi, 1/244, cetakan Muassasatur Risalah, Beirut - Lebanon, 1417 H, ditahqiq oleh Syu’aib Al-Arna’uth dan Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki.

[41] At-Tis’iniyah, hlm. 201-202.

[42] Al-Bukhori no. 3057 dan Muslim no. 169 dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma.

[43] Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758 dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu.

[44] Mungkin yang beliau maksudkan adalah sabda Nabi : “Sesungguhnya Alloh tatkala menetapkan penciptaan makhluk, Dia menulis di sisi-Nya di atas ‘Arsy-Nya: Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku” (Shohih Al-Bukhori no. 7422 dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu)

[45] Hadits diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya no. 2654 dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhuma.

[46] Al-Bukhori no. 4811 dan Muslim no. 2786 dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu.

[47] Al-Bukhori no. 3887 dan Muslim no. 164 dari Malik bin Sho’sho’ah rodhiyallahu ‘anhu.

[48] Juz’un fihi Dzikru I’tiqodis Salaf fil Hurufi wal Ashwath, An-Nawawi, hlm. 67-68, cetakan Maktabah Al-Anshar, Kairo - Mesir, ditahqiq oleh Ahmad bin Ali Ad-Dimyathi. Dan naskah aslinya yang berupa manuskrip berada di Darul Kutub Al-Mishriyah dengan nomor 213 mikrofilm 14129.

[49] I’tiqodis Salaf fil Hurufi wal Ashwath, An-Nawawi, hlm. 46-47.

[50] I’tiqodis Salaf fil Hurufi wal Ashwath, hlm. 39.

[51] Thobaqotul Fuqoha Asy-Syafiiyah, Ibnu Ash-Sholah, dengan tahdzib dan tartib oleh Imam An-Nawawi, 1/470, cetakan Darul Basya’ir Al-Islamiyah, Beirut - Lebanon, 1413 H, ditahqiq oleh Muhyiddin Ali Najib.

[52] Roudhotut Tholibin, An-Nawawi, 10/85, cetakan Al-Maktab Al-Islami, Beirut - Lebanon, 1412 H, di bawah bimbingan Zuhair Asy-Syawisy.

[53] Al-Istiqomah, Ibnu Taimiyah, 1/79-80, cetakan Universitas Al-Imam Muhammad bin Saud Al-Islamiyah, Riyadh - Kerajaan Arob Saudi, 1403 H, ditahqiq oleh Dr. Muhammad Rasyad Salim.

[54] Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubro, hlm. 511.

[55] Lihat –jika engkau mau– ketetapan kaidah yang rusak ini di dalam kitab mereka: Tuhfatul Murid, hlm. 156.

[56] Talbis Iblis, hlm. 83.

[57] Ghiyatsul Umam, Al-Juwaini, hlm. 141, cetakan Darul Da’wah, Iskandariyah - Mesir, ditahqiq oleh Dr. Mustafa Hilmi dan Dr. Fuad Abdul Mun’im Ahmad.

[58] Lisanul Mizan, 5/561.

[59] Fathul Bari, 13/253.

[60] Jam’ul Juyusy wad Dasakir, Ibnu Abdul Hadi, hlm. 320, cetakan Darul ‘Aqidah, Madinah An-Nabawiyah, 1439 H, ditahqiq oleh Husain Al-Qohthani.

[61] Lihat kitab mereka: Tuhfatul Murid, hlm. 156.

[62] Al-Bukhori no. 2562 dan Muslim no. 2533 dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, dan lafazh ini milik Muslim.

[63] Al-Hafizh Adz-Dzahabi rohimahulloh (wafat 748 H) berkata di dalam konteks pembicaraan mengenai keikhlasan di dalam menuntut ilmu: “Maka apabila pencarianmu terhadap Hadits Nabawi diliputi dengan penyakit-penyakit ini; maka kapankah keselamatanmu darinya menuju kepada keikhlasan? Dan apabila ilmu tentang atsar-atsar saja bisa kemasukan penyakit; maka bagaimana dugaanmu dengan ilmu manthiq (logika Aristoteles), ilmu jidal (debat filsafat), serta hikmah orang-orang terdahulu (filsafat Yunani kuno); yang mana ia merampas keimanan, serta mewariskan keragu-raguan dan kebingungan?! Yang mana ilmu-ilmu tersebut –demi Alloh– bukanlah termasuk dari ilmunya para Shohabat, bukan pula para Tabi’in, dan bukan pula dari ilmunya Al-Auza’i (157 H), Ats-Tsauri (161 H), Malik (179 H), Abu Hanifah (150 H), Ibnu Abi Dzi’b (158 H), dan Syu’bah (160 H). Dan tidak pula –demi Alloh– dikenal oleh Ibnu Al-Mubarok (181 H), tidak pula Abu Yusuf (182 H) yang mengatakan: ‘Barangsiapa yang mencari agama dengan ilmu kalam maka ia telah zindiq’. Tidak pula Waki’ (197 H), tidak pula Ibnu Mahdi (198 H), tidak pula Ibnu Wahb (197 H), tidak pula Asy-Syafi’i (204 H), tidak pula ‘Affan (220 H), tidak pula Abu ‘Ubaid (224 H), tidak pula Ibnu Al-Madini (234 H), Ahmad (241 H), dan Abu Tsaur (240 H) rohimahulloh.” (Tadzkirotul Huffazh, Adz-Dzahabi, 1/205, cetakan Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut - Lebanon)

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini