[PDF] Tarjamah Suroh Yusuf - Merujuk Tafsir Muyassar dan Mukhtashor fit Tafsir - Nor Kandir
﷽
Keagungan Al-Qur’an dan Kisah
Terbaik
Alloh
memulai surat ini dengan huruf-huruf muqoththo’ah untuk menunjukkan
kemukjizatan Al-Qur’an yang disusun dari huruf-huruf yang biasa digunakan
manusia, namun tak ada yang mampu menandinginya. Penjelasan ini menjadi pembuka
untuk mengenalkan Al-Qur’an sebagai kitab yang sangat jelas, diturunkan dalam
bahasa Arob agar mudah dipahami, dan mengandung kisah-kisah paling indah yang
belum pernah diketahui oleh Nabi ﷺ sebelumnya.
﴿الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ ١﴾
[1]. Alif Laaam Ro. Ayat-ayat yang dibacakan kepadamu
ini adalah bagian dari Al-Kitab yang sangat jelas maknanya, hukum-hukumnya, dan
berita-beritanya.
Setelah
menyebutkan bahwa ini adalah kitab yang jelas, Alloh menjelaskan bahasa yang
digunakan agar manusia mampu memahaminya secara mendalam.
﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا
لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ٢﴾
[2]. Sesungguhnya Kami menurunkan kitab ini sebagai
bacaan yang berbahasa Arob agar kalian—wahai kaum Quroisy—memahami
makna-maknanya dan merenungkan petunjuk-petunjuknya.
Karena
kitab ini diturunkan untuk memberi pemahaman, Alloh kemudian memberitahukan
bahwa di dalamnya terdapat kisah paling indah yang akan diceritakan kepada Rosul-Nya.
﴿نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ
بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ
الْغَافِلِينَ ٣﴾
[3]. Kami menceritakan kepadamu—wahai Rosul—kisah yang
paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu. Sungguh sebelum Kami
mewahyukannya, engkau termasuk orang yang tidak mengetahui sedikit pun tentang
berita-berita umat terdahulu ini.
Pembukaan
kisah ini dimulai dengan penyebutan mimpi yang dialami oleh Yusuf saat beliau
masih kecil sebagai awal dari segala peristiwa besar berikutnya.
Mimpi Yusuf dan
Pesan Ayahnya
Kisah
dimulai dengan sebuah mimpi yang menjadi isyarat kemuliaan Yusuf di masa depan.
Yusuf kecil melihat benda-benda langit bersujud kepadanya, sebuah tanda yang
dipahami oleh ayahnya, Ya’qub, sebagai bentuk pilihan Robb kepadanya. Sang ayah
pun memberikan peringatan agar mimpi itu dirahasiakan dari saudara-saudaranya
guna menghindari tipu daya syaithon yang gemar memicu permusuhan.
﴿إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي
رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
٤﴾
[4]. Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai
ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat 11 bintang, juga matahari dan bulan;
aku melihat semuanya bersujud kepadaku.”
Mendengar
mimpi yang luar biasa ini, ayahnya menyadari adanya potensi kedengkian dari
saudara-saudara Yusuf sehingga beliau memberikan larangan yang tegas.
﴿قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ
عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ
مُبِينٌ ٥﴾
[5]. Ayahnya berkata, “Wahai anakku, janganlah engkau
ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, karena mereka akan merencanakan
tipu daya untuk mencelakaimu akibat rasa dengki. Sesungguhnya syaithon itu
adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
Setelah
memperingatkan tentang bahaya tersebut, ayahnya menjelaskan bahwa mimpi itu
adalah tanda bahwa Yusuf akan dipilih oleh Robbnya untuk urusan yang agung.
﴿وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ
مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ
كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ٦﴾
[6]. Sebagaimana Robbmu memperlihatkan mimpi yang
agung itu, Dia juga akan memilihmu menjadi Nabi-Nya, mengajarimu ilmu tentang
takbir (penjelasan) mimpi, serta menyempurnakan ni’mat-Nya kepadamu dan kepada
keluarga Ya’qub dengan kenabian dan kekuasaan, sebagaimana Dia telah
menyempurnakan ni’mat itu kepada kakek-kakekmu sebelumnya, yaitu Ibrohim dan
Ishaq. Sesungguhnya Robbmu Maha Mengetahui segala urusan makhluk-Nya lagi Maha
Bijaksana dalam menetapkan segala sesuatu.
Mimpi ini
menjadi pengantar untuk rangkaian ujian berat yang akan dihadapi Yusuf melalui
konspirasi saudara-saudaranya.
Konspirasi
Saudara-Saudara Yusuf
Alloh
menegaskan bahwa dalam sejarah Yusuf terdapat hikmah besar bagi mereka yang mau
mencari kebenaran. Prahara dimulai ketika saudara-saudara Yusuf merasa tersisih
dari kasih sayang ayahnya. Perasaan cemburu yang dibiarkan tumbuh akhirnya
membuahkan rencana jahat untuk menyingkirkan Yusuf agar mereka mendapatkan
perhatian penuh dari sang ayah, meskipun mereka menyadari bahwa itu adalah
perbuatan dosa.
﴿لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ
لِلسَّائِلِينَ ٧﴾
[7]. Sungguh dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya
terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh dan pelajaran yang banyak bagi orang-orang
yang bertanya tentang berita mereka.
Kisah ini
berlanjut dengan penggambaran bagaimana kecemburuan menguasai hati
saudara-saudara Yusuf hingga mereka merasa lebih berhak atas kasih sayang
ayahnya.
﴿إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ
إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ٨﴾
[8]. Ingatlah ketika mereka berkata, “Sesungguhnya
Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita,
padahal kita adalah kelompok yang kuat. Sesungguhnya ayah kita benar-benar
berada dalam kekeliruan yang nyata karena tidak adil dalam mencurahkan rasa
cinta.
Kebencian
yang mendalam mendorong mereka untuk merencanakan tindakan kriminal demi
mendapatkan perhatian penuh dari ayah mereka.
﴿اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا
يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ ٩﴾
[9]. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat
yang jauh agar perhatian ayah kalian tertuju sepenuhnya hanya kepada kalian
saja, dan setelah itu kalian bisa bertaubat sehingga menjadi orang-orang yang
sholih.”
Di tengah
rencana pembunuhan tersebut, salah seorang dari mereka menawarkan pilihan yang
dianggapnya lebih ringan namun tetap bertujuan menjauhkan Yusuf dari rumah.
﴿قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ
وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ
فَاعِلِينَ ١٠﴾
[10]. Salah seorang di antara mereka berkata, “Janganlah
kalian membunuh Yusuf, tetapi lemparkanlah dia ke dasar sumur agar dia dipungut
oleh sebagian musafir yang lewat jika kalian benar-benar ingin melakukan
sesuatu untuk menjauhkannya.”
Setelah
menyepakati rencana pembuangan ke dalam sumur, mereka mulai menyusun strategi
untuk meyakinkan ayah mereka agar diizinkan membawa Yusuf pergi.
Tipu Daya kepada
Ya’qub
Kelompok
saudara Yusuf ini mendatangi ayahnya dengan berpura-pura tulus. Mereka
menggunakan alasan bermain dan bersenang-senang untuk membujuk Ya’qub agar
melepaskan Yusuf. Meskipun sang ayah merasa khawatir akan adanya bahaya, namun
desakan dan janji perlindungan mereka akhirnya meluluhkan kewaspadaan beliau.
﴿قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا
عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ ١١﴾
[11]. Mereka berkata, “Wahai ayah kami, apa sebabnya
engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami
benar-benar menginginkan kebaikan baginya?
Mereka
terus meyakinkan sang ayah dengan menawarkan aktivitas yang disukai anak-anak
agar Yusuf diperbolehkan ikut bersama mereka.
﴿أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ
وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ١٢﴾
[12]. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi
agar dia dapat bersenang-senang dan bermain, dan kami benar-benar akan
menjaganya dengan sebaik-baiknya.”
Mendengar
permintaan itu, Ya’qub mengungkapkan kekhawatiran pribadinya yang mendalam
mengenai keselamatan putra kesayangannya tersebut.
﴿قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا
بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ ١٣﴾
[13]. Ayahnya berkata, “Sesungguhnya kepergian kalian
membawanya benar-benar membuatku sedih karena aku tidak sabar berpisah
dengannya, dan aku khawatir dia akan dimakan serigala saat kalian lengah
darinya.”
Untuk
menghilangkan keraguan ayahnya, mereka menegaskan kekuatan kelompok mereka
sebagai jaminan bahwa hal buruk tidak mungkin terjadi.
﴿قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ
عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ ١٤﴾
[14]. Mereka berkata, “Jika dia sampai dimakan
serigala padahal kami adalah kelompok yang kuat, maka sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang merugi dan lemah.”
Setelah
berhasil meyakinkan sang ayah, mereka pun membawa Yusuf pergi untuk
melaksanakan rencana jahat yang telah mereka sepakati.
Yusuf di Dalam
Sumur dan Kabar Bohong
Saat berada
di tempat yang jauh dari pengawasan ayah mereka, mereka langsung melaksanakan
niat untuk membuang Yusuf ke dalam sumur. Di saat genting tersebut, Alloh
memberikan ketenangan kepada Yusuf melalui wahyu bahwa kelak ia akan
menceritakan kejadian ini kepada mereka dalam keadaan mereka tidak
menyadarinya. Untuk menutupi jejak, mereka pulang di waktu malam dengan
tangisan palsu dan membawa bukti darah bohong pada pakaian Yusuf.
﴿فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ
يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ
بِأَمْرِهِمْ هَٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ ١٥﴾
[15]. Maka ketika mereka membawanya pergi dan sepakat
untuk melemparkannya ke dasar sumur, Kami wahyukan kepada Yusuf, “Sesungguhnya
engkau kelak benar-benar akan mengabarkan kepada mereka tentang perbuatan
mereka ini, sedang mereka tidak menyadari siapa engkau saat itu.”
Setelah
melakukan tindakan tersebut, mereka kembali ke rumah pada waktu yang tidak
biasa untuk melancarkan skenario kebohongan mereka.
﴿وَجَآءُوا أَبَاهُمْ عِشَآءً يَبْكُونَ ١٦﴾
[16]. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada
waktu isyak sambil menangis tersedu-sedu untuk meyakinkannya.
Mereka
memulai penjelasan dengan menggunakan alasan yang sebelumnya sempat
dikhawatirkan oleh ayahnya sendiri sebagai dalih hilangnya Yusuf.
﴿قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ
وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا
صَادِقِينَ ١٧﴾
[17]. Mereka berkata, “Wahai
ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba lari dan kami tinggalkan Yusuf di
dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak
akan mempercayai kami sekalipun kami adalah orang-orang yang berkata benar.”
Sebagai
penguat kebohongan, mereka menunjukkan barang bukti yang telah mereka
persiapkan sebelumnya dengan penuh rekayasa.
﴿وَجَآءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ
ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ
أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
١٨﴾
[18]. Mereka datang membawa baju Yusuf yang telah
dilumuri dengan darah palsu. Ayahnya berkata, “Sebenarnya diri kalian
sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk ini, maka kesabaranku adalah
kesabaran yang baik tanpa mengeluh, dan hanya kepada Alloh aku memohon
pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan.”
Di saat
ayahnya menanggung kesedihan, keadaan Yusuf di dalam sumur pun mulai berubah
seiring datangnya rombongan musafir.
Yusuf Ditemukan
dan Dijual sebagai Budak
Pertolongan
Alloh datang melalui sekelompok musafir yang sedang mencari air. Yusuf
ditemukan di dasar sumur dan dianggap sebagai barang temuan yang berharga untuk
dijual. Ia pun dibawa ke Mesir dan dijual dengan harga yang sangat murah. Di
sanalah, Yusuf dibeli oleh seorang pejabat tinggi (Al-Aziz) yang merasa
tertarik padanya dan memerintahkan istrinya untuk merawat Yusuf dengan baik,
karena Alloh hendak memantapkan kedudukan Yusuf di bumi.
﴿وَجَآءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ
فَأَدْلَىٰ دَلْوَهُ ۖ قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ ۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ ١٩﴾
[19]. Datanglah sekelompok musafir, lalu mereka
mengutus orang yang bertugas mengambil air; dia pun menurunkan timbanya ke
dalam sumur. Dia berseru, “Wahai kabar gembira, ini ada seorang anak muda!”
Kemudian mereka menyembunyikan Yusuf sebagai barang dagangan. Dan Alloh Maha
Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Karena
mereka menganggap Yusuf hanya sebagai barang temuan yang harus segera
dilepaskan, mereka menjualnya dengan nilai yang tidak berarti.
﴿وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ
وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ ٢٠﴾
[20]. Mereka menjual Yusuf dengan harga yang sangat
rendah, yaitu hanya beberapa dirham saja, karena mereka termasuk orang-orang
yang tidak menginginkannya dan ingin segera menyingkirkannya.
Pembeli
Yusuf di Mesir ternyata adalah orang yang memiliki kedudukan penting, yang
memandang Yusuf dengan cara yang berbeda.
﴿وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ
أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ
وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ
أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٢١﴾
[21]. Orang Mesir yang membelinya berkata kepada
istrinya, “Berikanlah tempat tinggal yang baik kepadanya, semoga dia bermanfaat
bagi kita atau kita angkat dia sebagai anak.” Demikianlah Kami berikan
kedudukan yang baik bagi Yusuf di negeri Mesir dan agar Kami ajarkan kepadanya
ilmu tentang takbir mimpi. Dan Alloh Maha Kuasa atas segala urusan-Nya, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Seiring
berjalannya waktu, Yusuf tumbuh menjadi pemuda yang sempurna hingga Alloh
menganugerahkan hikmah dan ilmu kepadanya sebagai balasan bagi orang-orang yang
berbuat baik.
﴿وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا
وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ٢٢﴾
[22]. Ketika Yusuf telah mencapai usia dewasa, Kami
berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan ilmu pengetahuan. Demikianlah Kami
memberikan balasan kepada orang-orang yang senantiasa berbuat baik dalam
ketaatan.
Setelah
mencapai kesempurnaan fisik dan intelektual, Yusuf harus menghadapi ujian baru
yang sangat berat yang datang dari dalam rumah tempat tinggalnya sendiri.
Ujian Kesucian
Yusuf dan Tipu Daya Istri Al-Aziz
Setelah
Yusuf tumbuh dewasa dengan kesempurnaan fisik dan ilmu, beliau menghadapi ujian
syahwat yang sangat berat di lingkungan istana. Istri Al-Aziz, wanita yang
menjadi majikannya, berusaha menggoda Yusuf dalam keadaan pintu-pintu tertutup
rapat. Namun, keteguhan iman dan rasa syukur Yusuf kepada Robbnya serta
loyalitasnya kepada tuannya membuat beliau menolak ajakan tersebut. Kejadian
ini berujung pada fitnah besar yang melibatkan kesaksian anggota keluarga sang
wanita untuk membuktikan siapa yang bersalah.
﴿وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا
عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ٢٣﴾
[23]. Wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya berusaha
menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya kepadanya. Dia menutup pintu-pintu
dengan rapat lalu berkata, “Kemarilah mendekat kepadaku.” Yusuf menjawab, “Aku
berlindung kepada Alloh dari apa yang engkau serukan ini. Sesungguhnya suamimu
adalah tuanku, dia telah memperlakukanku dengan sangat baik, maka tidak pantas
bagiku membalasnya dengan pengkhianatan. Sesungguhnya orang-orang yang zholim
tidak akan beruntung.”
Ketegasan
Yusuf dalam menolak ajakan tersebut membuat wanita itu semakin nekat, sehingga
Yusuf hampir saja goyah jika bukan karena perlindungan khusus dari Alloh.
﴿وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ
رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَآءَ
ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
٢٤﴾
[24]. Sungguh wanita itu telah bermaksud melakukannya
dengan Yusuf, dan Yusuf pun memiliki keinginan kepadanya seandainya dia tidak
melihat tanda dari Robbnya yang memalingkannya dari perbuatan maksiat itu.
Demikianlah Kami palingkan dia dari keburukan dan perbuatan keji agar dia tetap
suci. Sesungguhnya Yusuf termasuk di antara hamba-hamba Kami yang terpilih dan
tulus dalam beribadah.
Dalam upaya
menyelamatkan diri dari kejaran wanita itu, terjadilah aksi saling kejar menuju
pintu yang menjadi bukti fisik atas peristiwa yang sebenarnya.
﴿وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ
مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ ۚ قَالَتْ مَا جَزَآءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ
سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٢٥﴾
[25]. Keduanya berlomba menuju pintu; Yusuf hendak
keluar dan wanita itu mengejarnya lalu menarik baju gamis Yusuf dari belakang
hingga robek. Ternyata mereka berdua mendapati suami wanita itu berada di depan
pintu. Dengan cepat wanita itu memutarbalikkan fakta dengan bertanya, “Apakah
balasan bagi orang yang bermaksud jahat terhadap istrimu, selain dimasukkan ke
dalam penjara atau dihukum dengan azab yang sangat pedih?”
Mendapat
tuduhan yang sangat berat di depan majikannya, Yusuf harus membela diri dengan
mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya terjadi.
﴿قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي ۚ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ
قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ ٢٦﴾
[26]. Yusuf membela diri dengan berkata, “Dialah yang
menggodaku untuk menundukkan diriku kepadanya.” Kemudian seorang saksi dari
keluarga wanita itu memberikan penilaian dengan berkata, “Jika baju gamis Yusuf
robek di bagian depan, maka wanita itulah yang benar dan Yusuf termasuk
orang-orang yang berdusta.
Saksi
tersebut kemudian memberikan kemungkinan kedua yang akan menjadi penentu siapa
yang berkata jujur dalam perselisihan ini.
﴿وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ
فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ ٢٧﴾
[27]. Namun jika baju gamisnya robek di bagian
belakang, maka wanita itulah yang berdusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang
benar.”
Setelah
memeriksa bukti fisik tersebut, kebenaran pun terungkap dengan jelas bahwa
pelakunya adalah sang istri.
﴿فَلَمَّا رَأَىٰ قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ
قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ ٢٨﴾
[28]. Maka ketika suaminya melihat baju gamis Yusuf
robek di bagian belakang, dia menyadari istrinya yang bersalah lalu berkata, “Sesungguhnya
ini adalah bagian dari tipu daya kalian para wanita. Sungguh tipu daya kalian
itu sangatlah besar.
Sang suami
berusaha meredam skandal ini dengan meminta Yusuf tutup mulut dan memerintahkan
istrinya untuk bertaubat.
﴿يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَٰذَا ۚ وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ ۖ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ ٢٩﴾
[29]. Wahai Yusuf, lupakanlah kejadian ini dan jangan
ceritakan kepada siapa pun. Dan wahai istriku, mohonlah ampun atas dosamu ini,
karena sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang sengaja melakukan
kesalahan besar.”
Meskipun
sang suami berusaha menutupi aib tersebut, berita ini akhirnya bocor dan
menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan wanita kelas atas di kota
tersebut.
Fitnah Para
Wanita Kota dan Pilihan Penjara
Berita
tentang istri Al-Aziz yang jatuh cinta kepada pelayannya sendiri tersebar luas.
Para wanita di kota tersebut mulai mencibir dan merendahkan martabatnya. Untuk
membela diri dan menunjukkan bahwa tindakannya memiliki alasan yang kuat, istri
Al-Aziz mengundang mereka ke sebuah perjamuan. Di sana, dia memperlihatkan
ketampanan Yusuf yang luar biasa hingga membuat mereka tak sadar melukai tangan
mereka sendiri. Yusuf yang terus ditekan akhirnya lebih memilih penjara demi
menjaga kesuciannya dari fitnah para wanita.
﴿وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ
الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ ۖ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا ۖ إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
٣٠﴾
[30]. Para wanita di kota itu membicarakan kejadian
tersebut dengan berkata, “Istri Al-Aziz berusaha menggoda pelayannya untuk
menundukkan diri kepadanya; cintanya kepada pemuda itu benar-benar telah
mendalam dan menembus jantung hatinya. Sesungguhnya kami melihat dia
benar-benar berada dalam kekeliruan yang nyata.”
Mendengar
cercaan yang menyudutkan dirinya, istri Al-Aziz menyusun rencana untuk mempermalukan
mereka kembali dengan menunjukkan alasan di balik perbuatannya.
﴿فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ
إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينَاً
وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ
وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ ٣١﴾
[31]. Maka ketika dia mendengar cercaan dan rencana
jahat mereka, dia mengundang mereka dan menyediakan tempat duduk yang nyaman
untuk mereka bersandar, serta memberikan sebuah pisau kepada masing-masing dari
mereka untuk memotong buah. Kemudian dia berkata kepada Yusuf, “Keluarlah dan
tampakkanlah dirimu kepada mereka.” Maka ketika para wanita itu melihat Yusuf,
mereka sangat kagum akan ketampanannya hingga mereka tidak sadar telah melukai
tangan mereka sendiri dengan pisau tersebut. Mereka berkata, “Maha Suci Alloh,
ini bukanlah manusia biasa; ini tidak lain adalah Malaikat yang sangat mulia.”
Melihat
reaksi para wanita yang terpesona itu, istri Al-Aziz merasa mendapatkan
pembenaran atas perbuatannya dan kembali mengancam Yusuf.
﴿قَالَتْ فَذَٰلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي
فِيهِ ۖ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ
ۖ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ
وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ ٣٢﴾
[32]. Istri Al-Aziz berkata, “Itulah orangnya yang
kalian cela aku karena aku tertarik kepadanya. Memang benar aku telah mencoba
menggoda dia untuk menundukkan dirinya kepadaku, namun dia menolak dengan keras
untuk menjaga kesuciannya. Jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan
kepadanya, niscaya dia benar-benar akan dipenjarakan dan dia akan termasuk
orang-orang yang hina.”
Menghadapi
tekanan yang semakin berat dari berbagai pihak, Yusuf menuju kepada Robbnya
untuk memohon perlindungan dari tipu daya mereka.
﴿قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا
يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ
وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ ٣٣﴾
[33]. Yusuf berdoa, “Wahai Robbku, penjara lebih aku
sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Jika Engkau tidak memalingkan
tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan
mereka dan aku akan termasuk orang-orang yang bodoh karena melakukan maksiat.”
Alloh
mengabulkan doa hamba-Nya yang sholih tersebut dengan memberikan jalan keluar
meskipun harus melalui kesulitan fisik.
﴿فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ
كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ٣٤﴾
[34]. Maka Robbnya memperkenankan doanya dan Dia
memalingkan tipu daya para wanita itu darinya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Mendengar segala doa lagi Maha Mengetahui segala keadaan.
Meskipun
bukti kesucian Yusuf sudah sangat jelas, para penguasa akhirnya mengambil
keputusan politis untuk memenjarakan Yusuf demi meredam gejolak di masyarakat.
Yusuf di Dalam
Penjara dan Dakwah Tauhid
Di dalam
penjara, kemuliaan akhlak Yusuf tetap terpancar sehingga beliau sangat
dihormati oleh para tahanan lainnya. Dua orang pelayan raja yang masuk penjara
bersamanya mengalami mimpi yang aneh dan meminta Yusuf untuk menakwilkannya.
Yusuf menggunakan kesempatan ini untuk berdakwah mengajak mereka menyembah
Alloh Yang Maha Esa sebelum memberikan penjelasan tentang arti mimpi mereka.
﴿ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا
الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ ٣٥﴾
[35]. Kemudian timbul pikiran pada para penguasa
itu—setelah mereka melihat tanda-tanda yang menunjukkan kesucian Yusuf—untuk
memenjarakannya dalam jangka waktu tertentu guna menutupi pembicaraan
orang-orang tentang masalah tersebut.
Selama
berada di dalam penjara, Yusuf bertemu dengan dua orang yang akan menjadi
perantara bagi babak baru kehidupannya.
﴿وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ
خَمْرًا ۖ وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ
فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ٣٦﴾
[36]. Bersama Yusuf masuk pula ke dalam penjara 2
orang pemuda pelayan raja. Salah seorang dari mereka berkata, “Sesungguhnya aku
bermimpi memeras anggur untuk dijadikan khomr.” Pemuda yang lain berkata, “Sesungguhnya
aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku, lalu sebagiannya dimakan oleh
burung.” Mereka berdua memohon, “Beritahukanlah kepada kami takbir mimpi ini,
sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang-orang yang baik akhlaknya.”
Yusuf
meyakinkan mereka bahwa beliau memiliki kemampuan tersebut berkat anugerah ilmu
dari Alloh, bukan melalui ramalan atau sihir.
﴿قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ
إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا ۚ ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي ۚ إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ ٣٧﴾
[37]. Yusuf menjawab, “Tidaklah datang kepada kalian
berdua makanan sebagai rizqi bagi kalian, melainkan aku telah memberitahukan
takbir mimpi itu kepada kalian sebelum makanan itu sampai. Kemampuan itu adalah
bagian dari ilmu yang diajarkan Robbku kepadaku. Sesungguhnya aku telah
meninggalkan agama kaum yang tidak beriman kepada Alloh, dan mereka adalah
orang-orang yang mengingkari adanya kehidupan Akhiroh.
Beliau
kemudian menegaskan identitas keimanannya yang bersambung dengan garis
keturunan para Nabi yang mulia.
﴿وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ
وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى
النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ ٣٨﴾
[38]. Aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrohim,
Ishaq, dan Ya’qub. Tidak pantas bagi kami untuk mempersekutukan Alloh dengan
sesuatu pun. Keyakinan tauhid ini adalah bagian dari karunia Alloh kepada kami
dan kepada seluruh manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mau bersyukur
dengan beriman kepada-Nya.
Memanfaatkan
perhatian penuh dari kedua temannya itu, Yusuf mengajak mereka merenungi
hakikat ketuhanan yang sebenarnya.
﴿يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ
خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ ٣٩﴾
[39]. Wahai kedua temanku di penjara, manakah yang
lebih baik, apakah tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Alloh Yang Maha
Esa lagi Maha Mengalahkan segala sesuatu?
Yusuf
menjelaskan bahwa segala sesembahan selain Alloh hanyalah rekayasa manusia yang
tidak memiliki kekuatan sedikit pun.
﴿مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَآءً
سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٤٠﴾
[40]. Apa yang kalian sembah selain Dia hanyalah
nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat-buat sendiri; Alloh tidak
pernah menurunkan suatu bukti pun tentang kekuasaan sembahan-sembahan itu.
Sesungguhnya segala keputusan hukum itu hanyalah milik Alloh. Dia telah
memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Setelah
menyampaikan dakwah pokok tersebut, barulah Yusuf menjawab pertanyaan mereka
tentang takbir mimpi yang mereka alami.
﴿يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا
فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا ۖ وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ
رَأْسِهِ ۚ قُضِيَ الْأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ
٤١﴾
[41]. Wahai kedua temanku di penjara, adapun salah
seorang di antara kalian akan bebas dan bertugas kembali memberi minum khomr
bagi tuannya (raja). Sedangkan yang lainnya, dia akan dihukum salib lalu burung
akan memakan sebagian kepalanya. Telah ditetapkan perkara yang kalian tanyakan
kepadaku itu.”
Sebelum
salah satu dari mereka pergi meninggalkan penjara, Yusuf menitipkan sebuah
pesan dengan harapan bisa mendapatkan keadilan.
﴿وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا
اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ
بِضْعَ سِنِينَ ٤٢﴾
[42]. Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya
akan selamat di antara mereka berdua, “Sebutkanlah keadaanku dan
ketidak-bersalahanku di hadapan tuanmu (raja).” Namun syaithon menjadikan orang
itu lupa untuk menceritakan perihal Yusuf kepada tuannya, sehingga Yusuf tetap
mendekam dalam penjara selama beberapa tahun lagi.
Kelalaian
pelayan tersebut membuat Yusuf tetap di penjara sampai Alloh mendatangkan sebab
lain melalui mimpi sang raja sendiri.
Mimpi Raja dan
Ingatan yang Kembali
Setelah
Yusuf mendekam beberapa tahun di penjara, Alloh mendatangkan sebuah peristiwa
besar yang menjadi jalan bagi kebebasannya. Sang Raja Mesir mengalami mimpi
yang sangat ganjil dan menggelisahkan hatinya. Mimpi itu melibatkan
simbol-simbol alam yang tidak mampu ditafsirkan oleh para ahli di istananya.
Hal ini memicu ingatan pelayan raja yang selamat—teman satu penjara Yusuf
dahulu—tentang keberadaan sosok pemuda yang sangat jujur dan ahli dalam
menakwilkan mimpi.
﴿وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ
سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ
ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ
إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ ٤٣﴾
[43]. Raja Mesir berkata kepada pemuka-pemuka kaumnya,
“Sesungguhnya aku bermimpi melihat 7 ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan
oleh 7 ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan aku melihat pula 7 tangkai gandum
yang hijau serta 7 tangkai lainnya yang kering. Wahai orang-orang terkemuka,
berikanlah penjelasan kepadaku tentang mimpiku ini jika kalian memang memiliki
kemampuan untuk menakwilkan mimpi.”
Mendengar
permintaan raja, para penasihat istana merasa kesulitan dan menganggap hal itu
hanyalah bunga tidur yang tidak memiliki makna.
﴿قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ ۖ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ بِعَالِمِينَ
٤٤﴾
[44]. Mereka menjawab, “Itu hanyalah mimpi-mimpi yang
kosong dan kacau, dan kami bukanlah orang-orang yang memiliki pengetahuan untuk
menakwilkan mimpi yang seperti itu.”
Ketidakmampuan
para ahli tersebut membuat pelayan raja teringat akan janjinya kepada Yusuf
yang telah lama ia lupakan.
﴿وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ
بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ ٤٥﴾
[45]. Berkatalah pelayan raja yang selamat di antara
dua orang penghuni penjara dahulu, setelah dia baru teringat kembali kepada
Yusuf setelah sekian lama, “Aku akan memberitahukan kepada kalian takwil mimpi
itu, maka utuslah aku pergi ke penjara untuk menemui orang yang mengetahuinya.”
Setelah
mendapatkan izin, pelayan itu pun bergegas menemui Yusuf dan memohon penjelasan
atas kerumitan mimpi sang raja.
﴿يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي
سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ
وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ ٤٦﴾
[46]. Sesampainya di sana dia berkata, “Wahai Yusuf,
orang yang sangat jujur, berikanlah fatwa kepada kami mengenai mimpi melihat 7
ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus, serta 7
tangkai gandum yang hijau dan 7 tangkai lainnya yang kering; agar aku dapat
kembali kepada orang-orang itu supaya mereka mengetahui kedudukanmu dan
kebenaran takwilmu.”
Tanpa
meminta imbalan atau syarat pembebasan, Yusuf langsung memberikan penjelasan
rinci mengenai masa depan ekonomi negeri tersebut.
﴿قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا
فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ ٤٧﴾
[47]. Yusuf menjawab, “Kalian harus bercocok tanam
selama 7 tahun sebagaimana biasanya dengan sungguh-sungguh; kemudian apa yang
kalian panen, maka biarkanlah tetap pada tangkainya agar tidak cepat rusak,
kecuali sedikit saja yang kalian ambil untuk kalian makan.”
Strategi
penyimpanan hasil panen itu disiapkan untuk menghadapi masa sulit yang akan
segera menyusul kemudian.
﴿ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ
شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ
٤٨﴾
[48]. Kemudian setelah masa subur itu akan datang 7
tahun masa kekeringan yang sangat sulit, yang akan menghabiskan persediaan
makanan yang kalian simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit saja dari bibit
gandum yang kalian simpan di tempat yang aman.
Masa sulit
itu tidak akan bertahan selamanya, karena Alloh akan mendatangkan kembali
kemakmuran bagi penduduk bumi.
﴿ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ
يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ ٤٩﴾
[49]. Setelah masa kekeringan yang panjang itu, akan
datang suatu tahun di mana manusia akan diberi hujan yang cukup dan pada masa
itu mereka bisa memeras anggur serta biji-bijian karena melimpahnya hasil bumi.
Penjelasan
yang sangat logis dan visioner ini membuat raja merasa kagum dan ingin segera
bertemu dengan sosok di balik takwil tersebut.
Pembersihan Nama
Baik dan Pengakuan Kejujuran
Raja Mesir
yang terkesan dengan takwil tersebut memerintahkan agar Yusuf segera dibawa ke
istana. Namun, Yusuf menunjukkan kemuliaan jiwanya dengan menolak keluar dari
penjara sebelum kehormatannya dipulihkan secara resmi. Beliau meminta agar
kasus fitnah yang menimpanya di masa lalu dibuka kembali dan diselidiki secara
adil. Hal ini berujung pada pengakuan jujur dari para wanita kota dan istri
Al-Aziz yang selama ini menyembunyikan kebenaran.
﴿وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ
إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ
ۚ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ ٥٠﴾
[50]. Raja berkata, “Bawalah dia kepadaku!” Namun
ketika utusan raja datang menemuinya, Yusuf berkata, “Kembalilah kepada tuanmu
dan tanyakanlah kepadanya bagaimana perihal para wanita yang telah melukai
tangan mereka sendiri. Sesungguhnya Robbku Maha Mengetahui tipu daya mereka.”
Menanggapi
permintaan Yusuf, raja kemudian mengumpulkan para wanita yang terlibat dalam
peristiwa perjamuan dahulu untuk dimintai keterangan.
﴿قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ
عَنْ نَفْسِهِ ۚ قُلْنَا حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ
مِنْ سُوءٍ ۚ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ
الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ ٥١﴾
[51]. Raja bertanya kepada para wanita itu, “Bagaimanakah
keadaan kalian ketika kalian menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya kepada
kalian?” Mereka menjawab, “Maha Suci Alloh, kami tidak mengetahui sedikit pun
keburukan pada dirinya.” Istri Al-Aziz pun akhirnya berkata, “Sekarang
kebenaran itu telah nyata dan jelas; akulah yang telah menggoda dia untuk
menundukkan dirinya kepadaku, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang
benar.”
Yusuf
menegaskan bahwa permintaan investigasi ini bukan untuk pamer kekuatan,
melainkan untuk membuktikan kesetiaannya kepada tuannya.
﴿ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ
وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ ٥٢﴾
[52]. Yusuf berkata, “Pemeriksaan ini aku minta agar
majikanku (Al-Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak mengkhianatinya
saat dia tidak ada, dan sesungguhnya Alloh tidak akan memberi petunjuk bagi
keberhasilan tipu daya orang-orang yang berkhianat.”
Meskipun
benar, Yusuf tetap bersikap rendah hati dengan tidak mengklaim dirinya suci
secara mutlak, karena menyadari sifat dasar jiwa manusia.
﴿وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ ٥٣﴾
[53]. Dan aku tidak menyatakan diriku suci dari
kesalahan, karena sesungguhnya jiwa itu selalu mendorong kepada keburukan,
kecuali jiwa yang diberi rohmat oleh Robbku. Sesungguhnya Robbku Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.
Setelah
kebenaran terungkap sepenuhnya dan nama baik Yusuf pulih, raja pun memberikan
kedudukan yang sangat istimewa kepadanya.
Yusuf Menjadi
Bendahara Negeri Mesir
Kecerdasan,
kejujuran, dan ketabahan Yusuf membuat raja merasa bahwa beliau adalah sosok
yang paling tepat untuk memimpin manajemen krisis di Mesir. Yusuf secara
sukarela meminta amanah untuk mengelola perbendaharaan negara karena beliau
mengetahui kapasitas dirinya dalam menjaga amanah dan mengatur strategi pangan.
Alloh pun menetapkan kedudukan yang kokoh bagi Yusuf, mengubah keadaannya dari
seorang tawanan menjadi seorang penguasa yang berpengaruh.
﴿وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ
لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ
لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ ٥٤﴾
[54]. Raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, aku akan
menjadikannya sebagai orang yang dekat dan khusus bagiku.” Maka setelah raja
berbicara dengannya secara langsung dan melihat kecerdasannya, raja berkata, “Sesungguhnya
mulai hari ini engkau memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat dipercaya di
lingkungan kami.”
Melihat
kesempatan untuk membawa manfaat bagi rakyat banyak, Yusuf menawarkan diri
untuk mengemban tanggung jawab di bidang logistik.
﴿قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ
ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ ٥٥﴾
[55]. Yusuf berkata, “Jadikanlah aku pengelola
perbendaharaan negeri ini; karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai
menjaga amanah lagi mempunyai pengetahuan luas tentang cara pengelolaannya.”
Dengan
kebijakan tersebut, Yusuf pun mendapatkan otoritas penuh untuk mengatur urusan
negeri sesuai dengan petunjuk Alloh.
﴿وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ
يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَآءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَآءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ ٥٦﴾
[56]. Demikianlah Kami memberikan kedudukan yang kokoh
bagi Yusuf di negeri Mesir; dia dapat tinggal di mana saja yang dia sukai di
negeri itu. Kami limpahkan rohmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan
Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang senantiasa berbuat
baik.
Kemuliaan
yang didapatkan Yusuf di dunia ini barulah sebagian kecil dari apa yang
disediakan Alloh bagi orang-orang yang beriman.
﴿وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا
وَكَانُوا يَتَّقُونَ ٥٧﴾
[57]. Sungguh pahala di kehidupan Akhiroh itu jauh
lebih baik bagi orang-orang yang beriman kepada Alloh dan mereka senantiasa
bertaqwa dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Kedudukan
tinggi Yusuf ini nantinya akan menjadi jalan pertemuan kembali dengan
saudara-saudaranya yang dahulu pernah membuangnya.
Kedatangan
Saudara Yusuf ke Mesir dan Strategi Pertemuan Kembali
Bencana
kekeringan yang diramalkan benar-benar terjadi dan melanda wilayah yang luas,
termasuk tempat tinggal keluarga Ya’qub. Hal ini memaksa saudara-saudara Yusuf
melakukan perjalanan jauh ke Mesir untuk mendapatkan bahan pangan. Di sinilah
skenario Alloh ﷻ
mulai mempertemukan kembali Yusuf dengan keluarganya melalui cara yang tidak
mereka duga sebelumnya.
﴿وَجَآءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ
فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ ٥٨﴾
[58]. Saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk
mencari makanan karena kelaparan yang menimpa mereka, lalu mereka masuk
menemuinya di tempat pembagian makanan. Yusuf segera mengenali mereka karena
ketajaman ingatannya, sedangkan mereka tidak mengenali Yusuf karena telah lama
berpisah dan tidak menyangka Yusuf memiliki kedudukan setinggi itu.
Setelah
mengenali mereka, Yusuf bersikap sangat dermawan namun memberikan syarat khusus
untuk memastikan mereka membawa saudara kandungnya pada kunjungan berikutnya.
﴿وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ
ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ ۚ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا
خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ ٥٩﴾
[59]. Ketika Yusuf telah menyiapkan bahan makanan bagi
mereka, dia berkata kepada mereka, “Bawalah kepadaku saudara laki-laki kalian
yang seayah dengan kalian (Bunyamin). Tidakkah kalian melihat bahwa aku
menyempurnakan takaran makanan bagi kalian dan aku adalah penerima tamu yang
paling baik pelayanannya?”
Yusuf
memberikan dorongan tersebut agar mereka tertarik kembali, namun beliau juga
memberikan peringatan tegas jika syarat tersebut tidak dipenuhi.
﴿فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلَا كَيْلَ
لَكُمْ عِنْدِي وَلَا تَقْرَبُونِ ٦٠﴾
[60]. “Jika kalian tidak membawa saudara laki-laki
kalian itu kepadaku pada kesempatan berikutnya, maka kalian tidak akan
mendapatkan jatah takaran makanan lagi dariku dan janganlah kalian datang
mendekatiku lagi.”
Mendengar
ancaman tersebut, mereka menyatakan kesungguhan untuk membujuk ayahnya meskipun
mereka tahu betapa beratnya hal itu bagi sang ayah.
﴿قَالُوا سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا
لَفَاعِلُونَ ٦١﴾
[61]. Mereka menjawab, “Kami akan berusaha membujuk
ayahnya agar mengizinkan dia ikut bersama kami, dan kami benar-benar akan
melaksanakan apa yang engkau perintahkan itu.”
Untuk lebih
memotivasi mereka agar benar-benar kembali, Yusuf secara diam-diam
mengembalikan harta yang mereka gunakan untuk membayar makanan tersebut.
﴿وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُوا بِضَاعَتَهُمْ
فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ
يَرْجِعُونَ ٦٢﴾
[62]. Yusuf berkata kepada pelayan-pelayannya, “Masukkanlah
harta barang dagangan mereka ke dalam beban bawaan mereka secara diam-diam;
mudah-mudahan mereka mengetahuinya nanti setelah kembali kepada keluarga
mereka, sehingga mereka akan kembali lagi ke sini untuk membayarnya atau karena
merasa berhutang budi.”
Kepulangan
mereka membawa bahan makanan ini menjadi awal dari diskusi yang sulit dengan
ayah mereka mengenai keselamatan Bunyamin.
Upaya Membujuk Ya’qub
dan Janji yang Teguh
Sesampainya
di rumah, saudara-saudara Yusuf segera menyampaikan pesan dari penguasa Mesir. Mereka
berusaha meyakinkan Ya’qub bahwa jatah pangan mereka bergantung pada kehadiran
Bunyamin. Meskipun Ya’qub masih diliputi rasa trauma akibat hilangnya Yusuf
dahulu, tekanan kebutuhan hidup akhirnya membuat beliau harus mempertimbangkan
permintaan tersebut dengan jaminan sumpah yang sangat berat.
﴿فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَىٰ أَبِيهِمْ قَالُوا
يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا
لَهُ لَحَافِظُونَ ٦٣﴾
[63]. Maka ketika mereka telah kembali kepada ayah
mereka, mereka berkata, “Wahai ayah kami, kami tidak akan diberi jatah takaran
makanan lagi jika kami tidak membawa saudara kami. Oleh karena itu, biarkanlah
saudara kami (Bunyamin) pergi bersama kami agar kami mendapatkan takaran
makanan, dan kami benar-benar akan menjaganya dengan sebaik-baiknya.”
Mendengar
janji penjagaan itu, ingatan Ya’qub kembali pada kejadian pahit di masa lalu
saat mereka menjanjikan hal yang sama untuk Yusuf.
﴿قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا
أَمِنْتُكُمْ عَلَىٰ أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ ۖ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ٦٤﴾
[64]. Ya’qub berkata kepada mereka, “Apakah aku dapat
mempercayakan dia kepada kalian, sebagaimana aku telah mempercayakan saudaranya
(Yusuf) kepada kalian dahulu? Maka hanya Alloh sajalah Penjaga yang paling baik
dan Dia adalah Yang Paling Penyayang di antara para penyayang.”
Saat mereka
membuka barang bawaan mereka, ditemukanlah kejutan yang semakin menguatkan
argumen mereka untuk kembali ke Mesir.
﴿وَلَمَّا فَتَحُوا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوا بِضَاعَتَهُمْ
رُدَّتْ إِلَيْهِمْ ۖ قَالُوا يَا أَبَانَا مَا نَبْغِي ۖ هَٰذِهِ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا ۖ وَنَمِيْرُ أَهْلَنَا وَنَحْفَظُ أَخَانَا
وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ ۖ ذَٰلِكَ كَيْلٌ يَسِيرٌ ٦٥﴾
[65]. Ketika mereka membuka barang-barang mereka,
mereka menemukan harta barang dagangan mereka telah dikembalikan kepada mereka.
Mereka berkata, “Wahai ayah kami, apalagi yang kita inginkan? Harta kita ini
telah dikembalikan kepada kita. Dengan membawa saudara kami, kita dapat
menyediakan makanan bagi keluarga kita, menjaga saudara kami, dan kita akan
mendapatkan tambahan jatah takaran sebanyak beban seekor unta lagi; itu adalah
tambahan takaran yang sangat mudah didapatkan.”
Melihat
desakan dan bukti kebaikan penguasa Mesir tersebut, Ya’qub akhirnya luluh namun
dengan syarat sumpah yang sangat kuat atas nama Alloh.
﴿قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّىٰ تُؤْتُوا
مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلَّا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ ۖ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ
عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ ٦٦﴾
[66]. Ayahnya berkata, “Aku tidak akan membiarkannya
pergi bersama kalian sampai kalian memberikan janji yang teguh kepadaku atas
nama Alloh, bahwa kalian benar-benar akan membawanya kembali kepadaku, kecuali
jika kalian dikepung oleh musuh atau bencana hingga tidak berdaya.” Setelah
mereka memberikan janji yang teguh itu, Ya’qub berkata, “Alloh adalah Saksi dan
Penjamin terhadap apa yang kita ucapkan ini.”
Sebelum
mereka berangkat kembali, Ya’qub memberikan pesan strategis untuk menjaga
keselamatan mereka dari pandangan mata orang-orang yang dengki.
Perjalanan Menuju
Mesir dan Pertemuan Rahasia
Rombongan
putra-putra Ya’qub berangkat menuju Mesir dengan membawa Bunyamin. Atas saran
ayahnya, mereka masuk melalui pintu-pintu yang berbeda sebagai bentuk
kehati-hatian. Namun, Ya’qub menyadari bahwa segala usaha manusia tidak akan
berarti tanpa kehendak Alloh. Sesampainya di hadapan Yusuf, sebuah momen
mengharukan terjadi secara rahasia di mana Yusuf mengungkapkan identitas
aslinya kepada saudara kandungnya.
﴿وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ
وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ
شَيْءٍ ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
٦٧﴾
[67]. Ya’qub berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah
kalian masuk dari satu pintu gerbang yang sama, tetapi masuklah dari
pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda agar tidak menarik perhatian negatif dari
orang lain. Namun pesanku ini tidak dapat menolak sedikit pun ketetapan Alloh
bagi kalian. Sesungguhnya segala keputusan hukum itu hanyalah milik Alloh.
Kepada-Nya aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya pula orang-orang yang
berserah diri bertawakal.”
Nasihat
sang ayah tersebut pun mereka laksanakan dengan patuh saat memasuki ibu kota
Mesir.
﴿وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ
أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا حَاجَةً فِي
نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا ۚ وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٦٨﴾
[68]. Ketika mereka masuk sesuai dengan cara yang
diperintahkan oleh ayah mereka, hal itu sebenarnya tidak dapat menghindarkan
mereka sedikit pun dari takdir Alloh; itu hanyalah keinginan di dalam hati Ya’qub
yang ingin beliau wujudkan demi ketenangan perasaannya. Sesungguhnya Ya’qub
benar-benar mempunyai ilmu pengetahuan yang luas karena Kami telah
mengajarkannya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui hakikat takdir-Nya.
Setelah
mereka semua masuk dan menghadap penguasa Mesir, Yusuf segera memisahkan Bunyamin
dari saudara-saudaranya yang lain.
﴿وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ
أَخَاهُ ۖ قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ
بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ٦٩﴾
[69]. Dan ketika mereka masuk menemui Yusuf, Yusuf
segera membawa saudara kandungnya (Bunyamin) ke tempat yang khusus, lalu
membisikkan kepadanya, “Sesungguhnya aku ini adalah saudaramu (Yusuf), maka
janganlah engkau bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan kepada
kita di masa lalu.”
Pertemuan
rahasia ini menjadi awal dari rencana besar Yusuf untuk menahan Bunyamin tetap
tinggal di Mesir tanpa menimbulkan kecurigaan saudara-saudara yang lain.
Siasat Yusuf
Menahan Bunyamin
Setelah memberikan
jamuan dan menyiapkan bahan pangan, Yusuf mulai menjalankan rencana untuk
menahan saudara kandungnya agar tetap bersamanya di Mesir. Beliau memerintahkan
pelayannya untuk memasukkan piala emas milik raja ke dalam karung Bunyamin
secara diam-diam. Hal ini dilakukan bukan untuk mencelakai, melainkan sebagai
jalan keluar syar’i agar Bunyamin bisa tetap tinggal berdasarkan hukum yang
diakui oleh saudara-saudaranya sendiri.
﴿فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ
السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ
لَسَارِقُونَ ٧٠﴾
[70]. Maka ketika Yusuf telah menyiapkan bahan makanan
untuk mereka, dia memasukkan piala (tempat minum raja) ke dalam karung saudara
kandungnya (Bunyamin). Setelah rombongan itu berangkat, tiba-tiba terdengarlah
teriakan seorang penyeru yang memanggil, “Wahai rombongan musafir, sesungguhnya
kalian benar-benar pencuri!”
Tuduhan
yang mengejutkan ini membuat saudara-saudara Yusuf segera berhenti dan menoleh
untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
﴿قَالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ
٧١﴾
[71]. Saudara-saudara Yusuf bertanya sambil menghadap
ke arah orang-orang yang berteriak itu, “Barang apakah yang kalian cari?”
Petugas
kerajaan kemudian menjelaskan barang berharga milik raja yang hilang dan
menjanjikan imbalan bagi siapa pun yang menemukannya.
﴿قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ
جَآءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ ٧٢﴾
[72]. Petugas itu menjawab, “Kami kehilangan piala
milik raja, dan bagi siapa yang dapat mengembalikannya akan diberikan hadiah
bahan makanan seberat beban seekor unta, dan aku menjamin pemberian hadiah itu.”
Mendengar
tuduhan pencurian, saudara-saudara Yusuf memberikan pembelaan diri dengan
menegaskan tujuan kedatangan mereka yang sebenarnya ke Mesir.
﴿قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا
لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ ٧٣﴾
[73]. Mereka menjawab, “Demi Alloh, sesungguhnya
kalian benar-benar telah mengetahui bahwa tujuan kami datang ke negeri ini
bukan untuk berbuat kerusakan, dan kami bukanlah para pencuri.”
Untuk
menegakkan keadilan, para petugas raja kemudian menanyakan tentang hukuman apa
yang berlaku menurut syariat mereka bagi seorang pencuri.
﴿قَالُوا فَمَا جَزَاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كَاذِبِينَ
٧٤﴾
[74]. Para petugas itu berkata, “Lalu apakah balasan
bagi pelakunya jika ternyata kalian berdusta tentang pengakuan bahwa kalian
bukan pencuri?”
Mereka pun
menjawab dengan menyebutkan hukum yang berlaku di keluarga Nabi Ya’qub bahwa
pencuri akan menjadi budak bagi korbannya.
﴿قَالُوا جَزَاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ
فَهُوَ جَزَاؤُهُ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ٧٥﴾
[75]. Mereka menjawab, “Balasannya adalah orang yang
ditemukan piala itu di dalam karungnya, maka dia sendirilah yang menjadi
tebusannya (menjadi budak bagi pemilik barang). Demikianlah kami memberikan
balasan kepada orang-orang yang zholim.”
Setelah
kesepakatan hukum dicapai, Yusuf pun memulai penggeledahan dari karung-karung
mereka satu per satu sebagai bagian dari strategi beliau.
﴿فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ
أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ
إِلَّا أَنْ يَشَآءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَآءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ ٧٦﴾
[76]. Maka mulailah Yusuf memeriksa karung-karung
mereka sebelum memeriksa karung saudaranya (Bunyamin) agar tidak menimbulkan
kecurigaan, kemudian dia mengeluarkan piala itu dari karung saudaranya.
Demikianlah Kami mengatur siasat untuk Yusuf. Dia tidak dapat menahan
saudaranya menurut hukum raja di Mesir, kecuali jika Alloh menghendakinya. Kami
tinggalkan derajat orang yang Kami kehendaki, dan di atas setiap orang yang
berilmu itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.
Terungkapnya
barang tersebut di dalam karung Bunyamin memicu reaksi spontan dari
saudara-saudaranya yang justru kembali memojokkan Yusuf yang mereka kira telah
tiada.
Upaya
Penyelamatan dan Keteguhan Hati Sang Kakak
Melihat
Bunyamin terbukti membawa piala tersebut, saudara-saudaranya merasa sangat malu
namun mereka tetap menunjukkan sisa-sisa kedengkian lama. Mereka berusaha
melepaskan diri dari tanggung jawab dengan menuduh bahwa sifat mencuri itu
adalah warisan dari saudaranya yang dulu (Yusuf). Yusuf yang mendengar itu
tetap bersabar dan menyembunyikan perasaannya, hingga akhirnya sang kakak
tertua memutuskan untuk tidak pulang karena merasa gagal menjaga amanah
ayahnya.
﴿قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ
لَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ
يُبْدِهَا لَهُمْ ۚ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ ٧٧﴾
[77]. Mereka berkata, “Jika dia mencuri, maka
sesungguhnya saudaranya sendiri (Yusuf) pun pernah mencuri sebelumnya.” Yusuf
tetap menyembunyikan perasaan itu di dalam hatinya dan tidak menampakkannya
kepada mereka; dia hanya bergumam dalam hati, “Kedudukan kalian benar-benar
lebih buruk, dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian ceritakan itu.”
Setelah
tuduhan itu, mereka mulai menyadari konsekuensi berat yang harus mereka hadapi
di depan ayahnya, sehingga mereka memohon belas kasihan Yusuf.
﴿قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ
أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ٧٨﴾
[78]. Mereka berkata, “Wahai Al-Aziz, sesungguhnya dia
mempunyai ayah yang sudah sangat tua, maka ambillah salah seorang di antara
kami sebagai gantinya; sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang-orang
yang selalu berbuat baik.”
Yusuf
menolak tawaran tersebut dengan alasan keadilan, karena hukum tidak membolehkan
menghukum orang yang tidak bersalah.
﴿قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلَّا
مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ إِنَّا إِذًا لَظَالِمُونَ ٧٩﴾
[79]. Yusuf menjawab, “Aku berlindung kepada Alloh
dari mengambil orang lain selain orang yang kami temukan harta kami padanya;
jika kami melakukannya, niscaya kami benar-benar termasuk orang-orang yang
zholim.”
Karena
permintaan mereka ditolak mentah-mentah, mereka merasa putus asa dan mulai
membicarakan langkah selanjutnya secara tersembunyi.
﴿فَلَمَّا اسْتَيْأَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا
ۖ قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ
أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ
فِي يُوسُفَ ۖ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ
لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ ٨٠﴾
[80]. Maka tatkala mereka telah berputus asa dari
kelembutan hati Yusuf, mereka menyendiri untuk berunding. Berkatalah yang
tertua di antara mereka, “Tidakkah kalian ingat bahwa ayah kalian telah
mengambil janji yang teguh dari kalian atas nama Alloh, dan sebelum ini kalian
pun telah menyia-nyiakan Yusuf? Maka aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir
ini sampai ayahku memberi izin kepadaku atau Alloh memberikan keputusan bagiku.
Dan Dia adalah Hakim yang paling baik.”
Sang kakak
kemudian memerintahkan adik-adiknya untuk pulang dan melaporkan kejadian yang
sebenarnya kepada ayah mereka.
﴿ارْجِعُوا إِلَىٰ أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا
أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا
لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ ٨١﴾
[81]. “Kembalilah kalian kepada ayah kalian dan
katakanlah, ‘Wahai ayah kami, sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya
mempersaksikan apa yang kami ketahui secara lahiriah saja, dan kami tidak
mengetahui apa yang terjadi secara tersembunyi saat kami tidak melihatnya’.”
Mereka juga
diminta untuk menyertakan bukti pendukung agar sang ayah percaya bahwa mereka
tidak sedang mengarang cerita.
﴿وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا
وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ ٨٢﴾
[82]. “Dan tanyalah kepada penduduk negeri yang kami
datangi itu serta rombongan kafilah yang berangkat bersama kami, dan
sesungguhnya kami benar-benar orang-orang yang berkata jujur.”
Laporan
yang sangat logis dan didukung bukti ini kemudian disampaikan kepada Ya’qub
yang sedang menanti kepulangan putra-putranya dengan penuh kecemasan.
Kesedihan Ya’qub
dan Harapan yang Tidak Pernah Padam
Mendengar
kabar bahwa Bunyamin ditahan karena mencuri dan putra tertuanya enggan pulang,
luka lama Ya’qub kembali terbuka. Beliau menyadari adanya siasat lain di balik
kejadian ini namun beliau memilih untuk tetap bersabar. Meskipun kesedihannya
yang mendalam membuat matanya memutih karena buta, beliau tetap melarang
anak-anaknya berputus asa dari rohmat Alloh ﷻ dan memerintahkan mereka
untuk mencari keberadaan Yusuf dan saudaranya.
﴿قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ
أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا
ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ ٨٣﴾
[83]. Ya’qub berkata, “Sebenarnya hanya diri kalian
sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk ini, maka kesabaranku adalah
kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Alloh mendatangkan mereka semuanya kepadaku
(Yusuf, Bunyamin, dan kakaknya). Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana.”
Setelah
mengucapkan kalimat tersebut, Ya’qub berpaling dari mereka karena tidak sanggup
menahan kesedihan yang meledak kembali atas ingatan terhadap Yusuf.
﴿وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ
عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ ٨٤﴾
[84]. Ya’qub berpaling dari mereka sambil berkata, “Aduhai,
alangkah besarnya duka citaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih
(buta) karena kesedihan yang dipendamnya. Dan dia adalah orang yang sangat
sabar dalam menanggung beban kesedihannya.
Melihat
ayahnya terus-menerus sedih, anak-anaknya mulai merasa khawatir akan
keselamatan jiwa dan raga sang ayah.
﴿قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَؤُا تَذْكُرُ يُوسُفَ
حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ ٨٥﴾
[85]. Mereka berkata, “Demi Alloh, engkau
terus-menerus mengingat Yusuf sampai engkau jatuh sakit yang sangat parah atau
engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.”
Ya’qub
memberikan jawaban yang menunjukkan kedalaman hubungannya dengan Robbnya, di
mana pengaduan hanya ditujukan kepada-Nya semata.
﴿قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى
اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ٨٦﴾
[86]. Ya’qub menjawab, “Sesungguhnya aku hanyalah
mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Alloh semata, dan aku mengetahui
dari Alloh apa yang tidak kalian ketahui (tentang janji dan pertolongan-Nya).”
Keyakinan
yang kuat itu kemudian diwujudkan dengan perintah untuk melakukan pencarian
ulang dengan semangat optimisme yang tinggi.
﴿يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ
يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ ٨٧﴾
[87]. “Wahai anak-anakku, pergilah kalian dan carilah
berita tentang Yusuf serta saudaranya; dan janganlah kalian berputus asa dari rohmat
Alloh. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rohmat Alloh, kecuali kaum
yang kafir (mengingkari kekuasaan-Nya).”
Perintah
sang ayah ini pun mendorong mereka untuk kembali ke Mesir guna memohon
keringanan dari sang penguasa yang ternyata adalah saudara mereka sendiri.
Terungkapnya Jati
Diri Yusuf dan Pengampunan bagi Saudara-Saudaranya
Perjalanan
ketiga saudara-saudara Yusuf ke Mesir dipenuhi dengan rasa hina dan kebutuhan
yang mendesak. Mereka datang bukan lagi sebagai pedagang yang membawa harta
berharga, melainkan sebagai peminta-minta yang mengharapkan belas kasihan.
Momen ketidakberdayaan mereka inilah yang dipilih Yusuf untuk membuka jati
dirinya, mengubah suasana mencekam menjadi penuh haru, sekaligus menunjukkan
betapa agungnya sifat pemaaf seorang yang bertaqwa.
﴿فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا
الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ
لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ
٨٨﴾
[88]. Maka ketika mereka masuk menemui Yusuf kembali,
mereka mengiba dengan berkata, “Wahai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah
ditimpa kesengsaraan karena kelaparan yang sangat, dan kami datang membawa
harta yang tidak berharga untuk ditukar dengan gandum. Maka sempurnakanlah
takaran makanan untuk kami dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Alloh
memberikan balasan pahala kepada orang-orang yang bersedekah.”
Melihat
penderitaan saudara-saudaranya yang sedemikian rupa, Yusuf tidak lagi menahan
diri dan mulai mengingatkan mereka akan perbuatan masa lalu mereka.
﴿قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ
وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ ٨٩﴾
[89]. Yusuf berkata kepada mereka, “Apakah kalian
masih ingat apa yang telah kalian perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya di masa
lalu, ketika kalian masih menuruti hawa nafsu dan tidak menyadari akibat buruk
dari perbuatan kalian?”
Pertanyaan
yang sangat spesifik tentang masa lalu yang mereka sembunyikan itu membuat
mereka tersentak dan mulai menyadari sosok di hadapan mereka.
﴿قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ
اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ ٩٠﴾
[90]. Mereka bertanya dengan penuh keheranan dan
keraguan, “Apakah engkau ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab, “Benar, aku
adalah Yusuf dan ini adalah saudaraku (Bunyamin). Sungguh Alloh telah
melimpahkan ni’mat-Nya kepada kami dengan mempertemukan kami kembali.
Sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa dengan menjalankan perintah Robbnya dan
bersabar atas segala ujian, maka sesungguhnya Alloh tidak akan menyia-nyiakan
pahala bagi orang-orang yang senantiasa berbuat baik.”
Mendengar
pengakuan itu, runtuhlah segala kesombongan mereka dan mereka pun mengakui
kesalahan besar yang telah mereka lakukan selama puluhan tahun.
﴿قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ
عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ ٩١﴾
[91]. Mereka berkata, “Demi Alloh, sungguh Alloh telah
melebihkanmu di atas kami dengan kemuliaan akhlak dan kedudukan, dan
sesungguhnya kami benar-benar orang-orang yang telah berbuat dosa dan kesalahan
besar kepadamu.”
Mendapati
pengakuan tulus dari saudara-saudaranya, Yusuf langsung memberikan jaminan
keamanan dan pengampunan tanpa ada rasa dendam sedikit pun.
﴿قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ
ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ٩٢﴾
[92]. Yusuf menjawab, “Pada hari ini tidak ada cercaan
atau celaan atas kalian atas apa yang kalian lakukan di masa lalu. Semoga Alloh
mengampuni dosa-dosa kalian, dan Dia adalah Robb Yang Paling Penyayang di
antara para penyayang.”
Setelah
urusan dengan saudara-saudaranya selesai, Yusuf segera memberikan solusi untuk
memulihkan kesedihan dan kesehatan ayahnya yang berada jauh di sana.
﴿اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ
وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ ٩٣﴾
[93]. Yusuf berkata, “Pergilah kalian pulang dengan
membawa baju gamisku ini, lalu usapkanlah ke wajah ayahku, niscaya
penglihatannya akan kembali pulih; dan setelah itu bawalah seluruh keluarga
kalian semua kepadaku di Mesir ini.”
Perintah
Yusuf ini menjadi awal dari babak kegembiraan yang akan segera dirasakan oleh
Ya’qub bahkan sebelum rombongan itu sampai ke rumah.
Kabar Gembira dan
Kembalinya Penglihatan Ya’qub
Mukjizat
dari Alloh ﷻ
mulai tampak saat kafilah yang membawa baju Yusuf berangkat dari Mesir. Ya’qub
yang berada di Palestina sudah mencium aroma Yusuf meskipun secara akal hal itu
mustahil. Ketika baju tersebut sampai dan diusapkan ke wajah beliau, seketika
penglihatan beliau pulih. Momen ini menjadi bukti kebenaran harapan Ya’qub
kepada Robbnya dan menjadi kesempatan bagi anak-anaknya untuk memohon doa
ampunan secara resmi.
﴿وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ
إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ ٩٤﴾
[94]. Dan tatkala kafilah itu telah keluar
meninggalkan Mesir, ayah mereka berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Sesungguhnya
aku benar-benar mencium aroma Yusuf, sekiranya kalian tidak menuduhku sebagai
orang tua yang sudah pikun.”
Orang-orang
di sekeliling beliau, yang belum mengetahui kenyataan yang terjadi di Mesir,
menganggap ucapan Ya’qub hanyalah khayalan belaka.
﴿قَالُوا تَاللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ
الْقَدِيمِ ٩٥﴾
[95]. Orang-orang di sekitarnya berkata, “Demi Alloh,
sesungguhnya engkau masih saja berada dalam kekeliruanmu yang dahulu karena
terlalu larut dalam mencintai Yusuf.”
Namun,
keraguan mereka segera sirna ketika pembawa kabar gembira itu benar-benar
sampai di hadapan Ya’qub.
﴿فَلَمَّا أَنْ جَآءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ
عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ
مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ٩٦﴾
[96]. Maka ketika pembawa kabar gembira itu telah
datang, dia segera mengusapkan baju Yusuf ke wajah Ya’qub, maka seketika itu
juga penglihatannya kembali pulih. Ya’qub pun berkata, “Bukankah telah aku
katakan kepada kalian dahulu, bahwa aku mengetahui dari Alloh apa yang tidak
kalian ketahui?”
Melihat
bukti nyata kekuasaan Alloh dan kebenaran ucapan ayahnya, putra-putra Ya’qub
pun memohon agar ayahnya mendoakan ampunan bagi mereka.
﴿قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ ٩٧﴾
[97]. Mereka berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah
ampunan bagi kami kepada Alloh atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang telah bersalah.”Ya’qub yang penuh kasih sayang menerima permohonan tersebut dan
menjanjikan waktu yang mustajab untuk mendoakan mereka. Menurut Ibnu Mas’ud,
Ya’qub menundanya sampai sepertiga malam akhir.
﴿قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ٩٨﴾
[98]. Ya’qub menjawab, “Aku akan segera memohonkan
ampunan bagi kalian kepada Robbku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.”
Setelah
kedamaian di hati masing-masing kembali pulih, mereka pun berangkat menuju
Mesir untuk memenuhi undangan Yusuf.
Puncak
Kebahagiaan dan Sujud Syukur di Mesir
Seluruh
keluarga Ya’qub akhirnya tiba di Mesir dan disambut dengan kemuliaan oleh
Yusuf. Dalam suasana penuh haru, Yusuf menempatkan kedua orang tuanya di atas
singgasana. Saat itulah, ayah, ibu, dan 11 saudaranya bersujud sebagai
penghormatan kepada Yusuf —sebagai syariat masa lalu yang sekarang sudah
dihapus—, yang menandai terwujudnya mimpi Yusuf puluhan tahun yang lalu. Yusuf
menutup momen agung ini dengan doa syukur yang mendalam, mengakui bahwa segala
pencapaiannya adalah berkat rohmat Alloh ﷻ semata.
﴿فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ
أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَآءَ اللَّهُ آمِنِينَ ٩٩﴾
[99]. Maka ketika mereka semua telah masuk menemui
Yusuf di Mesir, Yusuf segera memeluk dan mendekatkan kedua orang tuanya
kepadanya, lalu dia berkata, “Masuklah kalian ke negeri Mesir, In Syaa Alloh
dalam keadaan aman dari segala gangguan.”
Yusuf
kemudian memberikan penghormatan tertinggi kepada kedua orang tuanya di hadapan
khalayak ramai.
﴿وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا
لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ
مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ
السِّجْنِ وَجَآءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي
وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ ١٠٠﴾
[100]. Dan Yusuf menaikkan kedua orang tuanya ke atas
singgasana kedudukan, lalu mereka semua (orang tua dan saudara-saudaranya)
bersujud kepadanya sebagai tanda penghormatan. Yusuf pun berkata, “Wahai
ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu; sungguh Robbku telah
menjadikannya kenyataan. Dan Dia telah berbuat baik kepadaku ketika Dia
mengeluarkan aku dari penjara dan membawa kalian dari dusun yang jauh ke sini,
setelah syaithon merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku.
Sesungguhnya Robbku Maha Lembut dalam mengatur apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Setelah
merasakan segala puncak kenikmatan dunia, Yusuf justru memalingkan hatinya
kepada kehidupan yang kekal dengan memanjatkan doa ketetapan iman.
﴿رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي
مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
١٠١﴾
[101]. Yusuf berdoa, “Wahai Robbku, sesungguhnya
Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan Engkau telah
mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. Wahai Pencipta langit dan bumi,
Engkaulah Pelindungku di dunia dan di Akhiroh; wafatkanlah aku dalam keadaan
Muslim (berserah diri kepada-Mu) dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang yang
sholih.”
Kisah yang
penuh hikmah ini ditutup oleh Alloh dengan penjelasan tentang kedudukan wahyu
dan sikap manusia terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Pelajaran dari
Kisah Yusuf dan Sikap Manusia Terhadap Kebenaran
Alloh ﷻ
menegaskan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa kisah Yusuf ini adalah berita ghoib yang hanya diketahui
melalui wahyu. Meskipun kisah ini mengandung bukti kebenaran yang sangat kuat,
namun kebanyakan manusia tetap enggan beriman. Penutup surat ini memberikan
gambaran tentang sunnatullah dalam dakwah, tantangan yang dihadapi para Rosul,
hingga kepastian datangnya pertolongan Alloh bagi orang-orang yang tetap teguh
dalam kebenaran.
﴿ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ
إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا
أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ ١٠٢﴾
[102]. Kisah yang Kami ceritakan kepadamu itu adalah
sebagian dari berita ghoib yang Kami wahyukan kepadamu—wahai Muhammad; padahal
engkau tidak berada di samping saudara-saudara Yusuf ketika mereka bersepakat
melaksanakan rencana jahat mereka dan ketika mereka mengatur tipu daya.
Meskipun
bukti kenabian telah disampaikan secara jelas melalui kisah-kisah seperti ini,
hidayah tetaplah milik Alloh semata.
﴿وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
١٠٣﴾
[103]. Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman
kepada apa yang engkau bawa, walaupun engkau sangat menginginkan mereka untuk mendapatkan
petunjuk.
Sikap
enggan mereka ini bukan karena Rosul meminta imbalan, melainkan karena
kesombongan hati mereka sendiri.
﴿وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
١٠٤﴾
[104]. Padahal engkau tidak meminta imbalan apa pun
dari mereka atas da’wah ini. Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan dan
pelajaran bagi seluruh alam.
Banyak
sekali tanda kekuasaan Alloh di alam semesta ini, namun manusia sering kali
melewatinya begitu saja tanpa mau merenung.
﴿وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ ١٠٥﴾
[105]. Dan betapa banyak tanda-tanda kekuasaan Alloh
di langit dan di bumi yang mereka lalui dalam kehidupan sehari-hari, namun
mereka tetap berpaling darinya tanpa mau mengambil pelajaran.
Sekalipun
ada yang mengaku beriman, sering kali keimanan mereka masih dicampuri dengan
perbuatan syirik yang merusak, yaitu
menyembah Alloh sekaligus selain-Nya.
﴿وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا
وَهُمْ مُشْرِكُونَ ١٠٦﴾
[106]. Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada
Alloh, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sembahan-sembahan
lain.
Apakah
mereka merasa aman dari azab Alloh yang bisa datang tiba-tiba tanpa mereka
sadari sedikit pun?
﴿أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ
مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
١٠٧﴾
[107]. Apakah mereka merasa aman dari datangnya azab
Alloh yang meliputi mereka secara merata, atau datangnya hari Qiyamah kepada
mereka secara mendadak, sedangkan mereka tidak menyadarinya?
Sebagai
jawaban atas keingkaran mereka, Rosululloh ﷺ diperintahkan untuk menegaskan jalan da’wah yang beliau tempuh.
﴿قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ
ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
١٠٨﴾
[108]. Katakanlah—wahai Muhammad, “Inilah jalanku, aku
mengajak manusia kepada Alloh dengan ilmu yang nyata dan hujjah yang terang,
aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Alloh, dan aku tidak termasuk
orang-orang yang musyrik.”
Dakwah ini
bukanlah hal baru, karena para utusan sebelumnya pun hanyalah manusia biasa
yang diberi wahyu oleh Alloh.
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا
نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا
كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا
ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ١٠٩﴾
[109]. Kami tidak mengutus sebelummu, melainkan
orang-orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka di antara penduduk
negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana
kesudahan orang-orang kafir sebelum mereka? Dan sungguh negeri Akhiroh itu jauh
lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kalian mengerti?
Perjuangan
para Nabi selalu melewati masa-masa sulit hingga mereka hampir berputus asa,
namun di titik itulah pertolongan Alloh datang.
﴿حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا
أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَآءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَآءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
١١٠﴾
[110]. Sehingga apabila para Rosul telah berputus asa
terhadap kaumnya dan mereka menyangka bahwa mereka telah didustakan sepenuhnya,
datanglah pertolongan Kami kepada mereka, lalu diselamatkanlah siapa yang Kami
kehendaki. Dan siksaan Kami tidak dapat ditolak oleh kaum yang berbuat dosa.
Surat ini
ditutup dengan penegasan bahwa kisah-kisah para Nabi adalah pelajaran bagi
orang yang berakal dan petunjuk bagi kaum yang beriman.
﴿لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي
الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ
تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ
يُؤْمِنُونَ ١١١﴾
[111]. Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat
pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat. Al-Qur’an itu bukanlah
cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan
menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam agama, serta menjadi petunjuk
dan rohmat bagi kaum yang beriman.
Tamat.
Allohu
a’lam.[NK]
