Cari Ebook

[PDF] Cara Beragama Pengekor Hawa Nafsu - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji hanya bagi Alloh , Robb semesta alam, yang telah menurunkan Al-Furqon sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil, serta mengutus Rosul-Nya sebagai pembawa rohmat dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarga, para Shohabat, serta orang-orang yang teguh mengikuti jejak mereka dengan penuh ketaqwaan hingga hari pembalasan kelak.

Amma ba’du:

Sesungguhnya, ni’mat yang paling besar setelah iman adalah ni’mat di atas Sunnah, di mana seseorang beragama bukan berdasarkan seleranya, melainkan berdasarkan wahyu yang suci.

Tema ini diangkat bermula dari keprihatinan yang mendalam terhadap realita umat di akhir zaman. Banyak manusia yang mengaku sebagai pemeluk Islam, namun jika diteliti lebih dalam, mereka tidak menyembah Alloh dengan sebenar-benarnya penghambaan. Sebaliknya, mereka telah menjadikan keinginan-keinginan diri dan kecenderungan hati sebagai ilah yang ditaati dalam beribadah. Inilah fenomena beragama para pengekor hawa nafsu, sebuah penyakit yang sangat halus namun mematikan, yang mampu merusak amal sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering. Memahami bagaimana cara mereka beragama adalah cara agar ia tidak tergelincir ke dalam jurang yang sama, karena hawa nafsu sering kali datang dengan jubah agama yang sangat indah.

Alloh telah memperingatkan tentang bahaya besar ini dalam firman-Nya:

﴿أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqon: 43)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang telah dikuasai oleh hawa nafsu, ia tidak lagi mampu melihat kebenaran meskipun dalil telah terpampang nyata di hadapannya. Ia akan menjadi buta dan tuli terhadap nasihat, karena hatinya telah dipenuhi oleh kabut kesukaan diri. Hawa nafsu dalam urusan agama jauh lebih berbahaya daripada hawa nafsu dalam urusan syahwat perut dan kemaluan. Jika nafsu syahwat menjerumuskan seseorang pada maksiat yang ia sadari kesalahannya, maka nafsu dalam agama menjerumuskan seseorang pada kesesatan yang dianggap sebagai sebuah petunjuk.

Nabi telah menggambarkan betapa dahsyatnya fitnah hawa nafsu yang akan merasuk ke dalam tubuh manusia. Beliau bersabda:

«وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ، كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ، لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ»

“Dan sungguh akan muncul pada umatku kaum-kaum yang hawa nafsu merasuk ke dalam tubuh mereka sebagaimana penyakit anjing gila merasuk ke dalam tubuh penderitanya; tidak ada satu sendi pun dan tidak ada satu urat pun melainkan ia memasukinya.” (HHR. Abu Dawud no. 4597)

Buku ini disusun sebagai panduan untuk mengenali setiap sisi penyimpangan yang dilakukan oleh para pengekor hawa nafsu. Kita tidak hanya berbicara tentang definisi, namun kita akan menyelami kedalaman jiwa untuk melihat bagaimana hawa nafsu bekerja merusak fondasi keimanan.

Kerangka buku ini dimulai dengan pembahasan tentang hakikat hawa nafsu dan kedudukannya dalam jiwa, menjelaskan mengapa nafsu begitu kuat mempengaruhi akal manusia hingga mampu menggeser posisi wahyu.

Setelah memahami hakikatnya, buku ini akan membedah bagaimana para pengekor nafsu memperlakukan wahyu. Mereka tidak menolak Al-Qur’an secara lisan, namun mereka memotong-motong maknanya. Mereka mengambil ayat yang mendukung kepentingan kelompok mereka dan mengabaikan ayat yang memberikan teguran keras. Begitu pula terhadap Hadits Nabi ; jika sebuah Hadits tidak masuk ke dalam logika mereka yang sudah rusak, maka Hadits tersebut akan ditolak dengan berbagai alasan.

Selanjutnya, buku ini akan menguraikan cara-cara ibadah yang lahir dari rahim hawa nafsu. Munculnya berbagai bid’ah atau inovasi dalam agama adalah bukti nyata bahwa manusia merasa cara yang diajarkan Nabi belum cukup memuaskan batin mereka. Mereka menciptakan ritual-ritual baru yang penuh dengan emosi sesaat, namun kosong dari nilai ketaqwaan yang sesungguhnya. Mereka mencari rasa nyaman, bukan mencari Ridho Alloh . Padahal, setiap perkara baru dalam agama adalah kesesatan yang akan membawa ke Naar. Nabi bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Sisi lain yang tidak kalah penting adalah pembahasan mengenai sikap mereka terhadap ilmu dan ulama. Pengekor hawa nafsu sangat selektif dalam memilih guru. Mereka hanya mau mendengarkan tokoh yang pandai menghibur dan memberikan keringanan-keringanan yang menghalalkan syahwat mereka. Mereka sangat membenci para Salaf (Shohabat dan Tabi’in) karena pemahaman para Salaf adalah pembatas yang kokoh bagi kebebasan nafsu mereka. Kita akan melihat bagaimana mereka mengagungkan figur manusia secara berlebihan hingga derajat yang melampaui batas syari’at, di mana ucapan sang guru lebih ditaati daripada sabda Nabi .

Buku ini juga akan menyentuh sisi kemasyarakatan, yaitu bagaimana hawa nafsu memicu perpecahan melalui fanatisme kelompok (hizbiyyah). Kita akan melihat bagaimana agama digunakan sebagai alat untuk mencari rizqi duniawi dan kedudukan politik. Kezholiman terhadap sesama Muslim yang berbeda pendapat menjadi hal yang biasa dilakukan oleh mereka yang hatinya telah dikuasai oleh ego. Pada bagian akhir, kita akan membahas akibat yang harus ditanggung oleh para pengekor nafsu, mulai dari kegelapan hati di dunia, terhalangnya pintu taubat, hingga siksaan yang pedih di Akhiroh kelak.

Pengekor hawa nafsu sering kali merasa dirinya sedang berada di atas petunjuk, padahal ia sedang berjalan di atas fatamorgana. Alloh berfirman:

﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا 103 الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

 

Bab 1: Kedudukan Hawa Nafsu

Bab ini menjadi pondasi penting untuk memahami bahwa beragama bukan soal apa yang kita suka, tapi soal apa yang Alloh perintahkan. Mengikuti hawa nafsu dalam beragama adalah racun yang menghancurkan amal sebagaimana api memakan kayu bakar. Seseorang harus terus memantau gerak-gerik hatinya agar tidak tergelincir menjadi hamba bagi nafsunya sendiri tanpa ia sadari.

Taqwa adalah satu-satunya obat bagi penyakit hawa nafsu ini. Dengan taqwa, seseorang akan memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang merupakan petunjuk dari Alloh dan mana yang merupakan tipu daya syaithon melalui hawa nafsu. Semoga Alloh melindungi kita dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan dari godaan syaithon yang terkutuk.

1.1 Arti Hawa Nafsu

Hawa nafsu secara bahasa diambil dari kata hawaa yang berarti jatuh dari atas ke bawah, atau condongnya jiwa kepada sesuatu. Dinamakan hawa karena ia menjatuhkan pemiliknya ke dalam jurang kebinasaan di dunia dan Naar di Akhiroh.

Adapun menurut istilah, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada apa yang disukai oleh syahwat tanpa adanya timbangan dari wahyu. Istilah hawa nafsu juga disinggung dalam ayat:

﴿وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

“Dan menahan nafsu dari hawa.” (QS. An-Nazi’at: 40)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa hawa nafsu pada dasarnya adalah pembawaan manusia untuk mencintai apa yang sesuai dengan keinginan dirinya, namun sering kali hal ini keluar dari batas kewajaran hingga menabrak aturan Alloh .

Alloh telah memberikan peringatan keras dalam Al-Qur’an agar manusia tidak memperturutkan hawa nafsu, karena ia adalah hijab (penghalang) antara hamba dengan Robbnya. Seseorang yang hidupnya hanya untuk memuaskan apa yang ia inginkan akan kehilangan bashiroh (pandangan hati) untuk melihat kebenaran. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Alloh.” (QS. Shod: 26)

Pengekor hawa nafsu biasanya tidak peduli apakah sesuatu itu halal atau harom, yang penting bagi mereka adalah terpenuhinya rasa haus akan pengakuan, kenyamanan, dan kesenangan sesaat. Hal ini merambat ke dalam urusan agama, di mana mereka mulai memilah-milah hukum sesuai selera. Mereka mengambil yang mudah bagi nafsu mereka dan membuang yang berat, meskipun itu adalah perintah yang sangat jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam realita kehidupan, kita melihat banyak orang yang mengaku beragama namun tindak-tanduknya hanya mengikuti suasana hati. Jika hatinya sedang senang, ia beribadah. Jika hatinya sedang malas atau ada kepentingan dunia, ia meninggalkan kewajiban. Inilah ciri pengikut nafsu, mereka tidak memiliki ketetapan hati di atas dalil, melainkan berputar di mana nafsu mereka berputar.

1.2 Bahaya Menjadikan Keinginan Diri sebagai Tuhan

Puncak dari penyimpangan hawa nafsu adalah ketika seseorang menjadikan keinginannya sebagai penentu tunggal dalam hidupnya, bahkan dalam urusan hukum agama. Alloh menggambarkan orang seperti ini sebagai orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah (sesembahan) selain Alloh . Ini adalah bentuk kesyirikan yang sangat samar namun mematikan.

Alloh berfirman:

﴿أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jathiyah: 23)

Ayat ini adalah pukulan telak bagi siapa saja yang berani mendahulukan akal pikirannya atau perasaan hatinya di atas syari’at. Seseorang yang menjadikan nafsunya sebagai tuhan tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang ditetapkan oleh Nabi . Ia akan selalu merasa bahwa pendapatnya lebih hebat, lebih modern, atau lebih masuk akal.

Nabi juga telah memperingatkan akan bahaya kehancuran akibat mengikuti hawa nafsu yang ditaati. Dalam sebuah Hadits, beliau bersabda:

«ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوَىً مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ»

“Ada 3 perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Al-Bazzar dab Ash-Shohihah no. 1802)

Kekaguman terhadap diri sendiri adalah pintu masuk utama hawa nafsu. Seseorang yang merasa sudah pintar, merasa sudah mencapai derajat kewalian tertentu, atau merasa memiliki kecerdasan di atas rata-rata, atau gelar doktor-profesor, sering kali terjebak dalam menafsirkan agama semaunya. Mereka merasa tidak lagi butuh penjelasan para Salaf atau para ulama yang telah diakui keilmuannya.

Contoh dalam realita saat ini adalah orang-orang yang meragukan keharoman sesuatu yang sudah disepakati oleh para ulama, hanya karena menurut mereka hal tersebut tidak merugikan orang lain. Mereka menggunakan logika bahwa agama adalah masalah hati, sehingga selama hati mereka merasa baik, maka perbuatan harom pun dianggap tidak masalah. Inilah sebenar-benarnya penghambaan kepada nafsu.

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) pernah berkata:

مَنْ اسْتَحْوذَ عَلَيْهِ الْهَوَى وَاتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ؛ انْقَطَعَتْ عَنْهُ مَوَادُّ التَّوْفِيقِ

“Siapa yang dikuasai oleh hawa nafsunya dan mengekor syahwatnya, maka terputuslah darinya sumber-sumber taufiq.” (Roudhotul Muhibbin, Ibnu Qoyyim, hal. 640)

Taufiq adalah bimbingan Alloh menuju kebenaran. Ketika taufiq dicabut, seseorang akan melihat kebathilan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai beban yang membosankan. Hati yang telah diperbudak oleh nafsu akan menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi, sehingga nasihat dari Al-Qur’an tidak lagi membekas padanya.

1.3 Perang Syaithon Melalui Pintu Kesukaan Hati

Syaithon adalah pakar dalam mengenali titik lemah manusia, dan titik lemah terbesar adalah kesukaan hati. Syaithon tidak selalu mengajak manusia untuk berbuat dosa besar secara langsung, namun ia sering kali membungkus kebathilan dengan bungkus agama agar terlihat indah dan sesuai dengan hawa nafsu. Inilah yang disebut dengan tazyin (penghiasan amal buruk).

Alloh berfirman:

﴿وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ

“Dan syaithon menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan Alloh, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.” (QS. Al-‘Ankabut: 38)

Pengekor hawa nafsu sering kali merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah ketaatan, padahal itu adalah tipu daya syaithon. Syaithon membisikkan bahwa ibadah yang ditambah-tambah dengan inovasi sendiri (bid’ah) adalah bentuk kecintaan kepada Nabi . Syaithon juga membisikkan bahwa meninggalkan Sholat berjamaah di Masjid demi pekerjaan adalah bentuk Jihad mencari nafkah untuk keluarga.

Nabi telah memberikan gambaran bagaimana hawa nafsu merasuk ke dalam tubuh seseorang seperti penyakit anjing gila (rabies). Beliau bersabda:

«وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ، كَمَا يَتَجَارَى الْكَلَبُ لِصَاحِبِهِ، لَا يَبْقَى مِنْهُ مَفْصِلٌ وَلَا عِرْقٌ إِلَّا دَخَلَهُ»

“Dan sungguh akan muncul pada umatku kaum-kaum yang hawa nafsu merasuk ke dalam tubuh mereka sebagaimana penyakit anjing gila merasuk ke dalam tubuh penderitanya; tidak ada satu sendi pun dan tidak ada satu urat pun melainkan ia memasukinya.” (HHR. Abu Dawud no. 4597)

Penyakit ini sangat berbahaya karena menyerang seluruh bagian jiwa. Jika hawa nafsu sudah masuk ke dalam urat nadi seseorang, ia akan menjadi sangat fanatik terhadap pendapatnya sendiri atau kelompoknya. Ia akan menutup telinga dari dalil yang shohih dan hanya mau mendengar apa yang memuaskan hatinya. Inilah awal mula perpecahan dalam Islam, di mana setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka berdasarkan kesukaan hati masing-masing.

Ibnul Jauzi (597 H) dalam kitabnya Talbis Iblis menjelaskan bagaimana syaithon menipu para ahli ibadah melalui pintu hawa nafsu. Beliau menceritakan ada orang yang rajin Sholat malam namun hatinya penuh dengan kesombongan dan merasa lebih mulia dari orang lain. Syaithon membuat orang tersebut merasa bahwa ia sudah dijamin masuk Jannah, sehingga ia mulai meremehkan dosa-dosa kecil dan akhirnya terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan.

Syaithon juga menggunakan pintu perasaan untuk menggoyahkan keyakinan seseorang terhadap takdir. Ketika seseorang tertimpa musibah, syaithon membisikkan kata-kata “seandainya aku melakukan ini, tentu tidak akan begini”.

Alloh memerintahkan kita untuk berlindung dari bisikan-bisikan jahat tersebut:

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ 1 مَلِكِ النَّاسِ 2 إِلَٰهِ النَّاسِ 3 مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ 4 الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ 5 مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ 6

“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Robb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan bisikan syaithon yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-6)

Pengekor hawa nafsu biasanya tidak memiliki benteng pertahanan berupa dzikir dan ilmu yang kuat. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk melamunkan dunia atau mengejar kesenangan yang menipu. Akibatnya, syaithon dengan sangat mudah mengendalikan kemudi hati mereka. Mereka menjadi robot-robot syaithon yang hatinya kosong dari rasa takut kepada Alloh .

Secara akal, mengikuti hawa nafsu adalah sebuah kebodohan. Akal yang sehat seharusnya menuntun manusia untuk mengikuti Penciptanya, karena Penciptalah yang paling tahu apa yang terbaik bagi ciptaannya. Namun, bagi pengekor nafsu, akal mereka telah terjangkit penyakit sehingga hanya berfungsi untuk mencari pembenaran atas kesalahan mereka, bukan mencari kebenaran yang hakiki.

Dalam realita sosial, kita mendapati bahwa orang yang selalu mengikuti hawa nafsu hidupnya tidak akan pernah tenang. Ia akan selalu merasa kurang, selalu merasa tersaingi, dan selalu merasa terancam jika ada orang lain yang lebih hebat darinya. Agama yang ia jalankan pun tidak memberikan ketenangan bathiniah, karena pondasinya bukan keikhlasan kepada Alloh , melainkan kepuasan nafsu pribadi. Ini adalah siksaan dunia sebelum datangnya siksaan di Akhiroh.

 

Bab 2: Cara Pengekor Hawa Nafsu Memperlakukan Wahyu

Bab ini menjelaskan bagaimana liciknya cara pengekor hawa nafsu dalam mempreteli kewibawaan wahyu. Mereka tidak menghancurkan Al-Qur’an dan Hadits dengan pedang, melainkan dengan pemikiran, penafsiran sesat, dan pengabaian yang sistematis demi menjaga agar syahwat mereka tetap bertahta di atas singgasana hati.

2.1 Memilih Ayat yang Cocok dengan Selera dan Meninggalkan yang Berat

Sifat dasar dari para pengekor hawa nafsu adalah mereka tidak tunduk sepenuhnya kepada wahyu yang diturunkan oleh Alloh . Mereka memperlakukan Al-Qur’an seperti sebuah pasar swalayan, di mana mereka hanya mengambil apa yang mereka sukai dan meninggalkan apa yang dirasa membebani syahwat atau kepentingan dunia mereka. Keimanan mereka bersifat parsial (sebagian-sebagian), bukan keimanan yang menyeluruh.

Alloh telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap perilaku semacam ini, yang dahulu dilakukan oleh kaum Yahudi dan kini diwarisi oleh sebagian kaum Muslimin yang lebih mendahulukan keinginan diri. Alloh berfirman:

﴿أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Qiyamah mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Dan Alloh tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh: 85)

Orang-orang ini biasanya sangat rajin mengutip ayat-ayat tentang kasih sayang Alloh , luasnya ampunan, dan kemudahan dalam beragama. Namun, ketika berhadapan dengan ayat-ayat tentang kewajiban yang berat, hukum hukuman (hudud), larangan riba, atau kewajiban untuk berhijroh dari bid’ah, mereka akan mencari sejuta alasan untuk menghindar. Mereka berkata bahwa ayat tersebut hanya berlaku di zaman dahulu, atau ayat tersebut memiliki makna lain yang tidak mengharuskan mereka untuk melakukannya secara lahiriah.

Rasululloh memberikan peringatan akan munculnya orang-orang yang lisannya fasih membaca Al-Qur’an namun hati mereka kosong dari tunduk kepada maknanya. Beliau bersabda:

«يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ - تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ - وَيَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»

“Akan muncul pada umat ini suatu kaum —yang kalian akan merasa meremehkan Sholat kalian dibandingkan Sholat mereka, Puasa kalian dibandingkan Puasa mereka, amal kalian dibandingkan amal mereka— mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari hewan buruannya.” (HR. Al-Bukhori no. 5058 dan Muslim no. 1064)

Hadits ini menunjukkan bahwa kerajinan dalam beribadah secara fisik tidak menjamin seseorang selamat dari penyimpangan agama jika ia tidak mau menundukkan akal dan perasaannya di bawah wahyu. Akal mereka hanya digunakan untuk membenarkan apa yang sudah mereka inginkan sejak awal.

Dalam realita, kita melihat pengekor nafsu akan sangat bersemangat menjalankan agama yang bersifat seremonial atau adat yang dianggap bagian dari agama, namun mereka sangat antipati terhadap aturan syari’at yang membatasi pergerakan ekonomi harom mereka atau gaya hidup bebas mereka. Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai memecah belah agama.

2.2 Merusak Makna Firman Alloh demi Pembenaran Diri

Metode lain yang digunakan oleh pengekor hawa nafsu adalah tahrif (pengubahan makna). Mereka tidak berani menolak ayat Al-Qur’an secara terang-terangan karena takut disebut kafir, maka mereka menempuh jalur licik dengan cara mengubah tafsir ayat tersebut agar sesuai dengan keinginan mereka. Mereka menggunakan istilah-istilah yang seolah-olah bijak untuk menyingkirkan makna asli yang dikehendaki Alloh .

Alloh menggambarkan perilaku buruk ini:

﴿يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِه

“Mereka mengubah perkataan (Alloh) dari tempat-tempatnya.” (QS. Al-Maidah: 13)

Contohnya adalah ketika mereka menafsirkan ayat tentang Jihad sebagai sekadar perjuangan melawan kemalasan diri saja, sehingga mereka meniadakan hukum Jihad fisik yang telah ditetapkan syari’at dalam kondisi tertentu. Atau mereka menafsirkan kata Hijab sebagai sekadar penutup aib hati saja, bukan penutup aurot secara fisik bagi wanita Muslimah. Hal ini dilakukan agar mereka bisa tetap tampil modis sesuai trend dunia namun merasa tetap religius.

Mereka juga sering mengejar ayat-ayat yang mutasyabihat (samar maknanya) untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari pembenaran bagi paham mereka yang menyimpang. Alloh berfirman:

﴿فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.” (QS. Ali ‘Imron: 7)

Orang-orang ini akan membuang tafsir para Shohabat dan Tabi’in yang telah disepakati, lalu menggantinya dengan tafsir yang bersumber dari perasaan atau filsafat yang tidak memiliki dasar ilmu. Mereka berdalih bahwa agama harus kontekstual, yang sebenarnya maknanya adalah agama harus tunduk kepada perkembangan zaman yang sudah rusak oleh hawa nafsu.

Al-Auzai berkata:

الْعِلْمُ مَا جَاءَ عَنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ وَمَا لَمْ يَجِيءْ عَنِ الصَّحَابَةِ فَلَيْسَ بِعِلْمٍ

“Ilmu itu adalah apa yang datang dari para Shohabat Muhammad , dan apa yang tidak datang dari para Shohabat maka itu bukanlah ilmu.” (Tariikhul Islam, Adz-Dzahabi (748 H), 9/490)

Pengekor hawa nafsu membenci atsar (riwayat) karena atsar membatasi mereka. Riwayat memaksa mereka untuk mengikuti pemahaman Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), dan para Shohabat lainnya. Sedangkan hawa nafsu mereka menginginkan kebebasan tanpa batas. Secara akal, jika setiap orang dibebaskan menafsirkan firman Robb sesuai seleranya, maka agama ini akan hancur dan menjadi ribuan versi yang saling bertabrakan.

2.3 Menolak Hadits Shohih karena Tidak Masuk Akal

Salah satu benteng terkuat Islam adalah Sunnah Nabi . Para pengekor hawa nafsu menyadari hal ini, sehingga mereka berusaha keras merobohkan kewibawaan Hadits-hadits Nabi . Mereka akan menolak Hadits yang shohih jika isinya bertentangan dengan logika mereka yang telah dikotori oleh syahwat dan pemikiran asing. Mereka sering kali menjuluki diri mereka sebagai kaum rasionalis, padahal yang mereka ikuti bukanlah akal sehat, melainkan akal yang sakit.

Nabi telah meramalkan kemunculan orang-orang yang duduk di sofa mewahnya lalu meragukan Sunnah beliau. Beliau bersabda:

«أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ، وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ، [أَلَّا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ]»

“Ketahuilah aku diberi Al-Qur’an dan yang semisalnya (Hadits). Ketahuilah, hampir tiba muncul seorang lelaki yang kekenyangan sambil duduk di atas sofanya lalu berkata: ‘Hendaklah kalian hanya berpegang pada Al-Qur’an ini saja. Apa yang kalian temukan di dalamnya halal maka halalkanlah, dan apa yang kalian temukan di dalamnya harom maka haromkanlah.’ Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharomkan oleh Rosululloh adalah sama seperti apa yang diharomkan oleh Alloh.” (HSR. Abu Dawud no. 4604 dan Ibnu Majah no. 12)

Orang-orang pengekor hawa nafsu ini akan berkata, “Hadits ini tidak masuk akal,” atau “Hadits ini bertentangan dengan kemanusiaan,” atau “Hadits ini merendahkan martabat.” Mereka menjadikan akal mereka sebagai hakim atas ucapan Nabi . Padahal, akal manusia itu terbatas, sedangkan wahyu datang dari Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Jika akal dijadikan ukuran, maka akan muncul kekacauan. Bagi seseorang yang gemar berzina, hukum rajam atau cambuk dianggap tidak masuk akal. Bagi seseorang yang rakus harta, hukum Zakat dianggap tidak logis karena mengurangi kekayaan. Inilah bukti bahwa penolakan terhadap Hadits hanyalah kedok untuk menuruti keinginan diri.

Imam Malik (179 H) berkata:

السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Sunnah adalah bahtera Nuh, siapa yang menaikinya maka ia selamat, dan siapa yang tertinggal darinya maka ia tenggelam.” (Tarikh Baghdad, Al-Khothib Al-Baghdadi (463 H), 8/309)

Realitanya, para penolak Hadits sering kali terjerumus ke dalam keraguan yang tiada ujung. Mereka tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam beribadah. Mereka bingung bagaimana cara Sholat, berapa rokaat, dan bagaimana detail Haji, karena semua itu dijelaskan dalam Hadits. Namun, demi memuaskan nafsu untuk membuang hukum-hukum yang mereka benci, mereka rela mengorbankan seluruh bangunan agama ini.

2.4 Mendahulukan Ucapan Manusia di Atas Sabda Nabi

Ciri lain dari pengekor hawa nafsu adalah fanatisme buta terhadap tokoh, guru, atau pemikir tertentu. Mereka lebih mendahulukan pendapat kyai mereka, ustadz mereka, atau filsuf pujaan mereka daripada dalil yang jelas dari Nabi . Jika ditunjukkan kepada mereka sabda Nabi yang shohih, mereka akan menjawab, “Tapi guru saya berkata begini,” atau “Tapi dalam kitab kelompok kami tertulis begitu.” Padahal pendapat tokoh mereka itu tidak dikenal oleh para Salaf maupun fuqoha.

Alloh mencela sikap orang-orang yang menjadikan tokoh-tokoh mereka sebagai tandingan bagi aturan Alloh :

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Robb-Robb selain Alloh.” (QS. At-Taubah: 31)

Ketika Adi bin Hatim (68 H) mendengar ayat ini, ia berkata kepada Nabi bahwa mereka tidak menyembah para rahib tersebut. Namun Nabi menjelaskan bahwa arti menyembah di sini adalah mereka menghalalkan apa yang diharomkan para rahib dan mengharomkan apa yang dihalalkan para rahib, lalu pengikutnya mengikuti saja. Inilah bentuk penyerahan hawa nafsu kepada sesama makhluk.

Abdullah bin Abbas (68 H) pernah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang membenturkan ucapan Nabi dengan ucapan Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H):

يُوشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةٌ مِنْ السَّمَاءِ أَقُولُ لَكُمْ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ، وَتَقُولُونَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ

“Hampir saja hujan batu turun menimpa kalian dari langit. Aku katakan: ‘Rosululloh bersabda,’ sedangkan kalian mengatakan: ‘Abu Bakr dan Umar berkata?’” (HSR. Ahmad no. 3121 dengan lafazh Majmu Fatawa, 26/50)

Jika terhadap Abu Bakr dan Umar saja tidak boleh kita mendahulukan pendapat mereka di atas sabda Nabi , maka bagaimana mungkin kita mendahulukan pendapat manusia biasa di zaman ini yang penuh dengan kepentingan dan kekeliruan? Pengekor hawa nafsu melakukan ini karena mereka merasa lebih nyaman mengikuti figur manusia yang bisa mereka ajak kompromi daripada mengikuti wahyu yang bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar.

Mereka sering membela mati-matian tradisi leluhur yang bertentangan dengan Tauhid dan Sunnah hanya karena alasan melestarikan budaya. Padahal, Alloh telah berfirman tentang kaum pengekor nafsu terdahulu:

﴿قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُون

“Mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqoroh: 170)

Secara realita, fanatisme buta ini menyebabkan perpecahan yang sangat dalam. Setiap kelompok merasa bangga dengan tokohnya dan menutup mata dari kebenaran yang dibawa oleh kelompok lain meskipun didukung oleh dalil. Ini adalah buah pahit dari memperturutkan hawa nafsu dalam beragama. Seseorang yang jujur hanya akan menjadikan kebenaran sebagai tujuannya, tidak peduli dari mana kebenaran itu datang, dan ia tidak akan pernah berani meletakkan ucapan siapa pun di atas ucapan Rosululloh .

Taqwa menuntut kita untuk menjadikan Nabi sebagai satu-satunya hakim dalam setiap perselisihan. Alloh bersumpah dengan diri-Nya sendiri:

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)

Pengekor hawa nafsu akan selalu merasa keberatan (haroj) di dalam hati mereka ketika syari’at tidak sesuai dengan selera mereka. Sebaliknya, orang yang beriman akan merasa tenang dan ridho karena ia tahu bahwa hawa nafsunya adalah musuh, sedangkan wahyu adalah penyelamat.

 

Bab 3: Cara Beribadah yang Berlandaskan Kesukaan Nafsu

Bab ini menutup segala celah bagi mereka yang ingin beribadah hanya dengan modal “suka-suka” atau “enak-enakan”. Ibadah adalah pengabdian mutlak (ubudiyah) yang menuntut kita untuk menanggalkan seluruh ego dan keinginan diri di depan keagungan syari’at Alloh . Pengekor hawa nafsu akan terus meronta mencari kenyamanan, sementara seorang Mu’min akan terus berjuang menundukkan nafsunya sampai ia menemui Robbnya dalam keadaan taqwa.

Ibadah yang berlandaskan kesukaan nafsu hanya akan membuahkan kelelahan di dunia dan penyesalan di Akhiroh. Kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu berkata kepada nafsunya: “Diamlah, sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan Robbku, bukan apa yang diinginkan olehmu wahai syaithon yang bersembunyi di balik perasaanku.”

3.1 Menciptakan Cara Baru dalam Beragama (bid’ah) yang Dianggap Baik

Cara beragama yang paling digemari oleh para pengekor hawa nafsu adalah menciptakan aturan-aturan baru dalam ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh Rosululloh . Mereka merasa bahwa ibadah yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah belum cukup untuk memuaskan gejolak emosi dan perasaan mereka. Oleh karena itu, mereka menambah-nambah jumlah rokaat, menciptakan bacaan-bacaan dzikir dengan hitungan tertentu yang tidak ada asalnya, atau menentukan waktu-waktu khusus untuk ibadah tertentu yang tidak memiliki dalil.

Alloh telah memberikan batasan yang sangat tegas bahwa urusan agama adalah hak mutlak Robb semesta alam. Siapa yang berani menambah atau mengurangi, maka ia telah memposisikan dirinya sebagai tandingan bagi Alloh . Alloh berfirman:

﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Alloh) tentulah diazab di antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang zholim itu akan mendapat azab yang amat pedih.” (QS. Asy-Syuro: 21)

Pengekor hawa nafsu sering kali berdalih dengan perkataan “ini kan baik”, “tujuannya kan mulia”, atau “masa berdzikir dilarang”. Mereka tidak sadar bahwa syarat diterimanya amal bukan hanya niat yang baik, tetapi juga harus sesuai dengan petunjuk Nabi . Nabi telah memutus segala celah bagi inovasi dalam agama ini dengan sabdanya:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ»

“Siapa yang mengada-adakan hal baru dalam urusan kami (agama) ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Dalam riwayat lain yang lebih tegas, Nabi menyatakan bahwa setiap bid’ah (hal baru dalam agama) adalah kesesatan. Pengekor hawa nafsu sangat membenci Hadits ini dan berusaha memelintir maknanya menjadi bid’ah yang baik dan bid’ah yang buruk, agar mereka tetap bisa menjalankan tradisi yang mereka sukai. Padahal Nabi bersabda:

«وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607)

Malik bin Anas (179 H) memberikan kaidah yang sangat kuat untuk membungkam para pengekor nafsu ini. Beliau berkata:

مَنِ ابْتَدَعَ فِي الإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً؛ فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ؛ لِأَنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿اليَومَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾ [المَائِدَة: ٣]، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَومَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ اليَومَ دِينًا

“Siapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia anggap sebagai sebuah kebaikan, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah. Karena Alloh berfirman: ‘Pada hari ini (9 Dzulhijjah tahun 10 H) telah Kusempurnakan agamamu.’ Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama maka pada hari ini juga bukan bagian dari agama.” (Al-I’tishom, Asy-Syathibi (790 H), 1/64)

Secara akal, jika setiap orang dibolehkan membuat cara ibadah baru karena dianggap baik, maka agama ini tidak akan pernah selesai. Orang akan terus menambah-nambah hingga bentuk asli agama yang dibawa Nabi akan hilang tertutup oleh tumpukan kreasi manusia. Realita saat ini menunjukkan banyak sekali ritual yang dianggap sakral namun jika ditimbang dengan wahyu, ia hanyalah gerak-gerik fisik yang kosong dari nilai ibadah karena tidak ada perintahnya.

3.2 Mencari-cari Keringanan dalam Hukum yang Harom

Cara lain para pengekor nafsu dalam beragama adalah sikap mereka yang selalu mencari-cari celah hukum (hilah) untuk menghalalkan apa yang sebenarnya dilarang oleh Alloh . Mereka menggunakan kepintaran otak mereka untuk membungkus kemaksiatan dengan istilah-istilah yang terdengar agamis. Jika mereka ingin makan harta riba, mereka menamakannya sebagai bunga sukarela atau biaya administrasi. Jika mereka ingin berzina, mereka menamakannya sebagai nikah siri tanpa wali atau kawin kontrak (Syiah).

Alloh telah menceritakan kisah kaum dari kalangan Bani Isroil yang mencoba menipu Alloh dalam urusan hari Sabtu. Mereka dilarang menangkap ikan pada hari Sabtu, lalu mereka memasang jaring pada hari Jum’at dan mengambil hasilnya pada hari Ahad. Mereka merasa telah mengikuti aturan secara lahiriah, padahal hati mereka telah berkhianat. Alloh berfirman:

﴿وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Isroil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan mereka pada hari Sabtu dengan terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. Al-A’rof: 163)

Akibat dari perbuatan mencari celah hukum demi hawa nafsu ini, Alloh mengubah rupa mereka menjadi kera yang hina. Ini adalah pelajaran bagi para pengekor nafsu di setiap zaman agar tidak mempermainkan hukum agama. Nabi bersabda:

«لَا تَرْتَكِبُوا مَا ارْتَكَبَتِ الْيَهُودُ، فَتَسْتَحِلُّوا مَحَارِمَ اللَّهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ»

“Janganlah kalian melakukan apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi, sehingga kalian menghalalkan hal-hal yang diharomkan Alloh dengan celah-celah hukum yang paling rendah.” (Ibthoolul Hiyal, Ibnu Bath-thoh, hal. 65. Dihasankan Al-Albani di Sifat Fatwa hal. 28)

Pengekor hawa nafsu juga sering melakukan “shopping fatwa” atau mencari-cari fatwa ulama yang paling ringan dan paling cocok dengan gaya hidup mereka. Jika satu ustadz mengatakan harom, mereka akan terus mencari sampai menemukan orang yang mau mengatakan boleh, meskipun orang tersebut tidak memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni. Bagi mereka, kebenaran bukan dicari untuk diikuti, tapi dicari untuk membenarkan keinginan.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) berkata:

إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَنَا الرُّخْصَةُ مِنْ ثِقَةٍ، فَأَمَّا التَّشْدِيدُ فَيُحْسِنُهُ كُلُّ أَحَدٍ

“Sesungguhnya ilmu menurut kami adalah adanya keringanan (dalam masalah khilafiyah) yang bersumber dari orang yang terpercaya (berdasarkan dalil), adapun bersikap keras (tanpa dasar) maka setiap orang bisa melakukannya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, Ibnu Abdil Barr (463 H), 1/784)

Maksud dari perkataan beliau adalah keringanan yang didasarkan pada dalil yang shohih, bukan keringanan yang dipaksakan demi menuruti hawa nafsu. Realita masyarakat saat ini menunjukkan banyak orang yang berani menggadaikan aqidah dan hukum demi kenyamanan duniawi, dengan dalih bahwa “agama itu mudah”. Memang agama itu mudah, namun kemudahan tersebut sudah diatur oleh Alloh , bukan kita yang mengatur-atur sendiri kemudahan tersebut sesuai selera nafsu kita.

3.3 Beramal demi Mendapat Kedudukan di Mata Manusia

Ibadah para pengekor hawa nafsu sering kali hanya sekadar hiasan luar yang ditujukan untuk mendapatkan apresiasi dari sesama manusia. Inilah penyakit riya’ (pamer) dan sum’ah (ingin didengar). Nafsu mereka sangat haus akan pujian, sehingga mereka merasa lebih bersemangat melakukan amal sholih ketika dilihat orang banyak daripada saat sendirian. Ibadah bagi mereka bukan sarana komunikasi dengan Robb, melainkan sarana membangun citra diri yang baik di hadapan publik.

Alloh memberikan ancaman keras bagi orang-orang yang Sholat namun hatinya lalai dan hanya ingin pamer:

﴿فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ 4 الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ  الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ 5

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang Sholat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari Sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya’.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)

Pengekor hawa nafsu ini adalah orang yang paling rugi pada hari Qiyamah. Mereka telah lelah beramal, lelah bangun malam, lelah mengeluarkan harta, namun semua itu menjadi debu yang beterbangan karena tidak ada keikhlasan di dalamnya. Alloh berfirman dalam Hadits Qudsi:

«أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang ia menyekutukan Aku di dalamnya dengan selain Aku, maka Aku meninggalkannya dan kesyirikannya.” (HR. Muslim no. 2985)

Contoh nyata dalam realita saat ini adalah fenomena memamerkan ibadah di media sosial. Seseorang Umroh bukan untuk bersimpuh di depan Ka’bah dengan penuh dosa, melainkan untuk mengambil foto terbaik agar orang-orang memujinya sebagai orang yang sholih. Seseorang memberikan Zakat bukan karena kewajiban dari Alloh dan kasihan kepada fakir miskin, melainkan agar namanya tercatat sebagai dermawan terpandang. Nafsu mereka telah menipu mereka dengan rasa bangga semu yang menghancurkan pahala.

Nabi menceritakan tentang 3 orang yang pertama kali dilemparkan ke dalam Naar: seorang mujahid, seorang alim (pengajar), dan seorang dermawan. Semuanya beramal dengan amalan besar, namun niat mereka hanya agar dikatakan “pemberani”, “pintar”, dan “dermawan”. Rosululloh bersabda:

«ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ»

“Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 1905)

Ibnu Mubarok (181 H) memberikan nasihat tentang pentingnya menyembunyikan amal agar nafsu tidak merasa besar kepala. Beliau berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niatnya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab (795 H), 1/69)

Secara akal, mengharap pujian dari manusia yang sama-sama lemah adalah kesia-siaan. Pujian manusia tidak akan menambah rizqi dan tidak akan menunda ajal. Namun, nafsu yang sakit akan selalu merasa lapar akan pengakuan. Realitanya, orang yang beribadah demi manusia akan selalu merasa gelisah karena ia sangat bergantung pada penilaian orang lain. Hidupnya menjadi sandiwara yang melelahkan tanpa pernah merasakan manisnya iman yang sesungguhnya.

3.4 Menjadikan Rasa Nyaman sebagai Ukuran Kebenaran

Pengekor hawa nafsu memiliki standar kebenaran yang sangat aneh: jika sesuatu terasa nyaman di hati, maka itu dianggap benar, meskipun bertentangan dengan dalil. Mereka sering berkata, “Yang penting hatinya tenang,” atau “Saya merasa Alloh meridhoi karena saya merasa damai melakukannya.” Mereka menjadikan perasaan sebagai Robb yang diikuti, seolah-olah wahyu harus tunduk pada naik turunnya suasana hati mereka.

Alloh menyifati orang-orang yang hanya mengikuti perasaan dan prasangka tanpa dasar ilmu:

﴿إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu, padahal sesungguhnya telah datang petunjuk dari Robb mereka kepada mereka.” (QS. An-Najm: 23)

Perasaan manusia bisa menipu. Seorang pemakai narkoba merasa nyaman saat memakainya, apakah itu berarti narkoba itu benar? Seorang pelaku kemaksiatan merasa ni’mat saat berbuat dosa, apakah itu berarti dosanya diridhoi? Begitu pula dalam ibadah. Banyak orang melakukan ritual yang penuh dengan musik, tarian, atau nyanyian yang merangsang emosi hingga mereka menangis dan merasa “sampai” kepada Alloh , padahal cara tersebut adalah bid’ah yang harom. Rasa nyaman tersebut bukanlah dari Alloh , melainkan dari tazyin (penghiasan) syaithon.

Nabi memperingatkan bahwa kebenaran itu berat bagi jiwa, sedangkan kebathilan itu sering kali terlihat indah dan mudah. Beliau bersabda:

«حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ»

“Naar dipagari dengan hal-hal yang menyenangkan nafsu, sedangkan Jannah dipagari dengan hal-hal yang tidak disukai (oleh nafsu).” (HR. Al-Bukhori no. 6487 dan Muslim no. 2822)

Jika kita hanya mengikuti apa yang terasa nyaman, maka kita tidak akan pernah melakukan Sholat Shubuh karena tidur lebih nyaman. Kita tidak akan pernah berpuasa karena makan lebih ni’mat. Kita tidak akan pernah mengeluarkan harta karena menyimpan harta memberikan rasa aman. Beragama yang benar justru sering kali harus melawan rasa nyaman demi meraih ridho Alloh .

Banyak orang tertipu oleh “rasa” dalam ibadah. Inilah yang menjatuhkan orang-orang yang hanya mengikuti imajinasi dan perasaan ke dalam berbagai jenis bid’ah dan kesesatan.

Realita di tengah masyarakat kita melihat banyak sekali kelompok yang mengandalkan “pengalaman bathin” untuk menentukan hukum. Mereka mengklaim mendapatkan ilham atau mimpi yang membolehkan hal-hal yang jelas dilarang syari’at. Mereka menomorduakan Al-Qur’an dan Sunnah demi mengejar sensasi rasa yang mereka anggap sebagai maqom (kedudukan) tinggi di sisi Alloh . Ini adalah kesesatan yang nyata, karena ilham dan perasaan tidak boleh dijadikan dalil dalam agama.

Secara akal, perasaan bersifat subyektif dan berubah-ubah. Apa yang nyaman bagi seseorang mungkin tidak nyaman bagi orang lain. Jika perasaan menjadi ukuran, maka standar kebenaran akan menjadi jutaan jumlahnya. Alloh menurunkan wahyu justru untuk menyatukan standar kebenaran tersebut agar tidak kacau balau karena hawa nafsu manusia.

Abu Bakr (13 H) memberikan teladan luar biasa bahwa ketaatan adalah tentang perintah, bukan tentang perasaan. Saat peristiwa perdamaian Hudaibiyah, banyak Shohabat yang merasa tidak nyaman dengan syarat-syarat yang terlihat merugikan umat Islam, namun Abu Bakr tetap teguh mengikuti keputusan Nabi karena beliau tahu bahwa wahyu jauh lebih benar daripada perasaan pribadinya.

 

Bab 4: Sikap terhadap Ilmu, Ulama, dan Pembawa Kebenaran

Bab ini menegaskan bahwa keselamatan hanya ada pada ilmu yang bersumber dari wahyu, ulama yang mengikuti jalan para Shohabat, dan penolakan total terhadap segala bentuk pengagungan makhluk yang melebihi batas syari’at. Siapa yang menjadikan manusia sebagai timbangan kebenaran, maka ia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasa atas agamanya. Sebaliknya, pembawa kebenaran yang sejati akan selalu mengarahkan umat untuk kembali kepada Alloh dan Rosul-Nya, bukan kepada dirinya sendiri.

4.1 Mencari Fatwa yang Menghalalkan Syahwat

Para pengekor hawa nafsu memiliki kebiasaan buruk dalam memperlakukan ilmu agama. Mereka tidak mendatangi ilmu untuk memperbaiki diri, melainkan untuk mencari pembenaran atas kesalahan yang ingin mereka lakukan. Fenomena ini sering disebut sebagai “mencari fatwa pesanan” atau mencari keringanan yang tidak berdasar dalil. Ketika mereka memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya diragukan atau bahkan jelas keharomannya, mereka akan berkeliling mencari orang yang dianggap ahli agama namun memiliki kecenderungan mengikuti selera massa.

Alloh telah memberikan ancaman yang sangat mengerikan bagi orang-orang yang menyembunyikan kebenaran demi keuntungan duniawi yang sedikit, atau bagi mereka yang mempermainkan hukum demi memuaskan nafsu manusia. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Alloh, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak memakan ke dalam perutnya melainkan Naar, dan Alloh tidak akan berbicara kepada mereka pada hari Qiyamah dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Baqoroh: 174)

Pengekor hawa nafsu akan sangat membenci ulama yang tegas dalam menyuarakan Al-Haq (kebenaran). Mereka lebih memilih mengikuti tokoh-tokoh yang pandai bersilat lidah, yang mampu mengubah hukum harom menjadi mubah dengan alasan kemaslahatan yang semu. Contoh dalam realita adalah pencarian fatwa untuk menghalalkan riba dengan nama bunga bank yang ringan, atau menghalalkan musik dengan alasan syiar agama, atau membolehkan pergaulan bebas lelaki dan wanita dengan alasan modernitas.

Nabi telah memperingatkan akan munculnya para pemimpin yang menyesatkan, yang merupakan fitnah terbesar bagi umat ini. Beliau bersabda:

«إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ»

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa umatku adalah para pemimpin (tokoh agama) yang menyesatkan.” (HSR. Abu Dawud no. 4252)

Tokoh-tokoh menyesatkan ini adalah mereka yang memberikan fatwa sesuai pesanan hawa nafsu penguasa atau hawa nafsu masyarakat luas. Mereka menggunakan kepandaian bicara untuk menipu orang awam. Sebaliknya, pemburu fatwa ini pun merasa tenang karena sudah mendapatkan “stempel halal” dari orang yang dianggap ustadz atau kyai, padahal hati kecil mereka tahu bahwa itu menyelesihi dalil yang jelas.

Mengikuti keringanan-keringanan para ulama tanpa dalil adalah tanda hilangnya ketaqwaan. Disebutkan:

مَنْ تَتَبَّعَ رُخَصَ الْعُلَمَاءِ اجْتَمَعَ فِيهِ الشَّرُّ كُلُّهُ

“Siapa yang mencari-cari keringanan para ulama (yang menyelesihi dalil), maka terkumpul dalam dirinya segala kejelekan.” (Al-Muslimun, Amin Asy-Syaqowi, hal. 202)

مَنْ تَتَبَّعَ رُخَصَ الْعُلَمَاءِ فَقَدْ تَزَنْدَقَ

“Siapa yang mencari-cari keringanan para ulama (yang menyelesihi dalil), maka ia zindiq.” (Al-Mukhtashor, Fahd Al-Umari, hal. 8)

Secara akal, jika agama ini hanya berisi hal-hal yang menyenangkan nafsu, maka tidak ada bedanya antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman. Esensi dari ujian hidup adalah sejauh mana manusia mampu menundukkan keinginannya di bawah kemauan Robbnya. Realita menunjukkan bahwa orang yang hobi mencari fatwa sesuai selera tidak akan pernah mencapai ketenangan jiwa, karena pondasi agamanya dibangun di atas kerapuhan pendapat manusia, bukan di atas kokohnya wahyu.

4.2 Membenci Para Salaf dan Pengikut Sunnah yang Tegas

Pengekor hawa nafsu memiliki musuh alami, yaitu mereka yang memegang teguh Sunnah Nabi dan pemahaman para Shohabat (Salafush Sholih). Mereka merasa terganggu dengan keberadaan orang-orang yang selalu mengingatkan pada dalil, karena hal itu menghalangi mereka dari kebebasan menuruti nafsu. Akibatnya, mereka sering memberikan julukan-julukan buruk kepada pengikut Sunnah, seperti “kaum tekstualis”, “keras”, “suka membid’ahkan”, atau “tidak menghargai budaya”.

Alloh menggambarkan bagaimana orang-orang zholim di masa lalu mengejek orang-orang yang beriman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ 29 وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan mata (mengejek).” (QS. Al-Muthoffifin: 29-30)

Kebencian ini muncul karena pengikut Sunnah laksana cermin yang memperlihatkan keburukan wajah para pengekor nafsu. Saat pengekor nafsu ingin berbuat bid’ah, pengikut Sunnah membawakan Hadits tentang kesesatan bid’ah. Saat pengekor nafsu ingin berbuat maksiat, pengikut Sunnah membawakan ayat tentang ancaman Naar. Karena tidak mampu membantah dengan dalil, pengekor nafsu akhirnya menyerang pribadi dan karakter para pembawa kebenaran tersebut.

Nabi bersabda bahwa orang yang memegang teguh agamanya di akhir zaman akan terasa asing dan dikucilkan. Beliau bersabda:

«بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana kemunculannya, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145)

Ketika ditanya siapa itu Al-Ghuroba (orang yang asing), para ulama menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang dirusak manusia dari Sunnah Nabi . Pengekor hawa nafsu adalah perusak Sunnah tersebut dengan cara menambah atau menguranginya sesuai kesukaan hati.

Abu Hatim Ar-Rozi (277 H) memberikan kaidah penting untuk mengenali pengekor hawa nafsu:

عَلَامَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ الْوَقِيعَةُ فِي أَهْلِ الْأَثَرِ

“Tanda ahli bid’ah (pengekor nafsu) adalah mereka suka mencela dan menjatuhkan kehormatan para ahli atsar (pengikut Sunnah).” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah, Al-Lalaka’i (418 H), 1/197)

Dalam realita kemasyarakatan, kita melihat bagaimana orang yang ingin kembali kepada ajaran murni para Shohabat dituduh sebagai pembawa aliran baru yang memecah belah. Padahal, yang memecah belah adalah mereka yang meninggalkan ajaran asli lalu membuat kelompok-kelompok berdasarkan kepentingan dan perasaan. Mereka membenci para Salaf (Shohabat, Tabi’in, dan Tabiut Tabi’in) karena pemahaman para Salaf adalah pembatas yang menghalangi mereka untuk berimajinasi liar dalam urusan agama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa tidak ada kebaikan kecuali dengan mengikuti jejak para Salaf. Beliau berkata:

لَا عَيْبَ عَلَى مَنْ أَظْهَرَ مَذْهَبَ السَّلَفِ وَانْتَسَبَ إلَيْهِ وَاعْتَزَى إلَيْهِ بَلْ يَجِبُ قَبُولُ ذَلِكَ مِنْهُ بِالِاتِّفَاقِ. فَإِنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ لَا يَكُونُ إلَّا حَقًّا

“Tidak ada cela bagi orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menyandarkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima hal itu darinya berdasarkan kesepakatan ulama, karena madzhab Salaf hanyalah kebenaran.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 4/149)

Pengekor hawa nafsu secara akal telah melakukan kesalahan besar. Mereka mengklaim lebih paham agama daripada orang-orang yang menyaksikan langsung turunnya wahyu (para Shohabat). Mereka merasa perasaan mereka di abad modern ini lebih suci daripada bathiniah para pejuang Islam terdahulu. Ini adalah kesombongan nyata yang dibungkus dengan alasan kemajuan zaman.

4.3 Mengagungkan Guru secara Berlebihan hingga Menabrak Aturan Sholat dan Zakat

Penyimpangan paling jauh dari pengekor hawa nafsu dalam memperlakukan tokoh adalah sikap ghuluw (berlebihan). Mereka mengangkat guru, syeikh, atau kyai mereka ke derajat yang tidak semestinya, seolah-olah sang guru tidak mungkin salah (ma’shum). Bahkan, saking fanatiknya, mereka rela meninggalkan perintah Alloh demi menuruti perintah gurunya atau demi melayani sang guru secara berlebihan.

Alloh telah mencela kaum terdahulu yang melakukan hal serupa:

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Robb-Robb selain Alloh.” (QS. At-Taubah: 31)

Maksud dari ayat ini, sebagaimana dijelaskan Nabi kepada Adi bin Hatim (68 H), adalah ketika para pengikut mengikuti saja saat tokoh mereka menghalalkan yang harom dan mengharomkan yang halal. Dalam realita saat ini, ada orang yang menganggap gurunya memiliki kedudukan bathin yang sangat tinggi sehingga sang guru tidak perlu lagi Sholat, dan para pengikutnya pun membenarkannya. Ada pula yang memberikan seluruh harta rizqinya kepada sang guru dengan alasan zakat atau sedekah khusus, padahal ia membiarkan anak istrinya kelaparan dan tidak membayar Zakat sesuai aturan syari’at kepada yang berhak.

Nabi sangat melarang dirinya dipuji secara berlebihan sebagaimana kaum Nashroni memuji Nabi Isa ‘alaihissalam. Beliau bersabda:

«لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»

“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana kaum Nashroni memuji (Isa) putra Maryam secara berlebihan. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: Hamba Alloh dan Rosul-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 3445)

Jika Nabi saja melarang ghuluw terhadap dirinya, maka bagaimana dengan manusia biasa yang tidak dijamin kesuciannya? Pengekor hawa nafsu melakukan ini karena mereka ingin mencari jalan pintas menuju Jannah melalui perantara manusia. Mereka merasa jika sudah dekat dengan guru tertentu, maka amal ibadah mereka yang bolong-bolong tidak lagi menjadi masalah. Nafsu mereka ingin masuk Jannah tanpa harus lelah menjalankan ketaatan yang sesuai aturan.

Ibnul Jauzi (597 H) menceritakan dalam kitab Talbis Iblis tentang kaum yang tertipu oleh figur guru. Beliau berkata bahwa di antara mereka ada yang berpendapat bahwa syeikhnya akan memberikan syafa’at baginya dan menyelamatkannya (di Akhiroh), sehingga ia pun meninggalkan amal karena bersandar pada hal tersebut.

Fenomena ini adalah bentuk kesyirikan dalam ketaatan. Mereka lebih takut kepada kemarahan gurunya daripada kemarahan Alloh . Mereka lebih patuh pada instruksi organisasi atau kelompoknya daripada instruksi Al-Qur’an dan Hadits. Secara akal, seorang guru seharusnya menjadi penunjuk jalan menuju Alloh , bukan justru menjadi penghalang yang menutup jalan tersebut dengan kepatuhan buta.

Realita pahit yang kita saksikan adalah adanya pengikut yang membela kemaksiatan gurunya. Jika gurunya tertangkap melakukan perbuatan harom, mereka akan mencari takwil (penjelasan) yang tidak masuk akal untuk membenarkannya, seperti mengatakan itu adalah ujian bathin atau tindakan yang memiliki rahasia ketuhanan. Ini adalah kehancuran akal dan iman sekaligus.

Taqwa menuntut kita untuk mencintai ulama dan guru karena ilmu mereka yang membimbing kita pada Sunnah, namun tetap meletakkan kebenaran di atas segalanya. Sebagaimana kata Imam Malik (179 H):

كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ، إِلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ

“Setiap orang bisa diambil pendapatnya dan bisa ditinggalkan, kecuali penghuni kubur ini (sambil menunjuk ke makam Nabi ).” (Al-Bidayah, Ibnu Katsir, 18/302)

Pengekor hawa nafsu tidak akan mau menerima kaidah ini. Mereka ingin memiliki figur yang bisa disembah secara tidak langsung untuk memuaskan kebutuhan jiwa mereka akan perlindungan semu. Mereka mengorbankan Sholat, mengorbankan aturan Zakat, dan mengorbankan akal sehat demi sebuah loyalitas yang zholim.

 

Bab 5: Sisi Kemasyarakatan dan Pergaulan

Bab ini menjelaskan bahwa cara beragama para pengekor hawa nafsu sangat merusak tatanan sosial umat Islam. Mereka memecah belah persaudaraan, menghisap harta umat dengan kedok agama, dan menyebarkan kezholiman terhadap siapa saja yang tidak sejalan dengan keinginan mereka. Semua ini adalah bukti bahwa mereka belum benar-benar menghamba kepada Alloh , melainkan masih menghamba kepada ego dan kepentingan diri mereka sendiri.

Ketaqwaan yang sejati seharusnya melahirkan rasa cinta kepada setiap Muslim karena keimanan mereka, melahirkan rasa zuhud terhadap harta manusia, dan melahirkan sifat pemaaf serta adil meskipun terhadap orang yang membenci kita. Sebagaimana firman Alloh :

﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada Taqwa.” (QS. Al-Maidah: 8)

Pengekor hawa nafsu telah membuang keadilan ini demi memuaskan dahaga kebencian mereka. Maka, tidak ada jalan keselamatan bagi umat kecuali dengan kembali pada tuntunan Nabi dalam bergaul, yaitu dengan meletakkan wahyu sebagai hakim tertinggi di atas segala sentimen kelompok dan pribadi.

5.1 Fanatisme Kelompok yang Memecah Belah Persaudaraan Muslim

Pengekor hawa nafsu dalam beragama sering kali terjebak dalam penyakit hizbiyyah (fanatisme kelompok). Mereka merasa bahwa kebenaran hanya milik kelompoknya, organisasinya, atau golongannya saja. Nafsu mereka ingin merasa eksklusif dan lebih mulia daripada Muslim lainnya. Akibatnya, mereka membangun loyalitas dan permusuhan bukan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah secara murni, melainkan berdasarkan kesesuaian orang lain dengan kelompok mereka.

Alloh telah memberikan peringatan keras terhadap perilaku memecah belah agama menjadi kelompok-kelompok yang saling membanggakan diri:

﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa pangkal dari perpecahan adalah rasa bangga (farihun) yang berlebihan terhadap identitas kelompok. Pengekor hawa nafsu akan merasa nyaman ketika berada di lingkaran mereka sendiri, namun penuh dengan prasangka buruk dan kebencian terhadap Muslim di luar lingkaran tersebut, meskipun Muslim tersebut lebih bertaqwa dan lebih mengikuti Sunnah.

Nabi menjelaskan bahwa persaudaraan Muslim tidak boleh dibatasi oleh batasan-batasan buatan manusia. Beliau bersabda:

«الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ «بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ»

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak menzholiminya, tidak membiarkannya (saat butuh bantuan), dan tidak meremehkannya. Taqwa itu ada di sini —beliau menunjuk ke dadanya tiga kali—. Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia meremehkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya adalah harom; darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)

Realita di lapangan menunjukkan betapa hawa nafsu telah merusak silaturrohim dan ukhuwwah. Ada kelompok yang mengharomkan anggota mereka untuk belajar kepada ustadz di luar kelompoknya, atau melarang bertegur sapa dengan tetangga yang tidak sefaham dalam urusan bid’ah. Ini adalah bentuk perbudakan nafsu yang dibungkus dengan alasan “menjaga kemurnian jama’ah”. Padahal, kemurnian jama’ah hanya bisa dicapai dengan mengikuti Sunnah, bukan dengan fanatisme buta.

Ibnul Qoyyim (751 H) menjelaskan bahwa fanatisme kelompok adalah salah satu penghalang besar masuknya cahaya hidayah ke dalam hati. Beliau berkata bahwa apabila hati telah dipenuhi oleh hawa nafsu dan fanatisme (ashobiyyah), maka tidak tersisa lagi tempat di dalamnya untuk kebenaran.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) juga memberikan peringatan tentang orang-orang yang membuat loyalitas baru di luar Islam. Beliau berkata:

وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُنَصِّبَ لِلْأُمَّةِ شَخْصًا يَدْعُو إلَى طَرِيقَتِهِ وَيُوَالِي وَيُعَادِي عَلَيْهَا غَيْرَ النَّبِيِّ ﷺ

“Tidak boleh bagi siapa pun untuk mengangkat seseorang bagi umat ini, lalu ia mengajak kepada jalannya dan membangun loyalitas serta permusuhan di atasnya, selain Nabi .” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 20/164)

Secara akal, memecah kekuatan umat menjadi kepingan-kepingan kecil hanya akan melemahkan posisi Islam di hadapan musuh-musuhnya. Namun, pengekor nafsu tidak peduli dengan maslahat besar umat, yang penting bagi mereka adalah kepuasan ego kelompok dan merasa paling benar sendiri.

5.2 Menggunakan Agama untuk Mencari Rizqi dan Harta Dunia

Termasuk penyimpangan dari pengekor hawa nafsu adalah ketika mereka menjadikan agama sebagai alat untuk mengeruk harta duniawi. Mereka menggunakan kedudukan mereka sebagai tokoh agama, pengajar, atau pemimpin jama’ah untuk menarik simpati umat agar menyetorkan rizqi kepada mereka. Agama bagi mereka adalah komoditas bisnis yang sangat menguntungkan karena orang awam mudah ditipu dengan ayat dan Hadits.

Alloh mengecam keras perbuatan ini melalui firman-Nya:

﴿مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ 15 أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di Akhiroh kecuali Naar dan lenyaplah di Akhiroh itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan bathillah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Mereka mewajibkan jamaahnya untuk menyetor pajak wajib 10% kepada para tokohnya, misalnya. Dia tidak mau ceramah kecuali di bayar per jam 15 juta, misalnya.

Nabi telah memberikan gambaran tentang betapa buruknya orang yang mencari dunia dengan amalan Akhiroh. Beliau bersabda:

«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Siapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Alloh ‘Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka ia tidak akan mencium bau Jannah pada hari Qiyamah.” (HSR. Abu Dawud no. 3664)

Realitanya, kita sering melihat “da’wah industri” di mana panggung-panggung da’wah lebih mirip dengan panggung hiburan. Para pelakunya sangat memperhatikan tarif, fasilitas hotel mewah, dan popularitas, namun sangat sedikit memperhatikan kebenaran isi ceramah. Jika isi ceramah yang benar dianggap akan menurunkan jumlah pengikut atau mengurangi pemasukan, maka mereka akan dengan senang hati menggantinya dengan guyonan atau materi yang menyenangkan nafsu pendengar.

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) memberikan sindiran yang sangat tajam bagi orang-orang semacam ini:

لَأَنْ آكُلَ الدُّنْيَا بِالطَّبْلِ وَالْمِزْمَارِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ آكُلَهَا بِدِينِي

“Sungguh, aku memakan dunia dengan (cara menjadi pemain) gendang dan seruling lebih aku sukai daripada aku memakannya dengan (cara menjual) agama.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi (458 H), 5/358)

Perkataan beliau menunjukkan bahwa menggunakan agama sebagai kedok untuk mencari rizqi adalah dosa. Secara akal, orang yang percaya kepada Alloh sebagai Robb Yang Maha Memberi Rizqi tidak akan pernah menghinakan agamanya demi uang. Hanya orang-orang yang hatinya kosong dari Taqwa dan penuh dengan keserakahan nafsu yang berani melakukannya.

Contoh lainnya adalah orang-orang yang berpura-pura menjadi wali atau orang sholih agar orang-orang datang membawa hadiah. Mereka mengeksploitasi rasa hormat umat terhadap kesholihan. Ini adalah bentuk pencurian yang paling halus namun dampaknya sangat merusak kepercayaan umat terhadap da’wah yang benar.

5.3 Sikap Zholim terhadap Orang yang Berbeda Pendapat

Pengekor hawa nafsu tidak memiliki kelapangan dada dalam menghadapi perbedaan pendapat, terutama jika perbedaan itu menyentuh kepentingan atau ego mereka. Mereka cenderung bersikap zholim kepada siapa saja yang berani mengoreksi kesalahan mereka. Bentuk kezholiman ini bisa berupa fitnah, ghibah (menggunjing), hingga boikot sosial yang tidak berdasar syari’at.

Alloh melarang keras sifat membela diri secara bathil dan bersikap melampaui batas terhadap orang lain:

﴿وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqoroh: 190)

Kebanyakan pengekor nafsu menganggap bahwa siapa pun yang tidak setuju dengan mereka adalah musuh yang harus dihancurkan reputasinya. Mereka akan mencari-cari aib orang tersebut, meskipun aib itu tidak ada hubungannya dengan masalah yang diperdebatkan. Mereka menggunakan lisan mereka sebagai pedang untuk melukai kehormatan sesama Muslim.

Nabi menjelaskan bahwa tanda utama dari kesombongan (yang merupakan akar hawa nafsu) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Beliau bersabda:

«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Pengekor hawa nafsu akan menolak kebenaran yang datang dari orang yang ia benci, meskipun orang tersebut membawakan ayat Al-Qur’an yang sangat jelas. Bagi mereka, yang penting bukan “apa yang dikatakan”, tapi “siapa yang mengatakan”. Jika yang mengatakan bukan dari kelompoknya atau orang yang pernah ia zholimi, maka kebenaran itu akan dibuang ke tempat sampah.

Dalam realita sosial, kezholiman ini sering terjadi dalam masalah ijtihadiah yang masih dibolehkan adanya perbedaan. Namun, karena nafsu ingin menang sendiri, mereka akan menuduh orang yang berbeda pendapat sebagai “keluar dari Manhaj” atau “sudah menyimpang”. Mereka memutus tali silaturrohim hanya karena masalah kecil yang seharusnya bisa dibicarakan dengan cara yang ma’ruf (baik).

Malik bin Anas (179 H) pernah didatangi seseorang yang ingin berdebat, lalu beliau berkata:

أَمَّا أَنَا فَعَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي، وَأَمَّا أَنْتَ فَشَاكٌّ فَاذْهَبْ إِلَى شَاكٍّ مِثْلِكَ، فَخَاصِمْهُ

“Adapun aku, aku berada di atas penjelasan yang nyata dari Robbku. Adapun engkau, engkau adalah orang yang ragu. Maka pergilah kepada orang yang ragu sepertimu dan ajaklah dia berdebat.” (Al-Ibadah Al-Kubro, Ibnu Bath-thoh (387 H), 1/404)

Imam Malik menghindari perdebatan bukan karena takut, tapi karena beliau tahu bahwa orang yang datang dengan hawa nafsu tidak akan pernah menerima kebenaran. Pengekor nafsu hanya ingin menjatuhkan lawan bicaranya, bukan mencari Ridho Alloh .

Kezholiman ini juga merambah pada sikap kasar terhadap tetangga atau keluarga yang belum mendapatkan hidayah untuk mengikuti Sunnah secara sempurna. Pengekor hawa nafsu yang baru belajar agama sering kali merasa paling suci dan mulai memandang rendah orang lain dengan tatapan kebencian. Padahal, Nabi diutus sebagai Rohmat bagi semesta alam. Akhlak yang buruk adalah bukti bahwa agama yang ia jalankan baru sebatas di tenggorokan, belum meresap ke dalam hati.

Secara akal, jika kita menginginkan orang lain mengikuti kebenaran yang kita bawa, seharusnya kita mendekati mereka dengan kelembutan dan argumen yang kuat, bukan dengan kezholiman dan caci maki. Namun, nafsu sering kali membutakan akal sehat. Nafsu ingin melihat orang lain kalah dan terhina, sedangkan Taqwa ingin melihat orang lain selamat dan mendapatkan hidayah.

Pengekor hawa nafsu juga sering melakukan ghibah dengan dalih “memperingatkan umat”, padahal motif aslinya adalah kebencian pribadi. Mereka senang sekali membicarakan kegagalan atau kejatuhan orang yang dianggap sebagai saingan dalam dunia da’wah atau bisnis. Inilah penyakit hati yang sangat kronis.

 

Bab 6: Akibat Nyata bagi Para Pengekor Hawa Nafsu

Bab ini menjadi lonceng peringatan yang sangat keras. Mengikuti hawa nafsu bukan sekadar masalah perbedaan pendapat atau selera pribadi, melainkan masalah keselamatan abadi. Hati yang gelap, taubat yang terhalang, dan istidroj yang menipu adalah rangkaian bencana yang berujung pada Naar. Hanya dengan kembali pada ketaatan yang tulus kepada Alloh dan mengikuti Sunnah Nabi secara murni, seseorang bisa selamat dari jeratan hawa nafsunya sendiri.

Kesuksesan sejati bukan terletak pada seberapa banyak orang yang memuji kita di dunia, atau seberapa banyak harta yang kita kumpulkan dengan memanipulasi agama. Kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu menundukkan nafsunya di bawah wahyu, sehingga hatinya dipenuhi cahaya taqwa, lisannya basah dengan dzikir yang syar’i, dan langkah kakinya tetap tegar di atas jalan para Salaf hingga bertemu dengan Robbnya dalam keadaan ridho dan diridhoi.

Taqwa adalah perisai dari Naar, sedangkan hawa nafsu adalah kuncinya. Siapa pun yang memilih untuk memegang kunci tersebut, maka ia harus siap menghadapi konsekuensi api yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.

6.1 Kegelapan dalam Hati dan Hilangnya Cahaya Taqwa

Setiap kali seseorang mendahulukan hawa nafsunya di atas perintah Alloh , maka ia sebenarnya sedang memasukkan setetes racun ke dalam hatinya. Hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuh, dan jika raja tersebut telah tunduk pada syahwat dan keinginan rendah, maka seluruh anggota tubuh akan bergerak dalam kegelapan. Akibat paling pertama yang dirasakan oleh pengekor hawa nafsu adalah hilangnya kepekaan hati terhadap kebenaran. Cahaya Taqwa yang seharusnya menerangi jalan hidupnya perlahan-lahan padam, digantikan oleh kegelapan yang berlapis-lapis.

Alloh menggambarkan kondisi hati yang telah tertutup oleh noda-noda kemaksiatan dan pengikut nafsu dalam firman-Nya:

﴿كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 14)

Roon adalah karat atau penutup yang menyelimuti hati sehingga nasihat dari Al-Qur’an tidak lagi bisa menembusnya. Bagi pengekor hawa nafsu, ayat-ayat ancaman hanya dianggap sebagai dongeng, dan perintah-perintah syari’at dianggap sebagai beban yang menyempitkan dada. Hati yang sehat akan merasa tenang saat berdzikir, namun hati yang dikuasai nafsu akan merasa sesak saat mendengar kebenaran yang bertentangan dengan seleranya.

Nabi menjelaskan proses terjadinya kegelapan hati ini dalam sebuah Hadits:

«إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ»

“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka akan dititikkan pada hatinya sebuah titik hitam. Jika ia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat, maka hatinya akan kembali bersih. Namun jika ia mengulanginya, maka titik hitam itu akan bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah Raan yang disebutkan oleh Alloh.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3334)

Pengekor hawa nafsu terus menerus menumpuk titik hitam tersebut setiap kali mereka memelintir ayat demi kepentingan, setiap kali mereka melakukan bid’ah demi kepuasan emosi, dan setiap kali mereka menolak Sunnah demi tradisi. Realitanya, orang-orang seperti ini sering kali mengalami kegelisahan bathin yang sangat dalam meskipun secara lahiriah mereka terlihat religius. Mereka kehilangan keikhlasan, dan tanpa keikhlasan, ibadah hanyalah gerakan mekanis yang tidak membuahkan kedamaian.

Ibnu Abbas (68 H) memberikan gambaran tentang dampak maksiat dan mengikuti nafsu terhadap fisik dan jiwa seseorang. Beliau berkata:

إِنَّ لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءً فِي الْوَجْهِ، وَنُورًا فِي الْقَلْبِ، وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ، وَقُوَّةً فِي الْبَدَنِ، وَمَحَبَّةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ، وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ سَوَادًا فِي الْوَجْهِ، وَظُلْمَةً فِي الْقَبْرِ وَالْقَلْبِ، وَوَهْنًا فِي الْبَدَنِ، وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ، وَبُغْضًا فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ

“Sesungguhnya amal kebaikan itu membuahkan cahaya pada wajah, sinar di dalam hati, kelapangan pada rizqi, kekuatan pada badan, dan rasa cinta di hati manusia. Dan sesungguhnya amal keburukan (termasuk mengikuti nafsu) membuahkan kegelapan pada wajah, kegelapan di dalam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan pada rizqi, dan kebencian di hati manusia.” (Al-Jawab Al-Kafi, Ibnul Qoyyim (751 H), hal. 49)

Secara realita, kita melihat banyak tokoh atau pengikut aliran sesat yang hidupnya penuh dengan intrik, kecemasan, dan ketakutan akan kehilangan pengikut. Hal ini karena hati mereka tidak bersandar pada Alloh , melainkan pada pengakuan manusia. Ketika cahaya Taqwa hilang, mereka tidak lagi memiliki furqon (pembeda), sehingga mereka sangat mudah tertipu oleh ajakan syaithon yang dianggap sebagai ilham suci. Inilah awal mula kejatuhan yang sesungguhnya.

6.2 Terhalangnya Taubat karena Merasa Berada di Atas Petunjuk

Bahaya paling besar yang menimpa para pengekor hawa nafsu, terutama dalam urusan bid’ah dan pemikiran sesat, adalah mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kebaikan. Berbeda dengan seorang pencuri atau pezina yang tahu bahwa dirinya berdosa sehingga ia memiliki peluang besar untuk bertaubat, pengekor nafsu dalam agama justru merasa sedang berda’wah atau membela Robbnya. Perasaan “merasa benar” inilah yang menutup pintu Taubat bagi mereka.

Alloh berfirman tentang orang-orang yang paling merugi amalnya karena mengikuti hawa nafsu dan prasangka:

﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا 103 الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Bagaimana mungkin seseorang akan memohon ampun atas perbuatan yang ia anggap sebagai sebuah ketaatan? Pengekor hawa nafsu yang menciptakan dzikir-dzikir baru atau ritual yang menabrak aturan Sunnah akan merasa bahwa dirinya lebih suci daripada orang lain. Mereka menolak teguran dengan berkata: “Saya kan sedang beribadah, kenapa dilarang?” Inilah tipu daya syaithon yang paling halus.

Terdapat peringatan dari Nabi bahwa pelaku bid’ah (yang dasarnya adalah hawa nafsu dalam agama) terhalang dari Taubat sampai ia meninggalkan bid’ahnya. Nabi bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ [حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ]»

“Sesungguhnya Alloh menghalangi Taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Ath-Thobroni dalam Al-Ausath no. 4202. Dishohihkan As-Safarini, Al-Haitami, Al-Albani)

Maksud dari “menghalangi Taubat” adalah pelakunya tidak merasa perlu bertaubat karena ia merasa sedang berada di jalan yang benar. Ia bangga dengan amalannya, ia merasa mendapatkan Ridho Alloh melalui rasa nyaman yang menipu, padahal ia sedang membangun istana di atas pasir yang akan runtuh diterjang wahyu pada hari Qiyamah.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) memberikan perkataan yang sangat masyhur dalam masalah ini:

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا

“Bid’ah itu lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan biasa. Sebab, kemaksiatan biasa (seperti mabuk atau mencuri) pelakunya mudah bertaubat, sedangkan bid’ah pelakunya sulit bertaubat (karena merasa benar).” (Musnad Al-Ja’d, no. 1809)

Dalam realita kehidupan, kita mendapati pengekor hawa nafsu akan tetap bertahan dalam kesesatannya hingga ajal menjemput. Mereka tidak mau mendengarkan penjelasan ulama yang lurus karena telinga mereka telah tersumbat oleh kesombongan kelompok dan kelezatan perasaan. Inilah kesengsaraan yang paling nyata, yaitu mati dalam keadaan membawa tumpukan amal yang tidak diterima oleh Alloh karena tidak sesuai dengan tuntunan Rosululloh .

6.3 Istidroj yang Menipu di Dunia dan Siksa Naar di Akhiroh

Banyak pengekor hawa nafsu yang merasa bahwa jalan hidup mereka diridhoi oleh Alloh hanya karena mereka melihat kesuksesan duniawi yang mereka raih. Mereka mendapatkan banyak pengikut, harta mereka melimpah, dan kedudukan mereka dihormati manusia. Mereka mengira bahwa semua itu adalah ni’mat, padahal bisa jadi itu adalah istidroj (penangguhan siksa dengan cara diberikan kesenangan). Alloh memberikan semua itu agar mereka semakin tenggelam dalam kesesatan sebelum akhirnya diadzab dengan tiba-tiba.

Alloh berfirman:

﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan bagi mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Pengekor hawa nafsu sering kali tertipu oleh jumlah. Mereka berkata: “Lihatlah, pengikut kami jutaan, tidak mungkin kami salah.” Padahal kebenaran tidak diukur dengan jumlah kepala, tetapi diukur dengan kesesuaian terhadap dalil. Secara akal, jika mayoritas menjadi ukuran, maka di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam yang benar adalah kaumnya yang tenggelam, bukan Nuh yang hanya diikuti sedikit orang.

Nabi menjelaskan hakikat istidroj ini agar kita tidak tertipu oleh casing luar para pengekor nafsu:

«إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّما هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»

“Apabila engkau melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba bagian dari dunia yang ia sukai padahal ia terus berada dalam kemaksiatan (dan mengikuti nafsu), maka ketahuilah bahwa hal itu hanyalah Istidroj.” (HHR. Ahmad no. 17311)

Kesuksesan duniawi bagi pengekor hawa nafsu adalah racun yang dibalut madu. Mereka semakin berani merusak syari’at karena merasa didukung oleh fasilitas dunia. Namun, saat maut datang, semua kemegahan itu hilang dan yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban di hadapan Alloh . Di Akhiroh, mereka akan menghadapi kenyataan pahit bahwa hawa nafsu yang mereka puja di dunia tidak bisa memberikan pertolongan sedikit pun.

Alloh berfirman tentang kondisi pengekor hawa nafsu dari kalangan kafirin musyrikin di hari Pembalasan:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ 124 قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا125 قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ

“Dan siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Qiyamah dalam keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Wahai Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Alloh berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thoha: 124-126)

Keadaan buta di Akhiroh adalah balasan bagi mereka yang di dunia buta hatinya dari mengikuti wahyu dan lebih memilih cahaya palsu dari hawa nafsu. Pengekor nafsu akan dilemparkan ke dalam Naar bersama dengan pemimpin-pemimpin kesesatan mereka. Di sana mereka akan saling menyalahkan, namun penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi.

Pengekor nafsu yang menggunakan agama untuk rizqi akan mendapati perut mereka dipenuhi api. Pengekor nafsu yang menyimpangkan ayat akan mendapati lisan mereka digunting dengan gunting api. Pengekor nafsu yang membenci Sunnah akan dihalangi dari telaga Nabi . Inilah realita yang sangat menakutkan bagi siapa pun yang memiliki akal sehat.

Dikatakan bahwa siksaan bagi pengekor hawa nafsu ada 3 tingkatan: siksaan di dunia berupa kegelisahan, siksaan di alam barzakh berupa himpitan kubur, serta siksaan di Akhiroh berupa api Neraka.

Kita mungkin menjumpai akhir yang tidak baik (husnul khotimah) bagi orang yang hingga akhir hayatnya terus memerangi Sunnah dan membela hawa nafsu. Banyak dari mereka mati dalam keadaan membawa beban permusuhan terhadap para wali Alloh dan para pembawa kebenaran.

 

Penutup

Hendaknya setiap jiwa yang merindukan keselamatan di Akhiroh menyadari bahwa peperangan melawan hawa nafsu adalah Jihad yang tidak pernah usai hingga nyawa berpisah dari raga. Kita telah melihat bagaimana hawa nafsu mampu mengubah hal yang harom menjadi seolah-olah ni’mat, menjadikan bid’ah terasa seperti Sunnah yang indah, dan membuat pengikutnya merasa paling suci padahal sedang melangkah menuju jurang kebinasaan. Beragama bukan tentang apa yang kita rasakan di dalam dada berupa rasa nyaman yang menipu, melainkan tentang ketundukan mutlak kepada Robb semesta alam.

Alloh telah memberikan kesimpulan yang sangat tegas bagi siapa saja yang lebih memilih petunjuk diri sendiri daripada petunjuk wahyu:

﴿فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menyambut (ajakanmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikit pun? Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zholim.” (QS. Al-Qoshosh: 50)

Ayat ini menjadi pemisah yang sangat jelas; hanya ada dua jalan, yaitu jalan menyambut ajakan Nabi atau jalan mengikuti hawa nafsu. Tidak ada jalan ketiga. Seseorang yang merasa bisa menciptakan cara beragama sendiri dengan alasan modernitas (kemodernan) atau perasaan bathiniah sebenarnya sedang memproklamirkan bahwa petunjuk Alloh tidak lagi cukup baginya. Inilah kesombongan yang sangat nyata.

Nabi juga telah memperingatkan bahwa ketaatan sejati adalah menundukkan seluruh keinginan hati di bawah apa yang beliau bawa. Beliau bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ»

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Arbain Nawawi no. 41)

Seseorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pengatur dalam ibadah tidak akan pernah menemukan kemanisan iman. Sebaliknya, ia akan terus ditarik oleh syaithon dari satu bid’ah ke bid’ah yang lain, dari satu pemikiran sesat ke pemikiran sesat lainnya.

Realita yang pahit saat ini adalah banyaknya manusia yang lebih takut kehilangan pengikut di dunia daripada kehilangan Ridho Alloh . Mereka lebih takut dicap kolot (ketinggalan zaman) daripada dicap sebagai pelaku maksiat oleh para Malaikat. Padahal, dunia ini hanyalah perlintasan sekejap mata.

Alloh berfirman mengenai batasan bagi setiap Mu’min dan Mu’minah dalam menghadapi keputusan Alloh dan Rosul-Nya:

﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi Mu’min dan tidak (pula) bagi Mu’minah, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan siapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Pengekor hawa nafsu selalu mencari-cari “pilihan lain” yang lebih cocok dengan syahwatnya. Mereka tidak ridho dengan apa yang telah ditetapkan. Padahal, Nabi telah meninggalkan kita di atas jalan yang sangat terang, yang malamnya seperti siangnya. Beliau bersabda:

«قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ»

“Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa.” (HSR. Ibnu Majah no. 43)

Kebinasaan yang dimaksud adalah terjatuhnya seseorang ke dalam lembah hawa nafsu yang tidak berujung. Pengekor hawa nafsu akan terus merasa haus. Semakin ia menuruti keinginannya, semakin ia merasa kurang. Ia mencari ketenangan dalam bid’ah, namun ia hanya mendapatkan kelelahan. Ia mencari kemuliaan dalam fanatisme kelompok, namun ia hanya mendapatkan perpecahan dan kebencian.

Maka, untuk menutup buku ini, marilah kita merenungi ucapan Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) yang sangat kuat bagi siapa pun yang ingin kembali kepada kebenaran:

اتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ

“Ikutilah jalan-jalan petunjuk dan janganlah membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuhnya. Dan berhati-hatilah engkau dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau tertipu oleh banyaknya orang yang binasa.” (Al-I’tishom, Asy-Syathibi (790 H), 1/112)

Realita menunjukkan bahwa kebenaran sering kali dianggap asing, namun itulah satu-satunya jalan menuju Jannah. Seorang Muslim yang cerdas secara akal akan memilih untuk menahan hawa nafsunya yang sesaat demi mendapatkan rizqi dan rohmat yang kekal.

Kita memohon kepada Alloh , Robb semesta alam, agar senantiasa memberikan keteguhan hati di atas Sunnah. Kita berlindung kepada-Nya dari zholimnya diri sendiri dan buruknya syaithon yang selalu membisikkan keindahan pada kemaksiatan. Sesungguhnya hanya Alloh yang mampu memberikan Taufiq dan hidayah.

﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)

Selesailah penulisan buku ini dengan Taufiq dari Alloh . Semoga menjadi hujjah bagi kebenaran dan menjadi pengingat bagi setiap jiwa yang ingin kembali pada fithroh yang suci.

Segala puji bagi Alloh di awal dan di akhir, dan sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarganya, serta para Shohabatnya yang mulia. Allohu a’lam.[NK]

 

Daftar Pustaka

Al-Faqih wal Mutafaqqih, Al-Khothib Al-Baghdadi (463 H)

Al-I’tishom, Abu Ishaq Asy-Syathibi (790 H)

Al-Jawab Al-Kafi, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)

Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620 H)

Ighotsatul Lahfan min Mashoyidis Syaithon, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)

Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr (463 H)

Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab Al-Hanbali (795 H)

Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)

Majmu’ Al-Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H)

Musnad Ahmad, Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (241 H)

Roudhotul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)

Shohih Al-Bukhori, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhori (256 H)

Shohih Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi (261 H)

Siyar A’lamun Nubala, Syamsuddin Adz-Dzahabi (748 H)

Sunan Abu Dawud, Abu Dawud As-Sijistani (275 H)

Sunan At-Tirmidzi, Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi (279 H)

Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah Al-Qozwini (273 H)

Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Hibatulloh bin Al-Hasan Al-Lalaka’i (418 H)

Syarhussunnah, Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghowi (516 H)

Talbis Iblis, Ibnul Jauzi Al-Baghdadi (597 H)

Tarikh Baghdad, Al-Khothib Al-Baghdadi (463 H)

Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril ‘Ibad, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini