[PDF] Cara Beragama Pengekor Hawa Nafsu - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam, yang telah menurunkan Al-Furqon sebagai pembeda antara yang
haq dan yang bathil, serta mengutus Rosul-Nya ﷺ sebagai pembawa rohmat dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Sholawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para Shohabat,
serta orang-orang yang teguh mengikuti jejak mereka dengan penuh ketaqwaan
hingga hari pembalasan kelak.
Amma
ba’du:
Sesungguhnya,
ni’mat yang paling besar setelah iman adalah ni’mat di atas Sunnah, di mana
seseorang beragama bukan berdasarkan seleranya, melainkan berdasarkan wahyu
yang suci.
Tema ini diangkat
bermula dari keprihatinan yang mendalam terhadap realita umat di akhir zaman.
Banyak manusia yang mengaku sebagai pemeluk Islam, namun jika diteliti lebih
dalam, mereka tidak menyembah Alloh ﷻ dengan sebenar-benarnya
penghambaan. Sebaliknya, mereka telah menjadikan keinginan-keinginan diri
dan kecenderungan hati sebagai ilah yang ditaati dalam beribadah.
Inilah fenomena beragama para pengekor hawa nafsu, sebuah penyakit yang sangat
halus namun mematikan, yang mampu merusak amal sebagaimana api melahap kayu
bakar yang kering. Memahami bagaimana cara mereka beragama adalah cara agar ia
tidak tergelincir ke dalam jurang yang sama, karena hawa nafsu sering kali
datang dengan jubah agama yang sangat indah.
Alloh ﷻ
telah memperingatkan tentang bahaya besar ini dalam firman-Nya:
﴿أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا﴾
“Terangkanlah
kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya. Maka
apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqon: 43)
Ayat ini
menunjukkan bahwa ketika seseorang telah dikuasai oleh hawa nafsu, ia tidak
lagi mampu melihat kebenaran meskipun dalil telah terpampang nyata di
hadapannya. Ia akan menjadi buta dan tuli terhadap nasihat, karena hatinya
telah dipenuhi oleh kabut kesukaan diri. Hawa nafsu dalam urusan agama jauh
lebih berbahaya daripada hawa nafsu dalam urusan syahwat perut dan kemaluan.
Jika nafsu syahwat menjerumuskan seseorang pada maksiat yang ia sadari
kesalahannya, maka nafsu dalam agama menjerumuskan seseorang pada kesesatan
yang dianggap sebagai sebuah petunjuk.
Nabi ﷺ telah menggambarkan betapa
dahsyatnya fitnah hawa nafsu yang akan merasuk ke dalam tubuh manusia. Beliau ﷺ bersabda:
«وَإِنَّهُ
سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ، كَمَا يَتَجَارَى
الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ، لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ»
“Dan
sungguh akan muncul pada umatku kaum-kaum yang hawa nafsu merasuk ke dalam
tubuh mereka sebagaimana penyakit anjing gila merasuk ke dalam tubuh
penderitanya; tidak ada satu sendi pun dan tidak ada satu urat pun melainkan ia
memasukinya.” (HHR. Abu Dawud no. 4597)
Buku ini
disusun sebagai panduan untuk mengenali setiap sisi penyimpangan yang dilakukan
oleh para pengekor hawa nafsu. Kita tidak hanya berbicara tentang definisi,
namun kita akan menyelami kedalaman jiwa untuk melihat bagaimana hawa nafsu
bekerja merusak fondasi keimanan.
Kerangka
buku ini dimulai dengan pembahasan tentang hakikat hawa nafsu dan kedudukannya
dalam jiwa, menjelaskan mengapa nafsu begitu kuat mempengaruhi akal manusia
hingga mampu menggeser posisi wahyu.
Setelah
memahami hakikatnya, buku ini akan membedah bagaimana para pengekor nafsu
memperlakukan wahyu. Mereka tidak menolak Al-Qur’an secara lisan, namun mereka
memotong-motong maknanya. Mereka mengambil ayat yang mendukung kepentingan
kelompok mereka dan mengabaikan ayat yang memberikan teguran keras. Begitu pula
terhadap Hadits Nabi ﷺ;
jika sebuah Hadits tidak masuk ke dalam logika mereka yang sudah rusak, maka
Hadits tersebut akan ditolak dengan berbagai alasan.
Selanjutnya,
buku ini akan menguraikan cara-cara ibadah yang lahir dari rahim hawa nafsu.
Munculnya berbagai bid’ah atau inovasi dalam agama adalah bukti nyata bahwa
manusia merasa cara yang diajarkan Nabi ﷺ belum cukup memuaskan batin mereka. Mereka menciptakan
ritual-ritual baru yang penuh dengan emosi sesaat, namun kosong dari nilai
ketaqwaan yang sesungguhnya. Mereka mencari rasa nyaman, bukan mencari Ridho
Alloh ﷻ.
Padahal, setiap perkara baru dalam agama adalah kesesatan yang akan membawa ke
Naar. Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ
عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa yang
melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan
tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Sisi lain
yang tidak kalah penting adalah pembahasan mengenai sikap mereka terhadap ilmu
dan ulama. Pengekor hawa nafsu sangat selektif dalam memilih guru. Mereka hanya
mau mendengarkan tokoh yang pandai menghibur dan memberikan
keringanan-keringanan yang menghalalkan syahwat mereka. Mereka sangat membenci
para Salaf (Shohabat dan Tabi’in) karena pemahaman para Salaf adalah pembatas
yang kokoh bagi kebebasan nafsu mereka. Kita akan melihat bagaimana mereka
mengagungkan figur manusia secara berlebihan hingga derajat yang melampaui
batas syari’at, di mana ucapan sang guru lebih ditaati daripada sabda Nabi ﷺ.
Buku ini
juga akan menyentuh sisi kemasyarakatan, yaitu bagaimana hawa nafsu memicu
perpecahan melalui fanatisme kelompok (hizbiyyah). Kita akan melihat
bagaimana agama digunakan sebagai alat untuk mencari rizqi duniawi dan
kedudukan politik. Kezholiman terhadap sesama Muslim yang berbeda pendapat
menjadi hal yang biasa dilakukan oleh mereka yang hatinya telah dikuasai oleh
ego. Pada bagian akhir, kita akan membahas akibat yang harus ditanggung oleh
para pengekor nafsu, mulai dari kegelapan hati di dunia, terhalangnya pintu taubat,
hingga siksaan yang pedih di Akhiroh kelak.
Pengekor
hawa nafsu sering kali merasa dirinya sedang berada di atas petunjuk, padahal
ia sedang berjalan di atas fatamorgana. Alloh ﷻ berfirman:
﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا
103 الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ
يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾
“Katakanlah:
‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan
dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS.
Al-Kahfi: 103-104)
Bab 1: Kedudukan Hawa
Nafsu
Bab ini
menjadi pondasi penting untuk memahami bahwa beragama bukan soal apa yang kita
suka, tapi soal apa yang Alloh ﷻ perintahkan. Mengikuti hawa
nafsu dalam beragama adalah racun yang menghancurkan amal sebagaimana api
memakan kayu bakar. Seseorang harus terus memantau gerak-gerik hatinya agar
tidak tergelincir menjadi hamba bagi nafsunya sendiri tanpa ia sadari.
Taqwa
adalah satu-satunya obat bagi penyakit hawa nafsu ini. Dengan taqwa, seseorang
akan memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang merupakan petunjuk dari
Alloh ﷻ
dan mana yang merupakan tipu daya syaithon melalui hawa nafsu. Semoga Alloh ﷻ
melindungi kita dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan dari godaan syaithon yang
terkutuk.
1.1
Arti Hawa Nafsu
Hawa nafsu
secara bahasa diambil dari kata hawaa yang berarti jatuh dari atas ke
bawah, atau condongnya jiwa kepada sesuatu. Dinamakan hawa karena ia
menjatuhkan pemiliknya ke dalam jurang kebinasaan di dunia dan Naar di Akhiroh.
Adapun
menurut istilah, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada apa yang
disukai oleh syahwat tanpa adanya timbangan dari wahyu. Istilah hawa nafsu juga
disinggung dalam ayat:
﴿وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ﴾
“Dan
menahan nafsu dari hawa.” (QS. An-Nazi’at: 40)
Sebagian
ulama menjelaskan bahwa hawa nafsu pada dasarnya adalah pembawaan manusia untuk
mencintai apa yang sesuai dengan keinginan dirinya, namun sering kali hal ini
keluar dari batas kewajaran hingga menabrak aturan Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
telah memberikan peringatan keras dalam Al-Qur’an agar manusia tidak
memperturutkan hawa nafsu, karena ia adalah hijab (penghalang) antara hamba
dengan Robbnya. Seseorang yang hidupnya hanya untuk memuaskan apa yang ia
inginkan akan kehilangan bashiroh (pandangan hati) untuk melihat
kebenaran. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن
سَبِيلِ اللَّهِ﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan
Alloh.” (QS. Shod: 26)
Pengekor
hawa nafsu biasanya tidak peduli apakah sesuatu itu halal atau harom, yang
penting bagi mereka adalah terpenuhinya rasa haus akan pengakuan, kenyamanan,
dan kesenangan sesaat. Hal ini merambat ke dalam urusan agama, di mana mereka
mulai memilah-milah hukum sesuai selera. Mereka mengambil yang mudah bagi nafsu
mereka dan membuang yang berat, meskipun itu adalah perintah yang sangat jelas
dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Dalam
realita kehidupan, kita melihat banyak orang yang mengaku beragama namun
tindak-tanduknya hanya mengikuti suasana hati. Jika hatinya sedang senang, ia
beribadah. Jika hatinya sedang malas atau ada kepentingan dunia, ia
meninggalkan kewajiban. Inilah ciri pengikut nafsu, mereka tidak memiliki
ketetapan hati di atas dalil, melainkan berputar di mana nafsu mereka berputar.
1.2
Bahaya Menjadikan Keinginan Diri sebagai Tuhan
Puncak dari
penyimpangan hawa nafsu adalah ketika seseorang menjadikan keinginannya sebagai
penentu tunggal dalam hidupnya, bahkan dalam urusan hukum agama. Alloh ﷻ
menggambarkan orang seperti ini sebagai orang yang telah menjadikan hawa
nafsunya sebagai ilah (sesembahan) selain Alloh ﷻ. Ini adalah bentuk kesyirikan
yang sangat samar namun mematikan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ
بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ﴾
“Maka
pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya
dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh telah mengunci
mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka
siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh? Maka mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jathiyah: 23)
Ayat ini
adalah pukulan telak bagi siapa saja yang berani mendahulukan akal pikirannya
atau perasaan hatinya di atas syari’at. Seseorang yang menjadikan nafsunya
sebagai tuhan tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang ditetapkan oleh
Nabi ﷺ.
Ia akan selalu merasa bahwa pendapatnya lebih hebat, lebih modern, atau lebih masuk
akal.
Nabi ﷺ juga telah memperingatkan
akan bahaya kehancuran akibat mengikuti hawa nafsu yang ditaati. Dalam sebuah
Hadits, beliau bersabda:
«ثَلَاثٌ
مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوَىً مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ»
“Ada 3
perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan
kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Al-Bazzar dab
Ash-Shohihah no. 1802)
Kekaguman
terhadap diri sendiri adalah pintu masuk utama hawa nafsu. Seseorang yang
merasa sudah pintar, merasa sudah mencapai derajat kewalian tertentu, atau
merasa memiliki kecerdasan di atas rata-rata, atau gelar doktor-profesor, sering
kali terjebak dalam menafsirkan agama semaunya. Mereka merasa tidak lagi butuh
penjelasan para Salaf atau para ulama yang telah diakui keilmuannya.
Contoh
dalam realita saat ini adalah orang-orang yang meragukan keharoman sesuatu yang
sudah disepakati oleh para ulama, hanya karena menurut mereka hal tersebut tidak
merugikan orang lain. Mereka menggunakan logika bahwa agama adalah masalah
hati, sehingga selama hati mereka merasa baik, maka perbuatan harom pun
dianggap tidak masalah. Inilah sebenar-benarnya penghambaan kepada nafsu.
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) pernah berkata:
مَنْ
اسْتَحْوذَ عَلَيْهِ الْهَوَى وَاتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ؛ انْقَطَعَتْ عَنْهُ
مَوَادُّ التَّوْفِيقِ
“Siapa yang
dikuasai oleh hawa nafsunya dan mengekor syahwatnya, maka terputuslah darinya
sumber-sumber taufiq.” (Roudhotul Muhibbin, Ibnu Qoyyim, hal. 640)
Taufiq
adalah bimbingan Alloh ﷻ
menuju kebenaran. Ketika taufiq dicabut, seseorang akan melihat kebathilan
sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai beban yang membosankan. Hati yang telah
diperbudak oleh nafsu akan menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi,
sehingga nasihat dari Al-Qur’an tidak lagi membekas padanya.
1.3
Perang Syaithon Melalui Pintu Kesukaan Hati
Syaithon adalah
pakar dalam mengenali titik lemah manusia, dan titik lemah terbesar adalah
kesukaan hati. Syaithon tidak selalu mengajak manusia untuk berbuat dosa besar
secara langsung, namun ia sering kali membungkus kebathilan dengan bungkus
agama agar terlihat indah dan sesuai dengan hawa nafsu. Inilah yang disebut
dengan tazyin (penghiasan amal buruk).
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ
فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ﴾
“Dan syaithon
menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia
menghalangi mereka dari jalan Alloh, sedangkan mereka adalah orang-orang yang
berpandangan tajam.” (QS. Al-‘Ankabut: 38)
Pengekor
hawa nafsu sering kali merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah
ketaatan, padahal itu adalah tipu daya syaithon. Syaithon membisikkan bahwa
ibadah yang ditambah-tambah dengan inovasi sendiri (bid’ah) adalah bentuk
kecintaan kepada Nabi ﷺ.
Syaithon juga membisikkan bahwa meninggalkan Sholat berjamaah di Masjid demi
pekerjaan adalah bentuk Jihad mencari nafkah untuk keluarga.
Nabi ﷺ telah memberikan gambaran
bagaimana hawa nafsu merasuk ke dalam tubuh seseorang seperti penyakit anjing
gila (rabies). Beliau bersabda:
«وَإِنَّهُ
سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ، كَمَا يَتَجَارَى
الْكَلَبُ لِصَاحِبِهِ، لَا يَبْقَى مِنْهُ مَفْصِلٌ وَلَا عِرْقٌ إِلَّا دَخَلَهُ»
“Dan
sungguh akan muncul pada umatku kaum-kaum yang hawa nafsu merasuk ke dalam
tubuh mereka sebagaimana penyakit anjing gila merasuk ke dalam tubuh
penderitanya; tidak ada satu sendi pun dan tidak ada satu urat pun melainkan ia
memasukinya.” (HHR. Abu Dawud no. 4597)
Penyakit
ini sangat berbahaya karena menyerang seluruh bagian jiwa. Jika hawa nafsu
sudah masuk ke dalam urat nadi seseorang, ia akan menjadi sangat fanatik
terhadap pendapatnya sendiri atau kelompoknya. Ia akan menutup telinga dari
dalil yang shohih dan hanya mau mendengar apa yang memuaskan hatinya. Inilah
awal mula perpecahan dalam Islam, di mana setiap kelompok merasa bangga dengan
apa yang ada pada mereka berdasarkan kesukaan hati masing-masing.
Ibnul Jauzi
(597 H) dalam kitabnya Talbis Iblis menjelaskan bagaimana syaithon
menipu para ahli ibadah melalui pintu hawa nafsu. Beliau menceritakan ada orang
yang rajin Sholat malam namun hatinya penuh dengan kesombongan dan merasa lebih
mulia dari orang lain. Syaithon membuat orang tersebut merasa bahwa ia sudah
dijamin masuk Jannah, sehingga ia mulai meremehkan dosa-dosa kecil dan akhirnya
terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan.
Syaithon juga
menggunakan pintu perasaan untuk menggoyahkan keyakinan seseorang
terhadap takdir. Ketika seseorang tertimpa musibah, syaithon membisikkan
kata-kata “seandainya aku melakukan ini, tentu tidak akan begini”.
Alloh ﷻ
memerintahkan kita untuk berlindung dari bisikan-bisikan jahat tersebut:
﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ 1 مَلِكِ النَّاسِ
2 إِلَٰهِ النَّاسِ 3 مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ 4 الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي
صُدُورِ النَّاسِ 5 مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ 6﴾
“Katakanlah:
‘Aku berlindung kepada Robb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari
kejahatan bisikan syaithon yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan kejahatan
ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-6)
Pengekor
hawa nafsu biasanya tidak memiliki benteng pertahanan berupa dzikir dan ilmu
yang kuat. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk melamunkan dunia atau
mengejar kesenangan yang menipu. Akibatnya, syaithon dengan sangat mudah
mengendalikan kemudi hati mereka. Mereka menjadi robot-robot syaithon yang
hatinya kosong dari rasa takut kepada Alloh ﷻ.
Secara
akal, mengikuti hawa nafsu adalah sebuah kebodohan. Akal yang sehat seharusnya
menuntun manusia untuk mengikuti Penciptanya, karena Penciptalah yang paling
tahu apa yang terbaik bagi ciptaannya. Namun, bagi pengekor nafsu, akal mereka
telah terjangkit penyakit sehingga hanya berfungsi untuk mencari pembenaran
atas kesalahan mereka, bukan mencari kebenaran yang hakiki.
Dalam
realita sosial, kita mendapati bahwa orang yang selalu mengikuti hawa nafsu
hidupnya tidak akan pernah tenang. Ia akan selalu merasa kurang, selalu merasa
tersaingi, dan selalu merasa terancam jika ada orang lain yang lebih hebat
darinya. Agama yang ia jalankan pun tidak memberikan ketenangan bathiniah,
karena pondasinya bukan keikhlasan kepada Alloh ﷻ, melainkan kepuasan nafsu
pribadi. Ini adalah siksaan dunia sebelum datangnya siksaan di Akhiroh.
Bab 2: Cara
Pengekor Hawa Nafsu Memperlakukan Wahyu
Bab ini
menjelaskan bagaimana liciknya cara pengekor hawa nafsu dalam mempreteli
kewibawaan wahyu. Mereka tidak menghancurkan Al-Qur’an dan Hadits dengan
pedang, melainkan dengan pemikiran, penafsiran sesat, dan pengabaian yang
sistematis demi menjaga agar syahwat mereka tetap bertahta di atas singgasana
hati.
2.1
Memilih Ayat yang Cocok dengan Selera dan Meninggalkan yang Berat
Sifat dasar
dari para pengekor hawa nafsu adalah mereka tidak tunduk sepenuhnya kepada
wahyu yang diturunkan oleh Alloh ﷻ. Mereka memperlakukan Al-Qur’an
seperti sebuah pasar swalayan, di mana mereka hanya mengambil apa yang mereka
sukai dan meninggalkan apa yang dirasa membebani syahwat atau kepentingan dunia
mereka. Keimanan mereka bersifat parsial (sebagian-sebagian), bukan keimanan
yang menyeluruh.
Alloh ﷻ
telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap perilaku semacam ini,
yang dahulu dilakukan oleh kaum Yahudi dan kini diwarisi oleh sebagian kaum
Muslimin yang lebih mendahulukan keinginan diri. Alloh ﷻ berfirman:
﴿أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ
بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ
إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ
أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ﴾
“Apakah
kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?
Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu melainkan
kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Qiyamah mereka dikembalikan
kepada siksa yang sangat berat. Dan Alloh tidak lengah dari apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh: 85)
Orang-orang
ini biasanya sangat rajin mengutip ayat-ayat tentang kasih sayang Alloh ﷻ,
luasnya ampunan, dan kemudahan dalam beragama. Namun, ketika berhadapan dengan
ayat-ayat tentang kewajiban yang berat, hukum hukuman (hudud), larangan riba,
atau kewajiban untuk berhijroh dari bid’ah, mereka akan mencari sejuta alasan
untuk menghindar. Mereka berkata bahwa ayat tersebut hanya berlaku di zaman
dahulu, atau ayat tersebut memiliki makna lain yang tidak mengharuskan mereka
untuk melakukannya secara lahiriah.
Rasululloh ﷺ memberikan peringatan akan
munculnya orang-orang yang lisannya fasih membaca Al-Qur’an namun hati mereka
kosong dari tunduk kepada maknanya. Beliau ﷺ bersabda:
«يَخْرُجُ
فِيكُمْ قَوْمٌ - تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ،
وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ - وَيَقْرَءُونَ القُرْآنَ
لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ
مِنَ الرَّمِيَّةِ»
“Akan
muncul pada umat ini suatu kaum —yang kalian akan merasa meremehkan Sholat
kalian dibandingkan Sholat mereka, Puasa kalian dibandingkan Puasa mereka, amal
kalian dibandingkan amal mereka— mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati
kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari
hewan buruannya.” (HR. Al-Bukhori no. 5058 dan Muslim no. 1064)
Hadits ini
menunjukkan bahwa kerajinan dalam beribadah secara fisik tidak menjamin
seseorang selamat dari penyimpangan agama jika ia tidak mau menundukkan
akal dan perasaannya di bawah wahyu. Akal mereka hanya digunakan untuk
membenarkan apa yang sudah mereka inginkan sejak awal.
Dalam
realita, kita melihat pengekor nafsu akan sangat bersemangat menjalankan agama
yang bersifat seremonial atau adat yang dianggap bagian dari agama, namun mereka
sangat antipati terhadap aturan syari’at yang membatasi pergerakan ekonomi
harom mereka atau gaya hidup bebas mereka. Inilah yang disebut oleh para ulama
sebagai memecah belah agama.
2.2
Merusak Makna Firman Alloh ﷻ demi
Pembenaran Diri
Metode lain
yang digunakan oleh pengekor hawa nafsu adalah tahrif (pengubahan
makna). Mereka tidak berani menolak ayat Al-Qur’an secara terang-terangan
karena takut disebut kafir, maka mereka menempuh jalur licik dengan cara
mengubah tafsir ayat tersebut agar sesuai dengan keinginan mereka. Mereka
menggunakan istilah-istilah yang seolah-olah bijak untuk menyingkirkan makna
asli yang dikehendaki Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
menggambarkan perilaku buruk ini:
﴿يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِه﴾
“Mereka
mengubah perkataan (Alloh) dari tempat-tempatnya.” (QS. Al-Maidah: 13)
Contohnya adalah
ketika mereka menafsirkan ayat tentang Jihad sebagai sekadar perjuangan melawan
kemalasan diri saja, sehingga mereka meniadakan hukum Jihad fisik yang telah
ditetapkan syari’at dalam kondisi tertentu. Atau mereka menafsirkan kata Hijab
sebagai sekadar penutup aib hati saja, bukan penutup aurot secara fisik bagi
wanita Muslimah. Hal ini dilakukan agar mereka bisa tetap tampil modis sesuai
trend dunia namun merasa tetap religius.
Mereka juga
sering mengejar ayat-ayat yang mutasyabihat (samar maknanya) untuk
menimbulkan fitnah dan mencari-cari pembenaran bagi paham mereka yang
menyimpang. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ
فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ﴾
“Adapun
orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan, maka mereka
mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk
mencari-cari takwilnya.” (QS. Ali ‘Imron: 7)
Orang-orang
ini akan membuang tafsir para Shohabat dan Tabi’in yang telah disepakati, lalu
menggantinya dengan tafsir yang bersumber dari perasaan atau filsafat yang
tidak memiliki dasar ilmu. Mereka berdalih bahwa agama harus kontekstual, yang
sebenarnya maknanya adalah agama harus tunduk kepada perkembangan zaman yang
sudah rusak oleh hawa nafsu.
Al-Auzai berkata:
الْعِلْمُ مَا جَاءَ عَنْ أَصْحَابِ
مُحَمَّدٍ ﷺ وَمَا لَمْ يَجِيءْ عَنِ الصَّحَابَةِ فَلَيْسَ بِعِلْمٍ
“Ilmu itu
adalah apa yang datang dari para Shohabat Muhammad ﷺ, dan apa yang tidak datang
dari para Shohabat maka itu bukanlah ilmu.” (Tariikhul Islam, Adz-Dzahabi
(748 H), 9/490)
Pengekor
hawa nafsu membenci atsar (riwayat) karena atsar membatasi
mereka. Riwayat memaksa mereka untuk mengikuti pemahaman Abu Bakr (13 H), Umar
(23 H), dan para Shohabat lainnya. Sedangkan hawa nafsu mereka menginginkan
kebebasan tanpa batas. Secara akal, jika setiap orang dibebaskan menafsirkan
firman Robb sesuai seleranya, maka agama ini akan hancur dan menjadi ribuan
versi yang saling bertabrakan.
2.3
Menolak Hadits Shohih karena Tidak Masuk Akal
Salah satu
benteng terkuat Islam adalah Sunnah Nabi ﷺ. Para pengekor hawa nafsu menyadari hal ini, sehingga mereka
berusaha keras merobohkan kewibawaan Hadits-hadits Nabi ﷺ. Mereka akan menolak Hadits
yang shohih jika isinya bertentangan dengan logika mereka yang telah dikotori
oleh syahwat dan pemikiran asing. Mereka sering kali menjuluki diri mereka
sebagai kaum rasionalis, padahal yang mereka ikuti bukanlah akal sehat,
melainkan akal yang sakit.
Nabi ﷺ telah meramalkan kemunculan
orang-orang yang duduk di sofa mewahnya lalu meragukan Sunnah beliau. Beliau ﷺ bersabda:
«أَلَا
إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى
أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ
فَأَحِلُّوهُ، وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ، [أَلَّا وَإِنَّ
مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ]»
“Ketahuilah
aku diberi Al-Qur’an dan yang semisalnya (Hadits). Ketahuilah, hampir tiba
muncul seorang lelaki yang kekenyangan sambil duduk di atas sofanya lalu
berkata: ‘Hendaklah kalian hanya berpegang pada Al-Qur’an ini saja. Apa yang
kalian temukan di dalamnya halal maka halalkanlah, dan apa yang kalian temukan
di dalamnya harom maka haromkanlah.’ Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharomkan
oleh Rosululloh ﷺ
adalah sama seperti apa yang diharomkan oleh Alloh.” (HSR. Abu Dawud no.
4604 dan Ibnu Majah no. 12)
Orang-orang
pengekor hawa nafsu ini akan berkata, “Hadits ini tidak masuk akal,” atau “Hadits
ini bertentangan dengan kemanusiaan,” atau “Hadits ini merendahkan martabat.”
Mereka menjadikan akal mereka sebagai hakim atas ucapan Nabi ﷺ. Padahal, akal manusia itu
terbatas, sedangkan wahyu datang dari Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Jika akal
dijadikan ukuran, maka akan muncul kekacauan. Bagi seseorang yang gemar
berzina, hukum rajam atau cambuk dianggap tidak masuk akal. Bagi seseorang yang
rakus harta, hukum Zakat dianggap tidak logis karena mengurangi kekayaan.
Inilah bukti bahwa penolakan terhadap Hadits hanyalah kedok untuk menuruti
keinginan diri.
Imam Malik
(179 H) berkata:
السُّنَّةُ
سَفِينَةُ نُوحٍ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ
“Sunnah
adalah bahtera Nuh, siapa yang menaikinya maka ia selamat, dan siapa yang
tertinggal darinya maka ia tenggelam.” (Tarikh Baghdad, Al-Khothib
Al-Baghdadi (463 H), 8/309)
Realitanya,
para penolak Hadits sering kali terjerumus ke dalam keraguan yang tiada ujung.
Mereka tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam beribadah. Mereka bingung
bagaimana cara Sholat, berapa rokaat, dan bagaimana detail Haji, karena semua
itu dijelaskan dalam Hadits. Namun, demi memuaskan nafsu untuk membuang
hukum-hukum yang mereka benci, mereka rela mengorbankan seluruh bangunan agama
ini.
2.4
Mendahulukan Ucapan Manusia di Atas Sabda Nabi ﷺ
Ciri lain
dari pengekor hawa nafsu adalah fanatisme buta terhadap tokoh, guru, atau
pemikir tertentu. Mereka lebih mendahulukan pendapat kyai mereka, ustadz
mereka, atau filsuf pujaan mereka daripada dalil yang jelas dari Nabi ﷺ. Jika ditunjukkan kepada
mereka sabda Nabi ﷺ
yang shohih, mereka akan menjawab, “Tapi guru saya berkata begini,” atau “Tapi
dalam kitab kelompok kami tertulis begitu.” Padahal pendapat tokoh mereka itu
tidak dikenal oleh para Salaf maupun fuqoha.
Alloh ﷻ
mencela sikap orang-orang yang menjadikan tokoh-tokoh mereka sebagai tandingan
bagi aturan Alloh ﷻ:
﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ
أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ﴾
“Mereka
menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Robb-Robb
selain Alloh.” (QS. At-Taubah: 31)
Ketika Adi
bin Hatim (68 H) mendengar ayat ini, ia berkata kepada Nabi ﷺ bahwa mereka tidak menyembah
para rahib tersebut. Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa arti menyembah di sini adalah mereka
menghalalkan apa yang diharomkan para rahib dan mengharomkan apa yang
dihalalkan para rahib, lalu pengikutnya mengikuti saja. Inilah bentuk
penyerahan hawa nafsu kepada sesama makhluk.
Abdullah
bin Abbas (68 H) pernah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang
membenturkan ucapan Nabi ﷺ
dengan ucapan Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H):
يُوشِكُ
أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةٌ مِنْ السَّمَاءِ أَقُولُ لَكُمْ: قَالَ النَّبِيُّ
ﷺ، وَتَقُولُونَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ
“Hampir
saja hujan batu turun menimpa kalian dari langit. Aku katakan: ‘Rosululloh ﷺ bersabda,’ sedangkan kalian
mengatakan: ‘Abu Bakr dan Umar berkata?’” (HSR. Ahmad no. 3121 dengan lafazh
Majmu Fatawa, 26/50)
Jika
terhadap Abu Bakr dan Umar saja tidak boleh kita mendahulukan pendapat mereka
di atas sabda Nabi ﷺ,
maka bagaimana mungkin kita mendahulukan pendapat manusia biasa di zaman ini
yang penuh dengan kepentingan dan kekeliruan? Pengekor hawa nafsu melakukan ini
karena mereka merasa lebih nyaman mengikuti figur manusia yang bisa mereka ajak
kompromi daripada mengikuti wahyu yang bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar.
Mereka
sering membela mati-matian tradisi leluhur yang bertentangan dengan Tauhid dan Sunnah
hanya karena alasan melestarikan budaya. Padahal, Alloh ﷻ
telah berfirman tentang kaum pengekor nafsu terdahulu:
﴿قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ
آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُون﴾
“Mereka
menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari
nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS.
Al-Baqoroh: 170)
Secara
realita, fanatisme buta ini menyebabkan perpecahan yang sangat dalam. Setiap
kelompok merasa bangga dengan tokohnya dan menutup mata dari kebenaran yang
dibawa oleh kelompok lain meskipun didukung oleh dalil. Ini adalah buah pahit
dari memperturutkan hawa nafsu dalam beragama. Seseorang yang jujur hanya akan
menjadikan kebenaran sebagai tujuannya, tidak peduli dari mana kebenaran itu
datang, dan ia tidak akan pernah berani meletakkan ucapan siapa pun di atas
ucapan Rosululloh ﷺ.
Taqwa
menuntut kita untuk menjadikan Nabi ﷺ sebagai satu-satunya hakim dalam setiap perselisihan. Alloh ﷻ
bersumpah dengan diri-Nya sendiri:
﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ
فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
“Maka demi
Robbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
(Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang
kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)
Pengekor
hawa nafsu akan selalu merasa keberatan (haroj) di dalam hati mereka
ketika syari’at tidak sesuai dengan selera mereka. Sebaliknya, orang yang
beriman akan merasa tenang dan ridho karena ia tahu bahwa hawa nafsunya adalah
musuh, sedangkan wahyu adalah penyelamat.
Bab 3: Cara
Beribadah yang Berlandaskan Kesukaan Nafsu
Bab ini
menutup segala celah bagi mereka yang ingin beribadah hanya dengan modal “suka-suka”
atau “enak-enakan”. Ibadah adalah pengabdian mutlak (ubudiyah) yang
menuntut kita untuk menanggalkan seluruh ego dan keinginan diri di depan keagungan
syari’at Alloh ﷻ.
Pengekor hawa nafsu akan terus meronta mencari kenyamanan, sementara seorang Mu’min
akan terus berjuang menundukkan nafsunya sampai ia menemui Robbnya dalam
keadaan taqwa.
Ibadah yang
berlandaskan kesukaan nafsu hanya akan membuahkan kelelahan di dunia dan
penyesalan di Akhiroh. Kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu berkata
kepada nafsunya: “Diamlah, sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang
diperintahkan Robbku, bukan apa yang diinginkan olehmu wahai syaithon yang
bersembunyi di balik perasaanku.”
3.1
Menciptakan Cara Baru dalam Beragama (bid’ah) yang Dianggap Baik
Cara
beragama yang paling digemari oleh para pengekor hawa nafsu adalah menciptakan
aturan-aturan baru dalam ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh Rosululloh ﷺ. Mereka merasa bahwa ibadah
yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah belum cukup untuk memuaskan gejolak emosi
dan perasaan mereka. Oleh karena itu, mereka menambah-nambah jumlah rokaat,
menciptakan bacaan-bacaan dzikir dengan hitungan tertentu yang tidak ada
asalnya, atau menentukan waktu-waktu khusus untuk ibadah tertentu yang tidak
memiliki dalil.
Alloh ﷻ
telah memberikan batasan yang sangat tegas bahwa urusan agama adalah hak mutlak
Robb semesta alam. Siapa yang berani menambah atau mengurangi, maka ia telah
memposisikan dirinya sebagai tandingan bagi Alloh ﷻ. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ
الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ
ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Apakah
mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka
agama yang tidak diizinkan Alloh? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan
(dari Alloh) tentulah diazab di antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang
yang zholim itu akan mendapat azab yang amat pedih.” (QS. Asy-Syuro: 21)
Pengekor
hawa nafsu sering kali berdalih dengan perkataan “ini kan baik”, “tujuannya kan
mulia”, atau “masa berdzikir dilarang”. Mereka tidak sadar bahwa syarat
diterimanya amal bukan hanya niat yang baik, tetapi juga harus sesuai dengan
petunjuk Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ
telah memutus segala celah bagi inovasi dalam agama ini dengan sabdanya:
«مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa yang
mengada-adakan hal baru dalam urusan kami (agama) ini yang bukan berasal
darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim
no. 1718)
Dalam
riwayat lain yang lebih tegas, Nabi ﷺ menyatakan bahwa setiap bid’ah (hal baru dalam agama) adalah
kesesatan. Pengekor hawa nafsu sangat membenci Hadits ini dan berusaha
memelintir maknanya menjadi bid’ah yang baik dan bid’ah yang buruk, agar mereka
tetap bisa menjalankan tradisi yang mereka sukai. Padahal Nabi ﷺ bersabda:
«وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Hati-hatilah
kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru
adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607)
Malik bin
Anas (179 H) memberikan kaidah yang sangat kuat untuk membungkam para pengekor
nafsu ini. Beliau berkata:
مَنِ
ابْتَدَعَ فِي الإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً؛ فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا
خَانَ الرِّسَالَةَ؛ لِأَنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿اليَومَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾
[المَائِدَة: ٣]، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَومَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ اليَومَ دِينًا
“Siapa yang
membuat bid’ah dalam Islam yang ia anggap sebagai sebuah kebaikan, maka sungguh
ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah. Karena Alloh berfirman: ‘Pada
hari ini (9 Dzulhijjah tahun 10 H) telah Kusempurnakan agamamu.’
Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama maka pada hari ini juga
bukan bagian dari agama.” (Al-I’tishom, Asy-Syathibi (790 H), 1/64)
Secara
akal, jika setiap orang dibolehkan membuat cara ibadah baru karena dianggap
baik, maka agama ini tidak akan pernah selesai. Orang akan terus
menambah-nambah hingga bentuk asli agama yang dibawa Nabi ﷺ akan hilang tertutup oleh
tumpukan kreasi manusia. Realita saat ini menunjukkan banyak sekali ritual yang
dianggap sakral namun jika ditimbang dengan wahyu, ia hanyalah gerak-gerik
fisik yang kosong dari nilai ibadah karena tidak ada perintahnya.
3.2
Mencari-cari Keringanan dalam Hukum yang Harom
Cara lain
para pengekor nafsu dalam beragama adalah sikap mereka yang selalu mencari-cari
celah hukum (hilah) untuk menghalalkan apa yang sebenarnya dilarang oleh
Alloh ﷻ.
Mereka menggunakan kepintaran otak mereka untuk membungkus kemaksiatan dengan
istilah-istilah yang terdengar agamis. Jika mereka ingin makan harta riba,
mereka menamakannya sebagai bunga sukarela atau biaya administrasi. Jika mereka
ingin berzina, mereka menamakannya sebagai nikah siri tanpa wali atau kawin
kontrak (Syiah).
Alloh ﷻ
telah menceritakan kisah kaum dari kalangan Bani Isroil yang mencoba menipu
Alloh ﷻ
dalam urusan hari Sabtu. Mereka dilarang menangkap ikan pada hari Sabtu, lalu
mereka memasang jaring pada hari Jum’at dan mengambil hasilnya pada hari Ahad.
Mereka merasa telah mengikuti aturan secara lahiriah, padahal hati mereka telah
berkhianat. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ
حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ
سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ﴾
“Dan
tanyakanlah kepada Bani Isroil tentang negeri yang terletak di dekat laut
ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka
ikan-ikan mereka pada hari Sabtu dengan terapung-apung di permukaan air, dan di
hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah
Kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. Al-A’rof: 163)
Akibat dari
perbuatan mencari celah hukum demi hawa nafsu ini, Alloh ﷻ
mengubah rupa mereka menjadi kera yang hina. Ini adalah pelajaran bagi para
pengekor nafsu di setiap zaman agar tidak mempermainkan hukum agama. Nabi ﷺ bersabda:
«لَا
تَرْتَكِبُوا مَا ارْتَكَبَتِ الْيَهُودُ، فَتَسْتَحِلُّوا مَحَارِمَ اللَّهِ بِأَدْنَى
الْحِيَلِ»
“Janganlah
kalian melakukan apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi, sehingga kalian
menghalalkan hal-hal yang diharomkan Alloh dengan celah-celah hukum yang paling
rendah.” (Ibthoolul Hiyal, Ibnu Bath-thoh, hal. 65. Dihasankan Al-Albani di
Sifat Fatwa hal. 28)
Pengekor
hawa nafsu juga sering melakukan “shopping fatwa” atau mencari-cari fatwa ulama
yang paling ringan dan paling cocok dengan gaya hidup mereka. Jika satu ustadz
mengatakan harom, mereka akan terus mencari sampai menemukan orang yang mau
mengatakan boleh, meskipun orang tersebut tidak memiliki kapasitas ilmu yang
mumpuni. Bagi mereka, kebenaran bukan dicari untuk diikuti, tapi dicari untuk
membenarkan keinginan.
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) berkata:
إِنَّمَا
الْعِلْمُ عِنْدَنَا الرُّخْصَةُ مِنْ ثِقَةٍ، فَأَمَّا التَّشْدِيدُ فَيُحْسِنُهُ
كُلُّ أَحَدٍ
“Sesungguhnya
ilmu menurut kami adalah adanya keringanan (dalam masalah khilafiyah) yang
bersumber dari orang yang terpercaya (berdasarkan dalil), adapun bersikap keras
(tanpa dasar) maka setiap orang bisa melakukannya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi,
Ibnu Abdil Barr (463 H), 1/784)
Maksud dari
perkataan beliau adalah keringanan yang didasarkan pada dalil yang shohih,
bukan keringanan yang dipaksakan demi menuruti hawa nafsu. Realita masyarakat
saat ini menunjukkan banyak orang yang berani menggadaikan aqidah dan hukum
demi kenyamanan duniawi, dengan dalih bahwa “agama itu mudah”. Memang agama itu
mudah, namun kemudahan tersebut sudah diatur oleh Alloh ﷻ,
bukan kita yang mengatur-atur sendiri kemudahan tersebut sesuai selera nafsu
kita.
3.3
Beramal demi Mendapat Kedudukan di Mata Manusia
Ibadah para
pengekor hawa nafsu sering kali hanya sekadar hiasan luar yang ditujukan untuk
mendapatkan apresiasi dari sesama manusia. Inilah penyakit riya’ (pamer)
dan sum’ah (ingin didengar). Nafsu mereka sangat haus akan pujian,
sehingga mereka merasa lebih bersemangat melakukan amal sholih ketika dilihat
orang banyak daripada saat sendirian. Ibadah bagi mereka bukan sarana
komunikasi dengan Robb, melainkan sarana membangun citra diri yang baik di
hadapan publik.
Alloh ﷻ
memberikan ancaman keras bagi orang-orang yang Sholat namun hatinya lalai dan
hanya ingin pamer:
﴿فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ 4 الَّذِينَ هُمْ
عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
5﴾
“Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang Sholat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari
Sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya’.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)
Pengekor
hawa nafsu ini adalah orang yang paling rugi pada hari Qiyamah. Mereka telah
lelah beramal, lelah bangun malam, lelah mengeluarkan harta, namun semua itu
menjadi debu yang beterbangan karena tidak ada keikhlasan di dalamnya. Alloh ﷻ
berfirman dalam Hadits Qudsi:
«أَنَا
أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي،
تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»
“Aku adalah
Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang mengerjakan suatu amalan
yang ia menyekutukan Aku di dalamnya dengan selain Aku, maka Aku
meninggalkannya dan kesyirikannya.” (HR. Muslim no. 2985)
Contoh
nyata dalam realita saat ini adalah fenomena memamerkan ibadah di media sosial.
Seseorang Umroh bukan untuk bersimpuh di depan Ka’bah dengan penuh dosa,
melainkan untuk mengambil foto terbaik agar orang-orang memujinya sebagai orang
yang sholih. Seseorang memberikan Zakat bukan karena kewajiban dari Alloh dan kasihan
kepada fakir miskin, melainkan agar namanya tercatat sebagai dermawan
terpandang. Nafsu mereka telah menipu mereka dengan rasa bangga semu yang
menghancurkan pahala.
Nabi ﷺ menceritakan tentang 3 orang
yang pertama kali dilemparkan ke dalam Naar: seorang mujahid, seorang alim
(pengajar), dan seorang dermawan. Semuanya beramal dengan amalan besar, namun
niat mereka hanya agar dikatakan “pemberani”, “pintar”, dan “dermawan”. Rosululloh
ﷺ bersabda:
«ثُمَّ
أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ»
“Kemudian
diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam
Naar.” (HR. Muslim no. 1905)
Ibnu
Mubarok (181 H) memberikan nasihat tentang pentingnya menyembunyikan amal agar
nafsu tidak merasa besar kepala. Beliau berkata:
رُبَّ
عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
“Betapa
banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan
besar menjadi kecil karena niatnya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab
(795 H), 1/69)
Secara
akal, mengharap pujian dari manusia yang sama-sama lemah adalah kesia-siaan.
Pujian manusia tidak akan menambah rizqi dan tidak akan menunda ajal. Namun,
nafsu yang sakit akan selalu merasa lapar akan pengakuan. Realitanya, orang
yang beribadah demi manusia akan selalu merasa gelisah karena ia sangat
bergantung pada penilaian orang lain. Hidupnya menjadi sandiwara yang
melelahkan tanpa pernah merasakan manisnya iman yang sesungguhnya.
3.4
Menjadikan Rasa Nyaman sebagai Ukuran Kebenaran
Pengekor
hawa nafsu memiliki standar kebenaran yang sangat aneh: jika sesuatu terasa
nyaman di hati, maka itu dianggap benar, meskipun bertentangan dengan dalil.
Mereka sering berkata, “Yang penting hatinya tenang,” atau “Saya merasa Alloh
meridhoi karena saya merasa damai melakukannya.” Mereka menjadikan perasaan
sebagai Robb yang diikuti, seolah-olah wahyu harus tunduk pada naik turunnya
suasana hati mereka.
Alloh ﷻ
menyifati orang-orang yang hanya mengikuti perasaan dan prasangka tanpa dasar
ilmu:
﴿إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى
الْأَنفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ﴾
“Mereka
tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa
nafsu, padahal sesungguhnya telah datang petunjuk dari Robb mereka kepada
mereka.” (QS. An-Najm: 23)
Perasaan
manusia bisa menipu. Seorang pemakai narkoba merasa nyaman saat memakainya,
apakah itu berarti narkoba itu benar? Seorang pelaku kemaksiatan merasa ni’mat
saat berbuat dosa, apakah itu berarti dosanya diridhoi? Begitu pula dalam
ibadah. Banyak orang melakukan ritual yang penuh dengan musik, tarian, atau
nyanyian yang merangsang emosi hingga mereka menangis dan merasa “sampai”
kepada Alloh ﷻ,
padahal cara tersebut adalah bid’ah yang harom. Rasa nyaman tersebut bukanlah
dari Alloh ﷻ,
melainkan dari tazyin (penghiasan) syaithon.
Nabi ﷺ memperingatkan bahwa
kebenaran itu berat bagi jiwa, sedangkan kebathilan itu sering kali terlihat
indah dan mudah. Beliau ﷺ
bersabda:
«حُجِبَتِ
النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ»
“Naar
dipagari dengan hal-hal yang menyenangkan nafsu, sedangkan Jannah dipagari
dengan hal-hal yang tidak disukai (oleh nafsu).” (HR. Al-Bukhori no. 6487
dan Muslim no. 2822)
Jika kita
hanya mengikuti apa yang terasa nyaman, maka kita tidak akan pernah melakukan
Sholat Shubuh karena tidur lebih nyaman. Kita tidak akan pernah berpuasa karena
makan lebih ni’mat. Kita tidak akan pernah mengeluarkan harta karena menyimpan
harta memberikan rasa aman. Beragama yang benar justru sering kali harus
melawan rasa nyaman demi meraih ridho Alloh ﷻ.
Banyak
orang tertipu oleh “rasa” dalam ibadah. Inilah yang menjatuhkan orang-orang
yang hanya mengikuti imajinasi dan perasaan ke dalam berbagai jenis bid’ah dan
kesesatan.
Realita di
tengah masyarakat kita melihat banyak sekali kelompok yang mengandalkan “pengalaman
bathin” untuk menentukan hukum. Mereka mengklaim mendapatkan ilham atau mimpi
yang membolehkan hal-hal yang jelas dilarang syari’at. Mereka menomorduakan
Al-Qur’an dan Sunnah demi mengejar sensasi rasa yang mereka anggap sebagai
maqom (kedudukan) tinggi di sisi Alloh ﷻ. Ini adalah kesesatan yang
nyata, karena ilham dan perasaan tidak boleh dijadikan dalil dalam agama.
Secara
akal, perasaan bersifat subyektif dan berubah-ubah. Apa yang nyaman bagi
seseorang mungkin tidak nyaman bagi orang lain. Jika perasaan menjadi ukuran,
maka standar kebenaran akan menjadi jutaan jumlahnya. Alloh ﷻ
menurunkan wahyu justru untuk menyatukan standar kebenaran tersebut agar tidak
kacau balau karena hawa nafsu manusia.
Abu Bakr
(13 H) memberikan teladan luar biasa bahwa ketaatan adalah tentang perintah,
bukan tentang perasaan. Saat peristiwa perdamaian Hudaibiyah, banyak Shohabat
yang merasa tidak nyaman dengan syarat-syarat yang terlihat merugikan umat
Islam, namun Abu Bakr tetap teguh mengikuti keputusan Nabi ﷺ karena beliau tahu bahwa
wahyu jauh lebih benar daripada perasaan pribadinya.
Bab 4: Sikap
terhadap Ilmu, Ulama, dan Pembawa Kebenaran
Bab ini
menegaskan bahwa keselamatan hanya ada pada ilmu yang bersumber dari wahyu, ulama
yang mengikuti jalan para Shohabat, dan penolakan total terhadap segala bentuk
pengagungan makhluk yang melebihi batas syari’at. Siapa yang menjadikan manusia
sebagai timbangan kebenaran, maka ia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai
penguasa atas agamanya. Sebaliknya, pembawa kebenaran yang sejati akan selalu
mengarahkan umat untuk kembali kepada Alloh ﷻ dan Rosul-Nya, bukan kepada
dirinya sendiri.
4.1
Mencari Fatwa yang Menghalalkan Syahwat
Para
pengekor hawa nafsu memiliki kebiasaan buruk dalam memperlakukan ilmu agama.
Mereka tidak mendatangi ilmu untuk memperbaiki diri, melainkan untuk mencari
pembenaran atas kesalahan yang ingin mereka lakukan. Fenomena ini sering
disebut sebagai “mencari fatwa pesanan” atau mencari keringanan yang tidak
berdasar dalil. Ketika mereka memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang
sebenarnya diragukan atau bahkan jelas keharomannya, mereka akan berkeliling
mencari orang yang dianggap ahli agama namun memiliki kecenderungan mengikuti
selera massa.
Alloh ﷻ
telah memberikan ancaman yang sangat mengerikan bagi orang-orang yang
menyembunyikan kebenaran demi keuntungan duniawi yang sedikit, atau bagi mereka
yang mempermainkan hukum demi memuaskan nafsu manusia. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ
مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ
إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ
وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Alloh, yaitu Al-Kitab
dan menjualnya dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak memakan ke dalam
perutnya melainkan Naar, dan Alloh tidak akan berbicara kepada mereka pada hari
Qiyamah dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka azab yang sangat
pedih.” (QS. Al-Baqoroh: 174)
Pengekor
hawa nafsu akan sangat membenci ulama yang tegas dalam menyuarakan Al-Haq
(kebenaran). Mereka lebih memilih mengikuti tokoh-tokoh yang pandai bersilat
lidah, yang mampu mengubah hukum harom menjadi mubah dengan alasan kemaslahatan
yang semu. Contoh dalam realita adalah pencarian fatwa untuk menghalalkan riba
dengan nama bunga bank yang ringan, atau menghalalkan musik dengan alasan syiar
agama, atau membolehkan pergaulan bebas lelaki dan wanita dengan alasan
modernitas.
Nabi ﷺ telah memperingatkan akan
munculnya para pemimpin yang menyesatkan, yang merupakan fitnah terbesar bagi
umat ini. Beliau ﷺ
bersabda:
«إِنَّمَا
أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ»
“Sesungguhnya
yang paling aku takuti menimpa umatku adalah para pemimpin (tokoh agama) yang
menyesatkan.” (HSR. Abu Dawud no. 4252)
Tokoh-tokoh
menyesatkan ini adalah mereka yang memberikan fatwa sesuai pesanan hawa nafsu
penguasa atau hawa nafsu masyarakat luas. Mereka menggunakan kepandaian bicara
untuk menipu orang awam. Sebaliknya, pemburu fatwa ini pun merasa tenang karena
sudah mendapatkan “stempel halal” dari orang yang dianggap ustadz atau kyai,
padahal hati kecil mereka tahu bahwa itu menyelesihi dalil yang jelas.
Mengikuti keringanan-keringanan para ulama tanpa dalil adalah tanda
hilangnya ketaqwaan. Disebutkan:
مَنْ
تَتَبَّعَ رُخَصَ الْعُلَمَاءِ اجْتَمَعَ فِيهِ الشَّرُّ كُلُّهُ
“Siapa yang
mencari-cari keringanan para ulama (yang menyelesihi dalil), maka terkumpul
dalam dirinya segala kejelekan.” (Al-Muslimun, Amin Asy-Syaqowi, hal. 202)
مَنْ تَتَبَّعَ رُخَصَ الْعُلَمَاءِ
فَقَدْ تَزَنْدَقَ
“Siapa yang
mencari-cari keringanan para ulama (yang menyelesihi dalil), maka ia zindiq.” (Al-Mukhtashor,
Fahd Al-Umari, hal. 8)
Secara
akal, jika agama ini hanya berisi hal-hal yang menyenangkan nafsu, maka tidak
ada bedanya antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman. Esensi
dari ujian hidup adalah sejauh mana manusia mampu menundukkan keinginannya di
bawah kemauan Robbnya. Realita menunjukkan bahwa orang yang hobi mencari fatwa
sesuai selera tidak akan pernah mencapai ketenangan jiwa, karena pondasi
agamanya dibangun di atas kerapuhan pendapat manusia, bukan di atas kokohnya
wahyu.
4.2
Membenci Para Salaf dan Pengikut Sunnah yang Tegas
Pengekor
hawa nafsu memiliki musuh alami, yaitu mereka yang memegang teguh Sunnah Nabi ﷺ dan pemahaman para Shohabat
(Salafush Sholih). Mereka merasa terganggu dengan keberadaan orang-orang yang
selalu mengingatkan pada dalil, karena hal itu menghalangi mereka dari
kebebasan menuruti nafsu. Akibatnya, mereka sering memberikan julukan-julukan
buruk kepada pengikut Sunnah, seperti “kaum tekstualis”, “keras”, “suka membid’ahkan”,
atau “tidak menghargai budaya”.
Alloh ﷻ
menggambarkan bagaimana orang-orang zholim di masa lalu mengejek orang-orang
yang beriman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ
آمَنُوا يَضْحَكُونَ 29 وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang
yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka,
mereka saling mengedipkan mata (mengejek).” (QS. Al-Muthoffifin: 29-30)
Kebencian
ini muncul karena pengikut Sunnah laksana cermin yang memperlihatkan keburukan
wajah para pengekor nafsu. Saat pengekor nafsu ingin berbuat bid’ah, pengikut
Sunnah membawakan Hadits tentang kesesatan bid’ah. Saat pengekor nafsu ingin
berbuat maksiat, pengikut Sunnah membawakan ayat tentang ancaman Naar. Karena
tidak mampu membantah dengan dalil, pengekor nafsu akhirnya menyerang pribadi
dan karakter para pembawa kebenaran tersebut.
Nabi ﷺ bersabda bahwa orang yang
memegang teguh agamanya di akhir zaman akan terasa asing dan dikucilkan. Beliau
ﷺ bersabda:
«بَدَأَ
الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
“Islam
muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana kemunculannya,
maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145)
Ketika
ditanya siapa itu Al-Ghuroba (orang yang asing), para ulama menjelaskan bahwa
mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang dirusak manusia dari Sunnah
Nabi ﷺ.
Pengekor hawa nafsu adalah perusak Sunnah tersebut dengan cara menambah atau
menguranginya sesuai kesukaan hati.
Abu Hatim
Ar-Rozi (277 H) memberikan kaidah penting untuk mengenali pengekor hawa nafsu:
عَلَامَةُ
أَهْلِ الْبِدَعِ الْوَقِيعَةُ فِي أَهْلِ الْأَثَرِ
“Tanda ahli
bid’ah (pengekor nafsu) adalah mereka suka mencela dan menjatuhkan kehormatan
para ahli atsar (pengikut Sunnah).” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis
Sunnah, Al-Lalaka’i (418 H), 1/197)
Dalam
realita kemasyarakatan, kita melihat bagaimana orang yang ingin kembali kepada
ajaran murni para Shohabat dituduh sebagai pembawa aliran baru yang memecah
belah. Padahal, yang memecah belah adalah mereka yang meninggalkan ajaran asli
lalu membuat kelompok-kelompok berdasarkan kepentingan dan perasaan. Mereka
membenci para Salaf (Shohabat, Tabi’in, dan Tabiut Tabi’in) karena pemahaman
para Salaf adalah pembatas yang menghalangi mereka untuk berimajinasi liar
dalam urusan agama.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah (728 H) menegaskan bahwa tidak ada kebaikan kecuali dengan
mengikuti jejak para Salaf. Beliau berkata:
لَا عَيْبَ
عَلَى مَنْ أَظْهَرَ مَذْهَبَ السَّلَفِ وَانْتَسَبَ إلَيْهِ وَاعْتَزَى إلَيْهِ بَلْ
يَجِبُ قَبُولُ ذَلِكَ مِنْهُ بِالِاتِّفَاقِ. فَإِنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ لَا يَكُونُ
إلَّا حَقًّا
“Tidak ada
cela bagi orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menyandarkan diri kepadanya,
bahkan wajib menerima hal itu darinya berdasarkan kesepakatan ulama, karena
madzhab Salaf hanyalah kebenaran.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 4/149)
Pengekor
hawa nafsu secara akal telah melakukan kesalahan besar. Mereka mengklaim lebih
paham agama daripada orang-orang yang menyaksikan langsung turunnya wahyu (para
Shohabat). Mereka merasa perasaan mereka di abad modern ini lebih suci daripada
bathiniah para pejuang Islam terdahulu. Ini adalah kesombongan nyata yang
dibungkus dengan alasan kemajuan zaman.
4.3
Mengagungkan Guru secara Berlebihan hingga Menabrak Aturan Sholat dan Zakat
Penyimpangan
paling jauh dari pengekor hawa nafsu dalam memperlakukan tokoh adalah sikap ghuluw
(berlebihan). Mereka mengangkat guru, syeikh, atau kyai mereka ke derajat
yang tidak semestinya, seolah-olah sang guru tidak mungkin salah (ma’shum).
Bahkan, saking fanatiknya, mereka rela meninggalkan perintah Alloh ﷻ demi
menuruti perintah gurunya atau demi melayani sang guru secara berlebihan.
Alloh ﷻ
telah mencela kaum terdahulu yang melakukan hal serupa:
﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ
أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ﴾
“Mereka
menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Robb-Robb selain
Alloh.” (QS. At-Taubah: 31)
Maksud dari
ayat ini, sebagaimana dijelaskan Nabi ﷺ kepada Adi bin Hatim (68 H), adalah ketika para pengikut
mengikuti saja saat tokoh mereka menghalalkan yang harom dan mengharomkan yang
halal. Dalam realita saat ini, ada orang yang menganggap gurunya memiliki
kedudukan bathin yang sangat tinggi sehingga sang guru tidak perlu lagi Sholat,
dan para pengikutnya pun membenarkannya. Ada pula yang memberikan seluruh harta
rizqinya kepada sang guru dengan alasan zakat atau sedekah khusus, padahal ia
membiarkan anak istrinya kelaparan dan tidak membayar Zakat sesuai aturan syari’at
kepada yang berhak.
Nabi ﷺ sangat melarang dirinya
dipuji secara berlebihan sebagaimana kaum Nashroni memuji Nabi Isa ‘alaihissalam.
Beliau ﷺ
bersabda:
«لَا
تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ،
فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»
“Janganlah
kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana kaum Nashroni memuji (Isa) putra
Maryam secara berlebihan. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah:
Hamba Alloh dan Rosul-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 3445)
Jika Nabi ﷺ saja melarang ghuluw
terhadap dirinya, maka bagaimana dengan manusia biasa yang tidak dijamin
kesuciannya? Pengekor hawa nafsu melakukan ini karena mereka ingin mencari
jalan pintas menuju Jannah melalui perantara manusia. Mereka merasa jika sudah
dekat dengan guru tertentu, maka amal ibadah mereka yang bolong-bolong tidak
lagi menjadi masalah. Nafsu mereka ingin masuk Jannah tanpa harus lelah
menjalankan ketaatan yang sesuai aturan.
Ibnul Jauzi
(597 H) menceritakan dalam kitab Talbis Iblis tentang kaum yang tertipu
oleh figur guru. Beliau berkata bahwa di antara mereka ada yang berpendapat
bahwa syeikhnya akan memberikan syafa’at baginya dan menyelamatkannya (di
Akhiroh), sehingga ia pun meninggalkan amal karena bersandar pada hal tersebut.
Fenomena
ini adalah bentuk kesyirikan dalam ketaatan. Mereka lebih takut kepada
kemarahan gurunya daripada kemarahan Alloh ﷻ. Mereka lebih patuh pada
instruksi organisasi atau kelompoknya daripada instruksi Al-Qur’an dan Hadits.
Secara akal, seorang guru seharusnya menjadi penunjuk jalan menuju Alloh ﷻ,
bukan justru menjadi penghalang yang menutup jalan tersebut dengan kepatuhan
buta.
Realita
pahit yang kita saksikan adalah adanya pengikut yang membela kemaksiatan
gurunya. Jika gurunya tertangkap melakukan perbuatan harom, mereka akan mencari
takwil (penjelasan) yang tidak masuk akal untuk membenarkannya, seperti
mengatakan itu adalah ujian bathin atau tindakan yang memiliki rahasia
ketuhanan. Ini adalah kehancuran akal dan iman sekaligus.
Taqwa
menuntut kita untuk mencintai ulama dan guru karena ilmu mereka yang membimbing
kita pada Sunnah, namun tetap meletakkan kebenaran di atas segalanya.
Sebagaimana kata Imam Malik (179 H):
كُلُّ
أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ، إِلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ
“Setiap
orang bisa diambil pendapatnya dan bisa ditinggalkan, kecuali penghuni kubur
ini (sambil menunjuk ke makam Nabi ﷺ).” (Al-Bidayah, Ibnu Katsir, 18/302)
Pengekor
hawa nafsu tidak akan mau menerima kaidah ini. Mereka ingin memiliki figur yang
bisa disembah secara tidak langsung untuk memuaskan kebutuhan jiwa mereka akan
perlindungan semu. Mereka mengorbankan Sholat, mengorbankan aturan Zakat, dan
mengorbankan akal sehat demi sebuah loyalitas yang zholim.
Bab 5: Sisi
Kemasyarakatan dan Pergaulan
Bab ini menjelaskan
bahwa cara beragama para pengekor hawa nafsu sangat merusak tatanan sosial umat
Islam. Mereka memecah belah persaudaraan, menghisap harta umat dengan kedok
agama, dan menyebarkan kezholiman terhadap siapa saja yang tidak sejalan dengan
keinginan mereka. Semua ini adalah bukti bahwa mereka belum benar-benar
menghamba kepada Alloh ﷻ,
melainkan masih menghamba kepada ego dan kepentingan diri mereka sendiri.
Ketaqwaan
yang sejati seharusnya melahirkan rasa cinta kepada setiap Muslim karena
keimanan mereka, melahirkan rasa zuhud terhadap harta manusia, dan melahirkan
sifat pemaaf serta adil meskipun terhadap orang yang membenci kita. Sebagaimana
firman Alloh ﷻ:
﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ
أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ﴾
“Dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada Taqwa.”
(QS. Al-Maidah: 8)
Pengekor
hawa nafsu telah membuang keadilan ini demi memuaskan dahaga kebencian mereka.
Maka, tidak ada jalan keselamatan bagi umat kecuali dengan kembali pada
tuntunan Nabi ﷺ
dalam bergaul, yaitu dengan meletakkan wahyu sebagai hakim tertinggi di atas
segala sentimen kelompok dan pribadi.
5.1
Fanatisme Kelompok yang Memecah Belah Persaudaraan Muslim
Pengekor
hawa nafsu dalam beragama sering kali terjebak dalam penyakit hizbiyyah
(fanatisme kelompok). Mereka merasa bahwa kebenaran hanya milik kelompoknya, organisasinya,
atau golongannya saja. Nafsu mereka ingin merasa eksklusif dan lebih mulia
daripada Muslim lainnya. Akibatnya, mereka membangun loyalitas dan permusuhan
bukan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah secara murni, melainkan berdasarkan
kesesuaian orang lain dengan kelompok mereka.
Alloh ﷻ
telah memberikan peringatan keras terhadap perilaku memecah belah agama menjadi
kelompok-kelompok yang saling membanggakan diri:
﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا
شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ﴾
“Yaitu
orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan
mereka.” (QS. Ar-Rum: 32)
Ayat ini
menunjukkan bahwa pangkal dari perpecahan adalah rasa bangga (farihun)
yang berlebihan terhadap identitas kelompok. Pengekor hawa nafsu akan merasa
nyaman ketika berada di lingkaran mereka sendiri, namun penuh dengan prasangka
buruk dan kebencian terhadap Muslim di luar lingkaran tersebut, meskipun Muslim
tersebut lebih bertaqwa dan lebih mengikuti Sunnah.
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa
persaudaraan Muslim tidak boleh dibatasi oleh batasan-batasan buatan manusia.
Beliau ﷺ
bersabda:
«الْمُسْلِمُ
أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى
هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ «بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ
أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ،
دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ»
“Seorang
Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak menzholiminya, tidak
membiarkannya (saat butuh bantuan), dan tidak meremehkannya. Taqwa itu ada di
sini —beliau menunjuk ke dadanya tiga kali—. Cukuplah seseorang dikatakan jahat
jika ia meremehkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya
adalah harom; darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)
Realita di
lapangan menunjukkan betapa hawa nafsu telah merusak silaturrohim dan ukhuwwah.
Ada kelompok yang mengharomkan anggota mereka untuk belajar kepada ustadz di
luar kelompoknya, atau melarang bertegur sapa dengan tetangga yang tidak
sefaham dalam urusan bid’ah. Ini adalah bentuk perbudakan nafsu yang dibungkus
dengan alasan “menjaga kemurnian jama’ah”. Padahal, kemurnian jama’ah hanya
bisa dicapai dengan mengikuti Sunnah, bukan dengan fanatisme buta.
Ibnul
Qoyyim (751 H) menjelaskan bahwa fanatisme kelompok adalah salah satu
penghalang besar masuknya cahaya hidayah ke dalam hati. Beliau berkata bahwa apabila
hati telah dipenuhi oleh hawa nafsu dan fanatisme (ashobiyyah), maka
tidak tersisa lagi tempat di dalamnya untuk kebenaran.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah (728 H) juga memberikan peringatan tentang orang-orang yang
membuat loyalitas baru di luar Islam. Beliau berkata:
وَلَيْسَ
لِأَحَدِ أَنْ يُنَصِّبَ لِلْأُمَّةِ شَخْصًا يَدْعُو إلَى طَرِيقَتِهِ وَيُوَالِي
وَيُعَادِي عَلَيْهَا غَيْرَ النَّبِيِّ ﷺ
“Tidak
boleh bagi siapa pun untuk mengangkat seseorang bagi umat ini, lalu ia mengajak
kepada jalannya dan membangun loyalitas serta permusuhan di atasnya, selain
Nabi ﷺ.”
(Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 20/164)
Secara
akal, memecah kekuatan umat menjadi kepingan-kepingan kecil hanya akan
melemahkan posisi Islam di hadapan musuh-musuhnya. Namun, pengekor nafsu tidak
peduli dengan maslahat besar umat, yang penting bagi mereka adalah kepuasan ego
kelompok dan merasa paling benar sendiri.
5.2
Menggunakan Agama untuk Mencari Rizqi dan Harta Dunia
Termasuk penyimpangan
dari pengekor hawa nafsu adalah ketika mereka menjadikan agama sebagai alat
untuk mengeruk harta duniawi. Mereka menggunakan kedudukan mereka sebagai tokoh
agama, pengajar, atau pemimpin jama’ah untuk menarik simpati umat agar
menyetorkan rizqi kepada mereka. Agama bagi mereka adalah komoditas bisnis yang
sangat menguntungkan karena orang awam mudah ditipu dengan ayat dan Hadits.
Alloh ﷻ
mengecam keras perbuatan ini melalui firman-Nya:
﴿مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا
نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ 15 أُولَٰئِكَ
الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا
كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Siapa yang
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia
itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di Akhiroh
kecuali Naar dan lenyaplah di Akhiroh itu apa yang telah mereka usahakan di
dunia dan bathillah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)
Mereka
mewajibkan jamaahnya untuk menyetor pajak wajib 10% kepada para tokohnya,
misalnya. Dia tidak mau ceramah kecuali di bayar per jam 15 juta, misalnya.
Nabi ﷺ telah memberikan gambaran
tentang betapa buruknya orang yang mencari dunia dengan amalan Akhiroh. Beliau ﷺ bersabda:
«مَنْ
تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ
إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ»
“Siapa yang
mempelajari suatu ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Alloh ‘Azza
wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan bagian
dari dunia, maka ia tidak akan mencium bau Jannah pada hari Qiyamah.” (HSR.
Abu Dawud no. 3664)
Realitanya,
kita sering melihat “da’wah industri” di mana panggung-panggung da’wah lebih
mirip dengan panggung hiburan. Para pelakunya sangat memperhatikan tarif,
fasilitas hotel mewah, dan popularitas, namun sangat sedikit memperhatikan
kebenaran isi ceramah. Jika isi ceramah yang benar dianggap akan menurunkan
jumlah pengikut atau mengurangi pemasukan, maka mereka akan dengan senang hati
menggantinya dengan guyonan atau materi yang menyenangkan nafsu pendengar.
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) memberikan sindiran yang sangat tajam bagi orang-orang
semacam ini:
لَأَنْ
آكُلَ الدُّنْيَا بِالطَّبْلِ وَالْمِزْمَارِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ آكُلَهَا بِدِينِي
“Sungguh,
aku memakan dunia dengan (cara menjadi pemain) gendang dan seruling lebih aku
sukai daripada aku memakannya dengan (cara menjual) agama.” (Syu’abul Iman,
Al-Baihaqi (458 H), 5/358)
Perkataan
beliau menunjukkan bahwa menggunakan agama sebagai kedok untuk mencari rizqi
adalah dosa. Secara akal, orang yang percaya kepada Alloh ﷻ
sebagai Robb Yang Maha Memberi Rizqi tidak akan pernah menghinakan agamanya
demi uang. Hanya orang-orang yang hatinya kosong dari Taqwa dan penuh dengan
keserakahan nafsu yang berani melakukannya.
Contoh
lainnya adalah orang-orang yang berpura-pura menjadi wali atau orang sholih
agar orang-orang datang membawa hadiah. Mereka mengeksploitasi rasa hormat umat
terhadap kesholihan. Ini adalah bentuk pencurian yang paling halus namun
dampaknya sangat merusak kepercayaan umat terhadap da’wah yang benar.
5.3
Sikap Zholim terhadap Orang yang Berbeda Pendapat
Pengekor
hawa nafsu tidak memiliki kelapangan dada dalam menghadapi perbedaan pendapat,
terutama jika perbedaan itu menyentuh kepentingan atau ego mereka. Mereka
cenderung bersikap zholim kepada siapa saja yang berani mengoreksi kesalahan
mereka. Bentuk kezholiman ini bisa berupa fitnah, ghibah (menggunjing), hingga
boikot sosial yang tidak berdasar syari’at.
Alloh ﷻ
melarang keras sifat membela diri secara bathil dan bersikap melampaui batas
terhadap orang lain:
﴿وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾
“Dan
janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqoroh: 190)
Kebanyakan
pengekor nafsu menganggap bahwa siapa pun yang tidak setuju dengan mereka
adalah musuh yang harus dihancurkan reputasinya. Mereka akan mencari-cari aib
orang tersebut, meskipun aib itu tidak ada hubungannya dengan masalah yang
diperdebatkan. Mereka menggunakan lisan mereka sebagai pedang untuk melukai
kehormatan sesama Muslim.
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa tanda utama
dari kesombongan (yang merupakan akar hawa nafsu) adalah menolak kebenaran dan
meremehkan manusia. Beliau ﷺ
bersabda:
«الْكِبْرُ
بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Kesombongan
adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Pengekor
hawa nafsu akan menolak kebenaran yang datang dari orang yang ia benci,
meskipun orang tersebut membawakan ayat Al-Qur’an yang sangat jelas. Bagi
mereka, yang penting bukan “apa yang dikatakan”, tapi “siapa yang mengatakan”.
Jika yang mengatakan bukan dari kelompoknya atau orang yang pernah ia zholimi,
maka kebenaran itu akan dibuang ke tempat sampah.
Dalam
realita sosial, kezholiman ini sering terjadi dalam masalah ijtihadiah yang
masih dibolehkan adanya perbedaan. Namun, karena nafsu ingin menang sendiri,
mereka akan menuduh orang yang berbeda pendapat sebagai “keluar dari Manhaj”
atau “sudah menyimpang”. Mereka memutus tali silaturrohim hanya karena masalah
kecil yang seharusnya bisa dibicarakan dengan cara yang ma’ruf (baik).
Malik bin
Anas (179 H) pernah didatangi seseorang yang ingin berdebat, lalu beliau
berkata:
أَمَّا
أَنَا فَعَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي، وَأَمَّا أَنْتَ فَشَاكٌّ فَاذْهَبْ إِلَى شَاكٍّ
مِثْلِكَ، فَخَاصِمْهُ
“Adapun
aku, aku berada di atas penjelasan yang nyata dari Robbku. Adapun engkau,
engkau adalah orang yang ragu. Maka pergilah kepada orang yang ragu sepertimu
dan ajaklah dia berdebat.” (Al-Ibadah Al-Kubro, Ibnu Bath-thoh (387 H), 1/404)
Imam Malik
menghindari perdebatan bukan karena takut, tapi karena beliau tahu bahwa orang
yang datang dengan hawa nafsu tidak akan pernah menerima kebenaran. Pengekor
nafsu hanya ingin menjatuhkan lawan bicaranya, bukan mencari Ridho Alloh ﷻ.
Kezholiman
ini juga merambah pada sikap kasar terhadap tetangga atau keluarga yang belum
mendapatkan hidayah untuk mengikuti Sunnah secara sempurna. Pengekor hawa nafsu
yang baru belajar agama sering kali merasa paling suci dan mulai memandang
rendah orang lain dengan tatapan kebencian. Padahal, Nabi ﷺ diutus sebagai Rohmat bagi
semesta alam. Akhlak yang buruk adalah bukti bahwa agama yang ia jalankan baru
sebatas di tenggorokan, belum meresap ke dalam hati.
Secara
akal, jika kita menginginkan orang lain mengikuti kebenaran yang kita bawa,
seharusnya kita mendekati mereka dengan kelembutan dan argumen yang kuat, bukan
dengan kezholiman dan caci maki. Namun, nafsu sering kali membutakan akal
sehat. Nafsu ingin melihat orang lain kalah dan terhina, sedangkan Taqwa ingin
melihat orang lain selamat dan mendapatkan hidayah.
Pengekor
hawa nafsu juga sering melakukan ghibah dengan dalih “memperingatkan umat”,
padahal motif aslinya adalah kebencian pribadi. Mereka senang sekali
membicarakan kegagalan atau kejatuhan orang yang dianggap sebagai saingan dalam
dunia da’wah atau bisnis. Inilah penyakit hati yang sangat kronis.
Bab 6: Akibat
Nyata bagi Para Pengekor Hawa Nafsu
Bab ini
menjadi lonceng peringatan yang sangat keras. Mengikuti hawa nafsu bukan
sekadar masalah perbedaan pendapat atau selera pribadi, melainkan masalah keselamatan
abadi. Hati yang gelap, taubat yang terhalang, dan istidroj yang menipu
adalah rangkaian bencana yang berujung pada Naar. Hanya dengan kembali pada
ketaatan yang tulus kepada Alloh ﷻ dan mengikuti Sunnah Nabi ﷺ secara murni, seseorang bisa
selamat dari jeratan hawa nafsunya sendiri.
Kesuksesan
sejati bukan terletak pada seberapa banyak orang yang memuji kita di dunia,
atau seberapa banyak harta yang kita kumpulkan dengan memanipulasi agama.
Kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu menundukkan nafsunya di bawah
wahyu, sehingga hatinya dipenuhi cahaya taqwa, lisannya basah dengan dzikir
yang syar’i, dan langkah kakinya tetap tegar di atas jalan para Salaf hingga
bertemu dengan Robbnya dalam keadaan ridho dan diridhoi.
Taqwa
adalah perisai dari Naar, sedangkan hawa nafsu adalah kuncinya. Siapa pun yang
memilih untuk memegang kunci tersebut, maka ia harus siap menghadapi
konsekuensi api yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.
6.1
Kegelapan dalam Hati dan Hilangnya Cahaya Taqwa
Setiap kali
seseorang mendahulukan hawa nafsunya di atas perintah Alloh ﷻ,
maka ia sebenarnya sedang memasukkan setetes racun ke dalam hatinya. Hati
adalah raja bagi seluruh anggota tubuh, dan jika raja tersebut telah tunduk
pada syahwat dan keinginan rendah, maka seluruh anggota tubuh akan bergerak
dalam kegelapan. Akibat paling pertama yang dirasakan oleh pengekor hawa nafsu
adalah hilangnya kepekaan hati terhadap kebenaran. Cahaya Taqwa yang seharusnya
menerangi jalan hidupnya perlahan-lahan padam, digantikan oleh kegelapan yang
berlapis-lapis.
Alloh ﷻ
menggambarkan kondisi hati yang telah tertutup oleh noda-noda kemaksiatan dan
pengikut nafsu dalam firman-Nya:
﴿كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup
hati mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 14)
Roon adalah karat atau penutup yang
menyelimuti hati sehingga nasihat dari Al-Qur’an tidak lagi bisa menembusnya.
Bagi pengekor hawa nafsu, ayat-ayat ancaman hanya dianggap sebagai dongeng, dan
perintah-perintah syari’at dianggap sebagai beban yang menyempitkan dada. Hati
yang sehat akan merasa tenang saat berdzikir, namun hati yang dikuasai nafsu
akan merasa sesak saat mendengar kebenaran yang bertentangan dengan seleranya.
Nabi ﷺ menjelaskan proses terjadinya
kegelapan hati ini dalam sebuah Hadits:
«إِنَّ
العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا
هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى
تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ»
“Sesungguhnya
seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka akan dititikkan pada
hatinya sebuah titik hitam. Jika ia meninggalkannya, memohon ampun, dan
bertaubat, maka hatinya akan kembali bersih. Namun jika ia mengulanginya, maka
titik hitam itu akan bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah Raan yang
disebutkan oleh Alloh.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3334)
Pengekor
hawa nafsu terus menerus menumpuk titik hitam tersebut setiap kali mereka
memelintir ayat demi kepentingan, setiap kali mereka melakukan bid’ah demi
kepuasan emosi, dan setiap kali mereka menolak Sunnah demi tradisi. Realitanya,
orang-orang seperti ini sering kali mengalami kegelisahan bathin yang sangat
dalam meskipun secara lahiriah mereka terlihat religius. Mereka kehilangan
keikhlasan, dan tanpa keikhlasan, ibadah hanyalah gerakan mekanis yang tidak
membuahkan kedamaian.
Ibnu Abbas
(68 H) memberikan gambaran tentang dampak maksiat dan mengikuti nafsu terhadap
fisik dan jiwa seseorang. Beliau berkata:
إِنَّ
لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءً فِي الْوَجْهِ، وَنُورًا فِي الْقَلْبِ، وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ،
وَقُوَّةً فِي الْبَدَنِ، وَمَحَبَّةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ، وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ
سَوَادًا فِي الْوَجْهِ، وَظُلْمَةً فِي الْقَبْرِ وَالْقَلْبِ، وَوَهْنًا فِي الْبَدَنِ،
وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ، وَبُغْضًا فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ
“Sesungguhnya
amal kebaikan itu membuahkan cahaya pada wajah, sinar di dalam hati, kelapangan
pada rizqi, kekuatan pada badan, dan rasa cinta di hati manusia. Dan
sesungguhnya amal keburukan (termasuk mengikuti nafsu) membuahkan kegelapan
pada wajah, kegelapan di dalam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan
pada rizqi, dan kebencian di hati manusia.” (Al-Jawab Al-Kafi, Ibnul Qoyyim
(751 H), hal. 49)
Secara
realita, kita melihat banyak tokoh atau pengikut aliran sesat yang hidupnya
penuh dengan intrik, kecemasan, dan ketakutan akan kehilangan pengikut. Hal ini
karena hati mereka tidak bersandar pada Alloh ﷻ, melainkan pada pengakuan
manusia. Ketika cahaya Taqwa hilang, mereka tidak lagi memiliki furqon
(pembeda), sehingga mereka sangat mudah tertipu oleh ajakan syaithon yang
dianggap sebagai ilham suci. Inilah awal mula kejatuhan yang sesungguhnya.
6.2
Terhalangnya Taubat karena Merasa Berada di Atas Petunjuk
Bahaya
paling besar yang menimpa para pengekor hawa nafsu, terutama dalam urusan bid’ah
dan pemikiran sesat, adalah mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah
sebuah kebaikan. Berbeda dengan seorang pencuri atau pezina yang tahu bahwa
dirinya berdosa sehingga ia memiliki peluang besar untuk bertaubat, pengekor
nafsu dalam agama justru merasa sedang berda’wah atau membela Robbnya. Perasaan
“merasa benar” inilah yang menutup pintu Taubat bagi mereka.
Alloh ﷻ
berfirman tentang orang-orang yang paling merugi amalnya karena mengikuti hawa
nafsu dan prasangka:
﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا
103 الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ
يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾
“Katakanlah:
‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan
dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS.
Al-Kahfi: 103-104)
Bagaimana mungkin
seseorang akan memohon ampun atas perbuatan yang ia anggap sebagai sebuah
ketaatan? Pengekor hawa nafsu yang menciptakan dzikir-dzikir baru atau ritual
yang menabrak aturan Sunnah akan merasa bahwa dirinya lebih suci daripada orang
lain. Mereka menolak teguran dengan berkata: “Saya kan sedang beribadah, kenapa
dilarang?” Inilah tipu daya syaithon yang paling halus.
Terdapat
peringatan dari Nabi ﷺ
bahwa pelaku bid’ah (yang dasarnya adalah hawa nafsu dalam agama) terhalang
dari Taubat sampai ia meninggalkan bid’ahnya. Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ [حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ]»
“Sesungguhnya
Alloh menghalangi Taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.”
(HR. Ath-Thobroni dalam Al-Ausath no. 4202. Dishohihkan As-Safarini,
Al-Haitami, Al-Albani)
Maksud dari
“menghalangi Taubat” adalah pelakunya tidak merasa perlu bertaubat karena ia
merasa sedang berada di jalan yang benar. Ia bangga dengan amalannya, ia merasa
mendapatkan Ridho Alloh ﷻ melalui rasa nyaman yang menipu, padahal ia sedang membangun
istana di atas pasir yang akan runtuh diterjang wahyu pada hari Qiyamah.
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) memberikan perkataan yang sangat masyhur dalam masalah ini:
الْبِدْعَةُ
أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ
لَا يُتَابُ مِنْهَا
“Bid’ah itu
lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan biasa. Sebab, kemaksiatan biasa
(seperti mabuk atau mencuri) pelakunya mudah bertaubat, sedangkan bid’ah
pelakunya sulit bertaubat (karena merasa benar).” (Musnad Al-Ja’d, no. 1809)
Dalam
realita kehidupan, kita mendapati pengekor hawa nafsu akan tetap bertahan dalam
kesesatannya hingga ajal menjemput. Mereka tidak mau mendengarkan penjelasan
ulama yang lurus karena telinga mereka telah tersumbat oleh kesombongan
kelompok dan kelezatan perasaan. Inilah kesengsaraan yang paling nyata, yaitu
mati dalam keadaan membawa tumpukan amal yang tidak diterima oleh Alloh ﷻ
karena tidak sesuai dengan tuntunan Rosululloh ﷺ.
6.3
Istidroj yang Menipu di Dunia dan Siksa Naar di Akhiroh
Banyak
pengekor hawa nafsu yang merasa bahwa jalan hidup mereka diridhoi oleh Alloh ﷻ
hanya karena mereka melihat kesuksesan duniawi yang mereka raih. Mereka
mendapatkan banyak pengikut, harta mereka melimpah, dan kedudukan mereka
dihormati manusia. Mereka mengira bahwa semua itu adalah ni’mat, padahal bisa
jadi itu adalah istidroj (penangguhan siksa dengan cara diberikan
kesenangan). Alloh ﷻ
memberikan semua itu agar mereka semakin tenggelam dalam kesesatan sebelum
akhirnya diadzab dengan tiba-tiba.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم
بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ﴾
“Maka
tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami
pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan bagi mereka; sehingga apabila
mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa
mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS.
Al-An’am: 44)
Pengekor
hawa nafsu sering kali tertipu oleh jumlah. Mereka berkata: “Lihatlah, pengikut
kami jutaan, tidak mungkin kami salah.” Padahal kebenaran tidak diukur dengan
jumlah kepala, tetapi diukur dengan kesesuaian terhadap dalil. Secara akal,
jika mayoritas menjadi ukuran, maka di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam yang
benar adalah kaumnya yang tenggelam, bukan Nuh yang hanya diikuti sedikit
orang.
Nabi ﷺ menjelaskan hakikat istidroj
ini agar kita tidak tertipu oleh casing luar para pengekor nafsu:
«إِذَا
رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ،
فَإِنَّما هُوَ اسْتِدْرَاجٌ»
“Apabila
engkau melihat Alloh memberikan kepada seorang hamba bagian dari dunia yang ia
sukai padahal ia terus berada dalam kemaksiatan (dan mengikuti nafsu), maka
ketahuilah bahwa hal itu hanyalah Istidroj.” (HHR. Ahmad no. 17311)
Kesuksesan
duniawi bagi pengekor hawa nafsu adalah racun yang dibalut madu. Mereka semakin
berani merusak syari’at karena merasa didukung oleh fasilitas dunia. Namun,
saat maut datang, semua kemegahan itu hilang dan yang tersisa hanyalah
pertanggungjawaban di hadapan Alloh ﷻ. Di Akhiroh, mereka akan
menghadapi kenyataan pahit bahwa hawa nafsu yang mereka puja di dunia tidak
bisa memberikan pertolongan sedikit pun.
Alloh ﷻ
berfirman tentang kondisi pengekor hawa nafsu dari kalangan kafirin musyrikin di
hari Pembalasan:
﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ
مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ 124 قَالَ رَبِّ لِمَ
حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا125 قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا
فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ﴾
“Dan siapa
berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang
sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Qiyamah dalam keadaan buta.
Berkatalah ia: ‘Wahai Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan
buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Alloh berfirman: ‘Demikianlah,
telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu pula
pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thoha: 124-126)
Keadaan
buta di Akhiroh adalah balasan bagi mereka yang di dunia buta hatinya dari
mengikuti wahyu dan lebih memilih cahaya palsu dari hawa nafsu. Pengekor nafsu
akan dilemparkan ke dalam Naar bersama dengan pemimpin-pemimpin kesesatan
mereka. Di sana mereka akan saling menyalahkan, namun penyesalan sudah tidak ada
gunanya lagi.
Pengekor
nafsu yang menggunakan agama untuk rizqi akan mendapati perut mereka dipenuhi
api. Pengekor nafsu yang menyimpangkan ayat akan mendapati lisan mereka
digunting dengan gunting api. Pengekor nafsu yang membenci Sunnah akan
dihalangi dari telaga Nabi ﷺ.
Inilah realita yang sangat menakutkan bagi siapa pun yang memiliki akal sehat.
Dikatakan
bahwa siksaan bagi pengekor hawa nafsu ada 3 tingkatan: siksaan di dunia berupa
kegelisahan, siksaan di alam barzakh berupa himpitan kubur, serta siksaan di
Akhiroh berupa api Neraka.
Kita mungkin
menjumpai akhir yang tidak baik (husnul khotimah) bagi orang yang hingga
akhir hayatnya terus memerangi Sunnah dan membela hawa nafsu. Banyak dari
mereka mati dalam keadaan membawa beban permusuhan terhadap para wali Alloh ﷻ dan
para pembawa kebenaran.
Penutup
Hendaknya
setiap jiwa yang merindukan keselamatan di Akhiroh menyadari bahwa peperangan
melawan hawa nafsu adalah Jihad yang tidak pernah usai hingga nyawa berpisah
dari raga. Kita telah melihat bagaimana hawa nafsu mampu mengubah hal yang
harom menjadi seolah-olah ni’mat, menjadikan bid’ah terasa seperti Sunnah yang
indah, dan membuat pengikutnya merasa paling suci padahal sedang melangkah
menuju jurang kebinasaan. Beragama bukan tentang apa yang kita rasakan di dalam
dada berupa rasa nyaman yang menipu, melainkan tentang ketundukan mutlak kepada
Robb semesta alam.
Alloh ﷻ
telah memberikan kesimpulan yang sangat tegas bagi siapa saja yang lebih
memilih petunjuk diri sendiri daripada petunjuk wahyu:
﴿فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ
أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ
بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾
“Maka jika
mereka tidak menyambut (ajakanmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanya mengikuti
hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti
hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikit pun?
Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zholim.” (QS.
Al-Qoshosh: 50)
Ayat ini
menjadi pemisah yang sangat jelas; hanya ada dua jalan, yaitu jalan menyambut
ajakan Nabi ﷺ
atau jalan mengikuti hawa nafsu. Tidak ada jalan ketiga. Seseorang yang merasa
bisa menciptakan cara beragama sendiri dengan alasan modernitas (kemodernan)
atau perasaan bathiniah sebenarnya sedang memproklamirkan bahwa petunjuk Alloh ﷻ
tidak lagi cukup baginya. Inilah kesombongan yang sangat nyata.
Nabi ﷺ juga telah memperingatkan
bahwa ketaatan sejati adalah menundukkan seluruh keinginan hati di bawah apa
yang beliau bawa. Beliau ﷺ
bersabda:
«لَا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ»
“Tidak
beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang
aku bawa.” (Arbain Nawawi no. 41)
Seseorang
yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pengatur dalam ibadah tidak akan pernah
menemukan kemanisan iman. Sebaliknya, ia akan terus ditarik oleh syaithon dari
satu bid’ah ke bid’ah yang lain, dari satu pemikiran sesat ke pemikiran sesat
lainnya.
Realita
yang pahit saat ini adalah banyaknya manusia yang lebih takut kehilangan
pengikut di dunia daripada kehilangan Ridho Alloh ﷻ. Mereka lebih takut dicap
kolot (ketinggalan zaman) daripada dicap sebagai pelaku maksiat oleh para
Malaikat. Padahal, dunia ini hanyalah perlintasan sekejap mata.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai batasan bagi setiap Mu’min dan Mu’minah dalam menghadapi
keputusan Alloh ﷻ
dan Rosul-Nya:
﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا
قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ
ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا﴾
“Dan
tidaklah patut bagi Mu’min dan tidak (pula) bagi Mu’minah, apabila Alloh dan
Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang
lain) tentang urusan mereka. Dan siapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Pengekor hawa
nafsu selalu mencari-cari “pilihan lain” yang lebih cocok dengan syahwatnya.
Mereka tidak ridho dengan apa yang telah ditetapkan. Padahal, Nabi ﷺ telah meninggalkan kita di
atas jalan yang sangat terang, yang malamnya seperti siangnya. Beliau ﷺ bersabda:
«قَدْ
تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي
إِلَّا هَالِكٌ»
“Aku telah
meninggalkan kalian di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti
siangnya. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa.”
(HSR. Ibnu Majah no. 43)
Kebinasaan
yang dimaksud adalah terjatuhnya seseorang ke dalam lembah hawa nafsu yang
tidak berujung. Pengekor hawa nafsu akan terus merasa haus. Semakin ia menuruti
keinginannya, semakin ia merasa kurang. Ia mencari ketenangan dalam bid’ah,
namun ia hanya mendapatkan kelelahan. Ia mencari kemuliaan dalam fanatisme
kelompok, namun ia hanya mendapatkan perpecahan dan kebencian.
Maka, untuk
menutup buku ini, marilah kita merenungi ucapan Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H)
yang sangat kuat bagi siapa pun yang ingin kembali kepada kebenaran:
اتَّبِعْ
طُرُقَ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ
وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ
“Ikutilah
jalan-jalan petunjuk dan janganlah membahayakanmu sedikitnya orang yang
menempuhnya. Dan berhati-hatilah engkau dari jalan-jalan kesesatan dan
janganlah engkau tertipu oleh banyaknya orang yang binasa.” (Al-I’tishom,
Asy-Syathibi (790 H), 1/112)
Realita
menunjukkan bahwa kebenaran sering kali dianggap asing, namun itulah
satu-satunya jalan menuju Jannah. Seorang Muslim yang cerdas secara akal akan
memilih untuk menahan hawa nafsunya yang sesaat demi mendapatkan rizqi dan
rohmat yang kekal.
Kita memohon
kepada Alloh ﷻ,
Robb semesta alam, agar senantiasa memberikan keteguhan hati di atas Sunnah.
Kita berlindung kepada-Nya dari zholimnya diri sendiri dan buruknya syaithon
yang selalu membisikkan keindahan pada kemaksiatan. Sesungguhnya hanya Alloh ﷻ yang mampu memberikan Taufiq dan
hidayah.
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ﴾
“Wahai Robb
kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau
beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi-Mu;
karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)
Selesailah
penulisan buku ini dengan Taufiq dari Alloh ﷻ. Semoga menjadi hujjah bagi
kebenaran dan menjadi pengingat bagi setiap jiwa yang ingin kembali pada
fithroh yang suci.
Segala puji
bagi Alloh ﷻ
di awal dan di akhir, dan sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad ﷺ,
keluarganya, serta para Shohabatnya yang mulia. Allohu a’lam.[NK]
Daftar Pustaka
Al-Faqih
wal Mutafaqqih,
Al-Khothib Al-Baghdadi (463 H)
Al-I’tishom, Abu Ishaq Asy-Syathibi (790 H)
Al-Jawab
Al-Kafi, Ibnul
Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)
Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620 H)
Ighotsatul
Lahfan min Mashoyidis Syaithon, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)
Jami’
Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr (463 H)
Jami’ul ‘Ulum
wal Hikam, Ibnu
Rojab Al-Hanbali (795 H)
Madarijus
Salikin, Ibnul
Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)
Majmu’
Al-Fatawa, Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah (728 H)
Musnad
Ahmad, Abu Abdillah
Ahmad bin Hanbal (241 H)
Roudhotul
Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)
Shohih
Al-Bukhori, Abu
Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhori (256 H)
Shohih
Muslim, Muslim bin
Al-Hajjaj Al-Qusyairi (261 H)
Siyar A’lamun
Nubala, Syamsuddin
Adz-Dzahabi (748 H)
Sunan
Abu Dawud, Abu
Dawud As-Sijistani (275 H)
Sunan
At-Tirmidzi, Abu ‘Isa
Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi (279 H)
Sunan
Ibnu Majah, Ibnu
Majah Al-Qozwini (273 H)
Syarh
Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Hibatulloh bin Al-Hasan Al-Lalaka’i (418 H)
Syarhussunnah, Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghowi
(516 H)
Talbis Iblis, Ibnul Jauzi Al-Baghdadi (597 H)
Tarikh
Baghdad, Al-Khothib
Al-Baghdadi (463 H)
Zadul Ma’ad
fi Hadyi Khoiril ‘Ibad, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H)
