[PDF Premium] Poligami Anugerah yang Terzholimi - Nor Kandir
BAB 1: MEMBEDAH AKAR
KETAKUTAN DAN PENOLAKAN
1.1 Fitnah Media dan Narasi Orientalis dalam
Membingkai Poligami
1.2 Akibat Oknum Lelaki yang Tidak
Bertanggung Jawab
1.3 Saat Syari’at Dipandang sebagai Ancaman
bagi Wanita
1.4 Mengembalikan Kehormatan Syari’at dari
Celaan Lisan yang Tidak Berilmu
BAB 2: POLIGAMI DALAM
TIMBANGAN AL-QURAN DAN AS-SUNNAH
2.1 Memahami Perintah Berbagi dalam
Ayat-Ayat Alloh
2.2 Rumah
Tangga Rosululloh ﷺ Cermin Keadilan dan Kasih Sayang
2.3
Keberkahan di Balik Ketaatan pada Aturan Robb
2.4 Hikmah
Tersembunyi di Balik Pensyari’atan yang Mulia
BAB 3: ANTARA AMANAH
DAN KEZHOLIMAN
3.1 Syarat Kemampuan dan Tanggung Jawab
Nafkah yang Tak Boleh Terabaikan
3.2 Adil dalam Pembagian Waktu
3.3 Menjaga Perasaan Istri
3.4 Larangan Mencondongkan Diri Secara
Berlebihan pada Salah Satu Pihak
3.5 Konsekuensi di Akhiroh bagi Lelaki yang
Zholim dalam Berpoligami
BAB 4: WANITA
MUSLIMAH DAN PENERIMAAN TERHADAP TAKDIR SYARI’AT
4.1 Melawan Hawa Nafsu demi Mencapai Ridho
Alloh
4.2 Belajar Sabar dan Ridho dari Para
Shohabiyah
4.3 Saling Tolong-Menolong dalam Kebaikan
antar Madu
4.4 Menjaga Keutuhan Keluarga Besar di Bawah
Naungan Iman
BAB 5: DAMPAK SOSIAL
DAN SOLUSI TERHADAP KRISIS ZAMAN
5.1 Menjaga Kesucian Diri dan Masyarakat
melalui Poligami yang Benar
5.2 Mengatasi Masalah Populasi Wanita dan
Perlindungan terhadap Anak Yatim
5.3 Membangun Generasi Muslim yang Kuat dari
Keluarga yang Berkah
5.4 Poligami sebagai Anugrah, Bukan Musibah
PENUTUP
MUQODDIMAH
بسم الله الرحمن
الرحيم
Segala puji bagi Alloh,
Robb semesta alam, yang telah mensyariatkan pernikahan sebagai jalan kesucian
dan mengatur hubungan antar manusia dengan penuh hikmah. Kita memuji-Nya atas segala ni’mat, termasuk ni’mat syari’at yang
seringkali akal manusia yang sempit belum mampu menjangkaunya secara utuh.
Sholawat serta salam semoga senantiasa
tercurah kepada Nabi ﷺ, sang teladan terbaik dalam membina rumah tangga, juga kepada
para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum yang telah memperjuangkan agama ini
hingga sampai ke pangkuan kita.
Amma ba’du:
Pernahkah kita sejenak merenung, wahai
pembaca yang budiman, mengapa sebuah aturan yang datang dari langit, yang
bersumber dari Dzat Yang Maha Mengetahui, kini seolah-olah menjadi sesuatu yang
menakutkan? Mengapa poligami, yang merupakan bagian dari syari’at Alloh yang
mulia, kini kerap dipandang dengan tatapan sinis, penuh kecurigaan, bahkan
dianggap sebagai beban yang menyengsarakan? Sungguh, jika kita mau jujur
membuka mata hati, kita akan mendapati bahwa poligami adalah sebuah anugrah
yang kini sedang terzholimi. Ia terzholimi oleh tangan-tangan oknum lelaki yang
menjadikannya sekadar pelampiasan nafsu tanpa memikul beban amanah. Ia pun
terzholimi oleh lisan-lisan yang terpengaruh oleh narasi kaum orientalis yang
begitu masif menggambarkan syari’at ini sebagai bentuk penindasan terhadap
wanita.
Alloh berfirman dalam kitab-Nya yang mulia
tentang kesempurnaan syari’at-Nya:
﴿أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ
حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ﴾
“Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka
kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Alloh bagi
orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)
Ayat ini mengajak kita untuk bertanya pada
diri sendiri: Di manakah letak keyakinan kita? Jika kita mengakui bahwa Alloh
adalah Robb yang Maha Bijaksana, mungkinkah Dia mensyariatkan sesuatu yang bertujuan untuk
merusak tatanan hidup hamba-Nya? Tentu tidak. Ketakutan yang menghinggapi hati
para lelaki untuk melangkah, serta penolakan keras yang muncul dari hati para
wanita, seringkali bukan disebabkan oleh cacatnya syari’at itu sendiri,
melainkan karena gambaran buruk yang dipentaskan oleh mereka yang gagal
menjalankan amanah ini dengan benar.
Kita melihat di satu sisi, ada sosok suami
yang ketika berpoligami, ia melupakan istri pertamanya, menzholimi hak-hak
nafkahnya, dan meninggalkan anak-anaknya tanpa bimbingan. Perilaku oknum
seperti inilah yang menjadi senjata bagi musuh-musuh Islam untuk menyerang
poligami. Mereka berkata, “Lihatlah, poligami hanya menghancurkan keluarga!”
Padahal, yang menghancurkan bukanlah poligaminya, melainkan kezholiman
pelakunya. Rosululloh ﷺ telah mengingatkan dengan tegas tentang tanggung jawab seorang
pemimpin:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ
مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap
kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR.
Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)
Di sisi lain, kaum wanita pun seringkali
berada dalam posisi yang sulit. Mereka dicekoki oleh pemikiran-pemikiran barat
melalui media-media modern yang menanamkan bahwa kebahagiaan hanya ada dalam
pernikahan tunggal, dan poligami adalah pengkhianatan terhadap cinta. Padahal,
jika kita menengok sejarah para Salafush Sholih, kita akan menemukan betapa
indahnya kebersamaan dalam ketaatan. Simaklah perkataan Imam Malik bin Anas
(179 H) tentang pentingnya mengikuti jejak para pendahulu yang sholih:
لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ
هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا
“Tidak akan menjadi baik generasi akhir
umat ini, kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya.”
Generasi awal umat ini, yaitu para Shohabat
Nabi, menjalankan poligami sebagai bentuk ketaatan, perlindungan sosial, dan
sarana memperbanyak umat Muhammad ﷺ. Mereka tidak
memandangnya sebagai beban, melainkan sebagai ladang amal. Namun kini, narasi
itu telah bergeser. Poligami dianggap sebagai aib, sementara perzinaan yang
dibungkus dengan istilah “kebebasan” justru dianggap biasa. Sungguh aneh, saat
dunia memaklumi seorang lelaki yang memiliki banyak simpanan harom, namun dunia
yang sama mencela seorang Muslim yang ingin menghalalkan hubungannya dengan
cara yang syar’i.
Buku ini hadir bukan untuk memaksakan setiap
lelaki harus berpoligami, tidak pula untuk mengecilkan perasaan wanita. Buku
ini hadir untuk mendudukkan perkara pada tempatnya, berdasarkan timbangan
wahyu. Kita ingin mengupas tuntas bagaimana poligami seharusnya menjadi solusi
atas krisis moral, solusi bagi para janda dan anak yatim, serta solusi bagi
kesucian jiwa. Kita ingin membersihkan nama baik syari’at ini dari
kotoran-kotoran kezholiman yang dilakukan oleh manusia-manusia yang tak
bertanggung jawab.
Renungkanlah sabda Nabi ﷺ
mengenai luasnya rohmat Alloh bagi siapa saja yang ingin menjaga kesucian
dirinya:
«ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى
اللَّهِ عَوْنُهُمْ: المُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَالمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ
الأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ العَفَافَ»
“Ada tiga golongan manusia yang berhak
mendapatkan pertolongan Alloh: orang yang berjihad di jalan Alloh, budak
mukatab yang ingin menebus dirinya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga
kesucian dirinya.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1655)
Jika menikah dengan satu istri saja
mengundang pertolongan Alloh demi menjaga kesucian, maka bagaimanakah dengan
mereka yang menempuh jalan poligami demi menyelamatkan lebih banyak jiwa dari
fitnah dunia, asalkan dilakukan dengan ilmu dan keadilan?
Wahai para lelaki, janganlah kalian
melangkah jika hanya bermodalkan keberanian tanpa ilmu, karena setiap
ketidakadilan yang kalian lakukan akan berbuah kegelapan di hari Qiyaamah. Dan
wahai para wanita, janganlah kalian menolak sebuah syari’at hanya karena rasa
cemburu yang berlebihan atau karena termakan hasutan mereka yang tidak menyukai
tegaknya hukum Islam. Mari kita kembalikan segala urusan kepada Alloh dan
Rosul-Nya.
Kita akan berjalan menyusuri bab demi bab
dalam buku ini untuk melihat betapa poligami sebenarnya adalah sebuah sistem
yang penuh kasih sayang, jika dijalankan sesuai dengan tuntunan Sang Pencipta.
Kita akan melihat bagaimana para orientalis berusaha keras meruntuhkan benteng
keluarga Muslim melalui isu ini, dan bagaimana kita harus membentengi diri
dengan dalil yang kokoh.
Sungguh, poligami adalah anugrah yang
indah, namun ia menjadi nampak buruk karena bingkai yang salah. Melalui tulisan
ini, saya mengajak Anda semua untuk melepas kacamata prasangka, menenangkan
riuh rendah emosi, dan duduk bersimpuh di hadapan dalil-dalil suci. Semoga Alloh
melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, meskipun terkadang kebenaran
itu terasa berat bagi hawa nafsu kita.
