[PDF] Ringkasan Tauhid dan Syirik - Edisi 3 - Nor Kandir
MUQODDIMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ
الرَّحيمِ. الحَمْدُ للهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَبَعْدُ:
Buku ini berisi tentang Tauhid dan Syirik yang
diringkas dari beberapa kitab Tauhid dan Aqidah. Penulis berusaha meringkas
sebisa mungkin, tetapi dengan tetap memahamkan pembaca sehingga diberi beberapa
penjelasan. Semua Hadits dan atsar di
kitab ini semuanya maqbul meliputi shohih
dan hasan sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara ilmu mustholah.
Kitab ini disusun dengan harapan menjadi pegangan
setiap kaum Muslimin dalam memahami dua perkara besar ini sehingga jelas dan
gambalng, hingga bisa merealisasikan Tauhid dan menjauhi Syirik.
Penulis tidak meyakini semua yang ada di buku ini
benar. Apa yang benar adalah hanyalah dari Alloh, dan apa yang salah adalah
karena tabiat manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan. Bagi para ustadz
dan alim untuk tidak segan mengirim koreksiannya kepada penulis di norkandir@gmail.com atau 085730-219-208 untuk dimasukkan ke edisi
revisi. Penulis ucapkan jazakumullah
khoir.
Penulis sangat berharap kepada Alloh agar kelak
ada yang menyempurakan pembahasan ini atau memperjelas apa yang samar lalu
menyebar ke tengah kaum Muslimin, serta mengoreksi apa yang salah di dalamnya
sehingga tidak memberatkan saya di hari Perhitungan. Ya Alloh kabulkanlah.
Ya Alloh
terimalah dari kami dan Engkau Maha mendengar dan Maha mengetahui.
وَللهِ الْحَمْدُ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ.
Surabaya, Rojab 1439 H
Al-Faqil Ila Alloh
Nor Kandir
BAB 1: TAUHID
Ilmu ada
banyak macamnya dan jenisnya. Kita perlu mengetahui bahwa kemulian ilmu itu
tergantung apa yang dipelajarinya, semakin mulia yang dipelajari maka semakin mulia
ilmu tersebut. Ibnul Jauzi (w. 597 H) berkata:
شَرَفُ الْعِلْمِ بِشَرَفِ الْمَعْلُومِ
“Kemulian
ilmu tergantung kemulian yang dipelajari.” (Zadul
Masir, 1/11)
Adakah yang lebih mulia daripada Alloh?! Maka,
ilmu yang paling mulia dan utama secara mutlak adalah ilmu Tauhid karena ia
membahas dan mempelajari tentang Alloh, terutama hak terbesarNya, apalagi ilmu
ini menentukan Surga dan Neraka tiap hamba. Kita juga wajib jujur bahwa ilmu Tauhid lebih
mulia daripada ilmu matematika, fisika, kimia, biologi, arsitektur, teknik
mesin, teknik elektro, teknik material, teknik industri, teknik informatika,
sistem informasi, kedokteran, kebidanan, hukum internasional, bahkan lebih
utama daripada fiqih dan balaghoh.
Maka, Anda, wahai Pembaca, yang berasal dari
latar belakang apapun dan kuliah di jurusan apapun, Anda patut bersyukur,
diberi kesempatan Alloh untuk membaca dan mempelajari Tauhid, karena disitulah
kemulian dan kejayaan Anda. Dengan meminta pertolongan kepada Alloh, kita mulai
belajar. Bismillah.
A. Makna Tauhid (التوحيد) dan Pembagiannya
Tauhid
adalah masdar (kata bentukan
dari wah-ha-da) yang artinya menjadikan sesuatu jadi satu. Secara
istilah, Tauhid adalah mengesakan Alloh dengan mengkhususkanNya pada Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa
Sifat.
Tauhid ada tiga, yaitu: Tauhid Rububiyah, Tauhid
Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa Shifat. Tiga ini terkumpul dalam firman Alloh:
﴿رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ
سَمِيّاً﴾
“Rabb (yang
menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka
sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepadaNya. Apakah kamu
mengetahui ada yang sama dengannya?” (QS. Maryam [19]: 65)
“Rabb
(yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya,” adalah Tauhid Rububiyah. Adapun “Sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam
beribadah kepadaNya,” adalah Tauhid Uluhiyah. Adapun “Apakah kamu mengetahui ada yang sama dengannya?” adalah Tauhid Asma
wa Shifat, karena inti Tauhid Asma wa Shifat adalah menetapkan kesempurnaan
pada nama-nama Alloh dan sifatNya serta meniadakan segala bentuk aib dan
kekurangan, sehingga tidak ada satu pun yang serupa dengan Alloh, baik dari
sisi dzat, perbuatan, nama, dan sifat.
1. Tauhid Rububiyah
Yaitu mengesakan Alloh dalam menciptakan,
memiliki, dan mengatur. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلا
مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلا تَذَكَّرُونَ﴾
“Sesungguhnya
Robb kamu ialah Alloh Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,
kemudian Dia bersemayam di atas Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada
seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izinNya. Yang
demikian itulah Alloh, Robb kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil
pelajaran?” (QS. Yunus [10]: 2)
Maksud mengesakan
Alloh dalam mencipta adalah seseorang meyakini bahwa tidak ada pencipta kecuali
hanya Alloh saja. Alloh berfirman:
﴿أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْر﴾
“Ketahuilah,
hanya milikNya mencipta dan memerintah.” (QS. Al-Araf [7]: 54)
Adapun maksud mengesakan
Alloh dalam memiliki adalah seseorang meyakini bahwa hanya Pencipta yang
memiliki. Alloh berfirman:
﴿وَلِلهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْض﴾
“Milik Alloh
kerajaan langit-langit dan bumi.” (QS. Ali Imran [3]: 198)
﴿لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا
فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى﴾
“KepunyaanNya-lah
semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan
semua yang di bawah tanah.” (QS.
Thoha [20]: 6)
Adapun maksud mengesakan
Alloh dalam mengatur adalah seseorang meyakini bahwa yang mengatur alam
semesta hanya Alloh, termasuk pengaturan rezeki. Alloh berfirman:
﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ
أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ
فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ﴾
“Katakanlah:
‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang
kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan
yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah
yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka
katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’” (QS. Yunus [10]: 31)
﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ
إِلا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ
فِي كِتَابٍ مُبِينٍ﴾
“Dan tidak
ada dabbah (makhluk) pun di bumi melainkan Alloh-lah
yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya dan
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuz).” (QS. Hud [11]: 6)
Orang-orang musyrik meyakini Tauhid jenis ini, Alloh
berfirman:
﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَالأرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى
يُؤْفَكُونَ﴾
“Dan
sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah
yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu
mereka akan menjawab: ‘Alloh,’ maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari
jalan yang benar).” (QS. Al-Ankabut [29]: 61)
﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ
خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ﴾
“Dan
sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka,
niscaya mereka menjawab: ‘Alloh,’ maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan
(dari menyembah Alloh)?” (QS.
Az-Zukhruf [43]: 87)
Artinya keyakinan ini belum menjadikan seseorang
sebagai orang beriman.
2. Tauhid Uluhiyah
Yaitu yaitu mengesakan Alloh dalam beribadah. Hanya
Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur yang berhak disembah, bukan selainNya. Alloh
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي
جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ
مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلهِ
أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Hai
manusia, sembahlah Robbmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang
menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu
segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)
Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata: “Alloh Ta’ala menyinggung saat menjelaskan
keesaanNya dalam UluhiyahNya, bahwa Dia adalah pemberi nikmat kepada semua
manusia dengan mengeluarkan mereka dari ketiadaan kepada ada, disertai
mencurahkan nikmat-nikmat yang nampak maupun yang tersembunyi... Oleh karena
itu, hanya Dia yang berhak disembah dan tidak disekutukan dengan apapun.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/194)
Nama lain Tauhid Uluhiyah adalah Tauhid Ibadah.
Disebut Tauhid Uluhiyah karena berasal dari kata ilah (yang disembah) karena Allohlah yang disembah, sementara
disebut Tauhid Ibadah karena berasal dari kata ibadah (menyembah) karena hamba
hanya menyembah Alloh.
Ibadah sendiri memiliki dua makna, yaitu makna kata
kerja dan makna kata benda. Makna kata kerja maksudnya
merendah kepada Alloh dengan mengerjakan perintahNya dan menjahui laranganNya
dengan penuh rasa cinta dan pengagungan.
Adapun ibadah dengan makna kata benda, maksudnya seperti yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah saat mendefinisikan ibadah, yaitu:
الْعِبَادَةُ هِيَ
اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ: مِنْ الْأَقْوَالِ
وَالْأَعْمَالِ، الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ
“Ibadah adalah nama yang mencakup segala yang
dicintai Alloh dan diridhaiNya baik berupa ucapan dan perbuatan, yang tersembunyi
maupun yang nampak.” (Fatawa Al-Kubra,
5/154)
Misalkan shalat, dari sisi nama maka ia adalah
ibadah, dan pekerjaan shalat sendiri adalah ibadah tersendiri.
Orang-orang musyrik mengingkari Tauhid jenis ini,
Alloh berfirman:
﴿إِنَّهُمْ
كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ * وَيَقُولُونَ
أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُون﴾
“Sesungguhnya
mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illAlloh’ (Tiada Robb
yang berhak disembah melainkan Alloh) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: ‘Apakah kami harus meninggalkan
sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’” (QS. Ash-Shoffat [37]: 35-36)
Oleh karena itu, Alloh mengutus semua Rosul untuk
misi ini, Alloh berfirman:
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ
وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
“Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah
Alloh (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl [16]: 36)
3. Tauhid Asma wa Shifat
Yaitu mengesakan Alloh dalam nama-nama dan
sifat-sifatNya. Alloh berfirman:
﴿وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ
بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ﴾
“Hanya
milik Alloh Asmaaul Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Asmaaul
Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang
telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Araf [7]: 180)
Tauhid jenis ini memiliki dua rukun, yaitu nafyu (meniadakan) dan itsbat (menetapkan). Yang dimaksud nafyu adalah meniadakan segala
kekurangan dan aib (cacat) dalam nama dan sifat-sifat Alloh. Adapun itsbat adalah menetapkan bagi Alloh
seluruh nama-nama dan sifat-sifat yang ditetapkanNya dalam Al-Qur’an dan Sunnah
RosulNya. Alloh berfirman tentang nafyu
dan itsbat ini:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ﴾
“Tidak
ada yang serupa denganNya dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Asy-Syuuro [42]: 11)
“Tidak
ada yang serupa denganNya” menunjukkan
nafyu, dan “Dia Maha mendengar lagi Maha melihat” menunjukkan itsbat.
Nafyu dan itsbat
ini berkonsekuensi membebaskan Alloh dari empat hal: tamtsil (menyerupakan), takyif
(membagaimanakan), tahrif (merubah),
dan ta’thil (membatalkan).
Contoh sederhana, Alloh mengabarkan diriNya punya
Wajah, maka Ahlus Sunnah menetapkannya apa adanya sesuai zhahir lafazhnya tanpa
tamtsil, takyif, tahrif, dan ta’thil. Metode ini ditempuh oleh para
ulama Salaf (para Sahabat dan para imam ahli Hadits). Imam Al-Baihaqi dan
Ad-Darimi meriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas ditanya tentang istiwa (artinya tinggi dan di atas) lalu
dia pucat pasi sambil menundukkan pandangannya. Kemudian ia mengangkat
kepalanya dan menjawab:
الِاسْتِوَاءُ
غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ،
وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا أَرَاكَ إِلَّا مُبْتَدِعًا. فَأَمَرَ بِهِ
أَنْ يُخْرَجَ
“Istiwa
maklum, bagaimananya tidak bisa dinalar, mengimaninya wajib, dan bertanya
tentangnya adalah bid’ah. Aku melihatmu seorang mubtadi.” Dia memerintahkan
agar orang tersebut diusir dari majlis. (HR. Al-Baihaqi no. 867 dan Asma wa Shifaat dan Ad-Darimi no. 104
dalam Ar-Ra’du alal Jahmiyah)
Tamtsil adalah
menyerupakan Alloh dengan selainNya seperti mengatakan, “Wajah Alloh seperti
wajah makhlukNya.” Jika objek yang diserupakan disebutkan, maka itu namanya tasybih, seperti ucapan, “Wajah Alloh
seperti wajahku.”
Takyif adalah membayangkan
nama dan sifat Alloh, seperti membayangkan Wajah Alloh dengan mereka-reka
bentuknya, warnanya, besarnya, dan seterusnya.
Tahrif adalah
merubah lafazh atau maknanya, seperti Wajah Alloh dirubah artinya menjadi rahmatNya, lafazh istawa (استوى) “tinggi” dirubah menjadi istaula (استولى) “menguasai”. Alloh mencela Yahudi karena merubah isi Taurat dengan
merubah lafazhnya maupun maknanya. Alloh berfirman:
﴿أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا
لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللهِ ثُمَّ
يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾
“Apakah
kamu masih mengharapkan mereka akan beriman kepadamu, padahal segolongan dari
mereka mendengar firman Alloh, lalu mereka mengubahnya setelah mereka
memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (QS. Al-Baqarah [2]: 75)
Ta’thil adalah
membatalkan lafazh atau maknanya, seperti mengatakan, “Alloh tidak punya Wajah,”
atau “Alloh memang memiliki Wajah, tetapi tidak ada maknanya, hanya sebutan
saja.”
B. Hak Terbesar Alloh atas HambaNya
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ﴾
“Tidaklah
Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembahKu.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا
إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾
“Dan Robbmu
telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra [17]: 23)
﴿قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ
رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا
النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ * وَلا تَقْرَبُوا
مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ
كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ * وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ﴾
“Katakanlah:
‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Robbmu, yaitu: janganlah
kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang
ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.
Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu
mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun
yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Alloh
(membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.’ Demikian itu yang
diperintahkan oleh Robbmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali
dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah
takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu
berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Alloh.
Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah
jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari
jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 151-153)
﴿وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى
وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ
وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ
لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا﴾
“Sembahlah
Alloh dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil
dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong
dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa [4]: 36)
عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ:
كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ، فَقَالَ: «يَا
مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ، وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى
اللهِ؟»، قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى
العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ
عَلَى اللهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»، فَقُلْتُ: يَا
رَسُولَ اللهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ؟ قَالَ: «لاَ تُبَشِّرْهُمْ،
فَيَتَّكِلُوا»
Dari Mu’adz
bin Jabal RadhiyAllohu ‘Anhu,
dia berkata: aku dibonceng Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di atas
keledai bernama Ufair lalu beliau bersabda, “Wahai
Muadz, apakah kamu tahu, apa hak Alloh atas hambaNya dan apa hak hamba atas Alloh?”
Aku menjawab, “Alloh dan RosulNya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hak Alloh atas hambaNya adalah
mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya, dan hak hamba atas Alloh adalah
Dia tidak menyiksa siapa yang tidak menyekutukanNya.” Aku berkata, “Wahai Rosululloh,
bolehkah aku kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau bersabda, “Jangan kamu sampaikan, nanti mereka
berpangku tangan.” (HR. Al-Bukhori no. 2856 dan Muslim no. 30)
C. Keutamaan Tauhid
1. Masuk Surga Tanpa Hisab dan Siksa
Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku
berada di sisi Sa'id bin Zubair, lalu ia bertanya: ‘Siapa di antara kalian
melihat bintang yang jatuh semalam?’ Kemudian aku menjawab: ‘Aku, tetapi aku
ketika itu tidak sedang melaksanakan shalat, tetapi aku disengat kalajengking,’
lalu ia bertanya kepadaku: ‘Lalu apa yang kau lakukan?’ Aku menjawab: ‘Aku
minta diruqyah.’ Ia bertanya lagi: ‘Apa yang mendorong kamu melakukan hal itu?’
Aku menjawab: ‘Yaitu: sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi kepada
kami.’ Ia bertanya lagi: ‘Apakah Hadits yang dituturkan kepadamu itu?’ Aku
menjawab: ‘Dia menuturkan Hadits kepada kami dari Buroidah bin Hushaib RadhiyAllohu ‘Anhu:
لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ
‘Tidak boleh
Ruqyah kecuali karena ain atau terkena sengatan.’
Sa'id pun berkata: ‘Sungguh telah berbuat baik orang
yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan
Hadits kepada kami dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, beliau
bersabda:
«عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ مَعَهُ
الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ
مَعَهُ أَحَدٌ، إِذْ رُفِعَ لِيْ سَوَادٌ عَظِيْمٌ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ
أُمَّتِيْ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذَا مُوْسَى وَقَوْمُهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ
عَظِيْمٌ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَمَعَهُمْ سَبْعُوْنَ أَلْفًا
يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ»، ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ
مَنْزِلَهُ، فَخَاضَ النَّاسُ فِيْ أُوْلَئِكَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ
الَّذِيْ صَحِبُوْا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمْ الَّذِيْنَ وُلِدُوْا فِيْ الإِسْلاَمِ فَلَمْ
يُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئًا، وَذَكَرُوْا أَشْيَاءَ، فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرُوْهُ،
فَقَالَ: «هُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَلاَ
يَكْتَوُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ»، فَقَامَ عُكَاشَةُ بْنُ
مِحْصَنٍ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِىْ مِنْهُمْ، فَقَالَ: «أَنْتَ
مِنْهُمْ» ثُمَّ قَالَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِيْ
مِنْهُمْ، فَقَالَ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَبَقَكَ بِهَا
عُكَاشَةُ»
‘Telah
diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya
sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan
Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba-tiba
diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira
bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku: bahwa mereka itu adalah
Musa dan kaumnya, tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang
jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan
bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa
disiksa lebih dahulu.’
Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya,
maka orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu? Ada di
antara mereka yang berkata: ‘Barangkali mereka itu orang-orang yang telah
menyertai Nabi dalam hidupnya,’ dan ada lagi yang berkata: ‘Barangkali mereka
itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah
menyekutukan Alloh dengan sesuatupun,’ dan yang lainnya menyebutkan yang
lain pula.
Kemudian Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau
bersabda: ‘Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak
melakukan tathayyur dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang
dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada Robb mereka.”
Kemudian Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata:
‘Mohonkanlah kepada Alloh agar aku termasuk golongan mereka,’ kemudian Rosul
bersabda: ‘Ya, engkau termasuk golongan
mereka.’ Kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata:
‘Mohonkanlah kepada Alloh agar aku juga
termasuk golongan mereka,’ Rosul menjawab: ‘Kamu
sudah kedahuluan Ukasyah.’” (HR. Al-Bukhori
no. 6541 dan Muslim no. 216)
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ ﷺ
رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْمُوجِبَتَانِ؟ فَقَالَ: «مَنْ مَاتَ
لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ
شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ»
Dari Jabir, ia berkata: seseorang mendatangi Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Wahai Rosululloh, apa itu dua perkara yang wajib?”
Beliau menjawab, “Barangsiapa yang
menemui Alloh (mati) dalam keadaan tidak berbuat Syirik kepadaNya, pasti ia
masuk Surga, dan barangsiapa yang menemuiNya (mati) dalam keadaan berbuat
kemusyrikan maka pasti ia masuk Neraka.” (HR. Muslim no. 93)
Maksudnya adalah mewajibkannya ke Surga jika
bertauhid dan mewajibkannya masuk Neraka jika berbuat syirik.
عَنْ عُبَادَةَ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا
إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ
الجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ العَمَلِ» قَالَ الوَلِيدُ، حَدَّثَنِي ابْنُ
جَابِرٍ، عَنْ عُمَيْرٍ، عَنْ جُنَادَةَ وَزَادَ: «مِنْ أَبْوَابِ الجَنَّةِ
الثَّمَانِيَةِ أَيَّهَا شَاءَ»
Dari Ubadah bin Shamit RadhiyAllohu ‘Anhu menuturkan: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda: “Barangsiapa yang
bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Alloh saja,
tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RosulNya, dan bahwa Isa
adalah hamba dan Rosul Alloh, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam,
serta Ruh dari padaNya, dan Surga itu benar adanya, Neraka juga benar adanya,
maka Alloh pasti memasukkanya ke dalam Surga, betapapun amal yang telah
diperbuatnya.” Junadah menambahkan, “Dari
delapan pintu Surga manapun yang dikehendakinya.” (HR. Al-Bukhori no. 3435 dan Muslim no. 28)
Dari Itban RadhiyAllohu ‘Anhu bahwa Rosululloh
bersabda:
«فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ
قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ»
“Sesungguhnya Alloh
Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan Neraka bagi orang orang yang mengucapkan laailaaha
illAlloh ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 5401 dan Muslim no. 263)
2. Diampuni Segala Dosa
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ
يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ
فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا﴾
“Sesungguhnya
Alloh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia
mengampuni dosa yang selain dari Syirik itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barang
siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sesungguhnya ia telah
tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa [4]: 116)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: سَمِعْتُ
رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ
إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا
أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ
اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ
أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي
شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً»
Dari Anas bin Malik RadhiyAllohu ‘Anhu ia berkata: aku mendengar Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Alloh
Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Hai anak Adam, jika engkau selalu berdoa
kepadaKu dan berharap kepadaKu maka Kuampuni dosamu dan aku tidak peduli. Wahai
anak Adam, seandainya dosa-dosamu membumbung tinggi ke langit kemudian kamu
meminta ampun kepadaKu pasti Kuampuni. Wahai anak Adam, jika engkau datang
kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, dan engkau ketika mati dalam
keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang
kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (Shohih: HR.
At-Tirmidzi no. 3540)
عَنْ عَبْدِ اللهِ
بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ اللهَ
سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الخَلَائِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ
فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ
البَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي
الحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ؟ فَيَقُولُ:
لَا يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، فَإِنَّهُ لَا
ظُلْمَ عَلَيْكَ اليَوْمَ، فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ:
احْضُرْ وَزْنَكَ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ البِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ
السِّجِلَّاتِ، فَقَالَ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ»، قَالَ: «فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ
فِي كَفَّةٍ وَالبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ
البِطَاقَةُ، فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ»
Dari Abdillah bin Amr bin Ash, ia berkata: Rosululloh
Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari Kiamat dari
kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan 99 lembaran. Setiap lembar jika
dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Alloh menanyakan padanya, “Apakah
engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak
sama sekali wahai Rabbku.” Alloh bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini
berbuat zholim padamu?” Jawabnya, “Tidak, wahai Rabbku.” Alloh bertanya, “Apakah
engkau punya uzur?” Jawabnya, “Tidak, wahai Rabb.” Alloh pun berfirman, “Bahkan,
kamu memiliki kebaikan di sisi Kami. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman
atasmu hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu) yang
bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilAlloh wa anna muhammadan ‘abduhu wa
rosuluh’. Lalu ia bertanya, “Apa guna kartu ini
dibanding lembaran-lembaran?” Alloh berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Lantas
diletakkanlah lembaran-lembaran tadi di salah satu
daun timbangan dan kartu di daun timbangan lainnya.Ternyata lembaran-lembaran
itu ringan dibanding kartu tersebut. Tidak ada yang lebih berat
dari nama Alloh.” (Shohih:
HR. At-Tirmidzi no. 2639)
3. Jaminan Aman dan Hidayah
Alloh berfirman:
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا
إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ﴾
“Orang-orang
yang beriman dan tidak menodai keimanan mereka dengan kedzhaliman
(kemusyrikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah.” (QS. Al-An’am [6]: 82)
Aman di tiga tempat: saat sakaratul maut, barzakh,
kebangkitan. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’ kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan
bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Alloh
kepadamu.” (QS.
Fush-shilat [41]: 30)
﴿يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللهُ
مَا يَشَاءُ﴾
“Alloh
meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam
kehidupan di dunia dan di Akhirat; dan Alloh menyesatkan orang-orang yang lalim
dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim [14]: 27)
﴿إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ
مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ * لا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا
وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ * لا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ
الأكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ
تُوعَدُونَ﴾
“Bahwasanya
orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka
itu dijauhkan dari Neraka, mereka tidak mendengar sedikit pun suara api Neraka,
dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar
(pada hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para Malaikat. (Malaikat berkata):
‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Al-Anbiyaa [20]: 101-103)
4. Bahagia di Dunia dan Akhirat
﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ
أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Barang
siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman (bertauhid), maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ
بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا
أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ
مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الحَدِيثِ: أَسْعَدُ النَّاسِ
بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، خَالِصًا
مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ»
Dari
Abu Hurairah, ia berkata: “Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling
bahagia mendapatkan syafaatmu pada hari Kiamat?” Beliau menjawab, “Aku tahu bahwa tidak ada yang mendahuluimu
menanyakan ini kepadaku selainmu, aku melihat kamu sangat semangat dalam Hadits.
Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari Kiamat adalah orang yang
mengucapkan laailaaha illa Alloh ikhlas dari hatinya.” (HR. Al-Bukhori
no. 99)
D. Makna Kalimat Tauhid
Ia memiliki dua rukun: nafyu (meniadakan) dan itsbat
(menetapkan), yaitu meniadakan segala yang disembah lalu menetapkan hanya Alloh
yang disembah. Alloh berfirman:
﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ
وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي﴾
“Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku membebaskan
diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Alloh) Dzat yang telah menciptakan
aku.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 26-27)
﴿لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ
الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ
وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ
لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾
“Tidak ada
paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)
﴿قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا
إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللهَ وَلا
نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾
“Katakanlah: ‘Hai
Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Alloh dan
tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita
menjadikan sebagian yang lain sebagai Robb selain Alloh. Jika mereka berpaling
maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang
berserah diri (kepada Alloh).’” (QS. Ali Imran [3]: 64)
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:
«مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ
دُوْنِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ»
“Barangsiapa
yang mengucapkan laailaaha illa Alloh dan
mengingkari sesembahan selain Alloh, maka haramlah harta dan darahnya, adapun
perhitungannya terserah kepada Alloh.” (HR. Muslim no. 23)
Jika cacat salah satunya, maka belum dianggat berTauhid.
Alloh berfirman:
﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ
أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا
لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا
يُشْرِكُونَ﴾
“Mereka
menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Robb selain Alloh,
dan (juga mereka menyembah) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh
menyembah Yang Maha Esa; tidak ada (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Alloh
dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah [9]: 31)
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ
اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ
اللهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا
إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ
الْعَذَابِ﴾
“Dan di antara
manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang
beriman sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat
lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa
kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya dan bahwa Alloh amat berat siksaanNya
(niscaya mereka menyesal).” (QS.
Al-Baqarah [2]: 165)
Contoh cacat dalam Tauhid adalah menyembah Alloh (itsbat) tetapi dia tidak mengingkari dan
tidak menyesatkan agama selain Islam seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Budha,
Konghuchu, Sinto, Kejawen, Kebatinan, dan semisalnya. Sebab, ia tidak terpenuhi
syarat nafyu. Orang jenis ini tidak
disebut beriman, bahkan musyrik lagi kafir, jika meninggal maka kekal di Neraka
selama-lamanya. Wal-iyaadzubillaah.
E. Kewajiban Dakwah Tauhid
Alloh berfirman:
﴿قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ
عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ
الْمُشْرِكِينَ﴾
“Katakanlah:
‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, aku berdakwah
kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tidak termasuk
orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا،
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى
اليَمَنِ: «إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ،
فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ
أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ
وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ
قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى
فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ
أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ
اللهِ حِجَابٌ»
Dari Ibnu Abbas RadhiyAllohu ‘Anhuma, dia berkata: Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ketika mengutusnya ke
Yaman, “Sungguh kamu akan mendatangi kaum
ahli kitab. Apabila kamu sudah tiba di sana, ajaklah mereka kepada syahadat
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan
Alloh. Jika mereka menurutimu maka kabarkan kepada mereka bahwa Alloh
mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka
menurutimu maka kabarkan kepada mereka bahwa Alloh mewajibkan sedekah yang
diambil dari orang-orang kaya mereka untuk dibagikan kepada orang-orang miskin
mereka. Jika mereka menurutimu, maka kamu harus waspada jangan mengambil harta
terbaik mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi karena tidak
ada pembatas antaranya dengan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 1496 dan Muslim
no. 19)
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَنَّ رَسُولَ
اللهِ ﷺ، قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ: «لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا
يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللهُ
وَرَسُولُهُ» قَالَ: فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ
يُعْطَاهَا، قَالَ فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ غَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ،
كُلُّهُمْ يَرْجُونَ أَنْ يُعْطَاهَا، فَقَالَ: «أَيْنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي
طَالِبٍ؟» فَقَالُوا: هُوَ يَا رَسُولَ اللهِ يَشْتَكِي عَيْنَيْهِ، قَالَ
فَأَرْسِلُوا إِلَيْهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَبَصَقَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي عَيْنَيْهِ،
وَدَعَا لَهُ فَبَرَأَ، حَتَّى كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ، فَأَعْطَاهُ
الرَّايَةَ، فَقَالَ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا
مِثْلَنَا، فَقَالَ: «انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ، حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ،
ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ
حَقِّ اللهِ فِيهِ، فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ
لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ»
Dari Sahl bin Sa’d
RadhiyAllohu ‘Anhu, bahwa Rosululloh
Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di saat perang Khaibar bersabda: “Sungguh akan aku serahkan bendera (komando
perang) ini besok pagi kepada orang yang Alloh akan memberikan kemenangan
dengan sebab kedua tangannya, dia mencintai Alloh dan RosulNya, dan dia
dicintai oleh Alloh dan RosulNya.’ Semalam suntuk para Sahabat memperbincangkan siapakah di antara mereka
yang akan diserahi bendera itu, di pagi harinya mereka mendatangi Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam. Masing-masing berharap agar ia yang diserahi bendera
tersebut, maka saat itu Rosul bertanya: ‘Di mana Ali bin
Abi Thalib?’ Mereka menjawab: ‘Wahai Rosululloh, dia sedang sakit pada kedua matanya.’ Kemudian mereka mengutus orang untuk
memanggilnya, dan ia pun dibawa, kemudian Rosul meludahi kedua matanya, seketika
itu dia sembuh seperti tidak pernah terkena penyakit. Kemudian Rosul menyerahkan bendera itu kepadanya.
Ali berkata, “Ya Rosululloh, aku akan perangi mereka hingga menjadi seperti
kita.” Beliau bersabda: ‘Melangkahlah
engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian
ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Alloh
dalam Islam, maka demi Alloh, sungguh Alloh memberi hidayah kepada seseorang
dengan sebab kamu itu lebih baik bagiku daripada unta-unta yang merah.” (HR.
Muslim no. 2404)[]
BAB 2: SYIRIK
A. Makna Syirik (الشرك) dan Pembagiannya
Syirik secara bahasa artinya sekutu atau serikat.
Syirik ada dua, Syirik besar dan Syirik kecil. Syirik besar adalah:
تَسْوِيَةُ غَيْرِ اللهِ بِاللهِ فِيْمَا هُوَ
مِنْ خَصَائِصِ اللهِ
“Menyamakan selain Alloh dengan Alloh dalam
perkara kekhususan Alloh.”
Yang dimaksud dengan kekhusususan Alloh adalah hak Rububiyah (mencipta, memiliki,
mengatur termasuk memberi rezeki), hak Uluhiyah (diibadahi), hak Asma wa Shifat
(kesempurnaan nama dan sifat). Sehingga Syirik terjadi pada Rububiyah,
Uluhiyah, dan Asma wa Shifat. Alloh berfirman:
﴿تَاللهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ
مُبِينٍ * إِذْ نُسَوِّيكُمْ
بِرَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
“Demi Alloh,
sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kalian dengan Robb
semesta alam.”(QS.
Asy-Syu’araa [26]: 97-98)
Syirik jenis ini membatalkan Islam dan
mengekalkan di Neraka. Alloh berfirman:
﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ
فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾
“Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh
mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah [5]: 72)
Syirik kecil adalah setiap lafazh Syirik yang
disebut dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi tidak sampai ke derajat Syirik
besar dan tidak pula mengeluarkannya dari Islam, seperti riya dan memakai
jimat. Akan tetapi Syirik kecil bisa menjadi Syirik besar sesuai dengan kadar keyakinan
pelaku.
1. Syirik Besar (شرك أكبر)
Syirir akbar (besar) mengeluarkan orang dari
Islam, menghapus semua amal kebaikan, dan mengekal pelakunya di Neraka.
Syirik akbar ada 4 macam, yaitu Syirik doa, Syirik niat, Syirik taat, dan Syirik
cinta.
1. Syirik
Doa (شرك
الدعوة)
Berdasarkan firman Alloh:
﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ
دَعَوُا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾
“Maka
apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Alloh dengan memurnikan
ketaatan kepadaNya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat,
tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh).” (QS. Al-Ankabut [29]: 65)
Orang-orang musyrik zaman terdahulu saat tertimpa
bahaya, mereka melupakan semua berhala dan sesembahan mereka, mereka tunduk dan
khusyuk meminta kepada Alloh. Namun, jika mereka diselamatkan atau dalam
kondisi yang aman, mereka kembali berdoa (menyeru) sesembahan selain Alloh. Ini
menunjukkan bahwa termasuk jenis Syirik adalah doa.
Doa sendiri ada dua jenis, yaitu doa mas’alah (permintaan) dan doa ibadah. Contoh doa permintaan yang
ditunjukkan kepada selain Alloh, “Wahai Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, bebaskanlah
hutang-hutangku!”
Contoh doa yang bermakna ibadah, yang ditunjukkan
kepada selain Alloh, adalah menyembelih untuk penghuni kubur atau jin.
2. Syirik Niat (شرك النية والإرادة والقصد)
Berdasarkan firman Alloh:
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا
وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا
وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Barang
siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan
kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di
dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di
akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang
telah mereka kerjakan.” (QS.
Hud [11]: 16)
Perhiasan dunia adalah berupa wanita, anak, uang,
kendaraan mewah, dan harta kekayaan. Alloh berfirman:
﴿زُيِّنَ لِلنَّاسِ
حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ
الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ
الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ
وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ﴾
“Dijadikan
hiasan pada
(pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik (Surga).” (QS. Ali Imran [3]: 14)
Ayat ini berkenaan dengan orang kafir yang niat
dan tujuan mereka hanyalah dunia, ayat ini juga berlaku untuk siapa saja yang
memiliki sifat seperti mereka.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ:
«تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ
رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ،
طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ
قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ
كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ»
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Celaka
hamba dinar, dirham, khomishoh (selendang hitam bergaris). Jika diberi maka ia
senang dan jika tidak diberi maka ia marah. Semoga celaka dia dan binasa dia.
Apabila terkena duri, tidak bisa mencabutnya.
Sungguh
beruntung seorang hamba yang memegang tali kekang kudanya di jalan Alloh,
rambutnya acak-acakan, kedua kakinya berdebu, jika ditugaskan di belakang maka
dia laksanakan dengan baik, jika ditugaskan mengurus air maka ia kerjakan
dengan baik, jika dia meminta izin maka tidak diizinkan, dan jika menjadi
pelantara maka tidak diterima.” (HR. Al-Bukhori no. 2886)
3. Syirik Taat (شرك الطاعة)
Berdasarkan firman Alloh:
﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ
وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا
لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا
يُشْرِكُونَ﴾
“Mereka
(Nashrani) menjadikan ahbar (ahli agama) dan ruhban (ahli ibadah/rohib) mereka
sebagai Robb selain Alloh, dan (juga mereka menyembah) Al-Masih putra Maryam;
padahal mereka hanya disuruh menyembah Robb Yang Maha Esa; tidak ada Robb (yang
berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah [9]: 31)
عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ
ﷺ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ: «يَا عَدِيُّ اطْرَحْ هَذَا الْوَثَنَ
مِنْ عُنُقِكَ»، فَطَرَحْتُهُ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقْرَأُ سُورَةَ بَرَاءَةَ
فَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ ﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ
دُونِ اللهِ﴾ حَتَّى فَرَغَ مِنْهَا، فَقُلْتُ: إنَّا لَسْنَا نَعْبُدُهُمْ، فَقَالَ:
«أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونُهُ، ويُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ
اللهُ فَتَسْتَحِلُّونَهُ؟» قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: «فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ»
Dari Adi bin Hatim, dia berkata: aku mendatangi
Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dengan memakai salib emas, lalu
beliau bersabda, “Wahai Adi, buang
berhala ini dari lehermu.” Maka aku membuangnya lalu kembali menemui beliau
saat membaca surat ini: ‘Mereka
(Nashrani) menjadikan ahbar (ahli agama) dan ahbar (ahli ibadah) mereka sebagai
Robb selain Alloh,’ hingga selesai, lalu aku berkata, “Kami dahulu tidak
menyembah mereka.” Jawab beliau, “Bukankah
mereka dahulu mengharamkan apa yang Alloh haramkan lalu kalian turut
mengharamkannya, dan menghalalkan apa yang Alloh haramkan lalu kalian turut
mengharamkannya?” Jawabku, “Benar.” Beliau bersabda, “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.” (Hasan: HR.
Ath-Thobroni no. 218 dalam Al-Kabir)
4. Syirik Cinta (شرك المحبة)
Berdasarkan firman Alloh:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ
اللهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ
الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ﴾
“Dan di
antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh;
mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang
beriman sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat
lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa
kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya dan bahwa Alloh amat berat siksaanNya
(niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)
Sebab syarat iman adalah yang paling dia cintai hanyalah
Alloh, bukan selainnya. Bahkan, mencintai Nabi, anak dan istri adalah karena Alloh,
bukan semata dzat yang bersangkutan.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ،
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ:
أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ
المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا
يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»
Dari Anas bin Malik RadhiyAllohu ‘Anhu, dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda, “Tiga hal yang siapa saja tiga
hal itu ada pada dirinya maka dia akan merasakan manisnya iman: [1] Alloh dan RosulNya
lebih ia cintai daripada selain keduanya, [2] mencintai seseorang hanya karena Alloh
semata, [3] benci kembali kepada kekufuran seperti benci dilempar ke api.”
(HR. Al-Bukhori no. 16 dan Muslim no. 43)
Kesimpulannya, Syirik besar adalah
mempersembahkan ibadah kepada selain Alloh, seperti: berdoa kepada selain Alloh,
menyembah kepada selain Alloh, bernazar kepada selain Alloh, mendekatkan diri
kepada penghuni kubur atau jin atau setan dengan jenis ibadah tertentu, takut
kepada orang yang telah mati dengan menyakini bisa membahayakannya, berharap
kepada selain Alloh untuk memenuhi hajatnya dan menghilangkan kesusahan pada
perkara yang tidak ada yang mampu kecuali Alloh saja, dan semua jenis ibadah
yang tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Alloh semata.
2. Syirik Kecil (شرك أصغر)
Syirik kecil adalah setiap pelantara (wasilah) yang menghantarkan kepada Syirik
besar yang tidak sampai ke derajat ibadah baik berupa keinginan, ucapan, maupun
perbuatan. Atau setiap yang disebut dalam syariat (Al-Qur’an dan As-Sunnah)
dengan Syirik tetapi tidak sampai ke derajat Syirik besar. Akan tetapi Syirik
kecil kadang menjadi Syirik besar sesuai dengan keyakinan pelaku.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فِي قَوْلِهِ: ﴿فَلَا
تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا﴾ قَالَ: الْأَنْدَادُ هُوَ الشِّرْكُ، أَخْفَى مِنْ
دَبِيبِ النَّمْلِ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ، وَهُوَ أَنْ
يَقُولَ: وَاللهِ، وَحَيَاتِكَ يَا فُلَانَةُ، وَحَيَاتِي، وَيَقُولُ: لَوْلَا
كَلْبُهُ هَذَا لَأَتَانَا اللُّصُوصُ، وَلَوْلَا الْبَطُّ فِي الدَّارِ لَأَتَى
اللُّصُوصُ، وَقَوْلُ الرَّجُلِ لِصَاحِبِهِ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَقَوْلُ
الرَّجُلِ: لَوْلَا اللهُ وَفُلَانٌ، لَا تَجْعَلْ فِيهَا فُلَانًا؛ فَإِنَّ هَذَا
كُلَّهُ بِهِ شِرْكٌ.
Dari Ibnu
Abbas, tentang firman Alloh, “Janganlah
kalian membuat tandingan-tandingan bagi Alloh.” (QS. Al-Baqarah [2]: 22)
Ibnu Abbas berkata, “Tandingan adalah Syirik (kecil), ia lebih samar daripada
semut kecil di atas batu hitam di kegelapan malam. Ia adalah ucapan: Demi Alloh
dan demi hidupmu dan demi hidupku, wahai fulanah; ucapan: andai
bukan karena anjing tentu pencuri mendatangi kami, andai bukan karena ada hewan
di rumah pasti pencuri datang; begitu juga ucapan seseorang kepada saudaranya:
atas kehendak Alloh dan kehendakmu; ucapan: andai bukan Alloh dan
fulan. Jangan lakukan ini, karena semua ini adalah Syirik.” (Shohih: HR.
Ibnu Abi Hatim no. 229 dalam At-Tafsir.
Dishohihkan Syaikh Al-Albani)
Karena saking samarnya Syirik jenis ini, banyak
yang terjatuh tanpa disadari. Mereka diperintahkan untuk banyak berdoa kaffarot
di bawah ini.
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ:
انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ
فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ لَلشِّرْكُ فِيكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ»
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَهَلِ الشِّرْكُ إِلَّا مَنْ جَعَلَ مَعَ اللهِ إِلَهًا
آخر؟ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ
دَبِيبِ النَّمْلِ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ
قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ؟» قَالَ: «قُلِ: اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ
أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ»
Dari Ma’qil bin Yasar, dia berkata: aku pergi
bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq RadhiyAllohu
‘Anhu kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam lalu beliau
bersabda, “Wahai Abu Bakar, sungguh Syirik
di tengah kalian itu lebih samar daripada semut kecil.” Abu Bakar berkata, “Bukankah
Syirik itu hanyalah seseorang yang menjadikan Robb lain bersama Alloh?” Jawab
Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, “Demi
Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh Syirik itu lebih samar daripada
semut kecil. Maukah kamu kutunjukkan sesuatu jika kamu ucapkan maka ia akan
hilang darimu, sedikit maupun banyak?” Beliau melanjutkan, “Bacalah, ‘Ya Alloh, aku berlindung kepadamu
dari berbuat Syirik yang aku ketahui dan memohon ampun kepadamu terhadap Syirik
yang tidak aku ketahui.” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 716 dalam Al-Adabul Mufrod)
Syirik kecil ada dua, Syirik nampak dan Syirik tersembunyi.
1. Syirik
Nampak (شرك
ظاهر)
Syirik nampak adalah setiap lafazh dan perbuatan Syirik
kecil.
Contoh dalam lafazh: bersumpah dengan
selain Alloh, ucapan: kami dihujani karena bintang, ucapan: kehendak Alloh dan
kehendakmu, andai bukan karena Alloh dan karenamu, ini dari Alloh dan
darimu, ini dari berkah Alloh dan berkahmu, dan semisalnya.
Yang benar adalah ucapan: kehendak Alloh semata
atau andai bukan karena Alloh kemudian kamu atau Alloh menyembuhkanku
lewatmu (dokter), dan yang semisalnya. Ungkapan pertama lebih utama daripada
kedua dan ketiga.
Tentang bersumpah, diriwayatkan bahwa Ibnu Umar
mendengar seseorang bersumpah, “Tidak, demi Ka’bah,” lalu Ibnu Umar berkata, “Kamu
jangan bersumpah dengan selain Alloh. Sungguh aku pernah mendengar Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ
فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ»
“Siapa
yang bersumpah dengan selain Alloh, maka dia melakukan kufur atau Syirik.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 1535)
Namun, jika dia meyakini bahwa makhluk yang dia
sumpah dengannya lebih mulia di sisinya daripada Alloh, sehingga dia begitu
merendah dan mengagungkannya seperti mengagungkan Alloh atau lebih besar lagi,
maka Syirik ini menjadi Syirik besar.
Tentang dihujani bintang, Alloh berfirman:
﴿وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ﴾
“Kamu (mengganti)
rezeki (yang Alloh berikan) dengan mendustakan (Alloh).” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 82)
Yakni, mereka diberi nikmat dan rezeki Alloh
berupa hujan, tetapi dengan itu justru mereka mendustakan Alloh, karena
beranggapan yang menurunkannya adalah bintang.
عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنِيِّ،
أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالحُدَيْبِيَةِ
عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ
عَلَى النَّاسِ، فَقَالَ: «هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟» قَالُوا: اللهُ
وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ،
فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ
بِي وَكَافِرٌ بِالكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا،
فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالكَوْكَبِ»
Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, ia berkata: Rosululloh
Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam shalat Shubuh mengimami kami di Hudaibiyah
di tanah basah karena bekas hujan di malam harinya. Ketika usai shalat, beliau
menghadap makmum dan bersabda, “Apakah
kalian tahu apa yang difirmankan Rabb kalian?” Jawab mereka, “Alloh dan RosulNya
lebih tahu.” Beliau bersada, “Hamba-hambaku
di pagi hari ada yang beriman kepadaku dan ada yang kafir. Adapun orang yang
berkata, ‘Kita diberi hujan karena karunia Alloh dan rahmatNya,’ maka ia
beriman kepadaku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun orang yang berkata,
‘Kami diberi hujan oleh bintang ini dan itu,’ maka ia beriman kepada
bintang-bintang dan kafir kepadaKu.’” (HR. Al-Bukhori no. 4147 dan Muslim
no. 71)
Namun, jika dia meyakini bahwa yang menurunkan
hujan bukan Alloh, tetapi murni bintang-bintang, maka ia musyrik lagi kafir
karena menyekutukan Alloh dalam RububiyahNya (mengatur alam semesta). Adapun
jika dia meyakini yang menurunkan Alloh tetapi dengan sebab bintang maka ini
haram, bukan Syirik besar, dan ucapannya tidak berfaidah, karena Alloh tidak
menjadikan bintang sebagai sebab turunnya hujan.
Tentang ucapan dan, diriwayatkan dari
Qutailah seorang wanita dari Juhainah, ia berkata:
أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ
فَقَالَ: إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ، وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللهُ
وَشِئْتَ، وَتَقُولُونَ: وَالْكَعْبَةِ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا
أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا: وَرَبِّ الْكَعْبَةِ، وَيَقُولُونَ:
مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ شِئْتَ.
“Seorang Yahudi datang kepada Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam, lalu berkata: ‘Sesungguhnya sekalian telah melakukan
perbuatan Syirik, kalian mengucapkan: ‘Atas kehendak Alloh dan kehendakmu’ dan
mengucapkan: ‘Demi Ka’bah.’” Maka Rosululloh memerintahkan para Sahabat apabila
hendak bersumpah supaya mengucapkan: ‘Demi Rabb Pemilik ka’bah,’ dan
mengucapkan: ‘Atas kehendak Alloh kemudian atas kehendakmu.’” (Shohih: HR.
An-Nasa'i no. 3773)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: قَالَ رَجُلٌ
لِلنَّبِيِّ ﷺ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، قَالَ: «جَعَلْتَ لِلهِ نِدًّا، مَا
شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ»
Dari Ibnu
Abbas, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam,
“Atas kehendak Alloh dan kehendakmu.” Beliau bersabda, “Apakah kamu kau hendak menjadikan tandingan bagi Alloh?! Atas kehendak
Alloh semata.” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 783 dalam Al-Adabul Mufrod)
عَنْ حُذَيْفَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ:
«لَا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللهُ، وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللهُ
ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ»
Dari Hudzaifah, dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi
wa Sallam, bersabda, “Jangan ucapkan:
atas kehendak Alloh dan kehendak fulan, tetapi ucapkanlah: atas kehendak
Alloh kemudian kehendak fulan.” (Shohih: HR. Abu Dawud no.
4980)
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، أَنَّ
رَجُلًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ رَأَى فِي النَّوْمِ أَنَّهُ لَقِيَ رَجُلًا مِنْ
أَهْلِ الْكِتَابِ، فَقَالَ: نِعْمَ الْقَوْمُ أَنْتُمْ لَوْلَا أَنَّكُمْ
تُشْرِكُونَ، تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ مُحَمَّدٌ، وَذَكَرَ ذَلِكَ
لِلنَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «أَمَا وَاللهِ، إِنْ كُنْتُ لَأَعْرِفُهَا لَكُمْ،
قُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ شَاءَ مُحَمَّدٌ»
Dari Hudzaifah Ibnul Yaman, bahwa ada seorang
lelaki dari kaum Muslimin yang bermimpi bertemu seorang dari ahli kitab lalu
dia berkata, ‘Kaum terbaik adalah kalian jika kalian tidak berbuat Syirik,
kalian berucap: atas kehendak Alloh dan kehendak Muhammad!’ Dia pun
menceritakan mimpinya ke Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam lalu beliau
bersabda, “Demi Alloh, aku benar-benar
lebih tahu hal itu, ucapkanlah: atas kehendak Alloh kemudian kehendak
Muhammad.” (Shohih: HR. Ibnu Majah no. 2118)
Kata wawu (dan) menunjukkan kesamaan hukum sementara kata tsumma (kemudian) menunjukkan urutan. Artinya, dilarangnya penggunaan wawu karena di sana ada penyamaan kehendak Alloh dengan lainnya.
Sementara tsumma, menunjukkan
kehendak manusia di bawah kendali kehendak Alloh.
Contoh dalam perbuatan: memakai gelang dan
benang untuk menghilangkan bala atau mencegahnya, memakai tamimah karena takut
ain atau jin. Namun, jika dia meyakini bahwa yang menghilangkan bala dan
mencegahnya adalah benda-benda tersebut, maka ini Syirik besar. Jika dia
meyakini hanya Alloh semata yang menghilangkan bala dan mencegahnya namun
meyakini bahwa benda-benda tersebut sebagai sebab yang menghilangkan bala dan
mencegahnya, maka ini Syirik kecil dan perbuatannya sia-sia. Disebut sia-sia
karena tidak ada faidahnya dari dua sisi: syar’i dan qodari. Dari sisi syar’i,
jelas syariat justru melarangnya dengan keras dan sesuatu yang Alloh larang
pasti tidak ada faidahnya. Dari sisi qodari, syariat tidak menjelaskan bahwa
benda-benda itu mujarab dalam pengobatan atau menghilangkan bala dan mencegahnya.
Jika benda tersebut terbukti secara penelitian yang bisa dipertanggung-jawabkan
maka tidak mengapa seperti obat kimia dan semisalnya.
Semua benda mati dan orang mati tidak bisa
menghilangkan bahaya dan mencegahnya. Alloh berfirman:
﴿قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا
تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ
هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ
قُلْ حَسْبِيَ اللهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ
الْمُتَوَكِّلُونَ﴾
“Katakanlah:
‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Alloh, jika Alloh
hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat
menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Alloh hendak memberi rahmat kepadaku,
apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Alloh bagiku.’ KepadaNya
lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar [39]: 38)
Dari Uqbah bin
Amir, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللهُ لَهُ، وَمَنْ
تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللهُ لَه»،
وفي رواية: «مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»
“Barangsiapa
yang menggantungkan tamimah maka Alloh
tidak akan mengabulkan keinginannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah maka Alloh tidak akan memberikan ketenangan
kepadanya” (Shohih: HR. Ahmad no. 17404) dan dalam riwayat yang lain Rosul bersabda: “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah maka ia telah berbuat
kesyirikan.” (Shohih: HR. Ahmad no. 17422)
Dari Abu Basyir Al-Anshari RadhiyAllohu ‘Anhu bahwa dia pernah bersama Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam dalam suatu perjalanan, lalu beliau mengutus seorang
utusan untuk menyampaikan pesan:
«لاَ يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ
قِلاَدَةٌ مِنْ وَتَرٍ، أَوْ قِلاَدَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ»
“Benar-benar tidak
boleh di leher unta kalung dari tali busur panah, atau kalung
apapun kecuali harus diputus.” (HR. Al-Bukhori no. 3005 dan Muslim no. 2115)
Ibnu Mas’ud RadhiyAllohu
‘Anhu menuturkan: aku telah mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda:
«إِنَّ الرُّقَى، وَالتَّمَائِمَ،
وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ»
“Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi), tamimah (jimat) dan tiwalah (rajah) adalah Syirik.” (Shohih: HR. Abu Dawud no. 3883)
Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak
untuk menangkal dan menolak penyakit ‘ain. Jika yang dikalungkan itu berasal
dari ayat-ayat Al-Qur’an, sebagian ulama Salaf memberikan keringanan dalam hal
ini; dan sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan melarangnya, di antaranya
Ibnu Mas’ud RadhiyAllohu ‘Anhu.
Ruqyah yaitu: yang disebut juga dengan istilah Ajimat. Ini diperbolehkan apabila
penggunaannya bersih dari hal-hal Syirik, karena Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam telah memberikan keringanan dalam hal ruqyah ini untuk
mengobati ‘ain atau sengatan kalajengking.
Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa
hal tersebut dapat menjadikan seorang istri mencintai suaminya, atau seorang
suami mencintai istrinya.
Semua yang disebutkan ini bisa menjadi Syirik besar
jika menyakini bahwa benda tersebut yang menghilangkan bala dan menolaknya,
bukan Alloh. Namun, jika meyakini benda-benda tersebut hanya pelantara, maka ia
Syirik kecil dan dosa besar dari yang besar. Perbuatan orang tersebut sia-sia,
karena benda-benda tersebut secara syariat, dilarang Alloh, dan secara medis
bukanlah obat.
2. Syirik
Tersembunyi (شرك خفي)
Syirik tersembunyi adalah Syirik kecil berupa
niat, keinginan, dan tujuan. Syirik ini ada dua macam, yaitu: riya-sumah dan beramal untuk dunia.
a) Riya (رياء) dan Sum’ah (سمعة)
Riya dari kata roo-a (melihat) adalah beramal dengan ditampakkan agar dilihat
manusia, seperti shalat, puasa, sedekah, haji, dan jihad. Sementara sum’ah dari kata sami-a (mendengar), karena tujuan sum’ah adalah agar amal shalihnya didengar manusia, seperti bacaan
Al-Qur’an, dzikirnya, nasihatnya, termasuk pula menyebut-nyebut prestasi
ibadahnya. Alloh berfirman:
﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا
وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ
أَحَدًا﴾
“Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal
yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada
Robbnya.” (QS. Al-Kahfi
[18]: 110)
Imam At-Tirmidzi berkata:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ الرِّيَاءَ شِرْكٌ» وَقَدْ فَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ هَذِهِ
الآيَةَ: ﴿وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ
أَحَدًا﴾، قَالَ: لَا يُرَائِي
“Dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda, ‘Sesungguhnya riya adalah Syirik.”
Sungguh sebagian ahli ilmu menafsirkan ayat ini: ‘Janganlah berbuat Syirik dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan
apapun,’ yaitu jangan riya.” (Al-Jami
At-Tirmidzi no. 1535, 4/110)
Tentang riya, diriwayatkan :
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، أَنَّ رَسُولَ
اللهِ ﷺ قَالَ: «إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ»
قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ،
يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ
بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا
فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً»
Dari Mahmud bin Labid bahwa Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya
yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah Syirik kecil.” Sahabat
bertanya, “Apa itu Syirik kecil wahai Rosululloh?” Jawab beliau, “Riya. Alloh berfirman kepada mereka pada
hari Kiamat saat seluruh manusia sudah dibalas atas amal shalih mereka:
‘Pergilah kalian kepada yang kalian pamer (riya) sewaktu di dunia.
Perhatikanlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?” (Hasan:
HR. Ahmad no. 23630)
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ قَالَ: خَرَجَ
النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَشِرْكَ السَّرَائِرِ»
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا شِرْكُ السَّرَائِرِ؟ قَالَ: «يَقُومُ
الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ جَاهِدًا لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ
النَّاسِ إِلَيْهِ، فَذَلِكَ شِرْكُ السَّرَائِرِ»
Dari Mahmud bin Labid, ia berkata: Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam keluar seraya bersabda, “Wahai sekalian manusia, waspadalah kalian pada Syirik tersembunyi.”
Sahabat bertanya, “Apa itu Syirik tersembunyi?” Jawab beliau, “Seseorang berdiri shalat lalu diperbagus
shalatnya dengan sungguh-sungguh karena melihat pandangan manusia yang tertuju
kepadanya. Itulah Syirik tersembunyi.” (Shohih: HR. Ibnu Khuzaimah
no. 937. Dishohihkan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
Tentang sum’ah,
diriwayatkan dari Jundab RadhiyAllohu
‘Anhu, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ،
وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللهُ بِهِ»
“Siapa
yang sum’ah maka Alloh akan sum’ah kepadanya, dan siapa yang riya maka Alloh
riya kepadanya.” (HR.
Al-Bukhori no. 6499 dan Muslim no. 2986)
Makna Alloh
sum’ah kepadanya adalah menampakkan hakikat ibadahnya kepada manusia bahwa
dirinya bukan beribadah karena Alloh tetapi karena ingin didengar
manusia untuk pujian mereka. Sementara makna Alloh riya kepadanya adalah menampakkan hakikat ibadahnya kepada
manusia bahwa dirinya bukan beribadah karena Alloh tetapi karena ingin dilihat
manusia untuk pujian mereka.
b) Beramal untuk Dunia (إرادة الإنسان بعمله الدنيا)
Yaitu seseorang melakukan ibadah yang seharusnya
untuk mencari ridha Alloh dan balasan dariNya, justru dilakukan untuk mencari
balasan dunia. Seperti shalat agar sehat, puasa agar diet, mengajar ilmu agama untuk
upah, sedekah agar kaya, dan lain sebagainya. Alloh berfirman:
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ
عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا
نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ
جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ
يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا* وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا
سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا * كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ
رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا * انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
وَلَلآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلا﴾
“Barang
siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di
dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami
tentukan baginya Neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan
terusir. Dan barang siapa yang menghendaki
kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia
adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan
baik. Kepada masing-masing golongan baik
golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Robbmu.
Dan kemurahan Robbmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah
bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan
pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isra [17]: 18-21)
Syirik jenis ini menghapus pahala amal yang
mengiringinya, seperti shalat dengan tujuan sehat maka pahala shalatnya
terhapus, meski secara tinjauan fiqih tetap sah.
Riya dalam ibadah ada dua keadaan, yaitu:
1.
Seseorang meniatkan ibadahnya murni karena manusia
atau selain Alloh, maka ini Syirik besar yang mengeluarkan dari Islam, karena
menjadikan sekutu bagi Alloh dalam ibadah.
2.
Seseorang ibadah karena Alloh, tetapi Syirik datang
di tengah ibadah. Jika ibadah tersebut berdiri sendiri maka ibadah pertama sah
dan ibadah yang dimasuki riya batal. Misalkan seseorang yang bersedekah di pagi
hari karena Alloh lalu disore hari sedekah lagi karena riya, maka sedekah
pertama sah dan sedekah kedua batal. Begitu juga untuk kasus membaca Al-Qur’an.
Adapun untuk ibadah yang tidak bisa dipisahkan maka ada dua keadaan:
a.
Jika dia berusaha menolaknya maka riya tersebut
sia-sia, misalkan seseorang shalat karena Alloh lalu di tengah shalat riya
datang dan dia berusaha menepisnya, maka hal ini tidak membahayakannya.
b.
Kedua, jika saat riya datang ia tidak berusaha
menolaknya tetapi justru merasa tentram maka shalatnya gugur, karena shalat
termasuk ibadah yang satu paket. Bukankah jika seseorang tidak membaca
Al-Fatihah, maka seluruh gerakan shalatnya sampai salam tidak sah?
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا،
قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ:
كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ
بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ،
وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا،
قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ
فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ:
عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ
بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ
عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ
نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ
تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ
فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى
وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ»
Dari Abu Hurairah, ia berkata: aku mendengar Rosululloh
Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“Manusia pertama yang akan diadili pada
hari Kiamat adalah orang mati syahid. Lalu dia didatangkan lalu diberitakan
akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya lalu dia pun mengakuinya. Alloh
berfirman, ‘Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab,
‘Aku berperang di jalan-Mu hingga terbunuh syahid.’ Alloh berfirman, ‘Kamu
bohong! Bahkan kamu berperang supaya
disebut sang pemberani, sungguh telah disebut.’ Kemudian
diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka.
Dan
seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur`an. Lalu
dia didatangkan lalu diberitakan akan nikmat-nikmat yang telah diberikan
kepadanya lalu dia pun mengakuinya. Alloh berfirman, ‘Untuk apa kamu gunakan
nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku belajar ilmu dan mengajarkannya serta
membaca Al-Qur`an karena-Mu.’ Alloh berfirman, ‘Kamu bohong! Bahkan kamu
mempelajari ilmu supaya disebut sang alim dan membaca Al-Qur`an supaya
disebut dia qari`, sungguh telah disebut.’ Kemudian
diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka.
Dan
seseorang yang Alloh luaskan rezeki baginya dan memberikannya perbendaharaan
harta yang banyak. Lalu dia didatangkan lalu diberitakan akan nikmat-nikmat
yang telah diberikan kepadanya lalu dia pun mengakuinya. Alloh berfirman,
‘Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Tidaklah aku
tinggalkan jalan yang Engkau sukai untuk berinfaq di sana melainkan aku
berinfaq karena-Mu.’ Alloh berfirman, ‘Kamu bohong! Bahkan kamu berinfaq supaya
disebut sang dermawan, sungguh telah disebut.’ Kemudian
diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka.” (HR. Muslim no. 1905)
Dalam riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu
Hibban, dan Al-Hakim ada tambahan:
«يَا أَبَا
هُرَيْرَةَ! أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللّٰهِ تُسَعَّرُ بِهِمُ النَّارُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Wahai
Abu Hurairah! Mereka bertiga adalah makhluk pertama yang neraka
disulut untuk mereka pada hari Kiamat.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 2382)
Ketika menceritakan Hadits ini, Abu Hurairah
beberapa kali pingsan. Syufai Al-Ashbahi
menceritakan bahwa dirinya pernah memasuki kota Madinah. Lalu, ada
seorang pria yang sedang dikerumuni oleh banyak orang. Dia bertanya, “Siapakah
orang ini?” Orang-orang menjawab, “Dia adalah Abu Hurairah.” Aku
mendekat kepadanya hingga duduk di hadapannya. Sedangkan ia sedang berbicara
dengan orang banyak. Ketika ia diam dan keadaan sunyi, aku pun berkata
kepadanya, “Aku memohon kepadamu
dengan sunguh-sungguh agar Anda berkenan memberitahukan sebuah Hadits (khusus) yang Anda dengar
dari Rosululloh, yang
benar-benar Anda pahami.” Abu Hurairah menjawab, “Baiklah. Aku akan
memberitahukan sebuah Hadits kepadamu yang pernah diucapkan oleh Rosululloh. Aku memahami dan mengetahuinya.” Lalu,
Abu Hurairah menangis dengan tangisan yang cukup lama.
Kemudian ia terdiam sebentar dan sadarkan diri. Dia lalu berkata, “Aku
akan memberitahukan sebuah Hadits yang diucapkan Rosululloh di rumah ini. Tidak
ada seorang pun bersama kami selain diriku dan beliau.” Lalu,
Abu Hurairah kembali menangis dengan tangisan yang cukup keras. Tidak lama
kemudian ia kembali sadarkan diri. Dia mengusap wajahnya. Dia berkata, “Aku
akan memberitahukan sebuah Hadits yang diucapkan oleh Rosululloh ketika diriku
dan beliau berada di rumah ini. Tidak ada orang lain yang
bersama kami selain diriku dan beliau.” Lalu, Abu Hurairah kembali
menangis dengan tangisan yang cukup keras. Tidak lama kemudian ia kembali
sadar. Lalu ia mengusap wajahnya. Dia kembali berkata, “Aku akan laksanakan.
Aku akan memberitahukan sebuah Hadits kepadamu dari Rosululloh. Ketika itu aku
sedang bersama beliau di rumah ini. Tidak ada orang lain bersama kami selain
diriku dan beliau. Abu Hurairah lalu menangis dengan tangisan yang sangat
kencang. Ia lalu tersungkur dengan menjatuhkan wajahnya. Beberapa lamanya aku
sandarkan tubuhnya pada tubuhku. Saat sadar, ia berkata, “Rosululloh
bersabda kepadaku...” Lalu Abu
Hurairah menyampaikan Hadits di atas. (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 2382)
Imam An-Nawawi berkata, “Sabda Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam tentang orang yang berperang, orang alim, dan orang
dermawan berserta hukuman bagi mereka atas perbuatannya beramal untuk selain Alloh
dan dimasukannya mereka ke dalam Neraka, adalah dalil atas beratnya keharaman
riya dan kerasnya siksa-Nya serta dorongan untuk ikhlas dalam semua amal,
sebagaimana firman Alloh, ‘Dan mereka
tidak diperintah kecuali menyembah Alloh dengan mengikhlaskan agama yang lurus
kepada-Nya.’ Di dalam Hadits ini juga terdapat penjelasan bahwa dalil-dalil
umum tentang keutamaan jihad hanya diperuntukan bagi siapa yang beramal ikhlas
karena Alloh, begitu pula pujian bagi para ulama dan bagi para munfiqin
(orang-orang yang berinfaq) dalam segala kebaikan. Semuanya khusus bagi siapa
yang melakukan hal tersebut ikhlas karena Alloh Ta’ala.” (Syarah Shohih
Muslim, XII/51)
Apakah termasuk jenis Syirik ini jika seseorang
kuliah agama untuk semata dapat ijazah atau derajat tinggi di masyarakat karena
ilmunya?
Syaikh Al-Utsaimin menjawab, “Mereka masuk dalam Syirik
ini, apabila tidak menginginkan tujuan syar’i sedikitpun. Kami katakan: pertama, jangan bertujuan untuk semata
martabat duniawi, tetapi niatkan ijazah ini sebagai pelantara untuk beramal
mengusahakan manfaat kepada manusia. Sebab, sebagian pekerjakan hari ini
mensyaratkan ijazah, sementara manusia tidak mampu memberi manfaat orang lain
kecuali dengan perantara ini, dengan ini maka niatnya jadi baik. Kedua, terkadang ilmu agama tidak
dijumpai (secara terstruktur dengan baik) kecuali di kampus. Untuk itu, ia bisa
masuk kampus dengan niat ini. Adapun mencari ketenaran maka ini tidak penting.”
(Al-Qoulul Mufid hal. 434)
Bagaimana dengan orang yang beribadah dengan
harapan dua kebaikan, yaitu kebaikan dunia dan Akhirat, misalkan rajin shalat
mencari muka kepada Alloh agar mendapatkan pahala, sekaligus agar dimudahkan
segala urusan dan rezekinya?
Syaikh Al-Utsaimin menjawab, “Jika seseroang
beramal dengan harapan dua kebaikan, dunia dan Akhhirat maka tidak mengapa,
sebab Alloh berfirman:
﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ
لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ﴾
‘Barang
siapa yang bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke
luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya.’ (QS. At-Tholaq [65]: 2-3)
Keinginan orang tersebut dalam ketaqwaan berupa
jalan keluar dari segala kesulitan dan rezeki dari jalan yang tidak
disangka-sangka (menunjukkan bolehnya).” Beliau melanjutkan, “Tidak masalah
seseorang berdoa dalam shalatnya meminta harta, tetapi jangan sekali-sekali
shalat untuk tujuan ini semata, ini sangat rendah sekali. Adapun mencari kebaikan
dunia dengan sebab-sebab duniawi seperti jual-beli dan ladang maka tidak
masalah. Yang perlu diperhatikan, kita tidak menjadikan ibadah sebagai sarana
untuk menarik keuntungan duniawi.” (Al-Qoulul
Mufid hal. 434)
B. Perbandingan Syirik Besar dan Syirik Kecil
Minimal keduanya bisa dibandingkan dari lima hal:
Pertama, Syirik besar mengeluarkan seseorang dari Islam,
sementara Syirik kecil tidak. Alloh berfirman:
﴿وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا
ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ
الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
* ثُمَّ لَمْ تَكُنْ
فِتْنَتُهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا وَاللهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا
مُشْرِكِينَ * انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ﴾
“Dan
(ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian
Kami berkata kepada orang-orang musyrik: ‘Di manakah sembahan-sembahan kamu
yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)?’ Kemudian
tiadalah fitnah (kilah) mereka, kecuali mengatakan: ‘Demi Alloh,
Robb kami, tiadalah kami mempersekutukan Alloh.’ Lihatlah,
bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah
daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am [6]: 22-24)
Kedua, Syirik besar mengekalkan seseorang di Neraka,
sementara Syirik kecil tidak.
﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ
فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾
“Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh
mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah [5]: 72)
عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: النَّبِيُّ ﷺ:
«مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ»
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RadhiyAllohu ‘Anhu bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda: “Barangsiapa yang
mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Alloh, maka masuklah ia ke dalam
Neraka.” (HR. Al-Bukhori no. 4497)
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ ﷺ
رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْمُوجِبَتَانِ؟ فَقَالَ: «مَنْ مَاتَ
لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ
شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ»
Dari Jabir, ia berkata: seseorang mendatangi Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Wahai Rosululloh, apa itu dua kewajiban?”
Beliau menjawab, “Barangsiapa yang
menemui Alloh (mati) dalam keadaan tidak berbuat Syirik kepadaNya, pasti ia
masuk Surga, dan barangsiapa yang menemuiNya (mati) dalam keadaan berbuat
kemusyrikan maka pasti ia masuk Neraka.” (HR. Muslim no. 93)
Ketiga, Syirik besar menghapus semua pahala kebaikan,
sementara Syirik kecil hanya menghapus
ibadah yang disertai riya.
﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ
وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Dan
sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu:
‘Jika kamu mempersekutukan (Robb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah
kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39]: 65)
﴿ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ
مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ﴾
“Itulah
petunjuk Alloh, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Alloh,
niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 88)
﴿وَالَّذِينَ كَفَرُوا
أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا
جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللهُ
سَرِيعُ الْحِسَابِ﴾
“Dan
orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah
yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila
didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya
(ketetapan) Alloh di sisinya, lalu Alloh memberikan kepadanya perhitungan
amal-amal dengan cukup dan Alloh adalah sangat cepat perhitunganNya.” (QS. An-Nur [24]: 39)
عَنْ عَائِشَةَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ،
ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ
الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: «لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ
يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ»
Dari ‘Aisyah, ia berkata: wahai Rosululloh, Ibnu
Jad’an dahulu di masa Jahiliyah gemar silaturrahim, memberi makan orang miskin,
apakah kebaikannya tersebut bermanfaat baginya? Jawab beliau, “Tidak bermanfaat, karena ia tidak pernah
berkata, ‘Ya Alloh ampunilah aku pada hari Pembalasan.’” (HR. Muslim no.
214)
Keempat, Syirik besar menjadikan pelakunya halal darah
dan hartanya, sementara Syirik kecil tidak. Alloh berfirman:
﴿فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ
الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ
وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ
مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ
وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Apabila
sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di
mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan
intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan
menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.
Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 5)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوْا
الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي
دِمَاءهَمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ
تَعَالَى»
Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku
diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat lâ ilâha
illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Jika
mereka melaksanakan hal tersebut, maka mereka telah memelihara harta dan darah
mereka dariku kecuali dengan hak islam, dan hisab mereka diserahkan kepada Alloh
Ta’ala.” (HR. Al-Bukhori no. 25 dan Muslim no. 22)
Namun, orang kafir (musyrik) ada 4 jenis, yaitu kafir harbi (terang-terangan memusuhi), kafir dzimmi (bayar pajak di negeri kaum
Muslimin), kafir musta’man
(mendapatkan jaminan keamanan), dan kafir
mu’ahad (terikat perjanjian damai). Yang boleh dibunuh adalah orang kafir/musyrik harbi, adapun lainnya maka
Nabi melarangnya.
Kelima, Syirik besar mengharuskan adanya permusuhan
antara pelakunya dan ahli Tauhid, sementara Syirik kecil tidak. Pelaku Syirik
kecil dibenci sesuai dengan kadar pelanggarannya dan ia tetap dicintai karena
masih beriman. Alloh berfirman:
﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ
مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا
بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا
تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ
الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى
تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ
مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ
تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ
أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ﴾
“Sesungguhnya
telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya
kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami
ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan
kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja. Kecuali
perkataan Ibrahim kepada bapaknya: ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan
bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Alloh.’
(Ibrahim berkata): ‘Ya Robb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan
hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)
﴿لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ
بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ
مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ
وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ
عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ
وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي
مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلا إِنَّ
حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Kamu
tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat,
saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan RosulNya,
sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau
pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Alloh telah
menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan
yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam Surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh rida terhadap mereka
dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah
golongan Alloh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Alloh itulah golongan
yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)
C. Awal Munculnya Kesyirikan
Dari Nabi Adam hingga 1000 tahun, manusia di atas
Tauhid. Alloh berfirman:
﴿كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً
فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ
مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ
وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ
لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلا
الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا
اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ
بِإِذْنِهِ وَاللهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾
“Manusia
itu adalah umat yang satu (yakni berTauhid). (Setelah muncul Syirik), maka Alloh
mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh
menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara
manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang
Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu
setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki
antara mereka sendiri. Maka Alloh memberi petunjuk orang-orang yang beriman
kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya.
Dan Alloh selalu memberi petunjuk orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang
lurus.” (QS. Al-Baqarah [2]: 213)
Setelah itu muncul kesyirikan dan Alloh mengutus
Nabi Nuh sebagai Rosul pertama untuk mendakwahi mereka.
عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «كَانَ بَيْنَ آدَمَ، وَنُوحٍ عَشَرَةُ
قُرُونٍ كُلُّهُمْ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْحَقِّ، فَلَمَّا اخْتَلَفُوا بَعَثَ اللهُ
النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ فَكَانُوا أُمَّةً
وَاحِدَةً»
Dari Ibnu Abbas RadhiyAllohu ‘Anhuma, ia berkata, “Jarak antara Adam dan Nuh adalah
10 abad (1000 tahun). Semuanya di atas ajaran yang hak (Tauhid). Ketika mereka
berselisih (Syirik) maka Alloh mengutus para Nabi dan Rosul dan menurunkan
KitabNya sehingga mereke kembali menjadi satu umat (berTauhid).” (Shohih:
HR. Al-Hakim no. 3654)
Dari sini, kita mengetahui awal munculnya kesyirikan
adalah di zaman Nabi Nuh Alaihissalam.
Alloh berfirman:
﴿وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ
آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ
وَنَسْرًا﴾
“Dan
mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Robb-Robb
kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan
jangan pula Suwaa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr.’” (QS. Nuh [71]: 23)
عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، «صَارَتِ الأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي
قَوْمِ نُوحٍ فِي العَرَبِ بَعْدُ، أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ
الجَنْدَلِ، وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ، وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ
لِمُرَادٍ، ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ، عِنْدَ سَبَإٍ، وَأَمَّا يَعُوقُ
فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ، وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي
الكَلاَعِ، أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا هَلَكُوا
أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ، أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ
الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ، فَفَعَلُوا،
فَلَمْ تُعْبَدْ، حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ العِلْمُ عُبِدَتْ»
Ibnu Abbas mengatakan: “Berhala-berhala yang ada di kaum Nuh berpindah di
Arab. Adapun Wad milik kaum Kalb di Daumatil Jandal, Suwa’ di Hudzail, Yaghuts
milik kaum Murad kemudian Bani Ghuthoif di Juf di Saba, Ya’uq milik suku
Hamdan, Nasr milik Himyar keluarga Dzil Kala’.
Ini adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi
Nuh, ketika mereka meniggal dunia, syetan membisikkan kepada kaum mereka agar
membuat patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat dimana, di situ pernah diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh
memberikan nama-nama patung tersebut dengan nama-nama mereka, kemudian
orang-orang tersebut menerima bisikan syetan, dan saat itu patung-patung yang
mereka buat belum dijadikan sesembahan, baru setelah para pembuat patung itu
meninggal dan ilmu agama dilupakan, mulai saat itulah patung-patung tersebut disembah.” (HR. Al-Bukhori no. 4920)
Awal kesyirikan berkaitan erat dengan berlebihan
(ghuluw) terhadap orang shalih yang
telah meninggal dengan dibuat patung lalu dijadikan wasilah (pelantara) antara dirinya dengan Alloh, lalu muncul
generasi jahil yang menyembahnya. Menjelang meninggal, Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam memperingatkan umatnya dari dua hal penting dalam rangka
memurnikan Tauhid, yaitu menjadikan kuburan beliau sebagai tempat ibadah atau
perayaan, dan kedua, melaknat Yahudi
dan Nashrani yang menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid, agar umat Islam
tidak meniru mereka.
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «اللهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا، لَعَنَ
اللهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ya Alloh,
janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala. Laknat Alloh atas orang-orang
yang menjadikan kuburan Nabinya sebagai masjid (tempat ibadah).” (Shohih:
HR. Ahmad no. 7358)
عَنْ عَائِشَةَ
وَعَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالاَ: لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ طَفِقَ
يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ
وَجْهِهِ، فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ: «لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُودِ
وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ» يُحَذِّرُ مَا
صَنَعُوا.
Dari Aisyah dan Abdullah bin Abbas, keduanya
berkata: ketika Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tertimpa
sakarat, beliau sadar dari pinsannya lalu melempar kain yang menutupi wajahnya
sambil bersabda dalam kondisi seperti itu, “Laknat
Alloh atas Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai
masjid.” Dalam rangka memperingatkan (umatnya) dari perbuatan mereka
(Yahudi Nashrani). (HR. Al-Bukhori no. 435 dan Muslim no. 531)
Di antara perbuatan orang musyrik di zaman Rosululloh
Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah meramaikan kuburan dan
menjadikannya tempat ibadah serta menjadikannya sebagai wasilah (pelantara) antara dirinya dengan Alloh agar lebih dekat. Alloh
berfirman:
﴿أَلا لِلهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ
اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ
يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لا يَهْدِي
مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾
“Ingatlah,
hanya kepunyaan Alloh-lah agama yang bersih (dari Syirik). Dan orang-orang yang
mengambil pelindung (menyembah) selain Alloh (berkata): ‘Kami
tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh
dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Alloh akan memutuskan di antara mereka
tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki
orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar [39]: 2)
D. Kaidah Memahami Syirik
Kaidah tersebut adalah “Setiap ibadah yang dipersembahkan kepada selain Alloh adalah Syirik
dan kufur, sedang pelakunya adalah musyrik kafir.” (Lihat Al-Qoulus Sadid karya Syaikh As-Sa’di dan Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Syaikh At-Tamimi)
Dasar kaidah ini adalah firman Alloh:
﴿وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا
آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ
الْكَافِرُونَ﴾
“Dan
barang siapa menyembah sesembahan yang lain di samping Alloh, padahal
tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya
di sisi Robbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mukminun [23]: 117)
Contoh ibadah adalah Islam, iman, dan ihsan,
karena Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menjadikanya sebagai ibadah,
berdasarkan Hadits dari Umar bin Khaththab RadhiyAllohu
‘Anhu:
بَيْنَمَا نَحْنُ
عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ
بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ
السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ،
فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى
فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ: «الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ
الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ
سَبِيلًا»، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ، وَيُصَدِّقُهُ،
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ،
وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ
الْإِحْسَانِ، قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ
تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: «مَا
الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ
أَمَارَتِهَا، قَالَ: «أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ
الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ»، قَالَ:
ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا عُمَرُ أَتَدْرِي
مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّهُ
جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ»
Pada
suatu hari kami duduk di sisi Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam,
tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat
hitam rambutnya, tidak nampak kalau sedang bepergian, dan tidak ada seorang pun
dari kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk menghadap Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam lalu menyandarkan lututnya kepada lutut beliau, dan
meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau. Dia bertanya, “Ya
Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Maka, Rosululloh Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Islam
adalah Anda bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan
shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika Anda
mampu menempuh jalannya.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kami heran
terhadapnya, dia yang bertanya sekaligus yang mengoreksinya. Lelaki itu bekata
lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman!” Beliau menjawab, “Anda beriman kepada Alloh, para MalaikatNya,
kitab-kitabNya, para RosulNya, hari Akhir, dan Anda beriman kepada takdir yang
baik maupun yang buruk.” Lelaki itu menjawab, “Engkau benar.” Dia bekata
lagi, “Kabarkan kepadaku tentang ihsan!” Beliau menjawab, “Anda menyembah Alloh seolah-olah melihatnya. Jika Anda tidak bisa
melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihat Anda.” Dia berkata lagi, “Kabarkan
kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia
berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Beliau menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan
majikannya, dan jika Anda melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak
berpakaian, miskin, dan penggembala kambing saling bermegah-megahan meninggikan
bangunan.”
Kemudian lelaki itu
pergi. Aku diam sejenak lalu beliau bersabda, “Hai ‘Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu?” Aku menjawab, “Alloh dan RosulNya lebih tahu.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril
yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR.
Muslim no. 8)
Ibadah hati lebih utama
daripada ibadah anggota badan, seperti: doa, khouf (takut), roja
(berharap), tawakkal, roghbah, rohbah,
khusyu’, khosy-yah (takut), inabah (tobat), isti’anah (minta pertolongan), isti’adzah
(minta perlindungan), istighatsah
(minta pertolongan saat genting), menyembelih, dan bernadzar.
Tentang doa, Nabi Shollallohu
‘Alaihi wa Sallam bersabda:
«الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ»،
وَقَرَأَ: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ
يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾
“Doa adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca, “Dan Robbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya
akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang merasa tidak butuh
dari berdo’a kepada-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir [40]: 60, Shohih: HR.
At-Tirmidzi no. 2969)
Dalil khouf adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ
وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan
takutlah kepadaku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran [3]:
175)
Dalil roja adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو
لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِ أَحَدًا﴾
“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya,
hendaklah ia beramal shalih dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam
beribadah kepada Robbnya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110)
Dalil tawakkal
adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿وَعَلَى اللهِ
فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Dan hanya kepada Alloh-lah kalian bertawakkal, jika
kalian orang-orang mukmin.” (QS. Al-Maidah [5]: 23)
﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ
عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh, maka
Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 3)
Dalil roghbah, rohbah, dan khusyu’ adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿إِنَّهُمْ كَانُوا
يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا
خَاشِعِينَ﴾
“Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam
kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka
khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya` [21]: 90)
Dalil khosyyah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿فَلَا تَخْشَوْهُمْ
وَاخْشَوْنِي﴾
“Maka, janganlah engkau takut kepada mereka, tetapi
takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 150)
Dalil inabah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ
وَأَسْلِمُوا لَهُ﴾
“Dam bertaubatlah kepada Robbmu dan serahkanlah
dirimu kepadaNya.” (QS. Az-Zumar [39]: 54)
Dalil isti’anah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ
وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu
kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 4)
Dalam sebuah Hadits
Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam disebutkan:
«وَإِذَا اسْتَعَنْتَ
فَاسْتَعِنْ بِاللهِ»
“Apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah
kepada Alloh.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 2516)
Dalil isti’adzah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ
الْفَلَقِ﴾
“Katakanlah: aku berlindung kepada Robbnya falaq.” (QS. Al-Falaq
[113]: 1)
﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ
النَّاسِ﴾
“Katakanlah: aku berlindung kepada Robbnya manusia.” (QS. An-Nas [114]:
1)
Dalil istighotsah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿إِذْ تَسْتَغِيثُونَ
رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ﴾
“Jika engkau beristighatsah kepada Robbmu, niscaya
Dia akan mengabulkan bagimu.” (QS. Al-Anfal [8]: 9)
Dalil dari As-Sunnah:
«لَعَنَ اللهَ مَنْ
ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ»
“Alloh melaknat seseorang yang menyembelih karena
selain Alloh.” (HR. Muslim no. 1978)
Dalil menyembelih
adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي
وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ
وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku,
hidup, dan matiku hanya untuk Alloh Robb semesta alam, tiada sekutu bagiNya.” (QS. Al-An’am [6]:
162-163)
Dalil nadzar adalah
firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
﴿يُوْفُوْنَ
بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا﴾
“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari
yang adzabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan [76]: 7]
Semua ibadah di atas, wajib dipersembahkan kepada
Alloh semata. Alloh berfirman:
﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ
لِلهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا﴾
“Dan sesungguhnya masjid-masjid adalah milik Alloh,
maka janganlah kamu berdoa kepada seorang pun bersama Alloh.” (QS. Jin [72]: 18)
Siapa yang mempersembahkan ibadah-ibadah di atas
kepada selain Alloh, maka ia seorang musyrik dan kafir. Allohu a’lam[]
DAFTAR PUSTAKA
1.
Tafsîrul Qur`ânil Adzîm (Tafsîr
Ibnî Katsîr) karya Abu
Al-Fida Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasy Ad-Dimasyqi (w. 774 H), Tahqiq:
Sami Muhammad Salamah, Penerbit: Dar Tayyibah, cet. ke-2 th. 1420 H/1999 M.
2.
Taisîrul Karîmir Rahmân fî
Tafsîri Kalâmil Mannân (Tafsîr As-Sa’di) karya Abdurrahman bin
Nashir bin Abdullah As-Sa'di (w. 1376 H), Tahqiq: Abdurrahman bin Ma'la
Al-Luwaihaq, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1420 H/2000 M.
3.
Al-Jâmi’ As-Musnad
Ash-Shahîh Al-Mukhtashar min Umûri Rasûlillahi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam wa Sunanih wa Ayyamih (Shahîh
Al-Bukhârî) karya Abu
Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhori Al-Ju’fi (w. 256 H), Tahqiq: Muhammad
Zuhair bin Nashir An-Nashir, Penerbit: Dar Thauqun Najah, cet. ke-1 th. 1422 H.
4.
Al-Musnad Ash-Shahîh
Al-Mukhtashar Binaqlil Adli ‘anil Adli ilâ Rasûlillahi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam (Shahîh Muslim) karya Abu Al-Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim
Al-Qusyairi An-Naisaburi (w. 261 H), Tahqiq: Dr. Muhammad Fuad Abdul Baqi,
Penerbit: Ihyaut Turats Al-Arabi Beirut, tanpa tahun.
5.
Sunan At-Tirmidzî karya Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah
At-Tirmidzi (w. 249 H), Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir dkk,
Penerbit: Musthafa Al-Babi Al-Halabi Mesir, cet. ke-2 th. 1395 H/1975 H.
6.
Sunan Abû Dâwûd karya Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani
As-Azdi (w. 275 H), Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid,
Penerbit: Maktabah Al-Ishriyyah Beirut, tanpa tahun.
7.
Al-Mujtabâ (Sunan An-Nasâ`i) karya Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali
An-Nasa`i (w. 303 H), Tahqiq: Abu Ghuddah Abdul Fattah, Penerbit:
Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyah Halab cet. ke-2 th. 1406 H/1986 M.
8.
Sunan Ibnu Mâjah karya Abu Abdillah Muhammad bin Majah (nama aslinya
Yazid) Al-Qazwini (w. 273 H), Tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Penerbit:
Dar Ihya`ul Kutub Al-Arabiyyah.
9.
Musnad Ahmad karya Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani (w. 241 ),
Tahqiq: Syuaib Al-Arnauth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th.
1421 H/2001 M.
10.
As-Sunan Al-Kubrâ karya Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali
An-Nasa`i (w. 303 H), Tahqiq: Hasan Abdul Mun’im Syalabi,
Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-1 th. 1421 H/2001 M.
11.
Shahîh Ibnu Khuzaimah karya Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin
Al-Mughirah bin Shalih bin Bakar As-Sulami An-Naisaburi (w. 311 H), Tahqiq: Dr.
Musthafa Al-A’dzami, Penerbit: Al-Maktabah Al-Islami Beirut, cet. tanpa tahun.
12.
Shahîh Ibnu Hibbân karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin
Hibban bin Muadz bin Ma’bad At-Tamimi Ad-Darimi (w. 354 H), Tahqiq: Syu’aib
Al-Arna`ut, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-2 th. 1414 H/1993 H.
13.
Al-Mustadrâk alâsh Shahîhain karya Abu Abdillah Al-Hakim bin Muhammad bin
Abdullah bin Muhammad bin Hamadiyyah bin Tsu’aim bin Al-Hakam adh-Dhabi
Ath-Thahmani An-Naisaburi (nama ma’ruf Ibnul Bayyi’) (w. 405 H), Tahqiq:
Musthafa Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-1
th. 1411 H/1990 H.
14.
Ar-Raudhu Ad-Dânî (Al-Mu’jam
Ash-Shaghîr) karya Abul Qasim Sulaiman
bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lahmi asy-Syami Ath-Thabarani (w. 360 H),
Tahqiq: Muhammad Syakur Mahmud Al-Hajj Al-Amiri, Penerbit: Al-Maktab Al-Islami
Beirut, cet. ke-1 th. 1405 H/1985 H.
15.
Al-Mu’jam Al-Ausath karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin
Muthir Al-Lahmi asy-Syami Ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: Thariq bin
Iwadhullah bin Muhammad dan Abdul Muhsin bin Ibrahim Al-Husni, Penerbit: Darul
Haramain Mesir, cet. tanpa tahun.
16.
Al-Mu’jam Al-Kabîr karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin
Muthir Al-Lahmi asy-Syami Ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: Hamdi bin Abdul
Majid As-Salafi, Penerbit: Maktabah Ibnu Taimiyyah Mesir, cet. ke-2 tanpa
tahun.
17.
Al-Mu’jam Al-Kabîr (juz 13, 14, dan 21) karya Abul Qasim Sulaiman bin
Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lahmi asy-Syami Ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq:
penelitian di bawah pengawasan Dr. Sa’ad bin Abdullah Al-Hamid dan Dr. Khalid
bin Abdurrahman Al-Jarisi, cet. ke-1 th. 1427 H/2006 H.
18.
As-Sunan Al-Kubrâ karya Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali
Al-Baihaqi (w. 458 H), Tahqiq: Muhamamd Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub
Al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-3 th. 1424 H/2003 H.
19.
As-Sunan Ash-Shughrâ karya Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali
Al-Baihaqi (w. 458 H), Tahqiq: Abdul Mu’thi Amin, Penerbit: Jami’atud Dirâsât
Al-Islâmiyyah Pakistan, cet. ke-1 th. 1410 H/1989 H.
20.
Syu'abul Iman karya Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin
Musa Al-Baihaqi Al-Khurasani (w. 458 H), Tahqiq: Dr. Abdul Ali Abdul Hamid
Hamid, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd Riyadh, cet. ke-1 th. 1423 H/2003 M.
21.
Mushannaf Ibnu Abi Syaibah karya Abu Bakar Abdullah bin Abu Syaibah Al-Abasi
Al-Kufi (w. 235 H), Tahqiq: Kamal Yusuf Al-Hut, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd
Riyadh, cet. ke-1 th. 1409 H.
22.
Mushannaf Abdurrazzâq karya Abu Bakar Abdurrazzaq bin Hammam Ash-Shan'ani
(w. 211 H), Tahqiq: Habiburrahman Al-A'dhami, Penerbit: Al-Maktab Al-Islami
Beirut, cet. ke-2 th. 1403 H.
23.
Musnad Ad-Dârimî (Sunan Ad-Dârimî) karya Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin
Al-Fadhal bin Bahram bin Abdush Shamad Ad-Darimi At-Tamimi As-Samarqandi (w.
255 H), Tahqiq: Husain Salim Asad Ad-Darani, Penerbit: Darul Mughni KSA, cet.
ke-1 th. 1412 H/2000 M.
24.
Al-Mustakhrâj karya Abu Awanah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim
An-Naisaburi Al-Isfirayaini (w. 316 H), Tahqiq: Aiman bin Arif Ad-Dimasyq,
Penerbit: Darul Ma’rifah Beirut, cet. ke-1 th. 1419 H/1998 H.
25.
Sunan Ad-Dâruquthnî karya Abul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad bin Mahdi
bin Mas’ud bin Nu’man bin Dinar Al-Baghdadi Ad-Daruquthni (w. 385 H), Tahqiq:
Syu’aib Al-Arna`uth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-1 th.
1424 H/2004 H.
26.
Musnad Abû Ya’lâ karya Abu Ya’la Ahmad bin Ali bin Al-Mutsanna bin
Yahya bin Isa bin Hilal At-Tamimi Al-Maushuli (w. 307 H), Tahqiq: Husain Salim
Asad, Penerbit: Darul Ma`mun lit Turâts Damaskus, cet. ke-1 th. 1404 H/1984 H.
27.
Musnad Ibnu Abî Syaibah karya Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim
bin Utsman bin Khawasiti Al-Abasi Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H), Tahqiq: Adil bin Yusuf Al-Azazi dan Ahmad bin
Farid Al-Mazidi, Penerbit: Darul Wathan Riyadh, cet. ke-1 th. 1997 H.
28.
Musnad Abû Dâwûd Ath-Thayâlisî karya Abu Dawud Sulaiman bin Dawud bin Al-Jarud
Ath-Thayalisi Al-Bashri (w. 204 H), Tahqiq: Dr. Muhammad bin Abdul Muhsin
At-Turki, Penerbit: Dar Hijr Mesir, cet. ke-1 th. 1419 H/1999 H.
29.
Al-Bahr Az-Zakhkhâr (Musnad
Al-Bazzâr) karya Abu Bakar Ahmad bin
Amr bin Abdul Khaliq bin Khalad bin Ubaidillah Al-Ataki (nama ma’ruf Al-Bazzar)
(w. 292 H), Tahqiq: Mahfuzhur Rahman Zainullah (juz 1-9), Adil bin Sa’ad (juz
10-17), dan Shabari Abdul Khaliq asy-Syafi’i (juz 18), Penerbit: Maktabah
Al-Ulum wal Hikam Madinah, cet. ke-1 th. 1988-2009 H.
30.
Musnad Al-Humaidi karya Abu Bakar Abdullah bin Az-Zubair bin Isa bin
Abdillah Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Humaidi Al-Makki (w. 219 H), Tahqiq: Hasan
Salim Asad Ad-Darani, Penerbit: Darus Saqa`, cet. ke-1 th. 1996 M.
31.
At-Tauhîd wa Ma’rifatu Asmâ`illah
Azza wa Jalla wa Sifâtuhu ‘alal Ittifâq wat Tafarrudi (Kitâbut Tauhîd) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ishaq bin Muhammad
bin Yahya bin Mandah Al-Abdi (w. 395 H), Tahqiq: Dr. Ali bin Muhammad Nashir
Al-Faqihi, Penebit: Maktabatul Ulum wal Hikam Madinah, cet. ke-1 th. 1423
H/2002 M.
32.
Fathul Bârî Syarhu Shahîh
Al-Bukhârî karya Abul Fadhl Ahmad bin
Ali bin Hajar Al-Asqalani asy-Syafi’i (w. 852 H), Tahqiq: Abdul Aziz bin Baz,
Tarqim: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Takhrij: Muhibuddin Al-Khathib, Penerbit:
Darul Ma’rifat Beirut, cet. th. 1379 H.
33.
Al-Minhâj Syarhu Shahîh Muslim bin
Al-Hajjâj karya Abu Zakaria Yahya bin
Syaraf An-Nawawi asy-Syafi’i (w. 676 H), Penerbit: Dar Ihyâ`ut Turâts Al-Arabi
Beirut, cet. ke-2 th. 1392 H.
34.
Al-Qoulul Mufid Syarah
Kitabit Tauhid karya
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit: Dar Ibnul Jauzi
Kairo, cet. ke-1 th. 1432 H/2011 M.
35.
Silsilah Al-Lughoh
Al-Arobiyah Madah Tauhid Mustawa Tsalits disusun Tim Dosen Universitas Muhammad bin Suud
Riyadh, Arab Saudi.
36.
Nurut Tauhid wa
Zhulumatusy Syirk karya
Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qohthooni, tanpa tahun.
37.
Aqidatut Tauhid karya Dr. Shalih Al-Fauzan, tanpa tahun.[]

Alhamdulillah sangat bermamfaat. Jazakaullah khairan akhi
jazaakallahu khoir akh sangat bermanfaat