Cari Ebook

[PDF] Ringkasan Tauhid dan Syirik - Edisi 3 - Nor Kandir



MUQODDIMAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحيمِ. الحَمْدُ للهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَبَعْدُ:

Buku ini berisi tentang Tauhid dan Syirik yang diringkas dari beberapa kitab Tauhid dan Aqidah. Penulis berusaha meringkas sebisa mungkin, tetapi dengan tetap memahamkan pembaca sehingga diberi beberapa penjelasan. Semua Hadits dan atsar di kitab ini semuanya maqbul meliputi shohih dan hasan sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara ilmu mustholah.

Kitab ini disusun dengan harapan menjadi pegangan setiap kaum Muslimin dalam memahami dua perkara besar ini sehingga jelas dan gambalng, hingga bisa merealisasikan Tauhid dan menjauhi Syirik.

Penulis tidak meyakini semua yang ada di buku ini benar. Apa yang benar adalah hanyalah dari Alloh, dan apa yang salah adalah karena tabiat manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan. Bagi para ustadz dan alim untuk tidak segan mengirim koreksiannya kepada penulis di norkandir@gmail.com atau 085730-219-208 untuk dimasukkan ke edisi revisi. Penulis ucapkan jazakumullah khoir.

Penulis sangat berharap kepada Alloh agar kelak ada yang menyempurakan pembahasan ini atau memperjelas apa yang samar lalu menyebar ke tengah kaum Muslimin, serta mengoreksi apa yang salah di dalamnya sehingga tidak memberatkan saya di hari Perhitungan. Ya Alloh kabulkanlah.

Ya Alloh terimalah dari kami dan Engkau Maha mendengar dan Maha mengetahui.

وَللهِ الْحَمْدُ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ.

Surabaya, Rojab 1439 H

Al-Faqil Ila Alloh

Nor Kandir

 

BAB 1: TAUHID

Ilmu ada banyak macamnya dan jenisnya. Kita perlu mengetahui bahwa kemulian ilmu itu tergantung apa yang dipelajarinya, semakin mulia yang dipelajari maka semakin mulia ilmu tersebut. Ibnul Jauzi (w. 597 H) berkata:

شَرَفُ الْعِلْمِ بِشَرَفِ الْمَعْلُومِ

 “Kemulian ilmu tergantung kemulian yang dipelajari.” (Zadul Masir, 1/11)

Adakah yang lebih mulia daripada Alloh?! Maka, ilmu yang paling mulia dan utama secara mutlak adalah ilmu Tauhid karena ia membahas dan mempelajari tentang Alloh, terutama hak terbesarNya, apalagi ilmu ini menentukan Surga dan Neraka tiap hamba.  Kita juga wajib jujur bahwa ilmu Tauhid lebih mulia daripada ilmu matematika, fisika, kimia, biologi, arsitektur, teknik mesin, teknik elektro, teknik material, teknik industri, teknik informatika, sistem informasi, kedokteran, kebidanan, hukum internasional, bahkan lebih utama daripada fiqih dan balaghoh.

Maka, Anda, wahai Pembaca, yang berasal dari latar belakang apapun dan kuliah di jurusan apapun, Anda patut bersyukur, diberi kesempatan Alloh untuk membaca dan mempelajari Tauhid, karena disitulah kemulian dan kejayaan Anda. Dengan meminta pertolongan kepada Alloh, kita mulai belajar. Bismillah.

A. Makna Tauhid (التوحيد) dan Pembagiannya

Tauhid  adalah masdar (kata bentukan dari wah-ha-da) yang artinya menjadikan sesuatu jadi satu. Secara istilah, Tauhid adalah mengesakan Alloh dengan mengkhususkanNya pada Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat.

Tauhid ada tiga, yaitu: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa Shifat. Tiga ini terkumpul dalam firman Alloh:

﴿رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً﴾

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepadaNya. Apakah kamu mengetahui ada yang sama dengannya?” (QS. Maryam [19]: 65)

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya,” adalah Tauhid Rububiyah. Adapun “Sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepadaNya,” adalah Tauhid Uluhiyah. Adapun “Apakah kamu mengetahui ada yang sama dengannya?” adalah Tauhid Asma wa Shifat, karena inti Tauhid Asma wa Shifat adalah menetapkan kesempurnaan pada nama-nama Alloh dan sifatNya serta meniadakan segala bentuk aib dan kekurangan, sehingga tidak ada satu pun yang serupa dengan Alloh, baik dari sisi dzat, perbuatan, nama, dan sifat.

1. Tauhid Rububiyah

Yaitu mengesakan Alloh dalam menciptakan, memiliki, dan mengatur. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلا تَذَكَّرُونَ﴾

Sesungguhnya Robb kamu ialah Alloh Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izinNya. Yang demikian itulah Alloh, Robb kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Yunus [10]: 2)

Maksud mengesakan Alloh dalam mencipta adalah seseorang meyakini bahwa tidak ada pencipta kecuali hanya Alloh saja. Alloh berfirman:

﴿أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْر﴾

“Ketahuilah, hanya milikNya mencipta dan memerintah.” (QS. Al-Araf [7]: 54)

Adapun maksud mengesakan Alloh dalam memiliki adalah seseorang meyakini bahwa hanya Pencipta yang memiliki. Alloh berfirman:

﴿وَلِلهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْض﴾

“Milik Alloh kerajaan langit-langit dan bumi.” (QS. Ali Imran [3]: 198)

﴿لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى﴾

“KepunyaanNya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (QS. Thoha [20]: 6)

Adapun maksud mengesakan Alloh dalam mengatur adalah seseorang meyakini bahwa yang mengatur alam semesta hanya Alloh, termasuk pengaturan rezeki. Alloh berfirman:

 ﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: Alloh. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?’” (QS. Yunus [10]: 31)

﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ﴾

Dan tidak ada dabbah (makhluk) pun di bumi melainkan Alloh-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuz). (QS. Hud [11]: 6)

Orang-orang musyrik meyakini Tauhid jenis ini, Alloh berfirman:

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ﴾

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab: Alloh, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS. Al-Ankabut [29]: 61)

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ﴾

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Alloh,’ maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Alloh)?” (QS. Az-Zukhruf [43]: 87)

Artinya keyakinan ini belum menjadikan seseorang sebagai orang beriman.

2. Tauhid Uluhiyah

Yaitu yaitu mengesakan Alloh dalam beribadah. Hanya Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur yang berhak disembah, bukan selainNya. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

Hai manusia, sembahlah Robbmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)

Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata: “Alloh Ta’ala menyinggung saat menjelaskan keesaanNya dalam UluhiyahNya, bahwa Dia adalah pemberi nikmat kepada semua manusia dengan mengeluarkan mereka dari ketiadaan kepada ada, disertai mencurahkan nikmat-nikmat yang nampak maupun yang tersembunyi... Oleh karena itu, hanya Dia yang berhak disembah dan tidak disekutukan dengan apapun.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/194)

Nama lain Tauhid Uluhiyah adalah Tauhid Ibadah. Disebut Tauhid Uluhiyah karena berasal dari kata ilah (yang disembah) karena Allohlah yang disembah, sementara disebut Tauhid Ibadah karena berasal dari kata ibadah (menyembah) karena hamba hanya menyembah Alloh.

Ibadah sendiri memiliki dua makna, yaitu makna kata kerja dan makna kata benda. Makna kata kerja maksudnya merendah kepada Alloh dengan mengerjakan perintahNya dan menjahui laranganNya dengan penuh rasa cinta dan pengagungan.

Adapun ibadah dengan makna kata benda, maksudnya seperti yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah saat mendefinisikan ibadah, yaitu:

الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ: مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ، الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ

“Ibadah adalah nama yang mencakup segala yang dicintai Alloh dan diridhaiNya baik berupa ucapan dan perbuatan, yang tersembunyi maupun yang nampak.” (Fatawa Al-Kubra, 5/154)

Misalkan shalat, dari sisi nama maka ia adalah ibadah, dan pekerjaan shalat sendiri adalah ibadah tersendiri.

Orang-orang musyrik mengingkari Tauhid jenis ini, Alloh berfirman:

﴿إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ * وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُون﴾

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illAlloh’ (Tiada Robb yang berhak disembah melainkan Alloh) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: ‘Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’” (QS. Ash-Shoffat [37]: 35-36)

Oleh karena itu, Alloh mengutus semua Rosul untuk misi ini, Alloh berfirman:

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl [16]: 36)

3. Tauhid Asma wa Shifat

Yaitu mengesakan Alloh dalam nama-nama dan sifat-sifatNya. Alloh berfirman:

﴿وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

“Hanya milik Alloh Asmaaul Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Asmaaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Araf [7]: 180)

Tauhid jenis ini memiliki dua rukun, yaitu nafyu (meniadakan) dan itsbat (menetapkan). Yang dimaksud nafyu adalah meniadakan segala kekurangan dan aib (cacat) dalam nama dan sifat-sifat Alloh. Adapun itsbat adalah menetapkan bagi Alloh seluruh nama-nama dan sifat-sifat yang ditetapkanNya dalam Al-Qur’an dan Sunnah RosulNya. Alloh berfirman tentang nafyu dan itsbat ini:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Tidak ada yang serupa denganNya dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Asy-Syuuro [42]: 11)

“Tidak ada yang serupa denganNya” menunjukkan nafyu, dan “Dia Maha mendengar lagi Maha melihat” menunjukkan itsbat.

Nafyu dan itsbat ini berkonsekuensi membebaskan Alloh dari empat hal: tamtsil (menyerupakan), takyif (membagaimanakan), tahrif (merubah), dan ta’thil (membatalkan).

Contoh sederhana, Alloh mengabarkan diriNya punya Wajah, maka Ahlus Sunnah menetapkannya apa adanya sesuai zhahir lafazhnya tanpa tamtsil, takyif, tahrif, dan ta’thil. Metode ini ditempuh oleh para ulama Salaf (para Sahabat dan para imam ahli Hadits). Imam Al-Baihaqi dan Ad-Darimi meriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas ditanya tentang istiwa (artinya tinggi dan di atas) lalu dia pucat pasi sambil menundukkan pandangannya. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menjawab:

الِاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا أَرَاكَ إِلَّا مُبْتَدِعًا. فَأَمَرَ بِهِ أَنْ يُخْرَجَ

Istiwa maklum, bagaimananya tidak bisa dinalar, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Aku melihatmu seorang mubtadi.” Dia memerintahkan agar orang tersebut diusir dari majlis. (HR. Al-Baihaqi no. 867 dan Asma wa Shifaat dan Ad-Darimi no. 104 dalam Ar-Ra’du alal Jahmiyah)

Tamtsil adalah menyerupakan Alloh dengan selainNya seperti mengatakan, “Wajah Alloh seperti wajah makhlukNya.” Jika objek yang diserupakan disebutkan, maka itu namanya tasybih, seperti ucapan, “Wajah Alloh seperti wajahku.”

Takyif adalah membayangkan nama dan sifat Alloh, seperti membayangkan Wajah Alloh dengan mereka-reka bentuknya, warnanya, besarnya, dan seterusnya.

Tahrif adalah merubah lafazh atau maknanya, seperti Wajah Alloh dirubah artinya menjadi rahmatNya, lafazh istawa (استوى) “tinggi” dirubah menjadi istaula (استولى) “menguasai”. Alloh mencela Yahudi karena merubah isi Taurat dengan merubah lafazhnya maupun maknanya. Alloh berfirman:

﴿أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan beriman kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Alloh, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (QS. Al-Baqarah [2]: 75)

Ta’thil adalah membatalkan lafazh atau maknanya, seperti mengatakan, “Alloh tidak punya Wajah,” atau “Alloh memang memiliki Wajah, tetapi tidak ada maknanya, hanya sebutan saja.”

B. Hak Terbesar Alloh atas HambaNya

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ﴾

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembahKu.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾

Dan Robbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra [17]: 23)

﴿قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ * وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ * وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Robbmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Alloh (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan oleh Robbmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Alloh. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-An’am [6]: 151-153)

﴿وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا﴾

Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa [4]: 36)

عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ، فَقَالَ: «يَا مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ، وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ؟»، قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ؟ قَالَ: «لاَ تُبَشِّرْهُمْ، فَيَتَّكِلُوا»

Dari Mu’adz  bin Jabal RadhiyAllohu ‘Anhu, dia berkata: aku dibonceng Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di atas keledai bernama Ufair lalu beliau bersabda, “Wahai Muadz, apakah kamu tahu, apa hak Alloh atas hambaNya dan apa hak hamba atas Alloh?” Aku menjawab, “Alloh dan RosulNya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hak Alloh atas hambaNya adalah mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya, dan hak hamba atas Alloh adalah Dia tidak menyiksa siapa yang tidak menyekutukanNya.” Aku berkata, “Wahai Rosululloh, bolehkah aku kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau bersabda, “Jangan kamu sampaikan, nanti mereka berpangku tangan.” (HR. Al-Bukhori no. 2856 dan Muslim no. 30)

C. Keutamaan Tauhid

1. Masuk Surga Tanpa Hisab dan Siksa

Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Sa'id bin Zubair, lalu ia bertanya: ‘Siapa di antara kalian melihat bintang yang jatuh semalam?’ Kemudian aku menjawab: ‘Aku, tetapi aku ketika itu tidak sedang melaksanakan shalat, tetapi aku disengat kalajengking,’ lalu ia bertanya kepadaku: ‘Lalu apa yang kau lakukan?’ Aku menjawab: ‘Aku minta diruqyah.’ Ia bertanya lagi: ‘Apa yang mendorong kamu melakukan hal itu?’ Aku menjawab: ‘Yaitu: sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi kepada kami.’ Ia bertanya lagi: ‘Apakah Hadits yang dituturkan kepadamu itu?’ Aku menjawab: ‘Dia menuturkan Hadits kepada kami dari Buroidah bin Hushaib RadhiyAllohu ‘Anhu:

لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ

Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain atau terkena sengatan.’

Sa'id pun berkata: ‘Sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan Hadits kepada kami dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

«عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ مَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، إِذْ رُفِعَ لِيْ سَوَادٌ عَظِيْمٌ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِيْ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذَا مُوْسَى وَقَوْمُهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيْمٌ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَمَعَهُمْ سَبْعُوْنَ أَلْفًا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ»، ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ، فَخَاضَ النَّاسُ فِيْ أُوْلَئِكَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ الَّذِيْ صَحِبُوْا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمْ الَّذِيْنَ وُلِدُوْا فِيْ الإِسْلاَمِ فَلَمْ يُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئًا، وَذَكَرُوْا أَشْيَاءَ، فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرُوْهُ، فَقَالَ: «هُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ»، فَقَامَ عُكَاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِىْ مِنْهُمْ، فَقَالَ: «أَنْتَ مِنْهُمْ» ثُمَّ قَالَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِيْ مِنْهُمْ، فَقَالَ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَبَقَكَ بِهَا عُكَاشَةُ»

Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku: bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang  yang masuk Surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu.

Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu? Ada di antara mereka yang berkata: Barangkali mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata: Barangkali mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Alloh dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.

Kemudian Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda: Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada Robb mereka.”

Kemudian Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata: ‘Mohonkanlah kepada Alloh agar aku termasuk golongan mereka,’ kemudian Rosul bersabda: ‘Ya, engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata: ‘Mohonkanlah kepada Alloh  agar aku juga termasuk golongan mereka,’ Rosul menjawab: ‘Kamu sudah kedahuluan Ukasyah.’” (HR. Al-Bukhori no. 6541 dan Muslim no. 216)

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ ﷺ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْمُوجِبَتَانِ؟ فَقَالَ: «مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ»

Dari Jabir, ia berkata: seseorang mendatangi Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Wahai Rosululloh, apa itu dua perkara yang wajib?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang menemui Alloh (mati) dalam keadaan tidak berbuat Syirik kepadaNya, pasti ia masuk Surga, dan barangsiapa yang menemuiNya (mati) dalam keadaan berbuat kemusyrikan maka pasti ia masuk Neraka.” (HR. Muslim no. 93)

Maksudnya adalah mewajibkannya ke Surga jika bertauhid dan mewajibkannya masuk Neraka jika berbuat syirik.

عَنْ عُبَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ الجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ العَمَلِ» قَالَ الوَلِيدُ، حَدَّثَنِي ابْنُ جَابِرٍ، عَنْ عُمَيْرٍ، عَنْ جُنَادَةَ وَزَادَ: «مِنْ أَبْوَابِ الجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ أَيَّهَا شَاءَ»

Dari Ubadah bin Shamit RadhiyAllohu ‘Anhu menuturkan: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Alloh saja, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RosulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rosul Alloh, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan Surga itu benar adanya, Neraka juga benar adanya, maka Alloh pasti memasukkanya ke dalam Surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya.” Junadah menambahkan, “Dari delapan pintu Surga manapun yang dikehendakinya.” (HR. Al-Bukhori no. 3435 dan Muslim no. 28)

Dari Itban RadhiyAllohu ‘Anhu bahwa Rosululloh bersabda:

«فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ»

“Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan Neraka bagi orang orang yang mengucapkan laailaaha illAlloh ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah  Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 5401 dan Muslim no. 263)

2. Diampuni Segala Dosa

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا﴾

“Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari Syirik itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa [4]: 116)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً»

Dari Anas bin Malik RadhiyAllohu ‘Anhu ia berkata: aku mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Alloh Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Hai anak Adam, jika engkau selalu berdoa kepadaKu dan berharap kepadaKu maka Kuampuni dosamu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu membumbung tinggi ke langit kemudian kamu meminta ampun kepadaKu pasti Kuampuni. Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 3540)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ اللهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الخَلَائِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ البَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ اليَوْمَ، فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: احْضُرْ وَزْنَكَ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ البِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ، فَقَالَ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ»، قَالَ: «فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ البِطَاقَةُ، فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ»

Dari Abdillah bin Amr bin Ash, ia berkata: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari Kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan 99 lembaran. Setiap lembar jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Alloh menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Alloh bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Jawabnya, “Tidak, wahai Rabbku.” Alloh bertanya, “Apakah engkau punya uzur?” Jawabnya, “Tidak, wahai Rabb.” Alloh pun berfirman, “Bahkan, kamu memiliki kebaikan di sisi Kami. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilAlloh wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh’. Lalu ia bertanya, “Apa guna kartu ini dibanding lembaran-lembaran?” Alloh berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Lantas diletakkanlah lembaran-lembaran tadi di salah satu daun timbangan dan kartu di daun timbangan lainnya.Ternyata lembaran-lembaran itu ringan dibanding kartu tersebut. Tidak ada yang lebih berat dari nama Alloh.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 2639)

3. Jaminan Aman dan Hidayah

Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ﴾

“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan mereka dengan kedzhaliman (kemusyrikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah.”  (QS. Al-An’am [6]: 82)

Aman di tiga tempat: saat sakaratul maut, barzakh, kebangkitan. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.” (QS. Fush-shilat [41]: 30)

﴿يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ﴾

Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat; dan Alloh menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrahim [14]: 27)

﴿إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ * لا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ * لا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الأكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾

“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari Neraka, mereka tidak mendengar sedikit pun suara api Neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para Malaikat. (Malaikat berkata): Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Al-Anbiyaa [20]: 101-103)

4. Bahagia di Dunia dan Akhirat

﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman (bertauhid), maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الحَدِيثِ: أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ»

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling bahagia mendapatkan syafaatmu pada hari Kiamat?” Beliau menjawab, “Aku tahu bahwa tidak ada yang mendahuluimu menanyakan ini kepadaku selainmu, aku melihat kamu sangat semangat dalam Hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan laailaaha illa Alloh ikhlas dari hatinya.” (HR. Al-Bukhori no. 99)

D. Makna Kalimat Tauhid

Ia memiliki dua rukun: nafyu (meniadakan) dan itsbat (menetapkan), yaitu meniadakan segala yang disembah lalu menetapkan hanya Alloh yang disembah. Alloh berfirman:

﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي﴾

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku membebaskan diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Alloh) Dzat yang telah menciptakan aku.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 26-27)

﴿لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 256)

﴿قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Alloh dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Robb selain Alloh. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Alloh).’” (QS. Ali Imran [3]: 64)

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ»

“Barangsiapa yang mengucapkan laailaaha illa Alloh dan mengingkari sesembahan selain Alloh, maka haramlah harta dan darahnya, adapun perhitungannya terserah kepada Alloh.” (HR. Muslim no. 23)

Jika cacat salah satunya, maka belum dianggat berTauhid. Alloh berfirman:

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Robb selain Alloh, dan (juga mereka menyembah) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Yang Maha Esa; tidak ada (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah [9]: 31)

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya dan bahwa Alloh amat berat siksaanNya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)

Contoh cacat dalam Tauhid adalah menyembah Alloh (itsbat) tetapi dia tidak mengingkari dan tidak menyesatkan agama selain Islam seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Konghuchu, Sinto, Kejawen, Kebatinan, dan semisalnya. Sebab, ia tidak terpenuhi syarat nafyu. Orang jenis ini tidak disebut beriman, bahkan musyrik lagi kafir, jika meninggal maka kekal di Neraka selama-lamanya. Wal-iyaadzubillaah.

E. Kewajiban Dakwah Tauhid

Alloh berfirman:

﴿قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, aku berdakwah kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى اليَمَنِ: «إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ، فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ»

Dari Ibnu Abbas RadhiyAllohu ‘Anhuma, dia berkata: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman, “Sungguh kamu akan mendatangi kaum ahli kitab. Apabila kamu sudah tiba di sana, ajaklah mereka kepada syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh. Jika mereka menurutimu maka kabarkan kepada mereka bahwa Alloh mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menurutimu maka kabarkan kepada mereka bahwa Alloh mewajibkan sedekah yang diambil dari orang-orang kaya mereka untuk dibagikan kepada orang-orang miskin mereka. Jika mereka menurutimu, maka kamu harus waspada jangan mengambil harta terbaik mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi karena tidak ada pembatas antaranya dengan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 1496 dan Muslim no. 19)

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ، قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ: «لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ» قَالَ: فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا، قَالَ فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ غَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، كُلُّهُمْ يَرْجُونَ أَنْ يُعْطَاهَا، فَقَالَ: «أَيْنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ؟» فَقَالُوا: هُوَ يَا رَسُولَ اللهِ يَشْتَكِي عَيْنَيْهِ، قَالَ فَأَرْسِلُوا إِلَيْهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَبَصَقَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي عَيْنَيْهِ، وَدَعَا لَهُ فَبَرَأَ، حَتَّى كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ، فَأَعْطَاهُ الرَّايَةَ، فَقَالَ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا، فَقَالَ: «انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ، حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللهِ فِيهِ، فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ»

Dari Sahl bin Sa’d  RadhiyAllohu ‘Anhu, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di saat perang Khaibar bersabda: “Sungguh akan aku serahkan bendera (komando perang) ini besok pagi kepada orang yang Alloh akan memberikan kemenangan dengan sebab kedua tangannya, dia mencintai Alloh dan RosulNya, dan dia dicintai oleh Alloh dan RosulNya.’ Semalam suntuk para Sahabat memperbincangkan siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera itu, di pagi harinya mereka mendatangi Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Masing-masing berharap agar ia yang diserahi bendera tersebut, maka saat itu Rosul bertanya: Di mana Ali bin Abi Thalib? Mereka menjawab: ‘Wahai Rosululloh, dia sedang sakit pada kedua matanya.’ Kemudian mereka mengutus orang untuk memanggilnya, dan ia pun dibawa, kemudian Rosul meludahi kedua matanya, seketika itu dia sembuh seperti tidak pernah terkena penyakit. Kemudian Rosul menyerahkan bendera itu kepadanya. Ali berkata, “Ya Rosululloh, aku akan perangi mereka hingga menjadi seperti kita.” Beliau bersabda: ‘Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Alloh dalam Islam, maka demi Alloh, sungguh Alloh memberi hidayah kepada seseorang dengan sebab kamu itu lebih baik bagiku daripada unta-unta yang merah.” (HR. Muslim no. 2404)[]

 

BAB 2: SYIRIK

A. Makna Syirik (الشرك) dan Pembagiannya

Syirik secara bahasa artinya sekutu atau serikat. Syirik ada dua, Syirik besar dan Syirik kecil. Syirik besar adalah:

تَسْوِيَةُ غَيْرِ اللهِ بِاللهِ فِيْمَا هُوَ مِنْ خَصَائِصِ اللهِ

“Menyamakan selain Alloh dengan Alloh dalam perkara kekhususan Alloh.”

Yang dimaksud dengan kekhusususan Alloh adalah hak Rububiyah (mencipta, memiliki, mengatur termasuk memberi rezeki), hak Uluhiyah (diibadahi), hak Asma wa Shifat (kesempurnaan nama dan sifat). Sehingga Syirik terjadi pada Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Shifat. Alloh berfirman:

﴿تَاللهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ * إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Demi Alloh, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kalian dengan Robb semesta alam.”(QS. Asy-Syu’araa [26]: 97-98)

Syirik jenis ini membatalkan Islam dan mengekalkan di Neraka. Alloh berfirman:

﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah [5]: 72)

Syirik kecil adalah setiap lafazh Syirik yang disebut dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi tidak sampai ke derajat Syirik besar dan tidak pula mengeluarkannya dari Islam, seperti riya dan memakai jimat. Akan tetapi Syirik kecil bisa menjadi Syirik besar sesuai dengan kadar keyakinan pelaku.

1. Syirik Besar (شرك أكبر)

Syirir akbar (besar) mengeluarkan orang dari Islam, menghapus semua amal kebaikan, dan mengekal pelakunya di Neraka.

Syirik akbar ada 4 macam, yaitu Syirik doa, Syirik niat, Syirik taat, dan Syirik cinta.

1. Syirik Doa (شرك الدعوة)

Berdasarkan firman Alloh:

﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh).” (QS. Al-Ankabut [29]: 65)

Orang-orang musyrik zaman terdahulu saat tertimpa bahaya, mereka melupakan semua berhala dan sesembahan mereka, mereka tunduk dan khusyuk meminta kepada Alloh. Namun, jika mereka diselamatkan atau dalam kondisi yang aman, mereka kembali berdoa (menyeru) sesembahan selain Alloh. Ini menunjukkan bahwa termasuk jenis Syirik adalah doa.

Doa sendiri ada dua jenis, yaitu doa mas’alah (permintaan) dan doa ibadah. Contoh doa permintaan yang ditunjukkan kepada selain Alloh, “Wahai Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, bebaskanlah hutang-hutangku!”

Contoh doa yang bermakna ibadah, yang ditunjukkan kepada selain Alloh, adalah menyembelih untuk penghuni kubur atau jin.

2. Syirik Niat (شرك النية والإرادة والقصد)

Berdasarkan firman Alloh:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11]: 16)

Perhiasan dunia adalah berupa wanita, anak, uang, kendaraan mewah, dan harta kekayaan. Alloh berfirman:

﴿زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ﴾

Dijadikan hiasan pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik (Surga). (QS. Ali Imran [3]: 14)

Ayat ini berkenaan dengan orang kafir yang niat dan tujuan mereka hanyalah dunia, ayat ini juga berlaku untuk siapa saja yang memiliki sifat seperti mereka.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ، طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ»

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Celaka hamba dinar, dirham, khomishoh (selendang hitam bergaris). Jika diberi maka ia senang dan jika tidak diberi maka ia marah. Semoga celaka dia dan binasa dia. Apabila terkena duri, tidak bisa mencabutnya.

Sungguh beruntung seorang hamba yang memegang tali kekang kudanya di jalan Alloh, rambutnya acak-acakan, kedua kakinya berdebu, jika ditugaskan di belakang maka dia laksanakan dengan baik, jika ditugaskan mengurus air maka ia kerjakan dengan baik, jika dia meminta izin maka tidak diizinkan, dan jika menjadi pelantara maka tidak diterima.” (HR. Al-Bukhori no. 2886)

3. Syirik Taat (شرك الطاعة)

Berdasarkan firman Alloh:

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

“Mereka (Nashrani) menjadikan ahbar (ahli agama) dan ruhban (ahli ibadah/rohib) mereka sebagai Robb selain Alloh, dan (juga mereka menyembah) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Robb Yang Maha Esa; tidak ada Robb (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah [9]: 31)

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ: «يَا عَدِيُّ اطْرَحْ هَذَا الْوَثَنَ مِنْ عُنُقِكَ»، فَطَرَحْتُهُ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقْرَأُ سُورَةَ بَرَاءَةَ فَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ ﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ﴾ حَتَّى فَرَغَ مِنْهَا، فَقُلْتُ: إنَّا لَسْنَا نَعْبُدُهُمْ، فَقَالَ: «أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونُهُ، ويُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَتَسْتَحِلُّونَهُ؟» قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: «فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ»

Dari Adi bin Hatim, dia berkata: aku mendatangi Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dengan memakai salib emas, lalu beliau bersabda, “Wahai Adi, buang berhala ini dari lehermu.” Maka aku membuangnya lalu kembali menemui beliau saat membaca surat ini: ‘Mereka (Nashrani) menjadikan ahbar (ahli agama) dan ahbar (ahli ibadah) mereka sebagai Robb selain Alloh,’ hingga selesai, lalu aku berkata, “Kami dahulu tidak menyembah mereka.” Jawab beliau, “Bukankah mereka dahulu mengharamkan apa yang Alloh haramkan lalu kalian turut mengharamkannya, dan menghalalkan apa yang Alloh haramkan lalu kalian turut mengharamkannya?” Jawabku, “Benar.” Beliau bersabda, “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.” (Hasan: HR. Ath-Thobroni no. 218 dalam Al-Kabir)

4. Syirik Cinta (شرك المحبة)

Berdasarkan firman Alloh:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ﴾

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya dan bahwa Alloh amat berat siksaanNya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah [2]: 165)

Sebab syarat iman adalah yang paling dia cintai hanyalah Alloh, bukan selainnya. Bahkan, mencintai Nabi, anak dan istri adalah karena Alloh, bukan semata dzat yang bersangkutan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»

Dari Anas bin Malik RadhiyAllohu ‘Anhu, dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tiga hal yang siapa saja tiga hal itu ada pada dirinya maka dia akan merasakan manisnya iman: [1] Alloh dan RosulNya lebih ia cintai daripada selain keduanya, [2] mencintai seseorang hanya karena Alloh semata, [3] benci kembali kepada kekufuran seperti benci dilempar ke api.” (HR. Al-Bukhori no. 16 dan Muslim no. 43)

Kesimpulannya, Syirik besar adalah mempersembahkan ibadah kepada selain Alloh, seperti: berdoa kepada selain Alloh, menyembah kepada selain Alloh, bernazar kepada selain Alloh, mendekatkan diri kepada penghuni kubur atau jin atau setan dengan jenis ibadah tertentu, takut kepada orang yang telah mati dengan menyakini bisa membahayakannya, berharap kepada selain Alloh untuk memenuhi hajatnya dan menghilangkan kesusahan pada perkara yang tidak ada yang mampu kecuali Alloh saja, dan semua jenis ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Alloh semata.

2. Syirik Kecil (شرك أصغر)

Syirik kecil adalah setiap pelantara (wasilah) yang menghantarkan kepada Syirik besar yang tidak sampai ke derajat ibadah baik berupa keinginan, ucapan, maupun perbuatan. Atau setiap yang disebut dalam syariat (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dengan Syirik tetapi tidak sampai ke derajat Syirik besar. Akan tetapi Syirik kecil kadang menjadi Syirik besar sesuai dengan keyakinan pelaku.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فِي قَوْلِهِ: ﴿فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا﴾ قَالَ: الْأَنْدَادُ هُوَ الشِّرْكُ، أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ، وَهُوَ أَنْ يَقُولَ: وَاللهِ، وَحَيَاتِكَ يَا فُلَانَةُ، وَحَيَاتِي، وَيَقُولُ: لَوْلَا كَلْبُهُ هَذَا لَأَتَانَا اللُّصُوصُ، وَلَوْلَا الْبَطُّ فِي الدَّارِ لَأَتَى اللُّصُوصُ، وَقَوْلُ الرَّجُلِ لِصَاحِبِهِ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَقَوْلُ الرَّجُلِ: لَوْلَا اللهُ وَفُلَانٌ، لَا تَجْعَلْ فِيهَا فُلَانًا؛ فَإِنَّ هَذَا كُلَّهُ بِهِ شِرْكٌ.

 Dari Ibnu Abbas, tentang firman Alloh, “Janganlah kalian membuat tandingan-tandingan bagi Alloh.” (QS. Al-Baqarah [2]: 22) Ibnu Abbas berkata, “Tandingan adalah Syirik (kecil), ia lebih samar daripada semut kecil di atas batu hitam di kegelapan malam. Ia adalah ucapan: Demi Alloh dan demi hidupmu dan demi hidupku, wahai fulanah; ucapan: andai bukan karena anjing tentu pencuri mendatangi kami, andai bukan karena ada hewan di rumah pasti pencuri datang; begitu juga ucapan seseorang kepada saudaranya: atas kehendak Alloh dan kehendakmu; ucapan: andai bukan Alloh dan fulan. Jangan lakukan ini, karena semua ini adalah Syirik.” (Shohih: HR. Ibnu Abi Hatim no. 229 dalam At-Tafsir. Dishohihkan Syaikh Al-Albani)

Karena saking samarnya Syirik jenis ini, banyak yang terjatuh tanpa disadari. Mereka diperintahkan untuk banyak berdoa kaffarot di bawah ini.

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ لَلشِّرْكُ فِيكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَهَلِ الشِّرْكُ إِلَّا مَنْ جَعَلَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخر؟ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ؟» قَالَ: «قُلِ: اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ»

Dari Ma’qil bin Yasar, dia berkata: aku pergi bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq RadhiyAllohu ‘Anhu kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam lalu beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar, sungguh Syirik di tengah kalian itu lebih samar daripada semut kecil.” Abu Bakar berkata, “Bukankah Syirik itu hanyalah seseorang yang menjadikan Robb lain bersama Alloh?” Jawab Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh Syirik itu lebih samar daripada semut kecil. Maukah kamu kutunjukkan sesuatu jika kamu ucapkan maka ia akan hilang darimu, sedikit maupun banyak?” Beliau melanjutkan, “Bacalah, ‘Ya Alloh, aku berlindung kepadamu dari berbuat Syirik yang aku ketahui dan memohon ampun kepadamu terhadap Syirik yang tidak aku ketahui.” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 716 dalam Al-Adabul Mufrod)

Syirik kecil ada dua, Syirik nampak  dan Syirik tersembunyi.

1. Syirik Nampak (شرك ظاهر)

Syirik nampak adalah setiap lafazh dan perbuatan Syirik kecil.

Contoh dalam lafazh: bersumpah dengan selain Alloh, ucapan: kami dihujani karena bintang, ucapan: kehendak Alloh dan kehendakmu, andai bukan karena Alloh dan karenamu, ini dari Alloh dan darimu, ini dari berkah Alloh dan berkahmu, dan semisalnya.

Yang benar adalah ucapan: kehendak Alloh semata atau andai bukan karena Alloh kemudian kamu atau Alloh menyembuhkanku lewatmu (dokter), dan yang semisalnya. Ungkapan pertama lebih utama daripada kedua dan ketiga.

Tentang bersumpah, diriwayatkan bahwa Ibnu Umar mendengar seseorang bersumpah, “Tidak, demi Ka’bah,” lalu Ibnu Umar berkata, “Kamu jangan bersumpah dengan selain Alloh. Sungguh aku pernah mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ»

“Siapa yang bersumpah dengan selain Alloh, maka dia melakukan kufur atau Syirik.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 1535)

Namun, jika dia meyakini bahwa makhluk yang dia sumpah dengannya lebih mulia di sisinya daripada Alloh, sehingga dia begitu merendah dan mengagungkannya seperti mengagungkan Alloh atau lebih besar lagi, maka Syirik ini menjadi Syirik besar.

Tentang dihujani bintang, Alloh berfirman:

﴿وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ﴾

Kamu (mengganti) rezeki (yang Alloh berikan) dengan mendustakan (Alloh). (QS. Al-Waqi’ah [56]: 82)

Yakni, mereka diberi nikmat dan rezeki Alloh berupa hujan, tetapi dengan itu justru mereka mendustakan Alloh, karena beranggapan yang menurunkannya adalah bintang.

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَقَالَ: «هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالكَوْكَبِ»

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, ia berkata: Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam shalat Shubuh mengimami kami di Hudaibiyah di tanah basah karena bekas hujan di malam harinya. Ketika usai shalat, beliau menghadap makmum dan bersabda, “Apakah kalian tahu apa yang difirmankan Rabb kalian?” Jawab mereka, “Alloh dan RosulNya lebih tahu.” Beliau bersada, “Hamba-hambaku di pagi hari ada yang beriman kepadaku dan ada yang kafir. Adapun orang yang berkata, ‘Kita diberi hujan karena karunia Alloh dan rahmatNya,’ maka ia beriman kepadaku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun orang yang berkata, ‘Kami diberi hujan oleh bintang ini dan itu,’ maka ia beriman kepada bintang-bintang dan kafir kepadaKu.’” (HR. Al-Bukhori no. 4147 dan Muslim no. 71)

Namun, jika dia meyakini bahwa yang menurunkan hujan bukan Alloh, tetapi murni bintang-bintang, maka ia musyrik lagi kafir karena menyekutukan Alloh dalam RububiyahNya (mengatur alam semesta). Adapun jika dia meyakini yang menurunkan Alloh tetapi dengan sebab bintang maka ini haram, bukan Syirik besar, dan ucapannya tidak berfaidah, karena Alloh tidak menjadikan bintang sebagai sebab turunnya hujan.

Tentang ucapan dan, diriwayatkan dari Qutailah seorang wanita dari Juhainah, ia berkata:

أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ، وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَتَقُولُونَ: وَالْكَعْبَةِ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا: وَرَبِّ الْكَعْبَةِ، وَيَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ شِئْتَ.

“Seorang Yahudi datang kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, lalu berkata: ‘Sesungguhnya sekalian telah melakukan perbuatan Syirik, kalian mengucapkan: ‘Atas kehendak Alloh dan kehendakmu’ dan mengucapkan: ‘Demi Ka’bah.’” Maka Rosululloh memerintahkan para Sahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan: ‘Demi Rabb Pemilik ka’bah,’ dan mengucapkan: ‘Atas kehendak Alloh kemudian atas kehendakmu.’” (Shohih: HR. An-Nasa'i no. 3773)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، قَالَ: «جَعَلْتَ لِلهِ نِدًّا، مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ»

  Dari Ibnu Abbas, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, “Atas kehendak Alloh dan kehendakmu.” Beliau bersabda, “Apakah kamu kau hendak menjadikan tandingan bagi Alloh?! Atas kehendak Alloh semata.” (Shohih: HR. Al-Bukhori no. 783 dalam Al-Adabul Mufrod)

عَنْ حُذَيْفَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «لَا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللهُ، وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ»

Dari Hudzaifah, dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda, “Jangan ucapkan: atas kehendak Alloh dan kehendak fulan, tetapi ucapkanlah: atas kehendak Alloh kemudian kehendak fulan.” (Shohih: HR. Abu Dawud no. 4980)

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ رَأَى فِي النَّوْمِ أَنَّهُ لَقِيَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَقَالَ: نِعْمَ الْقَوْمُ أَنْتُمْ لَوْلَا أَنَّكُمْ تُشْرِكُونَ، تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ مُحَمَّدٌ، وَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «أَمَا وَاللهِ، إِنْ كُنْتُ لَأَعْرِفُهَا لَكُمْ، قُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ شَاءَ مُحَمَّدٌ»

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman, bahwa ada seorang lelaki dari kaum Muslimin yang bermimpi bertemu seorang dari ahli kitab lalu dia berkata, ‘Kaum terbaik adalah kalian jika kalian tidak berbuat Syirik, kalian berucap: atas kehendak Alloh dan kehendak Muhammad!’ Dia pun menceritakan mimpinya ke Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam lalu beliau bersabda, “Demi Alloh, aku benar-benar lebih tahu hal itu, ucapkanlah: atas kehendak Alloh kemudian kehendak Muhammad.” (Shohih: HR. Ibnu Majah no. 2118)

Kata wawu (dan) menunjukkan kesamaan hukum sementara kata tsumma (kemudian) menunjukkan urutan. Artinya, dilarangnya penggunaan wawu karena di sana ada penyamaan kehendak Alloh dengan lainnya. Sementara tsumma, menunjukkan kehendak manusia di bawah kendali kehendak Alloh.

Contoh dalam perbuatan: memakai gelang dan benang untuk menghilangkan bala atau mencegahnya, memakai tamimah karena takut ain atau jin. Namun, jika dia meyakini bahwa yang menghilangkan bala dan mencegahnya adalah benda-benda tersebut, maka ini Syirik besar. Jika dia meyakini hanya Alloh semata yang menghilangkan bala dan mencegahnya namun meyakini bahwa benda-benda tersebut sebagai sebab yang menghilangkan bala dan mencegahnya, maka ini Syirik kecil dan perbuatannya sia-sia. Disebut sia-sia karena tidak ada faidahnya dari dua sisi: syar’i dan qodari. Dari sisi syar’i, jelas syariat justru melarangnya dengan keras dan sesuatu yang Alloh larang pasti tidak ada faidahnya. Dari sisi qodari, syariat tidak menjelaskan bahwa benda-benda itu mujarab dalam pengobatan atau menghilangkan bala dan mencegahnya. Jika benda tersebut terbukti secara penelitian yang bisa dipertanggung-jawabkan maka tidak mengapa seperti obat kimia dan semisalnya.

Semua benda mati dan orang mati tidak bisa menghilangkan bahaya dan mencegahnya. Alloh berfirman:

﴿قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Alloh, jika Alloh hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Alloh hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Alloh bagiku. KepadaNya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri. (QS. Az-Zumar [39]: 38)

Dari Uqbah bin Amir, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللهُ لَه»،  وفي رواية: «مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah maka Alloh tidak akan mengabulkan keinginannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah maka Alloh tidak akan memberikan ketenangan kepadanya” (Shohih: HR. Ahmad no. 17404) dan dalam riwayat yang lain Rosul bersabda: “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah maka ia telah berbuat kesyirikan.” (Shohih: HR. Ahmad no. 17422)

Dari Abu Basyir Al-Anshari RadhiyAllohu ‘Anhu bahwa dia pernah bersama Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam suatu perjalanan, lalu beliau mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan:

«لاَ يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلاَدَةٌ مِنْ وَتَرٍ، أَوْ قِلاَدَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ»

Benar-benar tidak boleh di leher unta kalung dari tali busur panah, atau kalung apapun kecuali harus diputus.” (HR. Al-Bukhori no. 3005 dan Muslim no. 2115)

Ibnu Mas’ud RadhiyAllohu ‘Anhu menuturkan: aku telah mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«إِنَّ الرُّقَى، وَالتَّمَائِمَ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ»

“Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi), tamimah (jimat) dan tiwalah (rajah) adalah  Syirik.” (Shohih: HR. Abu Dawud no. 3883)

Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal dan menolak penyakit ‘ain. Jika yang dikalungkan itu berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, sebagian ulama Salaf memberikan keringanan dalam hal ini; dan sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan melarangnya, di antaranya Ibnu Mas’ud RadhiyAllohu ‘Anhu.

Ruqyah yaitu: yang disebut juga dengan istilah Ajimat. Ini diperbolehkan apabila penggunaannya bersih dari hal-hal Syirik, karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati ‘ain atau sengatan kalajengking.

Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjadikan seorang istri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai istrinya.

Semua yang disebutkan ini bisa menjadi Syirik besar jika menyakini bahwa benda tersebut yang menghilangkan bala dan menolaknya, bukan Alloh. Namun, jika meyakini benda-benda tersebut hanya pelantara, maka ia Syirik kecil dan dosa besar dari yang besar. Perbuatan orang tersebut sia-sia, karena benda-benda tersebut secara syariat, dilarang Alloh, dan secara medis bukanlah obat.

2. Syirik Tersembunyi (شرك خفي)

Syirik tersembunyi adalah Syirik kecil berupa niat, keinginan, dan tujuan. Syirik ini ada dua macam, yaitu: riya-sumah dan beramal untuk dunia.

a) Riya (رياء) dan Sum’ah (سمعة)

Riya dari kata roo-a (melihat) adalah beramal dengan ditampakkan agar dilihat manusia, seperti shalat, puasa, sedekah, haji, dan jihad. Sementara sum’ah dari kata sami-a (mendengar), karena tujuan sum’ah adalah agar amal shalihnya didengar manusia, seperti bacaan Al-Qur’an, dzikirnya, nasihatnya, termasuk pula menyebut-nyebut prestasi ibadahnya. Alloh berfirman:

﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

Imam At-Tirmidzi berkata:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ الرِّيَاءَ شِرْكٌ» وَقَدْ فَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ هَذِهِ الآيَةَ: ﴿وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾، قَالَ: لَا يُرَائِي

“Dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya riya adalah Syirik.” Sungguh sebagian ahli ilmu menafsirkan ayat ini: ‘Janganlah berbuat Syirik dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan apapun,’ yaitu jangan riya.” (Al-Jami At-Tirmidzi no. 1535, 4/110)

Tentang riya, diriwayatkan :

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً»

Dari Mahmud bin Labid bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah Syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu Syirik kecil wahai Rosululloh?” Jawab beliau, “Riya. Alloh berfirman kepada mereka pada hari Kiamat saat seluruh manusia sudah dibalas atas amal shalih mereka: ‘Pergilah kalian kepada yang kalian pamer (riya) sewaktu di dunia. Perhatikanlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?” (Hasan: HR. Ahmad no. 23630)

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَشِرْكَ السَّرَائِرِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا شِرْكُ السَّرَائِرِ؟ قَالَ: «يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ جَاهِدًا لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَذَلِكَ شِرْكُ السَّرَائِرِ»

Dari Mahmud bin Labid, ia berkata: Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam keluar seraya bersabda, “Wahai sekalian manusia, waspadalah kalian pada Syirik tersembunyi.” Sahabat bertanya, “Apa itu Syirik tersembunyi?” Jawab beliau, “Seseorang berdiri shalat lalu diperbagus shalatnya dengan sungguh-sungguh karena melihat pandangan manusia yang tertuju kepadanya. Itulah Syirik tersembunyi.” (Shohih: HR. Ibnu Khuzaimah no. 937. Dishohihkan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

Tentang sum’ah, diriwayatkan dari Jundab RadhiyAllohu ‘Anhu, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللهُ بِهِ»

“Siapa yang sum’ah maka Alloh akan sum’ah kepadanya, dan siapa yang riya maka Alloh riya kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6499 dan Muslim no. 2986)

Makna Alloh sum’ah kepadanya adalah menampakkan hakikat ibadahnya kepada manusia bahwa dirinya bukan beribadah karena Alloh tetapi karena ingin didengar manusia untuk pujian mereka. Sementara makna Alloh riya kepadanya adalah menampakkan hakikat ibadahnya kepada manusia bahwa dirinya bukan beribadah karena Alloh tetapi karena ingin dilihat manusia untuk pujian mereka.

b) Beramal untuk Dunia (إرادة الإنسان بعمله الدنيا)

Yaitu seseorang melakukan ibadah yang seharusnya untuk mencari ridha Alloh dan balasan dariNya, justru dilakukan untuk mencari balasan dunia. Seperti shalat agar sehat, puasa agar diet, mengajar ilmu agama untuk upah, sedekah agar kaya, dan lain sebagainya. Alloh berfirman:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا* وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا * كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا * انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلا﴾

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya Neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Robbmu. Dan kemurahan Robbmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (QS. Al-Isra [17]: 18-21)

Syirik jenis ini menghapus pahala amal yang mengiringinya, seperti shalat dengan tujuan sehat maka pahala shalatnya terhapus, meski secara tinjauan fiqih tetap sah.

Riya dalam ibadah ada dua keadaan, yaitu:

1.       Seseorang meniatkan ibadahnya murni karena manusia atau selain Alloh, maka ini Syirik besar yang mengeluarkan dari Islam, karena menjadikan sekutu bagi Alloh dalam ibadah.

2.      Seseorang ibadah karena Alloh, tetapi Syirik datang di tengah ibadah. Jika ibadah tersebut berdiri sendiri maka ibadah pertama sah dan ibadah yang dimasuki riya batal. Misalkan seseorang yang bersedekah di pagi hari karena Alloh lalu disore hari sedekah lagi karena riya, maka sedekah pertama sah dan sedekah kedua batal. Begitu juga untuk kasus membaca Al-Qur’an. Adapun untuk ibadah yang tidak bisa dipisahkan maka ada dua keadaan:

a.      Jika dia berusaha menolaknya maka riya tersebut sia-sia, misalkan seseorang shalat karena Alloh lalu di tengah shalat riya datang dan dia berusaha menepisnya, maka hal ini tidak membahayakannya.

b.      Kedua, jika saat riya datang ia tidak berusaha menolaknya tetapi justru merasa tentram maka shalatnya gugur, karena shalat termasuk ibadah yang satu paket. Bukankah jika seseorang tidak membaca Al-Fatihah, maka seluruh gerakan shalatnya sampai salam tidak sah?

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ»

Dari Abu Hurairah, ia berkata: aku mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Manusia pertama yang akan diadili pada hari Kiamat adalah orang mati syahid. Lalu dia didatangkan lalu diberitakan akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya lalu dia pun mengakuinya. Alloh berfirman, ‘Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga terbunuh syahid.’ Alloh berfirman, ‘Kamu bohong! Bahkan kamu berperang supaya disebut sang pemberani, sungguh telah disebut.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka.

Dan seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur`an. Lalu dia didatangkan lalu diberitakan akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya lalu dia pun mengakuinya. Alloh berfirman, ‘Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an karena-Mu.’ Alloh berfirman, ‘Kamu bohong! Bahkan kamu mempelajari ilmu supaya disebut sang alim dan membaca Al-Qur`an supaya disebut dia qari`, sungguh telah disebut.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka.

Dan seseorang yang Alloh luaskan rezeki baginya dan memberikannya perbendaharaan harta yang banyak. Lalu dia didatangkan lalu diberitakan akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya lalu dia pun mengakuinya. Alloh berfirman, ‘Untuk apa kamu gunakan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Tidaklah aku tinggalkan jalan yang Engkau sukai untuk berinfaq di sana melainkan aku berinfaq karena-Mu.’ Alloh berfirman, ‘Kamu bohong! Bahkan kamu berinfaq supaya disebut sang dermawan, sungguh telah disebut.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilempar ke neraka.” (HR. Muslim no. 1905)

Dalam riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim ada tambahan:

«يَا أَبَا هُرَيْرَةَ! أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللّٰهِ تُسَعَّرُ بِهِمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Wahai Abu Hurairah! Mereka bertiga adalah makhluk pertama yang neraka disulut untuk mereka pada hari Kiamat.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 2382)

Ketika menceritakan Hadits ini, Abu Hurairah beberapa kali pingsan. Syufai Al-Ashbahi menceritakan bahwa dirinya pernah memasuki kota Madinah. Lalu, ada seorang pria yang sedang dikerumuni oleh banyak orang. Dia bertanya, “Siapakah orang ini?” Orang-orang menjawab, “Dia adalah Abu Hurairah. Aku mendekat kepadanya hingga duduk di hadapannya. Sedangkan ia sedang berbicara dengan orang banyak. Ketika ia diam dan keadaan sunyi, aku pun berkata kepadanya, “Aku memohon kepadamu dengan sunguh-sungguh agar Anda berkenan memberitahukan sebuah Hadits (khusus) yang Anda dengar dari Rosululloh, yang benar-benar Anda pahami.” Abu Hurairah menjawab, “Baiklah. Aku akan memberitahukan sebuah Hadits kepadamu yang pernah diucapkan oleh Rosululloh. Aku memahami dan mengetahuinya. Lalu, Abu Hurairah menangis dengan tangisan yang cukup lama. Kemudian ia terdiam sebentar dan sadarkan diri. Dia lalu berkata, “Aku  akan memberitahukan sebuah Hadits yang diucapkan Rosululloh di rumah ini. Tidak ada seorang pun bersama kami selain diriku dan beliau. Lalu, Abu Hurairah kembali menangis dengan tangisan yang cukup keras. Tidak lama kemudian ia kembali sadarkan diri. Dia mengusap wajahnya. Dia berkata, “Aku akan memberitahukan sebuah Hadits yang diucapkan oleh Rosululloh ketika diriku dan beliau berada di rumah ini. Tidak ada orang lain yang bersama kami selain diriku dan beliau. Lalu, Abu Hurairah kembali menangis dengan tangisan yang cukup keras. Tidak lama kemudian ia kembali sadar. Lalu ia mengusap wajahnya. Dia kembali berkata, “Aku akan laksanakan. Aku akan memberitahukan sebuah Hadits kepadamu dari Rosululloh. Ketika itu aku sedang bersama beliau di rumah ini. Tidak ada orang lain bersama kami selain diriku dan beliau. Abu Hurairah lalu menangis dengan tangisan yang sangat kencang. Ia lalu tersungkur dengan menjatuhkan wajahnya. Beberapa lamanya aku sandarkan tubuhnya pada tubuhku. Saat sadar, ia berkata, “Rosululloh bersabda kepadaku...” Lalu Abu Hurairah menyampaikan Hadits di atas. (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 2382)

Imam An-Nawawi berkata, “Sabda Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tentang orang yang berperang, orang alim, dan orang dermawan berserta hukuman bagi mereka atas perbuatannya beramal untuk selain Alloh dan dimasukannya mereka ke dalam Neraka, adalah dalil atas beratnya keharaman riya dan kerasnya siksa-Nya serta dorongan untuk ikhlas dalam semua amal, sebagaimana firman Alloh, ‘Dan mereka tidak diperintah kecuali menyembah Alloh dengan mengikhlaskan agama yang lurus kepada-Nya.’ Di dalam Hadits ini juga terdapat penjelasan bahwa dalil-dalil umum tentang keutamaan jihad hanya diperuntukan bagi siapa yang beramal ikhlas karena Alloh, begitu pula pujian bagi para ulama dan bagi para munfiqin (orang-orang yang berinfaq) dalam segala kebaikan. Semuanya khusus bagi siapa yang melakukan hal tersebut ikhlas karena Alloh Ta’ala.” (Syarah Shohih Muslim, XII/51)

Apakah termasuk jenis Syirik ini jika seseorang kuliah agama untuk semata dapat ijazah atau derajat tinggi di masyarakat karena ilmunya?

Syaikh Al-Utsaimin menjawab, “Mereka masuk dalam Syirik ini, apabila tidak menginginkan tujuan syar’i sedikitpun. Kami katakan: pertama, jangan bertujuan untuk semata martabat duniawi, tetapi niatkan ijazah ini sebagai pelantara untuk beramal mengusahakan manfaat kepada manusia. Sebab, sebagian pekerjakan hari ini mensyaratkan ijazah, sementara manusia tidak mampu memberi manfaat orang lain kecuali dengan perantara ini, dengan ini maka niatnya jadi baik. Kedua, terkadang ilmu agama tidak dijumpai (secara terstruktur dengan baik) kecuali di kampus. Untuk itu, ia bisa masuk kampus dengan niat ini. Adapun mencari ketenaran maka ini tidak penting.” (Al-Qoulul Mufid hal. 434)

Bagaimana dengan orang yang beribadah dengan harapan dua kebaikan, yaitu kebaikan dunia dan Akhirat, misalkan rajin shalat mencari muka kepada Alloh agar mendapatkan pahala, sekaligus agar dimudahkan segala urusan dan rezekinya?

Syaikh Al-Utsaimin menjawab, “Jika seseroang beramal dengan harapan dua kebaikan, dunia dan Akhhirat maka tidak mengapa, sebab Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ﴾

Barang siapa yang bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.’ (QS. At-Tholaq [65]: 2-3)

Keinginan orang tersebut dalam ketaqwaan berupa jalan keluar dari segala kesulitan dan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka (menunjukkan bolehnya).” Beliau melanjutkan, “Tidak masalah seseorang berdoa dalam shalatnya meminta harta, tetapi jangan sekali-sekali shalat untuk tujuan ini semata, ini sangat rendah sekali. Adapun mencari kebaikan dunia dengan sebab-sebab duniawi seperti jual-beli dan ladang maka tidak masalah. Yang perlu diperhatikan, kita tidak menjadikan ibadah sebagai sarana untuk menarik keuntungan duniawi.” (Al-Qoulul Mufid hal. 434)

B. Perbandingan Syirik Besar dan Syirik Kecil

Minimal keduanya bisa dibandingkan dari lima hal:

Pertama, Syirik besar mengeluarkan seseorang dari Islam, sementara Syirik kecil tidak. Alloh berfirman:

﴿وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ * ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا وَاللهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ * انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ﴾

“Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: ‘Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)?’ Kemudian tiadalah fitnah (kilah) mereka, kecuali mengatakan: Demi Alloh, Robb kami, tiadalah kami mempersekutukan Alloh. Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan. (QS. Al-An’am [6]: 22-24)

Kedua, Syirik besar mengekalkan seseorang di Neraka, sementara Syirik kecil tidak.

﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah [5]: 72)

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ»

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RadhiyAllohu ‘Anhu bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Alloh, maka masuklah ia ke dalam Neraka.” (HR. Al-Bukhori no. 4497)

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ ﷺ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْمُوجِبَتَانِ؟ فَقَالَ: «مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ»

Dari Jabir, ia berkata: seseorang mendatangi Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Wahai Rosululloh, apa itu dua kewajiban?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang menemui Alloh (mati) dalam keadaan tidak berbuat Syirik kepadaNya, pasti ia masuk Surga, dan barangsiapa yang menemuiNya (mati) dalam keadaan berbuat kemusyrikan maka pasti ia masuk Neraka.” (HR. Muslim no. 93)

Ketiga, Syirik besar menghapus semua pahala kebaikan, sementara Syirik kecil hanya  menghapus ibadah yang disertai riya.

﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Robb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39]: 65)

﴿ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

“Itulah petunjuk Alloh, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Alloh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 88)

﴿وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴾

“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Alloh di sisinya, lalu Alloh memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Alloh adalah sangat cepat perhitunganNya.” (QS. An-Nur [24]: 39)

عَنْ عَائِشَةَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: «لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ»

Dari ‘Aisyah, ia berkata: wahai Rosululloh, Ibnu Jad’an dahulu di masa Jahiliyah gemar silaturrahim, memberi makan orang miskin, apakah kebaikannya tersebut bermanfaat baginya? Jawab beliau, “Tidak bermanfaat, karena ia tidak pernah berkata, ‘Ya Alloh ampunilah aku pada hari Pembalasan.’” (HR. Muslim no. 214)

Keempat, Syirik besar menjadikan pelakunya halal darah dan hartanya, sementara Syirik kecil tidak. Alloh berfirman:

﴿فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah [9]: 5)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوْا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهَمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى»

Dari Ibnu Umar bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka melaksanakan hal tersebut, maka mereka telah memelihara harta dan darah mereka dariku kecuali dengan hak islam, dan hisab mereka diserahkan kepada Alloh Ta’ala.” (HR. Al-Bukhori no. 25 dan Muslim no. 22)

Namun, orang kafir (musyrik) ada 4 jenis, yaitu kafir harbi (terang-terangan memusuhi), kafir dzimmi (bayar pajak di negeri kaum Muslimin), kafir musta’man (mendapatkan jaminan keamanan), dan kafir mu’ahad (terikat perjanjian damai). Yang boleh dibunuh adalah orang kafir/musyrik harbi, adapun lainnya maka Nabi melarangnya.

Kelima, Syirik besar mengharuskan adanya permusuhan antara pelakunya dan ahli Tauhid, sementara Syirik kecil tidak. Pelaku Syirik kecil dibenci sesuai dengan kadar pelanggarannya dan ia tetap dicintai karena masih beriman. Alloh berfirman:

﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ﴾

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Alloh.’ (Ibrahim berkata): ‘Ya Robb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

﴿لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan RosulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Alloh telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Alloh itulah golongan yang beruntung. (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)

C. Awal Munculnya Kesyirikan

Dari Nabi Adam hingga 1000 tahun, manusia di atas Tauhid. Alloh berfirman:

﴿كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾

Manusia itu adalah umat yang satu (yakni berTauhid). (Setelah muncul Syirik), maka Alloh mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Alloh memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya. Dan Alloh selalu memberi petunjuk orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah [2]: 213)

Setelah itu muncul kesyirikan dan Alloh mengutus Nabi Nuh sebagai Rosul pertama untuk mendakwahi mereka.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «كَانَ بَيْنَ آدَمَ، وَنُوحٍ عَشَرَةُ قُرُونٍ كُلُّهُمْ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْحَقِّ، فَلَمَّا اخْتَلَفُوا بَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ فَكَانُوا أُمَّةً وَاحِدَةً»

Dari Ibnu Abbas RadhiyAllohu ‘Anhuma, ia berkata, “Jarak antara Adam dan Nuh adalah 10 abad (1000 tahun). Semuanya di atas ajaran yang hak (Tauhid). Ketika mereka berselisih (Syirik) maka Alloh mengutus para Nabi dan Rosul dan menurunkan KitabNya sehingga mereke kembali menjadi satu umat (berTauhid).” (Shohih: HR. Al-Hakim no. 3654)

Dari sini, kita mengetahui awal munculnya kesyirikan adalah di zaman Nabi Nuh Alaihissalam. Alloh berfirman:

﴿وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴾

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Robb-Robb kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr.’” (QS. Nuh [71]: 23)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، «صَارَتِ الأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوحٍ فِي العَرَبِ بَعْدُ، أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الجَنْدَلِ، وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ، وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ، ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ، عِنْدَ سَبَإٍ، وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ، وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الكَلاَعِ، أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ، أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ، فَفَعَلُوا، فَلَمْ تُعْبَدْ، حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ العِلْمُ عُبِدَتْ»

Ibnu Abbas mengatakan: “Berhala-berhala yang ada di kaum Nuh berpindah di Arab. Adapun Wad milik kaum Kalb di Daumatil Jandal, Suwa’ di Hudzail, Yaghuts milik kaum Murad kemudian Bani Ghuthoif di Juf di Saba, Ya’uq milik suku Hamdan, Nasr milik Himyar keluarga Dzil Kala’.

Ini adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh, ketika mereka meniggal dunia, syetan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat dimana, di situ pernah diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama-nama patung tersebut dengan nama-nama mereka, kemudian orang-orang tersebut menerima bisikan syetan, dan saat itu patung-patung yang mereka buat belum dijadikan sesembahan, baru setelah para pembuat patung itu meninggal dan ilmu agama dilupakan, mulai saat itulah patung-patung  tersebut disembah.” (HR. Al-Bukhori no. 4920)

Awal kesyirikan berkaitan erat dengan berlebihan (ghuluw) terhadap orang shalih yang telah meninggal dengan dibuat patung lalu dijadikan wasilah (pelantara) antara dirinya dengan Alloh, lalu muncul generasi jahil yang menyembahnya. Menjelang meninggal, Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan umatnya dari dua hal penting dalam rangka memurnikan Tauhid, yaitu menjadikan kuburan beliau sebagai tempat ibadah atau perayaan, dan kedua, melaknat Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid, agar umat Islam tidak meniru mereka.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: «اللهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا، لَعَنَ اللهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ya Alloh, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala. Laknat Alloh atas orang-orang yang menjadikan kuburan Nabinya sebagai masjid (tempat ibadah).” (Shohih: HR. Ahmad no. 7358)

عَنْ عَائِشَةَ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالاَ: لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ، فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ: «لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ» يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا.

Dari Aisyah dan Abdullah bin Abbas, keduanya berkata: ketika Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tertimpa sakarat, beliau sadar dari pinsannya lalu melempar kain yang menutupi wajahnya sambil bersabda dalam kondisi seperti itu, “Laknat Alloh atas Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.” Dalam rangka memperingatkan (umatnya) dari perbuatan mereka (Yahudi Nashrani). (HR. Al-Bukhori no. 435 dan Muslim no. 531)

Di antara perbuatan orang musyrik di zaman Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah meramaikan kuburan dan menjadikannya tempat ibadah serta menjadikannya sebagai wasilah (pelantara) antara dirinya dengan Alloh agar lebih dekat. Alloh berfirman:

﴿أَلا لِلهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾

Ingatlah, hanya kepunyaan Alloh-lah agama yang bersih (dari Syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung (menyembah) selain Alloh (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Alloh akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. Az-Zumar [39]: 2)

D. Kaidah Memahami Syirik

Kaidah tersebut adalah “Setiap ibadah yang dipersembahkan kepada selain Alloh adalah Syirik dan kufur, sedang pelakunya adalah musyrik kafir.” (Lihat Al-Qoulus Sadid karya Syaikh As-Sa’di dan Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Syaikh At-Tamimi)

Dasar kaidah ini adalah firman Alloh:

﴿وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ﴾

Dan barang siapa menyembah sesembahan yang lain di samping Alloh, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Robbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (QS. Al-Mukminun [23]: 117)

Contoh ibadah adalah Islam, iman, dan ihsan, karena Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menjadikanya sebagai ibadah, berdasarkan Hadits dari Umar bin Khaththab RadhiyAllohu ‘Anhu:

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا»، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ، وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: «مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا، قَالَ: «أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ»، قَالَ: ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ»

Pada suatu hari kami duduk di sisi Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak nampak kalau sedang bepergian, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk menghadap Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam lalu menyandarkan lututnya kepada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau. Dia bertanya, “Ya Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Maka, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Islam adalah Anda bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika Anda mampu menempuh jalannya.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kami heran terhadapnya, dia yang bertanya sekaligus yang mengoreksinya. Lelaki itu bekata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman!” Beliau menjawab, “Anda beriman kepada Alloh, para MalaikatNya, kitab-kitabNya, para RosulNya, hari Akhir, dan Anda beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Lelaki itu menjawab, “Engkau benar.” Dia bekata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang ihsan!” Beliau menjawab, “Anda menyembah Alloh seolah-olah melihatnya. Jika Anda tidak bisa melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihat Anda.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Beliau menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika Anda melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing saling bermegah-megahan meninggikan bangunan.”

Kemudian lelaki itu pergi. Aku diam sejenak lalu beliau bersabda, “Hai ‘Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu?”  Aku menjawab, “Alloh dan RosulNya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim no. 8)

Ibadah hati lebih utama daripada ibadah anggota badan, seperti: doa, khouf (takut), roja (berharap), tawakkal, roghbah, rohbah, khusyu’, khosy-yah (takut), inabah (tobat), isti’anah (minta pertolongan), isti’adzah (minta perlindungan), istighatsah (minta pertolongan saat genting), menyembelih, dan bernadzar.

Tentang doa, Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ»، وَقَرَأَ: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾

“Doa adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca, “Dan Robbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang merasa tidak butuh dari berdo’a kepada-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir [40]: 60, Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 2969)

Dalil khouf adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepadaku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 175)

Dalil roja adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

Dalil tawakkal adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Dan hanya kepada Alloh-lah kalian bertawakkal, jika kalian orang-orang mukmin.” (QS. Al-Maidah [5]: 23)

﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh, maka Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 3)

Dalil roghbah, rohbah, dan khusyu’ adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾

“Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya` [21]: 90)

Dalil khosyyah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي﴾

“Maka, janganlah engkau takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 150)

Dalil inabah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ﴾

“Dam bertaubatlah kepada Robbmu dan serahkanlah dirimu kepadaNya.” (QS. Az-Zumar [39]: 54)

Dalil isti’anah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 4)

Dalam sebuah Hadits Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam disebutkan:

«وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ»

“Apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah kepada Alloh.” (Shohih: HR. At-Tirmidzi no. 2516)

Dalil isti’adzah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ﴾

“Katakanlah: aku berlindung kepada Robbnya falaq.” (QS. Al-Falaq [113]: 1)

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾

“Katakanlah: aku berlindung kepada Robbnya manusia.” (QS. An-Nas [114]: 1)

Dalil istighotsah adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ﴾

“Jika engkau beristighatsah kepada Robbmu, niscaya Dia akan mengabulkan bagimu.” (QS. Al-Anfal [8]: 9)

Dalil dari As-Sunnah:

«لَعَنَ اللهَ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ»

“Alloh melaknat seseorang yang menyembelih karena selain Alloh.” (HR. Muslim no. 1978)

Dalil menyembelih adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup, dan matiku hanya untuk Alloh Robb semesta alam, tiada sekutu bagiNya.” (QS. Al-An’am [6]: 162-163)

Dalil nadzar adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

﴿يُوْفُوْنَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا﴾

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan [76]: 7]

Semua ibadah di atas, wajib dipersembahkan kepada Alloh semata. Alloh berfirman:

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا﴾

“Dan sesungguhnya masjid-masjid adalah milik Alloh, maka janganlah kamu berdoa kepada seorang pun bersama Alloh.” (QS. Jin [72]: 18)

Siapa yang mempersembahkan ibadah-ibadah di atas kepada selain Alloh, maka ia seorang musyrik dan kafir. Allohu a’lam[]

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1.       Tafsîrul Qur`ânil Adzîm (Tafsîr Ibnî Katsîr) karya Abu Al-Fida Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasy Ad-Dimasyqi (w. 774 H), Tahqiq: Sami Muhammad Salamah, Penerbit: Dar Tayyibah, cet. ke-2 th. 1420 H/1999 M.

2.      Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannân (Tafsîr As-Sa’di) karya Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah As-Sa'di (w. 1376 H), Tahqiq: Abdurrahman bin Ma'la Al-Luwaihaq, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1420 H/2000 M.

3.       Al-Jâmi’ As-Musnad Ash-Shahîh Al-Mukhtashar min Umûri Rasûlillahi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam wa Sunanih wa Ayyamih (Shahîh Al-Bukhârî) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhori Al-Ju’fi (w. 256 H), Tahqiq: Muhammad Zuhair bin Nashir An-Nashir, Penerbit: Dar Thauqun Najah, cet. ke-1 th. 1422 H.

4.      Al-Musnad Ash-Shahîh Al-Mukhtashar Binaqlil Adli ‘anil Adli ilâ Rasûlillahi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam (Shahîh Muslim) karya Abu Al-Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (w. 261 H), Tahqiq: Dr. Muhammad Fuad Abdul Baqi, Penerbit: Ihyaut Turats Al-Arabi Beirut, tanpa tahun.

5.      Sunan At-Tirmidzî karya Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah At-Tirmidzi (w. 249 H), Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir dkk, Penerbit: Musthafa Al-Babi Al-Halabi Mesir, cet. ke-2 th. 1395 H/1975 H.

6.      Sunan Abû Dâwûd karya Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani As-Azdi (w. 275 H), Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Penerbit: Maktabah Al-Ishriyyah Beirut, tanpa tahun.

7.       Al-Mujtabâ (Sunan An-Nasâ`i) karya Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali An-Nasa`i (w. 303 H), Tahqiq: Abu Ghuddah Abdul Fattah, Penerbit: Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyah Halab cet. ke-2 th. 1406 H/1986 M.

8.      Sunan Ibnu Mâjah karya Abu Abdillah Muhammad bin Majah (nama aslinya Yazid) Al-Qazwini (w. 273 H), Tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Penerbit: Dar Ihya`ul Kutub Al-Arabiyyah.

9.      Musnad Ahmad karya Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani (w. 241 ), Tahqiq: Syuaib Al-Arnauth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1421 H/2001 M.

10.   As-Sunan Al-Kubrâ karya Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali An-Nasa`i (w. 303 H), Tahqiq: Hasan Abdul Mun’im Syalabi, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-1 th. 1421 H/2001 M.

11.   Shahîh Ibnu Khuzaimah karya Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin Al-Mughirah bin Shalih bin Bakar As-Sulami An-Naisaburi (w. 311 H), Tahqiq: Dr. Musthafa Al-A’dzami, Penerbit: Al-Maktabah Al-Islami Beirut, cet. tanpa tahun.

12.   Shahîh Ibnu Hibbân karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Muadz bin Ma’bad At-Tamimi Ad-Darimi (w. 354 H), Tahqiq: Syu’aib Al-Arna`ut, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-2 th. 1414 H/1993 H.

13.   Al-Mustadrâk alâsh Shahîhain karya Abu Abdillah Al-Hakim bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Hamadiyyah bin Tsu’aim bin Al-Hakam adh-Dhabi Ath-Thahmani An-Naisaburi (nama ma’ruf Ibnul Bayyi’) (w. 405 H), Tahqiq: Musthafa Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-1 th. 1411 H/1990 H.

14.  Ar-Raudhu Ad-Dânî (Al-Mu’jam Ash-Shaghîr) karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lahmi asy-Syami Ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: Muhammad Syakur Mahmud Al-Hajj Al-Amiri, Penerbit: Al-Maktab Al-Islami Beirut, cet. ke-1 th. 1405 H/1985 H.

15.   Al-Mu’jam Al-Ausath karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lahmi asy-Syami Ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: Thariq bin Iwadhullah bin Muhammad dan Abdul Muhsin bin Ibrahim Al-Husni, Penerbit: Darul Haramain Mesir, cet. tanpa tahun.

16.  Al-Mu’jam Al-Kabîr karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lahmi asy-Syami Ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: Hamdi bin Abdul Majid As-Salafi, Penerbit: Maktabah Ibnu Taimiyyah Mesir, cet. ke-2 tanpa tahun.

17.   Al-Mu’jam Al-Kabîr (juz 13, 14, dan 21) karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthir Al-Lahmi asy-Syami Ath-Thabarani (w. 360 H), Tahqiq: penelitian di bawah pengawasan Dr. Sa’ad bin Abdullah Al-Hamid dan Dr. Khalid bin Abdurrahman Al-Jarisi, cet. ke-1 th. 1427 H/2006 H.

18.  As-Sunan Al-Kubrâ karya Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi (w. 458 H), Tahqiq: Muhamamd Abdul Qadir Atha, Penerbit: Darul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut, cet. ke-3 th. 1424 H/2003 H.

19.  As-Sunan Ash-Shughrâ karya Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi (w. 458 H), Tahqiq: Abdul Mu’thi Amin, Penerbit: Jami’atud Dirâsât Al-Islâmiyyah Pakistan, cet. ke-1 th. 1410 H/1989 H.

20.  Syu'abul Iman karya Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa Al-Baihaqi Al-Khurasani (w. 458 H), Tahqiq: Dr. Abdul Ali Abdul Hamid Hamid, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd Riyadh, cet. ke-1 th. 1423 H/2003 M.

21.   Mushannaf Ibnu Abi Syaibah karya Abu Bakar Abdullah bin Abu Syaibah Al-Abasi Al-Kufi (w. 235 H), Tahqiq: Kamal Yusuf Al-Hut, Penerbit: Maktabah ar-Rusyd Riyadh, cet. ke-1 th. 1409 H.

22.  Mushannaf Abdurrazzâq karya Abu Bakar Abdurrazzaq bin Hammam Ash-Shan'ani (w. 211 H), Tahqiq: Habiburrahman Al-A'dhami, Penerbit: Al-Maktab Al-Islami Beirut, cet. ke-2 th. 1403 H.

23.  Musnad Ad-Dârimî (Sunan Ad-Dârimî) karya Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Al-Fadhal bin Bahram bin Abdush Shamad Ad-Darimi At-Tamimi As-Samarqandi (w. 255 H), Tahqiq: Husain Salim Asad Ad-Darani, Penerbit: Darul Mughni KSA, cet. ke-1 th. 1412 H/2000 M.

24.  Al-Mustakhrâj karya Abu Awanah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim An-Naisaburi Al-Isfirayaini (w. 316 H), Tahqiq: Aiman bin Arif Ad-Dimasyq, Penerbit: Darul Ma’rifah Beirut, cet. ke-1 th. 1419 H/1998 H.

25.  Sunan Ad-Dâruquthnî karya Abul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad bin Mahdi bin Mas’ud bin Nu’man bin Dinar Al-Baghdadi Ad-Daruquthni (w. 385 H), Tahqiq: Syu’aib Al-Arna`uth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah Beirut, cet. ke-1 th. 1424 H/2004 H.

26.  Musnad Abû Ya’lâ karya Abu Ya’la Ahmad bin Ali bin Al-Mutsanna bin Yahya bin Isa bin Hilal At-Tamimi Al-Maushuli (w. 307 H), Tahqiq: Husain Salim Asad, Penerbit: Darul Ma`mun lit Turâts Damaskus, cet. ke-1 th. 1404 H/1984 H.

27.   Musnad Ibnu Abî Syaibah karya Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim bin Utsman bin Khawasiti Al-Abasi Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H),  Tahqiq: Adil bin Yusuf Al-Azazi dan Ahmad bin Farid Al-Mazidi, Penerbit: Darul Wathan Riyadh, cet. ke-1 th. 1997 H.

28.  Musnad Abû Dâwûd Ath-Thayâlisî karya Abu Dawud Sulaiman bin Dawud bin Al-Jarud Ath-Thayalisi Al-Bashri (w. 204 H), Tahqiq: Dr. Muhammad bin Abdul Muhsin At-Turki, Penerbit: Dar Hijr Mesir, cet. ke-1 th. 1419 H/1999 H.

29.  Al-Bahr Az-Zakhkhâr (Musnad Al-Bazzâr) karya Abu Bakar Ahmad bin Amr bin Abdul Khaliq bin Khalad bin Ubaidillah Al-Ataki (nama ma’ruf Al-Bazzar) (w. 292 H), Tahqiq: Mahfuzhur Rahman Zainullah (juz 1-9), Adil bin Sa’ad (juz 10-17), dan Shabari Abdul Khaliq asy-Syafi’i (juz 18), Penerbit: Maktabah Al-Ulum wal Hikam Madinah, cet. ke-1 th. 1988-2009 H.

30.  Musnad Al-Humaidi karya Abu Bakar Abdullah bin Az-Zubair bin Isa bin Abdillah Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Humaidi Al-Makki (w. 219 H), Tahqiq: Hasan Salim Asad Ad-Darani, Penerbit: Darus Saqa`, cet. ke-1 th. 1996 M.

31.   At-Tauhîd wa Ma’rifatu Asmâ`illah Azza wa Jalla wa Sifâtuhu ‘alal Ittifâq wat Tafarrudi (Kitâbut Tauhîd) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin Yahya bin Mandah Al-Abdi (w. 395 H), Tahqiq: Dr. Ali bin Muhammad Nashir Al-Faqihi, Penebit: Maktabatul Ulum wal Hikam Madinah, cet. ke-1 th. 1423 H/2002 M.

32.  Fathul Bârî Syarhu Shahîh Al-Bukhârî karya Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani asy-Syafi’i (w. 852 H), Tahqiq: Abdul Aziz bin Baz, Tarqim: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Takhrij: Muhibuddin Al-Khathib, Penerbit: Darul Ma’rifat Beirut, cet. th. 1379 H.

33.   Al-Minhâj Syarhu Shahîh Muslim bin Al-Hajjâj karya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi asy-Syafi’i (w. 676 H), Penerbit: Dar Ihyâ`ut Turâts Al-Arabi Beirut, cet. ke-2 th. 1392 H.

34.  Al-Qoulul Mufid Syarah Kitabit Tauhid karya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit: Dar Ibnul Jauzi Kairo, cet. ke-1 th. 1432 H/2011 M.

35.   Silsilah Al-Lughoh Al-Arobiyah Madah Tauhid Mustawa Tsalits disusun Tim Dosen Universitas Muhammad bin Suud Riyadh, Arab Saudi.

36.  Nurut Tauhid wa Zhulumatusy Syirk karya Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qohthooni, tanpa tahun.

37.   Aqidatut Tauhid karya Dr. Shalih Al-Fauzan, tanpa tahun.[]


Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
2 Comments
  • Muhammad Trisno Meli Candra
    Muhammad Trisno Meli Candra 11 Mei 2020 pukul 17.10

    Alhamdulillah sangat bermamfaat. Jazakaullah khairan akhi

  • ahmad
    ahmad 8 Oktober 2021 pukul 00.36

    jazaakallahu khoir akh sangat bermanfaat

Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini