[PDF] Tarjamah Qowaidul Arba' - 4 Kaidah Memahami Kesyirikan - Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H)
﷽
أَسْأَلُ
اللهَ الْكَرِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ: أَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ،
وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ، وَأَنْ يَجْعَلَكَ مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ
شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أَذْنبَ اسْتَغْفَرَ. فَإِنَّ هَؤُلَاءِ
الثَّلاَثَ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ.
Aku memohon kepada Allah yang Mahamulia, Robb ‘Arsy yang agung:
semoga Dia menjagamu di dunia dan di Akhirat dan menjadikanmu diberkahi di mana
pun kamu berada serta menjadikanmu termasuk golongan yang jika diberi
bersyukur, jika diuji bersabar, dan jika berbuat dosa beristighfar, karena tiga
hal ini merupakan tanda kebahagiaan.
اِعْلَمْ
-أَرْشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِ- أَنَّ الْحَنِيْفِيَّةَ -مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ-:
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ، وَبِذَلِكَ أَمَرَ اللهُ
جَمِيعَ النَّاسِ وَخَلَقَهُمْ لَهَا، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ
إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ﴾
[الذَّارِيَاتُ: 56].
Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu
untuk mentaati-Nya, bahwa hanifiyah
agama Ibrahim adalah kamu menyembah Allah semata dengan ikhlash dalam beragama.
Untuk hal itulah Allah menyuruh semua makhluk dan menciptakan mereka untuk hal
tersebut, seperti yang difirmankan-Nya,
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka menyembah-Ku.” [51: 56]
فَإِذَا
عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ: فَاعْلَمْ أَنَّ الْعِبَادَةَ لَا
تُسَمَّى عِبَادَةً إِلَّا مَعَ التَّوْحِيدِ، كَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ لَا
تُسَمَّى صَلَاةً إِلَّا مَعَ الطَّهَارَةِ، فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي
الْعِبَادَةِ فَسَدَتْ، كَالْحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَارِة، كَمَا قَالَ
تَعَالَى: ﴿مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللهِ شَاهِدِينَ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ
هُمْ خَالِدُونَ﴾ [التَّوْبَةُ: 17].
Apabila kamu sudah tahu bahwa Allah
menciptakanmu untuk menyembah-Nya maka ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut
ibadah kecuali disertai tauhid seperti shalat yang tidak disebut shalat kecuali
disertai berwudhu. Apabila syirik masuk dalam ibadah maka ibadah itu menjadi
rusak, seperti hadats yang apabila masuk dalam wudhu, seperti yang Dia
firmankan, “Tidaklah pantas orang-orang
musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa
mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia amal kebaikannya, dan
mereka kekal di dalam Neraka.” [9: 17]
فَإِذَا
عَرَفْتَ أَنَّ الشِّرْكَ إِذَا خَالَطَ الْعِبَادَةَ أَفْسَدَهَا، وَأَحْبَطَ
الْعَمَلَ، وَصَاَر صَاحِبُهُ مِنَ الْخَالِدِينَ فِي النَّارِ: عَرَفْتَ أَنَّ
أَهَمَّ مَا عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ، لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخَلِّصَكَ مِنْ
هَذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ. وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعِ
قَوَاعِدَ ذَكَرَهَا اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ.
Apabila kamu telah tahu bahwa syirik
apabila bercampur dengan ibadah akan merusaknya, menghapus pahala amal ibadah,
dan menjadikan pelakunya kekal di Neraka, kamu pun tahu bahwa perkara sangat
penting bagimu adalah mempelajari hal tersebut. Semoga Allah membebaskanmu dari duri ini yaitu syirik kepada Allah.
Yaitu dengan mempelajari 4 kaidah yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya.
Kaidah Ke-1: Meyakini Rububiyyah
الْقَاعِدَةُ
الأُولَى:
أَنْ
تَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمْ رَسُولُ اللهِ ﷺ مُقِرُّونَ
أَنَّ اللهَ هُوَ الْخَالِقُ الرَّازِقُ، المُحْيِ الْمُمِيْتُ، الْمُدَبِّرُ
لِجَمِيْعِ الْأُمُوْرِ، وَلَمْ يُدْخِلْهُمْ ذَلِكَ فِي الإِسْلَامِ؛
وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ
وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ
اللهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ﴾ [يُوْنُسَ:
31].
Kamu mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi Rosulullah
ﷺ mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah
Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Pengatur segala sesuatu, tetapi hal itu tidak lantas memasukkan
mereka ke dalam Islam. Dalilnya adalah firman-Nya Ta’ala, “Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki
kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan)
pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari
yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?
Maka mereka akan menjawab: Allah. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa
(kepada-Nya)?” [10: 31]
Kaidah Ke-2: Menjadikan Perantara
الْقَاعِدَةُ
الثَّانِيَةُ:
أَنَّهُمْ
يَقُولُونَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلا لِطَلَبِ
الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ.
فَدَلِيلُ
الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا
نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ
بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ
كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾ [الزُّمَرُ: 3].
وَدَلِيلُ
الشَّفَاعَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ
وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ * قُلْ
أَتُنَبِّئُونَ اللهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الأَرْضِ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾ [يُوْنُسُ: 18].
Mereka berkata, “Kami tidak menyembah
mereka (berhala) dan tidak pula merendahkan diri kepada mereka kecuali untuk
mencari qurbah (pendekatan diri
kepada Allah) dan syafaat
(menjadikan berhala sebagai pelantara kepada Allah).”
Dalil qurbah adalah firman-Nya Ta’ala, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung
selain Allah (berkata): ‘Kami
tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah
dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di
antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah
tidak memberi hidayah kepada orang-orang yang pendusta dan kufur.” [39:2]
Sementara dalil syafaat adalah firman-Nya Ta’ala,
“Dan mereka menyembah selain Allah apa
yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula)
kemanfaatan, dan mereka berkata: Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami
di sisi Allah. Katakanlah:
apakah kamu hendak memberitahu Allah apa yang Dia tidak ketahui di langit dan
di bumi? Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” [10: 18]
وَالشَّفَاعَةُ
شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ مَنْفِيَّةٌ، وَشَفَاعَةٌ مُثْبَتَةٌ.
فَالشَّفَاعَةُ
الْمَنْفِيَّةُ: مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيمَا لا يَقْدِرُ
عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ
أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ
فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾ [البقرة: 254].
Syafaat itu ada dua: syafaat manfiyyah
(tertolak) dan syafaat mutsbatah (diterima).
Syafaat
manfiyyah adalah syafaat yang
diminta kepada selain Allah pada perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali
Allah. Dalilnya adalah firman-Nya Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian
dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari
itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan
tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” [2: 254]
وَالشَّفَاعَةُ
الْمُثْبَتَةُ: هِيَ الَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ، وَالشَّافِعُ مُكَرَّمٌ
بِالشَّفَاعَةِ، وَالْمَشْفُوعُ لَهُ مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ
بَعْدَ الإِذْنِ؛ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ
إِلاَّ بِإِذْنِهِ﴾ [البقرة: 255].
Syafaat
mutsbatah adalah syafaat yang
diminta kepada Allah (dengan ketentuan) yang diberi syafaat adalah orang yang
dimuliakan dengan syafaat dan yang memberi syafaat adalah orang yang diridhai
ucapan dan perbuatannya setelah mendapat izin, seperti yang difirmankan-Nya Ta’ala,
“Tidak ada yang memberi syafaat di
sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya.” [2: 255]
Kaidah Ke-3: Tidak Dibedakan
الْقَاعِدَةُ
الثَّالِثَةُ:
أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِينَ فِي عِبَادَاتِهِمْ:
مِنْهُمْ:
مَنْ يَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ.
وَمِنْهُمْ:
مَنْ يَعْبُدُ الْمَلَائِكَةَ.
وَمِنْهُمْ:
مَنْ يَعْبُدُ الأَنْبِيَاءَ وَالصَّالِحِينَ.
وَمِنْهُمْ:
مَنْ يَعْبُدُ الأَشْجَارَ وَالأَحْجَارَ.
وَقَاتَلَهُمْ
رَسُولُ اللهِ ﷺ وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ
فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ﴾ [الأَنْفَالُ: 39].
Rosulullah ﷺ memerangi
manusia yang bermacam-macam cara beribadahnya. Di antara mereka ada yang
menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah para Malaikat, ada yang menyembah para Nabi dan
orang-orang shalih, ada yang menyembah pohon dan batu.
Rosulullah ﷺ
memerangi mereka tanpa membeda-bedakan mereka. Dalilnya adalah firman-Nya Ta’ala,
“Perangilah mereka hingga tidak ada fitnah (kesyirikan)
dan agama seluruhnya milik Allah.” [8: 39]
وَدَلِيلُ
الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ
وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ، لاَ تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا
لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ [فُصِّلَتٌ: 37].
Dalil matahari dan bulan adalah firman-Nya
Ta’ala, “Di antara tanda-tanda
(kekuasaan-Nya) adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud
kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada
Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” [41: 37]
وَدَلِيلُ
الْمَلائِكَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ
لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ * قَالُوا
سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ، بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ
الْجِنَّ، أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ﴾ [سباء: 80].
Dalil malaikat adalah firman-Nya Ta’ala,
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu)
Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat: ‘Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?’
Malaikat-Malaikat itu menjawab: ‘Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung
kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka
beriman kepada jin itu.’” [34: 41-41]
وَدَلِيلُ
الأَنْبِيَاءِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ
قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللهِ، قَالَ
سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ﴾ [المائدة: 116].
Dalil para Nabi adalah firman-Nya Ta’ala,
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan
selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah
patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).’” [5: 116]
وَدَلِيلُ
الصَّالِحِينَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلاَ
يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيْلًا * أُولَـئِكَ الَّذِينَ
يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ
وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ، إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ
مَحْذُورًا﴾ [الإسراء: 56-57].
Dalil orang-orang shalih adalah firman-Nya
Ta’ala, “Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu
anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk
menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.’
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan
mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” [17: 56-57]
وَدَلِيلُ
الأَشْجَارِ وَالأَحْجَارِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أَفَرَأَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى *
وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى﴾
[النجم: 19، 20].
وَحَدِيُث
أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ
ﷺ إِلَى حُنَيْنٍ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍ، وَلِلْمُشْرِكِينَ
سِدْرَةٌ، يَعْكُفُونَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُونَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ، يُقَالَ
لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ
اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ.
فَقَالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ: اللهُ أَكْبَرُ! إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ ـ وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ ـ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: ﴿اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ
آلِهَةٌ﴾ [الأعراف: 138]
Dalil pohon dan batu adalah firman-Nya Ta’ala,
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang
musyrik) menganggap Al-Lata
dan Al-Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling
terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” [53:19-20]
Dan juga hadits Abu Waqid Al-Laitsi Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Kami keluar bersama Nabi ﷺ untuk perang Hunain dan kami pada waktu itu belum lama keluar
dari kekufuran. Orang-orang musyrik
memiliki sebuah pohon di mana mereka itikaf di sisinya dan menggantungkan
pedang-pedang mereka yang disebut pohon Dzatu Anwath. Kami pun melewati sebuah
pohon lalu kami berkata, “Wahai Rosulullah,
buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath seperti milik mereka.” Maka Rosulullah
ﷺ bersabda, “Allahu Akbar! Ini adalah sunan. Demi Dzat
yang jiwaku di Tangan-Nya, kalian berkata seperti ucapan Bani Israil kepada
Musa, ‘Buatkanlah untuk kami tuhan seperti mereka memiliki tuhan-tuhan.’”
Kaidah Ke-4: Kesyirikan Lebih
Parah
الْقَاعِدَةُ
الرَّابِعَةُ:
أَنَّ
مُشْرِكِي زَمَانِنَا أَغْلَظُ شِرْكًا مِنَ الأَوَّلِينَ، لِأَنَّ الأَوَّلِينَ
يُشْرِكُونَ فِي الرَّخَاءِ، وَيُخْلِصُونَ فِي الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُو
زَمَانِنَا شِرْكُهُمْ دَائِمٌ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّة؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ
تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ،
فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾ [العَنْكَبُوْتُ: 65].
Orang-orang musyrik di zaman kita lebih
parah kesyirikannya dari pada orang-orang zaman dulu, karena orang-orang zaman
dulu berbuat syirik saat lapang saja tetapi ikhlas saat kesulitan, sementara
orang-orang musyrik di zaman kita kesyirikan mereka terus-menerus saat lapang
dan sulit. Dalilnya adalah firman-Nya Ta’ala, “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai
ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” [29: 65]
وَاللهُ
أَعْلَمُ. تَمَّتْ بِحَمْدِ اللهِ
*
* *
.jpg)
Jazakallah katsirannn