Cari Ebook

[PDF] Arbain Tauhid Uluhiyyah - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Buku Arbain Tauhid Uluhiyyah ini disusun sebagai panduan pokok dalam memahami dan menegakkan penghambaan yang murni hanya kepada Alloh. Pembahasan mencakup 40 Hadits pilihan yang unik, shohih, dan mengakar pada pilar-pilar Tauhid Uluhiyyah. Setiap bab disajikan secara ringkas, padat, serta menyatukan antara landasan ayat Al-Qur’an, Hadits, dan 3 kandungan utama dalam: Aqidah, Fiqih, serta relevansi dalam kehidupan nyata.

Bab 1: Kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illalloh

﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit rodhiyallahu ‘anhu (34 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ»

وَزَادَ: «مِنْ أَبْوَابِ الجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ أَيَّهَا شَاءَ»

“Siapa bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya, dan ‘Isa adalah hamba Alloh, Rosul-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan Jannah itu benar adanya serta Naar itu benar adanya, maka Alloh akan memasukkannya ke dalam Jannah sesuai amalan yang telah dilakukannya dari 8 pintu Jannah manapun yang ia suka.” (HR. Al-Bukhori no. 3435 dan Muslim no. 28)

Kandungan Hadits:

(1) Pembatalan seluruh sesembahan selain Alloh dan penetapan sifat hamba bagi para Nabi tanpa pengangkatan sebagai tuhan.

(2) Kewajiban mengucapkan persaksian Tauhid dengan pemahaman makna dan konsekuensi pembatalannya.

(3) Membiasakan lisan mengagungkan Alloh serta menjauhi sikap pengultusan terhadap figur manusia dalam bermasyarakat.

Bab 2: Hak Alloh atas Hamba untuk Mengesakan-Nya dalam Ibadah

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku semata.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Dari Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu (18 H), Rosululloh bersabda:

«فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»

“Hak Alloh atas hamba adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan hak hamba atas Alloh adalah Dia tidak akan mengadzab orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhori no. 2856 dan Muslim no. 30)

Kandungan Hadits:

(1) Tujuan utama penciptaan makhluk adalah pemurnian ibadah hanya kepada Alloh tanpa syirik.

(2) Setiap amalan ibadah terikat dengan syarat mutlak ketiadaan perbuatan syirik agar diterima.

(3) Menjadikan ketundukan kepada perintah Alloh sebagai prioritas tertinggi di atas tuntutan makhluk.

Bab 3: Keutamaan Tauhid dalam Menghapus Dosa

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezholiman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau mendengar Rosululloh bersabda dalam Hadits Qudsi:

«يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً»

“Wahai anak Adam, sungguh jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi lalu engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HSR. At-Tirmidzi [279 H] no. 3540)

Kandungan Hadits:

(1) Tauhid yang murni memiliki kekuatan terbesar untuk menghapuskan dosa-dosa hamba.

(2) Syarat memperoleh ampunan mutlak pada hari Qiyamah adalah bebas dari perbuatan syirik hingga akhir hayat.

(3) Mendorong manusia untuk tidak berputus asa dari rohmat Alloh serta senantiasa memperbaiki keimanan.

Bab 4: Memurnikan Tauhid Merupakan Kunci Masuk Jannah Tanpa Hisab

﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sungguh Ibrohim adalah seorang imam yang patuh kepada Alloh lagi lurus, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh.” (QS. An-Nahl: 120)

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), Rosululloh bersabda tentang kriteria 70.000 orang yang masuk Jannah tanpa hisab:

«هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَلاَ يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ»

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak menganggap sial sesuatu (thiyaroh), tidak menggunakan pengobatan besi panas (kayy), dan hanya kepada Robb mereka, mereka bertawakkal.” (HR. Al-Bukhori no. 5705 dan Muslim no. 220)

Kandungan Hadits:

(1) Puncak penyucian Tauhid (tashfiyah) dicapai dengan tawakkal sempurna tanpa bergantung pada perantara makhluk.

(2) Menjauhi perbuatan meminta-minta ruqyah dan keyakinan sial demi menjaga kesempurnaan iman.

(3) Melatih keteguhan jiwa saat menghadapi kesulitan tanpa mendatangi sarana-sarana syirik.

Bab 5: Bahaya Dosa Syirik Akbar

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sungguh Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), beliau bertanya kepada Nabi tentang dosa terbesar di sisi Alloh, maka beliau bersabda:

«أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ، قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ»

“Engkau menjadikan tandingan bagi Alloh padahal Dia yang telah menciptakanmu.” Ia bertanya: “Sungguh ia dosa sangat besar. Lalu apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu membunuh anakmu karena khawatir makan bersamamu.” Ia bertanya lagi: “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu berzina dengan istri tetanggamu.” (HR. Al-Bukhori no. 4477 dan Muslim no. 86)

Kandungan Hadits:

(1) Syirik akbar adalah kezholiman terbesar karena menyetarakan Pencipta dengan ciptaan.

(2) Amalan kebaikan tidak berguna jika pelakunya melakukan dosa syirik akbar tanpa bertaubat.

(3) Selalu waspada terhadap godaan memalingkan rasa pengagungan dari Alloh kepada manusia.

Bab 6: Bahaya Syirik Asghor dan Riya’ dalam Ibadah

﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya, hendaknya ia mengerjakan amalan sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Dari Mahmud bin Labid rodhiyallahu ‘anhu (96 H), Rosululloh bersabda:

«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً»

“Sungguh hal yang paling aku takuti atas kamu sekalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: “Apa itu syirik kecil wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Yaitu riya’. Alloh pada hari Kiamat akan berfirman kepada mereka ketika manusia mendapatkan balasan: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian dahulu pamer amal kepada mereka di dunia! Apakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka?!” (HHR. Ahmad no. 23680)

Kandungan Hadits:

(1) Syirik asghor seperti riya’ dapat merusak nilai pahala amalan meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

(2) Niat ibadah wajib disucikan dari keinginan mendapat pujian makhluk agar sah di sisi Alloh.

(3) Melatih keikhlasan dengan menyembunyikan amalan sunnah dari pandangan orang lain.

Bab 7: Syirik Khofi dan Do’a Memohon Perlindungan Darinya

﴿فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Alloh, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 22)

Dari Ma’qil bin Yasar rodhiyallahu ‘anhu (44 H), ia berkata: Aku pergi bersama Abu Bakr kepada Nabi lalu beliau bersabda: “Hai Abu Bakr, syirik di tengah kalian lebih tersembunyi dari semut hitam (di atas batu hitam di kegelapan malam).” Abu Bakr berkata: “Bukankah syirik hanyalah menjadikan tandingan bagi Alloh?” Nabi bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ؟» قَالَ: «قُلِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ»

“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, sungguh syirik lebih tersembunyi dari semut hitam yang sangat kecil. Maukah kamu kuajari sesuatu jika kamu mengucapkannya maka akan hilang syirik tersebut darimu, baik sedikit maupun banyak? Ucapkanlah: ‘Ya Alloh, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik dengan-Mu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.’” (HSR. Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod no. 716)

Kandungan Hadits:

(1) Syirik khofi dapat menyusup halus ke dalam niat manusia tanpa disadari.

(2) Disyari’atkannya do’a khusus ini sebagai pelindung benteng keimanan setiap hari.

(3) Mendidik diri untuk senantiasa bermuhasabah (memeriksa niat) dalam setiap tutur kata dan aksi sosial.

Bab 8: Do’a Adalah Inti Ibadah Hanya untuk Alloh

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Robbmu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku akan masuk Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghofir: 60)

Dari An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhuma (65 H), Nabi bersabda:

«الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ»

“Do’a adalah ibadah itu sendiri.” (HSR. Abu Dawud no. 1479 dan At-Tirmidzi [279 H] no. 2969)

Kandungan Hadits:

(1) Memalingkan do’a kepada selain Alloh seperti wali atau kuburan adalah perbuatan syirik uluhiyyah.

(2) Hukum memohon kebutuhan ghoib kepada makhluk adalah harom dan termasuk ibadah syirkiyyah.

(3) Membiasakan diri memohon hal sekecil apa pun hanya kepada Alloh dalam setiap keadaan.

Bab 9: Memohon Pertolongan (Isti’anah) Hanya kepada Alloh

﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), Rosululloh menasehati beliau:

«إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ»

“Apabila engkau meminta, mintalah kepada Alloh; dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi [279 H] no. 2516)

Kandungan Hadits:

(1) Isti’anah dalam hal-hal di luar kemampuan makhluk merupakan hak mutlak Alloh.

(2) Larangan menggantungkan harapan pertolongan atas urusan ghoib kepada sebab-sebab syirkiyyah.

(3) Menanamkan jiwa kemandirian dan rasa percaya diri yang tinggi hanya dengan bertumpu kepada Alloh.

Bab 10: Memohon Perlindungan (Isti’adzah) Hanya dengan Kalimat Alloh

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۞ مَلِكِ النَّاسِ ۞ إِلٰهِ النَّاسِ

“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Robb manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-3)

Dari Khoulah binti Hakim rodhiyallahu ‘anha (45 H), beliau mendengar Rosululloh bersabda:

«مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذٰلِكَ»

“Siapa singgah di suatu tempat lalu mengucapkan: A’udzu bikalimaatillaahit tammaati min syarri maa kholaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan), maka tidak ada sesuatu pun yang berbahaya baginya sampai ia beranjak dari tempatnya itu.” (HR. Muslim no. 2708)

Kandungan Hadits:

(1) Kalimat Alloh bukan makhluk, sehingga diperbolehkan dijadikan tempat berlindung.

(2) Sunnah membaca dzikir perlindungan syar’i saat memasuki wilayah baru atau tempat asing.

(3) Meninggalkan kebiasaan meminta izin atau memberi sesajen kepada penunggu tempat tak kasat mata.

Bab 11: Memohon Pertolongan Darurat (Istighotsah) Hanya kepada Alloh

﴿إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ

“Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan darurat (istighotsah) kepada Robbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al-Anfal: 9)

Dari ‘Umar bin Al-Khottob rodhiyallahu ‘anhu (23 H), beliau menceritakan saat perang Badar Rosululloh mengahadap kiblat menengadahkan tangan beristighotsah:

«اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ»

“Ya Alloh, penuhilah bagiku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Alloh, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Alloh, jika Engkau membinasakan kelompok umat Islam ini (pasukan Badar) maka Engkau tidak disembah di bumi.” (HR. Muslim no. 1763)

Kandungan Hadits:

(1) Istighotsah pada saat darurat adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Alloh.

(2) Disyari’atkannya merapatkan tangan dan memperpanjang do’a ketika dalam kondisi jepitan mara bahaya.

(3) Menjadikan Alloh sebagai pelindung utama saat berada dalam krisis hidup tanpa mencari penolong syirkiyyah.

Bab 12: Larangan Menyembelih Qurban (Dzabh) untuk Selain Alloh

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: ‘Sungguh Sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” (QS. Al-An’am: 162-163)

Dari ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu (40 H), Rosululloh bersabda:

«لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ»

“Alloh melaknat orang yang menyembelih hewan untuk selain Alloh.” (HR. Muslim no. 1978)

Kandungan Hadits:

(1) Menyembelih hewan dengan niat pengagungan kepada selain Alloh adalah syirik akbar.

(2) Harom hukumnya memakan daging hasil sembelihan yang diperuntukkan bagi jin, kuburan, atau adat syirkiyyah.

(3) Menolak perayaan adat yang menggunakan ritual pemotongan hewan untuk tumbal keselamatan.

Bab 13: Larangan Bernadzar untuk Selain Alloh

﴿يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka menepati nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insaan: 7)

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ»

“Siapa bernadzar untuk ta’at kepada Alloh maka hendaklah ia mena’ati-Nya; dan siapa bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya maka janganlah ia bermaksiat kepada-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 6696)

Kandungan Hadits:

(1) Nadzar adalah ibadah, bernadzar kepada penghuni kubur atau wali merupakan syirik uluhiyyah.

(2) Wajib menepati nadzar dalam keta’atan dan harom menepati nadzar dalam maksiat atau syirik.

(3) Bertanggung jawab atas janji keta’atan yang telah diucapkan kepada Alloh.

Bab 14: Ancaman Meminta Perlindungan kepada Jin dan Makhluk

﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki dari manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesesatan.” (QS. Al-Jinn: 6)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh bersabda menceritakan gangguan jin:

«إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ البَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ صَلاَتِي، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَأَخَذْتُهُ»

“Sungguh jin ‘Ifrit menampakkan diri kepadaku tadi malam untuk memutus Sholatku, lalu Alloh memberikan aku kuasa atasnya hingga aku berhasil menangkapnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3423)

Kandungan Hadits:

(1) Jin adalah makhluk ciptaan yang tidak memiliki daya pertolongan ghoib bagi manusia.

(2) Harom hukumnya melakukan kontak kerja sama atau meminta bantuan jin dalam bentuk apa pun.

(3) Mengikis rasa takut berlebihan terhadap tempat angker dan menggantinya dengan benteng dzikir.

Bab 15: Bahaya Menggunakan Tamimah (Jimat) dan Penangkal

﴿قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكاَتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Katakanlah: ‘Jelaskan kepadaku, apakah tuhan-tuhan yang kalian seru selain Alloh, jika Alloh menghendaki keburukan atasku apakah mereka mampu menghilangkannya dariku, atau jika Alloh menghendaki rohmat atasku apakah mereka mampu mencegah rohmat itu dariku?!’ Katakanlah: ‘Cukuplah Alloh bagiku, kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyallahu ‘anhu (58 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً، فَلَا أَتَمَّ اللهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً، فَلَا وَدَعَ اللهُ لَهُ»

“Siapa menggantungkan jimat (tamimah), semoga Alloh tidak menyempurnakan hajatnya; dan siapa menggantungkan kerang penangkal (wada’ah), semoga Alloh tidak memberikan ketenangan padanya.” (HHR. Ahmad no. 17404)

Kandungan Hadits:

(1) Meyakini benang, batu, atau sabuk jimat sebagai penolak bala adalah tindakan syirik.

(2) Harom memakai jimat dalam segala bentuknya, baik berupa tulisan, rajah, maupun wujud benda lainnya.

(3) Membersihkan rumah dan tempat usaha dari segala aksesoris penangkal sial dan jimat.

Bab 16: Ancaman Menggunakan Ruqyah Syirkiyyah dan Tiwalah (Sihir Pelet)

﴿وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Janganlah kamu menyembah selain Alloh yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudhorot kepadamu. Jika kamu melakukannya, maka sungguh kamu termasuk orang-orang yang zholim (musyrik).” (QS. Yunus: 106)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), beliau mendengar Rosululloh bersabda:

«إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ»

“Sungguh ruqyah (yang syirkiyyah), tamimah (jimat), dan tiwalah (pelet pengasih) adalah syirik.” (HSR. Abu Dawud no. 3883)

Kandungan Hadits:

(1) Sihir pelet dan mantra ghoib merupakan bentuk penyekutuan terhadap keagungan Alloh.

(2) Ruqyah dibolehkan hanya jika menggunakan ayat Al-Qur’an, nama Alloh, dan bahasa Arob yang dipahami.

(3) Membangun keharmonisan rumah tangga atas dasar kasih sayang dan do’a, bukan mantra pelet.

Bab 17: Larangan Ngalap Berkah (Tabarruk) yang Dilarang

﴿أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى ۞ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu menganggap Al-Laat dan Al-‘Uzza, dan Manat yang ketiga yang paling terbelakang?” (QS. An-Najm: 19-20)

Dari Abu Waqid Al-Laitsi rodhiyallahu ‘anhu (68 H), tatkala Shohabat meminta pohon untuk tempat menggantungkan senjata (Dzatu Anwath), Nabi bersabda:

«قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى: ﴿اجْعَلْ لَنَا إِلٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ، إِنَّهَا السُّنَنُ، لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً»

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengucapkan ucapan sebagaimana kaum Musa: ‘Buatkanlah untuk kami ilah sebagaimana mereka memiliki ilah-ilah!’ Musa menjawab: ‘Sungguh kalian adalah kaum yang bodoh.’ Itu ajaran kaum terdahulu! Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.” (HSR. Ahmad [251 H] no. 21897)

Kandungan Hadits:

(1) Mengharap keberkahan dari benda, pohon, atau kuburan tanpa dalil syar’i adalah perbuatan syirik.

(2) Berkah hanya datang dari Alloh melalui perantara amalan yang disyari’atkan.

(3) Menghindari ritual mengusap-usap benda keramat atau bangunan yang dianggap suci tanpa dasar agama.

Bab 18: Rasa Takut (Khouf) Hakiki Hanya Diberikan kepada Alloh

﴿إِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sungguh mereka itu hanyalah syaithon yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu orang beriman.” (QS. Ali ‘Imron: 175)

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha (57 H), Nabi bersabda:

«مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ»

“Siapa mencari ridho Alloh dengan membuat manusia murka, maka Alloh akan ridho kepadanya dan menjadikan manusia ridho kepadanya. Siapa mencari ridho manusia dengan membuat Alloh murka, maka Alloh murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya.” (HSR. Ibnu Hibban no. 276)

Kandungan Hadits:

(1) Rasa takut ibadah (khouf sirr) tidak boleh diserahkan kepada makhluk dalam hal penciptaan bahaya ghoib.

(2) Harom melanggar perintah agama demi menghindari kemarahan atau celaan manusia.

(3) Teguh dalam menegakkan kebenaran tanpa takut kehilangan jabatan atau popularitas sosial.

Bab 19: Tawakkal Bulat Hanya kepada Alloh

﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُه

“Dan siapa bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Tholaq: 3)

Dari ‘Umar bin Al-Khottob rodhiyallahu ‘anhu (23 H), Rosululloh bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

“Seandainya kamu sekalian bertawakkal kepada Alloh dengan benarnya tawakkal, niscaya kamu akan diberi rizqi sebagaimana burung diberi rizqi; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi [279 H] no. 2344)

Kandungan Hadits:

(1) Tawakkal adalah ikatan hati secara mutlak kepada Alloh sebagai Penjamin rizqi.

(2) Menyempurnakan ikhtiar lahiriah merupakan syarat syar’i dari kebenaran tawakkal itu sendiri.

(3) Menghilangkan rasa cemas berlebihan mengenai masa depan rizqi dengan giat bekerja dan berdoa.

Bab 20: Larangan Merasa Aman dari Makar Alloh dan Putus Asa dari Rohmat-Nya

﴿أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari makar (adzab) Alloh (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari makar Alloh kecuali orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’rof: 99)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), beliau berkata:

«أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ: الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَالْأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ، وَالْقُنُوطُ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ»

“Dosa yang paling besar adalah menyukutukan Alloh, merasa aman dari makar Alloh, berputus asa dari rohmat dari Alloh.” (Majma’ Zawaid no. 392, shohih)

Kandungan Hadits:

(1) Wajib memadukan antara rasa takut (khouf) dan harapan (roja’) dalam menyembah Alloh.

(2) Merasa aman dari ancaman adzab Alloh serta putus asa dari ampunan tergolong dosa-dosa besar.

(3) Mendorong diri untuk tidak sombong tatkala sukses dan tidak meratapi kegagalan hidup.

Bab 21: Wajib Sabar terhadap Takdir Alloh

﴿وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Dan siapa beriman kepada Alloh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghobun: 11)

Dari Suhaib Ar-Rumi rodhiyallahu ‘anhu (38 H), Rosululloh bersabda:

«عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

“Sangat mengagumkan perkara seorang Mu’min, sungguh seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali bagi seorang Mu’min; jika ia ditimpa kesenangan ia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika ditimpa kesusahan ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Kandungan Hadits:

(1) Meyakini bahwa seluruh takdir Alloh mengandung hikmah kebaikan merupakan konsekuensi Tauhid.

(2) Kewajiban bersabar atas musibah dan harom mencela takdir atau menampar pipi karena duka.

(3) Menjaga ketenangan jiwa saat tertimpa penderitaan hidup dengan menyadari itu ujian iman.

Bab 22: Riya’ Menghapuskan Amalan Ibadah di Sisi Alloh

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia.” (QS. Al-Baqoroh: 264)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh bersabda dalam Hadits Qudsi:

«أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu dari perbuatan syirik. Siapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya ia menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan perbuatan syiriknya itu.” (HR. Muslim no. 2985)

Kandungan Hadits:

(1) Alloh hanya menerima amalan yang murni dan bersih dari campur tangan niat selain-Nya.

(2) Amalan ibadah yang tercampur riya’ sejak awal pembentukannya gugur pahalanya secara utuh.

(3) Menjaga kerahasiaan ibadah pribadi agar terhindar dari godaan mengharapkan pujian manusia.

Bab 23: Niat Beramal Kebaikan Wajib Murni Mencari Wajah Alloh

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

“Siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna.” (QS. Hud: 15)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh bersabda tentang 3 orang pertama yang diadili pada hari Qiyamah:

«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ...»

“Sungguh manusia pertama yang diputuskan perkaranya pada hari Qiyamah adalah seorang yang mati syahid; ia didatangkan lalu Alloh memperlihatkan ni’mat-Nya dan ia mengenalnya. Alloh berfirman: ‘Apa yang telah engkau perbuat dengannya?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang demi Engkau hingga aku mati syahid.’ Alloh berfirman: ‘Engkau dusta! Akan tetapi engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang pemberani, dan kata-kata itu telah diucapkan.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam Naar...” (HR. Muslim no. 1905)

Kandungan Hadits:

(1) Amalan sebesar Jihad, menuntut ilmu, dan sedekah menjadi hampa jika tujuannya adalah kejayaan dunia.

(2) Wajib memperbarui niat ikhlas sebelum, saat, dan sesudah menunaikan amalan kebaikan.

(3) Selalu mengoreksi tujuan di balik setiap aksi sosial agar tidak terjebak pada popularitas semata.

Bab 24: Wajib Ta’at kepada Hukum Alloh dalam Mengharomkan dan Menghalalkan

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Alloh.” (QS. At-Taubah: 31)

Dari ‘Adi bin Hatim rodhiyallahu ‘anhu (68 H), saat mendengar ayat di atas, Nabi menjelaskan bentuk penyembahannya:

«أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ، وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ، وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ»

“Adapun sungguh mereka tidaklah menyembah rahib-rahib itu secara langsung, akan tetapi apabila rahib-rahib itu menghalalkan sesuatu untuk mereka, mereka pun menghalalkannya; dan apabila mengharomkan sesuatu atas mereka, mereka pun mengharomkannya.” (HHR. At-Tirmidzi [279 H] no. 3095)

Kandungan Hadits:

(1) Hak menetapkan hukum halal dan harom mutlak milik Alloh, mena’ati makhluk dalam mengubah hukum adalah syirik ta’at.

(2) Tidak boleh mengikuti fatwa atau ajaran ulama yang secara jelas menyelisihi nash shohih Al-Qur’an dan Sunnah.

(3) Mengedepankan aturan syari’at Alloh di atas tradisi lokal yang bertentangan dengan agama.

Bab 25: Menerima dan Ridho terhadap Syari’at Nabi

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Robbmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’: 65)

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هٰذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

“Siapa membuat hal baru dalam urusan agama kami ini yang bukan bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Kandungan Hadits:

(1) Mengakui Kerosulan Muhammad menuntut ketundukan utuh pada ajaran beliau tanpa menambah bid’ah.

(2) Setiap bentuk ibadah baru yang diciptakan tanpa dalil syar’i berstatus harom dan tidak berpahala.

(3) Beribadah sesuai tuntunan teladan Nabi serta meninggalkan amalan bid’ah yang diada-adakan.

Bab 26: Larangan Bersumpah dengan Selain Nama Alloh

﴿وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلٰهٌ

“Dialah sesembahan yang berhak disembah di langit dan sesembahan yang berhak disembah di bumi.” (QS. Az-Zukhruf: 84)

Dari ‘Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma (73 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ»

“Siapa bersumpah dengan selain nama Alloh, maka sungguh ia telah kufur atau berbuat syirik.” (HSR. At-Tirmidzi [279 H] no. 1535)

Kandungan Hadits:

(1) Sumpah mengandung unsur pengagungan, sehingga mengagungkan selain Alloh lewat sumpah adalah syirik.

(2) Sumpah atas nama Ka’bah, kehormatan ibu bapak, atau nama Nabi adalah dilarang keras.

(3) Melatih lisan agar hanya bersumpah menyebut nama Alloh tatkala terdesak dalam persidangan atau janji.

Bab 27: Larangan Menyetarakan Alloh dalam Ucapan

﴿فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Alloh, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 22)

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), tatkala seorang lelaki berkata kepada Nabi : “Atas kehendak Alloh dan kehendakmu,” beliau bersabda:

«جَعَلْتَنِي لِلَّهِ عَدْلًا؟ بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ»

“Apakah engkau menjadikan aku sebagai tandingan bagi Alloh? Akan tetapi katakanlah: ‘Atas kehendak Alloh semata.’” (HSR. Ahmad no. 2561)

Kandungan Hadits:

(1) Wajib memisahkan kehendak makhluk dari kehendak Alloh dengan kata penyambung kemudian, bukan dan.

(2) Ucapan yang menyetarakan Alloh dengan manusia dalam kalimat sehari-hari berstatus dilarang.

(3) Memperbaiki tutur bahasa agar senantiasa mencerminkan penyucian Tauhid dalam perkataan.

Bab 28: Larangan Mencela Masa/Waktu (Ad-Dahr)

﴿وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita saja,’ kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh bersabda dalam Hadits Qudsi:

«يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ»

“Anak Adam menyakiti-Ku; ia mencela masa padahal Akulah Pencipta dan Pengatur masa, di tangan-Ku segala urusan, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Al-Bukhori no. 4826 dan Muslim no. 2246)

Kandungan Hadits:

(1) Mencela waktu atau nasib pada hakikatnya adalah mencela Alloh yang mengatur perjalanan waktu tersebut.

(2) Harom hukumnya mengutuk hari, bulan, atau tahun atas musibah yang dialami.

(3) Menerima giliran roda kehidupan dengan lapang dada tanpa menyalahkan keadaan zaman.

Bab 29: Larangan Mencela Angin Sebagai Ciptaan Alloh

﴿وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ

“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum datangnya rohmat-Nya.” (QS. Al-A’rof: 57)

Dari Ubay bin Ka’b rodhiyallahu ‘anhu (21 H), Rosululloh bersabda:

«لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُونَ فَقُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هٰذِهِ الرِّيحِ وَخَيْرِ مَا فِيهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هٰذِهِ الرِّيحِ وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ»

“Janganlah kamu mencela angin. Apabila kamu melihat apa yang tidak kamu sukai, maka ucapkanlah: ‘Allohumma innaa nas-aluka min khoiri haadzihir riih wa khoiri maa fiiha wa khoiri maa umirot bih, wa na’uudzu bika min syarri haadzihir riih wa syarri maa fiiha wa syarri maa umirot bih’ (Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya dan kebaikan yang diperintahkan dengannya; dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada di dalamnya dan keburukan yang diperintahkan dengannya).” (HSR. At-Tirmidzi [279 H] no. 2252)

Kandungan Hadits:

(1) Angin adalah makhluk yang tunduk penuh pada perintah dan kehendak Alloh.

(2) Makruh hingga harom mencaci bencana angin, disyari’atkan beralih membaca do’a keselamatan.

(3) Menghadapi cuaca buruk dengan kepasrahan dan do’a, bukan dengan umpatan kekesalan.

Bab 30: Menisbatkan Ni’mat Hujan Hanya kepada Alloh

﴿وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ

“Kamu mengganti rizqi yang kamu terima dari Alloh dengan mendustakan Alloh (yaitu berkata: kami diberi hujan oleh bintang).” (QS. Al-Waqi’ah: 82)

Dari Zaid bin Kholid Al-Juhani rodhiyallahu ‘anhu (78 H), Rosululloh menyampaikan firman Alloh setelah Sholat Subuh di Hudaibiyah:

«أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذٰلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذٰلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ»

“Pada pagi hari ini di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kufur. Adapun orang yang berkata: ‘Kita diberi hujan karena karunia Alloh dan rohmat-Nya,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang. Adapun orang yang berkata: ‘Kita diberi hujan karena terbitnya bintang ini dan itu,’ maka ia kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Al-Bukhori no. 846 dan Muslim no. 71)

Kandungan Hadits:

(1) Menisbatkan sebab cuaca dan turunnya hujan kepada pergerakan bintang secara mandiri adalah bentuk kufur ni’mat.

(2) Sunnah mengucapkan “Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih” saat hujan turun.

(3) Mengakui setiap tetes air hujan sebagai kasih sayang Alloh untuk kelangsungan hidup.

Bab 31: Larangan Mengunjungi Dukun, Peramal, dan Tukang Sihir

﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghoib kecuali Alloh.’” (QS. An-Naml: 65)

Dari Shofiyyah binti Abi ‘Ubaid dari sebagian istri Nabi , beliau bersabda:

«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»

“Siapa mendatangi tukang ramal (peramal) lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka Sholatnya tidak akan diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230)

Kandungan Hadits:

(1) Pengetahuan ghoib adalah milik mutlak Alloh, memercayai peramal merusak Tauhid Uluhiyyah.

(2) Sekadar datang dan bertanya kepada dukun berakibat gugurnya pahala Sholat selama 40 hari.

(3) Menjauhi konsultasi nasib lewat media dukun, ramalan zodiak, ataupun tarot (seperangkat kartu bergambar —umumnya berjumlah 78 kartu— yang awalnya digunakan sebagai permainan kartu di Eropa).

Bab 32: Bahaya Ilmu Tanjim (Astrologi) dan Ramalan Bintang

﴿وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

“Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.” (QS. Al-An’am: 97)

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ»

“Siapa mengambil satu cabang dari ilmu astrologi (tanjim), maka sungguh ia telah mengambil satu cabang dari sihir; bertambah dosa itu seiring bertambahnya ilmu tersebut.” (HHR. Abu Dawud no. 3905)

Kandungan Hadits:

(1) Mengaitkan nasib, karakter, atau masa depan manusia dengan susunan rasi bintang adalah cabang sihir.

(2) Belajar ilmu navigasi bintang diperbolehkan, sedangkan belajar ilmu zodiak ramalan hukumnya harom.

(3) Menolak membaca atau mengimani artikel ramalan nasib berbasis tanggal lahir dan bintang.

Bab 33: Larangan Tathoyyur/Thiyaroh

﴿أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Ketahuilah, sungguh kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Alloh, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’rof: 131)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), Rosululloh bersabda:

«الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا، وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ»

“Thiyaroh (menganggap sial sesuatu) adalah syirik, thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik. Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan pernah terlintas hal itu, akan tetapi Alloh menghilangkannya dengan tawakkal.” (HSR. Abu Dawud no. 3910 dan At-Tirmidzi [279 H] no. 1614)

Kandungan Hadits:

(1) Meyakini hewan, angka, atau hari tertentu membawa kesialan merupakan perbuatan syirik.

(2) Wajib melanjutkan niat hajatan atau perjalanan walau terlintas rasa prasangka sial, dengan bertawakkal.

(3) Membuang mitos angka sial atau anggapan burung malam sebagai tanda kematian anggota keluarga.

Bab 34: Memurnikan Hak Syafa’at Hanya Milik Alloh

﴿قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

“Katakanlah: ‘Hanya milik Alloh syafa’at itu semuanya.’” (QS. Az-Zumar: 44)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), beliau bertanya tentang siapa yang paling bahagia mendapat syafa’at, lalu Nabi bersabda:

«أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ»

“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari Qiyamah adalah orang yang mengucapkan: Laa ilaaha illalloh secara murni tulus dari lubuk hatinya atau jiwanya.” (HR. Al-Bukhori no. 99)

Kandungan Hadits:

(1) Syafa’at tidak bisa didapatkan dari makhluk secara langsung melainkan atas izin dan ridho Alloh.

(2) Memohon syafa’at hanya boleh diminta kepada Alloh, bukan meminta kepada jasad kuburan orang sholih.

(3) Menjaga pemurnian keikhlasan Tauhid agar layak diprioritaskan mendapat syafa’at Nabi .

Bab 35: Larangan Membangun dan Menjadikan Kuburan sebagai Masjid

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sungguh Masjid-Masjid itu adalah milik Alloh. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping menyembah Alloh.” (QS. Al-Jinn: 18)

Dari ‘Aisyah dan ‘Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhum, menjelang wafatnya Rosululloh bersabda:

«لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ» يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

“Laknat Alloh atas orang-orang Yahudi dan Nashroni, mereka menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai Masjid (tempat ibadah).” Beliau memperingatkan (umatnya) agar jangan meniru perbuatan mereka. (HR. Al-Bukhori no. 435 dan Muslim no. 531)

Kandungan Hadits:

(1) Mendirikan bangunan ibadah di atas kuburan membuka pintu syirik pengultusan orang sholih.

(2) Harom hukumnya Sholat menghadap kuburan atau membangun area Masjid menyatu di atas area pemakaman.

(3) Merawat kuburan sesuai batas kesederhanaan syar’i tanpa membuat kubah atau bangunan megah.

Bab 36: Ziyaroh Kubur Syar’iyyah untuk Mengingat Akhiroh dan Mendo’akan Mayit

﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۞ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِر

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)

Dari Buroidah bin Al-Hushoib rodhiyallahu ‘anhu (62 H), Rosululloh bersabda:

«قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَزُورُوهَا؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَةَ»

“Dahulu aku melarang kamu sekalian dari melakukan ziyaroh kubur, maka sekarang berziyarohlah kamu sekalian kepadanya, karena sungguh ziyaroh kubur itu dapat mengingatkan kamu kepada Akhiroh.” (HR. Muslim no. 977 dan lafazh At-Tirmidzi no. 1054)

Kandungan Hadits:

(1) Tujuan ziyaroh kubur syar’i adalah mengambil i'tibar kematian dan memohonkan ampunan bagi ahli kubur.

(2) Disyari’atkan ziyaroh kubur tanpa melakukan perbuatan harom seperti meratapi mayit atau meminta hajat padanya.

(3) Menjadikan ziyaroh kubur sebagai sarana melunakkan hati yang keras agar ingat persiapan mati.

Bab 37: Wajib Berwala’ (Loyal) dan Berbaro’ (Berlepas Diri) Karena Alloh

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْض

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashroni menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Ma’idah: 51)

Dari Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H), Rosululloh bersabda:

«إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ: أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ»

“Tali keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Alloh (berloyalitas karena Alloh), dan membenci karena Alloh (memusuhi karena Alloh).” (HHR. Ahmad no. 18524)

Kandungan Hadits:

(1) Cinta dan benci harus didasarkan atas keterikatan keimanan dan Tauhid kepada Alloh.

(2) Harom mendukung atau membela perbuatan kekufuran, syirik, serta kemaksiatan atas dasar suku atau kedekatan.

(3) Memilih persahabatan erat dengan sesama Mu’min sholih yang membantu menjaga keta’atan.

Bab 38: Menjaga Benteng Tauhid dari Perantara Syirik (Saddud Dzaro’i)

﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mu’min.” (QS. At-Taubah: 128)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh bersabda:

«لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ»

“Janganlah kamu menjadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, dan janganlah kamu menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan; serta bersholawatlah kepadaku karena sungguh sholawatmu akan sampai kepadaku di mana pun kamu berada.” (HSR. Abu Dawud no. 2042)

Kandungan Hadits:

(1) Menutup rapat segala perantara yang dapat membawa manusia kepada pengultusan makam Rosululloh .

(2) Sunnah meramaikan rumah dengan ibadah Sholat sunnah dan tilawah Al-Qur’an agar tidak seperti kuburan.

(3) Mengirimkan sholawat dari mana saja tanpa perlu memaksakan diri beribadah khusus di area makam.

Bab 39: Menyucikan Nama dan Sifat Alloh dari Penyamaan dengan Makhluk

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Nabi bersabda:

«إِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ»

“Sungguh Alloh menciptakan Adam sesuai rupa-Nya (yakni memiliki wajah, mata, tangan, kaki).” (HR. Al-Bukhori no. 6227 dan Muslim no. 2841)

Kandungan Hadits:

(1) Mengimani Sifat Alloh sesuai dengan keagungan-Nya tanpa melakukan tasybih (penyamaan) atau ta’thil (penolakan).

(2) Harom hukumnya menggambarkan wujud hakiki Alloh dengan khayalan.

(3) Mengagungkan Nama dan Sifat Alloh dalam setiap sikap dan rasa penghambaan sehari-hari.

Bab 40: Wafat di Atas Tauhid Sebagai Husnul Khotimah

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imron: 102)

Dari Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu (18 H), Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Siapa yang akhir ucapannya (sebelum meninggal) adalah Laa ilaaha illalloh, niscaya ia masuk Jannah.” (HSR. Abu Dawud no. 3116)

Kandungan Hadits:

(1) Tauhid yang tertanam kokoh di dada menjadi penentu keselamatan abadi di alam Akhiroh kelak.

(2) Sunnah menuntunkan (talqin) kalimat Tauhid dengan lembut kepada orang yang sedang sakarotul maut.

(3) Istiqomah menjaga Tauhid dalam ucapan dan perbuatan sehari-hari agar dikaruniai wafat husnul khotimah.

Penutup

Buku Arbain Tauhid Uluhiyyah ini menyajikan ikhtisar mendasar bagi setiap Muslim dalam menjaga kebersihan iman dari noda syirik. Dengan mendalami 40 Hadits pilihan beserta kandungan lengkapnya, diharapkan pembaca mampu mengaplikasikan nilai-nilai tauhid uluhiyyah secara konsisten dalam ucapan, amalan hati, serta perilaku hidup sehari-hari hingga akhir hayat.[NK]

 

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini