[PDF] Arbain Tauhid Uluhiyyah - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Buku Arbain
Tauhid Uluhiyyah ini disusun sebagai panduan pokok dalam memahami dan
menegakkan penghambaan yang murni hanya kepada Alloh. Pembahasan mencakup 40
Hadits pilihan yang unik, shohih, dan mengakar pada pilar-pilar Tauhid
Uluhiyyah. Setiap bab disajikan secara ringkas, padat, serta menyatukan antara
landasan ayat Al-Qur’an, Hadits, dan 3 kandungan utama dalam: Aqidah, Fiqih,
serta relevansi dalam kehidupan nyata.
Bab 1: Kalimat Tauhid Laa Ilaaha
Illalloh
﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ﴾
“Maka
ketahuilah bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh dan
mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19)
Dari ‘Ubadah
bin Ash-Shomit rodhiyallahu ‘anhu (34 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
شَهِدَ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا
إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ
الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ»
وَزَادَ:
«مِنْ أَبْوَابِ الجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ أَيَّهَا شَاءَ»
“Siapa
bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Alloh semata tiada
sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya, dan ‘Isa
adalah hamba Alloh, Rosul-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam
serta ruh dari-Nya, dan Jannah itu benar adanya serta Naar itu benar adanya,
maka Alloh akan memasukkannya ke dalam Jannah sesuai amalan yang telah
dilakukannya dari 8 pintu Jannah manapun yang ia suka.” (HR. Al-Bukhori no.
3435 dan Muslim no. 28)
Kandungan
Hadits:
(1) Pembatalan seluruh sesembahan
selain Alloh dan penetapan sifat hamba bagi para Nabi tanpa pengangkatan
sebagai tuhan.
(2) Kewajiban mengucapkan persaksian
Tauhid dengan pemahaman makna dan konsekuensi pembatalannya.
(3) Membiasakan lisan mengagungkan
Alloh serta menjauhi sikap pengultusan terhadap figur manusia dalam
bermasyarakat.
Bab 2: Hak Alloh atas Hamba untuk
Mengesakan-Nya dalam Ibadah
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ﴾
“Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku semata.” (QS.
Adz-Dzariyat: 56)
Dari Mu’adz
bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu (18 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«فَإِنَّ
حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ
العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»
“Hak Alloh
atas hamba adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan hak hamba atas Alloh adalah Dia
tidak akan mengadzab orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR.
Al-Bukhori no. 2856 dan Muslim no. 30)
Kandungan
Hadits:
(1) Tujuan utama penciptaan makhluk
adalah pemurnian ibadah hanya kepada Alloh tanpa syirik.
(2) Setiap amalan ibadah terikat dengan
syarat mutlak ketiadaan perbuatan syirik agar diterima.
(3) Menjadikan ketundukan kepada
perintah Alloh sebagai prioritas tertinggi di atas tuntutan makhluk.
Bab 3: Keutamaan
Tauhid dalam Menghapus Dosa
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ
بِظُلْمٍ أُولٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ﴾
“Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezholiman (syirik),
mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Dari Anas
bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H), beliau mendengar Rosululloh ﷺ bersabda dalam Hadits Qudsi:
«يَا
ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي
لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً»
“Wahai anak
Adam, sungguh jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi
lalu engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu
pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.”
(HSR. At-Tirmidzi [279 H] no. 3540)
Kandungan
Hadits:
(1) Tauhid yang murni memiliki kekuatan
terbesar untuk menghapuskan dosa-dosa hamba.
(2) Syarat memperoleh ampunan mutlak
pada hari Qiyamah adalah bebas dari perbuatan syirik hingga akhir hayat.
(3) Mendorong manusia untuk tidak
berputus asa dari rohmat Alloh serta senantiasa memperbaiki keimanan.
Bab 4: Memurnikan Tauhid Merupakan
Kunci Masuk Jannah Tanpa Hisab
﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا
لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾
“Sungguh Ibrohim
adalah seorang imam yang patuh kepada Alloh lagi lurus, dan sekali-kali
bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh.” (QS. An-Nahl:
120)
Dari Ibnu ‘Abbas
rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), Rosululloh ﷺ bersabda tentang kriteria 70.000 orang yang masuk Jannah tanpa
hisab:
«هُمُ
الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَلاَ يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ»
“Mereka
adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak menganggap sial sesuatu (thiyaroh),
tidak menggunakan pengobatan besi panas (kayy), dan hanya kepada Robb
mereka, mereka bertawakkal.” (HR. Al-Bukhori no. 5705 dan Muslim no. 220)
Kandungan
Hadits:
(1) Puncak penyucian Tauhid (tashfiyah)
dicapai dengan tawakkal sempurna tanpa bergantung pada perantara makhluk.
(2) Menjauhi perbuatan meminta-minta
ruqyah dan keyakinan sial demi menjaga kesempurnaan iman.
(3) Melatih keteguhan jiwa saat
menghadapi kesulitan tanpa mendatangi sarana-sarana syirik.
Bab 5: Bahaya Dosa Syirik Akbar
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ
بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾
“Sungguh
Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang
selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)
Dari ‘Abdulloh
bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang dosa terbesar di sisi
Alloh, maka beliau bersabda:
«أَنْ
تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ، قُلْتُ:
ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ». قُلْتُ:
ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ»
“Engkau
menjadikan tandingan bagi Alloh padahal Dia yang telah menciptakanmu.” Ia
bertanya: “Sungguh ia dosa sangat besar. Lalu apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu
membunuh anakmu karena khawatir makan bersamamu.” Ia bertanya lagi: “Lalu apa
lagi?” Beliau menjawab: “Kamu berzina dengan istri tetanggamu.” (HR.
Al-Bukhori no. 4477 dan Muslim no. 86)
Kandungan
Hadits:
(1) Syirik akbar adalah kezholiman
terbesar karena menyetarakan Pencipta dengan ciptaan.
(2) Amalan kebaikan tidak berguna jika
pelakunya melakukan dosa syirik akbar tanpa bertaubat.
(3) Selalu waspada terhadap godaan
memalingkan rasa pengagungan dari Alloh kepada manusia.
Bab 6: Bahaya Syirik Asghor dan
Riya’ dalam Ibadah
﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ
عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾
“Maka siapa
mengharap perjumpaan dengan Robbnya, hendaknya ia mengerjakan amalan sholih dan
janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS.
Al-Kahfi: 110)
Dari Mahmud
bin Labid rodhiyallahu ‘anhu (96 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ
الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ
كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً»
“Sungguh
hal yang paling aku takuti atas kamu sekalian adalah syirik kecil.” Mereka
bertanya: “Apa itu syirik kecil wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Yaitu riya’.
Alloh pada hari Kiamat akan berfirman kepada mereka ketika manusia mendapatkan
balasan: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian dahulu pamer amal
kepada mereka di dunia! Apakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka?!” (HHR.
Ahmad no. 23680)
Kandungan
Hadits:
(1) Syirik asghor seperti riya’ dapat
merusak nilai pahala amalan meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.
(2) Niat ibadah wajib disucikan dari
keinginan mendapat pujian makhluk agar sah di sisi Alloh.
(3) Melatih keikhlasan dengan
menyembunyikan amalan sunnah dari pandangan orang lain.
Bab 7: Syirik Khofi dan Do’a
Memohon Perlindungan Darinya
﴿فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ
تَعْلَمُونَ﴾
“Maka
janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Alloh, padahal kamu
mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 22)
Dari Ma’qil bin Yasar
rodhiyallahu ‘anhu (44 H), ia berkata: Aku pergi bersama Abu Bakr kepada
Nabi ﷺ
lalu beliau bersabda: “Hai Abu Bakr, syirik di tengah kalian lebih tersembunyi
dari semut hitam (di atas batu hitam di kegelapan malam).” Abu Bakr berkata:
“Bukankah syirik hanyalah menjadikan tandingan bagi Alloh?” Nabi ﷺ bersabda:
«وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى
شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ؟» قَالَ: «قُلِ: اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا
لَا أَعْلَمُ»
“Demi Dzat
yang jiwaku di Tangan-Nya, sungguh syirik lebih tersembunyi dari semut hitam
yang sangat kecil. Maukah kamu kuajari sesuatu jika kamu mengucapkannya maka
akan hilang syirik tersebut darimu, baik sedikit maupun banyak? Ucapkanlah: ‘Ya
Alloh, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik dengan-Mu yang
kami ketahui, dan kami memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.’” (HSR.
Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod no. 716)
Kandungan
Hadits:
(1) Syirik khofi dapat menyusup halus
ke dalam niat manusia tanpa disadari.
(2) Disyari’atkannya do’a khusus ini
sebagai pelindung benteng keimanan setiap hari.
(3) Mendidik diri untuk senantiasa bermuhasabah
(memeriksa niat) dalam setiap tutur kata dan aksi sosial.
Bab 8: Do’a Adalah Inti Ibadah
Hanya untuk Alloh
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾
“Dan Robbmu
berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sungguh
orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku akan
masuk Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghofir: 60)
Dari An-Nu’man
bin Basyir rodhiyallahu ‘anhuma (65 H), Nabi ﷺ bersabda:
«الدُّعَاءُ
هُوَ العِبَادَةُ»
“Do’a
adalah ibadah itu sendiri.” (HSR. Abu Dawud no. 1479 dan At-Tirmidzi [279 H]
no. 2969)
Kandungan
Hadits:
(1) Memalingkan do’a kepada selain
Alloh seperti wali atau kuburan adalah perbuatan syirik uluhiyyah.
(2) Hukum memohon kebutuhan ghoib
kepada makhluk adalah harom dan termasuk ibadah syirkiyyah.
(3) Membiasakan diri memohon hal
sekecil apa pun hanya kepada Alloh dalam setiap keadaan.
Bab 9: Memohon Pertolongan (Isti’anah)
Hanya kepada Alloh
﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾
“Hanya
kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS.
Al-Fatihah: 5)
Dari Ibnu ‘Abbas
rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), Rosululloh ﷺ menasehati beliau:
«إِذَا
سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ»
“Apabila
engkau meminta, mintalah kepada Alloh; dan apabila engkau memohon pertolongan,
mohonlah pertolongan kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi [279 H] no. 2516)
Kandungan
Hadits:
(1) Isti’anah dalam hal-hal di luar
kemampuan makhluk merupakan hak mutlak Alloh.
(2) Larangan menggantungkan harapan
pertolongan atas urusan ghoib kepada sebab-sebab syirkiyyah.
(3) Menanamkan jiwa kemandirian dan
rasa percaya diri yang tinggi hanya dengan bertumpu kepada Alloh.
Bab 10: Memohon Perlindungan (Isti’adzah)
Hanya dengan Kalimat Alloh
﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۞ مَلِكِ النَّاسِ ۞ إِلٰهِ النَّاسِ﴾
“Katakanlah:
‘Aku berlindung kepada Robb manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia.’” (QS.
An-Naas: 1-3)
Dari
Khoulah binti Hakim rodhiyallahu ‘anha (45 H), beliau mendengar
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ
مَا خَلَقَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذٰلِكَ»
“Siapa
singgah di suatu tempat lalu mengucapkan: A’udzu bikalimaatillaahit tammaati
min syarri maa kholaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang
sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan), maka tidak ada sesuatu pun yang
berbahaya baginya sampai ia beranjak dari tempatnya itu.” (HR. Muslim no.
2708)
Kandungan
Hadits:
(1) Kalimat Alloh bukan makhluk,
sehingga diperbolehkan dijadikan tempat berlindung.
(2) Sunnah membaca dzikir perlindungan
syar’i saat memasuki wilayah baru atau tempat asing.
(3) Meninggalkan kebiasaan meminta izin
atau memberi sesajen kepada penunggu tempat tak kasat mata.
Bab 11: Memohon Pertolongan
Darurat (Istighotsah) Hanya kepada Alloh
﴿إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ
لَكُمْ﴾
“Ingatlah
ketika kamu memohon pertolongan darurat (istighotsah) kepada Robbmu,
lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al-Anfal: 9)
Dari ‘Umar
bin Al-Khottob rodhiyallahu ‘anhu (23 H), beliau menceritakan saat
perang Badar Rosululloh ﷺ
mengahadap kiblat menengadahkan tangan beristighotsah:
«اللَّهُمَّ
أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ
هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ»
“Ya Alloh, penuhilah
bagiku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Alloh, berikanlah apa yang
telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Alloh, jika Engkau membinasakan kelompok
umat Islam ini (pasukan Badar) maka Engkau tidak disembah di bumi.” (HR.
Muslim no. 1763)
Kandungan
Hadits:
(1) Istighotsah pada saat darurat
adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Alloh.
(2) Disyari’atkannya merapatkan tangan
dan memperpanjang do’a ketika dalam kondisi jepitan mara bahaya.
(3) Menjadikan Alloh sebagai pelindung
utama saat berada dalam krisis hidup tanpa mencari penolong syirkiyyah.
Bab 12: Larangan Menyembelih Qurban
(Dzabh) untuk Selain Alloh
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ
وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا
أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾
“Katakanlah:
‘Sungguh Sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb
semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku.” (QS. Al-An’am: 162-163)
Dari ‘Ali
bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu (40 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَعَنَ
اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ»
“Alloh
melaknat orang yang menyembelih hewan untuk selain Alloh.” (HR. Muslim no.
1978)
Kandungan
Hadits:
(1) Menyembelih hewan dengan niat
pengagungan kepada selain Alloh adalah syirik akbar.
(2) Harom hukumnya memakan daging hasil
sembelihan yang diperuntukkan bagi jin, kuburan, atau adat syirkiyyah.
(3) Menolak perayaan adat yang
menggunakan ritual pemotongan hewan untuk tumbal keselamatan.
Bab 13: Larangan Bernadzar untuk
Selain Alloh
﴿يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا
كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا﴾
“Mereka
menepati nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.” (QS.
Al-Insaan: 7)
Dari ‘Aisyah
rodhiyallahu ‘anha (58 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ»
“Siapa bernadzar
untuk ta’at kepada Alloh maka hendaklah ia mena’ati-Nya; dan siapa bernadzar
untuk bermaksiat kepada-Nya maka janganlah ia bermaksiat kepada-Nya.” (HR.
Al-Bukhori no. 6696)
Kandungan
Hadits:
(1) Nadzar adalah ibadah, bernadzar
kepada penghuni kubur atau wali merupakan syirik uluhiyyah.
(2) Wajib menepati nadzar dalam keta’atan
dan harom menepati nadzar dalam maksiat atau syirik.
(3) Bertanggung jawab atas janji keta’atan
yang telah diucapkan kepada Alloh.
Bab 14: Ancaman Meminta
Perlindungan kepada Jin dan Makhluk
﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ
بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾
“Bahwasanya
ada beberapa orang laki-laki dari manusia meminta perlindungan kepada beberapa
laki-laki dari jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesesatan.” (QS.
Al-Jinn: 6)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh ﷺ bersabda menceritakan
gangguan jin:
«إِنَّ
عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ البَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ صَلاَتِي، فَأَمْكَنَنِي
اللَّهُ مِنْهُ فَأَخَذْتُهُ»
“Sungguh
jin ‘Ifrit menampakkan diri kepadaku tadi malam untuk memutus Sholatku, lalu
Alloh memberikan aku kuasa atasnya hingga aku berhasil menangkapnya.” (HR.
Al-Bukhori no. 3423)
Kandungan
Hadits:
(1) Jin adalah makhluk ciptaan yang
tidak memiliki daya pertolongan ghoib bagi manusia.
(2) Harom hukumnya melakukan kontak
kerja sama atau meminta bantuan jin dalam bentuk apa pun.
(3) Mengikis rasa takut berlebihan
terhadap tempat angker dan menggantinya dengan benteng dzikir.
Bab 15: Bahaya Menggunakan Tamimah
(Jimat) dan Penangkal
﴿قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ
اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي
بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكاَتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ
الْمُتَوَكِّلُونَ﴾
“Katakanlah:
‘Jelaskan kepadaku, apakah tuhan-tuhan yang kalian seru selain Alloh, jika
Alloh menghendaki keburukan atasku apakah mereka mampu menghilangkannya dariku,
atau jika Alloh menghendaki rohmat atasku apakah mereka mampu mencegah rohmat
itu dariku?!’ Katakanlah: ‘Cukuplah Alloh bagiku, kepada-Nyalah bertawakkal
orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)
Dari ‘Uqbah
bin ‘Amir rodhiyallahu ‘anhu (58 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
تَعَلَّقَ تَمِيمَةً، فَلَا أَتَمَّ اللهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً، فَلَا
وَدَعَ اللهُ لَهُ»
“Siapa
menggantungkan jimat (tamimah), semoga Alloh tidak menyempurnakan
hajatnya; dan siapa menggantungkan kerang penangkal (wada’ah), semoga
Alloh tidak memberikan ketenangan padanya.” (HHR. Ahmad no. 17404)
Kandungan
Hadits:
(1) Meyakini benang, batu, atau sabuk
jimat sebagai penolak bala adalah tindakan syirik.
(2) Harom memakai jimat dalam segala
bentuknya, baik berupa tulisan, rajah, maupun wujud benda lainnya.
(3) Membersihkan rumah dan tempat usaha
dari segala aksesoris penangkal sial dan jimat.
Bab 16: Ancaman Menggunakan Ruqyah
Syirkiyyah dan Tiwalah (Sihir Pelet)
﴿وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ
وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ﴾
“Janganlah
kamu menyembah selain Alloh yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi
mudhorot kepadamu. Jika kamu melakukannya, maka sungguh kamu termasuk
orang-orang yang zholim (musyrik).” (QS. Yunus: 106)
Dari ‘Abdulloh
bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), beliau mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ»
“Sungguh
ruqyah (yang syirkiyyah), tamimah (jimat), dan tiwalah (pelet
pengasih) adalah syirik.” (HSR. Abu Dawud no. 3883)
Kandungan
Hadits:
(1) Sihir pelet dan mantra ghoib merupakan
bentuk penyekutuan terhadap keagungan Alloh.
(2) Ruqyah dibolehkan hanya jika menggunakan
ayat Al-Qur’an, nama Alloh, dan bahasa Arob yang dipahami.
(3) Membangun keharmonisan rumah tangga
atas dasar kasih sayang dan do’a, bukan mantra pelet.
Bab 17: Larangan Ngalap Berkah
(Tabarruk) yang Dilarang
﴿أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى ۞ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾
“Maka
apakah patut kamu menganggap Al-Laat dan Al-‘Uzza, dan Manat yang ketiga yang
paling terbelakang?” (QS. An-Najm: 19-20)
Dari Abu
Waqid Al-Laitsi rodhiyallahu ‘anhu (68 H), tatkala Shohabat meminta
pohon untuk tempat menggantungkan senjata (Dzatu Anwath), Nabi ﷺ bersabda:
«قُلْتُمْ
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى: ﴿اجْعَلْ لَنَا إِلٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ
قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ﴾، إِنَّهَا السُّنَنُ، لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ
مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً»
“Demi Dzat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengucapkan ucapan sebagaimana
kaum Musa: ‘Buatkanlah untuk kami ilah sebagaimana mereka memiliki ilah-ilah!’
Musa menjawab: ‘Sungguh kalian adalah kaum yang bodoh.’ Itu ajaran kaum
terdahulu! Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian
setahap demi setahap.” (HSR. Ahmad [251 H] no. 21897)
Kandungan
Hadits:
(1) Mengharap keberkahan dari benda,
pohon, atau kuburan tanpa dalil syar’i adalah perbuatan syirik.
(2) Berkah hanya datang dari Alloh
melalui perantara amalan yang disyari’atkan.
(3) Menghindari ritual mengusap-usap
benda keramat atau bangunan yang dianggap suci tanpa dasar agama.
Bab 18: Rasa Takut (Khouf) Hakiki
Hanya Diberikan kepada Alloh
﴿إِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ
أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Sungguh
mereka itu hanyalah syaithon yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya,
karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika
kamu orang beriman.” (QS. Ali ‘Imron: 175)
Dari ‘Aisyah
rodhiyallahu ‘anha (57 H), Nabi ﷺ bersabda:
«مَنِ
الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ
عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ،
وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ»
“Siapa
mencari ridho Alloh dengan membuat manusia murka, maka Alloh akan ridho
kepadanya dan menjadikan manusia ridho kepadanya. Siapa mencari ridho manusia
dengan membuat Alloh murka, maka Alloh murka kepadanya dan menjadikan manusia
murka kepadanya.” (HSR. Ibnu Hibban no. 276)
Kandungan
Hadits:
(1) Rasa takut ibadah (khouf sirr)
tidak boleh diserahkan kepada makhluk dalam hal penciptaan bahaya ghoib.
(2) Harom melanggar perintah agama demi
menghindari kemarahan atau celaan manusia.
(3) Teguh dalam menegakkan kebenaran
tanpa takut kehilangan jabatan atau popularitas sosial.
Bab 19: Tawakkal Bulat Hanya
kepada Alloh
﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُه﴾
“Dan siapa
bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya.” (QS.
At-Tholaq: 3)
Dari ‘Umar
bin Al-Khottob rodhiyallahu ‘anhu (23 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا
يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
“Seandainya
kamu sekalian bertawakkal kepada Alloh dengan benarnya tawakkal, niscaya kamu
akan diberi rizqi sebagaimana burung diberi rizqi; ia pergi di pagi hari dalam
keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HSR.
At-Tirmidzi [279 H] no. 2344)
Kandungan
Hadits:
(1) Tawakkal adalah ikatan hati secara
mutlak kepada Alloh sebagai Penjamin rizqi.
(2) Menyempurnakan ikhtiar lahiriah
merupakan syarat syar’i dari kebenaran tawakkal itu sendiri.
(3) Menghilangkan rasa cemas berlebihan
mengenai masa depan rizqi dengan giat bekerja dan berdoa.
Bab 20: Larangan Merasa Aman dari
Makar Alloh dan Putus Asa dari Rohmat-Nya
﴿أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ
مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾
“Maka
apakah mereka merasa aman dari makar (adzab) Alloh (yang tidak terduga-duga)?
Tiada yang merasa aman dari makar Alloh kecuali orang-orang yang rugi.” (QS.
Al-A’rof: 99)
Dari ‘Abdulloh
bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), beliau berkata:
«أَكْبَرُ
الْكَبَائِرِ: الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَالْأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ، وَالْقُنُوطُ
مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ»
“Dosa yang
paling besar adalah menyukutukan Alloh, merasa aman dari makar Alloh, berputus
asa dari rohmat dari Alloh.” (Majma’ Zawaid no. 392, shohih)
Kandungan
Hadits:
(1) Wajib memadukan antara rasa takut (khouf)
dan harapan (roja’) dalam menyembah Alloh.
(2) Merasa aman dari ancaman adzab
Alloh serta putus asa dari ampunan tergolong dosa-dosa besar.
(3) Mendorong diri untuk tidak sombong
tatkala sukses dan tidak meratapi kegagalan hidup.
Bab 21: Wajib Sabar terhadap
Takdir Alloh
﴿وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ﴾
“Dan siapa
beriman kepada Alloh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS.
At-Taghobun: 11)
Dari Suhaib
Ar-Rumi rodhiyallahu ‘anhu (38 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«عَجَبًا
لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ
لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
“Sangat
mengagumkan perkara seorang Mu’min, sungguh seluruh perkaranya adalah baik
baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali bagi seorang Mu’min;
jika ia ditimpa kesenangan ia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika ditimpa
kesusahan ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)
Kandungan
Hadits:
(1) Meyakini bahwa seluruh takdir Alloh
mengandung hikmah kebaikan merupakan konsekuensi Tauhid.
(2) Kewajiban bersabar atas musibah dan
harom mencela takdir atau menampar pipi karena duka.
(3) Menjaga ketenangan jiwa saat
tertimpa penderitaan hidup dengan menyadari itu ujian iman.
Bab 22: Riya’ Menghapuskan Amalan
Ibadah di Sisi Alloh
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا
صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ﴾
“Wahai orang-orang
beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia.” (QS. Al-Baqoroh: 264)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh ﷺ bersabda dalam Hadits Qudsi:
«أَنَا
أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي
تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»
“Aku adalah
Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu dari perbuatan syirik. Siapa melakukan
suatu amalan yang di dalamnya ia menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku
tinggalkan dia dan perbuatan syiriknya itu.” (HR. Muslim no. 2985)
Kandungan
Hadits:
(1) Alloh hanya menerima amalan yang
murni dan bersih dari campur tangan niat selain-Nya.
(2) Amalan ibadah yang tercampur riya’
sejak awal pembentukannya gugur pahalanya secara utuh.
(3) Menjaga kerahasiaan ibadah pribadi
agar terhindar dari godaan mengharapkan pujian manusia.
Bab 23: Niat Beramal Kebaikan
Wajib Murni Mencari Wajah Alloh
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ﴾
“Siapa
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna.” (QS. Hud: 15)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh ﷺ bersabda tentang 3 orang
pertama yang diadili pada hari Qiyamah:
«إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى
يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ
فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ،
قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ
أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ...»
“Sungguh
manusia pertama yang diputuskan perkaranya pada hari Qiyamah adalah seorang
yang mati syahid; ia didatangkan lalu Alloh memperlihatkan ni’mat-Nya dan ia
mengenalnya. Alloh berfirman: ‘Apa yang telah engkau perbuat dengannya?’ Ia
menjawab: ‘Aku berperang demi Engkau hingga aku mati syahid.’ Alloh berfirman: ‘Engkau
dusta! Akan tetapi engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang yang
pemberani, dan kata-kata itu telah diucapkan.’ Kemudian diperintahkan agar ia
diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam Naar...” (HR. Muslim no.
1905)
Kandungan
Hadits:
(1) Amalan sebesar Jihad, menuntut
ilmu, dan sedekah menjadi hampa jika tujuannya adalah kejayaan dunia.
(2) Wajib memperbarui niat ikhlas
sebelum, saat, dan sesudah menunaikan amalan kebaikan.
(3) Selalu mengoreksi tujuan di balik
setiap aksi sosial agar tidak terjebak pada popularitas semata.
Bab 24: Wajib Ta’at kepada Hukum
Alloh dalam Mengharomkan dan Menghalalkan
﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ
أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ﴾
“Mereka
menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain
Alloh.” (QS. At-Taubah: 31)
Dari ‘Adi
bin Hatim rodhiyallahu ‘anhu (68 H), saat mendengar ayat di atas, Nabi ﷺ menjelaskan bentuk
penyembahannya:
«أَمَا
إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ، وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا
لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ، وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ»
“Adapun sungguh
mereka tidaklah menyembah rahib-rahib itu secara langsung, akan tetapi apabila
rahib-rahib itu menghalalkan sesuatu untuk mereka, mereka pun menghalalkannya;
dan apabila mengharomkan sesuatu atas mereka, mereka pun mengharomkannya.” (HHR.
At-Tirmidzi [279 H] no. 3095)
Kandungan
Hadits:
(1) Hak menetapkan hukum halal dan
harom mutlak milik Alloh, mena’ati makhluk dalam mengubah hukum adalah syirik
ta’at.
(2) Tidak boleh mengikuti fatwa atau
ajaran ulama yang secara jelas menyelisihi nash shohih Al-Qur’an dan Sunnah.
(3) Mengedepankan aturan syari’at Alloh
di atas tradisi lokal yang bertentangan dengan agama.
Bab 25: Menerima dan Ridho
terhadap Syari’at Nabi ﷺ
﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ
فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
“Maka demi
Robbmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’: 65)
Dari ‘Aisyah
rodhiyallahu ‘anha (58 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هٰذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa
membuat hal baru dalam urusan agama kami ini yang bukan bagian darinya, maka
amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Kandungan
Hadits:
(1) Mengakui Kerosulan Muhammad ﷺ menuntut ketundukan utuh pada
ajaran beliau tanpa menambah bid’ah.
(2) Setiap bentuk ibadah baru yang
diciptakan tanpa dalil syar’i berstatus harom dan tidak berpahala.
(3) Beribadah sesuai tuntunan teladan
Nabi ﷺ
serta meninggalkan amalan bid’ah yang diada-adakan.
Bab 26: Larangan Bersumpah dengan
Selain Nama Alloh
﴿وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلٰهٌ وَفِي
الْأَرْضِ إِلٰهٌ﴾
“Dialah
sesembahan yang berhak disembah di langit dan sesembahan yang berhak disembah
di bumi.” (QS. Az-Zukhruf: 84)
Dari ‘Abdulloh
bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma (73 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ»
“Siapa
bersumpah dengan selain nama Alloh, maka sungguh ia telah kufur atau berbuat
syirik.” (HSR. At-Tirmidzi [279 H] no. 1535)
Kandungan
Hadits:
(1) Sumpah mengandung unsur
pengagungan, sehingga mengagungkan selain Alloh lewat sumpah adalah syirik.
(2) Sumpah atas nama Ka’bah, kehormatan
ibu bapak, atau nama Nabi adalah dilarang keras.
(3) Melatih lisan agar hanya bersumpah
menyebut nama Alloh tatkala terdesak dalam persidangan atau janji.
Bab 27: Larangan Menyetarakan
Alloh dalam Ucapan
﴿فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ
تَعْلَمُونَ﴾
“Maka
janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Alloh, padahal kamu
mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 22)
Dari Ibnu ‘Abbas
rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), tatkala seorang lelaki berkata kepada Nabi ﷺ: “Atas kehendak Alloh dan
kehendakmu,” beliau bersabda:
«جَعَلْتَنِي
لِلَّهِ عَدْلًا؟ بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ»
“Apakah
engkau menjadikan aku sebagai tandingan bagi Alloh? Akan tetapi katakanlah: ‘Atas
kehendak Alloh semata.’” (HSR. Ahmad no. 2561)
Kandungan
Hadits:
(1) Wajib memisahkan kehendak makhluk
dari kehendak Alloh dengan kata penyambung kemudian, bukan dan.
(2) Ucapan yang menyetarakan Alloh
dengan manusia dalam kalimat sehari-hari berstatus dilarang.
(3) Memperbaiki tutur bahasa agar
senantiasa mencerminkan penyucian Tauhid dalam perkataan.
Bab 28: Larangan Mencela
Masa/Waktu (Ad-Dahr)
﴿وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا
نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ﴾
“Dan mereka
berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita saja,’ kita
mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” (QS.
Al-Jatsiyah: 24)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh ﷺ bersabda dalam Hadits Qudsi:
«يُؤْذِينِي
ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ
وَالنَّهَارَ»
“Anak Adam
menyakiti-Ku; ia mencela masa padahal Akulah Pencipta dan Pengatur masa, di
tangan-Ku segala urusan, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR.
Al-Bukhori no. 4826 dan Muslim no. 2246)
Kandungan
Hadits:
(1) Mencela waktu atau nasib pada
hakikatnya adalah mencela Alloh yang mengatur perjalanan waktu tersebut.
(2) Harom hukumnya mengutuk hari,
bulan, atau tahun atas musibah yang dialami.
(3) Menerima giliran roda kehidupan
dengan lapang dada tanpa menyalahkan keadaan zaman.
Bab 29: Larangan Mencela Angin
Sebagai Ciptaan Alloh
﴿وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا
بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ﴾
“Dialah
yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum datangnya
rohmat-Nya.” (QS. Al-A’rof: 57)
Dari Ubay
bin Ka’b rodhiyallahu ‘anhu (21 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ
تَسُبُّوا الرِّيحَ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُونَ فَقُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هٰذِهِ الرِّيحِ وَخَيْرِ مَا فِيهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ
بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هٰذِهِ الرِّيحِ وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ
بِهِ»
“Janganlah
kamu mencela angin. Apabila kamu melihat apa yang tidak kamu sukai, maka
ucapkanlah: ‘Allohumma innaa nas-aluka min khoiri haadzihir riih wa khoiri
maa fiiha wa khoiri maa umirot bih, wa na’uudzu bika min syarri haadzihir riih
wa syarri maa fiiha wa syarri maa umirot bih’ (Ya Alloh, kami memohon
kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya dan kebaikan yang
diperintahkan dengannya; dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin
ini, keburukan yang ada di dalamnya dan keburukan yang diperintahkan
dengannya).” (HSR. At-Tirmidzi [279 H] no. 2252)
Kandungan
Hadits:
(1) Angin adalah makhluk yang tunduk
penuh pada perintah dan kehendak Alloh.
(2) Makruh hingga harom mencaci bencana
angin, disyari’atkan beralih membaca do’a keselamatan.
(3) Menghadapi cuaca buruk dengan
kepasrahan dan do’a, bukan dengan umpatan kekesalan.
Bab 30: Menisbatkan Ni’mat Hujan
Hanya kepada Alloh
﴿وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ﴾
“Kamu
mengganti rizqi yang kamu terima dari Alloh dengan mendustakan Alloh (yaitu
berkata: kami diberi hujan oleh bintang).” (QS. Al-Waqi’ah: 82)
Dari Zaid
bin Kholid Al-Juhani rodhiyallahu ‘anhu (78 H), Rosululloh ﷺ menyampaikan firman Alloh
setelah Sholat Subuh di Hudaibiyah:
«أَصْبَحَ
مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ
اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذٰلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا
مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذٰلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ
بِالْكَوْكَبِ»
“Pada pagi
hari ini di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kufur.
Adapun orang yang berkata: ‘Kita diberi hujan karena karunia Alloh dan
rohmat-Nya,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang. Adapun orang
yang berkata: ‘Kita diberi hujan karena terbitnya bintang ini dan itu,’ maka ia
kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Al-Bukhori no. 846 dan
Muslim no. 71)
Kandungan
Hadits:
(1) Menisbatkan sebab cuaca dan
turunnya hujan kepada pergerakan bintang secara mandiri adalah bentuk kufur ni’mat.
(2) Sunnah mengucapkan “Muthirna bi
fadhlillahi wa rohmatih” saat hujan turun.
(3) Mengakui setiap tetes air hujan
sebagai kasih sayang Alloh untuk kelangsungan hidup.
Bab 31: Larangan Mengunjungi
Dukun, Peramal, dan Tukang Sihir
﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾
“Katakanlah:
‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghoib
kecuali Alloh.’” (QS. An-Naml: 65)
Dari
Shofiyyah binti Abi ‘Ubaid dari sebagian istri Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»
“Siapa
mendatangi tukang ramal (peramal) lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka
Sholatnya tidak akan diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230)
Kandungan
Hadits:
(1) Pengetahuan ghoib adalah milik
mutlak Alloh, memercayai peramal merusak Tauhid Uluhiyyah.
(2) Sekadar datang dan bertanya kepada
dukun berakibat gugurnya pahala Sholat selama 40 hari.
(3) Menjauhi konsultasi nasib lewat
media dukun, ramalan zodiak, ataupun tarot (seperangkat kartu bergambar —umumnya
berjumlah 78 kartu— yang awalnya digunakan sebagai permainan kartu di Eropa).
Bab 32: Bahaya Ilmu Tanjim
(Astrologi) dan Ramalan Bintang
﴿وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا
بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ﴾
“Dialah
yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam
kegelapan di darat dan di laut.” (QS. Al-An’am: 97)
Dari Ibnu ‘Abbas
rodhiyallahu ‘anhuma (68 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ»
“Siapa
mengambil satu cabang dari ilmu astrologi (tanjim), maka sungguh ia
telah mengambil satu cabang dari sihir; bertambah dosa itu seiring bertambahnya
ilmu tersebut.” (HHR. Abu Dawud no. 3905)
Kandungan
Hadits:
(1) Mengaitkan nasib, karakter, atau
masa depan manusia dengan susunan rasi bintang adalah cabang sihir.
(2) Belajar ilmu navigasi bintang
diperbolehkan, sedangkan belajar ilmu zodiak ramalan hukumnya harom.
(3) Menolak membaca atau mengimani
artikel ramalan nasib berbasis tanggal lahir dan bintang.
Bab 33: Larangan Tathoyyur/Thiyaroh
﴿أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ
وَلٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Ketahuilah,
sungguh kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Alloh, tetapi kebanyakan
mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’rof: 131)
Dari ‘Abdulloh
bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«الطِّيَرَةُ
شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا، وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ
بِالتَّوَكُّلِ»
“Thiyaroh
(menganggap sial sesuatu) adalah syirik, thiyaroh adalah syirik, thiyaroh
adalah syirik. Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan pernah
terlintas hal itu, akan tetapi Alloh menghilangkannya dengan tawakkal.” (HSR.
Abu Dawud no. 3910 dan At-Tirmidzi [279 H] no. 1614)
Kandungan
Hadits:
(1) Meyakini hewan, angka, atau hari
tertentu membawa kesialan merupakan perbuatan syirik.
(2) Wajib melanjutkan niat hajatan atau
perjalanan walau terlintas rasa prasangka sial, dengan bertawakkal.
(3) Membuang mitos angka sial atau
anggapan burung malam sebagai tanda kematian anggota keluarga.
Bab 34: Memurnikan Hak Syafa’at
Hanya Milik Alloh
﴿قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا﴾
“Katakanlah:
‘Hanya milik Alloh syafa’at itu semuanya.’” (QS. Az-Zumar: 44)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), beliau bertanya tentang siapa yang
paling bahagia mendapat syafa’at, lalu Nabi ﷺ bersabda:
«أَسْعَدُ
النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ،
خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ»
“Orang yang
paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari Qiyamah adalah orang yang
mengucapkan: Laa ilaaha illalloh secara murni tulus dari lubuk hatinya
atau jiwanya.” (HR. Al-Bukhori no. 99)
Kandungan
Hadits:
(1) Syafa’at tidak bisa didapatkan dari
makhluk secara langsung melainkan atas izin dan ridho Alloh.
(2) Memohon syafa’at hanya boleh
diminta kepada Alloh, bukan meminta kepada jasad kuburan orang sholih.
(3) Menjaga pemurnian keikhlasan Tauhid
agar layak diprioritaskan mendapat syafa’at Nabi ﷺ.
Bab 35: Larangan Membangun dan
Menjadikan Kuburan sebagai Masjid
﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا
مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾
“Dan sungguh
Masjid-Masjid itu adalah milik Alloh. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun
di dalamnya di samping menyembah Alloh.” (QS. Al-Jinn: 18)
Dari ‘Aisyah
dan ‘Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhum, menjelang wafatnya
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لَعْنَةُ
اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»
يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا
“Laknat
Alloh atas orang-orang Yahudi dan Nashroni, mereka menjadikan kuburan Nabi-Nabi
mereka sebagai Masjid (tempat ibadah).” Beliau memperingatkan (umatnya) agar
jangan meniru perbuatan mereka. (HR. Al-Bukhori no. 435 dan Muslim no. 531)
Kandungan
Hadits:
(1) Mendirikan bangunan ibadah di atas
kuburan membuka pintu syirik pengultusan orang sholih.
(2) Harom hukumnya Sholat menghadap
kuburan atau membangun area Masjid menyatu di atas area pemakaman.
(3) Merawat kuburan sesuai batas
kesederhanaan syar’i tanpa membuat kubah atau bangunan megah.
Bab 36: Ziyaroh Kubur Syar’iyyah
untuk Mengingat Akhiroh dan Mendo’akan Mayit
﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۞ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِر﴾
“Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur:
1-2)
Dari Buroidah
bin Al-Hushoib rodhiyallahu ‘anhu (62 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«قَدْ
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَزُورُوهَا؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَةَ»
“Dahulu aku
melarang kamu sekalian dari melakukan ziyaroh kubur, maka sekarang berziyarohlah
kamu sekalian kepadanya, karena sungguh ziyaroh kubur itu dapat mengingatkan
kamu kepada Akhiroh.” (HR. Muslim no. 977 dan lafazh At-Tirmidzi no. 1054)
Kandungan
Hadits:
(1) Tujuan ziyaroh kubur syar’i adalah
mengambil i'tibar kematian dan memohonkan ampunan bagi ahli kubur.
(2) Disyari’atkan ziyaroh kubur tanpa
melakukan perbuatan harom seperti meratapi mayit atau meminta hajat padanya.
(3) Menjadikan ziyaroh kubur sebagai
sarana melunakkan hati yang keras agar ingat persiapan mati.
Bab 37: Wajib Berwala’ (Loyal) dan
Berbaro’ (Berlepas Diri) Karena Alloh
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا
الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْض﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nashroni menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi
sebagian yang lain.” (QS. Al-Ma’idah: 51)
Dari Al-Baro’
bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ: أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ»
“Tali
keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Alloh (berloyalitas karena
Alloh), dan membenci karena Alloh (memusuhi karena Alloh).” (HHR. Ahmad no.
18524)
Kandungan
Hadits:
(1) Cinta dan benci harus didasarkan
atas keterikatan keimanan dan Tauhid kepada Alloh.
(2) Harom mendukung atau membela
perbuatan kekufuran, syirik, serta kemaksiatan atas dasar suku atau kedekatan.
(3) Memilih persahabatan erat dengan
sesama Mu’min sholih yang membantu menjaga keta’atan.
Bab 38: Menjaga Benteng Tauhid
dari Perantara Syirik (Saddud Dzaro’i)
﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ
عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Sungguh
telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagimu, amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang Mu’min.” (QS. At-Taubah: 128)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَا
تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ
فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ»
“Janganlah
kamu menjadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, dan janganlah kamu menjadikan
kuburanku sebagai tempat perayaan; serta bersholawatlah kepadaku karena sungguh
sholawatmu akan sampai kepadaku di mana pun kamu berada.” (HSR. Abu Dawud
no. 2042)
Kandungan
Hadits:
(1) Menutup rapat segala perantara yang
dapat membawa manusia kepada pengultusan makam Rosululloh ﷺ.
(2) Sunnah meramaikan rumah dengan
ibadah Sholat sunnah dan tilawah Al-Qur’an agar tidak seperti kuburan.
(3) Mengirimkan sholawat dari mana saja
tanpa perlu memaksakan diri beribadah khusus di area makam.
Bab 39: Menyucikan Nama dan Sifat
Alloh dari Penyamaan dengan Makhluk
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ﴾
“Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)
Dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H), Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ»
“Sungguh
Alloh menciptakan Adam sesuai rupa-Nya (yakni memiliki wajah, mata, tangan,
kaki).” (HR. Al-Bukhori no. 6227 dan Muslim no. 2841)
Kandungan
Hadits:
(1) Mengimani Sifat Alloh sesuai dengan
keagungan-Nya tanpa melakukan tasybih (penyamaan) atau ta’thil
(penolakan).
(2) Harom hukumnya menggambarkan wujud
hakiki Alloh dengan khayalan.
(3) Mengagungkan Nama dan Sifat Alloh
dalam setiap sikap dan rasa penghambaan sehari-hari.
Bab 40: Wafat di Atas Tauhid
Sebagai Husnul Khotimah
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imron: 102)
Dari Mu’adz
bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu (18 H), Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Siapa yang
akhir ucapannya (sebelum meninggal) adalah Laa ilaaha illalloh, niscaya ia
masuk Jannah.” (HSR. Abu Dawud no. 3116)
Kandungan
Hadits:
(1) Tauhid yang tertanam kokoh di dada
menjadi penentu keselamatan abadi di alam Akhiroh kelak.
(2) Sunnah menuntunkan (talqin)
kalimat Tauhid dengan lembut kepada orang yang sedang sakarotul maut.
(3) Istiqomah menjaga Tauhid dalam
ucapan dan perbuatan sehari-hari agar dikaruniai wafat husnul khotimah.
Penutup
Buku Arbain
Tauhid Uluhiyyah ini menyajikan ikhtisar mendasar bagi setiap Muslim dalam
menjaga kebersihan iman dari noda syirik. Dengan mendalami 40 Hadits pilihan
beserta kandungan lengkapnya, diharapkan pembaca mampu mengaplikasikan
nilai-nilai tauhid uluhiyyah secara konsisten dalam ucapan, amalan hati,
serta perilaku hidup sehari-hari hingga akhir hayat.[NK]
