Cari Ebook

[PDF] Manfaatkan 5 Perkara Sebelum 5 Perkara! - Arfandi Al Kubari dan Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , beserta keluarga, para Shohabat, dan para pengikutnya yang setia hingga hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Kehidupan dunia adalah panggung yang penuh dengan tipu daya dan kelalaian, di mana seorang hamba sering kali terbuai oleh angan-angan kosong dan merasa memiliki waktu yang abadi. Padahal, hakikat keberadaan manusia di atas bumi ini hanyalah seumpama seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah rindangnya pohon, untuk kemudian melanjutkan perjalanan panjang menuju negeri yang kekal. Di sinilah letak urgensi yang teramat besar dari tema yang diangkat dalam buku ini, yaitu membedah wasiat emas Rosululloh mengenai lima perkara sebelum datangnya lima perkara. Tema merupakan sebuah cetak biru, sebuah kompas kehidupan, dan sekaligus alarm spiritual yang bertugas membangunkan jiwa-jiwa yang sedang terlelap dalam tidur panjang kelalaian. Ketika seseorang mampu memahami dan mengamalkan kandungan wasiat ini, dia tidak akan membiarkan satu detik pun dari usianya berlalu tanpa nilai ibadah, karena dia menyadari bahwa modal utamanya di dunia adalah waktu, dan hilangnya waktu berarti hilangnya kesempatan untuk meraih ridho Robb serta keselamatan dari siksa Naar.

Guna mengupas tuntas dan menghidupkan makna dari mutiara nubuwah tersebut, buku ini disusun dengan sistematika yang rapi, mengalir, dan terarah ke dalam enam bab pembahasan utama yang saling berkesinambungan.

Perjalanan ilmiah dan tadabur kita di dalam buku ini akan diawali pada Bab 1: Wasiat Agung Penggugah Jiwa, yang bertindak sebagai fondasi utama untuk membedah teks matan Hadits secara tekstual dan kontekstual, serta menyingkap rahasia di balik pemilihan kata istighnam oleh Nabi .

Setelah fondasi pemahaman terbangun, kita akan melangkah masuk ke dalam inti sari dari kelima modal kehidupan, yang masing-masing dikupas secara mendalam pada bab-bab berikutnya. Pada Bab 2: Masa Muda Sebelum Tua, kita akan diajak untuk merenungkan betapa dahsyatnya gejolak energi kepemudaan yang harus ditundukkan di bawah naungan syariat sebelum datangnya masa jompo yang lemah.

Selanjutnya, aliran pembahasan akan membawa kita pada Bab 3: Masa Sehat Sebelum Sakit, sebuah ulasan yang menyadarkan betapa mahalnya harga sebuah kesegaran fisik yang sering kali baru disesali ketika tubuh sudah terbaring tak berdaya digrogoti penyakit.

Tidak kalah penting, Bab 4: Masa Kaya Sebelum Miskin akan hadir untuk merombak cara pandang kita terhadap harta benda, merubahnya dari sekadar tumpukan materi menjadi kendaraan taqwa melalui syariat shodaqoh sebelum roda kehidupan berputar menuju kefakiran.

Keheningan waktu dan kelapangan aktivitas kemudian akan kita bedah bersama pada Bab 5: Waktu Luang Sebelum Sibuk, sebuah bab yang menuntut kita untuk selalu produktif dalam amal sholih dan membentengi diri dari penyakit menganggur yang dibenci oleh para Salaf.

Akhirnya, seluruh rangkaian petuah ini akan bermuara dan memuncak pada Bab 6: Hidup Sebelum Mati, sebagai sebuah bab pamungkas yang paling menggetarkan hati, mengulas tentang batas akhir dari segala kesempatan, hakikat kecerdasan seorang hamba dalam bersiap menghadapi alam barzakh, serta urgensi untuk segera tersadar dari tidur kelalaian sebelum kematian datang menjemput secara tiba-tiba.

Buku ini hadir untuk mengupas secara mendalam makna tersembunyi dari wasiat mulia ini, agar menjadi pengingat bagi jiwa-jiwa yang sering kali terbuai oleh kelalaian dunia. Sebagai hamba yang lemah, kita dituntut untuk pandai mengukur waktu dan bersegera memenuhi panggilan ketaatan sebelum ajal menjemput.

 

Bab 1: Wasiat Agung Penggugah Jiwa

1.1 Hadits Utama 5 Perkara Sebelum 5 Perkara

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, Rosululloh bersabda:

«اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ»

“Manfaatkanlah 5 perkara sebelum datang 5 perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, hidupmu sebelum matimu.” (HSR. Al-Hakim no. 7846; Shohihul Jami’ no. 1077)

Wasiat ini merupakan kalimat ringkas namun sarat makna, ringkas lafazhnya namun luas maknanya. Nabi mengumpulkan segala rukun kenikmatan duniawi yang menjadi penentu kebahagiaan hamba di Akhiroh. Tidak ada satu pun kondisi manusia di dunia melainkan berputar di antara lima urusan yang disebutkan dalam Hadits agung ini.

1.2 Makna Umum Istighnam (Mengambil Ghonimah)

Rosululloh menggunakan kata “ightanim” yang berasal dari kata ghonimah, yaitu keuntungan atau rampasan perang. Sabda ini mengisyaratkan bahwa kelima modal yang ada pada diri seorang hamba saat ini merupakan rampasan berharga yang harus segera diamankan sebelum musuh nyata, yaitu kelalaian dan usia, merampasnya kembali. Orang yang berakal tidak akan membiarkan keuntungan besar berlalu begitu saja tanpa menjadikannya sebagai simpanan pahala di sisi Robbnya.

Ketika seorang prajurit mendapatkan harta rampasan di medan perang, dia akan menjaganya dengan ketat dan tidak ingin kehilangan sedikit pun darinya. Demikian pula seorang Muslim, dia harus memperlakukan waktu mudanya, waktu sehatnya, kelapangan hartanya, waktu luangnya, serta sisa umurnya sebagai ghonimah berharga yang tidak boleh dicuri oleh syaithon perusak amal.

 

Bab 2: Masa Muda Sebelum Tua

2.1 Hakikat Masa Muda dalam Al-Qur’an

Masa muda adalah fase kekuatan di antara dua kelemahan, yaitu kelemahan masa kanak-kanak dan kelemahan masa tua yang rapuh. Alloh berfirman:

﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ... حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً

“Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua orang tuanya... hingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai 40 tahun.” (QS. Al-Ahqof [46]:15)

Ayat mulia ini menjelaskan bahwa Alloh memerintahkan manusia untuk berbakti kepada bapak ibunya. Manusia terus tumbuh dalam penjagaan Alloh sampai dia mencapai puncak kematangan fisik dan akalnya, serta menyempurnakan usia 40 tahun. Usia ini adalah batas akhir masa muda dan awal kematangan yang sempurna, di mana beban pertanggungjawaban semakin nyata.

Di dalam ayat lain, Alloh menggambarkan siklus kekuatan fisik manusia yang sangat singkat. Alloh berfirman:

﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً

“Alloh, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS. Ar-Rum [30]:54)

Kekuatan yang berada di antara dua kelemahan tersebut tidak lain adalah masa muda. Anggota badan masih berfungsi sempurna, panca indera masih tajam, dan tekad masih membara. Sungguh celaka seorang hamba yang menghabiskan puncak kekuatan fisik ini hanya untuk menuruti syahwat rendahan.

2.2 Naungan Istimewa Bagi Pemuda yang Taat

Di hari Qiyamah nanti, saat matahari didekatkan sejarak 1 mil di atas kepala makhluk dan manusia bermandikan keringat sesuai kadar amalan mereka, Alloh memberikan perlindungan khusus bagi hamba-hamba pilihan di bawah naungan Arsy-Nya. Rosululloh bersabda:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ... وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ»

“7 golongan yang Alloh naungi... pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya.” (HR. Bukhori no. 660, Muslim no. 1031)

Seorang pemuda yang mampu mengekang hawa nafsunya di saat syahwat sedang bergejolak, lalu mengarahkan fisik dan energinya untuk sujud ke Masjid dan tunduk kepada syariat, memiliki kedudukan tinggi di hadapan Alloh melebihi orang tua yang beribadah. Hal ini dikarenakan pendorong kemaksiatan pada diri pemuda sangat kuat, sehingga ketika dia mampu melawannya demi mencari ridho Alloh, dia mendapatkan naungan istimewa pada hari yang penuh ketakutan.

2.3 Pertanggungjawaban Usia Muda

Nabi yang mengingatkan bahwa setiap jengkal kekuatan pemuda akan disidang secara khusus pada hari perhitungan amalan. Rosululloh bersabda:

«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ»

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Qiyamah hingga dia ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan ke mana dia infakkan, serta tentang tubuhnya dalam hal apa dia gunakan sampai rusak.” (HSR. Tirmidzi no. 2417)

Meskipun masa muda sudah termasuk ke dalam cakupan umur yang ditanyakan secara global, Alloh secara khusus mengulangi pertanyaan tentang tubuh dan kekuatan fisik yang umumnya dihabiskan pada masa-masa muda. Hal ini menunjukkan bahwa masa muda adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban secara terperinci. Setiap malam yang dihabiskan untuk begadang dalam kesia-siaan, dan setiap tenaga yang dikeluarkan untuk kemaksiatan, semuanya tercatat rapi dan akan dituntut pembuktiannya di hadapan Malikul Mulk.

2.4 Peringatan Nabi dari Sifat Menunda-nunda

Syaithon kerap kali membisikkan kata “nanti dulu” kepada para pemuda, membuat mereka merasa bahwa sisa perjalanan hidup masih sangat panjang dan menganggap taubat bisa diakhirkan saat rambut telah memutih.

Nabi melarang kita menunda-nunda amalan karena kondisi zaman dan hati manusia bersifat dinamis. Jika ditunda, bisa jadi kesempatan itu hilang akibat datangnya fitnah yang pekat. Rosululloh bersabda:

«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»

“Bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan Mu’min dan di sore hari menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan Mu’min dan di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia.” (HR. Muslim no. 118)

Di antara tujuh perkara yang membinasakan tersebut, Nabi menyebutkan masa tua yang melemahkan akal dan fisik. Ketika masa tua itu datang, punggung yang dahulu tegak mulai membungkuk, hafalan yang dahulu kuat mulai pudar, dan semangat yang dahulu berkobar berubah menjadi kelemahan. Maka menunda amal sholih di masa muda dengan harapan bisa mengerjakannya di masa tua adalah bentuk kebodohan yang nyata.

Para Shohabat Nabi mendidik murid-muridnya untuk membuang jauh-jauh sikap menunda amal hingga esok hari. Abdulloh bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma menuturkan bahwa Rosululloh memegang pundaknya lalu bersabda:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing, atau seorang musafir yang sekadar melewati jalan.”

Setelah menyampaikan Hadits ini, Abdulloh bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma memberikan nasehat yang sangat masyhur sebagai penjelas agar kita tidak menunda-nunda:

«إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ المَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ»

Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu datangnya pagi. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu datangnya sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan manfaatkanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhori no. 6416)

2.5 Keteladanan Ulama Salaf dalam Menuntut Ilmu

Para ulama generasi terdahulu memandang masa muda sebagai waktu emas untuk mengumpulkan bekal ilmu dan amal, bukan untuk bersenang-senang dalam kelalaian. Imam Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh tidak pernah kenyang dari ilmu. Setiap kali bertambah ilmu, bertambah pula semangatnya. Semangat yang tidak pernah padam ini dijalani sejak beliau masih belia. Beliau menghafal Al-Qur’an dan kitab Al-Muwaththo di usia muda, menjadi bukti bahwa kejayaan Akhiroh hanya dapat diraih dengan memeras keringat di masa muda sebelum datang masa tua yang lemah dan penuh keterbatasan.

Mari kita renungkan nasihat emas dari seorang Tabi’in yang mulia, Hasan Al-Bashri (110 H) rohimahulloh, yang pernah berkata kepada para pemuda di zamannya:

«يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، عَلَيْكُمْ بِالْآخِرَةِ فَاطْلُبُوهَا؛ فَكَثِيرًا رَأَيْنَا مَنْ طَلَبَ الْآخِرَةَ فَأَدْرَكَهَا مَعَ الدُّنْيَا، وَمَا رَأَيْنَا أَحَدًا طَلَبَ الدُّنْيَا فَأَدْرَكَ الْآخِرَةَ مَعَ الدُّنْيَا»

“Wahai sekalian pemuda, wajib bagi kalian untuk mengejar Akhiroh, maka carilah ia! Karena kami sering melihat orang yang mencari Akhiroh, dia mendapatkan dunia bersama Akhiroh tersebut. Namun kami tidak pernah melihat seorang pun yang mencari dunia lalu dia mendapatkan Akhiroh bersama dunianya.” (Al-Zuhd, Al-Baihaqi, no. 12)

 

Bab 3: Masa Sehat Sebelum Sakit

3.1 Perintah Bersegera Menjemput Ampunan

Kesehatan adalah mahkota di kepala orang-orang yang sehat, yang tidak dapat dilihat kecuali oleh orang yang sedang sakit. Ketika Alloh memberikan nikmat badan yang bugar, seorang hamba seharusnya berlari kencang menuju ketaatan, bukan bersantai-santai menunda amalan. Alloh berfirman:

﴿وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb-mu dan kepada Surga.” (QS. Ali Imran 3:133)

Ayat mulia ini mengandung perintah tegas untuk bergegas melakukan segala sebab yang dapat mendatangkan ampunan Robb, serta beramal sholih demi meraih Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi. Orang yang sehat memiliki kelapangan fisik untuk ruku’, sujud, berdiri lama dalam Qiyamul Lail, dan berpuasa. Sungguh keliru jika nikmat yang agung ini justru digunakan untuk bermaksiat atau ditelantarkan dalam kesia-siaan.

3.2 Dua Nikmat yang Banyak Melalaikan Manusia

Manusia sering kali baru menyadari berharganya sesuatu setelah sesuatu itu hilang dari genggamannya. Hal ini kerap terjadi pada nikmat kesehatan dan kelapangan waktu. Rosululloh bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ»

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: sehat dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori no. 6412)

Kata “maghbun” dalam Hadits ini berarti kerugian yang teramat amat besar dalam transaksi jual beli. Seseorang yang sehat dan memiliki waktu luang, namun tidak memanfaatkannya untuk menanam saham pahala di Akhiroh, ibarat pedagang yang menjual permata berharga dengan harga beberapa keping uang receh. Dia merasa beruntung padahal sedang bangkrut secara hakiki.

3.3 Kemurahan Alloh Bagi Hamba yang Istiqomah

Di antara rohmat Alloh yang sangat luas bagi hamba-hamba-Nya adalah adanya jaminan pahala yang terus mengalir ketika penyakit datang mendera, dengan syarat hamba tersebut terbiasa beramal sholih di masa sehatnya. Rosululloh bersabda:

«إِذَا مَرِضَ العَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا»

“Jika hamba sakit atau safar, dicatat baginya seperti amal saat mukim dan sehat.” (HR. Bukhori no. 2996)

Hadits ini menjadi pemutus uzur dan sekaligus kabar gembira. Penyakit yang datang menggrogoti tubuh akan menjadi penggugur dosa, sementara pahala Sholat berjamaah, puasa sunnah, dan tilawah Al-Qur’an yang biasa dia kerjakan saat sehat akan tetap ditulis utuh oleh para Malaikat meskipun dia hanya terbaring lemah di atas ranjangnya. Sebaliknya, orang yang malas saat sehat tidak akan mendapatkan bagian dari kemuliaan Hadits ini ketika dia sakit.

3.4 Hakikat Rasa Sakit

Agar setiap hamba tidak berputus asa saat penyakit itu akhirnya datang memutus masa sehatnya, Nabi memberikan penyejuk jiwa bahwa rasa sakit adalah pembersih noda-noda maksiat. Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ، إِلَّا حَطَّ اللَّهُ لَهُ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا»

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa gangguan berupa penyakit atau sejenisnya, melainkan Alloh akan menggugurkan dosa-dosanya bersamanya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhori no. 5660 dan Muslim no. 2571)

Meskipun sakit mengandung kaffaroh (penghapus dosa), tetap saja masa sehat adalah modal utama untuk memproduksi pahala. Ketika tubuh bugar, hamba bisa beribadah dengan khusyuk dan sempurna. Namun ketika demam atau linu menyerang, konsentrasi buyar dan kekuatan fisik melemah, sehingga amalan yang bisa dikerjakan pun menjadi sangat terbatas.

3.5 Renungan Salaf Mengenai Singkatnya Hari-hari Dunia

Para pendahulu yang sholih memandang bahwa kesehatan badan adalah kesempatan berharga yang batas waktunya berjalan sangat cepat, laksana hitungan hari yang terus berkurang. Berkata Hasan Al-Bashri (110 H) rohimahulloh:

«يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ»

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, hilanglah sebagian dirimu.” (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim, 2/148)

Ungkapan ini menegaskan bahwa fisik yang sehat ini lambat laun akan merapuh seiring berjalannya waktu. Setiap matahari terbit dan terbenam, hakikatnya jatah sehat kita sedang dikurangi, dan langkah kaki kita semakin dekat dengan liang kubur.

 

Bab 4: Masa Kaya Sebelum Miskin

4.1 Perintah Berinfak Sebelum Terlambat

Harta kekayaan yang berada di tangan seorang Muslim bukanlah milik mutlak yang bisa dihambur-hamburkan sesuka hati, melainkan titipan dari Alloh yang wajib ditunaikan hak-haknya. Alloh berfirman:

﴿وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ

“Dan belanjakanlah sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu.” (QS. Al-Munafiqun 63:10)

Alloh mengingatkan agar kita tidak menunda shodaqoh hingga nyawa berada di kerongkongan. Pada saat itu, barulah manusia memohon: “Wahai Robbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bershodaqoh?” Namun penyesalan di saat maut menjemput sama sekali tidak lagi berguna.

4.2 Ujian Di Balik Kilauan Harta Dunia

Kekayaan sering kali menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi wasilah meraih derajat tinggi di Jannah, namun di sisi lain bisa menjadi fitnah yang menggelincirkan hamba ke dalam jurang Naar jika tidak disikapi dengan iman. Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan.” (QS. At-Taghobun 64:15)

Harta disebut fitnah karena ia menguji loyalitas hati hamba; apakah dia akan bersyukur dengan mengeluarkan Zakat dan bershodaqoh, ataukah dia akan menjadi bakhil dan sombong laksana Qorun. Menggunakan kekayaan di jalan Alloh saat masih lapang adalah tameng terbaik sebelum roda kehidupan berputar membawa kemiskinan yang menyempitkan ruang gerak amalan materi.

4.3 Keberkahan Shodaqoh dalam Menolak Murka Robb

Harta yang dikeluarkan di jalan Alloh secara ikhlas memiliki pengaruh yang sangat besar, baik dalam menjaga keselamatan hamba di dunia maupun di Akhiroh. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ»

“Shodaqoh itu memadamkan murka Alloh dan menolak mati suul khotimah.” (HSR. Tirmidzi no. 2616)

Sebagaimana air yang mampu memadamkan kobaran api yang membumbung tinggi, demikian pula shodaqoh yang keluar dari tangan seorang Mu’min mampu meredam murka Robb akibat dosa-dosa tersembunyi yang dilakukan hamba. Memanfaatkan masa kaya untuk bershodaqoh adalah bentuk investasi terbaik yang manfaatnya langsung dirasakan di barzakh kelak.

4.4 Matematika Langit: Harta Tidak Berkurang Karena Shodaqoh

Syaithon selalu menakut-nakuti manusia dengan bayang-bayang kemiskinan agar mereka menahan hartanya dari jalan kebaikan. Namun Rosululloh mematahkan ilusi tersebut melalui sabdanya:

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِن مَّالٍ»

“Harta tidak akan berkurang karena shodaqoh.” (HR. Muslim no. 2588)

Secara hitungan nominal angka lahiriah, harta mungkin terlihat berkurang. Namun secara hakikat di hadapan Alloh, harta tersebut justru bertambah berkah, dijauhkan dari marabahaya, ditumbuhkan nilainya, dan dilipatgandakan pahalanya di sisi Alloh. Kekayaan yang hakiki adalah harta yang telah diinfakkan, karena itulah yang akan menjadi milik kita selamanya di Akhiroh, sedangkan harta yang disimpan akan menjadi warisan yang ditinggalkan untuk orang lain.

4.5 Hadits Pendukung Mengenai Shodaqoh yang Paling Utama

Nabi memberikan petunjuk mendetail mengenai kapan waktu bershodaqoh yang paling tinggi nilai pahalanya di sisi Alloh. Ketika ditanya tentang shodaqoh yang paling utama, Rosululloh bersabda:

«أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الفَقْرَ، وَتَأْمُلُ الغِنَى، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الحُلْقُومَ، قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا، وَلِفُلاَنٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ»

“Yaitu engkau bershodaqoh padahal engkau dalam keadaan sehat, merasa eman (sayang pada harta), takut miskin, dan sedang mencita-citakan kekayaan. Dan janganlah engkau menunda-nunda hingga apabila nyawa telah sampai di tenggorokan, barulah engkau berkata: ‘Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian’, padahal harta itu sudah menjadi milik ahli waris si fulan.” (HR. Bukhori no. 1419 dan Muslim no. 1032)

Bershodaqoh saat kaya dan sehat, di mana gejolak untuk menumpuk harta sedang kuat-kuatnya, menunjukkan kejujuran iman yang luar biasa. Berbeda dengan orang yang baru mau membagi hartanya saat tubuhnya sudah digrogoti penyakit dan bayang-bayang kematian sudah di pelupuk mata.

 

Bab 5: Waktu Luang Sebelum Sibuk

5.1 Perintah Bersegera Menuntaskan Urusan Kebaikan

Kelapangan waktu adalah nikmat yang sering kali disia-siakan oleh manusia. Ketika seorang hamba terbebas dari berbagai beban urusan duniawi, syariat memerintahkannya untuk segera beralih kepada amal sholih lainnya tanpa menunda. Alloh berfirman:

﴿فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (QS. Al-Insyiroh 94:7)

Ayat mulia ini mengajarkan prinsip hidup seorang Muslim yang dinamis. Tidak ada istilah menganggur atau membuang waktu dalam kamus seorang hamba. Jika seorang Muslim telah menyelesaikan satu urusan dunia atau ibadah tertentu, dia harus segera menegakkan badannya untuk memulai ibadah atau amalan sholih berikutnya. Waktu luang yang diisi dengan keletihan karena ibadah akan melahirkan kebahagiaan yang abadi di Akhiroh.

5.2 Membasahi Lidah dengan Dzikir di Sela Kelapangan

Di antara amalan yang paling ringan namun memiliki timbangan pahala yang sangat berat untuk mengisi waktu luang adalah mengingat Alloh. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kepada Alloh dengan dzikir sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab 33:41)

Ketika seseorang sedang duduk bersantai, berjalan, atau menunggu sesuatu, kelapangan waktu tersebut harus dimanfaatkan untuk berdzikir. Dzikir adalah benteng kokoh dari godaan syaithon yang selalu berusaha mengisi waktu kosong manusia dengan angan-angan kosong atau perkara yang mendatangkan dosa.

5.3 Pentingnya Menjaga Waktu

Untuk menegaskan betapa berharganya setiap detik waktu yang berputar, Rosululloh memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai kerugian orang yang menyia-nyiakan usianya. Rosululloh bersabda:

«مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ المَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الجَنَّةُ»

“Barangsiapa yang takut, niscaya dia akan berjalan di awal malam. Dan barangsiapa yang berjalan di awal malam, niscaya dia akan sampai ke tempat tujuan. Ketahuilah bahwa barang dagangan Alloh itu sangat mahal. Ketahuilah bahwa barang dagangan Alloh adalah Jannah.” (HSR. Tirmidzi no. 2450)

Seorang musafir yang takut tertinggal atau kemalaman di jalan akan memanfaatkan waktu luangnya di awal perjalanan untuk terus memacu kendaraannya agar selamat sampai ke rumah. Demikian pula seorang Muslim yang merindukan Jannah; dia tidak akan membiarkan waktu luangnya terbuang sebelum kesibukan dunia atau maut memutus kesempatannya.

5.4 Kebencian Shohabat Terhadap Manusia yang Menganggur

Para Shohabat Nabi rodhiyallahu ‘anhum adalah generasi yang sangat pelit terhadap waktu mereka. Mereka merasa sangat rugi jika melihat ada manusia yang membuang waktu tanpa menghasilkan manfaat apa pun. Berkata Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu:

«إِنِّي لَأَمْقُتُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ فَارِغًا لَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنْ عَمَلِ الدُّنْيَا وَلَا عَمَلِ الْآخِرَةِ»

“Sungguh aku benci melihat orang yang aku lihat dia kosong, tidak mengerjakan urusan dunia dan tidak pula urusan Akhirot.” (Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no. 34562)

Kekosongan aktivitas adalah pintu masuk utama bagi bisikan syaithon dan penyakit-penyakit hati. Seseorang yang membiarkan dirinya menganggur tanpa kesibukan dunia yang halal atau amalan Akhiroh yang berpahala, sejatinya sedang mengundang kehancuran bagi dirinya sendiri.

 

Bab 6: Hidup Sebelum Mati

6.1 Mempertahankan Iman Hingga Hembusan Nafas Terakhir

Hidup di dunia adalah satu-satunya kesempatan bagi manusia untuk menanam benih amalan. Begitu nafas terhenti, maka tertutuplah lembaran amal dan dimulailah hari pembalasan. Oleh karena itu, Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga iman hingga ajal menjemput. Alloh berfirman:

﴿وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imron 3:102)

Mati dalam keadaan memeluk Islam dan menetapi sunnah adalah taufik terbesar dalam kehidupan seorang hamba. Perkara ini tidak dapat diraih secara instan, melainkan harus diupayakan dengan cara mengisi hari-hari selama masih hidup di atas ketaatan, karena seseorang biasanya akan diwafatkan di atas kebiasaan yang sering dia lakukan semasa hidupnya.

6.2 Panggilan Istimewa Bagi Jiwa yang Tenang

Bagi hamba yang pandai memanfaatkan modal kehidupannya untuk beribadah kepada Robbnya, momen kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah gerbang menuju kebahagiaan yang hakiki. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ 27 ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Robb-mu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.” (QS. Al-Fajr [89]:27-28)

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang merasa tenteram dalam beriman kepada Alloh dan menjalankan syariat-Nya selama hidup di dunia. Di akhir hayatnya, Malaikat Maut akan datang membawa kabar gembira berupa ampunan dan ridho dari Alloh , serta mempersilahkannya masuk ke dalam barisan hamba-hamba-Nya yang sholih di dalam Jannah.

6.3 Amalan yang Tidak Terputus Setelah Kematian

Meskipun kematian mengakhiri kesempatan hamba untuk beramal secara mandiri, ada beberapa jenis investasi pahala yang akan terus mengalir meskipun jasad telah hancur menyatu dengan tanah. Rosululloh bersabda:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Jika manusia mati, terputus amalnya kecuali 3: shodaqoh jariyah, ilmu bermanfaat, anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Hadits ini mendorong setiap hamba yang masih hidup untuk cerdas dalam memilih amalan. Selagi detak jantung masih berdenyut, bangunlah Masjid, wakafkanlah sumur, sebarkanlah ilmu agama melalui tulisan atau pengajaran, dan didiklah anak-anak dengan tarbiyah yang sholih. Semua itu adalah perpanjangan masa hidup yang hakiki di alam barzakh.

6.4 Hakikat Kecerdasan Seorang Hamba

Di mata dunia, orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengumpulkan harta berlimpah dan memiliki kedudukan tinggi. Namun di hadapan syariat, standar kecerdasan diukur dari sejauh mana kesiapan hamba menghadapi kehidupan setelah mati. Rosululloh bersabda:

«الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ»

“Orang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk setelah mati.” (HHR. Tirmidzi no. 2459)

Orang yang berakal sehat akan selalu melakukan introspeksi diri atas dosa-dosanya setiap hari. Dia memperlakukan dirinya laksana seorang bos yang pelit yang selalu mengaudit keuangan karyawannya. Setiap nafas kehidupan yang tersisa digunakan untuk menumpuk bekal Akhiroh, karena dia tahu bahwa perjalanan pasca kematian sangat panjang dan melelahkan.

6.5 Keteladanan Salaf dalam Menjaga Detik-detik Kehidupan

Para ulama terdahulu sangat bakhil terhadap waktu hidup mereka melebihi kebakhilan manusia zaman sekarang terhadap harta benda mereka. Berkata Hasan Al-Bashri (110 H) rohimahulloh:

«أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانُوا عَلَى أَوْقَاتِهِمْ أَشَدَّ حِرْصًا مِنْكُمْ عَلَى دَرَاهِمِكُمْ وَدَنَانِيرِكُمْ»

“Aku menjumpai kaum yang mereka lebih semangat menjaga waktunya daripada kalian menjaga dirham dan dinar kalian.” (Dalilus Sailin, hal. 622)

Mereka menghitung setiap helaan nafas sebagai modal utama yang tidak boleh luput dari pahala. Jika kehilangan satu dinar uang dirasa sangat menyakitkan bagi orang dunia, maka kehilangan satu jam tanpa dzikir atau menuntut ilmu jauh lebih menyakitkan bagi para kekasih Alloh .

6.6 Penyesalan Terlambat di Alam Kelalaian

Marilah kita merenungkan sebuah perkataan agung dari Ali bin Abi Tholib (40 H), beliau menegaskan hakikat kondisi mayoritas manusia di dunia:

«النَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا»

“Manusia dalam keadaan tidur. Jika mereka mati barulah mereka sadar.” (Kasyful Khofa’, Al-Ajluni, 2/357)

Banyak manusia menjalani kehidupan dunia ini laksana orang yang sedang tidur terlelap dan bermimpi indah. Mereka disibukkan dengan mengumpulkan dunia, bermegah-megahan, dan melalaikan kewajiban ibadah. Namun, ketika Malaikat Maut datang mencabut nyawa mereka, lenyaplah seluruh mimpi indah tersebut. Mereka baru tersadar secara penuh bahwa dunia yang mereka kejar hanyalah fatamorgana, sedangkan Akhiroh yang mereka lupakan adalah sebuah kenyataan yang mutlak.

 

Penutup

Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, serta menjadi hujjah yang menyelamatkan penulis dan pembacanya di hadapan Alloh pada hari perhitungan kelak. Amin.

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini