[PDF] Manfaatkan 5 Perkara Sebelum 5 Perkara! - Arfandi Al Kubari dan Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah
kepada Rosululloh ﷺ,
beserta keluarga, para Shohabat, dan para pengikutnya yang setia hingga hari
Qiyamah.
Amma
ba’du:
Kehidupan
dunia adalah panggung yang penuh dengan tipu daya dan kelalaian, di mana
seorang hamba sering kali terbuai oleh angan-angan kosong dan merasa memiliki
waktu yang abadi. Padahal, hakikat keberadaan manusia di atas bumi ini hanyalah
seumpama seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah rindangnya pohon, untuk
kemudian melanjutkan perjalanan panjang menuju negeri yang kekal. Di sinilah
letak urgensi yang teramat besar dari tema yang diangkat dalam buku ini, yaitu
membedah wasiat emas Rosululloh ﷺ mengenai lima perkara sebelum datangnya lima perkara. Tema merupakan
sebuah cetak biru, sebuah kompas kehidupan, dan sekaligus alarm spiritual yang
bertugas membangunkan jiwa-jiwa yang sedang terlelap dalam tidur panjang
kelalaian. Ketika seseorang mampu memahami dan mengamalkan kandungan wasiat
ini, dia tidak akan membiarkan satu detik pun dari usianya berlalu tanpa nilai
ibadah, karena dia menyadari bahwa modal utamanya di dunia adalah waktu, dan hilangnya
waktu berarti hilangnya kesempatan untuk meraih ridho Robb serta keselamatan
dari siksa Naar.
Guna mengupas tuntas dan menghidupkan makna dari mutiara
nubuwah tersebut, buku ini disusun dengan sistematika yang rapi, mengalir, dan
terarah ke dalam enam bab pembahasan utama yang saling berkesinambungan.
Perjalanan ilmiah dan tadabur kita di dalam buku ini akan
diawali pada Bab 1: Wasiat Agung Penggugah Jiwa, yang bertindak sebagai
fondasi utama untuk membedah teks matan Hadits secara tekstual dan kontekstual,
serta menyingkap rahasia di balik pemilihan kata istighnam oleh Nabi ﷺ.
Setelah fondasi pemahaman terbangun, kita akan melangkah
masuk ke dalam inti sari dari kelima modal kehidupan, yang masing-masing
dikupas secara mendalam pada bab-bab berikutnya. Pada Bab 2: Masa Muda
Sebelum Tua, kita akan diajak untuk merenungkan betapa dahsyatnya gejolak
energi kepemudaan yang harus ditundukkan di bawah naungan syariat sebelum
datangnya masa jompo yang lemah.
Selanjutnya, aliran pembahasan akan membawa kita pada Bab
3: Masa Sehat Sebelum Sakit, sebuah ulasan yang menyadarkan betapa mahalnya
harga sebuah kesegaran fisik yang sering kali baru disesali ketika tubuh sudah
terbaring tak berdaya digrogoti penyakit.
Tidak kalah penting, Bab 4: Masa Kaya Sebelum Miskin
akan hadir untuk merombak cara pandang kita terhadap harta benda, merubahnya dari
sekadar tumpukan materi menjadi kendaraan taqwa melalui syariat shodaqoh
sebelum roda kehidupan berputar menuju kefakiran.
Keheningan waktu dan kelapangan aktivitas kemudian akan kita
bedah bersama pada Bab 5: Waktu Luang Sebelum Sibuk, sebuah bab yang
menuntut kita untuk selalu produktif dalam amal sholih dan membentengi diri
dari penyakit menganggur yang dibenci oleh para Salaf.
Akhirnya, seluruh rangkaian petuah ini akan bermuara dan
memuncak pada Bab 6: Hidup Sebelum Mati, sebagai sebuah bab pamungkas
yang paling menggetarkan hati, mengulas tentang batas akhir dari segala
kesempatan, hakikat kecerdasan seorang hamba dalam bersiap menghadapi alam
barzakh, serta urgensi untuk segera tersadar dari tidur kelalaian sebelum
kematian datang menjemput secara tiba-tiba.
Buku ini
hadir untuk mengupas secara mendalam makna tersembunyi dari wasiat mulia ini,
agar menjadi pengingat bagi jiwa-jiwa yang sering kali terbuai oleh kelalaian
dunia. Sebagai hamba yang lemah, kita dituntut untuk pandai mengukur waktu dan
bersegera memenuhi panggilan ketaatan sebelum ajal menjemput.
Bab 1: Wasiat
Agung Penggugah Jiwa
1.1
Hadits Utama 5 Perkara Sebelum 5 Perkara
Dari Ibnu
Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, Rosululloh ﷺ bersabda:
«اغْتَنِمْ
خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ
قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ»
“Manfaatkanlah
5 perkara sebelum datang 5 perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum
sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, hidupmu sebelum
matimu.” (HSR. Al-Hakim no. 7846; Shohihul Jami’ no. 1077)
Wasiat ini
merupakan kalimat ringkas namun sarat makna, ringkas lafazhnya namun luas
maknanya. Nabi ﷺ
mengumpulkan segala rukun kenikmatan duniawi yang menjadi penentu kebahagiaan
hamba di Akhiroh. Tidak ada satu pun kondisi manusia di dunia melainkan
berputar di antara lima urusan yang disebutkan dalam Hadits agung ini.
1.2
Makna Umum Istighnam (Mengambil Ghonimah)
Rosululloh ﷺ menggunakan kata “ightanim”
yang berasal dari kata ghonimah, yaitu keuntungan atau rampasan perang. Sabda
ini mengisyaratkan bahwa kelima modal yang ada pada diri seorang hamba saat ini
merupakan rampasan berharga yang harus segera diamankan sebelum musuh nyata,
yaitu kelalaian dan usia, merampasnya kembali. Orang yang berakal tidak akan
membiarkan keuntungan besar berlalu begitu saja tanpa menjadikannya sebagai
simpanan pahala di sisi Robbnya.
Ketika
seorang prajurit mendapatkan harta rampasan di medan perang, dia akan
menjaganya dengan ketat dan tidak ingin kehilangan sedikit pun darinya.
Demikian pula seorang Muslim, dia harus memperlakukan waktu mudanya, waktu
sehatnya, kelapangan hartanya, waktu luangnya, serta sisa umurnya sebagai
ghonimah berharga yang tidak boleh dicuri oleh syaithon perusak amal.
Bab 2: Masa Muda
Sebelum Tua
2.1
Hakikat Masa Muda dalam Al-Qur’an
Masa muda
adalah fase kekuatan di antara dua kelemahan, yaitu kelemahan masa kanak-kanak
dan kelemahan masa tua yang rapuh. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ...
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً﴾
“Kami
perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua orang tuanya... hingga
apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai 40 tahun.” (QS. Al-Ahqof [46]:15)
Ayat mulia
ini menjelaskan bahwa Alloh memerintahkan manusia untuk berbakti kepada bapak
ibunya. Manusia terus tumbuh dalam penjagaan Alloh sampai dia mencapai puncak
kematangan fisik dan akalnya, serta menyempurnakan usia 40 tahun. Usia ini
adalah batas akhir masa muda dan awal kematangan yang sempurna, di mana beban
pertanggungjawaban semakin nyata.
Di dalam
ayat lain, Alloh menggambarkan siklus kekuatan fisik manusia yang sangat
singkat. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ
جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً﴾
“Alloh,
Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu)
sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah
kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS. Ar-Rum [30]:54)
Kekuatan
yang berada di antara dua kelemahan tersebut tidak lain adalah masa muda.
Anggota badan masih berfungsi sempurna, panca indera masih tajam, dan tekad
masih membara. Sungguh celaka seorang hamba yang menghabiskan puncak kekuatan
fisik ini hanya untuk menuruti syahwat rendahan.
2.2
Naungan Istimewa Bagi Pemuda yang Taat
Di hari
Qiyamah nanti, saat matahari didekatkan sejarak 1 mil di atas kepala makhluk
dan manusia bermandikan keringat sesuai kadar amalan mereka, Alloh memberikan
perlindungan khusus bagi hamba-hamba pilihan di bawah naungan Arsy-Nya.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ... وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ»
“7 golongan
yang Alloh naungi... pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya.” (HR. Bukhori
no. 660, Muslim no. 1031)
Seorang
pemuda yang mampu mengekang hawa nafsunya di saat syahwat sedang bergejolak,
lalu mengarahkan fisik dan energinya untuk sujud ke Masjid dan tunduk kepada
syariat, memiliki kedudukan tinggi di hadapan Alloh melebihi orang tua yang
beribadah. Hal ini dikarenakan pendorong kemaksiatan pada diri pemuda sangat
kuat, sehingga ketika dia mampu melawannya demi mencari ridho Alloh, dia
mendapatkan naungan istimewa pada hari yang penuh ketakutan.
2.3
Pertanggungjawaban Usia Muda
Nabi ﷺ yang mengingatkan bahwa
setiap jengkal kekuatan pemuda akan disidang secara khusus pada hari
perhitungan amalan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَا
تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ،
وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ،
وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ»
“Tidak akan
bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Qiyamah hingga dia ditanya tentang
umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan,
tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan ke mana dia infakkan, serta tentang
tubuhnya dalam hal apa dia gunakan sampai rusak.” (HSR. Tirmidzi no. 2417)
Meskipun
masa muda sudah termasuk ke dalam cakupan umur yang ditanyakan secara global,
Alloh secara khusus mengulangi pertanyaan tentang tubuh dan kekuatan fisik yang
umumnya dihabiskan pada masa-masa muda. Hal ini menunjukkan bahwa masa muda
adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban secara terperinci. Setiap
malam yang dihabiskan untuk begadang dalam kesia-siaan, dan setiap tenaga yang
dikeluarkan untuk kemaksiatan, semuanya tercatat rapi dan akan dituntut pembuktiannya
di hadapan Malikul Mulk.
2.4
Peringatan Nabi dari Sifat Menunda-nunda
Syaithon
kerap kali membisikkan kata “nanti dulu” kepada para pemuda, membuat mereka
merasa bahwa sisa perjalanan hidup masih sangat panjang dan menganggap taubat
bisa diakhirkan saat rambut telah memutih.
Nabi ﷺ melarang kita menunda-nunda
amalan karena kondisi zaman dan hati manusia bersifat dinamis. Jika ditunda,
bisa jadi kesempatan itu hilang akibat datangnya fitnah yang pekat. Rosululloh ﷺ bersabda:
«بَادِرُوا
بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا
وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ
بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»
“Bersegeralah
kalian beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang
gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan Mu’min dan di sore hari
menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan Mu’min dan di pagi hari menjadi
kafir. Dia menjual agamanya dengan sedikit harta benda dunia.” (HR. Muslim
no. 118)
Di antara
tujuh perkara yang membinasakan tersebut, Nabi ﷺ menyebutkan masa tua yang melemahkan akal dan fisik. Ketika
masa tua itu datang, punggung yang dahulu tegak mulai membungkuk, hafalan yang
dahulu kuat mulai pudar, dan semangat yang dahulu berkobar berubah menjadi
kelemahan. Maka menunda amal sholih di masa muda dengan harapan bisa
mengerjakannya di masa tua adalah bentuk kebodohan yang nyata.
Para
Shohabat Nabi mendidik murid-muridnya untuk membuang jauh-jauh sikap menunda
amal hingga esok hari. Abdulloh bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma menuturkan
bahwa Rosululloh ﷺ
memegang pundaknya lalu bersabda:
«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ
غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»
“Jadilah
engkau di dunia ini seakan-akan orang asing, atau seorang musafir yang sekadar
melewati jalan.”
Setelah
menyampaikan Hadits ini, Abdulloh bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma
memberikan nasehat yang sangat masyhur sebagai penjelas agar kita tidak
menunda-nunda:
«إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ
الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ المَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ
لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ»
“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah
menunggu datangnya pagi. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah
menunggu datangnya sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa
sakitmu, dan manfaatkanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR.
Bukhori no. 6416)
2.5
Keteladanan Ulama Salaf dalam Menuntut Ilmu
Para ulama
generasi terdahulu memandang masa muda sebagai waktu emas untuk mengumpulkan
bekal ilmu dan amal, bukan untuk bersenang-senang dalam kelalaian. Imam
Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh tidak pernah kenyang dari ilmu. Setiap
kali bertambah ilmu, bertambah pula semangatnya. Semangat yang tidak pernah
padam ini dijalani sejak beliau masih belia. Beliau menghafal Al-Qur’an dan
kitab Al-Muwaththo di usia muda, menjadi bukti bahwa kejayaan Akhiroh hanya
dapat diraih dengan memeras keringat di masa muda sebelum datang masa tua yang
lemah dan penuh keterbatasan.
Mari kita
renungkan nasihat emas dari seorang Tabi’in yang mulia, Hasan Al-Bashri (110 H)
rohimahulloh, yang pernah berkata kepada para pemuda di zamannya:
«يَا
مَعْشَرَ الشَّبَابِ، عَلَيْكُمْ بِالْآخِرَةِ فَاطْلُبُوهَا؛ فَكَثِيرًا رَأَيْنَا
مَنْ طَلَبَ الْآخِرَةَ فَأَدْرَكَهَا مَعَ الدُّنْيَا، وَمَا رَأَيْنَا أَحَدًا طَلَبَ
الدُّنْيَا فَأَدْرَكَ الْآخِرَةَ مَعَ الدُّنْيَا»
“Wahai
sekalian pemuda, wajib bagi kalian untuk mengejar Akhiroh, maka carilah ia!
Karena kami sering melihat orang yang mencari Akhiroh, dia mendapatkan dunia
bersama Akhiroh tersebut. Namun kami tidak pernah melihat seorang pun yang
mencari dunia lalu dia mendapatkan Akhiroh bersama dunianya.” (Al-Zuhd,
Al-Baihaqi, no. 12)
Bab 3: Masa Sehat
Sebelum Sakit
3.1
Perintah Bersegera Menjemput Ampunan
Kesehatan
adalah mahkota di kepala orang-orang yang sehat, yang tidak dapat dilihat
kecuali oleh orang yang sedang sakit. Ketika Alloh memberikan nikmat badan yang
bugar, seorang hamba seharusnya berlari kencang menuju ketaatan, bukan
bersantai-santai menunda amalan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
وَجَنَّةٍ﴾
“Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb-mu dan kepada Surga.” (QS. Ali
Imran 3:133)
Ayat mulia
ini mengandung perintah tegas untuk bergegas melakukan segala sebab yang dapat
mendatangkan ampunan Robb, serta beramal sholih demi meraih Jannah yang luasnya
seluas langit dan bumi. Orang yang sehat memiliki kelapangan fisik untuk ruku’,
sujud, berdiri lama dalam Qiyamul Lail, dan berpuasa. Sungguh keliru jika
nikmat yang agung ini justru digunakan untuk bermaksiat atau ditelantarkan
dalam kesia-siaan.
3.2
Dua Nikmat yang Banyak Melalaikan Manusia
Manusia
sering kali baru menyadari berharganya sesuatu setelah sesuatu itu hilang dari
genggamannya. Hal ini kerap terjadi pada nikmat kesehatan dan kelapangan waktu.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ»
“Dua nikmat
yang banyak manusia tertipu di dalamnya: sehat dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori
no. 6412)
Kata “maghbun”
dalam Hadits ini berarti kerugian yang teramat amat besar dalam transaksi jual
beli. Seseorang yang sehat dan memiliki waktu luang, namun tidak
memanfaatkannya untuk menanam saham pahala di Akhiroh, ibarat pedagang yang
menjual permata berharga dengan harga beberapa keping uang receh. Dia merasa
beruntung padahal sedang bangkrut secara hakiki.
3.3
Kemurahan Alloh Bagi Hamba yang Istiqomah
Di antara rohmat
Alloh yang sangat luas bagi hamba-hamba-Nya adalah adanya jaminan pahala yang
terus mengalir ketika penyakit datang mendera, dengan syarat hamba tersebut
terbiasa beramal sholih di masa sehatnya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
مَرِضَ العَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا»
“Jika hamba
sakit atau safar, dicatat baginya seperti amal saat mukim dan sehat.” (HR. Bukhori
no. 2996)
Hadits ini
menjadi pemutus uzur dan sekaligus kabar gembira. Penyakit yang datang
menggrogoti tubuh akan menjadi penggugur dosa, sementara pahala Sholat
berjamaah, puasa sunnah, dan tilawah Al-Qur’an yang biasa dia kerjakan saat
sehat akan tetap ditulis utuh oleh para Malaikat meskipun dia hanya terbaring
lemah di atas ranjangnya. Sebaliknya, orang yang malas saat sehat tidak akan
mendapatkan bagian dari kemuliaan Hadits ini ketika dia sakit.
3.4
Hakikat Rasa Sakit
Agar setiap
hamba tidak berputus asa saat penyakit itu akhirnya datang memutus masa
sehatnya, Nabi ﷺ
memberikan penyejuk jiwa bahwa rasa sakit adalah pembersih noda-noda maksiat.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَا
مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ، إِلَّا حَطَّ اللَّهُ لَهُ سَيِّئَاتِهِ،
كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا»
“Tidaklah
seorang Muslim tertimpa gangguan berupa penyakit atau sejenisnya, melainkan
Alloh akan menggugurkan dosa-dosanya bersamanya, sebagaimana pohon menggugurkan
daun-daunnya.” (HR. Bukhori no. 5660 dan Muslim no. 2571)
Meskipun
sakit mengandung kaffaroh (penghapus dosa), tetap saja masa sehat adalah modal
utama untuk memproduksi pahala. Ketika tubuh bugar, hamba bisa beribadah dengan
khusyuk dan sempurna. Namun ketika demam atau linu menyerang, konsentrasi buyar
dan kekuatan fisik melemah, sehingga amalan yang bisa dikerjakan pun menjadi
sangat terbatas.
3.5
Renungan Salaf Mengenai Singkatnya Hari-hari Dunia
Para
pendahulu yang sholih memandang bahwa kesehatan badan adalah kesempatan
berharga yang batas waktunya berjalan sangat cepat, laksana hitungan hari yang
terus berkurang. Berkata Hasan Al-Bashri (110 H) rohimahulloh:
«يَا
ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ»
“Wahai anak
Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, hilanglah
sebagian dirimu.” (Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim, 2/148)
Ungkapan
ini menegaskan bahwa fisik yang sehat ini lambat laun akan merapuh seiring
berjalannya waktu. Setiap matahari terbit dan terbenam, hakikatnya jatah sehat
kita sedang dikurangi, dan langkah kaki kita semakin dekat dengan liang kubur.
Bab 4: Masa Kaya
Sebelum Miskin
4.1
Perintah Berinfak Sebelum Terlambat
Harta
kekayaan yang berada di tangan seorang Muslim bukanlah milik mutlak yang bisa
dihambur-hamburkan sesuka hati, melainkan titipan dari Alloh yang wajib
ditunaikan hak-haknya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ
أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ﴾
“Dan
belanjakanlah sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepadamu sebelum datang
kematian kepada salah seorang di antara kamu.” (QS. Al-Munafiqun 63:10)
Alloh
mengingatkan agar kita tidak menunda shodaqoh hingga nyawa berada di
kerongkongan. Pada saat itu, barulah manusia memohon: “Wahai Robbku, mengapa
Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, sehingga aku
dapat bershodaqoh?” Namun penyesalan di saat maut menjemput sama sekali tidak
lagi berguna.
4.2
Ujian Di Balik Kilauan Harta Dunia
Kekayaan
sering kali menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi wasilah meraih
derajat tinggi di Jannah, namun di sisi lain bisa menjadi fitnah yang
menggelincirkan hamba ke dalam jurang Naar jika tidak disikapi dengan iman.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ﴾
“Sesungguhnya
hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan.” (QS. At-Taghobun 64:15)
Harta
disebut fitnah karena ia menguji loyalitas hati hamba; apakah dia akan
bersyukur dengan mengeluarkan Zakat dan bershodaqoh, ataukah dia akan menjadi
bakhil dan sombong laksana Qorun. Menggunakan kekayaan di jalan Alloh saat masih
lapang adalah tameng terbaik sebelum roda kehidupan berputar membawa kemiskinan
yang menyempitkan ruang gerak amalan materi.
4.3
Keberkahan Shodaqoh dalam Menolak Murka Robb
Harta yang
dikeluarkan di jalan Alloh secara ikhlas memiliki pengaruh yang sangat besar,
baik dalam menjaga keselamatan hamba di dunia maupun di Akhiroh. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ»
“Shodaqoh
itu memadamkan murka Alloh dan menolak mati suul khotimah.” (HSR. Tirmidzi
no. 2616)
Sebagaimana
air yang mampu memadamkan kobaran api yang membumbung tinggi, demikian pula shodaqoh
yang keluar dari tangan seorang Mu’min mampu meredam murka Robb akibat
dosa-dosa tersembunyi yang dilakukan hamba. Memanfaatkan masa kaya untuk bershodaqoh
adalah bentuk investasi terbaik yang manfaatnya langsung dirasakan di barzakh
kelak.
4.4
Matematika Langit: Harta Tidak Berkurang Karena Shodaqoh
Syaithon
selalu menakut-nakuti manusia dengan bayang-bayang kemiskinan agar mereka
menahan hartanya dari jalan kebaikan. Namun Rosululloh ﷺ mematahkan ilusi tersebut
melalui sabdanya:
«مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِن مَّالٍ»
“Harta
tidak akan berkurang karena shodaqoh.” (HR. Muslim no. 2588)
Secara
hitungan nominal angka lahiriah, harta mungkin terlihat berkurang. Namun secara
hakikat di hadapan Alloh, harta tersebut justru bertambah berkah, dijauhkan
dari marabahaya, ditumbuhkan nilainya, dan dilipatgandakan pahalanya di sisi
Alloh. Kekayaan yang hakiki adalah harta yang telah diinfakkan, karena itulah
yang akan menjadi milik kita selamanya di Akhiroh, sedangkan harta yang
disimpan akan menjadi warisan yang ditinggalkan untuk orang lain.
4.5
Hadits Pendukung Mengenai Shodaqoh yang Paling Utama
Nabi ﷺ memberikan petunjuk mendetail
mengenai kapan waktu bershodaqoh yang paling tinggi nilai pahalanya di sisi
Alloh. Ketika ditanya tentang shodaqoh yang paling utama, Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَنْ
تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الفَقْرَ، وَتَأْمُلُ الغِنَى، وَلاَ تُمْهِلُ
حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الحُلْقُومَ، قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا، وَلِفُلاَنٍ كَذَا وَقَدْ
كَانَ لِفُلاَنٍ»
“Yaitu
engkau bershodaqoh padahal engkau dalam keadaan sehat, merasa eman (sayang pada
harta), takut miskin, dan sedang mencita-citakan kekayaan. Dan janganlah engkau
menunda-nunda hingga apabila nyawa telah sampai di tenggorokan, barulah engkau
berkata: ‘Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian’, padahal harta itu
sudah menjadi milik ahli waris si fulan.” (HR. Bukhori no. 1419 dan Muslim
no. 1032)
Bershodaqoh
saat kaya dan sehat, di mana gejolak untuk menumpuk harta sedang kuat-kuatnya,
menunjukkan kejujuran iman yang luar biasa. Berbeda dengan orang yang baru mau
membagi hartanya saat tubuhnya sudah digrogoti penyakit dan bayang-bayang
kematian sudah di pelupuk mata.
Bab 5: Waktu
Luang Sebelum Sibuk
5.1
Perintah Bersegera Menuntaskan Urusan Kebaikan
Kelapangan
waktu adalah nikmat yang sering kali disia-siakan oleh manusia. Ketika seorang
hamba terbebas dari berbagai beban urusan duniawi, syariat memerintahkannya
untuk segera beralih kepada amal sholih lainnya tanpa menunda. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ﴾
“Maka
apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh urusan yang lain.” (QS. Al-Insyiroh 94:7)
Ayat mulia
ini mengajarkan prinsip hidup seorang Muslim yang dinamis. Tidak ada istilah
menganggur atau membuang waktu dalam kamus seorang hamba. Jika seorang Muslim
telah menyelesaikan satu urusan dunia atau ibadah tertentu, dia harus segera
menegakkan badannya untuk memulai ibadah atau amalan sholih berikutnya. Waktu
luang yang diisi dengan keletihan karena ibadah akan melahirkan kebahagiaan
yang abadi di Akhiroh.
5.2
Membasahi Lidah dengan Dzikir di Sela Kelapangan
Di antara
amalan yang paling ringan namun memiliki timbangan pahala yang sangat berat
untuk mengisi waktu luang adalah mengingat Alloh. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا
اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا﴾
“Wahai
orang-orang beriman, berdzikirlah kepada Alloh dengan dzikir sebanyak-banyaknya.”
(QS. Al-Ahzab 33:41)
Ketika
seseorang sedang duduk bersantai, berjalan, atau menunggu sesuatu, kelapangan
waktu tersebut harus dimanfaatkan untuk berdzikir. Dzikir adalah benteng kokoh
dari godaan syaithon yang selalu berusaha mengisi waktu kosong manusia dengan
angan-angan kosong atau perkara yang mendatangkan dosa.
5.3
Pentingnya Menjaga Waktu
Untuk
menegaskan betapa berharganya setiap detik waktu yang berputar, Rosululloh ﷺ memberikan perumpamaan yang
sangat indah mengenai kerugian orang yang menyia-nyiakan usianya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ المَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ
غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الجَنَّةُ»
“Barangsiapa
yang takut, niscaya dia akan berjalan di awal malam. Dan barangsiapa yang
berjalan di awal malam, niscaya dia akan sampai ke tempat tujuan. Ketahuilah
bahwa barang dagangan Alloh itu sangat mahal. Ketahuilah bahwa barang dagangan
Alloh adalah Jannah.” (HSR. Tirmidzi no. 2450)
Seorang
musafir yang takut tertinggal atau kemalaman di jalan akan memanfaatkan waktu
luangnya di awal perjalanan untuk terus memacu kendaraannya agar selamat sampai
ke rumah. Demikian pula seorang Muslim yang merindukan Jannah; dia tidak akan
membiarkan waktu luangnya terbuang sebelum kesibukan dunia atau maut memutus
kesempatannya.
5.4
Kebencian Shohabat Terhadap Manusia yang Menganggur
Para
Shohabat Nabi rodhiyallahu ‘anhum adalah generasi yang sangat pelit
terhadap waktu mereka. Mereka merasa sangat rugi jika melihat ada manusia yang
membuang waktu tanpa menghasilkan manfaat apa pun. Berkata Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu
‘anhu:
«إِنِّي
لَأَمْقُتُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ فَارِغًا لَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنْ عَمَلِ الدُّنْيَا
وَلَا عَمَلِ الْآخِرَةِ»
“Sungguh
aku benci melihat orang yang aku lihat dia kosong, tidak mengerjakan urusan
dunia dan tidak pula urusan Akhirot.” (Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no. 34562)
Kekosongan
aktivitas adalah pintu masuk utama bagi bisikan syaithon dan penyakit-penyakit
hati. Seseorang yang membiarkan dirinya menganggur tanpa kesibukan dunia yang
halal atau amalan Akhiroh yang berpahala, sejatinya sedang mengundang
kehancuran bagi dirinya sendiri.
Bab 6: Hidup
Sebelum Mati
6.1
Mempertahankan Iman Hingga Hembusan Nafas Terakhir
Hidup di
dunia adalah satu-satunya kesempatan bagi manusia untuk menanam benih amalan.
Begitu nafas terhenti, maka tertutuplah lembaran amal dan dimulailah hari
pembalasan. Oleh karena itu, Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga iman
hingga ajal menjemput. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imron 3:102)
Mati dalam
keadaan memeluk Islam dan menetapi sunnah adalah taufik terbesar dalam
kehidupan seorang hamba. Perkara ini tidak dapat diraih secara instan,
melainkan harus diupayakan dengan cara mengisi hari-hari selama masih hidup di
atas ketaatan, karena seseorang biasanya akan diwafatkan di atas kebiasaan yang
sering dia lakukan semasa hidupnya.
6.2
Panggilan Istimewa Bagi Jiwa yang Tenang
Bagi hamba
yang pandai memanfaatkan modal kehidupannya untuk beribadah kepada Robbnya,
momen kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah gerbang
menuju kebahagiaan yang hakiki. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ 27 ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً﴾
“Wahai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Robb-mu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.”
(QS. Al-Fajr [89]:27-28)
Jiwa yang
tenang adalah jiwa yang merasa tenteram dalam beriman kepada Alloh dan
menjalankan syariat-Nya selama hidup di dunia. Di akhir hayatnya, Malaikat Maut
akan datang membawa kabar gembira berupa ampunan dan ridho dari Alloh ﷻ,
serta mempersilahkannya masuk ke dalam barisan hamba-hamba-Nya yang sholih di
dalam Jannah.
6.3
Amalan yang Tidak Terputus Setelah Kematian
Meskipun
kematian mengakhiri kesempatan hamba untuk beramal secara mandiri, ada beberapa
jenis investasi pahala yang akan terus mengalir meskipun jasad telah hancur
menyatu dengan tanah. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Jika
manusia mati, terputus amalnya kecuali 3: shodaqoh jariyah, ilmu bermanfaat,
anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Hadits ini
mendorong setiap hamba yang masih hidup untuk cerdas dalam memilih amalan.
Selagi detak jantung masih berdenyut, bangunlah Masjid, wakafkanlah sumur,
sebarkanlah ilmu agama melalui tulisan atau pengajaran, dan didiklah anak-anak
dengan tarbiyah yang sholih. Semua itu adalah perpanjangan masa hidup yang
hakiki di alam barzakh.
6.4
Hakikat Kecerdasan Seorang Hamba
Di mata
dunia, orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengumpulkan harta berlimpah
dan memiliki kedudukan tinggi. Namun di hadapan syariat, standar kecerdasan
diukur dari sejauh mana kesiapan hamba menghadapi kehidupan setelah mati.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«الكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ»
“Orang
cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk setelah mati.” (HHR.
Tirmidzi no. 2459)
Orang yang
berakal sehat akan selalu melakukan introspeksi diri atas dosa-dosanya setiap
hari. Dia memperlakukan dirinya laksana seorang bos yang pelit yang selalu
mengaudit keuangan karyawannya. Setiap nafas kehidupan yang tersisa digunakan
untuk menumpuk bekal Akhiroh, karena dia tahu bahwa perjalanan pasca kematian
sangat panjang dan melelahkan.
6.5
Keteladanan Salaf dalam Menjaga Detik-detik Kehidupan
Para ulama
terdahulu sangat bakhil terhadap waktu hidup mereka melebihi kebakhilan manusia
zaman sekarang terhadap harta benda mereka. Berkata Hasan Al-Bashri (110 H) rohimahulloh:
«أَدْرَكْتُ
أَقْوَامًا كَانُوا عَلَى أَوْقَاتِهِمْ أَشَدَّ حِرْصًا مِنْكُمْ عَلَى دَرَاهِمِكُمْ
وَدَنَانِيرِكُمْ»
“Aku
menjumpai kaum yang mereka lebih semangat menjaga waktunya daripada kalian
menjaga dirham dan dinar kalian.” (Dalilus Sailin, hal. 622)
Mereka
menghitung setiap helaan nafas sebagai modal utama yang tidak boleh luput dari
pahala. Jika kehilangan satu dinar uang dirasa sangat menyakitkan bagi orang
dunia, maka kehilangan satu jam tanpa dzikir atau menuntut ilmu jauh lebih
menyakitkan bagi para kekasih Alloh ﷻ.
6.6
Penyesalan Terlambat di Alam Kelalaian
Marilah kita
merenungkan sebuah perkataan agung dari Ali bin Abi Tholib (40 H), beliau
menegaskan hakikat kondisi mayoritas manusia di dunia:
«النَّاسُ
نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا»
“Manusia
dalam keadaan tidur. Jika mereka mati barulah mereka sadar.” (Kasyful
Khofa’, Al-Ajluni, 2/357)
Banyak
manusia menjalani kehidupan dunia ini laksana orang yang sedang tidur terlelap
dan bermimpi indah. Mereka disibukkan dengan mengumpulkan dunia,
bermegah-megahan, dan melalaikan kewajiban ibadah. Namun, ketika Malaikat Maut datang
mencabut nyawa mereka, lenyaplah seluruh mimpi indah tersebut. Mereka baru
tersadar secara penuh bahwa dunia yang mereka kejar hanyalah fatamorgana,
sedangkan Akhiroh yang mereka lupakan adalah sebuah kenyataan yang mutlak.
Penutup
Semoga
tulisan ini menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, serta menjadi
hujjah yang menyelamatkan penulis dan pembacanya di hadapan Alloh ﷻ pada
hari perhitungan kelak. Amin.
