Cari Ebook

[PDF] Tragedi Asyuro Tahun 61 Hijriyah - Pembantaian Al-Husain di Karbala - Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H)

 


Muqoddimah

Buku ini tentang Peristiwa Tahun 61 Hijroh yaitu Terbunuhnya Husain yang ditarjamahkan dari Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir (774 H).

Judul-judul subbab berasal dari kami untuk memudahkan pembaca memahami alur.

 

[1] Kronologi Gugurnya Al-Husain bin Ali

Al-Hafiz Ibnu Katsir (774 H) berkata:

Tahun ini (61 H) dimulai ketika Al-Husain bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma sedang dalam perjalanan menuju Kufah, posisi beliau berada di antara Makkah dan Irak. Beliau didampingi oleh para pengikut serta kerabat dekatnya. Beliau kemudian gugur terbunuh pada hari Asyuro di bulan Muharrom pada tahun ini, berdasarkan pendapat masyhur yang dishohihkan oleh Al-Waqidi (207 H) serta beberapa ulama lainnya. Sebagian pihak mengklaim bahwa beliau terbunuh pada bulan Shofar di tahun yang sama, namun pendapat pertama adalah yang lebih shohih.

Ini adalah gambaran mengenai kronologi terbunuhnya beliau rodhiyallahu ‘anhu yang dinukil dari penuturan para imam yang ahli dalam bidang sejarah ini, bukan seperti kedustaan yang nyata serta kebohongan besar yang diada-adakan oleh orang-orang Syi’ah.

Abu Mikhnaf (perowi lemah, 157 H) meriwayatkan dari Abu Janab, dari Adi bin Harmalah, dari Abdulloh bin Sulaim dan Al-Madzri bin Al-Musyma’il yang keduanya berasal dari Bani Asad, mereka berdua menceritakan: Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu terus berjalan maju, hingga ketika beliau singgah di daerah Syarof, beliau berkata kepada para pembantunya di waktu sahur: “Ambillah pasokan air yang banyak.”

Mereka pun memperbanyak persediaan air, kemudian melanjutkan perjalanan hingga memasuki waktu siang. Tiba-tiba Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu mendengar seorang lelaki mengagungkan Alloh dengan bertakbir, maka beliau bertanya kepadanya: “Apa alasanmu bertakbir?” Lelaki itu menjawab: “Aku melihat deretan pohon kurma.”

Dua orang dari Bani Asad langsung menyahut: “Tempat ini sama sekali tidak pernah ada yang melihat sebatang pohon kurma pun di dalamnya.” Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu bertanya: “Kalau begitu, menurut kalian berdua apa sebenarnya yang dia lihat?”

Keduanya menjawab: “Itu adalah pasukan berkuda yang sedang datang mendekat.” Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Apakah ada tempat berlindung yang bisa kita jadikan benteng di belakang punggung kita, sehingga kita dapat menghadapi pasukan tersebut dari satu arah saja?”

Keduanya menjawab: “Ada, yaitu bukit Dzu Husum (ذُو حُسُمٍ).” Beliau segera berbelok ke arah kiri menuju bukit Dzu Husum lalu singgah di sana, kemudian memerintahkan agar tenda-tendanya segera didirikan. Pasukan musuh pun tiba dengan kekuatan 1.000 personel berkuda di bawah pimpinan Al-Hurr bin Yazid At-Tamimi. Mereka merupakan pasukan garda depan yang diutus oleh Ibnu Ziyad, hingga akhirnya mereka berhenti tepat di posisi yang berhadapan langsung dengan beliau di tengah terik siang hari. Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu bersama para pengikutnya saat itu mengenakan sorban dengan pedang yang tersampir di leher mereka. Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu memerintahkan para pengikutnya untuk minum air sampai puas dan memberikan minum kepada kuda-kuda mereka, bahkan beliau juga meminta untuk memberi minum kepada kuda-kuda musuh mereka.

Abu Mikhnaf (lemah, 157 H) dan rowi lainnya menceritakan: Ketika waktu Zhuhur telah masuk, Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu memerintahkan Al-Hajjaj bin Masruq Al-Ju’fi untuk mengumandangkan Adzan. Kemudian Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu keluar dengan mengenakan kain sarung, selendang, dan sepasang sandal, lalu beliau berkhutbah di hadapan semua orang yang hadir, baik dari kalangan pengikutnya maupun dari pihak musuhnya. Beliau menyampaikan alasan dan uzur atas kedatangannya ke tempat ini, yaitu karena penduduk Kufah telah mengirim surat kepadanya yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki pemimpin, dan jika beliau bersedia datang kepada mereka, maka mereka akan membaiat beliau serta berjuang bersama beliau.

Setelah itu Sholat diiqomahkan, lalu Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu berkata kepada Al-Hurr: “Apakah engkau ingin memimpin Sholat bagi kelompokmu?” Al-Hurr menjawab: “Tidak, melainkan engkaulah yang maju mengimami Sholat, dan kami semua akan bermakmum di belakangmu.”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu pun mengimami Sholat mereka semua. Selesai Sholat, beliau masuk ke dalam tendanya dan para pengikutnya berkumpul bersamanya, sedangkan Al-Hurr kembali ke pasukannya, dengan masing-masing pihak tetap siaga penuh. Ketika waktu Ashar tiba, Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu kembali mengimami mereka Sholat, lalu seusai Sholat beliau menghadap mereka untuk berkhutbah, memotivasi mereka agar mau mendengar dan taat kepada beliau, serta menanggalkan kepemimpinan para pengklaim kekuasaan yang memperlakukan rakyat dengan penuh kezholiman.

Al-Hurr merespons khutbah tersebut dengan berkata: “Kami sama sekali tidak tahu-menahu tentang surat-surat yang engkau maksudkan itu, dan kami juga tidak tahu siapa yang telah menulisnya.”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu segera mengeluarkan 2 buah kantong besar yang penuh berisi tumpukan surat, lalu beliau menebarkannya di hadapan Al-Hurr dan membacakan sebagian isinya. Al-Hurr berkata: “Kami bukan termasuk golongan orang-orang yang berkirim surat kepadamu itu. Kami telah diperintahkan bahwa jika kami bertemu denganmu, kami tidak boleh berpisah darimu sampai kami membawamu menghadap Ubaidilloh bin Ziyad.”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu menyahut: “Kematian itu jauh lebih dekat kepadamu daripada keinginanmu tersebut.”

Kemudian Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu berseru kepada para pengikutnya: “Naiklah ke kendaraan kalian!” Mereka semua segera naik ke atas tunggangan, begitu pula para wanita. Namun ketika beliau hendak berbalik arah untuk pulang, pasukan musuh langsung menghadang dan menghalangi langkahnya. Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu berkata dengan keras kepada Al-Hurr: “Celakalah engkau, apa sebenarnya yang engkau inginkan?”

Al-Hurr menjawab: “Demi Alloh, andai ada orang Arob selain engkau yang mengucapkan kalimat itu kepadaku dalam kondisi seperti yang sedang engkau hadapi ini, niscaya aku pasti akan membalasnya dengan setimpal dan tidak akan membiarkan ibunya lolos dari sebutanku. Akan tetapi, sungguh tidak ada jalan bagiku untuk menyebut ibumu melainkan dengan untaian pujian terbaik yang kami mampui.”

Kedua belah pihak saling beradu argumen dan berdiskusi, lalu Al-Hurr menawarkan solusi: “Sebenarnya aku tidak diperintahkan untuk memerangimu, tugas yang dibebankan kepadaku hanyalah tidak berpisah darimu sampai aku membawamu ke Kufah untuk menghadap Ibnu Ziyad. Jika engkau menolak hal itu, maka ambillah jalur alternatif yang tidak membawamu masuk ke Kufah namun juga tidak mengembalikanmu ke Madinah. Sementara itu, aku akan menulis surat pelaporan kepada Ibnu Ziyad, dan engkau pun silakan menulis surat kepada Yazid, atau kepada Ibnu Ziyad jika engkau berkenan. Semoga saja Alloh mendatangkan suatu ketetapan yang menganugerahkan keselamatan bagiku, sehingga aku terbebas dari ujian berat yang melibatkan urusanmu ini.”

Rowi melanjutkan: Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu mengambil jalur kiri menjauhi rute Al-Udzaib dan Al-Qodisiyyah, sementara Al-Hurr bin Yazid terus berjalan beriringan di sisinya sembari menasihatinya: “Wahai Husain, aku mengingatkanmu demi Alloh atas keselamatan jiwamu sendiri. Sungguh aku bersaksi bahwa andai engkau nekat maju berperang, engkau pasti akan terbunuh, dan andai engkau diserang, engkau pasti akan binasa dalam pandanganku.”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu membalas perkataannya: “Apakah engkau sedang menakut-nakuti aku dengan kematian? Akan tetapi, sikapku adalah seperti yang dikatakan oleh seorang dari suku Aus kepada sepupunya ketika menemuinya saat ia hendak pergi menolong Rosululloh . Sepupunya itu bertanya: Ke mana engkau akan pergi? Sungguh engkau pasti akan terbunuh di sana!

Lelaki suku Aus itu menjawab dalam bait syairnya:

Aku akan terus melangkah maju karena kematian bukanlah suatu aib bagi seorang pemuda, selagi ia meniatkan perjuangannya di atas kebenaran dan berjihad sebagai seorang Muslim.

Ia mengorbankan jiwanya demi membela orang-orang sholih, serta memilih berpisah dengan dunia demi menghindari kehidupan yang hina dan tertindas.

Syair ini juga diriwayatkan dengan redaksi yang lain:

Aku akan terus melangkah maju karena kematian bukanlah suatu hinaan bagi seseorang, selagi ia meniatkan perjuangannya di atas kebenaran dan tidak tergolong sebagai pelaku dosa.

Jika aku harus mati, aku tidak akan pernah menyesal, dan jika aku tetap hidup, aku tidak akan dicela. Sungguh cukuplah kematian itu menjemput daripada hidup dalam kehinaan dan ketertindasan.”

Mendengar ketegasan prinsip tersebut dari Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu, Al-Hurr segera menjauhkan diri dari beliau dan memimpin para pengikutnya berjalan agak terpisah di sisi lain. Perjalanan mereka akhirnya sampai di wilayah Udzaib Al-Hijanat, sebuah tempat yang biasanya dijadikan area penggembalaan unta-unta pilihan milik Raja An-Nu’man. Tiba-tiba muncul rombongan musafir sebanyak 4 orang yang datang dari arah Kufah dengan mengendarai tunggangan mereka. Mereka memacu kendaraannya dengan cepat sembari menuntun seekor kuda milik Nafi’ bin Hilal yang dinamai Al-Kamil.

Tujuan utama mereka adalah menemui Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu, dengan dipandu oleh seorang lelaki bernama Ath-Thirimmah bin Adi yang berkuda sembari melantunkan bait-bait syair:

Wahai untaku, janganlah engkau merasa takut karena hardikanku, dan percepatlah langkahmu sebelum terbitnya fajar.

Bawalah para pengendara terbaik dan rombongan musafir terbaik ini, hingga engkau sampai di kediaman sosok yang memiliki garis keturunan yang mulia.

Seorang yang agung, merdeka, dan berlapang dada, yang dihadirkan oleh Alloh untuk membawa urusan yang terbaik, semoga Alloh senantiasa menjaganya sepanjang masa.

Al-Hurr berniat menghadang dan memisahkan rombongan tersebut agar tidak bisa menemui Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu, namun Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu langsung melarangnya. Setelah rombongan itu berhasil bergabung dengan beliau, beliau bertanya: “Beritahukan kepadaku mengenai kondisi masyarakat yang ada di belakang kalian.”

Mujammi’ bin Abdulloh Al-A’idzi, salah seorang dari 4 orang musafir tersebut, memberikan penjelasan: “Adapun kalangan elit dan tokoh-tokoh terpandang, mereka semua telah bersatu padu untuk menentangmu;

Hal itu terjadi karena nilai suap yang diberikan kepada mereka sangatlah besar dan kantong-kantong mereka telah dipenuhi harta, sehingga simpati mereka berhasil dibeli dan loyalitas mereka telah dikuasai sepenuhnya. Sedangkan untuk masyarakat awam, hati mereka sebenarnya condong mendukungmu, namun pedang-pedang mereka besok pagi akan terhunus untuk memerangimu.”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu bertanya lagi kepada mereka: “Apakah kalian memiliki kabar mengenai utusanku?” Mereka balik bertanya: “Siapakah utusanmu yang dimaksud?” Beliau menjawab: “Qois bin Mushir As-Shoidawi.”

Mereka menjawab: “Benar, dia telah ditangkap oleh Al-Hushoin bin Numair, lalu dikirim ke hadapan Ibnu Ziyad. Ibnu Ziyad kemudian memerintahkannya untuk mencaci maki dirimu serta ayahmu di depan umum. Namun, dia justru mendoakan rohmat dan kebaikan untukmu serta untuk ayahmu, lalu dia berbalik melaknat Ibnu Ziyad beserta ayahnya. Dia juga menyeru masyarakat luas untuk membantumu sekaligus mengumumkan bahwa engkau segera tiba. Akibat tindakannya itu, Ibnu Ziyad memerintahkan agar dia dilemparkan dari atas atap istana hingga gugur menemui ajalnya.”

Mendengar kabar pilu tersebut, kedua mata Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu berkaca-kaca menahan air mata, lalu beliau membaca firman Alloh Ta’ala:

﴿فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾

“Maka di antara mereka ada yang telah gugur menunaikan janjinya, dan di antara mereka ada pula yang sedang menunggu gilirannya, dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab: 23)

Beliau kemudian berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَنَازِلَهُمُ الْجَنَّةَ، وَاجْمَعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فِي مُسْتَقَرٍّ مِنْ رَحْمَتِكَ، وَرَغَائِبِ مَذْخُورِ ثَوَابِكَ

“Ya Alloh, jadikanlah Jannah sebagai tempat tinggal bagi mereka, serta kumpulkanlah kami bersama mereka di tempat kediaman yang penuh dengan curahan rohmat-Mu, serta limpahan pahala yang telah Engkau siapkan.”

Selanjutnya, Ath-Thirimmah bin Adi berkata memberikan saran kepada Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu: “Perhatikanlah, aku tidak melihat ada orang bersamamu melainkan sekelompok kecil yang jumlahnya sangat sedikit ini. Sungguh pasukan yang mengiringi perjalananmu sekarang saja sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan seluruh rombonganmu. Lalu bagaimana jadinya jika pinggiran kota Kufah saat ini telah dipenuhi oleh lautan pasukan berkuda dan bala tentara yang sedang bersiap siaga untuk menyerangmu?

Aku memohon kepadamu demi Alloh, jika engkau mampu untuk tidak melangkah maju mendekati mereka walau hanya sejengkal pun, maka lakukanlah. Jika engkau berniat untuk singgah di suatu wilayah yang aman, tempat Alloh akan melindungimu hingga engkau bisa menimbang kembali keputusanmu dengan matang, maka berjalanlah bersamaku agar aku bisa membawamu ke benteng pertahanan pegunungan kami, yaitu gunung Aja’. Gunung tersebut merupakan wilayah kokoh tempat Alloh melindungi kami dari serangan raja-raja Ghossan dan Himyar, dari An-Nu’man bin Al-Mundzir, serta dari segala jenis pasukan asing maupun lokal. Demi Alloh, kami sama sekali tidak pernah tersentuh oleh kehinaan dalam sejarah kami;

Aku akan menemanimu berjalan hingga mengantarkanmu singgah di daerah Al-Quroyyah, lalu setelah itu kita akan mengirim utusan untuk mengumpulkan para petarung dari pegunungan Aja’ dan Salma yang berasal dari kabilah Thoyyi’. Tinggallah bersama kami sesuka hatimu, karena aku menjamin ada 10.000 pejuang dari kabilah Thoyyi’ yang siap mengayunkan pedang-pedang mereka di hadapanmu demi membelamu. Demi Alloh, musuh tidak akan pernah bisa menyentuhmu sama sekali selama mata dari para pejuang kami masih berkedip.”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu menjawab tawaran tersebut dengan berkata: “Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan.”

Namun, beliau tetap teguh pada pendiriannya dan tidak membatalkan rencana perjalanan yang sedang dijalankannya. Ath-Thirimmah pun berpamitan mengakhiri pertemuan, sementara Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu melanjutkan perjalanannya. Ketika malam telah larut, beliau memerintahkan para pemuda pengikutnya untuk mengisi persediaan air dalam jumlah yang cukup, kemudian beliau berjalan menembus kegelapan malam. Di tengah perjalanan, rasa kantuk menyelimuti beliau hingga kepala beliau sempat terkantuk, lalu beliau terbangun sembari mengucapkan: “Sungguh kami ini milik Alloh dan hanya kepada-Nyalah kami akan kembali, dan segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.”

Beliau kemudian bercerita: “Aku baru saja bermimpi melihat seorang penunggang kuda yang memacu kendaraannya sembari berseru: ‘Rombongan ini terus berjalan, sedangkan kematian pun terus mengalir mengintai mereka.’ Maka aku menyadari bahwa itu adalah pertanda kabar kematian bagi diri-diri kita yang telah disampaikan kepada kita.”

Ketika fajar telah menyingsing, beliau memimpin Sholat Subuh bersama para pengikutnya, lalu segera bergegas naik ke atas tunggangan. Beliau mengarahkan rute perjalanannya agak condong ke sebelah kiri hingga akhirnya sampai di wilayah Ninawa. Tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang menyandang busur panah di pundaknya datang dari arah Kufah. Orang tersebut langsung memberikan salam penghormatan kepada Al-Hurr bin Yazid, namun ia sengaja tidak mengucapkan salam kepada Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu. Ia lalu menyerahkan selembar surat dari Ibnu Ziyad kepada Al-Hurr, yang isinya berupa perintah tegas agar mengarahkan rute Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu di Irak ke tempat yang gersang, jauh dari pemukiman warga ataupun benteng pertahanan, sampai seluruh utusan dan bala tentara pembantu tiba di lokasi.

Peristiwa penghadangan tersebut terjadi tepat pada hari Kamis, tanggal 2 bulan Muharrom tahun 61 Hijroh. Pada keesokan harinya, datanglah Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash memimpin pasukan berkekuatan 4.000 personel. Sebenarnya Umar bin Sa’ad sebelumnya telah dipersiapkan oleh Ibnu Ziyad bersama pasukannya ini untuk dikirim ke wilayah Dailam, dan mereka telah mendirikan perkemahan di pinggiran kota Kufah. Namun ketika perkara kedatangan Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu ini mencuat, Ibnu Ziyad mengubah perintahnya dengan berkata kepada Umar bin Sa’ad: “Berangkatlah hadapi dia terlebih dahulu. Jika tugasmu menyelesaikannya telah usai, barulah engkau berangkat menuju wilayah Dailam.” Umar bin Sa’ad pun memohon dengan sangat agar dirinya dibebaskan dari tugas memerangi beliau tersebut.

Ibnu Ziyad memberikan pilihan yang memberatkan dengan berkata kepadanya: “Jika engkau memang menghendaki demikian, aku akan membebaskanmu dari tugas ini, namun aku juga akan memecatmu dari jabatan gubernur di wilayah yang telah kujadikan engkau sebagai wakilku di atasnya.”

Umar bin Sa’ad berkata: “Berikan aku waktu untuk mempertimbangkan urusanku ini.” Ia pun mulai meminta pertimbangan dari orang-orang terdekatnya, dan tidak ada satu orang pun yang ia ajak musyawarah melainkan pasti melarangnya dengan keras untuk berangkat memerangi Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu. Bahkan, putra dari saudarinya yang bernama Hamzah bin Al-Mughiroh bin Syu’bah menasihatinya secara mendalam: “Jangan sekali-kali engkau melangkah pergi untuk memerangi Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu, karena tindakan itu membuatmu bermaksiat kepada Robbmu serta memutus tali silaturrohim dengan kerabatmu. Demi Alloh, sungguh jika engkau harus kehilangan seluruh kekuasaan yang ada di muka bumi ini, hal itu jauh lebih baik bagimu daripada engkau harus menghadap Alloh dengan memikul dosa tumpahnya darah Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu.”

Umar bin Sa’ad menjawab: “Aku akan menuruti nasihatmu ini, In Syaa Alloh Ta’ala.” Namun tidak lama setelah itu, Ubaidilloh bin Ziyad menekan dan mengancamnya dengan ancaman pemecatan jabatan hingga hukuman mati. Akibat tekanan tersebut, ia akhirnya berangkat memimpin pasukan menuju posisi Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu lalu mengepung beliau di lokasi yang telah kami sebutkan sebelumnya. Ia kemudian mengutus beberapa orang utusan untuk bertanya kepada Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu: “Apa tujuan utama yang membuatmu datang ke tempat ini?”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu menjawab pertanyaan tersebut: “Penduduk Kufah telah berkirim surat kepadaku yang isinya memintaku agar datang menemui mereka. Jika sekarang mereka ternyata berubah pikiran dan tidak menyukai kehadiranku, maka aku bersedia untuk berbalik arah kembali menuju Makkah dan meninggalkan kalian.”

Ketika jawaban diplomatis ini sampai ke telinga Umar bin Sa’ad, ia berkata dengan penuh harap: “Aku sangat berharap semoga Alloh menyelamatkanku dari keharusan memeranginya.”

Ia pun segera menulis surat untuk melaporkan perkembangan positif ini kepada Ibnu Ziyad. Namun, Ibnu Ziyad justru membalas laporannya dengan perintah yang kejam: “Tutup dan halangilah jalur mereka dari akses mendapatkan air, sebagaimana tindakan kejam yang dahulu pernah dilakukan terhadap sosok yang bertaqwa, suci, lagi dizholimi, yaitu Amirul Mu’minin Utsman bin Affan (35 H). Tawarkan pula kepada Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu agar ia bersama seluruh pengikutnya menyatakan baiat setia kepada Amirul Mu’minin Yazid bin Mu’awiyah. Jika mereka bersedia memenuhi tuntutan tersebut, barulah kita akan menentukan sikap kita selanjutnya.”

Pasukan Umar bin Sa’ad mulai melaksanakan blokade ketat untuk menghalangi para pengikut Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu dari mendapatkan air bersih. Pasukan penyekat tersebut berada di bawah komando Amr bin Al-Hajjaj. Karena tindakan kejamnya itu, Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu mendoakan keburukan atasnya agar ia ditimpa rasa haus yang teramat sangat, hingga akhirnya lelaki ini benar-benar mati mengenaskan akibat bencana rasa haus yang luar biasa.

Setelah kondisi semakin genting, Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu meminta kepada Umar bin Sa’ad untuk mengadakan pertemuan empat mata di area netral yang memisahkan antara kedua kubu pasukan. Keduanya pun datang dengan masing-masing dikawal oleh sekitar 20 orang penunggang kuda. Mereka berdua terlibat dalam pembicaraan yang sangat serius dan berlangsung lama hingga berlalunya sepertiga malam pertama. Tidak ada seorang pun dari pihak pengawal yang mengetahui secara pasti apa saja yang mereka bicarakan, namun sebagian orang menduga bahwa Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu menawarkan agar mereka berdua pergi bersama-sama menemui Yazid bin Mu’awiyah dan meninggalkan kedua kubu pasukan dalam kondisi gencatan senjata. Menanggapi dugaan tawaran tersebut, Umar berkata mengajukan keberatan: “Jika aku melakukannya, Ibnu Ziyad pasti akan merobohkan rumah kediamanku.”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu memberikan solusi: “Aku yang akan membangun kembali rumah itu untukmu.” Umar berkata lagi: “Kalau begitu, ia pasti akan menyita seluruh aset tanah dan perkebunanku.” Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu menjawab: “Aku akan menggantinya dengan aset yang jauh lebih baik daripada milikmu itu, yang kuambil dari harta pribadiku yang berada di wilayah Hijaz.”

Rowi menceritakan bahwa Umar bin Sa’ad tetap merasa enggan dan menolak tawaran solusi tersebut. Sebagian rowi lain menyatakan pendapat yang berbeda: Sebenarnya beliau mengajukan 3 buah pilihan alternatif, yaitu: melepaskan beliau agar bisa pergi menghadap Yazid secara langsung, atau membiarkan beliau berbalik arah kembali pulang ke wilayah Hijaz, atau mengizinkan beliau bertolak menuju ke salah satu wilayah perbatasan kaum Muslimin untuk ikut berjuang memimpin pasukan dalam memerangi bangsa Turk.

Umar bin Sa’ad kemudian menulis surat pelaporan berisi opsi-opsi tersebut kepada Ubaidilloh bin Ziyad. Membaca surat itu, Ibnu Ziyad pada awalnya melunakkan sikapnya dengan berkata: “Baiklah, aku menerima tawaran opsi tersebut.”

Namun tiba-tiba Syamir bin Dzil Jauzan bangkit memprovokasi dengan berkata: “Demi Alloh, jangan pernah diterima, sampai ia bersama seluruh pengikutnya menyerahkan diri sepenuhnya tunduk di bawah keputusan hukummu.”

Syamir menambahkan provokasinya: “Demi Alloh, sungguh telah sampai sebuah kabar kepadaku bahwa Al-Husain dan Umar bin Sa’ad sering kali duduk santai bersama di antara dua kubu pasukan sembari mengobrol akrab sepanjang malam.”

Hasutan tersebut berhasil memengaruhi Ibnu Ziyad, sehingga ia mengubah keputusannya dan berkata kepada Syamir: “Apa yang engkau pandang itu sungguh merupakan sebuah kebenaran yang tepat.”

Abu Mikhnaf (lemah, 157 H) meriwayatkan: Abdurrohman bin Jundab menceritakan kepadaku, dari Uqbah bin Sam’an, yang memberikan kesaksian langsung: Sungguh aku telah mendampingi perjalanan Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu semenjak keluar dari Makkah sampai detik-detik beliau gugur terbunuh. Demi Alloh, tidak ada satu kalimat pun yang beliau ucapkan di tempat mana pun melainkan aku pasti mendengar kalimat tersebut dengan telingaku sendiri. Sungguh beliau sama sekali tidak pernah meminta untuk pergi menemui Yazid demi meletakkan tangan beliau di atas tangannya, tidak pula meminta untuk bertolak menuju ke salah satu wilayah perbatasan kaum Muslimin. Akan tetapi, tuntutan nyata yang beliau ajukan kepada mereka hanyalah salah satu dari dua perkara, yaitu beliau meminta agar dibiarkan kembali ke tempat asal kedatangannya, atau mereka membiarkannya pergi menuju bumi Alloh yang luas ini untuk melihat bagaimana perkembangan urusan umat manusia nantinya.

Ubaidilloh bin Ziyad kemudian mengutus Syamir bin Dzil Jauzan dan memberikan instruksi tegas: “Berangkatlah! Jika Husain dan para pengikutnya mau tunduk di bawah keputusan hukumku, maka terimalah. Namun jika mereka menolak, maka perintahkan Umar bin Sa’ad untuk memerangi mereka. Jika ia ternyata menunda-nunda atau enggan melaksanakan perintah itu, maka tebaslah lehernya, dan setelah itu engkaulah yang menjadi komandan tertinggi atas pasukan.”

Ibnu Ziyad juga menulis surat kepada Umar bin Sa’ad yang isinya mengancamnya atas sikapnya yang dinilai lamban dalam memerangi Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu. Ia memerintahkannya jika Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu tidak mau datang menyerahkan diri kepadanya, maka ia harus segera memeranginya beserta orang-orang yang bersamanya, karena mereka dinilai sebagai orang-orang yang menyelisihi penguasa.

Di sela-sela peristiwa itu, Abdulloh bin Abi Al-Muhil memohonkan jaminan keamanan bagi para putra dari saudari ayahnya, yaitu Ummu Al-Banin binti Hizam dari pernikahannya dengan Ali rodhiyallahu ‘anhu. Mereka adalah Al-Abbas, Abdulloh, Ja’far, dan Utsman.

Ibnu Ziyad mengabulkan permohonan tersebut dengan menulis selembar surat jaminan keamanan untuk mereka, lalu Abdulloh bin Abi Al-Muhil mengirimkan surat itu melalui pembantunya yang bernama Kuzman. Namun ketika surat jaminan keamanan itu sampai kepada mereka, mereka langsung menolaknya sembari berkata: “Kami sama sekali tidak membutuhkan jaminan keamanan dari anak Sumayyah (Ibnu Ziyad), dan sesungguhnya kami lebih mengharapkan jaminan keamanan yang jauh lebih baik daripada jaminan keamanan darinya.”

Ketika Syamir bin Dzil Jauzan tiba di hadapan Umar bin Sa’ad dengan membawa surat perintah dari Ubaidilloh bin Ziyad, Umar bin Sa’ad berkata kepadanya dengan perasaan kecewa: “Semoga Alloh menjauhkan rumahmu dan memburukkan apa yang engkau bawa ini! Demi Alloh, sungguh aku menduga engkaulah orang yang telah memalingkannya dari menerima 3 opsi pilihan yang diajukan oleh Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu.”

Syamir memotong perkataannya sembari bertanya: “Kalau begitu, beritahukan kepadaku apa yang akan engkau lakukan sekarang? Apakah engkau yang akan memimpin pasukan untuk memerangi mereka, atau engkau mau menyerahkan urusan ini kepadaku bersama pasukan?”

Umar bin Sa’ad menjawabnya: “Tidak, engkau tidak berhak mendapatkan penghormatan itu, akulah yang akan memimpin langsung urusan peperangan ini.” Umar kemudian menunjuk Syamir sebagai komandan pasukan pejalan kaki, lalu mereka mulai bergerak maju mendekati posisi Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu pada sore hari Kamis, tanggal 9 bulan Muharrom.

Syamir bin Dzil Jauzan maju mendekat lalu berseru: “Di mana anak-anak dari saudari perempuan kami? Maka Al-Abbas, Abdulloh, Ja’far, dan Utsman yang merupakan putra-putra dari Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu segera bangkit menemuinya,” lalu Syamir berkata kepada mereka: “Kalian semua mendapatkan jaminan keamanan denganku.”

Mereka dengan tegas menjawab: “Jika engkau memberikan jaminan keamanan kepada kami sekaligus kepada putra Rosululloh , maka kami akan menerimanya. Namun jika tidak, maka kami sama sekali tidak membutuhkan jaminan keamanan darimu.”

Rowi melanjutkan: Kemudian Umar bin Sa’ad berseru memberikan komando kepada seluruh pasukannya: “Wahai bala tentara Robb, naiklah ke atas tunggangan kalian dan sambutlah kabar gembira!” Mereka pun segera naik ke atas kendaraan lalu mulai bergerak maju menyerbu ke arah rombongan Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu setelah usainya Sholat Ashar pada hari tersebut. Pada saat itu, Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu sedang duduk di depan tendanya sembari memeluk lutut dengan pedangnya yang tersampir. Rasa kantuk menyelimuti beliau hingga kepala beliau sempat terkantuk. Saudari perempuan beliau yang bernama Zainab mendengar adanya suara kegaduhan pasukan yang mendekat, lalu ia segera menghampiri beliau untuk membangunkan beliau. Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu mengangkat kepalanya dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya: “Sesungguhnya aku baru saja melihat Rosululloh di dalam mimpiku, lalu beliau bersabda kepadaku:

«إِنَّكَ تَرُوحُ إِلَيْنَا»

“Sesungguhnya engkau akan segera kembali menyusul bersama kami.”

Mendengar ucapan tersebut, Zainab langsung memukul wajahnya sendiri karena kesedihan yang mendalam sembari meratap: “Duhai celakalah aku!”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu menenangkannya dengan berkata: “Janganlah engkau mengucapkan kata celaka wahai saudariku tercinta, tenanglah, semoga Robb Yang Maha Pengasih senantiasa mencurahkan rohmat-Nya kepadamu.”

Tidak lama kemudian, saudara laki-lakinya yang bernama Al-Abbas bin Ali datang menghampiri beliau sembari mengabarkan: “Wahai saudaraku, pasukan musuh telah datang menyerbu ke arahmu.” Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu memberikan perintah: “Temuilah mereka dan tanyakan kepada mereka apa sebenarnya maksud dari kedatangan mereka itu.”

Al-Abbas segera berkuda menemui pasukan musuh didampingi oleh sekitar 20 orang penunggang kuda, lalu ia bertanya kepada mereka: “Ada urusan apa dengan kalian?” Mereka menjawab: “Perintah dari gubernur telah tiba; pilihannya adalah kalian tunduk sepenuhnya di bawah keputusan hukumnya, atau kami akan memerangi kalian semua.” Al-Abbas berkata: “Tetaplah di posisi kalian sekarang sampai aku kembali menemui Abu Abdillah (Al-Husain) untuk menyampaikan pesan kalian ini kepadanya.” Al-Abbas pun berbalik arah untuk menemui beliau, sementara para pengikutnya tetap berdiri di lokasi sembari terlibat dalam adu argumen dan saling mencela dengan pasukan musuh. Para pengikut Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka: “Sungguh kalian adalah seburuk-buruk kaum! Apakah kalian benar-benar berniat untuk membunuh keturunan Nabi kalian serta orang-orang terbaik pada zaman mereka ini?”

Setelah menyampaikan pesan tersebut kepada Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu, Al-Abbas bin Ali kembali menemui pasukan musuh dan berkata kepada mereka: “Abu Abdillah berkata kepada kalian: ‘Mundurlah kalian pada sore hari ini, agar beliau memiliki waktu untuk mempertimbangkan urusannya di malam hari ini.’”

Umar bin Sa’ad menoleh kepada Syamir bin Dzil Jauzan sembari bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang hal ini?” Syamir menjawab: “Engkaulah komandan utamanya, maka keputusan terbaik ada pada pendapatmu.” Amr bin Al-Hajjaj bin Salamah Az-Zubaidi langsung menyahut: “Subhanalloh! Demi Alloh, andai ada seorang lelaki dari wilayah Dailam yang meminta penundaan waktu seperti ini kepada kalian, niscaya sudah sepatutnya bagi kalian untuk mengabulkan permintaannya tersebut.”

Qois bin Al-Asy’ats pun menambahkan pendapatnya: “Kabulkanlah apa yang mereka minta darimu itu, karena demi umurku, mereka pasti akan menyambutmu dengan peperangan di pagi hari esok.”

Demikianlah perkara itu diputuskan, karena sesungguhnya ketika Al-Abbas menemui Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu sebelumnya, Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu telah berkata kepadanya: “Kembalilah kepada mereka dan mintalah agar mereka mengundurkan serangannya pada sore hari ini. Semoga saja kita bisa mendirikan Sholat untuk Robb kita di malam hari ini, serta memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada-Nya. Sungguh Alloh telah mengetahui dari dalam hatiku bahwa aku adalah seorang yang sangat mencintai ibadah Sholat untuk-Nya, gemar membaca Kitab-Nya, serta banyak beristighfar dan berdoa.” Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu memanfaatkan waktu di malam hari ini untuk memberikan wasiat mendalam kepada keluarganya, serta menyampaikan khutbah di hadapan para pengikutnya pada awal malam. Beliau memulainya dengan memuji Alloh Ta’ala dan menyanjung-Nya, serta mengucapkan sholawat atas Rosul-Nya dengan untaian kalimat yang sangat fasih lagi baligh. Beliau kemudian berkata kepada para pengikutnya: “Barang siapa di antara kalian yang ingin berbalik pulang menemui keluarganya memanfaatkan kegelapan malam hari ini, maka sungguh aku telah memberikan izin kepadanya dengan lapang dada, karena sesungguhnya pasukan musuh itu hanyalah mengincar nyawaku saja.”

Mendengar ucapan itu, Malik bin An-Nadhr berkata menyampaikan uzurnya: “Sungguh aku memiliki tanggungan utang yang belum terbayar dan aku juga memiliki keluarga yang harus kunafkahi.”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu memberikan solusi: “Kegelapan malam saat ini telah menyelimuti kalian, maka jadikanlah ia bagaikan unta kendaraan yang melindungi kalian. Hendaknya setiap orang dari kalian menggandeng tangan seorang dari anggota keluargaku, lalu pergilah kalian menyebar di atas hamparan bumi ini menembus kegelapan malam menuju ke negeri dan kota kalian masing-masing. Sesungguhnya pasukan musuh itu hanyalah menginginkan nyawaku saja, sehingga jika mereka telah berhasil menangkapku, niscaya mereka akan lalai dan tidak akan mempedulikan untuk memburu orang selain diriku. Maka pergilah kalian semua sampai Alloh Azza wa Jalla mendatangkan jalan keluar yang melegakan.” Mendengar penuturan beliau, para saudara laki-lakinya, anak-anaknya, serta putra-putra dari saudaranya serentak menyatakan penolakannya: “Kami tidak akan pernah mau hidup lebih lama lagi setelah kepergianmu, dan semoga Alloh tidak pernah memperlihatkan kepada kami apa yang kami benci terjadi pada dirimu.”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu menoleh kepada keluarga Aqil sembari berkata: “Wahai bani Aqil, cukuplah musibah terbunuhnya Muslim (bin Aqil) saudara kalian sebagai pengorbanan dari kalian. Pergilah kalian semua, karena sungguh aku telah memberikan izin kepada kalian.”

Mereka menyahut dengan penuh kesedihan: “Jika kami pergi, lalu apa yang akan dikatakan oleh orang-orang kepada kami?! Apakah kami akan menceritakan kepada mereka bahwa kami telah tega meninggalkan orang tua kami, pemimpin kami, serta putra-putra paman kami yang merupakan sebaik-baik paman? Kami pergi tanpa sempat melepaskan sebatang anak panah pun bersama mereka, tidak ikut menombak bersama mereka, dan tidak pula mengayunkan pedang bersama mereka, hanya karena demi mengejar kehidupan dunia semata?

Tidak, demi Alloh, kami tidak akan pernah melakukan tindakan nista semacam itu! Akan tetapi, kami memilih untuk menebus keselamatanmu dengan jiwa-jiwa kami, harta benda kami, serta keluarga kami. Kami akan terus maju bertempur bersamamu sampai kami memasuki tempat kematian yang akan engkau masuki, karena semoga Alloh memburukkan kehidupan dunia ini jika kami harus hidup setelah kepergianmu.”

Ucapan yang senada juga disampaikan oleh Muslim bin Ausajah Al-Asadi, dan begitu pula yang diikrarkan oleh Said bin Abdulloh Al-Hanafi: “Demi Alloh, kami tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian sampai Alloh mengetahui bahwa kami benar-benar telah menjaga amanah wasiat Rosululloh yang ada pada dirimu. Demi Alloh, andai aku mengetahui bahwa aku akan terbunuh di hadapanmu sebanyak 1.000 kali kematian, dan Alloh bersedia menyelamatkan dirimu serta jiwa para pemuda dari anggota keluargamu ini dengan sebab kematianku tersebut, niscaya aku akan sangat mencintai kematian itu. Lalu bagaimana mungkin aku akan mundur sekarang, padahal ini hanyalah sebuah kematian yang terjadi sekali saja?”

Seluruh jamaah dari pengikut beliau juga menyampaikan ikrar kesetiaan yang saling serupa satu sama lain dari satu sudut pandang yang sama, mereka menegaskan: “Demi Alloh, kami tidak akan pernah berpisah darimu, dan jiwa-jiwa kami adalah sebagai tebusan bagi keselamatanmu. Kami akan membentengi dirimu dengan leher-leher kami, kening-kening kami, tangan-tangan kami, serta seluruh jasad kami. Apabila kami akhirnya gugur terbunuh, maka kami telah menunaikan janji setia kami dengan sempurna dan telah menyelesaikan kewajiban yang dibebankan atas kami.”

Saudara laki-lakinya yang bernama Al-Abbas kembali menegaskan: “Semoga Alloh tidak pernah memperlihatkan kepada kami hari terjadinya kehilangan dirimu, dan kami sama sekali tidak memiliki kebutuhan untuk melanjutkan kehidupan dunia ini setelah kepergianmu.” Seluruh pengikut beliau pun terus menyatakan ikrar kesetiaan mereka secara beruntun mengikuti sikap tersebut.

Abu Mikhnaf (lemah, 157 H) meriwayatkan: Al-Harits bin Ka’b dan Abu Adh-Dhohhak menceritakan kepadaku, dari Ali bin Al-Husain yang bergelar Zainal Abidin (95 H), ia mengisahkan kenangan pilunya: Sungguh aku sedang duduk di perkemahan pada sore hari menjelang malam terjadinya pembunuhan ayahku di pagi harinya. Saat itu bibiku yang bernama Zainab sedang merawatku karena aku sedang sakit. Tiba-tiba ayahku mengasingkan diri di dalam tendanya didampingi oleh beberapa orang pengikutnya. Di dekat beliau ada Huwayyi yang merupakan mantan budak dari Abu Dzarr Al-Ghifari (32 H), yang sedang sibuk merawat dan memperbaiki pedang beliau, sementara ayahku melantunkan bait-bait syair:

Wahai masa, celakalah engkau sebagai seorang sahabat, betapa sering engkau di waktu pagi dan petang...

Menyebabkan para sahabat dekat ataupun para pencari keadilan gugur terbunuh, dan masa tidak akan pernah puas dengan tebusan pengganti.

Sesungguhnya segala urusan itu dikembalikan kepada Robb Yang Maha Agung, dan setiap makhluk yang hidup pasti akan menempuh jalan kematian ini.

Zainal Abidin melanjutkan kisahnya: Beliau mengulang-ulang bait syair tersebut sebanyak 2 atau 3 kali, hingga aku pun memahami apa yang beliau maksudkan. Seketika itu juga rasa haru menyumbat tenggorokanku dan air mata hendak menetes, namun aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya dan memilih untuk tetap terdiam, karena aku tahu bahwa mushibah besar benar-benar telah turun menjemput kami. Adapun bibiku (Zainab), ketika mendengar bait syair itu ia langsung bangkit berdiri dengan kepala terbuka tanpa penutup hingga berjalan tergesa-gesa menemui beliau, lalu berseru dengan histeris: “Oh alangkah besarnya mushibah kehilangan ini! Duhai, andai saja kematian datang menjemputku sehingga melenyapkan kehidupanku pada hari ini. Hari ini seolah-olah aku kembali merasakan wafatnya ibuku Fatimah (11 H), ayahku Ali (40 H), serta saudaraku Al-Hasan (49 H). Wahai pengganti dari orang-orang mulia yang telah berlalu, dan wahai pelindung bagi anggota keluarga yang masih tersisa!”

Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu memandang ke arahnya dengan penuh kelembutan sembari menasihatinya: “Wahai saudariku tercinta, jangan sampai syaithon melenyapkan sifat santun dan ketenangan dari dirimu.” Zainab meratap lagi: “Jiwa ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Abu Abdillah, engkau benar-benar telah bersiap menjemput kematian.” Ia pun memukul wajahnya sendiri, merobek belahan kerah bajunya, hingga akhirnya jatuh pingsan terkulai ke tanah. Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu segera bangkit menghampirinya lalu memercikkan air ke wajahnya, kemudian beliau menasihatinya dengan mendalam: “Wahai saudariku, bertakwalah kepada Alloh dan berhiburlah dengan hiburan yang diberikan oleh Alloh. Ketahuilah dengan yakin sesungguhnya seluruh penduduk bumi ini pasti akan mati, dan para penduduk langit pun tidak ada yang kekal abadi. Sesungguhnya segala sesuatu itu pasti akan hancur binasa kecuali Wajah Alloh yang telah menciptakan seluruh makhluk dengan kekuasaan-Nya, yang mematikan mereka semua dengan keperkasaan serta keagungan-Nya, dan yang akan membangkitkan mereka kembali hingga mereka semua hidup kembali, sedangkan Dia adalah Robb Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal. Ketahuilah pula sesungguhnya ayahku adalah orang yang jauh lebih baik dariku, ibuku juga jauh lebih baik dariku, dan saudaraku (Al-Hasan) pun jauh lebih baik dariku. Dan sungguh bagi diriku, bagi mereka, serta bagi setiap orang Muslim, ada teladan yang sangat baik pada diri Rosululloh .” Kemudian beliau memberikan penekanan yang sangat tegas kepadanya agar ia tidak melakukan satu pun dari tindakan ratapan ini setelah kematian beliau nanti. Beliau lalu menggandeng tangannya dan menuntunnya kembali untuk didudukkan di dekatku. Setelah itu, beliau keluar menemui para pengikutnya lalu memerintahkan mereka untuk mendekatkan tenda-tenda mereka satu sama lain, hingga tali-tali pengikat tenda saling menyilang dan bertautan antara satu dengan yang lain. Beliau meminta agar mereka tidak menyisakan celah bagi pasukan musuh untuk bisa menerobos ke posisi mereka melainkan hanya melalui satu arah saja, dengan memposisikan tenda-tenda pelindung berada di sebelah kanan mereka, di sebelah kiri mereka, serta membenteng di bagian belakang punggung mereka.

 

[2] Malam Hari Sebelum Pertempuran Asyura

Al-Husain (61 H) dan para pengikut beliau menghabiskan sepanjang malam dengan melaksanakan Sholat, memohon ampunan, berdoa, dan merendahkan diri di hadapan Alloh. Sementara itu, pasukan penjaga dari pihak musuh terus berpatroli mengitari mereka dari belakang di bawah pimpinan ‘Azroh bin Qois Al-Ahmasi, sedangkan Al-Husain (61 H) sedang membaca ayat Al-Qur’an:

﴿وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ﴾

“Janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka di dunia itu baik bagi diri mereka. Sesungguhnya Kami memberikan tenggang waktu kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah, dan mereka akan mendapat adzab yang menghinakan. Alloh sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang Mu’min dalam keadaan kalian sekarang ini, hingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik.” (QS. Ali ‘Imron: 178-179)

Mendengar bacaan tersebut, salah seorang penunggang kuda dari pasukan patroli penjaga yang merupakan pengikut Ibnu Ziyad (67 H) berkata, “Demi Robb Pemilik Ka’bah, kamilah orang-orang yang baik itu. Alloh telah membedakan kami dari kalian.”

Rowi berkata, “Aku mengenali orang itu, lalu aku bertanya kepada Buroir bin Khudhoir, ‘Tahukah engkau siapa orang ini?’ Buroir menjawab, ‘Tidak.’”

Aku katakan, “Dia adalah Abu Harb As-Sabii, Abdulloh bin Syahr. Ia adalah seorang yang suka berguyon dan jenaka, namun ia juga seorang bangsawan yang pemberani lagi nekat. Seringkali Sa’id bin Qois menahannya karena suatu tindak kriminal yang dilakukannya.”

Maka Buroir bin Khudhoir berkata kepadanya, “Wahai orang fasik! Sejak kapan engkau termasuk golongan orang-orang yang baik?!” Orang itu balik bertanya, “Celaka engkau, siapa engkau sebenarnya?!”

Buroir menjawab, “Aku adalah Buroir bin Khudhoir.” Orang itu berkata, “Inna lillahi, demi Alloh engkau pasti binasa. Wahai Buroir, sungguh berat bagiku jika engkau sampai terbunuh.”

Rowi berkata, “Maka aku berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Harb, maukah engkau bertobat kepada Alloh dari dosa-dosamu yang besar?’”

“Demi Alloh, sesungguhnya kamilah orang-orang yang baik, sedangkan kalian adalah orang-orang yang buruk.”

Abu Harb menjawab, “Benar, dan aku termasuk orang yang bersaksi atas hal tersebut.”

“Celaka engkau! Mengapa pengetahuanmu itu tidak memberi manfaat bagimu?!”

Rowi melanjutkan, “Lalu ‘Azroh bin Qois, komandan pasukan patroli yang menjaga kami, membentaknya, sehingga Abu Harb pun pergi meninggalkan kami.”

 

[3] Persiapan Kedua Belah Pihak di Hari Asyura

Rowi berkata, “Ketika Umar bin Sa’ad (66 H) memimpin Sholat Shubuh bersama para pengikutnya pada hari Jumat—ada pula yang mengatakan hari Sabtu, dan hari itu bertepatan dengan hari Asyura—ia segera bersiap untuk bertempur. Al-Husain (61 H) juga melaksanakan Sholat bersama para pengikutnya yang berjumlah 32 penunggang kuda dan 40 pejalan kaki. Setelah selesai, beliau berbalik lalu mengatur barisan mereka. Beliau menempatkan Zuhair bin Al-Qoin di posisi sayap kanan, dan Habib bin Muzhohhir di posisi sayap kiri. Beliau menyerahkan panji kebesaran kepada saudara kandungnya, Al-Abbas bin Ali. Mereka menjadikan kemah-kemah yang berisi para wanita dan keluarga berada di belakang mereka. Sebelumnya, Al-Husain (61 H) telah memerintahkan sejak malam hari untuk menggali parit di belakang kemah-kemah mereka, lalu melemparkan kayu bakar, kayu besar, dan kayu rumput ke dalamnya, kemudian api pun dinyalakan; agar tidak ada seorang pun musuh yang dapat menyusup ke kemah-kemah mereka dari arah belakang.

Sementara itu, Umar bin Sa’ad (66 H) menempatkan ‘Amr bin Al-Hajjaj Az-Zubaidi di posisi sayap kanan, dan Syamir bin Dzi Al-Jau-syan (66 H) di posisi sayap kirinama asli Dzi Al-Jau-syan adalah Syurohbil bin Al-A’war bin ‘Amr bin Mu’awiyah dari kabilah Dhibab bin Kilab. Posisi pasukan berkuda diserahkan kepada ‘Azroh bin Qois Al-Ahmasi, sedangkan pasukan pejalan kaki dipimpin oleh Syabats bin Rib’i. Ia menyerahkan panji pasukannya kepada Dzuwaid, budaknya. Kedua kubu pun saling berhadapan di tempat tersebut. Kemudian Al-Husain (61 H) menuju ke sebuah kemah yang telah didirikan untuknya, lalu beliau mandi di dalamnya, memakai nuroh (ramuan penghilang bulu), dan memakai minyak kesturi yang sangat banyak. Setelah itu, beberapa pemimpin pasukan beliau masuk dan melakukan hal yang sama. Sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Apa-apaan melakukan ini di waktu seperti ini?’”

Maka sebagian yang lain menjawab, “Biarkan saja, demi Alloh, ini bukanlah waktu untuk bermain-main.”

Buroir bin Khudhoir ikut angkat bicara, “Demi Alloh, sungguh kaumku telah mengetahui bahwa aku tidak menyukai kebatilan, baik semasa muda maupun setelah tua. Akan tetapi, demi Alloh, aku benar-benar merasa gembira dengan apa yang akan kita hadapi. Demi Alloh, tidak ada penghalang antara kita dengan para bidadari yang bermata jeli melainkan pasukan itu menyerang kita lalu mereka membunuh kita.”

Kemudian Al-Husain (61 H) menunggangi kudanya, lalu mengambil se mushaf Al-Qur’an dan meletakkannya di hadapannya. Setelah itu beliau menghadap ke arah musuh sambil mengangkat kedua tangannya seraya memanjatkan doa yang telah disebutkan sebelumnya,

للَّهُمَّ أَنْتَ ثِقَتِي فِي كُلِّ كَرْبٍ، وَرَجَائِي فِي كُلِّ شِدَّةٍ

“Ya Alloh, Engkau adalah kepercayaanku dalam setiap kesusahan, dan harapanku dalam setiap kesulitan...”...hingga akhir doa.

Beliau juga menaikkan putranya, Ali bin Al-Husain—yang saat itu dalam keadaan lemah dan sakit—ke atas seekor kuda yang bernama Lahiq.

 

[4] Khutbah Al-Husain di Hadapan Pasukan Kufah

Al-Husain (61 H) berseru, “Wahai manusia, dengarkanlah nasihat yang akan aku sampaikan kepada kalian!” Seluruh manusia pun terdiam mendengarkan. Setelah memuji dan menyanjung Alloh, beliau berkata, “Wahai manusia, jika kalian menerima penjelasanku dan berbuat adil kepadaku, niscaya kalian akan menjadi orang yang paling bahagia karena hal itu, dan tidak ada jalan bagi kalian untuk menyerangku. Namun jika kalian tidak mau menerima penjelasanku, maka:

﴿فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ﴾

“Bulatkanlah keputusan kalian beserta sekutu-sekutu kalian, kemudian janganlah keputusan kalian itu menjadi kesamaran bagi kalian, lalu bertindaklah terhadap diriku dan janganlah kalian menunda lagi.” (QS. Yunus: 71)

Beliau juga membaca ayat:

﴿إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ﴾

“Sesungguhnya Pelindungku adalah Alloh yang telah menurunkan Al-Kitab, dan Dia melindungi orang-orang yang sholih.” (QS. Al-A’rof: 196)

Ketika para saudara perempuan dan putri-putri beliau mendengar ucapan tersebut, suara tangisan mereka pun pecah. Mengetahui hal itu, Al-Husain (61 H) berkata, “Sungguh benar saran Ibnu Abbas (68 H).”

Maksudnya adalah ketika Ibnu Abbas (68 H) menyarankan kepada beliau agar tidak membawa serta kaum wanita bersamanya, dan membiarkan mereka tetap tinggal di Makkah sampai urusan beliau menjadi teratur dan stabil.

Kemudian beliau mengutus saudaranya, Al-Abbas, dan putranya, Ali, untuk menenangkan mereka hingga mereka terdiam. Setelah itu, beliau mulai menyebutkan kepada orang-orang tentang keutamaan dirinya, keagungan nasabnya, tingginya kedudukan serta kemuliaannya. Beliau berkata, “Periksalah diri kalian masing-masing! Apakah pantas bagi kalian untuk memerangi orang seperti aku, padahal aku adalah putra dari putri Nabi kalian ? Di atas muka bumi ini tidak ada putra dari putri Nabi selain diriku. Ali adalah ayahku, Ja’far yang memiliki dua sayap di Jannah adalah pamanku, dan Hamzah penghulu para syuhada adalah paman ayahku. Rosululloh juga pernah bersabda kepadaku dan saudaraku:

«هَذَانَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ»

“Dua orang ini adalah penghulu para pemuda penduduk Jannah.” (HR. At-Tirmidzi no. 3768)

“Jika kalian membenarkan apa yang aku katakan, maka itulah yang hak. Demi Alloh, aku tidak pernah sengaja berdusta semenjak aku mengetahui bahwa Alloh murka terhadap perbuatan dusta. Namun jika kalian tidak mempercayainya, maka tanyakanlah hal itu kepada para Shohabat Rosululloh ; tanyakanlah kepada Jabir bin Abdulloh (78 H), Abu Sa’id (74 H), Sahl bin Sa’d (91 H), Zaid bin Arqom (68 H), dan Anas bin Malik (93 H). Mereka pasti akan mengabarkan hal itu kepada kalian. Celaka kalian!

Apakah kalian tidak taqwa kepada Alloh?! Apakah hal ini tidak cukup untuk mencegah kalian dari menumpahkan darahku?!”

Mendengar hal itu, Syamir bin Dzi Al-Jau-syan (66 H) menyahut, “Dia menyembah Alloh hanya di tepian saja, jika aku sampai memahami apa yang dia katakan.”

Maka Habib bin Muzhohhir berkata kepadanya, “Demi Alloh, wahai Syamir, sesungguhnya engkaulah yang menyembah Alloh di atas 70 tepian, dan engkau memang tidak paham apa yang dia katakan; karena Alloh telah mengunci mati hatimu.”

Kemudian Al-Husain (61 H) berkata lagi, “Wahai manusia, biarkanlah aku kembali ke tempat yang aman bagi diriku di bumi ini.”

Mereka menjawab, “Apa yang menghalangimu untuk tunduk pada keputusan sepupu-sepupumu?” Beliau menjawab, “Aku berlindung kepada Alloh untuk menyerahkan diriku kepada mereka seperti penyerahan orang yang hina, dan aku tidak akan menyatakan tunduk seperti tunduknya para budak. Wahai hamba-hamba Alloh:

﴿إِن عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ﴾

“Sesungguhnya aku berlindung kepada Robbku dan Robb kalian dari setiap orang yang sombong yang tidak beriman kepada hari perhitungan.” (QS. Ghofir: 27)

Kemudian beliau menderumkan unta kendaraannya, lalu memerintahkan ‘Uqbah bin Sam’an untuk mengikatnya. Setelah itu beliau berseru, “Katakanlah kepadaku, apakah kalian menuntutku karena ada seseorang dari kalian yang telah aku bunuh? Atau karena harta kalian yang telah aku makan?

Atau karena tuntutan qishosh akibat luka-luka?” Rowi berkata, “Mereka semua terdiam dan tidak berbicara sepatah kata pun kepada beliau.” Rowi melanjutkan, Lalu Al-Husain berseru: “Wahai Syabats bin Rib’i, wahai Hajjar bin Abjar, wahai Qois bin Al-Asy’ats, wahai Zaid bin Al-Harits, bukankah kalian yang telah menulis surat kepadaku yang isinya: buah-buahan telah matang, ladang-ladang telah menghijau, maka datanglah kepada kami, karena sesungguhnya engkau akan mendatangi pasukan yang telah siap sedia membelamu?

Mereka menjawab, “Kami tidak pernah melakukannya.” Beliau berkata, “Subhanalloh! Demi Alloh, kalian sungguh telah melakukannya.”

Kemudian beliau berkata, “Wahai manusia, jika kalian memang tidak menyukai kehadiranku, maka biarkanlah aku pergi meninggalkan kalian.”

Maka Qois bin Al-Asy’ats berkata kepada beliau, “Mengapa engkau tidak tunduk saja pada keputusan sepupu-sepupumu? Sesungguhnya mereka tidak akan menyakitimu, dan engkau tidak akan melihat dari mereka melainkan apa yang engkau sukai.”

Al-Husain (61 H) menjawab, “Engkau sama saja seperti saudaramu. Apakah engkau ingin agar Bani Hasyim menuntutmu dengan tuntutan yang lebih besar daripada darah Muslim bin ‘Aqil?

Tidak, demi Alloh, aku tidak akan menyerahkan diriku kepada mereka seperti penyerahan orang yang hina, dan aku tidak akan menyatakan tunduk kepada mereka seperti tunduknya para budak.”

 

[5] Pecahnya Pertempuran Karbala

Rowi berkata, Pasukan Kufah mulai bergerak maju mendekati beliau. Sementara itu, ada sekelompok orang berjumlah sekitar 30 penunggang kuda yang memisahkan diri dari pasukan musuh lalu bergabung ke kubu Al-Husain (61 H). Di antara mereka terdapat Al-Hurr bin Yazid, komandan pasukan barisan depan penduduk Kufah. Ia memohon maaf kepada Al-Husain (61 H) atas apa yang telah mereka lakukan sebelumnya.

Al-Hurr berkata, “Seandainya aku tahu mereka memiliki niat buruk seperti ini, niscaya aku lebih memilih berjalan bersamamu menuju Yazid (64 H).”

Al-Husain (61 H) pun menerima permohonan maafnya. Kemudian Al-Hurr maju ke depan barisan para pengikut Al-Husain (61 H) lalu menyeru Umar bin Sa’ad (66 H) dengan berkata, “Celaka kalian! Mengapa kalian tidak menerima satu pun dari 3 tawaran yang diajukan oleh putra dari putri Rosululloh kepada kalian?”

Umar bin Sa’ad (66 H) menjawab, “Seandainya keputusan itu ada di tanganku niscaya aku akan menerimanya, akan tetapi Ibnu Ziyad (67 H) menolaknya.” Kemudian Al-Hurr berbalik menyeru penduduk Kufah, ia mencela dan mengecam mereka seraya berkata, “Celaka kalian! Kalian telah mengundang beliau, namun setelah beliau datang kalian justru menelantarkannya. Tidak cukup sampai di situ, kalian bahkan datang untuk memeranginya, dan kalian bersama para wanita beliau dihalangi dari mendapatkan air Sungai Eufrat;  padahal air itu bebas diminum oleh orang Yahudi, Nashroni, Majusi, serta menjadi tempat berkubangnya babi-babi dan anjing-anjing pedalaman. Sekarang beliau menjadi seperti tawanan di tangan kalian, tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat maupun menolak mudhorot bagi dirinya sendiri.”

Rowi berkata, “Lalu Umar bin Sa’ad (66 H) maju ke depan dan berseru kepada budaknya: “Wahai Dzuwaid, dekatkan panjimu!”

Dzuwaid pun mendekatkannya. Kemudian Umar menyingsingkan lengan bajunya lalu melepaskan sebatang anak panah seraya berkata, “Saksikanlah bahwa akulah orang pertama yang melepaskan anak panah ke arah pasukan ini!”

Rowi berkata, Maka orang-orang pun saling menghujani dengan anak panah. Lalu keluarlah Yasar, budak Ziyad, dan Salim, budak Ubaidillah, seraya menantang: “Siapa yang berani maju berduel?”

Maka Abdulloh bin ‘Umair Al-Kalbi maju menghadapi keduanya setelah meminta izin kepada Al-Husain (61 H). Ia berhasil membunuh Yasar terlebih dahulu, kemudian membunuh Salim setelahnya. Sebelum tewas, Salim sempat menebaskan pedangnya hingga memutuskan jari-jari tangan kiri Abdulloh bin ‘Umair. Kemudian seorang lelaki bernama Abdulloh bin Hauzah merangsek maju.

Hingga ia berdiri di hadapan Al-Husain (61 H) lalu berkata kepada beliau, “Wahai Husain, bergembiralah engkau dengan kepastian masuk Naar!” Al-Husain (61 H) menjawab, “Sekali-kali tidak, celaka engkau! Sesungguhnya aku akan menghadap kepada Robb Yang Maha Penyayang lagi Pemberi syafaat yang ditaati. Justru engkaulah yang lebih pantas masuk Naar.”

Rowi berkata, Orang itu pun berbalik, lalu kudanya menyentakkannya hingga ia terjatuh, sementara kaki kirinya tersangkut pada pijakan kaki di pelana kuda.

Muslim bin ‘Awsajah segera menyergapnya lalu menebasnya hingga memutuskan kaki kanannya. Kuda orang itu berlari kencang membawanya pergi, sehingga tidak ada satu batu pun yang dilewatinya melainkan batu itu menghantam kepalanya hingga ia tewas.

Abu Mikhnaf (rowi lemah) meriwayatkan dari Abu Janab yang berkata, Ada seorang lelaki dari kalangan kami bernama Abdulloh bin ‘Umair dari Bani ‘Ulaim. Ia tinggal di Kufah dan membangun rumah di dekat sumur Al-Ja’d dari kabilah Hamdan. Ia memiliki seorang istri dari kabilah An-Namir bin Qosit. Ketika ia melihat orang-orang sedang bersiap-siap untuk pergi memerangi Al-Husain (61 H), ia berkata: “Demi Alloh, sesungguhnya aku adalah orang yang sangat bersemangat untuk memerangi orang-orang musyrik. Dan sungguh aku berharap bahwa jihadku bersama putra dari putri Rosululloh melawan orang-orang ini adalah lebih utama di sisi Alloh dan lebih berlimpah pahalanya daripada memerangi kaum musyrikin.”

Maka ia masuk menemui istrinya lalu mengabarkan tekad yang telah dibulatkannya itu. Istrinya pun berkata, “Keputusanmu sangat tepat, semoga Alloh memberikan taufik kepatuhan kepadamu dan membimbing urusanmu. Laksanakanlah, dan bawalah aku bersamamu.”

Rowi berkata, Maka ia keluar membawa istrinya pada malam hari hingga mendatangi Al-Husain (61 H).

Rowi kemudian menyebutkan kisah pelepasan anak panah oleh Umar bin Sa’ad (66 H), serta kisah terbunuhnya Yasar budak Ziyad dan Salim budak Ibnu Ziyad (67 H). Disebutkan pula bahwa Abdulloh bin ‘Umair meminta izin kepada Al-Husain (61 H) untuk maju menghadapi keduanya. Al-Husain (61 H) memandangnya, lalu beliau melihat seorang lelaki berkulit cokelat, berpostur tinggi, berotot lengan yang kuat, dan berbahu bidang. Maka Al-Husain (61 H) berkata, “Aku memperkirakan ia adalah seorang pembantai musuh yang tangguh dalam duel. Majulah jika engkau mau.”

Maka ia pun maju menghadapi keduanya, lalu mereka bertanya kepadanya, “Siapa engkau?” Ia pun menyebutkan nasabnya kepada mereka. Keduanya berkata, “Kami tidak mengenalmu.”

Maka Abdulloh bin ‘Umair berkata kepada mereka, “Wahai anak-anak pelacur! Apakah kalian enggan untuk berduel melawan salah seorang dari manusia?! Apakah ada orang yang maju menghadapi kalian berdua melainkan ia pasti lebih baik daripada kalian?” Kemudian ia menyerang Yasar dengan sengit hingga Yasar binasa seperti hari yang telah berlalu tanpa bekas. Ketika ia sedang sibuk menghadapi Yasar, tiba-tiba Salim budak Ibnu Ziyad (67 H) menyerangnya dari belakang sembari diteriaki oleh rekannya, “Budak itu telah mendekatimu!”

Rowi berkata, Abdulloh tidak menyadarinya sampai Salim telah menyergapnya dan menebas tangan kirinya hingga jari-jarinya putus. Namun lelaki dari kabilah Kalbi itu segera berbalik menyerang Salim, lalu menebasnya hingga tewas seraya mendendangkan syair:

Jika kalian tidak mengenaliku, akulah putra dari kabilah Kalbi, cukuplah garis keturunanku berada di perkampungan Bani ‘Ulaim.

Sesungguhnya aku adalah seorang lelaki yang memiliki kekuatan dan ketabahan, dan aku bukanlah orang yang lemah saat menghadapi kesusahan.

Aku menjamin kepadamu wahai Ummu Wahb, dengan tikaman dan tebasan yang bertubi-tubi di depan mereka.

Tebasan dari seorang pemuda yang beriman kepada Robbnya.

Mendengar hal itu, Ummu Wahb mengambil sebatang tiang kemah lalu berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, bertempurlah demi membela orang-orang yang baik, yaitu keturunan Muhammad !”

Abdulloh menghampirinya untuk membawanya kembali ke barisan para wanita, namun istrinya justru menarik-narik bajunya seraya berkata, “Biarkan aku bersamamu!”

Maka Al-Husain (61 H) menyerunya, “Kembalilah kepada kaum wanita dan duduklah bersama mereka, karena sesungguhnya tidak ada kewajiban bagi kaum wanita untuk bertempur.” Wanita itu pun patuh dan kembali bergabung bersama mereka.

Rowi berkata, Aksi duel satu lawan satu pun semakin marak terjadi pada hari itu antara kedua belah pihak, dan kemenangan dalam duel-duel tersebut diraih oleh para pengikut Al-Husain (61 H); karena kekuatan keberanian mereka yang luar biasa, serta kerelaan mereka untuk mati syahid, sebab tidak ada lagi benteng pelindung bagi mereka melainkan pedang-pedang mereka sendiri. Melihat hal itu, sebagian komandan pasukan menyarankan kepada Umar bin Sa’ad (66 H) agar menghentikan aksi duel satu lawan satu. Kemudian ‘Amr bin Al-Hajjaj selaku komandan sayap kanan pasukan musuh melancarkan serangan umum seraya berseru: “Perangilah orang-orang yang telah keluar dari koridor Din ini, serta memisahkan diri dari pemimpin dan al-jamaah!”

Maka Al-Husain (61 H) menyahut ucapannya, “Celaka engkau wahai Hajjaj! Apakah engkau menghasut manusia untuk menyerangku?! Apakah kami yang keluar dari koridor Din, sedangkan kalian yang kokoh di atasnya?! Kalian akan segera mengetahui apabila ruh kalian telah berpisah dari jasad kalian, siapakah yang lebih pantas untuk dibakar di dalam Naar.”

Dalam serangan umum ini, Muslim bin ‘Awsajah gugur, dan ia merupakan orang pertama yang terbunuh dari kalangan pengikut Al-Husain (61 H). Al-Husain (61 H) segera berjalan menghampirinya lalu mendoakan rohmat baginya saat ia berada di hembusan napas terakhirnya. Habib bin Muzhohhir berkata kepadanya, “Bergembiralah engkau dengan Jannah.”

Muslim menjawab dengan suara yang lirih, “Semoga Alloh memberikan kabar gembira yang baik kepadamu.” Kemudian Habib berkata lagi kepadanya, “Seandainya aku tidak tahu bahwa aku pun akan segera menyusul jejakmu setelah ini, niscaya aku akan melaksanakan apa saja yang engkau wasiatkan kepadaku.”

Maka Muslim bin ‘Awsajah berkata kepadanya, “Aku mewasiatkan kepadamu untuk menjaga orang ini—seraya menunjuk ke arah Al-Husain (61 H)—agar engkau mati demi membelanya.”

Rowi berkata, Kemudian Syamir bin Dzi Al-Jau-syan (66 H) melancarkan serangan bersama pasukan sayap kiri, mereka merangsek menuju ke arah Al-Husain (61 H). Namun pasukan berkuda dari pengikut beliau memberikan perlawanan yang sangat luar biasa dan bertempur dengan sangat gigih demi membela beliau. Karena kewalahan, pasukan musuh mengirim utusan untuk meminta bantuan tambahan berupa pasukan pemanah berjalan kaki kepada Umar bin Sa’ad (66 H). Umar pun mengirimkan sekitar 500 pasukan pemanah kepada mereka. Pasukan pemanah tersebut mulai menghujani kuda-kuda milik pengikut Al-Husain (61 H) dengan anak panah, hingga mereka melumpuhkan semua kuda tersebut dan menjadikannya mati, sampai-sampai seluruh pengikut beliau terpaksa bertempur sebagai pasukan berjalan kaki. Ketika kuda milik Al-Hurr bin Yazid dilumpuhkan, ia segera turun dari atas kudanya dengan pedang terhunus di tangannya bagaikan seekor singa yang tangguh seraya mendendangkan syair:

Jika kalian melumpuhkan kudaku, sesungguhnya aku adalah Al-Hurr, yang lebih berani daripada singa hutan yang berbulu lebat.

Dikatakan pula bahwa Umar bin Sa’ad (66 H) memerintahkan untuk merobohkan bangunan kemah-kemah yang menghalangi jalannya pertempuran dari arah sampingnya. Namun setiap kali ada orang yang mencoba merobohkannya, para pengikut Al-Husain (61 H) langsung membunuhnya. Melihat hal itu, Umar memerintahkan untuk membakarnya. Maka Al-Husain (61 H) berkata, “Biarkan saja mereka membakarnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan sanggup menerobos dari arah kemah-kemah itu setelah hangus terbakar.”

Kemudian datanglah Syamir bin Dzi Al-Jau-syan (66 H)—semoga Alloh menghinakannya—menuju kemah utama Al-Husain (61 H). Ia menusuk kemah tersebut dengan tombaknya lalu berseru, “Bawakan api kemari agar aku dapat membakar kemah ini beserta seluruh orang yang ada di dalamnya!”

Mendengar hal itu, kaum wanita menjerit ketakutan dan berlarian keluar dari dalam kemah. Al-Husain (61 H) berseru kepadanya, “Apakah engkau berniat membakar keluargaku?! Semoga Alloh membakarmu dengan api Naar!”

Lalu Syabats bin Rib’i mendatangi Syamir—semoga Alloh menghinakannya—dan menegurnya, “Aku tidak pernah melihat ucapan dan sikap yang lebih buruk daripada apa yang engkau lakukan ini! Apakah engkau ingin menakut-nakuti kaum wanita?!”

Maka Syamir pun merasa malu lalu berniat untuk mundur kembali. Hamid bin Muslim menceritakan, Aku berkata kepada Syamir: “Subhanalloh! Sesungguhnya tindakan ini tidak pantas engkau lakukan! Apakah engkau ingin menimpakan pada dirimu sendiri 2 dosa besar sekaligus; yaitu diadzab dengan adzab Alloh, dan membunuh anak-anak serta kaum wanita?! Demi Alloh, sesungguhnya dengan tindakanmu membunuh para lelaki saja itu sudah cukup untuk membuat gubernurmu merasa puas.”

Hamid berkata: Lalu Syamir bertanya kepadaku: “Siapa engkau?” Aku menjawab: “Aku tidak akan memberitahukan kepadamu siapa diriku.” Aku sengaja menyembunyikannya karena khawatir jika aku memberitahunya lalu ia mengenaliku, ia akan mencelakakan diriku di hadapan penguasa.

Kemudian Zuhair bin Al-Qoin bersama beberapa lelaki dari pengikut Al-Husain (61 H) melancarkan serangan balasan yang sengit terhadap Syamir bin Dzi Al-Jau-syan (66 H) hingga mereka berhasil mendesaknya mundur dari kedudukannya. Mereka juga berhasil membunuh Abu ‘Azzah Adh-Dhibabi yang merupakan salah satu anak buah Syamir. Setiap kali ada seorang pengikut Al-Husain (61 H) yang gugur, maka celah kelonggaran dalam barisan mereka akan langsung terlihat jelas. Sebaliknya, apabila ada banyak korban yang tewas dari pihak pengikut Ibnu Ziyad (67 H), hal itu sama sekali tidak memberikan pengaruh yang tampak pada barisan mereka karena jumlah mereka yang sangat melimpah. Ketika waktu Sholat Zhuhur telah masuk, Al-Husain (61 H) berkata: “Serulah mereka agar menghentikan pertempuran sejenak sampai kita melaksanakan Sholat.”

Tiba-tiba salah seorang penduduk Kufah berteriak, “Sesungguhnya Sholat kalian tidak akan diterima oleh Alloh!” Maka Habib bin Muzhohhir membentaknya, “Celaka engkau! Apakah Sholat dari kalian akan diterima, sedangkan Sholat dari keluarga Rosululloh tidak diterima?!”

Kemudian Habib bertempur dengan sangat sengit hingga akhirnya ia gugur—semoga Alloh melimpahkan rohmat kepadanya—lalu kepala beliau dipenggal dan dibawa ke hadapan Ibnu Ziyad (67 H).

[6] Detik-Detik Akhir Pertempuran dan Gugurnya Keluarga serta Pembela Al-Husain

Kemudian Al-Husain melaksanakan Sholat Zhuhur bersama para Shohabatnya dengan cara Sholat Khouf. Setelah itu, mereka kembali bertempur setelahnya dengan sengit. Pasukan musuh berhasil menjangkau posisi Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu, namun para tokoh terkemuka dari sahabatnya terus membela dan melindungi beliau. Hingga akhirnya Zuhair bin Al-Qoin gugur di hadapan Al-Husain. Nafi’ bin Hilal Al-Jamali juga bertempur dengan gagah berani melindungi beliau, ia berhasil membunuh 12 orang dari pasukan Umar bin Sa’ad, di luar dari korban-korban yang terluka. Kemudian ia ditawan setelah kedua lengan atasnya patah, dan meskipun dalam kondisi terluka parah seperti itu, Syamir bin Dzi Al-Jausyan tetap memenggal lehernya di hadapan Umar bin Sa’ad. Setelah itu, Syamir menyerang para sahabat Al-Husain sambil bersyair:

“Biarkanlah para musuh Alloh itu, biarkanlah mereka menghadapi Syamir... Yang menebas mereka dengan pedangnya dan tidak akan pernah melarikan diri.”

Musuh benar-benar mengepung mereka dengan tekad bulat dari segala arah dan jumlah mereka semakin berlipat ganda menyudutkan mereka. Para sahabat Al-Husain gugur satu demi satu di hadapan beliau, hingga tidak ada lagi yang tersisa bersamanya kecuali Suwaid bin ‘Amr bin Abi Al-Mutho’ Al-Khats’ami.

Orang pertama yang gugur dari kalangan Bani Abi Tholib pada hari itu adalah ‘Ali Al-Akbar bin Al-Husain bin ‘Ali. Ibunya bernama Laila binti Abi Murroh bin ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqofi. Murroh bin Munqidz bin An-Nu’man Al-‘Abdi menikamnya hingga ia gugur. Diriwayatkan bahwa ia sempat bertempur demi membela ayahnya sambil mengumandangkan syair:

“Akulah ‘Ali bin Husain bin ‘Ali... Demi Robb Pemilik Ka’bah, kamilah yang lebih berhak atas Nabi.”

“Demi Alloh, anak yang tidak jelas nasabnya itu tidak akan bisa mengatur urusan kami... Bagaimana kalian melihat hari ini pembelaanku terhadap ayahku?”

Ketika Murroh menikamnya, pasukan musuh langsung mengepungnya dari segala penjuru, lalu mereka mencabik-cabiknya dengan pedang mereka. Melihat hal itu, Al-Husain berkata: “Semoga Alloh membinasakan kaum yang telah membunuhmu wahai anakku! Alangkah beraninya mereka terhadap Alloh dan dalam melanggar hal-hal yang diharomkan-Nya! Setelah kepergianmu, dunia ini tidak lagi ada kebaikannya.”

Rowi berkata: Lalu muncullah seorang wanita muda yang kecantikannya bagaikan matahari yang bersinar terang, ia meratap: “Wahai saudaraku, wahai anak saudaraku!” Ternyata wanita itu adalah Zainab binti ‘Ali yang lahir dari Fatimah, ia langsung merebahkan dirinya di atas jasad ‘Ali Al-Akbar yang telah terbujur kaku.

Rowi melanjutkan: Kemudian Al-Husain datang dan memegang tangannya, lalu membimbingnya masuk ke dalam tenda besar. Al-Husain lalu memerintahkan agar jasad anaknya dipindahkan dari tempat itu ke hadapan beliau di dekat tenda besarnya. Setelah itu, gugurlah Abdulloh bin Muslim bin ‘Aqil. Kemudian gugur pula ‘Aun dan Muhammad, keduanya adalah putra Abdulloh bin Ja’far. Selanjutnya gugur Abdurrohman dan Ja’far, keduanya adalah putra ‘Aqil bin Abi Tholib. Setelah itu, gugur Al-Qosim bin Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Tholib.

Berkata Abu Mikhnaf (lemah, 157 H): Dan telah menceritakan kepadaku Fudhoil bin Khodij Al-Kindi bahwa Yazid bin Ziyad—ia adalah seorang pemanah ulung yang dikenal dengan julukan Abu Asy-Sya’tsa’ Al-Kindi dari Bani Bahdalah—berlutut di hadapan Al-Husain. Ia melepaskan 100 anak panah, dan tidak ada yang meleset jatuh ke tanah kecuali hanya 5 anak panah saja. Ketika selesai memanah, ia berkata: “Telah jelas bagiku bahwa aku telah membunuh 5 orang.” Ia termasuk di antara orang-orang pertama yang gugur, dan syair yang ia lantunkan hari itu adalah:

“Akulah Yazid dan ayahku adalah Muhashir... Lebih berani daripada singa hutan di sarangnya.”

“Wahai Robb, sesungguhnya aku adalah pembela Al-Husain... Dan aku meninggalkan serta menjauhi Ibnu Sa’ad.”

Para rowi menceritakan: Al-Husain sempat bertahan dalam waktu yang cukup lama di siang hari itu. Setiap kali ada seorang lelaki musuh yang mendekat untuk menyerang, lelaki itu pasti mundur kembali darinya; mereka tidak ada yang mau menyandang dosa akibat membunuh beliau. Hingga akhirnya datanglah seorang lelaki dari Bani Baddā’ yang dipanggil Malik bin An-Nusair. Ia menebas kepala Al-Husain dengan pedang hingga melukainya. Saat itu beliau mengenakan sebuah penutup kepala, sehingga penutup kepala itu pun penuh dengan lumuran darah. Al-Husain lalu berkata kepadanya: “Semoga kamu tidak bisa makan dan minum dengan tanganmu itu, dan semoga Alloh mengumpulkanmu bersama orang-orang yang zholim.”

Kemudian Al-Husain melemparkan penutup kepala tersebut, lalu meminta sorban dan memakainya. Rowi menceritakan: Kemudian Al-Husain merasa sangat letih, lalu beliau duduk di depan pintu tenda besarnya. Tiba-tiba dibawakanlah seorang anak kecil yang masih bayi dari anak-anak beliau, lalu beliau mendudukkannya di pangkuannya. Beliau mulai menciumnya, mencium aromanya, mengucapkan perpisahan, serta memberikan wasiat kepada keluarganya. Tiba-tiba seorang lelaki dari Bani Asad yang dijuluki Ibnu Muqid An-Naar memanahnya dengan sebatang anak panah, sehingga anak panah itu langsung menyembelih leher anak kecil tersebut. Al-Husain menampung aliran darah anaknya dengan telapak tangannya lalu melontarkannya ke arah langit seraya berdoa: “Wahai Robb, jika Engkau menahan kemenangan dari langit untuk kami, maka jadikanlah sisa urusan ini untuk sesuatu yang lebih baik, dan balaslah perbuatan orang-orang yang zholim ini demi kami.”

Abdulloh bin ‘Uqbah Al-Ghonawi juga memanah Abu Bakr bin Al-Husain dengan anak panah hingga membunuhnya. Kemudian gugur pula Abdulloh, Al-‘Abbas, ‘Utsman, Ja’far, dan Muhammad, mereka semua adalah putra-putra ‘Ali bin Abi Tholib yang merupakan saudara-saudara seayah Al-Husain rodhiyallahu ‘anhum ajma’in. Rasa haus yang dialami Al-Husain pun semakin memuncak, beliau berusaha keras untuk menjangkau air sungai Eufrat, namun pasukan musuh menghalang-halangi beliau. Akhirnya beliau berhasil mendapatkan seteguk air, namun ketika beliau hendak meminumnya, Hushoin bin Numair memanah beliau dengan anak panah yang tepat mengenai langit-langit mulutnya hingga menancap kuat. Al-Husain pun mencabut anak panah itu dari langit-langit mulutnya, lalu darah segar memancar deras. Beliau menampung darah tersebut dengan kedua telapak tangannya, kemudian mengangkat kedua tangannya yang telah penuh dengan lumuran darah ke arah langit, lalu membuang darah tersebut ke atas seraya berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْصِهِمْ عَدَدًا وَاقْتُلْهُمْ بِدَدًا، وَلَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنْهُمْ أَحَدًا

“Ya Alloh, hitunglah jumlah mereka, binasakanlah mereka sampai binasa sama sekali, dan janganlah Engkau sisakan seorang pun dari mereka di muka bumi ini!” Beliau memanjatkan doa keburukan atas mereka dengan doa yang sangat mendalam.

Kemudian Syamir datang bersama sekelompok prajurit yang pemberani hingga mereka mengepung Al-Husain yang saat itu berada di dekat tenda besarnya. Tidak ada seorang pun yang tersisa bersama beliau untuk menghalangi antara mereka dan beliau. Tiba-tiba muncul seorang anak kecil yang berlari kencang dari arah tenda-tenda, penampilannya seindah bulan purnama dengan dua buah anting mutiara yang berayun-ayun di kedua telinganya. Zainab binti ‘Ali keluar untuk menahannya agar kembali, namun anak itu menolak. Ia datang untuk melindungi pamannya. Tiba-tiba seorang lelaki dari pasukan musuh menebasnya dengan pedang. Anak itu berusaha menangkisnya dengan tangannya, namun tebasan itu memutuskan tangannya hingga hanya menyisakan kulit yang menggantung, ia pun berteriak: “Wahai ayahku!” Al-Husain berkata kepadanya: “Wahai anakku, ikhlaskanlah pahalamu di sisi Alloh, karena sesungguhnya kamu akan segera menyusul leluhurmu yang sholih.”

Kemudian pasukan musuh menyerbu Al-Husain dari segala penjuru, sementara beliau terus bergerak di tengah-tengah mereka seraya mengayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Mereka pun kocar-kacir menjauh dari beliau laksana kambing-kambing yang lari ketakutan dari terkaman binatang buas. Saudara perempuannya, Zainab binti Fatimah, keluar mendekati beliau seraya berkata: “Aduhai, sekiranya langit runtuh menimpa bumi.”

Umar bin Sa’ad pun datang mendekat, lalu Zainab berkata: “Wahai Umar, apakah kamu ridho Abu Abdillah dibunuh sementara kamu hanya berdiri menyaksikannya?” Air mata Umar bin Sa’ad pun menetes mengalir membasahi janggutnya, dan ia memalingkan wajahnya dari Zainab. Setelah itu, tidak ada seorang pun yang berani maju untuk membunuhnya, hingga Syamir bin Dzi Al-Jausyan berteriak: “Celaka kalian! Apa lagi yang kalian tunggu dari lelaki ini? Bunuhlah dia, semoga ibu-ibu kalian kehilangan kalian!”

Maka pasukan musuh langsung menyerbu Al-Husain dari segala penjuru. Zur’ah bin Syarik At-Tamimi menebas telapak tangan kiri beliau serta menebas bahunya, kemudian mereka mundur sejenak meninggalkan beliau dalam kondisi kepayahan hingga bangkit dan tersungkur berulang kali. Setelah itu, datanglah Sinan bin Anas bin ‘Amr An-Nakho’i lalu menikam beliau dengan tombak hingga beliau terjatuh. Sinan kemudian turun lalu menyembelih beliau dan memenggal kepalanya, setelah itu ia menyerahkan kepala beliau kepada Khowali bin Yazid. Ada pula yang berpendapat bahwa yang membunuh beliau adalah Syamir bin Dzi Al-Jausyan. Pendapat lain mengatakan seorang lelaki dari kabilah Madzhij. Ada juga yang mengatakan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqosh. Namun pendapat terakhir ini sama sekali tidak ada artinya, karena Umar bin Sa’ad hanyalah berkedudukan sebagai panglima pasukan yang membunuh Al-Husain saja.

Sinan dan prajurit lainnya merampas harta benda yang melekat pada jasad beliau. Orang-orang pun saling memperebutkan harta, perbekalan, serta apa saja yang ada di dalam tenda beliau, bahkan sampai pakaian luar yang dikenakan oleh para wanita pun ikut dirampas.

Berkata Abu Mikhnaf (lemah, 157 H) dari Ja’far bin Muhammad, ia berkata: “Ditemukan pada jasad Al-Husain ketika beliau gugur sebanyak 33 luka tikaman tombak dan 34 luka tebasan pedang.”

Syamir bin Dzi Al-Jausyan sempat berniat untuk membunuh ‘Ali bin Al-Husain Al-Ashghor yang bergelar Zainal ‘Abidin, yang saat itu masih kecil dan dalam keadaan sakit, namun Humaid bin Muslim—salah seorang dari pasukan mereka—berhasil mencegahnya dari tindakan tersebut. Umar bin Sa’ad kemudian datang dan berseru: “Ingatlah, tidak boleh ada seorang pun yang masuk ke tempat para wanita ini, dan tidak boleh ada seorang pun yang membunuh anak ini! Siapa saja yang telah mengambil barang-barang milik mereka, maka hendaklah ia mengembalikannya kepada mereka!”

Rowi berkata: Namun demi Alloh, tidak ada seorang pun yang mengembalikan barang apa pun. ‘Ali bin Al-Husain lalu berkata kepada Umar bin Sa’ad: “Semoga kamu dibalas dengan kebaikan, karena sungguh Alloh telah menghindarkan keburukan dariku dengan ucapanmu itu.”

Para rowi menceritakan: Kemudian Sinan bin Anas mendatangi pintu tenda besar Umar bin Sa’ad lalu berseru dengan suara yang sangat lantang:

“Penuhilah tungganganku dengan perak dan emas... Karena aku telah membunuh seorang raja yang mulia kedudukannya.”

“Aku telah membunuh manusia yang terbaik ibu dan ayahnya... Serta manusia yang paling mulia jika dirunut silsilah nasabnya.”

Umar bin Sa’ad berkata: “Bawa dia masuk menemuiku!” Ketika Sinan masuk, Umar langsung mencambuknya dengan cemeti seraya berkata: “Celaka kamu, apakah kamu sudah gila?! Demi Alloh, seandainya Ibnu Ziyad mendengar kamu mengucapkan bait-bait syair ini, niscaya ia akan memenggal lehermu.”

Umar bin Sa’ad memberikan pengampunan kepada ‘Uqbah bin Sam’an setelah ‘Uqbah memberitahunya bahwa ia hanyalah seorang budak, sehingga tidak ada yang selamat dari rombongan mereka selain dirinya. Sementara Al-Muroqqo’ bin Tsumamah ditawan, namun kemudian Ibnu Ziyad memberikan pengampunan kepadanya.

Jumlah korban yang gugur dari kalangan sahabat Al-Husain adalah 72 jiwa. Penduduk Al-Ghodhiriyyah dari kalangan Bani Asad memakamkan jasad-jasad mereka 1 hari setelah mereka gugur, semoga Alloh merohmati mereka dan memuliakan kedudukan mereka.

 

[7] Riwayat Mengenai Jumlah Korban dari Ahli Bait

Diriwayatkan dari Muhammad ibnul Hanafiyyah bahwa ia berkata:

قُتِلَ مَعَ الْحُسَيْنِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا، كُلُّهُمْ مِنْ أَوْلَادِ فَاطِمَةَ

“Telah gugur bersama Al-Husain 17 orang lelaki, yang semuanya merupakan keturunan dari Fatimah.”

Dan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwasanya ia berkata:

قُتِلَ مَعَ الْحُسَيْنِ سِتَّةَ عَشَرَ رَجُلًا، كُلُّهُمْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، مَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ يَوْمَئِذٍ لَهُمْ شِبْهٌ.

“Telah gugur bersama Al-Husain 16 orang lelaki yang semuanya merupakan bagian dari ahli baitnya, yang mana pada hari itu tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang menyerupai kemuliaan mereka.”

Rowi lain mengatakan: Telah gugur bersama beliau dari kalangan anak-anaknya, saudara-saudaranya, serta ahli baitnya sebanyak 23 orang lelaki. Dari putra-putra ‘Ali rodhiyallahu ‘anhu adalah Ja’far, Al-Husain, Al-‘Abbas, Muhammad, ‘Utsman, dan Abu Bakr. Dari putra-putra Al-Husain adalah ‘Ali Al-Akbar dan Abdulloh. Dari putra-putra saudaranya yaitu Al-Hasan ada 3 orang, yaitu Abdulloh, Al-Qosim, dan Abu Bakr, mereka semua adalah putra-putra Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Tholib. Dari putra-putra Abdulloh bin Ja’far ada 2 orang, yaitu ‘Aun dan Muhammad. Dari putra-putra ‘Aqil adalah Ja’far, Abdulloh, Abdurrohman, serta Muslim yang telah gugur sebelum peristiwa ini sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya. Mereka ini adalah 4 orang anak kandungnya secara langsung, ditambah 2 orang lainnya yaitu Abdulloh bin Muslim bin ‘Aqil dan Muhammad bin Abi Sa’id bin ‘Aqil, sehingga jumlahnya menjadi genap 6 orang dari keturunan ‘Aqil. Mengenai mereka inilah seorang penyair melantunkan baitnya:

“Ratapilah 9 orang putra kandung ‘Ali yang telah tertimpa musibah petaka, serta 6 orang keturunan ‘Aqil.”

“Dan orang yang memiliki nama yang sama dengan Nabi ikut terbunuh di tengah-tengah mereka, sungguh musuh telah menebas mereka dengan pedang yang tajam lagi mengkilap.”

Di antara orang yang gugur bersama Al-Husain di Karbala adalah saudara sepersusuannya dari pihak ibu, yaitu Abdulloh bin Buqthur. Namun ada pula yang berpendapat bahwa ia sebetulnya telah gugur sebelum peristiwa itu, yaitu ketika Al-Husain mengutusnya untuk membawa surat kepada penduduk Kufah, lalu ia ditangkap dan dibawa kepada Ibnu Ziyad kemudian Ibnu Ziyad membunuhnya.

Sementara itu, korban yang tewas dari pihak penduduk Kufah yang termasuk dalam pasukan Umar bin Sa’ad adalah sebanyak 88 orang lelaki, di luar korban-korban yang mengalami luka-luka. Umar bin Sa’ad kemudian mensholatkan jenazah mereka lalu memakamkannya.

 

[8] Perlakuan Terhadap Jasad Al-Husain dan Pemindahan Kepala Beliau

Dikatakan bahwa Umar bin Sa’ad memerintahkan 10 orang pasukan berkuda untuk menginjak-injak jasad Al-Husain dengan kuda-kuda mereka hingga jasad beliau hancur menyatu dengan tanah pada hari pertempuran tersebut. Pada hari itu juga, kepala beliau langsung dikirim kepada Ibnu Ziyad dengan dibawa oleh Khowali bin Yazid Al-Ashbahi. Ketika Khowali sampai di istana gubernur, ia mendapati pintu istana telah terkunci rapat. Ia pun akhirnya pulang ke rumahnya lalu meletakkan kepala beliau di bawah sebuah tempayan air besar. Ia berkata kepada istrinya yang bernama Nawar binti Malik: “Aku datang kepadamu dengan membawa kejayaan sepanjang masa.” Istrinya bertanya: “Apakah itu?” Ia menjawab: “Ini adalah kepala Al-Husain.” Istrinya langsung berseru: “Orang-orang pulang membawa emas dan perak, sedangkan kamu pulang membawa kepala putra dari putri Rosululloh ?! Demi Alloh, tempat tidur tidak akan pernah menyatukan aku dan kamu lagi selama-lamanya!”

Istrinya pun langsung bangkit meninggalkannya dari tempat tidur tersebut. Khowali kemudian memanggil istrinya yang lain yang berasal dari kabilah Bani Asad, lalu istri keduanya itu tidur menemaninya. Istri kedua ini menceritakan: “Demi Alloh, aku terus-menerus melihat cahaya yang memancar terang vertikal dari tempayan air tersebut menjulang tinggi ke arah langit, serta burung-burung berwarna putih terbang mengepakkan sayapnya berputar-putar di sekeliling tempayan itu.”

Ketika pagi hari telah tiba, Khowali membawa kepala beliau pergi menemui Ibnu Ziyad, lalu ia menyerahkannya di hadapan Ibnu Ziyad. Dikatakan pula bahwa bersamanya diikutsertakan pula kepala-kepala para sahabat beliau yang tersisa, dan pendapat inilah yang masyhur. Jumlah keseluruhannya adalah 72 kepala, hal itu karena tidak ada satu pun korban yang gugur melainkan mereka pasti memenggal kepalanya lalu membawanya kepada Ibnu Ziyad. Setelah itu, Ibnu Ziyad mengirimkan kepala-kepala tersebut kepada Yazid bin Mu’awiyah ke negeri Syam.

 

[9] Riwayat-Riwayat Mengenai Kepala Al-Husain di Hadapan Ibnu Ziyad

Berkata Imam Ahmad (241 H): Telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Muhammad, dari Anas, ia berkata:

أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ، فَجُعِلَ فِي طَسْتٍ، فَجَعَلَ يَنْكُتُ عَلَيْهِ، وَقَالَ فِي حُسْنِهِ شَيْئًا، فَقَالَ أَنَسٌ: إِنَّهُ كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ ، وَكَانَ مَخْضُوبًا بِالْوَسْمَةِ

“Kepala Al-Husain dibawa ke hadapan Ubaidulloh bin Ziyad, lalu diletakkan di dalam sebuah wadah kuningan besar. Ibnu Ziyad pun mulai mengetuk-ngetuk kepala tersebut dengan tongkat kecil seraya berkomentar sedikit tentang ketampanannya. Maka Anas berkata: ‘Sesungguhnya beliau adalah orang yang paling mirip di antara mereka dengan Rosululloh , dan rambut beliau saat itu diwarnai dengan al-wasmah (tumbuhan untuk menyemir rambut hitam).”

Dan riwayat ini disampaikan pula oleh Al-Bukhori (256 H) dalam kitab Al-Manaqib dari Muhammad bin Al-Husain bin Ibrohim—ia adalah Ibnu Isykab—dari Husain bin Muhammad, dari Jarir bin Hazim, dari Muhammad bin Sirin, dari Anas, lalu ia menyebutkan riwayat tersebut.

Dan riwayat ini disampaikan pula oleh At-Tirmidzi (279 H) dari Hadits Hafshoh binti Sirin, dari Anas, dan ia berkata: Hadits ini hasan shohih.

Berkata Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar (292 H): Telah menceritakan kepada kami Mufarrij bin Syuja’ bin Ubaidulloh Al-Maushili, telah menceritakan kepada kami Ghossan bin Ar-Rabi’, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin ‘Abdah, dari Tsabit dan Humaid, dari Anas, ia berkata:

لَمَّا أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ جَعَلَ يَنْكُتُ بِالْقَضِيبِ ثَنَايَاهُ، يَقُولُ لَقَدْ كَانَ - أَحْسَبُهُ قَالَ - جَمِيلًا. فَقُلْتُ: وَاللَّهِ لَأَسُوءَنَّكَ، إِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَلْثَمُ حَيْثُ يَقَعُ قَضِيبُكَ

“Ketika kepala Al-Husain dibawa ke hadapan Ubaidulloh bin Ziyad, ia mulai mengetuk-ngetuk gigi seri beliau dengan sebatang tongkat kecil seraya berkata: ‘Sungguh orang ini orang yang tampan.’ Maka aku (Anas) berkata: ‘Demi Alloh, aku benar-benar akan membuatmu merasa bersalah, sesungguhnya aku pernah melihat Rosululloh mencium bagian yang sedang diketuk oleh tongkatmu itu.” Rowi berkata: Maka Ibnu Ziyad pun langsung terdiam menahan diri.

Al-Bazzar (292 H) meriwayatkan Hadits ini secara bersendiri dari jalur periwayatan ini, dan ia berkata: Kami tidak mengetahui ada orang lain yang meriwayatkannya dari Humaid selain Yusuf bin ‘Abdah, ia adalah seorang lelaki dari penduduk Bashroh yang masyhur dan tidak ada masalah pada dirinya.

Dan riwayat ini disampaikan pula oleh Abu Ya’la Al-Maushili (307 H), dari Ibrohim bin Al-Hajjaj, dari Hammad bin Salamah, dari ‘Ali bin Zaid, dari Anas, lalu ia menyebutkan riwayat tersebut.

Dan riwayat ini disampaikan pula oleh Qurroh bin Kholid, dari Al-Hasan, dari Anas, lalu ia menyebutkan riwayat tersebut.

Abu Mikhnaf (lemah) berkata, dari Sulaiman bin Abi Rosyid, dari Humaid bin Muslim, dia berkata: Umar bin Sa’ad memanggilku lalu mengutusku kepada keluarganya untuk menyampaikan kabar gembira mengenai kemenangan yang Alloh berikan kepadanya dan keselamatan dirinya. Maka aku segera berangkat hingga mendatangi keluarganya dan memberitahukan hal itu kepada mereka. Kemudian aku kembali pergi hingga masuk ke tempat Ibnu Ziyad.

Lalu aku mendapati Ibnu Ziyad sedang duduk menemui orang-orang, dan utusan yang baru tiba telah masuk menemuinya. Aku pun masuk bersama orang-orang yang masuk. Tiba-tiba aku melihat kepala Al-Husain diletakkan di hadapannya, dan dia tampak mengetuk-ngetuk dengan tongkat kecil ke bagian antara dua gigi seri Al-Husain sesaat. Maka Zaid bin Arqom (68 H) berkata kepadanya: “Angkat tongkat kecil ini dari kedua gigi seri ini! Demi Alloh yang tidak ada sembahan yang haq selain Dia, sungguh aku telah melihat kedua bibir Rosululloh berada di atas kedua bibir ini untuk menciumnya.”

Kemudian orang tua itu menangis tersedu-sedu. Maka Ibnu Ziyad berkata kepadanya: “Semoga Alloh membuat kedua matamu menangis! Demi Alloh, jikalau bukan karena kamu seorang lelaki tua yang telah pikun (berkurang ingatan) dan telah hilang akalmu, niscaya aku akan memenggal lehermu.”

Humaid bin Muslim berkata: Maka Zaid bin Arqom bangkit lalu keluar.

Ketika dia keluar, orang-orang berkata: “Demi Alloh, sungguh Zaid bin Arqom telah mengucapkan suatu perkataan yang andai saja didengar oleh Ibnu Ziyad niscaya dia akan membunuhnya.”

Humaid bin Muslim berkata: Maka aku bertanya: “Apa yang dia katakan?” Mereka menjawab: “Dia melewati kami seraya berkata: ‘Seorang budak telah menguasai budak lainnya, lalu dia menjadikan mereka sebagai harta warisan. Kalian wahai sekalian bangsa Arob, telah menjadi budak setelah hari ini. Kalian telah membunuh putra Fathimah, dan kalian mengangkat putra Marjanah sebagai pemimpin, sehingga dia membunuh orang-orang terbaik kalian dan memperbudak orang-orang jahat kalian. Kalian telah ridho dengan kehinaan, maka kebinasaanlah bagi orang yang ridho dengan kehinaan.’”

Riwayat ini telah diriwayatkan pula dari jalur Abu Dawud As-Sabi’i, dari Zaid bin Arqom dengan yang semisal dengannya. Dan At-Thobarani (360 H) meriwayatkannya dari jalur Tsabit, dari Zaid.

 

[10] Balasan Atas Ubaidillah bin Ziyad

Sungguh At-Tirmidzi (279 H) telah berkata: Washil bin Abdul A’la menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Umaroh bin Umair, dia berkata:

“Ketika kepala Ubaidillah bin Ziyad dan kepala para pengikutnya didatangkan (beberapa tahun setelah wafatnya Husain), kepala-kepala itu ditegakkan di Masjid di bagian tanah yang lapang. Lalu aku sampai kepada mereka, sedangkan mereka sedang berkata: ‘Ia telah datang, ia telah datang.

Tiba-tiba seekor ular telah datang menyelinap di antara kepala-kepala tersebut hingga masuk ke dalam kedua lubang hidung Ubaidillah bin Ziyad, lalu ular itu berdiam di sana sebentar, kemudian keluar dan pergi hingga tidak terlihat lagi. Setelah itu mereka berkata lagi: “Ia telah datang, ia telah datang.”

Maka ular itu melakukan hal tersebut sebanyak 2 atau 3 kali. Kemudian At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shohih.

 

[11] Khutbah Ibnu Ziyad dan Penentangan Abdullah bin Afif

Ibnu Ziyad memerintahkan agar diserukan Sholat jamaah, maka orang-orang pun berkumpul. Kemudian dia naik ke atas mimbar lalu memuji Alloh dan menyanjung-Nya. Selanjutnya dia menyebutkan tentang kemenangan yang Alloh berikan kepadanya berupa pembunuhan terhadap Al-Husain, yang dia klaim ingin merebut kekuasaan dari mereka dan memecah belah persatuan mereka. Maka Abdullah bin Afif Al-Azdi bangkit menuju ke arahnya seraya berkata: “Celaka kamu wahai putra Marjanah! Kalian membunuh anak-anak para Nabi dan kalian berbicara dengan perkataan orang-orang yang jujur.” Maka Ibnu Ziyad memerintahkan untuk menangkapnya, lalu dia pun dibunuh dan disalib.

[12] Pengiriman Kepala Ahli Bait ke Syam

Kemudian Ibnu Ziyad memerintahkan agar kepala Al-Husain ditegakkan di Kufah dan diarak keliling di jalan-jalan kecilnya. Setelah itu, dia mengirimkannya bersama Zahr bin Qais disertai kepala para pengikut Al-Husain menuju Yazid bin Mu’awiyah (64 H) di Syam. Bersama Zahr terdapat sekelompok pasukan berkuda, di antaranya adalah Abu Burdah bin Auf Al-Azdi dan Thoriq bin Abi Zhobyan Al-Azdi. Mereka pun berangkat hingga mendatangkan seluruh kepala tersebut kepada Yazid bin Mu’awiyah.

Hisyam berkata: Abdullah bin Yazid bin Rouh bin Zinba’ Al-Judzami menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Al-Ghozi bin Robi’ah Al-Jurosyi dari Himyar, dia berkata: “Demi Alloh, sungguh aku benar-benar berada di sisi Yazid bin Mu’awiyah di Damaskus ketika Zahr bin Qois datang lalu menemui Yazid. Maka Yazid berkata kepadanya: ‘Celaka kamu! Berita apa yang kamu bawa?’ Zahr menjawab: ‘Sampaikanlah kabar gembira wahai Pemimpin kaum Mu’minin atas kemenangan dan pertolongan yang Alloh berikan kepadamu. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib bersama 18 orang dari ahli baitnya dan 60 orang lelaki dari pengikutnya telah mendatangi kami. Maka kami berjalan menuju mereka, lalu kami meminta mereka untuk menyerah dan tunduk pada keputusan Gubernur Ubaidillah bin Ziyad atau memilih peperangan. Namun mereka lebih memilih peperangan.

Maka kami menyerbu mereka bersamaan dengan terbitnya matahari, lalu kami mengepung mereka dari segala penjuru hingga pedang-pedang melaksanakan tugasnya menebas kepala-kepala kaum tersebut. Mereka pun mulai berlarian tanpa tempat berlari dan tanpa tempat berlindung. Mereka mencari perlindungan dari kami ke bukit-bukit kecil dan lubang-lubang, seperti perlindungannya burung merpati dari burung elang. Demi Alloh, kejadiannya tidaklah memakan waktu melainkan laksana menyembelih seekor unta atau laksana tidurnya orang yang tidur siang, hingga kami berhasil menumpas sampai orang terakhir dari mereka. Maka itulah jasad-jasad mereka dalam keadaan telanjang, pakaian-pakaian mereka berlumuran darah, dan pipi-papi mereka berlumuran debu, yang disengat oleh terik matahari dan dihembus oleh tiupan angin, sedangkan para penziarah mereka adalah burung-burung rajawali dan burung-burung pemakan bangkai.’

Al-Gh’zi bin R’bi’ah berkata: Maka kedua mata Yazid bin Mu’awiyah mencucurkan air mata dan dia berkata: ‘Aku sudah ridho dengan ketaatan kalian tanpa harus membunuh Al-Husain. Semoga Alloh melaknat putra Marjanah. Ketahuilah, demi Alloh, andai saja aku yang mendampinginya niscaya aku akan memaafkannya, dan semoga Alloh merohmati Al-Husain.’ Yazid sama sekali tidak memberi imbalan apa pun kepada Zahr bin Qais.

Ketika kepala Al-Husain diletakkan di hadapan Yazid, dia berkata: ‘Ketahuilah, demi Alloh, andai saja aku yang mendampingimu niscaya aku tidak akan membunuhmu.’ Kemudian dia melantunkan bait syair Al-Hushoin bin Al-Humam Al-Murri, seorang penyair:

“Pedang-pedang itu membelah kepala-kepala dari para lelaki yang perkasa atas kami, padahal dahulu mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling zholim.”

Abu Mikhnaf (lemah) berkata: Abu Ja’far Al-Absi menceritakan kepadaku, dari Abu Umaroh Al-Absi, dia berkata: Yahya bin Al-Hakam, saudara Marwan bin Al-Hakam (65 H), bangkit lalu berkata:

“Sungguh kepala di sisi At-Thoff (Karbala) itu lebih dekat hubungan kekerabatannya daripada putra Ziyad, seorang budak yang memiliki garis keturunan yang rendah. Keturunan Sumayyah kini jumlahnya menjadi sebanyak bilangan kerikil, sedangkan putri Rosululloh tidak memiliki keturunan lagi.”

Abu Umaroh berkata: Maka Yazid memukul dada Yahya bin Al-Hakam dan berkata: “Diamlah!”

Muhammad bin Humaid Ar-Rozi, dan dia adalah seorang Syiah, berkata: Muhammad bin Yahya Al-Ahmar menceritakan kepada kami, Laits menceritakan kepada kami, dari Mujahid bin Jabr (104 H), dia berkata: Ketika kepala Al-Husain didatangkan lalu diletakkan di hadapan Yazid, dia mengumpamakan keadaan dengan bait-bait syair ini:

“Duhai seandainya para tetua kaumku di perang Badar menyaksikan ketakutan suku Khozroj dari hantaman tombak. Niscaya mereka akan berteriak kegirangan dan bersuka cita, kemudian mereka akan berkata kepadaku: ‘Selamat atasmu dan janganlah ragu. Yaitu ketika pasukan berkuda menghantam di Quba dengan dadanya, dan pembunuhan berkecamuk dengan hebatnya di tengah Bani Abdul Asyhal. Sungguh kami telah membunuh tokoh-tokoh mulia mereka yang jumlahnya berlipat ganda, dan kami telah membalas ketimpangan perang Badar sehingga sekarang ia menjadi seimbang.”

Mujahid berkata: “Yazid telah berbuat munafik dalam bait-bait tersebut. Demi Alloh, kemudian demi Alloh, tidak ada seorang pun di dalam pasukannya melainkan orang itu pasti meninggalkannya.”

Para ulama setelah peristiwa ini berbeda pendapat mengenai kepala tersebut, apakah Ibnu Ziyad mengirimkannya dari Kufah kepada Yazid di Syam atau tidak? Perbedaan ini terbagi menjadi dua pendapat, dan pendapat yang pertama adalah yang paling mendekati kebenaran, serta telah riwayat dalam hal itu atsar yang banyak. Maka Alloh yang lebih mengetahui.

 

[13] Yazid Mengetuk Gigi Al-Husain dan Teguran Abu Barzah

Abu Mikhnaf (lemah) berkata dari Abu Hamzah At-Thumali, dari Abdullah At-Thumali, dari Al-Qasim bin Bukhait, dia berkata: “Ketika kepala Al-Husain diletakkan di hadapan Yazid bin Mu’awiyah, dia mulai mengetuk-ngetuk bagian mulutnya dengan tongkat kecil yang ada di tangannya, kemudian dia berkata: Sesungguhnya urusan antara orang ini dengan kami adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hushoin bin Al-Humam Al-Murri:

‘Pedang-pedang itu membelah kepala-kepala dari para lelaki yang perkasa atas kami, padahal dahulu mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling zholim.’

Maka Abu Barzah Al-Aslami (65 H) berkata kepadanya: “Ketahuilah, demi Alloh, sungguh tongkat kecilmu ini telah mengenai tempat yang benar-benar aku telah melihat Rosululloh mengecupnya. Ingatlah, sesungguhnya orang ini akan datang pada hari Qiyamah sedangkan pemberi syafaatnya adalah Muhammad , sementara kamu akan datang sedangkan pemberi syafaatmu adalah Ibnu Ziyad.” Kemudian Abu Barzah bangkit lalu berpaling pergi.

Sungguh Ibnu Abid Dun-ya (281 H) telah meriwayatkannya dari Abu Al-Walid, dari Kholid bin Yazid bin Asad, dari Ammar Ad-Duhni, dari Abu Ja’far, dia berkata: “Ketika kepala Al-Husain diletakkan di hadapan Yazid, sedangkan di sisinya ada Abu Barzah, Yazid mulai mengetuk-ngetuk gusi Al-Husain dengan tongkat kecil seraya berkata: ‘Pedang-pedang itu membelah kepala-kepala.’ Maka Abu Barzah berkata kepadanya: ‘Angkat tongkat kecilmu! Karena sungguh aku telah melihat Rosululloh menciumnya.’”

Ibnu Abid Dun-ya berkata dan Maslamah bin Syabib menceritakan kepadaku, dari Al-Humaidi, dari Sufyan, aku mendengar Salim bin Abi Hafshoh berkata: Al-Hasan Al-Bashri (110 H) berkata: “Ketika kepala Al-Husain didatangkan, Yazid mulai menusuk-nusuk kepala tersebut dengan tongkat kecil.” Sufyan berkata: Dan aku dikabarkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri setelah kejadian ini senantiasa melantunkan syair:

“Keturunan Sumayyah kini jumlahnya menjadi sebanyak bilangan kerikil, sedangkan putri Rosululloh tidak memiliki keturunan lagi.”

[14] Kondisi Ahli Bait dan Tangisan Zainab di Karbala

Adapun sisa dari keluarga Al-Husain, para wanita, dan anak-anaknya, sesungguhnya Umar bin Sa’ad telah menugaskan orang untuk menjaga dan melindungi mereka. Mereka menaikkan para wanita ke atas unta tunggangan di dalam sekedup (tenda di atas unta). Ketika mereka melewati tempat pertempuran, mereka melihat Al-Husain dan para pengikutnya tewas terhampar. Di tempat itulah para wanita menangisinya, menjerit, dan Zainab meratapi saudaranya, Al-Husain, serta keluarganya. Maka Zainab berkata seraya menangis: “Wahai Muhammad, wahai Muhammad, semoga para Malaikat langit melimpahkan sholawat atasmu, ini adalah Al-Husain terkapar di tanah lapang, berlumuran darah, dengan anggota tubuh yang terpotong-potong. Wahai Muhammad, dan anak-anak perempuanmu menjadi tawanan, serta keturunanmu terbunuh, yang dihembus oleh angin shoba (angin yang bertiup dari timur).”

Al-Hasan berkata: Maka demi Alloh, ucapan Zainab itu telah membuat menangis setiap musuh maupun teman.

Al-Hasan berkata: Kemudian mereka berjalan membawa ahli bait di dalam sekedup dari Karbala hingga masuk ke Kufah. Lalu Ibnu Ziyad memuliakan mereka, serta memberikan nafkah, pakaian, dan hadiah-hadiah kepada mereka. Setelah itu, Ubaidillah bin Ziyad mengirim dan mengembalikan mereka ke Syam bersama Syamir bin Dzil Jausyan dan Muhaffiz bin Tsa’labah Al-A’idzi dari kaum Quroisy. Bersama mereka ikut pula Ali bin Al-Husain, Zainul Abidin (94 H). Tadinya Ibnu Ziyad ingin membunuhnya, namun Alloh memalingkan niat itu darinya. Ketika Ibnu Ziyad mengutus mereka, dia memberangkatkan Ali bin Al-Husain bersama keluarganya dalam keadaan lehernya dibelenggu, sedangkan sisa keluarga lainnya berada dalam kondisi yang memprihatinkan, berdasarkan apa yang disebutkan oleh sebagian rowi.

 

[15] Dialog Yazid bin Mu’awiyah dengan Ali bin Al-Husain

Ketika mereka masuk menemui Yazid bin Mu’awiyah, dia berkata kepada Ali bin Al-Husain: “Wahai Ali, ayahmu yang telah memutus tali silaturrohim denganku, tidak mengetahui hakku, dan merebut kekuasaanku, maka Alloh telah melakukan kepadanya apa yang telah kamu lihat sendiri.”

Maka Ali bin Al-Husain membaca ayat:

﴿مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا﴾

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid: 22)

Maka Yazid berkata kepada anaknya, Kholid: “Jawablah ucapannya!” Namun Kholid tidak tahu apa yang harus diucapkan untuk menjawabnya. Lalu Yazid berkata kepadanya: Katakanlah:

﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ﴾

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS. As-Syuro: 30)

[16] Perdebatan Zainab dengan Yazid Tentang Tawanan

Yazid terdiam sesaat dari Ali bin Al-Husain, kemudian dia memanggil para wanita dan anak-anak, lalu dia melihat kondisi mereka yang memprihatinkan. Maka Yazid berkata: “Semoga Alloh memperburuk rupa putra Marjanah, andai saja antara kalian dan dia ada hubungan kekerabatan dan rahim, niscaya dia tidak akan melakukan hal ini kepada kalian, dan tidak pula mengutus kalian dalam keadaan seperti ini.”

Abu Mikhnaf (lemah) meriwayatkan, dari Al-Harits bin Ka’b, dari Fathimah binti Ali, dia berkata: Ketika kami didudukkan di hadapan Yazid, dia bersikap lembut kepada kami, memerintahkan sesuatu untuk kami, dan bersikap ramah kepada kami. Kemudian tiba-tiba seorang lelaki berkulit merah dari penduduk Syam bangkit menuju Yazid lalu berkata: “Wahai Pemimpin kaum Mu’minin, hibahkanlah anak gadis ini kepadaku.”

Fathimah binti Ali berkata: Maksud lelaki itu adalah diriku, dan saat itu aku adalah seorang gadis belia yang berparas elok. Maka aku gemetar ketakutan karena ucapannya, dan aku mengira bahwa hal itu diperbolehkan bagi mereka. Lalu aku memegangi pakaian saudariku, Zainab, dan dia adalah orang yang lebih tua serta lebih berakal dariku, dan dia mengetahui bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan. Maka Zainab berkata kepada lelaki itu: “Kamu telah berdusta, demi Alloh, dan kamu telah bertindak hina! Hal itu tidak boleh bagimu dan tidak pula bagi Yazid.”

Maka Yazid marah, lalu dia berkata kepada Zainab: “Kamu telah berdusta! Demi Alloh, sesungguhnya hal itu adalah hakku, dan andai aku mau melakukannya niscaya aku pasti melakukannya.” Zainab menjawab: “Sekali-kali tidak, demi Alloh, Alloh tidak pernah menjadikan hal itu sebagai hakmu, kecuali jika kamu keluar dari agama kami dan memeluk agama selain agama kami.”

Fathimah binti Ali berkata: Maka Yazid marah besar dan meledak amarahnya, kemudian dia berkata: “Kepadaku kamu berani menghadapi dengan perkataan seperti ini?! Yang keluar dari agama adalah ayahmu dan saudaramu.” Maka Zainab berkata: “Dengan agama Alloh, agama ayahku, agama saudaraku, dan agama kakekku, kamu mendapat petunjuk, begitu pula ayahmu dan kakekmu.” Yazid berkata: “Kamu berdusta wahai musuh Alloh!” Zainab berkata: “Kamu adalah seorang penguasa yang memiliki kekuasaan mutlak, kamu mencaci dengan zholim dan menindas dengan kekuasaanmu.”

Fathimah binti Ali berkata: Maka demi Alloh, seolah-olah Yazid merasa malu lalu dia terdiam. Kemudian orang Syam itu bangkit lagi dan berkata: “Wahai Pemimpin kaum Mu’minin, hibahkanlah anak gadis ini kepadaku.” Maka Yazid berkata kepadanya: “Pergilah jauh-jauh, semoga Alloh menganugerahkan kepadamu kematian yang segera!”

 

[17] Kepulangan Ahli Bait ke Madinah

Kemudian Yazid memerintahkan An-Nu’man bin Basyir (65 H) untuk mengutus seorang lelaki yang amanah bersama para wanita menuju Madinah, disertai pasukan dan kuda-kuda, serta Ali bin Al-Husain ikut bersama mereka. Selanjutnya, Yazid menempatkan para wanita di tempat pemukiman keluarganya di dalam istana kekholifahan. Maka para wanita dari keluarga Mu’awiyah menyambut mereka seraya menangis dan meratapi Al-Husain, kemudian mereka mengadakan acara perkabungan selama 3 hari.

Yazid tidak pernah makan siang dan tidak pula makan malam melainkan di sisinya harus ada Ali bin Al-Husain serta Amr bin Al-Hasan. Pada suatu hari Yazid berkata kepada Amr, sedangkan dia masih anak-anak yang sangat kecil: “Apakah kamu mau bertarung melawan anak ini?” Yang dia maksud adalah anaknya sendiri, Kholid bin Yazid. Maka Amr menjawab: “Berikan aku sebilah pisau dan berikan dia sebilah pisau agar kami dapat bertarung.” Maka Yazid mengambilnya lalu memeluknya ke dadanya, dan berkata: “Sifat bawaan yang aku kenal dari Khazam (sebuah kiasan untuk sifat pemberani keturunan leluhurnya), bukankah ular itu tidak melahirkan melainkan seekor ular pula?”

Ketika Yazid melepas keberangkatan mereka, dia berkata kepada Ali bin Al-Husain: “Semoga Alloh memperburuk rupa putra Marjanah. Demi Alloh, andai saja aku yang mendampingi ayahmu, tidaklah dia meminta satu perkara pun kepadaku melainkan aku pasti akan mengabulkannya. Dan niscaya aku akan menolak kematian darinya dengan segala kemampuan yang aku sanggup, meskipun dengan binasanya sebagian anakku. Akan tetapi Alloh telah menetapkan apa yang telah kamu lihat sendiri.”

Kemudian Yazid mempersiapkan perbekalannya dan memberinya harta yang sangat banyak, lalu dia berkata kepada Ali bin Al-Husain: “Surati lah aku mengenai setiap kebutuhan yang kamu miliki.” Yazid juga memberi mereka pakaian dan berpesan mengenai mereka kepada utusan tersebut.

Maka utusan yang dikirim oleh Yazid bersama mereka senantiasa berjalan terpisah dari rombongan wanita di sepanjang jalan. Dia menjauh dari mereka dalam jarak sekiranya pandangan matanya tetap dapat menjangkau mereka, sementara dia berada dalam pelayanan mereka hingga mereka sampai di Madinah. Setelah sampai, para wanita mengumpulkan sebagian dari perhiasan mereka, lalu menyerahkannya kepada lelaki tersebut. Namun lelaki itu menolak untuk menerimanya, dan dia berkata: “Aku melakukan hal ini karena Alloh dan karena hubungan kekerabatan kalian dengan Rosululloh .”

Hal ini membantah klaim kaum Rofidhoh yang menyatakan bahwa para wanita Ahlul Bait diangkut di atas punuk-punuk unta sebagai tawanan dalam keadaan telanjang.

Bahkan telah berdusta orang yang menyangka di antara mereka bahwa unta-unta al-bakhoti (unta berpunuk dua) baru tumbuh punuknya sejak hari itu demi menutupi tumpuan aurot mereka.

Ibnu Ziyad menulis surat kepada ‘Amr bin Sa’id yang saat itu menjabat sebagai penguasa dua tanah harom (Makkah dan Madinah) untuk memberikan kabar gembira mengenai terbunuhnya Al-Husain, lalu ‘Amr memerintahkan seorang penyeru untuk mengumumkan kabar tersebut di Madinah.

Ketika para wanita dari Bani Hasyim mendengar pengumuman itu, suara tangisan dan ratapan mereka pun pecah membubung tinggi, sehingga ‘Amr bin Sa’id berkata, “Ratapan ini sebagai balasan atas tangisan para wanita Utsman bin ‘Affan (35 H) dahulu.”

[18] Kronologi Pertemuan Al-Husain dengan Pasukan Iraq

Abu Ja’far bin Jarir Ath-Thobari (310 H) mengatakan dalam kitab sejarahnya: Telah menceritakan kepadaku Zakariya bin Yahya Adh-Dhorir, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Janab Al-Mishshishi, telah menceritakan kepada kami Kholid bin Yazid bin Abdulloh Al-Qosri, telah menceritakan kepada kami ‘Ammar Ad-Duhni, beliau berkata: Aku berkata kepada Abu Ja’far: “Ceritakanlah kepadaku tentang kisah terbunuhnya Al-Husain seolah-olah aku hadir menyaksikan langsung di tempat kejadian.”

Beliau lalu bercerita: Al-Husain berangkat dengan membawa surat dari Muslim bin ‘Aqil yang dikirimkan kepadanya, yang berisi perintah agar Al-Husain segera datang menemuinya, hingga ketika jarak antara beliau dan Qodisiyyah tersisa tiga mil, beliau bertemu dengan Al-Hurr bin Yazid At-Tamimi, lalu Al-Hurr bertanya kepadanya, “Ke mana Anda hendak pergi?”

Beliau menjawab, “Aku hendak menuju kota ini (Kufah).” Al-Hurr berkata kepadanya, “Kembalilah, karena sesungguhnya aku tidak meninggalkan satu kebaikan pun di belakangku yang bisa kuharapkan untukmu.”

Mendengar hal itu, Al-Husain bertekad untuk kembali pulang, namun saudara-saudara Muslim bin ‘Aqil yang sedang bersama beliau berkata, “Demi Alloh, kami tidak akan kembali sampai kami bisa menuntut balas atas kematian saudara kami terhadap orang-orang yang telah membunuhnya, atau kami ikut terbunuh pula.”

Maka Al-Husain berkata, “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini setelah kepergian kalian.” Beliau pun melanjutkan perjalanan hingga bertemu dengan barisan terdepan dari pasukan berkuda Ibnu Ziyad. Tatkala melihat hal tersebut, beliau berbelok arah menuju Karbala, lalu menyandarkan bagian punggungnya ke deretan tanaman gelagah dan semak belukar.

Langkah itu diambil agar beliau tidak perlu bertempur kecuali dari satu arah saja, kemudian beliau turun dan mendirikan kemah-kemahnya. Adapun jumlah sahabat beliau saat itu adalah 45 orang penunggang kuda dan 100 orang pasukan berjalan kaki. Sementara itu, ‘Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqos telah ditunjuk oleh Ibnu Ziyad untuk memimpin wilayah Ar-Royy disertai penyerahan surat keputusan tugasnya, lalu Ibnu Ziyad berkata, “Selesaikanlah urusan orang ini (Al-Husain) untukku.”

‘Umar bin Sa’ad memohon, “Bebaskanlah aku dari tugas ini.” Namun Ibnu Ziyad menolak untuk membebaskannya. ‘Umar kemudian berkata, “Berikanlah aku waktu malam ini untuk berpikir.” Ibnu Ziyad pun menundanya sehingga ‘Umar bisa mempertimbangkan urusannya. Ketika pagi hari tiba, ‘Umar mendatanginya dalam keadaan ridho atas apa yang diperintahkan kepadanya, lalu ‘Umar bin Sa’ad bergerak menuju tempat Al-Husain. Tatkala ‘Umar telah sampai di hadapannya, Al-Husain berkata kepadanya, “Pilihlah satu dari tiga opsi ini; Maukah kamu membiarkanku sehingga aku bisa pulang kembali ke tempat asalku datang, atau kamu membiarkanku pergi menemui Yazid, atau kamu membiarkanku pergi menuju wilayah perbatasan kaum Muslimin untuk bergabung menjaga keamanan di sana.”

‘Umar menerima tawaran tersebut, namun ‘Ubaidulloh bin Ziyad menulis surat balasan kepadanya yang berbunyi, “Tidak ada penawaran dan tidak ada kemuliaan baginya sampai dia menyerahkan dirinya di bawah kekuasaanku.”

Maka Al-Husain menegaskan, “Tidak, demi Alloh, hal itu tidak akan pernah terjadi selama-lamanya.” Akhirnya pasukan itu memeranginya, lalu seluruh sahabat Al-Husain gugur terbunuh, termasuk belasan pemuda dari kalangan Ahlul Baitnya. Tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan mengenai anak kecilnya yang sedang berada di dalam pangkuannya, maka beliau mengusap darah dari anak tersebut seraya berdoa, “Ya Alloh, berikanlah keputusan hukum di antara kami dan kaum yang telah mengundang kami dengan alasan untuk menolong kami, namun mereka justru membantai kami.”

Kemudian beliau meminta kain jubah bergaris lalu merobeknya sedikit agar tidak dijarah, kemudian beliau mengenakannya dan keluar dengan menghunus pedangnya, lalu beliau bertempur hingga gugur. Beliau dibunuh oleh seorang lelaki dari kabilah Madzhij yang kemudian memenggal kepala beliau, lalu lelaki itu pergi membawanya ke hadapan ‘Ubaidulloh seraya melantunkan bait syair berikut mengenai peristiwa itu:

“Penuhilah tungganganku dengan perak dan emas, karena sungguh aku telah membunuh seorang pemimpin yang berwibawa.”

“Aku telah membunuh manusia terbaik ibu dan ayahnya, serta manusia terbaik apabila silsilah keturunan mereka disebutkan.”

Rowi melanjutkan kisah: Lalu ‘Ubaidulloh mengutusnya untuk menghadap Yazid bin Mu’awiyah dengan membawa kepala tersebut, kemudian kepala beliau diletakkan di hadapan Yazid. Di sisi Yazid saat itu ada Abu Barzah Al-Aslami (65 H), maka Yazid mulai mengetuk-ngetuk dengan sebatang kayu pada bagian mulut beliau seraya melantunkan syair:

“Mereka membelah kepala-kepala para lelaki yang sangat terhormat di hadapan kami, padahal mereka itu adalah orang-orang yang lebih durhaka dan lebih zholim.”

Maka Abu Barzah menegurnya dengan keras, “Angkat kayumu! Demi Alloh, sungguh aku telah berulang kali melihat bibir Rosululloh berada di atas mulutnya ini seraya menciumnya.”

Rowi berkata: Kemudian ‘Umar bin Sa’ad menggiring keluarga dan anak-anak Al-Husain menuju hadapan ‘Ubaidulloh, dan tidak ada yang tersisa dari kalangan lelaki Ahlul Bait Al-Husain melainkan seorang anak lelaki yang sedang menderita sakit bersama para wanita (yaitu ‘Ali bin Al-Husain). Ibnu Ziyad memerintahkan agar anak tersebut ikut dibunuh, namun Zainab langsung mendekap anak itu dan berseru, “Demi Alloh, dia tidak boleh dibunuh sampai kalian membunuhku terlebih dahulu!”

Maka luluhlah hati Ibnu Ziyad kepadanya, sehingga dia membiarkan anak itu dan mengurungkan niatnya. Rowi melanjutkan: Kemudian dia mempersiapkan perbekalan mereka dan mengangkut mereka menghadap Yazid. Tatkala mereka telah sampai di hadapannya, Yazid mengumpulkan orang-orang Syam yang berada di majelisnya, lalu mereka memasukkan tawanan tersebut, kemudian orang-orang memberikan ucapan selamat atas kemenangan itu. Tiba-tiba seorang lelaki dari mereka yang berkulit merah dan bermata biru memandangi seorang gadis belia di antara putri-putri mereka, lalu berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, hadiahkanlah gadis ini kepadaku.”

Maka Zainab langsung menyergah, “Tidak, demi Alloh, tidak ada kemuliaan bagimu maupun baginya untuk melakukan hal ini, kecuali jika dia telah keluar dari agama Alloh!”

Rowi berkata: Lelaki bermata biru itu mengulangi permintaannya kembali, namun Yazid membentaknya, “Hentikan tindakanmu ini!” Kemudian Yazid memasukkan mereka ke dalam lingkungan keluarganya, memberikan perbekalan yang layak bagi mereka, lalu mereka diangkut menuju Madinah. Ketika mereka telah memasukinya, seorang wanita dari Bani Abdul Muththolib keluar dalam keadaan mengurai rambutnya dan meletakkan ujung lengan bajunya di atas kepalanya untuk menyambut kedatangan mereka seraya menangis dan melantunkan syair:

“Apakah yang akan kalian katakan apabila Nabi bersabda kepada kalian: Apakah yang telah kalian perbuat, padahal kalian adalah umat yang terakhir,”

“Terhadap keturunanku dan keluargaku setelah kepergianku, di mana di antara mereka ada yang menjadi tawanan dan ada yang gugur terbunuh berlumuran darah?”

“Bukanlah seperti ini balasan bagiku atas nasihat yang telah kuberikan kepada kalian, agar kalian memperlakukan kerabat dekatku dengan buruk setelah wafatku.”

Sungguh Abu Mikhnaf (lemah) telah meriwayatkan dari Sulaiman bin Abi Rosyid, dari Abdurrohman bin ‘Ubeid Abi Al-Kanud, bahwa putri dari ‘Aqil lah yang mengucapkan bait-bait syair ini.

Demikian pula yang dituturkan oleh Az-Zubair bin Bakkar (256 H) bahwa Zainab As-Sughro putri dari ‘Aqil bin Abi Tholib lah yang mengucapkan hal tersebut ketika keluarga Al-Husain memasuki Madinah An-Nabawiyyah.

Sedangkan Abu Bakr bin Al-Anbari (328 H) meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Zainab putri ‘Ali bin Abi Tholib dari keturunan Fatimah, yang merupakan istri dari Abdulloh bin Ja’far sekaligus ibu dari anak-anaknya, beliau membuka tirai kemahnya pada hari Karbala saat Al-Husain terbunuh, lalu melantunkan bait-bait syair ini. Hanya Alloh yang lebih mengetahui kebenarannya.

Hisyam bin Al-Kalbi (204 H) mengatakan: Telah menceritakan kepadaku sebagian sahabat kami, dari ‘Amr bin Abi Al-Miqdam, beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Umar bin ‘Ikrimah, beliau berkata: Kami terbangun di pagi hari di Madinah pasca terbunuhnya Al-Husain, tiba-tiba seorang wanita bekas budak kami menceritakan kepada kami, ia berkata: “Tadi malam aku mendengar suara seorang penyeru ghoib yang berseru seraya mengucapkan syair:

‘Wahai orang-orang yang membunuh Al-Husain karena kebodohan, bersiap-siaplah kalian menerima adzab dan siksaan yang menghinakan.’

‘Seluruh penduduk langit mendoakan keburukan atas kalian, mulai dari kalangan Nabi, Malaikat, dan segenap kelompok makhluk.’

‘Sungguh kalian telah dilaknat melalui lisan putra Dawud, Musa, dan Isa pembawa kitab Injil.’”

Hisyam berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Amr bin Haizum Al-Kalbi, dari ibunya, ia berkata: “Aku pun turut mendengar suara tersebut.”

Di antara bait syair yang dilantunkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah An-Naisaburi (405 H) serta ulama lainnya, yang digubah oleh sebagian generasi terdahulu mengenai kisah terbunuhnya Al-Husain adalah:

“Mereka membawa kepalamu wahai putra dari putri Muhammad , dalam keadaan berlumuran dengan darahnya sedemikian rupa.”

“Seolah-olah dengan membunuhmu wahai putra dari putri Muhammad , mereka dengan terang-terangan dan sengaja telah membunuh Rosululloh .”

“Mereka membunuhmu dalam keadaan dahaga, tanpa mempedulikan peringatan dalam ayat yang diturunkan maupun maknanya.”

“Mereka bertakbir atas keberhasilan membunuhmu, padahal dengan membunuhmu sesungguhnya mereka telah membunuh kalimat takbir dan tahlil itu sendiri.”

Peristiwa pembunuhan Al-Husain terjadi pada hari Jum’at—namun Al-Laits bin Sa’ad (175 H) dan Abu Nu’aim (307 H) mengatakan: terjadi pada hari Sabtu—tepat pada hari ‘Asyuro tanggal 10 dari bulan Muharrom tahun 61 Hijriyah.

Hisyam bin Al-Kalbi (204 H) berpendapat: Peristiwa itu terjadi pada tahun 62 Hijriyah. Pendapat ini juga dipilih oleh ‘Ali bin Al-Madini (234 H). Sedangkan Ibnu Lahi’ah (174 H) mengatakan: terjadi pada tahun 62 atau 63 Hijriyah.

Ada pula ulama lain yang berpendapat: terjadi pada tahun 60 Hijriyah. Namun pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama, bertempat di sebuah lokasi yang disebut Ath-Thoff, yaitu di Karbala yang termasuk wilayah negeri Iraq, di mana usia beliau saat itu menginjak 58 tahun atau sekitar itu. Sungguh Abu Nu’aim (307 H) telah keliru dalam pernyataannya yang menyebutkan bahwa beliau terbunuh saat berusia 65 atau 66 tahun.

 

[19] Nubuat Rosululloh Melalui Para Malaikat dan Istri Beliau

Imam Ahmad bin Hambal (241 H) meriwayatkan dalam kitab musnadnya:

Telah menceritakan kepada kami Abdus Shomad bin Hassan, telah menceritakan kepada kami ‘Umaroh—yaitu Ibnu Zazan—dari Tsabit, dari Anas bin Malik (93 H), beliau menceritakan bahwa Malaikat penjaga hujan memohon izin untuk bertamu menemui Nabi , lalu beliau mengizinkannya. Kemudian beliau bersabda kepada Ummu Salamah (59 H): “Jagalah pintu untuk kami agar tidak ada seorang pun yang masuk.”

Tiba-tiba Al-Husain bin ‘Ali datang lalu melompat hingga berhasil masuk ke dalam ruangan, kemudian dia mulai memanjat ke atas pundak Nabi , maka Malaikat itu bertanya kepada beliau, “Apakah Anda mencintainya?”

Nabi menjawab: “Benar.” Malaikat itu berkata:

فَإِنَّ أُمَّتَكَ تَقْتُلُهُ، وَإِنْ شِئْتَ أَرَيْتُكَ الْمَكَانَ الَّذِي يُقْتَلُ فِيهِ

“Sesungguhnya umat Anda akan membunuhnya, dan jika Anda menghendaki, aku dapat memperlihatkan kepada Anda tempat di mana dia akan dibunuh nanti.”

Anas melanjutkan: Lalu Malaikat itu menepukkan tangannya ke tanah dan memperlihatkan kepada beliau sebongkah tanah yang berwarna merah, kemudian Ummu Salamah mengambil tanah tersebut lalu membungkusnya di ujung kain bajunya.

Anas berkata: “Semenjak itu kami sering mendengar kabar bahwa beliau akan dibunuh di Karbala.”

Imam Ahmad (241 H) juga meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Waki’ (197 H), telah menceritakan kepadaku Abdulloh bin Sa’id, dari ayahnya, dari ‘Aisyah (58 H) atau Ummu Salamah (59 H), bahwa Rosululloh bersabda kepada salah satu dari keduanya:

«لَقَدْ دَخَلَ عَلَيَّ الْبَيْتَ مَلَكٌ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيَّ قَبْلَهَا، فَقَالَ لِي: إِنَّ ابْنَكَ هَذَا حُسَيْنٌ مَقْتُولٌ، وَإِنْ شِئْتَ أَرَيْتُكَ الْأَرْضَ الَّتِي يُقْتَلُ بِهَا» قَالَ: «فَأَخْرَجَ تُرْبَةً حَمْرَاءَ»

“Sungguh telah masuk ke dalam rumahku ini sesosok Malaikat yang belum pernah masuk menemuiku sebelum ini, lalu dia berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya anakmu Al-Husain ini akan terbunuh, dan jika Anda mau, aku bisa memperlihatkan tanah lokasi tempat dia dibunuh.” Beliau melanjutkan: “Maka Malaikat tersebut mengeluarkan segenggam tanah yang berwarna merah.”

Sungguh Hadits ini telah diriwayatkan dari berbagai jalur periwayatan lainnya dari Ummu Salamah.

At-Thobarani (360 H) pun meriwayatkannya dari Abu Umamah (86 H), yang di dalamnya memuat kisah tentang Ummu Salamah. Muhammad bin Sa’ad (230 H) juga meriwayatkannya dari ‘Aisyah dengan redaksi yang serupa dengan riwayat Ummu Salamah.

Hanya Alloh yang lebih mengetahui kebenarannya.

Kisah semisal ini juga diriwayatkan dari Hadits Zainab binti Jahsy (20 H) dan Lubabah Ummul Fadhl istri dari Al-‘Abbas (30 H). Serta disampaikan secara mursal (tanpa menyebutkan perantara Shohabat) oleh lebih dari satu orang dari kalangan Tabi’in.

Abu Al-Qosim Al-Baghowi (317 H) meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harun Abu Bakr, telah menceritakan kepada kami Ibrohim bin Muhammad Ar-Roqqi dan ‘Ali bin Al-Husain Ar-Rozi, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Malik bin Waqid Al-Harroni, telah menceritakan kepada kami ‘Atho bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Asy’ats bin Suhaim, dari ayahnya, beliau berkata: Aku mendengar Anas bin Al-Harits berkata: Aku mendengar Rosululloh bersabda:

«إِنَّ ابْنِي هَذَا - يَعْنِي الْحُسَيْنَ - يُقْتَلُ بِأَرْضٍ يُقَالُ لَهَا: كَرْبَلَاءُ. فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ ذَلِكَ فَلْيَنْصُرْهُ»

“Sesungguhnya anakku ini—yaitu Al-Husain—akan dibunuh di sebuah wilayah yang dinamakan Karbala. Maka siapa di antara kalian yang mendapati peristiwa tersebut, hendaklah dia menolongnya.”

Rowi berkata: Maka Anas bin Al-Harits bergegas berangkat menuju Karbala hingga akhirnya beliau gugur terbunuh bersama Al-Husain di sana. Kemudian Al-Baghowi mengatakan: “Aku tidak mengetahui bahwa Anas bin Al-Harits memiliki riwayat Hadits selain dari jalur ini.”

 

[20] Isyarat dari ‘Ali bin Abi Tholib Saat Melintasi Karbala

Imam Ahmad (241 H) meriwayatkan:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid, telah menceritakan kepada kami Syurohbil bin Mudrik, dari Abdulloh bin Nujay, dari ayahnya (yaitu Nujay), bahwasanya beliau berjalan bersama ‘Ali (40 H)—dan beliau adalah petugas yang membawa wadah air bersuci milik ‘Ali—maka tatkala posisi perjalanan mereka telah sejajar dengan wilayah Ninawa ketika hendak bertolak menuju Shiffin, ‘Ali tiba-tiba berseru dengan lantang:

اصْبِرْ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، اصْبِرْ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ بِشَطِّ الْفُرَاتِ

“Bersabarlah wahai Abu Abdillah, bersabarlah wahai Abu Abdillah di tepi sungai Eufrat!”

Nujay bertanya kepada ‘Ali: “Ada apa gerangan dengan ucapan Anda itu?” ‘Ali menjawab: “Aku pernah masuk menemui Rosululloh pada suatu hari, sedangkan kedua mata beliau dalam keadaan mengucurkan air mata, lalu aku bertanya: ‘Wahai Nabiyulloh, apakah ada seseorang yang membuat Anda marah? Mengapa kedua mata Anda mengucurkan air mata sedemikian rupa?”

Beliau menjawab:

بَلْ قَامَ مِنْ عِنْدِي جِبْرِيلُ قَبْلُ، فَحَدَّثَنِي أَنَّ الْحُسَيْنَ يُقْتَلُ بِشَطِّ الْفُرَاتِ

“Tidak, melainkan Jibril baru saja beranjak berdiri dari sisiku sebelum ini, lalu dia menyampaikan kabar kepadaku bahwa Al-Husain akan dibunuh di tepi sungai Eufrat.”

Beliau melanjutkan: “Lalu Jibril menawarkan:’ Apakah Anda berkenan jika aku memberikan bau tanah tempat kematiannya kepada Anda?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Maka Jibril mengulurkan tangannya, lalu meraup segenggam tanah dan menyerahkannya kepadaku, sehingga aku tidak kuasa membendung kedua mataku untuk tidak mengalirkan air mata.”

Hadits ini diriwayatkan secara bersendiri oleh Imam Ahmad. Muhammad bin Sa’ad (230 H) juga meriwayatkan dari ‘Ali bin Muhammad, dari Yahya bin Zakariya, dari seorang lelaki, dari ‘Amir Asy-Sya’bi (103 H), dari ‘Ali dengan riwayat yang serupa.

Sungguh Muhammad bin Sa’ad dan ulama lainnya telah meriwayatkan dari berbagai jalur dari ‘Ali bin Abi Tholib, bahwasanya beliau pernah melintasi wilayah Karbala di dekat pohon-pohon hanzhol (semangka liar yang pahit) ketika beliau sedang dalam perjalanan menuju perang Shiffin, lalu beliau bertanya mengenai nama daerah tersebut, maka dijawab, “Ini adalah Karbala.”

Maka beliau berkata, “Karbun wa bala’ (kesusahan dan bencana).” Beliau kemudian turun dari tunggangannya lalu mendirikan Sholat di dekat sebuah pohon di tempat itu, kemudian beliau berkata, “Di tempat inilah akan terbunuh para syuhada yang merupakan para syuhada terbaik selain dari kalangan Shohabat, mereka akan masuk ke dalam Jannah tanpa melalui proses hisab (perhitungan amal).”

Beliau lalu mengisyaratkan tangannya ke arah suatu tempat di sana, kemudian para sahabatnya menandai tempat tersebut dengan sesuatu benda, dan ternyata di tempat itulah Al-Husain gugur terbunuh.

Terdapat pula beberapa riwayat dari Ka’ab Al-Ahbar (32 H) mengenai tanda-tanda Karbala ini.

Abu Al-Janab Al-Kalbi dan beberapa ulama lainnya menceritakan bahwa penduduk Karbala senantiasa mendengar suara ratapan kaum jin yang menangisi kematian Al-Husain, di mana mereka melantunkan bait syair:

“Rosululloh pernah mengusap keningnya, sehingga pancaran cahayanya nampak berkilau di kedua pipinya.”

“Kedua orang tuanya berasal dari kedudukan tertinggi di kabilah Quraisy, sedangkan kakeknya adalah sebaik-baik kakek manusia.”

Lalu sebagian manusia membalas lantunan jin tersebut dengan menggubah syair:

“Mereka membawanya keluar sebagai rombongan utusan yang menuju kepadanya, namun mereka justru menjadi seburuk-buruk rombongan utusan bagi beliau.”

“Mereka tega membunuh putra dari putri Nabi mereka sendiri, sehingga kelak mereka akan menghuni Naar yang kekal.”

Ibnu ‘Asakir (571 H) meriwayatkan bahwasanya ada sekelompok orang yang pergi dalam suatu ekspedisi peperangan menuju negeri Romawi, lalu mereka menemukan sebuah tulisan yang tertera di dinding sebuah gereja:

“Apakah suatu umat yang telah membantai Al-Husain bisa mengharapkan syafaat dari kakeknya kelak di hari perhitungan amal?”

Maka mereka pun bertanya kepada para penghuni gereja tersebut, “Siapakah orang yang telah menuliskan kalimat ini di sini?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya tulisan ini telah tertera di tempat ini semenjak 300 tahun sebelum Nabi kalian diutus menjadi Rosul.”

Diriwayatkan pula bahwasanya orang-orang yang telah membunuhnya kembali pulang, lalu mereka bermalam seraya meminum khomr (minuman keras) sedangkan kepala beliau berada di dekat mereka. Tiba-tiba muncul di hadapan mereka sebatang pena yang terbuat dari besi, lalu pena tersebut menggoreskan bait syair ini di dinding dengan menggunakan tetesan darah:

“Apakah suatu umat yang telah membantai Al-Husain bisa mengharapkan syafaat dari kakeknya kelak di hari perhitungan amal?”

Imam Ahmad (241 H) meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Abdurroman dan ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari ‘Ammar bin Abi ‘Ammar, dari Ibnu ‘Abbas (68 H), beliau menceritakan: Aku pernah melihat Nabi dalam mimpi di tengah hari dalam keadaan rambut beliau kusut dan berdebu, di mana beliau sedang memegang sebuah botol kaca yang berisi darah, lalu aku bertanya: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rosululloh, apakah benda ini?”

Beliau menjawab:

هَذَا دَمُ الْحُسَيْنِ وَأَصْحَابِهِ، لَمْ أَزَلْ أَلْتَقِطُهُ مُنْذُ الْيَوْمِ

“Ini adalah darah Al-Husain beserta para sahabatnya, aku senantiasa memungutinya sejak hari ini.”

‘Ammar berkata: “Lalu kami mencatat tanggal hari kejadian mimpi tersebut, dan ternyata kami mendapati bahwa beliau memang telah gugur terbunuh tepat pada hari tersebut.” Riwayat ini disendiri oleh Imam Ahmad, dan sanadnya berstatus kuat.

Ibnu Abi Ad-Dun-ya (281 H) berkata: Abdullah bin Muhammad bin Hani Abu Abdurrohman An-Nahwi menceritakan kepada kami, Ma’di bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid bin Jud’an menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abbas (68 H) terbangun dari tidurnya lalu mengucapkan kalimat istirja (inna lillahi wa inna ilaihi roji’un), kemudian ia berkata: “Demi Alloh, Husain telah terbunuh.”

Para sahabatnya lalu menyanggah: “Sama sekali tidak, wahai Ibnu Abbas! Sama sekali tidak!” Ibnu Abbas menjawab: “Aku telah bermimpi melihat Rosululloh membawa sebuah botol kaca berisi darah, lalu beliau bersabda, ‘Apakah kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan umatku sepeninggalku?

Mereka telah membunuh anakku Husain, dan ini adalah darahnya serta darah para sahabatnya yang aku angkat kepada Alloh’.”

Ali bin Zaid berkata: “Lalu dicatatlah hari dan jam ketika Ibnu Abbas mengatakan hal tersebut. Maka tidak berselang lama kecuali setelah 24 hari, datanglah berita di Madinah bahwa Husain memang terbunuh pada hari dan jam tersebut.”

At-Tirmidzi (279 H) meriwayatkan dari Abu Said Al-Asyajj, dari Abu Kholid Al-Ahmar, dari Razin, dari Salma, ia berkata: Aku menemui Ummu Salamah (62 H) dalam keadaan ia sedang menangis, lalu aku bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?”

Ummu Salamah menjawab: “Aku melihat Rosululloh dalam mimpi, sementara di atas kepala dan jenggot beliau terdapat debu. Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan Anda, wahai Rosululloh?’

Beliau bersabda: ‘Aku baru saja menyaksikan pembunuhan Husain’.”

Muhammad bin Sa’d (230 H) berkata: Muhammad bin Abdillah Al-Anshori mengabarkan kepada kami, Qurroh bin Kholid mengabarkan kepada kami, Amir bin Abdul Wahid mengabarkan kepadaku, dari Syahr bin Hausyab (100 H), ia berkata: Ketika kami sedang berada di kediaman Ummu Salamah, istri Nabi , kami mendengar suara jeritan histeris. Jeritan itu terus mendekat hingga sampai kepada Ummu Salamah, lalu wanita pembawa berita itu berkata: “Husain telah terbunuh.”

Ummu Salamah berkata: “Mereka benar-benar telah melakukannya. Semoga Alloh memenuhi kuburan mereka—atau rumah mereka—dengan api.” Kemudian Ummu Salamah jatuh pingsan, lalu kami pun berdiri meninggalkan tempat.

Imam Ahmad (241 H) berkata: Abdurrohman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ammar, ia berkata: Aku mendengar Ummu Salamah berkata:

«سَمِعْتُ الْجِنَّ يَبْكِينَ عَلَى حُسَيْنٍ، وَسَمِعْتُ الْجِنَّ تَنُوحُ عَلَى حُسَيْنٍ»

“Aku mendengar bangsa jin menangisi Husain, dan aku mendengar bangsa jin meratapi Husain.”

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Husain bin Idris, dari Hasyim bin Hasyim, dari ibunya, dari Ummu Salamah, ia berkata: Aku mendengar bangsa jin meratapi Husain, dan mereka melantunkan bait syair:

أَيُّهَا الْقَاتِلُونَ ظُلْمًا حُسَيْنًا... أَبْشِرُوا بِالْعَذَابِ وَالتَّنْكِيلِ

كُلُّ أَهْلِ السَّمَاءِ يَدْعُو عَلَيْكَمْ... مِنْ نَبِيٍّ وَمُرْسَلٍ وَقَبِيلِ

قَدْ لُعِنْتُمْ عَلَى لَسَانِ ابْنِ دَاوُدَ... وَمُوسَى وَصَاحِبِ الْإِنْجِيلِ

“Wahai orang-orang yang membunuh Husain secara zholim, bergembiralah kalian dengan azzab dan siksaan yang membinasakan. Seluruh penduduk langit mendoakan keburukan atas kalian, mulai dari Nabi, Rosul, hingga setiap kelompok Malaikat. Kalian benar-benar telah dilaknat melalui lisan putra Dawud (Nabi Sulaiman), lisan Musa, dan lisan pembawa Injil (Nabi Isa).”

Telah diriwayatkan pula dari jalur lain dari Ummu Salamah dengan bait syair yang berbeda dari ini.

Hanya Alloh yang lebih mengetahui.

Al-Khotib (463 H) berkata: Ahmad bin Utsman bin Mayyah As-Sukkari mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdillah bin Ibrahim Asy-Syafii menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syaddad Al-Misma’i menceritakan kepada kami, Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Abdullah bin Habib bin Abi Tsabit menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Said bin Jubair (95 H), dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rosululloh bersabda:

«أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى مُحَمَّدٍ : إِنِّي قَتَلْتُ بِيَحْيَى بْنِ زَكَرِيَّا سَبْعِينَ أَلْفًا، وَأَنَا قَاتِلٌ بِابْنِ ابْنَتِكَ سَبْعِينَ أَلْفًا وَسَبْعِينَ أَلْفًا»

“Alloh Ta’ala mewahyukan kepada Muhammad : ‘Sesungguhnya Aku telah membalas kematian Yahya bin Zakariya dengan membunuh 70.000 orang, dan sesungguhnya Aku akan membalas kematian putra dari putri-mu dengan membunuh 70.000 orang ditambah 70.000 orang lagi’.”

Ini merupakan Hadits yang sangat ghorib (asing/ganjil) sekali, dan Al-Hakim (405 H) telah meriwayatkannya dalam kitab Al-Mustadrok miliknya. At-Thobaroni (360 H) juga menyebutkan riwayat-riwayat yang sangat ghorib di bagian ini.

 

[21] Kepalsuan Cerita Kaum Syiah Seputar Hari Asyuro

Sesungguhnya kaum Syiah telah bertindak melampaui batas pada hari Asyuro, sehingga mereka membuat banyak Hadits palsu dan kedustaan yang sangat keji;

Di antaranya adalah klaim bahwa matahari mengalami gerhana pada hari itu sampai-sampai bintang-bintang bermunculan, tidak ada satu batu pun yang diangkat pada hari itu melainkan di bawahnya ditemukan darah segar, ufuk langit menjadi merah merona, matahari terbit dengan pancaran sinar yang tampak seperti darah, langit berubah seolah-olah menjadi gumpalan darah kental, bintang-bintang saling bertabrakan satu sama lain, langit menurunkan hujan darah merah, serta klaim bahwa warna kemerahan di langit belum pernah ada sebelum hari tersebut.

Ibnu Lahii’ah meriwayatkan dari Abu Qobil Al-Mu’afiri, bahwa matahari mengalami gerhana pada hari itu sampai-sampai bintang-bintang bermunculan di waktu Zhuhur.

Juga klaim bahwa ketika kepala Husain dibawa masuk ke dalam istana gubernur, dinding-dinding istana mulai mengalirkan darah, serta bumi menjadi gelap gulita selama 3 hari berturut-turut.

Kemudian klaim bahwa tidak ada seorang pun yang menyentuh tanaman za’faron maupun wars (tanaman wewangian) yang dibawa bersama Husain pada hari itu, melainkan orang yang menyentuhnya akan mengalami luka bakar.

Serta klaim bahwa tidak ada satu batu pun dari batu-batu di Baitul Maqdis yang diangkat melainkan tampak di bawahnya darah segar yang mengalir.

Dan juga klaim bahwa unta-unta yang mereka rampas dari unta-unta milik Husain, ketika mereka memasak dagingnya, rasa daging tersebut berubah menjadi sangat pahit seperti jadam (tanaman obat yang sangat pahit).

Hingga kedustaan-kedustaan lainnya serta Hadits-Hadits palsu yang tidak ada satu pun yang shohih darinya.

Adapun riwayat-riwayat mengenai petaka dan fitnah yang menimpa orang-orang yang membunuh Husain, maka mayoritasnya adalah shohih; karena hampir tidak ada seorang pun dari para pembunuh itu yang selamat di dunia, melainkan ia pasti ditimpa suatu penyakit, dan kebanyakan dari mereka ditimpa penyakit gila.

Kaum Syiah dan Rafidhoh memiliki banyak kedustaan dan riwayat yang panjang lebar mengenai kronologi terbunuhnya Husain rodhiyallahu ‘anhu. Apa yang telah kami sebutkan di sini sebenarnya sudah mencukupi, dan pada sebagian riwayat yang kami ketengahkan di atas pun masih terdapat kritikan. Seandainya bukan karena Ibnu Jarir (310 H) dan para imam pakar Hadits lainnya yang menyebutkan riwayat tersebut, niscaya aku tidak akan membawakannya. Mayoritas riwayat tersebut berasal dari penukilan Abu Mikhnaf, Luth bin Yahya, yang mana ia adalah seorang penganut Syiah dan berstatus dho’if (lemah) dalam periwayatan Hadits di mata para ulama, akan tetapi ia adalah seorang sejarawan yang kuat hafalannya, yang memiliki catatan sejarah terperinci yang tidak dimiliki oleh orang lain. Oleh karena itu, banyak penulis sejarah generasi setelahnya yang bersandar kepadanya.

Hanya Alloh yang lebih mengetahui.

Kaum Rafidhoh telah berbuat berlebihan pada masa dinasti Bani Buyaih di sekitar tahun 400 H dan masa-masa di sekitarnya. Pada hari Asyuro di kota Baghdad dan kota-kota lainnya, genderang-genderang dipukul, abu dan jerami ditaburkan di jalan-jalan serta pasar-pasar, kain-kain karung hitam digantungkan di toko-toko, orang-orang menampakkan kesedihan dan ratapan, bahkan banyak di antara mereka yang tidak meminum air pada malam harinya demi menyerupai kondisi Husain yang terbunuh dalam keadaan haus. Kemudian para wanita keluar dengan membuka wajah-wajah mereka sambil meratap, memukuli wajah dan dada mereka, serta berjalan tanpa alas kaki di pasar-pasar, ditambah dengan bid’ah-bid’ah keji lainnya, pemuasan hawa nafsu yang mengerikan, serta perbuatan-perbuatan merusak kehormatan yang diada-adakan. Mereka melakukan ini semua dan yang sejenisnya semata-mata demi mencela institusi dinasti Bani Umayyah; karena Husain terbunuh pada masa pemerintahan mereka.

 

[22] Perilaku Kaum Nawashib di Syam

Perbuatan kaum Rofidhoh dan Syiah pada hari Asyuro tersebut kemudian dilawan secara ekstrem oleh kaum Nawashib (pembenci ahlul bait) dari penduduk Syam. Pada hari Asyuro, mereka justru memasak biji-biji bijian, mandi janabah, memakai wewangian, mengenakan pakaian mereka yang paling mewah, dan menjadikan hari tersebut sebagai hari raya. Mereka hidangkan berbagai jenis makanan pada hari itu serta menampakkan kegembiraan dan suka cita; mereka sengaja melakukan hal tersebut untuk menentang dan menyelisihi kaum Rofidhoh.

Orang-orang yang membunuh Husain telah berbuat salah dalam berijtihad dengan dalih bahwa Husain datang untuk memecah belah persatuan kaum Muslimin setelah mereka bersatu, dan untuk menggulingkan pemimpin yang telah dibai’at oleh manusia dan disepakati bersama. Padahal, telah terdapat dalam Shohih Muslim Hadits yang melarang keras perbuatan tersebut, memperingatkannya, dan memberikan ancaman atasnya. Namun, jikalau dipastikan bahwa sekelompok orang bodoh telah salah dalam berijtihad lalu membunuhnya, sedangkan mereka sama sekali tidak berhak untuk membunuhnya, melainkan wajib atas mereka untuk mengabulkan salah satu dari tiga opsi yang diajukan oleh Husain sebelumnya, maka apabila sekelompok penguasa zholim itu dicela, tidak boleh seluruh umat Islam secara keseluruhan ikut dicela dan dituduh berkhianat terhadap Nabinya . Urusannya tidaklah seperti yang diasumsikan dan dijalani oleh kaum Rofidhoh, melainkan mayoritas umat Islam sejak masa dahulu hingga masa kini sangat membenci tragedi pembunuhan Husain dan para sahabatnya,

Kecuali segelintir kelompok kecil dari penduduk Kufah—semoga Alloh memburukkan mereka—yang mana mayoritas mereka sebenarnya telah menyurati Husain untuk memanfaatkan beliau demi mencapai tujuan-tujuan dan ambisi-ambisi mereka yang rusak. Ketika Ibnu Ziyad mengetahui hal tersebut dari mereka, ia memberikan penawaran duniawi yang mereka inginkan, lalu mengancam serta membujuk mereka dengan janji dan ancaman, sehingga mereka berbalik meninggalkan Husain, menelantarkannya, lalu membunuhnya. Kendati demikian, tidak semua pasukan tersebut ridho dengan terjadinya pembunuhan Husain, bahkan Yazid bin Muawiyah (64 H) pun tidak ridho dengan hal tersebut—hanya Alloh yang lebih mengetahui—tetapi ia juga tidak membencinya. Dugaan yang kuat menunjukkan bahwa sekiranya Yazid mampu menangkap Husain sebelum beliau terbunuh, niscaya ia akan memaafkannya, sebagaimana yang diwasiatkan oleh ayahnya (Muawiyah) kepadanya, dan sebagaimana yang ditegaskan sendiri oleh Yazid saat mengabarkan tentang dirinya mengenai hal itu.

Yazid pun telah melaknat Ibnu Ziyad atas perbuatannya tersebut dan mencelanya berdasarkan apa yang tampak dan lahir, akan tetapi ia tidak memecatnya dari jabatan gubernur karena tindakan tersebut, tidak menghukumnya, dan tidak pula mengirimkan surat yang mencela tindakannya.

Hanya Alloh yang lebih mengetahui.

Setiap orang Muslim sepatutnya merasa sedih atas tragedi pembunuhan Husain rodhiyallahu ‘anhu ini, karena beliau termasuk di antara pemuka kaum Muslimin, ulama dari kalangan Shohabat, dan putra dari putri Rosululloh yang merupakan putri beliau yang paling utama. Beliau adalah seorang yang ahli ibadah, pemberani, lagi dermawan. Akan tetapi, tidak dibenarkan apa yang dilakukan oleh kaum Syiah berupa menampakkan ratapan dan kesedihan yang mendalam, yang mana mayoritas dari tindakan tersebut hanyalah kepura-puraan dan riya. Padahal ayah Husain (Ali bin Abi Tholib) jauh lebih utama daripada dirinya, namun mereka tidak menjadikan hari terbunuhnya sang ayah sebagai hari duka sebagaimana hari terbunuhnya Husain. Ayah beliau terbunuh pada hari Jumat ketika hendak keluar melaksanakan Sholat fajar pada tanggal 17 Romadhon tahun 40 H. Begitu pula Utsman bin Affan, beliau lebih utama daripada Ali menurut pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan beliau terbunuh dalam keadaan dikepung di dalam rumahnya pada hari-hari Tasyriq di bulan Dzulhijjah tahun 36 H, dalam keadaan disembelih dari urat leher ke urat leher lainnya, namun manusia tidak menjadikan hari terbunuhnya sebagai hari duka. Demikian pula Umar bin Al-Khotthob, beliau lebih utama daripada Utsman dan Ali, terbunuh dalam keadaan tegak berdiri melaksanakan ibadah sholat di mihrab pada Sholat fajar, saat beliau sedang membaca Al-Qur’an, namun manusia tidak menjadikan hari terbunuhnya sebagai hari duka. Demikian juga Ash-Shiddiq (Abu Bakr), beliau lebih utama daripada Umar, namun manusia tidak menjadikan hari wafatnya sebagai hari duka. Terlebih Rosululloh , beliau adalah pemimpin anak cucu Adam di dunia dan Akhiroh, lalu Alloh mewafatkan beliau sebagaimana para Nabi sebelum beliau wafat, namun tidak ada seorang pun yang menjadikan hari wafat beliau sebagai hari duka dengan melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dari kaum Rofidhoh pada hari gugurnya Husain. Tidak ada pula seorang pun yang menyebutkan bahwa tampak pada hari wafat mereka sesuatu dari tanda-tanda alam yang diklaim oleh kaum Rofidhoh terjadi pada hari pembunuhan Husain, seperti terjadinya gerhana matahari, munculnya warna kemerahan di langit, dan hal-hal lain yang telah lalu.

Ucapan terbaik yang semestinya diucapkan ketika mengingat musibah-musibah ini dan yang sejenisnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Husain bin Ali, dari kakeknya yaitu Rosululloh , bahwasanya beliau bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ فَيَتَذَكَّرُهَا وَإِنْ تَقَادَمَ عَهْدُهَا، فَيُحْدِثُ لَهَا اسْتِرْجَاعًا، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ يَوْمٍ أُصِيبَ بِهَا»

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa suatu musibah, lalu ia mengingatnya kembali meskipun masanya telah lama berlalu, kemudian ia memperbarui ucapan istirja (inna lillahi wa inna ilaihi roji’un) untuk musibah tersebut, melainkan Alloh akan memberinya pahala yang semisal dengan pahala pada hari ia ditimpa musibah tersebut.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah (273 H).

 

[23] Makam Husain

Adapun mengenai makam Husain rodhiyallahu ‘anhu, telah masyhur di kalangan mayoritas ulama kontemporer belakangan bahwa makam beliau berada di tempat ziarah Ali di suatu tempat di kawasan Thoff dekat sungai Karbala. Maka dikatakan: sesungguhnya tempat ziarah tersebut dibangun di atas makam beliau.

Hanya Alloh yang lebih mengetahui.

Ibnu Jarir dan ulama lainnya telah menyebutkan bahwa lokasi tempat terbunuhnya Husain telah terhapus jejaknya, sehingga tidak ada seorang pun yang mengetahui kepastian lokasinya berdasarkan suatu berita yang valid.

Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain (219 H) dahulu selalu mengingkari orang yang mengklaim bahwa dirinya mengetahui letak makam Husain rodhiyallahu ‘anhu.

Hisyam bin Al-Kalbi (204 H) menyebutkan bahwa ketika air dialirkan di atas makam Husain dengan tujuan untuk menghapus jejaknya, air tersebut surut setelah 40 hari. Kemudian datanglah seorang Arob badui dari Bani Asad, lalu ia mulai mengambil tanah segenggam demi segenggam dan menciumnya hingga ia menemukan makam Husain, lalu ia menangis dan berkata: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, alangkah wanginya dirimu dan alangkah wanginya tanah kuburanmu!”

Kemudian ia melantunkan bait syair:

“Mereka ingin menyembunyikan makamnya dari musuhnya, namun keharuman tanah makam itu justru menunjukkan letak makam tersebut.”

 

[24] Kepala Husain

Adapun mengenai kepala beliau rodhiyallahu ‘anhu, pendapat yang masyhur di antara sejarawan dan ahli siroh adalah bahwa Ibnu Ziyad mengirimkan kepala tersebut kepada Yazid bin Muawiyah, meskipun ada sebagian orang yang mengingkari hal itu, namun menurut pandanganku pendapat yang pertama itulah yang lebih masyhur.

Hanya Alloh yang lebih mengetahui.

Kemudian para ulama berselisih pendapat setelah itu mengenai tempat di mana kepala tersebut dimakamkan;

Muhammad bin Sa’d meriwayatkan bahwa Yazid mengirimkan kepala Husain kepada Amru bin Said selaku gubernur Madinah, lalu ia memakamkannya di samping makam ibundanya (Fathimah) di pemakaman Baqi’.

Ibnu Abi Ad-Dun-ya menyebutkan dari jalur Utsman bin Abdurrohman, dari Muhammad bin Umar bin Sholih—dan keduanya adalah rowi yang dho’if—bahwa kepala tersebut senantiasa berada di dalam gudang penyimpanan Yazid bin Muawiyah sampai ia wafat, kemudian kepala itu diambil dari gudangnya, lalu dikafani dan dimakamkan di bagian dalam gerbang Al-Faradis di kota Damaskus.

Aku (Ibnu Katsir, 774 H) berkata: Lokasi tersebut dikenal sebagai Masjid Ar-Ra’s (Masjid Kepala) pada hari ini, yang terletak di bagian dalam gerbang Al-Faradis yang kedua.

Al-Hafizh Ibnu Asakir (571 H) menyebutkan dalam kitab Tarikh miliknya pada biografi Royya, wanita pengasuh Yazid bin Muawiyah, bahwasanya ketika Yazid meletakkan kepala Husain di hadapannya, ia melantunkan bait syair milik Ibnu Az-Ziba’ro, yaitu ucapannya: “Aduhai sekiranya para sesepuhku di perang Badar menyaksikan ketakutan suku Khozroj akibat hantaman tombak.” Royya berkata: “Kemudian Yazid memancangnya di Damaskus selama 3 hari, lalu diletakkan di dalam gudang persenjataan, hingga datanglah masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik. Kepala tersebut lalu dibawa kepadanya dalam keadaan telah menjadi tulang putih, maka Sulaiman mengafaninya, memberinya wewangian, mensholatinya, lalu menguburkannya di pemakaman kaum Muslimin. Ketika datang pasukan hitam—yaitu Bani Abbas—menumbangkan Bani Umayyah, mereka membongkar makam kepala Husain tersebut dan membawanya pergi bersama mereka.”

Ibnu Asakir menyebutkan bahwa wanita pengasuh ini tetap hidup setelah runtuhnya daulah Bani Umayyah hingga usianya melewati 100 tahun. Hanya Alloh yang lebih mengetahui.

Kelompok yang menamakan diri mereka sebagai dinasti Fatimiyah, yang menguasai wilayah Mesir sebelum tahun 400 H hingga setelah tahun 660 H, mengklaim bahwa kepala Husain telah sampai ke wilayah Mesir, lalu mereka menguburkannya di sana dan membangun sebuah tempat ziarah yang masyhur di Mesir yang dinamakan Tajul Husain.

Pembangunan itu terjadi setelah tahun 500 H. Padahal, telah ditegaskan oleh lebih dari satu orang dari para imam ahli ilmu bahwasanya klaim tersebut sama sekali tidak memiliki dasar asal-usulnya. Mereka sengaja melakukan hal itu hanya untuk melariskan kebatilan dari apa yang mereka klaim berupa nasab syarif (keturunan mulia Nabi), padahal dalam klaim tersebut mereka adalah para pendusta lagi pengkhianat. Hal ini telah ditegaskan oleh Qodhi Al-Baqillani (403 H) dan lebih dari satu orang dari para imam ulama pada masa pemerintahan mereka di sekitar tahun 400 H, sebagaimana hal tersebut akan kami jelaskan seluruhnya secara terperinci apabila kami telah sampai pada pembahasannya di tempat-tempatnya, In Syaa Alloh Ta’ala.

 

[25] Penjelasan Sebagian dari Keutamaan Al-Husain

Ini adalah sebuah pasal mengenai penyebutan sebagian dari keutamaan-keutamaannya.

Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dari Hadits Syu’bah dan Mahdi bin Maimun, dari Muhammad bin Abi Ya’qub, aku mendengar Ibnu Abi Nu’m berkata: Aku mendengar Abdullah bin Umar (73 H) saat ia ditanya oleh seorang lelaki dari penduduk Irak mengenai hukum seorang muhrim (orang yang berihrom) yang membunuh seekor lalat. Ibnu Umar lalu berkata: Penduduk Irak bertanya tentang hukum membunuh lalat, padahal mereka telah membunuh putra dari putri Rosululloh !

Dan sungguh Rosululloh telah bersabda:

«هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا»

“Mereka berdua (Hasan dan Husain) adalah dua kesayanganku di dunia.”

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Uqbah bin Mukrom, dari Wahb bin Jarir, dari ayahnya, dari Muhammad bin Abi Ya’qub dengan lafazh yang semisal, bahwa seorang lelaki dari penduduk Irak bertanya kepada Ibnu Umar tentang hukum darah nyamuk yang mengenai pakaian. Ibnu Umar lalu berkata: “Lihatlah kepada penduduk Irak ini, mereka bertanya tentang hukum darah nyamuk, padahal mereka telah membunuh putra dari putri Rosululloh ,” kemudian ia menyebutkan kesempurnaan Hadits tersebut.

At-Tirmidzi kemudian berkomentar: “Hadits ini Hasan Shohih.”

Imam Ahmad berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Al-Jahhaf, dari Abu Hazim, dari Abu Huroiroh (57 H), ia berkata: Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَحَبَّهُمَا فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي»

“Siapa yang mencintai mereka berdua, maka ia benar-benar telah mencintaiku. Dan siapa yang membenci mereka berdua, maka ia benar-benar telah membenciku.”

Maksud beliau adalah Hasan dan Husain.

Imam Ahmad berkata: Talid bin Sulaiman—seorang penduduk Kufah—menceritakan kepada kami, Abu Al-Jahhaf menceritakan kepada kami, dari Abu Hazim, dari Abu Huroiroh, ia berkata: Nabi memandang kepada Ali, Hasan, Husain, dan Fathimah, lalu beliau bersabda:

«أَنَا حَرْبٌ لِمَنْ حَارَبَكُمْ، سِلْمٌ لِمَنْ سَالَمَكُمْ»

“Aku menyatakan perang kepada orang yang memerangi kalian, dan aku memberikan kedamaian kepada orang yang berdamai dengan kalian.”

Imam Ahmad bersendirian dalam meriwayatkan kedua Hadits ini.

[26] Hadits-Hadits tentang Kedudukan Al-Hasan dan Al-Husain di Sisi Rosululloh

Imam Ahmad (241 H) berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami, Hajjaj yaitu Ibnu Dinar menceritakan kepada kami, dari Ja’far bin Iyas, dari Abdurrohman bin Mas’ud, dari Abu Huroiroh, dia berkata:

Rosululloh keluar menemui kami dengan membawa Al-Hasan dan Al-Husain, yang satu berada di atas pundak ini dan yang satu lagi di atas pundak ini, sementara beliau mencium yang ini sekali dan yang ini sekali, hingga beliau sampai kepada kami. Lalu seorang lelaki berkata kepada beliau: “Wahai Rosululloh, demi Alloh, sesungguhnya engkau benar-benar mencintai keduanya.” Maka beliau bersabda:

«مَنْ أَحَبَّهُمَا فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي»

“Siapa yang mencintai keduanya, maka dia benar-benar telah mencintaiku, dan siapa yang membenci keduanya, maka dia benar-benar telah membenciku.” Hadits ini diriwayatkan secara bersendiri oleh Ahmad (241 H).

Al-Hafizh Abu Ya’la Al-Maushili (307 H) berkata: Abu Sa’id Al-Asyajj menceritakan kepada kami, ‘Uqbah bin Kholid menceritakan kepadaku, Yusuf bin Ibrohim At-Tamimi menceritakan kepadaku, bahwa dia mendengar Anas bin Malik berkata: Rosululloh pernah ditanya: “Siapakah di antara ahli baitmu yang paling engkau cintai?”

Beliau menjawab:

الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ. قَالَ: وَكَانَ يَقُولُ: ادْعُ لِيَ ابْنَيَّ. فَيَشُمُّهُمَا وَيَضُمُّهُمَا إِلَيْهِ

“Al-Hasan dan Al-Husain.” Anas berkata: Beliau juga sering bersabda: “Panggilkan kedua anakku kemari.” Lalu beliau mencium keduanya dan mendekap keduanya ke dada beliau.”

Demikian pula diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (279 H) dari Abu Sa’id Al-Asyajj dengan sanad tersebut, dan dia berkata: Hadits ini hasan ghorib (asing sanadnya) dari Hadits Anas.

Imam Ahmad (241 H) berkata: Aswad bin ‘Amir dan ‘Affan menceritakan kepada kami, dari Hammad bin Salamah, dari ‘Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Anas:

Rosululloh selalu melewati rumah Fatima selama 6 bulan setiap kali beliau keluar untuk menunaikan Sholat Fajar, lalu beliau bersabda: “Wahai ahli bait, mari mendirikan Sholat!

﴿إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا﴾

Sesungguhnya Alloh hanyalah bermaksud hendak menghilangkan dosa dan keburukan dari kalian, wahai ahli bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”

At-Tirmidzi (279 H) meriwayatkannya dalam kitab Tafsir dari ‘Abd bin Humaid, dari ‘Affan dengan sanad tersebut, dan dia berkata: Ghorib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari Hadits Hammad bin Salamah.

At-Tirmidzi (279 H) berkata: Mahmud bin Ghoilan menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Fudhail bin Marzuq, dari ‘Adi bin Tsabit, dari Al-Baro: Rosululloh melihat Al-Hasan dan Al-Husain, lalu beliau berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”

Kemudian At-Tirmidzi (279 H) berkata: Hadits ini hasan shohih.

Imam Ahmad (241 H) telah meriwayatkan dari Zaid bin Al-Hubab, dari Al-Husain bin Waqid. Demikian pula para pemilik kitab Sunan yang 4 meriwayatkannya dari Hadits Al-Husain bin Waqid, dari Abdulloh bin Buroidah, dari ayahnya, dia berkata:

Ketika Rosululloh sedang berkhutbah di hadapan kami, tiba-tiba Al-Hasan dan Al-Husain datang dengan mengenakan kemeja merah, keduanya berjalan sambil tersandung-sandung. Maka Rosululloh turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dan meletakkan keduanya di hadapan beliau, kemudian beliau bersabda:

صَدَقَ اللَّهُ: ﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ﴾ فَنَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ حَدِيثِي وَرَفَعْتُهُمَا

Maha benar Alloh dengan firman-Nya: ‘Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah sebagai ujian.’ Aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan tersandung-sandung, maka aku tidak sabar sampai aku memotong pembicaraanku lalu mengangkat keduanya.”

Ini adalah lafazh At-Tirmidzi (279 H), dan dia berkata: Ghorib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari Hadits Al-Husain bin Waqid.

Kemudian At-Tirmidzi (279 H) berkata: Al-Hasan bin ‘Arofah menceritakan kepada kami, Ismail bin ‘Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Abdulloh bin ‘Utsman bin Khutsaim, dari Sa’id bin Rasyid, dari Ya’la bin Murroh, dia berkata: Rosululloh bersabda:

«حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا، حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنَ الْأَسْبَاطِ»

“Al-Husain adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Al-Husain. Semoga Alloh mencintai orang yang mencintai Al-Husain. Al-Husain adalah satu umat di antara umat-umat yang besar.”

Kemudian At-Tirmidzi (279 H) berkata: Ini adalah Hadits hasan.

Ahmad (241 H) juga meriwayatkannya dari ‘Affan, dari Wuhaib, dari Abdulloh bin ‘Utsman bin Khutsaim dengan sanad tersebut.

Al-Thobaroni (360 H) pun meriwayatkannya dari Bakr bin Sahl, dari Abdulloh bin Sholih, dari Mu’awiyah bin Sholih, dari Rosyid bin Sa’d, dari Ya’la bin Murroh, bahwa Rosululloh bersabda:

«الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سِبْطَانِ مِنَ الْأَسْبَاطِ»

“Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua umat di antara umat-umat yang besar.”

Imam Ahmad (241 H) berkata: Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Ibnu Abi Nu’m, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: Rosululloh bersabda:

«الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ»

“Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua pemimpin para pemuda penghuni Jannah.”

At-Tirmidzi (279 H) meriwayatkannya dari Hadits Sufyan Ats-Tsauri dan selainnya, dari Yazid bin Abi Ziyad, dan dia berkata: Hasan shohih.

Abu Al-Qosim Al-Baghowi (317 H) telah meriwayatkannya dari Dawud bin Rusyaid, dari Marwan Al-Fazari, dari Al-Hakam bin Abdurrohman bin Abi Nu’m, dari ayahnya, dari Abu Sa’id, dia berkata: Rosululloh bersabda:

«الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، إِلَّا ابْنَيِ الْخَالَةِ يَحْيَى وَعِيسَى، عَلَيْهِمَا السَّلَامُ»

“Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua pemimpin para pemuda penghuni Jannah, kecuali dua anak sepupu dari saudara perempuan ibu, yaitu Yahya dan ‘Isa ‘alaihimas salam.”

An-Nasa’i (303 H) mengeluarkannya dari Hadits Marwan bin Mu’awiyah Al-Fazari dengan sanad tersebut. Suwaid bin Sa’id juga meriwayatkannya dari Muhammad bin Hazim, dari Al-A’masy, dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’id.

Imam Ahmad (241 H) berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Robi’ bin Sa’d, dari Abu Sabith, dia berkata: Al-Husain bin ‘Ali masuk ke dalam Masjid, lalu Jabir bin Abdulloh berkata:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى سَيِّدِ شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا»

“Siapa yang ingin melihat pemimpin para pemuda penghuni Jannah, maka lihatlah orang ini.”

«سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“Aku mendengarnya langsung dari Rosululloh .”

Hadits ini diriwayatkan secara bersendiri oleh Ahmad (241 H).

At-Tirmidzi (279 H) dan An-Nasa’i (303 H) meriwayatkan dari Hadits Isroil, dari Maisaroh bin Habib, dari Al-Minhal bin ‘Amr, dari Zirr bin Hubaisy, dari Hudzaifah, bahwa ibunya mengutusnya agar memohonkan ampunan kepada Rosululloh untuk dirinya dan ibunya.

Hudzaifah berkata: Aku mendatangi beliau lalu menunaikan Sholat Maghrib bersama beliau, kemudian beliau terus melanjutkan Sholat sampai menunaikan Sholat Isya. Setelah itu beliau beranjak pergi lalu aku mengikuti beliau. Beliau mendengar suaraku lalu bertanya: “Siapa ini? Apakah Hudzaifah?” Aku menjawab: “Benar.”

«قَالَ: مَا حَاجَتُكَ؟ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ وَلِأُمِّكَ، إِنَّ هَذَا مَلَكٌ لَمْ يَنْزِلْ إِلَى الْأَرْضِ قَبْلَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ، اسْتَأْذَنَ رَبَّهُ بِأَنْ يُسَلِّمَ عَلَيَّ وَيُبَشِّرَنِي بِأَنَّ فَاطِمَةَ سَيِّدَةُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَأَنَّ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ»

Beliau bersabda: “Apa keperluanmu? Semoga Alloh mengampunimu dan ibumu. Sesungguhnya ini adalah sesosok Malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelum malam ini. Dia meminta izin kepada Robb-nya untuk mengucapkan salam kepadaku dan membawa kabar gembira kepadaku bahwa Fatima adalah pemimpin para wanita penghuni Jannah, serta Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua pemimpin para pemuda penghuni Jannah.”

Kemudian At-Tirmidzi (279 H) berkata: Ini adalah Hadits hasan ghorib, tidak diketahui kecuali dari Hadits Isroil. Hadits semisal ini juga diriwayatkan dari jalur ‘Ali bin Abi Tholib, dan dari jalur Al-Husain sendiri, juga dari ‘Umar dan putrahnya Abdulloh, dari Abdulloh bin ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Anas, dan selain mereka, namun pada seluruh sanadnya terdapat kelemahan, wallohu a’lam.

Abu Dawud At-Thoyalisi (204 H) berkata: Musa bin Muthoir menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Huroiroh, dia berkata: Aku mendengar Rosululloh bersabda mengenai Al-Hasan dan Al-Husain:

«مَنْ أَحَبَّنِي فَلْيُحِبَّ هَذَيْنِ»

“Siapa yang mencintaiku, maka hendaklah dia mencintai kedua anak ini.”

Imam Ahmad (241 H) berkata: Sulaiman bin Dawud menceritakan kepada kami, Ismail yaitu Ibnu Ja’far menceritakan kepada kami, Muhammad yaitu Ibnu Abi Harmalah mengabarkan kepadaku, dari ‘Atho, bahwa seorang lelaki mengabarkan kepadanya bahwa dia melihat Nabi mendekap Al-Hasan dan Al-Husain ke dada beliau seraya berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”

Diriwayatkan pula dari Usamah bin Zaid dan Salman Al-Farisi riwayat yang serupa dengan ini, namun di dalamnya terdapat kelemahan dan cacat, wallohu a’lam.

Imam Ahmad (241 H) berkata: Aswad bin ‘Amir menceritakan kepada kami, Kamil menceritakan kepada kami, dan Abu Al-Mundzir menceritakan kepada kami dari Kamil -Aswad berkata: maknanya sama-, dari Abu Sholih, dari Abu Huroiroh, dia berkata:

“Kami pernah menunaikan Sholat Isya bersama Rosululloh . Apabila beliau bersujud, Al-Hasan dan Al-Husain melompat ke atas punggung beliau. Jika beliau mengangkat kepala, beliau memegang keduanya dengan sangat lembut lalu meletakkannya di lantai. Apabila beliau kembali bersujud, keduanya kembali melompat. Hingga setelah selesai menunaikan Sholatnya, beliau mendudukkan keduanya di atas kedua paha beliau.”

Abu Huroiroh berkata: Maka aku berdiri menghampiri beliau lalu berkata: “Wahai Rosululloh, bolehkah aku mengembalikan keduanya kepada ibunya?” Tiba-tiba kilatan cahaya memancar, lalu beliau bersabda kepada keduanya: “Pergilah menemui ibu kalian.”

Abu Huroiroh berkata: Maka cahaya kilatan tersebut terus menerangi jalan mereka berdua hingga keduanya masuk ke rumah ibunya.

Musa bin ‘Utsman Al-Hadhromi telah meriwayatkan dari Al-A’masy, dari Abu Sholih, dari Abu Huroiroh riwayat yang serupa.

Diriwayatkan pula dari Abu Sa’id dan ‘Umar kisah yang mendekati peristiwa ini.

Imam Ahmad (241 H) berkata: ‘Affan menceritakan kepada kami, Mu’adz bin Mu’adz menceritakan kepada kami, Qois bin Ar-Robi’ menceritakan kepada kami, dari Abu Al-Miqdam, dari Abdurrohman Al-Azroq, dari ‘Ali, dia berkata:

Rosululloh masuk menemuiku saat aku sedang berbaring di atas tempat tidur. Lalu Al-Hasan atau Al-Husain meminta minum. Maka Rosululloh bangkit menuju ke seekor kambing betina milik kami yang sedikit air susunya, lalu beliau memerahnya hingga air susunya memancar deras. Kemudian anak yang satunya lagi datang hendak minum, namun Nabi menahannya terlebih dahulu. Maka Fatimah berkata: “Wahai Rosululloh, seolah-olah anak yang ini lebih engkau cintai daripada yang satunya?”

Beliau menjawab:

«لَا، وَلَكِنَّهُ اسْتَسْقَى قَبْلَهُ». ثُمَّ قَالَ: «إِنِّي وَإِيَّاكِ وَهَذَيْنِ وَهَذَا الرَّاقِدَ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Tidak, melainkan karena dia meminta minum terlebih dahulu sebelum saudaranya.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya aku, kamu, kedua anak ini, dan orang yang sedang tidur ini berada di satu tempat yang sama pada Hari Qiyamah.”

Hadits ini diriwayatkan secara bersendiri oleh Ahmad (241 H). Abu Dawud At-Thoyalisi (204 H) juga meriwayatkannya dari ‘Amr bin Tsabit, dari ayahnya, dari Abu Fakhitah, dari ‘Ali, lalu dia menyebutkan riwayat yang serupa.

Diriwayatkan pula dari Abu Sa’id Al-Khudri, serta dari Maimunah dan Ummu Salamah, kedua Ummul Mu’minin, riwayat yang semisal atau serupa dengannya.

 

[27] Penghormatan Para Shohabat terhadap Al-Hasan dan Al-Husain

Telah tsabit (shohih) bahwa ‘Umar bin Al-Khotthob (23 H) sangat mencintai keduanya, menghormati keduanya, menggendong keduanya, serta memberikan bagian tunjangan kepada keduanya di dalam kitab Diwan (daftar penerima tunjangan negara) dalam jumlah yang sama sebagaimana yang beliau berikan kepada ayah mereka. Suatu kali pernah didatangkan pakaian-pakaian indah dari Yaman, lalu beliau membagikannya di antara anak-anak para Shohabat, namun beliau tidak memberikan sesuatu pun darinya kepada Al-Hasan dan Al-Husain. Beliau berkata: “Tidak ada satu pun di antara pakaian ini yang pantas untuk mereka berdua.”

Kemudian beliau mengirim utusan kepada wakil pemerintah di Yaman, lalu memesankan khusus bagi keduanya 2 pakaian yang sesuai untuk kedudukan mereka berdua.

Muhammad bin Sa’ad (230 H) berkata: Qobishoh bin ‘Uqbah mengabarkan kepada kami, Yunus bin Abi Ishaq menceritakan kepada kami, dari Al-‘Aizar bin Huraits, dia berkata: Ketika ‘Amr bin Al-‘Ash sedang duduk di bawah naungan Ka’bah, tiba-tiba dia melihat Al-Husain bin ‘Ali datang mendekat, lalu dia berkata: “Orang ini adalah penduduk bumi yang paling dicintai oleh penduduk langit.”

Az-Zubair bin Bakkar (256 H) berkata: Ahmad bin Sulaiman menceritakan kepadaku, dari Ad-Darowardi, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya:

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَايَعَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَعْفَرٍ، وَهُمْ صِغَارٌ لَمْ يَبْلُغُوا، وَلَمْ يُبَايِعْ صَغِيرًا إِلَّا مِنَّا»

“Bahwa Rosululloh membaiat Al-Hasan, Al-Husain, Abdulloh bin ‘Abbas, dan Abdulloh bin Ja’far saat mereka masih kecil dan belum baligh, dan beliau tidak pernah membaiat anak kecil kecuali dari kalangan kami.”

Riwayat ini berstatus mursal ghorib.

Muhammad bin Sa’ad (230 H) berkata: Ya’la bin ‘Ubaid mengabarkan kepada kami, ‘Ubaidulloh bin Al-Walid Al-Washofi menceritakan kepada kami, dari Abdulloh bin ‘Ubaid bin ‘Umair, dia berkata: Al-Husain bin ‘Ali menunaikan ibadah Haji sebanyak 25 kali dengan berjalan kaki, sementara unta-unta tunggangannya yang bagus dituntun di hadapannya.

Dan Al-Fadhl bin Dukain Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Hafsh bin Ghiyas menceritakan kepada kami, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, bahwa Al-Husain bin ‘Ali menunaikan ibadah Haji dengan berjalan kaki, sementara unta-unta tunggangannya yang bagus dituntun di belakangnya.

Pendapat yang benar bahwa yang melakukan hal tersebut hanyalah Al-Hasan, saudaranya, sebagaimana yang dikisahkan oleh Al-Bukhori (256 H).

Al-Madaini (228 H) berkata: Pernah terjadi suatu perselisihan ucapan antara Al-Hasan dan Al-Husain hingga mereka saling mendiamkan. Ketika setelah berlalu peristiwa itu, Al-Hasan mendatangi Al-Husain, lalu dia merangkul kepalanya dan menciumnya seraya berkata: “Sesungguhnya hal yang menghalangiku untuk memulai perdamaian ini terlebih dahulu adalah karena aku memandang bahwa dirimu lebih berhak atas keutamaan daripada diriku, sehingga aku tidak suka merebut apa yang menjadi hak utamamu.”

Al-Ashma’i (216 H) mengisahkan dari Ibnu ‘Aun, bahwa Al-Hasan pernah menulis surat kepada Al-Husain yang isinya mencela tindakannya yang suka memberikan harta kepada para penyair, maka Al-Husain menjawab: “Sesungguhnya sebaik-baik harta adalah harta yang digunakan untuk menjaga kehormatan diri.”

Al-Thobaroni (360 H) meriwayatkan: Abu Hanifah Muhammad bin Hanifah Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Yazid bin ‘Amr bin Al-Baro Al-Ghonawi menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Al-Haitsam menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Husain bin ‘Ali sedang melakukan thowaf di Baitullah, lalu ketika dia hendak mengusap Hajar Aswad, orang-orang langsung memberikan kelapangan jalan untuknya, sementara Al-Farozdaq bin Gholib melihat ke arahnya. Lalu seorang lelaki bertanya: “Wahai Abu Firas, siapakah orang ini?”

Maka Al-Farozdaq melantunkan bait syair:

Inilah orang yang jejak langkahnya dikenal baik oleh tanah Bathha, dan Baitullah mengenalnya, demikian pula tanah halal maupun tanah harom.

Inilah putra dari sebaik-baik hamba Alloh seluruhnya, inilah manusia yang taqwa, bersih, suci, dan laksana bendera petunjuk.

Hampir saja sudut Hatim menahannya karena mengenali telapak tangannya saat dia datang untuk mengusap Hajar Aswad.

Apabila kaum Quroisy melihatnya, maka orang yang berbicara di antara mereka akan berkata: ‘Pada kemuliaan orang inilah puncak kedermawanan berakhir.’

Dia menundukkan pandangan karena rasa malu, dan orang-orang pun menundukkan pandangan karena kewibawaannya, sehingga tidaklah dia diajak bicara kecuali saat dia tersenyum.

Di tangannya terdapat tongkat bambu kecil yang menyebarkan aroma harum, berada di jemari orang yang menawan yang hidungnya mancung berwibawa.

Nasab keturunannya bersambung langsung dari Rosululloh, sungguh suci asal-usulnya, wataknya, dan perangainya.

Orang yang dermawan tidak akan mampu menyamai batas akhir kemuliannya, dan suatu kaum tidak akan mampu mendekatinya meskipun mereka adalah kaum yang mulia.

Suku manakah yang di atas leher-leher mereka tidak memiliki hutang budi atas jasa-jasa pendahulunya atau kebaikan darinya?

Siapa yang mengenal Alloh, maka dia pasti mengenal keutamaan terdahulu orang ini, karena dari rumah orang inilah agama ini diperoleh oleh umat-umat manusia.

Demikianlah Al-Thobaroni (360 H) membawakannya dalam biografi Al-Husain di dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Kabir, dan ini merupakan hal yang ghorib (asing), karena riwayat yang masyhur (terkenal) adalah bahwa bait-bait syair tersebut digubah oleh Al-Farozdaq untuk Ali bin Al-Husain (Zainal Abidin), bukan untuk ayahnya, dan pendapat ini jauh lebih sesuai dengan fakta.

Sebab, Al-Farozdaq tidak pernah melihat Al-Husain kecuali saat Al-Farozdaq sedang menuju ke tempat ibadah Haji sedangkan Al-Husain sedang menempuh perjalanan menuju Irak. Lalu Al-Husain bertanya kepada Al-Farazdaq mengenai keadaan orang-orang, maka dia menyebutkan kepadanya apa yang telah berlalu penjelasannya. Kemudian Al-Husain terbunuh setelah berpisah dengannya hanya dalam selang beberapa hari saja, maka kapankah Al-Farozdaq melihatnya sedang melakukan thowaf di Baitullah? Wallohu a’lam.

Hisyam meriwayatkan dari ‘Awanah, dia berkata: ‘Ubaidulloh bin Ziyad berkata kepada ‘Umar bin Sa’ad: “Di manakah surat perintah yang telah aku tuliskan kepadamu mengenai pembunuhan Al-Husain?”

Maka ‘Umar bin Sa’ad menjawab: “Aku telah melaksanakan perintahmu, dan surat itu telah hilang.” Ibnu Ziyad berkata kepadanya: “Kamu harus benar-benar membawanya kemari.” ‘Umar menjawab: “Surat itu telah hilang.” Ibnu Ziyad menegaskan: “Demi Alloh, kamu harus benar-benar membawanya kemari.”

‘Umar berkata: “Demi Alloh, surat itu telah ditinggalkan dalam keadaan dibacakan kepada para wanita tua kaum Quroisy sebagai uzur (alasan) bagiku di hadapan mereka di Madinah. Ketahuilah, demi Alloh, sungguh aku telah memberikan nasihat kepadamu terkait urusan Al-Husain dengan suatu nasihat yang andaikata aku berikan nasihat itu kepada ayahku sendiri, Sa’ad bin Abi Waqqos (55 H), niscaya aku telah menunaikan haknya.”

Maka ‘Utsman bin Ziyad, saudara kandung ‘Ubaidulloh, berkata: “‘Umar benar, demi Alloh. Sungguh aku sangat menginginkan demi Alloh, andaikata tidak ada seorang lelaki pun dari keturunan Ziyad melainkan hidungnya dipasang tali kekang hewan hingga Hari Qiyamah, asalkan Al-Husain tidak sampai terbunuh.”

‘Awanah berkata: “Demi Alloh, ‘Ubaidulloh tidak mengingkari sama sekali ucapan saudaranya tersebut.”

 

[28] Kumpulan Syair-Syair yang Diriwayatkan dari Al-Husain

Berikut ini adalah di antara bait-bait syair yang dilantunkan oleh Abu Bakr bin Kamil, dari Abdulloh bin Ibrohim, dan dia menyebutkan bahwa syair ini milik Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhuma:

Merasa cukuplah kamu dari makhluk dengan berharap kepada Sang Pencipta, niscaya kamu tidak akan butuh lagi kepada pembohong maupun orang yang jujur.

Dan mintalah rizqi kepada Ar-Rohman dari karunia-Nya, sebab tidak ada pemberi rizqi selain Alloh.

Siapa yang menyangka bahwa manusia dapat mencukupinya, maka dia bukanlah orang yang percaya kepada Ar-Rohman.

Atau siapa yang menyangka bahwa harta itu murni dari hasil usahanya sendiri, maka kedua alas kakinya telah tergelincir jatuh dari tebing yang sangat tinggi.

Dan dari Al-A’masy, bahwasanya Al-Husain bin ‘Ali berkata:

Setiap kali pemilik harta bertambah hartanya, maka akan bertambah pula kesedihan di hatinya serta kesibukannya.

Sungguh kami telah mengenalmu, wahai kehidupan yang penuh kekeruhan, dan wahai negeri bagi setiap perkara yang fana (rusak) dan berakibat buruk.

Tidak akan jernih bagi seorang zahid dalam menuntut kezuhudannya, apabila dia masih dibebani dengan tanggungan keluarga yang berat.

Dan dari Ishaq bin Ibrohim, dia berkata: Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya Al-Husain menziarahi kuburan para syuhada di pemakaman Baqi’, lalu dia melantunkan syair:

Aku memanggil para penghuni kubur namun mereka terdiam membisu, dan kesunyian mereka dijawab oleh gundukan tanah tempat ratapan.

Gundukan tanah itu seolah berkata: Tahukah kamu apa yang telah aku perbuat kepada para penghuniku? Aku telah mencabik-cabik daging mereka dan merobek-robek pakaian mereka.

Dan aku telah memenuhi mata mereka dengan debu tanah, setelah sebelumnya mata itu merasa terganggu hanya karena kotoran kecil yang sedikit.

Adapun tulang-belulang mereka, sesungguhnya aku telah menghancurkannya hingga terpisah antara persendian dan anggota badan.

Aku memotong bagian ini dari bagian itu, dan dari ini menjadi begini, maka aku tinggalkan tubuh mereka menjadi tulang belulang hancur yang memakan waktu lama dalam kerusakan.

Sebagian ulama juga melantunkan bait syair yang disandarkan kepada Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu:

Andaikata dunia ini dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga, maka negeri pahala di sisi Alloh jauh lebih tinggi dan lebih mulia.

Dan andaikata tubuh-tubuh ini diciptakan untuk menghadapi kematian, maka mati di jalan Alloh dengan tebasan pedang adalah jauh lebih utama.

Dan andaikata rizqi itu merupakan sesuatu yang sudah ditentukan takdirnya, maka mengurangi ambisi seseorang dalam mencari nafkah adalah hal yang lebih indah.

Dan andaikata harta-harta itu dikumpulkan hanya untuk ditinggalkan setelah mati, maka mengapa manusia harus bakhil (pelit) terhadap harta yang pasti akan ditinggalkannya?

Di antara bait syair yang dilantunkan oleh Az-Zubair bin Bakkar (256 H) dari gubahan Al-Husain mengenai istrinya, Ar-Robab binti Anaif -dan dikatakan pula: binti Imri’il Qois bin ‘Adi bin Aus Al-Kalbi-, ibu dari putrinya yang bernama Sukainah binti Al-Husain:

Demi umurmu, sesungguhnya aku benar-benar mencintai sebuah rumah yang ditempati oleh Sukainah dan Ar-Robab.

Aku mencintai keduanya dan aku korbankan sebagian besar hartaku untuk mereka, dan tidak ada celaan bagi orang yang mencelaku dalam urusan ini.

Dan aku tidak akan menaati orang-orang yang mencelaku meskipun mereka marah, hal ini berlaku selama hidupku atau sampai tanah kubur menyembunyikan jasadku.

Ayah dari Ar-Robab telah masuk Islam di hadapan ‘Umar bin Al-Khotthob (23 H), lalu ‘Umar mengangkatnya sebagai pemimpin bagi kaumnya. Ketika dia keluar dari sisi ‘Umar, ‘Ali bin Abi Tholib (40 H) langsung meminangnya agar bersedia menikahkan anak-anak perempuannya dengan putranya, Al-Hasan atau Al-Husain. Maka dia menikahkan Al-Hasan dengan putrinya yang bernama Salma, dan menikahkan Al-Husain dengan putrinya yang bernama Ar-Robab, serta menikahkan ‘Ali dengan putrinya yang ketiga yaitu Al-Muhayyah binti Imri’il Qois dalam satu waktu sekaligus. Lalu Al-Husain sangat mencintai istrinya, Ar-Robab, dengan kecintaan yang sangat mendalam, dan dia sangat mengaguminya hingga sering menggubah syair tentang istrinya tersebut. Ketika Al-Husain terbunuh di Karbala, Ar-Robab sedang bersamanya, maka dia merasakan kesedihan yang teramat mendalam atas kematian suaminya. Disebutkan bahwasanya dia terus menetap di atas kuburan Al-Husain selama 1 tahun, kemudian dia beranjak pergi seraya melantunkan bait syair:

Hingga genap 1 tahun kemudian ucapan salam keselamatan atasmu berdua, dan siapa yang telah menangis selama 1 tahun penuh maka sesungguhnya dia telah menunaikan uzurnya.

 

[29] Kesetiaan Istri Al-Husain dan Kecantikan Putrinya

Sungguh, setelah kematian beliau, banyak sekali kalangan bangsawan Quroisy yang melamar wanita itu. Namun, dia berkata, “Aku tidak akan pernah mencari pelindung setelah wafatnya Rosululloh . Demi Alloh, tidak akan pernah ada atap yang menaungiku bersama seorang pria lain setelah wafatnya Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu.” Dia terus-menerus berada dalam kesedihan yang mendalam karena kepergiannya hingga akhirnya meninggal dunia. Ada yang mengatakan bahwa dia hanya hidup beberapa hari saja setelah kematian beliau. Alloh yang lebih mengetahui. Sementara putrinya, Sukainah binti Al-Husain rodhiyallahu ‘anha, termasuk di antara wanita yang paling cantik, bahkan pada zamannya tidak ada yang lebih berparas indah daripada dirinya. Alloh yang lebih mengetahui.

 

[30] Sikap Ubaidulloh bin Ziyad dan Pembelaan Ubaidulloh bin Al-Hurr

Abu Mikhnaf (rowi lemah) meriwayatkan dari Abdurrohman bin Jundub bahwa setelah terbunuhnya Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu, Ubaidulloh bin Ziyad memeriksa keberadaan para bangsawan penduduk Kufah. Dia tidak melihat Ubaidulloh bin Al-Hurr bin Yazid, lalu mencarinya hingga pria itu datang menemuinya setelah beberapa hari. Ibnu Ziyad bertanya, “Ke mana saja kamu, wahai Ibnu Al-Hurr?” Dia menjawab, “Aku sedang sakit.” Ibnu Ziyad bertanya lagi, “Sakit hatimu atau sakit badanmu?” Dia menjawab, “Adapun hatiku, ia tidak sakit. Sedangkan badanku, Alloh telah mengaruniakan kesembuhan kepadanya.” Ibnu Ziyad berkata kepadanya, “Kamu bohong! Sebenarnya kamu bergabung bersama musuh kami.” Dia menjawab, “Jika aku bersama musuhmu, tempat orang sepertiku tidak akan tersembunyi, dan pasti orang-orang sudah menyaksikannya.” Ibnu Ziyad kemudian lengah sejenak darinya, maka Ibnu Al-Hurr segera keluar lalu menunggangi kudanya. Setelah itu, dia berkata, “Sampaikan kepadanya bahwa demi Alloh, aku tidak akan pernah mendatanginya lagi dengan sukarela.” Ibnu Ziyad bertanya, “Di mana Ibnu Al-Hurr?” Orang-orang menjawab, “Dia sudah pergi.” Ibnu Ziyad berkata, “Bawa dia kembali kepadaku!” Maka pasukan keamanan keluar untuk mengejarnya, namun Ibnu Al-Hurr memperdengarkan kepada mereka ucapan yang sangat kasar yang mereka benci, seraya mendoakan ridho untuk Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu, saudaranya, dan ayahnya. Kemudian dia juga melontarkan kata-kata yang sangat keras tentang Ibnu Ziyad, lalu berhasil meloloskan diri dari mengejar mereka. Dia pun menggubah bait-bait syi’ir mengenai Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu dan para sahabatnya:

Seorang penguasa yang khianat, benar-benar pengkhianat, berkata: Mengapa kamu tidak ikut memerangi sang syahid putra Fatimah?

Betapa besarnya penyesalanku karena tidak menolongnya, ketahuilah bahwa setiap jiwa yang tidak melangkah tepat pasti akan menyesal.

Dan sesungguhnya aku, karena tidak termasuk di antara para pembelanya, benar-benar merasakan kepedihan mendalam yang terus melekat dan tidak pernah berpisah.

Semoga Alloh menyiram roh orang-orang yang saling bahu-membahu untuk menolongnya, dengan siraman air hujan yang deras mengalir tiada henti.

Aku berdiri di atas kuburan mereka dan tempat-tempat pertemuan mereka, hingga isi dadaku hampir saja hancur dan air mataku terus mengalir bercucuran.

Demi umurku, mereka benar-benar para kesatria yang tangkas di medan laga, bersegera menuju pertempuran, serta para pelindung yang berjiwa mulia lagi dermawan.

Mereka saling menguatkan untuk menolong putra dari putri Nabi mereka dengan pedang-pedang mereka, laksana singa-singa hutan yang sangat buas.

Jika mereka terbunuh, maka setiap jiwa yang bertakwa di muka bumi ini sungguh telah menjadi berduka dan terdiam sedih karena kejadian itu.

Dan tidaklah para pemandang melihat orang yang lebih utama daripada mereka saat menghadapi kematian, sebagai para pemimpin yang mulia dan tokoh-tokoh besar yang bercahaya.

Apakah kamu membunuh mereka secara zholim lalu kamu mengharapkan kasih sayang kami? Tinggalkanlah angan-angan yang sama sekali tidak pantas bagi kami itu.

Demi umurku, sungguh kalian telah membuat kami murka dengan membunuh mereka, maka betapa banyak lelaki dan wanita di antara kami yang mendendam serta membenci kalian.

Berkali-kali aku berniat untuk bergerak membawa pasukan besar menuju kelompok zholim yang telah melenceng dari kebenaran.

Maka wahai Ibnu Ziyad, bersiap-siaplah untuk menghadapi perang melawan kami, serta situasi yang sangat sempit lagi menyulitkan yang akan menghancurkan tulang punggungmu hingga patah.

 

[31] Ratapan Sulaiman bin Qottah untuk Al-Husain

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Sulaiman bin Qottah menggubah bait-bait ratapan untuk Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu:

Sesungguhnya orang yang terbunuh di Ath-Thoff (Karbala) dari keturunan Hasyim telah menundukkan leher-leher kaum Quroisy, sehingga mereka menjadi tunduk terhina.

Jika kalian menyusulnya dengan membunuh orang yang berlindung di Baitullah (Ka’bah), niscaya kalian akan menjadi seperti kaum ‘Ad yang membutakan diri dari petunjuknya lalu tersesat.

Aku berjalan melewati rumah-rumah keluarga Muhammad , lalu aku mendapatinya kosong melompong laksana puing-puing di mana pun mereka berada.

Dahulu mereka adalah keberuntungan bagi kami, namun kini berubah menjadi musibah yang memilukan. Sungguh musibah-musibah itu amat besar dan luar biasa dahsyat.

Semoga Alloh tidak menjauhkan rumah-rumah itu beserta penghuninya, meskipun kini rumah-rumah tersebut telah kosong ditinggalkan mereka, yang membuatku sangat bersedih.

Apabila kabilah Qois jatuh miskin, kami memperbaiki nasib orang miskin mereka, namun kabilah Qois justru membunuh kami ketika terjadi kekeliruan atau kelengahan.

Dan pada kabilah Ghoni terdapat tetesan darah kami, kami pasti akan membalas mereka suatu hari nanti atas perbuatan itu di mana pun mereka berada.

Tidakkah kamu melihat bahwa bumi ini seolah-olah menjadi sakit karena terbunuhnya Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu, dan negeri-negeri pun bergetar ketakutan serta ngeri.

 

[32] Pengangkatan Salm bin Ziyad dan Penaklukan Wilayah Timur

Di antara peristiwa yang terjadi pada tahun ini—maksudnya tahun 61 Hijroh—setelah terbunuhnya Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu adalah: Pada tahun tersebut Yazid bin Mu’awiyah mengangkat Salm bin Ziyad sebagai gubernur wilayah Sijistan dan Khurosan ketika Salm datang menemuinya, saat itu dia baru berusia 24 tahun. Yazid mencopot kedua saudaranya, yaitu Abbad dan Abdurrohman, dari jabatan tersebut. Salm kemudian berangkat menuju daerah tugasnya, lalu dia mulai memilih para tokoh terpandang dan penunggang kuda yang andal, serta mengobarkan semangat manusia untuk melakukan Jihad. Kemudian dia keluar memimpin pasukan yang sangat besar untuk memerangi negeri Turk. Dia didampingi oleh istrinya, Ummu Muhammad binti Abdulloh bin Utsman bin Abi Al-Ash, yang merupakan wanita Arob pertama yang menyeberangi sungai Jayhun (Amu Darya). Di sana dia melahirkan seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Sughdi. Istri penguasa wilayah Sughd mengirimkan hadiah kepadanya berupa mahkota emas dan mutiara. Sebelum peristiwa itu, kaum Muslimin tidak pernah menghabiskan musim dingin di negeri tersebut, namun Salm bin Ziyad menetap di sana selama musim dingin. Dia mengutus Al-Muhallab bin Abi Sufroh ke kota milik bangsa Turk tersebut, yaitu Khowarozm, lalu Al-Muhallab mengepung mereka hingga mereka bersedia mengadakan perjanjian damai dengan membayar kompensasi lebih dari 20.000.000. Al-Muhallab mengambil barang-barang dagangan sebagai gantinya dengan nilai setengah dari harga aslinya, sehingga total nilai yang berhasil dia ambil dari mereka mencapai 50.000.000. Dengan keberhasilan itu, Al-Muhallab mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Salm bin Ziyad. Kemudian Salm mengirimkan sebagian dari harta pilihan tersebut kepada Yazid bin Mu’awiyah bersama seorang Marzuban (gubernur wilayah Persia) beserta rombongan utusan. Salm juga mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Samarkand dalam peperangan ini dengan imbalan harta yang sangat banyak.

 

[33] Pengangkatan Al-Walid bin Utbah sebagai Gubernur Dua Tanah Harom dan Gerakan Ibnu Az-Zubair

Pada tahun ini pula, Yazid mencopot Amr bin Sa’id dari jabatan gubernur Dua Tanah Harom (Makkah dan Madinah), dan mengembalikan jabatan itu kepada Al-Walid bin Utbah bin Abi Sufyan dengan menjadikannya sebagai gubernur Madinah. Hal itu terjadi karena ketika kabar tentang terbunuhnya Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu sampai kepada Abdulloh bin Az-Zubair rodhiyallahu ‘anhu, dia mulai berkhotbah di hadapan manusia. Dia sangat membesar-besarkan peristiwa pembunuhan Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu beserta para sahabatnya, serta mencela habis-habisan penduduk Kufah dan penduduk Irak atas tindakan mereka yang menelantarkan Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu. Dia mendoakan rohmat untuk Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu dan melaknat orang yang telah membunuhnya, seraya berkata, “Demi Alloh, sungguh mereka telah membunuhnya, seorang yang sangat lama berdiri melakukan Sholat di waktu malam, sangat sering berPuasa di siang hari. Demi Alloh, dia tidak pernah mengganti Al-Qur’an dengan nyanyian dan hiburan sia-sia, tidak pula mengganti tangisan karena takut kepada Alloh dengan lantunan syair unta, tidak mengganti Puasa dengan meminum minuman yang harom, serta tidak pernah mengganti duduk di halaqoh-halaqoh dzikir dengan sibuk berburu—dia menyindir Yazid bin Mu’awiyah dengan ucapan tersebut—maka kelak mereka akan menemui kesesatan dan adzab yang mengerikan.” Dia memprovokasi manusia untuk menentang Bani Umayyah, serta mendorong mereka untuk menyelisihi Bani Umayyah dan mencopot Yazid dari kekuasaan. Akhirnya, banyak sekali orang yang membaiatnya secara sembunyi-sembunyi, dan mereka memintanya untuk mengumumkan baiat tersebut secara terang-terangan. Namun, dia belum bisa melakukannya karena keberadaan Amr bin Sa’id yang bersikap keras terhadap dirinya meskipun masih ada sisi kelembutan. Penduduk Madinah dan yang lainnya telah saling berkirim surat dengannya, dan orang-orang berkata, “Karena Al-Husain rodhiyallahu ‘anhu telah gugur, maka tidak ada seorang pun lagi yang akan menandingi Ibnu Az-Zubair rodhiyallahu ‘anhu.” Kabar tersebut akhirnya sampai kepada Yazid, dan dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya jika Amr bin Sa’id mau, dia pasti sudah mengirimkan kepala Ibnu Az-Zubair kepadamu, atau dia akan mengepungnya hingga berhasil mengeluarkannya dari Tanah Harom.” Maka Yazid mengirim surat untuk mencopotnya dan mengangkat Al-Walid bin Utbah pada tahun ini. Sebagian ulama mengatakan pengangkatan itu terjadi pada awal bulan Dzulhijjah, lalu Al-Walid memimpin pelaksanaan ibadah Haji bagi manusia pada tahun ini. Yazid juga bersumpah bahwa dia benar-benar akan mengirim pasukan kepada Ibnu Az-Zubair rodhiyallahu ‘anhu dan dia pasti akan dibawa kepadanya dalam keadaan terbelenggu dengan rantai dari perak. Yazid mengirimkan rantai tersebut bersama kurir pos dengan disertai sebuah jubah penutup kepala dari kain sutra khazz agar sumpahnya terpenuhi. Ketika kurir pos itu melewati Marwan bin Al-Hakam (65 H) yang saat itu berada di Madinah, dan mengabarkan kepadanya tentang maksud tujuannya serta belenggu yang dibawanya, Marwan langsung bersyair:

Terimalah perkara itu, karena hal tersebut bukanlah pilihan bagi orang yang perkasa, namun di dalamnya terdapat ucapan bagi orang yang menghambakan diri secara hina.

Wahai ‘Amir, sesungguhnya kaum itu telah menawarkan suatu pilihan yang merendahkanmu, dan tindakan semacam itu di antara tetangga laksana memintal benang dengan alat pintal.

Aku melihatmu, apabila kamu menjadi pemberi nasihat di tengah kaum tersebut, mereka justru memperlakukanmu seperti timba air yang ditarik mundur dan maju ke sana kemari.

Ketika para utusan itu sampai kepada Abdulloh bin Az-Zubair rodhiyallahu ‘anhu, Marwan mengutus kedua putranya, yaitu Abdul Malik dan Abdul Aziz, agar menghadapi balasan keterangannya dalam masalah tersebut. Marwan berpesan, “Perdengarkanlah kepadanya ucapanku tentang hal itu.”

Abdul Aziz menceritakan: Ketika para utusan telah duduk di hadapannya, aku mulai melantunkan bait syair tersebut agar dia mendengarnya tanpa aku buat dia merasa terdesak. Maka Ibnu Az-Zubair menoleh kepadaku lalu berkata, “Kabarkan kepada ayah kalian berdua bahwa aku berkata:

Sesungguhnya aku berasal dari pohon nab’ah yang sangat keras dan kokoh batangnya, di saat tanaman bambu dan pohon usyar saling bertumbangan ditiup angin kencang.

Dan aku tidak akan pernah melunak untuk urusan selain kebenaran yang aku tuntut, hingga batu yang keras pun bisa melunak bagi gigi orang yang mengunyahnya.

Abdul Aziz berkata: Aku tidak tahu ucapan siapa di antara keduanya yang lebih mengagumkan!

Abu Ma’syar (170 H) berkata: Tidak ada perselisihan di antara para ahli sejarah bahwa Al-Walid bin Utbah memimpin ibadah Haji bersama manusia pada tahun ini dalam statusnya sebagai gubernur Dua Tanah Harom. Sementara yang memegang kekuasaan di Bashroh dan Kufah adalah Ubaidulloh bin Ziyad. Sedangkan wilayah Khurosan dan Sijistan dipimpin oleh Salm bin Ziyad, saudara kandung Ubaidulloh bin Ziyad. Adapun jabatan qodhi (hakim) Kufah dipegang oleh Syuroih (78 H), dan jabatan qodhi Bashroh dipegang oleh Hisyam bin Hubairoh.

 

[34] Tokoh-Tokoh Terkemuka yang Wafat pada Tahun Ini

[1] Al-Husain bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma (61 H), bersamanya ada belasan orang dari anggota keluarganya, mereka semua gugur syahid di Karbala. Ada yang mengatakan jumlah mereka 20-an orang sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Ikut gugur bersama mereka sekelompok pahlawan dan penunggang kuda yang pemberani.

[2] Jabir bin Atik bin Qois, Abu Abdulloh Al-Anshori rodhiyallahu ‘anhu (61 H). Beliau mengikuti Perang Badar dan peperangan setelahnya. Beliau adalah pemegang bendera kabilah Bani Mu’awiyah pada hari pembebasan kota Makkah. Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnu Al-Jauzi (597 H). Dia mengatakan: Beliau wafat pada tahun ini dalam usia 71 tahun.

[3] Hamzah bin Amr Al-Aslami rodhiyallahu ‘anhu (61 H). Beliau adalah seorang Shohabat Nabi yang memiliki kedudukan mulia. Disebutkan dalam kitab Ash-Shohihain dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha bahwa dia berkata:

Hamzah bin Amr bertanya kepada Rosululloh : “Sesungguhnya aku adalah orang yang sering berPuasa, apakah aku boleh tetap berPuasa saat dalam perjalanan (safar)?” Maka beliau bersabda kepadanya:

«إِنْ شِئْتَ فَصُمْ، وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ»

Jika kamu mau, berPuasalah; dan jika kamu mau, batalkanlah Puasamu.” (HR. Al-Bukhori no. 1943 dan Muslim no. 1121)

Beliau ikut serta dalam pembebasan negeri Syam, dan beliaulah pembawa kabar gembira bagi Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu (13 H) pada hari pertempuran Ajnadain.

Al-Waqidi (207 H) mengatakan: Beliaulah yang menyampaikan kabar gembira kepada Ka’b bin Malik tentang diterimanya taubatnya oleh Alloh, lalu Ka’b menghadiahkan kedua pakaiannya kepada beliau.

Al-Bukhori (256 H) meriwayatkan dalam kitab At-Tarikh dengan sanad yang baik dari Hamzah, bahwa beliau berkata:

«كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ، فَأَضَاءَتْ لِي أَصَابِعِي حَتَّى جَمَعْتُ عَلَيْهَا كُلَّ مَتَاعٍ كَانَ لِلْقَوْمِ»

“Kami pernah bersama Rosululloh pada suatu malam yang gelap gulita, tiba-tiba jari-jemariku memancarkan cahaya terang hingga aku bisa mengumpulkan seluruh barang bawaan milik rombongan orang-orang dengan bantuan cahaya itu.”

Para ulama sepakat bahwa beliau wafat pada tahun ini, yaitu tahun 61 Hijroh.

[4] Syaibah bin Utsman bin Abi Tholhah Al-Abdari Al-Hajabi rodhiyallahu ‘anhu (61 H). Beliau adalah pemegang kunci Ka’bah. Ayahnya termasuk orang yang dibunuh oleh Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu pada hari perang Uhud dalam keadaan kafir. Syaibah menampakkan ke-Islaman-nya pada hari pembebasan kota Makkah, dan mengikuti Perang Hunain dalam keadaan di hatinya masih ada sedikit keraguan. Beliau bahkan sempat berniat jahat untuk membunuh Rosululloh , namun Alloh memperlihatkan niat tersembunyi tersebut kepada Rosul-Nya , lalu beliau mengabarkan apa yang sedang direncanakan Syaibah. Akhirnya Syaibah masuk Islam secara lahir dan batin, serta ke-Islaman-nya menjadi sangat baik. Beliau ikut bertempur pada hari itu dan teguh bertahan bersama orang-orang yang sabar. Al-Waqidi meriwayatkan dari para gurunya bahwa beliau berkata:

Dahulu aku pernah berkata: “Demi Alloh, andai seluruh manusia beriman kepada Muhammad, aku tidak akan pernah sudi beriman kepadanya.” Namun ketika beliau berhasil membebaskan kota Makkah lalu berangkat menuju wilayah Hawazin, aku pun ikut keluar bersama beliau dengan harapan bisa menemukan kesempatan untuk membalaskan dendam seluruh kaum Quroisy kepada dirinya. Maka pada suatu hari, barisan manusia menjadi bercampur baur, dan Rosululloh turun dari bagal milik beliau. Aku pun mendekati beliau seraya menghunus pedangku untuk menebaskannya kepada beliau, namun tiba-tiba di hadapanku muncul jilatan api yang hampir saja membakarku. Seketika Rosululloh menoleh ke arahku lalu bersabda: “Wahai Syaibah, mendekatlah kepadaku.” Maka aku mendekat kepada beliau, lalu beliau meletakkan tangan mulianya di dadaku seraya berdoa:

«اللَّهُمَّ أَعِذْهُ مِنَ الشَّيْطَانِ»

“Ya Alloh, lindungilah dia dari syaithon.”

Maka demi Alloh, tidaklah beliau mengangkat tangan beliau melainkan sejak hari itu beliau menjadi orang yang paling aku cintai melebihi pendengaranku dan penglihatanku sendiri. Kemudian beliau bersabda: “Pergilah dan bertempurlah!” Maka aku pun maju merangsek ke arah musuh. Demi Alloh, andai saat itu aku bertemu dengan ayahku dalam keadaan hidup, pasti aku akan membunuhnya demi membela beliau. Ketika orang-orang sudah kembali berkumpul, beliau bersabda kepadaku:

«يَا شَيْبَةُ، الَّذِي أَرَادَ اللَّهُ بِكَ خَيْرٌ مِمَّا أَرَدْتَ لَنَفْسِكَ»

“Wahai Syaibah, apa yang Alloh kehendaki untukmu itu jauh lebih baik daripada apa yang kamu kehendaki untuk dirimu sendiri.”

Kemudian beliau menceritakan kepadaku segala hal yang berkecamuk dalam hatiku yang tidak ada seorang pun mengetahuinya kecuali Alloh ‘Azza wa Jalla. Maka aku pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan berkata: “Aku memohon ampunan kepada Alloh.” Beliau bersabda:

«غَفَرَ اللَّهُ لَكَ»

“Semoga Alloh mengampunimu.”

Beliau memegang jabatan sebagai penjaga pintu Ka’bah setelah wafatnya Utsman bin Tholhah, dan tugas menjaga pintu Ka’bah tersebut terus menetap pada anak-anak keturunannya dan keluarganya sampai hari ini. Kepada beliaulah dinisbatkan Bani Syaibah, dan mereka adalah para penjaga Ka’bah. Kholifah bin Khoyyath (240 H) dan beberapa ulama lainnya mengatakan: “Beliau wafat pada tahun 59 Hijroh.” Namun Muhammad bin Sa’ad (230 H) mengatakan: “Beliau tetap hidup sampai masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah.” Sedangkan Ibnu Al-Jauzi dalam kitab Al-Muntazham menyebutkan bahwa beliau wafat pada tahun ini.

[5] Abdul Muttholib bin Robi’ah bin Al-Harits bin Abdul Muttholib bin Hasyim rodhiyallahu ‘anhu (61 H). Beliau adalah seorang Shohabat yang mulia, termasuk di antara mereka yang berpindah tempat tinggal ke kota Damaskus dan memiliki rumah di sana. Ketika hendak wafat, beliau berwasiat kepada Yazid bin Mu’awiyah yang saat itu menjabat sebagai Amirul Mu’minin.

[6] Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ait bin Aban bin Abi Amr Dzakwan bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushoi, Abu Wahb Al-Qurosyi Al-Absyami rodhiyallahu ‘anhu (61 H). Beliau adalah saudara seibu dari Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu, ibunya bernama Arwa binti Kuroiz bin Robi’ah bin Habib bin Abdi Syams, sedangkan neneknya adalah Ummu Hakim Al-Baidho binti Abdul Muttholib. Di antara saudara kandung Al-Walid adalah Kholid, Umaroh, dan Ummu Kultsum. Sungguh Rosululloh telah membunuh ayahnya setelah terjadinya Perang Badar di hadapan beliau dalam keadaan ditawan dengan cara dipenggal. Saat itu ayahnya bertanya, “Wahai Muhammad, siapa yang akan mengasuh anak-anak kecilku?” Beliau menjawab: “Bagi mereka adalah Naar.” Beliau juga melakukan hal yang sama terhadap An-Nadhr bin Al-Harits. Al-Walid ini masuk Islam pada hari pembebasan kota Makkah. Rosululloh pernah mengutusnya untuk mengambil Zakat dari kabilah Bani Mustholiq. Ketika mereka keluar untuk menyambut kedatangannya, dia mengira bahwa mereka keluar justru untuk memeranginya, maka dia segera kembali dan mengabarkan hal tersebut kepada Rosululloh . Akibatnya, beliau berniat untuk menyiapkan pasukan perang guna mendatangi mereka. Ketika berita itu sampai kepada mereka, datanglah utusan di antara mereka untuk menyampaikan alasan kepada beliau dan mengabarkan keadaan yang sebenarnya terjadi. Maka Alloh Ta’ala menurunkan ayat mengenai Al-Walid:

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan atau kecerobohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatan yang telah kamu lakukan itu.” (QS. Al-Hujurot: 6)

Hal tersebut disebutkan oleh banyak ahli tafsir. Dan Alloh yang lebih mengetahui tentang kebenaran hal tersebut. Namun Abu Amr Ibnu Abdil Barr (463 H) telah menceritakan adanya kesepakatan ulama mengenai hal itu. Umar bin Al-Khoththob rodhiyallahu ‘anhu (23 H) pernah mengangkatnya sebagai pengelola Zakat bagi kabilah Bani Taghlib, dan Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu mengangkatnya sebagai gubernur Kufah menggantikan Sa’d bin Abi Waqqosh rodhiyallahu ‘anhu pada tahun 25 Hijroh. Kemudian dia meminum khomar lalu mengimami Sholat bersama para sahabatnya, setelah selesai dia menoleh kepada mereka seraya berkata, “Apakah perlu aku tambah rokaatnya?” Telah terjadi kekacauan akibat perbuatannya itu, hingga akhirnya Utsman mencambuknya sebagai hukuman dan mencopotnya dari jabatan gubernur Kufah setelah berjalan 4 tahun lamanya dia menjabat di sana. Ketika Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu (40 H) datang ke Irak, Al-Walid pindah ke kota Ar-Roqqoh dan membeli sebidang tanah perkebunan di dekatnya, lalu menetap di sana dengan menjauhkan diri dari seluruh peperangan yang terjadi pada masa Ali, Mu’awiyah, dan masa-masa setelahnya, sampai akhirnya dia wafat di perkebunannya ini dan dimakamkan di sana pada tahun ini. Letaknya sekitar 15 mil dari Ar-Roqqoh. Ada pula yang mengatakan bahwa dia wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan (60 H). Alloh yang lebih mengetahui.

Imam Ahmad (241 H) dan Abu Dawud (275 H) meriwayatkan 1 Hadits saja dari beliau mengenai peristiwa pembebasan kota Makkah. Ibnu Al-Jauzi telah menyebutkan wafatnya pada tahun ini, dan dia juga menyebutkan wafatnya Ummul Mu’minin Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyyah rodhiyallahu ‘anha. Padahal telah disebutkan sebelumnya mengenai wafat beliau pada tahun 51 Hijroh, ada pula yang mengatakan tahun 63 Hijroh, dan ada yang mengatakan tahun 66 Hijroh. Namun yang benar adalah apa yang telah kami sebutkan sebelumnya.

[7] Ummul Mu’minin Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha (61 H). Nama beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah Hudzaifah—ada yang mengatakan Suhail—bin Al-Mughiroh bin Abdulloh bin Umar bin Makhzum Al-Qurashiyyah Al-Makhzumiyyah. Dahulu beliau pertama kali menjadi istri dari sepupunya, yaitu Abu Salamah bin Abdul Asad rodhiyallahu ‘anhu. Ketika suaminya wafat meninggalkan dirinya, Rosululloh menikahi beliau dan mulai tinggal bersamanya pada bulan Syawwal tahun 2 Hijroh setelah terjadinya Perang Badar. Beliau sungguh telah mendengar sebuah Hadits dari suaminya, Abu Salamah, dari Rosululloh bahwa beliau bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ فَيَقُولُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا. إِلَّا أَبْدَلَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهَا»

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa suatu musibah lalu dia mengucapkan: ‘Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kami akan kembali. Ya Robb, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya’; melainkan Alloh pasti akan memberikan ganti kepadanya yang lebih baik daripada musibah itu.” (HR. Muslim no. 918)

Ummu Salamah berkata: “Ketika Abu Salamah wafat, aku mengucapkan doa tersebut, kemudian aku bergumam dalam hati: ‘Siapakah orang yang lebih baik daripada Abu Salamah, lelaki pertama yang melakukan hijroh?’ Kemudian Alloh meneguhkan hatiku lalu aku tetap mengucapkan doa tersebut, maka Alloh pun memberikan ganti kepadaku yang jauh lebih baik darinya, yaitu Rosululloh .”

Beliau termasuk di antara wanita yang paling berparas cantik dan sangat rajin beribadah. Al-Waqidi mengatakan: “Beliau wafat pada tahun 59 Hijroh dan disholatkan oleh Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu.” Sedangkan Ibnu Abi Khaitsamah (279 H) mengatakan: “Beliau wafat pada masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah.”

Aku katakan: Hadits-Hadits yang telah disebutkan sebelumnya mengenai terbunuhnya Al-Husain menunjukkan bahwa beliau masih hidup sampai setelah peristiwa pembunuhan tersebut. Alloh yang lebih mengetahui. Semoga Alloh senantiasa meridhoi beliau dan membuatnya ridho.[selesai]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini