Cari Ebook

[PDF] 1000 Kawan Masih Sedikit, 1 Musuh Sudah Banyak - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji semata-mata milik Alloh , Robb seluruh alam, yang telah mengaruniakan fithroh kesucian kepada jiwa manusia, menurunkan syari’at Islam sebagai kompas petunjuk yang lurus, serta mengikat hati kaum Mu’min di atas tali persaudaraan iman yang kokoh.

Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada teladan agung umat manusia, Nabi Muhammad , yang telah diutus dengan membawa kesempurnaan akhlak, memberikan protokol keselamatan yang terukur dalam interaksi sosial, serta meninggalkan warisan Sunnah yang bersih dari segala bentuk syubhat dan kepalsuan. Melalui bimbingan wahyu yang beliau sampaikan, umat Islam dituntun untuk memahami hakikat kehidupan yang hakiki, di mana setiap derap langkah di alam dunia ini tidak pernah terlepas dari timbangan pertanggungjawaban di hadapan pengadilan Akhiroh kelak.

Amma ba’du:

Kehidupan di pentas dunia ini pada dasarnya adalah medan ujian yang penuh dengan keragaman gesekan dan dinamika hubungan antar manusia. Manusia, berdasarkan ketetapan penciptaannya, tidak dirancang untuk mengarungi bentangan zaman dalam keterasingan sosial yang mutlak. Setiap individu selalu membutuhkan keberadaan orang lain sebagai penyokong ketaqwaan, mitra dalam merealisasikan maslahat, serta penopang saat badai fitnah dunia datang menerpa. Di sinilah letak urgensi menimbang kembali kuantitas dan kualitas hubungan yang kita bangun sehari-hari. Sebuah pepatah ilmiyyah yang sarat akan hikmah menyatakan bahwa memiliki 1000 teman sholih belumlah mencukupi jika dibandingkan dengan luasnya bentangan ujian menuju Jannah, namun memelihara permusuhan walau hanya dengan 1 orang musuh sudah teramat banyak karena mampu meruntuhkan kedamaian dunia.

Sungguh ironis, di tengah derasnya arus modernisasi dan meluasnya jaringan komunikasi digital di era kontemporer ini, umat manusia justru sedang mengalami krisis kedalaman hubungan yang sangat memprihatinkan. Kuantitas hubungan sosial diukur secara menipu melalui angka-angka pengikut di dunia maya, sementara hati di antara sesama kaum Muslimin semakin menjauh dan dipenuhi oleh kecurigaan. Sifat egois dan ketamakan duniawi yang berlebihan (asy-syuhh) merayap masuk ke dalam dada, melumpuhkan empati, dan membuat manusia menjadi sangat mudah menyulut api permusuhan serta memutus tali silaturrohim hanya karena perkara-perkara sepele yang tidak memiliki validitas syar’i. Banyak orang yang terjebak dalam naivitas pergaulan, dengan ringannya mengobral kata mencela, melakukan tindakan tajassus mencari-cari kesalahan saudaranya, dan membangun tembok pemboikotan tanpa dasar ilmu, seolah-olah mereka tidak akan pernah berdiri di Hari Qiyamah untuk mempertanggungjawabkan setiap kezholiman tersebut.

Buku yang berada di hadapan pembaca ini disusun sebagai ikhtiar ilmiyyah untuk mengembalikan kompas interaksi sosial kita kepada tatanan yang dikehendaki oleh syari’at Islam yang murni. Pembahasan di dalam buku ini dirancang dengan memadukan 3 pendekatan utama secara seimbang: pendekatan wahyu sebagai pondasi kebenaran mutlak yang menimbang setiap penyimpangan dengan dalil yang shohih, pendekatan akal sehat sebagai penalaran yang lurus untuk melihat keuntungan logis dari persaudaraan dan kerugian dari permusuhan, serta pendekatan realita sebagai gambaran keadaan yang nyata dari potret kehidupan generasi Salafush Sholih dan fenomena sosial kemasyarakatan hari ini. Setiap bab dan yang tersaji di dalamnya dirancang untuk saling menguatkan, meyakinkan, serta menumbuhkan kepercayaan yang kokoh di hati pembaca bahwa mengikuti petunjuk syar’i dalam mengelola hubungan manusia adalah satu-satunya jalan keselamatan.

 

Bab 1: Hakikat Pertemanan dan Permusuhan

1.1 Penyokong Dien dan Ketaqwaan

Manusia tidak diciptakan untuk hidup dalam kesendirian tanpa interaksi. Di dalam mengarungi samudra kehidupan menuju Akhiroh, setiap individu memerlukan keberadaan orang lain yang mampu menguatkan tekadnya, meluruskan kekhilafannya, serta membantunya dalam menjalankan ketaatan kepada Robb seluruh alam. Syari’at Islam yang mulia telah meletakkan perhatian yang sangat besar terhadap dengan siapa seseorang membangun kedekatan. Teman yang sholih merupakan penopang utama keselamatan iman seorang hamba dari berbagai badai syubhat (kesamaran) dan syahwat (keinginan nafsu) yang diembuskan oleh syaithon.

Pendekatan wahyu memberikan petunjuk yang sangat tegas mengenai urgensi memilih lingkungan pertemanan yang luhur. Alloh berfirman dalam Kitab-Nya yang Mulia ketika menggambarkan sifat orang-orang yang beriman yang saling memberikan dukungan dalam kebaikan:

﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Para Mu’min laki-laki dan para Mu’min perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan Sholat, menunaikan Zakat, dan taat kepada Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itu akan diberi rohmat oleh Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

Melalui ayat yang agung ini, Alloh menegaskan bahwa pondasi utama dari hubungan antar sesama Mu’min adalah al-wilayah (perwalian atau pertolongan yang didasari kasih sayang). Hubungan ini membuahkan aktivitas da’wah, saling menasihati untuk menegakkan Sholat, mengeluarkan Zakat, dan tunduk kepada ketetapan hukum Islam. Inilah hakikat pertemanan yang sesungguhnya, di mana kehadiran 1000 teman yang memiliki sifat seperti ini akan mendatangkan curahan rohmat dari Alloh yang tiada putus.

Nabi juga memberikan sebuah permisalan yang sangat indah dan mendalam mengenai pengaruh nyata dari seorang teman pergaulan. Dari shohabat Abu Huroiroh (57 H), Rosulullah bersabda:

«مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً»

“Perumpamaan teman yang sholih dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, boleh jadi dia akan memberimu minyak wangi, atau kamu membelinya darinya, atau kamu mendapati aroma yang wangi darinya. Sedangkan tukang pandai besi, boleh jadi dia akan membakar pakaianmu, atau kamu mendapati aroma yang busuk darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 5534 dan Muslim no. 2628)

Penalaran yang lurus akan menuntun kita pada kesimpulan bahwa watak manusia memiliki kecenderungan alami untuk meniru dan menyerap kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Karakter seseorang dibentuk oleh frekuensi interaksinya. Ketika seseorang dikelilingi oleh 1000 teman yang sholih, akalnya akan selalu dirangsang untuk memikirkan perkara-perkara yang berfaedah bagi masa depannya di Akhiroh. Setiap kali hasrat untuk berbuat maksiat muncul, keberadaan teman-teman yang bertaqwa akan menjadi benteng penghalang yang logis. Sebaliknya, kesendirian atau bergaul dengan pelaku maksiat akan melemahkan daya nalar sehat, sehingga hal-hal yang harom akan tampak biasa dan lumrah akibat seringnya disaksikan.

Dalam realita kehidupan nyata, kita melihat betapa banyak individu yang mengalami perubahan drastis dalam hidupnya hanya karena faktor teman. Seseorang yang semulanya enggan melangkahkan kaki ke Masjid, tidak mengerti kewajiban Sholat, dan jauh dari nilai agama, tiba-tiba berubah menjadi hamba yang rajin beribadah setelah berpindah ke lingkungan pergaulan yang dipenuhi para penuntut ilmu yang sholih. Kehadiran teman yang bertaqwa mendatangkan rasa aman. Mereka tidak akan mengkhianati ketika kita tiada, tidak akan menggunjing ketika kita berpaling, dan senantiasa mengulurkan tangan bantuan tanpa mengharapkan imbalan materi. Sungguh, memiliki 1000 teman yang sholih pun masih terasa sangat sedikit jika dibandingkan dengan luasnya bentangan ujian hidup yang harus dihadapi di dunia ini.

1.2 Bahaya Memiliki Musuh

Jika keberadaan 1000 teman sholih dirasakan masih kurang untuk mengarungi jalan ketaqwaan, maka kehadiran 1 musuh sudah lebih dari cukup untuk merusak kedamaian hidup seorang hamba, baik di dunia maupun di Akhiroh. Syari’at Islam sangat melarang adanya permusuhan, kedengkian, dan pemutusan hubungan di antara sesama Muslim. Musuh dalam konteks ini adalah seseorang yang menyimpan dendam, kebencian, serta memiliki keinginan untuk menjatuhkan, merugikan, atau mencelakai saudaranya sesama Muslim. Banyak orang meremehkan dampak dari riak-riak permusuhan kecil, padahal 1 musuh yang aktif bergerak dalam baying-bayang dapat menghancurkan reputasi, ketenangan pikiran, dan bahkan menghalangi amalan ibadah seseorang untuk diangkat ke langit.

Pendekatan wahyu memberikan peringatan yang sangat menakutkan mengenai bahaya memelihara permusuhan dan kebencian terhadap sesama Muslim. Nabi bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh shohabat Abu Huroiroh (57 H):

«تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا»

“Pintu-pintu Jannah dibuka pada hari Senin dan hari Kamis, maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim no. 2565)

Dapatkah akal sehat membayangkan kerugian yang lebih besar daripada ini? Seseorang boleh jadi telah menghabiskan malam-malamnya dengan menegakkan Sholat Tahajjud, menahan lapar dengan Puasa Sunnah, serta mengeluarkan banyak harta untuk Zakat dan sedekah, namun seluruh berkas amalan mulia tersebut tertahan di pintu langit, tidak diperiksa dan tidak diampuni dosanya oleh Alloh , hanya karena dia memelihara permusuhan dengan 1 orang saudaranya. Permusuhan memutus aliran rohmat dan ampunan yang seharusnya didapatkan oleh seorang hamba secara berkala setiap pekan.

Secara nalar dan penalaran akal yang lurus, memiliki 1 musuh berarti menciptakan titik kerawanan yang konstan dalam hidup. Energi pikiran yang seharusnya dialokasikan untuk memikirkan da’wah, tarbiyah (pendidikan) anak-anak, pengembangan usaha yang halal, atau hafalan Al-Qur’an, akhirnya habis terkuras untuk memikirkan strategi pertahanan atau serangan balik terhadap musuh tersebut. Akal akan dipenuhi dengan kecurigaan, kecemasan, dan hilangnya rasa tenteram saat melangkah keluar rumah. Satu musuh sudah cukup untuk membuat tidur tidak nyenyak dan makan tidak nikmat, karena tipu daya yang direncanakan oleh seorang pembenci sering kali tidak terduga dan dilancarkan pada saat kita berada dalam kondisi paling lemah.

Dalam realita kenyataan empiris di masyarakat, kita sering menyaksikan bagaimana hancurnya sebuah keluarga besar, runtuhnya sebuah lembaga da’wah, atau bangkrutnya sebuah perusahaan besar hanya berawal dari dendam pribadi 1 orang musuh. Musuh yang satu ini akan terus mencari celah kekhilafan kita, merekam setiap ucapan yang salah, lalu menyebarkannya ke tengah khalayak dengan bumbu fitnah yang keji. Di zaman sekarang, melalui media digital, 1 musuh dapat membuat narasi palsu yang mampu menghancurkan nama baik yang telah dibangun selama puluhan tahun dalam sekejap mata. Kenyataan ini membuktikan kebenaran adagium ilmiyyah bahwa 1 musuh itu sudah teramat banyak dan sangat membahayakan stabilitas kehidupan individu maupun jama’ah. Oleh karena itu, membiarkan adanya permusuhan tanpa ada upaya islah (perbaikan hubungan) adalah bentuk yang bertentangan dengan prinsip keselamatan dunia dan Akhiroh.

1.3 Perintah Memperbanyak Saudara Seiman

Mengingat besarnya manfaat hubungan yang harmonis dan dahsyatnya bahaya keretakan sosial, wahyu Islam datang dengan perintah yang tegas untuk senantiasa menyambung tali silaturrohim (hubungan kekerabatan) serta memperluas jaringan persaudaraan seiman di atas landasan aqidah yang shohih. Islam menghendaki umatnya menjadi sebuah bangunan yang kokoh, di mana tiap-tiap komponennya saling mengikat dan memperkuat satu sama lain. Memperbanyak saudara seiman merupakan ibadah agung yang mendatangkan kelapangan rizqi dan umur, sekaligus menjadi sarana efektif untuk memperkecil ruang gerak syaithon dalam memecah belah persatuan kaum Muslimin.

Alloh telah memberikan penekanan yang sangat kuat mengenai ikatan persaudaraan ini dalam Al-Qur’an al-Karim:

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون

“Sesungguhnya orang-orang Mu’min itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Alloh supaya kamu mendapat rohmat.” (QS. Al-Hujurot: 10)

Ayat ini mempergunakan shighoh hashr (kalimat pembatasan) yaitu kata innamaa, yang menunjukkan bahwa tidak ada ikatan persaudaraan yang lebih hakiki dan lebih kuat di muka bumi ini melebihi ikatan iman. Selama seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Alloh dan Muhammad adalah Rosul utusan Alloh, maka dia adalah saudara kandung dalam Dien yang wajib ditunaikan hak-haknya, dicintai keselamatannya, dan dibantu kesulitannya. Jika terjadi perselisihan kecil, kewajiban kaum Muslimin yang lain adalah segera melakukan islah agar persaudaraan tersebut tidak berubah menjadi musibah permusuhan.

Pilar silaturrohim ini semakin diperkokoh dengan janji kontan yang diberikan oleh Nabi bagi pelakunya di dunia ini. Diriwayatkan dari shohabat Anas bin Malik (93 H), Rosulullah bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

“Siapa yang suka dilapangkan rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrohim.” (HR. Al-Bukhori no. 2067 dan Muslim no. 2557)

Timbangan akal yang sehat akan melihat perintah silaturrohim ini sebagai sebuah konsep sosial yang sangat cerdas dan realistis. Ketika seseorang aktif menyambung silaturrohim dan memperbanyak saudara seiman, secara logis dia sedang membangun sebuah sistem pendukung sosial yang luar biasa luas. Manusia dalam urusan dunianya sering kali menghadapi krisis: sakit, kebangkrutan ekonomi, atau tertimpa musibah bencana alam. Individu yang memiliki jaringan silaturrohim yang luas akan jauh lebih mudah mendapatkan pertolongan, pinjaman yang baik, atau sekadar motivasi moral dibandingkan dengan orang yang hidup menyendiri dan bersikap angkuh terhadap lingkungan sekitarnya. Persaudaraan seiman memotong egoisme pribadi dan mengubahnya menjadi kekuatan kolektif yang mendatangkan kemaslahatan bersama.

Dalam realita lapangan yang kasatmata, kita dapat melihat potret kontras di era modern ini. Banyak orang yang mengabaikan urusan silaturrohim, jarang bertegur sapa dengan kerabat, dan enggan mengenal tetangga dekat sesama Muslim karena merasa sudah berkecukupan dengan harta bendanya. Namun, ketika kematian datang menjemput, atau ketika musibah besar melanda rumahnya, harta yang melimpah tidak mampu membelikan kehadiran pelayat yang tulus mendoakannya. Sebaliknya, orang-orang yang menjaga silaturrohim, yang wajahnya selalu tersenyum di Masjid-Masjid, dan tangannya ringan membantu urusan saudaranya, akan selalu dikelilingi oleh ribuan doa kebaikan. Saat mereka tiada, janazah mereka diantarkan oleh lautan manusia yang memohonkan ampunan kepada Alloh . Inilah bukti bahwa memperbanyak saudara seiman berdasarkan tuntunan wahyu adalah investasi terbaik yang buahnya dapat dipetik di alam dunia hingga di liang kubur kelak.

1.4 Batasan Kasih Sayang dan Permusuhan

Meskipun syari’at Islam sangat mendorong umatnya untuk memperbanyak teman sholih dan melarang keras memelihara permusuhan pribadi, Islam bukanlah agama yang mengabaikan prinsip keadilan dan kebenaran. Islam menetapkan aturan yang sangat jelas dan terukur mengenai batas-batas interaksi sosial tersebut. Cinta dan benci, kasih sayang dan permusuhan, tidak boleh didasarkan pada hawa nafsu, kepentingan kelompok, fanatisme kesukuan, atau keuntungan materi belaka. Seluruh muara dari interaksi tersebut harus dikembalikan kepada satu timbangan agung, yaitu al-wala’ wal baro’ (loyalitas karena Alloh dan berlepas diri dari keburukan karena Alloh ). Di sinilah pentingnya memahami batasan syar’i agar kasih sayang kita tidak berubah menjadi pemakluman terhadap maksiat, dan kebencian kita tidak bergeser menjadi tindakan zholim yang melampaui batas.

Landasan utama dari konsep pembatasan ini tertuang dalam sabda Nabi yang diriwayatkan:

«مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ»

“Siapa yang mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan menolak karena Alloh, maka sungguh dia telah menyempurnakan keimanan.” (HSR. Abu Dawud no. 4681)

Hadits yang sangat monumental ini menjadi garis pemisah yang tegas bagi setiap Muslim. Kita mencintai seorang teman sholih bukan karena ketampanannya, tingginya jabatannya, atau besarnya keuntungan bisnis yang bisa didapatkan darinya, melainkan karena tingkat ketaatan dan ketaqwaannya kepada Alloh . Sebaliknya, jika kita harus membenci atau menjaga jarak dari seseorang, hal itu dilakukan semata-mata karena kekufurannya, kemaksiatannya, atau kebiasaannya dalam menyebarkan bid’ah yang merusak kemurnian Din. Pertemanan yang tanpa batas, yang mencampuradukkan antara pembelaan terhadap kebenaran dan pembiaran terhadap kebatilan, adalah pertemanan yang semu dan akan mendatangkan penyesalan mendalam di Akhiroh.

Akal yang lurus juga menuntut adanya proporsionalitas dalam menyikapi hubungan antar manusia. Cinta yang berlebihan tanpa batasan syar’i sering kali membutakan mata hati, sehingga ketika teman dekat kita melakukan tindakan kezholiman atau menyebarkan penyimpangan agama, akal sehat kita menjadi lumpuh untuk memberikan teguran ilmiyyah. Kita justru ikut membela kesalahannya demi menjaga perasaan pertemanan. Ini adalah kerusakan cara berpikir. Begitu pula dalam hal permusuhan; kebencian yang meledak-ledak tanpa kendali hukum Islam akan menjerumuskan seseorang pada tindakan melanggar hak-hak dasar manusia, seperti menyebarkan aib pribadi yang tidak ada hubungannya dengan kemaslahatan Din, atau merusak harta bendanya. Tuntunan akal yang selaras dengan syari’at diajarkan dalam sebuah Hadits:

«أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا»

“Cintailah orang yang kamu cintai secara wajar, boleh jadi suatu hari dia akan menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci secara wajar, boleh jadi suatu hari dia akan menjadi orang yang kamu cintai.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1997)

Realita di medan da’wah dan kehidupan kemasyarakatan menunjukkan betapa banyak fitnah (ujian/kekacauan) besar terjadi akibat pengabaian terhadap batas-batas syar’i ini. Ada sebagian orang yang saking bersemangatnya mencari teman dan relasi, mereka rela duduk di majelis-majelis ahli bid’ah, berbasa-basi dengan para penyeru kesesatan, bahkan ikut serta dalam ritual-ritual yang tidak ada tuntunannya dari Nabi dengan alasan menjaga toleransi dan menambah saudara. Ini adalah pelecehan terhadap batasan iman.

Di sisi lain, ada kelompok yang terjangkit penyakit ekstremitas, di mana mereka menganggap setiap Muslim yang berbeda pandangan dalam masalah ijtihadiah fikih sebagai musuh bebuyutan yang halal kehormatannya untuk diinjak-injak. Mereka menciptakan musuh baru setiap hari di kalangan internal umat Islam, sehingga kekuatan da’wah menjadi rapuh dan terpecah-pecah. Batasan syar’i yang diajarkan oleh para Salafush Sholih adalah memberikan hak cinta dan loyalitas sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada diri seorang Muslim, serta membenci maksiat atau penyimpangan yang ada padanya tanpa harus menghilangkan hak persaudaraan Islamnya secara total, kecuali jika orang tersebut telah keluar dari lingkaran Islam atau menjadi musuh yang memerangi Din secara terang-terangan. Dengan memahami batasan yang kokoh ini, seorang Muslim akan mampu melangkah dengan pasti: meraih 1000 teman sholih tanpa kehilangan prinsip Aqidahnya, serta mampu meredam hadirnya musuh tanpa harus berbuat zholim yang melanggar ketentuan hukum Alloh .

 

Bab 2: Timbangan Akal Sehat

2.1 Makhluk Sosial yang Membutuhkan Sesama

Nalar yang sehat dan fitroh yang lurus akan selalu menuntun manusia pada kesimpulan objektif bahwa kesendirian adalah sebuah kelemahan, sedangkan kebersamaan di atas kebaikan adalah sebuah kekuatan absolut. Kebenaran ilmiyyah ini terpatri kokoh dalam tatanan penciptaan makhluk. Tidak ada satu pun individu yang mampu memenuhi seluruh hajat hidupnya tanpa melibatkan peran serta orang lain. Keberadaan sesama manusia bukan sekadar pelengkap hiasan dunia, melainkan kebutuhan mendasar untuk menjaga kelangsungan peradaban dan menegakkan syiar ketaatan kepada Robb penguasa alam semesta. Ketika akal sehat digabungkan dengan bimbingan wahyu, manusia akan memahami bahwa membangun aliansi kebaikan bersama 1000 teman sholih adalah instruksi logis demi mencapai keselamatan hidup.

Alloh memberikan penegasan yang sangat gamblang mengenai prinsip dasar saling membantu ini di dalam Al-Qur’an:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya siksaan Alloh sangat berat.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Tuntunan akal yang lurus memahami bahwa kalimat perintah dalam ayat ini menuntut adanya interaksi aktif yang berskala luas. Saling menolong tidak mungkin terwujud dalam ruang hampa atau dalam kondisi keterasingan sosial. Diperlukan barisan manusia yang kokoh, jalinan hati yang solid, serta frekuensi komunikasi yang intensif antara satu dengan yang lain guna merealisasikan nilai kebajikan dan ketaatan tersebut di muka bumi.

Keterkaitan logis antar individu seiman ini digambarkan secara matematis dan arsitektural oleh Nabi melalui sabdanya yang agung:

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

“Seorang Mu’min dengan Mu’min yang lain adalah seperti sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Al-Bukhori no. 481 dan Muslim no. 2585)

Sebuah bangunan tidak akan pernah berdiri tegak jika hanya ditopang oleh 1 tiang atau 1 batu bata saja. Bangunan yang megah dan kokoh membutuhkan ribuan komponen yang saling mengikat: pondasi yang kuat, dinding yang rapat, tiang penyangga yang tebal, dan atap yang menaungi. Begitu pula dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat; 1000 teman sholih bertindak bagaikan ribuan batu bata yang menyusun benteng pertahanan iman. Ketika salah satu sisi melemah atau retak akibat gempuran ujian fitnah dunia, komponen batu bata yang lain akan segera menopang dan menguatkan posisinya kembali sehingga benteng tersebut tidak roboh.

Ketika kaum Muslimin hendak mendirikan sebuah Masjid yang agung, pekerjaan raksasa tersebut mustahil diselesaikan oleh 1 orang saja, betapa pun kayanya dia atau betapa pun kuatnya fisiknya. Pembangunan tersebut membutuhkan aliansi nyata dari 1000 kebaikan: ada ahli arsitektur yang merancang bangunan, ada para pekerja lapangan yang mencampur semen dan menyusun batu, ada para agnia yang mendonasikan hartanya melalui Zakat dan sedekah, serta ada para tetangga sekitar yang menyediakan konsumsi. Sinergi kolektif inilah yang melahirkan sebuah peradaban yang makmur. Oleh karena itu, mengumpulkan 1000 teman sholih yang siap bergerak dalam proyek kebaikan adalah sebuah keniscayaan akal sehat yang tidak boleh diabaikan oleh siapa pun yang menginginkan kemaslahatan bagi Din dan dunianya.

2.2 Kerugian Pikiran dan Waktu

Jika akal sehat melihat pengumpulan 1000 teman sebagai sebuah keuntungan besar, maka akal sehat yang sama akan menilai pemeliharaan musuh walau hanya 1 orang sebagai sebuah kerugian total yang sangat bodoh. Hubungan sosial yang diwarnai dendam, kebencian, dan perselisihan konstan bertindak sebagai parasit yang menguras energi kejiwaan serta membuang-buang waktu produktif yang berharga. Manusia memiliki keterbatasan kapasitas berpikir dan keterbatasan jatah usia di dunia. Menghabiskan aset berharga tersebut hanya untuk melayani riak konflik dengan seorang pembenci adalah bentuk kebangkrutan nalar.

Larangan keras mengenai tindakan memutus hubungan sosial dan memelihara konflik ini ditegaskan oleh Nabi dalam sebuah peringatan yang terukur:

«لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ»

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari 3 malam, keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling, dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai dengan salam.” (HR. Al-Bukhori no. 6077 dan Muslim no. 2560)

Pembatasan waktu selama 3 malam memberikan kelonggaran manusiawi bagi gejolak emosi sesaat agar mereda. Namun, melampaui batas waktu tersebut dengan terus memelihara permusuhan dinilai sebagai tindakan yang harom. Logika hukum Islam menetapkan aturan ini demi melindungi kesehatan akal dan kebersihan hati umat dari kerusakan yang meluas.

Permusuhan yang bercokol di dalam dada akan melahirkan cabang-cabang penyakit hati yang kronis, seperti hasad (dengki), namimah (adu domba), dan ghibah (menggunjing). Seluruh penyakit ini menguras daya konsentrasi akal. Seseorang yang memelihara 1 musuh akan mendapati pikirannya terpasung secara konstan. Ketika bangun di pagi hari, fokus pikirannya bukan lagi bagaimana meningkatkan hafalan Al-Qur’an atau memajukan usaha da’wah, melainkan bagaimana cara membalas makar sang musuh, melacak kesalahan-kesalahannya, atau menyusun kalimat-kalimat celaan di ruang publik.

Berdasarkan penalaran yang lurus, waktu yang terbuang untuk memikirkan 1 musuh adalah kerugian yang tidak akan pernah bisa ditebus kembali. Umur hamba bergerak maju menuju liang kubur setiap detiknya. Sungguh tragis jika waktu yang seharusnya digunakan untuk memupuk bekal menuju Akhiroh justru habis terbakar oleh api dendam yang sia-sia. Akal sehat akan bertanya: Mengapa kita harus memberikan otoritas kepada 1 musuh untuk mengontrol kebahagiaan hati dan ketenangan pikiran kita?

Realita kehidupan nyata di tengah masyarakat menyajikan potret kehancuran ekonomi dan sosial akibat kegagalan mengendalikan permusuhan ini. Kita sering melihat kasus sengketa tanah warisan di antara dua saudara kandung yang berlangsung selama belasan tahun. Demi meluapkan kebencian terhadap saudaranya yang dianggap sebagai musuh, mereka rela menghabiskan dana ratusan juta rupiah untuk menyewa pengacara, menghadiri persidangan demi persidangan yang melelahkan fisik, serta mengalami stres berkepanjangan yang berujung pada penyakit stroke atau serangan jantung. Hasil akhirnya adalah kerugian materiil yang masif, waktu produktif yang hilang sia-sia, dan terputusnya hubungan silaturrohim antar generasi anak keturunan mereka. Ini adalah bukti empiris yang tidak terbantahkan bahwa memelihara 1 musuh adalah tindakan irasional yang menghancurkan kedamaian dunia sebelum mendatangkan siksaan di Akhiroh.

2.3 Meredam Konflik Sejak Dini

Menyadari bahwa permusuhan mendatangkan malapetaka besar, maka langkah yang paling cerdas menurut pertimbangan nalar sehat adalah melakukan pencegahan konflik sejak dini. Kebakaran besar selalu berawal dari percikan api kecil yang diremehkan. Begitu pula dengan permusuhan yang merusak peradaban; ia berawal dari kesalahpahaman kecil, sindiran lisan yang tidak terkontrol, atau kecemburuan sosial yang dibiarkan menumpuk tanpa adanya klarifikasi. Penalaran yang lurus mendiktekan agar setiap potensi gesekan sosial segera diredam, dilokalisasi, dan diselesaikan sebelum ia membesar menjadi badai permusuhan yang sulit dipadamkan.

Syari’at Islam telah menyediakan regulasi preventif yang sangat komprehensif untuk mencegah pecahnya konflik di tengah masyarakat. Nabi menginstruksikan dalam sebuah khutbah petunjuk yang sangat padat:

«لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا»

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling melakukan najash (menawar barang untuk menipu), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Muslim no. 2564)

Melalui larangan-larangan ini, Islam memotong jalur-jalur suplai yang bisa menyulut permusuhan. Hasad, najash dalam perniagaan, dan sikap saling membelakangi saat bertemu adalah pemicu utama keretakan hubungan. Akal yang waras memahami bahwa menaati protokol keselamatan sosial ini adalah jalan pintas menuju kehidupan yang damai dan stabil.

Salah satu pemicu konflik yang paling sering dijumpai adalah perdebatan lisan yang tidak menghasilkan faedah ilmiyyah, melainkan hanya bertujuan untuk menjatuhkan lawan bicara demi kepuasan ego pribadi. Terhadap fenomena ini, akal yang lurus diperintahkan untuk mengalah demi kemaslahatan yang lebih besar. Rasulullah memberikan garansi yang sangat luar biasa:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran Jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HSR. Abu Dawud no. 4800)

Mengalah dalam sebuah perdebatan kusir bukan berarti kita berada dalam posisi yang lemah atau bodoh. Sebaliknya, tindakan tersebut menunjukkan kematangan akal dan kekuatan kontrol diri. Dengan menghentikan perdebatan, kita sedang menutup pintu rapat-rapat bagi syaithon yang ingin mengobarkan api permusuhan di antara sesama Muslim. Kita menyelamatkan hubungan jangka panjang demi mengorbankan kepuasan semu sesaat.

Contoh nyata dari urgensi pencegahan konflik ini dapat kita pelajari dari manajemen organisasi da’wah atau pengelolaan lembaga sosial modern. Ketika terjadi perbedaan persepsi dalam masalah distribusi tugas anggaran atau metode eksekusi lapangan di antara sesama pengurus, para pemimpin yang memiliki ketajaman nalar tidak akan membiarkan isu tersebut berlarut-larut di ruang obrolan digital yang rawan distorsi makna. Mereka akan segera mengadakan pertemuan tatap muka secara kekeluargaan, mengedepankan tabayyun (klarifikasi), serta mendengarkan penjelasan dari masing-masing pihak secara adil. Gesekan yang semulanya berpotensi melahirkan musuh dalam selimut akhirnya dapat diubah menjadi evaluasi ilmiyyah yang konstruktif. Langkah preventif yang cepat dan terukur seperti inilah yang mampu menjaga integritas jama’ah tetap utuh dan menyelamatkan energi umat dari kehancuran internal yang sia-sia.

2.4 Menilai Ketulusan Hubungan

Dalam ikhtiar memperbanyak saudara seiman dan mengikis permusuhan, akal sehat tidak boleh terjebak dalam sikap kenaifan sosial. Kita harus memiliki sistem penyaringan yang rasional untuk membedakan antara pertemanan yang didasari ketulusan iman dengan pertemanan palsu yang bersifat transaksional atau oportunistik. 1000 teman yang sejati adalah mereka yang siap membersamai kita di jalur ketaqwaan, sedangkan sekadar kumpulan manusia yang hadir saat kita bergelimang harta dan kekuasaan bukanlah teman yang sesungguhnya. Akal yang tajam wajib menggunakan parameter syar’i untuk menguji kualitas hubungan agar tidak membuang investasi emosional pada tempat yang salah.

Parameter utama dalam menilai kualitas pertemanan ini bersumber dari panduan Nabi yang bersabda:

«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»

“Seseorang itu berada di atas din teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa dia berteman dekat.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378)

Akal sehat akan menerjemahkan petunjuk ini sebagai sebuah peringatan bahwa karakter keagamaan kita merupakan cerminan langsung dari lingkaran pergaulan terdekat kita. Jika kita berteman dengan orang-orang yang memiliki ambisi Akhiroh yang tinggi, maka akal kita akan ikut terpacu untuk beramal sholih. Namun, jika kita membiarkan diri kita dikelilingi oleh para pengejar dunia yang lalai dari Sholat dan gemar berbuat zholim, maka perlahan namun pasti, nalar sehat kita akan mengalami penurunan terhadap nilai-nilai kebenaran agama.

Pondasi penilaian ini juga diperkuat oleh nasehat ilmiyyah dari amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob (23 H) yang memberikan panduan dalam menguji ketulusan karakter seseorang. Beliau menegaskan bahwa seseorang tidak boleh dipuji ketulusannya sebelum diuji dalam 3 perkara krusial: transaksi keuangan yang melibatkan dinar dan dirham, interaksi kekuasaan atau amanah jabatan, serta kebersamaan dalam perjalanan jauh yang melelahkan. Tiga kondisi ekstrem ini secara logis akan mengelupas topeng kepalsuan dan menampakkan watak asli yang tersembunyi di balik kata-kata manis.

Melalui timbangan akal sehat, seorang teman yang tulus tidak akan pernah membiarkan kita berjalan menuju Naar dalam kondisi sesat tanpa peringatan. Teman sejati adalah dia yang berani mengoreksi kekeliruan kita dengan cara yang santun dan ilmiyyah, bukan dia yang selalu memuji dan membenarkan setiap kesalahan kita demi mendapatkan keuntungan materi atau popularitas semu.

Fakta riil di lapangan sering kali menampar kesadaran manusia modern yang terlalu mendewakan kuantitas hubungan di media digital. Seseorang mungkin merasa sangat bangga karena memiliki puluhan ribu pengikut atau ribuan kontak relasi bisnis yang selalu memberikan sanjungan saat usahanya sedang berada di puncak kejayaan. Tetapi, saat gelombang krisis ekonomi melanda, atau saat dia terbaring sakit tidak berdaya di rumah sakit, ribuan relasi tersebut mendadak lenyap tanpa kabar. Hanya tersisa 1 atau 2 orang saudara seiman dari Masjid yang datang menjenguknya secara konsisten, membawakan bantuan tanpa publikasi, dan dengan tulus mendoakan kesembuhannya di sepertiga malam terakhir. Realita pahit inilah yang membuktikan secara empiris bahwa tolok ukur ketulusan hubungan tidak pernah terletak pada angka-angka kuantitatif yang menipu, melainkan pada kualitas kesetiaan di atas landasan akidah dan ketaqwaan kepada Alloh .

 

Bab 3: Realita Lapangan

3.1 Potret Kehidupan Salaf

Generasi Salafush Sholih adalah manusia yang paling mendalami kandungan wahyu dan menerapkannya secara nyata dalam hubungan sehari-hari. Mereka memahami bahwa mengumpulkan saudara seiman adalah bagian dari tabungan Akhiroh, sedangkan memicu lahirnya permusuhan adalah musibah besar yang harus dihindari dengan segala cara. Kehidupan mereka dipenuhi dengan lembaran ketulusan, di mana harta, kedudukan, dan ego pribadi dilepaskan demi mengikat hati sesama Muslim. Mereka tidak pernah memandang remeh kehadiran seorang saudara, dan selalu waspada agar tidak meninggalkan sumbu kebencian pada hati orang lain.

Tuntunan utama dalam membangun jalinan kasih sayang ini bersumber dari sabda Nabi yang diriwayatkan dari shohabat Anas bin Malik (93 H):

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhori no. 13 dan Muslim no. 45)

Penerapan dari petunjuk ini dapat dilihat dari kisah teladan Abdullah bin Al-Mubarok (181 H). Beliau adalah seorang ulama besar sekaligus saudagar yang kaya raya. Setiap kali hendak menunaikan ibadah Haji dari negeri Khurosan menuju Makkah, beliau akan mengumpulkan teman-teman dan tetangganya yang miskin. Beliau berkata kepada mereka untuk mengumpulkan bekal dan biaya perjalanan mereka lalu memasukkannya ke dalam sebuah kotak terkunci yang beliau jaga. Selama perjalanan pergi hingga pulang, Abdullah bin Al-Mubarok (181 H) membiayai seluruh kebutuhan makanan, tunggangan, dan tempat menginap mereka dengan uang pribadinya secara mewah. Tidak hanya itu, sebelum kembali ke rumah, beliau membelikan hadiah dan oleh-oleh terbaik untuk keluarga masing-masing temannya tersebut. Ketika sampai di kampung halaman, beliau membuka kotak penyimpanan uang dan mengembalikan seluruh modal uang milik teman-temannya tanpa berkurang satu dirham pun. Melalui ketulusan ini, beliau berhasil mengikat hati ribuan orang dalam kecintaan karena Alloh dan menutup rapat celah kecemburuan sosial.

Gambaran lain ditunjukkan oleh Imam Abu Hanifah (150 H) dalam menghadapi potensi permusuhan di lingkungan tempat tinggalnya. Beliau memiliki seorang tetangga yang gemar meminum khomr (minuman keras) dan sering kali bernyanyi dengan suara keras di malam hari hingga mengganggu istirahat sang imam. Meskipun demikian, Abu Hanifah (150 H) tetap bersabar dan tidak membalasnya dengan makian. Pada suatu malam, suara bising tersebut tidak terdengar lagi. Setelah mencari tahu, beliau mendapat kabar bahwa tetangganya itu ditangkap oleh petugas keamanan kota karena pemukulan dan dijebak di dalam penjara.

Abu Hanifah (150 H) tidak merasa gembira di atas penderitaan orang lain. Beliau segera menaiki hewan tunggangannya dan pergi menemui gubernur kota untuk meminta penangguhan penahanan bagi tetangganya tersebut. Karena menghormati kedudukan ilmiyyah sang imam, gubernur segera membebaskan lelaki tersebut. Ketika lelaki peminum khomr itu keluar dari penjara, Abu Hanifah (150 H) menyambutnya dengan ramah dan berkata bahwa kami tidak akan pernah menyia-nyiakanmu selaku tetangga. Menyaksikan kemuliaan akhlak ini, lelaki tersebut seketika menangis, bertobat dari perbuatan haromnya, dan berubah menjadi salah satu murid yang paling setia mendampingi majelis ilmu beliau. Dalam kisah ini, kelembutan hati mampu memadamkan potensi hadirnya musuh dan mengubahnya menjadi aliansi kebaikan yang kokoh.

3.2 Budaya Saling Memusuhi

Apabila jalinan silaturrohim diputus dan budaya saling memusuhi dibiarkan menjamur di tengah masyarakat, maka kehancuran tatanan kehidupan tinggal menunggu waktu. Kebencian yang dipelihara bertindak bagaikan racun yang merusak sendi-sendi keamanan, menimbulkan rasa tidak aman, dan mengundang murka Alloh secara langsung. Wahyu Islam telah memberikan ancaman yang sangat mengerikan bagi individu maupun kelompok yang gemar menyulut api perpecahan di antara kaum Muslimin.

Alloh memberikan peringatan keras di dalam Al-Qur’an mengenai dampak buruk dari perpecahan dan pemutusan hubungan kekerabatan:

﴿فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ 22 أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekerabatan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Alloh, lalu Dia tulikan telinga mereka dan Dia butakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)

Ayat ini menyamakan perbuatan memutus silaturrohim dengan tindakan merusak bumi. Hukuman langsung bagi para pelakunya adalah hilangnya hidayah, di mana telinga mereka tidak lagi mampu mendengarkan nasihat kebenaran dan mata hati mereka dibutakan dari melihat jalan kelurusan.

Bahaya ini semakin ditegaskan melalui lisan Nabi yang diriwayatkan dari shohabat Jubair bin Muth’im (60 H):

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang memutus tali silaturrohim.” (HR. Al-Bukhori no. 5984 dan Muslim no. 2556)

Dalam realita sejarah umat manusia, kita dapat merujuk pada lembaran hitam sebelum datangnya cahaya Islam, yaitu perseteruan abadi antara suku Aus dan Khozroj di kota Madinah. Hanya karena dipicu oleh perselisihan kecil mengenai batas wilayah penggembalaan ternak dan hasutan dari pihak luar, kedua suku yang sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan ini terlibat dalam peperangan berdarah selama lebih dari 120 tahun. Energi, harta, dan nyawa generasi muda mereka habis terbakar dalam konflik berkepanjangan. Ketakutan mencengkeram setiap sudut kota, perdagangan lumpuh, dan jalinan sosial hancur berantakan. Keadaan mengerikan ini baru berakhir secara total ketika Nabi datang membawa syari’at Islam, menyatukan hati mereka di atas kalimat ketaqwaan, dan mengubah permusuhan jahiliyyah menjadi persaudaraan kaum Anshor yang melegenda.

Di era modern saat ini, kerusakan nyata akibat budaya saling memusuhi ini dapat disaksikan dalam skala domestik yang lebih dekat. Betapa banyak perusahaan keluarga yang telah dibangun dengan kerja keras selama puluhan tahun runtuh dalam sekejap mata hanya karena para ahli warisnya saling menganggap saudaranya sebagai musuh. Mereka saling menggugat di pengadilan, menyebarkan aib keluarga ke ruang publik, dan menolak untuk duduk bersama dalam satu meja islah. Dampaknya tidak hanya menyangkut kerugian materi yang masif, melainkan juga kehancuran psikologis anak-anak keturunan mereka yang tumbuh dalam doktrin kebencian. Ruang-ruang Masjid yang seharusnya menjadi tempat penyatuan hati akhirnya ternodai oleh egoisme manusia yang enggan bertegur sapa karena memelihara satu dendam permusuhan.

3.3 Sikap Egois dan Mengabaikan Hak

Tanda-tanda mendekatnya Hari Qiyamah dicirikan dengan terjadinya pergeseran nilai akhlak di tengah masyarakat, di mana sifat mementingkan diri sendiri secara berlebihan menjadi pemandangan yang biasa. Banyak manusia yang mulai mengabaikan hak-hak dasar saudaranya sesama Muslim demi memburu kesenangan duniawi yang fana. Akibatnya, benteng persaudaraan iman yang semulanya kokoh menjadi rapuh, dan ruang pergaulan dipenuhi dengan kecurigaan serta kemudahan dalam menciptakan musuh-musuh baru tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at.

Kondisi zaman yang penuh dengan fitnah egoisme ini telah diprediksikan oleh Nabi melalui sabdanya yang bersumber dari shohabat Abu Huroiroh (57 H):

«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ، وَيَنْقُصُ العَمَلُ، وَيُلْقَى الشُّحُّ، وَتَظْهَرُ الفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الهَرْجُ»

“Zaman akan saling berdekatan, amalan akan berkurang, sifat kikir akan dilemparkan ke dalam hati, fitnah-fitnah akan tampak, dan al-harj (pembunuhan) akan banyak terjadi.” (HR. Al-Bukhori no. 7061 dan Muslim no. 2672)

Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata asy-syuhh dalam Hadits di atas adalah sifat pelit yang mendarah daging yang disertai dengan ketamakan untuk menguasai hak orang lain. Ketika sifat ini telah mendominasi hati manusia, maka empati akan lenyap, dan setiap orang akan memandang saudaranya sebagai saingan yang harus disingkirkan atau musuh yang menghalangi ambisinya.

Fenomena di lapangan saat ini memberikan pembenaran yang sangat akurat terhadap nubuwat tersebut. Di kawasan perkotaan yang padat, kita menyaksikan manusia hidup berdampingan, dinding rumah mereka saling menempel, namun mereka tidak mengetahui nama tetangga sebelah rumahnya. Sikap acuh tak acuh ini merusak hak ketetanggaan yang sangat diagungkan dalam Islam. Orang-orang sibuk dengan gawai digital mereka masing-masing, mengumpulkan ribuan teman semu di dunia maya, namun gagal membangun hubungan nyata yang harmonis dengan manusia yang berada di sekitar mereka.

Lebih parah dari itu, media digital saat ini bertindak bagaikan pabrik pencetak musuh secara massal. Demi meraih popularitas, keuntungan materi dari penonton, atau pembelaan terhadap kelompok politik tertentu, seseorang dengan sangat ringan menyebarkan berita bohong, melakukan pembunuhan karakter, serta mencaci maki kehormatan seorang Muslim yang belum tentu bersalah. Satu kalimat fitnah yang diunggah ke internet dapat memicu permusuhan di antara ribuan orang dalam hitungan detik. Masyarakat menjadi sangat mudah tersulut emosi, gemar menghakimi tanpa tabayyun, dan enggan memberikan udzur (pemakluman) atas kekhilafan saudaranya. Hak-hak Muslim yang diperintahkan oleh Nabi seperti menjawab salam, menjenguk yang sakit, dan mengantarkan janazah sering kali diabaikan jika tidak memberikan keuntungan materiil.

3.4 Kehancuran Akibat Meremehkan Hadirnya Satu Musuh

Banyak orang yang terjebak dalam kelalaian dengan menganggap bahwa memiliki 1 musuh adalah perkara sepele yang tidak akan memengaruhi keselamatan hidupnya. Mereka merasa aman karena disokong oleh ribuan teman atau memiliki kekuasaan dan harta yang melimpah. Padahal, sejarah dan realita kehidupan telah berulang kali memberikan pelajaran berharga bahwa 1 musuh yang bergerak di bawah bayang-bayang kebencian, jika diremehkan, sudah lebih dari cukup untuk meruntuhkan seluruh capaian kejayaan seseorang dan mendatangkan kehancuran yang total.

Alloh telah mengingatkan kaum Mu’min untuk senantiasa waspada dan tidak meremehkan setiap potensi ancaman yang dapat merusak barisan mereka:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُم

“Wahai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu dan waspadalah.” (QS. An-Nisa: 71)

Tuntunan wahyu ini mengajarkan agar kita tidak membuka celah sedikit pun bagi musuh untuk melakukan makar yang merusak keselamatan din maupun dunia kita.

Pelajaran sejarah paling monumental mengenai bahaya meremehkan 1 musuh ini tercatat dengan tinta darah pada peristiwa runtuhnya Kekhilafan Abbasiyah di kota Baghdad pada tahun 656 H. Penguasa kaum Muslimin saat itu, Kholifah Al-Musta’shim, memiliki seorang wazir (perdana menteri) bernama Ibnul ‘Alqomi (656 H), pengikut Syiah. Wazir ini menyimpan kebencian yang sangat mendalam dan dendam ideologis terhadap sang kholifah serta mayoritas penduduk Baghdad karena perbedaan keyakinan. Namun, Kholifah Al-Musta’shim meremehkan riak permusuhan terselubung ini dan tetap memberikan kepercayaan penuh serta fasilitas kekuasaan tertinggi kepada Ibnul ‘Alqomi (656 H).

Merasa berada di atas angin karena posisinya tidak dicurigai, Ibnul ‘Alqomi (656 H) mulai menjalankan makar busuknya secara bertahap. Pertama, dia meyakinkan kholifah untuk memotong anggaran pertahanan militer dengan alasan efisiensi ekonomi dunia. Pasukan penjaga Baghdad yang semulanya berjumlah lebih dari 100.000 prajurit berkuda yang tangguh dipangkas secara drastis hingga tersisa hanya sekitar 10.000 personel saja. Nama-nama para tentara dihapus dari daftar penerimaan gaji sehingga mereka terpaksa keluar dari militer dan beralih menjadi pedagang pasar atau petani demi menyambung hidup. Setelah kekuatan internal melemah secara ekstrem, Ibnul ‘Alqomi (656 H) mengirimkan surat rahasia kepada Hulagu Khon, panglima tentara Mongol yang kejam, mengundang mereka untuk segera menyerang Baghdad dan menjanjikan bantuan penuh dari dalam istana.

Ketika pasukan Mongol mengepung kota Baghdad, Ibnul ‘Alqomi (656 H) menipu kholifah dengan mengatakan bahwa pasukan Mongol datang untuk berdamai dan menawarkan perjanjian pernikahan agung. Kholifah yang terlalu percaya akhirnya keluar dari benteng tanpa perlindungan: bersama para ulama, hakim, dan pembesar kota. Seketika itu juga, mereka semua disembelih tanpa ampun oleh tentara Mongol. Pintu gerbang kota dibuka dari dalam atas perintah sang wazir pengkhianat. Akibatnya, kota Baghdad yang menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan dunia selama berabad-abad dihancurkan total. Lebih dari 800.000 kaum Muslimin dibantai dalam kurun waktu beberapa hari, perpustakaan raksasa Baitul Hikmah dijarah, dan jutaan kitab ilmiyyah dibuang ke sungai Tigris hingga airnya berubah menjadi hitam karena tinta.

Tragedi mengerikan ini membuktikan kebenaran kalimat bahwa 1 musuh itu sudah teramat banyak. Kecerobohan dalam memelihara dan meremehkan 1 orang pembenci di dalam lingkaran terdekat telah melahirkan malapetaka terbesar dalam sejarah Islam. Oleh karena itu, nalar yang sehat wajib mengambil pelajaran ini: jangan pernah membiarkan ada 1 musuh pun tertinggal tanpa adanya penyelesaian syar’i, karena kita tidak pernah tahu kapan makar mereka akan menghancurkan hidup kita.

 

Bab 4: Penyimpangan dalam Berinteraksi

4.1 Menjadikan Pelaku Zholim dan Ahli Bid’ah Sebagai Teman Dekat

Semangat untuk mengumpulkan 1000 teman sholih tidak boleh membutakan mata hati seorang Muslim sehingga dia asal dalam memilih lingkar pergaulan terdekatnya. Terdapat sebuah kesalahan fatal di tengah masyarakat, di mana sebagian orang demi mengejar relasi yang luas atau popularitas pergaulan, mereka rela duduk dan menjadikan pelaku zholim serta ahli bid’ah sebagai teman karib. Mereka berdalih bahwa hal itu dilakukan demi menjaga hubungan baik atau atas nama toleransi sosial. Padahal, wahyu Islam telah menetapkan batas tegas bahwa kedekatan dengan orang-orang yang gemar melanggar syari’at dan mengada-ada dalam urusan din adalah racun yang akan merusak keselamatan iman seorang hamba, serta menyeretnya ke dalam penyesalan yang abadi pada Hari Qiyamah.

Timbangan wahyu memberikan gambaran yang sangat menakutkan mengenai akibat buruk dari pertemanan yang menyimpang ini. Alloh berfirman dalam Kitab-Nya yang Mulia:

﴿وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا 27 يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا 28 لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Dan ingatlah pada hari ketika orang yang zholim menggigit kedua tangannya karena sangat menyesal seraya berkata: ‘Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan keselamatan bersama Rosul. Wahai, celaka aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an setelah Al-Qur’an itu datang kepadaku. Dan syaithon itu adalah pemberi kekecewaan bagi manusia.” (QS. Al-Furqon: 27-29)

Melalui ayat ini, Robb seluruh alam menegaskan bahwa salah satu penyesalan terbesar para penghuni Naar adalah karena kecerobohan mereka di dunia dalam memilih teman dekat, yang akhirnya memalingkan mereka dari petunjuk yang dibawa oleh Nabi .

Peringatan preventif ini diperkuat oleh instruksi langsung dari Nabi yang diriwayatkan dari shohabat Abu Sa’id Al-Khudri (74 H):

«لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ»

“Janganlah kamu berteman dekat kecuali dengan seorang Mu’min, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” (HHR. Abu Dawud no. 4832 dan At-Tirmidzi no. 2395)

Tuntunan akal yang lurus memahami bahwa larangan berteman dengan pelaku penyimpangan didasarkan pada hukum penularan tabiat. Secara nalar, pikiran manusia akan perlahan-lapan memaklumi kemaksiatan atau kebid’ahan apabila perkara harom tersebut setiap hari disaksikan dari teman dekatnya. Rasa cemburu terhadap kemurnian agama akan terkikis, digantikan oleh rasa sungkan dan kompromi yang merusak akidah. Ulama terkemuka Sufyan Ats-Tsauri (161 H) memberikan analisis nalar yang sangat tajam mengenai bahaya ini:

«مَنْ جَالَسَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ لَمْ يَسْلَمْ مِنْ إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يَكُونَ فِتْنَةً لِغَيْرِهِ، وَإِمَّا أَنْ يَقَعَ فِي قَلْبِهِ شَيْءٌ فَيَزِلَّ بِهِ فَيُدْخِلَهُ اللَّهُ النَّارَ، وَإِمَّا أَنْ يَقُولَ: وَاللَّهِ مَا أُبَالِي مَا تَكَلَّمُوا، وَإِنِّي وَاثِقٌ بِنَفْسِي، فَمَنْ أَمِنَ اللَّهَ عَلَى دِينِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ سَلَبَهُ إِيَّاهُ»

“Siapa yang duduk bersama ahli bid’ah maka dia tidak akan selamat dari salah satu dari 3 perkara: boleh jadi dia menjadi fitnah bagi orang lain, atau jatuh ke dalam hatinya sesuatu syubhat (kesamaran) lalu dia tergelincir karenanya sehingga Alloh memasukkannya ke dalam Naar, atau dia berkata: ‘Demi Alloh aku tidak peduli apa yang mereka katakan dan sesungguhnya aku percaya pada diriku sendiri.’ Maka siapa yang merasa aman dari ujian Alloh atas din-nya sekejap mata pun, niscaya Alloh akan mencabut din itu darinya.” (Al-Bida’, Ibnu Wadh-dhoh, 1/95)

Dalam realita sejarah, asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat dalam surat Al-Furqon di atas memberikan contoh nyata yang sangat berharga. Uqbah bin Abi Mu’aith adalah seorang pembesar Quroisy yang sering duduk mendengarkan majelis Nabi di Makkah, meskipun dia belum masuk Islam. Namun, dia memiliki seorang teman akrab yang sangat zholim bernama Ubay bin Kholaf. Ketika Ubay mengetahui bahwa Uqbah duduk bersama Nabi , Ubay marah besar dan memberikan ancaman untuk memutus hubungan pertemanan mereka secara total, kecuali jika Uqbah pergi menemui Nabi lalu meludahi wajah beliau . Karena ketakutan kehilangan 1 teman dekatnya yang zholim tersebut, Uqbah menuruti kemauan Ubay bin Kholaf. Dia mendatangi Nabi dan melakukan tindakan keji tersebut. Akibat dari keputusannya yang mengutamakan ridho teman zholim di atas ridho Alloh, Uqbah bin Abi Mu’aith akhirnya mati dalam kekufuran pada perang Badr.

Potret riil di zaman sekarang menunjukkan fenomena serupa yang menimpa para penuntut ilmu. Kita menyaksikan ada pemuda yang semulanya rajin menghadiri majelis Sunnah, menjaga Sholat berjama’ah di Masjid, dan berakhlak mulia. Namun, karena tuntutan pekerjaan atau pergaulan di media digital, dia mulai dekat dengan kelompok orang yang gemar mencela para Salaf, meremehkan hukum-hukum fikih yang shohih, atau menyebarkan pemikiran liberal. Semulanya dia merasa kuat dan mampu menjaga diri. Tetapi seiring berjalannya waktu, nalar sehatnya lumpuh oleh syubhat yang dilontarkan teman-temannya secara konstan. Dia mulai ikut melemparkan ejekan terhadap syari’at Islam, meninggalkan majelis ilmu, dan berpaling menjadi penentang kebenaran. Kenyataan pahit ini membuktikan secara empiris bahwa berteman dekat dengan pembawa kesesatan adalah awal dari kehancuran dunia dan Akhiroh.

4.2 Sikap Berlebihan dalam Memusuhi

Penyimpangan kedua yang sering merusak tatanan hubungan adalah sikap ekstrem sebagian orang yang sangat mudah mengobarkan permusuhan terhadap sesama Muslim tanpa adanya alasan syar’i yang valid. Mereka menjadikan perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiah fikih (perkara hukum yang masih dilapangkan bagi para ulama untuk berbeda pandangan), atau perselisihan kecil urusan duniawi, sebagai alasan untuk membangun tembok permusuhan yang kokoh. Satu musuh saja sudah teramat banyak, namun anehnya, sebagian orang justru dengan sengaja memproduksi musuh-musuh baru setiap hari di kalangan internal kaum Muslimin. Mereka bertindak seolah-olah memiliki otoritas penuh untuk memboikot dan mengeluarkan saudaranya dari lingkaran kasih sayang iman hanya karena tidak sejalan dalam urusan kelompok atau selera pribadi.

Wahyu Islam dengan sangat terukur melarang keras sikap suka mencari-cari kesalahan dan membangun permusuhan tanpa dasar kebenaran ini. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّه ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Ayat ini memperingatkan bahwa permusuhan internal sering kali dipicu oleh prasangka buruk yang tidak berdasar serta perilaku tajassus (memata-matai aib saudara seiman).

Tindakan kriminal lisan yang merusak kehormatan sesama Muslim ini diancam dengan hukuman kefasikan oleh Nabi . Diriwayatkan dari shohabat Abdullah bin Mas’ud (32 H), Rosulullah bersabda:

«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»

“Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR. Al-Bukhori no. 48 dan Muslim no. 64)

Penalaran akal yang sehat akan melihat bahwa sikap gampang memusuhi sesama saudara seiman adalah bentuk keberhasilan strategi syaithon dalam memecah belah kekuatan umat. Syaithon mungkin telah putus asa untuk mengajak kaum Muslimin yang taat untuk menyembah berhala, namun syaithon tidak pernah berputus asa untuk menanamkan benih tahrisy (hasutan dan permusuhan) di antara mereka. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi dari shohabat Jabir bin Abdullah (74 H):

«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»

“Sesungguhnya syaithon telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang menegakkan Sholat di jazirah Arob, akan tetapi syaithon senantiasa berusaha untuk menanamkan permusuhan di antara mereka.” (HR. Muslim no. 2812)

Akal yang waras wajib memahami bahwa seorang Muslim tidaklah ma’sum (terbebas dari kesalahan). Apabila pada diri seorang saudara kita terdapat kekurangan atau kesalahan dalam urusan cabang agama atau masalah muamalah duniawi, maka timbangan keadilan mendiktekan kita untuk menasihatinya secara ilmiyyah, bukan menjadikannya sebagai musuh bebuyutan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) meletakkan kaidah nalar syar’i yang sangat adil dalam masalah ini:

وَإِذَا اجْتَمَعَ فِي الرَّجُلِ الْوَاحِدِ خَيْرٌ وَشَرٌّ وَفُجُورٌ وَطَاعَةٌ وَمَعْصِيَةٌ وَسُنَّةٌ وَبِدْعَةٌ: اسْتَحَقَّ مِنْ الْمُوَالَاةِ وَالثَّوَابِ بِقَدْرِ مَا فِيهِ مِنْ الْخَيْرِ وَاسْتَحَقَّ مِنْ الْمُعَادَاتِ وَالْعِقَابِ بِحَسَبِ مَا فِيهِ مِنْ الشَّرِّ

“Dan apabila terkumpul pada diri seorang lelaki antara kebaikan dan keburukan, kefasikan dan ketaatan, maksiat dan sunnah, serta bid’ah: maka dia berhak mendapatkan loyalitas dan pahala sesuai dengan kadar kebaikan yang ada padanya, dan dia berhak mendapatkan permusuhan dan hukuman sesuai dengan kadar keburukan yang ada padanya.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 28/209)

Kenyataan di lapangan kontemporer mempertontonkan pemandangan yang memprihatinkan akibat pengabaian kaidah ini. Kita melihat sesama penuntut ilmu yang sama-sama belajar akidah yang shohih, saling memboikot, enggan menjawab salam, dan saling menjatuhkan reputasi di media sosial hanya karena berbeda pandangan dalam memilih lembaga yayasan da’wah, atau berbeda ijtihad dalam menilai sebuah perkara kontemporer yang tidak ada dalil tegasnya. Mereka menciptakan suasana tegang di dalam Masjid, membuat para awam kebingungan, dan melemahkan wibawa da’wah Sunnah di hadapan musuh-musuh Islam yang sesungguhnya. Kebencian yang berlebihan ini telah melampaui batas syar’i dan berubah menjadi kezholiman nyata yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Robb yang Maha Adil.

4.3 Fitnah Dunia dalam Popularitas

Penyimpangan berikutnya yang jarang disadari oleh banyak orang adalah jebakan popularitas hubungan yang menipu. Memiliki banyak relasi dan dikelilingi oleh ribuan orang yang mengaku sebagai teman sering kali dianggap sebagai indikator mutlak kesuksesan hidup. Padahal, jika kuantitas hubungan tersebut tidak dibangun di atas pondasi ketaqwaan, ia dapat berubah menjadi istidroj (penyesatan berangsur-angsur melalui ni’mat dunia) yang membuai hamba hingga dia lupa akan jati dirinya selaku makhluk yang akan dihisab. Banyak individu yang merasa aman dari murka Alloh karena mengira limpahan sanjungan dari 1000 temannya adalah bukti bahwa dirinya berada di jalan yang benar, padahal itu adalah fitnah dunia yang sedang menyeretnya menuju jurang kehancuran.

Peringatan wahyu mengenai bahaya istidroj ini tercantum dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an al-Karim:

﴿وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur menuju kehancuran dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’rof: 182)

Ayat ini memperingatkan kita agar tidak tertipu oleh segala bentuk kelapangan fasilitas duniawi—termasuk luasnya jaringan hubungan sosial—apabila hal tersebut justru membuat kita semakin menjauh dari ketaatan kepada Alloh .

Bahaya dari sikap mencari keridhoan manusia dengan mengorbankan syari’at agama dijelaskan oleh Nabi melalui lisan shohabat Aisyah (58 H):

«مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ»

“Siapa yang mencari ridho manusia dengan kemarahan Alloh, maka Alloh akan menyerahkan dirinya kepada manusia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2414)

Timbangan akal sehat yang lurus akan mendeteksi bahwa popularitas pergaulan yang berlebihan sering kali bertindak bagaikan sangkar emas yang memenjarakan kebebasan berpikir ilmiyyah seseorang. Ketika seseorang memiliki 1000 teman yang selalu memujinya, akal sehatnya akan cenderung menolak kritik dan masukan yang benar. Demi menjaga agar 1000 temannya tersebut tidak pergi dan tidak kecewa, dia mulai melakukan kompromi-kompromi yang harom: dia ikut tertawa saat temannya melakukan ghibah, dia enggan menegur kemungkaran yang terjadi di depannya, dan dia rela mengubah warna da’wahnya menjadi da’wah yang humanis-pluralis tanpa prinsip demi menyenangkan massa. Sanjungan manusia telah menjadi candu yang merusak kejujuran berpikirnya. Ulama besar Al-Hasan Al-Bashri (110 H) memberikan nasehat berharga agar kita tidak terpedaya oleh kuantitas kebersamaan yang kosong dari amalan:

“Wahai anak Adam, janganlah kamu tertipu dengan ucapan orang yang mengatakan: ‘Seseorang itu bersama dengan orang yang dia cintai,’ karena sesungguhnya siapa yang mencintai suatu kaum niscaya dia akan mengikuti jejak-jejak mereka, dan kamu tidak akan pernah menyusul kelompok orang-orang yang berbuat baik sampai kamu mengikuti jejak-jejak mereka, mengambil petunjuk mereka, meneladani Sunnah mereka, serta berada di atas manhaj mereka pada waktu pagi dan sore, dalam keadaan tamak untuk menjadi bagian dari mereka sehingga kamu menempuh jalan mereka dan mengambil rute mereka, walaupun kamu memiliki kekurangan dalam amalan, karena sesungguhnya inti dari perkara ini adalah kamu berada di atas istiqomah.” (Istinsyaq Nasimul Unsi min Nafahati Riyadhil Qudsi, Ibnu Rojab Al-Hanbali (795 H), 3/378)

Realita empiris di era digital saat ini menyajikan potret yang sangat akurat tentang fitnah popularitas ini. Kita menyaksikan para pembuat konten atau tokoh publik yang memiliki jutaan pengikut di media sosial, yang mereka anggap sebagai teman dan pendukung setia. Mereka merasa berada di puncak kejayaan karena setiap ucapan mereka diaminkan dan setiap tindakan mereka dibela. Namun, demi mempertahankan angka pengikut yang jutaan itu, mereka perlahan-lapan melepaskan prinsip hijab yang syar’i, mulai mempromosikan produk perniagaan yang harom yang mengandung riba, serta ikut serta dalam tren-tren pergaulan yang merusak moral anak muda. Mereka merasa ni’mat popularitas tersebut adalah tanda kasih sayang Robb, padahal itu adalah bentuk istidroj yang nyata. Saat kematian datang menjemput secara tiba-tiba, jutaan pengikut tersebut tidak mampu memberikan pembelaan sedikit pun di hadapan Malaikat Maut, dan tinggallah sang hamba sendirian mempertanggung-jawabkan setiap kalimat yang dia obral demi menyenangkan manusia.

4.4 Kesalahan Memahami Konsep Al-Wala’ wal Baro’

Penyimpangan keempat yang sangat krusial di zaman ini adalah terjadinya distorsi pemahaman terhadap konsep al-wala’ wal baro’ (loyalitas karena Alloh dan berlepas diri dari keburukan karena Alloh ). Terdapat dua kutub ekstrem yang menyimpang dalam menerapkan prinsip agung ini dalam realita kehidupan kemasyarakatan. Kutub pertama adalah kelompok ekstrem kanan (seperti manhaj Khowarij) yang menerapkan baro’ secara serampangan kepada sesama Muslim. Mereka menganggap setiap Muslim yang melakukan dosa besar atau berbeda pandangan politik sebagai musuh yang halal darah dan kehormatannya. Kutub kedua adalah kelompok ekstrem kiri (seperti penganut paham pluralisme dan Murji’ah) yang mengikis habis konsep baro’ dari hati mereka. Mereka mengklaim bahwa kita harus memberikan kasih sayang yang sama rata kepada semua manusia, termasuk kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas menghina Nabi , dengan alasan kemanusiaan. Kedua kutub ini telah keluar dari garis kelurusan yang diajarkan oleh para Salafush Sholih.

Timbangan wahyu meletakkan pondasi al-wala’ wal baro’ ini sebagai pilar keimanan yang tidak boleh runtuh. Alloh berfirman dalam Kitab-Nya yang Mulia:

﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhiroh, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Ayat yang sangat tegas ini menegaskan bahwa iman yang shohih menuntut adanya ketegasan hati untuk tidak memberikan kecintaan keagamaan yang tulus kepada musuh-musuh Islam yang menentang syari’at Alloh dan Rosul-Nya.

Kekokohan prinsip loyalitas dan berlepas diri ini dinobatkan sebagai ikatan iman yang paling tinggi oleh Nabi . Diriwayatkan dari shohabat Al-Baro’ bin Azib (72 H), Rosululloh bersabda:

«إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ»

“Tali ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Alloh dan benci karena Alloh.” (HHR. Ahmad no. 18524)

Penalaran akal yang sehat akan menyimpulkan bahwa keadilan sejati adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya yang proporsional. Seseorang yang memiliki akal yang waras tidak akan pernah menyamakan antara orang yang segenap hidupnya digunakan untuk sujud di Masjid dengan orang yang menghabiskan waktunya untuk menghancurkan sendi-sendi agama Islam. Memberikan pembelaan dan kasih sayang tanpa batas kepada para penyebar kesesatan dengan dalih toleransi adalah bentuk cacat logika yang merusak tatanan sosial. Begitu pula sebaliknya; menganggap setiap Muslim yang bersalah sebagai kafir yang harus dimusuhi adalah tindakan irasional yang menghancurkan persatuan umat. Tokoh ulama generasi Salaf, Al-Barbahari (329 H), menukilkan nasehat dari Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) mengenai ketegasan sikap terhadap ahli bid’ah:

«مَنْ أَحَبَّ صَاحِبَ بِدْعَةٍ، أَحبَطَ اللهُ عَمَلَهُ، وَأَخْرَجَ نُوْرَ الإِسْلاَمِ مِنْ قَلْبِهِ»

“Siapa yang mencintai ahli bid’ah, niscaya Alloh akan menghapuskan pahala amalannya dan mencabut cahaya iman dari dalam hatinya.” (As-Siyar, Adz-Dzahabi (748 H), 8/435)

Kenyataan riil di lapangan masyarakat kontemporer memperlihatkan dampak destruktif dari penyimpangan pemahaman al-wala’ wal baro’ ini. Pada satu sisi, kita melihat lahirnya kelompok terorisme dan ekstremis yang dengan ringannya melakukan pengeboman di tengah pemukiman Muslim atau tempat ibadah, hanya karena mereka menganggap pemerintah dan masyarakat sekitar sebagai musuh yang telah keluar dari Islam akibat tidak menerapkan hukum syari’at secara kaaffah menurut persepsi kelompok mereka sendiri. Ini adalah musibah akibat berlebihan dalam menerapkan baro’.

Di sisi yang lain, kita melihat fenomena para tokoh agama yang liberal, yang dengan bangganya menghadiri ritual peribadatan non-Muslim, ikut menyanyikan puji-pujian yang mengandung syirik, serta menyatakan bahwa semua agama menuju keselamatan yang sama. Mereka memperlakukan para penentang Tauhid sebagai saudara karib yang paling dicintai, sementara di saat yang sama, mereka bersikap sangat sinis, keras, dan penuh permusuhan terhadap saudara seiman mereka yang berusaha menegakkan Sunnah Nabi secara murni. Distorsi pemahaman yang terbalik ini adalah bukti hilangnya kompas petunjuk wahyu dalam interaksi sosial modern, yang jika dibiarkan akan menghancurkan identitas keimanan seorang Muslim di hadapan Robb semesta alam.

 

Bab 5: Meraih 1000 Teman dan Menepis 1 Musuh

5.1 Menyebarkan Salam, Berwajah Manis, dan Akhlak Mulia

Manusia dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan kunci pembuka hubungan yang mampu mencairkan kebekuan hati. Kunci utama yang diajarkan oleh syari’at Islam adalah menyebarkan salam dan menampakkan wajah yang berseri-seri saat bertemu dengan sesama Muslim. Langkah sederhana ini merupakan strategi awal yang sangat ampuh untuk mengumpulkan 1000 teman sholih. Melalui salam, rasa aman ditanamkan ke dalam hati orang lain, sedangkan melalui wajah yang manis, sekat-sekat kecurigaan dapat diruntuhkan seketika.

Tuntunan wahyu meletakkan penyebaran salam sebagai syarat penting untuk menumbuhkan rasa kasih sayang di antara sesama Mu’min. Nabi bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari shohabat Abu Huroiroh (57 H):

«لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ»

“Kalian tidak akan masuk Jannah sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian amalkan niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Strategi ini disempurnakan dengan tuntunan untuk selalu menampakkan wajah yang berseri-seri. Nabi memberikan dorongan nyata melalui sabdanya yang diriwayatkan dari shohabat Abu Dzar (32 H):

«تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»

“Senyumanmu di hadapan wajah saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1956)

Penalaran akal yang lurus memahami bahwa wajah adalah cerminan isi hati. Ketika seseorang bertemu dengan saudaranya dengan wajah yang masam, akal sehat orang lain akan menangkap pesan penolakan atau kesombongan, yang secara otomatis membangun benteng pertahanan pergaulan dan menjauhkan potensi pertemanan. Sebaliknya, wajah yang manis dan ucapan salam yang tulus akan mengirimkan sinyal kedamaian yang logis, sehingga orang lain merasa dihargai dan aman untuk membangun hubungan yang lebih dekat. Shohabat Jarir bin Abdillah (51 H) menceritakan kemuliaan pergaulan Nabi dengan berkata: “Rosulullah tidak pernah menghalangi aku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliau tidak pernah memandang wajahku melainkan dalam keadaan tersenyum.” (HR. Al-Bukhori no. 3035)

Senyuman dan wajah yang manis adalah sarana paling murah untuk menawan hati manusia. Karakter dasar manusia adalah menyukai kelembutan dan membenci kekerasan serta keangkuhan.

Kenyataan nyata di lapangan kehidupan bermasyarakat membuktikan akurasi strategi syar’i ini. Di dalam lingkungan perumahan atau tempat kerja, kita sering menjumpai seseorang yang sebenarnya tidak memiliki keunggulan harta atau pangkat yang tinggi, namun dia menjadi sosok yang paling dicintai oleh semua orang. Ketika dicermati, rahasianya hanya terletak pada konsistensinya dalam menyebarkan salam kepada siapa saja yang dia temui, baik kepada orang tua maupun anak-anak, serta wajahnya yang selalu dihiasi senyuman tulus. Kehadirannya selalu dinantikan dan ketidakhadirannya selalu dirindukan. Sebaliknya, orang yang bersikap angkuh, enggan menyapa, dan selalu berwajah ketat akan terisolasi secara sosial, sehingga jangankan meraih 1000 teman, dia justru sedang memupuk benih kejengkelan yang rawan melahirkan musuh baru.

5.2 Meredam Amarah dan Membalas dengan Kebaikan

Jalan menuju pertemanan yang luas tidak selalu mulus, adakalanya kita berhadapan dengan gangguan, cacian, atau perlakuan zholim dari orang lain. Dalam menghadapi kondisi ketegangan hubungan seperti ini, syari’at Islam melarang umatnya untuk memperturutkan hawa nafsu dengan membalas keburukan dengan keburukan serupa. Strategi syar’i yang paling tinggi untuk menepis lahirnya 1 musuh adalah dengan menahan amarah dan membalas perlakuan buruk tersebut dengan tindakan kebajikan. Tindakan ini mampu mengubah lawan yang paling membenci menjadi kawan yang paling setia.

Petunjuk wahyu mengenai taktik agung ini tertuang dalam firman Alloh :

﴿وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan keburukan. Balaslah keburukan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan akan menjadi seolah-olah teman setia yang sangat dekat.” (QS. Fushshilat: 34)

Kekuatan mengendalikan diri dari luapan amarah ini ditegaskan oleh Nabi sebagai indikator kekuatan yang hakiki. Diriwayatkan dari shohabat Abu Huroiroh (57 H), Rosulullah bersabda:

«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»

“Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago gulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhori no. 6114 dan Muslim no. 2609)

Secara penalaran akal yang sehat, membalas makian dengan makian atau kezholiman dengan kezholiman hanya akan memperpanjang rantai konflik tanpa akhir. Ketika dua orang sama-sama memperturutkan amarah, maka akal sehat mereka sedang padam, dan yang memegang kendali adalah syaithon. Hasil akhirnya adalah permusuhan yang semakin meruncing dan mengeras. Namun, ketika salah satu pihak memilih untuk meredam amarahnya dan membalas dengan kebaikan, akal sehat pihak lawan akan dipaksa untuk merasa malu atas tindakannya sendiri. Dorongan fithroh manusia akan membuat si pelaku zholim merasa bersalah karena telah menyerang orang yang justru memperlakukannya dengan mulia.

Kisah nyata yang menunjukkan penerapan strategi ini dapat kita lihat dari kehidupan cicit Nabi , yaitu Ali bin Al-Husain (94 H) yang dikenal dengan julukan Zainal Abidin. Pada suatu hari, seorang budak menuangkan air wudhu (atau air panas) untuk beliau dari sebuah wadah. Secara tidak sengaja, wadah tersebut terjatuh dari tangan sang budak dan mengenai beliau hingga terluka. Ali bin Al-Husain (94 H) mengangkat kepalanya dan memandang budak tersebut dengan pandangan marah. Mengetahui tuannya marah, budak wanita yang cerdas itu segera membaca firman Alloh yang berbunyi: ‘Dan orang-orang yang menahan amarahnya.’ Mendengar ayat tersebut, Ali bin Al-Husain (94 H) seketika melunakkan pandangannya dan berkata: ‘Aku telah menahan amarahku.’ Budak itu melanjutkan ayat berikutnya: ‘Dan orang-orang yang memaafkan manusia.’ Beliau menjawab: ‘Semoga Alloh mengampunimu, aku telah memaafkanmu.’ Budak itu menutup dengan akhir ayat: ‘Dan Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik.’ Maka Ali bin Al-Husain (94 H) berkata: ‘Pergilah, sekarang kamu merdeka karena Alloh .’

Perlakuan mulia ini secara nyata menghapus potensi dendam dan permusuhan dari hati sang budak, dan mengubah status hubungan dari budak menjadi saudara seiman yang merdeka serta mencintai tuannya seumur hidup. Di dunia nyata saat ini, perpaduan antara ketegasan menahan amarah dan kebaikan membalas cacian di ruang publik atau perniagaan terbukti mampu meredam ratusan potensi tuntutan hukum dan membalikkan keadaan dari permusuhan yang menghancurkan menjadi kerjasama yang saling menguntungkan.

5.3 Menjaga Lisan dari Ghibah, Namimah, dan Suka Mencela

Perolehan 1000 teman sholih akan menjadi sia-sia jika lisan seorang hamba bertindak bagaikan senjata yang merobek kehormatan manusia di belakang mereka. Mayoritas keretakan hubungan sosial dan lahirnya musuh-musuh baru bersumber dari ketidakmampuan dalam mengendalikan lidah. Penyakit lisan seperti ghibah (menggunjing aib saudara), namimah (mengadu domba demi merusak hubungan), dan sifat suka mencela adalah perbuatan harom yang secara instan menghancurkan modal kepercayaan sosial yang telah dibangun. Menjaga lisan adalah strategi preventif syar’i yang wajib ditegakkan demi menjaga keutuhan persaudaraan seiman.

Timbangan wahyu memberikan pengawasan yang sangat melekat terhadap setiap kata yang keluar dari lisan manusia. Alloh berfirman:

﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qof: 18)

Larangan keras terhadap perilaku adu domba yang menjadi pabrik pencetak 1 musuh ditegaskan oleh Nabi melalui sabdanya yang diriwayatkan dari shohabat Hudzaifah (36 H):

«لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَتَّاتٌ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang suka mengadu domba.” (HR. Al-Bukhori no. 6056 dan Muslim no. 105)

Nabi juga menetapkan standar keselamatan pergaulan melalui perintah untuk diam apabila tidak mampu memproduksi kalimat yang berfaedah. Diriwayatkan dari shohabat Abu Huroiroh (57 H):

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhiroh maka hendaklah dia berkata yang baik atau hendaklah dia diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Penalaran akal yang lurus mendiktekan bahwa kepercayaan adalah pondasi dari setiap hubungan pertemanan. Ketika seseorang gemar membicarakan aib orang lain di hadapan kita, akal sehat kita secara otomatis akan menyimpulkan bahwa orang tersebut juga akan membicarakan aib kita di hadapan orang lain saat kita tidak ada. Akibatnya, rasa percaya akan runtuh dan hubungan akan merenggang. Sebaliknya, orang yang dikenal selalu menjaga kehormatan saudaranya, tidak ikut serta dalam majelis ghibah, dan selalu menutup rapat rahasia orang lain, akan memancarkan daya tarik sosial yang luar biasa. Manusia akan merasa aman berada di dekatnya karena tahu lisan orang tersebut tidak akan melukainya.

Bukti di lapangan kehidupan modern menunjukkan kerusakan masif yang ditimbulkan oleh kegagalan menjaga lisan. Betapa banyak komunitas pengajian, ikatan keluarga besar, atau aliansi bisnis yang pecah berantakan hanya karena ada 1 orang yang membawa berita adu domba (namimah) dari satu pihak ke pihak lain. Kalimat sindiran yang dilemparkan di grup obrolan digital tanpa sensor lisan sering kali menyulut api permusuhan yang bertahan hingga bertahun-tahun. Sebaliknya, individu yang menerapkan prinsip syar’i dengan menyaring setiap ucapannya, menolak mendengarkan gunjingan, dan selalu meluruskan berita miring dengan klarifikasi, terbukti mampu mempertahankan 1000 jaringan pertemanannya tetap utuh dan selamat dari ranjau permusuhan akhir zaman.

5.4 Mengutamakan Kelapangan Dada, Sifat Pemaaf, dan Islah

Strategi pamungkas dalam mengelola hubungan antar manusia menurut panduan syari’at Islam adalah dengan memiliki kelapangan dada yang luas dan sifat pemaaf yang tulus. Dalam pergaulan bersama 1000 teman, gesekan kepentingan, perbedaan sudut pandang, dan kekhilafan manusiawi pasti akan terjadi. Jika setiap kesalahan kecil dibalas dengan pemutusan hubungan atau dicatat sebagai dendam, maka dalam waktu singkat kita akan kehilangan seluruh teman kita dan mengumpulkan banyak musuh. Membuka pintu maaf dan aktif melakukan islah (perbaikan hubungan) ketika terjadi konflik adalah cerminan dari kematangan iman dan kelurusan akal sehat.

Wahyu Islam menempatkan kelapangan dada dan sifat pemaaf sebagai karakter utama para calon penghuni Jannah yang bertaqwa. Alloh berfirman:

﴿وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali ‘Imron: 134)

Janji kemuliaan di dunia bagi orang yang berjiwa besar dalam memaafkan saudaranya dijamin langsung oleh Nabi melalui sabdanya yang diriwayatkan dari shohabat Abu Huroiroh (57 H):

«وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إلا عِزًّا»

“Dan tidaklah Alloh menambah bagi seorang hamba karena sifat pemaaf melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 2588)

Akal yang sehat akan melihat bahwa menyimpan dendam adalah tindakan yang tidak logis dan merugikan diri sendiri. Dendam bertindak bagaikan beban berat yang terus kita bawa di dalam pikiran kita, sementara orang yang kita benci mungkin hidup dengan tenang tanpa beban. Memaafkan kesalahan saudara bukan berarti kita kalah atau membenarkan tindakannya yang salah, melainkan kita sedang membebaskan akal dan hati kita dari belenggu emosi negatif yang merusak kesehatan dan produktivitas hidup kita. Memaafkan adalah keputusan rasional untuk menjaga aset pertemanan jangka panjang di atas egoisme sesaat. Ketika terjadi perselisihan, nalar yang lurus akan segera mendorong kita untuk mengambil inisiatif islah demi menutup celah gerak syaithon.

Kisah nyata keteladanan dalam masalah ini dipraktikkan secara agung oleh Abu Bakr As-Shiddiq (13 H). Beliau memiliki seorang kerabat miskin bernama Misthoh bin Utsatsah (34 H) yang seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh Abu Bakr (13 H). Namun, ketika terjadi fitnah keji yang menuduh putri beliau, Aisyah (58 H), melakukan perbuatan keji, Misthoh ikut serta menyebarkan berita bohong tersebut. Hal ini tentu sangat melukai hati Abu Bakr (13 H). Setelah Alloh menurunkan ayat yang membersihkan nama Aisyah (58 H), Abu Bakr (13 H) bersumpah demi Alloh untuk menghentikan seluruh bantuan nafkah kepada Misthoh selama-lamanya.

Merespon sumpah tersebut, Alloh menurunkan firman-Nya dalam surat An-Nur ayat 22 yang mengingatkan agar orang-orang yang memiliki kelebihan harta tidak bersumpah untuk memutus bantuan kepada kerabat yang miskin, dan hendaklah mereka memaafkan serta berlapang dada. Alloh bertanya: “Apakah kamu tidak suka bahwa Alloh mengampunimu?” Mendengar ayat ini dibacakan, Abu Bakr As-Shiddiq (13 H) seketika menangis dan berkata: “Tentu, demi Alloh, kami sangat suka jika Engkau mengampuni kami.” Beliau segera membatalkan sumpahnya, memaafkan Misthoh secara total, dan mengembalikan nafkah bulanan Misthoh bahkan dengan jumlah yang lebih besar dari sebelumnya.

Jiwa besar Abu Bakr (13 H) ini berhasil menyelamatkan hubungan kekerabatan, menjaga 1 saudara seiman agar tidak jatuh menjadi musuh, dan mendatangkan jaminan ampunan dari Robb pencipta alam semesta. Di alam realita kemasyarakatan hari ini, keberadaan para individu yang memiliki kelapangan dada untuk memaafkan tanpa syarat dan rajin menginisiasi proses islah terbukti menjadi jangkar kedamaian yang mampu meredam pecahnya perselisihan antar kelompok, menyatukan kembali keluarga yang retak, serta memastikan bahwa barisan kaum Muslimin tetap rapat, kuat, dan bersih dari noda permusuhan yang menghancurkan.

 

Penutup

Perjalanan panjang di dalam meniti ombak kehidupan dunia ini pada hakikatnya adalah sebuah persiapan menuju perjumpaan dengan Robb seluruh alam di Akhiroh kelak. Melalui seluruh lembaran penjelasan ilmiyyah yang telah dihamparkan—baik dari sudut pandang ketetapan wahyu yang maksum, pertimbangan penalaran akal yang lurus, hingga bentangan realita keadaan yang kasatmata—telah menjadi sangat benderang bagi kita bahwa pengelolaan hubungan antar sesama manusia bukanlah perkara sampingan yang boleh diremehkan. Memperbanyak jalinan persaudaraan yang sholih merupakan sebuah investasi iman yang sangat berharga, sedangkan membiarkan hadirnya riak permusuhan walau hanya dengan 1 orang adalah sebuah kecerobohan besar yang mampu membakar seluruh bekal kebajikan yang telah dikumpulkan dengan susah payah. Timbangan syari’at telah memberikan garis pembatas yang tegas bahwa keselamatan seorang hamba sangat dipengaruhi oleh dengan siapa dia membangun kesetiaan dan bagaimana dia meredam potensi konflik di tengah masyarakat.

Ketika kelak tiupan sangkakala menandai datangnya Hari Qiyamah, seluruh ikatan pertemanan duniawi yang tidak dibangun di atas pondasi ketaqwaan akan berubah menjadi sumber malapetaka dan permusuhan yang saling menuntut di hadapan pengadilan Alloh . Wahyu Islam telah memberikan peringatan yang sangat bergetar mengenai pemandangan mengerikan ini di dalam Al-Qur’an:

﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Melalui penegasan yang sangat adil ini, Robb penguasa jagat raya memotong seluruh harapan palsu manusia yang menggantungkan keselamatan mereka pada banyaknya jaringan pergaulan yang kosong dari nilai agama. 1000 teman yang kita banggakan di dunia, jika mereka adalah orang-orang yang melalaikan Sholat, gemar berbuat zholim, dan akrab dengan perbuatan bid’ah, maka di hari pembalasan mereka justru akan berdiri sebagai musuh baru yang memperberat hisab kita. Mereka akan menuntut kita karena kita tidak pernah menegur kemungkaran mereka, atau karena kita ikut serta menikmati hidangan kemaksiatan bersama mereka. Sebaliknya, hanya pertemanan yang dilandasi oleh kesucian aqidah dan ketaqwaan yang akan bertahan, saling memberikan syafa’at dengan izin Alloh , serta membersamai langkah menuju gerbang Jannah.

Penalaran akal yang waras juga menuntut kita untuk merenungkan kembali hakikat dari kebangkrutan yang sesungguhnya. Banyak manusia di dunia ini yang merasa sangat aman dan percaya diri karena mengira tabungan amalan ibadahnya telah melimpah ruah. Namun, karena lisan mereka tidak dijaga dari ghibah dan namimah, serta tangan mereka ringan berbuat zholim sehingga memicu lahirnya musuh-musuh di tengah kaum Muslimin, maka seluruh pahala tersebut akan terkuras habis pada hari persidangan yang agung. Hal ini telah diperingatkan secara sangat terukur oleh Nabi dalam sabdanya yang diriwayatkan dari shohabat Abu Huroiroh (57 H):

«أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para shohabat menjawab: “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang kehabisan dirham dan tidak memiliki barang pajangan.” Maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada Hari Qiyamah dengan membawa pahala Sholat, Puasa, dan Zakat, namun dia juga datang dalam keadaan dahulu telah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang ini. Maka diberikanlah kepada orang ini dari kebaikan-kebaikannya dan kepada orang itu dari kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum ditunaikan seluruh kewajibannya, maka diambil dari dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)

Potret kebangkrutan yang digambarkan oleh wahyu ini adalah sebuah tamparan keras bagi nalar sehat manusia. Memiliki 1 musuh yang terzholimi di dunia berarti kita telah mendaftarkan 1 penuntut resmi yang akan memotong saldo pahala kita di Akhiroh. Apabila musuh yang kita ciptakan lewat kezholiman itu berjumlah banyak, maka kehancuran total adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, akal yang lurus akan mendiktekan sebuah kesimpulan yang sangat praktis: bersihkan diri dari segala bentuk perselisihan dengan sesama Muslim sebelum maut datang menjemput secara tiba-tiba. Mengalah demi terwujudnya islah dan memaafkan kesalahan saudara dengan kelapangan dada adalah pilihan yang jauh lebih menguntungkan daripada memelihara harga diri semu yang berujung pada siksaan Naar yang membakar.

Realita lapangan yang telah terjadi di sepanjang sejarah peradaban umat ini telah menjadi saksi yang tidak terbantahkan mengenai kebenaran adagium buku ini. Kumpulan 1000 teman sholih bertindak bagaikan jaring pengaman sosial dan benteng keimanan yang menjaga seorang hamba agar tidak tergelincir ke dalam jurang istidroj dan tipu daya syaithon. Sebaliknya, sejarah kelam runtuhnya kejayaan para penguasa terdahulu dan hancurnya lembaga-lembaga da’wah di sekitar kita selalu menyisakan satu benang merah yang sama, yaitu adanya pembiaran terhadap 1 musuh yang aktif bergerak merusak dari dalam lingkaran terdekat karena kelalaian kita dalam melakukan mitigasi konflik sejak dini. Kebencian yang tidak diredam dengan strategi syar’i akan terus beranak-pinak melahirkan fitnah yang melumpuhkan energi umat.

Sebagai penutup dari seluruh rangkaian bimbingan ilmiyyah ini, marilah kita senantiasa mengingat nasehat emas yang penuh dengan hikmah dari ulama tabiut tabiin, Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H), yang menuntun kita pada kemurnian niat dalam berinteraksi:

«اتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطُرِيقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ»

“Hendaklah kamu tetap menetapi jalan petunjuk dan tidak mengapa bagimu sedikitnya orang yang meniti jalan tersebut, dan jauhilah olehmu jalan-jalan kesesatan dan janganlah kamu terpedaya dengan banyaknya orang yang binasa.” (Tahdziru-s Saajid, Al-Albani (1420 H), 1/100)

Pesan yang mendalam ini mengikat seluruh pembahasan buku ini pada satu titik kesadaran yang kokoh. Di dalam ikhtiar kita untuk meraih 1000 teman dan menepis 1 musuh, tolok ukur utama yang wajib dipegang teguh adalah kebenaran akidah dan kemurnian Sunnah Nabi . Kita memperbanyak saudara bukan demi mencari kuantitas pengikut yang menipu di media sosial atau sekadar mencari pembelaan kelompok yang buta, melainkan demi mengumpulkan barisan manusia sholih yang bersaudara karena Alloh . Kita juga menepis lahirnya musuh bukan karena ketakutan yang pengecut menghadapi tantangan dunia, melainkan karena rasa takut yang tinggi kepada Robb yang Maha Perkasa jika kita harus berdiri di Hari Qiyamah selaku pelaku kezholiman.

Semoga Alloh senantiasa menghiasi lisan kita dengan kejujuran, melapangkan dada kita dengan sifat pemaaf, membersihkan hati kita dari benih kedengkian, serta mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya yang penuh dengan ni’mat bersama para Nabi, shohabat, dan orang-orang sholih yang terdahulu.[NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini