[PDF] Kita Hanyalah Seorang Hamba - Arfandi Al Kubari dan Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya bagi Alloh, Robb semesta alam. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya,
dan meminta ampunan-Nya. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosululloh ﷺ.
Amma
ba’du:
Kita hamba
yang fakir butuh kepada Alloh. Manusia, dengan segala keterbatasan dan
kelemahannya, tidak akan pernah bisa lepas dari rohmat dan pertolongan
Penciptanya sedikit pun. Kesadaran akan kefakiran diri di hadapan Robb
merupakan kunci utama dalam meraih kebahagiaan di dunia dan Akhiroh. Alloh ﷻ
berfirman dalam Al-Qur’an:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ
إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ﴾
“Wahai manusia! Kamulah yang sangat memerlukan Alloh;
dan Alloh Dialah Yang Maha Kaya, Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Melalui
ayat yang agung ini, Alloh ﷻ mengingatkan seluruh umat manusia bahwa eksistensi mereka di
atas bumi ini sepenuhnya bergantung pada perlindungan dan pemberian-Nya. Tidak
ada satu pun makhluk yang mampu berdiri sendiri tanpa rizqi, kesehatan, dan
petunjuk yang diturunkan oleh Alloh ﷻ. Oleh karena itu, sudah
sepatutnya manusia menundukkan diri, membuang jauh-jauh sifat sombong, dan
menyadari hakikat dirinya yang sejati, yaitu hanyalah seorang hamba. Buku ini
akan mengurai secara mendalam mengenai hakikat penciptaan manusia, sifat-sifat
dasarnya, solusi dari para ulama Salaf dalam memperbaiki diri, kepastian
datangnya kematian, serta tujuan utama keberadaan kita di dunia ini.
Buku ini
awalnya adalah naskah mentah berisi dalil-dalil yang ditata rapi, buah karya Al-Ustadz
Arfandi Al-Kubary
—Pengasuh Saung Al-Qur’an, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Lalu Al-Faqir
menyempurnakannya dengan menambahkan narasi dan penjelasan dalil-dalil
tersebut. [Nor Kandir]
Bab 1: Proses
Penciptaan Manusia
1.1
Fase-Fase Perkembangan Janin
Manusia
sering kali lupa dari mana mereka berasal, sehingga muncul sifat angkuh di
dalam dada mereka. Padahal, jika mereka merenungkan kembali lembaran awal
kehidupan mereka, mereka akan mendapati bahwa mereka diciptakan dari sesuatu
yang sangat hina. Alloh ﷻ telah menjelaskan rincian proses perkembangan ini dengan sangat
menakjubkan di dalam Kitab-Nya, jauh sebelum ilmu kedokteran modern mampu
menyingkapnya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ
مِّن طِينٍ 12 ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ
13 ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا
الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا
ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ﴾
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari
saripati tanah, kemudian Kami menjadikannya air mani yang disimpan dalam tempat
yang kokoh. Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian,
Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Maha Suci Alloh, Pencipta yang
paling baik.” (QS.
Al-Mu’minun: 12-14)
Proses yang
bertahap ini menunjukkan keagungan dan kekuasaan Robb yang tiada tara. Dimulai
dari saripati tanah, kemudian diubah menjadi nuthfah (air mani) yang
tersimpan aman di dalam rahim, lalu tumbuh menjadi ‘alaqoh (segumpal
darah), meningkat menjadi mudhghoh (segumpal daging), hingga akhirnya
dibentuklah tulang-belulang yang kemudian dibalut kembali oleh daging menjadi
seorang manusia yang utuh.
Keaslian
urutan penciptaan ini dipertegas oleh sabda Nabi ﷺ melalui penuturan Shohabat
Abdullah bin Mas’ud (32 H) rohimahulloh, beliau berkata bahwa Rosululloh
ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ
عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ
مَلَكًا [فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ]»
“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya
di dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal darah dalam
waktu yang sama, kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama,
kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 3208 dan
Muslim no. 2643)
Melalui
Hadits shohih ini, tergambar jelas betapa lemahnya awal mula kedatangan manusia
di dunia ini, di mana untuk sekadar bernyawa pun ia harus menunggu tiupan ruh
dari Malaikat atas perintah Robb semesta alam.
1.2
Kesempurnaan Bentuk Fisik Manusia
Meskipun
manusia berawal dari bahan-bahan yang sederhana dan melalui fase-fase yang
rentan, Alloh ﷻ
dengan segala kemurahan-Nya tidak membiarkan manusia tumbuh dalam bentuk yang
buruk. Sebaliknya, Alloh ﷻ memberikan anugerah berupa bentuk fisik yang paling
proporsional, paling indah, dan paling fungsional dibandingkan dengan
makhluk-makhluk lainnya di muka bumi ini. Alloh ﷻ berfirman:
﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ
تَقْوِيمٍ﴾
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4)
Kesempurnaan
fisik ini mencakup kelurusan berdiri, kemampuan berpikir, struktur wajah yang
seimbang, serta anggota tubuh yang dapat digerakkan secara fleksibel untuk
menunjang aktivitas ibadah dan kehidupan sehari-hari. Namun, keindahan fisik
ini tidak boleh membuat manusia menjadi tertipu dan lupa diri, karena keelokan
rupa tidak memiliki nilai di sisi Alloh ﷻ jika tidak dibarengi dengan
kesucian hati dan amal perbuatan yang sholih. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu
‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
وَأَعْمَالِكُمْ»
“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada bentuk rupa
kalian dan harta-harta kalian, melainkan Dia melihat kepada hati-hati kalian
dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)
Maka dari
itu, kesempurnaan fisik yang telah diberikan ini wajib disyukuri dengan cara
memanfaatkannya di jalan ketaatan kepada Alloh ﷻ, bukan justru digunakan untuk
kemaksiatan atau menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba Alloh yang lain.
Bab 2: Sifat-Sifat
Manusia
2.1
Lemah
Alloh ﷻ
menciptakan manusia dengan membawa tabiat-tabiat dasar tertentu yang melekat
pada dirinya sejak lahir. Sifat pertama yang paling menonjol adalah kelemahan.
Manusia tidak memiliki kekuatan mutlak; fisik mereka mudah lelah, pikiran
mereka terbatas, dan hati mereka mudah terombang-ambing oleh godaan syaithon
serta hawa nafsu. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا﴾
“...karena manusia diciptakan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa: 28)
Kelemahan
manusia ini terlihat jelas dari ketidakmampuannya untuk menanggung beban berat
syariat tanpa adanya kemudahan dan dispensasi dari Alloh ﷻ.
Manusia mudah mengantuk, mudah jatuh sakit, dan sangat bergantung pada
lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Untuk memperkuat jiwa yang lemah
ini, Rosululloh ﷺ
selalu mengajarkan umatnya agar senantiasa meminta perlindungan dan kekuatan
hanya kepada Alloh ﷻ.
Dalam sebuah Hadits shohih dari doa yang diajarkan Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ وَالهَرَمِ»
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
kelemahan, kemalasan, sifat penakut, pelit, dan hari tua yang pikun.” (HR. Al-Bukhori no. 6367 dan
Muslim no. 2706)
Tanpa adanya
pertolongan dari Alloh ﷻ,
kelemahan ini akan menyeret manusia ke dalam jurang kebinasaan dan
keputusasaan.
2.2
Tergesa-gesa
Sifat dasar
berikutnya yang sering kali mendatangkan kerugian bagi manusia adalah sifat
tergesa-gesa. Manusia cenderung menginginkan segala sesuatu terjadi secara
instan, cepat, dan tanpa melalui proses yang semestinya. Mereka sering kali
terburu-buru dalam mengambil keputusan, bahkan dalam berdoa pun mereka
terkadang tergesa-gesa meminta keburukan karena ketidaktahuan mereka. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا﴾
“Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isro: 11)
Sifat
tergesa-gesa ini merupakan celah terbesar bagi syaithon untuk masuk dan merusak
amalan manusia, karena keterburukan sering kali melahirkan kecerobohan dan
penyesalan di kemudian hari. Rosululloh ﷺ memberikan peringatan keras mengenai bahaya sifat ini melalui
sabda beliau yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«التَّأَنِّي
مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ»
“Sifat tenang dan berhati-hati itu datangnya dari
Alloh, sedangkan sifat tergesa-gesa itu datangnya dari syaithon.” (HSR. Abu Ya’la no. 4256)
Oleh karena
itu, dalam urusan dunia maupun agama, seorang hamba dituntut untuk selalu
mengedepankan sikap tenang, tabayyun (memeriksa kebenaran), dan berpikir
matang sebelum bertindak.
2.3
Kikir
Kelemahan
jiwa manusia juga tampak dari kecintaannya yang sangat berlebihan terhadap
harta benda duniawi, sehingga melahirkan sifat kikir atau pelit. Banyak manusia
yang merasa bahwa harta yang mereka miliki adalah hasil murni dari kerja keras
mereka sendiri, sehingga mereka enggan membaginya kepada orang-orang yang
membutuhkan. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَكَانَ الْإِنسَانُ قَتُورًا﴾
“Dan manusia itu memang sangat kikir.” (QS. Al-Isro: 100)
Sifat kikir
ini jika dibiarkan tumbuh subur di dalam hati akan menghancurkan tatanan sosial
dan merusak hubungan kekeluargaan, karena hilangnya rasa empati dan kepedulian
sosial. Nabi ﷺ
telah memberikan peringatan yang sangat menakutkan mengenai dampak buruk dari
sifat kikir ini dalam kehidupan sebuah kaum. Dari Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu
‘anhuma, Rosululloh ﷺ
bersabda:
«وَاتَّقُوا
الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ
سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ»
“Dan takutlah kalian terhadap sifat kikir, karena
sesungguhnya sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.
Sifat kikir tersebut telah membawa mereka untuk menumpahkan darah-darah mereka
dan menghalalkan hal-hal yang diharomkan bagi mereka.” (HR. Muslim no. 2578)
Melalui
bimbingan syariat, seorang hamba diperintahkan untuk mengikis sifat ini dengan
cara membiasakan diri bersedekah, menunaikan Zakat, dan membantu meringankan
beban sesama Muslim.
2.4
Suka Membantah
Manusia
dibekali oleh Alloh ﷻ
dengan kemampuan berbicara dan berargumen. Namun, kelebihan ini sering kali
disalahgunakan untuk membantah kebenaran yang datang dari Robb mereka, serta
mendebat perkara-perkara yang sudah jelas hukumnya demi menuruti ego dan
kesombongan diri. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا﴾
“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak
membantah.” (QS.
Al-Kahfi: 54)
Sifat suka
membantah dan berdebat kusir tanpa ilmu ini hanya akan mengeraskan hati dan
menjauhkan manusia dari hidayah. Sering kali perdebatan terjadi bukan untuk
mencari kebenaran, melainkan hanya untuk mencari kemenangan pribadi dan
menjatuhkan wibawa orang lain. Untuk membentengi umat dari bahaya lisan yang
suka mendebat ini, Rosululloh ﷺ
memberikan motivasi yang sangat besar bagi siapa saja yang mampu menahan
egonya. Dari Abu Umamah (86 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa
Nabi ﷺ
bersabda:
«أَنَا
زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»
“Aku menjamin rumah di tepi Jannah bagi yang
meninggalkan debat walau dia benar.” (HHR. Abu Dawud no. 4800)
Menghindari
perdebatan yang tidak bermanfaat adalah ciri kematangan iman seorang hamba yang
lebih memilih menjaga kedamaian hati dan persaudaraan.
2.5
Zholim & Sangat Bodoh
Ketika
Alloh ﷻ
menawarkan amanah pembebanan syariat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung,
mereka semua enggan dan takut untuk memikulnya karena besarnya tanggung jawab
tersebut. Namun, manusia dengan segala kepolosannya justru maju untuk menerima
amanah besar itu. Hal ini menunjukkan betapa manusia sering kali tidak mengukur
kemampuan dirinya sendiri, sehingga terjerumus ke dalam kezholiman dan
kebodohan. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا﴾
“Sungguh, manusia itu sangat zholim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Kezholiman
manusia tampak ketika mereka menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, seperti
menyembah selain Alloh (syirik) atau menganiaya sesama makhluk. Sedangkan
kebodohan mereka tampak saat mereka lebih mendahulukan kenikmatan dunia yang
fana dan murah, lalu mencampakkan kebahagiaan Akhiroh yang kekal dan mahal.
Untuk meredam sifat zholim dan bodoh ini, manusia wajib membekali diri dengan
ilmu syar’i dan ketaqwaan. Rosululloh ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi yang agung, menyampaikan
firman Alloh ﷻ:
«يَا
عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا
فَلَا تَظَالَمُوا»
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah
mengharomkan kezholiman atas diri-Ku dan Aku telah menjadikannya harom di
antara kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi.” (HR. Muslim no. 2577)
Hanya
dengan syariat Alloh ﷻ,
kezholiman dan kebodohan manusia dapat diangkat dan digantikan dengan keadilan
serta cahaya ilmu.
2.6
Suka Mengeluh
Sifat buruk
manusia yang paling sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah sifat
berkeluh kesah dan tidak sabaran. Kejiwaan manusia sangat rapuh ketika diuji
dengan sedikit kesulitan, namun di sisi lain, mereka menjadi sangat angkuh dan
kikir ketika diberikan kelapangan rizqi. Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا 19 إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا 20 وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا﴾
“Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah.
Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat
kebaikan, dia jadi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)
Sifat suka
mengeluh ini menandakan kurangnya rasa ridho terhadap takdir yang telah
digariskan oleh Alloh ﷻ.
Padahal, bagi seorang Mu’min yang sejati, setiap jengkal ketetapan Alloh adalah
kebaikan, baik itu berupa kelapangan maupun kesempitan. Rosululloh ﷺ memuji sikap hidup seorang Mu’min
yang terbebas dari sifat suka mengeluh ini melalui sabda beliau yang
diriwayatkan dari Suhaib bin Sinan (38 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«عَجَبًا
لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا
لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mu’min,
sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki
oleh seorang pun kecuali oleh seorang Mu’min. Jika ia mendapatkan kesenangan ia
bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan
ia bersabar, maka hal itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)
Dengan
memupuk rasa syukur dan sabar, tabiat suka mengeluh ini dapat ditekan sehingga
membuahkan ketenangan jiwa yang hakiki.
Bab 3: Solusi
dari Para Salaf
3.1
Umar bin Al-Khotthob - Muhasabah
Mengingat
manusia dipenuhi oleh berbagai sifat dasar yang buruk, para ulama Salaf
(generasi terdahulu yang sholih) telah merumuskan solusi-solusi bersumberkan
syariat untuk mengobati penyakit jiwa tersebut. Umar sangat menekankan
pentingnya melakukan muhasabah (evaluasi atau introspeksi diri) setiap waktu,
agar seorang hamba menyadari dosa dan kelalaian yang telah diperbuatnya sebelum
semuanya terlambat. Beliau membawakan atsar yang masyhur:
حَاسِبُوا
أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” (HR. Tirmidzi no. 2459)
Atsar yang
disandarkan kepada Shohabat Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu
ini menjadi landasan kuat bahwa seorang Muslim tidak boleh membiarkan dirinya
hanyut dalam kelalaian tanpa ada upaya menghitung amal perbuatannya sendiri.
Imam Hasan Al-Bashri rohimahulloh juga menambahkan tentang bagaimana
keterikatan seorang Mu’min sejati dengan pengawasan terhadap jiwanya:
وَالْمُؤْمِنُ
قَوَّامٌ عَلَى نَفْسِهِ، يُحَاسِبُ نَفْسَهُ لِلَّهِ
“Mu’min itu bendahara (pengawas) atas dirinya sendiri.
Dia menghisab dirinya karena Alloh.” (HR. An-Nasai dalam Al-Kubro, no. 11858)
Kewajiban
meneliti gerak-gerik hati dan amalan fisik ini diperkuat oleh tuntunan
Rosululloh ﷺ
agar manusia senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari. Dari Syaddad bin
Aus (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«الكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ
هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ»
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan
jiwanya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang
lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan kosong
kepada Alloh.” (HHR.
Tirmidzi no. 2459)
Melalui
jalan muhasabah yang konsisten, seorang hamba akan mampu mengenali aib-aib
dirinya, meredam kesombongan, serta mengikis sifat malas dalam beribadah kepada
Alloh ﷻ.
3.2
Imam Syafi’i - Kurangi Bicara
Solusi
berharga berikutnya datang dari Imam Syafi’i (204 H) rohimahulloh, yang
memfokuskan pengobatan pada salah satu anggota tubuh yang paling sering
menjerumuskan manusia ke dalam dosa, yaitu lisan. Manusia memiliki tabiat suka
membantah dan banyak bicara tanpa faedah, sehingga Imam Syafi’i memberikan
nasihat emas agar kita selalu menyaring ucapan sebelum dilontarkan. Beliau
berkata:
إِذَا
أَرَادَ أَحَدُكُمُ الْكَلَامَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُفَكِّرَ فِي كَلَامِهِ فَإِنْ ظَهَرَتِ
الْمَصْلَحَةُ تَكَلَّمَ، وَإِنْ شَكَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ حَتَّى تَظْهَرَ
“Jika salah seorang di antara kalian hendak berbicara,
maka wajib baginya untuk memikirkan ucapannya. Jika tampak adanya maslahat
(kebaikan) maka bicaralah, dan jika ragu-ragu maka janganlah ia bicara sampai
tampak jelas maslahatnya.” (Al-Mustathrof fi Kulli Fannin Mustazhrof, Syihabuddin Al-Absyihi (852
H), 1/93)
Nasihat ini
merupakan buah pemahaman mendalam terhadap sabda Nabi ﷺ yang sangat menjaga
keselamatan lisan kaum Muslimin. Agar manusia terhindar dari perdebatan sengit
yang merusak keikhlasan dan persaudaraan, Nabi ﷺ menjanjikan keutamaan yang besar bagi mereka yang mampu menahan
lisannya dari debat kusir, sebagaimana sabda beliau:
«أَنَا
زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»
“Aku menjamin rumah di tepi Jannah bagi yang
meninggalkan debat walau dia benar.” (HHR. Abu Dawud no. 4800)
Pembatasan
terhadap ucapan ini merupakan pilar penting dalam menjaga kesucian hati.
Seseorang yang banyak bicaranya, niscaya akan banyak pula kesalahannya. Dari
Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh,
maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)
Dengan
mengamalkan solusi diam dari perkara yang tidak bermanfaat, seorang hamba dapat
menyelamatkan dirinya dari bahaya lisan dunia dan siksa Akhiroh.
3.3
Imam Ibnul Qayyim - Obati Lawannya
Imam Ibnul
Qayyim (751 H) rohimahulloh memberikan pendekatan yang sangat logis dan
sistematis dalam menyembuhkan berbagai penyakit akhlak manusia. Menurut beliau,
cara paling efektif untuk menghilangkan suatu keburukan adalah dengan
mendatangkan dan mengamalkan lawan dari sifat buruk tersebut secara konsisten.
Beliau menuliskan rumusan pengobatan jiwa ini di dalam kitabnya:
Seperti
orang sakit yang mengeluh sakit perut, misalnya. Jika ia menggunakan obat untuk
penyakit itu, ia akan mendapatkan manfaat darinya. Namun, jika ia menggunakan
obat untuk sakit kepala, obat itu tidak akan mengenai penyakitnya. Contohnya,
sifat kikir yang ditaati (asy-syuhhu al-mutho’) termasuk dari perkara
yang membinasakan. Sifat itu tidak akan hilang dengan puasa seratus tahun atau Sholat
malam seratus tahun. Demikian pula penyakit mengikuti hawa nafsu dan ‘ujub
(bangga diri) tidak akan cocok dengan banyak membaca Al-Qur’an, mencurahkan
kemampuan dalam ilmu, dzikir, dan zuhud. Akan tetapi, penyakit-penyakit itu
hanya bisa dihilangkan dengan mengeluarkannya dari hati melalui lawannya.
Seandainya ada yang bertanya, “Manakah yang lebih utama, roti atau air?” Maka
jawabannya adalah bahwa yang satu lebih utama pada tempatnya, dan yang lain
lebih utama pada tempatnya. Jika engkau telah memahami kaidah ini, maka
bersyukur dengan membelanjakan harta adalah amal sholih yang dengannya hati
memperoleh suatu kondisi. Ia adalah obat bagi penyakit yang ada di hati yang
menghalangi hati dari tujuan (yang diinginkan). Adapun orang fakir yang zuhud,
ia telah beristirahat dari penyakit dan obat ini, dan kekuatannya tercurah
untuk bersungguh-sungguh dalam meraih tujuan. (Uddatus Shobirin, Ibnu
Qoyyim, 1/94)
Sebagian
ulama berkata:
دَوَاءُ
الْبُخْلِ: الْإِنْفَاقُ. وَدَوَاءُ الْكَسَلِ: الْمُجَاهَدَةُ. وَدَوَاءُ الْكِبْرِ:
التَّوَاضُعُ
“Obat kikir: infak. Obat malas: mujahadah
(bersungguh-sungguh). Obat sombong: tawadhu’ (rendah hati).”
Sifat kikir
yang melekat pada manusia tidak akan hilang hanya dengan melamun, melainkan
harus dipaksa dengan cara mengeluarkan harta di jalan Alloh (infaq). Sifat
malas dalam beribadah harus dilawan dengan mujahadah, yaitu memaksakan diri
menghadiri Sholat berjamaah atau membaca Al-Qur’an meskipun jiwa terasa berat.
Begitu pula sifat sombong, obatnya adalah menurunkan ego dan berbaur dengan kaum
miskin secara tawadhu’.
Metode
pengobatan spiritual dengan melawan hawa nafsu ini selaras dengan sabda Nabi ﷺ yang memerintahkan umatnya
untuk selalu menebarkan kebaikan demi menghapus noda-noda keburukan. Dari Abu
Dzarr (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»
“Dan ikutilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan
baik, niscaya perbuatan baik tersebut akan menghapusnya, serta pergauilah
manusia dengan akhlak yang baik.” (HSR. Tirmidzi no. 1987)
Ketika
seorang hamba terus-menerus memaksa dirinya melakukan kebaikan yang menjadi
lawan dari keburukan sifat dasarnya, maka lambat laun sifat buruk tersebut akan
terkikis dan digantikan oleh keluhuran akhlak.
3.4
Syaikh Bin Baz - Temani Orang Sholih
Manusia
adalah makhluk sosial yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu, Syaikh Bin Baz (1420 H) rohimahulloh memberikan solusi
preventif yang sangat berharga, yaitu dengan selektif dalam memilih teman
dekat. Lingkungan yang sholih akan menjadi benteng kokoh yang menjaga manusia
dari sifat keluh kesah, kikir, dan zholim. Beliau memberikan penekanan:
وَنُوصِيكَ بِصُحْبَةِ
الأَخْيَارِ وَالحَذَرِ مِنْ صُحْبَةِ الأَشْرَارِ، يَقُولُ النَّبِيُّ ﷺ:
«المَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
“Kami
wasiatkan kepadamu untuk berteman dengan orang-orang baik dan waspada dari
berteman dengan orang-orang buruk. Nabi ﷺ bersabda:
‘Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang
di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan sebagai teman dekat.’” (Majmu’ Fatawa wa Maqolat
Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, 27/506)
Sebagian
ahli ilmu berkata:
الصُّحْبَةُ
مُؤَثِّرَةٌ، فَاصْحَبْ مَنْ يَدُلُّكَ عَلَى اللَّهِ
“Pertemanan itu berpengaruh. Maka temani orang yang
menunjukkanmu kepada Alloh.”
Nasihat ini
didasarkan pada kenyataan bahwa watak manusia gemar meniru perilaku orang-orang
yang sering bersamanya. Jika seseorang berteman dengan ahli ibadah, ia akan
termotivasi untuk ibadah; namun jika ia berteman dengan ahli maksiat, ia akan
terseret ke dalam kelalaian. Rosululloh ﷺ telah membuat perumpamaan yang sangat indah mengenai dampak
teman bergaul ini dalam sebuah Hadits shohih dari Abu Musa Al-Asy’ari (42 H) rodhiyallahu
‘anhu, di mana Nabi ﷺ
bersabda:
«مَثَلُ
الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ
المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ
تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ،
وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً»
“Perumpamaan teman bergaul yang sholih dan teman
bergaul yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi.
Seseorang yang berteman dengan penjual minyak wangi, adakalanya ia akan
memberimu minyak wangi, atau kamu membelinya dari dia, atau kamu mendapati
aroma wangi darinya. Sedangkan tukang pandai besi, adakalanya ia akan membakar
pakaianmu, atau kamu mendapati aroma bau yang busuk darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 5534 dan Muslim
no. 2628)
Mencari dan
menetap bersama komunitas orang-orang yang sholih adalah kebutuhan bagi setiap
hamba yang ingin mempertahankan keimanannya di tengah gempuran fitnah dunia.
3.5
Inti Semua: Hadits Mujahadah
Dari
seluruh solusi yang dipaparkan oleh para ulama Salaf, benang merah dan kunci
utamanya terletak pada satu konsep, yaitu mujahadah (perjuangan
sungguh-sungguh melawan hawa nafsu). Tanpa adanya keseriusan untuk memerangi
bisikan-bisikan buruk di dalam diri, semua teori dan nasihat kebaikan tidak
akan pernah terwujud dalam kenyataan. Jiwa manusia pada asalnya selalu
memerintahkan kepada keburukan, sehingga harus diperangi siang dan malam.
Rosululloh ﷺ
menegaskan hakikat dari seorang pejuang sejati melalui sabda beliau yang
diriwayatkan oleh Fadholah bin Ubaid (53 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«الْمُجَاهِدُ
مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ لِلَّهِ»
“Mujahid (pejuang) itu adalah orang yang berjihad
melawan hawa nafsunya untuk taat kepada Alloh.” (HSR. Ahmad no. 23951)
Jihad
melawan diri sendiri ini dinilai sebagai pondasi dasar sebelum seseorang mampu
menghadapi tantangan eksternal di luar dirinya. Alloh ﷻ pun menjanjikan jalan keluar
dan petunjuk yang terang bagi siapa saja yang mau menapaki jalan mujahadah
ini demi meraih ridho-Nya. Keberhasilan menundukkan hawa nafsu akan mengubah
sifat manusia yang tadinya lemah, kikir, dan suka mengeluh, menjadi jiwa yang
muthmainnah (tenang) dan penuh ketakwaan kepada Robb semesta alam.
Bab 4: Kita Semua
Akan Meninggalkan Dunia
4.1
Kepastian Datangnya Kematian
Apapun
pangkat, kekayaan, dan kekuatan yang dimiliki oleh manusia di dunia ini,
semuanya akan berakhir pada satu titik yang tidak bisa dihindari, yaitu
kematian. Dunia ini bukanlah tempat tinggal yang kekal, melainkan hanya jembatan
penyeberangan menuju kehidupan yang sesungguhnya di Akhiroh. Setiap detak
jantung kita sebenarnya sedang melangkah mendekati ajal yang telah ditentukan
lokasinya oleh Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا
تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya
pada hari Qiyamah sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa dijauhkan
dari Naar (Neraka) dan dimasukkan ke dalam Jannah (Surga), sungguh, dia
memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imron: 185)
Ayat ini
menegaskan bahwa tolok ukur kesuksesan sejati seorang hamba bukanlah seberapa
banyak harta yang berhasil dikumpulkannya, melainkan apakah ia berhasil selamat
dari siksa Naar dan berhak memasuki luasnya Jannah. Kesadaran akan kematian ini
seharusnya membuat manusia selalu waspada dan tidak tertipu oleh gemerlapnya
dunia yang penuh tipu daya.
4.2
Rahasia Tempat Wafat
Kematian
adalah misteri terbesar yang alurnya sepenuhnya dipegang oleh Alloh ﷻ.
Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan detak nafasnya akan terhenti,
dan di belahan bumi mana jasadnya akan dikuburkan sebagai janazah. Sering kali
manusia merencanakan pergi ke suatu tempat untuk urusan bisnis atau keluarga,
namun ternyata Alloh ﷻ
menuntun langkah kakinya ke tempat tersebut karena ajal mereka telah menunggu
di sana. Rosululloh ﷺ
menjelaskan fenomena takdir yang mengagumkan ini melalui sabda beliau yang
diriwayatkan dari Abu Azzah rodhiyallahu ‘anhu:
«إِذَا
أَرَادَ اللَّهُ قَبْضَ عَبْدٍ بِأَرْضٍ جَعَلَ لَهُ إِلَيْهَا حَاجَةً»
“Jika Alloh menghendaki untuk mewafatkan seorang hamba
di suatu negeri, maka Alloh akan menjadikan baginya kebutuhan untuk pergi ke
negeri tersebut.” (Shohihul
Jami, no. 311)
Hadits
shohih ini menanamkan rasa taqwa yang mendalam di dalam hati, bahwa kita tidak
memiliki kuasa sedikit pun atas nafas kita. Di mana pun Alloh ﷻ
telah menetapkan kematian kita, maka ke sanalah kaki kita akan melangkah
membawa hajat keduniaan, hingga akhirnya ruh dicabut dan kembalilah kita
menghadap sang Pencipta. Oleh sebab itu, persiapan amal sholih yang kontinyu
adalah satu-satunya perisai yang harus dipersiapkan setiap hari sebelum ajal
datang menjemput secara tiba-tiba.
Bab 5: Apa yang
Harus Kita Lakukan di Dunia?
5.1
Sadar: Kita Tidak Diciptakan Sia-Sia
Kehidupan
di dunia dengan segala fasilitas dan keindahan alamnya bukanlah sebuah panggung
sandiwara yang diciptakan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Banyak manusia yang
mengira bahwa setelah mereka lahir, tumbuh besar, mencari harta, lalu mati,
urusan mereka selesai begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hadapan Robb
semesta alam. Ini adalah pemikiran yang kufur dan sangat berbahaya. Alloh ﷻ
memberikan teguran yang sangat keras dalam Kitab-Nya:
﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا
وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ﴾
“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu
main-main (tanpa ada maksud)? Dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada
Kami?” (QS.
Al-Mu’minun: 115)
Melalui
ayat ini, setiap hamba disadarkan bahwa setiap embusan nafas, setiap harta yang
masuk, dan setiap tindakan yang dilakukan di atas bumi ini akan dimintai
pertanggungjawabannya kelak pada hari Qiyamah. Kesadaran ini menuntut kita
untuk tidak menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, melainkan mengisinya dengan
amal sholih. Rosululloh ﷺ
juga mengingatkan mengenai empat perkara besar yang pasti akan ditanyakan
kepada setiap hamba di hari perhitungan nanti, sebagaimana sabda beliau dari
Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu:
«لَا
تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ
عَنْ خَمْسٍ، عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ
مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ»
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari
Qiyamah dari sisi Robb-nya sampai ia ditanya tentang 5 perkara: tentang umurnya
untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang
hartanya dari mana ia dapatkan dan ke mana ia infakkan, serta tentang apa yang
telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HHR. Tirmidzi no. 2416)
Oleh karena
itu, mengetahui bahwa kita tidak diciptakan sia-sia harus mendorong kita untuk
selalu berhati-hati dalam melangkah dan berbuat di dunia ini.
5.2
Jadi Hamba yang Hanya Beribadah kepada Alloh
Setelah
menyadari bahwa keberadaan kita di dunia ini mengemban misi yang sangat besar,
maka kita harus mengetahui apa misi utama tersebut. Alloh ﷻ
dengan sangat tegas dan jelas telah merumuskan tujuan tunggal dari penciptaan
seluruh makhluk, baik dari golongan jin maupun manusia. Tujuan tersebut tidak
lain adalah untuk menundukkan diri dan mengesakan-Nya dalam beribadah. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ﴾
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar
mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ibadah di
dalam Islam tidak hanya terbatas pada ritual Sholat, Puasa, Zakat, dan Haji
semata, melainkan mencakup seluruh ruang lingkup kehidupan. Setiap aktivitas
keduniaan, mulai dari bekerja mencari rizqi yang halal, belajar, hingga tidur,
jika niatnya ditujukan untuk menguatkan diri dalam ketaatan kepada Alloh ﷻ,
maka aktivitas tersebut bernilai pahala di sisi-Nya.
Inti dari
peribadatan yang murni ini adalah memurnikan Tauhid dan menjauhkan diri dari
segala bentuk kesyirikan. Rosululloh ﷺ menjelaskan hak Alloh yang wajib ditunaikan oleh setiap
hamba-Nya dalam sebuah Hadits shohih yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal
(18 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«فَإِنَّ
حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا»
“Hak Alloh atas para hamba adalah hendaknya mereka
beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhori no. 2856 dan
Muslim no. 30)
Menjadi
hamba yang seutuhnya berarti mengarahkan seluruh cinta, rasa takut, dan harapan
hanya kepada Alloh ﷻ,
serta menjadikan syariat-Nya sebagai pemandu utama dalam mengarungi sisa usia
di dunia.
5.3
Jadi Hamba yang Bermanfaat & Kuat
Misi
sebagai seorang hamba yang beriman tidak hanya berhenti pada kesholihan
individu, melainkan harus meluas hingga membawa dampak positif bagi masyarakat
di sekitarnya. Seorang Muslim yang ideal adalah mereka yang kehadirannya
dinantikan karena membawa manfaat, kedamaian, dan bantuan bagi orang lain yang
sedang mengalami kesulitan. Rosululloh ﷺ memberikan pujian tertinggi bagi hamba yang mampu menebarkan
kemanfaatan ini, sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah
rodhiyallahu ‘anhuma:
«خَيْرُ
النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat
bagi manusia lain.”
(Silsilah Shohihah, no. 426)
Untuk bisa
menjadi manusia yang kokoh dalam beribadah serta mampu memberikan manfaat yang
luas bagi umat, seorang Muslim dituntut untuk memiliki jiwa, mental, dan fisik
yang kuat. Kualitas iman seorang hamba yang kuat dalam segala lini kebaikan
jauh lebih dicintai oleh Alloh ﷻ dibandingkan dengan hamba
yang pasif dan lemah. Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
«اَلْمُؤْمِنُ
الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ
خَيْرٌ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ»
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Alloh
daripada Mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kebaikan. Semangatlah
dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Alloh, dan
janganlah kamu bersikap lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Kekuatan
yang dimaksud di sini mencakup kekuatan iman, kekuatan ilmu, kekuatan ekonomi,
serta kekuatan fisik yang semuanya didedikasikan untuk menegakkan agama Alloh ﷻ dan
membantu menopang kehidupan sesama Muslim. Dengan memadukan ketaqwaan pribadi,
mujahadah melawan hawa nafsu, serta semangat untuk menjadi pribadi yang tangguh
dan bermanfaat, kita dapat menunaikan tugas kekhilafahan di bumi ini dengan
baik, hingga saat ajal menjemput nanti, kita kembali menghadap sang Robb dalam
keadaan ridho dan diridhoi.
Penutup
Kesimpulan
akhir yang dapat kita ambil dari lembaran-lembaran buku ini adalah sebuah
kesadaran mendalam bahwa diri kita tidak memiliki daya dan upaya sedikit pun
tanpa pertolongan dari Alloh ﷻ. Kita mengawali kehidupan dari fase perkembangan janin yang sangat
lemah di dalam rahim, dibekali dengan berbagai tabiat dasar manusia yang penuh
dengan kekurangan seperti kikir, tergesa-gesa, dan suka mengeluh, namun Alloh ﷻ
tidak membiarkan kita berjalan tanpa arah. Melalui bimbingan Al-Qur’an, Sunnah
Rosululloh ﷺ,
serta petunjuk dan solusi praktis dari para ulama Salaf—seperti muhasabah,
menjaga lisan, mengobati penyakit hati dengan lawannya, serta memilih teman
yang sholih—kita diberikan jalan keluar untuk memperbaiki kualitas diri kita.
Ingatlah
senantiasa bahwa waktu kita di atas dunia ini sangatlah singkat dan dibatasi
oleh kepastian datangnya janazah kita sendiri. Jangan sampai kita tertipu oleh
fatamorgana kehidupan dunia yang fana ini. Marilah kita fokuskan sisa umur yang
ada untuk mengabdi seutuhnya kepada Alloh ﷻ, bersungguh-sungguh dalam
bermujahadah melawan hawa nafsu, serta berusaha sekuat tenaga untuk menjadi
pribadi Muslim yang kuat, mandiri, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi
kemaslahatan umat Islam.
Semoga
Alloh ﷻ
senantiasa meneguhkan hati kita di atas ketaqwaan, memberikan rizqi yang
berkah, mengampuni dosa-dosa kita, dan mengumpulkan kita semua di dalam
Jannah-Nya yang penuh dengan ni’mat bersama para Nabi dan orang-orang sholih.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, serta para
Shohabatnya sekalian. Walhamdulillahi Robbil ‘Alamin.
Daftar Pustaka
Al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal (Wafat
241 H)
Shohih
Al-Bukhori, karya
Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhori (256 H)
Shohih
Muslim, karya Imam
Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naisaburi (261 H)
Sunan
At-Tirmidzi, karya
Imam Abu Isa At-Tirmidzi (279 H)
Sunan
Abu Dawud, karya
Imam Abu Dawud As-Sijistani (275 H)
Sunan
An-Nasai, karya
Imam An-Nasai (303 H)
Sunan
Ibnu Majah, karya
Ibnu Majah Al-Qozwaini (273 H)
Al-Mu’jam
al-Ausath, karya
Imam Abu al-Qosim Ath-Thobaroni (360 H)
Al-Sunan
Al-Kubro, karya
Imam Abu Bakr Al-Baihaqi (458 H)
Al-Musnad, karya Imam Abu Ya’la Al-Maushili (307
H)
Uddatus
Shobirin, karya
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (751 H)
Shohihul
Jami, As-Suyuthi
(911 H) dan Al-Albani (1420 H)
Silsilah
Ash-Shohihah,
Al-Albani (1420 H).
