Cari Ebook

[PDF] Kita Hanyalah Seorang Hamba - Arfandi Al Kubari dan Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji hanya bagi Alloh, Robb semesta alam. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan meminta ampunan-Nya. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosululloh .

Amma ba’du:

Kita hamba yang fakir butuh kepada Alloh. Manusia, dengan segala keterbatasan dan kelemahannya, tidak akan pernah bisa lepas dari rohmat dan pertolongan Penciptanya sedikit pun. Kesadaran akan kefakiran diri di hadapan Robb merupakan kunci utama dalam meraih kebahagiaan di dunia dan Akhiroh. Alloh berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia! Kamulah yang sangat memerlukan Alloh; dan Alloh Dialah Yang Maha Kaya, Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Melalui ayat yang agung ini, Alloh mengingatkan seluruh umat manusia bahwa eksistensi mereka di atas bumi ini sepenuhnya bergantung pada perlindungan dan pemberian-Nya. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu berdiri sendiri tanpa rizqi, kesehatan, dan petunjuk yang diturunkan oleh Alloh . Oleh karena itu, sudah sepatutnya manusia menundukkan diri, membuang jauh-jauh sifat sombong, dan menyadari hakikat dirinya yang sejati, yaitu hanyalah seorang hamba. Buku ini akan mengurai secara mendalam mengenai hakikat penciptaan manusia, sifat-sifat dasarnya, solusi dari para ulama Salaf dalam memperbaiki diri, kepastian datangnya kematian, serta tujuan utama keberadaan kita di dunia ini.

Buku ini awalnya adalah naskah mentah berisi dalil-dalil yang ditata rapi, buah karya Al-Ustadz Arfandi Al-Kubary —Pengasuh Saung Al-Qur’an, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Lalu Al-Faqir menyempurnakannya dengan menambahkan narasi dan penjelasan dalil-dalil tersebut. [Nor Kandir]

Bab 1: Proses Penciptaan Manusia

1.1 Fase-Fase Perkembangan Janin

Manusia sering kali lupa dari mana mereka berasal, sehingga muncul sifat angkuh di dalam dada mereka. Padahal, jika mereka merenungkan kembali lembaran awal kehidupan mereka, mereka akan mendapati bahwa mereka diciptakan dari sesuatu yang sangat hina. Alloh telah menjelaskan rincian proses perkembangan ini dengan sangat menakjubkan di dalam Kitab-Nya, jauh sebelum ilmu kedokteran modern mampu menyingkapnya. Alloh berfirman:

﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ 12 ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ 13 ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah, kemudian Kami menjadikannya air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh. Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Maha Suci Alloh, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun: 12-14)

Proses yang bertahap ini menunjukkan keagungan dan kekuasaan Robb yang tiada tara. Dimulai dari saripati tanah, kemudian diubah menjadi nuthfah (air mani) yang tersimpan aman di dalam rahim, lalu tumbuh menjadi ‘alaqoh (segumpal darah), meningkat menjadi mudhghoh (segumpal daging), hingga akhirnya dibentuklah tulang-belulang yang kemudian dibalut kembali oleh daging menjadi seorang manusia yang utuh.

Keaslian urutan penciptaan ini dipertegas oleh sabda Nabi melalui penuturan Shohabat Abdullah bin Mas’ud (32 H) rohimahulloh, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا [فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ]»

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama, kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 3208 dan Muslim no. 2643)

Melalui Hadits shohih ini, tergambar jelas betapa lemahnya awal mula kedatangan manusia di dunia ini, di mana untuk sekadar bernyawa pun ia harus menunggu tiupan ruh dari Malaikat atas perintah Robb semesta alam.

1.2 Kesempurnaan Bentuk Fisik Manusia

Meskipun manusia berawal dari bahan-bahan yang sederhana dan melalui fase-fase yang rentan, Alloh dengan segala kemurahan-Nya tidak membiarkan manusia tumbuh dalam bentuk yang buruk. Sebaliknya, Alloh memberikan anugerah berupa bentuk fisik yang paling proporsional, paling indah, dan paling fungsional dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya di muka bumi ini. Alloh berfirman:

﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Kesempurnaan fisik ini mencakup kelurusan berdiri, kemampuan berpikir, struktur wajah yang seimbang, serta anggota tubuh yang dapat digerakkan secara fleksibel untuk menunjang aktivitas ibadah dan kehidupan sehari-hari. Namun, keindahan fisik ini tidak boleh membuat manusia menjadi tertipu dan lupa diri, karena keelokan rupa tidak memiliki nilai di sisi Alloh jika tidak dibarengi dengan kesucian hati dan amal perbuatan yang sholih. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan harta-harta kalian, melainkan Dia melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Maka dari itu, kesempurnaan fisik yang telah diberikan ini wajib disyukuri dengan cara memanfaatkannya di jalan ketaatan kepada Alloh , bukan justru digunakan untuk kemaksiatan atau menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba Alloh yang lain.

 

Bab 2: Sifat-Sifat Manusia

2.1 Lemah

Alloh menciptakan manusia dengan membawa tabiat-tabiat dasar tertentu yang melekat pada dirinya sejak lahir. Sifat pertama yang paling menonjol adalah kelemahan. Manusia tidak memiliki kekuatan mutlak; fisik mereka mudah lelah, pikiran mereka terbatas, dan hati mereka mudah terombang-ambing oleh godaan syaithon serta hawa nafsu. Alloh berfirman:

﴿وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا

“...karena manusia diciptakan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa: 28)

Kelemahan manusia ini terlihat jelas dari ketidakmampuannya untuk menanggung beban berat syariat tanpa adanya kemudahan dan dispensasi dari Alloh . Manusia mudah mengantuk, mudah jatuh sakit, dan sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Untuk memperkuat jiwa yang lemah ini, Rosululloh selalu mengajarkan umatnya agar senantiasa meminta perlindungan dan kekuatan hanya kepada Alloh . Dalam sebuah Hadits shohih dari doa yang diajarkan Nabi , beliau bersabda:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ وَالهَرَمِ»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat penakut, pelit, dan hari tua yang pikun.” (HR. Al-Bukhori no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Tanpa adanya pertolongan dari Alloh , kelemahan ini akan menyeret manusia ke dalam jurang kebinasaan dan keputusasaan.

2.2 Tergesa-gesa

Sifat dasar berikutnya yang sering kali mendatangkan kerugian bagi manusia adalah sifat tergesa-gesa. Manusia cenderung menginginkan segala sesuatu terjadi secara instan, cepat, dan tanpa melalui proses yang semestinya. Mereka sering kali terburu-buru dalam mengambil keputusan, bahkan dalam berdoa pun mereka terkadang tergesa-gesa meminta keburukan karena ketidaktahuan mereka. Alloh berfirman:

﴿وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isro: 11)

Sifat tergesa-gesa ini merupakan celah terbesar bagi syaithon untuk masuk dan merusak amalan manusia, karena keterburukan sering kali melahirkan kecerobohan dan penyesalan di kemudian hari. Rosululloh memberikan peringatan keras mengenai bahaya sifat ini melalui sabda beliau yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ»

“Sifat tenang dan berhati-hati itu datangnya dari Alloh, sedangkan sifat tergesa-gesa itu datangnya dari syaithon.” (HSR. Abu Ya’la no. 4256)

Oleh karena itu, dalam urusan dunia maupun agama, seorang hamba dituntut untuk selalu mengedepankan sikap tenang, tabayyun (memeriksa kebenaran), dan berpikir matang sebelum bertindak.

2.3 Kikir

Kelemahan jiwa manusia juga tampak dari kecintaannya yang sangat berlebihan terhadap harta benda duniawi, sehingga melahirkan sifat kikir atau pelit. Banyak manusia yang merasa bahwa harta yang mereka miliki adalah hasil murni dari kerja keras mereka sendiri, sehingga mereka enggan membaginya kepada orang-orang yang membutuhkan. Alloh berfirman:

﴿وَكَانَ الْإِنسَانُ قَتُورًا

“Dan manusia itu memang sangat kikir.” (QS. Al-Isro: 100)

Sifat kikir ini jika dibiarkan tumbuh subur di dalam hati akan menghancurkan tatanan sosial dan merusak hubungan kekeluargaan, karena hilangnya rasa empati dan kepedulian sosial. Nabi telah memberikan peringatan yang sangat menakutkan mengenai dampak buruk dari sifat kikir ini dalam kehidupan sebuah kaum. Dari Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhuma, Rosululloh bersabda:

«وَاتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ»

“Dan takutlah kalian terhadap sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir tersebut telah membawa mereka untuk menumpahkan darah-darah mereka dan menghalalkan hal-hal yang diharomkan bagi mereka.” (HR. Muslim no. 2578)

Melalui bimbingan syariat, seorang hamba diperintahkan untuk mengikis sifat ini dengan cara membiasakan diri bersedekah, menunaikan Zakat, dan membantu meringankan beban sesama Muslim.

2.4 Suka Membantah

Manusia dibekali oleh Alloh dengan kemampuan berbicara dan berargumen. Namun, kelebihan ini sering kali disalahgunakan untuk membantah kebenaran yang datang dari Robb mereka, serta mendebat perkara-perkara yang sudah jelas hukumnya demi menuruti ego dan kesombongan diri. Alloh berfirman:

﴿وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi: 54)

Sifat suka membantah dan berdebat kusir tanpa ilmu ini hanya akan mengeraskan hati dan menjauhkan manusia dari hidayah. Sering kali perdebatan terjadi bukan untuk mencari kebenaran, melainkan hanya untuk mencari kemenangan pribadi dan menjatuhkan wibawa orang lain. Untuk membentengi umat dari bahaya lisan yang suka mendebat ini, Rosululloh memberikan motivasi yang sangat besar bagi siapa saja yang mampu menahan egonya. Dari Abu Umamah (86 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Nabi bersabda:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»

“Aku menjamin rumah di tepi Jannah bagi yang meninggalkan debat walau dia benar.” (HHR. Abu Dawud no. 4800)

Menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat adalah ciri kematangan iman seorang hamba yang lebih memilih menjaga kedamaian hati dan persaudaraan.

2.5 Zholim & Sangat Bodoh

Ketika Alloh menawarkan amanah pembebanan syariat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, mereka semua enggan dan takut untuk memikulnya karena besarnya tanggung jawab tersebut. Namun, manusia dengan segala kepolosannya justru maju untuk menerima amanah besar itu. Hal ini menunjukkan betapa manusia sering kali tidak mengukur kemampuan dirinya sendiri, sehingga terjerumus ke dalam kezholiman dan kebodohan. Alloh berfirman:

﴿إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sungguh, manusia itu sangat zholim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Kezholiman manusia tampak ketika mereka menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, seperti menyembah selain Alloh (syirik) atau menganiaya sesama makhluk. Sedangkan kebodohan mereka tampak saat mereka lebih mendahulukan kenikmatan dunia yang fana dan murah, lalu mencampakkan kebahagiaan Akhiroh yang kekal dan mahal. Untuk meredam sifat zholim dan bodoh ini, manusia wajib membekali diri dengan ilmu syar’i dan ketaqwaan. Rosululloh bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi yang agung, menyampaikan firman Alloh :

«يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا»

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharomkan kezholiman atas diri-Ku dan Aku telah menjadikannya harom di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi.” (HR. Muslim no. 2577)

Hanya dengan syariat Alloh , kezholiman dan kebodohan manusia dapat diangkat dan digantikan dengan keadilan serta cahaya ilmu.

2.6 Suka Mengeluh

Sifat buruk manusia yang paling sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah sifat berkeluh kesah dan tidak sabaran. Kejiwaan manusia sangat rapuh ketika diuji dengan sedikit kesulitan, namun di sisi lain, mereka menjadi sangat angkuh dan kikir ketika diberikan kelapangan rizqi. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا 19 إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا 20 وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan, dia jadi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)

Sifat suka mengeluh ini menandakan kurangnya rasa ridho terhadap takdir yang telah digariskan oleh Alloh . Padahal, bagi seorang Mu’min yang sejati, setiap jengkal ketetapan Alloh adalah kebaikan, baik itu berupa kelapangan maupun kesempitan. Rosululloh memuji sikap hidup seorang Mu’min yang terbebas dari sifat suka mengeluh ini melalui sabda beliau yang diriwayatkan dari Suhaib bin Sinan (38 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mu’min, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali oleh seorang Mu’min. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka hal itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Dengan memupuk rasa syukur dan sabar, tabiat suka mengeluh ini dapat ditekan sehingga membuahkan ketenangan jiwa yang hakiki.

Bab 3: Solusi dari Para Salaf

3.1 Umar bin Al-Khotthob - Muhasabah

Mengingat manusia dipenuhi oleh berbagai sifat dasar yang buruk, para ulama Salaf (generasi terdahulu yang sholih) telah merumuskan solusi-solusi bersumberkan syariat untuk mengobati penyakit jiwa tersebut. Umar sangat menekankan pentingnya melakukan muhasabah (evaluasi atau introspeksi diri) setiap waktu, agar seorang hamba menyadari dosa dan kelalaian yang telah diperbuatnya sebelum semuanya terlambat. Beliau membawakan atsar yang masyhur:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” (HR. Tirmidzi no. 2459)

Atsar yang disandarkan kepada Shohabat Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu ini menjadi landasan kuat bahwa seorang Muslim tidak boleh membiarkan dirinya hanyut dalam kelalaian tanpa ada upaya menghitung amal perbuatannya sendiri. Imam Hasan Al-Bashri rohimahulloh juga menambahkan tentang bagaimana keterikatan seorang Mu’min sejati dengan pengawasan terhadap jiwanya:

وَالْمُؤْمِنُ قَوَّامٌ عَلَى نَفْسِهِ، يُحَاسِبُ نَفْسَهُ لِلَّهِ

“Mu’min itu bendahara (pengawas) atas dirinya sendiri. Dia menghisab dirinya karena Alloh.” (HR. An-Nasai dalam Al-Kubro, no. 11858)

Kewajiban meneliti gerak-gerik hati dan amalan fisik ini diperkuat oleh tuntunan Rosululloh agar manusia senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari. Dari Syaddad bin Aus (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ»

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan jiwanya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan kosong kepada Alloh.” (HHR. Tirmidzi no. 2459)

Melalui jalan muhasabah yang konsisten, seorang hamba akan mampu mengenali aib-aib dirinya, meredam kesombongan, serta mengikis sifat malas dalam beribadah kepada Alloh .

3.2 Imam Syafi’i - Kurangi Bicara

Solusi berharga berikutnya datang dari Imam Syafi’i (204 H) rohimahulloh, yang memfokuskan pengobatan pada salah satu anggota tubuh yang paling sering menjerumuskan manusia ke dalam dosa, yaitu lisan. Manusia memiliki tabiat suka membantah dan banyak bicara tanpa faedah, sehingga Imam Syafi’i memberikan nasihat emas agar kita selalu menyaring ucapan sebelum dilontarkan. Beliau berkata:

إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمُ الْكَلَامَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُفَكِّرَ فِي كَلَامِهِ فَإِنْ ظَهَرَتِ الْمَصْلَحَةُ تَكَلَّمَ، وَإِنْ شَكَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ حَتَّى تَظْهَرَ

“Jika salah seorang di antara kalian hendak berbicara, maka wajib baginya untuk memikirkan ucapannya. Jika tampak adanya maslahat (kebaikan) maka bicaralah, dan jika ragu-ragu maka janganlah ia bicara sampai tampak jelas maslahatnya.” (Al-Mustathrof fi Kulli Fannin Mustazhrof, Syihabuddin Al-Absyihi (852 H), 1/93)

Nasihat ini merupakan buah pemahaman mendalam terhadap sabda Nabi yang sangat menjaga keselamatan lisan kaum Muslimin. Agar manusia terhindar dari perdebatan sengit yang merusak keikhlasan dan persaudaraan, Nabi menjanjikan keutamaan yang besar bagi mereka yang mampu menahan lisannya dari debat kusir, sebagaimana sabda beliau:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»

“Aku menjamin rumah di tepi Jannah bagi yang meninggalkan debat walau dia benar.” (HHR. Abu Dawud no. 4800)

Pembatasan terhadap ucapan ini merupakan pilar penting dalam menjaga kesucian hati. Seseorang yang banyak bicaranya, niscaya akan banyak pula kesalahannya. Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Dengan mengamalkan solusi diam dari perkara yang tidak bermanfaat, seorang hamba dapat menyelamatkan dirinya dari bahaya lisan dunia dan siksa Akhiroh.

3.3 Imam Ibnul Qayyim - Obati Lawannya

Imam Ibnul Qayyim (751 H) rohimahulloh memberikan pendekatan yang sangat logis dan sistematis dalam menyembuhkan berbagai penyakit akhlak manusia. Menurut beliau, cara paling efektif untuk menghilangkan suatu keburukan adalah dengan mendatangkan dan mengamalkan lawan dari sifat buruk tersebut secara konsisten. Beliau menuliskan rumusan pengobatan jiwa ini di dalam kitabnya:

Seperti orang sakit yang mengeluh sakit perut, misalnya. Jika ia menggunakan obat untuk penyakit itu, ia akan mendapatkan manfaat darinya. Namun, jika ia menggunakan obat untuk sakit kepala, obat itu tidak akan mengenai penyakitnya. Contohnya, sifat kikir yang ditaati (asy-syuhhu al-mutho’) termasuk dari perkara yang membinasakan. Sifat itu tidak akan hilang dengan puasa seratus tahun atau Sholat malam seratus tahun. Demikian pula penyakit mengikuti hawa nafsu dan ‘ujub (bangga diri) tidak akan cocok dengan banyak membaca Al-Qur’an, mencurahkan kemampuan dalam ilmu, dzikir, dan zuhud. Akan tetapi, penyakit-penyakit itu hanya bisa dihilangkan dengan mengeluarkannya dari hati melalui lawannya. Seandainya ada yang bertanya, “Manakah yang lebih utama, roti atau air?” Maka jawabannya adalah bahwa yang satu lebih utama pada tempatnya, dan yang lain lebih utama pada tempatnya. Jika engkau telah memahami kaidah ini, maka bersyukur dengan membelanjakan harta adalah amal sholih yang dengannya hati memperoleh suatu kondisi. Ia adalah obat bagi penyakit yang ada di hati yang menghalangi hati dari tujuan (yang diinginkan). Adapun orang fakir yang zuhud, ia telah beristirahat dari penyakit dan obat ini, dan kekuatannya tercurah untuk bersungguh-sungguh dalam meraih tujuan. (Uddatus Shobirin, Ibnu Qoyyim, 1/94)

Sebagian ulama berkata:

دَوَاءُ الْبُخْلِ: الْإِنْفَاقُ. وَدَوَاءُ الْكَسَلِ: الْمُجَاهَدَةُ. وَدَوَاءُ الْكِبْرِ: التَّوَاضُعُ

“Obat kikir: infak. Obat malas: mujahadah (bersungguh-sungguh). Obat sombong: tawadhu’ (rendah hati).”

Sifat kikir yang melekat pada manusia tidak akan hilang hanya dengan melamun, melainkan harus dipaksa dengan cara mengeluarkan harta di jalan Alloh (infaq). Sifat malas dalam beribadah harus dilawan dengan mujahadah, yaitu memaksakan diri menghadiri Sholat berjamaah atau membaca Al-Qur’an meskipun jiwa terasa berat. Begitu pula sifat sombong, obatnya adalah menurunkan ego dan berbaur dengan kaum miskin secara tawadhu’.

Metode pengobatan spiritual dengan melawan hawa nafsu ini selaras dengan sabda Nabi yang memerintahkan umatnya untuk selalu menebarkan kebaikan demi menghapus noda-noda keburukan. Dari Abu Dzarr (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»

“Dan ikutilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik tersebut akan menghapusnya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HSR. Tirmidzi no. 1987)

Ketika seorang hamba terus-menerus memaksa dirinya melakukan kebaikan yang menjadi lawan dari keburukan sifat dasarnya, maka lambat laun sifat buruk tersebut akan terkikis dan digantikan oleh keluhuran akhlak.

3.4 Syaikh Bin Baz - Temani Orang Sholih

Manusia adalah makhluk sosial yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, Syaikh Bin Baz (1420 H) rohimahulloh memberikan solusi preventif yang sangat berharga, yaitu dengan selektif dalam memilih teman dekat. Lingkungan yang sholih akan menjadi benteng kokoh yang menjaga manusia dari sifat keluh kesah, kikir, dan zholim. Beliau memberikan penekanan:

وَنُوصِيكَ بِصُحْبَةِ الأَخْيَارِ وَالحَذَرِ مِنْ صُحْبَةِ الأَشْرَارِ، يَقُولُ النَّبِيُّ ﷺ: «المَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»

Kami wasiatkan kepadamu untuk berteman dengan orang-orang baik dan waspada dari berteman dengan orang-orang buruk. Nabi bersabda: ‘Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan sebagai teman dekat.’(Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, 27/506)

Sebagian ahli ilmu berkata:

الصُّحْبَةُ مُؤَثِّرَةٌ، فَاصْحَبْ مَنْ يَدُلُّكَ عَلَى اللَّهِ

“Pertemanan itu berpengaruh. Maka temani orang yang menunjukkanmu kepada Alloh.”

Nasihat ini didasarkan pada kenyataan bahwa watak manusia gemar meniru perilaku orang-orang yang sering bersamanya. Jika seseorang berteman dengan ahli ibadah, ia akan termotivasi untuk ibadah; namun jika ia berteman dengan ahli maksiat, ia akan terseret ke dalam kelalaian. Rosululloh telah membuat perumpamaan yang sangat indah mengenai dampak teman bergaul ini dalam sebuah Hadits shohih dari Abu Musa Al-Asy’ari (42 H) rodhiyallahu ‘anhu, di mana Nabi bersabda:

«مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً»

“Perumpamaan teman bergaul yang sholih dan teman bergaul yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seseorang yang berteman dengan penjual minyak wangi, adakalanya ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu membelinya dari dia, atau kamu mendapati aroma wangi darinya. Sedangkan tukang pandai besi, adakalanya ia akan membakar pakaianmu, atau kamu mendapati aroma bau yang busuk darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 5534 dan Muslim no. 2628)

Mencari dan menetap bersama komunitas orang-orang yang sholih adalah kebutuhan bagi setiap hamba yang ingin mempertahankan keimanannya di tengah gempuran fitnah dunia.

3.5 Inti Semua: Hadits Mujahadah

Dari seluruh solusi yang dipaparkan oleh para ulama Salaf, benang merah dan kunci utamanya terletak pada satu konsep, yaitu mujahadah (perjuangan sungguh-sungguh melawan hawa nafsu). Tanpa adanya keseriusan untuk memerangi bisikan-bisikan buruk di dalam diri, semua teori dan nasihat kebaikan tidak akan pernah terwujud dalam kenyataan. Jiwa manusia pada asalnya selalu memerintahkan kepada keburukan, sehingga harus diperangi siang dan malam. Rosululloh menegaskan hakikat dari seorang pejuang sejati melalui sabda beliau yang diriwayatkan oleh Fadholah bin Ubaid (53 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ لِلَّهِ»

“Mujahid (pejuang) itu adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya untuk taat kepada Alloh.” (HSR. Ahmad no. 23951)

Jihad melawan diri sendiri ini dinilai sebagai pondasi dasar sebelum seseorang mampu menghadapi tantangan eksternal di luar dirinya. Alloh pun menjanjikan jalan keluar dan petunjuk yang terang bagi siapa saja yang mau menapaki jalan mujahadah ini demi meraih ridho-Nya. Keberhasilan menundukkan hawa nafsu akan mengubah sifat manusia yang tadinya lemah, kikir, dan suka mengeluh, menjadi jiwa yang muthmainnah (tenang) dan penuh ketakwaan kepada Robb semesta alam.

Bab 4: Kita Semua Akan Meninggalkan Dunia

4.1 Kepastian Datangnya Kematian

Apapun pangkat, kekayaan, dan kekuatan yang dimiliki oleh manusia di dunia ini, semuanya akan berakhir pada satu titik yang tidak bisa dihindari, yaitu kematian. Dunia ini bukanlah tempat tinggal yang kekal, melainkan hanya jembatan penyeberangan menuju kehidupan yang sesungguhnya di Akhiroh. Setiap detak jantung kita sebenarnya sedang melangkah mendekati ajal yang telah ditentukan lokasinya oleh Alloh . Alloh berfirman:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Qiyamah sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa dijauhkan dari Naar (Neraka) dan dimasukkan ke dalam Jannah (Surga), sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa tolok ukur kesuksesan sejati seorang hamba bukanlah seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkannya, melainkan apakah ia berhasil selamat dari siksa Naar dan berhak memasuki luasnya Jannah. Kesadaran akan kematian ini seharusnya membuat manusia selalu waspada dan tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia yang penuh tipu daya.

4.2 Rahasia Tempat Wafat

Kematian adalah misteri terbesar yang alurnya sepenuhnya dipegang oleh Alloh . Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan detak nafasnya akan terhenti, dan di belahan bumi mana jasadnya akan dikuburkan sebagai janazah. Sering kali manusia merencanakan pergi ke suatu tempat untuk urusan bisnis atau keluarga, namun ternyata Alloh menuntun langkah kakinya ke tempat tersebut karena ajal mereka telah menunggu di sana. Rosululloh menjelaskan fenomena takdir yang mengagumkan ini melalui sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Azzah rodhiyallahu ‘anhu:

«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ قَبْضَ عَبْدٍ بِأَرْضٍ جَعَلَ لَهُ إِلَيْهَا حَاجَةً»

“Jika Alloh menghendaki untuk mewafatkan seorang hamba di suatu negeri, maka Alloh akan menjadikan baginya kebutuhan untuk pergi ke negeri tersebut.” (Shohihul Jami, no. 311)

Hadits shohih ini menanamkan rasa taqwa yang mendalam di dalam hati, bahwa kita tidak memiliki kuasa sedikit pun atas nafas kita. Di mana pun Alloh telah menetapkan kematian kita, maka ke sanalah kaki kita akan melangkah membawa hajat keduniaan, hingga akhirnya ruh dicabut dan kembalilah kita menghadap sang Pencipta. Oleh sebab itu, persiapan amal sholih yang kontinyu adalah satu-satunya perisai yang harus dipersiapkan setiap hari sebelum ajal datang menjemput secara tiba-tiba.

 

Bab 5: Apa yang Harus Kita Lakukan di Dunia?

5.1 Sadar: Kita Tidak Diciptakan Sia-Sia

Kehidupan di dunia dengan segala fasilitas dan keindahan alamnya bukanlah sebuah panggung sandiwara yang diciptakan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Banyak manusia yang mengira bahwa setelah mereka lahir, tumbuh besar, mencari harta, lalu mati, urusan mereka selesai begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hadapan Robb semesta alam. Ini adalah pemikiran yang kufur dan sangat berbahaya. Alloh memberikan teguran yang sangat keras dalam Kitab-Nya:

﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud)? Dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Melalui ayat ini, setiap hamba disadarkan bahwa setiap embusan nafas, setiap harta yang masuk, dan setiap tindakan yang dilakukan di atas bumi ini akan dimintai pertanggungjawabannya kelak pada hari Qiyamah. Kesadaran ini menuntut kita untuk tidak menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, melainkan mengisinya dengan amal sholih. Rosululloh juga mengingatkan mengenai empat perkara besar yang pasti akan ditanyakan kepada setiap hamba di hari perhitungan nanti, sebagaimana sabda beliau dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu:

«لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ، عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ»

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari Qiyamah dari sisi Robb-nya sampai ia ditanya tentang 5 perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan ke mana ia infakkan, serta tentang apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HHR. Tirmidzi no. 2416)

Oleh karena itu, mengetahui bahwa kita tidak diciptakan sia-sia harus mendorong kita untuk selalu berhati-hati dalam melangkah dan berbuat di dunia ini.

5.2 Jadi Hamba yang Hanya Beribadah kepada Alloh

Setelah menyadari bahwa keberadaan kita di dunia ini mengemban misi yang sangat besar, maka kita harus mengetahui apa misi utama tersebut. Alloh dengan sangat tegas dan jelas telah merumuskan tujuan tunggal dari penciptaan seluruh makhluk, baik dari golongan jin maupun manusia. Tujuan tersebut tidak lain adalah untuk menundukkan diri dan mengesakan-Nya dalam beribadah. Alloh berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah di dalam Islam tidak hanya terbatas pada ritual Sholat, Puasa, Zakat, dan Haji semata, melainkan mencakup seluruh ruang lingkup kehidupan. Setiap aktivitas keduniaan, mulai dari bekerja mencari rizqi yang halal, belajar, hingga tidur, jika niatnya ditujukan untuk menguatkan diri dalam ketaatan kepada Alloh , maka aktivitas tersebut bernilai pahala di sisi-Nya.

Inti dari peribadatan yang murni ini adalah memurnikan Tauhid dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan. Rosululloh menjelaskan hak Alloh yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba-Nya dalam sebuah Hadits shohih yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا»

“Hak Alloh atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Al-Bukhori no. 2856 dan Muslim no. 30)

Menjadi hamba yang seutuhnya berarti mengarahkan seluruh cinta, rasa takut, dan harapan hanya kepada Alloh , serta menjadikan syariat-Nya sebagai pemandu utama dalam mengarungi sisa usia di dunia.

5.3 Jadi Hamba yang Bermanfaat & Kuat

Misi sebagai seorang hamba yang beriman tidak hanya berhenti pada kesholihan individu, melainkan harus meluas hingga membawa dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya. Seorang Muslim yang ideal adalah mereka yang kehadirannya dinantikan karena membawa manfaat, kedamaian, dan bantuan bagi orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Rosululloh memberikan pujian tertinggi bagi hamba yang mampu menebarkan kemanfaatan ini, sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhuma:

«خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (Silsilah Shohihah, no. 426)

Untuk bisa menjadi manusia yang kokoh dalam beribadah serta mampu memberikan manfaat yang luas bagi umat, seorang Muslim dituntut untuk memiliki jiwa, mental, dan fisik yang kuat. Kualitas iman seorang hamba yang kuat dalam segala lini kebaikan jauh lebih dicintai oleh Alloh dibandingkan dengan hamba yang pasif dan lemah. Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ»

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Alloh daripada Mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kebaikan. Semangatlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Alloh, dan janganlah kamu bersikap lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Kekuatan yang dimaksud di sini mencakup kekuatan iman, kekuatan ilmu, kekuatan ekonomi, serta kekuatan fisik yang semuanya didedikasikan untuk menegakkan agama Alloh dan membantu menopang kehidupan sesama Muslim. Dengan memadukan ketaqwaan pribadi, mujahadah melawan hawa nafsu, serta semangat untuk menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat, kita dapat menunaikan tugas kekhilafahan di bumi ini dengan baik, hingga saat ajal menjemput nanti, kita kembali menghadap sang Robb dalam keadaan ridho dan diridhoi.

 

Penutup

Kesimpulan akhir yang dapat kita ambil dari lembaran-lembaran buku ini adalah sebuah kesadaran mendalam bahwa diri kita tidak memiliki daya dan upaya sedikit pun tanpa pertolongan dari Alloh . Kita mengawali kehidupan dari fase perkembangan janin yang sangat lemah di dalam rahim, dibekali dengan berbagai tabiat dasar manusia yang penuh dengan kekurangan seperti kikir, tergesa-gesa, dan suka mengeluh, namun Alloh tidak membiarkan kita berjalan tanpa arah. Melalui bimbingan Al-Qur’an, Sunnah Rosululloh , serta petunjuk dan solusi praktis dari para ulama Salaf—seperti muhasabah, menjaga lisan, mengobati penyakit hati dengan lawannya, serta memilih teman yang sholih—kita diberikan jalan keluar untuk memperbaiki kualitas diri kita.

Ingatlah senantiasa bahwa waktu kita di atas dunia ini sangatlah singkat dan dibatasi oleh kepastian datangnya janazah kita sendiri. Jangan sampai kita tertipu oleh fatamorgana kehidupan dunia yang fana ini. Marilah kita fokuskan sisa umur yang ada untuk mengabdi seutuhnya kepada Alloh , bersungguh-sungguh dalam bermujahadah melawan hawa nafsu, serta berusaha sekuat tenaga untuk menjadi pribadi Muslim yang kuat, mandiri, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemaslahatan umat Islam.

Semoga Alloh senantiasa meneguhkan hati kita di atas ketaqwaan, memberikan rizqi yang berkah, mengampuni dosa-dosa kita, dan mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya yang penuh dengan ni’mat bersama para Nabi dan orang-orang sholih.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , keluarganya, serta para Shohabatnya sekalian. Walhamdulillahi Robbil ‘Alamin.

 

Daftar Pustaka

Al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal (Wafat 241 H)

Shohih Al-Bukhori, karya Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhori (256 H)

Shohih Muslim, karya Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naisaburi (261 H)

Sunan At-Tirmidzi, karya Imam Abu Isa At-Tirmidzi (279 H)

Sunan Abu Dawud, karya Imam Abu Dawud As-Sijistani (275 H)

Sunan An-Nasai, karya Imam An-Nasai (303 H)

Sunan Ibnu Majah, karya Ibnu Majah Al-Qozwaini (273 H)

Al-Mu’jam al-Ausath, karya Imam Abu al-Qosim Ath-Thobaroni (360 H)

Al-Sunan Al-Kubro, karya Imam Abu Bakr Al-Baihaqi (458 H)

Al-Musnad, karya Imam Abu Ya’la Al-Maushili (307 H)

Uddatus Shobirin, karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (751 H)

Shohihul Jami, As-Suyuthi (911 H) dan Al-Albani (1420 H)

Silsilah Ash-Shohihah, Al-Albani (1420 H).

 

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini